LAPORAN AKHIR Kajian Peran Kebijakan Impor Dalam Rangka

advertisement
LAPORAN AKHIR
Kajian Peran Kebijakan Impor Dalam Rangka Mendukung
Industri Manufaktur
Studi Kasus Industri Kimia, Tekstil dan Produk Tekstil, dan
Elektronik
Pusat Pengkajian Perdagangan Luar Negeri
Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan
Kementerian Perdagangan
Republik Indonesia
Tahun 2016
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
1
KATA PENGANTAR
Perkembangan impor Indonesia selama lima tahun terakhir (2010-2014
cenderung mengalami peningkatan dengan rata-rata pertumbuhan per
tahunnya sebesar 6,10%. Nilai impor Indonesia pada tahun 2010 sebesar USD
135,66 miliar, terus naik sejak tahun 2011 hingga mengalami puncaknya pada
tahun 2012 yang menjadikan nilai impor pada tahun tersebut adalah yang
tertinggi sepanjang lima tahun terakhir sebesar USD 191,69 miliar. Dari impor
Indonesia tersebut, mayoritas impor adalah berupa Bahan Baku/Penolong
dengan rata-rata pangsa impor sebesar 74,44% per tahunnya dan trend
pertumbuhan impor sebesar 7,51%.
Kinerja impor bahan baku/penolong yang terus meningkattidak diiringi
oleh peningkatan pertumbuhan industri manufaktur dan kontribusi industri
manufaktur dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB). Meskipun
terdapat kenaikan dalam pertumbuhan industri manufaktur Indonesia,
namunporsi industri manufaktur terhadap PDB cenderung menurun hingga
pada tahun 2014 hanya berkisar 25,5% (BPS, 2015). Beberapa industri seperti
industri Tekstil dan Pakaian Jadi, industri Makanan dan Minuman, dan industri
Alat Angkutan menunjukkan perlambatan pada Semester I 2015.
Hasil studi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (2015)
menemukan terdapat 79 peraturan impor yang mengatur 11.534 jenis barang
dengan banyaknya identitas sebagai pelaku impor dan beragam perizinan,
rekomendasi, pemeriksaan, dan persyaratan dokumen yang diwajibkan untuk
melakukan importasi. Hal tersebut membuat dunia usaha dan industri nasional
tidak optimal dalam memproduksi barang-barang yang dapat memenuhi
kebutuhan konsumsi masyarakat dan berdaya saing di pasar ekspor.
Banyaknya pengaturan terhadap importasi bahan baku/ penolong disinyalir
oleh para pelaku usaha menyebabkan industri manufaktur, yang sebagian
bahan bakunya dipenuhi dari impor, produknya kurang berdaya saing
(Kompas, 21 Oktober 2015). Terlebih lagi adanya anggapan bahwa kebijakan
impor lebih longgar dan liberal terhadap produk jadi.
Oleh sebab itu, Pusat Pengkajian Perdagangan Luar Negeri menyusun
Kajian Peran Kebijakan Impor Dalam Rangka Mendukung Industri Manufaktur.
Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dalam upaya
mengidentifikasi peran kebijakan impor bahan baku/ penolong dalam
mendukung kesinambungan ketersediaan bahan baku/ penolong bagi
kebutuhan industry manufaktur di Indonesia.
Akhirnya, kami menyadari bahwa laporan hasil kajian Kajian Peran
Kebijakan Impor Dalam Rangka Mendukung Industri Manufakturini masih jauh
dari sempurna. Oleh karena itu kami ucapkan terima kasih kepada semua
pihak atas segala masukan dan sarannya demi kesempurnaan laporan ini.
Jakarta, September 2016
Pusat Pengkajian
Perdagangan Luar Negeri
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
i
ABSTRAK
Peran Kebijakan Impor Dalam Rangka Mendukung Industri
Manufaktur
Kajian ini bertujuan untuk : a. Mengidentifikasi kebijakan impor tarif dan non
tarif yang mengatur bahan baku/penolong untuk industri Kimia, Tekstil dan
Elektronik; dan b. Menganalisis pengaruh kebijakan impor tarif dan non tarif
bahan baku/penolong terhadap kinerja industri Kimia, Tekstil dan
Elektronik. Kajian ini menggunakan metode berupa survei dan Focus Group
Discussion (FGD) serta regresi. Peran kebijakan impor terhadap kinerja
masing-masing industri sangat bervariasi. Pada industri kimia, kebijakan
tarif bea masuk berpengaruh signifikan pada kinerja Industri, sementara
kebijakan non tarif tidak signifikan. Sedangkan pada industri tekstil,
kebijakan tarif dan non tarif berpengaruh signifikan pada kinerja industri.
Sementara itu, pada industri elektronik, kebijakan non tarif berpengaruh
signifikan pada kinerja industri, sementara kebijakan tarif tidak signifikan.
Secara umum, pemerintah diharapkan memberi dukungan positif pada
peningkatan kinerja industri kimia, TPT dan elektronik mengingat ketiga
industri tersebut mampu menyerap tenaga kerja yang cukup besar. Disisi
makro, untuk mendorong kinerja industri kimia, TPT dan elektronik, maka
pemerintah diharapkan dapat mendorong peningkatan output sektoral
(PDB sektoral).
Kata kunci : kebijakan impor, bahan baku/penolong, industri manufaktur
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
ii
ABSTRACT
Import Policy Contribution to Support the Manufacturing Industry
This study aims to: a. Identifying the policy of import tariff and non tariff
governing raw / intermediate goods for the Chemical, Textile and
Electronics industry; and b. Analyzing the effect of policy tariff and non tariff
import of raw / intermediate goods on the performance of Chemical, Textile
and Electronics industry. This study uses methods such as surveys, Focus
Group Discussion (FGD), and regression. The contribution of Import policy
on the performance of the industry is vary widely, where on the chemical
industry, policy tariffs have a significant effect on the industry's performance.
Meanwhile, non-tariff policy does not have a significant impact. In the textile
industry, tariff and non tariff policies have a significant effect on the
performance of the industry. In the electronics industry, non-tariff policies
have a significant effect on the performance of the industry, while the tariff
policy does not have a significant impact. In general, the government is
expected to give positive support to the improvement of the performance of
the chemical industry, textile and electronics. That is because the three
industries is able to absorb a large enough labor. On the macro side, to
encourage the performance of the chemical industry, textile and electronics,
the government is expected to boost sector output (GDP sectoral)
Keywords: import policy, raw/ intermediate goods, the manufacturing
industry
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................... i
ABSTRAK ...................................................................................................ii
ABSTRACT ................................................................................................ iii
DAFTAR TABEL ........................................................................................vi
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... vii
BAB I.......................................................................................................... 1
PENDAHULUAN ........................................................................................ 1
1.1.
Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2.
Rumusan Masalah ........................................................................ 4
1.3.
Tujuan ........................................................................................... 5
1.4.
Output ........................................................................................... 5
1.5.
Dampak/Manfaat .......................................................................... 5
1.6.
Ruang Lingkup .............................................................................. 5
1.7.
Sistematika Laporan ..................................................................... 6
BAB II ......................................................................................................... 8
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN .............................. 8
2.1.
Teori Perdagangan Internasional .................................................. 8
2.2.
Konsep Impor ............................................................................. 15
2.3.
Hambatan Perdagangan Internasional ....................................... 17
2.4.
Teori Produktivitas dan Total Factor Productivity ........................ 26
2.5.
Kajian Sebelumnya ..................................................................... 29
2.6.
Kerangka Pemikiran ................................................................... 35
BAB III ...................................................................................................... 37
METODOLOGI PENGKAJIAN ................................................................. 37
3.1.
Metode Analisis .......................................................................... 37
3.2.
Model Ekonometrik ..................................................................... 38
3.3.
Metode Estimasi ......................................................................... 41
3.4.
Ruang Lingkup Analisis .............................................................. 43
3.5.
Jenis dan Sumber Data .............................................................. 46
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
iv
BAB IV ..................................................................................................... 47
HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................... 47
4.1.
Perkembangan Impor Bahan Baku/ Penolong ............................ 47
4.1.1.
Perkembangan Impor Bahan Baku/ Penolong Nasional ...... 47
4.1.2. Perkembangan Impor Bahan Baku/ Penolong untuk Industri
Kimia, TPT dan, Elektronika .............................................................. 50
4.2. Identifikasi Kebijakan Impor Tarif dan Non-Tarif Bahan
Baku/Penolong Industri Kimia, Tekstil, dan Elektronik .......................... 54
4.2.1. Identifikasi Kebijakan Impor Tarif Bahan Baku/Penolong
Industri Kimia, Tekstil, dan Elektronik ................................................ 54
4.2.2. Identifikasi Kebijakan Impor Non Tarif Bahan Baku/Penolong
Industri Kimia, Tekstil, dan Elektronik ................................................ 55
4.3.
Perkembangan Output Industri Kimia, Tekstil, dan Elektronik .... 63
4.4. Analisis Regresi Pengaruh Kebijakan Impor Tarif dan Non Tarif
Bahan Baku/Penolong terhadap Kinerja Industri Kimia, Tekstil, dan
Elektronik .............................................................................................. 64
4.4.1.
Analisa Deskriptif.................................................................. 64
4.4.2.
Hasil Regresi ........................................................................ 75
4.5.
Hasil Temuan Lapang ................................................................. 88
BAB V ...................................................................................................... 92
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN ................................. 92
5.1.
Kesimpulan ................................................................................. 92
5.2.
Rekomendasi Kebijakan ............................................................. 92
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 94
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
v
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1.
Kinerja Beberapa Industri Tahun 2010 dan Ekspor 2015
04
Tabel 4.1.
Jenis Impor Menurut Penggunaan, 2004-2014
48
Tabel 4.2.
Nilai Impor Bahan Baku dan Penolong, Diolah Maupun
49
Belum Diolah, Untuk Industri, 2004-2014
Tabel 4.3.
Volume Impor Bahan Baku dan Penolong, Diolah Maupun
50
Belum Diolah, Untuk Industri, 2004-2014
Tabel 4.4.
Jumlah Pos Tarif dan Pos Tarif yang Terkena Hambatan
Non Tarif Indonesia Berdasarkan Kelompok Produk
Tabel 4.5.
56
Hambatan Non Tarif Indonesia Berdasarkan Kelompok
Produk
Tabel 4.6.
57
Regulasi yang Berlaku Saat Ini Untuk Produk Kimia, TPT,
dan Elektronik
61
Tabel 4.7.
Analisis Deskriptif Industri Kimia
64
Tabel 4.8.
Analisis Deskriptif Industri TPT
68
Tabel 4.9.
Analisis Deskriptif Industri Elektronik
72
Tabel 4.10. Hasil regresi model impor dan output Industri Kimia
76
Tabel 4.11. Rata-rata Produktivitas (TFP) sektor Industri Kimia
77
Tabel 4.12. Rata-rata tarif, non tarif dan produktivitas menurut sub
sektor industri Kimia (2000-2013)
78
Tabel 4.13. Model Impor dan Model Output industri TP
80
Tabel 4.14. Rata-rata Produktivitas (TFP) Sektor Industri TPT
81
Tabel 4.15. Rata-rata tarif, non tarif dan produktivitas menurut sub
sektor industri TPT (2000-2013)
82
Tabel 4.16. Model Impor dan Model Output di industri Elektronik
84
Tabel 4.17. Rata-rata Produktivitas (TFP) Sektor Industri Elektronik
85
Tabel 4.18. Rata-rata tarif, non tarif dan produktivitas menurut sub
sektor Elektronik TPT (2000-2013)
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
86
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1.
Keseimbangan dalam Perdagangan Internasional
Gambar 2.2.
Dampak-dampak Keseimbangan Umum dari
09
Pemberlakuan Tarif di Sebuah Negara Kecil
Gambar 2.3.
19
Dampak Pemberlakuan Tarif Berdasarkan
Keseimbangan Parsial
Gambar 2.4.
Gambar 2.5.
Gambar 3.1.
Gambar 4.1.
23
Dampak kebijakan pembatasan impor terhadap
kesejahteraan
24
Kerangka Pikir Kajian
36
Alur Kerja Pemodelan
Nilai bahan baku impor yang digunakan pada Industri
Kimia, TPT, dan Elektronik
Gambar 4.2.
51
Kontribusi bahan baku impor yang digunakan pada
industri Kimia, TPT, dan Elektronik
Gambar 4.3.
51
Kontribusi bahan baku impor yang digunakan pada
beberapa jenis industri Kimia
Gambar 4.4.
52
Kontribusi bahan baku impor yang digunakan pada
beberapa jenis industri TPT
Gambar 4.5.
53
Kontribusi bahan baku impor yang digunakan pada
beberapa jenis industri Elektronik
Gambar 4.6.
54
Rata-rata tarif bea masuk produk TPT, Kimia, dan
Elektronik
Gambar 4.7.
55
Persentase Hambatan Non Tarif Indonesia
Berdasarkan Kelompok Produk
Gambar 4.8.
57
Jumlah NTM yang Berlaku Pada Industri Kimia menurut
KBLI 5 digit
Gambar 4.9.
59
Jumlah NTM yang Berlaku Pada Industri TPT menurut
KBLI 5 digit
Gambar 4.10.
60
Jumlah NTM yang Berlaku Pada Industri Elektronik
menurut KBLI 5 digit
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
60
vii
Gambar 4.11.
Perkembangan kinerja Output Industri Kimia, TPT,dan
Elektronik
Gambar 4.12.
63
Perkembangan PDB Industri Kimia , 2000-2013 (Rp.
Miliar)
Gambar
64
Perkembangan Nilai tukar , 2000-2013
4.13.
65
Gambar 4.14.
Rata-rata Tarif (MFN) Industri Kimia, 2000-2013
Gambar 4.15.
Rata-rata jumlah kebijakan non-tarif per tahun pada
66
Industri Kimia, 2000-2013
Gambar 4.16.
66
Rata-rata Output, Impor, Kapital dan Tenaga kerja per
tahun pada Industri Kimia, 2000-2013
Gambar 4.17.
67
Perkembangan PDB sektoral TPT, 2000-2013 (harga
Berlaku, Rp. Miliar)
68
Gambar 4.18.
Rata-rata tarif per tahun Industri TPT, 2000-2013
69
Gambar 4.19.
Rata-rata jumlah kebijakan non-tarif per tahun pada
70
Industri TPT, 2000-2013
Gambar 4.20.
Rata-rata Nilai Output, Kapital dan Impor bahan baku
industri TPT, 2000-2010
Gambar
70
Rata-rata Jumlah tenaga kerja industri TPT, 2000-2013
4.21.
71
Gambar 4.22.
Perkembangan PDB subsektor elektronik 2000-2013
(harga berlaku, Rp. Milliar)
Gambar 4.23.
72
Rata-rata nilai tarif per tahun pada Industri Elektronik,
2000-2013
73
Gambar 4.24.
Jumlah Kebijakan non tarif Sektor Elektronik
74
Gambar 4.25.
Rata-rata nilai output dan bahan baku impor pada
industri Elektronik, 2000-2010
Gambar 4.26.
Gambar 4.27.
74
Rata-rata nilai kapital per tahun pada Industri
Elektronik, 2000-2013
75
Rata-Rata Produktivitas Sektor Kimia
78
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
viii
Gambar 4.28.
Rata-Rata Produktivitas Sektor Industri TPT
82
Gambar 4.29.
Rata-Rata Produktivitas Sektor Industri Elektronik
86
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
ix
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Selama lima tahun terakhir (2010-2014) impor Indonesia
cenderung mengalami peningkatan dengan rata-rata pertumbuhan per
tahunnya sebesar 6,10%. Nilai impor Indonesia pada tahun 2010
sebesar USD 135,66 miliar, terus naik sejak tahun 2011
hingga
mengalami puncaknya pada tahun 2012 yang menjadikan nilai impor
pada tahun tersebut adalah yang tertinggi sepanjang lima tahun
terakhir sebesar USD 191,69 miliar (Badan Pusat Statistik Indonesia,
2015). Pasca mengalami nilai impor tertinggi pada tahun 2012, impor
Indonesia mengalami penurunan sejak tahun 2013. Impor Indonesia
dari awal tahun sampai dengan bulan Oktober 2015 menurun sebesar
20,44% dari periode Januari-Oktober 2014 hingga nilai impornya
mencapai USD 119,10 miliar (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2015).
Dari impor Indonesia tersebut, mayoritas impor adalah berupa
Bahan Baku/Penolong dengan rata-rata pangsa impor sebesar
74,44% per tahunnya dan trend pertumbuhan impor sebesar 7,51%.
Impor Bahan Baku/Penolong Indonesia pada periode Januari-Oktober
2015 senilai USD 89,83 miliar atau sebesar 76,44% dari impor
Indonesia. Sementara itu, impor Barang Modal Indonesia pada
periode yang sama mencapai USD 20,46 miliar (16,45%) dan Barang
Konsumsi yang diimpor sebesar USD 10,50 miliar (7,11%). Hal ini
menunjukkan bahwa Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat
tinggi terhadap pasokan Bahan Baku/Penolong.
Kinerja impor bahan baku/penolong yang terus meningkat, di sisi
yang lain tidak dibarengi oleh peningkatan pertumbuhan industri
manufaktur dan kontribusi industri manufaktur dalam pembentukan
Produk Domestik Bruto (PDB). Meskipun terdapat kenaikan dalam
pertumbuhan industri manufaktur Indonesia, porsi industri manufaktur
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
1
terhadap PDB cenderung menurun hingga pada tahun 2014 hanya
berkisar 25,5% (BPS, 2015). Beberapa industri seperti industri Tekstil
dan Pakaian Jadi, industri Makanan dan Minuman, dan industri Alat
Angkutan menunjukkan perlambatan pada Semester I 2015.
Hasil studi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
(2015) menemukan terdapat 79 peraturan impor yang mengatur
11.534 jenis barang dengan banyaknya identitas sebagai pelaku impor
dan beragam perizinan, rekomendasi, pemeriksaan, dan persyaratan
dokumen yang diwajibkan untuk melakukan kegiatan impor yang
membuat dunia usaha dan industri nasional tidak optimal dalam
memproduksi barang-barang yang dapat memenuhi kebutuhan
konsumsi masyarakat dan barang-barang yang berdaya saing di pasar
ekspor. Banyaknya pengaturan terhadap importasi bahan baku/
penolong disinyalir oleh para pelaku usaha menyebabkan industri
manufaktur, yang sebagian bahan bakunya dipenuhi dari impor,
produknya kurang berdaya saing (Kompas, 21 Oktober 2015).
Terlebih lagi adanya anggapan bahwa kebijakan impor lebih longgar
dan liberal terhadap produk jadi.
Mengacu pada hal tersebut, kebijakan impor yang berkembang
saat ini mempunyai peran terhadap fenomena dinamika kinerja
industri
manufaktur
yang
secara
tidak
langsung
juga
akan
mempengaruhi kinerja perdagangan luar negeri Indonesia. Premis ini
menjadi penting untuk dilihat kembali mengingat mayoritas industri
manufaktur di Indonesia menggunakan input bahan baku/ penolong
berasal dari impor.
Dugaan diatas dilandasi oleh studi Amiti dan Konings (2007) dan
Ing dan Putra (2015), dengan menggunakan studi kasus perusahaan
di Indonesia, yang menunjukkan
produktivitas industri meningkat
seiring liberalisasi perdagangan melalui penurunan tarif terhadap
bahan baku penolong.
Dengan metode yang sedikit berbeda,
beberapa studi yang juga menunjukkan bahwa penurunan tarif impor
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
2
dapat mempengaruhi kinerja industri adalah Kasahara dan Rodrigue,
2008; Halpern, Koren dan Szeidl, 2011; Bas dan Strauss-Khan, 2011).
Demikian pula terdapat juga studi yang mempelajari perubahan kinerja
industri sebagai imbas adanya reformasi kebijakan perdagangan
(Schor, 2004; Goldberg, Khandelwal, Pavcnik dan Topalova, 2010;
Khandelwal dan Topolova, 2011). Namun demikian, faktor terkait
kebjakan non tarif belum dipelajari dalam studi – studi tersebut di atas.
Terkait dengan paket kebijakan pemerintah yang bergulir saat ini,
tentunya kajian ini menjadi sangat penting untuk dilakukan sebagai
salah satu kontribusi perubahan kebijakan impor tarif maupun non tarif
yang akan mendorong kinerja industri manufaktur yang selanjutnya
akan mendorong kinerja ekspor non migas dan tentunya berpengaruh
dalam perkembangan pertumbuhan ekonomi.
Terkait dengan berbagai perkembangan di atas, maka dinilai
perlu
untuk
melakukan
kajian
tentang
kinerja
industri
dan
perdagangan beberapa produk. Adapun kriteria pemilihan produk
yang akan dijadikan obyek
kajian
antara
industri/perdagangan
lain
adalah
relatif
sumbangannya
besar;
terhadap
industrinya
sedang
berkembang/bertumbuh; industrinya padat karya/menyerap banyak
tenaga kerja; import contentnya masih relatif tinggi; menghasilkan nilai
tambah
yang
cukup
berkembang/bertumbuh.
tinggi
serta
Berdasarkan
ekspornya
kriteria
tersebut,
sedang
maka
beberapa industri yang terpilih adalah industri Tekstil dan Produk
Tekstil (TPT), Industri Kimia dan Industri Elektronika.
Selama tahun 2010 jumlah industri TPT di dalam negeri yang
meliputi industri Pakaian Jadi, Serat dan Benang serta Kain mencapai
441 unit usaha dan dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 1,0 juta
orang. Industri ini menghasilkan nilai tambah sebesar Rp. 70,6 triliun.
Sementera itu nilai ekspor TPT pada tahun 2015 (Januari-Nopember)
mencapai US$ 11,2 milyar. Untuk industri kimia yang antara lain
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
3
meliputi Industri Kimia Dasar, Industri Kimia Organik, dan Industri
Pupuk, saat ini terdapat sebanyak 333 unit usaha dengan penyerapan
tenaga kerja mencapai 47,2 ribu orang. Nilai ekspor produk kimia
sepanjang tahun 2015 (Januari-Nopember) sebesar US$ 2,4 milyar
dimana untuk Kimia Anorganik mengalami peningkatan 18,9%
dibanding periode yang sama tahun 2014, sedangkan industri Kimia
Organik menurun 32,3%. Sementara itu, untuk industri elektronika
pada tahun 2010 terdapat 605 unit usaha dengan penyerapan tenaga
kerja sebanyak 248,9 ribu dan menghasilkan nilai tambah sebesar
Rp.
51,3 triliun. Adapun nilai ekspor yang terdiri dari Produk
Konsumsi, Elektronik Bisnis/Industri, Komponen dan Bagian serta Alat
Cetak Elektronik pada tahun 2015 (Januari-Nopember) mencapai
US$ 7,6 milyar.
Tabel 1.1. Kinerja Beberapa Industri Tahun 2010 dan Ekspor 2015
Unit
Tenaga
Nilai Tambah Bruto Nilai Ekspor 2015 (Jan-Nop)
(Ribuan Rp)
(US$ Ribu)
Usaha
Kerja
TPT
4.549 1.006.728
70.629.832.179
11.186.312,1
KIMIA
333
47.245
34.400.842.427
1.988.157,2
ELEKTRONIKA
605
248.933
51.348.493.047
7.623.651.9
Sumber : Kemenperin, dan BPS
1
Jenis Industri
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya,
maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam kajian ini adalah
sebagai berikut:
a. Apa saja kebijakan impor yang mengatur bahan baku/penolong
untuk industri Kimia, Tekstil dan Elektronik?
b. Bagaimana peran kebijakan impor bahan baku/penolong terhadap
kinerja industri Kimia, Tekstil dan Elektronik?
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
4
1.3. Tujuan
Tujuan kajian ini secara rinci adalah sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi kebijakan impor tarif dan non tarif yang mengatur
bahan baku/penolong untuk industri Kimia, Tekstil dan Elektronik
b. Menganalisis pengaruh kebijakan impor tarif dan non tarif bahan
baku/penolong terhadap kinerja industri Kimia, Tekstil dan
Elektronik
1.4. Output
Kajian ini diharapkan dapat menghasilkan output sebagai berikut:
a. Identifikasi kebijakan impor tarif dan non tarif yang mengatur bahan
baku/penolong untuk industri Kimia, Tekstil dan Elektronik
b. Analisis peran kebijakan impor tarif dan non tarif bahan
baku/penolong terhadap kinerja industri Kimia, Tekstil dan
Elektronik
1.5. Dampak/Manfaat
Hasil studi ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dalam
penyusunan kebijakan impor bahan baku/penolong, dalam rangka
mendukung ketersediaan pasokan bahan baku/penolong dan kinerja
industri Kimia, Tekstil dan Elektronik.
