PENGARUH TERPAAN TAYANGAN `JIKA AKU

advertisement
1
PENGARUH TERPAAN TAYANGAN ‘JIKA AKU MENJADI’
TERHADAP EMPATI REMAJA
(Kasus Siswa SMA Negeri 1 Dramaga, Bogor)
PUTRI RIZKIA
I34060368
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
2
ABSTRACT
This study aims to determine the level of exposure influence ‘Jika Aku Menjadi’
among adolescents, factors that influence it, and learn empathy against the poverty annoy
adolescents as a result of exposure influence ‘Jika Aku Menjadi’, both cognitive and affective.
The research held on SMA Negeri 1 Dramaga, Jl Babakan Dramaga No. 122, Bogor, on
April to Mei 2010. Population are adolescent who is student, include ten and eleven grade of
high school. Sample (70 respondents) was selected by simple random sampling method. This
research used survey method such as questionnaire. The correlation relationship among the
variable was obtained using Rank Spearman test and Chi Square test trougth SPSS 16.0 for
windows. The results showed that: 1) research indicates that respondent watched ‘Jika Aku
Menjadi’ with sufficient frequency (3 to 5 times a month) and high duration (more than 40
minutes). Internal factor influencing adolescent exposure ‘Jika Aku Menjadi’ is ranked in the
classroom, while the external factor is the extracurricular activities. 2) Overall, respondents
have the high empathy of cognitive and affective against the poverty after watched ‘Jika Aku
Menjadi’. Respondents that have high empathy of cognitive and affective against the poverty
said they better understand what had happened to the poor around them, the more grateful in
their life, more respect to the others, more eager to help poor peoples, dan never give up in
their life.
Keyword: exposure, ’Jika Aku Menjadi’, and empathy
3
RINGKASAN
PUTRI RIZKIA. PENGARUH TERPAAN TAYANGAN ‘JIKA AKU MENJADI’
TERHADAP EMPATI REMAJA, Kasus Siswa SMA Negeri 1 Dramaga (Di bawah
bimbingan DJUARA P. LUBIS).
Bila beberapa tahun lalu masyarakat Indonesia dijejali acara sinetron dan infotainment,
maka kini televisi mulai menyodorkan format acara yang lebih menarik dan berbeda, yaitu
reality show. Reality show yang diteliti dalam penelitian ini adalah ‘Jika Aku Menjadi’ di
Trans TV. ‘Jika Aku Menjadi’ adalah program acara yang menyuguhkan informasi langsung
sekitar kehidupan kalangan kelas bawah sehingga dapat memperkenalkan penonton pada
kehidupan orang kecil seperti apa adanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat
terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ di kalangan remaja dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya dan mengetahui empati remaja terhadap kemiskinan sebagai akibat terpaan
tayangan ‘Jika Aku Menjadi’.
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Dramaga (Jalan Babakan Dramaga No. 122,
Bogor). Lokasi ini penulis pilih secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan kemudahan
akses karena lokasi ini dekat dengan kampus. Penelitian ini dilakukan pada bulan April
hingga Mei 2010. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan kuesioner sebagai alat
pengumpulan data. Populasi penelitian adalah siswa kelas X dan XI SMAN 1 Dramaga, dari
hasil pengambilan sampel secara simple random sampling diperoleh 70 responden. Analisis
hubungan menggunakan uji Chi Square dan Rank Spearman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja yang berjenis kelamin perempuan,
berdomisili di kota, memiliki uang saku sedang, dan mengikuti banyak kegiatan
ekstrakurikuler di sekolahnya memiliki persentase lebih besar menonton ‘Jika Aku Menjadi’
dibandingkan yang tidak menonton ‘Jika Aku Menjadi’. Secara keseluruhan, remaja memiliki
frekuensi menonton tergolong sedang (tiga sampai lima kali dalam sebulan) dan durasi
menonton tergolong tinggi (lebih dari 40 menit). Terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal remaja. Faktor internal remaja yang
mempengaruhi terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ adalah peringkat di kelas. Semakin
tinggi peringkat remaja di kelas, semakin tinggi juga frekuensi menonton dan durasi
menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’. Faktor eksternal remaja yang mempengaruhi terpaan
4
tayangan adalah kegiatan ekstrakurikuler. Semakin banyak kegiatan ekstrakurikuler yang
diikuti remaja di sekolahnya, semakin tinggi juga frekuensi menonton dan durasi menonton
tayangan ‘Jika Aku Menjadi’.
Remaja memiliki empati kognitif dan afektif yang tinggi terhadap kemiskinan setelah
menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’. Remaja yang empati kognitif dan afektifnya tinggi
terhadap kemiskinan menyatakan mereka lebih memahami apa yang dialami orang miskin di
sekitar mereka, semakin bersyukur dalam menjalani hidup, lebih menghargai orang lain,
semakin bersemangat ingin membantu orang miskin, dan tidak ingin mudah putus asa. Pada
episode “Pembuat Gelang Simpay”, remaja memiliki tingkat empati pada kognitif dan afektif
yang tinggi terhadap kemiskinan setelah menonton tayangan episode tersebut.
5
PENGARUH TERPAAN TAYANGAN ‘JIKA AKU MENJADI’
TERHADAP EMPATI REMAJA
(Kasus Siswa SMA Negeri 1 Dramaga, Bogor)
PUTRI RIZKIA
I34060368
SKRIPSI
sebagai syarat untuk mendapatkan gelar
Sarjana Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
pada
Fakultas Ekologi Manusia
Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
6
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh:
Nama
: Putri Rizkia
NRP
: I34060368
Judul
: Pengaruh Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ terhadap Empati Remaja
(Kasus Siswa SMA Negeri 1 Dramaga, Bogor)
dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Komunikasi
dan Pengembangan Masyarakat pada Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Menyetujui,
Dosen Pembimbing
Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS.
NIP. 19600315 198503 1 002
Mengetahui,
Ketua Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Dr. Ir. Soeryo Adiwibowo, MS
NIP. 19550630 198103 1 003
Tanggal Lulus Ujian:_____________________
7
PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL
“PENGARUH TERPAAN TAYANGAN ‘JIKA AKU MENJADI’ TERHADAP
EMPATI REMAJA (KASUS SISWA SMA NEGERI 1 DRAMAGA, BOGOR)”
BENAR-BENAR MERUPAKAN HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN BELUM
PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU
LEMBAGA MANAPUN. DEMIKIAN PERNYATAAN INI SAYA BUAT DENGAN
SESUNGGUHNYA DAN SAYA BERSEDIA BERTANGGUNGJAWAB ATAS
PERNYATAAN INI.
Bogor, Agustus 2010
Putri Rizkia
I34060368
8
RIWAYAT HIDUP
Penulis lahir di Indramayu, 16 Mei 1988 sebagai anak pertama dari tiga bersaudara
pasangan Bapak Andre Indra Permana dan Ibu Raedah. Penulis mengawali pendidikannya di
Taman Kanak-kanak “Kumbang” Persit Kartika Chandra Kirana Ranting 5 Yon Zikon Jakarta
Selatan tahun 1993-1994. Penulis melanjutkan pendidikannya di Sekolah Dasar Negeri 7/83
Girian Weru, Sulawesi Utara dan lulus pada tahun 2000, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
Negeri 1 Kandanghaur dan lulus tahun 2003, dan Sekolah Menengah Atas Negeri 1
Rangkasbitung dan lulus pada tahun 2006.
Pada tahun 2006 penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor melalui
jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) dan memilih mayor Sains Komunikasi dan
Pengembangan Masyarakat dengan minor Ilmu Konsumen, Fakultas Ekologi Masyarakat,
Institut Pertanian Bogor pada tahun 2007. Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif dalam
kegiatan kemahasiswaan, yaitu HIMASIERA (Himpunan Mahasiswa Pecinta Ilmu
Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat) divisi Public Relation periode 2008-2009.
9
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan kehendakNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Terpaan Tayangan ‘Jika
Aku Menjadi’ terhadap Empati Remaja (Kasus Siswa SMA Negeri 1 Dramaga, Bogor)”.
Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains
Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian
Bogor.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat terpaan tayangan ‘Jika Aku
Menjadi’ di kalangan remaja dan faktor-faktor yang mempengaruhinya dan mengetahui
empati remaja terhadap kemiskinan sebagai akibat terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’.
Akhirnya, penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Bogor, Agustus 2010
Penulis
10
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulisan skripsi ini telah berhasil diselesaikan dan tidak lepas dari bantuan,
bimbingan, petunjuk, saran, dan kritik dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan
ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam
penyelesaian skripsi, antara lain:
1.
Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS sebagai dosen pembimbing, atas bimbingan, waktu, koreksi,
kesabaran dan pemikiran yang sangat berharga sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
2.
Dr. Ir. Sarwititi S. Agung, MS atas kesediaannya menjadi dosen penguji utama pada ujian
skripsi penulis.
3.
Ir. Dwi Sadono, MSi atas kesediaannya menjadi dosen penguji wakil Departemen Sains
Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat.
4.
Kepala SMAN 1 Dramaga, Dra. Tri Utami, MM dan seluruh guru serta siswa kelas X dan
XI yang telah membantu dan mendukung selama penelitian berlangsung.
5.
Papa, Mama tercinta, dan kedua adikku: Happy dan Martin tersayang, yang selalu
menjadi inspirasi dalam hidup penulis, menemani dengan doa dan kasih sayang, dan
selalu memberi semangat luar biasa yang tidak pernah putus.
6.
Mami, Papi, Grace, Sandra, Agnes, yang selalu memberi semangat, doa dan kasih
sayangnya kepada penulis selama berada di Bogor.
7.
Robin Napitupulu sebagai ’teman’ dalam segala hal, yang selalu menemani dengan doa,
kasih sayang, dan semangat kepada penulis.
8.
Teman-temanku: Larissa, Andre (Menehe 43), Ratna (Mate 43), Dimas, yang sudah
menjadi teman keluh-kesah selama penyelesaian skripsi ini.
9.
Teman-teman kos ”Rumah Guru Pardesi”: Kak Dita, Kak Inggi, Kak Novi, Kak Yogi
(Zimbabwe), Ratna, Echa, Ferry, Mba Fatma, Mba Oji, atas doa, semangat, dan
kebersamaannya.
10. Desni Utami dan Nirmala Dewi sebagai teman satu bimbingan atas semangat dan doanya.
11. Teman-teman KPM 43 atas kebersamaan kita selama ini, khususnya Ogi, Bedil, Fajar,
Amel, Ayu, dan Dya.
11
12. Kakak-kakak KPM 42: Kak Vbee, Kak Acit, Kak Anyes, dan Kak Metri, Kak Uthe, atas
semangat, doa, dan masukan kepada penulis.
13. Seluruh staf pengajar Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
yang telah memberikan ilmu dan berbagi pengalaman.
14. Segala pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu penyelesaian
skripsi ini.
12
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI .............................................................................................. xi
DAFTAR TABEL ...................................................................................... xiv
DAFTAR GAMBAR ................................................................................. xv
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1
1.1
1.2
1.3
1.4
Latar Belakang .....................................................................................
Perumusan Masalah..............................................................................
Tujuan Penelitian..................................................................................
Kegunaan Penelitian.............................................................................
1
5
6
6
BAB II PENDEKATAN TEORITIS ....................................................... 7
2.1 Tinjauan Pustaka ..................................................................................
2.1.1 Komunikasi Massa. .....................................................................
2.1.2 Televisi dan Perkembangannya...................................................
2.1.3 Program Acara Televisi...............................................................
2.1.4 Terpaan Media (Media Exposure)...............................................
2.1.5 Hubungan Faktor Internal dan Eksternal Remaja dengan
Terpaan Media Televisi……………............................................
2.1.6 Empati .........................................................................................
2.1.7 Remaja.........................................................................................
2.2 Kerangka Pemikiran .............................................................................
2.3 Hipotesis Penelitian..............................................................................
2.4 Definisi Operasional.............................................................................
7
7
12
18
28
30
36
41
45
45
46
BAB III PENDEKATAN LAPANGAN................................................... 50
3.1
3.2
3.3
3.4
Metode Penelitian.................................................................................
Lokasi dan Waktu Penelitian................................................................
Teknik Pengumpulan Data ...................................................................
Teknik Analisis Data ............................................................................
50
50
50
52
BAB IV DESKRIPSI UMUM PROGRAM DAN
SMA NEGERI 1 DRAMAGA ................................................. 55
4.1 Profil Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’.................................................... 55
4.2 Profil SMA Negeri 1 Dramaga............................................................. 57
4.3 Profil Siswa Kelas X dan XI SMA Negeri 1 Dramaga ........................ 58
13
4.3.1 Jenis Kelamin ..............................................................................
4.3.2 Domisili .......................................................................................
4.3.3 Uang Saku ...................................................................................
4.3.4 Kegiatan Ekstrakurikuler.............................................................
4.4 Profil Responden ..................................................................................
4.4.1 Jenis Kelamin ..............................................................................
4.4.2 Motivasi Menonton .....................................................................
4.4.3 Peringkat di Kelas .......................................................................
4.4.4 Domisili .......................................................................................
4.4.5 Uang Saku ...................................................................................
4.4.6 Kegiatan Ekstrakurikuler.............................................................
4.4.7 Pekerjaan Orang Tua ...................................................................
4.4.8 Pendapatan Orang Tua ................................................................
59
59
59
60
60
62
62
62
63
64
64
64
65
BAB V TERPAAN TAYANGAN ‘JIKA AKU MENJADI’ DAN
FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA ....... 66
5.1 Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’................................................
5.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terpaan Tayangan
‘Jika Aku Menjadi’...............................................................................
5.2.1 Pengaruh Faktor Internal terhadap Terpaan Tayangan
‘Jika Aku Menjadi’ .....................................................................
5.2.1.1 Hubungan Jenis Kelamin dengan Terpaan
Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’.........................................
5.2.1.2 Hubungan Motivasi Menonton dengan Terpaan
Tayangan‘Jika Aku Menjadi’..........................................
5.2.1.3 Hubungan Peringkat di Kelas dengan Terpaan
Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’.........................................
5.2.2 Pengaruh Faktor Eksternal terhadap Terpaan Tayangan
‘Jika Aku Menjadi’ .....................................................................
5.2.2.1 Hubungan Domisili dengan Terpaan Tayangan
‘Jika Aku Menjadi’ .........................................................
5.2.2.2 Hubungan Uang Saku dengan Terpaan Tayangan
‘Jika Aku Menjadi’ .........................................................
5.2.2.3 Hubungan Kegiatan Ekstrakurikuler dengan
Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’...........................
5.2.2.4 Hubungan Pekerjaan Orang Tua dengan
Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’...........................
5.2.2.5 Hubungan Pendapatan Orang Tua dengan
Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’...........................
5.3 Resume .................................................................................................
66
67
68
68
69
70
70
71
72
72
73
74
75
14
BAB VI EMPATI REMAJA TERHADAP KEMISKINAN
SEBAGAI AKIBAT TERPAAN TAYANGAN
‘JIKA AKU MENJADI’........................................................... 76
6.1 Empati Remaja terhadap Kemiskinan Sebagai Akibat
Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’................................................
6.2 Hubungan Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ dengan
Empati Remaja (Kognitf dan Afektif) .................................................
6.2.1 Hubungan Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
dengan Kognitif ..........................................................................
6.2.1.1 Hubungan Frekuensi Menonton dengan Kognitif...........
6.2.1.2 Hubungan Durasi Menonton dengan Kognitif................
6.2.2 Hubungan Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
dengan Afektif ............................................................................
6.2.2.1 Hubungan Frekuensi Menonton dengan Afektif.............
6.2.2.2 Hubungan Durasi Menonton dengan Afektif..................
6.2.3 Tayangan ’Jika Aku Menjadi’ Episode ”Pembuat
Gelang Simpay” (Sabtu, 1 Mei 2010 Pukul 17.30 WIB)............
6.3 Resume .................................................................................................
76
79
79
80
81
82
82
83
83
85
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ................................................. 86
7.1 Kesimpulan........................................................................................... 86
7.2 Saran ..................................................................................................... 87
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 88
LAMPIRAN ............................................................................................... 91
15
DAFTAR TABEL
Nomor
Halaman
1.
Perbedaan Hard news dan Soft news Berdasarkan Sifatnya ............
21
2.
Jumlah dan Persentase Siswa Kelas X dan XI SMAN 1
Dramaga Berdasarkan Jenis Kelamin, Domisili, Uang Saku,
Dan Kegiatan Ekstrakurikuler .........................................................
58
Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan
Jenis Kelamin, Motivasi Menonton, Peringkat di Kelas,
Domisili, Uang Saku, Kegiatan Ekstrakurikuler, Pekerjaan
Orang Tua, dan Pendapatan Orang Tua...........................................
61
Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan
Frekuensi Menonton dan Durasi Menonton Tayangan
‘Jika Aku Menjadi’ ..........................................................................
66
Nilai Uji Chi Square dan Rank Spearman Hubungan
antara Faktor Internal Remaja dengan Terpaan
Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ .........................................................
68
Nilai Uji Chi Square dan Rank Spearman Hubungan
antara Faktor Eksternal Remaja dengan Terpaan
Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ .........................................................
71
Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan
Empati Remaja (Kognitif dan Afektif)
terhadap Kemiskinan .......................................................................
76
Nilai Uji Rank Spearman Hubungan antara Terpaan
Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ dengan Empati Remaja
(Kognitif dan Afektif) terhadap Kemiskinan...................................
79
Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan
Empati Remaja (Kognitif dan Afektif) terhadap
Kemiskinan Episode “Pembuat Gelang Simpay”............................
84
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
16
DAFTAR GAMBAR
Nomor
1.
Halaman
Kerangka Pemikiran Pengaruh Terpaan Tayangan
‘Jika Aku Menjadi’ terhadap Empati Remaja……………………...
45
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Media komunikasi dewasa ini berkembang sedemikian pesatnya dengan menawarkan
sumber-sumber informasi yang amat luas. Kehebatan teknologi komunikasi menyebabkan
berbagai informasi dapat disampaikan dengan mudah. Globalisasi informasi jelas melahirkan
satu efek sosial yang bermuatan perubahan nilai-nilai sosial dan budaya manusia.
Pada zaman sekarang ini, dalam rangka melancarkan arus komunikasi, media
komunikasi memegang peranan yang sangat penting dalam penyebaran informasi dan salah
satu upaya yang dilakukan oleh manusia sebagai khalayak dari media massa dalam memenuhi
segala kebutuhan akan informasi dan hiburannya adalah dengan memanfaatkan media massa
yang ada.
Media massa merupakan alat yang digunakan untuk menyampaikan informasi dari
pengirim ke penerima dengan menggunakan alat yang biasa disebut dengan media cetak atau
elektronik untuk masyarakat dalam jumlah besar secara bersamaan atau serentak dan dalam
waktu yang cepat. Media massa terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu media cetak (seperti
majalah, tabloid, surat kabar) dan media elektronik (seperti radio, internet, dan televisi).
Televisi merupakan media massa elektronik yang dianggap paling efektif
dibandingkan dengan media massa lainnya, karena media televisi merupakan media audio
visual yang secara langsung dapat memberikan pengaruh terhadap perubahan sikap
khalayaknya. Televisi, menurut Effendy (1999) adalah medium komunikasi jarak jauh dengan
penayangan gambar dan pendengaran suara, baik melalui kawat maupun secara elektronik
magnetik tanpa kawat.
Televisi yang sering disebut sebagai kotak ajaib, telah memberi pengaruh (negatif dan
positif) bagi kehidupan umat manusia. Televisi dengan kekuatannya menciptakan dunia yang
tidak berjarak.1 Televisi sebagai media yang muncul belakangan dibanding media cetak dan
radio ternyata memberikan nilai yang sangat spektakuler dalam sisi-sisi pergaulan hidup
1
http://www.gp-ansor.org/opini/perkembangan-televisi-di-indonesia.html. Diakses tanggal 20 Februari
2010 pukul 16.45.
2
manusia saat ini. Kemampuan televisi dalam menarik perhatian massa, menunjukkan bahwa
media tersebut menguasai jarak secara geografis dan sosiologis.
Hingga saat ini, terdapat banyak stasiun televisi di Indonesia, baik yang berskala
nasional maupun lokal. Ada 11 stasiun televisi nasional yang ada di Indonesia, yaitu TVRI,
RCTI, Indosiar, TPI, ANTV, Trans TV, Trans 7, SCTV, Metro TV, TV ONE dan Global TV.2
Televisi sebagai salah satu media komunikasi memiliki arti penting bagi kehidupan
masyarakat modern. Televisi dalam cakupan pengertian komunikasi massa telah menjadi
institusi sosial yang mempunyai peranan penting dalam memberikan informasi dan hiburan
kepada masyarakat luas. Media televisi menyediakan informasi mengenai politik, ekonomi,
hukum, sosial, dan budaya sampai kriminal, sehingga pemirsa akan selalu terdorong untuk
mencari sesuatu yang tidak diketahuinya, melalui media televisi.
Ramainya persaingan di antara media televisi swasta mendorong para pengusaha dan
pelaku bisnis untuk kreatif membuat acara menarik. Pihak stasiun televisi, di tengah
persaingan yang ketat, berlomba-lomba pula mengemas paket acara siaran yang dapat
menarik penonton dalam jumlah besar. Tujuannya sudah jelas yaitu kepentingan bisnis,
karena melalui tayangan yang menarik perhatian penonton, diselipkan iklan yang merupakan
napas dari eksisnya sebuah industri penyiaran televisi.
Program acara yang berkembang belakangan ini adalah reality show. Kurniawan
(2009) menjelaskan bahwa reality show adalah sebuah program acara yang isinya
mendokumentasikan kehidupan seseorang atau peristiwa yang tidak direkayasa sama sekali
dan mendokumentasikan rekayasa realitas tanpa skenario dan artis pendukung. Hal ini
menjadikan tayangan yang sifatnya sederhana dan murah dari segi biaya produksi, namun
menarik perhatian banyak penonton dan saat ini menjadi program hiburan yang tengah
populer di kalangan masyarakat Indonesia maupun dunia. Hal ini sejalan dengan hasil survei
yang dikutip oleh Kurniawan (2009) yang menjelaskan bahwa:
“Program reality show kini merajai layar kaca. Pantauan AGB Nielsen Media
Research di 10 kota besar terhadap 11 stasiun TV nasional selama awal
Januari sampai 21 Februari 2009, menunjukkan bahwa penggemar terbanyak
program ini kelompok usia remaja (10-11 tahun) dari kelas AB dengan
penonton 328 ribu. Sebanyak 56 persen dari jumlah itu adalah pemirsa reality
2
http://www.scribd.com/doc/3322945/Perkembangan-Teknologi-Televisi-dan-Industri-Penyiaran.
Diakses tanggal 20 Februari 2010 pukul 19.20.
3
show. Kelompok ini menonton TV 2,5 juta per hari, terbanyak menonton acara
entertainment dan program berseri. Program reality show yang paling laris
ditonton adalah besutan Trans TV. Sebanyak 7 dari 10 program reality show
yang mempunyai rating tertinggi diraih Trans TV”.
Data yang disajikan di atas dapat dijadikan argumentasi awal peneliti bahwa reality
show sekarang sudah merupakan bagian dari hidup manusia. Dahulu, reality show memiliki
konsep yang sederhana. Program ini memotret kehidupan orang awam (bukan selebriti),
kemudian disiarkan dan ditonton oleh banyak orang, serta yang disorot kehidupannya pun
lumayan senang dan yang menonton pun terhibur.
Semakin banyak bermunculannya tayangan seperti ini mungkin karena banyak
peminatnya, ini bisa dilihat tayangan reality show semacam ini ada hampir di seluruh stasiun
televisi nasional Indonesia dan ditayangkan setiap hari. Waktu tayang program-program
tersebut tergolong pada prime time, yakni sore sampai malam hari dimana masyarakat,
terutama remaja biasanya sudah berada di rumah dan menggunakan waktu senggangnya untuk
menonton televisi. Selain itu, penonton yang berada pada segmen ini sangat beragam (tua,
muda, anak-anak dan sebagainya). Stasiun televisi biasanya menempatkan program acara
yang paling bagus pada segmen ini karena jumlah audiensnya besar. Selain itu acara prime
time juga harus bisa dinikmati semua kalangan termasuk anak-anak. Hal ini menunjukkan
betapa populernya jenis-jenis reality show ini.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa program reality show itu sudah
menjadi salah satu program unggulan di hampir seluruh stasiun televisi Indonesia. Hal ini
terlihat dari berkembangnya konsep program reality show di beberapa stasiun televisi yang
bukan hanya menampilkan permasalahan di bidang asmara saja, namun sekarang ini sudah
banyak bermacam reality show di berbagai macam bidang permasalahan seperti di bidang
sosial.
Salah satu reality show yang mendapat respons baik dari para penontonnya dan
menjadi acara reality show yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah acara yang disiarkan
oleh Trans TV, yaitu ‘Jika Aku Menjadi’. ‘Jika Aku Menjadi’ (JAM) merupakan program
yang tayang setiap hari Sabtu dan Minggu pukul 17.30 WIB menayangkan informasi tentang
lika-liku kehidupan orang dengan pekerjaan atau profesi tertentu dari kalangan masyarakat
kelas bawah. Program diharapkan bisa membangkitkan semangat toleransi dan solidaritas
sosial dari masyarakat kelas atas terhadap masyarakat kalangan bawah.
4
“Inilah letak nilai edukasinya, menyuguhkan informasi langsung seputar
kehidupan kalangan kelas bawah (pemulung, nelayan, buruh panggul pasar,
kuli panggul pelabuhan, petani penggarap, penangkap kalong, buruh pemetik
jamur, tukang kayu, tukang ojek sepeda, dan lain-lain). Informasi dalam JAM
ditujukan untuk memberi pemahaman, empati atau simpati pada masyarakat
atas. Tidak dengan cara membagi-bagi uang atau barang atau renovasi rumah
(seperti program di stasiun-stasiun TV lain), tetapi dengan menampilkan
keseharian mereka di rumah, di lingkungan sekitar, di tempat kerja, dan
sebagainya. Si talent dalam tayangan ini harus tinggal setidaknya empat
sampai lima hari dan menjalani hidup seperti orang dari kalangan bawah yang
menjadi narasumbernya. Ia harus mengikuti aktivitas orang itu, mulai dari
pagi, siang, sore, malam (si talent menginap di rumah si narasumber), sampai
pagi lagi. Letak daya tarik tayangan ini adalah mengeksploitasi kelucuan,
kekikukan, kegerahan, ketidaknyamanan, dan “penderitaan” dari talent, dalam
menjalani kehidupan sebagai orang kalangan bawah. Di ujung akhir episode
tayangan, talent menyatakan “kesan-kesannya” dan hikmah yang ia peroleh,
setelah empat sampai lima hari menjalani kehidupan sebagai orang kalangan
bawah.3
Penjelasan tersebut menunjukkan suatu realita sosial, bahwa masih banyak orangorang di sekitar yang kurang mampu, tetapi mereka tetap berusaha untuk mencari nafkah
memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kenyataannya, masih banyak juga masyarakat yang
tidak peduli dan kurang berempati terhadap nasib mereka yang kurang beruntung. Empati
berasal dari bahasa Yunani yang berarti “ketertarikan fisik”, sehingga dapat didefinisikan
sebagai kemampuan seseorang untuk mengenali, mempersepsi, dan merasakan perasaan orang
lain.4 Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fidiyaningrum (2006) diketahui bahwa pengaruh
film yang diputar di televisi (audiovisual) terhadap perubahan sikap sangat besar. Individu
memiliki kecenderungan untuk meniru objek yang telah dilihatnya. Ketika melihat film
“Children of Heaven” yang alur ceritanya sangat “menyentuh” dan dapat membangkitkan
empati penonton, mahasiswa yang terlibat dalam penelitian juga mengalami peningkatan
kecenderungan empatinya.
