Disusun Oleh : Rm. Dn. Damaskinos Arya Penerbit

advertisement
Disusun Oleh :
Rm. Dn. Damaskinos Arya
PANDUAN SHOLAT
GEREJA MULA-MULA YANG ORTHODOX
Penerbit
Gereja Orthodox Indonesia
Russian Orthodox Church Outside Russia
Parokia St. Sergios Radonezh, Medan
PANDUAN SHOLAT
GEREJA MULA-MULA YANG ORTHODOX
Copyright © 2012 by (Gereja Orthodox Indonesia)
Penerbit
Gereja Orthodox Indonesia
Parokia St. Sergios Radonezh, Medan
Desain Sampul:
Rm. Dn. Damaskinos Arya
(FX Arianto Nugroho)
Diterbitkan melalui:
www.nulisbuku.com
2
DAFTAR ISI
PENGANTAR
Menguak Arti Doa dan Sholat dalam Tradisi Gereja Timur…..
4
Pembasuhan dan Pentahiran Sebelum Sholat………………… 21
Tanda Salib…………………………………………………… 24
SHOLAT MENELADANI RAJA DAUD
Sholatus Sa’atul Awwal………………………………………….26
Sholatus Sa’atus Tsalitsu……………………………………….. 36
Sholatus Sa’atus Sadis………………………………………….. 47
Sholatus Sa’atus Tis’ah………………………………………… 58
Sholatul Ghurub………………………………………………. 69
Sholatul Naum………………………………………………… 81
Sholatul Lail…………………………………………………… 97
SHOLAT MENELADANI NABI DANIEL
Sholat Pagi……………………………………………………. 139
Sholat Siang……………………………………………………143
Sholat Sore……………………………………………………. 146
3
PENGANTAR
Menguak Arti Doa dan Sholat (Sembahyang Harian; Ibadat
Harian) dalamTradisi Gereja Timur (Gereja Orthodox)
Oleh :
Presbyter Rm.Kirill J.S.L.
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)
I. MENGUAK ARTI DOA DAN SHOLAT (SEMBAHYANG
HARIAN; IBADAT HARIAN) DALAM TRADISI GEREJA
ORTHODOX
Bismil Abi wal Ibni wal Rohul Quddusi
Al Ilahud Wahid. Amin.
Banyak orang berseloroh, terutama saudara kita kaum Muslim
bahwa, “Orang Kristen itu tidak pernah sholat, namun hanya
berdoa”. Ungkapan ini mau tidak mau harus kita akui, namun
sayang sekali ada sebagian orang Kristen yang tidak dapat
membedakan antara doa dan sholat (sembahyang harian, ibadat
harian).
Tidak dapatnya membedakan antara doa dan sholat inilah, maka
tercetus kata-kata bahwa “doa” yang dilakukan oleh orang Kristen,
dan ”sholat” yang dilakukan oleh saudara kita Muslim itu sama saja
maknanya. Orang percaya boleh-boleh saja berpendapat bahwa
bahwa antara “doa” dan ”sholat” itu sama saja maknanya, namun
yang menjadi masalah, apakah pandangan yang demikian sesuai
dengan kenyataan dan apakah sholat itu didukung oleh fakta
Alkitab ?
Sebagai orang percaya yang setiap tindakan dan lakunya selalu
dilandaskan atas Firman Allah, maka untuk menentukan itu sama
atau tidak, adalah bijaksana jika kembali pada pernyataanpernyataan yang ada dalam Alkitab.
4
Dalam Gereja Orthodox memang dibedakan antara Sembahyang,
sebagai suatu ibadah dan penyembahan kepada Allah yang disertai
waktu tertentu, gerak tubuh tertentu, serta isi doa-doa tertentu,
dengan urutan yang telah tertentu pula, dan Doa dengan kata-kata
spontan langsung yang diucapkan dalam permohonan kepada
Allah, seperti satu-satunya cara yang dilakukan oleh Gereja-Gereja
Protestan.
A. Doa
Seorang peneliti di Praha menemukan angka-angka yang menarik
tentang jumlah rata-rata perkataan yang diucapkan orang dalam
sehari. Angka-angka itu adalah sebagai berikut: seorang pendeta:
3420, seorang prajurit di asrama: 7420, seorang pelajar SMP: 8760,
seorang istri: 15.300. Yang paling banyak adalah seorang ibu
mertua, yaitu 19.800 kata!
Hidup memang dipenuhi kata-kata. Dari pagi hingga malam ribuan
kata berhamburan dari bibir dan bertubi-tubi pula kata-kata masuk
ke dalam telinga. Banyaknya kata-kata yang berhamburan ini
menyebabkan bahaya adanya bahaya kata-kata mengalami kita
mengalami inflasi.
Doapun tidak luput dari bahaya inflasi kata. Kata-kata
berhamburan dengan mudah dan murah dalam doa, baik doa yang
diucapkan nyaring maupun doa yang diucapkan dalam hati.
Sebaiknya dipertimbangkan bahwa dalam doa janganlah seenaknya
saja mengobral kata-kata dangkal, yang bahkan tidak mempunyai
dampak dan makna kerendahan hati dan bagi tujuan keselamatan
jiwa. Karena doa yang panjang-panjang, indah-indah, dan berapiapi, akan berakibat banyak orang mengagumi dan memuji-muji si
pendoa. Dan hal ini secara lambat akan pemimpin pada peninggian
hati dan kesombongan rohani, bukannya kerendahan hati si
pendoa. Kitab Pengkhotbah 5:1 memberikan peringatan yang
sama: “Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah
hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah,
karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu
biarlah perkataanmu sedikit”.
