atok widiyanto - USD Repository

advertisement
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI FLAVONOID DARI FRAKSI ETER PERASAN
DAGING BUAH MAKUTA DEWA (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm)
Program Studi Ilmu Farmasi
Diajukan Oleh:
ATOK WIDIYANTO
NIM : 998114206
NIRM : 990051122004120178
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2007
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
iv
TIDAK ADA APA PUN YANG INDAH YANG
PERNAH DICAPAI OLEH MEREKA YANG
BERANI MEMPERCAYAI BAHWA SESUATU
DI DALAM DIRI MEREKA LEBIH UNGGUL
DARIPADA KEADAAN
(BRUCE BARTON)
KARYA INI KUPERSEMBAHKAN UNTUK :
BAPAK-IBUKU TERCINTA,
SEBAGAI UNGKAPAN RASA HORMAT DAN BAKTIKU,
SAUDARA-SAUDARAKU,
KAKAKKU (ALM) WIWID, WIBI, DAN ADIKKU FIFIN,
ISTRIKU YANG TERCINTA “YANI”
TEMAN-TEMAN DAN SAHABAT, BUAT DOA, SEMANGAT DAN BANTUAN KALIAN
ALMAMETERKU
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
vi
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI FLAVONOID DARI FRAKSI ETER
PERASAN DAGING BUAH MAKUTA DEWA (Phaleria macrocarpa
(Scheff.)Boerl.)
INTISARI
Didalam buah makuta dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) terkandung
flavonoid yang mempunyai aktivitas anti bakteri, anti fungal, anti inflamasi, anti oksidan,
dan lain-lain. Senyawa flavonoid sendiri mempunyai sifat kelarutan dua bentuk yaitu
larut dalam pelarut polar dan pelarut non polar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
lebih lanjut kandungan flavonoid yang terdapat dalam perasan daging buah makuta dewa
khususnya dalam fraksi eter.
Perasan daging buah makuta dewa didapat dari buah makuta dewa masak yang
masih segar dicuci dengan air sampai bersih, dibuang bijinya, diparut dan diperas dengan
kain saring. Setelah itu dilakukan uji pendahuluan dengan reaksi warna dan kromatografi
kertas satu arah (KKt 1A), kertas Whatmann no 1 sebagai fase diam dan t-butanol asam
asetat : air (3:1:1) sebagai fase gerak. Adanya bercak yang muncul setelah pengembangan
diamati dibawah sinar UV 366 nm sebelum dan sesudah diuapi amonia. Kemudian
dikromatografi kertas dua dimensi (KKt 2A) menggunakan fase diam kertas Whatmann
no 1 dengan cairan pengembang fase I (t-butanol asam asetat : air (3:1:1)) dan fase II
(asam asetat 15%) dan diperiksa dibawah lampu UV 366 nm. Diperoleh bercak sebagai
isolat dari fraksi eter kemudian diidentifikasi struktur flavanoidnya berdasarkan data-data
spektrum spektrofotometri UV (panjang gelombang 200-500 nm). Data yang diperoleh
dianalisis dengan metode deskriptif komparatif berdasarkan acuan pustaka.
Dari hasil analisis reaksi warna, identifikasi kromatografi kertas, identifikasi
warna bercak sebelum dan sesudah diuapi amonia dan data spektrum berdasarkan
panjang gelombang puncak serta pergeseran puncak dapat diperkirakan jenis kandungan
flavonoid dalam fraksi eter perasan daging buah makuta dewa termasuk Isoflavon yang
mempunyai gugus orto dihidroksi pada cincin A (6,7 atau 7,8) tanpa gugus hidroksi pada
C-3 dan C-5.
Kata kunci : makuta dewa, flavonoid, fraksi eter, kromatografi kertas, spektroskopi UV
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
vii
ABSTRACT
In fruit of makuta dewa ( Phaleria macrocarpa ( Scheff.) Boerl.) Contents
of flavonoid that have antibacterial activity, anti fungal, anti inflammation, anti
oxidant, and others. Flavonoid compounds it self have dissolve character in two
form that is dissolve in polar solvent and non polar solvent. This research aim to
know furthermore contents of flavonoid which there are in squizzed juice of fruits
flesh makuta dewa especially in ether fraction.
Squizzed juice of fruits flesh makuta dewa got from fruit of makuta dewa
still ripe be fresh washed until cleanness, thrown the seed, grated and extorted
with cloth filter. Then done by antecedent test with reaction of one way paper
chromatography and colors ( KKt 1A), paper Whatmann no.1 as stationary phase
and t-butanol acetic acid : water ( 3:1:1) as mobile phase. Existence mark that
appears after development is observed under UV of 366 nm before and after
steamed with ammonia. Then paper chromatography of two dimension ( KKt 2A)
apply paper stationary phase Whatmann no.1 with dilution of developer of phase I
( t-butanol acetic acid : water ( 3:1:1)) and phase II ( acetic acid of 15%) and
checked under UV lamp of 366 nm. Obtained by mark as isolate from ether
fraction then identification by the flavanoid structure based on UV spectroscopy
spectrums data (wavelength of 200-500 nm). Data which analyzed obtained with
descriptive method of comparability based on book reference.
From analysis result reaction of colour, identify paper chromatography,
identify mark colour before and after steamed with ammonia and spectrum data
based on top wavelength and also friction of top can estimate type of contents of
flavonoid in ether fraction of squizzed juice of fruits flesh makuta dewa cum
Isoflavon having bunch orto hydroxy at ring A (6,7 or 7,8) without hydroxy bunch
at C-3 and C-5.
Keyword: makuta dewa, flavonoid, ether faction, paper chromatography, UV
spectroscopy
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
viii
PRAKATA
Penulis memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan dengan baik dan lancar skripsi
yang berjudul ISOLASI DAN IDENTIFIKASI FLAVONOID DARI FRAKSI ETER
PERASAN DAGING BUAH MAKUTA DEWA (Phaleria macrocarpa (Scheff.)
Boerl.). skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Farmasi (S.Far.) pada program studi Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Sanata
Dharma, Yogyakarta.
Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, baik berupa
materi, moral, maupun spiritual. Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada :
1. Ibu Rita Suhadi, S.Si., Apt, selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata
Dharma.
2. Ibu Erna Tri Wulandari, M.Si., Apt., selaku dosen pembimbing yang dengan
kesabaran dan tanggung jawab telah mengarahkan, membimbing serta
memotivasi secara tulus. Terima kasih atas setiap waktu, bantuan, saran, serta
dorongan semangat sampai selesainya penyusunan skripsi ini.
3. Bapak Yohanes Dwiatmaka, M.Si., selaku dosen penguji, terima kasih untuk
waktu yang diberikan untuk menguji serta memberikan saran-saran membangun,
terima kasih untuk perhatiannya.
4. Romo Drs. Petrus Sunu Hardiyanta, S.J., M.Si., selaku dosen penguji, terima
kasih atas kesediaan menguji dan kemurahan hati memberikan saran-saran
membangun serta waktu dan perhatiannya.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ix
5. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma yang telah
memberi dan membagikan ilmu serta pengalaman yang sangat membantu dalam
penyelesaian skripsi ini.
6. Mas Wagiran, mas Sigit, mas Andri, mas Sarwanto selaku laboran Laboratorium
Farmakognosi Fitokimia USD, serta Kebun Obat USD. Terima kasih untuk waktu
serta keikhlasan dalam membantu pelaksanaan penelitian sampai selesainya
penyusunan skripsi ini.
7. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu, atas bantuan dan
dukungan yang telah diberikan sehingga penulis menyelesaikan skripsi ini dengan
baik.
Penulis
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
x
DAFTAR ISI
Hal
HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................ ii
HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................................ v
INTISARI ...................................................................................................... vi
ABSTRACT..................................................................................................... vii
PRAKATA..................................................................................................... viii
DAFTAR ISI.................................................................................................. x
DAFTAR TABEL.......................................................................................... xiii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................. xvi
BAB I. PENDAHULUAN............................................................................ 1
A.Latar Belakang ........................................................................................... 1
B.Permasalahan.............................................................................................. 3
C.Keaslian Penelitian..................................................................................... 3
D.Manfaat Penelitian ..................................................................................... 4
E.Tujuan Penelitian........................................................................................ 4
BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA ......................................................... 5
A. Makuta dewa............................................................................................ 5
1. Nama Tanaman ............................................................................ 5
2
Klasifikasi Tanaman .................................................................... 5
3. Morfologi Tanaman ..................................................................... 6
4. Khasiat dan Kegunaan Tanaman ................................................. 7
5. Kandungan Kimia Tanaman ........................................................ 7
6. Penelitian tentang makuta dewa dan hasilnya…………………. 8
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
xi
B. Flavonoid ................................................................................................. 8
1. Isolasi Flavonoid.......................................................................... 12
2. Kromatografi Kertas .................................................................... 13
3. Kromatografi Kertas Dua Dimensi (KKt 2A).............................. 15
C. Spektrofotometri ...................................................................................... 19
D. Identifikasi Flavonoid Secara Spektrofotometri UV ............................... 21
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ................................................. 28
A. Jenis Penelitian......................................................................................... 28
B. Bahan Penelitian ...................................................................................... 28
1. Bahan Tanaman ........................................................................... 28
2. Bahan Kimia ................................................................................ 28
3. Bahan Untuk Kromatografi Kertas .............................................. 28
D. Alat........................................................................................................... 29
E. Rancangan Penelitian............................................................................... 29
1. Determinasi .................................................................................. 29
2. Pembuatan Perasan Daging Buah Makuta dewa ......................... 29
3. Reaksi Warna Untuk Flavonoid................................................... 29
4. Identifikasi Pendahuluan dengan Kromatografi Kertas
30
Satu Arah (KKt 1A) .....................................................................
5. Identifikasi Kertas Dua Dimensi (KKt 2A) ................................. 30
6. Identifikasi Isolat Flavonoid dengan Spektrofotometri UV......... 31
F. Analisis Hasil ........................................................................................... 32
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................... 33
A. Determinasi .............................................................................................. 33
B. Pembuatan Perasan Daging Buah Makuta Dewa..................................... 33
C. Pemeriksaaan Flavonoid dengan Reaksi Warna ...................................... 34
D. Identifikasi Pendahuluan Flavonoid dengan KKt 1A .............................. 36
E. Identifikasi dan Isolasi Flavonoid Fraksi Eter dengan KKt 2A............... 41
F. Spektroskopi Ultra Violet ........................................................................ 47
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
xii
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN...................................................... 53
A. Kesimpulan .............................................................................................. 53
B. Saran ........................................................................................................ 53
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 54
LAMPIRAN.................................................................................................. 56
BIOGRAFI PENULIS ................................................................................. 73
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
xiii
DAFTAR TABEL
Hal
Tabel I
Pengembang yang berguna pada Analisis Flavonoid
dengan Kromatografi Kertas Menurut Markham ........................ 16
Tabel II
Hubungan warna Bercak dengan Struktur Flavonoid
Menurut Mabry et al .................................................................... 18
Tabel III Rentangan serapan maksimum Spektrofotometri
UV Flavonoid (Markham, 1988). ................................................ 22
Tabel IV Penafsiran spektra UV dengan penambahan
NaOH (Markham, 1988).............................................................. 25
Tabel V
Penafsiran spektra UV dengan penambahan
NaOAc (Markham, 1988) ............................................................ 26
Tabel VI Penafsiran spektra UV dengan penambahan
NaOAc/H3BO3 (Markham,1988)................................................. 26
Tabel VII Penafsiran spektra UV dengan penambahan AlCl3 dan
AlCl3/HCl (Markham, 1988) ....................................................... 27
Tabel VIII Reaksi warna flavonoid untuk menentukan interpretasi
golongan flavonoid dibandingkan dengan pustaka
Venkataraman (1962)................................................................... 35
Tabel IX Data kromatogram dari bercak KKt 1A masing-masing sampel
dengan fase diam kertas Whatmann no 1 dan fase gerak
TBA (3:1:1). Deteksi dengan sinar UV 366 nm sebelum dan
sesudah diuapi amonia, serta interpretasi
warna bercak (Markham,1998).................................................... 38
Tabel X
Data harga Rf dan deteksi sinar UV 366 nm dari bercak-bercak
pada kromatogram KKt 2A fraksi eter ekstrak metanol. ............. 43
Tabel XI Interpretasi struktur flavonoid menurut warna bercak KKt 2A
dibawah sinar UV 366 nm sebelum dan sesudah
diuapi amonia (NH3). .................................................................. 43
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
xiv
Tabel XII Penggolongan daerah penyebaran bercak-bercak menurut
kromatogram KKT 2A berdasar pada pola penyebaran bercak
menurut Markham (1988). ...........................................................
46
Tabel XIII Data hasil Spektroskopi UV dari isolat warna kuning (K) ..........
49
Tabel XIV Data hasil Spektroskopi UV dari isolat warna ungu (U) .............
50
Tabel XV Data hasil Spektroskopi UV dari isolat warna biru (B) ...............
