POLA KOMUNIKASI IBU BEKERJA DENGAN HARGA DIRI REMAJA

advertisement
1
POLA KOMUNIKASI IBU BEKERJA DENGAN HARGA DIRI REMAJA
Rahmi Logita Waldi1, Dr. Novy Helena Catharina Daulima., S.Kp., M.Sc2
1
Jurusan Keperawatan, Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia, Kampus FIK UI Depok, 16424,
Indonesia
2
Departemen Keperawatan Jiwa, FIK UI, Kampus FIK UI Depok, 16424, Indonesia
E-mail: [email protected] [email protected]
2
Abstrak
Remaja merupakan individu yang idealis dan argumentatif sehingga memerlukan pola komunikasi yang tepat
dalam berkomunikasi dengan mereka. Penelitian sebelumnya membuktikan bahwa ibu tidak bekerja dapat
menerapkan komunikasi fungsional. Pengakuan dari keluarga dapat mempengaruhi harga diri remaja. Penelitian
ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan pola komunikasi ibu bekerja dengan harga diri remaja. Desain
penelitian yang digunakan yaitu deskriptif korelasi dan menggunakan teknik total sampling sebanyak 116
responden yang merupakan siswa kelas dua SMA Negeri 1 Depok. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki. Harga diri rendah banyak dialami oleh remaja perempuan. Jenis
pekerjaan yang mayoritas menggunakan pola komunikasi fungsional yaitu ibu responden yang bekerja sebagai
pegawai swasta. Dari hasil uji statistik didapatkan p value = 0,133 yang artinya, tidak ada hubungan yang
bermakna antara pola komunikasi ibu bekerja dengan harga diri remaja
Kata kunci: Kata kunci: harga diri, ibu bekerja, pola komunikasi, remaja
Abstract
Teenager is an idealistic and argumentative individual who needs a particular pattern of communication to
communicate with them. The previous research proved that nonworking mothers had applied the functional
communication. Acknowledge from their family can effect teenagers’pride. This research’s aim is to identify the
correlation between the communication pattern of working mothers and the teenager’s pride. The design of
research is correlation descriptive and it used Total Sampling technique, using 116 respondents which consist of
second year students of SMA Negeri 1 Depok. The research result shows that the majority of respondents are male
and the ones who suffer from low pride are the female teenagers. In addition, the occupation of mothers who mostly
used the functional communication pattern is a private sector employee. According to the statistical test data, p
value = 0,133 which means that there is no meaningful and potential correlation between the communication
pattern of working mothers and the teenager’s pride.
Keywords: Communication Pattern, Pride, Teenagers ,Working Mothers
Pendahuluan
Remaja merupakan masa transisi dari masa
kanak-kanak menuju masa dewasa. Wong
(2002), menjelaskan bahwa anak yang
memasuki usia 11 tahun sudah dapat
dikategorikan sebagai remaja. Remaja
mempunyai ciri khas dimana meraka suka
mengekplorasi diri dan selalu penasaran
dengan hal-hal baru sehingga mereka tertarik
untuk mencoba-coba (Wong, 2002). Dalam hal
ini diperlukan kontrol dari orang tua agar tidak
terjerumus ke dalam perilaku negatif. Namun
fenomena yang terjadi banyak remaja yang
terjerumus pada hal-hal negatif seperti
perkelahian, tawuran, ketergantungan obat,
terlibat dalam tindakan kriminalitas karena
ketidaktahuan orang tua terhadap konsep diri
dan tugas perkembangan remaja yang harus
mereka dapatkan dan penuhi. Siregar (2004)
telah melakukan penelitian dan membuktikan
bahwa masih banyak orang tua yang
mempunyai sifat suka suara keras (28%) dan
emosional (22%) sehingga remaja cenderung
Pola komunikasi ibu..., Rahmi Logita Waldi, F. Ilmu Keperawatan UI, 2014
2
akan melawan dan mencari kesenangan dan
kenyamanan di luar rumah.
