Kesembuhan Ilahi

advertisement
Bab Lima-Belas (Chapter Fifteen)
Kesembuhan Ilahi (Divine Healing)
Walaupun agak kontroversial, pokok bahasan kesembuhan ilahi bukanlah hal yang
samar-samar dalam Alkitab. Nyatanya, sepersepuluh bagian dari semua tulisan keempat
kitab Injil membahas pelayanan kesembuhan oleh Yesus. Ada janji-janji kesembuhan
ilahi dalam Perjanjian Lama, kitab-kitab Injil dan surat-surat Perjanjian Baru. Orang sakit
bisa mendapat dorongan besar dari kekayaan ayat Alkitab yang membangun iman.
Saya sudah saksikan di seluruh dunia bahwa di mana gereja dipenuhi orang-orang
percaya yang sangat berkomitmen (murid-murid sejati), maka di situ lebih sering terjadi
kesembuhan ilahi.1 Di gereja yang suam-suam kuku dan canggih, kesembuhan ilahi
sangat jarang terjadi. Semua itu tidak mengejutkan kita, karena Yesus berkata bahwa
salah satu tanda yang akan mengikuti orang-orang percaya adalah mereka akan
menumpangkan tangan kepada orang-orang sakit dan orang-orang itu sembuh (lihat
Markus 16:18). Jika kita menilai gereja melalui tanda-tanda yang akan mengikuti orangorang percaya seperti kata Yesus, dapat dsimpulkan bahwa banyak gereja berisikan
orang-orang tidak percaya:
Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil
kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi
siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orangorang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka
akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan
memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan
mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang
itu akan sembuh." (Markus 16:15-18).
Pelayan pemuridan, yang mencontoh pelayanan sempurna Kristus, akan memakai
karunia-karunianya untuk mendukung pelayanan kesembuhan ilahi dalam bidang di mana
1
Di beberapa gereja di Amerika Utara, para pendeta menanggung resiko besar untuk mengajarkan pokok
bahasan ini karena banyak perlawanan yang dia hadapi dari orang-orang yang menyebut diri mereka percaya.
Juga, Yesus kadang-kadang menemui orang-orang yang melawan dan tidak-percaya sehingga menghambat
pelayanan kesembuhan olehNya (lihat Markus 6:1-6).
ia memberikan pengaruhnya. Ia tahu bahwa kesembuhan ilahi melanjutkan Kerajaan
Allah dalam dua cara. Pertama, segala mujizat kesembuhan menjadi iklan hebat bagi
Injil, karena setiap anak yang membaca Injil atau kitab Kisah Para Rasul akan mengerti
(namun tak sanggup dipahami oleh banyak pelayan yang bergelar akademik tinggi).
Kedua, murid-murid yang sehat tidak terhambat dalam melayani orang sakit.
Pelayan pemuridan juga perlu peka terhadap anggota-anggota tubuh Kristus yang
menginginkan kesembuhan tetapi sulit menerima kesembuhan itu. Mereka sering butuh
pengajaran yang lunak dan dorongan yang lembut, terutama jika mereka telah jadi
berbalik melawan pesan kesembuhan. Pelayan pemuridan menghadapi pilihan: ia dapat
hindarkan pengajaran kesembuhan ilahi, di mana tak ada orang akan tersinggung dan tak
ada orang akan disembuhkan, atau ia dapat mengajarkan topik itu dengan penuh kasih,
dan beresiko menyinggung orang lain selagi membantunya untuk mengalami
kesembuhan. Secara pribadi, saya memilih pilihan kedua, dan percaya bahwa pilihan itu
sesuai teladan Yesus.
Kesembuhan di Atas Kayu Salib (Healing on the Cross)
Tempat yang baik untuk mulai menyelidiki kesembuhan ilahi adalah Yesaya pasal 53,
yang secara umum dianggap sebagai nubuatan kedatangan Mesias. Melalui Roh Kudus,
melalui penggambaran Yesaya membicarakan tentang pengorbanan kematian Yesus dan
karya yang akan Ia selesaikan di kayu salib:
Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita
yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.
Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena
kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan
kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti
domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri , tetapi TUHAN telah
menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. (Yesaya 53:4-6).
Dengan ilham Roh Kudus, Yesaya berkata bahwa Yesus menanggung kesengsaraan
dan penderitaan kita. Terjemahan yang lebih baik dari Bahasa Ibrani asli menunjukkan
bahwa Yesus menanggung penyakit dan rasa sakit, sesuai yang ditunjukkan oleh banyak
terjemahan yang handal pada catatan acuan.
