56 EFEK SUPLEMENTASI Spirulina platensis PADA

advertisement
EFEK SUPLEMENTASI Spirulina platensis PADA PAKAN INDUK TERHADAP
PROFIL ASAM LEMAK TELUR IKAN NILA
Oreochromis niloticus
Firsty Rahmatia1, Yudha Lestira Dhewantara1
Staf Pengajar Jurusan Budidaya Perikanan, FPIK Universitas Satya Negara Indonesia (USNI),
Jakarta1
Abstrak
Kegiatan budidaya secara garis besar mencakup pembenihan, pendederan, dan pembesaran.
Pembenihan terkait dengan proses reproduksi. Salah satu faktor yang mempengaruhi kelancaran proses
reproduksi adalah status nutrisi tubuh, karena materi yang bekerja berasal dari pakan yang dikonsumsi.
Nutrien yang paling penting untuk proses reproduksi ikan adalah lemak dan asam lemak. Oleh karena itu,
pemberian pakan yang mengandung asam lemak optimal diperlukan agar mampu mendukung kebutuhan
pertumbuhan gonad pada induk ikan. Penambahan bahan aditif atau suplemen pada pakan dapat menjadi
salah satu solusi untuk memenuhi hal tersebut. Bahan aditif yang potensial dapat digunakan antara lain
adalah Spirulina platensis. Spirulina platensis pada pakan akan memperbaiki kualitas pakan induk yang
kemudian akan berimbas pada perbaikan kualitas atau status nutrisi telur yang dihasilkan. Telur yang
memiliki profil asam lemak yang baik dan optimal diduga akan dapat meningkatkan kuantitas kinerja
reproduksi (fekunditas, derajat tetas telur, diameter dan sintasan larva). Pada penelitian ini dilakukan
penambahan dosis S. platensis yang berbeda pada pakan yaitu 0% (kontrol), 1%, 2%, dan 3%. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa penambahan S. platensis pada pakan mampu mempertahankan kualitas profil
asam lemak telur ikan Nila serta mampu meningkatkan kinerja reproduksi ikan Nila. Hal ini terlihat dari
meningkatnya jumlah induk yang memijah, frekwensi pemijahan, dan diameter telur. Jika dilihat dari
kuantitas dan kualitas reproduksi secara keseluruhan, maka perlakuan yang memberikan nilai terbaik
adalah S3 yaitu penambahan S. platensis 3% yang memberikan total asam lemak 47.64%, frekwensi
pemijahan sebanyak 8 kali, diameter telur 2.34 mm, fekunditas 2425 butir/200 g induk, derajat tetas telur
99.5%, dan sintasan larva 86.0%.
Kata Kunci: Ikan Nila, Spirulina platensis, profil asam lemak
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Budidaya ikan adalah upaya campur tangan
manusia dalam menumbuhkembangkan ikan dalam
lingkungan yang terkontrol. Kegiatan budidaya
secara garis besar mencakup pembenihan,
pendederan, dan pembesaran. Pembenihan
merupakan bagian penting dari kegiatan budidaya
ikan karena bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
benih dengan kuantitas dan kualitas yang baik
pada saat dibutuhkan. Secara alami waktu
pemijahan ikan bergantung pada sinyal
lingkungan. Sinyal lingkungan akan menstimulasi
otak untuk memberi perintah kepada kelenjar
pituitary sehingga menghasilkan Gonadotrophin
Releasing Hormone (GnRH) yang selanjutnya
merangsang produksi Gonadotrophin Hormone
(GTH) berperan dalam proses reproduksi ikan.
Selain hormon atau endokrin, kelancaran
proses reproduksi juga bergantung pada status
56
nutrisi tubuh, karena materi yang bekerja berasal
dari pakan yang dikonsumsi. Nutrien yang paling
penting untuk proses reproduksi ikan adalah lemak
dan asam lemak. Oleh karena itu, pemberian pakan
yang mengandung asam lemak optimal diperlukan
agar mampu mendukung kebutuhan pertumbuhan
gonad pada induk ikan. Penambahan bahan aditif
atau suplemen pada pakan dapat menjadi salah
satu solusi untuk memenuhi hal tersebut. Bahan
aditif yang potensial dapat digunakan antara lain
Spirulina.