Sesuai perkembangan usianya, remaja sangat dipengaruhi lingkungannya, termasuk
apa yang mereka tonton di televisi. Oleh karena itu, dalam menyeleksi program-program
tayangan sebaiknya stasiun televisi menyiarkan program-program yang membantu pendidikan
3
4
http://transtv.co.id. Diakses tanggal 19 Februari 2010 pukul 21.50.
http://edukasi.kompasiana.com/2009/10/24/empati-sebuah-resonansi-dari-perasaan/. Diakses tanggal
23 Februari 2010 pukul 21.00.
5
dan perkembangan remaja dan selama ini, penelitian tentang dampak tayangan televisi
terhadap perilaku remaja banyak dilakukan pada remaja di kota.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh terpaan tayangan
‘Jika Aku Menjadi’ terhadap empati remaja (khususnya remaja di desa) dan faktor-faktor
yang mempengaruhinya.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan utama yang diangkat dalam
penelitian adalah apakah terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ mempengaruhi empati remaja.
Perumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Sejauh mana tingkat terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ di kalangan remaja dan faktorfaktor apa saja yang mempengaruhinya?
2.
Sejauh mana empati remaja terhadap kemiskinan sebagai akibat terpaan tayangan ‘Jika
Aku Menjadi’?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah, tujuan utama yang ingin dicapai dalam penelitian
adalah untuk menganalisis pengaruh terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ terhadap empati
remaja. Terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ dan empati remaja tersebut tidak dapat
dipisahkan dari faktor internal dan eksternal remaja yang mempengaruhinya. Oleh karena itu,
tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Mengetahui tingkat terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ di kalangan remaja dan faktorfaktor yang mempengaruhinya.
2.
Mengetahui empati remaja terhadap kemiskinan sebagai akibat terpaan tayangan ‘Jika
Aku Menjadi’.
1.4. Kegunaan Penelitian
1.
Bagi akademisi, penelitian ini dapat menjadi referensi untuk penelitian lebih lanjut
mengenai pengaruh terpaan media terhadap sikap remaja.
6
2.
Bagi pihak stasiun televisi, khususnya Trans TV, penelitian ini menjadi masukan agar
pihak stasiun televisi lebih kreatif lagi dalam membuat konsep program acara yang
menghibur sekaligus mendidik untuk remaja.
3.
Bagi masyarakat, penelitian dapat juga dijadikan masukan dalam mengontrol perilaku
menonton televisi berlebihan yang dilakukan remaja serta semakin selektif dalam
memilih program acara yang layak untuk ditonton.
7
BAB II
PENDEKATAN TEORITIS
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Komunikasi Massa
Manusia melakukan komunikasi dalam aktifitas sehari-hari. Selain itu juga
komunikasi merupakan cara yang efektif untuk saling berinteraksi maupun mempererat
hubungan antar manusia dan juga dapat digunakan untuk memperluas sebaran informasi.
Adapun komunikasi yang melibatkan banyak orang disebut komunikasi massa. Merujuk
pendapat Tan dan Wright yang dikutip oleh Ardianto dan Erdinaya (2004), komunikasi massa
merupakan bentuk komunikasi yang menggunakan saluran (media) dalam menghubungkan
komunikator dan komunikan secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh
(terpencar), sangat heterogen dan menimbulkan efek tertentu. Definisi ini dapat
menggambarkan komunikasi massa secara jelas.
Ahli komunikasi yang mendefinisikan komunikasi dengan memperinci karakteristik
komunikasi massa menurut Gerbner yang dikutip oleh Wiryanto (2000) “Mass
communication is the technologically and institutionally based production and distribution of
the most broadly shared continous flow of messages in industrial societies” (Komunikasi
massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus
pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri).
Berdasarkan definisi Gerbner di atas tergambar bahwa komunikasi massa itu
menghasilkan suatu produk berupa pesan-pesan komunikasi. Produk tersebut disebarkan,
didistribusikan kepada khalayak luas secara terus-menerus dalam jarak waktu yang tetap,
misalnya harian, mingguan, atau bulanan. Proses memproduksi pesan tidak dapat dilakukan
perorangan, melainkan harus lembaga, dan membutuhkan suatu teknologi tertentu sehingga
komunikasi massa banyak dilakukan oleh masyarakat industri.
Joseph A. Devito yang dikutip oleh Wiryanto (2000) mengutarakan definisinya
sebagai berikut:
”Pertama, komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa
atau khalayak luar biasa banyaknya. Ini tidak berarti bahwa khalayak meliputi
seluruh penduduk atau semua orang yang membaca atau semua orang yang
menonton televisi, agaknya ini berarti bahwa khalayak itu besar dan pada
umumnya agak sukar untuk didefinisikan. Kedua, komunikasi massa adalah
8
komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar audio atau visual.
Komunikasi massa barangkali akan lebih mudah dan lebih logis didefinisikan
menurut bentuknya: televisi, radio, surat kabar, majalah, film, buku dan pita”.
Berdasarkan definisi Joseph A. Devito di atas, tergambar bahwa komunikasi massa
dibedakan dari jenis suatu komunikasi lainnya dengan kenyataan bahwa komunikasi massa
dialamatkan kepada sejumlah komunikan dari berbagai kelompok, dan bukan hanya satu atau
beberapa individu atau sebagian khusus populasi. Komunikasi massa juga mempunyai
anggapan tersirat akan adanya alat-alat khusus untuk menyampaikan komunikasi agar
komunikasi itu dapat mencapai pada saat yang sama semua orang yang mewakili berbagai
lapisan masyarakat.
Ada juga pengertian lain dari komunikasi massa yang disampaikan Kuswandi (1998)
yaitu berkomunikasi dengan massa (audiens atau khalayak sasaran). Massa disini
dimaksudkan sebagai para penerima pesan (komunikan) yang memiliki status sosial dan
ekonomi yang heterogen satu sama lain. Pada umumnya, proses komunikasi massa tidak
menghasilkan “feed back” yang langsung, tetapi tertunda dalam waktu relatif. Ciri-ciri massa
yaitu:
1. Jumlahnya besar.
2. Antara individu, tidak ada hubungan atau organisatoris.
3. Memiliki latar belakang sosial yang berbeda.
Dari beberapa definisi mengenai komunikasi massa yang telah dikemukakan oleh
beberapa ahli ilmu komunikasi di atas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan mengenai
definisi komunikasi massa, yaitu sebagai proses komunikasi yang berlangsung di mana pesan
dikirim dari sumber yang melembaga kepada sejumlah besar orang yang sifatnya massal
melalui alat-alat yang bersifat mekanis seperti radio, televisi, surat kabar, majalah, film,
sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat.
Media merupakan pusat perhatian yang dijadikan dalam pembahasan komunikasi
massa. Lembaga-lembaga media menyebarluaskan pesan-pesan yang mempengaruhi dan
mencerminkan budaya masyarakat, dan mereka menyediakan informasi secara bersamaan
pada sejumlah besar audiens yang heterogen dan menjadikan media sebagai bagian dari
kekuatan institusional masyarakat
Ada banyak pendapat yang dikemukakan untuk mengupas fungsi-fungsi komunikasi
massa. Jay Black dan Frederick C. Whitney yang dikutip oleh Nurdin (2007) menyatakan
9
bahwa fungsi komunikasi massa antara lain: 1) to inform (menginformasikan); 2) to entertain
(memberi hiburan); 3) to persuade (membujuk); dan 4) transmission of the cultural (transmisi
budaya).
Komunikasi massa berbeda dengan komunikasi lainnya. Perbedaan itu meliputi
komponen-komponen yang terlibat di dalamnya, juga proses berlangsungnya komunikasi
tersebut. Adapun karakteristik dari komunikasi massa menurut Effendy (2003) adalah sebagai
berikut:
1.
Komunikasi massa berlangsung satu arah
Berbeda dengan komunikasi antarpersonal yang berlangsung dua arah (two-way traffic
communication),
komunikasi
massa
berlangsung
satu
arah
(one-way
traffic
communication). Ini berarti bahwa, tidak terdapat arus balik komunikan kepada
komunikator. Wartawan sebagai komunikator tidak mengetahui tanggapan para
penonton, pendengar, atau pembacanya terhadap pesan atau berita yang disiarkannya itu.
2.
Komunikator pada komunikasi massa melembaga
Media massa sebagai saluran komunikasi massa merupakan lembaga, yakni suatu
institusi atau organisasi. Komunikator pada komunikasi massa, misalnya wartawan surat
kabar atau penyiar televisi karena yang dipergunakannya adalah suatu lembaga dalam
menyebarluaskan pesan komunikasinya bertindak atas nama lembaga, sejalan dengan
kebijaksanaan surat kabar dan stasiun televisi yang diwakilinya. Ia tidak mempunyai
kebebasan individual.
3.
Pesan pada komunikasi massa bersifat umum
Pesan yang disebarkan melalui media massa bersifat umum (public) karena di tujukan
kepada umum dan mengenai kepentingan umum. Jadi, tidak ditujukan kepada perorangan
atau kepada sekelompok orang tertentu. Hal itulah yang antara lain membedakan media
massa dengan media nirmassa.
4.
Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan
Ciri lain dari media massa adalah kemampuannya untuk menimbulkan keserempakan
(stimultaneity) pada pihak khalayak dalam menerima pesan-pesan pada yang disebarkan.
10
Hal inilah yang merupakan ciri paling hakiki dibandingkan dengan media komunikasi
massa lainnya.
5.
Komunikan komunikasi massa bersifat heterogen
Komunikasi atau khalayak yang merupakan kumpulan anggota masyarakat yang terlibat
dalam proses komunikasi massa sebagai sasaran yang dituju komunikator bersifat
heterogen. Keberadaannya terpencar-pencar, di mana satu sama lainnya tidak saling
mengenal dan tidak memiliki kontak pribadi, masing-masing berbeda dalam berbagai hal,
seperti: jenis kelamin, usia, agama, ideologi, pekerjaan, pendidikan, pengalaman,
kebudayaan, pandangan hidup, keinginan, cita-cita, dan lain sebagainya.
Selain memiliki karakteristik, komunikasi massa juga memiliki fungsi bagi
masyarakat. Karlinah yang dikutip oleh Ardianto dan Erdinaya (2004) mengemukakan fungsi
komunikasi massa secara umum adalah:
1.
Fungsi informasi
Fungsi memberikan informasi ini diartikan bahwa media massa adalah penyebar
informasi bagi pembaca, pendengar atau pemirsa. Berbagai informasi yang beragam
dibutuhkan oleh khalayak media massa yang bersangkutan sesuai kepentingan khalayak.
Khalayak sebagai manusia sosial akan selalu merasa haus informasi mengenai segala
sesuatu yang terjadi di sekitarnya.
2.
Fungsi pendidikan
Media massa merupakan sarana pendidikan bagi khalayaknya (mass education), karena
media massa banyak menyajikan hal-hal yang sifatnya mendidik. Salah satu cara
mendidik yang dilakukan media massa adalah melalui pengajaran nilai, etika, serta
aturan-aturan yang berlaku kepada pemirsa atau pembaca. Media massa melakukannya
melalui drama, cerita, diskusi dan artikel.
3.
Fungsi mempengaruhi
Fungsi mempengaruhi dari media massa secara implisit terdapat pada tajuk atau editorial,
features, iklan, artikel, dan lain sebagainya. Khalayak dapat terpengaruh oleh iklan-iklan
yang ditayangkan di televisi ataupun surat kabar.
4.
Fungsi proses pengembangan mental
11
Untuk mengembangkan wawasan, kita membutuhkan berkomunikasi dengan orang lain
dan dengan berkomunikasi, manusia akan bertambah pengetahuannya dan berkembang
intelektualitasnya. Hal tersebut diperoleh dari pengalaman pribadinya dari orang lain.
5.
Fungsi adaptasi lingkungan
Setiap manusia berusaha untuk menyesuaikan diri dengan dunianya untuk dapat bertahan
hidup. Proses komunikasi membantu manusia dalam proses penyesuaian tersebut. Proses
pengiriman pesan oleh komunikator dan penerima pesan oleh komunikan dapat
membantu kita dalam berhubungan dengan orang lain dan saling menyesuaikan diri
sehingga menimbulkan kesamaan makna di antara komunikator dan komunikan.
6.
Fungsi memanipulasi lingkungan
Manipulasi di sini bukanlah diartikan sebagai sesuatu yang negatif. Memanipulasi
lingkungan artinya berusaha untuk saling mempengaruhi dunia dan orang-orang yang
berada di sekitarnya. Dalam fungsi manipulasi, komunikasi digunakan sebagai alat
kontrol utama dan pengaturan lingkungan.
Kata ’massa’ dalam komunikasi massa dapat kita lihat sebagai ”meliputi semua
lapisan masyarakat” atau ”khalayak ramai” dalam berbagai tingkat umur, pendidikan,
keyakinan, dan status sosial. Tentu saja yang terjangkau oleh saluran media massa.
Komunikasi massa berkaitan dengan persoalan efek atau pengaruh terhadap
komunikan atau khalayak. Efek komunikasi massa terhadap khalayak meliputi efek kognitif,
efek afektif, dan efek behavioral. Efek kognitif yaitu bagaimana media massa dapat
membantu khalayak dalam mempelajari informasi yang bermanfaat dan mempertimbangkan
ketrampilan kognitif. Melalui media massa, seseorang yang asalnya tidak tahu menjadi tahu
tentang suatu peristiwa. Efek afektif berhubungan dengan apa yang dirasakan, disenangai atau
dibenci, dan berkaitan dengan emosi, sikap atau nilai. Efek behavioral yaitu perubahan yang
dapat diamati seperti pola-pola tindakan, kegiatan atau kebiasaan berperilaku.
2.1.2 Televisi dan Perkembangannya
Televisi merupakan penemuan termuda dan terakhir, yang baru mulai berkembang
setelah perang dunia kedua dan menempatkan diri sebagai alat komunikasi massa. Televisilah
yang paling berpengaruh pada kehidupan manusia dari semua komunikasi yang ada. Televisi
12
mengalami perkembangan yang dramatis, terutama melalui pertumbuhan televisi kabel.
Wahyudi (1996) mendefinisikan televisi sebagai berikut:
”Televisi berasal dari dua kata yang berbeda, yaitu ’tele’ (Bahasa Yunani)
yang artinya jauh, dan ’visi’ (Videra-Bahasa Latin) yang artinya perhatian.
Televisi dalam bahasa Inggris berarti television yang diartikan melihat jauh.
Melihat jauh disini diartikan dengan melihat gambar, suara yang diproduksi di
suatu tempat (studio televisi), dapat dilihat di tempat lain melalui sebuah
perangkat penerima (televisi set)”.
Munculnya televisi dalam kehidupan manusia memang menghadirkan suatu
peradaban, khususnya dalam proses komunikasi dan informasi yang bersifat massa.
Globalisasi informasi dan komunikasi setiap media massa jelas melahirkan suatu efek sosial
yang bermuatan perubahan nilai-nilai sosial dan budaya manusia.
Televisi sebagai media massa, mempunyai banyak kelebihan dalam penyampaian
pesan-pesannya dibandingkan dengan media massa lain, kerena pesan-pesan yang
disampaikan melalui gambar dan suara secara bersamaan dan hidup, sangat cepat (aktual),
terlebih lagi dalam siaran langsung dan dapat menjangkau yang sangat luas. Televisi sebagai
media massa dapat berfungsi sangat efektif, karena selain dapat menjangkau ruang sangat
luas, dapat juga mencapai massa pemirsa sangat banyak di dalam waktu yang relatif singkat.
Sebagai produk teknologi modern, wajar bila medium televisi sebagai media komunikasi
massa, dalam waktu yang relatif singkat dapat merebut hati masyarakat dunia dan bahkan saat
ini, televisi sudah merupakan kebutuhan hidup bagi sebagian besar keluarga di dunia ini
seperti mereka memerlukan makanan, pakaian, perumahan, dan hiburan.
Televisi dapat juga sebagai media untuk mempengaruhi para pemirsanya, dengan
ditampilkannya tontonan yang menampilkan audio visual sehingga pemirsa dapat benar-benar
mengetahui pesan apa yang disampaikan oleh produsen atau komunikator. Setelah memahami
itulah mengapa televisi dikatakan sebagai media mempengaruhi. Kuswandi (1998)
menyatakan isi pesan media televisi berasal dari sumber resmi tentang sesuatu yang terjadi di
masyarakat. Pendapat sumber resmi ini, apabila sudah ditayangkan akan menimbulkan
pendapat umum.
Televisi sebagai produk teknologi maju dan berkembang sejalan dengan dengan
perkembangan teknologi itu sendiri, telah banyak menyentuh kepentingan umat manusia di
dunia. Siaran televisi banyak mengalami perubahan di masyarakat, karena sifat medium
13
televisi, pesan-pesan yang disampaikan mempunyai daya rangsang cukup tinggi (audio
visual).
Wahyudi (1996) menyatakan televisi adalah produk dari teknologi canggih dan
kemajuannya sendiri sangat bergantung dari kemajuan-kemajuan yang dicapai dibidang
teknologi, khususnya teknologi elektronika. Menurutnya, televisi itu memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:
1.
Bersifat umum.
2. Sasaran dan komunikannya bersifat heterogen, artinya komunikannya berasal dari
berbagai lapisan, latar belakang, dan status sosial yang berbeda.
3.
Hubungan antara komunikator dan komunikannya bersifat non personal menimbulkan
keserempakan, artinya dalam menerima pesan komunikator.
Berdasarkan uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa televisi itu memiliki
ciri-ciri, antara lain bersifat umum; bahwa program acara yang disiarkan sifatnya umum,
mulai dari hiburan, olahraga, musik, film, sinetron dan lain-lain. Sasaran atau komunikannya
bersifat heterogen; televisi bisa menjangkau segala lapisan masyarakat, mulai dari berbagi
kelompok umur, kelas sosial, gaya hidup dan profesi yang semuanya menjadi jangkauan
televisi. Singkatnya, televisi sudah menjadi bagian atau teman hidup untuk mendapatkan
kesenangan, informasi dan hiburan. Hubungan antara komunikator dan komunikannya
bersifat non personal; berbeda dengan radio, pada televisi pesan yang disampaikan bertujuan
untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Menimbulkan keserempakan; pesan yang
diterima oleh satu sama lain bentuk dan isinya sama.
Seperti yang dikatakan oleh Rhenald Kasali yang dikutip oleh Kurniawan (2009),
kekuatan yang dimiliki oleh televisi itu antara lain:
1.
Efisiensi biaya
Banyak yang memandang televisi sebagai media yang paling efektif untuk
menyampaikan pesan komersialnya. Salah satu keunggulannya adalah kemampuan
menjangkau khalayak sasaran yang sangat luas.
2.
Dampak yang kuat
Kemampuannya menimbulkan dampak yang kuat terhadap konsumen, dengan tekanan
pada sekaligus dua indera, yaitu penglihatan dan pendengaran. Televisi juga mampu
14
menciptakan kelenturan bagi pekerjaan-pekerjaan kreatif dengan mengkombinasikan
gerakan, kecantikan, suara, warna, drama dan humor.
3.
Pengaruh yang kuat
Televisi mempunyai kemampuan yang kuat untuk mempengaruhi persepsi khalayak
sasaran. Kebanyakan masyarakat meluangkan waktunya di muka televisi, sebagai sumber
berita, hiburan, dan sarana pendidikan.
Keunggulan televisi yang dinyatakan oleh A. Alatas Fahmi yang dikutip oleh
Kurniawan (2009), yaitu:
1.
Menyangkut isi dan bentuk, media televisi walaupun direkayasa mampu membedakan
fakta dan fiksi, realistis, dan tidak terbatas.
2.
Menyangkut hubungan dengan khalayaknya, media televisi mempunyai khalayak yang
tetap, memerlukan keterlibatan tanpa perhatian sepenuhnya dan intim.
3.
Media televisi memiliki tokoh berwatak (baik riil maupun yang direkayasa), sementara
media lain khususnya film hanya memiliki tokoh yang direkayasa.
Sementara kelemahan televisi, yaitu:
1.
Kecenderungan televisi untuk menempatkan khalayaknya sebagai obyek yang pasif,
sebagai penerima pesan.
2.
Media televisi yang mendorong proses alih nilai dan pengetahuan yang cepat tanpa
mempertimbangkan perbedaan tingkat perkembangan budaya dan peradaban yang ada di
berbagai wilayah jangkauannya.
3.
Media televisi bersifat sangat terbuka dan sulit dikontrol dampak negatifnya karena
kekuatan media itu mampu menyita waktu dan perhatian khalayaknya untuk
meninggalkan aktivitasnya yang lain pada waktu yang bersamaan.
4.
Cepatnya
perkembangan
teknologi
penyiaran
televisi
bergerak
mendahului
perkembangan masyarakat dan budaya khalayaknya di berbagai wilayah yang berbeda.
Dewasa ini televisi boleh dikatakan telah mendominasi hampir semua waktu luang
setiap orang. Hasil penelitian yang pernah dilakukan pada masyarakat Amerika yang dikutip
oleh Kurniawan (2009), ditemukan hampir setiap orang di benua itu menghabiskan waktunya
antara enam sampai dengan tujuh jam per minggu untuk menonton televisi. Waktu yang
paling tinggi terserap adalah pada musim dingin.
15
Menurut Hoffmann yang dikutip oleh Testiandini (2006) fungsi televisi dalam
masyarakat tidak dilihat lagi sebagai sarana pendidikan dan juga tidak seharusnya menjadi
sarana promosi perdagangan. Adapun fungsi televisi adalah:
1.
Pengawasan situasi masyarakat dan dunia
Fungsi ini sering disebut fungsi informasi, namun istilah ini tidak digunakan karena
dikhawatirkan menimbulkan salah paham seakan-akan televisi adalah sebagai sarana
penerangan bagi penguasa kepada masyarakat sesuai kepentingan pemerintah. Fungsi
televisi yang sebenarnya adalah mengamati kejadian yang terjadi dalam masyarakat
kemudian melaporkannya sesuai kenyataan yang ditemukan.
2.
Menghubungkan yang satu dengan yang lain
Televisi dapat saja menghubungkan hasil pengawasan yang satu dengan hasil
pengawasan yang lain secara lebih gampang daripada sebuah dokumen tertulis, dengan
demikian televisi dapat berfungsi sesuai dengan kepentingan masyarakat dan dapat
membuka mata pemirsa.
3.
Menyalurkan kebudayaan
Sebenarnya kebudayaan rakyat sudah cukup terangkat kalau televisi berfungsi sebagai
pengawas masyarakat, akan tetapi diharapkan televisi dalam hal ini lebih proaktif. Fungsi
televisi ini dapat disebut juga sebagai fungsi pendidikan, namun istilah “pendidikan”
tidak digunakan karena di dalam kebudayaan audiovisual tidak ada kurikulum.
4.
Hiburan
Fungsi ini memang dibutuhkan oleh masyarakat, karena kalau tidak menghibur umumnya
sebuah tayangan tidak akan ditonton. Hiburan bukan berarti hiburan semata tanpa ada
sesuatu yang dapat diambil pelajarannya dari suatu program.
5.
Pengarahan masyarakat untuk bertindak dalam keadaan darurat
Fungsi kelima ini sering menjadi bahan diskusi, karena mudah disalahgunakan oleh
seorang penguasa. Pada situasi tertentu, fungsi ini cukup masuk akal. Misalnya, jika
terjadi wabah penyakit di suatu daerah maka televisi bisa saja memberitakan berdasarkan
fungsinya sebagai pengawas.
16
Morrisan (2005) menyatakan siaran televisi di Indonesia dimulai pada tahun 1962,
saat TVRI menayangkan langsung upacara hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke-17
pada tanggal 17 Agustus 1962. Siaran langsung itu masih terhitung sebagai siaran percobaan
dan siaran resminya baru dimulai 24 Agustus 1962 pukul 14.30 WIB yang menyiarkan secara
langsung upacara pembukaan Asian Games ke-4 dari Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Sejak pemerintah Indonesia membuka TVRI, selama 27 tahun penonton televisi di Indonesia
hanya dapat menonton satu saluran televisi.
Zulkarnain (1997) mengatakan sekitar tahun 1975 sudah timbul gagasan untuk
menghadirkan stasiun televisi swasta, akan tetapi hingga tahun 1987 gagasan itu masih bisa
‘diredam’. Salah satu masalah yang dihadapi dalam menghadirkan televisi swasta adalah
belum adanya UU Penyiaran. Ada beberapa hal prinsip yang harus diperhatikan dalam
rancangan UU Penyiaran. Pertama, keberadaan penyiaran radio dan televisi di Indonesia
harus memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi kepentingan nasional Indonesia. Kedua,
sebagai sesuatu yang memiliki nilai strategis untuk mempengaruhi, mengarahkan, dan
membentuk pendapat umum, semua penyiaran radio dan TV perlu mendapat pengaturan yang
jelas. Ketiga, penyiaran berkaitan erat dengan spektrum frekuensi radio dan orbit-geostasioner
yang merupakan sumber daya alam. Pemanfaatannya harus diatur bagi kepentingan bersama.
Keempat, kepentingan khalayak sebagai sasaran penyiaran harus terjamin secara hukum.
Mereka perlu memiliki saluran hukum untuk menyatakan keberatan. Kelima, kepentingan dan
kewajiban penyelenggara siaran harus mendapat jaminan hukum dan diatur dalam perundangundangan sehingga segala sesuatu tidak diatur berdasarkan ‘kebijaksanaan’ semata. Keenam,
peraturan perundang-undangan harus mengatur masalah persaingan antarpenyelenggara siaran
agar tidak merugikan masyarakat. Ketujuh, perkembangan teknologi harus disikapi dengan
mempertahankan dan mengembangkan kemandirian serta jati diri.
Menurut Zulkarnain (1997), bisnis televisi mulai marak tiga tahun terakhir, setelah
keluarnya Surat Keputusan Menteri Penerangan No. 111 tahun 1990. Pada tahun 1988 RCTI
(Rajawali Citra Televisi Indonesia) dizinkan siaran dengan menggunakan decoder, diikuti
SCTV (Surya Citra Televisi) pada tahun 1989. TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) menyusul
pada tahun 1991. Tahun 1993 AN-teve (Andalas Televisi) mengudara secara nasional dari
Jakarta dan tahun 1994 televisi Indosiar Mandiri milik Indo Salim Group pun mengudara.
Morrisan (2005) menambahkan bahwa gerakan reformasi pada tahun 1998 telah memicu
perkembangan industri media massa khususnya televisi. Seiring dengan itu, kebutuhan
17
masyarakat terhadap informasi juga semakin bertambah. Menjelang tahun 2000, muncul
hampir secara serentak lima televisi swasta baru, yaitu Metro, Trans 7, TV-7, TV ONE, dan
Global TV, serta beberapa televisi daerah yang saat ini jumlahnya mencapai puluhan stasiun
televisi lokal. Tidak ketinggalan pula munculnya televisi berlangganan yang menyajikan
berbagai program dalam dan luar negeri.
Morrisan (2005) juga menyatakan setelah Undang-undang Penyiaran disahkan pada
tahun 2002, jumlah televisi baru di Indonesia diperkirakan akan terus bermunculan, yang
terbagi dalam empat kategori, yaitu televisi publik, swasta, berlangganan dan komunitas.
Hingga Juli 2002, jumlah orang yang memiliki pesawat televisi di Indonesia mencapai 25
juta. Kini, penonton televisi Indonesia benar-benar memiliki banyak pilihan untuk menikmati
berbagai program televisi.
Menurut Sumita Tobing, Dirut Perjan TVRI yang dikutip oleh Morrisan (2005)
televisi merupakan salah satu medium terfavorit bagi para pemasang iklan di Indonesia.
Media televisi merupakan industri yang padat modal, padat teknologi, dan padat sumberdaya
manusia. Namun kemunculan berbagai stasiun televisi di Indonesia tidak diimbangi dengan
tersedianya sumberdaya manusia yang memadai. Pada umumnya televisi dibangun tanpa
pengetahuan pertelevisian yang memadai dan hanya berdasarkan semangat dan modal yang
besar saja.
