(Boesenbergia rotunda) SECARA IN VITRO SKRIPSI

advertisement
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI PRODUK NANOPARTIKEL ALGINAT
EKSTRAK ETANOL TEMU KUNCI (Boesenbergia rotunda)
SECARA IN VITRO
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi
Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh
Gelar Sarjana Sains Kimia
Oleh:
Hajar Nur Afifah
13307141012
PROGRAM STUDI KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017
i
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI PRODUK NANOPARTIKEL ALGINAT
EKSTRAK ETANOL TEMU KUNCI (Boesenbergia rotunda) SECARA
IN VITRO
Oleh:
Hajar Nur Afifah
NIM. 13307141012
Pembimbing : Prof. Dr. Sri Atun
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dan untuk
mengetahui konsentrasi yang optimal pada variasi konsentrasi produk
nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci (Boesenbergia rotunda) terhadap
bakteri Streptococcus mutans.
Uji aktivitas antibakteri dilakukan secara in vitro. Produk nanopartikel alginat
ekstrak etanol temu kunci diencerkan dengan pelarut DMSO (Dimethylsulfoxide)
hingga berkonsentrasi 0,5 ppm, 5 ppm, 50 ppm, 250 ppm, 500 ppm. Penelitian
dilakukan dengan metode difusi agar, kloramfenicol digunakan sebagai kontrol
positif dan DMSO sebagai kontrol negatif. Parameter yang diukur adalah besarnya
diameter zona bening atau daya hambat yang terbentuk disekitar disckblank yang
telah direndam dalam produk nanopartikel alginat. Dilakukan 3 pengulangan pada
setiap konsentrasi dan dilakukan pengamatan selama 24 jam.
Hasil analisis statistik menggunakan SPPS versi 16, pada uji Anova
menunjukkan bahwa produk nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci
berpengaruh secara signifikan dalam menghambat pertumbuhan bakteri
Streptococcus mutans. Semakin tinggi konsentrasi produk nanopartikel alginat
ekstrak etanol temu kunci, maka semakin luas zona bening terbentuk, yaitu
konsentrasi 0,5 ppm (8,05 mm) ; 5 ppm (8,40 mm) ; 50 ppm (8,42 mm) ; dan 500
ppm (10,02 mm). Konsentrasi yang menunjukkan aktivitas terbesar dalam variasi
konsetrasi yang digunakan adalah 500 ppm. Penghambatan yang terjadi pada
bakteri Streptococcus mutans tersebut menunjukkan bahwa produk nanopartikel
alginat ektrak etanol temu kunci mengandung senyawa aktif yang bersifat anti
bakteri.
Kata kunci : uji aktivitas antibakteri, nanopartikel alginat, ekstrak temu kunci,
Streptococcus mutans, difusi agar, zona bening.
ii
IN VITRO ANTIBACTERIAL ACTIVITY OF ALGINATE
NANOPARTICLE PRODUCTS FROM TEMU KUNCI (Boesenbergia
rotunda) ETANOL EXTRACT.
By :
Hajar Nur Afifah
13307141012
Supervisor : Prof. Dr. Sri Atun
ABSTRACT
This research aimed to test antibacterial activity and to know the optimal
concentration of alginate nanopartcle product from temu kunci (Boesenbergia
rotunda) against Streptococcus mutans.
Antibacterial activity performed in vitro. Alginate nanoparticle product from
temu kunci etanol extract, diluted with DMSO solvent (Dimethylsulfoxide) to
concentration 0.5 ppm, 5 ppm, 50 ppm, 250 ppm, and 500 ppm. This research
performed agar diffusion method with kloramfenicol as positive control and
DMSO as negative control. Parameters measured is width of clear zone diameter
or inhibitory power, which is formed around a blank disc that has been soaked in
alginate nanoparticle product. 3 repetitions were performed at each concentration
and conducted observations in 24 hours.
Statistical analysis result using SPSS version 16. On the Anova test showed
that alginate nanoparticle product from temu kunci etanol extract have a
significant effect in the inhibiton Streptococcus mutans bacteria. The higher
concentration alginate nanoparticle product from temu kunci etanol extract, then
the wider clear zone is formed, le at concentration 0.5 ppm (8.05 mm); 5 ppm
(8.40 mm); 50 ppm (8.42 mm); and 500 ppm (1.02 mm). Concentrations that
show the greatest activity in concentration variations is 500 ppm. The inhibition
that occurs in Streptococcus mutans bacteria shows that alginate nanoparticle
product from temu kunci etanol extract, contain active compounds that are
antibacterial.
Key Word : antibacterial activity, alginate nanoparticle, fingerroot extract,
Streptococcus mutans, agar diffusion, clear zone.
iii
PERNYATAAN
Yang bertanda tangan dibawah ini, saya:
Nama
: Hajar Nur Afifah
NIM
: 13307141012
Prodi
: Kimia
Fakultas
: MIPA
Judul
: Uji Aktivitas Antibakteri Produk Nanopartikel Alginat Ekstrak
Etanol Temu Kunci (Boesenbergia rotunda) Secara In Vitro.
Menyatakan bahwa penelitian ini merupakan hasil dari pekerjaan saya yang
tergabung
dalam
Penelitian
Payung
yang
berjudul
“Eksplorasi
dan
Pengembangan Senyawa Bioaktif dari Tumbuhan Zingiberaceae” yang diketuai
oleh Prof. Dr. Sri Atun.
Sepanjang pengetahuan saya skripsi ini tidak berisi karya atau pendapat yang
ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali sebagai acuan atau kutipan dengan
mengikuti tata penulisan karya ilmiah yang lazim. Tanda tangan dosen penguji
yang tertera dalam halaman pengesahan adalah sah. Jika tidak sah, saya siap
menerima sanksi ditunda yudisium periode berikutnya.
Yogyakarta, 22 Juni 2017
Yang menyatakan,
Hajar Nur Afifah
NIM. 13307141012
iv
v
vi
MOTTO
”Yang baik akan datang bagimereka yang percaya, yang lebih baik akan
datang bagi mereka yang bersabar, dan yang terbaik akan datang bagi
mereka yang tidak pernah menyerah”
vii
PERSEMBAHAN
Alhamdulillahi robbil’alamin, kupanjatkan segala puji dan syukur kepada
Allah SWT yang selalu memberikan petunjuk, rizki, dan pertolongan sehingga
karya tulis ini dapat selesai tepat waktu. Saya persembahkan karya ini untuk :
Kedua orang tua saya Bapak Widodo dan Ibu Suratmi, terima kasih atas
segala doa, pengorbanan, kerja keras dan harapan yang telah Bapak dan Ibu
berikan, semoga suatu hari anakmu bisa menjadi pribadi yang berguna dan
membanggakan.
Adikku Muhammad Ilham yang menjadi alasan supaya tetap bersemangat
dan pantang menyerah, agar kelak bisa menjadi contoh dan panutan di masa
depan.
Teman-teman dikehidupan perantauan, pada saat suka maupun duka, Nur
ihda, Lucky Enjang, Arumina, dan Mahardhika, Terima kasih banyak telah
menjadi keluarga kedua di Yogyakarta.
Team skripsi dan penelitian payung, Amel, Fitri, Billa, Putri, Wulan,
Hajidah, Mbak Erna, Mbak Ninung, dan Mbak Ervi, terimakasih sudah
menjadi team yang kompak dan selalu menyenangkan.
Teman-teman Kimia B 2013, terimakasih telah menemaniku melewati 4
tahun ini dengan penuh kenangan, semoga kelak kita semua menjadi orang
yang beruntung.
Semua pihak yang telah mendukung dan membantu proses studi saya
selama 4 tahun ini.
viii
KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta hidayah-Nya sehingga Tugas Akhir Skripsi dengan judul “Uji
Aktivitas Antibakteri Produk Nanopartikel Alginat Ekstrak Etanol Temu Kunci
(Boessenbergia rotunda) secara In Vitro” ini dapat diselesaikan walaupun masih
terdapat banyak kekurangan.
Penulis menyadari bahwa dalam penyelesaian tugas akhir skripsi ini tidak
dapat lepas dari bimbingan, bantuan serta doa dari berbagai pihak. Oleh karena
itu, dengan segala ketulusan dan kerendahan hati penulis mengucapkan terima
kasih kepada :
1. Bapak Dr. Hartono, selaku Dekan FMIPA UNY yang telah memberikan ijin
dan fasilitas dalam penelitian ini.
2. Bapak Jaslin Ikhsan, M.AppSc., Ph.D, selaku Kajurdik dan Kaprodi Kimia
FMIPA UNY.
3. Ibu Prof. Dr. Endang Widjajanti L. FX M.S, selaku Pembimbing Akademik
4. Ibu Prof. Dr. Sri Atun, selaku pembimbing yang telah memberikan fasilitas
dalam penelitian ini, waktu, masukan, kritikan, saran, dan kesabarannya dalam
membimbing penulis.
5. Ibu Prof. Dr. Indyah Sulistyo Arty, M.S, selaku penguji skripsi yang telah
memberikan saran, kritik dan masukan sehingga skripsi ini menjadi lebih baik.
6. Ibu C Budimarwanti, M.Si, selaku penguji skripsi yang telah memberikan
saran, kritik dan masukan sehingga skripsi ini menjadi lebih baik.
ix
7. Segenap dosen dan staf karyawan Jurusan Pendidikan Kimia yang telah
memberikan banyak ilmu pengetahuan selama menjalani studi di Jurusan
Pendidikan Kimia.
8. Semua pihak yang telah membantu baik moril maupun materiil, baik langsung
maupun tidak langsung kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari
kata sempurna, sehingga perlu kritik dan masukan yang bersifat membangun guna
perbaikan selanjutnya.
Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini memberikan manfaat bagi
perkembangan ilmu pengetahuan dan dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Yogyakarta, Juni 2017
Penulis
x
DAFTAR ISI
ABSTRAK .............................................................................................................. ii
ABSTRACT ........................................................................................................... iii
PERNYATAAN..................................................................................................... iv
PERSETUJUAN .................................................... Error! Bookmark not defined.
PENGESAHAN ..................................................... Error! Bookmark not defined.
MOTTO ................................................................................................................. vi
PERSEMBAHAN ................................................................................................ viii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ix
DAFTAR ISI .......................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL ................................................................................................ xiv
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xv
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xvi
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
A. Latar Belakang .......................................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah .................................................................................. 4
C. Pembatasan Masalah ................................................................................. 4
D. Perumusan Masalah .................................................................................. 5
E. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 5
xi
F. Manfaat Penelitian .................................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 7
A. Deskripsi Teori.......................................................................................... 7
1. Temu Kunci (Boesenbergia rotunda) ....................................................... 7
2. Nanopartikel Alginat ............................................................................... 11
3. Streptococcus mutans.............................................................................. 13
4. Uji Antibakteri ........................................................................................ 15
B. Penelitian yang Relevan .......................................................................... 17
C. Kerangka Berpikir ................................................................................... 17
BAB III METODE PENELITIAN........................................................................ 20
A. Subjek dan Objek Penelitian ................................................................... 20
1. Subjek Penelitian .................................................................................... 20
2. Objek Penelitian ...................................................................................... 20
B. Variabel Penelitian .................................................................................. 20
1. Variabel Bebas ........................................................................................ 20
2. Variabel Terikat ...................................................................................... 20
C. Instrument Penelitian .............................................................................. 20
1. Alat :........................................................................................................ 20
2. Bahan : .................................................................................................... 21
3. Prosedur Penelitian ................................................................................. 21
xii
D. Teknik Analisis Data............................................................................... 23
E. Diagram Alir Prosedur Penelitian ........................................................... 24
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................. 26
A. Nanopartikel ............................................................................................ 26
B. Uji Aktivitas Antibakteri......................................................................... 26
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................ 44
A. Kesimpulan ............................................................................................ 44
B. Saran........................................................................................................ 44
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 46
LAMPIRAN .......................................................................................................... 50
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.
Nilai
Optical
Density
pertumbuhan
bakteri
Streptococcus
mutans..............................................................................................
Tabel 2.
Aktivitas antibakteriStreptococcus mutans terhadap nanopartikel
alginat ekstrak etanol temu kunci........................................................
Tabel 3.
Tabel 4.
