BAB II NILAI-NILAI PENDIDIKAN BUDI PEKERTI A. Nilai 1

advertisement
BAB II
NILAI-NILAI PENDIDIKAN BUDI PEKERTI
A. Nilai
1.
Pengertian Nilai
Nilai adalah prinsip-prinsip sosial, tujuan-tujuan, atau standar yang
dipakai atau diterima oleh individu, kelas, masyarakat, dan lain-lain.
Drijarkara mengungkapkan bahwa nilai merupakan hakikat sesuatu
yang menyebabkan hal itu pantas dikerjakan oleh manusia. Nilai erat
kaitannya dengan kebaikan, kendati keduanya memang tidak sama
meningat bahwa sesuatu yang baik tidak selalu bernilai tinggi bagi
seseorang atau sebaliknya.1
Dalam sebuah laporan yang ditulis oleh A Club of Rome, nilai
digunakan untuk mewakili gagasan atau makna yang abstrak dan
terukur dengan jelas. Nilai yang abstrak dan sulit diukur itu antaralain
keadilan,
kejujuran,
kebebasan,
kedamaian
dan
persamaan.
Dikemukakan pula, sistem nilai merupakan sekelompok nilai yang
saling berkaitan satu dengan lainnya dalam sebuah sistem yang saling
menguatkan dan tidak terpisahkan. Nilai-nilai itu bersumber dari
agama maupun dari tradisi humanistik. Karena itu, perlu dibedakan
secara tegas antara nilai sebagai kata benda abstrak dengan cara
perolehan nilai sebagai kata kerja dalam beberapa hal sebenarnya telah
1
Agus Zaenul Fitri, Pendidikan Karakter Berbasis Nilai & Etika Di Sekolah (Jogjakarta: Ar-Ruzz
Media, 2012), hlm. 87.
26
ada kesepakatan umum secara etis mengenai pengertian nilai,
walaupun terdapat perbedaan dalam memandang etika perilaku.
Definisi nilai sering dirumuskan dalam konsep yang berbeda-beda.
Seperti dinyatakan Kurt Baier, seorang sosiolog menafsirkan nilai dari
sudut pandangnya sendiri tentang keinginan, kebutuhan, kesenangan,
seseorang sampai pada sanksi dan tekanan dari masyarakat. Seorang
psikolog menafsirkan nilai sebagai suatu kecenderungan perilaku yang
berawal dari gejala-gejala psikologis, seperti hastrat, motif, sikap,
kebutuhan, dan keyakinan yang dimiliki secara individual sampai
pada waktu tingkah lakunya yang unik.2
Pengertian nilai menurut Milton Roceach dan Ames Bank dalam
Kartawisastra adalah suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang
lingkup sistem kepercayaan, di mana seseorang harus bertindak atau
menghindari suatu tindakan, atau mengenai sesuatu yang pantas atau
tidak pantas dikerjakan, dimiliki dan dipercayai. Pengertian ini berarti
bahwa nilai itu merupakan sifat yang melekat pada sesuatu yang telah
berhubungan dengan subjek (manusia pemberi nilai).
Sementara
itu,
pengertian
nilai
menurut
Fraenkel
dalam
Kartawisastra adalah standar tingkah laku, keindahan, keadilan,
kebenaran, dan efisiensi yang mengingkat manusia dan sepatutnya
dijalankan dan dipertahankan. Pengertian ini menunjukkan bahwa
2
Rohmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai (Bandung: Alfabeta, 2011), hlm. 8.
27
hubungan antara subjek dengan objek memiliki arti yang penting
dalam kehidupan subjek.
Sidi Gazalba mengartikan nilai adalah sesuatu yang bersifat
abstrak, dan ideal. Nilai bukan benda konkret, bukan fakta, tidak
hanya sekadar soal penghayatan yang dikehendaki dan tidak
dikehendaki, yang disenangi dan tidak senangi. Nilai itu terletak
antara hubungan subjek penilai dengan objek.
Berdasarkan pengertian di atas, bisa digaris bawahi bahwa nilai
merupakan esensi yang melekat pada sesuatu yang sangat berarti bagi
kehidupan manusia. Esensi itu sendiri belum berarti sebelum
dibutuhkan manusia, tetapi bukan berarti adanya esensi itu karena
adanya manusia yang membutuhkan. Hanya saja kebermaknaan esensi
tersebut semakin meningkat sesuai dengan peningkatan daya tangkap
dan permaknaan manusia itu sendiri. Hakikat kehidupan sosial
kemasyarakatan
adalah
untuk
perdamaian.
Perdamaian
hidup
merupakan esensi kehidupan manusia. Esensi tidak akan hilang
walaupun semakin tinggi selama manusia mampu memberikan makna
perdamaian itu.3
2.
Macam-Macam Nilai
Menurut Noeng Muhadjir, nilai dapat dilihat dari berbagai sudut
pandang, yang menyebabkan terdapat bermacam-macam nilai, antara
lain:
3
Mawardi Lubis, Evaluasi Pendidikan Nilai (Yogyyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hlm. 16-18.
28
1) Dilihat dari kemampuan jiwa manusia, nilai dapat dibedakan
menjadi dua kelompok: (a) nilai yang statis, seperti kognisi, emosi,
konasi, dan psikomotor, dan (b) nilai/kemampuan yang dinamik,
seperti motif, berafiliasi, motif berkuasa, dan motif berprestasi.
2) Berdasarkan pendekatan budaya manusia, nilai hidup dapat dibagi
ke dalam tujuh kategori: (a) nilai ilmu pengetahuan (b) nilai
ekonomi, (c) nilai keindahan, (d) nilai politik, (e) nilai kegamaan,
(f) nilai kekeluargaan, dan (g) nilai kejasmanian.
3) Nilai bila dilihat dari sumbernya terdapat 2 jenis: (a) nilai Ilahiyah,
(b) nilai insaniah. Nilai Ilahiyah adalah nilai yang bersumber dari
agama (wahyu Allah), sedangkan nilai insaniyah adalah nilai yang
diciptakan oleh manusia atas dasar kriteria yang diciptakan oleh
manusia pula.
4) Dilihat dari segi ruang lingkup dan keberlakuannya, nilai dapat
dibagi menjadi nilai-nilai universal dan nilai-nilai lokal. Tidak
semua nilai-nilai agama itu universal, demikian pula ada nilai-nilai
insaniyah yang bersifat universal. Dari segi keberlakuan masanya,
nilai dapat dibagi menjadi (a) nilai-nilai abadi, (b) nilai pasang
surut, dan (c) nilai temporal.
5) Ditinjau dari segi hakikatnya, nilai dapat dibagi menjadi: (a) nilai
hakiki (root values) dan (b) nilai instrumental. Nilai-nilai yang
29
hakiki itu bersifat universal dan abadi, sedangkan nilai-nilai
instrumental dapat bersifat lokal, pasang surut dan temporal.4
3.
Proses Pembentukan Nilai
Menurut Krathwohl, proses pembentukan nilai pada anak dapat
dikelompokkan dalam 5 tahap, yakni:
1) Tahap receiving (menyimak). Pada tahap ini seseorang secara
aktif dan sensitif menerima stimulus dan menghadapi fenomenafenomena, sedia menerima secara aktif; dan selektif dalam
memilih fenomena. Pada tahap ini nilai belum terbentuk
melainkan baru menerima adanya nilai-nilai yang berada di luar
dirinya dan mencari nilai-nilai itu untuk dipilih mana yang paling
menarik bagi dirinya.
2) Tahap responding (menanggapi). Pada tahap ini, seseorang sudah
mulai bersedia menerima dab menanggapi secara aktif stimulus
dalam bentuk respons yang nyata. Dalam tahap ini ada tiga
tingkatan yakni tahap compliance (manut); wilingness to respond
(sedia menanggapi) dan satisfaction in response (puas dalam
menanggapi). Pada tahap ini seseorang sudah mulai aktif
menanggapi
nilai-nilai
yang
berkembang
di
luar
dan
meresponsnya.
