bab 1 pendahuluan - Universitas Sumatera Utara

advertisement
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Rekayasa gempa berhubungan dengan pengaruh gempa bumi terhadap
manusia, lingkungan dan metode yang dapat digunakan untuk mengurangi
pengaruhnya. Gempa bumi merupakan fenomena dan problem global di dunia, tidak
mungkin melakukan pencegahan terhadap kejadian gempa, namun dimungkinkan
untuk memitigasi pengaruhnya terhadap manusia.
Penyebab gempa, jenis gelombang dan jenis batuan dasar akan menentukan
fungsi atenuasi (perambatan gelombang gempa di batuan dasar) yang digunakan.
Dengan analisa probabilitas dapat diperoleh percepatan maksimum gempa di batuan
dasar untuk perioda ulang tertentu. Data digitasi gempa dan jenis material tanah akan
menentukan perambatan gelombang gempa pada lapisan tanah, sehingga diperoleh
percepatan maksimum gempa di permukaan tanah dan faktor amplifikasi. Faktor
amplifikasi gempa adalah perbandingan percepatan maksimum gempa di permukaan
tanah dengan batuan dasar. Jika tidak diperoleh data digitasi gempa untuk daerah
yang akan ditinjau, maka dapat digunakan beberapa data digitasi daerah lain.
Kemudian harus dianalisa percepatan maksimum gempa di permukaan tanah yang
akan digunakan. Umur rencana bangunan dan resiko gempa yang disyaratkan akan
1
Universitas Sumatera Utara
2
menentukan perioda ulang gempa.
Gempa itu sebenarnya adalah adanya pergeseran lempengan di dalam bumi,
akibat pergeseran lempengan tentu akan menyebabkan getaran ke permukaan bumi.
Kapan terjadi pergeseran itu tidak bisa diketahui secara pasti. Tempat terjadinya
pergeseran itu disebut juga hypocenter atau focus atau pun pusat gempa, sedangkan
proyeksi hypocenter terhadap permukaan bumi disebut juga epicenter (dapat dilihat
pada gambar di bawah ini). Pusat gempa di Sumatera terletak di sebelah barat pulau
Sumatera termasuk Lautan Hindia.
s
Epicenter
KOTA
h
Hypocenter / Focus /
Pusat Gempa
Gambar 1.1
Hypocenter dan Epicenter
Ada tiga mekanisme terjadinya patahan yaitu normal fault (sesar turun), reserve
fault (sesar naik) dan strike slip (sesar horizontal). Sesar horizontal adalah
bergesernya lempeng-lempeng tektonik secara horizontal, sedangkan dua sesar
lainnya secara vertikal, dua sesar inilah yang mampu mendeformasikan dasar laut ke
arah bawah dan atas.
Universitas Sumatera Utara
3
Wegener, Ahli Geologi Bangsa Jerman : dulunya (dua ratus juta tahun yang
lalu), bumi hanya satu benua dan sangat luas yang disebut Pangaea. Akibat adanya
aktifitas magma dan perputaran bumi itu sendiri, maka lapisan bumi bagian atas
pecah menjadi lempeng-lempeng benua dan lempeng samudera. Pergerakan lempeng
mangakibatkan daratan terpencar seperti kondisi saat ini.
Java T
rench
Gambar 1.2
Pertemuan 4 Lempeng Tektonik di Wilayah Indonesia, (Sibero, 2004)
Kepulauan Indonesia merupakan tempat pertemuan 4 (empat) lempeng yaitu :
1. Lempeng benua eurasia (eropah-asia), pulau sumatera, jawa dan kalimantan,
terdapat di lempeng ini.
2. Lempeng pasific, sulawesi, maluku dan irian jaya terdapat pada lempeng ini.
3. Lempeng samudra hindia - australia, terdapat di samudra hindia dan hanya
terdapat pada pulau-pulau kecil.
Universitas Sumatera Utara
4
4. Lempeng philiphina dekat dengan kepulauan irian. Lempeng hindia - australia
bergerak ke arah utara. Lempeng pasific bergerak ke arah barat dan keduanya
menghujam ke arah lempeng eurasia (subduction zone).
Fungsi atenuasi yang digunakan untuk menentukan percepatan gempa yang
terjadi pada batuan dasar di bawah daerah yang ditinjau adalah fungsi Crouse (1991)
dan fungsi Joyner & Boore (1988). Percepatan gempa maksimum pada batuan dasar
ditentukan dengan teori probabilitas dengan Model Point Source (Gumbel Tipe I),
sedangkan untuk menentukan percepatan gempa maksimum di permukaan tanah pada
daerah yang ditinjau, digunakan program SHAKE2000. Program SHAKE2000 yaitu
program untuk menghitung respons lapisan horizontal deposit tanah yang semiinfinite dan terletak di atas material half-space yang seragam akibat penjalaran
gelombang geser secara vertikal.
