Studi Tentang Genetika Populasi Ikan Tuna Mata

advertisement
4
4.1
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sampel Ikan Tuna Mata Besar
Pada dasarnya ikan tuna genus Thunnus dapat dibagi dalam kelompok besar
berdasarkan penyebarannya secara geografis, yaitu kelompok yang hidup di
perairan dingin atau beriklim sedang (temperate species) seperti ikan tuna sirip
biru utara (Thunnus thynnus), ikan tuna sirip biru selatan (T. maccoyii) dan
albakora (T. alalunga), dan kelompok yang hidup di perairan tropis (tropical
species) seperti ikan tuna sirip kuning atau madidihang (T. albacares). Ikan tuna
mata besar (T. obesus) mempunyai sifat kedua kelompok tersebut, karena ikan
tuna mata besar dapat hidup di daerah yang sangat luas mulai dari daerah tropis
hingga daerah beriklim sedang (Suzuki 1988, diacu dalam Sumadhiharga 2001).
Posisi geografis pengambilan sampel sirip ikan tuna mata besar yang juga
merupakan daerah penangkapan ikan tuna mata besar secara tepat disajikan pada
Gambar 4 dan Tabel 9. Lokasi daerah penangkapan kapal tuna longline yang
diamati berada di perairan Samudera Hindia sebelah selatan Jawa Timur, Bali
hingga ke Nusa Tenggara. Sebagian besar lokasi penangkapan di sebelah selatan
lintang 13o LS, dimana wilayah ini merupakan perairan laut bebas karena sudah di
luar ZEE Indonesia.
Tabel 9 Posisi dan ukuran panjang kelompok sampel ikan tuna mata besar
Kelompok sampel
1
2
3
4
5
Posisi geografis pengambilan sampel
113o13'-114o12' BT
14o23'-16o07' LS
110o15'-112o59' BT
13o59'-15o13' LS
o
o
113 21'-118 35' BT
11o49'-13o48' LS
115o26'-116o25' BT
13o03'-14o25' LS
o
o
113 26'-116 58' BT
09o11'-12o32' LS
Ukuran ikan (cm)
61-139
86-155
73-156
65-145
102-178
Jika dilihat dari posisi geografis penangkapannya, ikan tuna mata besar yang
dijadikan sampel diduga masih dalam satu populasi. Pada Gambar 4 terlihat
bahwa lokasi penangkapan antara kelompok sampel 1 hingga kelompok sampel 5
tidak terlalu jauh. Menurut Bremer et al. (1998) hanya ada 2 (dua) populasi ikan
tuna mata besar di dunia, yaitu populasi ikan tuna mata besar dari Samudera
26
Atlantik dan populasi dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Hal ini
dibuktikan oleh hasil penelitiannya yang mengindikasikan bahwa sampel ikan
tuna mata besar dari Samudera Atlantik secara genetik berbeda dari sampel ikan
tuna mata besar dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Selain itu, hasil
penelitian genetik ikan tuna mata besar yang diambil dari 5 (lima) lokasi
pengambilan sampel di perairan Samudera Hindia (Indonesia, Madagaskar,
Seychelles, barat Samudera Hindia dan bagian barat Australia) yang dilakukan
oleh Appleyard et al (2002) mengindikasikan bahwa tidak terdapat perbedaan
yang sangat nyata antara sampel ikan tuna mata besar yang dikumpulkan dari
sebelah timur dan barat Samudera Hindia. Hal ini diperkuat oleh penelitian
Chiang et al. (2008) yang mengambil sampel dari 4 lokasi di perairan Samudera
Hindia (Kepulauan Cocos, Seychelles, sebelah tenggara dan baratdaya Samudera
Hindia) yang menyatakan bahwa ikan tuna mata besar dari Samudera Hindia
merupakan satu populasi.
Ukuran ikan tuna mata besar yang diambil siripnya untuk dianalisis
genetiknya berkisar 60-180 cm (FL) dengan modus 100-110 cm (Gambar 6).
Sebagian besar (>90%) ikan tuna mata besar tersebut telah matang gonad. Hal ini
sesuai dengan hasil penelitian Nootmorn (2004) yang memperkirakan ukuran
pertama kali matang gonad (size at fist maturity) ikan tuna mata besar di
Samudera Hindia yaitu 88,08 cm untuk betina dan 86,85 cm untuk jantan.
120
110
100
90
Jumlah (ekor)
80
70
60
50
40
30
20
10
0
60-69
70-79
80-89
90-99
100-109 110-119 120-129 130-139 140-149 150-159 160-169 170-179
FL (cm)
Gambar 6 Sebaran ukuran panjang ikan sampel tuna mata besar.
