Pokok-Pokok Proposal Tesis

advertisement
BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang Permasalahan
1. Agama
Pada dasarnya setiap agama dapat melahirkan tindakan-tindakan empatis penganutnya
kepada orang lain, sebagai wujud penghormatan terhadap Yang Suci, Yang Maha
Empati 1 . Karena tindakan-tindakan empatis orang-orang suci dari lokasi daerah atau
negara yang berlainan itulah agama berkembang ke seluruh penjuru dunia. Tindakantindakan empatis para suci telah tercatat dalam kitab suci masing-masing agama.
Tindakan-tindakan empatis itu pulalah yang menghasilkan suatu tradisi menghayati
kehidupan dengan ritual-ritual penghormatan terhadap kehidupan dan Sang Sumber
Kehidupan. 2
1
Band. _________________, “Agama dan Kosmologi”, dalam http://www.irib.ir/worldservice
/melayu RADIO/islamologi/mengenal_islam_2.htm. Dalam bahasa Arab agama disebut ‘Din’ yang secara
bahasa berarti ketataan, pahala dsb. Dalam istilah, Din berarti keyakinan kepada Sang Pencipta manusia
dan alam semesta serta ajaran-ajaran amaliah yang sesuai dengan keyakinan ini. Atas dasar ini orang yang
tidak meyakini adanya Sang Pencipta dan menganggap segala fenomena alam ini sebagai kejadian spontan
atau semata-mata terjadi karena interaksi alam natural disebut sebagai orang yang tak beragama (ateis).
Sebaliknya orang yang meyakini adanya Sang Pencipta semesta alam disebut sebagai orang yang beragama
2
Lih. Michael Pye, “Studi Agama dan Dialog Agama, Transendensi dan Unifikasi AgamaAgama Dunia”, dalam Pradana Bay, (ed.), Agama Empiris: Agama Dalam Pergumulan Realitas Sosial,
Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002. Pye memandang bahwa bagi agama yang tidak mempersoalkan
pluralitas, karena kebenaran akhir dianggap sebagai yang menaungi mereka semua. Secara historis, lahirnya
studi agama sebagai studi perbandingan seringkali dihubungkan dengan pandangan bahwa ada satu prinsip
atau esensi umum yang mendasari mereka semua, yang ternyata merupakan jalan buntu menuju studi
agama.
2
Namun pada kenyataannya tindakan-tindakan empatis tersebut sering tidak mendapat
ruang yang memadai untuk dikembangkan menjadi suatu pola kehidupan sejati antar
manusia, sehingga terjadilah semacam anomali atau yang berlawanan dengan harapan
kita, yakni munculnya tindakan-tindakan kekerasan yang di-“haram”-kan oleh agama 3 .
Anomali tersebut sebagai akibat dari tidak tersedianya ruang untuk mengembangkan
tindakan-tindakan empatis yang menjadi inti dari kehidupan beragama.
Sebagian orang akan setuju bila dikatakan bahwa pada dasarnya agama itu baik, yang
tidak baik adalah orangnya. Penulis menyetujui pernyataan itu, karena pernyataan itu
menegaskan kembali bahwa agama itu harus benar baik dari sisi teologis maupun sisi
hubungan antar manusia. Dalam sejarah tersebarnya ajaran kebenaran menjadi suatu
institusi agama, suatu agama dapat dikatakan benar secara teologis serta masih dapat
diyakini kebenarannya ketika diikuti tindakan-tindakan empatis kemanusiaan 4 .
3
Band. Dr. Abdul Munir Mulkhan, “Etika Kebangsaan Dalam Pluralitas Sosial Dan
Keagamaan”, dalam http://www.cides.or.id/ Publikasi/ Publikasi.asp, Center for Information and
Development Studies, 2002. Menurutnya, dalam membicarakan masalah etika kebangsaan diperlukan
dialog terbuka antara lembaga-lembaga yang mengatasnamakan masyarakat (ormas), sehingga “DPR
jalanan” yang merupakan gejala perpolitikan masa depan tidak akan berkembang dalam arti memperbanyak
korban. Pasca “era perang dingin” dan disintegrasi negara besar seperti Uni Sovyet serta munculnya
berbagai ramalan konflik baru kebangsaan global. Masalah konflik baru banyak dikaitkan dengan problem
keagamaan dan etnisitas seperti tesis Huntington (1995) yang kini sedang dirasakan bangsa Indonesia,
sesudah krisis ekonomi yang meluas merambah ke dunia politik. Namun, patut dipersoalkan apakah
etnisitas dan keagamaan sebagai faktor pemicu konflik dan kerusuhan yang dominant. Bukankah konflik
keagamaan dan etnisitas bisa menjadi lebih hebat dan baru “kemudian” muncul sesudah faktor pencetus
utama yakni sosial, ekonomi dan politik tidak teratasi.
Uniformisasi nilai, budaya dan keberagamaan adalah bentuk kekerasan yang lebih dahsyat di
permukaan bisa menampakkan diri dalam berbagai bentuk dari kehalusan budi dan pemihakan pada tatanilai kebaikan dan kebenaran. Lebih dahsyat lagi ketika upaya penyeragaman itu memakai legitimasi
keagamaan dan religiositas di mana ke-unik-an personal dan kolektif dianggap melanggar norma
keagamaan sehingga mudah dituduh sebagai bentuk kesesatan keagamaan yang diancam api neraka dan
kemarahan Tuhan. Elite politik dan keagamaan secara bersama memproduksi diri sebagai tuhan-tuhan kecil
yang lebih berkuasa dari Tuhan dan setiap saat memasukkan seseorang ke dalam neraka atau surga menurut
versinya sendiri.
4
Band. Komaruddin Hidayat, “Dari Inklusivisme ke Pluralisme”, dalam Harian Kompas, Selasa,
8 April 1997. Menurutnya, sebuah doktrin agama selalu tumbuh dalam lingkup historis yang bersifat
partikular, sedangkan kuasa dan kasih Tuhan mengatasi ruang historis. Ini berarti klaim kebenaran agama
3
Tersebarnya ajaran Yesus Kristus yang kemudian melembaga menjadi agama Kristen,
yang menjadi sumber ajaran kebenaran bahwa kasih kepada Allah segera diikuti kasih
kepada sesama manusia. Demikian juga tersebarnya ajaran Nabi Muhammad saw. yang
melembaga menjadi agama Islam, yang menjadi sumber ajaran ketaatan kepada Allah,
diikuti dengan contoh kehidupan Nabi yang mendamaikan suku-suku. Pola yang
demikian ini, sebagaimana ajaran kebenaran yang diikuti tindakan yang empatik
kemanusiaan ini selalu bersama dengan keberhasilan pemberitaan kabar sukacita atau
dakwah.
