8 BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Prestasi Belajar

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Prestasi Belajar Matematika
a. Pengertian Belajar
Belajar merupakan sebuah proses perubahan di dalam kepribadian
manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan
kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti
peningkatan kecakapan,
pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan
kemampuan-kemampuan yang lain. Kegiatan belajar bukan hanya sekedar
mengumpulkan pengetahuan tetapi merupakan proses aktif pembelajaran atau
pelajar.
Proses belajar bukan semata-mata terjadi karena adanya hubungan
antara stimulus atau respon saja, tetapi lebih merupakan hasil dari kemampuan
individu dalam mengembangkan potensi dalam dirinya. Proses belajar yang
terjadi sebagaimana dikatakan oleh Paul Suparno (1997: 61) adalah sebagai
berikut.
1. Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan oleh pelajar
dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan, dan alami.
2. Proses konstruksi membentuk pengetahuan berlangsung terus
menerus.
3. Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, tetapi suatu
pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian baru.
4. Belajar bukanlah hasil dari perkembangan tetapi merupakan
perkembangan itu sendiri.
5. Perkembangan memerlukan penemuan baru dan rekonstruksi
pemikiran.
6. Proses belajar adalah skema seseorang dalam keraguan yang
merangsang pemikiran lebih lanjut.
7. Hasil belajar dipengaruhi oleh dan persentuhan pelajar terhadap
dunia fisik dan lingkungan.
Dari penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa dalam proses belajar,
siswa itu sendiri yang membangun pengetahuannya. Pengetahuan tidak
ditransfer begitu saja dari individu ke individu yang lain, malainkan harus
dibangun oleh individu itu sendiri melalui interaksi dengan objek, pengalaman,
8
dan lingkungan mereka. Dengan demikian setiap pembelajaran harus aktif
mengkonstruksi, sehingga selalu terjadi perubahan konsep menuju konsep yang
lebih rinci dan lengkap. Kemudian membangun pengetahuan baru dan merubah
pengetahuan lama yang tidak sesuai dengan konsep sebenarnya yang ia
pelajari. Inilah pokok dari pendekatan konstruktivisme.
Olever (dalam Haris Mudjiman 2006: 25) menyatakan bahwa menurut
paradigma konstruktivisme, “Belajar adalah proses menginternalisaasi,
membentuk kembali, atau membentuk pengetahuan baru”. Pembentukan
pengetahuan baru ini dengan menggunakan pengetahuan yang telah dimiliki.
Pengetahuan
dan
pengalaman
yang
lama
digunakan
untuk
menginterprestasikan informasi dan fakta baru dari luar, sehingga tercipta
pengetahuan baru. Fakta yang sama mungkin diinterprestasikan secara berbeda
oleh dua orang dengan latar belakang pengetahuan dan pengalaman yang
berbeda.
Pendapat lain tentang definisi belajar dikemukakan oleh Chambers
(2008: 101), “Constructivism is founded on Piaget’s belife that learing is an
active process, where new information is accommodated into previously
understood meaning or mental images”. Maksud dari pernyataan tersebut
adalah kontruktivisme muncul atas ajaran Piaget yang mengemukakan bahwa
belajar adalah proses aktif, dimana informasi baru diakomodasikan ke dalam
makna atau gambaran yang dipahami sebelumnya.
Glasersfeld dalam Chambers (2002: 41) mendefinisikan belajar sebagai
berikut, “Constructivism as guilding framework within which to develope
instructional situations that facilitate student’s progressive construction of
increasingly abstract mathematical conceptions and procedure”. Pernyataan
tersebut mempunyai arti bahwa konstruktivisme sebagai pedoman kerangka
kerja yang dipakai untuk mengembangkan situasi pembelajaran yang
memfasilitasi pembangunan progresif siswa dalam meningkatkan konsepsi dan
prosedur matematika abstrak.
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar adalah proses
pengembangan kemampuan yang telah ada dalam diri manusia sehingga
9
memunculkan pengetahuan yang bermakna dan dapat mempengaruhi tingkah
lakunya. Dengan pengetahuan yang dimilikinya seseorang akan dapat
memecahkan masalah yang dihadapinya sehingga memberikan manfaat dalam
kehidupannya. Agar semua dapat terjadi maka perlu adanya suatu kegiatan
belajar aktif.
b. Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi belajar atau hasil belajar menurut Muhibbin Syah (2008: 45)
adalah “Taraf keberhasilan murid dalam mempelajari materi pelajaran di
sekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes
mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu”. Prestasi belajar pada dasarnya
adalah hasil akhir yang diharapkan dapat dicapai setelah seseorang belajar.
Syaifudin Azwar (2000:9) mengemukakan bahwa “Prestasi belajar
adalah hasil yang dicapai oleh siswa dalam belajar”. Hasil yang dicapai siswa
ditunjukkan dengan nilai. Ahmad Tafsir (2008: 34) menyatakan bahwa:
Hasil belajar atau bentuk perubahan tingkah laku yang diharapkan itu
merupakan suatu target atau tujuan pembelajaran yang meliputi 3 (tiga)
aspek yaitu: 1) tahu, mengetahui (knowing); 2) terampil melaksanakan
atau mengerjakan yang ia ketahui itu (doing); dan 3) melaksanakan
yang ia ketahui itu secara rutin dan konsekuen (being).
Sutratinah Tirtonegoro (1984: 43) mengemukakan bahwa “Prestasi
belajar dinyatakan dalam bentuk angka, huruf maupun simbol dan pada tiap
periode tertentu, misalnya tiap catur wulan atau semester, hasil belajar anak
dinyatakan dalam buku raport”. Prestasi belajar dari masing-masing siswa
berbeda, tergantung dari kemampuan yang dimilikinya.
Winkel (1996: 162) mengatakan bahwa “Prestasi belajar adalah suatu
bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang dalam melakukan
kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya”. Sedangkan Syaiful
Bahri Djamarah (1994:19) menyatakan bahwa “Prestasi adalah hasil dari suatu
usaha yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individual maupun
kelompok yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja”.
10
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi
belajar adalah hasil usaha yang dicapai siswa setelah mengikuti proses
pembelajaran. Hasil usaha yang dicapai siswa ditunjukkan dengan nilai tes atau
nilai angka yang diberikan guru. Nilai yang diberikan oleh guru sesuai dengan
kemampuan dari masing-masing siswa.
c. Pengertian Matematika
Kamus Umum Bahasa Indonesia (1996: 875) disebutkan bahwa
“Matematika berarti ilmu menghitung dengan menggunakan bilanganbilangan; ilmu hitung modern; ilmu berhitung dengan cara lama”. Sedangkan
Maryana (dalam Purwoto 1997: 14) mengatakan bahwa “Matematika adalah
ilmu tentang pola keteraturan, ilmu tentang struktur yang diorganisasikan mulai
dari unsur yang tidak didefinisikan, dari aksioma atau postulat akhirnya ke
dalil”.
Herman Hudojo (1997: 96) mengatakan “Matematika berkenaan
dengan ide-ide, struktur-struktur dan hubungan-hubungan yang diatur menurut
urutan yang logis”. Di dalam matematika terdapat hubungan-hubungan yang
logis. Hubungan. tersebut sesuai dengan urutan yang logis.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu
tentang bilangan yang terstruktur dan terorganisasi serta berawal dari hal
yang telah didefinisikan terlebih dahulu untuk mempelajari hal-hal
selanjutnya mengenai bilangan-bilangan dan cara yang digunakan untuk
menyelesaikan masalah mengenai bilangan tersebut.
d. Pengertian Prestasi Belajar Matematika
Berdasarkan pengertian belajar, prestasi belajar dan matematika
tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi belajar matematika adalah
hasil usaha yang telah dicapai siswa setelah melakukan proses pembelajaran
matematika. Hasil usaha tersebut ditunjukan dengan nilai tes atau nilai angka
yang diberikan oleh guru matematika. Nilai yang diberikan oleh guru sesuai
dengan kemampuan dari masing-masing siswa.
