laporan praktikum mikrobiologi akuakultur kelompok iv mayor ilmu

advertisement
LAPORAN PRAKTIKUM
MIKROBIOLOGI AKUAKULTUR
KELOMPOK IV
STEFANNO. M. A. RIJOLY
C151140401
MAYOR ILMU AKUAKULTUR
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah Yang Maha Kuasa, karena atas
kasih sayang dan penyertaanNya penulis mampu untuk menyelesaikan laporan
praktikum Mikrobiologi akuakultur. Laporan ini disusun sebagai syarat dari
praktikum mata kuliah mikrobiologi dalam program studi Akuakultur, Sekolah
Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan praktikum ini jauh dari
sempurna dan tentu masih banyak kekurangan dan kesalahan yang tidak disadari
penulis. Oleh karena itu kritik dan saran kearah perbaikan akan penulis terima
dengan tangan terbuka.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada para dosen
mata kuliah Mikrobiologi Akuakultur yaitu Dr. Ir. Widanarni M.Si, Dr. Dinamella
Wahjuningrum S.Si, M.Si dan Dr. Munti Yuhana S.Pi, M.Si yang sudah memberi
pengarahan sebagai bekal awal menjalankan praktikum. Terima kasih juga penulis
sampaikan kepada Pak Rahman S.Pi M.Si dan Pak Ranta yang telah menyediakan
waktu dan tenaga demi kelancaran praktikum. Terima kasih bagi para asisten
praktikum yang telah mendampingi penulis dalam menggali ilmu dan pengalaman
praktek. Terima kasih terakhir bagi rekan-rekan mahasiswa magister akuakultur
2014, menjadi rekan seperjuangan dalam berikhtiar mencari ilmu yang
bermanfaat.
Penulis berharap semoga laporan hasil praktikum ini dapat bermanfaat
bagi pengembangan praktikum mikrobiologi akuakultur.
Bogor, 5 Januari 2015
Stefanno M. A. Rijoly
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Ambon, 4 November 1988. Anak ketiga
dari enam bersaudara. Penulis mengawali pendidikan formal di
SD YPPK Gembala Baik, Papua pada tahun 1994. Pendidikan
dasar berlanjut di SDN 2 Poka, Ambon hingga tahun 2000.
Pendidikan menengah pertama ditempuh di SMP Hang Tuah
Halong pada tahun 2000 dan berlanjut ke SMPN 4 Ambon dan
lulus tahun 2003, pendidikan menengah atas ditempuh di
SMAN 1 Ambon.
Lulus sekolah menegah atas pada tahun 2006 penulis melanjutkan jenjang
pendidikan ke strata 1 dengan mengambil program studi Biologi, di Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pattimura Ambon. Selama
menempuh pendidikan strata 1 penulis aktif dalam organisasi mahasiswa seperti
GMNI, KPA Patra 28. Penulis juga pernah magang di Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia Ambon. Lulus dari Universitas Pattimura pada tahun 2012 penulis
bekerja sebagai laboran pada Laboratorium Biologi Dasar FMIPA Universitas
Pattimura. Pada bulan oktober 2013 penulis mengambil program beasiswa pramagister dari DIKTI. Sampai saat ini penulis aktif sebagai mahasiswa pasca
sarjana di Departemen Manajemen Budidaya Perikanan Program Studi
Akuakultur Institut Pertanian Bogor.
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ...................................................................................... ii
RIWAYAT HIDUP .......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iv
BAB I
Pengenalan Alat, Penyiapan Medium, Sterilisasi Bahan dan
Peralatan ......................................................................................... 1
BAB II
Isolasi Bakteri dari Lingkungan Akuakultur ................................. 14
BAB III
Pewarnaan Gram Bakteri ............................................................... 25
BAB IV
Karakterisasi Sifat Fisiologi dan Biokimia Bakteri ...................... 36
BAB V
Isolasi dan Karakteristik Fungi untuk Akuakultur ......................... 48
BAB VI
Penghitungan Bakteri dengan Metode Hitungan Cawan ............... 59
BAB VII
Pengaruh Suhu dan Salinitas Terhadap Viabilitas Bakteri ............ 72
BAB VIII
Pengaruh Bahan Antimikroba Terhadap Viabilitas Bakteri........... 81
BAB IX
Pemberian Penanda Resisten Antibiotik Pada Bakteri
Akuakultur ..................................................................................... 91
BAB X
Seleksi Bakteri Probiotik untuk Akuakultur .................................. 99
BAB XI
Deteksi Virus dengan Teknik PCR .............................................. 111
Laporan Praktikum ke- 1
m.k. Mikrobiologi Akuakultur
Hari/Tanggal : Senin, 29 September 2014
Kelompok : IV
Asisten
: 1. Rahman, S.Pi., M.Si
2. Asisten Mikro 2013
PENGENALAN ALAT, PENYIAPAN MEDIUM, STERILISASI
BAHAN DAN PERALATAN
Oleh:
Stefanno M.A. Rijoly
C151140401
ILMU AKUAKULTUR
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Mikrobiologi adalah sebuah telaah mengenai organisme hidup yang
berukuran mikroskopis. Dunia mikroorganisme terdiri atas 5 kelompok
organisme; bakteri, protozoa, virus, serta algae dan cendawan mikroskopis. Dalam
bidang ini kita mempelajari banyak segi mengenai jasad-jasad renik ini; di mana
adanya, ciri-cirinya, kekerabatan antara sesamanya seperti juga dengan kelompok
organisme lainnya, pengendaliannya, dan peranannya dalam kesehatan serta
kesejahteraan kita (Pelczar dan Chan, 2010).
Kegiatan praktikum yang meliputi penyiapan medium, sterilisasi bahan
dan
peralatan
sangat
penting
untuk
diperhatikan
praktikan.
Dengan
memperhatikan kegiatan praktikum tersebut akan menentukan keberhasilan dalam
suatu kegiatan praktikum. Karena keberhasilan dalam kegiatan praktikum menjadi
indikator bahwa persiapan awal cukup baik.
Pembiakan mikroorganisme dalam laboratorium memerlukan medium
yang berisi zat hara serta lingkungan pertumbuhan yang sesuai dengan lingkungan
asalnya. Umumnya, medium biakan berisi air, sumber energi, zat hara sebagai
sumber karbon, nitrogen, sulfur, fosfat, oksigen, hidrogen serta unsur-unsur lain.
Medium berdasarkan konsistensinya dibagi menjadi 3 macam, yaitu medium
padat, medium setengah padat dan medium cair. Medium padat diperoleh dengan
cara menambahkan agar yang berfungsi sebagai pemadat. Medium padat biasanya
digunakan untuk mengamati morfologi koloni dan untuk mengisolasi biakan
murni. Medium setengah padat dibuat dengan bahan yang sama dengan media
padat, akan tetapi mengandung komposisi agar yang berbeda. Medium setengah
padat digunakan untuk melihat pergerakan mikroba dan kemampuan fermentasi.
Medium cair adalah medium yang berbentuk cair. Medium cair dapat digunakan
untuk tujuan pembiakan mikroba dalam jumlah besar (Waluyo, 2008).
Sebelum mengunakan peralatan yang telah disiapkan, terlebih dahulu
disterilkan agar tidak terkontaminasi oleh mikroorganisme lain dan mematikan
mikroorganisme yang tidak diinginkan. Dalam penggunaan alat-alat yang telah
disterilkan
sangat
penting untuk
menjaga
mikroorganisme
yang ingin
ditumbuhkan, supaya dapat tumbuh sesuai dengan keinginan.
1.2
Tujuan
Tujuan praktikum ini yang pertama adalah untuk mengetahui alat-alat apa
saja yang terdapat di laboratorium mikrobiologi, cara penggunaan yang benar
serta fungsi dan spesifikasi masing-masing alat tersebut. Tujuan kedua yaitu
mengetahui prosedur penyiapan media dan sterilisasi alat dan bahan.
II. METODOLOGI
2.1
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 29 September 2014 pukul
08.00-10.00 WIB, bertempat di Laboratorium Kesehatan Ikan, Depertemen
Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor.
2.2
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop, autoklaf,
inkubator, waterbath, shaker, sentrifuge, gelas ukur, erlenmeyer, jarum ose, cawan
petri, pipet ukur, batang penyebar, bunsen, gelas beaker, biological safety cabinet
(BSC), mikropipet, tabung reaksi, buret dan pipet tetes, ependof, vortex, rak alat.
Bahan yang digunakan yaitu kertas bekas dan beberapa macam media bakteri dan
fungi seperti PBS, TSA, SWC, PDA, MEA dan GYA.
2.3
Prosedur Kerja
2.3.1
Sterilisasi Cawan Petri dan Pipet
Ambil kertas bekas yang telah disediakan, setelah itu ambil cawan petri.
Kemudian letakan cawan petri diatas kertas yang telah disediakan tadi, perlahanlahan kertas itu di lipat dari semua sisi. Usahakan lipatan kertas ditata rapi, agar
bakteri dari luar tidak mudah masuk. Setelah sudah selesai, cawan petri tersebut
disimpan kedalam autoklaf. Untuk sterilisasi pipet, tidak jauh berbeda dengan
sterilisasi cawan petri. Pertama yang dilakukan yaitu ambil kertas bekas yang
telah disediakan, setelah itu ambil pipet tersebut. Kemudian ujung kertas dilipat
berbentuk segitiga, setelah itu kertasnya diputar-putar pada batang pipet tersebut.
Usahakan memutar kertas tersebut dengan rapi dan rapat. Tujuannya agar tidak
terkontaminasi dengan bakteri yang ada di luar. Setelah selesai pipet tersebut
disimpan kedalam autoklaf.
2.3.3
Pembuatan Media
Media yang digunakan umumnya adalah media agar yang sudah tersedia
sebagai dalam bentuk bubuk, media tersebut diambil beberapa gram masukan
kedalam erlenmeyer kemudian tambahkan akuades lalu dipanaskan sekitar suhu
70°C kemudian dipindahkan dalam autoklaf dan disterilisasi menurut prosedur
penggunaan autoklaf.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1
Hasil
Alat-alat yang terdapat di Laboratorium Kesehatan Ikan dan yang akan
digunakan dalam praktikum mikrobiologi meliputi mikroskop, autoklaf,
inkubator, waterbath, shaker, sentrifuge, gelas ukur, erlenmeyer, jarum ose, cawan
petri, pipet ukur, batang penyebar/drigalski, lampu bunsen, gelas beaker,
biological safety cabinet (BSC), mikropipet, tabung reaksi, erlenmeyer, pipet
tetes, ependof dan vorteks.
Alat
Autoclave
Foto Alat
Alat
Inkubator
Untuk mensterilkan alat dan
bahandengan uap kering
Heater
cooker)
(rice
Foto Alat
Digunakan untuk fermentasi dan
menumbuhkan
media
pada
pengujian secara mikrobiologi
Timbangan
santorius
Menjaga agar media tetap cair
dan dapat digunakan setiap saat
Menimbang bahan yang akan
digunakan dalam praktikum dengan
tingkat ketelitian yang tinggi
Timbangan
digital
Kaca objek
sebagai tempat untuk meletakan
objek yang akan di amati di bawah
mikroskop
Menimbang bahan yang akan
digunakan dalam praktikum
dengan tingkat ketelitian yang
tinggi
Gelas
Erlenmeyer
Bunsen
Untuk menampung
bahan atau cairan.
Sterilisasi dengan api (panas)
larutan,
Mikropipet
Mikrotube
(Ependof)
Untuk
mengambil
bahan atau media
ukuran di bawah 1ml
Untuk menghomogenkan sampel
seperti DNA, darah dan isolat
bakteri
larutan
dengan
Cawan petri
Rak
tabung
reaksi
merupakan alat yang digunakan
untuk membiakan (kultivasi)
mikroorganisme.
Medium
dapat dituang pada cawan
bagian bawah dan cawan
bagian
atasnya
sebagai
penutupnya
Tempat penyimpanan tabung reaksi
agar posisi tabung tetap tegak.
Oven
Jarum
inokulasi
Untuk Sterilisasi panas kering
memindahkan mikroba dari sediaan
ke dalam media. Ada dua jenis ose,
yang pertama ose bulat yang dapat
dipakai
untuk
menggoreskan
mikroba pada media miring dan
tegak (cawan petri), yang kedua ose
lurus yang dapat dipakai untuk
Pipet volum
Untuk
mengambil
bahan atau media
ukuran tertentu
Bahan
Alkohol
95%
larutan
dengan
Foto Bahan
Sebagai bahan
Sterilisasi kimia
Bahan
TCBS agar
antibiotik.
Foto Bahan
Media
selektif
untuk
menumbuhkan bakteri Vibrio
Aquades
3.2
Pembahasan
3.2.1
Sterilisasi Cawan Petri dan Pipet
Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang
ada, jika ditumbuhkan di alam suatu medium tidak ada jasad renik yang dapat
berkembang biak. Sterilisasi harus dapat membunuh renik yang paling tahan
panas yaitu spora bakteri (Fardiaz, 1992).
Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara
mekanik, fisik dan kimiawi.
1. Sterilisasi secara fisik (pemanasan, penggunaan sinar gelombang pendek
yang dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak
akan berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan tinggi). Dengan
udara panas, dipergunakan alat “bejana/ruang panas” (oven dengan
temperatur 170˚– 180˚C dan waktu yang digunakan adalah 2 jam yang
umumnya untuk peralatan gelas).
2. Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan, larutan
alkohol, larutan formalin).
3. Sterilisasi secara mekanik, digunakan untuk beberapa bahan yang akibat
pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan,
misalnya adalah dengan saringan/filter. Sistem kerja filter, seperti pada
saringan lain adalah melakukan seleksi terhadap partikel-partikel yang
lewat (dalam hal ini adalah mikroba) (Suriawiria, 2005).
Banyak metode yang dapat digunakan dalam upaya mensterilisasi alat
maupun bahan. Metode yang digunakan bergantung pada sifat dan karakteristik
alat dan bahan yang akan disterilisasi dan jenis mikroorganisme yang ingin
dimusnahkan. Prosedur sterilisasi yang paling sering digunakan dalam
laboratorium mikrobiologi adalah sterilisasi panas lembab dengan menggunakan
autoclaf. Berikut merupakan gambar contoh membungkus cawan petri sebelum
dimasukkan kedalam autoclave alat yang disiapkan untuk sterilisasi dalam
autoclaf dan yang akan diinkubasi.
Gambar 1. Proses Pembungkusan Caan Petri
Selain proses sterilisasi dengan Autoclave, ada juga sterilisasi dengan
inkubator. Inkubasi terkait erat dengan pengetahuan tentang kondisi lingkungan
bakteri yang diinokulasi dapat tumbuh secara optimum. Bila memeriksa suatu
spesimen untuk mencari suatu spesies bakteri tertentu seperti spesies bakteri
tifoid, maka pengetahuan tentang ciri-ciri bakteri dan kondisi lingkungan sangat
penting. Sebagai contoh bakteri tifoid adalah heterotrofik, aerobik dan mesofilik.
Makan kondisi inkubator juga harus menyediakan kondisi sesuai kebutuhan atau
sesuai dengan kondisi di alam (Pelczar dan Chan, 2010).
3.2.2
Pembuatan Media
Media adalah suatu substrat dimana mikroorganisme dapat tumbuh yang
disesuaikan dengan lingkungan hidupnya.Media berfungsi untuk menumbuhkan
mikroba, isolasi, memperbanyak jumlah, menguji sifat-sifat fisiologi dan
perhitungan jumlah mikroba, dimana dalam proses pembuatannya harus
disterilisasi dan menerapkan metode aseptis untuk menghindari kontaminasi pada
media (Pelczar dan Chan, 2010).
Media berdasarkan fungsinya, yaitu: Media diperkaya (enriched medium)
adalah medium yang ditambah zat-zat tertentu (serum, darah, ekstrak tumbuhan
dan lain-lain), digunakan untuk menumbuhkan mikroba heterotrof. Media selektif
(selective medium) adalah media yang ditambah zat kimia tertentu yang bersifat
selektif untuk mencegah pertumbuhan mikroba lain sehingga dapat mengisolasi
mikroba tertentu, misalnya media yang mengandung kristal violet pada kadar
tertentu, dapat mencegah pertumbuhan bakteri gram positif tanpa mempengaruhi
bakteri gram negatif. Contohnya: Endo Agar, EMB (Eosin Metilena Biru) Agar,
SSA (Salmonella Shygella Agar), VRB (Violet Red Bile Agar). Media diferensial
(deferential medium) adalah media yang ditambahkan zat kimia tertentu yang
menyebabkan mikroba membentuk pertumbuham atau mengadakan perubahan
tertentu hingga dapat membedakan tipenya. Contohnya: TSIA (Triple Sugar Iron
Agar) (Waluyo, 2008).
Gambar 2 media petri SWC, TCBS dan PBS, dan media data dalam tabung reaksi
(agar miring)
Media memiliki karakteristik berbeda-beda baik warna, pH, viskositas,
titik cair, titik beku, kandungan nutrisi, salinitas maupun permeabilitas. Sebagai
contoh media SWC berwarna hijau tua merupakan media yang cocok jika
digunakan untuk menumbuhkan bakteri yang berasal dari laut atau tahan dengan
salinitas tinggi. Respon warna bakteri yang tumbuh pada media juga beragam.
Bakteri yang sama jika ditumbuhkan pada media yang berbeda dapat
memunculkan warna koloni yang berbeda (Prescott dan Harley, 2002).
Media yang dicetak dalam cawan petri memiliki keunggulan area
permukaan media luas, mudah digores, dapat ditumbuhi beberapa macam bakteri
sekaligus, bisa digunakan untuk metode tuang dan mudah menghitung koloni.
Namun media cawan tidak memiliki ketebalan media yang cukup. Media dalam
tabung reaksi memiliki keunggulan yaitu ketebalan media besar sehingga cocok
untuk menumbuhkan bakteri yang biasa hidup pada kolom media. Media dalam
tabung cocok untuk metode tusuk. Media tabung agar miring biasanya digunakan
untuk metode gores dengan bahan yang digunakan dalam jumlah sedikit (Atlas,
2010).
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Media yang digunakan untuk menumbuhkan suatu bakteri harus dibuat secara
aseptik agar bakteri yang diinginkan dapat tumbuh dengan baik tanpa ada
gangguan dari kontaminan, sehingga diperoleh bakteri yang murni. Agar hal itu
tercapai maka alat dan bahan yang akan digunakan dalam proses pembuatan
media harus disterilkan terlebih dahulu dengan prosedur yang benar sesuai dengan
metode yang digunakan, dalam hal ini metode yang digunakan adalah metode
panas basah menggunakan autoclave.
4.2 Saran
Masing-masing prosedur penggunaan alat dan bahan perlu dijelaskan lebih
mendalam, khususnya pada penggunaan alat yang sensitif kerusakan atau
memiliki potensi bahaya dalam penggunaannya.
DAFTAR PUSTAKA
Atlas, Ronald. M. 2010. Handbook of Microbiological Media. Fourth Edition.
CRC Press. New York
Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan 1. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Pelczar, M.J dan E.C.S. Chan. 2010. Dasar-Dasar Mikrobiologi (terjemahan),
R.S. Hadioetomo, T. Imas, S. S. Tjitrosomp dan S. L. Angka. Jakarta (ID):
UI Press.
Prescott, L.M dan J. P. Harley. 2002. Laboratory Exercises in Microbiolgy. Fifth
Editon. McGraw-Hill Company. USA
Suriawira. 2005. Pengantar Mikrobiologi Umum. Angkasa; Bandung.
Waluyo, Lud. 2008. Teknik dan Metode Dasar dalam Mikrobiologi. UMM Press.
Malang.
Laporan Praktikum ke-2
m.k. Mikrobiologi Akuakultur
Hari/Tanggal : Senin, 06 Oktober 2014
Kelompok
: IV
Asisten
: 1. Rahman S.Pi., M.Si
2. Asisten Mikro 2013
ISOLASI BAKTERI DARI LINGKUNGAN AKUAKULTUR
Oleh:
Stefanno. M. A. Rijoly
C151140401
ILMU AKUAKULTUR
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Mikroorganisme ada dimana-mana. Mereka dapat ditemukan di tanah,
udara, air, makanan, limbah, bahkan di permukaan tubuh. Singkatnya, setiap area
dari lingkungan kitapenuh dengan mikroba. Ilmu mikrobiologi memisahkan
populasi yang beraneka ragam tersebut menjadi spesies induvidu yang dapat
dipelajari (Cappucino, 1983). Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme
mikroskopik yang sebagian besar berupa satu sel yang terlalu kecil untuk dapat
dilihat menggunakan mata telanjang. Mikroba berukuran sekitar seperseribu
milimeter (1 µm) atau bahkan kurang, walaupun ada juga yang lebih besar dari 5
µm. Karenanya, mikroba hanya bisa dilihat dengan menggunakan alat bantu
berupa mikroskop (Waluyo, 2004).
Pertumbuhan
mikroorganisme
di
alam
dapat
diketahui
dengan
pengambilan mikroorganisme tersebut di alam yang kemudian ditumbuhkan di
dalam suatu medium buatan yang disebut dengan isolasi. Dalam mengisolasi
mikroorganisme baik mikroorganisme tanah, air, dan udara harus memperhatikan
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses isolasi tersebut (Sari, 2009).
Isolasi
merupakan
cara
untuk
memisahkan
atau
memindahkan
mikrobatertentu dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan
murni. Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobanya berasal dari pembelahan
darisatu sel tunggal (Pelczar dan Chan, 2010)
Berbagai macam mikroorganisme dapat ditemukan di alam dalam populasi
yang heterogen. Isolasi adalah mengambil mikroorganisme yang terdapat di alam
dan menumbuhkannya dalam suatu medium buatan. Prinsip dari isolasi mikroba
adalah memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lainnya yang berasal dari
campuran bermacam-macam mikroba. Hal ini dapat dilakukan dengan
menumbuhkannya dalam media padat sel-sel mikroba akan membentuk suatu
koloni sel yang tetap pada tempatnya. Jika sel-sel tersebut tertangkap oleh media
padat pada beberapa tempat yang terpisah,maka setiap sel atau kumpulan sel yang
hidup akan berkembang menjadi suatu koloni yang terpisah, sehingga
memudahkan pemisahan selanjutnya. Bila digunakan media cair, sel-sel mikroba
sulit dipisahkan secara individu karena terlalu kecil dan tidak tetap tinggal di
tempatnya. Akan tetapi bila sel-sel itu dipisahkan dengan cara pengenceran,
kemudian ditumbuhkan dalam media padat dan dibiarkan membentuk koloni,
maka sel-sel tersebut selanjutnya dapat diisolasi dalam tabung-tabung reaksi atau
cawan petri-cawan petri yang terpisah (Sutedjo, 1996).
Di dalam mengisolasi mikroorganisme digunakan berbagai cara, antara
laindengan cara goresan (streak plate), cara taburan/tuang (pour plate), cara sebar
(spread plate), cara pengenceran (dilution method), serta micromanipulator (the
micromanipulator method) (Lim, 1998).
1.3
Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari cara mengisolasi bakteri dari
lingkungan akuatik dengan menggunakan metode penggoresan kuadran serta
mengamati ciri-ciri koloni bakteri tumbuh dari berbagai media.
II. METODOLOGI
2.1
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 6 Oktober 2014 bertempat di
Laboratorium Kesehatan Ikan, Depertemen Budidaya Perairan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, pukul 08.00 - 10.00 WIB.
2.2
Alat dan Bahan
Pada praktikum kali ini alat yang digunakan adalah lup inokulasi, cawan
petri, batang penyebar, bunsen, kertas label, korek api, tisu dan incubator.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah alkohol absolut 95%, alkohol 70%,
koloni bakteri pada media TSA, EMBA, TCBS dan WSC.