27
4.2
Keragaman Genetik Ikan Tuna Mata Besar
4.2.1
Amplifikasi dan Pemotongan dengan Enzim Restriksi
Hasil amplifikasi D-Loop mtDNA pada ikan tuna mata besar dengan
menggunakan primer Pro-5 (CAC GAC GTT GTA AAA CGA CCT ACC YCY
AAC TCC CAA AGC), dan primer 12SAR (GGA TAA CAA TTT CAC ACA
GGG CAT AGT GGG GTA TCT AAT CC) menghasilkan fragmen DNA
berukuran sekitar 1.500 bp (base pairs) pada semua sampel ikan tuna mata besar
(Gambar 7).
1.500 bp
1.000 bp
500 bp
100 bp
Gambar 7 Fragmen tunggal mtDNA hasil amplifikasi PCR ikan tuna mata besar.
Dengan menggunakan primer ini terlihat hanya ada satu pita DNA pada gel
agaros dengan perkiraan ukuran 1.500 bp. Hal ini mengindikasikan bahwa primer
yang digunakan merupakan primer spesifik untuk ikan tuna mata besar.
Keragaman jumlah situs dan ukuran fragmen restriksi (RFLP) yang
diperoleh dari hasil restriksi mtDNA dengan empat enzim adalah 18 tipe restriksi
yaitu Taq I dan Hin6 I dengan empat tipe restriksi A, B, C dan D (Gambar 8 dan
9), Afa I dan Mbo I dengan lima tipe restriksi A, B, C, D dan E (Gambar 10 dan
11). Berdasarkan tipe restriksi mtDNA tersebut, enzim Afa I dan Mbo I dengan
lima tipe restriksi merupakan enzim yang paling sensitif mendeteksi perbedaan
panjang fragmen terpotong dibandingkan enzim Taq I dan Hin6 I.
Penggunaan empat enzim restriksi dalam penelitian ini guna mengukur
keragaman genetik suatu populasi telah menunjukkan suatu variabilitas yang
tinggi, walaupun idealnya lebih banyak enzim lebih baik. Rekapitulasi identifikasi
28
tipe restriksi mtDNA teramplifikasi hasil digesti dengan empat enzim (Taq I, Afa
I, Mbo I dan Hin6 I) disajikan pada Tabel 10.
Gambar 8 Tipe restriksi dengan enzim Taq I: A B C D.
Gambar 9 Tipe restriksi dengan enzim Hin6 I: A B C D.
Gambar 10 Tipe restriksi dengan enzim Afa I: A B C D E.
29
Gambar 11 Tipe restriksi dengan enzim Mbo I: A B C D E.
Tabel 10 Distribusi tipe restriksi pada lima kelompok sampel ikan tuna mata besar
Enzim
Taq I
Afa I
Mbo I
Hin6 I
Tipe
restriksi
A
B
C
D
A
B
C
D
E
A
B
C
D
E
A
B
C
D
Kelompok
sampel 1
(sirip ekor)
Kelompok
sampel 2
(sirip ekor)
Kelompok
sampel 3
(sirip ekor)
Kelompok
sampel 4
(sirip ekor)
Kelompok
sampel 5
(sirip ekor)
9
40
1
4
45
1
44
2
4
13
37
-
4
35
4
35
33
6
19
18
-
19
18
3
34
29
2
5
1
5
31
1
-
12
18
1
2
1
31
1
27
5
1
8
24
1
-
31
1
29
1
28
3
4
24
3
-
Enzim Taq I menghasilkan tipe restriksi A monomorfik pada kelompok
sampel 5, tiga tipe restriksi (A, B, C) pada kelompok sampel 1 dan empat tipe
restriksi (A, B, C, D) pada kelompok sampel 4. Tipe A dan B ditemukan pada
kelompok sampel 2 dan 3, dimana pada kelompok sampel 2 tipe B lebih dominan,
sedangkan pada kelompok sampel 3 tipe A dan B hampir sama.
Enzim Afa I menghasilkan dua tipe restriksi yang sama pada kelompok
sampel 2 dan 3, dan tiga tipe restriksi pada kelompok sampel 1, 4 dan 5, namun
30
berbeda situs restriksi. Tipe B dominan ditemukan pada semua kelompok sampel.
Tipe C hanya ditemukan di kelompok sampel 1, tipe D di kelompok sampel 4 dan
tipe E di kelompok sampel 5.
Enzim Mbo I menghasilkan 2 hingga 4 tipe restriksi, dimana tipe A dominan
di semua kelompok sampel. Dua tipe restriksi yang sama yaitu tipe A dan C
ditemukan pada kelompok sampel 2 dan 5, tiga tipe restriksi pada kelompok
sampel 1 dan 4, namun berbeda situs restriksi, dan empat tipe restriksi hanya pada
kelompok sampel 3.
