desain media pembelajaran keterampilan

advertisement
DESAIN MEDIA PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERSASTRA
BERBASIS PANGGUNG
Hari Sunaryo1), Nurul Zuriah2) , Novin Farid SW3).
1,2,3
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,Universitas Muhammadiyah Malang
E-mail:1) [email protected], 2)[email protected], 3)[email protected]
Abstrak
Dalam kerangka inovasi, efisiensi dan efektivitas harus dilakukan dalam pembelajaran
sastra di sekolah guna dihasilkannya capaian pembelajaran secara optimal. Jika capaian
pembelajaran minimal sudah dirumuskan dalam kurikulum, maka perhatian terletak pada
bagaimana proses berlangsung dengan capaian pembelajaran semaksimal mungkin. Salah satu
aspek dalam proses itu adalah soal media pembelajaran. Tujuan penelitian pengembangan media
pembelajaran keterampilan bersastra berbasis panggung pada tahun pertama ini adalah
dihasilkannya draft desain media pembelajaran keterampilan bersastra berbasis panggung yang
dikembangkan di sekolah. Secara metodologis, keseluruhan penelitian menggunakan desain
penelitian pengembangan. Penelitian tahun pertama dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, dokumentasi, wawancara,
focus group discussion. Hasil yang diperoleh berupa deskripsi bahwa desain media pembelajaran
keterampilan bersastra berbasis panggung dilandaskan pada prinsip-prinsip: pemanfaatan potensi
lokal, bentuk audio-visual-material, berorientasi pada aktivitas pembelajaran proses kreatif seni,
sasaran aktivitas individual atau kelompok, berpotensi mengembangkan capaian kompetensi
akademik dan non-akademik maksimal, mudah dioperasikan.
Kata kunci: Media Pembelajaran, Capaian Pembelajaran, Keterampilan Bersastra, Berbasis
Panggung
178
SENASPRO 2016 | Seminar NasionaldanGelarProduk
1. PENDAHULUAN
Media dalam sebuah pembelajaran merupakan bagian tak terpisahkan dari keseluruhan
komponen penentu terbangunnya makna pembelajaran. Melalui media, proses dan peristiwa
pembelajaran diharapkan dapat berlangsung efisien dan efektif, baik dari segi waktu, tenaga, biaya,
dan sebagaimya.
Pembelajaran keterampilan bersastra dengan sasaran capaian pembelajaran berupa
kemampuan unjuk kerja dan hasil barya pada umumnya memerlukan proses dengan waktu tempuh
(jam pembelajaran) yang tidak sedikit. Dalam konteks ini, proses dan peristiwa pembelajaran
sering berlangsung tidak semata-mata dalam rentang waktu pembelajaran di sekolah, melainkan
juga di luar sekolah. Selain itu, persoalan substansial yang terjadi dalam pembelajaran keterampilan
bersastra adalah berlangsungnya proses-proses yang bersifat personal. Hal ini dikarenakan oleh
pembelajaran keterampilan bersastra pada dasarnya merupakan pengejawantahan dari proses
kreatif yang ditempuh peserta didik. Oleh karena itu, fasilitasi bagi berlangsungnya pembelajaran
yang sesuai dengan proses tempuh secara individual sangat diperlukan. Bagaimanapun, guru
berada dalam keterbatasan waktu dan kesempatan, namun pada sisi lain proses pembelajaran (di
sekolah maupun di luar sekolah) harus terus berlangsung.
Sebagaimana pengamatan dan hasil studi/kajian atas pembelajaran sastra di sekolah,
umumnya menunjukkan kondisi masih terjadinya sejumlah persoalan yang berkaitan dengan
strategi, metode, dan media pembelajaran (Sunaryo, 2011, 2012, 2013, 2014). Hal ini seiring
dengan kesadaran-kesadaran baru yang bergulir dalam dunia pendidikan utamanya terkait dengan
target capaian pembelajaran (kompetensi). Sebagaimana isi kurikulum di sekolah, kompetensi yang
dimaksud adalah keterampilan bersastra tulis dan keterampilan bersastra lisan.
