BAB II TINJAUAN UMUM

advertisement
BAB II
TINJAUAN UMUM
2.1
SEJARAH PERTAMBANGAN PT. FREEPORT INDONESIA
Keberadaan tentang adanya cadangan mineral di tanah Papua pertama kali
tercatat dalam suatu laporan “Leidsche Geologische Mededeelingen”(1939) yang ditulis
oleh Dr. Jean Jacques Dozy. Laporan ini ditulis Dozy setelah pada tahun 1936 Dozy
bergabung dalam ekspedisi yang bertujuan mencapai lokasi salju abadi yang kala itu
disebut Cartenszweide (kini Puncak Jaya). Secara tak disengaja, Dozy menemukan
gundukan batu hitam kekuningan yang menjulang setinggi 131 m. Dari penyelidikan
yang dilakukan atas contoh batuan, gundukan batu hitam kekuningan itu ternyata
mengandung kalkopirit yang mengindikasikan adanya tembaga. Dalam laporannya yang
disimpan di Universitas Leiden, Belanda tersebut, Dozy menamakan gunung itu
Ertsberg yang berarti Gunung Bijih. Kelak setelah dieksplorasi, Gunung Bijih
mengandung endapan bijih tembaga terbesar di dunia yang pernah ditemukan.
Laporan tersebut yang dijadikan dasar oleh Forbes Wilson, seorang insinyur
pertambangan berkewarganegaraan Amerika Serikat yang juga merupakan Manajer
Eksplorasi dari perusahaan tambang Freeport Sulphur Company, Amerika Serikat untuk
melakukan ekspedisi pada tahun 1960 dan 1967. Berdasarkan temuan awal dari timnya,
ia memperkirakan bahwa Eartsberg mengandung sekitar 30 juta ton bijih. Pengujian
terhadap batuan yang dibawanya kembali ke Amerika Serikat menunjukkan kandungan
tembaga dengan kadar 2,3%. Walaupun lokasi cadangan tersebut sangat terpencil,
namun jumlah dan kualitas bijihnya menjadikan penambangan tembaga pada Ertsberg
layak secara ekonomis.
Anak perusahaan Freeport McMoran, PT Freeport Indonesia Incooperated (PT
FII), menandatangani Kontrak Karya pertama dengan pemerintah Indonesia pada
tanggal 7 April 1967 selama 30 tahun. Kegiatan eksplorasi dan penyelidikan umum
mulai dilakukan selama lima tahun disertai uji kelayakan dan pembangunan
infrastruktur serta sarana pendukung lainnya. Gunung Bijih ditambang secara tambang
terbuka atau disebut open pit dengan produksi awal 7000 ton bijih tembaga per hari.
6
Pada 18 Desember 1972 untuk pertama kalinya PTFII melakukan kegiatan ekspor
konsentrat tembaga kering sebanyak 8300 ton yang dikapalkan dari pelabuhan
Amamapare dengan tujuan Hibi, Jepang.
Pada tahun 1976 PTFII menemukan cadangan Gunung Bijih Timur yang
mengandung ± 45 juta ton tembaga dengan kadar 2,5%, yang ditambang pada tahun
1980 dengan sistim tambang bawah tanah. Kemudian secara berturut-turut ditemukan
deposit Gunung Bijih Timur Dalam (1980), Deep Ore Zone (DOZ) tahun 1985, dan
Grasberg tahun 1988. Ketika pertama kali ditemukan, cadangan awal Grasberg sebesar
50 juta ton. Penemuan cadangan tambahan menghasilkan penambahan jumlah cadangan
baru selama hampir satu dasawarsa pada tahun 1990-an. Hingga akhir tahun 2002,
seluruh cadangan Grasberg berikut cadangan bijih bawah tanah di sekitarnya pada
kawasan Grasberg-Ertsberg telah mencapai lebih dari 2,5 milyar ton bijih yang
mengandung lebih dari 39,4 milyar pon tembaga dan 48,5 juta ons emas. Dengan
ditemukannya Grasberg, Freeport McMoran Copper & Gold Inc. memiliki cadangan
tembaga dan emas terbesar di dunia.