Kata bahasa Ibrani yang diterjemahkan penyakit dalam Yesaya 53:4 adalah choli, juga
dalam Ulangan 7:15; 28:61; 1Raja-Raja 17:17; 2Raja-Raja 1:2; 8:8, dan 2Tawarikh
16:12; 21:15. Dalam ayat-ayat itu, terjemahan kata penyakit adalah rasa-sakit atau
penyakit.
Kata penderitaan berasal dari bahasa Ibrani makob, yang juga terdapat dalam Ayub
14:22 dan Ayub 33:19. Terjemahan kata makob pada kedua ayat itu adalah penderitaan.
Dengan demikian, Yesaya 53:4 lebih tepat diterjemahkan, “Tetapi sesungguhnya,
penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan rasa sakit kita yang dipikulnya.” Fakta ini
termeterai melalui kutipan langsung Yesaya 53:4 dalam Injil Matius: “Dialah yang
memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita." (Matius 8:17).
Karena tak sanggup mengelak dari fakta-fakta itu, sebagian orang coba meyakinkan
kita bahwa Yesaya menunjuk pada “rasa-sakit rohani” dan “penyakit rohani” kita. Tetapi,
kutipan Yesaya 53:4 oleh Matius tidak meragukan bahwa Yesaya menunjuk pada rasasakit dan penyakit fisik dalam arti sebenarnya. Kita baca konteksnya:
Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan
dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang
yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan
oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit
kita." (Matius 8:16-17, tambahkan penekanan).
Matius dengan gamblang menyatakan bahwa semua kesembuhan fisik yang dilakukan
oleh Yesus merupakan penggenapan Yesaya 53:4. Jadi, tak diragukan lagi, Yesaya 53:4
adalah acuan kepada Kristus yang menanggung kelemahan dan penyakit fisik kita.2
Sebagaimana Alkitab berkata bahwa Yesus menanggung kejahatan kita (lihat Yesaya
53:11), juga dikatakan Ia menanggung kelemahan dan penyakit kita. Itulah berita yang
membuat orang sakit gembira. Melalui korban penebusanNya, Yesus telah memberikan
keselamatan dan kesembuhan kepada kita.
2
Dengan memahami sesuatu yang dipakai sebagai dasar ketidakpercayaan mereka, sebagian orang mencoba
meyakinkan kita bahwa Yesus benar-benar memenuhi nubuatan Yesaya 53:4 melalui tindakanNya
menyembuhkan orang-orang pada malam itu di Kapernaum. Tetapi Yesaya berkata Yesus menanggung
penyakit kita, sebagaimana ia juga berkata bahwa Yesus diremukkan karena kejahatan kita (bandingkan
Yesaya 53:4 dan 53:5). Yesus menanggung penyakit dari orang-orang yang sama sehingga Dia diremukkan
oleh kejahatan mereka. Jadi, Matius hanya menunjukkan bahwa pelayanan kesembuhan oleh Yesus di
Kapernaum mempertegas bahwa Ialah Mesias, yang bahasan Yesaya 53, Orang yang akan menanggung
kejahatan dan penyakit.
Satu Pertanyaan (A Question Asked)
Sebagian orang bertanya, mengapa tidak setiap orang disembuhkan? Jawaban untuk
pertanyaan itu diberikan dengan membuat pertanyaan lain: mengapa tidak semua orang
dilahirkan kembali? Semua orang tidak dilahirkan kembali karena mereka belum
mendengar Injil atau belum percaya Injil. Jadi, setiap orang harus mendapat kesembuhan
melalui imannya. Namun, banyak orang belum mendengar kebenaran sehingga Yesus
menanggung penyakit mereka; orang-orang lain telah mendengar tetapi menolaknya.
Sikap Allah Bapa terhadap penyakit jelas terungkap dari Anak yang dikasihiNya, yang
bersaksi tentang diriNya,
Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari
diriNya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang
dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. (Yohanes 5:19).
Kita baca dalam kitab Ibrani, Yesus adalah “gambaran persis dari sifat [Bapa] Nya”
(Ibrani 1:3). Sikap Yesus terhadap rasa-sakit persis sama dengan sikap BapaNya terhadap
rasa-sakit.
Apa sikap Yesus? Tak sekalipun Ia berbalik dari siapapun yang datang kepadaNya,
sambil memohon kesembuhan. Tak sekalipun Ia berkata kepada orang sakit yang mau
disembuhkan, “Tidak, Tuhan tak mennghendaki engkau disembuhkan, jadi engkau akan
tetap sakit.” Yesus selalu menyembuhkan orang-orang sakit yang datang kepadaNya, dan
ketika mereka disembuhkan, Ia sering berkata bahwa iman merekalah yang menjadikan
mereka sembuh. Lagipula, Alkitab menyatakan bahwa Allah tak pernah berubah (lihat
Maleakhi 3:6) dan Yesus Kristus “tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai
selama-lamanya” (Ibrani 13:8).
