BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Indonesia sebagai suatu negara besar yang terkenal dengan sebutan negara
agraris, setiap tahunnya mengalami perkembangan jumlah penduduk yang
umumnya bermukim atau berdomisili disuatu wilayah seperti didaerah
pedesaan. Dengan peningkatan jumlah penduduk tersebut, maka menurut
pemerintah selalu memperluas wilayah pemukiman penduduk. Kenyataan
menunjukan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia bertempat tinggal di
desa dan mencari kehidupan di desa.
Pembangunan pedesaan adalah suatu strategi pembangunan yang
dirancang bagi peningkatan kehidupan ekonomi dan sosial dari kelompok
khusus masyarakat, yaitu masyarakat yang kurang mampu (miskin) yang berada
dipedesaan. Karena pembangunan dipedesaan bertujuan untuk mengurangi
kemiskinan, maka usaha ini harus dirancang secara jelas dan tegas kearah
peningkatan produksi dan produktivitas (Hadi Dan Lincolin, 1987: 5-6).
Kondisi ini dapat menempatkan pedesaan sebagai prioritas sasaran
pembangunan yang berarti pula menjadikan desa sebagai fokus dan basis
pembangunan daerah. Oleh karena itu upaya menjadikan pedesaan sebagai
fokus dan basis pembangunan nasional yang pada hakekatnya merupakan upaya
mewujudkan pencapaian sasaran dan pembangunan nasional dan regional secara
kompak, utuh dan terpadu (Dedi dan dadang, 2004: 37).
1
2
Pembangunan pedesaan dapat menciptakan masyarakat desa yang
mandiri. Bukan saja untuk kepentingan masyarakat desa itu sendiri, namun juga
untuk kepentingan nasional secara umum, hal ini berarti bahwa pembangunan
pedesaan mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis dalam
meletakkan dasar-dasar pembangunan nasional. Dan memantapkan serta
meningkatkan stabilitas nasional yang strategis dan dinamis. Untuk itu filosofis
pembangunan dengan menggunakan desa sebagai basis dan fokus pembangunan
itu cukup beralasan (Agus, 2002: 49).
Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah memberikan kesempatan yang
luas kepada masyarakat untuk ikut melaksanakan sekaligus bertanggung jawab
dalam pelaksanaan pembangunan dan tak terkecuali masyarakat yang berada di
wilayah pedesaan maka sangat memungkinkan untuk terjadinya pembentukan
dan pemekaran desa.
Kebijakan
umum
tentang
pembentukan
dan
penyelenggaraan
pemerintahan di daerah adalah berdasarkan pada pasal 18 UUD 1945. Dalam
penjelasan pasal 18 UUD 1945 tersebut dinyatakan bahwa pembagian daerah di
Indonesia atas daerah besar dan kecil dengan bentuk dan susunan
pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang dengan memandang dan
mengingat dasar permusyawaratan perwakilan dalam sistem pemerintahan
negara dan hak-hak asal-usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa.
(Hamoedi, 1980: 8).
3
Dengan demikian salah satu faktor yang mempercepat terjadinya
pembentukan desa ini adalah fenomena pertumbuhan jumlah penduduk di
daerah pedesaan yang terus meningkat dengan senantiasa memperhatikan
potensi-potensi desa, sarana dan prasarana serta kehidupan sosial ekonomi
masyarakat desa tersebut, selain itu faktor lain yang mempercepat terjadi
pembentukan daerah ini menjadi sebuah desa induk seperti seluruh
pengalokasian berbagai aset dan sumber daya kepada seluruh dusun, serta
pembangunan infra struktur, pemberdayaan masyarakat peningkatan pelayanan
kepada masyarakat hal ini tidak berjalan secara merata. Serta didukung oleh
gambaran geografisnya sangat cocok untuk area pertanian dan juga layanan
transportasi yang cukup memadai, sehingga memungkinkan mudahnya
berhubungan dengan pemerintahan kabupaten , bahkan dengan daerah-daerah
lain seperti kota Bau-bau, Kabupaten Buton Tengah yang bisa dilalui dengan
jalur darat serta dengan penjualan hasil panen yang lebih tinggi dibandingkan
dijual di daerah diri sendiri.
Disamping itu juga didukung dengan faktor demografisnya (penduduk)
yang dimana turut pula mendukung terbentuknya desa. Potensi penduduk ini
sangat penting dalam mengelolah secara komprehensif potensi yang ada. Dalam
pelaksanaan pemerintahan dibutuhkan orang-orang yang berkompenten dalam
pemerintahan, bisa dibayangkan jika disuatu daerah tidak memiliki penduduk,
kemungkinan tidak ada aktifitas yang dijalankan, penduduk inilah sebagai
pendukung aktifitas kegiatan di daerah ini. Sumber daya manusia yang
4
berkualitas dan handal sangat diperlukan terutama bagi generasi muda.
Demikian juga terbentuknya desa ini karena didukung oleh faktor keadaan
ekonominya yang merupakan dasar dalam pembangunan wilayah, baik itu
potensi ekonomi maupun potensi pertanian dan perkebunan (agro ekonomi)
(Raharjo, 2004: 135).
Hal ini dipandang perlu untuk selalu dipertimbangkan mengingat
pembentukan suatu desa dapat membawa dampak bagi kehidupan sosial
ekonomi masyarakat setempat. Hal tersebut terjadi pula di Desa Bone Kancitala
Kecamatan Bone Kabupaten Muna sama halnya dengan desa yang lain yang ada
di Indonesia. Dampak pembentukan desa tersebut tentunya akan terjadi yang
meliputi aspek ekonomi berupa terbukanya lapangan pekerjaan, maupun aspek
sosial (kemasyarakatan) yang dapat menjaga keamanan dan ketertiban. Dengan
demikian terbentuknya desa tersebut membawa dampak positif yang dirasakan
oleh masyarakat Desa Bone Kancitala dalam kehidupan sehari-hari.
Sejak awal terbentuknya Desa Bone Kancitala pada tahun 1965 telah
menunjukan
perkembangan
diberbagai
aspek
kehidupan
masyarakat.
Pembentukan dan perkembangan Desa Bone Kancitala tidak terlepas dari
perjuangan tokoh masyarakat serta dukungan aparat pemerintahan setempat
dalam membangun wilayah Desa Bone Kancitala, dimana penduduk yang
berada di Desa Bone Kancitala adalah mayoritas penduduk lokal dalam hal ini
suku Muna. Mata pencahariannya adalah bercocok tanam, berkebun tanaman
jangka pendek dan panjang, dan berternak ayam, sapi dan lain-lain.
5
Orang Muna yang berada di Desa Bone Kancitala dalam proses kegiatan
pengolahan tanah sampai pada pemetikan hasil bercocok tanam dan berkebun
tanaman jangka pendek dan jangka panjang merupakan kegiatan dari para
anggota keluarga inti dan anggota kerabat lainnya secara gotong royong.
Tradisi pokadulu (gotong royong) sudah ada sejak daerah ini ditempati
oleh masyarakat
dan berkembang pada saat daerah ini menjadi sebuah
Kampung (mino) setara dengan desa dari Kecamatan Kabawo.
Dari uaraian-uraian yang dikemukakan di atas merupakan latar belakang
yang mendorong penulis sehingga memilih judul skripsi tentang ”Sejarah Desa
Bone Kancitala (Dari Kampung Sampai Kecamatan Tahun 1930-2009)”.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana proses terbentuknya Desa Bone Kancitala?
2. Bagaimana perubahan status Desa Bone Kancitala?
3. Bagaimana perkembangan Desa Bone Kancitala?
C.
Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penelitian ini
yaitu :
1. Untuk menjelaskan proses terbentuknya Desa Bone Kancitala.
2. Untuk menjelaskan perubahan status Desa Bone Kancitala.
3. Untuk menjelaskan perkembangan Desa Bone Kancitala.
6
D.
Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan menjadi sumber informasi dan menambah
wawasan, serta memberi manfaat teoritis bagi para akademisi berupa
sumbangan bagi pengembangan ilmu pengetahuan sejarah.
b. Sebagai bahan acuan atau informasi tambahan bagi peneliti selanjutnya
yang relevan dengan penelitian ini.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi masyarakat, khususnya masyarakat Desa Bone Kancitala kiranya
dapat merupakan tambahan wawasan dan pemahaman tentang sejarah
Desa Bone Kancitala serta nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah itu
sendiri.
b. Bagi pemerintah daerah setempat, kiranya dapat menjadi masukan untuk
mengintropeksi diri dalam rangka pengembangan serta pembangunan
Desa Bone Kancitala, serta pengkajian dan penulisan sejarah daerah,
khususnya daerah Muna.
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.
Konsep Sejarah
Selama manusia hidup, tentu selalu dilandasi oleh rasa ingin tahu,
termaksud keingintahuan tentang keadaan masa lampau bahkan juga masa
depan. Oleh karena itu didalam pembahasan tentang Sejarah Desa Bone
Kancitala (Dari Kampung Sampai Kecamatan Tahun “1930-2009”) merupakan
bagian yang tidak dapat terpisahkan pada pengkajian disiplin ilmu kesejarahan.
K. Marx dan F. Eangles menulis (dengan merujuk kepada pemahaman
sejarah sebagai peristiwa-peristiwa masa lampau) bahwa sejarah adalah aktifitas
dari manusia yang berorientasi-tujuan (goal-oriwnted man), yang mendukung
definisi-definisi yang berpendapat bahwa sejarah adalah sesuatu yang lebih dari
pada sains dari masa lalu (science of the past). Golongan yang menyetujui
pertanyan pertama yang jelas masyarakat asumsi bahwa fakta-fakta membentuk
suatu proses yang berulang (regular process) (Sjamsuddin, 2007: 8).
Sejarah adalah gambaran peristiwa masa lampau yang dialami oleh
manusia, disusun secara ilmiah, meliputi urutan waktu, diberi tafsiran dan
analisa kritik sehingga mudah dimengerti dan dipahami (Hugiono, 1992: 10).
Istilah sejarah memiliki kedekatan pelafalan dan sekaligus pengertian dengan
istilah kata syajaratun yang berarti “pohon” dan syajarah yang berarti terjadi
(Kuntowijoyo, 2005: 1 dalam Arif, 2011: 5). Kedua kata dalam bahasa Arab
inilah yang kemudian dilafalkan sebagai sejarah dalam bahasa Indonesia.
7
8
Sejarah terdiri dari beberapa pengertian, (1) suatu urutan asal-usul keturunan
yang berkesinambungan, sejak jauh sebelum buyut, lalu secara berturut-turut
diteruskan oleh buyut, kakek, ayah, hinga sampai pada keberadaannya pada saat
ini; (2) suatu silsilah keturunan yang bercabang-cabang sejak orang tua, anak,
cucu, cicit dan seterusnya; (3) pertumbuhan dan perkembangan dari peristiwa
yang satu menuju peristiwa yang lain secara berkesinambungan sesuai dengan
garis waktu.
Sementara itu menurut Arif (2011: 8) pengertian sejarah dapat dilihat dari
dua sudut pandang, yakni secara subyektif dan secara obyektif. Sejarah dalam
arti subyektif adalah suatu konstruksi atau suatu bangunan yang disusun oleh
sejarawan menjadi suatu cerita tentang suatu peristiwa tertentu yang terjadi pada
masa lampau. Sedangkan sejarah dalam arti obyektif merujuk pada kejadian
atau peristiwa itu sendiri, yakni sejarah merupakan kejadian atau peristiwa
sejarah yang tidak dapat terulang lagi.
Sejarah dalam bahasa inggris adalah History, yang berarti pengalaman
masa lampau dari pada umat manusia “the past experiece mankind”. Pengertian
selanjutnya memberikan makna sejarah sebagai catatan yang berhubungan
dengan kejadian-kejadian masa silam yang diabadikan dalam laporan dan dalam
ruang lingkup yang luas. Kemudian sebagai cabang ilmu pengetahuan sejarah
menganggap peristiwa-peristiwa masa silam, baik peristiwa sosial, ekonomi,
agama, politik, dan budaya suatu bangsa, negara, ataupun dunia (Nur, 2012:
11).
9
Menururt Ibnu Khaldum dalam Tamburaka (1993: 5) berpendapat bahwa,
sejarah adalah catatan tentang masyarakat umat manusia atau peradaban dunia
tentang perubahan yang terjadi pada waktu manusia itu seperti: keliaran,
keramahtamahan, dan solidaritas golongan tentang revolusi dan timbulnya
kerajaan-kerajaan dan kegiatan orang-orang, baik untuk mencapai kehidupan
manusia dalam mencapai bermacam-macam ilmu pengetahuan dan umumnya
pada tentang segala perubahan yang terjadi di dalam masyarakat karena watak
manusia itu sendiri. Karena pentingnya sejarah sebagai dari kehidupan manusia
sehingga melahirkan ahli-ahli sejarah dan teori dari konsep yang berbeda.
Sebelum menguraikan lebih jauh mengenai konsep sejarah yang digunakan
dalam penelitian maka terlebih dahulu disajikan beberapa pengertian umum dari
sejarah itu sendiri.
Menurut Kartodirdjo (2002: 5) sejarah sebagai ilmu dan seni meiliki ciriciri sebagai berikut:
1.
Empiris berasal dari bahasa Yunani yaitu empiria yang berarti
pengalaman. Sejarah tergantung pada pengalaman manusia.
2.
Memiliki objek. Kata objek berasal dari bahasa Latin objektus, yang
artinya yang dihadapan atau sasaran, tujuan objek yang dipelajari dalam
sejarah sebagai ilmu ialah manusia dan masyarakat yang menekankan
sudut pandang waktu.
3.
Memiliki teori. Teori berasal dari bahasa Yunani yaitu theory yang berarti
ruangan. Sama seperti ilmu sosial lainya, sejarah memiliki teori yang
10
berisikan suatu kumpulan kaidah-kaidah pokok suatu ilmu, seperti
sosiologi, teori nasionalisme, teori konflik sosial, dan sebagainya.
4.
Memiliki metode. Metode berasal dari bahasa Yunani methodus yang
berarti cara dalam rangka penelitian. Sejarah mempunyai metodologi
penelitian sendiri yang menjadi patokan-patokan tradisi ilmiah yang
senangtiasa dihayati.
Sejarah sebagai seni memerlukan intuisi, imajinasi, emosi, dan gaya
bahasa. Sejarawan memerlukan instuisi atau ilham yaitu pemahaman langsung
atau insting selama masa penelitian berlangsung. Dalam melakukan
pekerjaannya seorang sejarawan harus membayangkan apa yang sebenarnya
terjadi, apa yang sedang, dan apa yang sudah terjadi sesudah itu. Contoh:
sejarah Kendari, harus membayangkan keadaan geografis kota Kendari. Dalam
penulisan sejarah harus ada keterlibatan emosi dalam hal ini penulis sejarah
harus mempunyai empati yang tinggi (emphaty: perasaan) untuk menyatukan
perasaan objeknya, seolah-olah mengalami sendiri. Dalam penulisan sejarah
gaya bahasa yang digunakan harus lugas dan tidak berbelit-belit, sehingga
sejarah mudah dipahami oleh para pembaca.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa sejarah adalah ilmu
yang mempelajari tentang suatu peristiwa yang terjadi pada masa lampau,
dimana pelaku, tempat, dan waktu terjadinya suatu peristiwa itu jelas, yang
disusun melalui metodologi penelitian, dan dibuktikan dengan kenyataan yang
ada.
11
B.
Konsep Sejarah Pedesaan
Pengertian sejarah pedesaan barangkali menimbulkan banyak pertanyaan,
oleh karena peristiwa sejarah terjadi di daerah pedesaan. Menurut Kuntowijoyo
(2003: 73) sejarah pedesaan ialah sejarah dalam arti yang seluas-luasnya. Disini
dimensi waktu menjadi sangat penting, sebab perubahan ialah sebuah proses
dalam waktu. Kronologi masih tetap menjadi ciri pokok dari penelitian sejarah,
dengan kata lain, aspek prosesual dari sejarahlah yang membedakannya dengan
ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi dan antropologi. Selanjutnya perubahan
berarti perpindahan dari sebuah keadaan menuju kekeadaan yang lain. Keadaan
mengandung aspek struktural dari sejarah, yang menunjukan bahwa pada suatu
momen tertentu terdapat sejumlah kejadian yang berhubungan secara struktural
dan membentuk sebuah keadaan. Aspek struktural inilah yang tampak dalam
tuliasan D.H. Burger Rapport over de Desa Pekalongan in 1869 en 1928, dan
Desa Ngablak (Regentschap Pati)in 1869 en 1928. Kedua tulisan ini mengambil
momen-momen dalam sejarah dengan maksud membandingkan keadaan sejarah
dalam dua waktu yang berlainan. Maksudnya tentu saja untuk melihat
perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kurun waktu tersebut. Andai
kata data-data sejarah memungkinkan tentulah aspek kronologis perubahanperubahan itu dari waktu ke waktu dapat diungkapkan sebagai proses yang
bertahap, dan tidak saja sebagai perbandingan antara dua momen yang berjarak
waktu. Sejarah pedesaan adalah sejarah yang secara khusus meneliti tentang
12
desa atau pedesaan masyarakat petani, dan ekonomi pertanian (Kuntowijoyo,
2003: 74).