1.6. Ruang Lingkup
Kajian ini hanya akan mengkaji 3 (tiga) industri manufaktur yaitu
industri kimia, tekstil dan elektronika (KLBI 5 digit) berdasarkan kriteria
sebagai berikut:
a. Nilai dan trend nilai impor bahan baku/ penolong yang tinggi
b. Rasio bahan baku/ penolong impor terhadap total penggunaan
bahan baku tinggi
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
5
c. Industri manufaktur yang menjadi prioritas dalam pengembangan
industri berdasarkan Rencana Induk Pengembangan Industri
Nasional (RIPIN) 2015-2019
d. Memiliki kebijakan impor berupa tarif dan/atau non tarif
e. Memiliki kebijakan impor yang belum termasuk ke dalam Paket
Deregulasi Bidang Perdagangan
f. Memiliki tarif bea masuk di atas 0%
1.7. Sistematika Laporan
Laporan ini terdiri dari 5 (lima) bab dengan isi masing-masing bab
sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Kajian
1.4 Output Kajian
1.5 Dampak/ Manfaat Kajian
1.6 Ruang Lingkup Kajian
1.7 Sistematika Laporan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.1 Teori Perdagangan Internasional
2.2 Konsep Impor
2.3 Hambatan Perdagangan Internasional
2.3.1
Hambatan Perdagangan Tarif
2.3.2
Hambatan Perdagangan Non Tarif
2.4 Kajian Sebelumnya
2.4.1 Kajian Permintaan Impor Bahan Baku/ Penolong
2.4.2 Kajian tentang Peran Kebijakan Impor terhadap Total
Faktor Produktivitas (TFP)
2.5 Kerangka Pemikiran
BAB III METODE PENGKAJIAN
3.1 Metode Analisis
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
6
3.1.1. Model Ekonometrik Peran Kebijakan Impor terhadap
Permintaan Impor Bahan Baku/Penolong dan Kinerja
Industri Manufaktur
3.1.2. Pengukuran Produktivitas Industri Manufaktur
3.2 Jenis dan Sumber Data
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Perkembangan Impor Bahan Baku/ Penolong
4.2 Identifikasi Kebijakan Impor Tarif dan Non-Tarif Bahan
Baku/Penolong Industri Kimia, Tekstil, dan Elektronik
4.3 Perkembangan Output Industri Kimia, Tekstil, dan Elektronik
4.4 Analisis Regresi Pengaruh Kebijakan Impor Tarif dan Non
Tarif Bahan Baku/Penolong terhadap Kinerja Industri Kimia,
Tekstil, dan Elektronik
4.5 Hasil Temuan Lapang
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN
5.1. Kesimpulan
5.2. Rekomendasi Kebijakan
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.1. Teori Perdagangan Internasional
Perdagangan internasional dapat didefinisikan sebagai transaksi
dagang barang dan jasa antara subjek ekonomi satu negara dengan
subjek ekonomi negara lain. Subjek ekonomi yang dimaksud adalah
penduduk yang terdiri dari warga negara biasa, perusahaan ekspor,
perusahaan impor, perusahaan industri ataupun perusahaan negara.
Perdagangan internasional sendiri terjadi akibat adanya perbedaan
potensi sumber daya alam, sumber daya modal, sumber daya
manusia dan kemajuan teknologi antar negara (Halwani & Hendra,
2005).
Beberapa
hal
yang
mendorong
terjadinya
perdagangan
internasional diantaranya dikarenakan perbedaan permintaan dan
penawaran antar negara (Salvatore, 1997). Perbedaan ini terjadi
karena 1) tidak semua negara memiliki dan mampu menghasilkan
komoditi yang diperdagangkan, karena faktor-faktor alam negara
tersebut tidak mendukung, seperti letak geografis dan kandungan
buminya dan 2) perbedaan pada kemampuan suatu negara dalam
menyerap komoditi tertentu pada tingkat yang lebih efisien. Hal yang
sama dikemukakan juga oleh Krugman dan Obstfeld (2003) mengenai
dua
alasan
utama
setiap
negara
melakukan
perdagangan
internasional. Dalam dunia nyata, adanya interaksi yang terusmenerus dari kedua motif dasar di atas tercermin dalam pola-pola
perdagangan internasional.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
8
Gambar 2.1 Keseimbangan dalam Perdagangan Internasional
Sumber : Salvatore (1997)
Menurut
Krugman
dan
Obstfeld
(2003),
perdagangan
internasional dapat meningkatkan output dunia karena memungkinkan
setiap negara memproduksi sesuatu yang mereka kuasai keunggulan
komparatifnya. Sementara, Sadono Sukirno berpendapat bahwa
manfaat-manfaat perdagangan internasional adalah sebagai berikut:
a. Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negeri sendiri.
Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan hasil
produksi di setiap negara. Faktor-faktor tersebut diantaranya
adalah kondisi geografi, iklim, tingkat penguasaan teknologi dan
lain-lain. Dengan adanya perdagangan internasional, setiap
negara mampu memenuhi kebutuhan yang tidak diproduksi sendiri.
b. Memperoleh keuntungan dari spesialisasi. Sebab utama kegiatan
perdagangan luar negeri adalah untuk memperoleh keuntungan
yang diwujudkan oleh spesialisasi. Walaupun suatu negara dapat
memproduksi suatu barang yang sama jenisnya dengan yang
diproduksi oleh negara lain, tapi ada kalanya lebih baik apabila
negara tersebut mengimpor barang tersebut dari luar negeri.
c. Memperluas pasar dan menambah keuntungan. Terkadang, para
pengusaha tidak menjalankan mesin-mesinnya (alat produksinya)
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
9
dengan maksimal karena mereka khawatir akan terjadi kelebihan
produksi, yang mengakibatkan turunnya harga produk mereka.
Dengan adanya perdagangan internasional, pengusaha dapat
menjalankan mesin-mesinnya secara maksimal, dan menjual
kelebihan produk tersebut keluar negeri.
d. Transfer
teknologi
modern.
Perdagangan
luar
negeri
memungkinkan suatu negara untuk mempelajari teknik produksi
yang lebih efesien dan cara-cara manajemen yang lebih modern
Secara historis, teori-teori berkenaan dengan konsep-konsep
perdagangan internasional atau aktivitas ekspor dan impor antar
wilayah/negara dimulai dari teori keunggulan absolut dan keunggulan
komparatif. Teori keunggulan absolut yang diperkenalkan oleh Adam
Smith
dinyatakan
bahwa
perdagangan
didasarkan
kepada
keunggulan absolut (absolute advantage), yaitu jika sebuah negara
lebih efisien daripada negara lain dalam memproduksi sebuah
komoditi, namun kurang efisien dibanding negara lain dalam
memproduksi komoditi lainnya, maka kedua negara tersebut dapat
memperoleh keuntungan dengan cara masing-masing melakukan
spesialisasi dan memproduksi komoditi yang memiliki keunggulan
absolut dan menukarkan dengan komoditi lain yang memiliki kerugian
absolut. Menurut Adam Smith suatu negara akan mengekspor barang
tertentu karena negara tersebut bisa menghasilkan barang dengan
biaya yang secara mutlak lebih murah dari pada negara lain, yaitu
karena memiliki keunggulan mutlak dalam produksi barang tersebut.
Adapun keunggulan mutlak menurut Adam Smith merupakan
kemampuan suatu negara untuk menghasilkan suatu barang dan jasa
per unit dengan menggunakan sumber daya yang lebih sedikit
dibanding kemampuan negara-negara lain. Melalui proses ini, sumber
daya di kedua negara dapat digunakan dengan cara yang paling
efisien. Output yang diproduksi pun akan meningkat.
Teori perdagangan komparatif yang diperkenalkan David Ricardo
tahun 1817 menyatakan bahwa meskipun suatu negara kurang efisien
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
10
dibanding (atau memiliki kerugian absolut) dengan negara lain dalam
memproduksi dua komoditi, namun masih tetap terdapat dasar untuk
dapat melakukan perdagangan yang menguntungkan kedua belah
pihak. Dengan teori keunggulan komparatif, masing-masing negara
akan mengambil sesuatu yang relatif efisien. Perdagangan antar
negara akan terjadi jika masing-masing negara memperoleh manfaat
dengan spesialisasi yang lebih efisien. Dengan adanya spesialisasi,
maka akan terjadi pembagian kerja internasional yang makin efisien,
realokasi faktor-faktor produksi, dan mobilitas faktor-faktor produksi di
dalam negeri yang pada akhirnya mendorong terjadinya persaingan di
pasar faktor produksi. Walaupun suatu negara memiliki keunggulan
absolut, perdagangan akan tetap menguntungkan bagi kedua negara.
Kelebihan untuk teori comparative advantage ini adalah dapat
menerangkan berapa nilai tukar dan berapa keuntungan karena
pertukaran di mana kedua hal ini tidak dapat diterangkan oleh teori
absolute advantage (Salvatore, 1997).
John Stuart Mill berusaha menyempurnakan teori keunggulan
komparatif
dengan
menyatakan
bahwa
suatu
negara
akan
menghasilkan dan kemudian mengekspor suatu barang yang memiliki
keunggulan komparatif terbesar dan mengimpor barang yang memiliki
ketidakunggulan komparatif (suatu barang yang dapat dihasilkan
dengan lebih murah dan mengimpor barang yang kalau dihasilkan
sendiri memakan biaya yang lebih besar). Dengan kata lain, dasar
tukar perdagangan internasional yang sebenarnya ditentukan oleh
permintaan timbal balik. Hal ini akan stabil bilamana nilai ekspor suatu
negara cukup untuk membayar nilai impornya. Berdasarkan teori ini,
nilai suatu barang ditentukan oleh banyaknya tenaga kerja yang
dicurahkan untuk memproduksi barang tersebut sedangkan dasar nilai
pertukaran ditentukan dengan batas-batas nilai tukar masing-masing
barang di dalam negeri (Masngudi, 2006).
Dari teori-teori perdagangan tersebut, dapat diambil kesimpulan
bahwa perdagangan internasional menawarkan suatu keuntungan
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
11
bagi negara-negara yang terlibat. Keuntungan-keuntungan dari
perdagangan internasional adalah: tercipta persaingan di pasar
internasional yang mendorong efisiensi dunia, spesialisasi dalam
menghasilkan barang dan jasa secara murah, baik dari segi bahan
maupun cara berproduksi, kenaikan pendapatan, cadangan devisa,
transfer modal, dan bertambahnya kesempatan kerja.
Teori perdagangan lainnya adalah konsep proporsi faktor
produksi atau dikenalkan dengan Teori Heckscher-Ohlin. Intisari dari
teorema
Hecksher-Ohlin
(H-O)
adalah
sebuah
negara
akan
mengekspor komoditi yang produksinya lebih banyak menyerap faktor
produksi yang relatif melimpah dan murah di negara itu, dan dalam
waktu bersamaan ia akan mengimpor komoditi yang produksinya
memerlukan sumber daya yang relatif langka dan mahal di negara itu.
Intisari
dari
teori
Hecksher-Ohlin
adalah
mengupas
dan
memprediksikan pola perdagangan, dan teori penyamaan harga faktor
(factor-price equalization theorem) yang mengupas dampak-dampak
yang ditimbulkan oleh perdagangan internasional (ekspor-impor)
terhadap harga faktor produksi di negara yang terlibat.
Teorema penyamaan harga faktor (teorema Heckscher-OhlinSamuelson) sebagai berikut: Perdagangan internasional akan
mendorong terjadinya penyamaan harga-harga faktor, baik secara
relatif maupun secara absolut, di antara negara-negara yang terlibat
di dalamnya. Perdagangan internasional dapat berfungsi sebagai
pengganti atau substitusi bagi mobilitas faktor internasional. Ada tiga
asumsi penting dalam memprediksi penyamaan harga-harga faktor
yang sama sekali tidak sesuai dengan fakta yang ada. Ketiga asumsi
itu adalah 1) kedua negara memproduksi selalu kedua jenis barang
sekaligus; 2) adanya kesamaan dalam teknologi; dan 3) hubungan
perdagangan benar-benar menyamakan harga-harga barang di kedua
negara.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
12
Perdagangan antar negara cenderung meningkatkan harga
faktor produksi yang relatif melimpah dan murah di suatu negara dan
dalam waktu yang bersamaan akan menurunkan harga faktor produksi
yang relatif langka dan mahal. Seluruh faktor produksi tenaga kerja
dan modal diasumsikan telah terdayaguna secara penuh (full
employment)
sebelum
maupun
sesudah
perdagangan,maka
pendapatan rill tenaga kerja dan suku bunga rill bagi para pemilik
modal akan bergerak ke arah yang dituju oleh pergerakan harga-harga
faktor produksi itu sendiri. Teori Hecksher-Ohlin memberikan konklusi
bahwa perdagangan cenderung memperbesar tingkat pendapatan
atau tingkat upah para pekerja dan menurunkan suku bunga rill modal
di negara yang kaya tenaga kerja dan yang mengalami kelangkaan
modal.
Perdagangan
(ekspor
dan
impor)
akan
memberikan
keuntungan bagi negara-negara yang melakukannya.
Namun demikian, dalam perkembangannya teori HeckscherOhlin (Teori H-O) mengalami pertentangan. Alasan utamanya adalah
adanya ketidaksesuaian antara teori Heckscher-Ohlin-Samuelson
dengan kondisi nyata, yaitu: asumsi-asumsi yang digunakan dalam
teori tersebut terlampau restriktif dan cenderung menyederhanakan
kenyataan-kenyataan yang ada. Sebagai contoh, tingkat teknologi
setiap negara tidak sama, sedangkan biaya-biaya dan hambatan
perdagangan diabaikan yang dalam prakteknya merupakan ganjalan
utama bagi berlangsungnya perdagangan internasional sehingga
proses penyamaan harga-harga relatif komoditi tidak pernah berjalan
sempurna.
Keunggulan suatu negara di dalam persaingan global selain
ditentukan oleh keunggulan komparatif (teori-teori klasik dan H-O)
yang dimilikinya juga karena adanya produksi atau bantuan fasilitas
dari
pemerintah,
juga
sangat
ditentukan
oleh
keunggulan
kompetitifnya. Keunggulan ini sifatnya lebih dinamis dengan
perubahan-perubahan, misalnya teknologi dan SDM yang sangat
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
13
cepat. Hal ini mendorong suatu konsep baru mengenai perdagangan
internasional, yaitu teori keunggulan kompetitif.
Menurut Porter (1990), keunggulan persaingan suatu negara
tidak berkorelasi langsung antara dua faktor produksi (sumber daya
alam yang tinggi dan sumber daya manusia yang murah) yang dimiliki
suatu negara untuk dimanfaatkan menjadi daya saing dalam
perdagangan. Banyak negara di dunia ini yang jumlah tenaga kerjanya
sangat besar secara proporsional dengan luar negeri tetapi
terbelakang dalam daya saing internasional. Begitu juga tingkat upah
yang relatif murah daripada negara lainnya, begitu pula berkorelasi
erat dengan rendahnya motivasi bekerja keras dan berprestasi. Porter
menyebutkan bahwa peranan pemerintah sangat mendukung selain
faktor produksi. Porter mengungkapkan ada empat atribut utama yang
menentukan mengapa industri tertentu dalam suatu negara dapat
mencapai sukses internasional, keempat atribut itu adalah kondisi
faktor produksi, kondisi permintaan dan tuntutan mutu dalam negeri,
eksistensi industri pendukung, dan kondisi persaingan strategi dan
struktur perusahaan dalam negeri.
Negara yang sukses dalam skala internasional pada umumnya
didukung oleh kondisi faktor yang baik, permintaan dan tuntutan mutu
dalam negeri yang tinggi, industri hulu atau hilir yang maju dan
persaingan domestik yang ketat. Keunggulan kompetitif yang hanya
didukung oleh 1/2 atribut saja biasanya tidak akan dapat bertahan,
sebab keempat atribut saling berinteraksi positif dalam negara yang
sukses. Di samping keempat atribut di atas, peran pemerintah juga
merupakan variabel yang cukup signifikan
Dari teori-teori perdagangan tersebut, dapat diambil kesimpulan
bahwa perdagangan internasional menawarkan suatu keuntungan
bagi negara-negara yang terlibat. Keuntungan-keuntungan dari
perdagangan internasional adalah: tercipta persaingan di pasar
internasional yang mendorong efisiensi dunia, spesialisasi dalam
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
14
menghasilkan barang dan jasa secara murah, baik dari segi bahan
maupun cara berproduksi, kenaikan pendapatan, cadangan devisa,
transfer modal, dan bertambahnya kesempatan kerja. Terdapat
beberapa faktor yang menjadi pendorong semua negara di dunia
untuk melakukan perdagangan luar negeri. Menurut Sukirno (2004),
dari faktor-faktor tersebut yang terpenting adalah: 1) memperoleh
barang yang tidak dapat dihasilkan di dalam negeri; 2) mengimpor
teknologi yang lebih modern dari negara lain; 3) memperluas pasar
produk-produk dalam negeri; dan 4) memperoleh keuntungan dari
spesialisasi.
Di sisi lain, perdagangan internasional juga dapat menimbulkan
tantangan dan kendala yang banyak dihadapi oleh negara-negara
berkembang seperti Indonesia. Tantangan dan kendala tersebut,
antara
lain
eksploitasi
terhadap
negara-negara
berkembang,
ambruknya industri lokal, keamanan barang menjadi rendah, ancaman
ketahanan pangan, dan keamanan konsumen dan sebagainya. Untuk
mengamankan kepentingan nasionalnya, negara-negara di dunia
berupaya untuk menciptakan hambatan perdagangan terutama
hambatan untuk impor.
2.2. Konsep Impor
Secara harfiah, impor adalah barang dan jasa yang diproduksi di
luar negeri dan dijual di dalam negeri (Mankiw, 2006). Impor terjadi jika
ada kelebihan permintaan internasional. Dengan adanya kegiatan
impor, negara produsen yang produksinya melimpah dan melebihi
permintaan domestik dapat melakukan memenuhi permintaan impor
di suatu negara sehingga sehingga produksinya tetap berlangsung.
Saat ini impor dilakukan dengan memenuhi ketentuan yang berlaku di
negara pengimpor.
Pada dasarnya, impor yang akan dilakukan oleh suatu negara
bergantung pada banyak faktor. Pertama, barang-barang yang
diperlukan di dalam negeri tidak dapat dipenuhi oleh pemilik faktorPuska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
15
faktor produksi di dalam negeri atau terbatas sedangkan permintaan
domestik tinggi. Keterbatasan produksi dalam negeri tersebut
dikarenakan dua hal, yakni 1) kapasitas produksi terbatas (titik
optimum dalam skala ekonomi telah tercapai) atau 2) pemakaian
kapasitas terpasang masih di bawah kapasitas maksimal. Kedua,
permintaan impor sangat ditentukan faktor-faktor harga atau
keseimbangan harga, baik yang terdapat di dalam negeri maupun
keseimbangan harga internasional. Impor lebih murah dibandingkan
dengan harga dari produk sendiri yang dikarenakan ekonomi biaya
tinggi atau tingkat efisiensi yang rendah. Ketiga, impor lebih
menguntungkan karena produksi dalam negeri ditujukan untuk ekspor
dan harga ekspornya lebih tinggi sehingga dapat mengkompensasi
biaya yang dikeluarkan untuk impor (Rhee, 2012). Keempat, nilai
impor tergantung dari nilai tingkat pendapatan nasional negara
tersebut. Makin tinggi pendapatan nasional, semakin rendah
menghasilkan barang-barang tersebut, maka impor pun semakin
tinggi sehingga pada akhirnya pendapatan nasional menjadi terkikis.
Selain keempat faktor tersebut, masih terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi impor suatu negara yakni nilai tukar riil, situasi politik,
harga relative, dan variabel struktural lainnya (Wang & Lee, 2012).
Kebijakan impor merupakan salah satu instrumen strategis untuk
menjaga kepentingan ekonomi dan sosial yang lebih luas. Penerbitan
kebijakan impor digunakan sebagai instrumen menertibkan arus
barang masuk dan melindungi kepentingan nasional dari pengaruh
masuknya barang-barang negara lain dengan tujuan untuk menjaga
dan
mengamankan
aspek
K3LM
(Kesehatan,
Keselamatan,
Keamanan Lingkungan Hidup dan Moral Bangsa), melindungi dan
meningkatkan pendapatan petani, mendorong penggunaan barang
dalam negeri, dan meningkatkan ekspor nonmigas (Widayanto, 2011).
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
16
2.3. Hambatan Perdagangan Internasional
Perbedaan komparatif dan kompetitif antar negara dan
pengamanan kepentingan nasional mendasari penerapan kebijakan
perdagangan internasional. Hampir seluruh negara di dunia memiliki
hambatan perdagangan untuk mengendalikan impor. Hambatan
perdagangan tersebut merupakan intervensi pemerintah dalam
mengurangi kebebasan perdagangan internasional. Pada umumnya
hambatan perdagangan internasional dibedakan menjadi 2 (dua),
yakni:
2.3.1 Hambatan Perdagangan Tarif
Tarif adalah pembebanan pajak atau custom duties
terhadap barang-barang yang melewati batas suatu negara.
Dilihat dari aspek asal komoditi, tarif terbagi menjadi dua
macam (Salvatore,1997):
a. Tarif impor, adalah pajak yang dikenakan untuk setiap
komoditi yang diimpor dari negara lain.
b. Tarif ekspor, adalah pajak untuk suatu komoditi yang
diekspor.
Sementara bila ditinjau dari mekanisme perhitungannya,
tarif terbagi menjadi 3 (tiga) macam, yaitu:
a. Tarif ad valorem adalah pajak yang dikenakan berdasarkan
angka persentase tertentu dari nilai barang-barang yang
diimpor.
b. Tarif spesifik dikenakan sebagai beban tetap unit barang
yang diimpor.
c.
Tarif campuran adalah gabungan antara tarif ad valorem
dengan tarif spesifik.
Dampak-dampak pemberlakuan tarif terhadap tingkat
produksi, konsumsi, perdagangan, dan kesejahteraan di
sebuah negara kecil yang hubungan dagang atau kekuatan
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
17
ekonominya terbatas sehingga tidak mampu mempengaruhi
harga yang berlaku di pasaran internasional dapat dijelaskan
melalui analisis keseimbangan umum. Ketika sebuah negara
kecil memberlakukan tarif terhadap barang-barang impornya,
yang berubah hanya harga barang tersebut di pasar
domestiknya sendiri, sehingga pihak yang harus menghadapi
segala implikasi kenaikan harga itu adalah konsumen dan
produsen di negara kecil yang bersangkutan. Walaupun setiap
produsen dan konsumen menghadapi kenaikan harga komoditi
impor meningkat sebesar tarif yang dikenakan, namun
harganya bagi perekonomian negara kecil secara keseluruhan
tetap konstan, karena kenaikan harga akibat tarif itu diimbangi
oleh terciptanya pemasukan pajak bagi pemerintah.
Gambar 2.2
dampak
menggambarkan bagaimana dampak-
keseimbangan
umum
yang
dihasilkan
dari
pemberlakuan tarif di sebuah negara kecil seperti Indonesia.
Negara kecil dimaksudkan sebagai negara yang tidak memiliki
kekuatan untuk mempengaruhi harga di pasar dunia. Pada
Px/Py = 1 di pasar dunia, negara 2 akan berproduksi di titik B
dan berkonsumsi di titik E. Namun ketika pemerintah negara 2
mengenakan tarif ad valorem (sekian persen dari nilai impor
harus dibayarkan pengimpor ke kas negara sebagai pajak)
sebesar 100 persen terhadap komoditi X, harga komoditi
tersebut bagi para konsumen dan produsen domestik langsung
melonjak menjadi Px/Py = 2, sehingga para produsen domestik
di negara 2 akan terdorong untuk berproduksi di titik F. Itu
berarti negara 2 akan mengekspor 30Y, dan mengimpor 30X;
separuh diantaranya, yakni GH atau 15X, akan langsung
terarah ke konsumen domestik, sedangkan selebihnya, yakni
HH’ yang juga bernilai 15X, akan menjelma sebagai
pendapatan pajak bagi pemerintah yang bersumber dari
pengenaan tarif ad valorem 100 persen terhadap komoditi X
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
18
yang diimpor. Karena kita berasumsi bahwa pemerintah negara
2 menggunakan kebijakan tarif tersebut dalam rangka
meredistribusikan
pendapatan
yang
diperolehnya
bagi
warganya (agar beban pajak mereka tidak terlalu besar), maka
tingkat konsumsi setelah tarif dikenakan akan bergeser ke
kurva indiferen II’, tepatnya di titik H’ (titik berpotongan antara
dua garis putus-putus). Itu berarti, tingkat konsumsi dan
kesejahteraan (titik E) dalam perdagangan bebas lebih tinggi
ketimbang tingkat konsumsi dan kesejahteraan (titik H’) yang
ada setelah tarif tersebut diberlakukan.
