54 pengaruh efektivitas komunikasi, pelatihan dan kepuasan kerja

advertisement
PENGARUH EFEKTIVITAS KOMUNIKASI, PELATIHAN DAN
KEPUASAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA CV.
SAMPURNA RATTAN CARPET INDUSTRI MARTAPURA
Yudi Rahman
Dosen Tetap STIE Pancasetia Banjarmasin
ABSTRAK
Salah satu tugas seorang pimpinan perusahaan atau manager adalah
menciptakan dan membudayakan komunikasi yang efektif, baik komunikasi vertikal maupun komunikasi horizontal. Dengan adanya komunikasi yang efektif maka diharapkan kinerja dapat meningkat. Selain itu
pelatihan yang cukup dapat menunjang dan menghasilkan kinerja yang
berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh, efektivitas komunikasi (X1), pelatihan (X2), dan kepuasan kerja (X3) terhadap
kinerja karyawan CV. Sampurna Rattan Carpet Industri Martapura. Alat
analisis yang dipergunakan pada penelitian ini adalah menggunakan analisis regresi berganda. Pengujian dilakukan dengan tingkat kepercayaan
95% atau tingkat signifikansi 0,05 (a = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas komunikasi (X1) adalah variabel yang paling dominan pengaruhnya terhadap Kinerja Karyawan disamping itu juga bahwa
semua variabel bebas memiliki koefisien regresi positif. Hal ini berarti
variabel efektivitas komunikasi (X1), pelatihan (X2), dan kepuasan kerja
(X3) mempunyai hubungan yang searah atau berbanding lurus dengan
variabel terikatnya atau kinerja karyawan (Y).
Kata kunci: efektivitas komunikasi, pelatihan, kepuasan kerja
PENDAHULUAN
kinerja organisasi. Keadaan atau
situasi akan menjadi renggang apabila
perseorangan bekerja untuk mencapai
tujuan pribadinya tanpa arahan dari
pimpinan atau kurangnya komunikasi
dalam organisasi.
Komunikasi yang efektif dalam
berorganisasi sangat dibutuhkan karena kiranya tidak dapat disangkal
apabila organisasi dapat mengidentifikasi efektivitas komunikasi akan dapat
meningkatkan daya produktivitas atau
kinerja karyawan yang lebih baik.
Komunikasi yang efektif ditentukan
oleh kemampuan membaca situasi
yang dihadapi dan menyesuaikannya
sehingga para bawahan mampu
melaksanakan program kerja yang
telah ditetapkan organisasi. Suatu or-
Kinerja yang baik akan bisa
tercapai apabila dalam suatu organisasi tertata sistem kerja yang baik,
dan mampu mengikat keseluruhan
aktivitas karyawan sehingga organisasi bergerak dan berjalan dalam
arah tujuan yang sama. Suatu organisasi akan berhasil atau bahkan gagal
sebagian besar ditentukan oleh sistem
kerja yang ditetapkan seorang pimpinan. Komunikasi yang efektif antara
atasan bawahan atau antara teman
sekerja yang terbina dengan baik
yang berlandaskan satu misi bersama
dimana antara tujuan perseorangan
dan tujuan organisasi adalah sama
akan membawa dampak baik bagi
54
KINDAI Volume 10 Nomor 1, Januari – Maret 2014
ganisasi dengan sistem komunikasi
yang baik dalam berkomunikasi dapat
menunjang tercapainya sasaran yang
telah ditetapkan oleh organisasi. Untuk dapat memiliki komunikasi yang
baik maka organisasi perlu mengetahui segi keefektifan dari komunikasi
yang paling sesuai dengan situasi dan
kondisi dalam lingkup kerjanya.
Untuk mengetahui efektivitas
komunikasi maka perlu diadakan penilaian terhadap komunikasi itu sendiri. Dari penilaian itu dapat diketahui
apakah komunikasi yang dilaksanakan
telah efektif atau tidak. Dengan melakukan penilaian terhadap keefektifan
komunikasi pada karyawan, pihak organisasi dapat memperoleh informasi
tentang sistem komunikasi yang dapat
dimanfaatkan secara lebih optimal dalam tujuan peningkatan kehidupan
berorganisasi. Dalam mewujudkan
konteks komunikasi efektif diperlukan
pencermatan suasana psikologis yang
positif dan penuh kepercayaan, perhatian terhadap hambatan-hambatan
se-perti manipulasi pesan, interpretasi
pesan, dan tingkat pengetahuan karyawan sebagai penerima pesan.
Demikian juga yang terjadi pada
CV. Sampurna Rattan Carpet Industri Martapura dimana komunikasi
yang efektif diperlukan dalam rangka
peningkatan kinerja karyawan dilingkungan perusahaan. Untuk itu perlu
adanya perhatian terhadap sistem
komunikasi yang baik antara atasan
dengan bawahan dan antara rekan
kerja. Dengan sistem komunikasi yang
efektif diharapkan dapat meningkatkan kinerja karyawan.
