PROSIDING SEMINAR NASIONAL

advertisement
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
1
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
PROSIDING
SEMINAR NASIONAL KEPERAWATAN :
UPDATE KEPERAWATAN BENCANA
Pengurangan Resiko Bencana
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Copyright @ 2016
ISSN : 2548-3153
REVIEWER :
Yendrizal Jafri, S.Kp, M.Biomed
Ns. Yaslina, M.Kep, Sp. Kom
Ns. Ida Suryati, M.Kep
Dewi Yudiana Shinta, M.Si, Apt
Editor :
Anita Khairani, M.Si
Fitra Wahyuni, M.Si
Diterbitkan Oleh :
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM)
STIKes Perintis Padang
Alamat Penerbit :
Jl. Adinegoro Simpang Kalumpang Lubuk Buaya Padang, Sumatera Barat – Indonesia
Telp. (+62751) 481992, Fax. (+62751) 481962
LPPM STIKes Perintis Padang
i
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb
Puji dan syukur kita ucapkan kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya sehingga kita senantiasa dalam keadaan sehat wal’afiat untuk dapat melaksanakan aktifitas
yang menjadi tanggung jawab kita. Shalawat dan salam kita sampaikan kepada baginda Nabi
Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari zaman kegelapan kepada zaman yang terang
akan penuh ilmu pengetahuan, semoga kita menjadi pengikutnya yang mendapat syafaat pada
akhir zaman, Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Pada kesempatan ini izinkan kami Panitia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu terselenggaranya kegiatan ini serta kepercayaan yang diberikan kepada kami
untuk menyajikan materi Seminar Nasional Keperawatan: Update Keperawatan Bencana,
Pengurangan Resiko Bencana yang diselenggarakan di Istana Bung Hatta Kota Bukittinggi
pada Tanggal 27 November 2016. Proceeding ini berisi abstrak yang disajikan pada acara
tersebut.
Akhir kata kami Panitia berharap agar kumpulan abstrak ini dapat bermanfaat bagi
perkembangan dunia kesehatan dimasa yang akan datang, atas segala kekurangan kami mohon
maaf.
Wassalam,
Bukittinggi, 25 November 2016
TTD
PANITIA
LPPM STIKes Perintis Padang
ii
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
DAFTAR ISI
DEWAN REDAKSI ........................................................................................................i
KATA PENGANTAR .....................................................................................................ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................................iii
MAKALAH KEPERAWATAN
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Kesiapan Masyarakat dalam Menghadapi
Bencana Erupsi Gunung Marapi di Kecamatan Sungai Puar
Oleh : Ida Suryati, Muhammad Arief dan Yaslina(STIKes Perintis Padang) .............. 1
Faktor-Faktor yang Mepengaruhi Pengontrolan Perilaku Kesehatan terhadap Pasien
Pasca Stroke di Wilayah Kerja Puskesmas Rasimah Achmad Bukittinggi Tahun 2016
Oleh : Yaslina dan Rizi Faserina (STIKes Perintis Padang) ..................................... 9
Pengaruh Pelaksanaan Senam Dismenore terhadap Penurunan Nyeri Haid
Oleh : Mera Delima, Insanu Muclisa dan Maidaliza (STIKes Perintis Padang) .............17
Terapi Murotal Pengaruhi Adaptasi Nyeri Persalinan pada Ibu Inpartu Primipara
Oleh : Hidayati, Nova Tri Yanti (STIKes Perintis Padang)..................................................24
Perilaku Bullying Berhubungan dengan Karakteristik Perkembangan Remaja di SMPN
3 Linggo Sari Baganti Kabupaten Pesisir Selatan
Oleh : Isna Ovari, Falerisiska Yunere, Ilham Wira Satria (STIKes Perintis Padang)
...........................................................................................................................................32
Hubungan Intensitas Bullying dengan Tingkat Depresi pada Remaja di Poliklinik Anak
& Remaja RSJ. Prof. Hb. Sa’anin Padang Tahun 2016
Oleh : Asmawati dan Wika Maya Sari (STIKes Alifah) .............................................. 39
Analisis Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Stres Kerja Perawat di Instalasi
Gawat Darurat RSUP Dr.M.Djamil Padang Tahun 2016
Oleh : Yuanita Ananda (STIKes Alifah) ...................................................................................43
Pengembangan Model Peer Support Intervention Sebagai Upaya Meningkatkan Perilaku
Hidup Sehat Klien Hipertensi
Oleh : Aria Wahyuni, Cici Apriza Yanti, dan Efriza (STIKes Fort De Kock) ...................53
Teknik Relaksasi Finger Hold T Menurunkan Skala Nyeri Pada Pasien Cedera Kepala
Ringan
Oleh : Lisa Mustika Sari, Aldo Yuliano dan Melda Aprisa Shinta (STIKes Perintis Padang)
..................................................................................................................................... 62
Pengaruh Senam Diabetes Melitus dengan Nilai Abi pada Pasien DM di Puskesmas
Andalas Padang
Oleh : Melti Suriya (STIKes Alifah) ..................................................................................68
LPPM STIKes Perintis Padang
iii
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Kualitas Pelayanan Rawat Jalan dengan Kepuasan Pasien Dirumah Sakit Stroke
Nasional Bukittinggi
Oleh : Endra Amalia, Mera Delima dan Kalpana Kartika (STIKes Perintis Padang) ....75
Hubungan Karakteristik dan Pola Asuh Orangtua dengan Kemampuan Melakukan
Toilet Training pada Anak Usia Toddler di Paud Terpadu Surya Kids Bukittinggi Tahun
2016
Oleh : Falerisiska Yunere dan Rahma Desi (STIKes Perintis Padang) ........................ 82
Tipe Keluarga dengan Perilaku Agresif Pada Anak Remaja
Oleh : Yendrizal Jafri dan Atika Nurul Huda Dwi Vally (STIKes Perintis Padang) ........92
Budaya Organisasi Erat Hubungannya dengan Kepuasan Pasien Rawat Inap
Oleh : Erlinda Rosya, Emil Wahyu Andria dan Mera Delima (STIKes Perintis Padang)
...........................................................................................................................................101
Pengaruh Terapi Rendam Kaki Air Hangat Terhadap Penurunan Tekanan Darah di
Puskesmas Andalas Padang
Oleh : Zuriati (STIKes Alifah) ...........................................................................................113
Penurunan Nyeri Haid (Dismenore) Primer Melalui Pemberian Minuman Jahe Emprit
Oleh : Ridha Hidayati dan Ririn Fuji Rahma (STIKes Ranah Minang) ...........................119
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pelaksanaan Patient Safety Sesuai Joint
Comission International
Oleh : Adriani, Yusi Yusman dan Lisavina Juwita (STIKes Fort De Kock, Rumah Sakit Achmad
Mochtar) ............................................................................................................................125
Intervensi Teknik Relaksasi Otot Progresif Berpengaruh terhadap Mual dan Muntah
Delayed pada Pasien Kanker yang Menjalani Kemoterapi di RSUD Achmad Mochtar
Bukittinggi Tahun 2016
Oleh : Muhammad Arief dan Rahmita Tri Havizcha (STIKes Perintis Padang)........... 133
Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kemandirian Activity Daily Living Anak
Tunagrahita Di SLB Air Randah Wilayah Kerja Puskesmas Gadut Kabupaten Lima
Puluh Kota Tahun 2016
Oleh : Yuli Permata Sari, Junnatul Wafiq dan Isna Ovari (STIKes Perintis Padang) .. 140
MAKALAH HEALTH SCIENCE
Hubungan Aktifitas Olah Raga dengan Kadar Protein Urine pada Mahasiswa Fakultas
Olahraga Universitas Negeri Padang (UNP)
Oleh : Endang Suriani (STIKes Perintis Padang) ............................................................146
Prevalensi Penderita Infeksi Ascaris lumbricoides pada Siswa SDN 39 Tanjung Aur
Lubuk Minturun Padang Tahun 2016
Oleh : Sri Indrayanti dan Khairunisa (STIKes Perintis Padang) .....................................149
LPPM STIKes Perintis Padang
iv
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Perbandingan Kadar Hemoglobin pada Pria Perokok dan Tidak Merokok dengan
Metode Sianmethemoglobin
Oleh : Suraini dan Andri (STIKes Perintis Padang).........................................................152
Faktor Risiko Kejadian Hiperkolesterolemia pada Penderita Penyakit Jantung Koroner
Oleh : Widia Dara dan Juliana Tanjung (STIKes Perintis Padang) ................................157
Uji Daya Hambat Air Rebusan Daun Gambir (Uncaria gambir Roxb) Terhadap Bakteri
Methicillin Resistent Staphylococcus aureus
Oleh : Putra Rahmadea Utami (STIKes Perintis Padang) ...............................................166
Analisa Khasiat Sari Kurma Terhadap Jumlah Trombosit pada Penderita Demam
Berdarah Dengue (DBD)
Oleh : Miftahul Muslih, Suci Fitrawati dan Lillah (STIKes Perintis Padang) .................172
Hubungan Obesitas dengan Harga Diri Rendah Pada Siswa/I SMAN 5 Bukittinggi Tahun
2016
Oleh : Lisa Fradisa, Hermawan dan Yendrizal Jafri (STIKes Perintis Padang) .............176
Analisis Nilai Gizi Ikan Pantau (Rasbora argirotaenia) dan Daya Terima Terhadap
Proses Pengolahan
Oleh : Nurhamidah dan Widiadara (STIKes Perintis Padang) ........................................184
Profil Pelayanan Kefarmasian pada Apotek Swasta di Bukittinggi pada Tahun 2016
Oleh : Widyastuti (Akademi Farmasi Imam Bonjol) .........................................................188
Hubungan Perilaku dan Intensitas Kebisingan dengan Gangguan Pendengaran pada
Pekerja Bagian Produksi PT. Jaya Sentrikon Indonesia Kecamatan Lembah Anai
Tahun 2016
Oleh : Fitria Fatma dan Wulan Septia Hanum (STIKes Fort De Kock)...........................194
Penentuan Kadar Timbal (Pb) Dalam Darah Pada Sopir Truk Di Jalan Raya Padang Indarung Tahun 2016
Oleh : Marissa (STIKes Perintis Padang) ........................................................................200
Verifikasi Analisa Plumbum (Pb) Dalam Urin Pada Petugas SPBU Kubang Pekanbaru
Oleh : Betti Rosita , Niken Siska Apriani (STIKes Perintis Padang) ................................204
LPPM STIKes Perintis Padang
v
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KESIAPAN MASYARAKAT
DALAM MENGHADAPI BENCANA ERUPSI GUNUNG MARAPI DI KECAMATAN
SUNGAI PUAR
Ida suryati 1, Yaslina 2, M.Arif 3
Prodi Ilmu Keperawatan STIKes Perintis Padang123
Email : [email protected]
Email : [email protected]
Email: perawat.arifyahoo.co.id
Abstract
The results of the preliminary survey they in kecamatan sungai puar of four nagari owned three nagari
is a region closest to the mountain marapi or derah red zone. The research aims to know factor-factor
affecting in behavior disaster readiness the eruption marapi which includes: knowledge, attitude
perception, motivation and desire .Design resrach deskritif the correlation with used the cross sectional
.The sample people living in kanagarian the puar , batagak and stone palano were 212 respondents,
tehnik the sample and systematic cluster of sampling random sampling .Research instruments is a
questionnaire. The results of the study not a significant relation exists knowledge was with the behavior
readiness in face disasters eruption merapi ( p value = 0,058 ), a significant relation exists perception
of respondents with the behavior readiness in face disasters eruption merapi ( p value = 0,000 ), not a
significant relation exists attitude respondents with the behavior readiness in face disasters eruption
merapi ( p value = 0,207 ), a significant relation exists the wish of respondents with the behavior
readiness in face disasters eruption merapi ( p value = 0,001 ), a significant relation exists motivation
respondents with the behavior readiness in face disasters eruption merapi ( p value = 0,004 ). It was
concluded that perception , desire and readiness motivation affect the community in facing disaster
mountain marapi eruption and no the dominant factor affecting the readiness of the community in facing
disaster mountain marapi eruption..Was recommended to health workers to always improve the
provision of information and health facilities in for disaster preparedness eruption mountain marapi
Key Word : behaviour, disasater, readiness, knowledge, perception.
1. PENDAHULUAN
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi kesehatan manusia.Lingkungan
dapat berupa lingkungan fisik dan nonfisik.
Lingkungan fisik yang dapat mempengaruhi
keadaan komunitas salah satunya adalah keadaan
bencana atau lingkungan (wilayah) rawan bencana
(Allender & Spradley, 2005).Wilayah rawan
bencana (hazard region) adalah suatu kawasan
dipermkaan bumi yang rawan bencana alam akibat
proses alam maupun non-alam(Farah, 2011).
Sementara itu menurut Linda (2011) kawasan
rawan bencana adalah suatu wilayah yang
memiliki kondisi atau karakteristik geologis,
biologis, hidrologis, klimatologis, geografis,
sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi
yang untuk jangka waktu tertentu tidak dapat atau
tidak mampu mencegah, meredam, mencapai
kesiapan, sehingga mengurangi kemampuan
untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu.
Akbar (2014) menyatakan Sumatera Barat
memiliki beberapa gunung berapi, diataranya
adalah Gunung Sago, Gunung Talang, Gunung
LPPM STIKes Perintis Padang
Singgalang, Gunung Marapi. Gunung Marapi
merupakan gunung setinggi 2.891 meter di atas
permukaan laut (mdpl) berada di wilayah
administrasi Kabupaten Agam, namun dapat
dilihat dari Kota Bukittinggi, Kota Padang
Panjang dan Kabupaten Tanah Datar. Sejumlah
tempat di wilayah itu, terancam menjadi area
berdampak bila marapi sewaktu-waktu meletus
dengan daya letusan tinggi.
Pada saat terjadi bencana biasannya semua
pihak panik dan akhirnya timbul korban dan
kerusakan yang lebih besar.Stanhope dan
Lancaster (2007) menyatakan bahwa perawat
sebaiknya memahami apasumber yang tersedia di
komunitas dalam persiapan terhadap bencana,
mengetahui efek dari bencana yang terjadi dan
bagaimana mengembangkan kerjasama dalam
menangani bencana di komunitas. Menurut Ramli
(2010) menyatakan, selain dari peran perawat,
masyarakat juga sangat berpengaruh dalam
manajemen bencana, baik pada fase pra bencana,
saat bencana, maupun pasca bencana. Jika
1
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
masyarakat memahami dan menjalankan
manajemen bencana dengan baik, keparahan
dampak bencana mungkin dapat ditekan.Menurut
Coalition for Health Funds(2002) bahwa
kesadaran dan keterlibatan masyarakat harus
sangat mendukung dalampersiapan bencana yang
optimal, yaitu untuk mencapai kesehatan yang
baik dan pencegahan terhadap bahaya lain dari
bencana yang akan terjadi . Aspek pada
masyarakat yang dapat berpengaruh terhadap
kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana,
yaitu perilaku masyarakat sendiri terhadap
bencana.
Menurut Spranger, dalam Notoadmodjo
(2010), faktor pembentuk perilaku manusia, yaitu
: pengetahuan, persepsi, sikap, keinginan,
motivasi, dan niat. Hasil penelitian Dorotha
(2006)
menyatakan bahwa masyarakat
mengemukakan bahwa mereka membutuhkan
informasi yang dapat dipercaya untuk kesiapan
dalam menghadapi bencana dari berbagai sumber.
Oleh sebab itu, peran masyarakat sangat dominan
dalam penananggulangan bencana, jika peran
tenaga kesehatan dipadukan dengan kesiapan
masyarakat dan badan terkait lainnya, maka akan
terwujudnya masyarakat yang siaga terhadap
bencana, sehingga dapat meminimalisir terjadinya
dampak serta kerugian akibat bencana.
Salah satu kecamatan di Kabupaten Agam
yang yang berada disekitar Gunung Marapi adalah
Kecamatan Sungai Puar.Dari survey awal yang
peneliti lakukan di Kecamatan Sungai Puar
didapatkan data terdiri dari lima (5) nagari dengan
total jumlah penduduk 27.661 jiwa. Dari lima
nagari tersebut terdapat tiga nagari yang sangat
dekat dengan erupsi Gunung Marapi (zona merah)
yaitu Nagari Sungai Puar, Batu Palano dan Sarik.
Hasil wawancara yang dilakukan dengan aparat
wilayah Sungai Puar bahwa kecamatan ini sudah
ditetapkan sebagai Kecamatan Siaga Bencana.
Kegiatan yang sudah dilakukan pada tahun 2014
oleh pihak kecamatan yaitu sosialisasi dan
eduaksi berkaitan dengan
evaluasi dan
penanggulangan bencana. Hasil wawancara
dengan beberapa orang masyarakat di Nagari
Sungai Puar menyatakan tidak tahu dan tidak
perlu mempersiapkan diri dalam menghadapinya
karena tidak dapat diprediksi sehingga tidak perlu
disiapkan Oleh karena itu peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian yang berjudul tentang
“Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku
kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana
erupsi Gunung Marapi di Kecamatan Sungai Puar,
Kabupaten Agam tahun 2016”.
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
2. METODE
Penelitian telah dilakukan pada bulan April sd
Mei 2016. Sampel pada penelitian ini adalah
masyarakat di Kecamatan Sungai Puar khususnya
di Tiga Kenagarian yaitu Kenagarian Sungai Pua,
Batu Palano dan Batagak dengan sampel sebayak
212 KK. Tehnik Pengambilan sampel dilakukan
dengan multistage random sampling. Proses
pengumpulan data dilakukan dengan mengukur
faktor pengetahuan, persepsi, sikap, serta perilaku
kesiapan dalam bencana erupsi Gunung Merapi
dengan menggunakan kuesioner dan waktu
pengisian
30-45 menit. Penelitian ini
menggunakan analisis univariat, bivariatdan
multivariat untuk mengetahui distribusi frekuensi
pengetahuan, persepsi, sikap,keinginan dan
motivasi serta perilaku kesiapan, hubungan faktor
pengetahuan, persepsi, sikap,keinginan dan
motivasidengan perilaku kesiapan menggunakan
uji chi squaredengan α = 0,05 dan tingkat
kepercayaan 95%.
2
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Penelitian
3.1.1Faktor Perilaku Kesiapan Masyarakat
Tabel 3.1 Distribusi Frekuensi FaktorPerilaku Kesiapan Masyarakat Mei 2016 ( n = 212 )
No
Variabel
F
%
1 Pengetahuan
Rendah
105
49,5
Tinggi
107
50,5
2 Persepsi
Negatif
56
26,4
Positif
156
73,6
3` Sikap
Negatif
65
30,7
Positif
147
69,3
4 Keinginan
Rendah
76
35,8
Tinggi
136
64,2
5 Motivasi
Rendah
99
46,7
Tinggi
113
53,3
Tabel 3.1 menunjukkan bahwa distribusi proporsi pengetahuan responden yang tinggi dan
rendah hampir sama banyak yaitu sebesar 49.5% rendah dan 50.5% tinggi. Selanjutnya persepsi
responden responden yang terbanyak adalah postif sebesar 73.6% dan untuk sikap yang
terbanyak adalah positif yaitu sebesar 69.3 %, keinginan yang terbanyak adalah tinggi sebesar
64.2% dan motivasi responden lebih dari separo adalah tinggi yaitu 53.3%.
3.1.2 Kesiapan Masyarakat Dalam Bencana
Tabel 3.2 Distribusi Frekuensi Kesiapan Masyarakat Dalam Bencana Mei 2016 ( n = 212 )
No
1
2
Kesiapan
Rendah
Tinggi
Jumlah
F
42
170
212
%
19,8
80,2
100%
Tabel 3.2 menunjukkan bahwa distribusi proporsi kesiapan responden dalam menghadapai
bencana sebagian besar adalah tinggi yaitu sebesar 80.2%
3.1.3
Hubungan pengetahuan, persepsi, sikap, keinginan dan motivasi dengan Kesiapan
Masyarakat Dalam Bencana Erupsi Gunung Merapi
.
3.1.3.1 Analisa korelasi perilaku terhadap kesiapan menghadapi bencana
Tabel 3.3. Distribusi Frekuensi korelasi perilaku terhadap kesiapan menghadapi bencana Mei
2016 ( n = 212 )
Correlations
Variabel bebas (Independent variable)
Sig. (1-tailed)
Pengetahuan
0,558
Persepsi
0,000
Sikap
0,207
Keinginan
0,001
Motivasi
0,042
LPPM STIKes Perintis Padang
3
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Pengambilan keputusan didasarkan padaperbandingan antara nilai ( ) dan nilai probabilitas (0,05). Jika
nilai ( ) lebih kecildari 0,05 maka hipotesis awal ditolak artinyaterdapat hubungan yang erat antara
variabel bebasdan variabel terikat. Dari Tabel 3.4.3 dapat diketahui bahwa terdapat 3 (tiga) variabel
yang memilikinilai kurang dari 0,05 yaitu persepsi, keinginan, dan motivasi kesiapan menghadapi
bencana erupsi Gunung Marapi . Dengan demikian, dapat disimpulkanbahwa faktorpersepsi, keinginan,
dan motivasipersepsi, keinginan, dan motivasi mempunyai tingkat korelasi yang tinggi dengankesiapan
masyarakat dalam menghadapi bencana erupsi Gunung Marapi.
3.1.3.2 Analisis regresi logistic kesiapan masyarakat terhadap bencana erupsi Gunung Marap
Tabel 3.3.1 Distribusi Frekuensi korelasi perilaku terhadap kesiapan menghadapi bencana
Mei 2016 ( n = 212 )
Correlations
Variabel bebas (Independent variable)
Pengetahuan
Persepsi
Sikap
Keinginan
Motivasi
Sig. (1-tailed)
0,558
0,000
0,207
0,001
0,042
Tabel 3.3.2 . Pemodelan Analisis miltivariate
No
1
2
3
4
5
Variabel
Pengetahuan
Persepsi
Sikap
Keinginan
Motivasi
B
0,049
-0,937
0,130
-0,614
0,126
P wald
0,017
1,950
0,086
1,292
0,058
sig
0,896
0,163
0,769
0,256
0,809
Exp (B)
1,050
0,392
1,139
0,541
1,134
95% CI
Lower
Upper
0,508
2,170
0,105
1,459
0,477
2,719
0,188
1,560
0,410
3,136
Hasil pengolahan data pada tabel 3.3.2 untuk multivariat dengan menggunakan regesi logistik diapatkan
pada permodelan tahap 1 bahwa tidak ada varibel yang memiliki nilai p value ≤ 0.05, sehingga
permodelan tidak dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya dan dapat disimpulkan tidak ada faktor yang
dominan dalam mempengaruhi kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana erupsi Gunung Marapi
atau persepsi, keinginan dan motivasi sebagai faktor yang sama kuatnya mempengaruhi terhadap
kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana erupsi Gunung Marapi.
3.2
Pembahasan
3.2.1 Faktor yang mempengaruhi perilaku
kesiapan (Pengetahuan, Persepsi, Sikap,
Keinginan, Motivasi)
Hasil penelitian tentang
faktor yang
mempengaruhi
perilaku
kesiapan
dalam
menghadapi bencana erupsi Gunung Merapi
meliputi pengetahuan, persepsi, sikap,keinginan,
dan motivasi. Hasil penelitian ini didapatkan
bahwa distribusi proporsi pengetahuan responden
yang tinggi dan rendah hampir sama banyak yaitu
sebesar 49.5% rendah dan 50.5% tinggi.
Selanjutnya persepsi responden responden yang
terbanyak adalah postif sebesar 73.6% dan untuk
sikap yang terbanyak adalah positif yaitu sebesar
LPPM STIKes Perintis Padang
69.3 %, keinginan yang terbanyak adalah tinggi
sebesar 64.2% dan motivasi responden lebih dari
separo adalah tinggi yaitu 53.3%.
Maulana (2007) menyatakan bahwa
determinan perilaku adan dua macam yaitu
internal dan eksternal. Determinan internal adalah
karakteristik dari individu atau kelompok yang
bersangkutan yang meliputi ras, sifat fisik, sifat
kepribadian, bakat bawaan, tingkat kecerdasan,
dan jenis kelamin. Faktor eksternal meliputi
lingkungan fisik, sosial budaya, ekonomi dan
politik. Menurut International Council Nurse
(2007) bahwa
faktor – faktor
yang
mempengaruhi kesiapsiagaan perawat meliputi
kemampuan kognitif, sikap (affektif) dan
psikomotor (skill) dalam disaster manajemen,
4
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Pengetahuan Kebencanaan yang dimiliki.
Sementara itu menurut citizan Corps (2006)
menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi kesiapsiagaan suatu komunitas
terhadap bencana, yaitu; 1) external motivasi
meliputi kebijakan, pendidikan dan latihan, dana,
2) pengetahuan, 3) sikap , dan 4) keahlian
3.2.2 Perilaku Kesiapan Dalam Menghadapi
Bencana Erupsi Gunung Merapi
Hasil penelitian ini didapatkan bahwa
distribusi proporsi perilaku kesiapan responden
dalam menghadapai bencana sebagian besar
adalah tinggi yaitu sebesar 80.2%
Skiner (1938, dalam Notoadmojo 2005)
menyatakan perilaku merupakan respons atau
reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan
dari luar). Perilaku manusia pada hakekatnya
adalah aktivitas yang timbul karena adanya
stimulus dan respon sera dapat diamati secara
langsung dan tidak langsung. Menurut Sarwono
(1983, dalam Notoadmojo 2005) ciri-ciri yang
membedakan perilaku manusia dengan mahluk
lain adalah kepekaan sosial, orientasi pada tugas,
usaha dan perjuangan dan tiap individu unik.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
Susanti, dkk (2013) yang didapatkan tingkat
kesiapsiagaan komunitas SSB yang sangat siap
menghadapi bencana dan juga hasil penelitian
Nugroho, dkk (2007) yang didapatkan sebagian
besar keluarga siap dalam menghadapi bencana
khususnya bencana gempa dan tsunami di Nias.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil
penelitian Johnston and Becker, (2013) yang
menunjukan tingkat kesiapan individu dalam
menghadapi bencana sangat rendah meski
dilakukan kampanye untuk mengurangi resiko
bencana.Perilaku dalam kesiapan bencana
merupakan sebagai kelangsungan dari perilaku
sebelumnya
dan
perilaku
berikutnya.
Kesiapsiagaan bencana merupakan serangkaian
upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi
bencana melalui pengorganisasian serta langkahlangkahsecara berdayaguna dan berhasil guna Jadi
perilaku manusia dalam kesiapan bencana tidak
pernah berhenti hal ini dapat dikaitkan dengan
pengalaman,informasi
yang
didapatkan
sebelumnya sehingga melakukan perilaku baru
untuk meningkatkan perilaku selanjutnya. Hal ini
dibuktikan hasil penelitian ini dengan lebih dari
separo perilaku kesiapan dalam menghadapi
bencana adalah tinggi (80%).
Mc. Kiernan, dkk (2005) mengemukakan
bahwa perilaku atau tindakan berhubungan
dengan terbentuk atau punahnya suatu kebiasaan.
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Tindakan
merupakan
mekanisme
suatu
pengamatan yang muncul dari persepsi sehingga
ada respon untuk mewujudkan suatu tindakan.
Dasar dari setiap sikap dan tindakan manusia
adalah adanya persepsi, pengetahuan dan
keterampilan yang dimilikinya.Menurut Anam,
Andarini dan Kuswantoro (20130 bahwa salah
satu teori perilaku yaitu teori Preced-Proceed
yang di kembangkan oleh Lawrence Green.
Menurut teori ini perilaku manusia dari tingkat
kesehatan dimana ada beberapa faktor yang
mempengaruhi perilaku
diantaranya adalah
pengetahuan yang termasuk sebagai faktor
predisposisi
(predisposing factor) dalam
pembentukan perilaku kesiapsiagaan bencana.
Pengetahuan seseorang atau masyarakat tentang
kesiagaan bencana Gunung Marapi
akan
mendorong masyarakat untuk berusaha dalam
kondisi siapsiaga mengahadapi bencana Gunung
Marapi
tersebut.Berbagai
pengalaman
menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi
bencana ini seringkali terabaikan pada masyarakat
yang belum memiliki pengalaman langsung
dengan bencana (Priyanto, 2006).
Disisi lain bahwa adanya kebijakan BNPB
yang
memberikan
arahan
Nasional
Penanggulangan Bencana (Renas PB) adalah
perencanaan lima tahunan di tingkat nasional yang
memuat program program dan kegiatan
penanggulangan bencana yang direncanakan oleh
pemerintah untuk mengurangi risiko bencana di
seluruh Indonesia, hal ini juga terlihat dengan
adanya program oleh Kecamatan Sungai Pua
sebagai kecamatan siaga bencana, sehingga
kesiagaan masyarakat dan seluruh elemen dalam
menghadapi bencana Gunung Marapi akan tinngi
pula.
3.2.3 Hubungan Faktor Pengetahuan,
Persepsi, Sikap, Keinginan, Motivasi dengan
kesiapan menghadapi bencana erupsi Gunung
Marapi
Pengambilan
keputusan
didasarkan
padaperbandingan antara nilai Sig. 1-tailed dan
nilai probabilitas (0,05). Jika nilai Sig. 1-tailed
lebih kecildari 0,05 maka hipotesis awal ditolak
artinyaterdapat hubungan yang erat antara
variabel bebasdan variabel terikat. Dari Tabel
3.4.3 dapat diketahui bahwa terdapat 3 (tiga)
variabel yang memiliki nilai kurang dari 0,05 yaitu
persepsi, keinginan,
dan motivasi kesiapan
menghadapi bencana erupsi Gunung Marapi .
Dengan demikian, dapat disimpulkanbahwa
faktorpersepsi, keinginan, dan motivasipersepsi,
keinginan, dan motivasi mempunyai tingkat
5
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
korelasi yang tinggi dengan kesiapan masyarakat
dalam menghadapi bencana erupsi Gunung
Marapi.
Persepsi merupakan proses diterimanya
rangsang melalui panca indera, yang didahului
oleh perhatian (attention) sehingga individu sadar
tentang sesuatu yang ada didalam maupun yang
ada diluar dirinya. Menurut Triutomo (2007), di
Indonesia,
masih
banyak
penduduk
yangmenganggap bahwa bencana itu merupakan
suatu takdir. Pada umumnya merekapercaya
bahwa bencana itu adalah suatu kutukan atas dosa
dan kesalahan yang telahdiperbuat, sehingga
seseorang harus menerima bahwa itu sebagai
takdir akibatperbuatannya. Sehingga tidak perlu
lagi berusaha untuk mengambil langkah-langkah
pencegahan atau penanggulangannya.
Keinginan adalah niat yang timbul pada
individu untuk melakukan sesuatu (Annissa,
2014). Hasil penelitian didapatkan ada hubungan
antara keinginan dengan kesiapan masyarakat
menghadapi bencana erupsi Gunung Marapi.
Adanya keinginan masyarakat mendorong mereka
untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan
kesiapan menghadapi bencana erupsi Gunung
Marapi. Hal ini terlihat dari hasil penelitian ini
dimana responden telah menentukan tempat yang
aman untuk mengungsi jika terjadi letusan gunung
Merapi,,telah membuat tanggul lumpur / lahar jika
akan terjadi letusan gunung Merapi.
Motivasi adalah dorongan penggerak untuk
mencapai tujuan tertentu, baik disadari maupun
tidak disadari. Motivasi dapat timbul dari dalam
diri ataupun dari lingkungan (Sunaryo,
2004).Selanjutnya
Notoatmodjo
(2010)
menambahkan hasil dari beberapa pengalaman
dan hasil observasi yang terjadi di lapangan
(masyarakat) bahwasanya perilaku seseorang
termasuk terjadinya perilaku kesehatan, diawali
dengan
adanya
pengalaman-pengalaman
seseorang serta adanya faktor eksternal
(lingkungan fisik dan non fisik). Pengalaman dan
lingkungan tersebut kemudian diketahui,
dipersepsikan atau diyakini seseorang sehingga
menimbulkan motivasi/niat untuk bertindak yang
akhirnya diwujudkan berupa perilaku, termasuk
perilaku kesiapan dalam menghadapi bencana.
Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian
Reskar (2001) yang mendapatkan adanya
pengaruh motivasi terhadap produktivitas. Hal ini
juga sesuai dengan penelitian ini dimana dengan
tingginya motivasi mendorong tingginya kesiapan
masyarakat dalam menghadapi erupsi bencana
Gunung Marapi.
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Dari tabel tersebut juga didapatkan 2 (dua)
variabel yang memiliki nilai lebih dari 0,05 yaitu
pengetahuan dan siakap kesiapan menghadapi
bencana erupsi Gunung Marapi . Dengan
demikian,
dapat
disimpulkanbahwa
faktorpengetahuan dan sikap tidak berhubungan
dengan kesiapan masyarakat menghadapi bencana
erupsi Gunung Marapi.
Pengetahuan adalah salah satu faktor yang
mempengaruhi perubahan perilaku seseorang,
karena dari pengalaman dan penelitian, perilaku
yang didasarkan oleh pengetahuan akan menetap
lebih lama pada seseorang daripada perilaku yang
tidak didasari oleh pengetahuan (Purwanto,
1999).Pengetahuan dibagi menjadi 6 (enam)
tingkatan
meliputi;
tahu,
memahami
(comprehension), aplikasi, analisis, sintesis dan
evaluasi (Notoatmodjo, 2010; Gronlund, 1970,
dalam Allender & Spradley,2005).
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Ryan
(2015) didapatkan tidak terdapatnya hubungan
antara pengetahuan dengan kesiapsiagaan tanggap
darurat kebakaran dengan pvalue 0,165. Namun
penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian
Ismawan Adityansyah yang menyebutkan bahwa
ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan
kesiapsiagaan tanggap darurat kebakaran. Riset
yang dilakukan di New Zealand memperlihatkan
bahwa perasaan bisa mencegah bahaya gempa
bumi dapat ditingkatkan dengan intervensi
melalui pengisian kuesioner pengetahuan tentang
gempa bumi yang di follow up dengan penjelasanpenjelasan yang ditujukan untuk menghilangkan
gap atau miskonsepsi pengetahuan tentang gempa
bumi. Hasil riset menunjukkan bahwa
pengetahuanpartisipan mengenai gempa bumi
berhubungan
dengan
tingkat
kesiapannyamenghadapi gempa bumi.Dengan
pengetahuan
akan
meningkatkan
kemampuanpenduduk
mempersiapkan
diri
dengan lebih baik dari gempa bumi atau bencana
lain(Priyanto, 2006)
Menurut asumsi peneliti bahwa terjadinya
perubahan perilaku khususnya berkaitan dengan
kesiagaan menghadapi bencana pada masyarakat
tersebut jika pengetahuan seseorang atau
masyarakat sudah mencapai pada tingkatan yang
tinggi yaitu tingkatan sistesis dan evaluasi, karena
pada tingkatan ini kemampuan seseorang atau
masyarakat dalam tahap ini, tidak hanya mampu
memisahkan dan memahami bagian-bagian dari
komponen yang dipelajari berkaitan kesiagaan
bencana , tetapi juga membentuk bagian-bagian
dari komponen tersebut dalam bentuk satu
kesatuan yang baru dan Evaluasi merupakan
6
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
tingkatan pengetahuan yang lebih tinggi dari
sintesis, sehingga seseorang atau masyarakat
secara otomatis telah memiliki kemampuan untuk
membuat solusi yang adekuat berkaitan dengan
kesiagaan bencana berdasarkan penilaian yang
dilakukannya.
Sikap adalah respon tertutup seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek, baik yang
bersifat
intern
atau
ekstern
sehingga
manifestasinya tidak dapat langsung terlihat,
tetapi hanya dapat ditafsirkan dahulu dari perilaku
yang tertutup tersebut (sunaro, 2004). Sikap
adalah hasil evaluasi terhadap objek yang
diekspresikan ke dalam proses-proses kognitif,
afektif (emosi), dan perilaku. Sikap sebagai hasil
evaluasi merupakan totalitas yang disimpulkan
dari berbagai pengamatan terhadap objek yang
diekspresikan dalam bentuk respon kognitif,
afektif maupun perilaku (Eagly.et.al., 1993, dalam
Wawan & Dewi, 2010). Newcomb (1969),
seorang ahli psikologi sosial yang dikutip oleh
Notoatmodjo (2010) menyatakan bahwa sikap
merupakan kesiapan atau kesediaan seseorang
untuk bertindak, dan bukan merupakan
pelaksanaan motif tertentu, sikap bukan
merupakan tindakan (belum dapat diamati dari
luar), akan tetapi menjadi predisposisi dari
tindakan yang dilakukan
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan
penelitian Ryan (2015) yang menyatakan
Terdapatnya hubungan antara sikap dengan
kesiapsiagaan tanggap darurat kebakaran dengan
pvalue 0,000. Penelitian lainnya juga menunjukan
tidak sejalan dengan penelitian ini adalah
penelitian Sulistianingrum (2010) ada hubungan
antara sikap dengan kesiapsiagaan tanggap darurat
bencana kebakaran.
penanggulangan bencana.Pengetahuan bencana
yang dimiliki umumnya sangat mempengaruhi
sikap dan kepedulian untuk siap siaga menghadapi
bencana.
Menurut
asumsi
peneliti
bahwa
ditemukannya tidak ada hubungan sikap dengan
kesiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana
gunung merapi disebabkan oleh faktor
pengetahuan dari masyarakat tersebut berkaitan
dengan bencana dimana didapatkan hampir separo
yaitu 49.5% responden (masyarakat) memilki
pengetahuan yang rendah berkaitan dengan
kesiagaan bencana. Hal ini sejalan dengan
peryataan Anam, Andarini dan Kuswantoro
(2013) yang menyatakan bahwa sikap dapat
mendukung
kemauan
seseorang
dalam
meningkatkan
pengetahuannya
tentang
penanggulangan bencana. Peningkatan sikap
seseorang
dalam penanggulangan bencana
dilakukan dengan melibatkan langsung seesorang
atau
masyarakat
dalam
persiapan
Allender. J.A., & Spradley, B.W. (2005).
Communnity health nursing: Promoting
and protecting the public’s health. (6thEd.).
Philadelphia : Lippincott Williams &
Wilkins.
Aminudin. 2013. Mitigasi dan Kesiapsiagaan
Bencana Alam. Bandung : Angkasa.
Antoni, S. 2014. BPBD SUMBAR larang daki tiga
gunung .Diakses pada tanggal 20 Maret
2014.
http://geospasial.bpbdsumbar.go.id/wpcontent/uploads/2011/06/dusun.html
Berita satu.com. 2014. 19 Gunung Berapi
Indonesia Berstatus Waspada. Diakses pada
tanggal
20
Maret
2014.
http://www.gunungsemeru.com/2013/04/d
LPPM STIKes Perintis Padang
4. KESIMPULAN
4.1 Distribusi proporsi pengetahuan responden
yang tinggi dan rendah hampir sama banyak
yaitu sebesar 49.5% rendah dan 50.5% tinggi.
4.2 Distribusi
proporsipersepsi
responden
responden yang terbanyak adalah postif
sebesar 73.6%
4.3 Distribusi proporsi sikap yang terbanyak
adalah positif yaitu sebesar 69.3 %,
4.4 Distribusi proporsi keinginan yang terbanyak
adalah tinggi sebesar 64.2%
4.5 Distribusi proporsi motivasi responden lebih
dari separo adalah tinngi yaitu 53.3%.
4.6 Distribusi proporsi kesiapan
responden
dalam menghadapi bencana sebagian besar
adalah tinggi yaitu sebesar 80.2%
4.7 Ada hubungan yang signifikan persepsi,
keinginan dan motivasi dengan perilaku
kesiapan dalam menghadapi bencana erupsi
Gunung Merapi Hasil uji stasistik diperoleh
nilai p= 0,000, p= 0,001 dan p= 0,042
4.8 Tidak ada hubungan pengetahuan dan sikap
dengan perilaku kesiapan dalam menghadapi
bencana erupsi Gunung Merapi Hasil uji
stasistik diperoleh nilai p= 0,058 dan
p=0,207
4.9 Tidak ada faktor yang dominan (persepsi,
keinginan dan otivasi) dalam memepengaruhi
kesiapan masyarakat dalam menghadapi
bencana erupsi Gunung Marapi.
5. REFERENSI
7
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
aftar-namagunungdi-indonesia-besertaletaknya.html
DEPKES RI. 2006. Penatalaksanaan Korban
Bencana Massal. Edisi ke-3. Jakarta :
DEPKES RI.
Dorotha L.H. Exploration of the know ledge,
perceptions of personal R isk and perc ptio
n of the public health response to a
Terrorist
event or natural disaster:
perspective.
.
2006;
http://www.
proquest.com/docview/pdf,
diperoleh
tanggal 5 Maret 2015).
Hitchcock, J.E., Schubert, P.E., & Thomas, S.A.
(1999). Community health nursing: Caring
in action. Albani: Delmas Publisher.
Issni Nurul Annissa (2014). Faktor-faktor yang
berhubungan dengan keinginan pindah
kerja perawat di RS. Sehat Terpadu. Skripsi
Keputusan Mentri Kesehatan RI. 2006. Pedoman
Penanggulangan Masalah Kesehatan Jiwa
dan Psikososial pada Masyarakat Akibat
Bencana dan Konflik. Jakarta : DEPKES
RI.
Mubarak I. W & Chayatin, N. 2009. Ilmu
Keperawatan Komunitas Pengantar dan
Teori. Jakarta : Salemba Medika.
Notoadmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Edisi Refisi. Jakarta :
Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan.
Jakarta: Rineka Cipta.
Potter, P.A., & Perry, A.G. (2005). Fundamental
of Nursing : concepts, process and practice
(4thed). Alih bahasa : Yasmin, A., dkk.
Jakarta: EGC.
Ramli S. 2010. Pedoman Praktis Manajemen
Bencana (Disaster Manajemen). Jakarta :
Dian Rakyat.
Stanhope, M., & Lancaster, J. (2004). Community
and public health nursing. (6th Ed). Mosby
: St Louis.
UU Republik Indonesia. Nomor 24. Tahun 2007.
Tentang Penanggulangan Bencana.
Weenbee. (2011). Peran Perawat Dalam
Manajemen
Bencana.http://weenbee.wordpress.com/20
11/08/23/peran-perawat-dalammanajemen
bencana/#more-94. Diakses Pada Tanggal
21 Maret 2014.
LPPM STIKes Perintis Padang
8
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGONTROLAN
PERILAKU KESEHATAN PADA PASIEN PASCA STROKE
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RASIMAH AHMAD
BUKITTINGGI TAHUN 2016
Yaslina1, Rizi Faserina2
.Program Studi Ilmu Keperawatan, STIKes Perintis Padang
Email:[email protected]
2.
Program Studi Ilmu Keperawatan, STIKes Perintis Padang
Email:[email protected]
1.
Abstract
Treatments of the post stroke are important during the recovery of the stroke patients at home to prevent
the occurrence of the risk of recurrent stroke and complications of it. This research aims to know the
relationship between the factors that relate to the control of health behavior of patients' post-stroke.
Research design was descriptive analytic with cross sectional design. This research was done in
January 2016 with total sampling in this research as 30 people in post stroke patients who were in the
working area at Clinics Rasimah Ahmad, the measurement of knowledge, attitudes, economic status,
family support, and health behavior control methods by using questionnaire. The data described by the
shape of the table, analyzed by chi square test. In this study the results obtained the majority of the
respondents have good knowledge about stroke care i.e. 26 people (86,7%) General people (56.7%)
being nice, 10 (33.3%) with economic status above the UMR, 14 people (46.7) with good family support,
and 14 people (46,7%) with a good health behavior control.Based on the analysis results obtained
bivariat no relation with the economic status of knowledge, controlling behavior, whereas in the attitude
of the obtained relations significance of 0.04 with OR 13.22 and support families of 0.003 with OR
15.88. In this research it can be concluded that the attitudes and family support are in the control of
health behavior of post stroke. As for economic status of knowledge, there is no connection with the
control of health behavior. A good understanding of the expected against control health behaviors in
patients and encourage family support care post-stroke patientthat can be done since the beginning of
the patients admitted in the hospital.
Keywords: controlling factors of health, post-stroke patients, behavior
1. PENDAHULUAN
Stroke
merupakan
suatu
penyakit
menurunnya fungsi syaraf secara akut yang
disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak,
terjadi secara mendadak dan cepat yang
menimbulkan gejala dan tanda sesuai dengan
daerah otak yang terganggu. Stroke dapat juga
diartikan sebagai suatu sindroma yang
mempunyai karakteristik suatu serangan yang
mendadak, nonkonvulsif yang disebabkan karena
gangguan perdarahan otak non traumatik. Stroke
memiliki beberapa sindrome yang terdiri dari
tanda dan atau gejala hilangnya fungsi sistem saraf
pusat fokal (atau global) yang berkembang cepat
(dalam detik atau menit) (Jeffrey, 2012).
Menurut WHO stroke merupakan pembunuh
nomor 3 setelah penyakit jantung dan kanker.
Sebanyak 75% pasien stroke di Amerika
menderita kelumpuhan. Di Eropa ditemukan
sekitar 650.000 kasus baru stroke setiap tahunnya.
LPPM STIKes Perintis Padang
Di Inggris stroke menduduki urutan ke-3 sebagai
pembunuh setelah penyakit jantung dan kanker.
Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki)
menyebutkan, angka kejadian stroke menurut data
dasar rumah sakit 63,52 per 100.000 penduduk
usia di atas 65 tahun, sedangkan jumlah penderita
yang meninggal dunia lebih dari 125.000 jiwa
(Ratna, 2011). Data dari rekam medik Rumah
Sakit Stroke Nasional Bukittinggi di dapat total
pasien stroke pada tahun 2014 sebesar 6160
pasien. Jumlah kunjungan rawat jalan sebesar
1880 dengan kasus stroke non hemoregik sedang
jumlah pasien rawat inap sebesar 3276 pasien
stroke non hemoregik dan 1004 pasien hemoregik.
Stroke susulan bisa juga terjadi sesaat setelah
terjadi stroke yang pertama sekitar 3% pasien
stroke sering kali terkena stroke susulan dalam
waktu 30 hari. Namun, bahaya ini tentunya akan
menurun setelah pasien menjalani perawatan yang
intensif (Vitahealth, 2003). Sekitar 30% - 40%
9
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
penderita stroke dapat disembuhkan secara
sempurna bila ditangani dalam jangka waktu 6
jam atau kurang dari itu, agar pasien tidak
mengalami kecacatan. Tapi, sebagian penderita
serangan stroke baru datang kerumah sakit setelah
48 jam terjadinya serangan (Sutarto 2003).
Sumber lain menyebutkan bahwa sekitar 30% 43% dapat terjadi serangan stroke ulang dalam
waktu 5 tahun. Kemungkinan terjadi kematian
akibat serangan stroke antara 20% sampai dengan
30%. Dengan demikian, masih terdapat
kemungkinan sembuh total ataupun sembuh
dengan fungsi beberapa bagian tubuh yang
mengalami kecacatan. Sekitar 50% penderita
stroke yang mengalami kelumpuhan separuh
badan dapat kembali memenuhi kebutuhannya
sendiri.Mereka dapat berpikir dan berjalan dengan
baik, meskipun penggunaan lengan atau tungkai
agak terbatas.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
menekan angka kejadian stroke berulang adalah
mengetahui faktor resiko dan melakukan upaya
memodifikasi gaya hidup, menjalani terapi yang
diberikan dan melakukan pemeriksaan yang dapat
memberikan informasi optimal tentang faktor
resiko.
Modifikasi prilaku serta pengontrolan faktor
resiko stroke merupakan hal yang penting
dilakukan dalam perawatan pasca stroke karena
stroke dapat berulang.Stroke berulang merupakan
suatu hal yang mengkhawatirkan karena dapat
memberikan karena dapat memperburuk keadaan
klien artinya terjadi bahaya yang lebih parah dari
serangan pertama dan meningkatkan biaya
perawatan (Siswanto & Yuliadji, 2005).
Sebagian besar stroke terjadi akibat
kombinasi faktor penyebab medis yaitu faktor
resiko (misalnya, peningkatan tekanan darah) dan
faktor prilaku (merokok). Sebagian besar faktor
resiko dapat dikendalikan atau dihilangkan sama
sekali dengan cara medis misalnya minum obatobatan tertentu, atau cara non medis misalnya
perubahan gaya hidup. Ini disebut faktor resiko
yang dapat dimodifikasi.Diperkirakan 80% stroke
dapat dicegah dengan mengendalikan faktor
resiko yang dapat dimodifikasi tersebut.Salah satu
caranya dengan melakukan pengotrolan dan
pengawasan prilaku kesehatan (Feigin, 2007).
Perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas
manusia, baik yang dapat diamati langsung
maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak
luar.Perilaku merupakan respons atau reaksi
seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari
luar).Terdapat
sejumlah
faktor
yang
mempengaruhi perilaku kesehatan seseorang.
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Diantaranya faktor predisposisi (pengetahuan,
keyakinan, nilai, sikap, budaya, usia, jenis
kelamin, ras dan akses ke pelayanan kesehatan),
faktor
yang
memungkinkan
(dukungan,
keterampilan, kemampuan, ketersediaan sumber
daya, kemampuan fisik, emosional, faktor
ekonomi), dan faktor yang menguatkan (insentif,
dukungan keluarga dan teman sebaya, sumber
komunitas, akses ke pendidikan). Diantara
beberapa faktor yang dapat dimodifikasi faktor
yang paling sering mempengaruhi perilaku
penderita stroke dalam menjaga kesehatannya
adalah pengetahuan, sikap, motivasi penderita dan
dukungan dari keluarga (Kathleen, 2006).
Tujuan penelitian ini adalah Untuk
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi
pengontrolan perilaku kesehatan terhadap pasien
pasca stroke di wilayah kerja Puskesmas Rasimah
Ahmad Bukittinggi tahun 2016.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan rancangan
penelitian metode deskriptif
analitik yang
bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi pengontrolan perilaku kesehatan
terhadap pasien pasca stroke di wilayah kerja
Puskesmas Rasimah Ahmad Bukittinggi tahun
2016. Pendekatan desain penelitian dengan cross
sectional. Rancangan ini merupakan penelitian
dimana variabel-variabel yang termasuk faktor
resiko dan variabel-variabel yang termasuk efek
diobservasi sekaligus pada waktu yang sama
(Notoadmojo, 2005).
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
pasien Stroke yang berobat ke Poliklinik RSSN
Bukittinggi yang berasal dari wilayah kerja
Puskesmas Rasimah Ahmad Bukittinggi yang
berjumlah 33 orang.
Teknik sampling yang digunakan dalam
penelitian ini adalah purposive sampling, yaitu
pengambilan sampel yang didasarkan pada
pertimbangan peneliti Jumlah sampel adalah 30
responden berdasarakan hitungan rumus. Untuk
mengumpulkan responden, peneliti melakukan
kunjungan ke rumah responden dari tanggal 15
Januari 2016 selama 2 minggu.
10
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
3.
ISSN: 2548-3153
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisa Univariat
Tabel1. Distribusi frekuensi pengetahuan responden di Puskesmas Rasimah Ahmad
Tahun 2016
No
Pengetahuan
Frekuensi
Persentase (%)
1
Tinggi
26
86,7
2
Rendah
4
13,3
Total
30
100,0
Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa lebih dari separoh yaitu 26 responden (86,7%) memiliki
pengetahuan tinggi.
Tabel 2. Distribusi frekuensi sikap responden di Puskesmas Rasimah Ahmad
Tahun 2016
No
1
2
Sikap
Baik
Kurang baik
Total
Frekuensi
17
13
30
Persentase (%)
56,7
43,3
100,0
Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa lebih dari separoh yaitu 17 responden (56,7%) bersikap baik dalam
pengontrolan perilaku kesehatan
No
1
2
Tabel 3. Distribusi frekuensi Status Ekonomi Responden
di Puskesmas Rasimah Ahmad Tahun 2016
Status Ekonomi
Frekuensi
Persentase (%)
Sesuai UMR
10
33,3
Dibawah UMR
20
66,7
Total
30
100,0
Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa kurang dari separoh yaitu 10 responden (33,3%) memiliki
penghasilan sesuai UMR.
Tabel 4. Distribusi frekuensi dukungan keluarga di wilayah kerjaPuskesmas Rasimah Ahmad
tahun 2016.
No
Dukungan keluarga
Frekuensi
Persentase (%)
1
Baik
14
46,7
2
Kurang baik
16
53,3
Total
30
100,0
Dari tabel 4 dapat dilihat bahwa kurang dari separuh yaitu 14 (46,7%) responden yang mendapat
dukungan keluarga dalam pengontrolan perilaku kesehatan.
Tabel 5. Distribusi frekuensi pengontrolan perilaku kesehatan pasien pasca stroke
di Puskesmas Rasimah Ahmad tahun 2016
No
Pengontrolan Perilaku
Frekuensi
Persentase (%)
Kesehatan
1
Tinggi
14
46,7
2
Rendah
16
53,3
Total
30
100,0
Dari tabel 5 dapat dilihat bahwa kurang dari separuh yaitu 14 (46,7%) responden melakukan
pengontrolan perilaku kesehatan.
LPPM STIKes Perintis Padang
11
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Analisa Bivariat
Tabel 6. Distribusi frekuensi Hubungan pengetahuan dengan pengontrolan perilaku
kesehatan pasien pasca stroke di Puskesmas Rasimah Ahmad tahun 2016
Pengontrolan Perilaku Kesehatan
P
Jumlah
OR
Value
Pengetahuan
Baik
Kurang Baik
f
%
F
%
f
%
Tinggi
14
53,8
12
46,2
26
100
0,103
2,167
Rendah
0
0
4
100
4
100
Total
14
46,7
16
53,3
30
100
Dari tabel 6 dapat dilihat bahwa dari 26 responden yang pengetahuan tinggi terdapat 53,8% yang
melakukan pengontrolan perilaku kesehatan pasca stoke dengan baik dan 46,2% tidak baik. Sedangkan
responden pengetahuan rendah 4 responden, 0% melakukan pengontrolan perilaku pasca stroke dengan
baik dan 100% melakukan pengontrolan perilaku kesehatan kurang baik.Berdasarkan uji statistik
pengetahuan dengan pengontrolan perilaku kesehatan pasien pasca stroke diperoleh nilai p =
0,103(p<0,05), berarti H0 diterima yaitu tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan pengontrolan
perilaku kesehatan pada pasien pasca stroke.
Tabel 7. Distribusi frekuensi Hubungan sikap dengan pengontrolan perilaku kesehatan
pasien pasca stroke di Puskesmas Rasimah Ahmad
Tahun 2016
Pengontrolan Perilaku kesehatan
P
Jumlah
OR
Value
Sikap
Baik
Kurang Baik
f
%
f
%
f
%
Baik
12
70,6
5
29,4
17
100
0,04
13,2
Kurang baik
2
15,4
11
84,6
13
100
Total
14
46,7
16
53,3
30
100
Dari tabel 7 dapat diihat bahwa dari 17 responden yang bersikap baik, terdapat 70,6% responden
memiliki pengontrolan perilaku kesehatan baik, 29,4% memiliki pengontrolan perilaku kesehatan
kurang baik. Sedangkan 13 responden yang bersikap kurang baik sebanyak 15,4% pengontrolan perilaku
kesehatannya baik dan 84,6% kurang baik.
Berdasarkan uji statistik didapat nilai berdasarkan uji statistik hubungan sikap dengan
pengontrolan perilaku kesehatan pasien pasca stroke diperoleh nilai p=0,04(p<0,05), berarti Ha diterima
yaitu ada hubungan antara sikap dengan pengontrolan perilaku kesehatan pasien pasca stroke dengan
OR (odds ratio) 13,2 artinya responden yang bersikap baik berpeluang sebesar 13,2 kali memiliki
pengontrolan perilaku kesehatan pasca stoke baik dibanding dengan yang mendapat bersikap kurang
baik.
Tabel 8. Distribusi frekuensi Hubungan Status Ekonomi dengan pengontrolan perilaku
kesehatan pasien pasca stroke di wilayah kerja Puskesmas Rasimah Ahmad
Tahun 2016
Pengotrolan Perilaku kesehatan
P
Jumlah
OR
Value
Status Ekonomi
Baik
Kurang Baik
f
%
f
%
f
%
Sesuai UMR
5
50,0
5
50,0
10
100
0,1
1,222
Dibawah UMR
9
45,0
11
55,0
20
100
Total
14
46,7
16
53,3
30
100
Dari tabel 8 dapat dilihat bahwa dari 10 responden yang berpenghasilan sesuai UMR, 50%
responden memiliki pengontrolan perilaku kesehatan baik dan 50% memiliki pengontroan perilaku
kesehatan kurang baik. Sedangkan 20 responden dengan status ekonomi dibawah UMR, 45% memiliki
pengontrolan perilaku pasca sroke dengan baik dan 55% memiliki pengontrolan perilaku kesehatan
LPPM STIKes Perintis Padang
12
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
kurang baik.Berdasarkan uji statistik pengetahuan dengan pengontrolan perilaku kesehatan pasien pasca
stroke diperoleh nilai p = 0,1(p<0,05) , berarti H0 diterima yaitu tidak ada hubungan antara status
ekonomi dengan pengontrolan perilaku kesehatan pada pasien pasca stoke.
Tabel 9. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Pengontrolan Perilaku Kesehatan Pasien
Pasca Stroke di Puskesmas Rasimah Ahmad
Tahun 2016
Pengontrolan perilaku
P
kesehatan
Jumlah
OR
Dukungan
Value
keluarga
Baik
Kurang Baik
F
%
F
%
f
%
Baik
11
78,6
3
21,4
14
100
0,003 15,889
Kurang Baik
3
18,8
13
81,2
16
100
Total
14
46,7
16
53,3
30
100
Dari tabel 9 dapat diihat bahwa dari 14 responden yang mendapat dukungan baik dari keluarga
terdapat 78,6% melakukan pengontrolan perilaku kesehatan dengan baik, dan 21,4% kurang baik
sedangkan 16 respon dan yang mendapatkan dukungan kurang baik dari keluarga 18,8% pengontrolan
perilaku kesehatannya baik dan 81,2% kurang baik.
Berdasarkan uji statistik hubungan dukungan keluarga dengan pengontrolan perilaku kesehatan
pasien pasca stroke diperoleh nilai p = 0,003(p<0,05), berarti Ha diterima yaitu ada hubungan antara
dukungan keluarga dengan pengontrolan perilaku kesehatan pasien pasca stroke dengan OR (odds ratio)
15,889 artinya responden yang memiliki dukungan keluarga baik berpeluang sebesar 15,889 kali
memiliki pengontrolan perilaku kesehatan pasca stoke baik dibanding dengan yang mendapat dukungan
keluarga kurang baik.
PEMBAHASAN
1. Pengetahuan
Berdasarkan penelitian diperoleh data bahwa
lebih dari separoh yaitu 26 responden (86,7%)
memiliki pengetahuan yang tinggi tentang
perawatan pasca stroke.
Pengetahuan adalah perilaku yang berasal
dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang
lain (Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan yang
dimaksud dalam penelitian ini adalah pengetahuan
penderita stroke tentang perawatan pasca stroke
yang memungkinkan terjadinya stroke berulang
dan komplikasi stroke.Pengetahuan yang dimiliki
oleh penderita stroke sangat ditentukan oleh
pendidikan yang dimiliki.Karena dengan
pendidikan yang baik, maka penderita stroke
dapat menerima segala informasi dari luar
terutama tentang pentingnya keteraturan perilaku
kontrol.
2. Sikap
Berdasarkan penelitian diperoleh data bahwa
lebih dari separoh yaitu 26 responden (86,7%)
memiliki sikap yang tinggi tentang perawatan
pasca stroke.
Sikap merupakan penilaian (bisa berupa
pendapat) seseorang terhadap stimulus atau objek
(dalam hal ini masalah kesehatan, termasuk
penyakit). Setelah seseorang mengetahui stimulus
LPPM STIKes Perintis Padang
atau objek, proses selanjutnya akan menilai atau
bersikap terhadap stimulus atau objek kesehatan
tersebut.
Sikap secara umum dirumuskan sebagai
kecenderungan untuk berespon secara positif dan
negatif terhadap orang, objek dan situasi tertentu.
Dengan kata lain sikap merupakan kecendrungan
berpikir, berpersepsi dan bertindak. Sikap
mengandung 3 komponen, yaitu kognitif, afektif
/emosional serta komponen konatif (visional).
3. Status Ekonomi
Berdasarkan penelitian diperoleh data bahwa
kurang dari separoh yaitu 10 responden (33,3%)
memiliki status ekonomi yang sesuai UMR.
Keluarga yang sosial ekonominya rendah
akan mendapat kesulitan untuk membantu
seseorang mencapai kesehatan yang optimal
(Supartini, 2004). Sebaliknya dengan ekonomi
keluarga yang meningkat, maka kemampuan
dalam pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
keluarga juga meningkat (Notoatmodjo, 2003).
Data responden yang didapatkan peneliti
lebih dari separo yang berstatus ekonomi dibawah
UMR bisa jadi dikarenakan waktu penelitian
responden yang didata waktu itu memang yang
memiliki penghasilan di bawah UMR.
13
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
4. Dukungan Keluarga
Berdasarkan penelitian diperoleh data bahwa
kurang dari separoh yaitu 14 responden (46,7%)
memiliki dukungan keluarga yang baik.
Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan
dan penerimaan keluarga terhadap penderita
yang sakit (Suprajitno, 2004). Dukungan dari
keluarga akan memainkan suatu peran penting
dalam kepatuhan. Walaupun demikian, perbedaan
dalam bagaimana keluarga menunjukkan
dukungannya memainkan suatu peran dalam
menentukan apakah hal tersebut dapat menjadi
kontributor terhadap kepatuhan kontrol pada
penderita stroke (Stanley, 2006). Menurut
Sabastian (2009) menyatakan bahwa pertolongan
keluarga sangat penting untuk pemulihan
stroke.Jika semakin besar keterlibatan keluarga
dalam perawatan pasien pasca stroke maka makin
besar pula peluang pasien pasca stroke untuk
sembuh.
5. Pengontrolan Perilaku Kesehatan Pasien
Pasca Stroke
Berdasarkan penelitian diperoleh data bahwa
kurang dari separoh yaitu 14 responden (46,7%)
memiliki pengontrolan perilaku kesehatan yang
baik.
Perilaku kesehatan adalah suatu respons
seseorang terhadap stimulus atau objek yang
berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem
pelayanan kesehatan, makanan dan minuman serta
lingkungan (Notoatmodjo, 2003).
Perilaku itu sendiri terbentuk dari
pengetahuan, sikap, status ekonomi, dukungan
keluarga, sistem nilai, budaya dan lain-lain.
6. Hubungan
pengetahuan
dengan
pengontrolan perilaku kesehatan pasien
pasca stroke di wilayah kerja Puskesmas
Rasimah Ahmad tahun 2016
Berdasarkan uji statistik pengetahuan dengan
pengontrolan perilaku kesehatan pasien pasca
stroke diperoleh nilai p = 0,103(p<0,05), berarti
H0 diterima yaitu tidak ada hubungan antara
pengetahuan dengan pengontrolan perilaku
kesehatan pada pasien pasca stroke.
Hal ini didukung oleh hasil penelitian dari
Dian Agung et al(2010) dan juga penelitian Fadila
(2014), bahwa tidak ada hubungan yang signifikan
antara pengetahuan dengan pengontrolan perilaku
kesehatan pasien pasca stroke.
Berdasarkan
penelitian
diatas
yang
menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara
pengetahuan dengan pengontrolan perilaku
kesehatan. Hal ini menurut peneliti bisa saja
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
karena banyak hal yang mempengaruhi respon
seseorang sehingga sampai pada tahap tindakan
untuk melakukan sesuai dengan teori Notoatmojo
dan Sukma Dinata 2003, pengetahuan mempunyai
beberapa tingkatan yaitu: pendidikan, paparan
media masa (akses informasi), budaya, pengaman,
dan status ekonomi yang akan mempengaruhi
domain kognitif pada tingkatan pengetahuan.
Menurut Notoatmojo. 2007 pengetahuan
mencakup dalam domain kognitif yang memiliki
enam tingkatan yaitu: tahu, memahami, aplikasi,
analysis, sintetis, evaluasi ini bisa dicontohkan
bisa saja seseorang yang berpendidikan tinggi
belum tentu dia mengerti sepenuhnya mengenai
perawatan pasca stroke dirumah karena minimnya
informasi serta pengalaman yang kurang tentang
perawatan pasca stroke dirumah, sehingga
pengontrolan perilaku kesehatannya baik.
7. Hubungan sikap dengan pengontrolan
perilaku kesehatan pasien pasca stroke di
wilayah kerja Puskesmas Rasimah Ahmad
tahun 2016
Berdasarkan uji statistik didapat nilai
berdasarkan uji statistik hubungan sikap dengan
pengontrolan perilaku kesehatan pasien pasca
stroke diperoleh nilai p=0,04(p<0,05), berarti Ha
diterima yaitu ada hubungan antara sikap dengan
pengontrolan perilaku kesehatan pasien pasca
stroke dengan OR (odds ratio) 13,2 artinya
responden yang bersikap baik 13,2 kali memiliki
pengontrolan perilaku kesehatan pasca stoke baik
dibanding dengan yang mendapat bersikap kurang
baik.
Ini didukung dengan penelitian Irdawati,yang
menjelaskan bahwa ada hubungan signifikan
antara sikap dan perilaku pengontrolan perilaku
kesehatan pasien pasca stroke,akan tetapi hal ini
tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan
Naela Fadhila yang menyatakan tidak ada
hubungan yang signifikan antara sikap dengan
pengontrolan perilaku untuk mencegah stroke
berulang pada pasien pasca stroke.
Sikap yang positif biasanya dimunculkan
karena adanya pengetahuan yang baik terhadap
sesuatu disini mengenai perawatan pasca stroke
yang nantinya memunculkan keinginan yang
positif untuk menjaga dan berperilaku kesehatan
yang baik bagi pasien pasca stroke.
Pengontrolan perilaku kesehatan yang baik
sangat dipengaruhi oleh kekuatan sikap
positif.Kekuatan sikap di pengaruhi oleh
faktor:pengalaman
pribadi,pengaruh
orang
terdekat,kebudayaan,media
masa
lembaga
pendidikan dan lain-lain.
14
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
8. Hubungan Status Ekonomi dengan
pengontrolan perilaku kesehatan pasien
pasca stroke di wilayah kerja Puskesmas
Rasimah Ahmad tahun 2016
Berdasarkan uji statistik pengetahuan dengan
pengontrolan perilaku kesehatan pasien pasca
stroke diperoleh nilai p = 0,1(p<0,05) , berarti H0
diterima yaitu tidak ada hubungan antara status
ekonomi dengan pengontrolan perilaku kesehatan
pada pasien pasca stoke.
Hasil ini tidak sesuai dengan penelitian yang
dilakukan Dian Agung et al 2014 yang
menyatakan ada hubungan antara status ekonomi
seseorang dengan keteraturan pasien pasca stroke
melakukan kontrol berobat.
Tidak adanya hubungan status ekonomi
dengan pengontrolan perilaku kesehatan pasca
stroke karena seperti kita ketahui saat ini
pemerintah sudah menyiapkan program yang
menjamin pembiayaan kesehatan penduduk badan
yang mengelola ini kita kenal dengan nama BPJS.
Tingkatan strata ekonomi apapun sekarang ini
diwajibkan memiliki kartu BPJS ini.Begitu juga
dengan responden penelitian ini yang berobat
hampir semuanya menggunakan kartu BPJS, baik
yang menerima iuran pemerintah maupun yang
non menerima iuran pemerintah.Jadi bisa saja
mereka yang status ekonominya dibawah rata-rata
bisa melakukan pengontrolan perilaku kesehatan
karena tidak memerlukan biaya yang terlalu
mahal.
9. Hubungan Dukungan Keluarga dengan
Pengontrolan Perilaku Kesehatan Pasien
Pasca Stroke di Wilayah Kerja Puskesmas
Rasimah Ahmad Tahun 2016.
Berdasarkan uji statistik hubungan dukungan
keluarga dengan pengontrolan perilaku kesehatan
pasien pasca stroke diperoleh nilai p =
0,003(p<0,05), berarti Ha diterima yaitu ada
hubungan antara dukungan keluarga dengan
pengontrolan perilaku kesehatan pasien pasca
stroke dengan OR (odds ratio) 15,889 artinya
responden yang memiliki dukungan keluarga baik
15,889 kali memiliki pengontrolan perilaku
kesehatan pasca stoke baik dibanding dengan yang
mendapat dukungan keluarga kurang baik.
Menurut peneliti dukungan keluarga
memiliki hubungan dengan pengontrolan perilaku
kesehatan pasien pasca stroke karena seperti yang
telah diketahui pasien pasca stroke akan
mengalami dampak penurunan fungsi neorologis
dan psikologis. Peranan dan dukungan keluarga
dibutuhkan dalam perawatan pasien pasca stroke
agar bisa mencapai pemulihan dan mencegah
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
komplikasi stroke.Hal yang sangat penting dalam
pengontrolan ini adalah memberikan semangat
dan perhatian kepada pasien pasca stroke.Serta
ikut dalam pelaksanaan pengontrolan kesehatan
tersebut, seperti menyiapkan menu makanan
sesuai diit, menemani untuk beraktifitas olahraga
dan periksa kesehatan.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian dari hasil analisa
univariat dan bivariat serta pembahasan, maka
dpat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Lebih dari separoh yaitu 26 responden (86,7%)
memiliki pengetahuan yang tinggi tentang
perawatan pasca stroke.
2. Lebih dari separoh yaitu 26 responden (86,7%)
memiliki sikap yang tinggi tentang perawatan
pasca stroke.
3. Kurang dari separoh yaitu 14 responden
(46,7%) memiliki pengontrolan perilaku
kesehatan yang baik.
4. Kurang dari separoh yaitu 14 responden
(46,7%) memiliki dukungan keluarga yang
baik.
5. Kurang dari separoh yaitu 14 responden
(46,7%) memiliki pengontrolan perilaku
kesehatan yang baik.
6. Tidak ada hubungan antara pengetahuan
dengan pengontrolan perilaku kesehatan pada
pasien pasca stoke.
7. Ada hubungan antara sikap dengan
pengontrolan perilaku kesehatan pasien pasca
stroke dengan OR (odds ratio) 13,2
8. Tidak ada hubungan antara status ekonomi
dengan pengontrolan perilaku kesehatan pada
pasien pasca stoke.
9. Ada hubungan antara dukungan keluarga
dengan pengontrolan perilaku kesehatan
pasien pasca stroke dengan OR (odds ratio)
15,889
5. REFERENSI
Berman, Audrey, et al. (2009). Buku Ajar Praktik
Keperawatan Klinis Edisi.5. Jakarta:
EGC.
Dinkes
S
Limbar,
(2013).
Profil
KesehatanSumatera Barat, Sumatera
Barat
Feigin, Valery. (2007). Stroke. Jakarta: Buana
Ilmu Populer.
Guyton&Hall.(2007). Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran. Jakarta: EGC
Hasmoko, E. V., 2008. Analisis Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Kinerja Klinis
15
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Perawat Berdasarkan Penerapan Sistem
Pengembangan 11anajemen Kinerja
Klinis (SPMKK)
Irdawati. (2009) Hubungan Pengetahuan dan
Sikap Keluarga dengan Perilaku dalam
Meningkatkan Kapsitas Fungsional
Pasien Pasca Stroke di Wilayah Kerja
Puskesmas Surakarta 2009. (Jurnal)
Irdawati.(2009). Hubungan antara Pengetahuan
dan Sikap Keluarga dengan Perilaku
dalam
Meningkatkan
Kapasitas
Fungsional Pasien Pasca Stroke di
Wilayah Kerja Kartasura (thesis).
Jeffrey, M. C & Scott, K. Master Plan
KedaruratanMedik. Jakarta: Binarupa
Aksara.
Johnson, Young Joice, et al. (2005). Prosedur
Perawatan di Rumah Pedoman untuk
Perawat. Jakarta: EGC
Kathleen, Koening Blais, et al. '(2007). Praktik
Keperawatan Professional Konsep &
Perspentif. Jakarta: EGC
Naila Fadila. (2010). Hubungan Pengetahuan
Sikap dan Perilaku tentang Faktor Resiko
penyakit Serebrovascular Terhadap
Kejadian Stroke Iskemik. (Jurnal)
Notoatmodjo.S. (2003).Pendidikan dan perilaku
Kesehatan.Jakarta; Rineka Cipta
Notoatmodjo.S(2005). Metodologi Penelitian
Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka. Cipta
Tarwoto.(2013). Keperawatan Medikal Bedah
Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta:
EGC
Vitahealth. (2004). Stroke. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama
LPPM STIKes Perintis Padang
16
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
PENGARUH PELAKSANAAN SENAM DISMENORE
TERHADAP PENURUNAN NYERI HAID
1,2,3
Mera Delima1*, Insanu Muchlisa2, Maidaliza3
Program Studi Ilmu Keperawatan Stikes perintis Sumbar
*Email : [email protected]
Email : [email protected]
Email : [email protected]
Abstract
Dysmenorrhea is the imbalance of progesterone in the blood causing pain sarises. In US there are
90% of women who experience dysmenorrhea, in Indonesia 55%, and 41,2% in West Sumatra woman
dysmenorrhea. Exercises sports / exercises lightweight which is one of the techniques for relaxin is
highly recommended to reduce this dysmenorrhea. The purpose of this study was to determine the effect
the implementation of dysmenorrhea gymnastics against a decrease in menstrual pain in studensts of
Nursing Stikes Perintis Sumbar 2015. The design of this study is pre experiment by using approach one
group pre-post test design. This study was conducted on June 22, 2015 to July 4, 2015. The number of
samples in this study were 20 students of Nursing Levels I and IV are experiencing dysmenorrhea. The
tools used for data collection are questionnaires and observation sheets in the form of sheets look.
Paired test statistic test results obtained with a 95% degree of convidence that the effect of the
implementation of dysmenorrhea gymnastics against a decrease in menstrual pain in studenst of
Nursing Stikes Perintis Sumbar 2015 (p = 0.000). it is suggested to the students to be able to do this so
the gymnastics dysmenorrhea menstrual pain can be reduced and not interfere with the activity of the
course.
Keywords :Dysmenorrhea, Gymnastics Dysmenorrhea
1. PENDAHULUAN
Wanita merupakan makhluk yang
memiliki sistem reproduksi yang cukup
unik.Setiap bulan wanita melepaskan satu sel telur
dari salah satu ovariumnya. Bila sel telur ini tidak
mengalami pembuahan maka akan terjadi
pendarahan (menstruasi) (Proverawati, 2009).
Menstruasi (haid) adalah pendarahan
secara periodik dan siklik dari uterus yang disertai
pelepasan (deskuamasi) endometrium. Menstruasi
terjadi jika ovum tidak dibuahi oleh sperma.Siklus
menstruasi sekitar 28 hari. Pelepasan ovum yang
berupa oosit sekunder dari ovarium disebut
ovulasi, yang berkaitan dengan adanya kerjasama
antara hipotalamus dan ovarium. Hasil kerjasama
tersebut akan memacu pengeluaran hormon –
hormon yang mempengaruhi siklus menstruasi
(Marimbi, 2011 : 36).
Siklus menstruasi merupakan rangkaian
peristiwa yang secara kompleks saling
mempengaruhi dan terjadi secara simultan di
endometrium, kelenjar hipotalamus dan hipofisis
serta ovarium.Siklus menstruasi mempersiapkan
uterus untuk kehamilan.Bila tidak terjadi
kehamilan, terjadi menstruasi. Usia wanita, status
fisik dan emosi wanita serta lingkungan
LPPM STIKes Perintis Padang
mempengaruhi pengaturan siklus menstruasi
(Bobak, dkk , 2004).
Biasanya, masa menstruasi pertama
(menarche) terjadi sekitar umur 12 atau 13, atau
kadang – kadang lebih awal.Bagi sebagian wanita,
adakalanya menstruasi bak momok yang
kehadirannya membuat cemas manakala timbul
rasa nyeri tak tertahanketika menstruasi tiba.
Kondisi ini dikenal sebagai dismenore
(dysmenorrhea) (Proverawati, 2009 : 83).
Dismenore
merupakan
ketidakseimbangan hormon progesteron dalam
darah sehingga mengakibatkan rasa nyeri timbul,
faktor psikologis juga ikut berperan terjadinya
dismenorepada beberapa wanita. Wanita pernah
mengalamidismenoresebanyak 90%. Masalah ini
setidaknya mengganggu 50% wanita masa
reproduksi dan 60-85% pada usia remaja, yang
mengakibatkan banyaknya absensi pada sekolah
maupun kantor. Pada umumnya 50 - 60% wanita
diantaranya memerlukan obat-obatan analgesik
untuk mengatasi masalah dismenoreini (Jurnal
Phederal Vol.4 No. 1 Mei 2011 : 2).
Latihan-latihan olahraga yang ringan
sangat dianjurkan untuk mengurangi dismenore.
Olahraga / senam merupakan salah satu teknik
relaksasi yang dapat digunakan untuk mengurangi
17
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
nyeri. Hal ini disebabkan saat melakukan
olahraga/ senam tubuh akan menghasilkan
endorphin. Endorphin dihasilkan di otak dan
susunan syaraf tulang belakang. Hormon ini dapat
berfungsi sebagai obat penenang alami yang
diproduksi otak sehingga menimbulkan rasa
nyaman (Harry,2007). Dari hasil penelitian
ternyata dismenore lebih sedikit terjadi pada
olahragawati dibandingkan wanita yang tidak
melakukan olahraga / senam (Jurnal Phederal
Vol.4 No. 1 Mei 2011 : 2).
Latihan / senam yang teratur (sesi ± 30
menit 3-5 kali) adalah suatu hal yang bermanfaat
dan dapat mengurangi gejala karena dapat
meningkatkan produksi endorphin (pembunuh
rasa sakit alami tubuh), dimana hal ini dapat
meningkatkan kadar serotonin. Latihan yang
teratur juga mengurangi stress dan meningkatkan
pola tidur yang teratur (Proverawati, 2012 : 127128).
Gerakan-gerakan senam yang dilakukan
adalah :
1) Mengangkat lutut
Berdiri di atas satu kaki sambil mengangkat
lutut setinggi yang mampu untuk dilakukan.Tarik
kedua lengan lurus ke atas, lalu turunkan.Untuk
menjaga keseimbangan dapat dilakukan sambil
berpegangan.
2) Lutut merenggang
Atur posisi lutut.Salah satu kaki dalam posisi
berlutut, dan satu kaki ditekuk dengan telapak
menjejak
ke
lantai.Posisi
kedua
kaki
berjauhan.Buka kedua lengan dan tarik ke
atas.Pastikan dalam latihan ini untuk tidak
bersandar pada apapun.
3) Menguatkan bokong
Berlutut di atas satu kaki, dan bertumpu pada
kedua tangan. Angkat kaki yang lain dan
hadapkan telapak kaki ke arah langit-langit, atau
dorong sejauh yang bisa dilakukan. Turunkan kaki
perlahan, dan ulangi sekali lagi.
4) Peregangan otot paha bawah
Posisi tubuh membungkuk, kedua kaki
rapat.Gerakkan satu kaki ke arah samping, kaki
dibuka lebar. Rasakan peregangan di paha bawah.
5) Penguatan otot paha bagian dalam
Berbaring dengan bertumpu pada salah satu
sisi badan. Satu kaki dilipat dengan telapak
menjejal lantai. Sementara kaki yang lainnya
diluruskan, lalu digerakkan naik-turun. Gerakan
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
ini mengandalkan otot paha bagian dalam dan kaki
bawah
6) Penguatan dengan rotasi dalam
Berbaring dengan bertumpu pada salah satu
sisi badan.Pinggul dan lutut ditekuk.Satu kaki
direbahkan dan kaki yang lain diangkat.
Kemudian naik dan turunkan tungkai kaki, tapi
jagalah agar posisi lutut tetap tidak berubah. Lutut
akan berputar dengan sendirinya ketika tungkai
kaki digerakkan ke atas dan ke bawah.
7) Penguatan dengan rotasi luar
Bertumpu pada salah satu sisi tubuh.Tekuk
kaki yang berada di sebelah atas, telapak kaki
menjejak lantai.Sementara kaki yang berada di
sebelah bawah dinaik-turunkan tungkainya, tapi
pertahankan lutut tidak bergeser. Lutut akan
berputar ketika tungkai naik-turun.
8) Peregangan dengan rotasi luar
Berbaringlah dengan punggung di lantai
(atau bertumpu pada kedua siku) dan lutut
ditekuk.Angkat satu kaki, kemudian gerakkan ke
sisi luar. Beban kaki saat peregangan ini akan
menguatkan otot pinggul. Pada latihan ini, jaga
agar pinggul tetap rapat pada lantai.
9) Peregangan dengan rotasi dalam
Berbaringlah dengan punggung di lantai
(atau bertumpu pada kedua sikut) dan lutut
ditekuk.Taruh satu kaki ke sisi dalam kaki
lainnya.Kemudian lutut pada kaki sebelah atas
dinaik-turunkan (mendekat dan menjauhi kaki
yang lainnya). Beban kaki akan meregangkan otot
punggung. Pada latihan ini, jaga agar pinggul tetap
rapat pada lantai.
10) Bertekuk ganda
Berbaringlah, dan tarik kedua lutut ke arah
dada dengan bantuan tangan. Untuk melakukan
ini, gunakan kekuatan tangan dan biarkan
punggung bagian bawah rileks dan merenggang.
11) Gerakan mengangkat dan menarik ke
belakang
Gerakan ini sangat bermanfaat untuk
meningkatkan fleksibilitas tulang belikat dan
tulang selangka, peregangan dan pelemasan di
area punggungdan otot-otot leher.
12) Gerakan untuk mengurangi ketegangan,
mengusir kekakuan
Gerakan ini bermanfaat mengurangi
ketegangan dan kekakuan pada leher dan kedua
18
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
bahu, menghangatkan kedua tangan, dan
merelaksasi jaringan otot di sekitarnya.Otot-otot
seperti spons yang penuh air, sehingga ketika
berjalan perlahan, tubuh seperti teraliri air karena
otot-otot tersebut ikut meregang dan melebar.
Begitu juga menghirup napas, akibatnya kita akan
rileks dan hilanglah ketegangan. Cara
melakukannya, letakkan tangan kiri di belakang
leher, ambil napas dan tekan otot di area tersebut
dengan tangan sambil hembuskan napas.Ulangi 35 kali.Kemudian turun sedikit, letakkan tangan
kiri pada bahu kanan (pada otot-otot trapeziuz,
bukan pada tulang), ambil napas dalam,
hembuskan perlahan dan relaks. Ulangi dengan
sisi yang lain.
13)
Tepukan
untuk
menghilangkan
ketegangan. Gerakan ini untuk memperbaiki
sirkulasi dan untuk meningkatkan sensasi dan
fleksibilitas gerak tubuh, melepaskan hormon
pertumbuhan di dalam kulit, dan melancarkan
produksi endorphin, yaitu hormon yang
diproduksi saat sedang beraktifitas, terutama saat
berolahraga, anatara lain bermanfaat untuk
mengurangi rasa sakit.Setiap tepukan dapat
merangsang
dan
merelaksasi
kulit,
menghubungkan jaringan-jaringan otot, tulang
hingga ke sum-sum. Cara melakukan, tangan kiri
yang setengah menggenggam, letakkan di atas
bahu kanan. Lalu tepuklah bahu kanan dengan
kuat tapi lembut. Teruskan sampai otot-otot
trapezius di samping dan belakang leher. Ulangi
gerakan ini dengan posisi yang berlawanan.
(Olivia, 2013).
Angka kejadian dismenore di dunia sangat
besar. Di Amerika Serikat diperkirakan hampir
90% wanita mengalami dismenore dan 10 - 15%
diantaranya mengalami dismenore berat, yang
menyebabkan mereka tidak mampu melakukan
kegiatan apapun dan ini akan menurunkan kualitas
hidup pada individu masing – masing. Sebuah
studi longitudinal secara kohort pada wanita
Swedia ditemukan prevalensi dismenore adalah
90% pada usia 19 tahun dan 67% pada usia 24
tahun. Sepuluh persen dari wanita usia 24 tahun
yang dilaporkan tersebut mengalami nyeri sampai
mengganggu aktivitas dan 78-85% wanita
mengalami dismenore ringan (Jurnal Penelitian
Kesehatan Suara Forikes Vol III No 4, 2012).
Sementara di Indonesia angkanya diperkirakan
55% perempuan usia produktif yang tersiksa oleh
nyeri selama menstruasi. Angka kejadian
(prevalensi) nyeri menstruasi berkisar 45-95 % di
kalangan wanita usia produktif. Walaupun pada
umumnya tidak berbahaya, namun sering kali
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
dirasa
mengganggu
bagi
wanita
yang
mengalaminya. Derajat nyeri dan kadar gangguan
tentu tidak sama untuk setiap wanita. Ada yang
masih bisa bekerja ( sesekali sambil
menangis),adapula yang tak kuasa beraktifitas
saking nyerinya (Proverawati, 2009 : 83).
Sumatera Barat angka kejadian dismenore
pada tahun 2009 sebesar 41,2%, yang pada
umunya banyak diderita oleh remaja (usia yang
masih produktif) dan pada umumnya para remaja
ini harus istirahat di tempat tidur dan terkadang
meninggalkan pekerjaan atau sekolah akibat
dismenore (Aulia, 2012).
Studi awal peneliti lakukan pada 6 Maret
2014 di STIKes Perintis SumBar kepada
mahasiswi Ilmu Keperawatan.Disini peneliti
meneliti mahasiswi Ilmu Keperawatan Tingkat I
dan IV. Adapun jumlah mahasiswi tingkat I
sebanyak 30 orang, yang mengalami dismenore
sebanyak 16 orang, dengan persentase kehadiran
siswa sebesar 43,3% dengan keterangan sakit,
alfa atau izin saat perkuliahan berlangsung.
Tingkat IV sebanyak 36 orang, yang mengalami
dismenore sebanyak 23 orang yang mengalami
nyeri haid, dengan persentase kehadiran
mahasiswi dalam perkuliahan adalah sebanyak
38,8%
mahasiswa
yang
meninggalkan
perkuliahannya, baik dengan keterangan sakit,
alfa atau yang izin meninggalkan perkuliahan.
Wawancara yang peneliti lakukan pada 6
Maret 2015 pada beberapa mahasiswa
mengatakan bahwa di STIKes Perintis ini tidak
pernah dilakukan senam dismenore. Mahasiswa
tersebut mengatakan untuk mengurangi dismenore
yang mereka rasakan,mereka hanya mengonsumsi
obat yang dapat mengurangi nyeri haidnya.
Sehingga mahasiswa yang mengalami dismenore
tersebut ada yang tetap mengikuti perkuliahan dan
ada pula yang meninggalkan perkuliahan mereka
dengan meminta izin kepada dosen yang mengajar
di kelas atau tanpa keterangan.
Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut
tentang pengaruh pelaksanaan senam dismenore
terhadap penurunan nyeri haid pada mahasiswa
Ilmu Keperawatan STIKes Perintis Sumatera
Barat tahun 2015.
2. METODE PENELITIAN
Metode penelitian adalah bentuk rancangan
atau desain yang digunakan dalam melakukan
prosedur penelitian (Alimul, 2008).Desain
penelitian yang digunakan adalah praeksperimental.Penelitian
ini
menggunakan
pendekatan one group pre – post test design,
19
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
dimana kelompok subjek diobservasi sebelum
dilakukan intervensi, kemudian diobservasi lagi
setelah dilakukan intervensi (Nursalam, 2013).
Penelitian ini dilaksanakan di STIKes Perintis
Sumatera Barat Kampus II Bukittinggi dan telah
dilaksanakan pada tanggal 22 Juni 2015 sampai
dengan 4 Juli 2015. Pada penelitian ini yang
menjadi populasi adalah seluruh mahjasiswa
perempuan Stikes Perintis Sumatera Barat Prodi
Ilmu Keperawatan Tingkat I dan IV tahun 2015
yang mengalami dismenore yaitu sebanyak 39
orang, teknik sampling yang digunakan adalah
proportional
cluster
sampling,
sehingga
didapatkan
20
orang mahasiswa Ilmu
Keperawatan yang mengalami dismenore di
Stikes.
ISSN: 2548-3153
dismenore. Selama penelitian ini, peneliti tidak
langsung mendapatkan 20 orang responden yang
berbeda-beda setiap harinya. Pada hari pertama
penelitian, peneliti mendapatkan 2 orang
responden, dihari berikutnya peneliti tidak
mendapatkan mahasiswa yang mengalami
dismenore. Di hari ketiga peneliti kembali
mendaptkan 3 orang responden. Begitu seterusnya
sampai peneliti mendapatkan 20 orang responden.
Peneliti melakukan penelitian ini dalam jangka
waktu 2 minggu.
Pengumpulan Data
Instrument yang digunakan pada penelitian
ini adalah kuisioner untuk penilaian tingkat nyeri
responden.dan lembaran observasi berbentuk
lembar tilik untuk pelaksanaan senam dismenore
serta mengisikan tingkat nyeri pada lembar
observasi sebelum dan sesudah dilakukan senam
dismenore.
Cara Kerja
Adapun proses yang peneliti lakukan dalam
penelitian ini adalah peneliti mengidentifikasi
mahasiswa Ilmu Keperawatan Stikes Perintis
Sumatera Barat Kampus II Bukittinggi yang
mengalami menstruasi dan dismenore. Setelah
peneliti mengetahui mahasiswa yang mengalami
dismenore, kemudian peneliti menanyakan
kesediaan mahasiswa tersebut untuk menjadi
responden. Jika mahsiswa tersebut bersedia, maka
peneliti kemudian memberikan lembar inform
consent kepada responden tersebut. Selanjutnya,
peneliti mengidentifikasi dengan mengobservasi
dan memberikan lembar kuisioner kepada
responden untuk mengetahui skala nyeri yang
dirasakan oleh responden tersebut.Kemudian
mengisikan nilai pada lembar observasi pre /
sebelum pelaksanaan senam dismenore.Setelah
itu, peneliti mengajarkan teknik dari senam
dismenore, yang mana senam ini dilakukan
selama ± 30 menit.Setelah selesai mengajarkan
senam tersebut, kemudian peneliti meminta
responden tersebut untuk melakukan senam
tersebut sebanyak 3 kali pelaksanaan di
rumah.Setelah itu, keesokan harinya peneliti
kembali
menemui
responden
untuk
mengobservasi dan memberikan kembali lembar
kuisioner kepada responden untuk penilaian skala
nyeri post / sesudah pelaksanaan senam
LPPM STIKes Perintis Padang
20
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Analisis Univariat
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Nyeri Haid Sebelum Melaksanakan Senam Dismenore pada Mahasiswa
Ilmu Keperawatan STIKes Perintis SumBar Tahun 2015.
Skala Nyeri
Frekuensi
Persentase %
Nyeri Ringan
1
5%
Nyeri Sedang
18
90%
Nyeri Berat
1
5%
20
100%
Jumlah
Pada tabel 1 di atas, menunjukkan bahwa skala nyeri sebelum melaksanakan senam dismenore
terbanyak adalah mahasiswa dengan skala nyeri sedang yaitu sebanyak 18 orang (90%). Untuk skala
nyeri ringan dan berat sebanyak 1 orang ( 5%).
Nyeri Haid Sesudah Melaksanakan Senam Dismenore
Tabel 2
Distribusi Frekuensi Nyeri Haid Sesudah Melaksanakan Senam Dismenore pada Mahasiswa
Ilmu Keperawatan STIKes Perintis SumBar Tahun 2015.
Skala Nyeri
Frekuensi
Persentase %
Nyeri Ringan
19
95%
Nyeri Sedang
1
5%
Nyeri Berat
0
0%
20
100%
Jumlah
Pada tabel 2 di atas, menunjukkan bahwa skala nyeri sesudah melaksanakan senam dismenore
terbanyak adalah mahasiswa dengan skala nyeri ringan yaitu sebanyak 19 orang (95%). Untuk skala
nyeri sedang sebanyak 1 orang (5%) dan skala nyeri berat tidak ada (0%).
Analisis Bivariat
Tabel 3
Distribusi Frekuensi Pengaruh Pelaksanaan Senam Dismenore Terhadap
Penurunan Nyeri Haid pada Mahasiswa Ilmu Keperawatan
STIKes Perintis SumBar Tahun 2015.
Variabel
Rerata
Standar Deviasi
Standar error
P value
Nyeri Haid
Sebelum
5,95
0.887
0,198
0,000
Sesudah
3.7
0,470
0,105
n
20
Dari tabel 3 di atas didapatkan bahwa nilai rerata 2,250, standar deviasi 1,164, dan standar error
rata-rata 0,260. Nilai t hitung pada penelitian ini adalah 8,643. Setelah dilakukan Uji Paired Test secara
komputerisasi didapatkan p value < 0,05 (0,000), maka p value = bermakna artinya ada pengaruh
pelaksanaan senam dismenore terhadap penurunan nyeri haid pada mahsiswa ilmu keperawatan STIKes
Perintis SumBar tahun 2015.
LPPM STIKes Perintis Padang
21
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
PEMBAHASAN
Skala nyeri haid pada hahasiswa yang
mengalami dismenore sebelum melakukan
senam dismenore
Berdasarkan tablel 1 ditunjukkan bahwa
lebih dari separoh(90%) derajat nyeri punggung
bawah responden berada pada tingkat
sedang.Sedangkan sisanya 1 % mengalami nyeri
haid berat dan 1 % lagi mengalami nyeri haid
ringan.
Wanita umumnya mengalami nyeri saat
menstruasi, nyeri ini terjadi akibat iskemik dari
otot uterus, derajat nyeri mencerminkan kondisi
psikologis dari penderita serta gangguan fisiologi
menstruasi
(Janiwarti,
2013).Dismenore
mempengaruhi lebih dari 50 % wanita dan
menyebabkan ketidakmampuan untuk melakukan
aktivitas harian selama 1 sampai 3 hari setiap
bulannya pada sekitar 10 % dari wanita tersebut
(Reeder, 2014).
Penyebab dismenore bermacam-macam, bisa
karena penyakit, stress atau cemas yang
berlebihan. Penyebab lainnya diduga akibat
terjadinya ketidakseimbangan hormonal dan tidak
ada hubungannya dengan organ reproduksi
(Judha, 2012 : 46). Sedangkan menurut
Proverawati (2009 : 87) mengatakan bahwa
penyebab pasti dari dismenore hingga kini belum
diketahui secara pasti, namun beberapa faktor
ditengarai sebagai pemicu terjadinya dismenore
diantaranya faktor psikis, faktor endokrin, faktor
prostaglandin, faktor hormonal dan faktor alergi.
Faktor stress juga dapat menurunkan ketahanan
tubuh terhadap rasa nyeri. Tanda pertama yang
menunjukan keadaan stress adalah adanya reaksi
yang muncul yaitu menegangnya otot tubuh
individu dipenuhi oleh hormon stress yang
menyebabkan tekanan darah, detak jantung, suhu
tubuh, dan pernafasan meningkat.
Dismenore terjadi pada saat fase
pramenstruasi (seksresi).Pada fase ini terjadi
peningkatan hormon prolactin dan hormone
estrogen.Sesuai dengan sifatnya, prolaktin dapat
meningkatkan kontraksi uterus. Selain itu
hormone yang juga terlibat dalam dismenore
adalah hormon prostaglandin. Pada fase
menstruasi prostaglandin jga menstimulasi
peningkatan dari hormone oksitosin yang juga
bersifat meningkatkan kontraksi uterus.Sehingga
dapat disimpulkan bahwa dismenore sebagian
besar merupakan akibat dari kontraksi uterus
(Manuaba, 2001).
Keluhan dismenore yang dialami oleh
mahasiswa tentunya tidak dapat dibiarkan begitu
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
saja. Menurut Varney (2008 : 342) mengatakan
bahwa terdapat beberapa pendekatan dalam
mengurangi dismenore. Diantaranya adalah
olahraga atau senam.Menurut asumsi peneliti,
dismenoreterjadi akibat peningkatan dari beberapa
jenis hormon yaitu diantaranya hormon estrogen,
progesterone, prolaktin, dan oksitosin yang
mengakibatkan meningkatnya kontraksi dari
uterus. Sehingga pada saat menstruasi wanita akan
mengalami berbagai keluhan diantaranya nyeri
atau rasa sakit di daerah perut ataupun panggul.
Skala nyeri haid pada hahasiswa yang
mengalami dismenore sesudah melaksanakan
senam dismenore
Berdasarkan tabel. 2 menunjukkan bahwa
setelah melaksanakan senam dismenore lebih dari
separoh responden (95 %) mengatakan lebih
nyaman dari sebelumnya atau mengalami nyeri
ringan , dan 1 % lagi mengalami nyeri sedang.
Menurut Proverawati (2009 : 87) mengatakan
bahwa pemicu terjadinya dismenore diantaranya
adalah faktor psikis, faktor endokrin, faktor
prostaglandin, faktor hormonal dan faktor alergi.
Senam dismenore merupakan salah satu
teknik relaksasi.Olahraga atau latihan fisik yang
dapat menghasilkan hormone endorphin.
Hormone ini dapat berfungsi sebagai obat
penenang alami yang bisa diproduksi otak yang
akan melahirkan rasa nyaman dan untuk
mengurangi rasa nyeri pada saat kontraksi.
Olahraga terbukti dapat meningkatkan ßendorphin empat sampai lima kali dalam darah.
Semakin banyak melakukan senam / olahraga
maka akn semakin tinggi pula kadarß-endorphin.
seseorang yang melakukan senam / olahraga,
maka ß-endorphin akan keluar dan ditangkap oleh
reseptor di dalam hypothalamus dan sistem limbic
yang berfungsi untuk mengatur emosi (Jurnal
Keperawatan Maternitas, Vol 1, No 2, November
2013 : 118-123).
Latihan / senam ini paling sederhana dilakukan
dan terdiri atas gerakan pelemasan dan
peregangan otot.Senam dismenore dilakukan
untuk membangun otot menjadi lebih baik (Olivia,
2013).
Menurut Analisis peneliti, penurunan skala
nyeri yang dirasakan mahasiswa ini berbedabeda.Hal ini dibuktikan selama penelitian ini
dilaksanakan yaitu dengan melaksanakan senam
dismenore terdapat beberapa mahasiswa yang
mengalami penurunan nyeri haid dan ada juga
mahasiswa yang tidak mengalami penurunan
nyeri haid.
22
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Pengaruh pelaksanaan senam dismenore
terhadap penurunan nyeri haid
Berdasarkan tabel 3 didapatkan bahwa hasil
analisis dari Paired Test p value = 0,000 (p < 0,05)
yang menunjukkan adanya pengaruh dari
pelaksanaan
senam
dismenore
terhadap
penurunan nyeri haid mahasiswa. Senam
dismenore tersebut dilakukan minimal 3 kali
pelaksanaan selama menstruasi.
Penelitian inidiperkuat dengan hasil pendapat
Wong,et,al (2002) latihan seperti dengan
menggerakkan panggul, dengan posisi dada-lutut,
dan latihan pernafasan dapat bermanfaat untuk
mengurangi dismenore. Hal serupa juga
dikemukakan oleh Taber (2005) bahwa salah satu
cara untuk mengatasi dismenore adalah dengan
mengambil atau melakukan posisi menungging
sehingga rahim tergantung dengan posisi ke
bawah, dan menarik nafas dalam untuk relaksasi.
Dengan relaksasi dipercaya dapat menurunkan
nyeri dan merilekskan otot yang menunjang
terjadinya nyeri.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian dari hasil analisa univariat
dan bivariate serta pembahasan, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut :
a) Lebih dari separoh (90 %)
responden
mengalami
nyeri
sedang,
sedangkan
selebihnya mengalami nyeri berat dan ringan.
b) Lebih dari separoh (95 %) responden
merasakan nyeri berkurang yaitu nyeri ringan,
sedangkan 5 % sisanya mengalami nyeri
sedang.
c) Latihan senam dismenore berpengaruh
terhadap penurunan nyeri haid ditunjukkan
dengan p value = 0,000 (p < 0,05).
5. REFERENSI
ISSN: 2548-3153
Judha, Muhammad, dkk. 2012. Teori Pengukuran
Nyeri & Nyeri Persalinan. Yogyakarta. :
Nuha Medika.
Manuaba,, Ida Bagus Gde. 2001. Kapita Selekta
Penatalaksanaan
Rutin
Obstetri
Ginekologi dan KB. Jakarta : EGC.
Marimbi, Hanum. 2011. Biologi Reproduksi.
Yogyakarta : Nuha Medika.
Nursalam. 2011. Konsep dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan;
Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen
Penelitian Keperawatan, Edisi 2. Jakarta :
Salemba Medika.
.2013. Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan, Pendekatan Praktis, Edisi
Jakarta : Salemba Medika.
Olivia. 2013. Mengatasi Gangguan Haid. Jakarta
: Redaksi Health Secret.
Price, A Sylvia. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit. Jakarta : EGC.
Proverawati, Atikah. 2009. Menarche Menstruasi
Pertama Penuh Makna. Yogyakarta : Nuha
Medika.
Reeder, Sharon, dkk. 2014. Keperawatan
Maternitas Kesehatan Wanita, Bayi &
Keluarga. Jakarta : EGC.
Rochimah. 2011. Keterampilan Dasar Praktik
Klinik (KDPK). Jakarta : Trans Info Media.
Saryono, dkk. 2009. Sindrom Pramenstruasi.
Yogyakarta. : Nuha Mediak.
Suparto, Achmad. 2011. Jurnal Efektifitas Senam
Dismenore dalam Mengurangi Dismenore
Pada Remaja Putri .Phederal Vol. 4 No.
1.Sumenep : STKIP PGRI.
Varney, Helen, dkk. 2008. Buku Ajar Asuhan
Kebidanan, Edisi 4. Jakarta : EGC.
Wasis, 2008. Pedoman Riset Praktis untuk Profesi
Perawat. Jakarta : EGC.
Wylie, Linda. 2010. Esensial Anatomi & Fisiologi
dalam Asuhan Maternitas. Jakarta :EGC.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka
Cipta.
Aziz, Alimul. 2008. Metode Penelitian dan
Teknik Analisa Data.Jakarta : Salemba
Medika.
Bobak, Irene, dkk. 2005. Buku Ajar Keperawatan
Maternitas, Edisi 4. Jakarta : EGC.
Hidayat, Aziz Alimul. 2009. Pengantar
Kebutuhan Dasar Manusia, Aplikasi
Konsep dan
Proses Keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika.
LPPM STIKes Perintis Padang
23
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
TERAPY MUROTAL PENGARUHI ADAPTASI NYERI PERSALINAN
PADA IBU INPARTU PRIMIPARA
Hidayati 1, Nova Tri Yanti 2
Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Perintis Padang
Email: [email protected]
2
Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Perintis Padang
Email: [email protected]
1
Abstract
Pregnant women often feel worried about the pain they will experience during childbirth, nearly 90%
of maternal experience pain in childbirth (Muhiman 2006 cit Ika 2010) of the pain experienced by
primiparous and multiparous, labor pain in primiparous heavier due to the intensity of the contractions
especially in the first stage I. To determine the effect on adaptation murotal terapy facing labor pain in
primiparous mothers in hospitals inpartu Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi in 2016. The population in
this study is 12 people. This research has been conducted on July 11 until July 31, 2016 at the Hospital
Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi. The study design used is quasy-experiment that is one-group pre-post
test design by using t tests dependent. The average difference of pain before and after the intervention
as much as 0.667, 0.516 standard deviation, standard error 0.211. Statistical test results obtained p
value of 0.025, it can be inferred the existence of differences in pain adaptation before and after
therapeutic intervention in patients inpartu murottal primipara. The average difference of pain before
and after the intervention as much as -1.667, 0.516 standard deviation, standard error 0.211. Statistical
test results obtained p value of 0.001, it can be inferred the existence of differences in pain adaptation
before and after the therapy control in patients inpartu murottal primipara. The results of this study
should be used as an input or as an action for the reduction of pain in the mother inpartu at Hospital
Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi .
Keywords: Murotal, Therapy, Pain Adaptation
The reading list: 21 (2002-2013)
1. PENDAHULUAN
Pembangunan kesehatan merupakan bagian
integral dari pembangunan Nasional yang
bertujuan untuk meningkatkan kualitas penduduk
sehingga tercapai kesejahteraan bangsa. Salah satu
indikator dalam menentukan derajat kesehatan
suatu bangsa ditandai dengan tinggi rendahnya
angka kematian ibu dan bayinya. Setiap tahun
lebih dari 200 juta wanita hamil, sebagian besar
kehamilan berakhir dengan kelahiran bayi hidup
pada ibu yang sehat, walaupun demikian ada
beberapa kasus kelahiran bukanlah peristiwa
membahagiakan tetapi menjadi suatu masa yang
penuh dengan rasa nyeri dan rasa takut (Admin,
2013). Persalinan adalah serangkaian kejadian
yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang
cukup bulan atau hampir cukup bulan disusul
dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin
(Kuswanti, 2014). Persalinan merupakan proses
yang alami, tetapi dapat menjadi beban dan
beresiko bagi seorang ibu. Salah satu resiko
persalinan yang sangat fatal adalah kematian
(Hacker, 2001 cit AnDriawati, 2011).
LPPM STIKes Perintis Padang
Menurut World Health Organitation (WHO)
tahun 2014 Angka Kematian Ibu (AKI) di dunia
yaitu 289.000 jiwa.Amerika Serikat yaitu 9.300
jiwa, Afrika Utara 179.000 jiwa, dan Asia
Tenggara 16.000 jiwa.Angka kematian ibu di
Indonesia 214 per 100.000 kelahiran hidup
(WHO, 2014).Millenium Development Goals
(MDGs) menargetkan AKI menurun hingga 102
per 100.000 kelahiran hidup tahun 2015 dan
rencana pembangunan jangka menengah nasional
(RPJMN) menetapkan AKI dapat diturunkan
menjadi 118 per 100.000 kelahiran hidup pada
tahun 2014. Angka kematian ibu melahirkan di
Indoneia masih tinggi, pada tahun ini mencapai
359 per 10.000 kelahiran.Kematian itu di
sebabkan oleh perdarahan, infeksi dan tekanan
darah tinggi (eklampsi) dilihat dari survey
demografi dan kependudukan (oleh Mensos dalam
Metrotvnews.com tahun 2015). Data yang
diperoleh oleh kementrian kesehatan Provinsi
Sumatera Barat pada tahun 2013 di dapatkan
jumlah ibu dengan persalinan normal sebanyak
27.534 jiwa (Kemenkes, 2014).
24
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Wanita yang telah melahirkan bayi aterm
sebanyak satu kali di sebut dengan primipara, dan
wanita yang telah pernah melahirkan anak hidup
beberapa kali, dimana persalinan tersebut tidak
lebih dari lima kali disebut multipara (Asuhan
kebidanan komprehensif 2015). Wanita hamil
sering merasa khawatir tentang rasa nyeri yang
akan mereka alami saat melahirkan, hampir
sekitar 90% ibu bersalin mengalami nyeri pada
persalinan (Muhiman 2006 cit Ika 2010) nyeri
tersebut dialami oleh primipara dan multipara,
nyeri persalinan pada primipara lebih berat
dikarenakan adanya intensitas kontraksi terutama
pada kala I. Intensitas kontraksi ini disebabkan
oleh penipisan serviks primipara yang terjadi lebih
dahulu dari pada dilatasi serviks. Dan primipara
belum memiliki pengalaman terhadap nyeri
persalinan sebelumnya yang menimbulkan
ketegangan emosi dan cemas sehingga
memperberat persepsi nyeri (Yuliatun, 2008
dalam Laisouw 2015).
Penanggulangan nyeri pada persalinan sangat
penting karena akan dapat memperbaiki keadaan
fisiologis dan psikologi ibu dan bayi baru lahir
serta mengurangi kematian ibu dan janin. Saat ini
proses persalinan dengan menggunakan metode metode pengurangan rasa nyeri sedang
berkembang dimasyarakat, karena ibu bersalin
meyakini bahwa persalinan itu nyeri, dan
menganggap lebih penting mengatasi rasa nyeri
pada proses persalinan dibandingkan dengan
tempat persalinan atau siapa yang mendampingi
(Aprillia, 2014). Ibu bersalin yang sulit
beradaptasi dengan rasa nyeri persalinan dapat
menyebabkan tidak terkoordinasinya kontraksi
uterus yang dapat mengakibatkan perpanjangan
kala I persalinan dan kesejahteraan janin
terganggu (Hani, 2010).