5
Tetapi bukankah doa adalah berkomunikasi? Dan untuk
berkomunikasi diperlukan kata-kata? Jawabannya bisa “ya” dan
“tidak”. Kata-kata tidak selalu diperlukan untuk berkomunikasi.
Adakalanya komunikasi yang ampuh terjadi justru secara nonverbal. Bukankah pada saat-saat tertentu kehadiran seseorang yang
kita cintai – walaupun tanpa bercakap – dapat mengandung sejuta
makna? Demikian pula dalam pertemuan dengan Tuhan dalam
doa, tidak selalu doa dipenuhi dengan kata-kata, bahkan walaupun
hati tidak membisikkan sepatah katapun, namun dalam keheningan
pikiran - orang percaya bisa bersekutu bahkan manunggal dengan
Tuhan. Inilah pula sebabnya Yesaya Sang Nabi Allah berkata:
“Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan,
dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu” (Yes.
30:15).
Berdoa dengan berdiam diri, dimana hati yang lebih banyak
berkomunikasi dengan penuh cinta kepada Sang Mempelai Lakilaki guna mencapai tujuan pemanunggalan denganNya sudah lama
dikenal dalam tradisi monastisisme (kerahiban) Gereja Orthodox
sebagai kesinambungan tanpa putus dengan Gereja Para Rasul dan
Gereja Purba itu sendiri. Akhir-akhir ini gereja-gereja Protestan
mulai melihat nilai doa ini, misalnya dengan meditasi dan
kontemplasi yang dikembangkan mulai tahun 1960-an oleh
komunitas biara Protestan Taize di Perancis dan beberapa
komunitas biara Protestan lainnya.
Hal ini bukan berarti orang harus bertapa dan bersemedi, sebab
Tuhan dapat ditemui bukan hanya dalam suasana semedi,
melainkan juga dalam hiruk-pikuknya dan hangar-bingarnya hidup
dan kerja sehari-hari. Bukan pula maksudnya orang hanya dapat
berdoa dalam suasana sepi dan sunyi. Yang perlu sepi bukan
terutama tempatnya, melainkan pikiran dan hati kita. Yaitu sepi
dari kata-kata yang ramai mengisi perasaan, sampai tidak
menyadari kehadiranNya yang lembut dan temaram itu. Inilah
makna Allah dijumpai dalam keheningan angin sepoi-sepoi basa
seperti yang dialami Elia Nabi Allah:
6
“Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan
memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak
ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah
gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu. Dan sesudah
gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu.
Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. Segera
sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan
jubahnya… Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi:
“Apakah kerjamu di sini hai Elia?” Jawabnya: ”Aku bekerja segiatgiatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, … Firman Tuhan
kepadanya: “Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang
gurun …”
(1 Raj. 19:11-15)
Perihal doa hening yang mendalam ini banyak sekali terungkap
dalam Alkitab, bahkan Tuhan Yesus sendiri memberikan contoh
tentang doa, seperti dalam Matius 14:23, “Dan setelah orang
banyak itu disuruhnya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk
berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian disitu”.
Pola Yesus berdoa sendirian di atas bukit, menunjuk pada artian
bahwa pada waktu berdoa, Ia menginginkan suasana hening, teduh
dan sejuk. Ini adalah cara bagaimana manusia dapat masuk pada
batin yang terdalam untuk menemukan jati diri dan merenungkan
apa yang Allah inginkan dan telah berikan dalam hidup ini. Doa
Tuhan Yesus ini lebih mengarah pada batin yang terdalam dan
bukan hanya sekedar kata-kata yang indah, namun lebih bersifat
perenungan guna menemukan akunya sendiri untuk masuk dalam
pemanunggalan dengan “Sang AKU” [bdk. Kej.17:1; Kel.3:14 –
“…AKU adalah AKU…Lagi firman-Nya: “…AKULAH
AKU…(bhs. Ibrani: “ Ehyeh asyer ehyeh”; bhs.Yunani: “Ego
eimi”;) ]. Dengan bertemunya “aku manusia” dengan “Sang AKU”
dalam doa, maka doa yang demikian adalah doa yang didasarkan
atas pengalaman hidup bersama-sama dengan Allah. Karena fakta
ini, adalah bijaksana jika berdoa tidak memikirkan hal-hal lain
kecuali Allah. Paralel dengan doa yang bersifat batiniah ini,
meminjam istilah orang Jawa bahwa jika kita berdoa perlu untuk
“nutupi babahan hawa sanga”, artinya pada waktu berdoa
7
hindarilah perkara-perkara luar masuk ke pikiran dan batin yang
mengganggu konsentrasi untuk menyembah Allah. Hal ini nyata
sekali terlihat dari ungkapan Yesus sendiri yang mengatakan : “Jika
engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan
berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi, maka
Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya
kepadamu” (Mat. 6:6).
Jadi doa itu merupakan masalah batin, bukan sekedar ungkapan
kata yang tidak berdasarkan pengertian yang dalam mengenai
makna doa tersebut. Pengertian yang dalam disini adalah bahwa di
dalam doa itu kita sedang masuk dan manunggal dengan Allah.