Kesembuhan Disebarluaskan (Healing Proclaimed)
Tetapi, sekarang ini keselamatan telah direduksi menjadi pengampunan atas dosa.
Tetapi kata bahasa Yunani yang sering diterjemahkan sebagai “diselamatkan” dan
“keselamatan” bermakna pengampunan, kelepasan dan kesembuhan.3 Perhatikan orang
3
Misalnya, Yesus berkata kepada seorang wanita yang Ia sembuhkan dari pendarahan di dalam tubuhnya, “Hai
anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Markus 5:34). Kata dalam bahasa Yunani diterjemahkan
“telah menyelamatkan” dalam ayat ini (sozo) dan sepuluh kali lagi dalam Perjanjian Baru diterjemahkan
“menyelamatkan” atau “diselamatkan” lebih dari delapanpuluh kali dalam Perjanjian Baru. Misalnya, inilah
dalam Alkitab yang mengalami keselamatan penuh. Ia disembuhkan karena imannya
ketika ia mendengarkan Paulus sedang memberitkan Injil di kotanya.
Setelah rasul-rasul itu mengetahuinya, menyingkirlah mereka ke kota-kota di
Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka
memberitakan Injil. Di Listra ada seorang yang duduk saja, karena lemah kakinya
dan lumpuh sejak ia dilahirkan dan belum pernah dapat berjalan. Ia duduk
mendengarkan, ketika Paulus berbicara. Dan Paulus menatap dia dan melihat,
bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan. Lalu kata Paulus dengan suara nyaring:
"Berdirilah tegak di atas kakimu!" Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan
kian ke mari. (Kisah Para Rasul 14:6-10).
Perhatikan, walaupun Paulus sedang memberitakan “Injil”, orang itu mendengar
sesuatu yang menghasilkan iman dalam hatinya untuk menerima kesembuhan fisik.
Paling sedikit, ia pernah mendengar Paulus berkata sesuatu tentang pelayanan
kesembuhan melalui Yesus, dan bagaimana Yesus menyembuhkan setiap orang yang
memohon kesembuhan dengan iman. Mungkin Paulus juga menyebutkan nubuatan
Yesaya tentang Yesus yang menanggung kelemahan dan penyakit kita. Kita tidak tahu,
tetapi karena “iman datang dari pendengaran” (Roma 10:17), orang lumpuh itu pasti telah
mendengar sesuatu yang memicu iman di dalam hatinya untuk mendapatkan
kesembuhan. Perkataan Paulus telah meyakinkan orang lumpuh itu bahwa Allah tak mau
dia tetap lumpuh.
Paulus sendiri percaya bahwa Allah mau agar orang itu disembuhkan, atau katakatanya bisa saja tak pernah meyakinkan orang lumpuh itu untuk beriman demi
mendapatkan kesembuhan, juga ia mungkin tidak berkata kepada orang itu untuk berdiri.
Apa yang terjadi jika Paulus mengatakan apa yang dikatakan oleh begitu banyak
pengkhotbah masa kini? Bagaimana jika ia berkhotbah, “Bukankah kehendak Tuhan bagi
setiap orang untuk disembuhkan”? Orang itu mungkin saja tak memiliki iman untuk
disembuhkan. Mungkin hal itu memperjelas alasan mengapa banyak orang kini tidak
disembuhkan. Pengkhotbah, yang harus mengilhami orang-orang untuk memiliki iman
kata yang sama yang diterjemahkan “diselamatkan” dalam Efesus 2:5, “oleh kasih karunia kamu
diselamatkan.” Jadi kita lihat bahwa kesembuhan fisik memiliki makna di dalam pengertian dari kata bahasa
Yunani yang paling sering diterjemahkan sebagai “diselamatkan.”
demi mendapatkan kesembuhan, justru sedang membuat iman mereka hancur.
Perhatikan lagi, orang itu disembuhkan oleh imannya. Jika is tidak percaya, mungkin
saja ia tetap lumpuh, meskipun Tuhan menghendakinya untuk disembuhkan. Lagipula,
hari itu mungkin ada orang lain yang sakit dalam kerumunan orang banyak, tetapi kita tak
tahu siapa yang disembuhkan. Jika begitu, mengapa mereka tidak disembuhkan? Dengan
alasan yang sama, banyak orang yang belum selamat dalam rombongan belum dilahirkan
kembali hari itu —karena mereka tidak mempercayai pesan Paulus.