Pola asuh yang digunakan oleh orang tua
berperan penting dalam menghadapi tingkah
laku remaja. Orang tua harus dapat
menerapkan pola asuh yang sesuai dalam
pembentukan konsep diri remaja. Menurut
hasil penelitian yang berjudul hubungan pola
asuh orang tua terhadap pembentukkan konsep
diri: harga diri pada remaja di Depok yang
dilakukan oleh Ginting (2009), didapatkan
bahwa pola asuh orang tua yang otoriter
(30,5%) berpotensi membentuk harga diri
remaja yang rendah (58,6%). Selain itu
penelitian tersebut juga membuktikan bahwa
pola asuh orang tua yang permisif (28,4%)
dapat membentuk 3 kali lebih besar harga diri
rendah pada remaja (74,1%). Pada pola asuh
orang tua yang menggunakan pola asuh
demokratis (41,1%) dapat membentuk harga
diri tinggi (66,7%). Dengan demikian
penelitian ini membuktikan bahwa terdapat
hubungan pola asuh orang tua dengan
pembentukan konsep diri: harga diri pada
remaja.
Harga diri merupakan penilaian seseorang
terhadap hasil yang didapatkan dalam
mencapai ideal diri (Willoughby, King,
Polatajka, 1996 dalam Wong, 2002). Remaja
mempunyai pemikiran sendiri terhadap harga
diri dan ideal diri mereka. Pencapaian harga
diri remaja dapat dipengaruhi oleh pengakuan
keluarga atas kemampuan dirinya, Komunikasi
keluarga yang selalu terjaga dalam setiap kali
berinteraksi dapat membantu remaja dalam
membentuk pola pikir mereka dalam menilai
konsep diri dan tahap perkembangan yang
sedang mereka alami. Perhatian keluarga
dibutuhkan remaja untuk meningkatkan harga
diri remaja yang mempunyai sifat idealis.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh
Ginting (2009), remaja perempuan cenderung
memiliki harga diri rendah dari pada remaja
laki-laki (52,9%). Di sinilah sosok seorang ibu
yang pada dasarnya mempunyai sifat lemah
lembut, perhatian dan lebih sensitif dari pada
seorang bapak dibutuhkan oleh seorang
remaja. Seorang ibu yang dapat berperan
sebagai teman bagi remaja akan membuat
remaja merasa nyaman menceritakan apa yang
mereka alami dan menanyakan apa yang ingin
mereka ketahui. Namun faktanya, sekarang ini
karena tuntutan kebutuhan ekonomi dan
peningkatan lapangan kerja bagi perempuan,
para ibu lebih banyak menghabiskan waktunya
bekerja di luar rumah sehingga anak mencari
teman berbagi dan bercerita di luar rumah
seperti membuat kelompok teman sebaya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun
2012, jumlah angka pekerja perempuan di
Indonesia adalah 46.509.689 jiwa. Dilihat dari
kisaran usia perempuan bekerja, didapatkan
data bahwa perempuan yang bekerja pada usia
30-34 tahun berjumlah 5.972.068 jiwa , 35-39
tahun berjumlah 5.926.024, 40-44 tahun
berjumlah 5624.547, dan 45-49 tahun
berjumlah
4751.272
jiwa.
(http://www.bps.go.id/publications/publikasi.p
hp). Para perempuan yang sudah berkeluarga
dan bekerja menuntut mereka untuk dapat
berperan ganda yaitu sebagai wanita karir dan
sebagai ibu rumah tangga. Perempuan yang
berperan sebagai ibu dengan anak remaja
mempunyai tanggung jawab dalam setiap
pemenuhan tugas perkembangan remaja.
Fenomena yang terjadi para perempuan yang
mempunyai ambisi tinggi untuk berkarir
membuat mereka mengabaikan perannya
sebagai orang tua sehingga anak dibesarkan
dan diasuh oleh orang lain seperti neneknya
atau pembantu rumah tangga. Menurut
Kusumawardana (2013), ibu yang berprofesi
sebagai pekerja pabrik garment memiliki jam
kerja mulai dai jam 7 pagi hingga jam 5 sore
atau jam 11 malam. Pulang dari bekerja ibu
harus menyelesaikan pekerjaan rumah atau
langsung beristirahat sehingga intensitas
pertemuan dan komunikasi dengan anak
sangat kurang. Hal ini mengakibatkan anak
lebih dekat dengan lingkungan di luar rumah
seperti teman.
Pola komunikasi ibu..., Rahmi Logita Waldi, F. Ilmu Keperawatan UI, 2014
3
Seorang ibu hendaknya menggunakan pola
komunikasi terbuka dalam berinteraksi dengan
remaja. Para ibu yang sibuk dengan
pekerjaannya
di
luar
rumah
sering
mengacuhkan anak. Walaupun masa remaja
merupakan masa dimana anak mulai belajar
mandiri dan bertanggung jawab terhadap
dirinya, namun mereka masih membutuhkan
bimbingan dan perhatian dari seorang ibu.
