PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

advertisement
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN
SOSIAL TERPADU PADA MATA PELAJARAN IPS
KELAS VIII DI SMP NEGERI 11
KOTA JAMBI
Rinda Puspita 1), Dra. Hj. May Maemunah, M.E. 2), Rosmiati, S.Pd., M.Pd. 3)
1)
Alumni Prodi Pendidikan Ekonomi Jurusan PIPS FKIP Universitas Jambi
Email: [email protected]
2)
Pembimbing Utama, Dosen Pendidikan Ekonomi Jurusan PIPS FKIP Universitas Jambi
3)
Pembimbing Pendamping, Dosen Pendidikan Ekonomi Jurusan PIPS FKIP Universitas
Jambi
ABSTRAK
Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu merupakan gabungan dari unsur-unsur geografi,
sejarah, ekonomi, hukum dan politik, kewarganegaraan, sosiologi, bahkan juga bidang
humaniora, pendidikan dan agama. Kebijakan penggabungan tersebut akan mempengaruhi
implementasi pembelajaran dengan kaidah-kaidah pembelajaran terpadu. Hal tersebut
menimbulkan masalah bagi guru karena guru SMP adalah lulusan LPTK yang berlatar
belakang kompetensi pendidik profesional untuk satu mata pelajaran.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang perencanaan
pembelajaran, mengetahui pelaksanaan pembelajaran, dan mengetahui penilaian apa yang
digunakan Guru dalam proses pembelajaran ilmu pengetahuan sosial terpadu pada mata
pelajaran IPS kelas VIII di SMPN 11 Kota Jambi. Serta bagaimana pemecahan masalah yang
dilakukan dan yang diharapkan kedepannya demi perbaikan pembelajaran IPS terpadu.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, dimana peneliti ingin
mendeskripsikan serta menganalisis tentang pelaksanaan pembelajaran ilmu pengetahuan
sosial terpadu pada mata pelajaran IPS kelas VIII di SMP Negeri 11 Kota Jambi dalam hal
perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian pembelajaran.
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 11 Kota Jambi dengan subyek nya Guru-guru IPS
kelas VIII, Guru inti IPS, serta siswa kelas VIII.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pelaksaan pembelajaran IPS terpadu pada
mata pelajaran IPS kelas VIII di SMP Negeri 11 Kota Jambi masih belum terpadu. Akan
tetapi Guru masih tetap melakukan pengajaran meski terpisah.
Berdasarkan temuan diatas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran IPS
terpadu kelas VIII di SMPN 11 Kota Jambi masih menemui kesulitan. Penyebab kesulitan itu
ialah kurangnya pemahaman konsep IPS terpadu itu sendiri dan faktor kebiasaan yang sulit
dirubah. Guru diharapkan tidak lagi menggunakan konsep lama mengenai pembelajaran IPS
Terpadu yang terpisah-pisah demi perubahan pembelajaran kedepannya.
Kata Kunci: Pembelajaran, IPS Terpadu, SMPN 11 Kota Jambi
PENDAHULUAN
Pengalaman manusia di luar dirinya tak hanya terbatas hanya dalam keluarga, tapi
juga meliputi teman sejawat, warga kampung dan sebagainya. Hubungan sosial yang dialami
makin meluas. Dari pengalaman dan pengenalan hubungan sosial tersebut, seseorang akan
berkembang pengetahuannya. Pengetahuan ini melekat pada diri seseorang, termasuk pada
orang lain yang terangkum dalam “pengetahuan sosial”. Segala peristiwa yang dialami dalam
hidup manusia akan membentuk pengetahuan sosial dalam dirinya.
Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep merupakan pendekatan pembelajaran
yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman belajar yang
bermakna bagi anak. Pembelajaran terpadu diyakini sebagai pendekatan yang berorientasi
pada praktek pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak. Pembelajaran terpadu secara
efektif akan membantu menciptakan kesempatan yang luas bagi siswa untuk melihat dan
membangun konsep-konsep yang saling berkaitan. Dengan demikian, memberikan
kesempatan kepada siswa untuk memahami masalah yang kompleks yang ada di lingkungan
sekitarnya dengan pandangan yang utuh.
Dengan pembelajaran terpadu ini siswa diharapkan memiliki kemampuan untuk
mengidentifikasi, mengumpulkan, menilai dan menggunakan informasi yang ada disekitarnya
secara bermakna. Hal itu dapat diperoleh tidak saja melalui pemberian pengetahuan baru
kepada siswa melainkan juga melalui kesempatan memantapkan dan menerapkannya dalam
berbagai situasi baru yang semakin beragam. Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu merupakan
gabungan dari unsur-unsur geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, kewarganegaraan,
sosiologi, bahkan juga bidang humaniora, pendidikan dan agama.”
