1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembagian wilayah

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Pembagian wilayah administrasi pemerintahan di Indonesia berdasarkan Pasal
18 Bab VI Undang-Undang Dasar 1945 beserta penjelasannya menegaskan bahwa
pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk dan susunan
pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang. Daerah Indonesia dibagi dalam
Daerah Provinsi dan Daerah Provinsi dibagi dalam daerah yang lebih kecil, dengan
mengingat dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara dan hak-hak
asal-usul dalam daerah yang bersifat istimewa.
Negara Republik Indonesia sebagai Negara Kesatuan dalam penyelenggaraan
pemerintahannya menganut asas desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan.
Konstruksi perwilayahan yang diatur di dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun
1999 tentang Pemerintahan Daerah, menempatkan Provinsi sebagai Wilayah
Administrasi sekaligus sebagai Daerah Otonom, sedangkan pada Kabupaten dan Kota
hanya semata-mata Daerah Otonom. Pengaturan sedemikian ini berarti bahwa antara
Provinsi dengan Kabupaten dan Kota ada keterkaitan satu sama lain, keterkaitan ini
baik dalam arti status kewilayahan maupun dalam sistem dan prosedur
penyelenggaraan pemerintahan karena Kabupaten dan Kota penyusunannya dilandasi
oleh Wilayah Negara, yang diikat sebagai Wilayah Provinsi
Perencanaan pengembangan wilayah yang didukung kuat oleh perencanaan
tata ruang yang akurat, pertumbuhan dan pemerataan dalam bentuk keseimbangan
pengembangan antar dan intra wilayah serta keberlanjutan pengembangan akan
mewujudkan pengembangan wilayah yang optimal. Pengembangan wilayah
merupakan usaha untuk mengoptimalisasikan seluruh potensi wilayah guna
mewujudkan tujuan pembangunan. Potensi tersebut berupa potensi sumberdaya alam,
sumberdaya manusia, dan sumberdaya buatan yang saling berinteraksi dalam satu
sistem. Pengembangan wilayah yang tidak memperhatikan keseimbangan sektoral
1
maupun wilayah dan cenderung mengeksploitasi wilayah pendukung akan
menyebabkan masalah diseconomic of scale,
yaitu munculnya penurunan
produktivitas akibat kenaikan biaya produksi langsung seperti tuntutan kenaikan
upah, kenaikan harga faktor produksi ataupun masalah manajemen, biaya sosial yang
harus ditanggung seperti peningkatan pelayanan umum misalnya kesehatan,
transportasi, pendidikan, dan keamanan (Anwar,1996).
Pemekaran wilayah sebagai salah satu upaya pengembangan daerah
merupakan hasil dari identifikasi, inventarisasi, analisis dan implementasi yang nyata
dari perencanaan wilayah. Pertimbangan dalam upaya pemekaran wilayah adalah
seberapa besar pertumbuhan wilayah, perkembangan wilayah yang berlanjut,
pemerataan wilayah, penataan ruang, dan tingkat pelayanan fasilitas sosial ekonomi.
Menurut Peraturan Pemerintah RI Nomor 129 Tahun 2000 Tentang
Persyaratan Pembentukan dan Kriteria Pemekaran, Penghapusan, dan Penggabungan
Daerah maka pembentukan, pemekaran, penghapusan dan penggabungan Daerah
bertujuan
untuk
meningkatkan
kesejahteraan
masyarakat
dengan
melalui
peningkatan pelayanan kepada masyarakat; percepatan pertumbuhan kehidupan
demokrasi; percepatan pelaksanaan pembangunan perekonomian daerah; percepatan
pengelolaan potensi daerah; peningkatan keamanan dan ketertiban; dan peningkatan
hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah. Daerah yang dibentuk berdasarkan
syarat-syarat sebagai berikut : kemampuan ekonomi; potensi daerah; sosial budaya;
sosial politik; jumlah penduduk; luas daerah; dan pertimbangan lain yang
memungkinkan terselenggaranya Otonomi Daerah
UN ESCAP (1979) menyatakan bahwa sasaran pengembangan perdesaan
adalah memperluas jangkauan sektor pelayanan untuk meningkatkan produksi,
kesempatan kerja, serta pelayanan kebutuhan sektor perumahan, pendidikan dan
kesehatan. Oleh karena itu usaha pokok perencanaan dan perumusan kebijaksanaan
seringkali berpusat pada pengambilan keputusan tentang apa yang harus dialokasikan,
dan di mana, hingga mampu melayani daerah belakang (hinterland) dan wilayah
pengaruh (zone of influence) secara efisien untuk menunjang pengembangan wilayah.
2
Hal ini memerlukan usaha pemilihan lokasi-lokasi untuk mengkonsentrasikan
aktivitas dan sumber-sumber daya pada beberapa tingkat hirarkhi yang berbeda-beda,
sesuai dengan kondisi setempat karena segala macam kegiatan dan sumber-sumber
daya tidak bisa ditempatkan begitu saja di mana-mana.
Sebelum tahun 1995 di Kabupaten Wonogiri terdapat 22 kecamatan, namun
pada tahun 1995 jumlah kecamatan yang ada menjadi 24 (bertambah 2 kecamatan,
yaitu : Kecamatan Karangtengah dan Kecamatan Paranggupito yang sebelumnya
merupakan kecamatan perwakilan) serta 1 kecamatan perwakilan Puhpelem.
Berdasarkan SK Gubernur Jateng No 138/104/ 1984 tertanggal 23 Mei 1984 dan
Perda Nomor: 3 Tahun 2002 secara yuridis Kecamatan Puhpelem dikukuhkan sebagai
Perwakilan Kecamatan Bulukerto.
