BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Biaya dan

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Biaya dan Akuntansi Biaya
2.1.1 Pengertian Biaya
Biaya merupakan sumber daya perusahaan untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Pengertian menurut Hansen dan Mowen (2004 : 40) adalah :
“Biaya adalah nilai kas atau ekuivalen yang dikorbankan untuk barang dan
jasa yang diharapakan memberi manfaat saat ini atau dimasa yang akan
datang bagi organisasi”.
Menurut Mulyadi (2009 :8) mendefinisikan biaya sebagai berikut :
“Dalam arti luas biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur
dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi
untuk tujuan tertentu”.
Berdasarkan definisi tersebut, terdapat 4 unsur pokok biaya :
1. Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi
2. Diukur dalam satuan uang
3. Yang telah terjadi atau yang secara potensial akan terjadi
4. Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu
2.1.2 Penggolongan Biaya
Dalam akuntansi biaya, biaya digolongkan dengan berbagai macam cara.
Umumnya penggolongan biaya ini ditentukan atas dasar tujuan yang hendak
dicapai dengan penggolongan tersebut, karena dalam akuntansi biaya dikenal
konsep “different costs for different purposes”.
2.1.2.1 Berdasarkan Objek Pengeluaran
Dalam cara penggolongan ini, nama objek pengeluaran merupakan dasar
penggolongan biaya. Misalnya nama objek pengeluaran adalah bahan bakar, maka
semua pengeluaran yang berhubungan dengan bahan bakar disebut “biaya bahan
bakar”.
Contoh penggolongan biaya atas dasar objek pengeluaran dalam
Perusahaan kertas adalah sebagai berikut : biaya merang, biaya jerami, biaya gaji
dan upah, biaya soda, biaya depresiasi mesin, biaya asuransi, biaya bunga, biaya
zat warna.
2.1.2.2 Berdasarkan Fungsi Pokok Dalam Perusahaan
Dalam perusahaan manufaktur, ada tiga fungsi pokok, yaitu produksi,
fungsi pemasaran, dan fungsi administrasi & umum. Oleh karena itu dalam
perusahaan manufaktur, biaya dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu :
1. Biaya produksi. Merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan
baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual. Contohnya adalah biaya
depresiasi mesin dan ekuipmen, biaya bahan baku, biaya bahan penilong, biaya
gaji karyawan yang bekerja dalam bagian-bagian, baik yang langsung maupun
yang tidak langsung berhubungan dengan proses produksi. Menurut objek
pengeluarannya, secara garis besar biaya produksi ini dibagi menjadi biaya
bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik (factory
overhead costs). Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung disebut
pula dengan istilah biaya utama (prime costs), sedangkan biaya tenaga kerja
langsung dan biaya overhead pabrik sering pula disebut dengan istilah biaya
konversi (conversion costs), yang merupakan biaya untuk mengkonversi
(mengubah) bahan baku menjadi produk jadi.
2. Biaya pemasaran. Merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan
kegiatan pemasaran produk. Contohnya adalah biaya iklan, biaya promosi,
biaya angkutan dari gudang perusahaan ke gudang pembeli, gaji karyawan
bagian-bagian yang melaksanakan kegiatan pemasaran, biaya contoh (sample).
3. Biaya administrasi & umum. Merupakan biaya-biaya untuk mengkoordinasi
kegiatan produksi dan pemasaran produk. Contoh biaya ini adalah biaya gaji
karyawan Bagian Keuangan, Akuntansi, Personalia dan Bagian hubungan
Masyarakat, biaya pemeriksaan akuntan, biaya photocopy.
Jumlah biaya pemasaran dan biaya administrasi dan umum sering pula
disebut dengan istilah biaya komersial (commercial expenses).