3) Tahap valuing (memberi nilai). Kalau pada tahap pertama dan
kedua lebih banyak masih bersifat aktivitas fisik biologis dalam
4
Ibid., hlm. 18-19.
30
menerima dan menanggapi nilai, maka pada tahap ini seseorang
sudah mampu menangkap stimulus itu atas dasar nilai-nilai yang
terkandung di dalamnya dan mulai mampu menyusun persepsi
tentang objek. Dalam hal ini terdiri dari tiga tahap, yakni percaya
terhadap nilai yang ia terima; merasa terikat dengan nilai yang
dipercayai (dipilihnya) itu; dan memiliki keterkaitan batin
(commitment) untuk memperjuangkan nilai-nilai yang diterima
dan diyakini itu.
4) Tahap mengorganisasikan nilai (organization), yaitu satu tahap
yang lebih kompleks dari tahap ketiga di atas. Seseorang mulai
mengatur sistem nilai yang ia terima dari luar untuk
diorganisasikan (ditata) dalam dirinya sehingga sistem nilai itu
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam dirinya. Pada tahap
ini ada dua tahap organisasi nilai, yakni mengkonsepsikan nilai
dalam dirinya; dan mengorganisasikan sistem nilai dalam dirinya
yakni cara hidup dan tata perilakunya sudah didasarkan atas nilainilai yang diyakininya.
5) Tahap karakterisasi nilai (characterization), yang ditandai dengan
ketidakpuasan seseorang untuk mengorganisasir sistem nilai yang
diyakininya dalam hidupnya secara mapan, ajek dan konsisten
sehingga tidak dapat dipisahkan lagi dengan pribadinya. Tahap ini
dikelompokkan dalam dua tahap. Tahap menerapkan sistem nilai
31
dan tahap karakterisasi, yakni tahap mempribadikan sistem nilai
tersebut.
Tahap-tahap proses pembentukan nilai dari Krathwohl itu lebih
banyak ditentukan dari arah mana dan bagaimana seseorang
menerima nilai-nilai dari luar kemudian meninternalisasikan nilainilai tersebut dalam dirinya.5
B. Pendidikan
1. Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah proses untuk memberikan manusia berbagai
macam situasi yang bertujuan memberdayakan diri. Jadi, banyak hal
yang dibicarakan ketika kita membicarakan pendidikan. Aspek-aspek
yang biasanya paling dipertimbangkan antara lain:
a. Penyadaran
b. Pencerahan
c. Pemberdayaan
d. Perubahan perilaku
Berbagai teori dan konsep pendidikan memberikan arti yang berbeda
tentang konsep tersebut. Mereka mendiskusikan apa dan bagaimana
tindakan yang paling efektif mengubah manusia agar terberdayakan,
tercerahkan, tersadarkan, dan menjadikan manusia sebagaimana mestinya
5
Ibid., hlm. 19-21.
32
manusia. Pada titik yang terakhir, kita akan menemui berbagai macam
pandangan filsafat tentang manusia.
Karenanya,
pendidikan
berkaitan
dengan
bagaimana
manusia
dipandang. Dalam hal ini, pandangan ilmiah tentang manusia memiliki
implikasi terhadap pendidikan. Ini merupakan wilayah studi antropologi
pendidikan. Antropologi sendiri merupakan ilmu tentang asal usul,
perkembangan, karakteristik jenis (spesies) manusia atau studi tentang
manusia.
Juga banyak aspek lain yang harus kita pahami untuk memahami
makna pendidikan. Arti pendidikan itu sendiri juga menimbulkan
berbagai macam pandangan, termasuk bagaimana pendidikan harus
diselenggarakan dan metode seperti apa yang harus dipakai.6
Ivan Illich berpendapat bahwa suatu sistem pendidikan yang baik harus
mempunyai tiga tujuan, yaitu:
a. Memberikan kesempatan pada semua orang agar bebas dan mudah
memperoleh sumber belajar pada setiap saat.
b. Memungkinkan semua orang yang ingin memberikan pengetahuan
mereka kepada orang lain dapat dengan mudah melakukannya,
demikian pula bagi yang ingin mendapatkannya.
c. Menjamin tersedianya masukan umum yang berkenaan dengan
pendidikan.7
6
Nurani Soyomukti, Teori-Teori Pendidikan
Tradisional, (Neo) Liberal, Marxis-Sosialis,
Postmodern (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), hlm. 27-28.
7
Ibid., hlm. 32.
33
2. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan adalah seperangkat hasil pendidikan yang dicapai
oleh peserta didik setelah diselenggarakan kegiatan pendidikan. Seluruh
kegiatan pendidikan, yakni bimbingan pengajaran atau latihan, diarahkan
untuk mencapai tujuan pendidikan itu. Dalam konteks ini tujuan
pendidikan merupakan komponen dari sistem pendidikan yang
menempati kedudukan dan fungsi sentral. Itu sebabnya setiap tenaga
pendidikan perlu memahami dengan baik tujuan pendidikan.8
Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, Bab II Pasal 2, dengan
tegas dinyatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan nasional sebagai
ultimate goals, yang harus dicapai bangsa indonesia, ternyata memiliki
perhatian yang luar biasa pada moral. Pembentukan watak atau
peradaban yang menjadi kata kunci dalam tujuan itu, sepenuhnya
merupakan tujuan dan ikon moral yang begitu luar biasa.9
8
Moh. Suardi, Pengantar Pendidikan Teori dan Aplikasi (Jakarta: Indeks, 2012), hlm. 6.
9
Mursidin, Moral Sumber Pendidikan Sebuah
Sekolah/Madrasah (Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), hlm. 53.
34
Formula
Pendidikan
Budi
Pekerti
di
Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia yang
tak pernah bisa ditinggalkan. Sebagai sebuah proses, ada dua asumsi
yang berbeda mengenai pendidikan dalam kehidupan manusia. Pertama,
ia bisa dianggap sebagai sebuah proses yang terjadi secara tidak
disengaja atau berjalan secara alamiah. Dalam hal ini, pendidikan
bukanlah proses yang diorganisasi secara teratur, terencana, dan
menggunakan metode-metode yang dipelajari serta berdasarkan aturanaturan yang telah disepakati mekanisme penyelenggaraannya oleh suatu
komunitas masyarakat (negara), melainkan lebih merupakan bagian dari
kehidupan yang memamng telah berjalan sejak manusia itu ada.
Pengertian ini merujuk pada fakta bahwa pada dasarnya manusia secara
alamiah merupakan makhluk yang belajar dari peristiwa alam dan gejalagejala kehidupan yang ada untuk mengembangkan kehidupannya.10
Pemahaman ini membawa kita untuk lebih mudah memahami tujuantujuan pendidikanyang melampaui makna proses-prosesnya universalnya.
Misalnya, secara umum orang memahami bahwa tujuan pendidikan
adalah mengarahkan manusia agar berdaya, berpengetahuan, cerdas, serta
memiliki wawasan dan keterampilan agar siap menghadapi kehidupan
dengan potensi-potensinya yang telah diasah dalam proses pendidikan.
Misalnya, kita sering memahami bahwa proses pendidikan itu berkaitan
dengan kegiatan yang terdiri dari proses dan tujuan berikut.
10
Fatchul Mu’in, Pendidikan Karakter Konstruksi Teoretik & Praktik (Jogjakata: Ar-Ruzz Media,
2011), hlm. 287-288.
35
1. Proses pemberdayaan (empowerment), yaitu ketika pendidikan
adalah proses kegiatan yang membuat manusia menjadi lebih
berdaya menghadapi keadaan, dari situasi yang lemah menjadi
kuat dengan dilengkapi dengan proses pemberian wawasan dan
keterampilan agar hal itu membuatnya berdaya.
2. Proses
pencerahan
(englightment)
dan
penyadaran
(conscientization), yaitu ketika pendidikan merupakan proses
mencerahkan manusia melalui dibukanya wawasan dengan
pengetahuan, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak
sadar menjadi sadar, akan (potensi) dirinya dan lingkungannya.