Y
140 120 B
85 F
E
60 55 -
III
G
H’
H
40 -
II
A
PF = 2
0
I
I
I
I
I
40
65
80
95 100
PW = 1
X
Gambar 2.2. Dampak-dampak Keseimbangan Umum dari
Pemberlakuan Tarif di Sebuah Negara Kecil
Sumber: Nicholson (1994)
Dengan adanya tarif, tingkat kesejahteraan negara yang
bersangkutan menjadi lebih rendah dibandingkan dengan
kondisinya di masa perdagangan bebas. Hal ini dibuktikan
dengan
bergesernya konsumsi dari titik E ke titik H’ yang
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
19
terletak pada kurva indiferen yang lebih rendah daripada
sebelumnya.
Penurunan kesejahteraan bersumber dari dua sebab: (a)
Perekonomian
tidak
lagi
berproduksi
pada
titik
yang
memaksimumkan nilai pendapatan dan harga dunia. (b)
Konsumen tidak dapat lagi berkonsumsi pada kurva indiferen
tertinggi yang memaksimumkan kesejahteraan. Baik (a)
maupun (b) diakibatkan oleh kenyataan bahwa konsumen dan
produsen domestik menghadapi harga yang berbeda dengan
harga dunia. Penurunan kesejahteraan (the loss in welfare)
terjadi karena kegiatan produksi yang tidak efisien. Hal ini
merupakan kondisi (a) padanan keseimbangan umum dari
kerugian akibat produksi (production distortion loss) yang telah
dijelaskan
dalam
pendekatan
keseimbangan
parsial.
Penurunan kesejahteraan sebagai akibat dari konsumsi yang
tidak efisien juga merupakan (b) padanan dari kerugian akibat
konsumsi (consumption distortion loss).
Volume perdagangan mengalami kemerosotan dengan
adanya tarif. Volume serta nilai-nilai ekspor dan impor samasama turun segera setelah dilaksanakannya pengenaan tarif itu
dibandingkan dengan sebelumnya ketika perdagangan masih
berlangsung secara bebas.
Semakin tinggi tarif yang dikenakan, akan semakin besar
kerugian yang timbul. Pengenaan tarif yang terlalu besar akan
mendorong perekonomian yang bersangkutan menuju kondisi
autarki (semua komoditi dibuat sendiri, dan perdagangan
internasional
lenyap).
Tarif
impor
yang
mematikan
perdagangan internasional ini biasa disebut dengan tarif
prohibitif (prohibitive tariff). Tarif yang terlalu tinggi akan
memaksa suatu perekonomian terus-menerus berproduksi dan
berkonsumsi di titik A, dan jelas merugikan negara itu sendiri.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
20
Pada analisis dampak pemberlakuan tarif berdasarkan
analisis keseimbangan parsial, mengacu pada Oktaviani et al.
(2014). Pada Gambar 2.3. Dx adalah kurva permintaan dan Sx
melambangkan kurva penawaran komoditi X yang merupakan
produk pangan di Negara 2 yang merupakan negara kecil. Jika
Negara
2
tidak
mengadakan
hubungan
perdagangan
internasional maka keseimbangan di titik E yang merupakan
titik perpotongan antara Dx dan Sx. Pada titik tersebut Negara
2 mengkonsumsi produkpanganX sebanyak 30 unit dengan
harga Px = 3 dolar per unit. Jika kemudian Negara 2 melakukan
hubungan perdagangan internasional, maka Negara 2 akan
menikmati produkpangan X dengan harga yang jauh lebih
murah, yakni Px 1 dolar per unit sehingga konsumsinya pun
akan meningkat menjadi sebesar 70X (AB). Dari konsumsi
sebesar itu, 10X diantaranya merupakan produksi domestik,
sedangkan 60X (CB) diimpor.
Garis putus-putus Sf
melambangkan kurva penawaran produk panganX dari luar
negeri yang elastia sempurna untuk Negara 2. Artinya, pasarpasar internasional mampu memasok produk pangan X
sebanyak apa pun ke Negara 2 berdasarkan harga dunia yang
berlaku.
Jika kemudian Negara 2 memberlakukan tarif ad valorem
sebesar 100 persen terhadap produk pangan X yang diimpor,
maka Px atau harga yang harus ditanggung konsumen di
Negara 2 meningkat menjadi 2 dolar per unit, sementara harga
bagi konsumen dunia tidak berubah. Akibat naiknya harga X di
negara 2 maka penduduk di Negara 2 akan menurunkan
konsumsinya menjadi 50X (GH), dengan komposisi 20X (GJ)
merupakan hasil produksi domestik, sedangkan 30X (JH)
merupakan produk pangan impor dari negara lain. Garis putusputus Sf + T Gaambar 2.2 merupakan kurva penawaran produk
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
21
pangan X dariluar negeri yang baru (setelah memperhitungkan
dampak tarif) untuk Negara 2.
Analisis dampak kebijakan perdagangan berupa tarif
dapat dilihat dari dampak terhadap konsumsi, produksi,
perdagangan, dan dampak terhadap penerimaan pemerintah.
Dampak
pemberlakuan
tarif
tarif
terhadap
konsumsi
(consumption effect of the tariff) yakni berkurangnya konsumsi
domestik akibat pemberlakuan tarif ad valorem yang mencapai
20X (BN).
Sementara dampak pengenaan tarif terhadap
produksi (production effect of the tariff) yakni peningkatan
produk domestik karena adanya tarif yakni sebesar 10X (CM).
Dampak pengenaan tarif terhadap perdagangan (trade effect of
the tariff) yakni turunnya impor sama dengan 30X (BN + CM).
Sedangkan dampak pengenaan tarif terhadap penerimaan
pemerintah (revenue effect of the tariff) yakni berupa
pemasukan bagi pemerintah sebesar 30 dolar atau 1 dolar dari
30 unit komoditi X yang diimpor (MJHN).
Elastisitas demand dan supply memengaruhi dampak
kebijakan.
Semakin
elastis
Dx dan
semakin
mendatar
bentuknya, maka kenaikan harga produk pangan akibat
pemberlakuan tarif akan menimbulkan dampak konsumsi
(consumption effect) yang semakin besar. Semakin elastis Sx
maka semakin besar dampak produksi (production effect) yang
akan ditimbulkan oleh kenaikan harga komoditi sehubungan
dengan pemberlakuan tarif. Semakin elastis Dx dan Sx, akan
semakin besar dampak perdagangan (trade effect) yang
dimunculkan
oleh
kenaikan
harga
komoditi
akibat
pemberlakuan tarif tersebut sehingga semakin besar pula
pengurangan impor yang terjadi. Hal ini pada gilirannya akan
memperkecil dampak pendapatan (revenue effect) bagi
pemerintah negara.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
22
Px ($)
5
-
4
-
Sx
E
3
G
2
J
H
M
N
SF + T
A
1
C
B
SF
-
DX
I
I
I
I
I
I
I
I
10
20
30
40
50
60
70
80
X
Gambar 2.3. Dampak Pemberlakuan Tarif Berdasarkan
Keseimbangan Parsial
Sumber: Oktaviani et al. (2014)
2.3.2 Hambatan Perdagangan Non-tarif
Salah satu bentuk hambatan perdagangan internasional
non-tarif adalah kuota impor. Kuota adalah pembatasan secara
langsung jumlah fisik terhadap barang yang masuk (kuota
impor) dan keluar (kuota ekspor). Pemberlakuan kuota impor
memberikan dampak-dampak terhadap konsumsi dan produksi
seperti yang ditimbulkan oleh penerapan tarif impor yang
setara. Penyesuaian terhadap setiap pergeseran dalam kurva
permintaan atau kurva penawaran sehubungan dengan adanya
kuota
impor akan terjadi pada
harga-harga
domestik.
Sedangkan jika yang diberlakukan adalah tarif impor, maka
penyesuaian tersebut akan terjadi pada kuantitas impor.
Secara umum, kuota impor itu lebih menghambat daripada tarif
impor yang setara. Kuota impor biasanya dikenakan terhadap
bahan mentah sebagai barang perdagangan penting serta di
bawah suatu pengawasan badan internasional.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
23
Hambatan kuota sering dimanfaatkan untuk memperbaiki
neraca pembayaran
yang defisit. Pemberlakuan hambatan non-tarif akan
meningkatkan harga produk sehingga pada dasarnya proteksi
terhadap perdagangan tersebut akan menguntungkan bagi
produsen namun merugikan bagi konsumen dan pada akhirnya
akan merugikan perekonomian secara keseluruhan (Salvatore
1997).
Pembatasan
impor dengan menerapkan kebijakan-
kebijakan perdagangan akan mempengaruhi kesejahteraan
(welfare). Wall (1999) mendeskripsikan dampak pembatasan
impor
dalam
analisis
keseimbangan
parsial
dengan
mengilustrasikan supply dan demand suatu negara seperti
terlihat dalam Gambar 2.3.
Harga
S
P
A
B
C
D
P
D
Kuantita
QS0
QS1
QD1
QD0
Gambar 2.4 Dampak kebijakan pembatasan impor terhadap
kesejahteraan
Sumber: Wall (1999)
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
24
Jika terjadi perdagangan bebas, barang yang diimpor
akan berada pada harga dunia yaitu Pw?. Negara akan
mengkonsumsi sebesar QD0 dan produksi sebesar QS0. Jumlah
yang akan diimpor dari negara lain sebesar QD0-QS0. Ketika ada
proteksi impor maka harga akan meningkat menjadi P M?.
Sehingga negara tersebut akan produksi sebesar Q S1 dan
jumlah impor akan berkurang menjadi QD1-QS1. Konsumen
akan dirugikan karena menanggung harga yang lebih mahal
dan produsen diuntungkan dengan peningkatan produksi
dengan harga tinggi. Surplus kondumen akan berkurang
sebesar area A+B+C+D. Area A merupakan surplus konsumen
yang ditransfer ke produsen. Area B dan D adalah Dead Weight
Loss (DWL) yang merupakan kerugian perekonomian. Area C
tidak merepresentasikan penerimaan pemerintah dari tarif
karena pembatasan impor bukan berasal dari kebijakan tarif
melainkan kebijakan non tarif. Area ini diukur sebagai quota
rent. Jika tidak ada peningkatan pemerintah yang berasal dari
quota rent ini maka quota rent akan didapat oleh produsen
negara lain. Sehingga C direpresentasikan sebagai net welfare
loss to economy. Penerimaan dapat meningkat melalui
penjualan lisensi kuota sehingga dengan menggunakan θ yang
mencerminkan share dari quota rent maka total net welfare loss
dari pembatasan impor sebesar B+D+(1- θ)C.
Berbagai macam restriksi atau hambatan non-tarif itu telah
menggantikan
peranan
tarif
di
masa
sebelumnya,
ini
merupakan ancaman bagi kelangsungan dan perkembangan
perdagangan
internasional
yang
bebas.
Penggunaan
hambatan perdagangan ini pada intinya bertentangan dengan
semangat pasar bebas (liberalisasi) yang diusung WTO.
Indonesia sebagai salah satu anggota WTO harus bisa
melakukan pengelolaan hambatan impor agar dapat menjaga
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
25
kepentingan nasionalnya, terutama yang terkait dengan
kesehatan, keamanan, keselamatan lingkungan dan moral
bangsa.
2.4. Teori Produktivitas dan Total Factor Productivity
Produktivitas dapat diartikan sebagai rasio dari output per unit
input dalam suatu unit waktu. Produktivitas meningkat bila rasio output
per unit input semakin besar dalam periode tertentu. Teknologi dan
manajemen produksi yang lebih baik menjadi faktor yang signifikan
dalam peningkatan produktivitas.
Meningkatkan produktivitas dipandang sebagai satu-satunya
cara dalam memperbaiki standar kehidupan dalam jangka panjang.
Peningkatan
produktivitas
pertumbuhan ekonomi,
merupakan
determinan
dalam
yang ditunjang oleh semakin luasnya
lapangan kerja yang tersedia menjadi kunci sukses menuju
kemakmuran. Kemakmuran secara umum diukur dengan menghitung
tingkat produk domestik bruto (GDP) per orang, total output dalam
perekonomian relatif pada jumlah populasi suatu wilayah.
Untuk mengukur kinerja industri secara khusus, umumnya
digunakan Total Factor Productivity (TFP). TFP merupakan indikator
umum yang digunakan untuk mengukur produktivitas, yaitu mencakup
perbedaan teknologi, organisasi, restrukturisasi, managerial skill, dll.
TFP dapat menjadi alat yang penting dalam menganalisis sumber
pertumbuhan ekonomi, perbedaan perkapita antar negara, dsb. TFP
menjelaskan mengapa dua perusahaan dapat menghasilkan output
yang berbeda dengan input yang sama. Secara konsep, TFP
didefinisikan sebagai porsi dari output yang tidak dapat dijelaskan oleh
sejumlah input yang digunakan dalam produksi.
Metode yang digunakan untuk mengukur TFP telah banyak
dikembangkan. Banyak pula perdebatan diantara para ahli tentang
bagaimana cara terbaik untuk mengukur TFP, mulai dari yang
sederhana sampai tingkat tinggi dengan menggunakan metodePuska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
26
metode ekonometrik. Pada tahun 1957, Solow mendekomposisikan
pertumbuhan output menjadi pertumbuhan kapital, tenaga kerja, dan
kemajuan teknologi dalam artikelnya yang berjudul “Technical Change
and Aggregat Production Function”, dan mengajukan metode nilai
residual Solow, yang kemudian digunakan secara luas untuk
mengukur perkembangan teknologi dan sumber pertumbuhan output.
Terdapat dua cara untuk menghitung TFP yaitu melalui metode
non parametrik dan metode parametrik. Metode nonparametrik tidak
diperlukan bentuk fungsi spesifik atau asumsi-asumsi statistik tertentu
dalam mengukur TFP. Prinsip dasarnya, TFP diperoleh dengan cara
merasiokan antara output dengan input, sehingga dihasilkan nilai
produktivitas.
Metode parametrik mengestimasi TFP melalui fungsi produksi,
sehingga kita harus menggunakan fungsi-fungsi produksi tertentu
seperti
fungsi
produksi
Cobb-Douglas
(C-D),
Transcendental
Logaritmic (Translog), Constant Elasticity Subtitution (CES), dll.
Fungsi
produksi
yang
masih
berbentuk
fungsi
matematis
(deterministic) tersebut diubah dulu kedalam fungsi produksi yang
berbentuk fungsi statistik (stochastic), yang artinya mengandung error.
Ilustrasinya, kira-kira seperti ini.
Misalnya, kita menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas (CD) dengan 2 input yaitu modal (K) dan tenaga kerja (L), sedangkan A
adalah indeks teknologi konstan.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
27
Prinsip dasar pengukuran TFP dengan menggunakan metode
parametrik adalah dengan memanfaatkan nilai error dalam model
regresi. Error dalam model regresi dapat mewakili pengaruh-pengaruh
yang berasal dari luar atau yang tidak dapat dijelaskan oleh variabel
penjelas yang digunakan dalam model. TFP menjelaskan porsi dari
output yang tidak dapat dijelaskan oleh sejumlah input yang digunakan
dalam produksi, maka pengukuran TFP identik dengan pengukuran
error. Nilai error tersebut pada aplikasinya tidak bisa diobservasi
secara langsung karena nilai-nilai parameter fungsi produksi tidak
diketahui. Untuk mengestimasi nilai-nilai parameter tersebut dengan
menggunakan berbagai metode estimasi seperti Ordinary Least
Squares (OLS), Generalized Least Squares (GLS), Maximum
Likelihood Estimators (MLE), Bayesian Estimators, dll. Pada akhirnya
kita akan memperoleh nilai residual sebagai pendekatan untuk error.
Nilai residual inilah yang akan digunakan untuk mengestimasi Total
Factor Productivity (TFP).
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
28
2.5. Kajian Sebelumnya
2.5.1. Kajian Permintaan Impor Bahan Baku/Penolong
Berbagai studi terdahulu telah membahas tentang
permintaan
impor
secara
disagregat
dan
berdasarkan
pengelompokkan golongan ekonomi barang (Broad Economic
Category, BEC). Studi Houthakker dan Magee (1969), yang
menganalisis elastisitas permintaan impor dan ekspor terhadap
Produk Nasional Bruto (Gross National Product (GNP)) atau
pendapatan riil dan harga, baik secara agregat maupun
disagregat di Amerika Serikat, menemukan bahwa nilai
elastisitas pendapatan terhadap permintaan impor di Amerika
Serikat sama dengan negara maju lainnya sedangkan
elastisitas harga terhadap total impor dan total ekspor secara
relatif rendah dan lebih besar untuk beberapa kelompok
komoditi di Amerika Serikat. Serupa dengan model Houthakker
dan Magee (1969) dan Price dan Thornblade (1972), Kreinin
(1973) mengestimasi model permintaan impor Amerika Serikat
secara disagregat berdasarkan kelompok komoditi dan negara
pemasok
disagregat
dan
menyimpulkan
dipengaruhi
bahwa
oleh
permintaan
elastisitas
harga
impor
relatif
(perbandingan harga barang impor terhadap indeks harga
perdagangan besar) dan elastisitas pendapatan. Khan (1975)
juga mengestimasi struktur dan perilaku impor di Venezuela
yang dihubungkan dengan harga relatif barang impor terhadap
harga domestik dan pendapatan domestik riil. Secara
konsisten, Ali dan Chani (2013) juga menemukan bahwa
variabel pendapatan lebih elastis pada kelompok komoditi
barang manufaktur dibandingkan dengan kelompok komoditi
lainnya.
Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang secara
konsisten
membahas
estimasi
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
elastisitas
harga
dan
29
pendapatan, Sarmad dan Mahmood (1987) dan Sarmad (1989)
menambahkan tarif impor dalam penyesuaian harga relatif,
beberapa variabel aktivitas lainnya (seperti pengeluaran
konsumsi riil, nilai tambah riil sektor industri manufaktur) dan
elastisitas hubungan harga relatif dengan variabel aktivitas
lainnya terhadap permintaan impor secara disagregat untuk
Pakistan. Penelitiannya menemukan bahwa elastisitas harga
relatif yang disesuaikan dengan tarif bea masuk di Pakistan
adalah rendah dan berbeda dengan besaran elastisitas di
negara-negara maju. Deyak, Sawyer, dan Sprinkle (1989)
menambahkan variabel stabilitas struktural terhadap fungsi
permintaan impor disagregat Amerika Serikat berdasarkan
kelas ekonomi – pangan mentah, barang mentah, produk
makanan olahan, produk semi-manufaktur dan produk jadi
manufaktur dan menemukan bahwa instabilitas struktural
terjadi pada tiga kelompok ekonomi – produk jadi manufaktur,
produk makanan olahan, dan barang mentah. Penelitianpenelitian sejenis tentang permintaan impor disagregat dan
berdasarkan kategori golongan barang telah meluas ke
berbagai cakupan negara seperti Cyprus (Pattichis, 1999),
Korea Selatan (Mah, 2000) Malaysia (Cheong, 2002); Fiji
(Narayan dan Narayan, 2005); Republik Rakyat Tiongkok
(RRT) (Fukumoto, 2012), Uganda (Samuel, 2015); dan
sebagainya.
Dalam pendekatan permintaan impor secara disagregat,
kebijakan impor baik berupa tarif impor maupun non tarif lebih
jarang diulas dibandingkan dengan pendekatan permintaan
impor agregat. Santos-Paulino (2002) dan Santos-Paulino dan
Thirlwall (2004) menganalisis dampak penurunan tarif dan
hambatan non tarif terhadap impor dari 22 negara berkembang
dan menemukan bahwa tarif impor akan menurunkan
pertumbuhan impor, tetapi dampaknya beragam bergantung
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
30
pada region dan jenis rezim kebijakan perdagangan yang ada
ada pada suatu negara. Penurunan distorsi kebijakan
perdagangan juga memiliki dampak yang kuat dan positif
terhadap peningkatan impor. Kemudian, elastisitas pendapatan
dan harga akan meningkat sebagai hasil dari reformasi
kebijakan perdagangan. Penurunan tarif input akan mendorong
importir
untuk
meningkatkan
volume
impor
bahan
baku/penolong dan barang modal, memperluas produk dan
negara pemasok, mengakses ke negara yang lebih maju, dan
mengimpor bahan baku/penolong yang lebih mahal (Ge, Lai, &
Zhu, 2011).
Di Indonesia, beberapa penelitian telah menitikberatkan
pembahasan pada permintaan impor secara disagregat dan
berdasarkan kategori ekonomi barang, khususnya untuk bahan
baku/ penolong. Studi Waluyo (2004), yang mengestimasi
permintaan bahan baku di sektor industri di Indonesia selama
periode 1981-2000, menyimpulkan bahwa investasi luar negeri,
investasi
domestik,
dan
cadangan
devisa
luar
negeri
berpengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan bahan
baku di sektor industri sedangkan nilai tukar rupiah terhadap
USD dan tingkat suku bunga berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap permintaan impor bahan baku/ penolong.
Sementara
itu,
Produk
Domestik
Bruto
(PDB)
tidak
berpengaruh signifikan terhadap permintaan impor bahan baku
sektor industri Indonesia (Waluyo, 2004). Hasil kajian tersebut
diperkuat oleh studi Azis (2009) yang menyimpulkan bahwa
investasi pemerintah dan investasi swasta berpengaruh
terhadap permintaan impor bahan baku/ penolong dan Suswati
(2012) yang berpendapat bahwa suku bunga riil bepengaruh
negatif dan signifikan baik secara langsung maupun tidak
langsung terhadap impor bahan baku dan penolong. Inflasi juga
dapat berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap impor
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
31
bahan baku dan penolong secara langsung sedangkan secara
tidak langsung inflasi berpengaruh negatif dan signifikan
terhadap total impor dan bahan baku dan penolong (Suswati,
2012). Puslitbang Perdagangan Luar Negeri Departemen
Perdagangan (2007) dan Arianti (2014) menganalisis mengenai
ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor
dari sisi output, nilai tambah, dan pendapatan dan berpendapat
bahwa ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku
impor masih cukup besar karena elastisitas bahan baku impor
lebih tinggi dibandingkan bahan baku domestik untuk beberapa
sektor seperti alas kaki; kimia, elektronik serta kendaraan
bermotor dan komponen kendaraan bermotor. Kelangkaan
input suplai, masalah ketenagakerjaan dan sumber daya
manusia
serta
teknologi
pengolahan
juga
diduga
ikut
mempengaruhi ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Selain itu persoalan infrastruktur, utilitas (listrik, gas dan air)
serta masalah permodalan (bank dan non bank) juga diduga
ikut menjadi faktor pendukung kurang bersaingnya input
domestik dibandingkan input impor. Puska Daglu (2013) juga
telah menganalisis substitusi impor pada industri pengolahan
(manufaktur) tertentu yang memiliki tingkat impor dan substitusi
impor yang besar dalam industri pengolahan dan perubahan
yang terjadi pada impor sebagai bahan baku penolong. Dari
hasil penelitian tersebut didapatkan sebanyak 73 industri yang
memiliki rasio ketergantungan impor bahan baku/penolong
yang sangat tinggi dan 110 industri memiliki rasio impor bahan
baku/penolong yang tinggi. Perilaku industri yang tingkat
impornya tinggi tidak hanya mengalami substitusi impor tetapi
juga tidak mengalami substitusi impor. Demikian pula, untuk
industri yang mengalami substitusi impor tidak hanya indutsri
dengan tingkat impor tinggi tetapi juga pada industri dengan
tingkat impor rendah.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
32
2.5.2. Kajian Peranan Kebijakan Impor terhadap Total Faktor
Produktivitas (TFP)
Kinerja suatu industri manufaktur lazimnya diukur melalui
tingkat produktivitas industri atau total faktor produktivitas
(TFP). Berbagai studi terlebih dahulu telah membahas
mengenai TFP sektor industri manufaktur dan mentautkannya
dengan kebijakan tarif impor barang jadi (output). Trefler (2004)
menunjukkan bahwa produktivitas tenaga kerja di sektor
industri Kanada dan Amerika Serikat dapat meningkat secara
tajam
akibat
adanya
dampak
persaingan
impor
yang
disebabkan pemotongan tarif yang tinggi. Pavcnik (2002)
menunjukkan bahwa industri yang bersaing dengan impor di
Chili menikmati peningkatan produktivitas yang lebih tinggi
yang disebabkan oleh liberalisasi perdagangan. Beberapa
penelitian lainnya yang mempelajari tarif barang jadi dan
produktivitas termasuk Topalova (2004), Head dan Ries (1999),
Krishna dan Mitra (1998), Gatson dan Trefler (1997), Tybout
dan Westbrook (1995), Harrison (1994), Levinsohn (1993), dan
Tybout, de Melo dan Corbo (1991).