2.1.3. Program Acara Televisi
Produk akhir yang disajikan melalui layar televisi adalah siaran televisi. Siaran televisi
ini didapat dengan cara pancaran udara, dapat disiarkan melalui kabel dan dapat merupakan
perpaduan keduanya. Morrisan (2005) menyatakan mengelola program acara tidak berbeda
dengan memasarkan suatu produk kepada konsumen, keberhasilannya diukur dengan
pencapaian atas tujuan atau target yang telah ditetapkan sebelumnya. Pada umumnya tujuan
program adalah untuk menarik dan mendapatkan sebanyak mungkin audiens. Jumlah audiens
yang banyak bukanlah satu-satunya tujuan penayangan suatu program.
Edwin T. Vane dan Lynne. S. Gross yang dikutip oleh Kurniawan (2009) terdapat
lima tujuan penayangan suatu program di televisi komersial, yaitu:
1.
Mendapatkan sebanyak mungkin audiens
18
Tujuan dari kebanyakan program siaran televisi adalah untuk mendapatkan sebanyak
mungkin audiens. Pemasang iklan mengeluarkan banyak dana untuk memastikan dan
mempromosikan produk mereka kepada audiens, semakin besar audiens uang dapat
dijaring, maka semakin mahal tarif iklan yang harus dibayar, potensi pendapatan
perusahaan juga akan meningkat dan keuntungan juga semakin besar.
2.
Target audiens tertentu
Program yang dikhususkan untuk kalangan tertentu namun dengan daya tarik yang
terbatas ini oleh Vane-Gross disebut dengan program demografis karena ditujukan untuk
audiens tertentu berdasarkan umur, jenis kelamin, profesi, dan lain-lain.
3.
Prestise
Adakalanya, stasiun televisi menayangkan suatu program dengan tujuan utama untuk
mendapatkan prestise atau pengakuan dari pihak lain.
4.
Penghargaan
Stasiun televisi terkadang membuat suatu program dengan tujuan untuk memenangkan
suatu penghargaan. Pengelola televisi yang memproduksi suatu program yang memiliki
kualitas biasanya juga berkeinginan untuk memenangkan penghargaan atas hasil
karyanya itu.
5.
Kepentingan publik
Stasiun televisi terkadang memproduksi program untuk memenuhi kepentingan dan
kebutuhan publik di tempat stasiun itu berada. Setiap daerah memiliki masyarakat dengan
situasi dan kebutuhan yang berbeda.
Program atau acara yang disajikan adalah faktor yang membuat audiens tertarik untuk
mengikuti siaran yang dipancarkan stasiun penyiaran apakah itu radio atau televisi. Morissan
(2005) mengatakan program dapat disamakan atau dianalogikan dengan produk atau barang
(goods) atau pelayanan (services) yang dijual kepada pihak lain, dalam hal ini audiens dan
pemasang iklan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa progam adalah produk yang
dibutuhkan orang sehingga mereka bersedia mengikutinya.
Menurut Heinich, dkk. yang dikutip oleh Kurniawan (2009), secara khusus, program
televisi memiliki empat karaktersistik utama, yaitu:
1. Fidelity or realism, yang merupakan karakteristik utama dari program televisi. Fidelity
artinya program televisi menggambarkan perwujudan asli dari suatu peristiwa, seseorang,
19
kejadian, dan proses, sehingga pemirsa memiliki kepercayaan terhadap objek yang
ditontonnya.
2. Immediacy, artinya pemirsa dapat melihat siaran langsung tentang suatu peristiwa pada
saat yang hampir bersamaan dengan terjadinya peristiwa tersebut, bertemu dengan
seseorang, atau berkunjung ke suatu tempat dalam waktu yang sangat cepat.
3. Dynamic spacing, di mana program televisi memiliki fitur yang memungkinkan pemirsa
untuk menonton informasi yang ditayangkan secara lambat, cepat atau diulang-ulang,
terutama untuk tayangan gerak atau psikomotor; olah raga, tari, memasak.
4. Brings people, places, events that’s could not be seen otherwise including magnification,
artinya informasi yang disampaikan melalui televisi seringkali merupakan informasi
tentang orang, tempat atau peristiwa yang berada diluar jangkauan pemirsa. Adanya
televisi, pemirsa tidak harus pergi ke tempat atau peristiwa tersebut secara langsung, cukup
menontonnya di televisi.
Stasiun televisi setiap harinya menyajikan berbagai jenis program yang jumlahnya
sangat banyak dan jenisnya sangat beragam. Pada dasarnya apa saja bisa dijadikan program
untuk ditayangkan di televisi selama program itu menarik dan disukai audiens, dan selama
tidak bertentangan dengan kesusilaan, hukum dan peraturan yang berlaku. Menurut Morrisan
(2005), berbagai jenis program itu dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar
berdasarkan jenisnya, yaitu: 1) program informasi (berita) dan 2) program hiburan
(entertainment). Program informasi kemudian dibagi lagi menjadi dua jenis, yaitu berita keras
(hard news) yang merupakan laporan berita terkini yang harus segera disiarkan segera dan
berita lunak (soft news) merupakan kombinasi dari fakta, gosip, dan opini. Program hiburan
terbagi atas tiga kelompok besar, yaitu musik, drama permainan (game show) dan
pertunjukan.
A. Program informasi
Program informasi adalah segala jenis siaran yang tujuan siarannya untuk memberikan
tambahan pengetahuan (informasi) kepada audiens. Daya tarik program ini adalah informasi,
dan informasi itulah yang dijual kepada audiens. Program informasi dalam kategori berita
20
keras atau hard news dapat dibedakan dengan berita lunak atau soft news berdasarkan sifatnya
menurut Morrisan (2005) dijelaskan pada Tabel 1.
Tabel 1. Perbedaan Berita Hard news dan Soft news berdasarkan Sifatnya
Hard News
Soft News
Harus ada peristiwa peristiwa terlebih Tidak musti ada peristiwa terlebih
dahulu
dahulu
Peristiwa harus aktual (baru terjadi)
Tidak musti harus aktual
Harus segera disiarkan
Tidak bersifat segera (timeless)
Mengutamakan informasi terpenting Menekankan pada detail
saja
Tidak menekankan sisi human interest
Sangat menekankan sisi human interest
Laporan tidak mendalam (singkat)
Laporan bersifat mendalam
Teknik penulisan piramida tegak
Teknik penulisan piramida terbalik
Ditayangkan dalam program berita
Ditayangkan dalam program lainnya
B. Program hiburan
Program hiburan adalah segala bentuk siaran yang bertujuan untuk menghibur audiens
dalam bentuk musik, lagu, cerita dan permainan. Program yang termasuk dalam kategori
hiburan adalah drama, musik dan permainan (game).
1. Drama
Kata ‘drama’ berasal dari bahasa Yunani dran yang berarti bertindak atau berbuat
(action). Program drama adalah pertunjukan (show) yang menyajikan cerita mengenai
kehidupan atau karakter seseorang atau beberapa orang (tokoh) yang diperankan oleh pemain
(artis) yang melibatkan konflik dan emosi. Program drama biasanya menampilkan sejumlah
pemain yang memerankan tokoh tertentu. Suatu drama akan mengikuti kehidupan atau
petualangan para tokohnya. Program televisi yang termasuk dalam program drama adalah
sinema elektronik (sinetron) dan film.
21
a. Sinetron
Sinetron merupakan drama yang menyajikan cerita dari berbagai tokoh secara
bersamaan. Masing-masing tokoh memiliki alur cerita mereka sendiri-sendiri tanpa harus
dirangkum menjadi suatu kesimpulan. Akhir cerita sinetron cenderung selalu terbuka dan
sering kali tanpa penyelesaian (open-ended). Cerita cenderung dibuat berpanjang-panjang
selama masih ada audiens yang menyukainya. Penayangan sinetron biasanya terbagi dalam
beberapa episode. Sinetron yang memiliki episode terbatas disebut dengan miniseri. Episode
dalam suatu miniseri merupakan bagian dari cerita keseluruhan, dengan demikian episode
sama seperti bab dari buku.
b. Film
Maksud film di sini adalah film layar lebar yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan
film. Alan Landsburg salah seorang produser acara televisi paling sukses di Amerika
menyatakan hanya ada tiga tema dalam setiap program drama yang disukai audiens, yaitu
tema seks, uang, dan kekuasaan (sex, money and power) (Morrisan, 2005). Tiga tema tersebut
merupakan daya tarik yang dapat mendorong audiens mengikuti program drama atau komedi.
Tema-tema cerita lain seperti balas dendam, penaklukan, simpati, dan nostalgia juga menjadi
tema yang menarik perhatian audiens, namun demikian sebenarnya berbagai tema tersebut
dapat dirangkum dalam tiga tema besar awal yaitu seks, uang, dan kekuasaan yang merupakan
tiga tema dasar cerita.
2. Permainan
Permainan atau game show merupakan salah satu bentuk program yang melibatkan
sejumlah orang baik secara individu ataupun kelompok (tim) yang saling bersaing untuk
mendapatkan sesuatu, menjawab pertanyaan dan atau memenangkan suatu bentuk permainan.
Permainan merupakan salah satu produksi acara televisi yang paling mudah dibuat. Program
permainan biasanya membutuhkan biaya produksi yang relatif rendah namun dapat menjadi
acara televisi yang sangat digemari. Program permainan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
a. Quiz show
Ini merupakan bentuk program permainan yang paling sederhana di mana sejumlah
peserta saling bersaing untuk menjawab sejumlah pertanyaan. Permainan ini biasanya
melibatkan peserta dari kalangan orang biasa atau anggota masyarakat, namun terkadang
22
pengelola program dapat menyajikan acara khusus yang melibatkan orang-orang terkenal
(selebriti).
b. Ketangkasan
Peserta
dalam
permainan
ini
harus
menunjukkan
kemampuan
fisik
atau
ketangkasannya untuk melewati suatu halangan atau rintangan atau melakukan suatu
permainan yang membutuhkan perhitungan dan strategi. Permainan ini terkadang juga
menguji pengetahuan umum peserta.
c. Reality show
Jika melihat karakteristik di atas, reality show dapat dimasukkan ke dalam kelompok
fidelity or realism. Reality show bukanlah program baru dalam pertelevisian, akan tetapi
konsepnya telah bergeser dari konsep dasar program tersebut. Pada awalnya, reality show
mempunyai konsep yang sederhana, yaitu memotret kehidupan orang awam (bukan
selebritis), kemudian disiarkan dan ditonton oleh orang banyak. Mereka yang kehidupannya
disorot merasa senang dan yang menonton terhibur. Saat ini reality show tidak hanya
memotret kehidupan orang, reality show pun menjadi ajang kompetisi.
Sesuai dengan namanya maka program ini mencoba menyajikan suatu situasi seperti
konflik, persaingan atau hubungan berdasarkan realitas yang sebenarnya. Jadi menyajikan
situasi sebagaimana apa adanya. Program ini mencoba menyajikan suatu keadaan yang nyata
dengan cara yang sealamiah mungkin tanpa rekayasa. Pada dasarnya reality show tetap
merupakan permainan (game). Popularitas program reality show sangat menonjol belakangan
ini, bahkan beberapa program yang sebenarnya tidak realistis pun ikut-ikutan menggunakan
nama atau jargon reality show untuk mendongkrak daya jualnya. Tingkat realitas yang
disajikan dalam reality show ini bermacam-macam, mulai dari yang betul-betul realistis,
misalnya hidden camera, hingga yang terlalu banyak rekayasa namun tetap menggunakan
nama reality show. Terdapat beberapa bentuk reality show menurut Morrisan (2005), yaitu:
1. Hidden camera atau kamera tersembunyi. Ini merupakan program yang paling realistis
yang menunjukkan situasi yang dihadapi seseorang secara apa adanya. Kamera
ditempatkan secara tersembunyi yang mengamati gerak-gerik atau tingkah laku subjek
yang berada di tengah situasi yang sudah dipersiapkan sebelumnya (direkayasa).
2. Competition show. Program ini melibatkan beberapa orang yang saling bersaing dalam
kompetisi yang berlangsung selama beberapa hari atau minggu untuk memenangkan
23
perlombaan, permainan (game) atau pertanyaan. Setiap peserta akan tersingkir satu
persatu melalui pemungutan suara (votting), baik oleh peserta, sendiri ataupun audiens.
Pemenangnya adalah peserta yang paling akhir bertahan.
3. Relationship show. Seorang kontestan harus memilih salah satu orang dari sejumlah
orang yang berminat untuk menjadi pasangannya. Para peminat harus bersaing untuk
merebut perhatian kontestan agar tidak tersingkir dari permainan. Pada setiap episode
ada satu peminat yang harus disingkirkan.
4. Fly on the wall. Program yang memperlihatkan kehidupan sehari-hari dari seseorang
(biasanya orang terkenal) mulai dari kegiatan pribadi hingga aktivitas profesionalnya.
Kamera membututi ke mana saja orang bersangkutan pergi.
5. Program mistik. Program yang terkait dengan hal-hal supranatural menyajikan tayangan
yang terkait dengan dunia gaib, paranormal, klenik, praktek spiritual magis, mistik
kontak dengan roh, dan lain-lain. Program mistik merupakan program yang paling
diragukan realitasnya, apakah peserta betul-betul melihat makhluk halus atau tidak, dan
apakah penampakan itu betul-betul ada atau tidak. Acara yang terkait dengan mistik
ternyata menjadi program yang memiliki audiens sendiri.
6. Program amal (charity), konsep yang disampaikan adalah menolong orang lain.
Sebuah tayangan reality show kebanyakan bersifat menghibur, sebagian bermakna dan
memberi manfaat, sedangkan sebagian lagi hanyalah memberi kesenangan semata. Ada
tayangan reality show yang bersifat menggugah emosi penonton, membuat orang jadi terharu,
sedih, bahkan menangis, kemudian ada reality show yang membuat orang tersenyum, bahkan
tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan perilaku atau para pemainnya.
Berikut ini merupakan dampak positif reality show menurut Rahmasyilla yang dikutip
oleh Kurniawan (2009), yaitu:
1. Tujuan semua dari reality show yaitu untuk hiburan, maka tayangan reality show dapat
memberikan aspek hiburan untuk melepaskan diri dari permasalahan yang berkembang.
2. Reality show dapat menumbuhkan rasa sosial di kalangan pemirsa terhadap orang lain yang
menderita yang ditampilkan dalam tayangan tersebut, seperti yang diharapkan dalam
charity reality show.
3. Reality show memberikan pengajaran kepada pemirsa untuk tidak cepat menyerah apabila
mendapatkan kesulitan dan tidak mementingkan diri sendiri.
24
4. Menjadi salah satu jalan untuk mencapai cita-cita sebagian masyarakat menjadi seorang
bintang melalui reality show yang bertajuk kontes bakat atau pencarian bintang.
5. Dampak positif luar biasa dirasakan oleh media yang menayangkan reality show adalah
peningkatan rating dan share. Rating adalah persentase penonton acara itu dari
keseluruhan pemirsa yang menonton televisi. Share adalah persentase penonton acara itu
dari keseluruhan pemirsa yang menonton televisi saat itu.
6. Peningkatan rating dan share menyebabkan meningkatkan pemasang iklan dalam tayangan
tersebut, sehingga pendapatan stasiun televisi bertambah.
Selain dampak positifnya, Rahmasyilla yang dikutip oleh Kurniawan (2009)
mengatakan dampak negatif reality show adalah: berbentuk tekanan emosi dan psikologis.
Tayangan reality show berbentuk tekanan emosi dan psikologis ternyata memberikan efek
yang cukup besar terutama untuk objek penderitanya. Mereka yang “dijahili” atau ditakuttakuti banyak yang bersalah secara psikologis, tidak jarang efeknya berupa trauma yang terus
dirasakan oleh objek penderita tadi. Berikut beberapa kasus yang berkenaan dengan tayangan
reality show berbentuk tekanan emosi:
a. Direktur Trans TV dan Produser reality show “Paranoid” dilaporkan oleh Diana Damey
Pakpahan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan tuntutan ganti rugi Rp 40 Miliar
untuk kerugian imateriil dan Rp 250 juta untuk kerugiaan materiil. Gugatan ini buntut
dari tindakan Kru Paranoid yang menakut-nakutinya ketika keluar dari RS. Pondok
Indah yang menyebabkan korban yang sedang hamil 8 bulan terjatuh. Walaupun tidak
berakibat fatal pada janinnya, tetapi korban trauma dan merasa ketakutan kalau
sendirian di rumah.
b. MOP (Mbikin Orang Panik) mencoba mengerjai targetnya dengan berpura-pura
ditangkap polisi karena kedapatan menggunakan narkotika. Kasus ini dianggap merusak
citra Polisi, karena pada kasus main-main ini aparat kepolisian memang disertakan
dalam skenario. Akhirnya MOP berakhir jam tayangnya.
c. Salah satu episode H2C (Harap-Harap Cemas), pihak keluarga yang diinterogasi merasa
jengkel dengan pemaksaan yang dilakukan kru acara tersebut sehingga akhirnya
mengacungkan senjata api ke kamerawan. Kejengkelan tersebut dapat dimaklumi, tapi
penggunaan senjata api menyebabkan mereka berurusan dengan kepolisian.
25
d. Program ‘Gentayangan’ yang ditayangkan live di pantai Karang Bolong, Banten,
menyebabkan seorang peserta perempuan yang tidak tahan uji keberanian pingsan
ketika keinginannya untuk mengakhiri pengujian tidak direspon secara cepat oleh Kru.
Respons yang lambat ini seperti disengaja untuk menambah kesan eksotik siaran
langsung tersebut.
e. Romy Rafael pernah melakukan hipnotis kepada seorang Bapak sehingga Bapak
tersebut berperan sebagai gadis penari yang bergoyang setiap musik dimainkan. Bapak
tersebut menjadi bahan lelucon, penonton bergembira melihat Bapak yang “diperalat”
tersebut, tetapi bagaimana dengan rasa malu yang dirasakan Bapak tersebut?.
f. Melalui ajang kontes bakat, impian menjadi bintang merupakan sesuatu yang
menggiurkan bagi setiap orang. Terbukti dengan antusiasme peserta yang mendaftarkan
diri dalam kompetisi ini, namun banyak pula yang mencoba ikut serta tanpa menyadari
potensi yang diharapkan dalam ajang ini sebenarnya tidak ada dalam dirinya. Tidak
jarang mereka menjadi bahan tertawaan, atau bahkan pelecehan karena kejadiankejadian memalukan malah dijadikan tayangan rutin.
g. Program charity reality show banyak diprotes karena dianggap mengeksploitasi orang
miskin. Berikut beberapa pandangan negatif dari tayangan charity reality show, yaitu:
tayangan ini dianggap sebagai eksploitasi terhadap orang miskin; mendidik masyarakat
untuk boros, mendapatkan rezeki harus dihabiskan dalam waktu singkat; dan perbuatan
baik, menolong orang lain, dipusatkan pada satu bentuk ‘uang’.
3. Musik
Program musik dapat ditampilkan dalam dua format, yaitu video klip dan konser.
Program musik berupa konser dapat dilakukan di lapangan (outdoor) ataupun di dalam studio
(indoor). Program musik di televisi saat ini sangat ditentukan dengan kemampuan artis
menarik audiens. Tidak saja dari kualitas suara namun juga berdasarkan bagaimana
mengemas penampilannya agar menjadi lebih menarik. Menurut Vane-Gross yang dikutip
oleh
Morrisan
(2005),
programmer
yang
ingin
menyajikan
acara
musik
harus
mempertimbangkan beberapa hal agar acara itu bisa mendapatkan sebanyak mungkin audiens,
yaitu:
26
1.
Pemilihan artis yang memiliki daya tarik demografis yang besar, misalnya artis yang
memiliki banyak penggemar pria atau artis yang banyak digandrungi para wanita,
kelompok remaja (ABG), dan kalangan orang tua.
2.
Pengambilan gambar yang menarik secara visual. Televisi harus menampilkan sebanyak
mungkin gambar pendukung dan tidak membiarkan suatu pengambilan gambar (sekuen)
yang terlalu lama. Mengambil gambar artis yang tengah menyanyi tidak sama dengan
mewawancarai si artis. Dalam shooting musik maka gambar harus berganti-ganti secara
dinamis.
4. Pertunjukan
Program pertunjukan adalah siaran yang menampilkan satu atau banyak pemain yang
berada di atas panggung yang menunjukkan kemampuannya kepada sejumlah orang atau
hanya kepada audiens televisi. Pertunjukan ini dapat berupa lawak, sulap, dan juga
pertunjukan lain seperti srimulat, ketoprak, wayang golek, wayang orang dan sebagainya.
Menurut Radikun yang dikutip oleh Testiandini (2006) mengatakan bahwa saat ini
tayangan televisi memprihatinkan karena sudah tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa
Indonesia. Tayangan televisi yang dimaksud adalah tayangan-tayangan berselera rendah yang
menampilkan hasrat tercela, sikap negatif, perbuatan merusak, hedonisme, pornografi,
kekerasan, sadisme dan egoisme. Menurutnya, tayangan hedonisme adalah tayangan
mempertontonkan pelampiasan memburu kesenangan, hidup mewah, berfoya-foya, hidup
tanpa batas yang semuanya hanya demi kepuasan hawa nafsu, tanpa menghiraukan akibat
buruk di belakang hari tanpa mengindahkan larangan agama sedangkan tayangan pornografi
yaitu tayangan yang menampilkan adegan-adegan yang merangsang birahi dan mendorong
pergaulan bebas atau seks bebas. Tayangan kekerasan adalah tayangan yang menampilkan
penyalahgunaan kekuatan dan keunggulan fisik serta senjata untuk memaksakan kehendak,
sedangkan tayangan sadisme menampilkan kebengisan dan kekejaman dimana yang kuat
menyiksa yang lemah. Tayangan egoisme adalah tayangan yang menampilkan sikap
mementingkan diri sendiri, keserakahan dan mengorbankan orang lain dengan menggunakan
strategi yang licik.
2.1.4 Terpaan Media (Media Exposure) Televisi
27
Menurut Rakhmat (2005) terpaan media dapat dioperasionalkan sebagai frekuensi
individu dalam menonton televisi, film, membaca majalah atau surat kabar maupun
mendengarkan radio. Sari yang dikutip oleh Testiandini (2006) menyatakan terpaan media
berusaha mencari data audiens tentang penggunaan media, baik jenis media, frekuensi
penggunaan maupun durasi penggunaan (longevity). Menurutnya, frekuensi menonton televisi
adalah pengumpulan data khalayak tentang berapa kali (hari) seseorang menonton televisi
dalam satu minggu (untuk meneliti program harian); berapa kali (minggu) seseorang
menonton televisi dalam satu bulan (untuk program mingguan atau tengah bulanan); serta
berapa kali (bulan) seseorang menonton televisi dalam satu tahun (untuk program bulanan).
Durasi menonton adalah menghitung berapa lama khalayak mengikuti suatu program acara
(berapa menit khalayak mengikuti suatu acara). Ardianto dan Erdinaya (2004) menambahkan
bahwa durasi berkaitan dengan waktu, yakni jumlah menit dalam setiap penayangan acara.
Suatu acara tidak akan mencapai sasaran karena durasi terlalu singkat atau terlalu lama.
Rosengren yang dikutip oleh Angdiami (2006) penggunaan media terdiri dari jumlah
waktu yang digunakan dalam berbagi media, jenis isi media, media yang dikonsumsi atau
dengan media secara keseluruhan. Pakar lainnya, Shore yang dikutip oleh Angdiami (2006)
memberikan definisi sebagai berikut:
“Terpaan media adalah lebih lengkap daripada akses. Terpaan tidak hanya
menyangkut apakah seseorang secara fisik cukup dekat dengan kehadiran
media massa akan tetapi apakah seseorang itu benar-benar terbuka dengan
pesan-pesan media tersebut. Terpaan merupakan kegiatan mendengar, melihat
dan membaca pesan-pesan media massa ataupun pengalaman dan perhatian
terhadap pesan tersebut yang dapat terjadi pada individu maupun kelompok”.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dikutip oleh Kurniawan (2009),
terpaan dapat diartikan sebagai serangan berdasarkan intensitas (kualitas) dan frekuensi
(kuantitas) karena dengan mengetahui intensitas dan frekuensi menonton yang dilakukan oleh
pemirsa, dari situlah dapat diketahui seberapa besar terpaan yang berpengaruh terhadap
pemirsa. Menurut Effendy yang dikutip Kurniawan (2009), media exposure (terpaan media)
berarti keadaan terlibatnya khalayak tertentu dalam masyarakat suatu negara atau daerah
sebagai komunikasi massa, misalnya pembaca surat kabar, pendengar atau pemirsa. Ini bisa
berarti bahwa pemirsa di dalam menonton suatu tayangan akan terkena terpaan media
tersebut, sehingga penonton akan dapat memenuhi rasa ingin tahunya akan suatu informasi.
28
Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat peneliti simpulkan bahwa terpaan
merupakan suatu kondisi atau keadaan individu yang menerima pesan dari suatu media secara
terus-menerus. Efek terpaan suatu pesan akan terlihat berhasil bergantung pada proses
memilih atau menyeleksi informasi dengan aspek-aspek tertentu yang dapat berguna bagi
individu, yang diawali dari adanya rangsangan yang diterima oleh alat indera kemudian
diproses untuk dikaji kembali. Terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ berkaitan dengan
frekuensi dan durasi terhadap tayangan yang disajikan.
Lowery dan De Fleur yang dikutip oleh Daisiwan (2007) menambahkan bahwa setiap
individu memiliki perilaku tertentu dalam menggunakan media massa. Perilaku tersebut
selanjutnya menjadi dasar untuk melihat pengaruh media massa, khususnya televisi. Terdapat
tiga hal yang dapat dijadikan sebagai alat ukur untuk mengidentifikasi perilaku anak-anak dan
remaja dalam menonton televisi, yaitu:
1.
Total waktu yang digunakan untuk menonton televisi dalam sehari.
2.
Pilihan program acara yang ditonton dalam sehari serta program acara yang paling
disukai.
3.
Frekuensi menonton program acara.
2.1.5 Hubungan Faktor Internal dan Eksternal Remaja dengan Terpaan Media Televisi
1. Jenis Kelamin.
Berdasarkan data hasil penelitian Kuswarno yang dikutip Testiandini (2006) ternyata
banyak responden laki-laki menunjukkan motivasi yang rendah untuk memenuhi kebutuhan
kognitif dari menonton televisi. Sebaliknya, responden wanita menunjukkan motivasi yang
sangat tinggi untuk memenuhi kebutuhan kognitif dengan menonton televisi. Berdasarkan
hasil penelitian Riana dan Purwanto yang dikutip oleh Testiandini (2006) ternyata laki-laki
lebih menyukai menonton acara hiburan seperti kuis, acara olahraga, dan film action,
sedangkan perempuan lebih menyukai menonton sinetron, telenovela, dan infotainment.
Morrisan (2005) menambahkan bahwa tidak semua program dapat dibedakan menurut
segmen ini. Program drama komedi, misalnya jarang dibedakan menurut segmentasi audiens
berdasarkan jenis kelamin (gender). Tetapi program-program tertentu seperti program
olahraga (biasanya disukai laki-laki), infotainment (wanita), sinetron (wanita), program
29
memasak (wanita), program berita (laki-laki) dapat menggunakan segmen ini. Pada umumnya
wanita lebih banyak menonton televisi dari pada laki-laki.