Seseorang dikatakan sebagai orang beragama pertama-tama bukan karena apa yang
dipercayanya, tetapi oleh karena apa yang dilakukannya. Apabila perilaku dan tindakan
seseorang itu baik maka dapat dikatakan ia adalah orang beragama 5 . Tetapi sebaliknya,
jika tindakannya tidak baik, maka akan sulit untuk dikatakan bahwa ia adalah orang
beragama.
(religious truth claim) yang bersifat eksklusif tidak bisa menyisihkan (to exclude) dan menegasikan
kehendak dan karya Tuhan untuk membukakan pintu keselamatan bagi hambaNya dalam rentang waktu
historis selama hal itu dikehendakiNya. Dengan demikian kita perlu membedakan antara tradisi agama
(religious tradition) disatu sisi dan sikap keberagamaan primordial (primordial religiousity) pada sisi yang
lain, serta kemungkinan-kemungkinan baru karya Tuhan sebagai manifestasi kepedulianNya kepada
hamba-hambaNya.
5
Band. Taufik Abdullah & M. Rusli Karim (ed.), Metodologi Penelitian Agama, Yogyakarta,
Tiara Wacana, 1991, hal.1. Mattulada menyatakan beragama sebagai kepercayaan tetap akan menyatakan
dirinya secara sosio-kultural. Oleh karena itu penelitian agama adalah mendasarkan diri pada fenomena
perilaku orang yang beragama.
4
Oleh karena kehidupan beragama tidak dapat dilepaskan begitu saja dari dunia kehidupan
obyektif, maka kehidupan beragama dapat dipelajari secara obyektif6 . Sekalipun
kehidupan beragama yang obyektif bukan hanya karena adanya indikasi bahwa agama
hanya berhubungan dengan tindakan baik dan tidak baik 7 . Kehidupan orang beragama
adalah kehidupan yang menyangkut keyakinan individu terhadap Tuhan, namun selain itu
di dalam individu yang percaya tersebut terdapat perasaan-perasaan, motivasi-motivasi
yang membentuk kepribadiannya. Jadi, membicarakan keberagamaan pada dasarnya
membicarakan individu yang beragama yang berarti membicarakan perasaan-perasaan,
motivasi-motivasi individu yang dapat membentuk suatu tindakan empatis.
2. Pendekatan Empatis
Di Indonesia, pluralitas adalah suatu kenyataan yang tidak dapat ditolak 8 . Penolakan
terhadap realitas plural berarti suatu pengingkaran terhadap realitas Indonesia itu sendiri.
6
Band. Komaruddin Hidayat, “Dari Inklusivisme ke Pluralisme”, dalam Kompas, Selasa, 8
April 1997. Sesungguhnya semua doktrin agama selalu berkembang dalam perjalanan historisnya sehingga
apa yang disebut teologi, misalnya, adalah juga bersifat antropologis.
7
Band. Prof. Dr. N. Drijarkara, S.J., Percikan Filsafat, Jakarta, PT. Pembangunan, 1978, hal.22.
Durkheim berpandangan bahwa baik buruknya sesuatu ditentukan oleh masyarakat. Artinya, yang menjadi
asal dan dasar dari kewajiban adalah masyarakat. Menurutnya, manusia adalah individu atau perorangan,
sebagai bagian dari keseluruhan masyarakat, oleh karenanya ditentukan oleh masyarakat. Selanjutnya ia
berpandangan bahwa kesusilaan sebetulnya hanyalah ikatan dari masyarakat. Menurut konsepnya ini,
individu atau perseorangan tidak merupakan tujuan dari tindakan yang disebut baik. Yang harus menjadi
tujuan agar perbuatan menjadi baik adalah masyarakat. Contoh, misalnya korupsi dan pelacuran tidak akan
dianggap baik atau buruk, kalau tidak ditentukan oleh masyarakat.
Drijarkara tidak setuju dengan etikanya Durkheim ini, karena memberlakukan depersonisasi
kemanusiaan. Mengingkari hakekat manusia sebagai pribadi. Dampak yang lain dari teori Durkheim, dapat
membenarkan kolonialisme, dengan mengatakan baiklah kita merampas kemerdekaaan negara tetangga
kita.
8
lih. Muhadjir Darwin, “Pluralisme”, dalam Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu, 3 Agustus 2005.
Ketika penulisan ini tengah berjalan akhir Juli 2005, MUI mengeluarkan 11 fatwa , yang salah satunya
mengharamkan pluralisme. Namun kemudian segera muncul berbagai reaksi terhadap fatwa tersebut dan
meminta agar MUI meninjau kembali fatwa tersebut, yang justru dapat menghambat arah dialog antar
agama yang tengah mulai dibangun. Muhadjir melihat, bahwa dari 11 fatwa terdapat tiga fatwa dari sisi
hubungan antar agama termasuk kontroversial, yakni pertama terkait dengan haramnya kelompok Islam
5
Sebagai contoh, kasus fatwa yang mengharamkan pluralisme dan menolak realitas justru
banyak menuai protes dari masyarakat luas dan sebenarnya tidak mempunyai dasar
pijakan empirik maupun teoritis yang kuat.
Dalam konteks pluralitas agama-agama di Indonesia yang demikian itu, posisi pendekatan
empati menjadi demikian penting untuk dapat saling berdialog dan membuka ruang
kesadaran individu. Kita sudah sangat sering mendengar kata “toleransi” yang demikian
khas Indonesia, tetapi sebenarnya toleransi justru dapat menemukan maknanya sendiri
ketika pendekatan empati dipraktekkan. Karena hampir sulit dipastikan bahwa tanpa
Ahmadiyah, kedua, pluralisme, sekularisme dan liberalisme haram; ketiga, doa bersama lintas agama
serentak juga diharamkan. Ia mempertanyakan keberadaan fatwa MUI sebagai respon permintaan atas
keresahan masyarakat mengapa tidak memberikan solusi, malah terkesan memperburuk masalah?