2. Model Pembelajaran
a. Pengertian Model Pembelajaran
11
Komponen-komponen yang terdapat dalam kurikulum adalah tujuan,
materi pelajaran, model pembelajaran dan evaluasi. Komponen-komponen
tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dengan
demikian antara tujuan pembelajaran dan model pembelajaran memiliki
keterkaitan yang sangat erat.
Soekamto (1995), model pembelajaran adalah kerangka konseptual
yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisir pengalaman
belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman
bagi para perancang pembelajaran dan pengajar dalam merencanakan dan
melaksanakan aktifitas belajar mengajar. Bell (1981: 222) mendefinisikan
“Learning model is a generalized instructionalprocess which may be used for
many different topic in a variety of subjects”. Model pembelajaran adalah
sebuah proses pembelajaran umum yang dapat digunakan pada topik yang
berbeda dalam berbagai mata pelajaran.
Pendapat lain dikemukakan oleh Agus Suprijono (2010: 46) “Model
pembelajaran adalah pola
yang digunakan sebagai
merencanakan pembelajaran
pedoman dalam
di kelas maupun tutorial”. Sebagmana
dikemukakan oleh Joyce dan Weill dalam Shodiq (2009), setiap model belajar
mengajar memiliki unsur-unsur yaitu sintaks, sistem social, prinsip reaksi,
sistem pendukung, dampak instruksional dan dampak pengiring.
Dengan demikian, berdasarkan pendapat para ahli dapat disimpulkan
bahwa model pembelajaran adalah pola yang digunakan untuk merencanakan
pembelajaran di kelas dengan sintaks, sistem social, prinsip reaksi, sistem
pendukung, dampak instruksional dan dampak pengiringnya.
b. Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang di dalamnya
mengkondisikan siswa bekerja bersama-sama di dalam kelompok-kelompok
kecil untuk membantu siswa satu sama lainnya dalam belajar. Pembelajaran
12
kooperatif ini mengutamakan kerjasama antar siswa untuk mencapai tujuan
pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan
menggunakan sistem pengelompokan atau kelompok kecil, yaitu antara empat
sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademis,
jenis kelamin, ras atau suku yang berbeda (heterogen). Sistem penilaian
dilakukan terhadap kelompok. Setiap kelompok akan memperoleh penghargaan
(reward), jika kelompok mampu menunjukkan prestasi yang dipersyaratkan.
Dengan demikian, setiap anggota kelompok akan mempunyai ketergantungan
positif. Ketergantungan semacam itulah yang selanjutnya akan memunculkan
tanggung jawab individu terhadap kelompok dari setiap anggota kelompok.
Arif Rohman (2009: 186) mengemukakan bahwa ciri-ciri pembelajaran
kooperatif sebagai berikut.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Adanya tujuan kelompok
Akuntabilitas diri
Kesempatan yang sama untuk berhasil
Kompetisi antar kelompok
Adanya spesialisasi tugas
Adaptasi kebutuhan individu
Dalam pembelajaran kooperatif, siswa dilatih untuk dapat bekerjasama dengan
teman satu timnya dan bersaing positif dengan kelompok lain.
Lain halnya dengan dikemukakan Yatim Riyanto (2010: 266) bahwa
ciri-ciri pembelajaran kooperatif sebagai berikut.
1. Kelompok dibentuk dengan siswa kemampuan tinggi, sedang, dan
rendah
2. Siswa dalam kelompok sehidup semati
3. Siswa melihat semua anggota mempunyai tujuan yang sama
4. Membagi tugas dan tanggung jawab sama
5. Akan dievaluasi untuk semua
6. Berbagi kepemimpinan dan keterampilan untuk bekerja bersama
7. Diminta mempertanggungjawabkan individual materi yang ditangani
Selain ciri-ciri diatas, pembelajaran kooperatif juga mempunyai unsurunsur penting yang harus diperhatikan. Adapun unsur-unsur dalam
pembelajaran kooperatif menurut para ahli sebagai berikut.
13
Unsur-unsur pembelajaran kooperatif menurut Anita Lie (2005: 31) terdiri dari
lima unsur yaitu: saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan,
tatap muka, komunikasi antar anggota, dan proses evaluasi kelompok.
Unsur-unsur yang ada dalam pembelajaran kooperatif menurut Yatim
Riyanto (2010: 265) terdiri dari enam unsur berikut.
1. Mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh
antar sesama sebagai latihan hidup bermasyarakat.
2. Saling ketergantungan positif antar individu maksudnya setiap
individu punya kontribusi dalam mencapai tujuan.
3. Tanggung jawab secara individu.
4. Temu muka dalam proses pembelajaran.
5. Komunikasi antar anggota kelompok.
6. Avaluasi proses pembelajaran kelompok.
Pembelajaran kooperatif melatih siswa untuk dapat berkomunikasi dengan baik
antar anggota kelompoknya, belajar bertanggungjawab, dan saling bekerja
sama satu sama lain.
Model pembelajaran kooperatif ini merupakan upaya pemberdayaan
teman sejawat, meningkatkan interaksi antar siswa, serta hubungan saling
menguntungkan antar mereka. Siswa dalam kelompok akan belajar mendengar
ide atau gagasan orang lain, berdiskusi, menawarkan, atau menerima kritikan
yang membangun, dan siswa merasa tidak terbebani ketika ternyata
pekerjaannya salah.
Model pembelajaran kooperatif memiliki tahapan-tahapan. Ada enam
langkah utama atau tahapan di dalam pembelajaran kooperatif. Agus Suprijono
(2010:89) mengemukakan bahwa pembelajaran kooreratif mempunyai tahapan
sebagai berikut.
Tabel 2.1 Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif
FASE-FASE
PERILAKU GURU
Fase 1
Menyampaikan
Guru memberikan penjelasan tentang tujuan
tujuan
dan dalam pembelajaran dan mempersiapkan
mempersiapkan peserta didik
14
peserta didik siap belajar
Fase 2
Guru mempresentasikan informasi kepada
Menyajikan informasi
peserta didik secara verbal
Fase 3
Guru memberikan penjelasan kepada pesarta
Mengorganisasikan
pesarta didik tentang tata cara pembentukan tim
didik ke dalam tim-tim belajar
belajar dan membantu kelompok melakukan
transisi yang efisien
Fase 4
Guru membantu tim-tim belajar selama
Membantu
kerja
tim
dan pesarta didik menjalankan tugasnya
belajar
Fase 5
Guru menguji pengetahuan pesarta didik
Mengevaluasi
mengenai berbagai materi pembelajaran atau
kelompok-kelompok
mempresentasikan
hasil kerjanya
Fase 6
Guru mempersiapkan cara untuk mengakui
Memberikan pengakuan atau usaha
penghargaan
dan
prestasi
individu
maupun
kelompok
Pada hakekatnya semua tipe pembelajaran kooperatif melibatkan suatu
tugas yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung dalam
menyelesaikan tugas-tugas kolektif tersebut. Tipe pembelajaran kooperatif
dalam penelitian ini adalah TAI dan STAD. Berikut ini akan dibahas kedua tipe
pembelajaran kooperatif tersebut secara lebih rinci.
c. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI
Model pembelajaran kooperatif tipe TAI diprakarsai sebagai usaha
untuk
merancang
menyelesaikan
sebuah
bentuk
masalah-masalah
pengajaran
yang
membuat
individual
model
yang
bisa
pembelajaran
individual menjadi tidak efektif. Menurut Slavin (1988: 23) “Principles of
cooperative learning to an individualized program, the students themselves
15
could take care of the checking and management, help one another with
problems, and encourage one another to achieve”. Slavin berpendapat bahwa
prinsip belajar kooperatif secara individual, siswa dapat mengatur sendiri
pemeriksaan dan manajemen, saling membantu menyelesaikan masalah, dan
mendorong satu sama lain untuk mencapainya.