Pengertian akan makna doa bukan hanya sekedar ulah pikiran,
namun perlu penghayatan dan perenungan serta penterjemahan
dalam hidup keseharian. Dengan demikian jelas bahwa doa itu
tidak dapat dilakukan dengan pura-pura atau supaya dilihat orang
bahwa kita adalah orang yang saleh dan suka berdoa, namun ini
perlu dilandaskan pada hati yang tulus, rendah hati dan tak terbesit
sedikitpun kemunafikan dan arogansi. Karena kalau doa
dilandaskan pada kepura-puraan akan berakibat fatal, sebab hal itu
tidak mungkin tidak terdeteksi oleh Allah.
St. Paulus dalam suratnya menandaskan, bahwa manusia dapat
berseru dalam batin dan menyebut Allah sebagai “Bapa”, itu
adalah merupakan karya Allah (Gal.4:6). Manusia tidaklah akan
mengaku dalam batin dan berseru pada Bapa dalam hidupnya, jika
dalam hidup manusia itu sendiri tidak bertobat dan memberi diri
untuk dipimpin oleh dan masuk dalam hidup Ilahi. Masuk dan
manunggalnya kita dalam hidup Ilahi inilah, menjadikan sifat dan
karakter Allah oleh kuasa Roh Kudus menjadi sifat dan karakter
kita. Artinya bahwa kita selalu mengekspresikan hidup Allah, yang
oleh Injil Matius disebut sebagai “Terang dunia” (Mat.5:4) sebagai
hasil penyatuan kita dengan Sang Terang (Yoh.8:12) melalui doa
dan sakramen-sakramen yang terdapat dalam Gereja (Rm.6:3-4;
Gal.3:27).
Dengan demikian jelaslah bagi kita, bahwa maksud doa bukan
hanya sekedar suatu kewajiban sebagai orang Kristen, namun itu
8
mengarah lebih dalam lagi yaitu untuk menyucikan dan
menyatukan hidup serta kehendak kita dengan hidup dan
kehendak Ilahi. Dan berdasarkan realita ini, terungkaplah sudah
bahwa doa itu tidaklah semudah dan sesederhana seperti yang
biasa kita pikirkan, namun itu perlu kerendahan hati, ketulusan dan
perenungan yang mendalam untuk menyatukan kehendak kita
dengan kehendak Allah. Dan sifat doa ini dapat dilakukan kapan
saja dan dimana saja. Disinilah letak perbedaan antara doa dan
sholat. Karena sholat itu dilakukan berdasarkan urutan waktu dan
mempunyai makna inkarnasi Sang Sabda dan karyaNya.
Jika sholat itu lebih bersifat sanjungan dan pujian serta
penyembahan kepada Allah, doa lebih bersifat permohonan. Dan
doa ini dilakukan secara spontan menggunakan bahasa sendiri,
tanpa memiliki aturan tertentu. Ini bisa dilakukan ketika orang
selesai sholat atau dimanapun dan kapanpun dia berada dan
merasa membutuhkan pertolongan Allah. Ini dapat dilakukan
tanpa harus mengikuti tertib tertentu, tak pula harus menghadap
ke kiblat di Timur, boleh dengan mata tertutup dan tangan terlipat
atau dengan mata tengadah ke langit dan tangan menadah tanda
mengharap.
Jadi tujuan doa bukanlah semata-mata mengeluarkan perasaan
(meminta ini dan itu, mengeluh, dan sebagainya), melainkan
pertama-tama untuk memasukkan perasaan: “Tuhan ada di sini,
menyucikan dan menyatukan hidup serta kehendak kita dengan
hidup dan kehendak Ilahi!”. Salah satu doa yang menjadi sarana
untuk menyucikan dan menyatukan hidup serta kehendak kita
dengan hidup dan kehendak Ilahi ini adalah Doa Puja Yesus atau
lebih dikenal sebagai Doa Yesus. Doa spontan ini dapat dilakukan
kapan saja, dimana saja, dengan cara apa saja asal hormat dan
sopan, menggunakan bahasa spontan, dan menghadap kemana saja
B. Doa Tasbih: Doa Puja Yesus (Doa Yesus. Doa Batin)
“Doa Yesus serupa dengan doa lain apa pun, namun lebih kuat
daripada semua doa lain berkat Nama Yesus Yang Mahakuasa,
Tuhan dan Penyelamat kita. Kita perlu menyeru Nama ini dengan
9
iman yang penuh dan teguh – dengan benar-benar yakin, bahwa
Yesus hadir … Doa Yesus bukanlah semacam mantra. Dayanya
berasal dari iman akan Tuhan, dan dari persatuan mendalam hati
serta budi kita denganNya”
[St. Theopan Sang Petapa, 1894]
Disamping Doa dan Sholat (Sembahyang Harian, Ibadat Harian),
Gereja Orthodox juga mengenal semacam Doa Rosario ”Salam
Maria” dalam Gereja Roma Katolik, tetapi doa tasbih Orthodox
ini sangat Kristosentris, bukannya Mariasentris. Doa ini adalah
doa“samadhi” atau “berdzikir2 dengan tasbih Orthodox” yang
disebut sebagai “Doa Puja Yesus” (“Doa Yesus” ; ”The Jesus
Prayer”) dengan menggunakan semacam “tasbih” yang dirajut dari
benang, disebut dalam bahasa Yunani sebagai “komboskini”
(“Komboschoinia”; ” komvoschini”) atau “Chotki” (“Чётки“)
dalam bahasa Rusia. Dan praktek yang dilakukan oleh kaum “sufi”
Kristen Orthodox yang disebut kaum “hesykhastis”, yaitu para
praktisi “hesykhasme” (“Sufisme3 Kristen Orthodox”)4. Doa
Yesus disebut juga Doa Batin/Doa Hati/Doa Qolbu (“Noera
Prosevkhee”; doa “Budi Rohani”) yang secara khusus menunjuk
kepada “Doa Puja Yesus” dari Gereja Timur (Gereja Orthodox).