Enzim Hin6 I menghasilkan dua tipe restriksi yang sama pada kelompok
sampel 1 dan 2, dan tiga tipe restriksi yang sama pada kelompok sampel 3, 4 dan
5. Tipe B dominan hampir ditemukan pada semua kelompok sampel, kecuali pada
kelompok sampel 2.
Hasil pemotongan yang menunjukkan ukuran panjang fragmen berbeda
akan memberikan tipe pemotongan (haplotipe) yang berbeda pula. Tipe
pemotongan yang berbeda pada setiap individu dalam suatu populasi maupun
antara populasi dapat disebabkan oleh terjadinya pergantian, penambahan atau
hilangnya basa tertentu pada urutan pasangan basa D-Loop mtDNA-nya sehingga
enzim tertentu tidak memotong pada situs yang sama. Hal ini mengakibatkan
terjadinya pergeseran situs pemotongan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
terdapat perbedaan urutan pasangan basa pada individu yang mempunyai tipe
pemotongan basa yang berbeda. Hal ini mengindikasikan adanya keragaman
genetik di dalam populasi dan antara populasi.
4.2.2
Keragaman Haplotipe (Haplotype Diversity)
Hasil pemotongan produk PCR dengan menggunakan empat enzim restriksi
menghasilkan 23 komposit haplotipe mtDNA D-Loop region. Tipe komposit
haplotipe yang diperoleh tersaji pada Tabel 11. Setiap enzim memiliki tipe
restriksi (tipe pemotongan) yang berbeda.
Analisis komposit haplotipe menghasilkan 23 komposit haplotipe pada
seluruh kelompok sampel. Jumlah terendah yang diamati adalah pada kelompok
sampel 5 (7 komposit haplotipe), sedangkan jumlah tertinggi terdapat pada
kelompok sampel 1 (12 komposit haplotipe). Nilai keragaman haplotipe bervariasi
31
antara 0,5578 (kelompok sampel 5) hingga 0,8136 (kelompok sampel 4) (Tabel 11
dan Lampiran 1).
Tabel 11 Distribusi frekuensi menurut tipe komposit haplotipe pada lima
kelompok sampel ikan tuna mata besar
Frekuensi haplotipe (%)
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
Tipe komposit
haplotipe
AAAA
BBAB
ABAB
BAAB
BBAA
BABA
BBCA
BBCB
ABCB
BBBA
CBAA
BCAA
BAAA
ABAA
BBAC
ABAD
BADA
CBEB
BDAA
DBAA
DBAB
BAAC
BEAB
Jumlah sampel
(sirip ekor)
Jumlah tipe
komposit haplotipe
Keragaman
haplotipe
Total
Kelompok
sampel 1
Kelompok
sampel 2
Kelompok
sampel 3
Kelompok
sampel 4
Kelompok
sampel 5
1
86
33
4
14
1
3
16
4
3
1
1
5
5
5
1
1
1
1
1
1
1
1
0,02
0,50
0,14
0,04
0,14
0,02
0,02
0,04
0,02
0,02
0,02
0,02
-
0,54
0,05
0,03
0,08
0,15
0,08
0,03
0,03
0,03
-
0,27
0,43
0,05
0,08
0,05
0,05
0,03
0,03
-
0,30
0,24
0,03
0,03
0,12
0,12
0,03
0,03
0,03
0,03
0,03
-
0,65
0,03
0,10
0,03
0,06
0,10
0,03
190
50
39
37
33
31
12
9
8
11
7
0,7048
0,6693
0,7232
0,8136
0,5578
Komposit haplotipe BBAB tertinggi ditemukan pada kelompok sampel 5
(65%), selanjutnya berurutan adalah kelompok sampel 2 (54%), kelompok sampel
1 (50%) dan kelompok sampel 4 (30%), dan komposit haplotipe ABAB (43%)
pada kelompok sampel 3. Komposit haplotipe BBAB dan BBCB terdistribusi
pada semua kelompok sampel, sedangkan ABAB terdistribusi pada empat
32
kelompok sampel yaitu kelompok sampel 1, 2, 3 dan 4. Komposit haplotipe
BBAB dan BBCB merupakan haplotipe utama (major composite haplotypes)
karena keduanya terdapat pada lima kelompok sampel, sedangkan ABAB
merupakan haplotipe umum (common haplotype) karena terdapat pada empat
kelompok sampel dari lima kelompok sampel.