Spirulina memiliki kandungan nutrisi yang
cukup tinggi (Angka dan Suhartono 2000) dan
kaya akan asam lemak esensial. Kandungan omega
6 Spirulina mencapai 29.77% dari total lipid, yang
terdiri atas gamma-linolenic acid (GLA), alphalinolenic acid (ALA) dan linoleic acid (LA) dan
arachidonic acid (ARA). Omega 3 mencapai
18.01% dari total lipid yang terdiri atas stearidonic
acid (SDA), eicosapentaeonic acid (EPA),
docosahexaenoic acid (DHA). Asam lemak
Jurnal Ilmiah Universitas Satya Negara Indonesia Vol.8, No.2 Desember 2015 Hal.: 56-61
esensial mempengaruhi metabolisme, pematangan
gonad, stereidogenesis (Izquierdo et al. 2001),
kualitas telur, dan embriogenesis (Mokoginta
1992).
Berdasarkan hal di atas, pada penelitian ini
dilakukan penambahan Spirulina platensis pada
pakan untuk memperbaiki kualitas pakan induk
yang kemudian akan berimbas pada perbaikan
kualitas atau status nutrisi telur yang dihasilkan.
Telur yang memiliki profil asam lemak yang baik
dan optimal diduga akan dapat meningkatkan
kuantitas (fekunditas, derajat tetas telur). Oleh
karena itu, perlu diketahui bagaimana profil asam
lemak telur setelah induk diberi pakan dengan
dosis penambahan Spirulina platensis yang
berbeda. Pemilihan dosis adalah modifikasi dari
penelitian Mayasari (2012) yang melakukan
suplementasi Spirulina platensis pada pakan induk
ikan Lele, dosis yang digunakan adalah 0%, 1.5%,
dan 3%. Pada penelitian ini dilakukan penambahan
variasi dosis dengan selang yang lebih kecil yaitu
0% (kontrol), 1%, 2%, dan 3%. Kemudian akan
dapat dilihat dosis manakah yang memberikan
profil asam lemak terbaik dan mendekati
kebutuhan optimal ikan untuk reproduksi.
Kestabilan produksi benih diharapkan terpenuhi
untuk semua jenis ikan, baik ikan dengan tipe
pemijahan parsial maupun non parsial. Ikan uji
yang digunakan pada penelitian adalah ikan Nila
Oreochromis niloticus. Ikan ini dijadikan model
mewakili ikan-ikan yang pemijahannya bersifat
parsial. Pemijahan parsial adalah tipe pemijahan
yang melakukan ovulasi (proses pengeluaran telur)
lebih dari sekali pada satu kali pemijahan,
sehingga telur dikeluarkan secara bertahap hingga
gonad kosong kembali.
1.2. Perumusan Masalah
Hormon gonadotropin (GTH) tidak akan
berjalan sempurna tanpa didukung oleh status
nutrisi induk yang baik, karena hormon hanya
berperan sebagai pemberi sinyal atau penggerak
saja sementara materi yang digunakan selama
proses berlangsung bergantung pada nutrien yang
tersedia. Oleh karena itu, akan lebih baik apabila
diberikan bahan tambahan pada pakan agar pakan
tersebut
mampu
memenuhi
kebutuhan
perkembangan gonad. Apabila kualitas pakan
induk tidak terpenuhi, maka akan berimbas pada
kualitas anakan yang dihasilkan. Salah satu bahan
yang dapat digunakan sebagai suplemen adalah
Spirulina platensis. Profil asam lemak S. platensis
diharapkan mampu meningkatkan performa pakan
yang selanjutnya mengoptimalkan profil asam
lemak telur sehingga telur yang dihasilkan
memiliki kualitas dan kuantitas terbaik.
1.3. Tujuan Kegiatan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh pemberian suplementasi S. platensis
dengan dosis yang berbeda terhadap profil asam
lemak telur yang dihasilkan induk ikan Nila
sehingga didapatkan kadar optimum suplementasi
S. platensis untuk induk ikan tersebut.
1.4. Manfaat Kegiatan
Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu
memberikan kontribusi terhadap peningkatan
performa produksi induk ikan nila sehingga
mampu menghasilkan benih yang berkualitas.
II. BAHAN DAN METODE
2.1 Waktu dan Tempat Kegiatan
Penelitian dan analisa dilaksanakan selama 4
(empat bulan). Tempat pemeliharaan induk ikan
Nila dilakukan di SEAMEO BIOTROP Bogor,
Jawa Barat. Analisa asam lemak dengan metode
Gas Chromatography (GC) dilaksanakan di
Laboratorium Terpadu Institut Pertanian Bogor.