Wilayah Sumatera Utara sebelah barat merupakan daerah lintasan pertemuan
Lempeng Eurasia dan Lempeng Australia. Patahan-patahan (fault) yang terdapat di
daerah pantai barat Sumatera Utara, seperti yang diungkapkan oleh Dany Hilman
Natawidjaya (Natawidjaya, 2002), adalah patahan Renun, Angkola, Toru, Barumun
dan Sianok. Dari data-data pencatatan gempa dan fakta keberadaan berapa patahan
yang beraktifitas dapat disimpulkan, bahwa wilayah Sumatera Utara terutama daerah
pantai baratnya merupakan daerah dengan potensi gempa yang tinggi. Gempa yang
terjadi umumnya adalah gempa dangkal dengan kedalaman berkisar 7 – 100 km
dengan magnitude antara 3.0 – 8.3 dalam skala Richter.
Universitas Sumatera Utara
5
99°E
97°E
98°E
100°E
KETERANGAN :
4°N
!
!
!
Kab. Kdy. Simalungun
P. Siantar
!
!!
!
!
!
Kab.
Dairi !
Kab.
Karo
!
Kdy.
T. Tinggi
!
!
!
!
!
!
!
!
))
))!
!
!
!
!!
!
! !
!
!
!
1°N
! !
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
! !
!
!
!
!
!
!!
!
0°N
!
!
!
!
!
!
!
!!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!!
!
!
!
!
Kab. Mandailing Natal
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
! !!
!
!
!
!
!
!
! !
!
!
!
!
!
!
!
! !
!
!
!
!
!
!
!
!
!
Gambar 1.3
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!!
!
!
!
!
!
!
Kab.
Tapsel
!
!
!
!
!
!
!!
!
!
!
!
!
!
!
!!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
Kab.
Nias
!
!
!
!
! !
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!!
! !
Kdy.
Sibolga !
!
!
!
!
!
Kab.
Labuhan Batu
!
!
!
!
!
!
!
! !
!
!
!
!
!
!
Kab.
Tapteng
! !
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
! !
!
!!
!
!
!
! !
!
!
!
!!
!
!
!
!
!
!!
!
!
!!
!
!
!
!
!
Kab.
Toba Samosir !
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
Kab.
Taput
!
!
!
!
!
!
!
!
!
Kab.
Asahan
Kdy.
Tg. Balai
Radius gempa Nias
300 km
!
! !
Kab.
Serdang Bedagai
Kab.
Deli Serdang
Kota Medan
3°N
Kab.
Langkat
Gempa Nias
28 Maret 2005
!
)))
!
Mekanisme gempa
subduksi
2°N
!
!
Mekanisme gempa
strike slip
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
Lokasi Episenter Gempa di Sekitar Sumatera Utara Tahun 1907 - 2007
(http://neic.usgs.gov /neis/epic/)
Universitas Sumatera Utara
6
Namun demikian ada beberapa kejadian gempa berkategori gempa dalam,
dengan magnetude dalam skala Richter antara 4.0 – 7.0. Mekanisme gempa yang
terjadi merupakan mekanisme subduksi, dimana Lempeng Australia menghunjam ke
arah Lempeng Eurasia. Sebaran lokasi episenter gempa yang pernah terjadi antara
tahun 1907 hingga tahun 2007 di sekitar wilayah Sumatera Utara, dapat dilihat pada
Gambar 1.3 diatas.
1.2. Permasalahan
Perencanaan suatu bangunan tahan gempa di Indonesia harus berdasarkan
rekomendasi yang terdapat pada Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk
Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2003), yang dikeluarkan oleh Badan Standarisasi
Nasional (BSN) pada tahun 2003. Tata cara ini secara umum membagi Indonesia
menjadi 6 (enam) zona percepatan puncak gempa dan mengklasifikasikan kondisi
tanah menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu tanah keras, tanah sedang, dan tanah lunak. Hal
ini menyebabkan koefisien geser gempa di tanah dasar yang direkomendasikan untuk
bangunan, tidak mempertimbangkan kondisi geologi dan seismologi, atenuasi
rambatan gelombang gempa di batuan dasar, spesifik time histories percepatan dan
kondisi tanah lokal.
SNI 03-1726-2003 menetapkan jenis tanah sebagai tanah keras, tanah sedang
dan tanah lunak untuk lapisan tanah setebal maksimum 30 m dengan kriteria seperti
pada Tabel 1.1.