Daya dukung bagi keberhasilan pembelajaran menuntut untuk terus diupayakan. Demikian
halnya terkait dengan media pembelajaran keterampilan bersastra. Selanjutnya dengan
memerhatikan konteks kehidupan mutakhir yang sarat dengan kemajuan teknologi, maka
pengembangan media pembelajaran keterampilan bersastra yang berbasis teknologi informasi perlu
dilakukan.
Tujuan penelitian ini adalah dihasilkannya desain media pembelajaran keterampilan
bersastra berbasis panggung di sekolah. Penelitian berfokus pada penggalian dan pengkajian
konsep-konsep teoretik, identifikasi kebutuhan dan daya dukung bagi terbangunnya model dan
draft desain media pembelajaran keterampilan bersastra berbasis panggung di sekolah.
Penggunaan media pembelajaran dapat mempertinggi proses dan basil pembelajaran adalah
berkenaan dengan taraf berpikir siswa. Taraf berpikir manusia mengikuti tahap perkembangan dimulai
dari berpikir kongkret menuju keberpikir abstrak, dimulai dariberpikir sederhana menuju ke
berpikir kompleks. Penggunaan media pembelajaran erat kaitannya dengan tahapan berpikir
tersebut sebab melalui media pembelajaran hal-hal yang abstrak dapat dikongkretkan, dan halhal yang kompleks dapat disederhanakan
Penelitian yang dilakukan terhadap penggunaan media pembelajaran dalam proses
belajar-mengajar sampai kepada kesimpulan, bahwa proses dan basil belajar parasiswa
menunjukkan perbedaan yang berarti antara pembelajaran tanpa media dengan pembelajaran
menggunakan media. Oleh sebab itu penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran
sangat dianjurkan untuk mempertinggi kualitas pembelajaran (Sudjana&Rivai,2002;9).
Dalam hubungannya dengan penggunaan media pada waktu berlangsungnya pembelajaran
Arsyad(2006:38) menjelaskan setidak-tidaknya digunakan guru pada situasi sebagai berikut. a)
Perhatian siswa terhadap pembelajaran sudah berkurang akibat kebosanan mendengarkan uraian
guru. Penjelasan atau penuturan secara verbal oleh guru mengenai bahan pembelajaran biasanya
sering membosankan apalagi bila cara guru menjelaskannya tidak menarik. Dalam situasi ini
tampilnya media akan mempunyai makna bagi siswa dalam menumbuhkan kembali perhatian
belajar para siswa. b) Bahan pembelajaran yang dijelaskan guru kurang dipahami siswa. Dalam
situasi ini sangat bijaksana apabila guru menampilkan media untuk memperjelas pemahaman siswa
mengenai bahan pembelajaran. Misalnya menyajikan bahan dalam bentuk visual melalui gambar,
grafik, bagan atau model-model yang berkenaan dengan isi bahan pembelajaran.
Seminar NasionaldanGelarProduk | SENASPRO 2016
179
2. METODE
Penelitian ini merupakan penelitian tahun pertama dari tiga tahun yang direncanakan.
Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan mixed method. Penelitian ini merupakan tipe penelitian
pengembangan (research and development) dengan model deskriptif – eksploratif melalui model
ADDIE (McGriff, 2003; Prawiradilaga, 2007:21), yaitu dengan tahapan/prosedur (1) Analysis, (2)
Design, (3) Development, (4) Implementation, (5) Evaluation. Analisis data yang digunakan adalah
analisis kualitatif dan kuantitatif dengan sasaran analisis isi/substansi materi, prosedur dan media
pembelajaran yang dipertajam dengan analisis kelebihan dan kelemahan media pembelajaran yang
sedang dikaji. Pada tahun pertama, fokus penelitian mengarah pada analisis dan desain. Pada tahun
kedua, fokus kegiatan mengarah pada proses pengembangan media (development) dan produk
mediapembelajaran. Adapun pada tahun ketiga fokus kegiatan mengarah pada penerapan
(implementation), dan evaluasi (evaluation)serta produk masal media pembelajaran yang siap
dipasarkan.