Berdasarkan pengukuhan SK Gubernur Jateng No 138/104/ 1984 dan Perda
Nomor: 3 Tahun 2002 tersebut maka enam dari 16 desa/ kelurahan milik Kecamatan
Bulukerto seluas 27,64 km2, yaitu satu kelurahan (Giriharjo), dan lima desa
(Puhpelem,
Sukorejo,
Nguneng,
Tengger
dan
Golo)
secara
administratif
kewenangannya dilimpahkan ke Kecamatan perwakilan Puhpelem. Tanggal 6 Juli
2002 jumlah kecamatan di Kabupaten Wonogiri bertambah menjadi 25 karena
diresmikannya kecamatan perwakilan Puhpelem sebagai kecamatan baru.
Pembentukan perwakilan kecamatan untuk dipersiapkan menjadi kecamatan
baru merupakan upaya peningkatan pelayanan pada masyarakat, memacu
pengembangan dan percepatan pembangunan wilayah, serta sebagai alternatif
menyiapkan daerah pengganti, setelah Wonogiri kehilangan 51 desa potensial di
enam kecamatan yang menjadi Waduk Gadjah Mungkur. Selain itu juga berperan
dalam rangka mempercepat implementasi otonomi daerah sebagaimana diamanatkan
oleh Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999.
Kecamatan Puhpelem secara geografis terletak di ujung timur laut Wonogiri
dan berada di segitiga lintas perbatasan strategis Kabupaten Magetan dan Ponorogo
(Jawa Timur) dengan Wonogiri (Jawa Tengah). Daerah ini tumbuh menjadi wilayah
potensial pengembangan pertanian (padi dan jagung), perkebunan (rambutan, petai
3
dan cengkih), peternakan (peternakan sapi) dan perdagangan. Bentuk fisiografis
Kecamatan Puhpelem yaitu daerah pegunungan dan berbukit-bukit dengan
penggunaan lahan terdiri dari tanah sawah, tegal, permukiman, dan tanah hutan
negara. Pola permukiman yang ada sekarang adalah linier mengikuti pola jalan,
terkonsentrasi dekat daerah persawahan dan perkebunan, maupun terkonsentrasi pada
lokasi yang mempunyai morfologi yang lebih datar dari lokasi sekitar.
Pemekaran kecamatan yang terjadi di Kecamatan Puhpelem merupakan upaya
pengembangan lebih lanjut pada sektor ekonomi, sosial, penataan ruang, dan
pelayanan
sosial-ekonomi
kepada
masyarakat.
Kompleksitas
permasalahan
pengembangan wilayah khususnya pelayanan sosial ekonomi yang dihadapi oleh
Kecamatan Puhpelem sebagai kecamatan baru melatarbelakangi penelitian tentang
Perkembangan dan Kondisi Pelayanan di Kecamatan Puhpelem Kabupaten
Wonogiri Sebagai Kecamatan Baru.
1.2.
Perumusan Masalah
Kecamatan Puhpelem sebagai kecamatan baru secara administrasi merupakan
pusat pelayanan sosial ekonomi bagi lima desa dan satu kelurahan. Peran sebagai
kecamatan baru tentunya tidak berhenti sampai disitu tetapi juga berperan dalam
mengembangkan wilayah secara keseluruhan.
Permasalahan pelayanan yang ada di Kecamatan Puhpelem adalah adanya
pusat-pusat pelayanan di Kecamatan Puhpelem yang belum berfungsi dan berperan
utuh mempunyai dampak tersendiri bagi pengembangan wilayah. Fungsi pusat-pusat
pelayanan di Kecamatan Puhpelem adalah sebagai pusat pendukung kegiatan sosial
(pendidikan, kesehatan, kelembagaan) dan ekonomi (pertanian, industri rumah
tangga, perdagangan, pariwisata, jasa angkutan). Demikian pula interaksi antara pusat
pelayanan dengan daerah belakang (hinterland) dan daerah pengaruhnya (zones of
influences) yang kurang maksimal merupakan masalah yang harus diatasi. Oleh
karena itu diperlukan pengembangan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan
4
pelayanan penduduk perdesaan dan peningkatan mobilitas penduduk untuk
memperoleh fasilitas jasa dan kesempatan sosial ekonomi.
Mengingat pentingnya masalah penelitian ini, maka diperlukan perumusan
masalah berdasarkan identifikasi dan inventarisasi masalah sehingga pokok
permasalahan penelitian ini lebih jelas. Pokok permasalahan dari penelitian ini dapat
dirumuskan sebagai berikut :
3. Bagaimana daya layan fasilitas sosial-ekonomi, distribusi fasilitas sosialekonomi, dan hirarki pusat-pusat pelayanan sosial-ekonomi di Kecamatan
Puhpelem sebagai kecamatan baru ?
4. Bagaimana interaksi antar wilayah dalam menunjang pengembangan
pelayanan sosial-ekonomi di kecamatan baru ?
5. Signifikankah hubungan daya layan fasilitas sosial-ekonomi terhadap tingkat
perkembangan wilayah di Kecamatan Puhpelem ?
6. Bagaimana rencana arahan pengembangan Kecamatan Puhpelem yang
merupakan kecamatan baru disesuaikan fungsinya sebagai pusat pelayanan
sosial-ekonomi bagi hinterland dan wilayah sekitar
1.3.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada latar belakang dan perumusan penelitian di atas maka
tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui daya layan fasilitas sosial-ekonomi, distribusi fasilitas sosialekonomi, dan hirarki pusat-pusat pelayanan sosial-ekonomi di Kecamatan
Puhpelem sebagai kecamatan baru.
2. Menjelaskan interaksi antar wilayah dalam menunjang pengembangan
pelayanan sosial-ekonomi di Kecamatan Puhpelem.
3. Mengetahui signifikansi hubungan daya layan fasilitas sosial-ekonomi dengan
tingkat perkembangan wilayah di Kecamatan Puhpelem.
5
4. Merencanakan arahan pengembangan Kecamatan Puhpelem disesuaikan
dengan fungsinya sebagai pusat pelayanan sosial-ekonomi bagi hinterland dan
wilayah sekitar.