Sementara konflik sosial horisontal atas nama suku dan agama tengah menggerogoti integrasi bangsa,
malah usaha membuat sekat identitas primordial semakin kuat.
Ia mengritik fatwa MUI sebagai bukan sumbangan apapun untuk memperbaiki masyarakat yang
berada dalam kerusakan tatanan sosial. Ia mengusulkan agar fatwa ulama yang dibuat mendorong
kehidupan sosial yang damai, santun dan saling menghormati dan mengharamkan tindak kekerasan atau
teror. Perlu ada fatwa bahwa amar ma’ruf nahi mungkar, tidak boleh dilakukan dengan cara-cara
“mungkar”.
Sebagai sosok yang tulus Islam, penulis ingin Islam melihat kebesaran pemimpin Islam, yakni
Nabi Muhammad, dan juga tokoh Nasional Islam seperti Moh. Roem yang berbesar hati dengan
pandangannya yang pluralis. Oleh karena pluralisme berintikan pengakuan dan penghormatan antar
individu yang berbeda identitas termasuk agama, maka Indonesia adalah negara pluralis. Ideologi Pancasila
berarti ideologi pluralis. UUD juga konstitusi pluralis, dapat menjadi Rohnya Agama.
Karena fatwa MUI bertentangan dengan dasar dan konstitusi negara, maka sebaiknya ditinjau
kembali. Ia cemas ketika banyak fatwa dihasilkan tetapi tidak dilakukan, justru akan menggerogoti
kewibawaan Islam sendiri.
Namun dapat juga Muhadjir melupakan fakta bahwa ideologi pluralitas selama ini ternyata
hanya menghasilkan koruptor-koruptor, yang membuat sebagaian besar umat Islam menjadi korban
ketidakadilan dari sistem pluralitas. Atau memang selama ini ternyata bangsa ini tidak sadar pluralitas?
Band. catatan Pdt. Djaka Soetapa terhadap Seminar Agama-Agama PGI setiap tahun
menyatakan bahwa, dalam beberapa kali Seminar Agama-agama, Pancasila dipahami sebagai penjamin
demokrasi dan kesetaraan setiap anak bangsa. Agama-agama tidak memiliki sisi keberatan dalam hal ini,
justru mendukungnya. Melalui Pancasila ada penjamin negara dan bangsa dalam kesejajaran. Ini pulalah
yang nampaknya begitu diagungkan sehingga tanpa sadar ada agenda lain yang terlupa. Agama-agama
menjadi tidak lagi kritis terhadap konsep-konsep yang dikembangkan selanjutnya. Karena Pancasila sebagai
ideologi negara merupakan jaminan kekuasan bagi cita-cita negara, maka agama sebagai lembaga kemudian
dianggap berada di bawah perlindungan Pancasila. Disinilah letak kelemahan agama-agama. Dengan
demikian mereka tidak lagi independen, yang dapat secara bebas memberikan pertimbangan, penilaian,
masukan berdasarkan penghayatan masing-masing.
6
tindakan empatis bentuk toleransi dapat ditentukan 9 . Konflik konflik antar suku dan antar
agama yang terjadi di Indonesia selama ini dapat menjadi indikator yang nyata, bahwa
belum ada titik tolak kesadaran empatis yang dapat menjadi indikator model hidup yang
toleran. Sehingga kita dapat melihat suatu ironi kehidupan beragama yang kita jumpai,
fenomena yang berkembang sekarang ini banyak yang memperlihatkan agama justru
memperlihatkan “wajah” perlawanan terhadap proses toleransi yang baru belajar
berjalan? 10 . Oleh karena pendekatan empatis mengasumsikan masih adanya ruang untuk
dapat belajar hidup dalam dunia yang semakin multikultur, maka menjadi demikian
penting bagi penulis untuk dapat memahami primordialitas kita sekaligus memahami
kehadiran orang lain yang berbeda. 11
Primordialitas seorang individu dapat
mengingatkan batas kemampuan kita menangkap dan memahami dunia di luar kita,
sebaliknya individu yang lain dapat memperkenalkan kita dengan bagaimana batas
kemampuannya dapat memberi kita pemahaman yang baru.
9
Lih. Michael Pye, “Studi Agama dan Dialog Agama: Transendensi dan Unifikasi AgamaAgama Dunia”, dalam Pradana Bay, (ed.), Agama Empiris: Agama Dalam Pergumulan Realitas Sosial,
Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002, hal 4. Ia mengatakan bahwa, pentingnya studi agama adalah untuk
mengawal perkembangan yang terjadi dalam masyarakat, karena beberapa agama menyebabkan lebih
banyak kekacauan dan penderitaan sosial daripada agama lain. Wartawan dan komentator sosial dapat
mendiskusikan dengan tepat apabila memiliki informasi yang jelas dapat dipertanggungjawabkan tentang
beragam agama yang tengah didiskusikan.
10
Lih. Pdt. Dr. Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, Jakarta,
BPK, 2004, hal. 497.
11
Lih. Pdt. Supriatno, “Disintegrasi Bangsa dalam Sikap dan Pandangan Umat Beragama”,
dalam http://www.gkp.or.id/index.asp?id=3030. Dengan mengutip Franz Magnis-Suseno yang mengatakan
konflik dapat dipecahkan dengan dua cara: perang atau melalui kesepakatan bersama Supriyatno
menyimpulkan bahwa fenomena kehidupan bangsa yang diwarnai adanya keinginan sekelompok elemen
bangsa yang berambisi memisahkan diri, pasti dapat dikategorikan tengah berkonflik. Dilihat dari sudut
sebagai seorang yang beragama Kristen, saya berharap lembaga agama harus mengupayakan lahirnya
damai yang berkeadilan. Dengan langkah pastoral lembaga agama menangkap pergumulan riil dari pihak
yang ingin memisahkan diri, dan didasari perasaan empati mengartikulasikan perasaan diperlakuan tidak
sesuai haknya, agar para pengambil kebijakan politik, ekonomi, sosial dan budaya meresponnya dengan
sikap respek. Di pihak lain, kewajiban mereka untuk menjaga keutuhan kehidupan bangsa. Jadi, di sini
lembaga agama seyogyanya bisa berperan mengajak pihak yang berkonflik bisa mencari dan menemukan
7
B. Hubungan Islam Kristen di Indonesia
Studi Agama-Agama dalam konteks Indonesia menempatkan hubungan antar agama
sebagai bagian dari usaha yang besar untuk membangun kesadaran hidup bersama antar
agama 12 . Studi agama-agama memang mempunyai ruang yang tidak terbatas, yang tidak
mungkin dapat diselesaikan selama agama ini masih ada, maka ruang lingkup penelitian
ini akan bertitik tolak juga dari kondisi hubungan Kristen dan Islam di Indonesia yang
masih selalu dipengaruhi oleh keadaan politik hubungan antara sebagian kelompok
muslim dan negara yang masih belum dapat didamaikan.