2.1.2.3 Berdasarkan Hubungan biaya dengan Sesuatu yang Dibiayai
Sesuatu yang dibiayai dapat berupa produk atau departemen. Dalam
hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dikelompokkan menjadi
dua golongan :
1. Biaya langsung (direct cost). Merupakan biaya yang terjadi, yang penyebab
satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang dibiayai. Jika sesuatu yang
dibiayai itu tidak ada, maka biaya langsung ini tidak akan terjadi. Biaya
produksi langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja
langsung. Biaya langsung departemen (direct departmental costs) adalah
semua biaya yang terjadi di dalam departemen tertentu. Contohnya adalah
biaya tenaga kerja yang bekerja dalam Departemen Pemeliharaan merupakan
biaya langsung departemen bagi Departemen Pemeliharaan dan biaya
depresiasi mesin yang dipakai dalam departemen tersebut, merupakan biaya
langsung bagi departemen tersebut.
2. Biaya tidak langsung. Merupakan biaya yang terjadinya tidak hanya
disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai. Biaya tidak langsung dalam
hubungannya dengan produk disebut dengan istilah biaya produksi tidak
langsung atau biaya overhead pabrik (factory overhead costs). Biaya ini tidak
mudah diidentifikasikan dengan produk tertentu. Gaji mandor yang mengawasi
pembuatan produk A, B dan C merupakan biaya tidak langsung bagi produk A,
B maupun C, karena gaji mandor tersebut terjadi bukan hanya karena
perusahaan memproduksi salah satu produk tersebut, melainkan karena
memproduksi
ketiga
jenis
produk
tersebut.
Jika
perusahaan
hanya
menghasilkan satu macam produk (misalnya semen, pupuk urea, gula) maka
semua biaya merupakan biaya langsung dalam hubungannya dengan produk.
Biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk sering disebut
dengan istilah biaya overhead pabrik (factory overhead costs). Dalam
hubungannya dengan departemen, biaya tidak langsung adalah biaya yang
terjadi di suatu departemen, tetapi manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu
departemen. Contohnya adalah biaya yang terjadi di Departemen Pembangkit
Tenaga Listrik. Biaya ini dinikmati oleh departemen-departemen lain dalam
perusahaan, baik untuk penerangan maupun untuk menggerakan mesin dan
ekuipmen yang mengkonsumsi listrik. Bagi departemen pemakai listrik, biaya
listrik yang diterima dari alokasi biaya Departemen Pembangkit Tenaga Listrik
merupakan biaya tidak langsung departemen.
2.1.2.4 Dilihat dari Perilaku Biaya Dalam Hubungannya dengan perubahan
Volume Kegiatan
Dalam hubungannya dengan perubahan volume aktivitas, biaya dapat
digolongkan menjadi :
1. Biaya variabel, adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan
perubahan volume kegiatan. Contoh biaya variabel adalah biaya bahan baku,
biaya tenaga kerja langsung.
2. Biaya semivariabel, adalah biaya yang berubah tidak sebanding dengan
perubahan volume kegiatan. Biaya semivariabel mengandung unsur biaya tetap
dan unsur biaya variabel.
3. Biaya semifixed, adalah biaya yang tetap untuk tingkat volume kegiatan
tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi
tertentu.
4. Biaya tetap, adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar volume
kegiatan tertentu. Contoh biaya tetap adalah gaji direktur produksi.
2.1.2.5 Berdasarkan Jangka waktu Manfaatnya
Atas dasar jangka waktu manfaatnya, biaya dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Pengeluaran modal (capital expenditures), adalah biaya yang mempunyai
manfaat lebih dari satu periode akuntansi (biasanya periode akuntansi adalah
satu tahun kalender). Pengeluaran modal ini pada saat terjadinya dibebankan
sebagai kos aktiva, dan dibebankan dalam tahun-tahun yang menikmati
manfaatnya dengan cara didepresiasi, diamortisasi atau dideplesi. Contoh
pengeluaran modal adalah pengeluaran untuk pembelian aktiva tetap, untuk
reparasi besar untuk aktiva tetap, untuk promosi besar-besaran, dan
pengeluaran untuk riset dan pengembangan suatu produk. Karena pengeluaran
untuk keperluan tersebut biasanya melibatkan jumlah yang besar dan memiliki
masa manfaat lebih dari satu tahun, maka pada saat pengeluaran tersebut
dilakukan, pengorbanan tersebut diperlakukan sebagai peneluaran modal dan
dicatat sebagai kos aktiva (misalnya sebagai kos aktiva tetap atau beban yang
ditangguhkan). Periode akuntansi yang menikmati manfaat pengeluaran modal
tersebut dibebani sebagian pengeluaran modal tersebut berupa biaya depresiasi,
biaya amortisasi, atau biaya deplesiasi.
