strategi komunikasi pesantren salafiyah al

advertisement
81
STRATEGI KOMUNIKASI
PESANTREN SALAFIYAH AL-MUNAWAR BANI AMIN
DALAM MENINGKATKAN PERANNYA UNTUK MENDUKUNG
PEMBANGUNAN DI PROVINSI BANTEN
Strategi Komunkasi Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin
Malam itu, sekitar pukul 18.30 selesai sholat Magrib, rombongan Kyai
Wawang bersiap memenuhi undangan di kampung sebelah. Beliau diminta
memimpin pembacaan surah Yasin, memperingati setahun meninggalnya seorang
tokoh masyarakat. Ritual ini disebut “ngehol”. Acaranya dilangsungkan di Tempat
Pemakaman Umum (TPU) tempat bersemayam almarhum. Tepat pukul 19.00, Kyai
tiba di depan pekuburan. Kedatangan Kyai disambut hangat oleh ratusan tamu yang
sudah berkumpul di situ, mereka mendekati, bergantian mencium tangan Kyai. Kyai
dipersilahkan duduk di dipan khusus, sebuah kursi panjang dan agak lebar, alasnya
terbuat dari anyaman bambu, ditopang dengan kayu di keempat kakinya, diletakkan
di antara makam-makam yang ada, diatasnya digelar kasur kapuk dibalut kain batik
yang masih terlihat baru, terkesan seperti singgasana kehormatan. Telah tersedia pula
berbagai jenis hidangan makanan dan minuman di hadapan Kyai. Terpisah dari
dipan-dipan tamu lainnya, namun semuanya saling berhadapan dan melingkar. Di
seberang jalan, berhadapan dengan TPU, tempat tinggal almarhum juga sudah
dipenuhi ibu-ibu dan ratusan tamu lainnya.
Sambil menunggu yasinan dimulai, tokoh-tokoh masyarakat di lingkaran
pertama dimana Kyai duduk mulai berbincang, membicarakan segenap persoalan
masyarakat, masalah kenaikan harga, pemilihan Wali Kota Serang yang sebentar lagi
akan dilangsungkan, dan politik uang yang merajalela menjelang pemilukada. Tidak
berapa lama, acara dimulai. Selama lima belas menit, surah Yasin dan tahlilan
dibacakan bersama. Setelah selesai, Kyai bermunajat, berdoa untuk keselamatan
almarhum di alam kubur dan keselamatan bagi semua yang masih hidup. Selesai
berdoa, Kyai memberikan tausiyah singkat kepada warga. Setelah semua ritual
terjalani, hidangan makan malam dihantarkan ke kuburan untuk disantap bersama.
Sebelum pulang, rombongan Kyai disuguhi oleh-oleh makanan untuk dibawa pulang.
Pamitnya Kyai juga menjadi sedikit ritual yang panjang, karena kembali semua warga
mendekat, bersalaman mencium tangan.
Selepas acara ngehol, perjalanan dilanjutkan ke kampung Kresek, Tangerang,
menghadiri undangan Walimatul Khitan (sunatan) dan memberikan Tausiyah
Rajaban. Sepanjang perjalanan menuju Kresek, Kyai dan kami yang ada di mobil
berbincang, tidak habis pikir membahas kondisi jalan yang kami lalui rusak parah,
padahal belum setahun diperbaiki. Setelah satu jam menempuh perjalanan, mobil
yang kami tumpangi memasuki gerbang kampung. Mobil Kyai diparkir tepat di muka
kampung. Selanjutnya, kami bejalan kaki, dipandu oleh beberapa pemuda yang telah
menunggu.
Suasana penyambutan Kyai sangat terasa. Di kanan – kiri kami, telah
dipasang berjajar obor terbuat dari bambu setinggi pinggang orang dewasa, pengganti
ketiadaan lampu penerangan jalan, di tengah rapatnya perkebunan bambu sepanjang
82
mata memandang. Pendaran cahaya obor menerangi langkah-langkah kaki yang
terjejak agar tidak terjerembab di lubang dan beceknya tanah yang basah terguyur
hujan sepanjang sore tadi. Suasananya begitu sepi. Di beberapa ruas jalan yang rusak
parah, tumpukan batu sengaja ditaruh agar kondisi jalan tidak terlalu buruk. Setelah
sepuluh menit berjalan, suasana terlihat berbeda. Tampak masyarakat ramai
berkumpul, meriah, terang oleh berbagai lampu listrik dan gantungan-gantungan
petromak. Menuju panggung acara, puluhan pemuda berbaris, berseragam putih
lengan panjang, memakai sarung dan kopiah menyambut kedatangan Kyai. Tidak
ketinggalan tabuhan musik rebana turut mengiringi kedatangan Kyai, dimainkan
sekelompok pemuda dengan atraktif.
Pelataran mushola kampung telah disulap menjadi ruang tunggu Kyai. Sebuah
permadani digelar khusus untuk Kyai, di antara karpet mushola yang sudah lusuh.
Hidangan makan dengan beragam lauk pauk sudah disiapkan. Kami dipersilahkan
bersantap terlebih dahulu. Selama bersantap, tokoh-tokoh masyarakat menemani dan
berbicang membicarakan berbagai masalah yang aktual di masyarakat, terutama
persolan merebaknya aliran-aliran yang dianggap sesat merusak akidah umat. Di luar
Mushollah, sambil menunggu Kyai memberikan Tausiyah, lantunan ayat-ayat suci
diperdengarkan oleh Qori dan Qoriah secara bergantian. Semakin malam, masyarakat
yang datang bertambah dari kampung sebelah. Ketika tausiyah berlangsung, suasana
begitu khidmat dan hening, tidak ada warga yang beranjak hingga selesai.
Selesai memberikan Tausiyah jam menunjukkan pukul 00.30 WIB. Sebelum
rombongan Kyai Pamit, barisan pemuda yang tadi menyambut kedatangan Kyai,
kembali berbaris melepas kepergian Kyai. Kali ini lebih banyak lagi berbagai
bungkusan makanan yang telah disiapkan tuan rumah untuk dibawa pulang Kyai.
Selepas dari memberikan Tausiyah disepatan, Tangerang, perjalanan dilanjutkan
menuju Kasemen, Kota Serang, daerah yang terkenal sebagai lumbung padi Kota
Serang. Kali ini Kyai diundang untuk memberikan tausyiah dalam acara pernikahan.
Tepat pukul 02.20 WIB rombongan tiba di tempat acara berlangsung. Tidak
menunggu lama, Kyai naik ke mimbar selama satu jam. Setelah itu, rombongan Kyai
dipersilahkan singgah di salah satu rumah tokoh masyarakat. Kembali berbincang
tentang segenap persoalan masyarakat dan saling menukar informasi, sambil
bersantap berbagai hidangan yang telah disediakan.
Selesai acara di Kasemen Serang, sebenarnya Kyai Wawang masih ada satu
undangan lagi, yakni memberikan Tausiyah ba’da subuh di Pandeglang, sekitar dua
jam perjalanan dari Kasemen. Namun Kyai sudah mengkonfirmasi ke pemangku
hajat bahwa ia tidak bisa datang. juga empat undangan yang tidak didatanginya di
pagi hingga sore tadi. Semenjak lima bulan lalu, kesehatannya terus menurun. Oleh
sebab itu ia membatasi undangan memberikan tausiyah sehari hanya di tiga tempat,
dijadwalkan malam hari, ujar Kyai Wawang. Siang hari ia gunakan untuk beristirahat
dan memanfaatkan waktunya mengajar santri mengaji. Suatu saat, perjuangan
dakwah ini mesti saya wariskan ke Ustadz yang sudah mampu melakukannya, saya
sendiri ingin khusyu mengajar santri saja, ujar Kyai Wawang kembali.
Tidak ada yang dapat menggantikan tugas dan peran Kyai jika belum diminta
oleh Kyai atau karena Kyai benar-benar berhalangan. Manajemen tradisional yang
berjalan memang tidak mengarah kepada pelimpahan wewenang secara otomatis.
83
Prosedural formal dalam organisasi Pesantren Salafiyah tidak nampak. Kyai menjadi
tumpuan dalam manajemen pengelolaan dan operasional Pesantren Salafiyah.
Keterlibatan Ustadz dalam menentukan jadwal Tausiyah Kyai hanya pada
penjadwalan Tausiyah yang dicatat secara rapih untuk diingat kembali oleh Kyai.
Pada beberapa agenda tausiyah yang dijadwalkan namun tidak bisa dihadiri oleh
Kyai, ditawarkan Ustadz pengganti yang dianggap mampu, jika pihak pengundang
mau, maka Ustadz yang dipercaya Kyai akan menggantikannya. Secara internal
komunikasi yang berjalan begitu fleksibel, tanpa ambisi dan berjalan dalam alur
kekeluargaan yang saling menjunjung serta saling menghormati.
