Sanksi Administrasi Terhadap Analisis Dampak

advertisement
M a j a l a h H u k u m F o r u m A k a d e m i k a | 74
Sanksi Administrasi Terhadap Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL)
Dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan
Oleh:
Fitria1
ABSTRAK
Dalam upaya melestarikan kemampuan lingkungan, analisis mengenai dampak
lingkungan bertujuan untuk menjaga agar kondisi lingkungan tetap berada pada
suatu derajat mutu tertentu demi menjamin kesinambungan pembangunan.
Peranan instansi yang berwenang memberikan keputusan tentang proses analisis
mengenai dampak lingkungan sudah jelas sangat penting. Keputusan yang
diambil aparatur dalam prosedur administrasi yang ditempuh pemrakarsa
sifatnya sangat menentukan terhadap mutu lingkungan, karena AMDAL berfungsi
sebagai instrumen pencegahan pencemaran lingkungan. Penegakan hukum
admnistrasi terhadap instrument pelaksanaan Amdal Sarana penegakan hukum
administrasi berisi (1) Pengawasan
bahwa organ pemerntah
dapat
melaksanakan ketaatan pada atau berdasarkan undang-undang yang ditetapkan
secara tertulis dan pengawasan terhadap keputusan yang meletakan kewajiban
kepada individu dan (2) penerapan kewenangan sanksi Pemerintah. Dalam upaya
melestarikan kemampuan lingkungan, analisis mengenai dampak lingkungan
bertujuan untuk menjaga agar kondisi lingkungan tetap berada pada suatu
derajat mutu tertentu demi menjamin kesinambungan pembangunan. Peranan
instansi yang berwenang memberikan keputusan tentang proses analisis
mengenai dampak .lingkungan sudah jelas sangat penting. Sanksi administrasi
pada umumnya mempunyai fungsi instrumental, yaitu pengendalian perbuatan
terlarang. Di samping itu, sanksi administrasi terutama ditujukan kepada
perlindungan kepentingan yang dijaga oleh ketentuan yang dilanggar tersebut.
Secara umum dikenal beberapa macam sanksi hukum administrasi, yaitu:
Paksaan pemerintahan(bestuursdwang), Penarikan kembali keputusan yang
menguntungkan(izin,subsidi,pembayaran, dansebagainya), Penggenaan uang
paksa oleh pemerintah (dwangsom) dan Pengenaan denda administrative
(administrative boetoe).
Kata Kunci : Sanksi Administrasi,AMDAL dan Penegakan Hukum Lingkungan
1
Dosen Bagian Hukum Administrasi Negara Fak. Hukum Univ. Jambi.
ISSN : 0854 – 789 X
Volume 25, Nomor 1, Maret 2014
M a j a l a h H u k u m F o r u m A k a d e m i k a | 75
A. Pendahuluan
Pengelolaaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam akan melibatkan
banyak pihak, baik secara perorangan maupun secara kelompok atau
kelembagaan. Kesalahan dalam pengelolaan lingkungan hidup dan penggunaan
sumber daya alam akan menyebabkan timbulnya masalah lingkungan. Hukum
lingkungan merupakan bidang ilmu yang masih muda, yang perkembangannya
baru terjadi pada dua dasawarsa akhir ini. Apabila dikaitkan dengan peraturan
perundang-undangan yang mengatur berbagai aspek lingkungan, maka panjang
atau pendeknya sejarah tentang peraturan tersebut tergantung dari apa yang
dipandang sebagai environment concern.