31
35
Hasil uji Anova terhadap diameter zona bening Streptococcus
mutans..............................................................................................
37
Aktivitas antibakteri Streptococcus mutans terhadap kloramfenicol..
40
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.
Rimpang temu kunci.................................................................
8
Gambar 2.
Senyawa dalam ekstrak temu kunci..........................................
11
Gambar 3.
Struktur poliguluronat dan polimanuronat pada alginatBakteri 12
Gambar 4.
Streptococcus mutans...................................................
Gambar 5.
Sketsa petridisck berisi bakteri Streptococcus mutans dan
14
disckblank dengan 3 ulangan...................................................
25
Gambar 6.
Struktur kimia CMC dan DMSO..............................................
27
Gambar 7.
Suspensi nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci.........
28
Gambar 8.
Bakteri Streptococcus mutans pada media NA......................... 29
Gambar 9.
Kurva Pengukuran bakteri Streptococcus mutans..................... 32
Gambar 10.
Penanaman bakteri Streptococcus mutans dan disckblankpada
media MHA (Mueller Hinton Agar)...............................
Gambar 11.
Kurva aktivitas antibakteri Streptococcus mutans terhadap
produk nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci............
Gambar 12.
34
36
Kurva aktivitas antibakteri Streptococcus mutans terhadap
kloramfenicol (kontrol positif).................................................. 39
Gambar 13.
Lebar zona bening dengan 3 pengulangan, pada konsentrasi
0,5 ppm...................................................................................... 41
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.
Kurva pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans.....................
Lampiran 2.
Diameter zona bening (mm) produk nanopartikel ekstrak etanol
temu kunciterhadap bakteri Streptococcus mutans.....................
Lampiran 3.
49
50
Diameter zona bening (mm) kloramfenicolterhadap bakteri
Streptococcus mutans..................................................................
53
Lampiran 4.
Uji statistik ANOVA...................................................................
56
Lampiran 5.
Dokumentasi penelitian................................................................ 62
xvi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penggunaan tanaman herbal untuk obat-obatan memang sudah sangat dikenal
mulai dari jaman nenek moyang. Khasiat tanaman herbal yang efektif menjadi
alasan mengapa tanaman herbal terus dibudidayakan hingga saat ini. Selain itu
cara penanaman yang mudah dan tidak membutuhkan lahan yang besar sangat
cocok untuk dijadikan tanaman dilingkungan rumah atau yang lebih umum
disebut dengan TOGA (tanaman obat keluarga). Dijaman modern seperti sekarang
ini banyak produk terutama obat-obatan yang dijual dipasaran dengan bahan dasar
tanaman herbal.
Salah satu tanaman herbal yang bermanfaat dan berkhasiat adalah temu kunci
dengan nama latin Boesenbergia rotunda.Temu kunci dapat tumbuh disembarang
tempat dengan syarat tidak pada genangan air dan terkena sinar matahari secara
langsung, oleh karena itu temu kunci banyak dibudidayakan dipekarangan rumah.
Kandungan kimia yang ada dalam temu kunci adalah minyak atsiri (terdiri dari
kamfer, sineol, metil sinamat, dan hidromirsen), damar, pati, saponin, flavonoid
pinostrolerin, dan alipinetin. Manfaat dari temu kunci adalah sebagai obat batuk,
berkhasiat untuk meluruhkan dahak, untuk obat kurang gizi yang berkhasiat untuk
menambah nafsu makan, obat sakit perut yang berkhasiat meluruhkan kentut, obat
urine yang berkhasiat melancarkan kencing, dapat mengurangi rasa gatal dan
menyembuhkan kurap (Hieronymus, 1998).
1
Penghantaran obat menggunakan produk nanopartikel merupakan teknologi
yang relatif baru namun potensinya cukup besar. Kemampuan nanopartikel dalam
menghantar protein serta menjaga keutuhan dan fungsi protein yang dihantarkan
memberikan nilai lebih sehubungan dengan cepatnya protein terapeutik
bermunculan dipasaran (Hurkat et al., 2012; Sarmento et al,. 2007). Nanopartikel
menawarkan stabilitas protein yang lebih tinggi dan dapat membantu
menghantarkan protein menembus membran sel menuju sitoplasma. (Hurker et
al., 2012;Singh & Lillard, 2009).
Pengembangan produk nanopartikel memerlukan material nanopartikel dan
senyawa pentarget yang sesuai. Material yang digunakan harus bersifat
biodegradabel, biokompatibel, dan dapat membentuk nanopartikel yang stabil dan
mampu mengangkut protein. Karakteristik tersebut ada pada alginat maupun
kitosan (Amidi et al,. 2006; Saether et al., 2008; Sarmanto et al., 2007).
Pada jaman modern yang semakin berkembang seperti saat ini terdapat
berbagai masalah kesehatan yang beragam, angka penderitanya juga semakin
meningkat. Salah satu masalah kesehatan yang mengkhawatirkan adalah penyakit
gigi dan mulut yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penyakit karies gigi dan
penyakit periodental merupakan dua penyakit gigi dan mulut yang paling sering
ditemukan dan merupakan penyebab utama pasien kehilangan gigi. Karies gigi
merupakan suatu penyakit infeksi yang dapat menular, penyakit ini menyerang
jaringan keras gigi, sehingga terjadi kerusakan pada jaringan keras gigi yang
disebabkan oleh bakteri. Terdapat berbagai spesies bakteri yang berkoloni di
dalam rongga mulut terutama pada plak gigi. Salah satu spesies bakteri yang
2
dominan dalam mulutyaitu bakteri Streptococcus mutans. Jenis bakteri ini
diketahui merupakan bakteri penyebab utamatimbulnya karies gigi. Telah banyak
penelitian
yangmembuktikan
adanya
korelasi
positif
antara
jumlah
bakteriStreptococcus mutans pada plak gigi dengan prevalensi karies gigi,hal ini
disebabkan beberapa karakteristik dari bakteriStreptococcus mutans yaitu mampu
mensintesis polisakaridaekstraseluler glukan ikatan α (1–3) yang tidak larut
darisukrosa, dapat memproduksi asam laktat melalui proseshomofermentasi,
membentuk koloni yang melekat denganerat pada permukaan gigi, dan lebih
bersifat asidogenikdibanding spesies Streptococcus lainnya. Oleh karena
itubakteri ini telah menjadi target utama dalam upayamencegah terjadinya karies
gigi (Sabir, 2005).
Uji aktivitas antibakteri untuk mengukur berapa besar potensi atau
konsentrasi suatu senyawa dapat memberikan efek bagi mikroorganisme(Dart,
1996). Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada zat yang bersifat menghambat
pertumbuhan bakteri yang dikenal sebagai bakteriostatik dan bersifat membunuh
bakteri yang dikenal sebagai bakterisida(Ganiswara 1996). Ada berbagai macam
uji aktivitas antibakteri salah satunya adalah dengan menggunakan metode In
vitro. Metode In vitro adalah uji aktivitas antibakteriyang menggunakan media
buatan sesuai dengan lingkungan atau habitat lingkungan yang diperlukan oleh
mikroba untuk tumbuh dan bekembang biak. Dengan pembuatan media tumbuh
bakteri pada sebuah agar, yang diinkubasi dan diberi perlakuan sesuai habitat
aslinya.
3
B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan, maka dapat diidentifikasi beberapa
masalah sebagai berikut :
1. Metode uji aktivitas antibakteri produk nanopartikel alginat ekstrak etanol
temu kunci.
2. Bakteri yang digunakan untuk uji aktivitas antibakteri produk nanopartikel
alginat ekstrak etanol temu kunci.
3. Variasi konsentrasi produk nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci.
4. Spesifikasi produk nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci yang
digunakan untuk uji aktivitas antibakteri.
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka perlu diberikan pembatasan
masalah yaitu:
1. Uji aktivitas antibakteri produk nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci
menggunakan metode in vitro dengan cara difusi agar.
2. Bakteri yang digunakan untuk uji aktivitas antibakteriadalah Streptococcus
mutans.
3. Konsentrasi pemberian produk nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci
dilarutkan dengan DMSO yaitu 0,5 ppm, 5 ppm, 50 ppm, 250 ppm, dan 500
ppm.
4. Spesifikasi produk nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci yang
digunakan untuk uji aktivitas antibakteri
yaitu produk nanopartikel yang
diteliti sebelumnya oleh Ghabby Maharani Putri (2015).
4
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah diatas, maka dapat ditentukan rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana aktivitas antibakteri produk nanopartikel alginat ekstrak etanol
temu kunci terhadap Streptococcus mutans?
2. Berapakah konsentrasi yang menunjukkan aktivitas terbesardalam variasi
konsentrasi yang digunakan untuk uji aktivitas antibakteriproduk nanopartikel
alginat ekstrak etanol temu kunciterhadap bakteri Streptococcus mutans?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui aktivitas antibakteriproduk nanopartikel alginat ekstrak etanol
temu kunci terhadap bakteriStreptococcus mutans.
2. Mengetahui konsentrasi yang menunjukkan aktivitas terbesar dalam variasi
konsentrasi untuk uji aktivitas antibakteriproduk nanopartikel alginat ekstrak
etanol temu kunci terhadap bakteri Streptococcus mutans.
F. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagi peneliti
a. Menambah pengetahuan tentang kegunaan produk nanopartikel alginat ekstrak
etanol temu kunci.
5
b. Mempelajari metode uji aktivitas produk nanopartikelalginat ekstrak etanol
temu kuncisebagai antibakteri secara In vitro.
2. Bagi masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan informasi bagi masyarakat
mengenai produk nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci dalam rangka
upaya pembuatan obat-obatanpada rongga mulut yang disebabkan oleh bakteri
Streptococcus mutans.
3. Bagi akademisi
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi untuk penelitian
selanjutnya terkait uji aktivitas antibakteri secara in vitro dan kegunaan produk
nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci.
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Deskripsi Teori
1. Temu Kunci (Boesenbergia rotunda)
Tanaman temu kunci merupakan salah satu tanaman obat berupa rimpang,
yang termasuk dalam famili Zingiberaceae. Selain dimanfaatkan untuk obatobatan temu kunci juga digunakan untuk rempah-rempah, dan bumbu pelengkap
masakan. Temu kunci adalah tumbuhan pohon rendah atau semak, dan tumbuh
didalam tanah. Ukuran pertumbuhannya dalam setahun setinggi 0,3-0,9 cm.
Batangnya tumbuh didalam tanah berupa rimpang, berwarna kuning kecoklatan,
berbau, dan tebalnya berkisar antara 5-30 cm x 0,52-2 cm. Batang diatas tanah
berupa pelepah daun, umumnya sebanyak 2-7 helai, berupa daun merah tanpa
pisau daun, teksturnya beralur, tidak berbulu, sepanjang 7-16 cm, lidahnya
berbentuk segitiga melebar menyerupai selaput dengan panjang 1-1,15 cm.
Tangkai daun hampir sama panjangnya dengan pelepah daun, daunnya tegak,
lebar agak elips atau meruncing pada sisinya, permukaannya halus namun berbulu
pada bagian bawah, terutama disepanjang tulang daunnya, warna daun hijau muda
dengan lebar 5-11 cm. Bunganya mirip dengan butiran yang jumlahnya tak
terbatas, panjang batang 41 cm, umumnya tangkai tersembunyi di dalam 2 daun
yang paling ujung. 3 potong kelopak longgar dan runcing. Mahkota bunga
7
sebanyak 3 buah, berwana merah muda atau kuning putih, tubular 50-52 mm
(Plantus, 2008). Bentuk dari temu kunci seperti yang terlihat pada Gambar 1:
Gambar 1. Rimpang temu kunci
Nama ilmiah temu kunci adalah Boesenbergia rotunda, dan klasifikasi tumbuhan
sebagai berikut :
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Liliopsida
Ordo
: Zingiberales
Famili
: Zingiberaceae
Genus
: Boesenbergia
Sinonim
: Gastrochilus panduratum (Roxb)
Kaempferia rotunda (Roxb)
Boesenbergia pandurata
Nama umum
: Temu kunci
Nama lokal
: temu kunci (Indonesia), koncih (Sumatera), tamu kunci
(Minangkabau), konce (Madura), Kunci (jawa tengah), dumu kunci (Bima), tamu
konci (Makasar), tumu kunci (Ambon), anipa wakang (Hila-Alfuru), aruhu konci
(Haruku), sun (Buru) rutu kakuzi (Seram), tamputi (Ternate)
8
Nama asing
:fingerroot (Inggris), krachai (Thailand), chinese key (Cina).