Penyampain
informasi
kepada
remaja
memerlukan teknik khusus karena remaja telah
memiliki pemikiran sendiri. Menurut hasil
penelitian yang dilakukan oleh Anggraini
(2009), menyatakan bahwa orang tua bekerja
sebagai ibu rumah tangga dan PNS memiliki
pola komunikasi yang fungsional karena
mempunyai waktu yang lebih lama dalam
berinteraksi dengan anak-anaknya.
Metode
Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi
yang bertujuan untuk mengetahui ada atau
tidaknya hubungan antara dua variabel.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa
tingkat dua di SMAN 1 Depok yang ibunya
bekerja dengan menggunakan teknik total
sampling dimana seluruh populasi siswa yang
duduk di tingkat dua sekolah menengah atas
SMAN 1 Depok dengan ibu mereka yang
bekerja yaitu sejumlah 116 siswa.
Pengukuran variabel menggunkan dua jenis
kuesion. Kuesioner pertama merupakan
keusioner pola komunikasi ibu yang
menggunakan scakal likert yang terdiri dari
empat pilihan jawaban yaitu selalu=4,
sering=3, jarang=2 dan tidak pernah=1.
Kuesioner kedua merupakan kuesioner harga
diri yang menggunakan scala likert yang
terdiri dari sangat setuju=4, setuju=3, tidak
setuju=2, dan sangat tidak setuju=1.
Pengukuran
validitas
kuesioner
dapat
dilakukan dengan cara melakukan korelasi
antar skor masing-masing variabel dengan
skor totalnya. Pertanyaan dikatakan valid jika
skor variabel mempunyai hubungan yang
bermakna dengan skor totalnya. Peneliti telah
melakukan uji validitas instrumen penelitian di
tempat lain yang mempunyai karakteristik
yang sama dengan sasaran penelitian yaitu
SMAN 2 Depok. Validasi instrumen dilakukan
pada bulan Februari hingga Maret 2014.
Validasi dilakukan dengan mengambil data
sample di SMAN 2 Depok sebanyak 30
responden. Setelah data terkumpul dilakukan
pengolahan data dengan menggunakan
program
pengolahan
data.
Pernyataan
dikatakan valid jika nilai r tabel di atas 0,361
(df-2). Ada 18 pernyataan pada instrumen pola
komunikasi ibu bekerja yang valid (r>0,361)
dan ada 1 pernyataan di bawah 0,361 yaitu r=
0,302
namun pernyataan tersebut tetap
dipertahankan peneliti karena nilai tersebut
mendekati nilai r tabel yang telah ditentukan
dan merupakan komponen penting dalam
intrumen penelitian. Jadi jumlah pernyataan
pada instrumen pola komunikasi adalah 19
buah pernyataan. Untuk pernyataan mengenai
harga diri yang terdiri dari 11 pernyataan, ada
10 pernyataan valid (r>0,361) dan 1
pernyataan yang mempunyai nilai r tabel
0,320. Jadi jumlah pernyataan untuk intrumen
harga diri adalah 11 buah pernyataan.
Peneliti juga telah melakukan uji reabilitas
kuesioner. Dari hasil uji reabilitas yang
dilakukan peneliti, nilai cronbach’s alpha dari
19 pernyataan instrumen pola komunikasi
yaitu 0,897 dan 11 pernyataan dari instrumen
harga diri yaitu 0,838. Nilai tersebut lebih
besar dibandingkan dari nilai standar
cronbach’s alpha yaitu 0,6, sehingga dapat
diartikan bahwa kedua instrumen tersebut
reliabel.
Penelitian ini menggunaka analisis univariat
dan analisis bivariat. Analisis univariat
bertujuan untuk mengindentifikasi dan
mendeskripsikan karakteristik setiap variabel
penelitian, sedangkan analisis bivariat
bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan
atau korelasi dari dua variabel. (Notoatmodjo,
2010). Variable independen pada penelitian ini
Pola komunikasi ibu..., Rahmi Logita Waldi, F. Ilmu Keperawatan UI, 2014
4
Laki-laki
Tinggi
n
30
Harga Diri
Rendah
%
N
50,8 29
%
49,2
Perempuan
24
42,1
33
57,9
54
46,6
62
53,4
adalah pola komunikasi ibu bekerja dan
variabel dependen adalah harga diri
Hasil
Jenis
Kelami
n
Tabel 1. Distribusi jenis kelamin, jenis pekerjaan ibu, pola
komunikasi dan harga diri remaja di SMAN 1 Depok
Tahun 2014
Total
Variabel
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Jenis Pekerjaan Ibu
PNS
Pegawai Swasta
Pegawai BUMN
Wiraswasta/Pedagang
Lainnya
Pola Komunikasi
Fungsional
Disfungsional
Harga Diri
Tinggi
Rendah
Jumlah
(n)
Persentase
(%)
59
57
50,9
49,1
44
43
9
13
7
37,9
37,1
7,8
11,2
6
59
57
50,9
49,1
54
62
46,6
53,4
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 116
responden, sebanyak 59 orang (50,9%)
berjenis kelamin laki-laki dan sebanyak 57
orang (49,1%) berjenis kelamin perempuan.