3. Proses memberikan motivasi dan inspirasi, yaitu suatu upaya agar
para peseta didik tergerak untuk bangkit dan berperan bukan
hanya sekadar karena arahan dan paksaan, melainkan karena
diinspirasi oleh apa yang dilihatnya yang memicu semangat dari
dalam diri dan sesuai dengan bakat kemampuannya.
4. Proses mengubah perilaku, yaitu bahwa pendidikan memberikan
nilai-nilai yang ideal yang diharapkan mengatur perilaku peserta
didik. Anak-anak yang perilakunya menyeimpang dan tidak
sesuai dengan kebiasaan masyarakat diharapkan akan berubah
sesuai dengan nilai-nilai sosial yang baik dan sekaligus perilaku
tersebut mendukung perkembangan kepribadian yang dibutuhkan
untuk memainkan peran dari ilmu dan nilai yang diperolehnya.
36
Akan tetapi, situasi nyata yang sering kita jumpai adalah proses dan
output pendidikan tidak sesuai dengan cita-cita indah semacam itu.
Misalnya, kita justru melihat bahwa pendidikan ternyata justru
menghasilkan manusia-manusia yang kehilangan potensi dirinya,
manusia yang serakah dan merusak, dan manusia-manusia yang justru
mengisi sistem yang mengarahkannya menuju tatanan yang malah tidak
memanusiakan manusia.11
3. Fungsi Pendidikan
Fungsi pendidikan adalah menghilangkan penderitaan rakyat dari
kebodohan dan ketertinggalan. Diasumsikan bahwa orang yang
berpendidikan akan terhindar dari kebodohan dan kemiskinan, karena
dengan modal ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya
melalui proses pendidikan, orang akan mampu mengatasi berbagai
problema kehidupan yang hadapinya.
Kemampuan dan keterampilan yang dimiliki seseorang tentu sesuai
dengan tingkat pendidikan yang diikutinya. Semakin tinggi pendidikan
seseorang, maka diasumsikan semakin tinggi pengetahuan, keterampilan,
dan kemampuannya. Hal ini menggambarkan bahwa fungsi pendidikan
dapat meningkatkan kesejahteraan, karena orang yang berpendidikan
dapat terhindar dari kebodohan maupun kemiskinan. Dengan demikian
dapat ditegaskan bahwa fungsi pendidikan adalah membimbing anak ke
11
Ibid., hlm. 289-291.
37
arah tujuan yang kita nilai tinggi. Pendidikan yang baik adalah usaha
yang berhasil membawa semua anak didik ke tujuan itu.
Apa yang diajarkan hendaknya dipahami sepenuhnya oleh semua
anak. UUPS No. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan
bangsa.
Pendidikan
pada
akhirnya
harus
berupaya
mewujudkan masyarakat yang ditandai adanya keluhuran budi dalam diri
individu, keadilan dalam negara, dan kehidupan yang lebih bahagia dan
saleh dari setiap individunya..12
4. Kegunaan dan Manfaat Pendidikan
Menurut Syaiful Sagala, bahwa pendidikan merupakan proses mental
yang harus dianggap sebagai fungsi atau aktivitas organisme dalam
penyesuaian dengan lingkungannya. Prosesnya adalah proses biologis
dan
merupakan
dasar
psikologis
untuk
pragmatisme
dan
instrumentalisme dalam filsafat, yakni pengertian yang menyatakan
bahwa fungsi organisme menentukan strukturnya dan bukan sebaliknya.
Dalam bidang pendidikan, fungsionalisme ini menurut Poerbakawatja
dan Harahap adalah usaha untuk menentukan struktur pendidikan atas
dasar fungsi-fungsi hidup di masa sekarang dan masa depan.
Fungsi itu dikenal sebagai kebutuhan-kebutuhan dan tugas-tugas
perkembangan dan disimpulkan ke dalam dua sumber, yaitu: (1)
12
Moh. Suardi, Op. Cit., hlm. 7-8.
38
pengalaman si anak plus konsepsi tentang peranannya di dalam
hidupnya; dan (2) kebudayaan, yakni fungsi pendidikan adalah
menghilangkan segala sumber penderitaan rakyat dari kebodohan dan
ketertinggalan. Diasumsikan bahwa orang yang berpendidikan akan
terhindar dari kebodohan dan kemiskinan, karena dengan modal ilmu
pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya melalui proses
pendidikan orang mampu mengatasi berbagai problema kehidupan yang
dihadapinya.
Kemampuan dan keterampilan yang dimiliki seseorang tentu sesuai
dengan tingkat pendidikan yang diikutinya. Semakin tinggi pendidikan
seseorang, diasumsikan semakin tinggi pula pengetahuan, keterampilan,
dan kemampuannya. Hal ini menggambarkan bahwa fungsi pendidikan
dapat meningkatkan kesejahteraan, karena orang berpendidikandapat
terhindar dari kebodohan dan kemiskinan. Dengan demikian dapat
ditegaskan bahwa fungsi pendidikan adalah membimbing anak ke tujuan
yang kita nilai tinggi. Pendidikan yang baik adalah usaha yang berhasil
membawa semua anak didik ke tujuannya masing-masing.
Apa yang diajarkan hendaknya dipahami sepenuhnya oleh semua
anak. UUSPN No. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa. Pendidikan pada akhirnya harus ditinjau pada upaya
mewujudkan masyarakat yang ditandai adanya keluhuran budi dalam diri
39
individu, keadilan dalam negara, dan kehidupan yang lebih bahagia dan
saleh dari setiap individunya.
Menurut Oemar Hamalik, fungsi dan kegunaan pendidikan adalah
menyiapkan peserta didik.”Menyiapkan” diartikan bahwa peserta didik
pada hakikatnya belum siap, tetapi perlu disiapkan dan sedang
menyiapkan dirinya sendiri. Hal ini menunjuk pada proses yang
berlangsung sebelum peserta didik itu siap ke kancah kehidupan yang
nyata. Penyiapan ini dikaitkan dengan kedudukan peserta didik sebagai
calon warga yang baik, warga bangsa dan pembentuk keluarga baru, serta
mengemban tugas dan pekerjaan kelak di kemudian hari.
Strategi pelaksanaan pendidikan dilakukan dalam bentuk kegiatan
bimbingan, pengajaran, dan atau latihan. Bimbingan pada hakikatnya
adalah pemberian bantuan, arahan, motivasi, nasihat dan penyuluhan agar
siswa mampu mengatasi, memecahkan masalah, dan menanggulangi
kesulitan sendiri. Pengajaran adalah bentuk kegiatan dimana terjalin
hubungan antara pendidik (khususnya guru atau pengajar) dan peserta
didik untuk mengembangkan perilaku sesuai dengan tujuan pendidikan.
Pelatihan prinsipnya adalah sama dengan pengajaran, khususnya untuk
mengembangkan keterampilan tertentu.
Produk yang ingin dihasilkan oleh proses pendidikan adalah berupaya
lulusan yang memiliki kemampuan melaksanakan peranan-peranannya
untuk masa yang akan datang. Peranan itu bertalian dengan kegiatan
pembangunan di masyarakat.
40
Pendidikan adalah proses untuk mempengaruhi peserta didik supaya
mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungan, dan
dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang
memungkinkan berfungsi secara adekuit dalam kehidupan masyarakat.
Pengajaran bertugas mengarahkan proses perubahan itu dapat tercapai
seperti yang diinginkan.
Pada dasarnya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik
bergantung pada dua unsur yang mempengaruhi, yakni bakat yang
dimiliki oleh peserta didik sejak lahir, dan lingkungan yang
mempengaruhi hingga bakat itu tumbuh dan berkembang. Kendatipun
dua unsur tersebut sama pentingnya, namun ada kemungkinan
pertumbuhan dan perkembangan itu disebabkan oleh bakat saja atau
pengaruh lingkungan saja.13
5. Jenis-Jenis Pendidikan
Banyak pendapat para ahli tentang jenis-jenis pendidikan. Hal ini
disebabkan oleh perbedaan sudut pandangan seperti yang dikemukakan
oleh suwarno:
1. Menurut tujuannya: a. Pendidikan Pancasila; b. Pendidikan Islam;
c. Pendidikan Hindu; d. Pendidikan Katolik.