Berdasarkan penelitian Ellyta Aizar, 2012
menggambarkan bahwa mayoritas adaptasi
psikososial ibu bersalin 91,9% adaptif pada fase
aktif dan hanya 37,8% yang adaptif pada fase
transisi. Nyeri selama persalinan meningkatkan
metabolisme tubuh sehingga terjadi peningkatan
tekanan darah, denyut nadi, RR, peningkatan suhu
yang juga akan berpengaruh pada sistem
gastrointestinal, perkemihan dan persarafan. Pada
fase aktif mayoritas Pasien memiliki adaptasi
fisiologis yang adaptif, namun pada fase transisi
18,9% memiliki tekanan sistole hipertensi stage I,
2,7% tekanan distole hipertensi stage II, 5,4%
suhu di atas normal, 18,9% respirasi yang di atas
normal dan 56,8% merasakan nyeri berat.
Menurut Elvoski, menyatakan bahwa sekitar 90 %
wanita mengalami nyeri saat proses melahirkan
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
dan hanya 4-7 % wanita yang tidak mengalami
nyeri saat melahirkan (Cit Muhiman 2006, Cit
Hartati 2008). Beratnya nyeri persalinan telah
tergambar dalam Al-Qur’an dalam surah maryam
: Makarasa sakit akan melahirkan anak memaksa
ia (bersandar) pada pangkalpohon kurma, ia
berkata, aduhai, alangkah baiknya aku mati
sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang tidak
berarti lagi di lupakan (Qs. Maryam, 19:23).
Berbagai metode telah digunakan untuk
mengurangi dan menghilangkan nyeri persalinan
baik secara farmakologis maupun secara
nonfarmakologis.Salah satu teknik yang biasa
digunakan yaitu murotal Al-Qur’an. Murotal AlQur’an merupakan rekaman suara Al-Qur’an yang
dilagukan oleh seorang Qori’ (Purna, 2006).
Terapi murotal Al-Qur’an dapat mempercepat
penyembuhan, telah dibuktikan oleh beberapa ahli
seperti yang dilakukan Ahmad Al Khadi direktur
utama Islamic Medicine Institute for Education
andResearch di Florida, Amerika Serikat, dengan
hasil penelitian menunjukkan 97% bahwa
pengaruh mendatangkan ketenangan dan
menurunkan ketegangan urat saraf reflektif
(Remolda,
2009).
Relaksasi
dengan
mendengarkan Al-Qur’an merupakan salah satu
metode terapi non farmakologis yang dapat
mengurangi nyeri dan juga dapat memberikan
ketenangan jiwa, karena ketenangan jiwa dapat
menginduksi hormon endorphin dan mereduksi
hormon-hormon
yang
mengakibatkan
vasokontriksi pembuluh dan spasme darah ibu.
Selain itu ketenangan jiwa juga dapat
meningkatkan oksigenasi (Djihan,2005 cit,
Windiasih, 2007). Berdasarkan penelitian Alkahel
(2011) bahwa Al-Quran yang diperdengarkan
akan memberikan efek relaksasi sebesar 65%.
Penelitian yang dilakukan oleh Wahida 2014,
yang memberikan murotal surat Ar-Rahman, pada
ibu bersalin kala I fase aktif sebanyak 1 kali
selama 25 menit, dapat menurunkan intensitas
nyeri dan meningkatkan kadar ß endorphin.
Penelitian yang dilakukan Bayrami(2014)
yang memberikan murottal surat Ar-Rahman
sebanyak 2 kali yaitu pada pembukaan 4-6 cm dan
7-10 cm dengan durasi selama 30 menit,
menunjukkan hasil bahwa, intensitas nyeri
persalinan ibu menurun setelah diperdengarkan
murottal surat Ar-Rahman dibandingkan dengan
kelompok yang tidak diperdengarkan murotal
intensitas nyerinya tidak mengalami penurunan.
Menurut Yuanitasari (2008) durasi pemberian
terapi musik atau suara selama 10-15 menit dapat
memberikan efek relaksasi.Menurut Smith (dalam
Upoyo, Ropi, & Sitoru 2012) terapi bacaan Al-
25
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Qur’an terbukti mengaktifkan sel-sel tubuh
dengan mengubah getaran suara menjadi
gelombang yang ditangkap oleh tubuh,
menurunkan stimulasi reseptor nyeri. Berdasarkan
penelitian Wahida (2015) terapi murotal AlQur’an menunjukkan peningkatan kadar beta
endorphin dimana sebelum perlakuan (1053,6
ng/L) dan setelah perlakuan (1813,6 ng/L).
Berdasarkan informasi yang di dapatkan oleh
peneliti dari Ruang Bersalin RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi terapi yang sudah pernah
dilakukan oleh perawat dan penelitian sebelumnya
adalah terapi musik, relaksasi dan teknik
pernapasan. Sedangkan terapi murotal belum
pernah di lakukan oleh perawat ataupun peneliti
sebelumnya.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas,
peneliti berminat untuk mengetahui pengaruh
terapy murotal terhadap adaptasi nyeri
menghadapi persalinan pada ibu inpartu primipara
di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi.
2.
METODE PENELITIAN
Desain penelitian menggunakan metode
quasi -eksperimen dengan rancangan pre - post
test yaitu satu kelompok diberikan terapy murotal
dan satu kelompok kontrol tidak diberikan terapy
murotal. Populasi dalam penelitian sebanyak 30
orang dan sampel dalam penelitian ini 12 orang, 6
di lakukan intervensi dan 6 orang lagi tidak
diberikan perlakuan atau kontrol. Instrument yang
digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini
menggunakan speaker, headset, hand phone, ayat
Al – Quran surat Ar-Rahman, lembar prosedur
pelaksanaan terapy murotal, dan lembar observasi
terapy murotal pre dan post melakukan terapy
murotal. Penelitian dilakukan di Ruangan Bersalin
RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi pada
tanggal 9 Juni – 9 Juli 2016.
Tekhnik
dalam
pengumpulan
data
pertamakali peneliti meminta data pasien ibu yang
akan inpartu primipara di Ruangan Bersalin
RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi. Peneliti
mengambil 12 pasien yang akan di jadikan
responden sesuai dengan banyak sampel yang
peneliti butuhkan, 6 orang diberikan perlakuan
dan 6 orang lagi tidak diberikan perlakuan atau
kontrol. Peneliti menjelaskan kepada pasien
tentang pemberian terapi murottal surat Ar –
Rahman pada ibu yang akan inpartu kala I. Jika
pasien setuju dijadikan sampel dalam penelitian
ini, peneliti mengajukan lembar persetujuan
(informed consent) untuk ditanda tangani. Peneliti
melakukan pengukuran tanda – tanda vital dan
intensitas nyeri pertama respoden sebelum
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
dilakukan terapy murotal. Peneliti melakukan
persiapan terapy murotal lalu menganjurkan
pasien dengan posisi yang nyaman. Peneliti
mendengarkan kepada pasien murotal surat Ar Rahman.Terapy dilakukan selama 30 menit.
Setelah melakukan terapy, ukur kembali tanda –
tanda vital dan intensitas nyeri pasien sesudah
melakukan terapy murotal. Begitu juga dengan
pasien kontrol, peneliti tetap melakukan
pengukuran tanda – tanda vital dan intensitas nyeri
pertama respoden. Setelah 30 menit peneliti
melakukan kembali pengukuran tanda – tanda
vital dan intensitas nyeri pasien. Peneliti
mengumpulkan hasil pengumpulan data untuk
selanjutnya diolah dan dianalisis.
TEKHNIK ANALISIS
1. Analisis
Univariat
Analisis univariat yaitu hasil pemeriksaan
tanda – tanda vital dan nyeri sebelum dan
sesudah intervensi pada ibu primipara.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat yang digunakan pada
penelitian ini adalah uji t dependen (paired ttest) untuk menguji perbedaan adaptasi nyeri
sebelum dilakukan terapy murotal dan sesudah
melakukan terapy murotal dengan batasan
kemaknaan 0,05.
26
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Hasil Penelitian
1). Analisa Univariat
a). Rata – Rata Pasien Berdasarkan Adaptasi Nyeri Pasien Inpartu Primipara Sebelum
Kontrol di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
Variabel
Mean
SD
SE
Adaptasi Nyeri Sebelum
6,83
0,983
0,401
Dilakukan Kontrol
Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa rata - rata adaptasi nyeri sebelum dilakukan kontrol sebanyak
6,83 dengan standar deviasi 0,983 dan standar eror 0,401.
b). Rata - Rata Pasien Berdasarkan Adaptasi Nyeri Pasien Inpartu Primipara Setelah
dilakukan Kontrol Di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
Variabel
n
Mean SD
SE
Adaptasi
nyeri
dilakukan kontrol
setelah 12
8,50
0,548
0,224
Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa rata - rata adaptasi nyeri setelah dilakukan kontrol sebanyak 8,50
dengan standar deviasi 0,548 dan standar eror 0,224.
c). Rata - Rata Pasien Berdasarkan Adaptasi Nyeri Pasien Inpartu Primipara Sebelum
Intervensi di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
Variabel
N
Mean SD
SE
Adaptasi nyeri sebelum 12
7,83
0,753 0,307
dilakukan intervensi
Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa rata - rata adaptasi nyeri sebelum dilakukan intervensi sebanyak
7,83 dengan standar deviasi 0,753 dan standar eror 0,307.
d). Rata – Rata Pasien Berdasarkan Adaptasi Nyeri Pasien Inpartu Primipara Setelah
Dilakukan Intervensi di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
Variabel
N Mean SD
SE
Adaptasi Nyeri
Setelah 12 7,17
0,983 0,401
Dilakukan Intervensi
Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa rata - rata adaptasi nyeri sebelum dilakukan intervensi sebanyak
7,17
dengan
standar
deviasi
0,983
dan
standar
eror
0,401.
2).AnalisaBivariat
a). Rata – Rata Pasien Berdasarkan Adaptasi Nyeri Pasien Inpartu Primipara Sebelum dan
Sesudah kontrol di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
Variabel
N
Mean
SD
SE
P value
Adaptasi Nyeri Sebelum 12
-1,667
0,516
0,211
0,001
dan Setelah Dilakukan
kontrol
Berdasarkan tabel 5.3.1 dapat dilihat bahwar rata - rata perbedaan nyeri sebelum dan sesudah kontrol
sebanyak -1,667, standar deviasi 0,516, standar eror 0,211. Hasil uji statistik didapatkan nilai p value
0,001 maka dapat disimpulkan adanya perbedaan adaptasi nyeri sebelum dan setelah dilakukan kontrol
terapi murottal pada pasien inpartu primipara.
LPPM STIKes Perintis Padang
27
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
b). Rata – Rata Pasien Berdasarkan Adaptasi Nyeri Pasien Inpartu Primipara Sebelum dan
Sesudah intervensi di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
Variabel
n
Mean SD
SE
P
value
Adaptasi Nyeri Sebelum dan 12 0,667 0,516 0,211 0,025
Setelah Dilakukan Intervensi
Berdasarkan tabel5.3.2 dapat dilihat bahwa rata - rata perbedaan nyeri sebelum dan sesudah intervensi
sebanyak 0,667, standar deviasi 0,516, standar eror 0,211. Hasil uji statistik didapatkan nilai p value
0,025 maka dapat disimpulkan adanya perbedaan adaptasi nyeri sebelum dan setelah dilakukan
intervensi terapi murottal pada pasien inpartu primipara
b. Pembahasan
1). Analisa Univariat
a). Adaptasi nyeri sebelum pada pasien kontrol
inpartu primipara di RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi.
Hasil penelitian didapatkan bahwa rata rata adaptasi nyeri sebelum dilakukan kontrol
sebanyak 6,83 dengan standar deviasi 0,983 dan
standar eror 0,401. Penelitian ini diperkuat oleh
penelitiankala (2014), tentang pengaruh terapi
murottal Al-Qur’an untuk penurunan nyeri
persalinan dan kecemasan pada ibu bersalin,
menjelaskan bahwa analisis menggunakan uji
paired t test didapatkan rata - rata intensitas nyeri
sebelum terapi murottal adalah 6,57, rata - rata
setelah dilakukan terapi murottal adalah 4,93.
Bahwa ada perbedaan rerata penurunan intensitas
nyeri persalinan kala I fase aktif sebelum dan
sesudah dilakukan terapi murottal dengan nilai p
value <α (0,000<0,05). Rata - rata kecemasan
sebelum terapi murottal adalah 26,67, rata-rata
setelah dilakukan terapi murottal adalah 20,52. Uji
paired t test menunjukkan bahwa ada perbedaan
rerata penurunan tingkat kecemasan sebelum dan
sesudah dilakukan terapi murottal dengan nilai p
value<α (0,000<0,05).
Penelitian ini sesuai dengan teori Nanda
(2010), Association of the Study Pain menyatakan
nyeri merupakan pengalaman emosional dan
sensori yang tidak menyenangkan yang muncul
dari kerusakan jaringan secara aktual dan
potensial atau menunjukkan adanya kerusakan.
Sedangkan menurut Bobak (2004), rasa nyeri pada
persalinan adalah nyeri kontraksi uterus yang
dapat mengakibatkan peningkatan aktifitas sistem
saraf simpatis, perubahan tekanan darah, denyut
jantung, pernafasan Pdan warna kulit dan apabila
tidak segera diatasi maka akan meningkatkan rasa
khawatir, tegang, takut dan stress.
Menurut analisis peneliti nyeri pada saat
melahirkan merupakan nyeri secara fisiologis
sangatlah wajar dikarenakan pada saat melahirkan
LPPM STIKes Perintis Padang
akan terjadi kontraksi uterus, peregangan pada
otot panggul, dan pada saat jalan lahir sudah
terbuka maka nyeri akan bertambah, disini pada
kelompok kontrol tidak terjadi penurunan nyeri,
nyeri pada kelompok kontrol ini akan bertambah
tetapi pasien tidak bisa beradaptasi dengan nyeri,
pasien tidak bisa menahan nyeri yang dialaminya.
b). Adaptasi nyeri sesudah pasien kontrol inpartu
primipara di RSUD Dr. Achmad Mochtar
Bukittinggi.
Hasil penelitian didapatkan bahwa rata rata adaptasi nyeri setelah dilakukan kontrol
sebanyak 8,50 dengan standar deviasi 0,548 dan
standar erorr 0,224. Penelitian ini diperkuat oleh
penelitian Rahma (2015) tentang efektivitas terapi
murottal Al - qur’an terhadap intensitas nyeri
persalinan kala I fase aktif, menjelaskan bahwa
hasil uji statistik pada kelompok eksperimen
dengan menggunakan uji dependent ttestdiperoleh
p value 0,000 < α (0,05).
Menurut analisis peneliti nyeri yang
dialami pada saat kontraksi uterus, dan akan
bertambah jika adanya tekanan kepala bayi pada
pelvis. pada penelitian ini kelompok kontrol tidak
bisa beradaptasi dengan nyeri karena nyeri
semakin bertambah maka pasien yang mengalami
nyeri ini tidak bisa menahan nyeri, pasien tampak
cemas, berkeringat dingin, menangis dan pasien
tampak mengeram kesakitan.
c).
Adaptasi nyeri sebelum intervensi terapi
murotal pasien inpartu primipara di RSUD
Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi.
Hasil penelitian didapatkan bahwa rata rata adaptasi nyeri sebelum dilakukan intervensi
sebanyak 7,83 dengan standar deviasi 0,753 dan
standar eror 0,307. Penelitian ini diperkuat oleh
Nanda (2010), Association of the Study Pain
menyatakan nyeri merupakan pengalaman
emosional dan sensori yang tidak menyenangkan
28
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
yang muncul dari kerusakan jaringan secara aktual
dan potensial atau menunjukkan adanya
kerusakan.
Menurut analisis peneliti nyeri pada
kelompok intervensi, nyeri terus mengalami
peningkatan karena pada persalinan sudah
merupakan fisiologis untuk nyeri, kalau tidak
nyeri merupakan tidak wajar, tetapi disini yang
mau diperhatikan peneliti dari pasien tidak bisa
beradaptasi dengan nyeri.
d). Adaptasi nyeri sesudahintervensi terapi
murottal pada pasien inpartu primipara di
RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi.
Hasil penelitian didapatkan rata - rata adaptasi
nyeri sebelum dilakukan intervensi sebanyak 7,17
dengan standar deviasi 0,983 dan standar eror
0,401.
Cuningham (2004), berpendapat bahwa nyeri
persalinan sebagai kontraksi miometrium, hal ini
merupakan proses fisiologi dengan intensitas yang
berbeda dengan masing - masing individu. Nyeri
adalah suatu sensasi tunggal yang disebabkan oleh
stimulus spesifik bersifat subjektif dan berbeda
antara masing - masing individu karena
dipengaruhi oleh faktor psikososial, kultur dan
endorphin seseorang, sehingga orang tersebut
lebih merasakan nyeri (Potter & Perry, 2005).
Terapi dengan menggunakan lantunan murotal
Al – Qur’an ( selanjutnya disebut terapi murotal
Al – Qur’an ), ternyata sudah memasyarakat di
kalangan tertentu pemeluk agama Islam.Tujuan
mereka bukan sebagai terapi suara,tapi untuk
membedakandiri kepada Tuhan (Allah SWT).
Gagasan untuk mengetahui tanggapan otak ketika
mendengarkan
lantunan murotal
Al
–
Qur’an.Tidak saja melihat respon secara umum,
tapi juga dengan lebih detail, seperti melihat
daerah korteks otak manakah yang memberikan
respon relaksasi setiap 10 detik sejak di berikan
stimulasi (Siswantinah, 2011).
Menurut analisis peneliti bahwa pada
penelitian intervensi terapi murotal, didapatkan
hasil, nyeri saat persalinan terus meningkat tetapi
pada kelompok intervensi terapi murotal ini pasien
bisa beradaptasi dengan nyeri di karenakan
lantunan ayat suci Al – qur’an yang dibacakan
oleh manusia merupan obat yang paling ampuh
dikarena bisa membuat rileks nyaman dan tenang
dalam beberapa menit walaupun nyeri itu
bertambah terus menerus.
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
2). Analisa Bivariat
a). Perbadaan adaptasi nyeri sebelum dan
sesudah kontrol pasien inpartu primipara di
RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi.
Hasil penelitian didapatkan rata-rata
perbedaan nyeri sebelum dan sesudah kontrol
sebanyak -1,667, standar deviasi 0,516, standar
eror 0,211. Hasil uji statistik didapatkan nilai p
value 0,001 maka dapat disimpulkan adanya
perbedaan adaptasi nyeri sebelum dan setelah
dilakukan kontrol terapi murottal pada pasien
inpartu primipara.
Menurut Mansur (2009) adaptasi adalah
manusia hendaknya dapat menyesuaikan diri
dengan lingkungannya, akan tetapi manusia tidak
selalu harus berubah tetapi justru harus membuat
perubahan. Manusia sebagai makhluk hidup
mempunyai
daya
upaya
untuk
dapat
menyesuaikan diri aktif maupun pasif. Pada
dasarnya seseorang aktif melakukan penyesuaian
diri bila keseimbangannya terganggu. manusia
akan merespon dari tidak seimbang menjadi
seimbang. Ketidak seimbangan ditimbulkan
karena frustasi dan konflik.
Menurut analisis peneliti pada kelompok
kontrol terdapat perbedaan yang signifikan karena
rata - rata perbedaan nyeri sebelum dan sesudah
intervensi sebanyak -1,667, standar deviasi 0,516,
standar eror 0,211. Hasil uji statistik didapatkan
nilai p value 0,001 maka dapat disimpulkan
adanya perbedaan adaptasi nyeri sebelum dan
setelah dilakukan kontrol terapi murottal pada
pasien inpartu primipara. Disini pasien tidak bisa
beradaptasi dengan nyeri , pasien mengalami nyeri
yang sangat hebat hanya bisa menangis, cemas
dengan keadaan, dan mengerang kesakitan.
b). Perbedaan adaptasi nyeri sebelum dan sesudah
intervensi pasien inpartu primipara di RSUD
Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi pada
kelompok kontrol.
Hasil penelitian didapatkan bahwa rata - rata
perbedaan nyeri sebelum dan sesudah intervensi
sebanyak 0,667, standar deviasi 0,516, standar
eror 0,211. Hasil uji statistik didapatkan nilai p
value 0,025 maka dapat disimpulkan adanya
perbedaan adaptasi nyeri sebelum dan setelah
dilakukan intervensi terapi murottal pada pasien
inpartu primipara.
Adaptasi nyeri adalah penyesuaian diri
terhadap pengalaman emosional dan sensori yang
tidak menyenangkan yang muncul dari kerusakan
29
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
jaringan secara aktual dan potensial atau
menunjukkan adanya kerusakan. Ma’mun (2012),
bahwa Al – Qur’an dapat menyembuhkan
berbagai penyakit jasmani maupun rohani seperti
kegelisahan, kecemasan dan kejiwaan. Al –Qur’an
merupakan kitab wahyu yang di turunkan oleh
Allah kepada rasulnya yang mulia Muhammad
S.A.W lebih empat belas abad yang lalu. Ia di
turunkan secara peringkat – peringkat memakan
masa lebih 20 tahun. Ayat – ayatnya terbagi ke
dalam 2 zaman yaitu : Makiyah dan Madaniyyah
sesuai dengan keadaan zaman dan penerimaan
sahabat rasulullah. Ia tidak berubah dan tidak
dapat di tandingi sampai akhir zaman. Al – Qur’an
merupakan mukjizat yang teragung untuk
dipelajari, dijadikan panduan dan diamalkan oleh
seluruh umat manusia sampai akhir zaman
(Qindil, 2008).
Menurut analisis peneliti bahwa setelah
dilakukan terapi terdapat perbedaan rata - rata
adaptasi nyeri sebelum dan sesudah dilakukan
intervensi terapi murotal 0,667. dengan nilai p
value nya 0,025 dapat disimpulakan bahwa ada
perbedaan yang signifikan antara nyeri sebelum
dilakukan intervensi dan nyeri sesudah intervensi
terapi murotal, pasien bisa beradaptasi dengan
nyeri karena dengan adanya terapi murotal ini
pasien bisa menjadi rileks , tenang, nyaman dan
mampu menahan nyeri dalam beberapa menit
walaupun nyeri terus-menerus akan bertambah.
3. KESIMPULAN
Penelitian ini dapat disimpulkan ada pengaruh
terapy murotal terhadap adaptasi nyeri persalinan
pada ibu inpartu primipara, adanya perbedaan
adaptasi nyeri sebelum dan setelah dilakukan
intervensi terapi murottal pada ibu inpartu
primipara dan adanya perbedaan adaptasi nyeri
sebelum dan setelah dilakukan kontrol terapi
murottal pada ibu inpartu primipara.
4. REFERENSI
Admin, 2013. World Health Organization. Angka
Kematian
Ibu
(http://WWW.sribid.com/doc/55332903
/Angka-Kematian Ibu) Diakses Tanggal
08 Februari 2015
Al Kaheel, Abdel Daem. 2013. Pengobatan
Qur’ani : Manjurnya berobat dengan Al
Qur’an. Jakarta : Amzah.
Asrinah, 2010. Asuhan Kebidanan Masa
Persalinan. Penerbit Graha Ilmu.
Yogyakarta
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
2004. Buku Ajar Keperawatan
Maternitas. Penerbit EGC. Jakarta
Cuningham, 2004. Obstetri Wiliams.
Penerbit EGC. Jakarta
Cuningham. 2004. Obstetri Wiliams. Penerbit
EGC. Jakarta
Destiana, 2013. Pengaruh Therapi Murrotal AlQuran Untuk Penurunan Nyeri
Persalinan Dan Kecemasan Pada Ibu
Bersalin Kala I Fase Aktif (http://gilibstikeskusumahusada. ac.id) Diakses
Tanggal 05 Februari 2015
Elzaky, 2011, Mukjizat Kesehatan Ibadah,
Penerbit Zaman, Jakarta
Ghufron, M. N. & Rini, R. S. 2010. Teori-Teori
Psikologi. Yogyakarta: Ar- Ruzz Media.
Guyton & Hall, 2007. Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran , Penerbit EGC. Jakarta
Hafidz. 2010. Keajaiban Mendengarkan AlQuran
(http://fsqalhafidz.org/index.php/materi
-utama /kajian/108- jawaban-imamibnu-taimiyah-bag2) Diakses Tanggal
05 Februari 2015
Handayani.R. 2014. Skripsi: Pengaruh Terapi
Murrotal Untuk Penurunan Nyeri
Persalinan dan Kecemasan Pada Ibu
Bersalin Kala I Fase Aktif.
Judha.M. 2012. Teori Pengukuran Nyeri dan
Nyeri Persalinan. Penerbit Nuha
Medika. Yogyakarta
Kadir. 2012. Manfaat Al-Quran Bagi Kesehatan
(http://anasukmawatikadir87.blogspot.com
/2012/4/manfaat-AlQuran-bagikesehatan.html)Diakses Tanggal 05
Februari 2015
Kuswanti, 2014. Askeb II Persalinan. Pustaka
Pelajar .Yogyakarta
Laisouw, Meilany. 2015. Tesis : Perbedaan
Tehnik
Distraksi
Mendengarkan
Murrotal Dan Tehnik Relaksasi
Pernafasan Terhadap Penurunan Nyeri
Inpartu Kala I Di Rs TK II
Prof.Dr.J.A.Latumeten
Ambon
:
Universitas Hasanuddin Makasar
Mansur,Herawati. 2009. Psikologi Ibu dan Anak
Untuk Kebidanan. Penerbit Salemba
Medika. Jakarta
Ma’Mun, 2012. Sehat Dengan Meditasi
Membaca
Al-Quran
(http://mitrajaya.com/sehat-denganmeditasi-bacaanal-quran)
Diakses
Tanggal 05 Februari 2015
Bobak.I.
30
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Maryunani.I. 2010. Nyeri Dalam Persalinan
Tehnik dan Cara Penanganannya.
Penerbit Trans Info Media. Jakarta
Nanda, 2010. Nursing Diagnosis Defenition and
Classification. Philadelpia.AS
Notoatmodjo S. (2005). Metodologi penelitian
kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta
Nugroho, A. (2005) Strategi jitu memilih metode
statistic penelitian dengan SPSS,
penerbit Andi : Yogyakarta.
Nursalam, (2011) Konsep dan peneraoan
metodologi
penelitian
ilmu
keperawatan, Jakarta : PT gramedia
pustaka utama.
Permansari, 2010. Pengaruh Mendengarkan Ayat
Suci Al-Quran Terhadap Tingkat Nyeri
Persalinan Kala I Fase Aktif Pada
Primipara di Puskesmas Margangsang
Yogyakarta. Yogyakarta
Pillitteri,Adele. 2002. Buku Saku Asuhan Ibu Dan
Anak. Jakarta : EGC
Potter & Perry, 2005. Fundamentals of Nursing
Philadelphia, AS
Qadiy, A. 1984. Pengaruh Terapi Murotal
Terhadap
Organ
Tubuh.http://www.mailarchive.com.
Tanggal Akses : 28 Februari 2014
Remold, 2009, Pengaruh Al-Quran pada manusia
Dalam Prospek Fisiologi dan Psikologi.
(http://the.edc.com) Diakses tanggal 31
Januari 2015
Rekam Medis RSAM Bukittinggi, (2016).
Laporan kasus KB IGD RSAM
Bukittinggi.
Sastroasmoro & Ismael (2010), Dasar-dasar
metodologi
penelitian
klinis,keperawatan medical bedah. Edisi
3.Vol 2 ,Jakarta : Rineka Cipta.
Smeltzer & Barre, 2007. Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah . Penerbit EGC. Jakarta
Simkin. 2007. Panduan Lengkap Kehamilan,
Melahirkan dan Bayi. Penerbit Arcan.
Jakarta
Siswantinah, 2011, Pengaruh Terapi Murrotal
Terhadap Kecemasan Pasien Gagal
Kronik Yang Dilakukan Tindakan
Hemodilusi
Di
RSUD
Kraton
Kabupaten Pekalongan. Semarang.
Sodikin. 2012. Tesis :Pengaruh Terapi Bacaan
Al-Quran Melalui Media Audio
Terhadap Respon Nyeri Pasien Post
Operasi Hernia Di Rs Cilacap Depok :
Universitas Indonesia.
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Varney, H. (2007). Buku Ajar Asuhan Kebidanan.
Jakarta : EGC
Wahida, 2015. Terapi murrotal Surat Ar-Rahman
Meningkatkan Kadar Endorpin dan
Menurunkan Intensitas Nyeri Pada Ibu
Bersalin
Kala
I.
(http://jkb.ub.ac.id/index.php/jkb/article
/viewFile/672/441) Diakses Tanggal 27
Maret 2015
31
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
PERILAKU BULLYING BERHUBUNGAN DENGAN KARAKTERISTIK
PERKEMBANGAN REMAJA DI SMPN 3 LINGGO SARI BAGANTI
KABUPATEN PESISIR SELATAN
Isna Ovari1, Falerisiska Yunere2, Ilham Wira Satria3
1.
2.
3.
Program Studi Profesi Ners, STIKes Perintis Padang
e-mail: [email protected]
Program Studi S-1 Keperawatan, STIKes Perintis Padang
e-mail: [email protected]
Program Studi S-1 Keperawatan, STIKes Perintis Padang
e-mail:[email protected]
Abstract
Delinquency is caused by the characteristics of the development of troubled teens. From interviews with
15 students, the data obtained psychosocial development where 10 of the 15 students have not been able
to control the behavior that can lead to bullying behavior. of cognitive development, 6 teenagers should
know his role as a student is to learn and study, but it is becoming a problem because it always sees his
students that the school is a place to play around it. The purpose of this study sees Characteristics of
Youth Development Relationship with Bullying Behavior Students at SMPN 3 Linggo Sari Baganti
Kabupaten Pesisir Selatan Year 2016. This study used a correlative description method and tool used
is a questionnaire with a student population of 324 people. 76 people were sampled using the technique
of "Multistage Random Sampling". The results of this study found, there is a significant relationship
between psychosocial development with bullying behavior p = 0.032 (p <0.005), there is a significant
relationship between cognitive development with bullying behavior value of p = 0.047 (p <0.005), there
is a significant relationship between moral development with bullying behavior p = 0.028 (p <0.005),
There was a significant relationship between spiritual development with bullying behavior value of p =
0.018 (p <0.005), There was a significant relationship between social development with bullying
behavior p = 0.046 (p <0.005. Suggestions researchers better understand about bullying either a student
teacher at the school.
Keywords: bullying, characteristics of adolescents
1. PENDAHULUAN
Kementerian Kesehatan Indonesia mendefinisikan
remaja sebagai individu yang hanya berumur 1019 dan tidak kawin. BKKBN menjelaskan
kelompok umur remaja adalah 10-24 tahun, tidak
kawin.
Sensus
tahun
2010,
mencatatpendudukIndonesiakelompok
anakmudausia10-24tahun a d a l a h sekitar 64
juta jiwa atau 27.6% dari total penduduk
Indonesia yang berjumlah 237.6jutajiwa. Dalam
proses perkembaganremaja mencari identitas diri,
sering terjadi masalah karena remaja berusaha
untuk memenuhi tugas perkembangannya.
Berdasarkan teori perkembangan, usia remaja
adalah masa terjadinya perubahan-perubahan
yang cepat, termasuk perubahan fundamental
dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan
pencapaian (Fagan, 2006).
LPPM STIKes Perintis Padang
Siswa disekolah saat ini bukan saja berani
melanggar peraturan sekolah yang berkaitan
dengan disiplin seperti; merokok, minum alkohol,
merusak fasilitas sekolah, mencuri, berkelahi,
bolos sekolah, menganggu pelajaran di kelas,
tidak mematuhi arahan guru bahkan mem-bully
kawan sekelas atau adik kelas (Fahrudin, 2007).
Keadaan seperti ini harus diamati secara
serius mengingat jumlah siswa sekolah yang
terlibat semakin meningkat dari waktu ke waktu.
Hal ini dapat dilihat terjadi peningkatan jumlah
anak dan remaja yang menjadi penghuni Lembaga
Pemasyarakatan Anak dan Pemuda, Pusat
Rehabilitasi Anak Nakal dan juga Pusat
Rehabilitasi Korban Narkoba. Oleh karena
kenakalan remaja sangat luas maka tulisan ini
hanya memfokuskan kepada masalah bentuk
kenakalan remaja yaitu perilaku bullying remaja
(Jurnal Psikologi Undip, 2012).
Remaja rentan terhadap perilaku –
perilaku negatif, salah satunya adalah perilaku
32
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
bullying. Masa remajamerupakan tahapan bagi
seorang remaja menuju kedewasaan yang
seringkali menuntut seorang remaja untuk
menemukan karakter dan jati dirinya, sayangnya
seringkali seorang remaja dalam mencari jati
dirinya terjerumus dalam pola hidup dan perilaku
yang salah karena pengaruh negatif lingkungan
sosial dan kurang pengawasan dari beberapa pihak
seperti orangtua dan sekolah, hal–hal seperti inilah
yang akhirnya menyebabkan remaja melakukan
bullying (Coloroso, 2007).
Hasil studi pendahuluan, didapatkan data
dari Kepala Sekolah melalui Guru BP SMPN 3
Linggo Sari Baganti jumlah siswa SMP berjumlah
sebanyak 324 siswa dari sekian banyak siswa rata
rata tiap bulannya masuk keruangan BP sebanyak
4-8 siswa akibat melakukan kekerasan, kenakalan,
dan bullying. Perilaku bullying tersebut seperti
melakukan kekerasan fisik kepada teman sendiri,
meminta uang secara paksa, melakukan pengejekan pada teman di sekolah dan juga mengajak
tawuran dengan lokal lain yang bukan kelas
mereka. Kemudian ada juga kejadian pada saat
classmeeting menurut keterangan dari seorang
siswa yang berada di kelas 2, pada saat ini kelas
telah
selesai
melakukan
pertandingan.
Berdasarkan data tersebut peneliti tertarik untuk
melakukan
penelitian
tentang
hubungan
karakteristik perkembangan remaja terhadap
perilaku bullying di SMPN 3 Linggo Sari Baganti
Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2016.
ISSN: 2548-3153
2. METODE PENELITIAN
Desain penelitian ini adalah deskriptif analitik
dengan cross sectional, yaitu suatu penelitian
yang bertujuan untuk menganalisisi antara faktorfaktor resiko dengan efek, dengan cara
pendekatan, observasi atau pengumpulan data
sekaligus pada suatu saat (Notoatmodjo, 2005:
145). Penelitian ini telah dilaksanakan di SMPN 3
Linggo Sari Baganti Pesisir Selatan, pada tanggal
20-23, bulan Juli, tahun 2016. Populasi adalah
keseluruhan siswa-siswi kelas 1,2, dan 3 di SMPN
3 Linggo Sari Baganti Pesisir Selatan, dengan
jumlah 324 siswa Sampel adalah sebagian dari
populasi atau keseluruhan objek yang telah diteliti
dan
dianggap
mewakili
dari
populasi
(Notoatmodjo, 2005).
Sampel pada penelitian ini diambil
menggunakan teknik Multistage Random
Sampling. Teknik ini merupakan suatu cara
pengambilam sampel, bila objek yang diteliti atau
sumber data sangat luas atau besar, yakni
populasinya heterogen, terdiri atas cluster dan
strata. Cara samplingnya adalah berdasarkan
daerah dari populasi yang di tetapkan, dengan
melakukan randomisasi cluster, kemudian
dilakukan strasifikasi atas cluster terpilih dan
terakhir dilakukan randomisasi unit populasi dari
masing-masing strata (Hidayat, 2009).
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 HASIL
Tabel 3.1.1
Hubungan Karakteristik Perkembangan Psikologis Remaja Dengan
Perilaku Bullying Siswa di SMPN 3 Linggo Sari Baganti
Perilaku Bullying
pJumlah
Perkembangan
Tidak
Terjadi
value
Psikologis
Terjadi
%
f
%
f
%
Kurang Baik
50
17
50
34
100
7
Baik
52,4
20
47,6
42
100
0,03
2
2
Total
51,3
37
48,7
100
9
76
OR
0,909
Tabel 1 menunjukkan dari 42 orang siswa dengan perkembangan psikologis baik sebanyak 22
orang ( 52,4%) melakukan perilaku Bullying, sedangkan dari 34 orang siswa yang perkembangan
psikologis kurang baik ada 17 orang (50%) melakukan perilaku bullying di SMPN 3 Linggo Sari
Baganti Kabupaten Pesisir Selatan.
Hasil uji statistic chi-square didapatkan p=0,032 (p < 0,05).Berarti Ha diterima dan Ho ditolak jadi
terdapat hubungan yang bermakna antara perkembangan psikologis dengan perilaku bullying siswa di
LPPM STIKes Perintis Padang
33
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
SMPN 3 Linggo Sari Baganti Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2016. OR didapatkan 0,909 artinya
siswa yang memiliki perkembangan psikologis kurang baikberpeluang 0,909 kali melakukan perilaku
bullying dibandingkan dengan siswa dengan perkembangan psikologis baik.
Tabel 3.1.2
Hubungan Karakteristik Perkembangan Kognitif Remaja Dengan
Perilaku BullyingSiswa di SMPN 3 Linggo Sari Baganti
Perilaku Bullying
pJumlah
Perkembang
Tidak
Terjadi
value
an Kognitif
Terjadi
f
%
f
%
f
%
Kurang Baik
14
46,7
16
63,3
30
100
Baik
25
54,3
21
45,7
46
100
0,047
Total
39
51,3
37
48,7
100
76
OR
0,735
Tabel 2 menunjukkan dari 46 orang siswa dengan perkembangan kognitif baik sebanyak 25 orang
( 54,3%) melakukan perilaku bullying, sedangkan dari 30 orang siswa dengan perkembangan kognitif
kurang baik sebanyak 16 orang (63.3%) melakukan perilaku bullying di SMPN 3 Linggo Sari Baganti
Kabupaten Pesisir Selatan.
Hasil uji statistic chi-square didapatkan p=0,047 (p < 0,05). Berarti Ha diterima dan Ho ditolak
jadi terdapat hubungan yang bermakna antara perkembangan kognitif dengan perilaku bullying siswa
remaja di SMPN 3 Linggo Sari Baganti Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2016. OR didapatkan 0,735
artinya siswa yang memiliki perkembangan kognitif kurang baikberpeluang 0,735 kali melakukan
perilaku bullying dibandingkan dengan siswa yang memiliki perkembangan kognitif baik.
Perkembang
an Moral
Kurang Baik
Baik
Total
Tabel 3.1.3
Hubungan Karakteristik Perkembangan Moral Remaja Dengan
Perilaku BullyingSiswa di SMPN 3 Linggo Sari Baganti
Perilaku Bullying
pJumlah
Tidak
Terjadi
value
Terjadi
F
%
f
%
F
%
16
55,2
13
44,8
29
100
23
48,9
24
51,1
47
100
0,028
39
51,3
37
48,7
100
76
OR
1,284
Tabel 3 menunjukkan dari 47 orang siswa dengan perkembangan moral baik, ada 24 orang siswa
( 51,1%) tidak ada melakukan perilaku bullying, sedangkan dari 29 orang siswa dengan perkembangan
moral yang kurang baik, ada 16 orang siswa (55,2%) melakukan perilaku bullying di SMPN 3 Linggo
Sari Baganti Kabupaten Pesisir Selatan.
Hasil uji statistic chi-square p=0,028 (p < 0,05). Berarti Ha diterima dan Ho ditolak jadi terdapat
hubungan yang bermakna antara perkembangan moral dengan perilaku bullying pada siswa remaja di
SMPN 3 Linggo Sari Baganti Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2016. OR didapatkan 1,284 artinya
responden yang memiliki perkembangan moral yang kurang baikberpeluang 1,284 kali melakukan
perilaku bullying dibandingkan dengan responden yang memiliki perkembangan moral baik.
LPPM STIKes Perintis Padang
34
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Tabel 3.1.4
Hubungan Karakteristik Perkembangan Spritual Remaja Dengan
Perilaku Bullying Siswa di SMPN 3 Linggo Sari Baganti
Perilaku Bullying
pJumlah
Perkembangan
Terjadi
Tidak Terjadi
value
Spritual
f
%
f
%
f
%
Kurang Baik
18
54,5
15
45,5
33
100
Baik
21
48.8
22
51,2
43
100
0.018
Total
39
51,3
37
48,7
100
76
OR
1,257
Tabel 4 menunjukkan dari 43 orang siswa dengan perkembangan Spiritual baik, ada 22 orang
siswa ( 51,2%) tidak melakukan perilaku bullying, sedangkan dari 33 orang siswa dengan perkembangan
spiritual kurang baik, ada 18 orang siswa (54,5%) melakukan perilaku bullying di SMPN 3 Linggo Sari
Baganti Kabupaten Pesisir Selatan.
Hasil uji statistic chi-square didapatkanHasil uji statistic chi-square p=0,018 (p < 0,05). Berarti Ha
diterima dan Ho ditolak jadi terdapat hubungan yang bermakna antara perkembangan spritual dengan
perilaku bullying pada siswa remaja di SMPN 3 Linggo Sari Baganti Kabupaten Pesisir Selatan Tahun
2016. OR didapatkan 1,257 artinya siswa dengan perkembangan spiritual kurang baikberpeluang 1,257
kali untuk melakukan perilaku bullying dibandingkan dengan siswa dengan perkembangan spiritual
baik.
Tabel 3.1.5
Hubungan Karakteristik Perkembangan Sosial Remaja Dengan
Perilaku BullyingSiswa di SMPN 3 Linggo Sari Baganti
Perilaku Bullying
p-value
Jumlah
Perkembangan
Terjadi
Tidak Terjadi
Sosial
f
%
f
%
f
%
Kurang Baik
18
58.1
13
41.9
31
100
Baik
21
23,1
24
53.3
45
100
0,046
Total
39
51,3
37
48,7
100
76
OR
1,582
Tabel 5 menunjukkan dari 45 orang siswa dengan perkembangan sosial baik, ada sebanyak 24
orang(53,3%) tidak melakukan perilaku Bullying, sedangkan dari 31 orang siswa dengan perkembangan
sosial kurang baik, ada 18 orang siswa (58.1%) melakukan perilaku bullying di SMPN 3 Linggo Sari
Baganti Kabupaten Pesisir Selatan.
Hasil uji statistic chi-square didapatkanp=0,046 (p < 0,05). Berarti Ha diterima dan Ho ditolak jadi
terdapat hubungan yang bermakna antara perkembangan sosial dengan perilaku bullying pada siswa
remaja di SMPN 3 Linggo Sari Baganti Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2016. OR didapatkan 1,582
artinya siswa yang memiliki perkembangan sosial kurang baikberpeluang 1,582 kali melakukan perilaku
bullying dibandingkan dengan siswa dengan perkembangan sosial baik.
3.2. PEMBAHASAN
3.2.1. Hubungan Perkembangan
Psikologis Remaja Dengan Perilaku
Bullying
Perkembangan
Psikologis
merupakan
perkembangan yang harus dijalani oleh siswa
sekolah/remaja agar tidak melakukan hal hal
yang tidak diiginkan makanya jika remaja
LPPM STIKes Perintis Padang
memahami psikososial maka remaja tersebut akan
menghindari perilaku bullying. Hasil uji statistik
p-value=0,032(p< 0,05), terdapat
hubungan
yang bermakna antara perkembangan psikologis
remaja dengan perilaku bullying siswa di SMPN
3 Linggo Sari Baganti dengan nilai OR 0,909.
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang
dilakukan oleh Sari Pediatri, 2013, dimana
terdapat hubungan antara perilaku bullying
35
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
dengan perilaku kekerasan. Peneliti berasumsi
terdapatnya hubungan dalam penelitian ini adalah
karena psikologis remaja berkaitan dengan
perilaku kekerasan, maksudnya adalah semakin
baik psikolsosial remaja maka perilakunya
disekolah,semakin baik, sehingga remaja akan
menjalani masa perkembangannya dengan baik
pula.
3.2.2.
Hubungan Perkembangan Kognitif
Remaja Dengan Perilaku Bullying
Hasil uji statistik p=0,047 (p < 0,05), terdapat
hubungan yang bermakna antara perkembangan
kognitif remaja dengan perilaku bullying siswa
remaja di SMPN 3 Linggo Sari Baganti dengan
nilai OR 0,735. Perkembangan kognitif sangat
penting bagi remaja dimana kognitif merupakan
pengembangan wawasan pengetahuan menjadi
lebih baik, bisa membawa remaja kearah yang
baik pula sehingga perkembangan yang baik atau
kognitif yang baik akan mempengaruhi perilaku
bullying remaja tersebut.
Kenyataannya
perilaku tersebut telah terjadi dalam kurun waktu
yang lama dan terjadi di berbagai segi kehidupan
termasuk juga dunia pendidikan. Padahal tindakan
bullying merupakan fenomena yang berhubungan
dengan kognitif remaja
Hal ini senada dengan hasil penelitian
Erika Valentina, 2008, hasilnya bahwa di negaranegara Skandinavia bullying sangat berhubungan
dengan pengetahuan atau kognitif remaja karena
bullying dikenal dengan istilah mobbing mob yaitu
sekelompok orang yang bersifat anonim yang
terlibat atau bahkan melakukan suatu pelecehan
dan penekanan terhadap orang lain.
Peneliti berasumsi bahwa
adanya
hubungan perkembangan kognitif remaja dengan
bullying dikarenakan bahwa pengetahuan remaja
selalu berkaitan dengan perilaku kekerasanya atau
semakin baik pengetahuan remaja maka akan
semakin tidak terjadi perilaku bullying di sekolah
sehingga
remaja
bisa
menjalani
masa
perkembangannyadengan baik. Hal ini dibuktikan
dengan data yang didapatkan yaitu, 60,5% siswa
selalu berencana untuk melanjutkan jenjang
pendidikannya ke SMA, 26,3% siswa selalu
mengerjakasn tugas terlebih dahulu sebelum pergi
bermain bersama teman, 42,1% siswa selalu bisa
memikirkan perkiraan waktu supaya tidak
terlambat datang kesekolah.
LPPM STIKes Perintis Padang
3.2.3.
ISSN: 2548-3153
Hubungan Perkembangan Moral
Remaja dengan Perilaku Bullying
Hasil uji statistik p=0,028 (p < 0,05), terdapat
hubungan yang bermakna antara perkembangan
moral remaja dengan perilaku bullying siswa di
SMPN 3 Linggo Sari Baganti dengan nilai OR
1,284.
Moral merupakan ahklak, bagi kalangan
remaja
moral anak sekolah atau remaja
tergantung pada moral ajaran mereka yang didapat
dari sekolah atau orang tua. Maka semakin
baikmoral maka akan semakin baik pula tindakan
perilaku mereka, ini berkaitan sekali dengan apa
yang akan mereka lakukan di lingkungan sekolah
sehingga ada keterkaitan moral dengan bullying.
Pendapat ini sesuai dengan penelitian, Liness
(2010), hasilnya terdapat hubungan perilaku moral
dengan perilaku bullying dengan p-value = 0,0043
< 0,05 dengan OR = 3.213 maka perilaku bullying
sebagai intimidasi yang dilakukan oleh individu
atau kelompok baik secara fisik, psikologis, sosial,
verbal atau emosional, yang dilakukan secara
terus menerus.
Peneliti berasumsi bahwa adanya
hubungan dikarenakan bahwa moral remaja selalu
berkaitan dengan perilaku kekerasanya remaja
tersebut atau semakin baik moral remaja maka
akan semakin tidak terjadi perilaku bullying di
sekolah sehingga remaja akan menjalani masa
perkembangan moral dengan baik. Didukung oleh
data bahwa 26,3% siswa selalu mentaati peraturan
yang berlaku. 25% siswa bersedia menerima
hukuman jika melakukan kesalahan dan
melanggar peraturan yang ditetapkan sekolah.
3.2.4.
Hubungan Perkembangan Spritual
Remaja dengan Perilaku Bullying
Hasil uji statistik p=0,018 (p < 0,05), terdapat
hubungan yang bermakna antara perkembangan
Spritual remaja dengan perilaku bullying siswa di
SMPN 3 Linggo Sari Baganti dengan nilai OR
1,257.
Spritual merupakan ajaran keagamaan
yang dimiliki oleh siswa sekolah, dengan adanya
perkembangan spiritual yang baik dalam diri
siswa tentunya tindakan kekerasan dilingkungan
sekolah tidak terjadi. Penelitian Sari Menurut Sari
(2013), menunjukkan bahwa di Jepang perilaku
bullying dikenal dengan istilah ijime, yang berasal
dari kata kerja ijimeru yang memiliki arti harafiah
sebagai tindakan menyiksa, memarahi, dan
mencaci maki dimana terdapat hubungan ajaran
spiritual dengan kekerasan dengan p-value
36
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
=0.0045 < 0,05 sehingga terdapat significansi
antara spiritual dengan bullying
Peneliti berasumsi bahwa adanya
hubungan dikarenakan perkembangan spiritual
siswa sekolah selalu berkaitan dengan perilaku
kekerasanya, dimana anak sekolah sebagai remaja
tersebut akan berfikir apa yang akan
dilakukannya, jika semakin baik perkembangan
spiritual mereka maka semakin tidak terjadi
perilaku bullying di sekolah sehingga remaja akan
menjalani masa perkembangan spiritualnya
dengan dengan baik. Hal ini diperkuat oleh data
yaitu 56,6% siswa menyadari apa yang harus
dilakukan sebagai umat yang beragama. 31,6%
siswa selalu melaksanakan ibadah setiap hari.
39,5% siswa selalu diberitahu oleh orangtua untuk
tidak meninggalkan ibadah setiap harinya.
3.2.5. Hubungan Perkembangan
Remaja dengan Perilaku
Bullying
Hasil uji statistik didapatkan p=0,046 (p < 0,05),
terdapat hubungan yang bermakna antara
perkembangan sosial remaja dengan perilaku
bullying siswa remaja di SMPN 3 Linggo Sari
Baganti dengan nilai OR 1,582.
Perkembangan
sosial
merupakan
perkembangan yang dilalui oleh remaja yang perlu
mendapatkan perhatian dari pihak sekolah
ataupun orang tua karena sosial remaja sekarang
ini sangat labil yang perlu dikontrol supaya tidak
melakukan tindakan anarkis atau kekerasan.
Istilah bullying merupakan suatu istilah yang
masing terdengar asing bagi kebanyakan
masyarakat di Indonesia, walaupun pada
kenyataannya perilaku tersebut telah terjadi dalam
kurun waktu yang lama dan terjadi di berbagai
segi kehidupan termasuk juga dunia pendidikan.
Pendapat ini senada dengan Rigby Ken
(2003), perilaku bullying dapat terjadi secara
individual ataupun berkelompok yangdilakukan
seorang anak ataupun kelompok secara konsisten
dimana tindakan tersebut mengandung unsur
melukai bagi anak yang jauh lebih lemah
dibanding pelaku. Dan hal ini ada kaitannya
dengan perkembangan sosial siswa sekolah jika
tidak diperhatikan perkembangan sosialnya maka
kekerasan akan merajalela
Peneliti berasumsi bahwa adanya
hubungan dikarenakan bahwa sosial remaja selalu
berkaitan dengan perilaku kekerasanya remaja
tersebut atau semakin baik perkembangan sosial
nya maka akan semakin tidak terjadi perilaku
bullying di sekolah sehingga remaja akan
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
mernjalani masa perkembangannya dengan baik.
Hal ini berkaitan dengan data penelitian yang di
dapatkan yaitu, 14,5% siswa memiliki orangtua
yang sering mendengarkan keluhan tentang
masalah yang dihadapi oleh siswa. 30,3% siswa
selalu bisa menyesuaikan diri untuk masuk
kedalam kelompok teman-temannya. 44,7% siswa
sering memiliki sahabat ataupun teman dekat.
30,3% siswa menyadari bahwa diri mereka adalah
laki-laki dan perempuan remaja, sehingga mereka
harus membatasi pergaulan yang bersifat negatif
dengan lawan jenis.
4. KESIMPULAN
Hasil penelitian terhadap 76 orang siswa dengan
judul Hubungan Karakteristik Perkembangan
Remaja Dengan Perilaku BullyingSiswa di SMPN
3 Linggo Sari Baganti Kabupaten Pesisir Selatan
Tahun 2016 menyimpulkan :
1. Lebih dari separoh siswa memiliki
perkembangan psikologis baik sebanyak 42
siswa (55.3 %).
2. Lebih dari separoh siswa memiliki
perkembangan kognitif baik sebanyak 46
siswa (60.5 %).
3. Lebih dari separoh siswa memiliki
perkembangan moral baik sebanyak 47 siswa
(61.8%).
4. Lebih dari separoh siswa memiliki
perkembangan spiritual baik sebanyak 43
siswa (56,6 %.)
5. Lebih dari separoh siswa
memiliki
perkembangan sosial baik sebanyak 45 siswa
(59.2 %)
6. Lebih dari separoh siswa melakukan perilaku
bullying yaitu sebanyak 39 siswa (51.3 %) di
SMPN 3 Linggo Sari Baganti
7. Terdapat hubungan yang bermakna antara
perkembangan psikologis, kognitif, moral,
spiritual dan sosial dengan perilaku bullying
siswa di SMPN 3 Linggo Sari Baganti
Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2016 dengan
p value = 0,032, 0,047, 0,028, 0,018, 0,046.
5. REFERENSI
Al-Mighwar. (2006). Psikologi Remaja
Petunjuk bagi Guru dan Orangtua.
Bandung : Pustaka Setia
Buda M & Szirmai E. (2010). School Bullying in
the Primary School Report of a Research in
Hajdu-Bihar Country (Hungary). Joz/ma/ of
Social Research &Policy. No. 1, July 2010
Aznan Adviis Ardiyansyah. (2008). FaktorFaktor Yang Mempengaruhi Bullying Pada
37
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Remaja. Naskah Publikasi. Universitas Islam
Indonesia.
Coloroso,
Barbara.
(2007).Stop
Bullying:Memutus Rantai Kekerasan Anak
dari Prasekolah hingga SMU. Diterjemahkan
oleh: Santi Indra Astuti. Jakarta: PT. Serambi
Ilmu Semesta.
Dake A. Joseph, Price H. James, and Telljohann
K. Susan. (2003). The Nature and Extend of
Bullying at SchoolJournal of School Health.
Vol. 73. No. 5. Mei 2003. 174.
. . Focus on Bullying: A
Prevention Program for Elementary
School Comunities. Columbia British
Ministry of Education.
Hurlock,
E.
(2001).
Psikologi
Perkembangan. Edisi 5.Jakarta :
Erlangga
http://www.republikapenerbit.com/artikel/
detail_info/408 pada tanggal 19 Juli 2014, Jam
15.50 WIB.
Notoatmodjo S. (2005). Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT
Rineka Cipta
Nursalam, (2011).Konsep dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu Keperwawatan,
Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Rigby, Ken. (2003).Bullying Among Young
Children: A Guide for Teachers and Carers.
Australia: Australian Government AttorneyGenerar's Departmen
Sarwono, S.W. (2002). Psikologi Remaja. Jakarta
: PT Raja Grafindo Persada.
Sejiwa. (2008). Bullying. Mengatasi Kekerasan
di Sekolah dan Lingkungan Sekitar Anak.
Jakarta: PT. Grasindo
WHO Remaja dan Perkembangan. Diakses
dari www.who.int. Pada tanggal 10 April
2016
Wong. (2009). Buku Ajar Pediatrik. Vol 1.
Jakarta : EGC
LPPM STIKes Perintis Padang
38
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
HUBUNGAN INTENSITAS BULLYING DENGAN TINGKAT DEPRESI
PADA REMAJA DI RSJ. PROF. HB. SA’ANIN PADANG 2016
Asmawati 1, Wika Maya Sari2
STIKes Alifah Padang, Indonesia
Email: [email protected]
Email: [email protected]
12
Abstract
Depression is a major mental health problem today. Depression is estimated to affect 350
million people. Health Survey conducted in 17 countries found that on average about 1 in 20 people are
reported to have episodes of depression. Data incidence of depression in adolescents in the can in 2013
as many as 716 people, in 2014 as many as 971 people and in 2015 as many as 1344 people adolescents
with depression in the hospital. Prof. HB. Sa'anin Padang.The aim of research to determine the
relationship of the intensity of bullying to the level of depression in adolescents in child and adolescent
clinic RSJ.Prof.HB.Sa'anin Padang 2016.
This type of research is analytic with cross sectional design. The population in this study
were teenagers who were in Child and Adolescent Clinic RSJ Prof. HB. Saanin Padang totaling 157
people and the sample 60. The sampling technique is purposive random sampling. This research has
been carried out in the Child and Adolescent Clinic RSJ. Prof. HB. Sa'anin Padang in December 2015
through August 2016.
The results of the univariate analysis found more than half (73.3%) of respondents with
depression and (56.7%) of respondents who experienced bullying, bivariate analysis results was a
significant relationship between the level of intensity Bullying Depression In Adolescents in Child and
Adolescent Clinic RSJ , Prof. HB. Sa'anin Padang pvalue = 0.000 (pvalue ≤ 0.05).
The conclusion of this study is more than half (73.3%) adolescents suffering from
depression. It is suggested that the hospital to carry out the provision of information on how the
prevention of bullying that depression in adolescents can be reduced and can be tackled. And to further
researchers to develop research on the factors that influence the rate of depression in adolescents using
variables authoritarian parenting parents.
Keywords: depression, adolescents, intensity of bullying
1. PENDAHULUAN
Depresi diperkirakan mempengaruhi 350 juta
orang. Survei yang dilakukandi 17 negara
menemukan bahwa rata-rata sekitar1dari 20 orang
dilaporkan memiliki episode depresi. Gangguan
depresisering dimulai pada usia muda. Sebuah
Majelis Kesehatan Dunia baru-baru ini meminta
Organisasi Kesehatan Dunia dan negara-negara
anggotanya untuk mengambil tindakan ke arah
ini(WHO, 2012). Organisasi kesehatan dunia
(WHO) menyebutkan 17% pasien yang berobat ke
dokter adalah pasien dengan depresi dan
selanjutnya diperkirakan prevalensi depresi pada
populasi masyarakat dunia adalah 3% (Hawari,
2013).
Depresi pada remaja mempengaruhi prestasi
sekolah, mereka mengalami kesulitan untuk
berkonsentrasi, selain itu depresi juga
mempengaruhi fungsi sosial dan kesulitan dalam
penyesuaian diri (Nevid dkk., 2005; Lubis, 2009).
Weissman (Nevid dkk., 2005) menyatakan depresi
pada remaja menyebabkan resiko terjadinya
LPPM STIKes Perintis Padang
depresi berat, bahkan percobaan bunuh diri di
masa dewasa.
Depresi adalah perasaan (mood) yang ditandai
dengan kemurungan dan kesedihan yang
mendalam dan berkelanjutan sehingga hilangnya
kegairahan hidup, tidak mengalami gangguan
dalam menilai realitas (reality testing ability/RTA,
masih baik), kepribadian tetap utuh (tidak
mengalami keretakan kepribadian/splitting of
personality) prilaku dapat terganggu tetapi dalm
batas-batas normal (Hawari, 2007).
Berdasarkan perspektif perkembangan, depresi
mulai banyak muncul pada masa remaja Studistudi epidemologis menunjukkan bahwa angka
prevalensi depresi untuk anak-anak adalah 2,5
persen, dan meningkat menjadi 8,3 persen untuk
remaja (Carr, 2001). Bila depresi ringan juga
diperhitungkan, angka prevalensi ini meningkat
sampai 25 persen (Steinberg, 2002). Dengan
demikian, setidaknya terdapat tiga juta remaja di
Amerika yang menderita depresi. Para peneliti
menduga tingginya angka depresi pada remaja
39
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
terkait dengan meningkatnya angka perceraian,
tuntutan akademis, dan tekanan sosial
(Newsweek, 2002)
Prevalensi gangguan jiwa di Indonesia
berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas)
2013 adalah DIY 2,7 juta, Aceh 2,7 juta, Sulawesi
Selatan 2,6 Juta, Bali 2,5 juta, Jawa Tengah 2,3
juta, Jawa Timur 2,2 juta, Bangka Belitung 2,2
juta, NTB 2,1 juta, dan Sumbar 1,9 juta. Jumlah
penduduk yang
mengalami gangguan jiwa berat di Sumatra Barat
semakin banyak. Berdasarkan laporan Riset
Kesehatan Dasar (Rikesdas, 2013) penderita
gangguan jiwa berat di Sumatra Barat merupakan
peringkat kesembilan yaitu sebanyak 1,9 juta.
Penelitian oleh Hankin (2006) menyatakan
bahwa salah satu faktor kerentanan depresi pada
remaja adalah kejadian hidup negatif yang
menekan..Remaja kerap mendapatkan perilaku
kekerasan di sekolah, seperti perilaku kekerasan
dari guru, teman sekelas, dan kakak kelas.Perilaku
kekerasan ini dapat disebut dengan istilah
bullying. Seseorang dikatakan mengalami
bullying jika terkena ancaman secara berulang.
Bullying dapat dianggap sebagai kejadian hidup
yang menekan sebab berkarakteristik negatif dan
sulit untuk dikendalikan oleh korban. Taylor
(2006)
Bullying bukanlah fenomena yang baru dan
masalah ini telah lama didiskusikan. Secara umum
bullying adalah aktivitas sadar, disengaja dan keji
yang bertujuan untuk melukai atau menanamkan
ketakutan melalui ancaman agresi lebih lanjut dan
menciptakan teror Menurut Coloroso (2006)
bullying akan selalu melibatkan adanya ketidak
seimbangan kekuatan, niat untuk mencederai,
ancaman agresi lebih lanjut, dan teror. Bullying
merupakan salah satu bentuk perilaku agresi.
Ejekan, hinaan, dan ancaman seringkali
merupakan pancingan yang dapat mengarah ke
agresi.
Berdasarkan observasi data kejadian Depresi
pada remaja yang di dapat pada tahun 2013
sebanyak 716 orang, pada tahun 2014 sebanyak
971 orang dan pada tahun 2015 sebanyak 1344
orang remaja yang mengalami depresi di RSJ.
Prof. HB. Sa’anin Padang. Data tersebut
menunjukkan bahwa pasien depresi yang dirawat
jalan semakin bertambah setiap tahunnya. Jumlah
pasien yang mengalami Depresi di poliklinik
Anak dan remaja yang didapat 6 bulan
terakhir,bulan Juli 2015 sampai dengan Desember
2015 yaitu sebanyak 157 orang.
Anak
yang
mengalami
bullying
akan
menyebabkan depresi dan akan mengakibatkan
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
anak tersebut mengalami kesulitan berinteraksi
dengan lingkungan dan kesulitan berkonsentrasi
sehingga mempengaruhi prestasi anak di sekolah.
Tujuan penelitian ini Untuk mengetahui
hubungan Intensitas Bullying dengan Tingkat
depresi pada remaja di RSJ. Prof. HB. Sa’anin
Padang 2016.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan pada bulan
Desember 2015 – bulan Agustus tahun 2016 di
RSJ. Prof HB. Saanin Padang. Penelitian ini
dilakukan pada remaja yang mengalami Intensitas
Bullying. Jenis penelitian analitik dengan
pendekatan cross sectional. Variabel independen
(Hubungan Intensitas Bullying) dan variabel
dependen (Tingkat Depresi). Pengumpulan data
menggunakan
kuesioner
dengan
teknik
pengambilan sampel purposive random sampling.
Tekhnik pengumpulan data yang dipergunakan
dalam penelitian ini yaitu pengumpulan data
primer dengan menyebarkan kuesioner. Penelitian
ini menggunakan analisis Univariat dan analisis
Bivariat dengan menggunakan uji statistik chisquare dengan derajat kepercayaan 95 % (α =
0,05).
40
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 3.1
Distribusi frekuensi responden berdasarkan Tingkat Depresi pada Remaja di RSJ. Prof. HB.
Sa'anin Padang Tahun 2016
No Tingkat
f
(%)
Depresi
1
Depresi
44
73,3
2
Tidak Depresi
16
26,7
Jumlah
60
100,0
Tabel 3.2
Distribusi frekuensi responden berdasarkan Intensitas Bullying pada Remaja di RSJ. Prof. HB.
Sa'anin Padang 2016
Intensitas
No
f
(%)
Bullying
1
Bullying
34
56,7
2
Tidak Bullying
26
43,3
Jumlah
60
100,0
Tabel 3.3
Distribusi frekuensi responden berdasarkan Intensitas Bullying dengan Tingkat Depresi pada
Remaja 2016
Tingkat Depresi
Intensitas
Tidak
P
Total
%
Depresi
Bullying
Depresi
Value
f
%
f
%
Bullying
32
94.1 2
5,9
34
100,0
0,000
Tidak
12
46,2 14
53,8
26
100,0
Bullying
Jumlah
44
73,3 16
26,7
60
100,0
1. Depresi
Depresi yang dialami oleh remaja dikarenakan
suatu perasaan sedih yang sangat mendalam yang
terjadi setelah mengalami peristiwa dramatis atau
menyedihkan, misalnya kehilangan seseorang
yang disayangi. Seseorang bisa jatuh dalam
kondisi depresi jika ia terus-menerus memikirkan
kejadian pahit, menyakitkan, keterpurukan dan
peristiwa sedih yang menimpanya,diharapkan
kepada remaja apabila ada suatu masalah yang
menimpa untuk bisa menceritakan kepada orangorang terdekat supaya tidak menjadi suatu beban
mental yang mendalam.
Bullying terjadi karena remaja pernah
dikucilkan oleh teman disekolah karena selalu
diantarkan kesekolah oleh orang tua, sehingga
remaja tersebut merasa minder dan lamakelamaan remaja akan menjauh dari teman
LPPM STIKes Perintis Padang
seusianya dan remaja itu akan merasa dirinya
tidak akan bisa seperti temannya yang lain,
diharapkan kepada semua pihak seperti guru,
orang tua, murid untuk memperhatikan remaja
agar bullying tidak terjadi, Jika bullying terjadi
maka orang yang memiliki otoritas (guru) harus
memberikan perhatian dan dengan tegas melawan
prilaku tersebut, Siswa yang berpotensi menjadi
calon korban harus diberikan cara penanganan
langsung terhadap bullying, mereka harus
diberikan pemahaman dan pengetahuan apa yang
harus dilakukan dan kepada siapa mereka harus
mengadu ketika bullying terjadi, Bantuan dari luar
sering berguna dalam mengidentifikasi penyebab
bullying dan dalam merancang program untuk
mengurangi prilaku bullying tersebut.
41
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
2. Intensitas Bullying
Menurut
Kerdiana
(2015)
intensitas
bullyingterhadap tingkat depresi pada siswa SMP,
ditemukan
dari
intensitas
bullyingyang
meningkat, tingkat depresi cenderung tinggi. Pada
siswa yang tidak mengalami bullying, sebanyak
30,6% mengalami depresi, sedangkan siswa yang
mengalami intensitas ringan, sekitar 59,7%
mengalami depresi, dan siswa yang mengalami
intensitas sedang, 66,7% mengalami depresi.
Menurut peneliti hubungan intensitas bullying
dengan tingkat depresi dikarenakan remaja yang
mengalami intensitas bullying akan meningkat
depresinya. Bullying merupakan bentuk perilaku
atau tindakan yang dilakukan dengan tujuan
menyakiti perasaan korban yang dialakukan
secara berulang-ulang dengan jangka waktu yang
cukup lama.
Bullying merupakan sub katagori dari tindakan
agresif. Bullying adalah bentuk bentuk perilaku
berupa pemaksaan atau usaha menyakiti secara
fisik maupun psikologis terhadap seseorang atau
sekelompok orang yang lebih lemah oleh
seseorang atau sekelompok orang yang
mempersepsikan dirinya lebih kuat. Bullying juga
dapat diartikan sebagai perilaku negatif berulang
yang bermaksud menyebabkan ketidak senangan
atau menyakitkan yang dilakukan orang lain oleh
satu atau beberapa orang secara langsung terhadap
orang yang tidak mampu melawannya. Bulying
biasanya terjadi secara berkelanjutan dalam
jangka waktu yang cukup lama, sehingga korban
terus menerus dalam keadaan terintimidasi.
Tindakan agresif ini dapat berupa tindakan agresif
secara langsung (fisik maupun verbal) atau secara
tidak langsung (berupa psikologis seperti
pencemaran nama).
4. KESIMPULAN
Terdapat 56,7% responden yang mengalami
Intensitas bullying, 73,3% responden yang
mengalami depresi. Terdapat hubungan intensitas
bullying dengan tingkat depresi pada Remaja di
RSJ. Prof. HB. Sa'anin Padang Tahun 2016.
Bullying merupakan bentuk perilaku atau
tindakan yang dilakukan dengan tujuan menyakiti
perasaan korban yang dialakukan secara berulangulang dengan jangka waktu yang cukup lama.
Depresi adalah keadaan patah hati atau putus asa
yang disertai dengan melemahnya kepekaan
terhadap stimuli tertentu. Hubungan intensitas
bullying dengan tingkat depresi dikarenakan
remaja yang mengalami intensitas bullying akan
meningkat depresinya.
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
5. REFERENSI
Coloroso, Barbara. 2006. Penindas, Tertindas,
dan Penonton. Resep Memutus Rantai
Kekerasan Anak dari Prasekolah Hingga
SMU. Jakarta: Serambi.
Coyne,Dkk. (2008). Cyber Bullying: Bullying in
the Digital Age 2nd edition. Malden:
Blackwell.
Craig, D.2006. Bullying.England : Indevendence.
Craig, W. M., Pepler, D. And Atlas, R.
(2000).Observation
of
Bullying
in
heplaygroup and in the Classroom. (20
Januari 2016)
Darmayant, Nefi. (2008). Gender Dan Depresi
Pada Remaja.Sumatera Utara.Fakultas
Psikologi Universitas Gadjah Mada. (6
Desember 2015)
Hawari, Dadang. (2001). Manajemen Stres Cemas
dan Depresi.Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Hawari, Dadang. (2007). Sejahtera di Usia Senja.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Keliat, Budi A. (2011). Manajemen Kasus
Gangguan Jiwa: CHMN (Intermediate
Course). Jakarta: EGC.
Lubis Namora, M,.Sc. 2009. Depresi Tinjauan
Psikologis. Jakarta . Kencana
Pernada
Media Group
Riset kesehatan dasar.2013:RIKESDAS
Routledge. 2003. School Bullying: Insights and
Perspectives. Peter K.Smith and Sonia
Sharp. USA and Canada : Simultaneously
Santrock,
J.
W.
(2003).
Adolescence
Perkembangan Remaja (terjemahan: Shinto
B. Adelar & Sherly Saragih). Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Steinberg, L., & Belsky, J. (1991). Infancy, chi
ldhood, and adolescence: Development in
Context. New York: McGraw-Hill
Taylor, S. E. (2006). Health Psychology 6th
edition. New York: McGraw-Hill.
World Mental Health Day. (2012). Depression: A
Global
Crisis.
file:///G:/proposal%20ade/jurnal/New%20
Folder/wfmh_paper_depression_wmhd_20
12.pdf. (10 Desember 2015).
42
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STRES KERJA
PERAWAT DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSUP DR.M.DJAMIL PADANG
TAHUN 2016
Yuanita Ananda
STIKes Alifah Padang
Email : [email protected]
Abstract
Nurses as the longest power contacts or associated with the patient and family. This will lead
to a strong stressor on nurses in the work environment. American National Association For
Occupational Safety (ANAOS) put severe stress on the nurse comes out top in the first forty cases of
stress on workers. Based on the results of research conducted by the National Care Association of
Indonesia (PPNI) contained 50.9% of nurses who experience job stress. This study aims to determine
the Factors Associated With Job Stress Nurses in Emergency Instalation of RSUP Dr.M.Djamil Padang
2016.
This type of research is descriptive analytic with cross sectional approach. This research was
din on November 2015-June 2016, while taken data was din on 25 Mei- 11 June 2016. The population
in this research is 55 nurses with the sampling technique used is total sampling as many as 55 nurses in
the emergency instalation of RSUP Dr.M.Djamil Padang 2016. Retrieving data using questionnaires.
The data were analyzed using univariate with frequency distribution and bivariate using Chi Square
test with a confidence level of 95%.
The results of univariate in getting that more than half (61.5%) of respondents experiencing
work stress. more than half (65.4%) of respondents experienced a heavy workload. more than half
(53.8%) of respondents experienced a heavy duty demands. more than half (55.8%) of respondents did
not experience labor conflict. In bivariate there is a significant relationship between workloads with job
stress of nurses in Emergency Instalation of RSUP Dr.M.Djamil Padang 2016 with pvalue 0,006
(p<0,05). There was no significant relationship between job demand (p=0,062) and job conflicts
(p=0,843) with job stress of nurses in Emergency Instalation of RSUP Dr.M.Djamil Padang 2016
(p>0,05).
The conclusion is there is a meaningful relation about workload with job stress nurses in
Emergency Instalation of RSUP Dr.M.Djamil Padang 2016. Suggested the need for a balance between
the ratio of nurses and patients who visit the emergency room so that the workload is felt not too heavy
so as not to cause work stress in nurses.
Keywords : workload, the demands of the task, work conflict, work stress, nurses
1. PENDAHULUAN
Kualitas pelayanan Rumah Sakit salah
satunya ditentukan oleh kualitas pelayanan
keperawatan, karena pelayanan keperawatan
merupakan bagian integral dari pelayanan
kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat
keperawatan. Kualitas pelayanan keperawatan di
Rumah Sakit dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya ketersediaan/kelengkapan fasilitas
terhadap mutu pelayanan rumah sakit, jumlah
petugas, ketanggapan petugas, kehandalan
petugas dan salah satu faktor yang memiliki
konstribusi paling besar adalah faktor
kenyamanan dalam bekerja. Hal ini didukung oleh
penelitian Djuariah Chanafi (2005) yang
menemukan bahwa waktu kerja produktif perawat
LPPM STIKes Perintis Padang
yaitu 89,2% dengan waktu kerja yang cukup lama
dapat menimbulkan ketidaknyamanan perawat
dalam bekerja (Hamid, 2001).
Perawat sebagai tenaga yang paling lama
kontak atau berhubungan dengan pasien dan
keluarga. Hal ini akan menyebabkan stressor yang
kuat pada perawat didalam lingkungan pekerjaan.
Stres adalah suatu reaksi, kondisi
ketegangan atau respon tubuh terhadap situasi
yang menimbulkan tekanan mental, perubahan,
dan ketegangan emosi atau beban psikososial yang
mempengaruhi emosi, proses pikir, pekerjaan dan
kondisi seseorang Stres kerja perawat
menyebabkan
penurunan
produktivitas,
ketidakhadiran, rotasi staf di bangsal dan
tingginya biaya perawatan kesehatan staf.
43
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Akibatnya setiap tahun sistem pelayanan
kesehatan menghabiskan 200 miliar dolar karena
masalah ini (Mozhdeh. dkk, 2008).
American National Association For
Occupational Safety menempatkan kejadian stres
pada perawat berada diurutan paling atas pada
empat puluh pertama kasus stres pada pekerja
(Prihatini, 2007).
Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Persatuan Perawatan Nasional
Indonesia pada tahun 2011 terdapat 50,9%
perawat yang mengalami stres kerja dengan gejala
sering merasa pusing, lelah, kurang ramah, kurang
istirahat akibat beban kerja terlalu tinggi serta
penghasilan yang tidak memadai (Revalicha, 2013
dalam Valarencia, 2015).
Kondisi kerja perawat di instalasi gawat
darurat (IGD) perlu diketahui agar dapat
ditentukan kebutuhan kuantitas dan kualitas
tenaga perawat yang diperlukan dalam ruang IGD
sehingga tidak terjadi beban kerja yang tidak
sesuai yang akhirnya menyebabkan stres kerja.
Kondisi kerja berupa situasi kerja yang mencakup
fasilitas, peraturan yang diterapkan, hubungan
sosial kerjasama antar petugas yang dapat
mengakibatkan ketidaknyamanan bagi pekerja.
Demikian juga dengan beban kerja baik secara
kuantitas dimana tugas-tugas yang harus
dikerjakan terlalu banyak atau sedikit maupun
secara kualitas dimana tugas yang harus
dikerjakan membutuhkan keahliahan. Bila
banyaknya tugas tidak sebanding dengan
kemampuan baik fisik maupun keahlian dan
waktu yang tersedia maka akan menjadi sumber
stres (Ilyas, 2002). Faktor yang mempengaruhi
stres kerja perawat Instalasi Gawat Darurat adalah
kondisi pasien yang selalu berubah, jumlah ratarata jam perawatan yang dibutuhkan untuk
memberikan pelayanan langsung pada pasien
melebihi dari kemampuan seseorang, keinginan
untuk berprestasi kerja, tuntutan pekerjaan tinggi
serta
dokumentasi
asuhan
keperawatan
(Munandar, 2011).
RSUP Dr. M. Djamil Padang merupakan
Rumah Sakit Umum Pusat yang ada di Sumatera
Barat dan merupakan rumah sakit umum tipe B
Pendidikan milik pemerintah. RSUP Dr. M.
Djamil Padang merupakan rumah sakit rujukan
untuk wilayah Sumatera Bagian Tengah sehingga
memungkinkan selalu terjadi peningkatan jumlah
pasien. Dengan banyaknya jumlah pasien yang
masuk mengharuskan rumah sakit memiliki
perawat yang berkualitas dan berdedikasi tinggi,
perawat diharapkan memiliki kinerja yang baik
dalam melayani kebutuhan pasien.
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Berdasarkan studi pendahuluan yang
dilakukan peneliti pada bulan Januari tahun 2016
didapatkan jumlah pasien yang masuk ke ruang
IGD RSUP. Dr. M.Djamil Padang tahun 2015
adalah 32104 orang dan 3 bulan terakhir
berjumlah 7763 orang dengan rincian bulan
Oktober yaitu 2769 orang, bulan November yaitu
2216 orang, dan bulan Desember yaitu 2778
orang. Data tenaga perawat yang dinas di ruang
IGD RSUP Dr. M Djamil Padang berjumlah 55
orang, terdiri dari 45 orang bertugas di triase, 10
orang bertugas diruang pre operasi. Jadwal dinas
perawat IGD RSUP Dr. M Djamil Padang adalah
3 shift pagi sore dan malam. Jumlah perawat yang
dinas di Triase pada shift pagi yaitu 10 sampai 14
orang, shift sore yaitu 8 samapi 9 orang dan shift
malam yaitu 7 orang. Sedangkan pada ruangan Pre
Op jumlah perawat yang dinas pada shift pagi
yaitu 3 sampai 4 orang, shift sore yaitu 1 orang dan
pada shift malam yaitu 2 orang.
Fenomena yang terjadi di ruang IGD
RSUP Dr. M.Djamil Padang yaitu beban kerja
yang berlebihan dilihat dari ketidakseimbangan
antara rasio perawat dengan pasien. Jumlah
kunjungan pasien ke IGD RSUP Dr. M.Djamil
Padang sangat besar setiap pergantian shift dinas.
Seperti data rata-rata kunjungan pasien dalam tiga
bulan terakhir pada setiap shift berikut : (1) Pada
bulan Oktober 2015 rata-rata jumlah kunjungan
pasien pada shift pagi yaitu 25 orang, shift sore 36
orang dan shift malam 31 orang (2) Bulan
November 2015 rata-rata kunjungan pasien pada
shift pagi yaitu 17 orang, shift sore 31 orang dan
shift malam 26 orang (3) Bulan Desember 2015
rata-rata kunjungan pasien pada shift pagi yaitu 27
orang, shift sore 35 orang dan shift malam 30
orang.
Dari data tersebut didapatkan bahwa
kunjungan pasien ke IGD lebih besar pada shift
sore dan lebih sedikit pada shift pagi sedangkan
jumlah perawat yang dinas pada shift sore lebih
sedikit dari pada shift pagi. Menurut Hariyati
(2010) standar perhitungan kebutuhan perawat di
IGD dilihat dari rata-rata jumlah pasien per hari,
jumlah jam perawatan per hari dan dilihat dari jam
efektif perawat perhari. Untuk rata-rata 88 orang
kunjungan pasien dari standar perhitungan
kebutuhan perawat IGD dibutuhkan 64 orang
tenaga perawat. Sedangkan jumlah perawat di
IGD RSUP Dr. M.Djamil Padang yaitu 41 orang.
Kondisi ini dihadapi tanpa adanya penambahan
tenaga perawat mengingat rumah sakit ini
merupakan rumah sakit rujukan yang ada di
wilayah Sumatera bagian tengah, yang
memungkinkan terjadinya peningkatan beban
44
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
kerja dan tuntutan tugas pada perawat di IGD
RSUP Dr. M.Djamil Padang.
Menurut hasil survey pendahuluan yang
telah dilakukan peneliti pada perawat pelaksana di
ruang Instalasi Gawat Darurat RSUP Dr. M
Djamil Padang pada tanggal 25-29 Januari 2016
dengan melakukan wawancara langsung terhadap
4 orang perawat yang bersedia dan berhasil di
wawancarai, 2 orang perawat mengatakan
mengalami stres karena beban kerja yang sering
meningkat seiring dengan kegawatan pasien yang
masuk. Satu diantara perawat tersebut mengatakan
stres yang diraskannya juga meningkat karena
tuntutan tugas perawat IGD yang tinggi dimana
perawat IGD dituntut untuk harus bekerja atau
memberikan asuhan keperawatan secara cepat dan
tepat.
Banyaknya pekerjaan yang harus
dilaksanakan dan kondisi kerja di IGD yang
berbahaya dan menyangkut keselamatan atau
nyawa
pasien
serta
kebisingan
dapat
menimbulkan kecemasan atau stres pada perawat
tersebut. Kemudian perawat tersebut mengatakan
bahwa tingkat stres kerja perawat di ruang IGD
lebih tinggi dari pada di ruang inap. Sedangkan 1
perawat lainnya mengatakan bahwa disamping
beban kerja dan tuntutan tugas yang tinggi, konflik
kerja juga merupakan faktor yang dapat
menyebabkan stres kerja. Hal ini dipicu oleh
sering terjadi perbedaan pendapat atau argumen
saat bekerja antara sesama perawat atau tim
kesehatan lainnya. Konflik kerja yang ditemui di
Ruang IGD yaitu terkait dengan konflik peran.
Konflik peran yang timbul dalam instansi yang
memiliki standar ganda, dengan perbedaan
persepsi antara atasan dan bawahan yang
menyolok.
Wawancara juga dilakukan dengan
perawat manager yang mengatakan bahwa tidak
ada lagi perawat IGD yang mengalami stres
karena dilihat dari BB semua perawat memiliki
BB sangat ideal dan malahan banyak yang
memiliki berat badan yang melebihi ideal.
Sedangkan dari hasil observasi yang
dilakukan peneliti selama 5 hari didapatkan bahwa
beberapa perawat pelaksana yang bekerja di ruang
IGD RSUP Dr.M.Djamil
Padang kurang
kooperatif dan mudah marah atau jengkel.
Dimana pada saat peneliti mau melakukan
wawancara lansung untuk pengambilan data awal
terhadap 10 orang perawat, 6 diantaranya
mengatakan belum siap diwawancarai karena
sibuk bekerja dan mengatakan tugasnya masih
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
banyak yang belum diselesaikan serta menyuruh
peneliti untuk melakukan wawancara kepada
perawat yang lain saja dulu, padahal perawat
tersebut tidak terlihat melakukan pekerjaan.
Kemudian dari hasil observasi peneliti juga
menemukan beberapa perawat pelakasana mudah
marah atau jengkel pada keluarga pasien yang
berkunjung melihat pasien dan komunikasi
perawat dengan keluarga pasien tidak terjalin
dengan baik. Dari hasil observasi tersebut dapat
disimpulkan bahwa perawat pelakasana di ruang
IGD mengalami stres kerja karena memiliki
beberapa gejala stres kerja seperti kurang
kooperatif, mudah marah dan komunikasi kurang
baik.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
faktor-faktor yang berhubungan dengan Stres
Kerja Perawat di Ruang Instalasi Gawat Darurat
(IGD) RSUP. Dr. M.Djamil Padang Tahun 2016.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini telah dilakukan pada
minggu keempat bulan Mei sampai minggu ke 2
bulan Juni 2016 dengan jumlah responden 52
orang di IGD RSUP Dr.M.Djamil Padang dan 3
orang lainnya cuti. Penelitian ini dilakukan pada
perawat pelaksana di ruang IGD RSUP
Dr.M.Djamil Padang. Jenis penelitian analitik
dengan pendekatan cross sectional. Variabel
dependen (Stress Kerja) dan variabel independen
(Beban kerja, tuntutan tugas, konflik kerja).
Pengumpulan data menggunakan kuesioner
dengan teknik pengambilan total sampling.
Tekhnik pengumpulan data yang dipergunakan
dalam penelitian ini yaitu pengumpulan data
primer dengan menyebarkan kuesioner. Penelitian
ini menggunakan analisis Univariat dan analisis
Bivariat dengan menggunakan uji statistik chisquare dengan derajat kepercayaan 95 % (α =
0,05).
45
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 3.1
Distribusi Frekuensi Perawat Berdasarkan Beban Kerja di Instalasi
Gawat Darurat RSUP. DR. M. Djamil Padang Tahun 2016
Beban
Frekuensi
Persentase
Kerja
Ringan
18
34,6
Berat
34
65,4
Total
52
100,0
Tabel 3.2
Distribusi Frekuensi Perawat Berdasarkan Tuntutan Tugas di Instalasi
Gawat Darurat RSUP. DR. M. Djamil Padang Tahun 2016
Tuntutan
Frekuensi
Persentase
Tugas
Ringan
24
46,2
Berat
28
53,8
Total
52
100,0
Tabel 3.3
Distribusi Frekuensi Perawat Berdasarkan Konflik Kerja di Instalasi
Gawat Darurat RSUP. DR. M. Djamil Padang Tahun 2016
Konflik kerja
Tidak mengalami
Frekuensi
29
Persentase
55,8
Mengalami
23
44,2
Total
52
100,0
Tabel 3.4
Distribusi Frekuensi Perawat Berdasarkan Stres Kerja di Instalasi
Gawat Darurat RSUP. DR. M. Djamil Padang Tahun 2016
Stres
Frekuensi
Persentase
Kerja
Tidak
20
38,5
Stres
stres
32
61,5
Total
52
100,0
Tabel 3.5
Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Beban Kerja dan Stres Kerja Perawat Di Instalasi
Gawat Darurat RSUP DR. M. Djamil Padang Tahun 2016
Stres Kerja
Jumlah
Beban
P
Tidak Stres
Stres
Kerja
Value
f
%
F
%
F
%
Ringan
12
66,7
6
33,3
18
100
Berat
8
34,8
26
65,2
34
100
0,006
Jumlah
20
38,5
32
61,5
52
100
LPPM STIKes Perintis Padang
46
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Tabel 3.6
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tuntutan Tugas
dan Stres Kerja Perawat Di Instalasi Gawat Darurat
RSUP DR. M. Djamil Padang Tahun 2016
Stres Kerja
Jumlah
Tuntutan
P
Tidak Stres
Stres
Tugas
Value
f
%
F
%
F
%
Ringan
13
54,2
11
45,8
24
100
Berat
7
25,0
21
75,0
28
100
0,062
Jumlah
20
38,5
32
61,5
52
100
Tabel 3.7
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Konflik Kerja
dan Stres Kerja Perawat Di Instalasi Gawat Darurat
RSUP DR. M. Djamil Padang Tahun 2016
Stres Kerja
Jumlah
Konflik
P
Tidak Stres
Stres
Kerja
Value
f
%
f
%
F
%
Tidak Mengalami
12
41,4
17
58,6
29
100
mengalami
8
34,8
15
65,2
23
100
0,843
Jumlah
20
38,5
32
61,5
52
100
1.
Beban Kerja Perawat
Berdasarkan tabel 3.1 menunjukkan bahwa
lebih dari separoh (65,4%) responden mengalami
beban kerja berat. Sedangkan kurang dari separoh
(34,6%) responden mengalami beban kerja ringan.
Berdasarkan persentase pada distribusi frekuensi
yang diperoleh tersebut didapatkan bahwa lebih
banyak perawat di ruang IGD mengalami beban
kerja berat.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian
Haryanti (2013) bahwa beban kerja perawat di
ruang IGD RSUD Kabupaten Semarang sebagian
besar adalah tinggi yaitu sebanyak 27 responden
(93,15%), dan beban kerja perawat yang rendah
didapatkan pada 2 responden (6,0%).
Beban kerja adalah kemampuan tubuh
pekerja dalam menerima pekerjaan. Dari sudut
pandang ergonomi, setiap beban kerja yang
diterima seseorang harus sesuai dan seimbang
terhadap kemampuan fisik maupun psikologis
pekerja yang menerima beban kerja tersebut.
Beban kerja yang dirasakan responden di
IGD RSUP Dr.M.Djamil Padang dapat dilihat
pada item pernyataan no 8, 11, dan 12. Perawat
menyatakan bahwa tingginya beban kerja yang
harus dilakukan demi keselamatan klien (87%),
perawat melaksanakan tugas delegasi dari dokter
seperti pemberian obat secara intensif kepada
klien (84%), dan perawat menyatakan bahwa
tingginya jumlah kunjungan klien yang masuk
LPPM STIKes Perintis Padang
ruang IGD setiap hari (83%). Hal tersebut
disebabkan karena RSUP Dr.M.Djamil Padang
merupakan Rumah Sakit Tipe B milik pemerintah
yang merupakan rujukan untuk wilayah Sumatera
Bagian Tengah sehingga memungkinkan selalu
terjadi peningkatan jumlah pasien. Dengan
banyaknya jumlah pasien yang masuk
mengharuskan rumah sakit memiliki perawat yang
berkualitas dan berdedikasi tinggi, perawat
diharapkan memiliki kinerja yang baik dalam
melayani kebutuhan pasien.
Berdasarkan hal ini maka menurut analisa
peneliti terhadap penelitian ini adalah ditemukan
bahwa beban kerja perawat di IGD RSUP
Dr.M.Djamil Padang dalam kategori berat, yang
memperlihatkan bahwa sebagian besar perawat
yang mengalami beban kerja berat tertuju pada
situasi dan kondisi yang tidak mendukung bagi
perawat untuk lebih dapat menjalani aktifitas
pekerjaan yang tidak membebankan pada diri
mereka, namun kenyataan bahwa sebagian
perawat merasa jenuh dan kurang bersemangat
dalam melayani pasien atau aktifitas lain yang
mereka lakukan dirumah sakit tersebut seperti
selalu mengobservasi kondisi klien pada saat
masuk secara berkelanjutan selama jam dinas.
2. Tuntutan Tugas Perawat
Berdasarkan tabel 3.2 menunjukkan bahwa
lebih dari separoh (53,8%) responden mengalami
47
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
tuntutan tugas berat. Sedangkan kurang dari
separoh (46,2%) responden mengalami tutuntan
tugas ringan. Dari hasil persentase pada distribusi
frekuensi tersebut terlihat bahwa sebagian perawat
IGD RSUP Dr.M.Djamil padang mengalami
tuntutan tugas berat. Hal ini dihadapi karena
banyak dan beragamnya tugas yang harus
dihadapi perawat di ruang IGD seperti
memberikan
asuhan
keperawatan
dan
melaksankan tugas delegasi dari dokter sehingga
membuat perawat merasa jenuh dengan tugas
yang diberikan.
Hasil penelitian ini berbanding terbalik
dengan penelitian Nursetyaningsih (2014) di
RSUD Haji Makassar didapatkan bahwa lebih dari
separoh (56,7%) perawat IGD menyatakan
tuntutan tugas tidak membebani dan kurang dari
separoh (43,3%) menyatakan tuntutan tugas
membebani. Hal ini disebabkan karena setiap
rumah sakit memiliki tuntutan tugas yang
berbeda-beda tergantung dengan tipe rumah sakit
tersebut dan setiap orang juga memiliki persepsi
yang berbeda tentang berat atau ringannya tugas
yang dijalaninya.
Berdasarkan hal ini maka analisa peneliti
terhadap penelitian ini adalah ditemukan bahwa
tuntutan tugas perawat di IGD RSUP Dr.M.Djamil
Padang dalam kategori berat. Hal ini disebabkan
karena banyak dan beragamnya tugas yang ada di
ruang IGD RSUP Dr.M.Djamil Padang seperti
memberikan
asuhan
keperawatan
dan
melaksanakan tugas delegasi dari dokter,
banyaknya kesaling tergantungan antara tugas
perawat dengan tugas profesi lain, kemudian
tuntutan tugas berat yang dialami perawat IGD
akan menyebabkan perawat merasa jenuh dengan
tugas yang diberikan bergantian setiap hari
3. Konflik Kerja Perawat
Berdasarkan tabel 3.3 menunjukkan bahwa
lebih dari separoh (55,8%) responden tidak
mengalami konflik kerja sedangkan kurang dari
separoh (44,2%) responden mengalami konflik
kerja. Berdasarkan persentase pada distribusi
frekuensi yang diperoleh tersebut didapatkan
bahwa lebih banyak perawat di ruang IGD tidak
mengalami konflik kerja. Hal tersebut terjadi
karena perawat saling berinteraksi dengan baik
antar sesasama teman sejawat atau pun tim
kesehatan lainnya.
Penelitian ini berbanding terbalik dngan hasil
penelitian Murharyati (2013) yang menunjukan
bahwa sebagian besar (88,1%) perawat di Ruang
Rawat Inap RSUD Sukorojo mengalami konflik
dengan kriteria sedang. Konflik yang terjadi akan
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
menimbulkan rasa sakit hati diantara individu
sehingga akan menambah perasaan tertekan dan
stres. Konflik yang dirasakan seseorang
tergantung dengan hubungan kerjasama atar rekan
kerja atau teman sejawat.
Berdasarkan hal ini maka analisa peneliti
terhadap penelitian ini adalah lebih banyak
ditemukan perawat yang tidak mengalami konflik
kerja dibandingkan dengan perawat yang
mengalami konflik kerja di ruang IGD RSUP
Dr.M.Djamil Padang. Hal ini terjadi karena
terjalinannya hubungan kerjasama yang baik dan
kekompokan dalam bekerja serta saling
memberikan masukan terhadap sesama rekan
kerja.
4. Stres Kerja Perawat
Berdasarkan tabel 3.4 menunjukkan bahwa
lebih dari separoh (61,5%) responden mengalami
stres kerja di ruang IGD RSUP Dr.M.Djamil
Padang. Sedangkan kurang dari separoh (38,5%)
responden tidak mengalami stres kerja. Hal ini
terlihat dari tanda-tanda stres yang muncul antara
lain betis terasa pegal, otot kaku saat/setelah
bekerja (kaku leher), sakit perut/ nyeri ulu hati,
tangan terasa capek, kehilangan konsentrasi atau
konsentrasi menurun dan merasa jenuh dalam
bekerja.
Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian
Shaulim dalam jurnal Revalicha tahun 2013
menunjukan sebanyak 60% dari perawat Rumah
Sakit Umum Daerah Kabupaten Bengka yang
mengalami stres kerja berat dengan kesimpulan
yakni pada shift pagi terdapat 6 perawat (18,75%)
yang mengalami stres berat dan pada shift malam
terdapat 4 perawat (12,5%) yang mengalami stres
ringan. Hal tersebut dapat menimbulkan dampak
terhadap kinerja keperawatan seperti pengambilan
keputusan yang buruk, kurang konsentrasi, apatis,
kelelahan, kecelakaan kerja sehingga pemberian
asuhan keperawatan tidak maksimal yang dapat
mengakibatkan
rendahnya
produktivitas
organisasi.
Menurut Mangkunegara (2013) Stres kerja
adalah perasaan menekan atau tertekan yang
dialami karyawan dalam menghadapi pekerjaan.
Stres kerja yang dirasakan responden di IGD
RSUP Dr.M.Djamil Padang dapat dilihat pada
item pernyataan no 6, 7, dan 14. Perawat
menyatakan betis terasa pegal saat bekerja (76%),
perawat merasa sakit perut/nyeri ulu hati saat
bekerja (75%) dan perawat merasa otot kaku saat/
setelah bekerja (75%). Hal tersebut terjadi karena
banyaknya pekerjaan yang harus dijalani perawat
dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
48
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Berdasarkan hal ini maka analisa peneliti
terhadap penelitian ini adalah lebih banyak
ditemukan perawat yang mengalami stres kerja
dibandingkan dengan perawat yang tidak
mengalami stres kerja di ruang IGD RSUP
Dr.M.Djamil Padang. Hal ini disebabkan karena
perawat berada pada tingkat kejenuhan yang
tinggi akibat tingginya beban kerja yang harus
dilakukan demi keselamatan klien, melaksanakan
tugas delegasi dari dokter seperti pemberian obat
secara intensif, mengobservasi kondisi klien
sesegera mungkin pada saat masuk secara
berkelanjutan selama jam dinas mengingat pasien
IGD adalah pasien gawat darurat yang
membutuhkan pertolongan sesegera mungkin,
tingginya jumlah kunjungan klien yang masuk
ruang IGD setiap hari karena RSUP M.Djamil
Padang merupakan rumah sakit rujukan yang ada
di Sumatera Barat.
5. Hubungan Beban Kerja dengan Stres
Kerja
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa
proporsi responden yang mengalami stres kerja di
IGD RSUP Dr.M.Djamil Padang lebih banyak
ditemukan pada responden yang mengalami beban
kerja berat yaitu (65,2%), dibandingkan pada
responden yang beban kerjanya ringan (33,3%).
Hasil uji statistik (chi-square) didapatkan pvalue
sebesar 0,006 (p<0,05), maka dapat disimpulkan
bahwa ada hubungan yang bermakna antara beban
kerja dengan stres kerja perawat di Instalasi Gawat
Darurat RSUP DR. M. Djamil Padang Tahun
2016.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Haryanti (2013)
tentang hubungan beban kerja dengan stres kerja
perawat perawat di IGD RSUD Kabupaten
Semarang didapatkan hasil bahwa terdapat
hubungan yang bermakna antara beban kerja
dengan stres kerja perawat dalam kategori kuat
dengan pvalue 0,000.
Menurut Jauhari, 2005 (Dalam Haryanti,
2013) beban kerja yang banyak di sertai tuntutan
dari pihak keluarga pasien menyebabkan perawat
harus selalu bergegas dan terburu-buru dalam
melakukan tindakan keperawatan.
Berdasarkan hal ini maka menurut analisa
peneliti terhadap penelitian ini adalah
diperolehnya proporsi perawat yang mengalami
stres kerja di IGD RSUP Dr.M.Djamil Padang
banyak ditemukan pada perawat yang mengalami
beban kerja berat. Hal ini berarti bahwa beban
kerja berat yang dirasakan perawat IGD akan
mempengaruhi langsung terjadinya stres kerja
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
pada perawat. Dimana stres kerja yang dihadapi
perawat tersebut akan berpengaruh pada kualitas
kerja dan kesehatan perawat itu sendiri bisa jadi
terganggu.
6. Hubungan Tuntutan Tugas dengan Stres
Kerja
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa
proporsi responden yang mengalami stres kerja di
IGD RSUP Dr.M.Djamil Padang banyak
ditemukan pada responden yang mengalami
tuntutan tugas berat yaitu (75,0%), dibandingkan
pada responden yang tuntutan tugasnya ringan
yaitu (45,8%). Hasil uji statistik (chi-square)
didapatkan pvalue sebesar 0,062 (p>0,05), maka
dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan
yang bermakna antara tuntutan tugas dengan stres
kerja perawat di Instalasi Gawat Darurat RSUP
DR. M. Djamil Padang Tahun 2016.
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian
yang
dilakukan
Nursetyaningsih
(2014)
menyatakan terdapat hubungan yang yang
bermakna antara tuntutan tugas dan stres kerja
perawat IGD RS Haji Kota Makassar.
Menurut Robbins (2007) Tuntutan tugas
merupakan faktor yang dikaitkan pada pekerjaan
seseorang.
Berdasarkan hal ini maka menurut analisa
peneliti terhadap penelitian ini adalah
diperolehnya proporsi perawat yang mengalami
stres kerja di IGD RSUP Dr.M.Djamil Padang
banyak ditemukan pada perawat yang mengalami
tuntutan tugas berat. Hal ini mengindikasikan
bahwa tuntutan tugas berat akan mempengaruhi
terjadinya stres kerja pada perawat. Tuntutan
tugas berat yang dirasakan perawat di IGD RSUP
Dr.M.Djamil Padang ditandai dengan banyak dan
beragamnya tugas yang ada di IGD, kemudian
kesaling tergantungan antara tugas perawat
dengan tugas profesi lain sehingga mengakibatkan
kejenuhan bagi perawat terhadap tugas yang
dijalaninya. Maka hal ini akan memicu terjadinya
stres kerja pada perawat tersebut.
7. Hubungan Konflik Kerja dengan Stres
Kerja
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
proporsi responden yang mengalami stres kerja
lebih banyak ditemukan pada responden yang
mengalami konflik kerja yaitu (65,2%),
dibandingkan pada responden yang tidak
mengalami konflik kerja yaitu (58,6%). Hasil uji
statistik (chi-square) diperoleh nilai pvalue
sebesar 0,843 (p>0,05), dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang
49
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
bermakna antara konflik kerja dengan stres kerja
perawat di Instalasi Gawat Darurat RSUP DR. M.
Djamil Padang Tahun 2016.
Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil
penelitian Murharyati (2013) yang menunjukan
bahwa konflik kerja memiliki pengaruh terhadap
stres kerja perawat di Ruang Rawat Inap RSUD
Sukoharjo dengan p value 0,0001.
Mangkunegara (2013) mengatakan bahwa
pihak pemimpin organisasi perlu menganalisis
dengan nyata konflik yang terjadi, apakah konflik
tersebut fungsional atau disfungsional, dan
bagaimana manajemen konflik agar berpengaruh
positif bagi kemajuan organisasi atau pekerjaan.
Berdasarkan hal ini maka analisa peneliti
terhadap penelitian ini adalah diperolehnya
proporsi perawat yang mengalami stres kerja lebih
banyak ditemukan pada perawat mengalami
konflik kerja. Hal ini mengindikasikan bahwa
konflik kerja yang
dialami perawat akan
mempengaruhi terjadinya stres kerja. Konflik
kerja yang dirasakan perawat yaitu tidak ada
koordinasi kerja yang baik di rumah sakit, tidak
adanya pembagian tugas yang jelas tiap ruangan
dan
mempunyai
ketergantungan
dalam
pelaksanaan tugas. Sehingga hal tersebut memicu
terjadinya stres kerja pada perawat IGD RSUP
Dr.M.Djamil Padang.
4. KESIMPULAN
Lebih dari separoh responden mengalami
stres kerja di RSUP DR. Djamil Padang tahun
2016. Stres kerja yang dirasakan responden di
IGD RSUP Dr.M.Djamil Padang karena
banyaknya pekerjaan yang harus dijalani perawat
dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
Serta pasien IGD adalah pasien gawat darurat
yang membutuhkan pertolongan sesegera
mungkin, tingginya jumlah kunjungan klien yang
masuk ruang IGD setiap hari karena RSUP
M.Djamil Padang merupakan rumah sakit rujukan
yang ada di Sumatera Barat.
Lebih dari separoh beban kerja responden
berat di RSUP DR. Djamil Padang tahun 2016.
Hal tersebut disebabkan karena RSUP
Dr.M.Djamil Padang merupakan Rumah Sakit
Tipe B milik pemerintah yang merupakan rujukan
untuk wilayah Sumatera Bagian Tengah sehingga
memungkinkan selalu terjadi peningkatan jumlah
pasien. Dengan banyaknya jumlah pasien yang
masuk mengharuskan rumah sakit memiliki
perawat yang berkualitas dan berdedikasi tinggi,
perawat diharapkan memiliki kinerja yang baik
dalam melayani kebutuhan pasien.
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Lebih dari separoh tuntutan tugas responden
berat di RSUP DR. Djamil Padang tahun 2016.
Hal ini disebabkan karena banyak dan
beragamnya tugas yang ada di ruang IGD RSUP
Dr.M.Djamil Padang seperti memberikan asuhan
keperawatan dan melaksanakan tugas delegasi
dari dokter, banyaknya kesaling tergantungan
antara tugas perawat dengan tugas profesi lain,
kemudian tuntutan tugas berat yang dialami
perawat IGD akan menyebabkan perawat merasa
jenuh dengan tugas yang diberikan bergantian
setiap hari
Lebih dari separoh responden tidak
mengalami konflik kerja di RSUP DR. Djamil
Padang tahun 2016. Hal ini terjadi karena
terjalinannya hubungan kerjasama yang baik dan
kekompokan dalam bekerja serta saling
memberikan masukan terhadap sesama rekan
kerja.
Ada hubungan yang bermakna antara beban
kerja dengan stres kerja perawat di instalasi gawat
darurat RSUP DR. M. Djamil Padang tahun 2016.
Hal ini berarti bahwa beban kerja berat yang
dirasakan perawat IGD akan mempengaruhi
langsung terjadinya stres kerja pada perawat.
Dimana stres kerja yang dihadapi perawat tersebut
akan berpengaruh pada kualitas kerja dan
kesehatan perawat itu sendiri bisa jadi terganggu.
Tidak ada hubungan yang bermakna antara
tuntutan tugas dengan stres kerja perawat di
instalasi gawat darurat RSUP DR. M. Djamil
Padang tahun 2016. Hal ini mengindikasikan
bahwa tuntutan tugas berat akan mempengaruhi
terjadinya stres kerja pada perawat. Tuntutan
tugas berat yang dirasakan perawat di IGD RSUP
Dr.M.Djamil Padang ditandai dengan banyak dan
beragamnya tugas yang ada di IGD, kemudian
kesaling tergantungan antara tugas perawat
dengan tugas profesi lain sehingga mengakibatkan
kejenuhan bagi perawat terhadap tugas yang
dijalaninya. Maka hal ini akan memicu terjadinya
stres kerja pada perawat tersebut.
Tidak ada hubungan yang bermakna antara
konflik kerja dengan stres kerja perawat di
instalasi gawat darurat RSUP DR. M. Djamil
Padang tahun 2016. Hal ini mengindikasikan
bahwa konflik kerja yang dialami perawat akan
mempengaruhi terjadinya stres kerja. Konflik
kerja yang dirasakan perawat yaitu tidak ada
koordinasi kerja yang baik di rumah sakit, tidak
adanya pembagian tugas yang jelas tiap ruangan
dan
mempunyai
ketergantungan
dalam
pelaksanaan tugas. Sehingga hal tersebut memicu
terjadinya stres kerja pada perawat IGD RSUP
Dr.M.Djamil Padang.
50
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
5. REFERENSI
Aiska, Selviani. 2014. Analisis faktor-faktor yang
berpengaruh pada tingkat stres kerja
perawat di rumah sakit jiwa grhasia
yogyakarta.
Skripsi.
Yogyakarta:
Universitas Muhammadiyah.
Anoraga, Panji. 2014. Psikologi Kerja. Jakarta:
Rineka Cipta.
Aprilia, Devi. 2010. Hubungan Tingkat Stress
Kerja Perawat dengan Adaptasi Stress
pada Perawat di Instalasi Gawat Darurat
(IGD) RSUP DR. M. Djamil Padang.
Skripsi tidak dipublikasikan. Padang:
Universitas Andalas
Elizabeth J. 2007. Buku Saku
Patofisiologi, Ed. 3; Alih Bahasa, Nike
Budhi Subekti. Jakarta: EGC.
Gelsema. 2005. Job Stress in the Nursing
Profession:
The
influence
of
Organizational
and
Environmental
Conditions and Job Characteristics.
International
Journal
of
Stress
Management, vol 12., no.3, 222-240.
Hamid, A.Y. (2001). Rencana Strategik
Keperawatan. PPNI
Haryanti, Faridah. 2013. Hubungan Antara Beban
Kerja Dengan Stres Kerja
Perawat Di Instalasi Gawat Darurat
RSUD Kabupaten Semarang. Jurnal
Managemen Keperawatan. 1(1), (Online)
(http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/JM
K/article/view/949 di akses tanggal 20
Januari 2016 jam 13.20 WIB)
Corwin,
Hawari, Dadang. 2011. Manajemen Stres, Cemas
dan Depresi. Balai Penerbit
Fakultas
Kedokteran
Universitas
Indonesia. Jakarta.
Hidayat. 2012. Hubungan Beban Kerja dan
Tuntutan Tugas dengan Stres Kerja
Perawat di Instalasi Gawat Darurat RSUP
DR. M. Djamil Padang. Skripsi. Padang:
STIKes Indonesia
Ilyas,Yaslis. (2010), Perencanaan Sumber Daya
manusia Rumah Sakit. UGM
Keliat. (2009). Penatalaksanaan stress. Jakarta:
EGC
Kurnianingsih dkk. (2013). Efektifitas Terapi
Musik Klasik Terhadap penurunan Stres
kerja perawat igd di rsud dr. R. Goetheng
Taroenadibrata Purbalingga. Posding
Konferensi Nasional PPNI Jawa Tengah.