Kita tak berkesimpulan bahwa Tuhan tidak menghendaki kesembuhan setiap orang
berdasarkan fakta sebagian orang yang tak pernah disembuhkan. Ini sama artinya dengan
menyimpulkan bahwa Tuhan tidak menghendaki semua orang untuk dilahirkan kembali
hanya karena sebagian orang tak pernah dilahirkan kembali. Tiap orang harus percaya
Injil bahwa ia akan diselamatkan, dan juga percaya bahwa ia akan disembuhkan.
Bukti Lanjutan tentang Kehendak Tuhan untuk Meyembuhkan (Further Proof
of God’s Will to Heal)
Menurut perjanjian lama, kesembuhan fisik termasuk dalam perjanjian bangsa Israel
dengan Allah. Beberapa hari setelah mereka keluar dari tanah Mesir, Allah membuat
perjanjian dengan bangsa Israel, berikut ini:
"Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan
melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintahperintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan
menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang
Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau." (Keluaran 15:26).
Setiap orang jujur pasti sepakat bahwa kesembuhan menjadi bagian dalam perjanjian
bangsa Israel dengan Allah, tergantung pada ketaatan bangsa itu. (Sementara itu, Paulus
memperjelasnya dalam 1 Korintus 11:27-31 bahwa kesehatan tubuh berdasarkan
perjanjian baru juga tergantung pada ketaatan).
Allah juga berjanji kepada orang-orang Israel:
Tetapi kamu harus beribadah kepada TUHAN, Allahmu; maka Ia akan memberkati
roti makananmu dan air minumanmu dan Aku akan menjauhkan penyakit dari
tengah-tengahmu. Tidak akan ada di negerimu perempuan yang keguguran atau
mandul. Aku akan menggenapkan tahun umurmu. (Keluaran 23:25-26, tambahkan
penekanan).
Engkau akan diberkati lebih dari pada segala bangsa: tidak akan ada laki-laki atau
perempuan yang mandul di antaramu, ataupun di antara hewanmu. TUHAN akan
menjauhkan segala penyakit dari padamu, dan tidak ada satu dari wabah celaka
yang kaukenal di Mesir itu akan ditimpakan-Nya kepadamu, tetapi Ia akan
mendatangkannya kepada semua orang yang membenci engkau. (Ulangan 7:14-15,
tambahkan penekanan).
Jika kesembuhan fisik termasuk dalam perjanjian lama, orang heran bagaimana hal itu
tidak dimasukkan dalam perjanjian baru, jika nyatanya perjanjian baru lebih baik
daripada perjanjian lama, seperti pernyataan Alkitab:
Tetapi sekarang Ia [Yesus] telah mendapat suatu pelayanan yang jauh lebih agung,
karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan
atas janji yang lebih tinggi. (Ibrani 8:6, tambahkan penekanan).
Bukti Lanjutan (Yet Further Proof)
Alkitab berisikan banyak ayat yang memberikan bukti yang tak terbantahkan bahwa
Tuhan mengehendaki setiap orang sembuh. Saya buat tiga daftar:
Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai
segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala
kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan
segala penyakitmu. (Mazmur 103:1-3, tambahkan penekanan).
Keberatan apa yang akan dibuat oleh orang Kristen mengenai pernyataan Daud bahwa
Allah mau mengampuni semua kesalahan kita? Tetapi, Daud percaya bahwa Allah juga
mau menyembuhkan semua penyakit kita —semuanya.
Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku;
janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu.
Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan
kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka. (Amsal 4:20-22, tambahkan penekanan).
Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua
jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam
nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu
dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya
itu akan diampuni. (Yakobus 5:14-15, tambahkan penekanan).
Perhatikanlah, janji terakhir itu menjadi milik siapapun yang sakit. Dan ternyata,
bukan penatua atau minyak yang membawa kesembuhan tetapi “doa dengan iman.”
Apakah iman itu berasal dari penatua atau orang sakit? Apakah iman berasal dari
keduanya. Iman orang sakit diungkapkan, sebagian, dengan memanggil penatua gereja.
Ketidakpercayaan si sakit dapat membuat efek doa si penatua tidak menghasilkan apaapa. Jenis doa yang disebutkan oleh Yakobus adalah contoh baik untuk “doa
persepakatan” yang Yesus sebut dalam Matius 18:19. Kedua pihak yang terlibat dalam
doa itu harus “bersepakat.” Jika seorang percaya dan orang lain tak percaya, maka
mereka tak sepakat.