PT Freeport Indonesia (PTFI) didirikan pada tanggal 26 Desember 1991 dan
telah berbadan hukum Indonesia. PT Freeport Indonesia Incooperated (PT FII) yang
sebelumnya berbadan hukum Deleware di New Orleans negara bagian Amerika Serikat
meleburkan diri menjadi PT. Freeport Indonesia. Sehingga, seluruh kegiatan
penambangan di wilayah Kontrak Karya I tersebut selanjutnya diusahakan oleh PTFI.
Pada tanggal 30 Desember 1991 di tandatangani kontrak kerja baru antara PT.
FI dengan Pemerintah Indonesia yang berlaku untuk masa 30 tahun. Kontrak baru ini
mencakup luas wilayah 10.000 hektar dan wilayah baru untuk eksplorasi seluas 2,5
hektar serta untuk penambangan dan sarana sarana pendukung lainya.
Secara singkat kronologis perkembangan operasi PT FI dapat dilihat sbb :
•
1978 : Pembangunan tambang bawah pertama, yaitu Gunung bijih timur (GBT)
atau Ertsberg East yang dilakukan dengan metode block caving. Mulai
berproduksitahun 1980 dan pada tahun 1986 produksinya telah mencapai 15.100
ton/hari.
•
1987 : Peningkatan produksi menjadi 20.000 ton/hari dengan membangun
tambang open-stope DOZ dan tambang blok cave Dom. Pembangunan juga
termasuk sistem handling bijih tambang bawah tanah seperti crusher, conveyor,
7
dan ore pass. Pada tahun 1988 produksi meningkat menjadi 21.000 ton/hari.
Pembangunan Dom dilakukan kemudian ditinggalkan karena ditemukannya
cadangan grasberg.
•
1989 : Penemuan badan bijih di Grasberg meningkatkan cadangan tertambang
menjadi lebih dari 200 juta ton. Peningkatan produksi menjadi 52.000 ton/hari
dimulai pada tahun 1989, dengan peningkatan sebesar 32.000 ton/hari pada
tahun 1990. Sistem open pit dan transportasi dari bijih dilakukan pada tahun
1989. Infrastruktur segera dibangun dan selesai pada akhir tahun1989.
•
1992 : Peningkatan produksi secara terus menerus dari Grasberg mengakibatkan
produksi pada tahun 1993 telah mencapai 57.000 ton.hari dan dengan
penambahan fasilitas konsentrating maka peningkatan produksi dapat mencapai
66.000 ton/hari.
•
1994 : Feasibility study untuk peningkatan produksi menjadi 125.000 ton/hari
dilakukan. Tambang IOZ dibuka pada tahun 1996 untuk menggantikan GBT
dengan produksi sebesar 10.000 ton/hari.
•
1996 : Feasibility study untuk peningkatan produksi hingga 240.000 ton/hari
dilakukan hal ini disertai dengan pembangunan infrastruktur. Pembangunan
tambang DOZ dilakukan pada tahun 1995.
•
Operasi saat ini : Sekarang ini PT. FI berproduksi dengan kapasitas sebesar
240.000 ton/hari, dimana 200.000 ton berasal dari tambang Grasberg dan 4050.000 ton dari tambang DOZ.
2.2
LOKASI DAN KESAMPAIAN DAERAH
Lokasi penambangan PT Freeport Indonesia (PTFI) secara administratif terletak
di wilayah Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, sekitar 500 kilometer sebelah barat daya
Jayapura, ibukota provinsi Papua. Secara geografis, PTFI berada antara 04o 02’ 30”
sampai 04o 11’ 30” LS dan 137o 02’ 30” sampai 137o 10’ 00” BT pada jajaran
pegunungan Sudirman. Lokasi dan kesampaian daerah PTFI dapat dilihat pada Gambar
2.1.
8
0 – 1500 m dpl
1500 – 4200 dpl
Gambar 2.1 Peta Lokasi PT Freeport Indonesia.