Model pembelajaran kooperatif tipe TAI merupakan salah satu bentuk
dari pembelajaran kooperatif yang terdiri dari delapan komponen. Delapan
komponen tersebut yaitu: (1) pembentukan kelompok, (2) rencana materi
pengajaran, (3) kelompok-kelompok pembelajaran, (4) belajar kelompok, (5)
pemberian skor kelompok, (6) pemberian materi, (7) tes-tes kecil, (8)
pemberian materi di akhir waktu pembelajaran.
Pembentukan
kelompok
(Team).
Kelompok
yang
dibentuk
beranggotakan empat atau enam peserta didik. Kelompok tersebut merupakan
kelompok heterogen, yang mewakili hasil-hasil akademis dalam kelas, jenis
kelamin, dan rasa atau etnis.
Rencana
Materi
Pengajaran
(Curriculum
Materials).
Strategi
pemecahan masalah ditekankan pada seluruh materi. Masing-masing unit
terdiri dari satu lembar petunjuk yang berisikan tinjauan konsep-konsep yang
diperkenalkan oleh guru dalam pengajaran kelompok yang dibahas dengan
singkat dan langkah-langkah metode pemecahan masalah serta beberapa
lembar materi pelajaran.
Kelompok-Kelompok Pembelajaran (Teaching Groups). Saat mulai
materi, setiap harinya guru mengajarkan materi pokok selama 10 atau 15 menit
secara klasikal kepada peserta didik yang telah dikelompokkan dengan anggota
yang heterogen. Guru menggunakan konsep yang khas untuk memperkenalkan
konsep-konsep utama pada peserta didik. Guru dapat mengajarkan dengan
menggunakan diagram atau demonstrasi. Pembelajaran ini dirancang untuk
membantu peserta didik menghubungkan konsep-konsep dan teori-teori yang
mereka pelajari dengan kehidupan nyata yang biasa mereka alami.
Belajar Kelompok (Team Study). Pada tahap ini beberapa hal yang
perlu dilakukan adalah sebagai berikut.
16
1. Peserta didik membentuk pasangan-pasangan atau bekelompok
dalam kelompok mereka.
2. Peserta didik melakukan diskusi, tanya jawab dengan sesama
anggota tim mengenai materi pelajaran, sehingga semua anggota tim
mempunyai pengetahuan yang sama.
3. Masing-masing
menggunakan
peserta
didik
keterampilannya
mengerjakan
sendiri.
4
soal,
dengan
Kemudian
teman
sekelompokna mengoreksi jawaban tersebut berdasarkan lembar
jawaban yang telah tersedia. Jika keempat jawaban benar, peserta
didik tersebut boleh mengerjakan tipe soal selanjutnya yang telah
disediakan. Tetapi jika jawabannya salah, peserta didik tersebut
harus mencoba mengerjakan lagi keempat soal terebut sehingga
semua benar. Jika peserta didik tersebut tetap tidak bisa dan merasa
sulit, maka dia bisa meminta bantuan teman sekelompoknya sebelum
meminta bantuan kepada guru.
4. Ketika seorang peserta didik telah menjawab keempat soal tersebut
dengan benar, maka dia mendapatkan tes formatif tipe A, yang
terdiri dari 10 soal. Pada tes formatif ini peserta didik bekerja sendiri
sampai selesai. Jika dia mampu menjawab benar 8 soal atau lebih,
teman sekelompoknya akan menandai hasil tes tersebut untuk
mengeindikasikan bahwa peserta didik tersebut telah lulus dan
bentuk mengikuti tes unit. Tetapi jika tidak dapat menjawab 8 saol
dengan benar, maka guru dipanggil untuk membantu menyelesaikan
masalah yang dihadapi pesarta didik tersebut. Dia akan mendapat tes
formatif tipe B, yaitu 10 soal yang lebih mudah dari soal tipe A.
Dengan cara ini dimungkinkan peserta didik tersebut bisa mengikuti tes
unit.
Pemberian skor kelompok dan pengakuan kelompok (Team Scores and
Team Recognition). Skor ini didasarkan pada jumlah rerata unit yang telah
diselesaikan oleh tiap-tiap anggota kelompok dan akurasi dari tes-tes akhir.
Tabel 2.2 Ketentuan Skor Perkembangan Individu
17
Skor Perkembangan Individu
Poin Kemajuan
Lebih dari 10 poin dibawah skor awal
5
1-10 poin dibawah skor awal
10
Skor awal sampai 10 poin di atas skor awal
20
Lebih dari 10 poin di atas skkor awal
30
Kertas jawaban sempurna terlepas dari skor awal
30
Tujuan dari pemberian skor ini adalah untuk memberikan kriteria
pada tiap-tiap kelompok. Kelompok dengan skor tertinggi mendapatkan
kriteria Superteam, kelompok dengan skor menengah mendapatkan kriteria
Greatteam, dan kelompok dengan skor terendah mendapatkan kriteria
Goodteam.
Kriteria penghargaan kelompok tersebut, disajikan pada Tabel 2.3.
(Slavin 2008: 195-199).
Tabel 2.3 Kriteria Penghargaan Kelompok
Rata-rata Skor Kelompok
Penghargaan
15 ≤ X < 20
Goodteam
20 ≤ X < 25
Greatteam
X ≥ 25
Superteam
Teaching Group, yakni pemberian materi secara singkat dari guru
menjelang pemberian tugas kelompok. Facts Test, yaitu pelaksanaan tes-tes
kecil berdasarkan fakta yang diperoleh siswa. Whole Class Units, yaitu
pemberian materi oleh guru kembali diakhir waktu pembelajaran dengan
strategi pemecahan masalah.
Setiap model pembelajaran pasti mempunyai keunggulan dan
keterbatasan. Keunggulan model pembelajaran kooperatif tipe TAI sebagai
berikut.
18
1. Siswa yang lemah dapat terbantu dalam menyelesaikan masalah.
2. Siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam satu kelompok.
3. Siswa
yang
pandai
dapat
mengembangkan
kemampuan
dan
keterampilannya.
4. Adanya rasa tanggungjawab dalam kelompok dalam menyelesaikan
masalah.
Keterbatasan model pembelajaran tipe TAI dinyatakan:
1. Kegiatan belajar mengajar membutuhkan lebih banyak waktu.
2. Siswa yang kurang pandai secara tidak langsung akan tergantung pada
siswa yang pandai.
3. Diskusi yang terjadi hanya didominasi oleh siswa-siswa tertentu.
Sintak pembelajaran TAI mencakup tahapan-tahapan konkret dalam
melaksanakan program tersebut di ruang kelas. (Slavin dalam Miftahul
Huda; 2012: 200).
1. Tim. Dalam TAI, siswa dibagi ke dalam tim-tim yang beranggotakan 4-5
siswa.
2. Tes Penempatan. Siswa diberikan pre-test. Mereka ditempatkan pada
tingkatan yang sesuai dalam program individual berdasarkan kinerja
mereka pada tes ini.
3. Materi. Siswa mempelajari materi pelajaran yang akan didiskusikan.
4. Belajar Kelompok. Siswa melakukan belajar kelompok bersama rekanrekannya dalam satu tim.
5. Skor dan Rekognisi. Hasil kerja siswa di skor diakhir pengajaran, dan
setiap tim yang memenuhi kriteria sebagai “tim super” harus memperoleh
penghargaan dari guru.
6. Kelompok Pengajaran. Guru memberikan pengajaran kepada setiap
kelompok tentang materi yang sudah didiskusikan.
7. Tes Fakta. Guru meminta siswa untuk mengerjakan tes-tes untuk
membuktikan kemampuan mereka yang sebenarnya.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan sintak pembelajaran
kooperatif tipe TAI sebagai berikut.
19
1. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi
pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru.
2. Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan
skor dasar atau skor awal.
3. Guru membentuk beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4-5
siswa dengan kemampuan berbeda-beda, baik tingkat kemampuan (tinggi,
sedang, rendah) jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya,
suku yang berbeda-beda serta kesetaraan gender.
