JLBG JURNAL LINGKUNGAN DAN BENCANA GEOLOGI Journal of

advertisement
JLBG
JURNAL LINGKUNGAN DAN BENCANA GEOLOGI
Journal of Environment and Geological Hazards
ISSN: 2086-7794, e-ISSN: 2502-8804
Akreditasi LIPI No. 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015
e-mail: [email protected] - http://jlbg.geologi.esdm.go.id/index.php/jlbg
KERENTANAN WILAYAH RENCANA TAPAK RDE SERPONG
BERDASARKAN NILAI MEAN AMPLIFICATION MIKROTREMOR
VULNERABILITY OF SERPONG EPR SITE PLAN AREA BASED
ON MEAN AMPLIFICATION OF MICROTREMOR
Marjiyono1, Setianegara, R.1 , Setiawan, J.H. 1, Sopyan Y. 1, dan Yuliastuti2
Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM,
Jalan Diponegoro No. 57, Bandung 40122 - Indonesia 2Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir, BATAN,
Jalan Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan 12710 - Indonesia
Naskah diterima 10 Maret 2015, selesai direvisi 24 Nopember 2015, dan disetujui 01Maret 2016
Korespondensi email: [email protected]
1
ABSTRAK
Lapisan permukaan pada umumnya merupakan lapisan sedimen termuda dan belum terkonsolidasi. Secara fisis, lapisan
ini berpotensi memperkuat goncangan gelombang bila terjadi gempa bumi. Karakterisasi geologi permukaan dalam rangka
pengembangan wilayah untuk pemukiman, perkantoran, dan sarana vital lainnya sangat diperlukan dalam rangka mengurangi dampak bencana di kemudian hari. Pemetaan nilai faktor penguatan gelombang berdasarkan perhitungan fungsi
alih gelombang geser horizontal (SH transfer function) mikrotremor telah dilakukan di sekitar rencana pembangunan tapak
RDE (Reaktor Daya Eksperimental), Serpong. Hasil pengolahan data menunjukkan nilai faktor penguatan gelombang
berkisar antara 1,21 - 1,77. Daerah rencana lokasi tapak sendiri berada pada nilai faktor penguatan antara 1,4-1,5.
Kata kunci: penguatan gelombang, gelombang geser, mikrotremor, tapak RDE
ABSTRACT
Site amplification is generally caused by youngest and unconsolidated sediment surface layers. Physically, these layers potentially
strengthen the wave amplification if an earthquake takes place.The surface geology characterization for the purpose of spatial
development for settlement, office, and other vital facilities is needed to mitigate the impact of disasters in the future. An amplification factor mapping based on microtremor SH transfer function was perfomed around the experimental power reactor (EPR) site
plan, Serpong. The result of data processing shows the amplification factor values ranged from 1.21 to 1.77. The site plan location
itself is in the values of between 1.4 to 1.5.
Keywords: site amplification, shear wave, microtremor, EPR site
35
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 7 No. 1, April 2016: 35 - 44
PENDAHULUAN
Besarnya kekuatan goncangan tanah oleh gempa bumi
pada suatu wilayah tidak hanya dipengaruhi oleh
nilai magnitudo dan jarak tempat tersebut ke pusat
gempa, namun juga sangat dipengaruhi oleh kondisi
geologi permukaan di wilayah tersebut. Litologi
permukaan yang belum mengalami konsolidasi yang
diendapkan di atas batuan yang relatif keras akan
memberikan efek penguatan goncangan (Sairam drr.,
2011; El-Eraki drr., 2012; Seht, 2014). Karakterisasi
kondisi geologi permukaan pada suatu wilayah perlu
dilakukan, terutama pada daerah yang akan dibangun
fasilitas-fasilitas penting untuk menghindari dampak
bencana goncangan tanah di kemudian hari.
Dalam rangka mengevaluasi rencana pembangunan
RDE oleh BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional)
di Serpong, Tangerang Selatan, telah dilakukan kajian
kondisi geologi permukaan di sekitar rencana tapak.
Adapun parameter yang dikaji adalah nilai faktor
penguatan gelombang berdasarkan perhitungan
fungsi alih gelombang geser horizontal (SH transfer
function). Model geologi bawah permukaan dalam
perhitungan nilai faktor penguatan gelombang ini
diperoleh dari inversi data mikrotremor. Parameter
model berupa kecepatan gelombang geser lapisan
sedimen permukaan, ketebalan lapisan permukaan,
serta kecepatan gelombang geser lapisan batuan alas
(batuan yang mengalasi sedimen permukaan).