Studi ini secara lebih khusus lagi ingin mencari suatu pendekatan yang metodologis
dalam membangun hubungan antar agama.
Metodologi pendekatan empatis dalam
hubungan agama-agama, mempunyai asumsi bahwa setiap relasi berarti di dalamnya
terdapat komunikasi. Dengan asumsi tersebut maka metode empati yang dimaksud
bertujuan membangun pola hubungan dan komunikasi antara agama Islam dan agama
Kristen.
Selain itu, studi penelitian ini dilatarbelakangi juga oleh aktivitas penulis yang di satu sisi
menjadi pendeta Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan Jemaat Pringsewu Lampung, di
sisi yang lain juga melakukan aktivitas dialog agama-agama di Kabupaten Tanggamus.
titik temu untuk menyepakati menjaga keutuhan bangsa. Dan pihak yang berkonflik saling mengindahkan
kepentingan masing-masing.
12
Band. Pdt. Dr. Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, Jakarta,
BPK, 2004, hal. 497. Jan menunjukkan bahwa kegiatan Seminar Agama-Agama telah diselenggarakan
Yayasan Wakaf Paramadina sejak tahun 1980-an dan telah berlangsung sekitar 200 kali. Jan juga menunjuk
tulisan Djaka Soetapa, “Hubungan Agama-agama di Indonesia dan Peranan PGI di Dalamnya”, sebagai
8
Kedua aktivitas tersebut mendorong studi agama-agama ini untuk dapat semakin
memperlengkapi lebih banyak orang agar dapat terlibat dalam dialog antar agama 13 .
Satu pertanyaan sederhana namun menjadi sangat penting bagi penulis dari seorang
anggota jemaat Gereja adalah bagaimana dialog antar agama dapat dilakukan secara baik?
Pertanyaan tersebut paling tidak dapat menjawab pertanyaan penulis yang terpendam
sekian lama, yakni mengapa tidak banyak anggota jemaat yang ikut ambil bagian dalam
dialog antar umat beragama? Jadi dapat dikatakan kurang berkembangnya dialog antar
umat beragama bukan karena masyarakat tidak mau berdialog, tetapi karena terdapat
persoalan metodologis yang sederhana namun penting dalam melakukan dialog 14 .
C. Obyek Empati: Pemikiran Kartosoewirjo
Untuk melengkapi obyektivitas pendekatan empatis dalam studi agama-agama ini,
penulis meneliti sejarah Kartosoewirjo. Mengapa harus Kartosoewirjo? Terdapat
beberapa alasan, yakni:
ikhtisar isi penyelenggaraan Seminar Agama-Agama setiap tahun oleh PGI sejak tahun 1981 hingga tahun
1999. menunjukkan usaha-usaha untuk membangun sebuah kesadaran.
13
Band. Lih. Michael Pye, “Studi Agama dan Dialog Agama: Transendensi dan Unifikasi
Agama-Agama Dunia”, dalam Pradana Bay, (ed.), Agama Empiris:Agama Dalam Pergumulan Realitas
Sosial, yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002, hal 6. Menurut Pye, pokok yang bisa menjadi presuposisi agama
adalah presepsi tentang pluralitas agama. Sekalipun demikian pluralitas bukan persoalan problematik tetapi
persoalan ilmiah. “Bagaimana dua agama (dalam konteks dialog Budhisme dan Kristianitas) bisa “samasama benar?” Pada bagian ini, Pye juga menunjuk pada karya Peter Berger, The Pluralistic Situation and
The Coming Dialogue Between The World Religions” (1981,31-41), sebuah Kajian Budhis-Kristen.
14
Band. Amin Abdullah, “Dialog Antar-agama”, dalam Kompas, Sabtu, 4 Mei, 2002.
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0205/04/ Menurutnya, "Teologi harus diformat ulang," katanya
dalam sebuah seminar terbatas di Yogyakarta, 20 April 2002. Masyarakat sudah berubah sedemikian
drastis, sehingga pembaruan teologi adalah keharusan.
Bertolak dari sana, kajian ilmu Kalam atau teologi Islam menjadi pokok, ilmu yang masuk
rumpun Ushuluddin (dasar-dasar dan sumber agama). Ilmu ini sampai batas-batas tertentu "mendominasi"
arah, corak, maupun muatan materi dan metodologi kajian keislaman yang lain. Begitu kokohnya
kedudukan ilmu Kalam, sampai-sampai terlupakan sisi metodologi dan sistematika keilmuan.
9
Pertama, pendekatan empatis sebagai cara memahami “yang lain” memerlukan obyek
fenomenologis, dalam hal ini fakta historis. Sejarah Kartosoewirjo yang terkenal dengan
konsep Darul Islam (Negara Islam) merupakan fakta sejarah yang layak dipertimbangkan
secara empatis.
Kedua, Kartosoewirjo sebagai sosok beragama Islam yang mengembangkan empati
keagamaannya dapat melahirkan konsep-konsep integral antara agama dan negara.
Ketiga, terdapat dua model penulisan sejarah Kartosoewirjo, yakni versi orde baru dan
orde reformasi. Artinya, versi sejarah yang dibuat pada jaman orde baru menempatkan
Kartosoewirjo sebagai pemberontak 15 . Versi orde reformasi yang lebih terbuka dan ditulis
oleh pemikir Islam sendiri, yakni Al Chaidar, menempatkan Kartosoewirjo sebagai bapak
proklamator Negara Islam Indonesia 16 .
Keempat, belum ada terdapat sebuah studi mengenai gerakan keagamaan yang menjadi
gerakan politik Islam, khususnya dari agama Kristen. Kalaupun ada sangat bersifat
umum, dalam arti hanya disentuh kulitnya saja.