Temu kunci merupakan tumbuhan yang tumbuh didaerah tropis, tepatnya
tumbuh liar didataran rendah hutan jati atau pada hutan lebat pada dataran tinggi.
Berbunga pada bulan Januari-Februari dan pada bulan April-Juni. Distribusi dan
habitat daerah tanaman ini tumbuh liar di dataran, di hutan jati. Tanaman ini
tumbuh dengan baik di iklim yang panas dan lembab di tanah yang relatif subur
dengan pertukaran udara dan tata air yang baik. Di tanah dengan kelola air yang
buruk (sering banjir, atau berlumpur, pertumbuhannya akan terganggu dan
rimpang membusuk lebih cepat) (Plantus, 2008). Penanaman temu kunci bisa
dilakukan dengan cara memotong rimpang menjadi beberapa bagian (masingmasing bagian paling sedikit 2 kuncup) dan ditanam pada jarak 3000 cm ( Fina
Aryani et al, 2014).
Rimpang temu kunci memiliki khasiat memperkuat lambung, berkhasiat
untuk mengobati batuk kering dan peringitis, obat sakit perut serta obat
keseringan kencing pada anak-anak. Temu kunci juga berkhasiat sebagai obat
pembengkakan kandungan serta obat infeksi alat reproduksi pada wanita. (Heyne
1987). Selain itu juga dapat digunakan sebagai obat diare, disentri batu,
pelangsing dan obat keputihan (Nugraheni, 2001). Pada pengujian invitro yang
telah dilakukan temu kunci dapat meningkatkan jumlah limfosit, antibodi spesifik,
dan dapat membunuh sel kanker (Hartono, 1999). Dan beberapa hasil pengkajian
yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tanaman daerah tropis memiliki potensi
yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai obat (Sukara, 2002).
9
Temu kunci berasal dari Cina Selatan dan Asia Tenggara. Awalnya rimpang ini
dikenal sebagai obat Cina kuno dan jarang digunakan sebagai bumbu masakan.
Setelah menyebar ke Yunna, Indonesia, India, dan Sri Lanka barulah tanaman ini
digunakan sebagai penyedap masakan. Penyebaran temu kuncipun begitu cepat ke
penjuru Asia.
Aktivitas biologi temukunci dapat diperoleh dari komponen-komponen aktif
fitokimia yang terdapat dalam temukunci. Komponen-komponen kimia tanaman
temu-kunci ditemukan pada bagian rizoma. Menurut Kardono et al. (2003).
Rimpang temu kunci mengandung minyak atsiri 1,2% (pada rimpang segar 0,06%
- 0,32% minyak atsiri). Komponen utama minyak atsiri terdiri dari monoterpen,
seskuiterpen, turunan fenilpropana antara lain : geranial, neral, kamfora,
zingiberen, d-pinen, kamfen, 1,8-sineol (eucaliptol), d-borneol, geraniol, osimen,
dimetoksi-4(-2-propenil), miristin, linalil propanoat, asam sinamat, kamfen hidrat,
propenil guaikol, dihidrokarveol, linalool, etil-sinamat, etil p-metoksi sinamat,
panduratin A. Struktur kimia senyawa-senyawa yang terkandung dalam temu
kunci dapat dilihat pada Gambar 2.
Senyawa-senyawa yang mempunyai prospek cukup baik biasanyaberasal dari
golongan flavonoid, kurkumin, limonoid, vitamin C, vitamin E (tokoferol), dan
katekin yang bisa digunakansebagai obat antikanker. Senyawa-senyawa tersebut
biasa-nya bermanfaat pula sebagai antioksidan (Aldi et al. 1996).
10
Gambar 2. Senyawa dalam ekstrak temu kunci
2. Nanopartikel Alginat
Alginat termasuk dalam kelompok polisakarida yang awalnya banyak terbuat
dari rumput laut coklat seperti Laminaria hyperborean, Marcrocystis pyrifera,
dan Ascophylhum nodosu. Alginat ditemukan sebagai campuran garam asam
alginat seperti kalsium, kalium, atau natrium yang terdapat pada dinding sel atau
lingkungan interselular. Rumus molekul alginat yaitu C76H76O22(NH2). Pada tahun
1950-an, asam alginat diketahui sebagai polimer dari anhidro-1-4-β-D-manuronat,
dan sekitar tahun1960-an, diketahui keberadaan asam L-guluronat. Alginat
merupakan polisakarida yang linear dan tidak bercabang yang mengandung rantai
dari guluronat dan asam mannuronat (Tonnesen, et al., 2002). Struktur kimia
Poliguluronat dan Polimanuronat tersaji dalam Gaambar 3.
Berat molekul alginat adalah 32–200 kDa, berhubungan erat dengan derajat
polimerisasi 180–930. Nilai pK gugus karboksil adalah 3,4–4,4. Alginat bersifat
larut air dalam bentuk garam alkali, magnesium, amonia atau amin (Belitz
11
&Grosch, 2004). Alginat tidak larut air dalam bentuk garam kalsium alginat atau
asam alginat (Winarno, 1990 dalam Syahrul, 2005).
Gambar 3. Struktur poliguluronat dan polimanuronat pada alginat.
Viskositas larutan alginat dipengaruhi oleh berat molekul dan keberadaan ion
dalam larutan. Pada kondisi larutan tanpa kation bervalensi dua atau tiga atau
dengan adanya bahan pengkelat, viskositas larutan alginat rendah. Sebaliknya,
dengan peningkatan kation multivalen (misalnya kalsium) terjadi peningkatan
viskositas yang bersifat paralel. Oleh karena itu, viskositas larutan alginat dapat
diatur sesuai keinginan. Proses freezing dan thawing larutan Na-alginat yang
mengandung ion Ca2+ dapat menghasilkan peningkatan viskositas (Belitz &
Grosch, 2004).
Nanopartikel didefinisikan sebagai dispersi partikulat atau partikel padat
dengan jarak ukuran 1 - 1000 nm. Desain nanopartikel disesuaikan agar sistem
penghantaran dapat bekerja optimal, karena ukurannya yang terkontrol, sehingga
permukaannya dapat bersifat aktif secara farmakologi dalam pelepasan untuk
mencapai aksi spesifik target dari obat dengan kecepatan terapeutik dan dosis
yang regimen.Alasan pemilihan alginat sebagai carrier dalam formulasi
nanopartikel yaitu karena alginat memiliki karakteristik yang unik dan sering
digunakan sebagai carrier berbagai zat atau agen biologis seperti gen, antigen,
12
dan obat yang melindunginya dalam tubuh. Selain itu, alginat memiliki sifat
biokompatibel, biodegradable, dan polimer mukoadhesif yang tidak memproduksi
toksik dalam tubuh (Squalen, 2010).
3. Streptococcus mutans
Plak gigi terus- menerus terbentuk dari mikroorganisme dan bahan organik
yang berada pada permukaan gigi. Pembentukan plak dimulai dari kerusakan gigi
dan penyakit gigi. Ketelitian dan frekuensi pembersihan gigi tidak sepenuhnya
mencegah pembentukan plak. Plak mulai terbentuk dalam 24 jam setelah
pembersihan, kecuali jika dilakukan pembersihan secara teratur oleh ahlinya.
Namun plak akan kembali terbentuk bahkan ketika baru saja keluar dari ruangan
seorang dokter gigi. (Jackquelyn G. Black, 1904).
Streptococcus mutans merupakan bakteri yang paling berperan dalam
pembentukan plak dan terjadinya karies gigi(Sidarningsih,2000; Nomura dkk.,
2004).Bakteri ini diisolasi pertama kali dari plak gigi pada tahun 1924 oleh Clark,
memiliki kecenderungan berantai panjang dengan bentuk kokus apabila ditanam
pada medium Brain Heart Infusion (BHI) Broth, sedangkan jika ditanam pada
media agar akan memperlihatkan rantai pendek dengan sel yang tidak teratur.
Streptococcus mutans tumbuh dalam suasana fakultatif anaerob (Michalek dan Mc
Ghee, 1982; Gronroos dkk., 1998). Bakteri Streptococcus mutans jika diperbesar
akan tampak pada Gambar 4. Streptococcus mutans merupakan bakteri gram
positf (+), bersifat non motil (tidak bergerak), berdiameter 1-2 μm, bakteri
anaerob fakultatif. Memiliki bentuk bulat atau bulat telur, tersusun seperti rantai
13
dan tidak membentuk spora(Samaranayake, 2002; Regina, 2007; Manton,2010).
Bakteri ini tumbuh secara optimal pada suhu sekitar 18ºC – 40ºC (Ari, 2008).
Gambar 4. Bakteri Streptococcus mutans
Klasifikasi ilmiah bakteri Streptococcus mutans:
Kingdom : Monera
Divisio
: Firmicutes
Class
: Bacilli
Order
: Lactobacilalles
Family
: Streptococcaceae
Genus
: Streptococcus
Species
: Streptococcus mutan
Ada beberapa hal yang menyebabkan karies gigi bertambah parah seperti
gula, air liur, dan juga bakteri pembusuknya. Setelah mengkonsumsi sesuatu yang
mengandung gula, terutama gugus sukrosa, glikoprotein yang lengket (kombinasi
molekul protein dan karbohidrat) bertahan pada gigi untuk mulai pembentukan
plak pada gigi. Pada waktu yang bersamaan berjuta-juta bakteri lain
selainStreptococcus mutans juga bertahan pada glikoprotein tersebut. Walaupun
14
banyak bakteri lain yang juga melekat, hanya Streptococcus mutans yang dapat
menyebabkan rongga atau lubang pada gigi (Jackquelyn G. Black, 1904).
4. Uji Antibakteri
Bahan antibakteri adalah bahan yang mengganggu pertumbuhan dan
metabolisme bakteri, sehingga bahan tersebut dapat mengganggu pertumbuhan
dan metabolisme bakteri bahkan dapat membunuh bakteri. Cara kerjanyayaitu
dengan merusak dinding sel, merubah permeabilitas sel, merubah molekul protein
dan asam nukleat, menghambat kerja enzim, serta menghambat sintesis asam
nukleat dan protein (Pelczar dan Chan, 1998). Ketentuan kekuatan antibakteri
diukur dengan lebar daerah hambatan sebesar 20 mm berarti sangat kuat, daerah
hambatan 10-20 mm berarti kuat, 5-10 mm berarti sedang, dan daerah hambatan 5
mm atau kurang berarti lemah (Davis Stout, 2007).
Ada dua metode umum yang dapat digunakan, yaitu penetapan dengan
lempeng-silinder dan penetapan dengan cara tabung atau turbidimetri. Metode
pertama berdasarkan difusi antibakteri dari silinder yang dipasang tegak lurus
pada lapisan agar padat dalam cawan petri atau lempeng, sehingga bakteri yang
ditambahkan dihambat pertumbuhannya pada daerah berupa lingkaran atau
“zona” di sekeliling silinder yang berisi larutan antibiotik. Sedangkan metode
turbidimetri berdasarkan atas hambatan pertumbuhan biakan bakteri dalam larutan
yang sama dengan antibiotik, dalam media cair yang dapat menumbuhkan
mikroba dengan cepat bila tidak terdapat antibiotik. Berdasarkan jenis yang
digunakan, metode difusi agar dibagi sebagai berikut (Nester et al, 1973):
15
a. Teknik Perforasi
Lubang-lubang pencadang pada plat agar dibuat dengan perforator berdiameter
tertentu. Untuk pencadang berdiameter 8 mm, dapat menampung 50 µL zat
antimikroba.
b. Teknik cakram kertas
Pencadang berupa cakram-cakram kertas yang ditetesi zat antimikroba dalam
jumlah dan konsentrasi tertentu, lalu diletakkan di atas permukaan plat agar.
c. Teknik silinder
Pencadang berupa silinder-silinder gelas berdiameter tertentu yang dibenamkan
sebagian dalam plat agar. Silinder-silinder tersebut dimasukkan zat antimikroba
dengan jumlah dan konsentrasi tertentu.