Penentuan lokasi ditetapkan secara sengaja dengan berorientasi pada kelengkapan variasi
butir-butir/aspek pembelajaran, yaitu SMP (negeri dan swasta) di Kota Malang dengan
memerhatikan keterwakilan kategori SMP unggul, sedang, dan tidak unggul(SMPN 3 Malang,
SMPN 7 Malang, dan SMPN 11 Malang). Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi,
dokumentasi, wawancara, dan focus group discussion. Analisis data dilakukan dengan teknik
analisis kualitatif model analisis interaktif: 1) reduksi data, 2) sajian data, 3) penarikan kesimpulan,
4) verifikasi.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Ruang Lingkup Materi Sastra dan Alokasi Jenjang Kelas
Pembelajaran keterampilan bersastra di sekolah sebagai bidang/materi ajar tercakup dalam
mata pelajaran bahasa Indonesia. Sebagaimana Kurikulum 2016 hasil revisi 2016, materi bidang
sastra disajikan dalam alokasi jenjang kelas sebagai berikut.
Tabel 1. Ruang Lingkup Materi Bahasa Indonesia untuk SMP
Kelas VII
Kelas VIII
Berita
Deskripsi
Iklan
Cerita Fantasi
Eksposisi
Prosedur
Puisi*
Laporan Observasi
Eksplanasi
Puisi Rakyat*
Ulasan
Cerita Rakyat*
Persuasi
Surat
Drama*
Literasi
Literasi
Silabus Mata Pelajaran
(Kemendikbud, 2016)
Bahasa
Kelas IX
Laporan
Pidato
Cerpen*
Tanggapan
Diskusi
Cerita Inspirasi
Literasi
Indonesia
SMP/MTs
Dalam pelaksanaan pembelajaran, materi bidang sebagaimana Tabel 1 di atas dikerangkai
oleh kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD).
Tabel 2. Kompetensi Inti
Kelas VII
180
Kelas VIII
SENASPRO 2016 | Seminar NasionaldanGelarProduk
Kelas IX
KI1 Menghayati ajaran
agama yang dianutnya
KI2 Menunjukkan perilaku
jujur, disiplin,
tanggungjawab, peduli
(toleransi, gotong royong),
santun, percaya diri, dalam
berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan
alam dalam jangkauan
pergaulan dan keberadaannya
KI3 Memahami pengetahuan
(faktual, konseptual, dan
prosedural) berdasarkan rasa
ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni,
budaya terkait fenomena dan
kejadian tampak mata.
KI4 Mencoba, mengolah, dan
menyaji dalam ranah konkret
(menggunakan, mengurai,
merangkai, memodifikasi,
dan membuat) dan ranah
abstrak (menulis, membaca,
menghitung, menggambar,
dan mengarang) sesuai
dengan yang dipelajari di
sekolah dan sumber lain yang
sama dalam sudut
pandang/teori.
KI1 Menghargai dan
menghayati ajaran agama yang
dianutnya
KI1 Menghargai dan
menghayati ajaran agama
yang dianutnya
KI2 Menunjukkan perilaku
jujur, disiplin, tanggungjawab,
peduli (toleransi, gotong
royong), santun, percaya diri,
dalam berinteraksi secara
efektif dengan lingkungan
sosial dan alam dalam
jangkauan pergaulan dan
keberadaannya
KI2 Menunjukkan perilaku
jujur, disiplin,
tanggungjawab, peduli
(toleransi, gotong royong),
santun, percaya diri, dalam
berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan
alam dalam jangkauan
pergaulan dan keberadaannya
KI3 Memahami pengetahuan
(faktual, konseptual, dan
prosedural) berdasarkan rasa
ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni,
budaya terkait fenomena dan
kejadian tampak mata.