4. Hasil belajar siswa secara individual didiskusikan dalam kelompok. Dalam
diskusi kelompok, setiap kelompok saling memeriksa jawaban teman satu
kelompok.
5. Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan
memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.
6. Guru memberikan kuis kepada siswa secara individual.
7. Guru memberikan penghargaan peda kelompok berdasarkan perolehan
nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis.
d. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu tipe
dari pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Dalam pembelajaran ini
pesrta didik akan belajar bersama dalam kelompok yang beranggotakan empat
sampai lima orang untuk menguasai materi yang disampaikan oleh guru.
Menurut Slavin (2008: 12) gagasan utama dari model pembelajaran kooperatif
tipe STAD
adalah untuk memotivasi peserta didik supaya dapat saling
mendukung dan membantu satu sama lain dalam menguasai kemampuan yang
diajarkan oleh guru. Slavin (2008: 143-160) mengemukakan bahwa komponenkomponen dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai berikut: (1)
presentasi kelas, (2) tim, (3) kuis, (4) skor kemajuan individu, dan (5) rekognisi
tim.
Presentasi kelas, merupakan pengajaran langsung seperti yang sering
dilakukan atau didiskusi yang dipimpin oleh guru, atau pengajar dengan
presentasi audiovisual. Peserta didik akan menyadari bahwa mereka harus
20
benar-benar memberi perhatian penuh selama presentasi karena hal ini akan
sangat membantu mereka dalam mengerjakan kuis dan skor kuis mereka
menentukan skor tim mereka.
Tim, terdiri atas empat sampai lima orang yang heterogen. Fungsi
utama dari tim adalah untuk memastikan bahwa semua anggota tim benarbenar balajar, sehingga setiap anggota tim akan siap mengerjakan kuis dengan
baik. Setelah guru menyampaikan materi, tim berkumpul untuk mempelajari
lembar kegiatan, yang berupa pembahasan masalah, membandingkan jawaban,
dan mengoreksi kesalah pahaman antar anggota tim.
Kuis, dilakukan setelah satu atau dua periode penyampaian materi dan
satu atau dua periode praktikum tim. Pesarta didik tidak diperkenankan untuk
saling membantu dalam mengerjakan kuis, sehingga tiap pesarta didik
bertanggung jawab secara individual untuk memahami materinya.
21
Tabel 2.5 Kriteria Menentukan Nilai Peningkatan Hasil Belajar
Kriteria
Nilai Peningkatan
Nilai kuis/ tes terkini turun lebih dari 10 poin di
5
bawah nilai awal
Nilai kuis/ tes terkini turun 1 sampai dengan 10
10
poin di bawah nilai awal
Nilai kuis/ tes terkini sama dengan nilai awal
20
sampai dengan 10 diatas nilai awal
Nilai kuis/ tes terkini lebih dari 10 diatas nilai
30
awal
Skor kemajuan individual. Tiap pesarta didik dapat memberikan
kontribusi poin yang maksimal kepada kelompoknya dalam sistem skor,
sehingga tiap-tiap anggota kelompok harus berusaha memperoleh nilai yang
maksimal dari skor kuisnya. Selanjutnya pesarta didik akan mengumpulkan
poin untuk tim mereka brdasarkan tingkat kenaikan skor kuis dibandingkan
dengan skor awal mereka.
Rekognisi tim. Tujuan dari pemberian skor adalah untuk memberi
penghargaan pada tiap-tiap kelompok. Kelompok dengan skor tertinggi
mendapatkan penghargaan superteam, kelompok dengan skor menengah
mendapatkan penghargaan greatteam, dan kelompok dengan skor terendah
sebagai kelompok goodteam (Slavin, 2008: 160). Untuk menjadi kelompok
dengan predikat/penghargaan superteam maka sebagian besar anggota
kelompok harus memiliki skor di atas skor awal mereka.
Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan sebagai berikut.
1. Persiapan. Dalam tahap ini guru mempersiapkan rencana pelajaran dengan
membuat rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lemar Kerja Siswa
(LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
2. Menyampaikan Tujuan dan Memotifasi Siswa. Dalam tahap ini guru
menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran
tersebut dan memotivasi siswa belajar.
22
3. Menyajikan/menyampaikan informasi. Dalam tahap ini guru menyampaikan
materi pembelajaran.
4. Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar. Dalam
pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif
tipe STAD. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang
beranggotakan 4 sampai 5 siswa. Kelompok yang dibentuk merupakan
perpaduan yang ditinjau dari latar belakang sosial, jens kelamin dan
kemampuan belajar.
Sebelum proses belajar mengajar dimulai, guru memperkenalkan
keterampilan kooperatif dan menjelaskan aturan dasarnya, yaitu: (1) siswa
tetap berada di dalam kelas, (2) mengajukan pertanyaan kapada kelompok
sebelum mengajukan pertanyaan kepada guru, (3) menghindari saling
mengkritik sesama siswa dalam satu kelompok, dan (4) bekerjasama dan
bertanggung jawab dalam kelompoknya.
5. Membimbing kelompok bekerja dan belajar. Guru membagikan LKS
kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja
kelompok, setiap siswa berpikir bersama untuk meyakinkan bahwa setiap
orang dalam kelompoknya mengetahui dan memahami jawaban dari
pertanyaan yang telah ada dalam LKS
6. Evaluasi. Perwakilan dari masing-masing kelompok maju kedepan untuk
mempresentasikan hasil diskusi mereka atau hasil dari tugas di LKS.
Kemudian
guru
mengarahkan
siswa
dalam
membuat
rangkuman.
Memberikan kesimpulan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan yang
berhubungan dengan materi yang disajikan. Selanjutnya, guru memberikan
tes kepada siswa secara individual.
7. Memberikan penghargaan. Pada tahap ini, guru memberikan penghargaan
pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai
peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor tes berikutnya
(terkini). Atau dengan kata lain, guru memberi nilai yang lebih tinggi
kepada kelompok yang hasil diskusi masalahnya/hasil belajarnya lebih baik.
Sintaks pembelajaran STAD dalam penelitian ini sebagai berikut.
23
Tabel 2.5 Sintaks pembelajaran kooperatif tipe STAD
Fase
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan
memotivasi siswa
Fase 2
Menyajikan atau
menyampaikan informasi
Fase 3
Mengorganisasikan siswa
dalam kelompokkelompok belajar
Fase 4
Membimbing kelompok
bekerja dan belajar
Fase 5
Evaluasi
Fase 6
Memberikan penghargaan
Kegiatan Guru
Menyampaikan semua tujuan pelajaran yang
ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan
memotivasi siswa belajar.
Menyajikan informasi kepada siswa dengan
jalan mendemonstrasikan atau lewat bahan
bacaan.
Menjelaskan
kepada
siswa
bagaimana
caranya membentuk kelompok belajar dan
membantu setiap kelompok agar melakukan
transisi secara efisien.
Membimbing kelompok- kelompok belajar
pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Mengevaluasi hasil belajar tentang materi
yang telah diajarkan atau masing-masing
kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Mencari cara-cara untuk menghargai baik
upaya maupun hasil belajar individu maupun
kelompok.
e. Model Pembelajaran Langsung
Pembelajaran langsung (direct instruction) dikenal dengan sebutan
active teaching. Penyebutan ini mengacu pada gaya mengajar dimana guru
terlibat aktif dalam mengusung isi pelajaran kepada pesarta didik dan
mengajarkan secara langsung kepada seluruh kelas.
Model pembelajaran langsung mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
1. Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk
prosedur penilaian belajar.
24
2. Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran.
3. Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlukan agar
kegiatan pembelajaran dapat berlangsung.
Modeling adalah pendekatan utama dalam pembelajaran langsung.
Modeling
dimaksudkan
adalah
pembelajaran
yang
mana
guru
mendemonstrasikan langsung kepada pesarta didik. Model yang ada
dilingkungan senantiasa memberikan dampak langsung kepada pesarta didik
dan memberikan rangsangan balik ketika keadaan terkait dengan pesarta didik.