Proses uji antibakteri perlu mempertimbangkan banyak faktor seperti (Irianto,
2006) :
a. pH lingkungan
b. Komponen-komponen medium
c. Stabilitas obat
d. Takaran inokulum
Semakin besar inokulum bakteri, maka kesensitifan organisme akan semakin
rendah.
e. Lama inkubasi
Semakin lama waktu inkubasi semakin besar kemungkinan timbulnya mutan
yang resisten.
f. Aktivitas metabolisme mikroorganisme.
16
B. Penelitian yang Relevan
Temu kunci (Boesenbergia rotunda) memang sudah banyak diteliti
sebelumnya, mengingat sejak jaman nenek moyang temu kunci sangat bermanfaat
dan berkhasiat. Penelitian yang relevan terutama yang berfokus pada uji aktivitas
antibakteri menggunakan metode secara in vitro salah satunya adalah penelitian
atas nama Muhammadd Fiqrie Rahman yang menggunakan ekstraks daun pepaya
untuk mengetahui pengaruh dan efektifitas konsentrasi ekstrak daun pepaya
(Carica papaya Linn.) terhadap kelangsungan hidup ikan gurami (Osphronemus
gouramy Lac.) yang diinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Penelitian ini
dilakukan melalui dua tahap uji, yaitu uji invitro dan uji in vivo. Pada uji in vitro
metode yang digunakan adalah antibiogram Kirby-Bauer dan metode sumur
dengan lima perlakuan dan dua kali pengulangan.
Penelitian lain tentang manfaat nanopartikel dari ekstrak
temu kunci
(Boesenbergia rotunda) menyatakan bahwa panduratin A menghambat kuat
pertumbuhan sel kanker HepG2 yang diinduksi dengan tert-Butylhydroperoxide
(t-BHP). tert-Butylhydroperoxide (t-BHP) merupakan senyawa yang biasa
digunakan untuk menginduksi kanker dengan mekanisme pembentukan
intermediet radikal bebas. Panduratin A memproteksi sel HepG2 melalui
perbaikan kerusakan oksidatif yang disebabkan oleh t-BHP dengan cara
menangkap radikal bebas (Sohn et al, 2005).
C. Kerangka Berpikir
Penelitian mengenai temu kunci yang telah membuktikan berbagai manfaat
zat kimia didalamnya, serta macam–macam zat kimia dalam temu kunci yang
17
telah teridentifikasi, menjadikan temu kunci sebagai bahan dasar obat herbal
hingga modern yang terus berkembang. Saat ini jenis produk yang paling
digemari adalah produk nanopartikel dari berbagai ekstrak yang berasal dari
bahan alam. Keunggulan dari produk nanopartikel adalah memiliki kualitas yang
lebih baik dalam sistem penghantaran obat, karena memiliki ukuran partikel
kecil. Nanopartikel mulai dikembangkan pada abad ke-21 baik dari kalangan
peneliti maupun
industri sehingga banyak produk-produk berbasiskan
nanomaterial dan nanoteknologi dalam berbagai bidang kehidupan.
Uji aktivitas antibakteri produk nanopartikel dilakukan untuk mengetahui
apakah suatu produk nanopartikel mempunyai sifat menghambat atau bahkan
dapat membunuh bakteri. Dari hasil uji aktivitas antibakteri maka produk
nanopartikel dapat dikembangkan sebagai bahan obat-obatan. Masalah yang
sering ditemukan pada kesehatan manusia salah satunya adalah masalah kesehatan
gigi dan mulut. Carries gigi terus menerus terkikis dan menimbulkan lubang pada
gigi, penyebab utamanya adalah plak gigi yang tersusun dari sisa-sisa makanan
yang mengandung bakteri. Bakteri yang sangat berperan dalam pembentukan plak
gigi adalah Streptococcus mutans.
Berdasarkan masalah tersebut maka dilakukan penelitian mengenai uji
aktivitas antibakteri produk nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci
terhadap bakteri Streptococcus mutans secara in vitro. Metode in vitro dipilih
karena menggunakan media buatan yang sesuai dengan lingkungan atau habitat
yang diperlukan oleh mikroba untuk tumbuh dan berkembang.
18
Produk nanopartikel ekstrak etanol temu kunci dalam bentuk serbuk dibuat
suspensi pada berbagai konsentrasi yang bervariasi. Variasi konsentrasi produk
nanopartikel digunakan untuk membandingkan efek produk nanopartikel terhadap
uji aktivitas antibakteri Streptococcus mutans.
19
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Subjek dan Objek Penelitian
1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah produk nanopartikel alginat ekstrak etanol temu
kunci.
2. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah aktivitas bakteri Streptococcus mutansterhadap
produk nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci.
B. Variabel Penelitian
1. Variabel Bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalahperbandingan konsentrasi produk
nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci.
2. Variabel Terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah lebar zona bening bakteri
Streptococcus mutansyang telah diberi produk nanopartikel.
C. Instrumen Penelitian
1. Alat :
Alat yang digunakan untuk proses pengukuran kurva pertumbuhan bakteri
Streptococcus mutans dan uji aktivitas antibakteri produk nanopartikel alginat
20
ekstrak etanol temu kuncisecara in vitro terhadap bakteri Streptococcus mutans
adalah gelas ukur, timbangan analitik, erlemeyer, beker gelas, batang pengaduk,
cawan petri, tabung reaksi, botol media, jarum ose, shaker, pinset, drygalski,
mikropipet (ecopipette), autoclave, inkubator (ecocell), lampu bunsen, mortar
porselen,colony counter, dan LAF (Laminar Air Flow).
2. Bahan :
Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah produk nanopartikel
alginat ekstrak etanol temu kunci (Boesenbergia rotunda) yang berupa serbuk.
Bahan kimia yang digunakan untuk pengukuran kurva bakteri dan uji aktivitas
antibakteri adalah DMSO ( dimethylsulfoxide), alkohol 70 %, akuades,
alumunium foil, plastic wrap, Mueller Hinton Agar, Natrium Broth, Natrium
Agar, disc blank, dan kultur bakteri Streptococcus mutans yang diperoleh dari
Fakultas Kedokteran Gigi UGM.
3. Prosedur Penelitian
a. Persiapan Sampel
1) Produk nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci ditimbang sebanyak
12,5 mg.
2) Pembuatan konsentrasi 500 ppm dengan cara produk nanopartikel alginat
ekstrak etanol temu kunci dilarutkanpada 25 mL DMSO.
3) Konsentrasi 500 ppm produk nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci
diencerkan menjadi konsentrasi 250 ppm, ppm, 50 ppm, 5 ppm, 0,5 ppm.
b. Peremajaan Bakteri
1) Pembuatan media agar miring menggunakan media NA (Natrium Agar).
21
2) Penanaman bakteri Streptococcus mutans pada media agar miring.
c. Pengukuran Kurva Pertumbuhan Bakteri
1) Pembuatan media agar cair NB (Natrium Broth)
2) Penuangan media agar
cair NB (Natrium Broth) pada erlemeyer dengan
pembagian larutan blanko, larutan uji 1, larutan uji 2, dan larutan uji 3.
3) Shaker larutan uji 1, larutan uji 2, dan larutan uji 3, dengan kecepatan 120 rpm.
4) Pengukuran kurva pertumbuhan bakteri (Streptococcus mutans) menggunakan
alat Spektrometer.
5) Pengukuran kurva pertumbuhan bakteri dilakukan 2x24 jam per 3 jam sekali.
d. Uji Antibakteri
1) Pembuatan media padat MHA (Mueller Hinton Agar)untuk dituang dalam
petri.
2) Pembuatan media agar cair NB (Natrium Broth) untuk larutan starter bakteri
Streptococcus mutans.
3) Perendaman disckblank dalam beberapa konsentrasi produk nanopartikel
alginat ekstrak etanol temu kunci.
4) Pembuatan kontrol positif dengan kloramfenicol dan kontrol negatif dengan
DMSO tanpa produk nanopartikel.
5) Penanaman bakteri pada media cair NB (Natrium Broth) sebagai starter.
6) Penanaman bakteri Streptococcus mutansdan beberapa konsentrasi produk
nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci serta kontrol positif dan negatif
pada petri yang telah terisi media agar padat MHA (Mueller Hinton Agar).
7) Pengukuran zona bening, dilakukan selama 2x24 jam per 6 jam sekali.
22
D. Teknik Analisis Data
a. Data Kuantitatif
Untuk
mengetahui
kurva
pertumbuhan
bakteri
Streptococcus
mutansmenggunakan spektrometer, dan untuk mengetahui lebar zona bening
aktivitas antibakteri produk nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci.
b. Data Kualitatif
Untuk mengetahui sifat dari produk nanopartikel alginat ekstrak etanol temu
kunci terhadap bakteri Streptococcus mutans.
23
E. Diagram Alir Prosedur Penelitian
Dari prosedur penelitian di atas dapat dibuat diagram alir seperti dibawah ini.
Isolat bakteri
Ditumbuhkan
Inkubasi
Di NB 25 mL
24 jam
Diambil 0,1 mL
Diukur OD
(OD =1)
Pengukuran Kurva
Spread plate
(3x Ulangan)
inkubasi
Dosis produk nanopartikel :
1. 0,5 ppm
2. 5 ppm
Pengukuran
3. 50 ppm
Zona bening
4. 250 ppm
5. 500 ppm
24
Gambar 5. Sketsa petridisck berisi bakteri Streptococcus mutans dan disckblank
dengan 3 ulangan.
Ketentuan jumlah sampel :
1. Bakteri Streptococcus mutans + kontrol positif kloramfenicol.
2. Bakteri Streptococcus mutans + kontrol negatif DMSO.
3. Bakteri Streptococcus mutans + 3 disckblank berisi nanopartikel alginat 0,5
ppm.
4. Bakteri Streptococcus mutans + 3 disckblank berisi nanopartikel alginat 5 ppm.
5. Bakteri Streptococcus mutans + 3 disckblank berisi nanopartikel alginat 50
ppm.
6. Bakteri Streptococcus mutans + 3 disckblank berisi nanopartikel alginat 250
ppm.
7. Bakteri Streptococcus mutans + 3 disckblank berisi nanopartikel alginat 500
ppm.
25
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan untuk menentukan aktivitas antibakteri produk
nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci secara in vitro. Penelitian ini
dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi FMIPA UNY dan Laboratorium
Kimia FMIPA UNY. Tahap-tahap penelitian ini meliputi :
A. Nanopartikel Alginat Ekstrak Etanol Temu Kunci
Bahan yang digunakan untuk penelitian ini adalah produk nanopartikel
alginat ekstrak etanol temu kunci (Boesenbergia rotunda) yang telah diteliti
sebelumnya oleh Ghabby Maharani Putri (2015) dengan judul “Pembuatan
nanopartikel ekstrak herbal temu kunci (Boesenbergia rotunda) dengan alginat”.
Dari penelitian tersebut dihasilkan suatu produk nanopartikel alginat ekstrak
etanol temu kunci (Boesenbergia rotunda) yang selanjutnya digunakan dalam
penelitian ini.
B. Uji Aktivitas Antibakteri
Uji aktivitas antibakteri produk nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci
dilakukan dengan metode in vitro. Pada uji aktivitas antibakteri ini yang
digunakan adalah bakteri Streptococcus mutans, bakteri tersebut merupakan
bakteri yang terdapat pada rongga mulut. Langkah langkah yang harus dilakukan
adalah sebagai berikut :
26
1. Persiapan Sampel
Persiapan sampel yaitu dengan cara melarutkan produk nanopartikel alginat
ekstrak etanol temu kunci (Boesenbergia rotunda) dengan pelarut yang sesuai.
Pelarut yang biasa digunakan dalam uji antibakteri adalah CMC dan DMSO.
CMC(Carboxy Methyl Cellulose)tidak memiliki indeks kristalinitas dan CMC
mudah larut dalam air (Irkhas Aliyah, 2014). Sedangkan DMSO (dimethyl
sulfoxide) sering digunakan dalam bidang kedokteran karena cepat meresap
kedalam epitel ekstrak tanpa merusak sel-sel tersebut (Putri Dayu, 2014).