2. Pengeluaran pendapatan (revenue expenditure), adalah biaya yang hanya
mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadinya pengeluaran tersebut.
Pada saat terjadinya, pengeluaran pendapatan ini dibebankan sebagai biaya dan
dipertemukan dengan pendapatan yang diperoleh dari pengeluaran biaya
tersebut. Contoh pengeluaran pendapatan antara lain adalah biaya iklan, biaya
telex dan biaya tenaga kerja
2.1.3 Pengertian Akuntansi Biaya
Menurut Mulyadi (2009 : 7) yang dimaksud dengan akuntansi biaya
adalah :
“Akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan
dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan
cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya. Objek kegiatan akuntansi
biaya adalah biaya”.
Menurut Masiyah K. dan Yuningsih (2009 : 10) pengertian akauntansi
biaya adalah :
“Akuntansi biaya merupakan proses pelacakan, pencatatan, pengalokasian,
pelaporan dan analisis terhadap berbagai macam biaya yang berhubungan
dengan aktivitas/kegiatan suatu perusahaan atau organisasi untuk
menghasilkan barang atau jasa”.
Proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian, serta
penafsiran informasi biaya adalah tergantung untuk siapa proses tersebut
ditujukan. Proses akuntansi biaya dapat ditujukan untuk memenuhi kebutuhan
pemakai luar perusahaan. Dalam hal ini proses akuntansi biaya harus
memperhatikan karakteristik akuntansi keuangan. Proses akuntansi biaya dapat
ditujukan pula untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam perusahaan. Dalam hal
ini akuntansi biaya harus memperhatikan karakteristik akuntansi manajemen.
2.1.4 Tujuan Akuntansi Biaya
Akuntansi biaya mempunyai tiga tujuan pokok, antara lain :
1.
Penentuan kos produk. Untuk tujuan ini, akuntansi biaya mencatat,
menggolongkan dan meringkas biaya-biaya pembuatan produk atau
penyerahan jasa. Biaya yang dikumpulkan dan disajikan adalah biaya yang
telah terjadi di masa yang lalu atau biaya historis. Umumnya akuntasi biaya
untuk penentuan kos produk ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pihak
luar perusahaan. Di samping itu, penentuan kos produk juga ditujukan untuk
memenuhi kebutuhan manajemen.
2.
Pengendalian biaya. Pengendalian biaya harus didahului dengan penentuan
biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk memproduksi satu satuan produk.
Jika biaya yang seharusnya ini telah ditetapkan, akuntansi biaya bertugas
untuk memantau apakah pengeluaran biaya yang sesungguhnya sesuai dengan
biaya yang seharusnya tersebut. Akuntansi biaya kemudian melakukan
analisis
terhadap
penyimpangan
biaya
sesungguhnya
dengan
biaya
seharusnya dan menyajikan informasi mengenai penyebab terjadinya selisih
tersebut. Akuntansi biaya untuk tujuan pengendalian biaya ini lebih ditujukan
untuk memenuhi kebutuhan pihak dalam perusahaan.
3.