Beberapa
studi
sebelumnya
yang
menganalisis
penurunan tarif bahan baku/penolong atau barang input.
Corden (1971) berpendapat bahwa penurunan tarif bahan
baku/penolong
akan
meningkatkan
proteksi
efektif,
menurunkan persaingan impor dan sebagai hasilnya akan
menurunkan produktivitas. Berlawanan dengan itu, Ethier
(1982), Markusen (1989) dan Grossman dan Helpman (1991)
justru memperlihatkan bahwa perusahaan dapat merasakan
peningkatan produktivitas dengan adanya penurunan tarif
impor barang input karena dapat mengakses berbagai macam
bahan baku/penolong dan kemungkinan mendapatkan input
dengan kualitas yang lebih tinggi. Studi Schor (2004) di Brazil
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
33
menunjukkan bahwa tarif impor barang input menurunkan tarif
impor terhadap barang jadi dalam jumlah yang sangat kecil.
Amiti dan Konings (2007), dengan menggunakan studi
kasus
perusahaan
di
Indonesia,
yang
menunjukkan
produktivitas industri di Indonesia akan meningkat sebesar 12%
seiring liberalisasi perdagangan melalui penurunan tarif
sebesar 10% terhadap barang input (bahan baku/penolong)
sedangkan penurunan tarif bea masuk pada barang jadi dapat
meningkatkan
produktivitas
seiring
dengan
peningkatan
persaingan, dimana bahan baku/ penolong yang lebih murah
dapat
meningkatkan
produktivitas
melalui
pembelajaran, keberagaman, dan kualitas.
dampak
Ing dan Putra
(2015) mengestimasi penurunan tarif barang input terhadap
peningkatan nilai tambah melalui keanekaragaman produk dan
kualitas dengan menggunakan data pada tingkat perusahaan
dan produk dari tahun 2000-2010. Studi tersebut menunjukkan
bahwa penurunan 1% dalam tarif barang input akan
meningkatkan
nilai
tambah
sebesar
0,2%,
sementara
penurunan 1% dalam tarif barang input justru dapat
meningkatkan keanekaragaman produk dan kualitas masingmasing sebesar 3,5% dan 1,5%. Perusahaan yang melakukan
ekspor dan perusahaan asing akan memiliki nilai tambah yang
lebih tinggi dibandingkan dan rata-rata perusahaan, namun
hanya perusahaan yang melakukan ekspor yang memiliki
kecenderungan untuk meningkatkan keanekaragaman dan
kualitas produk.
Dengan metode yang sedikit berbeda, beberapa studi
yang juga menunjukkan bahwa penurunan tarif impor dapat
mempengaruhi kinerja industri adalah Kasahara dan Rodrigue,
2008; Bas dan Strauss-Khan, 2011; Topalova & Khandelwal,
2011; Ge, Lai dan Zhu, 2011; Halpern, Koren & Szeidl, 2015).
Demikian pula terdapat juga studi yang mempelajari perubahan
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
34
kinerja industri sebagai imbas adanya reformasi kebijakan
perdagangan (Schor, 2004; Goldberg, Khandelwal, Pavcnik
dan Topalova, 2008).
2.6. Kerangka Pemikiran
Berikut ini adalah pola pikir kajian ini hingga nantinya dapat
menghasilkan
rekomendasi
kebijakan
impor
dalam
rangka
mendukung ketersediaan impor bahan baku/ penolong dan kinerja
industri manufaktur.
ï‚·
Kerangka berfikir kajian ini pada dasarnya dapat dipisahkan
menjadi dua bagian yang saling terkait. Pertama, terkait dengan
bagaimana kebijakan impor dapat mempengaruhi permintaan
terhadap
bahan
baku/penolong
yang
berasal
dari
impor.
Ketersediaan bahan baku/penolong sangat krusial dalam proses
produksi
industri
manufaktur.
Bahan
baku/penolong
dapat
diperoleh dari produsen dalam negeri maupun impor dari produsen
luar negeri.
ï‚·
Bagi industri kimia, tekstil dan produk tekstil, dan elektronik, bahan
baku/penolong yang berasal dari impor masih cukup penting. Oleh
karena itu ketersediaan bahan baku impor/penolong dalam
mendukung proses produksi di tiga industri manufaktur tersebut
akan mempengaruhi jumlah output industri tersebut. Kebijakan
impor berupa tariff dan non-tariff akan mempengaruhi permintaan
terhadap Impor bahan baku bagi industri kimia, tekstil dan produk
tekstil, dan elektronik.
ï‚·
Kedua, berkaitan dengan bagaimana impor dapat mempengaruhi
kinerja di industri manufaktur. Jumlah output yang dihasilkan dari
proses produksi di tiga industri yang menjadi fokus kajian bukan
menjadi satu-satunya hal yang diharapkan, melainkan peningkatan
produktivitas yang menunjukkan adanya peningkatan efisiensi di
dalam industri kimia, tekstil dan produk tekstil, dan elektronik.
Peningkatan produktivitas akan berimplikasi pada penurunan biaya
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
35
per unit yang tentunya akan meningkatkan daya saing industri
manufaktur Indonesia..
Gambar 2.5 Kerangka Pikir Kajian
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
36
BAB III
METODOLOGI PENGKAJIAN
3.1. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam kajian ini berupa analisis
kuantitatif dan kualitatif. Metode analisis kuantitatif melalui model
ekonometrik digunakan untuk menganalisis besaran peran kebijakan
impor terhadap permintaan impor bahan baku/penolong industri
manufaktur dan kinerja industri manufaktur. Metode kualitatif dengan
pendekatan studi deskriptif analitik yang dipakai dalam pengkajian ini
untuk mendapatkan pemetaan kebijakan impor bahan baku/ penolong
dan
analisis
yang
mendalam
mengenai
peran
dan
pengimplementasian kebijakan impor terhadap ketersediaan pasokan
bahan baku/ penolong dan kinerja industri manufaktur.
Untuk menjawab pertanyaan penelitian mengenai pengaruh dari
kebijakan impor bahan baku/penolong terhadap kinerja industri kimia,
tekstil, dan elektronik akan digunakan model persamaan simultan.
Alasan penggunaan model simultan adalah berdasarkan kerangka
kajian di Gambar 3.1. terlihat bahwa kebijakan impor bahan
baku/penolong tidak langsung mempengaruhi proses produksi di
industri manufaktur.
Estimasi
Persamaan Impor
(Persamaan 3.1)
(2SLS)
Estimasi
Permintaan Impor
(log Mit)
(2SLS)
Persamaan output
(Persamaan 3.2)
Residual
Kinerja Industri
Kebijakan Impor
(TFP)
TFP ( �it )
(Mpolicy)
Gambar 3.1. Alur Kerja Pemodelan
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
37
3.2. Model Ekonometrik
Untuk menganalisis peran kebijakan impor baik tarif maupun non
tarif terhadap permintaan impor bahan baku/penolong industri
manufaktur digunakan modifikasi model yang telah ada sebelumnya
dari Sarmad dan Mahmood (1987). Sarmad dan Mahmood
menggunakan model sederhana permintaan terhadap impor (simple
import demand model) sebagai dasar pembentukan persamaan impor.
Secara tradisional, permintaan terhadap suatu barang impor
merupakan model yang menjadi kerangka utama dalam sebagian
besar studi tentang permintaan impor yang diturunkan dari teori
permintaan konsumen. Model permintaan impor sederhana (Khan,
1974) menghubungkan antara jumlah riil barang impor yang diinginkan
suatu negara dengan tingkat pendapatan riil negara tersebut dan rasio
harga relative antara harga barang impor tersebut dengan harga
barang tersebut di domestic (diasumsikan terdapat tingkat substitusi
antara barang impor dengan barang domestic). Model permintaan
impor sederhana tersebut kemudian diubahsuai oleh Sarmad dan
Mahmood dengan memasukkan kebijakan tarif, sehingga menjadi
persamaan berikut:
(3.1)
Dimana M menunjukkan jumlah barang yang diimpor, t
menunjukkan tarif dan RP menunjukkan harga relatif antara barang
impor dengan barang domestik. Sedangkan Y merupakan variabel
pendapatan nasional (PDB) sebagai proksi aktivitas domestik.
Dengan mengikuti alur persamaan yang digunakan oleh Aliyu
(2007), persamaan Sarmad dan Mahmood tersebut kemudian
dimodifikasi dengan menggunakan variable nilai tukar riil (RER)
sebagai proksi dari harga relative (RP). Selain menganalisis peran dari
kebijakan tariff, penelitian ini juga akan menggunakan kebijakan non
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
38
tariff sebagai salah satu bentuk kebijakan impor yang mempengaruhi
impor bahan baku/penolong.
Sedangkan untuk mengestimasi peran dari bahan baku impor
dalam pembentukan output industri digunakan model fungsi produksi
Cobb-Douglas sebagai berikut:
Y = f(LKM)
(3.2)
Dimana output (Y) industri i pada tahun t merupakan fungsi dari
tenaga kerja (L), capital (K), dan bahan baku (M). Dengan
menggunakan spesifikasi log-linear (dinotasikan dengan variabel
dalam bentuk huruf kecil) maka persamaan tersebut akan menjadi:
(3.3)
Dengan uraian latar belakang pemodelan tersebut maka dalam
penelitian ini akan digunakan dua buah persamaan struktural yang
menunjukkan permintaan impor bahan baku/penolong dan yang
menunjukkan produksi/output industri manufaktur. Model simultan di
atas menggunakan persamaan struktural sebagai berikut:
(3.4)
(3.5)
dimana:
logMit
= nilai impor bahan baku industri i pada periode t
Mpolicyit
= kebijakan impor (tarif dan non-tarif) bahan baku
industri i pada periode t
logYt
= Produk Domestik Bruto pada periode t
Qit
= nilai produksi industri i pada periode t
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
39
RERt
= nilai tukar riil (Rp/USD) pada periode t
log Kit
= capital (K)
log Lit
= tenaga kerja (L)
log Mit
= impor bahan baku
eit
= error
��t
= residual (Total Factor Productivity, TFP)
o
1
2
3
0
1
2
3
= parameter persamaan
Variabel Operasional
Variabel Impor adalah nilai impor bahan baku untuk masing-masing
subsektor 5 digit KBLI yang tergolong ke dalam kelompok industri kimia,
industri TPT dan industri elektronik.
Variabel Kebijakan Impor yang digunakan pada persamaan 3.4
adalah sebagai berikut:
a. Tarif Bea Masuk MFN (Most Favourable Nations)
Variabel Tarif Bea Masuk MFN (Most Favourable Nations) adalah
rata-rata persentase tarif bea masuk yang dikenakan atas bahan
baku impor yang masuk ke Indonesia dari negara lain, kecuali
negara yang memiliki perjanjian khusus mengenai tarif bea
masuk dengan Indonesia.
b. Non-Tarif NTM (non-tariff measures)
Variabel non-tarif adalah jumlah peraturan non tarif yang
dikenakan pada impor bahan baku di masing-masing subsektor
industri. Kebijakan NTM umumnya masih berupa aturan-aturan
sederhana mengenai lisensi impor.
Kebijakan impor ini dimaksudkan sebagai hambatan masuk yang
ditujukan untuk meningkatkan daya saing industri dalam negeri,
memberikan kepastian hukum bagi investor, memberikan perlindungan
bagi konsumen, dan meningkatkan efisiensi administrasi kepabeanan.
Variabel PDB pada dasarnya merupakan variabel yang menunjukkan
kapasitas permintaan impor bahan baku dari industri dalam negeri.
Semakin berkembang industri dalam negeri maka semakin tinggi pula
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
40
permintaan terhadap bahan baku impor. Untuk lebih menggambarkan
potensi perkembangan industri dalam negeri maka variable PDB tidak
menggunakan PDB total yang menunjukkan pendapatan nasional,
melainkan digunakan PDB sektoral berupa total nilai tambah di industri
terkait.
Pada industri kimia variabel PDB yang digunakan pada persamaan
3.4 adalah nilai PDB sektoral untuk industri pupuk, kimia dan barang dari
karet. Sementara itu untuk industri tekstil dan produk tekstil
menggunakan nilai PDB untuk industri tekstil, barang kulit dan alas kaki.
Industri elektronik menggunakan PDB industri alat angkutan, mesin dan
peralatannya.
Sedangkan variabel Nilai tukar yang digunakan untuk ketiga
kelompok industri adalah nilai tukar dalam Rupiah per US Dollar.
3.3. Metode Estimasi
Persamaan 3.4 adalah persamaan yang digunakan untuk menjawab
pertanyaan pengaruh kebijakan impor bahan baku terhadap permintaan
impor bahan baku. Persamaan 3.5 adalah persamaan yang digunakan
untuk menjawab pertanyaan peran bahan baku impor terhadap kinerja
industri. Dari hasil persamaan kedua ini, nantinya dapat diidentifikasi
besarnya tingkat produktivitas yang terjadi di industri kimia, tekstil (TPT),
dan elektronik.
Persamaan 3.4 dan 3.5 adalah persamaan simultan. Estimasi
parameter model dilakukan dengan metode 2SLS atau 3SLS (two/three
stage Least square). Namun demikian, secara teknis, perlu dilakukan
pengecekan kondisi perlu (necessary condition) dan kondisi cukup
(sufficient condition) untuk mengetahui apakah kedua persamaan diatas
dapat diestimasi dan menghasilkan nilai parameter yang unik. Jika kedua
syarat di atas salah satu atau keduanya tidak terpenuhi maka estimasi
2SLS/3SLS tidak dapat dilakukan (Gujarati, 2004)
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
41
a. Kondisi Perlu
Persamaan simultan dikatakan memenuhi kondisi perlu jika:
(K-k) > (m-1)
(3.6)
Dimana :
m = jumlah variabel endogen pada persamaan
K = jumlah predetermined variabel pada model
k = jumlah predetermined variabel pada persamaan
Jika (K-k) = (m-1) dikatakan persamaan simultan teridentifikasi
tepat (just identified), jika (K-k) > (m-1) dikatakan teridentifikasi
lebih (overidentified) dan jika (K-k) < (m-1) tidak teridentifikasi
(underindentified).
b. Kondisi Cukup
Terpenuhinya kondisi perlu tidak menjamin persamaan dapat
teridentifikasi. Kita membutuhkan kondisi cukup untuk setiap
persamaan.
Persamaan dikatakan teridentifikasi memenuhi
kondisi cukup jika memiliki rank matriks berukuran (M-1). M adalah
jumlah variable endogen pada model. Berdasarkan kondisi perlu
dan kondisi cukup maka persamaan simultan dapat teridentifikasi
jika memenuhi kriteria berikut:
ï‚·
Jika (K-k) > (m-1) dan terdapat rank matriks berukuran (M-1)
maka persamaan teridentifikasi lebih
ï‚·
Jika (K-k) = (m-1) dan terdapat rank matriks berukuran (M-1)
maka persamaan teridentifikasi tepat.
c. Hasil identifikasi
Hasil Identifikasi menunjukkan persamaan 3.4 dan persamaan 3.5
teridentifikasi lebih. Artinya kedua persamaan memenuhi kondisi
perlu dan kondisi cukup persamaan simultan. Estimasi persamaan
3.4 dan 3.5 dengan metode 2SLS/3SLS dapat menghasilkan
parameter yang diinginkan.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
42
Dalam gambar tersebut, kebijakan impor akan mempengaruhi
terlebih dahulu permintaan terhadap impor (M), yang kemudian
bahan baku yang berasal dari impor tersebut nantinya akan
digunakan untuk proses produksi yang menentukan besarnya
output industri.
3.4. Ruang Lingkup Analisis
Terdapat tiga kelompok industri yang dianalisis yaitu industri kimia,
industri tekstil dan produk tekstil (TPT), dan industri elektronik selama
periode 2000 – 2010. Industri yang dianalis terdiri dari 34 jenis industri
kimia, 34 jenis industri TPT dan 5 jenis industri elektronik.
Rincian cakupan industri yang tergolong ke dalam 5 digit KBLI Industiri
Besar dan Menengah (IBS) di masing-masing tiga kelompok industri
tersebut adalah berikut ini.
ï‚·
Industri Kimia meliputi:
1
Industri kimia dasar anorganik klor dan alkall
2
Industri kimia dasar anorganik gas industri
3
Industri kimia dasar anorganik pigment
4
Industri kimia dasar anorganik yang tidak diklasifikasikan di tempat
lain
5
Industri kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian
6
Industri kimia dasar organik bahan baku zat warna dan pigmen, zat
warna dan pigmen
7
Industri kimia dasar organik bersumber dari minyak bumi, gas bumi
dan batu bara
8
Industri kimia dasar organik yang menghasilkan bahan kimia khusus
9
Industri kimia dasar organik yang tidak diklasifikasikan di tempat lain
10 Industri pupuk alam/non sintentis hara makro primer
11 Industri pupuk buatan tunggal hara makro primer
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
43
12 Industri pupuk buatan majemuk hara makro primer
13 Industri pupuk lengkap
14 Industri damar buatan (resin sintetis) dan bahan baku plastik
15 Industri karet buatan
16 Industri bahan baku pemberantas hama (bahan aktif)
17 Industri pemberantas hama (formulasi)
18 Industri zat pengatur tumbuh
19 Industri bahan amelioran (pembenah tanah)
20 Industri bahan farmasi
21 Industri famarsi
22 Industri simplisia (bahan jamu)
23 Industri jamu
24 Industri sabun dan bahan pembersih keperluan rumah tangga
termasuk pasta gigi
25 Industri kosmetik
26 Industri perekat / lem
27 Industri bahan peledak
28 Industri tinta
29 Industri minyak atsiri
30 Industri korek api
31 Industri bahan kimia dan barang kimia lainnya
32 Industri serat / benang filamen buatan
33 Industri serat stapel buatan
34 Industri serat stapel buatan
ï‚·
Industri TPT meliputi:
1
Industri Persiapan Serat Tekstil
2
Industri Pemintalan Benang
3
Industri Pemintalan Benang Jahit
4
Industri Pertenunan (Kecuali Pertenunan Karung Goni dan
Karung Lainnya)
5
Industri Kain Tenun Ikat
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
44
6
Industri Penyempurnaan Benang
7
Industri Penyempurnaan Kain
8
Industri Pencetakan Kain
9
Industri Batik
10 Industri Barang Jadi Tekstil Kecuali Untuk Pakaian Jadi
11 Industri Barang Jadi Tekstil untuk Keperluan Kesehatan
12 Industri Tekstil Jadi untuk Keperluan Kosmetika
13 Industri Karung Goni
14 Industri Bagor dan Karung Lainnya
15 Industri Permadani (Babut)
16 Industri tali temali
17 Industri Barang-barang dari Tali
18 Industri yang Menghasilkan Kain Pita (Narrow Fabric)
19 Industri yang Menghasilkan Kain Keperluan Industri
20 Industri Bordir / Sulaman
21 Industri Non Woven
22 Industri Kain Ban
23 Industri Tekstil yang tidak di Klasifikasikan di tempat Lain
24 Industri Kain Rajut
25 Industri Pakaian Jadi Rajut
26 Industri Rajut Kaos Kaki
27 Industri Barang Jadi Rajutan
28 Industri Kapuk
29 Industri Pakaian Jadi dari Tekstil
30 Industri Pakaian Jadi Lainnya dari Tekstil
31 Industri Pakaian Jadi (Garmen) dari Kulit
32 Industri Pakaian Jadi Lainnya dari Kulit
33 Industri Bulu Tiruan
34 Industri Pakaian Jadi / Barang Jadi dari Kulit Berbulu dan atau
Aksesoris
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
45
ï‚·
Industri Elektronik meliputi:
1 Industri mesin kantor, komputasi dan akuntansi elektronik
2 Industri tabung dan katup elektronik serta komponen elektronik lainnya
3 Industri alat transmisi komunikasi
4 Industri radio, televisi, alat-alat rekaman suara dan gambar dan sejenisnya
5 Industri pengukur, pengatur dan pengujian elektronik
3.5. Jenis dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan berasal dari data sekunder dan primer.
Data sekunder yang berupa publikasi resmi, dokumen, dan
sebagainya akan diambil melalui studi kepustakaan dari Badan Pusat
Statistik
Indonesia,
Kementerian
Perdagangan,
Kementerian
Perindustrian, Kementerian Keuangan, UNCOMTRADE, dan lainnya.
Data primer adalah informasi dan keterangan yang diperoleh dari para
pemangku kepentingan terkait (stakeholders) baik pelaku usaha,
importir, produsen, akademisi, praktisi, maupun instansi terkait yang
dikumpulkan melalui teknik wawancara
mendalam (in-depth
interview) melalui kegiatan survei lapangan, teknik Focus Group
Discussion (FGD), dan diskusi terbatas terkait dengan peran kebijakan
impor bahan baku/penolong dalam rangka mendukung industri
manufaktur. Survei terhadap pemangku kepentingan terkait akan
dilaksanakan di 7 (tujuh) daerah, yakni Bandung, Medan, Makassar,
Banten,
Batam,
dan
Palembang
sedangkan
FGD
akan
diselenggarakan di Surabaya dengan dasar pertimbangan beberapa
daerah tersebut adalah pelabuhan utama dan pusat kawasan industri
utama di Indonesia.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
46
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.
Perkembangan Impor Bahan Baku/ Penolong
4.1.1. Perkembangan Impor Bahan Baku/ Penolong Nasional
Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, maka impor
memiliki peranan yang sangat penting terutama dalam rangka
pengembangan sector industri. Walaupun perkembangan impor
berfluktuasi, namun impor tetap mengalami pertumbuhan. Fluktuasi
impor tidak terlepas dari berbagai peristiwa resesi ekonomi, crisis
ekonomi, serta beberapa kebijakan di bidang impor.
Impor dalam hal ini terdiri atas impor barang konsumsi, vahan
baku dan barang-barang penolong serta barang modal yang pada
umumnya berasal dari negara maju, di samping karena negara-negara
berkembang masih kekurangan modal, juga untuk mempercepat
proses alih teknologi dari negara maju sehingga negara-negara
berkembang akan mampu memacu pertumbuhan ekonominya
Impor
Indonesia
meningkat
sejalan
dengan
peningkatan
pembangunan. Pengembangan kapasitas produksi dalam negeri
memerlukan impor barang-barang modal yang belum dapat diproduksi
di dalam negeri perlu diimpor. Di samping itu pembangunan proyekproyek prasarana yang di perlukan untuk mendukung kapasitas
produksi dalam negeri yang semakin berkembang juga memerlukan
impor.
Impor Indonesia terdiridari 3 golongan barang, yaitu :
1. Impor barang konsumsi
2. Impor bahan baku dan barang penolong
3. Impor barang modal
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
47
Perkembangan ketiga golongan barang impor Indonesia menurut
penggunaannya yang paling besar adalah impor untuk bahan baku
dan barang penolong, kemudian diikuti oleh barang modal dan barang
konsumsi. Tingginya impor bahan baku dan barang penolong
menunjukkan perkembangan industri yang membutuhkan bahan baku
untuk diproses menjadi bahan jadi. Meningkatnya impor bahan baku
dan barang modal ke Indonesia salah satunya disebabkan oleh
adanya realisasi investasi asing di Indonesia. Sedangkan kenaikan
impor konsumsi tiap tahunnya berkaitan dengan adanya perbaikan
taraf hidup masyarakat akibat naiknya pendapatan dan adanya
pergeseran polakon sumsi masyarakat.