2.3
Prosedur Kerja
Sebelum melakukan praktikum, meja tempat praktikum disterilisasi
dengan alkohol 70% dan kemudian dibersihkan dengan tissue. Media tempat
bakteri hasil isolasi meliputi EMBA, TSA, TCBS dan SWC disiapkan diatas meja.
Masing-masing media dibagi menjadi 4 area dengan kode 0, I, II, dan III (Gambar
1). Bunsen dinyalakan dan tangan disterilisasi dengan alkohol 70%.
Gambar 1. Pembagian Kuadran dengan metode kuadran
Jarum inokulan dicelupkan pada alkohol absolute 95% kemudian dibakar
di bunsen sampai merah lalu didinginkan sesaat. Prosedur sterilisasi dilakukan
dekat dengan bunsen untuk meminimalisir kontaminasi dari bakteri. Setelah
dingin jarum inokulasi kemudian dimasukkan pada tabung reaksi yang berisi
biakan bakteri murni lalu digoreskan pada media uji SWC. Penggoresan
dilakukan mulai dari kuadran 0 hingga kuadran I dan dilakukan dengan perlahan
tanpa merusak permukaan media. Setelah keempat area terdapat goresan bakteri,
jarum inokulasi dimasukkan kembali pada alkohol 95%. Prosedur isolasi ini
berlaku sama untuk ketiga media lainnya (media TSA, TCBS maupun EMBA).
Setelah selesai menggores bakteri pada media, kemudian keempat media lalu
dimasukan ke dalam kantong plastik transparan setelah itu dimasukan kedalam
inkubator untuk diinkubasikan selama ± 24 jam. Setelah 24 jam kemudian
dilakukan pengamatan terhadap koloni bakteri yang tumbuh.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1
Hasil
Hasil pengamatan isolat bakteri dari lingkungan akuakultur yang telah
diisolasi menggunakan media agar EMBA, TSA, TCBS, dan SWC disajikan pada
tabel berikut.
Tabel 1 Hasil pengamatan isolat bakteri dan fungi yang berhasil diisolasi dari
lingkungan akuakultur
Kultur Koloni
Bentuk Elevasi
Tepian
Tumbuh
Ya/Tidak
-
-
Tidak
Sirkular
Raised
Entire
Ya
Orange
Sirkular
Raised
Entire
Ya
Orange
Sirkular
Raised
Entire
Ya
Isolat
Medium
A
EMBA
-
-
B
TSA
Kuning
C
TCBS
D
SWC
Warna
Gambar
Berdasarkan tabel 1 di atas, dapat dilihat bahwa pada media EMBA tidak
ada koloni bakteri yang tumbuh. Pada media TSA tumbuh koloni bakteri dengan
ciri-ciri berbentuk sirkular, tepian entire dan elevasi raised dan berwarna kuning.
Sedangkan untuk media TCBS dan SWC tumbuh koloni dengan ciri-ciri
berbentuk sirkular, tepian entire, elevasi raised dan berwarna orange.
3.2
Pembahasan
Kultur murni adalah kultur yang sel-sel mikrobanya berasal dari
pembelahan satu sel tunggal. Biakan murni diperlukan karena semua metode
mikrobiologis yang digunakan untuk menelaah dan mengidentifikasi mikroba,
termasuk penelaahan ciri-ciri kultur, morfologis, maupun serologis memerlukan
suatu populasi yang terdiri dari satu macam mikroba saja (Waluyo dalam Iman,
2010). Karakteristik koloni bakteri hasil inokulasi merupakan salah satu bagian
dalam identifikasi bakteri. Beberapa bentuk koloni spesifik koloni bakteri pada
media agar datar yaitu (Sutedjo, 1996):
1. Ukuran
• Titik
• Kecil
• Sedang
• Besar
2. Warna koloni
Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan tidak kontras dengan air, di
mana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan. Oleh karena itu pengamatan tanpa
pewarnaan menjadi lebih sukar dan tidak dapat digunakan untuk melihat
bagian-bagian sel dengan teliti
3. Bentuk koloni
• Bundar
• Tidak beraturan
• Rhizoid (tersebar seperti akar)
4. Bentuk bagian tepi koloni (margin )
• Rata (entire)
• Tidak rata, bergelombang secara beraturan (lobate )
• Bergelombang (undulate )
• Bergerigi (serrate )
• Seperti filamen (filamentous)
Media EMBA (Eosin Methylene Blue Agar) adalah medium selektif dan
diferensial digunakan untuk mengisolasi coliform fecal. Eosin Y dan metilen blue
adalah pewarna indikator pH yang bergabung untuk membentuk endapan ungu
gelap pada pH rendah (asam), mereka juga berfungsi untuk menghambat
pertumbuhan organisme yang paling Gram positif. Sukrosa dan laktosa berfungsi
sebagai sumber karbohidrat dapat difermentasi yang mendorong pertumbuhan
coliform. Fermentor yang kuat dari laktosa atau sukrosa akan menghasilkan
jumlah asam yang cukup untuk membentuk kompleks warna ungu tua.
Pertumbuhan organisme ini akan muncul berwarna ungu tua sampai hitam.
Escherichia coli, suatu fermentor yang kuat, sering menghasilkan warna koloni
hijau metalik. Fermentor lambat atau lemah akan menghasilkan koloni merah
muda mukoid atau berlendir. Biasanya koloni berwarna atau tidak berwarna
menunjukkan bahwa organisme fermentor laktosa atau sukrosa terserbut bukan
merupakan coliform fecal (Lal and Cheeptham, 2007). Hasil praktikum
menunjukkan bahwa tidak ada koloni bakteri yang tumbuh, hal ini menunjukkan
bahwa dari isolat bakteri yang digunakan tidak mengandung bakteri E. coli.
Trypticase Soy Agar (TSA) merupakan media agar yang digunakan untuk
kegiatan pengisolasian dan pembudidayaan berbagai macam mikroorganisme
yang bersifat aerobik. Medium ini digunakan untuk berbagai tujuan yang
mencakup pemeliharaan stok budidaya, isolasi berbagai macam spesies
mikroorganisme, serta sebagai dasar untuk media termasuk darah (Becton,
Dickinson and Company 2007). Komposisi dari TSA ini antara lain Approximate
Formula* Per Liter Purified Water, Pancreatic Digest of Casein, Papaic Digest
of Soybean, Sodium Chloride, Agar. Media TSA merupakan media umum untuk
pertumbuhan bakteri sehingga pada saat digores dan diinkubasikan tumbuh koloni
bakteri.
TCBS (Thiosulphate Citrate Bile Salt Sucrose) adalah media yang solid
selektif untuk isolasi dan budidaya Vibrio. Media ini hanya digunakan untuk
mendiagnosa bakteri secara in vitro saja. Prinsip kerjanya yaitu bakteri gram
positif akan dihambat oleh oxbile, natrium tiosulfat dan sitrat besi akan
mendeteksi produksi H2S dan bromythol biru dan timol biru adalah sebagai
indikator pH (QUEBACT Laboratories, 2012). Formula untuk pembuatan 1 liter
TCBS adalah Yeast Extract 5 g, Casein Peptone 5 g, Meat Peptone 5 g, Sodium
Citrate 5 g, Sodium Thiosulfate 10 g, Oxbile 5 g, Sodium Cholate 3 g, Sucrose 20
g, Sodium Chloride 3 g, Ferric Citrate 1 g, Bromthymol Blue 0.04 g, Thymol
Blue 0.04 g, dan Agar 14 g. Media TCBS merupakan media selektif untuk bakteri
Vibrio. Menurut Arfah (2011) salah satu koloni Vibrio yang tumbuh pada media
TCBS
adalah V.
cholera di
mana
memiliki
ciri-ciri
sebagai
berikut,
berukuran besar, permukaan halus, agak datar, bagian tengah buram dan bagian
pinggir terang, berwarna kuning (sukrosa positif). Hasil yang didapatkan pada
praktikum kali ini memiliki kesamaan ciri pada pernyataan dari Arfah (2011)
yaitu berwarna kuning. Kemungkinan, bakteri yang tumbuh pada media TCBS
tersebut adalah jenis Vibrio.
SWC (Sea Water omplete) adalah media yang berbentuk padat yang dapat
digunakan untuk menumbuhkan semua mikroba air laut dipermukaan sehingga
membentuk koloni yang dapat dilihat, dihitung dan diisolasi. SWC biasanya
digunakan dalam menumbuhkan bakteri yang bersifat luminescent atau bakteri
yang mengeluarkan cahaya berpendar. Komposisi dari SWC meliputi 500 ml air,
12 g garam laut, 2,5 g pepton, 1,5 g yeast extract, 1,5 ml gliserin dan 7,5 g agar
(Anonim, 2008). Hasil praktikum menunjukan bakteri yang tumbuh memiliki
ciri-ciri berbentuk sirkular, tepian entire, elevasi raised dan berwarna orange yang
sesuai dengan ciri-ciri bakteri Vibrio (Arfah, 2011).
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Praktikum isolasi bakteri dan fungi dari lingkungan akuatik telah berhasil
dilakukan dengan metode cawan gores kuadran. Setiap media mempunyai fungsi
masing-masing dalam menumbuhkan biakan murni. Masing-masing bakteri
memiliki kebutuhan nutrien, fisika, kimia media yang berbeda-beda. Isolasi
bakteri dapat dilakukan dengan menggunakan metode cawan gores.
4.2 Saran
Wadah yang digunakan untuk medium sebaiknya diperbanyak jumlahnya
dan lebih beragam sehingga praktikan dapat lebih mahir dalam pemindahan
biakan mikroba secara aseptik. Sehingga praktikan akan lebih terampil dandapat
memperoleh hasil yang lebih baik. Pada praktikum selanjutnya diharapkan selain
dapat melakukan pengkulturan mikroba juga ada pengamatan melalui mikroskop,
agar praktikan lebih mengetahui bagaimana bentuk mikroba secara langsung.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
2008. Making
Seawater
Complete.
cibt.bio.cornell.edu/programs/archive/0610ccc/media.pdf [30 Desember
2014]
Arfah, Nurlina. 2011. Pengujian Vibrio cholera pada produk perikanan (SNI01.2332.4-2006).
Becton, Dickinson and Company. 2007. Trypticase™ Soy Agar (Soybean-Casein
Digest
Agar). http://www.bd.com/ds/productCenter/221283.asp
[30 Desember 2014]
Cappuccino, J.G and N.Sherman. 1983. Microbiology: a Laboratory Manual.
Adison-Wesley Publishing Company: California
Lal, A., and Cheeptham, N., (2007) Eosin-Methylene Blue Agar Plates Protocol.
American Society for Microbiology.
Lim, D. 1998. Microbiology. WCB McGraw-Hill. Missouri. United States of
America
Madigan, Micahel. T, Martinko, John. M, Bender, Kelly. S, Buckley, Daniel. H,
Stahl, David. A. 2009. Brock Biology of Microorganisms. Fourteenth
Edition. Pearson Education: United States of America
Pelczar, M.J dan E.C.S. Chan. 2010. Dasar-Dasar Mikrobiologi (terjemahan),
R.S. Hadioetomo, T. Imas, S. S. Tjitrosomp dan S. L. Angka. Jakarta (ID):
UI Press.
QUEBACT.
2012. http://www.quebact.com/index.php/en/support/technicaldata/236-1022
[30 Desember 2014]
Sari, Noorkomala. 2009. Teknik Isolasi Mikroorganisme. Laboratorium
Mikrobiologi Program Studi Biologi FMIPA ITS Surabaya
Sutedjo, M. 1996. Mikrobiologi Tanah. Rineka Cipta : Jakarta
Waluyo, L. 2004. Mikrobiologi Umum. Penerbit Universitas Muhamadiyah
Malang
Laporan Praktikum ke-3
m.k. Mikrobiologi Akuakultur
Hari/Tanggal : Senin, 13 Oktober 2014
Kelompok : IV
Asisten
: 1. Rahman, S.Pi., M.Si
2. Asisten Mikro 2013
PEWARNAAN GRAM BAKTERI
Oleh:
Stefanno. M. A. Rijoly
C151140401
ILMU AKUAKULTUR
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Mikroorganisme dapat dilihat dengan mikroskop biasa, tanpa diwarnai.
Pengamatan yang demikian (tanpa pewarnaan) lebih sulit dan tidak dapat dipakai
untuk melihat bagian-bagian sel secara seksama. Mikroorganisme yang tidak
diwarnai tampak transparan bila diamati dengan mikroskop cahaya biasa. Kontras
antara sel dan latar belakangnya dapat diperjelas dengan cara mewarnai sel – sel
mikroba tersebut dengan zat-zat warna (Waluyo, 2008).
Macam dan fungsi pewarnaan menurut Pelczar dan Chan (2010), dibedakan
menjadi 3 macam yaitu:
1.
Pewarnaan Sederhana
Pemberian warna pada bakteri atau jazad-jazad renik lain dengan
menggunakan larutan tunggal suatu pewarna pada lapisan tipis atau desain,
yang sudah difiksasi dinamakan pewarnaan sederhana.
2.
Pewarnaan Diferensial
Prosedur pewarnaan yang menampilkan perbedaan diantara sel-sel
mikroba atau bagian-bagian sel mikroba disebut teknik pewarnaan
diferensial.Dengan teknik ini biasanya digunakan lebih dari itu larutan zat
pewarna atau reagen pewarna.
3.
Pewarnaan Gram
Pewarnaan gram merupakan salah satu teknik pewarnaan diferensial
yang paling baik dan paling luas digunakan untuk bakteri.
Dalam proses ini olesan bakteri yang terfiksasi dikenai larutan-larutan
berturut yaitu kristal ungu, larutan yodium, alkohol, dan safranin atau beberapa
warna petanding lain yang sesuai. Bakteri yang diwarnai dengan metode ini dibagi
menjadi dua kelompok yaitu bakteri gram positif dan gram negatif (Pelczar dan
Chan, 2010). Pewarnaan gram merupakan salah satu metode pewarnaan ganda
yang digunakan sebagai dasar pengamatan dan awal dari identifikasi bakteri.
Pewarnaan bertujuan untuk memperjelas sel bakteri dengan menempelkan zat
warna ke permukaan sel bakteri. Pada zat warna basah bagian yang berperan
menempelkan warna disebut klorofor bermuatan positif. Sedangkan zat warna
asam yang berperan memiliki muatan negatif. Pewarnaan gram bertujuan untuk
mengidentifikasikan bakteri baik mengenai bentuknya maupun sifat-sifat
morfologinya. Dengan kata lain untuk memperlihatkan bagian-bagian sel mikroba
(Dwidjoseputro, 1998).
1.4
Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui sifat gram, bentuk sel, dan
penataan sel pada bakteri, untuk mengenal dan mempelajari prosedur pewarnaan
Gram serta untuk memahami pentingnya setiap langkah dalam prosedur tersebut.
II. METODOLOGI
2.1
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 13 Oktober 2014, bertempat
di Laboratorium Kesehatan Ikan, Depertemen Budidaya Perairan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor dari pukul 08.00-10.00
WIB.
2.2
Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop, kaca
preparat, gelas objek, ependof, jarum ose, bunsen, vorteks, dan botol semprot.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah satu set pewarna gram berisi larutan
safranin, larutan kaliaum iodium, larutan kristal violet, biakan bakteri, alkohol
70%, akuades, kertas tisu dan minyak imersi.
2.3
Prosedur Kerja
Alat-alat seperti meja, kaca objek, serta tangan harus disterilisasi dengan alkohol
70%. Setelah steril, kaca objek disiapkan serta memberi label (A dan
B) tetesi kaca objek dengan larutan akuades sebanyak 1 tetes. Biakan bakteri
dengan kode B, S, dan V yang sudah disediakan dalam ependof divorteks agar
homogen. Kemudian jarum ose dipanaskan dan langsung didinginkan sebentar
agar saat pengambilan kultur cair, bakteri yang diambil tidak mati karena panas
dari jarum ose tersebut. Biakan bakteri murni diambil dan diratakan diatas kaca
obyek dengan menggunakan jarum ose. Setelah itu gelas objek difiksasi dengan
menggunakan pembakar Bunsen dengan cara diletakan pada jarak 10 cm dari
pusat api kemudian digoyang-goyangkan hingga kultur cair yang ada di atas kaca
objek menguap dan hanya meninggalkan plak (preparasi). Setelah itu larutan
kristal violet diteteskan sebanyak 2-3 tetes pada olesan bakteri tersebut dan
didiamkan selama 1 menit. Kemudian olesan preparat dibilas dengan akuades lalu
dikering-anginkan hingga kering. Kemudian larutan kalium iodida diteteskan
sebanyak 1 tetes olesan preparat tadi dan didiamkan selama 1 menit. Setelah satu
menit kaca objek dibilas dengan akuades dan dikering-anginkan lagi hingga
kering. Setelah kering, olesan preparat ditetesi 2-3 tetes alkohol 95% dan
didiamkan selama 30 detik kemudian dibilas lagi dengan akuades dan
dikeringanginkan hingga kering lagi. Setelah kering, olesan preparat tersebut
ditetesi 2-3 tetes larutan safranin dan didiamkan selama 30 detik kemudian
preparat olesan kembali dibilas dengan akuades dan dianginkan hingga kering.
Pada tahap yang terakhir, preparat olesan diberi minyak emersi lalu diamati
dengan mikroskop.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1
Hasil
Hasil pengamatan pada percobaan pewarnaan Gram bakteri adalah diketahui
reaksi Gram bakteri, bentuk, dan penataan dari sel bakteri pada isolat B, S, dan V
(Tabel 1).
Tabel 1 Hasil pengamatan pewarnaan Gram bakteri
Ulangan
1
2
3
4
5
Isolat
B
S
V
B
S
V
B
S
V
B
S
V
B
S
V
Gram
+
+
+
+
+
+
+
-
Bentuk
Basil
Coccus
Basil
Basil
Coccus
Basil
Basil
Coccus
Comma
Basil
Coccus
Comma
Basil
Coccus
Coccus
Penataan
Diplo
Staphylo
Staphylo
Mono
Staphylo
Mono
Mono
Staphylo
Mono
Mono
Staphylo
Mono
Mono
Staphylo
Mono
Berdasarkan tabel 1 diatas pada ulangan 1 isolat B tergolong bakteri gram
negatif dengan bentuk basil dan penataannya termasuk golongan diplo, isolat S
merupakan bakteri gram negatif dengan bentuk coccus dan penataannya staphylo
sedangkan isolat V termasuk bakteri gram negatif, berbentuk basil dengan
penataan staphylo. Pada ulangan 2 isolat B dan V termasuk bakteri gram negatif
dengan bentuk basil dan penataannya mono, sedangkan isolat S berupa bakteri
gram positif dengan bentuk coccus dan penataannya staphylo. Ulangan 3 dan 4
memiliki hasil yang sama yaitu pada isolat B dan S termasuk bakteri gram positif
dengan bentuk dan penataan masing-masing basil dan coccus serta mono dan
staphylo, sedangkan isolat V merupakan bakteri gram negatif dengan bentuk
comma dan penataannya mono. Pada ulangan 5 isolat B tergolong bakteri gram
positif dengan bentuk basil dan penataannya termasuk golongan mono, isolat S
merupakan bakteri gram positif dengan bentuk coccus dan penataannya staphylo
sedangkan isolat V termasuk bakteri gram negatif, berbentuk coccus dengan
penataan mono.
3.2
Pembahasan
Dalam pewarnaan gram ada 2 kemungkinan yang akan terjadi yaitu
menjadi warna ungu yang menunjukkan gram positif dan warna merah yang
menunjukkan gram negatif. Warna ungu yang terdapat digram positif didapat
karena pada saat bakteri ditetesi dengan etanol dinding selnya mengkerut.
Sehingga saat diberi safranin (pewarnaan sekunder) bakteri tetap dapat
mempertahankan warna primernya karena pengaruh ketebalan dinding, oleh
karena itu disebut gram positif. Sedangkan gram negatif didapat karena pada saat
bakteri ditetesi dengan etanol dinding selnya tidak dapat mengkerut dengan kuat
karena strukturnya yang tipis., sehingga saat diberi safranin (pewarnaan sekunder)
bakteri tidak dapat mempertahankan warna primernya, sehingga warna ungu
pudar menjadi merah muda, oleh karena itu disebut gram negatif. Perbedaan
antara bakteri gram positif dan bakteri gam negatif terletak pada struktur dinding
sel dan kandungan asam ribonukleatnya. Hasil yang diperoleh dari setiap
kelompok mengenai pewarnaan gram bakteri berbeda-beda. Ada yang jenis
bakterinya gram (+) dan ada yang jenis bakterinya gram (-). Gram (+) berwarna
ungu karena bakteri tersebut mengikat komplek zat warna kristal ungu, gram (-)
berwarna merah karena mengikat zat warna sekunder. Jika sedian kemudian di
cuci dengan air, lalu dengan alkohol maka dua kemungkinan dapat terjadi.
Pertama zat warna tambahan terhapus, sehingga yang nampak ialah zat warna
yang asli (ungu). Dalam hal ini sedian (bakteri) kita sebut gram positif. Kedua zat
warna tambahan (merah) bertahan hingga zat warna asli tidak tampak, dalam hal
ini sedian (bakteri) kita katakan gram negatif (Dwidjosaputro, 2005).
Menurut Pelczar dan Chan (2010) bentuk-bentuk dasar bakteri terdiri atas
bentuk bulat (coccus), batang (basil), dan spiral (spirilia). Penataan bakteri
jenis coccus terdiri dari monococcus (sel bakteri kokus tunggal), diplococcus (dua
sel
bakteri
berdempetan
kokus
berdempetan), tetracoccus (empat
berbentuk
segi
empat), sarkina (delapan
sel
bakteri
kokus
sel
bakteri
kokus
berdempetan membentuk kubus), streptococcus (lebih dari empat sel bakteri
kokus berdempetan membentuk rantai), dan staphylococcus (lebih dari empat sel
bakteri kokus berdempetan seperti buah anggur). Penataan bakteri jenis
basil terdiri dari monobasil (sel bakteri basil tunggal), diplobasil (dua sel bakteri
basil berdempetan, dan streptobasil (beberapa sel bakteri basil berdempetan
membentuk
rantai).
Sedangkan
penataan
bakteri
jenis
spirilia diantaranya spiral (bentuk sel bergelombang), spiroseta (bentuk sel seperti
sekrup), dan vibrio/comma (bentuk sel seperti tanda baca koma).
Hasil pengamatan kelompok kami (Ulangan 4) pada isolat B (gambar 1)
dapat kita lihat bahwa bakteri berbentuk batang, berwarna merah muda yang
berarti bakteri tersebut termasuk Gram positif dengan pola penataannya tunggal.
Gambar 1. Isolat B hasil pewarnaan kelompok 4
Menurut Austin (1999) dalam Puspitasari (2003) selama penambahan
alkohol dinding sel akan terhidrasi dan pori-pori mengecil sehingga permeabilitas
dinding sel berkurang. Akibatnya kompleks kristal violet-yodium tidak terekstrak
keluar dan tetap berwarna ungu. Berdasarkan ciri-ciri diatas dugaan sementara
bakteri yang terdapat pada preparat olesan adalah Bacillus sp. Hal ini sesuai
dengan Wahyuni (2011) bahwa bentuk sel Bacillus sp batang. Diameter koloni
2,5-5 μm. koloni muncul di atas permukaan media NA. warna koloni merah
kecoklatan. Termasuk ke dalam bakteri gram positif. Bersifat motil, sitrat negatif,
glukosa positif, dapat tumbuh pada media yang diberi NaCL 5%, tidak dapat
tumbuh pada suhu 50˚C. dapat tumbuh dalam keadaan aerobik dan anaerobik.