Pengambilan keputusan khusus. Pengambilan keputusan khusus menyangkut
masa yang akan datang. Oleh karena itu informasi yang relevan dengan
pengambilan keputusan khusus selalu berhubungan dengan informasi masa
yang akan datang. Akuntansi biaya untuk pengambilan keputusan khusus
menyajikan biaya masa yang akan datang (future costs). Informasi biaya ini
tidak dicatat dalam catatan akuntansi biaya, melainkan hasil dari suatu proses
peramalan. Karena keputusan khusus merupaka sebagian besar kegiatan
manajemen perusahaan, laporan akuntansi biaya untuk memenuhi tujuan
pengambilan keputusan adalah bagian dari akuntansi manajemen. Untuk
memenuhi kebutuhan manajemen dalam pengmbilan keputusan, akuntansi
biaya mengembangkan berbagai konsep informasi biaya untuk pengambilan
keputusan seperti : biaya kesempatan (opportunity cost), biaya hipotesis
(hyphotetical cost), biaya tambahan (incremental cost), biaya terhindarkan
(avoidable cost) dan pendapatanyang hilang (forgone revenue).
2.2.
Promosi
2.2.1 Pengertian Promosi
Promosi merupakan salah satu unsur yang penting dari pemasaran, selain
struktur harga dan distribusi. Dengan promosi perusahaan dapat memberikan
informasi, menghimbau serta mempengaruhi masyarakat agar tertarik untuk
membeli produk atau jasa yang dipasarkan. Promosi juga merupakan unsur pokok
dalam persaingan non-harga dan pemasaran modern.
Promosi meliputi semua alat-alat dalam kombinasi pemasaran yang
peranan utamanya adalah untuk mengadakan komunikasi yang sifatnya
membujuk. Promosi merupakan suatu proses komunikasi dari penyampaian
amanat atau berita tentang produk/barang atau jasa dari penjual kepada para
pembeli potensial (konsumen).
Pengertian promosi menurut Basu Swastha (2003 : 349) adalah :
“Arus informasi atau persuasi satu arah yang dibuat mengarahkan
seseorang atau organisasi kepada tindakan yang menciptakan pertukaran
dalam pemasaran”.
Definisi promosi menurut William J Stanton (1994 : 456) adalah :
“Promotion is the element in an organizations marketing mix that serves to
inform, and remind the market of product and/or the organizing selling it,
in hopes of influencing the recipient’s feelings, believes or behavior”.
Definisi ini menyatakan bahwa promosi adalah usaha penyampaian dalam
bidang informasi, himbauan, bujukan, dan mengkomunikasikan atas produk yang
dipasarkan
perusahaan.
Memberikan
informasi
adalah
usaha
untuk
mempengaruhi, dan jika seseorang terpengaruh itu berarti bahwa orang tersebut
telah menerima informasi yang diinginkan oleh penjual. Himbauan serta informasi
menjadi lebih efektif dalam bentuk komunikasi.
2.2.2 Fungsi Promosi
Menurut Marwan Asri (2003 : 358) terdapat tiga fungsi utama yang
dipegang dalam promosi, yaitu :
1.
Mencari dan mendapatkan perhatian (attention) dari calon pembeli. Perhatian
dari calon pembeli harus diperoleh karena ini merupakan titik awal proses
pengambilan keputusan pembelian barang/jasa.
2.
Menciptakan dan menumbuhkan “intersest” pada diri calon pembeli.
Perhatian yang sudah diberikan oleh seseorang, mungkin akan dilanjutkan
oleh tahap berikutnya, atau mungkin berhenti. Tahap berikutnya adalah
timbul rasa tertarik atas barang/jasa yang ditawarkan.
3.
Mengembangkan rasa ingin (desire) calon pembeli untuk memiliki barang
yang ditawarkan. Setelah seseorang tertarik pada sesuatu maka akan timbul
rasa ingin memilikinya. Bila ia merasa mampu (dalam hal harga, cara
pemakaian dan sebagainya) maka rasa ingin semakin besar dan akan diikuti
oleh suatu keputusan positif.
2.2.3 Tujuan Promosi
Tujuan utama dari promosi yang akan dilakukan oleh perusahaan secara
mendasar terdiri dari beberapa alternatif, seperti yang dikemukakan oleh Marius
P. Angipora (2002 : 339) antara lain :
1. Menginformasikan
Sebagai tujuan utama dari kegiatan promosi yang akan dilakukan adalah
menginformasikan seluruh aspek-aspek dan kepentingan perusahaan yang
berhubungan dengan konsumen dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya untuk
dapat diketahui secara jelas.