Kebijakan penggabungan tersebut akan mempengaruhi implementasi pembelajaran
dengan kaidah-kaidah pembelajaran terpadu. Hal tersebut menimbulkan masalah bagi guru
karena guru SMP adalah lulusan LPTK yang berlatar belakang kompetensi pendidik
profesional untuk satu mata pelajaran. Dalam hal ini, guru memerlukan dua kecakapan
mendasar yaitu kecakapan kognitif dan kecakapan sosial. Rancangan pembelajaran terpadu
dengan pendekatan kolaboratif elaborasi peta konsep diharapkan dapat menjadi sarana untuk
mengembangkan kedua kecakapan tersebut.
Salah satu tantangan mendasar mengajarkan IPS dewasa ini adalah cepat berubahnya
lingkungan sosial budaya sebagai kajian materi IPS itu sendiri. Perubahan-perubahan yang
terjadi dalam lingkungan sosial budaya bersifat multidimensional dan berskala internasional,
baik yang berhubungan masuknya arus globalisasi maupun masuknya era abad ke -21.
Masalah ini semakin serius manakala dihadapkan kenyataan bahwa selama ini mata pelajaran
IPS kurang mendapat perhatian semestinya. Padahal, dengan memahami IPS akan
membimbing siswa menghadapi kenyataan dalam lingkungan sosialnya dan dapat
menghadapi masalah-masalah sosial yang terjadi dengan lebih arif dan bijaksana. Untuk
menghadapi tantangan perubahan ini, sesungguhnya gurulah yang harus memandu siswa
membuka cakrawala pengetahuan sosialnya. Maka guru dituntut lebih profesional. Guru tidak
lagi hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi harus menjadi pembimbing siswa
dalam mengembangkan pengetahuannya dan mendapatkan pembelajaran yang
menyenangkan, bermakna dan bermutu. Guru dituntut setiap saat meningkatkan
kompetensinya baik melalui berbagai bahan bacaan, seminar, maupun penelitian yang
dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dikelasnya. Itu semua akan
meningkatkan pengetahuan dan kreativitas anak didiknya.
Ideal pembelajaran IPS terpadu meliputi pembelajaran ekonomi, sejarah, geografi,
dan sosiologi dipadukan dan setiap Guru rumpun IPS masuk ke dalam satu kelas (Guru
lengkap), namun yang terjadi faktanya tidak dipadukan, artinya jika Guru berlatar belakang
ekonomi, dominan menjelaskan ekonomi, dst. dan Guru tunggal, yaitu satu Guru
menjelaskan semua ilmu-ilmu sosial (geografi, ekonomi, sejarah, sosiologi). Dengan alasan
karena jika Guru-guru IPS yang berlatar belakang ilmu-ilmu sosial masuk, maka akan
terdapat kelas lain yang kosong.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka penulis tertarik mengadakan penelitian dengan
judul “ Pelaksanaan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu kelas VIII Pada Mata
Pelajaran IPS di SMP Negeri 11 Kota Jambi”.
KAJIAN PUSTAKA
1) Perencanaan Pembelajaran IPS Terpadu
Menurut Masnur Muslich (2011:53) perencanaan pembelajaran atau biasa disebut
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rancangan pembelajaran mata pelajaran
per unit yang akan diterapkan Guru dalam pembelajaran dikelas. Berdasarkan RPP inilah
seorang Guru (baik yang menysun RPP itu sendiri maupun yang bukan) diharapkan bisa
menerapkan pembelajaran secara terprogram. Karena itu, RPP harus mempunyai daya terap
(aplicable) yang tinggi. Tanpa perencanaan yang matang, mustahil target pembelajaran bisa
tercapai secara maksimal. Pada sisi lain, melalui RPP pun dapat diketahui kadar kemampuan
Guru dalam menjalankam profesinya.
Rencana pembelajaran yang baik menurut Gagne dan Briggs (Abdul Majid, 2007:96)
hendaknya mengandung tiga komponen yang disebut anchor point, yaitu 1) tujuan
pengajaran; 2)materi pelajaran/ bahan ajar, pendekatan dan metode mengajar, media
pengajaran dan pengalaman belajar dan; 3) evaluasi keberhasilan.