1.4.
Manfaat Penelitian
1. Memberikan informasi yang luas dan jelas tentang pemekaran kecamatan,
keterkaitan dan pengaruhnya terhadap tingkat pelayanan sosial ekonomi
dalam menunjang pengembangan wilayah.
2. Informasi bagi penentu kebijakan baik pemerintah maupun non pemerintah
dalam rangka pengambilan keputusan yang terkait dengan pelayanan dalam
rangka pengembangan wilayah.
3. Menerapkan ilmu yang didapat selama kuliah dan menambah pengetahuan
praktis di lapangan.
1.5. Tinjauan Pustaka
1.5.1.
Studi Geografi
Geografi sebagai suatu disiplin ilmu berkembang dalam waktu yang lama.
Perkembangan disiplin ilmu ini diawali dengan adanya perhatian terhadap dua unsur
utama kehidupan, yaitu manusia dan alam tempat hidup manusia. Antara manusia dan
alam lingkungannya selalu terdapat interaksi. Pergeseran dalam memandang bentuk,
sifat, dan proses dari interaksi merupakan sumber bagi perkembangan disiplin ilmu
ini.
Geografi tidak lagi membedakan elemen fisis dan non fisis dalam
pendekatannya, akan tetapi lebih ditekankan pada metode analisisnya. Atas dasar sifat
ini, maka dikembangkan tiga pendekatan utama, yaitu pendekatan analisis keruangan
(spatial analysis), analisis ekologi (ecological analysis) dan analisis kompleks
wilayah (regional complex analysis). Dalam pendekatan ini, perpaduan elemenelemen Geografi merupakan ciri khasnya, karena itu dinamakan Geografi terpadu
(Bintarto dan Surastopo, 1979).
6
Analisis keruangan merupakan salah satu ciri dari geografi dimana analisis
keruangan banyak berhubungan dengan unsur:
1. Jarak baik absolut maupun relatif (social distance)
2. Site dan Situation yang erat hubungannya dengan sifat dan fungsi sebuah desa
atau kota.
3. Aksesibilitas yang erat kaitannya dengan topografi dan teknologi yang
dimiliki suatu wilayah tertentu (termasuk penduduk yang bermukim
didalamnya). Suatu wilayah dengan aksesibilitas yang tinggi akan memiliki
tingkat kemajuan yang lebih pesat dibandingkan dengan daerah yang
beraksesibilitas rendah.
4. Keterkaitan (conectiveness) dimana besar kecilnya keterkaitan ini banyak
menentukan hubungan fungsional diantara beberapa tempat.
5. Pola (pattern) yaitu perulangan fenomena atau gejala tertentu di alam lingkup
geosfer.
Studi dalam penelitian ini terkait jarak, site, aksesibilitas, bentuk keterkaitan dan pola
antara suatu wilayah sebagai pusat pelayanan dengan hinterland maupun wilayah
pengaruhnya.
Analisis ekologi mempelajari interaksi antara manusia dan lingkungannya,
sedangkan analisis kompleks wilayah merupakan kombinasi antara analisis
keruangan dan analisis ekologi. Dalam analisis kompleks wilayah ini, wilayahwilayah tertentu didekati dengan pengertian areal differentiation, yaitu suatu
anggapan bahwa interaksi antar wilayah akan berkembang karena pada hakekatnya
suatu wilayah berbeda dengan wilayah yang lain, oleh karena itu terdapat permintaan
dan penawaran antar wilayah tersebut Analisis ini memperhatikan pula penyebaran
fenomena tertentu dan interaksi antara variabel manusia dan lingkungannya untuk
kemudian dipelajari kaitannya. Dalam hubungan dengan analisis kompleks wilayah
ini peramalan wilayah (regional forecasting) dan perencanaan wilayah (regional
planning) merupakan aspek-aspek dalam analisis tersebut (Bintarto dan Surastopo,
1979).
7
1.5.2. Pemekaran Wilayah
Rondinelli (1983) mengemukakan kesenjangan yang tajam antara kota-kota
besar dengan wilayah lain dan terjadinya permasalahan di kota-kota besar tersebut
memerlukan suatu pemecahan, yaitu dengan sistem kota-kota menengah yang
terpadu, kota-kota kecil (small town) dan pusat-pusat pasar (market centers) yang
akan membantu dalam pencapaian pembangunan yang tersebar luas dan mengurangi
perbedaan wilayah dan perbedaan antara kota dan desa.
Kota-kota tersebut mempunyai peranan sendiri-sendiri dalam pengembangan
wilayah. Salah satunya adalah peranan kota kecil dalam membantu pengembangan
wilayah. Kota kecil mempunyai kedudukan yang dapat menghambat arus urbanisasi
yang akan masuk ke kota besar/ kota metropolitan sehingga kepadatan di kota besar/
metropolitan berkurang.
Dengan anggapan ini maka perlu disesuaikan antara karakteristik wilayah
yang dilayani oleh suatu pusat kota tertentu dengan potensi dan fasilitas kota yang
dimiliki saat ini. Potensi tersebut menunjukkan adanya fungsi yang diemban suatu
kota pada saat ini. Dalam kaitannya ini kota-kota yang akan dikembangkan secara
umum mempunyai fungsi utama sebagai berikut :
1
Sebagai pusat kegiatan yang membentuk suatu wilayah pelayanan tertentu.
2
Sebagai simpul jasa perhubungan yang meliputi kegiatan pengumpulan
produksi serta pemasaran.
3
Sebagai tempat fungsi tertentu yang didasarkan pada suatu kegiatan dominan
pada suatu wilayah.