Menurut Koesnadi Hardjasoemantri, hukum lingkungan di Indonesia dapat
meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
1. Hukum tata lingkungan
2. Hukum Perlindungan Lingkungan
3. Hukum Kesehatan Lingkungan
4. Hukum Pencemaran Lingkungan
5. Hukum Lingkungan Transnasional/Internasional
6. Hukum sengketa Lingkungan. 2
Sementara itu menurut Siti Sundari Rangkuti, hukum
lingkungan
menyangkut penetapan nilai-nilai , yaitu nilai-nilai yang sedang berlaku dan nilainilai yang diharapkan diberlakukan di masa mendatang serta dapat disebut
”hukum yang mengatur tatanan lingkungan hidup”.3 Hukum lingkungan adalah
hukum yang mengatur hubungan timbal balik antara manusia dengan mahkluk
hidup lainnya yang apabila dilanggar dapat dikenakan sanksi.
Dalam rangka penegakkan hukum dan penyelesaian masalah lingkungan
efektifitas kelembagaan lingkungan hidup ini menjadi sangat penting. Salah satu
parameter yang dapat digunakan adalah mengkaji efektifitas kelembagaan
2
Koesnadi Hardjasoemantri, Hukum Tata Lingkungan, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta; 2001 (edisi Revisi, 2005).
3
Siti Sundari Rangkuti; Hukum Lingkungan dan Kebijkasanaan Lingkungan Dalam
Proses Pembangunan Nasional Indonesia, Surabaya; 1987 (edisi revisi, 2005)
ISSN : 0854 – 789 X
Volume 25, Nomor 1, Maret 2014
M a j a l a h H u k u m F o r u m A k a d e m i k a | 76
lembaga hidup di Indonesia mulai dari kebijakansanaan di bidang lingkungan
yang diambil oleh pemerintah sampai dengan pengawasan terhadap kebijaksanaan
tersebut.
Negara sebagai pemegang kekuasaan terhadap pengelolaan lingkungan
hidup, memiliki kewajiban untuk membentuk instrumen hukum pengelolaan
lingkungan hidup sebagai rambu-rambu yang harus ditaati pemerintah dalam
melaksanakan kebijakasanaan pengelolaan lingkungan hidup.
Seperti yang diatur dalam Pasal 18 ayat (2) Undang-Undang UndangUndang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup Lingkungan Hidup bahwa wewenang pengelolaan lingkungan
hidup secara sektoral tersebar pada lembaga pemerintah baik itu departemen
maupun non departemen sesuai dengan tanggung jawab dan bidang tugas masingmasing. Ini jelas tugas yang berat, karena berdasarkan Pasal 18 ayat (1) UndangUndang Lingkungan Hidup bahwa pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat
nasional dilakukan secara terpadu.
Berdasarkan Pasal 32 Tahun 2009 dalam Bab VI tentang persyaratan
penataan lingkungan hidup pada bagian pertama yang mengatur masalah
perizinan, dinyatakan bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan
dampak yang besar terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai
dampak lingkungan (AMDAL) untuk mendapatkan izin dan dalam menerbitkan
izin wajib diperhatikan:
1. rencana tata ruang;
2. pendapat masyarakat;
3. pertimbangan dan rekomendasi pejabat yang berwenang yang
berkaitan dengan usaha dan/atau kegiatan tersebut.
Pemberian izin di bidang lingkungan sebagai salah satu kebijaksanaan yang
dibuat oleh pemerintah harus memperhatikan dampak yang ditimbulkan dari
diberikannya izin tersebut, seperti kondisi lingkungan hidup, sosiologis
masyarakat, ekonomi dan kepastian hukum.
Analisis
Mengenai
Dampak
Lingkungan
yang dilakukan
sebelum
diterbitkannya suatu izin harus dibuat secara jujur dan transparan, sehingga
ISSN : 0854 – 789 X
Volume 25, Nomor 1, Maret 2014
M a j a l a h H u k u m F o r u m A k a d e m i k a | 77
masyarakat dapat memberikan kontrol sebagai pihak yang merasakan akibat
langsung dari diterbitkanya sebuah izin.
Hal-hal tersebutlah yang kemudian menarik minat penulis untuk
mengangkat masalah tersebut ke dalam suatu penelitian yang mengambil judul
“Sanksi Administrasi terhadap Perizinan Analisis Dampak Lingkungan
(AMDAL) dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan”.