Universitas Sumatera Utara
7
Tabel 1.1 Jenis - jenis Tanah Berdasarkan SNI 03-1726-2003
Jenis Tanah
Kecepatan Rambat
Gelombang Geser
Rata-rata, V s (m/det)
Nilai Hasil Test
Penetrasi Standar
Rata-rata, N
Kuat Geser Niralir
Rata-rata S u (kPa)
V s ≥ 350
N ≥ 50
S u ≥ 100
175 ≤ V s < 350
15 ≤ N < 50
50 ≤ S u < 100
V s < 175
N < 15
S u < 50
Tanah Keras
Tanah Sedang
Tanah Lunak
atau, setiap jenis tanah lempung lunak dengan total tebal lebih dari 3 m
dengan Indeks Plastis > 20, kadar air alami tanah (wn) ≥ 40 % dan kuat
geser niralir (Su) < 25 kPa
Tanah Khusus
Diperlukan evaluasi khusus disetiap lokasi
Tata cara ini juga menerapkan aturan, apabila lapisan tanah di atas batuan dasar
tidak memenuhi syarat seperti pada Tabel 1.1, maka pengaruh gempa rencana di
permukaan tanah harus ditentukan dari hasil analisis perambatan gelombang gempa
dari kedalaman batuan dasar ke permukaan tanah, menggunakan gerakan gempa
masukan dengan percepatan puncak untuk batuan dasar menurut Tabel 1.2.
Akselerogram gempa masukan yang ditinjau dalam analisis ini, harus diambil dari
rekaman gerakan tanah akibat gempa yang didapat di suatu lokasi, yang mirip kondisi
geologi, topografi dan seismotektoniknya dengan lokasi yang ditinjau tempat struktur
bangunan berada. Untuk mengurangi ketidakpastian mengenai kondisi lokasi
tersebut, paling sedikit harus ditinjau 4 (empat) akselerogram dari 4 (empat) gempa
berbeda, salah satunya harus diambil gempa El-Centro N-S yang telah direkam pada
tanggal 15 Mei 1940.
Menurut SNI 03-1726-2003, wilayah Provinsi Sumatera Utara, berdasarkan
pembagian wilayah gempa di Indonesia, adalah seperti pada Gambar 1.4 dibawah ini.
Universitas Sumatera Utara
8
100°E
98°E
99°E
KETERANGAN :
Wil. 1 : 0.03 g
4°N
Wil. 2 : 0,10 g
Wil. 3 : 0,15 g
Kab.
Langkat
Wil. 4 : 0,20 g
Kota
Medan
Wil. 5 : 0,25 g
Kab.
Serdang Bedagai
Kab.
Deli Serdang
Wil. 6 : 0,30 g
Kdy.
T. Tinggi
Kab.
Karo
3°N
Kdy.
Kab.
P. Siantar
Simalungun
Kdy.
Tg. Balai
Kab.
Dairi
Kab.
Asahan
Kab.
Toba Samosir
Kab.
Taput
Kab.
Labuhan Batu
2°N
Kab.
Tapteng
Kdy.
Sibolga
Kab.
Tapsel
1°N
Kab.
Nias
Kab.
Mandailing Natal
0°N
Gambar 1.4
Wilayah Gempa di Provinsi Sumatera Utara, (SNI 03-1726-2003)
Universitas Sumatera Utara
9
Tabel 1.2 Percepatan Puncak Batuan Dasar dan Percepatan Puncak Muka Tanah
Untuk Masing-masing Wilayah Gempa Indonesia, (SNI 03-1726-2003)
Wilayah
Gempa
Percepatan Puncak
Batuan Dasar (g)
1
Percepatan Puncak Muka Tanah Ao (g)
Tanah
Keras
Tanah
Sedang
Tanah
Lunak
0.03
0.03
0.04
0.08
2
0.10
0.12
0.15
0.23
3
0.15
0.18
0.22
0.30
4
0.20
0.24
0.28
0.34
5
0.25
0.29
0.33
0.36
6
0.30
0.33
0.36
0.36
Tanah
Khusus
Diperlukan
evaluasi
khusus di
setiap lokasi
Sehingga, berdasarkan hal tersebut di atas, perlu kiranya diupayakan suatu
analisa potensi gempa yang terdapat di daerah Sumatera Utara, terutama dalam hal
akselerasi gelombang permukaan yang muncul akibat terjadinya gempa dengan
kondisi tanah geologi setempat. Mengingat wilayahnya yang luas, maka dibutuhkan
program Shake2000 yang dapat memprediksi kemungkinan besarnya akselerasi
gelombang permukaan dan respon spektrum desain pada suatu lokasi di wilayah
Sumatera Utara berdasarkan data-data gempa yang ada dan kondisi geologi setempat.