Menurut Suriadiningrat (1992: 11) tidak dapat diketahui dengan pasti
kapan permulaan adanya “desa”. Menurut ilmu kemasyrakatan, manusia adalah
makhluk sosial, makhluk yang selalu hidup dengan manusia lainnya.
Dimanapun ia berada, ia berhubungan langsung dengan sesamanya, secara sadar
atau tidak sadar manusia senantiasa memelihara, membina dan mengembangkan
hubungan antar manusia. Dalam rangka usaha tersebut manusia bertempat
tinggal bersama-sama disuatu tempat yang dapat memenuhi kebutuhan hidunya.
Unsur keadaan dan lingkungan mempengaruhi dimana tempat tinggal bersama
diadakan, dipantai, jauh kepedalaman, dikaki lereng, dan puncak gunung
bahkan diatas air.
Selanjutnya menurut Nurcholis (2001: 9) bahwa sejarah desa dimulai dari
adanya seorang yang mempunyai pengaruh besar sehingga dapat menggerakan
banyak orang untuk menjadi pengikutnya. Orang besar kemudian mengajak
pengikutnya itu membuka hutan atau lahan kosong untuk dijadikan pemukiman
baru. Mereka lalu tinggal diwilayah tersebut yang kemudian disebut sebagai
desa. Kegiatan membuka lahan tersebut babak alas dan babak yasa. Umumnya
lahan untuk yang dijadikan desa telah mempunyai syarat sebagai tempat yang
bisa mendukung kehidupan warga desa yang akan menempatinya tersebut; yaitu
lahannya mencukupi untuk dijakan tempat permukiman, pusat pemerintahan,
atau kerajaan, tanah relatif subur, ada sumber mata air, lahan dan potensinya
13
bisa menjadi sumber mata pencaharian penduduknya dan sumber pembiayaan
pemerintahan desa.
Setelah
membentuk
sebuah
desa
sang
tokoh
lalu
membentuk
pemerintahannya biasanya menjadi kepala desa. Pemerintahan terdiri atas
kepala desa yang dibantu dengan beberapa petugas yang diperlukan, yaitu
petugas
yang
mengurus
perairan,
perkebunan,
kerohanian,
hubungan
masyarakat, keamanan, dan pelaksanaan tugas wilayah. Disamping itu, juga
dibentuk lembaga sepuluh desa yang waktu babak yasa merupakan orang-orang
tua desa dan pendukung spiritual. Sesepuh desa ini berfungsi sebgai penasehat
kepala desa dan sumber legimasi atas kebijakan yang dibuatnya. Mereka inilah
orang pertama didesa tersebut yang disebut sebagai dayang desa, yaitu para
pendiri desa yang diyakini mempunyai kekuatan lebih dari orang-orang biasa.
Tulisan pada prasasti himad-walandit menunjukan bahwa desa pada
kerajaan Kediri-Jenggala memiliki status swatantra (otonomi). Dengan
demikian sejak dulu desa mempunyai hak untuk mengatur rumah tangganya
sendiri/swatantra/otonomi. Berdasarkan prasasti dan piagam yang ditemukan
kemudian pada 1880 di Penanjangan Tengger, Jawa Timur, (Suriadiningrat,
1992: 18) menarik kesimpulan sebagai berikut:
1.
Bahwa desa sebagai lembaga pemerintahan terendah telah ada sejak
dahulu kala dan bukanlah impor dari luar Indonesia, bahkan murni bersifat
Indonesia;
14
2.
Bahwa nampaknya desa adalah tingkat yang berada langsung dibawah
kerajaan. Dengan kata lain, pada waktu itu terdapat sistem pemerintahan
di daerah dua tingkat;
3.
Bahwa masyarakat Indonesia sejak dahulu telah mengenal sistem-sistem
pemerintahan di daerah, dan sekarang menjadi hakikat dari asas-asas
penyelenggaraan pemerintahan, misalnya: swatantra (yaitu yang disebut
sekarang dengan otonomi atau hak untuk mengatur dan mengurus urusan
rumah tangganya sendiri). Demikian pula dengan jabatan-jabatan atau
pembagian
tugas,
misalnya
samget
(ahli
adat),
raja
dikkira
pamget/jayapatra (haki), patih dyaksa (jaksa), dan sebagainya.
4.
Bahwa terdapat jenis-jenis desa antara lain desa keramat, desa pendidikan,
dan sebagainya dengan hak-hak khusus.
Dilihat dari sejarahnya, desa sudah dikenal sejak zaman kerajaan-kerajaan
Nusantara sebelum kedatangan Belanda. Desa adalah wilayah-wilayah yang
mandiri
dibawah
taklukan
kerajaan
pusat.
Dalam
penyelenggaraan
pemerintahan, kerajaan pusat hanya menuntut loyalitas desa. Sedangkan
bagaimana desa menyelenggarakan pemerintahannya, kerajaan pusat tidak
mengatur melainkan menyerahkan kepada desa yang bersangkutan untuk
mengatur dan mengurusnya sesuai dengan adat-istiadat dan tata caranya sendiri.
Desa pada mulanya telah mampu mengembangkan diri dengan kelembagaan
yang lengkap dibidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan
15
keamanan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri mulai kehilangan otonominya
ketika hadir otoritas yang lebih besar diluar dirinya.
Sementara itu, menurut Nurcholis (2011: iv) dilihat dari sejarah Indonesia
bahwa gagasan utama memajukan desa dengan cara rasionalisasi dan
modernisasi dapat dilacak dalam pikiran Mohammad Yamin dan Soepono yang
dilontarkan dalam sidang BPUPKI sebelum proklamasi kemerdekaan.
Keduanya menggagas bahwa pemerintahan di dalam Indonesia merdeka akan
disusun dalam tiga tingkatan: 1) pemerintahan kaki yaitu desa, 2) pemerintahan
tengah yaitu pemerintahan daerah, dan 3) pemerintahan atas sebagai
pemeritahan pusat.
Dengan keadaan seperti itu maka keberadaan desa baik sebagai lembaga
pemerintahan maupun sebagai entitas kesatuan masyarakat hukum adat menjadi
sangat penting dan strategis. Sebagai lembaga pemerintahan, desa merupakan
ujung tombak pemberian layanan kepada masyarakat. Sedangkan sebagai
entitas
kesatuan
masyarakat
hukum,
desa
merupakan
basis
sistem
kemasyarakatan masyarakat Indonesia yang sangat kokoh sehingga dapat
menjadi landasan yang kuat bagi pengembangan sistem politik, ekonomi, sosialbudaya, dan bahkan yang stabil dan dinamis.
Selain itu salah satu faktor yang mempercepat pembentukan desa adalah
fenomena pertumbuhan penduduk di daerah pedesaan yang terus meningkat
dengan senantiasa memperhatikan potensi-potensi desa, sarana dan prasarana
serta kehidupan sosial ekonomi masyarakat desa tersebut.
16
C.
Konsep Pemerintahan Daerah
Sistem pemerintahan negara RI menurut UUD 1945 menganut asas
desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Hal ini berarti pemerintah
pusat memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada daerah untuk
menyelengarakan otonomi daerah.
Secara harfiah perkembangan berasal dari kata kembang yaitu berarti
terbuka menjadi besar menjadi luas kemudian bertambah sempurna, banyak
atau maju (Poerwadarminta, 1983: 473).
Pembentukan maupun perkembangan wilayah dan tersebut diatas disusun
secara vertikal dan merupakan lingkungan kerja, aparat pemerintah yang
menyelenggarakan tugas-tugas atau urusan-urusan pemerintah umum di daerah.
Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pengendalian dalam rangka menjamin
kelancaran penyelenggaraan pemerintah didaerah. Pembentukan wilayahwilayah tersebut dalam kajian mengenai pemerintahan yang lebih mendalam
maka perlu dibedakan dahulu antara pengertian pemerintah. Disini dapat
diterangkan bahwa menurut arti etimologis (tata bahasa) maka:
1.
Pemerintah ialah nama subjek yang terdiri sendiri. Contoh: pemerintah
desa, pemerintah daerah, dan sebgainya.
2.
Pemerintahan ialah kata jadian yang disebabkan karena subjek mendapat
akhiran-an pemerintah melakukan tugas, kegiatan itu disebut sebagai
pemerintahan (Saparin, 1986: 12).
17
Hossein dalam Supriyadi (2004: 3) menjelaskan bahwa konsep
pemerintahan daerah (Local Goverment) dapat mengandung tiga arti. Pertama,
berarti pemerintahan lokal. Kedua, pemerintahan lokal yang dilakukan oleh
pemerintahan lokal. Ketiga, berarti daerah otonom. Lokal goverment pada arti
pertama menunjukan pada lembaga atau organnya, maksudnya adalah
organ/organisasi pemerintah ditingkat daerah atau wadah menyelenggarakan
kegiatan pemerintah daerah. Lokal government dalam arti kedua menunjukan
pada fungsi kegiatannya, dalam arti ini maksudnya Lokal Government sama
dengan pemerintah daerahnya. Dalam konteks Indonesia pemerintah daerah
dibedakan dengan istilah pemerintah daerah dan badan atau organisasinya yang
merupakan bentuk pasifnya dan pemerintahan daerah merupakan bentuk
aktifnya.
Supriyadi (2004: 4) menjelaskan bahwa unsur-unsur pemerintahan daerah
yaitu :
1.
Pemerintahan daerah adalah sub devisi politik dari kedaulatan bangsa dan
negara.
2.
Pemerintah daerah diatur oleh hukum.
3.
Pemerintah daerah mempunyai badan pemerintah daerah yang dipilih oleh
penduduk setempat.
4.
Pemerintah daerah menyelenggarakan kegiatan berdasarkan peraturan
perundang-undangan.
5.
Pemerintah daerah memberikan pelayanan dalam wilayah jurisdikasinya.
18
Hossein dalam Miswar (2008: 44) menjelaskan bahwa pemerintah daerah
otonom adalah pemerintah daerah yang badan pemerintahnnya dipilih oleh
penduduk setempat dan memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus
urusannya sendiri berdasarkan peraturan perundang-undangan dan tetap
mengalami supermasi dan kedaulatan nasional.
Dalam telaah geografis desa, penting untuk dibahas letak desa terhadap
daerah lain secara menyeluruh, desa dapat unuk dikembangkan harus ditelaah
unsur-unsurnya seperti yang tertulis dibawah ini:
1.
Tanah:
perkebunan,
pekarangan,
tegalan/hutan,
perumahan
yang
merupakan sumber pangan dan industri,
2.
Sumber air: keperluan domestik yang merupakan sumber hidrologi,
3.
Warga desa: potensi sosial, ekonomi, kebudayaan dan hak kemanusiaan
yang merupakan tenaga,
4.
Tata kehidupan desa: tata organisasi dan pemerintahan desa yang
merupakan sumber politik unit kecil,
5.
Tanaman/hewani: potensi tanaman pokok dan jagung, tenaga dagang, dan
susu yang merupakan sumber vegetasi dan protein.
Adapun ciri-ciri kehidupan masyarakat desa yang menjadi penghuninya
adalah sebagai berikut:
1.
Desa dan masyarakat erat sekali hubungannya dengan alam komunitas
dalam kesatuan geogarfis tertentu yang antara mereka saling mengenal
19
baik, dan corak kehidupan yang relatif homogen dan banyak bergantung
dengan alam.
2.
Penduduk di desa merupakan suatu unit sosial dan unit kerja yang jumlah
mereka relatif tidak besar dan struktur ekonomi umumnya agraris.
3.
Masyarakat desa mewujudkan suatu pemerintahan yang dinamis ikatan
kekeluargaan yang erat (Aryono, 2000: 45).
Suatu kesatuan sejarah pedesaan merupakan sejarah dalam arti yang selua-
luasnya yakni setiap sejarah memiliki latar belakang sejarah pedesaan. Jadi
sejarah pedesaan adalah bidang kajian sejarah yang khususnya mengkaji
masalah desa atau pedesaan, masyarakat petani dan ekonomi pertanian. Dalam
mengkaji suatu perkembangan daerah atau wilayah pedesaan yang perlu disoroti
adalah masalah geografis, ekonomi, budaya juga mengenai bangunan fisik,
status sosial, lembaga sosial, dan hubungan sosial sejalan dengan itu seperti
yang dikemukakan oleh Gie The Liang (1997: 89), bahwa desa harus memiliki
kriteria sebagai berikut:
1)
Kepala desa
Kepala desa yaitu sebagai kepala yang mengepalai suatu daerah tertentu,
dimana kepala desa menjalankan hak, wewenang, dan kewajiban pimpinan
pemerintah desa yaitu menyelenggarakan urusan rumah tangga desa dan
merupakan
pemerintahan
penyelenggaraan
dan
dan
pembangunan
penanggung
dan
jawab
kemasyarakatan
utama
dalam
dibidang
rangka
menyelenggarakan urusan pemerintah desa, urusan pemerintah umum
20
termaksud potensial ketentraman dan ketertiban sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku dan menumbuhkan serta mengembangkan
jiwa gotong royong masyarakat sebagai studi dalam utama pelaksanaan
pemerintahan daerah.
2)
Lembaga Masyarakat Desa (LMD)
Lembaga masyarakat desa adalah lembaga permasyarakatan yang
keanggotaannya terdiri atas kepala-kepala dusun pimpinan lembaga-lembaga
kemasyarakatan dan pemuka-pemuka masyarakat di desa yang bersangkutan
dalam perwujudan demokrasi pancasila pemerintah desa disalurkan melalui
wadah
lembaga
musyawarah
desa.
Wadah
ini
merupakan
lembaga
permusyawaratan/pemufakatan dari pemuka-pemuka masyarakat yang ada di
desa dalam mengambil bagian terhadap pembangunan desa yang keputusankeputusannya ditetapkan berdasarkan musyawarah dan mufakat dengan
memperhatikan sungguh-sungguh kenyataan yang hidup dan berkembang dalam
masyarakat seperti pembentukan sekretariat desa diantaranya yaitu:
a)
Sekretaris Desa dalam hal kepala desa berhalangan sekretaris desa
menjalankan tugas serta wewenang dari kepala desa.
b)
Kepala Dusun untuk menjalankan jalannya pemerintahan desa dibentuk
dusun yang dikepalai oleh kepala dusun adalah unsur pelaksana tugas
kepala desa dengan wilayah kerjanya tertentu.
c)
Lembaga
Ketahanan
Masyarakat
Desa
(LKMD).
Berdasarkan
pertimbangan bahwa desa secara keseluruhan merupakan landasan
21
ketahanan nasional dan perlu dimiliki satu lembaga yang mampu
melaksanakan dan merencanakan pembangunan di desa. Maka lembaga
sosial desa sebagai wadah partisipasi masyarakat dalam pembangunan
desa yang menyeluruh dan terpadu ditingkatkan fungsinya sehingga
menjadi lembaga ketahanan masyarakat desa.
Berdasrkan dari uraian diatas maka tugas pokok dari LKMD adalah
sebagai berikut:
1)
Merencanakan pembangunan yang didasarkan atas musyawarah.
2)
Menggerakan dan meningkatkan prakarsa dan partisipasi masyarakat
untuk melaksanakan pembangunan secara terpadu baik yang berasal dari
berbagai
kegiatan
pemerintah
maupun
swadaya
gotong
royong
masyarakat.
3)
Menumbuhkan kondisi dinamis masyarakat untuk mengembangkan
ketahanan di desa.
Dari beberapa tugas pokok LKMD diatas maka tugas-tugas dari LKMD
adalah sebagai berikut:
a)
Sebagai wadah partisipasi masyarakat dalam merencanakan dan
melaksanakan pembangunan.
b)
Menanamkan pengertian dan kesadaran penghayatan dan pengamalan
pancasila.
c)
Menggali, memanfaatkan potensi dan menggerakan swadaya gotong
royong masyarakat untuk pembangunan.
22
d)
Sebagai sarana komunikasi antara pemerintah dan masyarakat serta antar
warga masyarakat sendiri.
e)
Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat.
f)
Menggerakan potensi pemuda untuk pembangunan.
g)
Meningkatkan peran wanita dalam mewujudkan keluarga sejahtera.
h)
Membina kerja sama antar lembaga yang ada dalam masyarakat untuk
pembangunan.
i)
Melaksanakan tugas-tugas lain dalam rangka membantu pemerintah desa
untuk menciptakan ketahanan yang mantap.
j)
Pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK).