2. Menurut lembaga pendidikan: a. Pendidikan keluarga; b.
Pendidikan sekolah; c. Pendidikan masyarakat.
13
Ibid., hlm. 20-22.
41
3. Menurut
aspek
pendidikan:
a.
Pendidikan
intelektual;
b.
Kecerdasan; c. Pendidikan moral; kesusilaan; d. Pendidikan estetis
(keindahan); e. Pendidikan agama; f. Pendidikan sosial; g.
Pendidikan kewarganegaraan (patriotik): h. Pendidikan jasmani; i.
Pendidikan keterampilan (skill).
4. Menurut keadaan perkembangan peserta didik: a. Pendidikan
prenatal; b. Pendidikan bayi; c. Pendidikan anak; d. Pendidikan
anak sekolah; e. Pendidikan pamuda: f. Pendidikan orang dewasa.
5. Menurut metode yang digunakan: a. Pendidikan liberal; b.
Pendidikan otoriter; c. Pendidikan demokratis..
Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa jenis pendidikan dapat
diuraikan dengan rinci menurut masalahnya. Dan jenis-jenis di atas dapat
dijadikan dasar untuk membahas tentang jenis-jenis pendidikan dan
dipadukan dengan undang-undang yang berlaku di Indonesia. Klasifikasi
ini penting mengingat jenis dan jenjang pendidikan akan berbeda-beda
menurut falsafah dan tujuan yang hendak dicapainya.
Dalam UU No. 4 tahun 1950 tentang dasar-dasar pendidikan dan
pengajaran di sekolah, pada BAB V Pasal 6 dinyatakan tentang jenis
pendidikan dan pengajaran, yakni:
1.
Menurut jenisnya, pendidikan dan pengajaran dibagi atas:
a. Pendidikan dan pengajaran taman kanak-kanak.
b. Pendidikan dan pengajaran rendah.
c. Pendidikan dan pengajaran menengah.
42
d. Pendidikan dan pengajaran tinggi.
2. Pendidikan dan pengajaran luar biasa diberikan dengan khusus
untuk mereka yang memerlukan.
Pada pasal 7 dijelaskan tentang maksud dilaksanakan jenis-jenis
pendidikan itu. Pengajaran dan pendidikan taman kanak-kanak
dimaksudkan untuk menentukan pertumbuhan jasmani dan rohani anakanak sebelum masuk ke sekolah rendah. Pendidikan dan pengajaran
rendah bertujuan mengembangkan bakat anak didik serta memberikan
dasar-dasar pengetahuan, kecakapan, dan ketangkasan baik lahir maupun
batin.
Pendidikan dan pengajaran menengah sudah membedakan antara
pendidikan umum dan vak. Selain melanjutkan ke pendidikan tinggi,
pendidikan dan pengajaran jenis ini juga mengembangkan kemampuan
atau kesanggupan anak untuk bermasyarakat. Pendidikan dan pengajaran
jenis ini mendidik tenaga ahli sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja,
serta mempersiapkan anak didik pada pendidikan tinggi.
Pendidikan tinggi dimaksudkan untuk memberi kesempatan kerja
kepada pelajar agar menjadi orang yang dapat memberi pimpinan kepada
masyarakat dan dapat memelihara kemajuan ilmu dalam masyarakat.
Kemajuan masyarakat, perkembangan Iptek yang semakin cepat, serta
semakin menguatnya era globalisasi akan mempengaruhi peran
lingkungan dalam pendidikan. Di samping itu terjadinya pergeseran
43
peran seperti telah tampak pada keluarga modern. Keluarga modern
dituntut pula meningkatkan mutu perannya.14
C. Pengertian Pendidikan Budi Pekerti
Pengertian budi pekerti mengacu pada pengertian dalam bahasa
Inggris, yang diterjemahkan sebagai moralitas. Moralitas mengandung
beberap pengertian antara lain : (a) adat istiadat, (b) sopan santun, (c)
perilaku. Namun, pengertian budi pekerti secara hakiki adalah perilaku.
Sementara itu menurut draft kurikulum berbasis kompetensi (2001), budi
pekerti berisi nilai-nilai perilaku manusia yang akan diukur menurut
kebaikan dan keburukannya melalui norma agama, norma hukum, tata
krama dan sopan santun, norma budaya dan adat istiadat masyarakat. Budi
pekerti akan mengidentifikasi perilaku positif yang diharapkan dapat
terwujud dalam perbuatan, perkataan, pikiran, sikap, perasaaan, dan
kepribadian peserta didik.
Budi pekerti berinduk pada etika atau filsafat moral. Secara
etimologis kata etika sangat dekat dengan moral. Etika berasal dari bahasa
Yunani ethos (jamak: ta etha) yang berarti adat kebiasaan. Adapun Moral
berasal dari bahasa latin mos (jamak: mores) yang juga mengandung arti
adat kebiasaan.
Etika ialah studi tentang cara penerapan hal yang baik bagi hidup
manusia, yang menurut Solomon mencakup dua aspek, yaitu:
14
Ibid., hlm. 8-9.
44
1) Disiplin ilmu yang mempelajari nilai-nilai dan pembenarannya;
2) Nilai-nilai hidup nyata dan hukum tingkah laku manusia yang
menopang nilai-nilai tersebut.
Sementara itu, Bertens mengartikan etika sebagai ilmu yang
mempelajari adat kebiasaan, termasuk di dalamnya moral yang
mengandung nilai dan norma yang menjadi pegangan hidup seseorang atau
sekelompok orang bagi pengaturan tingkah lakunya. Dalam kaitannya budi
pekerti, etika membahasanya sebagai kesadaran seseorang untuk membuat
pertimbangan moral yang rasional mengenai kewajiban memutuskan
pilihan yang terbaik dalam menghadapi masalah nyata. Keputusan yang
diambil seseorang wajib dapat dipertanggungjawabkan secara moral
terhadap diri dan lingkungannya.15
Konsep utama budi pekerti sehingga dapat dikemukakan batasan
pengertian masing-masing dilihat dari 3 (tiga) pendekatan utama, yaitu
sebagai berikut.
1. Pendekatan Etika (Filsafat Moral)
Budi pekerti adalah watak atau tabiat khusus seseorang untuk
berbuat sopan dan menghargai pihak lain yang tercermin dalam
perilaku dan kehidupannya. Sedangkan watak itu merupakan
keseluruhan dorongan, sikap, keputusan, kebiasaan, dan nilai
15
Nurul Zuriah, Pendidikan Moral & Budi Pekerti Dalam Perspektif Perubahan (Jakarta: Bumi
Aksara, 2007), hlm. 17-18.
45
moral seseorang yang baik, yang dicakup dalam satu istilah
sebagai kebajikan.
2. Pendekatan Psikologi
Budi pekerti mengandung watak moral yang baku dan melibatkan
keputusan berdasarkan nilai-nilai hidup. Watak seseorang dapat
dilihat pada perilakunya yang diatur oleh uasaha dan kehendak
berdasarkan hati nurani sebagai pengendali bagi penyesuaian diri
dalam hidup masyarakat.
3. Pendekatan Pendidikan
Pendidikan budi pekerti merupakan program pengajaran di sekolah
yang bertujuan mengembangkan watak atau tabiat siswa dengan
cara menghayati nilai-nilai dan keyakinan masyarakat sebagai
kekuatan moral dalam hidupnya melalui kejujuran, dapat
dipercaya, disiplin, dan kerja sama.16
Selanjutnya dalam Taksonomi Bloom, pendidikan budi pekerti
menekankan ranah afektif (perasaan dan sikap) tanpa meninggalkan ranah
kognitif (berpikir rasional) dan ranah skill/psikomotorik (keterampilan,
terampil mengolah data, mengemukakan pendapat, dan kerja sama).