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
(http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/psn
12012010/article/viewFile/870/924)
Kurnianingtyas, R. 2009. Penerimaan diri pada
wanita bekerja usia dewasa dini ditinjau
dari
status
pernikahan.
Skripsi.
Yogyakarta: Universitas Muhammadiyah.
Mangkunegara, Anwar Prabu. 2013. Manajemen
Sumber Daya Manusia Perusaan.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Manuaba. 2012. Manajemen Keperawatan
dengan Pendekatan Praktis. Jakarta :
Erlangga.
Mozhdeh, Soheila. dkk. 2008. Relationship
Between
Nurse's
Stress
And
Environmental - Occupational Factors.
Iranian Journal of Nursing and Midwifery
Research Winter; Vol 13, No 1
Munandar, Ashar Sunyoto. 2011. Psikologi
Industri dan Organisasi. Jakarta: UI
Press.
Murharyati, Atiek. 2014. Faktor-Faktor yang
mempengaruhi Stres Kerja Perawat
diruang Rawat Inap RSUD Sukoharjo.
Skripsi. Surakarta: STIKes Kusuma
Husada.
Muthmainah, Iin. 2012. Faktor-Faktor penyebab
stres kerja di ruang ICU Pelayanan
Jantung
Terpadu
Dr.Cipto
Mngunkusumo.
Skripsi.
Jakarta:
Universitas Indonesia.
National Safety Consil. 2003. Manajemen stres.
Alih bahasa oleh Palupi Widyastuti.
Jakarta: EGC
Notoatmodjo,s. (2010). Metodologi Penelitian
Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Nursalam. 2013. Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan edisi 3. Jakarta: Salemba
Medika.
Nursetyaningsih. 2015. Hubungan Tuntutan
Tugas, Tuntutan Peran dan tuntutan antar
pribadi dengan Stres Kerja Perawat IGD
RS Haji Kota Makassar. Skripsi.
Makassar : UIN Alauddin
Pascal dkk. (2015). Perbedaan Tingkat Stres Kerja
Perawat Instalasi Gawat Darurat Dan Unit
Rawat Inap Di Rumah Sakit Pancaran
Kasih
Gmim
Manado.
ejoural
Keperawatan (e-Kep). 3(1), (Online)
(http://ejournal.unimus.ac.id/index.php.jk
p/article/download/7446/6991, diakses
tanggal 15 Februari 2016 jam 19.30 WIB)
51
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Prabowo, Yudha Fandy. 2010. Faktor yang
Berhubungan dengan Kejadian Stres
Kerja pada bagian Produksi Industri
Mebel Pt. Chia Jiann Indonesia Furniture
di Wedelan Jepara. Skripsi. Semarang.
UNNES
Prihatini, L.D. 2007. Analisis Hubungan beban
kerja dg stres kerja perawat di setiap ruang
rawat inap RSUD Sidikalang. Tesis.
Sumatera
Utara:
Fakultas
Ilmu
keperawatan Universitas Sumatera Utara.
Rahardjo. (2007). Peran perawat IGD.
http://etd.eprints.ums.ac.id/14777/2/3._B
ab_I.pdf, diakses pada tanggal 8
Februari 2016 jam 10.30 WIB
Revalicha, Selvia. 2013. Perbedaan Stres Kerja
ditinjau dari Shift Kerja pada Perawat di
RSUP Dr. Soetomo Surabaya. Jurnal
Psikologi Industri dan Organisasi. 2(1),
(Online), (http://www.journal.unair.ac.id/
diakses pada tanggal 2 Februari 2016 jam
14.35 WIB).
Robbins S. P. 2007. Perilaku organisasi.
Prehalindo, jakarta
Siagian, S. P. 2009. Manajemen Sumber Daya
Manusia. Jakart: Bumi Aksara.
Sunaryo. 2012. Persepsi Perawat terhadap Sistem
Penilaian Kinerja dan Hubungannya
dengan
Kelengkapan
Dokumentasi
Asuhan Keperawatan di Rumah
Sakit
Krakatau Medika Cirebon. Tesis. Jakarta :
Universitas
Indonesia
Saam, Zulfam & Wahyuni. 2013. Psikologi
Keperawatan Ed 2. Jakarta: Rajawali
Pers.
Terry Looker dan Olga Gregson. 2005. Managing
Stress Mengatasi Stress Secara Mandiri.
Jogjakarta: BACA!
LPPM STIKes Perintis Padang
52
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
PENGEMBANGAN MODEL PEER SUPPORT INTERVENTION SEBAGAI UPAYA
MENINGKATKAN PERILAKU HIDUP SEHAT KLIEN HIPERTENSI
Aria Wahyuni1, Cici Apriza Yanti2, Efriza3
1
Program Studi Ilmu Keperawatan
2&3
Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat
STIKes Fort De Kock Bukittinggi
[email protected],[email protected], [email protected]
Abastract
The purpose of this research is to produce and develop a model of peer support intervention as an effort
to increase healthy behaviors of client hypertension. This research was conducted by the Research and
Development (RD), which through ten stages over two years. The study was conducted in the District
Mandiangin Koto Selayan Bukittinggi and rural area in Agam Tilatang Kamang with 21 sample as
participants in hypertensive patients, 5 people of family, 6 health centers, and 2 camat. In the first year
of research through five stages, namely the potential problem, literature, model design planning,
validation with an expert and revise the model design. Results of this research obtained through
interviewing the four themes to the participants that is the ability to understand, respond, and manage
hypertension and the necessity of the presence of peer support in helping to improve the healthy
behavior. Results from research on the family obtained their psychological response of family and the
importance of providing family support, while in the health workers obtained the importance theme of
peer support officer to hypertensive patients, and from interviews with the district head was found that
the government remains concerned in reducing hypertension, particularly by helping people to motivate
hypertensive selfcare. The result of this interview conducted by literature study to design the model
design and validated from an experts, after that, the results agreed and concluded that the model of peer
support is modified with four theories that Health Belief Model, Health Promotion models, peer Support
Model and Self Care theory. The four models and this teory is designed with a name Peer Support
Intervention Models. Peer Support Intervention Models in second year will be tested in two districts by
comparing urban and rural communities.
Keywords: Hypertension, Peer Model Support Intervention.
1. PENDAHULUAN
Secara global, prevalensi keseluruhan hipertensi
berdasarkan usia dan jenis kelamin didapatkan
sekitar 4% terjadi pada usia dewasa berusia 25
tahun keatas dan prevalensinya ada pada jenis
kelamin laki-laki.Prevalensi hipertensi paling
tertinggi ada di wilayah Afrika dengan angka lebih
dari 40% dan prevalensi terendah berada di
Amerika dengan angka 35% (GHO, 2014).
Indonesia merupakan salah satu negara ikut serta
dalam meningkatkan prevalensi hipertensi
berdasarkan data tahun 2013 mencapai 25,8%.
Sampai saat ini, hipertensi masih merupakan
tantangan besar di Indonesia dikarenakan
hipertensi juga banyak ditemukan di pelayanan
kesehatan primer. Hal ini dibuktikan bahwa dari
33 provinsi yang ada di Indonesia tujuh
diantaranya memiliki prevalensi hipertensi
melebihi prevalensi Indonesia pada umumnya
dengan rentang 26,4% sampai dengan 30,9%
(Kemenkes, 2013). Sumatera Barat meskipun
LPPM STIKes Perintis Padang
prevalensi hipertensi mencapai 22 % yang artinya
masih dibawah prevalensi Indonesia bila tidak
dapat dicegah maka berkemungkinan untuk
meningkat dikarenakan iklim di daerah ini
berpotensi meningkatkan hipertensi (Kemenkes,
2013).
Kejadian hipertensi di Bukittinggi berada diurutan
keempat dari penyakit tidak menular yang ada di
Sumatera Barat dimana Kecamatan Mandiangin
Koto Selayan angka kejadian hipertensi tertinggi
dengan jumlah 3081 jiwa.Kabupaten Agam
berada di urutan ketiga Kecamatan Tilatang
Kamang menduduki urutan pertama dengan
jumlah 4455 jiwadi tahun 2014. Kecamatan
Mandiangin Koto Selayan dan Kecamatan
Tilatang Kamang, merupakan kecamatan yang
menjadi prioritas dalam peanganan hipertensi di
Sumatera Barat (Profil MKS & Agam, 2014).
Hipertensi memberikan banyak dampak mulai
dari kerusakan beberapa organ seperti mata ,
jantung, ginjal, dan otak hingga kematian oleh
53
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
karena itu seseorang yang telah mengalami
hipertensi harus mampu mengontrol tekanan
darahnya.
Hipertensi merupakan pintu awal untuk penyakit
penyerta yang berakibat fatal dan dapat
menurunkan kualitas hidup seseorang dengan
hipertensi (Moser & Riegel, 2008).Hipertensi
disebut thesilent killer karena penyakit ini tidak
menyebabkan gangguan pada awalnya akan tetapi
bisa
mengakibatkan
kematian
sehingga
diperkirakan banyak dari penderita hipertensi
tidak menyadari bahwa mereka mengalami
tekanan darah tinggi dan tidak merasa perlu untuk
mengatasi faktor risiko dan mengubah gaya
hidupnya
(Lueckenote
&
Meiner,
2006).Penatalaksanaan hipertensi ada dua yaitu
secara farmakologis dan non farmakologis akan
tetapi penatalaksanaan yang utama dan ampuh
untuk hipertensi adalah penatalaksanaan yang
bersifat nonfarmakologis yaitu pengendalian
faktor resiko peningkatan tekanan darah berupa
perubahan gaya hidup (Lueckenotte & Meiner,
2006).Penatalaksanaan non farmakologi ini
membutuhkan dukungan untuk dapat terlaksana
seperti peer support (sesama klien hipertensi,
keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat).
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
Research and Development (RD). RD merupakan
suatu metode penelitian yang digunakan untuk
menghasilkan suatu produk atau model tertentu
dan menguji keefektifan produk atau model
tersebut(Sugiyono, 2011). Pada tahap pertama ini
dimulai dengan potensi dan masalah, studi
literatur, merancang desain, validasi desain model,
revisi model hingga menetapkan desain awal
model. Respoden dalam penelitian ini pada tahap
potensi dan masalah sebanyak 21 orang
responden, 5 orang keluarga responden, 6 orang
tenaga kesehatan, dan 2 orang camat dengan
pengambilan sampel secara purposive di dua
kecamatan rural (Kecamatan Tilatang Kamang)
dan urban (Mandiangin Koto Selayan) yang
merupakan daerah binaan STIKes Fort De Kock
Bukittinggi. Tahapan penelitian ini dimulai
dengan penelitian kuantitatif.Alat ukur yang
digunakan
adalah
angket
wawancara
menggunakan
indepth
interview
dengan
pendekatan Collazi. Setelah data didapat maka
tahap selanjutnya adalah studi literatur dan
validasi pakar Keperawatan Medikal Bedah,
Keperawatan Komunitas, dan Kesehatan
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Masyarakat untuk menciptakan model peer
support intervention.
3. HASIL PENELITIAN
Hasil dari wawancara ini didapatkan tema pertama
yaitu:
A. Pasien Hipertensi:
1. Kemampuan Pasien dalam memahami
Hipertensi (Pengetahuan).
Hampir semua partisipan merasakan tanda dan
gejala yang sama, namun ada bervariasi bahkan
kadang-kadang tidak ada keluhan yang terasa saat
tekanan darah meningkat.
P1 – P21 menyatakan “saat ini (darah tinggi) sakit
kepala, pusing, kuduk terasa kaku”
P3 dan P7 “kalau tensi tinggi ditambah mual
bahkan muntah”
P5, P16, P20 “kadang-kadang tidak ada keluhan
yang terasa” an kadang-kadang tidak ada
Kemampuan partisipan mengenali penyebab
hipertensi. Hampir semua partisipan menjawab
tentang keadaan psikologi yang dirasakan,
keturunan, suka makan yang berlemak, kolesterol,
dan pakai Pil KB seperti pernyataan berikut :
P1-P10, P12-P21 “apabila banyak yang difikirkan
itu langsung cepat sekalai tensi naik”
P1-P21 “makanan di minang ini enak-enak, kalau
ndak makan yang bersantan, berlemak atau ndak
bergulai itu kurang enak terasa”
P5, P6, P17, P10, P15 “keluarga juga ada yang
tensi tinggi turunan dari bapak dan turunan ibu
bahkan sampai meninggal dengan tensi tinggi”
P11 “kalau saya sih alhamdulillah tidak pernah
punyak banyak fikiran, namun yang buat tensi
saya tinggi selama ini karena saya selama 25
tahun menggunakan pil KB tidak pernah putus”.
Semua partisipan berpendapat bahwa hipertensi
dapat menyebabkan komplikasi bahkan kematian
P1-P21 “tensi tinggi dapat menyebabkan stroke”,
“banyak yang stroke itu asalnya dari darah
tinggi”
P21 “darah tinggi juga menyebabkan mata kita
jadi buta”
P16 “ada juga bisa menyebabkan sakit ginjal”
P8 “hipertensi menyebabkan kematian”
Dalam hal penanganan hipertensi sesaat partisipan
berpendapat langsung mengambil obat herbal
yang diolah sendiri, istirahat, pijat, dan minum
obat serta ke puskesmas untuk memeriksakan diri
54
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
P1, P3, P5 “rilekskan badan dan bawa istirahat
sejenak serta tenangkan diri”
P2, P4, P6-P15 “langsung minum herbal seperti
daun binahong, seledri, dun salam, belimbing
wuluh dan banyak lagi”
P16,P18-P21 “biasanya langsung minum obat
hipertensi”
P17, P 19 “Periksa ke puskesmas”
P19,21 “saya rutin minum obat, badan jadi enak”
Partisipan juga berpendapat bahwa banyak
diantara mereka yang tidak tahu secara detail
tentang hipertensi, ada yang berpendapat tidak
pernah mendengar penyuluhan dan ada juga
berpendapat pernah mendengar penyuluhan
P1-P12, 17, 19, 16 “saran petugas kesehatan
kurangi makan berlemak, kurangi stress,
perbanyak istirahat, dan rajin kontrol”
P1, P5 “terkadang saran dari petugas tidak
dipatuhi”
P2,3,6,7“susah kurangi makan berlemak apalagi
kalau sudah ada acara baralek (pesta)”
P17, 9,10“……saya susah menghilangkan fikiran
negatif..”
P4,11“kalau sudah banyak makan berlemak
langsung minum obat, kadang suka lupa juga”
P5,6,7,8,12,18,21 “tidak pernah mendengar
penyuluhan tentang hipertensi baik itu dari
puskesmas maupun yang lainnya” “kalau datang
ke puskesmas hanya sekedar periksa dan dapat
obat”
P1,2,4,11,17 “setiap sabtu ada penyuluhan di
puskesmas tentang hipertensi dan sangat
bermanfaat”
P3,9,10,13,14,15 “ada dengar penyuluhan tapi
tidak paham” “sering lupa juga apa yang
dijelaskan”
2. Kemampuan dalam menyikapi hipertensi
(Sikap)
Pertanyaan yang mengarah kepada sikap pasien
terhadap hipertensi “apakah ibu/bapak rajin
memeriksakan diri ke dokter?”. Hampir semua
partisipan berpendapat tidak pernah kontrol, kalau
sakit saja, malas pergi, takut kebanyakan minum
obat, dan tidak ada yang pergi mengantar.
P1-P12 “pergi ke dokter apabila kalau sakit saja
kalau badan tidak begitu terasa sakit kenapa
harus ke dokter”
P17, 19 “pergi ke puskesmas kalau sudah tidak
tahan lagi”
P13,15,18 “tidak ada yang pergi mengantar ke
dokter”
P16 “ada ke dokter spesialis”
P14,16, 20,21 “ke dokter itu yang paling malas”
Pendapat partisipan tentang meminum obat
hipertensi yaitu banyak yang tidak rajin minum
obat, takut kebanyakan minum obat, minum obat
juga tensi tidak turun
P1,2,3 “Aduh saya takut minum obat kebanyakan,
takut komplikasi ke yang lain”
P4-16 “saya tidak rajin minum obat darah tinggi”
“minum obat juga tensi ndak turun selamanya”
LPPM STIKes Perintis Padang
Partisipan juga menyikapi bagaimana peran
petugas kesehatan, partisipan juga berpendapat
bahwa petugas kesehatan juga sering memberi
nasihat untuk memperhatikan hipertensi akan
tetapi banyak dari partisipan tidak mematuh saran
petugas kesehatan tersebut
3. Kemampuan mengelola hipertensi secara
fisik dan psikologi (Perilaku dan gaya hidup)
Kemampuan mengelola hipertensi peneliti
menemukan dua cara yaitu secara fisik dan
psikologis. Kemampuan secara fisik yaitu
mengontrol diet dan aktivitas sedangkan secara
psikologis yaitu bagaimana cara mengelola stress.
Pendapat partisipan banyak mengeluarkan
pernyataan yang berbeda seperti berikut :
P2,7-14“ndak pernah diet untuk menurunkan
tekanan darah”
P15,18“ada menjalani diet supaya turun tekanan
darah tapi ndak kuat suka lemas dan langsung
tidak nafsu makan”
P1,5,6“pernah mengatur makanan tapi ndak
ngaruh akhirnya ndak pernah lagi diet”
P8,10,11“makanan orang minang bersantan dan
belemak jadi susah untuk mengatur diet soalnya
sudah kebiasaan dan enak”
P15,18“kenapa harus mengatur makanan untuk
diet tensi berat badan saya normal”
P20,21 “tidak tahu kalau berat badan ada
mempengaruhi dengan tekanan darah”
Sebagian besar partisipan berpendapat bahwa
hipertensi disebabkan oleh stress namun apabila
stress tidak diatasi maka hipertensi tidak dapat
ditangani
P17,18,20“sebenarnya sudah bosan dengan
keadaan saat ini”
P7-P12“memikirkan anak karena sudah tua jadi
anak sudah tidak tinggal dengan kita”
55
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
P13,16“kalau sudah bayak fikiran maka susah
untuk dilupakan”
P1-P6 “Banyak fikiran buat kepala jadi sakit”
P21“tidak ada tempat untuk meluapkan stress”
Partisipan yang diteliti semuanya beragama islam
jadi partisipan meyakini setiap masalah ada jalan
keluarnya dan meyakini adanya pertolongan dari
Allah SWT sehingga pendapat partisipan banyak
membawa zikir dan tawakal membantu
meringankan beban fikiran selama ini.
P1-P21“dibawa zikir”“tawakal dan pasrah saja”
P1“pergi rileks dan rekreasi”
P21“suka menangis sendiri”
P16,17“pergi cari tempat curhat”
Tempat penelitian ini semua puskesmas
menyediakan hari dan tempat untuk memfasilitasi
masyarakat untuk olahraga tidak hanya lansia saja
namun orang dewasa ikutserta dalam kegiatan
olahraga.Ada juga partisipan berpendapat bahwa
olahraga setiap hari sabtu tidak sempat datang
karena harus berjualan di pasar.Bagi yang tidak
datang olahraga partisipan berpendapat bahwa
dengan melakukan kerja di rumah sudah dianggap
sebagai olahraga.
P1-P6, P19,20,21 “olahraga seminggu sekali di
posyandu lansia”
P7-14“kadang malas pergi olahraga sebagai
gantinya kerja di rumah saja”
P15-18 “kalau olahraga disini setiap sabtu jadi
ndak punya waktu untuk olahraga”
Efek yang dirasakan akibat olahraga partisipan
mengemukakan
pendapat
ada
yang
menguntungkan danada yang merugikan diri
sendiri
P18“takut olahraga nanti kecapekan”
P1-P6, P19,20,21 “olahraga bikin enak badan dan
segar”
P7-14 “habis olahraga badan terasa sakit-sakitan
sehingga tensi ikut naik juga”
4. Peer Support
Pendapat partisipan tentang peer support
(dukungan sesama) didapatkan hasil bahwa
partisipan membutuhkan dukungan sesama,
dukungan sesama memberikan manfaat dan
partisipan meminta agar dapat difasilitasi adanya
wadah untuk berkumpul
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
P1,5,9 “saya sering bercerita ke sesama teman
tentang hipertensi ini”
P16,18 “saya jarang bercerita ke teman saya”
P2,8,10 “butuh teman untuk bercerita tentang
hipertensi paling tidak tahu bagaimana cara
mengatasi hipertensi”
P20,21 “berkumpul dengan sesama hipertensi
dirasakan aman untuk menurunkan tekanan darah
karena berasa ada sakit yang sama”
Manfaat yang dirasakan partisipan apabila dapat
berkumpul sesama hipertensi adalah seperti
pernyataan berikut
P2,8,10“ketemu sama teman yang sesama
hipertensi bisa buat pengetahuan bertambah”
P1,20,21“melihat orang jadi termotivasi untuk
sembuh”
P5,9“percaya diri untuk merawat diri sendiri”
Harapan partisipan agar bisa dapat berkumpul
antar sesama teman bisa difasilitasi oleh pihak
tenaga kesehatan karena selama ini tidak ada
tempat bahkan hanya memanfaatkan posyandu
lansia
P8,10“kalau kita ketemu paling di posyandu
lansia dua kali seminggu”
P5,9“berharap ada fasilitas tempat kumpul”
P1,2,20,21“selama ini tidak ada tempat untuk
bertukar pendapat”
B. Keluarga:
1. Respon Keluarga:
Hasil yang didapatkan pada wawancara keluarga
yaitu keluarga merasa kaget, bingung dan sedih
selain itu keluarga
P5“kaget mendengar orang tua darah
tinggi”“sedih juga melihat bapak harus
mengurangi makan berlemak”
P3“sempat ndak percaya juga”“terkadang suka
dibuat sedih”
P2“Bingung kalau sudah hipertensi
P1“bingung merawatnya”
P4“nanti tidak patuh malah tambah beresiko”
2. Dukungan Keluarga
Tentang dukungan keluarga yang diberikan pada
pasien hipertensi adalah berupa dukungan
informasi, dukungan penghargaan dan dukungan
kasih sayang. Berikut hasil wawancara terhadap
keluarga:
P1“sebagai keluarga kami selalu memberitahu
tentang apa itu tekanan darah tinggi”
P2“membantu mencari informasi tentang
pengelolaan hipertensi”
56
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
P4.3,5“membantu membuat obat herbal”
P1,3,4“mengantar ke puskesmas dan dokter”
P2,5“memberi ongkos ke puskesmas”
P1,2,3,4,5“memberikan perhatian dan memantau
minum obat”
P2 “kami sangat mendukung kalau ada yang bisa
mengajarkan masyarakat tentang cara mengelola
stress dengan baik”
C. Peran Petugas Puskesmas
Pihak pemegang program di puskesmas sebanyak
6 puskesmas yang didapatkan hasil bahwa upaya
puskesmas kepada pasien hipertensi sudah banyak
namun puskesmas juga mengaku masyarakat
kalau tidak mersakan sakit maka tidak datang
untuk berobat
P1 “Kami pihak puskesmas sudah sering meminta
masyarakat rajin kontrol”
P2 “untuk memudahkan masyarakat kami juga
membuat kelompok senam lansia”
P3-4 “masyarakat juga diminta untk ikut
posbindu”
P5-P6 walaupun kami tidak punya posbindu tapi
kami rajin meminta masayarakat untuk kontrol
paling ga tekanan darah”
Tahap penelitian tahun pertama dalam
mengembangkan model peer support intervention
dilakukan survey awal terhadap kebutuhan
responden untuk mengidentifikasi kebutuhan akan
dukungan sesama. Hasil penelitian yang
didapatkan dari survei terhadap responden yang
mengalami hipertensi adalah pengetahuan, sikap,
dan ketrampilan pasien dalam mengelola
hipertensi serta merasa penting adanya peer
support.Survei dilakukan kepada keluarga
didapatkan hasil berespon terhadap anggota
keluarga yang menderita hipertensi dan
memberikan dukungan yang maksimal kepada
keluarga. Hasil survei terhadap Kecamatan
didapatkan pentingnya manajemen stress dan gaya
hidup sehat yang belum ada oleh masyarakat yang
menderita hipertensi. Sedangkan survei ke
puskesmas didapatkan hasil sikap masyarakat
kurang baik (kurangnya kepatuhan pasien
responden) susah mengatur gaya hidup).
Terkait dengan adanya penyuluhan kesehatan,
puskesmas memiliki program penyuluhan rutin
namun puskesmas mengaku agak sedikit kesulitan
mengajak
masyarakat
untuk
mengikuti
penyuluhan
P1,2,3,4 “program penyuluhan puskesmas saat ini
sangat banyak terkait dengan penyuluhan
terutama hipertensi kami meminta agar
masyarakat datang dan mengikuti penyuluhan
dan kami pun memberi umpan balik”
P5 dan 6 “Puskesmas yang ada di sini selalu rutin
tiap kamis memberikan penyuluhan hipertensi”
D. Kepedulian Pemerintah
Ada dua orang camat yang yang dilakukan
wawancara dan dari hasil wawancara didapatkan
bahwa dari pihak pemerintahan sangat peduli
dalam menurunkan hipertensi dan berharap agar
masyarakat dapat merubah gaya hidup dan
mengelola stress dengan baik
P1 “seperti kita ketahui bahwa makanan kita saat
ini banyak berlemak kalau masyarakat kita tidak
mampu merubah gaya hidup maka akan
berdampak buruk” “masyarakat suka lupa kalau
tentang makanan”
P2 “di kampung ini orangnya suka makan
bersantan, kalau sudah makan suka lupa”
P1 “sehubungan dengan ekonomi saat ini
masyarakat memiliki beban hidup yangbanyak
yang bisa buat stress dan akhirnya hipertensi”
LPPM STIKes Perintis Padang
DISKUSI
Pengetahuan
Hasil wawancara yang didapatkan adalah hampir
semua partisipan merasakan tanda dan gejala yang
sama, namun ada bervariasi bahkan kadangkadang tidak ada keluhan yang terasa saat tekanan
darah meningkat. Partisipan banyak yang tahu
tentang bahaya dari hipertensi. Berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Malik, Yorsida,
Erkin, Salim dan Hamajima (2014) didapatkan
bahwa 65% pasien hipertensi memiliki
pengetahuan yang baik terhadap hipertensi dan 35
% yang berpengetahuan rendah. Lebih lanjut
penelitian ini menjelaskan pengetahuan akan
mempengaruhi dalam perubahan perilaku
hipertensi sehingga pendidikan edukasi sangat
disarankan dalam penelitian ini. Penelitian yang
sama dilakukan oleh Almas, Godil, Lalani,
Samani, dan Khan (2012) tentang pengetahuan
pasien hipertensi akan tetapi penelitian ini
respondennya hampir dari sebagian memiliki
pengetahuan yang rendah sehingga dalam
merubah perilaku hidup sehat pasien hipertensi
sangatlah susah dan mengakibatkan pasien
hipertensi
tidak
terkontrol.
Pengetahuan
merupakan Pengetahuan adalah informasi atau
maklumat yang diketahui atau disadari oleh
seseorang yang diperoleh dari hasil pembelajaran
57
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
(Notoatmodjo, 2007).Berdasarkaan penelitian
yang dilakukan oleh Samal, Greiseneggger, Auff,
Lang, Lalousheck (2007) pasien yang terkena
stroke berawal dari kurangnya pengetahuan pasien
hipertensi dalam mencegah terjadinya komplikasi.
Sikap
Survei tentang sikap tentang hipertensi didapatkan
hasil hampir semua partisipan berpendapat tidak
pernah kontrol, kalau sakit saja, malas pergi, takut
kebanyakan minum obat, dan tidak ada yang pergi
mengantar. Sikap sangat erat hubungannya
dengan kepercayaan,dan seseorang bersikap
didasari dengan rasa percaya. Partisipan
mempercayai bahwa kalau sakit saja baru pergi
kontrol
atau
memeriksakan
diri
ke
dokter.Penelitian yang dilakukan oleh Klinism
Tsimtsou, Markaki, Galanakes, Symvoulakis
(2014) menjelaskan bahwa kepercayaan dan sikap
pasien mempengaruhi hasil dari pengobatan yang
dilakukan pasien hipertensi.Begitu juga penelitian
yang dilakukan oleh Sibouhi (2011) disampaikan
bahwa meskipun pengetahuan pasien baik namun
sikap dan kepercayaan tidak baik tekanan darah
menjadi tidak terkontrol.
Perilaku dan Gaya Hidup
Kemampuan mengelola hipertensi peneliti
menemukan dua cara yaitu secara fisik dan
psikologis. Kemampuan secara fisik yaitu
mengontrol diet dan aktivitas sedangkan secara
psikologis yaitu bagaimana cara mengelola stress.
Hasil penelitian ini sejalan dengan dilakukan oleh
Iyalomhe dan Iyalomhe (2010) gaya hidup pasien
yang mengalami berawal dari gaya hidup yang
tidak sehat seperti tidak mampu mengelola stress.
Penelitian Su et al (2013) cara menurunkan
tekanan darah pada pasien hipertensi yaitu dengan
memodifikasi gaya hidup. Penelitian ini dilakukan
bersamaan dengan peer support efektif
menurunkan tekanan darah di komunitas
Peer Support
Pendapat partisipan tentang peer support
(dukungan sesama) didapatkan hasil bahwa
partisipan membutuhkan dukungan sesama,
dukungan sesama memberikan manfaat dan
partisipan meminta agar dapat difasilitasi adanya
wadah untuk berkumpul. Peer support sebagai
salah satu intervensi yang diberikan kepada
sekelompok sesama penderita hipertensi dimana
ada harapan saling berbagi pengalaman tentang
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
sakitnya, cara penanganan dan pengontrolan
hipertensi, selain dari penderita yang berkumpul
juga dibantu dengan kelompok pendukung lainnya
seperti keluarga, tenaga professional kesehatan
seperti kader kesehatan. Kelompok sebaya adalah
cara yang efektif dan kuat untuk memulai dan
melaksanakan perubahan bagi individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat (Edelman & Mandle,
2006). Menurut Stanhope dan Lancaster (2004),
proses kelompok merupakan suatu bentuk
intervensi keperawatan yang melibatkan klien,
masyarakat dan kelompok yang berisiko tinggi
melalui pembentukan kelompok.Hitchcock,
Schubert dan Thomas (1999), menyebutkan
bermacam bentuk kelompok seperti kelompok
fitness, kelompok relaksasi, kelompok nutrisi,
kelompok teman sebaya, kelompok pendidikan
kesehatan dan kelompok pendukung.
Menurut Lumbantobing (2008), penderita
hipertensi biasanya selalu lalai dalam hal
pengobatannya, selain itu seseorang penderita
hipertensi juga erat kaitannya dengan psikologis,
dan tidak dapat mengontrol makanannya.
Berdasarkan hal tersebut, dibutuhkan adanya
pendukung dalam bentuk dukungan sosial seperti
kelompok sebaya dan kelompok pendukung
lainnya yang dapat membantu dan mendukung
dalam mengendalikan faktor risiko berupa
modifikasi atau perubahan pola hidup menjadi
perilaku yang sehat.Hal ini didukung oleh Pender,
Murdaugh dan Parsons (2002) yang menyebutkan
bahwa dukungan sosial dapat mempengaruhi
perilaku kesehatan yang dapat menekan angka
kejadian lebih lanjut.
Penelitian yang dilakukan oleh Balcazar et al.,
(2009) terhadap penderita hipertensi di Meksiko
Amerika, menunjukkan adanya perbedaan yang
bermakna terhadap pengontrolan hipertensi
setelah dilakukan intervensi oleh suatu peer
support berupa intervensi yang dilakukan oleh
kelompok pendukung. Partisipan yang dilakukan
penelitian adalah penduduk dewasa Meksiko yang
menderita hipertensi yang berjumlah 98, dibagi
dalam dua kelompok terdiri dari 58 partisipan
untuk kelompok intervesi dan 40 partisipan untuk
kelompok kontrol. Program peer support dengan
pendekatan kelompok pendukung dilakukan
selama 9 minggu. Sembilan minggu dibagi
menjadi empat minggu pemberian materi dalam 6
sesi, empat minggu follow up, dan minggu terakhir
sebagai minggu evaluasi. Materi yang diberikan
oleh kelompok intervensi antara lain what you
need to know high blood pressure, salt and
58
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
sodium, how to control your blood pressure, be
more physically active dan eat less fat, saturated
fat, cholesterol, maintain a healthy weight and
make heart-healthy eating a family affair, eat
healthy even when time or money is tight. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa adanya perbedaan
yang bermakna dua perilaku kesehatan dalam
mengontrol hipertensi melalui faktor resiko
(garam dan sodium dan kolesterol dan lemak)
antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi.
Penelitian tentang kelompok pendukung juga
dilakukan oleh Gellert, Aubert dan Mikami (2010)
di Hawai. Penelitian dilakukan pada 61 penderita
penyakit kronis dengan kelompok intervensi.
Program dijalankan selama 12 minggu dan materi
yang diberikan adalah understanding daily caloric
needs, incorporating physical activity into your
new lifestyle, modifying risk factor for diabetes,
progress and challenges, preventing chronic
kidney desease through diet modification, moods
and foods (focusing on emotional triggers around
eating), cancer-fighting foods, incorporating
Hawaiian traditional medicine practices to treat
chronic disease, increasing physical activity to
achieve the recommended 1h/d, 5d/wk, meal
planning, cardiovascular disease prevention.
Hasil evaluasi pre dan post intervensi
menunjukkan adanya perbedaan bermakna terkait
dengan berat, tekanan darah sistolik, tekanan
darah diastolik, dan total kolesterol.
ISSN: 2548-3153
meningkatkan koping mekanisme dan kualitas
hidup.
Hayes et al (2010) melakukan penelitian tentang
peer support dengan pendekatan peer leader pada
27 post tentara. Penelitian ini diberikan selama 2
tahun dimana materi yang diberikan berupa
pendidikan kesehatan hipertensi, ketrampilan dan
kepercayaan diri. Hasil penelitian didapatkan
bahwa peer leader mampu meningkatkan
manajemen diri tentara hipertensi. Penelitian yang
sama juga dilakukan oleh Whittle et al (2014)
tentang peer support untuk mendukung
manajemen diri hipertensi pada tentara hipertensi
di 58 posko. Ada 404 tentara yang diikutkan dalam
pemberian pendidikan kesehatan hipertensi
selama 12 bulan.Hasil penelitian didapatkan
signifikan menurunkan tekanan darah dan
meningkatkan manajemen diri.
Model Peer Support Intervention
Berdasarkan dari hasil penelitian diatas maka
desain yang dirancang dalam model ini adalah
menggunakan Health Promotion Model, Health
Belief Model, Peer Support dan Self Care Theory.
Dalam model tersebut kita memberikan
pendidikan kesehatan, modifikasi gaya hidup dan
meyakinkan pasien untuk dapat meningkatkan
perilaku hidup sehat.
4. KESIMPULAN
Penelitian yang dilakukan oleh Su et al (2013)
tentang efektifitas modifikasi gaya hidup melalui
peer support dalam memonitoring tekanan darah
pasien hipertensi. Penelitian dilakukan pada 320
orang yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu
160 orang kelompok kontrol dan
160
orangkelompok intervensi. Penelitian ini
dilakukan selama 12 bulan dengan materi
pelatihan pengukuran tekanan darah, pendidikan
kesehatan tentang makanan dan aktivitas fisik
serta mengunakan kalkulator IMT sedangkan pada
kelompok kontrol diberikan pengukuran IMT dan
pembagian leaflet.Hasil didapatkan adanya
peningkatan yang signifikan tentang kesadaran
diet sehat, aktifitas fisik dan manajemen diri.
Penelitian tentang peer support juga dilakukan
oleh Ng, Amatya, & Khan (2013) pada pasien
multiple sclerosis. Penelitian ini dilakukan pada
28 orang yang berhasil mengikuti tiga kali
treatmen selama 12 bulan. Hasil penelitian
didapatkan program peer support bermakna
menurunkan depresi, meningkatkan fungsi fisik,
LPPM STIKes Perintis Padang
Pada penelitian tahap pertama ini dapat
disimpulkan bahwa pengetahuan, sikap, perilaku,
gaya hidup merupakan faktor yang mempengaruhi
peningkatan perilaku pasien hipertensi didukung
dengan adanya intervensi yang dilakukan peer
support. Faktor tersebut mendukung adanya
model peer support intervention menggunakan
Health Promotion Model, Health Belief Model,
Peer Support dan Self Care Theory. Penelitian ini
menyarakan agar model tersebut dilakukan uji
coba model dan uji coba pemakaian model.
5. REFERENSI
Almas, A., Godil, S.S., Lalani,S., Samani, Z.A.,&
Khan. A. (2012).Good knowledge about
hypertension is linked tobetter control of
hypertension; A multicentrecross sectional
study in Karachi, Pakistan. BMC Research
Notes 2012,5:579
Balcazar, H.G., Byrd, T.L., Ortiz, M., Tondapu,
S.R., & Chaves, M. (2009). A randomized
59
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
community hypertension control among
Mexican
Americans:
Using
the
promotoras de salud community outreach
model. Journal of Health Care for the
Poor and Underserved. 20, 1079-1094.
Black, J.M., & Hawks, J.H. 2009.Medicalsurgical nursing: Clinical management
for positive outcomes. Eight edition.
Singapore: Saunders Elsevier.
Burke, M.M., & Laramie, J.A. 2000. Primary care
of the older adult: a multidisciplinary
approach. First edition. Philadelphia:
Mosby.
Edelman, C.L., & Mandle, C.L. 2006. Health
Promotion: Throughout the life span.
Sixth edition. St.Louis Missouri: Mosby
Gellert, K.S., Aubert, R.E., & Mikami, J.S. 2010.
Ke ‘Ano Ola: Moloka’i’s communitybased healthy lifestyle modification
program. American Journal of Public
Health. 100(5), 779-783
GHO. 2014. Raised blood pressure. Diakses
tanggal 21 April 2015 di
http://www.who.int/gho/ncd/risk_factors/blo
od_pressure_prevalence_text/en/
Hayes, A et al. 2010. Preliminary description of
the Feasibility of using Peer leaders to
encourage
Hypertension
SelfManagement.Wisconsin Medical Journal
2010 Volume 109, No. 2
Heiser. 2006. Building Peer Support Programs to
Manage Chronic Disease: Seven Models for
Success. Diakses tanggal 21 April 2015 di
http://www.chcf.org/~/media/MEDIA%20LI
BRARY%20Files/PDF/B/PDF%20Building
PeerSupportPrograms.pdf
Iyalomhe, G & Iyalomhe, S. (2010).
Hypertension-related knowledge, attitudes
and life-style practices among hypertensive
patients
in
a
sub-urban
Nigerian
community.Journal of Public Health and
Epidemiology Vol. 2(4), pp. 71-77, July 2010
Kemenkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar.
Jakarta :Badan Penelitian Dan
Pengembangan Kesehatan Kementerian
Kesehatan RI
Luekenotte, A.G., & Meiner. 2006. Gerontologic
Nursing. St Louis: Mosby
Lumbantobing, S.M. 2008. Tekanan darah tinggi.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia
Malik, A., Yoshida, Y., Erkin, T., Salim, D., &
Hamajima, N. (2014).Hypertension-Related
Knowledge, Practice And Drug Adherence
Among Inpatients Of A Hospital In
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Samarkand, Uzbekistan. Nagoya J. Med. Sci.
76. 255 ~ 263, 2014
McMurray, A. 2003.Community health and
wellness: A sociological Approach.
Philadelphia: Mosby
Moser, D.K., & Riegel, B. 2008.Cardiac nursing
: A companion braunwald’s heart disease.
Philadelphia : Saunders Elsevier
Ng, L., Amatya, B., & Khan, F. 2013. Sclerosis in
an Australian Community Cohort: A
Prospective
Study.
Journal
of
Neurodegenerative Diseases Volume
2013
Pender, N.J., Murdaugh, C.L., & Parsons, M.A.
2002.Health Promotion in nursing
practice.Fourth edition. New Jersey:
Prentice Hall.
Sabouhi, F., Babaee, S., Naji, H., & Zadeh, A. H.
(2011). Knowledge, awareness, attitudes and
practice about hypertension in hypertensive
patients referring to public health care centers
in Khoor & Biabanak. Iranian Journal of
Nursing and Midwifery Research, 16(1), 34–
40.
Samal, D.,Greisenegger, S., Auff , E., Lang, W.,&
Lalouschek W. (2007). The Relation
Between Knowledge About Hypertension
and Education in Hospitalized Patients With
Stroke
in
Vienna.
http://dx.doi.org/10.1161/01.STR.000025973
3.43470.27 Stroke. 2007;38:1304-1308
Originally published March 26, 2007
Stanhope, M., & Lancaster, J. 2004.Community &
public health nursing.Sixth edition. St
Louis Missouri: Mosby.
Stanley, M., Blair, K.A., & Beare, P.G.
2005.Gerontological
nursing:
Promoting successful aging with older
adults. Third edition. Philadelphia: F.A
Davis Company.
Su, et al. (2013). The effectiveness of a life style
modification andpeer support home blood
pressure
monitoring
incontrol
of
hypertension:
protocol
for
a
clusterrandomized controlled trial. BMC
Public Health 2014,14 (Suppl 3):S4
http://www.biomedcentral.com/14712458/14/S3/S4
Su, T.T et al. 2013. The effectiveness of a life style
modification and peer support home
blood pressure monitoring in control of
hypertension: protocol for a cluster
randomized controlled trial. BMC Public
Health 2014, 14 (Suppl 3):S4
60
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Whittle, J et al. 2014. Randomized trial of peerdelivered self managemen support for
hypertension.American
journal
of
hypertension publish April 2014
LPPM STIKes Perintis Padang
61
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
TEKNIK RELAKSASI FINGER HOLD MENURUNKAN
SKALA NYERI PADA PASIEN CEDERA KEPALA RINGAN
Lisa Mustika Sari1, Aldo Yuliano2, Meldia Aprisa Shinta3,
Program Studi Ilmu Keperawatan, STIKes Perintis Padang
Email: [email protected]
Program Studi Ilmu Keperawatan, STIKes Perintis Padang
Email : [email protected]
Program Studi Ilmu Keperawatan, STIKes Perintis Padang
Email : [email protected]
Abstract
Head injury is a traumatic disruption of brain function with interstitial hemorrhage in the brain
substance without being followed by the dissolution of the continuity of the brain. Based on the interview
with the head of the surgical room RSAM Bukittinggi found head injury patients are only given
pharmacological actions are like analgesics. Analgesics have an impact on the body such as liver
disorders, kidney disorders, and allergic reactions. Therefore, researchers wanted to examine nonpharmacological measures in patients with head injury such as relaxation techniques finger hold. The
aim of research to see average before and after as well as the effects of relaxation techniques finger
hold on the pain scale decline in patients with mild head injury in the surgical room RSAM 2016. The
study design using the quasi experimental Design, in the form of One Group Pre-Post Test Design made
for 10 minutes. Samples in this study of 10 people with a sampling technique accidental sampling.
Collecting data using observation sheets, statistical tests using test formula Paired T-Test. This study
showed that on average before 6.47 and after 6.07 and decreased pain in head injury patients with p
value <α (0.003 <0.05). Based on the results of this study concluded that giving the finger hold
relaxation techniques can reduce pain in patients with head injury. It is suggested to nursing care
therapy techniques can be applied as a finger hold terapy that will enhance patients' ability to cope with
pain. apply non pharmacological techniques Finger Hold as intervention techniques and making room
Nursing Service Standards in treating patients with head ceder especially in pain management in the
Standard Operational Procedures (SOP).
Keywords: Head Injury, Pain, Relaxation Technique Finger Hold.
1. PENDAHULUAN
Otak merupakan organ yang sangat vital bagi
seluruh aktifitas dan fungsi tubuh, karena didalam
otak terdapat berbagai pusat kontrol seperti
pengendalian fisik, intelektual, emosional, sosial
dan keterampilan. Walaupun otak berada dalam
ruang yang tertutup dan terlindung oleh tulang
tulang yang kuat namun dapat juga mengalami
keruskan . Salah stu penyebab dari kerusakan otak
adalah terjadinya trauma atau cedera kepala yang
dapat menyebabkan keruskan struktur otak
sehingga fungsinya juga dapat terganggu
( Black & Hawks, 2014).
Angka Kejadian cedera kepala semakin
tahun semakin bertambah, hal ini seiring dengan
meningkatnya angka kejadian kecelakaan,
Berdasarkan data dari Riskedas Tahun 2013 telah
menunjukkan angka cedera akibat kecelakaan
transportasi darat di Provinsi Sumatera Barat
LPPM STIKes Perintis Padang
adalah nomor 5 tertinggi di Indonesia, sebesar
54,9%, lebih tinggi dari rata – rata angka nasional
47,7%. Angka cedera akibat kecelakaan
transportasi darat di Sumatera Barat tahun 2014
menempati nomor lima tertinggi di Indonesia
dengan jumlah kejadian 564.242 atau 54,9 persen,
lebih tinggi dari rata rata nasional.
Berdasarkan data dari Medical Record
Rumah Sakit Uum Dr. Ahmad Mochtar
Bukittinggi didapatkan jumlah pasien yang
mengalami cedera kepala ringan meningkat setiap
tahunnya dimana selama tahun 2014 terdapat 77
orang yang mengalami cedera kepala ringan,
tahun 2015 sebanyak 118 orang, dan data yang
didapatkan pada bulan Januari, Februari, dan
Maret 2016 terdapat 80 orang pasien yang
mengalami cedera kepala (Rekam Medis RSUD
Dr. Ahmad Mochtar Bukittinggi, 2016).
62
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Kasus cedera kepala lebih banyak
melibatkan kelompok usia produktif, yaitu antara
15-44 tahun (dengan usia rata-rata sekitar 30
tahun) dan lebih didominasi oleh kaum laki-laki
dibandingkan dengan perempuan. Adapun
penyebab yang tersering adalah kecelakaan lalu
lintas (49%) dan kemudian disusul dengan jatuh
(terutama pada kelompok usia anak-anak)
(Satyanegara,
Ilmu
Bedah
Saraf,
2010).Meningkatnya jumlah kecelakaan ini dapat
meningkatkan angka kejadian cedera kepala
ringan lebih banyak ( 80%) dibandingkan cedera
kepala sedang ( 10%) dan cedera kepala berat (
10%) .( Irwana, 2009). Diperkirakan lebih dari
30% kasus cedera kepala berakibat fatal sebelum
datang dibawa kerumah sakit dan 20% kasus
cedera kepala mengalami komplikasi sekunder
seperti iskemia serebral akibat hipoksia dan
hipotensi, perdarahan serebral serta oedema
serebral ( Black & Hawk, 2014)Komplikasi lain
yang terjadi pada cedera kepala adalah
peningkatan tekanan intrakranial, yaitu tekanan
yang terjadi pada ruang serebral akibat
bertambahnya volume otak melebihi ambang
toleransi dalam ruang kranium. Hal ini dapat
disebebkan karena edema serebri dan perdarahan
serebral. Slah satu gejala dari peningkatan tekann
intrakranila adalah adanya nyeri kepala. Nyeri
kepala postraumatik dikelompokan menjadi dua
yaiyu nyeri akut dan nyeri kronik. Nyeri kepala
akut terjadi setelah trauma sampai 7 hari,
sedangkan nyeri kronik terjadi setelah 3 bualan
pasca cedera kepala ( Perdossi, 2010).
Menurut evan, al, dalam Wijayasakti,
2009 , pada cedra kepala ringan, nyeri kepala
meruapakan keluahan yang paling sering terjadi
yaitu sekitar 82%. Keadaan nyeri ini terjadi akibat
perubahan organik atau keruskan syaraf otak,
oedema otak dan peningkatan tekanan intraknial
kareana sirkulasi serebral yang tidak adekuat. (
Black& Hawk 2014).
Nyeri kepala pada pasien tentu menimbulkan tentu
menimbulkan perasaan tidak nyaman, hal ini
menimbulakan perasaan tidak nyaman dan hal ini
akan berpengaruh pada aktifitasnya, tidak
terpenuhinya kebutuhan dasar, bahkan berdampak
pada faktor psikologis seperti menarik diri,
menghindar percakapan, menghindari kontak
dengan orang lain ( Potter& Perry, 2006).
Prinsip utama dalam penanganan nyeri
kepala post truma kepala dalah adekuanya perfusi
jaringan otak dengan memepertahankan takanan
perfusi serebral 60 mmhg atau lebih dan
mengurangi tekananan intrakranial kurang dari 25
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
mmhg sehingga oksigen terjaga. ( Stifel, et
alldalam Tarwoto 2013).
Standar Pelayanan keperawatan pada pasein
cedera kepala ringan di RSUD achmad Mochtar
yaitu dengan mengobservasi tingkat kesadaran,
tanda tanda vital , defisit neurologi, peningkatan
intrakranial dan nyeri kepla. Pasien dianjurkan
mengurangi katifitas dan mengindari valsavava
manuever dan berkolaborasi dengan tim medis
lain dalam pemberian obat obatan untuk
mengurangi edema sebri, antibiotik dan analgetik.
Hasil observasi peneliti penatalaksanann nyeri
kepala pada pasien dengan cedera kepala ringan
belum dilakukan dengan teknik non farmakologik
seperti terapi behavioral( relaksasi, hipnoterapi,
biofeedback) maupun terapi fisik seperti
akupuntur,
traskutaneues
electric
nerve
stimulation ( TENS).
Untuk mengurangi nyeri perawat hanya
mengajarkan kepada pasien dengan teknik nafas
dalam.Teknik relaksasi dapat menurunkan nyeri
dengan merilekskan ketegangan otot yang
menunjang nyeri. Salah satu teknik relaksasi yang
dapat menurunkan nyeri adalah teknik relaksasi
genggam jari (finger hold). Teknik relaksasi
genggam jari (finger hold) merupakan teknik
relaksasi yang sangat sederhana dan mudah
dilakukan oleh siapapun yang berhubungan
dengan jari tangan serta aliran energi didalam
tubuh (Liana, 2008).Dari hasil penelitian Iin
Pinandita dkk 2012, p value sebesar 0,001 (p < α),
maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan
yang signifikan skala nyeri sebelum dan sesudah
pemberian teknik relaksasi finger hold pada pasien
post laparatomi. Dari hasil penelusuran penulis
penelitian penelitian yang sudah ada umumnya
teknik relaksasi seperti Tekni rekasasi Slow deep
breathing sudah dilakukan pada pasien dengan
nyeri kepala post trauma. Penelitian tentang teknik
finger Hold belum dilakukan pada pasien dengan
cedera kepala, sehingga penelitin tertarik ingin
membeutikan bahwa apakah teknik non
farmakologis finger hold mampu menurunka nyeri
kepala pada pasien cedera kepala ringan.
2. METODE PENELITIAN
Desain penelitian menggunakan QuasiEksperimen dengan pendekatan One Grup
Pretest- Postest yaitu sebelum diberi teknik
relaksasi finger hold akan diukur skala nyeri
pasien cedera kepala kemudian setelah itu
diberikan teknik relaksasi finger hold kemudian
diukur lagi scala nyeri pasien cedera kepala
dengan mengunakan alat ukur Numerik rating
63
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
scale ( NRS)Populasi dalam penelitian ini adalah
semua pasien yang dirawat diruang bedah RSAM
seakam 1 Bulan adalah 27 orang Sampel adalah
bagian yang diambil dari keseluruhan objek yang
diteliti dan dianggap mewakili keseluruhan objek
yang diteliti (Notoadmodjo, 2012).Sampel dalam
penelitian ini adalah pasien dirawat diruang bedah
dengan kriteria inklusi dan kriteria ekslusi yang
telah ditetapkan.yaitu 10 responden dengan
kriteria inklusi (1)Bersedia untuk diteliti;(2) GCS
pasien 12-15;(3) bisa diajak komunikasi;(4)
Mempunyai respon terhadap teknik relaksasi
genggam;(5) Pasien yang dirawat lebih dari 3 hari.
Teknik sampling yang peneliti gunakan adalah
aksidental sampling yaitu pengambilan sampel
yang dilakukan secara kebetulan bertemu. Apabila
dijumpai ada maka sampel tersebut diambil dan
langsung dijadikan sebagai sampel utama
ISSN: 2548-3153
Beberapa metode pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitian ini, pengkajian
dilakukan 6 jam setelah pasien mendaptkan terapi
farmakologi dan dalam keadaan sadar penuh.
Pasien kemudian diberi penjelasan tentang
penelitian, tujuan dan manfaat teknik Finger Hold
setelah pasien mengerti dan setuju maka pasien
mennada tangani lembar persetujuan dan peneliti
dapat melakuka pengambilan data .
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan Tabel 3.1 terlihat bahwa dari 10 responden diketahui bahwa di RSAM Bukittinggi tahun
2016 sebelum dilakukan intervensi dengan rata-rata skala nyeri adalah 6,47 dengan standar deviasi
1,103.
Tabe 3.l. Distribusi Rata-rata skala nyeri Sebelum
Dilakukan Teknik Relaksasi Finger Hold
Variabel
n
Mean
Min- Max
SD 95%CI
Rerata Skala Nyeri
Sebelum dilakukan
intervensi
10
6,47
5-8
1,103 5,68
Berdasarkan Tabel 3.2 terlihat bahwat dari 10 responden diketahui bahwa di RSAM Bukittinggi setelah
dilakukan intervensi dengan rata-rata nyeri adalah 6,07, standar deviasi 1,305, dengan 95 % CI 5,13.
Variabel
Tabel 3.2. Rata-rata Skala Nyeri Setelah Dilakukan
Teknik Relaksasi Finger Hold
n
Mean
Min -Max
SD
95%CI
Rerata Frekuensi
pernafasan setelah
dilakukan intervensi
10
6,07
4-8
1,305 5,13
Berdasarkan Grafik 3.3.terlihat bahwarata-rata skala nyeri pada pasien cedera kepala ringan mengalami
penurunan setelah dilakukan teknik relasasi finger hold dimana terlihat pada grafik diatas di hari ketiga
sebelum diberi perlakuan teknik relaksasi finger hold sebesar 6,1 setelah diberi perlakuan menurun
menjadi 5,2.
LPPM STIKes Perintis Padang
64
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Grafik 3.3. Rata-Rata Skala Nyeri Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Teknik Relaksasi Finger
Hold
8
7
7
6.9
6.6
6
6.1
5.8
5.2
5
4
3
2
1
0
pre 1
post 1
pre 2
post 2
pre 3
post 3
Tabel 3.4 terlihat bahwa rata-rata penurunan skala nyeri sebelum dan sesudah yaitu 0,4 dengan standar
deviasi 0,202. Pengaruh ini di uji dengan uji paired test menghasilkan nilai p=0,003, dimana nilai p <
α (0,05), maka dapat disimpulkan ada pengaruh yang signifikan Teknik relaksasi finger hold terhadap
penurunan skala nyeri pada pasien cedera kepala.
Tabel 3.4 Rata-Rata Perbedaan Penurunan
Skala Nyeri Sebelum dan Sesudah Teknik Finger Hold
Variabel
Kelompok
RataRata SD
SE
pValue
n
t
Penurunan
skala nyeri
Total Pre
6,47
1,103
0,349
Total Post
Selisih
6,07
0,4
1,305
0,202
0,413
0,064
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian pada 10 orang
responden dimana delapan berjenis kelamin lakilaki dan 2 berjenis kelamin perempuan.
Berdasarkan tabel 1 diatas dilihat dari 10
responden diketahui bahwa di RSAM Bukittinggi
Tahun 2016 sebelum dilakukan intervensi dengan
rata-rata skala nyeri adalah 6.47 dengan standar
deviasi 1.103.Menurut Smeltzer & Bare (2002)
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional
yang tidak menyenangkan akibat kerusakan
jaringan yang aktual dan potensial. Sejalan dengan
penelitian yang telah dilakukan oleh Herfina
(2009), dengan pembahasan tentang “pengaruh
kompres air hangat terhadap penurunan skala
nyeri pada klien rematik” sebelum di lakukan
kompres air hangat didapatkan dari 18 orang
responden yang mengalami nyeri berat 8
responden (44,4%), nyeri sedang 10 responden
(55,6%). Menurut analisis peneliti, hasil ukur
dimana nilai nyeri tersebut dapat diukur dan
ditentukan dengan nilai berkisar antara 1-10.
LPPM STIKes Perintis Padang
0,003
10
4,143
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan
dan teori yang ada, penelitian dapat
menyimpulkan bahwa lebih dari sebagian besar
responden mengalami penurunan skala nyeri
sebelum dilakukan teknik relaksasi finger hold. Ini
terbukti dari penelitian yang dilakukan peneliti.
Rata-rata skala nyeri setelah dilakukan teknik
finger hold
Berdasarkan tabel 5.2 diatas dilihat dari
10 responden diketahui bahwa di RSAM
Bukittinggi setelah dilakukan intervensi dengan
rata-rata penurunan skala nyeri adalah 6.07
dengan standar deviasi 1.305.Menurut Alimul
(2006) nyeri adalah kondisi berupa perasaan tidak
mengenangkan bersifat sangat subjektif karena
perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam
hal skala dan tingkatannya dan hanya orang
tersebutlah yang dapat menjelaskan nyeri yang di
alaminya.Nyeri timbul akibat adanya rangsangan
oleh zat-zat algesik pada reseptor nyeri yang
banyak di jumpai pada lapisan superfical kulit dan
beberapa jaringan didalam tumbu. Resepter nyeri
65
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
merupakan ujung-ujung bebas serat syaraf aferen
A delta dan C. Resptor – reseptor ini disktifkan
oleh adanya rangsangan – rangsangan dengan
intensitas tinggi.Menurut Liana (2008) dalam
Pinandita (2011) teknik relaksasi genggam jari
(finger hold) merupakan teknik relaksasi dengan
jari tangan serta aliran energi didalam tubuh.
Relaksasi genggam jari menghasilkan impuls yang
di kirim melalui serabut aferen non-nosiseptor.
Serabut saraf non-nosiseptor mengakibatkan
“gerbang” tertutup sehingga stimulus pada kortek
serebri dihambat atau dikurangi akibat counter
stimulasi relaksasi dan mengenggam jari.
Sehingga skala nyeri akan berubah atau
mengalami modulasi akibat stimulasi relaksasi
genggam jari yang lebih dahulu dan lebih banyak
mencapai otak (Pinandita, 2012 )Sejalan dengan
penelitian yang telah dilakukan oleh Herfina
(2009), dengan pembahasan tentang “pengaruh
kompres air hangat terhadap penurunan skala
nyeri pada klien rematik” setelah di lakukan
kompres air hangat didapatkan dari 18 orang
responden yang mengalami nyeri ringan 9
responden (50,0%), nyeri sedang 9 responden
(50,0%). Menurut analisis peneliti nyeri timbul
akibat adanya rangsangan oleh zat-zat algesik
pada reseptor nyeri yang banyak di jumpai pada
lapisan superfical kulit dan beberapa jaringan
didalam tubuh oleh karna itu teknik relaksasi
finger hold dapat mengurangi nyeri cedera kepala
dan juga dapat melancarkan aliran dalam darah,
mengurangi perasaan panik, menenangkan pikiran
dan dapat mengontrol emosi.
Nyeri disebabkan oleh stimulus termal,
mekanik, kimiawi dan stimulus listrik yang
menyebabkan pelepasan substansi nyeri yang
tergabung dengan lokasi reseptor di Nosiseptor
(reseptor yang berespon terhadap stimulus yang
membahayakan) untuk memulai transmisi neural
yang dikaitkan dengan nyeri (Clancy dan
McVicar, 1992 dalam Potter & Perry,2005 ).
Nosisseptor tersebar luas pada kulit dan mukosa
dan terdapat pada struktur-struktur yang lebih
dalam seperti pada visera, persendian, dinding
arteri, hati dan kandung empedu (Kozier,
2004).Impuls saraf, yang dihasilkan oleh stimulus
nyeri, menyebar disepanjang saraf perifer dan
mengkonduksi stimulus nyeri: serabut A-Delta
bermielin dan cepat dan serabut C yang tidak
bermielinasi dan berukuran sangat kecil serta
lambat. Serabut A mengirim sensasi yang tajam,
terlokalisasi dan jelas yang melokalisasi sumber
nyeri dan mendeteksi intensitas nyeri (Potter &
Perry, 2005).Serabut C menyampaikan impuls
yang terlokalisasi buruk, viseral dan terus menerus
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Transmisi stimulus nyeri berlanjut di sepanjang
serabut saraf aferen dan berakhir di bagian kornu
dorsalis medula spinalis. Di dalam kornu dorsalis,
neurotransmiter seperti substansi P dilepaskan,
sehingga menyebabkan suatu transmisi sinapsis
dari saraf perifer (sensori) ke saraf traktus
spinotalamus (Paice, 1991 dalam Potter & Perry,
2005), yang memungkinkan impuls nyeri
ditransmisikan lebih jauh ke dalam sistem saraf
pusat. Di traktus ini juga terdapat serabut-serabut
saraf yang berakhir di otak tengah, yang
menstimulasi daerah tersebut untuk mengirim
stimulus kembali ke bawah kornu dorsalis di
medula spinalis (Paice, 1991 dalam Potter &
Perry, 2005).
Setelah impuls nyeri naik ke medula
spinalis, informasi ditransmisikan dengan cepat ke
otak, termasuk pembentukan retikular, sistem
limbik, talamus, dan korteks sensori dan korteks
asosiasi. Seiring dengan transmisi stimulus nyeri,
tubuh mampu menyesuaikan diri atau
memvariasikan resepsi nyeri. Terdapat serabut
saraf di traktus spinotalamus yang berakhir di otak
tengah, menstimulasi daerah tersebut untuk
mengirim stimulus kembali ke bawah kornu
dorsalis di medula spinalis. Serabut ini disebut
sistem nyeri desenden, yang bekerja dengan
melepaskan neuroregulator yang menghambat
transmisi stimulus nyeri (Paice, 1991 dalam Potter
& Perry, 2005).
Relaksasi genggam jari menghasilkan
impuls yang di kirim melalui serabut aferen nonnosiseptor.
Serabut
saraf
non-nosiseptor
mengakibatkan
“gerbang” tertutup sehingga
stimulus pada kortek serebri dihambat atau
dikurangi akibat counter stimulasi relaksasi dan
mengenggam jari. Sehingga skala nyeri akan
berubah atau mengalami modulasi akibat
stimulasi relaksasi genggam jari yang lebih dahulu
dan lebih banyak mencapai otak (Pinandita, 2012
: 41).
Menurut penelitian Tarwoto (2011),
menyatakan bahwa Latihan slow deep breathing
dapat meningkatkan suplai oksigen ke otak dan
dapat menurunkan metabolisme otak sehingga
kebutuhan oksigen otak menurun.. Hasil
penelitian diperoleh ada perbedaan yang
bermakna rerata intensitas nyeri kepala akut pada
pasien
cedera
kepala
ringan
antara
kelompok intervensi dan kelompok kontrol
setelah dilakukan latihan SDB (p=0,000, α =
0,05).
Menurut asumsi peneliti, berdasarkan
penelitian yang peneliti lakukan didapatkan
bahwa pada pasien yang mengalami cedera kepala
66
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
setelah melakukan teknik relaksasi finger hold
nyeri yang dirasakan pasien menurun dengan ratarata 6, 07. Pengaruh teknik relaksasi finger hold
terhadap penurunan skala nyeri akan terlihat
setelah beberapa kali melakukan secara benar dan
teratur yaitu pada hari ke 3 setelah melakukan
teknik relaksasi finger hold. Berdasarkan hasil
penelitian dan uraian diatas dapat kita simpulkan
bahwa dilihat teknik relaksasi finger hold dapat
mengurangi nyeri pada pasien cedera kepala.
4. KESIMPULAN
Pengaruh Teknik Relaksasi Finger Hold Terhadap
Penurunan Nyeri Pada Pasien Cedera Kepala
Ringan Di Ruangan Bedah RSAM Bukittinggi
Tahun 2016.
a. Rata-rata nyeri sebelum dilakukan teknik
relaksasi finger hold yaitu 6.47.
b. Rata-rata nyeri sesudah dilakukan relaksasi
finger hold yaitu 6.07.
c. Terdapat pengaruh secara signifikan antara
teknik relaksasi finger hold dengan penurunan
nyeri setelah dilakukan teknik relaksasi finger
hold dengan nilai p = 0,003 (p<0,005).
SARAN
Saran bagi pelayanan keperawatan
Strategi manajemen nyeri non farmakologi
dengan terapi teknik finger holddapat diterapkan
sebagai terapy yang tepat untuk meningkatkan
kemampuan pasien mengatasi rasa nyeri.
Mengingat kompleksnya aspek nyeri dan
banyaknya keluhan nyeri yang ditemukan pada
setiap pasien, maka sudah saatnya perawat untuk
dapat menerapkan teknik non farmakologis
Teknik Finger Holdsebagai intervensi ruangan
dan
menjadikannya
Standar
Pelayanan
Keperawatan dalam merawat pasien dengan ceder
kepala khusunya dalam penagangan management
nyeri
yang dituangakan dalam Standar
Operational Prosedur ( SOP ). Bagi Pendidikan
memahami lebih dalam lagi fisiologis Terapi
Finger Holddan dapat dipertimbangan sebagai
intervensi mandiri dan dijadikan bahan literatur
khususnya mata ajar keperawatan medikal bedah
yang berhubungan dengan manajemen nyeri yang
efektif dan juga penelitian ini diharapkan sebaga
bagian dari program pendidkan yang bertujuan
untuk menambah wawasan.
5.
ISSN: 2548-3153
Hasil yang diharapkan, edisi 8 buku 2,
Elsevier.
Liana, Emmmy Dewi, ( 2008) Pemerhati dan
Praktisi Kesehatan Holistik .Jakarta
Herfina (2009), Pengaruh kompres air hangat
terhadap penurunan skala nyeri pada klien
rematik di Rsud Ulin Banjarmsin
Irwana, o, ( 2009). Cedrea Kepala .
http://belibisa17.com/2009/05/25/cederake
pala/, diakses tanggal juni 2016
Pinandita et al. 2012.Pengaruh Terapi Finger Hold
Terhadap neyri pasien post laparatomi di
Rumah Sakit Eka Hospital BSD
Medical Record RSAM. 2016. Data Pasien Cedera
Kepala. Bukittinggi : RSAM.
Notoadmodjo.2003.
Metodologi
Penelitian
Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Perry & Potter. 2005. Fundamental of Nursing
(Fundamental Keperawatan). Jakarta :
Salemba Medika.
Perdosssi.(2010). Konsesus Nasional III,
Diagnostik dan Penalatksanaan Nyeri
Kepala, Kelompok Studi Nyeri Kepala.
Surabaya: Airlangga University Press
Riskesdas Sumatera Barat. 2013 : Data Riskesdas
Sumatera Barat.
Satyanegara, (2010). Ilmu Bedah Saraf, Edisi IV.
Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Smeltzer, S C & Bare, B G. 2005. Buku Ajar
Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Vol.
3. Agung Waluyo (penterjemah). Jakarta :
EGC.
Tarwoto, (2013). Keperawatan Medikal Bedah,
Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta :
Sagung Seto
Tarwoto ( 2011). Pengaruh Slow deep Breathing
terhadap nyeri kaut pada pasien cedera
kepala di RSUP Fatmawati, Tesis,
http;//lontar lib ui.com. diakses juni 2016
Wijayasakti, R( 2009) Glasgow Coma Scale
dengan keluahan Nyeri Kepala pasca
Trauma Pada Pasien Cedera Kepala Di
Rumah Sakit PKU muhammadyah
Karanganger, Skripsi, Fakutas Kedokteran
Universitas Muhammdiah Surakar
REFERENSI
Black, M.J, & Hawk, H.J.( 2014). Keperawatan
Medikal Bedah Manajemen klinis untuk
LPPM STIKes Perintis Padang
67
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
PENGARUH SENAM DIABETES MELITUS DENGAN NILAI ABI
PADA PASIEN DM DI PUSKESMAS ANDALAS PADANG
Melti Suriya 1
STIKes Alifah, Padang 25000
Email: [email protected]
1
Abstract
Data from the World Health Organization declared the number of patients with diabetes mellitus (DM)
in the world reached 347 million people and more than 80% of deaths due to diabetes. Indonesia was
rated fourth in the world with DM and the province of West Sumatra has a prevalence of DM (1.3%).
DM patients have thickening on toenail which can increase the risk of complications such as diabetic
ulcers and amputation risk patients with diabetic ulcers. The aim of this research is to determine the
effect of DM Gymnastics Rated ABI (angkle Brachial Index) in Andalas Community Health Center
Padang 2016. The type of this research is quasi experiment. The research sample is 30 diabetes mellitus
patients with purposive sampling technique in February-August 2016. The data were analyzed by using
statistical tests dependent T-test, independent t-test with a 95% confidence level α = 0.05. The results
showed that average values before treatment gymnastics ABI diabetes with a mean value was 0.7, the
standard deviation was 0.488. The average value of ABI after exercise treatment of diabetes with a
mean value was 1.1, the standard deviation was 0.516. There are differences between the mean before
and after treatment in the intervention group with p value = 0.001. It is expected to be able to provide
counseling and do diabetes mellitus gymnastic routine 2 times a week.
Keywords : Diabetes Mellitus and ABI
1. PENDAHULUAN
ADA (American Diabetes Association) 2014
menjelaskan bahwa jumlah penderita DM di dunia
mencapai 347 juta orang dan lebih dari 80%
kematian akibat DM terjadi pada negara miskin
dan berkembang. Sedangkan dalam Diabetes
Atlas 2000 IDF (International Diabetes
Federation) diperkirakan pada tahun 2020 nanti
DM sejumlah 178 juta penduduk Indonesia
berusia diatas 20 tahun dengan asumsi prevalensi
DM sebesar 4,6%.
Pasien DM di Indonesia diperkirakan
berjumlah 7 juta penduduk pada tahun 2009,
meningkat menjadi 7,6 juta penduduk pada tahun
2011, dan menjadi 8,5 juta penduduk pada tahun
2013. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) 2013, angka prevalensi diabetes
melitus tertinggi terdapat di provinsi Kalimantan
Barat dan Maluku Utara (masing-masing 11,1
persen), diikuti Riau (10,4 persen) dan NAD (8,5
persen) sedangkan provinsi Sumatera Barat
mempunyai prevalensi DM (1,3 persen).
Pasien DM dapat mengalami penurunan
kemampuan tubuh untuk bereaksi terhadap insulin
atau penurunan produksi insulin oleh pankreas
(Smeltzer & Bare, 2002). Menurut American
Diabetes Association (ADA) 2010, DM adalah
suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena
LPPM STIKes Perintis Padang
kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduaduanya. Lebih dari 90 persen dari semua populasi
diabetes adalah diabetes melitus tipe 2 yang
ditandai dengan penurunan sekresi insulin karena
berkurangnya fungsi sel beta pankreas secara
progresif yang disebabkan oleh resistensi insulin.
Diabetes Melitus dapat diklasifikasikan
dalam empat tipe yaitu : DM tipe 1(DMT1)
tergantung insulin (Insulin Dependent Diabetes
Melitus/IDDM),DM tipe 2 (DMT2) tidak
tergantung insulin (Non Insulin Dependent
Diabetes Melitus/NIDDM) dan DM tipe
gestasional, dan DM karena penyebab lain
(Smeltzer & Bare , 2009).
Perkiraan
peningkatan
kasus
DM
diakibatkan oleh faktor gaya hidup, diantaranya
oleh faktor genetik,obesitas, pola makan yang
salah, obat-obatan yang dapat mempengaruhi
kadar glukosa darah, umur, kehamilan. Sebagai
tambahan, stress juga berkontribusi terhadap
terjadinya diabetes melitus (Soegondo, dkk 2009).
Faktor resiko DM tipe 2 dapat dikategorikan
menjadi faktor yang dapat dirubah dan yang tidak
dapat dirubah. Faktor yang tidak dapat dirubah
antara lain : etnisitas, usia, jenis kelamin, genetik,
diabetes gestasional. Faktor-faktor yang dapat
dirubah antara lain yaitu obesitas, kurang
aktivitas, merokok, diet, dan alkohol (Sari, 2012)
68
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Gangguan metabolik yang distimulasi oleh
penimbunan sorbitol dan fruktosa tersebut dapat
secara langsung ataupun tidak langsung merusak
sel saraf. Gangguan neurovaskular yang terjadi
akan mengganggu suplai darah dan oksigen
menuju sel saraf (Subekti, 2009). Kerusakan sel
saraf akibat DM atau neuropati DM dapat
mengenai seluruh saraf tubuh baik serat saraf
sensorik, motorik, dan otonom (Suyono, 2013).
Upaya pengelolaan DM yang lebih baik,
terencana,
dan
berkesinambungan
harus
dilaksanakan berdasarkan empat pilar manajemen
DM yaitu : latihan jasmani, terapi gizi medis ,
edukasi, dan terapi farmakolgi. Penatalaksanaan
pada DM tipe-2, memerlukan terapi agresif untuk
mencapai kendali glikemik dan kendali faktor
risiko kardiovaskular (Suyono, 2013).
Latihan fisik sebagai salah satu pilar
tatalaksana pasien DM sangat bermanfaat dalam
kontrol glukosa darah, terutama pada pasien DM
tipe 2. Latihan fisik dapat meningkatkan
permeabilitas membran sel terhadap glukosa
sehingga resistensi insulin berkurang atau
sensitivitas/respon reseptor pada sel terhadap
insulin meningkat. Manfaat yang didapat dengan
latihan fisik akan optimal apabila memperhatikan
frekuensi, intensitas, dan durasi latihan (Sari,
2012). Salah satu latihan fisik yang dianjurkan
pada pasien DM adalah senam diabetik (Akhtyo,
2009).
Latihan Senam Diabetes yang dilakukan
dengan cara menggerakkan otot dan sendi kaki.
Senam dilakukan untuk memperbaiki sirkulasi
darah, memperkuat otot-otot kecil, mencegah
terjadinya kelainan bentuk kaki, meningkatkan
kekuatan otot betis dan paha, serta mengatasi
keterbatasan gerak sendi. Dengan adanya
pergerakan pada otot-otot yang beraktivitas dapat
meningkatkan insulin. Insulin yang semula tinggi
di pembuluh darah dapat digunakan sel otot
sebagai energi. Kadar glukosa darah yang tinggi
secara perlahan akan menurun karena digunakan
oleh sel otot. Penurunan kadar glukosa darah juga
akan mengurangi timbunan glukosa, sorbitol, dan
fruktosa pada sel saraf. Hal ini akan meningkatkan
sirkulasi dan fungsi sel saraf atau meningkatkan
sensitivitas saraf kaki dan menurunkan
risiko/mencegah terjadinya ulkus kaki diabetik
,untuk mencegah ulkus diabetik maka dilakukan
pengukuran ABI (Subekti, 2009).
Angkle Brachial Index (ABI) adalah invasif
tes non skrining vaskular untuk mengidentifikasi
penyakit arteri perifer dengan membandingkan
sistolik tekanan darah di pergelangan kaki ke yang
lebih tinggi dari brakialis yang tekanan darah
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
sistolik, yang merupakan estimasi terbaik dari
pusat tekanan darah sistolik. Pemeriksaan ABI
sangat berguna untuk mengetahui adanya penyakit
arteri perifer (PAP). Pada pasien yang mengalami
gangguan peredaran darah kaki maka akan
ditemukan tekanan darah tungkai lebih rendah
dibandingkan dengan tekanan darah lengan yang
dapat dilihat dari skor ABI (Ostemy, 2011).
Gangguan aliran darah pada kaki dapat
dideteksi dengan mengukur ankle brachial index
(ABI) yaitu mengukur rasio dari tekanan sistolik
di lengan dengan tekanan sistolik kaki bagian
bawah. ABI dihitung dengan membagi tekanan
sistolik di pergelangan kaki dengan tekanan darah
sistolik di lengan. Pemeriksaan ABI sangat
berguna untuk mengetahui adanya penyakit arteri
perifer (PAP). Penyakit arteri perifer merupakan
manifestasi paling sering adanya aterosklerosis
perifer yang menyebabkan menurunnya sirkulasi
darah pada kaki. Pada pasien yang mengalami
gangguan peredaran darah kaki maka akan
ditemukan tekanan darah tungkai lebih rendah
dibandingkan dengan tekanan darah lengan yang
dapat dilihat dari skor ABI (Ostemy, 2011).
Keadaan yang tidak normal dapat diperoleh
bila nilai ABI 0,4 – 0,9 yang diindikasikan ada
resiko tinggi luka di kaki, dan pasien perlu
perawatan tindak lanjut. ABI < 0.4 diindikasikan
kaki sudah mengalami kaki nekrotik, gangren,
ulkus, borok yang perlu yang perlu penanganan
multi disiplin ilmu (ADA, 2013). Berdasarkan
studi pendahuluan yang dilakukan pasien
mengeluh pada gangguan pada kaki seperti
kesemutan, rasa tebal, rasa panas dan nyeri, Hasil
observasi menunjukkan terdapat 12 mengalami
penebalan atau penandukan pada kuku kaki.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas
maka perumusan masalah dalam penelitian ini
adalah Apakah ada Pengaruh Senam Diabetes
Melitus dengan Nilai ABI (Angkle Brachial
Index) pada Pasien DM di Puskesmas Andalas
Padang
2. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian Quasy eksperimen rancangan
Pretest – Postest design, dengan intervensi
pemberikan latihan fisik senam penderita DM
dengan pengukuran ABI. Penelitian ini dilakukan
di Puskesmas Andalas Padang pada bulan Januari
– September 2016. Populasi penelitian penderita
DM dengan teknik random sampling sebanyak 30
orang dengan 15 kelompok intervensi dan 15
orang kelompok control. Pengumpulan data
69
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
dilakukan dengan observasi. Pengolahan data
melalui analisa data secara univariat dan bivariat
No
Variabel
Definsi Operasional
ISSN: 2548-3153
menggunakan uji T-Test
kepercayaan 95% = 0,05.
Cara Ukur
Variabel Independen
1
Senam
Senam merupakan
Pengukuran
diabetes
kegiatan latihan fisik
cara
yang dilakukan 2 kali
berkelompok
seminggu pada
penderita DM selama
4 minggu
Variabel Dependen
2
Pemeriksa prosedur pemeriksaan Pengukuran
an ABI
ekstremitas bawah
ABI
untuk mendeteksi
kemungkinan adanya
peripheral artery
disease (PAD) dengan
cara membandingkan
tekanan darah sistolik
tertinggi dari kedua
pergelangan kaki dan
lengan
Alat Ukur
dengan
tingkat
Hasil Ukur
Skala
Ukur
Lembar
Observasi
Kelompok
intervensi
Tensi
Meter
Pengukuran
dijabarkan
dalam mg/dd
Nominal
Rasio
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
1) Rata-rata ABI Sebelum dan Sesudah Kelompok Intervensi
Tabel 3.1 Rata-rata Nilai ABI Responden Sebelum dan Sesudah Perlakukan di Puskesmas
Andalas Padang tahun 2016
Mean Standar Min Max
Deviasi
0,7
0,488
0,7
0,8
Intervensi
Sebelum
1,1
0,516
1,1
1,2
Intervensi
Sesudah
Berdasarkan tabel 3.1 dilihat rata-rata nilai ABI sebelum perlakuan senam diabetes melitus dengan
nilai mean 0,7, median 0,8 standar deviasi 0,488. Rata-rata nilai ABI sesudah perlakuan senam diabetes
melitus dengan nilai mean 1,1 median 1,2 standar deviasi 0,516.
2) Data ABI pada Pengukuran I dan II pada Kelompok Kontrol
Tabel 3.2 Rata-rata Nilai ABI Responden pada Pengukuran I dan Pengukuran II pada
Kelompok Kontrol di Puskesmas Andalas Padang Tahun 2016
Pengukuran
Mean
Standar Min Max
Nilai ABI
Deviasi
1,2
0,535
1,1
1,3
Kontrol I
Sebelum
1,1
0,594
1,1
1,3
Kontrol II
Sesudah
Berdasarkan tabel 3.2 dapat dilihat bahwa rata-rata nilai ABI penderita diabetes melitus pada
kontrol I dengan nilai mean 1,2, median 1,2 standar deviasi 0,535. rata-rata nilai ABI penderita diabetes
melitus pada kontrol I & dengan nilai mean 1,2 median 1,2 standar deviasi 0,594.
LPPM STIKes Perintis Padang
70
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
3) Pengaruh Senam Diabetes Melitus dengan Nilai ABI
Tabel 3.3 Perbedaan Rerata Nilai ABI pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol
di Puskesmas Andalas Padang Tahun 2016
Pengukuran
Nilai ABI
Intervensi
Sebelum dan
Sesudah
Kontrol I dan
Kontrol II
Mean
N
SD
T Hitung
p value
0,073
15
0,0704
-4,036
0,000
95% Confidence
Interval of The
Difference
Lower
Upper
0,112
0,034
0,007
15
0,564
0,582
0,019
0,0458
0,032
Tabel 3.3 menunjukan rata-rata perbedaan nilai ABI sebelum dan sesudah diberi perlakuan adalah
0,073 untuk intervensi dan nilai ABI sebelum dan sesudah diberi perlakukan 0,007 untuk kontrol.
Setelah dilakukan uji statistik dependent T-test untuk intervensi didapatkan nilai p value 0,000 (p value
< 0,05), artinya ada pengaruh senam diabetes melitus dengan nilai ABI pada pasien diabetes melitus di
Puskesmas Andalas Padang. Untuk kontrol didapatkan nilai p value 0,582 (p value > 0,05) artinya tidak
ada pengaruh senam diabetes melitus dengan nilai ABI.
4)
Selisih Intervensi dengan Kontrol
Tabel 3.4 Rata-rata Selisih nilai ABI antara Kelompok Intervensi dengan Kelompok Kontrol
di Puskesmas Andalas Padang Tahun 2016
Pengukuran
Nilai ABI
Intervensi dan
Kontrol
Mean
N
SD
T Hitung
p
value
95% Confidence
Interval of The
Difference
Lower
Upper
0,3467
15
0,1652
20,981
0,000
0,3112
0,3821
Tabel 3.4 menunjukan rata-rata perbedaan nilai ABI intervensi dan kontrol diberi perlakuan adalah
0,3467 untuk rata-rata intervensi dan kontrol terendah 0,3112, intervensi dan kontrol tertinggi 0,3821.
Setelah dilakukan uji statistik independent T-test untuk intervensi didapatkan nilai p value 0,000 (p
value < 0,05). Berarti terdapat perbedaan bermakna antara selesih rerata nilai ABI kelompok intervensi
dan kelompok kontrol.
PEMBAHASAN
1) Nilai ABI Sebelum di Berikan Senam
Diabetes Melitus
Rata-rata nilai ABI sebelum perlakuan senam
diabetes melitus dengan nilai mean 0,7, median
0,8 standar deviasi 0,488 dan nilai terendah adalah
0,7 dan nilai tertinggi adalah 0,8. Hal ini dapat
dilihat dari pengisian lembar observasi dimana
sebanyak 5 orang mengalami ABI 0,7 dan 10
orang mengalami nilai ABI 0,8.
Hasil penelitian ini hampir sama dengan
penelitian Trisumarni (2011) tentang Pengaruh
sistem melitus dengan nilai ABI pada pasien di
LPPM STIKes Perintis Padang
Puskesmas Padamara Purbalingga ditemukan
hasil nilai ABI 7 sebelum di lakukan perlakuan.
ABI dengan nilai lebih dari 0,9 dinilai sebagai
nilai normal atau terbebas dari keadaan PAD
(Periperal Arteri Deases) karena darah masih
bersirkulasi dengan baik tanpa adanya obstruksi
yang bermakna pada pembuluh perifer, sehingga
kebutuhan nutrisi dan oksigen pada ekstremitas
bawah dapat terpenuhi dengan baik (Smeltzer &
Bare, 2009). Penderita DM yang tergolong usia
pertengahan / middle age (45 – 49 tahun),
keadaan pembuluh darah relatif masih baik,
namun perlu pemantauan untuk mengantisipasi
terjadinya PAD (Mansjoer, 2005). ABI dalam
rentang 0,6 sampai 0,8 merupakan borderline
perfusion atau batasan perfusi. Gejala primer PAD
71
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
berupa nyeri pada pantat/betis ketika berjalan
(kaludikasio intermiten) mulai terasa (Smeltzer,
2008). Pada penelitian ini ditemukan kejadian
diabetes melitus banyak terjadi pada usia > 45
tahun. Berdasarkan penelitian, usia yang
terbanyak terkena Diabetes Melitus adalah > 45
tahun.
Data penelitian menunjukkan bahwa nilai ABI
0,7 ada 5 orang dan nilai ABI 0,8 ada 10 orang.
Analisa peneliti nilai sedang pada ABI
dikarenakan penderita diabetes melitus tidak
pernah melakukan aktifitas fisik seperti senam
diabetes melitus. Selain itu jenis kelamin juga
mempengaruhi nilai ABI memiliki jenis kelamin
perempuan sebanyak 20 orang (66,7%). Penyakit
diabetes melitus sebagian besar dapat dijumpai
pada perempuan dibandingkan laki-laki. Hal ini
disebabkan karena pada perempuan memiliki
LDL atau koleterol jahat tingkat trigliresida yang
lebih tinggi dibandingkan laki-laki (Widyanthari,
2016). Melakukan senam diabetes melitus dapat
memperlancar
peredaran
darah
sehingga
kebutuhan nutrisi dan oksigen pada ekstremitas
bawah dapat terpenuhi dengan baik.
2) Nilai ABI Sesudah di Berikan Senam
Diabetes Melitus
Berdasarkan tabel 4.2 dapat dilihat bahwa
rata-rata nilai ABI sesudah perlakuan senam
diabetes melitus dengan nilai mean 1,1, median
1,2 standar deviasi 0,516 dan nilai terendah adalah
1,1 dan nilai tertinggi adalah 1,2. Hasil penelitian
ini hampir sama dengan penelitian Trisumarni
(2011) ditemukan hasil nilai ABI yaitu 1,2
sesudah di lakukan perlakuan.
ABI dengan nilai lebih dari 0,9 dinilai sebagai
nilai normal atau terbebas dari keadaan Periperal
Artery Desease (PAD) karena darah masih
bersirkulasi dengan baik tanpa adanya obstruksi
yang bermakna pada pembuluh perifer (Smeltzer,
2009). Proses penuaan yang mengakibatkan
perubahan dinding pembuluh darah sehingga
mempengaruhi transportasi oksigen dan nutrisi ke
jaringan. Lapisan inti menebal sebagai akibat
proliferasi seluler dan fibrosis. Serabut di lapisan
media mengalami kalsifikasi, tipis dan terpotong,
serta kolagen yang menumpuk di lapisan inti dan
media. Perubahan tersebut menyebabkan kekakuan
pembuluh darah, yang mengakibatkan peningkatan
tekanan pembuluh perifer, ganguan aliran darah,
dan peningkatan kerja ventrikel kiri (Smeltzer &
Bare, 2009). Prevalensi PAD pada penderita DM
tipe 2 dilaporkan terjadi sebesar 20,5 % pada usia
40-59 tahun, 48,3 % pada usia 60-69 tahun, dan
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
31,2% pada usia 70-79 tahun (Jaff, 2004 dalam
Chaniago, 2007).
Berdasarkan analisa peneliti perubahan
intervensi sebelum dan sesudah ini dapat dilihat
dari hasil dimana selisih 0,5 sebanyak 2 orang, 0,4
sebanyak 9 orang, 0,3 sebanyak 4 orang. Artinya
selesih yang paling banyak intervensi sebelum dan
sesudah ini 0,4. Pada penelitian ini nilai normal
pada ABI dikarenakan penderita sudah melakukan
senam diabetes melitus selama 30 menit, senam 2
kali seminggu dalam 4 minggu.
Senam akan mempengaruhi tubuh dalam
bereaksi terhadap insulin, senam yang teratur
menjadikan tubuh bereaksi lebih sensitif peka
terhadap insulin, dan akan membuat kadar gula
darah menjadi terlalu rendah atau yang biasa
disebut dengan hipoglikemia setelah melakukan
senam. Tujuan senam adalah untuk meningkatkan
kepekaan insulin, mencegah kegemukan,
memperbaiki
aliran
darah,
merangsang
pembentukan glikogen baru dan mencegah
komplikasi lebih lanjut.
3) Pengaruh senam diabetes melitus dengan
nilai ABI (Ankle Brachial Indeks)
Hasil penelitian ini hampir sama dengan
penelitian Trisumarni (2011) tentang Pengaruh
senam diabetes melitus dengan nilai ABI pada
pasien di Puskesmas Padamara Purbalingga
ditemukan hasil ada pengaruh senam diabetes
melitus dengan nilai ABI. Hasil penelitian Hendro
(2011) tentang pengaruh senam diabetes melitus
terhadap kadar glukosa darah pada penderita DM
tipe 2 di Desa Darussalam Medan ditemukan hasil
adanya efektifitas senam DM dapat menurunkan
kadar gula darah pada penderita DM tipe 2.
Angkle Brachial Indeks (ABI) adalah invasif
tes non skrining vaskular untuk mengidentifikasi
penyakit arteri periver dengan membandingkan
sistolik tekanan darah di pergelangan kaki ke yang
lebih tinggi dari brakialis yang tekanan darah
sistolik, merupakan estimasi terbaik dari pusat
tekanan darah sistolik. Penyakit arteri periver
merupakan manisfestasi paling sering adanya
arterosklerosis periver yang menyebabkan
menurunnya sirkulasi darah pada kaki. Pada
pasien yang mengalami gangguan peredaran darah
pada kaki maka akan ditemukan tekanan darah
tungkai lebih rendah dibandingkan dengan
tekanan darah lengan yang dapat dilihat dari skor
ABI (Sari, 2012).
Hal ini didukung oleh Sukatemin (2013).
Bahwa ada hubungan status vaskuler terhadap
kejadian diabetik. Secara umum mayoritas
72
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
responden mengalami obstruksi vaskuler yaitu
sebanyak 34 orang atau 53,1% (dari ringan sampai
berat). Gambaran klinis gangguan vaskularisasi
bervariasi, mulai dari tidak bergejala sampai
menimbulkan
gejala (umumnya pada awal
penyakit) hingga nyeri dan rasa tidak nyaman.
Dua gejala yang paling umum yang terkait dengan
gangguan vaskularisasi adalah klaudikasio
interiten dan nyeri atau sakit pada ekstremitas
bawah. Klaudikasio interiten ditandai dengan
adanya kelemahan, rasa tidak nyaman, nyeri,
kram, dan rasa ketat atau baal pada ekstremitas
yang terkena neuropati dan ada hubungan dengan
kejadian ulkus.
Kualitas yang menunjukan berat ringannya
latihan. Intensitas latihan untuk daya tahan paru
jantung sebesar 60 – 70% detak jantung maksimal.
Kualitas yang digunakan selama perlakuan yaitu
responden harus mencapai THRnya dengan
menggunakan rumus 60% x (220 – umur).
Misalnya responden berusia 45 tahun maka denyut
jantungnya harus bisa mencapai 105 kali per
menit. Oleh karena itu peneliti mewajibkan
responden untuk bisa mencapai THRnya yang
diukur 10 – 20 detik setelah latihan dengan
melakukan palpasi pada arteri misalnya arteri
radialis atau arteri carotis communis. Waktu atau
durasi yang diperlukan setiap kali latihan
sedangkan untuk meningkatkan kebugaran fisik
diperlukan waktu berlatih 20 – 60 menit yang
didahului 3 – 5 menit pemanasan dan diakhiri
dengan 3- 5 menit pendinginan. Adapun waktu
yang diperlukan selama latihan yaitu 30 menit
dengan waktu untuk pemanasan 5 menit dan
pendinginan 5 menit sehingga latihan intinya 20
menit sampai responden mencapai Target Heart
Rate (THR). Apabila THR belum terpenuhi, maka
durasi latihan ditambah sampai maksimal 60
menit dimana latihan ini dilakukan pada pagi hari.
Analisa peneliti adanya pengaruh senam
diabetes melitus dengan nilai ABI pada penelitian
ini dikarenakan pasien rutin melakukan senam
diabetes melitus selama 4 minggu yang dilakukan
2 kali sehari selama 30 menit. Hal ini dapat dilihat
senam
DM
memiliki
pengaruh
untuk
meningkatkan kesehatan dan kebugaran tubuh
khususnya meningkatkan fungsi dan metabolisme
tubuh. Selain itu senam DM juga memberikan rasa
senang pada responden dan juga dapat memotivasi
responden yang lain untuk melakukan olah raga
secara teratur.
4. KESIMPULAN
Rata-rata nilai ABI sebelum perlakuan
senam diabetes melitus dengan nilai mean 0,7
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
standar deviasi 0,488. Rata-rata nilai ABI sesudah
perlakuan senam diabetes melitus dengan nilai
mean 1,1, standar deviasi 0,516. Rata-rata nilai
ABI sebelum pada kelompok kontrol senam
diabetes melitus dengan nilai mean 1.1 standar
deviasi 0,535. Rata-rata nilai ABI sesudah pada
kelompok kontrol senam diabetes melitus dengan
nilai mean 1,1 standar deviasi 0,594. Terdapat
perbedaan rerata antara sebelum dan setelah
perlakukan pada kelompok intervensi dengan nilai
p value = 0,001. Terdapat perbedaan selisih ratarata nilai ABI kelompok intervensi dan kelompok
kontrol dengan p value = 0,000 di Puskesmas
Andalas Padang.
5. REFERENSI
ADA (American Diabetes Assosiation)., 2010.
Clinical Practice Recommendations Report
of the Expert Commite on the Diagnosis and
Classifications of
Diabetes Mellitus
Diabetes Care, USA: p.S4-S24.
American Diabetes Association, (2014). Executive
summary: Standars of medical care in
diabetes-2014.
http://www.care.diabetes
journal.
Aktyo 2009 . Senam kaki diabetes militus .
http://www
akhtyo.blogspot.com//senamkaki-diabetes-melitus. Di akses pada 17
Desember
Chaniago, Arman Y.S. 2007. Overall and central
obesity and risk of type-2 diabetes in U.S.
black women
Made Widyanthari, Ratna Sitorus, Yulia.
Pemeriksaan ankle brachial index (ABI).
(2016) post exercise Pada pasien diabetes
melitus dengan Peripheral arterial disease.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Indonesia
Mansjoer,A., dkk, 2005. Kapita Selekta
Kedokteran .Edisi ketiga Jilid 1 Cetakan
Keenam., Jakarta : Media Aesculapius
Fakultas
PERKENI. 2011. Konsensus pengelolaan dan
pencegahan diabetes mellitus tipe 2 di
Indonesia. Jakarta: FKUI RSCM.
Price and Wilson. 2005. Konsep Klinis ProsesProses Penyakit Edisi 6. Vol.2. Jakarta : EGC
Riset Kesehatan Dasar. (2013). Badan penelitian
dan pengembangan kesehatan Kementrian
Kesehatan RI.
Soegondo, Sidartawan.,Soewondo, Pradana.,
&Subekti, Imam. (2009). Penatalaksanaan
Diabetes MelitusTerpadu.Edisi 4. Jakarta:
FakultasKedokteranUniversitas Indonesia.
73
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Smeltzer, Suzanne C.,& Bare, Brenda G. (2009).
Texbook of Medical Surgical Nursing.
(10 .ed.). Vol.2. Philadeiphia: Lippincott
William & Wilkins.
Sari, R. N, (2012). Diabetes Melitus (Dilengkapi
Dengan Senam DM). Yogyakarta: Medika
Book.
Sidartawan S. Diagnosa dan Klasifikasi Diabetes
Melitus Terkini dalam Penatalaksanaan
Diabetes Melitus Terpadu : .2007:17.
Smeltzer, S.C & Bare, B.G, 2002, Buku Ajar
Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2, Alih
Bahasa Kuncara, H.Y, dkk Jakarta. EGC
Subekti, Imam. 2009. Penatalaksanaan Diabetes
Mellitus Terpadu. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Sukatemin. 2010. Tingkat Kepuasan Pasien
Immobilisasi tentang Pelaksanaan Personal
Hygiene oleh Perawat di RSU Kota
Yogyakarta. Skripsi: Yogyakarta: Fakultas
Kedokteran UGM.
Suyono S. 2013. Patofisiologi Diabetes Melitus.
Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu.
Jakarta : Balai Penerbit FKUI
Trisumarni, dkk (2011), pengaruh terapi senam
kaki terhadap penurunan glukosa darah pada
lansia dengan DM. STIKes Harapan Bangsa
Wound Ostomy Continence Nurs. 2012; Ankle
Brachial Index Quick Reference Guide for
Clinicians. Published by Lippincott Williams
& Wilkins
LPPM STIKes Perintis Padang
74
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
KUALITAS PELAYANAN RAWAT JALAN DENGAN KEPUASAN PASIEN DI
RUMAH SAKIT STROKE NASIONAL BUKITTINGGI
Endra Amalia1), Mera Delima2), Kalpana Kartika3)
Prodi D III Keperawatan STIKes Perintis Sumbar
[email protected]
Prodi Profesi NERS STIKes Perintis Sumbar
[email protected]
Prodi D III Keperawatan STIKes Perintis Sumbar
[email protected]
Abstract
Health services outpatients is one of the service which concern the main hospital .. According to the
preliminary survey 25 patients in poly interne and neorologi rssn Bukittinggi got that waiting times in
every registration more than an hour , the wait patients and the restroom ( the toilet patients ) inadequate
, waiting times medical services more than two hours , this condition was quite risk down quality of
services outpatient in hospital.A design used in this research was deskritif correlation conducted in
cross sectional .Samples to be taken as many as 97 people. The results of the study bivariat or physical
qualities with satisfaction patients value p 0.05, while the quality of reliable, response, insurance, and
attention with satisfaction patients value p 0.05. No conclusion there was a correlation physical
qualities with satisfaction patients go the way in the hospital a stroke national Bukittinggi, there was a
correlation the quality of reliable, response, insurance, and attention with satisfaction patients go the
way in the hospital a stroke national Bukittinggi.Advice should hospital maintaining quality of
registration in the hospitality officers , skills , the speed of service , and clarity information the public.
Keywords : The quality of services , outpatient , satisfaction patients
dikembangkan Likert (dikenal dengan istilah skala
Likert), kepuasan pasien dapat dilihat dari
1. PENDAHULUAN
sarana
prasarana,
proses
Rumah sakit
adalah suatu
institusi ketersediaan
keramahan
perawat,
yang
penyelenggara pelayanan kesehatan yang administrasi,
merupakan bagian integral dari sistem pelayanan seluruhnya menggambarkan tingkat kualitas yang
kesehatan yang memberikan pelayanan kuratif paling tinggi.
maupun preventif serta menyelenggarakan
Dalam memberikan pelayanan umumnya
pelayanan rawat jalan dan rawat inap juga
perawatan di rumah, hal ini tertuang dalam masyarakat mempunyai kesan pertama dalam
Undang-Undang nomor 44 tahun 2009 tentang menilai rumah sakit adalah penampilan dari
rumah sakit, yaitu pelayanan kesehatan paripurna pelayanan rawat jalan dan juga bagaimana kesan
adalah pelayanan kesehatan yang meliputi lamanya waktu yang di berikan oleh rumah sakit.
Pada umumnya rumah sakit memberikan
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
pelayanan kepada pasien yang datang sesuai
Pelayanan kesehatan pasien rawat jalan kini dengan kemauannya dan bila distribusi waktu
merupakan salah satu pelayanan yang menjadi pelayanan tidak di ketahui maka akan
perhatian utama rumah sakit. Hampir seluruh menyebabkan waktu tunggu pelayanan lama,
rumah sakit di negara maju meningkatkan mutu sehingga pelayanan di instansi rawat jalan dapat
dan kualitas pelayanan terhadap pasien rawat menyebabkan pasien tidak puas dan akan
jalan.
Penilaian terhadap mutu rumah sakit berakibat kunjungan pasien rawat jalan menurun
bersumber dari pengalaman pasien. Pengalaman ini berarti tidak dapat memenuhi kebutuhan
dapat diartikan sebagai suatu perlakuan atau masyarakat.
tindakan rumah sakit yang sedang atau pernah
Berdasarkan survey awal dari 25 orang
dijalani, dirasakan, dan ditanggung oleh seseorang
pasien
di RSSN Bukittinggi ditemukan keluhan
yang membutuhkan pelayanan kesehatan rumah
antara
lain
8 pasien mengatakan waktu tunggu
sakit. Kegiatan dan prasarana pelayanan kesehatan
yang mencerminkan kualitas rumah sakit juga diloket pendaftaran lebih dari satu jam, 12 pasien
menjadi determinan utama dari kepuasan pasien. mengatakan kursi tunggu pasien dan kamar kecil
Berpedoman pada skala pengukuran yang (Toilet pasien) kurang memadai, 5 pasien
LPPM STIKes Perintis Padang
75
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
mengatakan dibeberapa poli rawat jalan (Poli
Interne dan Poli Neorologi) RSSN Bukittinggi
waktu tunggu pelayanan medis lebih dari dua jam.
Walaupun angka keluhan masih sangat kecil
namun hal ini harus segera ditangani secepat
mungkin, karena dapat menurunkan kualitas
pelayanan rawat jalan di rumah sakit. Adapun
tujuan penelitian ini adalahuntuk mengetahui
hubungan kualitas pelayanan rawat jalan dengan
kepuasan pasien berobat di RSSN Bukittinggi.
ISSN: 2548-3153
2. METODE PENELITIAN
Desain yang digunakan dalam penelitian ini
adalah deskritif korelasi yang dilakukan secara
cross sectional. Sampel yang diambil sebanyak 97
orang. Teknik pengambilan sampel yang
digunakan peneliti adalah Consecutive sampling.
Data
yang telah
dikumpulkan
dengan
menggunakan instrumen penelitian selanjutnya
diolah melalui tahap-tahap: editing, coding,
scoring, tabulating, processing, dan cleaning.
Sedangkan analisis data yang digunakan adalah
Univariat dan Bivariat.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL PENELITIAN
No
1.
2.
No
1.
2.
No
1.
2.
No
1.
2.
No
1.
2.
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Kualitas Fisik, Handal, Tanggap, Jaminan, & Perhatian
di Rumah sakit Stroke Nasional Bukittinggi Tahun 2016.
Kualitas Fisik
Frekuensi
%
Baik
38
39.2
Kurang
59
60.8
Jumlah
97
100.0
Kualitas Handal
Frekuensi
%
Kurang
35
36.1
Baik
62
63.9
Jumlah
97
100.0
Kualitas Tanggap
Frekuensi
%
Kurang
35
36.1
Baik
62
63.9
Jumlah
97
100.0
Kualitas Jaminan
Frekuensi
%
Kurang
36
37.1
Baik
61
62.9
Jumlah
97
100.0
Kualitas Perhatian
Frekuensi
%
Kurang
35
36.1
Baik
62
63.9
Jumlah
97
100.0
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa untuk kualitas fisik 60.8 % kurang baik, kualitas handal,
kualitas tanggap, kualitas perhatian sama 63,9 % baik, dan kualitas jaminan 62,9 % baik
No
1.
2.
No
1.
2.
Tabel 2
Distribusi Frekuensi Kepuasan Fisik, Handal, Tanggap, Jaminan, & Perhatian
di Rumah sakit Stroke Nasional Bukittinggi Tahun 2016.
Kepuasan Fisik
Frekuensi
%
Kurang
53
54.6
Baik
44
45.4
Jumlah
97
100.0
Kepuasan Handal
Frekuensi
%
Kurang
47
48.5
Baik
50
51.5
LPPM STIKes Perintis Padang
76
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
No
1.
2.
No
1.
2.
No
1.
2.
Jumlah
Kepuasan Tanggap
Kurang
Baik
Jumlah
Kepuasan Jaminan
Kurang
Baik
Jumlah
Kepuasan perhatian
Kurang
Baik
Jumlah
97
Frekuensi
46
51
97
Frekuensi
49
48
97
Frekuensi
45
52
97
ISSN: 2548-3153
100.0
%
47.4
52.6
100.0
%
50.5
49.5
100.0
%
46.4
53.6
100.0
Berdasarkan table diatas dapat dilihat untuk kepuasan fisik 54 6 % kurang baik, kepuasan handal 51,5
% baik, kepuasan tanggap 52,6 % baik, kepuasan jamainan 50,5 kurang baik, dan kepuasan perhatian
53, 6 % baik.
Tabel 3
Hubungan Kualitas Pelayanan Fisik Dengan Kepuasan Pasien Di Rawat Jalan Rumah Sakit
Stroke Nasional Bukittinggi Tahun 2016
Kualitas
Kepuasan Pasien
P
OR
Pelayanan
value
Fisik
Kurang %
Baik %
Total %
n
N
n
Kurang
25
65,8 13
34,2 38
100 0.077 2,129
Baik
28
47,5 31
52,5 59
100
Jumlah
53
54,6 44
45,4 97
100
Berdasarkan Tabel diatas dapat dilihat bahwa dari kualitas pelayanan fisik yang kurang baik mempunyai
kepuasan pasien kurang baik 65,8 % dan kepuasan pasien yang baik 34,2 %, sedangkan kualitas
pelayanan fisik yang baik mempunyai kepuasan pasien kurang baik 47,5 % dan kepuasan pasien baik
52,5 %. Berdasarkan uji statistik didapatkan P vulue 0.077 bila dibandingkan dengan nilai α = 0,05
maka P vulue > dari α ( 0,077 > 0,05 ) sehingga Ha ditolak maka tidak ada hubungan kualitas fisik
dengan kepuasan pasien berobat jalan di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi. Hasil OR didapatkan
2,129 artinya kualitas fisik yang kurang baik mempunyai peluang 2 kali untuk tidak mendapatkan
kepuasan pasien dibandingkan dengan kualitas fisik yang baik.
Tabel 4
Hubungan Kualitas Pelayanan Handal Dengan Kepuasan Pasien Di Rawat Jalan Rumah Sakit
Stroke Nasional Bukittinggi Tahun 2016
Kualitas
Kepuasan Pasien
P
OR
Pelayanan
value
Handal
Kurang %
Baik %
Total %
n
N
n
Kurang
24
68,6 11
31,4 35
100 0.003 3.700
Baik
23
37,1 39
62,9 62
100
Jumlah
47
48,5 50
51,5 97
100
Berdasarkan Tabel diatas dapat dilihat bahwa dari kualitas pelayanan handal yang kurang baik
mempunyai kepuasan pasien kurang baik 68,6 % dan kepuasan pasien yang baik 31,4 %, sedangkan
kualitas pelayanan handal yang baik mempunyai kepuasan pasien kurang baik 37,1 % dan kepuasan
pasien baik 62,9 %. Berdasarkan uji statistik didapatkan P vulue 0.003 bila dibandingkan dengan nilai
α = 0,05 maka P vulue < dari α ( 0,003 < 0,05 ) sehingga Ha diterima maka ada hubungan kualitas handal
LPPM STIKes Perintis Padang
77
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
dengan kepuasan pasien berobat jalan di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi. Hasil OR didapatkan
3,700 artinya kualitas handal yang baik mempunyai peluang 3,7 kali untuk mendapatkan kepuasan
pasien dibandingkan dengan kualitas handal yang kurang baik.
Tabel 5
Hubungan Kualitas Pelayanan Tanggap Dengan Kepuasan Pasien Di Rawat Jalan Rumah Sakit
Stroke Nasional Bukittinggi Tahun 2016
Kualitas
Kepuasan Pasien
P value
OR
Pelayanan
Kurang %
Baik %
Total %
Tanggap
n
N
n
Kurang
27
77,1
8
22,9
35
100
0.000
7.638
Baik
19
30,6
43
69,4
62
100
Jumlah
46
47,4
51
52,6
97
100
Berdasarkan Tabel diatas dapat dilihat bahwa dari kualitas pelayanan tanggap yang kurang baik
mempunyai kepuasan pasien kurang baik 77,1 % dan kepuasan pasien yang baik 22,9 %, sedangkan
kualitas pelayanan tanggap yang baik mempunyai kepuasan pasien kurang baik 30,6 % dan kepuasan
pasien baik 69,4 %. Berdasarkan uji statistik didapatkan P vulue 0.000 bila dibandingkan dengan nilai
α = 0,05 maka P vulue < dari α ( 0,000 < 0,05 ) sehingga Ha diterima maka ada hubungan kualitas
tanggap dengan kepuasan pasien berobat jalan di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi. Hasil OR
didapatkan 7,638 artinya kualitas tanggap yang baik mempunyai peluang 7,6 kali untuk mendapatkan
kepuasan pasien dibandingkan dengan kualitas tanggap yang kurang baik.