2.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan selama penelitian adalah
peralatan pemeliharaan meliputi bak beton
berukuran 3 m x 5 m x 1.2 m sejumlah 5 unit yang
dilengkapi dengan sistem aerasi, hapa atau jaring
sebagai wadah pemeliharan induk dengan dimensi
2 m x 2 m x 0.75 m sejumlah 8 unit (2 unit per
perlakuan), hapa atau jaring sebagai wadah
pemijahan dengan dimensi 1 m x 1 m x 0.75 m
sejumlah 4 unit, toples kaca berdiameter 20 cm
sebagai wadah inkubasi telur sejumlah 16 buah,
botol plastik tempat pengumpulan sampel telur
yang akan diuji sejumlah 8 buah. Peralatan
sampling meliputi timbangan, penggaris, kanebo,
kain lap, gunting, pinset, alat dokumentasi dan alat
tulis.
Bahan yang digunakan meliputi tepung S.
platensis, pakan komersil dengan kadar protein 2528%, induk ikan Nila strain NIRWANA sebanyak
150 ekor betina dan 50 ekor jantan, serta
methylene blue.
2.3 Kegiatan Penelitian
Kegiatan pertama yang akan dilakukan adalah
pembuatan pakan perlakuan. Pakan yang akan
digunakan adalah pakan komersil berkadar protein
25%-28%. Pakan digiling (grinding) dengan
menggunakan
mesin
penepung
(grinder),
kemudian setelah menjadi tepung, pakan
ditimbang dan dicampurkan dengan tepung S.
platensis sesuai dengan dosis yang telah ditetapkan
yaitu 0% (kontrol), 1%, 2%, dan 3% (Tabel 2) dari
bobot pakan dengan menggunakan mesin
pencampur (mixer). Setelah pakan dan tepung S.
Jurnal Ilmiah Universitas Satya Negara Indonesia Vol.8, No.2 Desember 2015 Hal.:56-61
57
platensis tercampur merata, dilakukan pencetakan
kembali dengan menggunakan mesin pelleting.
Pakan selanjutnya dioven pada suhu 60oC selama
12 jam.
Tabel 2 Perlakuan Penelitian
Dosis S. platensis (%)
0
S0
1
S1
2
S2
3
S3
Keterangan :
S0 = Penambahan Spirulina platensis 0 %
S1 = Penambahan Spirulina platensis 1 %
S2 = Penambahan Spirulina platensis 2 %
S3 = Penambahan Spirulina platensis 3 %
Induk ikan nila Oreochomis niloticus yang
digunakan adalah ikan nila strain NIRWANA hasil
seleksi Balai Pengembangan Benih Ikan Air Tawar
(BPBIA), Wanayasa, Purwakarta. Ikan yang
digunakan adalah induk nila dengan tingkat
kematangan gonad yang seragam. Untuk
mendapatkannya dilakukan dengan memijahkan
induk terlebih dahulu. Induk jantan dan induk
betina digabungkan dalam satu kolam, kemudian
pemeriksaan dilakukan secara berkala (per sepuluh
hari). Induk yang sudah mengerami telur
dipisahkan dan telur tersebut dikeluarkan dari
mulutnya hingga kosong. Induk inilah yang
kemudian digunakan untuk perlakuan.
Pergantian air pada penelitian ini dilakukan
bersamaan dengan waktu sampling. Sebelum
dilakukan percobaan dengan pakan uji, ikan uji
diadaptasikan selama 10 hari. Selama periode
adaptasi, ikan diberi pakan komersil sebanyak 3%
bobot tubuh per hari. Ikan uji yang digunakan
dalam penelitian ini ditandai secara individu
dengan menggunakan tagging sirip. Selama
penelitian, ikan tersebut diberi pakan perlakuan 2
kali sehari dengan Feeding Rate (FR) sebesar 3%
dari bobot tubuh.