Ia pernah menyatakan juga dalam pidato pengukuhan guru besarnya, bahwa diperlukan satu
rekonstruksi metodologi studi agama dalam masyarakat multikultural dan multireligius. Dalam studi ilmu
Kalam dimanfaatkan filsafat sebagai metodologi, dan bukan sebagai buah pikir atau isme-isme.
15
Prof. Dr. H. Harun Nasution, Ensiklopedi Islam Indonesia, (jilid 3: O – Z), Jakarta,
Djambatan, 2002, hal. 579
16
Lih. Al Chaidar, Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia S.M. Kartosoewirjo,
Jakarta, Darul Falah, 1999
10
Dari keempat alasan tersebut, penulis hendak menempatkan diri sebagai pribadi yang
mendekati sejarah Kartosoewirjo dengan metode empati. Penulis di sini akan lebih
banyak memerankan diri sebagai pelaku dengan metode empati. Sebagai pribadi yang
mempunyai latar belakang pembentuk individu yang sama sekali berbeda dengan latar
belakang baik dari sisi waktu, konteks dan agama.
Posisi penulis yang beragama Kristen melakukan pendekatan terhadap fenomena
perjuangan Darul Islam Kartosoewirjo merupakan tantangan tersendiri. Namun dilandasi
dengan keyakinan bahwa pendekatan empatis dapat membantu penulis memahami latar
belakang sebuah perjuangan yang didasari keyakinan agama, maka studi ini menjadi
demikian penting. Pentingnya studi ini bagi pengembangan metodologi studi agamaagama di Indonesia, pertama, dikarenakan penulis harus berusaha melepaskan stereotipe
negatif tentang agama Islam. Ini berarti suatu langkah pasca dogmatis harus diambil,
untuk memasuki studi mengenai agama lain. Kedua, Kartosoewirjo dalam karya sejarah
nasional Indonesia berada pada posisi yang tidak menguntungkan termasuk bagi sebagian
besar umat Islam. Dalam kebanyakan buku sejarah, Kartosoewirjo yang dicitrakan
sebagai pemberontak dapat dipakai untuk membangun stereotipe negatif terhadap Islam.
Stereotipe negatif tentang Islam dapat menghambat upaya membuka suatu ruang
kesadaran empatis untuk membangun kembali suatu pola dialog yang sehat dan terbuka.
Melalui studi empatis ini, penulis tidak berpretensi untuk membela posisi Kartosoewirjo,
melainkan penulis bermaksud menggali keberagamaan Kartosoewirjo yang dapat
melahirkan konsep bernegara. Selain itu penulis mencari kemungkinan penyebab dan
11
pendorong agama dapat menuju kepada sebuah negara serta adakah motif-motif yang
mendorong pemikiran keagamaan (Islam) menjadi cerdas untuk mengembangkan dirinya
menjadi kekuatan sebuah negara, yakni Darul Islam.
1. Permasalahan
Munawir Sadzali 17 dalam dunia Islam terdapat tiga pandangan mengenai hubungan
Agama dan Negara. Pandangan pertama ini menyatakan bahwa Islam merupakan cara
hidup yang menyeluruh termasuk kehidupan bernegara atau sistem politik. 18
Pandangan kedua berpendapat bahwa Islam tidak ada kaitannya sama sekali dengan
urusan kenegaraan, karena Nabi Muhammad tidak pernah diutus untuk mendirikan dan
mengepalai negara. Dengan asumsi ini Islam tidak punya urusan dengan soal
pemerintahan atau politik atau Islam mempunyai tugas berdakwah sebagaimana yang
dilakukan Nabi Muhammad.
Pandangan ketiga sebagai hasil sintesa dari kedua pandangan di atas bahwa secara
normatif, Islam (al-Quran dan as-Sunnah) tidak memberikan ketentuan bagaimana negara
dibentuk, tetapi menekankan bagaimana sebuah sistem itu mampu melahirkan dan
mengantarkan suatu bangsa ke dalam suasana adil dalam kemakmuran, makmur dalam
keadilan, bebas dari tekanan tirani mayoritas terhadap minoritas atau sebaliknya. Yang
penting dalam Islam adalah bagaimana pemerintahan itu mampu mengantarkan rakyatnya
menuju baldah tayyibah wa rabb ghafur 19 .
17
H. Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, Jakarta, UI
Press, 1990, hal. 1-2
18
Abdul Mustaqim, “Mendialogkan Islam dan Demokrasi: Persimpangan Doktrin dan
Implementasi”, dalam Profetika: Jurnal Studi Islam, Vol.4, No.2, Surakarta, UMS, 2002, hal. 204.
Pandangan ini diwakili oleh Hasan al-Banna, Sayyid Qutb, Muhammad Rasyid Ridha, Abul A’la alMaududi. Pandangan kedua diwakili oleh Ali Abdur Raziq dan Thaba Husain.
19
Lih. Sudirman Tebba, Islam Pasca Orde Baru, Jakarta, Tiara Wacana, 2001, h.12 Negara
sejahtera dan diridhoi Tuhan’. Band. Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan
Terjemahanya, Jakarta, Toha, 1989, as-Saba (34) ayat 15: … (Negerimu) adalah negeri yang baik dan
(Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha pengampun).
12
Yang menjadi persoalan mengenai agama dan negara bagi penulis bukan yang pandangan
yang kedua atau pandangan yang ketiga, tetapi pandangan yang pertama. Oleh karena itu
yang menjadi masalah penting bagi penulis adalah mengapa dan bagaimana pemikiran
Islam (tertentu) memperjuangkan Negara Islam di Indonesia. Penelitian secara empiris
akan ditujukan kepada pemikiran Kartosoewirjo.
2. Hipotesis
Teori empatis dapat membantu memecahkan persoalan sejarah keagamaan yang
menempatkan seorang individu dalam stereotipe negatif. Asumsi di belakang hipotesis ini
suatu peristiwa sejarah dapat mempengaruhi suatu ajaran agama tertentu untuk menjadi
diskontinyu terhadap nilai yang dipegangnya semula.
3. Metodologi Penulisan Tesis
Teori yang digunakan sebagai metode di sini adalah teori empati menurut Pemikiran Edit
Stein. Tentu saja dalam menggunakan teori empati ini penulis juga perlu memberikan
pertimbangan-pertimbangan kritis, karena kasus psikologis yang dihadapi Edit Stein juga
berbeda baik ruang dan waktu maupun metode penjelasannya.