KI3 Memahami pengetahuan
(faktual, konseptual, dan
prosedural) berdasarkan rasa
ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni,
budaya terkait fenomena dan
kejadian tampak mata.
KI4 Mencoba, mengolah, dan
menyaji dalam ranah konkret
(menggunakan, mengurai,
merangkai, memodifikasi, dan
membuat) dan ranah abstrak
(menulis, membaca,
menghitung, menggambar, dan
mengarang) sesuai dengan
yang dipelajari di sekolah dan
sumber lain yang sama dalam
sudut pandang/teori.
KI4 Mencoba, mengolah, dan
menyaji dalam ranah konkret
(menggunakan, mengurai,
merangkai, memodifikasi,
dan membuat) dan ranah
abstrak (menulis, membaca,
menghitung, menggambar,
dan mengarang) sesuai
dengan yang dipelajari di
sekolah dan sumber lain yang
sama dalam sudut
pandang/teori.
Penumbuhan dan pengembangan Kompetensi Sikap dilakukan sepanjang proses
pembelajaran berlangsung dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan
karakter peserta didik lebih lanjut. Terkait dengan kompetensi dasar (KD), pembelajaran pada
materi-materi bidang sastra sebagaimana Tabel 1 (kelas VII: puisi rakyat, cerita rakyat; kelas VIII:
puisi, drama; kelas IX: cerpen) diarahkan pada terbangunnya kompetensi sebagaimana tabel
berikut.
Tabel 2. Kompetensi Dasar Materi Bidang Sastra
Kelas VII
Kelas VIII
3.7 Mengidentifikasi unsur3.4 Menelaah struktur dan
unsur pembangun
kebahasaan teks narasi (cerita
tekspuisiyang diperdengarkan
fantasi) yang dibaca dan
atau dibaca.
didengar
Kelas IX
3.5 Mengidentifikasi unsur
pembangun karya sastra dalam
teks cerita pendek yang dibaca
atau didengar
4.7 Menyimpulkan unsurunsur pembangun dan makna
4.5 Menyimpulkan unsurunsur pembangun karya sastra
4.4
Menyajikan gagasan
Seminar NasionaldanGelarProduk | SENASPRO 2016
181
kreatif dalam bentuk cerita
fantasi secara lisan dan tulis
dengan memperhatikan
struktur danpenggunaan
bahasa
3.14 Menelaah struktur dan
kebahasaan puisi rakyat
(pantun, syair, dan bentuk
puisi rakyat setempat) yang
dibaca dan didengar.
4.14 Mengungkapkan
gagasan, perasaan, pesan
dalam bentuk puisi rakyat
secara lisan dan tulis dengan
memperhatikan struktur, rima,
dan penggunaan bahasa
3. 15 Mengidentifikasi
informasi tentang
fabel/legenda daerah setempat
yang dibaca dan didengar.
4. 15 Menceritakan kembali isi
fabel/ legenda daerah setempat
3.16 Menelaah struktur dan
kebahasaan fabel/legenda
daerah setempat yang dibaca
dan didengar.
4.16Memerankan isi
fabel/legenda daerah
setempat yang dibaca dan
didengar.
teks puisi yang diperdengarkan
atau dibaca
dengan bukti yang mendukung
dari cerita pendek yang dibaca
atau didengar
3.8 Menelaah unsur-unsur
pembangun teks puisi
(perjuangan,lingkungan hidup,
kondisi sosial, dan lain-lain)
yang diperdengarkan atau
dibaca.
3.6Menelaah struktur dan
aspek kebahasaan cerita
pendek yang dibaca atau
didengar.
4.8 Menyajikan gagasan,
perasaan, pendapat dalam
bentuk teks puisi secara tulis/
lisan dengan memperhatikan
unsur-unsur pembangun puisi
4.6 Mengungkapkan
pengalaman dan gagasan
dalam bentuk cerita pendek
dengan memperhatikan
struktur dan kebahasaan.