B. Permasalahan
Untuk membatasi objek dan kajian penelitian maka peneliti melakukan
pembatasan masAlah dengan merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana Instrumen Hukum Administrasi dalam pelaksanaan analisis
mengenai dampak lingkungan (AMDAL) terhadap perizinan yang
diterbitkan oleh pemerintah?
2. Bagaimana Sanksi Administrasi terhadap Pelaksanaan Analisis Dampak
Lingkungan (AMDAL) dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan ?
C.
Tinjauan Umum tentang Izin
1. Pengertian Izin
Menurut Sjahran Basah yang dimaksud dengan izin adalah perbuatan
hukum administrasi negara bersegi satu yang mengaplikasikan peraturan
dalam hal konkret berdasarkan persyaratan dan prosedur sebagaimana
ditetapkan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”4.
Sedangkan menurut Spelt & Ten Berg pengertian izin adalah “suatu
persetujuan dari penguasa berdasarkan undang-undang atau peraturan
pemerintah, untuk dalam keadaan tertentu menyimpang dari ketentuan
4
Sjahran Basah, “Pengantar Izin sebagai Salah Satu Sanksi Hukum Administrasi” ,
Makalah pada Penataran Hukum Administrasi dan Lingkungan di Fakultas Hukum Unair,
Surabaya, 1995, hal. 1-2
ISSN : 0854 – 789 X
Volume 25, Nomor 1, Maret 2014
M a j a l a h H u k u m F o r u m A k a d e m i k a | 78
larangan perundangan”5. Selanjutnya menurut pendapat Ateng Syafrudin
“izin bertujuan menghilangkan larangan, hal yang dilarang menjadi boleh”6.
Perizinan merupakan suatu keputusan yang dikeluarkan oleh Pejabat
Tata Usaha Negara, hal ini sesuai dengan isi ketentuan Pasal 1 angka 3
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 disebutkan bahwa:
Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang
dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi
tindakan hukum Tata Usaha Negara yang berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku bersifat konkrit, individual dan final
yang dapat menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan
hukum perdata.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dan dikaitkan dengan ketentuan
Pasal 1 angka (3) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004, maka penulis dapat
simpulkan bahwa pengertian izin adalah suatu bentuk ketetapan atau
keputusan pemerintah yang berisikan kebolehan atau persetujan dari
pemerintah untuk dapat melakukan sesuatu hal baik yang dilarang atau tidak
dengan prosedur dan persyaratan tertentu untuk memperolehnya.
Dalam hal ini perizinan merupakan suatu bentuk Keputusan Tata Usaha
Negara yang diberlakukan, namun bukan bertujuan untuk mempersulit warga
masyarakat dalam melaksanakan segala aktivitas yang diinginkannya,
melainkan bertujuan untuk dapat mengatur, mengendalikan serta mengawasi
perilaku warga masyarakat baik terhadap perorangan maupun kelompok
sehingga kegiatan yang dilakukan tersebut tidak menimbulkan keresahan dan
kerugian bagi masyarakat, lingkungan dan negara.
Izin sebagai instrumen pemerintahan merupakan perbuatan hukum
sepihak dari pemerintah yang ada dalam lapangan hukum administrasi,
perbuatan hukum itu sendiri adalah suatu perbuatan dan akibatnya diatur
dalam hukum, baik hukum publik maupun hukum privat.
5
Spelt & Ten Berg, J.B.J.M ten Berg,1992,Pengantar Hukum Perizinan, ISBN 979-5850008 hal.2
6
Ateng Syafrudin, “Perizinan untuk Berbagai Kegiatan” , Makalah tidak dipublikasikan,
hal. 1
ISSN : 0854 – 789 X
Volume 25, Nomor 1, Maret 2014
M a j a l a h H u k u m F o r u m A k a d e m i k a | 79
Dalam hal mengeluarkan izin, pemerintah juga harus adil dan tidak
memihak ataupun hanya memikirkan atau memprioritaskan kepentingan
suatu kelompok atau orang-orang tertentu, melainkan harus merata. Jadi
dengan demikian jika seseorang diberikan izin yang lain pun harus diberi izin
pula, namun harus berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang memadai.