Menurut Sapoetra (1986: 10). Didalam adanya suatu pengembangan suatu
desa perlu adanya bantuan pemerintah yakni bantuan berupa:
1)
Perluasan lapangan kerja di desa dalam bidang sektor pertanian dan
industri kecil.
2)
Menyelenggarakan pemukiman baru.
3)
Memperluas dan menyempurnakan jaringan prasarana desa.
4)
Menyempurnakan aparatur pemerintah desa.
Selain itu juga dalam usaha pembangunan desa bantuan pemerintah
sangatlah menunjang dalam proses pembangunan sebab adanya bantuan seperti
perluasan sektor pertanian dan industri, penyempurnaan sarana dan prasarana
desa adalah merupakan faktor utama didalam pembangunan pedesaan. Jadi
23
didalam usaha pembangunan desa itu sangat utama dalam potensi serta
kemampuan yang ada dalam masyarakat.
Menurut undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah
pada bab XI pasal 200 ayat 2 disebutkan bahwa “desa dapat dibentuk, dihapus,
digabung dengan memperhatikan asal usulnya atau prakarsa masyarakatnya”.
Suatu desa dapat dibentuk setelah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan
dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sejalan dengan itu
pembentukan, penghapusan, dan/atau penggabungan desa ditetapkan dengan
peraturan daerah. Dalam pembentukan, penghapusan, dan/atau penggabungan
desa perlu dipertimbangkan luas wilayah, jumlah penduduk, sosial budaya,
potensi desa dan lain-lain (Raharjo, 2004: 29). Disamping itu pembentukan desa
juga senantiasa memperhatikan sumber daya manusia sebagai pelaku atau
subjek.
Menurut keputusan Menteri Dalam Negeri nomor 64 tahun 1999 pasal 6
ayat (2) huruf (b) disebutkan tentang persyaratan terbentuknya desa sebagai
berikut: (a) jumlah penduduk, (b) luas wilayah, (c) sosial budaya, (d) potensi
desa, (e) sarana dan prasarana pemerintah.
Berdasarkan beberapa uraian diatas maka dapat dikemukakan bahwa
adanya pembentukan desa harus memperhatikan dan mempertimbangkan
beberapa faktor seperti kehidupan sosial masyarakat yang dapat menjamin
berlangsungnya tugas-tugas pelayanan kepada masyarakat. Disamping itu
24
pembentukan
desa
dimaksud
pula
untuk
mempercepat
pemekaran
pembangunan, dan kesejahteraan warga masyarakat.
Terbentuknya desa sebagai tempat tinggal kelompok tertentu disebabkan
karena nilai alamiah untuk mempertahankan kelompok. Didalam kelompok
tersebut terjalin sendi-sendi yang melanda hubungan-hubungan antara sesama
warga kelompok berdasarkan hubungan kekerabatan, kekeluargaan, karena
tempat tinggal dekat dan kesamaan kepentingan.
Berdasarkan kesamaan kepentingan tersebut maka terdapat bermacammacam desa sebagai tempat tinggal kelompok yang untuk awalnya atau selama
suatu waktu tertentu berkembang dan tumbuh berdasarkan adanya kegiatan
dibidang-bidang tertentu. Dari sini dapat dibedakan pensifatan jenis-jenis desa
seperti yang dikemukakan oleh Saparin (1986: 122) yaitu:
1)
Desa tambang (dimana hanya terdapat kegiatan penyelenggaraan orang
dan barang karena lokasinya ditepi sungai yang besar). Desa nelayan
(dimana mata pencahariannya dengan usaha perikanan laut karena
lokasinya ditepi laut). Desa pelabuhan (hubungan dengan manca negara,
antar pulau, pertahanan/strategi perang dan sebagainya sebagai akibat
lokasi prasarana pelabuhan).
2)
Desa pendidikan (desa yang dibebaskan dari pemungutan pajak karena
diwajibkan memelihara makam-makam raja atau karena jasa-jasa terhadap
desa).
25
3)
Desa penghasil usaha pertanian, kegiatan perdagangan, industri kerajinan,
pertambangan dan sebagainya. Desa pariwisata (adanya objek pariwisata).
Bertolak dari pandangan tersebut diatas, maka penulisan mengenai
terbentuk dan berkembangnya Desa Bone Kancitala ini diharapkan menjadi
sebuah kajian akademik dalam arti yang sebenarnya.
D.
Konsep Interaksi Sosial
Interaksi sosial merupakan syarat utama untuk terjadinya kegiatankegiatan sosial. Interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial yang dinamis,
yang menyangkut hubungan orang dengan orang, antara kelompok dengan
kelompok masyarakat, maupun antara orang dengan kelompok masyarakat
(Drajat, 1999: 23).
Syani (1994: 151) mengemukakan bahwa interaksi sosial dimaksudkan
sebagai pengaruh timbal balik antara dua belah pihak, yaitu antara individu
yang satu dengan yang lain atau kelompok lain dalam rangka mencapai tujuan
bersama. Pendapat diatas mengandung makna bahwa dalam interaksi sosial
terjadi hubungan timbal balik menurut situasinya dan kepentingannya masingmasing, sehingga lahirlah hubungan atau pertemuan secara fisik, serta
peergaulan yang ditandai dengan saling berbicara, bekerja sama dalam
memecahkan suatu masalah atau mungkin pertemuan dalam suatu pertikaian
dan lain sebagainya.
Peristiwa yang merupakan proses dalam rentan kehidupan manusia sangat
banyak dan luas variasinya. Dinamika proses sosial karena proses itu
26
melibatkan manusia atau beberapa aspek kepercayaan, adat istiadat, dan lain
sebagainya. Bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial, karena interaksi
merupakan syarat utama terjadinya aktifitas-akifitas sosial (Rusli, 1993: 20).
Interaksi sosial tidak akan terjadi bila tidak ada kontak sosial maupun
komunikasi yang terjalin dengan baik. Dalam jangka waktu yang lama interaksi
ini akan menimbulkan perubahan sosial diantara kelompok masyarakat, bahkan
akan terjadi kecenderungan konflik antar kelompok masyarakat. Adapun
bentuk-bentuk interaksi sosial ada dua macam yaitu:
1)
Asosiatif. Yaitu proses interaksi yang mendekatkan atau menyatukan.
Misalnya kerjasama, akomodasi, dan asimilasi.
2)
Disosiatif. Yaitu interaksi yang mempertentangkan atau menjauhkan.
Misalnya persaingan, kontroversi, dan konflik. (Partowisastro, 1983: 10).
Suatu interaksi sosial dapat terjadi jika memenuhi dua syarat, yaitu: 1)
adanya kontak sosial, 2) adanya komunikasi. Kontak sosial terdiri atas kontak
primer dan kontak sekunder. Kontak primer terjadi apabila mengadakan
hubungan langsung, sedangkan kontak sekunder terjadi jika memerlukan suatau
perantara. Sedangkan komunikasi menyatakan bahwa seseorang memberikan
tafsiran pada perilaku orang lain (sesuatu yang berwujud pembicaraan, gerakgerik, badaniah dan sikap) perasaan-perasaan apa yang disampaikan oleh orang
tersebut (Rusli, 1993: 20).
Sama halnya dengan tersebut diatas dikemukakan pula dalam proses
interaksi terdapat bentuk dan pola-pola yang terbentuk secara umum seperti
27
yang dikemukakan oleh Gillin dalam Rosmita (2010: 25) bahwa bentuk
interaksi terjadi dalm dua bentuk proses yaitu:
1)
Proses yang asosiatif yang terjadi dalam tiga bentuk khusus yaitu: a)
kerjasama; b) akomodasi dan; c) asimilasi.
a)
Kerjasama (Cooperation)
Kerjasama merupakan bentuk interaksi sosial yang paling utama dalam
merupakan proses utama. Kerjasama timbul jika orang menyadari mereka
mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama pada saat bersamaan dan
juga mempunyai pengetahuan dan pengadilan terhadap diri sendiri untuk
memenuhi
kepentingan-kepentingan
tersebut.
Kesadaran
akan
kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta yang
penting dalam kerjasama yang berguna.
b)
Akomodasi (Accomodation)
Akomodasi adalah suatu pengertian yang digunakan oleh para sosiolog
untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial
yang sama dengan pengertian adaptasi yang menunjuk pada suatu proses
dimana makhluk-makhluk hidup menyesuaikan diri dengan alam
sekitarnya. Dengan pengertian tersebut dimaksudkan sebagai suatu proses
dimana orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia yang mulamula menyendiri lama kelamaan saling bertetangga untuk mengatasi
ketegangan-ketegangan.
28
c)
Asimilasi (Assimilation)
Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Ia ditandai dengan
usaha-usaha untuk mengurangi. Perbedaan-perbedaan yang terdapat antara
orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi
usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindakan, sikap dan prosesproses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan
tujuan-tujuan bersama. Proses asimilasi timbul bila ada: a) kelompokkelompok manusia yang berbeda kebudayaan; b) individu sebagai warga
kelompok yang saling bergaul secara langsung dan intensif untuk waktu
yang lama; c) kebudayaan-kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia
tersebut masing-masing berubah dan menyesuaikan diri.
2)
Proses yang disosiatif yang terbagi dalam tiga bentuk khusus yaitu: a)
persaingan; b) kontroversi dan; c) pertikaian.
a)
Persaingan (Competition)
Persaingan dapat diartikan sebagai suatu proses sosial, dimana individu
atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing mencari keuntungan
melalui bidang-bidang kehidupan dimana pada suatu masa tertentu
menjadi pusat perhatian umum (bagi perseorangan maupun kelompok
manusia) dengan cara menarik perhatian publik atau dengan mempertajam
prasangka yang telah ada, tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan.
Persaingan mempunyai dua tipe yaitu yang bersifat pribadi dan tidak
29
pribadi, yang pribadi atau perorangan secara langsung bersaing untuk
memperoleh kedudukan tentu didalam organisasi.
b)
Kontroversi (Controvertion)
Kontroversi pada hakikatnya merupakan suatu bentuk proses sosial yang
berada antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian. Kontroversi
terutama ditandai oleh gejala-gejala adanya oleh ketidakpastian mengenal
diri seseorang atau suatu rencana dan perasaan tidak suka yang
disembunyikan, kebencian atau
keragu-raguan terhadap kepribadian
seseorang atau perasaan tersebut dapat pula berkembang terhadap
kemungkinan, kegunaan, keharusan atau penilaian terhadap suatu usul,
buah pikiran, kepercayaan, doktrin atau rencana yang dikemukakan
seseorang atau kelompok manusia lain.
c)
Pertikaian (Conflict)
Pertikaian atau konflik-konflik sosial adalah suatu gejala yang wajar
terjadi dalm proses perkembangan masyarakat yang sedang mengalami
proses perubahan sosial dan perubahan kebudayaan. Sesungguhnya tidak
ada suatu masyarakat yang dalam satu proses perkembangannya tidak
mengalami konflik-konflik sosial. Hal ini disebabkan karena manusia
sebagai makhluk sosial tidak dapat terus menerus dalam suatu keteraturan
dan ketertiban yang abadi juga tidak dapat terus menerus dalam suatu
kekalutan yang abadi.
30
Konflik dibedakan menjadi dua bagian yaitu: konflik sosial dan konflik
budaya. Konflik sosial adalah tidak sesuainya kepentingan dan kebutuhan antara
penduduk asli dengan pendatangan, sedangkan konflik budaya adalah
berhubungan dengan perbedaan nilai dan norma mengenai benar atau salah serta
yang baik dan buruk (Rudito, 1991: 109).
Menurut Tolan (1990: 60) dalam Herliani interaksi sosial dapat mengarah
kepada terbentuknya rasa kesatuan dan kebersamaan jika memenuhi syaratsyarat sebagai berikut:
1.
Terdapat nilai-nilai dan norma-norma sosial yang dapat diterima oleh
semua pihak dalam bentuk konsensus dan dilakukan dengan konsisten.
2.
Ada keterikatan atau saling ketergantungan antara setiap kelompok dalam
masyarakat sehingga memungkinkan adanya kerjasama yang saling
mengisi dan saling menguntungkan.
3.
Adanya pembaharuan yang tidak diskriminatif sehingga setiap anggota
masyarakat merasa memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam proses
sosial.
Secara sederhana interaksi sosial dapat terjadi antara dua orang yang
bertemu dimana mereka berjabat tangan, saling menegur, saling berbicara dan
bahkan saling bertengkar. Aktifitas-aktifitas seperti itu merupakan bentuk dari
interaksi sosial dan lazim terjadi dari setiap masyarakat terutama dalam rangka
menyesuaikan diri antara keadaan lingkungan dengan keadaan kehendak
31
dirinya, seperti tuntutan yang akan dilakukannya dan apa yang seharusnya
diterimanya.
E.
Konsep Perubahan Sosial
Setiap manusia selama hidup pasti mengalami perubahan-perubahan
karena tidak ada suatu masyarakat yang berhenti pada suatu titik tertentu
sepanjang masa. Usaha manusia dalam mempertahankan, mengembangkan dan
melestarikan kehidupannya sebagai makhluk sosial dalam bermasyarakat
merupakan proses yang didalamnya terdapat perubahan sosial.
Gillin dan Gillian dalam Soekanto (2006: 304), mengatakan perubahanperubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima
baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan, material,
komposisi penduduk maupun karena adanya difusi ataupun penemuanpenemuan baru dalam masyarakat. Selo Soemardjan dalam Soekanto (2006:
305) memberikan definisi bahwa segala perubahan-perubahan pada lembagalembaga kemasyarakatan didalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem
sosialnya. Termaksud didalam nilai-nilai masyarakat.
Kingslei Davis dalam Soekanto (2006: 305) berpendapat bahwa
perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan kebudayaan. Sebab-sebab
terjadinya suatu perubahan biasa terjadi karena ada faktor baru yang mengganti
faktor lama itu, sebab-sebab itu adalah:
1.
Sebab-sebab yang bersumber dalam masyarakat itu sendiri, antara lain:
a.
Bertambahnya atau berkurangnya penduduk.
32
b.
Adanya penemuan-penemuan baru.
c.
Konflik masyarakat.
d.
Terjadinya pemberontakan atau revolusi
2.
Sumber-sumber yang berasal dari luar masyarakat itu sendiri antara lain:
a.
Sebab-sebab yang berasal dari lingkungan alam fisik yang ada disekitar
manusia.
b.
Peperangan.
c.
Pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
Lebih lanjut Soekanto (2006: 326), menyatakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi jalannya proses perubahan adalah:
1.
Faktor pendorong yaitu kontak dengan kebudayaan lain, sistem
pendidikan formal yang maju, sikap menghargai hasil karya seseorang,
toleransi, sistem terbuka, penduduk yang heterogen, orientasi kemasa
depan serta nilai bahwa manusia harus senang tiasa berikhtiar untuk
memperbaiki kehidupannya.
2.
Faktor penghambat yaitu kurang hubungan dengan masyarakat lain,
perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat, sikap masyarakat yang
sangat tradisional, rasa takut akan terjadinya kegoyahan, pada integrasi
kebudayaan, prasangka terhadap hal-hal baru, bahwa hidup pada
hakiatnya buruk dan tidak mungkin diperbaiki.
Perubahan sosial selalu diikuti dengan adanya perubahan kebudayaan
masyarakat, sebab antar kebudayaan dan masyarakat tidak dapat dipisahkan
33
sehingga apa saja yang dialami masyarakat dapat berpengaruh terhadap unsurunsur kebudayaan. Proses perubahan sosial dalam suatu masyarakat baik
masyarakat pendatang maupun masyarakat lokal pasti mengalami perubahan.
F.
Penelitian Terdahulu
Keanekaragaman suku dan bangsa yang ada di Nusantara merupakan
objek kajian para peneliti dalam rangka penentuan topik dan tematis masalah
penelitian. Tidak terkecuali sejarah terbentuk dan perkembangan sebuah desa
telah banyak menarik perhatian dikalangan peneliti.
Adapun penelitian yang membahas tentang sejarah desa yaitu:
1.
Rinoarjo dengan judul penelitiannya “Sejarah Desa Latoma Jaya
Kecamatan Abuki Kabupaten Konawe (1997-2003)”. Dengan kesimpulan
sejarah terbentuknya Desa Latoma Jaya dari persiapan Desa Latoma
Utama yang tergabung dalam Desa Alokisa desa induk. Karena adanya
diskriminasi yang dirasakan warga Desa Latoma sehingga mereka
mengadakan musyawarah untuk rembuk kampung maka munculah ide
untuk memekarkan Desa Latoma Utama menjadi Desa Latoma Jaya.
Nama Desa Latoma Jaya itu sendiri berasal dari pokok kata Laa Toono
Manasa (ada orang asli) sehingga muncul nama Latoma.
2.