2. Usia
Hasil penelitian Kuswarno yang dikutip oleh Testiandini (2006) menunjukkan bahwa
terdapat hubungan yang cukup berarti antara usia responden dengan motivasi menonton
televisi untuk memenuhi kebutuhan kognitif. Semakin rendah usia responden, maka motivasi
menonton televisi untuk memenuhi kebutuhan kognitif juga semakin rendah. Hal tersebut
menunjukkan bahwa semakin tua responden ternyata semakin banyak membutuhkan
informasi dari televisi.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) 1994 yang dikutip oleh Testiandini (2006)
menyatakan orang-orang dari kategori umur 36 sampai 64 tahun menghabiskan waktu untuk
menonton televisi lebih banyak dibandingkan kategori usia lain, sedangkan persentase
kegiatan menonton televisi paling rendah terdapat pada kelompok usia 25 sampai 29 tahun.
Data BPS tersebut semakin menguatkan, bahwa semakin tua usia seseorang, curahan waktu
untuk memperoleh informasi dari televisi akan semakin besar. Jika dikaitkan dengan sesama
remaja yang bersekolah, misalnya tingkat SLTA, maka variabel usia tidak berlaku karena usia
remaja SLTA hampir sama, sehingga tidak ada perbedaan yang sangat mencolok dalam hal
selisih umur mereka yang mempengaruhi. Oleh karena itu, variabel usia tidak dijadikan dasar
untuk variabel faktor internal remaja yang akan mempengaruhi terpaan tayangan pada remaja.
3. Domisili
Menurut Morrisan (2005) mereka yang tinggal di daerah elit di kota memiliki karakter
yang berbeda dengan mereka yang tinggal di kawasan perkampungan (desa). Menurut
Suharto (2006) menunjukkan bahwa pada remaja di kota Jakarta memiliki durasi menonton
berita kriminal yang semakin rendah sejalan dengan peningkatan pengetahuannya tentang
kriminalitas. Hal ini dapat terjadi karena mereka menilai apabila tontonan tersebut tidak
menambah manfaat bagi dirinya, maka mereka semakin tidak lengkap menonton berita
tersebut. Remaja di kota dan remaja di desa mempunyai karakteristik dan aktivitas yang
berbeda, misalnya dalam hal pengetahuan dan kegiatan mereka. Oleh karena itu, domisili
30
dapat dijadikan dasar untuk variabel faktor eksternal yang diduga akan mempengaruhi terpaan
tayangan pada remaja.
4. Uang saku
Hasil penelitian Kuswarno yang dikutip Testiandini (2006) menunjukkan bahwa
semakin rendah tingkat ekonomi, ternyata tingkat motivasi untuk memenuhi kebutuhan
kognitif dari televisi akan berkurang. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Bajari yang
dikutip Testiandini (2006) menunjukkan bahwa semakin tinggi penghasilan, ternyata semakin
menyisihkan televisi karena pilihan kesenangan non media yang luas. Oleh karena itu, uang
saku dapat dijadikan dasar untuk variabel faktor eksternal yang diduga akan mempengaruhi
terpaan tayangan pada remaja.
5. Kegiatan ekstrakurikuler
Hasil penelitian Budyatna yang dikutip Testiandini (2006) juga menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan pola menonton antara wanita yang bekerja akibat adanya perbedaan pola
pemanfaatan waktu luang. Wanita bekerja lebih sedikit meluangkan waktunya untuk
menonton televisi dibandingkan dengan wanita tidak bekerja sehingga diperkirakan efek
televisi lebih banyak terjadi pada wanita tidak bekerja dari pada wanita bekerja. Kesesuaian
waktu luang dengan waktu penayangan suatu acara televisi juga merupakan salah satu faktor
yang dapat mempengaruhi akses seseorang terhadap suatu acara televisi pada remaja.
Bagi para remaja yang bersekolah, pekerjaan yang dimaksud adalah kegiatan
ekstrakurikuler di sekolahnya masing-masing. Remaja yang disibukkan oleh kegiatan
ekstrakurikuler di sekolahnya, akan mempunyai waktu luang yang lebih sedikit dibandingkan
dengan remaja yang tidak mengikuti. Hal ini akan menyebabkan perbedaan pola penggunaan
televisi diantara mereka. Oleh karena itu, kegiatan ekstrakurikuler dapat dijadikan dasar untuk
variabel faktor eksternal yang diduga akan mempengaruhi terpaan tayangan pada remaja.
6. Peringkat di kelas (prestasi akademik)
Prestasi berkaitan dengan pendidikan. Prestasi yang dimaksud adalah prestasi
akademik di sekolah, yaitu peringkat di kelas. Menurut hasil penelitian Suharto (2006)
menunjukkan bahwa peringkat di kelas berhubungan nyata positif dengan minat remaja dalam
menonton berita kriminal. Artinya, semakin rendah peringkat di kelas maka semakin rendah
minat remaja dalam menonton berita kriminal.
7. Motivasi
31
Motivasi merupakan usaha yang dilakukan manusia yang menimbulkan dorongan
untuk berbuat atau melakukan kegiatan. Remaja mempunyai motivasinya masing-masing
dalam menonton acara televisi. Berdasarkan penelitan yang dilakukan Shaliza yang dikutip
Kurniasih (2006) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara motivasi menonton acara
televisi dengan jenis acara yang ditontonnya dimana remaja tingkat SLTP, acara hiburan anak
paling banyak ditonton dengan motivasi pelepasan ketegangan (hiburan). Pada tingkat SMU,
acara hiburan drama paling banyak ditonton dengan motivasi afektif dan motivasi pelepasan
ketegangan (hiburan). Pengaruh siaran televisi terhadap emosi pada remaja SLTP dan SMU
menunjukkan bahwa 75 persen memberikan reaksi sesuai dengan acara yang ditontonnya.
Motivasi ini kemudian diduga menjadi salah satu variabel faktor internal remaja yang dapat
mempengaruhi terpaan tayangan JAM pada remaja. Menurut Joseph R. Dominick yang
dikutip oleh Morrisan (2005) menjelaskan berbagai penggunaan dan pemuasan terhadap
media ini dapat dikelompokkan ke dalam empat tujuan, yaitu:
a.
Pengetahuan
Seseorang menggunakan media massa untuk mengetahui sesuatu atau memperoleh
informasi tentang sesuatu. Hasil survai menunjukkan alasan orang-orang menggunakan
media antara lain: saya ingin mengetahui apa yang dikerjakan pemerintah, saya ingin
mengetahui apa yang terjadi di dunia, saya ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh
para politisi.
b.
Hiburan
Kebutuhan dasar lainnya pada manusia adalah hiburan dan orang mencari hiburan salah
satunya kepada media massa, terutama televisi. Hiburan dapat diperoleh melalui beberapa
bentuk yaitu: (1) stimulasi atau pencarian untuk mengurangi rasa bosan atau melepaskan
diri dari kegiatan rutin; (2) relaksasi atau santai yang merupakan bentuk pelarian dari
tekanan dan masalah; dan (3) pelepasan emosi dari perasaan dan energi terpendam.
c.
Kepentingan sosial
Kebutuhan ini diperoleh melalui pembicaraan atau diskusi tentang sebuah program
televisi, film terbaru, atau program radio siaran terbaru. Isi media menjadi bahan
perbincangan yang hangat. Media memberikan kesamaan landasan untuk membicarakan
32
masalah sosial. Media juga berfungsi untuk memperkuat hubungan dengan keluarga,
teman, dan yang lainnya dalam masyarakat.
d.
Pelarian
Orang yang menggunakan media tidak hanya untuk tujuan santai tetapi juga sebagai
bentuk pelarian. Orang menggunakan media massa untuk mengatasi rintangan antara
mereka dengan orang lain, atau untuk menghindari aktivitas lain.
McQuail yang dikutip oleh Kurniasih (2006) menyebutkan empat motivasi seorang
individu baik individu remaja maupun dewasa dalam menonton acara televisi, yaitu:
1.
Informasi, misalnya: meliputi mencari berita tentang peristiwa dan kondisi yang berkaitan
dengan lingkungan terdekat, masyarakat, dan dunia; mencari bimbingan menyangkut
berbagai masalah praktis, pendapat, dan hal-hal yang berkaitan dengan penentuan pilihan;
memuaskan rasa ingin tahu dan minat umum; belajar, pendidikan diri sendiri; dan
memperoleh rasa damai melalui penambahan pengetahuan.
2.
Identitas pribadi, misalnya: menemukan penunjang nilai-nilai pribadi; menemukan model
perilaku; mengidentifikasikan diri dengan nilai-nilai lain (dalam media); dan
meningkatkan pemahaman tentang diri sendiri.
3.
Integrasi dan interaksi sosial, misalnya: memperoleh pengetahuan tentang keadaan orang
lain (empati sosial); mengidentifikasikan diri dengan orang lain dan meningkatkan rasa
memiliki; menemukan bahan percakapan dan interaksi sosial; memperoleh teman selain
manusia; membantu menjalankan peran sosial; dan memungkinkan seseorang untuk dapat
menghubungi sanak keluarga, teman, dan masyarakat.
4.
Hiburan, misalnya: melepaskan diri atau terpisah dari permasalahan; bersantai;
memperoleh kenikmatan jiwa dan estetis; mengisi waktu; penyaluran emosi; dan
membangkitkan gairah seks.
8. Pekerjaan orang tua
Audiens yang memiliki jenis pekerjaan tertentu umumnya mengkonsumsi barangbarang tertentu yang berbeda dengan jenis pekerjaan lainnya. Selera merekapun umumnya
juga berbeda dalam mengkonsumsi program. Menurut Morrisan (2005) kalangan ekstekutif
lebih menyukai program yang dapat mendorong daya pikir mereka atau membantu mereka
dalam mengambil keputusan, misalnya program berita atau film-film tertentu, sementara
kalangan pekerja kasar lebih menyukai musik dangdut.
33
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Gilang (2005), pekerjaan ayah sebagai
ABRI (75 persen) berhubungan dengan tawuran. Pelajar yang mendapat didikan “keras” akan
mencontoh perilaku orang tua karena orang tua merupakan model yang menarik untuk ditiru
selain televisi. Oleh karena itu, pekerjaan orang tua dapat dijadikan dasar untuk variabel
faktor eksternal yang diduga akan mempengaruhi terpaan tayangan pada remaja.
9. Pendapatan Orang Tua
Morrisan (2005) mengatakan selera atau konsumsi sangat dipengaruhi oleh kelas yang
ditinggali oleh konsumen tersebut. Program acara yang ditonton biasanya erat hubungannya
dengan penghasilan yang diperoleh rumahtangga orang tersebut. Pendapatan seseorang akan
menentukan di kelas sosial mana dia berada dan kedudukan sesorang dalam kelas sosial akan
mempengaruhi kemampuannya berakses pada sumber-sumber daya. Berdasarkan hasil
penelitian Daisiwan (2007), ternyata status ekonomi keluarga tidak berhubungan nyata
dengan pola menonton sinetron remaja. Oleh karena itu, penghasilan orang tua dapat
dijadikan dasar untuk variabel faktor eksternal yang diduga akan mempengaruhi terpaan
tayangan pada remaja.
2.1.6 Empati
Empati berasal dari kata Yunani, en (masuk ke dalam) dan pathos (penderitaan).
Istilah “empati” juga berasal dari kata einfuhlung yang digunakan oleh seorang psikolog
Jerman, secara harfiah berarti “merasa terlibat”. Pengenalan awal empati dalam bahasa
Inggris dari kata Yunani empatheia yang berarti “ikut merasakan” (Goleman, 2002). Empati
hampir sama dengan simpati, tetapi lebih terhanyut masuk ke dalam seolah ikut merasakannya
secara emosional. Baron dan Byrne (2003) mejelaskan empati sebagai berikut:
“Empati merupakan respon afektif dan kognitif yang kompleks pada distres emosional
orang lain. Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang
lain, merasa simpatik, dan mencoba menyelesaikan masalah, dengan mengambil
perspektif orang lain. Seseorang dapat menjadi empatik kepada karakter fiktif
sebagaimana kepada korban pada kehidupan nyata. Empati meliputi komponen afektif
maupun kognitif. Secara afektif, orang yang berempati merasakan apa yang orang lain
rasakan. Secara kognitif, orang yang berempati memahami apa yang orang lain
rasakan dan mengapa. Komponen afektif penting untuk empati, dan bahkan anak-anak
34
berusia dua bulan tampak jelas merasakan stres dan sebagai respons dari stres yang
dirasakan orang lain”.
Johnson, dkk. yang dikuip oleh Sari, dkk. (2008) mengatakan empati adalah
kecenderungan untuk memahami kondisi atau keadaan pikiran orang lain. Seseorang yang
berempati digambarkan sebagai seseorang yang toleran, mampu mengendalikan diri, ramah,
dan mempunyai pengaruh, serta bersifat humanistik. Kemampuan mengindera perasaan
seseorang sebelum yang bersangkutan mengatakannya merupakan intisari empati. Tanpa
kemampuan ini, orang dapat menjadi terasing, salah menafsirkan perasaan sehingga mati rasa
atau tumpulnya perasaan yang berakibat rusaknya hubungan. Salah satu wujud kurangnya
empati adalah ketika seseorang merasa cenderung menyamaratakan orang lain dengan dirinya,
bukan memandangnya sebagai individu yang unik. Sari, dkk. (2008) juga menambahkan
bahwa pada tingkat yang lebih rendah, empati mensyaratkan kemampuan membaca emosi
orang lain, pada tahap yang lebih tinggi empati mengharuskan seseorang mengindera
sekaligus menanggapi kebutuhan atau perasaan seseorang yang tidak diungkapkan lewat katakata.
Berdasarkan pada pengertian-pengertian di atas, dapat diketahui unsur-unsur dalam
empati, yaitu: (a) terjadinya proses persepsi dengan orang lain; (b) terjadinya proses
komunikasi dengan orang lain baik verbal maupun nonverbal; (c) mengerti (memahami) apa
yang dirasakan oleh orang lain; (d) mengerti (memahami) kebutuhan orang lain; (e) tidak
hanya mengandung aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif yang ditunjukkan dalam gerakan,
cara berkomunikasi; dan (f) tidak ikut lebur dalam pengalaman emosional orang lain.
Memperhatikan unsur-unsur di atas, maka dapat disimpulkan pengertian empati yaitu
kemampuan seseorang melihat realita dengan memahami perasaan dan kebutuhan orang lain
dan menunjukkannya dalam gerakan cara berkomunikasi tanpa ikut lebur dalam pengalaman
emosional orang lain.
Goleman yang dikutip oleh Sari, dkk. (2008) mengemukakan prasyarat untuk
melakukan empati adalah kesadaran diri, mengenali sinyal-sinyal perasaan yang tersembunyi
dalam reaksi-reaksi tubuh sendiri. Seseorang hanya dapat berempati apabila mereka terlebih
dahulu mengenali dirinya sendiri. Menurut Munawaroh yang dikutip oleh Sari, dkk. (2008)
juga mengatakan bahwa empati akan lebih muncul pada saat individu melakukan aktivitas
“thinking with” daripada “thingking for about” orang lain.
35
Empati memerlukan kerjasama antara kemampuan menerima, memahami secara
kognitif dan afektif. Komponen kognitif melibatkan pemahaman terhadap perasaan orang
lain, baik melalui tanda-tanda atau proses atau hubungan yang simpel maupun pengambilan
perspektif yang kompleks. Selain kemampuan kognitif, empati juga melibatkan kemampuan
afektif, yaitu respon emosional yang sesuai. Lebih jauh empati membutuhkan pengambilan
keputusan untuk bertindak dengan perspektif afektif, sehingga pemahaman dan perasaan
tersebut diwujudkan dalam bentuk perilaku.
Komponen efektif dari empati juga termasuk rasa simpatik, tidak hanya merasakan
penderitaan orang lain tetapi juga mengekspresikan kepedulian dan mencoba melakukan
sesuatu untuk meringankan penderitaan mereka, misalnya individu yang memiliki empati
tinggi lebih termotivasi untuk menolong seorang teman daripada mereka yang memiliki
empati rendah (Schlenker dan Britt yang dikutip Baron dan Byrne, 2003). Baron dan Byrne
(2003) juga menambahkan bahwa kognisi dari empati yang relevan termasuk kemampuan
untuk mempertimbangkan sudut pandang orang lain, kadang-kadang disebut sebagai
‘mengambil perspektif’ (persepective taking) yang mampu “menempatkan diri dalam posisi
orang lain”.
Manusia berbeda dalam memberikan respons terhadap tekanan atau distres emosional
orang lain, dimulai dari individu yang sangat berempati secara konsisten merasa tertekan
ketika seseorang merasa tidak bahagia sampai individu sosiopatik yang secara emosional
tidak terpengaruh terhadap keadaan emosional orang lain. Davis, dkk. yang dikutip Baron dan
Byrne (2003) mengatakan:
“Perbedaan genetis dalam empati yang dihasilkan dari pemeriksaan lebih dari
800 pasang anak kembar identik dan tidak identik menemukan bahwa faktor
keturunan mendasari dua aspek afektif dari empati (tekanan personal dan
kepedulian simpatik) tetapi bukan empati kognitif. Faktor-faktor genetis
berkontribusi pada sekitar sepertiga dari faktor-faktor yang menjelaskan
adanya perbedaan empati afektif di antara orang-orang. Diasumsikan, faktorfaktor eksternal menjelaskan adanya perbedaan dalam empati kognitif dan
mempengaruhi dua per tiga perbedaan empati afektif”.
Psikolog Jane Stayer yang dikutip oleh Baron dan Byrne (2003) menyatakan bahwa
manusia dilahirkan dengan kapasitas biologis dan kognitif untuk merasakan empati, tetapi
pengalaman spesifik seseorang menentukan apakah potensi bawaan tersebut dihambat atau
menjadi bagian yang penting dari diri. Situasi spesifik yang dapat meningkatkan atau
36
menghambat perkembangan empati salah satunya adalah peran dari sekolah dalam
mengembangkan program pendidikan karakter. Menurut Lord yang dikutip Baron dan Byrne
(2003) mengatakan di Amerika Serikat, sekitar 40 dari 50 negara bagian telah menjalankan
program-program pendidikan karakter untuk mengajar anak-anak untuk jujur, bertingkah laku
baik, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab.
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan empati menurut
Lauster yang dikutip oleh Fidiyaningrum (2006), yaitu sebagai berikut:
a. Menyadari sepenuhnya emosi, keinginan, hasrat diri sendiri, dan membiarkan juga emosi,
hasrat, dan keinginan yang sama tumbuh pada orang lain.
b. Belajar mendengar pendapat orang lain, walaupun tidak setuju dengan apa yang dikatakan
dan membiarkan orang lain menyelesaikan apa yang dikatakannya serta mengajukan
pertanyaan sebelum memberikan penilaian.
c. Memperhatikan orang lain di jalan, di restoran dan di bus dan mencoba memahami
perasaannya melalui air mukanya.
d. Menilai orang lain tidak hanya didasarkan pada tampak luar saja. Jauh lebih penting lagi
mengetahui sikap dasar seseorang, dan itu hanya akan didapat melalui pembicaraan dan
tanya jawab yang menarik.
e. Melihat film pendek di televisi, matikan suaranya dan mencoba memperkirakan pokok
persoalan yang dibicarakan. Untuk itu setiap diri perlu menempatkan diri dalam adegan itu.
f. Menganalisis perbedaan pendapat dalam suatu pembicaraan, mengapa pendapat seseorang
bertentangan sama sekali dengan pendapat yang kita sampaikan.
g. Menanyai diri sendiri mengapa dalam suatu situasi tertentu memberikan reaksi tertentu.
Mengetahui latar belakang tingkah laku sendiri, maka akan mudah untuk menempatkan
diri dalam kedudukan orang lain.
h. Mencari sebab-sebab dalam diri sendiri ketika tidak menyukai seseorang.
i. Mencoba mencari sebanyak mungkin keterangan tentang seseorang sebelum melakukan
penilaian tentang orang itu. Sekali saudara mengetahui mengapa seseorang mempunyai
tingkah laku tertentu, maka saudara akan dapat menilainya dengan lebih tepat, dan sikap
saudara terhadapnya juga akan lebih sesuai.
j. Mengingat selalu bahwa setiap orang dipengaruhi oleh perasaan dan selanjutnya
mempengaruhi tingkah lakunya.
37
Empati dalam penelitian ini adalah empati terhadap kemiskinan, yaitu kemampuan
untuk merasakan keadaan emosional orang lain dan mencoba menyelesaikan masalah, dengan
mengambil perspektif orang miskin. Secara afektif, orang yang berempati merasakan apa
yang orang miskin rasakan. Secara kognitif, orang yang berempati memahami apa yang orang
miskin rasakan.
Menurut Arsyad yang dikutip oleh Fidiyaningrum (2006), film merupakan salah satu
media bimbingan yang dapat dijadikan sarana untuk mendorong dan meningkatkan motivasi,
serta untuk menanamkan sikap dan segi-segi afektif lainnya. Teori Titchener mengatakan
empati berasal dari semacam peniruan secara fisik atas beban orang lain, yang kemudian
menimbulkan perasaan yang serupa dalam diri seseorang (Goleman, 2002). Seseorang akan
menirukan secara fisik atas beban orang lain terlebih dahulu sehingga akan memudahkan
munculnya perasaan serupa yang dialami orang lain pada dirinya.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fidiyaningrum (2006) diketahui
bahwa pengaruh film yang diputar di televisi (audiovisual) terhadap perubahan sikap sangat
besar. Individu memiliki kecenderungan untuk meniru obyek yang telah dilihatnya. Dengan
melihat film “Children of Heaven” yang alur ceritanya sangat “menyentuh” dan dapat
membangkitkan empati penonton, mahasiswa yang terlibat dalam penelitian juga mengalami
peningkatan kecenderungan empatinya (bertambah 3,88 persen dari kondisi awal). Oleh
karena itu, dapat dikatakan bahwa televisi merupakan media informasi yang dapat
memberikan pengaruh terhadap objek yang menontonnya. Tayangan yang disiarkan di televisi
banyak menyumbang perubahan sikap dari objek yang menontonnya, termasuk tayangan
reality show. Tayangan yang dinilai positif akan memberikan dampak yang positif bagi para
penontonnya.
2.1.7 Remaja
Hurlock yang dikutip oleh Daisiwan (2007) mengatakan remaja berasal dari bahasa
Latin adolescere yang artinya “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”.
Perkembangan lebih lanjut, istilah adolescence sesungguhnya memiliki arti luas, mencakup
kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik. Secara psikologis, remaja adalah suatu usia
dimana individu menjadi terintergrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak
38
tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa
sama, atau paling tidak sejajar. Memasuki masyarakat dewasa ini mengandung banyak aspek
afektif, lebih atau kurang dari pubertas. Masa remaja didefinisikan lain oleh Mappiare yang
dikutip Daisiwan (2007), menurutnya masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai
dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Oleh karena itu,
dapat disimpulkan dari beberapa definisi tersebut, remaja adalah masa tumbuh kembang dari
anak-anak menuju dewasa.
Remaja juga mengalami perkembangan pesat dalam aspek intelektual. Transformasi
intelektual dari cara berfikir remaja ini memungkinkan mereka tidak hanya mampu
mengintegrasikan dirinya ke dalam masyarakat dewasa, tapi juga merupakan karakteristik
yang paling menonjol dari semua periode perkembangan (Shaw dan Costanzo yang dikutip
Ali dan Asrori, 2005). Sebelumnya remaja tidak memiliki tempat yang jelas. Mereka sudah
tidak termasuk golongan anak-anak, tetapi belum juga dapat diterima secara penuh untuk
masuk ke golongan orang dewasa. Remaja ada di antara anak dan orang dewasa. Oleh karena
itu, remaja seringkali dikenal dengan fase “mencari jati diri” atau “fase topan dan badai”.
Remaja masih belum mampu menguasai dan memfungsikan secara maksimal fungsi fisik
maupun psikisnya (Monks dkk. yang dikutip Ali dan Asrori, 2005). Hal yang perlu
ditekankan di sini adalah bahwa fase remaja merupakan fase perkembangan yang tengah
berada pada masa amat potensial, baik dilihat dari aspek kognitif, emosi maupun fisik.
Pada masa remaja perubahan yang terjadi sangat besar baik dari fisik maupun
perubahan perilakunya. Ada empat perubahan pada masa remaja yang dikutip oleh Daisiwan
(2007) dari Sabri, yaitu:
1.
Meningkatnya emosi, perubahan emosi banyak terjadi pada awal masa remaja.
2.
Perubahan tubuh, minat, dan peran.
3.
Berubahnya minat dan perilaku, maka nilai-nilai juga berubah.
4.
Sebagian remaja bersikap ambivalensi terhadap setiap perubahan.
Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja, membuat mereka mempunyai
masalah yang sulit diatasi oleh diri mereka sendiri. Remaja berusaha melepaskan diri dari
orang tua, untuk menemukan identitas diri mereka. Remaja ingin mencari kejelasan tentang
siapa diri mereka sebenarnya. Menurut Yusuf yang dikutip oleh Farida (2005), proses
perkembangan mencari identitas diri dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya:
39
1.
Iklim keluarga, yang berkaitan dengan interaksi sosio-emosional antaranggota keluarga,
sikap, dan perlakuan orang tua terhadap anak.
2.
Tokoh idola, orang-orang yang dianggap remaja sebagai figur yang memiliki posisi di
masyarakat. Pada umumnya remaja mengidolakan tokoh-tokoh dari kalangan selebriti.
3.
Peluang pengembangan diri, yaitu kesempatan untuk melihat ke depan dan menguji
dirinya dalam setting kehidupan yang beragam.
Berdasarkan keterangan di atas, remaja sering meniru selebritis favoritnya ketika
mereka menonton televisi. Remaja meniru cara berpakaian, model rambut, dan cara berbicara
para idola mereka. Mengingat tokoh idolanya sering muncul di media massa, terutama di
televisi, maka remaja sangat suka dan termotivasi dalam menonton televisi.
Perkembangan intelektual yang terus menerus menyebabkan remaja mencapai tahap
berpikir operasional formal. Tahap ini memungkinkan remaja mampu berpikir secara lebih
abstrak, menguji hipotesis, dan mempertimbangkan apa saja peluang yang ada padanya
daripada sekedar melihat apa adanya. Kemampuan intelektual seperti ini membedakan fase
remaja dari fase-fase sebelumnya (Shaw dan Costanzo, yang dikutip Ali dan Asrori, 2005).
Perkembangan remaja membawa perubahan psikis yang bersifat progresif dan menyebabkan
tercapainya kemampuan dan sifat-sifat baru. Karakteristik umum perkembangan remaja
adalah bahwa remaja merupakan peralihan dari masa anak menuju masa dewasa sehingga
seringkali menunjukkan sifat-sifat karakteristik seperti kegelisahan atau kebingungan karena
terjadi suatu pertentangan, keinginan untuk menghayal dan aktivitas kelompok.
Adapun karakteristik penyesuaian diri remaja yang dijelaskan oleh Ali dan Asrori
(2005) adalah sebagai berikut:
1. Penyesuaian diri terhadap peran dan aktivitas. Penyesuaian diri remaja secara khas
berupaya untuk dapat berperan sebagai subjek yang kepribadiannya memang berada
dengan anak-anak ataupun orang dewasa.
2. Penyesuaian diri remaja terhadap pendidikan. Penyesuaian diri remaja secara khas
bertujuan ingin meraih sukses dalam studi, tetapi dengan cara-cara yang menimbulkan
perasaan bebas dan senang.
3. Penyesuaian diri remaja terhadap kehidupan seks. Remaja ingin memahami kondisi
seksual dirinya dan lawan jenisnya serta mampu bertindak untuk menyalurkan dorongan
seksualnya yang dapat dimengerti dan dapat dibenarkan oleh norma sosial dan agama.
40
4. Penyesuaian diri terhadap norma sosial. Hal ini dilakukan agar dapat terwujud
internalisasi norma, baik pada kelompok remaja, lingkungan keluarga, sekolah maupun
masyarakat luar.