Tabel 4.1. Jenis Impor Menurut Penggunaan, 2004-2014
UR A IA N
TOTAL IMPOR
2004
2005
2006
2007
2008
Nilai : USD Juta
2009
2010
2011
2012
2013
2014
46 524.5 57 700.9 61 065.5 74 473.4 129 197.3 96 829.2 135 663.3 177 435.6 191 689.5 186 628.7 178 178.8
Barang Konsumsi
1 Makanan dan Minuman (Belum Diolah) Untuk Rumah Tangga
2 Makanan dan Minuman (Olahan) Untuk Rumah Tangga
3 Bahan Bakar dan Pelumas (Olahan)
4 Mobil Penumpang
5 Alat Angkutan Bukan Untuk Industri
6 Barang Konsumsi Tahan Lama
7 Barang Konsumsi Setengah Tahan Lama
8 Barang Konsumsi Tidak Tahan Lama
9 Barang Yang Tidak Diklasifikasikan
Bahan Baku/Penolong
1 Makanan dan Minuman (Belum diolah) Untuk Industri
2 Makanan dan Minuman (Olahan) Untuk Industri
3 Bahan Baku (Belum Diolah) Untuk Industri
4 Bahan Baku (Olahan) Untuk Industri
5 Bahan Bakar dan Pelumas (Belum Diolah)
6 Bahan Bakar Motor
7 Bahan Bakar dan Pelumas (Olahan)
8 Suku Cadang dan Perlengkapan Barang Modal
9 Suku Cadang dan Perlengkapan Alat Angkutan
Barang Modal
1 Barang Modal Kecuali Alat Angkutan
2 Mobil Penumpang
3 Alat Angkutan Untuk Industri
3 579.4
361.8
885.5
757.0
290.1
44.4
337.7
352.4
480.8
69.6
4 434.3
381.2
1 102.4
1 294.9
292.7
44.9
371.2
388.1
540.7
18.2
4 553.6
557.3
1 222.6
836.4
226.4
86.4
396.5
582.9
626.9
18.4
6 487.4
748.2
1 959.8
1 197.8
390.9
93.6
478.9
673.6
809.0
135.6
36 406.6 44 958.0 47 368.4 56 543.7
1 444.1 1 314.6 1 343.1 2 074.2
593.2
846.4
942.5 1 543.4
2 201.4 2 030.9 2 414.1 2 806.2
15 465.9 17 492.1 18 152.2 21 798.8
5 847.0 6 810.7 7 866.9 9 067.8
1 455.9 2 814.9 3 243.1 3 847.5
3 828.4 6 679.7 7 061.1 7 828.9
2 910.8 3 747.8 3 611.7 4 652.3
2 659.8 3 220.9 2 733.5 2 924.7
6 538.5
5 416.7
290.1
831.7
8 308.6
6 490.8
292.7
1 525.1
9 143.5 11 442.3
6 209.5 8 407.3
226.4
390.9
2 707.6 2 644.1
8 303.7
797.4
1 903.1
1 617.2
574.8
153.0
822.1
1 134.7
1 229.2
72.3
6 752.6
955.6
1 367.3
591.2
451.2
228.3
818.3
941.1
1 189.4
210.3
9 991.6
1 166.9
2 439.6
970.3
918.1
254.3
1 075.0
1 367.7
1 541.5
258.2
13 392.9
1 847.8
3 626.1
1 625.5
1 029.0
286.7
1 288.3
1 774.2
1 699.0
216.5
13 408.6
1 541.4
2 836.9
1 435.3
1 515.3
350.3
1 584.7
1 953.9
1 926.5
264.4
13 138.9
1 385.6
2 443.0
1 350.9
1 192.4
386.1
1 599.5
2 164.0
2 165.1
452.2
99 492.7 69 638.1
3 244.4 2 640.9
1 271.6 1 582.0
4 721.6 2 901.3
40 312.9 29 248.8
10 086.6 7 387.3
6 019.4 5 135.1
12 806.5 5 750.9
14 542.5 11 000.0
6 487.1 3 991.9
98 755.1 130 934.3 140 126.0 141 957.9 136 208.6
3 074.8
4 186.7
4 101.0
4 354.4
4 935.4
2 165.8
3 330.2
3 349.3
3 685.2
3 247.0
4 539.3
6 813.2
5 639.7
6 299.3
6 001.7
41 714.3 53 409.6 59 437.0 58 353.6 57 171.7
8 553.5 11 173.5 10 853.3 13 673.1 13 369.3
8 464.6 11 962.4 14 061.7 14 839.2 15 006.1
9 270.0 15 771.2 15 835.5 14 977.2 13 733.4
14 815.6 16 937.8 18 126.1 16 803.3 15 679.3
6 157.0
7 349.7
8 722.3
8 972.6
7 064.6
21 400.9 20 438.5
16 249.9 13 311.8
574.8
451.2
4 576.2 6 675.5
26 916.6
18 777.0
918.1
7 221.6
33 108.4
23 660.1
1 029.0
8 419.3
38 154.8
26 659.3
1 515.3
9 980.2
31 531.9
26 128.2
1 192.4
4 211.3
Sumber: Statistik Indonesia, BPS (2016), data diolah Puska Daglu,
Kemendag
Permintaan impor Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke
tahun hampir di semua kawasan perdagangan. Secara rata-rata ada
delapan negara importir yang memiliki kontribusi impor yang besar ke
Indonesia yaitu Jepang, Amerika Serikat, Singapura, Jerman, Korea
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
12 667.2
1 542.3
2 755.1
1 222.9
783.7
267.0
1 418.3
1 993.8
2 150.6
533.6
48
29 303.0
25 661.9
783.7
2 857.4
Selatan, Australia, Cina, dan Taiwan. Dalam 10 tahun terakhir,
perkembangan impor Indonesia menurut negara asal di kawasan
ASEAN memiliki volume yang tertinggi dibandingkan dengan negaranegara dikawasan lain. Hal ini disebabkan karena pada 10 tahun
terakhir, negara-negara ASEAN mulai menerapkan ACFTA (Asia Cina
Free Trade Area) yang mengakibatkan meningkatnya volume impor
dari wilayah ASEAN dan Cina secara signifikan.
Tabel 4.2. Nilai Impor Bahan Baku dan Penolong, Diolah Maupun
Belum Diolah, Untuk Industri, 2004-2014
Nilai : USD Juta
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
HS 10
2304000000
5201000000
2902430000
7207121000
2901210000
3902102000
3104200000
1005909000
7403110000
7204490000
3901109010
2713200000
4703210000
2905310000
3902309010
4702000000
3901200000
7601200000
7304290010
6006220000
URAIAN
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
17,667.31 19,522.99 20,566.35 24,605.03 45,034.53 32,150.05 46,253.61 60,222.76 65,076.70 64,652.83 63,173.38
TOTAL
Oil-cake&other solid residues,in pellet form, from the extract of soyabea 532.00
474.17
493.33
702.13
1,040.66
1,019.55
1,162.00
1,321.04
1,828.49
1,926.98
2,194.93
Cotton, not carded/combed.
679.91
576.00
619.89
800.10
1,190.70
765.36
1,148.39
1,785.83
1,333.14
1,346.31
1,400.81
P-xylene
597.29
606.53
769.97
770.59
858.53
596.41
808.57
973.72
959.50
1,089.64
1,172.04
Slabs of iron/non alloy, cont.< 0,25% of carbon, other than square
512.81
561.10
659.28
753.28
1,425.95
609.99
1,104.03
1,147.83
1,238.95
1,179.69
1,050.02
Ethylene
412.69
323.86
332.92
314.59
543.97
518.51
632.62
792.68
879.74
850.41
906.43
Polypropylene in granule form
137.77
131.68
149.42
174.38
353.09
315.31
498.99
962.12
783.50
861.10
904.55
Potassium chloride
173.73
199.80
213.35
340.78
1,252.01
340.58
719.16
1,443.83
1,240.58
963.26
890.82
Maize (corn), other than seeds
170.71
27.07
276.12
147.51
76.46
69.92
363.16
1,002.24
493.36
909.30
800.11
Refined copper for cathodes and sections of cathodes
30.64
49.86
107.78
53.67
477.96
220.21
537.44
639.97
735.49
668.86
773.08
Other ferrous waste and scrap :
144.45
157.61
161.16
233.67
656.25
328.99
487.42
751.23
712.48
864.51
743.98
Polymers of ethylene, in granule form
129.70
151.87
167.78
184.84
251.96
201.12
311.00
417.85
472.00
579.41
656.78
Petroleum bitumen
20.91
19.05
68.25
111.90
190.95
203.14
277.24
307.42
537.14
614.29
550.20
Chemical wood pulp, soda, oth than dis solving grades,bleached,conifer 167.76
140.88
180.15
218.30
257.43
252.29
345.18
382.79
354.73
470.21
528.91
Ethylene glycol (ethanediol)
240.28
285.07
257.09
255.55
386.16
214.04
380.60
492.75
457.24
471.95
517.47
Propylene copolymers in granule form
107.19
106.20
130.54
158.08
214.17
179.33
251.01
388.75
400.20
457.45
492.96
Chemical wood pulp, dissolving grades.
181.67
176.74
141.32
123.35
365.22
160.48
402.79
530.64
422.18
490.19
476.63
Polyethylene having a specific gravity 0.94 or more
72.09
86.05
91.65
83.28
174.08
103.83
213.61
313.94
368.51
438.13
454.60
Aluminium alloys
142.48
171.42
200.21
262.11
378.78
191.80
358.71
465.45
448.95
392.87
439.28
Unfinish casetube&unworked pipe end with yield strength less than 75,
17.22
174.88
139.18
205.60
413.35
433.12
335.36
437.17
Oth dyed knit/crochtd fbrcs of cotton oth than of heading 60.01-60.04.
6.60
116.06
158.29
270.14
402.17
376.65
361.48
391.85
SUB TOTAL
4,454.11 4,244.97 5,020.22 5,711.95 10,385.26 6,588.36 10,477.67 14,935.61 14,475.96 15,271.39 15,782.62
LAINNYA
13,213.21 15,278.03 15,546.13 18,893.08 34,649.27 25,561.69 35,775.94 45,287.15 50,600.74 49,381.43 47,390.75
Sumber: Statistik Indonesia, BPS (2016), data diolah Puska Daglu
Kemendag
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
49
Tabel 4.3. Volume Impor Bahan Baku dan Penolong, Diolah
Maupun Belum Diolah, Untuk Industri, 2004-2014
No.
HS 10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
2304000000
5201000000
3809910000
7204490000
7228700000
3901109010
2902430000
7318151100
7901110000
5503200000
4703210000
7308909000
2901210000
7208390000
4707100010
3902102000
2818200000
7210301000
2905310000
7304290010
Volume : Ribu Ton
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
TOTAL
21,001.90 22,707.55 23,666.74 26,065.45 33,451.15 27,571.76 35,061.14 41,188.48 50,329.54 48,510.46 49,892.03
Oil-cake&other solid residues,in pellet form, from the extract of soyabea 1,730.02
1,852.70
2,116.06
2,323.10
2,273.29
2,324.28
2,868.88
2,938.56
3,479.61
3,509.82
3,828.67
Cotton, not carded/combed.
1,012.29
947.21
1,039.30
1,382.17
1,948.58
562.11
1,763.29
3,119.33
2,476.70
2,251.39
2,893.84
Oth finish agent,dye carriers to accele kind used in the textile or like indu
0.95
2.80
3.50
0.05
34.42
85.14
693.41
1,191.02
1,694.61
874.76
2,148.30
Other ferrous waste and scrap :
1,192.36
1,245.32
1,576.92
1,394.15
1,680.87
1,398.86
1,957.14
1,702.34
2,125.90
2,307.14
1,984.01
Angles, shapes and sections of other alloy steel
71.42
288.62
363.13
428.72
735.60
283.53
967.32
1,122.26
1,255.88
772.59
1,119.65
Polymers of ethylene, in granule form
103.85
86.47
220.08
335.36
400.65
479.20
530.58
520.29
813.77
943.79
944.51
P-xylene
778.16
666.44
704.75
688.18
706.17
653.54
777.53
623.77
643.41
723.50
935.99
Screw metal with/without nuts/washers with an external diameter <=16 m 738.29
776.53
625.05
743.76
803.03
697.48
822.92
949.90
872.32
891.97
913.83
Zinc not alloyed containing by weight 99.99% or more of zinc
106.82
172.15
279.41
242.22
438.63
338.39
268.45
503.39
820.35
728.49
864.45
Synthetic staple fibres of polyesters
19.70
22.81
20.94
87.48
118.94
90.78
170.62
293.86
570.16
521.06
734.83
Chemical wood pulp, soda, oth than dis solving grades,bleached,conifer 293.12
263.41
307.50
296.81
348.08
460.98
443.42
448.38
494.98
656.39
688.26
Other structures and parts of structures of iron or steel
172.27
161.12
273.63
259.23
462.07
271.36
251.11
504.90
715.19
380.46
683.73
Ethylene
475.04
336.98
294.47
260.96
443.77
663.71
589.53
674.59
716.58
628.28
636.89
Flat-rolled iron/nas, HRC, width >600 mm, thick< 3 mm
520.04
370.26
208.82
317.74
427.15
272.42
315.04
520.79
745.99
673.96
616.89
Unbleached kraft paper or paperboard for paper making purposes
12.73
18.09
12.82
41.41
51.42
18.52
63.17
81.90
299.85
541.56
605.67
Polypropylene in granule form
166.45
129.42
123.87
138.96
218.72
297.48
377.02
607.18
545.96
574.96
586.21
Aluminium oxide, other than artificial corundum
396.47
470.92
452.07
418.58
441.80
484.17
456.16
441.33
518.47
516.19
569.96
Flat-rolled of iron/nas,carbon < 0.6% plated or coated with lead, thick <1
29.01
46.59
31.03
63.67
68.43
76.97
192.22
275.95
261.87
341.46
557.36
Ethylene glycol (ethanediol)
261.91
252.08
199.22
137.97
351.80
204.20
380.62
451.55
432.23
517.36
523.43
Unfinish casetube&unworked pipe end with yield strength less than 75, 488.83
465.29
280.13
309.08
355.34
520.14
301.63
294.79
986.05
717.58
502.61
SUB TOTAL
8,569.73 8,575.21 9,132.67 9,869.58 12,308.76 10,183.27 14,190.06 17,266.10 20,469.87 19,072.71 22,339.10
LAINNYA
12,432.17 14,132.34 14,534.07 16,195.87 21,142.39 17,388.49 20,871.08 23,922.39 29,859.67 29,437.74 27,552.94
URAIAN
Sumber: Statistik Indonesia, BPS (2016), data diolah Puska Daglu Kemendag
4.1.2. Perkembangan Impor Bahan Baku/ Penolong untuk Industri
Kimia, TPT dan, Elektronika
Selama tahun 2000-2013, impor bahan baku untuk industri Kimia
yang mengalami peningkatan paling signfikan, yakni mencapai 16,8%
per tahun, dari senilai Rp. 15,0 trilliun menjadi Rp. 70,1 trilliun. Adapun
penggunaan impor bahan baku untuk industri Kimia tertinggi selama
2000-2013 adalah di tahun 2011 yang mencapai Rp. 102,0 trilliun.
Pada periode yang sama, impor bahan baku untuk industri TPT naik
rata-rata 8,1% per tahun dari Rp. 17,1 trilliun di tahun 2000 menjadi
Rp. 39,9 trilliun di tahun 2013. Sedangkan impor bahan baku untuk
industri elektronik justru mengalami penurunan rata-rata 0,9% per
tahun selama 2000-2013.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
50
Gambar 4.1. Nilai bahan baku impor yang digunakan pada
Industri Kimia, TPT, dan Elektronik
Nilai Bahan Baku Impor
120.0
Trilliun Rupiah
100.0
80.0
60.0
40.0
20.0
-
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
Industri Kimia
15.0
23.9
21.5
19.0
16.7
19.7
30.1
34.7
75.8
98.7
93.9
102.0
73.6
70.1
Industri TPT
17.1
18.3
17.9
21.4
24.9
32.1
29.6
28.1
27.8
29.0
51.1
52.4
39.1
39.9
Industri Elektronik 19.6
7.2
8.3
11.7
25.5
8.6
11.7
13.4
12.1
13.1
7.9
10.7
8.2
16.0
Sumber: Statistik Indonesia, BPS (2016), data diolah Puska Daglu Kemendag
Meskipun nilai impor bahan baku untuk industri elektronik
mengalami penurunan, namun kontribusi bahan baku impor dibanding
total bahan baku yang digunakan industri tersebut mencatat angka
tertinggi dibanding industri yang lain. Pada tahun 2013, kontribusi
bahan baku impor untuk industri elektronik mencapai 58,0% dari total
bahan baku yang digunakan. Sementara kontribusi bahan baku impor
untuk industri Kimia dan TPT masing-masing sebesar 35,1% dan
36,2%.
Gambar 4.2. Kontribusi bahan baku impor yang digunakan pada
industri Kimia, TPT, dan Elektronik
(%)
Kontribusi Bahan Baku Impor
80.0
75.0
70.0
65.0
60.0
55.0
50.0
45.0
40.0
35.0
30.0
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
Industri Kimia
51.0
50.0
45.1
45.6
37.5
37.0
42.9
45.9
58.9
61.7
53.7
52.4
43.0
35.1
Industri TPT
35.2
37.4
35.8
39.1
40.5
43.8
40.8
36.9
38.3
36.2
46.3
52.9
37.3
36.2
Industri Elektronik 75.8
48.4
61.3
60.7
48.2
70.5
43.5
53.4
53.7
43.8
35.1
62.2
75.0
58.0
Sumber: Statistik Indonesia, BPS (2016), data diolah Puska Daglu Kemendag
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
51
Dilihat lebih detail (Gambar 4.3), jenis industri kimia yang
menggunakan bahan baku impor lebih besar dibanding bahan baku
lokal diantaranya adalah industri bahan peledak, industri farmasi,
industri tinta, industri kimia dasar anorganik khlor dan alkali, dan
Industri kimia dasar organik bersumber dari minyak bumi, gas bumi
dan batu bara. Kelima industri tersebut menggunakan bahan baku asal
impor lebih dari 60% dari total bahan baku yang digunakan.
Gambar 4.3. Kontribusi bahan baku impor yang digunakan pada
beberapa jenis industri Kimia
Proporsi Bahan baku impor terhadap Total Bahan Baku Industri Kimia 2000 - 2013
1.20
1.00
0.80
0.60
0.40
0.20
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
Average2
24292
0.64
0.77
0.75
0.74
0.59
0.77
0.76
0.26
0.88
0.87
0.87
0.85
0.76
0.73
0.73
24232
0.71
0.65
0.53
0.54
0.57
0.53
0.64
0.65
0.94
0.92
0.85
0.83
0.49
0.53
0.67
24293
1.00
0.74
0.76
0.74
0.82
0.69
0.62
0.60
0.58
0.66
0.64
0.45
0.38
0.61
0.66
24111
0.50
0.73
0.61
0.72
0.70
0.63
0.35
0.78
0.72
0.62
0.62
0.84
0.55
0.64
0.64
24117
0.53
0.96
0.96
0.87
0.35
0.38
0.48
0.62
0.73
0.79
0.83
0.57
0.77
0.17
0.64
Sumber: Statistik Indonesia, BPS (2016), data diolah Puska Daglu Kemendag
Sementara itu, 5 jenis industri TPT yang menggunakan bahan
baku impor cukup tinggi antara lain Industri barang dari tali, Industri
barang jadi tekstil untuk keperluan kesehatan, Industri karpet dan
permadani, Industri pakaian jadi dari tekstil, dan Industri pakaian jadi
(garmen) dari kulit. Kelima industri tersebut menggunakan bahan baku
asal impor sekitar 50% dari total bahan baku yang digunakan. Namun
demikian, penggunaan bahan baku asal impor untuk industri pakaian
jadi (garmen) dari kulit turun signifikan sejak tahun 2010.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
52
Gambar 4.4. Kontribusi bahan baku impor yang digunakan pada
beberapa jenis industri TPT
Proporsi Bahan baku impor terhadap Total Bahan Baku Industri Tekstil 2000 - 2013
1.20
1.00
0.80
0.60
0.40
0.20
-
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
17232
0.39
0.40
0.33
0.34
0.40
0.41
0.77
0.66
0.67
0.65
0.60
0.76
0.63
0.51
18103
0.81
0.78
0.77
0.60
0.47
0.75
0.82
0.97
0.31
0.71
0.20
0.09
0.00
0.01
17212
0.55
0.46
0.34
0.53
0.55
0.49
0.09
0.04
0.50
0.61
0.85
0.83
0.49
0.53
17220
0.42
0.47
0.51
0.40
0.32
0.55
0.44
0.43
0.29
0.64
0.59
0.56
0.39
0.65
18101
0.46
0.40
0.45
0.47
0.49
0.45
0.47
0.46
0.45
0.46
0.46
0.48
0.48
0.50
Sumber: Statistik Indonesia, BPS (2016), data diolah Puska Daglu
Kemendag
Bahan baku impor yang digunakan untuk industri Kimia (Gambar
4.5) cukup tinggi. Beberapa industri yang menggunakan bahan baku
impor berkisar 40-80% dari total bahan baku yang digunakan antara
lain Industri tabung dan katup elektronik serta komponen elektronik
lainnya; Industri radio, televisi, alat-alat rekaman suara dan gambar
dan sejenisnya; serta Industri mesin kantor, komputasi dan akuntansi
elektronik. Proporsi penggunaan bahan baku impor oleh Industri radio,
televisi, alat-alat rekaman suara dan gambar dan sejenisnya sangat
berfluktuatif dan cenderung mengalami penurunan sejak tahun 2011.
Sementara itu, proposi penggunaan bahan baku impor untuk Industri
mesin kantor, komputasi dan akuntansi elektronik justru mengalami
peningkatan sejak tahun 2011 dan mencapai angka tertinggi pada
tahun 2012 yang mencapai 81% dari total bahan baku yang
digunakan.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
53
Gambar 4.5. Kontribusi bahan baku impor yang digunakan pada
beberapa jenis industri Elektronik
Proporsi Bahan baku impor terhadap Total Bahan Baku Industri Elektronik 2000 - 2013
1.20
1.00
0.80
0.60
0.40
0.20
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
Average3
32100
0.84
0.86
0.91
0.68
0.58
0.88
0.43
0.71
0.76
0.73
0.51
0.66
0.73
0.68
0.71
32200
0.96
0.54
0.88
0.97
0.60
0.67
0.69
0.97
0.95
0.09
0.61
0.03
0.03
0.24
0.59
32300
0.62
0.36
0.45
0.49
0.43
0.50
0.37
0.39
0.31
0.31
0.24
0.59
0.81
0.51
0.46
Sumber: Statistik Indonesia, BPS (2016), data diolah Puska Daglu
Kemendag
4.2.
Identifikasi Kebijakan Impor Tarif dan Non-Tarif Bahan
Baku/Penolong Industri Kimia, Tekstil, dan Elektronik
4.2.1. Identifikasi Kebijakan Impor Tarif Bahan Baku/Penolong
Industri Kimia, Tekstil, dan Elektronik
Rata-rata tariff bea masuk untuk produk TPT merupakan yang
tertinggi dibanding produk lainnya. Pada tahun 2006, rata-rata tarif bea
masuk impor produk Kimia, TPT, dan Elektronik masing-masing
sebesar 4,68%, 9,48%, dan 3,73%. Tariff untuk impor TPT tetap
hingga pada tahun 2015 naik menjadi 12,59%. Adapun rata-rata tarif
bea masuk untuk impor produk kimia mengalami penurunan di tahun
2012 menjadi 4,52% dari sebelumnya 4,68%, meskipun kembali naik
di tahun 2015 menjadi 5,02%. Hal serupa juga terjadi untuk besaran
tariff bea masuk produk lektronik. Pada tahun 2011, rata-rata tariff bea
masuk produk Elektronik turun dari 3,73% menjadi 3,45%, namun
kembali naik di tahun 2015 menjadi 4,02%.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
54
Gambar 4.6. Rata-rata tarif bea masuk produk TPT, Kimia, dan
Elektronik
14.00%
TPT, 12.59%
12.00%
10.00%
9.84%
8.00%
6.00%
4.68%
4.52%
Kimia, 5.02%
3.45%
Elektronik, 4.02%
4.00%
3.73%
2.00%
0.00%
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Sumber: Kemenkeu (2016), data diolah Puska Daglu Kemendag
4.2.2. Identifikasi Kebijakan Impor Non Tarif Bahan Baku/Penolong
Industri Kimia, Tekstil, dan Elektronik
Jumlah NTM yang diberlakukan oleh Indonesia cukup besar.
Berdasarkan laporan dari World Bank, jumlah NTM yang berlaku di
Indonesia mencapai 36.609, yang berarti 1 post tarif bisa memiliki
NTM lebih dari 1 jenis. Produk yang paling banyak menerapkan NTM
adalah TPT, Produk Sayuran, Makanan Olahan, dan Produk Kimia.