Sebaran nilai faktor penguatan gelombang di daerah
sekitar rencana tapak RDE ini, diharapkan dapat
memberikan gambaran kondisi nilai kerentanan
relatif terhadap potensi goncangan tanah oleh gempa
bumi yang mungkin terjadi.
Geologi dan Kegempaan Daerah Penelitian
Berdasarkan Peta Geologi Lembar Jakarta dan
Kepulauan Seribu, skala 1:100.000 (Turkandi drr.,
1992) stratigrafi daerah Serpong dan sekitarnya dari
tua ke muda adalah sebagai berikut:
Formasi Bojongmanik, terdiri atas perselingan
batu pasir dan batu lempung dengan sisipan batu
gamping. Satuan batu pasir berukuran butir halus
hingga sedang, terpilah baik, sedangkan batu
gamping ditemukan berwarna abu-abu kekuningan,
bersifat masif, berlapis dengan ketebalan hingga 1
m, mengandung fosil moluska dan koral. Batuan
ini banyak tersingkap di sepanjang Sungai Cisadane.
Batuan ini diperkirakan berumur Miosen Tengah.
Formasi Genteng, terdiri atas tufa batu apung,
36
batu pasir tufaan, breksi, konglomerat, dan sisipan
lempung tufaan. Di daerah penelitian, batuan
ini umumnya ditemukan di sebelah barat Sungai
Cisadane. Satuan tufa batu apung berbutir halus
hingga kasar, berlapis baik dengan sisipan tipis tufa
debu dan kayu terkersikkan. Sementara batu pasir
tufaan berwarna abu-abu kebiruan, berbutir sedang
hingga kasar, mengandung glaukonit, kuarsa, dan
kayu terkersikkan. Satuan breksi dalam formasi
ini mempunyai komponen andesit berstruktur
perlapisan bersusun, berbutir pasir kasar hingga
kerakal, menyudut tanggung hingga membundar
tanggung, berkomponen andesit basal. Satuan
konglomerat dengan massa dasar tufa pasiran
bersifat masif, berbutir pasir kasar hingga kerakal,
membundar hingga membundar tanggung, berlapis
baik, berkomponen andesit, kuarsa, dan batu apung.
Berdasarkan kedudukan stratigrafinya yang menindih
tak selaras Formasi Bojongmanik dan ditindih secara
tak selaras oleh Formasi Serpong, Formasi Genteng
ini diduga berumur Pliosen Awal - Pliosen Tengah.
Formasi Serpong, tersusun atas perselingan
konglomerat, batu pasir, batu lanau, batu lempung
dengan sisa tanaman, konglomerat batu apung, dan
tufa batu apung. Satuan Konglomerat berwarna
hitam kebiruan sampai coklat muda, terdiri atas
aneka ragam komponen, yaitu andesit, basal, batu
gamping, dan rijang. Setempat terdapat fosil kayu,
matriks pasir hitam, kemas terbuka, pemilahan
sedang. Di bagian atas, konglomerat ini mengandung
komponen batu apung yang berukuran lebih kecil
(3 – 5 cm) dengan matriks pasir tufan. Formasi
Serpong ini menindih secara tidak selaras batuan
Formasi Bojongmanik. Berdasarkan kedudukan
stratigrafinya yang menindih secara tidak selaras
Formasi Bojongmanik dan Formasi Genteng dan
ditindih secara tidak selaras oleh endapan kipas
aluvial, diduga Formasi Serpong ini berumur Pliosen
Akhir.
Kipas aluvium, satuan batuan ini umumnya berupa
tufa produk Gunung Salak. Endapan ini tersusun atas
tufa halus berlapis, tufa pasiran, berselingan dengan
tufa konglomeratan. Satuan batuan ini diperkirakan
berumur Plistosen hingga Holosen.
Aluvium, dijumpai di sepanjang aliran Sungai
Cisadane dan sungai sungai kecil di sekitarnya
umumnya berupa endapan sungai sekarang. Secara
umum, satuan ini merupakan material lepas yang
terdiri atas lempung, lanau, pasir, kirikil, kerakal,
bongkah batuan beku, dan kadang-kadang sedimen
yang masif.