5. Penyesuaian diri remaja terhadap penggunaan waktu. Remaja melakukan penyesuaian
antara dorongan kebebasannya serta inisiatif serta kreativitasnya dengan kegiatan-kegiatan
yang bermanfaat. Penggunaan waktu luang akan menunjang pengembangan diri dan
manfaat sosial.
6. Penyesuaian diri remaja terhadap penggunaan uang. Remaja berusaha untuk mampu
bertindak secara profesional, melakukan penyesuaian antara kelayakan pemenuhan
kebutuhannya dengan kondisi ekonomi orang tuanya. Upaya penyesuaian penggunaan
uang diharapkan akan menjadi efektif dan efisien serta tidak menimbulkan keguncangan
pada diri remaja itu sendiri.
7. Penyesuaian diri remaja terhadap kecemasan, konflik, dan frustasi. Strateginya melalui
mekanisme pertahanan diri seperti kompensasi, rasionalisasi, proyeksi, sublimasi,
identifikasi, regresi, dan fiksasi.
Seorang remaja yang sedang menonton tayangan televisi secara tidak sengaja akan
mempelajari atau merumuskan hal-hal baru yang kemudian akan diingatnya dan kemudian
ditiru. Proses internalisasi dapat terjadi apabila individu menerima pengaruh karena nilai-nilai
yang ditayangkan televisi sesuai dengan sistem nilai pada dirinya. Remaja dapat
mengidentifikasikan dirinya berdasarkan tontonan di dalam televisi, kepribadiannya terbentuk
oleh style televisi. Remaja seperti ini menunjukkan betapa televisi telah berhasil
menginfiltrasi realitas dan menuntun gaya hidup remaja. Apabila seorang remaja tidak dapat
menyesuaikan diri antara informasi yang akan mereka terapkan dengan norma-norma yang
berlaku di masyarakat, maka remaja tersebut akan mengalami perubahan moral yang tidak
sejalan dengan kematangan mental dan akan mengakibatkan bahaya psikologis dalam diri
remaja tersebut.
2.2 Kerangka Pemikiran
Tayangan yang bertema sosial di televisi berpotensi memunculkan pengaruh yang
positif terhadap remaja, salah satunya program acara ‘Jika Aku Menjadi’ di Trans TV. Empati
remaja (kognitif dan afektif) diduga dipengaruhi oleh terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
41
yang disinyalir banyak menampilkan informasi ditujukan untuk memberi pemahaman dan
empati pada masyarakat atas. Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ dapat diukur dari
frekuensi menonton dan durasi menonton. Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ diduga
dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal remaja. Faktor internal remaja yang
diteliti terdiri dari jenis kelamin, motivasi peringkat di kelas, sedangkan faktor eksternal
remaja terdiri dari domisili, uang saku, kegiatan ekstrakurukuler, pekerjaan orang tua, dan
pendapatan orang tua. Hubungan antar variabel-variabel penelitian ini dapat dilihat pada
Gambar 1.
Faktor Internal
• Jenis kelamin
• Motivasi menonton
• Peringkat di kelas
Terpaan
Tayangan ‘Jika
Faktor Eksternal
• Domisili
• Uang saku
• Kegiatan
ekstrakurikuler
• Pekerjaan orang
tua
• Pendapatan orang
tua
Keterangan: → = berhubungan
Aku Menjadi’
Empati
• Frekuensi
menonton
• Durasi
menonton
• Kognitif
• Afektif
42
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Pengaruh Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ terhadap
Empati Remaja
2.3
Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah suatu asumsi yang berperan sebagai penyelesaian sementara.
Hipotesis juga bisa dianggap sebagai suatu pernyataan yang sifatnya harus dijawab lewat
suatu eksperimen atau seri-seri observasi (Soehartona, 1995). Supardi yang dikutip oleh
Soehartona (1995) mengatakan bahwa hipotesis adalah suatu pendapat yang masih bersifat
sementara. Berdasarkan kerangka pemikiran pada Gambar 1, maka hipotesis penelitian
sebagai berikut:
1.
Terdapat hubungan nyata antara faktor internal remaja dan terpaan tayangan ‘Jika Aku
Menjadi’.
2.
Terdapat hubungan nyata antara faktor ekternal remaja dan terpaan tayangan ‘Jika Aku
Menjadi’.
3.
Terdapat hubungan nyata antara terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ dan empati
remaja.
2.4 Definisi Operasional
1.
Jenis kelamin adalah pembedaan individu secara biologis, yang diukur dengan skala
nominal dan dikategorikan sebagai berikut:
1. Laki-laki
2. Perempuan
2.
Motivasi menonton adalah hal-hal atau faktor-faktor yang timbul dari dalam diri
responden untuk menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’, diukur dengan skala
nominal dan dikategorikan sebagai berikut:
1. Informasi: misalnya, mencari berita tentang peristiwa dan kondisi yang berkaitan
dengan tayangan’Jika Aku Menjadi’, lingkungan terdekat, dan masyarakat serta
memuaskan rasa ingin tahu.
2. Hiburan: misalnya, melepaskan diri dari permasalahan yang ada, bersantai, dan
mengisi waktu luang.
43
3. Interaksi sosial: misalnya, menemukan bahan percakapan dengan orang lain.
4. Identitas sosial: misalnya, menemukan penunjang nilai-nilai pribadi dan
meningkatkan pemahaman tentang diri sendiri.
3.
Peringkat di kelas, yaitu tingkat prestasi karena kepandaian yang dimiliki responden di
kelasnya berdasarkan penilaian guru dari akumulasi nilai akademis yang dinyatakan
dalam nilai rapor. Data diukur dalam skala ordinal. Kategori peringkat di kelas
meliputi:
1. Tinggi (jika peringkatnya 1 sampai 5); maka diberi skor 3.
2. Sedang (jika peringkatnya 6 sampai 10); maka diberi skor 2.
3. Rendah (jika peringkatnnya > 10); maka diberi skor 1.
Pengkategorian tersebut berdasarkan penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan
oleh Suharto (2006).
4.
Domisili adalah: lokasi tempat tinggal responden, yang diukur dengan skala nominal
dan dikategorikan sebagai berikut:
1. Desa: dikatakan berdomisili di desa jika responden bertempat tinggal di wilayah
Kecamatan Dramaga.
2. Kota: dikatakan berdomisili di kota jika responden bertempat tinggal di Kota
Bogor.
5.
Uang saku adalah sejumlah uang yang diberikan orang tua per hari untuk jajan dan
ongkos ke sekolah (dalam hitungan rupiah). Data diukur secara ordinal, meliputi:
1. Tinggi (jika uang saku per hari > Rp10.000,00); maka diberi skor 3.
2. Sedang (jika uang saku per hari Rp5.000,00 sampai Rp10.000,00);
maka diberi skor 2.
3. Rendah (jika uang saku per hari < Rp5.000,00); maka diberi skor 1.
Pengkategorian tersebut berdasarkan jawaban responden hasil dari full enumeration
survey yang dapat dilihat lihat pada Lampiran 1. Jawaban responden kemudian
dikelompokkan berdasarkan uang saku responden terendah dan tertinggi kemudian
dirata-rata.
44
6.
Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan di luar akademis sekolah yang diikuti
responden dan sebagai wadah berkreasi siswa di sekolah. Data diukur dalam skala
ordinal. Kategori kegiatan ekstrakurikuler meliputi:
1. Banyak (jika kegiatan ekstrakurikuler > 1); maka diberi skor 3.
2. Sedikit (jika kegiatan ekstrakurikuler 1); maka diberi skor 2.
3. Tidak ikut kegiatan ekstrakurikuler; maka diberi skor 1.
Pengkategorian tersebut berdasarkan jawaban responden hasil dari full enumeration
survey yang dapat dilihat lihat pada Lampiran 1. Jawaban responden kemudian
dikelompokkan berdasarkan responden yang tidak ikut dan yang ikut kegiatan
ekstrakurikuler. Dikatakan banyak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler jika responden
mengikuti lebih dari satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya.
8. Pekerjaan orang tua adalah macam usaha yang dilakukan atau dijalankan
ayah/ibu/wali yang menjadi sumber penghasilan utama keluarga, yang menggunakan
skala nominal dan dikategorikan sebagai berikut:
8.
1. Ibu Rumah Tangga.
4. PNS.
7. Nelayan.
2. Buruh.
5. Swasta.
8. Lainnya,…..
3. Wiraswasta.
6. Petani.
Pendapatan orang tua (per bulan) adalah sejumlah uang yang dihasilkan ayah/ibu/wali
dari pekerjaannya.
Pengukuran menggunakan skala ordinal yang dikategorikan
sebagai berikut:
1. Tinggi (jika pendapatan orang tua > Rp4.000.000,00 per bulan); maka diberi skor 3.
2. Sedang (jika pendapatan orang tua Rp2.000.000,00 sampai Rp4.000.000,00 per
bulan); maka diberi skor 2.
3. Rendah (jika pendapatan orang tua < Rp2.000.000,00 per bulan); maka diberi skor
1.
Pengkategorian tersebut berdasarkan penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan
oleh Valentine (2009). Pendapatan orang tua responden diketahui berdasarkan
jawaban responden yang ada pada kuesioner.
9.
Frekuensi menonton adalah berapa kali responden menonton tayangan ‘Jika Aku
Menjadi’ dalam waktu satu bulan, karena program ini tayang setiap Sabtu dan Minggu
45
(satu bulan = 4 minggu, jadi total tayangan sekitar 7 atau 8 kali penayangan dalam satu
bulan). Data diukur menggunakan skala ordinal dan dikategorikan sebagai berikut:
1. Tinggi (jika menonton ‘Jika Aku Menjadi’ > 5 kali dalam sebulan);
maka diberi skor 3.
2. Sedang (jika menonton ‘Jika Aku Menjadi’ 3 sampai 5 kali dalam sebulan); maka
diberi skor 2.
3. Rendah (jika menonton ‘Jika Aku Menjadi’ < 3 kali dalam sebulan);
maka diberi skor 1.
10.
Durasi menonton adalah total waktu rata-rata yang digunakan responden untuk
menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ dalam sekali penayangan, diukur dengan
skala ordinal dikategorikan sebagai berikut:
1. Tinggi (jika menonton ‘Jika Aku Menjadi’ > 40 menit);
maka diberi skor 3.
2. Sedang (jika menonton ‘Jika Aku Menjadi’ 20 sampai 40 menit); maka diberi skor
2.
3. Rendah (jika menonton ‘Jika Aku Menjadi’ < 20 menit); maka diberi skor 1.
11 a. Kognitif adalah melibatkan pemahaman terhadap perasaan orang lain, baik melalui
tanda-tanda atau proses atau hubungan yang sederhana yang diukur dengan skala
ordinal, yang dikatekorikan sebagai berikut:
1. Empati tinggi (jika responden memenuhi skor 61 sampai 80).
2. Empati sedang (jika responden memenuhi skor 41 sampai 60).
3. Empati rendah (jika responden memenuhi skor 20 sampai 40).
b. Kognitif episode “Pembuat Gelang Simpay” adalah melibatkan pemahaman terhadap
perasaan orang lain, baik melalui tanda-tanda atau proses atau hubungan yang yang
sederhana pada satu episode khusus yaitu episode “Pembuat Gelang Simpay” yang
diukur dengan skala ordinal dan dikategorikan sebagai berikut:
1. Empati tinggi (jika responden memenuhi skor 31 sampai 40).
2. Empati sedang (jika responden memenuhi skor 21 sampai 30).
3. Empati rendah (jika responden memenuhi skor 10 sampai 20).
46
12 a. Afektif, yaitu respon emosional yang sesuai yang diukur dengan skala ordinal dan
dikategorikan sebagai berikut:
1. Empati tinggi (jika responden memenuhi skor 61 sampai 80).
2. Empati sedang (jika responden memenuhi skor 41 sampai 60).
3. Empati rendah (jika responden memenuhi skor 20 sampai 40).
b. Afektif episode “Pembuat Gelang Simpay”, yaitu respon emosional yang sesuai pada
satu episode khusus yaitu episode “Pembuat Gelang Simpay” yang diukur dengan
skala ordinal dan dikategorikan sebagai berikut:
1. Empati tinggi (jika responden memenuhi skor 31 sampai 40).
2. Empati sedang (jika responden memenuhi skor 21 sampai 30).
3. Empati rendah (jika responden memenuhi skor 10 sampai 20).
47
BAB III
PENDEKATAN LAPANGAN
3.1 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah survei yang bersifat explanatory
(penjelasan), yakni untuk menjelaskan hubungan kausal dan pengujian hipotesis. Nazir (1983)
mengatakan metode survei adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta dari
gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual, baik tentang istitusi
sosial, ekonomi, atau politik dari suatu kelompok ataupun suatu daerah. Metode survei
membedah dan menguliti serta mengenal masalah-masalah serta mendapatkan pembenaran
terhadap keadaan dan praktik-praktik yang sedang berlangsung.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan didukung data kualitatif.
Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan wawancara terstruktur mengguanakan kuesioner
sebagai instrumen utama untuk mendapatkan data kuantitatif. Selanjutnya kuesioner sebagai
alat pengumpulan data pokok nantinya akan diolah dan diolah dan dianalisa melalui pengujian
hipotesa (Singarimbun dan Effendi, 1989). Data kualitatif diperoleh dari wawancara
kelompok dengan responden terpilih yang dipandu oleh panduan pertanyaan. Data kualitatif
digunakan untuk memperkuat metode kuantitatif, sehingga didapatkan suatu pemahaman
yang lebih mendalam.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMAN 1 Dramaga (Jalan Babakan Dramaga No. 122,
Bogor). Lokasi ini penulis pilih secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan kemudahan
akses karena lokasi ini dekat dengan kampus. Penelitian ini dilakukan pada bulan April
hingga Mei 2010.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Menurut Soehartona (1995), populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang dapat
terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes atau
peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu
penelitian. Berdasarkan pengertian tersebut, maka populasi dalam penelitian ini adalah siswa
48
kelas X dan XI SMAN 1 Dramaga, dengan jumlah siswa sebanyak 228 orang. Peneliti tidak
mengikutsertakan siswa kelas XII dengan pertimbangan siswa kelas XII sedang menjalani
Ujian Nasional.
Pengertian sampel menurut Rakhmat (2005) adalah sebagian dari kumpulan objek
penelitian (populasi) yang dipelajari dan diamati. Pengambilan sampel disesuaikan dengan
jumlah populasinya. Unit analisis penelitian ini adalah individu siswa SMA dan yang
dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X dan XI SMAN 1 Dramaga yang
sudah pernah menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’.
Penelitian ini dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:
1.
Full enumeration survey, yaitu seluruh populasi di SMAN 1 Dramaga diberikan angket
sederhana yang berisi tentang kebiasaan menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi dan
kesediaan mereka untuk menjadi responden penelitian. Hal ini dilakukan kerena peneliti
belum mengetahui profil populasi. Angket dibagi menjadi dua bagian, yaitu identitas
responden dan kebiasaan menonton televisi. Berdasarkan hasil full enumeration survey
(228 siswa), ada 113 siswa yang pernah menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ dan
bersedia untuk dijadikan responden.
2.
Uji kuesioner kepada 10 orang siswa SMA Kornita yang dilakukan untuk mengetahui
ketepatan dan kelayakan kuesioner untuk digunakan sebagai alat ukur penelitian.
3.
Setelah mengetahui profil responden dan mengetahui responden yang memenuhi
kriteria untuk penelitian ini, peneliti menggunakan rumus Slovin dengan ketelitian 10
persen untuk menentukan jumlah responden penelitian, sehingga dari perhitungan
sampel diperoleh 70 responden. Sebanyak 113 responden yang telah mengisi angket dan
dinyatakan memenuhi kriteria dipilih 70 responden secara simple random sampling
yang menjadi responden penelitian.
4.
Pengisian kuesioner dilakukan dengan pendampingan secara langsung oleh peneliti
sehingga memudahkan peneliti untuk lebih memperdalam data dan informasi yang
dibutuhkan. Kuesioner ini dibagi menjadi enam bagian, yaitu: 1) identitas responden; 2)
faktor internal remaja; 3) faktor eksternal remaja; 4) terpaan tayangan ‘Jika Aku
Menjadi’; 5) empati remaja; dan 6) tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ episode “Pembuat
Gelang Simpay”.
49
5.
Wawancara kelompok, wawancara ini dilakukan untuk mengetahui lebih mendalam
tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’.
Wawancara ini dilakukan secara sengaja berdasarkan penggolongan jenis kelamin,
motivasi menonton, peringkat di kelas, domisili, uang saku, kegiatan ekstrakurikuler,
pekerjaan orang tua, dan pendapatan orang tua. Panduan pertanyaan dapat dilihat pada
Lampiran 1.
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer
diperoleh dari penelitian langsung di lapangan menggunakan kuesioner dan wawancara
kelompok.
3.4 Teknik Analisis Data
Pada dasarnya, analisa data adalah kegiatan untuk memanfaatkan data sehingga dapat
diperoleh kebenaran atau ketidakbenaran dari suatu hipotesa (Subagyo, 1991). Analisa data
adalah suatu proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan
diinterpretasikan. Analisis yang dilakukan adalah data yang berupa jawaban dari para
responden dikumpulkan dan dianalisa secara kuntitatif, yaitu data tersebut dikelompokkan dan
dijumlahkan sehingga menghasilkan angka-angka, jadi data dari penelitian ini bersifat
kuantitatif.
Data yang terkumpul kemudian diolah dengan menggunakan program SPSS 16.0 for
Windows untuk mempermudah melakukan pengolahan data. Data dari pengisian kuesioner
disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan tabulasi silang. Data yang diperoleh bersifat
nominal dan ordinal, sehingga untuk menganalisis hubungan antara data tersebut digunakan
uji Rank Spearman dan Chi Square. Chi Square digunakan untuk menguji hubungan antara
faktor internal remaja (jenis kelamin dan motivasi) dengan terpaan tayangan ‘Jika Aku
Menjadi’ (frekuensi dan durasi menonton), hubungan faktor eksternal remaja (domisili dan
pekerjaan orang tua) dengan terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ (frekuensi dan durasi
menonton). Rank Spearman digunakan untuk menguji hipotesis mengenai hubungan antar
variabel yang menggunakan skala pengukuran ordinal, yaitu hubungan faktor internal remaja
(prestasi di kelas) dengan terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’, hubungan faktor ekternal
remaja (uang saku, kegiatan ekstrakurikuler, dan pendapatan orang tua) dengan terpaan
tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ (frekuensi dan durasi menonton), hubungan terpaan tayangan
50
‘Jika Aku Menjadi’ (frekuensi dan durasi menonton) dengan empati remaja (kognitif dan
afektif).
Formula koefisien Rank Spearman adalah:
Keterangan:
= korelasi Spearman
n = banyaknya pengamatan
d = disparitas atau selisih variabel X1 dan X2
Uji Chi Square digunakan untuk menguji hubungan antarvariabel skala nominal. Chi
Square digunakan untuk menguji perbedaan antara frekuensi pengamatan dan frekuensi yang
diharapkan. Prosedur tes Chi Square mentabulasi variabel ke dalam kategori-kategori dan
melakukan hipotesis bahwa frekuensi yang diamati tidak berbeda dengan nilai yang
diharapkan. Hasil uji Chi Square kemudian dilanjutkan dengan melihat keeratan hubungan
antara dua variabel dengan rumus koefisien kontingensi (C). Makin besar C berarti hubungan
antar dua variabel makin erat. Nilai C berkisar 0-1 (Singarimbun dan Effendi, 1989).
Keterangan:
= Chi Kuadrat
= Frekuensi yang diamati, kategori ke-i
= Frekuensi yang diharapkan dari kategori ke-i
k
= Jumlah kategori
Keterangan:
C
= koefisien kontingensi
= nilai Chi kuadrat
n
= banyaknya sampel
51
Pedoman untuk memberikan interpretasi terhadap koefisien korelasi menurut
Sugiyono (1999) adalah sebagai berikut:
0,00 - 0,19
hubungan rendah sekali.
0,20 - 0,39
hubungan rendah.
0,40 - 0,59
hubungan cukup.
0,60 - 0,79
hubungan kuat.
0,80 - 1,00
sangat kuat.
52
BAB IV
DESKRIPSI UMUM PROGRAM DAN
SMA NEGERI 1 DRAMAGA
4.1 Profil Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
‘Jika Aku Menjadi’ adalah salah satu program Trans TV yang menayangkan informasi
tentang lika-liku kehidupan orang dengan pekerjaan atau profesi tertentu dari kalangan
masyarakat kelas bawah, namun segmentasi pemirsa adalah tetap kelas A dan B (kelas atas
dan kelas menengah ke atas). Program ini diharapkan bisa membangkitkan semangat toleransi
dan solidaritas sosial dari masyarakat kelas atas terhadap mereka yang di kalangan bawah.
Melalui tayangan ini, penonton yang dari kelas segmen A dan B diharapkan akan lebih
memahami bagaimana kehidupan masyarakat bawah, dan dengan demikian bisa lebih
berempati dan solider, karena selama ini kalangan bawah itu hanya mereka lihat dari
permukaan.
Nama program
: Jika Aku Menjadi.
Tayang perdana
: 27 November 2007.
Durasi
: 30 menit termasuk iklan.
Hari tayang
: Sabtu dan Minggu, pukul 17.30 sampai 18.00 WIB.
Target audiens
: A dan B (kelas kelas atas dan menengah ke atas), perempuan dan
laki-laki.
Konsep tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ adalah program majalah berita, yang
menyuguhkan informasi seputar kehidupan kalangan kelas bawah (pemulung, nelayan, buruh
panggul pasar, kuli panggul pelabuhan, petani penggarap, penangkap kalong, buruh pemetik
jamur, tukang kayu, tukang ojek sepeda, dan lain-lain). Informasi dalam ‘Jika Aku Menjadi’
ditujukan untuk memberi pemahaman, empati pada masyarakat kelas atas. Tidak dengan cara
membagi-bagi uang atau barang atau renovasi rumah (seperti program di stasiun-stasiun TV
lain), tetapi dengan menampilkan keseharian mereka di rumah, di lingkungan sekitar, di
tempat kerja, dan sebagainya.
Penonton dalam paket program ini diwakili oleh talent, yang berasal dari kelas A dan
B (kelas atas dan menengah ke atas). Tayangan ini mengeksploitasi “kekikukan dan benturan
budaya” ketika talent harus belajar memahami, dan menyesuaikan diri dengan kondisi
53
narasumber kelas bawah yang ditampilkan. Misalnya, bagaimana talent (dengan tampilan
urban), yang biasa menggunakan toilet duduk ala budaya Barat, harus belajar buang air besar
di WC kali atau di sawah, bagaimana talent yang biasa makan di restoran, harus makan cuma
dengan nasi dan ikan asin murahan, bahkan nasi aking (nasi basi yang dijemur lalu dimasak
kembali) bersama tuan rumah, karena ia menginap di rumah petani miskin. Si talent dalam
tayangan ini harus tinggal setidaknya empat sampai lima hari dan menjalani hidup seperti
orang dari kalangan bawah yang menjadi narasumbernya. Ia harus mengikuti aktivitas orang
itu, mulai dari pagi, siang, sore, malam (si talent menumpang atau menginap di rumah si
narasumber), sampai pagi lagi. Apabila si narasumber biasa mandi di kali, si talent juga harus
ikut mandi di kali, kalau si narasumber tidur di kolong jembatan atau rumah gubuk di pinggir
rel kereta api, si talent juga harus bergabung di sana, kalau si narasumber adalah kenek bus, si
talent juga harus membantu menarik uang tarif bus dari para penumpang.
Letak daya tarik tayangan ini adalah mengeksploitasi kelucuan, kekikukan, kegerahan,
ketidaknyamanan, dan “penderitaan” dari talent, dalam menjalani kehidupan sebagai orang
kalangan bawah. Pada akhir episode tayangan, talent menyatakan “kesan-kesannya” dan
hikmah yang ia peroleh, setelah empat sampai lima hari menjalani kehidupan sebagai orang
kalangan bawah, si narasumber juga mengomentari, bagaimana “ketahanan mental” si talent
ketika harus hidup bersama mereka sebagai orang kalangan bawah.
Wilayah tema tayangan ini adalah kehidupan kumuh atau sederhana atau unik atau
susah dari masyarakat kelas bawah di perkotaan (pemulung, tukang bangunan, tukang ojek
sepeda, dan sebagainya). Objek atau narasumber yang dipilih adalah figur yang memberi
inspirasi (biar miskin, tetapi mau bekerja keras, bukan pemalas). Jadi, figur seperti pengemis,
yang hanya mau minta-minta tapi tak bekerja, tidak akan dipilih.
Acara ini dibawakan oleh seorang talent, yang tampil dengan gaya veritee
(penceritaan dari sudut pandang orang pertama) di setiap episode. Satu episode berisi satu
objek atau narasumber utama yang dieksploitasi seluruh sisi kehidupannya, melalui kacamata
atau pengalaman langsung talent, sehingga diharapkan dalam satu episode, pemirsa
memperoleh informasi secara utuh dan menyeluruh tentang kehidupan si narasumber (petani,
nelayan, pemulung, guru di tempat terpencil, dan sebagainya). Pemirsa seolah-olah diwakili
keterlibatannya di dalam tayangan, melalui kesan atau komentar atau pengalaman suka-duka
si talent, dalam usahanya memahami, menghayati, dan ikut menjalani kehidupan si
narasumber. Hali ini bisa menjadi pengalaman eksistensial yang mengejutkan dan
54
mengesankan buat si talent sendiri, maupun para pemirsa (segmen A dan B), yang dalam
kehidupan sehari-hari mungkin tidak pernah tahu detail kehidupan kalangan kelas bawah.
4.2 Profil SMA Negeri 1 Dramaga
Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Dramaga terletak di Jalan Babakan Dramaga No.
122 Bogor. SMAN 1 Dramaga dekat dengan instansi pendidikan lainnya yaitu SMPN 1
Dramaga dan kampus Institut Pertanian Bogor. SMAN 1 Dramaga berdiri pada tanggal 16
Juli 2006 dengan visi “Terwujudnya peserta didik yang berprestasi berlandaskan keimanan
dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa” dan misi: 1) menumbuhkan budaya membaca
bagi warga sekolah; 2) melakukan proses pembelajaran yang efektif; 3) menumbuhkan
semangat berprestasi warga sekolah dalam berkarya; 4) meningkatkan prestasi non akademis
bagi siswa yang berbakat; 5) meningkatkan sarana atau prasarana ibadah; dan 6)
mengembangkan partisipasi warga sekolah dan komite sesuai dengan tugas dan fungsi. Kelaskelas yang ada di SMAN 1 Dramaga adalah kelas X1, X2, X3, XI IPA 1, XI IPA 2, XI IPS,
XII IPA 1, XII IPA 2, dan XII IPS, dengan jumlah murid sebanyak 325 orang. Guru SMAN 1
Dramaga berjumlah 20 orang yang 100 persen bergelar sarjana dan pegawai tata usaha
berjumlah lima orang.
SMAN 1 Dramaga memiliki beberapa sarana fisik seperti: ruang belajar, ruang kepala
sekolah, ruang guru, ruang tata usaha, laboratorium komputer, lapangan upacara, lapangan
olahraga, mushola, kamar kecil atau WC, kantin, dan pos satpam.
4.3 Profil Siswa Kelas X dan XI SMA Negeri 1 Dramaga
Pada awal penelitian, dilakukan full enumeration survey kepada seluruh siswa kelas X
dan XI SMAN 1 Dramaga dan hasilnya tersaji pada Tabel 2. Pada Tabel tersebut diketahui
bahwa dari 228 (100 persen) siswa, ternyata 113 (49,5 persen) siswa yang menonton tayangan
‘Jika Aku Menjadi’. Siswa yang menonton tayangan tersebut adalah responden dalam
penelitian ini. Profil siswa kelas X dan XI SMAN 1 Dramaga meliputi faktor internal (jenis
kelamin, motivasi menonton, dan peringkat di kelas) dan faktor eksternal (domisili, uang
saku, kegiatan ekstrakurikuler, pekerjaan orang tua, dan pendapatan orang tua) remaja
merupakan faktor yang diduga berhubungan dengan terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’.