Teori empatis merupakan teori yang berlatar belakang teori fenomenologi untuk
menganalisis pemikiran mengenai fenomena keberagamaan subyek lain dari diri peneliti
13
sendiri. Pemilihan kepada teori ini dikarenakan obyek penelitiannya sudah jelas
pemikiran seorang tokoh dengan bahan-bahan yang cukup memadai, sehingga pendekatan
dengan teori empatis ini akan dapat menemukan esensi pemikiran Kartosoewirjo dari
dirinya sendiri, bukan sekedar dari rekonstruksi historis.
Selanjutnya, pendekatan empatis akan membantu penulis untuk memahami lebih jauh
metodologi dan juga untuk menjawab tantangan historis yang telah menempatkan
Kartosoewirjo dalam stereotipe negatif.
Teori empatis juga bukan sekedar teori psikologi yang dapat digunakan dalam mengamati
proses fenomena perilaku beragama, pendekatan empatis ini akan dapat menjawab
tawaran-tawaran para teolog agama mengkomunikasikan antara yang eksklusifis dengan
yang inklusifis 20 . Bahwa teori empatis menempatkan peran individual yang saling
20
_____________, “Kemitraan Lintas Agama Perlu Inklusif Total”, dalam Kedaulatan Rakyat,
Rabu, 29 Juni 2005. Din Syamsuddin mewakili Indonesia dalam Konferensi Kerjasama Agama untuk
Perdamaian di Markas PBB New York. Konferensi tersebut dilaksanakan dengan latar belakang, Deklarasi
Milenium PBB yang menintik beratkan pentingnya membagi nilai dan prinsip seperti persamaan hak dalam
kebebasan, solidaritas dan toleransi sebagai hal penting dalam hubungan Internasional abad 21. Din
menyatakan, bahwa dialog, kerjasama dan kemitraan lintas agama perlu bersifat inklusif total, jangan ada
kelompok yang ditinggal. Oleh karena itu menurutnya, perlu ada common platform dari perdamaian seperti
apa yang disebut toleransi, kesepakatan, saling menghargai dan kerja sama dalam bentuk konkrit.
Namun yang dapat menjadi tantangan komunikasi tersebut diantaranya faham supersessionisme,
yakni suatu faham dan keyakinan doktrinal-teologis bahwa agama yang datang belakangan berfungsi
mengabrogasi atau menggeser agama sebelumnya. Lih. Komaruddin Hidayat, “Dari Inklusivisme ke
Pluralisme”, dalam Kompas, Selasa, 8 April 1997. Eksklusifisme teologis umat Kristiani terhadap agama
Yahudi yang bersimbiose dengan eksklusifisme faham Arianisme di Jerman pada akhirnya telah memicu
timbulnya konflik antar mereka dan puncaknya adalah keterlibatan sentimen teologis umat Kristiani Jerman
sehingga sebagian dari mereka ikut mendukung holocoust dalam Perang Dunia ke-2 yang menelan korban
ribuan umat Yahudi. Tentu saja Nazi bisa mengajukan alasan lain, misalnya dominasi politik-ekonomi oleh
bangsa Yahudi, namun sulit dielakkan bahwa semangat supersessionisme ikut terlibat di dalamnya (Arthur
E. Zannoni, Jews & Christians Speak of Jesus, 1994). Dan ketika Muhammad pada gilirannya
mendakwahkan dirinya sebagai utusan Tuhan yang mengoreksi, menyempurnakan dan mengakhiri semua
risalah Illahi yang pernah muncul sebelumnya, maka Islam sekaligus memperoleh dua tantangan, dari
Yahudi dan Kristen. Lagi-lagi semangat supersessionisme yang eksklusifistik telah memperpanjang konflik
berdarah antar umat beragama yang memuncak pada Perang Salib.
14
mempengaruhi dengan individu yang lain,
maka kesadaran murni individual akan
kehadiran yang lain dapat mengantarkan bangsa ini pada kesadaran komunal yang murni.
Apakah yang dimaksud dengan kemurnian dalam pola hubungan antar agama? Apakah
bila agama mendasarkan diri pada wahyunya (kitab sucinya) masing-masing, atau ketika
menyadari diri individunya perlu bersikap secara empatis terhadap konteks kehidupan
bersama dengan yang lain?
Lingkup studi agama-agama memang demikian luas, namun melalui pendekatan empatis
ini penulis akan dapat menemukan jawaban terhadap persoalan-persoalan di atas. Dalam
mencari jawaban terhadap persoalan tersebut, penulis membatasi diri pada kasus
pemikiran Kartosoewirjo, beberapa persoalan berkaitan dengan tempat empati dalam
dialog diharapkan dapat memberi sumbangan dalam menjawab persoalan hubungan antar
agama.
D. Penjelasan Judul Tesis
Judul Tesis ini adalah Pendekatan Empatik dalam Studi Agama-Agama terhadap
Pemikiran Kartosoewirjo mengenai Agama dan Negara. Pendekatan empatis dengan latar
belakang fenomenologis akan meneliti esensi beragama yang menciptakan sistem
beragama dalam diri Kartosoewirjo. Studi agama-agama lebih menekankan titik
berangkat penelitian dari sudut pandang agama-agama dibandingkan empatis yang sering
15
diasosiasikan dengan psikologis semata. Pemikiran Kartosoewirjo sebagai obyek
penelitian empatis untuk membedakan dengan pemikiran yang dibentuk oleh sejarah 21 .
E. Sistimatika Penulisan
Bab I. Pendahuluan
Pada bab pertama, penulis menyampaikan latarbelakang permasalahan di sekitar
penulisan tesis, sekaligus maksud tujuan dan metodologi pemecahan permasalahan
mengenai sistem pemikiran keagamaan sampai kepada ekspresi pemikiran dalam
tanggungjawab politik umat beragama.
Bab II. Pendekatan Empatis
Pada bagian ini penulis bermaksud menjelaskan bagaimana pendekatan empatis dapat
dipakai dalam membahas fenomena pemikiran keagamaan dikembangkan dalam format
politik
kenegaraan.
21
Pendekatan
empatis
ini
menurut
penulis
sudah
saatnya
Penulisan-penulisan mengenai Kartosoewirjo yang telah dilakukan sebagai berikut: pertama,
Nieuwenhuijze (1958) yang hingga akhir tahun 1949, bekerja sebagai penasehat Gubernur Jenderal Belanda
untuk urusan Islam di Jakarta. Dia menulis sebuah artikel tentang gerakan Darul Islam dimana dia
mengemukanan sebagai alasan pembentukan gerakan itu adalah masalah-masalah ekonomi dan ideologi.