Tabel 6
Hubungan Kualitas Pelayanan Jaminan Dengan Kepuasan Pasien Di Rawat Jalan Rumah Sakit
Stroke Nasional Bukittinggi Tahun 2016
Kualitas
Kepuasan Pasien
P value OR
Pelayanan
Kurang %
Baik %
Total
%
Jaminan
N
N
n
Kurang
31
86,1
5
13,9
36
100
0.000
14.811
Baik
18
29,5
43
70,5
61
100
Jumlah
49
50,5
48
49,5
97
100
Berdasarkan Tabel diatas. dapat dilihat bahwa dari kualitas pelayanan jaminan yang kurang baik
mempunyai kepuasan pasien kurang baik 86,1 % dan kepuasan pasien yang baik 13,9 %, sedangkan
kualitas pelayanan jaminan yang baik mempunyai kepuasan pasien kurang baik 29,5 % dan kepuasan
pasien baik 70,5 %. Berdasarkan uji statistik didapatkan P vulue 0.000 bila dibandingkan dengan nilai
α = 0,05 maka P vulue < dari α ( 0,000 < 0,05 ) sehingga Ha diterima maka ada hubungan kualitas
tanggap dengan kepuasan pasien berobat jalan di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi. Hasil OR
didapatkan 14,811 artinya kualitas jaminan yang baik mempunyai peluang 14,8 kali untuk mendapatkan
kepuasan pasien dibandingkan dengan kualitas jaminan yang kurang baik.
Tabel 7
Hubungan Kualitas Pelayanan Perhatian Dengan Kepuasan Pasien Di Rawat Jalan Rumah
Sakit Stroke Nasional Bukittinggi Tahun 2016
Kualitas
Kepuasan Pasien
P value OR
Pelayanan Kurang
%
Baik
%
Total
%
Perhatian
N
n
n
Kurang
29
82,9
6
17,1
35
100
0.000
13.896
Baik
16
25,8
46
74,2
62
100
Jumlah
45
46,4
52
53,6
97
100
LPPM STIKes Perintis Padang
78
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Berdasarkan Tabel diatas dapat dilihat bahwa dari kualitas pelayanan perhatian yang kurang baik
mempunyai kepuasan pasien kurang baik 82,9 % dan kepuasan pasien yang baik 17,1 %, sedangkan
kualitas pelayanan perhatian yang baik mempunyai kepuasan pasien kurang baik 25,8 % dan kepuasan
pasien baik 74,2 %. Berdasarkan uji statistik didapatkan P vulue 0.000 bila dibandingkan dengan nilai
α = 0,05 maka P vulue < dari α ( 0,000 < 0,05 ) sehingga Ha diterima maka ada hubungan kualitas
perhatian dengan kepuasan pasien berobat jalan di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi. Hasil OR
didapatkan 13,896 artinya kualitas perhatian yang baik mempunyai peluang 13,8 kali untuk
mendapatkan kepuasan pasien dibandingkan dengan kualitas perhatian yang kurang baik.
PEMBAHASAN
Berdasarkan
uji
statistikHubungan
Kualitas Pelayanan Fisik Dengan Kepuasan
Pasien Di Rawat Jalan Rumah Sakit Stroke
Nasional Bukittinggi Tahun 2016 didapatkan P
vulue 0.077 bila dibandingkan dengan nilai α =
0,05 maka P vulue > dari α ( 0,077 > 0,05 )
sehingga Ha ditolak maka tidak ada hubungan
kualitas fisik dengan kepuasan pasien berobat
jalan di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi.
Hasil OR didapatkan 2,129 artinya kualitas fisik
yang kurang baik mempunyai peluang 2 kali untuk
tidak mendapatkan kepuasan pasien dibandingkan
dengan kualitas fisik yang baik.
Rumah Sakit sebagai perusahaan jasa,
kualitas pelayanan merupakan hal yang sangat
penting dalam menciptakan kepuasan konsumen
atau pelanggan, sehingga dapat menciptakan
kesetiaan atau loyalitas kepada perusahaan karena
memberikan kualitas yang memuaskan ( Tjiptono,
2000: 54 ). Dahulu Rumah sakit dianggap hanya
sebagai suatu tempat penderita ditangani. Saat ini
rumah sakit dianggap sebagai suatu lembaga yang
giat memperluas layanannya kepada penderita
dimanapun lokasinya, Seiring meningkatnya
kerumitan pelayanan kesehatan, diagnosis,
pencegahan dan terapi maka diperlukan tenaga
terlatih, fasilitas dan alat yang mencukupi untuk
dapat memberikan pelayanan yang berkualitas,
diminta patut diperoleh masyarakat dengan alasan
pelayanan kesehatan ditetapkan menjadi hak bagi
semua.
Berdasarkan uji statistik Hubungan
kualitas handal dengan kepuasan pasien
didapatkan P vulue 0.003 bila dibandingkan
dengan nilai α = 0,05 maka P vulue < dari α (
0,003 < 0,05 ) sehingga Ha diterima maka ada
hubungan kualitas handal dengan kepuasan pasien
berobat jalan di Rumah Sakit Stroke Nasional
Bukittinggi. Hasil OR didapatkan 3,700 artinya
kualitas handal yang baik mempunyai peluang 3,7
kali untuk mendapatkan kepuasan pasien
dibandingkan dengan kualitas handal yang kurang
baik.
Pelayanan yang bermutu atau kualitas
yang handal merupakan hal yang penting karena
LPPM STIKes Perintis Padang
persepsi tentang kualitas pelayanan suatu rumah
sakit terbentuk saat kunjungan pasien. Persepsi
tentang kualitas handal yang buruk akan sangat
mempengaruhi keputusan dalam kunjungan
berikutnya dan pasien biasanya mencari rumah
sakit lain ( Jackovitz, 2000 ). Secara tidak
langsung pasien akan mempunyai persepsi tentang
mutu pelayanan yang buruk akan menceritakan
pengalamannya kepada delapan sampai sepuluh
orang bahkan satu dari lima pasien yang tidak puas
akan menceritakan masalahnya kepada dua puluh
temannya ( Krowinski dan Steiber, 1997 ).
Sebaliknya ketika pasien mendapatkan kualitas
handal yang baik maka pasien tersebut akan
menceritakan pengalaman yang baik kepada
pasien lainnya.
Berdasarkan uji statistik Kualitas tanggap,
jaminan, dan perhatian didapatkan P vulue sama
yaitu P vulue 0.000 bila dibandingkan dengan nilai
α = 0,05 maka P vulue < dari α ( 0,000 < 0,05 )
sehingga Ha diterima maka ada hubungan kualitas
tanggap, jaminan, dan perhatian dengan kepuasan
pasien berobat jalan di Rumah Sakit Stroke
Nasional Bukittinggi.
Tjiptono (2000:54) menyebutkan bahwa
kualitas pelayanan memiliki hubungan yang erat
dengan kepuasan pasien. Kualitas memberikan
suatu dorongan kepada pasien untuk menjalin
ikatan hubungan yang kuat dengan kepuasan.
Dalam jangka panjang, ikatan seperti ini
memungkinkan untuk memahami dengan seksama
harapan pasien serta kebutuhan mereka. Rumah
sakit dapat meningkatkan kepuasan dengan cara
memaksimumkan pengalaman pasien yang
menyenangkan dan meminimumkan atau
meniadakan pengalaman pasien yang kurang
menyenangkan. Pada gilirannya kepuasan pasien
dapat menciptakan kesetiaan atau loyalitas kepada
rumah sakit yang memberikan kualitas pelayanan
yang memuaskan.
Kaitan antara kepuasan pasien dengan
persepsi pasien tentang prosedur rawat jalan
adalah semakin baik kualitas pelayanan yang
diberikan maka tingkat kepuasan pasien juga akan
meningkat.
Pasien
yang
puas
sangat
79
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
dimungkinkan
untuk
mempengaruhi
lingkungannya mengkonsumsi produk yang telah
memuaskannya. Keadaan ini akan sangat
membantu perusahaan dalam mempromosikan
produknya yang juga dapat dijadikan sebagai
salah satu langkah atau strategi marketing yang
dikenal dengan "Word of Mouth" atau biasa kita
kenal omongan dari mulut ke mulut.
Kondisi yang terjadi di Rumah Sakit
Stroke Nasional Bukittinggi adalah kurangnya
sinergisitas antar unit pemberi pelayanan, dimulai
dari proses administrasi, pembayaran, hingga
proses pemberi pelayanan jasa kesehatan. Hal ini
didapat melalui : a) Komplain pasien yang
diketahui saat dilakukannya proses pendaftaran
awal, yaitu “seharusnya, pendaftaran antara pasien
baru dengan pasien lama dipisah di MR, jadi
waktu tunggu kita berkurang. Tidak antri selama
ini ”. b) Selain itu, lokasi yang tidak dekat antara
kasir dengan administrasi membuat pasien
kehilangan waktu. Seperti saat pasien ingin
menebus obat, pasien setelah diberikan resep
harus ke farmasi untuk menyerahkan resep
kemudian kembali ke kasir untuk melakukan
pembayaran dan kembali ke farmasi untuk
menyerahkan kwitansi pembayaran kemudian
menunggu panggilan. c) Demikian pula hal nya
dengan pasien yang hendak melakukan
pemeriksaan
laboratorium,
pasien
harus
menyerahkan surat pengantar pemeriksaan ke
laboratorium, menunggu daftar biaya dari
laboratorium, kembali ke kasir untuk melakukan
pembayaran kemudian melakukan pemeriksaan
laboratorium dan menunggu hasil laboratorium. d)
Keterbatasan petugas administrasi dan petugas
kasir, membuat terjadinya antrian panjang. Hal ini
akan berpengaruh terhadap respon dari petugas,
karena banyaknya beban pekerjaan akan membuat
petugas tidak dapat bekerja secara optimal seperti
memberikan senyum (berlaku ramah tamah)
terhadap pasien. Kecepatan respon dari petugas
pun dinilai pasien sangat kurang. e) Toilet umum
untuk pasien di rawat jalan hanya ada satu,
sehingga ketika ada pasien yang mau ke toilet juga
harus antri yang cukup lama.
4. KESIMPULAN
Kesimpulan dari hasil penelitian ini sebagai
berikut:
a. Lebih dari separo untuk kualitas fisik 60.8 %
kurang baik, kualitas handal, kualitas tanggap,
kualitas perhatian sama 63,9 % baik, dan
kualitas jaminan 62,9 % baik tahun 2016
b. Lebih dari separo kepuasan fisik 54 6 %
kurang baik, kepuasan handal 51,5 % baik,
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
kepuasan tanggap 52,6 % baik, kepuasan
jamainan 50,5 kurang baik, dan kepuasan
perhatian 53, 6 % baik tahun 2016
c. Tidak ada hubungan kualitas fisik dengan
kepuasan pasien berobat jalan di Rumah Sakit
Stroke Nasional Bukittinggi tahun 2016
d. Ada hubungan kualitas handal, tanggap,
jaminan, dan perhatian dengan kepuasan
pasien berobat jalan di Rumah Sakit Stroke
Nasional Bukittinggi tahun 2016
5. REFERENSI
Bambang, Shofari, 2004, Pengantar Sistem
Rekam Medis, Semarang.
Departemen Kesehatan RI, 2009, Sistem
Kesehatan Nasional, Jakarta.
Fandi Tjiptono, 1996, Manajemen Jasa, Andi,
Yogyakarta.
Jacobalis S. 1989. Menjaga Pelayanan Mutu di RS
(Quality Assurance). Jakarta : Persi
Katz dan Jacqueline, M., 1997, Managing Quality
Missouri: Mosdy.
Kotler, P., 1997, Manajemen Pemasaran: Analisis
Perencanaan,
Implementasi
dan
Pengendalian, Jilid I Edisi 9, PT Prenhalindo,
Jakarta.
Mc. Gibony, Jhon. R., 1997, Priciple of Hospital
Administration, New York, GP. Putnam, Sons.
Melly, O., 1997, Ultimate Patient Satisfaction.
New York: HFMA.
Notoadjmodjo,Soekijo.2005.Metodologi
Penelitian Kesehatan Masyarakat. Jakarta.
RinekaCipta
Nursalam. 2001. Metodologi Riset Keperawatan.
Jakarta. CV. Infomedika
Parasuraman Zeithamel and Berry 1985.
Conceptual Model of Service Quality and Its
Simplications for Future Research Journal of
Marketing Vol. 49, 41-50
Riwidikdo, Handoko, 2006, Statistik Kesehatan,
Yogyakarta : Mitra Cendikia Press.
Sabarguna, B., 2004, Pemasaran Rumah Sakit.
Konsorsium RSI Jawa Tengah, DIY.
Snock, 1991, Hospital What They Are Hair They
Work, Aspen System Corporation, Rock Ville,
Maryland, London.
Sugiyono, 1999, Metode Penelitian Bisnis,
Bandung : Alfabeta
Suprapto J., 1997, Pengukuran Tingkat Kepuasan
Pelanggan Untuk Menaikkan Pangsa Pasar,
Rineka Cipta, Jakarta.
Woodside, Frey and Daly, 1989, “Linking Service
Quality,
Customer
Satisfaction,
and
Behavioral Intention” Jurnal of Health Care
Marketing, Vol. 9 No. 4.5-17.
80
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Yulianto, 2000, Analisis Kepuasan Pasien di
Instansi Rawat Jalan RSU Jendral Ahmad
Yani Metro Lampung, Tesis, Yogyakarta:
MMR-UGM.
Arief
TQ.
2008.
Metodologi
Penelitian Kedokteran dan Kesehatan CSGF
(community of self help group forum ) .
Klaten: LPP UNS & UNS Press
Arikunto
S.2010.
Prosedur
penelitian
Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta
DepKes RI. 2006. Pedoman Pengelolaan Rekam
Medis Rumah Sakit Di IndonesiaRevisi 1I,
Direktorat Jenderal Pelayanan Medik
Hatta G. 2008. Pedoman Manajemen Informasi
Kesehatan Di Sarana Pelayanan Kesehatan.
Universitas Indonesia Jakarta
Pohan
I.
2002.
Pelayanan Kesehatan
Kedokteran ECG.
Jaminan
. Jakarta:
Mutu
Buku
Shofari B. 2002.
Pengelolaan Sistem
Rekam Medik. Perhimpunan Perekam Medik
dan Informasi Kesehatan Indonesia. Semarang
Sugiyono
P.
2010.
Metode
Penelitian
Pendidikan
(pendekatan
kuantitatif, kualitatif, dan R&D . Bandung:
alfabeta
Wijono Dj. 1999. Manajemen Mutu Pelayanan
Kesehatan . Teori, Strategi dan Aplikasi
Volume 1. Surabaya: A
LPPM STIKes Perintis Padang
81
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
HUBUNGAN KARAKTERISTIK DAN POLA ASUH ORANGTUA DENGAN
KEMAMPUAN MELAKUKAN TOILET TRAININGPADA ANAK USIA TODDLER DI
PAUD TERPADU SURYA KIDS
BUKITTINGGI TAHUN 2016
Falerisiska Yunere¹,Rahma Desi²
Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Perintis Sumbar¹
Email : [email protected]
Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Perintis Sumbar²
Email : [email protected]
Abstract
child of Age toddler ( 1-3 year) refer concept of critical period and high plasticity in course of growing
flower, One of major duty at a period to toddler is toilet training. Pattern take care of parent is pattern
of interaction of between parent with child, which pattern take care of the parent influenced by some
factor among other things the close-knit past experience with pattern take care of and or attitude of their
parent and the values embraced by parent. target of this Research is to see Relation of Characteristic
And Pattern Take Care Of Parent Ably Do Toilet Training of Child of Age of Toddler in Inwrought
PAUD of Surya Kids Bukittinggi of Year 2016. Desain of this Research is Descriptive correlation with
approach of cross sectional , where data retrieval independent and dependent variables done coincide.
With a sample of 45 respondents and data processing of Chi-Square test. Pursuant to statistical test
from 45 people of responder got by result p-value of young age < 35 year as much 82,2 , p-value of
education is (SLTA) as much 64,4%, p-value don’t work as much 62,2 , p-value of pattern take care of
premisif as much 64,4%, p-value owning ability in conducting toilet training as much 68.9% at child of
age of toddler in Inwrought PAUD of Surya Kids Bukittinggi of year 2016. There is relation between
age ably the child by p-value = 0,040, There is relation of between education ably child in conducting
toilet training by p-value = 0,026, There is relation of between Work ably child in conducting toilet
training of at child of age of toddler by p-value = 0,034, There is relation of between pattern take care
of parent ably child in conducting toilet training of at child of age of toddler in Inwrought PAUD of
Surya Kids Bukittinggi of year 2016 p-value = 0,016. Expected by a research
Keywords: characteristicsof parents, parenting, toilet training
1. PENDAHULUAN
Salah satu tugas mayor pada masa toddler
adalah toilet training.Kontrol volunter sfingter
anal dan uretra terkadang dicapai kira-kira setelah
anak berjalan, mungkin antara usia 18 dan 24
bulan. Namun,diperlukan faktor psikofisiologis
kompleks untuk kesiapan. Anak harus mampu
mengenali urgensi untuk mengeluarkan dan
menahan
eliminasi
serta
mampu
mengkomunikasikan sensasi ini kepada orang tua.
Selain itu mungkin ada berbagai motivasi yang
penting untuk memuaskan orang tua dengan
menahan, daripada memuaskan diri dengan
mengeluarkan eliminasi (Wong,2008).
Laporan hasil literature yang telah dilakukan di
Singapura yaitu 15% anak tetap mengompol
setelah berusia 5 tahun dan sekitar 1,3% anak lakilaki serta 0,3% anak perempuan di Inggris masih
LPPM STIKes Perintis Padang
memiliki kebiasaan BAB sembarangan pada usia
7 tahun, hal ini dikarenakan kegagalan toilet
training (Irwan, 2003).
Di Indonesia diperkirakan jumlah balita
mencapai 30% dari 250 juta jiwa penduduk
Indonesia, dan menurut Survey Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT) Nasional diperkirakan jumlah
balita yang susah mengontrol BAB dan BAK
(ngompol) mencapai 75 juta anak. Jumlah kasus
anak berusia 6 tahun yang masih mengompol di
Indonesia mencapai 12 % (Asti dan Faidah, 2009).
Sebuah survey yang pernah ada di Indonesia oleh
tabloid nakita menyebutkan, setengah juta anak
berusia 6–16 tahun masih suka ngompol, yang
terdiri dari:17% anak berusia 5 tahun, 14% anak
berusia 7 tahun, 9% anak berusia 9 tahun, dan 1–
2% anak berusia 15 tahun, Sedangkan sekitar 30%
82
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
anak berumur 4 tahun, 10% anak berumur 6 tahun,
3% anak berumur 12 tahun dan 1% anak berumur
18 tahun masih mengompol di tempat tidur.
Terdapat juga sekitar 20% anak usia balita tidak
melakukan toilet training dan 75% orang tua tidak
memandang kondisi seperti itu sebagai masalah.
Dari data UPT Perpustakaan Proklamator
Pustaka Tahun 2015 di dapatkan jumlah PAUD
yang terdaftar di Bukittinggi sebanyak 43 PAUD.
Dari 5 PAUD yang sudah di data di dapati jumlah
murid usia toddler kurang dari 50 orang. Dari 5
(lima) pimpinan PAUD yang peneliti wawancarai
tentang kemampuan toilet training pada anak usia
toddler mengatakan bahwa anak usia toddler
belum mampu melakukan toilet training secara
mandiri. Dari data tersebut PAUD Surya Kids
mempunyai jumlah anak usia toddler cukup
banyak yang belum mampu melakukan
kemampuan toilet training secara mandiri.
Penelitian Ustari (2006) menunjukan bahwa
kategori dengan pola asuh orang tua autoritatif
didapatkan sebanyak 85 % dengan toilet training
berhasil dan 15 % dengan toilet training tidak
berhasil, dan tidak didapatkan pola asuh orang tua
yang otoriter, pemanja, ataupun penelantar.
Sehingga dari keterangan tersebut dapat diperoleh
kesimpulan bahwa pola asuh orang tua autoritatif
lebih efektif terhadap keberhasilan toilet training
pada anak usia prasekolah (4-6 tahun ) di TK
Wahid Hasyim Malang.
Penelitian Syahid (2009) menunjukan bahwa
tingkat pengetahuan ibu tentang toilet training
sebagian besar tidak baik sebanyak 63,8%.
Penerapan toilet training pada anak usia toddler
2. METODE PENELITIAN
Desain penelitian yang digunakan
adalah deskriptif korelasi dengan pendekatan
cross sectional.
Sampel dalam penelitian ini adalah anak
usia toddler (1-3 tahun) di Paud Terpadu Surya
Kids dengan jumah 45 orang balita.
Instrumen untuk pengumpulan data pada
penelitian ini menggunakan kuesioner yang
memuat beberapa pernyataan yang telah di
kembangkan oleh peneliti sesuai kerangka konsep.
Setelah mendapatkan persetujuan dari
kepala Paud, maka peneliti memilih responden
yang memenuhi kriteria untuk dijadikan calon
responden. Kemudian peneliti memita responden
yang telah bersedia menjadi responden, maka
pengumpulan data dilakukan dengan tahap
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
(1-3 tahun) sebagaian besar tidak di terapkan
sebanyak 56,4%. Ada hubungan tingkat
pengetahuan ibu tentang penerapan toilet training
anak usia toddler (1-3 tahun). Lebih lanjut
penelitian Syahid (2009) menunjukan bahwa ada
hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan
ibu tentang toilet training dengan penerapan toilet
training pada anak usia toddler.
Berdasarkan hasil survei dan wawancara yang
telah dilakukan di PAUD Terpadu Surya Kids
Bukittinggi terhadap 5 orang ibu yang mempunyai
anak usia 3 tahun. Diketahui bahwa 2 orang ibu
yang berpendidikan tinggi dan bekerja sebagai
pengawai menerapkan pola asuh yang menuntut
anak untuk mematuhi semua keinginan orang tua
dan tidak memberikan perhatian sepenuhnya
terhadap perkembangan anak terutama dalam
mengajarkan kemampuan melakukan toilet
training pada anak usia 3 tahun sehingga anak
belum mampu mengontrol kemampuan BAK dan
BAB. Sedangkan 2 orang ibu yang berpendidikan
tinggi,bekerja sebagai ibu rumah tangga
menerapkan pola asuh memberikan kebebasan
kepada anak untuk berkreasi sesuai dengan
imajinasi anak,memberikan pengarahan terhadap
anaknya terutama dalam kemampuan mengontrol
BAK pada siang dan malam hari. Ternyata anak
sudah mampu mengontrol BAK pada siang dan
malam hari. Dan 1 orang ibu yang berpendidikan
rendah, bekerja sebagai ibu rumah tangga juga
menerapkan pola asuh yang memberikan
pengarahan dalam mengajarkan kemampuan
mengontrol BAK pada siang dan malam hari
terhadap anaknya yang berusia 3 tahun juga
mengatakan bahwa anaknya sudah mandiri dalam
hal mengontrol BAB dan BAK.
memberikan penjelasan tentang tujuan,manfaat
dan prosedur penelitian yang akan dilaksanakan
kepada responden. Setelah responden memahami
penjelasan yang diberikan, responden di minta
persetujuannya
yang
dibuktikan
dengan
menandatangani inforcement consent dan untuk
pengisian lembaran kuesioner diisi langsung oleh
responden.
Pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan instrument berupa kuesioner.
Sedangkan untuk pengisian kuesioner ini peneliti
menjelaskan pada responden yang berada di Paud
tersebut. Peneliti mengingatkan responden untuk
mengisi seluruh pernyataan dengan lengkap.
Kuesioner yang telah diisi dikumpulkan dan
83
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
diperiksa kelengkapannya. Kemudian peneliti
akan mengakhiri pertemuan dengan mengucapkan
terima kasih pada responden atas kerjasama.
Analisa univariat yang dilakukan
dengan analisis distribusi frekuensi dan statistik
deskriptif untuk melihat dari variabel independent.
Pengolahan
data
terkumpul
diklasifikasikan dalam beberapa kelompok
menurut sub variabel yang ada dalam pernyataan.
Data yang terkumpul diolah dengan menggunakan
langkah-langkah seperti pengkodean data
(coding), pemindahan data (entering),entri data,
pembersihan data (cleaning), penyajian data (out
put), dan penganalisaan data (analyzing).
Analisa Bivariat yang dilakukan untuk
mengetahui hubungan variabel independent dan
dependen dengan menggunakan uji statistik ChiSquare. Untuk melihat kemaknaan perhitungan
statistik digunakan batasan kemaknaan 0,05
sehingga jika nilai p> 0,05 maka hasil hitung
tersebut tidak bermakna dan jika nilai p ≤ 0,05
maka hasil hitung bermakna.
3. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
a. Hasil Penelitian
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Orang Tua dalam
melakukan toilet training Pada Anak Usia Toddler di PAUD Terpadu Surya Kids
Bukittinggi Tahun 2016
Karakteristik
F
%
1.
≤ 35
Usia
Tahun
37
82,2
2.
> 35
Tahun
8
17,8
Pendidikan
1.
Tinggi
9
20
2.
Sedang
29
64,4
3.
Rendah
7
15,6
Pekerjaan
1.
Bekerja
17
37,8
2.
Tidak
Bekerja
28
62,2
Total
45
100
Hasil analisis dari tabel 5.1 diatas dapat dilihat dari 45 orang tua sebahagian besar 82.2%
dengan jumlah 37 orang tua berusia muda ≤ 35 tahun di PAUD Terpadu Surya Kids Bukittinggi tahun
2016.
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Pola Asuh Orang Tua Dalam Melakukan Toilet
Training Pada Anak Usia Toddler di PAUD Terpadu Surya Kids Bukittinggi Tahun 2016
No
Pola Asuh
F
%
1 Otoriter
3
6,7
2 Demokratis
13
28,9
3 Permisif
29
64,4
4 Laissez Faire
0
0
Total
45
100
Hasil analisis dari tabel 5.2 diatas dapat dilihat dari 45 orang tua sebahagian besar 64.4%
dengan jumlah 29 orang tua menerapkan pola asuh permisif kepada anaknya dalam melakukan
kemampuan toilet training di PAUD Terpadu Surya Kids Bukittinggi tahun 2016.
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Kemampuan Melakukan Toilet Training Pada Anak
Usia Toddler di PAUD Terpadu Surya Kids Bukittinggi Tahun 2016
LPPM STIKes Perintis Padang
84
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
No
Kemampuan Toilet Training
F
%
1 Mandiri
31
78,9
2 Tidak Mandiri
14
31,1
Total
45
100
Hasil analisis dari tabel 5.3 diatas dapat dilihat dari 45 orang tua sebahagian besar 78.9%
dengan jumlah 31 orang anak sudah mandiri dalam melakukan toilet trainingdi PAUD Terpadu Surya
Kids Bukittinggi tahun 2016.
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi hubungan Usia dengan kemampuan melakukan
Toilet Training pada anak usia toddler di PAUD Terpadu Surya Kids Bukittinggi
Tahun 2016
Kemampuan Toilet
Usia Orang
Training
f
%
P-value
OR
Tidak
Tua
Mandiri
Mandiri
f
%
f
%
Muda
24
64.9 13
35.1
37
100
0,040
3.792
Tua
7
1
12.5
8
100
87.5
Total
31
68.9 14
31.1
45
100
Hasil analisis tabel 5.4 diatas dapat dilihat bahwa dari 37 orang tuayang memiliki usia muda
terdapat 64.9 % orang tua yang mampu anak mereka melakukan toilet training. Sedangkan dari 8 orang
tua dengan usia tua terdapat 87,5% yang mampu melakukan toilet training di PAUD Terpadu Surya
Kids Bukittinggi tahun 2016.
Dari hasil tersebut dilakukan uji chi square dengan menggunakan komputerisasi maka
didapat hasil P value = 0,040 < 0,05 sehingga P value < alpha maka secara statitik Ho Di tolak sehingga
ada hubungan usia orang tua dengan kemampuan anak melakukan toilet trainingdi PAUD Terpadu
Surya Kids Bukittinggi tahun 2016.
Hubungan tersebut didukung oleh nilai Oods ratio 3.792 yang artinya orang tua yang
memiliki usia Muda memiliki peluang sebesar 3.792 kali untuk lebih mampu melakukan kemampuan
toilet training dari pada yang usianya tua di PAUD Terpadu Surya Kids Bukittinggi tahun 2016.
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi hubungan Pendidikan dengan kemampuan melakukan
Toilet Training pada anak usia toddler di PAUD Terpadu Surya Kids Bukittinggi
Tahun 2016
Kemampuan Toilet
Pendidian
Training
Tidak
F
%
P-value
Orang Tua
Mandiri
Mandiri
F
%
f
%
Pendidikan rendah
3
42.9 4
57.1
7
100
Pendidikan Sedang
21
72.4 8
27.6
29
100
0,026
Pendidikan Tinggi
7
2
22.2
9
100
77.8
Total
31
68.9 14
31.1
45
100
Hasil analisis dari tabel 5.5 diatas dapat dilihat bahwa dari 29 orang tua yang memiliki
pendidikan sedang terdapat 72.4 % orang tua yang mampu anak mereka melakukan toilet training.
Sedangkan dari 7 orang tua dengan pendidikan Rendah terdapat 57,1% yang tidak mampu melakukan
toilet training di PAUD Terpadu Surya Kids Bukittinggi tahun 2016.
Dari hasil tersebut dilakukan uji chi square dengan menggunakan komputerisasi maka didapat
hasil P value = 0,026 < 0,05 sehingga P value < alpha maka secara statitik Ho Ditolak sehingga ada
LPPM STIKes Perintis Padang
85
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
hubungan pendidikan orang tua dengan kemampuan anak melakukan toilet trainingdi PAUD Terpadu
Surya Kids Bukittinggi tahun 2016.
Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi hubungan pekerjaan Orang tua Usia dengan
kemampuan melakukan toilet training pada anak usia toddler di PAUD Terpadu Surya
Kids Bukittinggi Tahun 2016
Pekerjaan
Kemampuan Toilet Training
Tidak
Orang Tua
Mandiri
f
%
P-value
OR
Mandiri
F
%
f
%
Tidak Bekerja
19
67.9
9
32.1
28
100
0,034
1.137
Bekerja
12
5
29.4
17
100
70.6
Total
31
68.9
14
31.1
45
100
Hasil analisis dari tabel 5.6 diatas dapat dilihat bahwa dari 28 orang tua yang tidak bekerja
terdapat 67.9 % orang tua yang mampu anak mereka melakukan toilet training. Sedangkan dari 17
orang tua yang bekerja terdapat 70.6% yang mampu melakukan toilet training. Orang tua yang bekerja
memiliki quality time untuk mengajarkan kemampuan bertoilet training kepada anak di PAUD Terpadu
Surya Kids Bukittinggi tahun 2016.
Dari hasil tersebut dilakukan uji chi square dengan menggunakan komputerisasi maka didapat
hasil P value = 0,034 < 0,05 sehingga P value < alpha maka secara statitik Ho Ditolak sehingga ada
hubungan pekerjaan orang tua dengan kemampuan anak melakukan toilet trainingdi PAUD Terpadu
Surya Kids Bukittinggi tahun 2016. Hubungan tersebut didukung oleh nilai Oods ratio 1.137 yang
artinya orang tua yang memiliki pekerjaan memiliki peluang sebesar 1.137 kali untuk mampu
melakukan toilet training dari pada yang tidak bekerja di PAUD Terpadu Surya Kids Bukittinggi tahun
2016.
Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi hubungan Pola asuh dengan kemampuan melakukan
Toilet Training pada anak usia toddler di PAUD Terpadu Surya Kids Bukittinggi Tahun 2016
Pola Asuh
Kemampuan Toilet Training
Orang Tua
f
%
P-value
Mandiri
Tidak Mandiri
F
Otoriter
Demokratis
Premisif
Laissez Faire
Total
2
10
19
0
31
%
66.7
76.9
65.5
0
68.9
f
1
3
10
0
14
%
33.3
23.1
34.5
0
31.1
3
13
29
0
45
100
100
100
0
100
0,016
Hasil analisis dari tabel 5.7 diatas dapat dilihat bahwa dari 29 orang tuayang memiliki pola asuh
Premisif terdapat 65.5 % orang tua yang mampu anak mereka melakukan toilet training. Sedangkan
dari 3 orang tua dengan pola asuh otoriter terdapat 76,9% yang mampu melakukan toilet training di
PAUD Terpadu Surya Kids Bukittinggi tahun 2016.
Dari hasil tersebut dilakukan uji chi square dengan menggunakan komputerisasi maka didapat
hasil P value = 0,016 < 0,05 sehingga P value < alpha maka secara statitik Ho Ditolak sehingga ada
hubungan pola asuh orang tua dengan kemampuan anak melakukan toilet trainingdi PAUD Terpadu
Surya Kids Bukittinggi tahun 2016.
b. Pembahasan
Karakteristik Orang tua
Hasil analisa dari tabel 5.1 diatas tentang
usiaorang tua dapat dilihat dari 45 orang tua
sebahagian besar 82.2% orang tua berada pada
LPPM STIKes Perintis Padang
usia muda ≤ 35 Tahun di PAUD Terpadu Surya
Kids Bukittinggi tahun 2016.
Menurut Fareer Tahun 2010 bahwa Usia
merupakan salah satu faktor yang penting dalam
86
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
melakukan toilet training pada anak dimana jika
usia orang masih muda maka orang tua lebih aktif
dan mampu melakukan toilet training pada anak
mereka sehingga orang tua masih dapat melatih
akan melakukan toilet training pada anak mereka
dan mampu memberikan dorongan pada anak
mereka dalam melakukan toilet training dan akan
dapat anak pintar untuk melakukan toilet training.
Hasil analisa dari tabel 5.1 diatas tentang
pendidikan orang tua dapat dilihat dari 45 orang
tua sebahagian besar 64,4% orang tua berada pada
pendidikan Sedang yaitu Pendidikan SMA di
PAUD Terpadu Surya Kids Bukittinggi tahun
2016.
Menurut Kodyat Tahun 2006 bahwa Tingkat
pendidikan ibu turut menentukan mudah tidaknya
seseorang menyerap dan memahami pengetahuan
yang mereka peroleh. Dari kepentingan keluarga
pendidikan ibu sendiri sangat diperlukan
seseorang lebih tanggap adanya perkembangan
anak salah satunya penerapan toilet training
didalam keluarganya.
Sedangkan Tingkat pendidikan menurut
Notoadmojo Tahun 2003 bahwa Tingkat
pendidikan ibu berpengaruh pada pengetahuan ibu
tentang penerapan toilet training, apabila
pendidikan ibu rendah akan berpengaruh pada
pengetahuan tentang penerapan toilet training
sehingga berpengaruh pada cara melatih secara
dini penerapan toilet training
Hasil analisa dari tabel 5.1 diatas tentang
pekerjaan orang tua dapat dilihat dari 45 orang tua
sebahagian besar 62,2% orang tua tergolong tidak
bekerja di PAUD Terpadu Surya Kids Bukittinggi
tahun 2016.
Menurut Kusumaning Tahun 2002 bahwa
Status pekerjaan ibu mempunyai hubungan yang
bermakna dengan penerapan toilet training pada
anak sehingga akan berdampak pada terlambatnya
anak untuk mandiri melakukan toilet training. Ibu
yang bekerja diluar rumah harus pandai-pandai
mengatur waktu untuk keluarga, karena pada
hakekatnya seorang ibu mempunyai tugas utama
yaitu mengatur urusan rumah tangga ternasuk
mengawasi, mengatur dan membimbing anakanak. Pengorbanan tersebut akan menjadi suatu
kebahagiaan jika melihat anak-anaknya tumbuh
menjadi pribadi yang kuat da stabil. Sedangkan
untuk ibu yang tinggal dirumah pun harus mampu
mengatur waktu dengan bijaksana. Walaupun
banyak waktu untuk bersama anak tetapi yang
paling penting adalah kualitas hubungan
interpersonal antara ibu dan anak.
Asumsi peneliti bahwa karakteristik orang tua
berusia muda ≤ 35 tahun lebih cendrung
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
mengajarkan dan memberikan pendidikan kepada
anak dibandingkan dengan orang tua yang berusia
lebih tua atau > 35 tahun. Dari segi pendidikan
orang tua didapatkan data bahwa pendidikan
orang tua lebih dominan berpendidikan sedang,
dan belum melanjutkan pendidikan keperguruan
tinggi. Sedangkan pekerjaan orang tua dari data
yang diperoleh bahwa orang tua lebih banyak
tidak bekerja tetapi mereka tetap menitipkan
anaknya di Paud dengan alasan agar anaknya
mendapatkan pendidikan usia dini lebih baik.
Orang tua yang bekerja masih memiliki waktu
atau quality time untuk mengajarkan kemampuan
toilet training kepada anaknya.
Pola asuh Orang Tua
Hasil analisa dari tabel 5.2 diatas dapat dilihat
dari 45 orang tua sebahagian besar 64.4% orang
tua memiliki pola asuh Premisif di PAUD Terpadu
Surya Kids Bukittinggi tahun 2016
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(2001) Pola adalah sistem; cara kerja. Asuh adalah
menjaga (merawat dan mendidik) anak kecil;
membimbing (membantu, melatih) supaya dapat
berdiri
sendiri
(Kamus
Besar
Bahasa
Indonesia,2001). Sedangkan orang tua adalah
ayah ibu kandung; orang yang dianggap tua
(cerdik,pandai,ahli) . Secara umum pola asuh
orang tua merupakan suatu kecenderungan yang
relatif menetap dari orang tua dalam memberikan
didikan, bimbingan dan perawatan kepada anakanaknya.
Penelitian
Ustari
(2006)
menunjukan
bahwakategori dengan pola asuh orang tua
autoritatif didapatkan sebanyak 85 % dengan
toilet training berhasil dan 15 % dengan toilet
training tidak berhasil, dan tidak didapatkan pola
asuh orang tua yang otoriter, pemanja, ataupun
penelantar. Sehingga dari keterangan tersebut
dapat diperoleh kesimpulan bahwa pola asuh
orang tua autoritatif lebih efektif terhadap
keberhasilan toilet training pada anak usia
prasekolah (4-6 tahun ) di TK Wahid Hasyim
Malang.
Asumsi peneliti pola asuh orang tua
diantaranya otoriter, demokratis, permisif dan
laissez faire semuanya diterapkan oleh orang tua
kepada anak. Hasil penelitian yang peneliti
dapatkan bahwa orang tua yang menerapkan pola
asuh permisif. Dalam pola asuh permisif orang tua
lebih sering memanjakan anak untuk memperoleh
kebebasan dan memiliki disiplin yang longgar,
tetapi ibu tetap mengawasi dan memperhatikan
anaknya. Segala keinginan anak selalu dipenuhi
87
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
dan memberikan kepercayaan yang penuh kepada
anaknya dalam melakukan sesuatu.
ISSN: 2548-3153
Kemampuan Toilet Training
Hasil analisa dari table 5.3 diatas dapat dilihat
dari 45 orang tua sebahagian besar 68,9% anak
mampu melakukan toilet training di PAUD
Terpadu Surya Kids Bukittinggi tahun 2016.
Menurut Hidayat tahun 2005 bahwa Toilet
training pada anak merupakan suatu usaha untuk
melatih anak agar mampu mengontrol dalam
melakukan buang air kecil (BAK) dan buang air
besar (BAB). Toilet training ini dapat berlangsung
pada fase kehidupan anak umur 18 bulan – 2 tahun
. Dalam melakukan latihan buang air kecil (BAK)
dan buang air besar (BAB) pada anak dibutuhkan
persiapan baik fisik, psikologis maupun
intelektual, melalui persiapan tersebut diharapkan
anak mampu mengontrol buang air kecil (BAK)
dan buang air besar (BAB) secara mandiri.
Sedangkan Menurut Supartini (2004), bahwa
toilet training merupakan aspek penting dalam
perkembangan anak usia toddler yang harus
mendapat perhatian orang tua dalam berkemih dan
defekasi. Dan toilet training juga dapat menjadi
awal terbentuknya kemandirian anak secara nyata
sebab anak sudah bisa untuk melakukan hal-hal
yang kecil seperti buang air kecil (BAK) dan
buang air besar (BAB).
Asumsi peneliti bahwa kemampuan anak
melakukan toilet training banyak dipengaruhi
oleh faktor seperti faktor usia orang tua ,
pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua dan
juga pola asuh yang dilakukan oleh orang tua.
Banyaknya anak yang mampu melakukan toilet
training karena beberapa anak masih dapat
mengikuti perintah orang tuanya, dimana orang
tua dapat mengajarkan anak dalam melakukan
kemampuan toilet training yang bisa dilakukan
anak dengan memberikan pola asuh yang baik
seperti pola asuh permisif yang dilakukan orang
tua terhadap anak.
Semisal, umur manusia dikatakan lima belas tahun
diukur sejak dia lahir hingga waktu umur itu
dihitung. Usia orang tua tidak berpengaruh dalam
memberikan pola asuh terhadap anak. Jenis
perhitungan
umur/usia.
Sedangkan
usia
kronologis adalah perhitungan usia yang dimulai
dari saat kelahiran seseorang sampai dengan
waktu perhitungan usia, begitu juga dengan usia
mental adalah perhitungan usia yang didapatkan
dari taraf kemampuan mental seseorang. Misalnya
seorang anak secara kronologis berusia empat
tahun akan tetapi masih merangkak dan belum
dapat berbicara dengan kalimat lengkap dan
menunjukkan kemampuan yang setara dengan
anak berusia satu tahun, maka dinyatakan bahwa
usia mental anak tersebut adalah satu tahun.
Dari hasil tersebut dilakukan uji chi square
dengan menggunakan komputerisasi maka didapat
hasil P value = 0,040 < 0,05 sehingga P value < α
maka secara statitik Ho Ditolak sehingga ada
hubungan usia orang tua dengan kemampuan anak
melakukan toilet training di PAUD Terpadu Surya
Kids Bukittinggi tahun 2016. Hubungan tersebut
didukung oleh nilai Oods ratio 3.792 yang artinya
Responden yang memiliki usia Muda memiliki
peluang sebesar 3.792 kali untuk lebih mampu
melakukan toilet training dari pada yang usianya
muda di PAUD Terpadu Surya Kids Bukittinggi
tahun 2016.
Asumsi peneliti bahwa adanya hubungan
antara usia dengan kemampuan toilet training
karena dari beberapa kegiatan yang dilakukan
maka lebih banyak usia muda yang melakukan
kemampuan toilet training dari pada usia yang tua
dimana usia ini sangat dipengarungi karena
adanya kesanggupan ibu dalam melakukan toilet
training pada anak terlihat dari nilai OR dimana
yang artinya orang tua yang memiliki usia muda
memiliki peluang sebesar 3.792 kali untuk lebih
mampu melakukan toilet training dari pada yang
usianya tua terhadap anak di PAUD Terpadu
Surya Kids Bukittinggi tahun 2016.
Hubungan Usia Dengan Kemampuan Toilet
Training
Hasil analisa dari table 5.4 diatas dapat dilihat
bahwa dari 37 orang tua yang memiliki usia muda
terdapat 64.9 % orang tua yang mampu anak
mereka melakukan toilet training. sedangkan dari
8 orang tua dengan usia tua terdapat 87,5% yang
mampu melakukan toilet training di PAUD
Terpadu Surya Kids Bukittinggi tahun 2016.
Umur atau usia adalah satuan waktu yang
mengukur waktu keberadaan suatu benda atau
makhluk, baik yang hidup maupun yang mati.
Hubungan
Pendidikan
Dengan
Kemampuan Toilet Training
Hasil analisa dari tabel 5.5 diatas dapat dilihat
bahwa dari 29 orang tua yang memiliki
pendidikan sedang terdapat 72.4 % orang tua
yang mampu anak mereka melakukan toilet
training. Sedangkan dari 7 orang tua dengan
pendidikan rendah terdapat 57,1% yang tidak
mampu melakukan toilet training di di PAUD
Terpadu Surya Kids Bukittinggi tahun 2016.
Dari hasil tersebut dilakukan uji chi square
dengan menggunakan komputerisasi maka didapat
LPPM STIKes Perintis Padang
88
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
hasil P value = 0,026 < 0,05 sehingga P value < α
maka secara statitik Ho Ditolak sehingga ada
hubungan pendidikan orang tua dengan
kemampuan anak melakukan toilet trainingdi
PAUD Terpadu Surya Kids Bukittinggi tahun
2016.
Asumsi peneliti bahwa kemampuan anak
melakukan toilet training banyak dipengaruhi
oleh beberapa faktor seperti faktor usia orang tua ,
pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua dan
juga pola asuh yang dilakukan oleh orang tua,
banyaknya anak yang mampu melakukan toilet
training karena anak masih dapat mengikuti
perintah orang tua dilihat dari adanya pendidikan
orang tua yang mendukung seperti pendidikan
sedang dan pendidikan tinggi pada orang tua.
Hubungan Pekerjaan Dengan Kemampuan
Toilet Training
Hasil analisa dari tabel 5.6 diatas dapat dilihat
bahwa dari 28 orang tua yang tidak bekerja
terdapat 67.9 % orang tua yang mampu anak
mereka melakukan toilet training. Sedangkan dari
17 orang tua yang bekerja terdapat 70.6% yang
mampu melakukan toilet training di PAUD
Terpadu Surya Kids Bukittinggi tahun 2016.
Pekerjaan ibu mempunyai hubungan yang
bermakna dengan penerapan toilet training pada
anak sehingga akan berdampak pada terlambatnya
anak untuk mandiri melakukan toilet training. Ibu
yang bekerja diluar rumah harus pandai-pandai
mengatur waktu untuk keluarga, karena pada
hakekatnya seorang ibu mempunyai tugas utama
yaitu mengatur urusan rumah tangga ternasuk
mengawasi, mengatur dan membimbing anakanak. Pengorbanan tersebut akan menjadi suatu
kebahagiaan jika melihat anak-anaknya tumbuh
menjadi pribadi yang kuat da stabil. Sedangkan
untuk ibu yang tinggal dirumah pun harus mampu
mengatur waktu dengan bijaksana. Walaupun
banyak waktu untuk bersama anak tetapi yang
paling penting adalah kualitas hubungan
interpersonal antara ibu dan anak.
Dari hasil tersebut dilakukan uji chi square
dengan menggunakan komputerisasi maka didapat
hasil P value = 0,034 < 0,05 sehingga P value < α
maka secara statitik Ho Ditolak sehingga ada
hubungan pekerjaan orang tua dengan
kemampuan anak melakukan toilet training di
PAUD Terpadu Surya Kids Bukittinggi tahun
2016. Hubungan tersebut didukung oleh nilai
Oods ratio 1.137
Asumsi peneliti bahwa adanya hubungan
pekerjaan dengan kemampuan anak melakukan
toilet training dapat didukung oleh nilai OR
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
dimana artinya orang tua yang tidak bekerja
memiliki peluang sebesar 1.137 kali untuk mampu
melakukan toilet training dari pada yang bekerja
di PAUD Terpadu Surya Kids Bukittinggi tahun
2016.
Hubungan Pola Asuh dengan Kemampuan
Toilet Training
Hasil analisa dari tabel 5.7 diatas dapat dilihat
bahwa dari 29 orang tua yang memiliki pola asuh
Premisif terdapat 65.5 % orang tua yang mampu
anak mereka melakukan toilet training.
Sedangkan dari 3 orang tua dengan pola asuh
otoriter terdapat 76,9% yang mampu melakukan
toilet training di PAUD Terpadu Surya Kids
Bukittinggi tahun 2016.
Menurut Supartini (2004), bahwa toilet
training merupakan aspek penting dalam
perkembangan anak usia toddler yang harus
mendapat perhatian orang tua dalam berkemih dan
defekasi. Dan toilet training juga dapat menjadi
awal terbentuknya kemandirian anak secara nyata
sebab anak sudah bisa untuk melakukan hal-hal
yang kecil seperti buang air kecil (BAK) dan
buang air besar (BAB).
Toilet training merupakan proses pengajaran
untuk kontrol buang air besar (BAB) dan buang air
kecil (BAK) secara benar dan teratur. Biasanya
kontrol buang air kecil (BAK) lebih dahulu
dipelajari oleh anak, kemudian kontrol buang air
besar (BAB). Pengaturan buang air besar (BAB)
dan buang air kecil (BAK) diperlukan untuk
keterampilan sosial. Mengajarkan toilet training
pada anak membutuhkan waktu, kesabaran, dan
pengertian .
Dari hasil tersebut dilakukan uji chi square
dengan menggunakan komputerisasi maka didapat
hasil P value = 0,016 < 0,05 sehingga P value < α
maka secara statitik Ho Ditolak sehingga ada
hubungan pola asuh orang tua dengan kemampuan
anak melakukan toilet trainingdi PAUD Terpadu
Surya Kids Bukittinggi tahun 2016.
Asumsi peneliti bahwa adanya hubungan pola
asuh dengan kemampuan melakukan toilet
training pada anak karena kemampuan anak
melakukan toilet training banyak dipengaruhi
faktor seperti faktor usia orang tua, pendidikan
orang tua, pekerjaan orang tua dan juga pola asuh
yang dilakukan oleh orang tua. Banyaknya anak
yang mampu melakukan toilet training karena
beberapa anak masih dapat mengikuti perintah
orang tua dimana orang tua
masih dapat
melakukan toilet training yang bisa dilakukan
anak dengan memberikan pola asuh yang baik
89
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
seperti pola asuh permisif yang dilakukan orang
tua terhadap anak.
4. KESIMPULAN
Dari Penelitian yang dilakukan dengan judul
hubungan karakteristik dan pola asuh orang tua
dengan kemampuan melakukan toilet training
pada anak usia toddler di PAUD Terpadu Surya
Kids Bukittinggi tahun 2016. Dengan orang tua
sebanyak 45 orang maka peneliti dapat menarik
kesimpulan sebagai berikut :
4.1 Dari 45 orang tua sebahagian besar memiliki
usia muda < 35 tahun 82,2% pada anak usia
toddler di PAUD Terpadu Surya Kids
Bukittinggi tahun 2016.
4.2 Dari 45 orang tua sebahagian besar memiliki
pendidikan sedang (SLTA) 64,4% pada anak
usia toddler di PAUD Terpadu Surya Kids
Bukittinggi tahun 2016.
4.3 Dari 45 orang tua sebahagian besar tidak
bekerja 62,2% pada anak usia toddler di
PAUD Terpadu Surya Kids Bukittinggi
tahun 2016.
4.4 Dari 45 orang tua sebahagian besar memiliki
pola asuh permisif 64,4% pada anak usia
toddler di PAUD Terpadu Surya Kids
Bukittinggi tahun 2016
4.5 Dari 45 orang tua sebahagian besar memiliki
kemampuan dalam melakukan toilet training
68.9% pada anak usia toddler di PAUD
Terpadu Surya Kids Bukittinggi tahun 2016.
4.6 Dari hasil uji chi square maka ada hubungan
antara usia dengan kemampuan anak dalam
melakukan toilet training pada anak usia
toddler di PAUD Terpadu Surya Kids
Bukittinggi tahun 2016 p-value = 0,040.
4.7 Dari hasil uji chi square maka ada hubungan
antara Pendidikan dengan kemampuan anak
dalam melakukan toilet training pada anak
usia toddler di PAUD Terpadu Surya Kids
Bukittinggi tahun 2016 p-value = 0,026
4.8 Dari hasil uji chi square maka ada hubungan
antara Pekerjaan dengan kemampuan anak
dalam melakukan toilet training pada anak
usia toddler di PAUD Terpadu Surya Kids
Bukittinggi tahun 2016 p-value = 0,034
4.9 Dari hasil uji chi square maka ada hubungan
antara pola asuh orang tua dengan
kemampuan anak dalam melakukan toilet
training pada anak usia toddler di PAUD
Terpadu Surya Kids Bukittinggi tahun 2016
p-value = 0,016
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
5. REFERENSI
Arikunto, S. (2002).Manajemen penelitian
cetakan ke7. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Hasan.Alwi (2002).Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
Hidayat,A.Aziz Alimul (2005).Pengantar Ilmu
Keperawatan Anak 1. Jakarta : Salemba
Medika
Hidayat, (2011). Pengetahuan Ibu Tentang Toilet
Training. Diakses 25 November 2015 dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/12345
6789/23318/5/chapter
Irwan. 2003. Hubungan pengetahuan orang tua
tentang toilet training. Diakses dari
http://konsep-toilet-training.blogspot.com
pada tanggal 15 Desember 2015
Notoatmodjo, S. (2005). Metodologi Penelitian
Kesehatan. Jakarta; Rineka Cipta
Nursalam. (2005). Asuhan Keperawatan Bayi &
Anak, Jakarta; Salemba Medika
Syahid.2009.Pengetahuan orang tua tentang
toilet
training.I
Diakses
dari
http://digilib.unimus.ac.id./files/disk1/104/
jtptunimus-gdl-senjputri-5197-4-babiii.pdf
. Pada tanggal 13 November 2015
Supartini, Yupi. (2004). Konsep Dasar
Keperawatan Anak. Jakarta; EGC
Soetjiningsih (1995). Tumbuh Kembang Anak. FK
Universintas Udayana, Bali; EGC
Rifa.1993 .Pengertian Pola Asuh.Diakses 3
November
2015
dari
http://www.sarjanaku.com/2012/12/penger
tian-pola-asuh-menurut-para-ahli.htm
Rugolotto. 2004. toilet training pada anak
toddler. Diakses dari http://hubunganpengetahuan-orang-tua-toilettraining.blogspot.com pada tanggal 16
Desember 2015
Stari.2006.Hubungan pola asuh orang tua dengan
toilet training.Diakses dari http://polaasuh-orang-tua-toilettraining.blogspot.com pada tanggal 15
Desember 2015
90
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Warner. 2007. Pengertian toilet training. Diakses
dari
http://supartini-konsep-toilettraining.blogspot.com pada tanggal 15
Desember 2015
Wong. (2009). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik.
Jakarta;
EGC.
www.depkes_Bukittinggi.com
LPPM STIKes Perintis Padang
91
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
TIPE KELUARGA DENGAN PERILAKU AGRESIF
PADA ANAK REMAJA
Yendrizal Jafri1, Atikah Nurul Huda Dwi Vally2
Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Perintis Padang
Email: [email protected],
[email protected]
Abstract
Based on the preliminary study on 19 April 2016 showed interviews with four students and two teachers
say aggressive behaviour often occurs late coming to school, lack of ethics, smoking, against the teacher
and others. The purpose of this study is to determine the relationship of the type of families’ with
aggressive behaviour in adolescents. This study was conducted on 21 to 22 July 2016 with a method.
Descriptive correlation The number of samples in this research is 207 respondents, with sampling
technique multistage random sampling, this research instrument using a questionnaire. From the results
of research, the value of p = 0,054, means that ho accepted, no relation that have meaning (value of p
> 0,05). OR obtained 1,849 mean that the type of families’ dual career at risk 1,849 times for the
occurrence of aggressive behaviour in adolescents compared to families. Dual-career it can be
concluded that the existence of family-type relationship dual career with aggressive behaviour in
adolescents and it is expected that the Principal district in order to improve the ability of schools,
teachers and officers Counseling to cope with aggressive behaviour of teenagers in school and develop
methods of counseling teens with family – type dual career.
Keywords : Type Family, Aggressive Behaviour
1.
PENDAHULUAN
Setiap manusia memliki tahap perkembangan
masing-masing yang secara umum di mulai dari
tahapan prenatal, periode bayi, masa kanak-kanak
awal, masa kanak-kanak pertengahan, dan masa
kanak-kanak akhir atau remaja (Wong, 2000).
Masa remaja (Adolescence) merupakan masa di
mana terjadi transisi masa kanak-kanak menuju
dewasa, biasanya antara usia 13 dan 20 tahun.
Istilah adolescence merujuk kepada kematangan
psikologis individu, sedangkan pubertas merujuk
kepada saat di mana telah ada kemampuan
reproduksi. Perubahan hormonal saat pubertas
mengakibatkan perubahan penampilan pada anak,
sedangkan perkembangan kognitif mengakibatkan
kemampuan untuk menyusun hipotesis dan
berhubungan dengan hal abstrak. Penyesuaian dan
adaptasi dibutuhkan untuk menghadapi perubahan
ini dan mencoba untuk memperoleh identitas diri
yang matang (Potter & Perry , 2009).
Menurut WHO, remaja merupakan
penduduk dalam rentang usia 10-19 tahun, Sekitar
sembilan ratus juta berada dinegara sedang
berkembang. Menurut Peraturan Menteri
Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014, remaja
adalah penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun,
dan menurut Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana (BKKBN) rentang usia remaja adalah
LPPM STIKes Perintis Padang
10-24 tahun dan belum nikah. Jumlah kelompok
usia 10-19 tahun di Indonesia menurut Sensus
Penduduk 2010 sebanyak 43,5 juta atau sekitar
18% dari jumlah penduduk. Di dunia diperkirakan
kelompok remaja berjumlah 1,2 miliyar atau 18%
dari jumlah penduduk dunia (WHO, 2014).
Masa remaja merupakan masa peralihan
dari masa pubertas menuju masa dewasa. Selama
periode ini, remaja banyak mengalami perubahan
baik secara fisik, psikologis, ataupun sosial.
Perubahan fisik pada masa remaja mulai pada
masa remaja awal hingga remaja akhir sedikit
mengalami penurunan. Penambahan tinggi badan
remaja putri rata-rata pada usia 17-18 tahun dan
penambahan tinggi remaja putra kira-kira pada
usia 18-19 tahun. Perubahan berat badan remaja
mengikuti jadwal yang sama dengan tinggi dan
terjadi pada bagian-bagian tubuh yang
mengandung lemak sedikit atau tidak sama sekali.
Perkembangan organ-organ seksual akan
mencapai ukuran yang matang pada masa remaja
akhir. Namun, fungsinya belumlah matang hingga
beberapa tahun. Adapun, perkembangan ciri-ciri
seks sekunder akan sempurna matang pada remaja
akhir. Beberapa dari bagian anggota tubuh lambat
laun akan mencapai perbandingan proporsi tubuh
yang lebih seimbang (Pieter dkk, 2010).
92
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Selanjutnya
pada
perkembangan
psikososial, pencarian jati diri merupakan tugas
utama remaja. Mereka dapat membentuk
hubungan kelompok yang erat atau memilih untuk
tetap terisolasi. Erikson meninjau kebingungan
identitas (atau peran) sebagai bahaya utama pada
tingkat ini. Ia juga menyatakan bahwa penolakan
kelompok terhadap perbedaan pada remaja
anggotanya merupakan suatu mekanisme
pertahanan terhadap kebingungan identitas
tersebut (Erikson,1968). Remaja berusaha
memisahkan unsur emosional dari pihak orangtua
sambil tetap mempertahankan hubungan keluarga.
Selain itu, mereka harus membangun sistem etis
yang berdasarkan nilai-nilai pribadi. Mereka akan
membuat keputusan mengenai karier, pendidikan
di masa depan, dan gaya hidup. Berbagai
komponen tentang identitas total berasal dari tugas
– tugas tersebut dan akan membentuk identitas
pribadi dewasa yang unik untuk masing-masing
orang (Potter & Perry, 2009).
Data Demografi menunjukan bahwa
penduduk di dunia jumlah populasi remaja
merupakan yang besar. Data Demografi di
Amerika Serikat menunjukan jumlah remaja
berumur 10-19 tahun sekitar 15% populasi. Di
Asia Pasifik jumlah penduduknya merupakan
60% dari penduduk dunia, seperlimanya adalah
remaja umur 10-19 tahun. Di Indonesia menurut
Biro Pusat Statistik kelompok umur 10-19 tahun
adalah 22%, yang terdiri dari 50,9% remaja lakilaki dan 49,1% remaja perempuan (Soetjiningsih,
2010).
Di Provinsi Sumatera Barat tercatat
remaja laki-laki yang berusia 10-14 tahun
berjumlah 491.806 remaja yang terdiri dari
250.601 remaja laki-laki dan 241.205 remaja
perempuan. Sedangkan remaja yang berusia 15-19
tahun berjumlah 471.294 remaja yang terdiri dari
238.400 remaja laki-laki dan 232.894 remaja
perempuan. Di Kabupaten Padang Pariaman dari
403.530 jiwa penduduk terdapat 166.518 jiwa
remaja. Di Kecamatan Kayutanam dari 26.344
jiwa penduduk terdapat 4.732 jiwa penduduk,
terdiri dari 595 jiwa remaja laki-laki dan 4.137
jiwa remaja perempuan (BPS, 2014).
Dengan banyaknya populasi usia remaja
maka beragam pula perilaku yang ditimbulkan
baik itu sesuai norma ataupun perilaku
menyimpang dan perbuatan-perbuatan negatif
yang melanggar aturan norma yang ada di
masyarakat seperti kenakalan remaja. Jensen
(1985) membagi kenakalan remaja ini menjadi
empat jenis yaitu: kenakalan yang menimbulkan
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
korban fisik pada orang lain: perkelahian,
pemerkosaan, perampokan, pembunuhan, dan
lain-lain. Kenakalan yang menimbulkan korban
materi: perusakan, pencurian, pencopetan,
pemerasan, dan lain-lain. Kenakalan sosial yang
tidak menimbulkan korban di pihak orang lain:
pelacuran, penyalahgunaan obat. Kenakalan yang
melawan status, misalnya mengingkari status anak
sebagai pelajar dengan cara membolos,
mengingkari status orang tua dengan cara minggat
dari rumah atau membantah perintah mereka, dan
sebagainya. Kenakalan remaja dan beberapa
kelainan perilaku remaja yang lain biasanya
dikaitkan dengan perilaku agresif dari remaja
(Sarwono, 2013).
Perilaku agresif merupakan perilaku
menyerang atau melukai orang lain atau
mencakup perusakan properti. Perilaku agresif
ditujukan untuk menyakiti atau menghukum orang
lain atau memaksa seseorang untuk patuh.
Perilaku agresif sering kali di temui pada remajaremaja disekolah (Videbeck, 2012). Sekolah
seharusnya menjadi tempat yang menyenangkan,
tempat yang aman dan sehat, tempat dimana para
siswa dapat mengembangkan berbagai macam
potensi yang mereka miliki dengan sepenuhnya.
Namun bayangan akan terjadinya peristiwa tindak
kekerasan dan sesuatu yang tidak menyenangkan
saat memasuki lingkungan sekolah seringkali
menghantui perasaan sebagai siswa. Perilaku
agresif siswa di sekolah sudah menjadi masalah
yang universal (Neto, 2005), dan akhir-akhir ini
cederung semakin meningkat. Berita tentang
terlibatnya para siswa dalam berbagai bentuk
kerusuhan, tawuran, perkelahian, dan tindak
kekerasan lainnya semakin sering terdengar.
Perilaku agresif siswa di sekolah sangat beragam
dan kompleks (GatraNews, 12 Oktober 2011).
Perilaku agresif yang beragam dan kompleks ini
akan menimbulkan dampak yang merugikan dan
membahayakan bagi kedua belah pihak yang
terlibat konflik, sebab masing-masing pihak
biasanya berusaha melakukan sesuatu yang
mempunyai konsekuensi negatif dan merugikan
bagi pihak lawannya (Gurp, 2002).
Beberapa hal yang dapat menyebabkan
perilaku agresif antara lain adanya kadar serotonin
yang berperan sebagai inhibitor utama pada
perilaku agresif. Dengan demikian, kadar
serotonin yang rendah dapat menyebabkan
peningkatan perilaku agresif. Selanjutnya;
kerusakan struktur pada sistem limbik dan lobus
frontal serta lobus temporal otak dapat mengubah
kemampuan individu untuk memodulasi agresi
93
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
sehingga
menyebabkan
perilaku
agresif.
Selanjutnya pada psikososial, ketika anak tumbuh
dewasa, anak diharapkan mengembangkan
kontrol impuls (kemampuan untuk menunda
terpenuhinya keinginan) dan perilaku yang tepat
secara sosial. Kegagalan untuk mengembangkan
kualitas tersebut dapat menyebabkan individu
ynag impulsif, mudah frustasi, dan rentan terhadap
perilaku agresif (Videbeck, 2012).
Data dari Penelitian dan Pengembangan
(LITBANG) juga menunjukkan di Jakarta, pada
tahun 2010 tercatat 128 kasus tawuran antar
pelajar. Angka tersebut meningkat lebih dari
100% pada 2011, yakni 330 kasus tawuran yang
menewaskan 82 pelajar. Pada bulan Januari-Juni
2012, telah terjadi 139 tawuran yang menewaskan
12 orang pelajar (Lukmansyah & Andini, 2012).
Di Kota Padang, perilaku agresi remaja
juga terlihat dalam beberapa kasus seperti
pencurian motor (curanmor) yang dilakukan oleh
tiga orang pelajar SMK pada tahun 2012 dengan
alasan iseng (Postmetro Padang, 2012). Aksi
kebut-kebutan di jalan raya yang dilakukan oleh
pelajar hingga mengganggu kenyamanan
pengguna jalan lainnya karena siswa dengan
sengaja menyenggol atau menyerempet kendaraan
yang parkir sehingga angka kecelakaan motor
meningkat menjadi 80% dan korbannya
didominasi oleh remaja berumur 18 tahun ke atas
(Padang Ekspress, 2012). Dilengkapi dengan 18
kasus tawuran pelajar selama 3 tahun belakangan
yang mengalami peningkatan dari sebelumnya
(Polresta Kota Padang, 2013). Kasus tersebut
memperlihatkan bentuk perilaku agresif fisik yang
dilakukan oleh pelajar di Kota Padang.
Perilaku agresif dapat terjadi karena
adanya faktor-faktor yang melatarbelakanginya.
Pertama yaitu faktor biologis. Faktor biologis
yang mempengaruhi perilaku agresif adalah faktor
gen, faktor sistem otak dan faktor kimia darah.
Kedua faktor keluarga dipengaruhi oleh pola asuh
orang tua. Pola asuh orang tua dapat dibagi
menjadi tiga tipe yaitu pola asuh otoriter
(menerapkan peraturan kepada anaknya secara
ketat dan sepihak), pola asuh permisif
(memberikan banyak kebebaskan kepada anaknya
dan kurang kontrol yang disebabkan orang tua
mereka sibuk berkarir dengan pekerjaannya), dan
pola asuh otoritatif (orang tua memberikan
kebebasan disertai bimbingan kepada anak).
Orang tua juga harus dapat menerapkan ketiga
pola asuh tersebut sesuai dengan situasi dan
kondisi karena tantangan terbesar bagi tipe
keluarga dual career adalah mengatur dan
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
mengoordinasi pengasuhan anak sementara orang
tua bekerja. Faktor sekolah yang mempengaruhi
perilaku agresif seperti pengalaman bersekolah
dan lingkungannya, guru-guru di sekolah sangat
berperan dalam munculnya masalah emosi dan
perilaku agresif, disiplin sekolah yang sangat kaku
atau sangat longgar di lingkungan sekolah akan
sangat membingungkan anak yang masih
membutuhkan panduan untuk berperilaku. Faktor
belajar sosial dan faktor lingkungan juga
mempengaruhi karena remaja suka meniru apa
yang dilihatnya serta mudah terpengaruhi dengan
perilaku yang ada disekitar lingkungannya.
Hasil penelitian Rina (2011), dua faktor
yang melatarbelakangi perilaku agresif, pertama
faktor eksternal yang melatarbelakangi perilaku
agresif yang diurutkan berdasarkan nilai tertinggi
pertama, kedua, ketiga sampai yang paling banyak
memiliki nilai terendah yaitu, faktor ejekan dari
teman, faktor media audiovisual, dukungan
keluarga, lingkungan sekolah yang kurang
menguntungkan. Faktor kedua yaitu faktor
internal yang melatarbelakangi perilaku agresif
pada remaja adalah membalas ejekan teman,
kecewa dan pergi dari rumah, kurang nyaman,
mencoba adegan kekerasan seperti yang
ditayangkan di televisi.
Perilaku dibentuk dari masa kanak-kanak
awal, masa kanak-kanak pertengahan dan masa
kanak-kanak akhir atau remaja. Dalam proses
pembentukan perilaku remaja ada agen yang
sangat besar dan penting sekali pengaruhnya, yang
dapat membawa individu diterima dengan baik
dikalangan
masyarakat
terutama
teman
sebayanya. Agen yang dimaksud adalah keluarga.
Keluarga merupakan dua orang atau lebih yang
disatukan oleh kebersamaan dan kedekatan
emosional serta mengidentifikasi dirinya sebagai
bagian dari keluarga . Ketika orang tua
menyediakan dukungan emosional dan kebebasan
bagi remaja untuk menjelajahi lingkungannya,
maka remaja akan berkembang dengan memiliki
pemahaman yang sehat mengenai siapa dirinya.
Dukungan dan komunikasi yang terbuka dari
orangtua atau keluarga akan mempengaruhi
pembentukan identitas diri remaja (Friedman,
Bowden, & Jones 2014).
Faktor keluarga sangat berpengaruh
terhadap timbulnya perilaku agresif. Dengan ikut
berperannya seorang ibu untuk menambah
penghasilan keluarga menyebabkan kurangnya
perhatian orangtua terhadap aktivitas remaja,
kurangnya kasih sayang orang tua dan penerapan
disiplin dapat menjadi pemicu timbulnya perilaku
94
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
agresif. Sikap dan perilaku serta perasaan orang
tua selalu dilihat, dinilai dan ditiru oleh anaknya
yang kemudian secara sadar dan tidak sadar
diresapi dan menjadi kebiasaan bagi anakanaknya, hal ini disebabkan karena anak
mengidentifikasikan dirinya pada orang tua
sebelum mengadakan identifikasi dengan orang
lain (Tarmudji, 2004).
Di zaman modern saat ini, peran orangtua
terutama seorang ibu juga telah berubah. Saat ini
banyak dijumpai keluarga yang kedua orang
tuanya bekerja. Dengan makin banyaknya
kehadiran dual-career family, ada tiga pekerjaan
purnawaktu: dua pekerjaan orang dewasa yang
digaji dan satu pekerjaan rumah tangga
(Friedman, Bowden, & Jones 2014). Ketika
wanita bekerja, suami mereka biasanya berbagi
peran mengasuh anak dan mengurus rumah tangga
(Shaw, 1988). Peningkatan keterlibatan suami
yang memiliki istri bekerja khususnya tampak
melalui keterlibatan dalam pengasuhan anak
(Pleck,1985).
Tantangan dalam mengatur dua buah
pekerjaan dipengaruhi oleh jenis pekerjaan yang
dimiliki oleh pasangan suami-istri dan stres yang
ditimbulkan oleh pekerjaan tersebut. Tuntutan
kerja yang sangat tinggi disertai kendali yang
lemah pada tuntutan kerja, pada umumnya
menimbulkan tingkat stres yang tinggi. Stres yang
ditimbulkan oleh pekerjaan bukan hanya masalah
pribadi tetapi juga masalah keluarga. Sebagai
contoh, stres yang disebabkan oleh pekerjaan
dapat berpengaruh buruk pada hubungan orang
tua-anak (Friedman, Bowden & Jones, 2004).
Dari hasil wawancara dengan empat siswa
SMAN 1 Kecamatan 2 x 11 Kayutanam, satu
orang siswa yang kedua orangtuanya PNS
mengatakan bahwa perilaku agresif yang sering
terjadi di sekolah adalah banyak siswa yang telat
datang ke sekolah, bolos, merokok, mencela
teman dan pacaran, dua orang siswa yang kedua
orangtuanya wirausaha mengatakan bahwa kasus
yang sering terjadi di sekolah adalah banyak siswa
yang merokok, cabut, melawan guru, berkata
kotor kepada guru dan perselisihan antara siswa
dan guru. Satu orang siswi yang kedua
orangtuanya berdagang mengatakan banyak siswa
yang merokok di sekitar sekolah, cabut, pacaran
dan siswi-siswi mempunyai kelompok-kelompok
teman (genk). Dua orang guru yang diwawancara
mengatakan bahwa kasus yang sering terjadi
adalah kurangnya etika siswa terhadap guru, siswa
banyak yang telat datang ke sekolah, bolos,
kadang-kadang terjadi perkelahian antar sesama
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
siswa. Dari hasil observasi peneliti banyak siswa
laki-laki ngebut-ngebutan saat membawa motor,
tidak mematuhi tata tertib lalu lintas bahkan salah
satu siswa yang tinggal di dekat rumah peneliti
ketika di tegur mereka bukannya minta maaf
malahan melawan. Ada juga siswa yang pulang
sekolah masih menggunakan seragam sekolah
lengkap mereka dengan bebasnya merokok,
pacaran, berkata kotor sesama teman, saling
mencela satu sama lain dan sejumlah siswi
mempunyai genk nya masing-masing.
Berdasarkan fenomena yang ditemukan
diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai “Hubungan Tipe Keluarga
dengan Perilaku Agresif pada Remaja di SMAN
1 Kecamatan 2 x 11 Kayutanam Kabupaten
Padang Pariaman tahun 2016”.
Berdasarkan latar belakang di atas maka
rumusan masalah penelitian sebagai berikut :
Apakah ada hubungan tipe keluarga dengan
perilaku agresif pada remaja di SMAN 1 2 x 11
Kayutanam tahun 2016?
Penelitian ini memiliki tujuan untuk
mengetahui hubungan tipe keluarga dengan
perilaku agresif pada remaja di SMAN 1
Kecamatan 2 x 11 Kayutanam Kabupaten Padang
Pariaman tahun 2016.
2. METODE PENELITIAN
Jenis
penelitian
Deskriptif
Korelasi,
pendekatan Cross Sectional yang bertujuan untuk
melihat hubungan tipe keluarga dengan perilaku
agresif pada remaja di SMAN 1 Kecamatan 2 x 11
Kayutanam Kabupaten Padang Pariaman, dimana
variabel independennya adalah hubungan tipe
keluarga, sedangkan variabel dependen adalah
perilaku agresif, kedua variabel ini diteliti dalam
waktu bersamaan. Populasi penelitian ini adalah
siswa kelas X - XII berjumlah 429 orang.
Penelitian ini menggunakan teknik Multistage
random sampling. Instrumen yang digunakan
untuk pengumpulan data yaitu kuesioner.
Pengolahan Data dan Analisa Data adalah
sebagai berikut: Memeriksa (Editing), memberi
Tanda Kode (Coding), proses (Processing),
pembersihan Data (Cleaning), skor (Scoring), dan
analisa yang dilakukan untuk mengetahui
hubungan antara dua variabel yang diteliti,
pengujian hipotesis untuk pengambilan keputusan
dengan menggunakan uji statistik chi square test,
untuk melihat kemaknaan perhitingan statistik
digunakan batasan kemaknaan 0,05 sehingga p ≤
0,05 secara statistik disebut “bermakna” dan jika
95
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
p > 0,05 maka hasil hitungan tersebut “tidak
bermakna” secara komputerisasi.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1). Tipe Keluarga
Tabel 3.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tipe Keluarga
Tipe Keluarga
f
%
Dual Career
Tidak Dual Career
72
135
34,8
65,2
Total
207
100.0
Dari tabel 3.1 diatas terlihat bahwa tipe keluarga siswa lebih dari separuh dengan tipe keluarga
tidak dual career yaitu sebanyak 65,2% atau sebanyak 135 orang responden. Sisanya 34,8% atau
sebanyak 72 orang responden mempunyai tipe keluarga dual career.
2. Perilaku Agresif Pada Remaja
Tabel 3.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku Agresif Pada Anak Remaja
Perilaku Remaja
f
Agresif
Tidak agresif
Total
109
98
207
%
52,7
47,3
100.0
Dari tabel 3.2 diatas terlihat bahwa 52,7% siswa mempunyai perilaku agresif atau sebanyak 109
orang responden. Sisanya 47,3% atau sebanyak 98 orang responden mempunyai perilaku tidak agresif.
3) Hubungan Tipe Keluarga dengan Perilaku Agresif pada Anak Remaja
Tabel 3.3 Hubungan Tipe Keluarga dengan Perilaku Agresif pada Anak Remaja
Perilaku
Total
Agresif
f
%
Tipe Keluarga
Tidak agresif
f
%
P
f
%
Dual Career
Tidak Dual Career
45
64
62,5%
47,4%
27
71
37,5%
52,6%
72
135
100,0%
100,0%
Total
109
52.7%
98
47.3%
207
100.0%
OR
0.054 1.849
Pada tabel 3.3 ditunjukkan bahwa hasil analisa diperoleh dari 52.7% siswa yang berperilaku
secara agresif 62,5% diantaranya mempunyai tipe keluarga dual career. Sementara itu dari 47.3%
siswa yang berperilaku tidak agresif 52,6% diantaranya mempunyai tipe keluarga dual career. Nilai
p= 0.054, berarti Ho diterima, tidak ada hubungan yang bermakna ( nilai p > 0,05). Maka menunjukan
tidak adanya hubungan tipe keluarga dual career dengan perilaku agresif pada remaja. OR
didapatkan 1.849 artinya tipe keluarga dual career beresiko 1.849 kali untuk terjadinya perilaku
agresif pada remaja dibandingkan keluarga tidak dual career.
LPPM STIKes Perintis Padang
96
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
B. Pembahasan
1) Tipe Keluarga Dual Career
Dari tabel 3.1 diatas terlihat bahwa tipe keluarga
siswa lebih dari separuh dengan tipe keluarga
tidak dual career yaitu sebanyak 65,2% atau
sebanyak 135 orang responden. Keluarga adalah
dua orang atau lebih yang disatukan oleh
kebersamaan dan kedekatan emosional serta
mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari
keluarga (Friedman, Bowden, & Jones 2014).
Dalam sosiologi keluarga, berbagai bentuk
keluarga digolongkan sebagai bentuk tradisional
dan nontradisional, dan sebagai bentuk normatif
dan non-normatif atau bentuk-bentuk keluarga
varian. Bentuk keluarga varian menunjukan
kepada struktur keluarga yang merupakan sebuah
variasi dari bentuk norma. Bentuk varian tersebut
meliputi semua bentuk deviasi dari keluarga inti
tradisional yang dicirikan oleh rumah tangga
suami, istri dan anak-anak hidup terpisah dari
orangtua, dengan laki-laki sebagai pencari nafkah
dan istri sebagai ibu rumah tangga (Sussman et
al,1971).
Dengan meningkatnya wanita yang
bekerja secara tajam, maka akan terdapat banyak
sekali keluarga yang suami istri sama-sama
bekerja selama periode tertentu dalam siklus
kehidupan berkeluarga. Dalam kebanyakan
keluarga dimana pasangan suami istri bekerja,
baik sebagai pekerja sambilan maupun tetap,
kebanyakan wanita (demikian juga dengan lakilaki) memiliki apa yang dinamakan jabatan-yaitu
posisi yang bukan menjadi kepentingan umum
kehidupan dan diterima karena alasan ekonomi
(Skinnre, 1984).
Seiring perpindahan wanita dari rumah ke
tempat kerja pada dekade baru-baru ini, peran
mereka juga telah berubah, dan secara
berhubungan, peran perilaku pasangan mereka
juga berubah. Perubahan peran pria dalam
keluarga terjadi, tetapi pada kecepatan yang lebih
lambat dibandingkan perubahan pada pekerjaan
wanita dan perubahan dalam peran keluarga.
Penelitian mengenai peran wanita dalam keluarga
difokuskan terutama pada keluarga dan alokasi
peran. Telah dianalisis sampai sejauh mana wanita
mempertahankan kewajiban peran jenis kelamin
tradisional (pengasuhan anak, pengurus rumah
tangga, dll.) dan secara simultan melakukan peran
kerja mereka. Kelebihan beban, konflik, dan
ketegangan peran didokumentasikan dalam studi
setelah studi seiring wanita beralih menjadi tenaga
kerja dan menciptakan karir bagi diri mereka.
Dengan makin banyaknya kehadiran dual-career
family, ada tiga pekerjaan purnawaktu: dua
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
pekerjaan orang dewasa yang digaji dan satu
pekerjaan rumah tangga (Friedman, Bowden, &
Jones 2014).
Menurut peneliti, tipe keluarga dual
career adalah tipe keluarga dimana suami istri
sama-sama bekerja baik sambilan maupun tetap
dengan tujuan untuk menambah penghasilan
keluarga. Di sini terjadi perubahan peran pada
pasangan suami istri, jika istri tidak bisa
melakukan perannya sebagai pengasuh dan
mengatur rumah tangga, ini akan menimbulkan
hubungan yang tidak baik dalam keluarga
terutama pada anak, sehingga anak akan mencari
perhatian orang tua dengan caranya sendiri.
2) Perilaku Agresif Pada Remaja
Dari tabel 3.2 diatas terlihat bahwa 52,7%
siswa mempunyai perilaku agresif atau sebanyak
109 orang responden. Perilaku agresif fisik
merupakan perilaku menyerang atau melukai
orang lain atau mencakup perusakan properti.
Perilaku agresif ditujukan untuk menyakiti atau
menghukum orang lain atau memaksa seseorang
untuk patuh. Perilaku agresif sering kali di temui
pada remaja-remaja disekolah (Videbeck, 2012).
Relational aggression (agresi relasi ) adalah
perilaku yang menyebabkan kerugian pada orang
lain dengan cara merusak ( atau ancaman
merusak) hubungan atau dukungan, persahabatan
atau ikatan kelompok (Crick et al., dalam Yoon et
al., 2004).
Agresif menurut Baron (dalam Koeswara,
1998) adalah tingkah laku yang dijalankan oleh
individu
dengan
tujuan
melukai
atau
mencelakakan individu lain. Myers (dalam
Adriani, 1985) mengatakan tingkah laku agresif
adalah tingkah laku fisik atau verbal untuk
melukai orang lain. Menurut Dollar dan Miler
(dalam Sarwono, 1988) Agresi merupakan
pelampiasan dari perasaan frustasi. Menurut
Berkowitz (1987), agresif merupakan suatu
bentuk perilaku yang mempunyai niat tertentu
untuk melukai secara fisik atau psikologis pada
diri orang lain. Murray (dalam Hall dan Lindzey,
1981) mengatakan bahwa agresif adalah suatu
cara untuk mengatasi perlawanan dengan kuat
atau menghukum orang lain.
Menurut peneliti, perilaku agresif adalah
perilaku yang ditujukan untuk merugikan orang
lain, perilaku yang dimaksud untuk melukai orang
lain baik secara fisik atau verbal) atau merusak
harta benda. Jika seseorang tidak bisa mengontrol
emosi dan melampiaskan kepada orang lain atau
benda dengan disengaja maka orang tersebut
sudah berperilaku agresif.
97
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Hubungan Tipe Keluarga dengan Perilaku
Agresif pada Remaja di SMAN 1 Kecamatan 2 x
11 Kayutanam Kabupaten Padang Pariaman tahun
2016.
Hasil analisa diperoleh nilai p = 0.054,
berarti Ho diterima, tidak ada hubungan yang
bermakna ( nilai p > 0,05). Maka menunjukan
tidak adanya hubungan tipe keluarga dual career
dengan perilaku agresif pada remaja. OR
didapatkan 1.849 artinya tipe keluarga dual career
beresiko 1.849 kali untuk terjadinya perilaku
agresif pada remaja dibandingkan keluarga tidak
dual career.
Dapat kita lihat juga hasil penelitian yang
dilakukan oleh M.Faizan Ismail Tahun 2014
tentang hubungan pola asuh orang tua dengan
kejadian perilaku agresif pada remaja SMPN III
Bawen Kecamatan Bandungan Kabupaten
Semarang bahwa ada hubungan antara pola asuh
orang tua dengan perilaku agresif dimana p value
0,040 (p<0,05), dari hasil Regresi Logistik
terdapat hasil otoriter 1,000 dan demokratis 0,444
hal ini menunjukan tidak dapat mengetahui tipe
pola asuh orang tua yang paling berhubungan
dengan perilaku agresif.
Di zaman modern saat ini, peran orangtua
terutama seorang ibu juga telah berubah. Saat ini
banyak dijumpai keluarga yang kedua orang
tuanya bekerja. Terlepas dari apakah wanita
bekerja karena keinginan sendiri atau keharusan
(ataupun kedua-duanya), bentuk keluarga yang
dominan terjadi sekarang ini adalah dual career
family. Rappoport & Rappoport (dalam Wilcox
dkk,1989) menyatakan bahwa dual career family
merupakan tipe keluarga dimana suami dan istri
aktif dalam mengejar karir dan kehidupan
keluarga secara serentak. Menurut Penelitian
Apperson dkk (2002) mayoritas pria dan wanita
sekarang ini, mempunyai kedudukan ganda
sebagai karyawan dengan jenis pekerjaan full
time. Dikatakan Primastuti (dalam Prawitasari
dkk, 2007) bahwa banyak dari mereka yang
mempunyai peranan ganda dalam dunia kerja
untuk mendapatkan penghasilan ataupun
kepuasan hidup. Dalam dual career family,
ketegangan-ketegangan akan lebih sering muncul
dibandingkan dengan keluarga tradisional.
Ketegangan-ketegangan umumnya berasal dari
peran-peran yang sering menjadi tidak jelas serta
adanya tuntutan peran dari lingkungan. Seorang
isteri menikah yang memutuskan untuk bekerja,
peran yang dipikulnya pasti semakin bertambah,
yaitu peran sebagai isteri, orang tua, dan peran
sebagai pekerja. Tuntutan-tuntutan pekerjaan
mengakibatkan isteri pulang kerja dalam keadaan
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
lelah sehingga ia tidak memiliki cukup energi
untuk memenuhi semua kebutuhan anggota
keluarganya. Selain itu, dengan adanya jumlah
jam kerja yang cukup panjang menyebabkan ibu
tidak selalu ada pada saat dimana ia sangat
dibutuhkan oleh anak atau pasangannya.
Ketika wanita bekerja, suami mereka
biasanya berbagi peran mengasuh anak dan
mengurus rumah tangga (Shaw, 1988).
Peningkatan keterlibatan suami yang memiliki
istri bekerja khususnya tampak melalui
keterlibatan dalam pengasuhan anak (Pleck,1985).
Coltrane (1977) mencatat bahwa masih banyak
terdapat halangan besar bagi partisipasi penuh
ayah dalam tugas keluarga, termasuk tuntutan
pekerjaan, struktur tempat kerja mereka, dan
terbatasnya penerimaan sosial terhadap “daddy
tracks” dengan program kerja keluarga seperti
pengaturan waktu kerja dan kepergian orang tua.
Perilaku agresif adalah tingkah laku
pelampiasan dari perasaan frustasi untuk
mengatasi perlawanan dengan kuat atau
menghukum orang lain, yang ditujukan untuk
melukai pihak secara fisik maupun psikologis
pada orang lain yang dapat dilakukan secara fisik
maupun verbal. Menurut Atkinson dkk (1981)
agresif adalah tingkah laku yang diharapkan untuk
merugikan orang lain, perilaku yang dimaksud
untuk melukai orang lain, perilaku yang dimaksud
untuk melukai orang lain (baik secara fisik atau
verbal) atau merusak harta benda.
Menurut peneliti tipe keluarga dual
career berpengaruh terhadap timbulnya perilaku
agresif. Dengan bekerjanya kedua orang tua
menyebabkan waktu bersama anak berkurang,
anak juga merasakan kurangnya kasih sayang.
Kurangnya komunikasi dan interaksi antara orang
tua dan anak membuat anak mencari perhatian
dengan melakukan hal-hal yang mereka anggap
menyenangkan tanpa memikirkan akibat dari
perbuatannya itu. Hal inilah yang menimbulkan
perilaku agresif pada anak. Namun, hal tersebut
dapat dihindari orang tua yang keduanya bekerja
dengan cara membuat anak tetap merasakan kasih
sayang orang tua dengan lebih banyak
meluangkan waktu bersama dan berbagi kasih
sayang terhadap anak. Dari 207 orang responden
yang diteliti terlihat pada kuesioner tentang
perilaku agresif responden yang menjawab Sering
paling banyak pada pertanyaan 4 sebanyak 21
orang atau 10,1% dan yang menjawab Sangat
Sering paling banyak pada pertanyaan no 3 orang
responden atau 1,4%.
98
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
KESIMPULAN
Setelah dilakukan penelitian yang
dilaksanakan dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut: a) Tipe keluarga siswa lebih dari separuh
dengan tipe keluarga tidak dual career yaitu
sebanyak 65,2% atau sebanyak 135 orang
responden. b) Sebanyak 109 orang responden atau
setara dengan 52,7% siswa mempunyai perilaku
agresif. c) Dari uji Chi-Square nilai p = 0.054,
berarti Ho diterima, tidak ada hubungan yang
bermakna ( nilai p > 0,05) tipe keluarga dual
career dengan perilaku agresif pada remaja di
SMAN 1 Kecamatan 2 x 11 Kayu tanam
Kabupaten Padang Pariaman tahun 2016. OR
didapatkan 1.849 artinya tipe keluarga dual career
beresiko 1.849 kali untuk terjadinya perilaku
agresif pada remaja dibandingkan keluarga tidak
dual career.
Walaupun demikian diharapkan kepada
sekolah agar meningkatkan kemampuan sekolah,
guru-guru, dan petugas Bimbingan Konseling
untuk mengatasi perilaku agresif remaja di
sekolah serta mengembangkan metode bimbingan
konseling remaja bersama keluarga terutama tipe
keluarga dual carrer.
ISSN: 2548-3153
4.
Hidayat M. (2015), Perilaku Agresi Relasi Siswa
Di Sekolah, Aswaja Pressindo, Yogyakarta
Ismail, M. F. (2014). Hubungan Pola Asuh Orang
Tua Dengan Kejadian Perilaku Agresif
Pada Remaja Di SMP III Bawen
Kecamatan
Bandungan
Kabupaten
Semarang. Jurnal Penelitian. Ungaran:
Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes
Ngudi Waluyo Ungaran
Lukmansyah, D & Andini, P. (2012). Data
tawuran pelajar selama 2010-2012.
Diperoleh tanggal 4 Juli 2013 dari
http:///video.tvOneNews.antaranews.tv/ars
ip
Materi 05 - Agresi.pdf - Kenes. Di Unduh dari
kenes.staff.gunadarma. ac.id/Downlo
ads/.../Materi+05+-+Agresi.pdf tanggal
7 april 2016
Notoatmodjo. (2010), Metodologi Penelitian
Kesehatan Edisi Revisi, Rineka Cipta,
Jakarta
5. REFERENSI
Achir Yani S.H. (2009), Bunga Rampai-Asuhan
Keperawatan Kesehatan Jiwa, Buku
Kedokteran, EGC , Jakarta
BPS. (2014). Jumlah remaja dirinci menurut
kelompok umur dan jenis kelamin.
Diperoleh tanggal 13 April 2016 dari BPS
Kabupaten
Padang
Pariaman
http://padangpariamankab.bps.go.id/linkTa
belStatis/view/id/127
Data demografi jumlah populasi remaja di
beberapa negara dan di Indonesia
https://www.scribd.com/doc/223921391/M
enurut-Badan-Pusat-Statistik
Friedman. (1998), Keperawatan Keluarga Teori
dan Praktik Edisi 3, Buku Kedokteran,
EGC, Jakarta
Nursalam. (2011), Konsep dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan,
Salemba Medika, Jakarta
Pieter, dkk. (2010), Pengantar Psikologi dalam
Keperawatan, Kencana Prenada Media
Group, Jakarta
Potter & Perry. (2009), Fundamentals of NursingFundamental Keperawatan Buku 1 Edisi 7,
Salemba Medika, Jakarta
Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan
RI (2014). Situasi Kesehatan Reproduksi
Remaja Dalam Rangka Hari Keluarga
Nasional,
29
Juni
http://www.depkes.go.id/resources/downlo
ad/pusdatin/infodatin/infodatin%20r
eproduksi%20remaja-ed.pdf
Rina
Friedman, Bowden & Jones. (2014), Buku
Ajar-Keperawatan Keluarga Edisi 5f,
Buku Kedokteran, EGC, Jakarta
Hidayat, A. A. (2009), Metode Penelitian
Keperawatan dan Teknik Analisis Data,
Salemba Medika, Jakarta
LPPM STIKes Perintis Padang
(2011),
“FaktorFaktor
Yang
Melatarbelakangi Perilaku Agresif Pada
Remaja Kelas II ,III Di Smp Pahlawan
Toha Bandung 18 September 2006 – 05
Januari 2007”, Jurnal Kesehatan Prima,
Vol. 3 No.2, p.14-24
99
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Sarwono. (2013), Psikologi Remaja edisi revisi,
Rajawali Pers, Jakarta
Setiadi. (2013), Konsep & Penulisan Riset
Keperawatan, Graha Ilmu, Yogyakarta Tim
Penulis Falkutas Psikologi UI. (2009),
Psikolog Sosial, Salemba Humanika,
Jakarta
Universitas Andalas (2013). Gambaran Perilaku
Agresi
dan
Faktor-Faktor
yang
Mempengaruhinya Pada Siswa SMK X di
Kota
Padang
http://repository.unand.ac.id/21606/3/bab
%201.pdf
Videbeck. (2012), Buku Ajar-Keperawatan Jiwa,
Buku Kedokteran, EGC, Jakarta
Wong. (2009), Buku Ajar Keperawatan Pediatrik
Volume 1, Buku Kedokteran, EGC, Jakarta
LPPM STIKes Perintis Padang
100
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
BUDAYA ORGANISASI ERAT HUBUNGANNYA DENGAN KEPUASAN
PASIEN RAWAT INAP
Ernalinda Rosya 1, Emil Wahyu Andria 2, Mera Delima 3
Program Studi Profesi Ners STIKes Perintis Padang
Email: [email protected]
Abstract
Medical Records Hospital Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi (2016) that writers get, the largest number
of patients treated is in the room interne. During 2014 there were 2,621 patients treated, and in 2015
increased to 3,697 patients. The goal is to determine the relationship with the organizational culture of
patient satisfaction at Hospital. The sample in this study was 22 people. This study was conducted on
July 11, 2016 until July 16, 2016 Bukittinggi. This research uses descriptive analytic method with cross
sectional design, then the data is processed by using Chi Square test. Statistical test results obtained p
value of 0.027 can be inferred the existence of a relationship between the right sincere promise nurse
with patient satisfaction. P value of 0.027 can be inferred the existence of a relationship between
empathy nurses with patient satisfaction. P value 0.006 can be inferred the existence of a relationship
between responsibiliti nurse with patient satisfaction. P value of 0.006 can be inferred the existence of
a relationship between a wise nurse with patient satisfaction. P value 0.008 can be concluded their fair
relationship between nurse and patient's satisfaction. P value 0.003 can be inferred the existence of a
relationship between the integrity of the nurses with patient satisfaction. P value 0.000 can be inferred
the existence of a relationship between togetherness nurse with patient satisfaction. To that end, in the
nursing field needed improvement and development of resource nurses on the meaning of organizational
culture, especially nurses diruangan interne men and women through how to behave or conduct of a
nurse to the patient or the patient's family, and every month to evaluate patient satisfaction with the
performance of nurses as well as the necessary their reward and punishment for nurses who have
good performance.
Keywords: Organizational Culture, Patient Satisfaction
1. PENDAHULUAN
Rumah sakit merupakan salah satu pelayanan
kesehatan kepada masyarakat yang memiliki
peran strategis dalam mempercepat peningkatan
derajat kesehatan sebagai tujuan pembangunan
kesehatan, sehingga rumah sakit dituntut untuk
memberikan pelayanan yang bermutu sesuai
standar yang ditetapkan. Menurut Kepmenkes
No.228/2002 menyebutkan bahwa standar
pelayanan minimal rumah sakit harus memuat
standar penyelenggaraan pelayanan medik,
pelayanan
penunjang,
dan
pelayanan
keperawatan. Konsumen dalam hal ini adalah
pasien yang mengharapkan pelayanan di rumah
sakit, bukan saja mengharapkan pelayanan medik
dan keperawatan tetapi juga mengharapkan
kenyamanan, akomodasi yang baik dan hubungan
harmonis antara staf rumah sakit dan pasien. Oleh
karena itu, diperlukan adanya peningkatan
kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit.
Kualitas pelayanan baik, iklim kerja yang tanggap
terhadap pasien akan menciptakan kepuasan
pasien (Keliat & Akemat, 2010).
LPPM STIKes Perintis Padang
Penilaian mutu pelayanan rumah sakit didapatkan
nilai indeks kepuasan masyarakat di ruang rawat
inap interne 75,6% (Bagian Pelayanan Medik
RSUD Dr. Achmad Mochtar, 20 April 2016). Data
tersebut menunjukkan bahwa tingkat kepuasan
pasien di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
masih jauh dibawah standar. Minimal standar
kepuasan pasien rawat inap rumah sakit menurut
Kemenkes RI (2008) yaitu 90%. Kepuasan pasien
merupakan salah satu tujuan dalam suatu
organisasi di rumah sakit.
Organisasi rumah sakit mempunyai budaya
diantaranya adalah budaya yang tanggap terhadap
pelanggan. Budaya yang tanggap terhadap
pelanggan merupakan nilai budaya organisasi
yang diterapkan di rumah sakit tersebut dalam
memberikan pelayanan. Robbins dan Judge (2014:
256) mendefinisikan budaya organisasi adalah
sebagai sistem nilai yang dianut bersama oleh
anggota-anggota yang membedakan organisasi itu
dari organisasi-organisasi lain. Manfaat budaya
organisasi adalah menimbulkan rasa memiliki
identitas bagi anggota. Budaya yang kuat, akan
membuat anggota organisasi memiliki identitas
101
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
yang merupakan ciri khas organisasinya. Budaya
organisasi memiliki pengaruh yang kuat pada
karyawan seperti kepuasan kerja yang hasil
akhirnya akan dapat memenuhi harapan
pelanggan dalam bentuk kepuasan pelanggan.
Dibuktikan dengan penelitian Siti Kholipah
(2013) ditemukannya hubungan yang kuat antara
budaya organisasi dengan kepuasan pasien di
RSUD Ambarawa.
Budaya organisasi yang dikembangkan oleh
rumah sakit ini adalah TERBAIK. Budaya
TERBAIK mulai diterapkan pada tahun 2010.
Budaya TERBAIK merupakan ketetapan atau
konsensus bersama dari rumah sakit itu sendiri.
Budaya ini telah tercantum di UU RSUD Dr.
Achmad Mochtar yang dinamakan Hospital
Bylows atau HBL RS (Kebijakan dari pihak
RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi).
Kesenjangan yang didapatkan antara budaya yang
diterapkan dengan ketidakpuasan pasien tersebut,
dapat disimpulkan bahwa kurang terlaksananya
fungsi manajemen dalam pengorganisasian di
rumah sakit. Bentuk pengorganisasian yang
dimaksud adalah budaya organisasi. Berdasarkan
fenomena tersebut, maka dicoba meneliti tentang
hubungan budaya organisasi dengan kepuasan
pasien rawat inap.
ISSN: 2548-3153
Peneliti mengobservasi perawat yang dinas pagi
dan mengisi lembar observasi yang peneliti buat
sendiri. Kemudian saat dinas siang, peneliti
kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan
penelitian dengan membagikan kuesioner kepada
4 orang pasien sekaligus peneliti mengobservasi
perawat yang dinas siang, begitupun saat dinas
malam, peneliti membagikan kuesioner kepada 4
orang pasien sekaligus peneliti mengobservasi
perawat yang dinas malam.
Setelah data terkumpul, diklasifikasikan dalam
beberapa kelompok menurut sub variabel yang
ada dalam pertanyaan kuesioner dan lembar
observasi. Data yang telah diklasifikasikan
diolah.Pada analisa data univariat digunakan
untuk memperoleh gambaran pada masing-masing
variabel independent (Tulus dan tepat janji,
Empati, Responsibiliti, Bijak, Adil, Integritas,
Kebersamaan dan kompak) maupun variabel
dependent (Kepuasan pasien). Data disajikan
dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
masalah etika dalam penelitian ini meliputi: inf
ormed concent (lembar persetujuan), anonimity
(tanpa nama) dan confidentiality (kerahasiaan).
2. METODOLOGI
Menggunakan metode descriptif analitic,
dengan pendekatan crossectional.Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh pasien yang dirawat
di Ruang Rawat Inap Interne Pria dan Wanita
RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi dan
semua perawat yang dinas di ruangan interne pria
dan wanita RSUD Dr. Achmad Mochtar
Bukittinggi. Sampel dalam penelitian ini adalah
22 orang. Instrument dalam pengumpulan data
penelitian ini menggunakan kuesioner dan lembar
observasi. Proses pengumpulan data diawali
dengan melakukan pengambilan data di RSUD
Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi.
Setelah itu peneliti melakukan identifikasi
pasien sesuai kriteria inklusi dengan melihat buku
status pasien. Selanjutnya peneliti membagikan
kuesioner sebanyak 6 kuesioner kepada pasien
sesuai jumlah perawat yang dinas pagi dimana 1
orang perawat diobservasi sebanyak 2x dan dinilai
oleh pasien yang berbeda dengan cara mengisi
lembar kuesioner yang diberikan oleh peneliti.
LPPM STIKes Perintis Padang
102
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Hasil analisa univariat
Tabel 5.1 menunjukkan bahwa lebih dari separoh (59,1%) perawat mempunyai sikap tulus dan tepat
janji yang kurang baik. Pada sikap empati menunjukkan bahwa lebih dari separoh(59,1) perawat
mempunyai sikap empati yang kurang baik. Perawat yang mempunyai sikap responsibiliti yang kurang
baik lebih dari separoh (63,6%). Pada sikap bijak lebih dari separoh (63,6%)
perawat yang
mempunyai sikap bijak yang kurang baik. Perawat yang mempunyai sikap adil yang kurang baik
lebihdariseparoh (54,5%). Separoh (50%) perawat mempunyai sikap integritas yang baik. perawat yang
mempunyai sikap kebersamaan dan kompak yang baik yaitu lebihdariseparoh (50,4%).
Tabel 5. 1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sikap (Budaya Organisasi) Di Ruangan
Rawat Inap Interne Pria dan wanita di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi (N=22)
Tulus dan Tepat Janji
Baik
Kurang Baik
Empati
Baik
Kurang Baik
Responsibiliti
Baik
Kurang Baik
Bijak
Baik
Kurang Baik
Adil
Baik
Kurang Baik
Integritas
Baik
Kurang Baik
Kebersamaan/ kompak
Baik
Kurang Baik
f
9
13
Persentase %
40,9
59,1
9
13
40,9
59,1
8
14
36,4
63,6
8
14
36,4
63,6
10
12
45,5
54,5
11
11
50
50
12
10
50,4
45,5
Tabel 5.2 menunjukkan lebih dari separoh (54,5%) pasien menyatakan tidak puas terhadap sikap
perawat saat memberikan pelayanan keperawatan.
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Kepuasan Pasien Rawat Inap Interne Pria dan wanita di RSUD
Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
Kepuasan pasien
f
Persentase %
Puas
10
45,5
Tidak puas
12
54,5
Total
22
100
b. Hasil analisa bivariat
Tabel 5.3 menunjukkan hasil uji statistik di dapatkan p value 0,027 artinya adanya hubungan antara
perawat yang mempunyai sikap tulus dan tepat janji dengan kepuasan pasien. Hasil analisis di dapatkan
nilai OR = 11,667 artinya perawat yang mempunyai sikap tulus dan tepat janji yang baik berpeluang
11,667 kali terhadap kepuasan pasien dibandingkan dengan pasien yang menyatakan sikap perawat
kurang baik dalam bersikap tulus dan tepat janji.
LPPM STIKes Perintis Padang
103
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Tabel 5.3 Hubungan Tulus dan Tepat janji dengan Kepuasan Pasien Rawat Inap Interne Pria
dan Wanita di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
Tulus tepat janji
Kurang baik
baik
Total
Kepuasan pasien
Tidak puas
Puas
f
%
f
%
10 76,9
3
23,1
2
22,2
7
77,8
12
54,5
10
45,5
Total
f
13
9
22
%
100
100
100
P
value
OR
value
0,027
11,667
Tabel 5.4 menunjukkan hasil uji statistik di dapatkan p value 0,027 artinya adanya hubungan antara
perawat yang mempunyai sikap empati dengan kepuasan pasien. Hasil analisis di dapatkan nilai OR =
11,667 artinya perawat yang mempunyai sikap empati yang baik berpeluang 11,667 kali terhadap
kepuasan pasien dibandingkan dengan pasien yang menyatakan sikap perawat kurang baik dalam
bersikap empati.
Tabel 5.4 Hubungan Empati dengan Kepuasan pasien Rawat Inap Interne Pria dan Wanita di
RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
Empati
Kurang baik
baik
Total
Kepuasan pasien
Tidak puas
Puas
f
%
f
%
10 76,9
3
23,1
2
22,2
7
77,8
12
54,5
10
45,5
Total
f
13
9
22
%
100
100
100
P
value
OR
value
0,027
11,667
Tabel 5.5 menunjukkan hasil uji statistik didapatkan p value 0,006 artinya adanya hubungan antara
perawat yang mempunyai sikap reponsibiliti dengan kepuasan pasien. Hasil analisis didapatkan nilai
OR = 25,667 artinya perawat yang mempunyai sikap responsibiliti yang baik berpeluang 25,667 kali
terhadap kepuasan.
Tabel 5.5 Hubungan Responsibiliti dengan Kepuasan pasien Rawat Inap Interne Pria dan
wanita di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
Responsibiliti
Kurang baik
baik
Total
Kepuasan pasien
Tidak puas
Puas
f
%
f
%
11
78,6
3
21,4
1
12,5
7
87,5
12
54,5
10
45,5
Total
f
14
8
22
%
100
100
100
P
value
OR
value
0,006
25,667
Tabel 5.6 menunjukkan hasil uji statistik p value 0,006 artinya adanya hubungan antara perawat yang
mempunyai sikap bijak dengan kepuasan pasien. Hasil analisis di dapatkan nilai OR = 25,667 artinya
perawat yang mempunyai sikap bijak yang baik berpeluang 25,667 kali terhadap kepuasan pasien
dibandingkan dengan pasien yang menyatakan sikap perawat kurang baik dalam bersikap bijak.
Tabel 5.6 Hubungan Bijak dengan Kepuasan pasien Rawat Inap Interne Pria dan Wanita di
RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
Bijak
Kepuasan pasien
Total
P
OR
value
value
Tidak puas
Puas
f
%
f
%
f
%
Kurang baik
11 78,6
3
21,4
14
100 0,006 25,667
baik
1
12,5
7
87,5
8
100
LPPM STIKes Perintis Padang
104
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Total
12
54,5
10
45,5
22
ISSN: 2548-3153
100
Tabel 5.7 menunjukkan hasil uji statistik didapatkan p value 0,008 artinya adanya hubungan antara
perawat yang mempunyai sikap adil dengan kepuasan pasien. Hasil analisis di dapatkan nilai OR =
20,000 artinya perawat yang mempunyai sikap adil yang baik berpeluang 20,000 kali terhadap kepuasan
pasien dibandingkan dengan pasien yang menyatakan sikap perawat kurang baik dalam bersikap adil.
Tabel 5.7 Hubungan Adil dengan Kepuasan pasien Rawat Inap Interne Pria dan Wanita di
RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
Adil
Kurang baik
baik
Total
Kepuasan pasien
Tidak puas
Puas
f
%
f
%
10 83,3
2
16,7
2
20
8
80
12
54,5
10
45,5
Total
f
12
10
22
%
100
100
100
P
value
OR
value
0,008
20,000
Tabel 5.8 menunjukkan hasil uji statistik didapatkan p value 0,003 artinya adanya hubungan antara
perawat yang mempunyai sikap integritas dengan kepuasan pasien. Hasil analisis di dapatkan nilai OR
= 45,000 artinya perawat yang mempunyai sikap integritas yang baik berpeluang 45,000 kali terhadap
kepuasan pasien dibandingkan dengan pasien yang menyatakan sikap perawat kurang baik dalam
bersikap integritas.
Tabel 5.8 Hubungan Integritas dengan kepuasan pasien Rawat Inap Interne Pria dan wanita di
RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
Integritas
Kurang baik
baik
Total
Kepuasan pasien
Tidak puas
Puas
f
%
f
%
10
90,9
1
9,1
2
18,2
9
81,8
12
54,5
10
45,5
Total
f
11
11
22
%
100
100
100
P
value
OR
value
0,003
45,000
Tabel 5.9 menunjukkan hasil uji statistik didapatkan p value 0,000 artinya adanya hubungan antara
perawat yang mempunyai sikap kebersamaan dengan kepuasan pasien. Hasil analisis didapatkan nilai
OR = 6,000 artinya perawat yang mempunyai sikap kebersamaan yang baik berpeluang 6,000 kali
terhadap kepuasan pasien dibandingkan dengan pasien yang menyatakan sikap perawat kurang baik
dalam bersikap kebersamaan.