ibu responden bekerja sebagai PNS sebanyak
44 orang (37,9%), Pegawai Swasta sebanyak
43 orang ( 37,1%), Pegawai BUMN sebanyak
9
orang
(7,8%),
wiraswasta/pedagang
sebanyak 13 orang (11,2%) dan lainnya
sebanyak 7 orang (6%). Sebanyak 59 (59,9%)
ibu responden menggunakan pola komunikasi
fungsional dan 57 (49,1%) ibu responden
menggunakan pola komunikasi disfungsional.
Responden yang memiliki harga diri tinggi
sebanyak 54 orang (46,6%) dan responden
yang memiliki harga diri rendah sebanyak 62
orang (53,4%)
Tabel 2. Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin
dan harga diri di SMAN 1 Depok Tahun 2014
tinggi sebanyak 30 orang (50,8%) dan yang
memiliki harga diri rendah sebanyak 29 orang
(49,2%), sedangkan responden perempuan
yang memiliki harga diri tinggi sebanyak 24
orang (42,1%) dan yang memiliki harga diri
rendah sebanyak 33 orang (57,9%).
Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis
Pekerjaan Ibu dengan Pola Komunikasi di SMAN 1 Depok
Tahun 2014
Jenis
Pekerjaa
n
Total
PNS
Pegawai
Swasta
Pegawai
BUMN
Wiraswasta/
Pedagang
Lainnya
Pola
Komunikasi
Fungsional Disfungsional
n
%
N
%
22 50
22
50
24
55,8
19
44,2
3
33,3
6
66,7
6
46,2
7
53,8
4
57,2
3
42,9
59
50,9
57
49,1
Tabel 3 menunjukan pola komunikasi
fungsional ibu yang bekerja sebagai PNS
sebanyak 22 orang (50%), Pegawai swasta
sebanyak 24 orang (55,8%), Pegawai BUMN
sebanyak
3
orang
(33,3%),
Wiraswasta/Pedagang sebanyak 6 orang
(46,2%) dan lainnya 4orang (57,2%),
sedangkan pola komunikasi disfungsional ibu
yang bekerja sebagai PNS sebanyak 22 orang
(50%), Pegawai Swasta sebanyak 19 orang
(44,2%), Pegawai BUMN sebanyak 6 orang
(66,7%), Wiraswasta/pedagang sebanyak 7
orang (53,8%) dan lainnya sebanyak 3 orang
(42,9%).
Dari hasil penelitian di dapatkan bahwa
responden laki-laki yang memiliki harga diri
Pola komunikasi ibu..., Rahmi Logita Waldi, F. Ilmu Keperawatan UI, 2014
5
Tabel 4. Hubungan antara Pola Komunikasi Ibu Bekerja
dengan Harga Diri Remaja di SMAN 1 Depok Tahun 2014
Pola
Komuni
kasi
Fungsio
nal
Disfungs
ional
Total
Tinggi
n
Harga Diri
Rendah
%
n
%
32
54,8
27
45,8
22
38,6
35
61,4
54
46,6
62
54,3
Total
n
59
%
100
57
100
116
100
P
value
0,133
Tabel 4 menunjukkan pola komunikasi
fungsional membentuk harga diri tinggi
sebanyak 32 orang (54,8%) dan harga diri
rendah sebanyak 27 orang (45,8%). Sedangkan
pola komunikasi disfungsional membentuk
harga diri tinggi sebanyak 22 orang (38,6%)
dan harga diri rendah sebanyak 35 orang
(61,4%).
Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,133
maka dapat disimpulan bahwa tidak ada
hubungan yang signifikan antara pola
komunikasi ibu bekerja dengan harga diri.