Selain komposite haplotipe utama dan umum, kelima kelompok sampel juga
dicirikan dengan komposit haplotipe unik (unique composite haplotypes), yaitu
komposit haplotipe yang terdapat pada satu kelompok sampel tetapi tidak terdapat
pada kelompok sampel yang lainnya. Komposit haplotipe AAAA, BABA, CBAA,
BCAA, ABAD, BADA, CBEB, BDAA, DBAA, DBAB, BAAC dan BEAB
adalah komposit haplotipe unik yang masing-masing hanya terdapat pada satu
kelompok sampel yang berbeda. Komposit haplotipe AAAA, BABA, CBAA dan
BCAA hanya ditemukan pada kelompok sampel 1, ABAD hanya ditemukan pada
kelompok sampel 2, BADA hanya ditemukan pada kelompok sampel 3, CBEB,
BDAA, DBAA, DBAB dan BAAC hanya ditemukan pada kelompok sampel 4
dan BEAB pada kelompok sampel 5.
Berdasarkan tipe haplotipe BBAB dan BBCB, yang ditemukan pada semua
kelompok sampel, menunjukkan kedekatan secara geografis. Dengan demikian
dapat diduga secara genetik kelima kelompok sampel tersebut memiliki asal stok
yang sama.
Nilai keragaman haplotipe yang diperoleh berkisar dari 0,5578 pada
kelompok sampel 5 hingga 0,8136 pada kelompok sampel 4 (Tabel 10). Nilai
keragaman haplotipe, secara umum sangat tergantung pada ukuran sampel (Nei
1981; Tabata dan Mizuta 1997, diacu dalam Rina 2001).
Tingkat keragaman genetik, yang ditunjukkan dengan jumlah maupun
keragaman haplotipe, pada ikan tuna mata besar yang diamati setara dengan
jumlah haplotipe ikan laut lainnya yang berjumlah antara 6-17 dengan nilai
keragaman 0,600-0,900 (Nugroho, 2001). Hasil penelitian keragaman genetik ikan
tuna mata besar yang dilakukan oleh Bremer et al. (1998) di perairan Samudera
Atlantik, Samudera Hindia dan Samudera Pasifik menunjukkan bahwa ikan tuna
mata besar dari tiga perairan tersebut memiliki 13 komposit haplotipe, dimana
pada Samudera Hindia memiliki 5 komposit haplotipe. Begitu pula halnya dengan
33
komposit haplotipe ikan tuna sirip kuning hasil penelitian Permana et al. (2007)
dari perairan Bali, Sulawesi Utara dan Maluku Utara memiliki 15 komposit
haplotipe.
Nilai keragaman genetik (haplotipe) rata-rata adalah 0,6937. Nilai ini lebih
rendah dibandingkan nilai keragaman rata-rata ikan tuna sirip kuning yaitu 0,857
(Permana et al. 2007), namun lebih tinggi jika dibandingkan dengan jenis ikan
laut perenang cepat lainnya seperti ikan hiu (0,64) (Heist 1999, diacu dalam
Permana et al. 2007). Graves dan McDowell (1994) diacu dalam Tabata et al.
(1997) menjelaskan bahwa keragaman haplotipe keseluruhan mtDNA ikan striped
marlin adalah 0,82 dan Avise et al. (1989) diacu dalam Tabata et al. (1997)
menyatakan bahwa keragaman haplotipe keseluruhan mtDNA untuk beberapa
ikan berada dalam kisaran 0,473-0,998. Relatif tingginya keragaman haplotipe
pada ikan tuna mata besar ini memberikan indikasi bahwa keadaan populasinya
belum banyak terganggu khususnya kelompok sampel 4 dan 3. Selain itu, keadaan
ini juga menunjukkan bahwa ikan tuna mata besar mempunyai tingkat migrasi
yang lebih tinggi dibandingkan ikan air laut lainnya sehingga peluang untuk
adanya persilangan dengan populasi yang lainnya semakin besar pula (Wild 1994,
diacu dalam Permana et al. 2007).
Keragaman haplotipe terkecil, yaitu 0,5578 terdapat pada ikan tuna mata
besar kelompok sampel 5 dan yang tertinggi, yaitu 0,8136 pada kelompok sampel
4. Fenomena ini mengindikasikan bahwa ikan tuna mata besar dari kelompok
sampel 5 mempunyai keragaman genetik yang rendah dan memiliki ukuran yang
lebih kecil dibandingkan empat kelompok sampel lainnya. Leary et al. (1985)
diacu dalam Ayu (2005), menyatakan bahwa rendahnya keragaman genetik akan
mengakibatkan
munculnya
sifat-sifat
negatif,
antara
lain
menurunnya
pertumbuhan, keragaman ukuran, kestabilan perkembangan organ, tingkat
kelangsungan hidup, serta adaptasi terhadap perubahan lingkungannya.
