Gambar 2.15 Brosur paket medical check up di RS

advertisement
BAB 2
LANDASAN PERANCANGAN
2.1
Tinjauan Data
2.1.1
Data Umum
2.1.1.1 Tingkat Kesehatan Masyarakat Indonesia
Upaya yang dilakukan oleh Kemenkes RI dalam meningkatkan
kesehatan masyarakat Indonesia mengalami keberhasilan yang cukup besar.
Pembangunan beberapa unit kesehatan telah dilakukan di berbagai daerah,
mulai dari Rumah Sakit Ibu dan Anak hingga beberapa Rumah Sakit Khusus.
Berikut data yang penulis peroleh mengenai jumlah unit kesehatan di
Indonesia :
Gambar 2.1 Perkembangan Jumlah Rs Khusus Dan Rs Umum Di
Indonesia Tahun 2009-2013
Jumlah RSK pada tahun 2013 sebagain besar adalah rumah sakit ibu
dan anak berjumlah 159 unit dengan persentase 31,61%. Proporsi jenis RSK
di Indonesia pada tahun 2013 terdapat pada gambar berikut.
3
4
Gambar 2.2 Persentase Rumah Sakit Khusus Menurut Jenis Di
Indonesia Tahun 2013
Pada gambar di atas dapat diketahui bahwa persentase tertinggi adalah
Rumah Sakit Ibu dan Anak. Persentase rumah sakit khusus lainnya juga
memiliki proporsi yang besar yaitu 29,82% yang terdiri dari RS Jantung, RS
Kanker, RS Orthopedi, RS Penyakit Infeksi, RS Stroke, RS Anak dan Bunda,
RSK Anak, RSK Bedah, RSK Ginjal, RSK Gigi dan Mulut, RSK Otak, RSK
Penyakit Dalam, dan RSK THT. (RI, 2014)
Seiring dengan peningkatan jumlah unit kesehatan yang telah
dijalankan oleh Kemenkes RI, peningkatan kesehatan masyarakat juga dapat
dilihat dari prosentase jumlah penduduk yang mempunyai keluhan sakit pada
tahun yang sama dengan program Kemenkes RI tersebut.
Berdasarkan tabel data yang tercantum di bawah ini, presentasi
penduduk yang mempunyai keluhan sakit mengalami penurunan dari tahun
2009-2013.
Provinsi
2009
2010
2011
2012
2013
Aceh
35.28
35.09
30.62
30.71
28.66
Sumatera Utara
29.11
26.68
25.44
20.55
21.14
Sumatera Barat
35.44
33.27
29.29
29.97
29.32
5
Provinsi
2009
2010
2011
2012
2013
Riau
29.89
30.90
24.84
24.40
23.87
Jambi
26.45
29.62
22.77
21.29
20.49
Sumatera Selatan
32.24
29.68
27.19
24.88
24.16
Bengkulu
31.53
33.74
30.72
28.62
27.83
Lampung
37.45
34.65
30.59
31.67
28.65
43.02
33.98
31.25
28.72
27.35
Kepulauan Riau
37.14
28.03
21.34
27.34
24.39
DKI Jakarta
36.76
33.81
32.69
32.92
29.47
Jawa Barat
32.24
28.00
28.93
28.45
27.55
Jawa Tengah
32.50
28.72
30.15
31.54
31.66
DI Yogyakarta 1
41.32
40.12
37.51
36.37
36.51
Jawa Timur
32.06
28.46
27.20
26.93
27.47
Banten
37.73
33.02
34.02
30.40
28.57
Bali
38.35
40.12
37.10
35.54
34.80
39.59
38.10
34.75
34.03
34.42
47.23
44.95
39.81
37.75
35.72
Kalimantan Barat
33.02
34.39
27.75
25.54
24.20
Kalimantan Tengah
28.05
31.03
26.16
25.00
23.79
Kalimantan Selatan
42.53
36.86
34.18
33.58
33.09
Kalimantan Timur
28.88
30.31
22.46
22.33
18.99
Sulawesi Utara
35.78
32.54
26.05
27.98
23.85
Sulawesi Tengah
37.61
39.05
34.02
30.30
29.70
Sulawesi Selatan
31.69
30.64
27.51
25.56
23.95
Sulawesi Tenggara
35.90
35.77
26.93
29.42
27.92
Gorontalo
48.48
42.65
40.82
37.44
36.70
Sulawesi Barat
38.08
35.86
33.70
33.61
30.51
Maluku
36.32
31.93
26.79
22.04
20.78
Maluku Utara
27.61
32.11
21.68
18.53
15.34
Papua Barat
30.18
31.27
25.49
21.13
19.58
Kepulauan Bangka
Belitung
Nusa Tenggara
Barat
Nusa Tenggara
Timur
6
Provinsi
2009
2010
2011
2012
2013
Papua
32.98
31.95
26.15
23.23
18.97
Indonesia
33.68
30.97
29.31
28.57
27.70
Tabel 2.1 Presentase Penduduk Yang Mempunyai Keluhan Kesehatan
Selama Sebulan Terakhir Menurut Provinsi Tahun 2009-2013
Jika dilihat dari tabel di atas, upaya pelayanan kesehatan yang telah
dijalankan oleh Kemenkes RI (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia)
telah mengalami peningkatan, seiring dengan bertambahnya jumlah unit
kesehatan, serta berkurangnya jumlah penduduk yang memiliki keluhan
kesehatan sejak tahun 2009 hingga tahun 2013. Namun, dengan menurunnya
jumlah penduduk yang memiliki keluhan kesehatan tersebut, bukan berarti
pelayanan kesehatan di Indonesia telah mencapai tahap maksimal. Hal ini
dapat dilihat dari berbagai penyakit berbahaya yang masih banyak tersebar di
Indonesia. Penyakit-penyakit ini bahkan dapat menyebabkan kematian bagi
penderitanya. Berikut adalah beberapa macam penyakit berbahaya yang
kerap ditemui di Indonesia :
1. Jantung Koroner.
Angka kematian penderita jantung koroner di Tanah Air mencapai 7,6
juta orang per tahun.