Adapun unsur-unsur dari perizinan yaitu sebagai berikut:
a.
Instrumen Yuridis
b. Peraturan Perundang-undangan
c.
Organ Pemerintah
d. Peristiwa Konkrit
e.
Prosedur dan Persyaratan
2. Izin sebagai Salah Satu Instrumen Hukum Pemerintahan
Penyelenggaraan
tugas
dan
fungsi
pemerintahan,
pelaksanaan
pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat oleh pemerintah baik Pusat
maupun Daerah tentulah diperlukan perangkat hukum yang mengatur tentag
segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pemerintahan itu sendiri
baik terhadap lingkungan pemerintah maupun untuk lingkungan masyarakat
umum. Sejalan dengan tugas-tugas pemerintahan, khususnya dalam ajaran
welfare state yang memberikan kewenangan yang luas kepada administrasi
negara termasuk kewenangan dalam bidang legislasi, maka peraturanperaturan hukum dalam hukum administrasi negara di samping dibuat oleh
lembaga legislatif, juga ada peraturan-peraturan yang dibuat secara mandiri
oleh administrasi negara, termasuk salah satu contohnya adalah perizinan
baik yang berlaku untuk wilayah daerah maupun yang berlaku secara
nasional.
3. Fungsi dan Tujuan Izin
Izin sebagai “instrumen yuridis yang digunakan oleh pemerintah untuk
mempengaruhi para warga agar mau mengikuti cara yang dianjurkan guna
mencapai suatu tujuan konkrit”. Sebagai suatu instrumen, izin berfungsi
selaku ujung tombak instrumen hukum sebagai pengarah, perekayasa dan
perancang masyarakat adil dan makmur itu dijelmakan.
ISSN : 0854 – 789 X
Volume 25, Nomor 1, Maret 2014
M a j a l a h H u k u m F o r u m A k a d e m i k a | 80
4. Bentuk dan Isi Izin
Perizinan sebagai suatu keputusan memiliki bentuk dan isi tertentu yang
termuat di dalam keputusan perizinan itu sendiri, untuk menjamin kepastian
hukum pada umumnya izin dikeluarkan atau diterbitkan dalam bentuk tertulis
kepada pihak-pihak yang dituju.
Dalam sebuah keputusan peizinan harus memenuhi aspek yuridis yang
harus termuat dalam keputusan tersebut. Aspek yuridis sistem perizinan
tersebut terdiri dari:
a. Larangan
b. Izin
c. Ketentuan-ketentuan
5. Prosedur dan Sifat Keputusan Perizinan
a.
Prosedur Pemberian Izin
Pada umumnya permohonan izin harus menempuh prosedur
tertentu yang ditentukan oleh pemerintah, selaku pemberi izin. Di
samping harus menempuh prosedur tertentu, pemohon izin juga harus
memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu yang ditentukan secara
sepihak oleh pemberi izin. Prosedur dan persyaratan perizinan
berbeda-beda tergantung jenis izin dan instansi pemberi izin.
b.
Sifat Keputusan Izin
Izin merupakan suatu perbuatan hukum yang diterbitkan oleh
pejabat yang bewenang sebagai perbuatan hukum tentu pula
menimbulkan akibat-akibat hukum yang berupa larangan, aturanaturan dan kebolehan yang dipatuhi oleh warga masyarakat.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa keputusan perizinan yang bersifat
pribadi tidak dapat dialihkan, dengan kata lain tidak dapat dialihkan kepada orang
lain meskipun benda yang berkaitan dengan keputusan tersebut dapat dialihkan
kepada pihak lain, sedangkan putusan perizinan yang bersifat kebendaan dapat
beralih secara langsung secara bersamaan dengan yang dialihkan.