CMC tidak dapat melarutkan sempurna produk nanopartikel alginat ekstrak
etanol temu kunci (Boesenbergia rotunda), sedangkan DMSO dapat melarutkan
produk nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci (Boesenbergia rotunda)
dengan mudah dan hasilnya larut sempurna. Oleh sebab itu pelarut yang dipilih
adalah DMSO (dimethyl sulfoxide). Struktur kimia CMC dan DMSO tampak pada
Gambar 6:
CMC
DMSO
Gambar 6. Struktur Kimia CMC dan DMSO
Konsentrasi ekstrak yang digunakan pada penelitian ini yaitu 0,5 ppm; 5 ppm;
50 ppm; 250 ppm dan 500 ppm.Pembuatan suspensi dari produk nanopartikel
alginat ekstrak etanol temu kuncipertama-tama menimbang 12,5 mg nanopartikel
alginat ekstrak etanol temu kunci (Boesenbergia rotunda)kemudian dilarutkan
27
pada 5 mL DMSO, selanjutnya diencerkan dalam labu takar hingga volume
25mLDMSO untuk konsentrasi 500 ppm dan juga digunakan sebagai larutan
induk, kemudian dari larutan induk diencerkan hingga didapat konsentrasi 250
ppm, 50 ppm, 10 ppm, 5 ppm, dan 0,5 ppm.Selain itu menyiapkan kontrol positif
dan kontrol negatif, yang digunakan sebagai kontrol positif adalah kloramfenicol
karena merupakan salah satu antibiotika yang mempunyai spektrum kerja yang
luas. Antibiotika ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram positif maupun
bakteri gram negatif dengan cara menghambat sintesa protein bakteri (Wattimena
et al, 1991).
Untuk kontrol negatif yang digunakan adalah DMSO tanpa produk
nanopartikel alginat ektrak etanol temu kunci. Setelah suspensi nanopartikel,
kontrol positif dan negatif dibuat, disckblank direndam dalam produk nanopartikel
masing–masing 3 lembar per konsentrasi, sehingga dibutuhkan disckblank
sebanyak 21 lembar. Perendaman dilakukan selama 5 menit sebelum melakukan
penanaman pada petridisck. Produk nanopartikel alginat yang telah dilarutkan
dengan DMSO tampak seperti Gambar 7:
Gambar 7. Suspensi nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci
28
2. Peremajaan Bakteri
Bakteri indukan Streptococcus mutansyang diperoleh dari Fakultas Kedokteran
Gigi, Universitas Gadjah Mada dikembangbiakkan atau diremajakan kembali agar
persediaan bakteri tercukupi. Langkah pertama yang dilakukan adalah
menyiapkanNA (Natrium Agar) sebagai media tumbuh bakteri. Perhitungan
media agar padat NA adalah 28 gr per 1000 mL, sehingga jika membutuhkan
media agar NA sebanyak 25 mL, harus menimbang 0,7 gr NA (Natrium
Agar),media agar NA dan aquadest dicampur dalam gelas beker, taruh magnetic
stirrer didalamnya, dan ditutup menggunakan alumunium foil, lalu dipanaskan
dengan hot plate. Setelah mendidih diamkan sejenak, kemudian media NA
dituang dalam tabung reaksi, kurang lebih 5mL per tabung reaksi, lalu autoclaf
media agar padat NA agar steril dan tidak terkontaminasi. Setelah diautoclafmedia
dalam tabung reaksi dimiringkan dan didiamkan hingga padat, media yang telah
padat ditaruh dalam lemari pendingin kurang lebih 24 jam. Setelah media agar
padat NA siap digunakan langkah selanjutnya adalah menanam bakteri
Streptococcus mutans pada LAF (Laminar Air Flow) yang telah disterilkan
dengan sinar UV selama 15 menit, penanaman bakteri menggunakan kawatose
dengan gerakan spiral pada media agar miring, seperti pada gambar 8:
Gambar 8. Bakteri Streptococcus mutans pada media NA
29
3. Pengukuran Kurva Pertumbuhan Bakteri
Suatu piaraan mikroorganisme, seperti bakteri yang sudah berumur kemudian
diambil sedikit bakteri menggunakan kawat ose untuk ditanam pada medium cair
yang cocok. Dalam waktu yang sama bila diambil dan disebarkan pada agar-agar
lempengandalam cawan petri, maka jumlah koloni yang tumbuh pada cawan petri
dapat dihitung (Schlegel dan Schmidt, 1994).Pengukuran kurva pertumbuhan
bakteri Streptococcus mutansdilakukan untukmempelajari dinamika pertumbuhan
populasi kultur bakteri, membuat kurva pertumbuhan dari suatu kultur bakteri,
dan menentukan waktu generasi kultur bakteri (Wilda Kusnia, 2009).
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan media agar cair
NB (Natrium Broth). Perhitungan media agar cair NB adalah 13 gr per 1000 mL,
sehingga jika membutuhkan 400
mL, harus menimbang 5,2 g media cair NB.
Media cair NB dan aquadest dicampur dalam erlemeyer yang telah berisi
magnetic stirer, dan ditutup dengan alumunium foil. Dipanaskan pada hot plate
hingga mendidih. Setelah mendidihmedia cair NB dituang pada erlemeyer untuk
larutan blanko 30 mL x 3, starteratauinokulum 20 mL, media uji 1, media uji 2,
dan media uji 3 sebanyak 60 mL pada masing-masing larutan uji, kemudian
autoclaf larutan tersebut agar steril. Media cair NB didiamkan hingga 24 jam.
Setelah media NB siap digunakan, dilakukan penanaman bakteri dalam starter
atau inokulum, penanaman dilakukan didalamLAF (Laminar Air Flow) agar
proses penanaman steril, lalu dishaker hingga 24 jam. Pengukuran kurva
pertumbuhan
bakteri
dimulai
dengan
menanam
bakteri
dari
starter/inokulumkedalam media uji 1, 2, dan 3, dengan cara mengambil larutan
30
starter atau inokulumkurang lebih 10% dari volume media cair NB dalam
erlemeyer. Sehingga ketiga media uji masing-masing mendapat 6 mL starter
bakteri Streptococcus mutans. Pengukuran dilakukan per 3 jam sekali selama
2x24 jam menggunakan spektrometer. Hasil pengukuran kurva pertumbuhan
bakteri disajikan pada Tabel 1:
Tabel 1. Nilai Optical Density pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans.
Jam Ke0
3
6
9
12
15
18
21
24
27
30
33
36
39
42
45
48
Streptococcus mutans
Ulangan
1
2
3 Rata -rata
0,153
0,177
0,201
0,177
0,477
0,451
0,577
0,501
0,751
0,786
0,802
0,779
1,194
1,121
1,105
1,139
1,289
1,229
1,156
1,224
1,312
1,261
1,191
1,254
1,289
1,223
1,131
1,214
1,351
1,285
1,229
1,288
1,332
1,312
1,255
1,295
1,381
1,344
1,321
1,348
1,406
1,352
1,336
1,364
1,431
1,322
1,334
1,362
1,461
1,379
1,367
1,402
1,522
1,413
1,412
1,444
1,422
1,416
1,447
1,428
1,397
1,402
1,424
1,407
1,134
1,187
1,205
1,175
Kurva pertumbuhan menggambarkan fase pertumbuhan dari mikroorganisme.
Dengan kurva tersebut dapat diketahui kapan bakteri mulai tumbuh dan aktif
berkembang
biak.
Kurva
pertumbuhan
diukur
berdasarkan
kekeruhan
menggunakan spektrofotometer, nilai OD (Optical density) terbaca pada panjang
31
gelombang 600 nm. Hasil pengukuran kurva pertumbuhan bakteri juga disajikan
pada Gambar 9:
1.6
1.4
Absorbansi
1.2
1
0.8
S. Mutans
0.6
0.4
0.2
0
0
10
20
30
40
50
Jam ke-
Gambar 9. Kurva Pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans
Dari hasil kurva yang terlihat kenaikan pertumbuhan bakteri mulai terlihat
sejak jam ke-0 hingga jam ke-9, kenaikan tersebut termasuk pesat, pada fase ini
dinamakan fase eksponensial atau fase pertumbuhan cepat. Fase ini terjadi setelah
bakteri menyesuaikan diri dengan lingkungannya, maka sel jasad renik membelah
dengan cepat.
Kemudian dari jam ke-9 hingga jam ke-15 mengalami kenaikan pertumbuhan
bakteri sedikit demi sedikit, fase ini dinamakan fase pertumbuhan lambat. Lalu
pada jam ke-18 mengalami sedikit penurunan. Pada fase ini pertumbuhan jasad
renik diperlambat karena beberapa faktor seperti, zat nutrisi dalam medium sudah
berkurang, adanya zat-zat hasil metabolisme. Kenaikan kembali hingga jam ke-39
pertumbuhan bakteri mulai meningkat dan mencapai titik puncaknya pada jam
tersebut. Fase ini termasuk fase pertumbuhan tetap (statis), karena jumlah sel yang
32
tumbuh sama dengan jumlah sel yang mati, sel-sel pada fase ini menjadi lebih
tahan terhadap keadaan ekstrem seperti panas, dingin, radiasi, dan bahan
kimia.Penurunan terjadi pada jam ke-42 menuju jam ke-48, artinya terjadi fase
kematian sel pada jam tersebut yang disebabkan nutrien di dalam medium sudah
habis, dan energi cadangan didalam sel habis. Jumlah sel yang mati semakin lama
akan semakin banyak, dan kecepatan kematian dipengaruhi kondisi nutrien,
lingkungan dan jenis jasa renik.
4. Uji Antibakteri
Uji antibakteri dilakukan dengan menggunakan metode kertas cakram dengan
tujuan untuk mengetahui besarnya diameter zona hambat pertumbuhan bakteri.
Zona hambat adalah zona bening yang terdapat disekitar kertas cakram pada
media yang sudah diinokulasi bakteri (Putri Dayu, 2014). Pertama menyiapkan
media cair NB (Natrium Broth) sebanyak 10 mL untuk starter/inokulum bakteri
Streptococcus mutans dan media padat MHA (Mueller Hinton Agar) sebanyak
100 mL untuk media tanam bakteri pada pengamatan zona bening. Sebelum
digunakan media cair NB dan media padat MHA harus distrerilkan terlebih
dahulu dengan cara dimasukan dalam autoclaf. Penanaman media cair NB dengan
bakteri Steptococcus mutans dilakukan didalam LAF (Laminar Air Flow) agar
steril, kemudian dishaker hingga 24 jam. Setelah 24 jam berlalu, starter/inokulum
bakteri Streptococcus mutans diukur jumlah OD nya menggunakan spektrometer,
jika OD bakteri Streptococcus mutans telah memenuhi angka 1 maka bakteri siap
digunakan, namun jika OD bakteri Streptococcus mutans melebihi angka satu
maka starter bakteri harus diencerkan terlebih dahulu.
33
Penanaman bakteri Streptococcus mutansdilakukan didalam LAF (Laminar
Air Flow) agar steril, peralatan yang digunakan juga harus disterilkan dengan
sinar UV didalam LAF (Laminar Air Flow)selama 15 menit. Langkah yang harus
dilakukan adalah media agar padat MHA pada petri disck dituangi bakteri
Streptococcus mutans sebanyak 100µLmenggunakan tip pipet, kemudian
diratakan dengan drigalsky, selanjutnya tempelidisckblank yang telah direndam
produk nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci, 1 petri berisi 3 lembar
disckblank dengan konsentrasi yang sama, dimulai dengan konsentrasi 0,5 ppm, 5
ppm, 50 ppm, 250 ppm, dan 500 ppm, kontrol positif (kloramfenicol) dan kontrol
negatif (DMSO). Petri yang sudah ditanami bakteri Streptococcus mutans dan
disckblank kemudian dililit menggunakan plastik wrap agartetap steril dan tidak
menimbulkan bau. Selanjutnya dimasukkan dalam inkubator pada suhu
37ocdengan posisi terbalik dan diukur zona beningnya per 6 jam sekali selama
1x24 jam. Proses penanaman bakteri Streptococcus mutans dan disckblank seperti
terlihat pada Gambar 10:
Gambar 10. Penanaman bakteri Streptococcus mutans dan discblankpada media
MHA (Mueller Hinton Agar)
34
Adanya aktivitas antibakteri ditunjukkan dengan munculnya zona bening
pada media MHA (Mueller Hinton Agar). Diameter zona bening pada ukuran 1020 mm memiliki zona hambat kuat, diameter zona bening pada 5-10 mm memiliki
daya hambat sedang, dan diameter zona bening >5 mm memiliki daya hambat
lemah (Davis and stout, 1971). Hasil pengukuran zona bening produk
nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci disajikan pada Tabel 2:
Tabel 2. Aktivitas antibakteriStreptococcus mutans terhadap nanopartikel alginat
ekstrak etanol temu kunci.