52
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
xv
DAFTAR GAMBAR
Hal
Gambar 1. Kerangka dasar flavonoid ( Robinson, 1995 ) ............................. 8
Gambar 2. Kerangka dasar dan penomoran
flavonoid ( Mabry et al., 1970 )................................................... 9
Gambar 3. Kerangka umum dan penomoran
flavonoid (Mabry et al.,1970)...................................................... 10
Gambar 4. Pembagian cincin flavonoid (Mabry et al., 1970) ....................... 22
Gambar 5. Kromatogram dari bercak KKt 1A dari masing-masing sampel.. 37
Gambar 6. Kromatogram KKt 2A fraksi eter air perasan daging
makuta dewa ................................................................................ 42
Gambar 7. Daerah penyebaran bercak-bercak dari kromatogram hasil
KKt2A dibandingkan dengan peta penyebaran bercak
flavonoid menurut Markham (1988) ........................................... 46
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Hal.
Lampiran 1. Data hasil spektroskopi Ultra Violet fraksi eter perasan
daging buah makuta dewa............................................................... 56
Lampiran 2. Foto hasil KK satu-arah fase diam kertas Whatmann no. 1 fase
pengembang (TBA) ........................................................................ 65
Lampiran 3. Foto hasil KK dua-arah fase diam kertas Whatmann no. 1 fase
pengembang (TBA) dan fase pengembang II (asam asetat 15%)... 67
Lampiran 4. Foto hasil reaksi warna................................................................... 69
Lampiran 5. Foto tanaman makuta dewa, buah makuta dewa dan perasan
daging buah makuta dewa .............................................................. 70
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB I
PENGANTAR
A. LATAR BELAKANG
Makuta dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) merupakan salah
satu tanaman obat yang banyak digunakan oleh masyarakat sebagai obat
tradisional. Secara empiris, makuta dewa terbukti mampu menyembuhkan
beberapa macam penyakit berat, seperti penyakit lever, kanker, jantung, lemah
syahwat, reumatik, diabetes mellitus, asam urat, tekanan darah tinggi, dan
ketagihan narkoba, serta penyakit ringan seperti eksim, jerawat, dan luka bekas
gigitan serangga (Harmanto, 2003).
Tanaman makuta dewa memiliki beberapa bagian yang mengandung
senyawa-senyawa yang agak berbeda satu sama lain. Pada daging buah dan kulit
biji mengandung alkaloid, terpenoid, saponin, dan senyawa polifenol (Lisdawati,
2002). Kulit buah makuta dewa mengandung alkaloid dan saponin, sedangkan
daunnya mengandung alkaloid, saponin, polifenol (Sumastuti, 2001).
Buah makuta dewa banyak mengandung flavonoid yang merupakan salah
satu dari sekian banyak zat aktif yang terkandung dalam tumbuhan dan dapat
dimanfaatkan untuk mengobati penyakit (Djumidi dkk, 1999). Flavonoid
mempunyai aktivitas anti bakteri, anti fungal, anti inflamasi, anti oksidan, anti
hemorhagi, diuretik, aktivitasnya estrogenik dan hipoglikemik (Harborne, 1987).
Penelitian tentang kandungan flavonoid dalam perasan daging buah
maakuta dewa telah dilakukan oleh Sisilia (2001), tentang efek hepatoprotektif
1
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
2
perasan daging buah makuta dewa pada mencit jantan terinduksi parasetamol.
Perasan daging buah makuta dewa dengan komposisi tiga buah makuta dewa
diperas airnya (lebih kurang 79 g menghasilkan 10 ml air perasan) dapat
memberikan efek hepatoprotektif. Dari penelitian tersebut dibuktikan adanya efek
hepatoprotektif berasal dari kandungan flavonoid yang terdapat dalam perasan
daging buah makuta dewa, dikarenakan adanya gugus fenol yang mampu
menangkap radikal bebas (zat antara yang toksik) dari parasetamol pada struktur
flavonoid (Pudjono, 2001).
Flavonoid adalah polifenol dan karena itu mempunyai sifat kimia
senyawa fenol, yaitu bersifat agak asam sehingga dapat larut dalam basa. Untuk
diketahui bahwa sifat kelarutan flavonoid ada dua bentuk, yaitu larut dalam
pelarut polar dan pelarut yang non polar. Pelarut polar yang umum digunakan
seperti
etanol
(EtOH),
metanol
(MeOH),
butanol
(BuOH),
aseton,
dimetilsulfoksida (DMSO), dimetil formamida (DMF), air, dan lain-lain. Adanya
gula yang terikat pada flavonoid (bentuk yang umum ditemukan) cenderung
menyebabkan flavonoid lebih mudah larut dalam air dan dengan demikian
campuran pelarut di atas dengan air merupakan pelarut yang lebih baik untuk
glikosida. Sebaliknya, aglikon yang kurang polar seperti isoflavon, flavanon, dan
flavon serta flavonol yang termetoksilasi cenderung lebih mudah larut dalam
pelarut seperti eter dan kloroform (Markham, 1988).
Dengan diketahui adanya aglikon flavonoid yang larut dalam pelarut
polar seperti eter dan kloroform, oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti
jenis kandungan flavonoid apa saja yang terdapat pada perasan daging buah
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
3
makuta dewa khususnya dalam fraksi eter. Bukti ilmiah tentang jenis kandungan
flavonoid yang terdapat dalam fraksi eter perasan daging buah makuta dewa
belum pernah diteliti.
1. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang diatas maka timbul masalah menarik
untuk diteliti yaitu : golongan flavonoid apa saja yang terkandung dalam
fraksi eter perasan daging buah makuta dewa?
2. Keaslian Penelitian
Sudah banyak dilakukan penelitian tentang flavonoid dalam makuta
dewa tentang potensi anti bakteri ekstrak etanol dan ekstrak kloroform daun
makuta dewa terhadap Staphylococcus aureus oleh Hosen Jaya Edi (2005),
daya sitotoksik infusa kulit batang makuta dewa pada sel hela oleh Esti
Pusparanti (2003), isolasi dan identifikasi flavonoid dari fraksi eter ekstrak
metanol daging buah makuta dewa oleh Dianisius Iwan Susanto (2003).
Penelitian ini melanjutkan penelitian sebelumnya yang berjudul efek
hepatoproktetif air perasan daging buah makuta dewa pada mencit jantan
terinduksi parasetamol telah dikerjakan oleh Sisilia (2001). Penelitian ini
untuk mengetahui lebih lanjut tentang jenis golongan flavonoid apa yang
terkandung dalam perasan daging buah makuta dewa terutama pada fraksi
eter.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
4
Penelitian mengenai isolasi dan identifikasi flavonoid dari fraksi eter
perasan daging buah makuta dewa, sampai sejauh ini belum pernah
dilakukan..
3. Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini diharapkan akan memberikan suatu
terobosan baru bagi dunia kesehatan pada umumnya maupun bagi
perkembangan ilmu kefarmasiaan dan kedokteran khususnya berupa
sumbangan teoritis dan manfaat praktis.
a. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang
senyawa flavonoid apa saja yang terdapat dalam fraksi eter perasan daging
buah makuta dewa.
b. Manfaat praktis
Penelitian ini juga diharapkan dapat memberi informasi kepada
masyarakat bahwa didalam perasan daging buah makuta dewa khususnya
dalam fraksi eter terdapat senyawa flavonoid (aglikon) yang mempunyai
kegunaan dalam pengobatan penyakit.
B. Tujuan Penelitian
Tujuan mengenai penelitian isolasi dan identifikasi flavonoid dari fraksi
eter perasan daging buah makuta dewa ini adalah untuk mengetahui senyawasenyawa flavonoid apa saja yang terdapat dalam fraksi eter perasan daging buah
makuta dewa.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB II
PENELAAHAN PUSTAKA
A. Makuta dewa
1. Nama tanaman
Makuta dewa sering disebut dengan nama botani Phaleria
macrocarpa (Scheff.) Boerl. atau dengan sinonim Phaleria papuana Warb.
Var. Wichanii (Val.) Back. Di Jawa Tengah tanaman inin disebut makuto
dewo, makuto rojo atau makuto ratu. Sebutan lain untuk tanaman ini yaitu raja
obat (Banten), disebut demikian karena khasiatnya dalam mengobati aneka
penyakit; pau (etnik Cina), berarti obat pusaka; simalakama (Depok, Jawa
Barat; Melayu); makuto mewo (Java) (Harmanto, 2003; Dalimartha, 2003).
2. Klasifikasi
Klasifikasi tanaman makuta dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.)
Boerl.) termasuk dalam bangsa Thymelales, suku Thymelaleaceae, marga
Phaleria dan spesies Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl. (Dalimartha,
2003).
Kedudukan tanaman makuta dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.)
Boerl.) dalam sistematika tumbuhan adalah sebagai berikut :
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida (Anonim, 1997)
Anak kelas
: Rosidae
Bangsa
: Malvales
5
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
6
Suku
: Thymelaeaceae (APG, 1998; Bremer, Bremer dan Thulin,
1999)
Marga
: Phaleria Jack
Jenis
: Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl. (Backer dan
Bakhuizen van den Brink, 1963)
3. Morfologi tanaman
Tanaman makuta dewa berupa herba, tajuk pohonnya bercabangcabang (Harmanto, 2003). Tanaman ini tumbuh tegak dengan ketinggian 1-2,5
m, tumbuh ditanah yang gembur dan subur pada ketinggian 10-1.200 m dpl
(Dalimartha, 2003). Namun, jika dibiarkan ketinggiannya bisa mencapai 5
meter (Harmanto, 2003).
a. Batang bulat, permukaannya kasar, wamanya cokelat, berkayu, dan
bergetah, percabangan simpodial (Dalimartha, 2003).
b. Daun tunggal, letaknya berhadapan, bertangkai pendek, bentuknya lanset
atau jorong, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, pertulangan menyirip,
urat daun agak menonjol tersusun agak rapat melengkung ke atas,
permukaan atas mengkilat dan permukaan bawah suram, warnanya hijau
tua, panjang 7-10 cm, lebar 2-5 cm (Budiana, 2000; Dalimartha, 2003).
c. Bunga merupakan bunga majemuk payung dengan anak bunga berjumlah
2-4 tanpa tangkai; daun tenda bunga berjumlah empat berlekatan
membentuk tabung, tenda bunga berwarna putih pada bagian pangkalnya
berwama hijau, bagian ujung dari tenda bunga berbelah empat, panjang
bunga sekitar 1,5-2 cm; bunga sempuma (berkelamin dua); benang sari
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
7
dua kali jumlah tenda bunga dalam dua lingkaran panjang dan pendek,
tangkai sari yang panjang melekat pada bagian tengah daun tenda bunga
dan yang pendek di antara daun tenda bunga; tangkai putik bulat panjang
berwarna putih, setinggi tenda bunga bakal bulat menumpang (Budiana,
2000).
d. Buah bentuknya bulat, diameter 3-5 cm, permukaan licin beralur, ketika
muda wamanya hijau dan merah setelah masak. Buah batu berdaging,
daging buah berwama putih, berserat dan berair (Budiana, 2000;
Dalimartha, 2003).
4. Khasiat dan kegunaan tanaman
Secara empiris makuta dewa terbukti mampu menyembuhkan
beberapa penyakit berat seperti lever, kanker, jantung, lemah syahwat,
reumatik, diabetes mellitus, asam urat, tekanan darah tinggi, dan ketagihan
narkoba, serta penyakit ringan seperti eksim, jerawat, dan luka bekas gigitan
serangga (Harmanto, 2003).
5. Kandungan kimia tanaman
Tanaman makuta dewa memiliki beberapa bagian yang mengandung
senyawa-senyawa yang agak berbeda satu sama lain.
a. Daging buah dan kulit biji mengandung alkaloid, terpenoid, saponin, dan
senyawa polifenol (Lisdawati, 2002).
b. Kulit buah mengandung alkaloid dan saponin.
c. Daun mengandung alkaloid, saponin, polifenol (Sumastuti, 2001).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
8
6. Penelitian tentang makuta dewa dan hasilnya
Penelitian tentang makuta dewa telah banyak dilakukan oleh
mahasiswa farmasi USD seperti oleh Betasari (2001) yang melakukan penelitian
mengenai efek hipoglikemik perasan daging buah makuta dewa pada tikus
diabetes melitus tidak tergantung insulin, hasilnya disebutkan bahwa perasan
daging buah makuta dewa dapat memberikan efek hipoglikemik pada tikus
diabetes melitus tidak tergantung insulin. Sisilia (2001) melakukan penelitian
mengenai efek hepatoprotektif air perasan daging buah makuta dewa pada mencit
jantan terinduksi parasetamol, hasilnya disebutkan bahwa air perasan daging buah
makuta dewa dapat memberikan efek hepatoprotektif pada mencit terinduksi
parasetamol.
B. Flavonoid
Senyawa Flavonoid adalah golongan senyawa yang mengandung 15
karbon dalam inti dasarnya dan tersusun dalam kerangka dasar C6 – C3 – C6 terdiri
dari dua cincin benzena yang dihubungkan dengan rantai alifatik tiga karbon.
(Markham,1988; Pramono, 1989; Robinson, 1995 ).
C
C
C
Gambar 1. Kerangka dasar flavonoid ( Robinson, 1995 )
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
9
Senyawa flavonoid merupakan salah satu golongan senyawa fenol alam
terbesar dan hampir terdapat pada semua tumbuhan hijau kecuali algae dan bisa
terdapat pada semua bagian tumbuhan yaitu daun, akar, kayu, kulit, tepung sari,
nektar, bunga, buah dan biji (Markham, 1988). Senyawa flavonoid dalam
tumbuhan terbentuk sebagai glikosida atau berupa aglikon (Markham, 1988;
Pramono, 1989).