Penelitian yang dilakukan oleh Jusnawati dengan judul penelitian”Sejarah
Pembentuka Desa Wia-Wia Kecamatan Poli-Polia Kabupaten Kolaka
(1999-2003)”. Dengan kesimpulan terbentuknya Desa Wia-Wia dilatar
belakangi oleh adanya faktor pendukung yaitu luas wilayah yang
34
didukung oleh keadaan sangat mendukung bagi pengembangan pertanian
serta jumlah penduduk yang mendiami daerah tersebut, faktor sosial
budaya, sarana dan prasarana. Karena faktor pendukung tersebut telah
memenuhi kriteria atau persyaratan pembentukan suatu desa. Proses
terbentuknya Desa Wia-Wia berawal dari usaha para tokoh masyarakat
dengan mengadakan rembuk kampung (musyawarah) pada tahun 1999
maka pada tahun 2003 Desa Wia-Wia baru resmi mekar menjadi sebuah
desa.
3.
Penelitian yang dilakukajn oleh Feri Agriaan dengan judul penelitian
“Sejarah Terbentuknya Desa Lora Kecamatan Mataoleo Kabupaten
Bombana” yang menyimpulkan bahwa sejarah terbentuknya Desa Lora
berasal dari nama sebuah sungai yakni sungai lora yang merupakan satusatunya jalur yang harus dilewati umtuk menyebrang menuju Desa Pulau
Tembako desa induk.
4.
Penelitian yang dilakukanj oleh Suharni demgan judul penelitian “Sejarah
Terbentuknya Desa Kaindi Kecamatan Lainea Kabupaten Konawe
Selatan” yang menyimpulkan bahwa sejarah terbentuknya Desa kaindi
bersal dari kata kait (pancing) karena ditempat tersebut terdapat sungai
yang memiliki banyak ikan sehingga masyarakat berbondong-bondong
untuk menangkap ikan ditempat tersebut dan memberi nama desa tersebut
Desa Kaindi. Desa Kaindi merupakan pemekaran dari Desa Pamandati
(desa induk).
35
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.
Tempat Penelitian
Sesuai dengan judul penelitian ini, maka yang menjadi tempat penelitian
ini adalah Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten Muna.
B.
Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan secara bertahap dimulai dari pengumpulan sumber
yang dilaksanakan pada awal bulan Januari sampai Maret 2015, dan diakhiri
dengan penyusunan skripsi.
C.
Jenis dan Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian sejarah yang
bersifat deskritif kualitatif. Pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan
strukturis yaitu mempelajari peristiwa dan struktur dalam suatu kesatuan yang
saling melengkapi, artinya peristiwa mengandung kekuatan mengubah struktur
sosial, sedangkan struktur mengandung hambatan atau dorongan bagi tindakan
perubahan dalam masyarakat.
D.
Prosedur Penelitian
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
sejarah menurut Sjamsuddin (2007: 17). Tata kerja metode ini adalah (1)
Heuristik; (2) Verifikasi (Kritik Sumber); (3) Historiografi (Intrepretasi,
Penjelasan, dan Penyajian).
35
36
Berdasarkan tata cara prosedur diatas berturut-turut akan dikemukakan
sebagai berikut:
1.
Heuristik (Teknik Pengumpulan Data)
Peneliti berusaha untuk mendapatkan serta menghimpun data yang relevan
dengan permasalah dalam penelitian ini. Adapun tekhnik pengumpulan sumber
yang digunakan dalam penelitian ini, peneliti mengacu kepada pendapat
Kasianto (2006: 9) yaitu:
a.
Studi kepustakaan yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mengkaji
buku-buku, skripsi, maupun hasil penelitian lainnya yang relevan dengan
penelitian ini.
b.
Studi dokumen yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mengkaji
dokumen atau arsip-arsip yang ada hubungannya dengan sejarah Desa
Bone Kancitala.
c.
Studi lisan yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti
dengan wawancara kepada informan yang banyak memiliki informasi.
Melalui studi lisan maka peneliti melakukan wawancara dengan beberapa
informan yang penulis anggap memiliki pengetahuan serta pemahaman
tentang sejarah Desa Bone Kancitala.
d.
Observasi yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mengkaji bendabenda peninggalan sejarah yang ada di Desa Bone Kancitala.
2.
Verifikasi (Kritik Sumber)
37
Menurut Sjamsuddin, (2007: 130) bahwa untuk mengetahui keaslian
(otentitas) dan kebenaran (kredibilitas) data yang telah diperoleh, maka peneliti
mengadakan kritik sumber yang ditempuh dua tahap yakni kritik eksternal dan
kritik internal sehingga data yang diperoleh benar-benar akurat dan dapat
dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
1)
Kritik eksternal yaitu kritik yang dilakukan oleh peneliti terhadap sumber
data yang telah dikumpulkan baik sumber tertulis, maupun sumber lisan
untuk mengetahui dan meyelidiki keaslian bahan dari sumber data tersebut
terutama memperhatikan asal-usul sumber serta membandingkan antara
sumber yang satu dengan sumber yang lainnya. Sjamsuddin (1998: 105)
mengemukakan bahwa kritik eksternal adalah suatu penelitian atas asalusul dari sumber, suatu pemeriksaan atas catatan atau peninggalan itu
sendiri untuk mendapatkan semua informasi yang mungkin dan untuk
mendeskripsikan apakah pada suatu waktu sejak asal mulanya sumber itu
telah diubah oleh orang-orang tertentu atau tidak.
2)
Kritik internal yaitu kritik yang dilakukan untuk mendeskripsikan
kebenaran isi data yang didapat dari berbagai sumber. Arif (2009: 38)
mengemukakan bahwa kritik internal menekankan pada aspek dalam yaitu
isi dari sumber sejarah. Untuk menguji apakah sumber tersebut dapat
dipercaya kebenarannya dan ketepatannya, maka dapat dilakukan melaui
empat tahap yaitu: (1) kemampuan menyatakan kebenaran, (2) kemauan
menyatakan kebenaran, (3) keakuratan pelaporan dan, (4) dukungan
38
secara bebas dari orang lain yang juga menyaksikan peristiwa secara
langsung mengenai isi laporan yang disampaikan.
3.
Historiografi
Penyusunan data merupakan tahap akhir dari seluruh rangkaian penelitian
sejarah yakni penyusunan kisah berdasarkan data dan fakta yang diperoleh serta
telah lolos dari krtitik baik itu kritik eksternal maupun kritik internal. Dan telah
ditafsirkan atau sudah diinterpretasi. Penyusunan data dilakukan secara
kronologis dan sistematis sehingga dapat dipertanggung jawabkan secara
ilmiah.
Menurut
Sjamsuddin
(2007:
155) tahap-tahap
penulisan
sejarah
mencangkup antara lain:
a.
Penafsiran (intepretasi) adalah kegiatan yang dilakukan oleh penulis
sehingga kecenderungan untuk memasukkan ide-ide, gagasan dan
pemikiran penulis, semua data yang diperoleh dari wawancara, telaah
dokumen yang telah lolos dari analisa kritik, selanjutnya dihubungkan
atau dikaitkan satu sama lain sehingga antara fakta yang satu dengan yang
lainnya akan menjadi sebagai satu rangkaian yang masuk akal (logis),
dalam arti menunjukan kecocokan (relevansi satu sama lain). Penafsiran
dapat dilakukan dengan cara:
1)
Analisis, yaitu peneliti menguraikan isi sumber berdasarkan sumber dan
fakta yang berhasil dihimpun dan telah lolos dari kritik esternal maupun
39
kritik internal serta sudah diinterpretasikan sehingga peneliti mendapatkan
kebenaran fakta-fakta yang sesuai dengan kenyataan lapangan.
2)
Sintesis, yaitu memberikan penafsiran sumber dengan cara menghubunghubungkan antara sumber yang satu dengan sumber yang lainnya,
sehingga didapatkan fakta sejarah yang dipercaya secarai lmiah.
b.
Penjelasan (eksplanasi), setelah dilakukan penafsiran maka tahapan
berikutnya adalah eksplanasi dimana peneliti harus dapat menjelaskan
sumber-sumber
yang
berhubungan
dengan
pokok-pokok
masalah
penelitian tersebut.
c.
Penyajian (ekspose), setelah melakukan penafsiran dan penjelasan maka
tahap selajutnya adalah penyajian dimana cerita sejarah berdasarkan
interprestasi dan penjelasan berusaha menjaga mutu cerita sejarah seperti
prinsip serialisasi. Tahap ini merupakan tahap akhir dari penulisan sejarah.
Pada tahap ini sejarawan secara analis dan kritik berusaha memaparkan,
mempersatukan atau menampilkan kepada pembaca atau pemerhati
sejarah fakta-fakta yang telah didapatkan.
E.
Sumber Data Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan tiga kategori data penelitian
yaitu sebagai berikut:
1)
Sumber tertulis, yaitu data yang diperoleh dari berbagai literatur baik itu
dalam bentuk dokumen atau arsip-arsip, buku, skripsi maupun laporan
hasil penelitian tentang sejarah desa lainnya yang relevan dengan
40
penelitian ini. Sumber-sumber tersebut diperoleh dari perpustakaan daerah
Sulawesi
Tenggara,
perpustakaan
Universitas
Halu
Oleo,
serta
Perpustakaan FKIP Universitas Halu Oleo.
2)
Sumber lisan, yaitu data yang diperoleh dari tindakan pengumpulan data
melalui wawancara dengan para informan, diantaranya adalah tokoh
masyarakat, tokoh agama, serta pemerintah daerah setempat yang
mendeskripsikan tentang permassalahan yang diteliti.
3)
Sumber visual yaitu, data yang diperoleh dari hasil pengamatan mengenai
beberapa peninggalan bersejarah Desa Bone Kancitala.
41
BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A.
Keadaan Geografis
1.
Letak Dan Luas Wilayah
Desa Bone Kancitala merupakan salah satu wilayah desa di Kabupaten
Muna yang terletak disebelah barat pulau Muna yang tanahnya subur dan
sumber daya alamnya yang memungkinkan manusia untuk hidup dan bermukim
disana. Desa Bone Kancitala memiliki luas wilayah 3000 Ha. Dari luas wilayah
Desa Bone Kancitala tersebut dibagi menjadi 2 dusun yaitu dusun I dan dusun
II.
Dilihat dari teritorialnya Desa Bone Kancitala memiliki batas-batas
wilayah sebagai berikut:
a. Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Wasolangka;
b. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Matombura dan Desa Bone
Lolibu;
c. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Bone Tondo;
d. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Oelongko.
(Sumber Data: Kantor Desa Bone Kancitala Tahun 2015).
Desa Bone Kancitala dengan luas wilayah 3000 ha termanfaat sebagai
pemukiman, pembangunan, dan perkebunan. Secara rinci data pemanfaatan baik
oleh masyarakat dan pemerintahan desa ditunjukan pada tabel berikut:
41
42
Tabel 1: Luas Wilayah Desa Bone Kancitala Dan Pemanfaatannya.
No.
Pemanfaatan Wilayah
Luas (Ha)
Persentase (%)
1.
Pemukiman
500
16,67
2.
Pembangunan
500
16,67
3.
Perkebunan
2000
66,66
3000
100
Jumlah
Sumber Data: Kantor Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten
Muna Tahun 2015.
Dari tabel 1 di atas menunjukan bahwa luas wilayah Desa Bone Kancitala
adalah sebesar 3000 ha. Sebagian lahan digunakan untuk kegiatan perkebunan
yaitu sebesar 2000 ha atau sekitar 66,66%, dan sisanya digunakan untuk daerah
pemukiman masyarakat dan untuk pembangunan yaitu sebesar 500 ha atau
sekitar 16,67%.
2.
Topografi/Keadaan Alam
Keadaan alam wilayah Desa Bone Kancitala pada umunya terdiri dari
daratan tinggi dan perbukitan. Daratan tinggi merupakan daerah pemukiman
penduduk daerah pertanian dan perkebunan.
Pada lembah perbukitan
penduduk menanami jenis tanaman jangka
panjang antara lain seperti jambu mete, dan jati yang berproduksi dengan baik
yang hasilnya cukup membantu dalam meningkatkan pendapatan keluarga guna
untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan primer. Selain itu kondisi tanah di
wilayah Desa Bone Kancitala pada umunya adalah merupakan tanah yang subur
43
sehingga memungkinkan penduduk setempat dapat becocok tanam jangka
pendek antara lain seperti jagung, umbi-umbian, buah-buahan, kacang tanah dan
sayur-sayuran. Keadaan wilayah Desa Bone Kancitala juga terdapat banyak
sumber mata air. Kekayaan sumber alam seperti itu dapat dimanfaatkan sebaik
mungkin untuk kelangsungan hidup sehari-hari.
3.
Keadaan Iklim
Kecamatan Bone pada umumnya dan di Desa Bone Kancitala pada
Khususnya mempunyai iklim yang sama halnya dengan daerah lain di Indonesia
yakni beriklim tropis yang mengenal dua jenis musim yakni musim hujan dan
musim kemarau. Musim hujan biasanya terjadi pada bulan April sampai bulan
Juli setiap tahun, sedangkan musim kemarau biasanya terjadi pada bulan
0
Agustus sampai dengan bulan Maret setiap tahunnya. Suhu terandah 20 C dan
suhu tertinggi 250C sedangkan suhu rata-rata berkisar 210C-230C, serta curah
hujan rata-rata 1000/2000 mm/tahun.
Jika dilihat dari arah bertiupnya angin, maka wilayah Desa Bone Kancitala
dikenal dengan musim barat dan musim timur. Angin musim barat bertiup pada
bulan Desember sampai bulan Juni. Sedangkan angin musim timur bertiup pada
bulan Juni sampai Bulan November. Angin yang bertiup pada musim pancaroba
ini tidak menentu dan tidak terarah sehingga dapat menimbulkan arah angin
yang berputar. Hal ini sering menjadi kendala bagi masyarakat khususnya di
Desa Bone Kancitala dalam melakukan aktifitasnya khususnya yang bermata
44
pencaharian sebagai petani. (Laporan Tahunan Kepala Desa Bone Kancitala,
2014).
B.
Keadaan Demografis
1.
Jumlah Penduduk
Berdasarkan data penduduk yang ada di Kantor Desa Bone Kancitala
tampak bahwa sampai tahun 2014 jumlah penduduk yang ada di Desa Bone
Kancitala 1508 jiwa.
Tabel 2. Komposisi Penduduk Desa Bone Kancitala Menurut Tahun 2014
Jenis Kelamin
Umur (Tahun)
Jumlah Jiwa
Persentase (%)
Pria
Wanita
0-14
135
175
307
20,36
15-54
524
533
1.057
70,10
Diatas 54
77
67
144
9,54
Jumlah
701
807
1.508
100
Sumber Data: Kantor Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten
Muna Tahun 2015
Dari tabel II di atas menunjukan bahwa jumlah penduduk terbesar adalah
kelompok umur 15-54 tahun yakni sebanyak 1.057 jiwa (70,10%). Sedangkan
jumlah penduduk terkecil adalah kelompok umur diatas 54 tahun yakni
sebanyak 144 jiwa (9,54%).
45
2.
Mata Pencaharian
Pada aspek mata pencaharian penduduk yang ada diwilayah Desa Bone
Kancitala banyak yang bekerja sebagai petani, buruh tani, PNS/TNI atau Polri,
pedagang, peternak, jasa, pensiunan, pengangguran, dan lain-lain.
Tabel 3: Komposisi Penduduk Berdasarkan Sumber Mata Pencaharian
No.
Mata Pencaharian
Jumlah (Jiwa)
Persentase (%)
1.
Petani
870
82,31
2.
Buruh Tani
20
1,89
3.
Peternak
1
0,09
4.
Pedagang
12
1,14
5.
Jasa
35
3,31
6.
PNS/TNI Atau Polri
56
5,29
7.
Pensiunan
18
1,71
8.
Lain-lain
45
4,26
1.057
100
Jumlah
Sumber Data: Kantor Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten
Muna Tahun 2015
Dari tabel 3 di atas memperlihatkan bahwa penduduk ekonomi produktif
di Desa Bone Kancitala berjumlah 1057 jiwa berdasarkan tabel 3 diatas tersebut
juga tampak bahwa mayoritas jenis pekerjaan atau mata pencaharian penduduk
Desa Bone Kancitala adalah petani dengan 870 jiwa (82,31%), buruh tani 20
46
jiwa (1,89%), peternak 1 jiwa (0,09%), pedagang 12 jiwa (1,14%), jasa 35 jiwa
(3,31%), PNS/TNI atau Polri 56 jiwa (5,29%), pensiunan 18 jiwa (1,71%), dan
lain-lain 45 jiwa (4,26%) dari keseluruhan jumlah ekonomi produktif di Desa
Bone Kancitala.
C.
Keadaan Sosial Budaya
1.
Agama
Agama adalah suatu tatanan yang mengatur hubungan antara manusia
dengan Allah SWT, juga mengatur hubungan antara sesama manusia atau
makhluk hidup lainnya yang mendiami bumi.