Doa Yesus berasal dari Perjanjian Baru dan mempunyai tradisi
penggunaan yang lama sekali. Doa Yesus bersandarkan pada
nasehat St. Paulus Sang Rasul untuk Kaum Goyim (Bangsa non
Yahudi), untuk berdoa tak kunjung putus: “Berdoalah tak kunjung
putus” (“pray without ceasing” 5) (I Tes. 5:17) dan juga atas
anjuran Tuhan Yesus sendiri pada para muridNya: "Waspadalah
dan berdoalah tak henti-hentinya …” (Luk. 21:36). Rumusan doa
ini berdasarkan seruan si buta di Yerikho (Luk. 18:38) dan doa si
pemungut cukai (Luk. 18:13), yaitu: “Tuhan Yesus Kristus, Putera
Allah kasihanilah aku orang berdosa ini”. Rumusan ini juga bisa
diperpendek berupa: “Kyrie Iesou Khriste, eleyson me”, “Kyrie
eleyson”. Bahkan rumusan ini bisa diperpendek dengan hanya
menyebut “Nama Yesus” saja. Doa ini seharusnya diulang dengan
hening, dengan tidak tergesa-gesa, sementara menarik dan
mengeluarkan nafas mengikuti rumusan doa ini.
10
Doa Yesus (Doa Puja Yesus) mampu membawa kepada doa yang
paling murni (pure prayer), yang tak boleh menimbulkan fantasifantasi, maupun teknik-teknik visualisasi, inkubasi, mimpi dan
positive thinking dan semua teknik yang bersifat psikis dan
pemaksaan kekuatan jiwani daripada memberi kebebasan karya
Roh Kudus. Keadaan doa yang paling murni (Pure prayer) yang
harus dicapai dalam Doa Puja Yesus itu justru untuk mencapai
“apatheia” (“ketiadaan pathos” atau “ketiadaan pamrih-pamrih
kehendak dan nafsu”) yang kadang-kadang justru menjadi tujuan
praktek-praktek meditasi lain dengan melakukan manipulasi psikis
untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Bahkan tujuan Doa Puja
Yesus ini bukan untuk mendapatkan/ mengejar karunia-karunia
Roh Kudus (karena karunia-karunia Roh Kudus akan
terhenti/tidak kekal – 1 Kor. 13:8-10), tetapi untuk bersatu dengan
Roh Kudus, Sang Pemberi Hidup, sumber dan asal karuniakarunia Roh, yang adalah Allah yang kekal itu sendiri. Nama Yesus
hanya merupakan sarana, yang harus membawa kepada pribadi
Yesus sendiri, dan mengulang-ulang NamaNya tanpa membawa
masuk ke hadiratNya tidak ada gunanya. Melalui Dzikir doa Puja
Yesus ini, nama “Sang Sabda Menjelma”, yaitu Yesus Kristus
diucapkan dengan penuh kekhusyukan, sujud hormat dan
kedalaman iman sebagai sarana panunggalan secara batiniah
denganNya sehingga melaluiNya manunggal dengan Allah Sang
pemilik Sabda itu, yang satu Dzat hakekat dengan Sang
Firman/SabdaNya. Inilah tujuan akhir dari keselamatan orang
Kristen, yaitu mencapai Theosis atau Deifikasi.
Rumusan Doa Yesus berabad-abad sampai saat ini tetap sama
disetiap Gereja Orthodox dari yurisdiksi manapun di seluruh
dunia. Dalam Gereja-gereja Orthodox yang berbahasa Yunani
rumusannya adalah:
“Kyrie Iesou Khriste Hyos Ton Theon, eleyson me ton
amartolon”, yang berbahasa Aramia (Gereja Orthodox Patriarkhat
Syria): "Moran Yeshu'a meshiHa, bar Alaha ethraham 'al li,
Hataya", yang berbahasa Ibrani (Gereja Orthodox Patriarkhat
Yerusalem): “Adonai Yoshua Ha-Masiakh, ben ha-Elohim, rehem
na‘alay, ‘al ish khotea”, yang berbahasa Arab: “Ya Robbu Yesu
Almasih, ibnullah, arhamna ‘ana al-khoti’a” atau “Ya, Robbu
11
Arham”, Gereja-Gereja Orthodox berbahasa Slavonika, misalnya
Gereja Orthodox Patriarkhat Moskow, Rusia: “Gospodi Iesuse
Kristie, Tzinye Boziie, pamilui mya gresnago” (“Господи Иисусе
Христе, Сыне Божий, помилуй мя грешнаго”), yang berbahasa
Romania (Gereja Orthodox Patriarkhat Romania): “Doamne
Iisuse Hristoase, Fiul lui Dumnezeu, miluieşte-mă pe mine
păcătosul”.