Flavonoid merupakan senyawa yang relatif stabil terhadap pemanasan,
mudah dideteksi keberadaannya dan memiliki sebaran yang luas pada semua
tumbuhan tingkat tinggi baik pada Angiospermae maupun Gymnospermae
(Harborne et al., 1971).
Secara umum flavonoid mempunyai cincin piran yang menghubungkan
rantai tiga karbon dengan salah satu dari cincin benzena (Robinson,1995). Untuk
pembacaan strukturnya pada kerangka flavonoid cincin aromatiknya diberi tanda
A,B dan C atom karbon dinomori menurut sistem penomoran yang menggunakan
angka biasa untuk cincin A dan C serta. angka beraksen untuk cincin B. Sistem
penomoran tersebut dapat dijelaskan pada gambar 2.
3’
2’
4’
B
8
O
A
C
7
5’
2
6’
3
6
5
4
Gambar 2. Kerangka dan penomoran flavonoid ( Mabry et al., 1970 )
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
10
Klasifikasi senyawa flavonoid ditentukan oleh pola subtitusi dan
hidroksilasi pada atom C3. Klasifikasi tersebut meliputi flavon, flavanon,
flavonol, isoflavon, auron dan kalkon.
3’
2’
8
HO
7
1’
5’
6’
3
6
10
5
α
5
OH
OH
O
4
O
4
Flavon
Calkon
8
8
HO
4’
2
3
10
O
OH
9
7
6’
C
6
HO
5’
2
A
8
1’
OH
2’
4’
B
O
9
3’
OH
O
7
HO
2
4’
H
1’
5’
2
2’
6
OH
2’
O
9
7
3’
3
6
10
3’
3
6’
H
5
5
OH
OH
OH
O
4
6’
4’
O
4
OH
5’
Isoflavon
Dihidroflavonol
3’
OH
2’
8
HO
9
7
O
H
1’
2
6
4’
5’
6’
7
HO
6
8
2’
O
2
3
10
5
5
OH
O
4
Flavanon
9
4
OH
CH
3
O
Auron
Gambar 3. Kerangka umum dan penomoran flavonoid (Mabry et al.,1970)
3’
4’
1’
6’
5’
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
11
Secara individual kelarutan senyawa flavonoid sangat bermacam-macam,
sesuai dengan golongan dan substitusi yang terjadi. Flavonoid merupakan
senyawa polar, karena mempunyai gugus hidroksi yang tak tersulih atau suatu
gula, maka umumnya flavonoid cukup larut dalam pelarut polar seperti metanol,
air, butanol, etanol, aseton, dimetilsulfoksida, dimetil formida. Adanya gula
terikal yang biasa ditemukan pada flavonoid cenderung flavonoid lebih mudah
larut dalam air dan dengan demikian campuran tersebut diatas dengan air
merupakan pelarut yang lebih baik untuk glikosida flavonoid. Scbaliknya aglikon
yang kurang polar seperti isoflavon, flavanon, flavon serta flavonoid yang
termetoksilasi cenderung lebih mudah larut dalam pelarut seperti eter, etil asetat
dan kloroform (Mursyidi, 1990).
Untuk mengekstraksi senyawa flavonoid dari tumbuhan biasanya
digunakan pelarut yang memiliki polaritas yang sesuai dengan flavonoid tersebut
karena kelarutan flavonoid berbeda-beda (Robinson, 1995). Aglikon flavonoid
adalah senyawa polifenol, sehingga mempunyai sifat kimia senyawa fenol yaitu
agak bersifat asam sehingga dapat larut dalam basa. Flavonoid yang mempunyai
gugus hidroksil tak tersubtitusi atau suatu gula merupakan senyawa polar dan
umumnya cukup larut dalam pelarut seperti etanol, metanol, aseton, air dan lainlain ( Markham, 1988).
Adanya gula yang terikat pada flavonoid, air merupakan pelarut yang
baik untuk glikosida. Sebaliknya aglikon yang kurang polar cenderung lebih
mudah larut dalam pelarut seperti eter dan kloroform (Markham, 1988). Pelarutpelarut alkoholik merupakan pelarut pilihan untuk mengekstraksi semua goiongan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
12
flavonoid, biasanya digunakan etanol, metanol dan propanol. Bahan-bahan segar
dapat diekstraksi dengan menggunakan pelarut-pelarut alkohol tersebut.
Sedangkan bahan-bahan kering dan berkayu dapat menggunakan pelarut alkohol
berair, hal ini disesuaikan dengan glikosida flavonoidnya. (Harborne et al., 1975}
1. Isolasi Flavonoid
Metode yang paling menguntungkan untuk mengisolasi atau
memisahkan campuran flavonoid adalah dengan kromatografi kertas dan
kromatografi lapis tipis karena hanya membutuhkan sampel yang relatif
sedikit dan waktu yang relatif singkat. Pemilihan fase diam dan fase gerak
dalam kromatografi disesuaikan dengan tipe flavonoid yang akan dipisahkan.
Fase diam yang paling umum adalah poliamid dan selulosa mikrokristal
(Markham, 1988).
Pemilihan pelarut tidak hanya tergantung pada senyawa yang akan
diuji, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti pada bagaimana
substituen tersebut diambil. Bila flavonoid terdapat dafam vakuola sel, yang
umumnya bersifat hidrofilik maka penyarian dilakukan dengan menggunakan
air atau pelarut-pelarut alkoholik Bila flavonoidnya terdapat dalam kloroplas
diperlukan pelarut-pelarut lemah sebelum melakukan penyarian dengan
alkohol.
Penyarian flavonoid untuk tujuan analisis, akan lebih ideal bila
digunakan bagian tanaman yang masih segar, walaupun simplisia kering
masih memberikan hasil yang memuaskan Untuk pembuatan simplisia kering
diambil bagian tanaman yang segar lalu segera dikeringkan dalam oven suhu
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
13
100° C . Selanjutnya simplisia yang sudah kering ini diserbuk, disari dengan
pelarut yang sesuai (Mursyidi, 1990).
2. Kromatografi Kertas
Kromatografi kertas merupakan jenis dari sistem partisi. Fase diam
adalah kertas (selulosa) dan sebagai fase gerak biasanya merupakan campuran
dari satu atau lebih pelarut - pelarut organik dan air. Senyawa-senyawa yang
terpisahkan dapat segera dideteksi pada kertas dan diidentifikasikan. Jika
dikehendaki, komponen-komponen yang terpisahkan dapat diambil dari kertas
dengan jalan memotong kemudian dilarutkan secara terpisah (Hardjono,
1985).
Metode identifikasi dapat dilakukan berdasarkan pada perbandingan
dari kedudukan noda (bercak) pada kromatogram. Cara lain untuk
mengidentifikasi senyawa flavonoid yaitu dengan reaksi-reaksi yang
karakteristik. Cara ini terutama berguna dalam pemisahan senyawa anorganik.
Untuk pengembangan dapat digunakan metode ascending (penaikan),
descending (penurunan) dan horisontal (mendatar).
a. Metode ascending:
Kertas digantung dicelupkan sehingga pelarut bergerak dari bawah ke atas.
b. Metode descending:
Dilakukan dengan mencelup kertas dalam solven, sehingga pelarut
tersebut bergerak dari atas ke bawah.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
14
c. Metode horisontal:
Cuplikan di tempatkan pada pusat kertas yang biasanya berbentuk bulat.
Pelarut diteteskan dari pusat kertas. Kertas dalam pemisahan terutama
berpengaruh pada kecepatan aliran pelarut.
Kecepatan aliran akan naik dengan kenaikan suhu. Tetapi aliran
pelarut pada suhu tertentu dipengaruhi oleh kerapatan dan ketebalan kertas.
Penurunan kerapatan atau kenaikan ketebalan kertas memberikan kecepatan
aliran lebih tinggi. Kertas Whatman no.4 mempunyai sifat yang mirip dengan
kertas Whatman no. I namun bahan kertas yang pertama memberikan efek
kira-kira 2 kali lebih cepat. Kertas yang lebih tebal (Whatman no.3 / 3MM )
biasanya digunakan untuk pemisahan dalam jumlah yang lebih besar, karena
dapat menampung lebih banyak cuplikan tanpa menaikkan area dari noda
mula - mula ( Hardjono, 1985 ).
Oleh karena uap-uap, terutama amonia mempunyai afinitas yang
tinggi terhadap selulosa, maka kertas-kertas ini harus disimpan ditempattempat yang jauh dari sumber-sumber uap tersebut. Kebanyakan untuk
pelarut-pelarut kromatografi cepat menguap tanpa meninggalkan residu.
Hanya untuk fenol, penguapan sempurnanya kira-kira membutuhkan waktu 4
jam. Harus diusahakan penghilangan pelarut dengan segera dan sempurna, hal
ini untuk mencegah terjadinya reaksi pada penambahan reagen. Yang lebih
penting lagi terutama dalam kromatografi dua arah dimana jejak pelarut yang
pertama harus dihilangkan sebelum pengembangan pelarut yang kedua. Pada
keadaan lain, volatilitas yang tinggi mengakibatkan pelarut lebih cepat hilang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
15
meninggalkan kertas setelah bergerak. Umumnya fase gerak merupakan
campuran yang terdiri atas komponen-komponen organik, air dan senyawa senyawa asam, basa atau pereaksi komplek untuk memperbesar kelarutannya.
Senyawa organik polar akan lebih mudah larut dalam air dari pada digunakan
pelarut non polar (Hardjono, 1985).
3. Kromatografi Kertas Dua Dimensi (KKt 2A)
Kadang-kadang dalam pemisahan bercak yang terdiri atas dua bercak
atau lebih pada kromatografi kertas satu arah (KKt 1A) tidak terpisahkan
dengan baik. Karena alasan tersebut perlu dilakukan pemisahan dengan
kromatografi kertas dua dimensi (KKt 2A). Kertas yang disarankan untuk
tujuan ini ialah kertas Whatman 3MM (46 x 57cm) atau yang setara. Jumlah
ekstrak yang ditotolkan dapat merupakan faktor kritis yang menentukan mutu
flavonoid yang terjadi kemudian. Bila ekstrak yang ditotolkan terlalu sedikit,
bercak flavonoid yang terbentuk mungkin sukar untuk dideteksi, sedangkan
bila lerlalu banyak maka akan terjadi pencorengan dan resolusi menjadi jelek
(Markham, 1988).
Namun bila cara diatas tidak memungkinkan untuk dilakukan
disebabkan ukuran lembaran kertas dan bejana kromatografi yang terlalu
besar, maka pcnyesuaian ukuran dapat dilakukan. Bejana kaca yang lebih
kecil dapat dipakai bila lembar kertas dibagi dua atau empat sebelum ekstrak
ditotolkan, Tetapi bila hal itu dilakukan, ukuran bercak yang ditotolkan dan
jumlah ekstrak yang ditotolkan harus disesuaikan (Markham, 1988).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
16
Untuk penilaian kandungan flavonoid suatu ekstrak, sudah menjadi
kebiasaan umum untuk menggunakan pengembang beralkohol pada
pengembangan pertamanya. Demikian juga dalam KKt dua dimensi ini. Untuk
pengembangan pertama dapat digunakan pengembang n-butanol:asam
asetat:air (BAA 4:1:5, fase atas) atau t-butanol:asam asetat:air (TBA 3:1:1)
menurut arah tepi kertas yang terpanjang. Garis depan pengembang akan
mencapai ujung lembaran kertas dalam waktu 12-30 jam (kira-kira
membutuhkan 50-60 ml pengembang per kertas). Untuk pengembangan arah
kedua dapat digunakan pengembang berupa larutan dalam air seperti larutan
asam asetat 15%, dengan menggunakan bejana lain. Waktu yang dibutuhkan
dalam pengembangan arah kedua ini 4-6 jam (Markham, 1988).
Cara lain adalah dengan menggunakan pengembang yang berbeda.
Beberapa dari pengembang yang banyak tersedia dicantumkan pada tabel I,
yang disertai dengan ulasan tentang penggunaan yang sebaiknya. Sebagian
pengembang tersebut boleh digunakan setelah penggunaan BAA atau TBA
yang biasanya merupakan pengembang terbaik dari segi kekuatan pelarut dan
pemisahan bercak (Markham, 1988).
Tabel. I. Pengembang pada analisis flavonoid dengan kromatografi kertas
(Markham, 1988).
Pengembang
BAA
TBA
KAA
Susunan pengembang (jangka
waktu pengembangan)
nBuOH;HOAc;H2O(4:1:5);dicam
pur baik-baik dalam corong
pisah, dipakai fase atas (17 jam)
t-BuOH;HOAc;H2O (3:1:1) (24
jam)
CHCl3:HOAc:H2O
(30:15:2);
campur baik-baik dalam corong
pisah, air yang berlebih dibuang
(5-7 jam)
Penggunaan yang dianjurkan*
Glikosida, aglikon, dan gula (24-48 jam),
glukosa dan galaktosa tak terpisahkan
Seperti pada BAA
Aglikon (terutama yang dimetilasi),
glikosida yang diasilasi, glikosida yang
dimetilasi. Baik untuk memisahkan
campuran
jenis
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
17
Forestal
HOAc:H2O:HCl (30:10:3) (15
jam)
Asam Format
HCOOH:H2O:HCl (5:3:2)
Bu/HCl
n-BuOH:HCl 2M (1:1); campur
baik-baik dalam corong pisah
dan setimbangkan semalam (24
jam)
n-BuOH:EtOH:H2O (4:1:2,2);
jika tidak mencampur pada suhu
kamar tambah lagi sedikit EtOH
(20-24 jam)
Bz:HOAc:H2O
(125:72:3);
pengembang atsiri, jadi perlu
penjenuhan bujana bejana (4
jam)
EtOAc:Pir:HOAc:H2O
(36:36:7:21)
Fenol (4g): H2O (1 ml).