Agus Suprijono (2009: 49) mengemukakan modeling mengikuti urutan
berikut:
1. Guru mendemonstrasikan perilaku yang hendak dicapai sebagai hasil
belajar,
2. Perilaku itu dikaitkan dengan perilaku-perilaku lain yang sudah dimiliki
siswa,
3. Guru mendemonstrasikan berbagai bagian perilaku tersebut dengan cara
yang jelas, terstruktur, dan berurutan disertai penjelasan mengenai apa yang
dikerjakannya setelah setiap langkah selesai dikerjakan,
4. Siswa perlu mengingat langkah-langkah yang dilihatnya dan kemudian
menirukannya.
Pembelajaran langsung dirancang untuk penguasaan pengetahuan
prosedural, pengetahuan deklaratif, serta berbagai keterampilan. Pembelajaran
langsung dimaksudkan untuk menuntaskan dua hasil belajar yaitu penguasaan
pengetahuan yang dikonstruksikan dengan baik dan penguasaan keterampilan.
Menurut Daniel Muijs dalam Agus Suprijono (2009: 51) pembelajaran
langsung memiliki tahap-tahap sebagai berikut.
1. Directing. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran kepada siswa dan
memastikan bahwa semua siswa mengetahui apa yang harus dikerjakan.
2. Instructing. Guru memberi informasi dan menstrukturisasikannya dengan
baik.
3. Demonstrating. Guru menunjukkan, mendeskripsikan, dan membuat model
dengan menggunakan sumber serta display visual yang tepat.
4. Explaining and illustrating. Guru memberikan penjelasan-penjelasan akurat
dengan tingkat kecepatan yang pas dan merujuk pada metode sebelumnya.
5. Quesioning and discussing. Guru bertanya dan memastikan seluruh siswa
ikut ambil bagian.
6. Consolidating.
25
7. Evaluating pupil’s responses. Guru mengevaluasi presentasi hasil kerja
siswa.
8. Summarizing. Guru merangkum apa yang telah diajarkan dan apa yang
sudah dipelajari siswa selama dan menjelang akhir pelajaran.
Model pembelajaran langsung menurut Arends (Trianto, 2011: 29)
adalah “Salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk
menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif
dan pengetahuan procedural yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan
dengan pola kegiatan yang bertahap. Sejalan dengan Widaningsih, Dedeh
(2010: 150) bahwa pengetahuan prosedural yaitu pengetahuan mengenai
bagaimana orang melakukan sesuatu, sedangkan pengetahuan deklaratif, yaitu
pengetahuan tentang sesuatu.
Pembelajaran langsung tidak sama dengan model ceramah, tetapi
ceramah dan resitasi (mengecek pemahaman dengan tanya jawab) berhubungan
erat dengan model pembelajaran langsung. Guru berperan sebagai penyampai
informasi, dan dalam hal ini guru seyogyanya menggunakan berbagai media
yang sesuai, misalnya film, tape recorder, gambar, peragaan, dan sebagainya.
Widaningsih, Dedeh (2010: 15) ciri-ciri pembelajaran langsung adalah
sebagai berikut:
1. Adanya tujuan pembelajaran dan prosedur penilaian hasil belajar.
2. Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran.
3. Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang mendukung
berlangsung dan berhasilnya pengajaran.
Menurut Kardi dan Nur (Trianto 2011: 31) fase-fase model
pembelajaran langsung dapat dilihat pada Tabel 2.6.
Tabel 2.6. Sintak Model Pembelajaran Langsung
Fase-Fase
Perilaku Guru
Fase 1.
Menyampaikan
tujuan
mempersiapkan peserta didik.
dan Menjelaskan
tujuan
pembelajaran,
informasi latar belakang pelajaran,
mempersiapkan peserta didik untuk
26
belajar
Fase 2.
Mendemonstrasikan pengetahuan Mendemonstrasikan
atau keterampilan
keterampilan
yang benar, menyajikan informasi
tahap demi tahap
Fase 3.
Membimbing pelatihan
Merencanakan dan memberi pelatihan
awal
Fase 4.
Mengecek
pemahaman
dan Mengecek apakah peserta didik telah
memberikan umpan balik
berhasil melakukan tugas dengan baik,
memberi umpan balik
Fase 5.
Memberi
kesempatan
untuk Mempersiapkan
pelatihan lanjutan dan penerapan.
kesempatan
melakukan pelatihan lanjutan, dengan
perhatian
khusus
pada
penerapan
kepada situasi lebih kompleks dalam
kehidupan sehari-hari
Mengacu pada fase-fase tersebut, berikut merupakan ilustrasi
pembelajaran langsung yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotifasi siswa
untuk belajar.
2. Guru menyampaikan materi dengan membahas bahan ajar melalui
kombinasi ceramah dan demonstrasi.
3. Setelah materi selesai disampaikan, guru memberikan Lembar Kerja
Siswa (LKS) kepada siswa untuk dikerjakan sebagai latihan secara
individu.
4. Selanjutnya guru dan siswa membahas LKS.
5. Di akhir pembelajaran guru memberikan soal-soal latihan sebagai
pekerjaan rumah.
27
3. Motivasi
Siswa belajar karena didorong oleh kekuatan mentalnya. Kekuatan
mental ini berupa keinginan, perhatian, kemauan, atau cita-cita. Kekuatan
mental tersebut dapat tergolong rendah atau tinggi. Ada ahli pendidikan yang
menyebutkan kekuatan mental yang mendorong terjadinya belajar tersebut
sebagai motivasi berprestasi. Motivasi dipandang sebagai dorongan mental
yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku
belajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan yang mengaktifkan,
menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilaku individu
berprestassi (Koeswara dalam Dimyati dan Mudjiono 2006: 80).
Kata motif diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang
untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari
dalam dan di dalam subyek untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu demi
mencapai satu tujuan. Berawal dari kata motif tersebut diatas, maka motivasi
dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif.
Echols dan Shadily (dalam Gino.dkk 2000: 81) motivasi dapat
disamakan dengan motif. Keduanya termasuk jenis kata benda yang berarti
alasan, sebab, daya batin, dorongan. Sedangkan Marriam Webster (dalam
Gino.dkk 2000: 81) berpendapat bahwa kata motif berasal dari bahasa latin,
yaitu motus yang dapat diartikan sebagai sesuatu yang dapat menyebakan
seseorang bertindak. Motivasi diartikan sebagai tindakan seseorang atau proses
memberikan dorongan. Bruno (dalam Gino.dkk 2000: 81) berpendapat bahwa
motif dapat disamakan dengan dorongan, yaitu dorongan yang terdapat dalam
diri seseorang atau organisasi untuk menentukan suatu pilihan-pilihannya dan
perilaku yang berorientasi pada tujuan.
Gibson (dalam Mohamad Ali 1989: 129) menyatakan bahwa “Motivasi
dapat dikatakan sebagai keinginan-keinginan yang muncul untuk memenuhi
kebutuhan merupakan tenaga yang mendorong untuk bertingkah laku”.
Sardiman A.M (2007: 75) mengatakan bahwa, motivasi dapat juga dikatakan
sebagai serangkaian usaha menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga
seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan
28
berusaha meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Jadi motivasi
dapat dirangsang oleh faktor dari luar tetapi motivasi itu tumbuh di dalam diri
seseorang.
David Mc Clelland (dalam Mohamad Ali 1989: 129-130) memandang
bahwa “Dorongan untuk melakukan suatu aktivitas tidak dapat dilepaskan
kaitannya dengan dorongan untuk mencapai suatu keberhasilan atau prestasi”.
Upaya untuk menumbuhkan motivasi ini dapat dilakukan dengan cara:
1. Menumbuhkan keyakinan bahwa seseorang dapat melakukan
(melaksanakan) kegiatan dengan sebaik-baiknya, dan keyakinan bahwa
dirinya akan berkembang kemampuannya bila ada upaya untuk itu.