Berdasarkan hal tersebut pelaksanaan komunikasi yang efektif dalam perusahaan dapat berpengaruh
pada peningkatan kinerja karyawan di
lingkungan CV. Sampurna Rattan
Carpet Industri Martapura. Fenomena inilah yang sangat menarik untuk
55
dikaji lebih dalam lagi melalui proses
penelitian.
Dari deskripsi tersebut diatas,
maka dapat diformulasikan rumusan
masalah peneltian sebagai berikut:
1. Apakah efektivitas komunikasi, pelatihan dan kepuasan kerja berpengaruh secara parsial terhadap kinerja karyawan dilingkungan CV.
Sampurna Rattan Carpet Industri
Martapura?
2. Apakah efektivitas komunikasi, pelatihan dan kepuasan kerja berpengaruh secara simultan terhadap
kinerja karyawan dilingkungan CV.
Sampurna Rattan Carpet Industri
Martapura?
3. Manakah dari efektivitas komunikasi, pelatihan dan kepuasan kerja
yang berpengaruh paling dominan
terhadap kinerja karyawan dilingkungan CV. Sampurna Rattan
Carpet Industri Martapura?
TUJUAN PUSTAKA
Komunikasi
Komunikasi (comunication) dalam bahasa inggris berasal dari kata
Latin communis yang artinya “sama”,
istilah communis sering disebut sebagai asal-usul kata komunikasi. Komunikasi menyarankan bahwa suatu
pikiran, suatu makna atau suatu pesan dianut secara sama. Istilah lain
yang mirip dengan komunikasi dalah
komunitas (community) yang juga
menekankan kesamaan dan kebersamaan.
Berbicara tentang definisi komunikasi tidak ada definisi yang benar
ataupun yang salah. Definisi harus dilihat dari kemanfaatannya untuk menjelaskan fenomen yang didefinisikan
dan mengevaluasinya. Sebagaimana
dikemukakan Wenberg dan Wilmot
dalam Mulyana (2000: 61), setidaknya
ada tiga kerangka pemahaman mengenai komunikasi, yakni komunikasi
KINDAI Volume 10 Nomor 1, Januari – Maret 2014
sebagai tindakan satu arah, komunikasi sebagai interaksi dan komunikasi sebagai transaksi.
Komunikasi yang mengisyaratkan penyampaian pesan searah dari
seseorang (suatu lembaga) kepada
seseorang (sekelompok orang) lainnya, baik secara langsung (tatap muka) ataupun melalui media, seperti surat, surat kabar, majalah. Dalam hal ini
komunikasi dianggap sebagai proses
linier yang dimulai dengan sumber
atau pengirim dan berakhir pada penerima, sasaran atau tujuannya.
Jenis-jenis Komunikasi
Komunikasi dalam penggunaannya dibedakan dalam dua jenis, dimana kebanyakan orang biasanya atau
lazimnya
berkomunikasi
dengan
menggunakan ucapan atau tata bahasa yang dapat dimengerti oleh lawan
bicaranya tetapi memungkinkan juga
seseorang dalam berkomunikasi dengan lawannya hanya mempergunakan gerak dari bagian-bagian tubuhnya yang dapat mewakili apa yang
diinginkan dan dirasa.
Demikian juga komunikasi yang
biasa terjadi di organisasi tidak jauh
beda dengan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari individu. Komunikasi yang sering dipergunakan dalam organisasi, yaitu:
1. Komunikasi verbal, merupakan
bahasa verbal dimana sarana utama untuk menyampaikan atau
menyatakan pikiran, perasaan dan
maksud menggunakan kata-kata
yang mempresentasikan beberapa
aspek realitas individual. Komunikasi yang menggunakan bahasa
yang merupakan sarana utama untuk menyatakan pikiran, perasaan
dan maksud. Dengan menggunakan kata-kata yang mempresentasikan beberapa aspek realitas individual kita. Bentuk komunikasi yang
56
disampaikan pada pihak lain melalui tulisan tangan dan lisan.
2. Komunikas nonverbal, yaitu komunikasi dengan mengunakan bahasa-bahasa tubuh atau isyarat untuk bereaksi dengan lingkungan sekitarnya. Seperti sentuhan, pandangan, senyuman, sandi, simbol
seragam, sinyal (Lerry A. Samover
dan Richard E. Poter yang dikutip
dalam buku Mulyana (2000: 309)).