Sebagaimana diketahui bahwa bangsa indonesia menerima agama islam
dengan dasar kesadaran tanpa adanya paksaan walaupun sering terjadi
pertentangan,
tetapi
pertentangan
tersebut
dapat
diselesaikan
dengan
perdamaian dan kerukunan. Sehingga ajaran agama islam berpengaruh cepat
terhadap sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia, termaksud masyarakat
yang ada di Desa Bone Kancitala.
Jika dilihat dari segi agama yang dianut masyarakat Desa Bone Kancitala
mayoritas beragama Islam. Berdasarkan data penelitian yang ditemukan
dilokasi penelitian bahwa dari keseluruhan penduduk di Desa Bone Kancitala
100% menganut Agama Islam. Syariat-syariat Islam di dalam masyarakat ini
sangat dijunjung tinggi dan merupakan cermin dalam kehidupan sehari-hari.
Fasilitas yang ada di Desa Bone Kancitala terdiri dari satu buah masjid sebagai
tempat pelaksanaan shalat dan kegiatan ritual-ritual keagamaan lainnya.
47
2.
Bahasa
Bahasa merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari,
karena tanpa bahasa manusia tidak dapat berkomunikasi antara satu dengan
yang lainnya dan bahasa yang digunakan masyarakat Desa Bone Kancitala
adalah bahasa Indonesia dan bahasa Muna.
3.
Fasilitas Pemerintah dan Fasilitas Umum
a.
Perkantoran: Kantor Desa, Balai Desa, Puskesmas, Kantor Camat.
b.
Pasar dan Air Bersih.
Pada dasarnya manusia dalam eksistensinya selalu cenderung untuk
melangsungkan hidupnya dengan berdasarkan pada potensi yang ada pada diri
dan lingkungannya, sistem ekonomi dipilih sebagai salah satu unsur
kebudayaan banyak ditentukan oleh faktor geografis dan penduduk daerah
setempat.
Begitu pula dengan keadaan ekonomi di Desa Bone Kancitala sangat
ditunjang oleh faktor geografisnya terutama kondisi alamnya yang merupakan
daerah dataran dan subur, karena itu masyarakat Desa Bone Kancitala banyak
berkecimpung dibidang pertanian. Berbagai jenis tanaman segera ditanam baik
tanaman jangka pendek seperti jagung, umbi-umbian, kacang tanah, dan sayursayuran serta buah-buahan, dan tanaman jangka panjang seperti jambu mente,
kelapa, jati, dan lain-lain.
Ditinjau dari segi geografisnya Desa Bone Kancitala merupakan ibu kota
Kecamatan Bone. Kenyataan ini menyebabkan masyarakat tidak mengalami
48
kesulitan dalam aktivitas perdagangan terutama bila ingin memasarkan hasilhasil pertanian atau ingin mendapatkan peralatan bagi pengembangan usahausaha mereka.
Lancarnya berbagai aktivitas dalam berbagai bidang, baik dalam bidang
pertanian, maupun usaha-usaha yang lain menyebabkan kondisi perekonomian
Desa Bone Kancitala ini cukup maju.
4.
Pendidikan
Dalam melaksanakan pembangunan, sektor pendidikan memegang
peranan penting. Hal ini di akui karena berhasil tidaknya pelaksanaan
pembangunan adalah tergantung dari tingkat pendidikan masyarakatnya.
Dengan adanya pendidikan yang memadai, maka akan meningkatkan
keterampilan penduduk khususnya dalam hal pemenuhan kebutuhan, sehingga
dapat tercipta masyarakat sejahtera sehingga dalam pergaulan sehari-hari dapat
terjalin suatu hubungan sosial yang baik di dalam masyarakat.
Pendidikan juga merupakan tolak ukur keberhasilan seseorang untuk
meningkatkan taraf hidupnya, karena semakin tinggi jenjang pendidikan yang
telah ditempuh maka kualitas sumber daya manusia meningkat pula. Fasilitas
pendidikan yang ada di Desa Bone Knacitala adalah sebagai berikut:
a. Taman Kanak-Kanak
: 1 unit
b. Sekolah Dasar
: 1 unit
c. Sekolah Menengah Pertama
: 1 unit
d. Sekolah Menengah Atas
: 1 unit
49
Tabel 4. Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2014
No.
Tingkat pendidikan
Jumlah
Persentase (%)
1.
Belum Sekolah
50
3,31
2.
Tidak Sekolah
98
6,49
3.
Tamat SD
246
16,32
4.
Tamat SMP
435
28,85
5.
Tamat SMA
544
36,08
6.
Diploma/Sarjana
135
8,95
1.508
100
Jumlah
Sumber Data: Kantor Dessa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten
Muna Tahun 2015
Berdasarakan tabel di atas, menunjukan bahwa tingkat pendidikan di Desa
Bone Kancitala yang tamat SMA paling dominan diantara tingkat pendidikan
yang lain yaitu sebanyak 544 jiwa dari seluruh jenjang pendidikan, selanjutnya
diikuti yang tamat SMP sebanyak 435 jiwa.
Berdasarkan wawancara di lapangan, tingkat pendidikan di Desa Bone
Kancitala sudah semakin membaik dengan adanya peran langsung dari orang
tua siswa dan siswi yang sadar akan pentingnya pendidikan. Sehingga tahun
2009-2014 sudah dicanangkan beberapa siswa yang sudah tamat SMA yang
kurang mampu untuk melanjutkan kejenjang perguruan tinggi agar masih tetap
sekolah dengan dibantu dalam pengurusan beasiswa dari pihak sekolah maupun
50
kampus. Di Desa Bone Kancitala ada beberapa yang lulus program Bidikisi dan
Beasiswa BBM ataupun PPA (La Deta S.Pd., M.Pd, Wawancara 8 Februari
2015).
5.
Lembaga Kemasyarakatan
Lembaga kemasyarakatan Desa Bone Kancitala terdiri dari LPMD
(Lembaga
Pemberdayaan
Masyarakat
Desa),
PKK
(Pemberdayaan
Kesejahteraan Keluarga), RK (Rukun Kampung), Organisasi Kepemudaan dan
Organisasi Keagamaan. Masing-masing lembaga ini dibentuk berdasarkan surat
keputusan Kepala Desa dan beralamat di Desa Bone Kancitala, serta
mempunyai pengurus yang berassal dari masyarakat berdasarkan potensinya
masing-masing. Masing-masing lembaga ini mempunyai ruang lingkup
kegiatan atau program kerja yang tujuannya untuk pembangunan desa.
6. Lembaga Adat
Lembaga adat Desa Bone kancitala diurus oleh pemangku adat atau
pengurus adat. Adapun jenis kegiatannya berupa musyawarah adat, upacara adat
perkawinan, upacara adat kematian, upacara adat kelahiran, upacara adat
bercocok tanam, upacara adat dalam pembangunan rumah, dan upacara adat
dalam penyelesaian masalah atau konflik. Semua upacara ini dilakukan pada
masa-masa tertentu sesuai dengan jenis kegiatannya.
51
7.
Lembaga Keamanan
Lembaga keamanan Desa Bone Kancitala meliputi Hansip dan Linmas
yang bekerja sama dengan TNI dan POLRI. Para Hansip dan Linmas ini juga
biasanya bekerja pada saat pemilu raya dan hari-hari penitng lainnya.
52
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Proses Terbentunya Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten
Muna
Dalam membahas tentang terbentuknya Desa Bone Kancitala Kecamatan
Bone Kabupaten Muna tidak terlepas kaitannya dengan latar belakang
sejarahnya. Sebagai mana yang dikemukakan oleh La Sanihu S.Ag (Wawancara
2 Februari 2015) bahwa sebelum terbentuknya menjadi sebuah desa, Desa Bone
Kancitala merupakan hutan belantara yang non fungsi.
Awal perintisan
terbentuknya Desa Bone Kancitala yaitu pada tahun 1930 oleh Bapak Abdulllah
yang diberi gelar Yaro Aweli. Abdullah merupakan salah satu penasehat
pemerintah di Kecamatan Katongku (Kabawo Tongkuno), dan merupakan calon
Bonto Balano atau pengatur pemerintahan bersama La Nii.
Pemilihan pada saat itu dimenangkan oleh La Nii dan Abdullah memilih
untuk meninggalkan Kecamatan Katongku dan membuka perkampungan baru.
Awal kedatangnnya di Bone Kancitala mereka tiba secara berkelompok, yang
mana nama kelompoknya berdasarkan tempat atau lokasi yang mereka tempati
seperti kelompok Kampiri, kelompok Wamoose, kelompok Lakalopo,
kelompok Oebari, dan kelompok Oeawano. Dimana kelompok ini merupakan
orang-orang dari lingkungan Kabone-bone dan lingkungan pemerintahan
Kancitala (La Sanihu, S.Ag Wawancara 2 Februari 2015).
52
53
Abdullah beserta rombongan tiba di Desa Bone Kancitala pada tahun
1930. Pada saat itu Desa Bone Kancitala masih merupakan sebuah hutan
belantara yang non fungsi. Setelah membuka lahan baru Abdullah beserta
rombongan mulailah membangun sarana dan prasarana yang mendukung untuk
menjalankan sebuah pemerintahan seperti membangun rumah, membuka jalan,
dan lain sebagainya. Setelah membangun semua sarana dan prasarana maka
Abdullah menjadi Kepala RK pertama kampong Bone Kancitala Seiring
berjalannya waktu jumlah penduduk Kampung Bone Kancitala semakin
berkembang sehingga lahan pemukiman pun semakin diperluas. Pada tahun
1931 Belanda datang di Desa Bone Kancitala namun bukan dalam menjalankan
misi pemerintahan tetapi dalam misi menyebarkan agama Katolik. Kedatangan
warga Belanda inipun membawa dampak yang baik bagi warga Kampung Bone
Kancitala pada waktu itu, hal ini dapat dilihat bahwa pada tahun 1932 Belanda
mendirikan sebuah sekolah yang sekarang dikenal dengan SD Negeri 1 Bone.
(Marwan S.E Wawancara 3 Februari 2015 ).
Mengenai sejarah pemberian nama Desa Bone Kancitala, pada masa
kepemimpinan Abdullah Desa Bone Kancitala Belum memiliki nama, nanti
setelah beliau wafat pada tahun 1935 dan digantikan oleh La Tajuwia barulah
perkampungan yang dibuka oleh Abdullah memiliki nama. Bone Kancitala
berasal dari dua suku kata yaitu Bone dan Kancitala.
Berdasarkan hasil wawancara dengan H. La Ngkodaga S.Ag (4 Februari
2015). Desa Bone Kancitala diberi nama oleh La Tajuwia yaitu Bone diambil
54
dari nama kampung kakeknya Aro Tek’ko yaitu Bone Selatan dan Kancitala
diambil dari nama lingkungan pemerintahan di Kecamatan Kabawo yaitu
Kancitala, maka diberilah nama Kampung Bone Kancitala pada kepemimpinan
La Tajuwia yang diberi gelar Yaro Bone pada tahun 1935.
Setelah kepemimpinan La Tajuwia (Yaro Bone) berakhir maka beliau
digantikan oleh La Siladja (Yaro Namisi). Pada masa kepemimpinan La Siladja
warga Kampung Bone Kancitala sangat menderita, hal ini dikarenakan beliau
memimpin dengan semenah-menah, beliau tdak mementingkan kepentingan
warganya. La Siladja hanya mementingkan kepentingan dirinya tanpa
memperhatikan masyarakatnya. Itu sebabnya kenapa masayarakat Kampung
Bone Kancitala memberi beliau gelar Yaro Namisi.
Selama masa kepemimpinan La Sladja tidak memberikan sumbangan
pembangunan untuk Kampung Bone KAncitala sehingga Bone Kancitala tidak
mengalami perkembangan pada saat kepemimpinanya.
Setelah kepemimpinan La Siladja berakhir maka beluiau digantikan oleh
La Ode Ntao (Kino Bone), pada masa kepemimpinannya Kampung Bone
Kancitala
sedikit
membaik
jika
dibandingkan
dengan
pada
waktu
kepemimpinan La Siladja. Hal ini sedikit mengobati luka warga Kampung Bone
Kancitala yang telah digoreskan oleh La Siladja. Inilah sebabnya La Ode Ntao
diberi gelar Kino Bone.
Setelah masa kepemimpinan La Ode Ntao berakhir (Kino Bone) berakhir,
beliau digantikan oleh La Ngkino (Yaro Bone). Pada masa kepemimpinanya
55
keadaan Bone Kancitala kembali membaik seperti sedia kala pada masa
kepemimpinan Abdullah dan La Tajuwia. Oleh sebab itu warga Kampung Bone
Kancitala memberinya gelar Yaro Bone.
Setelah masa kepemimpinan La Ngkino (Yaro Bone)Beliau digantikan
oleh La Adji (Kepala Bone) dan kepala RK terakhir La Mbona (Yaro Setuju).
1.
Asal-Usul Penduduk Desa Bone Kancitala
Sebagai awal keberadaan manusia sebagai makhluk sosial bersifat
dinamis, dalam arti selalu melakukan berbagai cara dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya dan mempertahankan kelangsungan hidup generasinya, sebagai akibat
dari adanya berbagai aktifitas tersebut maka akan terjadi suatu perkembangan
kehidupan masyarakat terutama dari segi bertambahnya jumlah penduduk yang
menghuni daerah tertentu khususnya daerah Desa Bone Kancitala.
Penduduk Desa Bone Kancitala berasal dari penduduk Desa Kabone-bone
dan Kancitala yang berada di dalam lingkup Kecamatan Katongku. Katongku
merupakan kecamatan pertama yang ada di Kabupaten Muna. Berdasarkan
wawancara bersama bapak La Fentangi (5 Februari 2015) bahwa masyarakat
Desa Bone Kancitala berasal dari Kecamatan Katongku (Kabawo Tongkuno).
Awal kedatangan orang-orang Kabone-bone dan Kancitala dikarenakan
pada saat itu di Kecamatan Katongku sedang ada pemilihan Bonto Balano yang
dimana calonnya itu ada dua yaitu Abdullah dan La Nii, dikarenakan pemilihan
dimenangkan oleh La Nii maka Abdullah memilih untuk keluar dari Kecamatan
Katongku dan mencari lahan kosong untuk membentuk pemerintahan sendiri
56
dan dibawalah beberapa warga dari Kabone-bone dan Kancitala (H. La
Ngkodaga S.Ag Wawancara 4 Februari 2015).
Seiring berjalannnya waktu Desa Bone Kancitala tidak hanya dihuni oleh
Suku Muna akan tetapi pada tahun 2007 Desa Bone Kancitala kedatangan
masayarakat imigrasi dari Masyarakat Jawa Timur. Kedatang masyarakat Jawa
timur ini dikarenakan diderah asal mereka terjadi bencana alam lumpur lapindo,
maka dari itu sebagian daerah jawa timur tenggelam akibat lumpur lapindo
tersebut, maka sebagian besar masyarakatnyapun melakukan imigarasi di
berbagai daerah yang ada di Indonesia termaksud Desa Bone Kancitala
Kecamatan Bone Kabupaten Muna.
2.
Pembentukan Desa Bone Kancitala
Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bermukim suatu masyarakat
yang berkuasa dan masyarakat tersebut mengadakan pemerintahannya sendiri
dan dikepalai oleh seorang kepala desa. Desa merupakan masyarakat hukum
yang memiliki batas-batas wilayah yang berwewenang untuk mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat
istiadat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Berbicara masalah sejarah maka kita dapat melihat kejadian-kejadian
dimasa lampau. Asal mula terbentuknya Desa Bone Kancitala berawal dari
pemilihan Bonto Balano di Kecamatan Katongku. Dimana pada pemilihan
Bonto Balano tersebut Abdullah dan La Nii merupakan calon dari Bonto ,
57
Balano. Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwasanya pemilihan Bonto
Balano dimenangkan oleh La Nii maka Abdullah memilih keluar dan mencari
lahan baru untuk membuka sebuah perkampungan dan mengatur sendiri
pemerintahannya.
Pada awal perintisannya tahun 1930 oleh Abdullah beserta rombongan
Desa Bone Kancitala masi berstatus Kampung atau mino (setara dengan desa)
serta pemerintahannya dipimpin oleh kepala RK dan masi bertempat di
kampung lama. Kedatangan Pastur Belanda pada tahun 1931 memberikan
dampak posotif bagi warga Kampung Bone Kancitala, pastur mendirikan
sebuah sekolah yang sekarang dikenal dengan SD Negeri 1 Bone pada tahun
1932 setelah 1 tahun kedatangannya di Kampung Bone Kancitala.
Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sebagian besar masyarakat
Kampung Bone Kancitala mencari nafkah dengan cara berkebun. Perkebunan
jangka pendek yang menjadi komoditi perkebunan mayarakat Kampung Bone
Kancitala adalah jagung, kacang-kacangan, sayur-sayuran dan lain-lain. Jangka
panjang yang menjadi komoditi utama masyarakat Kampung Bone Kancitala
yaitu jati, jambu mente, kakao, dan lain-lain.
