kecerdasan emosi remaja dan implikasinya

advertisement
KECERDASAN EMOSI REMAJA DAN
IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBINAAN
AKHLAKUL KARIMAH DI DESA WISATA BEJALEN
KECAMATAN AMBARAWA KABUPATEN
SEMARANG TAHUN 2015
SKRIPSI
Dibuat untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.)
Oleh:
ACHMAD RIFAI
11111028
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA
2015
KECERDASAN EMOSI REMAJA DAN
IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBINAAN
AKHLAKUL KARIMAH DI DESA WISATA BEJALEN
KECAMATAN AMBARAWA KABUPATEN
SEMARANG TAHUN 2015
SKRIPSI
Dibuat untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.)
Oleh:
ACHMAD RIFAI
11111028
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA
2015
i
ii
MOTTO
          
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu
dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada
Allah, supaya kamu beruntung.” (Q.S. Ali-‘Imran 003: 200).
vi
PERSEMBAHAN
Atas rahmat, hidayah dan ridho Allah Swt, karya skripsi ini penulis
persembahkan untuk:
1.
Kedua orang tuaku Bapak Margono dan Ibu Barokah yang telah mendidik dan
membesarkanku dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Beliau keduanya
tak henti-hentinya memberikan untaian do’a yang tulus sepanjang waktu demi
keberhasilan penulis. Rasa hormat dan baktiku akan selalu tertuju kepadamu.
2.
Saudara-saudaraku yang senantiasa memberikan arahan serta dukungan,
kesemangatan dan do’a.
3.
Teman-temanku dan Sahabat-sahabatku yang selalu memberikan bantuan,
motivasi, inspirasi, nasehat semangat hidup, pelajaran hidup, dan dukungan
untuk selalu bangkit dari keputus asaan dan keterpurukan yang selalu datang
melanda. Semoga dapat meraih segala impian dan kesuksesan hidup yang
dicita-citakan.
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah, penulis haturkan kehadirat Allah Swt yang telah
memberikan rahmat, hidayah beserta ridho-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Kecerdasan Emosi Remaja dan
Implikasinya terhadap Pembinaan Akhlakul Karimah di Desa Wisata Bejalen
Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang Tahun 2015.” Shalawat dan salam
selalu tercurahkan kepada junjungan besar Nabi Muhammad Saw yang selalu kita
nanti-nantikan syafa’atnya besok di hari kiamat. Amin Ya Rabbal Alamin.
Dalam penyusunan skripsi ini, ditujukan sebagai syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan Islam di IAIN Salatiga. Dengan kerendahan hati dan
kesadaran penuh, penulis sampaikan bahwa skripsi ini tidak mungkin terselesaikan
tanpa adanya dukungan dan bantuan dari semua pihak, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Penulis mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya
kepada semua pihak yang telah membantu. Adapun ucapan terima kasih secara
khusus penulis sampaikan kepada:
1. Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd. selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri
(IAIN) Salatiga.
2. Suwardi, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK)
3. Siti Rukhayati, M.Ag. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
4. Prof. Dr. H. Mansur, M.Ag. selaku Dosen Pembimbing, yang telah meluangkan
waktu, tenaga dan pikirannya, dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaannya
viii
dalam memberikan bimbingan dan arahan sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini.
5. Bapak dan Ibu dosen yang dengan tulus mendidik dan memberikan jasanya
dalam menuntut ilmu di IAIN Salatiga.
6. Karyawan dan Karyawati IAIN Salatiga yang telah memberikan layanan serta
bantuannya.
7. Segenap keluarga, terutama Bapak, Ibu dan Kakak yang selalu mencurahkan
kasih sayang, perhatian, kesabaran, ketabahan serta untaian do’a yang tulus
sepanjang waktu demi keberhasilan penulis.
8. Bapak Nowo Sugiharto selaku Kepala Desa Wisata Bejalen Kecamatan
Ambarawa Kabupaten Semarang yang telah memberikan izin dan bantuannya
dalam penyelesaian skripsi ini.
9. Sahabat-sahabat dan semua pihak yang telah membantu dalam penulisan ini,
sehingga dapat terselesaikan dengan baik semoga amal kebaikannya diterima di
sisi Allah Swt.
Skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, maka penulis mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga hasil penelitian ini dapat
berguna bagi penulis khususnya serta para pembaca pada umumnya, terutama untuk
kemajuan dunia pendidikan.
Salatiga, 26 Oktober 2015
Penulis,
ACHMAD RIFAI
NIM. 11111028
ix
ABSTRAK
Rifai, Achmad. 2015. Kecerdasan Emosi Remaja dan Implikasinya terhadap
Pembinaan Akhlakul Karimah di Desa Wisata Bejalen Kecamatan
Ambarawa Kabupaten Semarang Tahun 2015. Skripsi. Fakultas Tarbiyah
dan Ilmu Keguruan. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam
Negeri Salatiga. Pembimbing: Prof. Dr. H. Mansur, M.Ag.
Kata kunci: Kecerdasan Emosi Remaja, Pembinaan Akhlakul Karimah.
Penelitian ini merupakan upaya untuk mengetahui implikasi antara
Kecerdasan Emosi Remaja dengan Pembinaan Akhlakul Karimah di Desa Wisata
Bejalen Kecamatan Ambarawa Kabupaten semarang Tahun 2015. Rumusan
masalah yang ingin dicari jawabannya adalah (1) Bagaimana tingkat kecerdasan
emosi remaja Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang
Tahun 2015? (2) Bagaimana tingkat pembinaan akhlakul karimah pada remaja di
Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang Tahun 2015? (3)
Adakah implikasi antara kecerdasan emosi remaja terhadap pembinaan akhlakul
karimah di Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang
Tahun 2015? Untuk menjawab pertanyaan itu, penulis menggunakan pendekatan
kuantitatif dengan metode angket (quesioner).
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat Kecerdasan Emosi
Remaja Desa Wisata Bejalen, 16,66% berada pada kategori baik sebanyak 6
responden, 22,22% berada pada kategori cukup baik sebanyak 8 responden, dan
61,11% berada pada kategori kurang baik sebanyak 22 responden. Sedangkan
tingkat Pembinaan Akhlakul Karimah di Desa Wisata Bejalen, 16,66% berada pada
kategori baik sebanyak 6 responden, 33,33% berada pada kategori cukup baik
sebanyak 12 responden, dan 50% berada pada kategori kurang baik sebanyak 18
responden.
Penelitian ini setelah dilakukan uji hipotesis dengan rumus product moment,
maka hasilnya menunjukkan bahwa ada implikasi yang positif antara Kecerdasan
Emosi Remaja dengan Pembinaan Akhlakul Karimah. Sehingga dapat dikatakan
bahwa tingkat kecerdasan emosi remaja yang baik akan mempermudah
keberhasilan pembinaan akhlakul karimah pada remaja Desa Wisata Bejalen
Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang Tahun 2015. Menggunakan sampel
sebanyak 36 responden terbukti r hitung lebih besar dari r tabel baik pada taraf
signifikansi 1% maupun 5%. Diketahui r hitung 0,965 dan r tabel pada taraf
signifikansi 1% = 0,424 dan r tabel pada taraf signifikansi 5% = 0,329. Jadi 0,965
> 0,424 dan 0,965 > 0,329.
x
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
i
HALAMAN BERLOGO
ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING
iii
PENGESAHAN PENGUJI
iv
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
v
MOTTO
vi
PERSEMBAHAN
vii
KATA PENGANTAR
viii
ABSTRAK
x
DAFTAR ISI
xi
DAFTAR TABEL
xvi
DAFTAR GAMBAR
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
xviii
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
1
B. Rumusan Masalah
5
C. Tujuan Penelitian
5
D. Hipotesis Penelitian
6
E. Kegunaan Penelitian
6
1. Teoritis
6
2. Praktis
7
xi
F. Definisi Operasional
7
1. Kecerdasan Emosi Remaja
7
2. Implikasi
9
3. Pembinaan Akhlakul Karimah
9
G. Metode Penelitian
BAB II
10
1. Pendekatan dan Rancangan Penelitian
10
2. Lokasi dan Waktu Penelitian
10
3. Populasi dan Sampel
11
4. Metode Pengumpulan Data
12
5. Instrumen Penelitian
13
6. Analisis Data
14
H. Sistematika Penulisan
16
KAJIAN PUSTAKA
A. Emosi dan Remaja
18
1. Emosi
18
a. Pengertian dan Teori
18
b. Emosi dalam Perspektif Islam
22
c. Ekspresi Emosi Manusia
25
d. Gejala-gejala Emosi
29
e. Cara Mengendalikan Emosi
30
2. Remaja
32
a. Definisi dan Pengertian
32
b. Kategori dan Problematika Remaja
33
xii
c. Bimbingan dan Pendidikan Remaja
B. Akhlakul Karimah
36
40
1. Pengertian dan Tujuan
40
2. Karakteristik Akhlak dalam Islam
42
3. Jenis-jenis Akhlakul Karimah dan Aplikasinya
44
C. Kecerdasan Emosi Remaja dan Implikasinya terhadap
Pembinaan Akhlakul Karimah
47
BAB III HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Desa Wisata Bejalen
51
1. Sejarah Desa Bejalen
51
2. Keadaan Umum Wilayah Desa
54
3. Letak Geografis
56
4. Demografi (Kependudukan)
56
5. Pendidikan
57
6. Mata Pencaharian
59
7. Jumlah Penduduk Menurut Agama
60
8. Struktur Organisasi Desa
61
9. Kesehatan
61
10. Form Profile Desa Wisata
62
B. Penyajian Data Hasil Penelitian
1. Data Responden
65
66
2. Data Jawaban Angket Variabel X
(Kecerdasan Emosi Remaja)
xiii
68
3. Data Jawaban Angket Variabel Y
(Pembinaan Akhlakul Karimah)
BAB IV
70
ANALISIS DATA
A. Analisis Pendahuluan
72
1. Analisis Tingkat Kecerdasan Emosi Remaja
Desa Wisata Bejalen
73
a. Mencari Nilai Rata-rata (Mean)
75
b. Mencari Nilai Interval
76
c. Mencari Persentase Kategori Kecerdasan
Emosi Remaja
77
2. Analisis Tingkat Pembinaan Akhlakul Karimah
di Desa Wisata Bejalen
79
a. Mencari Nilai Rata-rata (Mean)
82
b. Mencari Nilai Interval
83
c. Mencari Persentase Kategori Pembinaan
Akhlakul Karimah
B. Analisis Uji Hipotesis
84
86
1. Input Data Implikasi antara Kecerdasan Emosi Remaja
dengan Pembinaan Akhlakul Karimah
87
2. Analisis dengan Rumus Product Moment
89
C. Analisis Lanjut
89
xiv
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
93
B. Saran-saran
94
C. Penutup
95
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP PENULIS
xv
DAFTAR TABEL
1.
Tabel. 1 Pengambilan Sampel
12
2.
Tabel. 2 Nafsu Muthmainnah dan Ammarah
23
3.
Tabel. 3 Ekspresi Wajah pada Enam Jenis Emosi
26
4.
Tabel. 4 Batas Wilayah Desa Bejalen
55
5.
Tabel. 5 Jumlah Penduduk Menurut Usia
56
6.
Tabel. 6 Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan
58
7.
Tabel. 7 Penduduk Menurut Mata Pencaharian
59
8.
Tabel. 8 Jumlah Penduduk Menurut Agama
60
9.
Tabel. 9 Pemetaan Indikator dengan Angket
65
10. Tabel. 10 Jumlah Data Responden
66
11. Tabel. 11 Jumlah Data Jawaban Angket Variabel X
68
12. Tabel. 12 Jumlah Data Jawaban Angket Variabel Y
70
13. Tabel. 13 Hasil Angket Kecerdasan Emosi Remaja
73
14. Tabel. 14 Distribusi Frekuensi Variabel X
75
15. Tabel. 15 Nilai Interval Kecerdasan Emosi Remaja
77
16. Tabel. 16 Rekapitulasi Kecerdasan Emosi Remaja
79
17. Tabel. 17 Hasil Angket Pembinaan Akhlakul Karimah
80
18. Tabel. 18 Distribusi Frekuensi Variabel Y
82
19. Tabel. 19 Nilai Interval Pembinaan Akhlakul Karimah
84
20. Tabel. 20 Rekapitulasi Pembinaan Akhlakul Karimah
86
21. Tabel. 21 Jumlah Data Korelasi Variabel X dan Y
87
22. Tabel. 22 Taraf Signifikansi Product Moment
90
xvi
DAFTAR GAMBAR
1.
Gambar. 1 Teori Emosi James-Lange
20
2.
Gambar. 2 Teori Emosi Cannon-Bard
21
3.
Gambar. 3 Bagan Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Pemerin`tah
4.
Desa Bejalen Tahun 2015
61
Gambar. 4 Denah Lokasi Desa Wisata Bejalen
63
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
1.
Lembar Pengajuan Judul Skripsi
2.
Lembar Konsultasi Skripsi
3.
Angket Penelitian
4.
Surat Keterangan Kegiatan (SKK)
5.
Surat Permohonan Izin Penelitian
6.
Surat Pernyataan Bukti Penelitian
7.
Foto-foto
8.
Riwayat Hidup Penulis
xviii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada umumnya perbuatan manusia sehari-hari disertai oleh perasaanperasaan tertentu, yaitu perasaan senang atau perasaan tidak senang. Kedua
perasaan tersebut yang selalu menyertai perbuatan kita sehari-hari. Perasaan ini
terkadang kuat, lemah atau samar-samar saja. Perasaan yang kuat akan menjadi
lebih mendalam, lebih luas dan lebih terarah. Perasaan-perasaan seperti ini
disebut emosi. Beberapa macam emosi antara lain: gembira, bahagia, terkejut,
benci, senang, sedih, was-was dan sebagainya.
Emosi merupakan pemicu utama dalam tiap aspek kehidupan manusia.
Emosi adalah penggerak diri, memandu untuk terus maju dan bertindak sesuai
dengan apa yang diinginkan. Maka benarlah pernyataan berikut ini: “kadar
reaksi emosi kita terhadap peristiwa-peristiwa menentukan kadar kegiatan
rohani dan jasmani kita” (Maurus, 2014: 15). Perasaan dan emosi biasanya
disifatkan sebagai suatu keadaan (state) dari diri organisme atau individu pada
suatu waktu. Misalnya orang merasa sedih, senang, terharu dan sebagainya jika
melihat sesuatu, mendengar sesuatu, mencium bau dan sebagainya (Hartati
dkk, 2005: 81).
Bagi sebagian orang, perilaku lebih dipengaruhi oleh emosi daripada
kepandaian. Maka, emosi jauh lebih penting daripada kepandaian. Tidak ada
1
faktor yang lebih mempengaruhi keberhasilan, kebahagiaan dan kegembiraan
selain emosi. Orang yang tidak memiliki semangat, kemurahan hati,
keramahan dan cinta tidaklah siap menjalani hidup.
Emosi sangat berguna jika terkendali, namun berbahaya jika dibiarkan
begitu saja khususnya pada usia remaja karena emosi sangat kuat dan labil.
Emosi muncul saat seseorang berada dalam keadaan darurat. Emosi
mengerahkan kekuatan dari dalam maupun dari luar yang memungkinkan
seseorang untuk bertindak dengan kekuatan lebih. Jika seseorang bertindak
pada saat yang bersamaan, emosi akan mereda; fungsinya telah dijalankan dan
mungkin selanjutnya akan lenyap. Apabila tidak ada tindakan, emosi akan
mengambil alih seluruh sistem tubuh. Emosi akan mengaliri seluruh tubuh
dengan dampak-dampak yang mengganggu.
Penyebab utama timbulnya masalah remaja didominasi oleh emosi yang
cenderung muncul. Masalah remaja merupakan suatu masalah yang sebenarnya
sangat menarik untuk dibicarakan, terlebih pada masa kekinian, dimana telah
timbul akibat negatif yang sangat mencemaskan terutama disebabkan atas
dorongan emosi yang akan membawa kehancuran bagi remaja itu sendiri dan
masyarakat pada umumnya.
Persoalan remaja adalah persoalan yang sangat komplek dan urgen yang
disebabkan oleh bermacam-macam faktor diantaranya: kurangnya pembinaan
mental, kurangnya pengenalan terhadap nilai moral pancasila, kegoncangan
suasana dalam masyarakat, masa depan yang suram, pengaruh kebudayaan
asing dan lainnya.
2
Remaja di era kontemporer terletak pada posisi yang terjepit manakala
mereka tidak bisa membawa diri mereka masing-masing dengan sebaik
mungkin, karena tantangan saat ini begitu besar sehingga akhlak (moral)
remaja yang akan menjadi taruhannya. Dekadensi moral atau kemerosotan
akhlak merupakan masalah yang paling mendasar bagi setiap orang di suatu
masyarakat, baik masyarakat tradisional maupun modern. Kemerosotan akhlak
seseorang mengganggu ketentraman orang lain. Seandainya dalam suatu
masyarakat terdapat banyak orang yang akhlaknya rusak maka akan
menggemparkan keadaan masyarakat itu.
Agama Islam yang terpenting adalah pendidikan akhlak (moral), yang mana
Allah Swt berfirman:
    
Artinya: Dan Sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar
berbudi pekerti yang agung (berakhlak sangat mulia). (Al-Qalam 68: 4).
Pendidikan akhlak (moral) untuk setiap umat Islam, Nabi Muhammad Saw
dalam hadits bersabda:
] ‫ق [ حديث‬
ِ ‫إِنَّما بُ ِعثْتُ ِل ُت ِمم صا ِلح ْال ْخال‬
Artinya: Sesungguhnya saya diutus oleh Allah Swt untuk
menyempurnakan keshalehan akhlak (H.R. Ahmad). (Ahmadi, 2004: 29).
Beliaupun memberikan uswah khasanah kepada umatnya di antaranya adalah
benar, jujur, adil dan dipercaya. Penilaian terhadap seseorang baik atau
buruknya tergantung sisi moral yang ia miliki. Bangsa akan hancur dan rusak
dikarenakan masyarakat yang merosot moralnya.
3
Melihat pentingnya orang dewasa pada perkembangan moral remaja, faktor
orang tua dan orang dewasa lainnya bagi remaja tidak boleh diabaikan. Tentu
saja orang tua dan orang dewasa lainnya, yang mengharapkan generasi muda
dapat menggantikan segala tugas dan kelangsungan hidup di hari kemudian,
perlu menyadari pentingnya peranan mereka dalam mendidik, membina, serta
mendampingi remaja dalam perkembangan moralnya sebagai dasar hidup
utama di masa yang akan datang (Gunarsa, 2012: 97). Pendidikan berperan
penting dalam membina moral dan meminimalisir kenakalan remaja yang
mana kita sebagai umat Islam tahu bahwa pendidikan Islam bertujuan
menciptakan pribadi muslim yang berakhlakul karimah dan tertanamnya nilainilai moral dalam kehidupan sehari-hari.
Emosi remaja memiliki hubungan erat dengan pembinaan akhlakul
karimah. Itu disebabkan emosi merupakan implikasi dari proses pendidikan
dan penanaman akhlak pada remaja. Di sini lingkungan keluarga, sekolah dan
masyarakat juga berperan penting dalam membentuk akhlak remaja. Adapun
keberhasilan dalam pembinaan akhlakul karimah adalah wujud dari suksesnya
sebuah pengendalian emosi.
Penelitian ini penting sekali mengingat banyak terjadi problematika remaja
dalam setiap kehidupan yang sampai saat ini belum terpecahkan. Banyak
perilaku remaja khususnya di Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa
Kabupaten Semarang yang menyimpang dilihat dari segi akhlaknya seperti:
berani kepada orang tua, kurang sopan-santun, berkata-kata kotor dan lain
sebagainya. Oleh karena itu, penelitian ini bisa menjadi bekal bagi masyarakat
4
dan orang tua terutama dalam hal penanganan dan pembinaan akhlak remaja
putra-putrinya.
Berdasarkan dari uraian di atas, maka penulis merasa tertarik dengan Desa
Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang untuk dijadikan
sebagai obyek penelitian. Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka
penulis mengajukan penelitian ini dengan judul: “Kecerdasan Emosi Remaja
dan Implikasinya terhadap Pembinaan Akhlakul Karimah di Desa Wisata
Bejalen Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang Tahun 2015”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana tingkat kecerdasan emosi remaja Desa Wisata Bejalen
Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang Tahun 2015?
2. Bagaimana tingkat pembinaan akhlakul karimah pada remaja di Desa
Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang Tahun 2015?
3. Adakah implikasi antara kecerdasan emosi remaja terhadap pembinaan
akhlakul karimah di Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa
Kabupaten Semarang Tahun 2015?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui tingkat kecerdasan emosi remaja Desa Wisata Bejalen
Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang Tahun 2015.
2. Untuk mengetahui tingkat pembinaan akhlakul karimah pada remaja di
Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang Tahun
2015.
5
3. Untuk mengetahui seberapa besar implikasi antara kecerdasan emosi
remaja terhadap pembinaan akhlakul karimah di Desa Wisata Bejalen
Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang Tahun 2015.
D. Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian,
yang kebenarannya masih harus diuji secara empiris. Dalam rangkaian
penelitian yang disajikan dalam bab ini, hipotesis itu merupakan rangkuman
dari kesimpulan teoretis yang diperoleh dari penelaahan kepustakaan.
Hipotesis merupakan jawaban terhadap masalah penelitian yang secara teoretis
dianggap paling mungkin dan paling tinggi kebenarannya (Fathoni, 2011: 20).
Adapun hipotesis yang penulis ajukan dalam penelitian ini, yaitu: ada
implikasi yang positif antara Kecerdasan Emosi Remaja dengan Pembinaan
Akhlakul Karimah. Sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat kecerdasan emosi
remaja yang baik akan mempermudah keberhasilan pembinaan akhlakul
karimah pada remaja Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa Kabupaten
Semarang Tahun 2015.
E. Kegunaan Penelitian
1. Teoritis
Secara teoritis, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi
peningkatan kualitas generasi penerus bangsa pada umumnya, khususnya
dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan dan memperkaya hasil
penelitian yang telah ada serta dapat memberi gambaran mengenai
pentingnya emosi dan pembinaan akhlak remaja.
6
2. Praktis
Secara praktis, bagi remaja dapat memperoleh pemahaman tentang
pentingnya emosi dan pembinaan akhlak agar bisa mengontrol setiap
tindakan dengan didasari agama dan emosi yang stabil, bukan berdasarkan
amarah dan ambisi. Karena remaja merupakan generasi penerus bangsa
yang akan meneruskan cita-cita dan tanggung jawab Negara.
F. Definisi Operasional
Untuk menghindari timbulnya salah pengertian atau penafsiran dari judul di
atas, maka perlu dijelaskan beberapa definisi istilah dan masalah serta
pengertiannya, yaitu:
1. Kecerdasan Emosi Remaja
Kecerdasan adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang
memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu (Purwanto,
1996: 52). Kecerdasan juga merupakan kecakapan yang terdiri dari tiga
jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam
situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan
konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan
mempelajarinya dengan cepat (Slameto, 1995: 56).
Emosi yakni, satu reaksi kompleks yang mengait satu tingkat tinggi
kegiatan dan perubahan-perubahan secara mendalam serta dibarengi
dengan perasaan (feeling) yang kuat atau disertai dengan keadaan efektif
(Hartati dkk, 2005: 106). Mengenai pengertian tersebut, dapat dikatakan
bahwa emosi adalah suatu gejala psiko-fisiologis yang menimbulkan efek
7
pada persepsi, sikap, dan tingkah laku, serta mengejawantah dalam bentuk
ekspresi tertentu.
Remaja adalah masa peralihan dari “anak” menjelang “dewasa”.
Semakin maju suatu masyarakat semakin banyak syarat yang diperlukan
untuk menjadi dewasa, semakin panjang masa yang diperlukan untuk
mempersiapkan diri dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan dan
semakin banyak pula masalah yang dihadapi oleh remaja itu, karena
sukarnya memenuhi syarat-syarat tersebut (Daradjat, 1976: 11). Usia
remaja yang hampir disepakati oleh banyak ahli jiwa ialah antara 13 dan 21
tahun.
Jadi definisi istilah kecerdasan emosi remaja adalah kemampuan
mengindra, memahami dan daya efektif yang dimiliki remaja dalam
menerapkan kekuatan dan ketajaman emosi sebagai sumber energi,
informasi dan pengaruh. Adapun yang menjadi indikator dalam kecerdasan
emosi remaja adalah (Goleman, 2007: 58-59):
a. Mengenali Emosi Diri
b. Mengelola Emosi
c. Memotivasi Diri Sendiri
d. Mengenali Emosi Orang Lain
e. Membina Hubungan dengan Orang Lain
8
2. Implikasi
Implikasi
berasal
dari
bahasa
inggris
“implicate”
yaitu
menyangkutkan (Echols dan Shadily, 2005: 313). Menyangkutkan berarti
menghubungkan, sehingga dapat dikatakan bahwa implikasi adalah
hubungan antara satu dengan yang lain (keduanya atau lebih) baik secara
langsung maupun tidak langsung yang membawa pengaruh (dampak)
positif ataupun negatif.
3. Pembinaan Akhlakul Karimah
Pembinaan adalah usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan
secara efektif dan efisien untuk memperoleh hasil yang lebih baik (Alwi,
2007: 152). Istilah akhlak dalam pemakaian kata sehari-hari biasa disebut
“akhlak yang baik” (akhlakul karimah), seumpama dikatakan: orang itu
berakhlak artinya orang tersebut mempunyai akhlak yang baik, sedangkan
orang itu tidak berakhlak artinya orang tersebut tidak mempunyai akhlak
yang baik atau buruk akhlaknya. Jadi, definisi istilah pembinaan akhlakul
karimah adalah upaya yang dilakukan secara efektif dan efisien dalam
proses pendidikan dan penanaman akhlak yang baik. Adapun yang menjadi
indikator dalam pembinaan akhlakul karimah adalah (Abdullah, 2007: 75):
a. Akhlak kepada Allah
b. Akhlak terhadap Diri Sendiri
c. Akhlak terhadap Keluarga
d. Akhlak terhadap Masyarakat
e. Akhlak terhadap Alam Sekitar
9
G. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Rancangan Penelitian
a. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah
pendekatan kuantitatif, yaitu pendekatan yang model analisisnya secara
umum memakai analisis statistic (Sukardi, 2004: 8), di mana akan
diungkap persoalan di lapangan dalam hal kecerdasan emosi remaja dan
pembinaan akhlakul karimah di Desa Wisata Bejalen Kecamatan
Ambarawa Kabupaten Semarang Tahun 2015.
b. Rancangan Penelitian
Dalam penyusunan
atau rancangan penelitian ini penulis
menggunakan penelitian lapangan (field research) yaitu penelitian
untuk mendapatkan data yang diperlukan secara langsung yang
berhubungan dengan permasalahan yang dibahas yang diperoleh dari
objek penelitian atau suatu riset yang dilakukan di kancah terjadinya
gejala dalam suatu lapangan (Suryabrata, 1983: 93).
2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi atau tempat yang diambil dalam penelitian ini di Desa Wisata
Bejalen Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang, karena merupakan
lokasi yang strategis dan sangat menarik untuk diteliti kaitannya dengan
dunia remaja yang rentan akhlaknya disebabkan oleh faktor emosi. Penulis
dalam melakukan penelitian ini dengan jangka waktu tiga bulan, yaitu
dimulai September-November 2015.
10
3. Populasi dan Sampel
a. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Apabila seseorang
ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka
penelitian ini merupakan penelitian populasi. Menurut Nazir (1988:
325) dalam bukunya yang berjudul “Metode Penelitian” memberikan
pengertian tentang, “Populasi adalah kumpulan dari individu dengan
kualitas serta ciri-ciri yang telah ditetapkan”. Sedangkan menurut
Singarimbun dan Effendi (1988: 108) memberikan pengertian,
“populasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya
akan diduga”. Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini
adalah semua remaja Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa
Kabupaten Semarang Tahun 2015 yang berjumlah 144 orang.
b. Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki
oleh populasi (Sugiyono, 2005: 56). Menurut Arikunto (1998: 67)
“sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diselidiki”. Dari
pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa sampel adalah sebagian dari
populasi yang merupakan wakil dari keseluruhan subyek penelitian,
mengenai besar kecilnya sampel tidak ada ketentuan, tetapi perlu
diingat bahwa semakin besar sampel yang diambil, maka kesimpulan
yang diperoleh semakin baik. Sehubungan hal itu, Arikunto (1998: 120)
mengatakan:
11
Apabila subyeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua
sehingga penelitiaannya merupakan penelitian populasi, sedangkan
jika subyeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau
lebih sesuai dengan kemampuan.
Sampel untuk penelitian ini, Penulis mengambil 25% dari populasi.
Adapun rinciannya sebagai berikut:
Tabel. 1
Pengambilan Sampel
Wilayah Desa Wisata
Bejalen
Dusun Bejalen Barat
Usia Remaja
Populasi
Sampel
13-21 Tahun
80
20
Dusun Bejalen Timur
13-21 Tahun
64
16
144
36
Jumlah
Keterangan: (Sumber: Dokumen Desa Wisata Bejalen dari
Sekretaris Desa, Hari Senin 03-08-2015, Pukul 10:15 WIB).
4. Metode Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data lapangan yaitu dengan menggunakan
metode pengumpulan data sebagai berikut:
a. Metode Observasi
Observasi adalah cara pengumpulan data dengan menggunakan
indera, terutama indera penglihatan dan pendengaran. Menurut Kartono
(1990: 78), “observasi merupakan pencatatan dan pengamatan secara
sistematis terhadap fenomena-fenomena atau gejala-gejala yang
diselidiki.”
b. Metode Angket
Angket adalah teknik pengumpulan data melalui penyebaran
kuesioner (daftar pertanyaan/isian) untuk diisi langsung oleh responden
seperti yang dilakukan dalam penelitian untuk menghimpun pendapat
12
umum (Fathoni, 2011: 111). Teknik/metode ini digunakan untuk
memperoleh data tentang kecerdasan emosi remaja dan pembinaan
akhlakul karimah di Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa
Kabupaten Semarang Tahun 2015.
c. Metode Dokumentasi
Dokumentasi berarti barang-barang tertulis. Metode dokumen
adalah mencari data mengenai hal atau variabel yang berupa catatan,
transkip, buku, surat kabar, majalah, notulen, agenda dan lain-lain.
(Arikunto, 1998: 67). Metode ini digunakan untuk memperoleh data
tentang keadaan warga yang berkaitan dengan kecerdasan emosi remaja
dan pembinaan akhlakul karimah di Desa Wisata Bejalen Kecamatan
Ambarawa Kabupaten Semarang Tahun 2015.
5. Instrumen Penelitian
Fathoni (2011: 30) dalam bukunya yang berjudul: “Metodologi
Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi”, mengatakan:
Dalam suatu penelitian, alat pengambil data (instrumen)
menentukan kualitas data yang dapat dikumpulkan dan kualitas data
itu menentukan kualitas penelitiannya. Karena itu, alat pengambil
data itu harus mendapatkan penggarap yang cermat.
Untuk mengetahui data-data yang diperlukan dalam penelitian ini maka
diperlukan suatu instrumen. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini
adalah angket, data identitas remaja dan dokumen yang sesuai dengan
penelitian dan observasi.
13
6. Analisis Data
Untuk memperoleh hasil dari penelitian agar bisa digeneralisasikan
setiap data yang masuk harus dianalisis. Untuk menganalisis data dengan
melakukan tahapan-tahapan sebagai berikut:
a. Analisis Pendahuluan
Analisis
tahap
pendahuluan
ini,
penulis
terlebih
dahulu
mengelompokkan data-data yang telah diperoleh ke dalam tabel
distribusi frekuensi. Untuk data variabel X (Kecerdasan Emosi Remaja)
terdapat pada soal angket nomor 1-15 dan variabel Y (Pembinaan
Akhlakul Karimah) terdapat pada soal angket nomor 16-30, pilihan
jawaban A, B, dan C dengan cara pemberian skor jawaban A= 3, B= 2,
dan C= 1 seperti pada alternatif jawaban sebagai berikut:
1) Alternatif Jawaban A dengan Skor 3 (Baik)
2) Alternatif Jawaban B dengan Skor 2 (Cukup Baik)
3) Alternatif Jawaban C dengan Skor 1 (Kurang Baik)
Kemudian teknik analisis data dengan menggunakan rumus:
𝑃=
𝐹
𝑋 100%
𝑁
Keterangan:
P
: Persentase
F
: Frekuensi
N
: Jumlah Total Sampel
14
b. Analisis Uji Hipotesis
Analisis ini menggunakan rumus product moment:
𝑟𝑥𝑦 =
𝑁 ∑ 𝑋𝑌 − (∑ 𝑋)(∑ 𝑌)
√{𝑁 ∑ 𝑋 2 − (∑ 𝑋)2 } {𝑁 ∑ 𝑌 2 − (∑ 𝑌)2 }
Keterangan:
rxy
: Koofisien Korelasi antara Variabel X dan Y
N
: Jumlah Responden
∑x
: Nilai Hasil Variabel Emosi Remaja
∑y
: Nilai Hasil Variabel Pembinaan Akhlakul Karimah
∑xy
: Jumlah Hasil Perkalian antara Skor X dan Y.
c. Analisis Lanjut
Setelah diperoleh nilai penghitungan tersebut, langkah selanjutnya
adalah mengadakan konsultasi hasil penghitungan (rxy) ke dalam r
tabel pada taraf signifikansi 1% maupun 5%. Dari hasil penelitian, jika
diketahui nilai rxy (r hitung) yang diperoleh lebih besar dari nilai kritik
r tabel baik pada taraf signifikansi 1% maupun 5%, maka nilai yang
diperoleh adalah signifikan dan hipotesis yang diajukan diterima. Akan
tetapi sebaliknya, jika nilai rxy (r hitung) yang diperoleh lebih kecil dari
nilai kritik r tabel baik pada taraf signifikansi 1% maupun 5%, maka
nilai yang diperoleh adalah tidak signifikan dan hipotesis yang diajukan
tidak diterima.
15
H. Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran yang menyeluruh dan memudahkan dalam
memahami isi skripsi ini, maka disusun sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I
: PENDAHULUAN
Dalam bab ini diuraikan: Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah,
Tujuan Penelitian, Hipotesis Penelitian, Kegunaan Penelitian, Definisi
Operasional, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan.
BAB II
: KAJIAN PUSTAKA
Dalam bab ini diterangkan tentang teori-teori, antara lain: Pertama yaitu:
Emosi dan Remaja yang meliputi: Emosi, yaitu: Pengertian dan Teori, Emosi
dalam Perspektif Islam, Ekspresi Emosi Manusia, Gejala-gejala Emosi, Cara
Mengendalikan Emosi. Remaja, yaitu: Definisi dan Pengertian, Kategori dan
Problematika Remaja, Bimbingan dan Pendidikan Remaja. Kedua yaitu:
Akhlakul Karimah, meliputi: Pengertian dan Tujuan, Karakteristik Akhlak
dalam Islam, Jenis-jenis Akhlakul Karimah dan Aplikasinya. Ketiga yaitu:
Kecerdasan Emosi Remaja Implikasinya terhadap Pembinaan Akhlakul
Karimah.
BAB III : HASIL PENELITIAN
Dalam bab ini terdiri dari dua sub bab, meliputi: Pertama, Gambaran Umum
Lokasi dan Subjek Penelitian, yaitu: Letak Geografis, Tinjauan Historis,
Struktur Organisasi, Keadaan Warga dan Remaja. Kedua, Penyajian Data Hasil
Penelitian.
16
BAB IV : ANALISIS DATA
Dalam bab ini diuraikan: Analisis Deskriptif (Analisis Pendahuluan),
Pengujian Hipotesis (Analisis Uji Hipotesis) dan Pembahasan (Analisis
Lanjut).
BAB V
: PENUTUP
Dalam bab ini memuat: Kesimpulan, Saran-saran, dan Penutup.
17
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Emosi dan Remaja
1. Emosi
a. Pengertian dan Teori
Emosi dapat diartikan sebagai keadaan jiwa yang sangat
mempengaruhi makhluk hidup, yang ditimbulkan oleh kesadaran atas
suatu benda atau peristiwa, yang ditandai dengan perasaan yang
mendalam, hasrat untuk bertindak, dan perubahan fisiologis pada
fungsi tubuh. Sebagian orang lantas menyadari adanya rangsangan
(menakutkan, menyedihkan, melegakan, menjengkelkan) yang memicu
situasi psikologis yang dikenal sebagai emosi (takut, sedih, bahagia,
marah). Singkatnya, emosi adalah pikiran yang digerakkan. Karena itu,
mungkin akan lebih baik menjabarkan emosi sebagai gerakan dalam
pikiran (Maurus, 2014: 16).
Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau
sesuatu. Emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian. Emosi
dapat ditunjukkan ketika merasa senang mengenai sesuatu, marah
kepada seseorang, ataupun takut terhadap sesuatu. Kata “emosi”
diturunkan dari kata bahasa Prancis, emotion, dari emouvoir,
18
kegembiraan dari bahasa Latin emovere, dari e- (varian eks-) luar dan
movere bergerak (Gemilang, 2013:10).
Emosi yakni, satu reaksi kompleks yang mengait satu tingkat tinggi
kegiatan dan perubahan-perubahan secara mendalam serta dibarengi
dengan perasaan (feeling) yang kuat atau disertai dengan keadaan
efektif (Hartati dkk, 2005: 106). Sehubungan dengan pengertian emosi,
ada beberapa teori yang menjelaskan tentang emosi di antaranya
(Hartati dkk, 2005: 96-98):
1) Teori William James (1842-1910, Amerika Serikat) dan Carl Lange
(Denmark)
Menurut pendapat atau teori ini, emosi adalah hasil persepsi
seseorang terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh
sebagai respons terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari
luar. Gejala-gejala kejasmanian bukanlah merupakan akibat dari
emosi yang dialami oleh individu, tetapi malahan emosi yang
dialami oleh individu merupakan gejala-gejala kejasmanian.
Menurut teori ini orang tidak menangis karena susah, tetapi
sebaliknya ia susah karena menangis. Atau, bila seseorang melihat
harimau, reaksinya adalah peredaran darah makin cepat karena
denyut jantung makin cepat, paru-paru lebih cepat memompa udara,
dan
sebagainya.
Respons-respons
tubuh
ini
kemudian
dipersepsikan dan timbullah rasa takut. Jadi, orang itu bukan
19
berdebar-debar karena takut setelah melihat harimau, melainkan
karena ia berdebar-debar maka timbul rasa takut.
Gambar. 1
Teori Emosi James-Lange (Hude, 2006: 56)
Stimulus
Perceived in Brain
External
Stimulus
Emotion
Occurs
Stimulus Perceived in
External
Stimulus
Emotion
Brain
Motor Nerves
Motor Nerves
SensoryOccurs
Nerves
Body Sensations
Sensory Nerves
and Responses
Emotion takes place after Psychological reactions
Body Sensations and
Responses
Teori dari James Lanse ini lebih menitikberatkan pada halhal yang bersifat perifir daripada yang bersifat sentral. Dan teori ini
sering pula disebut sebagai peradoks dari James. Sementara itu
banyak para ahli mengadakan eksperimen-eksperimen untuk
menguji sampai sejauhmana kebenaran dari teori James Lanse ini.
Ahli-ahli tersebut antara lain Sherington dan Cannon, yang
Emotion takes place after Psychological reactions
umumnya menunjukkan bahwa apa yang dikemukakan oleh James
tidak tepat.
2) Teori Cannon Bard
Teori emosi yang dikemukakan oleh Cannon, dengan
teorinya yang dikenal dengan teori sentral. Menurut teori atau
pendapat ini, segala kejasmanian merupakan akibat dari emosi yang
dialami oleh individu, jadi individu mengalami emosi terlebih
20
dahulu baru kemudian mengalami perubahan-perubahan dalam
kejasmaniannya.
Gambar. 2
Teori Emosi Cannon-Bard (Hude, 2006: 58)
External
Stimulus
External
Stimulus
Stimulus
Perceived in
Brain
Stimulus
Perceived in
Brain
Emotion
Occurs
Motor
and
Emotion
Occurs
Sensory
Nerves
Motor Sensations
and Sensory
Body
Nerves
Nerves
and Responses
Emotion takes place after Psychological reactions
Body Sensations and
Responses
3) Teori J. Linchoten
Teori emosi lain adalah teori kepribadian. Menurut pendapat
atau teori ini ialah bahwa emosi merupakan suatu aktivitas pribadi,
di mana pribadi ini tidak dapat dipisah-pisahkan dalam jasmani dan
psikis sebagai dua substansi yang terpisah-pisahkan. Karena itu,
emosi meliputi pula
perubahan-perubahan
kejasmanian. Teori ini
Emotion
takes place after Psychological reactions
dikemukakan oleh J. Linchoten.
4) Teori Wilhem Wundt (1832-1920)
Tokoh empiris lain yang mengemukakan teori emosi adalah
Wundt (1832-1920), tetapi berbeda dengan W. James yang
menyelidiki mengapa timbul emosi. Menurut W. Wundt ada tiga (3)
pasang kutub emosi, yaitu:
21
a) Lust-Unlust (senang-tak senang)
b) Spannung-Losung (tegang-tak tegang)
c) Erregung-Berubigung (semangat-tenang)
Jadi, kalau seseorang melihat harimau, emosinya adalah
unlust, spannung dan erregung (tak senang, tegang dan semangat).
Dan kalau seorang mahasiswa lulus ujian, maka emosinya adalah
lust, unlust dan berubigung (senang, tak tegang dan tenang) dan
seterusnya.
b. Emosi dalam Perspektif Islam
Banyak tokoh ilmuwan Islam yang memperbincangkan masalah
emosi. Umumnya mereka membahas dalam bentuk derivatifnya
sebagai cinta, marah, sedih, berani dan semacamnya. Dalam perspektif
Islam, emosi identik dengan nafsu yang dianugerahkan oleh Allah Swt.