Pelatihan
Ada dua kelompok besar individu yang akan dilatih, yaitu para pekerja operasional dan manager. Pelatihan tenaga kerja operasional memerlukan sejumlah peningkatan khusus
dalam ketrampilan dan pengetahuan
untuk melaksanakan suatu pekerjaan
tertentu. Terdapat empat metode dasar yang terutama digunakan yaitu:
pelatihan ditempat kerja (on the job
training), magang (apprenticeship)
dan kursus-kursus khusus. Sedangkan pelatihan bagi para manager dapat mencakup berbagai kebutuhan seperti:
1. Ketrampilan pengambilan keputusan dapat ditingkatkan melalui penggunaan teknik-teknik seperti latihan
kotak surat, permainan perusahaan
dan analisis kasus
2. Ketrampilan antar pribadi dapat ditingkatkan melalui berbagai macam
cara termasuk permainan peran,
permodelan perilaku, pelatihan kepekaan, analisis transaksional dan
wawasan tersusun.
3. Pengetahuan tentang pekerjaan
dalam jabatan yang ditugaskan kepadanya dapat ditingkatkan dengan
metode pengalaman ditempat kerja
melatih dan bertindak sebagai
manager pengganti
4. Pengetahuan tentang organisasi,
dapat diperoleh melalui perputaran
jabatan dan manajemen ganda
KINDAI Volume 10 Nomor 1, Januari – Maret 2014
Pelatihan operasional dan manajerial dapat menjadi sia-sia jika lingkungan
organisasi
menghalangi
menggunakan keterampilan yang dipelajari itu, maka diperlukan programprogram yang dirancang untuk mengembangkan unit-unit organisasi sebagai satu kesatuan. Pengembang-an
organisasi adalah suatu strategi campur tangan (intervensi) dimana lingkungan umum dirubah untuk menekankan kerjasama, kemampuan, konfrontasi, kejujuran dan dukungan.
Akan tetapi pertu disadari bahwa berbagai macam pelatihan dengan mempergunakan berbagai macam metode
tersebut, tidak ada kombinasi metode
pengembangan manajemen yang terbaik dan ideal. Setiap organisasi harus merancang program khususnya
sendiri untuk disesuaikan dengan iklim
perusahaan, tingkat organises! yang
memerlukan pelatihan itu, sifat-sifat
tertentu dari personalia yang akan
dikembangkan, kebutuhan-kebutuhan
pengernbangan khusus dan tersedianya sumber daya ekonomi yang
dapat disediakan kepada pelatihan.
Fungsi
pelatihan
sendiri
menurut Moekijat (1999: 98), ada tiga
hal, yaitu:
1. Pelatihan berfungsi memperbaiki
perilaku (performance) kerja, dalam
hal inprestasi kerja para peserta
pelatihan.
2. Pelatihan barfungsi mempersiapkan promosi ketenagaan untuk jabatan yang lebih rumit dan sulit.
Pelatihan berfungsi mempersiapkan
tenaga kerja pada jabatan yang lebih
tinggi, yakni jabatan kepengawasan
dan manajemen.
Kepuasan Kerja
Menurut Downey (2004: 89),
kepuasan kerja adalah perbedaan antara apa yang diharapkan dan apa
yang diterima sehubungan dengan
alternative yang tersedia dalam situasi
57
yang sudah ditentukan. Sementara itu,
Keith (2005: 96) mengemukakan
bahwa: “job satisfaction is the favorablesness or unfavorableness with employees view their work, yang artinya
bahwa kepuasan kerja adalah perasaan yang mendukung atau tidak mendukung yang dialami pegawai dalam
bekerja. Wexley dan Yukl (2007: 98)
mendefinisikan kepuasan kerja, ”is the
way an employee feels about his her
job”. Kepuasan kerja adalah cara
pegawai merasakan dirinya atau
pekerjaannya.
Berdasarkan pendapat Keith
Davis, Wexly dan Yukl tersebut di
atas, kepuasan kerja adalah suatu
perasaan yang mendukung atau tidak
mendukung diri pegawai yang berhubungan dengan pekerjaannya maupun dengan kondisi dirinya (Locke,
1999: 316). Perasaan yang berhubungan dengan pekerjaan melibatkan
aspek-aspek seperti upah atau gaji
yang diterima, kesempatan pengembangan karir, hubungan dengan pegawai lainnya, penempatan kerja, jenis
pekerjaan, struktur organisasi perusahaan, mutu pengawasan. Sedangkan
perasaan yang berhubungan dengan
dirinya, antara lain umur, kondisi
kesehatan, kemampuan, pendidikan.
Pegawai akan merasa puas dalam
bekerja apabila aspek-aspek pekerjaan dan aspek-aspek dirinya mendukung, pegawai akan merasa puas.
Kinerja
Peningkatan kinerja diyakini
dapat mempercepat pencapaian tugas
pokok, tujuan, sasaran, visi dan misi
organisasi. Pencapaian tersebut akan
secara bertahap meningkatkan kinerja
pegawai untuk menghasilkan kinerja
yang lebih baik dari waktu ke waktu.
Kinerja merupakan output yang merupakan kontribusi yang diberikan pegawai kepada organisasi sesuai
KINDAI Volume 10 Nomor 1, Januari – Maret 2014
dengan tanggung jawab dan tugas
atau wewenangnya dalam organisasi.