Pembahasan
Identitas jenis kelamin merujuk pada
kesadaran diri individu sebagai laki-laki atau
perempuan (Behrman, dkk, 2000). Laki-laki
maupun perempuan memiliki kesempatan
yang sama untuk memiliki pekerjaan.
Perempuan bebas menyandang profesi yang
mereka inginkan untuk hidup mandiri dan
berpenghasilan. Perempuan yang sudah
menikah dan mempunyai anak juga memiliki
kemampuan untuk menyandang peran sebagai
wanita pekerja. Menurut Djabu (2013), ada
beberapa faktor yang menyebabkan ibu rumah
tangga bekerja diantaranya adalah ingin
menyalurkan bakat dan minat yang mereka
miliki dan untuk meningkatkan status sosial
keluarga. Hal ini dibuktikan oleh penelitian
yang telah dilakukan oleh Djabu (2013), yang
mendapatkan bahwa sebanyak 93% responden
menyatakan ada peningkatan status sosial.
Dari hasil analisis jenis pekerjaan ibu
responden di SMAN 1 Depok didapatkan
bahwa jenis pekerjaan ibu didomisasi oleh ibu
yang bekerja sebagai PNS yaitu sebanyak 44
orang (37,9%).
Seorang ibu yang mempunyai kegiatan diluar
rumah tentunya mengurangi waktu ibu untuk
berinteraksi secara langsung dengan keluarga.
Interaksi yang kurang akan mengakibatkan
proses komunikasi juga berkurang. Menurut
Kozier dan Erb, (1995 dalam Nugroho. W,
2006) menyatakan bahwa komunikasi
merupakan pertukaran informasi antara dua
orang atau lebih, atau pertukaran ide, perasaan
dan pikiran. Setiap anggota keluarga selalu
melakukan
proses
komunikasi
ketika
berinteraksi satu sama lain. Namun ada banyak
hal yang membuat ibu dan anak remajanya
mengalami kesulitan dalam berkomunikasi,
salah satunya yaitu kurangnya waktu ibu
berada di rumah karena pekerjaan atau karir
yang dimilikinya. Selain itu anak yang telah
menginjak masa remaja juga memiliki
kesibukan di luar rumah untuk mengeksplorasi
diri mereka dengan kegiatan yang mereka
minati (Wong, 2002).
Komunikasi dengan remaja adalah seni
mendengarkan (Wong, 2002). Ketika remaja
menceritakan ide-ide yang ada dipikirannya
serta pengalaman yang telah dilaluinya kepada
orang tua maka yang dibutuhkan oleh remaja
adalah
didengarkan
dan
pengakuan.
Pengakuan dari keluarga dapat meningkatkan
konsep diri dan harga diri remaja. Dari hasil
analisis yang dilakukan oleh peneliti terhadap
siswa tingkat dua di SMAN 1 Depok lebih
banyak responden yang memiliki harga diri
rendah yaitu 62 orang (53,4%), dengan kata
lain siswa yang memiliki harga diri tinggi
masih minoritas. Hal ini didukung oleh
penelitian ynag telah dilakukan oleh Meichati
(2007)
di
SMAN
1
depok
yang
mengkategorikan tingkat harga diri menjadi
tinggi, sedang, dan rendah membuktikan
bahwa siswa SMAN 1 Depok memiliki harga
diri rendah 24%, harga diri sedang 54,1% dan
harga diri tinggi hanya 21,9 %. Hal ini juga
menjelaskan bahwa siswa SMAN 1 Depok
Pola komunikasi ibu..., Rahmi Logita Waldi, F. Ilmu Keperawatan UI, 2014
6
yang memiliki
minoritas.
harga
diri
tinggi
masih
Harga diri merupakan penilaian seseorang
terhadap dirinya untuk mencapai ideal diri
yang diperoleh dari penghargaan diri sendiri
dan orang lain (Stuart & Laraia, 2005). Jenis
kelamin merupakan salah satu faktor dalam
mempengaruhi harga diri (Edison, 2008). Hal
ini terbukti pada hasil penelitian yang telah
dilakukan di SMAN 1 Depok, didapatkan
bahwa harga diri tinggi banyak terdapat pada
responden laki-laki yaitu 50,8%. Hal ini
mendukung penelitian yang dilakukan oleh
Edison (2008) yang membuktikan bahwa
perempuan lebih cenderung mengalami harga
diri rendah yaitu sebanyak 58%. Simmons dan
Blyth (1987, dalam Edison 2008) menjelaskan
bahwa perempuan cenderung mengalami harga
diri rendah karena sangat memperhatikan dan
memperdulikan penampilan fisik serta
kemampuan berolah raga.