Konsentrasi
0,5 ppm
5 ppm
50 ppm
250 ppm
500 ppm
Ulangan
1
2
3
Rata-rata
1
2
3
Rata-rata
1
2
3
Rata-rata
1
2
3
Rata-rata
1
2
3
Rata-rata
Lebar zona bening (mm) pada Jam ke6
12
18
24
8,35
8,53
8,83
8,35
7,56
7,73
7,9
7,7
7,72
8
8,03
8,03
7,87
8,08
8,25
8,02
8,86
8,43
8,25
8,19
8,63
8,12
9,13
8,01
9,14
7,61
8,48
8,01
8,87
8,04
8,62
8,07
8,41
8,43
8,44
8,18
8,23
8,13
10,53
5,4
9,14
7,61
10,23
8,5
8,59
8,04
9,73
7,36
9,51
9,26
9,03
8,66
10,39
9,66
9,76
0
11,9
8,83
7,93
0
10,59
9,25
8,90
2,88
10,93
11,2
10,9
11
9,46
8,83
8,53
8,53
11,03
10,8
10,6
10,83
10,47
10,27
10,01
10,12
Menurut Elifah dan Dewi (2010), diameter daya hambat tidak selalu naik
sebanding dengan naiknya konsentrasi antibakteri, kemungkinan ini terjadi karena
perbedaan kecepatan difusi senyawa antibakteri pada media agar serta jenis dan
35
konsentrasi senyawa antibakteri yang berbeda juga memberikan diameter zona
hambat yang berbeda. Hal ini dapat disebabkan oleh banyaknya faktor yang
berpengaruh terhadap besar zona hambatan yang dihasilkan pada metode difusi
antara lain kecepatan difusi, sifat media agar yang digunakan, jumlah organisme
yang diinokulasi, kecepatan tumbuh bakteri, konsentrasi bahan kimia, serta
kondisi pada saat inkubasi sehingga diperlukan adanya standarisasi keadaan untuk
memperoleh hasil yang dapat dipercaya (Anonim, 2011). Menurut Mickel et al.,
(2003), faktor lain yang berpengaruh seperti toksisitas bahan uji, interaksi antar
komponen medium dan kondisi lingkungan mikro in vitro. Kurva yang
menunjukan lebar zona bening dari tiap konsentrasi ditunjukkan pada Gambar 11:
Lebar zona bening (mm) pada Jam ke-
Nanopartikel
12
10
8
0.5 ppm
6
5 ppm
4
50 ppm
250 ppm
2
500 ppm
0
0
6
12
18
24
waktu (jam)
Gambar 11. Kurva perubahan lebar zona bening tiap konsentrasi nanopartikel
alginat ekstrak etanol temu kunci selama 24 jam
Berdasarkan kurva terjadi pelebaran zona bening yang cukup signifikan
dimulai dari jam ke-0 hingga jam ke-6 pada semua konsentrasi. Pada konsentrasi
0,5 ppm terjadi pelebaran zona bening dari jam ke-6 hingga jam ke-18, kemudian
penurunan terjadi pada jam ke-24. Pada konsentrasi 5 dan 50 ppm, pelebaran zona
36
bening tidak stabil naik atau turun, pada jam ke-12 terjadi penurunan lebar zona
bening, kemudian terjadi kenaikan pada jam ke-18, dan penurunan kembali terjadi
pada jam ke-24.Pada konsentrasi 250 ppm, terjadi penurunan zona bening mulai
dari jam ke-6 hingga jam ke-24. Pada konsentrasi 500 ppm lebar zona bening
mulai jam ke-6 hingga jam ke-24 tidak selisih terlalu banyak dan naik turunnya
cukup stabil. Berdasarkan tabel dan kurva uji aktivitas antibakteri produk
nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci terhadap bakteri Streptococcus
mutans dapat disimpulkan bahwa pada variasi konsentrasi dosis, konsentrasi yang
berperan aktif atau yang paling optimal dalam menghambat pertumbuhan bakteri
Streptococcus mutans adalah pada konsentrasi 500 ppm.
Data penelitian zona bening uji aktivitas antibakteri produk nanopartikel
alginat ekstrak etanol temu kunci (Boesenbergia rotunda) yang telah diperoleh
selanjutnya akan diuji statistika menggunakan SPSS versi 16. Uji yang dilakukan
meliputi Anova. Uji Anova digunakan untuk mengetahui adanya pengaruh
jumlahkonsentrasi, waktu inkubasi, serta interaksi antara konsentrasi dan waktu
inkubasi terhadap aktivitas antibakteri. Uji statistika yang diperoleh disajikan pada
Tabel3:
Tabel 3. Hasil uji Anova terhadap diameter zona bening Streptococcus mutans
Sumber Informasi
Konsentrasi*1)
Waktu*2)
Konsentrasi*Waktu*3)
*1)
Jumlah
41,314
36,603
79,639
uji faktor konsentrasi
aktivitas antibakteri
Df
4
3
12
terhadap
37
Rata-rata
10,328
12,201
6,637
*2)
F
5,282
6,240
3,394
Sig.
0,002
0,001
0,002
uji efek waktu inkubasi terhadap
aktivitas antibakteri
*3)
uji interaksi antara waktu dan
konsentrasi
38
Berdasarkan hasil uji Anova terhadap bakteri Streptococcus mutansyang
disajikan pada Tabel 3terdapat tiga uji, yaitu uji faktor konsentrasi terhadap
aktivitas antibakteri, uji efek waktu inkubasiterhadap aktivitas antibakteri dan uji
interaksi antara waktu dankonsentrasi. Nilai signifikansi dari uji interaksi antara
waktu inkubasi dan konsentrasi adalah 0,001 (p <0,05), interpretasi nilai p < 0,05
adalah terdapat pengaruh interaksi antara waktu inkubasi dan konsentrasi terhadap
aktivitas antibakteri. Nilai signifikansi dari uji konsentrasi terhadap aktivitas
antibakteri adalah 0,002 (p < 0,05) interpretasi nilai p < 0,05 adalah terdapat
pengaruh waktu inkubasi terhadap aktivitas antibakteri. Adapun nilai signifikansi
dari uji efek konsentrasi terhadap waktu inkubasi pada aktivitas antibakteri adalah
0,002 (p<0,05) interpretasi nilai p <0,05 adalah terdapat pengaruh konsentrasi
terhadap waktu inkubasi pada aktivitas antibakteri.Sehingga ketiga uji, yaitu uji
interaksi antara waktu dan konsentrasi, uji efek waktu inkubasi, dan uji faktor
konsentrasi terhadap aktivitas antibakteri, mendapatkan hasil yang signifikan pada
uji Anova.
Sebagai
kontrol
positif
digunakan
kloramfenicol
karena
bersifat
bakteriotastik. Mekanisme kerja kloramfenicol sebagai antibakteri yaitu melalui
penghambatan terhadap pembentukan ikatan peptida dan biosintesis protein pada
siklus pemanjangan rantai asam amino, dengan cara mengikat sub unit 50-S sel
mikroba target (Ganiswara, 1995).
39
Kurva hasil pengukuran lebar zona bening kloramfenicol disajikan dalam
Gambar 12:
Lebar Zona Bening (mm) pada Jam ke-
Kloramfenicol
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0
0,5 ppm
5 ppm
50 ppm
250 ppm
500 ppm
0
6
12
18
24
Waktu (jam)
Gambar 12. Kurva perubahan lebar zona bening tiap konsentrasi kloramfenicol
(kontrol positif) selama 24 jam
Berdasarkan kurva diatas terjadi pelebaran zona bening yang cukup
signifikan dimulai dari jam ke-0 hingga jam ke-6 pada semua konsentrasi. Pada
konsentrasi 0,5 ppm terjadi penurunan lebar zona bening dari jam ke-6 hingga jam
ke-18, kemudian kenaikan kembali terjadi pada jam ke-24. Pada konsentrasi 5
ppm, kenaikan dan penurunan zona bening dari pengukuran ke-6 hingga ke-24
tidak terlampau jauh atau cukup stabil. Pada konsentrasi 50 ppm terjadi penurunan
zona bening dari pengukuran jam ke-6 hingga jam ke-24. Pada konsentrasi 250
ppm, lebar zona bening tertinggi pada pengukuran jam ke-6, selanjutnya terjadi
penurunan hingga jam ke-18, dan kenaikan kembali terjadi pada jam ke-24.
Penurunan sedikit demi sedikit dari jam ke-6 hingga jam ke-18 terjadi pada
konsentrasi 500 ppm, kemudian kenaikan kembali terjadi pada jam ke-24.
40
Nilai lebar zona bening kloramfenicol dapat dilihat pada Tabel 4:
Tabel 4. Aktivitas antibakteriStreptococcus mutans terhadap kloramfenicol.
Konsentrasi
0,5 ppm
5 ppm
50 ppm
250 ppm
500 ppm
Ulangan
1
2
3
Rata-rata
1
2
3
Rata-rata
1
2
3
Rata-rata
1
2
3
Rata-rata
1
2
3
Rata-rata
Lebar Zona Bening (mm) pada Jam ke6
12
18
24
7,99
7,94
7,08
7,83
8,36
8,00
7,76
8,15
8,26
7,98
7,40
8,56
8,20
7,97
7,41
8,18
8,36
8,20
8,13
8,44
8,26
8,26
7,83
8,13
10,03
9,67
9,23
9,37
8,88
8,71
8,40
8,65
11,80
11,22
9,80
8,40
11,10
11,19
10,23
7,22
11,73
10,72
6,76
6,49
11,54
11,04
8,93
7,37
18,66
12,66
11,16
14,30
15,50
8,54
0
15,28
14,83
10,16
0
11,90
16,33
10,46
3,72
13,83
10,33
10,23
9,36
11,37
10,23
8,82
8,30
9,77
10,00
9,33
9,36
9,69
10,18
9,46
9,01
10,28
Berdasarkan tabel diatas zona hambat yang dihasilkan oleh kloramfenicol
sebagai antibiotik tidak beda jauh dibandingkan produk nanopartikel alginat
ekstrak etanol temu kunci.
Kontrol negatif yang digunakan dalam penelitian ini yaitu campuran aquades
dan DMSO, hasil uji antibakteri menunjukkan bahwa tidak terdapat zona
hambatan.
Berdasarkan kurva dan tabel uji aktivitas antibakteri Streptococcus
mutansterhadap produk nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci terlihat
41
bahwa dengan meningkatnya konsentrasi ekstrak yang berarti semakin besar kadar
bahan aktif yang berfungsi sebagi antibakteri, sehingga kemampuannya dalam
menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans juga semakin besar. Menurut
Pelczar dan Chan (1998), semakin tinggi konsentrasi antibakteri yang digunakan
maka akan semakin cepat bakteri yang terbunuh.
Penghambatan pertumbuhanbakteri disebabkan oleh interaksi senyawa aktif
melalui pelekat atau difusi zat antimikroba dengan bakteri (Parhusip, 2006).
Interaksi tersebut menyebabkan gangguan atau kerusakan metabolisme sel bakteri,
menghambat sintesis dinding sel bakteri, mengganggu permeabilitas membran sel
bakteri, menghambat sintesis protein sel bakteri dan menghambat bahkan
merusaksintesis nukleat sel bakteri (Amir, dkk. 1995). Zona hambat produk
nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci seperti terlihat pada Gambar 13:
P3
P1
P2
Gambar 13. Lebar zona bening dengan 3 pengulangan, pada konsentrasi 0,5 ppm
Gambar diatas menunjukkan lebar zona bening dengan 3 pengulangan pada
konsentrasi 0,5 ppm pada jam ke – 24. Dibandingkan dengan zona hambat kontrol
positif kloramfenicol hasilnya tidak terlalu jauh yaitu 0,802 mm untuk produk
nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci dan 0,818 mm untuk
42
kloramfenicol. Menurut Pelczar dan Chan (1998) antimikroba yang baik adalah
dalam keadaan konsentrasi rendah sudah mampu menghambat mikroorganisme.