Perlunya perencanaan pembelajaran menurut Hamzah B. Uno (2012:3) dimaksudkan
agar dapat dicapai perbaikan pembelajaran. Upaya perbaikan pembelajaran ini dilakukan
dengan asumsi sebagai berikut:
1. Untuk memperbaiki kualitas pembelajaran perlu diawali dengan perencanaan
pembelajaran yang diwujudkan dengan adanya desain pembelajaran;
2. Untuk merancang suatu pembelajaran perlu menggunakan pendekatan sistem;
3. Perencanaan desain pembelajaran diacukan pada bagaimana seseorang belajar;
4. Untuk merencanakan suatu desain pembelajaran diacukan pada siswa secara
perorangan;
5. Pembelajaran yang dilakukan akan bermuara pada ketercapaian tujuan pembelajaran,
dalam hal ini akan ada tujuan langsung pembelajaran, dan tujuan pengiring dari
pembelajaran;
6. Sasaran akhir dari perencanaan desain pembelajaran adalah mudahnya siswa untuk
belajar;
7. Perencanaan pembelajaran harus melibatkan semua variable pembelajaran;
Inti dari desain pembelajaran yang dibuat adalah penetapan metode pembelajaran
yang optimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Menurut Gagne & Briggs (dalam Abdul Majid, 2007:96). untuk menyusun perencanaan
pembelajaran terpadu perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
1) Pemetaan kompetensi dasar;
2) Penentuan topik atau tema;
3) Penjabaran kompetensi dasar ke dalam indicator sesuai topik atau tema;
4) Pengembangan silabus;
5) Penyusunan desain atau rencana pelaksanaan pembelajaran;
6) Penyusunan evaluasi pembelajaran IPS Terpadu (teknik penilaian, bentuk Instrumen,
instrumen).
2) Pelaksanaan Pembelajaran IPS terpadu
Pelaksanaan pembelajaran adalah tahapan dimana dan kapan, bagaimana serta oleh
siapa kegiatan pembelajaran itu dilaksanakan, sehingga pelaksanaannya dapat diartikan
sebagai proses kegiatan terlibatnya semua sumber daya manusia, dana dan sarana sesuai
dengan pedoman dan petunjuk, waktu dan tempat yang telah ditetapkan, dalam melaksanakan
program. Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) .
Menurut Iif & Sofan (2011:24) pelaksanaan pembelajaran setiap hari dilakukan
dengan menggunakan tiga tahap kegiatan yaitu kegiatan pembukaan/awal/pendahuluan,
kegiatan inti dan kegiatan penutup. Alokasi waktu untuk setiap tahap adalah kegiatan
pembukaan lebih kurang 5-10% waktu pelajaran yang disediakan, kegiatan inti lebih kurang
80% dari waktu pelajaran yang telah disediakan, kegiatan penutup dilaksanakan dengan
alokasi waktu lebih kurang 10-15% dari waktu pelajaran yang disediakan.
Menurut Dick dan Carey 1985 (dalam Iif & Sofan, 2011:21) menyebutkan lima
komponen utama dalam kegiatan pembelajaran, yaitu kegiatan prapembelajaran, penyajian
informasi, partisipasi mahasiswa, tes, dan tindakan lanjut. Sedangkan Gagne dan Briggs 1979
(dalam Iif & Sofan, 2011:21) menyebutkan Sembilan kegiatan pembelajaran, yaitu
memberikan motivasi atau menarik perhatian, menjelaskan tujuan pembelajaran kepada
mahasiswa, mengingatkan kompetensi prasyarat, memberi stimulus yang berhubungan
dengan masalah, topik dan konsep, memberi petunjuk cara mempelajari, menimbulkan
penampilan / pelajar, memberikan umpan balik, menilai penampilan pelajar, dan memberi
kesimpulan.
Menurut Mager (dalam Uno Hamzah, 2012:40) tujuan pembelajaran sebaiknya
mencakup tiga elemen, yakni:
1) Menyatakan apa yang seharusnya dapat dikerjakan siswa selama belajar dan
kemampuan apa yang sebaiknya dikuasainya pada akhir pelajaran;
2) Perlu dinyatakan kondisi dan hambatan yang ada pada saat
mendemonstrasikan perilaku tersebut;
3) Perlu ada petunjuk yang jelas tentang standar penampilan minimum yang dapat
diterima.
Menurut Iif & Sofan (2011:26) rancangan strategi pembelajaran yang diterapkan dalam
pembelajaran pada dasarnya terbagi atas empat komponen utama yaitu: waktu, urutan
kegiatan pembelajaran, metode dan media/bahan.
3)
Evaluasi/Penilaian Pembelajaran IPS terpadu
Menurut Iif & Sofan (2011:37) penilaian dalam pembelajaran adalah suatu usaha
untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan dan menyeluruh
tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak
didik melalui program kegiatan belajar. Menurut Davis (dalam Dimyati & Mudjiono,
1994:176) evaluasi merupakan proses sederhana memberikan/menetapkan nilai kepada
sejumlah tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk-kerja, proses, orang, objek, dan masih banyak
yang lain. Sedangkan menurut Wand dan Brown (dalam Dimyati & Mudjiono, 1994:176)
mengemukakan bahwa evaluasi merupakan suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.
Penilaian adalah kegiatan mengumpulkan atau menggunakan informasi tentang proses dan
hasil belajar untuk mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap kompetensi yang telah
diajarkan (Nasar, 2006:59). Penilaian yang dilakaukan adalah penilaian berbasis kelas.