Menurut Jarolimek untuk menghindari kerancuan pendidikan budi
pekerti dengan jenis pendidikan afektif, pendidikan nilai, pendidikan
moral, dan pendidikan karakter maka perlu dikemukakan pengertian
masing-masing sebagai berikut.
16
Ibid., hlm. 18.
46
a. Pendidikan Afektif
Pendidikan ini berusaha mengembangkan aspek emosi atau
perasaan yang umumnya terdapat dalam pendidikan humaniora dan
seni, namun juga dihubungkan dengan sistem nilai-nilai hidup,
sikap, dan keyakinan untuk mengembangkan moral dan watak
seseorang.
b. Pendidikan Nilai-Nilai
Pengembangan pribadi siswa tentang pola keyakinan yang terdapat
dalam sistem keyakinan suatu masyarakat tentang hal yang baik
yang harus dilakukan dan hal buruk yang harus dihindari. Dalam
nilai-nilai ini terdapat pembakuan tentang hal baik dan hal buruk
serta pengaturan perilaku. Nilai-nilai hidup dalam masyarakat
sangat banyak jumlahnya sehingga pendidikan berusaha membantu
untuk mengenali, memilih, dan menetapkan nilai-nilai tertentu
sehingga dapat digunakan sebagai landasan pengambilan keputusan
untuk berperilaku secara konsisten dan menjadi kebiasaan dalam
hidup bermasyarakat.
c. Pendidikan Moral
Berusaha untuk mengembangkan pola perilaku seseorang sesuai
dengan kehendak masyarakatnya. Kehendak ini berwujud moralitas
atau kesusilaan yang berisi nilai-nilai dan kehidupan yang berada
dalam masyarakat. Karena menyangkut dua aspek inilah, yaitu (a)
nilai-nilai, dan (b) kehidupan nyata, maka pendidikan moral lebih
47
banyak
membahas
masalah
dilema
(seperti
makan
buah
simalakama) yang berguna untuk mengambil keputusan moral
yang terbaik bagi diri dan masyarakatnya.
d. Pendidikan Karakter
Sering disamakan dengan pendidikan budi pekerti. Seseorang dapat
dikatakan berkarakter atau berwatak jika telah berhasil menyerap
nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan
sebagai kekuatan moral dalam hidupnya.
e. Pendidikan Budi Pekerti
Pendidikan budi pekerti merupakan program pengajaran di sekolah
yang bertujuan mengembangkan watak atau tabiat siswa dengan
cara menghayati nilai-nilai dan keyakinan masyarakat sebagai
kekuatan
moral
dalam
hidupnya/melalui
kejujuran,
dapat
dipercaya, disiplin, dan kerja sama yang menekankan ranah afektif
(perasaan dan sikap) tanpa meninggalkan ranah kognitif (berpikir
rasional) dan ranah skill/psikomotorik (keterampilan, terampil
mengolah data, mengemukakan pendapat, dan kerja sama).
Sementara itu, pengertian pendidikan budi pekerti menurut draft
kurikulum bebasis kompetensi dapat ditinjau secara konsepsional dan
operasional.17
17
Ibid., hlm. 19-20.
48
a. Pengertian Pendidikan Budi Pekerti secara konsepsional
Pengertian budi pekerti secara konsepsional mencakup hal-hal
sebagai berikut.
1) Usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik menjadi
manusia seutuhnya yang berbudi pekerti luhur dalam
segenap peranannya sekarang dan masa yang akan datang.
2) Upaya
pembentukan,
pengembangan,
peningkatan,
pemeliharaan dan perilaku peserta didik agar mereka mau
dan mampu melaksanakan tugas-tugas hidupnya secara
selaras, serasi, seimbang (lahir batin, material spiritual, dan
individual sosial).
3) Upaya pendidikan untuk membentuk peserta didik menjadi
pribadi seutuhnya yang berbudi pekerti luhur melalui
kegiatan bimbingan, pembiasaan, pengajaran dan latihan
serta keteladanan.
b. Pengertian Pendidikan Budi Pekerti secara Operasional
Pendidikan budi pekerti secara operasional adalah upaya
untuk membekali peserta didik melalui bimbingan, pengajaran, dan
latihan selama pertumbuhan dan perkembangan dirinya sebagai
bekal masa depannya, agar memiliki hati nurani yang bersih,
berperangi baik, serta menjaga kesusilaan dalam melaksanakan
kewajiban terhadap Tuhan dan sesama makhluk.
49
Dengan demikian, terbentuklah pribadi seutuhnya yang
tercermin pada perilaku berupa ucapan, perbuatan, sikap, pikiran,
perasaan, kerja dan hasil karya berdasarkan nilai-nilai agama serta
norma dan moral luhur bangsa.18
D. Visi dan Misi Pendidikan Budi Pekerti
Visi pendidikan budi pekerti dalam konteks ini adalah kemampuan
untuk memandang arah pendidikan budi pekerti ke depan dengan berpijak
pada permasalahan saat ini untuk disusun perencanaan secara bijak.
Sementara itu menurut Buku I Pedoman Umum dan Nilai Budi Pekerti
untuk Pendidikan Dasar dan Menengah, visi pendidikan budi pekerti
adalah mewujudkan pendidikan budi pekerti sebagai bentuk pendidikan
nilai, moral, etika yang berfungsi menumbuh kembangkan individu warga
negara Indonesia yang berakhlak mulai dalam pikir, sikap, dan
perbauatannya sehari-hari, yang secara kurikuler benar-benar menjiwai
dan memaknai semua mata pelajaran yang relevan serta sistem sosialkultural dunia pendidikan sehingga dari dalam diri setiap lulusan setiap
jenis, jalur, dan jenjang pendidikan terpancar akhlak mulia.
Adapun misi adalah harapan pendidikan budi pekerti untuk mencapai
tujuan pembelajaran. Berdasarakan pemahaman ini, menurut Cahyoto
antara visi dan misi merupakan kesatuan yang berurutan langkahnya.
Lebih lanjut misi pendidikan budi pekerti adalah sebagai berikut.
18
Ibid., hlm. 20.
50
1. Membantu siswa memahami kecenderungan masyarakat yang
terbuka dalam era globalisasi, tuntunan kualitas dalama segala
bidang, dan kehidupan yang demokratis dengan tetap berlandaskan
norma budi pekerti warga negara Indonesia.
2. Membantu siswa memahami disiplin ilmu yang berperan
mengembangkan budi pekerti sehingga diperoleh wawasan
keilmuan yang berguna untuk mengembangkan penggunaan hak
dan kewajibannya sebagai warga negara.
3. Membantu siswa memahami arti demokrasi dengan cara belajar
dalam suasana demokratis bagi upaya mewujudkan masyarakat
yang lebih demokratis.
Bertolak dari visi yang ada dalam pendidikan budi pekerti menurut
Buku I Pedoman Umum dan Nilai Budi Pekerti untuk Pendidikan Dasar
dan Menengah maka misi pendidikan budi pekerti adalah sebagai berikut.
1. Mengoptimalkan substansi dan praktis mata pelajaran yang
relevan, khususnya Pendidikan Agama, serta mata pelajaran
lainnya yang relevan sebagai wahana pendidikan budi pekerti
sehingga para peserta didik bukan hanya cerdas secara rasional,
tetapi juga cerdas secara emosional, sosial, dan spiritual.
2. Mewujudkan tatanan dan iklim sosial budaya dunia pendidikan
yang sengaja dikembangkan sebagai lingkungan pendidikan yang
memancarakan akhlak/moral luhur sebagai wahana bagi siswa,
tenaga kependidikan, dan manajer pendidikan untuk membangun
51
interaksi edukatif dan budaya sekolah yang juga memancarakan
akhlak mulia.