1.5.3. Konsep Analisis Regional
Setiap tahapan dalam pembangunan suatu bangsa biasanya dicirikan oleh
pengorganisasian tata ruang (spatial organization) dari kegiatan-kegiatan ekonomi
dan sosial yang membawa konsekuensi terhadap kebijakan regional. Peran pusatpusat pelayanan sosial ekonomi terhadap pengembangan wilayah merupakan bagian
dari analisis regional. Menurut Fisher (1975), dua konsep yang digunakan dalam
8
analisis regional adalah konsep homogenitas regional (regional homogeneity or
commonality) dan konsep heterogenitas regional (regional heterogenity or nodality).
Konsep homogenitas regional memandang suatu daerah sebagai suatu wilayah
tata ruang yang mempunyai ciri-ciri khas yang kurang lebih adalah sama (homogen)
dan dengan segera dapat dibedakan dari daerah-daerah lain bagi keperluan
perencanaan dan kebijaksanaan. Dengan demikian suatu negara dipandang sebagai
suatu kumpulan dari perwilayahan daerah-daerah yang berbeda dalam banyak hal.
Perbedaan-perbedaan itu dalam garis besarnya dapat diukur secara kuantitatif maupun
kualitatif, tanpa menghiraukan perbedaan lokasi masing-masing daerah. Dalam
pengertian yang lebih abstrak, seringkali dikatakan bahwa dalam pandangan ini, suatu
negara dianggap sebagai kumpulan dari titik-titik terpisah yang disebut daerah (a
collection of separate points called regions).
Konsep sentralitas regional memandang suatu daerah terutama dari segi
organisasi tata ruang (spatial organization) berdasarkan dari berbagai aktivitas dan
sumber daya yang ada. Berbeda dangan konsep homogenitas, masing-masing daerah
dianggap heterogen (berbeda-beda) dan penekanan diletakkan pada hubungan antara
pusat-pusat atau sentra-sentra kegiatan dan sumber-sumber daya dalam tata ruang
yang tersebar. Setiap sentra dianggap mempunyai daerah belakang (hinterland) atau
lingkupan daerah pengaruh (zones of influence) yang sesuai dengan hirarkhi di dalam
dan di luar daerah tersebut. Masalah lokasi dari sentra-sentra ini baik jalur
komunikasi dan transportasi antara sentra-sentra tersebut menjadi sangat penting
dalam konsep ini.
1.5.4. Pengembangan Pelayanan Sosial-Ekonomi
Teori Central Place yang dikemukakan Christaller dapat dijadikan landasan
bagi efisiensi suatu pelayanan. Efisiensi ini untuk memperkecil jarak tempuh dalam
memperoleh barang atau jasa sesuai dengan hirakhi pelayanan. Christaller (1933)
meletakkan dasar suatu pelayanan dengan mengasumsikan daerah pasar yang bersegi
enam. Hal ini merupakan cara yang paling efisien untuk menutupi suatu dataran tanpa
9
adanya tampalan dan tanpa adanya celah. Teori ini sesuai untuk pola-pola
permukiman pedesaan dimana fungsi kotanya masih terbatas.
Christaller (1933) mengemukakan dua konsep yaitu range (jangkauan) dan
treshold (batas). Range yaitu jarak yang diperlukan orang untuk mendapatkan barang
kebutuhannya hanya kadang-kadang saja. Jangkauan pasar suatu aktivitas jasa adalah
jarak dimana orang bersedia untuk menempuhnya untuk mendapatkan jasa
bersangkutan, lebih jauh dari jarak ini, orang yang bersangkutan akan mencari tempat
lain yang lebih dekat untuk memenuhi kebutuhan jasa yang lain. Treshold adalah
jumlah minimal penduduk yang diperlukan untuk kelancaran dan kesinambungan
suplai barang.
Christaller (1933) membedakan teorinya berdasarkan tiga azas, yakni : azas
pasar, azas pengangkutan, dan azas pemerintahan. Penjelasan ketiga azas tersebut
adalah sebagai berikut :
1. Azas pasar (the marketing or supply principle), dimana setiap pusat tingkat
atas akan melayani dua pusat dari tingkat dibawahnya ditambah dengan
dirinya sendiri. Struktur ini disebut sebagai heksagonal dengan prinsip atau
hirarki K = 3, dimana K menunjuk pada jumlah pusat-pusat dari tingkat
bawahnya yang dilayani oleh satu pusat dari tingkat lebih atas. Dengan kata
lain dalam struktur ini terdapat satu pusat di tengah yang dikelilingi enam
pusat lebih rendah yang terletak pada sudut-sudutnya, yang masing-masing
mempunyai sepertiga daerah. Jadi seluruhnya ada 1 + 6 x 1/3 = 3 tempat yang
berada dalam daerah, atau K= 3. Prinsip area pasar ini adalah yang paling
utama, secara matematis merupakan struktur heksagonal yang paling efisien
dan sangat responsif bagi permintaan barang dan jasa.
2. Azas pengangkutan (the transporting principle) yakni struktur heksagonal
yang dapat diterapkan pada wilayah-wilayah yang memandang ongkos
transportasi
sebagai
hal
penting.
Sebaran
tempat
sentral
paling
menguntungkan jika terdapat sebanyak mungkin tempat yang penting.
Jumlah hendaknya adalah jalan yang pendek dan selurus mungkin. Struktur
10
ini digambarkan dengan satu pusat pusat tengah dengan dikelilingi enam
pusat lebih rendah yang tidak terletak di titik-titik sudut, melainkan di
tengah-tengah jarak antara dua titik sudut heksagonal. Keenam pusat ini
separuhnya termasuk daerahnya sendiri dan termasuk daerah tetangganya.