Sedang Gereja-Gereja Orthodox yang berbahasa Inggris: “O Lord
Jesus Christ, Son of God, have mercy on me a sinner” atau “O
Lord Jesus Christ, have mercy on me”. Yang berbahasa Portogese:
“Senhor Jesus Christo, Deo Fillio, dis culpa, povo nostros”, yang
berbahasa Latin: “Deo Jesus Christus, miserere mei, peccator”
yang berbahasa Mandarin: “Zhu Ye su ji du shang thi zhi zi qing
lian min wo zhe ge zui ren zhu Ye su ji dud u, lian min wo” Juga
Doa Yesus ini bisa didaraskan dalam bahasa-bahasa daerah
setempat, seperti bahasa Jawa: “Duh, Gusti Yesus Kristus Putrane
Allah mugi melasi kwulo tiyang doso meniko”, bahasa Dawan
(Timor): “Usi Yesus Kristus, Uisneno Anah, tamnaukau atoin
asanat”, bahasa Tetun (Timor-Timur): “Nai Yesus Kristus,
Maromak Oan, Sadia ami-ema sala”. Tetapi semua rumusan doa
Yesus itu mempunyai arti yang sama: “Ya Tuhan Yesus Kristus
Anak Allah, kasihanilah hamba orang berdosa ini”.
Seruan dan pendarasan Nama Kudus Yesus dalam Doa Yesus dari
Gereja Orthodox Timur ini sekarang digunakan juga oleh Gereja
Roma Katolik, Anglikan dan Protestan, walaupun dalam bentuk
yang tidak mendalam. Pembahasan mengenai Doa Yesus
dan“hesykhasme” (“Sufisme Kristen Orthodox”) ini memerlukan
tempat tersendiri.
C. Sholat (Sembahyang Harian, Ibadat Harian)
Panggilan Adzan untuk memulai sholat:
(rukuk, tanda salib)
Halumma nasjud wa narka’ lil Malikina wa Ilahina,
(Marilah kita sujud dan rukuk kepada Allah dan raja kita)
Halumma nasjud wa narka’ lil Masihu Malikina wa Ilahina,
12
(Marilah kita sujud dan rukuk kepada Almasih, Allah dan raja kita)
Halumma nasjud wa narka’ lil Masihu Hadza Huwa Malikina wa
Ilahina
Marilah kita sujud dan rukuk kepada Almasih, yang sebenarnya
Allah dan raja kita)
(Kitab Sholat Tujuh Waktu Gereja Orthodox ; Misi Orthodoxia
Indonesia)
Tahukah anda bahwa orang Muslim yang pertama yang
menaklukkan Yerusalem (636), Khalifah Umar bin Khatab,
memasuki Yerusalem dengan damai? Ia disambut oleh Sophronius
I (634-638), Patriarkh dan Uskup Agung Gereja Orthodox
Yerusalem dan diantarkan ke tempat ibadah Kristen yang paling
suci, Gereja Makam Suci (Holy Sepulchere Church). Ketika ia
hendak memasuki tempat suci itu terdengar adzan sholat Dzuhur.
Uskup Sophronius adalah seorang tuan rumah yang penuh hormat,
maka ia bertanya kepada Sang Khalifah: “Tidakkah tuan akan
menjalankan sholat? Akan saya ambilkan sehelai sajadah untuk
Anda dan Anda akan dapat menjalankan sholat di sini”. Sang
Khalifah berpikir sejenak dan berkata: “Terima kasih, tetapi maaf.
Jika saya menjalankan sholat di tempat suci Anda, para ummat saya
akan menirunya dan merebut tempat ini. Saya akan pergi ke tempat
yang agak terpisah”. Maka ia pun pergi menjauh dan menjalankan
sholatnya di tempat yang sekarang merupakan sebuah masjid di
dekat situ. Dari kisah nyata dalam sejarah ini tahulah kita bahwa
Gereja Kristen Perdana sejak awal (sebelum kedatangan pasukan
dan kaum Muslim) sudah melakukan sholat.
Dalam Gereja Orthodox ada dua bentuk Sembahyang Harian yang
mengikuti aturan tertentu ini, yaitu yang mengikuti cara Nabi
Daniel : Tiga Kali sehari (Dan. 6:11-12, Mzm. 55:18), atau juga
mengikuti pola yang dikatakan oleh Nabi Daud: ”Tujuh kali dalam
sehari aku memuji-muji ENGKAU…” (Mzm. 119:164).
Sembahyang tiga kali itu terdiri dari: Pagi, Tengah-Hari, dan Sore
Hari (Mazmur 55:18). Waktu-waktu Sembahyang itu sendiri sudah
dimulai sejak zaman Nabi Musa. Allah memerintahkan agar Imam
Harun mempersembahkan korban binatang dan korban dupa pada
13
“Waktu Pagi” dan “Waktu Senja” (Kel. 29:38-39, 30:7-8).