Nafsu inilah yang akan membawanya menjadi baik atau jelek, budiman
atau preman, pemurah atau pemarah, dan sebagainya. Nafsu menurut
pandangan Mawardy Labay el-Sulthani dalam bukunya Muallifah
(2009: 128-129) yang berjudul: “Psycho Islamic Smart Parenting”,
terbagi dalam lima bagian.
Pertama, nafsu rendah yang disebut dengan nafsu hewani,
yaitu nafsu yang dimiliki oleh binatang seperti keinginan untuk
makan dan minum, keinginan seks, keinginan mengumpulkan harta
benda, kesenangan terhadap binatang dan juga rasa takut.
Kedua, nafsu ammarah yang artinya menarik, membawa,
menghela, mendorong, dan menyuruh pada kejelekan dan kejahatan
saja. Nafsu amarah cenderung membawa manusia kepada
perbuatan-perbuatan yang negatif dan berlebih-lebihan. Contohnya:
makan yang enak sampai kekenyangan, perasaan malas untuk
22
mengerjakan hal yang positif, ingin kaya dengan menghalalkan
segala cara, berhati keras dan sebagainya.
Ketiga, nafsu lawwamah, yaitu nafsu yang selalu mendorong
manusia untuk berbuat baik. Ini merupakan lawan dari nafsu
amarah. Apa yang dikerjakan nafsu amarah terus ditentang dan
dicela keras oleh nafsu lawwamah, sehingga diri akan tertegun
sebentar atau berhenti sama sekali dari perbuatan yang dianjurkan
amarahnya.
Keempat, nafsu musawwilah, yakni merupakan nafsu
provokator, ahli memperkosa dan ahli memukau. Di dalam istilah
perang, dia diberi julukan dengan “koloni kelima”, ia berkedudukan
di kementrian peperangan atau propoganda. Karena disebut koloni
kelima, di pihak lawan ia perlu mendapat perhatian yang serius.
Kelima, nafsu muthmainnah, artinya kondisi jiwa yang
seimbang atau tenang seperti permukaan danau kecil yang ditiup
angin, akan jadi tenang, teduh, walaupun sesekali terlihat riak kecil.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Hartati dkk (2005: 108) hanya
menentukan kepribadian muthmainnah dan ammarah saja, karena
kedua kepribadian tersebut ibarat dua kutub utara dan selatan yang
saling berlawanan serta bersifat relatif permanen. Secara jelas beliau
mempertentangkan kedua kepribadian tersebut.
Tabel. 2
Nafsu muthmainnah dan ammarah (Hartati dkk, 2005: 107)
No
Kepribadian Muthmainnah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Hamiyah (memiliki harga diri)
Tawadhu’ (merendahkan diri)
Jud (dermawan)
Mahabat (kewibawaan)
Syiyanat (memelihara diri)
Syaja’at (berani)
Huzn (prihatin)
Iqtishad (ekonomis)
Ihtiraz (waspada)
Farasat (firasat)
Neshihat (memberi peringatan)
Hidayat (memberi hadiyah)
Shabr (sabar)
Afw (pemaaf)
Ma’rifah wa’ilm (mengetahui dan
berilmu)
Siqqat (dapat dipercaya)
Raja’ (pengharapan)
16
17
23
Kepribadian Ammarah
Jufa’ (menjatuhkan harga diri)
Mahaat (menghinakan diri)
Sarf (menghamburkan harta)
Kibr (kesombongan)
Takabbur (menyombongkan diri)
Nejad (jar’at)
Jubn (penakut)
Syukh (pelit)
Suw al zhan (buruk sangka)
Zhan (menduga)
Ghibat (menunjukkan keburukan)
Riswah (menyogok)
Qaswah (keras hati)
Zull (hina)
Bahl wa ghafl (bodoh dan lupa)
Ghurur (penipu)
Tamanny (angan-angan)
18
19
20
21
22
23
24
25
26
Tahaddus
(menceritakan nikmat Allah)
Riqqah al-qalb (hati lembut)
Mawjadat (iri hati atas kebaikan)
Munafasat
(berlomba demi kebaikan)
Hubb fi Allah (mencintai Allah)
Fakhar
(membangga-banggakan harta)
Jaza’ (penuh keluh kesah)
Hiqd (iri hati atas keburukan)
Hasad (dengki)
Tawakkal (menyerahkan diri setelah
berusaha)
Ihtiyat (hati-hati)
Ilham min malaki
(inspirasi dari malaikat)
Mubadarah
(cekatan dalam bekerja)
Dalam
perspektif
Islam,
Hubb ma’a Allah
(mencintai karena yang lain)
‘Ajz (lemah hati)
Was-was (ragu-ragu)
Ilham min syaithan
(inspirasi dari setan)
‘Ajlat (terburu-buru dalam bekerja)
kemampuan
seseorang
dalam
mengendalikan emosi disebut kecerdasan emosi. Hal ini sesuai dengan
ajaran Islam bahwa Allah Swt memerintahkan untuk menguasai emosiemosi kita, mengendalikannya, dan mengontrolnya. Seperti dalam
firman Allah Swt:
              
              
         
Artinya: Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi
dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam
kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami
jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita
terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu
gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah
tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan
diri. (Q.S. Al-Hadiid 57: 22-23).
Seseorang yang memiliki kecerdasan pada dimensi emosional akan
mampu menguasai situasi yang penuh dengan tantangan, yang biasanya
dapat menimbulkan ketegangan dan kecemasan, sehingga akan lebih
24
tangguh dalam menghadapi persoalan hidup, juga akan berhasil
mengendalikan reaksi dan perilakunya, serta mampu menghadapi
kegagalan dengan baik. Pengendalian emosi dan tidak adanya tindakan
agresi terhadap orang lain yang disebabkan oleh emosi yang berlebihan
serta selalu tenang akan menciptakan harmonisasi dalam berinteraksi
dan juga mendorong untuk introspeksi diri (Muallifah, 2009: 131),
seperti dalam firman Allah Swt:
             
    
Artinya: Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tibatiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolaholah telah menjadi teman yang sangat setia. (Q.S. Fushilat 41: 34).
c. Ekspresi Emosi Manusia
Kemunculan emosi seseorang bisa dikenali dari ekspresi yang
ditampilkan seketika itu, baik dari perubahan wajah, nada suara, atau
tingkah lakunya. Ekspresi emosi tersebut muncul secara spontan dan
seringkali sulit dikontrol atau ditutup-tutupi. Banyak orang secara
spontan
berteriak histeris lantaran terkejut, sementara yang lain
memegang dada, atau tampak lemas dengan raut muka pucat. Ada
orang-orang tertentu yang bergetar anggota badannya (tremor) ketika
marah, sementara yang lain dengan mata melotot, wajah memerah,
menjadi gagap seketika, atau ekspresi lain dalam bentuk tingkah laku
seperti menggebrak meja, membenturkan kepala, menggigit ujung
jemarinya (Hude, 2006: 46-47). Hal ini seperti dalam firman Allah Swt:
25
          
              
   
Artinya: Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal
mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada KitabKitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata
“Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka
menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap
kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena
kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.
(Ali Imran 3: 119).
Adapun gambaran-gambaran umum dari ekspresi wajah seseorang
ketika mengalami emosi:
Tabel. 3
Ekspresi Wajah pada Enam Jenis Emosi (Hude, 2006: 49-50)
Jenis
Emosi
Perubahan pada
Alis-Dahi
Kaget
Kelopak mata naik,
ada kerutan
panjang di dahi
Takut
Alis menaik dan
tertarik tertarik
secara bersamaan,
cenderung datar
bukan lengkung,
terjadi kerutan
pendek mendatar
dan tegak
Marah
Alis tertarik ke bawah dan ke dalam;
kelihatan menonjol ke depan; ada
kerutan kuat tegak;
kadang lengkung
Perubahan pada
Mata-Kelopak
Mata
Mata terbuka lebar
de-ngan bola mata
melihat ke atas dan
sering sampai bawah
selaput pelangi,
ditandai dengan
melebarnya kulit
kelopak mata bagian
atas dan bawah
Mata terbuka, terjadi
ketegangan di
kelopak mata bagian
bawah, menaik lebih
tinggi daripada saat
kaget, kelopak
mungkin naik tetapi
tidak sampai selaput
pelangi
Bola mata hampir
tidak kelihatan,
kelopak atas
menurun, tegang dan
perse-gi, kelopak
atas juga tegang dan
naik, mungkin
26
Perubahan pada
Wajah Bagian
Bawah
Mulut terbuka, tidak
ada peregangan dan
tegangan pada sudut
bibir, tetapi bibir
terbuka; pembukaan
mulut mungkin
bervariasi
Sudut mulut tertarik
ke belakang, tetapi
tidak naik/turun;
bibir meregang;
mulut mungkin
terbuka
Kedua bibir terkatup
rapat atau mungkin
terbuka dengan
menyering-ai, gigi
mungkin kelihatan
pada dahi tepat di
atas mata
Jijik
Alis turun tetapi
tidak bersamaan,
mungkin terjadi
lipatan pada dahi
dan hidung,
kerutan tegak dan
mendatar di tengah
dan samping
hidung
Sedih
Alis tertarik
bersamaan, sudut
dalam naik dan
sudut luar turun
atau sejajar, atau
alis tertarik ke
bawah di tengah
dan sedikit naik ke
sudut dalam:
muncul
lengkungan
mendatar atau ke
samping pada dahi
dan kerutan tegak
di tengah, atau
menunjukkan
segumpal kontraksi otot di atas
alis
Tidak ada
perubahan yang
berarti pada alis
dan dahi
Gembira
membentuk busur di
bawah mata, seperti
memicingkan mata
Bagian bawah
kelopak mata ke
depan dan naik,
tetapi tidak tegang
Mata menatap
dengan kelopak atas
menurun dan
kelopak bawah
mengendur, atau
kelopak atas tertarik
ke atas di sudut
dalam, turun di sudut
luar dengan atau
tanpa tegangan pada
kelopak bawah, mata
mungkin melihat ke
bawah atau berkacakaca
Mata mungkin
netral, atau kelopak
bahwa terdorong
oleh muka bawah,
kelopak bawah
membentuk kantong
dan menyebabkan
mata menyempit:
dengan bagian akhir
membentuk ‘kaki
gagak’ mencapai
sudut luar mata
menuju batas rambut
27
Bibir atas terlipat
dan pipi naik; mulut
terbuka dengan bibir
atas naik dan bibir
bawah ke depan,
atau tertutup dengan
bibir atas tertekan
oleh bibir bawah
yang naik; lidah
mungkin kelihatan di
dekat bibir, atau
tertutup dengan
bagian luar sedikit
tertarik ke bawah
Mulut mungkin
terbuka dengan
sedikit teregang,
bibir bergetar, atau
tertutup dengan
sudut luar tertarik
sedikit ke bawah
Sudut bibir luar naik,
biasanya tertarik ke
belakang; mungkin
terjadi lipatan pada
bibir atas, bibir
mungkin terbuka dan
gigi kelihatan
1) Ekspresi Emosi Positif
Emosi positif adalah emosi yang menyenangkan dan
diinginkan oleh setiap orang. Tapi, emosi positif apa yang
difavoritkan kebanyakan orang ialah emosi senang. Menurut AlQur’an, kesenangan bukanlah satu-satunya harapan
tertinggi
manusia, tapi juga ketakutan yang menyenangkan, seperti emosi
taqwa kepada Allah. Takut dalam pengertian ini bukanlah takut
cemas (anxiety), tetapi takut yang dapat memelihara (wiqayah)
manusia dari semua tindakan yang tak patut. Dalam hal ini, AlQur’an tidak henti-hentinya memotivasi manusia agar memperoleh
dan mengembangkan emosi positif (Hude, 2006: 233).
2) Ekspresi Emosi Negatif
Emosi negatif sejatinya tak pernah dikehendaki oleh
manusia, sehingga selalu diusahakan untuk dihindari, kendati tak
mudah diwujudkan. Kesulitan dalam hal ini amat terkait dengan
realitas kehidupan yang dapat diatur sesuai dengan kehendak kita.
Tidak seorangpun sanggup mengarahkan kehidupannya untuk
kesenangan belaka, karena kesedihan, ketakutan, kekesalan, dan
kekecewaan datang tanpa diundang. Demikian pula sebaliknya,
tidak ada orang yang tenggelam dalam lubang kesedihan terusmenerus, kecuali ia sendiri yang menghendaki demikian (Hude,
2006: 241).
28
d. Gejala-gejala Emosi
Seseorang yang mengalami emosi sering tidak lagi memperlihatkan
keadaan sekitarnya. Suatu keaktifan tidak dikerjakan oleh individu
dalam keadaan normal, kemungkinan akan dikerjakan pada saat
individu dalam keadaan emosi. Dengan demikian, emosi dipandang
sebagai perasaan yang gradual lebih besar kekuatannya. Adapun gejalagejala ketika seseorang sedang mengalami emosi, yaitu (Gemilang,
2013: 12-13):
1) Depresi, Kecemasan, Takut dan Kemarahan
Seseorang mengalami emosi tertentu, seperti depresi, kecemasan,
dan kemarahan yang terlalu sering atau terlalu kuat.
2) Sulit Menununjukkan Rasa Sayang
Seseorang mengalami emosi tertentu terlalu jarang atau terlalu
lemah. Mereka merasa tidak mampu menunjukkan rasa sayang,
kepercayaan, marah atau penolakan.
3) Sulit Berhubungan dengan Orang Lain
Misalnya
pacar
membuat
merasa
bersalah,
teman-teman
mengecewakan, pasangan menimbulkan rasa takut dan lainnya.
4) Komplikasi Konflik Emosi
Seseorang merasa mengalami beberapa konflik karena dua atau
lebih emosi. Misalnya antara marah dan takut, antara benci dan
cinta, dan lainnya.
29
e. Cara Mengendalikan Emosi
Ada berbagai macam cara yang dapat dilakukan oleh seseorang
untuk dapat mengendalikan emosi, akan tetapi banyak yang merasa
kesulitan. W.T. Grant Consortium dalam bukunya Goleman (1996:
426) yang bejudul: “Emotional Intelligence”, unsur-unsur aktif
program pencegahan yang meliputi keterampilan emosional:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
Mengidentifikasi dan memberi nama perasaan-perasaan
Mengungkapkan perasaan
Menilai intensitas perasaan
Mengelola perasaan
Menunda pemuasan
Mengendalikan dorongan hati
Mengurangi stres
Mengetahui perbedaan antara perasaan dan tindakan.
Unsur-unsur utama pada program yang efektif dalam mengendalikan
emosi secara ringkas adalah sebagai berikut (Gemilang, 2013: 24-27):
1) Melawan Pikiran Negatif
Pemicu emosi biasanya berasal dari pikiran, baik itu pikiran
negatif yang muncul dari intepretasi input-input atau stimulasi dari
lingkungan eksternal maupun pola-pola pemikiran internal yang
tidak disadari. Misalnya, seseorang bisa marah atau merasa
ketakutan karena merespon ancaman dari orang lain.
2) Mengubah Kata Negatif Menjadi Positif
Riset
terbaru
menggunakan
scanner
MRI
di
otak
menunjukkan bahwa penampakan kata-kata negatif seperti kata
‘tidak’ misalnya, membuat diri memproduksi hormon dan
neurotransmitters yang bisa memicu stres, mengacaukan beragam
30
fungsi komunikasi, bahkan bisa merusak akal sehat. Pemikiran
yang menggunakan kalimat-kalimat negatif biasanya membawa
kekhawatiran atau penyesalan.
3) Menerima Pikiran Negatif, Bertindak Positif
Pikiran dan perasaan tidak perlu dilawan atau ditindaklanjuti
dengan segera, tapi cukup diamati dan diterima. Emosi negatif
adalah sesuatu yang wajar untuk didapati dan senormal emosi yang
positif. Pikiran-pikiran yang muncul tidak perlu langsung
ditanggapi atau dievaluasi secara berlebihan. Tidak usah juga
dihindari atau dipendam. Amarah yang terpendam bisa meledak
suatu saat atau malah menjadi penyakit batin maupun fisik yang
menggerogoti diri dari dalam.
4) Memaksimalkan Ajaran Agama
Kuatkan kepercayaan serta praktekkan ritual-ritual yang
mengembangkan emosi positif seperti banyak-banyak bersyukur
dan berdo’a, bermeditasi atau berdzikir dalam agama Islam,
memberi atau bersedekah dan menolong orang lain, berpuasa serta
pergi ke tempat ibadah umum seperti masjid, wihara, pura atau
gereja sesuai keyakinan masing-masing.
5) Meditasi dan Berpikir Reflektif
Kuatkan kontak dengan kekinian, bernafas dalam-dalam
dengan perlahan dan rasakan setiap sensasi diri dengan keterbukaan
serta penerimaan. Menerima dan merasakan apapun yang ada saat
31
ini. Jangan terikat dengan pikiran manapun di masa lalu, masa
sekarang, dan yang di masa depan seperti penyesalan, amarah, dan
kecemasan.
6) Menemukan Nilai-nilai Kehidupan
Bertindak dengan prinsip-prinsip sejati tersebut. Kita
berkomitmen untuk berperilaku sesuai prinsip berdasarkan nilai
yang abadi, bukan bertindak karena perasaan yang bersifat
sementara. Misalnya dengan tetap berpegang teguh pada kejujuran,
integritas, siap bertanggung jawab, adil dan seterusnya.
2. Remaja
a. Definisi dan Pengertian
Seringkali dengan mudah seseorang mendefinisikan remaja sebagai
periode transisi antara masa anak-anak ke masa dewasa, atau masa usia
belasan tahun, atau jika seseorang menunjukkan tingkah laku tertentu
seperti susah diatur, mudah terangsang perasaannya dan sebagainya.
Tetapi mendefinisikan remaja ternyata tidak semudah itu (Sarwono,
1997: 2).
Masa remaja adalah masa peralihan yang ditempuh oleh seseorang
dari kanak-kanak menuju dewasa. Dapat dikatakan, bahwa masa remaja
adalah perpanjangan masa kanak-kanak sebelum mencapai masa
dewasa (Sopiatin dan Sahrani, 2011: 110).
Bagaimanapun cara seseorang memandang remaja dan dari segi
apapun dapat dinilai, namun suatu hal dapat disimpulkan bahwa
32
“Remaja” adalah masa peralihan dari “anak” menjelang “dewasa”.
Semakin maju suatu masyarakat semakin banyak syarat yang
diperlukan untuk menjadi dewasa, semakin panjang masa yang
diperlukan untuk mempersiapkan diri dengan berbagai pengetahuan
dan keterampilan dan semakin banyak pula masalah yang dihadapi oleh
remaja itu, karena sukarnya memenuhi syarat-syarat tersebut (Daradjat,
1976: 11). Usia remaja yang hampir disepakati oleh banyak ahli jiwa
ialah antara 13 dan 21 tahun.
b. Kategori dan Problematika Remaja
Setiap manusia hidup di dunia ini pasti memiliki problem, baik yang
berkategori ringan, sedang, maupun berat. Begitu juga dengan remaja
dalam kehidupan sehari-hari, sering dihadapkan pada problem atau
masalah-masalah tersebut. Menurut pendapat Sahilun A. Nasir dalam
bukunya Sopiatin dan Sahrani (2011: 121) yang berjudul: “Psikologi
Belajar dalam Perspektif Islam”, bahwa problem remaja itu di
antaranya:
1)
2)
3)
4)
Problem agama dan akhlak remaja
Problem seks remaja
Problem perkembangan pribadi dan sosial; dan
Kenakalan remaja.
Secara singkat dapat dikategorikan beberapa problematika (masalah)
yang biasa dihadapi oleh para remaja di antaranya (Daradjat, 1976: 1113):
33
1) Pertumbuhan Jasmani Cepat
Biasanya pertumbuhan jasmani cepat terjadi antara umur 1316 tahun, yang dikenal dengan remaja pertama (carly adolescence).
Dalam usia ini remaja mengalami berbagai kesukaran karena
perubahan jasmani yang sangat menyolok dan tidak berjalan
seimbang. Remaja waktu itu mengalami ketidakserasian diri dan
berkurang keharmonisan gerak, sehingga kadang-kadang mereka
sedih, kesal dan lesu.
Pertumbuhan jasmani mencakup pula pertumbuhan organ
dan kelenjar seks, sehingga mereka merasakan pula dorongandorongan seksuil yang belum pernah mereka kenal sebelum itu,
yang membawa akibat kepada pergaulan.
2) Pertumbuhan Emosi
Sebenarnya yang terjadi adalah kegoncangan emosi. Pada
masa adolesen pertama, kegoncangan itu disebabkan oleh tidak
mampu dan tidak mengertinya akan perubahan cepat yang sedang
dilaluinya, di samping kekurangan pengertian orang tua dan
masyarakat sekitar akan kesukaran yang dialami oleh remaja, waktu
itu. Bahkan kadang-kadang perlakuan yang mereka terima dari
lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, menambah
goncangan emosi yang sedang tidak stabil itu.