Dengan demikian produk nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci
(Boesenbergia rotunda) memiliki potensi untuk menghambat pertumbuhan
bakteri Streptococcus mutans.
43
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Uji aktivitas antibakteri nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci
terhadap bakteri Streptococcus mutans membuktikan bahwa zona bening dari
produk nanopartikel dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus
mutans sehingga produk nanopartikel bersifat inhibitor.
2. Berdasarkan hasil pengukuran zona bening bakteri Streptococcus mutans,
konsentrasi produk nanopartikel alginat ekstrak etanol temu kunci dalam
variasi konsentrasi yang menunjukkan aktivitas terbesar adalah konsentrasi 500
ppm.
B. Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, penulis memberikan saran
sebagai berikut:
1. Perlu variasi jumlah konsentrasi produk nanopartikel alginat ekstrak etanol
temu kunci.
2. Perlu penelitian lebih lanjut menggunakan metode in vivo untuk mengetahui
efek langsung pada makhluk hidup seperti mencit.
3. Perlu dilakukan penelitian apakah produk nanopartikel juga berpengaruh pada
antibakteri lainnya.
44
4. Perlu perlakuan khusus untuk memasukkan produk nanopartikel kedalam
disckblank, agar produk nanopartikel bekerja optimal
5. Perlu dilakukan pengukuran dengan rentan waktu yang lebih sering untuk
mengetahui aktivitas bakteri yang optimal.
45
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Shobrun Jamil, et al. 2014. Aktivitas Antimikroba Ekstrak Biji Nigella
sativa Terhadap Viabilitas BakteriProbiotik Secara In Vitro Dan In Vivo.
Fakultas Ilmu Kesehatan : Universitas Muhammadiyah Malang.
Aldi, Y., N.C. Sugiarto, S. Andreanus A., dan A.S. Ranti. 1996. Uji efekantihis
tonninergik dari tanaman Andrographis paniculataNess. Warta Tanaman
Obat Indonesia 3(1): 17-19.
Amidi, M., Romeijn, S. G., Borchard, G., Junginger, H. E., Hennink, W. E., &
Jiskoot, W. 2006. Preparation and characterization of protein-loaded Ntrimethyl chitosan nanoparticles as nasal delivery system. Journal of
controlled release : official journal of the Controlled Release Society,
111(1-2), 107–16.
Amir, S., A. Setiawati,. A. Muchtar., A. Arif., B. Bahry., D. Tirza., H. R.
Dewotodan L. Darmansjah. 1995. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Gaya
Baru.
Anondini Febrian Ganestia. 2012. Preparasi dan Karakterisasi Mikrosfer
Menggunakan Eksipien Komplek Polielektrolit Alginat-Gelatin.FMIPA :
Univeritas Indonesia.
Belitz, H.D. and Grosch, W. 2004. Food Chemistry. Second Edition. Springer. p.
284–286.
Davis W.W. and T.R Stout. 1971. Disc Plate Methode of Microbiological
Antibiotic Assay. Microbiol. 22: 659-665.
Devi Yusnita. 2014. Minyak Atsiri Rimpang, Batang, dan Daun Temu Hitam
(Curcuma aeruginosa Roxb.) Sebagai antibakteri Streptococcus mutans dan
Pendegradasi Biofilm pada Gigi. FMIPA : Institut Pertanian Bogor.
Dewi, F. K. 2010. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Buah Mengkudu
(Morinda citrifolia L.) terhadap Bakteri Pembusuk Daging Segar [Skripsi S1], Jurusan Biologi FMIPA. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Fachrina Rahmawati, Maulita Cut Nurina, dan Sumantri. 2010. Uji Aktivitas
Antibakteri Fraksi Kloroform Ekstrak Etanol Pegagan (Centella asiatica
(L) urb) Serta Identifikasi Senyawa Aktifnya. Semarang : Fakultas Farmasi
Universitas Wahid Hasyim Semarang.
46
Ganiswarna, V.H.S. 1995. Farmakologi dan Terapi, Edisi ke-4, Jakarta:
BagianFarmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Hartono, A. 1999. Terapi nutrisi dan herbal untuk kanker. Intisari 435 (36): 44-5
Heyne, K.1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Vol I. Badan Pengembangan
Kehutanan, Departemen Kehutanan, Yayasan Sarana Wanajaya, Jakarta.
hlm. 593-594.
Hieronymus Budi Santoso . 1998 . Tanaman Obat Keluarga TOGA 1. Yogyakarta
: Kanisius
Hurkat, P., Jain, A., Jain, A., Shilpi, S., Gulbake, A., & Jain, S. K. (2012).
Concanavalin A conjugated biodegradable nanoparticles for oral insulin
delivery. Journal of Nanoparticle Research, 14(11), 1219.
Irianto, K. 2006. Mikrobiologi Menguak Dunia Mikroorganisme. Jakarta:
IramaWidya.
Irkhas Aliyah. 2014. Aaktivitas Enzim Selulase Termostabil Dari Isolat Bakteri
Termofilik Selulolitik Pasca Erupsi Merapi Pada Variasi Substrat dan
Variasi Konssentrasi Substrat. FMIPA : Universitas Negeri Yogyakarta.
Kardono L, Artanti N, Dewiyanti I, Basuki T. 2003. Selected Indonesian
Medicinal Plants: Monographs and Descriptions. Jakarta: PT Gramedia.
Lembi, C., Waaland. 1988. Algae and Human Affairs. New York : Chambridge
Univ. Press.
Lusiana Juwita. 2015. Formulasi dan Evaluasi secara In Vitro Kompleks
Nanopartikel Alginat-Kitosan yang Mengandung Amoksilin dan Bovine
Serum Albumin Skripsi. Medan : Fakultas Farmasi Universitas Sumatera
Utara Medan.
Maharum Alfriarti. 2015. Pengaruh Berkumur Larutan Ekstrak Jeruk Nipis 40%
Terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans PADA SALIVA
Anak Yang Mengalami Karies Dini (Early Childhood Caries). Fakultas
Kedokteran Gigi : Universitas Hasanuddin.
Michalek, S.M., J.R. Mc Ghee. 1982. Dental Microbiology, Fourth Edition.
Harper & Raw Publisher. Philadelphia.
Mickel, A. K., P. Sharma., S, Chogle. 2003. Effectiveness of StannousFluoride
and Calcium Hydroxide against Enterococcusfaecalis. J. Endod 29 (4):259–
60.
47
Muhammad Fiqrie Rahman. 2008. Potensi Antibakteri Daun Pepaya Pada Ikan
Gurame yang Diinfeksi Bakteri Aeromonas hydrophila. Bogor : Fakultas
Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.
Muhammad Fiqrie Rahman. 2008. Potensi Antibakteri Ekstrak Daun Pepaya
Pada Ikan Gurami Yang Diinfeksi BakteriAeromonas hydrophila. Fakultas
Kedokteran Hewan : Institut Pertanian Bogor.
Nester, E. W., C. E. Roberts and B. J. Mc Carthy. 1973. Microbiology
Molecules,Microbes, and Man. United State America: Pear sall halt,
Rinehart andWinston, Inc.
Ni Kadek Ariyanti, Ida Bagus Gede Darmayasa, Sang Ketut Sudirga. 2012. Daya
Hambat Ekstrak Kulit Lidah Buaya (Aloe barbader Miller) terhadap
Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25963 dan Escherichia
coli ATCC 25922. Udayana : Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Udayana.
Ning Harmanto. 2007. Herbal untuk Keluarga :Jus Herbal Segar dan
Menyehatkan. Yogyakarta : Elex Media Komputindo.
Nugraheni, W.P. 2001. Kunci Pepet. Sidowayah 34(9): 15-18.
Nurina Rahmawati, Edhy Sudjarwo, dan Eko Widodo. 2012 . Uji Aktivitas
antibakteri Ekstrak Herbal terhadap Bakteri Escherechia coli. Malang :
Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya.
Pelczar MJ dan Chan ECS. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi Jilid 1 dan 2.
Penterjemah Hadioetomo RS, Imas T, Tjitrosomo SS dan Angka SL. UI
Press : Jakarta.
Plantus. 2008. Fingerroot (Boesenbergia pandurata Roxb. Schult).Diakses
darihttp://anekaplanta.wordpress.com/2008/01/04/temu-kunciboesenbergiapandurata-roxb-schlechter/ pada tanggal 3 Juni 2017.
Putri, Dayu Nirwana. 2014. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol Daun
Kenikir (Cosmos caudatus Kunth.) terhadap Bakteri Salmonella typhi.
Raj Kumar Arya. 2012.Drying Induced Phase Separation. Department of
Chemical Engineering : Jaypee University of Engineering and Technology
India.
Sabir, A. 2005. ”Aktivitas Antibakteri Flavonoid Propolis Trigona sp terhadap
bakteri Streptococcus mutans (in vitro)”. Majalah Kedokteran Gigi. 38, (3),
135-141.
48
Sæther, H. V., Holme, H. K., Maurstad, G., Smidsrød, O., & Stokke, B. T. 2008.
Polyelectrolyte complex formation using alginate and chitosan.
Carbohydrate Polymers, 74, 813–821.
Sarmento, B., Ferreira, D., Veiga, F., & Ribeiro, a. 2006. Characterization of
insulin-loaded alginate nanoparticles produced by ionotropic pre-gelation
through DSC and FTIR studies. Carbohydrate Polymers, 66(1), 1–7.
Sarmento, B., Ribeiro, a, Veiga, F., Sampaio, P., Neufeld, R., & Ferreira, D. 2007.
Alginate/chitosan nanoparticles are effective for oral insuli delivery.
Pharmaceutical research, 24(12), 2198–206.
Singh, R., & Lillard, J. W. (2009). Nanoparticle-based targeted drug delivery.
Experimental and Molecular Pathology, 86(3), 215–223.
Subaryono. 2009. Karakteristik Pembentukan GelAlginat dari Rumput Laut
Sargassum sp. dan Turbinaria sp. Tesis. Sekolah Pascasarjana IPB.Bogor p.
65–66.
Subur P, et al. 2010. Uji Toksisitas Dan Aktivitas Antibakteri Berbagai Fraksi
Ekstrak Daun Tanaman Kamboja (Plumeria acuminate Ait.) FMIPA :
Universitas Mulawarman.
Sukara, E. 2002. Sumber daya alam hayati dan pencarian bahan baku obat
(Bioprospekting). Prosiding Simposium Nasional II Tumbuhan Obat dan
Aromatik. Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi LIPI, Bogor. hlm.
31-37.
Syahrul. 2005. Penggunaan Fikokoloid Hasil EkstraksiRumput Laut sebagai
Substitusi Gelatin pada EsKrim. Tesis. Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor 4–
31.
Tonessen, H. H. Dan Kaarlsen J. 2002. Alginate in Drug Delivery Systems. New
York : Marcel Dekker, Inc. 621-630
Yanti Hamdiyati, et al. 2003. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Patikan Kebo
(Euphorbia hirta) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus
epidermidis. FMIPA : Universitas Pendidikan Indonesia.
Yoyok B. Pramono, et al. 2003. Uji Toksisitas Dan Aktivitas Antibakteri Berbagai
Fraksi Ekstrak Daun Tanaman Kamboja (Plumeria acuminate Ait.). FTP :
Universitas Gadjah Mada.
49
LAMPIRAN
Lampiran 1. Kurva Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans
Nilai OD (Optical Density) S. Mutans
Ulangan
Jam Ke1
2
3 Rerata
0 0,153 0,177 0,201
0,177
3 0,477
0,45 0,577
0,501
6
0,75 0,786 0,802
0,779
9 1,194
1,12 1,105
1,139
12 1,289 1,229 1,156
1,224
15 1,312 1,261
1,19
1,254
18 1,289 1,223
1,13
1,214
21
1,35 1,285 1,229
1,288
24 1,332
1,3 1,255
1,295
27
1,68 1,587 1,561
1,609
30 1,406 1,352 1,336
1,364
33 1,431 1,322 1,334
1,362
36
1,46 1,379 1,367
1,402
39 1,522
1,4 1,412
1,444
42 1,422 1,416 1,447
1,428
45 1,397 1,402 1,424
1,407
48 1,134 1,187 1,205
1,175
50
Lampiran 2. Diameter zona bening (mm) produk nanopartikel ekstrak temu kunci
terhadap bakteri Streptococcus mutans.