3.15 Mengidentifikasi unsurunsur drama (tradisional dan
moderen) yang disajikan dalam
bentuk pentas atau naskah.
4.15 Menginterprestasi drama
(tradisional dan modern) yang
dibaca dan ditonton/ didengar
3.16 Menelaah karakteristik
unsur dan kaidah kebahasaan
dalam teks drama yang
berbentuk naskah atau pentas.
4.16 Menyajikan drama dalam
bentuk pentas atau naskah
Mencermati jabaran materi dengan indikator sebagaimana diuraikan dalam kurikulum
(Kemendikbud, 2016), materi bidang sastra yang memiliki peluang target kompetensi
pemanggungan atau berkaitan dengan panggung adalah (1) pada kelas VII meliputi KD 3.14 dan
4.14 puisi rakyat tentang pantun; 3.15, 4.15, 3.16, dan 416 tentang fabel/legenda daerah; (2) pada
kelas VIII meliputi KD 3.7; 4.7, 3.8, dan 4.8 tentang karya puisi; 3.15, 4.15, 3.16, dan 4.16 tentang
drama sebagai karya sastra dan karya pentas; (3) pada kelas IV meliputi KD 3.5, 4.5, dan 3.6
tentang certita pendek yang didengar.
3.2 Unsur Media
Guru secara umum telah menyadari dan memahami bahwa perangkat dan kegiatan yang
terlaksana dalam pembelajaran harus didasarkan pada kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar
(KD). Kompetensi inti merupakan operasinalisasi dari standar kompetensi lulusan dalam bentuk
182
SENASPRO 2016 | Seminar NasionaldanGelarProduk
kualitas yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah menyelesaikan pembelajaran.Kompetensi
Intidirancang dalam empat kelompok yang saling terkait yaitu berkenaan dengan sikap keagamaan
(kompetensi inti 1), sikap sosial (kompetensi inti 2), pengetahuan (kompetensi inti 3), dan
penerapan pengetahuan (kompetensi inti 4). Keempat kelompok itu menjadi acuan dari Kompetensi
Dasar dan harus dikembangkan dalam setiap peristiwa pembelajaran secara integratif. Kompetensi
yang berkenaan dengan sikap keagamaan dan sosial dikembangkan secara tidak langsung (indirect
teaching), yaitu pada waktu peserta didik belajar tentang pengetahuan (kompetensi kelompok 3)
dan penerapan pengetahuan (kompetensi Inti kelompok 4).Kompetensi Inti harus menggambarkan
kualitas yang seimbang antara pencapaian hard skills dan soft skills.
Kompetensi Dasarmerupakan kompetensi setiap mata pelajaran untuk setiap kelas yang
diturunkan dari Kompetensi Inti. Kompetensi Dasar adalah konten atau kompetensi yang terdiri
atas sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang bersumber pada kompetensi inti yang harus dikuasai
peserta didik. Kompetensi tersebut dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik peserta
didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu mata pelajaran.
Dalam konteks ini, media pembelajaran sastra berbasis panggung harus mampu menjamin
terwadahinya KI dan KD sekaligus juga menjadi sarana bagi terbangunnya KI dan KD pada peserta
didik setelah melaksanakan pembelajaran. Lebih dari itu, sebagaimana fungsi media pembelajaran,
peserta didik harus meperoleh nilai efektif bagi tercapainya KI dan KD tersebut.
Unsur media pembelajaran harus pula diupayakan dapat memperkaya kegiatan
pembelajaran. Semangat yang dicanangkan dalam kurikulum dewasa ini adalah bahwa
pembelajaran di kelas harus tidak semata-mata diorientasikan terbatas pada kompetensi-kompetensi
yang yang secara eksplisit dirumuskan dalam kurikulum. Ini artinya bahwa pelibatan media dalam
pembelajaran harus diupayakan mampu menghadirkan nilai tambah. Oleh karena itu segenap
potensi yang ada harus benar-benar dimaksimalkan, baik potensi sekolah maupun sosial budaya
lingkungan. Hal ini sekaligus mewujudkan upaya kontekstualisasi pembelajaran.