2. Mempengaruhi dan membujuk pelanggan sasaran
Kegiatan yang dilakukan untuk mempengaruhi dan membujuk pelanggan
sasaran dengan tujuan utama untuk :
 Membentuk pilihan merk
 Mengalihkan pilihan ke merk lain
 Mengubah persepsi pelanggan terhadap atribut produk
 Mendorong pelanggan untuk belanja pada saat itu juga
 Mendorong pembeli untuk menerima kunjungan salesman
3. Mengingatkan
Alternatif terakhir dari tujuan promosi yang akan dilakukan perusahaan adalah
mengingatkan kembali konsumen sasaran yang selama ini dimiliki atas
keberadaan perusahaan dan merk-merk produk yang dihasilkan yang tetap setia
dan konsisten untuk melayani konsumennya dimanapun mereka berada.
Sedangkan menurut Marwan Asri (2003 : 360) tujuan melakukan
kegiatan promosi antara lain :
1. Untuk mengembangkan citra perusahaan diantara konsumen yang ada dan
konsumen potensial.
2. Untuk memberikan informasi yang terinci mengenai produk dan pelayanan
perusahaan.
3. Untuk menciptakan kesadaran akan pelayanan dan fasilitas yang diberikan
perusahaan.
4. Untuk menghadapi pesaing.
2.2.4 Sasaran Promosi
Menurut pendapat Marius P. Angipora (2002 : 343) sasaran promosi
adalah sebagai berikut :
1. Sasaran penjualan. Sasaran penjualan harus ditetapkan secara jelas dengan
mencantumkan secara spesifik kenaikan penjualan dari produk tertentu
diharapakan dari kegiatan promosi yang dilakukan.
2. Sasaran konsumen. Kegiatan promosi yang akan dilakukan dengan alternatif
tujuan promosi yang telah ditetapkan, tentunya harus dilengkapi secara jelas
sasaran konsumen (audiens) yang akan dituju dari kegiatan promosi yang akan
dilakukan. Dengan menetapkan sasaran konsumen yang jelas, maka
perusahaan dapat menentukan dengan tepat apa yang ingin disampaikan,
bagaimana menyampaikannya, kapan disampaikannya dan siapa yang
menyampaikannya.
2.2.5 Alat promosi
Alat-alat promosi yang digunakan menurut Basu Swastha (2003 : 350)
adalah sebagai berikut :
1. Periklanan. Bentuk prsentasi dan promosi non pribadi tentang ide, barang dan
jasa yang dibayar oleh sponsor tertentu
2. Personal selling. Presentasi lisan dalam bentuk percakapan dengan suatu calon
pembeli atau lebih yang ditujukan untuk menciptakan penjualan.
3. Publisitas (Public Relations). Pendorongan permintaan secara non pribadi
untuk suatu produk, jasa atau ide dengan menggunakan berita komersial di
dalam media massa dan sponsor tidak dibebani sejumlah bayaran secara
langsung.
4. Promosi penjualan. Kegiatan pemasaran, selain periklanan, personal selling
dan publisitas, yang mendorong pembelian konsumen dan efektivitas pengecer.
Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain peragaan, pertujukan dan pameran,
demonstrasi dan sebagainya.
2.3.
Biaya Promosi
Dalam suatu perusahaan, biaya yang dikeluarkan haruslah seefisien
mungkin karena biaya yang tidak efisien akan berdampak pada perolehan laba
perusahaan yang tidak optimal. Kegiatan pemasaran produk di mulai jauh
sebelum produk tersebut siap dijual. Kegiatan advertensi biasanya mengawali
kegiatan pemasaran produk.