34
3) Pertumbuhan Mental
Menurut Alfred Binet seorang Psikolog Perancis yang
terkenal dengan metal-test nya, bahwa kemampuan untuk mengerti
hal-hal yang abstrak baru sempurna pada umur -12 tahun.
Sedangkan kesangggupan untuk mengambil kesimpulan yang
abstrak dari fakta yang ada kira-kira mulai pada umur 14 tahun.
Karena itu, tampak pada usia 14 tahun ke atas, remaja seringkali
menolak hal-hal yang kurang masuk akalnya, dan kadangkala
menyebabkan mereka menolak apa yang dulu diterimanya. Dari
sini timbullah pula persoalan dengan orang tua atau orang dewasa
lainnya yang merasa seolah-olah remaja menjadi suka membantah
atau mengeritik mereka.
4) Pertumbuhan Pribadi dan Sosial
Masalah pribadi dan sosial itulah yang paling akhir
bertumbuhnya dan dapat dianggap sebagai persoalan terakhir yang
dihadapi remaja menjelang masuk kepada usia dewasa. Setelah
pertumbuhan jasmani cepat berakhir, tampaklah bahwa remaja
telah seperti orang dewasa jasmaninya, baik yang laki-laki maupun
perempuan.
Akan tetapi, dari sosial dan penghargaan serta kepercayaan
yang diberikan kepadanya oleh masyarakat biasanya belum
sempurna, terutama dalam masyarakat yang maju. Dalam banyak
bidang, mereka belum diajak, sehingga mereka masih memerlukan
35
perjuangan untuk itu. Dalam perjuangan itu, kadang-kadang remaja
tidak sabar, sehingga bertindak keras atau kasar dan kadangkadang, melanggar nilai-nilai yang dianut oleh masyarakatnya, di
sinilah timbulnya kelainan-kelainan kelakuan yang biasa disebut
nakal.
Sesungguhnya masih ada persoalan-persoalan lainnya yang
dihadapi oleh remaja dalam pertumbuhannya itu, ada yang bersifat
negatif dan ada pula yang positif. Secara umum dapat kita
mengatakan bahwa usia remaja adalah usia peralihan dan persiapan,
yang penuh dengan aneka kesukaran yang menggoncangkan jiwa.
c. Bimbingan dan Pendidikan Remaja
Dalam menghadapi remaja ada beberapa hal yang harus selalu
diingat, yaitu bahwa jiwa remaja adalah jiwa yang penuh gejolak (strum
and drang) dan bahwa lingkungan sosial remaja juga ditandai dengan
perubahan sosial yang cepat (khususnya di kota-kota besar dan daerahdaerah yang sudah terjangkau sarana dan prasarana komunikasi dan
perhubungan) yang mengakibatkan kesimpangsiuran norma (keadaan
anomie). Kondisi intern dan ekstern yang sama-sama bergejolak inilah
yang menyebabkan masa remaja memang lebih rawan daripada tahaptahap lain dalam perkembangan jiwa manusia (Sarwono, 1997: 219).
Remaja yang menghadapi kegoncangan dari berbagai sisi akan
sangat mudah terpengaruh oleh hal-hal yang buruk, melalui film,
bacaan, gambar atau berbagai media yang lainnya. Untuk membantu
36
remaja dalam melalui masa yang sangat erat itu dengan selamat,
berbagai usaha harus dilakukan, di antaranya (Daradjat, 1976: 117120):
1) Meningkatkan pengertian remaja akan dirinya
Pertumbuhan jasmaninya yang cepat, tidak stabil dan kurang
serasi itu, hendaknya dipahami oleh remaja dan orang tuanya.
Sehingga remaja tidak cemas dan orang tua tidak melemparkan
ucapan-ucapan
atau
tindakan-tindakan
yang
menyebabkan
kecemasannya bertambah. Kalau remaja telah mengerti apa
sebenarnya yang terjadi pada dirinya, maka hal-hal yang
disangkanya kelainan itu dapat diterimanya sebagai hal yang wajar.
Orang
tua
hendaknya
dapat
membantunya
dalam
mempertahankan atau menciptakan kesehatan jasmaninya dengan
makanan yang bergizi baik, serta hidup teratur, dalam segala segi,
makan, tidur, istirahat dan bermain wajar. Tentu orang tua harus
mempunyai bekal yang cukup untuk itu.
2) Menciptakan hubungan baik dengan orang tua
Hubungan yang baik antara orang tua dengan remaja, akan
membantu pembinaan remaja itu. Apabila saling pengertian antara
remaja dan orang tua ada maka ia akan dapat terbuka kepada
mereka; berbagai masalah yang dirasakannya dapat dicurahkan
secara terbuka kepada orang tua. Dan orang tua dapat memahami,
menanggapi dan membantunya dalam menghadapi kesukaran-
37
kesukaran itu. Macam-macam sikap, tindakan dan ungkapanungkapan emosi yang kadang-kadang tidak baik atau tidak pada
tempatnya, dapat diterima oleh orang tua dengan pengertian,
sehingga remaja tidak cemas untuk bersikap terbuka kepada orang
tuanya. Sikap terbuka itu akan memudahkan bimbingan dan
pembinaan bagi remaja.
3) Pendidikan agama
Pendidikan agama merupakan alat pembinaan yang sangat
ampuh bagi remaja. Agama yang tertanam dan bertumbuh secara
wajar dalam jiwa remaja itu, akan dapat digunakannya untuk
mengendalikan keinginan-keinginan dan dorongan-dorongan yang
kurang baik, serta membantunya dalam menghadapi berbagai
masalah kehidupan pada umumnya. Dengan hidup dan segarnya
keyakinan agama dalam diri remaja, akhlaknya dengan sendirinya
akan baik, karena kontrolnya datang dari dalam, bukan dari luar. Di
samping itu, agama memberikan ketenangan bagi jiwanya,
sehingga ia tidak akan mudah goncang, walaupun banyak
kesukaran yang dihadapinya. Ia dapat berdo’a, mengeluh dan
berdialog langsung dengan Tuhan.
4) Bimbingan ke arah hari depan yang lebih baik
Sistim pendidikan, banyak sekali memberi pengaruh dalam
hal ini. Pendidikan hendaknya mendorong remaja untuk dapat
hidup dan mencari hidup dengan kekuatan sendiri, jangan
38
hendaknya ia selalu menyangka bahwa ia hanya dapat mencari
nafkah dan hidup baik dengan menjadi pegawai. Akan tetapi ia
hendaknya sejak semula telah terarah kepada berani mencari jalan
hidup sendiri, tanpa bergantung kepada bantuan orang lain. Tentu
saja bekal keterampilan dan kejiwaan yang matang harus
dimilikinya.
5) Bimbingan hidup bermasyarakat
Setiap remaja ingin merasa dirinya berguna dan berharga
dalam masyarakat lingkungannya. Untuk itu harus dibantu
mengembangkan dan menonjolkan segi-segi keistimewaannya,
dalam berbagai bidang. Baik guru, maupun orang tua, bahkan
masyarakat hendaknya membantunya.
Mendidik adalah hal yang sukar, yang membutuhkan seluruh
perhatian kita, orang tua saja tak dapat melakukan pekerjaan itu. Guru
sajapun tidak. Keduanya, orang tua dan guru, rumah tangga dan sekolah
harus bekerja sama untuk mencapai tujuannya. Keadaan physic dan
psychis dan lingkungan dari pemuda puber, harus berada dalam
keseimbangan. Tugas kita sebagai pendidik ialah membantu pemuda
puber untuk melintasi jurang-jurang yang timbul dalam hidupnya
(Liang, 1980: 76). Berkaitan dengan hal tersebut, Gunarsa (2012: 115)
menyatakan bahwa, adapun cara-cara pendidikan keluarga dalam masa
remaja adalah sebagai berikut:
39
1) Cara pendidikan otokratis, di mana remaja dan kaum muda harus
mengikuti pendapat dan keinginan orang tua. Kekuasaan terletak
pada pihak orang tua. Kaum mudanya tidak diperkenankan
memberikan pendapat mereka. Diharapkan suatu kepatuhan mutlak
dari pihak remaja.
2) Cara pendidikan otoriter, pendidikan ini memperbolehkan remaja
memberikan pandangan dan pendapatnya, tetapi tanpa turut
dipertimbangkan. Orang tua tetap menentukan dan mengambil
semua keputusan.
3) Cara pendidikan demokratis, di mana remaja boleh mengemukakan
pendapat sendiri, mendiskusikan pandangan mereka dengan orang
tua, serta menentukan dan mengambil keputusan. Namun orang tua
masih melakukan pengawasan dalam hal mengambil keputusan
terakhir dan bila diperlukan persetujuan orang tua.
4) Cara pendidikan dengan hak yang sama, di mana antara orang tua
dan anak tidak terlihat adanya perbedaan peranan dalam hal
penentuan arah. Baik dalam menentukan dan mengambil
keputusan, mereka memiliki hak yang sama.
B. Akhlakul Karimah
1. Pengertian dan Tujuan
Akhlak dalam pemakaian kata sehari-hari biasa disebut “akhlak
yang baik” (akhlakul karimah), seumpama dikatakan: orang itu berakhlak
artinya orang tersebut mempunyai akhlak yang baik, sedangkan orang itu
40
tidak berakhlak artinya orang tersebut tidak mempunyai akhlak yang baik
atau buruk akhlaknya. Sesungguhnya selain ada akhlak yang baik ada juga
akhlak yang buruk biasa disebut “akhlakul mazmumah”.
Secara etimologi, kata akhlak berasal dari bahasa Arab akhlaaqun
(‫ )اخالق‬bentuk jamak dari mufradnya khuluqun )‫ (خلق‬yang berarti budi
pekerti. Sinonimnya: etika dan moral. Etika berasal dari bahasa latin, etos
yang berarti kebiasaan. Moral berasal dari bahasa latin juga, mores, juga
berarti kebiasaannya. Angkatan kata budi pekerti, dalam bahasa indonesia,
merupakan kata majemuk dari kata budi dan pekerti. Perkataan budi berasal
dari bahasa Sansekerta, bentuk isim fa’il atau alat, yang berarti “yang
sadar” atau “yang menyadarkan” atau “alat kesadaran”. Bentuk
mashdarnya (momenverbal) budh yang berarti kesadaran. Sedang bentuk
maf’ulnya (obyek) adalah budha artinya “yang disadarkan”. Pekerti,
berasal dari bahasa Indonesia sendiri, yang berarti “kelakuan” (Djatnika,
1996: 26). Secara terminologi, budi pekerti merupakan perilaku manusia
yang didasari oleh kesadaran berbuat baik yang didorong keinginan hati
dan selaras dengan pertimbangan akal (Tono dkk, 1998: 86).
Tujuan akhlak adalah mencapai kebahagiaan hidup umat manusia
dalam kehidupannya, baik di dunia maupun akhirat. Jika seseorang dapat
menjaga kualitas mu’amalah ma’allah ma’allah dan mu’amalah
ma’annas, insya Allah akan memperoleh ridha-Nya. Orang yang mendapat
ridha Allah niscaya akan memperoleh jaminan kebahagiaan hidup baik
duniawi maupun ukhrawi (Tono dkk, 1998: 93).
41
Ketenteraman dan kebahagiaan hidup seseorang tidak berkorelasi
positif dengan kekayaan, kepandaian, atau jabatan. Jika seseorang
berakhlakul karimah, terlepas apakah ia seorang yang kaya atau miskin,
berpendidikan yang tinggi atau rendah, memiliki jabatan tinggi, rendah,
atau tidak memiliki jabatan sama sekali, insya Allah akan dapat
memperoleh kebahagiaan.
2. Karakteristik Akhlak dalam Islam
Menurut ahli-ahli filsafat Yunani bahwa pendorong buat melakukan
perbuatan baik ialah pengetahuan atau kebijaksanaan umpamanya, sedang
menurut agama Nasrani bahwa pendorong buat melakukan perbuatan baik
itu ialah cinta kepada Tuhan Allah dan iman kepada-Nya (Amin, 1991:
146). Islam memiliki dasar-dasar konseptual tentang akhlak yang
komprehensif dan menjadi karakteristik yang khas. Di antara karakteristik
tersebut adalah (Tono dkk, 1998: 89-91):
a. Akhlak meliputi hal-hal yang bersifat umum dan terperinci
Di dalam Al-Qur’an ada ajaran akhlak yang dijelaskan secara
umum, tetapi ada juga yang diterangkan secara mendetail. Sebagai
contoh, ayat yang menjelaskan masalah akhlak secara umum adalah
(Q.S. An-Nahl 16: 90) yang menyerukan perintah untuk berbuat adil,
berbuat kebaikan, melarang perbuatan keji, mungkar, dan permusuhan.
Sedangkan contoh ayat yang menjelaskan masalah akhlak secara
terperinci adalah (Q.S. Al-Hujurat 49: 12) yang menunjukkan larangan
42
untuk saling mencela, serta larangan memanggil dengan gelar yang
buruk.
b. Akhlak bersifat menyeluruh
Dalam konsep Islam, akhlak meliputi seluruh kehidupan muslim,
baik dalam beribadah secara khusus kepada Allah maupun dengan
hubungannya dengan sesama makhluk seperti akhlak dalam mengolah
sumber daya alam, menata ekonomi, menata politik, kehidupan
bernegara, kehidupan berkeluarga, dan bermasyarakat.
c. Akhlak sebagai buah iman
Akhlak memiliki karakter dasar yang berkaitan erat dengan masalah
keimanan. Jika iman dapat diibaratkan akar sebuah pohon, sedangkan
ibadah merupakan batang, ranting dan daunnya, maka akhlak adalah
buahnya. Iman yang kuat akan termanifestasikan oleh ibadah yang
teratur dan membuahkan akhlakul karimah. Lemahnya iman dapat
terdeteki melalui indikator tidak tertibnya ibadah dan sulit
membuahkan akhlakul karimah.
d. Akhlak menjaga konsistensi cara dengan tujuan
Islam tidak membenarkan cara-cara mencapai tujuan yang
bertentangan dengan syariat sekalipun dengan maksud untuk mencapai
tujuan yang baik. Hal tersebut dipandang bertentangan dengan prinsipprinsip akhlakul karimah yan senantiasa menjaga konsistensi cara
mencapai tujuan tertentu dengan tujuan itu sendiri.
43
3. Jenis-jenis Akhlakul Karimah dan Aplikasinya
Akhlak yang islami bagi seorang muslim bisa diibaratkan hiasan
yang memperindah penampilannya. Ketaatan kepada Allah dan Rasulullah
yang tulus, jika tidak dibarengi dengan perilaku yang baik kepada orang
lain, bisa diibaratkan sebuah benda yang tidak bermotif (Ahmadi, 2004:
25). Selain karakteristik akhlak, dalam Islam juga disebutkan tentang jenisjenis akhlakul karimah (akhlak mahmudah) yang dapat diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari, di antaranya (Tatapangarsa, 1980: 147-155):
a. Mengendalikan Nafsu
Nafsu adalah salah satu organ rohani manusia yang di samping akal,
sangat besar pengaruhnya dan sangat banyak mengeluarkan instruksiinstruksi kepada anggota jasmani untuk berbuat atau bertindak. Ia dapat
bermanfaat, tetapi sebaliknya juga dapat berbahaya bagi manusia, dan
ini banyak tergantung kepada bagaimana sikap manusia itu sendiri
menghadapi gejolak nafsunya.
Banyak di antara sifat-sifat mazmumah (tercela) timbul karena tidak
mampu seseorang mengendalikan nafsunya, misalnya sifat-sifat rakus,
lacur, tamak, berlebih-lebihan, marah, dendam kesumat, dan lain
sebagainya. Tetapi sebaliknya, banyak juga sifat-sifat mahmudah
(terpuji) timbul karena mampu seseorang menguasai nafsunya, seperti
sifat-sifat jujur, perwira, merasa cukup dengan apa yang ada (qana’ah),
adil, dan lain sebagainya.
44
b. Benar atau Jujur
Benar atau jujur termasuk golongan akhlak mahmudah. Benar
artinya sesuainya sesuatu dengan kenyataannya yang sesungguhnya,
dan ini tidak saja berupa perkataan tetapi juga perbuatan. Dalam bahasa
Arab benar atau jujur disebut sidiq (Ash-Shidqu), lawan dari kizib (AlKizbu) yaitu bohong atau dusta.
Kebenaran dan kejujuran adalah sendi yang terpenting bagi berdiri
tegaknya masyarakat. Tanpa kebenaran akan hancurlah masyarakat,
sebab hanya dengan kebenaran maka dapat tercipta adanya saling
pengertian satu sama lain dalam masyarakat, dan tanpa adanya saling
pengertian tidak mungkin terjadi tolong-menolong, sedang bahasa itu
diciptakan juga untuk kepentingan saling pengertian ini, yang tanpa itu
tidak mungkin terjadi kehidupan masyarakat.
c. Ikhlas
Ikhlas termasuk akhlak mahmudah yang penting pula. Arti ikhlas
ialah murni atau bersih, tidak ada campuran. Ibarat emas, ialah emas
tulen, bersih dari segala macam campuran yang lain seperti perak dan
lain sebagainya. Maksud bersih di sini ialah bersihnya sesuatu
pekerjaan dari campuran motif-motif yang selain Allah, seperti ingin
dipuji orang, ingin mendapat nama dan lain sebagainya. Lawan ikhlas
ialah isyrak, artinya berserikat atau bercampur dengan yang lain.
Ada orang yang membantu fakir miskin karena Allah semata-mata,
dan ada pula orang yang membantu fakir miskin juga tetapi semata-
45
mata ingin dipuji dan dikatakan sebagai dermawan. Lahir dari amal
kedua orang itu sama saja tidak ada perbedaan apa-apa, yaitu samasama memberikan bantuan kepada fakir miskin, tetapi nilai amal orang
yang pertama lebih tinggi daripada orang yang kedua.
d. Kanaah
Kanaah juga termasuk akhlak mahmudah. Arti kanaah ialah
menerima dengan rela apa yang ada atau merasa cukup dengan apa
yang dimiliki. Mungkin sebagian orang ada yang menganggap sikap
yang demikian sebagai akhlak yang buruk atau sebagai hal yang
negatif, sebab dengan telah merasa cukup dengan apa yang dimiliki itu,
orang lantas berpangku tangan, tidak mau bekerja lagi.
Pandangan yang begini, adalah sesat dan keliru. Berpangku tangan
tidak mau bekerja, bukanlah kanaah tetapi ialah kemalasan. Kanaah
bukanlah pengangguran. Kanaah yang diajarkan oleh Islam ialah
khanaah hati bukan kanaah ikhtiar.
e. Malu
Malu termasuk kelompok akhlak yang terpuji pula. Bahwa yang
dimaksudkan dengan rasa malu di sini ialah perasaan undur seseorang
sewaktu lahir atau tampak dari dirinya sesuatu yang membawa ia ke
dalam suatu perbuatan yang tercela.
Setiap orang sebetulnya punya rasa malu, entah besar atau kecil yang
merupakan semacam kekuatan preventif di dalam dirinya yang
menghindarkan ia dari terjatuh kepada kehinaan, atau sekurang-
46
kurangnya menghindarkan ia dari terulangnya kembali kesalahan yang
serupa. Tetapi karena sebab yang bermacam-macam, rasa malu itu
dapat luntur dan pudar sedikit demi sedikit, dan akhirnya lenyap sama
sekali. Seperti yang dikatakan oleh Nabi Saw: “lam tastahi fashna’ ma
syi’ta”, jika engkau tidak tahu malu lagi, perbuatlah apa saja yang
engkau kehendaki (H.R. Bukhari). Kalau malu sudah lenyap, yang
berarti orang sudah tidak punya malu lagi tidak akan dapat diharapkan
kebaikan timbul daripadanya. Ibarat kendaraan, maka remnya sudah
hilang atau tidak dapat berfungsi lagi.
C. Kecerdasan Emosi Remaja dan Implikasinya terhadap Pembinaan
Akhlakul Karimah
Kecerdasan
adalah kemampuan
yang dibawa sejak lahir,
yang
memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu (Purwanto,
1996: 52). Kecerdasan juga merupakan kecakapan yang terdiri dari tiga jenis
yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang
baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep-konsep
yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan
cepat (Slameto, 1995: 56). Jadi definisi istilah kecerdasan emosi remaja adalah
kemampuan mengindra, memahami dan daya efektif yang dimiliki remaja
dalam menerapkan kekuatan dan ketajaman emosi sebagai sumber energi,
informasi dan pengaruh.
Implikasi berasal dari bahasa inggris “implicate” yaitu menyangkutkan
(Echols dan Shadily, 2005: 313). Menyangkutkan berarti menghubungkan,
47
sehingga dapat dikatakan bahwa implikasi adalah hubungan antara satu dengan
yang lain (keduanya atau lebih) baik secara langsung maupun tidak langsung
yang membawa pengaruh (dampak) positif ataupun negatif. Jadi, dalam
penelitian ini yang dimaksud dengan implikasi adalah hubungan antara
kecerdasan emosi remaja terhadap pembinaan akhlakul karimah di Desa
Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang Tahun 2015.