Jumlah NTM untuk TPT mencapi 8.145 dengan jumlah post tariff
sebanyak 1.167 (100% dari total post tarif TPT). Adapun jumlah NTM
untuk Produk Kimia sebesar 4.144 dengan jumlah post tariff yang
menerapkan NTM 762 post tariff (64,5% dari total post tariff produk
Kimia). Sementara itu, produk Elektronik merupakan produk yang
paling sedikit menerapkan NTM dibanding TPT dan Produk Kimia,
yakni 3.380 yang berlaku pada 875 post tariff (41,2% dari total post
tarif Produk Elektronik).
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
55
Tabel 4.4. Jumlah Pos Tarif dan Pos Tarif yang Terkena Hambatan
Non Tarif Indonesia Berdasarkan Kelompok Produk
Product Groups
Animal and animal products
Vegetables products
Animals or vegetables fats
Prepared foodstuffs
Mineral product
Chemical products
Plastics and rubber
Hides and Skin
Wood & wood products
Wood pulps products
Textile & textile products
Footwear & Headgear
Article of stone, plaster, cement. Asbetos
Pearls, precious or semi precious stones, metals
Based metals & articles therof
Machinery & Mechanical appliances
Transportation equipment
Instruments-measuring musical
Musical instrument, parts and accessories
ARMS AND AMMUNITION; PARTS AND ACCE
Miscellaneous
Works of Art
No. of NTMs
% of NTMs
2417
5287
384
4298
755
4144
560
180
934
1243
8145
281
206
223
1762
3380
1214
549
12
42
589
4
36609
6.60
14.44
1.05
11.74
2.06
11.32
1.53
0.49
2.55
3.40
22.25
0.77
0.56
0.61
4.81
9.23
3.32
1.50
0.03
0.11
1.61
0.01
100.00
No.Tariff
lines
573
480
164
453
206
1182
491
102
160
283
1167
75
224
89
984
2123
633
309
20
27
255
13
10013
No.tariff
% Of Tariff
lines
Line subject
subject to
to NTMs
NTMs
290
50.61
480
100.00
72
43.90
452
99.78
179
86.89
762
64.47
136
27.70
90
88.24
155
96.88
229
80.92
1167
100.00
40
53.33
81
36.16
51
57.30
426
43.29
875
41.22
470
74.25
111
35.92
5
25.00
18
66.67
114
44.71
3
23.08
6206
61.98
Sumber: UNCTAD (2016), data diolah Puska Daglu Kemendag
Jenis NTM yang paling banyak berlaku untuk produk Kimia
adalah import NTMs (11,8% dari total NTM yang berlaku) dan TBT
(16,9%). Untuk TPT, jenis NTM yang berlaku didominasi oleh TBT
(25,3%) dan Import NTMs (20,3%). Sedangkan untuk produk
Elektronik, NTM yang berlaku didominasi oleh TBT (15,4%) dan Import
NTMs (11,5%).
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
56
Tabel 4.5. Hambatan Non Tarif Indonesia Berdasarkan Kelompok
Produk
Product Groups
SPS (A) %
Animal and animal products
Vegetables products
Animals or vegetables fats
Prepared foodstuffs
Mineral product
Chemical products
Plastics and rubber
Hides and Skin
Wood & wood products
Wood pulps products
Textile & textile products
Footwear & Headgear
Article of stone, plaster, cement. Asbetos
Pearls, precious or semi precious stones, metals
Based metals & articles therof
Machinery & Mechanical appliances
Transportation equipment
Instruments-measuring musical
Musical instrument, parts and accessories
ARMS AND AMMUNITION; PARTS AND ACCE
Miscellaneous
Works of Art
Share (%)
1593 20.50
3935 50.64
84 1.08
1037 13.35
8 0.10
153 1.97
46 0.59
64 0.82
159 2.05
34 0.44
198 2.55
32 0.41
16 0.21
0
35 0.45
302 3.89
23 0.30
19 0.24
4 0.05
0
27 0.35
1 0.01
7770
100
21.22
TBT (B)
387
190
213
2517
166
2772
369
9
0
96
4161
146
121
63
1101
2525
811
485
3
17
269
0
16421
44.855
%
Others
2.36
1.16
1.30
15.33
1.01
16.88
2.25
0.05
0.58
25.34
0.89
0.74
0.38
6.70
15.38
4.94
2.95
0.02
0.10
1.64
100
158
371
5
646
67
540
107
14
2
8
1580
85
31
27
412
549
380
25
5
8
95
0
5115
13.972
%
Import
NTMs
3.09
7.25
0.10
12.63
1.31
10.56
2.09
0.27
0.04
0.16
30.89
1.66
0.61
0.53
8.05
10.73
7.43
0.49
0.10
0.16
1.86
100
2138
4496
302
4200
241
3465
522
87
161
138
5939
263
168
90
1548
3376
1214
529
12
25
391
1
29306
80.05
(%)
Export (%) Export
Import NTMs
NTMs
NTMs
7.30
279
3.82
15.34
791
10.83
1.03
82
1.12
14.33
98
1.34
0.82
514
7.04
11.82
679
9.30
1.78
38
0.52
0.30
93
1.27
0.55
773
10.58
0.47
1105
15.13
20.27
2206
30.21
0.90
18
0.25
0.57
38
0.52
0.31
133
1.82
5.28
214
2.93
11.52
4
0.05
4.14
0
1.81
20
0.27
0.04
0
0.09
17
0.23
1.33
198
2.71
0.00
3
0.04
100
7303
100
19.95
Sumber: UNCTAD (2016), data diolah Puska Daglu Kemendag
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa beberapa post tarif
di Indonesia berlaku lebih dari 1 NTM. Sebagian besar post tarif yang
masuk ke dalam kelompok produk Kimia, berlaku 3 NTM sekaligus
dalam 1 post tarif. Begitu pula untuk TPT dan Produk Elektronik.
Bahkan, semua post tarif dalam kelompok TPT berlaku minimal 2 NTM
pada setiap post tarifnya.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
57
Gambar
4.7.
Persentase
Hambatan
Non
Tarif
Indonesia
Berdasarkan Kelompok Produk
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
1ntm
2ntm
3 or more
Sumber: UNCTAD (2016), data diolah Puska Daglu Kemendag
Pengaturan NTM terhadap impor Kimia sudah dimulai pada
tahun 2003 dan terus bertambah sampai tahun 2014. Tidak semua
sub sektor pada industri Kimia dikenakan NTM. Adapaun sub sektor
yang paling banyak dikenakan NTM adalah KBLI 24114, yakni Industri
Kimia Dasar Anorganik yang tidak diklasifikasikan di tempat lain;
Industri kimia dasar organik bersumber dari minyak bumi, gas bumi
dan batu bara; dan Industri kimia dasar organik yang tidak
diklasifikasikan di tempat lain.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
58
Gambar 4.8. Jumlah NTM yang Berlaku Pada Industri Kimia
menurut KBLI 5 digit
35
24114
30
24117
25
24119
24211
20
24116
24231
15
24111
10
24131
24232
5
24118
0
24115
2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Sumber: UNCTAD (2016), data diolah Puska Daglu Kemendag
Berbeda dengan industri Kimia, NTM untuk industri TPT mulai
berlaku pada tahun 2009. Pada Rata-rata subsektor di industri TPT
dikenakan 3 NTM. Subsektor yang sudah dikenakan NTM sejak tahun
2009 adalah Industri Pertenunan (Kecuali Pertenunan Karung Goni
dan
Karung
Lainnya);
Industri
Kain
Tenun
Ikat;
Industri
Penyempurnaan Kain; Industri Pencetakan Kain; dan Industri yang
Menghasilkan Kain Pita (Narrow Fabric). Adapun sub sektor yang
paling banyak dikenakan NTM adalah Industri Persiapan Serat Tekstil;
Industri Kain Rajut; dan Industri Pakaian Jadi dari Tekstil.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
59
Gambar 4.9. Jumlah NTM yang Berlaku Pada Industri TPT
menurut KBLI 5 digit
16
17111
14
17301
12
18101
10
17211
8
17215
6
17302
17304
4
18102
2
17114
0
17115
2009
2010
2011
2012
2013
2014
Sumber: UNCTAD (2016), data diolah Puska Daglu Kemendag
Seperti halnya industri TPT, NTM untuk industri Elektronik
berlaku sejak tahun 2009. NTM yang berlaku pada industri Elektronik
naik signifikan pada tahun 2012. Sub sektor industri Elektronik yang
paling banyak dikenakan NTM terbanyak adalah Industri mesin kantor,
komputasi dan akuntansi elektronik dan Industri alat transmisi
komunikasi.
Gambar 4.10. Jumlah NTM yang Berlaku Pada Industri Elektronik
menurut KBLI 5 digit
12
10
8
30003
6
32200
32100
4
32300
2
0
2009
2010
2011
2012
2013
2014
Sumber: UNCTAD (2016), data diolah Puska Daglu Kemendag
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
60
Pemerintah Indonesia menyadari banyaknya NTM yang berlaku
di Indonesia. Untuk itu, dalam rangka meningkatkan daya saing dan
menciptakan
iklim
usaha
yang
kondusif,
maka
pemerintah
mengeluarkan Paket Kebijakan Deregulasi, dimana Kementerian
Perdagangan telah memangkas sebesar 28,9% perizinan terkait
proses ekspor impor. Regulasi yang saat ini masih berlaku untuk
proses importasi produk Kimia, TPT, dan Produk Elektronik
sebagaimana diuraikan pada Tabel di bawah ini.
Tabel 4.6. Regulasi yang Berlaku Saat Ini Untuk Produk Kimia,
TPT, dan Elektronik
Produk
Kimia
Regulasi
Pengaturan
75/M- • Hanya boleh melalui Pelabuhan
tertentu
DAG/PER/10/2014
tentang
• Impor
boleh
bagi
ImportirProdusen dan Importir-Terdaftar
Pengadaan, DistribusI, dan
• Mensyaratkan Persetujuan Impor
Pengawasan
bahan
(PI)
Berbahaya
Permendag
No.
tentang • Wajib registrasi
• Wajib
mengikuti
prosedur
Pengelolaan
Bahan
notifikasi
• Wajib
menggunakan
sarana
Berbahaya dan Beracun
pengangkutan yang laik operasi
• Kemasan wajib diberi simbol dan
label dan dilengkapi Lembar Data
Keselamatan Bahan
•
Impor
boleh
bagi
ImportirPermendag
No.
36/MProdusen dan Importir-Terdaftar
DAG/PER/7/2013
tentang
• Mensyaratkan Persetujuan Impor
(PI)
Ketentuan Impor Bahan Baku
PP
74/2001
Plastik
Peraturan Kepala Badan POM • Surat Keterangan Impor
• Memenuhi persyaratan label, surat
Nomor 13 Tahun 2015
rekomendasi, dan sertfikat lain
yang dipersyaratkan
Peraturan Kepala Badan POM
Nomor 12 Tahun 2015
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
61
Produk
Regulasi
Pengaturan
Menteri • Hanya boleh melalui Pelabuhan
Tertentu
Perdagangan Nomor 87/M• Mensyaratkan
Verifikasi
penelusuran teknis impor
DAG/PER/10/2015
tentang
• API-U dan/atau API-P (untuk
Ketentuan
Impor
Produk
barang modal/bahan baku)
Tertentu
Elektronik Peraturan
82/M- • Hanya boleh melalui Pelabuhan
Tertentu
DAG/PER/12/2012
jo.
• Mensyaratkan Importir Terdaftar
(IT)
Permendag
No.
38/M• Mensyaratkan Persetujuan Impor
DAG/PER/8/2013
jo.
(PI)
Verifikasi
Permendag
No.
48/M- • Mensyaratkan
penelusuran
teknis
impor
DAG/PER/8/2014
tentang
termasuk
pemeriksaan
kesesuaian IMEI dan sertifikasi
Ketentuan Impor Telepon
• Mensyaratkan standard tertentu
Seluler, Komputer Genggam
dan pelabelan
(Handheld), dan Komputer
Permendag
No.
Tablet
TPT
sebagai
bahan
Peraturan Men. Perdagangan • Impor
baku/penolong
No. 85/M-DAG/PER/10/2015
• Mensyaratkan API-P
tentang Ketentuan Impor • Mensyaratkan Persetujuan Impor
(PI)
Tekstil dan Produk Tekstil
• Mensyaratkan
Verifikasi
penelusuran teknis impor
• Impor tidak boleh melebihi
kapasitas industri
Peraturan
Menteri • Hanya boleh melalui Pelabuhan
Tertentu
Perdagangan Nomor 87/M• Mensyaratkan
Verifikasi
penelusuran teknis impor
DAG/PER/10/2015
tentang
• API-U dan/atau API-P (untuk
Ketentuan Impor Tertentu
barang modal/bahan baku)
Peraturan
Menteri • API-U dan/atau API-P
• Mensyaratkan Persetujuan Impor
Perdagangan Nomor 86/M(PI)
Verifikasi
DAG/PER/10/2015
tentang • Mensyaratkan
penelusuran teknis impor
Ketentuan Impor Tekstil &
• Hanya boleh melalui Pelabuhan
Tertentu
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
62
Produk
Regulasi
Pengaturan
Produk Tekstil Batik dan Motif
Batik
Sumber: Kemendag (2016)
4.3.
Perkembangan Output Industri Kimia, Tekstil, dan Elektronik
Nilai bahan baku impor untuk industri Kimia merupakan yang
terbesar dibanding industri TPT dan Elektronik. Namun demikian, hal
tersebut sepadan dengan nilai output yang dihasilkan, dimana output
industri Kimia juga yang terbesar dibanding industri TPT dan
Elektronik. Pada tahun 2013, nilai output industri Kimia mencapai Rp.
273,4 trilliun, sementara output industri TPT dan Elektronik masingmasing sebesar Rp. 140,1 trilliun dan Rp, 34,9 trilliun.
Selama 2000-2013, nilai output industri Kimia dan TPT naik ratarata 14,0% dan 6,4% per tahun. Sementara nilai output industri
Elektroni turun rata-rata 2,2% per tahun. Nilai output industri Kimia dan
TPT mencapai yang tertinggi pada tahun 2011 dengan nilai masingmasing Rp. 355,2 trilliun dan Rp. 280,2 trilliun. Namun, output
keduanya mengalami penurunan di tahun 2012.
Gambar 4.11. Perkembangan kinerja Output Industri Kimia,
TPT,dan Elektronik
400.0
350.0
Rp Trilliun
300.0
250.0
200.0
150.0
100.0
50.0
2000
2001
2002
2003
2004
2005
Industri Kimia
61.4
86.4
90.5
90.3
92.8
110.1 147.6 173.1 266.2 314.7 314.0 355.2 217.1 273.4
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
Industri TPT
91.7
86.9
96.3
Industri Elektronik
43.3
26.2
32.3
105.2 115.3 129.8 148.7 158.8 146.5 168.6 246.1 280.2 133.8 140.1
40.0
77.4
30.6
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
47.5
46.9
41.7
56.5
40.8
36.5
12.8
63
34.9
Sumber: Statistik Indonesia, BPS (2016), data diolah Puska Daglu
Kemendag
4.4.
Analisis Regresi Pengaruh Kebijakan Impor Tarif dan Non Tarif
Bahan Baku/Penolong terhadap Kinerja Industri Kimia, Tekstil,
dan Elektronik
4.4.1. Analisa Deskriptif
Sebelum membahas hasil regresi dari persamaan simultan 3.1
dan 3.2 yang telah diuraikan dalam bab sebelumnya, maka akan
diuraikan terlebih dahulu pola/tren beberapa data yang digunakan di
dalam model persamaan simultan tersebut.
A. Industri Kimia
Rata-rata Impor bahan baku untuk Industri Kimia sebesar USD
1,87 miliar dan mencapai nilai maksimal USD 74,6 miliar. Tarif bea
masuk yang berlaku untuk bahan baku industri Kimia rata-rata
sebesar 0,05%.
Tabel 4.7. Analisis Deskriptif Industri Kimia
Variable
Obs
Mean
Std. Dev.
6.33e+09
Min
Max
Impor
359 1.87e+09
1506 7.46e+10
nominalER
366 9.375.139 6.318.558 8.389.088 10452.04
pdbsektora~b
366 119568.2
64882.09
tarif
147 .047534
.0201282
nontarif1
366 4.934.426 8.662.694 1.00e-07
y
365 6.72e+09
1.44e+10
tk
365 6739.83
8.728.852
k
355 2.08e+09
1.83e+10
42919.3
230236.1
0 .1
27
5219090 1.57e+11
141
55093
10000 3.39e+11
Sumber: BPS (2016), UNCTAD (2016), dan Kemenkeu (2016), data diolah
Puska Daglu Kemendag
Selama periode analisa (2000-2013), nilai tambah sektoral di
kelompok
industri
kimia
menunjukkan
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
perkembangan
yang
64
meningkat secara stabil. selama periode tersbeut, PDB industri
Kimia naik hampir 5 kali lipat.
Gambar 4.12. Perkembangan PDB Industri Kimia1, 2000-2013
(Rp. Miliar)
250000
200000
150000
100000
50000
0
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Sumber: BPS (2106), data diolah Puska Daglu Kemendag
Sedangkan perkembangan nilai tukar selama periode 2000-2013
menunjukkan nilai yang berfluktuasi namun tidak terjadi perubahan
yang sangat drastis. Rata-rata nilai berada di sekitar Rp.8300-an per
USD hingga Rp.10000-an per USD, dengan nilai tertinggi mencapai
Rp 10452 per USD di akhir tahun analisa.
Gambar 4.13. Perkembangan Nilai tukar2, 2000-2013
12000
10000
8000
6000
4000
2000
0
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
1
PDB sektoral yang digunakan dalam persamaan untuk industri kimia adalah PDB harga berlaku
karena memberikan hasil yang lebih baik.
2
Nilai tukar yang digunakan untuk semua kelompok industri adalah nilai tukar nominal karena
memberikan hasil yang lebih baik dibanding nilai tukar riil.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
65
Sumber: BPS (2106), data diolah Puska Daglu Kemendag
Rata-rata tarif MFN yang dikenakan pada bahan baku bagi
industri kimia selama tahun 2000-2013 cenderung sangat bervariasi
antar subsektor 5 digit KBLI yang tergabung dalam kelompok industri
kimia. Dalam uraian sebelumnya telah disebutkan bahwa rata-rata
tarif untuk industri kimia berada pada kisaran 4%, sedangkan jika kita
lihat pada subsektornya terlihat bahwa terdapat subsektor yang
memiliki tarif hingga 9%, meskipun juga terdapat subsektor yang
sangat rendah.
Gambar 4.14. Rata-rata Tarif (MFN) Industri Kimia, 2000-2013
0.1
0.08
0.06
0.04
0.02
24111
24112
24113
24114
24115
24116
24117
25595
24119
24121
24122
24123
24129
24131
24132
24211
24212
24213
24220
24231
24232
24233
24234
24241
24242
24291
24292
24293
24294
24295
24299
24301
24302
24939
0
Jenis Industri
Sumber: Kemenkeu (2106), data diolah Puska Daglu Kemendag
Begitu pula untuk kebijakan non tarif, secara rata-rata per tahun
menunjukkan nilai yang sangat bervariasi antar subsektor. Untuk
subsektor yang cukup banyak menerapkan kebijakan non-tarif,
kebijakan tarifnya sudah relatif tidak terlalu tinggi, seperti industri
24117 dengan rata-rata kebijakan NTM sebanyak 12, sedangkan
tarifnya tinggal berkisar 3%. Sedangkan industri 24299 dengan tarif
MFN hingga 8%, hanya menerapkan sekitar rata-rata 2 NTM.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
66
Gambar 4.15. Rata-rata jumlah kebijakan non-tarif per tahun
pada Industri Kimia, 2000-2013
14
12
10
8
6
4
2
24111
24112
24113
24114
24115
24116
24117
25595
24119
24121
24122
24123
24129
24131
24132
24211
24212
24213
24220
24231
24232
24233
24234
24241
24242
24291
24292
24293
24294
24295
24299
24301
24302
24939
0
Sumber: UNCTAD (2106), data diolah Puska Daglu Kemendag
Jika dibandingkan antar subsektor, terlihat bahwa rata-rata nilai
output, bahan baku impor, capital dan tenaga kerja juga memiliki nilai
yang bervariasi dengan beberapa subsektor relatif sangat tinggi
seperti industri 24232, 24131, dan 24122. Umumnya nilai output jauh
lebih tinggi dari nilai input yang digunakan, yang secara sederhana
menunjukkan tingkat produktivitas yang cukup baik, kecuali industri
24122 dimana nilai capital justru lebih tinggi dari nilai output.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
67
Gambar 4.16. Rata-rata Output, Impor, Kapital dan Tenaga
kerja per tahun pada Industri Kimia, 2000-2013
45000000000
40000000000
35000000000
30000000000
25000000000
20000000000
15000000000
10000000000
5000000000
0
Jenis Industri Kimia
Y
Impor
K
L
Sumber: BPS (2106), data diolah Puska Daglu Kemendag
B. Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT)
Rata-rata nilai impor bahan baku industri TPT mencapai USD 1,3
miliar dengan nilai maksimum USD 26,0 miliar. Adapun rata-rata tarif
bea masuk yang berlaku sebesar 9,76%.
Tabel 4.8. Analisis Deskriptif Industri TPT
Variable
Obervasi
Mean
Std. Dev.
Min
Max
Impor
328,000
1.30e+09
2.79e+09
1983434,000
2.60e+10
nominalER
350,000
9374.89
6289767,000 8389088,000
10452.04
pdbsektora~b
350,000
8.51e+07
5.48e+07
1.72e+08
tarif
350,000
9760571,000 3753835,000 25,000
150,000
nontarif1
350,000
2208571,000 273352,000
1.00e-07
14,000
y
346,000
5.86e+09
1.04e+10
484077.3
6.85e+10
tk
346,000
41387.48
93650.97
2907853,000
556821.5
k
0,000
45422,000
Sumber: BPS (2016), UNCTAD (2016), dan Kemenkeu (2016), data
diolah Puska Daglu Kemendag
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
68
Selama periode analisa (2000-2013), nilai tambah sektoral di
kelompok industri TPT menunjukkan peningkatan yang cukup
signifikan, dari sebesar Rp. 45,4 trilliun di tahun 2000 menjadi Rp.
172,4 triliun di tahun 2013.
Gambar 4.17. Perkembangan PDB sektoral TPT, 2000-2013
(harga Berlaku, Rp. Miliar)
200,000
180,000
160,000
140,000
120,000
100,000
80,000
60,000
40,000
20,000
0
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Sumber: BPS (2106), data diolah Puska Daglu Kemendag
Untuk nilai rata-rata tarif MFN di kelompok industri TPT variasi
nilai tidak sebesar di industri kimia, dimana cukup banyak subsektor
yang memiliki nilai tarif diatas 10%. Tarif bea masuk tertinggi berlaku
bagi impor sub sektor Industri Tekstil Jadi, untuk
Keperluan
Kosmetika; Industri Karung Goni; dan Industri Rajut Kaos Kaki.
Ketiga sub sektor tersbeut memiliki rata-rata tarif bea masuk di atas
14% selama 2000-2013.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
69
Gambar 4.18. Rata-rata tarif per tahun Industri TPT, 2000-2013
0.1600000
0.1400000
0.1200000
0.1000000
0.0800000
0.0600000
0.0400000
0.0200000
17111
17112
17113
17114
17115
17121
17122
17123
17124
17211
17212
17213
17214
17215
17220
17231
17232
17291
17292
17293
17294
17295
17299
17301
17302
17303
17304
17400
18101
18102
18103
18104
18201
18202
0.0000000
Sumber: BPS (2106), data diolah Puska Daglu Kemendag
Untuk penerapan kebijakan non tarif, hanya industri 17111
(Industri Persiapan Serat Tekstil) yang memiliki cukup banyak bentuk
NTM, yaitu rata-rata sebesar 14 NTM. Sedangkan industri yang lain
hanya sekitar rata-rata 3-4 kebijakan NTM. Selain itu, beberapa sub
sektor dalam industri TPT tidak dikenakan kebijakan NTM, antara
lain sub sektor Industri Pemintalan Benang; Industri Pemintalan
Benang Jahit; Industri Batik; Industri Permadani (Babut); dan Industri
Pakaian Jadi / Barang Jadi dari Kulit Berbulu dan atau Aksesoris.