Tabel 5.9 Hubungan Kebersamaan dengan kepuasan pasien Rawat Inap Interne Pria dan
wanita di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
Kebersamaan
Kurang baik
baik
Total
LPPM STIKes Perintis Padang
Kepuasan pasien
Tidak puas
Puas
f
%
f
%
10
100
0
0
2
16,7
10
83,3
12
54,5
10
45,5
Total
f
10
12
22
%
100
100
100
P
value
OR
value
0,000
6,000
105
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
PEMBAHASAN
1. Analisis Univariat
a. Tulus, dan Tepat Janji
Hasil distribusi frekuensi tulus dan tepat janji
lebihdariseparoh perawat yang mempunyai sifat
tulus dan tepat janji yang kurang baik. Penelitian
ini didukung oleh dokumen usulan penerapan
PPK-BLUD RSUD Dr. Achmad Mochtar
Bukittinggi pada tahun 2009. Arti kata Tulus dan
tepat janji yang peneliti gunakan sebagai variabel
pada penelitian ini adalah sungguh dan bersih hati
(benar-benar keluar dari hati yang suci, tidak purapura) sebagai sumber energi kekuatan diri dalam
memberikan pelayanan, yang tercermin dari
keramahtamahan, ikhlas, jujur dan sopan santun
dalam memberikan advis/informasi kepada yang
dilayani.
Peneliti berpendapat bahwa budaya organisasi
yaitu tulus dan tepat janji merupakan suatu yang
sangat penting dalam dunia keperawatan karena
ini merupakan modal untuk menciptakan
kepuasan pasien. Tulus disini maksudnya yaitu
melakukan sesuatu tindakan dari hati yang suci
tidak berpura-pura. Ini dibuktikan dari 22 pasien
yang selalu dilayani oleh perawat yang ramah dan
senyum saat bertemu yaitu sebanyak 6 orang
pasien. Untuk item pertanyaan ke dua, pasien yang
kenal dengan perawat karena perawat tersebut
selalu memperkenalkan dirinya ketika bertemu
pertama kali yaitu sebanyak 4 orang pasien. Pada
item tepat janji disini maksudnya yaitu menepati
semua janji yang kita buat supaya pasien percaya
dengan perawat yang ada diruangan tersebut. Ini
dibuktikan dari 22 pasien yang dilayani oleh
perawat yang selalu menepati janjinya ketika
perawat tersebut berjanji dengan pasien ataupun
keluarga pasien dalam hal tindakan keperawatan
yaitu sebanyak 5 orang pasien. Sehingga jika
budaya organisasi (tulus, tepat janji) baik maka
semakin baik pula kepuasan pasien yang ada
dalam ruangan.
b. Empati
Hasil distribusi frekuensi empati diketahui bahwa
lebihdariseparoh perawat yang mempunyai sifat
empati yang kurang baik. Penelitian ini didukung
oleh dokumen usulan penerapan PPK-BLUD
RSUD
Dr.
Achmad
Mochtar
Bukittinggipadatahun2009. Arti Empati adalah
kemampuan menghadapi perasaan dan pikiran
orang lain yaitu dengan perilaku sabar,
terbuka/informatif sehingga orang lain merasa
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
aman dan nyaman berada di lingkungan rumah
sakit.
Menurut peneliti empati merupakan bagian dari
budaya organisasi, empati ini merupakan prilaku
sabar menghadapi orang lain, sehingga orang lain
merasa nyaman kepada kita. Maksudnya disini
adalah seseorang perawat sebaiknya berprilaku
empati karena seorang perawat harus sabar
menghadapi dan berprilaku baik kepada pasien
yang ada di ruangan tersebut. Ini dibuktikan dari
22 pasien yang selalu dilayani oleh perawat
dimana
perawat
tersebut
sabar
dalam
mendengarkan ungkapan perasaan pasien yaitu
sebanyak 4 orang pasien. Untuk item pertanyaan
ke dua, pasien yang selalu mendapatkan
kenyamanan selama dirawat di rumah sakit dari
perawat yaitu sebanyak 5 orang pasien. Dan untuk
item pertanyaan ke tiga, responden yang selalu
mendapatkan perhatian dan dukungan moril dari
perawat yaitu sebanyak 4 orang pasien.
c. Responsibilitas
Hasil distribusi frekuensi responsibiliti diketahui,
lebihdariseparoh perawat yang mempunyai sifat
responsibiliti yang kurang baik. Penelitian ini
didukung oleh dokumen usulan penerapan PPKBLUD
RSUD
Dr.
Achmad
Mochtar
Bukittinggipadatahun2009. Arti Responsibilitas
yaitu berani bertanggung jawab atas perbuatan
atau tindakan yang
diberikan,
dengan
memperhatikan kesesuaian dan kepatuhan untuk
disiplin dalam pengelolaan organisasi berdasarkan
praktek bisnis yang sehat serta peraturan
perundang-undangan.
Menurut peneliti responsibiliti merupakan berani
bertanggung jawab atas perbuatan atau tindakan
yang diberikan dan memperhatikan kesesuaian.
Maksudnya disini adalah berani untuk
bertanggung jawab apapun tindakan yang telah
dilakukan oleh perawat yang ada diruangan. Ini
dibuktikan dari 22 pasien yang selalu
mendapatkan pelayanan dari perawat dimana
perawat
tersebut
memberikan
pelayanan
keperawatan sesuai SOP yaitu sebanyak 5 orang
pasien. Untuk item pertanyaan ke dua, responden
yang selalu dilayani oleh perawat dimana perawat
tersebut selalu berani dan bertanggung jawab atas
tindakan yang diberikan yaitu sebanyak 8 orang
pasien. Dan pada item pertanyaan ke tiga,
responden yang selalu mendapatkan pertolongan
tepat waktu dari perawat yaitu sebanyak 3 orang
pasien.
106
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
d. Bijak
Hasil distribusi frekuensi bijak diketahui bahwa
lebihdariseparoh perawat yang mempunyai sifat
bijak yang kurang baik. Penelitian ini didukung
oleh dokumen usulan penerapan PPK-BLUD
RSUD
Dr.
Achmad
Mochtar
Bukittinggipadatahun2009. Arti dari Bijak adalah
selalu menggunakan akal budi sebelum bertindak,
sehingga loyalitas kepada organisasi dan individu
lainnya tetap terjaga.
Menurut asumsi peneliti bahwa bijak adalah selalu
berfikir sebelum bertindak sehingga bisa
memperlihatkan loyalitas perawat kepada pasien.
Maksudnya disini adalah sebelum melakukan
tindakan medis seorang perawat harus lah berfikir
dengan baik, apakah tindakan yang diambil sudah
benar atau belum, sudah tepat atau belum, karena
sesuatu tindakan akan di pertanggung jawabkan
jika tindakan tersebut salah. Ini dibuktikan dari 22
pasien yang selalu dilayani oleh perawat dimana
perawat tersebut selalu menjelaskan tindakan
keperawatannya yaitu sebanyak 4 orang pasien.
untuk item pertanyaan ke dua, pasien yang selalu
dilayani perawat dimana perawat tersebut teliti
dan terampil dalam tindakan keperawatan yaitu
sebanyak 7 orang pasien. dan untuk pertanyaan ke
tiga, pasien yang selalu dilayani oleh perawat
dimana perawat tersebut bijak dalam menanggapi
keluhannya yaitu sebanyak 6 orang pasien.
e. Adil
Hasil distribusi frekuensi adil diketahui bahwa
lebihdariseparoh perawat yang mempunyai sifat
adil yang kurang baik.
Penelitian ini didukung oleh dokumen usulan
penerapan PPK-BLUD RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi pada tahun 2009. Arti dari
Adil adalah berkata dan bertindak selalu tidak
berat sebelah; tidak memihak/tidak diskriminatif,
tidak sewenang-wenang, sehingga seluruh
stakeholders mendapat perlakuan (jaminan) yang
sama.
Menurut asumsi peneliti bahwa adil dengan
keadilan yang ada di rumah sakit, maksudnya
disini adalah bertindak selalu tidak berat sebelah,
tidak memihak, tidak semenang-menang.
Sehingga pasien bisa mendapatkan keadilan
dalam perawatan yang dilakukan. Ini dibuktikan
dari 22 pasien yang selalu mendapatkan bantuan
tepat waktu dari perawat yaitu sebanyak 6 orang
pasien. untuk item pertanyaan ke dua, pasien yang
selalu dilayani oleh perawat dimana perawat
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
tersebut tidak membeda-bedakan pasien yaitu
sebanyak 8 orang pasien. dan untuk pertanyaan ke
tiga, pasien yang selalu mendapatkan informasi
dari perawat yaitu sebanyak 4 orang pasien.
f. Integritas
Hasil distribusi frekuensi integritas diketahui
bahwadari 22 pasien, separoh perawat yang
mempunyai sifat integritasyang baik yaitu50%
diruangan rawat inap interne pria dan wanita
RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi tahun
2016.
Penelitian ini didukung oleh dokumen usulan
penerapan PPK-BLUD RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi pada tahun 2009. Arti dari
Integritas adalah satu dalam kata dan perbuatan =
komitmen pada prinsip. Integritas pada diri
sendiri; profesional; mengedepankan keahlian;
giat belajar dan menguasai ilmu pengetahuan
sebagai pendukung dalam menghasilkan setiap
output pelayanan dengan reward yang wajar.
Integritas kepada Sang Pencipta (Allah); ibadah
yang benar dan mengimplementasikan dalam
perbuatan/pergaulan dengan mencerminkan
akhlak yang dimuliakan Allah.
Menurut asumsi peneliti didapatkan integritas
yang baik sangat di perlukan dalam budaya
organisasi, bisa memperlihatkan keahlian, supaya
pasien percaya dengan tindakan yang dilakukan
oleh perawat. Keahlian yang baik akan
memperlihatkan tindakan yang baik. Ini
dibuktikan dari 22 pasien yang selalu dianjurkan
oleh perawat yang berhubungan dengan
keyakinan yaitu sebanyak 4 orang pasien. untuk
item pertanyaan ke dua, pasien yang selalu
mendapatkan bantuan khusus dari perawat yaitu
sebanyak 4 orang pasien. Dan untuk pertanyaan ke
tiga, pasien yang selalu mendapatkan pelayanan
dari perawat dimana perawat tersebut selalu
menghormati keinginan pasien yaitu sebanyak 1
orang pasien.
g. Kebersamaan dan kompak
Hasil distribusi frekuensi kebersamaan diketahui
bahwa dari 22 pasien,lebihdariseparoh perawat
yang mempunyai sifat kebersamaan dan kompak
yang baik yaitu50,4% diruangan rawat inap
interne pria dan wanita RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi tahun 2016.
Penelitian ini didukung oleh dokumen usulan
penerapan PPK-BLUD RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi pada tahun 2009. Arti dari
107
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Kebersamaan, kompak adalah bermusyawarah
untuk satu keputusan dalam mendorong komitmen
bersama demi tercapainya kinerja maksimal dan
harmonis. Akan tercipta suatu kondisi yang
kondusif; bersatu, toleransi, penuh kasih sayang
dan cinta.
Menurut peneliti kekompakan suatu organisasi
mencerminkan kebaikan tindakan yang dilakukan
oleh perawat pada pasien. Semakin kompak
seorang perawat maka semakin baik pula
kepuasan yang didapatkan oleh pasien di dalam
ruangan tersebut. Ini dibuktikan dari 22 pasien
yang selalu dilayani perawat dimana perawat
tersebut selalu bermusyawarah dengan pasien
terkait tindakan yang diberikan yaitu sebanyak 10
orang pasien. Untuk item pertanyaan ke dua,
pasien yang selalu dilayani perawat dimana
perawat tersebut selalu melibatkan keluarga dalam
perawatan pasien yaitu sebanyak 5 orang pasien.
Dan untuk pertanyaan ke tiga, pasien yang selalu
dilayani perawat dimana perawat tersebut selalu
membatasi pengunjung yaitu sebanyak 6 orang
pasien.
h. Kepuasan pasien
Hasil distribusi frekuensi kepuasan pasien
diketahui bahwa pasien yang puas hanya 45,5%
dan yang tidak puas terhadap sikap perawat ketika
memberikan pelayanan keperawatan yaitu 54,5%
diruangan rawat inap interne pria dan wanita
RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi tahun
2016.
Penelitian ini sesuai dengan teori Nursalam,
(2011). Kepuasan adalah perasaan senang atau
kecewa seseorang yang muncul setelah
membandingkan antara persepsi atau kesannya
terhadap kinerja atau hasil suatu produk dan
harapan-harapannya. Nursalam (2012: 328)
menyebutkan kepuasan adalah perasaan senang
seseorang yang berasal dari perbandingan antara
kesenangan terhadap aktivitas dan suatu produk
dengan harapannya. Kepuasan pasien adalah suatu
tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai akibat
dari kinerja layanan kesehatan yang diperolehnya
setelah pasien membandingkannya dengan apa
yang diharapkannya (Pohan, 2006). Kepuasan
pasien berhubungan dengan kualitas pelayanan
rumah sakit. Dengan mengetahui tingkat kepuasan
pasien, manajemen rumah sakit dapat melakukan
peningkatan kualitas pelayanan.
Dari beberapa pendapat terkait, jika dihubungkan
dengan konsep keluarga yang anggotanya dirawat
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
dapat disimpulkan bahwa defenisi tingkat
kepuasan adalah tingkat penerimaan dan respon
keluarga
terhadap
pemberian
pelayanan
keperawatan yang diberikan. Pasien yang puas
merupakan aset yang sangat berharga, karena
apabila pasien puas mereka akan terus melakukan
pemakaian terhadap jasa pilihannya. Untuk
menciptakan kepuasan pasien, rumah sakit harus
menciptakan dan mengelola suatu system untuk
memperoleh pasien yang lebih banyak.
Persentase pasien yang menyatakan puas terhadap
pelayanan berdasarkan hasil survey dengan
instrumen yang baku menurut Indikator Kinerja
Rumah Sakit, Depkes RI ( 2005: 31) yang dikutip
oleh Nursalam (2012). Menurut Yazid (2004: 286)
yang dikutip oleh Nursalam (2012), ada enam
faktor menyebabkan timbulnya rasa tidak puas
pasien terhadap suatu pelayanan yaitu: Tidak
sesuai harapan dan kenyataan, Layanan selama
proses menikmati jasa tidak memuaskan, Perilaku
personel kurang memuaskan, Suasana dan kondisi
fisik lingkungan yang tidak menunjang,
Cost/biaya terlalu tinggi, karena jarak terlalu jauh,
banyak waktu terbuang dan harga tidak sesuai,
Promosi/iklan tidak sesuai dengan kenyataan.
Menurut asumsi peneliti didapatkan kepuasan
pasien tergantung dengan pelayanan yang
diberikan oleh perawat yang memberikan
tindakan di ruangan. Semakin baik budaya
organisasi maka semakin baik pula kepuasan yang
diterima oleh pasien dan sebaliknya jika budaya
organisasi yang diberikan tidak baik maka
kepuasan pasien juga semakin jelek. Ini
dibuktikan dari 22 pasien, pasien yang puas hanya
10 orang pasien.
2. Analisis Bivariat
a. Hubungan tulus dan tepat janji dengan
kepuasan pasien
Hasil uji statistik di dapatkan p value 0,027 artinya
adanya hubungan antara perawat yang mempunyai
sikap tulus dan tepat janji dengan kepuasan pasien.
Hasil analisis di dapatkan nilai OR = 11,667
artinya perawat yang mempunyai sikap tulus dan
tepat janji yang baik berpeluang 11,667 kali
terhadap kepuasan pasien dibandingkan dengan
pasien yang menyatakan sikap perawat kurang
baik dalam bersikap tulus dan tepat janji.
Penelitian ini didukung oleh dokumen usulan
penerapan PPK-BLUD RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggipadatahun2009. Dimana arti
dari kata Tulus dan tepat janji adalah sungguh dan
108
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
bersih hati (benar-benar keluar dari hati yang suci,
tidak pura-pura) sebagai sumber energi kekuatan
diri dalam memberikan pelayanan,yang tercermin
dari keramahtamahan, ikhlas, jujur dan sopan
santun dalam memberikan advis/informasi kepada
yang dilayani. Hal ini akan mempengaruhi
kepuasan pasien.
Penelitian ini sesuai dengan teori Nursalam (2012:
328) menyebutkan kepuasan adalah perasaan
senang seseorang yang berasal dari perbandingan
antara kesenangan terhadap aktivitas dan suatu
produk dengan harapannya. Kepuasan pasien
berhubungan dengan kualitas pelayanan rumah
sakit. Dengan mengetahui tingkat kepuasan
pasien, manajemen rumah sakit dapat melakukan
peningkatan
kualitas
pelayanan.
Untuk
menciptakan kepuasan pasien, rumah sakit harus
menciptakan dan mengelola suatu system untuk
memperoleh pasien yang lebih banyak. Persentase
pasien yang menyatakan puas terhadap pelayanan
berdasarkan hasil survey dengan instrumen yang
baku menurut Indikator Kinerja Rumah Sakit,
Depkes RI ( 2005: 31) yang dikutip oleh Nursalam
(2012).
Menurut Yazid (2004: 286) yang dikutip oleh
Nursalam (2012), ada enam faktor menyebabkan
timbulnya rasa tidak puas pasien terhadap suatu
pelayanan yaitu: Tidak sesuai harapan dan
kenyataan, Layanan selama proses menikmati jasa
tidak memuaskan, Perilaku personel kurang
memuaskan, Suasana dan kondisi fisik lingkungan
yang tidak menunjang, Cost/biaya terlalu tinggi,
karena jarak terlalu jauh, banyak waktu terbuang
dan harga tidak sesuai, Promosi/iklan tidak sesuai
dengan kenyataan.
Menurut asumsi peneliti budaya organisasi yaitu
tulus dan tepat janji merupakan suatu yang sangat
penting dalam dunia keperawatan karena ini
merupakan modal untuk menciptakan kepuasan
pasien. Tulus dan tepat janji disini maksudnya
yaitu melakukan sesuatu tindakan dari hati yang
suci tidak berpura-pura. Dan tepat janji disini
maksudnya yaitu menepati semua janji yang kita
buat supaya pasien percaya dengan perawat yang
ada di ruangan tersebut. Semakin baik budaya
organisasi (tulus, tepat janji) maka semakin baik
kepuasan pasien yang ada dalam ruangan. Ini
dibuktikan dengan hasil analisis hubungan budaya
organisasi perawat yang mempunyai sikap tulus
dan tepat janji yang baik membuat pasien puas
yaitu sebanyak 7 orang (77,8%).
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
b. Hubungan empati dengan kepuasan pasien
Hasil uji statistik di dapatkan p value 0,027 artinya
adanya hubungan antara perawat yang mempunyai
sikap empati dengan kepuasan pasien. Hasil
analisis di dapatkan nilai OR = 11,667 artinya
perawat yang mempunyai sikap empati yang baik
berpeluang 11,667 kali terhadap kepuasan pasien
dibandingkan dengan pasien yang menyatakan
sikap perawat kurang baik dalam bersikap empati.
Penelitian ini didukung oleh dokumen usulan
penerapan PPK-BLUD RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi pada tahun 2009. Dimana arti
dari kata Empati adalah kemampuan menghadapi
perasaan dan pikiran orang lain yaitu dengan
perilaku sabar, terbuka/informatif sehingga orang
lain merasa aman dan nyaman berada di
lingkungan rumah sakit, Hal ini akan
mempengaruhi kepuasan pasien. Dengan
mengetahui tingkat kepuasan pasien, manajemen
rumah sakit dapat melakukan peningkatan kualitas
pelayanan. Untuk menciptakan kepuasan pasien,
rumah sakit harus menciptakan dan mengelola
suatu system untuk memperoleh pasien yang lebih
banyak. Persentase pasien yang menyatakan puas
terhadap pelayanan berdasarkan hasil survey
dengan instrumen yang baku menurut Indikator
Kinerja Rumah Sakit, Depkes RI ( 2005: 31) yang
dikutip oleh Nursalam (2012).
Menurut Yazid (2004: 286) yang dikutip oleh
Nursalam (2012), ada enam faktor menyebabkan
timbulnya rasa tidak puas pasien terhadap suatu
pelayanan yaitu: Tidak sesuai harapan dan
kenyataan, Layanan selama proses menikmati jasa
tidak memuaskan, Perilaku personel kurang
memuaskan, Suasana dan kondisi fisik lingkungan
yang tidak menunjang, Cost/biaya terlalu tinggi,
karena jarak terlalu jauh, banyak waktu terbuang
dan harga tidak sesuai, Promosi/iklan tidak sesuai
dengan kenyataan.
Menurut asumsi peneliti empati merupakan
bagian dari budaya organisasi, empati ini
merupakan prilaku sabar menghadapi orang lain,
sehingga orang lain merasa nyaman kepada kita.
Maksudnya disini adalah seseorang perawat
sebaiknya berprilaku empati karena seorang
perawat harus sabar menghadapi dan berprilaku
baik kepada pasien yang ada di ruangan tersebut.
Ini dibuktikan dengan hasil analisis hubungan
budaya organisasi perawat yang mempunyai sikap
empati yang baik membuat pasien puas sebanyak
7 orang (77,8%).
109
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
c. Hubungan responsibiliti dengan kepuasan
pasien
Hasil uji statistik didapatkan p value 0,006 artinya
adanya hubungan antara perawat yang mempunyai
sikap reponsibiliti dengan kepuasan pasien di
ruang rawat. Hasil analisis didapatkan nilai OR =
25,667 artinya perawat yang mempunyai sikap
responsibiliti yang baik berpeluang 25,667
terhadap kepuasan pasien dibandingkan dengan
pasien yang menyatakan sikap perawat kurang
baik dalam bersikap responsibiliti.
Penelitian ini didukung oleh dokumen usulan
penerapan PPK-BLUD RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi pada tahun 2009. Dimana arti
dari kata Responsibilitas adalah berani
bertanggung jawab atas perbuatan atau tindakan
yang
diberikan,
dengan
memperhatikan
kesesuaian dan kepatuhan untuk disiplin dalam
pengelolaan organisasi berdasarkan praktek bisnis
yang sehat serta peraturan perundang-undangan.
Hal ini akan mempengaruhi kepuasan pasien.
Dengan mengetahui tingkat kepuasan pasien,
manajemen rumah sakit dapat melakukan
peningkatan
kualitas
pelayanan.
Untuk
menciptakan kepuasan pasien, rumah sakit harus
menciptakan dan mengelola suatu system untuk
memperoleh pasien yang lebih banyak. Persentase
pasien yang menyatakan puas terhadap pelayanan
berdasarkan hasil survey dengan instrumen yang
baku menurut Indikator Kinerja Rumah Sakit,
Depkes RI ( 2005: 31) yang dikutip oleh Nursalam
(2012).
Menurut Yazid (2004: 286) yang dikutip oleh
Nursalam (2012), ada enam faktor menyebabkan
timbulnya rasa tidak puas pasien terhadap suatu
pelayanan yaitu: Tidak sesuai harapan dan
kenyataan, Layanan selama proses menikmati jasa
tidak memuaskan, Perilaku personel kurang
memuaskan, Suasana dan kondisi fisik lingkungan
yang tidak menunjang, Cost/biaya terlalu tinggi,
karena jarak terlalu jauh, banyak waktu terbuang
dan harga tidak sesuai, Promosi/iklan tidak sesuai
dengan kenyataan.
Menurut asumsi peneliti didapatkan bahwa
responsibiliti merupakan berani bertanggung
jawab atas perbuatan atau tindakan yang diberikan
dan memperhatikan kesesuaian. Maksudnya disini
adalah berani untuk bertanggung jawab apapun
tindakan yang telah dilakukan oleh perawat yang
ada diruangan. Semakin baik budaya organisasi
(responsibiliti) seseorang maka semakin baik pula
kepuasan pasien. Ini dibuktikan dengan hasil hasil
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
analisis hubungan budaya organisasi perawat yang
mempunyai sikap responsibiliti yang baik
membuat pasien puas yaitu sebanyak 7 orang
(87,5%).
d. Hubungan bijak dengan kepuasan pasien
Hasil uji statistik didapatkan p value 0,006 artinya
adanya hubungan antara perawat yang mempunyai
sikap bijak dengan kepuasan pasien Hasil analisis
di dapatkan nilai OR = 25,667 artinya perawat
yang mempunyai sikap bijak yang baik berpeluang
25,667
kali
terhadap
kepuasan
pasien
dibandingkan dengan pasien yang menyatakan
sikap perawat kurang baik dalam bersikap bijak.
Penelitian ini didukung oleh dokumen usulan
penerapan PPK-BLUD RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi pada tahun 2009. Dimana arti
dari kata Bijak adalah selalu menggunakan akal
budi sebelum bertindak, sehingga loyalitas kepada
organisasi dan individu lainnya tetap terjaga.
Bersikap bijak yang tidak baik dapat berdampak
pada kepuasan pasien. hal ini di dukung oleh teori
Nursalam (2012:328) yaitu Kepuasan pasien
berhubungan dengan kualitas pelayanan rumah
sakit. Dengan mengetahui tingkat kepuasan
pasien, manajemen rumah sakit dapat melakukan
peningkatan kualitas pelayanan.
Menurut Yazid (2004: 286) yang dikutip oleh
Nursalam (2012), ada enam faktor menyebabkan
timbulnya rasa tidak puas pasien terhadap suatu
pelayanan yaitu: Tidak sesuai harapan dan
kenyataan, Layanan selama proses menikmati jasa
tidak memuaskan, Perilaku personel kurang
memuaskan, Suasana dan kondisi fisik lingkungan
yang tidak menunjang, Cost/biaya terlalu tinggi,
karena jarak terlalu jauh, banyak waktu terbuang
dan harga tidak sesuai, Promosi/iklan tidak sesuai
dengan kenyataan.
Menurut asumsi peneliti bahwa bijak adalah selalu
berfikir sebelum bertindak sehingga bisa
memperlihatkan loyalitas perawat kepada pasien.
Maksudnya disini adalah sebelum melakukan
tindakan medis seorang perawat harus lah berfikir
dengan baik, apakah tindakan yang diambil sudah
benar atau belum, sudah tepat atau belum, karena
sesuatu tindakan akan di pertanggung jawabkan
jika tindakan tersebut salah. Ini dibuktikan dengan
hasil analisis hubungan budaya organisasi perawat
yang mempunyai sikap bijak yang baik membuat
pasien puas yaitu sebanyak 7 orang (87,5%).
110
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
e. Hubungan adil dengan kepuasan pasien
Hasil uji statistik didapatkan p value 0,008 artinya
adanya hubungan antara perawat yang mempunyai
sikap adil dengan kepuasan pasien. Hasil analisis
di dapatkan nilai OR = 20,000 artinya perawat
yang mempunyai sikap adil yang baik berpeluang
20,000
kali
terhadap
kepuasan
pasien
dibandingkan dengan pasien yang menyatakan
sikap perawat kurang baik dalam bersikap adil.
Penelitian ini didukung oleh dokumen usulan
penerapan PPK-BLUD RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi pada tahun 2009. Dimana arti
dari kata Adil adalah berkata dan bertindak selalu
tidak berat sebelah; tidak memihak/tidak
diskriminatif, tidak sewenang-wenang, sehingga
seluruh stakeholders mendapat perlakuan
(jaminan) yang sama. Ini akan berpengaruh
terhadap Kepuasan pasien. Kepuasan pasien ini
berhubungan dengan kualitas pelayanan rumah
sakit. Dengan mengetahui tingkat kepuasan
pasien, manajemen rumah sakit dapat melakukan
peningkatan kualitas pelayanan.
Menurut Yazid (2004: 286) yang dikutip oleh
Nursalam (2012), ada enam faktor menyebabkan
timbulnya rasa tidak puas pasien terhadap suatu
pelayanan yaitu: Tidak sesuai harapan dan
kenyataan, Layanan selama proses menikmati jasa
tidak memuaskan, Perilaku personel kurang
memuaskan, Suasana dan kondisi fisik lingkungan
yang tidak menunjang, Cost/biaya terlalu tinggi,
karena jarak terlalu jauh, banyak waktu terbuang
dan harga tidak sesuai, Promosi/iklan tidak sesuai
dengan kenyataan.
Menurut asumsi peneliti bahwa adil dengan
keadilan yang ada di rumah sakit, maksudnya
disini adalah bertindak selalu tidak berat sebelah,
tidak memihak, tidak semenang-menang.
Sehingga pasien bisa mendapatkan keadilan
dalam perawatan yang dilakukan. Ini dibuktikan
dengan hasil analisis hubungan budaya organisasi
perawat yang mempunyai sikap adil yang baik
membuat pasien puas yaitu sebanyak 8 orang
(80%).
f. Hubungan integritas dengan kepuasan
pasien
Hasil uji statistik didapatkan p value 0,003 artinya
adanya hubungan antara perawat yang mempunyai
sikap integritas dengan kepuasan pasien. Hasil
analisis di dapatkan nilai OR = 45,000 artinya
perawat yang mempunyai sikap integritas yang
baik berpeluang 45,000 kali terhadap kepuasan
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
pasien dibandingkan dengan pasien yang
menyatakan sikap perawat kurang baik dalam
bersikap integritas.
Penelitian ini didukung oleh dokumen usulan
penerapan PPK-BLUD RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggipadatahun2009. Arti dari kata
Integritas adalah satu dalam kata dan perbuatan =
komitmen pada prinsip. Integritas pada diri
sendiri; profesional; mengedepankan keahlian;
giat belajar dan menguasai ilmu pengetahuan
sebagai pendukung dalam menghasilkan setiap
output pelayanan dengan reward yang wajar.
Integritas kepada Sang Pencipta (Allah); ibadah
yang benar dan mengimplementasikan dalam
perbuatan/pergaulan dengan mencerminkan
akhlak yang dimuliakan Allah. Bersikap integritas
yang baik mencerminkan perbuatan/akhlak yang
baik, begitupun sebaliknya. Hal ini mempengaruhi
pelayanan keperawatan dan berdampak tehadap
kepuasan pasien. Karena kepuasan pasien
berhubungan dengan kualitas pelayanan rumah
sakit.
Menurut Yazid (2004: 286) yang dikutip oleh
Nursalam (2012), ada enam faktor menyebabkan
timbulnya rasa tidak puas pasien terhadap suatu
pelayanan yaitu: Tidak sesuai harapan dan
kenyataan, Layanan selama proses menikmati jasa
tidak memuaskan, Perilaku personel kurang
memuaskan, Suasana dan kondisi fisik lingkungan
yang tidak menunjang, Cost/biaya terlalu tinggi,
karena jarak terlalu jauh, banyak waktu terbuang
dan harga tidak sesuai, Promosi/iklan tidak sesuai
dengan kenyataan.
Menurut asumsi peneliti didapatkan integritas
yang baik sangat di perlukan dalam budaya
organisasi, bisa memperlihatkan keahlian, supaya
pasien percaya dengan tindakan yang dilakukan
oleh perawat. Keahlian yang baik akan
memperlihatkan tindakan yang baik. Ini
dibuktikan dengan hasil analisis hubungan budaya
organisasi perawat yang mempunyai sikap
integritas yang baik membuat pasien puas yaitu
sebanyak 9 orang (81,8%).
g. Hubungan kebersamaan, kompak dengan
kepuasan pasien
Hasil uji statistik didapatkan p value 0,000 artinya
adanya hubungan antara perawat yang mempunyai
sikap kebersamaan dengan kepuasan pasien. Hasil
analisis didapatkan nilai OR = 6,000 artinya
perawat yang mempunyai sikap kebersamaan
yang baik berpeluang 6,000 kali terhadap
kepuasan pasien dibandingkan dengan pasien
111
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
yang menyatakan sikap perawat kurang baik
dalam bersikap kebersamaan.
Penelitian ini didukung oleh dokumen usulan
penerapan PPK-BLUD RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggipadatahun2009. Dimana arti
dari katan Kebersamaan, kompak adalah
bermusyawarah untuk satu keputusan dalam
mendorong komitmen bersama demi tercapainya
kinerja maksimal dan harmonis. Akan tercipta
suatu kondisi yang kondusif; bersatu, toleransi,
penuh kasih sayang dan cinta. Jika ini tidak
diterapkan pasien akan merasa tidak nyaman bila
dirawat dirumah sakit tersebut. Hal ini
menunjukkan ketidakpuasan pasien terhadap
layanan yang diberikan. karena kepuasan pasien
berhubungan dengan kualitas pelayanan rumah
sakit.
Menurut Yazid (2004: 286) yang dikutip oleh
Nursalam (2012), ada enam faktor menyebabkan
timbulnya rasa tidak puas pasien terhadap suatu
pelayanan yaitu: Tidak sesuai harapan dan
kenyataan, Layanan selama proses menikmati jasa
tidak memuaskan, Perilaku personel kurang
memuaskan, Suasana dan kondisi fisik lingkungan
yang tidak menunjang, Cost/biaya terlalu tinggi,
karena jarak terlalu jauh, banyak waktu terbuang
dan harga tidak sesuai, Promosi/iklan tidak sesuai
dengan kenyataan.
Menurut asumsi peneliti kekompakan suatu
organisasi mencerminkan kebaikan tindakan yang
dilakukan oleh perawat pada pasien. Semakin
kompak seorang perawat maka semakin baik pula
kepuasan yang didapatkan oleh pasien di dalam
ruangan tersebut. Ini dibuktikan dengan hasil
analisis hubungan budaya organisasi perawat yang
mempunyai sikap kebersamaan dan kompak yang
baik membuat pasien puas yaitu sebanyak 10
orang (83,3%).
4. KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan,
maka dapatddisimpulkan:
1. Lebihdariseparoh perawat yang mempunyai
sikap tulus dan tepat, empati, responsibiliti,
bijak, adil, kebersamaan dan kompak yang
kurang baik diruangan rawat inap interne pria
dan wanita RSUD Dr. Achmad Mochtar
Bukittinggi.
2. Separoh perawat yang mempunyai sikap
integritas yang baik diruangan rawat inap
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
interne pria dan wanita RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi.
3. Hasil penelitian didapatkan bahwa pasien yang
puas hanya 45,5% dan yang tidak puas
terhadap sikap perawat ketika memberikan
pelayanan keperawatan yaitu 54,5% diruangan
rawat inap interne pria dan wanita RSUD Dr.
Achmad Mochtar Bukittinggi.
4. Hasil uji statistik di dapatkan adanya hubungan
antara perawat yang mempunyai sikap tulus
dan tepat janji, empati, responsibiliti, bijak,
adil, integritas dan kebersamaan dengan
kepuasan pasien di ruang rawat inap interne
pria dan wanita RSUD Dr. Achmad Mochtar
Bukittinggi.
5. REFERENSI
Dahlan, Dr. H. Azwir. 2009. Dokumen Usulan
Penerapan PPK-BLUD RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi
Depkes RI. 2005. Indikator Kinerja Rumah Sakit.
Depkes RI. Jakarta
Keliat, BA, & Akemat. 2010. Model Pelayanan
Keperawatan Profesional. Jakarta. EGC
Kepmenkes RI. 2008. Kepmenkes RI No.
129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar
Pelayanan Minimal Rumah Sakit
Kholipah, Siti dkk. 2013. Hubungan Penerapan
Budaya Organisasi Dengan Kepuasan
Pasien Di RSUD Ambarawa Tahun 2013.
Jurnal
Nursalam. 2012. Manajemen Keperawatan :
Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan
Profesional. Ed 3. Jakarta.Salemba Medika
Robbins, Stephen. P dan Timothy A. Judge. 2014.
Perilaku Organisasi Edisi 12 Buku 2. Jakarta.
Salemba Medika
Widiastuti, Eni. 2012. Hubungan Karakteristik
Perawat dan Budaya Organisasi Dengan
Kepuasan Pasien Di RSI Pondok Kopi
Jakarta Tahun 2012. Tesis. FIK UI
112
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
PENGARUH TERAPI RENDAM KAKI AIR HANGAT TERHADAP PENURUNAN
TEKANAN DARAH DI PUSKESMAS ANDALAS PADANG
Zuriati 1
STIKes Alifah, Padang 25000
Email: [email protected]
1
Abstract
According to the World Health Organization or WHO, hypertension is the number one cause of death
in the world. Based on the data recorded by Padang City Health Department in 2015, Andalas
Community Health Center (Puskesmas) is the the highest coverage number of hypertension as many as
8047 people. The research objective is to determine the effect of therapeutic foot soak with warm water
to the reduction of blood pressure in patients with hypertension in Andalas Community Health Center
Padang in 2016.. The type of this research is Quasy Experiment with Pretest - Posttest Study Design.
This research took place in January until September 2016. Samples were 30 accidental sampling
observed by t-test. The result showed the average blood pressure of the pre-test 164.00 / 69.33 mmHg
and a post-test at the 151.33 / 56.67 mmHg. P value = 0.000 which means that there are significant
Warm Water Therapy Foot Soak to Decrease Blood Pressure In Patients with Hypertension in Andalas
Community Health Center Padang 2016.. It can be concluded that therapeutic foot soak with warm
water could decrease the blood pressure in patients with hypertension. It is suggested to healthcare
officer to give information and explanation about therapeutic foot soak with warm water as an
alternative way to decrease blood pressure.
Keywords : Hypertension, Therapeutic foot soak with warm water
1. PENDAHULUAN
Menurut World Health Organization
(WHO), batas tekanan darah yang masih dianggap
normal adalah kurang dari 130/85 mmHg,
sedangkan bila lebih dari 140/90 mmHg
dinyatakan sebagai hipertensi, dan di antara nilai
tersebut disebut sebagai normal-tinggi (batasan
tersebut diperuntukkan bagi individu dewasa
diatas 18 tahun) (CBN, 2006 dalam Triyanto,
2014). Semakin tua umur seseorang, tekanan
darah normalnya semakin meningkat. Tekanan
darah orang dewasa disebut tinggi jika tekanan
sistoliknya 140 mmHg ke atas atau tekanan
diastoliknya 90 mmHg ke atas. Menurut Joint
2009, hipertensi ditemukan sebanyak 60-70%
pada populasi berusia diatas 65 tahun.
Menurut laporan Badan Kesehatan Dunia
atau WHO, hipertensi merupakan penyebab
nomor 1 kematian di dunia. Data tahun 2010 di
Amerika Serikat menunjukkan bahwa 28,6%
orang dewasa berusia 18 tahun ke atas menderita
hipertensi. Prevalensi hipertensi di Indonesia yang
didapat melalui pengukuran pada umur ≥18 tahun
sebesar 25,8%, tertinggi di Bangka Belitung
(30,9%), diikuti Kalimantan Selatan (30,8%),
Kalimantan Timur (29,6%) dan Jawa Barat
(29,4%). Prevalensi hipertensi di Indonesia yang
didapat melalui tenaga kesehatan sebesar 9,4%,
LPPM STIKes Perintis Padang
yang didiagnosis tenaga kesehatan atau
sedangminum obat sebesar 9,5%. Jadi, ada 0,1%
yang minum obat sendiri. Responden yang belum
pernah didiagnosis menderita hipertensi tetapi saat
diwawancara yang sedang minum obat hipertensi
sebesar 0,7%. Jadi prevalensi hipertensi
diIndonesia sebesar 26,5% (25,8% + 0,7 %)
(Riskesdas, 2013).
Hasil laporan Dinas Kesehatan Kota
Padang tahun 2012 jumlah hipertensi 6392 kasus,
dan pada tahun 2013 hipertensi menjadi posisi
teratas yakni 6714 kasus, disusul dengan kasus
DM, Rematik, dan ISPA. Hipertensi ini
disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat
seperti merokok dan kurang olahraga serta pola
makan masyarakat minang yang cenderung
mengkonsumsi makanan yang tinggi kolesterol
(Dinas Kesehatan Kota Padang, 2014)
Berdasarkan pencatatan data Dinas
Kesehatan Kota Padang tahun 2014, dari 22
puskesmas di Kota Padang Puskesmas Andalas
merupakan angka cakupan tertinggi tentang
hipertensi sebanyak 8047 orang, tertinggi kedua di
puskesmas Lubeg yaitu sebesar 4487 orang, Ratarata kelompok umur yang terbanyak berkunjung di
Puskesmas Andalas Padang yaitu kelompok umur
dewasa akhir yang berumur 45-60 tahun (Dinas
Kesehatan Kota Padang, 2014).
113
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Upaya ideal untuk mencegah dan
menangkal risiko tekanan darah tinggi pertamanya
adalah dengan penanggulangan secara nonmedikamentosa alias tanpa obat. Caranya dengan
menghindari faktor pemicu timbulnya penyakit
tersebut (kecuali faktor yang tidak bisa dihindari
seperti faktor keturunan dan usia). Salah satu
upaya pencegahan dengan cara memeriksakan
tekanan darah secara teratur agar bila sewaktuwaktu ada kenaikan tekanan darah yang cukup
tinggi, maka bisa diketahui lebih dini (Sudarmoko,
2010).
Joint National Committee (JNC) telah
mengeluarkan guideline terbaru mengenai
tatalaksana hipertensi atau tekanan darah tinggi
yaitu, mengingat bahwa hipertensi merupakan
suatu penyakit kronis yang memerlukan terapi
jangka panjang dengan banyak komplikasi yang
mengancam nyawa seperti infark miokard, stroke,
gagal ginjal, hingga kematian jika tidak dideteksi
dini dan diterapi dengan tepat, dirasakan perlu
untuk terus menggali strategi tatalaksana yang
efektif dan efisien dengan begitu, terapi yang
dijalankan diharapkan dapat memberikan dampak
maksimal (Riskesdas, 2013).
Praktek merendam kaki dengan air hangat
adalah satu metode perawatan kesehatan yang
populer di kalangan masyarakat Cina. Menurut
pengobatan tradisional Cina (TCM), kaki adalah
jantung kedua tubuh manusia, barometer yang
mencerminkan kondisi kesehatan badan. Telapak
kaki memiliki 60 titik akupuntur yang
berhubungan dengan kandung empedu, kandung
kemih, lambung, limpa, hati dan ginjal. Merendam
kaki dengan air hangat dapat memanaskan seluruh
tubuh, meningkatkan sirkulasi darah ke bagian
atas tubuh dan juga melepas tekanan. TCM
merekomendasikan rendam kaki dengan air
hangat setiap hari untuk meningkatkan sirkulasi
darah dan menurunkan tekanan darah pada
penderita
hipertensi
(Karmanboegyss.blogspot.co.id, 2013).
Praktek kerja dari terapi rendam kaki
dengan air hangat ini yaitu dengan menggunakan
air hangat yang bersuhu sekitar 40,5 - 43oC secara
konduksi dimana terjadi perpindahan panas dari
air hangat ke tubuh sehingga akan membantu
meningkatkan
sirkulasi
darah
dengan
memperlebar pembuluh darah akibatnya lebih
banyak oksigen dipasok ke jaringan yang
mengalami pembengkakan dan ketegangan otot.
Perbaikan
sirkulasi
darah
dapat
juga
memperlancar sirkulasi getah bening sehingga
membersihkan tubuh dari racun. Oleh karena itu
orang orang yang menderita penyakit seperti
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
rematik, radang sendi, linu panggul, sakit
punggung, insomnia, kelelahan, stress, sirkulasi
darah yang buruk (hipertensi), nyeri otot, kram,
kaku, terapi air hangat bisa digunakan untuk
meringankan masalah tersebut (Dewi 2014).
Manfaat merendam kaki dengan air
hangat 38o-40oC akan mempelancar peredaran
darah, merangsang keringat, menyembuhkan
batuk pilek dan susah tidur. Penderita yang
mengalami tekanan darah tinggi jika melakukan
rendam kaki menggunakan air hangat yang
dilakukan secara rutin maka dapat terjadi
penurunan tekanan darah, karena efek dari rendam
kaki air hangat menghasilkan energi kalori yang
bersifat mendilatasi dan melancarkan peredaran
darah juga merangsang saraf yang ada pada kaki
untuk mengaktifkan saraf parasimpatis, sehingga
menyebabkan penurunan tekanan darah (Umah,
2012).
Berdasarkan survey awal di dapatkan
keterangan bahwa selama ini usaha yang mereka
lakukan untuk mengatasi hipertensi adalah dengan
menggunakan terapi herbal dan farmakologis,
tetapi untuk melakukan terapi rendam kaki air
hangat sendiri belum pernah dilakukan dan klien
juga tidak ada yang mengetahui bahwa merendam
kaki dengan air hangat dapat menurunkan tekanan
darah.
Tujuan penelitian ini adalah Untuk
mengetahui pengaruh terapi rendam kaki air
hangat terhadap penurunan tekanan darah pada
penderita hipertensi di Puskesmas Andalas
Padang tahun 2016.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka
peneliti melakukan penelitian pemberian terapi
rendam kaki air hangat terhadap penurunan
tekanan darah pada penderita hipertensi di
Puskesmas Andalas Padang tahun 2016.
Rendam kaki air hangat adalah salah satu
terapi hipertensi yang bermanfaat untuk
mendilatasi pembuluh darah, melancarkan
peredaran darah dan memicu saraf yang ada pada
telapak kaki untuk bekerja (Tari Batjun, 2015).
Hasil penelitian Batjun (2015) rendam kaki air
hangat dalam waktu
2. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian Quasy eksperimen
rancangan Pretest – Postest design, dengan
intervensi pemberikan terapi rendam kaki air
hangat pada penderita hipertensi. Penelitian ini
dilakukan di Puskesmas Andalas Padang pada
bulan Januari – September 2016. Populasi
penelitian penderita hipertensi dengan kelompok
114
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
umur 45- 60 tahun dengan teknik accidental
sampling sebanyak 30 orang dengan 15 kelompok
intervensi dan 15 orang kelompok kontrol.
Pengumpulan data dilakukan dengan observasi.
Pengolahan data melalui analisa data secara
univariat dan bivariat menggunakan uji T-Test
dengan tingkat kepercayaan 95% = 0,05.
Defenisi Operasional
Variabel
Terapi rendam kaki air hangat
Penurunan Tekanan Darah
Defenisi Operasional
Alat Ukur
Terapi rendam kaki air Lembar
hangat merupakan kegiatan Observasi
fisik yang dilakukan 3x
seminggu selama 3 minggu.
Waktu yang diperlukan
untuk
merendam
kaki
selama 20-30 menit, dengan
temperatur 38o-40oC.
Hasil Ukur
-
Skala Ukur
-
Tekanan
darah
pada Pigmano
penderita hipertensi yang meter,
diambil
sebelum
dan Stetoskop
sesudah diberikan terapi
rendam kaki air hangat.
Pengukuran
dijabarkan
dalam
mmHg
Rasio
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Tekanan Darah Sebelum Dilakukan Terapi Rendam Kaki Air Hangat
Tabel 3.1 Distribusi Rerata Tekanan Darah Responden Pre-test Kelompok Intervensi dan
Kelompok Kontrol di Puskesmas Andalas Tahun 2016
Kelompok Tekanan darah
N Mean SD
Min Max
Intervensi Sistolik
15 164,00 9,85 150 180
Diastolik
15 69,33 9,61 60
90
Kontrol
Sistolik
15 162,67 13,34 140 180
Diastolik
15 65,33 9,90 50
80
Pada tabel 3.1 dapat dlihat rata-rata tekanan darah sistolik pre-test pada kelompok intervensi
didapatkan rata-rata tekanan darah sistoliknya adalah 164.00 mmHg dengan starndar deviasi 9.85
mmHg sedangkan rata-rata tekanan darah diastolik adalah 69.33 mmHg dengan standar deviasi 9.61
mmHg sedangkan pada kelompok kontrol adalah tekanan darah sistoliknya 162.67 mmHg dengan
standar deviasi 13,34 sedangkan rata-rata tekanan darah diastolik adalah 65.33 mmHg dengan standar
deviasi 9.90 mmHg
b. Tekanan Darah Setelah Dilakukan Terapi Rendam Kaki Air Hangat
Tabel 3.2 Distribusi Rerata Tekanan Darah Responden Post-test Kelompok Intervensi dan
Kelompok Kontrol di Puskesmas Andalas Padang Tahun 2016
Tekanan
Min Max
Kelompok
N
Mean SD
darah
Intervensi Sistolik
15
151,33 10,60 140 170
Diastolik
15
66,67 9,75 60
70
Kontrol
Sistolik
15
155,33 15,97 130 180
Diastolik
15
62,27 10,32 65
80
Pada tabel 3.2 dapat dlihat rata-rata tekanan darah sistolik post-test pada kelompok intervensi
didapatkan rata-rata tekanan darah sistoliknya adalah 151.33 mmHg dengan starndar deviasi 10.60
LPPM STIKes Perintis Padang
115
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
sedangkan rata-rata tekanan darah diastolik adalah 56.67 mmHg dengan standar deviasi 9,75 mmHg.
Pada kelompok kontrol adalah tekanan darah sistoliknya 155.33 mmHg dengan standar deviasi 15.97
sedangkan rata-rata tekanan darah diastolik adalah 62.67 mmHg dengan standar deviasi 10.32 mmHg
c. Perbedaan rata-rata tekanan darah sebelum dan sesudah dilakukan terapi rendam kaki air
hangat
Tabel 3.3 Perbedaan rata-rata tekanan darah sebelum dan sesudah diberikan terapi rendam
kaki air hangat pada penderita hipertensi di puskesmas andalas padang tahun 2016
Tekanan
Kelompok
N
Mean
SD
Min
Max
darh
Sistolik
164.00
9.856
Pre test
15
43.972
0.00
Diastolik
69.33
9.612
Intervensi
Sistolik
15
151.33
10.60
Post test
40,049
0.00
Diastolik
15
56.67
9.759
Sistolik
15
162.67
13.345
Pre test
30.828
0.00
Diastolik
15
65.33
9.904
Kontrol
Sistolik
15
155.33
15.976
Post test
23.400 0.000
Diastolik
15
62.67
10.328
Dari hasil uji Paired Samples T test (uji T-Test) didapatkan nilai p = 0,000 (p≤ 0,05) artinya Ho ditolak
dan Ha diterima yaitu ada Pengaruh Terapi Rendam Kaki Air Hangat terhadap Penurunan Tekanan
Darah Pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Andalas Padang Tahun 2016.
Pembahasan
Upaya ideal untuk mencegah dan
menangkal risiko tekanan darah tinggi pertamanya
adalah dengan penanggulangan secara nonmedikamentosa alias tanpa obat. Caranya adalah
dengan menghindari faktor-faktor pemicu
timbulnya penyakit tersebut (kecuali faktor yang
tidak bisa dihindari seperti faktor keturunan dan
usia). Salah satu upaya pencegahan adalah dengan
cara memeriksakan tekanan darah secara teratur
agar bila sewaktu-waktu ada kenaikan tekanan
darah yang cukup tinggi, maka bisa diketahui
lebih dini (Sudarmoko, 2010).
Hasil yang didapatkan berdasarkan
karakteristik responden, hasil yang tertinggi yaitu
berjenis kelamin perempuan sebanyak 18 orang
(60%) yang berusia dalam batasan lanjut usia (5360 tahun) yaitu sebanyak 19 orang (63,4%).
Menurut pendapat peneliti tekanan darah terdiri
dari tekanan darah sistolik dan tekanan darah
diastolik, pada kondisi tertentu tekanan darah
sistolik dan diastolik bisa mengalami perubahan,
perubahan tekanan darah tersebut biasanya tidak
mengalami perubahan yang cukup berarti.
Hipertensi biasanya lebih dominan terjadi pada
usia lanjut yang merupakan salah satu penyakit
degeneratif yang biasanya muncul setelah usia
lanjut. Penyebab penyakit hipertensi secara umum
diantaranya penyempitan arteri yang mensuplai
darah ke ginjal, aterosklerosis (penebalan dinding
LPPM STIKes Perintis Padang
arteri yang menyebabkan hilangnya elastisitas
pembuluh darah) keturunan, umur, jenis kelamin,
tekanan psikologis, stres, kegemukan (obesitas),
kurang olahraga dan kolesterol tinggi.
Akibat tingginya tekanan darah yang lama
tentu saja akan merusak pembuluh darah diseluruh
tubuh, yang paling jelas pada mata, jantung, ginjal
dan otak. Konsekuensi pada hipertensi yang lama
tidak terkontrol adalah gangguan penglihatan,
oklusi koroner, gagal ginjal dan stroke. Selain itu
jantung juga membesar karena dipaksa
meningkatkan beban kerja saat memompa
melawan tingginya tekanan darah.
Setelah dilakukan terapi rendam kaki air
hangat ternyata tekanan darah sistol dan diastol
pada penderita hipertensi mengalami penurunan.
Joint National Committee (JNC) telah
mengeluarkan guideline terbaru mengenai
tatalaksana hipertensi atau tekanan darah tinggi,
yaitu,mengingat bahwa hipertensi merupakan
suatu penyakit kronis yang memerlukan terapi
jangka panjang dengan banyak komplikasi yang
mengancam nyawa seperti infark miokard, stroke,
gagal ginjal, hingga kematian jika tidak dideteksi
dini dan diterapi dengan tepat, dirasakan perlu
untuk terus menggali strategi tatalaksana yang
efektif dan efisien dengan begitu, terapi yang
dijalankan diharapkan dapat memberikan dampak
maksimal (Riskesdas, 2013).
Hipertensi dapat di obati secara nonfarmakologis. Pengobatan non farmakologis salah
116
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
satunya adalah rendam kaki. Rendam kaki
menggunakan air hangat akan merangsang saraf
yang terdapat pada kaki untuk merangsang
baroreseptor, dimana baroreseptor merupakan
refleks paling utamadalam menentukan kontrol
regulasi pada denyut jantung dan tekanan darah.
Baroreseptor
menerima
rangsangan
dari
pereganganatau tekanan yang berlokasi di arkus
aorta dan sinus karotikus. Pada saat tekanan darah
arteri meningkat dan arteri menegang, reseptorreseptor ini dengan cepat mengirim impulsnya ke
pusat vasomotor mengakibatkan vasodilatasi pada
arteriol dan vena dan perubahan tekanan darah.
Dilatasi arteriol menurunkan tahanan perifer dan
dilatasi vena menyebabkan darah menumpuk pada
vena sehingga mengurangi aliran balik vena, dan
dengan demikian menurunkan curah jantung.
Impuls afern suatu baroreseptor yang mencapai
jantung akan merangsang aktivitas saraf
parasimpatis dan menghambat pusat simpatis
(kardioaselerator)
sehingga
menyebabkan
penurunan denyut jantung dan daya kontraktilitas
jantung (Hembing, 2000).
Sementara pengukuran tekanan darah pada
kelompok
kontrol
dilakukan
sebagai
perbandingan untuk kelompok intervensi yang
dilakukan terapi rendam kaki air hangat, dimana
didapatkan hasil tekanan darah sistol pada
kelompok kontrol juga mengalami penurunan
yaitu rata-rata 155,33 mmHg dengan standar
deviasinya 15,97 dan tekanan darah diastol ratarata 62,67 mmHg dengan standar deviasinya
10,32.
Menurut pendapat peneliti pada penelitian
ini bahwa terapi rendam kaki air hangat pada
penderita hipertensi dapat menurunkan tekanan
darah jika dilakukan secara rutin, dapat dilihat
pada kelompok intervensi yang secara rutin
melakukan terapi rendam kaki air hangat
mengalami penurunan dari hari pertama hingga
hari terakhir. Sementara pada kelompok kontrol
yang tidak diberikan perlakuan pada penderita
hipertensi juga mengalami penurunan dan ada
juga malahan sebaliknya mengalami peningkatan
pada tekanan darah sistolik dan diastolik, hal
tersebut mungkin disebabkan karena pada
kelompok kontrol melakukan berobat rutin ke
Puskesmas dan memperoleh obat anti hipertensi,
hal sebaliknya yang terjadi tekanan darah sistolik
menjadi naik, mungkin karena adanya faktor
pemicu yaitu budaya dan lingkungan yang
menyebabkan tekanan darah menjadi naik,
contohnya seperti ketidakpatuhan diet garam,
stress yang berlebihan, obesitas, merokok dan
hidup sembarangan atau tidak teratur.
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Menurut peneliti pada tekanan darah
penderita hipertensi yang tekanan darah
diastolnya 40-50 mmHg tidak perlu diberikan
terapi rendam kaki air hangat, apabila tetap
diberikan maka efek terhadap penderita tidak baik,
dan bisa mengakibatkan tubuh penderita menjadi
lelah, tangan dan kakinya terasa kesemutan dan
penderita juga merasakan pusing.
Manfaat merendam kaki dengan air hangat
38o-40oC akan mempelancar peredaran darah,
merangsang keringat, menyembuhkan batuk pilek
dan susah tidur. Penderita yang mengalami
tekanan darah tinggi jika melakukan rendam kaki
menggunakan air hangat yang dilakukan secara
rutin maka dapat terjadi penurunan tekanan darah,
karena efek dari rendam kaki air hangat
menghasilkan energi kalori yang bersifat
mendilatasi dan melancarkan peredaran darah
juga merangsang saraf yang ada pada kaki untuk
mengaktifkan saraf parasimpatis, sehingga
menyebabkan penurunan tekanan darah (Umah,
2012).
Rendam kaki air hangat adalah salah satu
terapi hipertensi yang bermanfaat untuk
mendilatasi pembuluh darah, melancarkan
peredaran darah dan memicu saraf yang ada pada
telapak kaki untuk bekerja (Umah, 2012). Secara
ilmiah terapi rendam kaki air hangat mempunyai
dampak fisiologis bagi tubuh. Pertama berdampak
pada pembuluh darah dimana hangatnya air
membuat sirkulasi darah menjadi lancar, yang
kedua adalah faktor pembebanan di dalam air
yang menguntungkan otot-otot dan ligament yang
mempengaruhi sendi tubuh (Hembing A, 2000).
Menurut Peni (2008) penderita hipertensi
dalam pengobatannya tidak hanya menggunakan
obat-obatan, tetapi bisa menggunakan alternatif
non-farmakologis dengan menggunakan metode
yang lebih murah dan mudah yaitu dengan
menggunakan terapi rendam kaki air hangat dapat
digunakan sebagai salah satu terapi yang dapat
memulihkan otot sendi yang kaku serta dapat
menurunkan tekanan darah apabila dilakukan
secara melalui kesadaran dan kedisiplinan (Umah
dkk, 2012).
4. KESIMPULAN
Setelah dilakukan penelitian pada 30 orang
responden didapatkan terdapat pengaruh terapi
rendam kaki air hangat terhadap penurunan
tekanan darah pada penderita hipertensi di
Puskesmas Andalas Padang Tahun 2016. Rendam
kaki air hangat adalah salah satu terapi hipertensi
yang bermanfaat untuk mendilatasi pembuluh
darah, melancarkan peredaran darah dan memicu
117
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
saraf yang ada pada telapak kaki untuk bekerja
(Umah, 2012). Secara ilmiah terapi rendam kaki
air hangat mempunyai dampak fisiologis bagi
tubuh. Pertama berdampak pada pembuluh darah
dimana hangatnya air membuat sirkulasi darah
menjadi lancar, yang kedua adalah faktor
pembebanan di dalam air yang menguntungkan
otot-otot dan ligament yang mempengaruhi sendi
tubuh (Hembing A, 2000).
Disarankan kepada petugas kesehatan dapat
memberikan edukasi pada pasien dan keluarga
dapat mengontrol dan menurunkan tekanan darah
secara non farmakologi yaitu dengan terapi
rendam air hangat yang didapatkan secara mudah.
5. DAFTAR PUSTAKA
Dewi, Anita. 2014. Pemberian Terapi Rendam
Kaki Air Hangat Terhadap Perubahan
Tekanan
Darah
Pada
Asuhan
Keperawatan Pada Penderita Hipertensi.
Karmanboegyys. Blogspot. co.id. Rendam Kaki
Air Hangat Mempercepat Peredaran
Darah. di Akses 1 Maret 2016
Kusuma, Wijaya Hembing. 2000. Hipertensi.
(http://Rendam Kaki Menggunakan Air
Hangat). Di Akses20 Januari 2016
Notoatmodjo.
2010.
Medika
Penelitian
Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Peni. 2008. Panduan Gaya Hidup Tabloid Gaya
Hidup Sehat (http//Gaya Hidup Sehat
Online. Com). di Akses 10 Januari 2016
Profil Dinas Kesehatan Kota Padang, 2014
Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar). 2013. Data
Kejadian Hipertensi. di Akses 5 Januari
2016
Sudarmoko, Arief. 2010. Tetap Tersenyum
Melawan Hipertensi. Yogyakarta : Atma
Media Fress
Sugiono. 2010. Statistik Untuk Penelitian.
Bandung : Alfabeta
Triyanto, Endang. 2014. Pelayanan Keperawatan
Bagi Penderita Hipertensi Secara
Terpadu. Jakarta : Graha Ilmu
Umah, Khoiroh & dkk. 2014. Pengaruh Terapi
Rendam Kaki Air Hangat Terhadap
Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita
Hipertensi. Skripsi : A3 PSIK UNIGRES
WHO (World Health Orgnization). 2013. Data
Hipertensi. di Akses 5 Januari 2016
LPPM STIKes Perintis Padang
118
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
PENURUNAN NYERI HAID (DISMENORE) PRIMER
MELALUI PEMBERIAN MINUMAN JAHE EMPRIT
Ridha Hidayati*,Ririn Fuji Rahma
STIKes Ranah Minang Padang, Jl. Parak Gadang
E-mail: [email protected]
Abstract
Dysmenorrhea is painful menstruation in the lower abdomen and waist caused by excessive
prostaglandin formation, which causes the uterus to contract quickly. Dysmenorrhea resulted in many
famale students do not attend school. One way to overcome this by consuming beverages dysmenorrhea
ginger. Ginger contains gingerol chemistry, shogaol, zingerol, capable blogging prostaglandin
production so as to reduce pain during menstruation. The purpose of this study was to determine the
influence of ginger drink to the intensity of menstrual pain primer. This type of research is preeksprerimen with one design group pre-post test. The population in this research are the female students
that experiencing dysmenorrhea and complete the criteria. The samples of 15 female students with a
purposive sampling.Data were analyzed using the paired t-test.The results shows that the average pain
female students before being given a drink ginger is 6.87 with a standard deviation of 1.302, the average
pain female students after being given drink ginger is 3.27 with a standard deviation of 1.668, there is
a significant difference before and after drink ginger with ρ = 0.001 where ρ <0.05.it is recommended
can use ginger to cope with menstrual pain.
Keywords : Dysmenorrhea, Jahe Emprit
1. PENDAHULUAN
Menurut organisasi kesehatan dunia World Health
Organization (WHO) sekitar 1,2 milyar atau 18%
dari jumlah penduduk dunia adalah kelompok
remaja. Remaja adalah periode usia antara 10
sampai 19 tahun (WHO, 2014). Masa remaja
merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak
ke masa dewasa, di tandai dengan perubahanperubahan fisik pubertas dan emosional yang
kompleks.Pubertas adalah saat dimana sistem
reproduksi mengalami kematangan (Pieter, 2010).
Diantara perubahan fisik (organbiologik)
itu ditandai dengan perubahan seks sekunder yaitu
panggul membesar, pertumbuhan rahim dan
vagina, payudara membesar, tumbuhnya rambut
di ketiak dan sekitar kemaluan.Perubahan seks
primer seperti munculnya haid (Jamal,
2010).Menstruasi (haid) adalah kejadian alamiah
yang terjadi pada wanita.Bagi sebagian wanita,
adakalanya menstruasi menjadi hal yang sangat
menakutkan salah satunya timbul rasa nyeri ketika
menstruasi (dismenore) (Proverawati, 2009).
Dismenore diduga sebagai akibat dari
pembentukan prostaglandin yang berlebihan, yang
menyebabkan uterus untuk berkontraksi secara
cepat dan juga mengakibatkan vasospasme
anterolar.Dismenore dibagi menjadi dua yaitu
dismenore
primer
dan
dismenore
sekunder.Dismenore primer adalah menstruasi
yang sangat nyeri, tanpa patologi pelvis (ketiadaan
penyakit pada pelvis).Dismenore ditandai oleh
LPPM STIKes Perintis Padang
nyeri keram dibagian bawah perut biasanya
menyebar ke bagian belakang yang berlangsung
selama 48 hingga 72 jam.Pada dismenore
sekunder, terdapat patologi pelvis, seperti
endometriosis, tumor, dan penyakit inflamatori
pelvik (PID) (Anurogo, 2011).
Studi epidemiologi pada populasi remaja
di Amerika Serikat, oleh Klein dan Litt (2013)
melaporkan prevalensi dismenore mencapai 59,7,
dan di Swedia sekitar 72%. Sementara itu, hasil
survei terhadap 113 pasien di Family Practice
Setting menunjukkan prevalensi dismenore 29-44
%. Dari sejumlah 1266 mahasiswi di Firat
University, Turki, sejumlah 45,3 % merasakan
nyeri di setiap haid. Berdasarkan data profil
kesehatan Indonesia tahun 2013 angka kejadian
dismenore terdiri dari 54, 89% dismenore primer
dan 9,36 % dismenore sekunder (Depkes, 2013).
Kasus dismenore ini setiap tahunnya rata-rata
meningkat dibuktikan data dari Sukoharjo, tahun
2011 kunjungan pasien dismenore 237 kasus,
tahun 2012 435 kasus, dan tahun 2013 terdapat
445 kasus (Dinkes Sukoharjo, 2014).
Umumnya dismenore tidak berbahaya,
namun dirasa mengganggu bagi wanita yang
mengalaminya.Dilaporkan lebih dari 20% wanita
lebih sering tinggal di rumah untuk istirahat dan
pembatasan aktifitas fisik sewaktu nyeri haid.
Derajat nyeri dan kadar gangguan tentu tidak sama
untuk setiap wanita, ada yang masih bisa bekerja
119
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ada pula yang tidak kuasa beraktifitas
(Proverawati, 2009).
Berdasarkan penelitian Iswari (2014)
tentang “Hubungan dismenore dengan aktivitas
belajar mahasiswi Psik Fk Unud” diperoleh 68,4%
aktivitas terganggu, 21,5% sangat terganggu dan
tidak terganggu 10,1%. Dismenore berdampak
pada proses belajar siswi di sekolah diperkuat
dengan penelitian Abdul, dkk (2015) siswi yang
tidak masuk sekolah dan izin pulang kerumah
pada hari pertama dan hari kedua saat menstruasi
24%, dan 49% beristirahat di UKS, dan 27%
mengalami penurunan kosentrasi saat pelajaran
berlangsung.
Ada beberapa cara untuk meredakan
gejala-gejala nyeri menstruasi (dismenore) yaitu
dengan cara farmakologi dan non farmakalogi.
Obat farmakologi yang sering digunakan adalah
analgesik dan anti inflamasi seperti asam
mafenamat, ibuprofen, dan lain-lain.Akan tetapi
penggunaan obat farmakologis menimbulkan efek
samping seperti gangguan pada lambung dan
penurunan pada darah (anemia).Sedangkan
pengobatan non farmakologis banyak hal yang
dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri pada
dismenore primer, misalnya penggunaan kompres
hangat, olahraga teratur, dan mengkonsumsi
produk-produk herbal yang telah dipercaya
khasiatnya (Smith, 2006).
Terapi ramuan herbal dapat dilakukan
dengan menggunakan obat tradisional yang
berasal dari bahan- bahan tanaman.Beberapa
bahan tanaman dipercaya dapat mengurangi
nyeri.Salah satu tanaman herbal tersebut adalah
jahe (Zingiber Officinale Rose) yang bagian
rimpangnyaberfungsi
sebagai
analgesik,
antipiretik, dan anti inflamasi (Utami,
2012).Rimpang jahe mengandung 2-3% minyak
atsiri yang terdiri dari zingiberin, kemferia,
limonene, borneol, sineol, zingiberal, linalool,
geraniol, kavikol, zingiberol, gingerol, dan
shogaol. Rimpang jahe juga mengandung minyak
damar yang terdiri dari zingeron, pati, damar,
asam-asam organik, asam oksalat, asam malat,
dan gingerin. Rimpang jahe bersifat anti
peradangan atau anti inflamasi (Maryani, dkk,
2004).
Jahe (ginger)sama efektifnya dengan
asam mefenamat (mefenamic acid) dan ibuprofen
untuk mengurangi nyeri haid atau dismenore
primer (Anurogo, 2011). Selain bahannya mudah
didapat, ramuan minuman jahe mudah dibuat.Jahe
mengandung zat yang berkhasiat menghilangkan
rasa sakit dan mual saat menstruasi (Utami,
2012).Zat tersebut adalah shogaol, gingerol, dan
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
zingeberin.Varian jahe yang memiliki zat tersebut
salah satunya jahe emprit.Jahe emprit memiliki
rimpang berwarna kuning dan lebih kecil, jahe
emprit memiliki kandungan minyak atsiri yang
cukup tinggi (Ramadhan, 2013).Kandungan kimia
gingerol dalam jahe emprit mampu memblokir
prostaglandin sehingga dapat menurunkan nyeri
saat pada menstruasi (Utami, 2012).
Dari hasil penelitian yang di lakukan oleh
Arfiana (2014) tentang “Pengaruh minuman jahe
merah terhadap intensitas nyeri haid pada
mahasiswa D-IV Kebidanan Stikes Ngudi
Waluyo” membuktikan bahwa ada pengaruh
minuman jahe terhadap haid dengan nilai ρ =
0,000 < α (0,05). Hal ini diperkuat juga dari
penelitian yang dilakukan oleh Tanjung (2014)
dengan judul “Efektifitas ekstrak jahe dalam
menurunkan dismenore primer pada mahasiswa
tingkat I Akademi Kebidanan Poltekes Medan”
membuktikan bahwa ekstrak jahe efektif
menurunkan nyeri dismenore primer dengan nilai
ρ = 0.000 .
Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan
Kota Padang (2015), jumlah siswi terbanyak salah
satunya SMK N 2 Padang. Survei awal pada
tanggal 18 Maret 2016 dengan melakukan
wawancara kepada 10 siswi yang mengalami
dismenore, 4 siswi mengurangi nyeri tersebut
dengan tiduran di UKS dan diolesi minyak kayu
putih, 2 siswi mengurangi nyerinya dengan
minum jahe, dan 4 siswi tidak melakukan upaya
penanganan, hanya ditahan dan dibiarkan saja.
Mereka mengatakan keadaan ini menggangu
konsentrasi belajar di kelas dan membuat malas
untuk melakukan aktivitas. Menurut keterangan
yang didapat dari guru Bimbingan Konseling,
rata-rata siswi yang mengalami dismenore
mengeluh sakit perut disertai pusing, lemas dan
bahkan ada beberapa siswi yang sampai pingsan
ketika benar-benar tidak kuat menahan rasa sakit
tersebut, ada pula yang terpaksa tidak bisa masuk
sekolah dan izin untuk pulang karena dismenore,
rata-rata 3-6 orang per bulannya.
Berdasarkan latar belakang masalah
diatas, maka peneliti merumuskan masalah
sebagai berikut: “Apakah ada pengaruh minuman
jahe emprit terhadap intensitas nyeri haid
(dismenore) primer pada siswi di SMKN 2
Padang”?
Untuk mengetahui pengaruh pemberian
minuman jahe emprit terhadap intensitas nyeri
haid (dismenore) primer pada siswi SMKN 2
Padang.
120
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian pra
eksperimen dengan rancangan one group pretestposttestdesign.Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh siswi yang berada di SMKN 2
Padang.Sampel pada penelitian ini adalah 15 siswi
yang mengalami dismenoredengan carapurposive
sampling. Data diolah dengan uji paired ttest.Instrument penelitian menggunakan lembar
penilaian skala nyeri numerik.
Persiapan Alat/Bahan:
Alat: Gelas, Parutan, Penyaring
Bahan: Jahe 25 gram (sekitar 2 ruas jari tangan),
Gula aren (secukupnya), 2 gelas air
1) Cara kerja:
Bahan- bahan tersebut akan di olah dengan
cara bersihkan jahe dari kulitnya, kemudian
jahe diparut, rebus dengan 2 gelas air dan
tambahkan gula aren secukupnya sehingga
menyusut menjadi 1 gelas minuman jahe.
2) Cara minum:
Minuman ini diminum dalam keadaan hangat
sebanyak 1 gelas 2 x sehari.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada hasil penelitian pengaruh pemberian
minuman jahe emprit terhadap intensitas nyeri
haid (dismenore) primer pada siswi didapatkan
hasil sebagai berikut:
Tabel 1 Nilai rata-rata nyeri sebelum diberikan
minuman jahe emprit pada siswi SMKN 2
Padang tahun 2016
Tingkat
Mean SD
SE Min Max
nyeri
9
Sebelum 6.87 1.302 0.336 5
minum
Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa
nilai rata-rata nyeri pada siswi sebelum diberikan
minuman jahe emprit adalah 6.87.
Hal ini terlihat pada saat peneliti
mengobservasi dimana siswi terkadang tidak
dapat mengikuti perintah tapi masih respon
terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi
nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak
dapat berkomunikasi dengan baik, tidak dapat
diatasi dengan alih posisi, nafas panjang dan
distraksi. Respon dari siswi berbeda-beda
diantaranya berbaring ditempat tidur, merintih
kesakitan, mengeluh pusing, dan tidak dapat
melakukan aktivitas, hal ini berdampak pada
kehadiran siswi di sekolah. Pada saat penelitian
ditemukan ada siswi yang tidak mengikuti proses
belajar di sekolah sebanyak 6 orang, sehingga
peneliti melakukan observasi dirumah siswi
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
masing-masing. Jika hal ini dibiarkan maka akan
berdampak pada prestasi belajar siswi-siswi
tersebut.
Menurut peneliti dari hasil penelitian
nyeri menstruasi (dismenore) sebelum diberikan
minuman jahe emprit pada siswi SMKN 2 Padang
paling banyak mengalami nyeri berat dan sedang,
karena nyeri menstruasi tersebut terdapat
gangguan terhadap aktivitas pada siswi dalam
proses belajar yang membutuhkan kosentrasi,
tidur untuk istirahat, serta aktivitas lainnya. Selain
itu, beberapa faktor seperti stress, ansietas,
lingkungan yang bising, dan pengalaman nyeri
sebelumnya yang mempengaruhi tingkat nyeri
menstruasi pada siswi.Dimana persepsi tiap orang
terhadap nyeri juga sangat bersifat subjektif
sehingga dapat mempengaruhi respon nyeri yang
bervariasi.Hal ini didukung oleh teori Lowdermilk
(2013) faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri
salah satunya pengalaman nyeri sebelumnya,
dengan rasa nyeri dapat mempengaruhi deskripsi
seseorang mengenai rasa nyerinya dan
kemampuan untuk mengatasi rasa nyeri tersebut.
Dismenore adalah nyeri yang timbul pada
saat wanita mengalami menstruasi.Hal ini diduga
akibat dari pembentukan prostaglandin yang
berlebihan,
yang
menyebabkan
uterus
berkontraksi secara cepat, nyeri ini menyebabkan
perut terasa mulas, pusing, bahkan pingsan
(Proverawati, 2009).
Nyeri haid (dismenore) yang terjadi pada
siswi disebabkan banyak hal, salah satunya akibat
pelepasan prostaglandin tertentu.Prostaglandin F2
alfa yang berasal dari sel-sel endometrium
uterus.Prostaglandin F2 alfa adalah salah satu
perangsang kuat kontraksi otot polos miometrium
dan kontriksi pembuluh darah uterus (Anurogo,
2011).
Hal ini diperkuat oleh Judha, dkk (2012)
dalam Arfiana (2014) bahwa nyeri haid yang
timbul akibat adanya hormon prostaglandin
berlebihan yang membuat otot uterus (rahim)
berkontraksi .Nyeri tersebut dapat dirasakan di
daerah panggul bagian bawah, pinggang bahkan
punggung.Dia juga menambahkan bahwa nyeri
haid yang sering terjadi adalah nyeri haid yang
fungsional (wajar) yang terjadi pada hari pertama
dan kedua atau menjelang hari pertama akibat
penekanan pada kranalis servikalis (leher rahim).
Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian Arfiana (2014) dengan judul pengaruh
minuman jahe terhadap intensitas nyeri haid pada
mahasiswa D-IV Kebidanan STIKes Ngudi
Waluyo. Sebelum diakukan pemberian minuman
rebusan jahe banyak siswi yang mengalami
121
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
dismenore pada tingkat nyeri sedang yaitu 10
siswi (62,5 %) dan 6 siswi (37,5 %) pada nyeri
berat.
Tabel 2 Nilai rata-rata nyeri setelah diberikan
minuman jahe emprit pada siswi SMKN 2
Padang tahun 2016.
Tingkat
Mean SD
SE Min Max
Nyeri
6
Setelah 3.27 1.668 0.431 0
minum
Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa
nilai rata-rata nyeri pada siswi setelah diberikan
minuman jahe emprit adalah 3.27.
Ini menunjukan adanya penurunan tingkat
nyeri setelah diberikan minuman jahe emprit. Hal
ini terlihat pada saat peneliti mengobservasi siswi,
dimana siswi sudah dapat berkomunikasi dengan
baik, mengikuti perintah dengan baik , beraktivitas
seperti biasa, dan tidak ada lagi siswi yang absensi
ke sekolah, bahkan siswi yang mengalami tingkat
nyeri sedang menjadi tidak nyeri.
Berdasarkan
penelitian
yang
telah
dilakukan didapatkan hasil bahwa siswi yang
mengalami nyeri haid (dismenore) setelah
diberikan minuman jahe emprit terjadi penurunan
tingkat nyeri yang signifikan, ditandai dengan
siswi yang mengalami nyeri berat terjadi
penurunan ke sedang dan ringan, sedangkan siswi
yang mengalami nyeri sedang terjadi penurunan
ke nyeri ringan dan tidak nyeri. Dari hasil yang
didapatkan
bahwasanya
minuman
jahe
berpengaruh terhadap penurunan tingkat nyeri
haid (dismenore). Hal ini sesuai dengan pendapat
Anurogo (2011) bahwa kandungan jahe shogaol,
gingerol, dan zingeberin dapat mengurangi nyeri
saat menstruasi pada wanita.
Penurunan nyeri siswi disebabkan karena
adanya zat yang dimiliki oleh jahe yang berfungsi
sebagai anti analgesik, antipiretik, dan anti
inflamasi
serta
memblog
peningkatan
prostaglandin
didalam
tubuh
sehingga
menurunkan nyeri pada siswi yang mengalami
dismenore. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan
Wijaya (2012) bahwa sistem pengobatan jahe bisa
digunakan untuk mengatasi nyeri akibat
menstruasi dengan cara menghentikan kerja
prostaglandin yang merupakan penyebab rasa
sakit dan peradangan pembuluh darah dan
meredakan kram.
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Tabel 3 Perbedaan nyeri siswi sebelum
diberikan minuman jahe
empritdengan
tingkat nyeri pada siswi setelah diberikan
minuman jahe emprit pada siswi SMKN 2
Padang tahun 2016
Perlakuan
Sebelum
Setelah
Mean SD
6.87 1.302
3.27 1.668
SE
0..336
0.431
Jumlah
15
Berdasarkan tabel 3 diatas dapat dilihat
bahwa terdapat perbedaan nilai rata-rata nyeri
siswi sebelum diberikan minuman jahe emprit
adalah sebesar 6.87 dan mengalami penurunan
setelah diberikan minuman jahe emprit 3.27.Hal
ini menunjukan penurunan nilai dari tingkat nyeri
setelah diberikan minuman jahe emprit. Hasil uji
statistik dengan menggunakan uji paired ttestdidapatkan nilai pvalue = 0.000 (ρ<0.05)
bahwa ada pengaruh pemberian minuman jahe
emprit terhadap intensitas nyeri haid (dismenore)
primer.
Menurut peneliti dari hasil penelitian ini
dapat disimpulkan bahwa minuman jahe emprit
dapat menurunkan tingkat nyeri haid pada siswi
SMKN 2 Padang.Minuman jahe emprit dapat
dijadikan sebagai alternatif pengobatan secara
nonfarmakologi pada siswi untuk mengurangi
nyeri haid.Kandungan dalam jahe tersebut seperti
gingerol, shogaol, dan zingeberine bermanfaat
sebagai analgesik (penghilang rasa nyeri), anti
inflamasi, dan antipiretik, sehingga nyeri yang
dirasakan pada saat menstruasi dapat berkurang
dengan mengkonsumsi minuman jahe emprit.Hal
ini menunjukkan bahwa minuman jahe emprit
berpengaruh dalam mengurangi nyeri haid.
Dengan demikian terdapat pengaruh pemberian
minuman jahe terhadap intensitas nyeri haid
(dismenore) primer pada siswi SMKN 2 Padang
Tahun 2016.
Jahe emprit memiliki zat untuk mengurangi
nyeri dan rasa mual saat menstruasi.Zat tersebut
adalah shogaol, gingerol, dan zingeberin.Jahe
emprit memiliki rimpang berwarna kuning dan
lebih kecil, jahe emprit memiliki kandungan
minyak atsiri yang cukup tinggi (Ramadhan,
2013).Kandungan kimia gingerol dalam jahe
emprit mampu memblokir prostaglandin sehingga
dapat menurunkan nyeri saat pada menstruasi
(Utami, 2012).
Jahe emprit terbukti memiliki keefektifan
yang sama dengan asam mefenamat dan ibuprofen
dalam mengurangi nyeri dismenore primer. Hal
ini dibuktikan oleh Ozgoli, dkk (2009) dalam
122
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
penelitiannya yang berjudul “Comparison of
effects if ginger, mefenamic acid, and ibuprofen
on
pain
in
woment
with
primary
dysmenorrhea”.Khasiat jahe juga dibenarkan oleh
Terry, dkk (2011) dalam penelitiannya disebutkan
bahwa jahe terbukti dapat mengurangi nyeri akibat
osteoarthritis dan nyeri haid (dismenore).
Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Arfiana (2014)
dengan judul pengaruh minuman jahe terhadap
intensitas nyeri haid pada mahasiswa D-IV
Kebidanan Stikes Ngudi Waluyo membuktikan
bahwa ada pengaruh minuman jahe terhadap nyeri
haid dengan nilai Pvalue= 0.000 < α 0.05.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Xiao Yan dan
Jing (2009) tentang efek dari jahe emprit dalam
mengobati dismenore primer menunjukkan bahwa
terapi menggunakan jahe adalah terapi yang aman
dan efektif dalam mengurangi nyeri dismenore
primer.
Hasil penelitian ini sesuai dengan apa yang
dikatakan Anurogo (2011) bahwa jahe emprit
sama efektifnya dengan asam mefenamat
(mefenamic acid) dan ibuprofen untuk
mengurangi nyeri pada wanita dengan nyeri haid
(dismenore) primer. Selain bahannya mudah
didapat, ramuan minuman jahe mudah dibuat.
4. KESIMPULAN
Ada pengaruh dari minuman jahe emprit
terhadap intensitas nyeri haid (dismenore) primer
pada siswi SMKN 2 Padang Tahun 2016 (P=
0.000) P<0.05
1. Bagi ilmu keperawatan
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadikan
bahan informasi bagi petugas kesehatan dan
wanita yang mengalami dismenore bahwa jahe
emprit bermanfaat dalam mengurangi nyeri
haid(dismenore)
2. Bagi praktisi
a. Bagi tenaga kesehatan
Bagi tenaga kesehatan (perawat) diharapkan
dapat memberikan penyuluhan atau promosi
kesehatan tentang kesehatan reproduksi
wanita
khususnya
penatalaksanaan
dismenore dengan memanfaatkan tanaman
tradisional seperti jahe emprit sebagai terapi
non-farmakologis yang tidak berdampak
negatif bagi tubuh.
b. Bagi sekolah
Bagi sekolah SMKN 2 Padang diharapkan
dapat bekerja sama dengan Uni Kesehatan
Sekolah (UKS) serta puskesmas pembina
wilayah dalam mensosialisasikan pemberian
minuman jahe emprit sebagai alternatif untuk
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
mengurangi nyeri dismenore sehingga siswa
tidak lagi absen karna nyeri haid (dismenore).
3. Bagi peneliti selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya diharapkan
menggunakan rancangan metode yang
berbeda, jumlah sampel diperbanyak
sehingga nampak perbedaan yang lebih
signifikan, dan melakukan penelitian dengan
menggunakan jenis varian jahe lain agar
dapat membandingkan keefektifan jahe
emprit dengan jahe yang berbeda.
5. DAFTAR PUSTAKA
Abdul, dkk.2015. Perbandingan Efektifitas
Pemberian Minuman Kunyit Asam Jahe
Terhadap Penurunan Nyeri Haid Pada
Siswi di SMA Negeri 3 Gorontalo
Utara.Diakses dari http://kim.ung.ac.id
pada tanggal 17 Februari 2016.
Anurogo, W. 2011.Cara Jitu Mengatasi Nyeri
Haid. Yogyakarta: C.V Andi Offset.
Arfiana, Iva. 2014. Pengaruh Minuman Jahe
(Zingiber Officinale) Terhadap Intensitas
Nyeri Haid Pada Mahasiswa D-IV
Kebidanan Stikes Ngudi Waluyo. Diakses
dari http://perpusnwu.web.id pada tanggal
16 Februari 2016.
Hayat. 2013. Budi Daya Jahe. Bandung: Agro.
Diakses dari http://wwwgemaperta.com
pada tanggal 31 Juli 2016.
Hernani, dkk.2012. Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Pascapanen Pertanian.
Bogor.
Diakses
dari
http://balitro.litbang.deptan.go.id
pada
tanggal 12 Juni 2016.
Hidayat, Aziz A. 2007. Riset Keperawatan dan
Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta: Salemba
Medika.
Iswari et al. 2014.Hubungan Dismenore dengan
Aktivitas Belajar Mahasiswi Psik Fk Unud.
Diakses dari http://ojs.unud.ac.id pada
tanggal 16 Februari 2016.
Jamal, A. 2010.Kesehatan Reproduksi. Padang:
Universitas Baiturrahmah.
Maryani, H. 2004. Tanaman Obat untuk Influenza.
Jakarta: AgroMedia Pustaka.
Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas.
Jakarta: Salemba Medika.
Notoatmodjo, S. 2012. Metodologi Penelitian
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Ozgoli, G., Goli, M. Moattar F. 2009. Comparison
of effect of nginger, mefenamic acid, and
ibuprofen on pain in women with primary
dismenorea.Diakses
dari
123
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
http://books.google.co.id pada tanggal 16
februari 2016.
Pieter, dkk.2010. Pengantar Psikologi untuk
Kebidanan. Jakarta: Prenada Media.
Prayitno, Sunyoto. 2014. Buku Lengkap
Kesehatan Organ Reproduksi Wanita.
Jogjakarta: Saufa.
Proverawati, Atikah. 2009. Menarche Menstruasi
Pertama Penuh Makna. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Ramadhan.2013. Aneka Manfaat Ampuh
Rimpang
Jahe
untuk
Pengobatan.
Yogyakarta: Diandra Pustaka Indonesia.
Ruhnayat, A dan Kardinan, A. 2003.BudiDaya
Tanaman Obat Secara Organik. Jakarta:
AgroMedia Pustaka.
Sari, Wulan.P. 2013. Efektivitas Terapi
Farmakologis dan Non Farmakologis
Terhadap Nyeri Haid (Disminore) Pada
Siswi XI Di SMA Negeri 1 Pemangkat.
Diakses dari http://jurnal.untan.ac.id pada
tanggal 17 Februari 2016.
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif
Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Tamsuri, A. 2006.Konsep & Penatalaksanaan
Nyeri. Jakarta: EGC
Tanjung, Juliana.H. 2014. Efektifitas Ekstrak Jahe
dalam Menurunkan Dismenore Primer
Pada Mahasiswa Tingkat I Akademi
Kebidanan Poltekes Medan 2014.Diakses
dari http://repository.usu.ac.id pada tanggal
16 Februari 2016.
Utami, P. 2012. Antibiotik Alami untuk Mengatasi
Aneka Penyakit. Jakarta: Agro Medika
Pustaka.
Wijaya, S. 2012. Khasiat dan Manfaat Jahe Bagi
Kesehatan.
Diakses
dari
http://kreasireseomasakan.blogspot.com
pada tanggal 20 Maret 2016.
Wijayakusuma, H.M. 2005. Menumpas Penyakit
Kewanitaan dengan Tanaman Obat.
Jakarta: Puspa Swara.
Wilis, Anggi.R. 2011. Pengaruh Pemberian Air
Rebusan Jahe Terhadap Intensitas Nyeri
Haid Pada Mahasiswa Semester 7 Stikes
Aisyiyah
Yogyakarta.Diakses
dari
http://repository.usu.ac.id pada tanggal 18
Februari 2016.
LPPM STIKes Perintis Padang
124
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PELAKSANAAN PATIENT
SAFETY SESUAI JOINT COMISSION INTERNATIONAL
Adriani 1, Yusi Yusman 2 , & Lisavina Juwita3
1&3
STIKes Fort De Kock Bukittinggi
2
Rumah Sakit Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
[email protected] Yusi [email protected]
Abstract
Hospital as a health care institution must provide services to the community, locally and internationally.
Accreditation to assess the quality of an organization including hospital. The purpose of this experiment
to determine the factors associated with the implementation of patient safety by nurses based joint
international comission in Hospital Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi in 2016. This study was a
descriptive cross sectional analytic approach. This study used a questionnaire as a measuring tool of
research. The population in this study are all nurses in number 55. The result showed high knowledge
that is high 37 (67.3%), good attitude that is 35 people (63.6%), motivation is low at 30 persons (54.5%),
good facilities with 43 people ( 78.2%) and the proportion of patient safety are implemented either half
stated that 29 people (52.7%). There is a patient safety knowledge with values obtained p = 0.043. There
is a relationship between the attitude of nurses to patient safety that the value p = 0.010. There is a
relationship with the patient safety motivation obtained value of p = 0.008. There is no significant
relationship between patient safety facility with a p-value 0.385. It can be concluded that there is a
relationship of knowledge, motivation and attitude of nurses to the implementation of patient safety
based Joint Commission International Hospital Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi, 2016. It is expected
that the implementation of patient safety can be applied by nurses in the hospital.
Keywords: Knowledge, motivation, attitude of nurses, patient safety
1. PENDAHULUAN
Rumah sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan
haruslah
memberikan
pelayanan
kepada
masyarakat dalam lingkup lokal maupun
internasional. Berdasarkan hal tersebut, beberapa
dekade terkahir ini munculah istilah akreditasi
untuk menilai kualitas suatu organisasi termasuk
rumah sakit. Secara umum akreditasi berarti
pengakuan oleh suatu jawatan tentang adanya
wewenang seseorang untuk melaksanakan atau
menjalankan tugasnya. Menurut Kemenkes RI
(2011) meskipun akreditasi rumah sakit telah
berlangsung sejak tahun 1995, namun dengan
berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi
serta makin kritisnya masyarakat Indonesia dalam
menilai mutu pelayanan kesehatan, maka
dianggap perlu dilakukannya perubahan yang
bermakna terhadap mutu rumah sakit di Indonesia.
Perubahan tersebut tentunya harus diikuti dengan
pembaharuan standar akreditasi rumah sakit yang
lebih
berkualitas
dan
menuju
standar
Internasional. Dalam hal ini Kementerian
Kesehatan RI khususnya Direktorat Jenderal Bina
Upaya Kesehatan memilih dan menetapkan sistem
LPPM STIKes Perintis Padang
akreditasi yang mengacu pada Joint Commission
International (JCI) (JCI, 2011).
Undang-Undang No 012 Tahun 2012 tentang
Akreditasi Rumah Sakit, disebutkan bahwa
akreditasi bertujuan meningkatkan keselamatan
pasien rumah sakit dan
meningkatkan
perlindungan bagi pasien, masyarakat, sumber
daya manusia rumah sakit dan rumah sakit sebagai
institusi. Beberapa ketentuan yang diatur dalam
UU tentang akreditasi rumah sakit adalah : (1)
dalam upaya meningkatkan daya saing, rumah
sakit dapat mengikuti akreditasi internasional
sesuai kemampuan, (2) rumah sakit yang akan
mengikuti akreditasi internasional harus sudah
mendapatkan status akreditasi nasional, (3)
akreditasi internasional hanya dapat dilakukan
oleh
lembaga
independen penyelenggara
Akreditasi yang sudah terakreditasi oleh
International Society for Quality in Health Care
(ISQua). Proses akreditasi dilakukan oleh lembaga
independen yang memiliki kewenangan untuk
memberikan penilaian tentang kualitas pelayanan
di institusi pelayanan kesehatan. Salah satu
lembaga akreditasi internasional rumah sakit
125
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
yang telah diakui oleh dunia adalah Joint
Commission Internasional (JCI).
JCI merupakan salah satu divisi dari Joint
Commission International Resurces. JCI telah
bekerja dengan organisasi perawatan kesehatan,
departemen kesehatan, dan organisasi global
dilebih dari 80 negara sejak tahun 1994. JCI
merupakan lembaga non pemerintah dan tidak
terfokus pada keuntungan. Fokus dari JCI adalah
meningkatkan keselamatan perawatan pasien
melalui penyediaan jasa akreditasi dan sertifikasi
serta melalui layanan
konsultasi
dan
pendidikan yang bertujuan membantu organisasi
menerapkan solusi praktis dan berkelanjutan (Ali,
2014). Penanganan pasien membutuhkan suatu
standar pelayanan yang bermutu mengacu kepada
standar tersebut telah dibuat dalam JCI (2011).
Keseluruhan standar JCI setelah diidentifikasi,
maka diperoleh standar yang paling relevan
digunakan dalam mengkaji keselamatan pasien
yang terkait dengan mutu pelayanan sesuai dengan
JCI adalah sasaran internasional keselamatan
pasien (SIKP) rumah sakit meliputi indikator : (1)
ketepatan identifikasi pasien, (2) peningkatan
komunikasi
yang efektif, (3) peningkatan
keamanan obat yang perlu diwaspadai, (4)
kepastian tepat lokasi tepat prosedur, tepat pasien
operasi, (5) pengurangan risiko infeksi terkait
pelayanan kesehatan dan (6) pengurangan risiko
pasien jatuh.
Penerapan SIKP sesuai standar JCI di RSUD Dr.
Achmad Mochtar Bukittinggi sampai saat ini
sedang
dalam
proses
dan
dilakukan
penyempurnaan secara manajemen, sumber daya
manusia maupun fasilitas. Proses penerapan SIKP
di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi belum
optimal, hal ini ditandai dengan belum
terlaksananya sesuai standar Join Commission
International. Berdasarkan pengamatan awal yang
penulis lakukan di IGD, Bedah dan OK RSUD
Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi pada 31 Juni
2016, penulis melakukan observasi pada masingmasing 3 orang perawat dalam memberikan
asuhan keperawatan, didapatkan hasil observasi
perawat belum melakukan tindakan sesuai dengan
standar JCI. Dalam melakukan identifikasi pasien,
perawat sudah melakukan identifikasi pasien dan
memilah pasien, namun belum optimal
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
dilaksanakan. Sedangkan dari segi komunikasi
belum tampak efektif sesuai dengan standar JCI,
belum ada komunikasi yang tepat, akurat dan
efektif antara perawat, dokter dan pasien.
Dalam pemberian obat-obatan sudah dilakukan
sesuai dengan SOP di ruangan akan tetapi belum
sesuai dengan JCI seperti tempat penyimpanan
cairan dan obat-obatan yang belum sesuai dengan
ketentuan. Pemberian tindakan pembedahan dan
pengurangan resiko infeksi sudah diterapkan di
IGD RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi.
Akan tetapi pengurangan resiko pasien jatuh
belum sepenuhnya dilakukan. Ini ditandai dengan
tidak semua pansien dipasang pengaman pada
brankar.
Penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan
dengan pelaksanaan patient safety oleh perawat
berdasarkan Joint Comission International belum
pernah dilakukan di RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi karena standar JCI baru akan
diterapkan pada awal 2016 namun sejak awal
tahun 2016 kegiatan sudah mulai diarahkan sesuai
dengan standar akreditasi sesuai JCI. Berdasarkan
hal tersebut maka peneliti tertarik untuk meneliti
“Faktor- Faktor Yang Berhubungan Dengan
Pelaksanaan Patient Safety oleh Perawat
Berdasarkan Joint Comission International di
RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi 2016”.
2. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini membahas tentang faktor-faktor
yang berhubungan dengan pelaksanaan patient
safety oleh perawat berdasarkan Joint Comission
International di RSUD Dr. Achmad Mochtar
Bukittinggi tahun 2016. Variabel independen
dalam penelitian ini adalah pengetahuan perawat,
sikap dan motivasi perawat sedangkan variabel
dependen dalam penelitian ini adalah pelaksanaan
patient safety oleh perawat sesuai Joint
Commission International. Desain penelitian ini
adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross
sectional. Penelitian ini menggunakan angket
sebagai alat ukur penelitian. Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh perawat di RSUD Dr.
Achmad Mochtar Bukittinggi, jumlah sampel
dalam penelitian ini adalah 55 orang. Penelitian
ini telah dilaksanakan pada tanggal 3 Juni 2016.
Uji statistik yang digunakana adalah chi square.
126
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden di RSUD Dr Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun
2016
Karakteristik
Kategori
Frekuensi
Prosentase
Responden
Usia
Dewasa awal (20 – 39 Tahun)
42
76,4
Dewasa menengah (40 tahun-59
13
23,6
tahun)
55
100
Total
Masa Kerja
≥ 10 tahun
24
43,6
< 10 tahun
31
56,4
Total
55
100
Unit Kerja
IGD
15
27,2
Bedah
15
27,2
OK
25
45,6
Total
55
100
Status Kepegawaian
PNS
48
87,3
Non PNS
7
12,7
Total
55
100
Pendidikan
S1
18
32,7
D3
37
67,3
Total
55
100
orang (76,4%). Masa kerja paling dominan
perawat adalah kurang dari 10 tahun yaitu 31
orang (56,4%). Unit kerja paling dominan
A. Analisa Univariat
perawat adalah OK yaitu 25 orang (45,4%).
Dari tabel d i a t a s dapat dilihat bahwa
Status Kepegawaian paling dominan perawat
berdasarkan usia paling dominan perawat di
adalah PNS yaitu 48 orang (87,3%). Pendidikan
RSUD dr Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun
paling dominan perawat adalah DIII yaitu 37
2016 adalah antara 20 hingga 39 tahun yaitu 42
orang (56,4%).
Tabel 2. Distrubisi Pengetahuan, Motivasi, Fasilitas Perawat, Patient Safety di RSUD Dr
Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
Variabel
Kategori
Frekuensi
Prosentase
Pengetahuan
Rendah
18
32,7
Tinggi
37
67,3
Total
55
100
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Motivasi
Rendah
Tinggi
Total
30
25
55
54,5
45,5
100
Fasilitas Perawat
Kurang Baik
Baik
Total
12
43
55
21,8
78,2
100
Sikap
Tidak Baik
Baik
Total
20
35
55
36,4
63,6
100
Patient Safety
Kurang Baik
Baik
Total
26
29
55
47,3
52,7
100
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa lebih dari
separuh perawat di RSUD dr Achmad Mochtar
LPPM STIKes Perintis Padang
Bukittinggi memiliki pengetahuan yang tinggi
yaitu tinggi 37 orang (67,3%). Hasil penelitian ini
127
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
sejalan dengan penelitian yang dilakukan Awalia
(2012) di RSUP dr Wahidin Sudirohusodo di
Makasar, menunjukkan bahwa pengetahuan
perawat dengan pelaksanaan Patient Safety
dengan
kategori baik sehingga pelayanan
keperawatan sesuai dengan standar JCI. Hasil
penelitian ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan Sumarianto (2013) dengan judul
hubungan pengetahuan dan motivasi terhadap
kinerja perawat dalam penerapan program patient
safety di ruang perawatan inap RSUD Andi
Makkasau Kota Parepare didapatkan Dari 64
responden, 49 diantaranya (76,5%) berkategori
pengetahuan baik, sebelas responden (17,2%)
kategori pengetahuan cukup, dan empat responden
(6,3%) kategori pengetahuan kurang.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
yang dilakukan Ngalngola (2012) dengan judul
gambaran pengetahuan dan motivasi perawat
terhadap penerapan program patient safety di
instalasi rawat inap RSUD Daya Makassar
tahun 2012 didapatkan Pengetahuan perawat
pada umunya di instalasi rawat inap dengan tiga
bagian yaitu :perawatan anak umumnya baik
yaitu 21 orang (100,0%).perawatan interna
umumnya baik yaitu 27 orang (93,1%) dan
perawatan bedah umumnya baik yaitu 21 orang
(100,0%). Menurut
asumsi
peneliti,
pengetahuan yang dimiliki perawat diperoleh
dari keinginan untuk mengetahui dan ilmu yang
tinggi sehingga pelayanan yang diberikan sesuai
dengan yang diharapkan dan tercapainya
pelayanan yang holistic di Rumah Sakit.
Bedasarkan Motivasi hasil yang didapat Lebih
dari separuh
perawat di RSUD dr Achmad
Mochtar Bukittinggi memiliki motivasi yang
rendah yaitu 30 orang (54,5%). Hasil penelitian
ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
Sumarianto (2013) dengan judul hubungan
pengetahuan dan motivasi terhadap kinerja
perawat dalam penerapan program patient safety
di ruang perawatan inap RSUD Andi Makkasau
Kota Parepare didapatkan distribusi frekuensi
responden menurut motivasi di ruang perawatan
inap RSUD Andi Makkasau kota Parepare tahun
2013 bahwa dominan motivasi responden
mengenai program patient safety termasuk
dalam kategori tinggi dari 64 responden, 45
diantaranya (70,2%) berkategori motivasi tinggi
dan reponden dengan motivasi rendah sebanyak
sembilan belas responden (29,8%).
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Hasil penelitian ini sejalan dengan yang
dilakukan oleh Astuti (2011) di
RSUD
Palembang dimana motivasi perawat (82%)
yang tinggi dalam memberikan pelayanan
dipengaruhi oleh kemauan dan perasaan yang
sensitive dalam memenuhi kebutuhan pasien dan
kurang baik 12%. Menurut asumsi perawat
motivasi yang tinggi memberikan dan
meningkatkan pelayanan di Rumah Sakit karena
responden mempunyai semangat yang tinggi
dalam memberikan pelayanan yang sesuai
dengan standar JCI. Pasien merasa puas dengan
pelayanan yang diberikan oleh perawat.
Semua perawat di RSUD dr Achmad Mochtar
Bukittinggi memiliki sikap yang baik yaitu 35
orang (63,6%). Penelitian ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan Alvionita (2014)
dengan judul sikap perawat terhadap patient
safety di unit anak rumah sakit PKU
Muhammadiyah Bantul, PKU Muhammadiyah
Yogyakarta Unit I, dan PKU Muhammadiyah
Yogyakarta Unit II didapatkan Sikap perawat
terhadap patient safety dengan prosentase sebesar
(71%) terdiri dari 20 responden dikategorikan
memiliki sikap mendukung, kurang mendukung
sebanyak 8 responden (29%).
Menurut asumsi peneliti, dari hasil penelitian
diperoleh dilapangan terlihat banyaknya
responden yang memiliki sikap baik dalam hal
penaganan Patient Safety di RSUD dr Achmad
Mochtar Bukittinggi. Hasil ini penelitian ini
sejalan dengan penelitian yang dilakukan
Trimulaim (2009) di RS dr Kariadi Semarang
Ruangan Pav Garuda menunjukkan bahwa sikap
perawat sangat berpengaruh dalam pelaksanaan
Patient Safety di Rumah Sakit. Banyak
perawat yang memiliki sikap yang baik
dalam
memberikan pelayanan dan tanpa
membedakan pasien. Sikap yang baik terhadap
pasien akan menimbulkan kepuasaan bagi pasien
dan pelayanan yang dituntut dalam akreditasi JCI
adalah pelayananan yang mengutamakan pasien.
Separuh perawat di RSUD dr Achmad Mochtar
Bukittinggi memiliki fasilitas yang baik yaitu
43 orang (78,2%). Fasilitas merupakan segala
sesuatu yang memudahkan rumah sakit dalam
menggunakan alat maupun media yang
digunakan sesuai dengan peruntukannya.
Fasilitas adalah sumberdaya fisik yang ada dalam
sebelum suatu jasa/pelayanan dapat ditawarkan
kepada konsumen (Tjiptono,2011). Fasilitas
merupakan segala sesuatu yang memudahkan
128
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
konsumen/pasien Dalam usaha yang bergerak di
bidang jasa/pelayanan, maka segala fasilitas yang
ada yaitu
kondisi fasilitas, kelengkapan, serta
kebersihan fasilitas harus diperhatikan terutama
yang berkaitan erat dengan apa yang dirasakan
atau didapat pasien secara langsung.
Dari hasil penelitian Suka Dewi di RSUD
Palembang diruangan khusus sejalan dengan
fasilitas rumah sakit hanya 23% karena sarana
dan prasaran dan SDM yang kurang
memadai.Menurut asumsi perawat, Oleh karena
itu peneliti melihat fasilitas yang ada sekarang
masih kurang baik dari sarana maupun prasarana
ISSN: 2548-3153
sesuai dengan JCI.Hal ini terjadi karena
terbatasnya dana ,alat,kurangnya pelatihan yang
diberikan pihak rumah sakit kepada tenaga
perawat sehingga tenaga perawat banyak yang
beum mengetahui atau memahai pasien safety
sesuai standar JCI.
B. Analisa Bivariat
Hasil Bivariat bertujuan untuk mengetahui
hubungan antara pengetahuan, motivasi, sikap,
dan fsilitas dengan patient safety
Tabel 3. Hubungan antara pengetahuan, motivasi, sikap, dan fsilitas dengan patient safety
Patient Safety
Total
OR
Kurang Baik
Baik
Variabel
p Value
95% CI
n
%
n
%
N
%
Pengetahuan
Rendah
12
66,7
6
33,3
18
100
3,286
0,085
(1,006-10,735)
Tinggi
14
37,8
23
62,2
37
100
26
47,3
29
52,7
55
100
Total
Motivasi
4,442
Rendah
19
63,3
11
36,7
30
100
0,019
(1,412-13,973)
Tinggi
7
28
18
72
25
100
26
47,3
29
52,7
55
100
Total
Sikap
Tidak Baik
14
70
6
30
20
100
4,472
0,023
(1,369-14,612)
Baik
12
34,3
23
65,7
35
100
26
47,3
29
52,7
55
100
Total
Fasilitas
Kurang Baik
7
58,3
5
41,7
12
100
1,768
0,589
(0,484-6,462)
Baik
19
44,2
24
55,8
43
100
26
47,3
29
52,7
55
100
Total
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat dari
hasil
analisis
bahwa hubungan antara
pengetahuan perawat dengan Patient Safety yang
tinggi lebih dari separuh responden safetynya
bagus yaitu 23 orang (62,2%). Sedangkan pada
pengetahuan perawat dengan Patient Safety yang
rendah kurang dari separuh responden safetynya
bagus yaitu 12 orang (66,7%). Hasil uji statistik
dengan uji chi-square diperoleh nilai p = 0,085
sehingga p > 0,05 artinya tidak ada hubungan
signifikan antara fasilitas dengan Patient Safety.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan Abdullah (2014) dengan judul
hubungan pengetahuan, motivasi, dan supervisi
dengan kinerja pencegahan infeksi nosokomial di
RSUD Haji Makassar didapatkan Hasil penelitian
diperoleh bahwa pengetahuan (p=0,000), yang
LPPM STIKes Perintis Padang
berarti ada hubungan signifikan antara
pengetahuan dengan kinerja perawat pelaksana
dalam pencegahan infeksi nosokomial di Instalasi
Rawat Inap RSUD Haji Makassar. Penelitian ini
tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan
Cintya (2013) yang berjudul hubungan
pengetahuan dan sikap perawat dengan
pelaksanaaan keselamatan pasien (patient safety)
di ruang rawat inap RSUD.
Hasil analisis bahwa hubungan antara motivasi
perawat tinggi dengan patient safetynya bagus
yaitu 18 orang (72%). Sedangkan pada motivasi
perawat rendah dengan safetynya bagus yaitu
11 orang (36,7%). Hasil uji statistik dengan uji
chi-square diperoleh nilai p = 0,019 sehingga p <
0,05 artinya terdapat hubungan signifikan antara
motivasi dengan Patient Safety. Hasil analisis
129
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
diperoleh OR 4,442 artinya responden yang
motivasi tinggi memiliki peluang 4,442 kali
Patient Safety bagus dibandingkan motivasi
perawat yang rendah.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
yang dilakukan Sumarianto (2013) dengan judul
hubungan pengetahuan dan motivasi terhadap
kinerja perawat dalam penerapan program patient
safety di ruang perawatan inap RSUD Andi
Makkasau Kota Parepare didapatkan dari hasil
uji chi-square diperoleh nilai p=0.000 (p<0,05)
yang berarti ada hubungan Motivasi dengan
Pasien safety.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
yang dilakukan Murdyastuti (2010) dengan judul
pengaruh
persepsi
tentang
profesionalitas,pengetahuan patients safety dan
motivasi perawat terhadap pelaksanaan program
patients safety di ruang rawat Inap Rso Prof. Dr.
R. Soeharso Surakarta didapatkan motivasi
perawat berpengaruh positif dan signifikan
terhadap pelaksanaan program patients safety.