Sunaryo (2012, 2015) dalam sebuah penelitiannya menunjukkan bahwa pelibatan potensi
budaya lokal dalam model pembelajaran menunjukkan hasil mampu menanamkan sikap budaya
yang positif pada siswa. Siswa menjadi tahu dan menghargai budayanya dan sekaligus menggugah
kesadarannya sebagai bangsa.
Kontekstualisasi pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan keunggulan dan kebutuhan
daerah serta Peserta didik. Kegiatan pembelajaran pada silabus dapat disesuaikan dan diperkaya
dengan konteks daerah atau sekolah, serta konteks global untuk mencapai kualitas optimal hasil
belajar pada peserta didik. Kontekstualisasi pembelajaran ini dimaksudkan agar peserta didik tetap
berada pada budayanya, mengenal dan mencintai alam, sosial, dan budaya di sekitarnya, dengan
perspektif global sekaligus menjadi pewaris bangsa sehingga akan menjadi generasi tangguh dan
berbudaya Indonesia (Kemendikbud, 2016).
Tabel 3. Potensi Sekolah dan Sosial Budaya
sebagai Unsur Media Pembelajaran Sastra Berbasis Panggung
Bentuk
Sarana prasarana
Potensi Sekolah
Seni sastra daerah
Potensi Lingkungan SosialSeni performansi daerah
Budaya
Artefak
3.3 Bentuk Media
Bangun media pembelajaran sastra berbasis panggung pada dasarnya mengarah pada
materi-materi pembelajaran sastra yang berkaitan dengan aktivitas performa bersastra/drama.
Keterkaitan ini bisa dalam kerangka sumber dari performa tersebut ataupun sarana untuk
membangun performa itu.Berdasarkan deskripsi kompetensi sebagaimana dalam kurikulum 2013,
materi-materi pembelajaran tersebut meliputi (1) pada kelas VII: KD 3.14 dan 4.14 puisi rakyat
tentang pantun; 3.15, 4.15, 3.16, dan 416 tentang fabel/legenda daerah; (2) pada kelas VIII meliputi
KD 3.7; 4.7, 3.8, dan 4.8 tentang karya puisi; 3.15, 4.15, 3.16, dan 4.16 tentang drama sebagai
Seminar NasionaldanGelarProduk | SENASPRO 2016
183
karya sastra dan karya pentas; (3) pada kelas IX meliputi KD 3.5, 4.5, dan 3.6 tentang certita
pendek yang didengar.
Bentuk media yang didesain agar efektif mampu mencapa capaian pembelajaran secara
maksimal harus disesuaikan dengan sifat materi dan target capaian pembelajaran. Terkait dengan
ini, guru dipandang harus kreatif dan memiliki etiket memberikan yang terbaik bagi para siswa.
Dalam implementasinya, guru dapat sekedar memanfaatkan media yang sudah tersedia ataupun jika
dipandang perlu harus membuat/menciptakan, baik secara sederhana maupun dengan sentuhan
teknologi.Kreativitas guru dapat mengarah kepada pemanfaatan berbagai potensi sekolah maupun
lingkungan sosial-budaya.