Penilaian berbasis kelas adalah penilaian autentik atau cara pengumpulan informasi yang
digunakan untuk mengukur sejauh mana pembelajaran telah berlangsung dalam lingkungan
kelas (Ella Yilaewati, 2004:96).
Menurut Dimyati & Mudjiono (1994:186) tujuan utama dari evaluasi hasil belajar
ialah untuk mengetahui suatu kegiatan pembelajaran, dimana tingkat keberhasilan tersbut
kemudian ditandai dengan skala nilai berupa huruf atau kata atau simbol. Apabila tujuan
utama kegiatan evaluasi hasil belajar ini sudah terealisasi, maka hasilnya dapat difungsikan
dan ditujukan untuk berbagai keperluan. Hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar menurut
Arikunto 1990 & Nurkancana 1986 (dalam Dimyati & Mudjiono, 1994:186) pada hakikatnya
difungsikan dan ditujukan untuk keperluan berikut ini:
1.
2.
3.
4.
Untuk diagnostik dan pengembangan. Yang dimaksud dengan hasil dari kegiatan
evaluasi untuk diagnostik dan pengembangan adalah penggunaan hasil dari kegiatan
evaluasi hasil belajar sebagai dasar pendiagnosisan kelemahan dan keunggulan siswa
beserta sebabnya, berdasarkan pendiagnosisan inilah Guru mengadakan
pengembangan kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Untuk seleksi. Hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar seringkali digunakan sebagai
dasar untuk menentukan siswa-siswa yang paling cocok untuk jenis jabatan atau jenis
pendidikan tertentu. Dengan demikian hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar
digunakan untuk seleksi.
Untuk kenaikan kelas. Menentukan apakah seorang siswa dapat dinaikkan ke kelas
yang lebih tinggi atau tidak, memerlukan informasi yang dapat mendukung keputusan
yang dibuat Guru. Berdasarkan hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar siswa
mengenai sejumlah isi pelajaran yang telah disajikan dalam pembelajaran, maka Guru
dapat dengan mudah membuat keputusan kenaikan kelas berdasarkan ketentuan
yang berlaku.
Untuk penempatan. Agar siswa dapat berkembang sesuai dengan tingkat kemampuan
dan potensi yang mereka miliki, maka perlu dipikirkan ketepatan penempatan siswa
pada kelompok yang sesuai. Untuk menempatkan penempatan siswa pada kelompok,
Guru dapat menggunakan hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar sebagai dasar
pertimbangan.
Menurut Arikunto 1990 & Nurkancana 1986 (dalam Dimyati & Mudjiono, 1994:197)
jenis evaluasi dibedakan menjadi dua, yakni obyektif tes dan subyektif tes. Obyektif tes
terdiri dari:
a) Tes benar-salah adalah tes yang butir-butir soalnya mengharuskan agar siswa
mempertimbangkan suatu pernyataan sebagai pernyataan yang benar atau salah.
b) Tes pilihan ganda adalah tes yang butir-butir soalnya selalu terdiri dari dua komponen
utama: sistem yang menghadapkan siswa kepada satu pernyataan langsung atau
sebuah pernyataan tak lengkap dan dua atau lebih pilihan yang satu atau lebih benar
dan sisanya salah (sebagai pengecoh).
c) Tes menjodohkan adalah tes yang butir-butir soalnya terdiri dari satu daftar premis
dan satu daftar jawaban yang sesuai.
d) Tes melengkapi merupakan tes yang butir-butir soalnya terdiri dari kalimat
pernyataan yang belum sempurna, dimana siswa diminta untuk melengkapi kalimat
tersebut dengan satu atau beberapa kata pada titik-titik yang disediakan.
Sedangkan subyektif tes/essay merupakan bentuk tes yang terdiri dari suatu
pertanyaan atau perintah yang memerlukan jawaban bersifat pembahasan atau uraian katakata yang relatif panjang. Ciri-ciri pertanyaan atau perintah tes essay diawali dengan katakata seperti jelaskan, bagaimana, mengapa, bandingkan, jabarkan, kemukakan, dan yang
lainnya. Bentuk tes juga bisa dibagi menjadi jenis butir soal memberikan jawaban (supplytype items) dan jenis butir soal pilihan (selection-type items). Jenis butir soal memberikan
jawaban terdiri dari pertanyaan essay (essay questions) dan butir-soal jawaban singkatan
(short-answer type). Sedangkan jenis butir soal pilihan terdiri dari butir soal betul salah (truefalse items), butir soal menjodohkan, dan butir soal pilihan ganda (multiple-choice items).
Untuk dapat menentukan secara tepat bentuk tes yang akan disusun, evaluator perlu
mempertimbangkan karakteristik aspek-aspek sasaran evaluasi yang akan diukur.