Hal ini dibuktikan oleh besarnya nilai uji t
statistik dengan derajat kepercayaan 95%
sebesar 2,360 > t tabel 1,679 yang menunjukkan
pengaruh variable tersebut kuat. Hasil penelitian
ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
Ngalngola (2012) dengan judul gambaran
pengetahuan dan motivasi perawat terhadap
penerapan program patient safety di instalasi
rawat inap RSUD Daya Makassar tahun 2012
didapatkan motivasi perawat pada umunya di
instalasi rawat inap dengan tiga bagianyaitu
:perawatan anak umumnya
Motivasi sedang yaitu 12 orang (54,5%)
perawatan interna umumnya Motivasi Tinggi
yaitu 21 orang (72,4%) dan perawatan Bedah
umumnya Motivasi Tinggi yaitu 16 orang
(76,2%). Liun Kendage Tahun A didapatkan
Analisis statistik menunjukan hasil bahwa ada
hubungan pengetahuan perawat
dengan
pelaksanaan keselamatan pasien (patient safety)
di Ruang Rawat Inap RSUD Liun Kendage
Tahuna, p=0,014 (p<0,05). Hasil penelitian ini
tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan
Irma (2015) berjudul pengaruh pengetahuan,
motivasi, sikap perawat dan bidan terhadap
penerapan budaya patient safety di RSIA
‘Aisyiyah Klaten didapatkan berpengaruh
signifikan terhadap penerapan budaya patient
safety adalah pengetahuan (p= 0, 003).
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Hasil analisis bahwa hubungan antara sikap
perawat baik dengan Patient safetynya yang
bagus yaitu 23 orang (65,7%). Sedangkan pada
sikap perawat kurang baik dengan Patient
safetynya bagus yaitu 6 orang (30%). Hasil uji
statistik dengan uji chi-square diperoleh nilai p =
0,023 sehingga p < 0,05 artinya terdapat
hubungan signifikan antara sikap perawat
dengan Patient Safety. Hasil analisis diperoleh
OR 4,472 artinya responden yang sikap baik
memiliki peluang 4,472 kali Patient Safety
bagus dibandingkan sikap perawat yang
kurang baik.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan Alvionita (2014) dengan judul sikap
perawat terhadap patient safety di unit anak
rumah sakit PKU Muhammadiyah Bantul, PKU
Muhammadiyah Yogyakarta Unit I, dan PKU
Muhammadiyah Yogyakarta Unit II didapatkan
ada hubungan sikap perawat terhadap patient
safety. Prosentase tertinggi pada prinsip check
patient medicines (60,70%) yang didukung
dengan hasil observasi I (86,4%) dan observasi II
(100%) pada tindakan responden selalu
mengaplikasikan 6 benar dalam pemberian obat.
Prinsip terendah sebesar 47,63% pada prinsip
Identify patient safety risks didukung dengan
hasil observasi I hanya sebesar 36,4% dan
54,5% pada observasi II responden yang
melakukan tindakan memastikan pengaman pada
tempat tidur telah terpasang atau tidak. Penelitian
ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
Cintya (2013) hubungan pengetahuan dan sikap
perawat dengan pelaksanaaan keselamatan
pasien (patient safety) di ruang rawat inap RSUD
Liun Kendage Tahun A didapatkan Ada
hubungan sikap perawat dengan pelaksanaan
keselamatan pasien (patient safety) di Ruang
Rawat Inap RSUD Liun Kendage Tahuna,
p=0,000 (α <0,05).
Hasil analisis bahwa hubungan antara fasilitas
yang baik dengan tindakan Patient Safety yang
bagus yaitu 24 orang (55,8%). Sedangkan pada
fasilitas yang kurang baik dengan tindakan
Patient Safety yang bagus yaitu 5 orang (41,7%).
Hasil uji statistik dengan uji chi-square
diperoleh nilai p = 0,589 sehingga p > 0,05
artinya tidak ada hubungan signifikan antara
fasilitas dengan Patient Safety. Dari hasil
penelitian Suka Dewi di RSUD Palembang
diruangan khusus sejalan dengan fasilitas
rumah sakit yaitu ada hubungan Fasilitas
dengan Pasien safety Menurut asumsi perawat,
130
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Dari hasil yang peneliti peroleh dilapangan
fasilitas responden tentang pelayanan sesuai
dengan standar JCI kurang baik hal ini terlihat
dari distribusi frekuensi fasilitas 52,7%. Dari
hasil peneliti diperoleh dilapangan fasilitas yang
ada sekarang masih kurang baik dari sarana
maupun prasarana sesuai dengan JCI. Hal ini
terjadi karena terbatasnya dana, alat, sehingga
banyak yang belum memahami pasien safety
sesuai engan standar JCI.
4. KESIMPULAN
Setelah dilakukan penelitian faktor-faktor
yang berhubungan dengan pelaksanaan patient
safety oleh perawat berdasarkan joint
comission international di RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi tahun 2016 maka dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut 37 orang
(67,3%) memiliki pengetahuan tinggi terhadap
patient safety, 30 orang (54,5%) memiliki
motivasi yang rendah terhadap patient safety, 35
orang (63,6%) memiliki sikap yang baik
terhadap patient safety, 43 orang (78,2%)
fasilitas yang baik terhadap patient safety, 29
orang (52,7%) yang dilaksanakan oleh perawat
patient safety, Tidak ada hubungan signifikan
antara pengetahuan dengan patient safety
diperoleh nilai p = 0,085, OR=3,286. Ada
hubungan signifikan antara motivasi dengan
patient safety diperoleh nilai p = 0,019,
OR=4,442. Ada hubungan signifikan antara
sikap perawat dengan patient safety diperoleh
nilai p = 0,023, OR=4,472. Tidak ada hubungan
signifikan antara fasilitas dengan patient
safety Diperoleh nilai p = 0,589, OR=1,768
Pelaksanaan patient safety di RSAM Dr.
Achmad Mochtar Bukittinggi sudah baik,
diharapkan terus ditingkatkan lagi penanaman
motivasi dan sikap perawat di RSAM Dr.
Achmad Mochtar. Diharapkan memasukkan
materi pembelajaran tentang pencapaian sasaran
internasional keselamatan pasien (SIKP) sesuai
Joint Commission International di RSUD Dr.
Achmad
Mochtar
Bukittinggi
untuk
mengembangkan keilmuan dan bermanfaat
dalam praktek lapangan mahasiswa. Melakukan
penelitian lain untuk meneliti tentang respon time
dan hubungannya dengan patient safety dalam
upaya
pencapaian
sasaran
internasional
keselamatan pasien (SIKP) sesuai Joint
Commission International di RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi.
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
5. DAFTAR PUSTAKA
Abdullah (2014) Hubungan pengetahuan,
motivasi, dan supervisi dengan kinerja
pencegahan infeksi nosokomial di RSUD Haji
Makassar. Universitas Hasanuddin: Makasar
Ali, Umar et al. (2014). Faktor - Faktor Yang
Berhubungan Dengan Mutu Pelayanan
Keperawatan Di Ruang IGD
RSUP Dr.
Wahidin Sudirohusodo Makassar.
Alvionita (2014) sikap perawat terhadap
patient safety di unit anak rumah sakit PKU
Muhammadiyah
Bantul,
PKU
Muhammadiyah Yogyakarta Unit I, dan
PKU
Muhammadiyah
Yogyakarta
Unit
II.
Muhammadiyah Yogyakarta:
Yogyakarta
Atihuta, Jeles A. (2010). Analisis Faktor
Yang
Mempengaruhi
Kinerja
Mutu
Pelayanan di RSUD Dr M.Haulussy Ambon.
Astuti.2011. Faktor yang berhubungan dengan
Motivasi perawat dalam pelayanan di RSUD
Palembang. Palembang
Awalia. 2012. Pengetahuan Perawat dengan
Pelaksanaan Patient Safety di RSUP dr
Wahidin
Sudirohusodo
di
Makasar.
Universitas Hasanuddin: Makasar
Blais, Kathleen Koenig. (2009). Praktik
Keperawatan Profesional Konsep
&
Perspektif Edisi 4. Jakarta: EGC
Dewi. 2011. Faktor yang berhubungan dengan
sarana dan prasarana di RSUD Palembang.
Palembang
JCI. (2011). Join Commission International
Standar Akreditasi Rumah Sakit Edisi ke-4.
Kemenkes RI. (2012). Pedoman Penerapan
Standar Pelayanan keperawatan Gawat
Darurat, ICU, Kamar Operasi dan Neonatus
di Rumah Sakit.
McMahon,
Rosemary,
dkk.
(2009).
Manajemen Pelayanan Kesehatan Primer.
Jakarta: EGC.
Notoatmodjo,
S.
(2005).
Pengantar
Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam. (2008), Konsep dan penerapan
metodologi penelitian ilmu keperawatan. Ed
2. Jakarta: Salemba Medika
Potter & Perry. (2006). Buku Ajar Fundamental
Keperawatan Konsep, Proses, dan Praktik.
Jakarta: EGC.
Putera dkk. (2009). Tingkat Kesesuaian Standar
Akreditasi Terhadap Strategi dan Rencana
Pengembangan Pelayanan Instalasi Gawat
Darurat Studi Kasus di RSUD Cut Meutia
131
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Aceh Utara.
Sumarianto (2013) hubungan pengetahuan dan
motivasi terhadap kinerja perawat dalam
penerapan program patient safety di ruang
perawatan inap RSUD Andi Makkasau Kota
Parepare. Universitas Hasanuddin: Makassar
Widodo (2015) hubungan respon time perawat
dalam memberikan
pelayanan dengan
kepuasan pelanggan di IGD RS.Panti Waluyo
Surakarta. Stikes Kusuma Husada: Surakarta
LPPM STIKes Perintis Padang
132
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
INTERVENSI TEKNIK RELAKSASI OTOT PROGRESIF BERPENGARUH
TERHADAP MENURUNKAN MUAL DAN MUNTAH DELAYED PADA PASIEN
KANKER YANG MENJALANI KEMOTERAPI DI RSUD ACHMAD MOCHTAR
BUKITTINGGI TAHUN 2016
Ns. Muhammad Arif, M.Kep 1), Rahmita Tri Havizcha 2)
1
Program Studi D III Keperawatan, STIKes Perintis Padang
email: [email protected]
2
Program Studi Ilmu Keperawatan, STIKes Perintis Padang
email: [email protected]
Abstract
Chemoteraphy has side effects, one of them is delayed nausea and vomiting. The result of observation
and interview, 3 of 5 patients suffered delayed nausea and vomiting. Progresive Muscular Relaxation
Technique is a complementary therapy wich can be given to cancer patients who experience delayed
chemoteraphy-induced nausea and vomiting. The purpose of this research is to know influence
progresive muscular relaxation technique intervention of delayed nausea and vomitting of cancer
patients with chemoterapy-induced in RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi 2016. This research is
quasi-experiment with one group pretest and posttest approach. This research was conducted on June
21th – July 29th 2016. Sample by purposive samplin technique, 15 respondents selected for the study.
Progresive Muscular Relaxation Technique was giving once a day for 4 days.The average before
intervention is (13.60±3.135) and the average after intervention is (8.33±2.289).The average difference
of nausea-vommit frecuencies before and after intervention (5.27±0.846) Result of statistic test is pvalue = 0.001 (α= 0.05), it can conclude that there is influence progresive muscular relaxation
technique intervention of delayed nausea and vomitting of cancer patients with chemoterapy- induced.
Expected to the respondents who experienced delayed chemoteraphy-induced nausea and vomiting
should be given progresive muscular relaxation technique and the next research can do delayed
nausea and vomitting research with specific cases and another complementer therapi.
Keyword : Chemoterapy, Delayed Nausea and Vomiting, Progresive Muscular Relaxation Technique
6. PENDAHULUAN
Penyakit tidak menular saat ini menjadi
masalah kesehatan utama baik di dunia maupun
di Indonesia. Menurut data WHO tahun 2013,
sebanyak 63% kematian di dunia disebabkan oleh
penyakit tidak menular seperti penyakit
kardiovaskuler, kanker, diabetes dan penyakit
pernafasan. Insidens kanker meningkat dari 12,7
juta kasus tahun 2008 menjadi 14,1 juta kasus
tahun 2012. Sedangkan jumlah kematian
meningkat dari 7,6 juta orang tahun 2008 menjadi
8,2 juta pada tahun 2012. Kanker menjadi
penyebab kematian nomor 2 di dunia sebesar 13%
setelah penyakit kardiovaskular. Diperkirakan
pada 2030 insidens kanker dapat mencapai 26 juta
orang dan 17 juta di antaranya meninggal akibat
kanker, terlebih untuk negara miskin dan
berkembang kejadiannya akan lebih cepat
(WHO, 2015).
Di Indonesia, prevalensi penyakit kanker juga
cukup tinggi. Berdasarkan data Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi
tumor/kanker di Indonesia adalah 1,4 per 1000
LPPM STIKes Perintis Padang
penduduk, atau sekitar 330.000 orang. Kanker
tertinggi di Indonesia pada perempuan adalah
kanker payudara dan kanker leher rahim.
Sedangkan pada laki-laki adalah kanker paru dan
kanker kolorektal. Berdasarkan estimasi Globocan,
International Agency for Research on Cancer
(IARC) tahun 2012, insidens kanker payudara
sebesar 40 per 100.000 perempuan, kanker leher
rahim 17 per 100.000 perempuan, kanker paru 26
per 100.000 laki-laki, kanker kolorektal 16 per
100.000 laki-laki. Berdasarkan data Sistem
Informasi Rumah Sakit 2010, kasus rawat inap
kanker payudara 12.0 14 kasus (28,7%), kanker
leher rahim 5.349 kasus (12,8%). Yogyakarta
memiliki prevalensi tertinggi untuk penyakit
kanker, yaitu sebesar 4,1‰. Penyakit kanker dapat
menyerang semua umur, hampir semua
kelompok umur penduduk memiliki prevalensi
penyakit kanker yang cukup tinggi (Depkes,
2015).
Kanker adalah pertumbuhan atau
penyebaran sel yang abnormal dan tidak
terkendali. Berbeda dengan sel normal,
133
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
kanker tidak memiliki kontrol untuk
menghentikan pertumbuhan dan mengakibatkan
sel kanker tumbuh atau membelah tak terkendali.
Kanker disebabkan oleh beberapa faktor pencentus
yaitu disebabkan oleh inflamasi (peradangan)
jangka panjang seperti virus, bakteri, zat kimia
(karsinogen) diantaranya asap rokok, asbestros,
alkohol, dan zat kimia pada makanan yang
diproses berlebihan, seperti makanan yang
digoreng dalam rendaman minyak ulang pakai,
diasap atau dibakar, bisa juga berupa makanan
yang mengandung pewarna atau makanan yang
terkontaminasi logam berbahaya seperti merkuri
pada seafood, paparan sinar ultraviolet (UV),
ketegangan atau stres, faktor genetik dan faktor
hormonal (Tim Cancer Helps, 2010).
Gejala kanker pada stadium awal
biasanya tidak menimbulkan gejala. Gejala
kanker baru muncul ketika telah berkembang
menjadi besar dan menekan organ-organ
disekitarnya, namun ada beberapa gejala umum
biasanya semakin lama semakin buruk diantaranya
adanya benjolan yang tumbuh dan membesar
dipermukaan kulit , perdarahan yang tidak
normal, rasa sakit dan kerap datang, sering
demam, perubahan dalam kebiasaan buang air
besar atau kecil, perubahan warna kulit tubuh dan
penurunan berat badan (Tim Cancer Helps, 2010).
Jenis-jenis penyakit kanker yaitu, karsioma,
limfoma, sarkoma, glioma, karsinoma in situ.
Karsinoma merupakan jenis kanker berasal dari
sel yang melapisi permukaan tubuh atau
permukaan saluran tubuh, misalnya jaringan
seperti sel kulit, testis, ovarium, kelenjar mucus, sel
melanin, payudara, leher rahim, kolon, rektum,
lambung, pankreas. Limfoma termasuk jenis
kanker berasal dari jaringan yang membentuk
darah, misalnya sumsum tulang, lueukimia,
limfoma merupakan jenis kanker yang tidak
membentuk masa tumor, tetapi memenuhi
pembuluh darah dan mengganggu fungsi sel darah
normal. Sarkoma adalah jenis kanker akibat
kerusakan jaringan penujang di permukaan tubuh
seperti jaringan ikat, sel-sel otot dan tulang.
Glioma adalah kanker susunan saraf, misalnya
sel-sel glia (jaringan panjang) di susunan saraf
pusat. Karsinoma in situ adalah istilah untuk
menjelaskan sel epitel abnormal yang masih
terbatas di daerah tertentu sehingga dianggap lesi
prainvasif (kelainan/ luka yang belum menyebar)
(Akmal, 2010).
Penatalaksanaan kanker yaitu meliputi
pembedahan, radiasi, kemoterapi, terapi biologis
dan masih ada kemungkinan metoda lain yang
dilakukan dalam mengatasi masalah kanker.
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Kemoterapi merupakan salah satu modalitas
pengobatan pada kanker secara sistemik yang
sering dipilih terutama untuk mengatasi kanker
stadium lanjut, lokal maupun metastatis.
Kemoterapi sangat penting dan dirasakan besar
manfaatnya
karena
bersifat
sistemik
mematikan/membunuh sel-sel kanker dengan
cara pemberian melalui infus, dan sering menjadi
pilihan metode efektif dalam mengatasi kanker
terutama kanker stadium lanjut lokal. Efek
samping yang banyak ditemukan pada pasien
yang mendapat kemoterapi meliputi depresi
sumsum tulang, diare, stomatitis, kehilangan
rambut, masalah-masalah kulit serta yang
paling sering dirasakan adalah mual dan muntah
dengan derajat yang bervariasi. Walaupun
banyak antinausea dan antivomiting yang telah
digunakan dalam pengobatan, efek mual dan
muntah yang disebabkan oleh kemoterapi masih
merupakan penyebab
terbesar
terhadap
perubahan kualitas hidup pasien kanker (Desen,
2008).
Kemoterapi menimbulkan mual dan
muntah melalui beberapa mekanisme yang
bervariasi dan serangkaian yang kompleks.
Pertama, kemoterapi secara langsung dapat
menstimulasi chemoreseptor triger zone (CTZ).
Efek ini dimediasi oleh pengeluaran 5HT3 (5
hydroxytriptamine) dan NHK (neurokinin 1)
akibat
pemberian
kemoterapi.
Kedua,
kemoterapi
dapat
menyebabkan
neuro
transmitter
termasuk
5HT3.
Hal
ini
menyebabkan mual dan muntah melalui jalur
perifer yang dimediasi oleh saraf vagus. Ketiga,
gej ala ini disebabkan oleh neurohormonal melalui
tegangnya orginin vasopresin dan prostaglandin.
Keempat, mual dan muntah dimediasi oleh
kecemasan yang memberikan pengaruh terhadap
sistem saraf pusat termasuk pusat muntah (wood,
shega, lynch, 2007).
Keluhan mual dan muntah setelah
kemoterapi digolongkan menjadi tiga tipe yaitu
akut, tertunda (delayed) dan terantisipasi
(anticipatory). Muntah akut terjadi pada 24 jam
pertama setelah diberikan kemotherapy. Muntah
yang terjadi setelah periode akut ini kemudian
digolongkan dalam muntah tertunda (delayed)
setelah 24 jam sampai 6 hari. Sedangkan muntah
antisipasi merupakan suatu respon klasik yang
sering dijumpai pada pasien kemoterapi (10-40%)
dimana muntah terjadi sebelum diberikannya
kemoterapi atau tidak ada hubungannya dengan
pemberian kemoterapi. Muntah antisipasi ini sering
dijumpai
pada
pasien
yang
sudah
mendapatkan kemoterapi sebelumnya dengan
134
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
penanganan muntah yang kurang baik, sehingga
pasien kadang-kadang menolak untuk melanjutkan
pengobatan atau drop out (Rittenberg, 2005).
Mual dan muntah akibat kemoterapi tidak
selalu sama diantara beberapa individu, diukur
menggunakan Rhodes Index of Nausea Vomiting
and Retching (RINVR). Alat ini untuk menilai
mual dan muntah yang terdiri dari 8 pertanyaan,
dimana kuesioner ini akan diisi oleh responden
dengan 5 respon Skala Likert yaitu 0-4. Intensitas
mual muntah berdasarkan rentang skor 0-3 2.
Dimana 0 merupakan skor terendah dan 32
merupakan skor tertinggi (Rhodes dan McDaniel,
2001).
Lee, et al (2008), menyatakan bahwa
tindakan
penunjang
berupa
terapi
komplementer dapat efektif membantu dalam
manajemen mual muntah akibat kemoterapi.
Terapi komplementer tersebut berupa relaksasi
otot progresif, guided imagery, distraksi,
hipnosis, akupresure dan akupunktur. Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Morrow dan
Dobkin (2002) didapatkan bahwa latihan
relaksasi otot progresif, efektif dalam
mengontrol mual muntah pasca pengobatan.
Penatalaksanaan non farmakologis saat ini
sangat di anjurkan, karena tidak menimbulkan
efek samping. Salah satu pengobatan secara non
farmakologis menurut para ahli diantaranya adalah
teknik relaksasi otot progresif.
Teknik relaksasi otot progresif adalah salah
satu dari teknik relaksasi yang paling mudah dan
sederhana yang sudah digunakan secara
luas.Teknik relaksasi otot progresif merupakan
suatu prosedur untuk mendapatkan relaksasi pada
otot melalui dua langkah. Langkah pertama adalah
dengan memberikan tegangan pada suatu
kelompok
otot,
dan
kedua
dengan
menghentikan tegangan tersebut kemudian
memusatkan perhatian terhadap bagaimana otot
tersebut menjadi relaks, merasakan sensasi relaks
secara fisik dan tegangannya menghilang
(Richmond, 2007).
Teknik
relaksasi
otot
progresif
merupakan salah satu pencegahan aktifitas
kemoreseptor dimana relaksasi otot progresif
merangsang sistem saraf otonom untuk
mengeluarkan opiate peptides, epidhipin dan
penithylamin
yang
akan
mempengaruhi
kecemasan dan mood. Kemoterapi dapat
menimbulkan efek diantaranya kecemasan dan
merangsang saluran gastrointestinal untuk
meningkatkan
aktifitas
CTZ
yang
mempengaruhi sistem saraf pusat dan
medula oblongata untuk menstimulasi
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
kemoreseptor neurotransmiter untuk menimbulkan
rasa mual dan muntah. melalui teknik relaksasi otot
progresif ini terbukti dapat menurunkan
produksi kortisol dalam darah serta menurunkan
stimulasi kemoreseptor neurotransmiter sehingga
tubuh menjadi rilek dan mual muntah menurun
(Smeltzer & Bare, 2008).
Teknik relaksasi otot progresif sampai saat
ini menjadi metode relaksasi termurah tidak
memerlukan imajinasi, tidak ada efek samping,
mudah untuk dilakukan, serta dapat membuat
tubuh dan pikiran terasa tenang, rileks, dan
lebih mudah untuk tidur (Davia,1995).
Relaksasi ini dapat dilakukan dimana saja dan
disemua tempat. Seperti dimalam hari sebelum
tidur, sebelum makan, selama pertemuan, situasi
menakutkan, dikantor, dipesawat, didalam kereta,
sewaktu istirahat siang, perjalanan singkat selama
didalam mobil, dan berbagai situasi lainnya yang
dimanfaatkan (Paul, 2010).
Relaksasi otot progresif adalah relaksasi
yang dilakukan dengan cara melakukan
peregangan otot dan mengistirahatkannya kembali
secara berrtahap dan teratur. Latihan relaksasi otot
progresif dapat memberikan pemijatan halus dan
berbagai kelenj errkelenjer pada tubuh ,
menurunkan produksi kartisol dalam darah,
mengembalikan pengeluaran hormon yang
secukupnya sehingga memberi keseimbangan
emosi dan ketenangan pikiran (Purwanto, 2007).
Hasil studi yang dilakukan oleh Molassiotis,
Yung, Yam, Chan dan Mok, (2001), menunjukan
sebanyak 38 pasien dari kelompok intervensi dengan
relaksasi otot progresif mengalami penurunan
mual dan muntah setelah kemoterapi secara
signifikan dibandingkan dengan 33 pasien yang
masuk dalam kelompok kontrol. Hasil penelitian
yang dilakukan di Korea Selatan pada tahun 2005
menunjukkan dari 30 pasien yang mendapat
relaksasi otot progresif dan Guided Imagery
telah mengalami penurunan kecemasan, mual
dan muntah paska kemoterapi dibanding 30 pasien
yang masuk dalam kelompok kontrol (Richmond,
2007).
Penelitian mengenai mual dan muntah
delayed sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh
Rukayah (2013) pada 20 responden anak usia
sekolah yang menjalani kemoterapi dengan
menggunakan teknik consecutive sampling.
Penelitian ini menggunakan desain pre-postest
witout control design dengan memberikan
perlakuan akupresure pada hari kedua setelah
kemoterapi di RS. Kanker Dharmais Jakarta. Hasil
penelitian ini adalah akupresur dapat menurunkan
135
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
mual muntah lambat akibat kemoterapi pada anak
usia sekolah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
intervensi teknik relaksasi otot progresif
berpengaruh terhadap menurunkan mual dan
muntah delayed pada pasien kanker yang
menjalani kemoterapi di RSUD Achmad
Mochtar Bukittinggi tahun 2016.
7. METODOLOGI PENELITIAN
Desain
yang
digunakan
dalam
penelitian ini adalah Quasi–Eksperiment
menggunakan pendekatan pre and post group
design dengan mengetahui intervensi teknik
relaksasi otot progresif berpengaruh terhadap
menurunkan mual dan muntah delayed dengan
melibatkan satu kelompok subjek (Notoadmojo,
2010).
Penelitian ini rencana akan dilakukan
intervensi satu kali sehari selama 4 hari dengan
waktu intervensi 15-20 menit dan pengukuran pada
setiap sebelum dan sesudah dilakukan teknik
relaksasi otot progresif. Penelitian
ini
dilakukan di ruang bedah RSUD. Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi Tahun 2016. Penelitian
dimulai pada bulan 21 Juni - 23 Juli tahun 2016 di
RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun
2016 selama 5 minggu.
Metode pengumpulan data merupakan cara
atau sistematis dalam pengumpulan, pencatatan,
dan penyajian fakta untuk tujuan tertentu
(sumarsono, 2004). Kuesioner digunakan untuk
memperoleh data karakteristik responden.
Instrumen Rhodes Index Nausea, Vomiting &
Retching (RINVR) digunakan
untuk
mengukur variabel mual muntah. Telah
diterjemahkan dan dilakukan uji validitas dan
uji reabilitas oleh Rukyah (2013). Uji validitas
dilakukan dengan menggunakan Pearson dan
uji reliabilitas menggunakan Alpha-Cronbach,
berdasarkan hasil uji validitas didapatkan semua
item pertanyaan valid (r > 0,2 5). Kemudian
dilanjutkan uji reliabilitas pada semua item yang
valid tersebut, didapatkan bahwa semua item
pertanyaan reliable, dengan nilai r Alpha
(0,890) lebih besar dibandingkan dengan r
tabel. Secara umum prinsip etika dalam
penelitian/pengumpulan data dapat dibedakan
menjadi tiga bagian, yaitu prinsip manfaat,
prinsip menghargai hak-hak subjek, dan prinsip
keadilan.
LPPM STIKes Perintis Padang
136
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
8. HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini meneliti mual dan muntah delayed pasien kanker yang menjalani kemoterapi
sebelum dan sesudah diberikan intervensi teknik relaksasi otot progresif di RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi Tahun 2016.
Tabel 3.1
Intervensi Teknik Relaksasi Otot Progresif Berpengaruh terhadap Mual
Muntah Delayed pada Pasien Kanker yang Menjalani Kemoterapi di RSUD
Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
95% CI
Mean
SD
p-value
Variabel
Lower
Upper
Pengukuran
Pre
13.60
3.135
11.86
15.34
0.001
Pengukuran
Post
8.33
Selisih
5.267
2.289
Berdasarkan tabel tersebut rerata pada
pasien kanker yang menjalani kemoterapi
sebelum dan sesudah diberikan intervensi
teknik relaksasi otot progresif di Ruangan
Bedah RSUD Dr. Achmad Mochtar
Bukittinggi terdapat perbedaan yang bermakna.
Rerata mual dan muntah delayed sebelum
diberikan intervensi teknik relaksasi otot progresif
adalah sebesar 13.60 dengan standar deviasi 3.135.
dari hasil estimasi interval 95% diyakini bahwa
rerata mual dan muntah delayed sebelum
dilakukan intervensi teknik relaksasi otot
progresif berkisar antara 11.86- 15.34.
sedangkan sesudah diberikan intervensi
relaksasi otot progresif rerata mual dan muntah
delayed pasien kanker yang menjalani kemoterapi
menjadi 8.33 dengan standar deviasi 2.289. dari
hasil estimasi interval 95% diyakini bahwa
rerata mual dan muntah delayed setelah
intervensi berkisar antara 7.07- 9.60. hal ini
menunj ukkan adanya penurunan rerata mual dan
muntah delayed sebesar 5.267.
Dari hasil penelitian memperlihatkan
perbedaan rerata pengukuran pretest dengan rerata
13.6 dengan standar deviasi 3.135 dan posttest
mual dan muntah delayed dengan rerata 8.33 dan
standar deviasi 2.89 dengan nilai p- value=0.001,
maka dapat disimpulkan ada pengaruh intervensi
teknik relaksasi otot progresif berpengaruh
terhadap mual muntah delayed karena ada
perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah
intervensi.
Mual dan muntah merupakan gejala dan
tanda yang sering menyertai gangguan pada
system gastrointestinal, demi kian j uga dengan
penyakit– penyakit lain.(Price & Wilson, 2008).
LPPM STIKes Perintis Padang
7.07
9.60
Menurut Garret et al (2003) mual muntah lambat
terjadi minimal 24 jam pertama setelah
pemberian kemoterapi, dan dapat berlangsung
hingga 120 jam. Reflek muntah terjadi akibat
aktivasi nukleus dari neuron yang terletak di
medulla oblongata. Pusat muntah dapat diaktifkan
secara langsung oleh sinyal dari korteks serebral
(antisipasi, takut, memori), sinyal dari organ
sensori (pemandangan yang mengganggu, bau)
atau sinyal dari apparatus vestibular dari telinga
dalam (mual karena gerakan tertentu/mabuk)
(Garret et.al, 2003).
Pada penelitian ini dilakukan tindakan
komplementer untuk menurunkan mual dan
muntah delayed pada pasien kanker yang
dikemoterapi. Teknik relaksasi otot progresif
merupakan salah satu pencegahan aktifitas
kemoreseptor dimana relaksasi otot progresif
merangsang sistem saraf otonom untuk
mengeluarkan opiate peptides, epidhipin
dan penithylamin yang akan mempengaruhi
kecemasan dan mood. Kemoterapi dapat
menimbulkan efek diantaranya kecemasan
dan merangsang saluran gastrointestinal
untuk meningkatkan aktifitas Chemoreseptor
Triger Zone (CTZ) yang mempengaruhi sistem
saraf pusat dan medula oblongata untuk
menstimulasi kemoreseptor neurotransmiter
untuk menimbulkan rasa mual dan muntah.
melalui teknik relaksasi otot progresif ini terbukti
dapat menurunkan produksi kortisol dalam darah
serta menurunkan stimulasi kemoreseptor
neurotransmiter sehingga tubuh menjadi rilek dan
mual muntah menurun (Smeltzer & Bare, 2008).
Penelitian Tessa (2014) mengenai
pengaruh relaksasi otot progresif terhadap
137
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
mual dan muntah pasien kanker yang
menjalani kemoterapi mendapatkan hasil
pada kelompok kontrol 9.13 dengan SD±4.673
dan pada kelompok intervensi 5.67 dengan
SDterdapat perbedaan bermakna skor rerata
mual dan muntah antara kelompok kontrol dengan
kelompok intervensi dengan SD±4.177. Pada
penelitian ini diperoleh hasil perbedaan mual dan
muntah pada kelompok intervensi setelah
diberikan teknik relaksasi otot progresif yang
bermakna (p-value >0.05), artinya terdapat
pengaruh yang bermakna teknik relaksasi otot
progresif terhada mual dan muntah akibat
kemoterapi.
Penelitian ini juga diperkuat oleh penelitian
yang dilakukan oleh Rukayah (2013) pada 20
responden anak usia sekolah yang menj alani
kemoterapi dengan hasil sebelum diberikan
intervensi adalah 6,15 dengan SD=2,30 dan
setelah diberikan intervensi adalah 3,75 dengan
SD=1 ,44 dan didapatkan hasil p- value 0.001.
Hasil ini menunjukkan perubahan yang
signifikan skor mual muntah sebelum dan
setelah intervensi (p- value 0,001; ≤ : 0,05).
Pada penelitian ini ditemukan 20 %
responden setelah dilakukan latihan teknik
relaksasi otot progresif tidak mengalami
penurunan mual dan muntah delayed. Hal ini
disebabkan oleh beberapa faktor seperti
ketidakmampuan responden dalam melakukan
teknik relaksasi otot progresif dengan benar
meskipun telah melakukan sesuai dengan prosedur
namun bila yang bersangkutan tidak mampu fokus
maka akan membawa hasil yang tidak
maksimal. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Richmond (2007), bahwa salah satu yang
dibutuhkan dalam teknik relaksasi otot progresif
memerlukan perhatian yang diarahkan untuk
membedakan perasaan kelompok otot dilemaskan
dan dibandingkan ketika otototot dalam kondisi
tegang, jika fokus kurang maka akan membawa
hasil yang kurang maksimal.
Berdasarkan penelitian dan teori diatas
peneliti berasumsi bahwa ketika melakukan
teknik relaksasi otot progresif sekali dalam
sehari selama 4 hari dimana saraf otonom akan
mempengaruhi arteri atau pembuluh darah yang
mengakibatkan resistensi perifer menurun serta
mengeluarkan epidiphin dan penitilamhin
sehingga dapat menurunkan produksi kortisol
dalam darah dan menormalkan pengeluaran
hormon serotonim, dhopamin, dan asetilkolin
menyebabkan menurunnya stimulasi pada pusat
mual muntah sehingga tubuh menjadi rilek dan
mual muntah menurun. Dengan demikian
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
didapatkan hasil penelitian bahwa intervensi
Intervensi Teknik Relaksasi Otot Progresif
Berpengaruh terhadap Mual dan Muntah
Delayed pada Pasien Kanker yang Menjalani
Kemoterapi di RSUD Dr. Achmad Mochtar
Bukittinggi Tahun 2016.
9. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan
tentang pengaruh intervensi teknik relaksasi otot
progresif berpengaruh terhadap mual dan muntah
delayed pada pasien kanker yang menjalani
kemoterapi di RSUD Dr Achmad Mochtar
Bukittinggi Tahun 2016, dapat disimpulkan
bahwa :
1. Rerata Mual dan Muntah Delayed
responden sebelum dilakukan intervensi
teknik relaksasi otot progresif mengalami
mual muntah sedang.
2. Rerata Mual dan Muntah Delayed sesudah
dilakukan intervensi teknik relaksasi otot
progresif mengalami mual muntah ringan.
3. Ada pengaruh Intervensi Teknik Relaksasi
Otot Progresif Berpengaruh terhadap
Mual dan Muntah Delayed pada Pasien
Kanker yang Menjalani Kemoterapi di
RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
Tahun 2016 dengan p-value = 0.001.
10.REFERENSI
Abraham, A., Collins, D. and Martindale, R.
(2006) The coaching schematic:
Validation through expert coach
consensus. Journal of Sports Science, 24
(6) pp.549-546
Akmal, M. Zely, I. (2010). Ensiklopedi
kesehatan untuk umum. Jogjakarta: Arruzz Media
Alimul Aziz, H. (2008). Pengantar Konsep Dasar
Keperawatan. Edisi 2. Jakarta: Salemba
Medika.
Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar
Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8
volume 2, EGC, Jakarta
Corey, Gerald. 2005. Teori dan Praktek
Konseling & Psikoterapi. Bandung:
Refika Aditama
Corwin, E. J. (2001).Patofisiologi.Jakarta: EGC.
Desen, W., 2008. Buku Ajar Onkologi Klinis.
Edisi II. Balai Penerbit FK-UI, Jakarta
Depkes. (2015). Situasi penyakit kanker.
Diunduh dari http://www.depkes. go.
138
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
id/resources/download/pusdatin/infod
atin/infodatin-kanker.pdf
Grunberg, S.M. (2004). Chemotherapy
induced nausea vomiting: Prevention,
detection and treatment-how are we
doing? The Journal of
SupprtiveOncology, 2(1), 1-12.
Hesketh, P.J. (2008). Chemotherapy induced
nausea and vomiting. The New England
Journal of Medicine, 358(23), 2482-2494.
LeMone, P, & Burke .(2008). Medical surgical
nursing : Critical thinking in client care.(
4th ed). Pearson Prentice Hall: New Jersey
Lee, J., Dodd, M., Dibble, S., & Abrams, D.
(2008). Review of acupressure studies
for chemotherapy-induced nausea and
vomiting control. Journal ofPain and
Symptom Management, 36(5), 529-544.
Morrow,G.R., & Dobkin, P.L. (2002)
Anticipatory nausea and vomiting in
cancer patients undergoing
chemotherapy treatment prevalence,
etiology, and behavioral interventions.
Clinical Psychology Review, 8(5), 517556.
Muthalib, A. (2006). Prinsip dasar terapi
sistemik pada kanker. Jakarta: Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
Molassiotis, A., Yung, H. P., Yam, B.M.C.,
Chan, F.Y.S., & Mok, T.S.K. (2001). The
effectiveness of progressive muscle
relaxation training in managing
chemotherapy-induced nausea and
vomiting in Chinese breast cancer
patients:a randomised controlled trial.
Support Care Cancer, (2002) 10:237–
246National Cancer Institute. 2009.
Breast Cancer. http://cancerweb.
ncl.ac.uk/cancernet/100013.html.10 April
2016.
National Safety Council. T.C. Gilchrest. (2004).
Manajemen
Stres
AlihBahasa
Widyastutik. Jakarta: EGC.
Notoatmodjo, S. (2005). Metodologi penelitian
kesehatan. (edisi revisi). Jakarta: PT
Rieneka Cipta Nursalam. (2008). Konsep
dan
Penerapan
Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika.
Price, S.A., & Wilson, L.M.(2008).
Patofisiologi: Konsep klinis prosesproses penyakit. Jakarta : EGC
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Purwanto, B. (2013). Herbal dan
Keperawatan
Komplementer.
Yogyakarta : Nuha Medika
Potter, P. A & Perry, A.G. (2005). Buku Ajar
Fundamental Keperawatan: Konsep,
Proses, dan Praktik.(Edisi 4). Jakarta:
EGC
Richmond, R.L. (2007). A Guide to
Psychology and its Practice. Diunduh
dari http://www. guidetopsychology.
com/pmr.htm tanggal 20 April 2016
Rittenberg. (2005). Chemotherapy Induced
Nausea and Vomiting the Past the
Present And The Future. Diunduh dari
http://ccn.
aacnj
ournals.
org/cgi/content/full/23/1/31 tanggal 15
April 2016.
Rhodes, V. A. & McDaniel, W. (2001).
Nausea, Vomiting, and Retching :
Complex Problem In Paliative Care.
Cancer Journal Clinic, 51, 232-248.
Rahayu, Wahyu. (2011). Mengenali,
mencegah dan mengobati kanker,
Victoriy inti cipta, Jakarta.
Rukyah. (2013). Pengaruh Terapi Akupresur
Terhadap Mual Muntah Lambat Akibat
Kemoterapi Pada Anak Usia Sekolah
Yang Menderita Kanker Di RS Kanker
Dharmais
Jakarta.Universitas
Indonesia. Thesis.
Smeltzer, S.C., Bare, B.G., Hinkle,J.L., &
Cheever, K,H. (2008). Textbook of
medical-surgical nursing (Eleventh
edition) Tanjung, Y. (2011). Berdamai
dengan kanker: Kiat hidup sehat
survivor kanker. Bandung : Qanita
139
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEMANDIRIAN
ACTIVITY DAILY LIVING ANAK TUNAGRAHITA DI SLB
AIR RANDAH WILAYAH KERJA PUSKESMAS GADUT
KABUPATEN LIMA PULUH KOTA
TAHUN 2016
1
Yuli Permata Sari, Program Studi D III Keperawatan, STIKes Perintis Padang
e-mail: [email protected]
2
Junnatul Wafiq, Program Studi Ilmu Keperawatan, STIKes Perintis Padang
e-mail: [email protected]
3
Isna Ovari, Program Studi Ilmu Keperawatan, STIKes Perintis Padang
e-mail: [email protected]
Abstract
Mental retardation is intellectual functioning significantly below average (defined as an IQ score below
70 to 75), there are limitations associated simultaneously with two or more adaptive skill areas. Mental
retardation in the world of education is also called mental retardation. Defined in terms of cognitive
mental retardation (IQ below 70) and the adaptive function, and is a condition that occurs before the
age of 18 years. This study aims to determine the relationship of family support to the independence of
Daily Living Activity retarded children in SLB Air rendah Gadut Puskesmas District 50 City 2016. The
study design using descriptive analytic with cross sectional approach. The instrument used in this study
is the use of a questionnaire, then the data is processed using the Chi-square test. Samples in this study
amounted to 44 people, they are parents of children with intellectual challenges that exist in SLB Air
rendah Puskesmas District Fifty Gadut City. It was concluded that not all family support (instrumental
support) is related to the independence of daily living activity retarded children at SLB Air Randah.
Therefore, efforts need to be improved family support to children with intellectual challenges that the
child is able to perform daily activities independently without relying with others.
Keywords
: Family support, Daily living activity, Tunagrahita
1. PENDAHULUAN
Intelegency Quotient (IQ) atau inteligensi
berasal dari bahasa Inggris “intelligence” yang
juga berasal dari bahasa Latin yaitu “intellectus
dan intellegentia” yang artinya adalah akal
pikiran.
Retardasi mental adalah fungsi intelektual
yang secara signifikan dibawah rata-rata
(didefenisikan sebagai nilai IQ dibawah 70 hingga
75), terdapat bersamaan dengan keterbatasan yang
berkaitan dua atau lebih area keterampilan adaptif.
Retardasi mental dalam dunia pendidikan disebut
juga dengan tunagrahita (Alpers, 2014).
Tunagrahita dapat juga didefenisikan
sebagai individu yang memiliki kecerdasan
intelektual dibawah rata-rata dan disertai dengan
ketidak mampuan dalam adaptasi perilaku yang
muncul pada masa perkembangan atau sebelum
usia 18 tahun. (Ramawati, 2011).
Kegiatan sehari-hari (Activity Daily
Living) pada anak tunagrahita terdiri dari: 1)
membersihkan & merapikan diri, misalnya mandi;
2) berpakaian, misalnya memakai pakaian
sekolah; 3) makan & minum, misalnya makan
LPPM STIKes Perintis Padang
dengan sendok atau minum menggunakan gelas,
dan; 4) BAB & BAK. Kegiatan sehari-hari ini
dapat diajarkan dan dilatih kepada anak
tunagrahita secara terus-menerus agar anak dapat
melakukannya dengan mandiri (Astati, 2008).
Menurut Friedman (2014), mengatakan
dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan
penerimaan keluarga terhadap penderita yang
sakit. Bagi anak tunagrahita, sekurang-kurangnya
diperlukan dua bidang kemandirian yang harus
dimiliki yaitu: (1) keterampilan dasar dalam hal
membaca, menulis, komunikasi lisan, dan
berhitung, (2) keterampilan perilaku adaptif yaitu
keterampilan mengurus diri dalam kehidupan
sehari-hari
(activity
daily
living),
dan
keterampilan
menyesuaikan
diri
dengan
lingkungan (social living skills).
Berdasarkan informasi data yang peneliti
peroleh dari Kepala Sekolah SLB Air Randah
terdapat 44 orang siswa yang mengalami
tunagrahita, 14 siswa perempuan dan 30 siswa
laki-laki dengan rincian 5 orang duduk dikelas I, 6
orang duduk dikelas II, 11 orang duduk dikelas III,
140
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
6 orang duduk dikelas IV, 4 orang duduk dikelas
V, 5 orang duduk dikelas VI, 1 orang duduk di
kelas VII, 3 orang duduk dikelas VIII, 1 orang
duduk dikelas IX, dan 1 orang duduk dikelas X.
Dan rata-rata usia anak tunagrahita di SLB Air
Randah berkisar antara 9-12 tahun (Laporan
Statistik SLB Air Randah, Januari 2016).
Menurut keterangan dari kepala sekolah
maupun guru pengajar di SLB Air Randah anak
tunagrahita tersebut mempunyai berbagai macam
permasalahan. Salah satunya adalah masalah
dalam kegiatan sehari-hari. Berdasarkan observasi
yang peneliti lakukan, terdapat beberapa orang
anak yang masih dibimbing oleh gurunya untuk
jajan dikantin, pergi buang air kecil maupun besar,
dan dari segi penampilan anak tersebut tidak rapi..
Karena di SLB Air Randah masih ada beberapa
anak yang didampingi oleh orang tuanya saat
disekolah, dikarenakan anak tersebut tidak bisa
melakukan kegiatan seperti jajan, buang air besar
maupun kecil, masuk keruangan kelas saat bel jam
masuk sudah dibunyikan, dan kegiatan lainnya
yang menyangkut tentang activity daily living.
Jadi dapat disimpulkan bahwa anak tunagrahita di
SLB Air Randah belum mandiri seutuhnya dalam
melakukan kegiatan sehari-hari.
Berdasarkan hasil wawancara dengan
lima orang tua siswa yang mengalami tunagrahita
di SLB Air Randah mengenai kemampuan
melakukan aktifitas sehari-hari pada anaknya.
Hasilnya di dapatkan bahwa dua dari lima orang
tua mengatakan anaknya sudah mampu
melakukan aktivitas sehari-hari seperti mandi,
toileting, makan dan berhias. Usia dari anak
tersebut yaitu 10 tahun dan 12 tahun, berjenis
kelamin laki-laki & perempuan. Tiga orang tua
dari lima orang tua yang di wawancarai
mengatakan bahwa anaknya belum mampu
melakukan aktivitas perawatan diri seperti mandi,
makan, toileting dan berhias.
Peneliti juga menanyakan pada ke tiga
orang tua tersebut apakah mereka memberikan
dukungan seperti informasi, saran, penghargaan,
perhatian dan memfasilitasi anak dalam
melakukan perawatan diri, jawaban satu dari tiga
orang tua yang anaknya berusia 17 tahun dengan
jenis kelamin laki-laki tersebut mengatakan
memberikan dukungan informasi
seperti
memberikan pengatahuan tentang cara makan,
sebelum makan cuci tangan terlebih dahulu.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
hubungan dukungan keluarga dengan kemandirian
activity daily living anak tunagrahita di slb air
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
randah wilayah kerja puskesmas gadut kabupaten
lima puluh kota tahun 2016.
2. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode
deskriptif analitik dengan pendekatan cross
sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah
anak tunagrahita dengan sampel sebanyak 44
responden. Penelitian ini dilakukan di SLB Air
Randah Wilayah Kerja Puskesmas Gadut
Kabuapten
Lima
Puluh
Kota
dengan
menggunakan tekhnik analisa univariat dan
bivariat.
141
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Dukungan Informasional di SLB Air Randah
Wilayah Kerja Puskesmas Gadut Tahun 2016
Dukungan Informasional
Frekuensi
Persentase (%)
Mendukung
34
77,3
Tidak Mendukung
10
22,7
Total
44
100
Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa lebih dari separoh yaitu sebanyak 34 orang responden
(77,3 %) mempunyai dukungan informasional yang mendukung.
Tabel 2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Dukungan Penilaian di SLB Air Randah
Wilayah Kerja Puskesmas Gadut Tahun 2016
Dukungan Penilaian
Frekuensi
Persentase (%)
Mendukung
37
84,1
Tidak Mendukung
7
15,9
Total
44
100
Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa lebih dari separoh yaitu sebanyak 37 orang responden
(84,1%) mempunyai dukungan penilaian yang mendukung.
Tabel 3
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Dukungan Instrumental di SLB Air Randah
Wilayah Kerja Puskesmas Gadut Tahun 2016
Dukungan Instrumental
Frekuensi
Persentase (%)
Mendukung
35
79,5
Tidak Mendukung
9
20,5
Total
44
100
Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat bahwa lebih dari separoh yaitu sebanyak 35 orang responden
(79,5%) mempunyai dukungan instrumental yang mendukung.
Tabel 4
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Dukungan Emosional di SLB Air Randah
Wilayah Kerja Puskesmas Gadut Tahun 2016
Dukungan Emosional
Frekuensi
Persentase (%)
Mendukung
37
84,1
Tidak Mendukung
7
15,9
Total
44
100
Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa lebih dari separoh yaitu sebanyak 37 orang responden
(84,1%) mempunyai dukungan emosional yang mendukung.
Tabel 5
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kemandirian ADL di SLB Air Randah
Wilayah Kerja Puskesmas Gadut Tahun 2016
Kemandirian ADL
Frekuensi
Persentase (%)
Mandiri
Tergantung
Total
LPPM STIKes Perintis Padang
34
10
44
77,3
22,7
100
142
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat bahwa lebih dari separoh yaitu sebanyak 34 orang responden
(77,3%) mempunyai kemandirian ADL mandiri.
Tabel 6
Hubungan Dukungan Informasional Dengan Kemandirian ADLAnak Tunagrahita di SLB
Air Randah Wilayah Kerja Puskesmas Gadut Tahun 2016
Dukungan
Kemandirian ADL
Total
P value
OR
informasional
Tergantung
Mandiri
F
%
f
%
F
%
Tidak Mendukung
5
50
5
50
10
100
Mendukung
5
14,7
29
85,3
34
100
Total
10
22,7
34
77,3
40
100
Dari hasil tabel 6 terdapat sebanyak 5
(50%) dari 44 orang responden yang mempunyai
dukungan keluarga: dukungan informasional tidak
mendukung, mengalami kemandirian ADL
tergantung. Terdapat sebanyak 5 (50%) dari 44
orang responden yang mempunyai dukungan
keluarga:
dukungan
informasional
tidak
mendukung, mengalami kemandirian ADL.
Terdapat sebanyak 5 (14,7%) dari 44 orang
responden yang mempunyai dukungan keluarga:
dukungan informasional mendukung, mengalami
kemandirian ADL tergantung. Terdapat sebanyak
29 (85,3%) dari 44 responden yang mempunyai
0,032
5,800
dukungan keluarga: dukungan informasional
mendukung, mengalami keamndirian ADL.
Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai p
value = 0,032 artinya (p < 0,05) maka dapat
disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna
antara
dukungan
informasional
dengan
kemandirian ADL. Dari hasil analisis juga
didapatkan OR=5,800, artinya dukungan
informasional yang mendukung memiliki peluang
sebanyak 5,800 kali untuk kemandirian ADL
mandiri
dibandingkan
dengan
dukungan
informasional tidak mendukung.
Tabel 7
Hubungan Dukungan Penilaian Dengan Kemandirian ADL Anak Tunagrahita di SLB Air
Randah
Wilayah Kerja Puskesmas Gadut Tahun 2016
Dukungan
Kemandirian ADL
Total
P value
OR
penilaian
Tergantung
Mandiri
F
%
F
%
F
%
Tidak Mendukung
4
57,1
3
42,9
7
100
Mendukung
6
16,2
31
83,8
37
100
Total
10
22,7
34
77,3
40
100
Dari hasil tabel 7 didapatkan lebih dari
separoh yaitu sebanyak 4 (57,1%) dari 44 orang
responden yang mempunyai dukungan keluarga:
dukungan penialian tidak mendukung, mengalami
kemandirian ADL tergantung. Terdapat sebanyak
3 (42,9%) dari 44 orang responden yang
mempunyai dukungan keluarga: dukungan
penilaian
tidak
mendukung,
mengalami
kemandirian ADL. Terdapat sebanyak 6 (16,2%)
dari 44 orang responden yang mempunyai
dukungan
keluarga:
dukungan
penilain
LPPM STIKes Perintis Padang
0,037
6,889
mendukung, mengalami kemandirian ADL
tergantung. Terdapat sebanyak 31 (83,8%) dari 44
responden yang mempunyai dukungan keluarga:
dukungan penilaian mendukung, mengalami
kemandirian ADL. Berdasarkan hasil uji statistik
diperoleh nilai p value = 0,037 artinya (p < 0,05)
maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan
yang bermakna antara dukungan penilaian dengan
kemandirian ADL. Dari hasil analisis juga
didapatkan OR=6,889, artinya dukungan
penilaian yang mendukung memiliki peluang
143
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
sebanyak 6,889 kali untuk kemandirian ADL
mandiri dibandingkan dengan dukungan penilaian
tidak mendukung.
Tabel 8
Hubungan Dukungan Instrumental Dengan Kemandirian ADL Anak Tunagrahita di SLB
Air Randah Wilayah Kerja Puskesmas Gadut Tahun 2016
Dukungan
Kemandirian ADL
Total
P value
OR
instrumental
Tergantung
Mandiri
Tidak Mendukung
f
4
%
44,4
F
5
%
55,6
F
9
%
100
Mendukung
6
17,1
29
82,9
35
100
Total
10
22,7
34
77,3
44
100
Dari hasil tabel 8 didapatkan bahwa
kurang dari separoh yaitu sebanyak 4 (44,4 %) dari
44 orang responden yang mempunyai dukungan
keluarga:
dukungan
instrumental
tidak
mendukung, mengalami kemandirian ADL yang
tergantung. Terdapat sebanyak 5 (55,6 %) dari 44
orang responden yang mepunyai dukungan
keluarga:
dukungan
instrumental
tidak
mendukung, mengalami kemandirian ADL.
Terdapat sebanyak 6 (17,1 %) dari 44 orang
responden yang mempunyai dukungan keluarga:
dukungan instrumental mendukung mengalami
kemandirian ADL yang tergantung. Terdapat
0,175
3,867
sebanyak 29 (82,9 %) dari 44 responden yang
mempunyai dukungan instrumental mendukung,
mengalami kemandirian ADL. Berdasarkan hasil
uji statistik diperoleh nilai p value = 0,175 artinya
(p > 0,05) maka dapat disimpulkan bahwa tidak
ada hubungan yang bermakna antara dukungan
instrumental dengan kemandirian ADL. Dari hasil
analisis juga didapatkan OR=3,867, artinya
dukungan instrumental yang tidak mendukung
memiliki peluang sebanyak 5,800 kali untuk
kemandirian ADL tergantung dibandingkan
dengan dukungan instrumental mendukung.
Tabel 9
Hubungan Dukungan Emosional Dengan Kemandirian ADL Anak Tunagrahita di SLB
Air Randah Wilayah Kerja Puskesmas Gadut Tahun 2016
Dukungan
Kemandirian ADL
Total
P value
OR
emosional
Tergantung
Mandiri
F
%
F
%
F
%
Tidak Mendukung
4
57,1
3
42,9
7
100
0,037
5,614
Mendukung
6
16,2
31
83,8
37
100
Total
10
22,7
34
77,3
44
100
Dari hasil tabel 9 didapatkan lebih dari
separoh yaitu sebanyak 4 (57,1 %) dari 44 orang
responden yang mempunyai dukungan keluarga:
dukungan
emosional
tidak
mendukung,
mengalami kemandirian ADL tergantung.
Terdapat sebanyak 3 (42,9 %) dari 44 orang
responden yang mempunyai dukungan keluarga:
dukungan
emosional
tidak
mendukung,
mengalami kemandirian ADL. Terdapat sebanyak
6 (16,2 %) dari 44 orang responden yang
mempunyai dukungan keluarga: dukungan
emosional mendukung, mengalami kemandirian
ADL tergantung. Terdapat sebanyak 31 (83,8 %)
LPPM STIKes Perintis Padang
dari 44 responden yang mempunyai dukungan
keluarga: dukungan emosional mendukung,
mengalami kemandirian ADL. Berdasarkan hasil
uji statistik diperoleh nilai p value = 0,037 artinya
(p < 0,05) maka dapat disimpulkan bahwa ada
hubungan yang bermakna antara dukungan
emosional dengan kemandirian ADL. Dari
hasil analisis juga didapatkan OR=5,614,
artinya dukungan emosional yang mendukung
memiliki peluang sebanyak 5,614 kali untuk
kemandirian ADL mandiri dibandingkan
dengan
dukungan
emosional
tidak
mendukung.
144
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
4. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan
pada tanggal 18-23 Juli 2016 di SLB Air Randah
Wilayah Kerja Puskesmas Gadut Kabupaten Lima
Puluh Kota tahun 2016 didapatkan kesimpulan
sebagai berikut:
Lebih dari separoh yaitu sebanyak 34 orang
responden (77,3%) mempunyai dukungan
informasional yang mendukung di SLB Air
Randah Wilayah Kerja Puskesmas Gadut
Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2016 , Lebih
dari separoh yaitu sebanyak 37 orang responden
(84,1%) mempunyai dukungan penilaian yang
mendukung di SLB Air Randah Wilayah Kerja
Puskesmas Gadut Kabupaten Lima Puluh Kota
tahun 2016, Lebih dari separoh yaitu sebanyak 35
orang responden (79,5%) mempunyai dukungan
instrumental yang mendukung di SLB Air Randah
Wilayah Kerja Puskesmas Gadut Kabupaten Lima
Puluh Kota tahun 2016, Lebih dari separoh yaitu
sebanyak 37 orang responden (84,1%)
mempunyai
dukungan
emosional
yang
mendukung di SLB Air Randah Wilayah Kerja
Puskesmas Gadut Kabupaten Lima Puluh Kota
tahun 2016, Lebih dari separoh yaitu sebanyak 34
orang
responden
(77,3%)
mempunyai
kemandirian ADL di SLB Air Randah Wilayah
Kerja Puskesmas Gadut Kabupaten Lima Puluh
Kota tahun 2016, Terdapat hubungan yang
bermakna antara dukungan informasional dengan
kemandirian ADL dengan nilai P = 0, 032,
Terdapat hubungan yang bermakna antara
dukungan penilaian dengan kemandirian ADL
dengan nilai P = 0, 037, Tidak terdapat hubungan
yang bermakna antara dukungan instrumental
dengan kemandirian ADL dengan nilai P = 0, 175,
Ada hubungan yang bermakna antara dukungan
emosional dengan kemandirian ADL dengan nilai
P = 0, 037.
5. REFERENSI
Alpers. (2014). Pediatri Rudolf
Jakarta: EGC
ISSN: 2548-3153
Latief, Nurmayanti. (2015). Upaya Memandirikan
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Melalui
Pembelajaran
Bina
Diri.
Pada
http://nl26.blogspot.co.id diakses pada 21
April 2016
Suparyanto. (2011). Activity Daily Living.
Padahttp://dokumen.tips/documents/konsepadl.html diakses pada 19 April 2016
Volume S1.
Astati. (2010). Menuju Kemandirian Anak
TunaGrahita.Pada
http://bintangbangsaku.com diakses pada
16 april 2016
Febry, Yunanda Putra. (2012). Hubungan Pola
Asuh Orang Tua dengan Tingkat
Friedman, Marylin, dkk. (2014). Buku Ajar
Keperawatan Keluarga, Riset, Teori &
Praktik. Jakarta: EGC
LPPM STIKes Perintis Padang
145
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
HUBUNGAN AKTIVITAS OLAH RAGA DENGAN KADAR PROTEIN URINE
PADA MAHASISWA FAKULTAS OLAHRAGA UNIVERSITAS NEGERI PADANG
Endang Suriani, SKM
Program Study D III Technology Laboratorium Medic
Email: [email protected]
Abstract
Protein in urine (proteinuria or Microalbuminuria) is an abnormal amount of protein
found in urine specimens. Normal excretion of protein usually does not exceed 150 mg / 24 hr or 10 mg
/ dl of urine, more than it would otherwise proteinuria. some diseases or conditions that can allow
proteins to pass the filters of the kidney that causes increased protein in urine. Besides increasing the
amount of protein in the urine can usually be caused by physiological factors and pathologic factors.
Physiological factor can occur due after strenuous physical activity such as sports, while pathological
factors can be caused by an abnormal disorder or disease of the kidney or organ more. Has conducted
a study entitled 'Examination of urine protein in the student Faculty sports Padang State University
(UNP)'. This research is descriptive in order to determine whether an increase in protein in the urine
in the student frequently exercise. This research was conducted in April 2016 in the Laboratory of
Pathology STIKes Perintis Padang. Population and samples in this study were all students sport faculty
drawn at random as many as 30 people checked Protein in urine specimens using a method of heating
with acetic acid 6%. From the results, positive samples Protein urine is 20 peoples with a percentage
of 66.7%, with positive urine protein one (+1) is 18 people at a presentation of 60% and a positive urine
protein two (+2) is 2 peoples with percentage 6,7%, and the results of urine protein sample negative () is 10 people with a percentage of 33.3%.
Keywords: Protein, Urine, Student Sport
1. PENDAHULUAN
Urinalisis
merupakan
salah
satu
pemeriksaan laboratorium yang penting untuk
menegakkan berbagai diagnosis. Banyak produk
akhir metabolisme dan berbagai zat lainnya
diekskresikan melalui urin. Pemeriksaan
urinalisis selain memberikan indikasi kondisi
ginjal sebagai organ ekskresi dan juga sebagai
indikasi kondisi sistemik seseorang. Pemeriksaan
urine rutin yang biasa disebut pemeriksaan
penyaring” ialah beberapa macam pemeriksaan
yang dianggap dasar bagi pemeriksaan
selanjutnya dan yang menyertai pemeriksaan
fisik tanpa pendapat khusus (R. Gandasoebrata,
2008). Pemeriksaan urine rutin adalah termasuk
parameter jumlah urin, makrokopis urin, berat
jenis, protein, glukosa, pemeriksaan sediment.
Protein
dalam
urin
(proteinuria
atau
mikroalbuminuria) adalah jumlah abnormal
tinggi protein yang ditemukan dalam sampel
urine. Normal ekskresi protein biasanya tidak
melebihi 150 mg/24 jam atau 10 mg/dl urin.
Lebih dari 10 mg/dl didefinisikan sebagai
proteinuria (Davey, 2005).
Ginjal merupakan penyaring
produk produk makanan yang dibutuhkan oleh kita,
termasuk protein. Namun, beberapa penyakit dan
LPPM STIKes Perintis Padang
kondisi dapat memungkinkan protein untuk
melewati filter dari ginjal, menyebabkan
meningkatnya protein dalam urine. Selain itu
meningkatnya jumlah protein dalam urine
biasanya dideteksi setelah melakukan aktivitas
berat seperti olahraga, juga bisa ditemukan ketika
kita sedang dalam keadaan sakit/tidak sehat. Pada
Test urine (mikroalbumin) menjadi sebuah
pertanda awal kerusakan ginjal diabetes. Protein
memiliki beberapa fungsi yang berbeda, misalnya
menyediakan struktur (ligamen, kuku, rambut),
membantu pencernaan (enzim perut), membantu
gerakan (otot), dan berperan dalam kemampuan
kita untuk melihat (lensa mata kita adalah kristal
protein murni) (Price, 2005a:867). Berdasarkan
latar belakang tersebut maka peneliti akan
melakukan penelitian tentang Pemeriksaan
Protein Dalam Urine Pada Mahasiswa/i Fakultas
Olahraga Universitas Negeri Padang (UNP).
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium
Patologi STIKes Perintis Sumbar, Pada bulan
Juni. Populasi pada penelitian ini Mahasiswa/I
Fakultas OLahraga Universitas Negeri Padang
146
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
(UNP) dengan sampel 30 orang Mahasiswa/I yang
diambil urinnya.
Sebelumnya pemeriksaan protein urine, kita
harus mensentrifuge urine, urine yang telah di
sentrifuge masukan kedalam tabung reaksi 2/3,
lalu panaskan sampai mendidih. Jika terjadi
kekeruhan tambahkan asam asetat 2 – 3 tetes, lalu
panaskan lagi sampai mendidih. Lihat hasilnya,
jika kekeruhan hilang berarti hasil protein
negative, jika kekeruhan masih ada berarti
hasilnya positif. Pengolahan data dilakukan
dengan menggunakan rumus Frekuensi yang
diaanalisa secara deskriptif.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel: Hasil pemeriksaan Protein dalam urin pada mahasiswa/I Fakultas Olahraga Universitas
Negeri Padang
-
+1
N =30
+2
+3
+4
Tidak Ada
Kekeruhan
10
-
-
-
2
Kekeruhan
sedikit (tanpa
berbutir-butir)
-
18
-
3
Kekeruhan jelas
(berbutir)
-
-
4
Kekeruhan hebat
(Berkepingkeping)
-
5
Menggumpal
Total
No
Jenis Kekeruhan
1
Jumlah
%
-
10
33,3%
-
-
18
60%
2
-
-
2
6,7%
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
10
18
2
-
-
30
100%
Pada tabel didapatkan hasil terhadap pemeriksaan
protein urine Mahasiswa/i Fakultas Olahraga
Universitas Negeri Padang (UNP) sebanyak 30
sampel spesimen urine, ditemukan 18 orang
spesimen urinenya yang positif satu (+1) yaitu
terbentuknya kekeruhan sedikit dengan presentase
60%, 2 orang spesimen urine positif dua (+2) yaitu
terbentuknya kekeruhan jelas dengan presentase
6.7%, dan 10 orang spesimen urine didapatkan
negative (-) dengan presentase 33.3%.
Spesimen yang positif dikarenakan kerja
jasmani dan olahraga yang terlalu berat. faktorfaktor lain yang mempengaruhi proteinuria,
proteinuria postural, mengekskresikan protein
LPPM STIKes Perintis Padang
dalam jumlah yang normal atau sedikit meningka
pada posisi terlentang. Pada posisi tegak, jumlah
protein dalam urine dapat meningkat 10 kali atau
lebih. Proteinurianya biasanya ditemukan pada
analisis urine rutin, etiologinya belum diketahui.
Proteinuria karena demam, proteinuria sementara
ini dapat ditemukan pada penderita dengan
demam lebih dari 38,3oC. Mekanisme proteinuria
yang disertai demam tinggi belum diketahui.
Proteinuria pada demam tinggi akan menghilang
pada saat demam menurun. Behram Dkk (2000, h.
1826).
Proteinuria juga dapat ditemukan dalam
keadaan fisiologis yang jumlahnya kurang dari
147
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
200 mg/hari dan bersifat sementara. Pada keadaan
demam tinggi, gagal jantung, latihan fisik yang
kuat dapat mencapai lebih dari 1 gram/hari.
Proteinuria fisiologis dapat terjadi pada masa
remaja dan juga pasien iordotik (ortostatik
proteinuria). Penyakit saluran kemih, infeksi,
tumor, kalkuli,peningkatan produksi protein yang
bisa disaring rantai panjang imunoglobulin
(Protein
Bonce
Jones)
pada
mieloma,
mioglobinura, hhemoglobinuria, trhombosis vena
renalis adalah sebab sekaligus akibat proteinuria
(Rubenstein, 2007).
4. KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penilitian terhadap 30 spesimen
urine Mahasiswa/i Fakultas Olahraga Universitas
Negeri Padang (UNP) diambil kesimpulan :
1) Terdapat 20 orang spesimen urine yang positif
(+) proteinuria.
2) Pemeriksaan proteinuria pada Mahasiswa/i
fakultas Olahraga Universitas Negeri Padang
(UNP) didapatkan positif satu (+1) sebanyak
18 orang dengan presentase 60%, positif dua
(+2) sebanyak 2 orang dengan presentase
6,7%, dan urine dengan hasil negative (-)
sebanyak 10 orang dengan presentase 33,3%.
5. DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, Silvia, 2015 . Membandingkan Hasil
Pemeriksaan Protein Dalam Urine Melalui
Metode Pemanasan Asam Asetat Dengan
Metoda Cerik – Celup Pada Penderita
Proteinuria (KTI).
Baron.D.N, 1990. Kapita selekta Patologi Klinik.
Buku Kedokteran EGC: Jakarta Bawazier,
L.A . 2007 . Proteinuria
Bawazier, L.A . 2009 . Ginjal Hipertensi
Proteinuria
Behrman, dkk . 2000. Ilmu Kesehtan Anak Nelson.
Volume 3. Jakarta : ECG
Gandasoerbata, R, 2007, Penuntun Laboratorium
Klinik, Edisi %, Dian Rakyat :Jakarta
Nezz, Jauri Gagal Kronik, Sumedang, 2010
Rubenstein D, 2007 . Kedokteran Klinis Edisi 6 .
Jakarta Erlangga.
LPPM STIKes Perintis Padang
148
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
PREVALENSI PENDERITA INFEKSI Ascaris lumbricoides PADA SISWA SDN 39
TANJUNG AUR LUBUK MINTURUN PADANG TAHUN 2016
Sri Indrayati dan Khairunisa
D III Teknologi Laboratorium Medik STIKes Perintis
1
Email : [email protected]
Abstract
Ascaris lumbricoides is a type of intestinal nematode worm, Ascaris lumbricoides in Indonesia
is known as roundworms that can cause disease with clinical symptoms such as: nausea, abdominal
pain, diarrhea, indigestion, and anemia. Diseases caused by these worms called Ascariasis. This study
entitled " PREVALENCE PATIENTS INFECTION Ascaris lumbricoides ON STUDENT SDN 39
TANJUNG AUR LUBUK MINTURUN PADANG YEAR 2016". The purpose of this study is determine
the prevalence of Ascaris lumbricoides infection in students of SDN 39 Tanjung Aur Lubuk Minturun.
This research is a survey directly. This research was conducted in June in Biomedical Laboratory
STIKes Pioneer Padang with a population that is taken in this study were all students of SDN 39 Tanjung
Aur Lubuk Minturun and samples of students in grade 1 to grade 3 as many as 30 samples, taken feces
and do microscopic examination directly using eosin 2%. The research found 8 people (26.67%) were
infected with Ascaris lumbricoides and 22 (73.33%) were not infected with Ascaris lumbricoides.
Keywords : Prevalence, Ascaris lumbricoides, students SDN.
I.PENDAHULUAN
Di Indonesia, prevalensi Infeksi cacing usus
Ascariasis ternyata masih cukup tinggi dimana
diperkirakan bahwa lebih dari 60% anak-anak di
Indonesia menderita suatu infeksi cacing. Hal ini
disebabkan karena kesadaran anak-anak akan
kebersihan dan kesehatan masih rendah (Rahardja,
2008).
Anak usia Sekolah Dasar menjadi populasi
terbesar pada penderita Ascariasis, dikarenakan
pola hidup mereka yang kurang bersih dan
aktifitas mereka yang banyak berhubungan
dengan tanah menjadi erat hubungannya dengan
prilaku hidup sehat. Secara umum faktor-faktor
yang mempengaruhi kecacingan ditunjukan oleh
lancarnya proses daur hidup dan cara
penularannya. Kondisi sanitasi lingkungan dan
hygiene perorangan yang buruk serta keadaan
sosial ekonomi dan pendidikan yang rendah juga
merupakan salah satu faktor kecacingan. Kondisi
sanitasi lingkungan sangat erat hubungannya
dengan infestasi cacing pada anak sekolah dasar.
Hal ini dikarenakan sanitasi lingkungan yang tidak
memadai dapat menjadi sumber penularan cacing
pada tubuh manusia (Dachi, 2005).
Infeksi cacing pada manusia dapat
menimbulkan beberapa masalah khususnya pada
anak SD antara lain: menurunkan daya tahan
tubuh, meningkatnya secara tidak langsung
penurunan nafsu makan pada anak-anak yang
mengakibatkan kurangnya pemasukan gizi dalam
LPPM STIKes Perintis Padang
tubuh, sehingga gizi makin buruk, infeksi disertai
muntah dan diare.
Siswa yang terinfeksi akan kekurangan kadar
hemoglobin dan akan berdampak terhadap
kemampuan tubuh membawa oksigen ke berbagai
jaringan tubuh, termasuk ke otak. Sekitar 20 ekor
cacing Ascaris lumbricoides dewasa didalam usus
manusia mampu mengkonsumsi hidrat arang
sebanyak 2,8 gram dan 0,7 gram protein setiap
hari. Dari hal tersebut dapat diperkirakan besarnya
kerugian yang disebabkan oleh infeksi cacing
dalam jumlah yang cukup banyak dapat
mengakibatkan malnutrisi. Selain menyerang
anak-anak, ternyata cacingan dapat juga
menyerang orang tua atau golongan dewasa
berusia di atas 20 tahun (Husada, 2006).
Tingginya angka kecacingan ini dapat diturunkan
dengan cara meningkatkan kesadaran akan
hygiene pada pribadi siswa tersebut.
2. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah survey secara
langsung menggunakan teknik pemeriksaan
mikroskopis secara langsung dengan eosin 2%.
Penelitian ini dilakukan di SDN 39 Tanjung Aur
Lubuk Minturun dan di Laboratorium Biomedik
STIKes Perintis Sumbar. Populasi yang digunakan
dalam penelitian ini adalah semua siswa SDN 39
Tanjung Aur Lubuk Minturun. Sampel dari
149
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
penelitian ini adalah murid kelas 1 sampai kelas 3
di SDN 39 Tanjung Aur Lubuk Minturun yang
diambil fesesnya. Alat yang dibutuhkan dalam
penelitian ini yaitu: mikroskop, objek glass, cover
glass, lidi, dan botol. Bahan yang diperlukan
dalam penelitian ini yaitu : Aquadest, NaCl, eosin
2%, dan feces. Disiapkan objek glass sebanyak
sampel yang tersedia. Tetesi masing-masing 1
tetes zat warna eosin 2% pada permukaan kaca
objek, ambil seujung lidi atau sedikit feces,
kemudian campurkan masing-masing tetesan zat
warna, aduk sampai menjadi suspense yang rata
dan tipis, tutup masing-masing suspense dengan
deck glass, amati masing-masing apusan dibawah
mikroskop dengan pembesaran 40 x 10
(Natadisastra, 2009). Hasil pemeriksaan pada
feses telur cacing Ascaris lumbricoides disajikan
dalam bentuk tabel yang dinyatakan dengan:
Positif (+) = jika ditemukan telur cacing Ascaris
lumbricoides
Negative (-) = jika tidak ditemukan telur cacing
Ascaris lumbricoides
Dari data hasil pemeriksaan yang didapatkan
diolah secara manual dan disajikan dalam bentuk
tabel.
F=
x 100%
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari penelitian yang telah dilakukan terhadap 30
spesimen feces siswa SDN 39 Tanjung Aur Lubuk
Minturun kota Padang di dapatkan hasil seperti
yang terlihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 3.1.Hasil Pemeriksaan Telur Cacing
pada Feces Siswa SDN 39 Tanjung Aur
Lubuk Minturun Kota Padang
No
Jenis Telur
N=30
cacing
(+)
(-)
Terinfeksi
1 Ascaris
8
lumbricoides
Tidak
terinfeksi
2
22
Ascaris
lumbricoides.
Total Presentase
26,67% 73,33%
Keterangan:
N : Jumlah Sampel
(+) : Ditemukan nya telur cacing Ascaris
lumbricoides
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
(-) : Tidak ditemukan nya cacing Ascaris
lumbricoides
Dari tabel diatas didapatkan dari 30 spesimen
feses siswa SDN 39 Tanjung Aur Lubuk Minturun
ditemukan 8 orang positif telur cacing Ascaris
lumbricoides (26,67%), dan 22 orang didapatkan
hasil negatif dari infeksi telur cacing Ascaris
lumbricoides (73,33%).
Berdasarkan hasil penelitian
yang telah
dilakukan dengan pemeriksaan telur cacing pada
feses siswa SDN 39 Tanjung Aur Lubuk Minturun
sebanyak 30 spesimen feses, didapatkan hasil 8
orang positif Ascaris lumbricaudes (26,67%).
Tingginya angka kecacingan ascaris pada
siswa SDN 39 Tanjung Aur Lubuk Minturun
Padang disebabkan dari kebiasaan siswa yang
kurang memperhatikan kebersihan diri pribadi
mereka. Pada Umumnya siswa
sering
menghabiskan waktu istirahatnya dengan bermain
dan sering kontak dengan tanah selain itu
kebiasaan anak-anak pulang sekolah dengan
melepas sepatu, bermain langsung ditanah dan
kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum dan
sesudah
beraktivitas.
Berdasarkan
hasil
pengamatan
dilapangan terhadap anak-anak
didaerah tersebut pada umumnya mereka sering
bermain dengan tanah sehingga memungkinkan
mereka terinfeksi oleh telur cacing melalui tangan
ke mulut. Hal ini sesuai yang diungkapkan oleh
Brown (1983) bahwa penularan telur cacing
Ascaris lumbricoides dapat berlangsung dari
tangan ke mulut.
Hal ini dikatakan oleh Brown tahun 1983
bahwa Ascaris lumbricoides adalah parasit yang
paling gampang hidup didaerah yang beriklim
dingin maupun didaerah yang beriklim tropis, tapi
cacing ini lebih umum hidup didaerah tropis dan
juga banyak ditemukan pada tempat-tempat yang
sanitasinya
buruk.
Natadisastra
(2000)
menambahkan Beberapa faktor lainnya yang
menyebabkan siswa terinfeksi cacing diantaranya
adalah sanitasi lingkungan yang kurang baik,
hygiene pribadi anak-anak yang buruk, kebiasaan
bermain ditanah yang telah terkontaminasi
sebelumnya oleh feses mereka sendiri yang
mengandung telur parasit ini. Penduduk yang
heterogen baik tingkat ekonomi, tingkat
pendidikan, tingkat pekerjaan akan berpengaruh
terhadap kesadaran akan hidup sehat dan
kepedulian terhadap lingkungan terutama
kesehatan lingkungan.
Dari hasil penelitian 73,33% siswa terbebas
dari cacing, dari keseluruhan mereka ada beberapa
siswa yang pulang sekolah tidak melepas sepatu,
tidak memiliki kuku panjang, sebelum makan
150
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
mencuci tangan dan sebagainya. Adanya
kesadaran prilaku hidup sehat pada beberapa
siswa SDN 39 Tanjung Aur Lubuk Minturun akan
mencegah dari infeksi telur cacing Ascaris
lumbricoides. Hal ini terbukti dari beberapa orang
siswa yang telah disurvey yang peduli akan
kebersihan diri mereka sehingga menunjukkan
hasil negative yaitu bebas dari penyakit
kecacingan.
Tabel 3.2 Distribusi Infeksi cacing Ascaris
lumbricoides Pada Tingkat Kelas siswa SDN
39 Tanjung Aur Lubuk Minturun Kota
Padang
Dari distribusi frekuensi infeksi cacing Ascaris
lumbricoides menurut pembagian kelas terlihat
bahwa pada kelas I terinfeksi sebanyak 3 orang
NO
KELAS
SD
JUMLAH PERSEN
TERINFE
TASE
KSI
1
I
3
10%
2
II
4
13,33%
3
II
1
3,33%
TOTAL
8
26,67%
(10%), kelas II terinfeksi sebanyak 4 orang
ISSN: 2548-3153
2. Persentase prevalensi Infeksi cacing Ascaris
lumbricoides berdasarkan kelas, yang
terbanyak terdapat pada kelas II yaitu 4 orang
(13,33%).
5. REFERENSI
Brown, 1988.Dasar Parasitologi Klinik, Edisi
Ketiga, PT. Gramedia, Jakarta.
Dachi, RA.2005.Hubungan Perilaku Anak
Sekolah
Dasar
No.174593
Hatoguan
Terhadap
Infeksi Cacing Perut Di
Kecamatan
Palipi
Kabupaten
Samosir Medan.
Husada, G. 2006. Parasitologi Kedokteran edisi
ketiga, FKUI, Jakarta.
Natadisastra, D. 2009. Jakarta .Parasitologi
Kedokteran. Kedokteran. EGC, Jakarta.
Rahardja, 2008.Parasitologi. USU, Medan
Menurut pembagian kelas terlihat bahwa pada
kelas I terinfeksi sebanyak 3 orang (10%), kelas II
terinfeksi sebanyak 4 orang (13,33%), kemudian
kelas III terinfeksi sebanyak 1 orang (3,33%).
Tingginya angka infeksi pada murid kelas I dan II
SD disebabkan karena masih kurangnya
kesadaran akan pentingnya kebersihan pada
beberapa siswa di kelas tersebut. Namun pada
tingkat kelas III SD angka infeksi jauh menurun
dari kelas sebelumnya. Dari hal ini tampak, siswa
kelas III ini sudah mulai memperhatikan
kebersihan diri seperti memotong kuku secara
rutin, mencuci tangan setelah berakhtivitas, dan
tidak lagi melepas sepatu saat jalan pulang
sekolah.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian frekuensi infeksi
cacing pada siswa SDN 39 Tanjung Aur Lubuk
Minturun dapat disimpulkan sebagai barikut:
1. Persentase prevalensi infeksi cacing Ascaris
lumbricoides pada siswa SDN 39Tanjung Aur
Lubuk Minturun sebesar (26,67%)
LPPM STIKes Perintis Padang
151
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
PERBANDINGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA PRIA PEROKOK DAN TIDAK
MEROKOK DENGAN METODE SIANMETHEMOGLOBIN
Suraini1) ,Andri2)
Program Studi D-IV Analis Kesehatan STIKes Perintis Padang
email : [email protected]
Abstract
Smoking has a detrimental effect on health. One cigarette is burned emits about 400 chemicals in which
200 of them are toxic and some of them are tar, nicotine and carbon monoxide. Carbon monoxide
hemoglobin desaturation raises, lowers the direct supply of oxygen to tissues throughout the body.
Carbon monoxide replaces oxygen in hemoglobin, interfering with the release of oxygen, and
accelerated atherosclerosis (calcification and thickening of blood vessel walls). Research was
conducted to determine levels of hemoglobin (Hb) in men and male smokers not to smoke in the hospital
Mukomuko of Bengkulu wear Sianmethemoglobin with the data analysis method using KolmogorofSmirnov test. Total sample comprised 40 male non-smokers, light smokers, moderate smokers and heavy
smokers. The result showed the average Hb men do not smoke 14,3g / dL, the average Hb light smokers
14,1g / dL, the average Hb moderate smokers 14,4g / dL, and the mean Hb smokers weight 15.9 g / dL.
Statistical test results Kolmogorof-Smirnov test using SPSS 16 p value = 0.2
Keywords: levels, hemoglobin, smokers, not smokers,
1. PENDAHULUAN
Merokok adalah tindakan mengisap asap
yang berasal dari pembakaran tembakau, baik
menggunakan rokok maupun menggunakan pipa.
Banyak penyakit telah terbukti akibat buruk
merokok, baik secara langsung maupun tidak
langsung. (Tendra H, 2003).
Menurut WHO, kebiasaan merokok telah
terbukti menimbulkan 25 jenis penyakit pada
berbagai organ tubuh, seperti penyakit jantung
koroner, kanker paru-paru, bronchitis kronis,
emfisoma, penyakit pembuluh darah, perdarahan
pembuluh darah otak, sampai kelainan kehamilan
pada janin yang di kandung oleh ibu yang
merokok. Dari sejumlah penyakit itu, kematian
terbesar perokok disebabkan oleh kanker paru dan
bronchitis kronik. Kebiasaan merokok pun
merupakan penyebab kematian 10% penduduk
dunia (Saktyowati, 2008).
Rata- rata merokok yang dilakukan oleh
kebanyakan laki-laki dipengaruhi oleh faktor
psikologis meliputi rangsangan sosial, ritual
masyarakat, menunjukkan kejantanan, mengalihkan diri dari kecemasan, kebanggaan diri.
Selain faktor psikologis juga dipengaruhi oleh
faktor fisiologis yaitu adiksi tubuh terhadap bahan
yang dikandung rokok seperti nikotin atau juga
disebut kecanduan terhadap nikotin (Mangku S.,
1997).
Karbonmonoksidamenggantikan tempat
oksigen dihemoglobin, mengganggu pelepasan
oksigen, dan mem-percepat aterosklerosis
LPPM STIKes Perintis Padang
(pengapuran dan penebalan dinding pembuluh
darah). Dengan demikian karbonmonoksida
menurunkan kapasitas, meningkatkan viskositas
darah, mempermudah penggumpalan darah,
sehingga mengakibatkan terjadinya peningkatan
kadar haemoglobin darah (Tendra H, 2003).
Berdasarkan data dari WHO tahun 2002,
Indonesia menduduki urutan ke 5 terbanyak dalam
konsumsi rokok di dunia dan setiap tahunnya
mengkonsumsi 2,5 miliar batang rokok.
Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi
Nasional (SUSENAS) 2004 secara nasional
dilaporkan bahwa penduduk 15 tahun ke atas yang
mempunyai kebiasaan merokok tercatat sebanyak
34,44%, terdiri dari merokok setiap hari 28,35%
dan kadang-kadang 6,09% (Setiaji, 2007).
Lembaga Demografi UI mencatat, angka kematian
akibat penyakit yang disebabkan rokok tahun
2004 adalah 427.948 jiwa, berarti 1.172 jiwa per
hari atau sekitar 22,5% dari kematian total di
Indonesia.
Depkes RI (2004) mengatakan bahwa
Indonesia adalah salah satu negara konsumen
tembakau terbesar di dunia. Secara nasional,
konsumsi rokok di Indonesia pada tahun 2002
berjumlah 182 milyar batang yang merupakan
urutan ke-5 diantara 10 negara di dunia dengan
konsumsi tertinggi pada tahun yang sama.
Konsumsi rokok di Indonesia meningkat 7 kali
lipat selama periode 1970-2000 dari 33 milyar
batang pada tahun 1970 menjadi 217 milyar
batang pada tahun 2000. Antara tahun 1970 dan
152
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
1980 konsumsi meningkat sebesar 159%, yaitu
dari 33 milyar batang menjadi 84 milyar batang.
Antara tahun 1990 dan 2000 peningkatan lebih
jauh sebesar 54% terjadi dalam konsumsi
tembakau walaupun terjadi krisis ekonomi.
Prevalensi merokok di kalangan dewasa
meningkat menjadi 31,5% pada tahun 2001 dari
26,9% pada tahun 1995 (Depkes RI, 2003).
Jumlah perokok di dunia akan terus bertambah
terutama karena terjadi pertambahan jumlah
populasi. Pada tahun 2030 akan ada sekitar 2
milyar orang di dunia dan jumlah perokok
jugaakan meningkat (Mackay & Eriksen, 2002).
Perokok pasif adalah asap rokok yang di
hirup oleh seseorang yang tidak merokok (Pasive
Smoker). Asap rokok lebih berbahaya terhadap
perokok pasif daripada perokok aktif. Asap rokok
yang dihembusan oleh perokok aktif dan terhirup
oleh perokok pasif, lima kali lebih banyak
mengandung karbon monoksida, empat kali lebih
banyak mengandung tar dan nikotin (Wardoyo,
1996).
Menurut (Bustan,M.N., 2000) rokok aktif
adalah asap rokok yang berasal dari isapan
perokok atau asap utama pada rokok yang dihisap
(mainstream). Dari pendapat diatas dapat ditarik
kesimpulan bahwa perokok aktif adalah orang
yang merokok dan langsung menghisap rokok
serta bisa mengakibatkan bahaya bagi kesehatan
diri sendiri maupun lingkungan nya.
Hemoglobin adalah protein yang kaya
akan zat besi. Ia memiliki afinitas (daya abung)
terhadap oksigen dan dengan oksigen itu
membentukoxihemoglobindi dalam sel darah
merah. Dengan melalui fungsi ini maka oksigen di
bawa dari paru-paru ke jaringan-jaringan
(Evelyn,2000).
Kadar hemoglobin adalah ukuran pigmen
respiratorik dalam butiran-butiran darah merah
(Costill,1998). Jumlah hemoglobin dalam darah
normal kira-kira 15 gram setiap 100 ml darah dan
jumlah ini biasanya disebut “100 persen” (Evelyn,
2009). Batas normal nilai hemoglobin untuk
seseorang sukar ditentukan karena kadar
hemoglobin bervariasi diantara setiap suku
bangsa. Hasil pemeriksaan kadar hemoglobin juga
dapat dipengaruhi oleh peralatan pemeriksaan
yang dipergunakan. Antara cara sahli yang
sederhana dengancara yang lebih modern dengan
alat fotometer tentu akan ada perbedaan hasil yang
ditampilkan. Namun demikian WHO telah
menetapkan batas kadar hemoglobin normal
berdasarkan umur dan jenis kelamin (WHO dalam
Arisman,2002).
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Hemoglobin juga berperan penting dalam
mempertahankan bentuk sel darah yang bikonkaf,
jika terjadi gangguan pada bentuk sel darah
ini,maka keluwesan sel arah merah dalam
melewati kapiler jadi kurang maksimal. Hal inilah
yang menjadi alasan mengapa kekurangan zat besi
bisa mengakibatkan anemia. Jika nilainya kurang
bisa dikatakan anemia, dan apabila nilainya
kelebihan akan mengakibatkan polinemis
(Evelyn, 2000). Hemoglobin di dalam darah
membawa oksigen dari paru-paru keseluruh
jaringan tubuh dan membawa kembali
karbondioksida dari seluruh sel ke paru-paru
untuk di keluarkan dari tubuh. (Sunita,2001).
Menurut Depkes RI adapun manfaat
hemoglobin antara lain :a) mengatur pertukaran
oksigen dengan karbondioksida di dalam jaringanjaringan tubuh.b) mengambil oksigen dari paruparu kemudian dibawa ke seluruh jaringanjaringan tubuh untuk dipakai sebagai bahan
bakar.c) membawa karbondioksida dari jarringanjaringan tubuh sebagai hasil meta-bolisme ke
paru-paru untuk di buang.
Beberapa faktor yang mempengaruhi
kadar hemoglobin adalah :a) kecukupan besi
dalam tubuh. Besi dibutuhkan untuk produksi
hemoglobin, sehingga anemia gizi besi akan
menyebabkan terbentuknya sel darah merah yang
lebih kecil dan kandungan hemoglobin yang
rendah. Besi juga merupakan mikronutrien
essensil dalam memproduksi hemoglobin yang
berfungsi mengantar oksigen dari paru-paru ke
jaringan tubuh,untuk diekskresikan ke dalam
udara perrnafasan, sitokrom, dan komponen lain
pada sistem enzim pernafasan seperti sitokrom
oksidase, katalase dan peroksidase. Besi berperan
dalam sintesis hemoglobin dalam sel darah merah
dan mioglobin dalam sel otot. Kandungan ±
0,004% berat tubuh (60-70%) terdapat dalam
hemoglobin yang disimpan sebagai feritin di
dalam hati,hemosiderin di dalam limfa dan
sumsum tulang (Zarianis,2006).
Kurang lebih 4% besi di dalam tubuh
berada sebagai mioglobin dan senyawa-senyawa
besi sebagai enzim oksidatif seperti sitokrom dan
flavoprotein.Walaupun jumlahnya sangat kecil
namun mempunyai peranan yang sangat penting.
Mioglobin ikut dalam transportasi oksigen
menerobos sel-sel membran masuk kedalam selsel otot, sitokrom, flavoprotein dan senyawasenyawa mitokondria yang mengan-dung besi
lainnya, memegang peranan penting dalam proses
oksidasi menghasilkan Adenosin Tri Phosphat
(ATP) yang merupakan molekul berenergi tinggi.
Sehingga apabila tubuh mengalami anemia gizi
153
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
besi maka terjadi penurunan kemampuan bekerja
(WHO dalam Zarianis, 2006). b) metabolisme besi
dalam tubuh. Besi yang terdapat di dalam tubuh
orang dewasa sehat berjumlah lebih dari 4 gram.
Besi tersebut berada di dalam sel-sel darah merah
atau hemoglobin (lebih dari 2,5g), mioglobin
(150mg), phorphyrin cytochrome, hati, limfa
sumsum tulang (> 200-1500mg). Ada dua bagian
besi dalam tubuh, yaitu bagian fungsional yang
dipakai untuk keperluan metabolic dan bagian
yang
merupakan
cadangan.
Hemoglobin,mioglobin, sitokrom, serta enzim
hemdan non hem adalahbentuk besi fungsional
dan berjumlah antara 25-55 mg/kg berat
badan.Sedangkan
besi
cadangan
apabila
dibutuhkan untuk fungsi-fungsifisiologis dan
jumlahnya 5-25 mg/kg berat badan.Feritin dan
hemosiderinadalah bentuk besi cadangan yang
biasanya terdapat dalam hati, limpa dan sumsum
tulang. Metabolisme besi dalam tubuh terdiridari
proses absorpsi, pengangkutan, pemanfaatan,
penyimpanan dan pengeluaran (Zarianis, 2006).
Terdapat berbagai cara untuk menetapkan kadar hemoglobin tetapi yang sering
dikerjakan di laboratorium klinik adalah yang
berdasarkan kolorimeterik visual yaitu cara Sahli
dan fotoelektrik cara Sianmethemoglobin atau
Hemiglobinsianida. Cara Sahli kurang baik,
karena tidak semua macam hemoglobin diubah
menjadi hematin asam misalnya karboksihemoglobin, methemoglobin dan sulfhemoglobin. Selain itu alat yang digunakan untuk
pemeriksaan hemoglobin cara Sahli tidak dapat
distandarkan, sehingga ketelitian yang didapat
dicapai hanya ±10% (Fransisca D.K.,2010).
Cara sianmethemoglobin adalah cara
yang dianjurkan untuk penetapan kadar
hemoglobin di laboratorium karena larutan
standar sianmethemoglobin sifatnya stabil, mudah
diperoleh dan pada cara ini hampir semua
hemoglobin terukur kecuali sulfhemoglobin. Pada
cara ini ketelitian yang dapat dicapai ± 2%
(Darma, 2008).
Seiring berkembangnya teknologi alat
kesehatan yang semakin canggih selain kedua cara
pemeriksaan tersebut, kini telah banyak digunakan
pemeriksaan darah lengkap dengan menggunakan
alat otomatik yang di kenal dengan nama
hematology alyser. Berhubung ketelitian masingmasing cara berbeda, untuk penilaian hasil
sebaiknya diketahui cara mana yang dipakai. Nilai
rujukan kadar hemoglobin tergantung dari umur
dan jenis kelamin. Perempuan hamil terjadi
hemodilusi sehingga batas terendah nilai rujukan
ditentukan 10 g/dl.(Darma, 2008).
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Berdasarkan latar belakang yang telah
diuraikan di atas, maka permasalahan yang
diangkat penulis untuk diteliti dan dibahas adalah
apakah ada perbandingan Kadar Hemoglobin pada
pria perokok dan pria tidak merokok dengan
Metode Sianmethemoglobin.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah
untuk
mengetahui
perbandingan
kadar
hemoglobin pada pria perokok dan tidak perokok
dengan metode sianmethemoglobin.
2. METODE PENELITIAN
a. Jenis penelitian
Jenis penelitian ini deskriptif. Kadar Hemoglobin
pada pria perokok dan tidak perokok diperiksa
dengan metode Sianmethemoglobin.
b. Tempat Penelitian.
Penelitian ini dilakukan di RSUD Mukomuko
Bengkulu.
Populasi dan Sampel.
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini
adalah semua pria tidak merokok dan pria perokok
dan yang bekerja di RSUD Mukomuko.
Sampel yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 40 orang yang terdiri dari 10 orang pria
tidak merokok, 10 orang perokok ringan (<10
batang/hari), 10 orang perokok sedang (11-20
batang/hari) dan 10 orang. perokok berat (21-30
batang/hari).
Alat dan bahan
Alat: Fotometer, mikropipet, tissue, tabung reaksi,
rak tabung.
Bahan : lancet, kapas alkohol 70%, larutan
drabkin, aquadest dan darah kapiler.
c. Cara Pengambilan Darah Kapiler
Darah yang di pakai untuk pemeriksaan adalah
darah kapiler. Cara pengambilan darah menurut
Soebrata (1992) adalah sebagai berikut : tempat
yang akan di ambil darahnya didesintifikasi
terlebih dahulu dengan kapas alkohol 70 % dan
biarkan sampai kering. Peganglah bagian yang
akan ditusuk supaya tidak bergerak dan tekan
sedikit supaya rasa nyeri kurang, tusuklah dengan
cepat memakai lancet steril. Pada jari tusuklah
dengan arah tegak lurus pada garis-garis sidik
kulit jari. Tusukkan harus cukup dalam supaya
darah mudah keluar. Buanglah tetes darah yang
pertama keluar dengan memakai segumpal kapas
kering. Tetes darah yang berikutnya dipakai untuk
pemeriksaan.
d. Prosedur Pemeriksaan Hb
Prinsip: Darah dimasukan kedalam larutan yang
mengandung Kalium Sianida dan Kalium
Ferrisianida kemudian hemoglobin menjadi
methemolobin yang berikatan dengan Kalium
154
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Sianida yang membentuk pigmen yang stabil
Sianmethemoglobin. Intensitas warna yang
terbentuk diukur dengan fotometer dengan
panjang gelombang 540 nm.
Pemeriksaan
Kadar
Hemoglobin
Secara
Sianmethemoglobin:
Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
Dipipet 1000 μL larutan Drabkin, masukan dalam
tabung hemoglobin. Kemudian dipipet darah
sebanyak 10 μL, dengan menggunakan pipet
hemoglobin. Dikocok hingga homogen dan
biarkan selama 5 menit pada suhu kamar, dan
persiapkan juga untuk blanko pemeriksaan.
Dibaca pada fotometer dengan panjang
gelombang 540 nm.
e. Pengolahan Data.
Diasumsikan bahwa keempat kelompok memiliki
varian yang sama sehingga untuk menganalisa
data di gunakan uji Kolmogorof-Smirnov.
3. HASIL
Dari penelitian yang telah dilakukan
maka didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 1: Hasil pemeriksaan kadar hemoglobin
pada pria tidak merokok
No
Kode
Umur
Hemoglobin
Sampel
(th)
(g/ dL)
KN
38
14.2
1
AF
42
15.6
2
RD
34
13.2
3
ST
45
13.8
4
FD
37
14.6
5
NS
28
13.8
6
TM
35
14.6
7
CN
50
15.2
8
DV
32
14.0
9
HV
40
14.6
10
Jumlah
143.6
Rata – rata
14.3
Pada tabel diatas pada pria tidak perokok,
kadar hemoglobin terendah adalah 13.2 g/ dL dan
kadar hemoglobin tertinggi adalah 15.6 g/ dL
dengan rata-rata 14,3 g/dL. Setelah di uji dengan
statistik menggunakan rumus KolmogorofSmirnov SPSS 16 didapat nilai p=0,2
Tabel 2: Hasil pemeriksaan kadar hemoglobin
pada pria perokok ringan
No
Kode
Umur
Hemoglobin
Sampel
(th)
(g/ dL)
DP
30
13.8
1
RP
38
14.6
2
BY
43
15.7
3
RK
32
13.6
4
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
EK
26
12.8
AL
34
14.2
AN
31
13.8
AP
52
14.3
AG
35
15.0
PN
42
13.7
Jumlah
141.5
Rata – rata
14.1
Dari tabel diatas pada pria perokok
ringan, kadar hemoglobin terendah 12.8 g/ dL dan
kadar hemoglobin tertinggi adalah 15.7 g/ dL
dengan rata-rata 14,1 g/dL. Setelah di uji dengan
statistik menggunakan rumus KolmogorofSmirnov SPSS 16 didapat nilai p=0,2
5
6
7
8
9
10
Tabel 3 : Hasil pemeriksaan kadar hemoglobin
pada pria perokok sedang
No Kode
Umur Hemoglobin
Sampel
(th)
(g/ dL)
UW
36
13.2
1
WW
27
14.6
2
HZ
29
13.8
3
TN
40
14.6
4
RD
32
16.6
5
AR
45
14.2
6
MT
34
15.2
7
PD
28
13.6
8
JK
29
13.7
9
AY
42
14.8
10
Jumlah
144.3
Rata – rata
14.4
Dari tabel diatas pada pria perokok
sedang, kadar hemoglobin terendah adalah 13.2 g/
dL dan kadar hemoglobin tertinggi adalah 16.6
g/dL dengan rata-rata 14,4g/dL. Setelah di uji
dengan
statistik
menggunakan
rumus
Kolmogorof-Smirnov SPSS 16 didapat nilai p=0,2
Tabel 4: Hasil pemeriksaan kadar hemoglobin
pada pria perokok berat.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Kode
Sampel
ZR
AZ
RW
AD
HF
RL
HD
HP
DW
NZ
Umur
(th)
48
32
43
35
30
42
36
33
42
38
Hemoglobin
(g/ dL)
15.2
14.7
16.6
17.2
15.6
14.7
16.0
17.2
15.6
17.0
155
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Jumlah
Rata – rata
159.8
15.9
5.
Dari tabel diatas pada pria perokok berat,
kadar hemoglobin terendah adalah 14.7 g/ dL dan
kadar hemoglobin tertinggi adalah 17.2 g/ dL
dengan rata-rata 15,9 g/dL. Setelah di uji dengan
statistik menggunakan rumus KolmogorofSmirnov SPSS 16 didapat nilai p=0,2
Berdasarkan hasil uji statistik memakai
rumus Kolmogorof-Smirnov kadar Hb antara pria
tidak merokok, perokok ringan, perokok sedang
dan perokok berat didapatkan nilai p=2 yaitu >0,5
yang berarti tidak terdapat perbedaan yang
bermakna kadar hemoglobin antara pria tidak
merokok, perokok ringan,perokok sedang dan
perokok berat. Hasil penelitian ini terdapat
perbedaan dengan hasil penelitian Makawekes
dkk, 2016 yang melakukan penelitian terhadap
mahasiswa semester tujuh fakultas Kedokteran
Universitas Sam Ratulangi Manado dengan
jumlah sampel penelitian sebanyak 60 orang,
dimana hasil penelitiannya didapatkan perbedaan
yang bermakna kadar hemoglobin antara
mahasiswa perokok dan bukan perokok dengan
nilai hitung sebesar 0.021. Terdapatnya perbedaan
hasil ini diduga karena pada penelitian ini jumlah
sampel yang digunakan lebih sedikit.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
ISSN: 2548-3153
Indikator Provinsi Sehat dan
Kabupaten/Kota Sehat. Jakarta
Depkes RI, 2009. Sistem Kesehatan
Nasional. Jakarta.
Evelyn CP, 2009. Anatomi dan Fisiologi
untuk Paramedis. Jakarta. Gramedia.
Mangku, S., 1997. Usaha Mencegah
Bahaya Merokok. Jakarta:Gramedia.
Saktyowati Oky Dian. 2008.Bahaya
RokokArya Duta, Depok.
Sunita. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi.
Cetakan keempat. PT. Gramedia Pustaka
Utama : Jakarta
Tendra, Hans. 2003. Tembakau dan
Produknya. Bandung: PT.Rineka Cipta.
Wardoyo, 1996. Pencegahan Penyakit
Jantung Koroner. Solo: Toko Buku
Agency.
Zarianis, 2006. Efek Suplementasi Besi
Vitamin C dan Vitamin C terhadap Kadar
Hemoglobin Anak Sekolah Dasar yang
Anemia
Di
Kecamatan
Sayung
Kabupaten
Demak.Tesis
Program
Magister Gizi Masyarakat Universitas
Diponegoro.
4. KESIMPULAN
1. Rata-rata kadar hemoglobin pada pria
tidak merokok adalah 14,3 gr/dL
2. Rata-rata kadar hemoglobin pada pria
perokok ringan adalah 14,1 gr/dL
3. Rata-rata kadar hemoglobin pada pria
perokok sedang adalah 14,4gr/dL
4. Rata-rata kadar hemoglobin pada pria
perokok berat adalah 15,9 gr/dL
5. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna
antara kadar hemoglobin pria tidak
merokok, perokok ringan, perokok
sedang dan perokok berat.
5. REFERENSI
1. Arisman. 2002. Gizi dalam Daur
Kehidupan. EGC. Jakarta.
2. Arisman, 2006. Gizi dalam daur
Kehidupan Buku Ajar Ilmu Gizi.Buku
Kedokteran UGC.Jakarta.
3. Bustan, M.N., 2000. Epidemiologi
Penyakit Tidak Menular. PT Rineka.
Cipta, Jakarta.
4. Depkes RI, 2003. Indikator Indonesia
Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan.
LPPM STIKes Perintis Padang
156
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
FAKTOR RISIKO KEJADIAN HIPERKOLESTEROLEMIA PADA PENDERITA
PENYAKIT JANTUNG KORONER
(Studi Kasus di Poliklinik Jantung RSUP dr. M. Djamil Padang)
Widia Dara dan Juliana Tanjung
Program Studi Gizi STIKES Perintis Padang
Email : [email protected]
Abstract
This study was conducted to determine the risk factors of hypercholesterolemia in patients with coronary
heart disease. The study was a case control study with the number of respondents 90 people. A total of
45 respondents heart disease patients with hypercholesterolemia and the condition of 45 respondents
who suffer from heart disease but not hypercholesterolemia. Data were collected from January to
February 2016 in the hospital Dr.M. Djamil Padang. Cholesterol measurement based on the results of
laboratory analysis of blood serum respondents. Data retrieval intake of saturated fat, unsaturated and
fiber with an interview with Food Frequency Quesiner tools (FFQ). Variable nutrition knowledge taken
from interviews using questionnaires. Physical activity is categorized according to WHO standards.
Analyses were performed with a frequency distribution and bivariate statistical tests chi-square and
odds ratio. The research found that more than half of respondents (60%) in case group (60%) of physical
activity light, intake of unsaturated fats 64.4% is not good, the consumption of saturated fat 53.3% is
not good, and fiber intake 71.1% less, and 68.9% knowledge undernutrition. In the control group
patients with coronary heart disease hypercholesterolemia do not have the intake of unsaturated fat
55.5% excellent, 71% good saturated fats, and fiber 88.9% good and 80% moderate physical activity.
All variables were analyzed contained a risk factor for the incidence of hypercholesterolemia that is
with physical activity (OR = 6.00), no saturated fat intake (OR = 1.44), saturated fat (OR = 2.36), and
fiber intake (OR = 2.05), as well as nutritional knowledge (OR = 2.43).
Keywords: hypercholesterolemia, physical activity, intake of unsaturated fat, saturated fat, fiber.
1. PENDAHULUAN
Penyakit Jantung Koroner (PJK) atau penyakit
kardiovaskular saat ini merupakan salah satu
penyebab utama dan pertama kematian di negara
maju dan berkembang, termasuk Indonesia. Pada
tahun 2010, secara global penyakit ini menjadi
penyebab kematian pertama di negara
berkembang, menggantikan kematian akibat
infeksi. Diperkirakan, PJK pada tahun 2020
menjadi pembunuh pertama tersering yakni
sebesar 36% dari seluruh kematian, angka ini dua
kali lebih tinggi dari angka kematian diseluruh
dunia akibat kanker.
PJK (yang dikelompokkan menjadi penyakit
sistem sirkulasi) merupakan penyebab utama dan
pertama dari seluruh kematian, yakni sebesar
26,4%, angka ini empat kali lebih tinggi dari
angka kematian yang disebabkan oleh kanker
(6%) di Indonesia. Dengan kata lain, lebih kurang
satu diantara empat orang yang meninggal di
Indonesia adalah akibat PJK. Berbagai faktor
risiko mempunyai peran penting timbulnya PJK
mulai dari aspek metabolik, hemostasis,
imunologi, infeksi, dan banyak faktor lain yang
saling terkait (Depkes, 2006).
LPPM STIKes Perintis Padang
Prevalensi hiperkolesterolemia pada pasien
dengan penyakit jantung koroner meningkat dari
tahun 2009 (13,5%) ke tahun 2010(19,2%).
Dalam hal ini diharapkan perlu dilakukan
pengendalian kadar kolesterol yaitu meliputi
usaha mengubah pola hidup dan medika mentosa
agar tidak jatuh pada penyakit jantung koroner
(Prilia, 2011).
Penyebab utama meningkatnya kadar
kolesterol di dalam darah adalah seringnya
mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh atau
mengandung kolesterol tinggi. Hal ini di dukung
oleh penelitian epidiomologik yang menunjukkan
bahwa rendahnya asupan makanan yang berlemak
tinggi dapat mengurangi resiko terjadinya
hiperkolesterolemia (Bernstein, et al., 2010;
Devore, et al., 2009; Sulastri, et al
., 2005).
Hiperkolesterolemia juga dipengaruhi oleh
aktivitas fisik yang dilakukan oleh seseorang
(Roger, et al., 2011; Rana, et al., 2011; Arsenault,
et al., 2011). Aktivitas fisik adalah gerakan tubuh
oleh otot rangka yang menghasilkan energi.
Selain pola konsumsi dan aktivitas fisik yang
dapat mempengaruhi kadar kolesterol dalam darah,
157
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
pengetahuan gizi juga mempunyai peranan yang
sangat penting dalam pembentukan kebiasaan
makan seseorang. Kesalahan dalam memilih
makanan dan kurang cukupnya pengetahuan
tentang gizi akan mengakibatkan timbulnya
masalah gizi yang akhirnya mempengaruhi status
gizi. Status gizi yang baik hanya dapat tercapai
dengan pola makan yang baik, yaitu pola makan
yang didasarkan atas prinsip menu seimbang,
alami dan sehat (Sediaoetama,2006).