Seperti yang dikemukakan oleh
Gomes (1997: 36) memberikan batasan tentang kinerja adalah sebagai
suatu catatan hasil (output) yang
dihasilkan dari fungsi suatu pekerjaan
tertentu atau kegiatan selama suatu
periode tertentu.
Menurut Prawirosentoso (1999:
2) bahwa “Kinerja (performance) adalah hasil kerja yang dicapai oleh
seorang atau sekelompok orang dalam satuan organisasi, sesuai dengan
wewenang tanggung jawab masingmasing dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan
secara legal, tidak melanggar hukum
dan sesuai dengan moral maupun etika.”
Kinerja dari tiap-tiap pegawai
pasti berbeda meski dengan tingkat
kemampuan yang cenderung sama,
kemungkinan faktor penyebabnya
adalah perbedaan daya tangkap terhadap perintah dan ketentuan-ketentuan adalah organisasi, sehingga peranan pimpinan sangat diperlukan untuk dapat menentukan sitem komunikasi yang efektif yang harusnya digunakan dalam penyampaian perintah
baik secara langsung atau tidak langsung sehingga tidak ada kesalahan
persepsi oleh pegawai yang tentunya
akan berpengaruh terhadap kinerjanya.
Dari efektifitas komunikasi dan
kinerja disimpulkan bahwa efektifitas
komunikasi merupakan sarana penting untuk mendorong kinerja pegawai
atau komunikasi merupakan sarana
penting untuk mencapai kinerja. Proses menuju kearah tersebut berkaitan
erat dengan pengelolaan sumber daya
manusia.
Selain itu, pelatihan yang diberikan kepada karyawan juga dapat
meningkatkan kinerja karena dengan
pelatihan, karyawan akan mendapat-
58
kan pengetahuan-pengetahuan praktis
dan up to date yang sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan.
Penelitian Terdahulu
Penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan masalah komunikasi pernah dilakukan oleh M. Hambali (2004) dengan judul: Pengaruh Komunikasi terhadap Produktivitas Kerja
Karyawan Bagian Produksi pada CV.
Sugih Waras di Pelaihari. Penelitian
ini dilakukan dengan tujuan ingin
mengetahui pengaruh komunikasi terhadap produktivitas kerja karyawan.
Dalam penelitian ini metode yang
digunakan untuk menganalisa data
adalah metode regresi linier, korelasi,
dan uji t.
Berdasarkan hasil penelitian korelasi menunjukkan bahwa komunikasi mempunyai hubungan positif terhadap produktivitas kerja karyawan bagian produksi. Keeratan hubungan komunikasi dengan produktivitas kerja
karyawan menunjukkan hubungan
yang kuat positif dan searah antara
komunikasi dan produktivitas kerja
karyawan.
Pengaruh komunikasi terhadap
produktivitas kerja karyawan adalah
sangat kuat sekali artinya mempunyai
peranan yang potensial pada perusahaan khususnya pada bagian produksi. Dengan koefisien regresi yang
positif menunjukkan bahwa pengaruh
variabel bebas (komunikasi) berpengaruh positif terhadap variabel terikat
(produktivitas kerja karyawan). Hasil
pengujian dengan menggunakan uji-t
dapat disimpulkan bahwa komunikasi
sebagai variabel bebas berpengaruh
signifikan terhadap produktivitas kerja
karyawan.
Haspani 2006, dengan judul Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan Terhadap Kinerja Pegawai Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Tanah
Bumbu. Hasil penelitian menunjukkan
59
KINDAI Volume 10 Nomor 1, Januari – Maret 2014
bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dan pelatihan
terhadap kinerja Pegawai Badan
Kepegawaian Daerah Kabupaten
Tanah Bumbu. Dari hubungan yang
terbentuk pada variabel tersebut,
diketahui juga bahwa secara simultan
antara pendidikan dan pelatihan terhadap kinerja Pegawai Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Tanah
Bumbu mempunyai pengaruh sebesar
75,4%. Sedangkan sisa dari variabel
lain yakni 24,6% tidak terdapat dapat
penelitian ini. Maksud dari tidak terdapat dalam penelitian ini bukan berasal dari pendidikan dan pelatihan
indikator lain.
KERANGKA KONSEPTUAL
DAN HIPOTESIS
Berdasarkan kajian teori yang
telah diuraikan, maka dapat dikemukakan kerangka konseptual yang berfungsi sebagai penuntun dan merupakan alur berfikir yang menjadi dasar
dalam penelitian ini.
Alur kerangka pemikiran konseptual untuk menggambarkan pengaruh efektifitas komunikasi, pelatihan
maupun kepuasan kerja adalah memberikan kontribusi dalam membangun
kinerja yang baik terhadap karyawan.