4.2.3
Jarak Genetik
Berdasarkan uji perbandingan nilai Fst antar kelompok sampel dengan
menggunakan program TFPGA tercatat bahwa perbedaan terjadi antara kelompok
sampel 1 dengan kelompok sampel 3 dan 4, kelompok sampel 2 dengan kelompok
34
sampel 3 dan 4, kelompok sampel 3 dengan kelompok sampel 4 dan 5 serta
kelompok sampel 4 dengan kelompok sampel 5. Tidak ada perbedaan yang nyata
antara kelompok sampel 1 dengan 2 dan 5 serta kelompok sampel 2 dengan
kelompok sampel 5. Hasil uji keragaman antara lima kelompok sampel ikan tuna
mata besar dengan metode jarak berpasangan (Fst) disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12 Keragaman lima kelompok sampel ikan tuna mata besar berdasarkan
metode jarak berpasangan (Fst)
Kelompok sampel
1
1
-
2
0,1266ns
± 0,0174
2
-
3
3
0,0000s
± 0,0000
0,0000s
± 0,0000
-
4
4
0,0065s
± 0,0024
0,0139s
± 0,0045
0,0223s
± 0,0065
-
5
5
0,1479ns
± 0,0143
0,3043ns
± 0,0151
0,0000s
± 0,0000
0,0000s
± 0,0000
-
Keterangan :
ns
= tidak beda nyata (P>0,05)
s
= beda nyata (P<0,05)
Jarak genetik dan dendrogram hubungan kekerabatan antar kelompok
sampel (filogeni) pada lima kelompok sampel ikan tuna mata besar menurut
metode UPGMA menggunakan program TFPGA disajikan pada Tabel 13,
Gambar 12 dan Lampiran 2. Makin kecil nilai jarak genetik yang diperoleh, maka
makin dekat pula keragaman kedua kelompok sampel tersebut, demikian juga
sebaliknya.
Tabel 13 Jarak genetik antara ikan tuna mata besar
Kelompok sampel
1
2
3
4
5
1
-
2
0,0596
-
3
0,3545
0,5145
-
4
0,1840
0,2178
0,1615
-
5
0,0589
0,0383
0,6621
0,3261
-
Jarak genetik rata-rata antara kelompok sampel ikan tuna mata besar adalah
sekitar 0,2572. Ikan tuna mata besar dari kelompok sampel 1 memiliki jarak
35
genetik yang jauh dengan kelompok sampel 3, tetapi memiliki jarak genetik yang
dekat dengan kelompok sampel 2 dan 5. Kelompok sampel 2 memiliki jarak
genetik yang jauh dengan kelompok sampel 3, tetapi memiliki jarak genetik yang
dekat dengan kelompok sampel 5. Kelompok sampel 3 memiliki jarak genetik
yang jauh dengan kelompok sampel 5, tetapi memiliki jarak genetik yang dekat
dengan kelompok sampel 4. Dari semua kelompok sampel, ikan tuna mata besar
dari kelompok sampel 3 dan 5 memiliki jarak genetik terjauh dengan nilai 0,6621,
sedangkan jarak genetik terdekat adalah antara kelompok sampel 2 dan 5 yaitu
sebesar 0,0383.
Nilai jarak genetik yang rendah antara kelompok sampel 1 dan 2, 1 dan 5,
dan 2 dan 5 menunjukkan kedekatan kelompok sampel-kelompok sampel tersebut.
Diduga ketiga kelompok sampel tersebut secara geografis tidak terbatas antara
satu dengan yang lainnya. Keadaan ini menyebabkan proses migrasi dan
pertukaran gen antar kelompok sampel terjadi.
Koleksi ikan tuna mata besar dari kelompok sampel 2 dan 5 mempunyai
jarak genetik lebih dekat dibandingkan jarak genetik antara koleksi ikan tuna mata
besar dari daerah lainnya. Nilai jarak genetik pada ikan tuna mata besar ini relatif
lebih setara dibandingkan jarak genetik antara ikan dari populasi yang terdiri dari
sub-spesies yang sama, seperti pada king fish (Nugroho et al. 2001).
0,400
0,300
0,200
0,100
0,000
2
5
1
3
4
Gambar 12 Dendrogram hubungan kekerabatan (filogeni) lima kelompok sampel
ikan tuna mata besar.
36
4.3
Struktur Populasi
Dendrogram yang dibentuk berdasarkan jarak genetik menunjukkan bahwa
kelompok sampel ikan tuna mata besar yang diamati dapat dibagi menjadi dua
kelompok populasi (subpopulasi), yaitu kelompok pertama terdiri dari ikan tuna
mata besar yang berasal dari kelompok sampel 2, 5 dan 1, sedangkan kelompok
kedua yang berasal dari kelompok sampel 3 dan 4 (Gambar 13). Perbedaan nilai
jarak genetik antar kelompok sampel menunjukkan hal tersebut. Nilai jarak
genetik kelompok sampel 1 lebih dekat dengan kelompok sampel 2 dan 5,
dibandingkan nilai jarak genetik dengan kelompok sampel 3 dan 4 (Tabel 13).