Jadi nilai K adalah 1 + 6 x ½ = 4 atau prinsip K = 4
3. Azas pemerintahan (the administrative principle) memiliki dimensi sosio
politik yang ditekankan pada ciri terpisahnya masyarakat yang dipaksa
supaya bersatu dan sekaligus dilindungi terhadap musuh dari luar. Bentuk
idealnya adalah kota besar di tengah-tengah, dikelilingi oleh kota-kota satelit
dan daerah tanpa penghuni didaerah penggirannya. Kalau digambarkan maka
tempat satu pusat ditengah dengan dikelilingi enam pusat yang lain dititiktitik sudut alam sehingga membentuk tujuh pusat didalam satu heksagonal
wilayah pelayanan. Jadi nilai K adalah 1 + 6 x 1 = 7 atau K = 7. Azas
pemerintahan berpengaruh jika aspek-aspek non ekonomi yang paling kuat
sehingga jaringan-jaringan kota sedang dibentuk oleh keadaan alam yang
menguntungkan.
Yahya (1986) mendefinisikan teori central place sebagai teori tentang
mengapa dan bagaimana terkonsentrasinya fungsi pelayanan sosial ekonomi pada
suatu lokasi tertentu. Atas dasar lokasi dan pola penyebaran permukiman dalam
ruang, pada teori central place disimpulkan bahwa cara yang baik untuk
menyediakan pelayanan berdasarkan aspek keruangan penduduk, yaitu dengan
menempatkan aktivitas yang demikian pada hirarki permukiman yang luasnya
meningkat dan lokasinya ada pada simpul-simpul jaringan heksagonal. Demikian
seterusnya sehingga terbentuk hirarki daerah-daerah pelayanan secara bertingkat. Jadi
lokasi kegiatan yang melayani kebutuhan penduduk itu harus berada pada tempat
sentral, yakni tempat yang memiliki pengaruh terhadap hinterlandnya.
Terdapat beberapa macam klasifikasi fasilitas pelayanan sosial-ekonomi.
Menurut Conyers (1979), fasilitas pelayanan dapat dibagi menjadi pelayanan sosial
11
dan pelayanan ekonomi. Pengelompokkan ini berdasarkan pada pengaruh langsung
atau pengaruh nyata dari pelayanan tersebut terhadap penggunanya. Pelayanan yang
melibatkan pengaruh sosial sekaligus pengaruh ekonomi dikelompokkan pada
pelayanan prasarana (infrastruktur pendukung sosial ekonomi). Pelayanan sosial pada
umumnya digunakan untuk menunjukkan berbagai pelayanan yang sebagian atau
secara keseluruhan diberikan oleh negara dengan tujuan utama memperbaiki kualitas
hidup manusia.
Yahya (1986) mengelompokkan fasilitas pelayanan sosial ekonomi menjadi 6
tipe, yaitu :
1. Pelayanan Sosial, terdiri dari pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan
agama.
2. Pelayanan Penyebaran dan Pengumpulan Barang, terdiri dari toko, warung,
pasar.
3. Pelayanan Transportasi, terdiri dari kondisi jalan, tempat berhenti, kendaraan
umum beroda empat.
4. Pelayanan Penunjang Pengembangan Pedesaan, terdiri dari bank, koperasi,
KUD, dsb
5. Pelayanan Administrasi Pemerintah
6. Pelayanan Lain-lain misalnya tukang cukur, bioskop.
1.5.5. Interaksi Keruangan
Konsep interaksi disebut juga konsep gravitasi atau potensi karena memiliki
kemiripan dengan hukum gravitasi dari Newton yang postulatnya berbunyi : kekuatan
tarik menarik yang potensial antara dua benda meningkat mengikuti produk massanya
dan berkurang mengikuti jarak antaranya. Rumus gravitasi Newton tersebut
dipergunakan oleh Carrothers (1956) untuk aplikasi interaksi sosial. Dalam rumus
gravitasi Carrothers yang telah dimodifikasi menyatakan bahwa kekuatan hubungan
ekonomis antara dua tempat berbanding lurus dengan banyaknya penduduk dan
berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara.
12
Asumsi dari rumus Carrothers yang dimodifikasi ini adalah interaksi terjadi di
dataran yang homogen (homogen dalam topografi, iklim, dan perkembangan
ekonominya), dua tempat tersebut sama-sama mudah dicapai oleh penduduk, dan
besarnya biaya untuk berpindahnya orang, barang, informasi ditentukan oleh jarak
bukan sarana transportasi yang digunakan. Luas sempitnya areal interaksi tergantung
kepada hal berikut ini, yaitu :
1. Besar-kecilnya threshold
2. Padat tidaknya suatu wilayah
3. Perbedaan budaya, daya beli penduduk
Menurut Warpani (1980), salah satu perwujudan hubungan antar daerah ialah
adanya pertukaran antar daerah yang dapat berwujud barang, uang, maupun jasa.
Analisis aliran barang dapat digunakan sebagai salah satu ukuran intensitas hubungan
satu daerah dengan daerah lain dimana aspek fisik aliran barang (prasarana
perhubungan) mempunyai pengaruh yang sangat besar. Analisis ini lebih baik
daripada hanya menggunakan Location Quotient saja. Lebih dari itu, dapat pula
diketahui tingkat ketergantungan daerah yang diselidiki pada daerah lain, atau
peranan daerah yang diselidiki atas daerah lain yang lebih luas. Analisis aliran barang
berguna untuk memperlihatkan pasaran (besaran lainnya) dan juga berguna dalam
mengenali perkembangan (identifikasi) potensi sumber daya.
Suatu wilayah tidak hanya merupakan suatu sistem fungsional yang berbeda
satu sama lain tetapi juga merupakan jaringan sosial ekonomi, interaksi fisikal,
teknologi, kultural, politik, administrasi dan organisasi (Rondinelli, 1985). Sistem
jaringan ini terbentuk oleh adanya pergerakan timbal balik yang merupkan kontak
masyarakat antar suatu wilayah dengan wilayah lain. Titik pandang kontak
masyarakat antar suatu wilayah dengan wilayah lain diletakkan pada ketergantungan
antar wilayah. Di dalam hubungan antar wilayah terdapat pola hubungan tertentu
meliputi tiga jenis hubungan, yaitu :
1. Hubungan antar central place dengan hinterland-nya
2. Hubungan antara pusat-pusat dalam wilayah atau disebut interaksi internal
13
3. Hubungan antara pusat-pusat di dalam wilayah dengan daerah luar dan
disebut interaksi eksternal.