Sedangkan pada kode isolat S (Gambar 2.) yang merupakan bakteri
berbentuk coccus, berwarna ungu yang berarti bakteri tersebut termasuk Gram
positif dengan pola penataannya berkoloni. Dari ciri-ciri di atas dugaan sementara
bakteri pada preparat olesan tersebut adalah bakteri Staphylococcus sp. Hal ini
sesuai dengan Wahyuni (2011) Bentuk sel bulat. Dimeter koloni 0,5-1,5 μm.
koloni muncul di atas permukaan media NA. koloni berwarna putih. Permukaan
koloni mengkilat. Termasuk ke dalam bakteri gram positif. Kebutuhan terhadap
oksigen termasuk aerob. Termasuk pada bakteri yang tidak mampu bergerak.
Katalase, oksidase dan produksi H2S bersifat positif.
Gambar 2. Isolat S hasil pewarnaan kelompok 4
Sedangkan pada kode isolat V (Gambar 3) yang merupakan bakteri
berbentuk comma, berwarna merah muda yang berarti bakteri tersebut termasuk
Gram negatif dengan pola penataannya mono. Dari ciri-ciri di atas dugaan
sementara bakteri pada preparat olesan tersebut adalah bakteri Caulobacter sp.
Dengan ciri-ciri Bentuk sel serupa batang, lurus atau bengkok. Diameter koloni
0,4-0,6 x 1-2 μm. koloni muncul di atas permukaan media NA. warna koloni
krem. Bentuk koloni circular dan convex. Termasuk ke dalam bakteri gram
negatif. Sel-sel mempunyai flagel, kebutuhan terhadap oksigen termasuk aerob.
Suhu optimumnya adalah 10-35˚C. habitat pada air tawar dan air laut.
Gambar 3. Isolat V hasil pewarnaan kelompok 4
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Bakteri dapat digolongkan menjadi dua sifat yaitu sebagai bakteri gram
positif dan bakteri gram negatif. Bakteri gram positif ditandai dengan
terbentuknya pigmen ungu seperti pada pengamatan pada isolat berkode B dan
S sedangkan bakteri gram negatif ditandai dengan terbentuknya warna merah
muda seperti pada pengamatan isolat berkode V. Bakteri yang teramati memiliki
keanekaragaman bentuk yang berupa batangan (basil) dan bulat (coccus) dan
comma.
4.2 Saran
Agar dalam pelaksanaan praktikum khususnya pada saat pengamatan
menggunakan mikroskop, praktikan senantiasa didampingi guna memudahkan
proses pengamatan objek. Hasil yang berbeda dari kelima ulangan menunjukkan
adanya keselahan teknik prosedur, untuk itu asisten harus bisa menerangkan dan
mendemonstrasikan langkah-langkah yang baik dalam pewarnaan Gram sehingga
akan diperoleh hasil yang maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Dwidjosaputro.2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan.
Dwidjoseputro, Ratna S., 1998. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta, P.T
Gramedia Pustaka.
Pelczar, M.J dan E.C.S. Chan. 2010. Dasar-Dasar Mikrobiologi (terjemahan),
R.S. Hadioetomo, T. Imas, S. S. Tjitrosomp dan S. L. Angka. Jakarta (ID):
UI Press.
Puspitasari, FB. 2003. Identifikasi dan Uji Postulat Koch Cendawan Penyebab
Penyakit pada Gurami. [Skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Institut Pertanian Bogor.
Wahyuni, Ika. 2011.
Jenis-jenis Bakteri Yang Berasosiasi Pada Proses
Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina (forsk) Vierh Setelah
Aplikasi Fungi Aspergillus sp., Curvullaria sp., Penicillium sp. Pada
Beberapa Tingkat Salinitas di Desa Sicanang Belawan. [Skripsi] USU.
Medan
Laporan Praktikum ke-4
m.k. Mikrobiologi Akuakultur
Hari/Tanggal : Senin, 20 Oktober 2014
Kelompok : IV
Asisten
: 1. Rahman, S.Pi., M.Si
2. Asisten Mikro 2013
KARAKTERISASI, SIFAT FISIOLOGI DAN BIOKIMIA
BAKTERI
Oleh:
Stefanno. M. A. Rijoly
C151140401
ILMU AKUAKULTUR
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Makhluk hidup yang sangat kecil yang tidak bisa dilihat oleh mata
telanjang
disebut
mikroorganisme
(Dwijoseputro
2003).
Masing-masing
mikroorganisme itu dibagi dalam filum, kelas, ordo, famili, genus, dan spesies.
Pembagian mikroorganisme tersebut menyebabkan diperlukannya suatu cara
pengelompokan atau pengklasifikasian. Penetapkan suatu sistem klasifikasi
mikroba yang mencerminkan dengan semua persamaan dan perbedaannya
dinamakan taksonomi. Kegiatan di dalam penyusunan taksonomi mikroorganisme
berupa pengklasifikasian, penamaan, dan pengidentifikasi yang disebut dengan
sistematika mikroba. Sistem klasifikasi mikroba baik jamur, bakteri, ataupun virus
didasarkan pada hierarki taksonomi atau penamaan kelompok atau kategori yang
menempatkan spesies pada satu ujung dunia dan di ujung dunia lainnya dalam
urutan spesies - genus – famili - ordo - kelas - filum atau divisi - dunia.
Mikroorganisme sebagaimana bentuk-bentuk kehidupan yang lain, diberi nama
menurut nomenklatur sistem biner (Volk 1988).
Klasifikasi
bakteri
menurut
Bergey’s
Manual
of
Determinative
Bacteriology pada umumnya diterima secara internasional. Manual ini direvisi
secara berkala untuk memanfaatkan pengetahuan baru melalui penelitian dengan
mikroorganisme dan melalui teknik-teknik baru untuk menganilisis data yang
diperoleh. Bergey’s Manual edisi kedelapan yang sekarang ini, membagi semua
bakteri menjadi 19 bagian (kelompok), dan masing-masing dicirikan oleh sifatsifat
morfologi
atau
metabolik
yang
nyata.
Tekanan
diberikan
pada
pengelompokan bakteri yang memiliki ciri-ciri umum dan mudah dikenali. Tidak
ada usaha untuk mengatur penempatan mikroorganisme yang mencerminkan
skema suatu perkembangan evolusi, sebagaimana dilakukan pada edisi-edisi
sebelumnya. Hal ini dikarenakan masih banyak pengetahuan mengenai
mikroorganisme yang belum lengkap diketahui (Karser 2004).
Karakterisasi morfologi bertujuan untuk mengamati baik morfologi koloni
maupun morfologi sel bakteri pada isolat bakteri yang telah lolos seleksi. Ketika
ditumbuhkan dalam media yang bervariasi, mikroorganisme akan menunjukkan
penampakan makroskopis yang berbeda-beda pada pertumbuhannya. Perbedaan
ini disebut dengan karakterisktik kultur, yang digunakan sebagai dasar untuk
memisahkan mikroorganisme dalam kelompok taksonomik (Capuccino 1992).
Pengujian secara fisiologis juga dapat dilakukan untuk mengelompokkan
taksonomi mikroorganisme termasuk taksonomi bakteri. Pengujian fisiologis
terdiri dari uji motilitas, uji katalase, uji oksidase, uji gelatin, dan uji
fermentatif/oksidatif. Selain kelima uji tersebut, dapat juga dilakukan uji yang
lain yaitu dengan menggunakan uji hidrolisis pati, uji indol, uji methyl red, uji
sitrat, dan uji hidrolisis urea (Hadioetomo 1993).
1.5
Tujuan
Percobaan bertujuan mengidentifikasi sifat biokimia dan fisiologis suatu
bakteri berdasarkan uji oksidase, uji katalase, uji oksidatif/fermentatif, uji
motilitas, dan uji gelatin, kemudian dapat menduga jenis bakteri dengan skema
penggolongan bakteri oleh Cowan (1974).
II. METODOLOGI
2.1
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 20 Oktober 2014 pukul 08.00-
10.00 WIB, bertempat di Laboratorium Kesehatan Ikan, Depertemen Budidaya
Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
2.2
Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tabung reaksi, jarum
ose, gobjek glass, rak tabung reaksi, kertas cakram, inkubator, kulkas, bunsen.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah koloni bakteri agar miring, gelatin,
media mengandung glukosa, media SIM (Sulfida Indol Motility), parafin, H2O2
3%, P-aminodimethylaniline-oxalat 1%,
2.3
Prosedur Kerja
2.3.1
Uji Oksidatif dan Fermentatif
Koloni bakteri diambil dengan jarum ose secara aseptik, inokulasikan
vertical pada 1 set (dua buah tabung) O/F medium. Salah satu tabung diberi
parafin 1 ml, kemudian diinkubasi selama 24 jam. Pemberian paraffin
dimaksudkan untuk menahan oksigen yang masuk pada tabung yang berisi O/F
medium. Reaksi oksidatif terjadi jika tabung yang tidak diberi paraffin berubah
menjadi kuning. Sedangkan reaksi fermentative terjadi jika tabung yang diberi
paraffin berubah warna menjadi kuning atau kedua tabung berubah warna menjadi
kuning.
2.3.2
Uji Motilitas
Koloni bakteri diambil dengan aseptik menggunakan jarum inokulum,
kemudian inokulasikan secara vertikal pada media SIM (Sulfida Indol Motility)
dan di inkubasi selama 24 jam. Motilitas bakteri ditunjukan dengan adanya
pertumbuhan pada permukaan medium dan tidak ada bekas pada tusukan, Bakteri
non motil tumbuh sepanjang tusukan.
2.3.3
Uji gelatin
Isolat bakteri pada agar miring diambil dengan menggunakan jarum ose
kemudian diinokulasi secara vertikan pada tabung reaksi yang berisi media yang
menggandung gelatin. Tabung reaksi diinkubasi pada suhu ruang selama 24 jam.
Kemudian masukan dalam kulkas dengan suhu 4˚C. Tes positif jika gelatin
terhidrolisis dan tetap akan berbentuk cair. Sedangkan tes menjadi negatif jika
gelatin tidak terhidrolisis sehingga saat dimasukan kedalam kulkas gelatin
membeku.
2.3.4
Uji Oksidase
Dua buah kertas cakram steril diletakkan di atas kaca preparat dengan
salah satu kertas cakram steril digunakan sebagai kontrol. Reagen p-aminodimetil
anilina oksalat 1% diteteskan pada kedua kertas cakram. Koloni bakteri diambil
dengan menggunakan pipet tetes secara aseptis, kemudian diteteskan pada salah
satu kertas cakram. Hasil positif ditunjukkan dengan adanya perubahan warna
yang dapat diamati dengan cara membandingkannya menggunakan larutan
kontrol.
2.3.5
Uji Katalase
Dengan menggunakan jarum ose, koloni bakteri secara aseptik diambil dan
diletakan pada gelas objek yang bersih. Kemudian diteteskan hydrogen peroksida
(H2O2) pada koloni bakteri tersebut. Adanya gelembung-gelembung udara
menunjukan tes tersebut positif.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1
Hasil
Hasil pengamatan pada percobaan karakterisasi sifat biokimia dan fisiologi
bakteri adalah diketahui sifat Oksidatif/Fermentatif, Katalase, Oksidase, Motilitas,
Gelatin, Gram dan Bentuk bakteri pada isolat A, B, C, D, dan E (Tabel 1).
Tabel 1 Hasil pengamatan uji sifat Oksidatif/Fermentatif, Katalase, Oksidase,
Motilitas, Gelatin, Gram dan Bentuk bakteri
Uji Sifat
O/F
Katalase
Oksidase
Motilitas
Gelatin
Gram
Bentuk
Genus
Bakteri
A
B
F
F
+
+
+
+
+
+
+
Basil
Coccus
Listeria Staphylococcus,
Pediococcus
Isolat
C
F
+
Coccus
Streptococcus,
Pediococcus,
Gamella
D
E
F
F
+
+
Basil
Basil
Cardiobakterium, Pseudomonas,
Eikenella
Streptobacillus
Berdasarkan tabel 1 diatas dapat kita lihat bahwa isolat D setelah dilakukan
ujioksidasi/fermentasi mengalami fermentasi, uji katalse bersifat negatif, oksidase
positif, bukan merupakan bakteri motil, tidak memiliki gelatin berupa bakteri
Gram negatif dan bentuknya basil. Setelah dicocokan dengan tabel Cowan ciriciri isolat D merupakan bakteri Gram negatif dari genus Cardiobacterium dan
Eikenella.
3.2
Pembahasan
Metabolisme adalah semua reaksi kimiawi yang dilakukan oleh sel untuk
menghasilkan energi yang digunakan untuk sintesis komponen-komponen sel dan
untuk kegiatan-kegiatan selular, seperti pergerakan. Reaksi kimiawi yang
membebaskan energi melalui perombakan nutrient disebut reaksi disimilasi atau
penguraian; jadi merupakan kegiatan katabolik sel. Sedangkan reaksi kimiawi
yang menggunakan energi untuk sintesis dan fungsi-fungsi sel lainnya disebut
reaksi asimilasi atau anabolik. Jadi, reaksi disimilasi menghasilkan energi, dan
reaksi asimilasi menggunakan energi.
Bila sel merombak ikatan-ikatan kimiawi tertentu selama metabolisme,
energi yang dilepaskan menjadi tersedia untuk melangsungkan kerja biologis.
Selama masa hidup sel, kerja ini bersifat ekstensif dan beragam. Mikroorganisme
heterotrofik nonfotosintesik memperoleh energinya dari oksidasi (pengusiran
electron atau atom hydrogen) senyawa-senyawa anorganik (Pelczar dan Chan,
2010).
Ciri fisiologi ataupun biokimia merupakan kriteria yang amat penting di
dalam identifikasi spesimen bakteri yang tak dikenal karena secara morfologis
biakan atau pun sel bakteri yang berbeda dapat tampak serupa, tanpa hasil
pengamatan fisiologis yang memadai mengenai organik yang diperiksa maka
penentuan spesiesnya tidak mungkin dilakukan. Karakteristik dan klasifikasi
sebagian mikroba seperti bakteri berdasarkan pada reaksi enzimatik ataupun
biokimia. Mikroba dapat tumbuh pada beberapa tipe media memproduksi tipe
metabolit tentunya yang dideteksi dengan interaksi mikroba dengan reagen test
yang mana menghasilkan perubahan warna reagen (Murray et al, 1996)
Uji fisiologi biasanya identik dengan uji biokimia. Uji-uji biokimia yang
dilakukan dalam praktikum ini antara lain uji O/F, uji katalase, uji oksidase,
hidrolisis
gelatin,
dan
uji
motilitas.
Pengujian
OF
dilakukan
untuk
mengidentifikasi isolat bakteri termasuk dalam kategori bakteri aerob atau bakteri
anaerob. Perubahan warna yang terjadi pada media OF akan menentukan kategori
bakteri tersebut. Perubahan warna media menjadi kuning pada tabung yang tidak
diberi parafin tetapi tidak berubah pada tabung yang diberi parafin, menunjukan
metabolisme oxidatif dari glukosa. Perubahan warna media menjadi kuning terjadi
pada kedua tabung, menunjukan metabolisme fermentatif (Nicklin et al 1999).
Hasil pengujian menunjukkan perubahan warna pada media glukosa yang
tadinya berwarna hijau menjadi kuning pada tabung yang ditambahkan paraffin
(gambar 1), sedangkan pada tabung yang tidak ditambahkan paraffin tetap
berwarna hijau menunjukkan bahwa bakteri uji bersifat fermentatif. Sifat
fermentatif menunjukkan bahwa bakteri hidup dalam suasana anaerob saja. Jika
pada tabung yang tidak ditambahkan paraffin membentuk warna kuning,
sedangkan pada tabung yang ditambahkan paraffin tetap berwarna hijau
menunjukkan bahwa bakteri uji bersifat oksidatif. Sifat oksidatif menunjukkan
bahwa bakteri hidup dalam suasana aerob saja. Jika tabung baik yang
ditambahkan maupun yang tidak ditambahkan paraffin membentuk warna kuning
menunjukkan bahwa bakteri uji memiliki sifat oksidatif/fermentatif. Sifat O/F ini
menunjukkan bahwa bakteri dapat hidup baik dalam suasana aerob maupun
anaerob. Hasil percobaan menunjukkan bahwa isolat D bersifat fermentatif yang
bisa hidup dalam suasana anaerob saja.
Gambar 1. Hasil Pengujian Oksidasi Fermentasi
Uji katalase digunakan untuk mengetahui aktivitas katalase pada bakteri
yang diuji. Kebanyakan bakteri memproduksi enzim katalase yang dapat
memecah H2O2 menjadi H2O dan O2. Enzim katalase penting untuk pertumbuhan
aerobik karena H2O2 yang dibentuk dengan pertolongan berbagai enzim
pernafasan bersifat racun terhadap sel mikroba. Beberapa bakteri yang termasuk
katalase
negatif
adalah
Streptococcus,
Leuconostoc,
Lactobacillus,
dan
Clostridium. Kebanyakan bakteri aerobik dan anaerobik fakultatif akan
memproduksi hidrogen peroksida yang bersifat toksik terhadap bakteri yang
masih hidup. Untuk menjaga kelangsungan hidupnya, sejumlah bakteri mampu
menghasilkan enzim katalase yang memecah H2O2 menjadi air dan oksigen
sehingga sifat toksiknya hilang (Pelczar dan Chan, 2010). Matinya bakteri-bakteri
anerobik obligat bila ada oksigen disebabkan karena tidak adanya pembentukan
enzim katalase sehingga H2O2 meracuni bakteri itu sendiri. Ada tidaknya
pembentukan enzim katalase dapat membantu pembedaan kelompok-kelompok
bakteri tertentu. Pada uji katalase, kebanyakan bakteri aerob dan anaerob
menggunakan oksigen H2O2 yang sesungguhnya bersifat racun bagi sistem-sistem
enzim sendiri. Namun, mereka tetap dapat hidup dengan adanya racun tersebut
karena akan meghasilkan enzim katalase (Hadieotomo, 1993). Uji katalase yang
dilakukan pada percobaan menujukan hasil negatif yang ditandai dengan tidak
terbentuknya gelembung.
Enzim oksidase memegang peranan penting dalam transport elektron
selama respirasi aerobik. Sitokrom oksidase mengkatalisis oksidasi dan reduksi
sitokrom oleh molekul oksigen. Enzim oksidase dihasilkan oleh bakteri aerob,
fakultatif anaerob, dan mikroaerofilik. Mikroorganisme ini menggunakan oksigen,
sebagai akseptor elektron terakhir selama penguraian karbohidrat untuk
menghsilkan energi. Kemampuan bakteri memproduksi sitokrom oksidase dapat
diketahui dari reaksi yang ditimbulkan setelah pemberian reagen oksidase pada
koloni bakteri. Enzim ini merupakan bagian dari kompleks enzim yang berperan
dalam proses fosforilasi oksidatif. Reagen yang digunakan dalam praktikum ini
adalah P-aminodimethylaniline-oxalat 1%. Reagen akan mendonorkan elektron
terhadap enzim ini sehingga akan teroksidasi membentuk senyawa yang berwarna
(Volk, 1988). Dari hasil praktikum didapat bahwa koloni bakteri setelah ditetesi
reagen berubah warna menjadi pink hal ini menunjukan bahwa bakteri
mengandung enzim oksidase.
Gambar 2. Hasil Uji Oksidase dan Katalase
Menurut Volk (1988) kemampuan suatu organisme untuk bergerak sendiri
disebut motilitas. Hampir semua sel bakteri spiral dan sebagian dari sel bakteri
basil bersifat motil, sedangkan bakteri yang berbentuk kokus bersifat immotil.
Motilitas sebagian besar jenis bakteri motil pada suhu relatif rendah 15-25˚C dan
mungkin tidak motil pada suhu 37˚C. Reaksi positif pada uji motilitas ditandai
adanya pergerakan atau pertumbuhan bakteri tidak hanya pada bekas tusukan
inoklasi tetapi menyebar. Dari praktikum didapatkan uji negatif karena bakteri
yang diinokuasi tidak tumbuh menyebar.
Enzim-enzim yang menguraikan golongan potein disebut protenase /
protease, kedua nama ini dianggap sinonim. Contoh pada hidrolisis gelatin dimana
protein diperoleh dari hidrolisis kalogen, yaitu zat pada jaringan penghubung dan
tendon dari hewan. Gelatin akan terurai oleh mikrobia yang mensintesis enzim
proteolisis. Larutan gelatin bersifat cair pada suhu ruang atau suhu kamar dan
padat apabila berada di dalam refrigerator. Dan apabila gelatin sudah dihidrolisis
oleh mikroba, maka akan tetap bersifat cair (Hadioetomo, 1993). Gelatin
diperoleh dengan mendidihkan bahan hewani yang mengandung kolagen, namun
gelatin bukanlah protein yang sama tipenya dengan kolagen. Ternyata bobot
molekul gelatin hanyalah sepertiga kolagen. Agaknya dalam pembentukan gelatin,
molekul tropokolagen terurai dan tiap helai membuat ikatan-ikatan hidrogen
dalam air, menghasilkan pembentukan gel yang khas (Fessenden dan Fessenden,
1995). Hasil yang diperoleh pada percobaan setelah dilakukan inklubasi selama
24 jam dan pendinginan selama 10 menit didalam freezer diperoleh bakteri dalam
keadaan keras atau membeku yang artinya isolat D negatif gelatin.
Berdasarkan hasil-hasil yang telah dillakukan dengan uji fermentasi, uji
oksidase, produksi katalase, uji motilase dan uji oksidase bakteri yang terkadung
didalam kultur adalah Cardiobacterium dan Eikenella.
Cardiobacterium dan Eikenella merupakan bakteri non patogen bagi
organise akuatik seperti pada ikan mas koki, maanfish, black ghost, dan cupang
terutama terdapat pada bagian insang dan juga ginjal (Insani, 2002), akan tetapi
bakteri ini bersifat patogen pada manusia. Cardiobacterium biasanya menyerang
rongga mulut dan saluran urogenital manusia yang menyebabkan native valve
endocarditis yang didapatkan dari lingkungan (Chong et al, 1985). Eikenella
merupakan bakteri patogen pada manusia yang terdapat pada plak gigi. Bakteri ini
menyebabkan submandibular dan sublingual abses serta abses dari bagian anterior
leher (Haffaje dan Socransky, 1994).
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
bakteri D memiliki genus Cardiobacterium, dan Eikenella yang bersifat Gram
negatif, berbentuk batang, memiliki enzim oksidase, tidak memiliki enzim
katalase, fermentatif, nonmotil, dan tidak memiliki enzim gelatinase.
4.2 Saran
Untuk praktikum selanjutnya sebaiknya digunakan bakteri dengan jenis
yang lain, misalnya bakteri bentuk kokus atau dapat juga menggunakan bakteri
yang merupakan parasit pada ikan.
DAFTAR PUSTAKA
Capuccino JG, Sherman N. 1992. Microbiology a Labolatory Mannual. Amerika:
The Benjamin.
Chong, Yunsop., Kim, Tai Sook., Lee, Y. Samuel., Shim, Won Heum., Choo,
Bum Koo. Cardiobacterium Hominis Endocarditis – A Case Report.
Yonsei Medical Journal, Vol. 26, No. 1, 1985.
Dwijoseputro. 2003. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.
Fessenden dan Fessenden, 1995, Kimia Organik, Cetakan ketiga, Jilid II, Penerbit
Erlangga, Jakarta, 454
Hadioetomo RS. 1993. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek: Teknik dan Prosedur
Dasar Laboratorium. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.
Haffajee AD, Socransky SS. 1994. Microbial Etiological Agents Of Destructive
Periodontal Diseases. Periodontol 2000 1994;5:78-111.
Insani, Dwi Surya. 2002. Inventarisasi Bakteri pada Ikan Hias Mas Koki
(Carassius auratus), Maanvis (Pterophyllum scalare), Black Ghost
(Apteronotus albifrons) dan Cupang (Betta splendens) di Jakarta Timur.