Menurut Mulyadi (2009 : 488) secara garis besar biaya pemasaran dapat
dibagi menjadi dua golongan, yaitu :
1. Biaya untuk mendapatkan pesanan (order – getting costs), yaitu semua biaya
yang dikeluarkan dalam usaha untuk memperoleh pesanan. Contoh biaya yang
termasuk dalam golongan ini adalah biaya gaji wiraniaga (salesperson), komisi
penjualan, advertensi dan biaya promosi.
2. Biaya untuk memenuhi pesanan (order – filling costs), yaitu semua biaya yan
dikeluarkan untuk mengusahakan agar supaya produk sampai ke tangan
pembeli dan biaya-biaya untuk mengumpulkan uang dari pembeli. Contoh
biaya yang termasuk dalam golongan ini adalah biaya pergudangan, biaya
pembungkusan dan pengiriman, biaya angkutan dan biaya penagihan.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa biaya promosi merupakan
salah satu dari unsur biaya pemasaran yang telah dikeluarkan oleh perusaahan
untuk memperoleh laba dalam menghadapi persaingan yang ketat sehingga dapat
tercapai, dan termasuk dalam biaya untuk mendapatkan pesanan (order getting).
Pengertian biaya promosi menurut Lowe (1993 : 9) adalah :
“Biaya yang digunakan untuk bisnis yang berjalan berdasarkan anggaran yang
selalu mengakhiri masa kerjanya dengan memperoleh pengembalian yang lebih
besar dari setiap uang dikeluarkan dari usaha memperkenalkan barang atau
jasa”.
2.4.
Penjualan
2.4.1 Pengertian Penjualan
Kegiatan penjualan yang dilaksanakan oleh perusahaan bertujuan untuk
mencapai volume penjualan yang diharapkan dan menguntungkan untuk
mencapai laba maksimum bagi perusahaan.
Menurut Syahrul dan Muhammad Afdi Nizar (2000 : 764)
mendefinisikan penjualan sebagai :
“Pendapatan yang diterima dari pertukaran barang atau jasa dan dicatat
untuk satu periode akuntansi teertentu, baik berdasarkan kas (sebagaimana
diterima) atau berdasarkan akrual (sebagaimana diperoleh)”.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa penjualan adalah
transaksi usaha yang melibatkan suatu pengiriman suatu komoditi, barang
dagangan atau hak milik suatu hak atau jasa untuk ditukarkan dengan uang tunai,
janji untuk membayar, atau sejenisnya atau dengan gabungan dari hal tersebut.
Transaksi usaha tersebut dicatat dan dilaporkan dalam suatu jumlah tunai, janji
untuk membayar atau yang sejenisnya.
2.4.2 Konsep Penjualan
Sedangkan menurut Kotler (2002 : 21) sebagai berikut:
“Konsep penjualan berkeyakinan bahwa para konsumen dan perusahaan
bisnis, jika dibiarkan, tidak akan secara teratur membeli cukup banyak
produk-produk yang ditawarkan oleh organisasi tertentu. Oleh karena itu,
organisasi tersebut harus melakukan penjualan dan promosi yang agresif”.
Konsep tersebut mengasumsikan bahwa konsumen sangatlah rentan
terhadap pembelian dan memiliki hasrat untuk terus menerus melakukan
pembelian, namun tentunya hal ini juga harus ditunjang oleh usaha perusahaan
untuk melakukan penjualan dan promosi yang efektif dalam rangka menstimulasi
pembelian yang dilakukan oleh konsumen.
Konsep penjualan seperti itu kebanyakan dilakukan oleh perusahaan
apabila mereka memiliki overcapacity. Maksudnya adalah bagaimana cara
perusahaan untuk menjual produk yang telah mereka hasilkan, daripada bagimana
cara untuk memenuhi permintaan konsumen dari pasaran.