(Sumber PT. Freeport Indonesia)
Secara garis besar daerah kontrak karya PTFI dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Lowland, merupakan dataran rendah yang mencakup lokasi pelabuhan
Amamapare (portsite), perumahan karyawan dan kantor administrasi di Kuala
Kencana serta beberapa lokasi pendukung lainnya.
b. Highland, merupakan dataran tinggi yang mencakup perumahan karyawan mulai
dari mile 66 (Hidden Valley), mile 68 (Tembagapura), mile 74 hingga ke lokasi
tambang bawah tanah dan tambang terbuka Grasberg.
Untuk menuju lokasi proyek PTFI dapat menggunakan jalur udara melalui
bandara Moses Kilangin Timika dan jalur laut melalui pelabuhan Amamapare. Lokasi
tambang terbuka Grasberg dapat dicapai dengan dua cara yaitu dengan perjalanan darat
dan udara. Perjalanan darat dapat ditempuh dari Timika sejauh 66 km selama ± 2 jam,
kemudian dilanjutkan ke mile 74 sejauh ± 9,6 km selama ± 25 menit untuk kendaraan
9
LV (light vehicle) atau ± 40 menit dengan bus. Di mile 74 terdapat pabrik pengolahan
dan stasiun kereta gantung (hanging tram way) dimana terdapat 2 buah kereta gantung
yang menghubungkan dengan GBT (Gunung Bijih Timur). Kereta gantung pertama
berkapasitas 80 orang yang terbentang sejauh 1660 m dengan beda ketinggian 753 m
antara stasiun di mile 74 dengan stasiun di GBT. Untuk yang kedua berkapasitas 100
orang dan membentang sejauh 1594 m dengan beda ketinggian antar stasiun 738 m.
Lama perjalanan dengan tram ini memakan waktu sekitar 6–10 menit.
Sedangkan pusat lokasi tambang terbuka Grasberg terletak sejauh 2,2 km kearah
barat laut dari GBT selama ± 5–10 menit dengan menggunakan kendaraan LV (light
vehicle). Selain itu dari mile 68 ke lokasi tambang terbuka Grasberg dapat pula
ditempuh melalui jalur Underground Intermediate Ore Zone (IOZ) ataupun lewat
H.E.A.T. (Heavy Equipment Acces Track). Perjalanan melalui udara dapat pula
ditempuh dengan helikopter dari mile 68 (Tembagapura) langsung ke lokasi tambang
terbuka Grasberg yang hanya dapat dilakukan jika udara cerah (tidak berkabut). Peta
wilayah kontrak karya PT. Freeport Indonesia dapat dilihat pada Gambar 2.2.
10
Gambar 2.2 Peta Wilayah Kontrak Karya PT Freeport Indonesia.
(Sumber PT. Freeport Indonesia)
2.3
TOPOGRAFI
Wilayah kerja PT.FI membentang disepanjang daerah pegunungan Jayawijaya,
suatu area dengan topografi tertinggi diantara Himalaya di Asia dan Andes di Amerika
Selatan, yang memotong pulau tepat di tengah-tengah. Ketinggian bervariasi mulai dari
daerah pantai di dataran rendah sampai dengan pegunungan yang curam yang terletak
sekitar 80 kilometer dari area pelabuhan. Geomorfologi yang curam ini dikarenakan
11
proses pengikisan oleh air hujan dalam jumlah yang sangat tinggi terhadap permukaan
pegunungan yang terus terangkat sehingga material terpindahkan.
Area kerja PT.FI sendiri berada di daerah fisiografis dari rangkaian pegunungan
tengah (Central Mountain Range), dan membujur dari mulai zona Nival sampai kepada
Alpine, Subalpine dan zona Montane. Zona Nival dan Alpine ( 4.170 m s/d >4585 m )
dikarakterisasikan dengan berbagai macam batuan sedimen dan batuan beku yang
terbentuk dari proses pengangkatan, perlipatan, pergeseran, dan aktifitas volkanik. Zona
Subalpine dan Montane (2.000m - 4.170m) dikarakterisasikan dengan adanya sungai
yang mengalir ke arah lembah yang memiliki bentuk-v yang memiliki kedalaman
sampai 1.000 m dan gradien yang memiliki rentang mulai dari 40o sampai permukaan
vertikal. Lembah tersebut terdiri atas berbagai macam batuan sedimen dan batuan beku
yang terbentuk akibat perlipatan, pergeseran dan aktifitas vulkanik.