Keringkan kromatogram dalam
tanur berventilasi (50-60oC)
selama 2-3 jam lalu dalam
lemari asam 24 jam (untuk
menghilangkan fenol) (24 jam)
(4 jam)
BEA
Benzenaasam asetatair
EPAA
Fenol
H2O
HOAc
HCl 1%
BBPA
HOAc 5% (3jam)
HOAc 15% (5 jam)
HOAc 50% (12 jam); terbaik
jika “lewat kembang”
(5 jam)
n-BuOH:Bz:Pir:H2O (5:1:3:3)
(20 jam)
isoramnetilkemferol/siringetin/laristrin
(pola OH pada cincin B sama)
Flavon, flavonol, dan aglikon antosianidin.
Sering tidak dapat memisahkan glikosida
dari aglikon
Antosianidin. Dapat memisahkan glikosida
dari aglikon (Bandingkan dengan forestal)
Antosianin (sebelum pengembangan kertas
harus
disetimbangkan
dalam
uap
pengembang)
Pengembang berkemampuan rendah, ideal
untuk pemurnian ahkir glikosida glikosida
dan gula yang hampir murni
Aglikon, asam fenolat
Gula, terutama KLT
Glikosida, memisahkan visenin-2 dari
skaftosida;
glukoronida<glikosida;
ramnosida>glukosida. Dapat memisahkan
glukosa dari alosa dan galaktosa. Gula (3048 jam)
Glikosida, biasanya O-Glukoronida>CGlukosida>O-Glukosida.
Ideal
untuk
membedakan antara O-Glukoronida dan Oglikosida lain
Poliglikosida
Glikosida. Baik untuk membedakan antara
mono-, di-, triglikosida
Aglikon
Antosianin, asam fenolat
Gula. Memisahkan glukosa dari galaktosa,
xilosa, dan arabinosa
*Lambang <,> menunjukan kelincahan bercak
Untuk lembaran kertas besar
Letak bercak yang menggunakan fase diam selulosa yang dikembangkan
dua arah dengan dua macam fase gerak (TBA/HOAc) juga merupakan informasi
yang berharga karena dapat untuk mengetahui apakah suatu flavonoid merupakan
aglikon/glikosida (Mabry. Et al., 1970).
Cara lain yang paling mudh untuk mendeteksi flavonoid adalah dengan
mengamati perubahan warna sebelum dan sesudah diuapi amonia. Flavonoid
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
18
merupakan golongan senyawa fenol yang bersifat asam, sehingga menimbulkan
perubahan warna yang khas dengan adanya amonia (Markham, 1988). Jika tidak
tercampur dengan pigmen lain, flavonoid dapat dideteksi dengan uap amonia dan
akan menimbulkan warna yang spesifik untuk masing-masing golongan. Flavon
dan flavonol memberikan warna kuning kemerahan. Antosianin berwarna merah
biru, sedangkan flavanon memberikan warna oranye atau coklat. Warna merah
dan lembayung yang mendadak dalam suasana basa disebabkan oleh adanya
khalkon atau auron (Robinson, 1995).
Tabel II. Hubungan warna bercak dengan struktur flavonoid (Mabry et al., 1962)
Warna bercak flavonoid
Tipe flavonoid
UV 366 nm
NH3/UV 366 nm
Violet tua
Kuning, kuning hijau a. Biasanya 5-OH flavon atau
flavonol (tersulih ada 3-O dan
atau hijau
mempunyai 4’-OH)
b. Flavanon 5-OH dan 4’-OH
khalkon tanpa OH pada cincin B
Perubahan
warna a. flavon atau flavonol tersulih pada
3-O mempunyai 5-OH tetapi
sedikit
atau
tanpa
tanpa 4’-OH bebas.
perubahan warna
b. 6- atau 8-OH flavon dan flavonol
tersulih
pada
3-O
serta
mengandung 5-OH
c. Isoflavon, dihidroflavonol,
biflavonil dan flavanon dengan
5-OH
d. Calkon dengan 2’- atau 6’-OH
tetapi tidak memiliki 2- atau 4OH bebas
Fluoresensi biru muda
Biru muda
flavanon dengan 5-OH
merah atau jingga
calkon dengan gugus hidroksil
bebas pada posisi 2- atau posisi 4a. flavon dan flavanon yang tak
mengandung 5-OH, misalnya 5OH-glikosida
b. flavonol tanpa 5-OH bebas tetapi
tersulih pada 3-OH
Fluoresensi hijaukuning atau hijau-biru
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
19
Perubahan warna
sedikit atau tanpa
perubahan warna
Tidak tampak
Kuning redup dan
kuning atau
fluoresensi jingga
Fluoresensi kuning
Isoflavon yang tak mengandung 5OH bebas
Fluoresensi murup biru Isoflavon yang tak mengandung 5OH bebas
terang
Fluoresensi biru muda
Isoflavon yang tak mengandung 5OH bebas
Perubahan
warna Flavonol dengan 3-OH bebas dan
sedikit
atau
tanpa atau tanpa 5-OH bebas (kadangperubahan warna
kadang
berasal
dari
dihidroflavonol)
Jingga atau merah
Auron yang mengandung 4’-OH
bebas dan calkon 2- atau 4-OH
,
Kuning-hijau atau
hijau-biru atau hijau
Perubahan
warna a. Auron yang tak mengandung 4’sedikit
atau
tanpa
OH bebas dan flavanon tanpa 5perubahan warna
OH bebas
b. Flavanol yang mengandung 3OH bebas dan dengan atau tanpa
5-OH bebas
Merah jingga redup Biru
Antosianidin 3-glikosida
atau merah senduduk
Merah jambu atau Biru
Antosianidin 3,5-diglikosida
fluoresensi kuning
Hasil dari KKt 2A ini dapat juga digunakan untuk mengisolasi flavonoid
dengan cara bercak yang sesuai digunting dari kromatogram, lalu bercak yang
sama digabungkan dan setelah digunting menjadi potongan kecil-kecil diekstraksi
dengan pelarut yang sesuai (biasanya digunakan metanol (MeOH)). Bila
diperlukan, hasil pemisahan KKt 1A dapat digabungkan dengan hasil pemisahan
KKt 2A hasil replikasi agar diperoleh flavonoid murni (Markham, 1988).
C. Spektrofotometri
Spektrofotometri merupakan studi mengenai interaksi cahaya dengan
atom-atom atau molekul. Ada dua sifat radiasi elektromagnetik yaitu teori
Gelombang dan teori Korpuskuler. Teori gelombang digunakan untuk
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
20
menerangkan parameter elektromagnetik berupa kecepatan, frekuensi, panjang
gelombang, dan amplitudo.
Untuk menggambarkan interaksi antar radiasi elektromagnetik dengan
benda, maka dianggap berkas sinar sebagai suatu foton (partikel yang bertenaga),
dimana tenaga setiap foton berbanding lurus dengan frekuensi radiasi.
Dinyatakan dengan rumus :
E=h.f
E = h . c/n.λ
ket:
E = tenaga foton ( erg )
h = tetapan Planck ( 6,624 x 10-34 joule det)
f = frekuensi radiasi magnetik ( Hertz )
Serapan cahaya oleh molekul dalam daerah spektroskopi UV tergantung
pada struktur elektromagnetik dari molekul. Spektra UV dari senyawa organik
berkaitan dengan transisi-transisi diantara tingkatan energi elektronik, transisi
tersebut meliputi orbital ikatan dan orbital anti ikatan. Panjang gelombang serapan
merupakan ukuran dari perbedaan-perbedaan energi transisi dari orbital tersebut.
Pemisahan energi terbesar terjadi bila elektron ikatan tereksitasi yang
akan menimbulkan serapan pada daerah serapan 120-200 nm (daerah UV vakum)
dan relatif tidak memberikan penjelasan. Dan diatas 200 nm eksitasi elektron dari
orbital p dan d dan orbital phi (π) terutama terkonjugasi π dapat diukur spektranya
sehingga memberikan keterangan berguna pada struktur molekulnya. Dalam hal
ini spektroskopi UV terbatas pada sistem-sistem terkonjugasi, akan tetapi
mempunyai keuntungan yang selektif dari serapan UV di mana gugus-gugus
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
21
karaktenstik dapat dikenal dalam molekul-molekul yang sangat komplek
Beberapa istilah dalam spektroskopi ultra violet (UV) :
1. Gugus kromofor
Gugus tidak jenuh kovalen yang dapat menyerap sinar tampak dan lembayung
(200-800 nm) yang disebabkan adanya transisi elektron.
2. Gugus auksokrom
Gugus fungsional bcrsifat jenuh yang tidak menyerap sinar diatas 200 nm
akan tetapi jika terikat pada suatu gugus kromofor maka akan menggeser
puncak serapan gugus kromofor tersebut kepanjang gelombang yang lebih
panjang dan mempertinggi intensitasnya.
3. Pergeseran batokromik
Pergeseran puncak serapan ke panjang gelombang yang lebih tinggi.
4. Pergeseran hipsokromik
Pergeseran puncak serapan ke nilai panjang gelombang yang lebih rendah.
5. Efek hiperkromik
Peristiwa bertambah besamya intensitas suatu gugus kromofor.
6. Efek hipokromik
Peristiwa bertambah kecilnya intensitas serapan suatu gugus kromofor.
(Sastrohamidjoyo, 1985)
D. Identifikasi Flavonoid secara Spektrofotometri UV
Penentuan struktur flavonoid akhir-akhir ini banyak dilakukan dengan
cara spektrofotometri. Pada spektrofotometri UV cara ini didasarkan pada
pengetahuan bahwa senyawa flavonoid atau isoflavonoid memiliki sistem
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
22
aromatic terkonjugasi, sehingga menghasilkan serapan spektrum pada daerah UV.
Senyawa flavonoid memberikan 2 puncak serapan utama. Dua puncak utama
tersebut biasanya menunjukkan pita I yang terletak pada panjang gelombang 300380 nm dan pita II terletak pada daerah dengan panjang gelombang 240-280 nm.
Pita 1 menunjukkan absorbsi unluk cincin B dengan sistem sinamoil, sedang pita
II berhubungan dengan absorbsi cincin A yaitu sistem benzoil (Mabry et
al.,1970).
Gambar 4. Pembagian cincin flavonoid (Mabry et al., 1970)
Ket : 1 Komponen penyerap benzoil sebelum garis lurus.
2 Komponen penyerap sinamoil sebelum garis lurus.
Tabel III. Rentangan serapan maksimum Spektrofotometri UV Flavonoid
(Markham, 1988).
No
1
2
3
4
Puncak II
(dalam nm)
250-280
250-280
250-280
245-275
Puncak I
(dalam nm)
310-350
330-360
350-385
310-330 bahu kirakira 320 puncak
Jenis flavonoid
Flavon
Flavonol (3-OH tersubstitusi)
Flavonol (3-OH bebas)
Isoflavon
Isoflavon (5-dioksi 6,7-dioksigenasi)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
23
5
6
7
8
275-295
300-330 bahu
Flavonon dan dihidro flavonol
230-270
340-390
Khalkon
230-270
380-430
Auron
270-280
465-560
Antosianidin dan antosianin
Selain itu hasil spektra dan flavonoid tergantung pada pola hidroksilasi
dan subtitusi senyawa tersebut. Untuk mempelajari cara ini dapat dilihat dari hasil
pergeseran spektrum UV dan spektrum tampak pada rutin. Rutin atau kuersetin 3rutinosida pertama kali diisolasi dari Fagopyrum esculentum dan sampai sekarang
masih digunakan sebagai sumber rutin niaga. Tidak diragukan lagi bahwa dari
semua glikosida kuersetin, rutin paling luas penyebarannya dan mungkin terdapat
pada 25% dari flora setempat. Sumber yang mudah diperoleh termasuk bunga
Magnolia, Viola dan Aesculus hippocastanum, daun tembakau (Nikotiana
tabacum), Rheum, teh dan Phaseolus vulgaris. Bahan tumbuhan yang diperoleh
dari sumber tersebut di atas harus dikumpulkan dan diekstraksi dengan etanol
95% panas (jaringan segar) atau etanol 70% (jaringan kering) selama 30 menit,
lalu ekstrak dipekatkan sampai volume tinggal sedikit (Harborne, 1973).