Kita juga tahu dalam beberapa perikop, Alkitab menyebut Setan sebagai penyebab
penyakit (lihat Ayub 2:7; Lukas 13:16; Kisah Para Rasul 10:38; 1 Korintus 5:5). Jadi,
Allah tentu menentang pekerjaan Setan dalam tubuh anak-anakNya. Bapa kita mengasihi
kita jauh lebih dari cara bapa di dunia mengasihi anak-anaknya (lihat Matius 7:11),
namun saya belum pernah bertemu seorang bapak yang menginginkan anak-anaknya
sakit.
Setiap kesembuhan yang Yesus lakukan selama pelayananNya di dunia, dan setiap
kesembuhan yang disebut dalam kitab Kisah Para Rasul, mendorong kita untuk percaya
bahwa Allah mau kita tetap sehat. Yesus sering menyembuhkan orang-orang yang
mencariNya, sambil mereka mencari kesembuhan, dan Ia berkata bahwa mujizat terjadi
karena mereka punyai iman. Jadi, terbukti Yesus tidak memilih orang-orang tertentu
untuk Ia sembuhkan. Setiap orang sakit dapat datang kepadaNya dengan iman dan
menjadi sembuh. Ia ingin menyembuhkan mereka semua, tetapi Ia memerlukan iman dari
mereka.
Jawaban terhadap Beberapa Keberatan Umum (Answers to Some Common
Objections)
Mungkin, keberatan yang paling umum terhadap semua itu adalah keberatan yang tak
berdasarkan pada Firman Tuhan, tetapi pada pengalaman orang-orang. Biasanya
keberatan berupa: “Saya kenal seorang wanita Kristen hebat yang berdoa agar
disembuhkan dari kanker, namun ia meninggal. Terbukti Tuhan tak menghendaki semua
orang sembuh.”
Kita tak boleh menentukan kehendak Tuhan dengan apapun selain FirmanNya.
Misalnya, jika anda mundur ke masa lalu dan memperhatikan pengembaraan bangsa
Israel di padang gurun selama empat-puluh tahun selagi negeri yang berlimpah susu dan
madu menanti tepat di seberang Sungai Yordan, anda bisa saja simpulkan bahwa Tuhan
tak menghendaki bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian itu. Tetapi jika anda tahu
Alkitab, maka ketahuilah bukan itu masalahnya. Tentunya, sudah jadi kehendak Tuhan
bagi bangsa Israel untuk memasuki Tanah Perjanjian, tetapi mereka gagal memasukinya
karena mereka tidak percaya (lihat Ibrani 3:19).
Bagaimana dengan orang-orang yang kini ada di neraka? Tuhan menghendaki mereka
untuk ada di sorga, tetapi mereka tak memenuhi syarat bertobat dan iman dalam Tuhan
Yesus. Maka, kita tak dapat menentukan kehendak Tuhan tentang kesembuhan dengan
memperhatikan orang-orang sakit. Hanya karena seorang Kristen berdoa untuk mendapat
kesembuhan dan gagal mendapatkannya, tidak membuktikan bahwa Tuhan tidak
inginkan kesembuhan bagi setiap orang. Jika orang Kristen telah memenuhi syarat-syarat
dariNya, ia bisa saja disembuhkan, atau bila tidak maka Tuhan berdusta. Ketika gagal
mendapat kesembuhan, lalu menyalahkan Tuhan dengan alasan bahwa kesembuhan
bukan kehendakNya, kita sama saja dengan orang-orang Israel yang tidak percaya yang
mati di padang gurun, yang berkata bahwa Tuhan tak mau mereka masuk ke Tanah
Perjanjian. Lebih baik kita singkirkan perasaan angkuh dan mengaku bahwa kita patut
disalahkan.
Seperti saya sebutkan pada bab sebelumnya tentang iman, banyak orang Kristen yang
tulus mengakhiri doanya secara keliru untuk memperoleh kesembuhan dengan ucapan
yang meruntuhkan iman, “Bila itu kehendakMu.” Ini jelas mengungkapkan bahwa
mereka tidak berdoa dengan iman karena mereka tidak meyakini kehendak Tuhan. Ketika
terjadi kesembuhan, kehendak Tuhan sangat jelas, ketika kita telah melihatnya. Jika anda
tahu Allah ingin sembuhkan anda, tak ada alasan untuk berucap “jika itu kehendakMu”
dalam doa kesembuhan. Sama halnya juga dengan berkata, “Tuhan, saya tahu Engkau
berjanji menyembuhkan saya, tetapi jika Engkau berbohong tentang itu, saya mohon
Engkau sembuhkan saya hanya bila itu sebenarnya kehendakMu.”