2.4
MORFOLOGI
Daerah yang membentang sejauh ± 125 km dari pelabuhan Amamapare hingga
daerah pabrik pengolahan memiliki morfologi yang berbeda-beda. Daerah pelabuhan
Amamapare merupakan daerah rawa bakau yang relatif datar. Morfologi pada daerah ini
banyak dijumpai sungai-sungai kecil yang bercabang-cabang dan pepohonan tinggi
dengan akar yang menggantung.
Memasuki daerah pedalaman, dimana ketinggian semakin besar dan daerah rawa
bakau sedikit demi sedikit digantikan dengan rawa nipa atau sagu. Pada jarak ±3–40
km, daerahnya mulai ditumbuhi oleh hutan yang lebat dengan jurang-jurang yang terjal.
Memasuki wilayah penambangan Grasberg, hutan tidak ditemukan lagi yang kemudian
digantikan tumbuhan lumut. Gletser terbentuk pada jarak beberapa kilometer dari distrik
mineral. Letak geografis PT. Freeport Indonesia dapat dilihat pada Gambar 2.3.
12
13
(Sumber PT. Freeport Indonesia)
Gambar 2.3 Letak geografis PT. Freeport Indonesia
KONDISI GEOGRAFIS
2.5
CUACA DAN IKLIM
Secara umum wilayah kerja PTFI mempunyai iklim tropis dengan curah hujan
antara 2500 mm sampai 4000 mm per tahun. Daerah lowland memiliki suhu rata-rata
29o – 32o C. Daerah ini merupakan daerah yang panas dan lembab dengan curah hujan
rata-rata 2500 mm per tahun. Sedangkan daerah highland adalah daerah yang dingin
bahkan sering diselimuti kabut dan hujan hampir turun setiap hari. Suhu udara bevariasi
dari sekitar 22o C di Tembagapura dan 8o C di tambang terbuka Grasberg.
2.6
KONDISI GEOLOGI
2.6.1
Geologi Regional
Wilayah kerja PTFI berada pada zona subduksi antara Lempeng Australia yang
bergerak ke utara dan Lempeng Indopasifik yang bergerak ke arah barat daya. Pada
zona subduksi ini terjadi intrusi magma yang menembus lapisan batuan sedimen yang
telah terbentuk terlebih dahulu. Adanya intrusi tersebut memungkinkan terjadinya
proses mineralisasi yang kompleks yang menghasilkan zona-zona yang kaya mineralmineral berharga. Peta lokasi wilayah kerja PT. Freeport Indonesia dapat dilihat pada
Gambar 2.4. Sedangkan stratigrafi batuan sedimen di wilayah kerja PTFI dapat dilihat
pada Gambar 2.5.
Kelompok batuan yang terdapat pada wilayah kerja PTFI adalah:
a. Kelompok batu gamping Irian (New Guinea Group) dari zaman tersier.
Kelompok ini mencakup empat formasi yang merupakan batuan limestone yang
didominasi carbonat, yaitu :
ƒ
Formasi Waripi, merupakan pengendapan awal dari kelompok ini yang
terdiri dari batuan dolomit sukrosik berlapis tipis, batu gamping (limestone)
rekristalisasi, dan batu gamping arenit. Berasal dari periode paleocene dan
memiliki tebal sekitar 300 meter.
ƒ
Formasi Faumai, yang berasal dari periode Eocene. Dicirikan oleh
terdapatnya batu gamping packstone dengan tebal sekitar 200 meter.
14
ƒ
Formasi Sirga, yang berasal dari periode Oligocene. Dicirikan oleh
terdapatnya batu pasir kwarsa dan semen kalsit dengan tebal sekitar 35
meter.