3. Memanfaatkan media masaa dan lingkungan masyarakat secara
selektif
dan
adaptif
guna
mendukung keseluruhan
upaya
penumbuhan dan pengembangan nilai-nilai budi pekerti luhur baik
yang melalui mata pelajaran yang relevan maupun yang melalui
pengembangan budaya pendidikan di sekolah.19
E. Tujuan dan Sasaran Pendidikan Budi Pekerti
1. Tujuan Pendidikan Budi Pekerti
Dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional, pendidikan
budi pekerti yang terintegrasi dalam sejumlah mata pelajaran yang
relevan dan tatanan serta iklim kehidupan sosial-kultural dunia
persekolahan secara umum bertujuan untuk memfasilitasi siswa agar
mampu menggunakan pengetahuan, mengkaji dan menginternalisasi
serta mempersonalisasi nilai, mengembangkan keterampilan sosial yang
memungkinkan tumbuh dan berkembangnya akhlak mulia dalam diri
siswa serta mewujudkannya dalam perilaku sehari-hari, dalam berbagai
konteks sosial budaya yang berbhineka sepanjang hayat.
Selanjutnya esensi tujuan tersebut perlu dijabarkan dalam
pengembangan pembelajaran (instruksional) dan sumber belajar setiap
mata pelajaran yang relevan dengan tujuan agar siswa mampu
19
Ibid., hlm. 63-54.
52
menggunakan pengetahuan, nilai, keterampilan mata pelajaran itu
sebagai wahana yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya serta
terwujudnya sikap dan perilaku siswa yang konsisten dan koheren
dengan konsepsi akhlak mulia yang dipersyaratkan bagi manusia
Indonesia seutuhnya. Selain itu, tujuan tersebut secara instrumental
manajerial perlu dijabarkan dalam rangka membangun tatanan dan
iklim sosial-budaya dunia persekolahan yang berwawasan dan
memancarkan akhlak mulia sehingga lingkungan dan budaya sekolah
menjadi teladan atau model pendidikan budi pekerti.
Tujuan yang berbunyi “siswa memahami norma-norma kerja sama
dalam hidup bermasyarakat” menjadi pegangan guru untuk melakukan
penilaian hasil belajar mengenai derajat pencapaian makna kerja sama
dalam diri siswa. Tujuan pelajaran di sini mencakup dua aspek, yaitu
hasil belajar yang diharapkan dari siswa dan kemampuan siswa untuk
mencapai tujuan tersebut. Menurut Jarolimek & Foster ada beberapa
cara untuk merumuskan tujuan, antara lain adalah pencapaian tujuan
yang umum dan khusus. Cara ini melahirkan tujuan pembelajaran
umum dan tujuan pembelajaran khusus yang keduanya menekankan
pada tujuan perilaku.20
Tujuan pembelajaran khusus bersifat spesifik, nyata, dan dapat
diukur
pencapaiannya
untuk
mengetahui
kualitas
belajar
dan
pembelajaran. Penggunaan istilah tujuan pembelajaran “perilaku”
20
Ibid., hlm. 64-65.
53
menimbulkan kesan seakan-akan didasarkan paham behaviorism
(paham atau aliran perilaku) yang menekankan aspek perilaku yang
dapat diamati, sementara banyak aspek pembelajaran perilaku siswa
yang tidak dapat diamati. Untuk itulah muncul paham humanisme yang
lebih mantap menggunakan istilah tujuan pembelajaran afektif atau non
behavioral sehingga pembelajaran juga mencakup aspek perasaan dan
sikap yang tidak dapat diamati. Rumusan tujuan pembelajaran afektif
yang dianut aliran non behavioral isinya bersifat umum dan
mengutamakan rumusan yang menekankan harapan apa yang dipelajari
oleh siswa. Contoh rumusannya adalah sebagai berikut.
1. Siswa mempelajari makna sopan santun yang dianut oleh
masyarakat.
2. Siswa mempelajari masyarakat sebagai lingkungan hidup yang
diatur oleh norma.
3. Siswa
memperoleh
pengetahuan
tentang
peran
pimpinan
masyarakat dalam menegakkan kejujuran.
4. Siswa mengembangkan kemampuannya untuk menentukan jenis
norma bagi perilaku yang berbudi pekerti luhur.
5. Siswa
menghargai
norma
kehidupan
bermasyarakat
bagi
penciptaan kerja sama.
Berbeda dengan aliran tersebut yang mengandung kualitas
pembelajaran maka aliran tujuan pembelajaran perilaku menekankan
pada tujuan khusus yang hakikinya menghendaki kejelasan pencapaian
54
hasil belajar. Sedapat mungkin pencapaian hasil belajar mampu
mengungkapkan bagaimana cara mencapainya dan sampai seberapa
jauh derajat pencapaiannya. Alasannya ialah masa belajar di sekolah
sangat singkat dan memerlukan evaluasi segera. Pengembangan lebih
lanjut terhadap tujuan pembelajaran perilaku dilakukan oleh Bloom
yang menetapkan taksonomi tujuan menjadi klasifikasi tujuan dari
sistem pendidikan yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Ranah kognitif mengandung enam tahapan untuk
pencapaiannya, masing-masing adalah pengetahuan, pemahaman,
penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.
Pengembangan ranah afektif dilakukan oleh Krathwohl, Bloom,
dan Masia yang menyatakan bahwa tujuan pembelajaran afektif
menekankan pada perasaan, emosi, atau tingkat penerimaan terhadap
objek. Tujuan pembelajaran afektif berbeda-beda sesuai dengan kondisi
yang dihadapi, yaitu berjenjang dari hal yang sederhana ke hal yang
sulit, namun secara konsisten menyangkut kualitas watak dan hati
nurani. Jenjang afektif terdiri dari lima tahap dari yang mudah ke sulit,
yaitu penerimaan, tanggapan, penilaian, pengaturan, dan perwatakan
dengan nilai-nilai yang kompleks.21
Pembelajaran ranah afektif menurut Joice & Weil
dinyatakan
sebagai nurturant effects atau efek pengiring, sedangkan Jarolimek
menggunakan istilah indirect teaching strategy atau strategi pengajaran
21
Ibid., hlm. 65-66.
55
secara tidak langsung karena isi atau materi pelajaran ranah afektif
menyangkut keyakinan dan pembenaran yang berasal dari indoktrinasi,
dongeng, dan ajaran hidup yang baik. Sementara itu, Williams
mengemukakan hubungan antara ranah kognitif dengan afektif sesuai
jenjang pengembangan masing-masing ranah.
Dari kondisi di atas, maka tampaklah bahwa proses berpikir tidak
dapat berlangsung tanpa proses feelings (perasaan). Keduanya tidak
dapat dipisahkan sehingga makin baik perasaan siswa tentang objek
tertentu, makin besar keingin tahuan untuk mendalami lebih lanjut
objek tersebut. Sebagai timbal baliknya siswa yang makin menguasai
suatu bidang pengetahuan, makin baik pula dalam menghargai dan
menilai bidang tersebut. Hal ini juga berlaku bagi pembahasan budi
pekerti yang mengandung ajaran, nasihat, keyakinan, dan kebajikan.
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, maka tujuan pendidikan
budi pekerti adalah sebagai berikut.
1. Siswa memahami nilai-nilai budi pekerti di lingkungan keluarga,
lokal, nasional, dan internasional melalui adat istiadat, hukum,
undang-undang, dan tatanan antarbangsa.
2. Siswa mampu mengembangkan watak atau tabiatnya secara
konsisten dalam mengambil keputusan budi pekerti ditengahtengah rumitnya kehidupan bermasyarakat saat ini.
56
3. Siswa mampu menghadapi masalah nyata dalam masyarakat
secara rasional bagi pengambilan keputusan yang terbaik setelah
melakukan pertimbangan sesuai dengan norma budi pekerti.
4. Siswa mampu menggunakan pengalaman budi pekerti yang baik
bagi pembentukan kesadaran dan pola perilaku yang berguna dan
bertanggung jawab atas tindakannya.