Kedua, Jackson (1971) menulis disertasi anthropologi sosial untuk membuktikan hipotesanya
tentang akar pengaruh kebudayaan Indonesia “bapakisme” (kesetiaan tanpa kritik) terhadap dukungan
rakyat terhadap pemimpin yang mereka akui.
Ketiga, Cees van Dijk (1983) menulis tentang Darul Islam di Jawa Barat tetapi juga tentang
yang ada di Jawa tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan dan Aceh.
Penulisan lain mengenai Kartosoewirjo dalam bentuk buku dilakukan juga telah dibuat oleh
Pinardi (1960), Amak Sjarifuddin (1962), selebihnya sebagai artikel-artikel ditulis oleh Hiroko Horikoshi
(1975), Soebardi (1983), Federspiel (1985) telah menyebutkan bahwa gerakan Darul Islam sebagai kesatuan
Militer Masjumi pada awal perang kemerdekaan.
16
dipertimbangkan untuk mencari makna toleransi, kesepakatan, saling menghargai dan
kerjasama dalam bentuk konkrit 22 .
Pendekatan empatis ini merupakan alat teknis untuk dapat melihat dan menghasilkan
penjelasan bekerjanya suatu sistem politik keagamaan dalam pemikiran seorang
Kartosoewirjo yang menghubungkan konsep agama menjadi sebuah konsep negara
dengan seluruh perlengkapan peraturannya. Oleh karena itu, mengingat agama sebagai
sebuah kesatuan sistem kepercayaan individu kepada yang ilahi, maka kesatuan sistem
pemahaman individu tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan empatis.
Teori empatis yang akan digunakan yang sebagian besar merujuk pada teori empatis
Edith Stein 23 , namun demikian penulis tidak melupakan teori fenomenologis sebagai
dasar dari teori empatis ini. Tiga langkah pendekatan empatis yang dihasilkan dari
penelitian adalah merasakan, menyadari dan mengkonfirmasikan persepsi.
Bab III. Kartosoewirjo dalam Pandangan Seorang Muslim
Pada bagian ini penulis ingin menjelaskan bagaimana seorang sejarawan muslim, yakni
Al Chaidar menempatkan Kartosoewirjo sebagai tokoh proklamator Negara Islam
Indonesia. Pada bagian ini pula, Kartosoewirjo di mata seorang pejuang Neo Darul Islam
22
Lih. _____________, Kemitraan Lintas Agama Perlu Inklusif Total, dalam Kedaulatan
Rakyat, Rabu, 29 Juni 2005.
23
Edith Stein, On The Problem of Empaty, (transl.), Netherlands, The Hague, 1964. Sampai
sekarang penulis tidak menemukan topik khusus yang baru tentang empati. Kalaupun ada merupakan
tulisan-tulisan praktis mengenai empati bukan sebagai sistem psikologis, tetapi empati yang dipraktekkan,
misalnya, C.A.J. Ten Boom, Empati, Yogyakarta, PPY, 1990. Dalam karya tersebut tidak disebutkan juga
sumber teorinya, dan masih merupakan bagian yang dibahas oleh Edith Stein.
17
merupakan seorang tokoh yang perlu diteladani dalam hal ke-Islaman dan
kesederhanaannya serta sebagai pemulih harapan bagi terbentuknya kekhalifahan Islam
dunia pasca runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani. Prinsip-prinsip ideologis “ad-din wa
dawlah” perjuangan Negara Islam Indonesia Kartosoewirjo dalam sejarah total yang
masih menggema sampai sekarang akan tetap menjadi alternatif yang dapat
menghidupkan perasaan dan perjuangan umat Islam jika Pancasila gagal menjalankan
fungsi perlindungan bagi semua rakyat di negara Indonesia.
Melalui bab III ini langkah pertama dari tiga langkah pendekatan empatis sudah dimulai
dengan sejarah yang dapat menghidupkan perasaan keagamaan yakni untuk menyadari
bahwa keprihatinan Kartosoewirjo sebagai keprihatinan teologis dalam sejarah
antikolonialisme Islam. Pada bab ini proses epoch dalam teori fenomenologis telah
dimulai dengan meletakkan bagian secara tersendiri dalam rangka menemukan inti
pemikiran Kartosoewirjo.
Bab IV. Sejarah Kartosoewirjo dari Sudut Pandang Kekuasaan
Dari sudut pandang kekuasaan dengan dan atas nama Pancasila, berbagai penulisan
sejarah telah menempatkan Kartosoewirjo sebagai pemberontak dengan gerakan Darul
Islam atau Negara Islam Indonesia dan Tentara Islam Indonesianya. Hal ini menunjukkan
bahwa melalui rekonstruksi sejarah yang terkesan obyektif melalui kronologi peristiwa
sejarah linear telah menempatkan Kartosoewirjo sebagai obyek penderita atau tokoh
antagonis yang menjengkelkan, yang tidak pernah bisa membela dirinya sendiri..
18
Holk Harold Dengel adalah salah seorang yang menulis sejarah linear dengan data-data
yang menurutnya lengkap, karena berasal dari sumber-sumber primer yang dilengkapi
dokumen pemeriksaan Kartosoewirjo dari dokumen-dokumen TNI. Dengel berusaha
menetralisir sudut pandangnya dalam rangka merekonstruksi sejarah Kartosoewirjo,
namun demikian masih nampak peran “kekuasaan” sangat mempengaruhinya.
Rekonstruksi fakta dan kronologi peristiwa-peristiwa sejarah menarik dari Dengel
akhirnya dapat membantu penulis menyadari posisi Kartosoewirjo dalam konteks
kronologis pada waktu itu. Kesadaran ini merupakan langkah kedua dari pendekatan
empatis dengan memahami betapa kompleksnya peristiwa di sekitar pemikiran
Kartosoewirjo, oleh karena itu pada bab ini penulis dapat mulai menyusun suatu persepsi
pemikiran mengenai konteks yang menekan Kartosoewirjo.