[Skripsi]. Institut Pertanian Bogor
Karser G. 2994. Microbiology Laboratory Manual. New York: Cotons Ville
Campus.
Murray, A.E., Hollibaugh, J.T. and Orrego, C. (1996) Phylogenetic compositions
of bacterioplankton from two California estuaries compared by Denaturing
Gradient Gel Electrophoresis of 16S rDNA fragments. Appl Environ
Microbiol 62, 2676–2680.
Nicklin, J, Graeme-Cook, T Paget, and Killington. 1999. Microbiology.
BIOS Scientific Publisher Limited. New York.
Sulia, S. B. and S. Shantharam. 1998. General Microbiology. Science Publ. Inc.
USA
Volk S. 1988. Mikrobiologi Dasar. Jakarta: Erlangga.
Laporan Praktikum ke-5
m.k. Mikrobiologi Akuakultur
Hari/Tanggal : Senin, 27 Oktober 2014
Kelompok : IV
Asisten
: 1. Rahman, S.Pi., M.Si
2. Asisten Mikro 2013
ISOLASI FUNGI DAN KARAKTERISTIK CENDAWAN
(KHAMIR DAN KAPANG)
Oleh:
Stefanno. M. A. Rijoly
C151140401
ILMU AKUAKULTUR
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Fungi adalah suatu kelompok jasad hidup yang menyerupai tumbuhan
karena mempunyai dinding sel, tidak bergerak, berkembang biak dengan spora,
tetapi tidak mempunyai klorofil. Fungi tidak mempunyai akar, batang, daun dan
sistem pembuluh seperti pada tumbuhan tingkat tinggi. Umumnya fungi berbentuk
benang, bersel banyak, dan semua bagian jamur tersebut memiliki potensi untuk
tumbuh. Setiap lembar benang disebut hifa, dan kumpulan hifa dinamakan
miselium. Diameter hifa berkisar antara 0,5 –100 mikron atau lebih (Rukmana
1997).
Khamir (yeast) merupakan sel tunggal (uniseluler) yang membentuk tunas
dan pseudohifa (Webster dan Weber, 2007). Hifanya panjang, dapat bersepta atau
tidak bersepta dan tumbuh di miselium. Yeast memiliki ciri khusus bereproduksi
secara aseksual dengan cara pelepasan sel tunas dari sel induk. Beberapa khamir
dapat bereproduksi secara seksual dengan membentuk aski atau basidia dan
dikelompokkan ke dalam Ascomycota dan Basidiomycota. Dinding sel yeast
adalah struktur yang kompleks dan dinamis dan berfungsi dalam menanggapi
perubahan lingkungan yang berbeda selama siklus hidupnya (Hoog et al., 2007).
Sel khamir biasanya berbentuk telur, beberapa memanjang atau bentuk bola.
Khamir tidak dilengkapi flagelum atau organ penggerak lainnya.
Khamir mempunyai ukuran yang bervariasi dengan panjang 1-5 µm
sampai 20-50 µm, dan lebar 1-10 µm. Sel khamir mempunyai bentuk yang
bermacam-macam seperti bulat, oval, silinder, ogival yaitu bulat. Bentuk-bentuk
dari sel khamir tersebut dapat membantu dalam indentifikasi dari khamir. Ada
beberapa khamir dalam keadaan tertentu dapat mengalami dimorfisme yaitu fase
khamir, bentuk sel tunggal dan filamen, bentuk benang (Pelczar dan Chan, 2010).
Kapang (mold) adalah fungi multiseluler yang mempunyai filamen, dan
pertumbuhannya pada substrat mudah dilihat karena penampakannya yang
berserabut seperti kapas. Pertumbuhannya mula-mula berwarna putih, tetapi jika
spora telah timbul akan terbentuk berbagai warna tergantung dari jenis kapang
(Ali 2005). Kapang terdiri dari suatu thallus yang tersusun dari filamen yang
bercabang yang disebut hifa. Kumpulan dari hifa membentuk suatu jalinan yang
disebut miselium. Setiap hifa memiliki lebar 5-10 µm (Pelczar dan Chan 2010).
Menurut Fardiaz (1992), dan Waluyo (2004), kapang dapat dibedakan
menjadi 2 kelompok berdasarkan struktur hifa, yaitu hifa tidak bersekat atau
nonseptat dan hifa bersekat atau septat. Septat akan membagi hifa menjadi bagianbagian, dimana setiap bagian tersebut memiliki inti (nukleus) satu atau lebih.
Kapang yang tidak memiliki septat maka inti sel tersebar di sepanjang hifa.
Dinding penyekat pada kapang disebut dengan septum yang tidak tertutup rapat
sehingga sitoplasma masih dapat bebas bergerak dari satu ruang ke ruang lainnya.
Kapang yang bersekat antara lain kelas Ascomycetes, Basidiomycetes dan
Deuteromycetes.
Sedangkan
kapang
yang
tidak
bersekat
yaitu
kelas
Phycomycetes (Zygomycetes dan Oomycetes). Secara alamiah kapang berkembang
biak dengan berbagai cara, baik aseksual dengan pembelahan, penguncupan, atau
pembentukan spora. Dapat pula secara seksual dengan peleburan nukleus dari
kedua induknya. Pada pembelahan, suatu sel membelah diri untuk membentuk
dua sel anak yang serupa. Pada penguncupan suatu sel anak tumbuh dari
penonjolan kecil pada sel inangnya (Waluyo 2004).
Berbagai dampak cendawan parasit terhadap ikan tentunya menjadi
ancaman bagi kegiatan budidaya. Sehingga diperlukan adanya isolasi dan
identifikasi cendawan yang berada dalam lingkungan pemeliharaan ikan bahkan
cendawan yang terdapat dalam tubuh ikan yang dipelihara. Hal tersebut perlu
dilakukan agar jika terdapat cendawan yang bersifat parasit, pelaku budidaya
dapat mengambil langkah tepat, yaitu dilakukan treatment, pengobatan, bahkan
pemusnahan, sehingga kegiatan budidaya yang dilakukan tidak terlalu mengalami
kerugian.
1.6
Tujuan
Praktikum ini bertujuan memahami metode isolasi cendawan dan
mengetahui morfologinya beserta karakteristik biokimia terhadap beberapa
macam gula.
II. METODOLOGI
2.1
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 27 Oktober 2014 dan Senin, 3
November 2014 pukul 08.00-10.00 WIB, bertempat di Laboratorium Kesehatan
Ikan, Depertemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor.
2.2
Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini adalah cawan petri, tabung
ependof, mikroskop optik, jarum ose, pinset, objek dan cover glass, pipet mikro,
tabung reaksi dan inkubator. Sedangkan bahan yang digunakan adalah koloni
khamir, ikan terinfeksi kapang dan telur ikan terinfeksi kapang, media PDA,
MEA, GYA, antibiotik, aquades, khamir, Methylin Blue, Melacid Green, tissue,
glukosa galaktosa, sukrosa, rafinosa, trehalosa, laktosa dan maltosa.
2.3
Prosedur Kerja
2.3.1
Isolasi Kapang dan Khamir
Koloni kapang diambil dari bagian tubuh ikan yang terinfeksi kapang dan
dari telur ikan yang juga sudah terinfeksi. Kapang pada tubuh dan telur ikan
masing-masing diambil dengan menggunakan gunting dan pinset kemudian
dibilas dengan aquades dan diletakkan pada bagian tengah cawan petri yang berisi
media GYA yang sudah diberi antibiotik. Pemberian antibiotik berfungsi untuk
mencegah tumbuhnya bakteri. Kemudian cawan diinkubasi pada suhu ruang
selama 24-48 jam.
Tabung ependorf yang berisi suspensi khamir diambil dengan jarum ose
kemudian digoreskan pada media PDA, MEA maupun GYA. Penggoresan
dilakukan dengan cara zigzag dan kuadran. Kemudian cawan petri diinkubasi
pada suhu ruang selama 24-48 jam.
2.3.2
Rekultur Kapang
Kapang yang sebelumnya sudah ditumbuhkan pada cawan petri, diambil
bagiannya sedikit dengan pinset dan gunting. Kemudian pindahkan kapang yang
sudah diambil tadi ke dalam cawan petri baru yang mengandung media GYA dan
antibiotik. Setelah itu inkubasi pada suhu ruang selama 24-48 jam.
2.3.3
Karakterisasi Kapang Pada Tubuh dan Telur Ikan
Kapang pada tubuh dan telur ikan diambil dengan pinset kemudian
diletakkan pada kaca preparat dan ditetesi air, tutup dengan cover glass. Setelah
itu preparat kapang diamati dibawah mikroskop pada pembesaran 100-1000x,
amati bentuk hifa, sporangium dan sprora dari kapang tersebut.
2.3.4
Pengamatan Morfologi Khamir
Suspensi khamir pada tabung ependorf diambil dengan jarum ose dan
diteteskan pada objek gelas. Objek gelas ditetesi Methylin Blue kemudian tutup
dengan cover glass tanpa ada gelembung. Setelah itu preparat khamir diamati
bentuk dan perubahan warnanya dibawah mikroskop optik pada perbesaran 100400X. Kemudian dihitung persentase sel khamir yang hidup dan mati.
2.3.3
Uji Biokimia Khamir
Tabung reaksi disiapkan dengan diisi oleh beberapa macam larutan gula
yaitu glukosa galaktosa, sukrosa, rafinosa, trehalosa, laktosa dan maltosa.
Kemudian dimasukkan tabung dengan posisi terbalik pada dasar tabung reaksi
dengan tidak ada gelembung yang terperangkap. Khamir dimasukkan sebanyak
100 µl kemudian tabung diinkubasi pada suhu ruang selama 24-48 jam untuk
diamati perubahan warna larutan dan ada atau tidaknya gas CO2 yang
terperangkap di tabung.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1
Hasil
Hasil pengamatan cendawan dari lingkungan akuakultur yang telah
diisolasi menggunakan media agar GYA, PDA dan MEA disajikan pada tabel
berikut.
Tabel 1 Hasil isolasi dan pengamatan morfologi fungi kapang dan khamir
Jenis Fungi
Kapang
(Telur Ikan)
Kapang
(Organ Ikan)
Kapang
(Rekultur)
Khamir
(Isolasi)
Gambar Koloni
Gambar Morfologi
Khamir
(Morfologi)
Tabel 2 Persentase jumlah sel khamir yang mati, sel khamir yang hidup, dan
bentuk koloninya
Kelompok
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
∑ Sel Mati (%)
12,25
11,48
16,70
24,00
47,00
26,00
0,00
0,00
0,00
27,00
∑ Sel Hidup (%)
87,75
88,52
83,30
76,00
53,00
74,00
100
100
100
73,00
Bentuk Koloni
Elips
Sirkular
Sirkular
Sirkular
Sirkular
Elips
Sirkular
Sirkular
Sirkular
Sirkular
Berdasarkan tabel 2 diatas dapat kita lihat bahwa persentasi sel khamir
hidup tertinggi terdapat pada kelompok 7, 8 dan 9 yaitu sebesar 100%, sedangkan
persentase sel khamir hidup terendah ada pada kelompok 5 sebesar 53%.
Persentase sel khamir mati tertinggi terdapat pada kelompok 5 yaitu sebesar 47%
sedangkan terendah ada pada kelompok 7, 8, dan 9 yaitu 0%.
Tabel 3 Hasil uji biokimia isolat khamir pada berbagai media gula
Uji Gula
Set 1
Gula
O/F
+
O
+
F
+
F
+
F
Set 2
Gula
O/F
+
F
+
F
+
O
+
F
+
F
-
Set 3
Gula
O/F
+
O
+
O
+
O
+
O
+
O
Set 4
Gula
O/F
+
F
+
F
+
O
+
F
+
F
Glukosa
Dekstrosa
Sukrosa
Rafinosa
Trehalosa
Laktosa
Maltosa
Keterangan:
+ : reaksi positif (media berubah warna menjadi kuning)
- : reaksi negatif (tidak terjadi perubahan warna pada media/tetap ungu)
O : Oksidatif/aerob
F : Fermentatif/anaerob
Set 5
Gula O/F
+
O
+
O
+
O
+
F
+
O
Berdasarkan tabel 3 diatas dapat kita lihat bahwa pada uji glukosa, set 1, set 3 dan
set 5 berupa Oksidatif +, sedangkan set 2 dan set 4 berupa Fermentatif +. Pada uji
gula dekstrosa set 1, set 2 dan set 4 bersifat Fermentatif +, sedangkan set 3 dan set
5 bersifat Oksidatif +. Uji sukrosa hanya set 1 yang bersifat Fermentatif +,
sedangkan set 2 sampai set 5 bersifat Oksidatif +. Uji rafinosa set 1 dan set 2
negatif, set 3 Oksidatif +, set 4 dan set 5 Fermentatif +. Uji trehalosa set 1 dan set
3 sampai set 5 negatif sedangkan set 2 Fermentatif +. Uji laktosa memiliki hasil
yang sama dengan uji trehalosa yaitu set 2 Fermentatif + sedangkan yang lainnya
negatif. Uji maltosa set 1 dan set 4 Fermentatif +, set 3 dan set 5 Oksidatif +
sedangkan set 2 negatif.
3.2
Pembahasan
Fungi adalah organisme tidak berklorofil dan mempunyai dinding sel yang
kaku. Beberapa bersel satu yang lain multiselular dan menunjukkan sedikit
perbedaan pada bagian-bagian strukturnya. Ukuran dan bentuknya berkisar dari
khamir yang mikroskopis dan multiselular (kapang) sampai jamur multiselular
yang amat besar sepeti jamur kelentos. Fungi memperbanyak diri melalui
beberapa proses, baik seksual maupun aseksual (Pelczar dan Chan, 2010).
Fungi merupakan organisme kemoheterotrof yang memerlukan senyawa
organik untuk nutrisinya. Bila sumber nutrisi tersebut diperoleh dari bahan
organik
mati,
mendekomposisi
maka
fungi
sisa-sisa
tersebut
tumbuhan
bersifat
dan
saprofit.
hewan
yang
Fungi
saprofit
kompleks
dan
menguraikannya menjadi zat yang lebih sederhana. Dalam hal ini, fungi bersifat
menguntungkan sebagai elemen daur ulang yang vital (Pratiwi, 2008).
Secara umumnya fungi dibagi menjadi 2 yaitu: khamir (Yeast) dan kapang
(Mold). Khamir adalah fungi dengan bentuk sel tunggal dengan pembelahan
secara pertunasan. Khamir mempunyai sel yang lebih besar daripada kebanyakan
bakteri, tetapi khamir yang paling kecil tidak sebesar bakteri yang terbesar.
Khamir sangat beragam ukurannya, berkisar antara 1-5μm lebarnya dan
panjangnya dari 5-30 μm atau lebih. Biasanya berbentuk telur, tetapi beberapa ada
yang memanjang atau berbentuk bola. Setiap spesies mempunyai bentuk yang
khas, namun sekalipun dalam biakan murni terdapat variasi yang luas dalam hal
ukuran dan bentuk. Sel-sel individu, tergantung kepada umur dan lingkungannya.
Khamir tidak dilengkapi flagellum atau organ-organ penggerak lainnya (Coyne,
1999)
Kapang adalah fungi yang memiliki miselium dan spora (sel resisten,
istirahat atau dorman). Miselium merupakan kumpulan beberapa filamen yang
dinamakan hifa. Setiap hifa lebarnya 5-10 μm, dibandingkan dengan sel bakteri
yang biasanya berdiameter 1 μm. Disepanjang setiap hifa terdapat sitoplasma
bersama (Syamsuri 2004)
Terdapat 3 jenis hifa yaitu aseptat atau sinosit yang tidak memiliki sekat
atau septum. Hifa septat dengan sel-sel uninukleat. Sekat membagi hifa menjadi
ruang-ruang berisi nukleus tunggal. Pada setiap septum berisi pori di tengahtengah yang memungkinkan perpindahan nukleus dan sitoplasma dari satu ruang
ke ruang lain. Hifa septa dengan sel-sel multinukleat. Septum membagi hifa
menjadi sel-sel dengan lebih dari satu nukleus dalam setiap ruang. Miselium dapat
bersifat vegetatif/somatik atau reproduktif. Beberapa hifa dari miselium somatik
menembus ke dalam media untuk mendapatkan nutrien. Miselium reproduktif
bertanggung jawab untuk pembentukan spora dan biasanya tumbuh meluas ke
udara dari media. Miselium suatu kapang dapat merupakan jaringan yang terjalin
lepas atau dapat merupakan struktur padat yang terorganisasi, seperti pada jamur
(Pelczar dan Chain, 2010).
Fardiaz (1992) mengungkapkan bahwa khamir dapat dibedakan atas dua
kelompok berdasarkan sifat metabolismenya yaitu bersifat fermentatif dan
oksidatif. Jenis fermentatif dapat melakukan fermentasi alkohol yaitu memecah
gula (glukosa) menjadi alkohol dan gas. Sedangkan oksidatif (respirasi) maka
akan menghasilkan carbon dioksida dan air.
Berdasarkan uji gula oleh Lodder (1970) S. cerevisae mempunyai reaksi
positif pada glukosa, dekstrosa, galaktosa, sukrosa, maltosa, raffinosa, dan negatif
pada gula trehalosa dan laktosa. Jika dibandingkan dengan set uji kelompok kami
bisa disimpulkan bahwa khamir yang di uji merupakan S. cerevisiae.
Gambar 1. Hasil uji Gula
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum menunjukkan bahwa jenis khamir yang di uji
tergolong Saccharomyces cerevisiae. Pada uji gula didapatkan hasil pada media
glukosa, dextrosa, rafinosa, dan maltosa terjadi reaksi fermentatif positif (warna
berubah dari ungu menjadi kuning dengan adanya gelembung udara) dan pada
sukrosa terjadi Oksidatif positif, pada trehalosa dan laktosa terjadi reaksi negatif
(warna tetap ungu).
4.2 Saran
Untuk dapat lebih meningkatkan pemahaman tentang fungi sebaiknya
jumlah fungi yang diujikan cukup banyak dan berbeda antar kelompok. Media uji
biokimia gula harus dipastikan benar dalam pembuatannya, tidak terdapat
gelembung gas. Dan pada saat penghitungan sel khamir, sebaiknya para praktikan
diajarkan cara menghitung menggunakan haemocytometer selain dengan
menggunakan handcounter, sehingga praktikan dapat membedakan mana metode
yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, A. 2005. Mikrobiologi Dasar Jilid I. State University of Makassar Press.
Makassar.
Coyne, Mark S. 1999. Soil Microbiology: An Exploratory Approach. USA:
Delmar Publish
Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan 1. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Hoog, J.L., Schwartz C., Noon A.T., O’toole E.T., Mastronarde D.N, McIntosh
JR, Antony C. 2007. Organization Of Interphase Microtubules In Fission
Yeast Analyzed By Electron Tomography. Dev Cell. 12(3): 349-61.
Lodder. 1970. The Yeast: A Tacsonomi Study, North Holland Publising
Company.
Madigan MT, JM Martinko, DA Stahl & DP Clark. 2012. Brock Biology Of
Microoganism. San Fransisco: Pearson Education.
Pelczar, M.J dan E.C.S. Chan. 2010. Dasar-Dasar Mikrobiologi (terjemahan),
R.S. Hadioetomo, T. Imas, S. S. Tjitrosomp dan S. L. Angka. Jakarta (ID):
UI Press.
Pratiwi, Sylvia T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Penerbit Erlangga: Jakarta
Syamsuri, Istamar. 2004. Biologi. Erlangga. Jakarta
Waluyo, L. 2004. Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang
Webster, J. and R. Weber. 2007. Introduction to Fungi. Cambridge University
Press. New York.
Laporan Praktikum ke-6
m.k. Mikrobiologi Akuakultur
Hari/Tanggal : Senin, 10 November 2014
Kelompok : IV
Asisten
: 1. Rahman, S.Pi., M.Si
2. Asisten Mikro 2013
PENGHITUNGAN BAKTERI DENGAN METODE
HITUNGAN CAWAN
Oleh:
Stefanno. M. A. Rijoly
C151140401
ILMU AKUAKULTUR
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Jumlah mikrobia pada suatu bahan dapat ditentukan dengan bermacam-
macam cara, tergantung pada bahan dan jenis mikrobia yang ditentukan. Jenis
populasi mikrobia dalam tanah, air, bahan makanan dan lain-lainnya berbeda-beda
tergantung pada susunan bahan tersebut.
Berbagai macam metode tersedia untuk perhitungan mikroorganisme.
Pemilihan metode akan tergantung pada sejumlah faktor diantaranya yaitu jenis
sampel, organisme spesifik yang dicari, karakteristik media tertentu, batas bawah
dari perhitungan yang diperlukan, tujuan dari pemeriksaan dan waktu yang
tersedia. Pengukuran kuantitatif populasi mikroba dalam suatu sampel dilakukan
untuk mengetahui kualitas bahan atau tujuan lain berdasarkan jumlah mikroba
yang ada dalam sampel tersebut. Ada berbagai cara untuk mengukur jumlah sel,
antara lain dengan penghitungan mikroskopis langsung (direct microscopis count)
dan penghitungan tidak langsung (indirect count) dengan hitungan cawan, baik
dengan metode penyebaran maupun metode penuangan (Waluyo, 2008).
Ada beberapa cara untuk mengukur atau menghitung mikrobia yaitu
dengan perhitungan jumlah sel, perhitungan massa sel secara langsung, dan
pendugaan massa sel secara tak langsung. Perhitungan jumlah sel dapat dilakukan
dengan tiga metode yaitu dengan hitungan mikroskopik, MPN (Most Probable
Number), dan hitungan cawan (Fardiaz, 1992). Bakteri dapat dihitung dengan
menggunakan metode cawan petri (metode perhitungan secara tidak langsung)
yang didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel yang dapat hidup akan
berkembang menjadi satu koloni yang merupakan suatu indeks bagi jumlah
organisme yang dapat hidup yang terdapat pada sampel (Penn, 1991).
Metode hitung cawan didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel yang
dapat hidup akan berkembang menjadi satu koloni. Jadi jumlah koloni yang
muncul pada cawan merupakan suatu indeks bagi jumlah mikroorganisme yang
dapat hidup yang terkandung di dalam sampel. Prinsip dalam metode cawan
adalah
adanya
seri
pengenceran
sampel.
Pengenceran
bertujuan
mikroorganisme yang diamati dapat dihitung (Robert dan Greenwod, 2003).
agar
Untuk mempermudah penghitungan jumlah koloni bakteri digunakan alat
yang biasa disebut Colony Counter. Pada alat Colony Counter, penghitungan
jumlah koloni bakteri dipermudah dengan adanya counter electronic. Dengan
adanya counter tersebut peneliti tinggal menandai koloni bakteri yang dihitung
dengan menggunakan pen yang terhubung dengan counter. Setiap koloni yang
ditandai maka counter akan menghitung. Penghitungan suatu koloni dengan
metode pour plate masih memungkinkan terjadinya kesalahan dikarenakan faktor
human error akibat bentuk koloni yang relatif kecil dan banyaknya koloni yang
akan dihitung (Waluyo, 2008).
1.7
Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari cara melakukan
pengenceran serial dan menentukan jumlah bakteri dalam suatu sampel dengan
metode hitungan cawan.
II. METODOLOGI
2.1
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 10 November 2014 pukul
08.00-10.00 WIB, bertempat di Laboratorium Kesehatan Ikan (LKI), Departemen
Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor.
2.2
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum adalah vortex, bunsen, jarum ose,
mikropipet, pipet volume, tabung reaksi, spidol, tissue, kertas label, cawan petri,
dan batang penyebar. Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah suspensi
biakan Pseudoalteromonas sp. media SWC dalam cawan petri, larutan fisiologis
(0, 85% NaCl) dan alkohol 70%.