2. Apa yang harus dilakukan dalam mencapai prestasi dalam pekerjaan yang
dilakuakan atau dalam mencapai tujuan tertentu hendaknya bersifat jelas,
tidak menimbulkan kebingungan.
3. Tergambar dengan jelas pada diri orang yang bersangkutan, tentang kaitan
antara tujuan dan keberhasilan dalam berprestasi dengan kepentingannya
dalam kehidupan sehari-hari.
Akhmad Sudrajat mengemukakan motivasi yang didasarkan pada Teori
Mc Clelland (Teori Kebutuhan Berprestasi), yang selanjutnya lebih dikenal
sebagai teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Achievement
(N.Ach) menyatakan bahwa:
Motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan
prestasi. Motivasi dirumuskan sebagai kebutuhan akan prestasi sebagai
keinginan untuk melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit,
menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek fisik,
manuasi atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan
seindependen mungkin, sesuai kondisi berlaku. Mengatasi kendalakendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri
sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain.
Sedangkan berdasarkan teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi yang
dikemukakan oleh Akhmad Sudrajat dikatakan bahwa dalam teori ini dikaitkan
antara imbalan engan prestasi seseorang individu.
Motivasi seoarang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik
yang bersifat internal maupun eksternal. Termasuk pada faktor internal
adalah: (a) persepsi seseorang mengenai diri sendiri; (b) harga diri; (c)
29
harapan pribadi; (d) kebutuhan; (e) keinginan; (f) kepuasan kerja; (g)
prestasi kerja yang dihasilkan.
Sedangkan faktor eksternal mempengaruhi motivasi seseorang, antara
lain ialah: (a) jenis dan sifat pekerjaan; (b) kelompok kerja dimana
seseorang bergabung; (c) organisasi tempat kerja; (d) situasi lingkungan
pada umumnya; (e) sistem imbalan yang berlaku dan cara penerapannya.
Ada lima konsep penting dalam motivasi belajar, yaitu:
1. Motivasi belajar adalah proses internal yang mengaktifkan, memandu
dan mempertahankan perilaku dari waktu ke waktu. Individu
termotivasi karena berbagai alasan yang berbeda-beda, dengan
intensitas yang berbeda;
2. Motivasi belajar tergantung pada teori yang menjelaskannya, dapat
merupakan konsekuensi dari penguatan (reinforcement), suatu ukuran
kebutuhan manusia, suatu hasil dari ketidakcocokan, suatu atribusi dari
keberhasilan atau kegagalan, atau harapan dari peluang keberhasilan;
3. Motivasi belajar dapat ditingkatkan dengan penekanan tujuan-tujuan
belajar dan pemberdayaannya;
4. Motivasi belajar dapat meningkat apabila guru membangkitkan minat
siswa, memelihara rasa ingin tahu mereka, menggunakan berbagai
strategi
pembelajaran,
meyatakan
harapan
dengan
jelas,
dan
memberikan umpan balik (feed back) dengan sering dan segera; dan
5. Motivasi belajar dapat meningkat pada diri siswa apabila guru
memberikan ganjaran yang spesifik dan dapat dipercaya.
Gottried (dalam Nana Sudjana 2006: 60) mengemukakan bahwa
motivasi belajar yang tinggi terdiri dari beberapa aspek sebagai berikut. (1)
kesenangan kenikmatan untuk belajar, berarti menaruh perhatian dan minat
terhadap kegiatan-kegiatan itu dan merasa senang sewaktu mengerjakan tugastugas sekolah. (2) orientasi terhadap penguasaan materi. Siswa selalu berusaha
dengan segala macam untuk lebih menguasai materi baik yang disajikan secara
langsung oleh gurunya di sekolah atau dengan belajar lebih efektif di rumah.
(3) hasrat ingin tahu. Siswa terdorong untuk mencari hal-hal baru yang
berhubungan dengan materi pelajaran, baik itu di sekolah maupun di rumah.
30
(4) keuletan dalam mengerjakan tugas. Siswa memusatkan perhatian
sepenuhnya untuk menyelesaikan tugas dan tidak mudah menyerah atau putus
asa. (5) keterlibatan yang tinggi pada tugas. Siswa tekun dalam mengerjakan
tugas, berkonsentrasi pada tugas dan meluangkan waktu untuk belajar. (6)
orientasi pada tugas-tugas yang menantang, sulit dan baru. Siswa termotivasi
untuk menyelesaikan tugas sulit ataupun baru daripada tugas mudah atau rutin.
Sardiman A.M (2007: 85) mengemukakan bahwa motivasi memiliki
tiga fungsi yaitu: (1) mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai
penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini
merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan. (2)
menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai, dengan
demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan
sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. (3) menyeleksi perbuatan, yakni
menentukan arah tujuan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang
serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang
tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
Motivasi dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Dilihat dari dasar
pembentukannya, motivasi dapat dibedakan menjadi 2 yaitu motif-motif
bawaan dan motif-motif yang dipelajari. Yang dimaksud dengan motif bawaan
adalah motif yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari.
Sebagai contoh misalnya: dorongan untuk makan, dorongan untuk minum,
dorongan untuk bekerja, dan sebagainya. Motif-motif ini sering disebut motifmotif yang disyaratkan secara biologis.
Sedangkan yang dimaksud dengan motif-motif yang dipelajari adalah
motif ini timbul karena dipelajari. Sebagai contoh: dorongan untuk belajar
suatu cabang pengetahuan, dorongan untuk mengajar sesuatu di dalam
masyarakat. Motif-motif ini seringkali disebut dengan motif-motif yang
disyaratkan secara sosial.
Frandsen (dalam Sardiman A.M 2007: 87) menambahkan jenis-jenis
motif sebagai berikut.
1. Cognitive motives
31
Motif ini menunjukkan pada gejala intrinsik, yakni menyangkut kepuasan
individual. Kepuasan individual yang berada di dalam diri manusia dan
biasanya berwujud proses dan produk mental. Jenis motivasi seperti ini
sangat primer dalam kegiatan belajar di sekolah, terutama yang berkaitan
dengan pengembangan intelektual.
2. Self-expresion
Penampilan diri adalah sebagian dari perilaku manusia. Yang penting
kebutuhan individu itu tidak sekedar tahu mengapa dan bagaimana sesuatu
itu terjadi, tetapi juga mempu membuat suatu kejadian. Untuk ini diperlukan
kreatifitas, penuh imajinasi. Jadi dalam hal ini seseorang memiliki keinginan
untuk aktualisasi diri.
3. Self-enhancement
Melalui aktualisasi diri dan pengembangan kompetisi akan meningkatkan
kemajuan diri seseorang. Keinginan dan kemajuan diri ini menjadi salah
satu tujuan bagi setiap individu. Dalam belajar dapat diciptakan suasana
kompetisi yang sehat bagi anak didik untuk mencapai suatu pretasi.
Dalam penelitian ini definisi motivasi adalah kesanggupan untuk
melakukan kegiatan belajar matematika karena didorong oleh keinginannya
untuk memenuhi kebutuhan dari dalam dirinya ataupun yang datang dari luar.
Kegiatan itu dilakukan dengan kesanggupan hati dan terus menerus dalam
rangka mencapai tujuan.
Dalam penelitian ini untuk mengetahui motivasi belajar menggunakan
indikator-indikator yang terdiri dari: (a) perasaan: tertarik pada pelajaran
matematika; (b) kemauan siswa: terdorong untuk belajar terlebih dahulu
sebelum diterangkan oleh guru, menyelesaikan tugas/PR dengan sebaikbaiknya, dan tidak mudak putus asa; (c) rasa ingin tahu: senang melakukan halhal baru (bereksperimen dan membaca buku-buku/sumber baru) untuk
mendapatkan pengetahuan baru dan bertanya tentang hal yang belum
dipahami; (d) berusaha untuk mandiri: mencoba untuk memecahkan masalah
sendiri dan mempunyai rasa percaya diri; dan (e) perhatian siswa:
memperhatikan pada saat guru menyampaikan pelajaran. Faktor ekstrinsik
terdiri dari: faktor lingkungan yaitu senang bila hasil ulangannya memuaskan
dan mendapat pujian/hadiah.