Struktur populasi ikan tuna mata besar di perairan Samudera Hindia ini
ditunjukkan oleh nilai-nilai Fst yang diperoleh melalui metode jarak berpasangan.
Kelompok sampel 1, 2 dan 5 berbeda nyata dengan kelompok sampel 3 dan 4
(Tabel 12).
Terdapatnya dua kelompok populasi (subpopulasi) ikan tuna mata besar di
perairan Samudera Hindia sebelah selatan Jawa dan Nusa Tenggara diduga karena
ikan tuna mata besar yang ada di perairan tersebut berasal dari dua perairan, yaitu
Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Ikan tuna mata besar yang berasal dari
Samudera Pasifik diduga masuk ke perairan Samudera Hindia melalui perairan
Filipina dan perairan diantara pulau-pulau Indonesia serta dari Australia (Suda
1971, diacu dalam Sumadhiharga 2001).
-5°
LAUT JAWA
-7°
JAWA
LAUT FLORES
BALI
Latitude
-9°
-11°
SAMUDERA HINDIA
-13°
-15°
-17°
105°
Subpopulasi 1
Subpopulasi 2
107°
109°
111°
113°
115°
117°
119°
121°
123°
125°
Longitude
Gambar 13 Struktur populasi ikan tuna mata besar di perairan Samudera Hindia
sebelah selatan Jawa dan Nusa Tenggara berdasarkan jarak genetik.
37
Studi struktur populasi berdasarkan analisis mtDNA pada sepesies yang
sama di perairan Samudera Atlantik, Samudera Hindia dan Samudera Pasifik
menunjukkan bahwa populasi ikan tuna mata besar di perairan-perairan tersebut
terbagi menjadi 2 populasi; yaitu populasi 1 berasal dari Samudera Atlantik,
sedangkan populasi 2 berasal dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik
(Bremer et al. 1998; Chiang et al. 2006; 2008). Data yang diperoleh dari
penandaan (tagging) ikan tuna mata besar menunjukkan beberapa spesies tersebut
melakukan perjalanan jauh tetapi tidak menunjukkan perjalanan lintas samudera
(Nishida et al. komunikasi pribadi, diacu dalam Appleyard et al. 2002).
Perjalanan lintas Samudera Atlantik ikan tuna mata besar telah dicatat oleh Pereira
(1995), diacu dalam Appleyard et al. (2002), namun sejauh ini diketahui bahwa
tidak ada bukti ikan-ikan tuna mata besar yang telah diberi penandaan berenang di
antara Samudera Atlantik dan Samudera Hindia.
4.4
Implikasi Manajemen Perikanan Tuna
Suatu populasi mempunyai keragaman genetik yang cukup tinggi maka hal
ini dapat memberikan indikasi bahwa populasi tersebut di alam masih belum
banyak mengalami gangguan. Sebaliknya jika keragaman genetik suatu populasi
rendah, maka populasi di alam rendah pula.
Analisis terhadap kelima kelompok sampel ikan tuna mata besar di
Samudera Hindia menunjukkan bahwa keragaman genetik yang dimiliki relatif
tinggi, namun pada kelompok sampel 5 mempunyai keragaman genetik yang
rendah. Rendahnya keragaman genetik pada kelompok sampel 5 diduga karena
daerah penangkapannya atau lokasi pengambilan sampelnya terletak di perairan
ZEE Indonesia, dimana daerah tersebut sudah terindikasi lebih tangkap. Indikasi
ini terlihat dari semakin kecilnya nilai laju tangkap (hook rate) di perairan
tersebut. Menurut Wudianto et al. (2003), laju tangkap di perairan ZEE Indonesia
lebih kecil dibandingkan nilai laju tangkap di luar perairan ZEE Indonesia. Nilai
laju tangkap di luar perairan ZEE Indonesia antara 0,30-1,59, sedangkan di
perairan ZEE Indonesia antara 0,38-0,83. Dapat dikatakan bahwa penelitian ini
telah berhasil pula membuktikan bahwa keragaman genetik yang rendah pada ikan
38
tuna merupakan indikator terjadinya lebih tangkap (over exploited) pada
perikanan tuna.