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan yang diharapkan dari penulisan tesis ini adalah untuk :
1. Menentukan Percepatan gempa di batuan dasar dan di permukaan tanah.
2. Membuat peta kontur mikrozonasi percepatan gempa di batuan dasar dan
Universitas Sumatera Utara
10
permukaan tanah untuk Kota Medan, sekitar Kota Medan dan Provinsi Sumatera
Utara.
1.4. Pembatasan Masalah
Penulis membatasi hanya menganalisa percepatan gempa di permukaan tanah
(dengan menggunakan aplikasi program SHAKE2000) di Provinsi Sumatera Utara,
yang hasil analisisnya ditampilkan dalam bentuk peta kontur mikrozonasi, untuk
menampilkan percepatan gempa di permukaan tanah pada lokasi tersebut. Untuk
menganalisa percepatan gempa di permukaan batuan dasar, ditetapkan dengan :
1. Fungsi atenuasi yang digunakan adalah fungsi atenuasi dari Crouse (1991), untuk
data gempa dengan mekanisme subduction (Hypocenter gempa di Laut) dan
fungsi atenuasi dari Joyner and Boore (1988) untuk data gempa dengan
mekanisme strike slip (hypocenter gempa di darat).
2. Pemodelan matematika untuk probabilitas resiko gempa dari episenter ke batuan
dasar menggunakan model Distribusi Gumbel Tipe I (Point Souce Method), tanpa
mempertimbangkan model dari Metode USGS dari McGuire.
3. Perioda ulang gempa yang diambil 500 tahun dengan data digitasi El Centro.
4. Kontur mikrozonasi pada tesis ini tidak mencakup seluruh Sumatera Utara, karena
penulis kesulitan memperoleh data lapisan tanah.
5. Data-data kejadian gempa di wilayah Sumatera Utara diambil pada rentang antara
Universitas Sumatera Utara
11
tahun 1907 sampai 2007 di sekitar wilayah Sumatera Utara, yang diperoleh dari
situs internet USGS Earthquake Hazard Programs (http//neic.usgs.gov/neis/epic).
6. Data-data pada lapisan tanah diambil dari tesis Jupriah Sarifah 2004
“Mikrozonasi Percepatan Gempa Sumatera Utara” dan Joyke Sibero 2004
“Program Komputasi Analisa Resiko Gempa Pada Daerah Sumatera Utara”, serta
berdasarkan data hasil penyelidikan tanah di wilayah Sumatera Utara.
1.5. Sistematika Pembahasan
BAB I
: PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang, permasalahan, tujuan penelitian, dan
pembatasan masalah.
BAB II : STUDI PUSTAKA
Berisi tentang teori sebab terjadinya gempa, gelombang gempa, ukuran
gempa, uraian tentang resiko dan analisa resiko gempa. Bab ini juga
menguraikan tentang parameter gerakan tanah pada batuan dasar,
pengaruh tanah terhadap percepatan gempa, spektrum respon gelombang
gempa dan kondisi umum geologi wilayah Sumatera Utara.
BAB III : PEMILIHAN LOKASI STUDI
Berisi tentang menentukan lokasi studi penelitian daerah Sumatera Utara,
kondisi patahan-patahan yang terdapat dan zona wilayah kegempaan di
Universitas Sumatera Utara
12
sekitar Sumatera Utara, kondisi geologi Sumatera Utara, ciri khas
kerusakan bangunan akibat gempa Nias dan gempa Aceh.
BAB IV : METODOLOGI PENELITIAN
Berisi tentang langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian,
mengindentifikasi episenter dan sumber-sumber gempa, fungsi atenuasi
gerakan tanah yang menggambarkan korelasi antara intensitas gerakan
tanah setempat (i) dan magnitude (M) serta jarak (R) dari suatu sumber
titik dalam daerah sumber gempa.
BAB V : ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN
Berisikan tentang besar percepatan gempa batuan dasar dan permukaan
tanah sebelum dan sesudah gempa Nias, pembahasan dan diskusi hasil
perhitungan percepatan gempa di Kota Medan, sekitar Kota Medan dan
Provinsi Sumatera Utara.
BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN,
Pada akhir penulisan tesis ini berisikan tentang kesimpulan dan saran dari
hasil penelitian yang dilakukan, yang merupakan bahan pertimbangan
dalam menggunakan SNI 03-1726-2003 untuk Provinsi Sumatera Utara.
Universitas Sumatera Utara
Download