2. Sasaran Pendidikan Budi Pekerti
Pendidikan budi pekerti mempunyai sasaran kepribadian siswa,
khususnya unsur karakter atau watak yang mengandung hati nurani
(conscience) sebagai kesadaran diri (consciouness) untuk berbuat
kebajikan (virtue).22
F. Scope Nilai dan Sifat-Sifat Budi Pekerti
1. Scope Nilai Budi Pekerti
Menurut pendapat Cahyoto, ruang lingkup atau scope pembahasan
nilai budi pekerti yang bersumberkan pada etika atau filsafat moral
menekankan unsur utama kepribadian, yaitu kesadaran dan berperannya
hati nurani dan kebajikan bagi kehidupan yang baik berdasarkan sistem
dan hukum nilai-nilai moral masyarakat. Hati nurani (ada yang
menyebutnya kata hati, suara hati, dan suara batin) adalah kesadaran
untuk mengendalikan atau mengarahkan perilaku seseorang dalam halhal yang baik dan menghindari tindakan yang buruk. Kebajikan atau
22
Ibid., hlm. 66-67.
57
kebaikan merupakan watak unggulan yang berguna dan menyenangkan
bagi diri sendiri dan orang lain sesuai dengan pesan moral. Dengan
demikian, terdapat hubungannya antara budi pekerti dengan nilai-nilai
moral dan norma hidup yang unsur-unsurnya merupakan ruang lingkup
pembahasan budi pekerti. Unsur-unsur budi pekerti antara lain sebagai
berikut.
hati nurani
kesopanan
keberanian
kebajikan
kerapian
bersahabat
kejujuran
keikhlasan
kesetiaan
dapat dipercaya
kebijakan
kehormatan
disiplin
pengendalian diri
keadilan
Mengingat budi pekerti merupakan etika praktis atau terapan yang
bersumber kepada masyarakat (kesusilaan atau moralitas, agama, hukum,
dan adat istiadat setempat), maka konsep budi pekerti menjadi lebih luas
lagi dengan menyerap aspek budi pekerti dari lingkungan yang makin
meluas (environmental development approach). Dari lingkungan yang
makin meluas inilah budi pekerti mengandung nilai moral lokal (aturan
keluarga, kerabat, dan tatanan lingkungan setempat, nasional (tatanan
demokrasi, loyalitas, nasionalisme, undang-undang, hukum, hak asasi
manusia, dan lain-lain), dan internasional (hukum internasional,
hubungan, dan kerja sama antarbangsa, perdamaian, keamanan) dan
masih banyak konsep lain yang menjadi norma dan berlaku bagi
kesejahteraan lingkungan. Pendidikan budi pekerti yang khusus berkaitan
58
dengan pendidikan agama dipelajari tersendiri oleh siswa melalui
pendidikan agama.
Sedangkan nilai-nilai budi pekerti menurut Kurikulum Berbasis
Kompetensi Mata Pelajaran Budi Pekerti kelas I-VI Buram, ke 6, Puskur
Depdiknas, adalah sebagai berikut.
Nilai-nilai budi pekerti di bawah ini merupakan uraian berbagai
perilaku dasar dan sikap yang diharapkan dimiliki peserta didik sebagai
dasar pembentukan pribadinya.23
Nilai Budi Pekerti
Deskripsi
1. Meyakini adanya Tuhan 1. Sikap dan perilaku yang
Yang Maha Esa dan selalu
mencerminkan keyakinan dan
mentaati ajaran-Nya
kepercayaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa.
2. Mentaati ajaran agama
2. Sikap dan perilaku yang
mencerminkan kepatuhan, tidak
ingkar, dan taat menjalankan
perintah
dan
menghindari
larangan agama.
3. Memiliki
dan 3. Sikap dan perilaku yang
mengembangkan
sikap
mencerminkan toleransi dan
toleransi
penghargaan terhadap pendapat,
gagasan, tingkah laku orang
lain, baik yang sependapat
maupun yang tidak sependapat
dengan dirinya.
4. Memiliki rasa menghargai 4. Sikap dan perilaku yang
diri sendiri
mencerminkan
penghargaan
seseorang terhadap dirinya
sendiri dengan memahami
kelebihan dan kekurangan
dirinya.
5. Tumbuhnya disiplin diri
5. Sikap dan perilaku sebagai
cerminan
dari
ketaatan,
kepatuhan,
ketertiban,
kesetiaan,
ketelitian,
dan
23
Ibid., hlm. 67-68.
59
6. Mengembangkan
kerja dan belajar
etos
7. Memiliki rasa tanggung
jawab
8. Memiliki rasa keterbukaan
9. Mampu
diri
mengendalikan
10. Mampu berpikir positif
11. Mengembangkan potensi
diri
12. Menumbuhkan cinta dan
kasih sayang
60
keteraturan perilaku seseorang
terhadap norma dan aturan yang
berlaku.
6. Sikap dan perilaku sebagai
cerminan
dari
semangat,
kecintaan,
kedisiplinan,
kepatuhan atau loyalitas, dan
penerimaan terhadap kemajuan
hasil kerja atau belajar.
7. Sikap dan perilaku seseorang
untuk melaksanakan tugas dan
kewajibannya, yang seharusnya
ia lakukan terhadap diri sendiri,
masyarakat, lingkungan (alam,
sosial), negara, dan Tuhan
Yang Maha Esa.
8. Sikap dan perilaku seseorang
yang mencerminkan adanya
keterus terangan terhadap apa
yang dipikirkan, diinginkan,
diketahui,
dan
kesediaan
menerima saran serta kritik dari
orang lain.
9. Kemampuan seseorang untuk
dapat mengatur dirinya sendiri
berkenaan dengan kemampuan,
nafsu, ambisi, keinginan, dalam
memenuhi rasa kepuasan dan
kebutuhan hidupnya.
10. Sikap dan perilaku seseorang
untuk dapat berpikir jernih,
tidak
buruk
sangka,
mendahulukan sisi positif dari
suatu masalah.
11. Sikap dan perilaku seseorang
untuk
dapat
membuat
keputusan
sesuai
dengan
kemampuannya
mengenal
bakat, minat, dan prestasi serta
sadar akan keunikan dirinya
sehingga dapat mewujudkan
potensi diri yang sebenarnya.
12. Sikap dan perilaku seseorang
yang mencerminkan adanya
unsur
memberi
perhatian,
perlindungan, penghormatan,
tanggung
jawab,
dan
pengorbanan terhadap orang
yang dicintai dan dikasihi.
13. Memiliki
kebersamaan 13. Sikap dan perilaku seseorang
dan gotong royong
yang mencerminkan adanya
kesadaran dan kemauan untuk
bersama-sama,
saling
membantu, dan saling memberi
tanpa pamrih.
14. Memiliki rasa kesetia 14. Sikap dan perilaku yang
kawanan
mencerminkan
kepedulian
kepada orang lain, keteguhan
hati, rasa setia kawan, dan rasa
cinta terhadap orang lain dan
kelompoknya.
15. Saling menghormati
15. Sikap dan perilaku untuk
menghargai dalam hubungan
antarindividu dan kelompok
berdasarkan norma dan tata
cara yang berlaku.
16. Memiliki tata krama dan 16. Sikap dan perilaku sopan
sopan santun
santun dalam bertindak dan
bertutur kata terhadap orang
tanpa
menyinggung
atau
menyakiti serta menghargai tata
cara yang berlaku sesuai
dengan norma, budaya, dan
adat istiadat.
17. Memiliki rasa malu
17. Sikap dan perilaku yang
menunjukkan tidak enak hati,
hina, rendah karena berbuat
sesuatu yang tidak sesuai
dengan hati, norma, dan aturan.
18. Menumbuhkan kejujuran 18. Sikap dan perilaku untuk
bertindak dengan sesungguhnya
dan
apa
adanya,
tidak
berbohong, tidak berbuat-buat,
tidak ditambah dan tidak
dikurangi,
serta
tidak
menyembunyikan kejujuran.