Barangkali agak asing rupanya, jika orang Kristen berbicara tentang
sholat. Karena kata “Sholat” atau “Sembahyang” itu sendiri jarang
disinggung-sentuh oleh orang Kristen. Padahal jauh sebelum
saudara kita kaum Muslim menggunakan kata ini, orang Kristen
Orthodox telah menggunakan kata “Sholat” saat menunaikan
ibadah. Kata “Sholat” itu sendiri dalam bahasa Arab, serumpun
dengan kata “Zelota” dalam bahasa Arami (Syria) yaitu bahasa
yang digunakan oleh Tuhan Yesus sewaktu hidup di dunia. Dan
bagi ummat Kristen Orthodox Arab yaitu ummat Kristen
Orthodox yang berada di Mesir, Palestina, Yordania, Libanon dan
daerah Timur-Tengah lainnya menggunakan kata “Zelota” tadi
dalam bentuk bahasa Arab “Sholat”, sehingga doa “Bapa kami”
oleh ummat Kristen Orthodox Arab disebut sebagai “Sholattul
Rabbaniyah”. Dengan demikian “Sholat” itu bukanlah datang dari
ummat Islam atau meminjam istilah Islam. Jauh sebelum agama
Islam muncul, istilah Sholat untuk menunaikan ibadah telah
digunakan oleh ummat Kristen Orthodox, tentu saja dalam
penghayatan yang berbeda. Setelah mengerti bahwa istilah
“Sholat” dalam menunaikan ibadah adalah milik ummat Kristen
sendiri, maka tiba saatnya bagi kita untuk membahas landasan
aqidah “Sholat” itu sendiri.
Sebagaimana telah kita ketahui bersama, bahwa Firman itu selalu
tinggal dan qoimah (melekat) satu dalam Diri Allah yang Esa,
dengan demikian daeri kekal sampai kekal Firman itu selalu
bersama-sama dengan Allah (Yoh.1:1; 10:30). Padahal sesuai
dengan pernyataan Injil Yohanes 4:24, bahwa Allah itu adalah Roh,
kalau Allah itu adalah Roh, berarti Allah itu tak bertubuh
jasmaniah, tak beragawiah, tak bertulang dan tak mempunyai
darah. Ini menunjuk pada pengertian bahwa Firman yang tinggal
melekat dari kekal sampai kekal di dalam Allahpun juga tak
mempunyai tubuh, tak mempunyai raga, tak mempunyai tulang
dan tak mempunyai darah. Firman yang tinggal melekat dalam diri
Allah, sesuai dengan janji Allah terhadap manusia telah nuzul ke
jagad dan menjelma menjadi manusia (Yoh.1:14) melalui Sang
Dara Maria dengan sebutan Yoshua Ha Massiha, Isho Messiha
14
atau Isa Al Masih dan yang lebih dikenal dengan sebutan Yesus
Kristus.
Menurut pandangan Gereja Perdana atau yang lebih dikenal
dengan sebutan “Gereja Orthodox”, bahwa untuk menyatu dan
manunggal dengan Kristus, tidaklah dapat dilakukan berdasarkan
kekuatan sendiri, namun itu harus dilakukan melalui sarana-sarana
yang disediakan dalam Gereja. Sarana-sarana tersebut adalah
bersifat sakramental, karena melalui sakramen-sakramen itulah kita
secara mistika telah disatukan dengan Kristus. Ini nyata sekali
kalau kita melihat dalam “Sakramen Baptisan”. Pada saat kita
dibaptis, kita telah disatukan dengan penyaliban, kematian dan
kebangkitan Kristus (Rm.6:3-4), serta menunggal dalam kehidupan
Kristus dalam Roh Kudus yang diturunkan pada hari Pentakosta,
melalui pengurapan kudus dalam “Sakramen Krisma” hingga
hidup kekal termeterai dalam diri kita sebagai orang percaya
(Kis.8:14-17; 2:1-4; Ef.1:13; II Kor.1:21-22; I Yoh.2:27). Agar
pemanunggalan kita dengan Sang Firman Menjelma itu tetap
terjaga, maka perlu sekali untuk mengambil bagian dalam
“Sakramen Perjamuan Kudus” (“Sakramen Ekaristi Kudus”).
Karena dalam sakramen ini, “roti” itu bukan sekedar roti namun
itu adalah benar-benar “Tubuh Kristus”, demikian juga “anggur”
itu bukan sekedar anggur namun benar-benar “Darah Kristus”.
Dengan demikian jelas, bahwa dengan mengambil Sakramen
Perjamuan Kudus itu, orang percaya masuk dalam hidup Kristus
itu sendiri (Mat. 26:26-28; I Kor. 10:16-17; 11:24-30). Dan supaya
dalam melakukan sakramen ini tak terkotori oleh dosa, maka
“Sakramen Pengakuan Dosa” perlu dilakukan disini (Mat.16:19;
18:18; Yoh. 20:22-23), dan masih ada lagi yang lain yang bersifat
sakramental yang dilakukan dalam penghayatan kehidupan Iman
Kristen Orthodox sebagai manifestasi penyatuan dengan kematian
dan kebangkitan Yesus Kristus itu terutama terutama dalam
“Sakramen Perjamuan Kudus”, sehingga Perjamuan Kudus itu
disamping sebagai landasan dan sumber kesatuan ummat Gereja (I
Kor. 10:16-17), ini juga sebagai sumber dan tujuan dari semua asal
dan gerak dan sakramen Gereja, termasuk pula ibadah-ibadah yang
lain yang tak bersifat sakramental, misalnya puasa, naik haji
(berziarah) ke tanah suci Palestina menjelang perayaan Paskah
15
(Pekan Kudus) dan sholat. Jadi sholat itu muncul bukan atas dasar
reka-rekaan individu, namun itu muncul berdasarkan makna
Inkarnasi Sang Sabda itu sendiri.Baik dalam Perjanjian Lama
maupun Perjanjian Baru menjelaskan apa dan bagaimana langkah
dan gerak dalam menunaikan sholat. Dalam Kitab 2Tawarikh 6:12
misalnya, disebutkan bahwa sikap sholat itu berdiri dan
menadahkan tangan. Kitab Ezra juga menandaskan bahwa berlutut
dan bersujud menjadi bagian dalam sikap sholat (Ezra 9:5). St.