Menurut Peters, (1974 dalam Freidman, 2010)
pola
komunikasi
keluarga
merupakan
karakteristik, pola interaksi sirkular yang
berkesinambungan yang menghasilkan arti
dari hasil transaksi setiap anggota keluarga.
Dari hasil analisis hubungan antara pola
komunikasi dengan harga diri yang telah
dilakukan di SMAN 1 Depok diperoleh bahwa
pola komunikasi fungsional lebih banyak
membentuk harga diri tinggi sebanyak 54,8%
sedangkan pola komunikasi disfungsional
dapat membentuk harga diri rendah sebanyak
61,4%. Dari hasil tersebut dapat dilihat pola
komunikasi disfungsional dapat membentuk
harga diri rendah lebih banyak daripada pola
komunikasi fungsional. Komunikasi yang
fungsional menghasilkan keluarga yang sehat
(Freidmen, 2010). Dari hasil uji statistik
dapat disimpulan bahwa tidak ada hubungan
yang signifikan antara pola komunikasi
dengan harga diri. Hal ini mungkin terjadi
karena ada faktor lain yang lebih
mempengaruhi harga diri remaja di SMAN 1
Depok.
Faktor-faktor
yang
dapat
mempengaruhi harga diri remaja diantaranya
adalah penyakit mental dan fisik, sistem
keluarga yang disfungsional, pengalaman
negatif yang berulang, ketidakhadiran orang
yang dipercaya saat dibutuhkan dan ideal diri
yag tidak realistis (Sianturi 2004 dalam
Azkiyati 2012). Selain itu pola komunikasi
yang digunakan oleh ibu responden mungkin
dipengaruhi berbagai faktor seperti situasi atau
konteks, latar belakang etnik keluarga dan
siklus kehidupan keluarga (Freidmen, 2010).
Komunikasi
ditanamkan
dalam
suatu
keyakinan dan pola perilaku yang pada
umumnya berakar dari kebudayaan (Freidmen,
2010). Menurut Lipson (1996 dalam
Freidmen, 2010), komunikasi dalam keluarga
berbeda pada setiap budaya dalam gaya dan
penekanan ketika melakukan percakapan,
kontak mata, sentuhan, ruang personal dan
orientasi waktu. Sillars (1995 dalam Freidmen,
2010) menyatakan bahwa ekpresi emosi
merupakan perbedaan komunikasi yang paling
nyata di setiap lintas budaya. Ada tiga etnisitas
yang dapat mempengaruhi komunikasi
keluarga yaitu berbicara dengan keterbukaan
dan keluasan informasi, ekspresi emosi, dan
toleransi terhadap ekspresi konflik (Sillars,
1995 dalam Freidmen, 2010). Selain itu
komunikasi keluarga beragam di sepanjang
riwayat tahap perkembangan keluarga. Hal ini
sejalan dengan perubahan usia dan isu
perkembangan individu sebagai anggota
keluarga. Salah satu perubahan nyata yaitu
keterbuakaan dan keluasaan informasi yang
diterima atau disampaikan oleh setiap anggota
keluarga (Freidmen, 2010). Namun, hasil
penelitian ini didukung oleh hasil penelitian
yang telah dilakukan oleh Sianturi, dkk (2004)
kepada 67 remaja yang juga mendapatkan
bahwa tidak ada pengaruh pola komunikasi
dalam keluarga terhadap pembentukan harga
diri remaja.
Beberapa keluarga mengalami stresor ketika
menghadapi remaja sehingga memperngaruhi
komunikasi keluarga (Freidmen, 2010). East
(1999 dalam Freidmen 2010), meneliti
pengaruh kehamilan remaja terhadap keluarga
secara menyeluruh dan mendapatkan bahwa
Pola komunikasi ibu..., Rahmi Logita Waldi, F. Ilmu Keperawatan UI, 2014
7
ibu yang memiliki remaja melaporkan
menurunnya komununikasi dengan anak
lainnya yang lebih muda setelah kehamilan
pertama remaja dalam keluarga dan lebih sulit
berkomunikasi dengan ibu remaja itu sendiri.