METODOLOGI PENELITIAN
Dari aspek metodologi penelitian, maka penelitian ini adalah penelitian deskriptif
kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 1995:3), metode kualitatif
merupakan metode yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis dari orangorang / perilaku yang dapat di amati. Ada dua alasan digunakan pendekatan ini, pertama.
Data yang akan diungkapkan adalah dalam bentuk pendapat, pandangan, komentar, kritik,
alasan, dan lain sebagainya, kedua. Penelitian ini harus memahami dan mampu menafsirkan
makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku dalam situasi tertentu.
Didalam Iskandar (2013:62) mengatakan bahawa penelitian deskriptif merupakan
penilaian untuk member uraian mengenai fenomena atau gejala social yang diteliti dengan
mendeskripsikan tentang nilai variable mandiri, baik satu variable atau lebih (independent)
berdasarkan indikator-indikator dari variable yang diteliti tanpa membuat perbandingan atau
menghubungkan antara variable yang diteliti guna untuk eksplorasi dan klasifikasi dengan
mendeskripsikan sejumlah variable yang berkenaan dengan masalah variable yang diteliti:
Jenis penelitian ini tidak sampai mempersoalkan asosiatif dan komparatif antara variablevariabel penelitian yang ada.
Data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Hal ini
disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif. Selain itu, semua yang dikumpulkan
berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti. Dengan demikian, laporan
penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk member penyajian laporan tersebut. Data
tersebut mungkin berasal dari naskah wawancara, catatan-lapangan, foto, videotape,
dokumen pribadi, catatan atau memo, dan dokumen resmi lainnya.
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 11 Kota Jambi khususnya kelas VIII dari
tanggal 10 April 2014 s.d 12 Juni 2014. Dengan subyek nya ialah Guru-guru kelas VIII yang
mengajar pada mata pelajaran IPS Terpadu di SMPN 11 Kota Jambi yaitu Ibu Evelina
Simanjuntak, Ibu Dra. Choirina, M.M., dan Ibu Juniarti, S.Pd. Kemudian Guru inti IPS di
SMPN 11 Kota Jambi yaitu Bapak Drs. Alfizar serta siswa-siswi kelas VIII di SMPN 11
Kota Jambi dan obyek nya merupakan perangkat pembelajaran IPS terpadu meliputi
perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian pembelajaran IPS
terpadu pada mata pelajaran IPS kelas VIII di SMP negeri 11 Kota Jambi.
Adapun tahapan yang akan dilaksanakan ialah meliputi tahapan orientasi, tahapan
eksplorasi, dan tahapan pengujian keabsahan data. Data penelitian ini didapatkan langsung
dari hasil wawancara terhadap guru IPS yang mengajar di kelas VIII SMPN 11 Kota Jambi.
Sumber data yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Tahun Pelajaran 2013/2014
yang di dapat dari guru bersangkutan. Dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang
bermacam-macam (triangulasi), meliputi wawancara, observasi partisipatif, dan dokumentasi.
Dikarenakan penelitian ini dilakukan pada lembaga pendidikan, tepatnya di sekolah
SMP Negeri 11 Kota Jambi, maka dari itu yang menjadi informan yaitu guru IPS sebagai
sebagai tenaga pendidik dan menjalankan secara langsung pembelajaran IPS terpadu serta sisw
yang menjadi pembanding agar pembelajaran menjadi lebih baik lagi.
PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
1) HASIL PENELITIAN
Ideal perencanaan pembelajaran IPS terpadu dan fakta yang terjadi ditempat penelitian, dapat
diperjelas bahwa Guru-guru sudah menjalani tahap perencanaan, dimana perencanaan pembelajaran
yang digunakan oleh Guru IPS dominan terpadu, meski ada satu orang Guru yang perencanaan
pembelajarannya masih belum terpadu. Namun dari hasil wawancara dengan siswa yang diajar dan
terhadap Guru inti serta pengamatan peneliti, perencanaan yang digunakan masih belum dipadukan.
Hal tersebut diperjelas dengan wawancara terhadap AF yang merupakan Guru inti di SMPN 11 Kota
Jambi dan RPP yang Guru-guru gunakan masih terpisah-pisah juga diperjelas dengan indikator yang
tercantum masih belum dipadukan, maksudnya disini ialah unsur-unsur ekonomi, sejarah, geografi
serta sosiologi belum di cantumkan, sedangkan seharusnya keempat unsur tersebut harus ada
indikator.