Pengecekan kematangan gonad atau sampling
dilakukan setiap sepuluh hari. Induk yang telah
matang gonad segera dipindahkan ke hapa
pemijahan untuk persiapan pelaksanaan pemijahan
alami. Induk dicampur dengan induk jantan
dengan perbandingan 1:1. Pemeriksaan dilakukan
pada hari ketiga setelah pencampuran induk. Telur
yang telah dikeluarkan dan dierami dikumpulkan
dan ditimbang. Sebanyak 5-10 gram sampel telur
diambil untuk analisa profil asam lemak. Sisa telur
akan dimasukkan ke dalam toples kaca (200 butir
per toples) untuk ditetaskan dan dipelihara hingga
larva berumur 7 hari untuk kemudian dilihat
sintasan larva (SR7) dan abnormalitas larva.
58
1.4 Parameter yang Dievaluasi
Dalam penelitian ini, parameter yang diamati
adalah sebagai berikut :
1) Pengamatan kematangan gonad. Pengamatan
ini akan dilakukan setiap sepuluh hari yaitu
pada waktu sampling.
2) Diameter telur dan fekunditas telur.
3) Derajat Tetas Telur (DTT) diperoleh dengan
membandingkan jumlah telur yang menetas
dengan telur yang ditetaskan.
4) Siantasan larva (SR7), perhitungan sintasan ini
dilakukan sebanyak lima kali dan hasilnya
dirata-ratakan.
5) Analisis proksimat S. platensis dan pakan
perlakuan (Takeuchi 1988).
6) Analisis asam lemak pada telur (metode gas
chromatografi).
1.5 Analisis Data
Data profil asam lemak telur akan dianalisis
secara deskriptif dalam bentuk tabel dan gambar.
Sementara data diameter telur, fekunditas, derajat
tetas telur dan sintasan larva menggunakan
Rancangan Acak Lengkap satu faktor (RAL)
dianalisis dengan menggunakan SPSS versi 16.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil dan Pembahasan
Pertumbuhan ikan terbagi atas dua jenis, yaitu
pertumbuhan tubuh (somatik) dan pertumbuhan
organ reproduksi (gonad). Penelitian ini
merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan
kuantitas dan kualitas pertumbuhan gonad ikan
dalam hal ini adalah ikan Nila dengan memberikan
suplementasi Spirulina platensis pada pakan.
Berdasarkan hasil pengujiaan proksimat
terhadap tepung Spirulina platensis dan pakan uji
(pelet yang disuplementasi dengan S. platensis
berbagai dosis) diperoleh hasil sebagai berikut :
Jurnal Ilmiah Universitas Satya Negara Indonesia Vol.8, No.2 Desember 2015 Hal.: 56-61
Tabel 3 Hasil Proksimat (%) Tepung Spirulina
platensis dan Pakan Uji
Kode
sampel
Kadar
Air
Karbohidrat
Kadar
Protein Lemak
Abu
Serat
BETN
Kasar
9.02
28.69
7.51
2.00
48.04
S0
4.74
S1
4.98
9.61
29.54
7.83
3.16
44.88
S2
5.40
9.53
31.67
7.79
1.62
43.99
S3
5.15
9.59
32.39
7.56
1.09
44.22
6.54
6.35
63.37
0.50
0
23.24
S. platensis
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa
kandungan protein pakan meningkat seiring
dengan peningkatan dosis suplementasi S.
platensis, yaitu suplementasi 0% (kontrol) sebesar
30.12%, suplementasi 1% sebesar 31.02%,
suplementasi
2%
sebesar
33.57%,
dan
suplementasi 3% sebesar 34.01% dalam satuan %
bobot kering. Hal ini terjadi karena kandungan
protein yang terdapat pada S. platensis yang
dijadikan sebagai suplemen memang cukup tinggi,
yaitu sebesar 67.80%. Berbeda halnya dengan
kandungan
lemak pakan, menurun pada suplementasi 3%.
Namun, kandungan lemak pada pakan yang
disuplementasi dengan dosis yag berbeda
memberikan nilai yang lebih tinggi daripada pakan
kontrol. Penelitian ini berfokus pada profil asam
lemak telur ikan Nila yang dihasilkan setelah
diberi pakan bersuplementasi S. platensis dengan
dosis yang berbeda.
