tls_20160925881

advertisement
Merindukan Media yang “Ramah Anak”
Karya : Rizky Hamdani Sakti
Kelas IX G
SMP Negeri 4 Purwakarta
Pada masa kini, masih adakah media yang “ramah anak”, menurut saya sangat
sedikit. Bahkan hampir jadi sesuatu yang langka. Yang aneh lagi, animasi tidak dilirik lagi,
hanya sedikit yang peduli. Media lebih menginginkan acara atau film ataupun berita yang
membangkitkan penasaran para khalayak, yang ikut pula membangkitkan rating mereka.
Sebutlah saja beberapa media swasta yang terjajah oleh film negeri Hindu, negeri Paman
Sam, ataupun film negara Konstantinopel yang kebanyakan sebenarnya tidak “tidak ramah
anak”. Mereka seperti tidak peduli akan dampaknya terhadap anak.
Bahkan, adik saya pun tergila-gila oleh salah satu produk media swasta yang “tidak
ramah anak” itu. Film itu sungguh membuat dampak yang sangat amat luar biasa. Mereka
ingin seperti para tokoh dalam film itu. Tidak peduli tokoh yang mereka idolakan itu
merupakan penokohan antagonis. Bahkan yang lebih ngeri, mereka seperti “terbius” oleh
film itu. Ketika mereka lupa menontonnya, mereka segera bertanya pada yang menonton.
Mereka rela menghilangkan waktu belajar yang notabenenya untuk masa depan mereka
hanya untuk menonton film yang “tidak ramah anak” tersebut. Mereka menjadikan film itu
layaknya kebutuhan pokok. Anak kecil sudah berpacaran layaknya pasangan dewasa, galaugalauan akibat patah hati, curhat-curhatan patah hati, status yang menyindir siapapun yang
mereka tidak suka dengan bahasa yang teramat kotor. Sebegitu dahsyatnya kah media
swasta tersebut mengambil jiwa para anak yang melihat? Sedih saya melihat situasi ini.
Apakah mereka ada simpati sedikit saja dengan dampak yang mereka buat. Mereka hanya
meinginkan keuntungan.
Media swasta online pun tidak mau ketinggalan. Baik media swasta lokal maupun
media swasta mancanegara. Saya pun sepertinya menyesal telah mengikuti salah satu
media swasta online macanegara yang berasal dari negeri kelahiran pemimpin NAZI. Mereka
mengatakan bahwa media mereka memberitakan perkembangan teknologi dari negeri itu
dan dari negeri lain yang maju teknologinya. Tapi, akhir-akhir ini media itu rasis, liberalis,
bahkan yang saya paling kesal media ini memojokkan agama Islam yang damai ini. Mereka
tidak peduli dengan norma-norma ataupun kebijakan yang ada di negeri ini. Mereka
sekarang kapitalis, hanya peduli dengan uang.
Lalu, kami para anak harus berkeluh kesah pada siapa? Apakah ada yang perduli
dengan nasib kita saat ini. Apakah akan ada yang menyelamatkan kami dari “siksaan” ini?
Apakah masih ada yang prihatin akan kondisi ini. Jujur saja, kami tersiksa oleh media saat
ini. Hanya sedikit media yang “perduli” dengan kami. Tidak ada yang benar-benar ingin
menolong kami dari situasi ini. Bahkan sepertinya orang tua kami pun “kalah” kuatnya
dengan media yang “tidak perduli” itu. Apa kami hanya bisa meminta bantuan dari Allah
tuhan kami yang maha agung yang memiliki sifat kun fayakun?
Download