Sedangkan ideal pelaksanaan pembelajaran IPS terpadu dan fakta yang terjadi ditempat
penelitian, dapat diperjelas bahwa Guru-guru yang mengajar didalam kelas dominan terpadu hanya
satu orang Guru yang tidak terpadu. Namun hasil pengamatan peneliti pelaksanaannya belumlah
terpadu, hal tersebut diperkuat dengan wawancara terhadap AF yang merupakan Guru inti IPS di
SMPN 11 Kota Jambi dan wawancara terhadap siswa-siswa yang diajar. Juga diperjelas dengan
proses belajar mengajar didalam kelas yang penjelasannya masih permateri saja, ditambah tidak
semua kelas memiliki media dan fasilitas yang lengkap sehingga banyak menemui kendala. Dimana
yang seharusnya pelaksanaan pembelajaran itu harus lah sesuai keterpaduan nya, yaitu memasukkan
keempat unsur yang ada, dan harus luas materinya, jangan hanya penyampaian materi secara sempit.
Kemudian ideal penilaian pembelajaran IPS terpadu dan fakta yang terjadi ditempat penelitian,
yang telah dijelaskan beberapa narasumber, dapat diterangkan kembali bahwa Guru-guru yang
memberikan penilaian pembelajaran dikelas VIII memiliki model yang berbeda-beda. ES mengatakan
penilaian yang ia gunakan berupa bentuk struktur, objective test, dan pilhan ganda. Sedangkan CR
mengatakan penilaian yang ia gunakan berupa latihan dan ulangan. Kemudia JN mengatakan
penilaian yang digunkan berupa penilaian autentik. Namun dari hasil pengamatan peneliti penilaian
yang digunakan tidak sesuai dengan apa yang di katakan Guru-guru tersebut. Hal tersebut diperkuat
dengan tindakan Guru selama dua bulan ini, hanya memberikan penugasan, tanya jawab, dan ulangan.
Juga diperjelas dari data yang terlihat pada RPP. Serta dari hasil wawancara terhadap AF dan siswasiswa yang terlibat langsung didalam kelas, dimana mereka mengatakan penilaian yang digunakan
masih menggunakan bentuk penilaian umum, seharusnya penilaian itu bervariasi dengan mengikuti
penilaian-penilaian yang terbaru saat ini, agar penilaiannya luas, tidak hanya itu lagi disetiap
semesternya.
2) TEMUAN PENELITIAN
Perencanaan yang digunakan Guru-guru bersangkutan tersebut harus sudah
dipadukan, namun di RPP yang digunakan belum lah terpadu, mereka masih menggunakan
kompetensi dasar seperti yang ada pada buku ajar dan masih terpisah-pisah. Selain itu
kendalanya yaitu kurangnya sosialisai bagaimana cara penyusunan RPP yang baik dan benar,
kurangnya waktu Guru secara pribadi serta kurangnya pengalaman. Dalam hal pelaksanaan
perencanaan, tentu banyak menemui kendala, karena Guru dituntut untuk memadukan semua
unsur-unsur yang terkait pada mata pelajaran IPS. Sebelumnya SMPN11 memiliki ruang
labor khusus IPS, namun dengan seiring jalannya waktu ruangan tersebut sudah tidak
digunakan lagi, sehingga untuk materi yang mengharuskan siswa ke lapangan tidak bisa
diwujudkan dan hanya dijelaskan melalui materi didalam kelas saja.
Dan secara umum kendala dari segi pelaksanaan pembelajaran adalah dalam metode
pembelajaran, Guru masih menggunakan pola konvensional, yaitu ceramah, diskusi,
penugasan, dan diskusi. Dalam mata pelajaran IPS media pembelajaran sangatlah
dibutuhkan, akan tetapi media tersebutlah yang menjadi salah satu kendala. Media yang
masih sangat minim dan terbatas mengakibatkan ruang gerak untuk penjelasan lebih detail
ilmu IPS menjadi terhambat dan kegiatan belajar mengajar menjadi membosankan.
Kemudian kendala penilaian pembelajaran Guru mengadakan evaluasi dengan
format lama dan umum berupa penilaian tes tertulis, penugasan, dan ulangan. Alasan Guru
masih menggunakan format tersebut ialah karena faktor kebiasaan yang sulit dirubah,
sehingga pada semester-semester selanjutnya penilaian yang seperti itu masih juga
digunakan. Penilaian yang monoton tidak mampu menggali lebih dalam ketangkasan siswa.
Sebelum penilaian diadakan, siswa sudah mengetahui terlebih dahulu bentuk penilaian yang
akan digunakan oleh Guru bersangkutan. Andaikan penilaian yang digunakan lebih luas lagi,
maka individu siswa akan lebih detail diketahuinya dan lebih terlihat real, tak ada yang berat
sebelah. Penilaian penentuan kenaikan kelas pun mampu menjadi pertimbangan walikelas
dari semua segi penilaian yang telah dilakukan.
3) ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH TERHADAP TEMUAN PENELITIAN
Alternatif yang dilakukan oleh Guru IPS di SMPN 11 Kota Jambi terhadap kendala
atau kesulitan yang dihadapi dari segi perencanaan pembelajaran, yaitu (1) berdiskusi dengan
Guru-guru yang lebih berpengalaman, (2) perencanaan tetap dibuat namun seragam agar
tidak begitu menemui kesulitan, (3) semua hal yang dibutuhkan dalam perangkat ajar, seperti
silabus, RPP, proses pembelajaran, serta evaluasi pembelajaran tetap disediakan.