Menurut Rondinelli (1983), tingkat kemudahan mendapatkan fasilitas diukur
berdasarkan dua faktor :
Sukar atau mudahnya perjalanan yang harus ditempuh (terkait unsur jarak dan
waktu).
Pentingnya fasilitas/fungsi yang dituju. Hal ini ditentukan berdasarkan
seringnya kunjungan, rata-rata waktu perjalanan dan prosentase penduduk
yang memanfaatkan fungsi tersebut.
Penyaluran
pelayanan
yang
tanpa
memperhatikan
hubungan
antara
aksesibilitas penduduk dan struktur sosial atau lingkungan organisasi, memiliki
keterbatasan karena mengasumsikan bahwa semua anggota masyarakat mempunyai
akses yang sama terhadap pelayanan tersebut, serta mempunyai pengetahuan yang
sama tentang pelayanan yang disediakan (Sofian, 1986)
1.5.6. Pengembangan Wilayah
Menurut Huisman (1987), kebijaksanaan pembangunan keruangan di negara
sedang berkembang, tidak bisa lepas dari usaha memacu pertumbuhan pusat-pusat
pelayanan pedesaan yang dapat menghubungkan daerah pusat/kota dengan daerah
pinggir/desa. Masalah pengembangan wilayah (regional development) oleh sementara
ahli dianggap sebagai masalah yang ditimbulkan oleh adanya fenomena regional
inequality yaitu adanya perbedaan dalam tingkat pertumbuhan dan perkembangan
antar daerah serta adanya perbedaan tingkat pendapatan dan tingkat kemakmuran.
Perbedaan-perbedaan ini mengakibatkan timbulnya dikotomi (dichotomy) di dalam
manifestasi tata ruang yaitu antara daerah (sektor) perkotaan yang modern, dinamis,
inovatif, dengan daerah (sektor) pedesaan yang tradisional, statis, dan terbelakang
(Soedjito, 1975).
14
Usaha-usaha pembangunan harus diarahkan kembali pada pembangunan
keruangan yang terintegrasi. Tujuannya adalah kemajuan sistem-sistem pusat
pelayanan yang mengkaitkan berbagai aktivitas masyarakat di bidang ekonomi dan
sosial. Sistem keruangan harus lebih baik dalam meneruskan pertumbuhan ekonomi
dan untuk menambah barang dan jasa (ESCAP, 1979).
“Konsep pengembangan wilayah terpadu” yang dikemukakan oleh USAID,
merupakan pengganti konsep ”growth pole” yang tidak menunjukkan keberhasilan di
banyak negara berkembang. Wilayah terpadu adalah wilayah yang penduduknya
mendapatkan pelayanan dari suatu pusat dengan mudah, hinterland dari pusat
tersebut bertampalan dengan hinterland dari pusat-pusat yang lebih kecil, pusat-pusat
dari berbagai ukuran saling berkaitan dan masyarakatnya berinteraksi satu sama lain.
Tingkat keterpaduan wilayah ini tergantung dari :
3. Tingkat perkembangan dalam hirarki permukiman.
4. Jarak antara pusat-pusat.
5. Kemudahan mendapatkan pelayanan dari pusat lain
6. Keragaman dan besarnya fungsi dalam pusat-pusat.
Prinsip dari konsep ini adalah memperkuat sistem perkotaan nasional,
sehingga dapat melayani daerah pedesaan dengan lebih baik. Hal ini dilakukan
dengan cara membentuk jaringan kota-kota kecil dan menengah untuk mempercepat
perkembangan perdesaan, menciptakan lapangan kerja di luar pertanian serta
menyediakan pelayanan (urban function). Salah satu pendekatan yang digunakan
dalam konsep ini adalah Urban Function in Rural Development ( UFRD) yang
berhasil diujicobakan di Potosi, Bolivia.
Rondinelli (1985) mengungkapkan index tingkat perkembangan wilayah
(level of development index) dapat dilihat secara sederhana dalam tiga indikator,yaitu:
1. Karakteristik sosio ekonomi dan demografi diukur melalui pendapatan per
kapita , kebutuhan fisik minimum, produk domestik regional bruto, investasi,
jumlah penduduk, pertumbuhan penduduk, kepadatan penduduk, jumlah usia
15
harapan hidup, tingkat kematian bayi per 1000 penduduk, jumlah fasilitas
kesehatan.
2. Kontribusi industri dan produksi pertanian diukur melalui persentase
penyerapan tenaga kerja, jumlah perusahaan komersiil, luas total lahan
pertanian, produktivitas pertanian, luas lahan sawah, luas lahan pertanian
untuk hidup layak.
3. Transportasi diukur melalui kualitas jalan, kepadatan , tipe jalan dan panjang
jalan.
1.5.7. Ulasan Penelitian Sebelumnya
Retno Chusniati (1997), judul penelitiannya adalah “Peranan Kota Muntilan
dalam Pelayanan Sosial Ekonomi Terhadap Sekitarnya”. Tujuan penelitiannya adalah
mengetahui orientasi penggunaan fasilitas sosial ekonomi di Kota Muntilan bagi
hinterland serta mengetahui peranan Kota Muntilan dilihat dari kegiatan perdagangan
bagi hinterland. Hasil dari penelitian ini adalah fasilitas pelayanan yang mempunyai
jenjang tinggi merupakan
jenis pelayanan yang paling banyak digunakan oleh
penduduk hinterland Kota Muntilan.