Penderita penyakit jantung koroner dengan
diagnosa Arterisclerotic Heart Disease (ASHD)
yang dihitung pada trimester terakhir (Bulan
April, Mei dan Juni) di Poli Klinik Jantung RSUP
Dr. M.Djamil Padang Tahun 2015 yaitu sebanyak
786 orang dan 60-75% diantaranya dengan
hiperkolesterolemia.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
Faktor Risiko Kejadian Hiperkolesterolemia Pada
Penderita Penyakit Jantung Koroner DiPoli Klinik
Jantung RSUP Dr.M.Djamil Padang Tahun 2016.
2. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian adalah observasional yang
bersifat analitik yaitu membandingkan distribusi
kejadian hiperkolesterolemia pada penderita
Penyakit Jantung Koroner antara kelompok kasus
dan kelompok kontrol dengan menggunakan
desain penelitian case control. Penelitian
dilakukan pada Bulan Januari sampai dengan
Bulan Februari Tahun 2016 di Poli Klinik Jantung
RSUP Dr.M. Djamil Padang.
Sampel
dihitung
berdasarkan
rumus
(Lemeshow, 1997). Besaran sampel sebanyak 45
orang kasus. Dengan jumlah yang sama
ditentukan sampel control sebesar 45 orang.
Kelompok kasus adalah semua penderita
hiperkolesterolemia pada pasien PJK yang
berumur 30-75 Tahun di Poli klinik Jantung RSUP
Dr.M.Djamil
Padang.
Kelompok
kasus
didapatkan berdasarkan rumus dengan jumlah
sampel kasus 45 orang dengan kriteria sampel
yaitu pasien yang berkunjung saat waktu
penelitian dan memiliki hasil pemeriksaan labor
kolesterol total diatas 200 mg/dl . Pengambilan
sampel kontrol diambil dari pasien Penyakit
jantung koroner
yang tidak menderita
hiperkolesterolemia (kolesterol total < 200 mg/dl)
di RSUP.M.Djamil Padang , dimana jumlah
sampel kontrol sama dengan jumlah kasus.
Data yang dikumpulkan berupa identitas,
aktivitas fisik, pola konsumsi, dan tingkat
pengetahuan gizi responden. Cara mendapatkan
data primer tersebut, baik kasus maupun kontrol
yaitu dengan cara melakukan wawancara, dan
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
dipandu dengan kuesioner. Tanya jawab yang
dilakukan oleh peneliti dan dibantu oleh 1 orang
tenaga gizi tamatan Diploma Gizi.
Data asupan lemak jenuh dan tak jenuh serta
serat dikumpulkan melalui food frequency
quantitative (FFQ). Alat bantu yang digunakan
untuk memperoleh data primer kuesioner dan food
model.
Kadar kolesterol digolongkan menjadi 2
kategori yaitu kadar kolesterol baik adalah total
kolesterol kecil sama dari 200 mg/dl dan kadar
kolesterol totak tinggi adalah total kolesterol besar
dari 200 mg/dl. Varibel aktivitas fisik dibagi
menjadi 2 kategori yaitu aktivitas fisik ringan
sedang (WHO). Variabel konsumsi lemak, baik
lemak jenuh (Saturated Fatty Acid / SFA) maupun
lemak tak jenuh (Mono Unsaturated Fatty Acid/
MUFA) diukur berdasarkan persentasi total
energy.
Varibel pengetahuan gizi didapat dari analisis
jawaban responden yaitu jawaban responden besar
sama dari 80 % benar dikategorikan
baikSedangkan jawaban reponden kecil dari 80%
dikategorikan pengetahuan gizi kurang
Hasil pengolahan data disajikan dalam bentuk
distribusi. Analisis ini dilakukan untuk
memperoleh gambaran masing-masing variable,
disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dan
diinterprestasikan. Analisis data dilakukan dengan
uji chi-square untuk mengetahui hubungan antara
variable dependen dan independen.Uji ini dengan
syarat skala ordinal. Analisis data dilakukan
dengan komputerisasi menggunakan program
SPSS 17.0. Uji statistic yang digunakan adalah
Chi-Square . Bila p-value < 0,05 menunjukan
bahwa ada hubungan yang bermakna antara
variable independen dengan variable dependen.
Dan dilanjutkan dengan penetapan risiko relative
yang dihitung secara tidak langsung dengan
menggunakan odds ratio.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Rumah Sakit DR. M. Djamil Padang
merupakan Rumah Sakit tipe A dan pendidikan
calon dokter, dokter spesialis dan sub spesialis
serta tenaga kesehatan lainnya seperti Akademi
Perawat dan Akademi-Akademi
kesehatan
lainnya.
Gambaran Umum Responden
Penelitian dilakukan terhadap pasien rawat
jalan yang berkunjung ke Poliklinik Jantung
RSUP Dr. M.Djamil Padang. Distribusi frekuensi
aktivitas fisik pada pasien PJK di Poliklinik
158
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Jantung RSUP DR. M.Djamil Padang Tahun 2016
dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Aktivitas Fisik
Responden
Kasus
Kontrol
Aktifitas
Fisik
n
%
n
%
Ringan
27
60
9
20
Sedang
18
40
36
80
Jumlah
45
100
45
100
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Konsumsi
Lemak Tidak Jenuh Responden
Kasus
Kontrol
n
%
n
%
Baik
16
35.6
25
55.5
Tidak Baik
29
64.4
20
44.4
Jumlah
45
100
45
100
Dari tabel 2 dapat dilihat lebih dari separuh
responden pada kelompok kasus 29 (64.4%)
konsumsi lemak tidak jenuh secara tidak baik.
Pada kelompok kontrol lebih dari separuh 25
(55.5%) responden mengkonsumsi lemak tidak
jenuh dengan baik.
Distribusi frekuensi konsumsi lemak jenuh
pada pasien PJK di Poliklinik Jantung RSUP DR.
M.Djamil Padang Tahun 2016 dapat dilihat pada
tabel 3
Tabel 3. Distribusi Frekuensi
Konsumsi Lemak Jenuh Responden
Lemak Jenuh
Kasus
Kontrol
n
%
n
%
Baik
21
46.7
32
71.1
Tidak Baik
24
53.3
13
28.9
Jumlah
45
100
45
100
LPPM STIKes Perintis Padang
Dari tabel 3 dapat dilihat sebagian besar
responden pada kelompok kasus 24 (53.3%)
menkonsumsi lemak jenuh secara tidak baik.
Pada kelompok kontrol lebih dari separuh 32
(71.1%) menkonsumsi lemak jenuh secara baik.
Distribusi frekuensi konsumsi serat pada
pasien PJK di Poliklinik Jantung RSUP DR.
M.Djamil Padang Tahun 2016 dapat dilihat pada
tabel 4
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Konsumsi Serat
Responden
Dari tabel 1 dapat dilihat lebih dari separuh
responden pada kelompok kasus 27 (60%)
aktifitas fisiknya ringan. Pada kelompok kontrol
lebih dari separuh 36 (80%) responden aktifitas
fisiknya sedang.
Lemak
Tidak Jenuh
ISSN: 2548-3153
Konsumsi
Serat
n
Kasus
Kontrol
%
n
%
Baik
13
28.9
40
88.9
Kurang
32
71.1
5
11.1
Jumlah
45
100
45
100
Dari tabel 4 dapat dilihat lebih dari separuh
responden pada kelompok kasus 32 (71.1%)
mengkonsumsi serat kurang. Pada kelompok
kontrol lebih dari separuh 40 (88.9%) responden
mengkonsumsi serat dengan baik.
Distribusi frekuensi pengetahuan gizi pada
pasien PJK di Poliklinik Jantung RSUP DR.
M.Djamil Padang Tahun 2016 dapat dilihat pada
tabel 5
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Pengetahuan
Gizi Responden
Pengetahuan Gizi
Kasus
Kontrol
n
%
n
%
Baik
14
31.1
23
51.1
kurang
31
68.9
22
48.9
Jumlah
45
100
41
100
Dari tabel 5 dapat dilihat lebih dari separuh
responden pada kelompok kasus 31 (68.9%)
responden memiliki pengetahuan gizi kurang.
Pada kelompok kontrol lebih dari separuh 23
(51.1%) responden memiliki pengetahuan gizinya
baik.
Hasil analisis bivariat terhadap variabel-variabel
yang menjadi faktor risiko hiperkolesterolemia pada
penderita PJK di Poliklinik Jantung RSUP
DR.M.Djamil Padang Tahun 2016 dapat dilihat pada
tabel 6
159
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Tabel 6. Korelasi Faktor Risiko Terhadap Kejadian Hiperkolesterolemia Pada Penderita PJK Di Poliklinik
Jantung RSUP.DR.M.Djamil Padang Tahun 2016
No
Faktor Risiko
OR
95% (CI)
p - Value
1
Aktivitas Fisik
6.000
2.337-15.406
0.000
2
1.441
1.189-2.030
0.047
3
Konsumsi Lemak Tidak
Jenuh
Konsumsi Lemak Jenuh
2.355
1.149-2.849
0.018
4
Konsumsi Serat
2.051
1.016-2.157
0.000
5
Pengetahuan Gizi
2.432
1.183-2.021
0.044
Gambaran Aktifitas Fisik
Hasil uji statistik aktivitas fisik responden
didapatkan nilai p 0.000 < 0.05 artinya aktivitas
fisik merupakan faktor risiko kejadian
Hiperkolesterolemia. Nilai OR=6.000 maka dapat
disimpulkan responden dengan aktifitas fisik
ringan memiliki risiko 6.0 kali mengalami
hiperkolesterolemia dibandingkan responden
yang aktifitasnya sedang.
Hasil penelitian didapatkan lebih dari separuh
responden pada kelompok kasus 27 (60%)
aktifitas fisiknya ringan. Pada kelompok kontrol
lebih dari separuh 36 (80%) responden aktifitas
fisiknya sedang.
Hasil penelitian ini sama dengan penelitian
yang dilakukan Krisnawaty (2013) tentang Risiko
Hiperkolesterolemia pada Pekerja di Kawasan
Industri yang mendapatkan hasil lebih dari
separuh (58%) responden dengan aktivitas fisik
ringan pada kelompok kasus.
Menurut Farizati (2002 aktifitas fisik adalah
setiap gerakan tubuh yang membutuhkan energi
untuk mengerjakannya, seperti berjalan, menari,
mengasuh cucu, dan lain sebagainya. Aktifitas
fisik yang terencana dan terstruktur, yang
melibatkan gerakan tubuh berulang-ulang serta
ditujukan untuk meningkatkan kebugaran jasmani
disebut olahraga.
Hasil
penelitian
dapat
disimpulkan
banyaknya pasien dengan aktivitas fisik ringan
menjadi salah satu penyebab tingginya kejadian
Hiperkolesterolemia pada kelompok kasus. Pasien
dengan aktivitas fisik ringan banyak mengalami
Hiperkolesterolemia karena tidak mendapatkan
manfaat dari olahraga seperti menyehatkan
jantung,otot, dan tulang, membuat pasien lebih
mandiri, mencegah obesitas, mengurangi
LPPM STIKes Perintis Padang
kecemasan dan depresi, dan
kepercayaan diri yang lebih tinggi.
memperoleh
Gambaran Konsumsi Lemak Tidak Jenuh
Dari tabel 6 dapat dilihat hasil uji statistik
responden berdasarkan konsumsi lemak tidak
jenuh secara tidak baik memiliki nilai p 0.047 <
0.05 artinya konsumsi lemak tidak jenuh secara
tidak baik merupakan faktor risiko kejadian
hiperkolesterolemia. Nilai OR=1.4 maka dapat
disimpulkan responden yang mengkonsumsi
lemak tidak jenuh secara tidak baik memiliki
risiko hiperkolesterolemia sebesar 1.4 kali
dibandingkan responden yang mengkonsumsi
lemak tidak jenuh secara baik. Artinya responden
yang mengkonsumsi lemak tidak jenuh secara
baik
dapat
menekan
risiko
kejadian
hiperkolesterolemia sebesar 1.4 kali.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pada
kelompok kasus lebih dari separuh responden
yaitu 29 (64.4%) responden mengkonsumsi lemak
tidak jenuh secara tidak baik. Sedangkan pada
kelompok kontrol lebih dari separuh 25 (55.5%)
responden mengkonsumsi lemak tidak jenuh
secara baik.
Hasil penelitian ini sama dengan penelitian
yang dilakukan Krisnawaty (2013) tentang Risiko
Hiperkolesterolemia pada Pekerja di Kawasan
Industri yang mendapatkan hasil lebih dari
separuh (65%) responden dengan asupan lemak
tidak jenuh tidak baik pada kelompok kasus
hiperkolesterolemia.
Hasil penelitian Sobary (2014) Tentang
Hubungan Asupan Asam Lemak Jenuh Dan Tak
Jenuh Dengan Kadar Kolesterol HDL Pada Pasien
Penyakit Jantung Koroner di RSUD dr. Moewardi
mendapatkan hasil asupan asam lemak tak jenuh
160
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
responden penelitian sebagian besar termasuk
dalam kategori baik sebesar 75% dan asupan asam
lemak tak jenuh yang termasuk dalam kategori
tidak baik sebesar 25%.
Asam Lemak tak jenuh tunggal (Mono
Unsaturated Fatty Acid/ MUFA) merupakan jenis
asam lemak yang mempunyai 1 (satu) ikatan
rangkap pada rantai atom karbon. Asam lemak ini
tergolong dalam asam lemak rantai panjang
(LCFA), yang kebanyakan ditemukan dalam
minyak zaitun, minyak kedelai, minyak kacang
tanah, minyak biji kapas, dan kanola. Minyak
zaitun adalah salah satu contoh yang mengandung
MUFA. Secara umum, lemak tak jenuh tunggal
berpengaruh menguntungkan kadar kolesterol
dalam darah, terutama bila digunakan sebagai
pengganti asam lemak jenuh. Asam lemak tak
jenuh tunggal (MUFA) lebih efektif menurunkan
kadar kolesterol darah, daripada asam lemak tak
jenuh jamak (PUFA), sehingga asam oleat lebih
populer dimanfaatkan untuk formulasi makanan
olahan menjadi populer
Menurut hasil peneliti kurangnya responden
yang mengkonsumsi asupan lemak tidak jenuh
menjadi salah satu penyebab tingginya kadar
kolesterol karena lemak tidak jenuh berpengaruh
menguntungkan terhadap kadar kolesterol darah.
Gambaran Konsumsi Lemak Jenuh
Dari tabel 6 dapat dilihat uji statistik
responden dengan konsumsi lemak jenuh memliki
nilai p 0.018 < 0.05 artinya lemak jenuh
merupakan
faktor
risiko
kejadian
Hiperkolesterolemia. Nilai OR=2.4 maka dapat
disimpulkan responden yang mengkonsumsi
lemak jenuh secara tidak baik memiliki risiko 2.4
kali mengalami hiperkolesterolemia dibandingkan
responden yang mengkonsumsi lemak jenuh
secara baik. Artinya konsumsi lemak jenuh
berlebih dapat berisiko terhadap kejadian
hiperkolestero-lemia.
Dari hasil penelitian didapatkan
pada
kelompok kasus sebagian besar responden yaitu
24 (53.3%) responden mengkonsumsi lemak
jenuh secara tidak baik. Dan pada kelompok
kontrol lebih dari separuh responden yaitu 32
(71.1%) responden mengkonsumsi lemakjenuh
secara baik baik.
Hasil penelitian ini sama dengan penelitian
yang dilakukan Krisnawaty (2013) tentang Risiko
Hiperkolesterolemia pada Pekerja di Kawasan
Industri yang mendapatkan hasil lebih dari
separuh (63%) responden dengan asupan lemak
jenuh tidak baik pada kelompok kasus.
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Hasil penelitian oleh Sobary (2014) Tentang
Hubungan Asupan Asam Lemak Jenuh Dan Tak
Jenuh Dengan Kadar Kolesterol HDL Pada Pasien
Penyakit Jantung Koroner di RSUD dr. Moewardi
mendapatkan hasil kadar kolesterol HDL normal
terlihat bahwa asupan asam lemak jenuh baik
lebih besar (37.5%), dibandingkan dengan asupan
asam lemak jenuh tidak baik (2.77%). Tidak
demikian pada responden penelitian dengan kadar
kolesterol HDL tidak normal terlihat bahwa
asupan asam lemak jenuh tidak baik lebih besar
(97.22%), dibandingkan asupan asam lemak jenuh
baik (62.5%).
Asupan lemak, terutama lemak jenuh yang
berlebih dapat meningkatkan kadar kolesterol.
Kadar kolesterol yang tinggi akan meningkatkan
resiko terjadinya pengerasan pembuluh nadi
sehingga mengakibatkan penyumbatan pembuluh
darah ke otak (Sibagariang, 2010).
Berdasarkan penelitian banyaknya responden
yang mengkonsumsi asupan lemak jenuh
dikarenakan faktor kebiasaan masyarakat
Sumatera Barat pada umumnya masakan sehari –
hari banyak mengandung lemak seperti rendang,
gulai yang banyak mengandung santan.
Gambaran Konsumsi Serat
Dari tabel 6 dapat dilihat uji statistik
responden dengan konsumsi serat kurang
memiliki nilai p 0.000 < 0.05 artinya konsumsi
serat kurang merupakan faktor risiko kejadian
Hiperkolesterolemia. Nilai OR = 2.1 maka dapat
disimpulkan responden dengan konsumsi serat
kurang memiliki risiko 2.1 kali mengalami
hiperkolesterolemia dibandingkan responden
yang mengkonsumsi serat secara baik.
Dari hasil penelitian didapatkan lebih dari
separuh responden pada kelompok kasus yaitu 32
(71.1%) responden mengkonsumsi serat dengan
kurang. Sedangkan pada kelompok kontrol lebih
dari separuh responden yaitu 40 (88.9%)
responden menhkonsumsi serat dengan baik.
Hasil penelitian ini sama dengan hasil
penelitian oleh Sobary (2014) Tentang Hubungan
Asupan Asam Lemak Jenuh Dan Tak Jenuh
Dengan Kadar Kolesterol HDL Pada Pasien
Penyakit Jantung Koroner di RSUD dr. Moewardi
mendapatkan hasil hasil lebih dari separoh (53%)
responden kurang suka mengkonsumsi makanan
yang berserat.
Konsumsi serat dapat menurunkan resiko
penyakit jantung dan arteri karena rendahnya
konsentrasi kolesterol dalam batas yang normal.
Kurangnya aktivitas fisik merupakan faktor resiko
independen untuk penyakit kronis dan secara
161
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
keseluruhan menyebabkan kematian secara global
(WHO, 2010, Physical Acivity In Guide to
Community Preventive Service web site, 2008).
Berdasarkan
penelitian,
banyaknya
responden yang kurang suka mengkonsumsi
makanan
berserat
dikarenakan
kurannya
pengetahuan dan wawasan responden akan
pentingnya makanan yang mengandung serat.
Serta ketidak tahuan responden akan apa – apa
saja jenis makanan – makanan yang banyak
mengandung serat.
Gambaran Pengetahuan Gizi
Dari tabel 6 dapat dilihat uji statistik
responden dengan pengetahuan gizi kurang
didapatkan nilai p 0.044 < 0.05 artinya
pengetahauan gizi merupakan faktor risiko
kejadian hiperkolesterolemia. Nilai OR = 2.4
maka dapat disimpulkan responden dengan
pengetahauan gizi kurang memiliki risiko 2.4 kali
mengalami hiperkolesterolemia dibandingkan
responden dengan pengetahuan gizi baik.
Penelitian ini juga tidak sama dengan penelitian
yang dilakukan oleh Whardany (2016) tentang
Hubungan Pengetahuan Diet Dan Perilaku
Membaca Informasi Nilai Gizi Produk Makanan
Kemasan Terhadap Kepatuhan Diet Pasien Penyakit
Jantung Koroner (PJK) Dengan Hipertensi Rawat
Jalan di RSUD dr. Moewardi yang mendapatkan
hasil 30 (81,1%) responden memiliki pengetahuan
baik
Menurut Nasution Tingkat pengetahuan diet
dapatmempengaruhi sikap acuh tak acuhterhadap
penggunaan bahan makanan tertentu, walaupun
bahan makanan tersebut mengandung zat gizi
yang cukup. Secara teori, semakin tinggi
pengetahuan gizi seseorang maka akan semakin
memperhitungkan jenis dan jumlah makanan yang
akan dikonsumsi.
Rendahnya pengetahuan gizi responden
tentang makanan yang baik untuk penderita
hiperkolesterolemia menjadi salah satu penyebab
tingginya kejadian hiperkolesterolemia. Pasien
tidak menerapkan pola makan yang baik dengan
menghindari sumber makanan penyebab tingginya
kolesterol darah.
Hubungan Aktivitas Fisik dengan
Hiperkolesterolemia
Berdasarkan hasil penelitian dida-patkan
aktifitas fisik ringan lebih tinggi pada kelompok
kasus yaitu 27 (75%) dibandingkan dengan
aktifitas fisik sedang 18 (33.3%). Dari hasil
analisis uji statistik didapatkan dengan nilai p
0.000 < 0.05 artinya aktivitas fisik merupakan
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
faktor risiko kejadian hiperkolesterolemia. Nilai
OR = 6.0 maka dapat disimpulkan responden
dengan aktifitas fisik ringan memiliki risiko 6.0
kali mengalami hiperkolesterolemia dibandingkan
responden yang aktifitasnya sedang atau berat.
Hasil penelitian ini sama dengan penelitian
yang
dilakukan
Waloya
(2013) tentang
Hubungan Antara Konsumsi Pangan Dan
Aktivitas Fisik Dengan Kadar Kolesterol Darah
Pria Dan Wanita Dewasa Di Bogor yang
mendapatkan hasil tingkat aktivitas fisik
berpengaruh nyata terhadap kadar kolesterol darah
(p<0.05). Hasil penelitian Shirazi (2008),
menyatakan hal yang sama, yaitu olahraga secara
teratur dapat menurunkan kadar kolesterol darah
secara signifikan dan meningkatkan kadar HDL
dalam darah.
Menurut Nina (2007), secara fisiologis,
olahraga dapat meningkatkan kapasitas aerobik,
kekuatan, fleksibilitas, dan keseimbangan. Secara
psikologis,olahraga dapat meningkatkan mood,
mengurangi risiko pikun, dan mencegah depresi.
Secara sosial, olahraga dapat mengurangi
ketergantungan pada orang lain, mendapat banyak
teman, dan meningkatkan produktivitas.
Banyaknya pasien dengan hiperkolsterolemia
disebabkan karena aktivitas fisik pasien yang
ringan. Hal ini terjadi dikarenakan pasien tidak
dapat melakukan olahraga dan aktivitas fisik yang
berat karena faktor penyakit lain yang diderita
oleh pasien seperti rematik sehingga membuat
pasien jarang beraktifitas secara baik.
Hubungan Lemak Tidak Jenuh dengan
Hiperkolesterolemia
Dari hasil penelitian pada kelompok kasus
didapatkan responden dengan konsumsi lemak
tidak jenuh secara tidak baik lebih tinggi yaitu 29
(59.2%) responden jika dibandingkan dengan
responden yang mankonsumsi lemak tidak jenuh
secara baik yaitu 16 (39%) responden pada
kelompok kasus. Dari hasil analisis uji statistic
didapatkan dengan nilai p 0.047 < 0.05 artinya
lemak tidak jenuh merupakan faktor risiko
kejadian hiperkolesterolemia. Nilai OR = 1.4
maka dapat disimpulkan responden dengan
konsumsi lemak tidak jenuh secara tidak baik
berisiko mengalami hiperkolesterolemia 1.441
kali jika dibandingkan dengan responden yang
mengkonsumsi lemak tidak jenuh secara baik.
Namun dalam hal ini yang dimaksud berisiko
adalah sebagai faktor risiko yang bersifat protektif
artinya konsumsi lemak tidak jenuh secara baik
dapat menekan atau mencegah kejadian
hiperkolesterolemia 1,4 kali jika dibandingkan
162
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
dengan responden yang tidak mengkonsumsi
lemak tidak jenuh secara tidak baik.
Hasil penelitian ini sama dengan penelitian
yang dilakukan Krisnawaty (2013) tentang Risiko
Hiperkolesterolemia pada Pekerja di Kawasan
Industri yang mendapatkan hasil terdapat
hubungan yang bermakna antara konsumsi lemak
tidak jenuh dengan kejadian Hiperkolesterolemia.
Hasil penelitian tidak sama dengan hasil
penelitian Sobary (2014) Tentang Hubungan
Asupan Asam Lemak Jenuh Dan Tak Jenuh
Dengan Kadar Kolesterol HDL Pada Pasien
Penyakit Jantung Koroner di RSUD dr. Moewardi
mendapatkan hasil nilai p=0.236. Nilai p (>0.05)
maka Ho diterima dan dapat disimpulkan bahwa
tidak ada hubungan antara asupan asam lemak tak
jenuh dengan kadar kolesterol HDL pasien PJK.
Kekuatan hubungan ditunjukan dengan nilai r
(correlation coefficient) sebesar-0.183.
Asupan asam lemak tak jenuh pasien PJK di
RSUP Dr.M.Djamil Padang sebagian besar
termasuk ke dalam kategori tidak baik (59.2%)
atau sebanyak 29 responden penelitian. Asupan
asam lemak tak jenuh bersumber dari bahan
makan nabati seperti kacang-kacangan, biji-bijian
dan minyak kelapa sawit.
Menurut teori Pepper (2008), menyatakan
bahwa asupan asam lemak tak jenuh yang tinggi
akan
meningkatkan
apolipoprotein
A-1,
apolipoprotein A-1 merupakan komponen utama
dari HDL. Menurunkan sintesis dari VLDL,
menyebabkan produksi LDL berkurang kemudian
asam lemak tidak membentuk trigliserida pada
VLDL selanjutnya VLDL akan dioksidasi sebagai
sumber energi, kolesterol HDL dapat mengangkut
kembali kolesterol yang berlebih ke hati dan
akibatnya kolesterol tidak akan menumpuk.
Asam Lemak tak jenuh tunggal (Mono
Unsaturated Fatty Acid/ MUFA) merupakan jenis
asam lemak yang mempunyai 1 (satu) ikatan
rangkap pada rantai atom karbon. Asam lemak ini
tergolong dalam asam lemak rantai panjang
(LCFA), yang kebanyakan ditemukan dalam
minyak zaitun, minyak kedelai, minyak kacang
tanah, minyak biji kapas, dan kanola. Minyak
zaitun adalah salah satu contoh yang mengandung
MUFA. Secara umum, lemak tak jenuh tunggal
berpengaruh menguntungkan kadar kolesterol
dalam darah, terutama bila digunakan sebagai
pengganti asam lemak jenuh. Asam lemak tak
jenuh tunggal (MUFA) lebih efektif menurunkan
kadar kolesterol darah, daripada asam lemak tak
jenuh jamak (PUFA), sehingga asam oleat lebih
populer dimanfaatkan untuk formulasi makanan
olahan menjadi populer
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Penurunan kadar kolesterol HDL dipengaruhi
oleh faktor risiko yang lain seperti genetik,
aktivitas fisik, penyakit penyerta, stres, kebiasaan
merokok, obesitas dan asupan obat-obat. Pada
penelitian ini diketahui bahwa faktor yang
mempengaruhi kadar kolesterol HDL pada saat
penelitian berlangsung yaitu konsumsi obat jenis
sinvastatin yang termasuk ke dalam obat penurun
kolesterol yang memberikan efek penurunan
kadar kolesterol dalam darah, sehingga meskipun
asupan asam lemak tak jenuh sudah dalam
kategori baik tetap saja terjadi penurunan kadar
kolesterol HDL dalam darah.
Hubungan
Lemak
Jenuh
dengan
Hiperkolesterolemia
Dari hasil penelitian pada kelompok kasus
didapatkan responden dengan konsumsi lemak
jenuh secara tidak baik lebih tinggi yaitu 24
(64.9%) dibandingkan dengan responden yang
mengkonsumsi lemak jenuh secara baik yaitu 21
(39.6%) responden pada kelompok kasus. Dari
hasil analisis uji statistik didapatkan nilai p 0.018
< 0.05 artinya lemak jenuh merupakan faktor
risiko kejadian hiperkolesterolemia. Nilai OR =
2.4, maka dapat disimpulkan responden yang
mengkonsumsi lemak jenuh secara tidak baik
memiliki
risiko
2.4
kali
mengalami
hiperkolesterolemia dibandingkan responden
yang mengkonsumsi lemak jenuh dengan baik.
Sama dengan hasil penelitian Sobary (2014)
Tentang Hubungan Asupan Asam Lemak Jenuh
Dan Tak Jenuh Dengan Kadar Kolesterol HDL
Pada Pasien Penyakit Jantung Koroner di RSUD
dr. Moewardi mendapatkan hasil nilai p=0.001.
Nilai p (<0.05) maka Ho ditolak dan dapat
disimpulkan bahwa ada hubungan antara asupan
asam lemak jenuh dengan kadar kolesterol HDL
pasien PJK. Kekuatan hubungan ditunjukkan
dengan nilai r (correlation coefficient) sebesar
0.466. Hal ini membuktikan bahwa hubungan
antar variabel sangat kuat (mendekati nilai 1) dan
hubungan bersifat positif.
Hasil penelitian asupan asam lemak jenuh
dengan kadar kolesterol HDL terdapat hubungan
dengan mekanisme asupan asam lemak jenuh
mempengaruhi penurunan kadar kolesterol HDL
dengan cara mengambat kerja enzim LCAT dari
jaringa ndan menurunkan faktor pembentukan
kolesterol HDL yaitu Apoliprotein A-1.
Apoliprotein A-1 yang menurun akan
mengakibatkan pembentukan kolesterol HDL
menjadi terhambat.
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan
Sulastri dkk (2005), menyebutkan bahwa terdapat
163
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
hubungan yang signifikan dan konsisten antara
asupan asam lemak jenuh dengan kadar kolesterol
plasma. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan
penelitian Dwiani (2004), menyatakan bahwa
tidak ada pengaruh antara tingkat konsumsi asam
lemak jenuh terhadap kadar lipid darah pasien
PJK. Menurut Prasetyawati (2009), menyebutkan
bahwa tidak ada hubungan antara asupan asam
lemak jenuh dengan kejadian dislipidemia.
Hubungan
Konsumsi
Serat
dengan
Hiperkolesterolemia
Dari hasil penelitian didapatkan responden
dengan konsumsi serat kurang lebih tinggi pada
kelompok kasus yaitu 32 (86.5%) dibandingkan
dengan responden yang mengkonsumsi serat
dengan baik yaitu 13 (24.5%) pada kelompok
kasus. Dari hasil analisis uji statistik didapatkan
nilai p 0.000 < 0.05 artinya konsumsi serat
merupakan
faktor
risiko
kejadian
hiperkolesterolemia. Nilai OR = 2.1maka dapat
disimpulkan responden dengan konsumsi serat
kurang memiliki peluang 2.1 kali mengalami
Hiperkolesterolemia dibandingkan responden
yang mengkonsumsi serat denan baik.
Hasil penelitian ini sama dengan penelitian
yang dilakukan Krisnawaty (2013) tentang Risiko
Hiperkolesterolemia pada Pekerja di Kawasan
Industri yang mendapatkan hasil terdapat
hubungan yang bermakna antara konsumsi serat
dengan kejadian hiperkolesterolemia.
Serat dalam makanan (dietary fiber)
merupakan bahan tanaman yang tidak dapat
dicerna oleh enzim dalam saluran pencernaan
manusia. Serat dengan berbagai tipe yang berbedabeda dan jumlah yang berlainan terdapat dalam
segala struktur tanaman. Serat tersebut berada di
dalam dinding sel dan di dalam sel-sel akar, daun,
batang, biji serta buah (Beck, 2011).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Leveille tahun , bahwa serat makanan yang
diberikan pada laki-laki perempuan dewasa
berusia 70-79 tahun dapat mencegah terjadinya
risiko stroke. Selain itu, Leveille juga menyatakan
bahwa serat makanan mampu mengikat asam
empedu. Dengan demikian dapat mencegah
penyerapannya kembali dari usus, di samping itu
juga meningkatkan konversi kolesterol dari darah
menjadi asam empedu. Produk akhir pencernaan
lemak dalam usus adalah monogliserida, asam
lemak, kolesterol, fosfolipid, trigliserida berantai
pendek dan medium. Lignin dan pektin sebagai
penyusun serat makanan mempunyai gugus
penukar kation yang mampu mengikat asam
empedu dan berfungsi sebagai emulsifier. Dengan
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
demikian, kolesterol yang berikatan dengan asam
empedu dan lignin atau pektin tidak dapat diserap
usus, tetapi akan keluar bersama feses (Sutanto,
2010).
Menurut analisis peneliti, banyaknya
responden yang mengalami hiperkolesterolemia
juga tidak lepas dari kebiasaan responden yang
kurang
mengkonsumsi
makanan
yang
mengandung serat. Hal ini tergambar dari hasil
wawancara peneliti dengan responden yang
menyatakan bahwasanya responden dalam
kesehariannya jarang mengkonsumsi buah –
buahan serta sayur – sayuran yang banyak
mengandung serat.
Hubungan
Pengetahuan
Gizi
dengan
Hiperkolesterolemia
Dari hasil penelitian didapatkan responden
dengan pengetahauan gizi kurang, lebih tinggi
pada kelompok kasus yaitu
31 (58.5%)
dibandingkan
dengan
responden
dengan
pengetahauan gizi baik yaitu 14 (37.8%) pada
kelompok kasus. Dari hasil analisis uji statistic
didapatkan nilai p 0.044 < 0.05 artinya
pengetahauan gizi merupakan faktor risiko
kejadian hiperkolesterolemia. Nilai OR = 2.4
maka dapat disimpulkan responden dengan
pengetahauan gizi kurang memiliki peluang 2.4
kali mengalami hiperkolesterolemia dibandingkan
responden dengan pengetahauan gizi baik.
Penelitian ini sama dengan penelitian yang
dilakukan oleh Whardany (2016) tentang Hubungan
Pengetahuan Diet Dan Perilaku Membaca Informasi
Nilai Gizi Produk Makanan Kemasan Terhadap
Kepatuhan Diet Pasien Penyakit Jantung Koroner
(PJK) Dengan Hipertensi Rawat Jalan di RSUD dr.
Moewardi yang mendapatkan hasil terdapat
hubungan yang bermakna antara pengetahuan gizi
dengan hipertensi dengan nilai p=0.02
Rendahnya pengetahuan gizi responden
tentang makanan yang baik untuk penderita
hiperkolesterolemia menjadi salah satu penyebab
tingginya kejadian hiperkolesterolemia. Pasien
tidak menerapkan pola makan yang baik dengan
menghindari sumber makanan penyebab tingginya
kolesterol darah.
4. KESIMPULAN
Lebih dari separuh responden pada kelompok
kasus (60%) aktifitas fisiknya ringan. Pada
kelompok kontrol lebih dari separuh (80%)
responden aktifitas fisiknya sedang. Lebih dari
separuh responden pada kelompok kasus
konsumsi lemak tidak jenuh 29 (64.4%) tidak
164
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
baik. Pada kelompok kontrol lebih dari separuh
25(55.5%) responden baik.
Sebagian besar responden pada kelompok
kasus konsumsi lemak jenuh 24 (53.3%) baik.
Pada kelompok kontrol lebih dari separuh 32
(71.1%) responden tidak baik.
Lebih dari separuh responden pada kelompok
kasus konsumsi seratnya 32 (71.1%) kurang. Pada
kelompok kontrol lebih dari separuh 40 (88.9%)
responden baik.
Lebih dari separuh responden pada kelompok
kasus 31 (68.9%) pengetahuan gizinya kurang.
Pada kelompok kontrol lebih dari separuh 23
(51.1%) responden pengetahuan gizinya baik.
Faktor risiko aktivitas fisik terhadap kejadian
hiperkolesterolemia pada penderita Penyakit
Jantung Koroner di Poli Klinik Jantung RSUP
Dr.M.Djamil Padang Tahun 2016.
Responden dengan aktifitas fisik ringan
memiliki
risiko
6.
kali
mengalami
hiperkolesterolemia dibandingkan responden
yang aktifitas fisiknya sedang atau berat.
Responden yang mengkonsumsi lemak tidak
jenuh dengan baik dapat menekan atau mencegah
risiko terjadinya hiperkoles-terolemia 1.44 kali
jika dibandingkan responden yang mengkonsumsi
lemak tidak jenuh secara tidak baik.
Responden yang mengkonsumsi lemak jenuh
secara tidak baik berisiko 2.35 kali mengalami
hiperkolesterolemia
dibandingkan
dengan
responden yang mengkonsumsi lemak jenuh
secara baik.
Responden dengan konsumsi serat kurang
memiliki peluang 2.05 kali mengalami
Hiperkolesterolemia dibandingkan responden
yang mengkonsumsi serat baik.
Faktor risiko pengetahuan gizi terhadap
kejadian hiperkolesterolemia
pada penderita
Penyakit Jantung Koroner di Poli Klinik Jantung
RSUP Dr.M.Djamil Padang Tahun 2016.
Responden dengan pengetahauan gizi kurang
memiliki peluang 2.43 kali mengalami
Hiperkolesterolemia dibandingkan responden
dengan pengetahauan gizi baik.
ISSN: 2548-3153
Inap Penyakit Dalam RSUP Dr. Mohammad
Hoesin Palembang Tahun 2008. Tersedia
pada,
http://balitbangnovdasumsel.com/
data/download/20140124150739.pdf
Diakses Pada Tanggal 11 Juni 2015.
Hartono, Adry. 2006. Terapi Gizi Dan Diet
Rumah Sakit. Buku Kedokteran : Jakarta
Haritonang, Indah. 2013. Definisi, Jenis,
Struktur,
Dan
Fungsi
Karbohidrat.
Tersedia,padahttp://indaharitonangfakultasp
ertanianunpad.blogspot.com/2013/05/definis
i-jenis- struktur-dan-fungsi.html. Diakses
Pada 7 Juli 2015.
Hidayatullah, Syarif. 2013. Faktor Yang
Berhubungan Dengan Kadar Kolesterol
Total Pada Anggota Klub Senam Jantung
Sehat Uin Jakarta Tahun 2013. Tersedia
Pada. Diakses Pada Tanggal 12 Juli 2015.
Michael dkk. 2013. Public Health Nutrition. Buku
Kedokteran : Jakarta
Mumpuni, Yekti. 2013. Cara Jitu Mengatasi
Kolesterol. ANDI: Yogyakarta
Nita. 2008. Kaitan Penyakit Kardiovaskular,
Hiperkolesterolemia, dan Pola Hidup Sehat.
Tersedia
Pada
www.medicastore.com.
Diakses Pada Tanggal 20 Juni 2015.
Prilia,
Soraya.
2011.
Prevalensi
Hiperkolesterolemia Pada Pasien Dengan
Penyakit Jantung Koroner Di RSUP H.
Adam
Malik.
Tersedia
Pada
http://repository.usu.ac.id/bitstream/1234567
89/31091/7/Cover.pdf. Diakses Pada Tanggal
5 Juni 2015.
Soeharto, Imam.2006. Kolesterol dan Lemak
Jahat, kolesterol dan LemakBaik. Gramedia :
Jakarta
Saputra, Roni. 2013. Satatistik Terapan dalam
Ilmu Kesehatan Masyarakat. Stikes Perintis
Sumbar.
Supriyono, Mamat. 2008. Faktor Risiko Yang
berpengaruh Terhadap kejadian Penyakit
Jantung Koroner Pada Kelompok Usia < 45
tahun.
Tersedia
Pada,http://core.ac.uk/download/pdf/117177
72.pdf . Diakses Pada tanggal 15 Juli 2015
5. REFERENSI
Bull, Eleanor. 2007. Kolesterol. Erlangga : Jakarta
Ekawati
dkk.
2011.
Optimasi
Kadar
Maltodekstrin Pada pembuatan Minuman
Instan Serbuk Kayu Manis.. Diakses 11 Juli
2015
Effendi dkk. 2009. Pemberian Diet Serat Tinggi
Dan Pengaruhnya Terhadap Penurunan
Kadar Kolesterol Darah Pada Pasien
Penyakit Jantung Koroner Di Ruang Rawat
LPPM STIKes Perintis Padang
165
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
UJI DAYA HAMBAT AIR REBUSAN DAUN GAMBIR (Uncaria gambir Roxb)
TERHADAP BAKTERI Methicillin Resistent Staphylococcus aureus
Putra Rahmadea Utami [email protected]
Prodi DIII TLM Stikes Perintis Sumbar
Abstract
The main content of Gambier are catechin compounds and other compounds such as katekutannat,
quercetin, gallic acid, elagat acid, catechol, pigments and others. Gambir contain high antioxidants.
The antioxidant properties of Gambir for their polyphenol compounds such as tannins, catechins and
gambiriin. Catechin polyphenols (catechins) are useful as natural antioxidants can counteract free
radicals, so it can serve capture free radicals that can protect against cardiovascular disease,
Methicillin resistant Staphylococcus aureus is a gram-positive which is a type of bacteria present in the
skin. This study aims to demonstrate the inhibition of water decoction of the leaves of gambier against
Methicillin resistant Staphylococcus aureus, this study is an experimental research laboratory using a
method Difusicakram Kirby-Bauer method to determine the diameter of the inhibition of germs, the
concentration of water decoction of the leaves of gambier used was 0.05 g / ml, 0.04 g / ml, 0.06 g / ml,
and 0.08 g / ml, Ciproloxasin as a positive control and sterile distilled water as a negative control. From
the results, the average diameter of the inhibition of the water decoction of the leaves of gambier against
bacteria Methicillin resistant Staphylococcus aureus at concentrations of 0.02 g / ml is obtained 5.6
mm, a concentration of 0.04 g / ml didapatka 7 mm, the concentration of 0.06 gr / ml obtained 8 mm, a
concentration of 0.08 g / ml is obtained 9.3 mm. From the relationship between the concentration of
water decoction of the leaves of gambier with a diameter of inhibitory bacteria, obtained the higher the
concentration of the cooking water, the greater the diameter of inhibition is formed.
Keywords : Methicillin Resistant Staphylococcus aureus, gambier leaves boiled water, power resistor.
1.
PENDAHULUAN
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari
badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap
orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis,
dimana saat ini tingkat kesehatan menghadapi
tantangan yang sangat berat. Hal ini disebabkan
oleh tingkat biaya kesehatan yang cenderung
meningkat, seperti harga obat-obatan dan biaya
layanan dokter atau rumah sakit (Nurwidodo,
2006).
Penyakit kulit adalah infeksi yang paling
umum terjadi pada orang-orang dengan segala
usia. Sebagian besar pengobatan infeksi kulit
membutuhkan
waktu
yang
lama.Untuk
pengobatan biasanya diberikan salep oles pada
daerah yang terkena (Hariana, 2008). Penyakit
infeksi masih merupakan jenis penyakit yang
paling banyak diderita oleh penduduk di negara
berkembang, termasuk Indonesia. Salah satu
penyebab penyakit infeksi adalah bakteri
Staphylococcus aureus (Radji, 2011).
Pada negara-negara berkembang, penyakit
infeksi masih menjadi penyebab utama tingginya
angka kesakitan (morbidity) dan angka kematian
(mortality) di rumah sakit, dimana penyakit
infeksi yang didapat di rumah sakit ini disebut
dengan infeksi Nosokomial. Infeksi nosokomial
pertama kali dikenal oleh Semmelweis pada tahun
LPPM STIKes Perintis Padang
1847 dan hingga sekarang tetap menjadi masalah
yang cukup menyita perhatian (Darmadi, 2008).
Perawatan pada pasien rawat inap. Infeksi
nosokomial menjadi ancaman besar terhadap
kesehatan sejak di temukannya bakteri yang
resisten terhadap berbagai jenis antibiotik.
Diantaranya bakteri yang sering menyebabkan
infeksi nosokomial yaitu Staphylococus aureus
sebesar 21,7% Sekitar 40% bakteri Staphylococus
aureus yang diisolasi di rumah sakit resisten
terhadap beberapa jenis antibiotik turunan βlaktam dan sefalosporin, tetapi masih sensitif
terhadap antibiotik vankomisin dan klindamisin
(Aguilar, et al., 2003).
Insiden infeksi MRSA terus meningkat di
berbagai belahan dunia. Di Asia, prevalensi
infeksi MRSA mencapai 70%, sedangkan di
indonesia prevalensinya sekitar 23,5% pada tahun
2006 (Wahid, 2007). Penularan MRSA dapat
terjadi melalui alat-alat kesehatan, petugas
kesehatan, maupun melalui kontak dengan udara
(Brien, et al 2004).
Tanaman gambir (Uncaria gambir Roxb)
merupakan tanaman yang memiliki nilai ekonomi
yang sangat tinggi. Kegunaan gambir secara
tradisional adalah sebagai pelengkap makan sirih
dan sebagai obat-obatan. Penggunaan gambir
166
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
dalam makan sirih dapat menyehatkan gigi, gusi
dan tenggorokan (Heyne, 1987). Di Malaysia
gambir digunakan untuk luka bakar, rebusan daun
muda dan tunasnya digunakan sebagai obat diare
dan disentri serta obat kumur-kumur pada sakit
kerongkongan. Secara moderen gambir banyak
digunakan sebagai bahan baku industri farmasi
dan makanan, diantaranya bahan baku obat
penyakit hati dengan paten “catergen”, bahan
baku permen yang melegakan kerongkongan bagi
perokok di Jepang karena gambir mampu
menetralisir nikotin. Sedangkan di Singapura
gambir digunakan sebagai bahan baku obat sakit
perut dan sakit gigi (Dhalimi, 2006).
Kandungan utama dari gambir adalah senyawa
katekin dan senyawa lainnya seperti katekutannat,
kuersetin, asam gallat, asam elagat, katekol,
pigmen dan lain-lain. Gambir mengandung zat
antioksidan yang tinggi. Sifat antioksidan dari
gambir karena adanya senyawa polifenol seperti
tanin, katekin dan gambiriin (Kaylaku, 2012).
Kandungan polifenol katekin (catechin) yang
bermanfaat sebagai antioksidan alami dapat
menangkal radikal bebas (Gani et all, 2013),
sehingga dapat berfungsi menangkap radikal
bebas yang dapat melindungi dari penyakit
kardiovaskuler, oksidasi lipoprotein densitas
rendah (LDL), dan penyakit kanker lainnya.
Gambir juga memiliki peran dalam mekanisme
pertahanan terhadap mikroorganisme, serangga
dan herbivora (Agawa, 2001 cit Kresnawati,
2009).
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis
melakukan penelitian untuk melihat apakah ada
pengaruh air rebusan daun gambir terhadap
bakteri Metisilin Resisten Staphylococus aureus
(MRSA).
Apakah air rebusan daun gambir dapat
menghambat pertumbuhan bakteri
MRSA
(Merthicilin resistantStaphylococus aureus).
ISSN: 2548-3153
Adapun tujuan penelitian untuk mengetahui
kemampuan daya hambat air rebusan daun gambir
terhadap bakteri MRSA (Merthicilin resisten
staphylococus aureus. Hasil penelitian ini di
harapkan dapat menambah informasi ilmiah
mengenai potensi, antimikroba air rebusan daun
gambir terutama terhadap bakteri MRSA
(Merticilin resistent stapylococcus aureus).
2. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian
Penelitian ini bersifat eksperimental
untuk mengetahui kemampuan daya hambat air
rebusan daun gambir terhadap pertumbuhan
bakteri
MRSA
(Methicillin
resistant
staphylococcus aureus).
Tempat dan waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di
laboratorium STIKes Perintis Sumbar
kampus 1 Padang.
Rancangan Penelitian
Sampel penelitian ini adalahAir
Rebusan Daun Gambir dengan rancangan
penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap
(RAL). Bakteri MRSA (Methicillin resistant
staphylococcus aureus).diberi perlakuan dengan
Air rebusan daun gambir dengan konsentrasi
0,02gr/mL,
0,04gr/mL,
0,06gr/mL,
dan
0,08gr/mL, dan sebagai control negative yaitu
aquades steril. Media yang digunakan adalah agar
Muller Hinton dengan waktu inkubasi selama 24
jam pada suhu 370C. Masing- masing konsentrasi
dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan. Variabel
yang diukur adalah diameter zona bening yang
merupakan indikator daya hambat pertumbuhan
bakteri
MRSA
(Methicillin
resistant
staphylococcus aureus) terhadap air rebusan daun
gambir yang berasal dari berbagai macam infeksi
pada pasien infeksi nosokomial di RSUP DR. M.
Djamil Padang.
Tabel 2.1 Rancangan Penelitian Dengan 3 Kali Pengulangan pada masing-masing
konsentrasi.
Pengula
Daya Hambat Konsentrasi
ngan
Control
0,02gr/
0,04gr/ 0,06gr/
0,08gr/ Control
Positif
Negatif
mL
mL
mL
mL
1
Aquades
2
Aquades
3
Aquades
Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang digunakan:Lampu spiritus, Tabung
reaksi, Autoclave, Inkubator, Cawan Petri, Pipet
Automatic, Jarum ose, Batang Pengaduk, Oven,
LPPM STIKes Perintis Padang
Lidi kapas steril, Pingset,Alat Penghitung Koloni
(Colony Counter).
Bahan yang digunakan:Biakan murni
MetisilinResisten
Staphylococcus
aureus
167
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
(MRSA), Medium agar Muller-Hinton (MH), Air
Rebusan Daun GambirLarutan NaCl 0,9% steril,
Aquades (H2O).
Prosedur Penelitian
Cara Kerja Penentuan Daya Hambat Bakteri
MRSA (Methicillin resistant staphylococcus
aureus).
a.Metode
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode Difusi Kirby-Bauer.
b.Cara kerja
Pembuatan Air Rebusan Daun Gambir
Dipilih daun gambir muda, kemudian
ditimbang sebanyak 100gr. Setelah itu dicuci dan
dipotong kecil-kecil kemudian di masukan
kedalam erlenmeyer, lalu direbus dengan
ISSN: 2548-3153
penambahan aquades sebanyak 1000mL sampai
tersisa kurang lebih setengahnya. Diamkan
sebentar sampai dingin lalu disaring dan diambil
sarinya.
Pipet air rebusan daun gambir 2mL dan
diencerkan dengan
penambahan
aquades
8mL didapatkan konsentrasi 0,02gr/mL.
1. Pipet air rebusan daun gambir 4mL dan
diencerkan dengan penambahan aquades 6mL
didapatkan konsentrasi 0,04gr/mL.
2. Pipet air rebusan daun gambir 6mL dan
diencerkan dengan penambahan aquades 4mL
didapatkan konsentrasi 0,06gr/mL.
3. Pipet air rebusan daun gambir 8mL dan
diencerkan dengan penambahan aquades 2mL
didapatkan konsentrasi 0,08gr/mL.
Dan dapat dilihat pada gambar 4.2.
Gambar. Air rebusan daun gambir dengan konsentrasi
0,02gr/mL, 0,04gr/mL 0,06gr/mL dan 0,08gr/mL.
Air rebusan daun gambir yang sudah diencerkan dengan konsentrasi masing-masing, setelah itu kertas
cakram direndam selama 5 menit
Uji Aktivitas Antibakteri Menggunakan
Metode Difusi Kirby Bauer
Disiapkan media agar Muller Hinton dengan
ketebalan media 4-6 mm dan diberi tanda dengan
dibagi menjadi 4 daerah uji. Persiapkan suspensi
bakteri
MRSA
(Methicillin
resistant
staphylococcus aureus) Kemudian kertas cakram
steril dengan diameter tertentu dicelupkan atau
ditetesi dengan 15 µL larutan air rebusan daun
gambir setelah dibuat dengan setiap konsentrasi.
Masing- masing konsentrasi mempunyai 3 kali
ulangan.
Penanaman bakteri pada Muller Hinton agar
dengan cara : celupkan swab steril ke dalam
suspensi bakteri, angkat swab kemudian di atas
permukaan suspensi inokulum pada sisi tabung
putar swab dengan sedikit ditekan agar tidak
berlebih, kemudian diusapkan pada seluruh
permukaan medium Muller Hinton agar,
kemudian plate dibiarkan selama 3-5 menit pada
LPPM STIKes Perintis Padang
suhu ruang, tetapi tidak lebih dari 15 menit,
supaya medium benar-benar kering sebelum
dilakukan uji kepekaan dengan air rebusan daun
gambir.
Tempatkan cakram yang telah direndam
dengan larutan air rebusan daun gambir dengan
berbagai konsentrasi pada permukaan agar yang
telah ditanami bakteri dengan memperhatikan
jarak penyimpanan cakram. Dapat dilakukan
menggunakan pinset steril.
Diinkubasikan pada suhu 370 C selama 24
jam didalam inkubator. Interpretasi hasil
pengujian dilakukan setelah inkubasi selama 24
jam. Diameter zona bening yang terdapat disekitar
kertas cakram diukur menggunakan mistar. Zona
bening ini menandakan ada daya hambat air
rebusan daun gamir terhadap pertumbuhan bakteri
MRSA (Methicillin resistant staphylococcus
aureus).
168
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
3.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari penelitian yang sudah dilakukan
didapatkan bahwa air rebusan daun gambir
(Uncaria gambier Roxb) dalam berbagai
konsentrasi dapat menghasilkan daerah bebas
kuman pada pertumbuhan Methicillin resistent
Staphylococcus aureus, dan daya hambat yang
dimiliki berbagai konsentrasi rebusan daun
gambir (Uncaria gambier Roxb) berpengaruh
terhadap daerah bebas kuman yang timbul.
ISSN: 2548-3153
Uji antibakteri ini dilakukan menggunakan
metode difusi agar Kirby-bauer yang memiliki
prinsip berdasarkan pengamatan luas daerah
hambatan pertumbuhan bakteri. Penelitian ini
menggunakan beberapa konsentrasi Air rebusan
daun gambir yaitu, 0,02gr/ml, 0,04gr/ml,
0,06gr/ml dan 0,08gr/ml, kemudian control Positif
yaitu Ciproloxasin. Masing-masing konsentrasi
dilakukan 3kali pengulangan.
Gambar 4.3.1 Daya hambat Air Rebusan Daun Gambir (Uncaria gambier Roxb) terhadap
MRSA dengan konsentrasi 0,02gr/mL 0,04gr/mL 0,06gr/mL dan 0,08gr/mL
Dari gambar diatas didapatkan bahwa air rebusan daun gambir (Uncaria gambier Roxb) dalam
berbagai konsentrasi dapat menghasilkan daerah bebas kuman pada pertumbuhan Methicillin resistent
Staphylococcus aureus, dan daya hambat yang dimiliki berbagai konsentrasi rebusan daun gambir
(Uncaria gambier Roxb) berpengaruh terhadap daerah bebas kuman yang timbul.
Tabel 3.1 Hasil masing-masing konsentrasi.
Pengulangan
Daya Hambat Konsentrasi
0,02gr/mL 0,04gr/mL
0,06gr/mL
kontrol
0,08gr/mL
Negatif
1
0
6
7
8
10
2
0
6
7
8
9
3
0
5
7
8
9
Rata-rata
0
5,6
7
8
9,3
SD
0
0,58
0
0
0,58
Dari tabel diatas dapat dilihat perbedaan zona hambat pertumbuhan Methicillin resistant
Staphylococcus aureus terhadap konsentrasi air rebusan daun gambir adalah mulai dari konsentrasi
0,02gr/ml sampai dengan 0,08gr/ml. Daya hambat minimal air rebusan daun gambir mulai tampak pada
konsentrasi 0,02gr/ml dengan rata-rata 4,6mm dan daya hambat maksimal ekstrak kulit manggis mulai
nampak pada konsentrasi 0,08gr/ml dengan rata-rata 8,3mm. Maka dapat disimpulkan bahwa semakin
besar konsentrasi air rebusan daun gambir maka semakin besar daya hambat yang diperoleh.
Pembahasan
Kegunaan gambir secara tradisional adalah
sebagai pelengkap makan sirih dan sebagai obatobatan. Penggunaan gambir dalam makan sirih
dapat menyehatkan gigi, gusi dan tenggorokan
(Heyne, 1987).
LPPM STIKes Perintis Padang
Di Malaysia gambir digunakan untuk luka
bakar, rebusan daun muda dan tunasnya
digunakan sebagai obat diare dan disentri serta
obat kumur-kumur pada sakit kerongkongan.
Secara moderen gambir banyak digunakan
169
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
sebagai bahan baku industri farmasi dan makanan,
diantaranya bahan baku obat penyakit hati dengan
paten “catergen”, bahan baku permen yang
melegakan kerongkongan bagi perokok di Jepang
karena gambir mampu menetralisir nikotin.
Sedangkan di Singapura gambir digunakan
sebagai bahan baku obat sakit perut dan sakit gigi
(Dhalimi, 2006).
Kandungan polifenol katekin (catechin) yang
bermanfaat sebagai antioksidan alami dapat
menangkal radikal bebas (Gani dkk, 2013),
sehingga dapat berfungsi menangkap radikal
bebas yang dapat melindungi dari penyakit
kardiovaskuler, oksidasi lipoprotein densitas
rendah (LDL), dan penyakit kanker lainnya.
Gambir juga memiliki peran dalam mekanisme
pertahanan terhadap mikroorganisme, serangga
dan herbivora (Agawa, 2001 cit Kresnawati,
2009).
Bachtiar (1991) mengatakan kandungan
kimia gambir yang banyak dimanfaatkan adalah
katekin dan tannin. Secara tradisional daun gambir
sering juga digunakan sebagai obat untuk luka,
demam, sakit kepala, sakit perut dan infeksi
karena bakteri dan jamur (Kaylaku, 2012). Hasil
uji bakteri didapatkan bahwa ekstrak gambir
memiliki aktifitas anti bakteri dalam berbagai
konsentrasi terhadap bakteri Escherichia coli dan
Staphylococcus aureus, dibuktikan dengan
terbentuknya daerah zona bening yang tidak
ditumbuhi oleh bakteri (Kresnawaty, 2009).
Dilaporkan juga bahwa disamping mengandung
bahan aktif anti mikroba gambir juga bersifat anti
jamur dan serangga (Adria, 1998).
Air rebusan daun gambir ( Uncaria gambier
Roxb) digunakan untuk mengobati penyakit
infeksi kulit seperti luka yang disebabkan oleh
bakteri. Hasil penelitian yang telah dilakukan
menunjukkan bahwa air rebusan daun gambir (
Uncaria gambier Roxb) memiliki daya hambat
terhadap pertumbuan kuman MRSA. Hal ini dapat
dilihat dari terbentuknya daerah bening bebas
pertumbuhan kuman disekitar cakram.
Uji daya hambat air rebusan daun gambir (
Uncaria gambier Roxb) terhadap bakteri MRSA
dibuat dalam konsentrasi 0,02gr/ml, 0,04gr/ml,
0,06gr/ml, 0,08gr/ml dan kontrol positif
(Ciproloxasin). Pertumbuhan kuman dapat
dihambat pada konsentrasi 0,08gr/ml didapatkan
pada daerah bebas kuman yang lebih besar
dibandingkan dengan konsentrasi yang lebih
rendah. Konsentrasi 0,02gr/ml merupakan
konsentrasi yang memiliki nilai daya hambat yang
paling kecil diantara konsentrasi yang lain, dilihat
dari hasil pengamatan yang telah dilakukan.
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan
terhadap pengukuran diameter daerah bening pada
masing-masing konsentrasi yang dilakukan
selama empat hari dan tiga kali pengulangan,
memperlihatkan hasil yang berbeda.pengulangan I
didapatkan hasil tertinggi 9mm pada konsentrasi
8gr/ml, pengulangan II didapatkan hasil tertinggi
8mm pada konsentras 8gr/ml, pengulangan III
didapatkan hasil tertinggi 8mm pada konsentrasi
8gr/ml.
Adanya daya hambat terhadap pertumbuhan
kuman menunjukkan bahwa adanya senyawa aktif
antibakteri dalam air rebusan daun gambir (
Uncaria gambier Roxb) dapat menghambat
pertumbuhan bakteri MRSA, makin besar
konsentrasi yang diberikan makin besar pula
daerah bebas kuman yang diperoleh. Besarnya
daya hambat terhadap pertumbuhan kuman
tergantung pada jumlah senyawa yang terkandung
paa tiap-tiap konsentrasi yang berbeda. Semakin
tinggi konsentrasi maka besar pula senyawa aktif
yang terkandung didalamnya sehingga daya
hambat terhadap pertumbuhan kuman semakin
besar. Sebaliknya dengan penuruan konsentrasi
maka semakin sedikit pula senyawa aktif yang
terkandung didalamnya sehingga daya hambatnya
terhadap pertumbuhan kuman semakin kecil.
Terhambatnya pertumbuhan kuman terlihat
jelas dengan semakin besarnya daerah bebas
kuman pada medium, disebabkan oleh kandungan
yang dimiliki daun gambir yaitu senyawa katekin,
katekutannat, kuersetin, asam gallat,asam elegat,
katekol. Gambir mengandung zat antioksidan
yang tinggi. Sifat antioksidan dari gambir karena
adanya senyawa polifenol seperti tanin, katekin
dan gambirin (Kaylaku, 2012).
4. KESIMPULAN
Setelah dilakukan penelitian uji daya hambat
air rebusan daun gambir (Uncaria gambier Roxb)
terhadap pertumbuhan bakteri MRSA maka dapat
disimpulkan:
1. Daya hambat air rebusan daun gambir
terjadi pada konsentrasi 0,02gr/ml dengan ratarata diameter zona bening 4,6mm, konsentrasi
0,04gr/ml dengan rata-rata diameter zona bening
6mm, konsentrasi 0,06gr/ml dengan rata-rata
diameter zona bening 7mm, konsentrasi 0,08gr/ml
dengan rata-rata diameter zona bening 8,3mm.
2. Semakin tinggi konsentrasi yang
digunakan, maka semakin besar pula diameter
daya hambat yang di dapatkan sehingga pada
dasarnya daun gambir bisa digunakan untuk
menghambat
bakteri
Metisilin
resisten
Stapylococus aureus dikarnakan kandungan sifat
170
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
antioksidan yang tinggi pada daun gambir
(Uncaria gambier Roxb)
5. DAFTAR PUSTAKA
Adria, 1998. Pengaruh Ekstrak Gambir Terhadap
Hama Terong KB Epilachma varivestis
Mulsant. Jurnal Penelitian Tanaman
Industri. Vol. IV . 4 Bogor
Aguilar, G., W. A Hammerman, R. Edwart and
S.L.
Kapan
2003.
Clindamycintreatment of invasive
infections
caused
by
communityacquired,
methicilinresistant
and
methicilinsusceptibleStaphylococus
aureus
children. Pediatr infect Dis J. 22:593-8.
Agawa 2001, Mand Suyama, 2001. Amine
Oksidase Lie aktivity of fpavonoid.
Europa Jurnal Biochem ryist, 2 68,
1953-1963.
Amos, 2010. Kandungan Katekin Gambir Sentia
Produksi Di Indonesia . Jurnal
Standarisasi.
Pusat
Pengkajian
Teknologi
Agrondustri
Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
Brien, F. G., T. T. Lim, F. N. Chong, G. W.
Coombs, M. C. Enright, D. A.Robinson
and A Monk. 2004. Diversity among
community
isolates
ofmethicilinresistsnt Staphylococus aureus in
Australia. JclinMicrobiol. P. 31853190.
Bronto Adi A. H., 2011. Pengaruh Agroindostri
Gambir Di kaupaten limah puluh koto,
Sumatera Barat. Sekolah Pasca Sarjana
Institut Pertanian Bogor.
Darmadi. 2008. Infeksi Nosokomial : Prolematika
Dan Pengendalian Jakarta : Penerbit
Salemba Medika, Jakarta.
Dhalimi, A. 2006. Permasalahan Gambir (Uncaria
Gambir L.) di Sumatera Barat dan
Alternatif pemecahannya, Balai besar
pengajian dan pengemangan teknologi
pertanian, jurnal perpektif. Volume V
Nomor 1 hal 46-59.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia 1989.
Materia Medika Indonesia Jilid V.
Departemen
Kesehatan
Republik
Indonesia.
Hariana, Arief 2007. Tumuhan oat dan khasiatnya
seri 3. Depok: Penebar Swadaya :114
Jawezt, E., J. L. Melnick, E. A. Adelberg, G. F.
Brooks, J. S. Butel and L.
N.Orston.1996.
Mikrobiologi
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
kedokteran.Edisi 20. Diterjemahkan
oleh E. Nugroho & R.f. Mulany. Jakarta:
buku kedokteran EGC. Hal. 211-215.
Juuti, K. 2004. Sufase protein Pls of merthicilinresistent Staphylococus aureus in
adhesion, invasion and pathogenesis,
and evolutionary aspects.(Disetation)
Helinski: Departemen of Biological and
Environmental Sciences Faculty of
Biosciences. P, 61-63.
171
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
ANALISA KHASIAT SARI KURMA TERHADAP JUMLAH TROMBOSIT PADA
PENDERITA DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)
Miftahul Mushlih*, Suci Fitrawati , Lillah*
*Program Studi D IV Analis Kesehatan/ Tek. Lab. Medik STIKes Perintis Padang
Alumni Program Studi D IV Analis Kesehatan/ Tek. Lab. Medik STIKes Perintis Padang
Correspondent Author: [email protected]
Abstract
The treatment of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) / Dengue shock syndrome (DSS) is mainly
supportive or symptomatic because there is no specific therapy to increase the platelet count. Palm juice
contains protein, fiber, glucose, vitamins and minerals that are important to metabolism. This study
aimed to determine the effect of palm juice to increase the number of platelets in DHF patients. Samples
are obtained by purposive sampling. Giving doses palm juice 3 times a day. Analysis using one-way
ANOVA test and T-test. The results show Palm juice have significantly influenced the increase of the
platelets number in patients with DHF in which the p-value <0.05.
Key Words: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF), Platelet count , Palm juice
1. PENDAHULUAN
Di Indonesia kasus demamberdarah
dengue pertama kali terjadi di Surabaya pada
tahun1968. Penyakit demam berdarah dengue
pertama kali ditemukan di 200 kota di 27
provinsi dan telah terjadi kejadian luar biasa
(KLB) akibat demam berdarah dengue. Profil
kesehatan provinsi Jawa Tengah tahun 1999
melaporkan bahwa kelompok tertinggi adalah
usia 5-14 tahun yang terserang sebanyak 37%.
Data tersebut didapat dari data rawat inap
rumah sakit. Rata-rata insidensi penyakit DBD
sebesar 6-27 /100.000 penduduk (Widoyono,
2011).
DBD merupakan suatu infeksi akut
yang disebabkan
Arbovirus (arthropodbor
virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk
Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Tanda dan
gejala Penyakit DBD, demam mendadak 2 sampai
7 hari tanpa penyebab yang jelas, lemah/lesu,
gelisah, nyeri ulu hati disertai tanda perdarahan
dikulit berupa bintik perdarahan, lebam/ruam
(Hadinegoro, 2001). Keadaan kritis terjadi
mimisan, berak darah, muntah darah, kesadaran
menurun atau shock. DBD menyebabkan
Trombositopeni pada hari ke-3 sampai ke-7 dan
ditemukan penurunan
trombosit hingga
100.000/mm3
dan
hemokonsentrasi
meningkatnya hematrokit sebanyak 20% atau
lebih (Widoyono, 2011).
Pada pasien trombositopenia terdapat
perdarahan baik kulit seperti patekia atau
perdarahan mukosa mulut. Hal ini disebabkan
karena trombosit tidak ataukurang diproduksi
di sumsum tulang atau karena kerusakan
LPPM STIKes Perintis Padang
trimbosit pada sirkulasi darah (Tarwoto dkk.,
2008). Banyak penelitian telah dilakukandengan
memanfaatkan bahan-bahan yang ada di alam
untuk mengatasi penyakit dengan defisiensi
trombosit. Buah jambu biji merah, buah
angkak, daun ubi jalar, air kelapa muda dan
kurma secara empirik dapat digunakan pada
kasus defisiensi trombosit (Bermawie, 2006;
Sahutu, 2010).
Buah kurma (Phoenix dactylifera) kaya
dengan protein, serat, glukosa dan vitamin
seperti vitamin A (β-karoten), B1 (tiamin), B2
(riboflavin), C (asam askorbat), Biotin, Niasin,
asam folat dan terdapat zat mineral seperti Besi,
Kalsium, Sodium dan potassium (Habib &
Ibrahim, 2011). Kadar protein pada buah kurma
sekitar 1,8-2%, kadar glukosa sekitar 72-88%, dan
kadar serat 2-4% (Chao & Krueger, 2007).
Menurut Linder (2006)
terdapat
hubungan yang jelas antara kebutuhan askorbat
dan perbaikan pembuluh darah seperti pada gejala
sariawan, perdarahan gusi dan penyembuhan luka.
Penelitian yang dilakukan oleh Kusuma (2009)
mengenai metabolism sari kurma pada pasien
dewasa dengan demam berdarah dengue
membuktikan bahwa persentase peningkatan
jumlah trombosit per hari pada pasien DBD
dengan pemberian kurma lebih tinggi bila
dibandingkan
dengan
kontrol. Rata-rata
persentase peningkatan trombosit per hari dengan
pemberian kurma yaitu sebesar 23,90%. Rata-rata
persentase peningkatan trombosit per hari kontrol
yaitu sebesar 8,09%.
172
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
2. METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan pada bulan April Mei 2016 di Laboratorium RSUD Petala Bumi
Pekanbaru. Penelitian ini merupakan penelitian
eksperimental invitro dengan rancangan pre-test
and post-test with control group design melalui
pemeriksaan kadar trombosit darah Pre dan Post
hari ke-3 pada kelompok perlakuan dan
kelompok control setelah pemberian sari kurma.
Menilai seberapa besar kenaikan angka trombosit
setelah pemberian sari kurma pada hari ke-3
pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol
(yang tidak diberikan sari kurma) pada pasien
DBD di RSUD Petala Bumi Pekanbaru
(Notoatmodjo,
20012), respondent masih
mendapatkan pengobatan yang dianjurkan oleh
rumah sakit, konfirmasi konsumsi makanan selain
sari kurma dilakukan untuk meminimalisir eror
hasil penelitian.
Pengambilan sampel dengan cara
Purposivesamplingyang berjumlah 40 orang yang
terdiri dari 20 orang kelompok perlakuan dan 20
orang kelompok kontrol. Analisis dilakukan
menggunakan uji T-test
dan uji one way
Anovawindows dengan SPSS versi 16.0 dengan
Significant level 95%
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan pada beberada
responden rentang umur 7-27 tahun sebanyak 37
orang (92,5%) dan umur 51-57 tahun sebanyak
3orang (7,5%). Padapenelitian ditemukan
responden terbanyak adalah responden dengan
jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 62,5%.
Jenis kelamin laki-laki merupakan responden
dengan jumlah terbanyak (62,5%) sedangkan
jenis kelamin perempuan (37,5%).Responden
terbanyak dari segi umur yaitu responden yang
berumur 7 –27 tahun (92,5%).Responden yang
masuk dengan hari demam ke 4 merupakan
responden dengan jumlah terbanyak 47,5%
(Tabel 1).
Tabel 1. Karakteristik Responden
ISSN: 2548-3153
Hasil penelitian menunjukkan rata-rata
trombosit sebelum yang diberikan sari kurma
jumlah trombosit 36500±10490 dan hasil
trombosit responden sebelum yang tidak diberikan
sari kurma jumlah trombositnya adalah
41500±13124, yang mana hasil uji T-test pvalue 0.191 menunjukkan tidak terdapat
hubungan yang signifikan antara responden
yang diberikan sari kurma dengan yang tidak
diberikan sari kurma (p-value> 0,05).
Hari pertama responden yang diberikan
sari kurma trombositnya meningkat menjadi
61000±19550 dan responden yang tidak
diberikan sari kurma jumlah trombositnya ratarata 52800±15171, yang mana hasil uji T-test pvalue 0,147 menunjukkan tidak terdapat hubungan
yang signifikan antara responden yang diberikan
sari kurma dengan yang tidak diberikan sari kurma
(p-value> 0,05), dan hari kedua responden yang
diberikan sari kurma rata-rata jumlah trombosit
97200±24386 dan responden yang tidak diberikan
sari kurma jumlah trombositnya rata-rata
66450±12504 (p-value=0,000) menunjukkan
adanya hubungan yang signifikan antara
responden yang diberikan sari kurma dengan yang
tidak diberikan sari kurma (p-value<0,05), dan
hari ketiga responden yang diberikan sari kurma
rata-rata jumlah trombosit 174150±32593 dan
responden yang tidak diberikan sari kurma
jumlah trombositnya rata-rata 80200±12344, (pvalue 0,000) menunjukkan adanya hubungan yang
signifikan antara responden yang diberikan sari
kurma dengan yang tidak diberikan sari kurma,
dengan nilai p-value < 0,05, (Gambar 1). Hal ini
diduga karena sari kurma mengandung asam
askorbat yang fungsi dala/m membantu
perbaikan pembuluh darah (Chao & Krueger,
2007).
Gambar 1 Perbandingan Kenaikan Jumlah
Trombosit Antara Perlakuan Diberikan Sari
Kurma Dan Tidak Diberi Sari Kurma.
Ket. Huruf (ab) Yang Berbeda Menunjukkan
Perbedaan Nyata Pada Responden Yang Diberikan
Sari Kurma Dengan Yang Tidak Diberikan Sari
Kurma. Huruf (AB) Yang Berbeda Menunjukkan
Perbedaan Jumlah Trombosit Berdasarkan Waktu
LPPM STIKes Perintis Padang
173
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Pemberian sari kurma memberikan pengaruh
yang signifikan terhadap perubahan jumlah
trombosit pada hari kedua dan ketiga dimana
jumlah trombosit mengalami peningkatan yang
cepat dibandingkan dengan yang tidak diberikan
sari kurma (Gambar 2). Hal ini sejalan dengan
hasil penelitian oleh Hartoyo (2008) dan
Ahmed dkk. (2008) yang menjelaskan bahwa
hal ini berkaitan dengan kebiasaan nyamuk
Aedes aegepty yang aktif menggigit pada siang
hari dengan dua puncak aktivitas yaitu pada
pukul 08.00-12.00 dan 15.00-17.00, pada jam
tersebut anak kebanyakan bermain diluar rumah
terutama laki-laki.
Gambar 2. Perbandingan Kenaikan Trombosit
Antara Perlakuan Diberikan Sari Kurma Dan
Tidak Diberi Sari Kurma Sebelum Dan
Sesudah Hari Ketiga
Responden terbanyak yang masuk rumah
sakit padapenelitian ini berdasarkan hari
demamnya yaitu responden yang masuk pada hari
demam ke 4 sebanyak 19 responden (47,5%), hal
ini disebabkan karena pada infeksi denguejumlah
trombosit terus menurun hingga mengalami
trombositopenia mulai hari ke 4 demam dan
mencapai titik terendah pada hari ke 6 demam
(Sutirta-yasa, 2012), tetapi penurunan trombosit
secara
drastis
dapat
dicegah
dengan
penatalaksanaan
pemberian
cairan
serta
pemberian sari kurma secara teratur sesuai
instruksi dan mengobservasi dengan ketat
keadaan umum pasien serta tanda-tanda vital.
Kandungan sari kurma yang dapat
secara langsung meningkatkan jumlah trombosit
yaitu sejumlah polisakarida penting seperti
rhamnosa, arabinosa, xilosa, manosa, galaktosa
dan
glukosa karena merupakan
bahan
pembentukan
granula
trombosit
pada
megakariosit di sumsum tulang (Onuh,
2012).Kandungan sarikurma yang secara tidak
langsung juga dapat meningkatkan jumlah
trombosit yaitu zat mineral seperti zat besi yang
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
essensial bagi pembentukan hemoglobin. Besi
yang segera dibutuhkan untuk produksi sel darah
merah diserap ke dalam darah untuk disalurkan ke
sumsum tulang dan akan digunakan untuk
membentuk hemoglobin bagi sel darah merah
baru yang akan mengikat oksigen untuk
kebutuhan metabolisme sel terutama ke hati
sehingga hati dapat melaksanakan fungsinya
dengan baik termasuk menghasilkan hormon
Trombopoietin(hormon glikoprotein yang
dihasilkan oleh hepatosit). Fungsi hormon ini
untuk meningkatkan jumlah megakariosit di
sumsum tulang dan merangsang masing-masing
megakariosit untuk menghasilkan lebih banyak
trombosit (Linder, 2006).
Vitamin C yang terkandung dalam sari
kurma juga dapat meningkatkan penyerapan besi
terutama dengan mereduksi besi feri menjadi
fero (besi fero lebih mudah diserap usus
daripada besi feri sehingga dapat digunakan
secara langsung untuk membentuk hemoglobin
dalam proses pembentukan sel darah merah).
Selain itu, vitamin B12 dan asam folat yang
terkandung dalam sari kurma juga berfungsi
dalam perbaikan fungsi sumsum tulang yang akan
mempengaruhi proses megakariopoiesis dimana
bila terjadi defisiensi kedua vitamin ini maka
sumsum tulang akan membentuk megakariosit
yang besar dan hiperlobulus.
Vitamin B12diperlukan untuk mengubah
folat menjadi bentuk aktif dan dalam fungsi
normal semua fungsi sel seperti sumsum tulang.
Vitamin ini merupakan kofaktor dua jenis enzim
pada manusia yaitu metionin sintetase dan
metimalonil-KoA mutase. Reaksi metionin
sintetase melibatkan asam folat. Gugus metil 5metiltetrahidrofolat dipindahkan ke kobalamin
untuk
membentuk
metilkobalamin
yang
kemudian memberikan gugus metil ke
homosistein. Produk akhir adalah metionin,
kobalamin, H4 folat yang dibutuhkan dalam
pembentukan poliglutamil folat 5, 10-metil-H4
folat yang merupakan kofaktor timidilat sintase
dan akhirnya untuk sintesis DNA (Onuh, 2012).
Menurut Marzuki dkk (2012) yang
menggunakan
hewan
coba
mengalami
peningkatkan jumlah trombosit pada tikus.
Penelitian yang dilakukan oleh Kusuma (2009)
mengenai metabolism sari kurma pada pasien
dewasa dengan demam berdarah dengue
membuktikan bahwa persentasepeningkatan
jumlah trombosit perhari pada pasien DBD
dengan pemberian kurma lebih tinggi bila
dibandingkan dengan
kontrol. Sari kurma
diberikan kepada 14 pasien berjenis kelamin pria
174
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
dengan umur 15-35 tahun dengan dosis 30 mL
perhari dengan kontrol pembanding digunakan
data rekam medis sebanyak 9 orang. Rata-rata
persentase peningkatantrombosit perhari dengan
pemberian kurma yaitu sebesar 23,90%. Rata-rata
persentase peningkatan trombosit per harikontrol
yaitu sebesar 8,09%.
Persamaan antara penelitian yang
dilakukan oleh Kusuma (2009) dengan penelitian
ini adalah tetap dilakukannya intervensi
pemberian cairan infus dan obat-obatan terhadap
responden sehingga responden pada kedua
penelitian ini bersifat homogen dan hasil
penelitian keduanya tetap menunjukkan hasil
yang sama yaitu terjadi peningkatan jumlah
trombosit setelah intervensi pemberian sari kurma.
ISSN: 2548-3153
Pengetahuan Alam Institut Pertanian
Bogor.
Linder M. 2006. Biokimia nutrisi dan
metabolisme. Terjemahan oleh Aminuddin
Parakkasi. UI: Jakarta.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, dapat
disimpulkan bahwa sari kurma mempunyai
pengaruh signifikan terhadap peningkatan
jumlah trombosit pada penderita DBD.
5. REFERENSI
Ahmed, Rizal, Muntaz, Khan & Tariq M. 2008.
Dengue fever outbreak in karachi 2006-a
study of profile and outcome of children
under 15 years of age, J Pak Med Assoc.
Vol.58, No.1
Bermawie N. 2006. Mengatasidemam
berdarah dengan tanaman obat. Warta
Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Vol.28. No. 6, p. 6-8.
Chao CT & Krueger RR. 2007. The
datepalm
(Phoenix
dactylifera
L.):overview of biology, uses and
cultivation, Hortscience, vol 42 (5)
Habib HM & Ibrahim WH. 2011. Nutritional
quality
of
18
date
fruitvarieties,International Journal of
Food Sciences and Nutrition, 62 (5):
544-551
Hadinegoro S, Soegijanto S, Wuryadi S &
Seroso T. 2001. Tatalaksana Demam
Berdarah Dengue di Indonesia. Dep.Kes
RI. Jakarta.
Hartoyo E. 2008. Spektrum klinis demam
berdarah
dengue
pada
anak,
SariPediatri. Vol. 10, No. 3.
Kusuma MAN. 2009. Metabolisme sari
kurma pada pasien demam berdarah
dengue: studi hematologis. Disertasi
diterbitkan. Bogor: Program Studi
Biokimia Fakultas Matematika dan Ilmu
LPPM STIKes Perintis Padang
175
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
HUBUNGAN OBESITAS DENGAN HARGA DIRI RENDAH PADA SISWA/I SMA N
5 BUKITTINGGI TAHUN 2016
Lisa Fradisa1 , Hermawan 2 , Yendrizal Jafri 3
Program Studi Diploma III Keperawatan STIKes Perintis Padang
Email : [email protected]
2
Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Perintis Padang
Email : [email protected]
3
Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Perintis Padang
Email : [email protected]
1
Abstract
Self-esteem is closely associated with weight adolescents. Teenagers who have a healthy
weight, easier to accept the environment so that teens are becoming more confident and can improve
self-esteem, and vice versa. Adolescents who are obese have lower self-esteem, especially, low selfperception will physical appearance, athletic competence and declining cognitive abilities as well as
the disruption of the award on the body. An initial survey of the 10 students known that four people
(40%) were obese. Among the four students who are obese are 3 people feel insecure and feel inferior
to her appearance. The aim of research for obesity know relationship with low self esteem. Descriptive
analytic method with cross sectional design. The population is all students / i in Senio High School 5
Bukittinggi, totaling 1,168 people. Samples numbered 92 people, who were taken by systematic.
sampling porposive Processing and analysis of data is computerized. The results of the univariate
analysis are known in 78.3% of respondents were not obese, and 51.1% did not experience low selfesteem. The results of the bivariate analysis there is a relationship of obesity with low self esteem (p =
0.017 and OR 4.200). Expected at the school, especially teachers BK, in order to attention and
counseling to students/i that obesity.
Keywords
: Low Self-Esteem, Obesity
1. PENDAHULUAN
Masa remaja merupakan merupakan masa
perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak
ke masa dewasa yang meliputi perubahan
biologis, perubahan psikologis, dan perubahan
sosial. Menurut World Health Organization
(WHO) remaja merupakan individu yang sedang
mengalami masa peralihan yang secara berangsurangsur mencapai kematangan seksual, mengalami
perubahan jiwa dari jiwa kanak-kanak menjadi
dewasa dan mengalami perubahan keadaan
ekonomi dari ketergantungan menjadi relatif
mandiri (Notaotmodjo, 2011).
Perubahan apapun yang membedakan remaja
dari teman sebayanya dianggap sebagai suatu
tragedi besar. Citra tubuh remaja yang berubah
cepat tersebut sering membuat mereka merasa
tidak nyaman pada tubuh mereka sendiri. Mereka
dapat berespon terhadap kejadian semacam itu
dengan mengajukan peratanyaan, menarik diri,
menolak orang lain (Wong, 2009).
Tindakan remaja yang menarik diri tersebut
merupakan salah satu gejala dan tanda dari harga
LPPM STIKes Perintis Padang
diri rendah. Harga diri rendah adalah perasaan
tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang
berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap
diri sendiri dan kemampuan diri (Keliat dan
Akemat, 2010). Gangguan harga diri rendah di
gambarkan sebagai perasaan yang negatif
terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya
diri dan harga diri, merasa gagal mencapai
keinginan, mengkritik diri sendiri, penurunan
produktivitas, destruktif yang diarahkan pada
orang lain, perasaan tidak mampu, mudah
tersinggung dan menarik diri secara sosial
(Rikayanti, 2014).
Menurut NANDA (2005) tanda dan gejala
yang dimunculkan sebagai perilaku telah
dipertahankan dalam waktu yang lama dan terus
menerus, mengekspresikan sikap malu atau
minder, rasa bersalah, kontak mata kurang atau
tidak ada, selalu mengatakan ketidak mampuan
atau kesulitan untuk mencoba sesuatu, bergantung
pada orang lain, tidak asertif, pasif atau hipoaktif,
bimbang dan ragu-ragu serta menolak umpan
176
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
balik positif dan membesarkan umpan balik
negatif mengenai dirinya.
Pada penelitian yang dilakukan Frost dan Mc.
Kelvie (2004) ditemukan hubungan yang
signifikan antara harga diri dan kepuasan citra
tubuh pada anak-anak, remaja dan orang dewasa
khususnya remaja putri yang tidak puas terhadap
citra tubuhnya mempunyai harga diri yang rendah
dan mengalami eating disorder atau gangguan
makan. Sarafino (2002) remaja dengan berat
badan lebih mempunyai harga diri yang rendah
dibandingkan dengan remaja yang mempunyai
berat badan normal (Kawuwung, 2015).
Remaja yang obesitas memiliki harga diri yang
lebih rendah, terutama rendahnya persepsi diri
akan penampilan fisik, kompetensi atletik dan
menurunnya
kemampuan
kognisi
serta
terganggunya penghargaan pada tubuh (French
dkk, 2000). Menurunnya harga diri pada remaja
yang obesitas terutama bila mereka merasa bahwa
mereka yang bertanggung jawab akan kelebihan
berat badan pada dirinya, sedangkan bagi remaja
yang menyalahkan faktor eksternal yang
menyebabkan mereka kelebihan berat badan
cenderung memiliki harga diri yang lebih positif
(Sutjijoso, 2009).
Untuk mengukur seseorang menderita obesitas
atau tidak, digunakan pedoman Indeks Massa
Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI),
dengan rumus berat badan (kg) dibagi tinggi
badan (m2). Jumlah angka penderita kelebihan
berat badan dan obesitas pada remaja di dunia
terus meningkat. Berdasarkan data Centres for
Disease Control and Prevention (CDC) Amerika,
angka obesitas pada remaja terus meningkat dari
5% di tahun 1980 hingga 21% di tahun 2012
dengan 20,5% remaja perempuan dan laki-laki
mengalami obesitas (www.cdc.gov).
Prevalensi obesitas pada remaja usia 16–18
tahun di Indonesia menurut Riskesdas 2013 adalah
sebanyak 1,6%. Dan prevalensi obesitas pada
remaja usia 16–18 tahun di Provinsi Sumatera
Barat juga sebanyak 1,69% (www.depkes.go.id).
Di kota Bukittinggi, berdasarkan hasil
pemeriksaan
obesitas
pada
pengunjung
Puskesmas se Kota Bukittinggi tahun 2014,
diketahui bahwa terdapat penderita obesitas
sebanyak 83 orang (3,2%) dari 312.675 kunjungan
pada penduduk usia > 15 tahun yang terdiri dari
29 orang laki-laki dan 54 orang perempuan (DKK
Bukittinggi, 2015).
SMA N 5 Bukittinggi berada ± 3 km dari pusat
kota. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala
sekolah dan pembina UKS, diketahui bahwasanya
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
petugas kesehatan dari Puskesmas datang setiap 1
kali dalam 6 bulan. Petugas kesehatan datang
untuk
melakukan
penjaringan
kesehatan
(pengukuran BB dan TB, pemeriksaan kesehatan
mata, pemeriksaan kesehatan gigi) dan pembinaan
UKS. Pemeriksaan ini hanya dilakukan pada
siswa/i kelas X saja. Survei awal yang dilakukan
terhadap 10 orang siswa yang telah diukur berat
badan dan tinggi badannya diketahui bahwa 4
orang (40%) diantaranya mengalami obesitas.
Saat dilakukan wawancara pada 4 orang siswa/i,
diketahui bahwa 3 orang merasa tidak percaya diri
dan merasa minder dengan penampilannya,
sehingga mereka merasa malu tampil di depan
umum. Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk
mengetahui tentang hubungan obesitas dengan
harga diri rendah pada siswa/i SMA N 5
Bukittinggi tahun 2016.
177
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
2. METODE PENELITIAN
 Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif
analitik dengan desain cross sectional yaitu suatu
penelitian yang bertujuan untuk mempelajari
dinamika hubungan antara faktor-faktor risiko
dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi
atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat
(Notoatmodjo, 2010). Penelitian dilakukan
terhadap variabel yang diduga berhubungan, yaitu
obesitas dengan harga diri rendah.
 Pengolahan Data
Setelah data terkumpul diklasifikasikan dalam
beberapa kelompok menurut sub variable yang
ada dalam pertanyaan. Data yang terkumpul
diolah
dengan
langkah-langkah
seperti
pemeriksaan data (editing), pemberian tanda
(coding), pengelompokan (tabulating), entry data,
memproses data (processing), dan pembersihan
data (cleaning).
 Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah siswa SMA
Negeri 5 Bukittinggi yang berjumlah 92 orang.
 Analisa Data
Analisa univariat bertujuan untuk menjelaskan
atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel
penelitian, yang disajikan dalam bentuk tabel
distribusi frekuensi dan persentase.
 Instrument
Instrument untuk pengumpulan data pada
penelitian ini menggunakan kuesioner yang
memuat beberapa pertanyaan yang telah
dikembangkan oleh peneliti sesuai kerangka
konsep.
Analisa bivariat dilakukan terhadap dua variabel
yang diduga berhubungan. Analisis hasil uji
statistik menggunakan Chi-Square test untuk
menyimpulkan adanya hubungan 2 variabel.
 Prosedur Pengumpulan Data
Sampel dalam melakukan penelitian ini berjumlah
92 orang yang diambil dengan teknik non
probability,
porposive
sampling,
yaitu
pengambilan sampel yang didasarkan pada suatu
pertimbangan tertentu yang ditentukan oleh
peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat
populasi yang sudah diketahui.
Pelaksanaan pengambilan sampel secara
porposive ini mula-mula peneliti mengidentifikasi
semua karakteristik populasi dengan melakukan
studi pendahuluan atau dengan mempelajari
berbagai hal yang berhubungan dengan populasi.
Kemudian peneliti menetapkan berdasarkan
pertimbangannya, sebagian dari anggota populasi
menjadi sampel penelitian.
Penelitian ini dilakukan dalam beberapa
tahap. Tahap pertama adalah pengajuan surat
persetujuan menjadi responden kepada seluruh
sampel. Tahap selanjutnya setelah setuju menjadi
responden dan menandatangani surat persetujuan,
kemudian dilakukan penimbangan berat badan
dan pengukuran tinggi badan pada seluruh sampel.
Tahap ketiga adalah pengumpulan data dengan
membagikan
kuesioner
kepada
seluruh
sampel.dan lama pengisian kuesioner kurang lebih
lima belas menit Tahap terakhir adalah
pengumpulan kembali lembaran kuesioner yang
telah diisi oleh seluruh sampel,dimana sampel
diambil secara porposive sampling.
LPPM STIKes Perintis Padang
178
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
3. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
 Hasil Penelitian
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Obesitas pada Siswa/i
SMA N 5 Bukittinggi Tahun 2016
(n = 92)
Obesitas
Obesitas
Tidak obesitas
Jumlah
Frekuensi
20
72
92
%
21,7
78,3
100
Tabel 5.1 menunjukkan bahwa dari 92 responden, sebagian besar (78,3 %) siswa/i
SMA N 5 Bukittinggi tidak mengalami obesitas.
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Harga Diri Rendah pada Siswa/i
SMA N 5 Bukittinggi Tahun 2016
(n = 92)
Harga Diri Rendah
Frekuensi
%
Ya
45
48,9
Tidak
47
51,1
Jumlah
92
100
Tabel 5.2 menunjukkan bahwa dari 92 responden, lebih dari sebagian (51,1 %) siswa/i
SMA N 5 Bukittinggi tidak mengalami harga diri rendah.
Tabel 5.3
Hubungan Obesitas dengan Harga Diri Rendah pada Siswa/i
SMA N 5 Bukittinggi Tahun 2016
(n = 92)
Obesitas
Obesitas
Tidak
Obesitas
Total
Harga Diri Rendah
Ya
Tidak
n
%
n
%
15 75,0
5
25,0
30 41,7
42
58,3
45
48,9
47
51,1
Jumlah
pvalue
N
20
72
%
100
100
92
100
0,017
OR
(CI 95 %)
4,200
(1,37712,812)
Tabel 5.3 menunjukkan bahwa dari 20 responden yang mengalami obesitas, terdapat 15 orang (75,0
%) siswa/i SMA N 5 Bukittinggi memiliki harga diri rendah dan 5 orang (25,0 %) siswa/i SMA N 5
Bukittinggi tidak memiliki harga diri rendah. Dan diantara 72 responden yang tidak mengalami obesitas,
terdapat 30 orang (41,7 %) siswa/i SMA N 5 Bukittinggi memiliki harga diri rendah dan 42 orang (58,3
%) siswa/i SMA N 5 Bukittinggi tidak memiliki harga diri rendah.
Hasil uji statistik chi-square didapatkan nilai p = 0,017 (p < 0,05) artinya terdapat hubungan yang
bermakna antara obesitas dengan harga diri rendah pada siswa/i SMA N 5 Bukittinggi tahun 2016,
dengan Odds Ratio 4,200, artinya bahwa responden yang mengalami obesitas mempunyai peluang 4,2
kali untuk memiliki harga diri rendah, dibandingkan dengan responden yang tidak mengalami obesitas.
LPPM STIKes Perintis Padang
179
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
 Pembahasan
Obesitas
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari
92 responden, sebagian besar tidak mengalami
obesitas, yaitu sebanyak 72 orang (78,3 %).
Obesitas adalah keadaan yang menunjukkan
adanya kelebihan lemak tubuh. Obesitas
disebabkan oleh banyak faktor seperti faktor
genetik, gangguan metabolik, konsumsi makanan
yang berlebihan yang tidak diimbangi dengan
olahraga
yang
teratur.
Obesitas
dapat
meningkatkan risiko timbulnya
berbagai
gangguan
kesehatan
seperti
hipertensi,
hiperlipidemia, DM, dan lain sebagainya
(Waspadji dan Sukardji, 2003).
Menurut asumsi peneliti, remaja yang
mengalami obesitas disebabkan berat badan
mereka melebihi berat ideal untuk tinggi
badannya, dimana hasil penilain IMT (indeks
massa tubuh) mereka > 30. Hal ini juga terlihat
dari pemantauan pada saat penelitian bahwa
remaja tersebut memiliki timbunan lemak di
beberapa bagian tubuhnya, seperti pinggang,
perut, panggul dan paha. Terjadinya obesitas
tersebut dapat dipengaruhi oleh pola makan
remaja yang berlebihan dan tidak mengkonsumsi
gizi seimbang, serta malas melakukan aktifitas
untuk membakar energi/lemak yang ada pada
tubuh.
Bagi responden yang tidak obesitas
disebabkan IMT mereka kurang dari 30, dimana
mereka tidak memiliki kelebihan timbunan lemak
di tubuhnya. Remaja yang tidak obesitas tersebut
dapat disebabkan adanya aktifitas fisik yang dapat
membakar energi dan timbunan lemak yang ada
pada tubuh. Disamping itu, kemungkinan remaja
ini juga tidak menyukai makanan yang dapat
menyebabkan timbulnya obesitas, seperti
makanan yang banyak mengandung lemak.
Adanya program diet yang dijalankan remaja juga
menjadi penyebab tidak terjadinya obesitas pada
dirinya, karena mereka berusaha untuk
mengkonsumsi gizi seimbang dan membatasi
konsumsi makanan yang dapat menyebabkan
kegemukan.
Harga Diri Rendah
Berdasarkan tabel 5.2 dapat diketahui
bahwa dari 92 responden, lebih dari sebagian tidak
mengalami harga diri rendah, yaitu sebanyak 47
orang (51,1 %).
Harga diri rendah adalah perasaan tidak
berharga, tidak berarti dan rendah diri yang
berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap
diri sendiri dan kemampuan diri (Keliat dan
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Akemat, 2010). Gangguan harga diri rendah di
gambarkan sebagai perasaan yang negatif
terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya
diri dan harga diri, merasa gagal mencapai
keinginan, mengkritik diri sendiri, penurunan
produktivitas, destruktif yang diarahkan pada
orang lain, perasaan tidak mampu, mudah
tersinggung dan menarik diri secara sosial
(Rikayanti 2014).
Menurut asumsi peneliti, responden yang
memiliki harga diri rendah disebabkan adanya
perasaan negatif terhadap diri dan kemampuan
dirinya, serta merasa tidak berharga dibandingkan
teman-temannya yang lain. Hal ini terlihat dari
hasil pengumpulan data bahwa banyak responden
yang merasa penampilannya tidak trendy, adanya
keinginan untuk merubah bentuk tubuh saat ini,
dan selalu membandingkan diri dengan
penampilan orang lain. Timbulnya harga diri
rendah tersebut dapat disebabkan karena postur
tubuh mereka bukan merupakan postur tubuh ideal
bagi seorang remaja, karena adanya tekanan dari
teman-teman sepergaulannya yang memiliki
penampilan lebih menarik dan trendy.
Bagi responden yang tidak memiliki
harga diri rendah disebabkan mereka yakin dan
percaya diri dengan penampilannya. Hal ini
terlihat dari hasil pengumpulan data bahwa
banyak responden yang merasa penampilannya
menarik, tidak merasa kecewa dengan
penampilannya dan tidak merasa malu dengan
keadaan tubuhnya saat ini. Tidak adanya harga
diri rendah tersebut dapat disebabkan karena
remaja yang bersangkutan tidak mengalami
obesitas, sehingga mereka bisa merasa yakin dan
percaya diri dengan penampilannya, dimana
apapun yang meraka gunakan terasa membuat
dirinya lebih menarik dan penampilannya tidak
jauh
berbeda
dengan
teman-teman
sepergaulannya.
Hubungan Obesitas dengan Harga Diri
Rendah
Berdasarkan tabel 5.3 di atas dapat
diketahui bahwa dari 20 responden yang
mengalami obesitas, terdapat 15 orang (75,0 %)
memiliki harga diri rendah dan 5 orang (25,0 %)
tidak memiliki harga diri rendah. Dan diantara 72
responden yang tidak mengalami obesitas,
terdapat 30 orang (41,7 %) memiliki harga diri
rendah dan 42 orang (58,3 %) tidak memiliki
harga diri rendah. Hasil uji statistik chi-square
didapatkan nilai p = 0,017 (p < 0,05) artinya
terdapat hubungan obesitas dengan harga diri
180
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
rendah pada siswa/i SMA N 5 Bukittinggi tahun
2016, responden yang mengalami obesitas
berpeluang 4,2 kali untuk memiliki harga diri
rendah, dibandingkan dengan responden yang
tidak mengalami obesitas.
Harga diri erat kaitannya dengan berat
badan remaja. Remaja yang memiliki berat badan
ideal, lebih mudah diterima lingkungannya
sehingga remaja tersebut menjadi lebih percaya
diri dan dapat meningkatkan harga dirinya, begitu
pula sebaliknya. Sedangkan remaja yang
mengalami obesitas atau kegemukan seringkali
merasa tidak menarik dan berbeda dari remaja
lainnya. Penelitian yang dilakukan untuk melihat
hubungan antara harga diri dan obesitas pada
remaja pertama kali dilakukan oleh French dan
kawan-kawan pada tahun 1995. Penelitian ini
menemukan adanya hubungan antara obesitas
dengan harga diri yang rendah pada anak dan
remaja (French dkk,1995 dalam Sutjijoso, 2009).
Remaja yang obesitas memiliki harga diri
yang lebih rendah terutama, rendahnya persepsi
diri akan penampilan fisik, kompetensi atletik dan
menurunnya
kemampuan
kognisi
serta
terganggunya penghargaan pada tubuh (French
dkk,1995). Menurunnya harga diri pada remaja
yang obesitas terutama bila mereka merasa bahwa
mereka yang bertanggung jawab akan kelebihan
berat badan pada dirinya, sedangkan bagi remaja
yang menyalahkan faktor eksternal yang
menyebabkan mereka kelebihan berat badan
cenderung memiliki harga diri yang lebih positif
(Sutjijoso, 2009).
Menurut asumsi peneliti, adanya
hubungan obesitas dengan harga diri rendah
disebabkan remaja yang mengalami obesitas
cendrung untuk memiliki harga diri rendah, dan
sebaliknya remaja yang tidak mengalami obesitas
cendrung untuk tidak memiliki harga diri rendah.
Hal ini dapat terjadi karena kondisi tubuh yang
obesitas menyebabkan remaja tersebut tidak dapat
memiliki penampilan seperti teman-temannya
yang lain, dimana mereka kesulitan mencari baju
yang ideal bagi badannya. Disamping itu, kondisi
tubuh yang obesitas menyebabkan remaja sering
disindir oleh teman sepergaulan, sehingga
membuat mereka tidak percaya diri dan
melahirkan harga diri yang rendah.
4. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan tentang
hubungan obesitas dengan harga diri rendah pada
siswa/i SMA N 5 Bukittinggi, dapat diambil
kesimpulan bahwa:
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
1. Sebagian besar responden yaitu 78,3 %
tidak mengalami obesitas.
2. Lebih dari sebagian responden yaitu 51,1 %
tidak mengalami harga diri rendah.
3. Terdapat hubungan antara obesitas dengan
harga diri rendah pada siswa/i SMA N 5
Bukittinggi tahun 2016 dengan p value
0,017 ( α ≤ 0,05 )
5. REFERENSI
Al-Mighwar, M. (2011). Psikologi remaja.
Pustaka Setia: Bandung.
Arikunto, S. (2006). Prosedur penelitian suatu
pendekatan praktik. Rineka Cipta:
Jakarta.
Atwater, E dan Duffy. K. G. (1999). Psychology
for
living;
adjustment,
growth,
andbehavior today (6th ed). PrieticeHall. Ince: New Jersey.
Baron, R. A. dan Byrne, D. (2004). Psikologi
sosial (Ed. 10). Penerbit Erlangga:
Jakarta.
Burn,
R. B. (1998). Konsep diri: Teori
pengukuran,
perkembangan
dan
perilaku. Ahli bahasa oleh Eddy. Arcan:
Jakarta.
Centres for Disease Control and Prevention.
(2015). Childood obesityfacts, diakses
tanggal
27
Agustus
2015,
<www.cdc.gov>.
Copernito. (2000). Buku diagnosa keperawatan.
Editor Monica Ester. EGC: Jakarta.
Dacey,
J dan Kenny. (2001). Adolescent
development (2nd ed). Browndan
Benchmark Publisher: USA.
Guyton dan Hall. (2008). Buku ajar fisiologi
kedokteran. EGC: Jakarta.
Hawari, Dadang. (2001). Manajemen stres, cemas,
dan depresi. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia: Jakarta.
Hidayat, AA. (2007). Riset keperawatan dan
teknik penulisan. Salemba Medika:
Jakarta.
181
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Kawuwung. (2015). Hubungan obesitas dengan
citra tubuh dan harga diri pada remaja
putri program studi ilmu keperawatan
fakultas kedokteran universitas sam
ratulangi
Manado.
e-Journal
Keperawatan (e-Kp) Volume 3 Nomor 2
Mei 2015.
Keliat,
Budi Anna, dkk. (2005). Proses
keperawatan kesehatan jiwa edisi 2.
EGC: Jakarta.
Keliat dan Akemat. (2010). Model praktik
keperawatan profesional jiwa. EGC:
Jakarta.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
(2013). Pusat data dan informasi
kementrian kesehatan, diakses tanggal
19 Agustus 2015, <www.depkes.go.id>.
(2011). Tinjauan pustaka, diakses tanggal 27
Agustus 2015, <www.unila.ac.id>.
(2011). Tinjauan pustaka, diakses tanggal 27
agustus 2015, <www.usu.ac.id>.
Kusumawati, Frida dan Yudi Hartono. (2010).
Buku ajar keperawatan jiwa. Salemba
Medika: Jakarta.
Nanda. (2005). Panduan diagnosa keperawatan
Nanda definisi dan klasifikasi 20052006. Editor: Budi Sentosa. Prima
Medika: Jakarta.
Notoatmodjo. (2005). Metodologi penelitian
kesehatan. Rineka Cipta: Jakarta.
--------. (2010). Metodologi penelitian kesehatan.
Rineka Cipta: Jakarta.
--------. (2011). Kesehatan masyarakat ilmu dan
seni. Rineka Cipta: Jakarta.
Potter, P. A dan Perry, A. G. (2005). Buku ajar
fundamental
keperawatan.
EGC:
Jakarta.
Rikayanti. (2014). Hubungan harga diri dengan
aktualisasi diri pada remaja putri
dengan obesitas di SMA Negeri 4
Makassar Volume 2 Nomor 4 Tahun
2013 ● ISSN : 2302-1721
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Rimbawan dan Albainer Siagian. (2004). Indeks
glikemik pangan. Penebar Swadaya:
Jakarta.
Sarwono, SW.
(2012). Psikologi remaja.
Rajawali Press: Jakarta.
Sarwono, Sarlito Wirawan. (2002). Psikologi
sosial individu dan teori-teori psikologi
sosial. Balai Pustaka: Jakarta.
Sherwood NE, Jeffery RW, French SA, Hannan
PJ, Murray DM. (2000). Predictors of
weight gain in the pound of prevention
study.
Soegih, R. R dan Wiramihardja. (2009). Obesitas
permasalahan dan terapi praktis.
Sagungseto: Jakarta.
Stuart dan Laria. (2005). Principles and practice
of
psychiatric
nursing.
Mosby
Company: USA.
Stuart, Gait dan Sundeen, Sandra. (2005). Buku
ajar keperawatan jiwa. EGC: Jakarta.
Stuart, G. W dan Sundeen. (2006). Buku saku
keperawatan jiwa. EGC: Jakarata.
Sutjijoso, AR. (2009). Harga diri dan prestasi
belajar pada remaja yang obesitas.
Jurnal Psikologi Volume 3, No.1,
Desember 2009
Tim Penulis Poltekes Depkes Jakarta. 2010.
Kesehatan remaja; problem dan
solusinya. Salemba Medika: Jakarta
Townsend. (2003). Diagnosa keperawatan pada
keperawatn psikiatri, pedoman untuk
pembuatan rencana perawatan Edisi 3.
EGC: Jakarta.
----------. (2005). Essensials of psychiatric mental
health nursing. Davis Company:
Philadelphia.
Trihendradi. C. (2009). 7 langkah mudah
melakukan
analisa
statistik
menggunakan SPSS. Andi Offset:
Yogyakarta.
Videbeck, Sheila L. (2008). Buku ajar
keperawatan jiwa. Alih bahasa, Renata
Komalasari Alfrina Hany, Editor edisi
182
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
bahasa Indonesia, Pamilih Eko Karyuni.
EGC: Jakarta.
Waspadji, S. (2002). Kegemukan: Pendekatan
klinis dan pemilihan obatnya, dalam
prosiding temu ilmiah akbar. Pusat
informasi dan penerbit bagian ilmu
penyakit dalam FKUI: Jakarta.
Wong, Dl. (2009). Buku ajar keperawatan
pediatrik. EGC: Jakarta.
Yoseph, Iyus. (2009). Keperawatan jiwa. Cetakan
kedua (edisi revisi). PT Refrika
Aditama: Bandung.
LPPM STIKes Perintis Padang
183
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
ANALISIS NILAI GIZI IKAN PANTAU (Rasbora argirotaenia) DAN DAYA
TERIMA TERHADAP PROSES PENGOLAHAN
Nurhamidah1), Widiadara2)
Program studi S1 gizi, STIKesPerintis Padang
email : [email protected]
2)
Program studi D-III gizi, STIKes Perintis Padang
1)
Abstract
Pantau fish is have silvery bright basic colors. Fins yellowish color coupled with each lobe of
the tail fin has a black ribbon across it. Body shape of this fish body length rounded, her scales large,
and to date no studies done that look at the analysis of the nutritional value of fish this pantau. The
purpose of this study was to determine the nutritional value of fish pantau analysis and to determine the
level of A panelist on the process pengolahan.Metode: pantau fish smoothed by way of raw, steamed,
fried and dried and then analyzed qualitatively, SSA and HPLC to see kharbohidrat nutritional value,
protein , fat, moisture content, ash content, calcium, zinc and vitamin A. Also the organoleptic test
(hedonic) for color, aroma, texture and taste. The survey results revealed that out of 4 treatment,
carbohydrate highest in treatment fried (64 261 g) and the lowest in treatment steamed (0295 grams).