Memang, Allah dapat mendisiplinkan orang percaya yang tidak taat, dengan
mengizinkan penyakit menderanya, bahkan, pada beberapa kejadian, sampai pada titik Ia
izinkan kematian sebelum waktunya. Orang percaya itu jelas perlu bertobat sebelum
menerima kesembuhan (lihat 1 Korintus 11:27-32). Ada orang lain yang, tak peduli
tubuhnya, mengundang datangnya penyakit bagi dirinya. Orang Kristen harus cukup
bijak untuk menjaga diet yang sehat, makan tak berlebihan, olahraga teratur, dan istirahat
cukup.
Keberatan Umum Kedua (A Second Common Objection)
Sering dikatakan, “Paulus punya duri dalam daging, dan Tuhan tidak
menyembuhkannya.”
Tetapi, pendapat bahwa duri dalam diri Paulus adalah penyakit hanyalah teori teologis
yang buruk, dengan melihat fakta bahwa Paulus berkata dengan pasti apa sebenarnya duri
itu, yakni malaikat Setan:
Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar
biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis
untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri . tentang hal itu aku
sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku.
Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru
dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku
bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. (2 Korintus
12:7-9, tambahkan penekanan).
Kata yang diterjemahkan utusan adalah kata bahasa Yunani “aggelos” yang
diterjemahkan menjadi malaikat atau malaikat-malaikat yang disebut 160 kali dalam
Perjanjian Baru. Duri dalam daging pada Paulus adalah malaikat Setan yang dikirim
untuk merongrong hidup Paulus; duri itu bukanlah rasa-sakit atau penyakit.
Perhatikan juga, tak ada sebutan doa Paulus agar disembuhkan, juga tidak ada indikasi
bahwa Tuhan menolak menyembuhkannya. Pada ketiga kejadian, Paulus hanya bertanya
kepada Tuhan apakah Ia mau mengeluarkan malaikat perongrong hidup, dan Allah
berkata bahwa kasih-karuniaNya sudah cukup.
Siapa yang memberikan duri itu kepada Paulus? Sebagian orang yakin bahwa Setan
yang memberinya, karena duri itu disebut “malaikat Setan.” Orang lain yakin Allah yang
memberinya karena duri itu tampak diberikan agar Paulus tidak dipuji sehingga menjadi
sombong. Paulus sendiri berkata, “Untuk membuat agar aku tidak meninggikan diriku.”
Alkitab versi King James menerjemahkan ayat-ayat itu sedikit berbeda. Bukannya
berkata, “untuk membuat agar aku tidak meninggikan diriku”, dikatakan, “agar aku tidak
ditinggikan secara berlebihan.” Inilah perbedaan penting karena Allah tidak menentang
bila kita ditinggikan. Kenyataannya, Ia berjanji untuk meninggikan kita jika kita mau
merendahkan diri. Jadi, sangat mungkin Tuhan melakukan peninggian dan Setan
mencoba menghentikan peninggian Paulus dengan menugaskan seorang malaikat
perongrong demi mengacau di manapun Paulus pergi. Namun Allah berkata bahwa Ia
akan memakai berbagai keadaan untuk kemuliaanNya karena kuasaNya dapat terwujud
dalam kehidupan Paulus akibat berbagai kelemahannya.
Walaupun demikian, bila kita berkata bahwa Paulus jatuh sakit dan Allah menolak
menyembuhkan, perkataan itu menyimpang dari pernyataan Alkitab yang sebenarnya.
Dalam perikop duri dalam daging pada diri Paulus, Paulus tak pernah menyebutkan rasasakit apapun, dan tidak ada hal yang menunjukkan penolakan Allah untuk
menyembuhkan rasa-sakit itu. Jika, seorang jujur membaca seluruh uraian Paulus tentang
semua cobaannya dalam 2 Korintus 11:23-30, ia tidak akan menemukan penyebutan
sekalipun tentang rasa-sakit atau penyakit.
Penjelasan atas Tema yang Sama (An Elaboration on the Same Theme)
Sebagian orang keberatan terhadap penjelasan saya mengenai duri dalam diri Paulus,
dengan berkata, ”Tetapi tidakkah Paulus sendiri yang berkata kepada jemaat di Galatia
bahwa ia sakit ketika pertama kali ia mengabarkan Injil kepada mereka? Tidakkah ia
sedang berbicara tentang duri dalam daging pada dirinya?”