2.3
Prosedur Kerja
2.3.1
Metode Cawan Sebar
Tabung-tabung berisi garam fisiologis dan disusun berderet. Kemudian
sampel suspensi bakteri di vortex agar homogen sampai merata. Selanjutnya
dilakukan pengenceran serial sampel suspensi bakteri yaitu dengan mengambil
secara aseptik. Stok bakteri yang sudah disiapkan pada pengenceran 10-4
kemudian 1 ml suspensi bakteri lalu dimasukkan ke tabung 9 ml pertama (10-5).
Vortex agar homogen, lalu diambil lagi secara aseptik pipet 1 ml sampel dari
tabung pengencer pertama dan masukkan ke dalam tabung pengencer kedua (106
), dan seterusnya sampai tabung pengencer ketiga (10-7).
Gambar 1. Prosedur praktikum perhitungan bakteri dengan metode hitungan
cawan
2.3.2
Metode Cawan Tuang
Siapkan 3 cawan petri steril dan 3 cawan petri berisi media SWC.
Kemudian diberi kode sesuai dengan kode tabung pengencer yang akan dituang
atau disebar. Selanjutnya diambil 0,1 ml sampel dari tabung pengencer 1, 2 dan 3,
lalu masing-masing disebar pada media SWC dengan menggunakan batang
penyebar. Selanjutnya digoyangkan secara perlahan-lahan untuk meratakan media
dan dibiarkan agar dalam cawan-cawan petri menjadi padat. Setelah itu diletakkan
dalam posisi terbalik untuk diinkubasi pada suhu kamar selama 24 jam.
Selanjutnya jumlah koloni yang tumbuh dihitung (30-300) dan dikalikan dengan
faktor pengencernya.
2.3.3 Prosedur Perhitungan Cawan
Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam metode hitung cawan
yaitu 1 koloni yang tumbuh berasal dari 1 bakteri. Jumlah koloni yang tumbuh
dapat digunakan dalam perhitungan yaitu yang berkisar antar 30-300 koloni. Jika
terdapat 2 pengenceran bakteri yang menghasilkan koloni antar 30-300 maka yang
digunakan sebagai hasil adalah pengenceran terkecil atau jumlah koloni yang
paling sedikit ditemukan. Berikut adalah rumus metode hitung cawan.
Ʃ 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑡𝑒𝑟𝑖 = Ʃ 𝑘𝑜𝑙𝑜𝑛𝑖 𝑥
1
𝑃𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛
𝑥
1
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑠𝑒𝑏𝑎𝑟
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1
Hasil
Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan pada semua cawan petri diperoleh
hasil seperti pada tabel berikut:
Tabel 1
Hasil pengamatan Total Plate Count (TPC) bakteri dengan metode
hitungan cawan tuang dan sebar
Total Plate Count (cfu/ml)
10-5
10-6
10-7
7
8
Tuang
35,8 x 10
33,6 x 10
18,4 x 109
1
1 Ub
Sebar
58,6 x 109
8
Tuang
1,6 x 10
TBUD
TBUD
2
NP5
Sebar
TBUD
7,8 x 108
0
Tuang
3
Sta
Sebar
Tuang
16,2 x 109
4
1 Ub
Sebar
TBUD
Tuang
TBUD
2,34 x 1011
0
5
NP5
Sebar
TBUD
TBUD
TBUD
Tuang
6
Sta
Sebar
Tuang
25,8 x 107
43,2 x 109
7
1 Ub
Sebar
TBUD
TBUD
TBUD
Tuang
0
0
8
NP5
Sebar
15 x 108
0
Tuang
9
Sta
Sebar
Tuang
TBUD
TBUD
TBUD
10
Sta
Sebar
TBUD
TBUD
TBUD
Keterangan: *Syarat statistik dalam TPC adalah terdapat 30-300 koloni yang tumbuh
TBUD : Terlalu Banyak Untuk Dihitung ( 300 koloni bakteri), 0 : Jumlah koloni  30, (-) :
Kontaminasi (bakteri tidak tumbuh)
Kelompok
3.2
Isolat
Metode
Pembahasan
Metode penghitungan yang digunakan adalah penghitungan tidak langsung
dengan hitungan cawan. Metode ini ada dua jenis, yaitu cawan sebar dan cawan
tuang. Sebelum bakteri ditanam pada media, harus dilakukan pengenceran dahulu
terhadap suspensi bakteri sampelnya. Bakteri yang yang digunakan pada
kelompok kami adalah isolat 1Ub (Pseudoalteromonas sp). Bakteri pada tabung
pengencer terakhir jumlahnya akan lebih sedikit dari tabung pengencer
sebelumnya (Gambar 1). Pengenceran dilakukan agar setelah inkubasi, koloni
yang terbentuk pada cawan tersebut dalam jumlah yang dapat dihitung. Dimana
jumlah terbaik adalah antara 30 sampai 300 sel mikrobia /ml, /gr, atau /cm
permukaan (Fardiaz, 1992). Prinsip pengenceran adalah menurunkan jumlah
sehingga semakin banyak jumlah pengenceran yang dilakukan, makin sedikit
sedikit jumlah mikroba, dimana suatu saat didapat hanya satu mikrobia pada satu
tabung (Waluyo, 2004).
Gambar 2. Koloni Bakteri dengan Cawan Sebar
Koloni bakteri adalah sekumpulan dari bakteri-bakteri yang sejenis yang
mengelompok menjadi satu dan membentuk suatu koloni-koloni. Menurut
Waluyo (2008), Hasil menghitung dengan cara hitungan cawan menggunakan
suatu stanar yang disebut Standard Plate Count (SPC) sebagai berikut:
1. Jumlah koloni tiap cawan petri antara 30-300 koloni, jika memang tidak
ada yang memenuhi syarat dipilih yang jumlahnya mendekati 300.
2. Tidak ada koloni yang menutup lebih besar dari setengah luas cawan
petri, dikenal sebagai spreader.
3.
Perbandingan jumlah bakteri dari hasil pengenceran yang berturut-turut
antara pengenceran sebelumnya, jika sama atau lebih kecil dari 2 hasilnya
dirata-rata tetapi jika lebih besar dari 2 yang dipakai jumlah mikrobia dari
hasil pengenceran sebelumnya.
4. Beberapa koloni yang bergabung menjadi satu merupakan satu kumpulan
koloni yang besar dimana jumlah koloninya diragukan dapat dihitung
sebagai satu koloni
5. Satu deret rantai koloni yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung
sebagai satu koloni
Perhitungan bakteri dengan metode Plate Count (hitungan cawan)
didasarkan pada asumsi bahwa setiap sel mikroorganisme hidup dalam suspensi
akan tumbuh menjadi satu koloni. Jumlah koloni yang muncul pada cawan
merupakan suatu indeks jumlah mikroba yang hidup terkandung dalam sampel.
Setelah diinkubasi, jumlah koloni masing-masing cawan diamati. Jumlah mikroba
dalam sampel ditentukan dengan mengalikan jumlah koloni dengan faktor
pengenceran pada cawan yang bersangkutan. Menhitung jumlah koloni mikroba
hidup dengan mengalikan faktor pengenceran yang digunakan dikalikan 10 karena
hanya 0,1 ml suspensi yang digunakan memperoleh CFU/ml (CFU = Coloni
Forming Units).
Metode ini merupakan cara paling sensitif untuk menentukan jumlah jasad
renik, dengan alasan haya sel mikroba yang hidup yang dapat dihitung, beberapa
jasad renik dapat dihitung sekaligus, dapat digunakan untuk isolasi dan
identifikasi mikroba karena koloni yang terbentuk mungkin berasal dari mikroba
yang mempunyai penampakan spesifik. Sementara kekurangannya adalah hasil
hitungannya tidak menunjukkan jumlah sel yang sebenarnya, karena beberapa sel
yang berdekatan mungkin membentuk satu koloni, medium dan kondisi inkubasi
yang berbeda mungkin menghasilkan nilai yang berbeda, jasad renik yang
ditumbuhkan harus dapat tumbuh pada medium padat dan membentuk koloni
yang kompak dan jelas, tidak menyebar dan memerlukan persiapan dan waktu
inkubasi yang relatif lama sehingga pertumbuhan koloni dapat dihitung (Waluyo,
2008).
Berdasarkan hasil pengamatan, pada metode tuang hanya pada
pengenceran 10-7 jumlah koloni bakteri yang tumbuh sebesar 16,2x109 pada
pengenceran 10-5 dan 10-6 tidak tumbuh koloni bakteri. Pada metode cawan sebar
pengenceran10-5 koloni tidak dapat dihitung (TBUD). Hal ini disebabkan oleh
kesalahan dalam praktikum seperti pada proses pengenceran, kurang aseptik
sehingga terjadi kontaminan, penyebaran yang tidak merata, dan adanya
penumpukan sel sehingga sulit dihitung. Hal ini dikemukakkan oleh Fardiaz
(1992), pada penanaman bakteri dibutuhkan kondisi aseptis atau steril, baik pada
alat maupun proses, untuk menghindari kontaminasi, yaitu masuknya mikrobia
yang tidak diinginkan.
Gambar 3. Koloni Bakteri yang Tumbuh dengan Metode Cawan Tuang
Metode pour plate digunakan ketika ingin menumbuhkan bakteri anaerob,
karena media dituang setelah kultur sehingga menyebabkan kondisi anaerob pada
cawan. Kelebihan dari metode ini adalah mudah dilakukan, koloni tersebar merata
pada media dan kekurangannya yaitu butuh kehati-hatian dalam menuang ke
media, kontaminasi sulit dibedakan dan koloni yang berbeda saling bertumpuk.
Metode spread plate digunakan digunakan ketika ingin menumbuhkan bakteri
aerob, karena media sudah ada terlebih dahulu pada cawan kemudian dituangi
kultur sehingga menyebabkan kondisi aerob pada cawan. Kelebihan metode ini
adalah koloni tersebar merata pada permukaan media, kontaminan mudah
dibedakan, sedangkan kekurangannya adalah harus dilakukan dengan hati-hati dan
hanya dapat menumbuhkan bakteri aerob (Fardiaz, 1992).
Bakteri genus Pseudoalteromonas diketahui memiliki fragmen gen nonribosomal peptide synthetase (NRPS) yang diketahui mampu menghasilkan
siderophore Alterobactin (Deng et al., 1995 dalam Pringgenies, 2010).
Pseudoalteromonas sp. pertama kali terisolasi dari alga laut dilingkungan pesisir
laut. Bakteri ini termasuk bakteri gram negatif yang dapat ditemukan di
laut seluruh dunia, bergerak dengan alat satu flagellum di ujung / kutub yang
membantu untuk bergerak
bolak-balik
antara
solid
permukaan
laut
dan perairan terbuka dalam mencari sumber makanan. Tipe sel bakteri biasanya
satu
atau berpasangan serta
memperoleh
energi
melalui mekanisme
kemoorganotrofik. Kemoorganotrofik membentuk biofilm-bakteri yang penting
untuk bioremidiasi. Biofilm penting dalam pengendalian konsentrasi logam
beracun dalam lingkungan laut karena dapat menyerap 20 – 40 % dari
tumpahan logam timah (Totten dan Lary, 1990).
Faktor yang mempengaruhi hasil penghitungan koloni pada metode
hitungan cawan, hingga diperoleh hasil TNTC/TBUD atau koloni tidak muncul
antara lain tingkat pengenceran terlalu tinggi sehingga menyebabkan koloni tidak
muncul, tingkat pengenceran terlalu rendah sehingga koloni yang muncul terlalu
banyak (> 300) sehingga tidak bisa dihitung, ketidaksesuaian media yang
digunakan, adanya kontaminasi yang bisa disebabkan karena alat yang digunakan,
lingkungan dan diri yang tidak aseptis kondisi pH dan suhu yang tidak sesuai
(Fardiaz, 1992)
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum kelompok bakteri isolat 1Ub tidak tumbuh
pada pengenceran 10-5 dan 10-6, tapi tumbuh di pengenceran 10-7 pada metode
cawan tuang dengan jumlah 16,2x109. Sedangkan pada metode sebar pada
pengenceran 10-5 TBUD dan pada pegenceran 10-6 dan 10-7 tidak tumbuh.
4.2 Saran
Perlu ketelitian serta kehati-hatian dalam praktikum agar bakteri dapat
hidup dengan baik dan dapat dihitung koloni sesuai yang diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan 1. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Penn, C. W. (1991). Pathogenicity and molecular biology of Treponemes. Rev
Med Microbiol 2, 68±75.
Pringgenies, D. Karakterisasi Senyawa Bioaktif Bakteri Simbion Moluska dengan
GC-MS. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol.2, No.2, Hal.3440, Desember 2010
Robert, D. and Greenwood, M. 2003. Practical Food Microbiology.
Massachusetts: Blackwell Publishing
Salosa Y. 2013. Uji Kadar Formalin, Kadar Garam dan Total Bakteri Ikan Asin
Tenggiri Asal Kabupaten Sarmi Propinsi Riau. [Skripsi]. Teknologi Hasil
Perikanan. IPB. Bogor.
Totten, A. P. and Lory, S. (1990). Characterization of a type A¯ agellin gene from
Pseudomonas aeruginosa PAK. J Bacteriol 172, 7188±7199.
Waluyo, L. 2004. Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang
Laporan Praktikum ke-7
m.k. Mikrobiologi Akuakultur
Hari/Tanggal : Jumat, 21 November 2014
Kelompok : IV
Asisten
: 1. Rahman, S.Pi., M.Si
2. Asisten Mikro 2013
PENGARUH SUHU DAN SALINITAS TERHADAP
VIABILITAS BAKTERI
Oleh:
Stefanno. M. A. Rijoly
C151140401
ILMU AKUAKULTUR
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Mikrobiologi merupakan ilmu yang mempelajari organisme mikroskopis
atau yang sering disebut mikroorganisme. Mikroorganisme merupakan organisme
yang berukuran sangat renik, yaitu makhluk yang berukuran mikron atau lebih
kecil lagi, sehingga dapat hidup di berbagai lingkungan (Madigan et al
2012). Bakteri bersifat ada yang menguntungkan dan ada juga yang merugikan.
Bakteri biasa digunakan sebagai probiotik bagi ikan dan bakteri yang merugikan
besia mengakibatkan penyakit. Penyakit ikan dalam kegiatan budidaya dapat
mengakibatkan kerugian ekonomis, semua itu berhubungan dengan lingkungan
tempat
hidup
ikan
dikarenakan
didalamnya
terdapat
berbagai
jenis
mikroorganisme serta polusi.
Bakteri hanya dapat tumbuh baik pada kondisi fisika, kimia yang
optimum. Bakteri tidak hanya amat bervariasi dalam persyaratan nutrisinya, tetapi
juga mununjukkan respon yang berbeda-beda terhadap kondisi fisik di dalam
lingkunganya. Untuk menghasilkan kultivasi berbagai tipe bakteri, dibutuhkan
suatu kombinasi nutrien serta lingkungan fisik yang sesuai (Pelczar dan Chan
2010).
Menurut Waluyo (2008), pengamatan bakteri dapat dilakukan secara
individual, satu per satu, maupun secara kelompok dalam bentuk koloni. Bila
bakteri yang ditumbuhkan di dalam medium yang tidak cair, maka akan terjadi
suatu kelompok yang dinamakan koloni. Bentuk koloni berbeda-beda untuk setiap
spesies, dan bentuk tersebut merupakan ciri khas bagi suatu spesies tertentu.
Aktivitas mikroorganisme dipengaruhi oleh lingkungan. Perubahan yang terjadi di
dalam lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi
mikroorganisme.
Beberapa
golongan
sangat
tahan
terhadap
perubahan
lingkungan, sehingga cepat dapat menyesuaikan diri dengan kondisi baru. Ada
pula golongan mikroorganisme yang sama sekali peka terhadap perubahan
lingkungan sehingga tidak dapat menyesuaikan diri. Faktor lingkungan penting
artinya dalam usaha mengendalikan kegiatan mikroorganisme, baik untuk
kepentingan proses ataupun pengendalian (Suriawiria 2008).
Faktor-faktor lingkungan dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu
faktor abiotik yang meliputi faktor kimia dan fisika dan faktor biotik yang
berhubungan dengan jasad hidup lain. Faktor abiotik yang bersifat kimia antara
lain pH, oksigen, ammonia, dan lain-lain, sedangkan yang bersifat fisika adalah
temperatur atau panas, tekanan osmosa, pengeringan, penyinaran, dan lain-lain
(Widanarni 2011).
Mikroorganisme dalam melakukan segala aktivitas hidupnya, tentu
dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama faktor lingkungan dan unsur ekologi.
Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup
mikroba dikelompokkan menjadi faktor abiotik dan biotik (Kusnadi 2003). Faktor
abiotik dapat berupa unsur kimia dan fisika. Dari berbagai unsur kimia dan fisika
yang ada, terdapat faktor yang sangat penting yaitu pengaruh suhu dan salinitas
terhadap viabilitas bakteri. Mikroorganisme mampu beradaptasi secara optimum
pada lingkungan fisiologis yang normal. Setiap perubahan ekstrim pada kondisi
lingkungan akan mengakibatkan stress terhadap mikroorganisme. Lamanya
perubahan tersebut akan menentukan apakah organisme tersebut mati, terhambat
pertumbuhannya, atau memperpanjang fase lag dan penurunan kecepatan
pertumbuhannya. Pengamatan pengaruh suhu dan salinitas terhadap viabilitas
bakteri dilakukan untuk mengetahui pada kondisi suhu dan tekanan osmosa
berapa yang cocok bagi kehidupan bakteri, terutama bakteri yang menguntungkan
bagi kegiatan budidaya.
1.8
Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengamati dan mempelajari pengaruh suhu
dan salinitas terhadap viabilitas bakteri dan mengetahui kondisi suhu dan salinitas
yang optimum untuk pertumbuhan bakteri.
II. METODOLOGI
2.1
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, 21 November 2014 pukul
16.00-18.00 WIB, bertempat di Laboratorium Kesehatan Ikan (LKI), Departemen
Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor.
2.2
Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan dalam praktikum adalah cawan petri, jarum ose,
bunsen, inkubator, oven, kulkas, dan ependorf. Sedangkan bahan-bahan yang
digunakan adalah TSA, bakteri Aeromonas hidrophilla (Ah) dan Bacillus (NP5),
NaCl dan alkohol 70%.
2.3
Prosedur Kerja
Prosedur kerja pengaruh suhu yaitu koloni bakteri Aeromonas hidrophilla
(Ah) dan Bacillus (NP5) disiapkan pada empat buah tabung ependof. Masingmasing tabung dikondisikan pada suhu yang berbeda selama 30 menit meliputi
suhu 4°C di kulkas, 28°C di suhu ruang, 37°C di inkubator dan 70°C di oven.
Setelah 30 menit masing-masing bakteri digores dengan jarum oce pada cawan
petri yang sudah berisi media TSA. Petri diinkubasi pada suhu ruang selama 24
jam dan siap diamati.
Prosedur kerja pengaruh salinitas yaitu disiapkan 4 buah cawan petri berisi
media TSA dengan 4 macam kandungan NaCl yaitu 0%, 1,5%, 3% dan 5%.
Masing-masing cawan petri digores dengan bakteri Aeromonas dan Bacillus yang
ditumbuhkan pada suhu ruang dengan menggunakan jarum ose. Kemudian cawan
petri diinkubasi selama 24 jam pada suhu ruang dan siap diamati.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1
Hasil
Hasil pengamatan uji viabilitas bakteri dengan suhu dan salinitas akan
disajikan pada tabel berikut.
Tabel 1 Hasil pengamatan pengaruh suhu dan salinitas terhadap viabilitas bakteri
Aeromonas hidrophila dan NP5 (Bacillus)
Kelompok
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Isolat
bakteri
Ah
NP5
Ah
NP5
Ah
NP5
Ah
NP5
Ah
NP5
Ah
NP5
Ah
NP5
Ah
NP5
Ah
NP5
Ah
NP5
4°C
++
+++
++
++
+++
+++
++
++
+++
+++
++
++
+++
++
+++
+++
+++
++
+++
+++
Suhu
28°C
37°C
++
++
++
++
++
+++
+++
+++
+++
++
+++
++
++
+++
++
+++
+++
++
+++
++
+++
++
+++
++
+++
++
+++
++
++
++
++
++
+++
+++
+++
++
+++
++
+++
++
70°C
+
++
+
+
+
+
+
+
+
+
++
+
+
0%
++
++
++
+++
+++
+++
++
++
+++
+++
+++
+++
+++
+++
+++
+++
+++
+++
+++
+++
Salinitas
1,5%
3%
++
++
++
++
++
+
++
++
+++
++
+++
+++
+++
++
+++
++
+++
++
+++
+++
++
+
++
++
++
++
++
++
+++
++
+++
++
+++
+++
++
++
+++
++
+++
++
5%
++
+
+
+
+
++
+
+
+
+
Keterangan:
+++ : Bakteri tumbuh sangat baik, ++ : Bakteri tumbuh baik, + : Bakteri tumbuh sedikit, - :
Bakteri tidak tumbuh
3.2
Pembahasan
Berdasarkan data hasil praktikum kelompok 4 pada tabel 1 diatas dapat
dinyatakan bahwa bakteri A. hydrophilla dan Bacillus sp tumbuh sangat baik pada
suhu 37˚C dan mampu tumbuh baik setelah diberi perlakuan suhu 4˚C serta 28˚C.
Bakteri Aeromonas tidak mampu hidup pada suhu terlalu panas yaitu 70˚C tetapi
Bacillus sp mampu hidup pada suhu 70˚C walaupun jumlahnya kecil (gambar 1).
Berdasarkan tabel 1 diatas dapat dinyatakan bahwa pertumbuhan
bakteri Bacillus sp yang paling baik adalah pada kadar salinitas 1,5 ppt dan masih
hidup pada kadar Salinitas yang mencapai 5 ppt. Bakteri Aeromonas hydrophylla
tumbuh sangat baik pada kadar salinitas 1,5 ppt, dan tidak tumbuh pada salinitas
mencapai 5 ppt (gambar 2).
Suhu 4˚C
Suhu 28˚C
Suhu 37 oC
Suhu 70 oC
Gambar 1. Hasil Pengaruh Suhu Terhadap Viabilitas Bakteri.
Salinitas 0%
Salinitas 1,5%
Salinitas 3%
Salinitas 5%
Gambar 2. Hasil Pengaruh Salinitas Terhadap Viabilitas Bakteri
Semua proses pertumbuhan bergantung pada reaksi kimiawi dan karena
laju reaksi-reaksi ini dipengaruhi susu, maka pola pertumbuhan bakteri juga
sangat dipengaruhi suhu. Setiap spesies bakteri tumbuh pada suatu kisaran suhu
tertentu. Atas dasar ini maka bakteri dapat diklasifikasikan sebagai: psikofil, yang
tumbuh pada 0 sampai 30˚C; mesofil, yang tumbuh pada 25 sampai 40˚C; dan
termofil, yang tumbuh pada suhu lebih dari 50˚C (Pelczar dan Chan, 2010).
Suhu lingkungan dapat mempengaruhi laju pertumbuhan, proses
metabolisme dan morfologi sel bakteri. Toleransi suhu untuk pertumbuhan
mikrooganisme berkisar antara 20 – 40˚C (Madigan et al., 2012). Setiap spesies
bakteri tumbuh pada suatu kisaran suhu tertentu (Pelczar and Chan, 2010)
Aeromonas sp. Merupakan bakteri penyebab penyakit pada ikan tergolong bakteri
mesofilik dan dapat tumbuh baik pada suhu berkisar antara 15 – 35˚C (Percival et
al., 2004).