Strategi Komunikasi Organisasi
Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin
Manajemen Pesantren Salafiyah dan sistem pembelajarannya mempunyai
karakteristik tersendiri, tidak menganut ketentuan-ketentuan formalistik dan
prosedural yang ketat. Hal ini karena organisasi sistem pembelajaran itu sendiri
terbentuk sebagaimana kebutuhan dalam keluarga. Tidak ada struktur formal. Semua
bertumpu kepada Kyai. Kendati, bukan berarti tidak ada kecenderungan atau orientasi
pembagian tugas di dalam Pesantren Salafiyah itu sendiri. Setidaknya strategi
komunikasi yang berkaitan dengan pembagian tugas dan wewenang Kyai terhadap
keseluruhan tugas yang diemban Kyai, pada tahap perencanaan dilimpahkan kepada
Ustadz, sebagi berikut:
Masalah santri dan
pengajian internal
ponpes
Ustadz 2
Ustadz 1
Kyai
Ustadz 3
Ustadz 4
Menangani PHBI
Logistik
dan
Usaha
wakil dan
personifikasi Kyai
dlm semua urusan
Utadz 2
Urusan Eksternal
Ponpes: sosial
kemasyarakatan
Ustadz 5
Menggantikan Kyai
ketika berhalangan
bertausiyah
Gambar 8.1 Strategi Komunikasi Organisasi Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani
Amin
84
Strategi komunikasi organisasi Pesantren Salafiyah Salafiyah Al-Munawar
Bani Amin dapat dikaji Pentad Analysisnya sebagai berikut:
Tabel 8.1 Kajian Pentad Analysis Peran Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin
dalam strategi komunikasi Organisasi
Teori
Kajian
Scene
Kyai Pesantren Salafiyah memegang peranan penting dan utama
dalam melihat dan menentukan Ustadz yang dapat mewakilinya
untuk kepentingan dan kebutuhan pengelolaan pesantren dalam
urusan mengajar menggantikan posisi Kyai, mewakili Kyai dalam
urusan sosial keagamaan ketika berhalangan, termasuk dalam hal
peringatan hari besar keagamaan. Termasuk untuk urusan logistik
dan bisnis Kyai.
Agent
Kyai pimpinan Pesantren Salafiyah
Act
Motivasi dan pemikirannya adalah kemampuan untuk menggantikan
Kyai secara proporsional keilmuan dan kematagannya
Agency
Instrumennya adalah Kyai pimpinan Pesantren Salafiyah
Purpose
Menggantikan peran Kyai
Strategi Komunikasi Internal Pesantren Salafiyah
Al Munawar Bani Amin
Walau tidak secara kaku komunikasi pembagian tugas dijalankan namun bisa
dipastikan bahwa orientasi dari pelimpahan wewenang antara Kyai dengan Ustadz
berjalan dengan baik dengan masing-masing orientasi pembagian tugas yang jelas.
Dari gambaran strategi komunikasi dalam hal pembagian tugas tadi, maka gambaran
strategi komunikasi internal terjalin dalam permasalahan yang sangat dalam
menyangkut masalah-masalah yang lebih pribadi, melibatkan elemen penting di
dalam pesantren, yakni Kyai, santri, Ustadz dan Masjid (pengelola), sebagai berikut:
Guru
Masalah
Pendidikan
Masalah
Keluarga
Santri
Sant
ri
Kyai
Usta
dz
Pengelola
Masjid
Masalah
Pribadi Santri
PHBI
Masalah
Ponpes
Masalah
Keluarga
Ustadz
Masalah
Ekonomi Ustadz
Ibadah
Rutin
Kepengurus
ann
Gambar 8.2 Strategi Komunikasi Internal
Pengembangan
diri Ustadz
85
Strategi komunikasi internal yang dijalin dan terjalin di dalam Pesantren
Salafiyah memiliki kekuatan strategi yang baik mengingat saluran komunikasi yang
terjadi selain dua arah, juga memuat kebutuhan komunikasi yang sangat dekat karena
bukan saja membahas dan membicarakan hal-hal yang formal mengenai proses
belajar mengajar di Pesantren tetapi juga berkaitan masalah keseharian pelaku di
dalamnya atas dasar saling mempercayai.
Strategi komunikasi internal Pesantren Salafiyah Salafiyah Al-Munawar Bani
Amin dapat dikaji Pentad Analysisnya sebagai berikut:
Tabel 8.2 Kajian Pentad Analysis Peran Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin
dalam strategi komunikasi Internal
Teori
Kajian
Scene
Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin sebagai lembaga
pendidikan juga sebagai satu kesatuan keluarga besar dari keluarga
gurunya kyai, kyai dan keluarganya, keluarga santri dan Ustadz.
Dimana dalam satu satuan keluarga besar ini biasanya semua masalah
dibicarakan secara terbuka dengan Kyai yang menyangkut bukan saja
masalah kependidikan di pesantren tapi juga menyangkut persoalan
keluarga, ekonomi, hal-hal yang bersifat pribadi, terutama yang
berkaitan dengan pengembangan dan ibadah santri.
Agent
Guru Kyai memiliki pengaruh yang besar selain kyai sendiri di
Pesantren Salafiyah Al-Munawat Bani Amin untuk menggerakkan
pesantren yang diharapkan memiliki pengaruh kepada keluarga
masing-masing di pesantren. Sementara secara formal hubungan yang
lebih longgar (diluar keluarga santri dan Ustadz) dengan masyarakat
dapat lebih terjalin dengan masyarakat melalui pengurusan masjid
dilingkungan pesantren melalui ibadah rutin seperti ibadah lima
waktu, peringatan hari besar islam, dan sebagainya.
Act
Motivasi, karakteristik dan pemikiran dalam situasi ini adalah
implementasi berjamaah sebagai praktek keseharian ibadah
Agency
Guru Kyai, Kyai dan institusi masjid dalam pesantren
Purpose
Tujuannya adalah kemampuan membangun dan membentuk banteng
masyarakat yang kokoh atas kebutuhan implementasi nilai-nilai
keagamaan.
Strategi Komunikasi Eksternal Pesantren Salafiyah
Al Munawar Bani Amin
Komunikasi eksternal yang dimaksud adalah suatu pola komunikasi yang
dijalin elemen-elemn dasar Pesantren Salafiyah kepada pihak luar yang terdekat.
Sudah menjadi suatu pola umum bahwa kebutuhan komunikasi yang diterapkan oleh
pesantren, terutama Kyai syarat dengan makna pembelajaran yang dimulai dengan
kalangan terdekat lebih dahulu sebagai contoh teladan bagi kalangan terdekat baru
kemudian tertransmisikan kepada masyarakat yang lebih luas.
86
Strategi komunikasi eksternal Pesantren Salafiyah Salafiyah Al-Munawar
Bani Amin dapat dikaji Pentad Analysisnya sebagai berikut:
Tabel 8.3 Kajian Pentad Analysis Peran Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin
dalam strategi komunikasi Eksternal
Teori
Kajian
Scene
Komunikasi dengan pihak eksternal merupakan kebutuhan dari suatu
kepentingan syiar agama yang mesti dilakukan oleh Pesantren
Salafiyah. Interaksi ini biasanya dijalin melalui lingkungan terdekat
lebih dahulu sepertihalnya Nabi ketika memulai dakwanya dulu.
Dimulai dengan pengajian dilingkungan terdekat pesantren,
kemudian warga kamg di seputaran pesantren hingga masyarkat
diluar yang bias saja lintas daerah bahkan Negara. Kesederhanaan
dan model komunikasi tradisional yang dilangsungkan juga
berdampak kepada hubungan komunikasi dan interaksi kepada
pemerintah yang terbatas pada aparat dilingkungannya.
Agent
Kyai dan institusi Pesantren Salafiyah
Act
Motivasi dan karakteristik komunikasi eksternal yang dimulai secara
sederhana ini merupakan hal yang dicontoh pada saat zaman Nabi
Muhammad memulai dakwanya dari lingkungan terdekat hingga
pada seluruh dunia.
Agency
Instrumen yang digunakan adalah Kyai, santri dan Ustadz
Purpose
Mensyiarkan agama islam
Secara eksternal, strategi komunikasi Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani
Amin menjadikan setiap elemen komunikasi lainnya sebagai bagian dari transmisi
untuk tersampaikannya pesan yang sama kepada pihak atau masyarakat lain. Hal
yang dijaga dalam komunikasi eksternal ini adalah keteladanan yang ditunjukkan
kepada pihak yang paling dekat lebih dahulu secara geografis dan kedekatan
emosionalnya. Hal inilah yang kemudian menjadi pancaran transmisi yang mampu
memberikan gambaran dan personifikasi nilai-nilai budaya yang dirasakan nyaman
oleh masyarakat sehingga dibutuhkan.
Kemampuan berstrategi secara eksternal ini menjadi dasar bagi Pesantren
Salafiyah Almunawar Bani Amin untuk menguatkan pola strategi komunikasi dalam
rangka kaderisasi dan pemantapan kapasitas organisasinya dapat dikaji Pentad
Analysisnya sebagai berikut:
87
Tabel 8.4 Kajian Pentad Analysis Peran Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin
dalam strategi komunikasi kaderisasi
Teori
Kajian
Scene
Kyai pimpinan Pesantren Salafiyah menjadi faktor yang paling
menentukan terhadap keberhasilan santri yang dianggap telah cukup
dan dapat melanjutkan ke pesantren lain untuk melengkapi atau
meneruskan keilmuannya, bagi santri yang dianggap telah cukup
menimba ilmunya, mau bagi santri yang dianggap mampu dan
diminta untuk membuka Pesantren Salafiyah ditempat lain.