Itulah sebenarnya yang Paulus tuliskan dalam suratnya kepada jemaat di Galatia:
Kamu tahu, bahwa aku pertama kali telah memberitakan Injil kepadamu oleh
karena aku sakit pada tubuhku. Sungguhpun demikian keadaan tubuhku itu, yang
merupakan pencobaan bagi kamu, namun kamu tidak menganggapnya sebagai
sesuatu yang hina dan yang menjijikkan, tetapi kamu telah menyambut aku, sama
seperti menyambut seorang malaikat Allah, malahan sama seperti menyambut
Kristus Yesus Sendiri. (Galatia 4:13-14).
Kata bahasa Yunani yang diterjemahkan sakit dalam Galatia 4:13 adalah asthenia,
yang berarti “kelemahan.” Kata itu bisa berarti lemah karena sakit, tetapi tidak harus
demikian.
Misalnya, Paulus menulis, “yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia” (1
Korintus 1:25, tambahkan penekanan). Kata yang diterjemahkan yang lemah dalam
contoh itu adalah juga kata asthenia. Tak masuk akal bila penerjemah menerjemahkan
kata itu menjadi “penyakit dari Allah lebih kuat dari pada manusia.” (lihat juga Matius
26:41 dan 1 Petrus 3:7, di mana kata asthenia diterjemahkan kelemahan dan tak mungkin
penyakit).
Ketika Paulus pertama kali mengunjungi Galatia, seperti dalam Kisah Para Rasul,
tidak ada sebutan tentang penyakitnya. Tetapi disebutkan, ia dilempari batu dan dibiarkan
mati, dan ia bisa saja bangkit dari matinya atau dibangkitkan secara ajaib (lihat Kisah
Para Rasul 14:5-7, 19-20). Tentu, setelah dilempari batu dan dibiarkan mati, kondisi
tubuh Paulus mengerikan dengan banyak luka dan bengkak di sekujur tubuhnya.
Paulus tidak menderita sakit di Galatia sebagai cobaan bagi orang-orang yang
mendengarkannya. Sebaliknya, tubuhnya lemah karena dilempari batu. Kemungkinan
besar, ia masih ingat berbagai kejadian penganiayaan di Galatia ketika ia menulis surat
kepada jemaat di Galatia, karena ia mengakhiri suratnya dengan kata-kata berikut:
Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada
tanda-tanda milik Yesus. (Galatia 6:17).
Keberatan Lain: “Saya Menderita untuk Kemuliaan Tuhan” (Another
Objection: ”I’m Suffering for the Glory of God”)
Keberatan ini dipakai oleh beberapa orang yang telah mengambil satu ayat dari kisah
bangkitnya Lazarus sebagai dasar klaim bahwa mereka sedang menderita sakit untuk
kemuliaan Allah. Yesus berkata mengenai Lazarus:
Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan
Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan (Yohanes 11:4).
Yesus tidak berkata bahwa Allah sedang dimuliakan akibat penyakit Lazarus, tetapi
Allah akan dimuliakan ketika Lazarus disembuhkan dan dibangkitkan dari antara orang
mati. Dengan kata lain, hasil akhir dari penyakit bukanlah kematian, tetapi sebaliknya
Allah akan dimuliakan. Allah tidak dimuliakan dalam penyakit; Ia dimuliakan dalam
kesembuhan. (lihat juga Matius 9:8; 15:31;Luke 7:16; 13:13 dan 17:15, di mana
kesembuhan membawa kemuliaan bagi Allah ).
Keberatan Lain: “Paulus Berkata bahwa Ia Meninggalkan Trofimus dalam
keadaan Sakit di Miletus“ (Another Objection: ”Paul Said He Left Trophimus
Sick at Miletum”)
Saya kebetulan menulis kalimat ini di satu kota di Jerman. Ketika meninggalkan
kampung-halaman saya di Amerika Serikat minggu lalu, saya tinggalkan banyak orang
sakit. Saya tinggalkan rumah-rumah sakit yang dijejali orang-orang sakit. Tidak berarti
Tuhan tidak ingin mereka semua sembuh. Hanya karena Paulus meninggalkan orang sakit
di kota yang dikunjunginya bukanlah bukti bahwa Tuhan tak ingin orang itu sembuh.
Bagaimana dengan kumpulan orang yang belum selamat yang Paulus tinggalkan?
Apakah ini bukti bahwa Tuhan tidak ingin mereka diselamatkan? Sama sekali tidak.
Keberatan Lain: “Saya Seperti Ayub” (Another Objection: ”I’m Just Like Job!”)