Menurut Markham (1988), langkah pertama yamg perlu dilakukan untuk
mengidentifikasi
flavonoid
adalah
menentukan
jenis
flavonoid
dengan
memperhatikan:
a. Bentuk umum spektrum metanol (MeOH)
b. Panjang gelombang pita serapan
c. Data kromatografi kertas
Langkah kedua adalah mempertimbangkan arti perubahan spectrum yang
disebabkan oleh berbagai spektrum geser. Makna peubahan yang disebabkan oleh
berbagai pereaksi geser dijelaskan sebagai berikut :
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
24
a. Spektrum Natrium Hidroksida (NaOH)
Spektrum ini merupakan petunjuk “sidik jari” pola hidroksilasi dan
juga bermanfaat untuk mendeteksi gugus hidroksi yang lebih asam dan tidak
tersubtitusi. Degradasi atau pengurangan spektrum setelah waktu tertentu
merupakan petunjuk baik adanya gugus yang peka terhadap basa. Pada
flavonol dan flavon digunakan untuk mendeteksi adanya gugus 3 dan 4,-OH.
b. Spektrum Natrium Asetat (NaOAc)
Natrium asetat hanya menyebabkan pengionan yang berarti pada
gugus hidroksi flavanoid yang paling asam. Jadi natrium asetat digunakan
terutama untuk mendeteksi adanya gugus 7 hidroksi bebas (atau yang setara).
c. Spektrum Natrium Asetat dan Asam Borat (NaOAc/H3BO3)
NaOAc/H3BO3 menjembatani kedua gugus hidroksi pada gugus
orthodihidroksi dan digunakan untuk mendeteksinya.
d. Spektrum Alumunium Klorida dan Asam Klorida (AlCl3 dan HCl)
Pereaksi ini menyebabkan gugus OH pada C-3 dan C-5 flavon dan
flavonol akan membentuk kompleks yang stabil, sedangkan kompleks antara
AlCl3 dan gugus orthodihidroksi bersifat labil sehingga terdekomposisi
dengan penambahan asam. Adanya gugus orthodihidroksi pada cincin B dapat
diketahui dengan penambahan asam terhadap spektra AlCl3. Keberadaan gugus
3-OH dan 5-OH pada flavon dan flavonol dapat diketahui dengan pereaksi ini.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
25
Tabel IV. Penafsiran spektra UV dengan penambahan NaOH (Markham, 1988).
Jenis flavonoid
Flavon
Flavonol
Pergeseran panjang gelombang puncak
I
II
Intensitas menurun
terus
(terjadi peruraian)
Mantap + 40-65nm
Intensitas tidak
menurun
Mantap + 60-65nm
Petunjuk penafsiran
3 dan 4’-OH, o-diOH
pada cincin A dan
pada cincin B: 3-OH
yang berdampingan
4’-OH
3-OH tidak ada 4’OH bebas
Pita baru (bandingkan MeOH) 320-335nm 7-OH
Isoflavon
Tidak ada
Tidak ada OH
pergeseran
dicincin A
Flavanon
Dihidroflavonol
Intensitas menurun o-diOH pada cincin A
dengan
(penurunan lambat :
berjalannya waktu o-diOH pada cincin B
isoflavon)
Bergeser dari kira- Flavonol dan
kira 280 ke 325nm dihidroflavonol
dengan 5,7-OH
Intensitas naik ke
7-OH tanpa 5-OH
330-340nm
bebas
Calkon
+ 80-95nm
4’-OH (auron)
Auron
(intensitas naik)
+ 60-70nm
6-OH tanpa
(intensitas naik)
oksigenasi pada 4’OH (auron)
Pergeseran lebih
6-OH dengan
kecil
oksigenasi pada 4’OH (auron)
+ 60-100nm
4-OH (calkon)
(intensitas naik/
2-OH atau 4’-OH dan
tanpa kenaikan
tanpa –OH
intensitas)
+ 40-50nm
4’-OH (2’-OH atau 4OR juga ada)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
26
Tabel V. Penafsiran spektra UV dengan penambahan NaOAc (Markham, 1988).
Jenis flavonoid
Flavon
Flavonol
Isoflavon
Flavonon
Dihidroflavonol
Calkon
Auron
Pergeseran panjang gelombang
puncak
I
II
+5-20nm
(berkurang bila
ada oksigenasi
pada 6 atau 8)
Intensitas berkurang dengan
bertambahnya waktu
+ 35nm
+ 65nm
Intensitas berkurang dengan
bertambahnya waktu
Pergeseran batokromik atau bahu
pada panjang gelombang yang
lebih panjang
Petunjuk
7-OH
Gugus yang peka
terhadap basa, -OH
pada 6,7 atau 7,8 atau
3,4’
7-OH (dengan 5-OH)
7-OH (tanpa 5-OH)
Gugus yang peka
terhadap basa, -OH
pada 6,7 atau 7,8
4’ dan atau 4-OH
(calkon)
4’ dan atau 6-OH
(auron)
Tabel VI. Penafsiran spektra UV dengan penambahan NaOAc/H3BO3
(Markham,1988).
Jenis flavonoid
Flavon
Flavonol
Isoflavon
Flavonon
Dihidroflavonol
Auron
Calkon
Pergeseran panjang gelombang
puncak
I
II
+ 12-36nm (nisbi
terhadap spektrum
MeOH)
Pergeseran lebih
kecil
+ 10-15nm (nisbi
terhadap
spektrum MeOH)
Pergeseran lebih
kecil
Petunjuk
penafsiran
o-diOH pada
cincin B
o-diOH pada
cincin A (6,7 atau
7,8)
o-diOH pada
cincin A (6,7 atau
7,8)
o-diOH pada
cincin A (6,7 atau
7,8)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
27
Tabel VII. Penafsiran spektra UV dengan penambahan AlCl3 dan AlCl3/HCl
(Markham, 1988).
Jenis flavonoid
Flavon
Flavonol
(AlCl3/HCl)
Pergeseran yang tampak
I
II
+ 35-55nm
+ 17-20nm
Tak berubah
+ 50-60nm
Pergeseran
AlCl3/HCl +
30-40nm
Pergeseran
AlCl3/HCl +
20-25nm
Isoflavon
Flavanon
Dihidroflavonol
(AlCl3/HCl)
(AlCl3)
Auron
Khalkon
(AlCl3/HCl)
(AlCl3)
Antosianidin
Antosianin
(AlCl3)
+ 10-14nm
+ 20-26nm
Pergeseran
AlCl3/HCl +
11-30nm
Pergeseran
AlCl3/HCl +
30-38nm (peka
terhadap
NaOAc)
+ 48-64nm
+ 40 nm
+ 60-70nm
Pergeseran
AlCl3/HCl +
40-70nm
Penambahan
lebih kecil
+ 25-35nm
(pada pH 2-4)
Pergeseran
lebih besar
Petunjuk penafsiran
5-OH
5-OH dengan oksigenasi
pada 6
Mungkin 5-OH dengan
gugus prenil pada 6
Mungkin 3-OH (dengan
atau tanpa 5-OH)
o-diOH pada cincin B
o-diOH pada cincin A
(tambahan pada
pergeseran o-diOH pada
cincin B)
5-OH (isoflavon)
5-OH (flavanon,
dihidroflavonol)
o-diOH pada cincin A
(6,7 dan 7,8)
Dihidroflavonol tanpa 5OH (tambahan pada
sembarang pergeseran odiOH)
2’-OH (khalkon)
2’-OH (khalkon) dengan
oksigenasi pada 3’
4-OH (auron)
o-diOH pada cincin B
mungkin o-diOH pada
cincin A
o-diOH
Banyak o-diOH atau odiOH (3-deoksi
antosianidin)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian non eksperimental dan bersifat
deskriptif komparatif yang dilakukan di laboratorium Farmakognosi Fitokimia,
Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
B. Bahan Penelitian
1. Bahan tanaman
Buah makuta dewa diperoleh dari daerah Samigaluh, Kulon Progo,
Yogyakarta. Diambil buahnya yang benar-benar segar (tidak busuk) dan telah
masak, dengan spesifikasi kulit buah bersih, agak benjol-benjol, berwarna
merah maron, dan daging buah terasa agak lunak bila ditekan.
2. Bahan kimia
Semua bahan kima yang digunakan dalam penelitian berderajat pro
analis (p.a) produksi MERCK kecuali aqua destilata. Bahan-bahan tersebut
adalah metanol, asam asetat, amonia, t-butanol, kloroform, dietil eter, natrium
hidroksida, natrium asetat, aluminium klorida dan asam klorida.
3. Bahan untuk kromatografi kertas
Bahan untuk identifikasi senyawa flavanoid dengan KKt adalah
kertas Whatmann no 1.
28
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
29
C. Alat
a. Alat penyarian: alat-alat gelas, alat parut, kain saring, timbangan elektrik
(Mettler Toledo, Switzerland), penangas air.
b. Alat kromatografi dan spektroskopi: bejana kromatografi, lampu UV 366 nm,
pipa kapiler 5 mikroliter, spektrofotometer UV Thermo Spectronic Genesys 6
tipe split beam.
D. Rancangan Penelitian
Langkah-langkah dalam penelitian meliputi :
1. Determinasi
Determinasi tanaman makuta dewa mengacu pada pustaka.
2. Pembuatan perasan daging buah makuta dewa
Buah makuta dewa masak yang masih segar dicuci dengan air sampai
bersih, dibuang bijinya, kemudian diparut bersama kulitnya. Hasil parutan
diperas dengan bantuan kain saring sampai seluruh sari buah makuta dewa
terperas habis.
3. Reaksi warna untuk flavonoid
Perasan daging buah makuta dewa diuji menggunakan pereaksi : tiga
tetes larutan pada drop plate ditambah 1 tetes larutan AlCl3, tiga tetes larutan
pada drop plate tambah 1 tetes larutan NaOH 1%, dan tiga tetes larutan pada
drop plate ditambah 2 tetes HCI pekat dan serbuk Mg.
Adanya
perubahan
flavonoidnya.
warna
dicatat
untuk
memperkirakan
golongan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
30
4. Identifikasi Pendahuluan dengan Kromatografi Kertas Satu Arah (KKt 1A)
Sebanyak 10 ml perasan daging buah makuta dewa ditambah 10 ml
kloroform, fase kloroform dibuang ulangi sampai 3 kali. Untuk fase air
ditambali eter 10 ml lalu dipisahkan. Hasil yang didapatkan berupa fraksi eter
(sampel 2) dan fraksi air (sampel 3). Masing-masing fraksi diuapkan hingga
tinggal sedikit. Selanjutnya masing-masing fraksi ditotolkan pada kertas
Whatman no 1 dengan menggunakan pipa kapiler ukuran 5 µi dan dielusi
dengan t-butanol asam asetat : air (TBA 3:1:1). Setelah terelusi pada batas
yang ditentukan lalu diangkat, keringkan. Catat adanya warna bercak di bawah
penyinaran UV 366 nm sebelum dan sesudah diuapi dengan amonia.
5. Kromatografi Kertas Dua Dimensi (KKt 2A)
Dalam kromatografi ini digunakan kertas Whatman no 1 ukuran 20 x
20 cm. Dimana larutan perasan daging buah makuta dewa dalam larutan eter
ditotolkan pada pojok kanan bawah kertas dengan jarak 1 cm dari tepi dan
dasar kertas. Penotolan dilakukan dengan mikro pipet. Pengembangan tahap
pertama digunakan t-butanol asam asetat : air (TBA 3:1:1). Setelah terelusi
pada batas yang ditentukan lalu kertas diangin-anginkan hingga kering.
Selanjutnya dilakukan pengembangan tahap kedua. Pada pengembangan tahap
kedua digunakan asam asetat 15%. Setelah terelusi pada batas yang ditentukan
kertas diambil dan diangin-anginkan hingga kering. Adanya bercak
kromatogram yang terjadi di amati dibawah sinar UV 366 nm sebelum dan
sesudah diuapi amonia. Harga Rf dicatat pada masing-masing bercak untuk
tiap tahap pengembang.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
31
Hasil dan KKt 2A ini dapat juga digunakan unluk mengisolasi
flavonoid dengan cara bercak yang sesuai digunting dari kromatogram, lalu
bercak yang sama digabungkan dan setelah digunting menjadi potongan kecilkecil diekstraksi dengan pelarut yang sesuai (digunakan metanol (MeOH)).
Bila diperlukan, hasil pemisahan KKt 1A dapat digabungkan dengan hasil
pemisahan KKt 2A hasil replikasi agar diperoleh flavonoid murni (Markham,
1988).
6. Identifikasi Isolat Flavonoid dengan Spektrofotometri UV
Isolat diperoleh dari pemotongan masrng-masing bercak pada kertas
kromatogram (KKt 2 A) yang telah dipisahkan. Kertas dipotong kecil-kecil
kemudian direndam dalam 10 ml metanol PA selama 24 jam, kemudian disaring
dengan kertas saring (sebagai isolat).
Identifikasi
dan
penentuan
struktur
isolat
flavonoid
dengan
metode spetrofotometri UV berturut-turut dilakukan pemberian pereaksi geser
yaitu NaOH, H3BO3, AlCl3, HCl dan NaOAc dengan tahap-tahap:
a. Tahap I
Larutan isolat dalam metanol dimasukkan dalam kuvet sampel. Pada
kuvet blangko dimasukkan metanol. Kemudian dibaca serapannya bersamasama pada gelombang 200-500 nm.
b. Tahap II
Larutan pada kuvet tahap 1 ditambahkan 3 tetes NaOH 2M dibaca
serapannya pada panjang gelombang 200-500 nm. Setelah dibiarkan selama 5
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
32
menit kemudian dibaca serapannya kembali untuk mengetahui kemungkinan
terjadinya dekomposisi flavonoid.
a. Tahap III
Larutan isolat flavonoid yang baru dalam kuvet sampel ditambah 3
tetes AlCl3 kemudian dibaca serapannya pada panjang gelombang 200-500
nm.
b. Tahap IV
Larutan pada kuvet sampel tahap III ditambahkan 3 tetes pereksi HCl
kemudian dibaca serapannya pada panjang gelombang 200-500 nm.
c. Tahap V
Larutan isolat flavonoid dalam kuvet sampel ditambah serbuk NaOAc
anhidrat sebanyak kira-kira 2 mm dari dasar kuvet, digojog dan dibaca
serapannya pada panjang gelombang 200-500 nm.
d. Tahap VI
Larutan pada kuvet sampel tahap V ditambahkan serbuk H3BO3
dengan jumlah setengah dari jumlah penambahan NaOAc, digojog dan dibaca
serapannya pada panjang gelombang 200-500 nm.
