BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Bisnis di Indonesia semakin hari semakin berkembang. Banyak perusahaan yang ingin mengembangkan usahanya menjadi lebih besar sehingga banyak tenaga kerja yang dibutuhkan baik tenaga kerja penuh, tenaga kerja paruh waktu, tenaga kerja sementara maupun pengganti. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UUTK) sendiri tidak membedakan antara pekerja penuh, pekerja paruh waktu, pekerja sementara maupun pekerja pengganti. Pekerja / buruh merupakan bagian dari tenaga kerja yaitu tenaga kerja yang bekerja di dalam hubungan kerja, di bawah perintah pemberi kerja (perorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan lainnya) dan atas jasanya dalam bekerja yang bersangkutan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lainnya (Maimun, 2007: 12). Manusia hidup di dunia pasti mempunyai aktivitas. Hal ini sudah merupakan kodrat manusia bahwa dalam hidupnya selalu mengadakan aktivitas. Salah satu bentuk aktivitas manusia yang selalu dilaksanakan setiap hari adalah dengan bekerja. Manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja. Semua orang yang mempunyai kemampuan dan kecakapan, yang sesuai dengan bidang, minat, bakat dan keahliannya bisa bekerja dengan kemampuannya. Tanpa adanya minat, bakat, dan keahlian dalam bekerja akan menghasilkan kerja yang tidak efisien artinya hasil 1 2 kerjanya tidak berguna, tidak dikehendaki, tidak dibutuhkan oleh masyarakat serta hasil kerjanya tidak baik. Agar kerja dapat efisien maka setiap orang harus memilih dan melakukan kerja sesuai dengan bidang, bakat, kemampuan, minat, dan keahlian (Fudyartanta, 1974: 89). Pekerja paruh waktu (Part-Time Worker) adalah seseorang yang bekerja hanya dalam sebagian waktu dari ketentuan waktu kerja atau hari kerja normal. Untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya beberapa dari perusahaan lebih memilih mempekerjakan pekerja paruh waktu. Peneliti mengamati pada bisnis Movie Box, bisnis yang bergerak di bidang multimedia ini, memberikan pelayanan pemutaran film dalam design ruangan keluarga. Movie Box sebagai perusahaan yang digerakkan hampir keseluruhan pekerja paruh waktu, harus mampu membentuk sistematisasi dalam mengatur dan memberikan bagian-bagian kerja kepada setiap karyawannya. Standar operasional prosedur (SOP) merupakan cara perusahaan dalam memberikan wujud sistematisasi bagian-bagian pekerja paruh waktu. Profesionalitas menjadi prioritas utama dalam memberikan pelayanan prima kepada pengunjung yang menggunakan jasa bisnis Movie Box. Sikap profesional membawa manfaat untuk terbentuknya peluang jaringan bisnis yang sistematis kepada pengguna jasanya. Jaringan (networks) merupakan pola komunikasi dalam suatu organisasi. Jaringan tersebut merupakan saluran tempat pesan dari satu pihak kepada pihak lainmya. Jaringan kerja formal adalah sah (disahkan oleh manajemen) dan biasanya menunjukkan kepada siapa ia harus bertanggung jawab. Berbeda 3 dengan jaringan kerja informal adalah saluran yang tidak resmi tempat berlalunya informasi dalam suatu organisasi (Curtis, Dan B, 1996: 21). Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja instansi berdasarkan indikator teknis, administrasif dan prosedural sesuai dengan tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerja pada unit kerja yang bersangkutan. Tujuan SOP adalah menciptakan komitmen mengenai apa yang dikerjakan oleh satuan unit kerja. Standar operasional prosedur tidak saja bersifat internal tetapi juga eksternal, karena SOP selain digunakan untuk mengukur kinerja organisasi publik yang berkaitan dengan ketepatan program dan waktu, juga digunakan untuk