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan
permasalahan
dan landasan teori yang telah diuraikan, maka hipotesis yang dapat
dikemukakan adalah sebagai berikut:
1. Bahwa
efektivitas
komunikasi,
pelatihan dan kepuasan kerja berpengaruh secara parsial terhadap
kinerja karyawan dilingkungan CV.
Sampurna Rattan Carpet Industri
Martapura.
2. Bahwa
efektivitas
komunikasi,
pelatihan dan kepuasan kerja berpengaruh secara simultan terhadap
kinerja karyawan dilingkungan CV.
Sampurna Rattan Carpet Industri
Martapura.
3. Bahwa efektivitas komunikasi yang
berpengaruh paling dominan terhadap kinerja karyawan dilingkungan CV. Sampurna Rattan
Carpet Industri Martapura.
METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Berdasarkan landasan teori dan
sesuai dengan permasalahan yang
akan dibahas, maka dalam penyusunan tesis ini penulis menggunakan
jenis penelitian yang bersifat studi kasus yang bertujuan untuk menjelaskan
hubungan antar variabel dan menguji
hipotesis yang telah diajukan sebelumnya. Dalam hal ini penelitian dilakukan lebih rinci mengenai suatu
obyek tertentu dan selama kurun waktu tertentu. Selanjutnya penulis berusaha menemukan hubungan antara
faktor-faktor atau variabel-variabel tersebut antara yang satu dengan yang
lainnya.
Populasi dan Sampel Penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto
(2003: 102) populasi adalah obyek dari penelitian (keseluruhan dari individu
yang diteliti). Sedangkan pengertian
sampel adalah sebagian atau wakil
dari populasi yang diteliti. Sehingga
populasinya sebanyak 100 karyawan.
Responden yang diteliti adalah Karyawan CV. Sampurna Rattan Carpet
Industri Martapura. Dalam hal ini
penelitian mengambil sampel yaitu
sebanyak 100 responden dengan
menggunakan teknik sensus.
Sumber Data
1. Data primer, adalah data yang diperoleh dari penelitian langsung
pada obyek penelitian dan responden secara langsung.
60
KINDAI Volume 10 Nomor 1, Januari – Maret 2014
2. Data sekunder, adalah data yang
diperoleh dari sumber-sumber lain
yang masih ada hubungannya
dengan instansi / unit kerja yang
bersangkutan.
Pengumpulan Data
Dalam rangka memperoleh data yang obyektif, maka metode yang
dipergunakan adalah sebagai berikut:
1. Studi lapangan, adalah pengumpulan data dengan mengadakan
pengamatan secara langsung terhadap obyek yang diteliti.
2. Studi kepustakaan (library research),
adalah
suatu
cara
pengumpulan data dengan cara
membaca dan mempelajari bukubuku literatur atau sumber data
lainnya terutama yang erat kaitannya dengan permasalahan yang
diteliti
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pengujuan Validitas
Uji validitas digunakan untuk
mengukur kevalidan alat ukur dalam
suatu penelitian. Suatu alat ukur yang
tinggi validitasnya akan memiliki error
pengukuran yang kecil, artinya skor
setiap subyek yang diperoleh oleh alat
ukur tersebut tidak jauh berbeda
dengan skor yang sebenarnya.
Dengan demikian, secara keseluruhan
alat tes yang bersangkutan akan
menghasilkan varians error yang kecil
pula.
Tabel 1. Uji Validitas Correlation Efektivitas Komunikasi
Variabel
X1.1
X1.2
X1.3
X1.4
Correlation
0,824
0,887
0,911
0,881
Sumber: Lampiran SPSS
Hasil
Valid
Valid
Valid
Valid
Berdasarkan data Tabel 1 dapat
diketahui bahwa nilai Correlation untuk tiap-tiap indikator variabel Efektivitas Komunikasi (X1)yang diuji pada
variabel independent dan dependent
memiliki nilai korelasi lebih besar dari
rsyarat , instrument penelitian dapat
dikatakan valid apabila koefisien korelasinya > dari 0,3 sugiyono dalam
Supriyanto dan Machfudz (2010:296)
dapat disimpulkan bahwa semua item
pertanyaan adalah valid. Dengan
demikian alat ukur ini memenuhi
syarat validitas.
Tabel 2. Uji Validitas Correlation
Pelatihan
Variabel
X2.1
X2.2
X2.3
Correlation
0,770
0,830
0,696
Syarat
0,3
0,3
0,3
Hasil
Valid
Valid
Valid
Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan data Tabel 2 dapat
diketahui bahwa nilai Correlation untuk tiap-tiap indikator variabel Ikim Organisasi yang diuji pada variabel independent dan dependent memiliki
nilai korelasi lebih besar dari rsyarat , instrument penelitian dapat dikatakan
valid apabila koefisien korelasinya >
dari 0,3 sugiyono dalam Supriyanto
dan Machfudz (2010:296) dapat disimpulkan bahwa semua item pertanyaan
adalah valid. dengan demikian alat
ukur ini memenuhi syarat validitas.