55
Tabel 2. Jumlah dan Persentase Siswa Kelas X dan XI SMAN 1 Dramaga yang Menonton
dan Tidak Menonton ‘Jika Aku Menjadi’ Berdasarkan Jenis Kelamin, Domisili,
Uang Saku, dan Kegiatan Ekstrakurikuler
Menonton JAM
Jumlah
(orang)
Persen
(%)
Tidak menonton
JAM
Jumlah Persen
(orang)
(%)
26
87
29,2
62,5
63
52
70,8
37,5
89
139
100,0
100,0
106
7
48,2
87,5
114
1
51,8
12,5
220
8
100,0
100,0
16
74
50,0
51,0
16
71
50,0
49,0
32
145
100,0
100,0
23
45,0
28
55,0
51
100,0
56
33
24
113
37,8
58,9
100,0
49,6
92
23
0
115
62,2
41,1
0,0
50,4
148
56
24
228
100,0
100,0
100,0
100,0
Profil siswa
Jenis Kelamin:
Laki-laki
Perempuan
Domisili:
Desa
Kota
Uang Saku (per hari):
Rendah (< Rp5.000,00)
Sedang (Rp5.000,00 sampai
Rp10.000,00)
Tinggi (> Rp10.000)
Kegiatan Ekstrakurikuler:
Tidak ikut
Sedikit (ikut satu kegiatan)
Banyak (ikut > 1 kegiatan)
Total
Total
Jumlah
(orang)
Persen
(%)
4.3.1 Jenis Kelamin
Siswa kelas X dan XI SMAN 1 Dramaga dibedakan menurut jenis kelamin
berdasarkan pembedaan secara biologis yang dikategorikan atas laki-laki dan perempuan.
Tabel 2 menunjukkan siswa kelas X dan XI SMAN 1 Dramaga yang berjenis kelamin lakilaki yang menonton ‘Jika Aku Menjadi’ sebanyak 26 (29,2 persen) siswa dan yang tidak
menonton ‘Jika Aku Menjadi’ sebanyak 63 (70,8 persen) siswa, sedangkan siswa yang
berjenis kelamin perempuan yang menonton ‘Jika Aku Menjadi’ sebanyak 87 (62,5 persen)
siswa dan yang tidak menonton ‘Jika Aku Menjadi’ sebanyak 52 (37,5 persen) siswa. Oleh
karena itu, dapat dinyatakan bahwa mayoritas siswa perempuan menonton ‘Jika Aku
Menjadi’. Berdasarkan jawaban beberapa siswa laki-laki maupun perempuan tidak menonton
‘Jika Aku Menjadi’ dengan alasan mereka tidak tertarik ketika melihat iklan promo tayangan
tersebut di TV, sebagian lagi bahkan mengatakan mereka tidak tahu kalau ada tayangan ‘Jika
Aku Menjadi’ di TV.
4.3.2 Domisili
56
Siswa kelas X dan XI SMAN 1 Dramaga dibedakan menurut domisili berdasarkan
tempat tinggal siswa yang dikategorikan atas desa dan kota. Data pada Tabel 2 menunjukkan
siswa kelas X dan XI SMAN 1 Dramaga yang berdomisili di desa yang menonton ‘Jika Aku
Menjadi’ sebanyak 106 (48,2 persen) siswa dan yang tidak menonton ‘Jika Aku Menjadi’
sebanyak 114 (51,8 persen) siswa, sedangkan siswa yang berdomisili di kota yang menonton
‘Jika Aku Menjadi’ sebanyak 7 (87,5 persen) siswa dan yang tidak menonton hanya satu (12,5
persen) siswa. Oleh karena itu, dapat dinyatakan bahwa persentase siswa yang berdomisili di
kota lebih banyak yang menonton ‘Jika Aku Menjadi’ daripada yang berdomisili di desa.
4.3.3 Uang Saku
Uang saku siswa kelas X dan XI SMAN 1 Dramaga dikategorikan menjadi rendah,
sedang, dan tinggi berdasarkan jumlah uang yang diberikan orang tua setiap harinya meliputi
uang jajan dan biaya transportasi ke sekolah. Data pada Tabel 2 menunjukkan siswa kelas X
dan XI SMAN 1 Dramaga memiliki uang saku rendah yang menonton ‘Jika Aku Menjadi’
sebanyak 16 (50,0 persen) siswa dan yang tidak menonton ‘Jika Aku Menjadi’ sebanyak 16
(50,0 persen) siswa. Siswa yang memiliki uang saku sedang yang menonton ‘Jika Aku
Menjadi’ sebanyak 74 (51,0 persen) siswa dan yang tidak menonton ‘Jika Aku Menjadi’
sebanyak 71 (49,0 persen) siswa, sedangkan siswa yang memiliki uang saku tinggi yang
menonton ‘Jika Aku Menjadi’ sebanyak 23 (45,0 persen) siswa dan yang tidak menonton
‘Jika Aku Menjadi’ sebanyak 28 (55,0 persen) siswa. Oleh karena itu, dapat dinyatakan
bahwa persentase siswa yang memiliki uang saku sedang lebih banyak yang menonton ‘Jika
Aku Menjadi’ daripada siswa yang memiliki uang saku rendah dan tinggi.
4.3.4 Kegiatan Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler siswa kelas X dan XI SMAN 1 Dramaga meliputi Pramuka,
Paskibra, PMR, Seni Musik, dan Olahraga (Basket, Bulu Tangkis, Sepak Bola). Data yang
tersaji pada Tabel 2 menunjukkan siswa kelas X dan XI SMAN 1 Dramaga yang tidak ikut
kegiatan ekstrakurikuler yang menonton ‘Jika Aku Menjadi’ sebanyak 56 (37,8 persen) siswa
dan yang tidak menonton ‘Jika Aku Menjadi’ sebanyak 92 (62,2 persen) siswa. Siswa yang
sedikit mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang menonton ‘Jika Aku Menjadi’ sebanyak 33
(58,9 persen) siswa dan yang tidak menonton ‘Jika Aku Menjadi’ sebanyak 23 (41,1 persen)
57
siswa, sedangkan siswa yang banyak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seluruhnya
menonton ‘Jika Aku Menjadi’ sebanyak 24 (100,0 persen). Oleh karena itu, dapat dinyatakan
bahwa seluruh siswa yang mengikuti banyak kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya
menonton ‘Jika Aku Menjadi’.
4.4 Profil Responden
Siswa yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah siswa yang pernah
menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ dan telah dipilih secara simple random sampling.
Profil responden terdiri dari faktor internal (jenis kelamin, motivasi menonton, dan peringkat
di kelas) dan faktor eksternal (domisili, uang saku, kegiatan ekstrakurikuler, pekerjaan orang
tua, dan pendapatan orang tua). Faktor-faktor ini diduga berhubungan dengan terpaan
tayangan ‘Jika Aku Menjadi’. Sebaran data responden diuraikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan
Jenis
Kelamin,
Motivasi
Menonton, Peringkat di Kelas, Domisili, Uang Saku, Kegiatan Ekstrakurikuler,
Pekerjaan Orang Tua, dan Pendapatan Orang Tua
Profil responden
Jenis Kelamin: Laki-laki
Perempuan
Motivasi Menonton: Informasi
Hiburan
Interaksi Sosial
Identitas Pribadi
Peringkat di Kelas:
Tidak diketahui
Rendah (peringkat > 10)
Sedang (peringkat enam sampai 10)
Tinggi (peringkat satu sampai lima)
Domisili: Desa
Kota
Uang Saku (per hari):
Rendah (< Rp5.000,00)
Sedang (Rp5.000,00 sampai Rp10.000,00)
Tinggi (> Rp10.000)
Kegiatan Ekstrakurikuler:
Tidak ikut
Sedikit (ikut satu kegiatan)
Banyak (ikut lebih dari satu kegiatan)
Pekerjaan Orang Tua
Ayah: Buruh
Wiraswasta
Pegawai Swasta
PNS
Petani
Jumlah (orang)
24
46
6
7
52
5
34,3
65,7
8,6
10,0
74,3
7,1
Persen (%)
9
38
9
14
65
5
12,9
54,2
12,9
20,0
92,9
7,1
7
50
13
10,0
71,4
18,6
25
28
17
35,7
40,0
24,3
10
27
21
9
3
14,3
38,6
30,0
12,8
4,3
58
Ibu: Ibu rumahtangga
Buruh
Wiraswasta
Pegawai Swasta
Pendapatan Orang Tua (per bulan):
Rendah (< Rp2.000.000,00)
Sedang (Rp2.000.000,00 sampai Rp4.000.000,00)
Tinggi (> Rp4.000.000,00)
52
1
5
12
74,4
1,4
7,1
17,1
30
30
10
42,9
42,9
14,2
Total
70
100,0
4.4.1 Jenis Kelamin
Data yang tersaji pada Tabel 3 menunjukkan responden mayoritas berjenis kelamin
perempuan, yaitu sebanyak 46 (65,7 persen) responden. Hal ini dapat dipahami karena jumlah
siswa lebih banyak berjenis kelamin perempuan, sehingga ketika dipilih secara acak jumlah
responden tetap didominasi oleh perempuan.
4.4.2 Motivasi Menonton
Motivasi menonton meliputi motivasi pengetahuan, hiburan, interaksi sosial, dan
identitas sosial. Data yang tersaji pada Tabel 3 menunjukkan responden mayoritas memiliki
motivasi interaksi sosial dalam menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’, yaitu sebanyak 52
(74,3 persen) responden. Berdasarkan jawaban responden pada kuesioner, menunjukkan
bahwa responden termotivasi menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ karena melalui
tontonan tersebut, responden menemukan bahan percakapan untuk berinteraksi dengan orang
lain, misalnya teman kelasnya. Responden yang memiliki motivasi informasi menyatakan
mereka menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ dikarenakan ingin mencari berita tentang
peristiwa yang terjadi di masyarakat, memuaskan rasa ingin tahu mereka tentang kondisi
lingkungan terdekat. Responden yang memiliki motivasi hiburan menyatakan mereka
menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ untuk menghabiskan waktu luang, sedangkan
responden yang memiliki motivasi identitas pribadi menyatakan mereka menonton tayangan
‘Jika Aku Menjadi’ dikarenakan ingin meningkatkan pemahaman tentang diri sendiri.
4.4.3 Peringkat di Kelas
Peringkat di kelas responden dikategorikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi
berdasarkan penilaian guru yang dinyatakan pada akumulasi nilai akademik total setiap
59
semester dalam buku rapor. Peringkat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah peringkat di
kelas yang diraih pada semester awal kelas X dan XI. Data yang tersaji pada Tabel 3
menunjukkan responden mayoritas memiliki peringkat di kelas yang rendah, yaitu sebanyak
38 (54,2 persen) responden. Ada Sembilan (12,9 persen) responden yang tidak diketahui
peringkat di kelasnya. Hal ini dikarenakan pemberian ranking di rapor tidak lagi dilakukan
oleh wali kelas untuk kelas X3 dan XI IPA 2, tetapi wali kelas X1, X2, XI IPA 1, dan XI IPS
masih memberikan ranking pada rapor untuk dengan alasan memacu anak-anak didik untuk
berprestasi. Perbedaan ini terjadi karena Kepala SMAN 1 Dramaga memberikan wewenang
kepada tiap wali kelas untuk mengatur sendiri teknis penulisan ranking di rapor pada masingmasing kelas.
4.4.4 Domisili
Domisili responden adalah situasi yang menggambarkan lokasi tempat tinggal
responden. Domisili responden digolongkan menjadi desa dan kota. Responden dikategorikan
berdomisili di desa jika tempat tinggal mereka berada di wilayah Kecamatan Dramaga,
sedangkan kategori kota jika responden bertempat tinggal di kota Bogor. Data yang tersaji
pada Tabel 3 menunjukkan hampir seluruh responden berdomisili di desa, hanya 5 (7,1
persen) dari total responden yang berdomisili di kota. Berdasarkan jawaban responden yang
terdapat pada kuesioner, mereka yang berdomisili di desa bertempat tinggal dekat dengan
sekolah mereka, yaitu berlokasi di Desa Babakan Lebak, Desa Babakan Lio, Desa Ciampea
dan di Desa Cibanteng. Hasil wawancara kelompok antara peneliti dengan responden yang
berdomisili di kota, mereka memilih bersekolah di SMAN 1 Dramaga dengan alasan tidak
diterima di sekolah negeri yang berada di sekitar Kota Bogor karena nilai mereka tidak
memenuhi kriteria untuk masuk di sekolah tersebut.
4.4.5 Uang Saku
Uang saku responden dikategorikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi berdasarkan
jumlah uang yang diberikan orang tua setiap harinya meliputi uang jajan dan biaya
transportasi ke sekolah. Data yang tersaji pada Tabel 3 menunjukkan mayoritas responden
memiliki uang saku sedang (sekitar Rp5.000,00 sampai Rp10.000 per hari), yaitu sebanyak 50
(71,4 persen) responden. Berdasarkan jawaban responden yang terdapat pada kuesioner,
60
sebagian besar dari mereka setiap harinya mendapat uang saku sebesar Rp10.000,00. Hasil
wawancara kelompok antara peneliti dengan responden yang memiliki uang saku tergolong
sedang menyatakan uang saku mereka hanya digunakan untuk jajan di sekolah, karena
sebagian besar dari mereka bertempat tinggal dekat dengan sekolahan sehingga tidak
memerlukan uang tambahan untuk ongkos, berbeda dengan responden yang tinggal di Kota
Bogor.
4.4.6 Kegiatan Ekstrakurikuler
Berdasarkan jawaban yang terdapat dalam kuesioner, kegiatan ekstrakurikuler yang
diikuti responden meliputi Pramuka, Paskibra, PMR, Seni Musik, dan Olahraga (Basket, Bulu
Tangkis, Sepak Bola). Responden pada penelitian ini dikategorikan berdasarkan yang tidak
ikut, sedikit, dan banyak kegiatan ekstrakurikuler. Data yang tersaji pada Tabel 3
menunjukkan responden yang tidak mengikuti dan yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler
kategori sedikit (hanya mengikuti satu kegiatan ekstrakurikuler saja) mempunyai angka yang
tidak berbeda jauh, yaitu sebanyak 25 (35,7 persen) dan 28 (40,0 persen) responden. Menurut
keterangan sebagian responden yang tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya
melalui hasil wawancara kelompok menyatakan kesibukan mereka di luar sekolah, misalnya
ikut bimbingan belajar, kursus Bahasa Inggris, dan membantu orang tua. Mereka juga
menambahkan adanya jadwal masuk sekolah siang hari, yaitu pukul 13.00 WIB membuat
mereka mengalami keterbatasan waktu untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
4.4.7 Pekerjaan Orang Tua
Pekerjaan orang tua merupakan macam usaha yang dilakukan bapak atau ibu atau wali
yang menjadi sumber penghasilan utama keluarga, yang dikategorikan menjadi ibu
rumahtangga, buruh, wiraswasta, PNS, swasta, nelayan, dan lainnya. Data yang tersaji pada
Tabel 3 menunjukkan pekerjaan orang tua responden beragam. Proporsi terbesar pekerjaan
ayah responden adalah wiraswasta, yaitu sebanyak 27 (38,6 persen) responden, sedangkan
proporsi terkecil pekerjaan ayah responden adalah petani, yaitu sebanyak 3 (4,3 persen)
responden. Berdasarkan jawaban responden melalui wawancara kelompok, wiraswasta
mencakup memiliki usaha sendiri, seperti padagang keliling, pengelola warung atau toko, dan
penjual usaha jasa. Proporsi terbanyak pekerjaan ibu adalah ibu rumahtangga, yaitu sebanyak
61
52 (74,4 persen) siswa, sedangkan proporsi terkecil pekerjaan ibu responden adalah buruh,
yaitu hanya 1 (1,4 persen) responden saja.
4.4.8 Pendapatan Orang Tua
Pendapatan orang tua adalah sejumlah uang yang dihasilkan ayah dan ibu atau wali
dari pekerjaannya dalam satu bulan, yang dikategorikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi.
Data hasil survei melalui kuesioner yang tersaji pada Tabel 3 menunjukkan proporsi
pendapatan orang tua responden yang tergolong rendah (berkisar dibawah Rp2.000.000 per
bulan) dan sedang (berkisar Rp2.000.000 sampai Rp4.000.000 per bulan) adalah sama, yaitu
sebanyak 30 (42,9 persen) responden, sedangkan proporsi terkecil pendapatan orang tua
responden tergolong tinggi (berkisar di atas Rp4.000.000 perbulan) hanya sebanyak 10 (14,3
persen) responden saja. Berdasarkan jawaban responden yang terdapat dalam kuesioner,
untuk pendapatan orang tua responden yang tergolong tinggi dimiliki oleh mereka yang kedua
orang tuanya (ayah dan ibu) bekerja dan mempunyai pendapatan. Berdasarkan data yang ada,
sebagian besar ibu responden adalah ibu rumahtangga sehingga pendapatan yang diperoleh
dalam rumahtangga hanya bersumber dari ayah saja, oleh karena itu pendapatan dalam
rumahtangga hanya tergolong kecil dan sedang.
62
BAB V
TERPAAN TAYANGAN ‘JIKA AKU MENJADI’ DAN FAKTORFAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
5.1 Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
Berdasarkan hasil full enumeration survey, diketahui sebanyak 113 (49,6 persen)
siswa dari 228 (100,0 persen) siswa pernah menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’. Setelah
menggunakan rumus Slovin dengan ketelitian 10 persen kemudian dipilih secara simple
random sampling, diperoleh 70 responden penelitian. Terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
berkaitan dengan frekuensi dan durasi menonton terhadap tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ yang
disajikan oleh Trans TV. Frekuensi menonton diukur dengan pertanyaan-pertanyaan untuk
responden tentang berapa kali responden menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ dalam satu
bulan. Pertanyaan frekuensi menonton diukur dari jawaban responden yang kemudian
dikelompokkan menjadi frekuensi menonton rendah, sedang, dan tinggi. Frekuensi menonton
dikatakan tinggi menunjukkan bahwa responden tersebut mempunyai kesempatan lebih
banyak dalam menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’. Pada Tabel 4 disajikan jumlah dan
persentase responden berdasarkan frekuensi menonton dan durasi menonton tayangan ‘Jika
Aku Menjadi’.
Tabel 4. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Frekuensi Menonton dan Durasi
Menonton Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
Terpaan Tayangan
Frekuensi Menonton (dalam sebulan)
Rendah (kurang dari tiga kali)
Sedang (tiga sampai lima)
Tinggi (lebih dari lima kali)
Durasi Menonton (dalam menit)
Rendah(kurang dari 20)
Sedang (20 sampai 40)
Tinggi (lebih dari 40)
Total
Jumlah (orang)
Persen (%)
13
37
20
18,6
52,9
28,6
14
16
40
70
20,0
22,9
57,1
100,0
Data yang tersaji pada Tabel 4 diketahui bahwa mayoritas responden memiliki
frekuensi menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ kategori sedang (menonton JAM sekitar
tiga sampai lima kali dalam satu bulan), yaitu sebanyak 37 (52,9 persen) responden.
Berdasarkan jawaban responden yang diperoleh melalui wawancara kelompok, mereka yang
memiliki frekuensi menonton kategori sedang mengaku tidak rutin mengikuti tayangan setiap
63
episodenya dalam satu bulan dikarenakan adanya kegiatan lain yang bersifat pribadi pada hari
Sabtu atau Minggu.
Durasi menonton diukur dengan pertanyaan-pertanyaan untuk responden tentang
berapa lama waktu responden menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ dalam satu kali
penayangan. Pertanyaan durasi menonton diukur dari jawaban responden yang kemudian
dikelompokkan menjadi durasi menonton rendah, sedang, dan tinggi. Data yang tersaji pada
Tabel 4 diketahui mayoritas responden memiliki durasi menonton kategori tinggi, yaitu
sebanyak 40 (57,1 persen) responden. Berdasarkan jawaban responden yang diperoleh melalui
wawancara kelompok, mereka yang memiliki durasi menonton kategori sedang (menonton
JAM sekitar 20 sampai 40 menit) mengaku tidak menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ dari
awal hingga akhir tayangan setiap episodenya dikarenakan ketika ada iklan, mereka
mengganti dengan tayangan lain. Pada saat mereka ingin kembali lagi menonton ‘Jika Aku
Menjadi’, ada bagian yang terlewat yang tidak ditonton oleh responden karena mereka
terlambat beberapa menit mengganti kembali ke tayangan ‘Jika Aku Menjadi’. Sebagian
responden juga mengatakan ketika menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ ada bagian yang
tidak menarik, mereka menggantinya dengan menonton tayangan lain.
5.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
Dua faktor yang berpotensi mempengaruhi terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
adalah faktor internal (jenis kelamin, motivasi, dan peringkat di kelas) dan faktor eksternal
(domisili, uang saku, kegiatan ekstrakurikuler, pekerjaan orang tua, dan pendapatan orang
tua). Kedua faktor tersebut diduga mempengaruhi terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ dan
dijelaskan pada uraian berikut.
5.2.1 Pengaruh Faktor Internal terhadap Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
Faktor internal remaja yang berpotensi mempengaruhi terpaan tayangan ‘Jika Aku
Menjadi’ adalah jenis kelamin, motivasi menonton, dan peringkat di kelas. Hasil pengujian
hubungan antara faktor internal remaja dengan terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ disajikan
secara ringkas pada Tabel 5.
Tabel 5. Nilai Uji Chi Square dan Rank Spearman Hubungan antara Faktor Internal Remaja
dengan Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
64
Faktor Internal
Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
Frekuensi Menonoton
Durasi Menonton
χ²
Asymp Sig
χ²
Asymp Sig
atau
atau
atau
atau
Sig
Sig
Jenis Kelamin
4,757
Motivasi Menonton
3,245
Peringkat di Kelas
0,337*
Keterangan :
*: berhubungan nyata pada α= 5 persen
0,093
0,778
0,001*
4,969
7,594
0,434*
0,083
0,269
0,000*
Data hasil survei melalui kuesioner yang telah diuji dengan Chi Square dan Rank
Spearman yang tersaji pada Tabel 5 diketahui hanya peringkat di kelas yang menunjukkan
hubungan nyata (Sig < 0,05) terhadap frekuensi menonton dan durasi menonton tayangan
‘Jika Aku Menjadi’
5.2.1.1 Hubungan Jenis Kelamin dengan Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
Berdasarkan data yang telah diuji dengan Chi Square membuktikan bahwa jenis
kelamin tidak berhubungan dengan terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’, baik frekuensi
menonton maupun durasi menonton. Hubungan jenis kelamin dengan frekuensi menonton
dijelaskan dengan hasil uji Chi Square, didapat bahwa χ² hitung (4,757) < χ² tabel (5,991),
atau Asymp Sig (0,093) > α (0,05), maka Ho diterima, sedangkan untuk durasi menonton
didapat bahwa χ² hitung (4,969) < χ² tabel (5,991), atau Asymp Sig (0,083) > α (0,05), maka
Ho diterima. Jadi, dapat dinyatakan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan
frekuensi menonton dan durasi menonton. Artinya, tidak ada perbedaan antara responden lakilaki dan perempuan dalam hal frekuensi menonton dan durasi menonton tayangan ‘Jika Aku
Menjadi’. Berdasarkan jawaban responden, ternyata responden laki-laki menyukai tayangan
‘Jika Aku Menjadi’, walaupun pada kenyataannya kebanyakan penonton reality show adalah
perempuan. Mereka menilai tayangan ini berbeda dengan reality show lainnya, sehingga
kaum laki-laki pun tertarik untuk menontonnya. Responden laki-laki mengaku tidak menyukai
tayangan reality show karena terkesan ‘berlebihan’, berbeda dengan ‘Jika Aku Menjadi’.
Menurut mereka tayangan tersebut pantas ditonton laki-laki juga. Oleh karena itu, jenis
kelamin tidak mempengaruhi frekuensi menonton dan durasi menonton.
5.2.1.2 Hubungan Motivasi Menonton dengan Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
65
Motivasi menonton merupakan bagian faktor internal responden. Motivasi menonton
merupakan dorongan yang timbul dari dalam diri remaja untuk menonton tayangan ‘Jika Aku
Menjadi’ sesuai kebutuhannya yang berpotensi mengarahkan perilaku remaja tersebut dalam
menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’, yang meliputi motivasi pengetahuan, hiburan,
interaksi sosial, dan identitas sosial. Data yang tersaji pada Tabel 5 diketahui bahwa motivasi
menonton tidak berhubungan dengan terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’, baik frekuensi
menonton maupun durasi menonton. Hubungan motivasi menonton dengan frekuensi
menonton dijelaskan dengan hasil uji Chi Square, didapat bahwa χ² hitung (3,245) < χ² tabel
(12,592), atau Asymp Sig (0,778) > α (0,05), maka Ho diterima, sedangkan untuk durasi
menonton didapat bahwa χ² hitung (7,594) < χ² tabel (12,592), atau Asymp Sig (0,269) > α
(0,05), maka Ho diterima. Jadi, dapat dinyatakan bahwa tidak ada hubungan antara motivasi
menonton dengan frekuensi menonton dan durasi menonton. Artinya, tidak adanya perbedaan
diantara responden yang memiliki motivasi pengetahuan, hiburan, interaksi sosial, atau
identitas sosial dalam hal sering atau tidaknya menonton dan lamanya waktu menonton
tayangan ‘Jika Aku Menjadi’. Jadi, apapun motivasi mereka dalam menonton, tidak
berhubungan dengan frekuensi menonton dan durasi menonton.
5.2.1.3 Hubungan Peringkat di Kelas dengan Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
Peringkat di kelas berhubungan nyata dengan terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’,
baik frekuensi menonton maupun durasi menonton. Hubungan peringkat di kelas dengan
frekuensi menonton dijelaskan dengan hasil uji Rank Spearman, didapat bahwa Sig (0,001) <
α (0,05), maka Ho ditolak. Jadi, dapat dikatakan bahwa ada hubungan nyata antara peringkat
di kelas dengan frekuensi menonton. Semakin tinggi peringkat di kelas, maka semakin tinggi
pula frekuensi menontonnya. Sama halnya dengan frekuensi menonton, hubungan peringkat
di kelas dengan durasi menonton dijelaskan dengan uji Rank Spearman, didapat bahwa Sig
(0,000) < α (0,05), maka Ho ditolak. Jadi, dapat dikatakan bahwa ada hubungan nyata antara
peringkat di kelas dengan durasi menonton. Semakin tinggi peringkat di kelas maka semakin
tinggi pula durasi menonton.
Berdasarkan jawaban responden, mereka yang peringkat di kelasnya tergolong tinggi
lebih sering dan memiliki waktu yang lebih lengkap menonton tayangan ’Jika Aku Menjadi’
dibandingkan dengan mereka yang peringkat di kelasnya tergolong rendah. Hal ini
dikarenakan mereka yang peringkat di kelasnya tergolong tinggi lebih memilih menonton
66
tayangan ’Jika Aku Menjadi’ dibandingkan tayangan reality show lainnya dengan alasan
tayangan ini banyak memberikan informasi yang positif untuk mereka, bermuatan sosial, dan
memberikan rasa empati setelah menontonnya.
5.2.2
Pengaruh Faktor Eksternal terhadap Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
Selain faktor internal, faktor eksternal remaja yang terdiri dari domisili, uang saku,
kegiatan ekstrakurikuler, pekerjaan orang tua, dan pendapatan orang tua, juga berpotensi
mempengaruhi terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’. Hasil pengujian hubungan antara faktor
eksternal remaja dengan terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ disajikan secara ringkas pada
Tabel 6.