F. Analisis Hasil
Kandungan flavonoid dalam fraksi eter perasan daging buah makuta
dewa hasil KK 2A dianalisi secara deskriptif, dilanjutkan dengan spektroskopi UV
untuk penafsiran struktur senyawa flavonoid. Identifikasi struktur senyawa
flavonoid dibandingkan dengan data dari acuan (Mabry, 1970; Markham, 1988),
dan (Harborne, 1987).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.Determinasi
Determinasi tanaman dilakukan untuk mengetahui bahwa tanaman yang
digunakan dalam penelitian adalah sesuai yang dimaksud. Determinasi dilakukan
dengan mencocokan tanaman dengan kunci-kunci determinasi yang ada dalam buku
Flora of Java karangan Backer dan Van den Brink (1963), dan hasilnya adalah
Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl. Kunci-kunci determinasi tanaman berdasarkan
buku Flora of Java karangan Backer dan Van den Brink (1963) adalah sebagai
berikut:
1b-2b-3b-4b-12b-13b-14b-17b-18b-19b-20b-21b-22b-23b-24b-25b-26b-27b-799b800b-801b-802b-803b-804b-805c-806b-807b-809b-810b-811a-812b-815b-816b818b-820b-821b-822a-823b-824b-825b-826b-829b-830b-831b-832b-833b-834a835a-836a-837c-851b-856b-857a-858b-860b-872b-874b-875b-876b-877d-933b934a-935b-936b-937a-938c-939a-940a-941b-942b-64. Familia Thymelaeaceae-lagenus1.Phaleria-la-2b-Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.
B.Pembuatan Perasan Daging Buah Makuta Dewa
1. Pengumpulan dan pencucian bahan
Buah makuta dewa yang telah masak dan masih segar diperoleh dari daerah
Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta dengan spesifikasi kulit buah bersih, agak
benjol-benjol, berwarna merah maron, dan daging buah terasa agak lunak bila
33
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
34
ditekan. Penggunaan buah makuta dewa yang telah masak dimaksudkan agar
memudahkan dalam proses pemerasan karena daging buah makuta dewa yang telah
masak dapat dipastikan terasa agak lunak sehingga dalam pembuatan perasan tersebut
dapat diperoleh perasan yang cukup untuk penelitian selain itu juga diharapkan
diperoleh kandungan senyawa kimia yang terdapat dalam buah telah optimal.
Sebelumnya dilakukan pencucian dengan air bersih yang mengalir secara berulang
kali untuk memastikan bahwa buah makuta dewa benar-benar bersih dari tanah, debu,
pasir atau kotoran lainnya. Air yang mengalir untuk memastikan kotoran yang
terbilas tidak menempel kembali pada buah. Setelah dicuci kemudian antara daging
buah dan biji dipisahkan dan diambil daging buahnya beserta kulit buahnya.
2. Pembuatan perasan
Daging buah beserta kulitnya kemudian diparut sehingga diperoleh hasil
parutan yang selanjutnya diperas dengan bantuan kain saring sampai seluruh sari
daging buah makuta dewa terperas habis, cukup untuk mendapatkan perasan yang
dibutuhkan dalam penelitian. Hasil perasan selanjutnya digunakan untuk langkahlangkah selanjutnya dalam penelitian ini.
C.Pemeriksaan Flavonoid dengan Reaksi Warna
Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan ada tidaknya flavonoid dalam
perasan daging buah makuta dewa. Dari pemeriksaan tersebut juga dapat disimpulkan
perkiraan golongan flavonoid yang terkandung dalam air perasan daging buah makuta
dewa.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
35
Tabel VIII. Reaksi warna flavonoid untuk menentukan interpretasi golongan
flavonoid dibandingkan dengan pustaka Markham (1988).
Pereaksi
Perubahan warna
Pustaka
AlCl3
Merah
Kuning
NaOH
Coklat
Kuning/hijau kuning
Serbuk Mg-HCl
Coklat kemerahan
Kuning/jingga/merah
Dengan penambahan pereaksi AlCl3, bila disemprotkan pada KKt yang
kemudian dikeringkan akan menunjukkan semua 5-hidroksi-flavonoid sebagai bercak
berfluoresensi kuning bila dilihat dibawah sinar UV (366 nm), selain itu bercak yang
semula tak tampak menjadi terlihat (Markham, 1988). Dari hasil penelitian
menunjukan adanya perubahan warna perasan menjadi merah setelah penambahan
AlCl3, ini menunjukan tidak adanya 5-hidroksi-flavonoid. Penambahan pereaksi
NaOH, menunjukan 3’,4’-dihidroksi-flavon dan 3’,4’-dihidroksi-flavonol sebagai
bercak jingga (UV atau tampak) dan 4’-hidroksi-flavon dan 4’-hidroksi-flavonol
berupa hijau kuning. Hasil penelitian memberikan warna coklat pada perasan setelah
penambahan pereaksi NaOH, ini menunjukkan bahwa pada perasan tidak terdapat
jenis-jenis senyawa flavonoid seperti diatas. Penambahan pereaksi serbuk Mg-HCl
menunjukan adanya gugus hidroksi fenol bila terlihat kuning, jingga, atau merah.
Dari hasil penelitian menunjukan warna coklat kemerahan, sehingga dapat
diinterpretasikan bahwa perasan daging buah makuta dewa memiliki gugus hidroksi
fenol.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
36
Berdasarkan interpretasi diatas dapat disimpulkan bahwa perasan daging
bvuah makuta dewa terdapat senyawa flavonoid yang mempunyai gugus hidroksi
fenol pada strukturnya.
D.Identifikasi Pendahuluan Flavonoid dengan KKt 1A
Dalam identifikasi ini digunakan 10 ml perasan daging buah makuta dewa
difraksinasi secara bertingkat dengan 10 ml kloroform. Fase kloroform dibuang,
penambahan ini diulang sampai tiga kali. Penggunaan kloroform disini untuk
menghilangkan senyawa-senyawa yang kurang polar dalam fraksi air misalnya
lemak, terpena, klorofil, dan xantofil (Mursyidi, 1990). Fraksi air yang didapat
kemudian difraksinasi kembali menggunakan 10 ml dietil eter, kemudian dipisahkan.
Hasil yang didapatkan berupa fraksi eter (sebagai sampel 2) dan fraksi air (sebagai
sampel 3). Kedua fraksi ditotolkan diatas kertas Whatmann no 1 (ukuran 5x15 cm)
dengan pembanding rutin untuk identifikasi pendahuluan keberadaan flavonoid.
Penotolan bercak menggunakan pipa kapiler ukuran 5 µl, dan diulang
sebanyak tiga kali agar didapatkan bercak yang dapat dideteksi. Apabila
penotolannya sedikit maka bercak yang terbentuk mungkin akan sukar dideteksi
sedangkan apabila penotolannya banyak, maka akan terjadi pencorengan sehingga
resolusi menjadi jelek. Pengembangan satu arah ini dielusi menggunakan fase gerak
t-butanol : asam asetat : air (TBA 3:1:1). Pengembangan dilakukan dengan jarak10
cm dari totolan awal, selanjutnya bercak yang didapatkan dilihat dibawah sinar UV
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
37
366 nm sebelum dan sesudah diuapi amonia. Hasil yang didapatkan berupa warna
bercak dan harga Rf untuk masing-masing bercak.
Rf
1,00
A
F
C
0,50
B
E
D
0,00
Spl 1
Spl 2
Spl 3
Gambar 5. Kromatogram dari bercak KKt 1A dari masing-masing sampel.
Ket. Sampel 1
: Rutin (pembanding)
Sampel 2
: Fraksi eter
Sampel 3
: Fraksi air
Fase diam
: kertas Whatmann no. 1 (5x15 cm)
Fase gerak
: t-butanol-asam asetat-air (TBA 3:1:1)
Pengembangan
: ± 10 cm
Deteksi
: sinar UV 366 nm
Warna bercak A
: ungu
B
: kuning
C
: ungu
D
: coklat
E
: kuning
F
: ungu
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
38
Tabel IX. Data kromatogram dari bercak KKt 1A masing-masing sampel dengan fase
diam kertas Whatmann no 1 dan fase gerak TBA (3:1:1). Deteksi dengan sinar UV
366 nm sebelum dan sesudah diuapi amonia, serta interpretasi warna bercak
(Markham,1988).
Warna bercak
Bercak
Interpretasi tipe
Sebelum diuapi
Sesudah diuapi
sampel
flavonoid berdasar warna
Rf
amonia
amonia
bercak
Cahaya
UV 366 Cahaya UV 366
tampak
nm
tampak
nm
a. flavon atau flavonol
standar
0,51
Kuning
Ungu
Kuning Ungu
dengan
3-OH
tersubstitusi dan 5-OH
bebas tetapi tanpa 4’OH bebas
b. flavon atau flavonol
dengan
3-OH
tersubstitusi
yang
mengandung
5-OH
dengan 6-OH atau 8OH
c. Isoflavon,
dihidroflavon,
biflavonil dan flavonon
dengan 5-OH
d. Calkon dengan 2 atau
6-OH
tetapi
tidak
memiliki 2 atau 4-OH
bebas
B
0,45
Tidak
tampak
Kuning
Tidak
tampak
Kuning
Fraksi
eter
C
0,51
Tidak
tampak
Ungu
Tidak
tampak
Ungu
a. Flavonol dengan 3OH bebas dan atau
tanpa 5-OH bebas
(dihidroflavonol)
b. Auron tanpa 4’-OH
bebas dan flavon tanpa
5-OH bebas
c. Flavanol dengan 3-OH
bebas dan dengan atau
tanpa 5-OH bebas
a. flavon atau flavonol
dengan
3-OH
tersubstitusi dan 5-OH
bebas tetapi tanpa 4’OH bebas
b. flavon atau flavonol
dengan
3-OH
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
39
tersubstitusi
yang
mengandung
5-OH
dengan 6-OH atau 8OH
c. Isoflavon,
dihidroflavon,
biflavonil dan flavonon
dengan 5-OH
d. Calkon dengan 2 atau
6-OH tetapi tidak
memiliki 2 atau 4-OH
bebas
Fraksi
air
D
0,22
E
0,41
F
0,58
Tidak
tampak
Kuning
Tidak
tampak
Coklat
Kuning
Ungu
Tidak
tampak
Kuning
Tidak
tampak
Coklat
Kuning
Ungu
Tidak dapat
diinterpelasikan
a. Flavonol dengan 3OH bebas dan atau
tanpa 5-OH bebas
(dihidroflavonol)
b. Auron tanpa 4’-OH
bebas dan flavon tanpa
5-OH bebas
c. Flavanol dengan 3-OH
bebas dan dengan atau
tanpa 5-OH bebas
a. flavon atau flavonol
dengan
3-OH
tersubstitusi dan 5-OH
bebas tetapi tanpa 4’OH bebas
b. flavon atau flavonol
dengan
3-OH
tersubstitusi
yang
mengandung
5-OH
dengan 6-OH atau 8OH
c. Isoflavon,
dihidroflavon,
biflavonil dan flavonon
dengan 5-OH
d. Calkon dengan 2 atau
6-OH tetapi tidak
memiliki 2 atau 4-OH
bebas
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
40
Penggunaan uap amonia dalam pemeriksaan awal KKt 1A untuk memastikan
ada tidaknya flavonoid yang terkandung dalam fraksi air maupun fraksi eter. Warna
kuning yang dapat dilihat dalam sinar tampak setelah bercak diuapi amonia
menunjukan adanya flavonoid. Setelah itu bercak diamati dibawah sinar UV 366 nm
untuk penafsiran golongan flavonoid berdasarkan warna bercak yang tampak.
Dari hasil pengamatan KKt 1A dengan fase gerak TBA (3:1:1) sebelum
diuapi amonia pada sinar UV 366 nm pada masing-masing bercak menunjukan warna
yang berbeda. Bercak A berwarna ungu, bercak B berwarna kuning, bercak C
berwarna ungu, bercak D berwarna coklat, bercak E berwarna kuning, dan bercak F
berwarna ungu. Sedangkan setelah diuapi amonia pada sinar UV 366 nm tidak
menunjukan perubahan warna atau perubahan warna sedikit, dimana bercak A
berwarna ungu, bercak B berwarna kuning, bercak C berwarna ungu, bercak D
berwarna coklat, bercak E berwarna kuning, dan bercak F berwarna ungu.
Menurut Mabry et al (1970), dari hasil pengamatan bercak tersebut dapat
diperkirakan tipe flavonoid apa yang terkandung dalam masing-masing bercak.