Berdasarkan temuan tersebut di atas, manajemen perikanan tuna yang dapat
dilakukan
sebaiknya
mencakup
tujuan
jangka
pendek
(terkait
dengan
penangkapan berlebih) dan tujuan jangka panjang dalam program konservasi,
sehingga kelangsungan sumber daya dengan hasil tangkapan yang optimal dapat
tercapai. Beberapa hal yang perlu dilakukan agar kedua tujuan tersebut dapat
tercapai diantaranya adalah dengan menjadikan daerah penangkapan di perairan
ZEE Indonesia sebagai daerah tertutup bagi penangkapan untuk sementara waktu
tertentu agar sumber daya tuna, khususnya tuna mata besar di daerah tersebut
dapat pulih kembali (renewable resources), membatasi produksi (kuota) atau
jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB), membatasi upaya penangkapan
dengan tidak menambah izin dan sekaligus mengurangi jumlah kapal penangkap
ikan di perairan tersebut, pengawasan terhadap kapal-kapal, terutama kapal tuna
longline yang melakukan Illegal, Unregulated, Unreported (IUU) fishing di
perairan ZEE Indonesia, dan melakukan kerja sama dengan organisasi
pengelolaan perikanan regional (Regional Fisheries Management Organization,
RFMO) khususnya perikanan tuna di Samudera Hindia yaitu Komisi Tuna
Samudera Hindia (Indian Ocean Tuna Commission, IOTC) agar Indonesia dapat
berperan lebih aktif dalam mengelola perikanan tuna di Samudera Hindia.
Penutupan daerah penangkapan sementara waktu di perairan ZEE Indonesia
ditujukan pada daerah yang diduga merupakan daerah pemijahan (spawning
ground) ikan tuna mata besar. Perlu penelitian yang mendalam untuk mengetahui
daerah pemijahan ikan tuna mata besar di Samudera Hindia. Penelitian itu
meliputi aspek penangkapan seperti mengetahui daerah-daerah penangkapan ikan
tuna mata besar di perairan Samudera Hindia dan aspek biologi seperti tingkat
kematangan gonad (TKG), ukuran pertama kali matang gonad (length at first
maturity) dan larva ikan tuna mata besar. Dengan diketahuinya tingkat
kematangan gonad dan ukuran pertama kali matang gonad ikan tuna mata besar di
suatu daerah penangkapan pada waktu tertentu, maka akan diketahui daerah dan
musim pemijahan (spawning season) dari ikan tuna mata besar. Penelitian ini
dapat berhasil dengan baik jika dilakukan secara berkesinambungan selama
39
beberapa tahun dan dikerjakan bersama-sama dengan negara-negara dan
organisasi pengelolaan perikanan regional yang bertanggung jawab terhadap
kelestarian sumber daya tuna mata besar di Samudera Hindia. Jika penelitian ini
berhasil, pemerintah Indonesia dan organisasi pengelolaan perikanan regional di
Samudera Hindia dapat membuat keputusan atau kebijakan mengenai kapan dan
daerah mana yang ditutup sementara waktu untuk penangkapan ikan tuna mata
besar sehingga kelestarian sumber daya ikan tuna mata besar di perairan
Samudera Hindia dapat terjaga.
Pada tahun 1999 pemerintah telah mengeluarkan Surat Keputusan Menteri
Pertanian No. 995/Kpts/IK.210/9/99 tentang Jumlah Tangkapan Ikan yang
Diperbolehkan (JTB) pada beberapa Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP). JTB
diperoleh sebesar 80% dari Maximum Sustainable Yield (MSY) yang ada pada
setiap WPP dan ditentukan berdasarkan hasil pengkajian stok yang dilakukan oleh
Komisi Nasional Pengkajian Stok Sumberdaya Ikan Laut, LIPI. JTB untuk tuna di
WPP Samudera Hindia yaitu sekitar 73.500 ton. Nilai ini diperoleh dari hasil
pengkajian stok sumber daya ikan laut pada tahun 1997. Hingga saat ini belum
ada surat keputusan yang baru tentang berapa JTB di WPP Indonesia berdasarkan
pengkajian stok sumber daya ikan laut pada tahun 2001 (Mertha 2005).
Pemerintah Indonesia harus segera menghitung ulang berapa MSY di seluruh
perairan Indonesia, khususnya WPP Samudera Hindia agar JTB diketahui.
Penelitian mengenai pengkajian stok ikan tuna, khususnya ikan tuna mata besar
harus melibatkan negara-negara yang dilalui oleh migrasi ikan tuna tersebut.