Pembinaan adalah usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara
efektif dan efisien untuk memperoleh hasil yang lebih baik (Alwi, 2007: 152).
Pembinaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah proses pendidikan
maupun penanaman akhlakul karimah pada remaja. Bahwa tingkat kecerdasan
emosi pada diri remaja akan saling berimplikasi dan berpengaruh dengan
keberhasilan dalam pembinaan akhlakul karimah.
Menurut Goleman (1996: 411) dalam bukunya yang berjudul: “Emotional
Intelligence” beliau mengatakan, “Saya menganggap emosi merujuk pada
suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan
psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak”. Emosi remaja
dengan akhlak memiliki hubungan erat dan keduanya saling berimplikasi.
Implikasi dari emosi remaja tersebut dapat membawa pengaruh yang baik
maupun yang buruk terhadap suatu perilaku ataupun akhlaknya. Berkaitan
dengan hal tersebut, seorang remaja harus pandai dalam mengelola emosinya
guna menciptakan suatu perilaku yang baik, W.T. Grant Consortium dalam
Goleman (1996: 427) mengelola emosi juga diperlukan keterampilan perilaku,
meliputi:
48
1. Nonverbal: berkomunikasi melalui hubungan mata, ekspresi wajah,
nada suara, gerak-gerik, dan seterusnya.
2. Verbal: mengajukan permintaan-permintaan dengan jelas, menanggapi
kritik secara efektif, menolak pengaruh negatif, mendengarkan orang
lain, menolong sesama, ikut serta dalam kelompok-kelompok yang
positif.
Masa remaja adalah masa yang sangat peka terhadap agama dan akhlak.
Kadang-kadang remaja menjadi bimbang tentang wujud Allah, selanjutnya
terhadap ajaran agama. Akan tetapi, ia di samping itu merasa butuh akan
bantuan dari luar yang melampaui kekuatan manusia. Seolah-olah tidak
percayanya kepada Tuhan mengandung keyakinan. Demikianlah, percaya dan
iman berganti-ganti, sehingga hiduplah mereka pada masa tertentu dalam
ambivalensi yang berlawanan. Akhirnya berhenti di satu titik. Biasanya pada
iman, yang telah didahului oleh keraguan dan kegoncangan (Daradjat, 1978:
173).
Islam banyak membimbing umat manusia dengan berbagai amalan, dari
amalan hati seperti aqidah, hingga amalan fisik seperti ibadah. Namun semua
amalan itu sesungguhnya merupakan sarana pembentuk kepribadian manusia
beriman. Dengan kata lain, sasaran utama dari seluruh perintah Allah di dunia
ini adalah adalah dalam rangka membentuk karakter manusia beriman agar
bertutur kata, berpikir, dan berperilaku yang islami (Ahmadi, 2004: 29).
Pembinaan moral/mental agama, harus dilaksanakan terus menerus sejak
seseorang itu lahir sampai matinya, terutama sampai usia pertumbuhannya
sempurna. Menurut pendapat kebanyakan ahli Jiwa Agama sampai umur 24
tahun (Daradjat, 1975: 60). Menurut Gunarsa (2012: 140) salah satu usaha
yang dilakukan dalam pembinaan remaja adalah memberikan pendidikan
49
bukan hanya dalam penambahan pengetahuan dan keterampilan, melainkan
juga pendidikan mental dan pribadi melalui pengajaran agama, budi pekerti,
dan etika.
Pembinaan yang dilakukan pada remaja yang terpenting adalah aspek
perilakunya agar bisa mencerminkan pribadi yang berakhlakul karimah.
Realitanya usaha yang dilakukan untuk membina, mendidik dan menanamkan
kepribadian remaja yang berakhlakul karimah cukup kesulitan dan belum
membuahkan hasil yang semaksimal mungkin, dalam arti masih banyak
perilaku remaja yang menyimpang dilihat dari segi akhlaknya seperti: berani
kepada orang tua, kurang sopan-santun, berkata-kata kotor dan lain sebagainya.
50
BAB III
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Desa Wisata Bejalen
Profil desa merupakan sekumpulan keterangan yang diperoleh secara
langsung dari sumbernya yang dapat memberikan gambaran mengenai potensi
dan perkembangan suatu wilayah sesuai dengan karakter Desa/Kelurahan
secara menyeluruh. Berikut merupakan gambaran umum mengenai kondisi
terupdate dari Desa Bejalen.
1. Sejarah Desa Bejalen
Awal mula terjadinya Desa Bejalen dimulainya cikal bakal adanya
seorang kyai yang bernama kyai Gozali. Pada zaman dahulu kyai tersebut
sedang menunaikan ibadah haji ke Mekah, dalam perjalanannya pulang
Beliau naik sebuah permadani dan terjatuh di sebelah utara Desa Bejalen,
tepatnya Timur sungai yang membelah Desa Bejalen lalu daerah tersebut
dinamai “SEGEBLAK” (arena jatuhnya kegeblak artinya terpelanting).
Kyai Gozali ini lalu tinggal menetap di Daerah tersebut beserta
pengikutnya. Seiring dengan terjadinya pergolakan di kerajaan Mataram,
banyak orang-orang Mataram dan Kartasura hijrah ke utara sampai ke kota
Ambarawa. Dan ada juga yang masuk sampai ke desa, bergabung dengan
kyai Gozali. Kemudian daerah yang ditinggalinya di beri nama Desa Bejali
sesuai dengan nama dari kyai Gozali, yang lambat laun namanya
51
diperbaharui oleh keturunannya kyai Gozali menjadi Desa Bejalen sampai
sekarang ini. Peninggalan kyai Gozali yang masih ada sampai sekarang
adalah sebuah salak yang dahulu ceritanya biji salak itu dibawanya dari
tanah Mekah dan ditanam di desa, yang kemudian buah salaknya menjadi
terkenal sampai sekarang karena rasa dan aromanya punya ciri khas sendiri.
Sedangkan makam kyai Gozali sampai saat ini masih dapat kita jumpai
yaitu berada di tengah-tengah sawah desa Kupang Sari. Pada zaman dahulu
masyarakat Desa Bejalen mempunyai tradisi bersih-bersih makam kyai
Gozali, tetapi lambat laun tradisi itu hilang.
Pada tahun 1825 s/d 1830 terjadi perang Diponegoro, pasukan
Diponegoro waktu itu sangat bersemangat menghancurkan penjajah
Belanda. Dalam pengintaiannya, pasukan Diponegoro ke Benteng Belanda
(sekarang terkenal dengan Benteng Pendem) yang berada di Ambarawa
tepatnya di dekat Desa Bejalen, salah satu pos pengintaiannya terletak di
Desa Bejalen. Dan dukungan warga Desa Bejalen sangat kuat, sebab
mereka merasa satu asal-usul yaitu; dari Mataram. Setelah Pangeran
Diponegoro jatuh, sebagian kecil pasukannya ada yang menetap di Desa
Bejalen sampai turun temurun.
Sebagian pasukan Diponegoro ada yang tinggal menetap di desa-desa
yang berada tidak jauh dari Desa Bejalen. Desa-desa tersebut adalah Desa
Rowo Ricik, Rowo Gedangan, Rowo Jamiah, Plumbon, Rowo Ayem,
Rowo semut, Ngaglik Wetan dan Ngaglik Kulon, Karang Sari, Wonosari,
dan Nglarangan. Desa-desa tersebut dipimpin oleh 5 Kepala Desa. Pada
52
tahun 1911 s/d 1912 atas Prakasa Wedono Ambarawa, yaitu: Bapak Amat
Ngali Desa-desa tersebut digabung menjadi satu.
Pada tahun 1915 pemerintah Belanda memulai pembangunan DAM
Sungai Tuntang untuk PLTA. Dengan adanya pembangunan DAM tersebut
mengakibatkan air rawa naik dan menggenangi desa-desa di sekitar Desa
Bejalen. Sehubungan dengan hal tersebut pada tahun 1924 mulai terjadi
perpindahan desa-desa yang tergenangi meluapnya air rawa tersebut. Pada
kurun waktu tahun 1937 s/d 1938 desa-desa yang tergenang air tersebut
akhirnya pindah dan menetap sampai dengan sekarang yaitu sebagai
berikut:
a. Desa Rowo Ricik pindah menjadi Desa Kupang Rejo
b. Desa Karang Sari pindah menjadi Kupang Sari
c. Desa Nglarangan dan Plumbon pindah menjadi Desa Kupang Sari
d. Desa Rejo Sari pindah menjadi Lodoyong
e. Desa Wonosari dan Ngaglik Kulon menjadi Tambak Sari
f. Desa Ngaglik Wetan menjadi Tambak Rejo
Sehingga Desa Bejalen tinggal 2 Dusun yaitu: Bejalen Barat dan Bejalen
Timur.
Tahun 1942 Jepang masuk dengan memperkenalkan diri sebagai
saudara tua, lewat Jepanglah pemuda Indonesia umumnya termasuk
pemuda Desa Bejalen dijadikan PETA (Pembela Tanah Air), tahun 1945
Jepang mundur.
53
Tahun 1945 terjadi proklamasi kemerdekaan Indonesia termasuk
pemuda Bejalen menjadi pejuangnya. Salah satu pemuda Desa Bejalen
yang bernama Dul Cipto menjadi ketua AMRI (Angkatan Muda Republik
Indonesia) tercantum dalam buku Sejarah Palagan Ambarawa.
Tahun 1947 terjadi kles Pertama, pemuda-pemuda Desa Bejalen ikut
bergerilya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada tahun
1948 terjadi kles ke dua, warga Desa Bejalen banyak yang mengungsi,
rumah-rumah penduduk banyak yang dibakar. Setelah peperangan selesai
warga kembali ke Desa Bejalen dan hidup kembali bertani, beternak, dan
sebagainya.
Tahun 1963 mulai perintisan Sekolah Rakyat, anak-anak mulai
mengenyam pendidikan di desanya sendiri. Tahun 1965 terjadilah
peristiwa G30S PKI, warga Desa Bejalen banyak menjadi korban, peristiwa
ini menjadi korban, peristiwa ini menjadikan warga takut, cemas, untuk
berbicara dan mengeluarkan pendapat.
Tahun 1966 s/d 1997 pembangunan di desa-desa sudah mulai tampak
tetapi semuanya perintah dari atas ke bawah, jadi rakyat hanya tahu
wujudnya tanpa ada pendapat dari rakyat kecil, rakyat hanyalah sebagai
obyek pembangunan.
Tahun 1997 s/d 1999 awal mulai Reformasi, warga desa sudah berani
mengeluarkan pendapat dan berpartai politik termasuk warga Desa Bejalen.
Dan dari tahun 1999 sampai dengan sekarang pembangunan Desa Bejalen
semakin membaik, mulai dari pembangunan fisik, ekonomi, sosial dan
54
budaya. Kegiatan pembangunan sudah mulai melibatkan warga walaupun
belum semua aspirasi timbul dari warga.
Keterangan: (Sumber: Dokumen Desa Wisata Bejalen dari
Sekretaris Desa, Hari Senin 03-08-2015, Pukul 10:25 WIB).
2. Keadaan Umum Wilayah Desa
Desa Bejalen adalah salah satu desa yang terletak pada dataran rendah
di kawasan pinggiran Rawa Pening di wilayah Kecamatan Ambarawa
Kabupaten Semarang Propinsi Jawa Tengah dengan batas-batas wilayah:
Tabel. 4
Batas Wilayah Desa Bejalen
Letak Batas
Desa/Kelurahan
Utara
Kel. Lodoyong, Kel. Kupang, Kel. Tambakboyo
Selatan
Desa Banyubiru
Barat
Kel. Pojoksari
Timur
Desa Tuntang
Keterangan
Keterangan: (Sumber: Dokumen Desa Wisata Bejalen dari
Sekretaris Desa, Hari Senin 03-08-2015, Pukul 10:30 WIB).
Desa Bejalen tergolong rendah dengan keseluruhan luas wilayahnya
470,720 ha. Terbagi dalam luas tanah sawah irigasi ½ teknis 15 ha, sawah
tadah hujan 116 ha, sawah Pasang Surut 35 ha dan Kawasan Pemukiman
67 ha, dan daerah terluas adalah Rawa Pening. Jalan-jalan di Desa Bejalen
telah beraspal sehingga mudah dilalui oleh pengguna kendaraan yang
melintasi Desa Bejalen. Jarak tempuh dari Desa Bejalen menuju ke Ibukota
Kecamatan 3 km dengan waktu tempuh sekitar 15 menit. Sedangkan jarak
tempuh ke Ibukota Kabupaten 15 km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.
55
Kendaraan umum yang bisa digunakan menuju Ibukota Kabupaten adalah
bus.
3. Letak Geografis
Dengan luas wilayah 470,720 ha, Desa Bejalen terbagi menjadi 2
Dusun, yakni: Dusun Bejalen Barat dan Dusun Bejalen Timur, Terdiri dari
4 RW dan 10 RT. Berdasarkan kondisi geografisnya, Desa Bejalen berada
pada 465 mdl dari permukaan laut dengan rata-rata curah hujan pertahun
mencapai 2000-3000 mm dan keadaan suhu rata-rata 22-33 °C.
Keterangan: (Sumber: Dokumen Desa Wisata Bejalen dari
Sekretaris Desa, Hari Senin 03-08-2015, Pukul 10:34 WIB).
4. Demografi (Kependudukan)
Berdasarkan data Administrasi Pemerintahan Desa tahun 2015, jumlah
penduduk Desa Bejalen adalah 1714 jiwa, dengan rincian 832 laki-laki dan
882 perempuan. Sebagai informasi yang lebih terperinci mengenai data
kependudukan Desa Bejalen berdasarkan kelompok umur, dapat dilihat
dalam tabel berikut:
Tabel. 5
Jumlah Penduduk Menurut Usia
NO
KELOMPOK UMUR
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
JUMLAH
1
0–4
50
51
101
2
5–9
54
47
101
3
10 – 14
54
46
100
4
15 – 19
52
54
106
5
20 – 24
81
90
171
6
25 – 29
71
67
138
56
7
30 – 34
82
89
171
8
35 – 39
82
67
149
9
40 – 44
56
58
114
10
45 – 49
56
61
117
11
50 – 54
52
72
124
12
55 – 59
47
48
95
13
60 – 64
39
34
73
14
65 – 69
21
26
47
15
70 – 74
17
21
38
16
> = 75
18
51
69
832
882
1714
JUMLAH
Keterangan: (Sumber: Dokumen Desa Wisata Bejalen dari
Sekretaris Desa, Hari Senin 03-08-2015, Pukul 10:36 WIB).
5. Pendidikan
Pendidikan merupakan hal yang sangat mendasar bagi semua lapisan
masyarakat, dengan pendidikan yang menyentuh seluruh lapisan
masyarakat,
maka
nantinya
berguna
dalam
memajukan
tingkat
kesejahteraan pada umumnya dan tingkat perekonomian pada khususnya.
Dengan tingkat pendidikan yang tinggi maka akan memacu tingkat
kecakapan masyarakat yang pada gilirannya akan mendorong tumbuhnya
ketrampilan kewirausahaan dan lapangan kerja baru.
Dengan sendirinya akan membantu program pemerintah dalam
mengatasi pengangguran dan mengentaskan kemiskinan. Pendidikan
biasanya akan dapat mempertajam sistematika berpikir atau pola pikir
individu, selain mudah menerima informasi yang lebih maju dan tidak
57
gagap teknologi. Di bawah ini adalah tabel yang menunjukkan tingkat ratarata pendidikan warga Desa Bejalen.
Tabel. 6
Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan
NO
JENIS PENDIDIKAN
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
JUMLAH
1
Tdk Sekolah / Blm Sklah
130
139
269
2
Belum Tamat SD
40
45
85
3
Tamat SD Sederajat
241
276
517
4
SLTP Sederajat
164
171
335
5
SLTA Sederajat
231
218
449
6
Diploma I / II
1
2
3
7
Akademi /D3/ Sarjana M
8
14
22
8
Diploma IV / Strata I
16
15
31
9
Strata II
1
2
3
10
Strata III
0
0
0
JUMLAH
832
882
1714
Keterangan: (Sumber: Dokumen Desa Wisata Bejalen dari
Sekretaris Desa, Hari Senin 03-08-2015, Pukul 10:44 WIB).
Rentetan data di atas menunjukan bahwa mayoritas penduduk Desa
Bejalen telah mampu menyelesaikan sekolah di jenjang pendidikan wajib
belajar sembilan tahun (SD dan SLTP), bahkan sekarang Pemerintah telah
mencanangkan wajib belajar dua belas tahun. Untuk itu tidak sedikit juga
warga yang telah mampu tamat pada tingkat SLTA.
Rendahnya kualitas pendidikan di Desa Bejalen tidak terlepas dari
terbatasnya sarana dan prasarana pendidikan yang ada, di samping tentu
masalah ekonomi menjadi hal yang paling utama mengingat sebagian besar
58
mata pencaharian warga Desa Bejalen adalah petani, peternak, buruh tani
dan nelayan. Sarana pendidikan di Desa Bejalen yang baru tersedia
hanyalah TK dan SD, sementara akses menuju SMP dan SMA berada di
tempat lain yang harus ditempuh dengan kendaraan umum.
6. Mata Pencaharian
Tabel. 7
Penduduk Menurut Mata Pencaharian
NO
JENIS PEKERJAAN
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
JUMLAH
1
Belum / Tidak Bekerja
118
105
223
2
Mengurus Rmh Tngga
0
220
220
3
Pelajar / Mahasiswa
119
109
228
4
Pensiunan
13
19
32
5
Pegawai Negeri Sipil
7
3
10
6
TNI
5
0
5
7
Kepolisian RI
3
0
3
8
Perdagangan
2
11
13
9
Petani / Pekebun
12
4
16
10
Nelayan / Perikanan
8
0
8
11
Karyawan Swasta
199
144
343
12
Buruh Harian Lepas
229
159
388
13
BuruhTani/Perkebunan
4
4
8
14
Mekanik
1
0
1
15
Seniman
1
0
1
16
Pendeta
1
1
2
17
Guru
11
10
21
18
Bidan
0
1
1
19
Perawat
0
1
1
59
20
Sopir
7
0
7
21
Pedagang
4
18
22
22
Perangkat Desa
6
2
8
23
Kepala Desa
1
0
1
24
Biarawati
0
1
1
25
Wiraswasta
81
70
151
JUMLAH
832
882
1714
Keterangan: (Sumber: Dokumen Desa Wisata Bejalen dari
Sekretaris Desa, Hari Senin 03-08-2015, Pukul 10:47 WIB).
7. Jumlah Penduduk Menurut Agama
Penduduk Desa Bejalen terdiri atas 3 pemeluk agama, yaitu Islam,
Katholik dan Kristen, yang sejak lama sudah terbina kerukunan antar umat
beragamanya. Maka masyarakat selalu berusaha menjaga sikap dan saling
menghargai antar umat beragama.
Tabel. 8
Jumlah Penduduk Menurut Agama
LAKI – LAKI
PEREMPUAN
JUMLAH
Islam
636
678
1314
Katholik
100
107
207
Kristen
96
97
193
Hindu
0
0
0
Budha
0
0
0
Khonghucu
0
0
0
832
882
1714
KELOMPOK AGAMA
JUMLAH
Keterangan: (Sumber: Dokumen Desa Wisata Bejalen dari
Sekretaris Desa, Hari Senin 03-08-2015, Pukul 10:50 WIB).
60
8. Struktur Organisasi Desa
Gambar. 3
Bagan Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Pemerintah
Desa Bejalen Tahun 2015
KEPALA DESA
NOWO SUGIHARTO
SEKRETARIS DESA/PLT
ROSALIA PURWATI
KEPALA SEKSI KEUANGAN
KEPALA SEKSI UMUM
ISNIN
SUDADI
KEPALA URUSAN
PEMERINTAHAN
KEPALA URUSAN
PEMBANGUNAN
PURWATI
ANI KUSUMANINGSIH
KEPALA UMUM
KEMASYARAKATAN
PENSIUN (BELUM ADA
PENGGANTI)
Keterangan: (Sumber: Papan Struktur Organisasi di Balai Desa
Wisata Bejalen, Hari Senin 03-08-2015, pukul 11:01 WIB).
9. Kesehatan
“SEHAT ITU MAHAL HARGANYA” kata ini kiranya sangat melekat
bagi masyarakat Desa Bejalen, hal ini dibuktikan dengan kegiatan gotong
royong yang dilakukan tiap minggu di lingkungan masing-masing RT.