ISSN : 0854 – 789 X
Volume 25, Nomor 1, Maret 2014
M a j a l a h H u k u m F o r u m A k a d e m i k a | 81
D. Penegakan
Hukum
dalam
hal
Pengawasan
terhadap
Hukum
Administrasi Negara
Menurut P. Nicolai dan kawan-kawan, Sarana penegakan hukum
administrasi berisi (1) Pengawasan bahwa organ pemerntah dapat melaksanakan
ketaatan pada atau berdasarkan undang-undang yang ditetapkan secara tertulis dan
pengawasan terhadap keputusan yang meletakan kewajiban kepada individu dan
(2) penerapan kewenangan sanksi Pemerintah.
Nicolai
Pendapat yang dikemukakan
Hamper senada dengan Ten Berg seperti yang dikutip Philipus M.
Hadjon, yang menyebutkan bahwa instrument penegakan hukum administrasi
meliputi pengawasan dan penegakan sanksi. Pengawasan merupakan langkah
preventif untuk memaksakan kepatuhan sedangkan sanksi merupakan langkah
represif untuk memaksakan kepatuhan.
Telah disebutkan bahwa sarana penegakan hukum itu disamping
pengawasan, adalah sanksi. Sanksi merupakan bagian penting dalam setiap
peraturan perundang-undangan, bahkan menurut J.B.J.M ten Berg menyebutkan
bahwa sanksi merupakan inti dari penegakan hukum administrasi.
Dalam hukum Administrasi Negara, penggunaan sanksi administrasi
merupakan penerapan kewenangan pemerintahan di mana kewenangan berasal
dari aturan hukum administrasi tertulis dan tidak tertulis. Sanksi dalam Hukum
Administrasi yaitu Alat kekuasaan yang bersifat hukum public yang dapat
digunakan oleh pemerintah sebagai reaksi atas ketidakpatuhan terhadap kewajiban
yang terdapat dalam norma hukum administrasi.
E. Macam-macam Sanksi dalam Hukum Administrasi Negara
Seiring dengan luasnya ruang lingkup dan keragaman bidang urusan
pemerintahan yang masing-masing bidang itu diatur dengan peraturan tersendiri,
macam dan jenis sanksi dalam rangka penegakan peraturan itu menjadi beragam.
Pada umumnya macam-macam dan jenis sanksi itu dicantumkan dan ditentukan
secara tegas dalam peraturan perundang-undangan bidang administrasi tertentu.
Secara umum dikenal beberapa macam sanksi hukum administrasi, yaitu :
(1)Paksaan pemerintahan ( bestuursdwang )
ISSN : 0854 – 789 X
Volume 25, Nomor 1, Maret 2014
M a j a l a h H u k u m F o r u m A k a d e m i k a | 82
(2)Penarikan
kembali
(izin,subsidi,pembayaran,
keputusan
yang
menguntungkan
dan sebagainya)
(3) Penggenaan uang paksa oleh pemerintah (dwangsom)
(4)Pengenaan denda administrative (administrative boetoe).
F. Pengertian Tata Ruang dan Baku Mutu lingkungan
Untuk menjamin pelestarian fungsi lingkungan hidup, setiap usaha dan/atau
kegiatan dilarang melanggar baku mutu dan kriteria baku kerusakan lingkungan
hidup. Ketentuan mengenai baku mutingkungan hidup, pencegahan, dan
penanggulangan kerusak serta pemulihan daya tampung diatur dalam Peraturan
Pemerintah!