Markus dalam Injilnya menyebutkan : “Dan jika kamu berdiri
untuk berdoa…“ (Mrk.11:25), “Demikian kata Yesus lalu Ia
menengadah ke langit dan berkata : “Bapa…“ (Yoh.17:1),
“…supaya dimana-mana orang laki-laki berdoa dengan
menadahkan tangan yang suci …“ (I Tim.2:8), “…Paulus berlutut
dan berdoa bersama-sama dengan mereka…“ (Kis.20:36), “…lalu
ia berlutut dan berdoa…“ (Luk.22:41), ”Maka Ia maju sedikit, lalu
sujud dan berdoa” (Mat.26:39), “Ia maju sedikit, merebahkan diri
ke tanah dan berdoa…“ (Mrk.14:35), “Itulah sebabnya aku sujud
kepada Bapa” (Ef.3:14), “maka tersungkurlah…di hadapana
Dia…dan menyembah Dia…“ (Why.4:10).
Jadi jelas kalau demikian bahwa sikap sholat menurut Alkitab dan
Gereja adalah berdiri, menengadah ke langit, menadahkan tangan,
berlutut (membungkukkan tubuh) dan sujud (merebahkan diri ke
tanah), dan sikap sholat seperti itu tetap terjaga dan terpelihara
dalam Gereja Perdana atau Gereja Orthodox sampai kini, serta
diikut lestarikan oleh agama Islam yang muncul kemudian.
Di sisi lain perlu dijelaskan di sini, bahwa dalam Gereja Orthodox
sesuai dengan data-data Alkitab baik Perjanjian Lama maupun
Perjanjian Baru, menyebutkan bahwa sholat itu dilakukan 7 kali
dalam sehari (Mzm.119:164) berdasarkan urutan waktu dan
masing-masing sholat itu mempunyai makna theologis di sekitar
Inkarnasi Sang Sabda dan karyaNya, sedangkan nama-nama sholat
tersebut adalah sebagai berikut :
1. “Sholat Jam Pertama” (“Sembahyang Singsing Fajar”,
“Orthros”, “Prima”, “Laudes”) atau “Sholatus Sa’atul Awwal”
(“Sholatus Shakhar”), yaitu ibadah pagi sebanding dengan “Sholat
16
Subuh” dalam agama Islam (jam 5-6 pagi). Data ini diambil dari
Kitab Keluaran 29:38-41 berkenaan dengan ibadah korban pagi
dan petang, yang dalam Gereja dihayati sebagai peringatan lahirnya
Sang Sabda Menjelma sebagai Sang Terang Dunia (Yoh.8:12).
2. “Sholat Jam Ketiga” (“Sembahyang Jam Ketiga”, “Tercia”) atau
“Sholatus Sa’atus Tsalitsu”, sholat ini sebanding dengan “Sholat
Dhuha” dalam agama Islam meskipun bukan sholat wajib (jam 911 pagi). Ini terungkap dalam Kitab Kisah Para Rasul 2:1,15 yang
mempunyai pengertian penyaliban Yesus dan juga turunnya Sang
Roh Kudus (Mrk.15:25; Kis.2:1-12,15). Itu sebabnya dengan sholat
ini, kita teringatkan agar mempunyai tekad dan kerinduan untuk
menyalibkan dan memerangi hawa nafsu sendiri, agar rahmat Allah
dalam Roh Kudus melimpah dalam hidup.
3. “Sholat Jam Keenam” (“Sembahyang Jam Keenam”, “Sexta”)
atau “Sholatus Sa’atus Sadis”. Ini nyata terlihat dalam Kisah Para
Rasul 10:9 dan sholat ini sebanding dengan “Sholat Dzuhur”
dalam agama Islam (jam 12-1 tengah hari), yang mempunyai
makna sebagai peringatan akan penderitaan Kristus di atas salib
(Luk.23:44-45), dan pencuri yang disalib bersama-sama Kristus
bertobat. Berpijak dari makna ini, kitapun diharapkan seperti
pencuri selalu ingat akan hidup pertobatan dan selalu memohon
rahmat Ilahi agar mampu mencapai tujuan hidup yaitu masuk
dalam kerajaan Allah.
4. “Sholat Jam Kesembilan” (“Sembahyang Jam Kesembilan”,
“Nona”) atau “Sholatus Sa’atus Tis’ah” (Kis.3:1) sebanding dengan
“Sholat Asyar” dalam agama Islam (jam 3-4 sore). Sholat ini
dilakukan untuk mengingatkan saat Kristus menghembuskan nafas
terakhirNya di atas salib (Mrk.15:34-38), sekaligus untuk
mengingatkan bahwa kematian Kristus di atas salib adalah untuk
menebus dosa-dosa, agar manusia dapat melihat dan merasakan
rahmat Ilahi.