Kerentanan Wilayah Rencana Tapak RDE Serpong
Berdasarkan Nilai Mean Amplification Mikrotremor
Kegempaan
Secara regional, kegempaan daerah Serpong dan
sekitarnya dipengaruhi oleh sumber-sumber gempa
bumi yang berasal dari penunjaman kerak Samudra
Hindia dan sesar-sesar aktif di daratan Jawa Barat
dan Banten (Gambar 1). Gempa-gempa bumi yang
bersumber dari penunjaman Kerak Samudra Hindia
ini dapat dikenali dari kedalaman pusat gempa yang
Berdasarkan catatan gempa bumi merusak Indonesia
(Supartoyo drr., 2014) beberapa gempa bumi pernah
terjadi pada wilayah radius 100 km dari lokasi
rencana tapak RDE (Gambar 2), yaitu di antaranya :
Gempa Bumi Pelabuhanratu 26 Nopember 1973,
gempa bumi ini berpusat di 106,6° BT – 6,8°LS
dengan kekuatan 4,9 Mb. Bila ditinjau dari posisi
pusatnya, gempa ini berasosiasi dengan aktivitas
Gambar 1. Sebaran pusat-pusat gempa bumi regional sekitar rencana tapak RDE, warna
merah gempa dangkal (0 - 33 km), ungu (33 - 60 km), kuning (60 - 90 km) dan
hijau (> 90 km). (Sumber: USGS, 2000-2015).
berubah secara gradual lebih dalam ke arah utara.
Adapun gempa-gempa berkedalaman dangkal di
daratan umumnya berasosiasi dengan aktivitas sesar
aktif di wilayah ini.
sesar aktif di sekitar pusat gempa yang kemudian
disebut sebagai Sesar Citarik (Sidarto1, 2015). Sesar
ini berarah utara - timur laut dari sebelah timur
Pelabuhanratu, kemungkinan menerus hingga pantai
1. Komunikasi pribadi, Sidarto adalah peneliti di Pusat Survei Geologi,
Badan Geologi.
37
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 7 No. 1, April 2016: 35 - 44
Gambar 2. Pusat-pusat gempa bumi merusak wilayah radius 100 km dari area tapak RDE.
utara Pulau Jawa. Gempa ini menimbulkan banyak
kerusakan bangunan di daerah Citarik dan Cidadap,
Pelabuhan Ratu.
Gempa Bumi Banten, 9 Nopember 1974, berpusat
di sekitar Pulau Panaitan (105,3°BT - 6,5° LS)
dengan kekuatan 6,1 Mb. Posisi pusat gempa pada
lajur kelurusan seismik (seismic lineament) Panaitan
– Rajabasa. Kelurusan ini memanjang dari sekitar
Pulau Panaitan, Gunung Anak Karakatau, Pulau
Sebesi, Pulau Sebuku, dan Gunung Rajabasa. Jalur
ini merupakan jalur bukaan karena pulau-pulau
tersebut di atas merupakan pulau vulkanik. Gempa
bumi tersebut menimbulkan kerusakan bangunan
penduduk di daerah Leuwiliang, Bogor.
Gempa Bumi Sukabumi 10 Februari 1982 dan 12 Juli
2000, masing-masing dengan kekuatan 5,8 Mb dan
5,1 Mb. Pusat gempa berada pada 106,9° BT-7,0°LS
dan 106,9°BT-6,9°LS. Kedua pusat gempa ini berada
pada lajur Sesar Cimandiriyang memanjang pada
arah hampir barat - timur dari sekitar Pelabuhanratu,
selatan Sukabumi membelok ke tumur laut hingga di
Padalarang. Namun demikian, segmen sesar ini yang
38
menunjukkan aktivitas hanya pada bagian barat.
Kedua kejadian gempa ini menimbulkan kerusakan
di daerah Sukaraja, Cibadak, Cikembar, Cidahu,
Parakan Salak, dan Kadudampit, di Kabupaten
Sukabumi.
Gempa Bumi Bogor-Sukabumi 9 September
2012, berpusat di selatan Bogor (106,67° BT6.7°LS) dengan kekuatan 4,8 Mb. Gempa ini
kemungkingan berasosiasi dengan aktivitas
Sesar Citarik. Kerusakan terjadi di Kecamatan
Pamijahan, Kabupaten Bogor, dan Kecamatan
Cipeuteu, Kabupaten Sukabumi.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kombinasi antara pengukuran mikrotremor single
station dan mikrotremor array. Adapun mikrotremor
itu sendiri didefinisikan sebagai getaran tanah
berukuran sangat kecil yang bersumber dari angin,
gelombang laut, kegiatan lalu lintas, mesin, dan
sebagainya.