Kaderisasi ini secara otomatis membuka peluang bagi masyarakat
untuk memberikan predikat bagi santri-santri tersebut pada berbagai
predikat baru setelah lulus dari pesantren, seperti Ustadz. Bagi santri
yang membuka Pesantren Salafiyah baru, lama kelamaan masyarakat
sesuai dengan proses dan lamanya waktu akan memberikan predikat
Kyai
Agent
Kyai, Santri, Ustadz
Act
Motivasi dan pemikirannya adalah kembali mengamalkan ilmu di
pesantren yang sudah di dapat oleh santri
Agency
Santri –santri yang telah lulus Pesantren Salafiyah
Purpose
Mengamalkan ilmunya dan istiqomah di dalam kehidupan
masyarakat
Komuniksi eksternal yang dilakukan menjelaskan bagaimana eksistensi
Pesantren Salafiyah ditengah gempuran modernisasi pembangunan dan
masyarakatnya. Komunikasi strategi kaderisasi dalam Pesantren Salafiyah berjalan
secara sederhana dalam konsep komunikasi tatap muka yang menangandalkan
pembicaraan dalam budaya keluarga dari mulut ke mulut. Strategi ini menjadi lebih
murah secara biaya namun efektif dan efisien dalam memilih dan merekrut elemenelemen penting dalam Pesantren Salafiyah secara utuh.
Pada dasarnya, strategi komunikasi yang dibangun, baik secara internal mau
eksternal, merupakan suatu syiar agama, baik dalam perkataan mau perbuatan. Dari
mulai adab berbicara, makan, minum, bebersih diri, bermasyarakat dan lain
sebagainya. Ketika komunikasi internal dan eksternal tertransimikan menjadi suatu
komunikasi massa, maka hal ini menjadi komunikasi yang strategis, yakni dakwah
yang melibatkan massa secara luas, dihadiri oleh masyarakat dari berbagai strata
pendidikan, ekonomi, pekerjaan dan gender. Kemampuan berdakwa, bisa dibilang
sebagai jalan memperkukuh budaya dan keagamaan yang fundamental dari
keberadaan Pesantren Salafiyah di Banten, baik di perkampungan maupun perkotaan.
Di perkotaan sendiri, mengundang Kyai dan santri Salafiyah menjadi hal yang
menarik karena dianggap unik dan asli Banten. Syiar agama melalui komunikasi
massa dapat di kaji secara Pentad Analysis sebagai berikut:
88
Tabel 8.5 Kajian Pentad Analysis Peran Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin
dalam strategi komunikasi massa
Teori
Kajian
Scene
Peran aktif yang diperankan oleh kyai dan Ustadz dalam mengisi
berbagai kebutuhan sisi religi masyarakat baik dalam bentuk tausiyah
dan acara keagamaan lainnya berhasil merangkul kedekatan dalam
landasan keyakinan di berbagai strata sosial ekonomi masyarakat
terhadap pesan pembangunan dan persepsi serta sensitifitas bersama.
Kebersamaan dalam beragama menciptakan komunikasi massa yang
intens terutama dalam event-event rutin keagamaan.
Agent
Kyai dan Ustadz
Act
Motivasi, pemikiran dan karakteristik dalam situasi ini adalah
keinginan dan kebersamaan menyikapi secara bersama persoalan
sosial, ekonomi dan budaya masyarakat secara bersama.
Agency
Instrumennya adalah Kyai dan event keagamaan
Purpose
Penyikapan bersama secara kuantitas atas persoalan kemasyarakatan
Dalam setiap syiar agama yang disampaikan, menyampaikan visi Pesantren
Salafiyah dan menceritakan keberadaannya kepada masyarakat menjadi pesan yang
selalu disampaikan di sela-sela penyampaian pesan-pesan lainnya dalam suatu
tausiyah. Dan biasanya, cepat atau lambat, dari pesan tersebut berdampak kepada
Pesantren Salafiyah yang dipimpinnya dengan adanya orang tua yang tertarik
menitipkan anaknya sampai kepada pemberian bantuan kepada pesantren secara
perorangan.
Strategi Komunikasi Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin
Dalam Bidang Budaya dan Keagamaan
Strategi komunikasi massa yang disampaikan melalui syiar agama menjadi
penjabaran visi Pesantren Salafiyah dan latar komunikasi massa yang mudah
dikenali. Mengundang Kyai Salafiyah dengan honor seikhlasnya, bandingkan dengan
Ustadz selebritis yang menentukan dan mematok dana infaq yang harus dikeluarkan
pihak pengundang, misalnya. Panitia tidak perlu repot, menyiapkan akomodasi hotel,
menjemput atau mengantar pulang, memberikan contoh-contoh perilaku ke-islaman
yang memang dilakukan oleh Kyai di pesantren dalam keseharian bermasyarakat.
Kemudian, visi Salafiyah tersampaikan secara imlementatif tanpa mengkritik atau
menyindir secara tajam atas praktek-praktek pembangunan yang janggal. Syiar agama
ini masuk ke setiap lapisan masyarakat disetiap lapis stratanya, baik itu usia,
pekerjaan, jenis kelamin, dan ekonomi.
Syiar agama yang dilakukan rutin hampir setiap hari seiring dengan
permintaan masyarakat yang tiada henti. Hal ini membuktikan bahwa Pesantren
Salafiyah merupakan kekuatan budaya lokal yang memiliki jaringan komunikasi yang
luas. Sebagai kekuatan budaya lokal, Pesantren Salafiyah di Banten
merepresentasikan sub kultur Indonesia yang lebih adaptatif dan menghargai tradisi
89
dan kearifan budaya lokal. Menjadi rujukan atas keislaman dalam akar budaya yang
cinta damai, toleran, dan ramah.
Komunikasi pembangunan di Banten, seperti di wilayah lainnya, melibatkan
interaksi tiga komponen. Pertama, birokrasi pemerintahan, masyarakat, wakil rakyat,
pihak yudikatif (komunikator pembangunan). Kedua,
ide atau program
pembangunan yang disampaikan diberbagai media dan forum lainnya (pesan
pembangunan). Ketiga, masyarakat di setiap tingkat strata sosialnya baik yang tinggal
di kota mau desa (sasaran pembangunan). Secara normatif dan teoritis, pembangunan
ingin dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya. Dari aspek ini
pembangunan sebenarnya bersifat pragmatis pada upaya membangkitkan inovasi bagi
kebutuhan masyarakat pada masa kini dan yang akan datang. Oleh karena itu,
komunikasi berfungsi menata sikap dan perilaku manusia di dalamnya sebagai subjek
maupun sebagai objek pembangunan. Dalam konteks interaksi dan komunikasi
komponen pembangunan seperti yang sudah diulas, Pesantren Salafiyah merupakan
sarana yang dipilih masyarakat, terutama di desa untuk menaggulangi kerasnya
zaman dan pragmatismenya pembangunan serta tidak menentunya perkembangan
ekonomi. Pesantren Salafiyah mejadi pelindung ancaman nilai-nilai budaya yang
merugikan dari luar. Contoh, pelaksanaan Istighotsah yang dhadiri massa di salah
satu lapangan di Anyer, Banten (2013) dalam rangka menolak penambangan pasir
yang merugikan masyarakat pantai. Pesantren menjadi simbol budaya keislaman
yang mencerdaskan manusia secara lahir dan batin. Sebagai kekuatan budaya, strategi
komunikasi yang berlangsung di Pesantren Salafiyah dikaji secara Pentad Analysis
sebagai berikut:
Tabel 8.6 Kajian Pentad Analysis Peran Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin
dalam strategi komunikasi Budaya dan Keagamaan
Teori
Kajian
Scene
Dalam bidang budaya dan keagamaan, kyai dan Pesantren Salafiyah
mendapat tempat yang lebih baik dan berakar. Dukungan yang
diberikan bukan saja dari masyarakat baik pedesaan mau perkotaan,
tetapi juga meliputi pemerintah, politisi, pengusaha, organisasi sosial
keagamaan, media, seniman dan kalangan pariwisata. Hal ini terjadi
karena Pesantren Salafiyah telah menjadi kekuatan budaya yang telah
memproduksi berbagai bentuk kesenian yang diakui dan berakar di
masyarakat, seperti ritual tahlilan, delailan, marhabanan, terbang
gede, panjang mulud, rajaban, lebaran anak yatim. Pada bentuk
kesenian tertentu, seperti panjang mulud telah dijadikan event
pariwisata resmi dan rutin pemerintahan
Agent
Kyai dan Pesantren Salafiyah
Act
Berbagai bentuk kesenian dan budaya islam
Agency
Instrumen kesenian
Purpose
Menyampaikan berbagai syiar islam dalam bentuk kesenian dan ritual
dalam bermasyarakat
90
Kemampuan Pesantren Salafiyah menjadi salah satu kekuatan budaya lokal di
Banten tidak bisa dilepaskan dari adanya jaringan komunikasi segenap elemen
pembangunan yang secara signifikan membantu atau menaruh minat pada berbagai
kegiatan budaya yang berlangsung dan menjadi agenda rutin Pesantren Salafiyah.
Ditengah hingar bingarnya budaya pop masyarakat dengan tayangan-tayangan
televisi yang seringkali dikritik tidak mendidik, potensi kekerasan masyarakat yang
semakin meningkat, kesenian dan kehidupan tradisional Pesantren Salafiyah menjadi
daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang biasanya terekspos secara terbuka pada
moment tertentu, seperti panjang mulud, memperingati hari kelahiran Nabi
Muhammad dengn menggelar arak-arakkan berbagai barang kebutuhan sehari-hari,
mulai dari bahan makanan hingga barang-barang mewah, seperti kulkas, motor dan
sebagainya. Barang-barang ini setelah diarak dikumpulkan di satu titik temu bersama,
biasanya di Masjid, kemudian barang-barang tersebut dibagikan kepada anak yatim
piatu, masyarakat miskin, pesantren dan Kyai yang disegani.
Kesenian lain yang juga dimiliki oleh Pesantren Salafiyah dan diminati
masyarakat adalah Terbang Gede, suatu grup musik tradisional yang terdiri atas enam
samai sepuluh orang penabuh alat-alat musik tabuh, mengiringi seseorang yang
melantunkan puji-pujian. Beberapa agenda rutin kesenian yang lahir dari Pesantren
Salafiyah dijadikan event rutin pariwisata pemerintah provinsi Banten dalam rangka
menarik minat wisatawan lokal, seperti panjang mulud.