Ketentuan
hidttppencegahan
dan
mengenai
baku
penanggulangan
mutu
kerusakan
kerusakan
serta
lingkungan
pemulihan
day-
adukungnya diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Menurut Siti Sundari Rangkuti, untuk memahami baku mutu lingkungan, di
samping pengertian pengotoran (contamination) j^an pencemaran (pollution), perlu pula
dibedakan antara pengertian gangguan (hinder) dan derita yang melebihi derajat
gangguan (overlast)
G. Analisis mengenai dampak lingkungan
Dalam rangka melaksanakan pembangunan yang berwawasan lingkungan
yaitu suatu pembangunan yang berencana dalam pengelolaan sumber daya alam
secara bijaksana untuk meningkatkan mutu hidup maka diperlukan suatu upaya
untuk menjaga keserasian antar berbagai usaha atau kegiatan. Untuk
melaksanakan konsep pembangunan tersebut maka pemerintah Indonesia
menerapkan sustu studi AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) yaitu
kajian yang diperlukan dalam proses pengambilan keputusan tentang pelaksanaan
rencana usaha atau kegiatan yang mempunyai dampak penting terhadap
lingkungan hidup, sehingga diharapkan dengan pendekatan tersebut akan
memperkecil
kerusakan-kerusakan
lingkungan
dan
lebih
terkontrolnya
pemanfaatan terhadap sumber daya alam.
ISSN : 0854 – 789 X
Volume 25, Nomor 1, Maret 2014
M a j a l a h H u k u m F o r u m A k a d e m i k a | 83
H. Instrumen Hukum Administrasi dalam pelaksanaan analisis mengenai
dampak lingkungan (AMDAL) terhadap perizinan yang diterbitkan oleh
pemerintah
Pengelolaan lingkungan hidup yang dilakukan oleh pemerintahan baik
pemerintahan pusat, propinsi, kota/kabupaten tidak terlepas dari kebijakan
pengelolaan potensi sumber daya alam yang dimiliki.
Pelaksanaan
kebijaksanan
pengelolaan
lingkungan
hidup
dapat
mengikutsertakan peran Pemerintahan Daerah. Selanjutnya, dalam UUPLH
menegaskan bahwa dalam hal wewenang pengawasan diserahkan kepada
Pemerintahan Daerah, kepala daerah menetapkan pejabat yang berwenang
melakukan pengawasan.
Berkaitan dengan penegakan hukum admnistrasi terhadap instrument
perizinan Menurut P. Nicolai dan kawan-kawan, Sarana penegakan hukum
administrasi berisi (1) Pengawasan bahwa organ pemerntah dapat melaksanakan
ketaatan pada atau berdasarkan undang-undang yang ditetapkan secara tertulis dan
pengawasan terhadap keputusan yang meletakan kewajiban kepada individu dan
(2) penerapan kewenangan sanksi Pemerintah.
Nicolai
Pendapat yang dikemukakan
Hamper senada dengan Ten Berg seperti yang dikutip Philipus M.
Hadjon, yang menyebutkan bahwa instrument penegakan hukum administrasi
meliputi pengawasan dan penegakan sanksi. Pengawasan merupakan langkah
preventif untuk memaksakan kepatuhan sedangkan sanksi merupakan langkah
represif untuk memaksakan kepatuhan.
Dalam upaya melestarikan kemampuan lingkungan, analisis mengenai
dampak lingkungan bertujuan untuk menjaga agar kondisi lingkungan tetap
berada pada suatu derajat mutu tertentu demi menjamin kesinambungan
pembangunan. Peranan instansi yang berwenang memberikan keputusan tentang
proses analisis mengenai dampak .lingkungan sudah jelas sangat penting.
Keputusan yang diambil aparatur dalam prosedur administrasi yang ditempuh
pemrakarsa sifatnya sangat menentukan terhadap mutu lingkungan, karena
AMDAL berfungsi sebagai instrumen pencegahan pencemaran lingkungan.
ISSN : 0854 – 789 X
Volume 25, Nomor 1, Maret 2014
M a j a l a h H u k u m F o r u m A k a d e m i k a | 84
I.