61
Berdasarkan uraian di atas, maka perilaku minimal yang dapat
dikembangkan untuk jenjang SD/MI ialah sebagai berikut.
a. Taat kepada ajaran agama.
b. Memiliki toleransi.
c. Tumbuhnya disiplin diri.
d. Memiliki rasa menghargai diri sendiri.
e. Memiliki rasa tanggung jawab.
f. Tumbuhnya potensi diri.
g. Tumbuhnya cinta dan kasih sayang.
h. Memiliki kebersamaan dan gotong royong.
i. Memiliki rasa kesetiakawanan.
j. Memiliki sikap saling menghormati.
k. Memiliki tata krama dan sopan santun.
l. Tumbuhnya kejujuran.24
Kemudian perilaku minimal yang dapat dikembangkan untuk jenjang
SMP/MTs ialah sebagai berikut.
a. Meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa.
b. Taat kepada ajaran agama.
c. Memiliki toleransi.
d. Memiliki rasa mengahragai diri sendiri.
e. Tumbuhnya disiplin diri.
f. Berkembanya etos kerja atau belajar.
24
Ibid., hlm. 70.
62
g. Memiliki rasa tanggung jawab.
h. Memiliki rasa keterbukaan.
i. Mampu mengendalikan diri.
j. Mampu berpikir positif.
k. Tumbuhnya potensi diri.
l. Tumbuhnya cinta dan kasih sayang.
m. Memiliki kebersamaan dan gotong royong.
n. Memiliki kesetiakawanan.
o. Memiliki sikap saling menghormati.
p. Memiliki tata krama dan sopan santun.
q. Memiliki rasa malu.
r. Tumbuhnya kejujuran.
Selanjutnya perilaku minimal yang dapat dikembangkan untuk jenjang
SMU/MA/SMK ialah sebagai berikut.
a. Meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa.
b. Taat kepada ajaran agama.
c. Memiliki toleransi.
d. Memiliki rasa menghargai diri sendiri.
e. Tumbuhnya disiplin diri.
f. Berkembangnya etos kerja atau belajar.
g. Memiliki rasa tanggung jawab.
h. Memiliki rasa keterbukaan.
i. Mampu mengendalikan diri.
63
j. Mampu berpikir positif.
k. Tumbuhnya potensi diri.
l. Tumbuhnya cinta dan kasih sayang.
m. Memiliki kebersamaan dan gotong royong.
n. Memiliki kesetiakawanan.
o. Memiliki sikap saling menghormati.
p. Memiliki tata krama dan sopan santun.
q. Memiliki rasa malu.
r. Tumbuhnya kejujuran.25
2. Sifat-Sifat Budi Pekerti
Sifat-sifat budi pekerti sebagai unsur sifat kepribadian dapat dilihat
pada perilaku seseorang sebagai perwujudannya. Menurut Cahyoto dari
hasil pengamatan terhadap perilaku yang berbudi pekerti luhur, dapat
dikemukakan adanya sifat-sifat budi pekerti, antara lain sebagai berikut.
1.
Budi pekerti seseorang cenderung untuk mengutamakan kebajikan
sesuai dengan hati nuraninya.
2.
Budi
pekerti
mengalami
perkembangan
seiring
dengan
bertambahnya usia (perkembangan budi pekerti cukup lambat).
Makin dewasa seseorang, makin kuat watak yang terbentuk
sehingga perilakunya akan menampakkan kadar atau mutu budi
pekerti yang cenderung menghayati norma masyarakatnya.
25
Ibid., 71.
64
3.
Budi pekerti yang terbentuk cenderung mewujudkan bersatunya
pikiran dan ucapan dalam kehidupan sehari-hari dalam arti terdapat
kesejajaran antara pikiran, ucapan, dan perilaku.
4.
Budi pekerti akan menampilkan diri berdasarkan dorongan
(motivate) dan kehendak (wiil) untuk berbuat sesuatu yang berguna
dengan tujuan memenuhi kepentingan diri sendiri dan orang lain
berdasarkan pertimbangan moral.
5. Budi pekerti tidak dapat diajarkan langsung kepada seseorang atau
siswa karena kedudukannya sebagai dampak pengiring (nurturant
effects) bagi mata pelajaran lainnya.
6. Pembelajaran budi pekerti di sekolah lebih merupakan latihan bagi
siswa untuk meningkatkan kualitas (mutu) budi pekertinya
sehingga siswa terbiasa dan mampu menghadapi masalah moral di
masyarakat pada dewasa nanti.
Dalam praktiknya, sifat-sifat perilaku yang berbudi pekerti luhur
memerlukan observasi atau pengamatan terhadap perilaku seseorang
dalam waktu yang lama dan terus-menerus, karena sifat-sifat budi pekerti
tidak dapat ditebak dalam waktu yang singkat.26
26
Ibid., hlm. 72.
65
G. Kegunaan atau Fungsi Pendidikan Budi Pekerti
Menurut Cahyoto kegunaan pendidikan budi pekerti antara lain sebaga
berikut.
1. Siswa memahami susunan pendidikan budi pekerti dalam lingkup etika
bagi pengembangan dirinya dalam bidang ilmu pengetahuan.
2. Siswa memiliki landasan budi pekerti luhur bagi pola perilaku seharihari yang didasari hak dan kewajiban sebagai warga negara.
3. Siswa dapat mencari dan memperoleh informasi tentang budi pekerti,
mengolahnya dan mengambil keputusan dalam menghadapi masalah
nyata di masyarakat.
4. Siswa dapat berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain untuk
mengembangkan nilai moral.
Sementara itu, menurut Draf Kurikulum Berbasis Kompetensi fungsi atau
kegunaan pendidikan budi pekerti bagi peserta didik ialah sebagai berikut.
a. Pengembangan, yaitu untuk meningkatkan perilaku yang baik bagi
peserta didik yang telah tertanam dalam lingkungan keluarga dan
masyarakat.
b. Penyaluran, yaitu untuk membantu peserta didik yang memiliki bakat
tertentu agar dapat berkembang dan bermanfaat secara optimal sesuai
dengan budaya sosial.
c. Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan, kekurangan, dan
kelemahan peserta didik dalam perilaku sehari-hari.
66
d. Pencegahan, yaitu mencegah perilaku negatif yang tidak sesuai dengan
ajaran agama dan budaya bangsa.
e. Pembersih, yaitu untuk membersihkan diri dari penyakit hati seperti
sombong, egois, iri, dengki, dan ria agar anak didik tumbuh dan
berkembang sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa.
f. Penyaring (filter), yaitu untuk menyaring budaya bangsa lain yang tidak
sesuai dengan nilai-nilai budi pekerti.27
H. Pendidikan Budi Pekerti dan Pembangunan Moral Bangsa
Menurut Azyumardi Azra, merebaknya tuntunan dan gagasan tentang
pentingnya pendidikan budi pekerti di lingkungan persekolahan, haruslah
diakui berkaitan erat dengan semakin berkembangnya pandangan dalam
masyarakat luas bahwa pendidikan nasional dalam berbagai jenjang,
khususnya jenjang mengah dan tinggi, telah gagal dalam membentuk peserta
didik yang memiliki akhlak, moral, dan budi pekerti yang baik. Lebih jauh
lagi, banyak peserta didik sering dinilai tidak hanya kurang memiliki
kesantunan baik di sekolah, di rumah, dan lingkungan masyarakat, tetapi juga
sering terlibat dalam tindak kekerasan massal seperti tawuran dan sebagainya.
Pandangan simplistis menganggap bahwa kemerosotan akhlak, moral, dan
etika peserta didik disebabkan gagalnya pendidikan agama di sekolah, harus
diakui, dalm batas tertentu, sejak dari jumlah jam yang sangat minim, materi
pendidikan agama ynang terlalu teoretis, sampai pada pendekatan pendidikan
27
Ibid., hlm. 104-105.
67
agama yang cenderung bertumpu pada aspek kognisi daripada aspek afeksi
dan psikomotorik peserta didik. Berhadapan dengan berbagai kendala
constraints, dan masalah-masalah seperti ini, pendidikan agama tidak atau
kurang fungsional dalam membentuk akhlak, moral, dan bahkan kepribadian
peserta didik.28
28
Ibid., hlm. 111-112.
68
Download