Lenny Agustin (1999), dalam penelitiannya yang berjudul “Evaluasi Hirarki
Pusat-Pusat Pelayanan Sosial Ekonomi di Kabupaten Bengkulu Selatan” bertujuan
untuk mengetahui potensi fisik sosial ekonomi wilayah Kabupaten Bengkulu Selatan,
mengetahui kondisi daya layan dan kebutuhan fasilitas sosial ekonomi, serta arahan
pengembangan hirarki pusat pelayanan sosial ekonomi di Kabupaten Bengkulu
Selatan. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Kota Manna, Bintuhan dan Tais di
Kabupaten Bengkulu Selatan dapat berfungsi optimal melayani hinterland-nya.
Selain itu jenis kebutuhan fasilitas yang diproyeksikan untuk tahun 2005 yang sangat
dibutuhkan di Kabupaten Bengkulu Selatan adalah fasilitas ekonomi, komunikasi,
dan pendidikan.
16
Rahayu Tri Astuti (2000), judul penelitiannya adalah “Hubungan Fasilitas
Pelayanan Sosial Ekonomi dengan Tingkat Perkembangan Wilayah di Kabupaten
Banjarnegara”. Tujuan dari penelitiannya untuk mengetahui variasi dan pola
keruangan tingkat perkembangan wilayah, mengetahui kondisi fasilitas sosial
ekonomi dan signifikansi hubungan dengan tingkat perkembangan wilayah. Hasil dari
penelitian ini adalah sebagian besar wilayah Kabupaten Banjarnegara bagian utara
mempunyai tingkat perkembangan wilayah rendah dibanding wilayah bagian tengahselatan, adanya kesenjangan ketersediaan pelayanan sosial ekonomi anatara bagian
utara dengan tengah-selatan, dan kondisi fasilitas pelayanan sosial ekonomi
mempunyai hubungan yang tidak terlalu kuat dengan tingkat perkembangan wilayah.
Berikut tabel 1.1 yang menyajikan perbedaan penelitian ini dengan penelitian
sebelumnya, yaitu :
17
Tabel 1.1 Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya
Nama
Peneliti
Judul Penelitian
Retno
Chusniati
(1997)
Peranan
Kota
Muntilan
dalam
Pelayanan
Sosial
Ekonomi Terhadap
Sekitarnya
Lokasi
Penelitian
Kota
Muntilan
Unit
Analisis
Teknik analisis
Kecamat
an
12
Tabel silang
antara variabel
pengaruh dan
terpengaruh
13
Analisis
deskriptif analitis
Lenny
Agustin
(1999)
Evaluasi
Hirarki
Pusat-Pusat
Pelayanan
Sosial
Ekonomi
di
Kabupaten
Bengkulu Selatan
Kabupaten
Bengkulu
Selatan
Kecamat
an
14
Tabel silang
dan
grafik,
skalogram, skoring,
klasifikasi, analisis
peta dengan SIG Arc
Info yang didukung
dengan
analisis
deskriptif kualitatif
Rahayu
Tri Astuti
(2000)
Hubungan Fasilitas
Pelayanan Sosial
Ekonomi dengan
Tingkat
Perkembangan
Wilayah di
Kabupaten
Banjarnegara
Kabupaten
Banjarnega
ra
Desa
15
Analisis
faktor, skalogram,
scoring, analisis
bivariate corelation.
Perkembangan dan
Kondisi Pelayanan
di Kecamatan
Puhpelem
Kabupaten Wonogiri
Sebagai Kecamatan
Baru
Kecamatan
Puhpelem,
Kabupaten
Wonogiri
Penelitia
n ini
(2013)
16
Analisis
deskriptif
18
Kecamat
an
Puhpele
m
Metode analisis
deskriptif
kuantitatif (metode
skoring,Gutman
Scalling
Method,dengan
analisis skalogram,
analisis bivariate
corelation,)
1.6.
Kerangka Pemikiran
Pengembangan pusat pelayanan di Kecamatan Puhpelem sebagai kecamatan
baru diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan penduduk perdesaan dan
peningkatan mobilitas penduduk untuk memperoleh fasilitas jasa dan kesempatan
sosial ekonomi. Pengembangan tersebut harus disesuaikan pula dengan potensi dan
fungsi wilayah sebagai pusat pelayanan sosial-ekonomi bagi hinterland dan wilayah
sekitar, yaitu di bidang pertanian, industri rumah tangga, perdagangan, pariwisata,
dan jasa angkutan.
Pokok permasalahan dari penelitian ini ditekankan kepada empat hal pokok
dalam pengembangan pelayanan yaitu : daya layan pelayanan sosial-ekonomi,
distribusi pelayanan sosial- ekonomi, dan hirarki pusat pelayanan serta interaksi antar
wilayah dalam menunjang pengembangan pelayanan sosial ekonomi. Analisis
keempat hal tersebut yang dilengkapi analisis potensi, permasalahan, peluang dan
tantangan dapat dijadikan sebagai dasar rencana pengembangan pusat pelayanan di
Kecamatan Puhpelem.
Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu pertama melakukan
deskripsi secara umum terhadap potensi, permasalahan, peluang dan tantangan yang
dimiliki oleh Kecamatan Puhpelem dalam pengembangan pelayanan sosial ekonomi
terkait dengan kebijakan pemekaran wilayah. Menganalisis potensi wilayah
merupakan bagian penting dalam pengembangan pusat pelayanan.
Kedua, menilai kebutuhan fasilitas sosial ekonomi dengan ketersediaan
fasilitas sosial ekonomi berdasarkan dinamika penduduk dan dinamika wilayah
sehingga diketahui daya layan, distribusi fasilitas sosial ekonomi, serta hirarki pusat
pelayanan. Kejelasan hirarki pusat pelayanan akan mempermudah mengetahui
mekanisme penjalaran pertumbuhan dan pengembangan dari pusat wilayah ke
hinterland.
Ketiga, menilai interaksi antar wilayah untuk menunjang pengembangan
pelayanan sosial-ekonomi. Interaksi ini dipengaruhi oleh fungsi dan peran wilayah
19
dalam menyokong pelayanan sosial ekonomi di pusat pelayanan, hinterland dan
daerah pengaruhnya.