ƒ
Formasi Kais, yang berasal dari periode Oligocene akhir sampai pada
pertengahan Miocene. Dicirikan oleh terdapatnya batu gamping packstone
yang mengandung poraminifera, dan fosil ganggang merah. Kais memiliki
ketebalan mencapai 1100 m, terdiri dari 4 bagian yang masing-masingnya
adalah 300 m – 350 m lapisan Mg-limestone, 80 m lapisan limestone, shale,
sandstone, 200 m lapisan sandstone dan sekitar 500 m lapisan limestone
dengan sisipan shale dan coal.
b. Kelompok Kembelangan dari zaman Mesozoic (Jurassic sampai Cretaceous)
Formasi Kembelangan terdiri dari rangkaian batu pasir dan batu gamping.
Batuan sedimen ini telah mengalami intrusi magma yang berkomposisi Diorit.
Kelompok ini mencakup empat formasi, yaitu :
ƒ
Formasi Kopai, yang berasal dari periode pertengahan sampai jurassic akhir.
Dicirikan oleh terdapatnya sandstone, conglomerate, limestone, dan
mudstone dengan ketebalan sekitar 350 m
ƒ
Formasi Woniwagi, yang berasal dari periode jurassic akhir sampai
crestaceous awal. Dicirikan oleh terdapatnya sandstone, shale, dan siltstone
dengan ketebalan sekitar 500 m.
ƒ
Formasi Piniya, yang berasal dari periode crestaceous awal sampai
pertengahan crestaceous. Dicirikan oleh terdapatnya shale dan siltstone
dengan ketebalan sekitar 600 m
ƒ
Formasi Ekmai, yang berasal dari periode crestaceous akhir. Total ketebalan
formasi ini adalah sekitar 700 m. Batuan penyusun formasi Ekmai terdiri
atas 3 bagian yaitu quartz sandstone dengan ketebalan 600 m, Kembelangan
Limestone (limestone, silty, sandy limestone) dengan tebal sekitar 90 meter
dan Kembelangan Shale yang merupakan calcareous shale dengan tebal 4
m.
15
c. Kelompok Glaciatill, Peat, Aluvium
Kelompok ini hadir pada lapisan teratas permukaan perbukitan dan
pergunungan. Endapan glaciatill terbesar terdapat di daerah Cartenszewide. Di
daerah ini juga terdapat sekitar 100 m lapisan alluvial.
d. Kelompok batuan intrusi
Dua buah intrusi primer yang ada di wilayah PTFI adalah Grasberg Intusive
Complex (GIC) dan Ertsberg Diorite. Selain dua intrusi primer tersebut juga
ditemukan tubuh batuan beku lainnya di Wanagon, South Wanagon, Idenberg,
dan Lembah Tembaga, yang ukurannya lebih kecil dari intrusi primer. Pada dua
intrusi primer tersebut, terdapat 2 formasi yaitu Dalam dan Kali yang pada
umumnya merupakan jenis diorite sampai quartz diorite.
Gambar 2.4 Peta Geologi Wilayah Kerja PT. Freeport Indonesia
(Sumber PT. Freeport Indonesia)
16
Gambar 2.5 Startigrafi Batuan Sedimen di Wilayah Kerja PTFI
(Sumber PT. Freeport Indonesia)
2.6.2
Geologi Daerah Grasberg
Daerah lokasi penelitian berada di tambang terbuka Grasberg tepatnya di lokasi
G-6/PB-8 South yang berada pada elevasi 3348 – 3995 m diatas permukaan laut.
Daerah G-6/PB-8 South merupakan lokasi yang termasuk dalam zona mineralisasi
Grasberg.
Mineralisasi emas-tembaga di daerah Grasberg terpusat dalam dike yang terjadi
dalam beberapa tahapan, dan secara umum mengandung komposisi quartz
monzodiorite. Tahapan ini dibagi menjadi 3 fase yaitu Dalam, Main Grasberg, dan Kali.