Strategi Komunikasi Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin
Dalam Bidang Pendidikan
Sebagai kekuatan pendidikan, Pesantren Salafiyah diakui menjadi lembaga
pendidikan moral tanpa cacat. Diakui atau tidak, moralitas merupakan pangkal dari
krisis multidimensi yang berkepanjangan yang melanda bangsa Indonesia saat ini.
Pemerintah, wakil rakyat, pejabat lemah dalam hal moralitas. Akibatnya, korupsi
semakin tidak tertandingi, lalai dalam menegakkan hukum, keadilan tidak segera
tercapai, nepotisme dan kolusi merajalela. Pembunuhan, konflik agama, pertengkaran
merupakan dampak dari rendahnya moralitas bangsa. Agama dijadikan komoditas
politik, legitimasi penguasa yang despotik, perampasan hak-hak asasi dan lain
sebagainya. Oleh karena itu, sebagai pusat studi agama, Pesantren Salafiyah memiliki
identitas khas selaku key player yang concern dalam mencetak generasi bermoralbaik.
Strategi komunikasi Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin dalam
bidang pendidikan dilakukan secara terbatas atau tidak secara langsung, tidak seperti
komunikasi yang dilakukan dalam bidang budaya dan keagamaan. Kemungkinan,
cara ini menjadi ciri khas islam tradisional yang telah dilakukan oleh para
pendahulunya, seperti Wali Songo di pulau Jawa, menyebarkan Islam melalaui jalur
budaya. Kemungkinan kedua, dari ketertarikan budaya ini diharapkan masyarakat
mempertimbangkan pendidikan tradisional Salafiyah kembali. Kemungkinan ketiga,
jika strategi komnikasi pendidikan dilakukan secara terbuka, bisa menyebabkan
adanya perbedaan nilai-nilai mendasar pendidikan ditingkat orientasi, tujuan dan
91
aplikasi yang dimiliki dalam pendidikan modern dari pola, cara dan metode
pembelajarannya, sehingga menyebabkan pertentangan yang tidak perlu, dimana
pemerintah, masyarakat secara luas, politisi memberikan dukungan mereka pada
bentuk dan model pendidikan modern. Sebagai lembaga pendidikan tradisional,
Pesantren Salafiyah mempertahankan komunikasi dengan masyarakat pedesaan dan
sedikit pengusaha yang masih simpatik kepada Pesantren Salafiyah, dan bisa
dikatakan memiliki andil dalam menjaga pesantren Salafiah. Strategi komunikasi di
bidang pendidikan dapat dikaji secara Pentad Analysis sebagai berikut:
Tabel 8.7 Kajian Pentad Analysis Peran Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin
dalam strategi komunikasi dibidang pendidikan
Teori
Kajian
Scene
Pesantren Salafiyah lebih dikenal sebagai lembaga yang memiliki
kekuatan dalam menyelenggarakan pendidikan keagamaan secara
konsisten sejak ratusan tahun lalu. Kemampuannya menelurkan
berbagai disiplin ilmu intelektual islam juga telah dikenal, mulai dari
keahlian ilmu alat, yakni ilmu yang digunakan untuk membaca,
memahami dan menafsirkan ilmu Al-Quran dan kitab gundul lainnya
langsung dari gramatika dan bahasanya langsung, tidak dari
terjemahannya, kemudian penguasaan ilmu hadist, penguasaan ilmu
tahfidz. Pendidikan yang diselengarakannya diadakan secara gratis,
dimana santri yang terserap lebih banyak dari kalangan miskin desa
dan perkotaan. Dalam bidang ini, strategi komunikasi yang diusung
hanya mendapat dukungan dari organisasi sosial keagamaan dan
sedikit pengusaha yang dekat dengan pesantren.
Agent
Lembaga pendidikan Pesantren Salafiyah
Act
Motivasi, pemikiran dan karakteristik yang ingin dibangun adalah
menjaga dan meneruskan prinsip-prinsip Salafiyah dalam
menegakkan syiar agama
Agency
Instrumenya adalah Pesantren Salafiyah dengan pengelolaan yang
gratis dan sederhana namun berkualitas
Purpose
Menegakkan syariat islam
Masyarakat pedesaan dan organisasi sosial keagamaan seperti Nahdatul
Ulama menjadi pendukung setia dari perjalanan pendidikan tradisional Pesantren
Salafiyah. Kedua elemen ini memiliki korelasi langsung yang signifikan. Masyarakat
pedesaan menjadi basis utama dari rekruitmen santri. Santri-santri dari pedesaan
biasanya datang dari kalangan petani miskin, anak-anak buruh tani serabutan dan
profesi-profesi informal lainnya. Walau ada juga santri dari masyarakat kota dan
kalangan mampu, tapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari.
Desa juga menjadi basis utama dari keberadaan santri, termasuk pendirian
kembali Pesantren Salafiyah ketika santri sudah selesai mondok dan mendapat izazah
92
(pesan atau amanat) untuk mendirikan pesanten Salafiyah kembali. Sementara
organisasi Nahdatul Ulama yang meyakini dirinya sebagai organisasi ulama, secara
ideal mengandalkan pucuk kepemimpinan ditingkat Rois Syuriyah dari kalangan
Pesantren Salafiyah yang dianggap matang dari sisi keilmuan agama dan
kewibawaannya di masyarakat sebagai tokoh agama. Secara garis besar
Kepengurusan Nahdlatul Ulama terdiri struktur pengurus Syuriyah sebagai pemegang
kebijakan tertinggi dan pengurus tanfidziyah sebagai pelaksana kebijakan. Pengurus
Syuriyah terdiri atas pengurus harian yang dipimpin oleh seorang Rois Syuriyah,
disamping a’wan syuriyah yang berkedudukan sebagai anggota dan pembantu fungsi
kesyuriyahan. Sedangkan Pengurus Tanfidziyah dipimpin oleh seorang Ketua untuk
melaksanakan tugas organisasi, pengurus Tanfidziyah membentuk lembaga dan
lajnah yang berfungsi sebagai departemen.
Dalam suatu perdebatan musyawarah kerja Pengurus Wilayah Nahdatul
Ulama Provinsi Banten ke tiga, Juni 2013 lalu, persoalan kaderisasi pengurus rois
syuriyah NU dan basis perekrutannya dari Pesantren Salafiyah menjadi perdebatan
hangat, mengingat NU merasa bahwa Pesantren Salafiyah merupakan indikator dari
keberadaan dan keberhasilan NU wilayah, terutama dalam regenerasi di tingkat Rois
Syuriyah. Namun hal ini menjadi kendala karena pesantren-Pesantren Salafiyah yang
ada di Banten hampir tidak terperhatikan oleh pemeritah mau oleh NU Banten
sendiri.
Strategi Komunikasi Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin
di Bidang Sosial
Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin tidak selalu menggunakan semua
hubungan sosial yang dimilikinya, tetapi disesuaikan dengan tujuan-tujuan yang ingin
dicapainya atau menyesuaikan diri pada konteks sosialnya dalam rangka mencapai
tujuan dengan mengikuti konfigurasi jaringan hubungan sosial tertentu. Dalam
strategi komunikasi pada aspek sosial, Pesantren Salafiyah berkomunikasi sesuai
dengan kebutuhan dan pengalamannya. Oleh karena itu, siapa memilih siapa
atau siapa dipilih siapa merupakan hal yang penting. Muatan sosial yang terjadi
dalam komunikasi mengalir mengikuti arus alamiahnya, dalam hal apa Kyai memilih
membina hubungan sosial dengan seseorang atau pihak tertentu dan tidak kepada
yang lain. Konteks sosial yang dibangun dirancang pada upaya membentuk
jaringan hubungan sosial berdasarkan pertimbangan syariah dan pembentukan
hubungan keagamaan. Dalam setiap hubungan sosial yang terbina belum tentu atau
tidak selalu bersifat "timbal balik" (resiprokal).
Pertimbangan strategi komunkasi di bidang sosial didasari atas realitas,
dimana kehidupan modern yang terbuka dan dinamis seperti sekarang, tentu saja bagi
sebagian orang, terutama anak muda, menjadi hal yang membosankan ketika merasa
terkungkung oleh nilai-nilai tradisonal dan sakral di dalamnya. Alasannya karena
agama bukanlah hal yang patut dipublikasikan atau ditawarkan, tetapi lebih kepada
panggilan. Seperti, berkain sarung, berkopiah, taat dan tekun beribadah,
meninggalkan hal-hal yang dapat menjauhkan seseorang dari agama. Ditengah situasi
sosial yang terbelah dengan nilai-nilai asing, dimana kebebasan, individualisme dan
93
nilai lainnya menjadi patokan semua elemen masyarakat, maka hal ini bertentangan
dengan kehidupan sosial yang hidup, tumbuh dan berkembang di Pesantren Salafiyah.
Ketidak cocokan nilai-nilai dasar sosial tadi menyebabkan strategi komunikasi yang
dipilih Pesantren Salafiyah sebagai kekuatan sosial membatasi diri kepada masyarat
pedesaan dan organisasi sosial keagamaan yang ada dan lekat di daerahnya secara
geografis dan ideologis dapat dikaji secara Pentad Analysis sebagai berikut:
Tabel 8.8 Kajian Pentad Analysis Peran Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin
dalam strategi komunikasi dibidang sosial
Teori
Kajian
Scene
Kehidupan sosial Pesantren Salafiyah biasanya lebih dekat pada
sosiologis pedesaan, dimana dalam kehidupan tersebut Pesantren
Salafiyah berkepentingan untuk mempertahankan nilai sosial yang
dianut memiliki kekuatan dan karakteristik yang dapat
mengkomunikasikan nilai-nilai keagamaan di dalam perubahan dan
pembangunan.