Kerentanan Wilayah Rencana Tapak RDE Serpong
Berdasarkan Nilai Mean Amplification Mikrotremor
Mikrotremor menjadi metode alternatif yang murah
dan cepat serta telah digunakan secara luas untuk
memodelkan struktur bawah permukaan dangkal
(Quispe drr., 2014; Shabani, drr., 2008; Bouchelouh
drr., 2014). Data mikrotremor array digunakan
untuk memodelkan kondisi bawah permukaan secara
satu dimensi (1D), sedangkan data mikrotremor
single station untuk memetakan ketebalan lapisan
permukaan seluruh daerah penelitian berdasarkan
masukan nilai kecepatan gelombang geser dari data
model mikrotremor array.
Pengumpulan data mikrotremor array dilakukan di
sekitar rencana tapak RDE Serpong di sembilan
lokasi, sedangkan pengukuran mikrotremor single
station dilakukan di sembilan puluh titik ukur
(Gambar 3). Adapun peralatan mikrotremor array
yang digunakan dalam penelitian ini adalah empat
unit accelerometer OYO McSeis-1134 dengan
konfigurasi triangle nested. Pengukuran mikrotremor
single station dilakukan dengan peralatan seismometer
Lennartz 0.2-3D dan direkam dengan data logger
SARA SL-06 dengan sampling rate 100 Hz.
Pengukuran dilakukan selama 20 - 30 menit untuk
setiap titik ukur.
Pemodelan struktur bawah permukaan gelombang
geser ini dilakukan dengan metode spatial
autocorelation (SPAC) berdasarkan pada formula Aki
(1957). Nilai koefisien korelasi antara dua stasiun
pengamatan mikrotremor yang merekam secara
simultan yang dipisahkan sejauh r adalah :
dengan ω : frekuensi anguler
J0 : fungsi Bessel jenis pertama orde nol
c(ω) : kecepatan gelombang permukaan.
Gambar 3. Lokasi pengukuran mikrotremor array dan single station
di sekitar rencana tapak RDE Serpong.
39
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 7 No. 1, April 2016: 35 - 44
Kecepatan gelombang permukaan c(ω) bersifat
dispersif (fungsi frekuensi). Dari persamaan di atas,
bila fungsi ρ(r, ω) diketahui, besarnya kecepatan c
dapat diinversi dari kurva dispersinya. Hasil inversi
berupa struktur kecepatan gelombang geser satu
dimensi (1D). Perhitungan inversi menggunakan
neighbourhood algotithm (Wathelet, 2008).
Bonnefoy-Claudet drr. (2006), Özalaybey drr.
(2011), dan Tuan drr. (2011) menyatakan bahwa
nilai frekuensi/periode rasio spektrum komponen
horizontal terhadap komponen vertikal mikrotremor
berkaitan dengan ketebalan lapisan sedimen
permukaan. Bila litologi bawah permukaan
dimodelkan dengan dua lapis batuan dengan lapisan
permukaan merupakan lapisan sedimen yang relatif
lunak dengan kecepatan gelombang geser Vs, dan
ketebalan sebesar h, hubungan antara nilai frekuensi
resonan fr oleh lapisan sedimen tersebut adalah:
atau
Dari persamaan di atas, untuk setiap titik ukur
mikrotremor single station dapat dihitung besarnya
ketebalan lapisan sedimen permukaan dengan nilai
Vs diperoleh dari hasil pengolahan data mikrotremor
array. Hasil model geologi bawah permukaan
dangkal tersebut selanjutnya digunakan untuk
menghitung nilai penguatan gelombang oleh lapisan
permukaan berdasarkan fungsi alih gelombang geser
horizontal (SH transfer function). Pengolahan data
dilakukan dengan perangkat lunak Geopsy 2.8 dan
HV-Explorer.
Nilai faktor penguatan gelombang yang digunakan
dalam kajian ini adalah nilai tengah dari maksimum
faktor penguatan (mean amplification) karena nilai
maksimum hanya berlaku pada spektrum yang
sempit.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penguatan gelombang gempa bumi oleh litologi
permukaan saat ini menjadi isu utama dalam
penilaian risiko terhadap bencana goncangan
gempa bumi (Nishikawa dan Takatani, 2014).
Untuk memodelkan nilai penguatan gelombang di
permukaan diperlukan informasi struktur kecepatan
gelombang geser bawah permukaan (Furumoto
40
drr., 2012). Secara umum, hasil pemodelan
data mikrotremor array pada sembilan lokasi
menunjukkan hasil yang baik yang ditunjukkan
oleh nilai misfit yang kecil. Gambar 4 menunjukkan
model bawah permukaan pada sembilan titik ukur
mikrotremor array. Hingga kedalaman 40 m, secara
keseluruhan terdapat dua lapis batuan. Perubahan
litologi ditandai oleh perubahan nilai kecepatan
gelombang geser.