Puji Tuhan! Jika anda sudah baca bagian akhir kisah Ayub, anda tahu ia sudah
sembuh. Tuhan tidak ingin Ayub tetap sakit, dan juga Tuhan tidak ingin anda tetap sakit.
Kisah Ayub menegaskan kembali bahwa Allah selalu menghendaki kesembuhan.
Keberatan Lain: Saran Paulus kepada Timotius tentang Perutnya (Another
Objection: Paul’s Advice to Timothy About His Stomach)
Kita tahu bahwa Paulus berkata kepada Timotius untuk minum sedikit anggur untuk
pencernaan dalam perutnya dan kelemahan tubuhnya (lihat 1 Timotius 5:23).
Sebenarnya, Paulus berkata kepada Timotius untuk berhenti minum air dan minum
sedikit anggur untuk pencernaan dalam perutnya dan untuk kelemahan tubuhnya.
Tampaknya, ada yang tidak beres dengan air. Jelaslah, jika anda minum air yang
terkontaminasi, anda harus berhenti meminumnya dan mulai minum minuman lain, atau
anda mungkin menderita gangguan perut seperti Timotius.
Keberatan Lain: “Yesus Hanya Menyembuhkan untuk Membuktikan
KeAllahanNya” (Another Objection: ”Jesus Only Healed to Prove His Deity”)
Sebagian orang ingin kita meyakini bahwa alasan terutama Yesus melakukan
kesembuhan adalah untuk membuktikan ke-AllahanNya. Karena keAllahanNya sudah
kuat, tampaknya Ia tidak lagi melakukan kesembuhan.
Hal itu samasekali tidak keliru. Memang benar, mujizat-mujizat Yesus menegaskan
keAllahanNya, namun itu bukanlah alasan terutama sehingga Ia menyembuhkan orangorang selama pelayananNya di bumi. Banyak kali Yesus melarang orang yang Ia
sembuhkan agar tidak memberitahukan kepada siapapun apa yang dia alami (lihat Matius
8:4;9:6, 30; 12:13-16; Markus 5:43; 7:36; 8:26). Jika Yesus menyembuhkan orang demi
membuktikan keAllahanNya, maka Ia akan berkata kepada orang itu untuk berkata
kepada setiap orang mengenai apa yang telah dilakukanNya bagi mereka.
Apa motivasi di balik setiap kesembuhan yang Yesus lakukan? Banyak kali Alkitab
berkata bahwa Ia menyembuhkan karena Ia “tergerak oleh belas-kasihan” (lihat Matius
9:35-36; 14:14; 20:34; Markus 1:41; 5:19;Luke 7:13). Yesus melakukan kesembuhan
karena Ia mengasihi orang-orang dan Ia penuh belas-kasihan. Apakah Yesus kurang
belas-kasihan sejak pelayananNya di dunia? Apakah kasihNya sudah habis? Tentu tidak!
Keberatan Lain: ”Allah Ingin Saya jadi Sakit karena Sesuatu Alasan.” (Another
Objection: ”God Wants Me to be Sick for Some Reason.”)
Dengan dukungan semua ayat Alkitab yang lagi dibahas, keberatan itu mustahil. Jika
anda lama tidak taat, mungkin Allah izinkan penyakit untuk membawa anda kepada
pertobatan. Tetapi, Allah tak ingin anda tetap sakit. Ia ingin anda bertobat dan sembuh.
Dan juga, jika Allah ingin anda sakit, lalu mengapa anda ke dokter dan berobat,
dengan harapan untuk sembuh? Apakah anda mencoba keluar dari “kehendak Tuhan”?
Keberatan Akhir: “Jika Kita Tak Pernah Menderita Penyakit, Bagaimana Kita
Akan Mati?” (A Final Objection: ”If We Never Suffer Disease, How Will We
Die?”)
Kita tahu bahwa Alkitab mengajarkan tentang tubuh kita yang makin merosot (lihat 2
Korintus 4:16). Kita tak dapat melakukan apapun agar rambut tidak memutih dan tubuh
tidak makin tua. Pada akhirnya, penglihatan dan pendengaran kita menjadi tidak sebaik
saat kita masih muda. Kita tidak dapat berlari cepat. Jantung kita tidak kuat lagi.
Perlahan-lahan tubuh kita menyusut.
Tetapi tidak berarti bahwa kita harus mati karena rasa-sakit atau penyakit. Tubuh kita
bisa saja benar-benar aus, dan ketika itu terjadi, roh-roh kita akan meninggalkan tubuh
kita ketika Allah memanggil kita pulang ke sorga. Banyak orang percaya berpulang ke
sorga dengan cara seperti itu. Mengapa anda tidak percaya?
Download