Tabel 3. Uji Validitas Correlation
Kepuasan Kerja
Variabel
X2.1
X2.2
X2.3
Correlation
0,588
0,655
0,652
Syarat
0,3
0,3
0,3
Hasil
Valid
Valid
Valid
Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan data pada Tabel 3
dapat diketahui bahwa nilai Correlation untuk tiap-tiap indikator variabel
Kepuasan Kerja yang diuji pada varia-
61
KINDAI Volume 10 Nomor 1, Januari – Maret 2014
bel independent dan dependent memiliki nilai korelasi lebih besar dari rsyarat ,
instrument penelitian dapat dikatakan
valid apabila koefisien korelasinya >
dari 0,3 sugiyono dalam Supriyanto
dan Machfudz (2010:296) dapat
disimpulkan bahwa semua item pertanyaan adalah valid. Dengan demikian alat ukur ini memenuhi syarat validitas.
Tabel 4. Uji Validitas Correlation
Kinerja
Variabel
X1.1
X1.2
X1.3
X1.4
Correlation
0,637
0,688
0,612
0,568
Syarat
0,3
0,3
0,3
0,3
Hasil
Valid
Valid
Valid
Valid
Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan data pada Tabel 4
dapat diketahui bahwa nilai Correlation untuk tiap-tiap indikator variabel
Kinerja yang diuji pada variabel independent dan dependent memiliki nilai
korelasi lebih besar dari rsyarat , instrument penelitian dapat dikatakan valid
apabila koefisien korelasinya > dari
0,3 sugiyono dalam Supriyanto dan
Machfudz (2010:296) dapat disimpulkan bahwa semua item pertanyaan
adalah valid. dengan demikian alat
ukur ini memenuhi syarat validitas.
Pengujian Reliabilitas
Untuk menguji reliabilitas dilakukan dengan cara mencari angka
reliabilitas dari butir-butir pernyataan
dalam kuisioner dengan menggunakan rumus standardized item alpha.
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat
pengukur dapat dipercaya atau dapat
diandalkan. Instrumen dapat dikatakan andal (reliabel) bila memiliki koefisien keandalan realibilitas sebesar
0,6 atau lebih (Arikunto, 2003).
Penyelesaian pengujian reliabilitas juga menggunakan program SPSS
for Windows versi 13.0. Hasil pengujian realibilitas terdapat semua variabel dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Rekapitulasi Hasil Uji Realibilitas Instrumen Penelitian
Item
X1
X2
X3
Y
Alpha
0,836
0,811
0,720
0,738
Syarat
0,6
0,6
0,6
0,6
Keterangan
Reliabel
Reliabel
Reliabel
Reliabel
Sumber: Lampiran SPSS
Berdasarkan hasil uji reliabilitas
yang dilakukan terhadap semua pertanyaan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa semua item penelitian
dapat dikatakan reliabel karena lebih
besar dari syarat 0,6, dengan
demikian dapat digunakan sebagai
instrumen dalam mengukur variabel
yang ditetapkan dalam penelitian ini.
Persamaan Regresi Linier Berganda
Untuk menganalisis pengaruh,
efektivitas komunikasi (X1), pelatihan
(X2), dan kepuasan kerja (X3) terhadap kinerja karyawan CV. Sampurna Rattan Carpet Industri Martapura,
alat analisis yang dipergunakan pada
penelitian ini adalah menggunakan
analisis regresi berganda. Alat analisis
yang dipergunakan adalah regresi
berganda dengan program SPSS versi 13.0, Pengujian dilakukan dengan
tingkat kepercayaan 95% atau tingkat
signifikansi 0,05 (a = 0,05). Untuk
mengkaji kebenaran hipotesis-hipotesis tersebut digunakan analisis regresi
linier. Pada analisis regresi ini akan
dilakukan uji serentak atau uji F serta
parsial atau uji t.
Variabel-variabel yang dianalisis adalah komponen-komponen yang
terbentuk dari tiga komponen yang selanjutnya menjadi variabel. Variabel
tersebut adalah efektivitas komunikasi
(X1), pelatihan (X2), dan kepuasan ker-
KINDAI Volume 10 Nomor 1, Januari – Maret 2014
ja (X3) terhadap kinerja karyawan (Y).
Hasil perhitungan regresi berganda
dapat dilihat sebagai berikut Y = 0,516
+ 0,375 X1 + 0,323 X2 + 0,289 X3 + e
Berdasarkan persamaan tersebut, menunjukkan bahwa semua variabel bebas memiliki koefisien regresi
positif. Hal ini berarti variabel Efektivitas Komunikasi (X1) Pelatihan (X2),
dan Kepuasan Kerja (X3) mempunyai
hubungan yang searah atau berbanding lurus dengan variabel terikatnya
atau Kinerja Karyawan (Y). Artinya,
jika variabel X1, X2 dan X3 mengalami
kenaikan maka variabel terikatnya Y
juga ikut mengalami kenaikan, dan
jika variabel X1, X2 dan X3 mengalami
penurunan, maka variabel terikatnya Y
akan mengalami penurunan.