Sanksi Administrasi
terhadap Pelaksanaan Analisis
Dampak
Lingkungan (AMDAL) dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan
Sanksi administrasi terutama mempunyai fungsi instrumental, yaitu
pengendalian perbuatan terlarang. Di samping itu, sanksi administrasi terutama
ditujukan kepada perlindungan kepentingan yang dijaga oleh ketentuan yang
dilanggar tersebut.
Seiring dengan luasnya ruang lingkup dan keragaman bidang urusan
pemerintahan yang masing-masing bidang itu diatur dengan peraturan tersendiri,
macam dan jenis sanksi dalam rangka penegakan peraturan itu menjadi beragam.
Pada umumnya macam-macam dan jenis sanksi itu dicantumkan dan ditentukan
secara tegas dalam peraturan perundang-undangan bidang administrasi tertentu.
Secara umum dikenal beberapa macam sanksi hukum administrasi, yaitu :
(1) Paksaan pemerintahan ( bestuursdwang )
Kewenangan paksaan pemerintahan dapat diuraikan dengan sebagai
kewenangan organ pemerintahan untuk melakukan tindakan nyata
mengakhiri situasi yang bertentangan dengan norma hukum administrasi
Negara karena kewajiban yang muncul dari norma itu tidak dijalankan atau
sebagai reaksi dari pemerintah atas pelanggaran norma hukum yang
dilakukan warga Negara.
(2) Penarikan
kembali
(izin,subsidi,pembayaran,
keputusan
yang
menguntungkan
dan sebagainya)
Salah satu sanksi dalam HAN adalah pencabutan atau penarikan KTUN
yang menguntungkan. Pencabutan ini dilakukan dengan mengeluarkan suatu
ketetapan baru yang isinya menarik kembalidan/atau menyatakan tidak
berlaku lagi ketetapan terdahulu.
(3) Penggenaan uang paksa oleh pemerintah (dwangsom)
Dalam hukum administrasi pengenaan uang paksa ini dapat dikenakan
kepada seseoran atau warga Negara yang tidak mematuhi atau melanggar
ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai alternative dari tindakan
paksaan pemerintahan.
(4) Pengenaan denda administrative (administrative boetoe
ISSN : 0854 – 789 X
).
Volume 25, Nomor 1, Maret 2014
M a j a l a h H u k u m F o r u m A k a d e m i k a | 85
Denda adminstratif dapat dilihat contohnya denda fiscal yang ditarik oleh
inspektur pajak dengan cara meninggikan pembayaran dari ketentuan
semula sebagai akibat dari kesalahannya.
Sanksi administrasi yang berupa teguran lisan, paksaan pemerintah, uang
paksa , penarikan kembali lkeputusan yang menguntungkan dan denda
administrasi ternyata ketentuan yang mengatur jenis sanksi administrasi
dalam peraturan perundang-undangan lingkungan di Indonesia masih lemah
dan bahkan sedikit sekali peraturan yang mencantumkan pemberian sanksi
administrasi terhadap pelanggar.
J.
Kesimpulan
1. Instrumen Hukum Administrasi dalam pelaksanaan analisis mengenai
dampak lingkungan (AMDAL) terhadap perizinan yang diterbitkan oleh
pemerintah
Penegakan hukum admnistrasi terhadap instrument perizinan pelaksanaan
Amdal Sarana penegakan hukum administrasi berisi (1) Pengawasan
bahwa organ pemerntah
berdasarkan
dapat melaksanakan ketaatan pada atau
undang-undang
yang
ditetapkan
secara
tertulis
dan
pengawasan terhadap keputusan yang meletakan kewajiban kepada
individu dan (2) penerapan kewenangan sanksi Pemerintah.
Instrument penegakan hukum administrasi dalam pelaksanaan AMDAL
terhadap perizinan yang diterbitkan pemerintah meliputi pengawasan dan
penegakan sanksi. Pengawasan merupakan langkah preventif untuk
memaksakan kepatuhan sedangkan sanksi merupakan langkah represif
untuk memaksakan kepatuhan.