Agent
Kyai, Ustadz, Santri dan lembaga pesantren saafiyah
Act
Motivasi, pemikiran dan karakteritik sosial yang dibangun adalah
solidaritas dalam beragama
Agency
Pesantren Salafiyah sebagai lembaga social
Purpose
Terbangunnya kesadaran masyarakat atas kehidupan sosial
keagamaan
Kemungkinan besar strategi komunikasi sosial dibangun seperti ini agar santri
terhindar dari pengaruh langsung mau tidak langsung budaya Western yang saat ini
sudah pula memasuki kampung-kampung. Namun tidak bisa dinafikkan bahwa
lulusan Pesantren Salafiyah memiliki peran multi-sektor terhadap pembangunan
bangsa. Lulusan Pesantren Salafiyah selalu terpakai dalam kehidupan sosial
kemasyarakatannya, karena ditempatkan sebagai aktor dengan indikator nilai
keagamaan dan budaya yang diidamkan, diharapakan dan dijaga oleh masyarakat.
Oleh karena itu, keberadaannya seringkali menjadi tokoh keagamaan, dan pemimpin
masyarakat. Pesantren sebagai tempat pendidikan agama memiliki basis sosial yang
jelas karena keberadaannya menyatu dengan masyarakat. Pada umumnya, pesantren
hidup dari, oleh, dan untuk masyarakat. Visi ini menuntut adanya peran dan fungsi
pesantren yang sejalan dengan situasi dan kondisi masyarakat, bangsa, dan negara
yang terus berkembang.
Sementara itu, sebagai suatu komunitas, pesantren telah berperan menjadi
penggerak bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat mengingat pesantren
merupakan kekuatan sosial yang jumlahnya cukup besar. Secara umum, akumulasi
tata nilai dan kehidupan spiritual Islam di pesantren pada dasarnya adalah lembaga
tafaqquh fid din yang mengemban untuk meneruskan risalah Nabi Muhammad saw
sekaligus melestarikan ajaran Islam. Sebagai elit sosial, Kyai menjadi panutan dan
sekaligus pelindung masyarakat dari tindakan kesewenang-wenangan pemerintah.
Multi peran seperti inilah yang seringkali menjadikan Kyai bersikap serba salah dan
94
dilematis dalam kehidupan sosial. Peran dan tanggung jawab Kyai terhadap agama,
negara dan masyarakat secara bersamaan, tidak jarang menimbulkan benturan
kepentingan yang menjadikan pada posisi sulit. Pada saat hubungan pemerintah
dengan rakyat tidak harmonis, di mana dominasi negara sangat kuat, Kyai yang tidak
membela dan memperjuangkan kepentingan masyarakat akan dijauhi oleh masyarakat
dan santrinya. Hal ini berarti Kyai akan kehilangan sumber otoritas, kewibawaan dan
legitimasi sebagai Kyai, yang apabila tidak di manage dengan baik, Kyai akan
kehilangan posisi daya tawarnya, tidak hanya di hadapan pemerintah, tetapi di
hadapan masyarakat.
Strategi Komunikasi Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin
di Bidang Politik
Politik pada dasarnya adalah soal pengaruh mempengaruhi, sementara
pengaruh itu ditentukan oleh kuasa atau power yang dimiliki. Power sendiri bisa
muncul dari berbagai sumber, sejak dari yang paling abstrak, pengetahuan, keturunan,
moralitas, dukungan massa hingga kapital, termasuk senjata. Mereka yang memiliki
salah satu atau sebagian darinya akan memiliki power, dan power akan menghasilkan
pengaruh di masyarakat, baik karena terpaksa atau sukarela. Kekuatan politik
biasanya ditandai dengan kemampuan seseorang atau kelompok atas posisi tawar
yang dimiliki untuk mempengaruhi suatu kebijakan atau dalam kerangka memperoleh
akumulasi kekuasaan atas sumber daya pembangunan baik secara sukarela mau
terpaksa.
Kyai dengan dukungan massa yang sangat besar, dipandang sebagai simbol
kekuatan moral dalam politik yang sangat signifikan, potensi seperti itu dianggap
strategis ditarik ke ranah politik, baik sebagai pemain langsung atau sebagai
kekuatan yang mampu mempengaruhi massa dan sekaligus pemberi legitimasi moral.
Hal ini merupakan kekuatan Kyai yang riil, hanya saja kekuatan itu seringkali
berakibat negatif, karena dengan powernya itu ia selalu dicurigai. Di sisi lain daya
tarik politik yang besar itu seringkali dimanfaatkan secara pragmatis, untuk
melegitimasi kebijakan pihak atau kelompok tertentu, bukan sebaliknya untuk
menekan negara untuk membebaskan rakyat. Belum lagi ketika kekuatan politik
moral itu ditarik menjadi politik praktis, sehingga membuat banyak Kyai yang
terserap ke partai politik.
Dalam ranah politik, Kyai menjadi pilar kultural utamanya. pemain politik
berupaya menempatkan beberapa Kyai sebagai motor penggerak atau sekedar
legitimator moral. Kecenderungan tersebut tampaknya juga terjadi pada arena politik
lokal, Dalam kasus-kasus pemilihan kepala daerah, Kyai banyak terlibat dalam upaya
membangun dukungan politik bagi calon-calon tertentu. Para calon kepala daerah
sendiri, bupati atau gubernur, juga tidak henti berupaya melakukan hal yang sama
sebagaimana dilakukan para politisi partai. Namun sepak terjang Kyai dalam kancah
politik praktis ternyata membawa perubahan pada penilaian masyarakat terhadap
Kyai pesantren. Kyai yang dulunya sangat disegani oleh masyarakat, bisa tidak lagi
disegani, karena terjun ke dalam politik praktis. Alasan yang biasa disampaikan oleh
95
masyarakat adalah karena perilaku Kyai sudah berubah, tidak lagi menjadi panutan.
Meski kasusnya tidak banyak, tetapi figur Kyai menjadi turun. Jika dulu Kyai
menjadi tuntunan, bisa menjadi tontonan. Oleh karena itu, strategi komunikasi
Pesantren Salafiyah di bidang politik dapat dikaji secara Pentad Analysis sebagai
berikut:
Tabel 8.9 Kajian Pentad Analysis Peran Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin
dalam strategi komunikasi dibidang politik
Teori
Kajian
Scene
Ketaatan masyarakat terhadap arahan dan perkataan Kyai pimpinan
Pesantren Salafiyah seringkali menjadi kebutuhan dunia politik
praktis terhadap legitimasi moral para politisi mau elit politik.
Ketaatan masyarakat sendiri tercipta kuat dengan pesantren
dikarenakan hubungan yang erat dengan masyarakat diserangkaian
kegiatan sosial keagamaan yang ada menjadi incaran atas keyakinan
dunia politik
Agent
Kyai
Act
Moralitas Kyai untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat
Agency
Kyai dan Pesantren Salafiyah
Purpose
Mendapatkan dukungan politik
Dalam kehidupan politik, Kyai dan tokoh pesantren sering kali menjadi
sasaran para politisi dalam membangun basis dukungan politik pada setiap pemilihan
umum. Kyai berpotensi besar menjadi power yang berpengaruh atas kemenangan
politik. Sosok Kyai menjadi incaran para politisi untuk dimintai restunya, atau
bahkan melibatkannya dalam kepengurusan partai. Tim sukses yang telah dibentuk
para leader partai sekarang ini menunjukkan bahwa peran para Kyai yang signifikan
akan dapat meraup suara. Sosok Kyai awalnya hanya dalam lingkup pesantren yang
mentransformasikan nilai-nilai agama pada masyarakat lokal, ternyata ketika di ranah
politik menjadi
posisi yang strategis. Karena para Kyai dianggap dapat
mengubah mind-set masyarakat yang lebih luas dalam berbagai bidang, termasuk
politik di Indonesia. Memang terbukti bahwa Kyai dalam tradisi pesantren mampu
membangun sistem kekerabatan yang berlangsung cukup efektif, sehingga tradisi itu
dapat berkembang menjadi sistem sosial yang berpengaruh dalam masyarakat luas.
Selama ini masyarakat memposisikan Kyai sebagai sosok teladan, sumber hukum,
serta pendorong perkembangan ekonomi dan politik. Dengan , semua tindakan untuk
kepentingan umum hampir pasti minta restu dan izin dari Kyai.