Model ketebalan lapisan sedimen permukaan
(Gambar 5) yang dihitung dari data gabungan
mikrotremor array dan single station menunjukkan
adanya pola cekungan memanjang di bagian tenggara
daerah penelitian. Secara keseluruhan, ketebalan
sedimen permukaan daerah penelitian berkisar
antara 6,3 m hingga 64 m. Adapun model kecepatan
gelombang geser lapisan sedimen permukaan
berdasarkan interpolasi data mikrotremor array pada
sembilan lokasi pengukuran memiliki nilai kecepatan
berkisar antara 160 m/det - 253 m/det (Gambar 6).
Pola anomali kecepatan rendah terutama berada
di bagian timur daerah penelitian dengan pola
memanjang pada arah hampir utara - selatan.
Hasil pengamatan di lapangan memperlihatkan
bahwa litologi permukaan di sebelah barat Sungai
Cisadane umumnya berupa batu pasir tufaan
Formasi Genteng, sedangkan di sebelah timur Sungai
Cisadane berupa batu pasir Formasi Serpong, dan
di beberapa lokasi berupa aluvium. Yang mengalasi
lapisan sedimen permukaan ini diperkirakan batuan
Formasi Bojongmanik yang ditindih secara tidak
selaras oleh batuan Formasi Serpong dan Genteng.
Berdasarkan model geologi bawah permukaan
di atas, dapat dihitung nilai faktor penguatan
gelombang untuk seluruh daerah penelitian. Hasil
perhitungan nilai faktor penguatan gelombang
berkisar antara 1,21 - 1,77. Nilai ini menunjukkan
nilai kerentanan relatif, semakin tinggi nilai faktor
penguatan gelombang, nilai kerentanannya semakin
tinggi. Peta sebaran nilai faktor penguatan gelombang
daerah penelitian ditunjukkan pada Gambar 7. Dari
peta tersebut dapat dilihat bahwa daerah dengan
kerentanan tinggi terutama tersebar di sebelah timur
Sungai Cisadane secara setempat-setempat. Daerah
berkerentanan tinggi tersebut cenderung mengikuti
pola daerah berkecepatan gelombang geser rendah.
Lokasi rencana tapak sendiri (tanda bintang warna
ungu) mempunyai nilai faktor penguatan antara 1,41,5.
Kerentanan Wilayah Rencana Tapak RDE Serpong
Berdasarkan Nilai Mean Amplification Mikrotremor
Gambar 4. Profil kecepatan gelombang geser berdasarkan data mikrotremor array pada sembilan lokasi titik ukur.
Gambar 5. Model ketebalan lapisan sedimen permukaan daerah penelitian.
41
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 7 No. 1, April 2016: 35 - 44
Gambar 6. Model kecepatan gelombang geser lapisan sedimen permukaan daerah penelitian.
Gambar 7. Peta sebaran nilai faktor penguatan gelombang daerah rencana tapak RDE Serpong.
42
Kerentanan Wilayah Rencana Tapak RDE Serpong
Berdasarkan Nilai Mean Amplification Mikrotremor
KESIMPULAN
Respons litologi permukaan terhadap gelombang
gempa meningkatkan risiko bencana goncangan
tanah. Informasi karakteristik dinamik geologi
permukaan sangat penting dalam menentukan
peruntukan lahan. Daerah yang memiliki kerentanan
tinggi perlu dihindarkan peruntukannya bagi
fasilitas-fasilitas penting. Hasil perhitungan nilai
faktor penguatan gelombang daerah sekitar rencana
pembangunan tapak RDE Serpong berdasarkan SH
transfer function berkisar antara 1,21 - 1,77. Nilai
kerentanan tertinggi berpola setempat-setempat,
terutama di sebelah timur Sungai Cisadane.
Nilai kerentanan yang tinggi tersebut cenderung
bersesuaian dengan daerah berkecepatan gelombang
geser rendah. Lokasi rencana tapak RDE sendiri
berada pada nilai faktor penguatan antara 1,4-1,5.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kami sampaikan kepada Kepala
Pusat Survei Geologi yang telah mengizinkan
kami melakukan penelitian mikrotremor di daerah
Serpong. Terima kasih juga kami sampaikan kepada
Kepala Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir serta
para kolega kami dari PKSEN yang telah banyak
membantu kegiatan pengumpulan data di lapangan.