Bakteri Aeromonas hydrophila termasuk dalam bakteri golongan mesofil
dan bakteri Bacillus sp. termasuk dalam bakteri termofil. Kabata (1985) dalam
Sari, et al. (2009) menyatakan bahwa Aeromonas hydrophila merupakan bakteri
mesofilik dengan suhu optimum 20-30˚C. Berdasarkan hasil pengamatan, pada
pengaruh suhu terhadap pertumbuhan, bakteri A. hydrophila tidak tumbuh pada
suhu 70˚C namun tumbuh baik pada suhu kamar, 4˚C serta 28˚C serta tumbuh
sangat baik pada suhu 37˚C. Pada pengaruh salinitas terhadap pertumbuhan,
bakteri A. hydrophila tumbuh sangat baik pada salinitas 0 ppt dan tumbuh baik
pada salinitas 1,5 ppt dan 3 ppt, dan tidak tumbuh pada salinitas 5 ppt. Hal ini
menunjukan bahwa A. hydrophila merupakan bakteri yang bersifat psikrofilik
yaitu tumbuh pada suhu kurang dari 15°C dan beberapa diantaranya bersifat
mesofilik yaitu tumbuh pada suhu 25-37oC. A. hydrophila tidak mampu bertahan
hidup atau tidak ada pertumbuhan pada media yang mempunyai konsentrasi
garam 10%. Hal tersebut dikarenakan , antara media dan sel terjadi perbedaan
tekanan osmosa yang tinggi sehingga reaksi yang terjadi adalah media hipertonik
terhadap sel sehingga terjadi plasmolisis yang menyababkan sel tidak tumbuh
pada media dengan konsentrasi kadar garam tinggi tersebut. Pernyataan ini sesuai
dengan pendapat Fauzi (2001) bahwa Bakteri A. hydrophila hidup pada suhu
antara 5 - 37oC dan tumbuh baik pada salinitas 1-3%.
Berdasarkan
hasil
pengamatan,
pada
pengaruh
suhu
terhadap
pertumbuhan, bakteri Bacillus sp. tumbuh sangat banyak pada suhu kamar dan
suhu 37˚C, tumbuh banyak pada suhu 4˚C serta 28˚C dan tumbuh sedikit pada
suhu 70˚C. Pada pengaruh salinitas terhadap pertumbuhan, Bacillus sp. tumbuh
sangat baik pada salinitas 0 ppt, tumbuh baik pada salinitas 1.5 ppt, salinitas 3%
dan salinitas 5 ppt. Hal ini menunjukan bahwa Bacillus sp. merupakan bakteri
yang bersifat psikrofilik yaitu tumbuh pada suhu kurang dari 15˚C dan beberapa
diantaranya bersifat mesofilik yaitu tumbuh pada suhu 25-37˚C. Pernyataan ini
sesuai dengan pendapat Feliatra et al (2004) bahwa bakteri Bacillus sp. Tumbuh
optimum pada suhu 30-37˚C dan tumbuh baik pada NaCl 1-3% serta pendapat
Nguyen et al (2006) yang menyatakan bahwa bakteri Bacillus sp tidak mampu
tumbuh pada media dengan salinitas diatas 5%.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Suhu optimum tumbuh untuk Aeromonas hydrophilla dan Bacillus sp
yaitu 37˚C. A. hydrophilla tidak akan tumbuh pada suhu 70˚C karena tergolong
bakteri mesofil sedangkan Bacillus sp mampu tumbuh hingga suhu 70˚C karena
termasuk bakteri golongan termofil. Salinitas optimum untuk pertumbuhan bakteri
Aeromonas hydrophilla dan Bacillus sp yaitu pada salinitas 0 ppt.
4.2 Saran
Sebaiknya pengaruh faktor lingkungan yang lainnya seperti pH,
kelembaban, intensitas cahaya dll juga diuji untuk mendapatkan informasi yang
lebih lengkap dan akurat mengenai sifat bakteri tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Fauzi, Azhari. 2001. Pengaruh Pemberian Lekamisol dan Saccharomyces
cerevisiae dosis 60 ppm terhadap Gambaran darah Ikan Mas (Cyprinus
carpio) yang diinfeksi bakteri Aeromonas hydrophilla. [Skripsi]. Program
Studi Teknologi dan Manajemen Akuakultur. Departemen Budidaya
Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Feliatra, Irwan Efendi, dan Adwar Suryadi. 2004. Isolasi dan Identifikasi Bakteri
Probiotik dari Ikan Kerapu Macan (Ephinephalus fuscogatus) dalam
Upaya Efisiensi Pakan Ikan. Jurnal Natur Indonesia 6(2): 75-80.
Madigan MT, JM Martinko, DA Stahl & DP Clark. 2012. Brock Biology Of
Microoganism. San fransisco : Pearson Education.
Nguyen K. M. Tam, Nguyen Q. Uyen, Huynh A. Hong, Le H. Duc, Tran T. Hoa,
Claudia R. Serra, Adriano O. Henriques, and Simon M. Cutting. 2006. The
Intestinal Life Cycle of Bacillus subtilis and Close Relatives. J Bacteriol.
2006 April; 188(7): 2692–2700.
Pelczar, M.J dan E.C.S. Chan. 2010. Dasar-Dasar Mikrobiologi (terjemahan),
R.S. Hadioetomo, T. Imas, S. S. Tjitrosomp dan S. L. Angka. Jakarta (ID):
UI Press.
Percival S L, RM Chalmers, M Embrey, P R Hunter, J Sellwood, P Wyn-Jones.,
2004. Bacteriologi, In the Microbiology of Waterborne Diseases. Elsevier
Academic Press. Great Britain. 21 – 209 P.
Sari, Nurlita Annisa, Ririn Nurul Fauziah, dan Ai Tety Nurbaety. 2009. Pengaruh
suhu
dan
salinitas
terhadap
viabilitas
bakteri Aeromonas
hydrophila dan Bacillus sp. [Karya Ilmiah]. Departemen Budidaya
Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Suriawiria, Unus. 2008. Mikrobiologi Air dan Dasar-Dasar Pengolahan
Buangan Secara Biologis. Bandung: PT. alumni.
Waluyo, Lud. 2008. Mikrobiolgi Umum. Malang: UMM Press.
Widanarni. 2011. Modul Praktikum Mikrobiologi Akuatik. Bogor: Institut
Pertanian Bogor.
Laporan Praktikum ke- 8
m.k. Mikrobiologi Akuakultur
Hari/Tanggal : Senin, 24 November 2014
Kelompok : IV
Asisten
: 1. Rahman, S.Pi., M.Si
2. Asisten Mikro 2013
PENGARUH BAHAN ANTIMIKROBA TERHADAP
VIABILITAS BAKTERI
Oleh:
Stefanno. M. A. Rijoly
C151140401
ILMU AKUAKULTUR
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Mikrobiologi merupakan telaah mengenai organisme hidup yang
berukuran mikroskopis yang dikenal dengan mikroorganisme. Percobaanpercobaan Koch membuktikan bahwa jasad renik tertentu menyebabkan
timbulnya penyakit tertentu (Pelczar dan Chan, 2010).
Antibiotik adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme
yang dapat membunuh atau menghambat perkembangan bakteri dan organisme
lain. Antibiotik, yang pertama kali ditemukan oleh Paul Ehlrich pada 1910,
sampai saat ini masih menjadi obat andalan dalam penanganan kasus-kasus
penyakit infeksi. Mekanisme kerja utama antibiotik, yaitu sebagai antimetabolit,
menghambat sintesis dinding sel, menghambat fungsi membran sel, menghambat
sintesis protein, menghambat sintesis asam nukleat (Dalimunthe, 2009).
Antimikroba adalah obat yang digunakan untuk memberantas infeksi
mikroba pada manusia. Sedang antibiotika adalah senyawa kimia yang dihasilkan
oleh mikroorganisme (khususnya dihasilkan oleh fungi) atau dihasilkan secara
sintetik yang dapat membunuh atau menghambat perkembangan bakteri dan
organisme lain. Antibiotika dapat ditemukan dalam berbagai sediaan, dan
penggunaanya dapat melalui jalur topical, oral, maupun intravena (Utami, 2012).
Masing-masing bahan antimikroba memiliki mekanisme yang berbeda
dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Efektifitas bahan antimikroba juga
beragam bergantung pada jenis bahan, konsentrasi bahan dan jenis mikroba. Oleh
karena itu pengujian mengenai bahan antimikroba mana yang efektif untuk
menghambat pertumbuhan bakteri penting dilakukan sebelum penggunaan bahan
tersebut.
1.9
Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai bahan
antimikroba terhadap viabilitas bakteri.
II. METODOLOGI
2.1
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 24 November 2014 bertempat
di Laboratorium Kesehatan Ikan (LKI), Departemen Budidaya Perairan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, pukul 08.00-10.00 WIB.
2.2
Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini adalah korek api, tabung
ependof, mikropipet, mikrotipe, cawan petri, spidol, batang penyebar, inkubator,
penggaris, bunsen, tissue dan pinset. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan
adalah koloni bakteri Aeromonas hidrophila dan Basillus sp., alkohol 90%, media
TSA, kertas cakram, larutan fisiologis, alkohol 70%, rifampicin dan ekstrak
Curcuma longa.
2.3
Prosedur Kerja
Cawan petri yang sudah diberi media steril TSA sebanyak 2 buah
disiapkan dan masing-masing petri dibagi menjadi 3 area dengan penanda spidol
(Gambar 1). Salah satu media TSA ditetesi bakteri Aeromonas hidrophila
sebanyak 100 µl dan media lainya ditetesi Basillus sp. sebanyak 100 µl. Bakteri
yang sudah ditetesi kemudian disebar dengan batang penyebar pada permukaan
media hingga merata.
Bakar pinset sebentar di atas nyala api, ambil kertas saring dengan pinset
satu persatu. Celupkan kertas saring I kedalam larutan fisiologis dan letakkan
diatas permukaan media TSA yang telah disebari biakan bakteri. Celupkan kertas
saring II ke dalam larutan antibiotic dan letakkan padacawan petri yang sama
dengan jarak tertentu, lakuka hal yang sama untuk jenis antibakteri yang lain.
Antimikroba yang digunakan kelompok 4 yaitu alkohol 70%, rifampicin
dan ekstrak Curcuma longa. Bakar pinset sebentar di atas nyala api, kertas cakram
steril direndam pada ketiga bahan antimikroba dan kemudian dikeringkan sesaat
dan diletakkan di tengah area yang sudah dibentuk pada cawan petri dengan
menggunakan pinset. Sebagai kontrol pada bagian tengah petri diberi kertas
cakram yang direndam dalam PBS. Cawan diinkubasi pada suhu ruang selama 24
jam. Kemudian diamati apakah terdapat zona bening/zona hambat di sekitar kertas
cakram dan diukur diameter zona beningnya.
Rifampicin
Ekstrak Curcuma longa
PBS
Alkohol 70%
Gambar 1. Penempatan kertas saring yang sudah dicelupkan ke dalam bahan
antimikroba pada medium dengan inokulan bakteri
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1
Hasil
Tabel 1 Zona bening pada sebaran bakteri Aeromonas hydrophila
Diameter Zona Bening (cm)
I
II
III
IV
1
PBS
0,6
0
0
0,1
2
Alkohol 70%
0,7
0,7
*
0,2
3
Alkohol 50%
*
*
*
*
4
Alkohol 30%
*
*
0,7
*
5
Rifampicin
0,6
*
*
0,6
6
Chlorampenicol
*
1,5
*
*
7
Streptomisin
*
*
0,7
*
8
Ekstrak Curcuma longa 30%
0,6
*
*
0,2
9
Ekstrak Garcinia mangostana
*
0
*
*
10
Ekstrak Nigella sativa
*
*
0,8
*
Keterangan : 0 = tidak terbentuk zona bening, (*) = tidak diuji pada ulongan tersebut.
No
Bahan
V
0,6
*
0,6
*
*
0,6
*
*
0,6
*
Berdasarkan data pada tabel 1 diatas, bahan antimikroba yang membentuk zona
bening terbesar untuk menghambat pertumbuhan bakteri Aeromonas hydrophilla
dimiliki oleh rifampicin yaitu sebesar 0,6 cm dan zona bening terkecil di hasilkan
oleh PBS yaitu sebesar 0,1 cm.
Tabel 2 Zona bening pada sebaran bakteri NP5 Bacillus sp.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Diameter Zona Bening (cm)
I
II
III
IV
V
PBS
0,8
1,2
0,1
0,7
Alkohol 70%
1,6
*
0,1
*
Alkohol 50%
*
*
*
*
0,7
Alkohol 30%
*
*
0,8
*
*
Rifampicin
1,8
*
*
0,9
*
Chlorampenicol
*
*
*
0,7
Streptomisin
*
*
1,1
*
*
Ekstrak Curcuma longa 30%
0,8
*
*
0,1
*
Ekstrak Garcinia mangostana
*
1,1
*
*
1,0
Ekstrak Nigella sativa
*
*
1,1
*
*
Keterangan : 0 = tidak terbentuk zona bening, (*) = tidak diuji pada ulongan tersebut.
Bahan
Berdasarkan data pada tabel 2 diatas, bahan antimikroba yang membentuk zona
bening terbesar untuk menghambat pertumbuhan bakteri Bacillus sp dimiliki oleh
rifampicin yaitu sebesar 0,9 cm dan zona bening terkecil di hasilkan oleh PBS,
alkohol 70% dan Ekstrak Curcuma longa yaitu sebesar 0,1 cm.
Hasil pengamatan daya hambat antimikroba terhadap pertumbuhan A. hydrophilla
dan Bacillus sp dapat dilihat pada Gambar 2. A merupakan area dengan kertas
cakram mengandung alkohol 70%, R merupakan area dengan kertas cakram
mengandung rifampicin dan C merupakan area dengan kertas cakram
mengandung ekstrak Curcuma longa..
Gambar 2. Cawan petri yang ditumbuhi A. hidrophila dan Bacillus sp
3.2
Pembahasan
Antibakteri adalah senyawa kimia alami yang dalam kadar rendah dapat
menghambat pertumbuhan bakteri. Salah satu bahan antibakteri adalah antibiotik.
Antimikroba dapat berupa senyawa kimia sintetik atau alami. Antimikroba
sintetik dapat dihasilkan dengan membuat suatu senyawa yang sifatnya mirip
dengan aslinya yang dibuat secara besar-besaran, sedangkan yang alami
didapatkan langsung dari organisme yang menghasilkan senyawa tersebut dengan
melakukan proses pengekstrakan (Setyaningsih et al, 2004).
Antibiotik adalah suatu substansi (zat-zat) kimia yang diperoleh dari atau
dibentuk oleh mikroorganisme, dan zat-zat itu dalam jumlah sedikit mempunyai
daya penghambat kegiatan mikroorganisme lain. Antibiotik berbeda dalam
susunan kimia dan cara kerjanya (Waluyo, 2010).
Bakteri Aeromonas hydrophila umumnya hidup di air tawar yang
mengandung bahan organik tinggi. Ciri utama bakteri A. hydrophilla adalah
berbentuk batang, berdiameter 0,3 - 1,0 µm dan panjang 1,0 - 3,5 µm, bersifat
Gram negatif, hidup pada temperatur optimal 22 - 28°C, gelatinase positif (Holt et
al, 1994). Selain itu bakteri ini juga bersifat fakultatif aerobik (dapat hidup dengan
atau tanpa oksigen) yang mengubah karbohidrat menjadi asam dan gas, tidak
berspora, bersifat motil (bergerak aktif) karena memiliki flagel (Monotrichous
flagella) yang keluar dari salah satu kutubnya, koloni bakteri ini pada media agar
benvarna putih kekuningan, bentuk bulat cembung, oksidase sitokrom dan reaksi
katalase positif. Bakteri ini senang hidup di lingkungan perairan bersuhu 15 30°C dan pH antara 5,5-9 (Ghufran dan Kordi, 2004). A. hydrophilla merupakan
bakteri agen penyebab penyakit BHS (Bacterial Hemorrhagic Septicemia) atau
MAS (Motil Aeromonad Septicemia) (Irianto, 2005).
Bakteri NP5 merupakan bakteri genus Bacillus. Berdasarkan uji biokimia
dan morfologi fisik serta sekuens gen 16S rRNA, telah diidentifikasi bakteri NP5
sebagai Bacillus amyloliquefaciens. Bacillus amyloliquefaciens merupakan
bakteri gram positif yang berasal bakteri tanah dengan bentuk rod dan memiliki
flagela. Sel sering tampak seperti rantai panjang tidak seperti kebanyakan
kelompok Bacillus. Bakteri ini menghasilkan spora pada kondisi kurang
menguntungkan.
B.
Amyloquefaciens
adalah
non-patogenic
yang
juga
menunjukkan kemampuan antifungal yang mana dipengaruhi oleh ketersediaan
nitrogen di lingkungan (Microbewiki, 2014).
Ethanol pada konsentrasi 70% digunakan secara rutin sebagai desinfektan.
Bakteri memiliki sensitifitas yang beragam terhadap ethanol namun konsentrasi 510% bakteriostatik (pertumbuhan berhenti) dan 15% lethar atau mematikan pada
sebagian besar bakteri. Target utama ethanol adalah membran sel (Sissons et al.,
1995).
Kandungan utama rimpang kunyit (Curcuma longa) adalah minyak atsiri
dan kurkuminoid. Kunyit mengandung minyak atsiri keton sesquiterpena yaitu
turmeron dan artumeron. Senyawa-senyawa yang terkandung dalam kunyit
memiliki aktifitas biologis sebagai anti bakteri, antioksidan dan anti hepatotoksik
(Rukmana, 1994).
Banyak spesies C. longa secara tradisional digunakan untuk pengobatan.
Antijamur, antibakteri dan antiperadangan telah dilaporkan dapat diobati oleh
spesies seperti C. longa, C. zedoaria, C. aromatik dan C. amada (Majumdar et al.,
2000). Hal ini terbukti dari hasil penelitian bahwa Bacillus subtilis adalah
organisme yang paling sensitif terhadap kurkuminoid dan minyak dari ekstrak C.
longa. Wilson et al., (2005) melaporkan bahwa aktivitas antibakteri ekstrak etanol
C. zedoaria (0,15mg/ml) dan C. malabarica (0,94 mg/ml) menunjukkan
penghambatan lebih tinggi terhadap B. subtilis dan ekstrak etanol hanya efektif
pada konsentrasi yang lebih tinggi dari 3,75 mg. Kedua spesies kunyit tersebut
memberi MIC terhadap B. subtilis adalah 8,0 mm. Telah dilaporkan bahwa bakteri
Gram positif lebih sensitif terhadap minyak nabati dan ekstraknya (Karaman et al,
2003). Naz et al., (2010) mempelajari bahwa antara bakteri Gram positif, B.
cereus adalah organisme yang paling sensitif terhadap ekstrak C. longa dan
ekstrak etanol yang memberi MIC 12,0 mm.
Rifampicin merupakan antimikroba yang menghambat sintesis asam
nukleat sel mikroba. Salah satu derivat rifampisin berikatan dengan enzim
polimerase-RNA (pada subunit) sehingga menghambat sintesis RNA dan
DNA oleh enzim tersebut. Pada golongan kuinolon dapat menghambat
enzim DNA girase pada mikroba yang berfungsi mengatur kromosom yang
sangat panjang menjadi bentuk spiral hingga bisa muat dalam sel mikroba
yang kecil (Sambrook and Russell, 2001).
Rifampisin merupakan antibiotik bakterisidal yang dapat mematikan
kebanyakan gram positif dan beberapa jenis bakteri gram negatif. Antibiotik ini
bekerja dengan menghambat sintesa RNA polimerase dari bakteri (Pelczar dan
Chan 2010). Rifampisin adalah antibiotik bakterisida dengan spektrum aktifitas
yang luas, rifampisin biasanya digunakan untuk mengobati infeksi mycobacterium
termasuk tuberkulosis, dan juga memiliki peran dalam pengobatan methicillinresistant S. aureus dalam kombinasi dengan asam fusidic. Rifampisin kurang aktif
terhadap bakteri gram negatif seperti E. coli, sedangkan spesies Pseudomonas
secara intrinsik resisten terhadap rifampisin. Rifampisin menghambat DNAdependent RNA polimerase dalam sel bakteri karena diikat subunit β-nya (Esmaili
et al, 2007).
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Rifampicin merupakan bahan antimikroba yang lebih baik untuk
menghambat pertumbuhan bakteri Aeromonas hydrophilla maupun Bacillus sp
karena memberikan zona bening yang lebih besar dibandingkan bahan antimkroba
lainnya
4.2 Saran
Praktikum kedepannya diharapkan menggunakan bakteri dari jenis lain
dan menggunakan bahan antimikroba lain sehingga mahasiswa bisa lebih banyak
mengenal jenis bakteri dan berbagai macam antibiotik yang berkaitan dengan budi
daya perairan.
DAFTAR PUSTAKA
Dalimunthe, A. 2009. Interaksi pada Obat Antimikroba. Artikel. Departemen
Farmakologi. Fakultas Farmasi. Universitas Sumatera Utara. 19 hal.
Esmaeili, Farnaz., Mahdi, Hosseini-Nasr., Mazda, Rad-Malekshahi., Nasrin,
Samadi., Fatemeh, Atyabi., Rassoul, Dinarvand. 2007. Preparation and
antibacterial activity evaluation of rifampicin-loaded poly lactide-coglycolide nanoparticles. Nanomedicine: Nanotechnology, Biology, and
Medicine 3 (2007) 161– 167
Ghufran H., Kordi K. 2004. Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan. Rineka
Cipta. Jakarta, 190 hlm
Holt, John G., Noel R. Krieg., Peter H.A.Sneath., James T. Staley., Stanley T.
Williams. 1994. Bergey Manual of Determinative Bacteriology. Ninth
Edition. The Williams and Wilkins Company, Baltimore USA
Irianto, A. 2005. Patologi Ikan Teleostei. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta
Karaman, I., F. Sahin, M. Gulluce, H. Qgutcu, M. Sengul and A. Adiguzel. 2003.
Antimicrobial activity of aqueous and methanol extracts of Juniperus
oxycedrus L. J. Ethnopharmacol, 85: 231-235.
Majumdar, A.M., D.G. Naik, C.N. Dandge and H.M. Puntambekar. 2000.
Antiflammatory activity of Curcuma amada in albino rats. Indian journal
of Pharmacology, 32: 375-377.
Microbewiki. 2014. Bacillus amyloliquefaciens. https://microbewiki.kenyon.edu/
index.php/Bacillus_amyloliquefaciens
Naz, Shagufta., Safia Jabeen., Saiqa Ilyas., Farkhanda Manzoor., Farah Aslam and
Aamir Ali. 2010. Antibacterial Activity of Curcuma longa Varieties
Against Different Strains of Bacteria. Pak. J. Bot., 42(1): 455-462, 2010.
Pelczar, Michael J dan E.C.S. Chan. 2010. Dasar-dasar Mikrobiologi. Universitas
Indonesia Press. Jakarta
Rukmana, R. (1995). Kunyit. Yogyakarta : Kanisius.
Setyaningsih, I., Desniar Panggabean., Widyah Lily., Titik Harsita. 2004.
Pemisahan Ekstrak Intraseluler dari Mikroalga Nitzschia closterium dan
Penentuan Konsentrasi Hambatan Minimumnya terhadap Mikroba
Patogen. [Karya Ilmiah]. Institut Pertanian Bogor
Sambrook J. and Russell D.W. 2001. Molecular Cloning. A Laboratory Manual.
Edisi ke-3. Vol.2. New York: (US). Cold Spring Harbor Laboratory Press.
Sissons C. H, Wong L., Cutress T. W., 1996. Inhibition By Ethanol of the Growth
of Biofilm and Dispersed Microcosm Dental Plaques. Archs oral Biol. Vol
41. 27-34.
Sunatmo, T.I. 2009. Mikrobiologi Esensial. Ardy Agency, Jakarta.