Dengan pertumbuhan jumlah penduduk, perkembangan jumlah penduduk,
perkembangan infrastruktur, perkembangan pendidikan, dan bertambahnya luas
wilayah yang mendudukung untuk terbentuknya sebuah desa, maka pada tahun
1965 RK Bone Kancitala mulai mengadakan musyawarah untuk membentuk
sebuah desa baru.
58
Setelah
melalukan
musyawarah
dan
akhirnya
menemui
sebuah
kesepakatan anatara semua pemerintah RK Bone Kancitala, maka ditemuliah
sebuah kesepakatan bahwa mereka ingin membentuk Desa. Selain kesepakatan
untuk membentuknya sebuah desa, kesepakatan yang lain yaitu mereka ingin
membuka lahan baru dan pindah dari tempatnya yang lama. Hal ini dikarenakan
di kampung lama sangat kekurangan sumber daya alam dan sempitnya lahan
pemukiman sehingga para pemuka adat, agama dan tokoh massyarakat serta
para pengatur pemerintahan sepakat untuk membuka lahan baru.
Pertumbuhan penduduk yang dialami oleh warga masyarakat RK Bone
Kancitala maka pada tahun 1965 Bone Kancitala resmi menjadi sebuah desa,
setelah resmi menjadi sebuah desa maka pada saat itulah Desa Bone Kancitala
masuk pada wilayah Kecamatan Kabawo. Desa Bone Kancitala mulai ada
perencanaan pembentukan desa dimulai pada tahun 1965 dan pada tahun yang
sama pun Desa Bone Kancitala resmi menjadi sebuah desa. Pada tahun 1967
lokasi Desa Bone Kancitala dipindahkan ke kampung baru atau yang dikenal
dengan Desa Bone Kancitala yang sekarang. Hal ini disebabkan karena di
kampung lama masyarakatnya sangat kesusahan untuk memperoleh mata air,
tanhnya yang kuarng subur, dan lahannya yang sangat sempit oleh karena itu
maka lokasi pemukiman dipindahkan ke kampung baru. Dengan berbagai upaya
keras yang dilakukan oleh para tokoh masyarakat dan tokoh agama serta para
aparat desa mengusahakan dan berjuang untuk membentuk sebuah desa seiring
dengan kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah dalam rangka pengembangan
59
dan pemekaran wilayah. Karena jika dilihat dari kondisi wilayah dan geografis
Desa Bone Kancitala yang sebagian besar wilayahnya adalah daratan dan
memiliki tanah yang sangat subur sehingga memungkinkan untuk bercocok
tanam maka wilayah Desa Bone Kancitala cukup layak dijadikan untuk tempat
hunian. Masyarakat yang mendiami daerah Bone Kancitala makin hari makin
banyak menyebabkan masyarakat merintis untuk pembentukan sebuah desa
dengan salah satu tokoh utamanya adalah Bapak Rosiman Tawib yang sangat
menginginkan adanya pembentukan desa agar masyarakatnya dapat berkreasi
dengan pertanian yang merupakan andalan mata pencaharian dalam memberi
kelangsungan hidup masyarakat di daerah tersebut (La Fentangi wawancara, 5
Februari 2015).
Persyaratan pembentukan sebuah desa sudah sepenuhnya dimiliki oleh
Desa Bone Kancitala seperti, jumlah penduduk, luas wilayah, sosial budaya dan
kehidupan masyarakatnya. Sehingga memudahkan pembentukan Desa Bone
Kancitala dengan diprakarsai oleh tokoh-tokoh masyarakat. Adapun uraian
persyaratan pembentukan suatu desa adalah sebagai berikut:
a.
Faktor Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk merupakan salah satu faktor yang sangat mendukung
terbentuknya desa, kriteria atau persyaratan minimal jumlah penduduk harus
memenuhi persyaratan, sebagaimana peraturan dalam pembentukan satu desa
bahwa jumlah penduduk seharusnya minimal 400 jiwa dan maksimal 1000 jiwa
khusunya untuk daerah Sulawesi, dalam pembentukan desa” pada tahun 1965
60
tersebut Desa Bone Kancitala, dimana pada tahun tersebut Desa Bone Kancitala
telah resmi menjadi sebuah Distrik dengan jumlah penduduk 1115 jiwa
(Marwan S.E Wawancara 3 Februari 2015).
b.
Faktor Luas Wilayah
Dukungan faktor luas wilayah dalam rangka pelaksanaan pemerintahan
baik ditingkat negara, provinsi, kabupaten, kecamatan maupun ditingkat desa
atau kelurahan merupakan suatu hal yang sangat penting, luas wilayah Desa
Bone Kancitala secara keseluruhan 3.000 Ha. Demikian pula halnya dengan
latar belakang terbentukya Desa Bone Kancitala dengan kondisi wilayah beserta
potensi yang ada didalamnya karena pertimbangan yang cukup strategis
sehingga memungkinkan mudahnya berhubungan antara pemerintah Desa Bone
Kancitala dan pemerintah Kabupaten bahkan dengan pemerintah provinsi yang
dimana Desa Bone Kancitala yang tadinya hanya sebuah kampung yang masi
berstatus rukun kampung dan mampu berdiri sebagai sebuah desa.
c.
Faktor Sosial
Faktor sosial merupakan faktor pendukung pembentukan suatu desa.
Melalui kegiatan pembangunan dalam bidang sosial diharapkan antara
masyarakat yang ada di Desa Bone Kancitala baik suku yang ada di dalamnya
maupun pemerintah
yang terjalin
hubungan
yang harmonis,
hormat
menghormati, guna dalam menciptakan suasana yang harmonis dan kondusif
sehingga dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat yang
ada di Desa Bone Kancitala. Kegiatan pembangunan dalam bidang sosial di
61
Desa Bone Kancitala sudah terwujud sebelum Desa Bone Kancitala definitif,
pembangunan yang dimaksud seperti melalui saluran-saluran organisasi sosial.
Organisasi sosial tersebut dimaksudkan sebagai wadah untuk menghimpun para
warga masyarakat seluruh potensi yang dimiliki oleh daerah setempat, sehingga
dikenal dengan sistem budaya pokadulu (gotong royong) yang masih tetap
terwujud kelestariaanya hingga sekarang ini, yang diwujudkan dengan bentuk
kerja sama, baik antara pemerintah maupun dengan anggota masyarakat
setempat yang saling mendukung dalam perjuangan pembentukan Desa Bone
Kancitala. Sistem budaya pokadulu (gotong royong) sering dilakukan ada
kegiatan-kegiatan apa saja dalam lingkup Desa Bone Kancitala sehingga
terwujud hubungan timbal balik yang harmonis dalam lingkup Desa Bone
Kancitala (La Sanihu S.Ag Wawancara, 2 Februari 2015).
d. Faktor Budaya
Desa Bone Kancitala memiliki nilai budaya yang sangat tinggi. Faktor
budaya juga merupakan factor pendukung terbentuknya suatu desa dimana
masyarakat setempat memiliki kekerabatan yang sangat menonjol tidak akan
hilang sampai sekarang. Sistem kekerabatan ini di pegang teguh oleh
masyarakat Desa Bone Kancitala. Dengan adanya sistem kepercayaan yang
sangat menonjol di desa tersebut yaitu masyarakat Desa Bone Kancitala sangat
memperingati hari2 besar keagamaan dan ritual adat sepeerti kataghomi (tolak
bala), serta kaago-ago dalam membuka lahan baru. Dengan adanya hari-hari
besar keagamaan ini, masyarakat Desa Bone Kancitala dalam mengerjakan
62
pekerjaan mereka selalu pokaowa (gotong royong) supaya pelaksanaan tolong
menolong ini dilaksanakan dengan ssecara cepat dan tepat. Pokaowa ini
merupakan sebuah sistem kekerabatan masyarakat dalam memberikan hadiahhadiah kepada penduduk lain atau saling meberikan hadiah dalam berbagai
kegiatan kemasyarakatan baik formal maupun informal. Pada malam jum’at
masyarakat Desa Bone Kancitala pada umumnya mengadakan tahilan atau
yasinan di masjid. Masyarakat Desa Bone Kancitala sangat berpegang teguh
atau menghormati nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat.
3.
Proses terbentuknya Desa Bone Kancitala
Awal pembentukan Desa Bone Kancitala terlebih dahulu diadakan:
a. Rembuk kampung bersama para tokoh-tokoh masyarakat, sebelum
mengusulkan pembentukan Desa Bone Kancitala (maksudnya
mengadakan musyawarah dan perundingan antara para tokoh
masyarakat untuk mengadakan pengusulan pembentukan Desa Bone
Kancitala).
b. Konsep perundigan, maksudnya setelah adanya kesepakatan antara
tokoh masyarakat mereka mengambil suatu kesimpulan untuk
menunjuk salah seorang yang dapat dipercaya untuk mewakili dalam
mengusulkan permohonan pembentukan desa kepada pemerintaha (H.
La Ngkodaga
S. Ag Wawancara 4 Februari 2015).
Demikian gambaran tentang proses pembentukan Desa Bone Kancitala
melalui usaha tokoh masyarakat peranan pemimpin sosial serta peranan tokoh
63
agama. Sehingga pada tahun 1695 Desa Bone Kancitala dibentuk secara resmi
seiring dngan kebijakan yang ditempuh dalam rangka pengembangan dan
pemekaran wilayah.
B.
Perubahan Status Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten Muna
Pada awal pembentukannya Desa Bone Kancitala yaitu pada tahun 1930
masih berstatus Rukun Kampung (Mino) dari Kecamatan Kabawo. Setelah
Kabawo memekarkan diri dari Kecamatan Katongku yaitu menjadi Kecamatan
Kabawo yaitu pada tahun 1965 maka status Bone Kancitala pun ikut berubah
menjadi desa, dimana yang tadinya merupakan RK Bone Kancitala. (Marwan
S.E Wawancara 3 Februari 2015).
Dimekarkannya Kecamatan Kabawo dari Kecamatan Induk Katongku
maka Rukun Kampung Bone Kancitala menjadi Desa Bone Kancitala. Akan
tetapi perubahan status Desa Bone Kancitala ini bukan semata-mata hanya
karna dimekarkannya Kecamatan Kabawo, hal lainnya yang mendukung
perubahan status ini karena jumlah penduduk yang semakin hari semakin
banyak yang sudah memenuhi syarat untuk menjadi sebuah desa serta syaratsyarat yang lainnya yang telah memenuhi untuk terbentuknya sebuah desa baik
itu dari banyaknya jumlah penduduk, faktor ekonomi, sosial dan budaya, dan
lain-lain (La Fentangi, Wawancara 5 Februari 2015).
Pada tahun 1986 dimekarkan Kecamatan Parigi yang memisahkan diri
dari kecamatan induknya yaitu Kecamatan Kabawo, maka Desa Bone Kancitala
pun ikut masuk dalam wilayah Kecamatan Parigi. Pada tahun 1986 Desa Bone
64
Kancitala banyak menunjukan kemajuan baik itu dalam bidang ekonomi,
pendidikan, sosial, politik, dan lain-lain. Pada tahun ini juga Desa Bone
Kancitala untuk yang pertama kalinya melakukan pemilihan kepala desa
(Pilkades) dalam menentukan Kepala Desa, dari sekian banyaknya calon maka
terpilihlah La Sanihu S.Ag menjadi kepala desa yang pertama (H. La Ngkodaga
S.Ag Wawancara 4 Februari 2015).
Dimasa kepemimpinan Bapak La Sanihu S.Ag Desa Bone Kancitala
banyak menunjukan kemajuan yang sangat signifikan bila dibandingkan desadesa lainnya yang ada disekitarnya mulai dari perkembangan politik, ekonomi,
sosial dan budaya serta infrastruktur dan lain-lain.
Pada tahun 2008 Desa Bone Kancitala memekarkan dirinya menjadi
sebuah kecamatan namun ibukotanya masih bertempat di Desa Marobo, nanti
pada tahun 2009 setelah kebijakan dari pemerintah Pusat Kabupaten Muna
maka Desa Bone Kancitala ressmi menjadi kematan tersendiri dan yang menjadi
Ibu Kota Kecamatan Bone yaitu Desa Bone kancitala. Dimana Kecamatan Bone
mencakup Desa Bone Kancitala, Oelongko, Bone tondo, Matombura, dan Bone
Lolibu (Muslimin, Wawancara 6 Februari 2015).
Hampir semua kegiatan kecamatan serta pusat pemerintahan Kecamatan
di lakukan di Desa Bone Kancitala mulai dari pembangunan infra struktur,
kelengkapan pemerintahan, pembangunan dibidang pendidikan seluruhnya
difokuskan di Desa Bone Kancitala.
65
C.
Perkembangan Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten Muna
Salah seorang informan (Muslimin, Wawancara 6 Februaru 2015)
mengatakan bahwa, setiap manusia yang menempati suatu hunian dalam hal ini
dsa pada umumnya mempunyai cita-cita dan tekad untuk meningkatkan prestasi
hidup. Hal ini pada prisipnya timbul dalam diri manusia atau seseorang karea
adanya rasa kekurangan terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup
sehari-hari. Dengan dasar kekurangan dari kebutuhan hidup, maka manusia
terdorong untuk berusaha dan terarah dengan sadar guna mencapai tujuannya.
Pada saat tujuan tercapai berarti telah terjadi kondisi keseimbangan dalam
diri seseorang baik dalam pemenuhan kebutuhan fisiologis maupun psikologis.
Perkembangan Desa Bone Kancitala dapat dilihat dari beberapa aspek,
diantaranya perkembangan ekonomi, perkembangan politik, perkembangan
pemerintahan umum, perkembangan infrastruktur, dan perkembangan dalam
bidang pendidikan. Melihat penjelasan diatas, setelah sekian lamanya
masyarakat mendiami Desa Bone Kancitala maka nampak perkembangan
kehidupan mereka. Maka untuk lebih jelasnya akan dideskripsikan dalam
beberapa pejelasan berikut.
1.
Perkembangan Ekonomi
Ekonomi pedesaan diperoleh berdasarkan hasil prosuksi dari daerah
pedesan biasanya masih bersifat tradisional. Sebagaimana yang tertuang dalam
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 bahwa pendapan desa bersumber dari:
pendapatan hasil desa terdiri dari atas hasil usaha, hasil asset, swadaya dan
66
partisipasi, gotong royong, dan lain-lain pendapatan asli desa, alokasi Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara, bagian dari hasil pajak daerah dan retribusi
daerah Kabupaten/Kota, alokasi dana desa yang merupakan bagian dari dana
perimbangan yang diterima Kabupaten/Kota, bantuan keuangan dari Angaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi dan Anggaran Pendapatan Dan
Belanja Daerah Kabupaten/Kota, hibah dan sumbangan yang tidak mengikat
dari pihaka ketiga, dan lain-lain pendapatan desa yang sah. Perkembangan
ekonomi Desa Bone Kancitala dapat diuraikan sebagai berikut ini:
Tabel 5: Sumber Penerimaan Desa Bone Kancitala 2015
Tahun
Sumber Penerimaan
No.
Dana
2012
2013
2014
1.
Pajak
6.500.663
7.500.686
11.096.989
2.
Penetapan APPDK
13.000.000
8.000.000
11.000.000
3.
Block Grand
50.000.000
25.000.000
50.000.000
4.
DPDK/ADD
15.000.000
17.000.000
20.000.000
Sumber Data: Kantor Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten
Muna 2015
Dari tabel tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa sumber penerimaan
Desa Bone Kancitala tahun 2012-2014 berasal dari pajak, APPDK,
DPDK/ADD. Penerimaan pajak dari tahun 2012 mengalami peningkatan.
Penerimaan APPDK dari 2012-2014 mengalami penurunan. Block Grand
adalah dana APBD Provinsi dan besaran dana tiap tahun bisa berubah sesuai
67
dengan kebijakan pemerintahan Provinsi Sulawesi Tenggara. DPDK/ADD
adalah dana pembangunan desa yang bersumber dari pemerintahan daerah,
besaran dana tiap tahun bisa berubah sesuai dengan kebujakan pemerintah
Kabupaten Muna.
Sementara itu, data untuk tahun selanjutnya belum diketahui. Pada
kesempatan ini, akan diuraaikan tentang kondisi ekonomi masyarakat, mulai
dari mata pencaharian, paendapatan, kekayaan, asset, dan lain-lain. Pada aspek
mata pencaharian, masyarakat Desa Bone Kancitala terdiri dari petani, PNS,
wirausaha, peternak, pedagang, buruh tani, jasa, dan lain-lain. Berdasarkan data
desa tahun 2014, kelompok mata pencaharian yang terbanyak adalah petani.