Konseptual Strategi Komunikasi Pesantren Salafiyah
Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa strategi komunikasi Pesantren
Salafiyah dapat dibedakan menjadi strategi yang bersifat terencana, dinamis dan
terbuka (dibidang budaya dan keagamaan) dan strategi yang bersifat tergantung pada
aspek sosiologis (dibidang sosial, pendidikan dan politik). Dalam aspek teoritis,
96
strategi yang menjadi pilihan Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin
mendapatkan kerangka konseptualnya, seperti yang dikatakan oleh Whittington
(2001) menyebutkan ada empat teori tentang strategi yakni: teori klasik,
evolusioner, proses, dan sistem. Teori Klasik menekankan pada perencanaan, evolusi
menekankan keterbukaan. Teori proses menekankan pada sifat dinamis dan
spontanitas langkah-langkah atau tindakan yang dilakukan. Sedangkan teori sistem
menekankan pada sosiologi dan perilaku manusia. seperti pada gambar dibawah ini:
Aspek Pendidikan,
Budaya dan
Keagamaan
Terencana, Dinamis,
Terbuka
Pesantren Salafiyah
Aspek Ekonomi,
Sosial, Politik
Strategi Komunikasi
Pembangunan
Tergantung pada
aspek sosiologis
Gambar 8.3 Konseptual Strategi Komunikasi Pesantren Salafiyah Al-Munawar
Bani Amin
Eksistensi Pesantren Salafiyah yang kokoh pada aspek budaya dan keagamaan
tidak bisa dilepaskan dari strategi komunikasi pembangunan yang dilakukan secara
terbuka, dinamis dan konsisten. Hal ini terjadi karena, aspek budaya dan keagamaan
merupakan dimensi paling dasar dari strategi komunikasi pembangunan Pesantren
Salafiyah. Dalam kategori ini strategi disusun dalam suatu catatan panjang sejarah
dan kultur Salafiyah itu sendiri dan dilaksanakan oleh kumpulan masyarakat tertentu
yang terikat dengan budaya tersebut. Strategi dalam kategori ini menempatkan proses
penentuan kebijakan pada bidang budaya. Dimana kebijakan tersebut merupakan
hasil dari proses berkelanjutan dari proses trust.
Mengapa kemudian Pesantren Salafiyah lebih tergantung pada aspek
sosiologis pada strategi komunikasinya pada aspek sosial, pendidikan dan politik,
karena gabungan dari dimensi sumber daya ekonomi organisasi pembuat strategi,
proses manajerial organisasi, informasi, proses pemikiran dan pemaknaan secara
bersungguh-sungguh hanya akan handal melalui melalui sebuah doktrin, sementara
pondasi pada aspek ini, Pesantren Salafiyah berdiri pada keikhlasan yang tidak bisa
menerima doktrin. Terutama pada keterkaitan politik dengan konflik.
Dikaji dari sisi Komunikasi dan pembangunan, maka strategi komunikasi
Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin, baik yang terbuka mau tergantung
secara sosiologis saling berkaitan. Keduanya mempunyai andil penting dalam
merencanakan dan mengelola suatu kehendak perubahan yang diinginkan dan
memberi manfaat bagi kehidupan suatu masyarakat. Perubahan yang dimaksud tentu
saja kearah yang lebih baik dari kondisi sebelumnya, termasuk proses dan arah
perubahan tersebut. Strategi komunikasi yang telah digunakan diharapkan dapat
97
menjadi perekat dalam memahami kebutuhan dan antisipatif laju pembangunan
lahiriah dan batiniah. Strategi komunikasi yang telah dimainkan oleh Pesantren
Salafiyah Al Munawar Bani Amin, mencerminkan proses perubahan sikap, pendapat
dan perilaku pesantren tersebut meliputi peran dan fungsi komunikasi sebagai suatu
aktivitas pertukaran pesan secara timbal balik di antara masyarakat dengan
pemerintah, dimulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
pembangunan. Dalam arti terbatas, penerapan strategi terbuka pada aspek budaya dan
keagamaan merupakan segala upaya dan cara serta teknik penyampaian gagasan dan
keterampilan komunikasi pembangunan yang berasal dari pihak pesantren terhadap
pihak yang memprakarsai pembangunan dan diwujudkan pada masyarakat yang
menjadi sasaran dapat memahami, menerima dan berpartisipasi dalam pembangunan,
keberhasilan aspek keagamaan dan budaya merupakan keberhasilan dalam aspek
permanen pembangunan yang akan secara cepat dan mudah diikuti oleh masyarakat
(Depari, Eduard dan Mc Andrew, Collin, 1991).
Strategi Komunikasi yang Tergantung
Pada Kondisi Sosiologis Masyarakat
Peristiwa Musrenbang
Strategi komunikasi Pesantren Salafiyah tidak semuanya bersifat terbuka dan
dinamis, setidaknya pada aspek pendidikan, sosial dan politik tergantung pada sifat,
perilaku dan perkembangan masyarakatnya (sosiologis). Kondisi ini diperoleh dari
gambaran sebagai berikut: 150 meter dari pesantren Al Munawar Bani Amin adalah
kantor Desa. Di kantor inilah biasanya berbagai pertemuan antar warga digelar,
termasuk Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) sebagai forum yang
dianggap sangat penting untuk mengangkat dan mengakomodir kepentingan
masyarakat Desa. Setiap diadakan Musrenbang, Kyai Wawang selalu diundang.
Namun dari sesemakin undangan Musrenbang, hanya dua kali ia turut menghadiri
acara tersebut, yakni tahun 2011 dan 2012 lalu. Pada saat pertama Kyai datang dalam
Musrenbang, ia merasa bersemangat. Karena ia tahu forum ini dapat diandalkan
untuk memberikan ide, permasalahan dan usulan dalam pembangunan desanya. Ia
telah mempersiapkan usulan agar pembangunan desa tidak hanya memfokuskan pada
pembangunan fisik namun juga membangun mentalitas spiritualitasnya.
Tapi siapa sangka, bahwa usulannya tersebut justru bertepuk sebelah tangan
hingga pada musrenbang selanjutnya. Hampir semua yang hadir justru bersepakat
memfokuskan usulan pembangunan pada hal-hal yang bersifat fisik. Alasanya selain
dapat terlihat, terasakan dan memberikan efek secara langsung bagi masyarakat mau
pengusaha-pengusaha lokal yang ada dikampung tersebut. Hal ini kemudian
menimbulkan dugaan kuat bahwa Musrenbang memang telah dijadikan forum
legitimasi atas perencanaan pengerjaan berbagai proyek. Selanjutnya, adalah
timbulnya kekecewaan yang kedua Kyai, ketika Musrenbang harus diputuskan
dengan voting bukan dengan musyawarah.
Kedatangannya yang kedua di Musrenbang, kekecewaan Kyai nampak lebih
besar, bahkan ketika Musrenbang belum dimulai. Karena ia merasa bahwa peserta
98
yang hadir saat itu bukan representasi dari perwakilan masyarakat sesungguhnya.
Tapi dari sebuah upaya rekayasa pihak tertentu agar forum dapat diarahkan pada
voting atas kepentingan usulan pembangunan fisik kembali. Dari sinilah Kyai merasa
bahwa kehadirannya hanya menciptakan kemubaziran, karena Musrenbang adalah
forum yang menempatkan kepentingan tertentu dalam pembangunan Desa yang
tersistematis dengan kepentingan penggarapan program-program di desa tersebut
dengan jaringan pengusaha diluar desa tersebut dan adanya kongkalikong dengan
pemerintah.
Musrenbang adalah salah satu fungsi aplikatif komunikasi pembangunan pada
aspek perencanaan. Musrenbang mesti dilakukan karena telah menjadi amanat UU
Nomor 25 Tahun 2004 tentang sistem perencanaan pembangunan nasional. Melalui
Musrenbang ini, proses pembangunan dapat digagas dari bawah dengan partisipasi
aktif masyarakat. Oleh karena itu, proses penyusunan kebijakan skala prioritas
program pembangunan perlu diperkuat pada proses komunikasi yang meliputi:
MUSBANGDES (Musyawarah Pembangunan Desa) atau istilah lainnya
MUSRENBANGDES (Musyawarah Rencana Pembangunan Desa). Perencanaan
pembangunan dimulai dari tingkat desa, yang biasanya dihadiri oleh mereka yang
ditunjuk oleh peraturan perundang-undangan, atau sesuai dengan kebijakan dari
kabupaten, namun seringkali dalam prakteknya hanya menjadi semacam lips
service belaka.
Pesantren Bani Amin Al-Munawar
tahu ada Musbangdes yang
diselenggarakan rutin dan tahu fungsi dari musbangdes tersebut. Namun menurut
Kyai kegunaan dari musbangdes ini masih perlu dipertanyakan. Mestinya sebelum
dilakukan musyawarah di tingkat desa, ketua-ketua RT dan RW, termasuk tokohtokoh masyarakat diajak berembuk dengan warga mengenai kebutuhan apa saja yang
harus diajukan sebagai usulan kepada pemerintah desa, lalu dilakukanlah
musyawarah pembangunan di tingkat desa tersebut. Sekarang ini, masyarakat di desa
ini menganggap bahwa pembangunan yang dilakukan di tempatnya seringkali
“dikatakan sebagai bantuan”, padahal memang pembangunan tersebut telah menjadi
hak warga masyarakat untuk mendapatkannya, dan sekali lagi bukan “bantuan
pembangunan” sebagaimana yang seringkali digulirkan oleh para elit politik, baik
dari lingkungan partai atau pemerintah. Mana ada partai politik yang memberikan
bantuan pembangunan, sedangkan mereka dalam menjalankan roda organisasi saja
belum bisa mandiri, masih disupport oleh pemerintah baik melalui APBD mau
APBN.
Musrenbangdes yang dilaksanakan di Desa Pabuaran Jati, sebenarnya selalu
mengundang Kyai sebagai tokoh masyarakat. Namun dari Serangkaian
Musranbangdes yang ada, biasanya hanya dilaksanakan ketika akan ada dana bantuan
yang turun, tidak dilakukan secara kontinyu sebagai sebuah penyerapan aspirasi dari
bawah. Musyawarah di desa ini juga biasanya hanya membahas kebutuhan
pembangunan desa secara fisik dari waktu ke waktu, karena hal ini dinaggap
menguntungkan (proyek) oleh lingkungan tersebut. Ditambah mekanisme pertemuan
biasanya dibenturkan pada pemungutan suara untuk menentukan program yang akan
dilaksanakan bukan pada mekanisme seharusnya yakni musyawarah untuk mencapai
kakta mufakat. Pelaksanaan voting biasanya juga sudah dipersiapkan dengan
99
hadirnya orang-orang yang sengaja untuk memenuhi kepentingan pemungutan suara
saja. Atas dasar alasan inilah Kyai beranggapan bahwa Musrenbangdes di desanya
nyaris tanpa substansi dan keasadaran atas apa yang diinginkan oleh masyarakat itu
sendiri.