menilai kinerja organisasi publik di mata masyarakat berupa responsivitas, responsibilitas, dan akuntabilitas kinerja (Tjipto Atmoko, tanpa tahun: 2). Tujuan SOP sendiri merupakan prinsip yang membangun sikap keadilan dalam membentuk program kerja dan peraturan bagi mereka yang bekerja. Pemahaman kata adil dalam bidang keadilan ekonomi dimana jenis keadilan ini meliputi keadilan dalam produksi, distribusi, dan pertukaran. Filsuf Yunani kuno Aristoteles (384-322 SM) menyebutnya sebagai keadilan niaga (commercial justice) persoalan-persoalan yang dibahas antara lain tentang (The Liang Gie, 1993: 45) : 1. Upah pekerja yang layak, 2. Harga barang yang layak, 4 3. Tukar-menukar jasa secara adil. Standar operasional prosedur (SOP) dinilai dapat mengkoordinir karyawan yang bekerja. Tujuannya supaya memperlihatkan berapa jam kerja (shift) yang dilaksanakan karyawan, serta bagian mana yang harus ditanganinya. Sistem yang terbangun itu akan diakumulasikan untuk upah kerja yang didapatkan karyawan. Fungsi standar operasional prosedur, untuk tidak menciptakan overlap (tumpang tindih) tugas karyawan, dan menghindari diskriminasi di antara semua karyawan, akan tetapi memberikan rasa keadilan terhadap karyawan yang rajin dan karyawan yang jarang melaksanakan jam kerja (shift)-nya. Selanjutnya peneliti akan masuk dalam ranah tinjauan etika. Etika hadir dalam setiap roda kehidupan manusia secara universal. Refleksi etika ini hadir sebagai bentuk konkret tingkah-laku manusia sebagai manusia untuk mengutamakan moralitas. Etika sebagai refleksi adalah pemikiran moral. Etika sebagai refleksi manusia memikirkan apa yang harus dilakukan dan khususnya tentang apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Etika sebagai refleksi berbicara tentang etika sebagai praksis atau mengambil praksis etis sebagai objeknya. Etika sebagai refleksi menyoroti bagaimana kehidupan seseorang (Bertens, 2013: 31). Bertindak secara etis dalam interaksi pelaku bisnis terhadap pihak-pihak lain, menuntun pelaku bisnis untuk berbisnis dengan cara baik, adil, dan etis. Hal ini dapat menjamin hak-hak dan kepentingan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan bisnis tersebut, baik itu pengusaha sebagai wakil perusahaan maupun pekerja, dapat 5 terjamin keberadaannya (Keraf, 1998:69-70). Etika bisnis memberikan patokan yang dapat menempatkan pelaku bisnis sebagai person moral yang memiliki kemampuan untuk bertindak berdasarkan rasa keadilan dan mampu mewujudkan suatu konsep baik yang dapat mendorong semua untuk memenuhi kepentingan-kepentingannya (Ujan, 2001: 37). Berdasarkan pengamatan diatas peneliti akan meneliti tentang tinjauan etika bisnis terhadap pekerja paruh waktu. Berdasarkan standar operasional prosedur pekerja paruh waktu Movie Box Seturan Yogyakarta. Menggunakan tinjauan prinsipprinsip etika bisnis dalam menganalisis bagaimana seharusnya tindakan baik dan benar sebagai pekerja paruh waktu. 1. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka permasalahan yaitu: a. Apa pengertian umum etika bisnis? b. Bagaimana standar operasional prosedur (SOP) karyawan paruh waktu Movie Box? c. Bagaimana relevansi etika bisnis menyoroti standar operasional prosuder pekerja paruh waktu Movie Box? 2. KEASLIAN PENELITIAN Fokus kajian dalam penelitian ini adalah melihat sistem karyawan paruh waktu melalui sistem standar operasional prosedur (SOP), dengan prinsip-prinsip etika bisnis sebagai dasar dalam refeksinya. Sejauh penelusuran peneliti, belum 6 banyak penelitian yang spesifik kepada pekerja paruh waktu. Penelitian yang mengena kepada arti dan peranan pekerja sudah banyak dan menuju kepada penerangan aplikatif antara pekerja dan pemilik perusahaan dan pekerja dengan negara. Berdasarkan pada data yang dihimpun peneliti kebanyakan pekerja dengan sistem kerja dan prinsip-prinsip menuju kesejahteraan pekerja yang universal. Berikut peneliti menemukan beberapa skripsi yang berkaitan dengan objek formal penelitian: a. Abdul Malik Sayuti, 2013. Hubungan Pekerja dan Perusahaan di Indonesia dalam Perspektif Etika Bisnis. Skripsi Fakultas Filsafat. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Skripsi ini mendeskripsikan dan memahami relevansi etika bisnis bagi pemecahan permasalahan-permasalahan dalam hubungan pekerja dan perusahaan di Indonesia. b. Amrino Rosyadi. 1999. Telaah Pada Pelaku Aktivitas Pasar Modal di Indonesia. Skripsi Fakultas Filsafat. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Skripsi ini meneliti akan pemahaman tentang aktivitas pelaku pasar modal, dan mengungkapkan penataan perilaku yang ada di dalam praktik bisnis terhadap keharusan-keharusan yang teoritis, salah satunya terdapat dalam prinsip-prinsip etika bisnis. c. Gloria Rahma Ginting. 2010. Makna Hubungan Pekerja dan Pengusaha di Indonesia Dalam Perspektif Teologi Pembebasan Gustavo Gutierrez. Skripsi Fakultas Filsafat. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Skripsi ini mengkaji permasalahan dalam dunia pekerja dengan menggunakan pemikiran teologi 7 pembebasan. Melalui pemikiran teologi pembebasan peneliti memberikan sajian penelitian penarikan relevansi kepada dunia pekerja di Indonesia. d. Iskandar Mohammad, 2011. Terms And Agreement dalam Website ECommerce perusahaan web hosting di Indonesia: Tinjauan etika bisnis. Skripsi Fakultas Filsafat. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Skripsi ini memaparkan solusi etis atas berbagai permasalahan dalam bisnis web hosting di Indonesia dengan menggunakan etika sebagai dasar penilaian dalam mengatasi problematik bisnis web hosting di Indonesia. e. Purwo Husodo. 1986. Etika Hubungan Kerja Antara Pengusaha dan Pekerja. Skripsi Fakultas Filsafat. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Skripsi ini mengkaji hubungan yang terjalin antara pekerja dengan pengusaha dalam dunia bisnis. Menggunakan etika menjadi pisau analisis dalam menelaah sikap refleksi dalam hubungan yang tercipta. f. Radite Erlangga Widiyatmaja. 2008. Moralitas Pasar Bebas dalam Bisnis Internasional. Skripsi Fakultas Filsafat. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Skripsi ini memberi gambaran penting mengenai etika bisnis, dan mengemukakan mengenai pentingnya mempelajari etika bisnis dalam masa modern ini. 8 3. MANFAAT PENELITIAN Penelitian yang peneliti angkat diharapkan dapat memberikan berberapa faedah diantaranya: a. Bagi ilmu pengetahuan Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi yang positif dan melengkapi berbagai pandangan yang sudah ada dalam etika bisnis. Penelitian ini dapat pula memberikan perspektif yang berbeda dalam pengkajian etika bisnis terhadap pekerja paruh waktu. b. Bagi Perkembangan Ilmu Filsafat Penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi bidang Ilmu Filsafat, khususnya untuk kajian studi Etika Bisnis, dalam melihat realitas bisnis multimedia. Hasil refleksi filosofis dalam penelitian ini dapat menjadi salah satu referensi dan bahan diskusi berkaitan dengan bisnis multimedia. Serta dapat memperbanyak khazanah ilmu pengetahuan khususnya dalam Etika Bisnis. c. Bagi Masyarakat, Bangsa dan Negara Indonesia Penelitian ini diharapkan dapat memberikan perspektif berbeda, terutama untuk kemajuan bidang Etika, dimana kajian ini melihat perkembangan Bisnis moviebox Indonesia di Yogyakarta. Diharapkan tulisan ini dapat memberikan dampak yang positif bagi masyarakat dalam melihat realitas yang ada dalam perkembangan bisnis multimedia dari kajian etika. 