Kelas
VII
VIII
IX
Tabel 4.Bentuk Media Pembelajaran Sastra Berbasis Panggung
Nomor Kompetensi Dasar (KD)
Sifat Kompetensi
3.14, 4.14 puisi rakyat tentang Reseptif
pantun;
3.15, 4.15, 3.16, 416 tentang Reseptif
fabel/legenda daerah
3.7; 4.7, 3.8, 4.8 tentang karya puisi;
Reseptif
Produktif
3.15, 4.15, 3.16, 4.16 tentang drama
sebagai karya sastra dan karya
pentas;
3.5, 4.5, 3.6 tentang certita pendek
yang didengar
Reseptif
Produktif
Reseptif
Bentuk Media
Audio
Video
Video
Video
Artefak
Property
Video
Artefak
Property
Audia
Video
3.4 Akses Media
Pembelajaran sastra di sekolah harus memenuhi berbagai nilai pendidikan dengan
paradigma pembelajaran mutakhir, yang meliputi aktivitas berpusat pada siswa, mengembangkan
sikap positif, humanis, demokratis, kooperatif, dll. Terkait dengan ini, pengembangan media
pembelajaran sastra berbasis panggung harus diorientasikan pada berkembangnya nilai-nilai
tersebut pada peserta didik. Proses pemanfaatan media hingga dampak yang ditimbulkan sebagai
hasil pembelajaran harus mampu mengembangkan secara maksimal nilai-nilai positif tadi.
Tabel 4. Bentuk Media Pembelajaran Sastra Berbasis Panggung
Kelas Nomor Kompetensi Dasar Bentuk
Akses Media
(KD)
Media
3.14, 4.14 puisi rakyat tentang Audio
Kooperatif,
VII
pantun;
Video
Demokratis,
3.15, 4.15, 3.16, 416 tentang Video
Kooperatif, Demokratis
fabel/legenda daerah
3.7; 4.7, 3.8, 4.8 tentang karya Video
Kooperatif, Demokratis,
VIII
puisi;
Artefak
Proses kreatif
Property
3.15, 4.15, 3.16, 4.16 tentang Video
Kooperatif, Demokratis,
drama sebagai karya sastra dan Artefak
Proses kreatif
karya pentas;
Property
3.5, 4.5, 3.6 tentang certita Audia
Kooperatif, Demokratis
IX
pendek yang didengar
Video
184
SENASPRO 2016 | Seminar NasionaldanGelarProduk
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan, hasil yang diperoleh dari penelitian ini berupa deskripsi
bahwa desain media pembelajaran keterampilan bersastra berbasis panggung berorientasi pada
kompetensi inti dan kompetensi dasar dengan perhatian pengengembangan pada pokok-pokok
unsur media, bentuk media, dan akses media. Adapun pengembangan medianya dilandaskan pada
prinsip-prinsip: pemanfaatan potensi lokal, bentuk audio-visual-material, berorientasi pada aktivitas
pembelajaran proses kreatif seni, sasaran aktivitas individual atau kelompok, berpotensi
mengembangkan capaian kompetensi akademik dan non-akademik maksimal, mudah dioperasikan,
kontekstual.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Daryanto. 2012. Media Pembelajaran. Bandung: Sarana Tutorial Sarana Sejahtera.
[2] Kusdiana, A. (2010). Pembelajaran apresiasi sastra cerita terpadu model connected untuk
[3]
[4]
[5]
[6]
[7]
meningkatkan kemampuan berbahasa siswa sekolah dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan,
11(1), 81– 82.
McGriff, S.J. 2003. Instructional Design Models. [Online]. Available at: http://edci660fall08.wikispaces.com/file/view/ISDmodels.pdf
Prawiradilaga, D.W. 2007. Prinsip Disain Pembelajaran. Jakarta: UNJ-Kencana Predana
Media Group.
Silberman, Mell. 1996. Active Learning, 101 Stategies to Teach Any Subject.
Massachusetts: Allyn & Bacon
Sunaryo, Hari. 2012. Pengembangan Model Pembelajaran Membaca Puisi secara Lisan
Kreatif-Produktif Berbasis Tradisi Pelisanan Macapat Malangan pada Siswa SMP Kota
Malang. Disertasi Doktor, SPs Universitas Pendidikan Indonesia.
Sunaryo, Hari. 2015. Adaptasi Nilai Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Sastra di Sekolah.
Penelitian Fundamental, DPPM Dikti.
Seminar NasionaldanGelarProduk | SENASPRO 2016
185
Download