Gambar 4.19. Rata-rata jumlah kebijakan non-tarif per tahun
pada Industri TPT, 2000-2013
16.000
14.000
12.000
10.000
8.000
6.000
4.000
2.000
17111
17112
17113
17114
17115
17121
17122
17123
17124
17211
17212
17213
17214
17215
17220
17231
17232
17291
17292
17293
17294
17295
17299
17301
17302
17303
17304
17400
18101
18102
18103
18104
18201
18202
0.000
Sumber: BPS (2106), data diolah Puska Daglu Kemendag
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
70
Untuk nilai output, capital, tenaga kerja, dan impor bahan baku
antar subsektor di kelompok industri TPT sangat bervariasi. Industri
18101 (Industri Pakaian Jadi dari Tekstil) memiliki nilai yang paling
besar, kemudian diikuti industri 17114 (Industri Pertenunan (Kecuali
Pertenunan Karung Goni dan Karung Lainnya)). Kecuali industri
17302 (Industri Pakaian Jadi Rajut), nilai output relatif jauh lebih
tinggi
dibanding
nilai
input,
sehingga
menunjukkan
tingkat
produktivitas yang cukup baik.
Gambar 4.20. Rata-rata Nilai Output, Kapital dan Impor bahan
baku industri TPT, 2000-2010
60000000000
50000000000
40000000000
30000000000
20000000000
10000000000
0
Y
Impor
K
Sumber: BPS (2106), data diolah Puska Daglu Kemendag
Yang cukup menarik adalah, rata-rata penggunaan tenaga kerja
di industri TPT tidak sebesar yang diperkirakan sebagai industri yang
bersifat labor intensive, karena hanya industri 18101 (Industri
Pakaian Jadi dari Tekstil) dan 17114 Industri Pertenunan (Kecuali
Pertenunan Karung Goni dan Karung Lainnya)) yang cukup banyak
menggunakan tenaga kerja.
Gambar 4.21. Rata-rata Jumlah tenaga kerja industri TPT, 20002013
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
71
500000
400000
300000
200000
100000
0
Sumber: BPS (2106), data diolah Puska Daglu Kemendag
C. Industri Elektronik
Selama 2000-2013, rata-rata nilai impor bahan baku industri
Elektronik sebesar USD 3,0 miliar dan mencapai nilai maksimal USD
15,6 milliar. Sementara itu, tarif bea masuk yang berlaku untuk
industri Elektronik cukup rendah, yakni rata-rata 3,2%. Sedangkan
NTM yang berlaku bagi industri Elektronik rata-rata 10 NTM per
tahun.
Tabel 4.9. Analisis Deskriptif Industri Elektronik
Variable
Obs
Mean
Std.
Min
Max
Dev.
impor
57
3.05e+09
3.56e+09 806129.8
1.56e+10
nominalER
70
9374.89
6326124
10452.04
pdbsektora~b
70
863253.6
606515.7 68617
1997954
tarif
70
.0320686
.0317714 .0022
.1088
nontarif1
70
4471429
3911045
10
y
64
8.86e+09
1.07e+10 1.27e+07
4.59e+10
tk
64
25335.92
31560.76 1397702
113550.2
k
56
1.54e+09
3.93e+09 5166754
2.37e+10
8389088
1.00e-07
Sumber: BPS (2016), UNCTAD (2016), dan Kemenkeu (2016), data
diolah Puska Daglu Kemendag
Untuk perkembangan data PDB sektoral terlihat bahwa selama
periode analisa, mengalami peningkatan yang signifikan. Pada tahun
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
72
2000, nilai PDB untuk sektor Elektronik sebesar Rp. 68,6 trilliun.
Pada tahun 2013, nilai PDB tersebut naik signifikan mencapai Rp.
529,8 trilliun.
Gambar 4.22. Perkembangan PDB subsektor elektronik
2000-2013 (harga berlaku, Rp. Milliar)
600000
500000
400000
300000
200000
100000
0
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Sumber: BPS (2106), data diolah Puska Daglu Kemendag
Di industri elektronik secara rata-rata tarif MFN paling tinggi
dikenakan di subsektor 32300 (Industri radio, televisi, alat-alat
rekaman suara dan gambar dan sejenisnya) sebesar 6% lebih,
sedangkan terendah ada di industri 30016 (Industri mesin kantor,
komputasi dan akuntansi elektronik) sebesar 0,2%.
Gambar 4.23. Rata-rata nilai tarif per tahun pada Industri
Elektronik, 2000-2013
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
73
0.0700000
0.0600000
0.0500000
0.0400000
0.0300000
0.0200000
0.0100000
0.0000000
30016
32100
32200
32300
33123
Sumber: BPS (2106), data diolah Puska Daglu Kemendag
Sedangkan kebijakan non-tarif bagi industri Elektronik mulai
berlaku tahun 2009 dan terus meningkat sejak tahun 2012. NTM
terbanyak berlaku bagi sub sektor 32300 (Industri Televisi dan/Atau
Perakitan Televisi) dan 32200 (Industri alat transmisi komunikasi).
Gambar 4.24. Jumlah Kebijakan Non Tarif Sektor Elektronik
30
25
20
15
10
5
0
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
30003
32100
32200
32300
Sumber: BPS (2106), data diolah Puska Daglu Kemendag
Untuk rata-rata nilai output dan bahan baku impor selama periode
analisa, terlihat bahwa hanya industri 32100 dan 32300 yang
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
74
memiliki nilai cukup besar dan terpaut sangat jauh dengan tiga
subsektor yang lain. Dan nilai capital terbesar juga hanya dimiliki
oleh industri 32100. Subsektor industri elektronik lainnya ternyata
hanya menggunakan nilai capital yang relatif cukup kecil.
Gambar 4.25. Rata-rata nilai output dan bahan baku impor
pada industri Elektronik, 2000-2010
25000000000
20000000000
15000000000
10000000000
5000000000
0
30016
32100
32200
Y
Input_Impor
32300
33123
Sumber: BPS (2106), data diolah Puska Daglu Kemendag
Gambar 4.26. Rata-rata nilai kapital per tahun pada Industri
Elektronik, 2000-2013
6000000000
5000000000
4000000000
3000000000
2000000000
1000000000
0
30016
32100
32200
32300
33123
Sumber: BPS (2106), data diolah Puska Daglu Kemendag
4.4.2. Hasil Regresi
A. Industri Kimia
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
75
Hasil regresi model persamaan simultan untuk persamaan impor
bahan baku menunjukkan bahwa pengaruh Tarif MFN sangat kuat dan
signifikan terhadap rata-rata permintaan bahan baku impor. Kenaikan 1
persen tarif masuk bahan baku impor akan menurunkan permintaan
bahan baku impor sebesar 30,78 persen. Sedangkan kebijakan non-tarif
NTM tidak memiliki pengaruh terhadap permintaan impor bahan baku di
industri
kimia,
meskipun
memiliki
arah
yang
sesuai.
Tidak
berpengaruhnya kebijakan non-tarif diduga akibat hanya beberapa
subsektor saja yang menerapkan kebijakan NTM, dan dimana nilainya
berbanding terbalik dengan kebijakan tarif, dimana ketika subsektor
memiliki nilai tarif yang cukup tinggi, penerapan NTM masih terbatas.
Dan kebijakan NTM yang diterapkan relatif masih berada pada
kebijakan lisensi impor otomatis yang tidak sulit untuk dipenuhi importir.
Nilai Tambah sektoral (PDB sektoral) di industri kimia juga
berpengaruh positif signifikan terhadap permintaan impor bahan baku.
Kenaikan 1 persen PDB maka impor bahan baku meningkat sebesar
1,057 persen. Pengaruh nilai tukar nominal terhadap permintaan bahan
baku impor juga bersifat sangat elastis. Kenaikan nilai tukar nominal
(depresiasi) nilai tukar sebesar 1 persen menyebabkan bahan baku
impor menjadi mahal, akibatnya permintaan bahan baku impor turun
5,53 persen.
Hasil regresi model output menunjukkan bahwa input produksi yaitu
bahan baku, modal dan tenaga kerja berpengaruh positif signifikan pada
output industri kimia. Pengaruh bahan baku impor dan jumlah tenaga
kerja memberikan pengaruh yang lebih besar dibandingkan pengaruh
modal pada output industri kimia. Kenaikan impor bahan baku dan
jumlah tenaga kerja sebesar 1 persen akan meningkatkan rata-rata
output industri kimia masing-masing sebesar 0,6 persen. Sementara itu
kenaikan 1 persen kapital akan meningkatkan output sebesar 0,1
persen.
Secara keseluruhan, kebijakan Tarif MFN berpengaruh terhadap
kinerja industri kimia yang diukur lewat nilai output, dimana penurunan
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
76
tarif MFN sebesar 1 persen akan meningkatkan output industri
kimia sebesar 18,87 persen.
Tabel 4.10. Hasil regresi model impor dan output Industri Kimia3
Model Impor
PDB sektoral
1,057*
Nilai Tukar
-5,529*
Tarif
-30,786***
NTM
-0,030
Konstanta
58,744**
Model Output
Impor bahan baku 0,613**
Kapital
0,100***
Tenaga Kerja
0,6**
Konstanta
3,068
Perkembangan Produktivitas (TFP) Industri Kimia
Dengan menggunakan metode growth accounting, maka dari
persamaan fungsi produksi dapat dihitung tingkat produktifitas (TFP)
yang ada di sektor industri kimia. Hasil perhitungan produktivitas dapat
dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.11. Rata-rata Produktivitas (TFP) sektor Industri Kimia
Tahun
3
Rata-rata TFP
2000
11,37893267
2001
10,41930397
Hasil regeresi dengan menggunakan metode 3SLS
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
77
2002
9,024731805
2003
10,38608798
2004
9,738001939
2005
9,007564583
2006
11,42075293
2007
11,07098692
2008
9,156571683
2009
7,908891189
2010
14,63250488
2011
14,84519406
2012
12,93546817
2013
13,06921632
Sumber: hasil pengolahan
Berdasarkan table produktivitas tersebut terlihat bahwa selama
periode tahun 2000 hingga tahun 2013, di dalam sektor industri kimia,
produktivitas bergerak naik turun dimana pada tahun 2010-2011 sempat
mengalami tingkat produktivitas tertinggi, namun menurun kembali pada
tahun berikutnya. Fluktuasi dari tingkat produktivitas di industri kimia
dapat lebih jelas dilihat pada grafik berikut ini.
Gambar 4.27. Rata-Rata Produktivitas Sektor Kimia
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
78
16
14
12
10
8
6
4
2
0
2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Rata-rata TFP sektor Kimia (e= lny-lny_hat)
Sumber: hasil pengolahan
Jika dilihat berdasarkan subsektor di dalam industri kimia, maka
terdapat variasi yang cukup besar dari nilai produktivitas antara satu
subsektor dengan subsektor lainnya. Terdapat beberapa subsektor
yang memiliki nilai produktivitas relatif sangat tinggi seperti subsektor
24121 (subsektor dengan TFP tertinggi), 24234, 24233 dan 24295.
Tabel 4.12. Rata-rata tarif, non tarif dan produktivitas menurut sub
sektor industri Kimia (2000-2013)
Kode
Rata-rata Tarif
Rata-rata Non-tarif
24111
0,05
24112
0,05
7,22
24113
0,05
12,94
24114
0,05
12,45
8,94
24115
0,05
2,40
14,88
24116
0,04
8,82
11,55
24117
0,04
12,45
8,28
25595
0,04
6,39
24119
0,04
8,78
24121
0,03
16,56
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
4,73
TFP
12,26
79
Kode
Rata-rata Tarif
24122
0,00
24123
0,02
Rata-rata Non-tarif
2,40
TFP
10,20
14,08
24129
13,76
24131
0,06
7,40
24132
0,05
14,66
24211
0,03
11,20
24212
11,92
24213
9,53
24220
8,97
24231
0,02
11,11
12,97
24232
0,04
3,71
-1,35
24233
15,34
24234
15,82
24241
0,07
10,00
24242
0,09
11,70
24291
0,05
24292
0,07
15,01
24293
0,08
13,76
24294
0,05
24295
0,05
24299
0,09
24301
24302
2,40
2,40
10,48
14,27
15,19
2,40
10,70
12,32
0,05
24939
8,85
1,33
Sumber: hasil pengolahan
B. Industri TPT
Faktor utama penyebab kenaikan impor bahan baku adalah
kenaikan nilai PDB sektor industri tekstil, barang kulit dan alas kaki dan
penurunan Tarif MFN impor bahan baku. Kenaikan 1 persen PDB
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
80
sektoral akan meningkatkan rata-rata impor bahan baku sebesar 1,37
persen. Sedangkan nilai tukar tidak berpengaruh terhadap impor bahan
baku.
Pengaruh kebijakan Tarif MFN dan Non Tarif NTM relatif kecil
terhadap impor bahan baku. Kenaikan 1 persen tarif akan menurunkan
rata-rata impor bahan baku sebesar 0,015 persen. Sedangkan
hubungan antara kebijakan Non Tarif NTM dengan impor bahan baku
bernilai positif sebesar 0,051. Ketika kebijakan NTM meningkat sebesar
1 persen justru meningkatkan impor bahan baku sebesar 0,051 persen.
Perbedaan hasil regresi dengan hipotesis ini diduga terjadi karena
aturan-aturan yang ditetapkan masih bersifat lisensi impor sederhana
yang relatif mudah dipenuhi oleh pelaku usaha.
Dari model output diperoleh kesimpulan bahwa peran bahan baku
impor dan tenaga kerja sangat signifikan pada produksi industri tekstil
dan produk tekstil. Ketergantungan terhadap bahan baku impor jelas
terlihat pada hasil regresi dimana setiap kenaikan 1 persen nilai impor
bahan baku maka output produksi naik rata-rata 0,617 persen. Nilai ini
bahkan lebih besar dari pengaruh tenaga kerja terhadap pembentukan
output. Dimana kenaikan 1 persen jumlah tenaga kerja menyebabkan
rata-rata kenaikan output sebesar 0,44 persen. Pengaruh modal kapital
tidak signifikan pada kenaikan output industri TPT. Hal ini diduga karena
nilai kapital tidak terlalu besar seperti yang terlihat dari analisa deskriptif
sebelumnya.
Tabel 4.13. Model Impor dan Model Output industri TPT4
4
Hasil regresi dengan menggunakan metode 3SLS
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
81
Model Impor
PDB sektoral
0,137***
Nilai Tukar
0,808
Tarif
-0,015***
NTM
0,051***
Konstanta
10,895
Model Output
Impor bahan
baku
0,617***
Kapital
-0,027
Tenaga Kerja
0,448***
Konstanta
5,768***
***p < 0,01, **p < 0,05, * p < 0,1
Dari model simultan diatas dapat terlihat bahwa kebijakan Tarif
berpengaruh terhadap kinerja industri TPT yang diukur melalui output.
Penurunan Tarif MFN sebesar 1 persen akan meningkatkan output
industri TPT sebesar 0,009 persen. Pengaruh ini jauh lebih kecil jika
dibandingkan dengan pengaruh kebijakan tarif di industri kimia
sebelumnya.
Perkembangan Produktivitas (TFP) Industri TPT
Dibandingkan sektor industri kimia, produktivitas sektor industri TPT
relative masih sangat rendah, dengan kecenderungan yang menurun.
Hanya sempat mengalami produktivitas tertinggi di tahun 2003, bahkan
di beberapa tahun mengalami produktivitas yang negative. Hal ini
mengindikasikan bahwa penggunaan input sangat tidak efisien, bahkan
nilai input yang digunakan secara keseluruhan lebih tinggi daripada nilai
output yang dihasilkan.
Tabel 4.14. Rata-rata Produktivitas (TFP) Sektor Industri TPT
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
82
Tahun
Rata-Rata TFP
2000
0,28
2001
0,81
2002
0,19
2003
1,02
2004
0,54
2005
0,49
2006
-0,05
2007
0,58
2008
0,24
2009
0,36
2010
-0,54
2011
0,77
2012
-1,18
2013
-1,08
Sumber: hasil pengolahan
Untuk lebih jelasnya, tren perkembangan rata-rata produktivitas
sektor industri TPT dapat dilihat pada grafik berikut ini.
Gambar 4.28. Rata-Rata Produktivitas Sektor Industri TPT
1.50
1.00
0.50
0.00
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
-0.50
-1.00
-1.50
TFP (ln)= error=(lny-lnyhat)
Sumber : hasil pengolahan
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
83
Jika dianalisis berdasarkan subsektor di dalam industri TPT terlihat
bahwa masih terdapat beberapa subsektor yang memiliki tingkat
produktivitas diatas rata-rata industri TPT, seperti subsektor 17400
(tertinggi), 17213, dan 17299.
Tabel 4.15. Rata-rata tarif, non tarif dan produktivitas menurut sub
sektor industri TPT (2000-2013)
Kode
Tarif
Non-tarif
TFP
17111
0,056
3,929
0,414
17112
0,053
9,714
-0,201
17113
0,050
9,714
-0,179
17114
0,084
9,714
-0,018
17115
0,122
9,714
1,172
17121
0,088
9,714
0,092
17122
0,091
9,714
0,289
17123
0,128
9,714
1,338
17124
0,135
9,714
0,801
17211
0,123
9,714
-0,444
17212
0,135
9,714
-0,336
17213
0,150
9,714
3,897
17214
0,150
9,714
-1,493
17215
0,123
9,714
1,876
17220
0,127
9,714
-0,546
17231
0,089
9,714
0,226
17232
0,066
9,714
-0,658
17291
0,077
9,714
-0,448
17292
0,075
9,714
-0,252
17293
0,075
9,714
1,065
17294
0,089
9,714
0,698
17295
0,100
9,714
-3,501
17299
0,071
9,714
2,201
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
84
Kode
Tarif
Non-tarif
TFP
17301
0,085
9,714
0,848
17302
0,130
9,714
-0,628
17303
0,144
9,714
0,679
17304
0,139
9,714
1,771
17400
0,072
9,714
4,321
18101
0,093
9,714
-0,781
18102
0,137
9,714
-0,562
18103
0,113
9,714
-0,355
18104
0,100
9,714
-0,670
18201
0,100
9,714
-4,705
18202
0,100
9,714
-0,057
Sumber : hasil pengolahan
C. Industri Elektronik
Impor bahan baku pada industri elektronik, secara signifikan,
dipengaruhi oleh PDB industri alat angkutan, mesin dan peralatannya
dan kebijakan non tarif. Setiap kenaikan 1 persen PDB sektoral maka
rata-rata bahan baku impor naik sebesar 1,76 persen. Sedangkan
variabel nilai tukar tidak memiliki dampak terhadap impor bahan baku di
industri elektronik.
Untuk kebijakan Tarif MFN juga tidak berpengaruh terhadap impor
bahan baku. Hal ini diduga karena secara rata-rata tarif untuk industri
elektronik sudah relatif lebih rendah dimana rata-rata tarif MFN untuk
industri elektronik sebesar 4% (lebih rendah dibanding industri kimia dan
TPT). Sedangkan kebijakan non tarif NTM berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap impor bahan baku. Setiap kenaikan 1 persen non
tarif NTM akan menurunkan impor bahan baku sebesar 0,23 persen.
Produksi industri elektronik masih tergantung pada impor bahan
baku. Hal tersebut terlihat dari pengaruh positif impor bahan baku
terhadap produksi. Kenaikan 1 persen nilai bahan baku impor
menyebabkan kenaikan pada output rata-rata sebesar 0,45 persen.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
85
Pengaruh ini lebih besar daripada pengaruh variable tenaga kerja
terhadap pembentukan output industri elektronik. Kenaikan 1 persen
jumlah tenaga kerja akan meningkatkan output produksi sebesar 0,41
persen. Namun peran modal kapital tidak signifikan dalam pembentukan
output industri elektronik. Hal ini diduga karena industri elektronik di
Indonesia relatif masih banyak menggunakan tenaga kerja dan tidak
terlalu membutuhkan kapital yang tinggi.
Secara global, kebijakan Non Tarif NTM berpengaruh terhadap
kinerja industri elektronik, dimana penurunan NTM sebesar 1 persen
akan meningkatkan output industri elektronik sebesar 1,02 persen.
Tabel 4.16. Model Impor dan Model Output di industri Elektronik5
Model Impor
PDB Sektoral
1.768379***
Nilai Tukar
0.0600984
Tarif
-2.27414
NTM
-0.2301457**
Konstanta
-24.30396***
Model Output
Impor bahan baku
0,4517361***
Kapital
0,0255617
Tenaga Kerja
0,4109378***
Konstanta
8.479084***
***p < 0,01, **p < 0,05, * p < 0,1
Perkembangan Produktivitas (TFP) Industri Elektronik
Produktivitas sektor industri elektronik memiliki perkembangan yang
hamper sama dengan sektor industri TPT dimana produktivitas sektor
5
Hasil regresi untuk industri elektronik menggunakan metode Generalized Least Square (GLS)
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
86
industri elektronik relative masih rendah, namun dengan kecenderungan
fluktuatif. Hanya pada tahun 2010 sempat mengalami tingkat
produktivitas TFP tertinggi. Sementara pada awal periode analisa,
industri elektronik bahkan mengalami tingkat produktivitas yang negatif.
Tabel 4.17. Rata-rata Produktivitas (TFP) Sektor Industri Elektronik
Tahun
Rata-rata TFP
2000
0,46
2001
-0,39
2002
-2,05
2003
-2,05
2004
-1,83
2005
0,05
2006
0,05
2007
1,87
2008
0,40
2009
0,68
2010
2,02
2011
0,50
2012
-0,52
2013
-0,10
Sumber: hasil pengolahan
Perkembangan tingkat produktivitas sektor industri elektronik yang
fluktuatif tersebut dapat dilihat pada grafik berikut ini.
Gambar 4.29. Rata-Rata Produktivitas Sektor Industri Elektronik
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
87
2.50
2.00
1.50
1.00
0.50
0.00
-0.50
-1.00
-1.50
-2.00
-2.50
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
TFP (ln)= error=(lny-lnyhat)
Sumber : hasil pengolahan
Subsektor yang memiliki tingkat produktivitas tinggi di dalam sektor
industri elektronik adalah subsektor 30003 dan subsektor yang paling
rendah produktivitasnya adalah subsektor 33123 (lihat table berikut ini).
Tabel 4.18. Rata-rata tarif, non tarif dan produktivitas menurut sub
sektor Elektronik TPT (2000-2013)
Kode
Tarif1
Non tarif1
TFP
30003
0,002
2,571
2,789
32100
0,014
7,071
-0,146
32200
0,023
7,071
0,242
32300
0,066
7,071
0,231
33123
0,055
7,071
-4,178
Sumber : hasil pengolahan
4.5. Hasil Temuan Lapang
Guna melengkapi analisis pengolahan data regresi, Tim Kajian
melakukan survei ke beberapa kota (Makassar, Medan, Bandung dan
Surabaya) dan melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
88
(FGD). Dalam kunjungan lapangan tersebut, Tim Kajian mengunjungi
para pemangku kepentingan terkait, di antaranya perusahaanperusahaan yang melakukan importasi bahan baku/ penolong untuk
digunakan sebagai input dalam proses produksinya, produsen sejenis,
asosiasi, dinas terkait Dengan menggunakan kuesioner, Tim Kajian
melakukan in depth interview menanyakan beberapa pertanyaan
tertutup dan terbuka.
Hasil temuan lapangan, diskusi terbatas, dan Focus Group
Discussion (FGD) dalam Lampiran 1 menunjukkan bahwa adanya
keberagaman dalam persepsi responden mengenai pengaruh
kebijakan impor terhadap kendala kegiatan importasi. Keseluruhan
responden yang berasal dari industri Kimia menyatakan bahwa
kebijakan impor tidak menghambat kegiatan importasi. Berbeda
halnya dengan sebagian besar dari responden pada industri TPT
(66,67%) dan Elektronika (80,00%) yang memiliki pandangan bahwa
kebijakan impor memiliki andil dalam menghambat kegiatan importasi.
Berkaitan dengan ketersediaan pasokan bahan baku, sekitar
66,67% dari responden di industri Kimia berpendapat bahwa
pengimplementasian kebijakan impor tidak berdampak terhadap
ketersediaan pasokan bahan baku/penolong mengingat adanya
bahan baku/penolong yang diproduksi oleh industri dalam negeri
(Lampiran 1). Responden pada industri TPT dan Elektronika justru
memiliki persepsi bahwa kebijakan impor berdampak terhadap
ketersediaan pasokan bahan baku/penolong dengan pertimbangan
bahwa sebagian besar bahan baku/penolong yang digunakan oleh
industri TPT dan Elektronika kurang memadai jumlah produksinya,
tidak dapat diproduksi atau tidak tersedia jenis/spesifikasinya di dalam
negeri (Lampiran 1).