DAFTAR PUSTAKA
Aki, K., 1957. Space and Time Spectra of Stationary
Stochastic Waves, with Special Reference to
Microtremors, Bull. Earthquake Res. Inst. Vol.
35, h. 415–456.
Bonnefoy-Claudet, S., Cornou, C., Bard, P. Y.,
Cotton, F., Moczo, P., Kristek, J., dan
Fah, D., 2006. H/V Ratio: a Tool for Site
Effects Evaluation. Results from 1-D Noise
Simulations, Geophys. J. Int., Vol 167, h. 827–
837.
Bouchelouh, A., Zaourar, N., Farsi, M., dan
Guillier, B., 2014. Seismic Microzonation and
The Site Effects of Blida City (North of Algeria),
Proceeding of 2nd European on Earth Engineering
and Seismology, Istanbul Aug., 25-29, 2014.
El-Eraki, M., Mohamed, A.A, El-Kenawy, A.A., Toni,
M.S., dan Shimaa, I.M., 2012. Engineering
Seismological Studies in and Around Zagazig
City, Sharkia, Egypt, NRIAG. Journal of
Astronomy and Geophysics, Vol 1, h. 141–151.
Furumoto, Y., Miyazawa, A., dan Sugito, M., 2012.
Site Amplification Evaluation in the Case of
Non-Horizontal and Nonlinear Stratification,
Proceeding of the 15th World Conference on
Earthquake Engineering, Lisbon, Portugal.
Nishikawa, H. dan Takatani, T., 2014. Evaluation
of Predominant Period of Ground Surface
Layer Using Microtremors in Maizuru City,
Proceeding of the International Conference on
Civil Engineering, Energy and Environment,
Hongkong, 12-13 December 2014.
Özalaybey, S., Zor, E., Ergintav, S., dan Tapırdamaz,
M.C., 2011. Investigation of 3-D Basin
Structures in the Izmit Bay Area (Turkey) by
Single-station Microtremor and Gravimetric
Methods, Geophysical Journal International,
Vol. 186, h.883–894.
Quispe, S., Chimoto, K., Yamanaka, H., Tavera, H.,
Lazares, F. dan Aguilar, Z., 2014. Estimation
of S-Wave Velocity Profiles at Lima City, Peru
Using Microtremor Arrays, Journal of Disaster
Research, Vol.9 No.6, h.31-939.
Sairam, B., Rastogi, B.K., Aggarwal, S., Chauhan,
M., dan Bhonde, U., 2011. Seismic Site
Characterization Using Vs30 and Site
Amplification in Gandhinagar Region,
Gujarat, India, Current Science, Vol. 100, No.
5, h.754-760.
Seht, M.I., 2014. Microzonation Studies using
Microtremor, German-Indonesian Technical
Cooperation Mitigation of Georisks
Document Series, Badan Geologi, Bandung.
Shabani, E., Cornou, C., Haghshenas, E., Wathelet,
M., Bard, P.Y., Mirzaei, N., dan EskandariGhadi, M., 2008. Estimating Shear-Waves
Velocity Structure by Using Array Methods (FK
and SPAC) and Inversion of Ellipticity Curves at
a Site in South of Tehran, Proceeding of The 14th
World Conference on Earthquake Engineering,
Beijing, China, October 12-17, 2008.
Supartoyo, Surono, dan Putranto, E.T., 2014.
Katalog Gempabumi Merusak di Indonesia
Tahun 1612-2014, Pusat Vulkanologi dan
Mitigasi Bencana Alam Geologi, Bandung.
Turkandi, T., Sidarto, Agustyanto, D.A., dan
Hadiwidjoyo, M.M., 1992. Peta Geologi
Lembar Jakarta dan Kepulauan Seribu, Jawa,
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi,
Bandung.
43
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 7 No. 1, April 2016: 35 - 44
Tuan, T.T., Scherbaum, F., dan Malischewsky, P.G.,
2011. On the Relationship of Peaks and Troughs
of the Ellipticity (H/V) of Rayleigh Waves and
the Transmission Response of Single Layer
over Halfspace Models, Geophysical Journal
International, Vol.184, h.793–800.
44
Wathelet, M., 2008. An Improved Neighbourhood
Algorithm: Parameter Conditions and Dynamic
Scaling, Geophysical Research Letters, Vol. 35,
no. L09301, doi:10.1029/2008GL033256.
Download