Tabel 6. Nilai Uji Chi Square dan Rank Spearman Hubungan antara Faktor Eksternal
Remaja dengan Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
Faktor Eksternal
Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
Frekuensi Menonoton
Durasi Menonton
χ²
Asymp Sig
χ²
Asymp Sig
atau
atau
atau
atau
Sig
Sig
Domisili
1,889
Uang Saku
0,131
Kegiatan Ekstrakurikuler
0,395*
Pekerjaan Orang Tua
-Ayah:
11,199
-Ibu:
6,861
Pendapatan Orang Tua
0,099
Keterangan :
*: berhubungan nyata pada α=5 persen
0,389
0,280
0,000*
4,604
0,008
0,537*
0,100
0,947
0,000*
0,342
0,334
0,413
7,920
3,109
0,076
0,637
0,795
0,530
Hasil uji Chi Square dan Rank Spearman yang terdapat pada Tabel 6 menunjukkan
faktor eksternal seperti domisili, uang saku, pekerjaan orang tua; ayah dan ibu, dan
pendapatan orang tua tidak berhubungan dengan terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’, baik
frekuensi menonton maupun durasi menonton. Hanya kegiatan ekstrakurikuler yang
menunjukkan hubungan dengan frekuensi menonton dan durasi menonton.
Kegiatan ekstrakurikuler berhubungan nyata (Sig < 0,05) dengan frekuensi menonton
dan durasi menonton. Hal ini menunjukkan bahwa banyaknya kegiatan ekstrakurikuler yang
67
diikuti responden menentukan tinggi rendahnya frekuensi menonton dan durasi menonton
tayangan ‘Jika Aku Menjadi’.
5.2.2.1 Hubungan Domisili dengan Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
Domisili tidak berhubungan dengan terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’, baik
frekuensi menonton maupun durasi menonton. Domisili responden dalam penelitian ini yakni
tempat tinggal responden yang berada di desa atau di kota. Hubungan jenis kelamin dengan
frekuensi menonton dijelaskan dengan hasil uji Chi Square, didapat bahwa χ² hitung (1,889) <
χ² tabel (12,592), atau Asymp Sig (0,389) > α (0,05), maka Ho diterima, sedangkan untuk
durasi menonton didapat bahwa χ² hitung (4,604) < χ² tabel (12,592), atau Asymp Sig (0,100)
> α (0,05), maka Ho diterima. Jadi, dapat dinyatakan bahwa tidak ada hubungan antara
domisili dengan frekuensi menonton dan durasi menonton. Artinya, tidak ada perbedaan
antara responden yang berdomisili di desa dan di kota dalam hal frekuensi menonton dan
durasi menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’. Menurut jawaban responden, mereka yang
berdomisili di desa maupun di kota menyukai tayangan ‘Jika Aku Menjadi’.
5.2.2.2 Hubungan Uang Saku dengan Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
Uang Saku tidak berhubungan dengan terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’, baik
frekuensi menonton maupun durasi menonton. Hubungan uang saku dengan frekuensi
menonton dijelaskan dengan hasil uji Rank Spearman, didapat bahwa Sig (0,280) > α (0,05),
maka Ho diterima, sedangkan untuk durasi menonton didapat bahwa Sig (0,947) > α (0,05),
maka Ho diterima. Jadi, dapat dinyatakan bahwa tidak ada hubungan antara uang saku dengan
frekuensi menonton dan durasi menonton. Artinya, tidak ada perbedaan antara responden
yang memiliki uang saku tinggi, sedang, dan yang memiliki uang saku rendah dalam hal
frekuensi menonton dan durasi menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’.
Penelitian ini berbeda dengan penelitian Bajjari yang dikutip oleh Testiandini (2006)
yang menyatakan bahwa jika dilihat dari sisi uang saku semakin tinggi uang saku ternyata
semakin seseorang menyisihkan televisi karena kesenangan non media yang lebih luas.
Menurut jawaban responden, mereka yang memiliki uang saku yang tergolong tinggi tidak
menyisihkan uang mereka untuk kesenangan non media. Mereka mendapat uang saku lebih
tinggi dari responden lainnya dikarenakan uang mereka digunakan untuk ongkos berangkat
dan pulang dari sekolah.
68
5.2.2.3 Hubungan Kegiatan Ekstrakurikuler dengan Terpaan Tayangan ‘Jika Aku
Menjadi’
Hubungan kegiatan ekstrakurikuler dengan frekuensi menonton dijelaskan dengan
hasil uji Rank Spearman, didapat bahwa Sig (0,000) < α (0,05), maka Ho ditolak. Jadi, dapat
dinyatakan bahwa ada hubungan nyata antara kegiatan ekstrakurikuler dengan frekuensi
menonton. Semakin banyak kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti responden, maka semakin
tinggi pula frekuensi menontonnya. Sama halnya dengan frekuensi menonton, hubungan
nyata antara kegiatan ekstrakurikuler dengan durasi menonton dijelaskan dengan uji Rank
Spearman, didapat bahwa Sig (0,000) < α (0,05), maka Ho ditolak. Jadi, dapat dinyatakan
bahwa semakin banyak kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti, maka semakin tinggi pula
durasi menonton.
Berdasarkan jawaban
responden, mereka
yang mengikuti banyak kegiatan
ekstrakurikuler di sekolah lebih sering dan memiliki waktu yang lebih lengkap dalam
menonton tayangan ’Jika Aku Menjadi’ dibandingkan dengan mereka yang sedikit bahkan
tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Banyaknya pengalaman organisai yang
diperoleh selama mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah membuat responden
bertambah kepedulian dan rasa tanggung jawabnya. Semakin banyak responden berinteraksi
dengan orang lain, mereka menjadi lebih peka terhadap orang lain. Adanya rasa ingin tahu
tentang keadaan orang lain, membuat responden memilih menonton ’Jika Aku Menjadi’.
5.2.2.4 Hubungan Pekerjaan Orang Tua dengan Terpaan Tayangan ‘Jika Aku
Menjadi’
Hubungan pekerjaan ayah dengan frekuensi menonton dijelaskan dengan hasil uji Chi
Square, didapat bahwa χ² hitung (11,199) < χ² tabel (18,31), atau Asymp Sig (0,342) > α
(0,05), maka Ho diterima, sedangkan untuk durasi menonton didapat bahwa χ² hitung (7,920)
< χ² tabel (18,31), atau Asymp Sig (0,637) > α (0,05), maka Ho diterima. Jadi, dapat
dinyatakan bahwa tidak ada hubungan antara pekerjaan ayah dengan frekuensi menonton dan
durasi menonton. Artinya, tidak ada perbedaan antara responden yang pekerjaan ayahnya
buruh, wiraswasta, swasta, PNS, atau petani dalam hal frekuensi menonton dan durasi
menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’.
69
Hubungan pekerjaan ibu dengan durasi menonton dijelaskan dengan hasil uji Chi
Square, didapat bahwa χ² hitung (6,861) < χ² tabel (18,31), atau Asymp Sig (0,334) > α
(0,05), maka Ho diterima, sedangkan untuk durasi menonton didapat bahwa χ² hitung (3,109)
< χ² tabel (18,31), atau Asymp Sig (0,795) > α (0,05), maka Ho diterima. Jadi, dapat
dinyatakan bahwa tidak ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan frekuensi menonton dan
durasi menonton. Artinya , tidak ada perbedaan antara responden yang pekerjaan ibunya ibu
rumahtangga, buruh, wiraswasta, atau swasta dalam hal frekuensi menonton dan durasi
menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’.
Berdasarkan jawaban responden, pekerjaan orang tua, baik pekerjaan ayah atau ibu
tidak mempengaruhi terpaan tayangan ‘Jika Aku menjadi’ dalam hal frekuensi menonton dan
durasi menonton dikarenakan dalam aktivitas menonton televisi, mereka tidak didampingi
oleh orang tua mereka. Responden diberi kebebasan dalam memilih tayangan oleh orang tua
mereka. Oleh karena itu, pekerjaan orang tua tidak berpengaruh terhadap terpaan tayangan
‘Jika Aku Menjadi’.
5.2.2.5 Hubungan Pendapatan Orang Tua dengan Terpaan Tayangan ‘Jika Aku
Menjadi’
Pendapatan orang tua tidak berhubungan dengan terpaan tayangan ‘Jika Aku
Menjadi’, baik frekuensi menonton maupun durasi menonton. Pendapatan orang tua dalam
penelitian ini adalah seluruh pendapatan orang tua baik ayah atau ibu yang bekerja yang
dikategorikan rendah, sedang, dan tinggi. Hubungan pendapatan orang tua dengan frekuensi
menonton dijelaskan dengan hasil uji Rank Spearman, didapat bahwa Sig (0,413) > α (0,05),
maka Ho diterima, sedangkan untuk durasi menonton didapat bahwa Sig (0,530) > α (0,05),
maka Ho diterima. Jadi, dapat dinyatakan bahwa tidak ada hubungan antara pendapatan orang
tua dengan frekuensi menonton dan durasi menonton. Artinya, tidak ada perbedaan antara
responden yang orang tuanya berpendapatan rendah, sedang atau tinggi dalam hal frekuensi
menonton dan durasi menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’.
Berdasarkan jawaban responden hasil dari wawancara kelompok menyatakan mereka
yang orang tuanya berpendapatan tinggi, sedang, maupun rendah menyukai tayangan ‘Jika
Aku Menjadi. Orang tua memberi kebebasan responden dalam hal memilih tayangan dan
kegiatan menonton TV, orang tua hanya mengingatkan mereka ketika ujian untuk mengurangi
jam menonton dikurangi agar lebih konsentrasi belajar.
70
5.3 Resume
Berdasarkan pembahasan di atas diketahui bahwa:
1.
Secara keseluruhan responden memiliki frekuensi menonton yang tergolong sedang (tiga
sampai lima kali dalam sebulan) dan durasi menonton tergolong tinggi (lebih dari 40
menit) terhadap tayangan ‘Jika Aku Menjadi’.
2.
Faktor yang mempengaruhi terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ adalah peringkat di
kelas dan kegiatan ekstrakurikuler.
3.
Faktor yang tidak mempengaruhi terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ adalah jenis
kelamin, motivasi, domisili, uang saku, pekerjaan orang tua, dan pendapatan orang tua.
71
BAB VI
EMPATI REMAJA TERHADAP KEMISKINAN SEBAGAI AKIBAT
TERPAAN TAYANGAN ‘JIKA AKU MENJADI”
6.1 Empati Remaja terhadap Kemiskinan Sebagai Akibat Terpaan Tayangan ‘Jika Aku
Menjadi’
Data sebaran responden hasil pengaruh terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ terhadap
empati remaja (kognitif dan afektif) terhadap kemiskinan tersaji pada Tabel 7.
Tabel 7. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Empati Remaja (Kognitif dan
Afektif) terhadap Kemiskinan
Empati Remaja
Jumlah (orang)
Persen (%)
Kognitif:
Rendah (skor 20 sampai 40)
Sedang (skor 41 sampai 60)
Tinggi (skor 61 sampai 80)
0
11
59
0
15,7
84,3
Rendah (skor 20 sampai 40)
Sedang (skor 41 sampai 60)
Tinggi (skor 61 sampai 80)
17
0
53
70
24,3
0
75,7
100,0
Afektif:
Total
Data yang tersaji pada Tabel 7 diketahui bahwa tidak ada responden yang memiliki
empati pada kognitif yang rendah terhadap kemiskinan, ternyata mayoritas responden
memiliki empati pada kognitif yang tinggi terhadap kemiskinan, yaitu sebanyak 59 (84,3
persen) responden. Diketahui pula tidak ada responden yang memiliki empati pada afektif
yang sedang dan mayoritas responden memiliki empati pada afektif yang tinggi terhadap
kemiskinan, yaitu sebanyak 53 (75,7 persen) responden. Tidak adanya responden yang
memiliki empati pada kognitif yang rendah dikarenakan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ adalah
tayangan yang mudah dimengerti oleh responden, sehingga mereka banyak mendapat
pengetahuan dari tayangan tersebut. Berbeda dengan afektif, responden memiliki rasa
‘kepekaan’ yang berbeda untuk merasakan apa yang orang lain alami. Oleh karena itu, hasil
penelitian menunjukkan masih ada responden yang memiliki empati pada afektif yang rendah,
yaitu sebanyak 17 (24,3 persen) responden.
Secara keseluruhan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ menimbulkan pengaruh empati di
kalangan remaja pada tingkatan yang tinggi berdasarkan persentase yang didapat. Empati
meliputi kognitif dan afektif responden terhadap kemiskinan. Secara kognitif, orang yang
72
berempati memahami apa yang orang lain rasakan baik melalui tanda-tanda atau proses atau
hubungan yang sederhana. Secara afektif, orang yang berempati merasakan apa yang orang
lain rasakan.
Empati yang muncul, baik kognitif maupun afektif responden terhadap kemiskinan
hampir seimbang. Responden memiliki empati pada tingkat kognitif dan afektif yang tinggi
terhadap kemiskinan. Menurut mereka, adanya alur cerita, kemasan, dan gambar di dalam
tayangan ‘Jika Aku Menjadi’, mampu membuat responden memahami apa yang orang lain
rasakan, yaitu kesusahan dan penderitaan yang dialami si narasumber dalam tayangan tersebut
dan orang-orang miskin di sekitar mereka, sehingga mampu memberikan pemaknaan tentang
berempati terhadap orang lain. Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ ternyata membuat responden
paham tentang bagaimana cara berempati terhadap orang lain. Hal ini terbukti dari hasil
survei, tidak ada satupun responden (0 persen) yang tidak memiliki kognitif yang rendah
terhadap kemiskinan.
Selain kognitif, responden memiliki tingkat empati pada afektif yang tinggi terhadap
kemiskinan. Responden menganggap bahwa tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ secara nyata
menimbulkan rasa empati pada responden terhadap kemiskinan. Menurut jawaban responden,
sebagian dari mereka merasa sedih, merasa terharu, merasa lebih bersyukur ketika
menyaksikan tayangan tersebut. Tapi sebagian dari mereka ternyata tidak merasa tersentuh
dengan tayangan tersebut. Hal ini terbukti dengan hasil survei yang menunjukkan sebanyak
17 (24,3 persen) responden memiliki afektif yang rendah terhadap kemiskinan. Menurut
mereka, realita ‘Jika Aku Menjadi’ tidak semuanya mewakili kehidupan orang miskin.
Artinya, tidak seluruhnya benar bahwa realita yang ditayangkan dalam ‘Jika Aku Menjadi’
akan menimbulkan empati bagi remaja yang menontonnya. Hal ini dapat dipahami karena
responden tidak terlalu mempercayai tayangan tersebut.
Berdasarkan wawancara kelompok dengan beberapa responden, mereka mengatakan
bahwa dengan menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ membantu menjaga nilai-nilai yang
berlaku di masyarakat seperti kejujuran, kesabaran, tekun, gigih berjuang, dan tidak pernah
putus asa dalam menghadapi kemiskinan yang didasarkan pada fakta yang terjadi di
masyarakat yang kini sudah mulai jarang ditemukan pada beberapa program televisi. Televisi
lebih banyak memberitakan pelaku-pelaku kriminalitas. Mereka juga ingin mengetahui
peristiwa dan kondisi yang berkaitan dengan lingkungan sekitar, khususnya mengenai kondisi
sosial ekonomi masyarakat miskin di pelosok-pelosok desa yang tidak diketahui sebelumnya
73
yang memiliki sisi-sisi kehidupan yang dramatis, unik, atau jarang diketahui khalayak. Salah
satu responden bernama Lia dalam diskusi tersebut mencoba berbagi cerita dari apa yang ia
tahu dan apa yang ia rasakan setelah menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’. Lia bercerita
tentang salah satu episode “Jika Aku Menjadi Nelayan Miskin Indramayu” yang pernah
ditonton dan diingatnya. Tayangan tersebut menceritakan kisah yang dialami seorang nelayan
miskin di Indramayu yang mempunyai istri dan tiga orang anak, karena kemiskinannya
seringkali nelayan ini makan nasi ‘aking’, yaitu nasi yang sudah basi kemudian dijemur dan
dimasak lagi. Menurutnya, ia sangat terharu dengan tayangan episode tersebut dan rasa
empati terhadap kemiskinan bertambah setelah menonton tayangan tersebut. Ternyata, apa
yang disampaikan Lia pada wawancara kelompok tersebut mewakili responden lainnya
tentang pendapat mereka setelah menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’. Pada awalnya
mereka “tersentuh” melihat tayangan tersebut, lalu timbul rasa kasihan dan sedih melihat
narasumber pada tayangan ‘Jika Aku Menjadi’, tetapi sebagian juga mengatakan bahwa
mereka kagum melihat kegigihan, kejujuran, ketekunan, dan kerja keras orang miskin dalam
bertahan hidup mencari nafkah. Responden mengakui pengetahuan mereka bertambah tentang
empati terhadap kemiskinan setelah menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’. Selain
pengetahuan, rasa emosional merekapun lebih positif. Mereka menjadi lebih peka terhadap
kemiskinan yang terjadi di sekitar mereka. Adanya kepekaan ini, membuat mereka menjadi
lebih bersemangat ingin membantu orang miskin di sekitar mereka. Hal ini dikarenakan
adanya transfer nilai positif yang mereka rasakan setelah menonton tayangan ‘Jika Aku
Menjadi’. Berdasarkan penjelasan beberapa responden dalam wawancara, mereka yang
empati pada kognitif dan afektifnya tinggi terhadap kemiskinan mengatakan mereka lebih
memahami apa yang dialami orang miskin di sekitar mereka, bersyukur dalam menjalani
hidup, lebih menghargai orang lain, semakin bersemangat ingin membantu orang miskin, dan
tidak ingin putus asa dalam menjalani hidup.
6.2 Hubungan Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ dengan Empati Remaja (Kognitf
dan Afektif)
Terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ meliputi frekuensi menonton dan durasi
menonton. Hasil survei melalui kuesioner yang telah diuji menunjukkan adanya hubungan
antara terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ dengan empati remaja (kognitif dan afektif)
terhadap kemiskinan yang secara ringkas tersaji pada Tabel 8.
74
Tabel 8. Nilai Uji Rank Spearman Hubungan antara Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
dengan Empati Remaja (Kognitif dan Afektif) terhadap Kemiskinan
Empati Remaja
Kognitif
Sig (2-tailed)
Terpaan Tayangan ‘Jika
Aku Menjadi’
Frekuensi Menonton
Durasi Menonton
0,289*
0,419*
0,015*
0,000*
0,271*
0,479*
Afektif
Sig (2-tailed)
0,023*
0,000*
Keterangan :
*: berhubungan nyata pada α= 5 persen
Hasil penelitian membuktikan bahwa terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’
berhubungan nyata dengan empati remaja, baik kognitif maupun afektif remaja terhadap
kemiskinan. Frekuensi menonton berhubungan nyata dengan kognitif dan afektif remaja
terhadap kemiskinan (Sig < 0,05). Durasi menonton berhubungan nyata dengan kognitif dan
afektif remaja terhadap kemiskinan (Sig < 0,05).
6.2.1 Hubungan Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ dengan Kognitif
Hubungan terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ dengan kognitif remaja terhadap
kemiskinan meliputi hubungan frekuensi menonton dengan kognitif remaja terhadap
kemiskinan dan hubungan durasi menonton dengan kognitif remaja terhadap kemiskinan.
6.2.1.1 Hubungan Frekuensi Menonton dengan Kognitif
Frekuensi menonton berhubungan nyata dengan kognitif remaja terhadap kemiskinan
yang dijelaskan dengan hasil uji Rank Spearman, didapat bahwa Sig (0,015) < α (0,05), maka
Ho ditolak. Jadi, dapat dinyatakan bahwa ada hubungan nyata antara frekuensi menonton
dengan kognitif responden terhadap kemiskinan. Semakin tinggi frekuensi menonton maka
semakin tinggi kognitif responden terhadap kemiskinan. Berdasarkan jawaban responden,
mereka yang frekuensi menontonnya tinggi dalam menonton tayangan ’Jika Aku Menjadi’
lebih paham dan mengerti tentang empati. Mereka yang memiliki empati pada kognitif yang
tinggi terhadap kemiskinan merasa lebih mengerti tentang keadaan orang-orang di sekitar
mereka, terutama orang-orang miskin. Semakin sering mereka menonton tayangan ’Jika Aku
Menjadi’, maka pengetahuan mereka akan bertambah tentang bagaimana berempati terhadap
orang lain. Hal ini juga didukung dengan jawaban responden yang mengatakan bahwa isi
75
tayangan ’Jika Aku Menjadi’ bermuatan sosial yang menggambarkan suatu realita kehidupan
orang miskin, sehingga membuat mereka yang sering menontonnya semakin mengerti tentang
kesusahan yang dialami orang miskin di sekitar mereka. Mereka semakin menyadari bahwa
ternyata masih banyak orang-orang yang kurang beruntung dari mereka, mengalami
kesusahan, sangat kekurangan namun tetap berjuang mencari nafkah untuk bertahan hidup.
Menurut pengakuan sebagian dari responden mengatakan tayangan tersebut semakin
membuka pikiran mereka untuk semakin mengerti kesusahan yang dialami orang-orang di
sekitar mereka dan tayangan ini sangat dinilai positif untuk ditonton remaja karena dapat
meningkatkan empati terhadap orang lain. Hal ini dipahami karena frekuensi menonton tiap
episodenya disertai dengan kekonsistenan menonton tayangan ’Jika Aku Menjadi’ dengan
waktu yang lebih teratur yang dilakukan oleh responden akan memberikan akumulasi yang
berarti pada ranah kognitif responden tentang empati. Semakin banyak responden menerima
hal yang positif dari apa yang ditontonnya, maka hal ini memberikan pengaruh yang positif
pula terhadap responden tersebut. Tayangan ’Jika Aku Menjadi’ banyak memberikan
pengetahuan yang positif, sehingga akan memberikan pengaruh yang positif pula bagi
penontonnya, khususnya kemampuan untuk lebih berempati.
6.2.1.2 Hubungan Durasi Menonton dengan Kognitif
Durasi menonton berhubungan nyata dengan kognitif remaja terhadap kemiskinan
yang dijelaskan dengan hasil Rank Spearman, didapat bahwa Sig (0,000) < α (0,05), maka
Ho ditolak. Jadi, dapat dikatakan bahwa ada hubungan nyata antara durasi menonton dengan
kognitif responden terhadap kemiskinan.
Lama atau tidaknya, lengkap atau tidaknya waktu responden dalam menonton
tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ menentukan tinggi atau rendahnya kognitif responden terhadap
kemiskinan. Semakin lama atau lengkap durasi menonton, maka semakin tinggi pula kognitif
remaja terhadap kemiskinan. Berdasarkan jawaban responden, mereka yang durasi
menontonnya lengkap atau lebih lama dalam menonton tayangan ’Jika Aku Menjadi’ lebih
paham dan mengerti tentang empati. Mereka yang memiliki empati pada kognitif yang tinggi
merasa lebih mengerti tentang keadaan orang-orang di sekitar mereka, terutama orang-orang
miskin. Semakin lengkap mereka menonton tayangan ’Jika Aku Menjadi’ pada tiap tayangan,
maka pengetahuan mereka akan bertambah tentang bagaimana berempati terhadap orang lain.
Mereka semakin menyadari bahwa ternyata masih banyak orang-orang yang kurang
76
beruntung dari mereka, mengalami kesusahan, sangat kekurangan namun tetap berjuang
mencari nafkah untuk bertahan hidup. Menurut pengakuan sebagian dari responden
mengatakan tayangan tersebut semakin membuka pikiran mereka untuk semakin mengerti
kesusahan yang dialami orang-orang di sekitar mereka dan tayangan ini sangat dinilai positif
untuk ditonton remaja karena dapat meningkatkan empati terhadap orang lain. Hal ini dapat
dipahami bahwa semakin lengkap durasi menonton responden dalam menonton tayangan
’Jika Aku Menjadi’ ternyata mampu memberikan pengaruh empati pada kognitif responden.
Hal ini dapat terjadi karena tingginya preferensi responden akan tayangan ’Jika Aku Menjadi’
yang banyak menayangkan realita sosial sebagai tayangan yang disukai responden.
6.2.2 Hubungan Terpaan Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ di Trans TV dengan Afektif
Hubungan terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ dengan afektif remaja terhadap
kemiskinan meliputi hubungan frekuensi menonton dengan afektif remaja terhadap
kemiskinan dan hubungan durasi menonton dengan afektif remaja terhadap kemiskinan.
6.2.2.1 Hubungan Frekuensi Menonton dengan Afektif
Frekuensi menonton berhubungan nyata dengan afektif remaja terhadap kemiskinan
yang dijelaskan dengan hasil uji Rank Spearman, didapat bahwa Sig (0,023) < α (0,05), maka
Ho ditolak. Jadi, dapat dinyatakan bahwa ada hubungan nyata antara frekuensi menonton
dengan afektif responden terhadap kemiskinan. Semakin tinggi frekuensi menonton atau
semakin sering responden menonton tayangan ’Jika Aku Menjadi’, maka semakin tinggi
afektif remaja tentang empati. Berdasarkan jawaban responden, mereka yang frekuensi
menontonnya tinggi atau lebih sering dalam menonton tayangan ’Jika Aku Menjadi’ memiliki
rasa empati yang lebih tinggi. Mereka yang memiliki afektif yang tinggi tentang empati
memiliki respon yang lebih positif terhadap orang lain, mereka juga lebih peka terhadap apa
yang dialami orang lain. Tayangan ’Jika Aku Menjadi’ membuat responden yang sering
menontonnya lebih merespon dengan positif terhadap kesusahan yang dialami orang lain di
sekitar mereka, terutama orang miskin. Hal ini juga didukung dengan jawaban responden
yang mengatakan bahwa isi tayangan ’Jika Aku Menjadi’ bermuatan sosial yang
menggambarkan suatu realita kehidupan orang miskin, sehingga membuat mereka yang sering
menontonnya semakin mengerti bagaimana merespon dan merasakan kesusahan yang dialami
orang lain. Menurut pengakuan sebagian dari responden mengatakan tayangan tersebut
77
semakin membuat mereka berempati. Hal ini dipahami karena frekuensi menonton tiap
episodenya disertai dengan kekonsistenan menonton tayangan ’Jika Aku Menjadi’ dengan
waktu yang lebih teratur yang dilakukan oleh responden akan memberikan akumulasi yang
berarti pada ranah afektif responden terhadap kemiskinan.
6.2.2.2 Hubungan Durasi Menonton dengan Afektif
Durasi menonton berhubungan nyata dengan kognitif remaja terhadap kemiskinan
yang dijelaskan dengan hasil uji Rank Spearman, didapat bahwa Sig (0,000) < α (0,05), maka
Ho ditolak. Jadi, dapat dinyatakan bahwa ada hubungan nyata antara durasi menonton dengan
kognitif responden terhadap kemiskinan.
Lama atau tidaknya, lengkap atau tidaknya waktu responden dalam menonton
tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ menentukan tinggi atau rendahnya afektif responden terhadap
kemiskinan. Semakin lama atau lengkap durasi menonton maka semakin tinggi pula empati
pada afektif responden terhadap kemiskinan. Berdasarkan jawaban responden, mereka yang
durasi menontonnya lengkap atau lebih lama dalam menonton tayangan ’Jika Aku Menjadi’
lebih tinggi afektifnya terhadap kemiskinan. Mereka yang memiliki empati pada afektif yang
tinggi terhadap kemiskinan memiliki respon yang lebih positif terhadap orang lain, mereka
juga lebih peka terhadap apa yang dialami orang lain. Tayangan ’Jika Aku Menjadi’ membuat
responden yang lebih lengkap atau lama menontonnya lebih merespon dengan positif terhadap
kesusahan yang dialami orang lain di sekitar mereka, terutama orang miskin. Hal ini juga
didukung dengan jawaban responden yang mengatakan bahwa isi tayangan ’Jika Aku
Menjadi’ bermuatan sosial yang menggambarkan suatu realita kehidupan orang miskin,
sehingga membuat mereka yang lebih lengkap atau lebih lama waktu menonton setiap
episodenya, semakin mengerti bagaimana merespon dan merasakan kesusahan yang dialami
orang lain. Hal ini dapat dipahami bahwa semakin lengkap durasi menonton responden dalam
menonton tayangan ’Jika Aku Menjadi’ ternyata mampu memberikan pengaruh empati pada
afektif responden terhadap kemiskinan. Hal ini dapat terjadi karena tingginya preferensi
responden akan tayangan ’Jika Aku Menjadi’ yang banyak menayangkan realita sosial
sebagai tayangan yang disukai responden.