Sebanyak 80% dari responden yang bergerak di industri TPT
berpandangan bahwa kebijakan impor memiliki peranan terhadap
produksi dan produktivitas industrinya. Pandangan yang sama tentang
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
89
peranan tersebut hanya dirasakan oleh 33,33% dari responden yang
bergerak di industri Kimia.
Hasil temuan lapangan, diskusi terbatas, dan FGD yang telah
dilakukan, kenaikan kebijakan tarif bea masuk MFN tidak berpengaruh
terhadap penurunan impor bahan baku/penolong pada industri TPT
karena sebagian besar berasal dari impor bahan baku/penolong
berasal dari negara Republik Rakyat Tiongkok yang telah memiliki tarif
bea masuk preferensi sebesar 0%. Namun tidak begitu halnya dengan
industri yang bergerak di Kimia dan Elektronika, tarif bea masuk
memiliki pengaruh terhadap impor bahan baku/penolongnya karena
sebagian berasal dari negara-negara mitra FTA. Ketidakharmonisan
tarif bea masuk MFN atas impor bahan baku/penolong dengan barang
setengah jadi dan barang jadi untuk industri Kimia, TPT, dan
Elektronika menjadi permasalahan utama bagi para pelaku usaha
dalam menjamin kelancaran proses produksi (Lampiran 1).
Berdasarkan masukan dan tanggapan dari beberapa responden,
kebijakan non tarif yang diimplementasikan saat ini dinilai berpengaruh
terhadap pasokan bahan baku/penolong asal impor dan kinerja
industri
Elektronika.
Untuk
industri
TPT,
pengimplementasian
kebijakan impor Tekstil dan Produk Tekstil melalui Permendag No. 85
Tahun 2015 dinilai merugikan sektor hulu (serat dan benang) dan
sektor antara penghasil kain grey dan finish karena beberapa importir
memperdagangkan barang yang diimpornya dan volume impor
melebihi kapasitas riil akibat dihapuskannya rekomendasi dari
Kementerian Perindustrian (Lampiran 1).
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
90
Persepsi mengenai Pengaruh Kebijakan Impor terhadap Hambatan
Kegiatan Impor
Berpengaruh
Tidak Berpengaruh
100.00%
80.00%
66.67%
33.33%
20.00%
Industri Kimia
Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT)
Industri Elektronika
Persepsi Pengaruh Kebijakan Impor terhadap Ketersediaan
Pasokan Bahan Baku/Penolong
Berpengaruh
Tidak Berpengaruh
100.00%
80.00%
66.67%
33.33%
20.00%
Industri Kimia
Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT)
Industri Elektronika
Persepsi mengenai Pengaruh Kebijakan Impor terhadap Produksi
dan Produktivitas
Berpengaruh
Tidak Berpengaruh
100.00%
80.00%
66.67%
33.33%
20.00%
Industri Kimia
Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT)
Industri Elektronika
Gambar 4.30. Hasil Temuan Lapang dan FGD
Sumber : hasil pengolahan data primer.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
91
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil kajian pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Penurunan tarif bea masuk MFN bahan baku dan penolong pada
industri Kimia dan TPT akan meningkatkan impor bahan baku dan
penolong serta output pada kedua industri. Sementara itu, penurunan
tarif bea masuk MFN untuk industri elektronika tidak mempengaruhi
impor bahan baku dan penolong serta output industri tersebut.
2. Peningkatan hambatan non tarif untuk bahan baku dan penolong pada
industri Kimia ternyata tidak mempengaruhi impor bahan baku dan
penolong serta output industri tersebut. Pada industri TPT, peningkatan
hambatan non tarif bahan baku dan penolong justru akan meningkatkan
impor bahan baku dan penolong serta output industri tersebut.
Sementara itu pada industri Elektronika, peningkatan hambatan non tarif
bahan baku dan penolong akan menurunkan impor bahan baku dan
penolong serta output industri tersebut.
5.2. Rekomendasi Kebijakan
Mengacu pada hasil kajian, beberapa upaya yang dapat dilakukan
oleh pemerintah untuk mendorong kinerja industri manufaktur di Indonesia,
di antaranya:
1. Menurunkan tarif bea masuk MFN atas impor bahan baku/penolong
industri Kimia yang dapat diusulkan dalam Tahap III Peninjauan Tarif
Bea Masuk MFN
2. Meningkatkan peranan kebijakan non tarif atas impor bahan
baku/penolong industri TPT dengan pembenahan tata niaga impor TPT
melalui
revisi
Permendag
No.
85/M-DAG/PER/10/2015
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
dengan
92
perizinan impor TPT hanya diberikan kepada produsen sebagai bahan
baku produksi untuk produk yang belum diproduksi di dalam negeri dan
pelarangan
importir
dalam
memperdagangkan
dan/atau
memindahtangankan impor TPT serta penerapan Verifikasi atau
Penelusuran Teknis Impor (VPTI).
3. Menurunkan jumlah kebijakan non tarif yang dikenakan pada produk
bahan baku/penolong industri Elektronika
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
93
DAFTAR PUSTAKA
Ali, A. & Chani, M.I. (2013). Disaggregated Import Demand Function: A
Case Study of Pakistan. International Journal of Economics and
Empirical Research, 1 (1), 1-14.
Amiti, M. and J. Konings, (2007), ‘Trade Liberalization, Intermediate Inputs,
and Productivity: Evidence from Indonesia’, American Economic
Review, 97(5), pp.1611–38.
Arianti, R.K. (2014). Ketergantungan Beberapa Sektor Industri Terhadap
Bahan Baku Impor. Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan, 18-44.
Jakarta: BPPKP, Kementerian Perdagangan.
Badan Pusat Statistik Indonesia. (2015, Desember). Kinerja Impor
Indonesia 2010-2014. Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia: Badan Pusat
Statistik Indonesia.
Cheong, T.T.
(2002). Disaggregated Import Demand and Expenditure
Components in Malaysia: An Empirical Analysis. Malaysian Journal
of Economic Studies, XXXIX (1& 2).
Deyak, T.A., Sawyer, W.C. & Sprinkle, R.L. (1989, May). An Empirical
Examination of the Structural Stability of Disaggregated U.S. Import
Demand. The Review of Economics and Statistics, 71(2), 337-241.
Fukumoto, M. (2012, June). Estimation of China’s Disaggregate Import
Demand Functions. China Economic Review, 23 (2), 434-444.
doi:10.1016/j.chieco.2012.03.002
Ge, Y., Lai, H., & Zhu, S. C. (2011, May). Intermediates Import and Gains
from Trade Liberalization.
Goldberg, P.K., A.K. Khandelwel, N. Pavnick, and P. Topalova (2008),
‘Imported Intermediate Inputs and Domestic Product Growth:
Evidence from India’, NBER Working Paper No. 14416, Cambridge,
MA: NBER.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
94
Halpern, L., Koren, M., & Szeidl, A. (2015, December). Imported Inputs and
Productivity. American Economic Review, 105 (12), 3660-3703.
doi:10.1257/aer.20150443
Halwani, & Hendra, R. (2005). Ekonomi Internasional dan Globalisasi
Ekonomi. (R. F. Sikumbank, Ed.) Bogor, Jawa Barat, Indonesia:
Ghalia Indonesia.
Houthakker, H.S. & Magee, S.P. (1969, May). Income and Price
Elasticities in World Trade. The Review of Economics and
Statistics, 51(2), 111-125. doi: 10.2307/1926720
Ing, Lili Yan & Putra, C.T. (2015, August). Imported Inputs in Indonesia’s
Product Development. ERIA Discussion Paper Series ERIA-DP-2015-55.
Khan, M.S. (1975, May). The Structure and Behavior of Imports of
Venezuela. The Review of Economics and Statistics, 57 (2), 221224. DOI: 10.2307/1924004
Kreinin, M. E. (1973, July). Disaggregated Import Demand Functions:
Further Results. Southern Economic Journal, 40(1), 19-25.
doi:10.2307/1056289
Krugman, P.R. & Obstfeld, M. (2003). International Economics: Theory and
Policy. Pearson Education Internasional.
Mah, J.S. (2000). An Empirical Examination of the Disaggregated Import
Demand of Korea – the Case of Information Technology Products.
Journal of Asian Economics, 11, 237-244.
Masngudi. (2006). Handout Ekonomi Internasional Lanjutan. Jakarta:
Universitas Borobudur.
Narayan, S. and Narayan, P.K. (2005). An Empirical Analysis of Fiji’s Import
Demand Function. Journal of Economic Studies, 32 (2), 158-168.
http://dx.doi.org/10.1108/01443580510600931
Pattichis, C.A. (1999). Price and Income Elasticities of Disaggregated
Import Demand: Results from UECMs and an Application. Applied
Economics, 31, 1061-1071.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
95
Price, J.E. & Thornblade, J.B. (1972, July). U.S. Import Demand Functions
Disaggregated by Country and Commodity. Southern Economic
Journal, 39 (1), 46-57. doi: 10.2307/1056224
Porter, M. E. (1990). The Competitive Advantage of Nations: with a new
introduction. Free Press.
Puslitbang Perdagangan Luar Negeri. (2007). Kajian Ketergantungan
Industri Nasional terhadap Impor Bahan Baku. Jakarta: Badan
Litbang Perdagangan Departemen Perdagangan.
Pusat Kebijakan Perdagangan Luar Negeri. (2013). Analisis Substitusi
Impor
Produk
Manufaktur.
Jakarta:
BPPKP,
Kementerian
Perdagangan.
Rhee, C. (2012). Principles of International Trade (Import-Export): The First
Step Toward Globalization (Vol. 5). Bloomington: AuthorHouse.
Salvatore, D. (1997). Ekonomi Internasional (Vol. 5). (H. Munandar, Trans.)
Jakarta: Erlangga.
Santos-Paulino, A.U. (2002, June). The Effects of Trade Liberalization on
Imports in Selected Developing Countries. World Development, 30
(6), 959-974. Elsevier. doi:10.1016/S0305-750X(02)00014-1
Sarmad, K. and Mahmood, R. (1987). Disaggregated Import Demand
Functions for Pakistan. The Pakistan Development Review Vol.
XXVI(1). 71-80. http://www.pide.org.pk/pdf/PDR/1987/Volume1/7180.pdf
Sarmad, K. (1989, October). The Determinants of Import Demand in
Pakistan.
World
Development,
17
(10),
1619-1625.
doi:10.1016/0305-750X(89)90032-6
Schor, Adriana. 2004. "Heterogeneous Productivity Response to Tariff
Reduction: Evidence from Brazilian Manufacturing Firms.Journal of
Development Economics, 75(2): 373-96.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
96
Sukirno, S. (2004). Makroekonomi Modern. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Suswati, E. (2012). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Impor
di Indonesia Periode 1992-2009. Makassar: Universitas Hassanudin.
Topalova, P., & Khandelwal, A. (2011, August). Trade Liberalization and
Firm Productivity: The Case of India. The Review of Economics and
Statistics, 93(3), 995-1009. doi:10.1162/REST_a_00095
Waluyo, Y. R. (2004). Analisis Impor Bahan Baku Indonesia Pada Sektor
Perindustrian Berdasar Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya.
Universitas Diponegoro, Program Pascasarjana. Semarang:
Universitas Diponegoro.
Wang, Yi-Hsien & Lee, Jun-De. (2012). Estimating the Import Demand
Function for China. Economic Modelling, 29(6), 2591-2596,
November 2012.
Widayanto, S. (2011). Fasilitasi dan Aturan Perdagangan: Prosedur
Notifikasi WTO Untuk Transparansi Kebijakan Impor Terkait Bidang
Perdagangan: Kewajiban Pokok Indonesia Sebagai Anggota
Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization).
Direktorat Kerjasama Multilateral, Direktorat Jenderal . Jakarta:
Direktorat Kerjasama Multilateral, Direktorat Jenderal Kerjasama
Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan.
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
97
Lampiran 1. Rekapitulasi Hasil Temuan Lapangan
No.
Kebijakan Impor
Bahan
Baku/Penolong
Makassar
Medan
1.
Jenis Perijinan
Impor
API
API
API, IP
API
2.
Sumber informais
kebijakan impor
Website
Kemendag
Website
Kemendag
Asosiasi,
website
instansi terkait
Website
Kemendag
3.
Pengaruh
kebijakan impor
terhadap
kegiatan produksi
Tidak
berpengaruh
karena
memanfaatkan
kawasan
berikat
Tidak ada
kebijakan
yang
menghambat
Memberikan
pengaruh
terhadap produksi
4.
Kinerja industri
manufaktur
pasca
diterbitkannya
kebijakan impor
Meningkat
Meningkat
Meningkat
Stagnan
5.
Pengaruh
kebijakan impor
terhadap
pasokan bahan
baku
Tidak ada
kebijakan yang
menghambat
Tidak terdapat
permasalahan
dalam
importasi
Tidak ada
kebijakan
yang
menghambat
Ada pengaruh
terhadap pasokan
bahan baku/
penolong
6.
Sumber bahan
baku
Sebagian
besar dalam
negeri
Sebagian kecil
bahan baku
diperoleh dari
dalam negeri
Sebagian
besar diimpor
Sebagian besar
diimpor
7.
Ketersediaan
pasokan bahan
baku dalam
negeri
Proses
pengadaan
bahan baku
asal impor
dirasakan lebih
sulit mengingat
harus
dilakukan
kontrak
terlebih dahulu
Sebagian kecil
bahan baku
diperoleh dari
dalam negeri
Tidak memenuhi
spesifikasi yang
diinginkan
8.
Penyebab
pasokan bahan
baku baku dalam
negeri tidak
memadai
Pasokan dari
dalam negeri
kurang
memadai dan
tidak
memenuhi
spesifikasi
Belum ada
komponen di
dalam negeri
yang sesuai
dengan
kebutuhan
Sedikitnya
ketersediaan
bahan baku
local, dan
tidak
memenuhi
spesifikasi
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
Bandung
Surabaya
98
No.
Kebijakan Impor
Bahan
Baku/Penolong
Makassar
Medan
Bandung
Surabaya
9.
Harapan
terhadap
kebijakan impor
dalam rangka
industri
manufaktur
Adanya
harmonisasi
pelaksanaan
kebijakan
impor
dilapangan
antara instansi
pemerintah
pelaksana
kebijakan
10.
Landasan kuat
kebijakan impor
dalam
mendukung
industri
manufaktur
Landasan
kebijakan
cukup kuat
Landasan
kebijakan
cukup kuat
Landasan
kebijakan
cukup kuat
11.
Kejelasan
pengaturan
kebijakan
Pengaturan
kebijakan
impor cukup
jelas
Pengaturan
kebijakan
impor cukup
jelas
Pengaturan
kebijakan
impor agak
jelas
12.
Sosialisasi
kebijakan impor
Sudah
dilakukan
sosialisasi
Sudah
dilakukan
sosialisasi
13.
Alasan untuk
melakukan impor
bahan
baku/penolong
Ketersediaan
bahan baku
local tidak
mencukupi
Belum tersedia di
dalam negeri
14.
Pendapat
mengenai
kebijakan impor
yang mengatur
bahan
baku/penolong
Tidak terdapat
permasalahan
dalam
importasi,
semua sudah
sesuai dengan
aturan yang
ada
a. Kebijakan
impor masih
kondusif dan
tidak
menghambat.
b. Proses
customs harus
lebih cepat
15.
Pendapat
mengenai
kebijakan tarif
bea masuk atas
impor bahan
Kebijakan
impor yang
berlaku saat
ini mendukung
industri
manufaktur
Kurang
mendukung
karena bahan
baku yang
tidak ada di
Indonesia
dipersulit
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
Seharusnya
beberapa produk
tidak perlu diatur
impornya karena
tidak tersedia di
lokal, hanya
menambah biaya
99
No.
Kebijakan Impor
Bahan
Baku/Penolong
Makassar
Medan
Bandung
Surabaya
16.
Persepsi
terhadap
kebijakan impor
berupa hambatan
non tarif (seperti
API, VPTI, SNI
dsb)
kebijakan
impor yang
diterbitkan oleh
Kementerian
Perdagangan
sudah cukup
baik
Perpanjangan
API yang
harus
menggunakan
sertifikat API
asli,
sedangkan
dalam
importasi juga
diperlukan
Tidak ada
permasalahan
terkaitan
kebijakan
impor bahan
baku/penolong
Kebijakan impor
yang ada saat ini
tidak
berpengaruh
17.
Jenis kebijakan
impor yang
menghambat
Hambatan
terkait dengan
pelaksanaan
impor yang
terkait dengan
Bea dan Cukai
Tidak ada
hambatan
impor yang
disebabkan
oleh kebijakan
impor yang
berlaku
a. Proses
penerbitan
API di
Dinas
Provinsi
justru lebih
lama;
b. Tarif
inspeksi
surveyor
dirasa
cukup
mahal
Kebijakan SNI
18.
Pengaruh
deregulasi dan
debirokratisasi
perdagangan
terhadap
importasi dan
kinerja produksi
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
Tidak
berpengaruh
karena faktor
kebijakan
tersebut sangat
kecil manfaatnya
100
Lampiran 2. Kuesioner Kajian Peran Kebijakan Impor Dalam Mendukung Industri
Manufaktur
PENGANTAR :
Dalam rangka mendapatkan gambaran nyata
mengenai kondisi penerapan kebijakan impor
bahan baku/penolong, Kementerian Perdagangan
melalui Pusat Pengkajian Perdagangan Luar Negeri,
Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan
melakukan survey untuk melihat efektifitas
kebijakan impor dalam mendukung industri
manufaktur. Kebijakan impor yang dimaksud adalah
kebijakan impor tarif dan non tarif. Tujuan dari
survey ini adalah untuk mengetahui kondisi dan
berbagai permasalahan secara terinci, baik dari segi
peraturan maupun implementasinya, sehingga
dapat dijadikan bahan kebijakan pemerintah dalam
memperbaiki kebijakan impor dalam mendukung
industri manufaktur.
Oleh karena itu, kami mengharapkan bantuan dari
para pelaku usaha untuk memberikan keterangan
dan informasi dengan sebenar-benarnya. Atas
bantuan dan kerjasamanya, Kami mengucapkan
banyak terima kasih.
SIFAT : RAHASIA
Semua keterangan dan informasi yang diberikan
akan DIJAMIN KERAHASIAANNYA; dan tidak
memberikan akibat apapun kepada pelaku usaha.
PETUNJUK PENGISIAN
Pilihlah salah satu jawaban yang sesuai dengan
kondisi yang dinyatakan dalam pilihan jawaban;
sesuai dengan situasi dan yang dialami dalam
melakukan berbagai aktivitas yang terkait dengan
kebijakan impor dalam mendukung industri
manufaktur.
Contoh Pengisian :
DATA POKOK RESPONDEN
Nama Lengkap
:
Bagian / Jabatan
:
Jenis Kelamin
:
Umur
Pendidikan Terakhir
:
:
Alamat
:
No. Telp / HP
:
Laki – Laki /
Perempuan
Tahun
SLTA/D1D3/S1/S2/S3
DATA POKOK PERUSAHAAN
Nama
Perusahaan
:
Alamat
:
Telp
Tahun
/
Fax
Berdiri
:
Jenis produk yang diimpor
: .......................................
..........................................
..........................................
Jenis perijinan impor
: ..........................................
..........................................
1)
Apakah Saudara mengetahui Sistem
Manajemen Mutu ?
a.
Ya
b.
Tidak
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
..........................................
101
a. Tidak Ada
b. Ada Pengaruh
c.
Cukup
Pengaruh
d. Sangat
Pengaruh
BAGIAN 1 : PERTANYAAN TERTUTUP
1) Apakah Saudara mengetahui kebijakan
kebijakan impor dalam mendukung
industri manufaktur yang diterbitkan oleh
Kementerian Perdagangan?
a. Tidak Tahu
c. Agak Tahu
b. Kurang Tahu
d. Sangat Tahu
2) Jika Ya, dari manakah Saudara mengetahui
kebijakan kebijakan impor dalam
mendukung industri manufaktur?
a. Website
c. Sosialisasi
Kemdag
Kemdag
b. Media massa
d. Lainnya,
……………..
3) Apakah
kebijakan
impor
dalam
mendukung
industri
manufaktur
merupakan hambatan bagi kegiatan
importasi yang Saudara lakukan?
a. Ya
b. Tidak
4) Apakah terdapat permasalahan yang
dihadapi pasca impor dalam mendukung
industri manufaktur?
a. Ada
b. Tidak
c. Jika
Ada,
sebutkan:.......
5) Bagaimana kinerja industri di perusahaan
Saudara pasca diterbitkannya kebijakan
impor dalam mendukung industri
manufaktur?
a. Tidak
c. Cukup
Meningkat
Meningkat
b. Stagnan
d. Meningkat
Signifikan
6) Apakah terdapat pengaruh kebijakan
impor dalam mendukung industri
manufaktur terhadap pasokan bahan
baku/penolong bagi kebutuhan industri
perusahaan Saudara?
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
terdapat
sumber
bahan
7) Apakah
baku/penolong yang berasal dari produksi
dalam negeri?
a. Ada
b. Tidak
8) Apakah pasokan bahan baku/penolong
dari dalam negeri cukup memadai?
a. Tidak
c. Agak Memadai
Memadai
b. Kurang
d. Sangat
Memadai
Memamdai
9) Jika tidak, apakah penyebab pasokan
bahan baku/penolong dari dalam negeri
tidak memadai?
a. Harga
Tidak
c. Spesifikasi
Kompetitif
Tidak
Memenuhi
Syarat
b. Kualitas
d. Pasokan Tidak
Kurang
Kontinu
e. Lainnya
……………
10) Apakah
kebijakan
impor
dalam
mendukung industri manufaktur telah
memenuhi harapan Saudara?
a. Tidak
c. Agak
Memenuhi
Memenuhi
b. Kurang
d. Sangat
Memenuhi
Memenuhi
11) Menurut Saudara, kebijakan impor dalam
mendukung industri manufaktur telah
memiliki landasan atau ketentuan hukum
yang kuat.
a. Tidak Setuju
c. Agak Setuju
b. Kurang Setuju
d. Sangat Setuju
102
12) Bagaimana pendapat Saudara tentang
kejelasan pengaturan kebijakan?
a. Tidak Jelas
c. Agak Jelas
b. Kurang Jelas
d. Sangat Jelas
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
13) Menurut Saudara, kegiatan sosialisasi yang
dilakukan oleh Kementerian Perdagangan
terkait kebijakan impor dalam mendukung
industri manufaktur telah berjalan baik.
a. Tidak Setuju
c. Agak Setuju
b. Kurang Setuju
d. Sangat Setuju
BAGIAN 2 : SARAN DAN MASUKAN
1). Menurut Saudara apakah kebijakan impor
dalam mendukung industri manufaktur telah
efektif dalam peningkatan output produksi,
dan mohon jelaskan.
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
2). Adakah kebijakan impor dalam mendukung
industri manufaktur telah berjalan efektif
sesuai tujuan?
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
SARAN – SARAN DAN MASUKAN
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
Diisi di
Tempat
Tanggal
Nama Responden
Nama & Stempel Perusahaan
Terima kasih atas kesediaan Anda untuk mengisi
kuesioner ini
” SEMOGA MEMBERI MANFAAT DALAM PERBAIKAN
KEBIJAKAN IMPOR DALAM MENDUKUNG INDUSTRI
MANUFAKTUR”
3). Saat ini pemerintah sedang melakukan
evaluasi atas kebijakan impor dalam
mendukung industri manufaktur. Apakah
saran Saudara terkait dengan evaluasi
peraturan tersebut?
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
4). Apa saran Saudara dalam rangka
meningkatkan penguatan pasar dalam negeri
dan efektifitas pengawasan peredaran
barang impor?
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
:
:
:
:
103
Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan
104
Pengarah:
Kepala Pusat Pengkajian Perdagangan Luar Negeri
Penanggung Jawab:
Drs. Nurozy, M.Si.
Kepala Bidang Impor
Tim Penyusun:
Sefiani Rayadiani, S.E., M.Sc.
I Made Dodi Narindra, M.SM.
Yudi Fadilah, S.E.,M.E.
Umar Fakhrudin, S.Si., M.S.E.
Titis Kusuma Lestari, S.Si.
Narasumber Pendamping Kajian:
Dr. Andi Fahmi Lubis, S.E., M.E.
Dr. Sartika Djamaluddin, S.E., M.Si.
Download