Ulangan
No
Konsentrasi
U
1
2
1
0,5 ppm
3
1
2
5 ppm
2
Jam
D
6
12
18
24
1
8,00
8,00
8,30
7,60
2
9,03
9,50
9,40
9,16
3
8,02
8,10
8,80
8,30
8,35
8,53
8,83
8,35
1
7,30
7,70
7,50
7,50
2
8,00
8,00
8,50
8,20
3
7,40
7,50
7,70
7,40
7,56
7,73
7,90
7,70
1
7,46
7,60
7,30
7,50
2
8,30
8,60
8,80
8,60
3
7,40
7,80
8,00
8,00
7,72
8,00
8,03
8,03
1
9,30
8,30
8,06
8,10
2
8,80
8,60
8,10
8,38
3
8,48
8,40
8,60
8,10
8,86
8,43
8,25
8,19
1
8,50
7,50
9,00
7,60
2
9,00
9,02
9,60
8,30
3
8,40
7,80
8,80
8,14
8,63
8,10
9,13
8,01
R
R
R
R
R
51
3
1
2
3
50 ppm
3
1
4
250 ppm
2
1
9,72
6,80
8,00
7,60
2
9,80
8,44
9,30
8,30
3
7,90
7,60
8,14
8,14
9,14
7,61
8,48
8,01
1
8,00
8,30
8,30
7,46
2
9,02
8,60
8,54
8,60
3
8,20
8,40
8,50
8,50
8,40
8,43
8,44
8,18
1
7,90
7,50
10,0
7,40
2
8,40
9,02
11,0
8,80
3
8,40
7,80
10,6
0
8,23
8,10
10,53
5,40
1
9,72
6,80
10,4
8,20
2
9,80
8,44
10,5
9,20
3
7,90
7,60
9,80
8,20
9,14
7,61
10,2
8,53
1
9,50-
9,00
9,20
8,60
2
10,2
9,70
9,00
9,00
3
8,80
9,10
8,90
8,40
9,50
9,26
9,03
8,66
1
10,6
9,80
10,2
0
2
10,1
9,20
10,0
0
3
10,48
10,0
9,10
0
R
R
R
R
R
52
R
3
1
2
5
500 ppm
3
10,33
9,67
9,77
0
1
18,02
8,60
7,30
0
2
8,70
9,20
8,50
0
3
9,00
8,70
8,00
0
11,90
8,83
7,93
0
1
11,5
10,6
10,6
10,5
2
11,4
11,8
11,4
11,0
3
9,90
11,3
10,8
11,5
10,9
11,2
10,9
11,0
1
9,40
8,40
8,10
8,00
2
9,00
9,10
9,20
9,20
3
10,0
9,00
8,30
8,40
9,46
8,83
8,53
8,53
1
10,0
10,0
9,70
10,5
2
12,1
11,6
11,2
11,01
3
11,0
10,8
10,9
11,0
11,0
10,8
10,6
10,8
R
R
R
R
53
Lampiran 3. Diameter Zona bening (mm) kloramfenicol terhadap bakteri
Streptococcus mutans.
No
Konsentrasi U
Ulangan
D
6
8,18
Jam
12
7,76
18
7,66
24
7,20
8,20
8,68
6,60
9,00
7,60
7,40
7,00
7,30
7,99
7,94
7,08
7,83
9,00
7,78
7,60
7,72
8,40
8,52
8,00
8,64
7,70
7,70
7,70
8,10
8,36
8,00
7,76
8,15
8,80
7,70
7,10
8,24
8,00
8,36
7,80
9,16
8,00
7,90
7,30
8,30
8,26
7,98
7,40
8,56
8,30
8,00
8,00
8,10
8,30
8,40
8,40
8,74
8,50
8,20
8,00
8,50
8,36
8,20
8,13
8,44
8,40
8,18
7,50
8,10
8,40
8,62
8,20
8,20
8,00
8,00
7,80
8,10
8,26
8,26
7,83
8,13
1
2
3
1
R
1
2
3
2
R
1
2
3
1
0,5 ppm
3
R
1
2
3
1
R
1
2
3
2
5 ppm
2
R
54
10,3
9,48
9,20
9,00
10,0
9,62
9,30
9,50
9,80
9,92
9,20
9,62
10,0
9,67
9,23
9,37
11,4
11,38
9,40
8,00
12,4
11,28
10,0
8,70
11,6
11,0
10,0
8,50
11,8
11,22
9,80
8,40
11,7
11,0
10,4
7,66
10,8
10,8
10,2
7,00
10,8
11,7
10,1
7,00
11,1
11,1
10,2
7,22
12,7
11,2
7,10
6,20
10,5
10,4
7,00
7,00
12,0
10,5
6,20
6,28
11,7
10,7
6,76
6,49
17,5
13,5
11,0
13,0
22,0
12,3
11,0
10,2
16,5
12,16
11,5
19,7
18,6
12,6
11,1
14,3
16,0
8,44
0
18,6
14,5
9,00
0
13,0
16,0
8,20
0
14,2
1
2
3
3
R
1
2
3
1
R
1
2
3
2
R
1
2
3
3
50 ppm
3
R
1
2
3
1
R
1
2
4
250 ppm
2
3
55
15,5
8,54
#DIV/0!
15,2
16,5
11,0
0
12,0
14,3
9,72
0
12,6
13,7
9,78
0
11,1
14,8
10,1
11,3
10,0
9,30
9,22
9,70
10,9
9,50
15,6
10,0
9,79
9,30
9,30
10,3
10,2
9,36
11,3
10,5
8,10
8,00
10,0
10,0
10,0
9,50
10,20
10,2
8,36
7,40
9,12
10,2
8,82
8,30
9,77
10,3
9,20
9,50
10,1
9,70
9,70
9,40
9,34
10,0
9,10
9,20
9,64
10,0
9,33
9,36
9,69
R
1
2
3
3
#DIV/0!
11,9
R
1
2
3
1
R
1
2
3
2
R
1
2
3
5
500 ppm
3
R
56
Lampiran 4. Uji statistik ANOVA
UNIANOVA Diameter BY Konsentrasi Waktu
/METHOD=SSTYPE(3)
/INTERCEPT=INCLUDE
/POSTHOC=Konsentrasi Waktu(DUNCAN)
/CRITERIA=ALPHA(0.05)
/DESIGN=Konsentrasi Waktu Konsentrasi*Waktu.
Univariate Analysis of Variance
Notes
Output Created
20-Jun-2017 22:50:32
Comments
Input
Active Dataset
DataSet0
Filter
<none>
Weight
<none>
Split File
<none>
N of Rows in Working Data File
Missing Value Handling
Definition of Missing
60
User-defined missing values are treated as
missing.
Cases Used
Statistics are based on all cases with valid
data for all variables in the model.
Syntax
UNIANOVA Diameter BY Konsentrasi
Waktu
/METHOD=SSTYPE(3)
/INTERCEPT=INCLUDE
/POSTHOC=Konsentrasi
Waktu(DUNCAN)
/CRITERIA=ALPHA(0.05)
/DESIGN=Konsentrasi Waktu
Konsentrasi*Waktu.
Resources
Processor Time
00:00:00.140
Elapsed Time
00:00:00.141
[DataSet0]
57
Between-Subjects Factors
N
Konsentrasi
Waktu
0.5
12
5
12
50
12
250
12
500
12
6
15
12
15
18
15
24
15
Konsentrasi
Homogeneous Subsets
Diameter
Duncan
Subset
Konsentr
asi
N
1
2
250
12
7.90333
0.5
12
8.06083
5
12
8.40500
50
12
8.43083
500
12
Sig.
1.02125E1
.408
1.000
Means for groups in homogeneous subsets are
displayed.
Based on observed means.
The error term is Mean Square(Error) = 1,955.
58
Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa konsentrasi 250 ppm, 0,5 ppm, 5 ppm, dan
50 ppm, menghasilkan rata-rata respon yang sama. Sedangkan konsentrasi 500
ppm menghasilkan rata-rata respon yang berbeda dari ke empat konsentrasi
lainnya.
Keterangan : perlakuan yang terletak dalam satu grub berarti tidak memberikan
pengaruh respon yang berbeda.
59
Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable:Diameter
Type III Sum of
Source
Squares
df
Mean Square
F
Sig.
Corrected Model
157.555
a
19
8.292
4.241
.000
Intercept
4440.180
1
4440.180
2.271E3
.000
Konsentrasi
41.314
4
10.328
5.282
.002
Waktu
36.603
3
12.201
6.240
.001
Konsentrasi * Waktu
79.639
12
6.637
3.394
.002
Error
78.213
40
1.955
Total
4675.949
60
235.769
59
Corrected Total
a. R Squared = ,668 (Adjusted R Squared = ,511)
Ada 3 perbedaan mean yang diujikan :
1. Uji interaksi
Apakah mean yang ada merupakan pengaruh interaksi antara waktu inkubasi dan
konsentrasi terhadap aktivitas antibakteri ?
Pengambilan keputusan, antara lain:
a. Hipotesis
H0 : tidak ada interaksi antara waktu inkubasi dan konsentrasi
H1 : ada interaksi antara waktu inkubasi dan konsentrasi
b. Pengambilan keputusan
Jika probabilitas> 0,05 ; maka H0 diterima
Jika probabilitas< 0,05 ; maka H0 ditolak
c. Keputusan
60
Terlihat dari F signifikansi adalah sebesar 0,002 yang berarti < 0,05 maka H0
ditolak. Jadi ada pengaruh interaksi antara waktu inkubasi dan perbedaan
konsentrasi terhadap aktivitas antibakteri.
2. Uji Efek Faktor Waktu Inkubasi
Apakah mean yang ada merupakan pengaruh dari waktu inkubasi terhadap
aktivitas antibakteri ?
Pengambilan keputusan, antara lain:
a. Hipotesis
H0 : tidak ada pengaruh waktu inkubasi terhadap aktivitas antibakteri
H1 : ada pengaruh waktu inkubasi terhadap aktivitas antibakteri
b. Pengambilan keputusan
Jika probabilitas> 0,05 ; maka H0 diterima
Jika probabilitas< 0,05 ; maka H0 ditolak
c. Keputusan
Terlihat dari F signifikansi adalah sebesar 0,001 yang berarti < 0,05, maka H0
ditolak. Jadi ada pengaruh waktu inkubasi terhadap aktivitas antibakteri.
3. Uji Efek Faktor Perbedaan Konsentrasi
Apakah mean yang ada merupakan pengaruh perbedaan konsentrasi terhadap
aktivitas antibakteri ?
Pengambilan keputusan, antara lain:
a. Hipotesis
H0 : tidak ada pengaruh jenis sampel terhadap aktivitas antibakteri
H1 : ada pengaruh jenis sampel terhadap aktivitas antibakteri
61
b. Pengambilan keputusan
Jika probabilitas> 0,05 ; maka H0 diterima
Jika probabilitas< 0,05 ; maka H0 ditolak
c. Keputusan
Terlihat dari F signifikansi adalah sebesar 0,002 yang berarti < 0,05 maka H0
ditolak. Jadi ada pengaruh perbedaan konsentrasi terhadap aktivitas antibakteri.
62
Lampiran 5. Dokumentasi Penelitian
Zona bening pada konsentrasi 0,5
Zona bening pada konsentrasi 5 ppm
ppm
Zona bening pada konsentrasi 50
Zona bening pada konsentrasi 250 ppm
ppm
63
Zona bening pada konsentrasi 500
Nanopartikel alginat ekstrak etanol Temu
ppm
kunci (Boesenbergia rotunda)
Kloramfenicol
Kultur bakteri Streptococcus
mutans
64
Pengenceran Nanopartikel
Disc Blank
Autoclaf
LAF (Laminar Air Flow)
65
Mueller Hinton Agar
Spektrometer
Penanaman Bakteri Streptococcus
Penempelan disc blank
mutans
66
Download