1. Harga koefisien konstanta = 0,516.
Hal ini berarti apabila nilai dari X1,
X2 dan X3 di obyek penelitian sama
dengan 0, maka tingkat atau besarnya variabel dependent Y di lokasi
tersebut akan sebesar 0,516
2. Harga koefisien b1 = 0.375, berarti
bahwa, apabila nilai X1 mengalami
perubahan (kenaikan atau penurunan), sementara variabel lainnya
bersifat tetap, maka tingkat variabel
Y di perusahaan obyek penelitian
tersebut akan meningkat.
3. Harga koefisien b2 = 0.323, berarti
bahwa, apabila nilai X2 mengalami
perubahan (kenaikan atau penurunan), sementara variabel lainnya
bersifat tetap, maka tingkat variabel
Y di perusahaan obyek penelitian
tersebut akan meningkat.
4. Harga koefisien b3 = 0.289, berarti
bahwa, apabila nilai X3 mengalami
perubahan (kenaikan atau penurunan), sementara variabel lainnya
bersifat tetap, maka tingkat variabel
Y di perusahaan obyek penelitian
tersebut akan meningkat.
62
Implikasi Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian dan
analisis, implikasi hasil penelitian
dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Penciptaan Komunikasi sebagai
tindakan satu arah yang baik di
lingkungan CV. Sampurna Rattan
Carpet Industri Martapura. Komunikasi yang mengisyaratkan penyampaian pesan searah dari
seseorang (suatu lembaga) kepada
seseorang (sekelompok orang)
lainnya, baik secara langsung (tatap-muka) ataupun melalui media,
seperti email, chatting, telepon dan
lain lain.
2. Penciptaan Komunikasi sebagai
interaksi yang baik di lingkungan
CV. Sampurna Rattan Carpet Industri Martapura. Pandangan ini
menyetarakan komunikasi dengan
suatu proses sebab-akibat atau
aksi-reaksi, yang arahnya bergantian. Seseorang menyampaikan pesan, baik verbal atau nonverbal,
seorang penerima bereaksi dengan
memberi jawaban verbal atau nonverbal, begitu seterusnya.
3. Pemberian Latihan manejemen
umum di CV. Sampurna Rattan
Carpet Industri Martapura yang
terdiri dari:
a. latihan top management,
b. latihan supervisor, dan
c. latihan kepemimpinan.
4. Pemberian Latihan pekerjaan staf
(staff training) di CV. Sampurna
Rattan Carpet Industri Martapura
untuk melatih tenaga-tenaga karyawan pembantu, latihan kekaryawan an, keuangan dan sebagainya.
5. Pemberian Pay, adalah besaran
dan kewajaran gaji yang diterima
adalah wajar dan sudah memenuhi
kebutuhan hidupnya pada CV.
Sampurna Rattan Carpet Industri
Martapura
6. Work itself, penciptaan suatu kondisi di mana tugas kerja yang dise-
KINDAI Volume 10 Nomor 1, Januari – Maret 2014
diakan menarik dan menyediakan
peluang untuk melakukan pembelajaran dan menerima tanggungjawab.
KESIMPULAN
Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan hasil analisis dan
pembahasan yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, maka kesimpulan penelitian ini adalah:
1. Variabel efektivitas komunikasi
(X1), pelatihan (X2), dan kepuasan
kerja (X3) berpengaruh signifikan
terhadap kinerja pegawai (Y) CV.
Sampurna Rattan Carpet Industri
Martapurasecara parsial. Pengaruh
dimensi tersebut secara parsial
(terpisah) masing- masing sebesar
61,0 % untuk efektivitas komunikasi
(X1) 39,3 % untuk pelatihan (X2),
dan 28,7% untuk kepuasan kerja
(X3) kesimpulan ini didasarkan pada hasil analisis yang menunjukan
bahwa vatiabel efektivitas komunikasi (X1) mempunyai t hitung
(7,534) > dari t tabel (1,998), Pelatihan (X2) mempunyai t hitung (4.185)
> dari t tabel (1,998), dan Kepuasan
Kerja (X3) mempunyai t hitung (2.939)
> dari t tabel (1,998)
2. Pengaruh kedua variabel efektivitas
komunikasi (X1) pelatihan (X2), dan
kepuasan kerja (X3), tersebut
secara simultan (bersama-sama)
berpengaruh terhadap kinerja pegawai (Y) CV. Sampurna Rattan
Carpet Industri Martapura sebesar
55,3 % kesimpulan ini didasarkan
pada hasil analisis yang menunjukkan bahwa nilai Fhitung (39,546) >
Ftabel (2.70).