Keempat, mengidentifikasi tingkat perkembangan wilayah sebagai indikasi
keberhasilan pembangunan sehingga dapat diproyeksikan kebutuhan pelayanan sosial
ekonomi untuk mendukung pengembangan pelayanan kecamatan baru pada tahun
mendatang. Kelima, menentukan alternatif arahan pengembangan pelayanan sosial
ekonomi Kecamatan Puhpelem sebagai kecamatan baru berdasarkan beberapa
analisis. Secara diagramatis kerangka penelitian disajikan dalam gambar 1.1
20
Gambar 1.1. Diagram Alir Kerangka Penelitian
Potensi SDA dan SDM Kecamatan Puhpelem
Kebijakan Pemekaran Wilayah di Kecamatan
Puhpelem
Dinamika Penduduk dan Dinamika Wilayah
Kecamatan Puhpelem sebagai Kecamatan Baru
Ketersediaan
Pelayanan Fasilitas Sosial- Ekonomi
Kebutuhan
Pelayanan Fasilitas Sosial-Ekonomi
Interaksi antara Pusat Pelayanan
dengan Hinterland dan Daerah
Pengaruh
Fungsi dan Peran
Wilayah
Daya Layan Fasilitas Sosial
Ekonomi
Distribusi Fasilitas Sosial
Ekonomi
Tingkat
Perkembangan
Wilayah
Kebutuhan untuk Mendukung
Pengembangan Pelayanan SosialEkonomi Kecamatan Baru
Pengembangan Pusat Pelayanan Sosial-Ekonomi
Kecamatan Baru
21
1.7. Hipotesis
Berdasarkan pada perumusan masalah, tujuan penelitian dan tinjauan pustaka
dapat disusun hipothesis sebagai berikut :
1. Distribusi pelayanan fasilitas sosial ekonomi di Kecamatan Puhpelem
masih terkonsentrasi di ibukota kecamatan.
2. Hirarki pusat pelayanan tinggi di Kecamatan Puhpelem terdapat di
desa/kelurahan yang mempunyai jumlah penduduk banyak.
3. Semakin dekat jarak antara pusat pelayanan dengan pusat pelayanan yang
lain di Kecamatan Puhpelem maka semakin besar interaksi ekonominya.
4. Terdapat hubungan yang signifikan antara daya layan pelayanan sosialekonomi dengan tingkat perkembangan wilayah di Kecamatan Puhpelem.
1.8. Batasan Operasional
Daya Layan adalah kemampuan fasilitas pelayanan yang dimiliki suatu wilayah
untuk melayani semua masyarakat yang ada di wilayah tersebut.
Pengembangan wilayah adalah suatu tindakan untuk memanfaatkan sumberdaya
dalam suatu wilayah secara optimal sesuai dengan fungsinya untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat
Pusat pelayanan adalah suatu tempat tertentu yang terdapat di daerah permukiman
inti yang mempunyai sekurang-kurangnya 3 jenis pelayanan yang berbeda,
berjarak tidak lebih dari 0,5 km dan tidak dipisahkan oleh batas alam (sungai,
lembah, dan sebagainya) yang dapat menjadi hambatan (Yahya, 1986).
Population Treshold adalah jumlah minimum penduduk yang dibutuhkan untuk
kegiatan suatu central place, sebelum ia dapat beroperasi secara
menguntungkan (Daldjoeni N,1977)
Distance Treshold adalah jarak yang ditolerir oleh penduduk untuk mendapatkan
pelayanan barang atau jasa. Jarak barang dipengaruhi oleh : harga, daya tahan
barang, fungsi barang, jumlah barang, dan frekuensi pembelian.
22
Pelayanan Ekonomi adalah pelayanan yang secara langsung mendukung pada
kegiatan ekonomi dan produksi atau keuntungan finansial (R Diah,1996)
Pelayanan Sosial adalah pelayanan-pelayanan yang sebagian atau keseluruhan
diberikan oleh pemerintah didukung oleh partisipasi masyarakat dengan
tujuan utama meningkatkan status sosial masyarakat (Conyers, 1979)
Pelayanan Infrastruktur adalah pelayanan-pelayanan yang terutama dikelola oleh
pemerintah untuk mendukung baik kegiatan sosial maupun ekonomi
masyarakat. Garis besar pelayanan yang termasuk kelompok ini adalah
administrasi dan kelembagaan, prasarana jalan.
Wilayah adalah sebutan untuk lingkungan di permukaan bumi dalam batas
kewenangan pemerintah daerah yang dibatasi oleh wilayah administrasi.
Pewilayahan adalah pengkelasan wilayah administrasi dalam kategori tertentu
berdasar kriteria tertentu pula (Huissman dan Stoffers, 1989, dalam Kirti,
2000)
Potensi Wilayah adalah kemampuan dalam suatu wilayah yang mungkin dapat
dimanfaatkan untuk pembangunan mencakup alam dan manusia serta hasil
karya manusia itu sendiri (Dirjen Pembangunan Desa, Depdagri, 1987, dalam
Khaerani 2001)
Interaksi Keruangan adalah hubungan kaitan, aliran, yang bergerak antar wilayah
(Hurst, 1972)
Kecamatan adalah wilayah kerja camat sebagai perangkat kerja daerah kabupaten
dan kota.
Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur
dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan
adat-istiadat setempat yang diakui dalam sistem Pemerintahan nasional dan
berada di Daerah Kabupaten.
Kelurahan adalah merupakan perangkat Kecamatan yang dipimpin oleh Kepala
Kelurahan, yaitu Lurah.
23
Hinterland adalah daerah yang menyediakan bahan-bahan dasar atau kebutuhan
pokok untuk kota dan memberikan pengaruh pada kota dan pasar-pasar kota
(Winardi, 1969)
Otonomi Daerah adalah kewenangan Daerah Otonom untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan
aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.(UU No 22
Tahun 1999)
24
Download