Dari segi pelaksanaan, Guru-guru melaksanakan pembelajaran seperti biasanya,
mengikuti perencanaan yang telah dibuat dan dilakukan secara singkat agar semua materi
yang akan disampaikan terpenuhi. Media yang digunakan pun menggunakan media yang ada
saja, dan apabila media yang diperlukan tidak ada, maka penjelasan melalui media
ditiadakan, dan hanya menggunakan materi yang ada. Untuk hal metode, Guru-guru
menggunakan metode yang biasa digunakan yang mereka dalami saja.
Dan solusi atau pemecahan masalah yang sangat diharapkan oleh para Guru untuk
segi penilaian pembelajaran, yaitu (1) adanya sosialisasi kepada seluruh Guru tanpa
terkecuali, (2) adanya pelatihan-pelatihan, (3) Guru-guru diikutsertakan dalam penataran dan
diklat-diklat, (4) adanya format pembelajaran IPS Terpadu yang baku, (5) adanya bimbingan
kepada Guru-guru dan, (6) Guru-guru yang telah memahami diharapkan mau berbagi ilmu
kepada Guru yang lainnya, (7) sarana dan prasarana terpenuhi dan diharapkan pemerintah
dapat membantu dalam hal penyediaan peralatan tersebut.
PEMBAHASAN
1) Perencanaan Pembelajaran
Berdasarkan temuan penelitian pada bab IV tentang perencanaan pembelajaran pada
pelaksanaan pembelajaran ilmu pengetahuan sosial terpadu pada mata pelajaran IPS kelas
VIII di SMP negeri 11 kota Jambi. Dalam merencanakan pembelajaran di SMPN 11 Kota
Jambi, seharusnya masing-masing guru di setiap awal semester menyusun, mencocokkan,
serta menganalisis materi yang akan diajarkan yang selanjutnya disajikan dalam perangkat
pembelajaran seperti silabus, RPP, media, dan juga lembar penilaian yang sesuai dengan
kompetensi inti dan kompetensi dasar. Namun yang terjadi dilapangan perangkat
pembelajaran itu dibuat seragam oleh satu orang Guru sehingga Guru yang lainnya kesulitan
dalam memahami perencanaan tersebut untuk diaplikasikan kedalam pelaksanaan
pembelajaran.
2) Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu lahir dengan tuntunan
perkembangan yang mengehendaki adanya penggabungan unsur-unsur IPS seperti ekonomi,
geografi, sejarah, dan sosiologi. Pengalaman selama ini pembelajaran yang berlangsung
hanya menyampaikan unsur IPS yang terpisah-pisah sehingga telah menimbulkan kebiasaan
yang sulit dirubah. Sehingga saat adanya keterpaduan ini, telah menimbulkan ketergantungan
kepada pusat sehingga kemandirian dan kreatifitas Guru-guru tidak tumbuh. Pembelajaran ini
ditandai dengan adanya pemberian wewenang kepada masing-masing Guru IPS untuk
memadukan unsur-unsur IPS tersebut didalam kegiatan belajar mengajar. Setiap Guru
diharapkan mampu mengembangkan materi yang ada sesuai dengan unsur yang menjadi
induk pembelajaran pada saat itu. Akan tetapi pada pelaksanaannya tidak semudah
membalikkan telapak tangan, pada penerapannya masih banyak menemui kendala-kendala
atau hambatan. Misalnya, yang terjadi pada Guru-guru yang mengajar di SMPN11 Kota
Jambi, khususnya pada mata pelajaran IPS. Guru-guru IPS yang mengajar di SMPN 11 Kota
Jambi memang telah menerapkan pembelajaran IPS Terpadu, akan tetapi dikarenakan
sebelumnya telah biasa menyampaikan secara terpisah-pisah, jadi penerapan tersebut tidak
berjalan sempurna dengan alasan sudah menjadi faktor kebiasaan yang sulit dirubah.
3) Penilaian Pembelajaran
Pembelajaran terpadu menuntut diadakannya evaluasi tidak hanya pada produk, tetapi
juga pada proses. Evaluasi pembelajaran terpadu tidak hanya berorientasi pada dampak
instruksional dari proses pembelajaran, tetapi juga pada proses dampak pengiring dari proses
pembelajaran tersebut. Dengan demikian pembelajaran terpadu menuntut adanya teknik
evaluasi yang banyak ragamnya. Oleh karenanya tugas guru menjadi lebih banyak.