3. Hasil penelitian menyatakan bahwa
variabel yang berpengaruh dominan terhadap kinerja pegawai adalah efektivitas komunikasi (X1) yaitu sebesar 0,610 pada nilai r parsial
yang artinya berpengaruh sebesar
63
61,0% terhadap kinerja pegawai
(Y) CV. Sampurna Rattan Carpet
Industri Martapura. Hal ini sejalan
hipotesis ketiga yang menduga
efektivitas komunikasi (X1) adalah
variabel yang paling dominan
pengaruhnya terhadap kinerja pegawai (Y) Bawahan Selan Kecamatan Mataraman Kabupaten Banjar,
dikarenakan nalai r parsial variabel
Efektivitas Komunikasi (X1) sebesar
0.610 atau 610 % > dari nilai r parsial variabel Pelatihan (X2) yang
hanya sebesar 0.393 atau 39,3 %
dan variabel Kepuasan Kerja (X3)
yang hanya sebesar 0.287 atau
28,7 %.
Saran
1. Hasil penelitian yang menunjukkan
bahwa
variabel
yang
paling
mempengaruhi kinerja pegawai
adalah efektivitas komunikasi (X1).
Hal ini bisa disikapi dengan penciptaan proses komunikasi yang baik
karena komunikasi yang efektif
merupakan penciptaan kegiatan
yang ditandai dengan tindakan, perubahan, pertukaran, dan perpindahan pesan atau informasi dan
terdapat kontinyuitas dari setiap
unsurnya dilingkungan CV. Sampurna Rattan Carpet Industri
Martapura
2. Untuk pelatihan (X2) sebaiknya juga
di tingkatkan untuk meningkatkan
kinerja pegawai CV. Sampurna
Rattan Carpet Industri Martapura,
pelaksanaan pelatihan dapat dilakukan di pelatihan ditempat kerja
(on the job training), magang (apprentiechip) dan di tempat kursuskursus khusus, hal ini Ketrampilan
pengambilan keputusan dapat ditingkatkan melalui penggunaan
teknik-teknik seperti latihan kotak
surat, permainan perusahaan dan
analisis kasus, hal ini akan berfungsi untuk peningkatan Ketrampi-
KINDAI Volume 10 Nomor 1, Januari – Maret 2014
lan antar pribadi dapat, Pengetahuan tentang pekerjaan dalam
jabatan yang ditugaskan kepadanya dapat ditingkatkan dengan
metode pengalaman ditempat kerja
melatih dan bertindak sebagai
manager pengganti, dan Pengetahuan tentang organisasi, dapat
diperoleh melalui perputaran jabatan dan manajemen ganda
3. Untuk
kepuasan
kerja
(X3)
sebaiknya juga di tingkatkan untuk
meningkatkan kinerja pegawai CV.
Sampurna Rattan Carpet Industri
Martapura, melalui peningkatan
yang menyatakan bahwa kerja adalah suatu tanggapan (response)
emosional yang baik pada situasi
kerja yang terjadi. Terciptanya
kepuasan kerja sering ditentukan
oleh kesesuaian antara hasil dan
harapan. serta kepuasan kerja
mewakill beberapa sikap yang
terkait yang dimunculkan dalam
melakukan pekerjaan.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto. 1992. Manajemen Sumber
Daya Manusia: Suatu Pendekatan Makro. Bumi Aksara. Jakarta
Downey. 2004. Manajemen Personalia, Terjemahan, Edisi II. Erlangga. Jakarta.
Gomes. 1997. Manajemen Sumber
Daya Manusia, cetakan per-
64
tama. Toko Gunung Agung. Jakarta.
Keith. 2005. Manajemen Personalia,
diterjemahkan Moh. Mafud. Erlangga, Jakarta.
Locke. 1999. Manajemen Sumber
Daya Manusia. Andi Offset.
Yogyakarta.
Moekijat. 1999. Manajemen Tenaga
Kerja dan Hubungan Kerja, Cetakan Ketiga. CV. Pionir. Bandung.
Mulyana. 2000. Komunikasi Antarbudaya. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.
Prawirosentoso. 1999. Manajemen
Personalia, Cetakan Keenam.
Ghalia Indonesia. Jakarta.
Ranupandojo, Heidjarahman & Suad
Husnan. 1996. Manajemen Personalia, Edisi Ketiga. FE-UGM.
Yogyakarta.
Ravianto. 1995. Produktivitas dan
Manusia Indonesia, Lembaga
Sarana Informasi Usaha dan
Produktivitas. Jakarta.
Supriyanto & Machfudz. 2010. Dasardasar Organisasi dan Manajemen, Cetakan Kedua. Ghalia
Indonesia. Jakarta.
Schuler, Randall S. & Jackson, Susan
E. 1997. Manajemen Sumber
Daya Manusia Menghadapi
Abad ke-21. Erlangga. Jakarta
Wexley dan Yukl. 2007. Efektifitas Organisasi, diterjemahkan oleh M.
Jamin.
Erlangga.
Jakarta.
Download