Peristiwa Reses DPRD Banten
Desa Pabuaran Jati berada di Kecamatan Kragilan diwakili oleh para anggota
Dewan Pewakilan Rakyat Daerah dari PAN satu orang, PKS satu orang, Partai
Demokrat dua orang dan Partai Gerindra dua orang. Namun keberadaan wakil rakyat
tersebut, terutama dari parpol Islam belum menjadi representasi Pesantren Salafiyah
di wilayah tersebut. Keberadaan para anggota dewan ini perlu dibahas dalam konteks
komunikasi politik yang tidak bisa dipisahkan dari keberadaan komunikasi
pembangunan secara umum dalam rangka mengusung pembangunan dan kemajuan
daerah yang berlandaskan moralitas dan etika politik serta kepentingan masyarakat
secara lebih luas, khususnya Pesantren Salafiyah sebagai kekuatan budaya di Banten.
Oleh karena itu landasan pijak komunikasi politik ini berangkat dari upaya peneguhan
kembali penegakkan keinginan dan aspirasi sebagian besar masyarakat Banten untuk
mengaktualisasikan cita-cita kehidupan masa depan yang lebih baik, setelah berpisah
dengan Jawa Barat dan membentuk suatu propinsi tersendiri.
Tidak terkecuali di Desa Pabuaran Jati ini, seperti daerah lainnya, memiliki
keinginan agar sistem penyelenggaraan pemerintahan yang terwujud mempunyai
daya responsif dan kompetensi yang kuat untuk mengusung kepentingan masyarakat
Desa. Dalam konteks politik lokal, diberlakukannya otonomi daerah (Otda) melalui
Undang-undang No.22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah, saat ini belum
menampakkan efektifitas dan efisiensinya yang maksimal bagi kepentingan rakyat.
Kyai wawang sendiri mengkhawatirkan munculnya wakil wakil rakyat yang tidak
peduli dengan Desa yang diwakilinya. Kekhawatiran itu menjadi bukti. Para wakil
rakyat yang mewakili Desa Pabuaran Jati periode 2009-2014 akhir-akhir ini sering
dipertanyakan kinerjanya, terutama menyangkut hasil reses.
Reses adalah masa dimana para wakil rakyat untuk turun ke wilayah
pemilihannya masing-masing untuk berkomunikasi dan menyerap aspirasi
masyarakat dan mengoreksi kembali segenap aktifitas pembangunan yang sudah
dilakukan sebelumnya. Hal ini menjadi penting untuk dilihat pada satu kebutuhan
bagaimana penyerapan aspirasi dan kepentingan elemen masyarakat dapat terangkat
dan terwakili persoalannya ditingkat sistem dan decision maker pembangunan.
Namun sekali lagi, bahwa reses dapat dikatakan bukanlah salah satu mekanisme yang
dapat diandalkan dalam komunikasi pembangunan di Banten untuk
menciptakankeberhasilan mau mengkomunikasikan berbagai persoalan dalam
pembangunan.
100
Komunikasi dengan Media Lokal
Kyai Wawang memahami bahwa media massa lokal di Banten memiliki peran
strategis dalam menyampaikan pesan-pesan pemerintah dalam pembangunan. Ia
merasa bahwa Koran yang ada mulai dari Radar Banten, Baraya Post, Banten Pos,
Tangerang Ekspress dan yang lainnya tidak bisa berdiri secara ajeg untuk mengkritisi
pemerintah karena kuatnya hegemoni pemerintah melalui belanja iklan yang begitu
mahal. Hal ini ia perhatikan karea seringkali di setiap Koran yang ia baca iklan-iklan
pembangunan dari pemerintah terliput secara besar-besaran. Kyai Wawang meyakini
ini tidak mungkin gratis. Namun ia masih optimis bahwa Koran-koran tersebut mau
menjembatani isu-isu moral yang sangat penting untuk diperhatikan pemerintah.
Biasanya jalinan komunikasi dengan wartawan media lokal dilakukan dalam
hubungan keorganisasian diluar pesantren.
Di mata media lokal di Banten, Pesantren Salafiyah adalah sosok lembaga
pendidikan tradisional yang sederhana, dikenal sebagai kaum sarungan dengan
metode belajar tersendiri yang berbeda dengan sekolah formal. Beberapa tokoh Kyai
Pesantren Salafiyah terbilang dekat dengan kalangan media lokal di Banten.
Terutama tokoh-tokoh Kyai yang secara langsung juga terlibat atau terkait dengan
organisasi sosial keagamaan seperti Nahdatul Ulama dan Majelis Pesantren
Salafiyah. Hampir tidak tidak ada Kyai yang berinteraksi dengan media
mengatasnamakan langsung Pesantren Salafiyah yang diasuhnya. Keterlibatan
peliputan wartawan langsung di Pesantren Salafiyah terbilang jarang, jika terjadi
biasanya pada kesempatan – kesempatan peringatan atau acara keagamaan yang
cukup besar melibatkan massa dan pejabat penting dalam pemerintahan.
Keterlibatan atau peran Pesantren Salafiyah selalu terwakili oleh Kyai sepuh
dalam suatu komunitas Kyai pemimpin Salafiyah. Sesuai dengan budaya yang terjaga
dalam kebiasaan selama ini bahwa tokoh yang tertua dan dianggap mumi dalam
keilmuannya menjadi representasi yang lain. Taklid dan taat pada kepemimpinan
ketokohan yang ada. Hampir keseluruhan pesan pesan yang tersampaikan lewat
media massa adalah persoalan sosial keagamaan. Cenderung menghindar dari
polemik politik, setidaknya diplomatis dalam uruan politik.
Dalam perspektif media, suara atau pendapat Pesantren Salafiyah merupakan
second opinion, yang sangat diperlukan dalam rangka menyeimbangkan atau mencari
pendapat masyarakat sesungguhnya dari masyarakat. Representasi Pesantren
Salafiyah sebagai suara masyarakat memang tidak bisa diragukan. Karena intesitas
pesantren-Pesantren Salafiyah ternama menerima tamu masyarakat dengan segala
persoalannya cukup tinggi.
Ada terpaan media pada elemen lain di Pesantren Salafiyah, seperti santri atau
Ustadz terbilang cukup minim. Santri nyaris tidak bersentuhan dengan media, baik
cetak mau elektronik mengingat keseharian santri yang cukup padat dalam beribadah
mau menimba ilmu. Kondisi ekonomi santri dan pesantren juga menyebabkan
pemanfaatan media terbilang cukup mahal untuk mereka. Disamping persepsi santri
dan Ustadz terhadap media belum dianggap sebagai institusi yang merepresentasikan
dari keberadaan informasi yang sepenuhnya benar. Mereka menganggap bahwa
101
media adalah suatu usaha yng bergerak dibidang jual beli berita yang tentu saja akan
berpihak kepada informasi terhadap yang mampu atau memiliki akses terhadap
media. Dengan kata lain, peran media dalam pembangunan sebagai agen pembaharu
(agent of sosial change) atau membantu memperkenalkan perubahan sosial. Dalam
hal ini media massa untuk merangsang proses pengambilan keputusan,
memperkenalkan usaha modernisasi dan membantu mempercepat proses peralihan
masyarakat yang tradisional menjadi masyarakat yang modern serta menyampaikan
pada masyarakat program-program pembangunan pada Pesantren Salafiyah belum
membentuk satu polarisasi yang respon yang diharapkan.
Ada kebuntuan yang terjadi dalam peran media massa lokal terhadap
Prasarana dan sarana media massa yang digunakan dalam pembangunan di Banten
yang menjadi tidak berarti dimana khalayak besar dari Pesantren Salafiyah yang
dituju tidak dapat menerima pesan-pesan pembangunan yang disampaikan oleh
karena terbatasnya daya jangkau media. Beragamnya bahasa dan konflik politik
membosankan dalam media tanpa kejelaan penyelesaian persoalan hukumnya
menjadi kendala tersendiri dalam usaha menjangkau lebih banyak lagi masyarakat
yang dapat menerima informasi yang bermanfaat dalam usaha pembangunan.
Masyarakat yang menerima informasi sangat beragam tingkat pendidikan dan
atitudenya sehingga. pesan-pesan pembangunan yang harus disampaikan oleh media
massa belum dibentuk serupa untuk menjadi mudah untuk dipahami supaya dapat
menimbulkan perubahan atitude dan perilaku pada satu kebutuhan dan kepentingan
menjembatani potensi pesantren dalam pembangunan melalui media massa.
Dengan secara prinsip dapat disimpulkan peranan media komunikasi massa lokal
dalam pembangunan yaitu dalam peran merangsang proses pengambilan keputusan
pada upaya penguatan budaya lokal di Banten masih jauh pangggang dari api. Bisa
jadi kendala ini juga disebabkan persoalan struktural internal media lokal sendiri yang
juga sulit didefinisikan, apakah yang dimaksud dengan lokalitas dalam media massa
lokal, karena semua media lokal yang ada di Banten adalah anggota dari grup besar
usaha media nasional.