Penelitian ini berdampak untuk pengembangan
ilmu keperawatan jiwa dan keperawatan anak
terkait pembentukan harga diri remaja dan
pola komunikasi dalam keluarga. Dalam
pelayanan keperawatan, perawat dapat
menjalankan perannya sebagai konselor untuk
memberikan penjelasan kepada para remaja
dan orang tua mengenai keunikan remaja dan
masalah-masalah yang dihadapi kelurga
dengan remaja serta mendiskusikan solusinya.
Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada
hubungan yang signifikan antara pola
komunikasi ibu bekerja dengan harga diri
remaja. Namun hasil penelitian ini bisa
digunakan sebagai acuan untuk melakukan
penelitian yang sama di tempat yang berbeda
dengan karakteristik yang sama sehingga dapat
dibandingkan hasilnya.
Kesimpulan
Mayoritas responden pada penelitian ini
adalah berjenis kelamin laki-laki, memiliki ibu
yang berprofesi sebagai PNS, dan memiliki
harga diri rendah. Harga diri rendah lebih
banyak dialami oleh siswa perempuan. Ibu
yang bekerja sebagai pegawai swasta lebih
banyak menggunakan pola komunikasi
fungsional
daripada
pola
komunikasi
disfungsional.
Penelitian yang dilakukan di SMAN 1 Depok
bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan
antara pola komunikasi ibu bekerja dengan
harga diri remaja. Dari hasil analisis
didapatkan bahwa tidak ada hubungan yang
bermakna antara pola komunikasi ibu bekerja
dengan harga diri remaja.
Dari hasil penelitian didapatkan mayoritas
remaja perempuan mengalami harga diri
rendah. Hal ini juga dibuktikan oleh beberapa
penelitian yang menyatakan bahwa perempuan
cenderung beresiko mengalami harga diri
rendah. Oleh karena itu, peneliti menyarankan
kepada institusi pendidikan keperawatan agar
menambah pengetahuan mahasiswa mengenai
faktor apa saja yang dapat mempengaruhi
harga diri remaja dan menambahkan
kurikulum khusus terkait pembahasan remaja
sebagai individu yang unik dan seni
mendengarkan pada remaja
Asuhan keperawatan bertujuan memberikan
pelayanan kesehatan terbaik kepada setiap
individu yang sakit maupun sehat. Remaja
tentunya tidak terlepas dari masalah kesehatan
dalam menghadapi masa perkembangannya.
Oleh karena itu diharapkan perawat mampu
mengkaji masalah kesehatan fisik ataupun
psikologis remaja dengan menggunakan teknik
jujur dan terbuka tanpa terkesan menggurui
agar remaja dapat menceritakan setiap masalah
yang mereka hadapi dan mencari solusi
terbaik.
Peneliti
menyadari
terdapat
banyak
kekurangan dalam penelitian ini. Oleh karena
itu peneliti menyarankan untuk melakukan
penelitian serupa di beberapa tempat sehingga
hasil penelitian dapat digeneralisasi. Selain itu
perlu di teliti faktor-faktor lain yang dapat
mempengaruhi harga diri remaja.
Referensi
Anggraini. R.P.N (2009). Hubungan Pola
Komunikasi dalam Keluarga dengan Persepsi
Terhadap Prilaku Seksual Pra Nikah Pada
Remaja di SMA Negeri 2 Nganjuk. Fakultas
Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia:
Tidak dipublikasikan
Azkiyat. A. M (2012). Hubungan Perilaku
Merokok dengan Harga Diri Remaja LakiLaki yang Merokok di SMK Putra Bangsa:
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Indonesia: Tidak Dipublikasikan
Behrman, Kliegman & Alvin. (2000). Ilmu
Kesehatan Anak Nelson. Terj. Samik Wahab.
Vol 1. Edisi ke-15. Jakarta: EGC
Pola komunikasi ibu..., Rahmi Logita Waldi, F. Ilmu Keperawatan UI, 2014
8
Djabu, O. (2013). Peranan Ibu Rumah Tangga
yang Bekerja dalam Meningkatkan Status
Sosial Keluarga di Kelurahan Teling Atas
Kecamatan Wanea Kota Manado: Jurnal
ACTA Diurna
Edison, C. (2008). Faktor- Faktor yang
Mempengaruhi Harga Diri Rendah Pada
Remaja di SMA 65 Jakarta. Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Indonesia: Tidak
Dipublikasikan
Freidmen. M, at al. (2010). Family Nursing:
Reserch, Theory, And Practice. 5th Edition.