2.4.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penjualan
Dalam melaksanakan kegiatan penjualan perusahaan perlu memperhatikan
faktor-faktor
yang dapat
mempengaruhi
penjualan produk
yang dapat
meningkatkan volume penjualan serta menghasilkan laba yang diharapkan
perusahaan. Menurut Basu Swastha (2003 : 406) faktor tersebut antara lain :
1. Kondisi dan kemampuan penjual
Transaksi jual beli atau pemindahan hak milik secara komersial atas barang
dan jasa itu pada prinsipnya melibatkan dua pihak, yaitu penjual sebagai pihak
pertama dan pembeli sebagai pihak kedua. Disini penjual harus dapat
meyakinkan kepada pembelinya agar dapat berhasil mencapai sasaran penjual
yang diharapkan. Untuk maksud tersebut penjual harus memahami beberapa
masalah penting yang berkaitan, antara lain :
 Jenis dan karakteristik barang yang ditawarkan.
 Harga produk.
 Syarat penjualan, seperti pembayaran, pengiriman, garansi dan sebagainya.
2. Kondisi pasar
Pasar sebagai kelompok pembeli atau pihak yang menjadi sasaran dalam
penjualan dapat pula mempengaruhi kegiatan penjualannya. Adapun kondisi
pasar yang perlu diperhatikan antara lain :
 Jenis pasar
 Kelompok pembeli atau segmen pasarnya
 Daya belinya
 Frekuensi pembeliannya
 Keinginan dan kebutuhannya
3. Modal
Akan lebih sulit bagi penjual untuk menjual barangnya apabial barang tersebut
belum dikenal oleh calon pembeli atau apabila lokasi pembeli jauh dari
penjual. Maka penjual harus memperkenalkan dulu barangnya dengan
membawa barang ke tempat pembeli. Untuk melaksanakan hal tersebut
diperlukan sarana dan usaha seperti alat transportasi, usaha promosi dan
sebagainya. Semua ini hanya dapat dilakukan apabila penjual memiliki modal
yang cukup.
4. Kondisi organisasi perusahaan
Pada perusahaan besar biasanya ditangani oleh bagian penjualan, yang
memegang orang-orang yang ahli di bidang penjualan. Lain halnya dengan
perusahaan kecil dimana masalah penjualan ditangani oleh orang yang
melakukan fungsi-fungsi lain. Hal ini dikarenakan jumlah tenaga kerja yang
lebih sedikit, sistem organisasi lebih sederhana, masala-masalah yang dihadapi,
serta sarana yang dimiliki tidak sekompleks perusahaan besar
5. Faktor lain
Faktor-faktor lain seperti periklanan, peragaan, kampanye, pemberian hadiah
sering mempengaruhi penjualan. Namun untuk melaksanakannya diperlukan
dana yang tidak sedikit.
2.5.
Pengaruh Biaya Promosi Terhadap Penjualan
Promosi merupakan salah satu kegiatan menyebarluaskan informasi
mengenai produk yang dihasilkan perusahaan untuk menarik perhatian calon
konsumen.
Sehingga
menumbuhkan
minat
beli
yang
pada
akhirnya
mempengaruhi sikap dan perilaku calon pembeli dalam memutuskan pembelian
produk tersebut. Perusahaan yang menginginkan peningkatan penjualan akan
melakukan kegiatan promosi. Setiap promosi yang dilakukan oleh suatu
perusahaan memerlukan biaya, karena promosi merupakan kegiatan/aktivitas yang
tanpa dukungan biaya tidak dapat berjalan.
Setiap kegiatan promosi yang dilakukan akan menimbulkan biaya
sehingga diperlukan perencanaan yang efektif dengan biaya yang efisien agar
tujuan perusahaan dalam meningkatkan penjualan dapat tercapai.
Akan tetapi sering kali penurunan kegiatan promosi diikuti pula oleh
penurunan penjualan. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan,
misalnya penurunan kegiatan promosi dilakukan pada saat yang kurang tepat.
Oleh karena itu, apabila perusahaan ingin meningkatkan dan mencapai
penjualan yang menguntungkan, maka salah satu cara yang dapat digunakan
adalah dengan penetapan biaya promosi yang efisien dan efektif. Jadi jelaslah
bahwa biaya promosi mempunyai pengaruh dalam meningkatkan penjualan.
Download