Berdasarkan hasil penelitian dan dilakukan
pengujian terhadap telur ikan Nila, maka diperoleh
hasil profil asam lemak telur setiap perlakuan
sebagai berikut :
Tabel 4 Profil Asam Lemak Telur Ikan Nila
dengan Pemberian Pakan bersuplementasi S.
platensis berbagai dosis
Parameter*
Asam Lemak*
Lauric Acid, C12:0
Myristic Acid, C14:0
Myristoleic Acid, C14:1
Pentadecanoic Acid, C15:0
Palmitic Acid, C16:0
Palmitoleic Acid, C16:1
Heptadecanoic Acid, C17:0
Stearic Acid, C18:0
Elaidic Acid, C18:1n9t
Oleic Acid, C18:1n9c
Linoleic Acid, C18:2n6c
Arachidic Acid, C20:0
-Linolenic Acid, C18:3n6
Hasil
S-0
S-1
0.03
1.26
0.04
0.10
10.69
2.83
0.14
4.77
0.13
14.05
5.89
0.12
0.64
0.02
1.35
0.04
0.12
10.81
3.04
0.15
4.37
0.13
15.06
5.58
0.10
0.62
Satuan
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
Cis-11-Eicosenoic Acid,
C20:1
Linolenic Acid, C18:3n3
Cis-11,14-Eicosedienoic Acid,
C20:2
Behenic Acid, C22:0
Cis-8,11,14-Eicosetrienoic
Acid, C20:3n6
Erucic Acid, C22:1n9
Cis-11,14,17-Eicosetrienoic
Acid, C20:3n3
Arachidonic Acid, C20:4n6
Cis-13,16-Docosadienoic
Acid, C22:2
Cis-5,8,11,14,17Eicosapentaenoic Acid,
C20:5n3
Nervonic Acid, C24:1
Cis-4,7,10,13,16,19Docosahexaenoic Acid,
C22:6n3
Total Fatty Acid
0.48
0.52
%w/w
0.42
0.48
%w/w
0.34
0.38
%w/w
0.03
0.02
%w/w
0.99
1.04
%w/w
0.03
0.03
%w/w
0.05
0.07
%w/w
2.16
2.14
%w/w
0.02
n.d
%w/w
0.20
0.25
%w/w
0.02
0.02
%w/w
4.83
4.76
%w/w
50.25 51.12
%w/w
Tabel 5. Profil Asam Lemak Telur Ikan Nila
dengan Pemberian Pakan bersuplementasi S.
platensis berbagai dosis (lanjutan)
Parameter*
Asam Lemak*
Lauric Acid, C12:0
Myristic Acid, C14:0
Myristoleic Acid, C14:1
Pentadecanoic Acid, C15:0
Palmitic Acid, C16:0
Palmitoleic Acid, C16:1
Heptadecanoic Acid, C17:0
Stearic Acid, C18:0
Elaidic Acid, C18:1n9t
Oleic Acid, C18:1n9c
Linoleic Acid, C18:2n6c
Arachidic Acid, C20:0
-Linolenic Acid, C18:3n6
Cis-11-Eicosenoic Acid, C20:1
Linolenic Acid, C18:3n3
Cis-11,14-Eicosedienoic Acid,
C20:2
Behenic Acid, C22:0
Cis-8,11,14-Eicosetrienoic Acid,
C20:3n6
Erucic Acid, C22:1n9
Cis-11,14,17-Eicosetrienoic Acid,
C20:3n3
Arachidonic Acid, C20:4n6
Cis-13,16-Docosadienoic Acid,
C22:2
Lignoceric Acid, C24:0
Cis-5,8,11,14,17-Eicosapentaenoic
Acid, C20:5n3
Nervonic Acid, C24:1
Cis-4,7,10,13,16,19Docosahexaenoic Acid, C22:6n3
Total Fatty Acid
Jurnal Ilmiah Universitas Satya Negara Indonesia Vol.8, No.2 Desember 2015 Hal.:56-61
Hasil
Satuan
S-2
S-3
0.02
0.97
0.03
0.12
9.97
2.14
0.16
3.65
0.10
11.88
5.36
0.11
0.53
0.49
0.42
0.03
1.05
0.03
0.10
10.25
2.41
0.13
4.46
0.13
13.41
5.92
0.12
0.53
0.56
0.43
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
%w/w
0.38
0.40
%w/w
0.03
0.03
%w/w
0.80
0.83
%w/w
0.03
0.03
%w/w
0.06
0.05
%w/w
1.83
1.90
%w/w
0.02
0.02
%w/w
n.d
0.02
%w/w
0.23
0.26
%w/w
0.02
0.02
%w/w
4.48
4.52
%w/w
43.84
47.64
%w/w
59
Tabel diatas menunjukkan bahwa terdapat hasil
yang fluktuatif terhadap asam lemak telur.