Media massa lolal masih terjebak pada konsep dapat memperkenalkan usahausaha modernisasi dengan tujuan mengubah kebiasaan, sikap, pola pikir yang jelek
menjadi baik. Dimana media massa sebagai alat penyampaian pada masyarakat
program-program pembangunan namun masih terjebak pada kepentingan
materialisasi yang mengkolaborasikan kepentingan kekuasaan dan pengusaha yang
belum tentu berpihak kepada masyarakat. Pesantren Salafiyah dalam dinamika
interaksi sosial politik yang materialistik seperti yang terjadi saat ini bukanlah
institusi yang dianggap menguntungkan. Baik secara politik mau ekonomi. Presisi
dengan posisi masyarakat yang posisi tawarnya tidak berdaya berhadapan dengan
kekuatan kekuasaan dan pengusaha. Walau seringkali dalam event politik, pesanten
Salafiyah dijadikan naungan atau kekuatan spiritual yang mendukung suatu event
politik dengan doa-doa yang dipercaya makbul, namun praktek politik yang
mengedepankan praktek tidak pantas atau salah seperti jual beli suara tetap dilakukan
oleh pasangan yang meminta doa pada Kyai tersebut. Media akan memdukung apa
perilaku pasangan calon tersebut selama secara bisnis menguntungkan. Kendati ada
102
pula Pesantren Salafiyah yang terjebak pada materialisasi dinaika sosial politik yang
terjadi, dikena dengan sebutan pesantren proposal, karena sang Kyai di sindir bukan
membawa kitab tetapi membawa proposal.
Kebuntuan media lokal juga terjadi pada satu penyikapan pencitraan yang
diperlukan dalam membangun kebaikan kepemimpinan pembangunan yang selama
ini dianggap salah kaprah oleh Pesantren Salafiyah. Peran media yang mendukung
dan mengamini bahkan terlibat dalam memoles dan memberikan kosmetika politik
pada pihak pihak tertentu yang memiliki sumber daya untuk membeli dan
menciptakancitra tersebut dianggap membuat miris. Betapa tidak. Pada kasus-kasus
tertentu, dimana seseorang yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat, tidak
berprestasi dan memiliki perilaku tidak baik tetap tampil prima dan santun dengan
berbagai atribut kesholehanya di media. Banyak pemimpin Pesantren Salafiyah yang
beranggapan bahwa hal itu terjadi bukan karena media lokal tidak tahu namun terbeli.
Berbeda dengan citra yang terbangun dari Pesantren Salafiyahah dalam proses
panjang bermasyarakat dalam proses pembangunan. Membentuk citra yang tidak bisa
dibantah. Berdampak pada suatu kekuatan yang mampu menggerakkan masyarakat.
Bahkan tampilnya politisi dengan seorang Kyai di media lokal dapat dibaca sebagai
suatu dukungan politik. Namun jika hal ini terjadi biasanya pesantren tersebut
menjadi gunjingan tersendiri di antara peantren Salafiyah mau masyarakat.
Pesantren Salafiyah bisa dikatakan masih belum optimal memanfaatkan media
sebagai bagian dari proses pembangunan yang berlangsung untuk menjangkau setiap
lapisan elemen masyarakat Pesantren Salafiyah yang terbawah.
Termasuk
membangun budaya baca pada kebutuhan informasi aktual proses pembangunan.
Dengan kata lain, surat kabar dan berita belum menjadi bagian dari kepentingan
membangun suatu budaya pendidikan. Respon terhadap ekses pembangun yang
diberikan Kyai terbilang reaktif, hanya pada bila suatu kasus telah terjadi atau
membesar.
Tertinggal secara informasi dalam suatu era informasi. Terbalap oleh pesantren
yang telah memodifikasi dirinya menjadi lebih terbuka menjadi pesantren modern.
Memang seringkali ada stigma bahwa keterlibatan Pesantren Salafiyah dalam suatu
interaksi dengan pemerintahan membuat suatu Pesantren Salafiyah tidak independent.
Bahkan ada stigma yang lebih jauh lagi, yakni tugas Kyai dan Pesantren Salafiyah
dalam masyarakat adalah urusan keagamaan bukan urusan politik, kendati stigma ini
akan sulit sekali dibuktikan karena dalam beragama dibutuhkan siasah dalam
memahami kondisi sosial masyarakat yang ada.
Media sendiri belum menjadi jembatan budaya antara kekuatan potensi
Pesantren Salafiyah dengan peran pemerintah yang diharapkan mampu hdir untuk
menciptakansuatu kondisi pembangunan yang lebih kondusif, terutama pada bidang
penerapan pendidikan karakter sebagai basis nilai dari pembangunan yang akan
dijalankan. Sinergi antara Pesantren Salafiyah, pemerintah dan media lokal sangat
membantu dari setiap upaya penggerusan kemungkinan nilai budaya yang telah
tumbuh sejak 300 tahun lalu dalam institusi tradisional Pesantren Salafiyah di Banten.
103
Memandang Slogan Pembangunan
Media iklan menggunakan berbagai sarana luar ruang seperti spanduk,
baligo, dsb merupakan sarana persuasi yang masih dianggap efektif dalam
mengkomunikasikan berbagai pesan dalam pembangunan, baik dalam tahap
perencanaan, pelaksanaan maupun pada tahapan evaluatif. Banten, di antaranya
adalah sebuah provinsi yang dihiasi oleh spanduk dan baliho. Jalan raya di ibukota
provinsi sangatlah meriah, baliho iklan, papan pengumuman, spanduk penuh jargon,
dan semacamnya penuh sesak. Baik sebagai sarana penyampai pesan pembangunan
atas keberhasilannya, perlawanan terhadap korupsi, narkoba, dsb, serta pesan
terhadap semanagt perubahan dalam suatu kompetisi politik.
Bagi Kyai Wawang berbagai iklan yang penuh sesak dijalan raya ini adalah
kemubaziran dan bersifat riya. Kemeriahan jalan raya itu masih ditambah dengan
baliho besar berpampangkan foto-foto para pejabat politik. Teknologi digital dan
percetakan telah sangat memungkinkan setiap orang untuk membuat baliho dengan
foto diri berukuran cukup besar, dengan biaya yang meski cukup mahal namun bisa
dijangkau oleh mereka yang memiliki cukup anggaran. Para pejabat daerah (bupati,
gubernur, sekda), atau mereka yang sedang mengincar posisi-posisi publik atau
kepala daerah dalam pilkada, berlomba-lomba unjuk diri lewat baliho berpampangkan
foto mereka, disertai kalimat-kalimat jargonis yang — seperti biasa — kerap minim
makna.
Tujuan utama baliho semacam ini sangat jelas: mengenalkan para pejabat
publik, atau mereka yang mengincar jabatan publik, kepada masyarakat yang telah
atau akan menjadi target konstituen mereka. oleh karena itu, terpampangnya wajah
para tokoh ini jauh lebih penting ketimbang pesan ideologis atau program untuk
disampaikan pada masyarakat. Hampir tidak ada implikasi dari efektifitas yang
dianggap ada dalam persuasi pesan pembangunan seperti ini. Mengingat, Pertama,
membanjirnya baliho dengan foto besar para tokoh ini sangat mungkin
mengindikasikan masih jauhnya langkah untuk membangun sistem politik yang
terstruktur. Pola komunikasi politik yang dibangun lewat baliho-baliho bergambar itu
sangat jelas memampangkan politik yang masih belum beranjak dari mekanisme
personal, dimana pribadi seorang tokoh lebih dipentingkan ketimbang visi dan
programnya.
Baliho-baliho ini tanpa ragu berpijak pada misi utama untuk menonjolkan
fisik seorang tokoh, serta penjejalan sosok sang tokoh ke dalam memori masyarakat
luas. Tentu saja, para politisi ini belajar dari pengalaman pemilu, pilpres dan pilkada
sebelumnya, dimana kerapkali kebagusan dan kecantikan tampang seorang tokoh jauh
lebih menentukan kemenangannya ketimbang faktor-faktor lain. Padahal kekautan
budaya pesantren yang kerap kali menjadi panutan masyarakat lebih mengakar dan
mencibir keberadaan bentuk komunikasi seperti ini.
Baliho-baliho jual tampang itu menambah lagi variabel yang menyebabkan
mahalnya prosedur demokrasi di negeri tercinta. Prosedur-prosedur demokrasi yang
kita pilih semenjak tahun 1998 memang membuka peluang partisipasi politik yang
semakin luas dan transparan. Sayangnya, prosedur-prosedur tersebut juga berbiaya
104
sangat tinggi. Sekali lagi, itu baru biaya formal yang terkait dengan logistik pilkada
langsung. Biaya lain yang juga sangat besar terkait dengan upaya peraupan suara oleh
para politisi dan calon politisi. Tingginya biaya kampanye mereka, baik yang resmi
mau yang tidak resmi, bisa mengundang decak heran yang tidak ada habisnya. salah
satu yang menyumbang pada pembengkakan biaya peraupan suara itu adalah
narsisme para politisi dan tokoh yang kini berlomba-lomba memasang tampang di
baliho-baliho di jalan raya. Akan semakin runyam kalau kita amati bahwa sangat
boleh jadi, sebagian biaya baliho itu dibebankan pada anggaran negara. Para politisi
yang tengah menjabat kerap muncul di balik unjuk prestasi pembangunan daerah,
yang ditampilkan dengan foto mereka secara sangat dominan. Anggaran dinas telah
digunakan untuk ditumpangi dengan tujuan-tujuan narsistik para politisi.
Download