Utami, E.R. 2012. Antibiotika, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi. Saintis 1(1):
124-138.
Waluyo, Lud. 2010. Teknik dan Metode Dalam Mikrobiologi. UMM Press.
Malang
Wilson, B., G. Abraham, S. Manjuv, M. Mathew, B. Vimala, S. Sundaresan and
B. Nambisa. 2005. Antimicrobial activity of Curcuma zedoaria and
Curcuma malabarica tubers. J.Ethnophamacol., 99: 147-151.
Laporan Praktikum ke- 9
m.k. Mikrobiologi Akuakultur
Hari/Tanggal : Senin, 01 Desember 2014
Kelompok : IV
Asisten
: 1. Rahman, S.Pi., M.Si
2. Asisten Mikro 2013
PEMBERIAN PENANDA RESISTEN ANTIBIOTIK PADA
BAKTERI AKUAKULTUR
Oleh:
Stefanno. M. A. Rijoly
C151140401
ILMU AKUAKULTUR
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Sifat resistansi terhadap antibiotik diperlukan oleh suatu mikroorganisme
untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya di alam. Sifat resistensi terhadap
suatu jenis antibiotik dari suatu bakteri perlu diketahui sebelum ditetapkan jenis
antibiotik yang akan digunakan sebagai penanda terhadap bakteri tersebut. Hal ini
akan memudahkan untuk menyeleksi bakteri tersebut dari bakteri yang secara
alami sensitif terhadap antibiotik yang digunakan (Ayuzar, 2008).
Menurut Chythanya et al. (1999) beberapa organisme secara alami resisten
terhadap beberapa antibiotik. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
(1) organisme tidak mempunyai dinding sel sehingga akan resisten terhadap jenis
antibiotik yang merusak pada dinding sel seperti kelompok penisilin; (2)
organisme mungkin tidak permeabel terhadap beberapa antibiotik;
(3)
rnikroorganisme mempunyai kemampuan untuk menginaktifkan beberapa
antibiotik; (4) mikroorganisme mempunyai sistem metabolisme yang dapat
memblokir antibiotik tertentu sehingga resisten terhadap antibiotik tersebut; (5)
mikroorganisme mempunyai kemampuan untuk memompa antibiotik tertentu
keluar dari dinding sel sehingga resisten terhadap antibiotik tersebut.
Uji penanda resisten antibiotik terdiri dari uji sensitifitas untuk mengetahui
apakah bakteri tersebut resisten atau sensitif dengan antibiotik tertentu dan uji
mutasi spontan untuk mengetahui jumlah bakteri yang telah bermutasi menjadi
resisten antibiotik tertentu.
1.10
Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui apakah isolat bakteri yang
digunakan resisten atau sensitif terhadap antibiotik dan mengetahui jumlah bakteri
yang berhasil bermutasi.
II. METODOLOGI
2.1
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 01 Desember 2014 pukul
08.00-10.00 WIB, bertempat di Laboratorium Kesehatan Ikan, Depertemen
Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor.
2.2
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah cawan petri, batang
penyebar, inkubator, bunsen, korek api, tabung eppendorf, pinset, mikropipet, dan
tissue. Adapun bahan-bahan yang digunakan adalah
isolat bakteri untuk uji
sensitifitas, uji mutasi spontan dan kontrol, media SWC dalam cawan petri, media
SWC bercampur antibiotik chlorampenicol dalam cawan petri, larutan fisiologis.
2.3
Prosedur Kerja
2.3.1
Uji Sensitifitas Antibiotik
Alat-alat dan bahan yang diperlukan untuk praktikum disiapkan dan
diletakkan di atas meja kerja laboratorium. Media SWC tanpa antibiotik sebagai
kontrol dan Media SWC bercampur antibiotik chlorampenicol, keduanya
kemudian digores dengan isolat bakteri Bacillus. Selanjutnya diinkubasi dalam
inkubator selama 24 jam dan diamati apakah ada koloni yang tumbuh atau tidak.
2.3.2 Uji Mutasi Spontan
Alat-alat dan bahan yang diperlukan untuk praktikum disiapkan dan
diletakkan di atas meja kerja laboratorium. Isolat bakteri sebanyak 1 ml
disentrifuge dan supernatannya dibuang, kemudian dipekatkan dengan 10 ml
larutan fisiologis. Selanjutnya, suspensi bakteri disebar pada media SWC
bercampur antibiotik chlorampenicol. Isolat bakteri diencerkan menjadi isolat
bakteri dengan kepadatan 10-5, 10-6 dan 10-7 yang kemudian disebarkan dengan
menggunakan batang penyebar pada media SWC bercampur chlorampenicol
kemudia diinkubasi selama 24 jam dalam inkubator dan dihitung jumlah koloni.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
Hasil pengamatan praktikum pembuatan penanda resisten antibiotik dapat dilihat
pada tabel 1.
Tabel 1 Hasil uji sensivitas dan jumlah kepadatan bakteri setelah uji mutasi
spontan pada pengenceran yang berbeda
Uji Sensivitas
TPC Uji Mutasi Spontan (cfu/ml)
Isolat
K
+ Ab
100 + Ab
10-5 K
10-6 K
10-7 K
8
1
+
TBUD
11,3 x 10
0
2
+
TBUD
29,8 x 108
0
3
+
28,9 x 105
98,0 x 106
0
4
+
15,6 x 105
42,0 x 106
98,0 x 108
5
+
44,7 x 105
10,0 x 106
0
Keterangan : K = kontrol, Ab = antibiotik, TPC = Total Plate Count atau kepadatan bakteri
(cfu/ml), (+) = resisten, (-) = sensitif, 0 = jumlah koloni  30, TBUD = Terlalu Banyak Untuk
Dihitung ( 300 koloni bakteri).
Kelompok
Berdasarkan data pada tabel 1 diatas dapat kita lihat bahwa pada uji sensitivitas
isolat bakteri Bacillus sp tumbuh pada kontrol sedangkan tidak tumbuh pada
media yang diberikan antibiotik chlorampenicol. Pada uji mutasi spontan bakteri
Bacillus sp yang tumbuh pada media dengan pengenceran 10-5 sebesar 15,6 x 105
CFU/ml, pengenceran 10-6 jumlah bakteri Bacillus sp yang tumbuh sebesar 42,0 x
106 CFU/ml, sedangkan pertumbuhan bakteri Bacillus sp tertinggi terdapat pada
pengenceran 10-7 yaitu sebesar 98,0 x 108 CFU/ml.
3.2 Pembahasan
Bacillus spp. digolongkan ke dalam kelas bakteri heterotrofik, yaitu
protista bersifat uniseluler, termasuk dalam golongan mikroorganisme redusen
atau yang lazim disebut sebagai dekomposer. Sebagian besar bakteri laut
termasuk
dalam
kelompok
bakteri
bersifat
heterotrofik
dan
saprofitik
(Rheinheimer 1980).
Marga Bacillus merupakan bakteri yang berbentuk batang dapat dijumpai
di tanah dan air termasuk pada air laut. Beberapa jenis menghasil enzim
ekstraseluler yang dapat menghidrolisis protein dan polisakarida kompleks.
Bacillus spp membentuk endospora, merupakan gram positif, bergerak dengan
adanya flagel peritrikus, dapat bersifat aerobik atau fakultatif anaerobik serta
bersifat katalase positif (Pelczar dan Chan 2010).
Jenis Bacillus spp. menunjukkan bentuk koloni yasng berbeda-beda pada
medium agar cawan Nutrien Agar. Warna koloni pada umumnya putih sampai
kekuningan atau putih suram, tepi koloni bermacam-macam namun pada
umumnya tidak rata, permukaannya kasar dan tidak berlendir, bahkan ada yang
cenderung kering berbubuk, koloni besar dan tidak mengkilat. Bentuk koloni dan
ukurannya sangat bervariasi tergantung dari jenisnya. Selain itu setiap jenis juga
menunjukkan kemampuan dan ketahanan yang berbeda-beda dalam menghadapi
kondisi lingkungannya, misalnya ketahanan terhadap panas, asam, kadar garam,
dan sebagainya (Hatmanti 2000).
A
B
Gambar 1. (A) Isolat Bakteri tumbuh pada media kontrol (hanya SWC), (B) Isolat bakteri
tidak tumbuh pada media SWC yang diberi antibiotik chloramphenicol
Chloramphenicol adalah salah satu jenis antibiotika turunan amfenikol
yang secara alami diproduksi oleh Streptomyces venezuelae (Hartman et al, 1994).
Melalui pengembangan teknologi fermentasi, chloramphenicol dapat diisolasi,
disemisintesis menjadi antibitoka turunannya, antara lain tiamfenikol dan turunan
lain melalui berbagai reaksi kimia dan enzimatis (Susanti et al 2009).
Mekanisme
kerja
chloramphenicol
sebagai
anti
bakteri
bersifat
stereospesifik, karena hanya satu stereoisomer yang memiliki aktivitas anti
bakteri, yaitu D(-) treo-isomer. Chloramphenicol bekerja pada spektrum luas,
efektif baik terhadap Gram positif maupun Gram negatif. Mekanisme kerja
chloramphenicol melalui penghambatan terhadap biosintesis protein pada siklus
pemanjangan rantai asam amino, yaitu dengan menghambat pembentukan ikatan
peptida. Antibiotika ini mampu mengikat subunit ribosom 50-S sel mikroba target
secara terpulihkan, akibatnya terjadi hambatan pembentukan ikatan peptida dan
biosintesis protein. Chloramphenicol umumnya bersifat bakteriostatik, namun
pada konsentrasi tinggi dapat bersifat bakterisid terhadap bakteri-bakteri tertentu
(Ganiswarna, 1995).
Spektrum antibakteri chloramphenicol meliputi D. pneumoniae, Str.
pyogenes, Str. viridans, Neisseria, Haemophilus, Bacillus spp, Listeria,
Bartonella, Brucella, P. multocida, C. diphtheriae, Chlamydia, Mycoplasma,
Rickettsia, Treponema dan kebanyakan mikroba anaerob. Senyawa ini juga efektif
terhadap kebanyakan galur E. coli, K. pneumoniae, dan Pr. Mirabilis (Ganiswara,
1995). Berdasarkan pernyataan tersebut maka hasil pengujian kelompok kami
baik karena pada media SWC yang diberikan antibiotik chloramphenicol isolat
bakteri Bacillus spp tidak tumbuh karena sensitif terhadap chloramphenicol.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Bakteri Bacillus sp merupakan bakteri yang sensitif terhadap antbiotik
chloramphenicol karena tidak tumbuh pada media SWC yang diberi antibiotik
chloramphenicol. Jumlah bakteri Bacillus sp yang mengalami mutasi tertinggi
terdapat pada pengenceran 10-7 yaitu sebesar 98,0 x 108 CFU/ml.
4.2 Saran
Pada praktikum selanjutnya perlu dilakukan uji toksisitas penggunaan
chloramphenicol terhadap ikan atau udang yang akan diuji, dan apakah bakteri
hasil mutasi uji pula pertumbuhan dan patogenisitasnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ayuzar, Eva.2014. Mekanisme Penghambatan Bakteri Probiotik Terhadap
Pertumbuhan Vibrio harveyi Pada Larva Udang Windu (Penaeus
Monodon). [Tesis]. Institut Pertanian Bogor.
Chytanya R, Nayak D.K, Venugopal M.N. 1999. Antibiotic resistence in
aquaculture. News from around the world. Infofish International, 6:3032.
Ganiswarna, V.H.S. 1995. Farmakologi dan Terapi. Edisi ke-4, Jakarta: Bagian
Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, hal. 571, 657660.
Hartman, C., Massart, D.L., McDowell, R.D. 1994. An analysis of the
Washington Conference report on bioanalytical method validation.
Journal of Pharmaceutical and Biomedical Analysis, Vol. 12, p. 13371343.
Hatmanti, Arianti. 2000. Pengenalan Bacillus spp. Jurnal Oseana, Volume XXV,
Nomor 1, 2000 : 31-41
Pelczar, Michael J dan E.C.S. Chan. 2010. Dasar-dasar Mikrobiologi. Universitas
Indonesia Press. Jakarta
Rheinheimer .1980. Aquatic Microbiology, A. Willey Inter Science Publication
Chichester: 225 pp.
Susanti, Meliana., Isnaeni., Sri Poedjiarti. 2009. Validasi Metode Bioautografi
untuk Determinasi Kloramfenikol. Jurnal Kedokteran Indonesia, Vol.
1/No. 1/Januari/2009
Laporan Praktikum ke- 10
m.k. Mikrobiologi Akuakultur
Hari/Tanggal : Senin, 08 November 2014
Kelompok : IV
Asisten
: 1. Rahman, S.Pi., M.Si
2. Asisten Mikro 2013
SELEKSI BAKTERI PROBIOTIK UNTUK AKUAKULTUR
Oleh:
Stefanno M. A. Rijoly
C151140401
ILMU AKUAKULTUR
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Probiotik adalah mikrob hidup yang ditambahkan ke dalam pakan yang
dapat memberi pengaruh mengmtungkan bagi hewan inang dengan cara
memperbaiki keseimbangan mikrob ususnya. Pada hewan akuatik, selain saluran
pencemaan, air di sekeliling organisme tersebut juga memegang peranan penting
(Fuller 1992). Sehingga probiotik untuk hewan akuatik adalah agen mikrob hidup
yang memberikan pengaruh menguntungkan pada inang dengan memodifikasi
komunitas mikrob atau berasosiasi dengan inang, menjamin perbaikan dalam
penggunaan pakan atau memperbaiki nilai nutrisinya, memperbaiki respon inang
terhadap penyakit, atau memperbaiki kualitas lingkungan ambangnya (Verschuere
et al. 2000). Penambahan probiotik pada pakan telah banyak diaplikasikan pada
kegiatan akuakultur dan terbukti telah memberikan efek yang menguntungkan
bagi ikan (Kesarcodi-Watson et al., 2008).
Menurut Gomez-Gil et al. (2000), konsep probiotik sebagai biokontrol,
yaitu pemanfaatan organisme yang antagonis dalam membatasi atau menyerangi
hama pada budidaya. Dalam hal ini mikroorganisme probiotik tidak hanya sebagai
musuh alami patogen, tetapi juga dengan mengurangi kerusakan yang disebabkan
oleh patogen, umumnya dengan kompetisi, yang paling banyak dengan
menghasilkan substansi yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang
paling berbahaya.
Metode seleksi bakteri probiotik untuk kegiatan pemeliharaan larva hewan
akuatik dapat mencakup beberapa tahap berikut: (1) pengumpulan informasi dasar
yang didapat dari studi pustaka maupun di lapangan, meliputi infomasi tentang
mikroba serta hubungan antara inang dengan lingkungannya; (2) penapisan
mikroba, yaitu proses pemisahan mikroba dari campurannya berdasarkan kriteria
tertentu seperti bakteri probiotik harus menguntungkan inangnya, mampu
bertahan hidup dalam usus, dapat disiapkan sebagai produk sel hidup pada skala
industri, dan dapat terjaga stabilitas serta sintasan untuk waktu yang lama pada
penyimpanan maupun di lapangan; (3) pengujian isolat dalam menghambat
mikroba patogen secara in vitro dan in vivo; (4) pengujian patogenitas isolat
terhadap inang; (5) pengujian skala laboratorium termasuk melihat pengaruh
kandidat probiotik secara in vivo terhadap variabel imunologi, dan uji tantang
dengan patogen; (6) analisa ekonomi biaya-laba (Gomez-Gil et al. 2000),.
1.11
Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengevaluasi bakteri potensial sebagai
probiotik melalui uji aktivitas enzim amilase, lipase, protease dan uji kompetisi
dengan bakteri patogen.
II. METODOLOGI
2.1
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 08 November 2014 pukul
08.00-10.00 WIB, bertempat di Laboratorium Kesehatan Ikan, Depertemen
Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor.
2.2
Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini adalah cawan petri, bunsen,
jarum ose, mikropipet, mikrotip, tabung ependof, batang penyebar, erlenmeyer,
tabung reaksi, inkubator, rak alat. Sedangkan bahan yang digunakan adalah koloni
bakteri
NP5
(Bacillus
sp),
1-Ub
(Pseudoalteromonas),
SKTb
(Vibrio
alginoliticus), media agar TCBS, media agar SWC, alkohol 70% dan 95%, larutan
KI, larutan CuSO4.
2.3
Prosedur Kerja
2.3.1
Uji Amilase
Meja kerja dan tangan disterilisasi dengan alkohol 70%. Jarum ose
dicelupkan pada alkohol 95% dan dipanaskan di bunsen. Tiga buah tabung
ependorf steril yang berisi masing-masing isolat kultur (NP5, 1-Ub dan SKTb)
disiapkan, kemudian isolat bakteri diambil menggunakan jarum ose setelah itu
gores pada cawan petri berisi Media SWC steril ditambah pati yang sebelumnya
sudah dibagi menjadi tiga daerah untuk masing-masing isolat. Cawan diberi label
dan diinkubasi pada suhu ruang selama 24 jam. Setelah 24 jam, media digenangi
dengan KI. Amati perubahan warna pada isolat uji.
2.3.2
Uji Lipase
Meja kerja dan tangan disterilisasi dengan alkohol 70%. Jarum ose
dicelupkan pada alkohol 95% dan dipanaskan di bunsen. Tiga buah tabung
ependorf steril yang berisi masing-masing isolat kultur (NP5, 1-Ub dan SKTb)
disiapkan, kemudian isolat bakteri diambil menggunakan jarum ose setelah itu
gores pada cawan petri berisi Media SWC steril ditambah minyak zaitun yang
sebelumnya sudah dibagi menjadi tiga daerah untuk masing-masing isolat. Cawan
diberi label dan diinkubasi pada suhu ruang selama 24 jam. Setelah 24 jam, media
digenangi dengan CuSO4. Biakan diamati apakah terdapat zona litik yaitu
berwarna hijau toska/kebiruan.
2.3.3
Uji Protease
Media SWC steril ditambah skim milk dan disiapkan pada cawan petri.
Cawan petri diberi penanda untuk memisahkan cawan menjadi 3 area. Jarum ose
dicelupkan pada alkohol 95% dan dipanaskan di bunsen. Setelah dingin
dicelupkan pada biakan bakteri dan digores pada cawan petri sesuai area masingmasing bakteri. Cawan diberi label dan diinkubasi pada suhu ruang selama 24
jam. Setelah 24 jam, biakan diamati apakah terdapat zona litik yaitu berwarna
bening.
2.3.4
Uji Kompetisi
Tahap persiapan yaitu menyiapkan media miring sesuai bakteri uji yaitu
Vibrio harvey dan Pseudoalteromonas. Media agar steril dibuat pada tabung
reaksi
dan
dimiringkan
hingga
memadat.
Bakteri
Vibrio
harvey
dan
Pseudoalteromonas masing-masing dikultur pada media tersebut dan diinkubasi
pada suhu ruang selama 24 jam. Pengerjaan isolasi dan kultur dalam kondisi steril.
Tahap rekultur dan kultur bersama yaitu biakan bakteri uji pada media miring
diambil dengan jarum ose dan tumbuhkan pada media SWC cair di erlenmeyer
lalu diinkubasi selama 24 jam. Vibrio harvey dikultur hingga mendapatkan biakan
dengan
kepadatan
103
sedangkan
Pseudoalteromonas
dikultur
hingga
mendapatkan kepadatan 106. Vibrio harvey 103 diambil 100 µl dan dikultur di
media SWC cair pada erlenmeyer dan diinkubasi selama 24 jam. Vibrio harvey
pada biakan 103 diambil lagi sebanyak 100 µl dan dicampurkan pada media SWC
cair pada erlenmeyer yang akan dijadikan sebagai media kultur bersama.
Pseudoalteromonas 106 diambil sebanyak 100 µl dan dicampurkan pada media
kultur bersama. Media kultur bersama dihomogenkan dan diinkubasi selama 24
jam. Tahap perbandingan kepadatan yaitu biakan Vibrio harvey pada media SWC
dengan kepadatan awal 103 hasil inkubasi dilakukan pengenceran hingga
pengenceran 10-5, 10-6 dan 10-7 yang masing-masing ditebar sebanyak 50 µl pada
cawan petri media TCBS. Media kultur bersama hasil inkubasi yang berisi Vibrio
harvey dan Pseudoalteromonas diambil dan dilakukan pengenceran hingga 10-2
dan 10-3. Masing-masing pengenceran diambil 50 µl dan dikultur pada cawan petri
berisi media TCBS dan diinkubasi selama 24 jam.
Setelah 24 jam diamati kepadatan bakteri Vibrio harvey pada cawan TCBS
baik pengenceran 10-5, 10-6 maupun 10-7. Begitu pula kepadatan bakteri kultur
bersama diamati baik pada pengenceran 10-2 dan 10-3. Jika kesemua pengenceran
hasil kepadatannya dapat dihitung maka digunakan kepadatan pada pengenceran
terkecil. Jika kepadatan Vibrio harvey lebih besar dari pada kepadatan kultur
bersama maka bakteri Pseudoalteromonas memiliki potensi sebagai probiotik.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1
Hasil
Hasil pengamatan praktikum seleksi probiotik disajikan dalam tabel 1 di
bawah ini.
Tabel 1 Hasil uji seleksi dan TPC uji kompetisi dan kultur bersama bakteri NP5,
SKT-b, dan 1-Ub pada pengenceran berbeda
Uji Seleksi
TPC Uji Kompetisi
TPC Kultur
Bakteri
(CFU/ml)
Bersama (CFU/ml)
A
L
P
10-5 K
10-6 K
10-7 K
10-2
10-3
A
+
+
1
B
+
TBUD
2,4 x 109
0
0
0
C
+
+
+
A
+
2
B
+
TBUD
1,5 x 109
0
C
+
+
A
3
B
3,7 x 108
8,0 x 108
0
C
+
A
+
+
4
B
+
TBUD
6,0 x 108
0
0
0
C
+
+
A
+
+
5
B
+
+
TBUD
194 x 108
0
0
C
+
+
Keterangan: Isolat A = NP5, Isolat B = SKT-b, Isolat C = 1-Ub, Uji Seleksi A = uji Amilase, L
= uji Lipase, P = uji Protease, TPC = Total Plate Count atau kepadatan bakteri (cfu/ml), K =
kontrol, (+) = tumbuh, (-) = tidak tumbuh, 0 = jumlah koloni  30, TBUD = Terlalu Banyak Untuk
Dihitung (300 koloni bakteri).
Kelp
Isolat
Berdasarkan tabel 1 diatas dapat kita lihat bahwa pada uji seleksi bakteri isolat A
tumbuh pada media yang mengandung amilase dan protease, namun tidak tumbuh
pada media yang mengandung lipase. Isolat B hanya tumbuh pada media yang
mengandung protease dan tidak tumbuh pada media yang mengandung amilase
dan lipase. Isolat C tumbuh pada media yang mengandung amilase serta lipase
dan tidak tumbuh pada media yang mengandung protease (Gambar 1). Hasil
penghitungan cawan pada uji kompetisi pada kontrol dengan pengenceran 10 -5
tidak dapat dihitung karena jumlah koloni yang terlalu banyak (Gambar 2). Pada
perlakuan kontrol dengan pengenceran 10-6 jumlah koloni yang tumbuh yaitu
sebesar 6,0 x 108, sedangkan pada pengenceran 10-7 jumlah koloni yang tumbuh
sangat sedikit. Hasil perhitungan koloni bakteri yang tumbuh pada kultur bersama
baik pada pengenceran 10-2 dan 10-3 isolat bakteri tumbuh namun dalam jumlah
yang sedikit (Gambar 3).