6.2.3 Tayangan ’Jika Aku Menjadi’ Episode ”Pembuat Gelang Simpay” (Sabtu, 1 Mei
2010 Pukul 17.30 WIB)
78
Pada penelitian ini, tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ tidak hanya secara keseluruhan,
namun diambil juga satu episode khusus untuk membandingan bagaimana empati yang
terbentuk pada responden jika melihat secara keseluruhan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ yang
pernah ditonton dengan tayangan satu episode khusus saja. Tiga hari sebelum tayangan
episode “Pembuat Gelang Simpay” tayang, peneliti meminta responden untuk menonton
tayangan tersebut yang akan tayang pada hari Sabtu, 1 Mei 2010 pukul 17.30 WIB di Trans
TV. Empati remaja terhadap kemiskinan (kognitif dan afektif) pada episode “Pembuat Gelang
Simpay” secara ringkas tersaji pada Tabel 9.
Tabel 9. Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Empati Remaja (Kognitif dan
Afektif) terhadap Kemiskinan Episode “Pembuat Gelang Simpay”
Empati Remaja
Jumlah (orang)
Persen (%)
Kognitif:
Rendah (skor 10 sampai 20)
Sedang (skor 21 sampai 30)
Tinggi (skor 31 sampai 40)
0
29
41
0
41,4
58,6
Rendah (skor 10 sampai 20)
Sedang (skor 21 sampai 30)
Tinggi (skor 31 sampai 40)
9
0
61
70
12,9
0,0
87,1
100,0
Afektif:
Total
Pada Tabel 9 dapat diketahui bahwa tidak ada responden yang memiliki empati pada
kognitif yang rendah terhadap tayangan episode “Pembuat Gelang Simpay”, karena responden
memiliki empati pada kognitif tinggi episode “Pembuat Gelang Simpay”, ternyata mayoritas
responden memiliki empati pada kognitif yang tinggi, yaitu sebanyak 41 (58,6 persen)
responden. Diketahui pula pada tidak ada responden yang memiliki empati pada afektif yang
sedang dan mayoritas responden memiliki empati pada afektif yang tinggi terhadap tayangan
episode “Pembuat Gelang Simpay”, yaitu sebanyak 61 (87,1 persen) responden. Tidak adanya
responden yang memiliki empati pada kognitif yang rendah dikarenakan tayangan ‘Jika Aku
Menjadi’ episode “Pembuat Gelang Simpay” adalah tayangan yang mudah dimengerti oleh
responden, sehingga mereka banyak mendapat pengetahuan dari tayangan tersebut. Berbeda
dengan afektif, responden memiliki rasa ‘kepekaan’ yang berbeda untuk merasakan apa yang
narasumber alami pada tayangan tersebut. Oleh karena itu, hasil penelitian menunjukkan
masih ada responden yang memiliki empati pada afektif yang rendah, yaitu sebanyak 9 (12,9
persen) responden.
79
6.3 Resume
Berdasarkan pembahasan di atas diketahui bahwa:
1.
Secara keseluruhan responden memiliki tingkat empati pada kognitif dan afektif yang
tinggi terhadap kemiskinan setelah menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’.
2.
Secara keseluruhan terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ berhubungan nyata dengan
empati remaja terhadap kemiskinan, baik kognitif maupun afektif.
3.
Responden memiliki tingkat empati pada kognitif dan afektif yang tinggi terhadap
kemiskinan setelah menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ episode “Pembuat Gelang
Simpay”.
80
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah:
1.
Remaja yang berjenis kelamin perempuan, berdomisili di kota, memiliki uang saku
sedang, dan mengikuti banyak kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya memiliki
persentase lebih besar menonton ‘Jika Aku Menjadi’ dibandingkan yang tidak menonton
‘Jika Aku Menjadi’. Secara keseluruhan, remaja memiliki frekuensi menonton yang
tergolong sedang (tiga sampai lima kali dalam sebulan) dan durasi menonton tergolong
tinggi (lebih dari 40 menit) terhadap tayangan ‘Jika Aku Menjadi’. Faktor internal remaja
yang mempengaruhi terpaan tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ adalah peringkat di kelas.
Semakin tinggi peringkat remaja di kelas, semakin tinggi juga frekuensi menonton dan
durasi menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’. Faktor eksternal remaja yang
berhubungan
dengan
terpaan
tayangan
‘Jika Aku
Menjadi’
adalah
kegiatan
ekstrakurikuler. Semakin banyak kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti remaja di
sekolahnya, semakin tinggi juga frekuensi menonton dan durasi menonton tayangan ‘Jika
Aku Menjadi’.
2.
Secara keseluruhan remaja memiliki empati pada kognitif dan afektif yang tinggi
terhadap kemiskinan setelah menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’. Terpaan tayangan
‘Jika Aku Menjadi’, baik frekuensi menonton maupun durasi menonton berhubungan
nyata dengan empati remaja terhadap kemiskinan, baik kognitif maupun afektif. Semakin
tinggi frekuensi menonton dan durasi menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’, maka
semakin tinggi pula empati remaja terhadap kemiskinan, baik kognitif maupun
afektifnya. Remaja yang empati kognitif dan afektifnya tinggi terhadap kemiskinan
mengatakan mereka lebih memahami apa yang dialami orang miskin di sekitar mereka,
semakin bersyukur dalam menjalani hidup, lebih menghargai orang lain, semakin
bersemangat ingin membantu orang miskin, dan tidak mudah putus asa dalam menjalani
hidup. Pada episode “Pembuat Gelang Simpay”, remaja memiliki tingkat empati pada
kognitif dan afektif yang tinggi terhadap kemiskinan setelah menonton tayangan episode
tersebut.
81
7.2 Saran
Dari penelitian yang telah dilakukan, maka beberapa saran yang dapat diajukan
peneliti, yaitu:
1.
Tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ berhasil menumbuhkan empati pada remaja, oleh karena
itu tayangan seperti ini harus dikembangkan.
2.
Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk kalangan atas, agar mengetahui apakah efek
menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’ sesuai dengan tujuan program acara tersebut.
82
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mohammad dan Mohammad Asrori. 2005. Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta
Didik. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Angdiami, Katherina F. 2006. Pengaruh Terpaan Tayangan Sinetron Religius Rahasia Ilahi
di TPI terhadap Kepercayaan Religius Audiens Remaja. [Skirpsi]. Surabaya: Jurusan
Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Kristen Petra.
(http://dewey.petra.ac.id/dgt_res_detail.php?knokat=8157. Diakses tanggal 11
Desember 2009, pukul 20.18 WIB).
Ardianto, Elvinaro dan Lukiati Komala Erdinaya. 2004. Komunikasi Massa Suatu Pengantar.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Baron, Robert dan Byrne Donn. 2003. Psikologi Sosial jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Daisiwan, Naida Leilani. 2007. Hubungan Antara Tayangan Sinetron Remaja dengan Sikap
Konsumtif Remaja: Kasus SMUN 5 Bogor, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat.
[Skirpsi]. Bogor: Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Effendy, Onong Uchjana. 1999. Televisi Siaran Teori dan Praktek. Bandung: Remadja
Karya.
______________________. 2003. Ilmu Komunikasi. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
Farida, Aulia. 2005. Motivasi Remaja Menonton Program Acara Ajang Cari Bakat di
Televisi: Kasus Mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor
Tahun Akademik 2004-2005. [Skirpsi]. Bogor: Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi
Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Fidiyaningrum, Anis. 2006. Upaya Mengembangkan Empati Mahasiswa Dengan
Memanfaatkan Media Bimbingan. [Skripsi]. Semarang: Jurusan Bimbingan dan
Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang.
Gilang, Omar Abidin. 2005. Pengaruh Tayangan Kekerasan di Televisi terhadap Tawuran
Pelajar SLTA di Jakarta: Analisis Determinan Tawuran Pelajar. Jakarta: Jurnal ISIP
Yayasan Kampus Tercinta ISSN 1693-9506
Goleman, Daniel. 2002. Kecerdasan Emosional. Penerjemah: T. Hermaya. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
83
Kurniasih, Eko. 2006. Hubungan Antara Perilaku Menonton Tayangan Sinetron Religius
dengan Sikap Remaja Terhadap Agama Islam: Kasus Siswa Sekolah Menengah Umum
Negeri 22, Kelurahan Utan Kayu Selatan, Kecamatan Matraman, Kotamadya Jakarta
Timur, Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. [Skripsi]. Bogor: Program
Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor.
Kurniawan, Dwi. 2009. Pengaruh Terpaan Tayangan Program Acara ‘John Pantau’ di Trans
TV terhadap Perilaku Disiplin Remaja. [Skirpsi]. Jakarta: Program Studi Ilmu
Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).
Kuswandi, Wawan. 1998. Komunikasi Massa: Sebuah Analisis Media Televisi. Jakarta:
Rineka Cipta.
Morrisan, M. A. 2005. Media Penyiaran: Strategi Mengelola Radio dan Televisi. Jakarta:
Ramdina Prakarsa.
Nazir, Moh. 1983. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Nurdin, 2007. Pengantar Komunikasi Massa. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sari, Ari Tris Ochtia, Neila Ramdhani, dan Mira Eliza. 2008. Empati dan Perilaku Merokok
di
Tempat
Umum.
http://neila.staff.ugm.ac.id/wordpress/wpcontent/uploads/2008/02/empatijurnal1.pdf. Diakses tanggal 10 Maret 2010, pukul
22.10.
Singarimbun, Masri, dan Sofian Effendi [Ed]. 1989. Metode Penelitian Survai. Jakarta:
LP3ES.
Soehartona, Irawan. 1995. Metode Penelitian Sosial. Bandung: PT. Remaja.
Subagyo, P. Joko. 1991. Metode Penelitian dalam Teori & Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Sugiyono, 1999. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta.
Suharto, Ari. 2006. Hubungan Pola Menonton Berita Kriminal di Televisi dengan Perilaku
Remaja: Kasus SLTPN 175 Jakarta dan SMPN 1 Dramaga Bogor. [Skripsi]. Bogor:
Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Fakultas Pertanian,
Institut Pertanian Bogor.
84
Testiandini, Astri. 2006. Pola Menonton Sinetron dan Perilaku Etis Remaja: Kasus Sinetron
Bertemakan Remaja di Televisi. [Skirpsi]. Bogor: Program Studi Komunikasi dan
Pengembangan Masyarakat, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Valentine, Virgin. 2009. Efek Berita Kriminal Terhadap Perilaku Khalayak Remaja (Kasus
SMP Tamansiswa, Jakarta Pusat). [Skripsi]. Bogor: Departemen Sains Komunikasi
dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Wahyudi , J. B. 1996. Media Komunikasi Massa Televisi. Jakarta: Alumni.
Wiryanto. 2000. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Grasindo.
Zulkarnain, Alex Leo. 1997. Bercinta dengan Televisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
85
LAMPIRAN
86
Lampiran 1.
Panduan Pertanyaan
A. Siswa Kelas X dan XI SMAN 1 Dramaga
1. Mengapa anda tidak pernah menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’?
2. Di mana tempat tinggal anda saat ini?
B. Responden
1. Mengapa anda tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah?
2. Bagi anda yang berdomisili di kota, mengapa anda memilih bersekolah di SMAN 1
Dramaga?
3. Bagi anda yang pekerjaan orang tuanya wiraswasta, usaha seperti apa yang dilakukan
orang tua anda?
4. Mengapa anda menyukai tayangan ‘Jika Aku Menjadi’?
5. Mengapa anda menonton ‘Jika Aku Menjadi’ sebanyak tiga sampai lima kali dalam
sebulan?
6. Mengapa anda tidak menonton ‘Jika Aku Menjadi’ dari awal hingga akhir tayangan?
7. Apa alasan anda menonton tayangan ‘Jika Aku Menjadi’?
8. Mengapa anda memiliki motivasi interaksi sosial dalam menonton tayangan ‘Jika Aku
Menjadi’?
9. Bagi anda yang memiliki peringkat di kelas tinggi, mengapa anda sering menonton
tayangan ‘Jika Aku Menjadi’?
10. Bagi anda yang memiliki peringkat di kelas rendah, mengapa anda jarang menonton
tayangan ‘Jika Aku Menjadi’?
11. Bagi yang memiliki uang saku tergolong tinggi, sedang, dan rendah, apa alasan anda
menonton ‘Jika Aku Menjadi’?
12. Apakah orang tua anda mendampingi anda ketika menonton TV?
13. Kogntitif atau pengetahuan seperti apa yang anda rasakan setelah menonton ‘Jika Aku
Menjadi’?
14. Afektif atau perasaan seperti apa yang anda rasakan setelah menonton ‘Jika Aku
Menjadi’?
87
Lampiran 2. Hasil Olahan Data
A. Jenis Kelamin
Valid
Frequency
24
46
70
Laki-Laki
Perempuan
Total
Percent
34.3
65.7
100.0
Valid Percent
34.3
65.7
100.0
Cumulative
Percent
34.3
100.0
.
B. Motivasi Menonton
Valid
pengetahuan
hiburan
interaksi sosial
identitas sosial
Total
Frequency
6
7
52
5
70
Percent
Valid Percent
8.6
8.6
10.0
10.0
74.3
74.3
7.1
7.1
100.0
100.0
Cumulative
Percent
8.6
18.6
92.9
100.0
C. Peringkat di Kelas
Valid
rendah
sedang
tinggi
Total
Frequency
38
9
14
70
Percent
62.3
14.8
22.9
100.0
Valid Percent
62.3
14.8
22.9
100.0
Cumulative
Percent
62.3
77.1
100.0
D. Domisili
Valid
Desa
Kota
Total
Frequency
65
5
70
Percent
92.9
7.1
100.0
Valid Percent
92.9
7.1
100.0
Cumulative
Percent
92.9
100.0
E. Uang Saku
Valid
rendah
sedang
tinggi
Total
Frequency
7
50
13
70
Percent
10.0
71.4
18.6
100.0
Valid Percent
10.0
71.4
18.6
100.0
Cumulative
Percent
10.0
81.4
100.0
88
F. Kegiatan Ekstrakurikuler
Valid
tidak ikut
sedikit
banyak
Total
Frequency
25
28
17
70
Percent
35.7
40.0
24.3
100.0
Valid Percent
35.7
40.0
24.3
100.0
Cumulative
Percent
35.7
75.7
100.0
.
G. Pekerjaan Ayah
Valid
Buruh
Wiraswasta
Pegawai Swasta
PNS
TNI/POLRi
Petani
Total
Frequency
10
27
21
5
4
3
70
Percent
Valid Percent
14.3
14.3
38.6
38.6
30.0
30.0
7.1
7.1
5.7
5.7
4.3
4.3
100.0
100.0
Frequency
52
1
5
12
70
Percent
Valid Percent
74.3
74.3
1.4
1.4
7.1
7.1
17.1
17.1
100.0
100.0
Cumulative
Percent
14.3
52.9
82.9
90.0
95.7
100.0
H. Pekerjaan Ibu
Valid
Ibu rumah tangga
Buruh
Wiraswasta
Pegawai Swasta
Total
Cumulative
Percent
74.3
75.7
82.9
100.0
I. Pendapatan Orang Tua
Valid
rendah
sedang
tinggi
Total
Frequency
30
30
10
70
Percent
42.9
42.9
14.3
100.0
Valid Percent
42.9
42.9
14.3
100.0
Cumulative
Percent
42.9
85.7
100.0
89
J. Frekuensi Menonton
Valid
rendah
sedang
tinggi
Total
Frequency
13
37
20
70
Percent
18.6
52.9
28.6
100.0
Valid Percent
18.6
52.9
28.6
100.0
Cumulative
Percent
18.6
71.4
100.0
K. Durasi Menonton
Valid
rendah
sedang
tinggi
Total
Frequency
14
16
40
70
Percent
20.0
22.9
57.1
100.0
Valid Percent
20.0
22.9
57.1
100.0
Cumulative
Percent
20.0
42.9
100.0
L. Kognitif
Valid
sedang
tinggi
Total
Frequency
11
59
70
Percent
15.7
84.3
100.0
Valid Percent
15.7
84.3
100.0
Cumulative
Percent
15.7
100.0
M. Afektif
Valid
Empati rendah
Empati tinggi
Total
Frequency
17
53
70
Percent
Valid Percent
24.3
24.3
75.7
75.7
100.0
100.0
Cumulative
Percent
24.3
100.0
.
N. Kognitif Episode "Pembuat Gelang Simpay"
Valid
sedang
tinggi
Total
Frequency
29
41
70
Percent
41.4
58.6
100.0
Valid Percent
41.4
58.6
100.0
Cumulative
Percent
41.4
100.0
90
O. Afektif Episode "Pembuat Gelang Simpay"
Valid
Empati rendah
Empati tinggi
Total
Frequency
9
61
70
Percent
Valid Percent
12.9
12.9
87.1
87.1
100.0
100.0
Cumulative
Percent
12.9
100.0
91
Crosstab dan uji hubungan.
1. Jenis Kelamin dengan Frekuensi Menonton
Jenis Kelamin * Frekuensi Menonton Crosstabulation
Count
Jenis
kelamin
Total
Laki-Laki
Perempuan
Total
rendah
Frekuensi_menonton
rendah
sedang
tinggi
6
15
3
7
22
17
13
37
20
24
46
70
Chi-Square Tests
Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases
Value
4.757(a)
5.194
2
2
Asymp. Sig. (2sided)
.093
.074
1
.047
df
3.950
70
Symmetric Measures
Nominal by Nominal
N of Valid Cases
Contingency Coefficient
Value
.252
70
Approx. Sig.
.093
2. Jenis kelamin dengan Durasi Menonton
Jenis Kelamin * Durasi Menonton Crosstabulation
Count
Jenis
kelamin
Total
Laki-Laki
Perempuan
Durasi menonton
rendah
sedang
5
9
9
7
14
16
Total
rendah
tinggi
10
30
40
24
46
70
92
Chi-Square Tests
Value
4.969(a)
4.842
Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases
2
2
Asymp. Sig. (2sided)
.083
.089
1
.219
df
1.512
70
Symmetric Measures
Nominal by Nominal
N of Valid Cases
Value
.257
70
Contingency Coefficient
Approx. Sig.
.083
3. Motivasi Menonton dengan Durasi Menonton
Motivasi Menonton * Durasi Menonton Crosstabulation
Count
Motivasi
menonton
Total
pengetahuan
hiburan
interaksi sosial
identitas sosial
Durasi menonton
rendah
sedang
tinggi
3
0
3
2
1
4
8
15
29
1
0
4
14
16
40
Total
rendah
6
7
52
5
70
Chi-Square Tests
Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases
Value
7.594(a)
9.247
1.802
70
6
6
Asymp. Sig. (2sided)
.269
.160
1
.180
df
93
Symmetric Measures
Nominal by Nominal
N of Valid Cases
Value
.313
70
Contingency Coefficient
Approx. Sig.
.269
4. Motivasi Menonton dengan Frekuensi Menonton
Motivasi Menonton * Frekuensi Menonton Crosstabulation
Count
Motivasi
menonton
pengetahuan
hiburan
interaksi sosial
identitas sosial
Total
Frekuensi menonton
rendah
sedang
tinggi
1
3
2
1
4
2
10
29
13
1
1
3
13
37
20
Total
rendah
6
7
52
5
70
Chi-Square Tests
Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases
Value
3.245(a)
3.158
6
6
Asymp. Sig. (2sided)
.778
.789
1
.919
df
.010
70
Symmetric Measures
Nominal by Nominal
N of Valid Cases
Contingency Coefficient
Value
.210
70
Approx. Sig.
.778
94
5. Peringkat di Kelas dengan Frekuensi Menonton
Correlations
Peringkat di
kelas
Spearman's
rho
Peringkat di kelas
Frekuensi
menonton
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Frekuensi
menonton
1.000
.337(**)
.
70
.001
70
.337(**)
1.000
.001
70
.
70
6. Peringkat di Kelas dengan Durasi Menonton
Correlations
Peringkat di
kelas
Spearman's
rho
Peringkat di
kelas
Durasi
menonton
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Durasi
menonton
1.000
.434(**)
.
70
.000
70
.434(**)
1.000
.000
70
.
70
7. Domisili dengan Frekuensi Menonton
Domisili * Frekuensi Menonton Crosstabulation
Count
Domisili
Total
Desa
Kota
Frekuensi menonton
rendah
sedang
tinggi
13
33
19
0
4
1
13
37
20
Total
rendah
65
5
70
95
Chi-Square Tests
Value
1.889(a)
2.736
Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases
2
2
Asymp. Sig. (2sided)
.389
.255
1
.734
df
.115
70
Symmetric Measures
Nominal by Nominal
N of Valid Cases
Value
.162
70
Contingency Coefficient
Approx. Sig.
.389
8. Domisili dengan Durasi Menonton
Domisili * Durasi Menonton Crosstabulation
Count
rendah
Domisili
Desa
Kota
Total
Durasi menonton
sedang
14
13
0
3
14
16
Total
rendah
tinggi
38
2
40
65
5
70
Chi-Square Tests
Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases
Value
4.604(a)
4.701
.007
70
2
2
Asymp. Sig. (2sided)
.100
.095
1
.934
df
96
Symmetric Measures
Nominal by Nominal
N of Valid Cases
Contingency Coefficient
Value
.248
70
Approx. Sig.
.100
Uang
saku
Frekuensi
menonton
9. Uang Saku dengan Frekuensi Menonton
Correlations
Spearman's
rho
Uang saku
Frekuensi
menonton
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
1.000
.131
.
70
.280
70
.131
1.000
.280
70
.
70
10. Uang Saku dengan Durasi Menonton
Correlations
Uang
saku
Spearman's
rho
Uang saku
Durasi
menonton
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Durasi
menonton
1.000
.008
.
70
.947
70
.008
1.000
.947
70
.
70
97
11. Kegiatan Ekstrakurikuler dengan Frekuensi Menonton
Correlations
Spearman's
rho
Kegiatan
ekstrakurikuler
Frekuensi menonton
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Kegiatan
ekstrakuriku
ler
1.000
Frekuensi
menonton
.395**
.
70
.395**
.000
70
1.000
.000
70
.
70
12. Kegiatan Ekstrakurikuler dengan Durasi Menonton
Correlations
Kegiatan
ekstrakuriku
ler
Spearman's
rho
Kegiatan
ekstrakurikuler
Durasi menonton
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Durasi
menonton
1.000
.537(**)
.
70
.000
70
.537(**)
1.000
.000
70
.
70
13. Pekerjaan Ayah dengan Frekuensi Menonton
Pekerjaan Ayah * Frekuensi Menonton Crosstabulation
Count
Pekerjaan ayah
Total
Buruh
Wiraswasta
Pegawai Swasta
PNS
TNI/POLRi
Petani
Frekuensi_menonton
rendah
sedang
tinggi
2
4
4
6
14
7
2
11
8
1
3
1
0
4
0
2
1
0
13
37
20
Total
rendah
10
27
21
5
4
3
70
98
Chi-Square Tests
Value
11.199(a)
12.233
Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases
10
10
Asymp. Sig. (2sided)
.342
.270
1
.228
df
1.455
70
Symmetric Measures
Nominal by Nominal
N of Valid Cases
Value
.371
70
Contingency Coefficient
Approx. Sig.
.342
14. Pekerjaan Ayah dengan Durasi Menonton
Pekerjaan Ayah * Durasi Menonton Crosstabulation
Count
Pekerjaan ayah
Buruh
Wiraswasta
Pegawai Swasta
PNS
TNI/POLRi
Petani
Total
Durasi menonton
rendah
sedang
tinggi
2
1
7
6
6
15
3
6
12
1
1
3
0
1
3
2
1
0
14
16
40
Total
rendah
10
27
21
5
4
3
70
Chi-Square Tests
Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases
Value
7.920(a)
9.335
.873
70
10
10
Asymp. Sig. (2sided)
.637
.501
1
.350
df
99
Symmetric Measures
Nominal by Nominal
N of Valid Cases
Value
.319
70
Contingency Coefficient
Approx. Sig.
.637
15. Pekerjaan Ibu dengan Frekuensi Menonton
Pekerjaan Ibu * Frekuensi Menonton Crosstabulation
Count
Pekerjaan ibu
Ibu rumah tangga
Buruh
Wiraswasta
Pegawai Swasta
Total
Frekuensi menonton
rendah
sedang
tinggi
11
25
16
0
1
0
2
3
0
0
8
4
13
37
20
Total
rendah
52
1
5
12
70
Chi-Square Tests
Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases
Value
6.861(a)
10.548
6
6
Asymp. Sig. (2sided)
.334
.103
1
.625
df
.239
70
Symmetric Measures
Nominal by Nominal
N of Valid Cases
Contingency Coefficient
Value
.299
70
Approx. Sig.
.334
100
16. Pekerjaan Ibu dengan Durasi Menonton
Pekerjaan Ibu * Durasi Menonton Crosstabulation
Count
Pekerjaan ibu
Ibu rumah tangga
Buruh
Wiraswasta
Pegawai Swasta
Total
Durasi_menonton
rendah
sedang
tinggi
11
12
29
0
0
1
2
1
2
1
3
8
14
16
40
Total
rendah
52
1
5
12
70
Chi-Square Tests
Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases
Value
3.109(a)
3.504
6
6
Asymp. Sig. (2sided)
.795
.743
1
.566
df
.330
70
Symmetric Measures
Nominal by Nominal
N of Valid Cases
Contingency Coefficient
Value
.206
70
Approx. Sig.
.795
17. Pendapatan Orang Tua dengan Frekuensi Menonton
Correlations
Pendapatan
orang tua
Spearman's
rho
Pendapatan orang Correlation
tua
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Frekuensi
Correlation
menonton
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Frekuensi
menonton
1.000
.099
.
70
.413
70
.099
1.000
.413
70
.
70
101
18. Pendapatan Orang Tua dengan Durasi Menonton
Correlations
Pendapatan
orang tua
Spearman's
rho
Pendapatan orang Correlation
tua
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Durasi menonton Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Durasi
mmenonton
1.000
.076
.
70
.530
70
.076
1.000
.530
70
.
70
19. Frekuensi Menonton dengan Kognitif
Correlations
Frekuensi
menonton
Spearman's
rho
Frekuensi
menonton
Kognitif
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Kognitif
1.000
.289(*)
.
70
.015
70
.289(*)
1.000
.015
70
.
70
20. Durasi Menonton dengan Kognitif
Correlations
Durasi
menonton
Spearman's
rho
Durasi
menonton
Kognitif
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Kognitif
1.000
.419(**)
.
70
.000
70
.419(**)
1.000
.000
70
.
70
102
21. Frekuensi Menonton dengan Afektif
Correlations
Frekuensi
menonton
Spearman's
rho
Frekuensi
menonton
Afektif
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Afektif
1.000
.271(*)
.
70
.023
70
.271(*)
1.000
.023
70
.
70
22. Durasi Menonton dengan Afektif
Correlations
Durasi
menonton
Spearman's
rho
Durasi
menonton
Afektif
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Afektif
1.000
.479(**)
.
70
.000
70
.479(**)
1.000
.000
70
.
70
Download