Selain menjadikan lingkungan desa sehat hal tersebut juga menjadikan
lingkungan di Desa Bejalen terlihat nyaman, seperti Slogan Perdes
Pelestarian Lingkungan Hidup Desa Bejalen Tahun 2013 yaitu:
61
“BEJALEN BERDIKARI” (Bersih, Mandiri, Kreatif, Aman, Rapi dan
Indah). Bentuk kegiatan gotong royong yang biasa dilakukan adalah
membersihkan gorong-gorong, saluran irigasi , saluran pembuangan air
limbah dan pembakaran sampah agar pada saat musim hujan tiba, tidak
terjadi banjir.
Warga Desa Bejalen juga memiliki tingkat kesadaran yang tinggi akan
kesehatan terutama kesehatan Ibu dan Anak. Dan didukung dengan adanya
1 unit PKD Desa dan 2 unit Posyandu serta 2 Unit Posyandu Lansia yang
ada ditiap dusun. Walaupun tidak ada warga yang berprofesi sebagai
dokter, keberadaan seorang bidan sudah dirasa sangat membantu warga
Desa Bejalen dalam menjaga kesehatan.Warga Desa Bejalen sangat
mendukung kegiatan tersebut demi miningkatkan derajat kesehatan seluruh
masyarakat.
Keterangan: (Sumber: Dokumen Desa Wisata Bejalen dari
Sekretaris Desa, Hari Senin 03-08-2015, Pukul 11:03 WIB).
10. Form Profile Desa Wisata
a. Nama Desa Wisata
: Desa Wisata Bejalen
b. Alamat Desa Wisata
:
1) Alamat Lengkap
: Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa,
Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah
2) Alamat Blog
:
http://wisatarawapeningbejalen.blogspot.com
3) Alamat Email
:-
4) Contact Person
: 081325125794 / 08567868367
62
5) Peta Menuju Desa Wisata:
Gambar. 4
Denah Lokasi Desa Wisata Bejalen
Semarang
Monumen Palagan
Jogja
Terminal Bawen
Jln. Lingkar Ambarawa
Salatiga
Lampu Merah
Rumah Makan
Kampung Rawa
LOKASI
U
DESA
WISATA
BEJALEN
Banyubiru
c. Tema Desa
: Alam Danau Rawa Pening
d. Makanan Khas
:
1) Telur Asin Mbah Birah
2) Jenang Cikru: Terbuat dari isi buah cikru/teratai yang sudah di olah
menjadi tepung.
3) Nugget Betutu: Makanan yang berbahan ikan betutu/gabus.
4) Nastar selai salak: Terbuat dari buah salak yang memetik dari
pohon salak khas dari Desa Bejalen.
5) Peyek Kompoi: Seperti peyek biasa namun ikannya kecil-kecil
yang di sebut kompoi.
63
e. Informasi Home Stay
:
Biasanya bila ada pengunjung yang akan bermalam di Desa Wisata
Bejalen, mereka bermalam di rumah-rumah penduduk warga Desa
Bejalen.
f. Informasi Kesenian
1) Nama Kesenian
:
: Kuda Lumping Baru Klinting
2) Deskripsi Kesenian :
Kuda Lumping Baru Klinting merupakan salah satu kesenian
dari Desa Bejalen. Asal mulanya reog blarak yang terbuat dari daun
kelapa di rangkai menjadi sebuah aksesoris yang di pakai oleh
pemain reog.
3) Jumlah Group Kesenian
:1
g. Informasi Pengelola Desa Wisata:
1) Nama Pokdarwis
: Bejalen Makmur
2) Struktur Organisasi Pokdarwis
:
a) Ketua
: Bapak Radjio
b) Wakil
: Bapak Sariono
c) Bendahara
: Hendryk
d) Sekretaris
: Ryan Anty Risnawati
e) Humas
: Bapak Koko, Bapak Lilik
f) Guide
: Wariningsih
g) Seksi Kesenian
: Mas Kelik, Suparmin
h) Seksi Perlengkapan
: Pak Sudadi, Suwondo
64
h. Informasi Kalender Event Tetap Desa Wisata:
1) Nama Event
:
Arak-arakan/Khaul ke makam Mbah Kyai Gozali
2) Waktu Penyelenggaraan
: Bulan Desember
3) Deskripsi Event
:
Selamatan Desa di makam sesepuh dari Desa Bejalen yaitu
makam Mbah Kyai Gozali.
Keterangan: (Sumber: Dokumen Desa Wisata Bejalen dari
Sekretaris Desa, Hari Senin 03-08-2015, Pukul 11:05 WIB).
B. Penyajian Data Hasil Penelitian
Perolehan data yang penulis sajikan ini adalah berasal dari penyebaran
angket. Untuk memperoleh data tentang kecerdasan emosi remaja dan
implikasinya terhadap pembinaan akhlakul karimah di Desa Wisata Bejalen
Kecamatan
Ambarawa
Kabupaten
Semarang
Tahun
2015,
penulis
menggunakan angket yang berisi indikator dari masing-masing variabel X dan
Y, yang berisi 30 soal dengan pilihan jawaban A, B dan C. Pemetaan indikator
ke dalam soal-soal angket untuk remaja penulis sajikan sebagai berikut:
Tabel. 9
Pemetaan Indikator dengan Angket
NO
1
INDIKATOR VARIABEL X
(KECERDASAN EMOSI REMAJA)
Mengenali Emosi Diri
2
Mengelola Emosi
4,5,6
3
Memotivasi Diri Sendiri
7,8,9
4
Mengenali Emosi Orang Lain
10,11,12
5
Membina Hubungan dengan Orang
Lain
13,14,15
65
NO ANGKET
1,2,3
NO
1
INDIKATOR VARIABEL Y
(PEMBINAAN AKHLAKUL
KARIMAH)
Akhlak kepada Allah
NO ANGKET
2
Akhlak terhadap Diri Sendiri
19,20,21
3
Akhlak terhadap Keluarga
22,23,24
4
Akhlak terhadap Masyarakat
25,26,27
5
Akhlak terhadap Alam Sekitar
28,29,30
16,17,18
Berikut ini penulis sajikan data responden yang menjadi obyek penelitian di
Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang Tahun 2015.
1. Data Responden
Tabel. 10
Jumlah Data Responden
NO
NAMA
WILAYAH
UMUR
1
Afra
Dusun Bejalen Barat
13 thn
2
Alrest
Dusun Bejalen Barat
13 thn
3
Adven
Dusun Bejalen Barat
13 thn
4
Syahrul Amar Nugroho
Dusun Bejalen Barat
14 thn
5
Fifit Bima Sona
Dusun Bejalen Barat
15 thn
6
Geby
Dusun Bejalen Barat
15 thn
7
Riski
Dusun Bejalen Barat
15 thn
8
Oxasono
Dusun Bejalen Barat
16 thn
9
Wahyu
Dusun Bejalen Barat
16 thn
10
Agil
Dusun Bejalen Barat
16 thn
11
Amin
Dusun Bejalen Barat
16 thn
12
Puri
Dusun Bejalen Barat
16 thn
13
Pundi
Dusun Bejalen Barat
16 thn
14
Alexander
Dusun Bejalen Barat
16 thn
66
15
Okky Angger
Dusun Bejalen Barat
16 thn
16
Maharani Yuli A
Dusun Bejalen Barat
16 thn
17
Agusta
Dusun Bejalen Barat
17 thn
18
Fani
Dusun Bejalen Barat
17 thn
19
Leryan
Dusun Bejalen Barat
17 thn
20
Farida Ulfa Yasya
Dusun Bejalen Barat
17 thn
21
Andri Setiawan
Dusun Bejalen Timur
14 thn
22
Agustini
Dusun Bejalen Timur
16 thn
23
Rosi
Dusun Bejalen Timur
16 thn
24
Desi
Dusun Bejalen Timur
16 thn
25
Angel
Dusun Bejalen Timur
18 thn
26
Bibi
Dusun Bejalen Timur
19 thn
27
Novita
Dusun Bejalen Timur
19 thn
28
Ariyanti
Dusun Bejalen Timur
20 thn
29
Windi
Dusun Bejalen Timur
20 thn
30
Hesti
Dusun Bejalen Timur
20 thn
31
Afi
Dusun Bejalen Timur
20 thn
32
Hendrik
Dusun Bejalen Timur
21 thn
33
Trini
Dusun Bejalen Timur
21 thn
34
Puji
Dusun Bejalen Timur
21 thn
35
Linta
Dusun Bejalen Timur
21 thn
36
Emi
Dusun Bejalen Timur
21 thn
67
2. Data Jawaban Angket Variabel X (Kecerdasan Emosi Remaja)
Tabel. 11
Jumlah Data Jawaban Angket Variabel X
NO
NO ANGKET
RESP
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
1
B
C
C
A
C
C
B
A
C
B
C
B
C
A
B
2
C
C
C
A
C
B
C
B
A
B
C
C
A
A
C
3
A
A
C
B
B
A
A
B
C
A
A
B
A
A
B
4
C
C
B
B
C
C
B
B
B
A
C
A
A
B
C
5
C
C
B
B
C
C
C
B
C
A
C
B
A
C
A
6
A
A
C
B
B
C
C
C
A
A
C
C
C
A
B
7
B
C
C
B
B
B
C
C
B
B
A
A
A
A
A
8
A
C
B
B
C
C
A
A
C
A
C
C
A
C
B
9
A
C
C
B
B
C
C
A
C
A
B
A
A
B
B
10
B
B
C
B
C
B
B
B
B
B
B
B
B
A
B
11
B
C
B
B
C
C
B
B
B
B
B
B
B
C
B
12
B
C
C
B
B
B
C
C
C
B
C
B
B
B
A
13
A
B
B
B
B
B
B
B
B
A
B
B
B
B
A
14
A
C
A
B
C
B
B
B
A
A
A
A
B
B
B
15
B
B
B
B
C
C
B
B
B
B
B
B
B
B
B
16
A
C
C
B
B
B
C
B
C
A
C
A
C
A
C
17
A
C
C
B
C
C
C
C
C
A
C
A
A
A
C
18
B
B
C
B
C
C
C
B
B
A
B
B
A
B
B
19
A
B
B
B
C
C
C
B
B
B
A
C
A
A
A
20
B
B
B
B
B
B
C
B
C
A
B
A
B
A
B
21
C
C
B
B
C
B
A
A
C
B
C
C
C
A
C
22
A
B
B
B
B
B
A
A
B
C
B
C
A
A
A
68
23
C
C
C
B
C
C
B
B
C
A
C
A
A
C
B
24
A
C
C
B
C
C
C
B
C
A
C
B
A
B
B
25
B
C
C
B
C
C
C
B
B
B
B
B
B
B
B
26
B
C
C
B
B
B
C
C
C
B
B
B
A
C
B
27
B
C
C
B
C
C
B
B
C
A
C
A
A
C
A
28
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
A
A
A
29
B
B
C
B
B
C
B
B
B
A
B
A
A
A
A
30
B
C
C
B
B
C
C
A
B
B
C
B
B
B
B
31
C
C
C
B
C
C
B
C
B
B
B
B
A
B
B
32
B
B
A
C
B
A
A
A
A
B
B
B
A
B
A
33
A
C
C
B
C
B
C
C
C
B
C
B
B
B
A
34
A
B
B
B
C
C
C
B
B
B
B
B
A
B
B
35
B
B
B
A
C
C
B
B
B
B
B
B
A
B
A
36
B
B
B
A
C
B
C
C
B
B
B
B
A
A
B
69
3. Data Jawaban Angket Variabel Y (Pembinaan Akhlakul Karimah)
Tabel. 12
Jumlah Data Jawaban Angket Variabel Y
NO
NO ANGKET
RESP
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
C
C
C
C
B
C
C
C
C
C
C
C
C
A
C
2
C
C
C
C
C
C
B
C
C
C
C
C
B
B
C
3
B
B
C
A
C
C
B
A
C
A
C
C
A
A
B
4
C
A
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
B
A
C
5
C
C
C
C
C
C
B
C
C
C
C
C
B
B
C
6
C
B
C
A
C
C
B
C
C
C
C
C
A
B
C
7
C
B
C
A
B
C
B
C
C
C
C
C
A
A
C
8
C
C
C
C
B
C
A
B
C
C
C
C
C
A
B
9
B
B
C
B
B
C
B
C
C
C
C
C
B
B
C
10
C
B
C
B
B
C
C
B
C
B
C
C
B
B
C
11
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
B
A
C
12
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
B
A
C
13
C
C
C
A
B
C
A
B
C
A
C
C
A
A
C
14
C
B
C
C
B
C
A
C
C
C
C
C
B
B
C
15
C
B
C
B
B
C
C
B
C
C
C
C
B
A
C
16
C
C
C
C
C
C
C
B
C
C
C
C
B
B
C
17
C
C
C
C
C
C
C
B
C
C
C
C
B
A
A
18
C
C
C
C
B
C
B
B
C
C
C
C
A
A
C
19
C
C
C
C
B
C
A
C
C
C
C
C
A
A
A
20
C
C
C
A
C
C
C
C
C
A
C
C
C
A
A
21
C
B
C
C
C
C
C
C
C
B
C
C
C
B
C
22
C
C
C
C
B
C
A
A
A
C
C
C
A
A
A
70
23
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
B
A
C
24
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
B
A
C
25
C
C
C
C
B
C
C
C
C
C
C
C
B
B
C
26
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
B
B
B
27
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
A
A
28
C
B
C
C
A
C
A
A
C
A
C
C
A
A
B
29
C
C
C
A
A
C
A
A
C
C
C
C
A
A
B
30
C
C
C
C
B
C
B
B
C
C
C
C
C
C
C
31
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
B
B
C
32
B
C
B
B
B
B
A
C
B
C
B
C
A
A
B
33
C
C
C
C
C
C
C
C
B
C
B
B
C
C
C
34
C
B
C
C
B
C
C
B
C
C
C
B
C
A
B
35
C
C
C
C
C
C
A
B
C
C
C
C
B
A
A
36
C
C
C
C
C
C
B
B
C
C
C
C
A
A
B
71
BAB IV
ANALISIS DATA
Pada bab ini penulis akan sajikan pembahasan dan analisis data yang telah
penulis dapatkan dari penyebaran angket remaja mengenai Kecerdasan Emosi
Remaja dan Pembinaan Akhlakul Karimah di Desa Wisata Bejalen Kecamatan
Ambarawa Kabupaten Semarang Tahun 2015. Setelah proses penggalian data yang
dibutuhkan selesai, langkah selanjutnya adalah pengolahan data, yaitu mengolah
data-data penelitian yang diperoleh dengan menggunakan metode angket. Proses
analisis data ini meliputi tahapan-tahapan sebagai berikut:
A. Analisis Pendahuluan
Langkah analisis data ini meliputi tahapan tabulasi data dan membuat tabel
persiapan untuk analisis data. Dari pengolahan data penelitian berikut akan
disajikan data hasil penelitian mengenai nilai-nilai variabel X (Kecerdasan
Emosi Remaja) dan variabel Y (Pembinaan Akhlakul Karimah). Untuk data
variabel X terdapat pada soal angket nomor 1-15 dan variabel Y terdapat pada
soal angket nomor 16-30, pilihan jawaban A, B, dan C dengan cara pemberian
skor jawaban A= 3, B= 2, dan C= 1. Kemudian setelah data terkumpul dari
masing-masing variabel X dan Y, langkah selanjutnya yaitu memasukkan data
tersebut ke dalam tabel distribusi frekuensi untuk menentukan besarnya
frekuensi guna mencari nilai rata-rata (mean), nilai interval dan persentase
kategori dari masing-masing variabel tersebut.
72
1. Analisis Tingkat Kecerdasan Emosi Remaja Desa Wisata Bejalen
Dari data angket tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabel hasil
angket untuk mengetahui rata-rata (mean) dari data tingkat kecerdasan
emosi remaja. Dari masing-masing pertanyaan tersebut disediakan
alternatif jawaban dengan bobot nilai sebagai berikut:
a. Alternatif Jawaban A dengan Skor 3
b. Alternatif Jawaban B dengan Skor 2
c. Alternatif Jawaban C dengan Skor 1
Pilihan jawaban tersebut diklasifikasikan menjadi 3 tingkatan yaitu:
a. Baik
b. Cukup Baik
c. Kurang Baik
Tabel. 13
Hasil Angket Kecerdasan Emosi Remaja
Nilai
No
Jumlah Skor
A
B
C
3
2
1
1
3
5
7
9
10
7
26
2
4
3
8
12
6
8
26
3
8
5
2
24
10
2
36
4
3
6
6
9
12
6
27
5
3
4
8
9
8
8
25
6
5
3
7
15
6
7
28
7
5
6
4
15
12
4
31
8
5
3
7
15
6
7
28
9
5
5
5
15
10
5
30
73
10
1
12
2
3
24
2
29
11
0
11
4
0
22
4
26
12
1
8
6
3
16
6
25
13
3
12
0
9
24
0
33
14
6
7
2
12
14
2
28
15
0
13
2
0
26
2
28
16
4
4
7
12
8
7
27
17
5
2
8
15
4
8
27
18
2
9
4
6
18
4
28
19
5
6
4
15
12
4
31
20
3
10
2
9
20
2
31
21
3
4
8
9
8
8
25
22
6
6
3
18
12
3
33
23
3
4
8
9
8
8
25
24
3
5
7
9
10
7
26
25
0
10
5
0
20
5
25
26
1
8
6
3
16
6
25
27
4
4
7
12
8
7
27
28
3
12
0
9
24
0
33
29
5
8
2
15
16
2
33
30
1
9
5
3
18
5
26
31
1
8
6
3
16
6
25
32
7
7
1
21
14
1
36
33
2
6
7
6
12
7
25
34
2
10
3
6
20
3
29
35
3
10
2
9
20
2
31
36
3
9
3
9
18
3
30
74
Setelah diketahui data-datanya terkumpul. Kemudian untuk
menganalisis data tersebut, maka dilakukan statistic deskriptif dari tabel di
atas yang dilakukan dengan proses pembuatan tabel kerja ke dalam
distribusi frekuensi sebagai berikut:
Tabel. 14
Distribusi Frekuensi Variabel X
NO
SKOR (X)
FREKUENSI (f)
f.X
1
25
8
200
2
26
5
130
3
27
4
108
4
28
5
140
5
29
2
58
6
30
2
60
7
31
4
124
8
33
4
132
9
36
2
72
JUMLAH
36
1024
Berdasarkan tabel di atas maka untuk selanjutnya dilakukan perhitungan
sebagai berikut:
a. Mencari Nilai Rata-rata (Mean)
Untuk mencari nilai rata-rata dari variabel X yaitu kecerdasan emosi
remaja dengan menjumlahkan keseluruhan nilai angket siswa yang telah
dikalikan dengan frekuensi (jumlah) dari setiap nilai tersebut dibagi
dengan jumlah seluruh responden (remaja). Berdasarkan hal tersebut,
maka nilai rata-rata untuk variabel X adalah:
75
𝑋=
Ʃ 𝑓𝑋
1024
=
= 28,44 = 28,4 = 28
Ʃ𝑓
36
Jadi, nilai rata-rata (mean) untuk variabel X adalah 28,44 dibulatkan
menjadi 28,4.atau 28.
b. Mencari Nilai Interval
Dari hasil tabel di atas, diketahui bahwa kecerdasan emosi remaja
diperoleh dengan nilai tertinggi 36 dan nilai terendah 25. Kemudian
diintervalkan dengan menggunakan rumus:
𝑖=
(𝑋𝑇 − 𝑋𝑅) + 1
𝐾𝐼
Keterangan:
i
: Nilai ideal
XT
: Nilai variabel X tertinggi ideal
XR
: Nilai variabel X terendah ideal
KI
: Kelas interval
𝑖=
(𝑋𝑇 − 𝑋𝑅) + 1
𝐾𝐼
𝑖=
(36 − 25) + 1
3
𝑖=
11 + 1
3
𝑖=
12
3
𝑖=4
Setelah diketahui nilai intervalnya, maka ditetapkan dalam kategori
sebagai berikut:
76
Tabel. 15
Nilai Interval Kecerdasan Emosi Remaja
NO
INTERVAL
KATEGORI
EMOSI REMAJA
FREKUENSI
1
33-36
Baik
Tidak Emosional
6
2
29-32
Cukup Baik
Emosional
8
3
25-28
Kurang Baik
Sangat Emosional
22
JUMLAH
36
Hasil dari tabel di atas menunjukkan bahwa mean (nilai rata-rata)
dari variabel X yaitu tentang kecerdasan emosi remaja adalah 28.