Selain itu, Indonesia juga harus bekerja sama dengan organisasi pengelolaan
perikanan regional yang bertanggung jawab akan kelestarian sumber daya ikan
tuna mata besar di Samudera Hindia yaitu IOTC. IOTC sebagai organisasi
pengelolaan perikanan regional di Samudera Hindia berencana akan menetapkan
kuota penangkapan ikan tuna mata besar bagi setiap negara. Besarnya kuota
penangkapan yang akan ditetapkan untuk setiap negara hingga saat ini belum
diketahui. IOTC masih mengkaji berapa kuota penangkapan untuk setiap negara.
Jika nanti ada suatu negara yang melanggar atau melebihi kuota yang telah
ditentukan oleh IOTC, maka negara tersebut akan terkena sanksi.
40
Jumlah kapal tuna longline di Indonesia terus mengalami kenaikan.
Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (2005) mencatat bahwa ada sekitar 6.547
unit kapal tuna longline di Indonesia pada tahun 2003. Jumlah tersebut meningkat
dibandingkan pada tahun 2002 yang hanya berjumlah 2.264 unit. Untuk
membatasi dan mengurangi jumlah kapal-kapal tersebut peran pemerintah pusat
dan daerah sangat penting. Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) sebagai
instansi yang menangani langsung masalah perikanan dan kelautan di Indonesia
harus berperan lebih aktif untuk mengontrol dan mengawasi jumlah kapal tuna
longline yang ada di Indonesia. DKP dapat membatasi jumlah kapal tuna longline
yang beroperasi di perairan Indonesia, terutama kapal-kapal yang berukuran >30
GT karena izin kapal-kapal tersebut dibuat oleh DKP. Selain itu juga DKP dapat
menentukan jumlah kapal tuna longline yang dapat beroperasi di suatu perairan di
Indonesia berdasarkan kuota atau JTB yang dikeluarkan oleh pemerintah. Untuk
pemerintah daerah juga diharapkan dapat mengontrol dan mengawasi jumlah
kapal tuna longline yang berukuran <30 GT karena izin kapal-kapal tersebut
dibuat oleh pemerintah daerah, khususnya Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi.
Pemerintah pusat dan daerah harus bekerjasama dalam hal penentuan jumlah
kapal tuna longline yang dapat beroperasi di suatu perairan di Indonesia, terutama
di Samudera Hindia.
Sangat terbukanya perairan Indonesia terhadap dunia luar, menyebabkan
mudahnya kapal-kapal tuna longline asing melakukan kegiatan IUU fishing di
perairan Indonesia, terutama di Samudera Hindia. Kegiatan IUU fishing tidak
hanya dilakukan oleh kapal-kapal tuna longline asing, tetapi juga oleh kapal-kapal
tuna longline Indonesia. Lemahnya kontrol dan pengawasan di lapangan,
memungkinkan terjadinya kegiatan IUU fishing. Hal ini dikarenakan masih
sedikitnya armada-armada atau kapal-kapal pengawas yang mengawasi perairan
Samudera Hindia. DKP dengan dibantu oleh TNI AL, diharapkan dapat
menangkap pelaku-pelaku yang melakukan kegiatan IUU fishing di perairan
Samudera Hindia. Indonesia harus membuat daftar kapal-kapal tuna longline yang
melakukan kegiatan IUU fishing di perairan Indonesia, baik itu kapal-kapal tuna
longline asing maupun kapal-kapal tuna longline Indonesia dan daftar tersebut
kemudian dilaporkan kepada IOTC yang kemudian oleh IOTC akan disebarkan
41
kepada negara-negara anggota IOTC sehingga negara-negara anggota IOTC
mengetahui kapal-kapal mana saja yang melakukan kegiatan IUU fishing dan
segera melakukan tindakan terhadap kapal-kapal tersebut.
Agar Indonesia dapat berperan aktif dalam pemanfaatan dan pengelolaan
perikanan tuna, Indonesia mau tidak mau harus menjadi anggota organisasi
pengelolaan perikanan regional Samudera Hindia, yaitu IOTC. Hal ini sudah
diwujudkan dan secara resmi Indonesia telah menjadi anggota IOTC yang ke 27
sejak tanggal 20 Juni 2007 (Anonim 2009b). Dengan bergabungnya Indonesia ke
dalam organisasi ini, diharapkan Indonesia dapat memanfaatkan sumber daya tuna
di perairan Samudera Hindia dengan bertanggung jawab sehingga kelestarian
sumber daya ikan tuna tetap terjaga, membantu Indonesia dalam menanggulangi
IUU fishing, membuka kesempatan bekerja sama dengan negara-negara anggota
IOTC, terhindar dari embargo ekspor tuna, ikut serta mengatur pengelolaan
sumber daya ikan tuna di Samudera Hindia, turut menentukan kuota hasil
tangkapan maupun kuota ekspor ikan tuna, dan sebagai alat kerja sama penelitian
perikanan tuna di perairan Samudera Hindia.
Download