Namun seiring berjalannya waktu, terkadang pekerjaan masyarakat tidak
menentu sehingga bisa mereka menjalankan dua pekerjaan. Dalam hal ini petani
yan dimaksud bisa saja mempunyai pekerjaan lain diluar dari itu misalnya
berdagang atau melakukan pekerjaan lainnya. Kemudian disusul oleh kelompok
buruh tani (Profil Desa Bone Kancitala).
Penguasaan asset ekonomi masyarakat Desa Bone Kancitala adalah
sebagai berikut: peumahan Desa Bone Kancitala terdiri dari rumah tembok,
rumah kayu, rumah dengan lantai keramik, rumah dengan atap seng, dan rumah
dengan atap asbes. Pemilikan aset ekonomi lainnya yaitu terdiri yaitu keluarga
yang memiliki TV dan alat elektronik lainnya, sepeda motor, mobil, memiliki
ternak besar, terak kecil, memiliki emas dan memilki sertifikat tanah.
68
Dari penjelasan diatas, kita dapat melihat bahwa pada umunya keluarga di
Desa Bone Kancitala meupakan keluarga sejahtera. Namun juga ada keluarga
yang pra sejahtera, dan miskin.
2.
Perkembangan Politik
Pemerintah merupakan sekelompok orang yang secara bersama-sama
memilkul tanggung jawab terbatas untuk menggunakan kekuasaan. Pemerintah
desa adalah kepala desa atau yang disebut denga nama lain perangkat desa
sebagai unsur pnyelenggara pemerintah desa sebelum dipimpin oleh kepala desa
Bone Kancitala dipimpin oleh kepala RK yaitu Abdullah (yaro aweli), La
Tajuwia (yaro bone), La Siladja (yaro namisi), La Ode Ntao (kino bone), La
Ngkino (yaro bone), La Adji (kepala bone), dan La Mbona (yaro setuju).
Adapun perkembangan pemerintah Desa Bone Kancitala dapat dilihat pada
tabel berikut ini.
69
Tabel 6: Nama-Nama Kepala Desa Bone Kancitala
Nama Kepala
No.
Periode
Keterangan
Desa
1.
1967-1975
Rosiman Tawid
Hasil Musyawarah (Aklamaasi)
2.
1975-1975
La Tarigu
Hasil Musyawarah (Aklamaasi)
3.
1975-1982
Mokodompit
Hasil Musywarah (Aklamaasi)
4.
1983-1994
La Sanihu S. Ag
Hasil Pilkades (Pilkades Pertama)
5.
1994-2001
Majid
Hasil Pilkades (Pilkades Kedua)
6.
2001-2007
La Ndiaga S. Ag
Hasil Pilkades (Pilkades Ketiga)
7.
2007-2012
Samirudin
Hasil Pilkades (Pilkades Keempat)
Muslimin
Hasil Pilkades (Pilkades Kelima)
20138.
Sekarang
Sumber Data: Kantor Kepala Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone
Kabupaten Muna 2015.
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dalam peerkembangan politik
Desa Bone Kancitala diawali dengan huru-hara persiapan pembentukan desa
hingga terbentuknya sebuah desa definitif yaitu desa yang sudah pasti dan
bukan sementara. Kemudian disusul dengan pemilihan kepala desa dan dan
penetapan kepala desa yang definitif. Setelah adanya kepala desa maka
dimulailah pelaksanaan pemerintahan yang mempunyai hak otonomi dan begitu
seterusnya.
70
Perkembangan politik di Desa Bone Kancitala juga dapat dilihat dari awal
terbentuknya desa tahun 1965, ditandai dengan penunjukan pelaksana Kepala
Desa Bone Kancitala Bapak Rosiman Tawid, dalam hal ini sementara dalam
persiapan menjadi desa Definitif. Setelah melihat perkembangan kurang lebih
dua tahun akhirnya pada tahun 1967 desa ini menjadi desa definif. Pada awal
pembentukan Desa Bone Kancitala belum diakan pemilihan kepala desa. Pada
saat itu kepala desa dipilih dengan cara aklamasi namun berdasarkan
kesepakatan atau hasil musywarah oleh para tokoh masyaraat yang ada di Desa
Bone Kancitala.
Menurut Undang-undang, Kepala Desa bertugas menyelenggarakan
pemerintahan desa, melaksanakan pembangunan desa dan pemberdayaan
masyarakat desa. Dalam menjalani masa jabatannya Kepala Desa diatur sesuai
dengan Undang-Undang Republik Indonesia tentang desa. Undang-Undang
yang mengatur tentang desa adalah: UU Desentralisasi tahun 1903, UU No. 5
tahun 1979, UU No. 2 tahun 1999, UU No 32 tahun 2004, dan UU No. 6 tahun
20014.
Berdasarkan Undang-Undang No. 6 tahun 2014 menerangkan bahwa
“Kepala Desa dipilih langsung oleh dan dari penduduk desa warga Negara
Republik Indonesia dengan masa jabatan adalah 6 tahun dan dapat dipilih
kembali hanya untuk 1 kali masa jabatan berikutnya” (Marbun, 2005: 178).
Sedangkan berdasarkan Undang-Undang terbaru bahwa masa jabatan kepala
desa adalah 6 tahun dan dapat menjabat paling banyak 3 kali masa jabatan
71
secara berturut-turut.
Demikian juga
dengan
masa
jabatan
Badan
Permusyawaatan Desa (BPD), mereka bisa menjabat paling banyak 3 kali masa
jabatan, baik secara berturut-turut maupun tidak berturut-turut (UU No. 6 tahun
2014). Hal ini berbeda dengan Undang-Undang yang berlaku sebelumnya yaitu
UU No. 32 tahun 2004 menerangkan bahwa dimana Kepala Desa dan BPD
hanya bisa menjabat paling banyak 2 kali masa jabatan.
Tahun1967 Rosiman Tawid terpilih sebagai kepala desa pertama namun
dengan cara aklamasi. Adapun masa jabatan beliau addalah 8 (delapan) tahun
dari tahun 1967 sampai tahun 1975. Saat itu sekretaris desa adalah La Tarigu.
Kepala Desa dibantu oleh sekretaris desa. Sekretaris desa bertugas membantu
kepala desa dalam melakssanakan tugas dan wewenangnya. Sekretaris desa
diangkat oleh kepala desa setelah dikonsultasikan dengan camat atas nama
Bupati/Walikota. Dalam meelaksanakan tugas dan wewenangnya, sekretaris
desa bertanggung jawab kepada kepala desa. Sekretaris desa diangkat dari
warga desa yang memenuhi persyaratan.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia, kepala desa berhenti
disebabkan karena meningggal dunia, permintaan sendiri atau diberhentikan
(UU No. 6 Tahun 2014 pasal 40 ayat 1). Dalam hal kepala desa diberhentikan
sementara, sekretaris desa melaksanakan tugas dan kewajiban kepala desa
sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap (UU No. 6 Tahun 2014).
72
Pada tahun 1975 kepala desa pertama Rosiman Tawid meninggal dunia
maka beliau digantikan oleh sekretaris desa pada saat itu yaitu La Tarigu.
Latarigu menjabat sebagai kepala desa tidak berlangsung lama hanya beberapa
bulan saja. Beliau diangkat sebagai kepala desa pada tahun 1975 dan masa
jabatannya berakhir di tahun yang sama.
Setelah masa jabatan La Tarigu berakhir maka para tokoh masayarakat
kembali mengadakan rembuk kampung untuk mencari pengganti La Tarigu.
Dari hasil musyawarah ini maka di tunjuklah Mokodompit sebagai pengganti
Kepala Desa Selanjutnya. Beliau menjabat sebagai Kepala Desa selama 7
(tujuh) tahun. (H. La Ngkodaga, Wawancara 4 Februari).
Setelah masa kepemimpinan Mokodompit berakhir maka beliau
digantikan oleh La Sanihu S. Ag. Pada masa kepemimpinan La Sanihu baru
mulailah diadakan pemilihan kepala desa untuk yang pertama kalinya dalam
sejarah pemilihan Kepala Desa Bone Kacitala. Adapun yang menjadi calon
Kepala Desa adalah La Sanihu S. Ag, H. La Ngkodaga S. Ag, Majid dan La
Ndiaga. Pemilihan ini dimenangkan oleh La Sanihu S.Ag dengan aspirasi suara
terbanyak. Selama menjalankan masa jabatannya La Sanihu S.Ag selaku kepala
desa dibantu oleh sekretaris desa yaitu H. La Ngkodaga. La Sanihu S.Ag
menjalankan pemerintahannya selama 11 tahun yaitu antara 1983-1994.
Setelah masa kepemimpinan Bapak La Sanihu berakhir Maka diadakan
pemilihan umum untuk yang kedua kalinya. Dalam pemeilihan kepala desa
yang kedua ini di menangkan oleh Bapak Majid, beliau menjabat selama 7
73
(tahun) yaitu antara 1994-2001. Tahun 2001 masa kepemimpinan Majid
berakhir. Dan pada tahun yang sama diadakan pemilihan kepala desa untuk
yang ketiga kalinya, dan yang memenangkan pemilihan ini yaitu La Ndiaga,
beliau menjabat selama 6 Tahun yaitu antara tahun 2001-2007.
Setelah La Ndiaga menjalankan masa kepemimpinanya kurang lebih
selama 6 tahun, maka tibalah saatnya untuk diadakan kembali pemilihan Kepala
Desa periode selanjutnya. Pada tahun 2007 pemeilihan umum yang keempat
dilaksanakan di Desa Bone Kancitala. Pemilihan Kepala Desa dilaksanakan
secara serentak diselutuh wilayah Kabupaten/Kota. Kali ini yang mencalonkan
diri menjadi Kepala Desa adalah Marwan S. E, Samirudin, dan La Ndiaga.
Pemilihan ini dimenangkan oleh Samirudin. Dalam hal ini Kepala Desa yang
menang yakni Samirudin dan akan menjalankan masa pemerintahnnya periode
tahun 2007-2012.
Selama masa kepemimpinanya Samirudin dibantu oleh Sekretariss Desa
Hamadan S.Pd. Sesuai UU No. 32 Tahun 2004, bahwa struktur pemerintahan
desa terdiri atas Pemerintahan Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Pemerintahan desa terdiri atas Skretaris Desa dan perangkat desa lainnya,
sekretaris desa diisi dengan pegawai negeri sipil yang memenuhi peersyaratan.
Sehingga sejak berlakunya Undang-Undang ini maka sekretaris desa harus
merupakan pegawai negeri sipil. Dari sini Hamadan S.Pd merupakan sekretaris
Desa Bone Kancitala yang berstatus PNS dan menjabat hingga sekarang. Pada
tahun 2013 diadakan pemeilihan Kepala Desa yang kelima kalinya untuk
74
menjalankan periode 2013-2019. Pada saat itu yang menjadi calon Kepala Desa
yang akan dipilih adalah Samirudin, La Halia, Muslimin, dan La Mpono.
Adapun yang memenangkan Pilkades ini adalah Muslimin. (Muslimin,
Wawancara 6 Februari 2015).
3.
Perkembangan Pemerintah Umum
Perkembangan pemerintahan umum mencakup pelayanan pemeritah
terhadap masyarakat. Sebagaimana salah satu tugas Kepala Desa adalah
membina ketentraman dan ketertiban hidup masyarakat desa. Perkembangan
pemerintahan umum Desa Bone Kancitala dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 7: Kondisi Pemerintahan Umum Desa Bone Kancitala Tahun 2014.
Keberadaan
No.
Uraian
Keterangan
Ada
Tidak
1.
Pelayanan Kependudukan

2.
Pemakaman

3.
Perizinan

Pemerintahan
4.
Pasar Tradisional

Desa Bone
5.
Ketentraman dan Tibum

Kancitala
6.
Pengadaan Karttu Keluarga dan

Akte Kelahiran, dll
Sumber Data: Kantor Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten
Muna Tahun 2001.
75
Dilihat dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa kependudukan
dilaksanakan setiap hari jam kerja, kadang kala ada juga penduduk yang datang
pada sore hari atau malam hari, hal ini dikarenakan mayoritas penduduk adalah
petani dan buruh tani sehingga kesibukan bekerja seharian. Pemahaman
mengenai jam kantor masi kurang. Dalam UUD RI tentang desa, disebutkan
bahwa desa berkewajiban untuk memberikan dan meningkatkan pelayanan
kepada masyarakat desa (pasal 67, UU No. 6 tahun 2006). Sementara itu,
masyarakat desa berhak untuk untuk memperoleh pelayanan yang sama dan adil
(pasal 68 UU No. 6 tahun 2014).
Ada 4 (empat) lokasi pemakaman umum di Desa Bone Kancitala. Dalam
proses pemakaman di Desa Bone Kancitala tidak ada yang namanya tim khusus.
Prosesi pemakaman dipimpin oleh imam setempat dan dilaksanakan secara
bergotong royong oleh warga.
Perizinan diantaranya izin keramaian dan izin tinggal. Izin keramaian
diwajibkan bagi kegiatan yang bisa mendatangkan masa dalam jumlah yang
banyak, misalnya hiburan rakyat dan organ tunggal atau malulo. Izin ini selain
kepemerintahan desa juga diteruskan kepada pihak polisi daerah setempat. Izin
tinggal diberlakukan kepada warga asing yang bertamu lebih dari 24 jam atau
menginap teruama jika bukan keluarga dekat dengan warga setempat.
Pasar tradisional ada, warga yang biasa datang ke pasar tradisional Desa
Bone Kancitala untuk melakukan kegiatan perdagangan selain warga desa
setempat ada juga warga desa dari desa tetangga bahkan ada juga yang dari luar
76
kabupaten. Hal ini menunjukan bahwa Desa Bone Kancitala bisa dikatakan
lebih maju dibanding dengan desa-desa yang ada di Kecamatan Bone. Pasar di
Desa Bone Kancitala hanya 3 kali dalam seminggu dari hari yang ada yaiu hari
selasa, kamis dan hari minggu. Sementara untuk masalah keamanan desa,
satuan linmas memiliki anggota sebanyak 4 personal aktif dan siap sewaktuwaktu jika ada kegiatan yang bersifat lokal atau skala kecil. Untuk pengamanan
dalam skala besar dan sedang linmas dibantu polsek dan koralmil.
Adapun yang memberi pelayan kepada masyarakat desa adalah
pemerintah desa. Pemerintah desa sebagaimana dimaksud dalam pasal 23
adalah Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dan yang dibantu oleh
perangkat desa atau yang disebut dengan nama lain (UU No. 6 tahun 2014). Di
Desa Bone Kancitala jumlah aparat pemerintah desa adalah 5 orang dan jumlah
perangkat desa adalah 8 unit kerja yakni Kepala Desa, Sekretaris Desa, Kepala
Urusan Umum, Kepala Urusan Pemerintahan, Kepala Urusan Pembangunan.
Selain itu ada juga BPD (Badan Pemusyawaratan Desa) yang dibentuk
berdasarkan peraturan daerah atau keputusan Bupati.
4.
Perkembangan Infrastruktur
Pembangunan
desa
bertujuan
untuk
meningkatkan
kesejahteraan
masyarakat desa dan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan
melalui pemenuhan kebutuhan dasar, pembangunan sarana dan prasarana desa,
pengembangan potensi ekonomi lokal, serta pemanfaatan sumber daya alam dan
77
lingkungan secara berkelanjutan. Perkembangan infrastruktur Desa Bone
Kancitala dapat dilihat dari tebel berikut ini:
Tabel 8: Kronologi Pembangunan Desa Bone Kancitala
No.
Tahun
Kegiatan Pembangunan
Keterangan
1.
2007
Pembanguna Balai Desa
Swadaya
2.
2007
Pembanguna Pagar Balai Desa
Swadaya
3.
2007
Pembangunan Papan Nama Desa
DPDK
4.
2008
Pembangunan Puskesmas
APBD Kab.
5.
2008
Pembangunan Teras Masjid
Swadaya
6.
2008
Pembanguna Pagar MTsN
APBD
7.
2008
Rehabilitasi Gedung MTsN
APBD
8.
2008
Pembanguna Kantor Desa
APBD
9.
2008
Rehabilitasi Balai Desa
APBD
10.
2009
Rehabilitas Gedung SD
APBD
11.
2009
Pembangunan Gedung SMA
APBD
12.
2009
Pembanguna Gedung Perpustakaan SD
APBD
13.
2009
Pembanguna Gedung TK
PNPM_PM
14.
2009
Pembuatan JUTA
PNPM-MP
15.
2010
Pembangunan Gedung KUA
APBN
16.
2010
Pembanguna Kantor Kecamatan
APBD
17.
2012
Perk. Juta Lakalopo
PNPM
18.
2012
Perk. Jalan Mata Air Mansabura
PNPM
19.
2012
Pembuatan Sumur Gali
PNPM
20.
2013
Rehab Mata Air Mansabura
PNPM
21
2014
Pembukaan dan Perk. Lorong Desa
PNPM
Sumber Data: Kantor Desa Bone Kancitala Kecamatan Kabupaten Muna
Tahun 2015.