2. Sanksi Administrasi terhadap Pelaksanaan Analisis Dampak Lingkungan
(AMDAL) dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan
Pada umumnya macam-macam dan jenis sanksi itu dicantumkan dan
ditentukan secara tegas dalam peraturan perundang-undangan bidang
administrasi tertentu. Secara umum dikenal beberapa macam sanksi
ISSN : 0854 – 789 X
Volume 25, Nomor 1, Maret 2014
M a j a l a h H u k u m F o r u m A k a d e m i k a | 86
hukum administrasi, yaitu :
a. Paksaan pemerintahan ( bestuursdwang )
b. Penarikan
kembali
(izin,subsidi,pembayaran,
keputusan
yang
menguntungkan
dan sebagainya)
c. Penggenaan uang paksa oleh pemerintah (dwangsom)
d. Pengenaan denda administrative (administrative boetoe).
K. Saran
1. Diharapkan
Instrument
penegakan
hukum
administrasi
dalam
pelaksanaan AMDAL terhadap perizinan yang diterbitkan pemerintah
meliputi pengawasan dan penegakan sanksi lebih optimal di lakukan
oleh Pemerintah.
2. Sanksi Administrasi yang diterapkan Pemerintah Daerah kepada
pelanggaran pelaksanaan AMDAL yang diberikan benar-benar harus
sesuai dengan porsi kesalahan pelanggar dan diharapkan ketegasan dan
kecermatan dalam pemberian sanksi administrasi sebagai salah satu
unsur penegakan hukum administrasi setelah pengawasan yang
dilakukan oleh pemerintah dan berpatokan kepada undang-undang yang
berlaku dan asas-asas umum pemerintahan yang baik.
ISSN : 0854 – 789 X
Volume 25, Nomor 1, Maret 2014
M a j a l a h H u k u m F o r u m A k a d e m i k a | 87
DAFTAR PUSTAKA
Buku
J.B.J.M ten Berg, 1992, Pengantar Hukum Perizinan, ISBN 979-585-0008.
Kusnadi Hardjosoemantri, 2005, Hukum Tata Lingkungan, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Muchsan, 2000, Sistem Pengawasan Terhadap Perbuatan Aparat Pemerintah dan
Peradilan Tata Usaha Negara di Indonesia, Liberty, Yogjakarta.
Muhammad Erwin, 2008, Hukum Lingkungan Dalam Sistem Kebijaksanaan
Pembangunan Lingkungan Hidup, Refika Aditama, Bandung.
Siti Sundari Rangkuti, 2005, Hukum Lingkungan dan Kebijkasanaan Lingkungan
Dalam Proses Pembangunan Nasional Indonesia, Surabaya
Sjaran Basah, 1995, Pencabutan Izin Salah Satu Sanksi Hukum Administrasi,
Makalah, Surabaya, Fakultas Hukum Unair.
Subagyo, P. Joko., 2002, Hukum Lingkungan Masalah dan Penanggulanganya,
Rineka Cipta, Jakarta.
Sukamto Satoto,2005, Hukum dan Sanksi Administrasi, Bahan Kuliah Fakultas
Hukum Universitas jambi.
Supriadi, 2006, Hukum Lingkungan DiIndonesia, sebuah pengantar, Penerbit
Sinar Grafika, Jakarta.
Philipus M.Hadjon et al, 2005, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Gadjah
Mada University Press,Yogyakarta
Peter Mahmud Marzuki, 2005, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media
Group, Jakarta.
Ridwan HR, 2006, Hukum Administrasi Negara, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Peraturan Perundang-undangan
Undang-Undang 32 tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
ISSN : 0854 – 789 X
Volume 25, Nomor 1, Maret 2014
M a j a l a h H u k u m F o r u m A k a d e m i k a | 88
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup.
Kepmen LH No. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha dan atau Kegiatan yang
Wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup.
Permen LH No. 08 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyusunan Amdal.
ISSN : 0854 – 789 X
Volume 25, Nomor 1, Maret 2014
Download