9 B. TUJUAN PENELITIAN Berdasarkan masalah diatas maka tujun dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Menjelaskan dan memahami tentang pengertian etika bisnis 2. Menjelaskan dan menguraikan, serta memahami mengenai standar operasional prosedur di Movie Box Indonesia. 3. Menjelaskan dan memahami relevansi prinsip-prinsip etika bisnis dalam menyoroti pekerja paruh waktu melalui tinjauan refleksi filosofis etika bisnis terhadap standar opsrasional prosedur karyawan Movie Box Indonesia. C. TINJAUAN PUSTAKA Terminologi ‘profesi’ sering diartikan adanya keahlian dan keterampilan khusus. profesi selalu mengandaikan adanya suatu keahlian dan keterampilan khusus tertentu yang dimiliki oleh sekelompok orang yang profesional yang menjalankan pekerjaannya dengan baik. Keahlian dan keterampilan khusus ini umumnya dimiliki dengan kadar, lingkup, dan tingkat, yang melebihi keahlian dan keterampilan orang kebanyakan lainnya. Ini berarti kaum profesional itu lebih ahli dan terampil dalam bidang profesinya dari pada orang-orang lain. Keahlian dan keterampilan khusus ini umumnya dimiliki dengan kadar, lingkup, dan tingkat yang melebihi keahlian dan keterampilan kebanyakan orang lainnya. Ini berarti kaum profesional itu lebih ahli dan terampil dalam bidang profesinya dari pada orang-orang lain. Keahlian dan keterampilan ini biasanya dimilikinya berkat pendidikan, pelatihan, dan pengalaman 10 yang diperolehnya selama bertahun-tahun. Bahkan tingkat pengalaman tersebut diperoleh dengan cara yang cukup ketat (Keraf, 1998: 39). Penelitian Abdul Malik Sayuti, berjudul Hubungan Pekerja dan Perusahaan di Indonesia dalam Perspektif Etika Bisnis. Memberikan uraian kritis mengenai korelasi yang harus diciptakan pekerja dan perusahaan. Hubungan kerja adalah hubungan yang terjadi antara pekerja dan perusahaan yang dilandasi dengan adanya suatu perjanjian kerja. Perjanjian kerja merupakan tanda bahwa terdapat ikatan yang berupa hubungan kerja antara pekerja dan perusahaan. Unsur-unsur yang terdapat dalam suatu perjanjian kerja dan hubungan kerja yang berlaku di Indonesia dijelaskan sebagai berikut: a) adanya pekerjaan yang harus dikerjakan oleh pekerja untuk perusahaan, b) adanya gaji yang dibayarkan kepada pekerja sebagai bentuk imbalan melaksanakan pekerjaan, dan c) adanya perintah yang berasal dari perusahaan untuk menjalankan suatu pekerjaan (Abdul Sayuti, 2013: 54). Penelitian Gloria Rahma Ginting, mengenai Hubungan Pekerja dan Pengusaha di Indonesia dalam Persepektif Teologi Pembebasan Gustavo Gutierrez. Penelitian ini memberikan pandangan pada dasar salah satu sifat manusia adalah bekerja. Oleh karena itu, manusia sering disebut homo faber. Kehidupan sehari-hari, kerja merupakan sesuatu yang sangat penting. Manusia selalu berusaha untuk memperoleh pekerjaan dan belum disebut orang berhasil atau “menjadi orang” bila belum mendapat pekerjaan. Oleh karena itu, ketika manusia belum mendapat 11 pekerjaan, manusia seakan-akan tidak berguna dan ketika ia kehilangan pekerjaan, manusia juga merasa tidak bermanfaat bagi orang lain (Gloria, 2010: 76). Purwo Husodo melakukan sebuah penelitian dengan judul Etika Hubungan Kerja antara Pengusaha dan Pekerja. penelitian ini memperlihatkan bekerja merupakan hal yang sangat penting dan bahkan kegiatan pokok manusia untuk mencari nafkah bagi dirinya dan juga keluarganya. Motivasi orang bekerja bermacam-macam, ada yang benar-benar mencari uang sampai ada orang yang bekerja untuk mendapatkan penghargaan dari masyarakat (Purwo Husodo, 1986: 35). Tiga kewajiban penting dari karyawan terhadap perusahaan tempat ia bekerja, tiga kewajiban ini menimbulkan masalah khusus pada pelaksanaan kegiatan pekerja. 