78
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa pembangunan yang ada di Desa
Bone Kancitala dapat disimpulkan sejak 36 berdirinya Desa Bone kancitala
pembangunan yang ada dalam desa sangat minim baik itu dalam bidang
infrastruktur maupun sarana umum lainnya namun jika dibandingkan dengan
desa-desa yang ada di wilayah Kecmatan Bone masi sedikit lebih unggul.
Pada masa pemerintahan Bapak Rosiman Tawid (1967-1975), bangunan
fisik belum nampak. Pada saat itu pembangunan yang dilakukan adalah
membangun pasar, sumber air bersih dan menambah bangunan Sekolah Dasar
(H. La Ngkodaga, Wawancara, 4 Februari 2015).
Desa Bone Kancitala tidak langsung melakukan pembangunan, karena
pada dasarnya menurut teori, “andai kata data-data sejarah memungkinkan
tentulah aspek kronologis perubahan-perubahan itu dari waktu ke waktu dapat
diungkapkan sebagai sebuah proses yang bertahap dan tidak saja sebagai
perbandingan antara dua momen yang berjarak waktu” (Kuntowijoyo, 2003:
74).
Hal dasar yang diberikan kepada masyarakat adalah kesadaran masyarakat
akan kemandiriannya, bahwa sesuai dengan pernyataan dengan kepala desa
pada saat itu “hansuru-hansuru mbadja somanamo kono hansuru liwu”. Disini
kita dapat melihat makna kata-kata tersebut mengandung makna bahwa segala
usaha akan kita lakukan untuk perkembangan desa kedepannya yang lebih
maju. Menurrut Nurcholis (2011: 9) bahwa sejarah perkembangan desa dimulai
dari adanya seseorang yang mempunyai pengaruh besar sehingga dapat
79
menggerakan banyak orang untuk menjadi pengikutnya. Setelah membentuk
sebuah desa sang tokoh lalu membentuk tata pemerintahannya biasanya ia
menjadi kepala desa pertama dibantu oleh kerabatnya.
Pada tahun 1983-1994 adalah masa kepemimpinan La Sanihu S. Ag. Pada
masa ini cukup banyak infrastruktur yang dibangun, diantaranya adalah sarana
peribadatan, jalan raya, perkantoran, sekolah MTsN serta melanjutkan
pembangunan kepala-kepala desa sebelumnya.
Pada tahun 2007 hingga tahun 2012 pada saat kepemimpinan Samarudin,
pembangunan yang telah dilakukan adalah Taman Kanak-kanak, rehabilitasi
balai desa dan perkantoran
yang lainnya, pembangunan puskesmas,
pembangunan gedung SMA, Lorong-lorong, dan lain-lain.
Selain itu, hal menarik dalam pembangunan di Desa Bone Kancitala
adalah hampir semua akses Kecamatan Desa Bone Kancitala berada di desa ini,
seperti puskesmas, polsek, koralmil, dan lain-lain. Agar lebih jelasnya, dapat
dilihat pada tabel berikut ini.
80
Tabel 9: Sarana Dan Prasarana Desa Bone Kancitala Tahun 2014
No.
Jenis Sarana dan Prasarana Desa
Jumlah
Keterangan
1.
Kantor Desa
1
2.
Gedung TK
1
3.
Gedung SD
1
4.
Gedung MTsN
1
5.
Gedung SMA
1
6.
Masjid
1
7.
Pasar Desa
1
8.
Puskesmas
1
9.
Balai Desa
1
10.
Kantor Kecamatan
1
Asset Kecamatan
11.
Kantor UPTD Kehutanan
1
Aset Kecamatan
Sumber Data: Kantor Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten
Muna Tahun 2015
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa pembangunan sarana dan
prasaran yang ada di Desa Bone Kancitala dapat disimpulkan sejak 36 tahun
berdirinya Desa Bone Kancitala pembangunan dalam sarana dan prasarana
memiliki peningkatan yang cukup baik jika dibandingkan dengan desa-desa
yang ada di Kecamatan Bone Kancitala.
81
5.
Perkembangan Dalam Bidang Pendidikan
Sejalan dengan perkembangan sosial masyarakat Desa Bone Kancitala
yang semakin meningkat, maka kepentingan-kepentingan keluarga mulai dapat
terpenuhi dengan baik, bahkan anak-anak mereka sudah dapat menikmati
pendidikan dengan baik dan sempurna, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini,
sampai dengan tingakat pendidikan tinggi terutama dilingkup Universitas.
Perkembangan pendidikan di Desa Bone Kancitala pada khususnya dan
Kecamatan Bone pada umunya mengalami perkembangan pendidikan yang
boleh dikatan sudah cukup baik, terbukti dengan adanya beberapa sarana
pendidikan yang ada di Desa Bone Kancitala antara lain: Taman Kanak-kanak,
SD, SMP/MTsN, dan SMA. Dengan adanya sarana pendidikan tersebut maka
jumlah anak sekolah tiap tahunnya terus bertambah.
Melihat kenyataan yang ada, berarti kesadaran masyarakat akan arti
pendidikan sangat tinggi. Dalam hal ini kesadaran pihak orang tua untuk
menyekolahkan anak-anaknya ke berbagai jenjang sudah cukup baik, ditambah
dengan berbagai kemudahan serta kebijakan pemerintah menyangkut masalah
pendidikan bagi masyarakat dibuktikan dengan adanya sarana dan prasarana
yang berupa penambahan tenaga kerja serta peelengkapan lainnya.
Adanya kesadaran masyarakat yang demikian itu, dapat terlihat dari sikap
dan pola pikir serta wawasan mereka terhadap masalah pendidikan. Masalah
pendidikan tidak dilepaspisahkan dari kehidupan seseorang, dan pendidikan
mempunyai hubungan secara langsung dengan kehidupan manusia. Karena
82
dengan pendidikan manusia bisa memperoleh suatu penghidupan yang layak
dalam memenuhi kebutuhannya. Pendidikannya juga dapat mencerdaskan
kehidupan bangsa (Muslimin Wawancara, 6 Februari 2015).
Bila disimak dari pandangan diatas mereka tidak ingin bahwa nanti kelak
anak-anak mereka harus hidup seperti yang mereka telah alami, dimana mereka
pada umumnya hanya memperoleh pendidikan pada tingkat Sekolah Menengah
Pertama atau sederajat. Sehingga sulit bagi mereka untuk memperoleh
pekerjaan yang layak bagi kehidupannya di era perkembangan dan peersaingan
iptek dewasa ini.
83
BAB VI
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Bertolak dari rumusan masalah dan hasil penelitian, maka terkait dengan
Sejarah Desa Bone Kancitala (Dari Kampung Sampai Kecamatan Tahun “19302009”), penulis menyimpulkan:
1.
Proses terbentuknya Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten
Muna yaitu diawali dengan adanya pemilihan Bonto Balano di Kecamatan
Katongku (Kabawo Tongkuno) pada tahun 1930 dimana yang menjadi
calon Bonto Balano yaitu Abdullah dan La Nii, dan pemilihan tersebut
dimenangkan oleh La Nii untuk menjadi Bonto Balano maka Abdullah
lebih
memilih
untuk
mencari
lahan
kosong
dan
membentuk
pemerintahannya sendiri. Sehingga pada tahun 1930 terbentuklah Bone
Kancitala akan tetapi masih berstatus Kampung (mino)dari Kecamatan
Kabawo dan masih dipimpin oleh Kepala RK dimana Abdullah lah yang
menjadi Kepala RK pertama Kampung Bone Kancitala. Pada tahun 1965
Kampung Bone Kancitala Berubah menjadi Desa Bone Kancitala yang
masuk dalam wilayah Kecamatan Kabawo. Pada tahun 1986 Desa Bone
Kancitala masuk dalam wilayah Kecamatan Parigi, barulah nanti pada
tahun 2009 Bone Kancitala dan beberapa desa lainnya memekarkan
kecamatan sendiri yang sekarang dikenal dengan Kecamatan Bone yang
Ibu Kota Kecamatan terletak di Desa Bone Kancitala.
83
84
2.
Perubahan status Desa Bone Kancitala dimulai sejak tahun 1965 pada saat
kampung Bone Kancitala menjadi Desa Bone Kancitala. Pada saat status
kampung Bone Kancitala menjadi Desa Bone Kancitala pada waktu itu
pula Bone Kancitala masuk dalam wilayah Kecamatan Kabawo. Mulai
saat itulah perubahan status Desa Bone Kancitala dimulai hingga pada
tahun 2009 status Desa Bone Kancitala menjadi Kecamatan Bone dan Ibu
Kota Kecamatan Bone adalah Desa Bone Kancitala.
3.
Perkembangan Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten Muna
tahun 1930-2009 secara umum menunjukan perkembangan yang cukup
baik. Dalam bidang politik telah berlangsung tujuh kali masa jabatan
dengan lima kali pemilihan umum dan 7 kepala desa. Dalam bidang
pemerintahan umum menunjukan arah yang baik dan pelayanan kepada
masyarakat senantiasa ditingkatkan. Dalam bidang infrastruktur, sarana
dan prasarana desa telah memadai sejalan dengan perkembangan desa ini.
Dalam bidang ekonomi, masyarakat Desa Bone Kancitala semakin
menuju kepada kesehjateraan dengan memanfaaatkan potensi sumber daya
alam dan sumberdaya manusia.
B.
Saran-Saran
Dalam uraian penulis ini, diajukan saran-saran untuk dijadikan bahan
pertimbangan, baik kepada pihak pemerintah, masyarakat Desa Bone Kancitala,
maupun kepada penulis sejarah, khususnya sejarah lokal di Sulawesi Tenggara.
Adapun saran yang ingin dikemukakan dalam hasil penelitin ini adalah:
85
1.
Kepada Pihak Pemerintah:
a. Diharapkan agar terus memberi peluang dan dukungan terhadap
daerah-daerah
yang
ingin
mengembangkan
atau
memekarkan
wilayahnya, sehingga pembangunan yang dilaksanakan dapat berjalan
dengan baik dan lancar. Karena keberadaan desa baik sebagai lembaga
pemerintahan maupun sebagai identitas kesatuan masyarakat hukum
adat menjadi sangat penting dan srategis. Sebagai lembaga
pemerintahan, desa merupakan ujung tombak pemberian layanan
kepada masyarakat. Sedangkan sebagai identitas kesatuan masyarakat
hukum, desa merupakan basis sistem kemasyarakatan masyarakat
Indonesia yang sangat kokoh sehinggga dapat menjadi landaasan yang
kuat bagi pengembangan sistem politik, ekonomi, sosial-budaya, dan
bahkan yang stabil dan dinamis.
b. Faktor kepemimpinan sangat menentukan arah dan hasil akhir dari
pembangunan dipedesaan baik material maupun non material. Oleh
sebab itu, peran pemerintah sangat dibutuhkan, termaksud dalam
pengetahuan tentang sejarah pedesaan kepada masyarakat. Dengan
adanya karya tulis ini diharapkan mampu memberikan sumbangan
pemikiran kepada pemerintah agar masyarakatnya tidak awam dengan
sejarah daerahnya.
c. Agar unsur-unsur kepemimpinan informal pedesaan dapat dibina,
dikembangkan dan didayagunakan oleh pemerintah sebagai sarana dan
86
wahana pembangunan desa. Penyampaian gagasan atau program
pembangunan di desa akan lebih berhasil jika melalui jalur formal dan
jalur informal (pendekatan kultural dan pendekatan keluarga).
d. Untuk suksesnya pembangunan masyarakat di pedesaan, sebaiknya
pemerintah
memanfaatkan
organisasi
sosial
di
Desa
dengan
melimpahkan sebagai hak dan kewajiban untuk mengatur dan
mengelolah pembangunan rumah tangganya.
e. Pemimpin-pemimpin formal di desa sebaiknya berasal dari rakyat,
oleh rakyat dan untuk rakyat setempat. Agar diciptakan satu kata dan
perbuatan di dalam setiap aktivitas pembangunan desa.
2.
Kepada Masyarakat Desa Bone Kancitala diharapkan agar tidak
melupakan asal-usul sejarah desanya. Karena banyak masyarakat yang
tidak memahami atau mengetahui tentang sejarah didaerahnya masingmasing. Hal ini dikarenakan minimnya pengetahuan tentang sejarah
diwilayahnya, misalnya sumber untuk mengetahui sejarah diwilayahnya
sedikit, banyak saksi sejarahnya sudah meninggal bahkan pikun, bukan
penduduk asli wilayah tersebut dan lain sebagainya. Oleh sebab itu,
masyarakat berperan penting mempertahankan sejarahnya masing-masing
secara kolektif. Agar lebih memahami dan menghargai sejarah yang
terdapat di daerah mereka masing-masing.
3.
Kepada para peneliti lain yang memiliki judul yang relevan dengan
penelitian ini diharapkan agar lebih banyak megkaji dan meneliti sejarah
87
desa-desa di Sulawesi Tenggara sebagai bagian dari sejarah lokal daerah
kita. Karena setiap sejarah memiliki latar belakang pedesaaan yang unik
dan patut diteliti.
C.
Implikasi Hasil Penelitian Terhadap Pembelajaran Sejarah di Sekolah
Salah satu sarana untuk membangun bangsa adalah melalui pengetahuan
sejarah.
Sayangnya
pembelajaran
sejarah
belum
berfungsi
dengan
sesungguhnya. Bahkan sebaliknya, pengetahuan umum rakyat mengenai sejarah
masih sangat kurang. Jika ditelusuri lebih lanjut, beberapa masalah yang
menghambat pencapaian prestasi dalam mata pelajaran sejarah tersebut
setidaknya dapat dirunut pada dua faktor, yakni:
1.
Rendahnya motivasi siswa dikalangan para pelajar dalam mengikuti
pembelajaran.
2.
Langkah-langkah
inovatif
yang
memadai
guna
penyelenggaraan
pembelajaran sejarah sehingga dapat mengimbangi pesatnya perubahan
dalam perikehidupan sosial (Arif, 2011:127).
Sejarah adalah mata pelajaran yang sudah diperoleh sejak sekolah dasar
hingga perguruan tinggi yang sangat berperan penting dalam pembentukan
karakter anak bangsa. Sejarah menggambarkan nasib bersama dalam suka duka,
kegemilangan dan kesuraman, disamping kepahlawanan dan kewibawaan
tokoh-tokoh sejarah, mampu membangkitkan rasa kebanggaan pada generasi
muda, akan memantapkan kepribadian bangsa serta identitasnya. Dengan
88
demikian akan tercapai pula apa yang diharapkan dari pelajaran secara nasional,
tanpa mengurangi tuntutan-tuntutan ilmu sejarah.
Sejarah terbentuknya Desa Bone Kancitala (Dari Onder Distrik sampai
Kecamatan Tahun 1930-2009) jika diterapkan dalam pembelajaran di sekolah,
erat kaitannya dengan mata pelajaran sejarah dan muatan lokal. Pada mata
pelajaran sejarah, dapat diajarkan pada tingkat SMA kelas XI semester II pada
sub kompentensi Zaman Kemerdekaan Indonesia. Dimanan periode sejarah
bangsa Indonesia, meliputi zaman pra sejarah (sampai abad ke 5), zaman
kerajaan Hindu-Budha (abad ke-5 sampai abad ke 15), zaman kerajaan Islam
(abad ke-13 samapai abad ke-19), zaman penjajahan (abad ke-16 sampai abad
ke-20), dan zaman kemerdekaan (abad ke-20 sampai sekarang).
Selama ini mata pelajaran sejaah masih kurang diminati oleh siswa karena
metode maupun materi pembelajarannya yang diberikan secara monoton.
Sejarah desa diharapkan maupun memberikan inovasi kepada peserta didik agar
lebih antusias dalam menerima pelajaran, karena pada dasarnya siswa lebih
muda menerima pelajaran jika berhubungan erat dengan kehidupannya.
Selain itu, banyak masyarakat yang tidak memahami atau mengetahui
tentang sejarah didaerahnya masing-masing. Hal ini dikarenakan minimnya
pengetahuan tentang sejarah di wilayahnya misalnya, sumber untuk mengetahui
sejarah di wilayahnya sedikit, banyak saksi sejarahnya sudah meningggal
bahkan pikun, bukan penduduk asli wilayah tersebut dan lain sebagainya.
Banyak keunikan dari sejarah-sejarah di Indonesia yang juga merupakan bagian
89
dari sejarah lokal. Hal ini patut untuk dikaji lebih lanjut sehingga
masyarakatnya lebih memahami dan menghargai sejarah yang terdapat di
daerah mereka masing-masing.
Akhirulkalam harapan yang terkandung dalam hati penulis tidak lain
adalah semoga karya ini menambah pelajaran bagi kaum terpelajar, baik yang
hendak mengetahui aapa yang sesungguhnya trerjadi pada masa lampau
maupun yang ingin mengambil pelajaran dari setiap kejadian yang ada.
Download