Kemudian juga tidak terdapat hubungan yang
berbanding lurus antara dosis S. platensis dengan
total asam lemak yang terdapat pada telur.
Berdasarkan hasil penelitian ini, semakin tinggi
suplementasi tidak selalu diikuti dengan
meningkatnya pula total asam lemak pada telur
ikan Nila. Profil masing-masing jenis asam lemak
pun menunjukkan nilai yang tidak terlalu berbeda.
Hal ini diduga disebabkan oleh telur yang diuji
merupakan kumpulan telur total dari beberapa
tahap pemijahan setiap perlakuan (telur dari
pemijahan 1, pemijahan 2, dan seterusnya
digabungkan). Meskipun demikian, hal positif
yang ditunjukkan dari hasil ini adalah bahwa
meskipun telah melakukan berkali-kali pemijahan,
kualitas atau komposisi asam lemak telur ikan Nila
yang diberi pakan bersuplementasi S. platensis
tetap terjaga. Induk yang diberi pakan
bersuplementasi S. platensis melakukan pemijahan
dengan frekwensi yang lebih sering daripada ikan
kontrol (Tabel 5), namun profil asam lemak telur
yang dihasilkan tidak jauh berbeda dengan kontrol.
Ulangan
S0
S1
S2
S3
1
-
13
13
16
2
-
-
16
-
3
34
-
-
-
4
18
-
14;28
24;38
5
-
28;38
18
24;38
6
-
23
-
38
7
Σ Ikan
memijah
Σ
Pemijahan
34
3 ekor
(42.86%)
38
13;34
3 ekor
5 ekor
5 ekor
(42.86%) (71.43%) (71.43%)
3 kali
4 kali
6 kali
8 kali
Selain profil asam lemak, dilakukan pula
pengamatan terhadap kinerja reproduksi ikan Nila
meliputi diameter telur, fekunditas, derajat tetas
telur, dan survival rate larva.
Tabel 6 Kinerja Reproduksi Induk Ikan Nila
dengan Pemberian Pakan bersuplementasi S.
platensis berbagai dosis
Perlakuan
S0
S1
S2
S3
60
Diameter
(mm)
Fekunditas
(telur/200
gram)
Derajat
Tetas
Telur (%)
Survival
Rate larva
(%)
2.43 ±
0.29ab
2.87 ±
0.10c
2.81 ±
0.16bc
2.34 ±
0.25a
1522 ±
538
1771 ±
123
2076 ±
1395
2425 ±
1108
98.9 ± 0.7
80.9 ± 1.7
99.2 ± 0.9
99.2 ± 1.3
74.7 ±
17.6
86.3 ± 9.2
99.5 ± 0.7
86.0 ± 5.6
Keterangan
: Huruf superskript yang berbeda
pada kolom yang sama diturunkan dari aktifitas
cycloxygenase dan lipoxygenase. Produk dari
aktifitas tersebut terkait dan terlibat dalam
pematangan oosit (Asturiano 1999 dalam
Izquierdo et al. 2001). Kebutuhan terhadap PUFA
pada induk yang diberi pakan bersuplemen selalu
terpenuhi dari pakan, sehingga kualitas telur dan
larva yang dihasilkan juga tetap konsisten.
menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0.05).
Berdasarkan uji statistik, pemberian perlakuan
dosis suplementasi S. platensis yang berbeda pada
pakan memberikan pengaruh yang berbeda nyata
terhadap diameter telur ikan nila (P<0.05). Dosis
S. platensis yang memberikan nilai berbeda nyata
dibandingkan dengan kontrol adalah dosis
suplementasi 1% dan merupakan diameter
tertinggi. Perlakuan S0 memberikan hasil diameter
2.43±0.29 mm, sementara S1 dengan diameter
2.87±0.10 mm.
Diameter telur mengindikasikan jumlah energi
yang tersimpan di dalam telur yang selanjutnya
akan digunakan untuk perkembangan embrio.
Suplementasi S. platensis berpengaruh karena
mekanisme pengaturan ukuran telur ikan dalam
gonad bergantung pada kecukupan nutrien yang
tersedia. Spirulina mengandung asam lemak
esensial yang mempengaruhi fluiditas membran
yang selanjutnya akan mempengaruhi metabolisme
sel melalui perubahan aktivitas enzim-enzim pada
membran sel (Sargent et al., 2002). Penambahan
Spirulina pada pakan memperbaiki fluiditas
membran sel sehingga vitellogenin dapat diserap
dengan lebih baik pula, oleh karena itu diameter
telur akan semakin besar.