32
B. Hasil-Hasil Penelitian yang Relevan
Beberapa hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini dinyatakan
sebagai berikut:
Dwi Rahmawati (2010) mengatakan bahwa (i) model pembelajaran
kooperatif tipe TAI menghasilkan prestasi yang lebih baik dibandingkan
dengan model pembelajaran konvensional untuk setiap kategori kemampuan
awal yang dimiliki siswa, (ii) pada model pembelajaran kooperatif tipe TAI
maupun model pembelajaran konvensional prestasi belajar matematika siswa
yang memiliki kemampuan awal tinggi lebih baik daripada siswa yang
memiliki kemampuan awal sedang dan rendah, serta prestasi belajar
matematika siswa yang memiliki kemampuan sedang lebih baik daripada siswa
yang memiliki kemampuan awal rendah.
Aloysius
Sutomo
(2009)
mengungkapkan
bahwa
(i)
model
pembelajaran kooperatif tipe STAD menghasilkan prestasi belajar yang lebih
baik dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional, (ii) terdapat
perbedaan prestasi belajar matematika antar siswa yang memiliki motivasi
belajar tinggi dengan siswa yang memiliki motivasi belajar sedang maupun
siswa yang memiliki motivasi belajar rendah, (iii) terdapat interaksi antar
model pembelajaran dan motivasi belajar matematika.
Hasil penelitian Warsiah (2010) mengatakan bahwa (i) model
pembelajaran kooperatif tipe STAD menghasilkan prestasi belajar yang lebih
baik dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional dengan metode
ekspositori, (ii) terdapat perbedaan prestasi belajar matematika antar siswa
yang memiliki motivasi belajar tinggi dengan siswa yang memiliki motivasi
belajar sedang maupun siswa yang memiliki motivasi belajar rendah, (iii)
terdapat interaksi antar model pembelajaran dan motivasi belajar matematika.
Berikut ini, beberapa penelitian mengenai model pembelajaran
kooperatif tipe TAI dan tipe STAD yang dilakukan diluar negeri.
1. Nagib Balfakih dalam penelitian yang telah dilakukan menyebutkan bahwa
pembelajaran dengan metode STAD lebih memberikan efektifitas dalam
hasil pembelajaran jika dibandingkan dengan pembelajaran model ceramah.
33
2. Kamuran Tarim dan Fikri Akdeniz, pada penelitian ini membandingkan
antara model TAI dan STAD pada siswa kelas 4 Sekolah Dasar. Dalam
penelitian ini menunjukkan model TAI lebih baik dibandingkan metode
STAD.
C. Kerangka Berpikir
Keberhasilan proses pembelajaran dipengaruhi oleh faktor internal dan
faktor eksternal. Faktor internal misalnya: konsep diri, motivasi, minat,
intelegensi atau kecerdasan, dan kemampuan awal siswa. Beberapa faktor
eksternal misalnya: metode, model pembelajaran, kondisi lingkungan,
kurikulum, suasana, sarana dan prasarana.
Berdasarkan kajian teori yang telah diuraikan, kerangka berpikir
penelitian dinyatakan sebagai berikut:
1. Pengaruh model pembelajaran terhadap prestasi belajar matematika siswa.
Pembelajaran kooperatif sangat sesuai untuk diterapkan dalam
pembelajaran matematika karena kegiatan belejar matematika lebih
diarahkan pada kegiatan yang mendorong siswa aktif. Pembelajaran
matematika menggunakan model pembelajaran yang sama yaitu kooperatif
tetapi melalui dua tipe yang berbeda yaitu TAI dan STAD.
Model pembelajaran kooperatif tipe TAI terdiri dari 8 komponen
yaitu: (1) pembentukan kelompok, (2) rencana materi pengajaran, (3)
kelompok-kelompok pengajaran, (4) belajar kelompok, (5) pemberian skor
kelompok, (6) pemberian materi, (7) tes-tes kecil, (8) pemberian materi
diakhir pembelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif tipe TAI dibentuk
kelompok kecil yang heterogen dengan latar belakang cara berpikir yang
berbeda untuk saling membantu siswa lain yang membutuhkan bantuan.
Dalam model ini, diterapkan bimbingan antar teman yaitu siswa yang
pandai bertanggungjawab terhadap siswa yang lemah. Disamping itu dapat
meningkatkan partisipasi siswa dalam kelompok kecil.
Sedangkan dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD, dalam model
pembelajaran ini, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok heterogen
dengan kemampuan akademik yang bervariasi. Hal ini dilakukan supaya
34
siswa yang berkemampuan kurang dapat terbantu oleh siswa yang
berkemampuan tinggi. Kemudian setiap kelompok diberi tanggung jawab
untuk memecahkan masalah atau soal yang telah diberikan oleh guru.
Ketika memecahkan masalah, setiap siswa diberi kebebasan untuk
mengemukakan pendapat tanpa harus takut jika pendapatnya salah.
Pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD, selama kegiatan
pembelajaran siswa dituntut (1) memperhatikan presentasi kelas agar dapat
membantu mereka dalam mengerjakan kuis individu. (2) membentuk
kelompok heterogen untuk mempelajari dan mendiskusikan LKS dan saling
membantu antar anggota kelompok. (3) mengerjakan kuis individu secara
mandiri. (4) saling memberikan penghargaan kelompok. (5) mempersiapkan
diri untuk menghadapi evaluasi oleh guru. (6) memperhatikan bimbingan
dari guru kepada kelompok atau kelas.
Model pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang
biasa dilakukan oleh guru di sekkolah. Proses pembelajaran yang
berlangsung biasanya dimulai dari teori kemudian diberikan contoh soal dan
dilanjutkan dengan latihan soal. Mengajar yang bersifat konvensional lebih
menekankan pada penyampaian pengetahuan kepada siswa sehingga
kegiatan pembelajaran berpusat pada guru. Guru lebih dominan dalam
kegiatan pembelajaran, dan hampir tidak ada interaksi antar siswa. Siswa
cenderung hanya mendengar dan menulis.
Dalam model pembelajaran tipe TAI dan model pembelajaran tipe
STAD, akan memberikan manfaat kepada siswa yang sangat besar dalam
proses pembelajaran, guru hanya sebagai fasilitator bagi siswa. Sedangkan
dalam model pembelajaran langsung guru merupakan obyek utama dalam
pembelajaran, siswa cenderung sebagai siswa pasif. Penggunaan model
pembelajaran tipe TAI dan model pembelajaran tipe STAD menyebabkan
siswa dituntuk untuk lebih aktif dan lebih mudah memahami pelajaran
dibandingkan pembelajaran konvensional. Sehingga dimungkinkan prestasi
belajar matematika dengan model pembelajaran tipe STAD akan lebih baik
dibandingkan dengan model pembelajaran tipe TAI dan pembelajaran
35
langsung, serta model pembelajaran tipe TAI akan lebih baik dibandingkan
dengan model pembelajaran langsung.
2. Pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika
Salah satu faktor penentu keberhasilan siswa dalam meraih prestasi
belajar matematika yang berasal dari dalam diri siswa adalah motivasi
belajar. Siswa yang memiliki motivasi belajar rendah, cenderung tidak dapat
menghadapi masalah dengan tenang, pola pikirnya sederhana, mudah
menyerah, sukar bekerja sama, tidak percaya diri, tidak berani mengambil
resiko, dan malu bertanya kepada teman atau guru. Kondisi yang demikian
akan menurunkan motivasi siswa yang akhirnya prestasi belajarnya
menurun atau tidak tercapai secara maksimal.