Dengan melihat tabel di atas nilai 28 terletak pada interval (25-28),
sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat kecerdasan emosi remaja
berada dalam kategori kurang baik (sangat emosional) menurut persepsi
remaja Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa Kabupaten
Semarang Tahun 2015.
c. Mencari Persentase Kategori Kecerdasan Emosi Remaja
Setelah diketahui berapa banyak remaja yang menjawab tentang
kategori kecerdasan emosi remaja yaitu baik, cukup baik, dan kurang
baik. Kemudian dipersentasekan masing-masing perolehan kategori
dengan menggunakan rumus:
𝑃=
𝐹
𝑋 100%
𝑁
Keterangan:
P
: Persentase
F
: Frekuensi
N
: Nilai/jumlah responden
77
Adapun kategori baik, cukup baik, dan kurang baik tentang kecerdasan
emosi remaja adalah sebagai berikut:
Untuk kategori baik (tidak emosional), ada 6 responden
𝑃=
𝐹
𝑋 100%
𝑁
𝑃=
6
𝑋 100%
36
𝑃=
1
𝑋 100%
6
𝑃 = 16,66%
Untuk kategori cukup baik (emosional), ada 8 responden
𝑃=
𝐹
𝑋 100%
𝑁
𝑃=
8
𝑋 100%
36
𝑃=
2
𝑋 100%
9
𝑃 = 22,22%
Untuk kategori kurang baik (sangat emosional) ada 22 responden
𝑃=
𝐹
𝑋 100%
𝑁
𝑃=
22
𝑋 100%
36
𝑃=
11
𝑋 100%
18
𝑃 = 61,11%
Kemudian penulis sampaikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi
tentang emosi remaja.
78
Tabel. 16
Rekapitulasi Kecerdasan Emosi Remaja
NO
KATEGORI
INTERVAL
FREKUENSI
PERSENTASE
1
Baik
33-36
6
16,66%
2
Cukup Baik
29-32
8
22,22%
3
Kurang Baik
25-28
22
61,11%
36
100%
Jumlah
Dengan
demikian
perhitungan
persentase
tersebut
dapat
disimpulkan bahwa kecerdasan emosi remaja pada taraf baik mencapai
16,66%, pada taraf cukup baik mencapai 22,22%, dan pada taraf kurang
baik mencapai 61,11%. Dengan demikian, tingkat kecerdasan emosi
remaja di Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa Kabupaten
Semarang Tahun 2015 berada dalam kategori kurang baik pada taraf
61,11% sebanyak 22 responden.
2. Analisis Tingkat Pembinaan Akhlakul Karimah di Desa Wisata
Bejalen
Dari data angket tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabel hasil
angket untuk mengetahui rata-rata (mean) dari data tingkat pembinaan
akhlakul karimah. Dari masing-masing pertanyaan tersebut disediakan
alternatif jawaban dengan bobot nilai sebagai berikut:
a. Alternatif Jawaban A dengan Skor 3
b. Alternatif Jawaban B dengan Skor 2
c. Alternatif Jawaban C dengan Skor 1
79
Pilihan jawaban tersebut diklasifikasikan menjadi 3 tingkatan yaitu:
a. Baik
b. Cukup Baik
c. Kurang Baik
Tabel. 17
Hasil Angket Pembinaan Akhlakul Karimah
NILAI
NO
JUMLAH SKOR
A
B
C
3
2
1
1
1
1
13
3
2
13
18
2
0
3
12
0
6
12
18
3
5
4
6
15
8
6
29
4
1
2
12
3
4
12
19
5
0
3
12
0
6
12
18
6
2
3
10
6
6
10
22
7
3
3
9
9
6
9
24
8
2
3
10
6
6
10
22
9
0
7
8
0
14
8
22
10
0
7
8
0
14
8
22
11
1
1
13
3
2
13
18
12
1
1
13
3
2
13
18
13
5
2
8
15
4
8
27
14
1
4
10
3
8
10
21
15
1
5
9
3
10
9
22
16
0
3
12
0
6
12
18
17
2
2
11
6
4
11
21
18
2
3
10
6
6
10
22
80
19
4
1
10
12
2
10
24
20
4
0
11
12
0
11
23
21
0
3
12
0
6
12
18
22
6
1
8
18
2
8
28
23
1
1
13
3
2
13
18
24
1
1
13
3
2
13
18
25
0
3
12
0
6
12
18
26
0
3
12
0
6
12
18
27
2
0
13
6
0
13
19
28
6
2
7
18
4
7
29
29
6
1
8
18
2
8
28
30
0
3
12
0
6
12
18
31
1
1
13
3
2
13
18
32
3
8
4
9
16
4
29
33
0
3
12
0
6
12
18
34
1
5
9
3
10
9
22
35
3
2
10
9
4
10
23
36
2
3
10
6
6
10
22
Setelah diketahui data-datanya terkumpul. Kemudian untuk
menganalisis data tersebut, maka dilakukan statistic deskriptif dari tabel di
atas yang dilakukan dengan proses pembuatan tabel kerja ke dalam
distribusi frekuensi sebagai berikut:
81
Tabel. 18
Distribusi Frekuensi Variabel Y
NO
SKOR (Y)
FREKUENSI (f)
f.Y
1
29
3
87
2
28
2
56
3
27
1
27
4
24
2
48
5
23
2
46
6
22
8
176
7
21
2
42
8
19
2
38
9
18
14
252
JUMLAH
36
772
Berdasarkan tabel di atas maka untuk selanjutnya dilakukan perhitungan
sebagai berikut:
a. Mencari Nilai Rata-rata (Mean)
Untuk mencari nilai rata-rata dari variabel Y yaitu pembinaan
akhlakul karimah dengan menjumlahkan keseluruhan nilai angket
remaja yang telah dikalikan dengan frekuensi (jumlah) dari setiap nilai
tersebut dibagi dengan jumlah seluruh responden (remaja). Berdasarkan
hal tersebut, maka nilai rata-rata untuk variabel Y adalah:
𝑋=
Ʃ 𝑓𝑌
772
=
= 21,44 = 21,4 = 21
Ʃ𝑓
36
Jadi, nilai rata-rata (mean) untuk variabel Y adalah 21,44 dibulatkan
menjadi 21,4.atau 21.
82
b. Mencari Nilai Interval
Dari hasil tabel di atas, diketahui bahwa pembinaan akhlakul
karimah diperoleh dengan nilai tertinggi 29 dan nilai terendah 18.
Kemudian diintervalkan dengan menggunakan rumus:
𝑖=
(𝑌𝑇 − 𝑌𝑅) + 1
𝐾𝐼
keterangan:
i
: Nilai ideal
YT
: Nilai variabel Y tertinggi ideal
YR
: Nilai variabel Y terendah ideal
KI
: Kelas interval
𝑖=
(𝑌𝑇 − 𝑌𝑅) + 1
𝐾𝐼
𝑖=
(29 − 18) + 1
3
𝑖=
11 + 1
3
𝑖=
12
3
𝑖=4
Setelah diketahui nilai intervalnya, maka ditetapkan dalam kategori
sebagai berikut:
83
Tabel. 19
Nilai Interval Pembinaan Akhlakul Karimah
NO
INTERVAL
KATEGORI
AKHLAK
FREKUENSI
1
26-29
Baik
Sangat Mulia
6
2
22-25
Cukup Baik
Mulia
12
3
18-21
Kurang Baik
Tidak Mulia
18
JUMLAH
36
Hasil dari tabel di atas menunjukkan bahwa mean (nilai rata-rata)
dari variabel Y yaitu tentang pembinaan akhlakul karimah adalah 21.
Dengan melihat tabel di atas nilai 21 terletak pada interval (18-21),
sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat pembinaan akhlakul karimah
berada dalam kategori kurang baik (tidak mulia) menurut persepsi
remaja Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa Kabupaten
Semarang Tahun 2015.
c. Mencari Persentase Kategori Pembinaan Akhlakul Karimah
Setelah diketahui berapa banyak remaja yang menjawab tentang
kategori pembinaan akhlakul karimah yaitu baik, cukup baik, dan
kurang baik. Kemudian dipersentasekan masing-masing perolehan
kategori dengan menggunakan rumus:
𝑃=
𝐹
𝑋 100%
𝑁
Keterangan:
P
: Persentase
F
: Frekuensi
N
: Nilai/jumlah responden
84
Adapun kategori baik, cukup baik, dan kurang baik tentang pembinaan
akhlakul karimah adalah sebagai berikut:
Untuk kategori baik (sangat mulia) ada 6 responden
𝑃=
𝐹
𝑋 100%
𝑁
𝑃=
6
𝑋 100%
36
𝑃=
1
𝑋 100%
6
𝑃 = 16,66%
Untuk kategori cukup baik (mulia), ada 12 responden
𝑃=
𝐹
𝑋 100%
𝑁
𝑃=
12
𝑋 100%
36
𝑃=
1
𝑋 100%
3
𝑃 = 33,33%
Untuk kategori kurang baik (tidak mulia), ada 18 responden
𝑃=
𝐹
𝑋 100%
𝑁
𝑃=
18
𝑋 100%
36
𝑃=
1
𝑋 100%
2
𝑃 = 50%
Kemudian penulis sampaikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi
tentang pembinaan akhlakul karimah.
85
Tabel. 20
Rekapitulasi Pembinaan Akhlakul Karimah
NO
KATEGORI
INTERVAL
FREKUENSI
PERSENTASE
1
Baik
26-29
6
16,66%
2
Cukup Baik
22-25
12
33,33%
3
Kurang Baik
18-21
18
50%
36
100%
Jumlah
Dengan
demikian
perhitungan
persentase
tersebut
dapat
disimpulkan bahwa pembinaan akhlakul karimah pada taraf baik
mencapai 16,66%, pada taraf cukup baik mencapai 33,33%, dan pada
taraf kurang baik mencapai 50%. Dengan demikian, tingkat pembinaan
akhlakul karimah di Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa
Kabupaten Semarang Tahun 2015 berada dalam kategori kurang baik
pada taraf 50% sebanyak 18 responden.
B. Analisis Uji Hipotesis
Setelah diketahui hasil dari analisis pendahuluan di atas, maka selanjutnnya
penulis melakukan analisis uji hipotesis, yaitu: analisis untuk mengetahui
implikasi antara kecerdasan emosi remaja dengan pembinaan akhlakul karimah
di Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang Tahun
2015, maka dibuktikan dengan mencari nilai koefisien antar variabel, dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
86
1. Input Data Implikasi antara Kecerdasan Emosi Remaja dengan
Pembinaan Akhlakul Karimah
Sebelum diadakan penghitungan dengan menggunakan rumus
korelasi product moment, data-data yang telah diberikan skor seperti
dijelaskan pada tahap analisis pendahuluan yaitu terlebih dahulu
dimasukkan ke dalam tabel kerja berikut:
Tabel. 21
Jumlah Data Korelasi Variabel X dan Y
NO. RESP
X
Y
X2
Y2
X.Y
1
26
18
676
324
468
2
26
18
676
324
468
3
36
29
1296
841
1044
4
27
19
729
361
513
5
25
18
625
324
450
6
28
22
784
484
616
7
31
24
961
576
744
8
28
22
784
484
616
9
30
22
900
484
660
10
29
22
841
484
638
11
26
18
676
324
468
12
25
18
625
324
450
13
33
27
1089
729
891
14
28
21
784
441
588
15
28
22
784
484
616
16
27
18
729
324
486
17
27
21
729
441
567
18
28
22
784
484
616
87
19
31
24
961
576
744
20
31
23
961
529
713
21
25
18
625
324
450
22
33
28
1089
784
924
23
25
18
625
324
450
24
26
18
676
324
468
25
25
18
625
324
450
26
25
18
625
324
450
27
27
19
729
361
513
28
33
29
1089
841
957
29
33
28
1089
784
924
30
26
18
676
324
468
31
25
18
625
324
450
32
36
29
1296
841
1044
33
25
18
625
324
450
34
29
22
841
484
638
35
31
23
961
529
713
36
30
22
900
484
660
JUMLAH
1024
772
29490
17042
22365
Dengan melihat tabel kerja di atas dapat diketahui jumlah keseluruhan nilainilai dari masing-masing variabel sebagai berikut:
X
= 1024
Y
= 772
X2
= 29490
Y2
= 17042
X.Y
= 22365
88
2. Analisis dengan Rumus Product Moment
Untuk mengetahui implikasi antara kecerdasan emosi remaja
dengan pembinaan akhlakul karimah dapat digunakan rumus:
𝑟𝑥𝑦 =
𝑟𝑥𝑦 =
𝑟𝑥𝑦 =
𝑟𝑥𝑦 =
rxy =
𝑟𝑥𝑦 =
𝑟𝑥𝑦 =
N ∑ XY − (∑ X)(∑ Y)
√{N ∑ X 2 − (∑ X)2 } {N ∑ Y 2 − (∑ Y)2 }
(36 x 22365) − (1024)(772)
√{(36 x 29490) − (1024)2 } {(36 x 17042) − (772)2 }
(805140) − (790528)
√{(36 x 29490) − (1048576)} {(36 x 17042) − (595984)}
14612
√{(1061640) − (1048576)} {(613512) − (595984)}
14612
√{13064} {17528}
14612
√228985792
14612
15132,2
𝑟𝑥𝑦 = 0,965
C. Analisis Lanjut
Setelah diperoleh nilai penghitungan tersebut, langkah selanjutnya adalah
mengadakan konsultasi hasil penghitungan (rxy). Untuk N (responden) 36, r
tabel taraf signifikan 1% adalah 0,424 dan r tabel taraf signifikan 5% adalah
0,329. Dari hasil penelitian diketahui nilai rxy (r hitung) adalah 0,965.
Bilamana nilai rxy (r hitung) yang diperoleh lebih besar dari nilai kritik r tabel,
maka nilai yang diperoleh adalah signifikan.
89
Hal tersebut menunjukkan antara variabel X (Kecerdasan Emosi Remaja)
dan variabel Y (Pembinaan Akhlakul Karimah) ada implikasi sesuai dengan
jawaban hipotesis, bahwa ada hubungan (pengaruh) yang positif antara
kecerdasan emosi remaja dan pembinaan akhlakul karimah. Sehingga dapat
dikatakan bahwa tingkat kecerdasan emosi remaja yang baik akan
mempermudah keberhasilan pembinaan akhlakul karimah pada remaja Desa
Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang Tahun 2015.
Untuk mengetahui taraf signifikansi lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel
berikut ini:
Tabel. 22
Taraf Signifikansi Product Moment
Taraf Signif
N
Taraf Signif
N
5%
1%
3
0.997
0.999
4
0.950
5
Taraf Signif
N
5%
1%
5%
1%
27
0.381
0.487
55
0.266
0.345
0.990
28
0.374
0.478
60
0.254
0.330
0.878
0.959
29
0.367
0.470
65
0.244
0.317
6
0.811
0.917
30
0.361
0.463
70
0.235
0.306
7
0.754
0.874
31
0.355
0.456
75
0.227
0.296
8
0.707
0.834
32
0.349
0.449
80
0.220
0.286
9
0.666
0.798
33
0.344
0.442
85
0.213
0.278
10
0.632
0.765
34
0.339
0.436
90
0.207
0.270
11
0.602
0.735
35
0.334
0.430
95
0.202
0.263
12
0.576
0.708
36
0.329
0.424
100
0.195
0.256
13
0.553
0.684
37
0.325
0.418
125
0.176
0.230
14
0.532
0.661
38
0.320
0.413
150
0.159
0.210
15
0.514
0.641
39
0.316
0.408
175
0.148
0.194
16
0.497
0.623
40
0.312
0.403
200
0.138
0.181
17
0.482
0.606
41
0.308
0.398
300
0.113
0.148
18
0.468
0.590
42
0.304
0.393
400
0.098
0.128
90
19
0.456
0.575
43
0.301
0.389
500
0.088
0.115
20
0.444
0.561
44
0.297
0.384
600
0.080
0.105
21
0.433
0.549
45
0.294
0.380
700
0.074
0.097
22
0.423
0.537
46
0.291
0.376
800
0.070
0.091
23
0.413
0.526
47
0.288
0.372
900
0.065
0.086
24
0.404
0.515
48
0.284
0.368
1000
0.062
0.081
25
0.396
0.505
49
0.281
0.364
26
0.388
0.496
50
0.279
0.361
Dengan demikian, maka dapat diketahui:
N= 36
rxy= 0,965 ˃ rt= 0,424 taraf 1%
rxy= 0,965 ˃ rt= 0,329 taraf 5%
Bahwa untuk jumlah responden (N= 36) pada taraf signifikansi 1% adalah
rt= 0,424 dan taraf signifikansi 5% adalah rt= 0,329 sedangkan rxy= 0,965.
Oleh karena nilai rxy yang diperoleh lebih besar dari nilai rt, baik pada taraf
signifikan 1% maupun 5%, maka nilai r yang diperoleh adalah signifikan.
Artinya ada implikasi yang positif antara kecerdasan emosi remaja dengan
pembinaan akhlakul karimah di Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa
Kabupaten Semarang Tahun 2015.
Orang yang mampu mengatur emosinya dengan baik akan bisa
memposisikan dirinya, di mana, dan dalam kondisi apa harus berbuat dan
bertindak. Kalau ia bisa bersikap profesional, ia akan melakukan tindakan
preventif yang menyebabkan dirinya mampu melakukan sesuatu yang terbaik.
Sejauh mana ia bersikap dan mengatur emosi itu, maka sejauh itu pula ia akan
menuai keberhasilan (Imam, 2009: 95-96).
91
Setiap orang tua yang terpenting adalah mewariskan dan mengajarkan
kepada anak-anaknya entah itu masih dalam keadaan bayi, kanak-kanak,
maupun sudah remaja yang nantinya akan tumbuh menjadi dewasa. Orang tua
harus memberikan bekal berupa pendidikan akhlak yang mulia serta ilmu
pengetahuan yang bermanfaat, sebab akhlak dan budi pekerti yang mulia serta
luhur itulah yang dapat mengangkat derajat manusia dalam bidang kerohanian,
sedangkan ilmu pengetahuan yang berguna itulah yang akan menjunjung tinggi
tanah air dan bangsa dalam bidang jasmaniyah (Ghalayini, 1976: 313).
Masa remaja dikenal dengan masa dimana terjadi pergolakan emosi yang
diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis
yang bervariasi. Masa remaja, merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak
ke masa dewasa. Pada fase ini remaja mengalami perubahan dalam sistem kerja
hormon dalam tubuhnya dan hal ini memberi dampak pada bentuk fisik dan
perkembangan psikisnya. Hal ini bukan karena tidak disadari esensinya,
melainkan pendidikan lebih mengutamakan mengejar ilmu pengetahuan dari
pada mendidik dan membina kepribadian dan akhlak mulia anak didik
sehingga berimplikasi terhadap kemrosotan akhlak. Oleh karena itu,
pembinaan akhlakul karimah berperan penting terhadap perbaikan emosi pada
remaja, begitupun sebaliknya kecerdasan emosi remaja yang baik akan
mempermudah keberhasilan dalam pembinaan akhlakul karimah.
92
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari penelitian di atas dengan judul Kecerdasan Emosi Remaja dan
Implikasinya terhadap Pembinaan Akhlakul Karimah di Desa Wisata Bejalen
Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang Tahun 2015, maka dapat
disimpulkan antara lain:
1. Tingkat Kecerdasan Emosi remaja di Desa Wisata Bejalen berada pada
kategori kurang baik. Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian 36 remaja
yang menjadi responden, bahwa kecerdasan emosi remaja yang berada
pada kategori baik 16,66% sebanyak 6 responden, cukup baik 22,22%
sebanyak 8 responden, dan kurang baik 61,11% sebanyak 22 responden.
2. Tingkat Pembinaan Akhlakul Karimah di Desa Wisata Bejalen berada pada
kategori kurang baik. Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian 36 remaja
yang menjadi responden, bahwa pembinaan akhlakul karimah yang berada
pada kategori baik 16,66% sebanyak 6 responden, cukup baik 33,33%
sebanyak 12 responden, dan kurang baik 50% sebanyak 18 responden.
3. Dari hasil penelitian yang penulis lakukan di Desa Wisata Bejalen,
diperoleh bukti bahwa ada implikasi yang positif antara kecerdasan emosi
remaja dengan pembinaan akhlakul karimah. Hal tersebut dibuktikan pada
nilai koefisien korelasi product moment dengan menggunakan sampel
93
sebanyak 36 responden terbukti r hitung lebih besar dari r tabel baik pada
taraf signifikansi 1% maupun 5%. Diketahui r hitung 0,965 dan r tabel pada
taraf signifikansi 1% = 0,424 dan r tabel pada taraf signifikansi 5% = 0,329.
Jadi 0,965 > 0,424 dan 0,965 > 0,329 maka nilai r yang diperoleh adalah
signifikan. Dengan demikiaan hasil hipotesis yang penulis ajukan diterima.
Sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat kecerdasan emosi remaja yang
baik akan mempermudah keberhasilan pembinaan akhlakul karimah pada
remaja Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang
Tahun 2015.
B. Saran-saran
Dari penelitian yang telah penulis lakukan, sekiranya ada beberapa saran
yang perlu penulis sampaikan sebagai bahan pertimbangan bagi perbaikan
emosi remaja dan peningkatan dalam hal pembinaan akhlak yang lebih baik
khususnya di Desa Wisata Bejalen Kecamatan Ambarawa Kabupaten
Semarang Tahun 2015.
1. Bagi remaja, diharapkan dapat lebih mengelola dan mengontrol emosinya
ke arah yang positif guna terciptanya perilaku dan akhlak yang baik.
2. Bagi orang tua, harus semaksimal mungkin memberikan pengarahan dan
pembinaan akhlakul karimah terhadap remaja putra-putrinya sejak dini,
agar pengendalian emosi dan pembinaan akhlak dapat terwujud ke arah
yang lebih baik.