Namun demikian,
meningkatnya persentase S. platensis pakan
ternyata tidak selalu diiringi dengan peningkatan
diameter telur. Diameter terkecil justru dihasilkan
oleh ikan yang diberi pakan bersuplementasi 3%.
Hal tersebut diduga terjadi karena pada perlakuan
ini, fekunditas yang dihasilkan relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan perlakuan lainnya (Tabel 6).
Sehingga pada ukuran gonad yang sama, dengan
jumlah telur yang lebih banyak, ukuran telur yang
ada sudah tentu akan lebih kecil. Ikan betina
dengan fekunditas yang besar cenderung memiliki
ukuran telur yang relatif kecil (Blaxter, 1988
dalam Mayasari, 2010).
Fekunditas yang dihitung pada penelitian ini
adalah jumlah telur yang dihasilkan oleh 200 gram
induk pada satu kali pemijahan. Semua perlakuan
tidak menunjukkan hasil yang berbeda nyata
(P>0.05). Dengan demikian, perlakuan S. platensis
tidak memberi pengaruh terhadap fekunditas. Hal
ini didukung oleh pernyataan Kamler (1992),
bahwa fekunditas memiliki hubungan yang lebih
kuat dengan bobot tubuh dan diameter telur
Jurnal Ilmiah Universitas Satya Negara Indonesia Vol.8, No.2 Desember 2015 Hal.: 56-61
daripada dengan pakan yang dikonsumsi. Hewan
yang diberi pakan dengan kualitas yang buruk
memang akan menurun jumlah telurnya, namun
ikan memiliki keistimewaan lain, dimana mereka
mampu bereaksi terhadap defisiensi nutrien pakan
sehingga fekunditasnya tetap terjaga.
Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Mokoginta I.
1992. Essential fatty acid requirement of
catfish Clarias batrachus for broodstock
development [disertasi]. Bogor (ID): Institut
Pertanian Bogor
Berdasarkan uji statistik, dosis suplementasi S.
platensis yang berbeda pada pakan menunjukkan
hasil yang tidak berbeda nyata (P>0.05) terhadap
derajat tetas telur. Dosis suplementasi S. platensis
pada pakan yang berbeda ternyata juga tidak
berpengaruh (P>0.05) terhadap sintasan larva
sampai dengan hari ketujuh.
IV. SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan
Penambahan S. Platensis pada pakan mampu
mempertahankan kualitas profil asam lemak telur
ikan Nila serta mampu meningkatkan kinerja
reproduksi ikan Nila. Hal ini terlihat dari
meningkatnya jumlah induk yang memijah,
frekwensi pemijahan, dan diameter telur. Jika
dilihat dari kuantitas dan kualitas reproduksi secara
keseluruhan, maka perlakuan yang memberikan
nilai terbaik adalah S3 yaitu penambahan S.
Platensis 3% yang memberikan total asam lemak
47.64%, frekwensi pemijahan sebanyak 8 kali,
diameter telur 2.34 mm, fekunditas 2425 butir/200
g induk, derajat tetas telur 99.5%, dan sintasan
larva 86.0%.
4.2 Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
mengenai pengaruh dosis suplementasi S. platensis
dengan tingkatan dosis yang lebih tinggi terhadap
kinerja reproduksi ikan serta perbedaan profil asam
lemak tiap tahap pemijahan.
Daftar Pustaka
Darwisito S. 2006. Kinerja reproduksi ikan nila
Oreochromis niloticus yang mendapat
tambahan minyak ikan dan vitamin E dalam
pakan yang dipelihara pada salinitas media
berbeda [disertasi]. Bogor (ID): Institut
Pertanian Bogor.
Izquierdo MS, Ferna´ndez-Palacios H, Tacon AGJ.
2001. Effect of broodstock nutrition on
reproductive performance of fish. Aquaculture
197: 25–42.
Mayasari N. 2012. Pemacuan kematangan gonad
ikan Lele dumbo Clarias sp. betina dengan
kombinasi hormon PMSG dan Spirulina
[tesis].
Jurnal Ilmiah Universitas Satya Negara Indonesia Vol.8, No.2 Desember 2015 Hal.:56-61
61
Download