Sedangkan siswa yang mempunyai motivasi belajar sedang
cenderung kurang percaya diri dalam menghadapi masalah, tidak mudah
menyerah, bisa bekerja sama dengan kelompok tertentu, kurang meniliki
pendirian yang kuat, kurang berani mengambil resiko, agak malu bertanya
kepada teman atau guru. Kondisi yang demikian kadang-kadang akan
menurunkan motivasi siswa yang pada akhirnya prestasi belajarnya
menurun atau kurang bisa tercapai secara maksimal.
Berbeda dengan siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi
maka dalam menguasai materi pembelajaran metematika juga lebih gigih
dan bersemangat. Siswa yang demikian ini akan berusaha seoptimal
mungkin dalam mencapai prestasi belajar, sehingga prestasi yang dicapai
siswa akan lebih baik. Sehingga dimungkinkan prestasi belejar matematika
siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi lebih baik dibandingkan dengan
siswa yang memiliki motivasi belajar sedang dan rendah.
3. Kaitan motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa ditinjau dari masingmasing model pembelajaran.
Pada siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe TAI,
maka prestasi belajar siswa dengan motivasi belajar tinggi lebih baik
daripada siswa dengan motivasi belajar sedang. Dan siswa dengan motivasi
belajar sedangakan lebih baik daripada siswa dengan motivasi belajar
36
rendah. Hal ini disebabkan karena model pembelajaran kooperatif tipe TAI
memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat melakukan kerja sama
dengan baik sehingga menjadikan siswa lebih mandiri, kreatif, dan
termotivasi. Dengan menggunakan model TAI dalam pelajaran matematika
siswa yang bersangkutan jadi mampu bekerja pada tingkat kemampuan
mereka sendiri dan meraih sukses. Selain itu siswa dengan motivasi belajar
tinggi akan mudah menerima pembelajaran sebagai akibat dari tingginya
minat dan ketertarikan pada pembelajaran yang dilakukan sehingga
dorongan untuk belajar akan lebih kuat, sedangkan siswa dengan motivasi
belajar rendah akan sedikit sulit menerima pembelajaran karena disebabkan
adanya perbedaan dorongan dalam diri mereka untuk memahami apa yang
dibelajarkan di kelas.
Pada pembelajaran kooreratif tipe STAD lebih menekankan pada
pembelajaran yang berpusat pada siswa maka siswa yang mempunyai
motivasi belajar tinggi akan mempunyai prestasi lebih baik daripada anak
yang mempunyai motivasi belajar sedang dan rendah. Selain itu siswa
dengan motivasi belajar tinggi akan lebih mudah menerima pembelajaran
sebagai akibat dari tingginya minat dan ketertarikan pada pembelajaran
yang dilakukan sehingga dorongan untuk belajar akan lebih kuat, sedangkan
siswa dengan motivasi belajar rendah akan sedikit sulit menerima
pembelajaran karena disebabkan adanya perbedaan dorongan dalam diri
mereka untuk memahami apa yang dibelajarkan di kelas.
Pada siswa yang dikenai model pembelajaran langsung, siswa yang
memiliki motivasi belajar tinggi akan lebih baik daripada siswa dengan
motivasi belajar sedang. Hal ini disebabkan siswa dengan motivasi belajar
tinggi memiliki ketertarikan yang kuat dalam proses belajar yang
berlangsung di depan kelas, mereka memiliki usaha dan kemauan yang
keras untuk bisa menguasai pelajaran dan memperhatikan hasil belajarnya.
Sedangkan siswa dengan motivasi belajar sedang akan lebih baik
dibandingkan dengan siswa yang memiliki motivasi belajar rendah.
37
4. Kaitan model pembelajaran dengan prestasi belajar ditinjau dari motivasi
belajar.
Jika dilihat dari siswa dengan motivasi belajar tinggi, maka siswa
yang dikenai model pembelajaran kooreratif tipe STAD akan lebih baik
dibandingkan dengan siswa yang dikenai pembelajaran kooreratif tipe TAI.
Dan siswa yang dikenai model pembelajaran kooreratif tipe TAI lebih baik
dibandingkan dengan siswa yang dikenai pembelajaran langsung. Hal ini
disebabkan karena pada siswa dengan motivasi belajar tinggi akan memiliki
minat ketertarikan yang kuat dalam belajar. Ketertarikan mereka pada
pembelajaran dan kompetisi kelompok yang ada dalam pembelajaran
memberikan pengaruh yang kuat dalam mendorong mereka terlibat dalam
pembelajaran. Hal ini berbeda pada model pembelajaran langsung yang
tidak adanya kompetisi dan kerjasama dalam kelompok.
Jika dilihat dari siswa dengan motivasi belajar sedang, maka siswa
yang dikenai model pembelajaran kooreratif tipe STAD akan lebih baik
dibandingkan dengan siswa yang dikenai pembelajaran kooreratif tipe TAI.
Dan siswa yang dikenai model pembelajaran kooreratif tipe TAI lebih baik
dibandingkan dengan siswa yang dikenai pembelajaran langsung. Hal ini
disebabkan karena perubahan model pembelajaran yang diberikan pada
siswa akan meningkatkan minat belajarnya. Ketertarikan mereka pada
pembelajaran dan kompetisi kelompok yang ada dalam pembelajaran
memberikan
pengaruh
dalam
mendorong
mereka
terlibat
dalam
pembelajaran. Hal ini berbeda pada model pembelajaran langsung yang
tidak adanya kompetisi dan kerjasama dalam kelompok.
Jika dilihat dari siswa dengan motivasi belajar rendah, maka siswa
yang dikenai model pembelajaran kooreratif tipe TAI dan STAD akan
menunjukkan prestasi belajar matematika yang sama dengan siswa yang
dikenai model pembelajaran langsung. Hal ini disebabkan karena pada siswa
dengan motivasi belajar rendah, tidak akan terbantu dengan berbagai model
pembelajaran yang dikenakan dalam proses belajar mengajar. Pada siswa
dengan motivasi belajar rendah memiliki kecenderungan tidak mau
38
memperhatikan proses belajar, tidak mau peduli dengan tugas-tugas
belajarnya, tidak memiliki usaha dan kemauan yang keras untuk bisa
menguasai pelajarannya dan tidak peduli dengan hasil yang didapatnya.
D. Pengajuan Hipotesis
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas, hipotesis dalam
penelitian dinyatakan sebagai berikut:
1. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD menghasilkan prestasi belajar
matematika yang lebih baik daripada model pembelajaran kooperatif tipe
TAI dan model pembelajaran kooperatif tipe TAI menghasilkan prestasi
belajar matematika lebih baik daripada model pembelajaran langsung serta
model pembelajaran kooperatif tipe TAI menghasilkan prestasi belajar
matematika lebih baik daripada model pembelajaran langsung.
2. Siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi mempunyai prestasi belajar
yang lebih baik daripada siswa yang memiliki motivasi belajar sedang.
Siswa yang memiliki motivasi belajar sedang mempunyai prestasi belajar
yang lebih baik daripada siswa yang memiliki motivasi belajar rendah.
Siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi mempunyai prestasi belajar
yang lebih baik daripada siswa yang memiliki motivasi belajar rendah.
3. Pada masing-masing model pembelajaran yaitu tipe TAI, tipe STAD dan
model pembelajaran langsung pada siswa yang mempunyai motivasi
belajar tinggi lebih baik dari siswa dengan motivasi belajar sedang dan
motivasi belajar rendah. Prestasi belajar matematika pada siswa yang
mempunyai motivasi belajar sedang lebih baik dari siswa dengan motivasi
belajar rendah.
4. Pada tingkat motivasi belajar tinggi dan sedang siswa yang dikenai model
pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih baik dibanding dengan siswa
yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe TAI dan pembelajaran
langsung. Prestasi belajar matematika pada siswa yang dikenai model
pembelajaran kooperatif tipe TAI lebih baik dibanding dengan siswa yang
dikenai model pembelajaran langsung. Pada tingkat motivasi belajar
rendah siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD sama
39
baiknya dengan siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe
TAI dan pembelajaran langsung.
40
Download