Dari hasil temuan penelitian didalam evaluasi pembelajaran, Guru-guru di SMPN 11
Kota Jambi masih menggunakan format lama berupa ulangan-ulangan, tes tertulis maupun
lisan. Dimana maksudnya ialah setelah Guru melakukan penyampaian materi, siswa-siswa
diberikan latihan sesuai yang diajarkan pada materi hari tersebut, kemudian pada akhir pokok
bahasan Guru melakukan ulangan harian. Dan pada setiap akhir semester siswa
melaksanakan ujian akhir sekolah yang diikuti seluruh siswa sekolah. Namun ada beberapa
sekolah yang sebelum melakukan ujian akhir sekolah, melaksanakan ujian tengah semester
terlebih dahulu sebagai gambaran kecil ujian akhir semester yang akan datang, begitu juga
yang dilakukan oleh SMP negeri 11 Kota Jambi.
PENUTUP
1) KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasn mengenai “pelaksanaan pembelajaran
IPS Terpadu pada mata pelajaran IPS kelas VIII di SMPN 11 Kota Jambi”, masih menemui
banyak kesulitan-kesulitan atau hambatan. Hal ini tercermin dari hasil pengamatan peneliti,
dimana kendala tersebut meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan
evaluasi pembelajaran.
Dari segi perencanaan pembelajaran, Guru-guru sudah menjalani tahap perencanaan,
dimana perencanaan pembelajaran yang digunakan oleh Guru IPS masih terpisah-pisah, ini
bisa dilihat dari hasil wawancara dengan siswa yang diajar dan terhadap Guru inti serta
pengamatan peneliti, perencanaan yang digunakan masih belum dipadukan.
Sedangkan untuk pelaksanaan pembelajaran, Guru-guru yang mengajar didalam kelas
pelaksanaannya belumlah terpadu, hal tersebut diperkuat dengan wawancara terhadap AF
yang merupakan Guru inti IPS di SMPN 11 Kota Jambi dan wawancara terhadap siswa-siswa
yang diajar.
Dan dari segi penilaian pembelajaran dapat diterangkan kembali bahwa Guru-guru
yang memberikan penilaian pembelajaran dikelas VIII memiliki model yang berbeda-beda itu
diperjelas dari hasil wawancara terhadap AF dan siswa-siswa yang terlibat langsung didalam
kelas, dimana mereka mengatakan penilaian yang digunakan masih menggunakan bentuk
penilaian umum, seharusnya penilaian itu bervariasi dengan mengikuti penilaian-penilaian
yang terbaru saat ini, agar penilaiannya luas, tidak hanya itu lagi disetiap semesternya.
2) SARAN
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka peneliti dapat memberikan saran sebagai
berikut :
1)
Guru diharapkan tidak lagi menggunakan konsep lama menggenai pembelajaran IPS
Terpadu yang terpisah-pisah. Guru diharuskan mampu memadukan kompetensi dasar
didalam perencanaan pembelajaran, dan Guru diharapkan dapat memadukan dan
2)
3)
mengembangkan pelaksanaan pembelajaran didalam kelas. Serta dalam segi evaluasi
Guru diharapkan menggunakan format-format baru berupa penilaian otentik.
Kepada Guru-guru yang telah terlebih dahulu mengikuti pelatihan maupun diklat
ataupun Guru yang lebih paham, hendaknya mau berbagi ilmu dengan Guru-guru
yang lain, jangan hanya untuk diri sendiri.
Kepada pemerintah maupun dinas pendidikan hendaknya dapat mengambil langkahlangkah yang bijak dalam penyempurnaan pembelajaran IPS terpadu kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul, Majid. (2007). Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standart Kompetensi
Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Ahmadi, Iif Khoiru & Sofan Amri. (2011). Mengembangkan Pembelajaran IPS Terpadu.
Jakarta: Prestasi Pustaka.
Dimyati & Mudjiono, (1994). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud.
Etin Solihatin dan Raharjo. 2008. Cooperatif Learning Analisis Model Pembelajaran IPS.
Jakarta: Bumi Aksara.
Iskandar. (2013). Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial. Jakarta: Referensi.
Moleong, Lexy. (1995). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik, dan Implementasi.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Muslich, Masnur. (2011). KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual.
Jakarta: Bumi Aksara.
Nasar.2006.Merancang Pembelajaran Aktif dan Konstektual Berdasarkan “SISCO” 2006.
Jakarta : PT Gramedia Widiaksara.
Permendiknas RI Nomor 41 Tahun 2007. Tentang Standar Proses Untuk Satuan Dasar dan
Menengah.
Sisdiknas RI Nomor 20 Tahun 2003. Tentang Evaluasi, Akreditas, dan Sertifikasi.
Sukmadinata, Nana Syaodih.2007.Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
Sugihartono dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta. UNY Press.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
Uno, Hamzah. B. 2012. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Yuaelawati,Ella.2004.Kurikulum dan Pembelajaran Filosofi Teori dan
Bandung: Pakar Karya.
Aplikasi.
Download