1) kewajiban ketaatan, dimana sebagai pekerja harus mempunyai sikap taat akan perintah atasan (karena dia merupakan pimpinan), maka manusia harus mengikuti aturan yang dibuat dalam standar operasional prosedur perusahaan, 2) kewajiban konfidensialitas, merupakan kewajiban untuk menyimpan informasi yang bersifat konfidensial (bersifat rahasia), karena bersifat rahasia maka pekerja diwajibkan untuk menjaga kerahasiaan perusahaannya, 3) kewajiban loyalitas, merupakan konsekuensi dari status seseorang sebagai karyawan perusahaan. Memilih bekerja di suatu perusahaan, maka karyawan harus mendukung tujuan-tujuan perusahaan, karena sebagai karyawan ia melibatkan diri untuk turut merealisasikan tujuan-tujuan tersebut dan menghindari segala sesuatu yang bertentangan dengannya (Bertens, 2000: 169174). Penghayatan terhadap apa yang menjadi pekerjaannya sangat diperhatikan 12 seseorang yang ingin dikatakan profesional. Totalitas merupakan simbol yang tersirat dalam dirinya untuk mengerjakan apa yang semestinya di kerjakan. Bukan tanpa ada dorongan yang negatif untuk memaksakan dirinya melakukan pekerjaan yang dilakukannya. Profesional dalam melakukan pekerjaan akan dipengaruhi faktor sumber daya manusia sebagai personal manusia. Sumber daya manusia sebagai pusat dari kata profesional harus memiliki persiapan yang mapan untuk dapat mencapai kata profesional. Berikut peningkatan kualitas sumber daya manusia yang memiliki karakteristik seperti berikut (Martini dan Nawawi 1994: 283-284) : 1. Produktif Dalam hal ini, seseorang dikatakan berkualitas jika ia mampu memposisikan dirinya sebagai pekerja yang menghasilkan sesuatu yang berguna dan mencapai prestasi dilingkungan semanusiarnya. 2. Berkepribadian mandiri Manusia yang berkualitas tidak menggantungkan diri kepada orang lain dengan terus-menurus dan tanpa menggunakan usaha sendiri dari kerja keras pribadi. Hal seperti ini akan menimbulkan kesalahpahaman dalam bekerja sama dengan teman pekerjaan manusia. 3. Beriman dan berfungsi sebagai warga Negara yang baik Tidak cukup hanya dalam sebatas produktif dan berkepribadian mandiri, tetapi manusia yang berkualitas juga harus memiliki iman dan takwa kepada 13 agama yang dipeluknya. Serta mengahasilkan hal positif bagi bangsa dan Negara. D. LANDASAN TEORI Etika secara etimologi memiliki kesamaan arti dengan moral, yaitu nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Moralitas (moralis) mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan moral. Apabila berbicara tentang moralitas suatu perbuatan, artinya berbicara mengenai segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (Bertens, 2001: 7). Bertens dalam Abdul Malik, menjelaskan ada tiga arti dalam etika itu sendiri, yaitu: 1) kata “etika” dipergunakan dalam pengertian sebagai nilai-nilai atau normanorma moral yang menjadi suatu pegangan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya. Secara singkat pengertian tersebut dikatakan etika sebagai suatu sistem nilai. 