Bercak C dan F kemungkinan merupakan suatu flavonoid tipe flavon atau flavonol
dengan 3-OH tersubstitusi dan 5-OH bebas tetapi tanpa 4’-OH bebas; flavon atau
flavonol dengan 3-OH tersubstitusi yang mengandung 5-OH dengan 6-OH atau 8OH; isoflavon; dihidroflavon; biflavonil dan flavonon dengan 5-OH; calkon dengan
2 atau 6-OH tetapi tidak memiliki 2 atau 4-OH bebas. Sedangkan bercak B dan E
menunjukan flavonoid tipe flavonol dengan 3-OH bebas dan atau tanpa 5-OH bebas
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
41
atau dihidroflavonol; auron tanpa 4’-OH bebas dan flavon tanpa 3-OH bebas;
flavanol dengan 3-OH bebas dan dengan atau tanpa 5-OH bebas. Untuk bercak
sampel D tidak dapat diinterpretasikan, kemungkinan bercak tersebut bukan
merupakan golongan flavonoid. Untuk identifikasi warna dan harga Rf masingmasing bercak dapat dilihat pada tabel X.
E.Identifikasi dan Isolasi Flavonoid Fraksi Eter dengan KKt 2A
Identifikasi flavonoid dengan KKt 2A ini berguna untuk mengetahui apakah
flavonoid tersebut merupakan aglikon atau glikosida. Pada identifikasi dengan KKt
1A pemisahan bercak tidak terpisahkan dengan baik karena terdapat bercak yang
terdiri atas dua bercak/lebih sehingga diperlukan pemisahan yang lebih spesifik lagi
yaitu dengan KKt 2A (Markham, 1988).
Dalam identifikasi flavonoid ini digunakan kertas Whatmann no 1 ukuran 20
x 20 sebagai fase diamnya sedangkan untuk fase geraknya digunakan dua fase gerak.
Fase gerak yang pertama digunakan t-butanol : asam asetat : air (TBA 3:1:1)
sedangkan fase gerak kedua digunakan larutan asam asetat 15%. Fase diam kertas
Whatmann no 1 karena jumlah pemisahan
yang relatif kecil serta dibutuhkan
kecepatan aliran yang lebih tinggi, apabila menggunakan kertas Whatmann yang lain
seperti kertas Whatmann no.3 yang mempunyai ketebalan lebih besar maka
kecepatan alirannya akan semakin turun, sehingga dibutuhkan waktu yang relatif
lebih lama dalam identifikasi ini. Penggunaan TBA (3:1:1) sebagai fase gerak I dan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
42
larutan asam asetat 15%v/v (fase gerak II) merupakan fase gerak (pengembang) yang
terbaik dari segi kekuatan pelarut dan pemisahan bercak.
Hasil bercak yang diperoleh diamati dibawah sinar UV 366 nm, lalu dipetakan
bercak yang diperoleh diatas kertas dan dicatat warna bercaknya (sebelum dan
sesudah uapi amonia). Hasil dibandingkan dengan pustaka yang ada untuk
memperkirakan jenis flavonoid apa yang terkandung dalam masing-masing bercak.
Rf
1,0
A
B
C
D
Rf
0.50
E
G
F
II
I
Rf
0.0
Rf
0.50
Rf
1.0
Gambar 6. Kromatogram KKt 2A fraksi eter air perasan daging makuta dewa
Fase diam
Fase gerak I
II
Pengembangan
: kertas Whatmann no. 1 (20x20 cm)
: t-butanol-asam asetat-air (TBA 3:1:1)
: asam asetat 15% v/v
: ± 15 cm
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
43
Tabel X. Data harga Rf dan deteksi sinar UV 366 nm dari bercak-bercak pada
kromatogram KKt 2A fraksi eter ekstrak metanol.
Bercak
sampel
IIA
Harga Rf
Pengembangan Pengembangan
TBA (3:1:1 v/v)
asam asetat
15%
0,73
0,82
Warna bercak UV 366 nm
Sebelum diuapi Sesudah diuapi
amonia (NH3)
amonia (NH3)
Ungu tua
IIB
0,45
0,58
Ungu tua
IIC
IID
0,43
0,37
0,51
0,33
Coklat
Kuning
IIE
0,42
0,21
IIF
0,73
0,17
IIG
0,35
0,21
Fluoresensi Biru
muda
Fluoresensi Biru
muda
Biru tua
Tanpa
perubahan
warna
Tanpa
perubahan
warna
Coklat
Tanpa
perubahan
warna
Fluoresensi biru
hijau
Fluoresensi biru
hijau
Fluoresensi biru
hijau
Tabel XI. Interpretasi struktur flavonoid menurut warna bercak KKt 2A dibawah
sinar UV 366 nm sebelum dan sesudah diuapi amonia (NH3).
Bercak
IIA
Deteksi UV 366
nm sebelum
diuapi amonia
(NH3)
Ungu tua
Deteksi UV 366 nm
sesudah diuapi
amonia (NH3)
Tanpa perubahan
warna
Interpretasi menurut Markham
(1988)
a. Biasanya flavon atau flavonol
tersubstitusi pada 3-O
mempunyai 5-OH tetapi tanpa
4’-OH bebas.
b. Beberapa 6-OH atau 8-OH
flavon dan flavonol ersubstitusi
pada 3-O serta mengandung 5OH.
c. Isoflavon, dihidroflavonol,
biflavonil dan beberapa
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
44
IIB
Ungu tua
Tanpa perubahan
warna
IIC
IID
Coklat
Kuning
Coklat
Tanpa perubahan
warna
IIE
Fluoresensi Biru
muda
Fluoresensi biru
hijau
flavanon yang mengandung 5OH.
d. Khalkon yang mengandung 2’atau 6’-OH tetapi tidak
mengandung 2-OH atau 4-OH
bebas.
a. Biasanya flavon atau flavonol
tersubstitusi pada 3-O
mempunyai 5-OH tetapi tanpa
4’-OH bebas.
b. Beberapa 6-OH atau 8-OH
flavon dan flavonol
tersubstitusi pada 3-O serta
mengandung 5-OH.
c. Isoflavon, dihidroflavonol,
biflavonil dan beberapa
flavanon yang mengandung 5OH.
d. Khalkon yang mengandung 2’atau 6’-OH tetapi tidak
mengandung 2-OH atau 4-OH
bebas.
Tidak dapat diinterpretasikan
a. Flavonol yang mengandung 3OH bebas dan mempunyai atau
tak mempunyai 5-OH bebas
(kadang-kadang berasal dari
dihidroflavonol)
b. Auron yang mengandung 4’OH bebas dan flavanon tanpa
5-OH bebas
c. Flavonol yang mengandung 3OH bebas dengan atau tanpa 5OH bebas
a. Flavon dan flavanon yang tak
mengandung 5-OH, misalnya 5OH-glikosida
b. Flavonol tanpa 5-OH bebas tetapi
tersulih pada 3-OH
c. Isoflavon yang tak mengandung 5OH bebas
d. Auron yang tak mengandung 4’OH bebas dan flavanon tanpa 5-
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
45
IIF
Fluoresensi Biru
muda
Fluoresensi biru
hijau
IIG
Biru tua
Fluoresensi biru
hijau
OH bebas.
e. Flavonol yang mengandung 3-OH
bebas dan disertai atau tanpa 5OH bebas
a. Flavon dan flavanon yang tak
mengandung 5-OH, misalnya 5OH-glikosida
b. Flavonol tanpa 5-OH bebas tetapi
tersulih pada 3-OH
c. Isoflavon yang tak mengandung 5OH bebas
d. Auron yang tak mengandung 4’OH bebas dan flavanon tanpa 5OH bebas
e. Flavonol yang mengandung 3-OH
bebas dan disertai atau tanpa 5-OH
bebas
a. Flavon dan flavanon yang tak
mengandung 5-OH, misalnya 5OH-glikosida
b. Flavonol tanpa 5-OH bebas tetapi
tersulih pada 3-OH
c. Isoflavon yang tak mengandung 5OH bebas
d. Auron yang tak mengandung 4’OH bebas dan flavanon tanpa 5OH bebas
e. Flavonol yang mengandung 3-OH
bebas dan disertai atau tanpa 5OH bebas
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
46
Gbr 7. Daerah penyebaran bercak-bercak dari kromatogram hasil KKt 2A
dibandingkan dengan peta penyebaran bercak flavonoid menurut Markham (1988)
Tabel XII. Penggolongan daerah penyebaran bercak-bercak menurut kromatogram
KKT 2A berdasar pada pola penyebaran bercak menurut Markham (1988).
Bercak
Daerah penyebaran
Interpretasi jenis flavonoid
IIA
Flavonoid sulfat
Flavonol tri-O-glikosida (3,7)
IIB
Flavon C- dan C-/O-glikosida Isoflavon 7-O-diglikosida
Isoflavon 7-O-monoglikosida
IIC
Flavon C- dan C-/O-glikosida Isoflavon 7-O-diglikosida
Isoflavon 7-O-monoglikosida
Flavonol 3-O-diglikosida
Katekin/Epikatekin
Flavonol 3-O-monoglikosida
Dihidroflavonol 3-O-monoglikosida
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
47
IID
IIE
IIF
IIG
Flavon C- dan C-/O-glikosida
Flavon O-monoglikosida
Flavonol 7-O-monoglikosida
Katekin/Epikatekin
Dihidroflavonol aglikon
Flavon O-monoglikosida
Flavonol 7-O-monoglikosida
Flavon C- dan C-/O-glikosida Flavon di-O-glikosida
Flavonol 7-O-diglikosida
Flavonol 3-O-diglikosida
Katekin/Epikatekin
Flavonol 3-O-monoglikosida
Flavon O-monoglikosida
Flavonol 7-O-monoglikosida
Flavon C- dan C-/O-glikosida Flavon O-monoglikosida
Flavonol 7-O-monoglikosida
Flavon C- dan C-/O-glikosida Flavon O-monoglikosida
Flavonol 7-O-monoglikosida
F.Spektroskopi Ultra Violet
Bercak-bercak yang ditunjukan dari kromatografi kertas dua arah ( KKt 2A)
dipotong kecil-kecil kemudian dipisahkan sesuai warna masing-masing bercak.
Didapatkan tiga macam bercak yang telah dikelompokan sesuai warna yang tampak
pada KKt 2A sebelum dan sesudah diuapi amonia (NH3), yaitu bercak warna kuning
(bercak IID); bercak warna biru (bercak IIE, IIF, IIG); dan bercak warna ungu
(bercak IIA dan IIB). Sedangkan bercak warna coklat (bercak IIC), tidak bisa
diinterpretasikan sebagai senyawa flavonoid sehingga tidak dapat digunakan untuk
bahan pemeriksaan flavonoid. Dalam pustaka acuan, tidak ada senyawa flavonoid
yang menunjukan warna bercak coklat pada KKt2A dibawah sinar UV 366 nm
sebelum dan sesudah diuapi amonia (Mabry et al., 1962). Setelah itu potongan kertas
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
48
hasil KKt2A yang telah dikelompokan sesuai warna masing-masing bercak
dimasukan dalam falkon dan dilarutkan dengan 10 ml metanol p.a. untuk dianalisis
secara spektroskopi UV. Sebelum melakukan analisis spektroskopi UV harus
dipersiapkan pereaksi-pereaksi geser yang akan digunakan lebih dahulu. Pereaksipereaksi geser yang digunakan adalah Natrium metoksida (NaOMe) atau Natrium
hidroksida (NaOH) 2M, Aluminium klorida (AlCl3), Asam klorida (HCl) Natrium
asetat
(NaOAc),
dan
Asam
borat
(H3BO3).
Analisis
dilakukan
dengan
membandingkan spektrum yang diperoleh dari berbagai pereaksi geser diatas dengan
diinterpretasikan kemungkinan struktur flavonoidnya berdasarkan literatur.
Langkah-langkah untuk menginterpretasikan spektrum sehingga diperoleh
suatu struktur flavonoid adalah dengan memperhatikan data yang diperoleh dari KKt
2A, bentuk umum dari spektrum isolat flavonoid dalam MeOH, dan panjang
gelombang pita serapan yang diperoleh dari spektrum yang dihasilkan setelah
penambahan pereaksi-pereaksi geser. Untuk interpretasi akhir identifikasi flavonoid
dilakukan dengan cara menggabungkan data hasil spektroskopi UV dengan hasil
pemetaan KKt 2A dan identifikasi warna pendahuluan.
Spektrum isolat flavonoid dalam metanol ditambah dengan pereaksi geser
NaOH 2M merupakan spektrum flavonoid yang gugus hidroksi fenolnya sampai
batas tertentu terionisasi, sehingga spektrum ini merupakan petunjuk pola hidroksilasi
untuk mendeteksi gugus hidroksi yang lebih asam dan tidak tersubstitusi. Adanya
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
49
kemungkinan degradasi atau pengurangan kekuatan spektrum setelah waktu tertentu
merupakan petunjuk adanya gugus yang peka terhadap basa.
Spektrum isolat flavonoid dalam metanol ditambah pereaksi geser AlCl3 dan
AlCl3/HCl karena membentuk komplek tahan asam antara gugus hidroksi dan keton
yang bertetangga dan membentuk komplek tidak tahan terhadap asam dengan gugus
orto dihidroksi, maka pereaksi ini dapat digunakan untuk mendeteksi kedua gugus
tersebut. Spektrum isolat flavonoid dalam metanol ditambah dengan pereaksi geser
AlCl3 merupakan penjumlahan pengaruh semua komplek terhadap spektrum,
sedangkan spektrum isolat flavonoid dalam metanol ditambah dengan pereaksi geser
AlCl3/HCl hanya merupakan pengaruh komplek hidroksi-keto.