A
B
C
Gambar 1. Hasil uji seleksi bakteri (A). Uji Amilum, (B). Uji Lemak, (C) Uji Protein
B
A
C
Gambar 2. Hasil Uji Kompetisi (A) Pengenceran 10-5, (B) Pengenceran 10-6, (C)
Pengenceran 10-7
A
B
Gambar 3. Hasil Uji Kultur Bersama (A) Pengenceran 10-2, (B) Pengenceran 10-3
3.2
Pembahasan
Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang bila diberikan dalam jumlah
yang cukup akan memberikan manfaat kesehatan pada inangnya (FAO, 2001).
Keseimbangan yang baik dalam ekosistem mikrobiota usus bisa menguntungkan
kesehatan tubuh dan dapat dipengaruhi oleh konsumsi probiotik setiap hari (Lisal,
2005). Probiotik dapat diperoleh melalui konsumsi produk olahan susu
fermentasi. Mikroba probiotik dalam susu fermentasi terdiri dari genus
Lactobacillus, Pediococcus, Bifidobacterium, Lactococcus, Enterococcus dan
Saccharomyces. Bakteri probiotik yang digunakan dalam produk olahan pangan
harus mempertimbangkan aspek keamanan. Genus Lactococcus dan Lactobacillus
merupakan genus bakteri yang paling umum mendapatkan status GARS atau
Generally recognized as safe sehingga aman dikonsumsi (Surono, 2004).
Bakteri yang mempunyai aktivitas proteolitik mempunyai kemampuan
untuk menghasilkan enzim protease yang disekresikan ke lingkungannya. Enzim
proteolitik ekstraseluler ini selanjutnya bekerja menghidrolisis senyawa-senyawa
bersifat protein menjadi oligopeptida, peptida rantai pendek dan asam amino.
Diameter zone hambat yang terbentuk dapat menunjukan secara kualitatif
tingginya kemampuan proteolitik enzim protease yang dihasilkan atau juga
tingginya jumlah enzim yang diproduksi dan dilepas keluar. Keberadaan enzim
protease ekstraseluler ini sangat penting bagi kehidupan bakteri karena
menyediakan kebutuhan senyawa bernitrogen yang dapat diangkut ke dalam sel.
Jenis-jenis bakteri yang mempunyai kemampuan mensekresikan enzim protease
ini memiliki potensi yang besar untuk digunakan sebagai agensia pembersih
bahan pencemar yang bersifat protein (Setyati dan Subagyo, 2012). Dari hasil
praktikum dapat dilihat bahwa isolat A dan B yang memiliki kemampuan untuk
menghasilkan enzim protease.
Amilum lebih mudah dicerna daripada selulosa. Amilum dicerna oleh
enzim amilase. Bakteri amilolitik yang diperoleh dari penelitian ini adalah bakteri
yang menghasilkan enzim amilase ekstraseluler. Enzim ini dibutuhkan untuk
merombak amilum yang terdapat dalam sisa pakan (Setyati dan Subagyo, 2012).
Bakteri amilolitik adalah bakteri yang mampu mensekresikan enzim amilase yang
berperan penting dalam proses pencernaan ikan, yaitu sebagai katalisator untuk
hidrolisis nutrien pakan dalam saluran pencernaan ikan. Bakteri dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan yang kaya molekul kompleks dengan cara
mensekresikan enzim yang disebut exogeneous enzim (Putra, 2010). Kemampuan
degradasi atau hidrolisis pati (amilum) ditunjukkan oleh isolat A dan C.
Seleksi aktivitas hidrolitik terhadap lipid yang ditunjukan dengan
terbentuknya endapan asam lemak menunjukan bahwa isolat bakteri mempunyai
kemampuan menghasilkan enzim lipolitik (lipase). Enzim ini merombak lipid
menjadi lipid rantai pendek dan asam lemak, yang selanjutnya akan digunakan
untuk pertumbuhan bakteri. Katabolisme lipid diawali dengan pecahnya
trigliserida oleh penambahan air sehingga terbentuk gliserol dan asam lemak
dengan bantuan enzim-enzim lipase. Gliserol sebagai komponen lemak dapat
dirubah menjadi intermediet lintasan glikolitik (dehidroksiaseton fosfat). Asamasam lemak dioksidasi melalui pengusiran berturu-turut fragmen berkarbon dua
dalam bentuk asetil-KoA. Ada lebih banyak hasil energi per gram lemak dari pada
per gram protein dan karbohidrat. Namun, relatif hanya beberapa spesies mikroba
yang efektif dalam merombak lipid, baik yang sederhana atau yang rumit oleh
karena
terbatasnya daya larut lemak (Pelczar dan Chan, 2010). Dari hasil
praktikum
kelompok
hanya
Isolat
C
yang
punya
kemampuan
untuk
menghidrolisis lipid.
Dalam meningkatkan nilai nutrisi pakan, probiotik mampu menghasilkan
beberapa enzim exogenous untuk pencernaan pakan seperti amilase, protease,
lipase dan selulase (Wang et al. 2008). Enzim exogenous tersebut akan membantu
enzim endogenous di inang untuk menghidrolisi nutrien pakan seperti memecah
atau mengurai rantai panjang karbohidrat, protein dan lemak penyusun pakan.
Pemecahan molekul-molekul komplek ini menjadi molekul yang lebih sederhana
akan mempermudah pencernaan dan penyerapan dalam saluran pencernaan.
Banyak kendala dijumpai pula dalam penggunaan probiotik, termasuk
kemampuan bertahan, kolonisasi dan kompetisi nutrien untuk masuk ke dalam
suatu lingkungan ekosistem yang sudah mengandung beberapa ratus jenis bakteri
lainnya. Lisal (2005) menambahkan, jika bahan yang mengandung probiotik tidak
dikonsumsi secara kontinyu, maka bakteri yang ditambahkan itu dengan cepat
akan mengalami wash-out (tidak lagi melekat dan dikeluarkan dari saluran
pencernaan). Pendekatan lain yang dapat mengatasi keterbatasan pemakaian
probiotik adalah dengan menggunakan prebiotik yaitu suatu unsur makanan yang
tidak dapat dicerna dan mempunyai pengaruh menguntungkan bagi inangnya,
yang secara selektif menstimulasi pertumbuhan dan/atau aktivitas metabolik dari
satu atau sejumlah terbatas bakteri dalam kolon sehingga memperbaiki kesehatan
induk semangnya.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum dapat dilihat bahwa isolat A dan B yang memiliki
kemampuan untuk menghasilkan enzim protease. Kemampuan degradasi atau
hidrolisis pati (amilum) ditunjukkan oleh isolat A dan C. Dari hasil praktikum
kelompok hanya Isolat C yang punya kemampuan untuk menghidrolisis lipid.
Pada kultur bersama mampu menekan pertumbuhan Vibrio sehingga jumlah
koloninya sedikit sehingga dapat disimpulkan bahwa ketiga isolat uji berpotensi
sebagai probiotik.
4.2 Saran
Untuk meningkatkan pemahaman tentang evaluasi bakteri potensi
probiotik sebaiknya uji tidak hanya pada aktivitas enzim dan kompetisi. Namun
juga dilakukan evaluasi potensi peningkatan nutrien ataupun imunitas didukung
pula uji patogenitas dan juga uji pada larva.
DAFTAR PUSTAKA
Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). 2001. Health
and nutritional properties of probiotics in food including powder milk with
live lactic acid bacteria. http://www.who.int/foodsafety/publications/fs
management/en/probiotics.pdf.[3 Januari 2015].
Fuller R. 1992. History and Development of Probiotics. Di dalam: Fuller R,
editor. Probiotics the Scientific Basis. London: Chapman and Hall. hlm 18.
Gomez-Gil B, Roque A, Tumbull JF. 2000. The use and selection of probiotic
bacteria for use in the culture of larval aquatic organisms. Aquaculture,
191 :259-270.
Kesarcodi-Watson A, H. Kaspar, J. Lategan, L. Gibson. 2008. Probiotics in
aquaculture: The need, principles and mechanisms of action and screening
processes. Aquaculture, 274: 1-14.
Lisal J. 2005. Konsep probiotik dan prebiotik untuk modulasi mikrobita usus
besar. Medikal Nusantara, 26: Oktober-Desember
Pelczar, M.J dan E.C.S. Chan. 2010. Dasar-Dasar Mikrobiologi (terjemahan),
R.S. Hadioetomo, T. Imas, S. S. Tjitrosomp dan S. L. Angka. Jakarta (ID):
UI Press.
Putra A. N., 2010. Kajian Probiotik, Prebiotik dan Simbiotik untuk Meningkatkan
kinerja Pertumbuhan ikan Nila (Oreochromis niloticus). [Thesis]. Magister
Akuakultur. IPB
Setyati, Willis Ari dan Subgayo. 2012. Isolasi dan Seleksi Bakteri Penghasil
Enzim Ekstraseluler (proteolitik, amilolitik, lipolitik dan selulolitik) yang
Berasal dari Sedimen Kawasan Mangrove. Jurnal Ilmu Kelautan September
2012. Vol. 17 (3) 164-168
Surono, I. S. 2004. Probiotik Susu Fermentasi dan Kesehatan. PT. Tri Cipta
Karya, Jakarta.
Verschuere L., G. Rombaut, P. Sorgeloos, W. Verstraete. 2000. Probiotic bacteria
as biological control agents in aquaculture. Microbiological and Molecular
Biology Review, 64: 655-671.
Wang Bo-Yan, Rong Li, Lin Junda. 2008. Probiotics in Aquaculture: Challenges
and Outlook. Aquaculture, 281: 1-4.
Laporan Praktikum ke- 11
m.k. Mikrobiologi Akuakultur
Hari/Tanggal : Minggu, 14 Desember 2014
Kelompok
: IV
Asisten
: 1. Rahman, S.Pi., M.Si
2. Asisten Mikro 2013
DETEKSI VIRUS DENGAN TEKNIK PCR
Oleh:
Stefanno. M. A. Rijoly
C151140401
ILMU AKUAKULTUR
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Koi Herpes Virus (KHV) atau Virus Herpes pada ikan koi merupakan
penyakit yang mudah menular pada berbagai jenis ikan termasuk koi dan keluarga
karper. Kematian ikan yang disebabkan Virus Herpes bisa mencapai 20% sampai
dengan 100%. Virus ini biasa menyebar pada musim panas saat suhu air cukup
tinggi, antara suhu 18 - 27˚C. Kematian yang disebabkan Virus Herpes ini
termasuk cepat hanya dalam waktu 24 -48 jam sejak ada gejala. Kematian ikan
koi yang disebabkan oleh Virus Herpes termasuk sporadis, karena kematian dalam
jumlah yang besar (Hendrick, 2000). KHV juga dikenal sebagai Cyprinid
herpesvirus 3 (CyHV3) yang tergolong virus double-standed DNA dan termasuk
dalam family Alloherpesviridae. KHV menyerang beragam usia dan sering
mengakibatkan 80-100% kematian ketika temperatur air berkisar antara 16°C25°C (Haenen et al., 2004).
Polymerase Chain Reaction (PCR) adalah suatu teknik sintesis dan
amplifikasi DNA secara in vitro. Teknik ini pertama kali dikembangkan oleh
Karry Mullis pada tahun 1985. Teknik PCR dapat digunakan untuk
mengamplifikasi segmen DNA dalam jumlah jutaan kali hanya dalam beberapa
jam (Handoyo dan Rudiretna, 2001).
Proses PCR melibatkan beberapa tahap yaitu: pra-denaturasi DNA
templat, denaturasi DNA templat, penempelan primer pada templat (annealing),
pemanjangan primer (extension) dan pemantapan (post extension). Tahap
denaturasi sampai dengan tahap pemanjangan primer merupakan tahapan berulang
(siklus),
di
mana
pada
setiap
siklus
terjadi
duplikasi
jumlah
DNA
(Sulistyaningsih, 2007).
1.12
Tujuan
Praktikum ini bertujuan mendeteksi secara molekular organisme uji
apakah negatif atau positif terserang Koi herves Virus (KHV) dengan
menggunakan teknik Polimerase Chain Reaction (PCR).
II. METODOLOGI
2.1
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Minggu, 14 Desember 2014 pukul
10.00-14.00 WIB, bertempat di Laboratorium Molekular Ikan dan Bioteknologi,
Depertemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut
Pertanian Bogor.
2.2
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mortar, pipet mikro,
tabung mikro, tipe, sentrifuse, thermoshaker, lemari es, rak tabung mikro.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah sampel insang ikan, aqudest, cell lysis
solution, proteinase K, RNAse, protein precipitation solution, isopropanol, ETOH
70%, KAPA mix, foward, reserver, IEW.
2.3
Prosedur Kerja
2.3.1
Ekstraksi DNA
Ekstraksi DNA merupakan tahap awal dalam teknik PCR. Tujuan dari
tahap ini adalah mendapatkan DNA dari sel utuh. Ekstraksi DNA melalui tahap
pelisisan sel dan pemisahan DNA dari materi sel lainnya.
2.3.1.1 Sel Lisis
Sampel insang diambil 100 mg. Jumlah sampel terkadang juga bergantung
pada kit yang digunakan. Sampel ditambahkan sedikit aquades dan digerus
dengan mortar. Setelah halus, sampel dipindahkan di tabung mikro/ependof. Cell
lysis solution 200 µl ditambahkan pada ependof dan divorteks. Kemudian
ditambahkan 1,5 µl proteinase K dan divorteks ulang. Ependof diinkubasi pada
thermoshake pada suhu 55°C selama 3 jam hingga sel lisis.
2.3.1.2 RNAase Treatment dan Protein Precipitation
Ependof hasil inkubasi ditambahkan 1,5 µl RNAase dan divorteks sampai
homogen. Kemudian diinkubasi pada thermoshaker pada suhu 37 °C selama 30
menit. Setelah diinkubasi ditambahkan dengan 50 µl protein precipitation
solution. Ependof diinkubasi on ice selama 10-15 menit atau 5-10 menit pada
suhu -20°C. Setelah diinkubasi kemudian disentrifugasi selama 10 menit pada
kecepatan 13.000 rpm.
Mikrotube baru diambil dan diisi dengan 300 µl isopropanol. Mikrotube
yang berisi sampel hasil sentrifugasi diambil supernatan dengan pipet mikro yaitu
lapisan bening bagian atas. Supernatan dicampur pada ependof berisi isopropanol
dan divorteks sampai homogen. Ependof disentrifugasi selama 10 menit pada
kecepatan 13.000 rpm. Hasil sentrifugasi yaitu pada dinding dasar mikrotube
terdapat bercak putih yang merupakan DNA sampel. Supernatan dibuang hingga
tersisa DNA sampel. Untuk memurnikan, DNA dicuci dengan ETOH 70%
sebanyak 300 µl dan divorteks kemudian disentrifugasi dengan kecepatan 13.000
rpm selama 10 menit. Setelah disentrifugasi ETOH dibuang dan tabung dibalik
untuk dikering-anginkan.
2.3.2
Ampifikasi DNA dengan PCR
Disiapkan premix sampel uji, kontrol positif, dan kontrol negatif.
Kemudisan didistribusikan 9 µl premix kedalam setiap tabung PCR yang
jumlahnya sesuai dengan jumlah sampel. Lalu ditambahkan 1 µl DNA sampel dan
divortex. Kemudian diatur alat thermal cycler dengan kondisi PCR sebagai
berikut: Pre Denaturation 94oC selama 3 menit; denaturasi 94oC selama 30 detik,
Annealing primer 57oC selama 30 detik sebanyak 35 siklus, Extention 72oC
selama 30 menit; Final Extention 72oC 3 menit. Selanjutnya, suhu diturunkan dan
diakhiri pada 4oC.
2.3.3 Visualisasi Elektroforesis
Hasil PCR akan divisualisasikan pada gel agarose. Tahapan pembuatan gel
agarose yaitu, dipersiapkan serbuk agarose dan dilarutkan dalam TBE (Tris Base,
Boric Acid, EDTA) yang mengandung 0,01 g/mL ethidium bromida, kemudian
dipanaskan dalam microwave selama 1,5 menit sampai larutan menjadi bening.
Setelah hangat, larutan dituangkan ke dalam cetakan yang telah dilengkapi sisir
(comb) sebagai cetakan sumur (well) elektroforesis. Setelah membeku, sisir
dilepas secara perlahan, gel dimasukkan ke dalam bak elektroforesis yang telah
berisi larutan buffer TBE. Lalu dicampur 5 µl sampel DNA produk PCR dengan
dengan 0,5 µL loading dye lalu dimasukkan ke dalam sumur gel dengan
menggunakan mikropipet. Marker DNA selanjutnya juga dimasukkan sebanyak 1-
2 µL. Bak elektroforesis kemudian ditutup dan dihidupkan power supply.
Kemudian dimatikan power supply ketika sampel DNA sudah bermigrasi
(ditandai dengan warna loading dye yang mencapai sekitar ¾ dari total panjang
gel agarose) tau sesuai yang diinginkan. Langkah terakhir, hasil uji KHV dilihat
dan dibandingkan dengan kedua kontrol dan standar ukuran DNA dibawah cahaya
UV dan didokumentasikan
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1
Hasil
Berikut adalah hasil visualisasi eletroforesis dengan sinar UV.
M
A
C
-
300 kb
100 kb
+
Keterangan
M : Marker (KAPPA® DNA Ladder)
A : Sample A
C : Sample C
- : Sample ikan - KHV
+ : Plasmid Glikoprotein KHV
Gambar 1. band yang ditunjukkan oleh hasil elektroforesis
3.2
Pembahasan
Diagnosa penyakit menggunakan teknik PCR telah banyak dikembangkan
pada akhir-akhir ini PCR merupakan suatu reaksi in vitro untuk menggandakan
jumlah molekul DNA target tersebut dengan bantuan enzim dan oligonukleotida
sebagai primer dalam suatu thermocycler. DNA murni virus dengan jumlah
memadai dapat diperoleh dengan cara mengisolasi DNA dari inang kemudian
mengamplifikasinya (Muladno, 2002)
Banyak cara dan berbagai macam prosedur yang dapat dilakukan dalam
upaya deteksi virus KHV, tergantung pada reagen dan kit yang digunakan baik
pada tahap ekstraksi, purifikasi, amplifikasi, maupun elektrophoresis. Gomez et
al., (2011) menggunakan Qiagen GmbH Dneasy Tissue extraction kit (Qiagen,
Germany). Mesin PCR yang digunakan adalah real-time PCR assays 2.5 dengan
primer KHV didesain pada wilayah 9/5 dan wilayah target yaitu 484 pasang basa.
Proses PCR diawali dengan kegiatan isolasi DNA. Isolasi DNA merupakan
tahap yang paling penting untuk mendapatkan DNA berkualitas tinggi yang
merupakan satu kaidah dasar yang harus dipenuhi dalam studi molekuler. Pada
dasarnya isolasi DNA genom total dari sel bakteri terdiri dari beberapa tahap
yaitu: kultivasi sel dalam media yang sesuai, pemecahan dinding sel, ekstraksi
DNA genom, dan purifikasi DNA (Kurnia, 2011).
Tahap-tahap amplifikasi DNA dengan PCR dimulai dengan tahap denaturasi,
annealing, ekstensi/elongasi dan kembali ke tahap awal dengan jumlah siklus
yang sudah ditentukan (Sambrook dan Russell, 2001).
Gel yang biasa digunakan antara lain agarosa. Dengan gel agarosa dapat
dilakukan pemisahan sampel DNA dengan ukuran dari beberapa ratus hingga
20.000 pasang basa (pb). Molekul DNA bermuatan negatif sehingga di dalam
medan listrik akan bermigrasi melalui matriks gel menuju kutub positif (anode).
Makin besar ukuran molekulnya, makin rendah laju migrasinya. Berat molekul
suatu fragmen DNA dapat diperkirakan dengan membandingkan laju migrasinya
dengan laju migrasi fragmen-fragmen molekul DNA strandar (marker) yang telah
diketahui ukurannya. Visualisasi DNA selanjutnya dilakukan di bawah paparan
sinar ultraviolet setelah terlebih dulu gel direndam di dalam larutan etidium
bromid (Wibowo, 2009).
Deteksi DNA dalam gel agarosa dilakukan dengan citra UV. Sinar UV
yang digunakan dengan panjang gelombang 300 nm. Metode staining dan
visualisasi DNA menggunakan ethidium bromide atau SYBR gold (Sambrook dan
Russell, 2001).
Gambar 1 menunjukkan bahwa sampel A positif mengandung KHV
sedangkan sampel C negatif mengandung KHV. DNA KHV yang teramplifikasi
saat PCR menunjukkan fragmen dengan panjang 300 kb. Hal tersebut didasarkan
pada band sampel A sejajar dengan marker yang memiliki panjang 300 kb.
Sedangkan tebal band menunjukkan seberapa banyak DNA/RNA virus yang
teramplifikasi saat PCR.
Keberhasilan pengujian sampel dengan metode PCR dipengaruhi oleh
beberapa hal, antra lain faktor kontaminasi silang, umur reagen atau enzim yang
dipakai, jumlah enzim yang dipakai, ketelitian saat poses ekstraksi, serta kondisi
larutan buffer dan larutan etidium bromida yang dipakai. Jika melihat hasil yang
didapat, pengerjaan praktikum ini sudah tergolong baik karena tidak adanya
kontaminan sehingga hasil yang didapat dapat maksimal (Haliman dan Adijaya,
2005).
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Hasil elektroforesis menunjukkan bahwa ikan uji A positif (+)
mengandung Koi Herpes Virus dan ikan uji C negatif (-) mengandung Koi Herpes
Virus.
4.2 Saran
Dalam praktikum ekstraksi dan amplifikasi DNA selain menggunakan cara
manual sebaiknya juga menggunakan KIT sehingga hasil PCR dapat
dibandingkan antara kedua macam bahan tersebut. Selain itu dengan
menggunakan KIT akan mempersingkat waktu praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Gomez D.K., Joh S.J., Jang H., Shin S.P., Choresca Jr. C.H., Han J.E., Kim J.H.,
Jun J.W., Park S.C. 2011. Detection of koi herpesvirus (KHV) from koi
(Cyprinus carpio koi) broodstock in South Korea. Aquaculture.311: 42-47.
Haenen O.L.M, Way K, Bergmann S.M, Ariel E. 2004. The emergence of koi
herpesvirus and its significance to European aquaculture. Bulletin of the
European Association of Fish Pathologists 24:293–307.
Haliman, R.W. dan D. Adijaya. 2005. Udang Vanamei, Pembudidayaan dan
Prospek Pasar Udang Putih yang Tahan Penyakit. Penebar
Swadaya.Jakarta. 75 pp.
Handoyo, D dan A. Rudiretna. 2001. Prinsip Umum dan Pelaksanaan Polymerase
Chain Reaction (PCR). Unitas Vol 9(1): 17-19.
Hendrick RP, Gilad O, Yun S, Spangenberg JV. 2000. A Herpes Virus
Associated with Mass Mortality of Juvenile and Adult Koi, a Strain of
Common Carp J. Aquatic Animal Health 12: 44-57.
Kurnia, A. 2011. Dasar Teknologi DNA Rekombinan. Departemen Farmasi,
Universitas Indonesia, Depok, Indonesia.
Muladno. 2002. Seputar Teknologi Rekayasa Genetika. Bogor: Pustaka Wira
Usaha Muda.
Pratiwi, R. 2001. Mengenal Metode Elektroforesis. Oseana Vol XXVI (1): 25-31.
Sambrook J. and Russell D.W. 2001. Molecular Cloning. A Laboratory Manual.
Edisi ke-3. Vol.2. New York: (US). Cold Spring Harbor Laboratory Press.
Sulistyaningsih, E. 2007. Polymerase Chain Reaction (PCR): Era Baru Diagnosis
dan Manajemen Penyakit Infeksi. Biomedis Vol 1(1): 17-25.
Wibowo, M. S. 2009. Elektroforesis. Sekolah Farmasi. Institut Teknologi
Bandung.
Download