2) kata “etika” berarti dapat berarti pula sebagai kumpulan asas atau norma moral. Maksudnya adalah etika sebagai kode etik. 3) “etika” berarti ilmu tentang sesuatu yang baik dan yang buruk (Abdul, 2013: 11). Secara umum etika dibagi menjadi etika umum dan etika khusus. Etika umum berbicara nilai norma dan moral, kondisi-kondisi dasar bagi manusia untuk bertindak 14 secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika, lembagalembaga normatif (diantaranya suara hati), dan semacamnya. Pada etika khusus adalah penerapan prinsip-prinsip atau norma-norma moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. dalam hal ini, norma dan prinsip moral dilihat dalam konteks kekhususan bidang kehidupan manusia yang khusus tertentu (Keraf, 1998: 32). Bisnis selama ini dipandang hanya melalui sudut pandang ekonomi, yakni mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya, namun disamping sudut pandang tersebut, harus dipandang bisnis dari sudut pandang lain yaitu, sudut pandang moral dan hukum. Selalu ada kendala etis bagi perilaku seseorang, termasuk juga perilaku ekonomi. Tidak semua yang dapat dilakukan untuk mengejar tujuan (mencari keuntungan) dapat di pergunakan. Seseorang harus menghormati kepentingan dan hak orang lain. Pantas diperhatikan lagi bahwa dengan itu, individu itu sendiri tidak lagi dirugikan. Sebaliknya, menghormati kepentingan dan hak orang lain harus dilakukan juga demi kepentingan itu sendiri (Bertens, 2000:20). Boatright dalam Bertens, sering kali di dalam dunia bisnis muncul pendapat “If it’s legal, it’s morally okay”. Pendapat ini menegaskan bahwa suatu perbuatan bisnis dianggap etis apabila perbuatan tersebut tidak melanggar hukum. Namun pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar karena kepatuhan terhadap hukum tidak menjamin perbuatan tersebut bersifat etis. Banyak hal-hal yang tidak etis yang tidak tersentuh hukum. Oleh karena itu mucul pendapat lain yaitu “If it’s morally wrong, it’s probably also illegal” (Bertens, 2000: 27). 15 Etika bisnis merupakan salah satu bentuk dari etika terapan. Etika bisnis merupakan suatu aplikasi dari pemahaman manusia tentang suatu yang baik dan benar untuk beragam institusi, teknologi, transaksi, aktivitas, dan segala kegiatan yang disebut bisnis. etika bisnis bertumpu pada kesetiaan etis dan komitmen moral untuk tidak melakukan perbuatan curang dalam berbisnis. Kegiatan-kegiatan curang yang dapat merugikan negara dan masyarakat, merugikan eksistensi orang lain dan pengusaha atau pelaku ekonomi lainnya, atau mengancam lingkungan hidup serta peradaban yang sedang dibentuk kearah yang lebih sempurna (Abdul, 2013: 12). Etika bisnis tidak boleh hanya dirumuskan secara normatif dan filosofis saja, melainkan harus menjadi paradigma moral yang menjunjung keadilan, kejujuran dan kebaikan. Etika bisnis merupakan paduan untuk berbisnis dengan baik dan pasti dengan penuh kesetiaan pada prinsip-prinsip kebenaran dan keadaban. Penerapan etika bisnis mewujudkan kemashuran nilai-nilai dan prinsip-prinsip ekonomi yang bermartabat dan jauh dari hal-hal yang berbau ketamakan, kepongahan dan kerakusan (Pieris & Nizam, 2007:14). E. METODE PENELITIAN 1. Jenis Penelitian Penelitian ini bersifat kualitatif, dengan kajian objek material mengenai masalah-masalah yang aktual dari fenomena manusia yang semakin kompleks, dengan adanya perkembangan serta kebijaksanaan dalam berbagai 16 kehidupan manusia (Kaelan, 2005: 292). Permasalahan aktual pada penelitian ini adalah mengenai tinjauan etika bisnis terhadap pekerja paruh waktu dengan fokus kajian pada standar operasional prosedur pekerja paruh waktu Movie Box Indonesia dengan analisis prinsip-prinsip etika bisnis. 2. Bahan Penelitian Bahan dan materi kepustakaan berbagai sumber yang terdiri dari buku, artikel yang berhubungan dengan kegiatan bisnis dan etika bisnis. Bahan kepustakaan tersebut dikumpulkan dari berbagai sumber yang relevan sehingga kajiannya sesuai dengan tema. Penelitian ini dapat dikategorikan dalam dua kategori, yakni bahan yang bersumber dari data primer dan bahan yang bersumber dari data sekunder: a. Data primer i. Data standar operasional prosedur pekerja paruh waktu Movie Box Indonesia. ii. Arijanto, Bagus. 