Spektrum isolat flavonoid dalam metanol ditambah dengan pereaksi geser
NaOAc menyebabkan pengionan pada gugus hidroksi flavonoid yang paling asam,
pereaksi ini digunakan untuk mendeteksi adanya gugus 7-hidroksi bebas. Spektrum
isolat flavonoid dalam metanol ditambah dengan pereaksi geser NaOAc/H3BO3
menjembatani kedua gugus hidroksi pada gugus orto dihidroksi dan digunakan untuk
mendeteksi gugus orto dihidroksi.
Tabel XIII. Data hasil Spektroskopi UV dari isolat warna kuning (K)
Pereaksi
Interpretasi struktur flavonoid
Serapan ( λ )
Pergeseran
nm
Pita II Pita I
Pita II Pita I
MeOH
212
274 bh
Tidak bisa diinterpretasikan
NaOH
217
289 bh
+5
+15 Tidak bisa diinterpretasikan
AlCl3
218
272 bh
+6
-2
Tidak bisa diinterpretasikan
AlCl3/HCl
211
273 bh
-1
-1
Tidak bisa diinterpretasikan
NaOAc
224
271 bh
+12
-3
Tidak bisa diinterpretasikan
NaOAc/H3BO3 224
271 bh
+12
-3
Tidak bisa diinterpretasikan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
50
Keterangan bh : bahu
Pada analisis UV, isolat K dalam metanol serapannya 274 nm (pita I)
dan 212 nm (pita II), tidak dapat diinterpretasikan karena tidak termasuk dalam
rentang serapan spektrum UV-tampak flavonoid berdasarkan acuan pustaka
(Markham, 1988). Hal ini menunjukan bahwa isolat K tidak dapat diidentifikasi jenis
flavonoidnya.
Tabel XIV. Data hasil Spektroskopi UV dari isolat warna ungu (U)
Pereaksi
Serapan ( λ ) nm
Pergeseran
Interpretasi struktur flavonoid
Pita II
Pita I Pita II Pita I
MeOH
246
283 bh
Isoflavon
Isoflavon (5-deoksi-6,7dioksigenasi)
Khalkon
Auron
NaOH
220
322 bh
-26
+39 Tidak bisa diinterpretasikan
AlCl3
218
279 bh
-28
-4
Tidak bisa diinterpretasikan
AlCl3/HCl
217
278 bh
-29
-5
Tidak bisa diinterpretasikan
NaOAc
217
279 bh
-29
-4
Tidak bisa diinterpretasikan
NaOAc/H3BO3
274
282 bh
+28
-1
o-diOH pada cincin A (6,7 atau
7,8)
Keterangan bh : bahu
Pada analisis UV, isolat U dalam metanol serapannya 283 nm (pita I) dan 246
nm (pita II) menunjukan bahwa isolat U mengalami metilasi/glikosilasi (terutama
3,5,7 dan 4’-hidroksil) yang mengakibatkan pergeseran pita ke panjang gelombang
yang lebih rendah. Selain itu dengan adanya puncak kedua dalam pita II (bahu)
sebagai bukti bahwa pada flavon dan flavonol ada sistem 3’,4’-diOH. Dengan melihat
hasil dari pita II, data spektrum ini menunjukan bahwa isolat U mengarah pada
golongan Isoflavon, Isoflavon (5-deoksi-6,7-dioksigenasi), Khalkon, Auron. Pada
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
51
penambahan NaOH 2M pita serapan 220 nm, 322 nm. Pergeseran hipsokromik pada
pita II sebesar -26 nm (dari 246 nm ke 220 nm) dan pergeseran batokromik pada pita
I sebesar +39 nm (dari 283 nm ke 322 nm), pergeseran ini tidak bisa
diinterpretasikan.
Pada penambahan AlCl3 dalam isolat U pita serapan 218 nm, 279 nm terjadi
pergeseran hipsokromik pada pita II sebesar -28 nm (dari 246 nm ke 218 nm) dan
pada pita I terjadi pergeseran hipsokromik sebesar -4 nm (dari 283 nm ke 279 nm),
pergeseran ini tidak bisa diinterpretasikan. Hal ini dapat dijelaskan bahwa tidak ada
gugus orto dihidroksi pada cincin B dan tidak ada gugus hidroksi pada C-5.
Pada penambahan HCl pada isolat U yang sudah ditambah AlCl3 (AlC3/HCl)
diperoleh pita 217 nm, 278 nm terjadi pergeseran hipsokromik pada pita II sebesar 29 nm (dari 246 nm ke 217 nm), hal ini tidak bisa diinterpretasikan. Dapat dijelaskan
bahwa tidak ada gugus hidroksi pada C-3 maupun pada C-5 yang bisa bereaksi
dengan gugus keton membentuk komplek stabil dengan AlC3.
Pada penambahan NaOAc pita serapan 217 nm, 279 nm (untuk deteksi gugus
7-OH). Pada isolat U terjadi pergeseran hipsokromik pada pita II sebesar -29 nm (dari
246 nm ke 217 nm), pergeseran ini tidak bisa diinterpretasikan. Hal ini menunjukan
tidak adanya gugus hidroksi pada C-7.
Pada penambahan H3BO3 ke isolat U yang sudah ditambah dengan NaOAc
dihasilkan pita serapan pada 274 nm, 282 nm, terjadi pergeseran batokromik pada
pita II sebesar +28 nm (dari 246 nm ke 274 nm) dan pergeseran hipsokromik pada
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
52
pita I sebesar -1 nm (dari 283 nm ke 282 nm), hal ini menunjukan adanya gugus orto
dihidroksi pada cincin A (6,7 atau 7,8).
Berdasarkan dari hasil interpretasi spektrum pada spektroskopi UV dapat
disimpulkan bahwa isolat U merupakan suatu senyawa isoflavon yang mempunyai
gugus orto dihidroksi pada cincin A (6,7 atau 7,8) tanpa gugus hidroksi pada C-5. Hal
ini didukung dengan hasil dari kromatogram KKt 2A bahwa bercak U merupakan
senyawa isoflavon, dan dilihat dari daerah sebaran bercak KKt 2A termasuk flavon
C- dan C-/O-glikosida dengan interpretasi isoflavon7-O-diglikosida, isoflavon 7-Omonoglikosida dan flavonol tri-O-glikosida (3,7).
Tabel XV. Data hasil Spektroskopi UV dari isolat warna biru (B).
Pereaksi
Serapan ( λ ) nm
Pergeseran
Interpretasi struktur flavonoid
Pita II
Pita I
Pita II Pita I
MeOH
226
278bh
Tidak bisa diinterpretasikan
NaOH
220
-6
Tidak bisa diinterpretasikan
AlCl3
221
-5
Tidak bisa diinterpretasikan
AlCl3/HCl
220
-6
Tidak bisa diinterpretasikan
NaOAc
227
+1
Tidak bisa diinterpretasikan
NaOAc/H3BO3 228
+2
Tidak bisa diinterpretasikan
Keterangan bh : bahu
Pada analisis UV, isolat B dalam metanol serapannya 226 nm (pita I)
dan 278 nm (pita II), tidak dapat diinterpretasikan karena tidak termasuk dalam
rentang serapan spektrum UV-tampak flavonoid berdasarkan acuan pustaka
(Markham, 1988). Hal ini menunjukan bahwa isolat B tidak dapat diidentifikasi jenis
flavonoidnya. Hasil spektrofotometri ini dipengaruhi oleh faktor pencampuran warna
bercak yang sama (biru) dari hasil kromatografi dua arah sehingga hasil
spektrofotometri UV yang diperoleh menjadi kurang valid.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Senyawa flavonoid yang mungkin terdapat dalam fraksi eter perasan daging
buah Makuta dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.), yaitu isoflavon tanpa
gugus hidroksi pada C-5 yang mempunyai gugus orto dihidroksi pada cincin A
(6,7 atau 7,8). Rumus strukturnya sebagai berikut:
8
HO
O
7
2
2’
6
HO
3’
3
5
6’
O
4
4’
OH
5’
atau
HO
8
HO
O
7
2
2’
6
3’
3
5
O
4
6’
4’
OH
5’
B. SARAN
1. Perlu dilakukan analisis struktur lengkap dari flavonoid dengan menggunakan
spektroskopi resonansi magnet inti (RMI), spektroskopi massa (MS).
2. Perlu dilakukan analisis flavonoid lebih lanjut pada fase air dengan KLT2A dan
spektroskopi UV.
53
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1987, Analisis Obat Tradisional, jilid I, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Anonim, 1987, Materia Medika Indonesia, Ed. II, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Anonim, 2001, Herbal Drugs and Phytopharmaceuticals, Ed. II, 115-117, CRC Press,
Boca Raton, London, New York, Washington, D.C.
Backer, C.A., Van Den Brink, R.C.B, 1963, Flora of Java (Spermatophyta Only),
volume I, 943, N.V.P. Noordhoff-Groningen, Netherlands.
Dharma, A.P, 1991, Indonesia Medicinal Plants, 76,77, Balai Pustaka, Jakarta.
Djumidi, Sutjipto,S., Nurhadi, M., Widyastuti, Y., Wahyono, S., dan Prapti, I. Y.,
1999, Inventaris Tanaman Obat Indonesia, edisi 5, 147-149, DepKes RI,
Jakarta.
Fessenden & Fessenden, 1999, Organic Chemistry, diterjemahkan oleh Aloysius
Hadyana, jilid 2, cetakan keempat, 436-438, penerbit Erlangga, Jakarta.
Geissman, T.A., 1962, The Chemistry of Flavonoids Compounds, 70, The Mac Millan
Company, New York.
Gritter, R.J., Bobbitt, J.M., Schwarting, A.E., 1991, Introduction to Chromatography,
diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata, Ed. Ii, 43-45, Penerbit ITB,
Bandung.
Harborne, 1973, Phytochemical Methods, diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata
dan Iwang Soediro, terbitan II, 10, 11, 47, ITB Bandung.
Mabry, T.J., Markham, K.R., Thomas, M.B., 1970 The Systematical Identification of
Flavonoid Compound, 11-55, 165-171, Springer Verlag, New YorkHeidelberg-Berlin.
Markham, K.R., 1988, The Techniques of Flavonoid Identification, terjemahan
Padmawinata, K., 1-27, 38-51, Penerbit ITB, Bandung.
54
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
55
Robinson, T., 1995, The Organic Constituents of Higher Plants, Their Chemistry and
Interrelationship, terjemahan Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro, Ed.
VI, 190-216, Penerbit ITB, Bandung.
Sastrohamidjoyo, H., 1985, kromatografi, Ed I, 26-30, Liberty, Indonesia.
Soedibyo, M., 1998, Alam Sumber Kesehatan dan Kegunaan, 168,169, Balai Pustaka,
Jakarta.
Stahl, E., 1985, Drugs Analysis by Chromatography and Microscopy: a Practical
Supplement to Pharmacopoias, diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata
dan Iwang Soediro, 6,7,16,17, Penerbit ITB, Bandung.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
LAMPIRAN 1
Data Hasil Spektroskopi Ultra Violet Fraksi Eter Perasan Daging Buah Makuta Dewa
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Data Spektroskopi UV 56
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Data Spektroskopi UV 57
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Data Spektroskopi UV 58
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Data Spektroskopi UV 59
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Data Spektroskopi UV 60
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Data Spektroskopi UV 61
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Data Spektroskopi UV 62
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Data Spektroskopi UV 63
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Data Spektroskopi UV 64
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
65
LAMPIRAN 2
Foto Hasil Kk Satu-Arah
Fase Diam Kertas Whatmann No.1
Fase Pengembang (TBA)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
66
Foto I. Hasil KK Satu Arah dari Perasan daging Buah Makuta dewa dideteksi
dibawah sinar tampak
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
67
Foto 2. Hasil KK Satu Arah dari Perasan daging Buah Makuta dewa
dideteksi dibawah sinar UV 366 nm
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
68
LAMPIRAN 3
Foto Hasil Kk Dua-Arah
Fase Diam Kertas Whatmann No.1
Fase Pengembang I (TBA) Dan
Fase Pengembang Ii Asam Asetat 15%
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
69
Foto 3. Hasil KK Dua Arah dari Fraksi Eter Perasan Daging Buah Makuta
dewa dengan Pengembang I (TBA) dan Pengembang II Asam Asetat
15% dideteksi dibawah sinar UV 366 nm
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
70
Foto 4. Hasil KK Dua Arah dari Fraksi Eter Perasan Daging Buah makuta
dewa dengan Pengembang (TBA) dideteksi dibawah sinar UV 366
nm
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
71
LAMPIRAN 4
Foto Hasil Reaksi Warna
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
72
Foto 5. Hasil Reaksi Warna Perasan Daging Buah Makuta dewa
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
73
LAMPIRAN 5
Foto Tanaman Makuta Dewa, Buah Makuta Dewa dan
Perasan Daging Buah Makuta Dewa
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
74
Foto 6. Foto tanaman makuta dewa
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
75
Foto 7. Foto buah makuta dewa
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
76
Foto 8. Foto perasan daging buah makuta dewa
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
77
Download