17
1. Intrusi Diorit Dalam.
Intrusi ini dicirikan dengan adanya perbedaan tekstur pada batuan daerah di
bawah Carstensweide, Diorit Dalam mempunyai tekstur batuan intrusive biasa.
Sementara sebelah atasnya batuan bertekstur batuan vulkanik dan pada bagian
puncak Grasberg struktur batuan diduga berasal dari lubang gunungapi. Diduga
intrusi Diorit Dalam ini tidak hanya terbentuk akibat peristiwa tunggal saja,
tetapi terjadi akibat dari beberapa peristiwa dan merupakan intrusi paling tua.
2. Intrusi utama Grasberg atau disebut juga Main Grasberg Intrusive (MGI).
Intrusi ini diinterpretasikan sebagai retas yang menembus Satuan Breksi
Vulkanik Trakhit dan Intrusi Dalam. Kenampakan tekstur asli yang belum
terubah dapat terlihat dari arah Barat Laut – Tenggara dan dari Timur Barat.
Semakin ke arah kontak Satuan Breksi Vulkanik Trakiandesit dan Intrusi Kali,
maka tekstur aslinya tidak tampak lagi karena sudah terubah kuat menjadi
ubahan potasik dan umumnya dipotong oleh urat belalit kuarsa – magnetit –
kalkopirit yang sangat kuat. Intrusi kedua terjadi setelah intrusi Diorit Dalam
selesai. Intrusi kedua ini adalah intrusi utama Grasberg atau disebut juga Main
Grasberg Intrusive. Intrusi ini membentuk bagian kandungan mineral terkaya
pada endapan. Setelah intrusi ini terjadi, intrusi utama Grasberg mengalami
perubahan hidrotermal, yang menyebabkan pembentukan Stockwork urat kuarsa
dan membawa kandungan mineralisasi tembaga terkaya di Grasberg. MGI
dicirikan oleh penoktis plagioklas berukuran 0.5 – 2.5mm hornblende, biotit
yang berukuran sama dengan plagioklas. Mempunyai kesan aliran dan
menempati sekitar 600 x 430 m secara horizontal dan variabel secara vertikal.
3. Kali Phase.
Intrusi ini datang dari bidang vertikal sepanjang rekahan yang ada,
meninggalkan
struktur
yang
disebut
Kali
Dyke.
Batuannya
sedikit
termineralisasi dan hanya mengandung kadar emas dan tembaga yang rendah
saja.
18
Gambar 2.6 Proses mineralisasi di Grasberg
(Sumber PT. Freeport Indonesia)
19
Kumpulan dari mineralisasi tembaga-emas ini merupakan hasil dari satu
kejadian hydrothermal. Mineralisasi emas dan tembaga ini terjadi terakhir dan
terkumpul didekat semua fase intrusi dan tahapan dari alterasi. Chalcopyrite adalah
sulfida tembaga yang paling dominan, dengan kadar dari bornit yang meningkat seiring
bertambahnya kedalaman. Alterasi dari potassic menyebar sampai 700 meter dari pusat
komplek intrusi. Alterasi propylitic terdapat sekitar 150 meter diluar sistem. Alterasi
phylic muncul belakangan dan terdapat diluar komplek intrusi.
Di area batas Grasberg Intrusive Complex (GIC), terdapat zona irregular yang
mengandung pyrite massive yang terdiri atas magnetite dan chalcopyrite dalam jumlah
kecil dan dinamakan sebagai “Heavy Sulfide Zone“ (HSZ). Zona ini memiliki tebal
hingga 100 m dan terhubung dengan mineralisasidaeah Kucing Liar.
Badan bijih Grasberg terbentang lebih dari 1600 m secara vertikal dan dengan
diameter sekitar 200 – 950 m. Perbandingan antara Au/Cu ( Au dalam ppm dan Cu
dalam %) meningkat dari 0.9 di dekat permukaan hingga 1.2 pada elevasi 3.280 m, dan
menurun sampai 0.8 pada elevasi 2.740 m.
20
21
Gambar 2.7 Peta Geologi Grasberg
(Sumber PT. Freeport Indonesia)
Download