5. “Sholat Senja” (“Sembahyang Senja”, “Hesperinos”,
“Vesperus”,“Vespers”) atau “Sholatul Ghurub”. Sholat ini
sebanding dengan “Sholat Maghrib” dalam agama Islam (kira-kira
17
jam 6 sore), sama seperti sholat jam pertama, sholat ini dilatar
belakangi oleh ibadah korban pagi dan petang yang terdapat dalam
Kitab Keluaran 29:38-41. Makna dan tujuan sholat ini adalah
untuk memperingati ketika Kristus berada dalam kubur dan
bangkit pada esok harinya, seperti halnya matahari tenggelam
dalam kegelapan untuk terbit pada esok harinya.
6. “Sholat Purna Bujana” (“Sholat Tidur”, “Apodipnon”,
“Completorium”, “Compline”) atau “Sholatul Naum” (Mzm.4:9).
Sholat ini sebanding dengan “Sholat Isya” dalam agama Islam (jam
8-12 malam), yang mempunyai makna untuk mengingatkan bahwa
pada saat malam seperti inilah Kristus tergeletak dalam kuburan
dan tidur yang akan dilakukan itu adalah gambaran dari kematian
itu.
7. “Sholat Tengah Malam” (“Sembahyang Ratri Madya”,
“Agrypnia”, “Matinus”, “Vigil”) atau“Sholatul Lail” atau “Sholat
Satar” (Kis.16:25). Sholat ini sebanding dengan “Sholat Tahajjud”
dalam agama Islam. Sholat tengah malam ini mengandung
pengertian bahwa Kristus akan datang seperti pencuri di tengah
malam (Mat.24:42; Luk.21:26; Why.16:15), hingga demikian hal itu
mengingatkan orang percaya untuk tetap selalu berjaga-jaga dalam
menghidupi imannya (2 Kor.6:4-5 – “berjaga-jaga” = “agrypniais”
; berasal dari kata “agrypnia” artinya “sembahyang malam tanpa
tidur” atau “sembahyang tengah malam dengan meninggalkan saat
tidur”).
Dalam Gereja Orthodox, sholat tujuh kali sehari ini dikenal
sebagai “Sholat Nabi Daud” berdasarkan Mazmur 119:164,
mencontoh kebiasaan Nabi Daud berdoa, lalu dijadikan sebagai
pola waktu-waktu sembahyang ummat Kristen Purba. Namun
disamping itu Gereja Orthodox juga mengenal sholat tiga kali
sehari bagi mereka yang memang tak cukup waktu, yang dikenal
sebagai “Sholat Nabi Daniel”, sesuai dengan Kitab Mazmur 55:18
dan Kitab Daniel 6:11.
Sebelum melakukan ibadah sholat tersebut di atas, menurut Tradisi
Gereja dan Alkitab, sebagaimana saudara kita kaum Muslim jika
18
mau sholat harus “bersuci” lebih dulu, ummat Kristen
Orthodoxpun juga “bersuci” sebelum menunaikan sholat yaitu
dengan jalan membasuh telapak tangan, membasuh wajah dan
kepala, membasuh tungkai kaki, serta seluruh kaki. Ini semua
tertulis dalam Kitab Mazmur 26:1-12. Sedangkan “kiblat” sewaktu
sholat adalah menghadap ke Timur. Karena Ka’bah Baitullah di
Yerusalem itu digenapi oleh Kristus sendiri (Yoh.2:9-21), artinya
Yesus Kristuslah sekarang Ka’bah atau Baitullah yang hidup itu.
Dengan demikian orang Kristen harus berkiblat kepadaNyalah jika
bersholat. Padahal dalam realita Yesus itu sesuai dengan surat
Filipi 3:20 berada di sorga, jadi kiblatnya bukan arah mata-angin
maupun dunia ini, namun untuk menimbulkan lambang kiblat itu
di sorga. Kitab Suci menyebut Eden sebagai lambang sorga itu
berada di sebelah Timur (Kej.2:8), maka ke arah Timur itulah
kiblat sholat dilakukan. Di sisi lain karena Kristus nanti datang dari
arah Timur ke Barat (Mat.24:27), dengan menghadap ke Timur
saat sholat menunjukkan arti bahwa orang percaya selalu
mengharapkan kedatangan Kristus yang kedua kali.
Dari segenap uraian yang terungkap di atas jelaslah sudah bahwa
meskipun makna dan tujuan doa sholat adalah untuk menyatukan
ummat percaya pada Allah, namun Gereja Orthodox sepanjang
sejarahnya tahu menempatkan mana yang doa dan mana yang
sholat. Itulah sebabnya bagi ummat Kristen Orthodox jika
mendengar istilah “Sholat” bukanlah hal yang baru, karena
“Sholat” adalah bagian ibadah yang selalu terjaga dan dilakukan
dalam Gereja dari abad-abad permulaan sampai sekarang.
19
Berbagai Simbol:
(†) Membuat Tanda Salib (Signum Crucis).
(₰) Membungkukkan Badan (Ruku’).
(Ϫ) Sujud Menyembah.
(♪) Dikidungkan.
(‡) Mengangkat Tangan.
P: Presbyter (Imam Gerejawi).
L: Leader (Pemimpin Typica).
J: Jemaat/Umat.
20
Download