Bab V. Pemikiran Kartosoewirjo “Ad-Din wa Dawlah”
Pemikiran Kartosoewirjo dalam bab ini berbeda dengan dan bukan sekedar kata
sejarawan mengenai Kartosoewirjo, tetapi sebagai langkah ketiga, pada bagian ini penulis
mengkonfirmasikan persepsi-persepsi yang diperoleh dari
perasaan dan pemikiran
dengan mempertimbangkan konteks yang telah dideskripsikan oleh sejarah. Melalui
dokumen-dokumen yang dibuat oleh Kartosoewirjo serta dikumpulkan Al Chaidar
penulis dapat mengkonfirmasikan secara obyektif salah satu sisi pemikiran Kartosoewirjo
mengenai agama dan negara. Pada bagian ini pula konsep “hijrah” Kartosoewirjo
19
menjadi dasar mengenai “ad-din wa dawlah” atau kesatuan antara Agama dan Negara
yang dilandasi ajaran agama Islam tidak hanya dapat dipahami, tetapi hidup sebagai roh
perjuangan anti penderitaan rakyat dan berperang melawan penindas rakyat.
Bab VI: Kesimpulan
Pendekatan empatis sebagai usaha subyek untuk dapat mengenali individu “yang lain”,
khususnya yang mendapat stigma negatif sejarah atau semacam “kesesatan” agama
mengasumsikan adanya keterputusan subyek dalam mengenali obyeknya. Pendekatan
empatis sejak semula mengasumsikan manusia sebagai arus proses pengalaman menjadi
di mulai dari merasakan, menyadari dan mengkonfirmasikan persepsinya secara terus
menerus dalam sebuah “ruang”. “Ruang” setiap subyek itu memiliki keterbatasan dalam
mengalami, mengenali, menyadari dan mempersepsi obyek.
Obyek Kartosoewirjo dan obyek sejarah baik sejarah total maupun sejarah konvensional
linear adalah proses menemukan kebenaran, baik melalui ideologi politik maupun melalui
ajaran agama. Ajaran agama pada umumnya berkaitan dengan kepercayaan individu yang
mengatur perilaku individu agar dapat hidup secara benar. Ideologi
politik pada
umumnya berkaitan dengan proses mengatur negara dengan semua latar belakang dan
sistem pemerintahannya. Oleh karena persoalan agama dan negara sebenarnya mengenai
masalah “ruang” privat dan “ruang” public, maka pendekatan empatis ini hendak
memanfaatkan ruang-ruang tersebut untuk dapat saling berdialog, membentuk hegemoni
20
wacana kebenaran ketimbang menutup ruang-ruang dialog dan mendominasi kekuasaan
dengan membungkam yang lain atau mengkambinghitamkan yang lain.
Studi Agama-Agama sebagai titik tolak penelitian ini berupaya memahami pemikiran
Kartosoewirjo yang mewakili cara berpikir keagamaan yang kemudian secara ideologis
berbenturan dengan ideologi Pancasila. Namun yang patut disayangkan dalam sejarah
internal bangsa pasca kolonialisme, yaitu ketika pola perbenturannya sudah bukan lagi
membicarakan ide negara melalui proses demokratis, tetapi ketika proses menjadi itu
harus diakhiri dengan kekerasan yaitu dengan perang. Belum selesai dengan penumpasan
dan perang, pembunuhan karakter Kartosoewirjo juga secara sempurna dilakukan dengan
penyusunan sejarah yang bersifat stigmatitatif.
Dengan demikian pendekatan empatis terhadap fenomena Kartosoewirjo dengan
pandangannya tentang “ad-din wa daulah” dapat menunjukkan suatu nilai penting dalam
era post kolonial seperti pada masa sekarang ini. Karena di bawah dominasi ideologi
Pancasila fenomena kekerasan terhadap rakyat bukan barang “haram”, sebaliknya dalam
potensi hegemonik ideologi alternatif seperti Islam, penghormatan terhadap keberbedaan,
baik beda pendapat, beda budaya dan beda agama merupakan suatu kewajiban. 24
24
Lih. Jaka Soetapa, “Hubungan Agama-Agama dan Peran PGI di Dalamnya”, dalam 50 Tahun
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, Jakarta, PGI, 2000, hal. 200. Dalam beberapa kali Seminar
Agama-agama, Pancasila dipahami sebagai penjamin demokrasi dan kesetaraan setiap anak bangsa.
Agama-agama tidak memiliki sisi keberatan dalam hal ini, justru mendukungnya. Melalui Pancasila ada
penjamin negara dan bangsa dalam kesejajaran. Ini pulalah yang nampaknya begitu diagungkan sehingga
tanpa sadar ada agenda lain yang terlupa. Agama-agama menjadi tidak lagi kritis terhadap konsep-konsep
yang dikembangkan selanjutnya. Karena Pancasila sebagai ideologi negara merupakan jaminan kekuasan
bagi cita-cita negara, maka agama sebagai lembaga kemudian dianggap berada di bawah perlindungan
Pancasila. Disinilah letak kelemahan agama-agama. Dengan demikian mereka tidak lagi independen, yang
dapat secara bebas memberikan pertimbangan, penilaian, masukan berdasarkan penghayatan
masing-masing. Disatu sisi gereja merasa mendapatkan perlindungan karena jaminan kebebasan di bawah
21
Oleh karena itulah pendekatan empatis ditawarkan agar dapat menjadi pendekatan
alternatif untuk sampai kepada pemahaman bagi perlunya proses melihat obyek secara
bersama-sama. Melalui pendekatan empatis ini sesuatu yang relatif menjadi obyek bagi
suatu proses dialog. Demikian juga bagi tercapainya suatu proses dialog agama-agama
perlu suatu kesadaran mendasar, bahwa agama adalah persoalan yang sangat individual,
oleh karenanya pendekatan empatis adalah untuk menempatkan individu dari titik tolaj
individu. Melalui pendekatan empatis ini, khususnya bagi yang telah mendapat stigma
negatif dari “ideologi dominan yang berkuasa” dapat menjelaskan dari dirinya sendiri
yang disaksikan sejarah bahwa di dalamnya terdapat suatu nilai yang berharga, yang tidak
pernah dilihat pada sejarah masa lalu.
i
H. Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran,
Jakarta, UI Press, 1990
i
Abdul Mustaqim, “Mendialogkan Islam dan Demokrasi: Persimpangan Doktrin dan
Implementasi”, Profetika: Jurnal Studi Islam, Vol.4, No.2, Surakarta, UMS, 2002
Download