The highest protein treatment of dried (24 548 g) and the lowest steamed treatment (4.203gram). The
highest fat steamed treatment (18 520 g) and the lowest in the untreated (0164 grams). The highest
water levels in the untreated (82.56 grams) and dried treatment room (6:07 grams). Dried ash content
tertertinggi treatment (16 243 g) and the lowest in the untreated (2,882 grams). The highest levels of
calcium treatment dried (329.31 mc / g) and the lowest steamed treatment (160.34 mc / g). The highest
levels of treatment Zink dried (45.61 mg) and the lowest in treatment steamed (21.93 mg). And for the
highest levels of vitamin A in the treatment of dried (457 RE) and the lowest treatment of raw, steamed
and fried (<0.50 RE). From the organoleptic test that dillakukan to special processing (steamed, fried
and dried) are most preferred panelist is by frying, but after statistically tested the value of preference
for color, aroma, taste and texture as a whole did not show significant differences (p <0, 05). Processing
by drying can further improve the nutritional value of fish pantau (Rasbora argirotaenia).
Keywords: Nutritional Value Analysis, fish Pantau (Rasbora argirotaenia), organoleptic processing
1. PENDAHULUAN
Kekurangan gizi pada anak usia dini (0-6
tahun) masih merupakan masalah yang
memerlukan perhatian lebih besar terutama pada
masyarakat golongan sosial ekonomi rendah.
Salah satu pangan lokal yang bisa dimanfaatkan
untuk memenuhi kebutuhan gizi dimasyarakat
adalah ikan pantau (Rasbora argirotaenia). Ikan
pantau (Rasbora argirotaenia) ini memiliki
keunggulan sangat mudah untuk berkembang
biak. Sebelum dikembangkan lebih lanjut untuk
dapat dimanfaatkan dalam bentuk makanan
tambahan dalam program penanggulangan
masalah gizi kurang, maka perlu dilihat
keunggulan dari ikan pantau (Rasbora
argirotaenia). Berdasarkan hal tersebutmaka
perlu dilakukan analisis kandungan nilai gizi ikan
pantau (Rasbora argirotaenia) dan daya terima
terhadap proses pengolahannya. IkanPantau
(Rasbora argirotaenia) ini jenis ordo:
Cypriniformes, famili : Cyprinidae genus :
Rasbora dan spesies : Rasbora aryrotaenia
LPPM STIKes Perintis Padang
(Saanin, 1984). Menurut Djuhanda (1981) ikan
Pantau mempunyai warna dasar keperakan yang
cemerlang.Warna siripnya yang kekuningkuningan ditambah dengan masing-masing cuping
sirip ekornya yang memiliki pita warna hitam
melintang. Bentuk tubuh ikan ini panjang
membulat, sisik sisiknya besar. Warna tubuh
bagian atasnya kecoklatan dan bagian bawahnya
kekuning-kuningan dipisahkan oleh gurat sisi
yang menghitam mulai dari belakang tutup insang
terus kebelakang badan. Lubang mulut kecil,
sekitar mulut tidak ada sungut eraba, sepintas lalu
kelihatan seperti beunteur. Ikan pantau (Rasbora
argirotaenia) termasuk dalam genus Rasbora
mempunyai bentuk tubuh memanjang hampir
persegi dan ditutupi oleh sisik cycloid yang
terdapat mulai dari belakang kepala sampai
kepangkal ekor. Perut membundar, sirip
punggung berukuran pendek tidak memiliki jarijari lemak yang mengeras serta terletak di
belakang sirip perut bercagak (forked), posisi
mulut terminal dan mulut tidak memiliki sungut.
184
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat
keunggulan dari kandungan nilai gizi ikan pantau
dalam proses pengolahan sebelum dijadikan
sebagai makanan tambahan alternatif pada anak
gizi kurang.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian
ini
dilaksanakan
di
laboratorium teknologi hasil pertanian dan
laboratorium air teknik lingkungan Universitas
Andalas Padang. Desain penelitian yang
digunakan adalah Analitik eksperimental, ekstrak
ikan pantau mentah, dikukus, digoreng dan
dikeringkan dianalisa nilai gizinya secara
kualitatif,
Spektrofotometer
Serapan
Atom(SSA)dan High Performance Liquid
Chromatography (HPLC) dan seterusnya ikan
yang diolah dengan cara dikukus, digoreng dan
dikeringkan di uji secara organoleptik (hedonik)
kepada 30 orang panelis yang sudah memahami
tentang uji organoleptik, penilaian berdasarkan
tingkat kesukaan dengan skala pengujian 1 sampai
5 yaitu 5= sangat suka, 4= suka, 3= kurang suka,
2= tidak suka, 1= sangat tidak suka. Data yang
diperoleh diuji secara statistik dengan uji anova.
Alat yang digunakan untuk analisa kandungan
nilai gizi ikan pantau (Rasbora argirotaenia),
blender, oven listrik, timbangankasar, timbangan
analitik, seperangkat alat spektrofotometeruv,
kromatografi, oven, seperangkat alat destruksi,
cawan porselen, desikator, labu ukur aluminium,
erlenmeyer dan kertas saring whatman,
photometer analyzer, dan seperangkat alat High
Performance Liquid Chromatography (HPLC).
Bahan-bahan yang digunakan terdiri dari bahan
dasar dan bahan kimia. Bahan dasar yang
digunakan adalah: ikan-ikan pantau yang
diperoleh dari daerah limau manis Kota Padang,
Bahan kimia yang dipakaiadalah, arsenomolybdat,
glukosa, tetra butilaminhidroksit, H2SO4 pekat,
H3BO3, NaOHdan N-Hexana, aquadest,
asamasetat, kloroform, larutan KI jenh, N2 S2 O3,
larutan pati 1%, propanol, reagen albumin, kit
pemeriksaan vitamin A, enzimamilase, indicator
metel merah, pelarutmetanol, pelarut petroleum
eter 300 ml, HCL dan form ujiorganoleptik.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Analisis Nilai Gizi ikan Pantau (Rasbora
argirotaenia)
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan
terhadap analisis nilai gizi ikan pantau (R asbora
rgirotaenia) diketahui nilai gizinya adalah sebagai
berikut :
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Tabel1.AnalisaNilaiGiziIkanPantau(Rasboraargi
rotaenia) dalam 100 gram bahan
Mentah
No Kandungan nilai gizi
1
Kharbohidrat (gram)
2
Protein (gram)
3
Lemak (gram)
4
Kadar air (gram)
5
Kadar abu (gram)
6
Calsium (mc/gr)
7
Zn (mg)
8
Vitamin A (RE)
Dikukus
No Kandungan nilai gizi
1
Kharbohidrat (gram)
2
Protein (gram)
3
Lemak (gram)
4
Kadar air (gram)
5
Kadar abu (gram)
6
Calsium (mc/gr)
7
Zn (mg)
8
Vitamin A (RE)
Digoreng
No Kandungan nilai gizi
1
Kharbohidrat (gram)
2
Protein (gram)
3
Lemak (gram)
4
Kadar air (gram)
5
Kadar abu (gram)
6
Calsium (mc/gr)
7
Zn (mg)
8
Vitamin A (RE)
Dikeringkan
No Kandungan nilai gizi
1
Kharbohidrat (gram)
2
Protein (gram)
3
Lemak (gram)
4
Kadar air (gram)
5
Kadar abu (gram)
6
Calsium (mc/gr)
7
Zn (mg)
8
Vitamin A (RE)
Jumlah
9.827
4.565
0.164
82.56
2.882
182.76
28.95
<0.50
jumlah
0.295
4.203
18.520
73.50
3.480
160.34
21.93
<0.50
jumlah
64.261
8.743
3.063
17.52
6.410
172.41
35.53
<0.50
jumlah
36.429
24.548
16.709
6.07
16.243
329.31
45.61
457
Dari tabel 1 di atas diketahui bahwa dari 4
perlakuan, karbohidrat yang paling tinggi terdapat
pada perlakuan digoreng (64.261 gram) dan yang
185
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
paling rendah pada perlakuan dikukus (0.295
gram). Protein yang paling tinggi pada perlakuan
dikeringkan (24.548 gram) dan yang paling
rendah dengan perlakuan dikukus (4.203 gram).
Kandungan lemak yang paling tinggi dengan
perlakuan dikukus (18.520 gram) dan yang paling
rendah dengan tanpa perlakuan (0.164 gram).
Kadar air yang paling tinggi dengan tanpa
perlakuan (82.56 gram) dan yang paling rendah
dengan perlakuan dikeringkan (6.07 gram). Kadar
abu yang paling tinggi dengan perlakuan
dikeringkan (16.243 gram) dan yang paling
rendah dengan tanpa perlakuan (2.882 gram).
Kalsium yang paling tinggi terdapat pada
perlakuan yang dikeringkan (329.31 mc/gr) dan
yang paling rendah dengan perlakuan dikukus
(160.34 mc/gr). Kadar Zn yang paling tinggi
terdapat pada perlakuan dikeringkan (45.61 ppm)
dan yang paling rendah dengan perlakuan dikukus
(21.93ppm), dan kadar vitamin A yang paling
tinggi pada perlakuan dikeringkan (457 RE) dan
ketiga perlakuan lainnya rendah yaitu (<0,50 RE).
b. Uji Organoleptik dari perlakukan ikan
Pantau (Rasboraargirotaenia)
Uji organoleptik (ujihedonik) dilakukan
untuk menilai daya terima panelis terhadap
pengolahan yang dilakukan pada ikan pantau
seperti digoreng, dikukus dan dikeringkan yang
meliputi warna, aroma, tekstur dan rasa dengan
menggunakan rentang nilai 1-5 yaitu amat suka
(5), sangat suka (4), suka (3), agak suka (2) dan
tidak suka (1). Jumlah panelis pada uji
organoleptik yang telah dilakukan berjumlah 30
orang yang telah di pahami tentang pelaksanaan
uji organoleptik. Adapun hasil uji organoleptik
sebagai berikut :
a. Ikan Pantau (Rasbora argirotaenia)
Nilai rata-rata kesukaan panelis terhadap
kesukaan uji organoleptik ikan pantau (Rasbora
argirotaenia) dapat dilihat pada table dibawah ini
:
Tabel 2. Nilai rata-rata kesukaan Panelis terhadap
kesukaan uji organoleptik Ikan
Pantau(Rasbora argirotaenia)
Per Warn Aro
Rasa Tekstur Ratalak a
ma
rata
uan
B1 3.03 2.97 2.87 2.77
2.91
B2
2.93
2.9
2.37
2.17
2.59
B3
2.1
2.47
1.77
1.8
2.04
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Keterangan : B1=digoreng, B2=dikukus, dan
B3=dikeringkan
Dari grafik di atas diketahui bahwa rata-rata
nilai hasil uji organoleptik panelis secara
keseluruhan adalah pengolahan dengan cara
digoreng mempunyai nilai kesukaan tertinggi
(2.91), berikutnya pengolahan dengan cara
dikukus (2.59) dan nilai kesukaan yang terendah
dengan pengolahan dikeringkan (2.04). Dan
berdasarkan uji statistic nilai kesukaan terhadap
warna, aroma, rasa dan tekstur secara keseluruhan
tidak menunjukkan perbedaan nyata (p<0,05).
Dibandingkan dengan nilai gizi ikan bilih
(Mystacoleucus-padangensis) kandungan vitamin
A nya 389.9 RE (Yuniritha E. 2015) sedikit lebih
rendah dibandingkan kandungan vitamin A ikan
pantau yaitu 457 RE.
4. KESIMPULAN
Proses pengolahan dengan cara dikukus,
digoreng dan dikeringkan dapat
lebih
meningkatkan kandungan nilai gizi ikan pantau.
Dan dari uji organoleptik yang paling disukai
adalah dengan cara digoreng, tetapi berdasarkan
uji statistic nilai kesukaan terhadap warna, aroma,
rasa dan tekstur secara keseluruhan tidak
menunjukkan perbedaan nyata (p<0,05).
Ikan pantau sangat berpotensi dikembangkan
sebagai bahan pangan lokal makanan tambahan
alternatif pada anak gizi kurang, karena
kandungan vitamin A dan zat gizi lainnya yang
cukup tinggi.
5. REFERENSI
Dinas pertanian, peternakan dan perikanan, “
mengenalnilaigiziikan”, diakses 15april
2015. Sudarmadji, S, Bambang, H dan
Suhardi.
1997.
AnalisaBahanMakanandanPertanian.Yog
yakarta.Liberty bekerjasama dengan Pusat
Antar Universitas Pangan dan Gizi UGM.
Herbert V, Jayatilleke E, Shaw S, Rosman AS,
Giardina P, Grady Rw, dkk. Serum fertin
ion, a new test, measures human body iron
stores un confounded by inflammation.
Stem Cell 1997 ; 15 : 291-6.
Gibson, R.S Principles of Nutritional Assesment,
Second Edition, New York : Oxford
press.2005.
DalamDewiPermaesih.
GiziIndon 2008,31 (2) : 92 -97. Penialian
Status Gizi.
Saskia de Pee and Dary O. Biochemical Indicators
of Vitamin A Deficiency : Serum Retinol
and Serum Retinol Binding Protein.J.
Nutr.2002.132
:
2895S.
186
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
DalamDewiPermaesih. GiziIndon 2008,31
(2) : 92 -97. Penialian Status Gizi.
Yuniritha E. Pengembangan formula sirup zink
dari ekstrak ikan bilih (Mystacoleucuspadangensis)
sebagai
alternatif
suplementasi zink organik pada anak
pendek (stunted) usia 12-36 bulan,2015.
LPPM STIKes Perintis Padang
187
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
PROFIL PELAYANAN KEFARMASIAN PADA APOTEK SWASTA DI
BUKITTINGGI PADA TAHUN 2016
Widyastuti*
*Akademi Farmasi Imam Bonjol
[email protected]
Abstract
The enactment of Regulation of the Minister of Health regarding the standard pharmacy
services at a pharmacy in 2014 encourage research on the profile of pharmacy services at private
pharmacies at Bukittinggi in 2016 to see the picture of the extent to which the regulation has been
implemented as an indicator in the assessment of pharmacy services at a pharmacy. This research is a
descriptive observational research to determine the application of the standard pharmaceutical services
in accordance with the Minister of Health No. 35 of 2014 on private pharmacies in Bukittinggi by way
of filling out the questionnaire on private pharmacies in Bukittinggi. From the questionnaires have been
collected calculated the percentage of achievement that has been implemented in accordance with the
Minister of Health RI No. 35. From this research it can be concluded that the pharmacy services at
private pharmacies in Bukittinggi the average of the managerial aspects of 94.18%, the average of the
aspects of clinical pharmacy services at 49.39 and the overall average of 71.79% has been implemented
in accordance with the Indonesian Minister of Health no. 35 in 2014.
Keywords:Pharmaceutical service, Pharmacist, Descriptive observational
1. PENDAHULUAN
Apotek mempunyai fungsi utama dalam
pelayanan obat berupa resep dan yang
berhubungan dengan itu, serta pelayanan obat
tanpa resep yang biasa di pakai di rumah. Apotek
adalah suatu tempat tertentu tempat dilakukan
pekerjaan kefarmasian dan penyaluran perbekalan
farmasi kepada masyarakat (Anief, 2005).Apotek
wajib melayani resep Dokter, Dokter gigi dan
Dokter hewan (Anief, 2000).
Pelayanan
kefarmasian
merupakan
konsep masa kini dan masa depan pada profesi
farmasi dimulai dari penyediaan obat untuk pasien
secara langsung dan bertanggung jawab terhadap
obat yang diberikan kepada pasien untuk
mencapai kualitas hidup pasien (Surahman &
Husen, 2011). Secara umum apotek mempunyai
dua fungsi yaitu memberikan layanan kesehatan
kepada masyarakat, sekaligus sebagai tempat
usaha yang menerapkan prinsip laba jadi
keduanya bisa dijalankan secara beriringan tanpa
meninggalkan satu sama lain (Bogadenta, 2013).
Handayani, et.al (2009)
melakukan
penelitian mengenai persepsi konsumen apotek
terhadap pelayanan apotek di tiga kota di
Indonesia menunjukkan 74,5% konsumen
memiliki persepsi yang baik terhadap layanan
apotek meskipun pelayanan kefarmasian yang
diperoleh belum memenuhi standar farmasi
komunitas. Ihsan, et.al (2014) melakukan
penelitian tentang evaluasi mutu pelayanan di
apotek komunitas Kota Kendari berdasarkan
LPPM STIKes Perintis Padang
standar pelayanan kefarmasian menunjukkan
mutu pelayanan pada apotek komunitas Kota
Kendari adalah kategori cukup.
Purwanti, et.al (2004) melakukan
penelitian tentang gambaran pelaksanaan standar
pelayanan farmasi di Apotek DKI Jakarta tahun
2003 menunjukkan apotek tidak memenuhi
standar pelayanan obat resep dan non resep,
Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) dan
pengelolaan obat.
Mulyani, et.al (2013) melakukan
penelitian tentang persepsi pasien apotek terhadap
pelayanan Apotek di Kabupaten Wonosobo
menunjukkan sebanyak 50,60% pasien setuju
terhadap pelayanan kefarmasian di apotek sudah
baik. Anisah, et.al (2010) melakukan penelitian
tentang pengaruh pelayanan kefarmasian terhadap
kepuasan konsumen Apotek di Wilayah
Purwokerto menunjukkan sudah berjalan dengan
baik dan sesuai dengan PerMenKes No. 1027
tahun 2004. Baroroh (2014) melakukan penelitian
tentang evaluasi kepuasan konsumen terhadap
pelayanan kefarmasian di Apotek Kota
Yogyakarta menunjukkan bahwa konsumen
apotek di Kota Yogyakarta puas terhadap
pelayanan kefarmasian.
Berdasarkan hal–hal tersebut diatas
penulis tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai profil pelayanan kefarmasian pada
apotek swasta di Kota Bukittinggi.Tujuan
penelitian ini untuk melihat apakah pelayanan
kefarmasian di apotek swasta Bukitinggi pada
188
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
tahun 2016 sesuai dengan Peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 35 tahun 2014.Manfaat
penelitian ini agar dapat memahami dan
menerapkan pelayanan kefarmasian khususnya
apotek-apotek swasta di daerah Bukittinggi dan
penelitian ini juga dapat dijadikan masukan guna
peningkatan mutu pelayanan kepada masyarakat.
2. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian
observasional yang bersifat deskriptif untuk
mengetahui penerapan standar pelayanan
kefarmasian sesuai dengan PerMenKes RI Nomor
35 Tahun 2014 pada apotek–apotek swasta di
Bukittinggi.
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh apotek
yang ada di kota Bukittinggi.
Sampel penelitian diambil menurut rumus
(Sari, 2004):
ISSN: 2548-3153
n = p.q (Z½α / b)²
dimana :
n = jumlah sampel minimum
p = proporsi persentase kelompok populasi
pertama
q = proporsi persentase kelompok
kedua atau proporsi sisa = 1-p
Z½α = derajat koefisien konfidensi pada
taraf kepercayaan tertentu (missal 95 atau 99%)
b = persentase perkiraan kemungkinan membuat
kekeliruan dalam menentukan ukuran sampel
(berkisar 0,1 sampai 0,5)
Lembaran kuesioner yang telah diisi dilakukan
pengolahan data dengan cara menghitung
persentase pencapaian yang sesuai dengan
standar.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Persentase Pencapaian Pelayanan Kefarmasian di Apotek Swasta Bukittinggi
Parameter yang
diamati
Aspek Administrasi
Perencanaan
Pengadaan
A
B
C
D
Apotek
E
F
G
H
I
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
Penerimaan
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
Penyimpanan
100%
66,67
%
100%
100%
33,33
%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
33,33
%
100%
100%
100%
100%
33,33
%
100%
100%
100%
33,33
%
100%
100%
33,33
%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
92,31
%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
100%
92,31
%
100%
100%
PIO
100%
92,31
%
100%
100%
100%
100%
100%
92,31
%
100%
100%
92,31
%
100%
Konseling
50%
50%
50%
50%
50%
50%
50%
50%
50%
Home Care
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Pemantauan Terapi Obat
0
0
0
0
0
0
0
0
0
MESO
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Pemusnahan
Pengendalian
Pencatatan dan
Pelaporan
Aspek Klinis
Pengkajian Resep
Dispensing
LPPM STIKes Perintis Padang
100%
100%
189
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Kegiatan pelayanan kefarmasian yang
semula hanya berfokus pada pengelolaan obat
sebagai komoditi, kini berubah menjadi pelayanan
komprehensif,
yang
bertujuan
untuk
meningkatkan kualitas hidup dari pasien.Sesuai
ketentuan perundang-undang yang berlaku,
sebuah apotek harus dikelola oleh apoteker
profesional (Bogadenta, 2013).
Hasil penelitian didapatkan semua apotek
telah memiliki apoteker yang memiliki SIPA.
Menurut PP RI No. 51 Tahun 2009, Surat Izin
Praktik Apoteker disingkat SIPA adalah surat izin
yang diberikan kepada apoteker untuk dapat
melaksanakan pekerjaan kefarmasian pada apotek
atau instalasi farmasi rumah sakit, yang digunakan
untuk mendirikan sebuah apotek dan pemesanan
obat kepada PBF. Berdasarkan rumus penentuan
sampel, dari 54 Apotek yang ada di Bukittinggi,
maka terpilih 9 Apotek, dimana masing-masing
kecamatan yang berada di kota Bukittinggi
diwakili oleh 3 apotek.
Dalam melakukan tugasnya apoteker
dibantu oleh Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK).
Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang
membantu apoteker dalam menjalani pekerjaan
kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi,
Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi dan Tenaga
Menengah/ Asisten Apoteker. Surat Izin
KerjaTenaga Teknis Kefarmasian (SIKTTK)
adalah surat izin praktik yang diberikan kepada
Tenaga Teknis Kefarmasian untuk dapat
melaksanakan pekerjaan kefarmasian pada
fasilitas kefarmasian. Dari hasil penelitian semua
apotek telah memiliki Tenaga Teknis Kefarmasian
tetapi sebagian dari TTK belum memiliki
SIKTTK karena masih dalam pengurusan.
Fungsi tenaga administrasi ialah membuat
laporan realisasi data dan anggaran setiap bulan,
membuat laporan penutupan buku dan melakukan
rekaptulasi
buku
penjualan
tunai
dihitungberdasarkan jumlah resep dan rekaptulasi
buku pembelian. Dari hasil penelitian 3 apotek
telah memiliki tenaga administrasi yang bekerja
sebagai kasir, menghitung resep dan membuat
laporan akhir bulanan/ tahunan tetapi masih ada 6
apotek belum memiliki tenaga administrasi karena
pekerjaan administrasi masih bisa dilakukan oleh
Apoteker, Tenaga teknis kefarmasian dan Pemilik
sarana apotek.
Ruang konseling sekurang-kurangnya
memiliki satu set meja dan kursi konseling, lemari
buku, buku-buku referensi, leaflet, poster, alat
bantu konseling, buku catatan konseling dan
formulir catatan pengobatan pasien. Hasil
penelitian didapatkan hanya 1 apotek yang
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
memiliki ruang konseling dan masih ada 8 apotek
hanya memiliki kursi dan meja yang tidak
memiliki ruang konseling tersendiri karena
fasilitas yang tidak mencukupi, sehingga tempat
penyerahan obat kepada pasien digunakan juga
oleh apoteker untuk konseling apoteker dengan
pasien. Hasil ini lebih bagus dibandingkan pada
apotek di DKI Jakarta pada tahun 2003 dimana
apotek yang menyediakan ruang konseling
apoteker hanya 1,5% (1 apotek) dari 68 apotek
yang disurvei hal ini disebabkan karena tidak
adanya ruangan tersendiri untuk apoteker
(Purwanti, et al, 2004).
Ruang
arsip
dibutuhkan
untuk
menyimpan dokumen yang berkaitan dengan
pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan
bahan medis habis pakai serta pelayanan
kefarmasiaan dalam jangka waktu tertentu. Dari
hasil penelitian semua apotek belum memiliki
ruang arsip karena semua arsip diletakkan didalam
lemari penyimpanan resep, faktur, laporan dan
sebagainya yang berada di dalam apotek.
Pemusnahan obat merupakan kegiatan
penyelesaian terhadap obat-obatan yang tidak
terpakai karena kadaluarsa, rusak, ataupun
mutunya sudah tidak memenuhi standar.Tujuan
dilakukan pemusnahan ini ialah untuk melindungi
masyarakat dari bahaya yang disebabkan oleh
penggunaan obat atau perbekalan kesehatan yang
tidak memenuhi persyaratan mutu keamanan dan
kemanfaatan. Dari hasil penelitian hanya 44,44%
yang melakukan pemusnahan obat kadaluwarsa
atau rusak yang mengandung narkotika atau
psikotropika dan 55,55% apotek yang tidak
melakukan pemusnahan. Tidak dilakukannya
pemusnahan dengan cara yang sama, hal tersebut
disebabkan oleh beberapa hal yaitu karena obat
kadaluwarsa atau rusak mengandung narkotika
atau psikotropika dapat dikembalikan kepada
PBF, tidak menyediakan obat narkotika dan
psikotropika, obat narkotika dan psikotropika
tidak ada yang rusak atau kadaluwarsa. Dengan
kondisi seperti itu hasil penelitian lapangan yang
didapat menjadi 100%.
Hasil penelitian 33,33% apotek sudah
melakukan pemusnahan obat selain narkotika dan
psikotropika hanya saja ada 66,66% apotek yang
tidak melakukan pemusnahan obat selain
narkotika dan psikotropika karena obat tersebut
dapat dikembalikan kepada PBF dan yang tidak
bisa dikembalikan kepada PBF tidak dilakukan
pemusnahan hanya saja diletakkan di gudang dan
ditempat yang terpisah.
Pemusnahan resep berguna untuk
keamanan resep supaya tidak disalah gunakan.
190
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Dari hasil penelitian hanya 44,44% yang
melakukan pemusnahan resep, sedangkan 55,55%
belum melakukan karena tidak dilakukan
pemusnahan di apotek tersebut.
Apoteker membuat catatan pengobatan
pasien digunakan untuk melihat kembali riwayat
penyakit pasien apabila ada keluhan dari pasien
atau keluarga pasien. Dari hasil penelitian hanya
44,44% yang membuat catatan pengobatan pasien,
55,55% apotek masih belum melakukannya
karena belum tersedianya kartu catatan
pengobatan pasien di apotek dan masih belum ada
waktu untuk melakukanya.
Pelayanan informasi obat didefenisikan
sebagai kegiatan penyediaan dan pemberian
informasi, rekomendasi obat yang independen,
akurat, komprehensif, terkini oleh apoteker
kepada pasien, tenaga kesehatan, masyarakat
maupun pihak yang memerlukan. Tujuan
pelayanan informasi obat adalah menunjang
ketersediaan dan penggunaan obat rasional,
berorientasi kepada pasien, tenaga kesehatan, dan
pihak lain, menyediakan dan memberikan
informasi obat kepada pasien, tenaga kesehatan
dan pihak lain, menyediakan informasi untuk
membuat kebijakan-kebijakan yang berhubungan
dengan obat (Kurniawan  Chabib, 2010). Hasil
penelitian semuaapoteker apotek telah melakukan
PIO hanya saja 5 apotek melakukan PIO satu kali
sehari, 3 apotek melakukan PIO tiap minggu, 1
apotek melakukan PIO satu kali sebulan, masih
ada apoteker apotek yang belum melakukan PIO
setiap hari karena belum sanggupnya apoteker
untuk melakukan PIO tiap hari. Hal ini lebih bagus
dibandingkan pada apotek di DKI Jakarta pada
tahun 2003 dimana apoteker yang hadir setiap hari
12,8%, apoteker yang hadir 1 kali seminggu
57,4%, apoteker yang hadir 1 kali sebulan 23,4%
(Purwanti, et al, 2004).
Gambar 1.Persentase Pencapaian Pelayanan
Kefarmasian di Apotek Swasta Bukittinggi
76%
74%
72%
70%
68%
66%
74.45%74.45%
75%
72%
70.24%
70.24%70.24%
LPPM STIKes Perintis Padang
69.69%69.69%
ISSN: 2548-3153
Kegiatan pelayanan informasi obat yang
dilakukan harus terdokumentasi dengan baik agar
apa yang disampaikan kepada pasien itu jelas dan
memudahkan untuk melihat kembali riwayat
pasien. Berdasarkan hasil penelitian semua apotek
belum melakukan pendokumentasian PIO karena
belum adanya membuat, belum tersedianya kartu
PIO pasien dan belum adanya waktu untuk
melakukan pendokumentasian PIO.
Konseling merupakan proses untuk
mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah
pasien yang berkaitan dengan pengambilan
keputusan penggunaan obat. Tujuan dilakukannya
konseling adalah memberikan pemahaman yang
benar mengenai obat kepada pasien/ keluarga
pasien antara lain tujuan pengobatan, jadwal
pengobatan, cara dan lama penggunaan obat, efek
samping, tanda-tanda toksisitas dan cara
penyimpanan obat. Hasil penelitian semua apotek
telah melakukan konseling antara apoteker dengan
pasien hanya saja 5 apotek melakukan konseling
tiap hari, 3 apotek melakukan konseling tiap
minggu, 1 apotek melakukan konseling tiap bulan,
masih ada apotek belum melakukan konseling tiap
hari karena belum sanggupnya apoteker untuk
melakukan konseling tiap hari.Semua apotek
belum melakukan pendokumentasian konseling
dengan meminta tanda tangan pasien sebagai bukti
bahwa pasien memahami informasi yang
diberikan dalam konseling karena belum adanya
waktu dan belum tersedianya kartu konseling
pasien.
Home care merupakan pelayanan
kesehatan yang dilakuakan secara intensif dan
berkelanjutan pada seseorang atau keluarga di
tempat tinggal mereka sendiri, dilakukan oleh
tenaga kesehatan profesional dengan perencanaan
dan koordinasi di atur berdasarkan perjanjian
bersama. Pelayanan home care bertujuan untuk
memonitoring terapi obat yang diberikan. Home
care merupakan tanggung jawab apoteker untuk
memonitor keberhasilan terapi obat yang
diberikan. Home care diberikan untuk mengetahui
apakah pasien sudah sembuh atau belum, apakah
pasien patuh dalam minum obat atau tidak dan
melihat kondisi pasien secara langsung. Menurut
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 35 tahun
2014, Apoteker sebagai pemberi layanan
diharapkan juga dapat melakukan pelayanan
kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah,
khususnya untuk kelompok lansia dan pasien
dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Dari
penelitian yang didapatkan semua apotek belum
melakukan pelayanan kefarmasian di rumah dari
hasil penelitian lapangan di dapat karena masih
191
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
belum terlaksananya
kegiatan
pelayanan
kefarmasian di rumah dan belum adanya waktu.
Berdasarkan penelitian semua apotek
belum melakukan pemantauan terapi obat karena
belum menemukan kasus pemantauan terapi obat
terhadap pasien. Pemantauan terapi obat adalah
suatu proses yang mencakup kegiatan untuk
memastikan terapi obat yang aman, efektif dan
rasional bagi pasien. Tujuan pemantauan terapi
obat adalah meningkatkan efektivitas terapi dan
menimilkan resiko reaksi obat tidak diharapkan
(Anonim, 2011).
Berdasarkan penelitian kegiatan untuk
Monitoring Efek Samping Obat (MESO) yang
mempunyai resiko tinggi semua apotek belum
melakukan karena tidak cukupnya waktu yang ada
dengan banyaknya resep yang masuk ke Apotek
dan belum adanya waktu. Monitoring efek
samping obat merupakan kegiatan pemantauan
setiap respon tubuh yang tidak dikehendaki
terhadap obat yang terjadi pada dosis lazim yang
digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis,
diagnosis dan terapi (Anonim, 2011).
4. KESIMPULAN
Dari penelitian yang dilakukan pada apotekapotek swasta di Bukittinggi dalam
pelaksanaan pelayanan kefarmasian sesuai
dengan PerMenKes RI No. 35 tahun 2014
dapat disimpulkan:
1. Pencapaian rata-rata dari aspek manajerial
sebesar 94,18%
2. Pencapaian rata-rata dari pelayanan
farmasi klinis sebesar 49,39%
3. Pencapaian rata-rata keseluruhan sebesar
71,79%
5. REFERENSI
Anief, M., 2000, Prinsip dan Dasar
ManajemenPemasaran Umum dan Farmasi,
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Anief, M., 2005, Manajemen Farmasi,Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta.
Anisah, Z, M, Hasanmihardja, D, Setiawan., 2010,
Pengaruh Pelayanan Kefarmasian Terhadap
Kepuasan Konsumen Apotek di Wilayah
Purwokerto, Pharmacy, Vol. 07, No. 01: 4657.
Anonim., 2011, Pedoman Cara Pelayanan
Kefarmasian yang Baik, Dirjen Binfar
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta.
Baroroh, F., 2014, Evaluasi Kepuasan Konsumen
Terhadap Pelayanan Kefarmasian di Apotek
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
Kota Yogyakarta, Pharmaciana, Vol. 4, No.
2: 135-141.
Bogadenta, A., 2013, Manajemen Pengelolaan
Apotek, D-Medika, Yogyakarta.
Handayani, R, S, Raharni, R, Gitawati., 2009,
Persepsi Konsumen Apotek Terhadap
Pelayanan Apotek di Tiga Kota di Indonesia,
Makara Kesehatan, Vol. 13, No. 1: 22-26.
Hartono., 1998, Manajemen Apotek, Depot
Informasi Obat, Jakarta.
Ihsan, S, P, Rezkya, N, I, Akib., 2014, Evaluasi
Mutu Pelayanan di Apotek Komunitas Kota
Kendari Berdasarkan Standar Pelayanan
Kefarmasian, Jurnal Farmasi dan Ilmu
Kefarmasian Indonesia, Vol. 1, No. 2: 30-35.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor
1027/MENKES/SK/IX/2004,
tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di
Apotek, Jakarta.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 1332/MENKES/SK/X/2002, tentang
Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin
Apotek,Jakarta.
Kurniawan, D, W & L,Chabib., 2010, Pelayanan
Informasi Obat Teori dan Praktik, Graha
Ilmu, Yogyakarta.
Mulyani, Y, M, H, Hasanmihardja, A, Siswanto.,
2013, Persepsi Pasien Apotek Terhadap
Pelayanan Apotek di Kabupaten Wonosobo,
Pharmacy, Vol. 10, No. 01: 55-59.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 35 Tahun 2014, tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Apotek,Jakarta.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
51 Tahun 2009, tentang Pekerjaan
Kefarmasian, Jakarta.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
25 Tahun 1980, tentang Apotek,Jakarta.
Purwanti, A, Harianto, S, Supardi., 2004,
Gambaran Pelaksanaan Standar Pelayanan
Farmasi di Apotek DKI Jakarta Tahun 2003,
Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. 1, No. 2:
102-115.
Sari, I, P., 2004, Penelitian Farmasi Komunitas
dan Klinik, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Surahman, E, M & Ike R. Husen., 2011, Konsep
Dasar Pelayanan Kefarmasian Berbasiskan
Pharmaceutical Care, Widya Padjadjaran,
Bandung.
Syamsuni, A., 2005, Ilmu Resep, Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Umar, M., 2004, Manajemen Apotek Praktis, CV.
Ar-rahman, Jakarta.
192
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Undang–undang Republik Indonesia Nomor 36
Tahun 2009, tentang Kesehatan, Jakarta
LPPM STIKes Perintis Padang
193
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
HUBUNGAN PERILAKU DAN INTENSITAS KEBISINGAN DENGAN GANGGUAN
PENDENGARAN PADA PEKERJA BAGIAN PRODUKSI PT. JAYA SENTRIKON
INDONESIA KECAMATAN LEMBAH ANAI TAHUN 2016
Fitria Fatma, SKM, M.Kes1, Wulan Septia Hanum2
¹´² Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, STIKes Fort De Kock Bukittinggi
email [email protected]¹
email [email protected] ²
Abstract
Hearing impairment is a diminished disease or loss of auditory function subjected to one or
both ears. Hearing impairment is divided into two types, temporary and permanent. Based on the results
of a national survey of the health of the senses of vision and hearing with samples of 19,375 in 7
provinces (West Sumatra, South Sumatra, Central Java, East Java, NTB, South Sulawesi, and North
Sulawesi) in 2010, the prevalence of deafness is approximately 0.4% and hearing loss is about 16.8%.
The purpose of this research is to know the relationship of knowledge, working period, attitude, intensity
of the noise with the hearing impairment toward workers in the production part of PT Sentrikon Jaya
Indonesia Batang Anai Regency Padang- Pariaman2016.
The research is descriptive analytic research with cross sectional approach using collection of
independent variables and dependent variable which were done simultaneously. The sampling technique
used was total sampling with 35 people. Research was conducted mid month July 2016 at the production
of PT Sentrikon JayaIndonesia. The data collected was then analyzed in univariate and bivariat using
Chi-Square test.
The results showed there is relationship between the working masses with hearing impairment
(p= 0.002) the noise intensity (p= 0.002) and there is no relationship of knowledge with hearing
impairment (p= 0.960) and there is no relationship with attitude with hearing impairment (p= 0,708).
The working masses and the intensity of the noise relate to hearing impairment in the production
section of PT Jaya Indonesia Sentrikon 2016. It is recommended to the company to give a reprimand
or punishment to the workers who do not abide by the rules that have been applied by the company and
expected the company to transfer workers to other parts to reduce hearing impainment. To all workers
are expected to really understand and apply it in the workplace so as to avoid accidents and
occupational diseases.
Key words
References
: Hearing impairment
:22 (2007-2014)
1. PENDAHULUAN
LatarBelakang
Peningkatan industri tidak terlepas dari
peningkatan teknologi modern. Seiring dengan
adanya mekanisasi dalam dunia industri yang
menggunakan teknologi yang tinggi, diharapkan
industri dapat berproduksi secara maksimal
sehingga dapat meningkatkan laju pertumbuhan
ekonomi yang akhirnya dapat meningkatkan
kesejahteraan rakyat. Pemilihan teknologi dalam
bidang
produksi
dimaksudkan
untuk
menggantikan posisi manusia dari aktor utama
kegiatan produksi menjadi pengendali kegiatan
produksi (Anizar, 2009, p.153)
Wilayah
industri
modern
dapat
menimbulkan kebisingan. Kebisingan dapat
menyebabkan dua masalah pada keselamatan dan
kesehatan kerja. Kebisingan dapat menarik
perhatian pekerja dan menganggu konsentrasi
LPPM STIKes Perintis Padang
mereka dan dapat menyebabkan kecelakaan.
Kebisingan dapat menyebabkan masalah pada
pendengaran seperti hilangya pendengaran. Jika
terpapar kebisingan melebihi batas yang
dianjurkan dapat menyebabkan kehilangan
pendengaran permanen (Anizar, 2009, p.154).
Gangguan pendengaran adalah suatu
penyakit berkurang atau hilangnya fungsi
pendengaran disalah satu atau kedua telinga.
Gangguan pendengaran dibagi menjadi dua
macam yaitu gangguan pendengaran yang bersifat
sementara dan tetap. Gangguan pendengaran yang
bersifat sementara diakibatkan oleh pajanan
kebisingan dengan intensitas tinggi dan waktu
yang singkat. Sedangkan gangguan pendengaran
yang bersifat menetap diakibatkan oleh pajanan
kebisingan dengan waktu yang lama.
Nilai ambang batas kebisingan (NAB)
berdasarkan waktu yang telah ditetapkan yaitu 1
194
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
sampai 8 jam perhari untuk intensitas kebisingan
antara 85 dB. Pada satuan menit, waktu yag telah
ditetapkan adalah 0,94 sampai sampai 30 menit
perhari untuk intensitas kebisingan antara 97 dB
sampai 112 dB. Sedangkan dalam satuan detik,
waktu yang telah ditetapkan adalah 0,11 sampai
28,12 detik perhari untuk intensitas kebisingan
antara
115
dB
sampai
130
dB
(PER/13/MEN/X/2011). Nilai ambang batas
berdasarkan tempat yang telah diizinkan antara
lain 55 dB di kawasan terbuka hijau, rumah sakit,
pemukiman, sekolah dan tempat ibadah.
Sedangkan untuk perkantoran kawasan industri ,
stasiun, pasar dan fasilitas umum lainnya antara 60
– 70 dB (KEP-48/MENLH/11/1996).
Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja
Nomor KEP-51/MEN/1999 Tentang Nilai
Ambang Batas Faktor Fisika di tempat kerja
bahwa intensitas kebisingan 85 dB selama 8 jam
kerja dalam sehari, selain itu, ada tenaga kerja
yang meraskan keluhan seperti terdengar suara
nyaring/berdenging
di
telinga
setelah
meninggalkan lingkungan kerja yang bising, sukar
mendengar/menangkap
pembicaraan
di
lingkungan kerja yang bising. Alat pelindung
telinga yang diberikan oleh perusahaan berupa
sumbat atau tutup telinga yang dapat mengurangi
intensitas kebisingan sekitar 10 – 25 dB.
Salah satu faktor pencemar fisik yang
menjadi masalah Berdasarkan Peraturan Mentri
Tenaga
Kerja
dan
Transmigrasi
No.PER13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang
Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat
Kerja, ditetapkan sebesar 85 dBA. Nilai Ambang
Batas adalah standar factor tempat kerja yang
dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan
penyakit atau gangguan kesehatan dalam
pekerjaan sehari–hari untuk waktu tidak melebihi
8 jam sehari atau 40 jam seminggu.
PT. Jaya Sentrikon Indonesia adalah salah
satu IndustriNasional yang didirikan pada tahun
1985 dalam rangka penanaman modal dalam
Negri (PDMN). PT. Jaya Sentrikon Indonesia
merupakan perusahaan yang memproduksi tiang
pancang beton pra-tekan bagi proyek–proyek
jembatan, pelabuhan maupun pembangunan
gedung bertingkat, antara lain proyek Pertamina
termina BBM di Bungus, Teluk Kabung Padang,
Hotel Sedona Bumi Minang, Pembangunan
Tangki Timbun di Teluk Bayur, Pembangunan
Dermaga Peti Kemas Teluk Bayur, Jembatan
Sitti Nurbaya dan lain – lain.
Berdasarkan survey awal yang dilakukan
pada PT. Jaya Sentrikon Indonesia Kabupaten
Padang – Pariaman Jumlahtenagakerja yang
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
bekerja pada PT. Jaya Sentrikon Indonesia
sebanyak 202 orang. Pada bagian produksi terdiri
dari beberapa proses produksi yaitu yang dimulai
dari proses cutting, hadding, forming, bagian
setting, placing, spinning, tension, remoulding,
dan batching plant, pada salah satu proses
produksi di bagian spinning telah menggunakan
mesin-mesin untuk melakukan proses pemadatan
tiang pancang beton dan tiang listrik yang
menimbulkan suara yang keras. Dari survei awal
didapatkan pengukuran intensitas kebisingan pada
bagian Spinning yaitu 97,31dB.Tampak jelas dari
hasil pengukuran yang telah dilakukan dapat
diketahui bahwa intensitas kebisingan pada bagian
spinning telah melebihi nilai ambang batas (NAB)
yang telah ditetapkan, yaitu 85 dB untuk 8 jam
kerja.
Pada survei awal dilakukan juga
pemeriksaan pendengaran menggunakan garpu
tala pada 10 orang pekerja bagian produksi PT.
Jaya Sentrikon Indonesia, sebanyak 7 orang yang
mengalami
gangguan
pendengaran.PT.Jaya
Sentrikon Indonesia telah menyediakan alat
pelindung telinga (APT) untuk melindungi telinga
pekerja dari paparan bising, sedangkan tenaga
kerja tidak mau memakai Alat pelindung telinga
(APT) yang telah disediakan oleh perusahaan
dengan kondisi demikian akan membuat tenaga
kerja pada bagian Spinning akan mengalami
penurunan gangguan pendengaran dan terpapar
secara terus – menerus melebihi jam kerja yang
telah ditetapkan.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif analitik yang menggunakan desain
cross sectional study yaitu mengumpulkan data
untuk menemukan Hubugan pengetahuan, massa
kerja, sikap dan intensitas kebisingan pekerja
dengan terhadap gangguan pendengaran pada
pekerja bagian produksi PT. Jaya Sentrikon
Indonesia Di Jalan Bypass Kecamatan Batang
Anai Kabupaten Padang – Pariaman Tahun 2016.
Populasi pada penelitian ini adalah semua
pekerja di PT. Jaya Sentrikon Indonesia yaitu
sebanyak 202 orang yang terdiri dari bagian
produksi, mentener, personalia dan umum, bagian
labor dan quality control, sub kontraktor serta
pemasaran.
Sampel penelitian dengan tekhnik pengambilan
sampel secaratotal sampling yaitu semua tenaga
kerja yang bekerja di bagian produksi yaitu
sebanyak 35 orang di PT. Jaya Sentrikon
Indonesia Tahun 2016.
195
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
penanaman modal dalam negeri (PMDN) dengan
3.
HASIL DAN PEMBAHASAN
PT. JAYA SENTRIKON INDONESIA berlokasi surat keputusan BKPM NO.198/1/PMDN/1985
di Jalan By Pass, Kanagarian Kasang, Kecamatan
Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman,
Sumatera Barat adalah perusahaan Nasional yang
didirikan pada tahun 1985 dalam rangka
Gangguan Pendengaran
Tidak
Mengalami
OR
Total
Mengalami
Variabel
Gangguan
CI 95% ) ρ Value
Gangguan
Pendengaran
Pendengaran
n
%
n
%
n
%
Pengetahuan
Rendah
10
66,7
5
33,3
15 100
0,96
1,333
(0,330-5,393)
Tinggi
12
60
8
40
20 100
Sikap
Negatif
6
54,5
5
45,5
11 100
0,708
0,600
(0,139- 2,581)
Positif
16
66,7
8
33,3
24 100
Massa Kerja
Lama
21
77,8
6
22,2
27 100
24,500
0,002
(2,498Baru
1
12,5
7
87,5
8
100
240,318)
Intensitas
Kebisingan
14,250
Diatas NAB
19
82,6
4
17,4
23 100
0,002 (2,619- 77,540)
Dibawah NAB
3
25
9
75
12 100
Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa
persentase dari 35 responden yang mengalami
gangguan pendengaran pada pekerja yang
memiliki tingkat pengetahuan tinggi yaitu 12
(60,0%)
dibadingkan
dengan
yang
berpengetahuan rendah sebanyak 10 pekerja
(66,7%). Setelah dilakukanuji statistik diperoleh
nilai p=0,960maka dapat disimpulkan bahwa tidak
terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat
pengetahuan dengan gangguan pendengaran. Dari
hasil analisis selanjutnya diperoleh nilai OR=
1,333 yang dapat diartikan bahwa responden yang
memiliki tingkat pengetahuan rendah mempunyai
peluang 1,33 kali untuk mengalami gangguan
pendengaran dibandingkan dengan responden
yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi.
Menurut asumsi peneliti didapatkan lebih
dari separuh pekerja memiliki pengetahuan yang
tinggi dan banyak mengalami gangguan
pendengaran ini disebabkan karena responden
yang memiliki pengetahuan tinggi tidak menjamin
tidak mengalami gangguan pendengaran hal ini
disebabkan karena responden tidak melakukan
atau mengaplikasikan di lapangan informasi,
pelatihan, pendidikan yang diberikan oleh
perusahaan kepada pekerja tentang penyakit
LPPM STIKes Perintis Padang
akibat kerja salah satunya gangguan pendengaran
dan keselamatan kesehatan, sedangkan responden
yang tingkat pengetahuannya rendah, tidak
mengetahui tentang gangguan pendengaran, jenisjenis alat pelindung telinga serta fungsi alat
pelindung telinga dalam menurunkan intensitas
kebisingan yang dapat mencengah terjadinya
gangguan pendengaran.
Pengetahuan pekerja dapat ditingkatkan
dengan caramemberikan pelatihan kepada
karyawan dan lebih menekankan lagi tentang
keselamatan dan kesehatan kerja kepada pekerja
pada saat bekerja. Bentuk pelatihan tentang
kesehatan dan keselamatan yang membahas
tentang pengertian dan tujuan K3, identifikasi
faktor penyebab kecelakaan kerja, menguraikan
cara pencegahan kecelakaan dan penggunaan alat
pelindung diri saat bekerja dan lain-lainya
misalnya faktor bahaya dari lingkungan seperti
kebisingan, dampak kebisingan dan penggunaan
alat pelindung telinga.Selain memberikan
pelatihan diharapkan adanya keinginan dari dalam
diri pekerja untuk dapat merespon positif
pengetahuan dan menerapkannya dalam bentuk
sikap dan tindakan yang baik.
196
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa
persentase
yang
mengalami
gangguan
pendengaran pada responden yang memiliki
massa kerja lama yaitu besar sama dari 5
tahunyaitu 21 (77,8%), dibandingkan dengan
responden yang memiliki massa kerja baru yaitu
kecil dari 5 tahun (12,5%) yang mengalami
gangguan pendengaran. Setelah dilakukanuji
statistik diperoleh nilai p= 0,002 maka dapat
disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang
signifikan antara massa kerja dengan gangguan
pendengaran.Dari hasil analisis selanjutnya
diperoleh nilai OR= 24,500 yang dapat diartikan
bahwa responden yang memiliki massa kerja lama
besar sama dari 5 tahun mempunyai peluang 24,5
kali untuk mengalami gangguan pendengaran
dibandingkan dengan massa kerja baru kecil dari
5 tahun.
Menurut asumsi peneliti massa kerja
merupakan salah satu faktor yang berpengaruh
terhadap gangguan pendengaran, pekerja bagian
produksi rata-rata memiliki massa kerja yang lama
yaitu besar sama dari 5 tahun dimana semakin
lama seseorang bekerja maka memiliki
kemungkinan mengalami gangguan pendnegaran
dibandingkan dnegan pekerja yang memiliki masa
kerja kecil dari 5 tahun. Hal ini sesuai dengan teori
sekitar 3 - 5 tahun masakerja, setelah terpapar
bising 85 - 90 dB secara terus menerus selama
kurang lebih 8 jam perhari akanterjadi kerusakan
organ pendengaran.
Perusahaan
seharusnya
melakukan
pemeriksaan kesehatan berkala kepada pekerja
yang bekerja pada bagian produksi. Adanya
hubungan antara massa kerja dengan gangguan
pendengaran yag dialami pekerja seharusnya
mendapat perhatian dari perusahaan tempat
bekerja. Pekerja yang telah lama bekerja dan
mengalami gangguan pendengaran seharusnya
mendapat perlindungan dari perusahaan misalnya
dengan memindahkan pekerja tersebut ke bagian
lainsesuai dengan kemampuan pekerja atau
dengan mengurangi jam kerja pekerja.
Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa
persentase
yang
mengalami
gangguan
pendengaran pada responden yang memiliki sikap
tidak baik yaitu 6 (54,5%), sedangkan responden
yang memiliki sikap baik yaitu 16 (66,7%) yang
mengalami gangguan pendengaran. Setelah
dilakukan uji statistik dengan Chi-Square
diperoleh nilai p= 0,708 maka dapat disimpulkan
bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan
antara sikap dengan gangguan pendengaran.
Menurut asumsi peneliti, responden yang
memiliki sikap yang baik karena didorong oleh
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
kesadaran pekerja yang mau menerima informasi
yang telah diberikan oleh perusahaan serta di
dukung dari perusahaan dengan cara memberikan
informasi kepada pekerja mengenai kesehatan dan
keselamatan kerja, serta sikap pekerja yang baik
terhadap penggunaan APT untuk pencengahan
gangguan pendengaran, namun dengan sikap
mereka yang baik tidak menjamin terhindar dari
gangguan pendengaran hal ini disebabkan
kurangya kesadaran, tindakan pekerja dalam
mengaplikasi sikap yang baik disertai dengan
pengawasan yang baik, karena pengaplikasikan
tanpa pengawasan tidak akan mecapai tujuan dan
rencana. Sedangkan untuk tenaga kerja yang
memiliki sikap yang tidak baik mereka kurang
setuju dengan pemberian sangsi oleh perusahaan
serta teguran oleh mandor dan pekerja juga kurang
setuju bahwa dengan memakai alat pelindung
telinga merupakan cerminan tenaga kerja yang
baik, padahal dengan pekerja dapat memahami
maksud positif dari pemberian sangsi dan teguran
akan dapat merubah sikap pekerja menjadi positif
dengan itu pekerja dapat melakukan tindakan yang
nyata untuk pencengahan terjadinya gangguan
pendengaran.
Diharapkan kepada perusahaan melakukan
pengwasan, teguran bahkan pemberian sangsi
terhadap tenaga kerja yang tidak menggunakan
alat pelindung telinga (APT) dalam bekerja.
Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa
persentase
yang
mengalami
gangguan
pendengaran pada responden yang bekerja pada
daerah dengan intensitas kebisingan yang diatas
nilai ambang batas (NAB) yaitu 19 (82,6%)
dibandingkan dengan responden yang bekerja
pada daerah dengan intensitas kebisingan yang
dibawah nilai ambang batas (NAB) sebanyak 3
(25,0%) mengalami gangguan pendengaran. Hasil
uji statistik diperoleh nilai p= 0,002 maka dapat
disimpulkan bahwa Ho ditolak yang menyatakan
bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara
intensitas
kebisingan
dengan
gangguan
pendengaran.Dari hasil analisis selanjutnya
diperoleh nilai OR= 14,250 yang dapat diartikan
bahwa responden yang bekerja pada daerah yang
intensitas kebisingan yang tidak memenuhi syarat
mempunyai peluang 14,2 kali mengalami
gangguan pendengaran dibandingkan dengan
responden yang bekerja pada daerah yang
intensitas kebisingan yang memenuhi syarat.
Menurut Suma’murdanWardhanadalam Sri
Indah
KusumaNingrum,pengaruh
utama
kebisingan terhadap kesehatan adalah kerusakan
pada
indera-indera
pendengaran
yang
menyebabkan
ketulianapabila
kontak
197
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
terjadidalamwaktu lama, gangguan stress yang
dapatmengganggukesehatanjiwaseseoranghingga
akhirnyamenurunkankesehatanfisik,
gangguan
komunikasidan
gangguan
tidur.
Selainitukebisinganjugadapatmengganggukonsen
trasi,
dayaingatdanmenyebabkankelelahanpsikologis.
Untuk beberapa orang yang rentan
kebisingan dapat menyebabkan rasa pusing,
kantuk, sakit, tekanan darah tinggi, tegang dan
stress yang diikuti dengan sakit maag, kesulitan
tidur. Pemaparan bising yang berlebihan dapat
menurunkan gairah kerja danmenyebabkan
meningkatnya absensi, bahkan penurunan
produktivitas.
Gangguan pendengaran akibat bising (noise
induced hearing loss/NHL) ialah gangguan
pendengaran yang disebabkan akibat terpajan oleh
bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang
cukup lama dan biasanya disebakan oleh bising
lingkungan kerja. secara umum bising adalah
bunyi yang tidak diinginkan, bising ini memiliki
intensitas 85 desibel (dB) atau lebih sehingga
dapat menyebabkan kerusakan reseptor Corti pada
telinga dalam.
Menurut asumsi peneliti, kebisingan adalah
bunyi yang tidak dikehendaki yang berasal dari
alat-alat proses produksi yang menghasilkan
intensitas kebisingan yang di atas nilai ambang
batas (NAB) pada bagian produksi, sehingga
sebagian besar responden bekerja pada intensitas
kebisingan yang di atas NAB yang dapat
mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran
pada pekerja. intensitas kebisingan merupakan
faktor yang berpengaruh dalam gangguan
pendengaran. Sesuai juga dengan teori diatas
bahwa intensitas kebisingan diatas NAB > 85 dBA
dengan lama paparan lebih dari 8 jam akan
menyebabkan terjadinya gangguan pendengaran.
Diharapkan
pekerja
memakai
alat
pelindung telinga sewaktu bekerja seperti Ear
Muff atau Ear Plugagar dapat mengurang 20-30
dB intensitas kebisingan serta tidak menjadi
sumber bahaya bagi pekerja, adanya suatu
manajemen yang baik agar pekerjadapat bekerja
secara nyaman, efektif, efisien sehingga
performansi dan produktivitas kerja meningkat
dan adanya pengawasan yang dilakukan
perusahaan terhadap pemakaian APT.
4. KESIMPULAN
Adanya hubungan antara massa kerja dan
intensitas
kebisingan
dengan
gangguan
pendengaran yag dialami pekerja seharusnya
mendapat perhatian dari perusahaan tempat
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
bekerja. Pekerja yang telah lama bekerja dan
mengalami gangguan pendengaran seharusnya
mendapat perlindungan dari perusahaan misalnya
dengan memindahkan pekerja tersebut ke bagian
lainsesuai dengan kemampuan pekerja atau
dengan mengurangi jam kerja pekerja.
Intensitas
kebisingan
yang
tidak
dikehendaki yang berasal dari alat-alat proses
produksi yang menghasilkan intensitas kebisingan
yang di atas nilai ambang batas (NAB) pada
bagian produksi, sehingga sebagian besar
responden bekerja pada intensitas kebisingan yang
di atas NAB yang dapat mengakibatkan terjadinya
gangguan pendengaran pada pekerja.
Pengetahuan yang tinggi dan banyak
mengalami gangguan pendengaran ini disebabkan
karena responden yang memiliki pengetahuan
tinggi tidak menjamin tidak mengalami gangguan
pendengaran hal ini disebabkan karena responden
tidak melakukan atau mengaplikasikan di
lapangan informasi, pelatihan, pendidikan yang
diberikan oleh perusahaan kepada pekerja tentang
penyakit akibat kerja salah satunya gangguan
pendengaran dan keselamatan kesehatan,
sedangkan
responden
yang
tingkat
pengetahuannya rendah, tidak mengetahui tentang
gangguan pendengaran, jenis-jenis alat pelindung
telinga serta fungsi alat pelindung telinga dalam
menurunkan intensitas kebisingan yang dapat
mencengah terjadinya gangguan pendengaran.
Sikap yang baik karena didorong oleh
kesadaran pekerja yang mau menerima informasi
yang telah diberikan oleh perusahaan serta di
dukung dari perusahaan dengan cara memberikan
informasi kepada pekerja mengenai kesehatan dan
keselamatan kerja, serta sikap pekerja yang baik
terhadap penggunaan APT untuk pencengahan
gangguan pendengaran.
5. DAFTAR PUSTAKA
Al-Dosky, Berivan H.M. 2010. Noise Lavel And
Annoyance Of Industrial Factories In
Duho
City.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16
823764. diakses tanggal 21 Januari 2016.
Anizar. 2009. Teknik Keselamatan dan Kesehatan
Kerja di Industri. Yogyakarta : Graha
Ilmu
Bintang. 2015. Tinjauan Hubungan Tingkat
Kebisingan dan Keluhan Subjektif
(Audiotory) Pada Operator Bagian Derso
Bekasi. Universitas Sebelas Maret. Jurnal
Diakses tanggal 5 Maret 2016
198
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Buchari. 2007. Kebisingan Industri dan Hearing
Conversation Program,Available at
library.usu.ac.id/download/ft/0700279.
Diakses tanggal 21 Januari 2016
Buntarto. 2015. Panduan Praktis Keselamatan
dan Kesehatan Kerja Untuk Industri.
Yogyakarta : Pustaka BaruPress
Burnside – McGlynn. 2001. Adams Diagnosis
Fisik (Physical Diagnosis). Jakarta :
Buku Kedokteran
ISSN: 2548-3153
Soepardi, Nurbaiti, dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan
Telinga
Hidung
Tenggorokan Kepala & Leher.
Jurusan Spesialis THT Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
Jakarta.
Tribowo, Mitha Erlisya. 2013.Kesehatan
Lingkungan dan K3. Yogyakarta :
Nuha Medika.
Emil, Salim. 2002. Factor Fisik di Lingkungan
Kerja. Jakarta: Buku Kedokteran
Harrington,J.M, F.S. Gill. 2003. Buku Saku
Kesehatan Kerja Cetakan ke 3, Jakarta :
Buku Kedokteran
Heryati,
Euis.
2013.Pengukuran
Fungsi
Pendengaran.
Iw, Utami. 2011. Hubungan Tingkat Pemaparan
Kebisingan dengan Gangguan
Pendengaran Pada Pengemudi Becak
Mesin Di Kota Pematang Siantar. Jurnal
Diakses tanggal 5 Maret 2016.
Lampiran I Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi
Nomor
Per.
13/MEN/X/2011. 2012. Nilai Ambang
Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka
Cipta
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Promosi Kesehatan
Teori & Aplikasi. Jakarta : Rineka Cipta
Notoatmodjo, Soekidjo.2012. Promosi Kesehatan
dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta
P.K, Suma’mur. 2013.Hygiene Perusahaan Dan
Kesehatan Kerja (Hyperkes). Jakarta :
CV. Sagung Seto
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi
Nomor
Per.
13/MEN/X/2011. Tahun 2012
R.Pracy, J.Siegler dkk. 1983.Pelajaran Ringkas
Telinga, Hidung, dan Tenggorokan.
Jakarta : PT. Gramedia
S, Hisman, Syamsiar S. Sugeng. 2014. Hubungan
Kebisingan
dengan
Gangguan
Pendengaran Pada Pekerja di Unit
Produksi Paving Block CV. Sumber
Galian Makassar. Universitas
Hassanuddin Makassar. Jurnal.
tanggal 16 Februari 2016
LPPM STIKes Perintis Padang
Diakses
199
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
PENENTUAN KADAR TIMBAL (Pb) DALAM DARAH PADA SOPIR TRUK DI
JALAN RAYA PADANG - INDARUNG TAHUN 2016
Marisa
Dosen D.III Teknologi Laboratorium Medik STIKes Perintis Padang
Email: [email protected]
Abstract
The truck driver working in the street everyday gain immediate exposure to air pollution, especially by
lead (Pb). Therefore, they are very vulnerable to the negative effects of of lead (Pb) which can attack
the nervous system. The object of research is the blood of a truck driver in Jalan Raya Padang Indarung
taken as many as 10 samples were taken based on work experience ranging from <5 years, 5-10 years
and those with work experience ranging from 10-15 years, this study uses the experimental method with
croosectional approach. Each sample was analyzed by AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer).
Results of the study was the amount of lead (Pb) found in the blood samples with varying levels, but has
not exceeded the threshold value .. The amount of the lowest levels found in blood Pb truck driver who
had worked for 5 years with a code sample 1, while the number of levels of Lead ( Pb) is the highest
found in the blood of a truck driver who has worked for 12 years with the sample code 3. Lead metal
levels in the blood does not exceed the maximum threshold that is equal to 25mg / dl
Keywords: Analysis of levels of lead (Pb), Truckers.
1. PENDAHULUAN
Logam berat adalah unsur logam yang
mempunyai berat jenis atau densitas lebih dari 5
g/cm3. Logam berat masih termasuk golongan
logam dengan kriteria-kriteria yang sama dengan
logam-logam lain. Perbedaannya terletak dari
pengaruh yang dihasilkan bila logam berat ini
berikatan atau masuk ke dalam tubuh organisme
hidup. Logam berat biasanya menimbulkan efekefek khusus pada makhluk hidup. Dapat dikatakan
bahwa semua logam berat dapat menjadi bahan
racun yang akan meracuni tubuh makhluk hidup.
Sebagai contoh adalah logam air raksa (Hg),
kadmium (Cd), timah hitam (Pb), dan khrom (Cr)
(Palar,2008).
Timah hitam atau Pb yang ada dalam
tatanan udara, terutama sekali bersumber dari
buangan (asap) kendaraan bermotor. Logam ini
merupakan sisa-sisa pembakaran yang terjadi
anatara bahan bakar dengan mesin kendaraan.
Melalui buangan mesin kendaraan tersebut, unsur
Pb terlepas ke udara. Sebagian diantaranya akan
membentuk partikulat di udara bebas dengan
unsur-unsur lain, sedangkan sebagian lainnya
akan menempel dan diserap oleh daun tumbuh tumbuhan yang ada disepanjang jalan
(Palar,2008).
Tingginya kadar timbal (Pb) pada sopir
truk disebabkan terjadi kontak langsung dengan
polusi udara yang mengandung Pb yang berasal
dari buangan gas kendaraan bermotor. Emisi
LPPM STIKes Perintis Padang
tersebut merupakan hasil samping dari
pembakaran yang terjadi dalam mesin-mesin
kendaraan.
Tujuan
Penelitian
adalah
Untuk
mengetahui kadar Pb pada sopir truk di Jalan Raya
Padang-Indarung tahun 2016.
2.METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini merupakan penelitian
eksperimental di laboratorium. Metode yang
dipilih adalah random sampling dengan
menggunakan alat AAS dalam pemeriksaannya.
Penelitian ini telah dilakukan pada bulan
Juni 2016 di Kopertis Wilayah X.
Dalam penelitian ini yang menjadi
populasi adalah semua sopir truk di jalan raya
Padang - Indarung kota Padang yang dipilih secara
acak.
Sampel dalam penelitian ini adalah darah
sopir truk di jalan Raya Padang Indarung Kota
Padang sebanyak 10 orang yang diambil spesimen
darah venanya.
Alat yang digunakan:AAS Shimadzu AA6300 PC, HCL (Hallow Cathode Lamp)., kertas
saring, labu ukur 5 mL, labu destruksi, pipet takar
5 mL, beaker glass, corong, kompor destruksi,
botol darah, torniquet, spuit, kapas.
Bahan yang digunakan adalah sampel
darah vena, alkohol 70%, Larutan HNO3,
aquadest, larutan standar Pb (0,2; 0,4; 0,6; 0,8; 1)
ppm.
200
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Prosedur Pemeriksaan yaitu Pipet 5 ml
sampel whole blood dan masukkan kedalam labu
destruksi yang beralaskan beaker glass.
Ditambahkan 5 ml aquadest dan ditambahkan 5 ml
HNO3 pekat. Destruksi hingga jernih dan tepatnya
mencapai volume ± 5 ml. Dinginkan, masukkan
kedalam botol, beri label dan ukur dengan AAS.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Kadar Timbal (Pb) dalam Darah Sopir Truk.
Setelah dilakukan pengujian terhadap 10 sampel
darah sopir truk di jalan raya Padang - Indarung
didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 1. kadar timbal dalam darah sopir truk
No Kode Sampel Hasil
Satuan
1 Sampel 1
3.3
μg/dl
2 Sampel 2
7.3
μg/dl
3 Sampel 3
11.8
μg/dl
4 Sampel 4
9.1
μg/dl
5 Sampel 5
3.8
μg/dl
6 Sampel 6
10.3
μg/dl
7 Sampel 7
7.9
μg/dl
8 Sampel 8
7.1
μg/dl
9 Sampel 9
6.9
μg/dl
10 Sampel 10
9.0
μg/dl
Jumlah
76.4
μg/dl
Rata – rata
7.64
μg/dl
1
21 – 30
Jumlah
2
LPPM STIKes Perintis Padang
31 – 40
4
40%
3
41 – 50
3
30%
4
51 – 60
1
10%
Jumlah
10
100%
Umur yang dimaksud merupakan lama hidup
responden sopir truk. Umur responden dihitung
sejak responden lahir sampai penelitian ini
dilakukan dalam satuan tahunan. Berdasarkan
tabel diketahui bahwa sebagian besar responden
berada pada kelompok umur 31-40 tahun yaitu
berjumlah 4 orang dengan persentase 40%.
No
Masa Kerja
Jumlah
persentase
1
< 5 Tahun
3
30%
2
5 - 10 Tahun
5
50%
3
11 – 15 Tahun
2
20%
Jumlah
10
100%
Kadar Timbal (Pb) dalam Darah
Berdasarkan hasil uji laboratorium kadar timbal
(Pb) dalam darah yang telah dilakukan pada sopir
truk diporoleh hasil sebagai berikut:
Rata-rata
Tabel 2. Distribusi responden berdasarkan umur
Umur
2
Distribusi responden berdasarkan masa kerja
Berdasarkan hasil kuisoner dan wawancara yang
telah dilakukan pada sopir truk diperoleh data
responden berdasarkan masa kerja sebagai
berikut:
Tabel 3. Distribusi responden berdasarkan masa
kerja
Distribusi responden berdasarkan umur
Berdasarkan hasil kuisoner dan wawancara yang
telah dilakukan pada sopir truk diperoleh data
responden berdasarkan umur sebagai berikut:
No
ISSN: 2548-3153
No
Kadar Timbal
(Pb) dalam
darah
Jumlah Persentase Persentase
1
≤ 7 μg/dl
3
30%
1,39
2
> 7 μg/dl
7
70%
6,25
Jumlah
10
100%
Persentase
20%
201
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Kadar timbal (Pb) darah yang dimaksud
adalah adanya akumulasi unsur timbal (Pb) dalam
tubuh responden sopir truk yang dibuktikan
dengan uji laboratorium kadar timbal (Pb) dengan
spesimen darah responden dalam satuan μg/dl. Uji
laboratorium sampel darah dilakukan dengan
menggunakan metode Atomic Absorbtion
Spectrofotometer (AAS). Nilai normal kadar
timbal (Pb) dalam darah untuk orang dewasa
adalah 10-25 μg/dl. Kategori kadar timbal (Pb)
dalam darah ditentukan dari nilai batas atas kadar
timbal (Pb) dalam darah yaitu 11,8 μg/dl
dikurangi dengan nilai batas bawah kadar timbal
(Pb) dalam darah yaitu 3,3 μg/dl sehingga
didapatkan hasil 8,5 μg/dl. Dari hasil pengurangan
tersebut kemudian dibagi 2 dan didapatkan hasil
sebesar 4,25 μg/dl. Penentuan kategori batas
bawah.
Kadar timbal (Pb) dalam darah yaitu nilai
batas bawah kadar timbal dalam darah
ditambahkan dengan hasil pembagian tersebut
yaitu 4,25 μg/dl dan didapatkan hasil sebesar 7,55
μg/dl. Namun hasil tersebut dibulatkan menjadi 7
μg/dl. Sehingga kategori kadar timbal (Pb) dalam
darah pada penelitian ini yaitu ≤ 7 μg/dl dan >
7μg/dl. Sebagian besar responden memiliki kadar
timbal (Pb) darah > 7 μg/dl yaitu berjumlah 7
orang dengan persentase 70%.
Keluhan Kesehatan yang dialami sopir truk
Berdasarkan
hasil
kuisoner
dan
wawancara yang telah dilakukan pada sopir truk
diperoleh data keluhan kesehatan sebagai berikut:
Dari jenis keluhan kesehatan yang dialami
oleh sopir truk tersebut keluhan terbanyak yang
dirasakan adalah cepat marah sebanyak 9 orang
dengan persentase 90%, dan mengalami kelelahan
sebanyak 8 orang dengan persentase 80%. Gejala
yang ditimbulkan apabila sesorang terpapar timbal
dalam konsentrasi tinggi yaitu: sering sakit kepala,
tenggorokan terasa kering, mudah lelah, sering
merasa lesu, mulut terasa logam, (Darmono,
2001). Keracunan akibat kontaminasi timbal dapat
menimbulkan:
1. Sistem
haemopoietik;
dimana
timbal
menghambat sistem pembentukan hemoglobin
(Hb) sehingga menyebabkan anemia
2. Sistem saraf; dimana timbal bisa menimbulkan
kerusakan otak dengan gejala epilepsi,
halusinasi, kerusakan otak besar dan delirium.
3. Sistem urinaria; dimana timbal bisa
menyebabkan lesi tubulus proksimalis, Loop
of Henle serta menyebabkan aminasiduria.
4. Sistem gastro-intestinal; dimana timbal bisa
menyebabkan kolik dan konstipasi.
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
5. Sistem kardiovaskuler; dimana timbal bisa
menyebabkan peningkatan permiabilitas
pembuluh darah.
6. Sistem reproduksi; berpengaruh terutama
terhadap gametoksisitas atau janin belum lahir
menjadi peka terhadap timbal. Ibu hamil yang
terkontaminasi timbal bisa mengalami
keguguran, tidak berkembangnya sel otak
embrio, kematian janin waktu lahir, serta
hipospermia dan teratospermia pada pria.
7. Sistem
endokrin;
dimana
timbal
mengakibatkan gangguan fungsi tiroid dan
fungsi adrenal. Bersifat karsinogenik dalam
dosis tinggi.
Berdasarkan hasil penelitian dapat
diketahui bahwa rata-rata kadar timah hitam
dalam darah pekerja adalah 7,64 μg/dl dengan
nilai median dan standar deviasi masing-masing
adalah 7,6 μg/dl dan 2,6483 μg/dl. Kadar timah
hitam terendah dalam darah pekerja adalah 3,3
μg/ml dan tertinggi adalah 11,8 μg/ml.
Walaupun semua pekerja memiliki kadar Pb
dalam darah <25 μg/dL(normal), akan tetapi hal
ini tetap perlu diwaspadai karena kadar timbal
dalam darah bersifat akumulatif dan akan
mengalami peningkatan secara progresif sejalan
dengan paparan yang diterima baik secara
kuantitas maupun kualitas.
Jumlah kadar timbal yang ada dalam
darah dapat dipengaruhi oleh jumlah paparan
timbal yang masuk kedalam tubuh, lama
seseorang terpapar oleh timbal, cara masuk timbal
ke dalam tubuh, faktor lingkungan dan keadaan
geografis tempat seseorang tersebut tinggal,
makanan atau minuman yang dikonsumsi,
antibodi tubuh serta pola hidup orang tersebut.
Pada
penelitian
ini
berdasarkan
pertanyaan keluhan terhadap keracunan timbal
yang diajukan kepada responden didapatkan hasil
jenis dan banyaknya keluhan kesehatan yang
dirasakan sopir truk yang dapat yang
mengindikasi bahwa gejala yang paling banyak
dikeluhkan adalah cepat marah sebanyak 9
responden dengan persentase 90% dan kejadian
kelelahan sebanyak 8 responden dengan
persentase 80%, serta keluhan yang paling sedikit
adalah perasaan canggung sebanyak 1 responden
dengan persentase 10%. Penyakit yang
ditimbulkan akibat keracunan timbale adalah
anemia, gangguan pada system haematopoetic
dan system syaraf pusat.
Sehingga berdasarkan hasil keluhan yang
ada, dapat dikatakan bahwa sebagian besar
202
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
pekerja
sudah
mengalami
gejala-gejala
kemungkinan keracunan timbal, dan jika dilihat
dari bentuk gejala yang terbanyak dirasakan yakni
cepat marah, kelelahan dan keram otot. Hal ini
dapat menunjukkan kemungkinan sopir truk
tersebut mengalami gangguan pada system
haemotopoetic dan system saraf pusat. Sehingga
pekerja kemungkinan dapat terserang anemia dan
penyakit saraf lainnya jika tidak segera dilakukan
penanggulangan dan pemeriksaan lebih lanjut.
Berdasarkan uji statistik menggunakan uji
t Test didaptkan hasil bahwa t hitung < t tabel,
yaitu 2,81 < 2,82 sehingga Ho diterima dan dapat
disimpulkan bahwa kadar timbal (Pb) dalam darah
pria perokok yang bekerja sebagai sopir truk di
jalan raya padang indarung tidak melebihi ambang
batas normal yaitu 10-25 μg/dl. Hal ini dapat
dikarenakan rutinnya sopir truk mengkonsumsi air
yang cukup, buah dan sayuran yang dapat
membuat akumulasi kadar timbal dalam darah
berkurang dan dapat diekresikan melalui urine.
Kondisi daerah yang dilalui sopir truk banyak
ditumbuhi oleh pepohonan juga dapat mengurangi
paparan kadar timbal yang masuk kedalam tubuh.
4.KESIMPULAN
ISSN: 2548-3153
(Perumnas) Mandala, Kecamatan Percut
Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang.
Majalah Kesehatan Nusantara Vol 38, No.
Jakarta.
Darmono, 2001. Lingkungan Hidup dan
Pencemaran (Hubungannya dengan
Toksikologi Senyawa Logam).Universitas
Indonesia Press, Jakarta.
De Ross Fj. (1997). Smelters and Metal
Reclaimenrs. In Occupational,Industrial,
and environmental toxicology . New York
: Mosby-Year book.
Mentri Kesehatan Republik Indonesia, 2002.
Keputusan Mentri Kesehatan Nomor:
1406/MEMKES/SK/IX/2002
tentang
Standar Pemeriksaan Kadar Timah
Hitam pada Spesimen Biomarker
Manusia. Jakarta: Departemen Kesehatan.
Mukono. 2002. Epidemiologi Lingkungan.
Universitas Airlangga.
Palar, H. 1994. Pencemaran dan Toksikologi
Logam Berat. PT. Rineka Cipta, Jakarta.
Palar, H. 2004. Pencemaran dan Toksikologi
Logam Berat. PT. Rineka Cipta, Jakarta.
Palar,Heryando.
2008.Pencemaran
dan
toksikologi logam berat-Cet.4. PT. Rineka
Cipta, Jakarta.
Berdasarkan hasil penelitian yang tentang
penentuan kadar timbal (Pb) dalam darah pada
sopir truk di jalan raya padang indarung dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut;
1. Hasil uji laboratorium menunjukan bahwa
kadar timbal darah pada sopir truk sebagian
besar masih dibawah batas aman dengan ratarata kadar timbal dalam darah adalah 7,64
μg/dl.
2. Kadar timbal (Pb) dalam darah pria perokok
yang bekerja sebagai sopir truk di jalan raya
padang indarung tidak melebihi ambang batas
normal yaitu 10-25 μg/dl.
5.REFERENSI
Bassed,J. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis
Kuantitatif Anorganik. Edisi Keempat,
buku Kedokteran. Jakarta.
BPS,2012. Perkembangan Tingkat Penggunaan
Sarana Akomodasi dan Transportasi.
Indonesia: Badan Pusat Statistik.
Chahaya, 2005. Faktor-Faktor Kesehatan
Lingkungan
Perumahan
yang
Mempengaruhi Kejadian ISPA pada
Balita
di
Perumahan
Nasional
LPPM STIKes Perintis Padang
203
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
VERIFIKASI ANALISA PLUMBUM (Pb) DALAM URIN PADA PETUGAS SPBU
KUBANG PEKANBARU
Betti Rosita , Niken Siska Apriani
Program Studi DIV TLM STIKes Perintis Padang
Email: [email protected]
Abstract
Embodiments of the quality of a healthy environment is a fundamental part in the health sector, source
of air pollution can come from a variety of activities such as industry, transport, offices and housing.
Motor vehicles in major cities are the largest source of air pollutants, approximately 70% of air
pollution caused by vehicle emissions-driving out the harmful substances that have a negative impact
on human health and environmental health. Threats plumbum (Pb) can be experienced for those who
interact directly with the sources of pollution like Pb gasoline user for motorcycle has increased lately,
which can cause the emission of particles flying from logam.Tujuan this study was to determine the level
of contamination Pb in urine at the gas station attendant Kubang Pekanbaru and determine the validity
of urine examination by the method of destruction Wet Sprektofotometer Using Atomic Absorption
(AAS). While the benefits of the research is to provide information on the content of Pb in urine at the
gas station attendant. This type of research is the experiment, with the design of the study is the analysis
of cross-sectional approach. Laboratory examination results in the second urine sample gas station
attendant Kubang Pekanbaru, the average content of Pb is still below the Threshold Limit Value (TLV)
is 0.5725μg / L according to Kepmenkes No. 1406 year 2002yaitu <10 mg / L, the price of 0.966%
precision and accuracy of 102.47% in the validation test equipment. Validation Pb elemental analysis
with a concentration range mentioned above, with the price still meet the requirements of precision of
<2% and an accuracy of 100% ± 15% thorough destruction can be concluded that this method is more
reliable or valid for the analysis of Pb in urine using SSA.
Keywords: Verification, Plumbum, Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS)
1. PENDAHULUAN
Seiring dengan kemajuan IPTEK dan semakin
meningkatnya populasi manusia serta bertambah
banyaknya kebutuhan manusia, mengakibatkan
semakin besar pula terjadinya masalah-masalah
pencemaran lingkungan. Perwujudan kualitas
lingkungan yang sehat merupakan bagian pokok
di bidang kesehatan. Udara sebagai komponen
lingkungan yang penting dalam kehidupan perlu
dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya sehingga
dapat meningkatkan daya dukung untuk
lingkungannya (Andryes, 2011).
Sumber pencemaran udara dapat berasal dari
berbagai kegiatan antara lain industri, transportasi,
perkantoran dan perumahan. Kendaraan bermotor
di kota-kota besar merupakan sumber pencemar
udara yang terbesar, kurang lebih 70%
pencemaran udara disebabkan oleh emisi
kendaraan bermotor mengeluar-kan zat-zat
berbahaya yang menimbulkan dampak negatif
terhadap kesehatan manusia maupun kesehatan
lingkungan. Penguapan bahan bakar, sistem
ventilasi mesin dan yang terutama adalah buangan
dari knalpot hasil pembakaran bahan bakar yang
merupakan pencampuran ratusan gas dan aerosol
LPPM STIKes Perintis Padang
yang menjadi penyebab utama keluarnya berbagai
pencemar dari sektor transportasi. Senyawasenyawa tersebut seluruhnya bersifat merugikan
manusia, baik secara langsung terhadap
kesehatan, seperti karbon monoksida dan timah
hitam (Plumbum) (yustin, 2009).
Pb (plumbum) dalam kesehariannya lebih
dikenal dengan timah hitam. Pb adalah logam
lunak kebiruan atau kelabu keperakan yang sering
terdapat dalam kandungan endapan sulfit yang
tercampur mineral-mineral lain seperti premium,
seng dan tembaga. Ancaman Pb bisa dialami bagi
mereka yang bersinggungan langsung dengan
sumber pencemar Pb tersebut. Pencemaran oleh
Pb Berupa industri perakitan, pengecetan
mobil,dan pengguna bensin bagi pengendara
mengalami peningkatan akhir-akhir ini, sehingga
dapat menimbulkan emisi dari partikel-partikel
yang terbang berupa alumunium dari logam
campuran. Pb berbahaya bagi sistem peredaran
darah serta sistem syaraf pusat manusia, dampak
negatif lain yang ditimbulkan yaitu kerusakan
pada ginjal, anemia, liver dan sistem reproduksi
akibat terpapar Pb (Astini , 2013).
204
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
Pb (plumbum)
Pb yang di kenal sehari-hari dengan nama
timah hitam, dalam bahasa ilmiahnya dinamankan
plumbum dan logam ini di simbolkn dengan Pb.
Logam ini termsuk kedalam kelompok logamlogam golongan IV-A pada tabel priodik unsur
kimia. Pb mempuyai nomor atom 82 dengan bobot
atau berat atom 207,2 . Pb menguap dan
membentuk timbal oksida. Bentuk oksida yamg
paling umum adalah timbal (II). Walaupun
bersifat lunak dan lentur, Pb sangat rapuh dan
mengkerut pada pendinginan, sukar larut dalam
air, air panas dan air asam. Pb dapat larut dengan
asam nitrit, asam asetat dan asam sulfat pekat
(Palar, 2004).
Keracunan Pb adalah salasatu penyakit
lingkungan yang berhubungan dengan kerja.
Meskipun diakui bahayanya, Pb tetap digunakan
secara komersial di seluruh dunia. Paparan Pb dari
lingkungan yang tersebar luas melalui distribusi
Pb secara antropogenik di udara, air, dan makanan
telah menurun dengan nyata selama 20 tahun
terakhir ini akibat penurunan penggunaan timbal
pada bensin (katzung, 2004).
Jalur masuk Pb ke dalam tubuh manusia
Pada debu, udara, dan tanah yang
mengandung
timbal
didalamnya
akan
mengkontaminasi air minum dan kemudian
dikonsumsi
manusia.
Keracuanan
yang
diakibatkan oleh persenyawaan timbal disebut
juga plumbism. Keracunan oleh timbal dapat
terjadi diakibatkan masuknya logam tersebut
melalui beberapa jalur, yaitu:
1. Melalui udara
Udara ambien di pinggiran kota negara barat
dapat mencapai kadar timbl (Pb) sebesar 0,5μg/m3
dan di dalam kota dapat mencapai 1-10 μg/m3.
Dalam keadaan yang sangat padat oleh kendaraan
bermotor kadar di udara dapat mencapai 14-25
μg/m3. Timbal di udara ini akan masuk melalui
saluran pernapasan dan penetrasi atau perembesan
pada selaput kulit. Selain terhadap manusia,
hewan dan tanaman juga dapat terpapar oleh
timbal di udara. Bila tanaman yang tercemar
dikonsumsi
oleh
hewan,
hal
tersebut
menyebabkan hewan tersebut akan semakin
terpapar dengan timbal. Apabila hewan yang telah
terpapar tersebut dikonsumsi oleh manusia,
mengakibatkan timbal terakumulasi dalam tubuh
manusia (Mukono, 2002).
2. Melalui air
Pemaparan timbal oleh air jumlahnya lebih
rendah dibandingkan dengan pemaparan oleh
udara dan makanan. Seperti kasus pencemaran
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
timbal yang terjadi di Amerik Serikat, kadar
timbal di dalam air minum mencapai 50 μg/l. Hal
tersebut terjadi akibat penggunaan tandon dan
pipa air yang berlapiskan timbal (Mukono, 2002).
3. Melalui makanan
Jenis makanan yang dikonsumsi manusia
juga terdapat kemungkinan mengandung timbal
secara alami. Sehingga perlu diperhatikan menu
makanan yang dikonsumsi setiap harinya. Telah
diketahui bahwa setiap 100 mg timbal yang masuk
ke dalam tubuh manusia melalui mulut akan
menghasilkan timbal darah sebesar 6-10 μg/100
liter darah (Mukono, 2002).
Nilai Ambang Batas Pb Pada Tubuh Manusia
Menurut Menteri Kesehatan (2002) dalam
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 1406/MENKES/SK/IX/2002 tentang
standar pemeriksaan kadar timah hitam pada
spesimen biomarker manusia, pengukuran kadar
timbal pada tubuh manusia dapat dilakukan
melalui spesimen darah, urine, dan rambut.
Adapun pada masing-masing spesimen tersebut
memiliki nilai ambang batas yang berbeda-beda,
yaitu:
1. Spesimen darah
Nilai ambang batas kadar timbal dalam
spesimen darah pada orang dewasa normal
adalah 10-25 μg per desiliter.
2. Spesimen urine
Nilai ambang batas kadar timbal dalam
spesimen urine 150 μg/ml creatinine.
3. Spesimen rambut
Nilai ambang batas kadar timbal dalam
spesimen rambut 0,007-1,17 mg Pb/100gr
Jaringan Basah (Palar, 2008).
Urin
Urin
adalah
cairan
sisa
yang
diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan
dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses
urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk
membuang molekul-molekul sisa dalam darah
yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga
hemostasis cairan tubuh.Urin disaring di dalam
ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung
kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui
uretra.
Validasi
Validasi adalah konfirmasi melalui
pengujian dan pengadaan bukti yang obyektif
bahwa persyaratan tertentu untuk maksud khusus
dipenuhi.Validasi suatu metode analitik adalah
evaluasi sistematik dari suatu prosedur analitik
205
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
untuk menunjukkan bahwa metode analitik yang
dipakai secara scientific baik. Hasil uji yang absah
ada]ah hasil uji denganakurasi dan presisi yang
baik. Metode uji memegang peranan penting
dalam memperoleh hasil uji dengan akurasi dan
presisi yang baik.Untuk memperoleh keabsahan
data hasil uji dengan metode spektrometri serapan
atom,
beberapa
parameter
yang
perlu
mendapatkan perhatian adalah validasi alat dan
metode uji. Validasi metode uji dilakukan dengan
menentukan presisi dan akurasi yang diperoleh
dari pengukuran serapan larutan standar serta
parameter analit yang menyertai yaitu bias,
standar deviasi, %RSO, %D dan batas deteksi.
Selain parameter tersebut, dalam analisis
kuantitatifunsur kelumit (trace element) perlu
ditentukan batasdeteksi alat dan metode (IOL=
Instrument Detection Limit, dan MOL = Method
Detection Limit).
Spektrofotometri serapan Atom (SSA)
Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)
adalah suatu alat yang digunakan pada metode
analisis untuk penentuan unsur-unsur logam dan
metaloid yang pengukurannya berdasarkan
penyerapan cahaya pada panjang gelombang
tertentu oleh atom logam dalam keadaan bebas
(skoog et. Al, 2000)
2. METODE PENELITIAN
JenispenelitianiniadalahEksperimen,
dengandesain penelitian analisa pendekatan
crossectional.
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2016 di
SPBU kubang Pekanbaru. Sedangkan tempat
penelitian dilakukan di Laboratorium Kopertis
Wilayah X
AlatdanBahan
Peralatan
yang
digunakan
adalah
:
spektofotometer
serapan
atom,
wadah
penampungan urine, kantong plastik, gelas ukur,
gelas beaker, mikroskop, pipet tetes, labu ukur,
kertas saring, mikro pipet ukuran 10 -100 μL, 100
-1000 μL dan 50 -250 μL, kompor listrik, labu
takar.
Bahan yang digunakan adalah : Urine, aquades,
HNO3, urine, giemsa stok, larutan standar Pb.
ProsedurKerja
Pengambilan Sampel:
Siapkan tempat penampungan urine yang
bersih dan bertutup. Berilah label atau identitas
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
pada botol penampung. Pengambilan urine
dilakukan pada pagi hari. kemudian ditampung
dalam wadah yang sudah disediakan. urine yang
telah ditampung diambil sebanyak 50 – 100 ml.
kemudian tambahkan dengan 2 ml formalin 37%.
kemudian kocok hingga homogen. Bawa urine
yang sudah ditampung ke laboratorium.
Pengukuran Pb pada urine Metode
spektrofotometer serapan atom (AAS)
Pipet sebanyak 25 mL sampel urine
karyawan SPBU. Diasamkan dengan 10 mL
HNO3 pekat sampai pH < 2. Larutan ini
dimasukkan kedalam labu ukur 50 ml serta
mengencerkan dengan akuades sampai tanda
batas. Mengocok hingga homogen. Menyaring
campuran dengan kertas saring. Hasil saringan
diukur dengan SSA pada panjang gelombang
283,3 nm. Kadar Pb dalam sampel ditentukan
dengan menggunakan kurva kalibrasi yang telah
dibuat sebelumnya.
ValidasiMetode
1. Ujiakurasi (ketepatan)
Uji
ini
dilakukandengancaramenambahkanlarutanbakup
embanding (Pb0,6 ppm) kedalamsampel yang
akandiperiksasebelumdidestruksi dengan 3 kali
pengulangan.
Kemudiandilakukanujiblanko
(tanpapenambahanlarutanbakustandar).Masingmasingsampelkemudiandidestruksidenganmetode
destruksibasahmenggunakan
HNO3
dandiukurmenggunakan
AAS
padapanjanggelombang283,3nm.
2. Ujilinieritas
Uji
ini
dilakukandenganmembuatkurvakalibrasistandard
enganbeberapamacamkonsentrasistandarPb yang
dimulaidarilarutantanpaPb.
KemudiandilanjutkandenganmengukurstandarPb
2, 4, 6, 8 dan 10 ppm. Setelahitudidapatkanharga
“r”.
3. Ujipresisi
Metodeujipresisidilakukansecararepitabilitas
atauketerulangandilakukandalamkondisi
yang
samadalam interval waktu yang singkat,
yaitudenganmengukurlarutansampelmetodedestru
ksibasahmenggunakan HNO3 dan dengan 3 kali
ulanganpadahari yang sama, kemudian data
hasilabsorbsdihitungsimpanganbakunya.
4. Uji limit deteksi (LoD) dan limit
kuantitasi (LoQ)
Uji
ini
dilakukandenganmengukurkonsentrasistandar
206
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
yang
paling
rendah
yang
dapatterdeteksiabsorbansinya.
LoDdapatdihitungdenganrumus:
LoD = 3 x SD
SedangkanLoQdapatdihitungdenganrumus:
LoQ = 10 x SD
Keterangan:
SD
: StandarDeviasi
LoD
: Limit of Detection
LoQ
: Limit of Quantitation
ISSN: 2548-3153
menggunakan
Atomic
Absorbition
Spectrophotometer, jenis lampu Hollow Chatode
Lamps (HCL), pada panjang gelombang 283,3
nm.
Hasil pemeriksaan kandungan Timbal
(Pb) yang dilakukan terhadap sampel urine
petugas SPBU di Kubang Pekanbaru. Melalui
pemeriksaan Laboratorium Kopertis Wilayah X,
analisa sampel dilakukan dengan cara
membandingkan standar yang ada yaitu menurut
Kepmenkes RI No.1406 tahun 2002 tentang
Standar Pemeriksaan Kadar Pb Spesimen
Biomarker Manusia artinya melihat di atas atau di
bawah NAB. Hasil analisa didapatkan bahwa
kedua sampel yang di periksa <10 μg/L Pb.
Kemungkinan
yang
menyebabkan
rendahnya uji hasil laboratorium kandungan
Timbal (Pb) dikarenakan para petugas SPBU yang
ada di Kubang pekanbaru berumur di bawah dari
30 tahun sehingga memungkinkan rendahnya
kandungan Pb pada petugas SPBU. Waktu paruh
Pb secara biologi dalam tubuh manusia
diperkirakan 2-3 tahun.Pb dalam darah akan dapat
dideteksi dalam waktu paruh sekitar 20 hari,
sedangkan ekskresi Pb dalam tubuh secara
keseluruhan terjadi dalam waktu paruh sekitar 28
hari. Dari darah dan tempat deposit, Pb kemudian
diekskresikan melalui urine, feces dan
keringat.Umur dan jenis kelamin juga
mempengaruhi kandungan Pb dalam jaringan
tubuh. Semakin tua umur seseorang akan semakin
tinggi pula konsentrasi Pb yang terakumulasi pada
jaringan tubuhnya. Jenis jaringan juga turut
mempengaruhi kadar Pb yang dikandung tubuh
(Palar, 2008).
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Pemeriksaan Pb dalam Sampel Urine
Kadar Pb dalam urine merupakan salasatu
indikator terakumulasinya logam Pb dalam tubuh.
Sala satu syarat analisa logam dengan
menggunakan AAS adalah sampel harus berupa
larutan, maka sebelum kadar Pb di analisis
dilakukan dekstruksi terlebih dahulu. Fungsi dari
dekstruksi adalah untuk memutus ikatan antara
senyawa organik dengan logam yang akan di
analisis. Dalam penelitian ini digunakan
dekstruksi basah karena pada umumnya
dekstruksi basah dapat di pakai untuk menentukan
unsur-unsur dengan konsentrasi rendah.setelah
proses dekstruksi diharapkan yang tertinggal
hanya logam-logam saja dalam bentuk ion.
pelarut-pelarutyang dapat digunakan untuk
dekstruksi basah antara lain asam nitrat, asam
sulfat, asam perklorat, dan asam klorida. Dari
semua pelarut tersebut dapat digunakan baik
tunggal maupun campuran.
Setelah sampel urin didesktruksi
kemudian dilakukan analisis kadar Pb
menggunakan SSA. Analisis dilakuklan dengan
Tabel 4.1 kandungan Pb dalam sampel urine
No Jenis
Masa
Rata-rata
Sampel
Kerja
kerja/ hari
1
Sampel I
5Tahun
8 Jam
2
Sampel II
7Tahun
8 Jam
Lama Konsentrasi Pb dalam
urine (mg/L)
0.218 mg/L
0.240 mg/L
Uji Akurasi
Pada metode destruksi basah menggunakan HNO3 mempunyai rata-rata recovery 102.47 %
dengan demikian metode dekstruksi ini sudah baik karna berada pada nilai kisaran persentase recovery
yang di sarankan, yaitu pada rentang 100% ±15 % dengan nilai yang lebih mendekati 100%.
Rentang tersebut dianggap baik karena menunjukkan bahwa metode tersebut mempunyai
ketepatan yang baik dalam menunjukan tingkat kesesuaian nilai rata-rata dari suatu pengukuran yang
sebanding dengan nilai sebenarnya. Dapat dikaitkan pada proses destruksi yaitu tidak adanya Pb yang
hilang dan dapat dianggap akurat (AOAC. 1993)
LPPM STIKes Perintis Padang
207
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Tabel 4.2 Nilai Persentase Recovery
Larutan
Sampel
Volume
Sampel
Spake
Pb
Jumlah Pb
Analisis
Jumlah
Pb
Teoritis
Recovery
100%
Sampel 2
S2+ 10 ml
pb 0.60
ppm
10 ml
10 ml
4.8 µg
2.4 µg
7.28 µg
7.20 µg
101.11 %
6 µg
8.93 µg
8.40 µg
106.31 %
7.2 µg
9.60 µg
9.60 µg
100.00 %
S2+ 10 ml
pb 0.72
ppm
S2 + 10 ml
pb 0.48
ppm
10 ml
10 ml
Rata-rata = 102.47 %
Uji Presisi
Presisi adalah suatu ukuran penyebaran (dispersi suatu kumpulan hasil), kedekatan dari suatu
rangkaian pengukuran berulang-ulang satu sama lain. Presis diterapkan pada pengukuran berulangulang sehingga menunjukkan hasil pengukuran individual didistribusikan sekitar nilai rata-rata tanpa
menghiraukan letak nilai rata-rata terhadap nilai benar (Darmono, 2006).
Pada tabel 4.3 dapat Hasil Uji Presisi Pemeriksaan Pb dalam Sampel Urine. Pada hasil
perhitungan rumus didapatkan nilai % RSD metode destruksi sebesar 0.966 % nilai yang diperoleh
masih pada rentang yang di syaratkan yaitu <2 %. Seluruh hasil metode yang telah di lakukan dalam
penelitian ini menunjukkan hasil uji dari metode dekstruksi basah menggunkan HNO3 menunjukkan
hasil yang dapat dikategorikan teliti dapat di simpulkan bahwa dekstruksi metode ini dapat dipercaya
atau lebih valid untuk analisis Pb dalam urine dengan menggunakan AAS.
No
1
2
3
4
5
6
7
Tabel 4.3 Hasil Uji Presisi
Konsentrasi Larutan (x)
0.608
0.609
0.600
0.600
0.595
0.607
0.596
∑X = 4.215
.
X=
= 0.602
X-X
0.006
0.007
-0.002
-0.002
-0.007
0.005
-0.006
(X-X)2
0.000036
0.000049
0.000004
0.000004
0.000049
0.000025
0.000036
Uji Linearitas
Linieritas adalah suatu koefisien korelasi antara konsentrasi larutan standar baku dengan
absorbans yang dihasilkan yang merupakan suatu garis lurus. Metode analisis yang menggambarkan
kemampuan suatu alat untuk memperoleh hasil pengujian yang sebanding dengan kadar analitik alat
dalam sampel uji pada rentang konsentrasi tertentu. Uji linieritas dilakukan dengan membuat kurva
kalibrasi yang dapat menghasilkan persamaan garis regresi serta nilai koefisien determinasi yaitu untuk
mengetahui hubungan antara konsentrasi lartan baku dengan nilai absorbans yang dihasilkan (Darmono,
2006).
Berdasarkan pengukuran sederet larutan standar, diperoleh nilai korelasi (r) sebesar 0,99966.
Pada gambar dapat dilihat bawah kurva kalibrasi standar tersebut mempunyaigaris singgung yang linear
respon yang diberikan alat terhadap konsentrasi analit telah memenuhi syarat., nilai r = 0,99966 yang
LPPM STIKes Perintis Padang
208
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Absorban
diperoleh telah memenuhi syarat yang ditetapkan, dengan ketentuan r >0,99. hasil tersebut menunjukkan
alat yang digunakan mempunyai respon yang baik terhadap sampel.
0.045
0.04
0.035
0.03
0.025
0.02
0.015
0.01
0.005
0
0
0.5
1
1.5
Pb mg/L
Gambar 4.1 Kurva Uji Linieritas
Berdasarkan perolehan harga presisi0.966
Uji Limit of Detection (LOD) dan Limit of
%
dan
akurasi102.47 % pada validasi alat uji
Quantitation (LOQ)
Parameter limit deteksi (LoD) instrument dapat disimpulkan bahwa spektrometer serapan
menunjukkan kosentrasi terkecil yang dapat atom layak digunakan sebagai alat uji.Validasi
terbaca oleh instrument. Pada kosentrasi terkecil metoda dekstruksi basah menggunkan HNO3
yang berada pada limit deteksi alat sangat terbatas analisis unsur Pb dengan kisaran konsentrasi
dalam membedakan antara sinyal analit dengan tersebut di atas, masih memenuhi persyaratan
noise. Apabila kosentrasi berada di bawah limit dengan harga presisi<2% dan akurasi 100 % ±15
deteksii maka sinyal yang ditangkap alat adalah % yang teliti dapat di simpulkan bahwa dekstruksi
sepenuhnya baik. Konsentrasi analit yang berada metode ini dapat dipercaya atau lebih valid untuk
pada limit deteksi belum sepenuhnya dapat analisis Pb dalam urine dengan menggunakan
dipercaya karena akurasi yang dihasilkan rendah. AAS.
Dari beberapa larutan standar baku Pb diukur,
dimana yang mendekati batas antara yang Saran
terdeteksi dan tidak terdeteksi diukur ulang dan 1. Perlu dilakukan pemantauan terhadap kadar Pb
menghasilkan konsentrasi terendah unutk Pb
di udara, lingkungan maupun kawasan yang
adalah 0.01745 ppm.
padat arus lalu lintas yaitu di sekitar SPBU
Sementara itu, limit kauntitasi (LoQ)
Kubang Pekanbaru
didefenisikan sebagai kosentrasi analit terendah 2. Meningkatkan
pengetahuan
masyarakat
dalam sampel yang dapat ditentukan dengan
melalui kegiatan penyuluhan agar masyarakat
presisi dan akurasi yang dapat diterima pada
dapat mengetahui bahaya Pb.Tindakan yang
kondisi operasional metode yang digunakan.LoQ
perlu
dilakukan
adalah
mengurangi
merupakan suatu kompromi antara kosentrasi
pencemaran Pb pada sumbernya yaitu dengan
dengan
presisi
dan
akurasi
yang
cara menggunakan bensin tanpa Pb dan
dipersyaratkan.Jika kosentrasi LoQ menurun
mengurangi pencemaran Pb di lingkungan
maka presisi juga menurun.Jika presisi tinggi
yaitu dengan menanam pohon yang dapat
dipersyaratkan, maka kosentrasi LoQ lebih tinggi
menyerap Pb terutama Pb yang terdapat di
harus dilaporkan.Hasil LOQ didapatkan dari
udara misalnya Pohon Ketapang serta
perhitungan Rumus adalah 0.05816 ppm.
penggunaan masker bagi petugas SPBU dan
menjaga kesehatan dengan pola hidup yang
sehat.
4. KESIMPULAN DAN SARAN
3. Sebaiknya dilakukan penelitian lanjut dengan
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pemeriksaan pada 2
memperbanyak sampel uji dan lokasi
sampel urine petugas SPBU Kubang Pekanbaru,
sampling, serta waktu yang digunakan lebih
rata- rata kandungan Pb masih di bawah NAB
lama.
yaitu 0.229 μg/ml sesuai dengan Kepmenkes No. 4. Sebaiknya apabila di temukan kandungan Pb di
1406 tahun 2002<10 μg/L creatinine.
atas NAB, di sarankan untuk melakukan
medical check up
LPPM STIKes Perintis Padang
209
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
5. DAFTAR PUSTAKA
Andryes, P. 2011 .Studi Deskriftif Kandngan
Timbal (Pb) dalam Urine pada Pedagang
Asongan di Sekitar Jumbo Pasar
Swalayan
Kota
Manado.Jurusan
Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes
Kemenkes Manado.Manado.
Annisa, F. 2012. Studi Kandungan Pb dalam
Gorengan yang Dijual di Pinggir Jalan.
Prosding Seminar Nasional Penelitian,
Pendidikan
dan
Penerapan
MIPA.Universitas
Negeri
Yogyakarta.Yogyakarta.
Anshori, Muslich dan Sri Iswati.(2009). Buku Ajar
Metodelogi
Penelitian
Kuantitatif.Airlangga University Press.
Surabaya.
Apriyanto, A.2004. Analisis Pangan. Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. Bogor.
Astini Dewi Sari. 2013. Uji Kandungan Plumbum
(Pb) Dalam Urine Karyawan
Darmono, 2001. Lingkungan Hidup dan
Pencemaran
Hubungannya
dengan
Toksikologi Senyawa Logam. Penerbit
Universitas Indonesia. Jakarta
Darmono, 2001. Lingkungan Hidup dan
Pencemaran. UI-Proses. Jakarta.
Dewi, R.S. 2009. Analisis Kadar Timbal Udara,
Timbal Darah dan Dampaknya Terhadap
Kadar Hemoglobin Pedagang Pasar di
Kota Ambon.Tesis tidak diterbitkan.
Makassar:
Program
Pascasarjana.
UNHAS.
Harmita.2004. Petunjuk Pelaksanaan Validasi
Metode dan cara perhitungannya.
Majalah Ilmu Kafarmasian.
Katzung, B.G.2004. Farmakologi Dasar dan
Klinik Buku 3 Edisi 8. Penerjemah dan
Editor : Bagian Farmakologi Fk UNAIR.
Penerbit Salemba Medika, Surabaya.
Kepmenkes RI.2002. Standar Pemeriksaan Kadar
Timah Hitam Pada Spesimen Biomarker
Manusia. Jakarta
Khidri, 2008. Kadar Timbal dalam darah Anakanak di Kota Makassar, (Online),
(http://www.pdpersi.co.id, diakses 7
februari 2016).
Khopkar, S.M.1990. Konsep Dasar Kimia
Analitik. Universitas Indonesia. Jakarta.
KPPB, 2005. Dampak Pemakaian Bensin
Bertimbal dan Kesehatan, (Online),
LPPM STIKes Perintis Padang
ISSN: 2548-3153
(http://www.kpbb.org/pdf, diakses 6
Februari 2016).
Lestari, P. 2011. Polusi Timbal Bikin Bodoh,
(Online),
(http://www.pjnhk.go.id,
diakses 10 Februari 2016).
Lestari, P. 2005. Faktor-faktor yang Berpengaruh
Terhadap Kadar Timbal Dalam Darah
Anak-Anak Sekolah Dasar di Kota
Bandung. Journal Indonesian.
Mukono, H.J.2008. Epidemiologi Lingkungan
(Environmental Epidemiologi ). UNAIR
Press. Surabaya.
Nasir,M.2012.GambaranInfestasiAscarisLumbric
oidesdanTrichurisTrichiuraPadaMuridKel
as I, II, dan III SD Negeri 45 di
LingkunganPembuatanBatu
Bata
KecamatanTenayan Raya Kota Pekanbaru.
FK UR.Pekanbaru.
Palar, H.2004.Pencemaran Tosikologi Logam
Berat. Rineka Cipta. Jakarta.
Pertamina.2009. Indrustri Disel Oil (Minyak
Disel).>http:www.Pertamina.Com/
Indonesia
/head-office/hilirppdn/product/prd-solar.htlm.(2 Februari
2016)
Purwanto, A.,
Supriyanto,C.,
Samin P.
(2007).Validasi Pengujian Cr, Cu Dan Pb
Dengan Metode Spektrometri Serapan
Atom. Pusat Teknologi Akselerator Dan
Proses Bahan Batan.Yogyakarta.
Riyadina, W.2002. Faktor-Faktor Resiko
Hipertensi Pada Operator Pompa Bensin
(SPBU).Media
Litbang
Kesehatan.
Jakarta.
Soedomo, M., 2001,Pencemaran Udara, Penerbit
ITB, Bandung.
SPBU Bayaoge Kota Palu.Jurnal
Biocelebes. Palu
Rahayu Sri, W.N.2012.Validasi Uji Toksisitas
Akut
Metode
Organization
And
Developmen (OECD) 425 Pada Mencit
Betina Menggunakan Tembaga (II) Sulfat
Pentahidrat.FMIPA.Depok.
Syukri, M., 2012, Analisis Logam Pb pada Garam
Talise.Skripsi Jurusan Kimia FMIPA
UNTAD.
Yusthin, Catur Yuantari, dkk. (2009). Faktor –
Faktor Yang Berhubungan Dengan Kadar
Timah Hitam (Pb) Dalam Darah
Operator Spbu Coco Di Jl. Ahmad Yani
Semarang. FKUdinus. Semarang.
210
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Roger Waston.2002.Anatomi Fisiologi Untuk
Perawat.Jakarta.Garmedia
LPPM STIKes Perintis Padang
211
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Copyright @ 2016 Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM)
STIKes Perintis Padang
Alamat Penerbit :
Jl. Adinegoro Simpang Kalumpang Lubuk Buaya Padang, Sumatera Barat – Indonesia
Telp. (+62751) 481992, Fax. (+62751) 481962
LPPM STIKes Perintis Padang
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan : Update Keperawatan Bencana
Pengurangan Resiko Bencana
ISSN: 2548-3153
Download