2012. Etika Bisnis bagi Pelaku Bisnis, Cara Cerdas dalam Memahami Konsep dan Faktor-Faktor Etika Bisnis dengan Beberapa Contoh Praktis. Jakarta: Raja Grafindo Persada. iii. Bertens, K. 2013. Etika. Kanisius. Yogyakarta. iv. Bertens. K. 2013. Pengantar Etika Bisnis. Kanisius. Yogyakarta. v. Keraf, Sony. 1998. Etika Bisnis tuntutan dan relevansinya. Kanisius. Yogyakarta 17 b. Data sekunder Bahan sekunder merupakan bahan yang diperoleh dari tulisan dan sumber lain yang digunakan peneliti sebagai bahan pelengkap dan tambahan. Bahan didapat dari buku-buku pendukung yang sesuai dengan tema. i. Curtis, Dan B. 1992. Komunikasi Bisnis dan Profesional. Rosda Jayaputra. Yogyakarta. ii. Maimun. 2007. Hukum Ketenagakerjaan (Suatu Pengantar). Pradnya Pramita. Jakarta. 3. Langkah Penelitian Langkah-langkah yang diambil dalam penelitian ini berjalan berdasarkan tahap-demi tahap sebagai berikut : a. Persiapan pengumpulan data Tahap penyelesaian meliputi pengumpulan data-data baik berupa studi buku kepustakaan dan literatur ilmiah lainnya yang berhubungan dengan standar operasional pekerja paruh waktu Movie Box Indonesia dan etika bisnis sebagai refleksinya. Dalam tahapan ini akan meliputi penyusunan dan pengklasifikasian data berupa objek material dan objek formal. b. Klasifikasi dan penelitian 18 Data-data yang telah dikumpulkan kemudian dikategorisasikan kedalam beberapa kelompok sesuai dengan pembahasan penelitian. c. Penyelesaian akhir Tahap akhir penelitian, mencakup pembahasan yang dilakukan secara sistematis dan koreksi penelitian. 4. Analisis Data Penelitian ini menggunakan sistematika penelitian filsafat dengan unsur metodis sebagai berikut: a. Inventarisasi, mengumpulkan data sebagai bahan pertimbangan yang dapat dihubungkan dengan standar operasional pekerja Movie Box Indonesia dan etika bisnis. b. Deskripsi, memaparkan secara sistematis tentang pekerja paruh waktu melalui standar operasional prosedur Movie Box Indonesia. c. Analisis, peneliti melakukan pemeriksaan secara konsepsional atas makna yang terkandung dalam objek material penelitian serta prinsip-prinsip yang ada di etika bisnis. d. Refleksi filosofis, tahapan akhir yang mencakup mengenai analisisanalisis sebelumnya. Refleksi ini dimaksudkan untuk memberikan tinjauan etika bisnis terhadap pekerja paruh waktu melalui standar operasional pekerja. 19 F. TUJUAN YANG INGIN DICAPAI Hasil yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Menguraikan secara deskriptif mengenai prinsip-prinsip yang terbangun dalam etika bisnis. 2. Pemahaman mengenai profesi pekerja paruh waktu dalam standar operasional prosedur pekerja Movie Box Indonesia. 3. Memberikan penjelasan dan menganalisis tinjauan etika bisnis terhadap profesi pekerja paruh waktu. G. SISTEMATIKA PENELITIAN Penelitian skripsi ini akan disistemasikan secara garis besar dalam lima bab sebagai berikut: BAB I: berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, hasil yang akan dicapai, dan sistematika penelitian. BAB II: berisi pembahasan objek formal penelitian yang meliputi Pengertian Etika, Bisnis dan Etika bisnis, tujuan etika bisnis serta keadilan dalam bisnis. BAB III: berisi tentang objek material penelitian, meliputi pengenalan bisnis Moviebox, sistem kerja paruh waktu, pembangian kerja, dan peraturan yang diterapkan, dan tanggung jawab sosial Moviebox kepada relasinya. 20 BAB IV: berisi tetang analisi prinsip-prinsip etika bisnis terhadap profesi pekerja paruh waktu melalui standar operasional pekerja BAB V: penutup yang berisi kesimpulan dan saran serta dilanjutkan dengan daftar pustaka.