(terj. Achir Yani S. Hamit, dkk). Jakarta: EGC
Ginting. L. (2009). Hubungan Pola Asuh Orang
Tua Terhadap Pembentukan Konsep Diri:
Harga Diri pada Remaja di Depok Tahun
2009. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Indonesia: Tidak Dipublikasikan
Heatherton, T. F. & Polivy, J. (1991). Development
and validation of a scale for measuring state
selfesteem. Journal of Personality and Social
Psychology, 60, 895-910. Diunduh pada
tanggal 2 September
Kusumasari. A. P. (2008). Hubungan Pola
Komunikasi Keluarga dengan Prestasi
Akademik di SLTP Negeri 2 Cisauk. Fakultas
Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia:
Tidak Dipublikasikan
Kusumawardani, U (2012). Hubungan Komunikasi
Ibu dan Anak dengan Perilaku Delinkuen
Remaja. Journal Developmental and Clinical
Psychology.
UNES.
31.
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/dcp
Mclntire. W. R (2005). Teenagers and Parents: 10
Steps For a Better relationship. (Terj. Rosalia
Hening. W). Yogyakarta: Kasinus
Meichati, F. (2007). Hubungan Antara Perilaku
Seksual Selama Berpacaran dengan Harga
Diri Remaja Setelah Putus Pacaran. Fakultas
Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia:
Tidak Dipublikasikan
Nasir,
dkk
(2009).
Komunikasi
Dalam
Keperawatan: Teori dan Aplikasi. Jakarta:
Salemba Medika
Notoatmodjo. (2010). Metodologi Penelitian
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
Nugroho, W. (2006). Komunikasi dalam Keluarga
Gerontik. Jakarta: EGC
Potter, P. A.,dan Perry, A. G. (2009) Fundamentals
of Nursing.Vol.1 (Terj. Dr. Adrina Ferderika).
Jakarta: Penerbit Salemba Medika.
Riyanto A. (2011). Aplikasi Metodologi Penelitian
Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika
Rosita, dkk. (2011). Hubungan Pekerjaan Ibu dan
Perilaku Komunikasi Pada Anak Remaja di
RW 04 Pisangan Timur Jakarta. Fakultas
Ilmu Keperawatan UI: Tidak Dipublikasikan
Santrock (2003). Adolescence. 6th Edition. ( Terj.
Dra. Shinto, dkk). Jakarta: Elrlangga
Sianturi, E, dkk. (2004). Pengaruh Pola
Komunikasi dalam Keluarga Terhadap
Pembentukan Harga Diri Remaja. Fakultas
Ilmu Keperawaan Universitas Indonesia:
Tidak Dipublikasikan
Sirait. M. L (2008). Hubungan Antara Perubahan
Tubuh Pada Masa Puberitas dengan Harga
Diri Remaja Putri SLTP Depok. Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Indonesia: Tidak
Dipublikasikan
Siregar.
M
(2004).
Faktor-Faktor
yang
Mempengaruhi Penyalahgunaan Narkotika
Pada Remaja. Jurnal Imu Kesejahteraan
Sosial Pemberdayaan Komunitas. Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU. 100-105.
ISSN 1412-6133
Stuart, G. W & Laraia, M. T (2005). Principle &
Practice of Psychiatric Nursing. Ed. 8th. St.
Louis: Mosby
Sunaryo. (2002). Psikologi Untuk Keperawatan.
Jakarta: EGC
Suryadi. D & Damayanti. C (2003). Jurnal
Perbedaan Tingkat Kemandirian Remaja
Putri yang Ibunya Bekerja dan yang Tidak
Bekerja. Vol.1. No.1 F.Psikologi. Universitas
Tarumanegara: Jakarta. Hal.13-14
Wong,DL, et al. (2002). Wong’s essential of
pediatric nursing, 6thed/vol 1.(Terj. Agus
Sutarna). Jakarta : EGC
Yusuf. L & Bagus. C (2002). Harga diri pada
Remaja Menengah Putri di SMA Negeri 15
Kota
Semarang.
Jurnal
Keperawatan
Diponegoro.
225-230.
Diunduh
dari
http://ejournals1.undip.ac.id/index.php/jnursing
http://www.bps.go.id/publications/publikasi.php
pada tanggal 2 September
Pola komunikasi ibu..., Rahmi Logita Waldi, F. Ilmu Keperawatan UI, 2014
9
Pola komunikasi ibu..., Rahmi Logita Waldi, F. Ilmu Keperawatan UI, 2014
Download