3. Bagi masyarakat, perlu adanya dukungan yang baik, agar pembinaan
akhlakul karimah terhadap remaja berhasil dengan baik.
94
4. Bagi peneliti selanjutnya, berkenaan dengan kepentingan ilmiah, bagi yang
tertarik dengan permasalahan yang sama, dapat diusahakan untuk mengkaji
masalah ini dengan jangkauan yang lebih luas dan dengan menambah
variabel lain yang belum terungkap dalam penelitian ini sehingga mampu
memberikan sumbangan yang lebih besar terhadap kajian kecerdasan
emosi remaja dan pembinaan akhlakul karimah.
C. Penutup
Dengan mengucapkan puji syukur alhamdulillah, dengan rahmat dan
hidayah Allah Swt, maka penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Itu semua
atas berkat hidayah, rahmat, dan izin Allah Swt. Oleh karena itu tidak ada kata
yang pantas penulis ucapkan dengan ketulusan hati kecuali hanya memanjatkan
puji syukur ke hadirat Allah Swt. Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa dalam
penulisan dan pembahasan skripsi ini masih banyak kekurangan karena
keterbatasan kemampuan yang penulis miliki. Dengan kerendahan hati penulis
sangat mengharap kritik dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini.
Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membimbing, mengarahkan dan membantu terselesainya penulisan skripsi ini.
Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan siapa saja yang
berkesempatan membacanya serta dapat memberikan sumbangan yang positif
bagi kemajuan pendidikan. Amin.
95
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M. Yatimi. 2007. Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an. Jakarta:
Amzah.
Ahmadi, Wahid. 2004. Risalah Akhlak Panduan Perilaku Muslim Modern. Solo:
Era Intermedia.
Alwi, Hasan. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Amin, Ahmad. 1991. Etika (Ilmu Akhlak). Terjemahan oleh K.H. Farid Ma’ruf.
Jakarta: PT Bulan Bintang.
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
PT Rineka Cipta.
Daradjat, Zakiah. 1975. Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental. Jakarta:
Bulan Bintang.
1976. Pembinaan Remaja. Jakarta: Bulan Bintang.
1978. Problematika Remaja di Indonesia. Jakarta: Bulan
Bintang.
Djatnika, Rachmat. 1996. Sistem Ethika Islami (Akhlak Mulia). Jakarta: Pustaka
Panjimas.
Echols, John M. dan Hassan Shadily. 2005. An English-Indonesian Dictionary.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Fathoni, Abdurrahmat. 2011. Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan
Skripsi. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Gemilang, Jingga. 2013. Manajemen Stres dan Emosi. Yogyakarta: Mantra Books.
Ghalayini, Syekh Mushthafa. 1976. Bimbingan Menuju ke Akhlak yang Luhur.
Terjemahan oleh Moh. Abdai Rathomy. Semarang: C.V. Toha Putra.
Goleman, Daniel. 1996. Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional).
Terjemahan oleh T. Hermaya. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
2007. Emitional Intelligence, Mengapa EI Lebih Penting dari
IQ. Terjemahan oleh T.Hermaya. Jakata : PT Gramedia Pustaka Utama.
Gunarsa, Yulia Singgih D. dan Singgih D. Gunarsa. 2012. Psikologi Remaja.
Jakarta: Libri (PT BPK Gunung Mulia).
Hartati, Netty dkk. 2005. Islam dan Psikologi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Hude, M. Darwis. 2006. Emosi Penjelajahan Religio-Psikologis tentang Emosi
Manusia di dalam Al-Qur’an. Jakarta: Erlangga.
Imam, Kam. 2009. Quantum Emotion The Simple Ways For Your Beautiful Life.
Jogjakarta: Garailmu.
Kartono, Kartini. 1990. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung: Mandar
Maju.
Liang, Kwee Soen. 1980. Masa Remaja dan Ilmu Jiwa Pemuda. Penerbit: Jemmars.
Maurus, J. 2014. Mengembangkan Emosi Positif. Yogyakarta: Bright Publisher.
Muallifah. 2009. Psycho Islamic Smart Parenting. Jogjakarta: DIVA Press
(Anggota IKAPI).
Nazir, Moh. 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalmia Indonesia.
Purwanto, Ngalim. 1996. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sarwono, Sarlito Wirawan. 1997. Psikologi Remaja. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
Singarimbun, Masri dan Sofyan Effendi. 1988. Metode Penelitian Survei. Penerbit:
LP3ES.
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka
Cipta.
Sopiatin, Popi dan Sohari Sahrani. 2011. Psikologi Belajar dalam Perspektif Islam.
Bogor: Ghalia Indonesia.
Sugiyono. 2005. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sukardi. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Suryabrata, Sumadi. 1983. Metodologi Penelitian. Jakarta: Rajawali Press.
Tatapangarsa, Humaidi. 1980. Akhlak yang Mulia. Surabaya: PT Bina Ilmu.
Tono, Sidik dkk. 1998. Ibadah dan Akhlak dalam Islam. Yogyakarta: UII Press
Indonesia.
ANGKET PENELITIAN
KECERDASAN EMOSI REMAJA DAN IMPLIKASINYA
TERHADAP PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH DI DESA WISATA
BEJALEN KECAMATAN AMBARAWA KABUPATEN SEMARANG
TAHUN 2015
NO.
1.
INDIKATOR VARIABEL X
(KECERDASAN EMOSI
REMAJA)
Mengenali Emosi Diri
KUESIONER
1.
2.
3.
2.
Mengelola Emosi
4.
5.
6.
3.
Memotivasi Diri Sendiri
7.
8.
9.
4.
Mengenali Emosi Orang Lain
10.
11.
12.
5.
Membina Hubungan dengan Orang
Lain
13.
14.
15.
Setiap melakukan sesuatu, biasanya
saya mempertimbangkan akibat yang
harus di hadapi.
Walaupun suasana hati sedang marah,
saya tidak akan melampiaskan
kemarahan pada orang lain.
Ketika kehilangan sesuatu, saya merasa
sedih tapi kesedihan itu tidak sampai
berlarut-larut.
Ketika ada seseorang yang mengolokolok, saya berusaha menahan diri untuk
tetap tenang.
Saya adalah orang yang mudah
beradaptasi dengan perubahanperubahan situasi di lingkungan sekitar.
Meski tidak bisa mengerjakan soal
ujian, saya tidak akan mencontek.
Apapun yang terjadi, saya tidak akan
pindah ke jurusan yang lain, karena
jurusan ini telah menjadi pilihan saya.
Kegagalan tidak membuat saya
berhenti berusaha meraih cita-cita.
Saya selalu belajar dengan giat untuk
mendapatkan prestasi yang baik.
Saya tidak akan mengatakan sesuatu
yang bisa menyinggung perasaan orang
lain.
Saya terdorong untuk menghibur orang
lain yang sedang mengalami musibah.
Saya bersedia menjadi pendengar yang
baik, bila ada teman atau siapa saja
yang menceritakan masalahnya.
Ketika ada teman saya yang sedang
bertengkar, saya akan berusaha
mendamaikan mereka.
Menurut saya untuk menyelesaikan
suatu permasalahan, akan lebih baik
jika didiskusikan dengan orang tua atau
teman.
Saya senang menjalin kerja sama
dengan orang lain.
NO
1.
INDIKATOR VARIABEL Y
(PEMBINAAN AKHLAKUL
KARIMAH)
Akhlak kepada Allah
2.
Akhlak terhadap Diri Sendiri
3.
Akhlak terhadap Keluarga
4.
Akhlak terhadap Masyarakat
5.
Akhlak terhadap Alam Sekitar
KUESIONER
16. Saat akan menghadapi ujian, saya
selalu berusaha dan berdo‘a. dan
hasilnya saya pasrahkan semuanya
kepada Tuhan (Allah).
17. Ketika saya melakukan maksiat, saya
memohon ampun kepada Tuhan
(Allah) dan saya berjanji untuk tidak
berbuat lagi (benar-benar tidak
mengulanginya).
18. Ketika saya mendapatkan rizki dari
Tuhan (Allah), saya selalu
mensyukurinya.
19. Ketika saya lapar saya makan
secukupnya, dan berhenti sebelum
terlalu kenyang.
20. Jika saya sakit saya akan minum obat,
dan jika belum sembuh saya pergi ke
dokter.
21. Saya tidak suka melihat film porno
ataupun gambar-gambar porno.
22. Saya tidak pernah membantah ketika
ibu memarahi saya.
23. Ketika saya menonton acara kesukaan
saya, ibu menyuruh saya membeli
sesuatu ke toko, saya menerimanya
dengan senang hati.
24. Saya tidak pernah menceritakan aib
keluarga saya kepada teman saya
ataupun orang lain.
25. Saya tidak akan menghidupkan musik
keras-keras, kalau tetangga saya sedang
istirahat.
26. Setiap teman saya menitipkan barang
kepada saya, saya harus menjaganya
hingga temanku mengambilnya
kembali.
27. Jika tidak berhalangan, Saya selalu
mengikuti kegiatan kerja bakti.
28. Jika ada kegiatan menanam sejuta
pohon, Saya akan ikut berpartisipasi.
29. Saya tidak pernah memetik bunga
ataupun daunnya kalau tidak di
manfaatkan.
30. Saya tidak pernah membuang sampah
sembarangan.
ANGKET INSTRUMEN PENELITIAN
Nama Responden
: ……………………………………………………………..
Umur
: ……………………………………………………………..
Alamat
: ……………………………………………………………..
Angket ini hanya untuk kepentingan ilmiah dan tidak akan berpengaruh
terhadap reputasi (nama baik) Anda.
PETUNJUK PENGISIAN ANGKET:
1. Isilah daftar identitas yang telah disediakan
2. Bacalah setiap pertanyaan dengan teliti dan seksama
3. Berilah tanda centang (√) pada alternatif jawaban yang Anda anggap paling
benar
4. Seluruh pernyataan harus dijawab dan tidak diperkenankan jawaban lebih
dari satu
No.
Pernyataan
1.
Setiap melakukan sesuatu, biasanya saya
mempertimbangkan akibat yang harus di
hadapi.
Walaupun suasana hati sedang marah, saya
tidak akan melampiaskan kemarahan pada
orang lain.
Ketika kehilangan sesuatu, saya merasa sedih
tapi kesedihan itu tidak sampai berlarut-larut.
Ketika ada seseorang yang mengolok-olok,
saya berusaha menahan diri untuk tetap
tenang.
Saya adalah orang yang mudah beradaptasi
dengan perubahan-perubahan situasi di
lingkungan sekitar.
Meski tidak bisa mengerjakan soal ujian, saya
tidak akan mencontek.
Apapun yang terjadi, saya tidak akan pindah
ke jurusan yang lain, karena jurusan ini telah
menjadi pilihan saya.
Kegagalan tidak membuat saya berhenti
berusaha meraih cita-cita.
Saya selalu belajar dengan giat untuk
mendapatkan prestasi yang baik.
Saya tidak akan mengatakan sesuatu yang bisa
menyinggung perasaan orang lain.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Pilihan Jawaban: Centang Salah
Satu (A/B/C)
Ya/A
Terkadang/B Tidak/C
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
Saya terdorong untuk menghibur orang lain
yang sedang mengalami musibah.
Saya bersedia menjadi pendengar yang baik,
bila ada teman atau siapa saja yang
menceritakan masalahnya.
Ketika ada teman saya yang sedang
bertengkar, saya akan berusaha mendamaikan
mereka.
Menurut saya untuk menyelesaikan suatu
permasalahan, akan lebih baik jika
didiskusikan dengan orang tua atau teman.
Saya senang menjalin kerja sama dengan
orang lain.
Saat akan menghadapi ujian, saya selalu
berusaha dan berdo‘a. dan hasilnya saya
pasrahkan semuanya kepada Tuhan (Allah).
Ketika saya melakukan maksiat, saya
memohon ampun kepada Tuhan (Allah) dan
saya berjanji untuk tidak berbuat lagi (benarbenar tidak mengulanginya).
Ketika saya mendapatkan rizki dari Tuhan
(Allah), saya selalu mensyukurinya.
Ketika saya lapar saya makan secukupnya, dan
berhenti sebelum terlalu kenyang.
Jika saya sakit saya akan minum obat, dan jika
belum sembuh saya pergi ke dokter.
Saya tidak suka melihat film porno ataupun
gambar-gambar porno.
Saya tidak pernah membantah ketika ibu
memarahi saya.
Ketika saya menonton acara kesukaan saya,
ibu menyuruh saya membeli sesuatu ke toko,
saya menerimanya dengan senang hati.
Saya tidak pernah menceritakan aib keluarga
saya kepada teman saya ataupun orang lain.
Saya tidak akan menghidupkan musik keraskeras, kalau tetangga saya sedang istirahat.
Setiap teman saya menitipkan barang kepada
saya, saya harus menjaganya hingga temanku
mengambilnya kembali.
Jika tidak berhalangan, Saya selalu mengikuti
kegiatan kerja bakti.
Jika ada kegiatan menanam sejuta pohon, Saya
akan ikut berpartisipasi.
Saya tidak pernah memetik bunga ataupun
daunnya kalau tidak di manfaatkan.
Saya tidak pernah membuang sampah
sembarangan.
SURAT KETERANGAN KEGIATAN
Nama
: Achmad Rifai
NIM
: 11111028
Jurusan
: Pendidikan Agama Islam (PAI)
Fakultas
: Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Dosen PA
: M. Farid Abdullah, S.PdI., M.Hum.
No
1
Nama Kegiatan
Orientasi Pengenalan Akademik dan
Kemahasiswaan (OPAK) Sekolah
Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN)
Salatiga
Pelaksanaan
20-22 Agustus 2011
Keterangan
Peserta
Nilai
3
2
Membangun
Mahasiswa
Cerdas
Emosi, Spiritual dan Intelektual
melalui Achievement Motivation
Training (AMT) Sekolah Tinggi
Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga
23 Agustus 2011
Peserta
2
3
Orientasi Dasar Keislaman (ODK)
dengan tema “Menemukan Muara
Sebagai Mahasiswa Rahmatan Lil
Alamin” Sekolah Tinggi Agama Islam
Negeri (STAIN) Salatiga
24 Agustus 2011
Peserta
2
4
Seminar Entrepeneurship dan Koperasi
oleh KOPMA dan KASEI Sekolah
Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN)
Salatiga
User Education (Pendidikan Pemakai)
UPT Perpustakaan Sekolah Tinggi
Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga
25 Agustus 2011
Peserta
2
19 September 2011
Peserta
2
5
6
Seminar Nasional Entrepreneurship
2012 dengan tema “Tren Bisnis
Berbasis Multimedia dan Teknologi
Informatika Sebagai Wujud Pasar
Modern” oleh KOPMA “FATAWA”
STAIN Salatiga
21 April 2012
Peserta
8
7
Seminar Regional dengan tema “ Peran
Mahasiswa dalam Mengawal BLSM
(BLT) Tepat Sasaran” oleh DEMA
STAIN Salatiga
3 Mei 2012
Peserta
4
8
Bedah Buku Himpunan Mahasiswa
Islam (HMI) dengan judul “Sang
Maha-Segalanya Mencintai SangMahasiswa” di Pendopo POLRES Kota
Salatiga
15 Mei 2012
Peserta
2
9
Seminar Nasional dengan tema
“Mewaspadai Gerakan Islam Garis
Keras di Perguruan Tinggi” oleh
DEMA STAIN Salatiga
Mengajar Mata Pelajaran (MAPEL) di
Bimbingan Belajar Generasi Cerdas
Salatiga
23 Juni 2012
Peserta
8
1 November 2012
s/d 23 Mei 2014
Pengajar
4
10
11
Mengajar Musik (ACOUSTIC) di
Bimbingan Belajar Generasi Cerdas
Salatiga
1 November 2012
s/d 23 Mei 2014
Pengajar
4
12
Dialog Publik dan Silaturahim
Nasional dengan tema “Kemanakah
Arah Kebijakan BBM? Mendorong
Subsidi BBM untuk Rakyat” oleh
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia
(PMII) di Auditorium Pemkot Salatiga
10 November 2012
Peserta
2
13
Tabligh Akbar Bertajuk “Tafsir
Tematik dalam Upaya Menjawab
Persoalan Israel dan Palestina” oleh
Jam’iyyatul Qurro’ wal Huffadz (JQH)
STAIN Salatiga
1 Desember 2012
Peserta
2
14
Seminar Nasional dalam rangka
Pelantikan
Pengurus
Himpunan
Mahasiswa Islam Cabang Salatiga
Periode 2013-2014 dengan tema “
Kepemimpinan dan Masa Depan
Bangsa” di Ruang Sidang 2 Pemerintah
Kota Salatiga
23 Februari 2013
Peserta
8
15
Seminar Nasional dengan tema
“Ahlussunnah
Waljamaah
dalam
Perspektif Islam Indonesia” oleh
Dewan Mahasiswa STAIN Salatiga
Seminar Nasional dan Dialog Publik
dengan tema “Minimnya Pasokan
Energi dalam Negeri; Pembatasan
Subsidi BBM dan Peran Masyarakat
dalam Penghematan Energi” oleh
Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ)
Tarbiyah dan Syari’ah STAIN Salatiga
26 Maret 2013
Peserta
8
20 April 2013
Peserta
8
Seminar Pencegahan Bahaya NAPZA
(Narkotika, Psikotropika, dan Zat
Adiktif), HIV/AIDS Mewaspadai
Pergaulan Bebas untuk Membentuk
Remaja yang Tangguh dan Launching
PIK SAHAJASA STAIN Salatiga
29 April 2013
Peserta
2
16
17
18
Seminar Nasional Entrepreneurship
“Menumbuhkan Jiwa Entrepreneur
Generasi Muda” oleh KOPMA
“FATAWA” STAIN Salatiga
27 Mei 2013
Peserta
8
19
Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan dan
Seminar Nasional, dengan tema “4
Pilar Kebangsaan untuk Mempertegas
Karakter Ke-Indonesiaan” di Aula
PEMKOT Salatiga
24 Oktober 2013
Peserta
2
20
Seminar Nasional MPR RI dalam
Kegiatan
Sosialisasi
Pancasila,
Undang-Undang
Dasar
Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 di
Pendopo Kabupaten Semarang
27 November 2013
Peserta
8
21
Seminar Kesehatan dan Bisnis, oleh
AVAIL di SDN Kalicacing 2 Salatiga
9 Maret 2014
Peserta
2
22
Sarasehan Akbar Bersama Tokoh
Nasional, dengan tema “Komitmen
Politik Islam dalam Menata Arah Masa
Depan Bangsa Indonesia” di Aula
Pemerintah Kota Salatiga
15 Maret 2014
Peserta
2
23
Seminar Nasional Talk Show Spirit of
Global Entrepreneurship “How to be a
Successfull Creative Preneur to Face
ASEAN Economic Community 2015”
oleh KOPMA “FATAWA” STAIN
Salatiga
Seminar Nasional Entrepreneurship,
oleh Gerakan Pramuka Racana
Kusuma Dilaga-Woro Srikandhi Gugus
Depan Kota Salatiga 02.237-02.238
Pangkalan STAIN Salatiga
7 April 2014
Peserta
8
16 November 2014
Peserta
8
8 Desember 2014
Peserta
8
24
25
Seminar
Nasional
Perlindungan
Hukum terhadap Usaha Mikro
Menghadapi Pasar Bebas ASEAN
Jumlah
117
Salatiga, 6 November 2015
Mengetahui,
Wakil Dekan Bidang
Kemahasiswaan dan Kerjasama
Achmad Maimun. M.Ag
NIP.19700510 199803 1 003
FOTO-FOTO
Gerbang Masuk dan Keluar Desa Wisata Bejalen
Penyebaran Angket Kepada Responden (Remaja) Desa Wisata Bejalen
Permintaan Surat Bukti Penelitian dan Papan Organisasi Desa Bejalen
Kantor Balai Desa Bejalen dan Perpustakaan Teratai
RIWAYAT HIDUP PENULIS
Nama
: Achmad Rifai
Jurusan
: Pendidikan Agama Islam (PAI)
Fakultas
: Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Salatiga
Tempat Tanggal Lahir : Kab. Semarang, 26 Februari 1992
Alamat
: Dsn. Demakan RT. 002 RW. 011, Kel. Banyubiru,
Kec. Banyubiru, Kab. Semarang
Nama Ayah
: Margono
Nama Ibu
: Barokah
Agama
: Islam
Riwayat Pendidikan
: MI Nafiatul Huda Demakan Banyubiru
Lulus Tahun 2004
SMP N 1 Banyubiru
Lulus Tahun 2007
SMK I Amtsilati Bangsri Jepara
Lulus Tahun 2011
IAIN Salatiga Program S1 Reguler
Lulus Tahun 2015
Demikian daftar riwayat hidup ini penulis buat dengan sebenar-benarnya.
Semarang, 26 Oktober 2015
Penulis,
ACHMAD RIFAI
NIM. 11111028
Download