2. Tuberkolosis (TB).
Kematian akibat TB di Indonesia diperkirakan mencapai 61.000 per
tahun. Jumlah kasus TB di Indonesia menempatkan Indonesia pada
peringkat kelima kasus terbanyak di dunia.
3. Diabetes Mellitus (Kencing Manis).
Jumlah penderita diabetes di Indonesia sebanyak 7,6 juta. Angka ini
menempatkan Indonesia pada peringkat ketujuh di dunia.
4. Hipertensi/Tekanan Darah Tinggi.
Kematian akibat mencapai 7 juta per tahun.
7
5. Stroke.
Data Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) tahun 2009
menunjukkan, penyebab kematian utama di RS akibat stroke adalah
sebesar 15 persen. Artinya 1 dari 7 kematian disebabkan oleh stroke
dengan tingkat kecacatan mencapai 65 persen.
6. Kanker.
Di Indonesia tiap tahun diperkirakan terdapat 100 penderita kanker baru
per 100.000 penduduk. Ini berarti dari jumlah 237 juta penduduk, ada
sekitar 237.000 penderita kanker baru setiap tahun.
7. Penyakit Paru Kronis.
Kematian terkait penyakit infeksi paru dan saluran napas 33,2 persen.
Jumlah kemaitan ini menjadi salah satu penyebab kematian yang
mencapai 254 persen. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKR) tahun
1992 menunjukkan angka kesatikan TB sangat tinggi sehingga menjadi
penyebab kematian nomor dua di Indonesia.
8. Diare.
Di negara berkembang, termasuk Indonesia, diare merupakan penyebab
kematian tertinggi pada bayi dan anak berusia 1-4 tahun. Dari Hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 diperoleh angka bahwa kematian bayi
yang terbanyak disebabkan karena diare (42%), sedangkan penyebab
kematian anak berusia 1-4 tahun juga diare.
9. Infeksi Saluran Pernafasan.
Insiden pada Balita diperkirakan 0,29 episode per anak/tahun di negara
berkembang dan 0,05 episode per anak/tahun di negara maju. Kasus
terbanyak terjadi di India (43 juta), China (21 juta) dan Pakistan (10juta)
dan Bangladesh, Indonesia, dan Nigeria masing-masing 6 juta episode.
Dari semua kasus yang terjadi di masyarakat, 7-13% kasus berat dan
memerlukan perawatan rumah sakit. Episode batuk-pilek pada Balita di
Indonesia diperkirakan 2-3 kali per tahun (Rudan et al Bulletin WHO
8
2008). ISPA merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien di
Puskesmas (40%-60%) dan rumah sakit (15%-30%).
10. HIV/AIDS.
Kasus HIV/AIDS di Indonesia, khususnya penyebaran melalui jarum
suntik pada penyalahguna narkoba, menempatkan Indonesia sebagai
negara ketiga di Asia setelah Cina dan India dengan pertambahan kasus
penyebaran HIV/AIDS tercepat (dari berbagai sumber). Indonesia sendiri
dikategorikan sebagai negara tertinggal dalam penanganan HIV/AIDS.
11. Hepatitis B.
Jumlah kasus virus heptitis B di Indonesia 5-10 % dari jumlah penduduk
atau sekitar 13,5 juta jiwa, jumlah ini membuat Indonsia sebagai negara
ketiga terbanyak kasus hepatitis B di Asia.
12. Katarak.
Jumlah penderita katarak di Indonesia tertinggi kedua di Asia Tenggara,
yakni mencapai 1,5 % atau dua juta jiwa. Setiap tahunnya, 240.000 orang
terancam mengalami kebutaan.
13. Kanker Serviks.
Menurut data dari Globocan pada tahun 2012, sekitar 80 % kasus kanker
serviks saat ini ada di negara dunia ke tiga atau negara berkembang,
sedangkan kasus kanker serviks di Indonesia diperkirakan 53 juta
perempuan berisiko mengidap kanker serviks.
Salah satu yang penyebab tingginya angka kematian adalah karena
masyarakat masih kurang memperhatikan kesehatan mereka. Seperti yang
terjadi pada kasus penderita kanker payudara, yang merupakan urutan kedua
penyakit penyebab kematian tertinggi pada wanita setelah kanker leher rahim.
Dr. Denni Joko Purwanto Sp.B (Onk) menyebutkan, berdasarkan data dari
RS Kanker Dharmais, jumlah pasien kanker payudara yang datang dalam
stadium dini (stadium I dan II) adalah 13,42%, stadium III sebesar 17%, dan
lebih banyak (29,98%) datang dengan stadium lanjut (stadium IV). Pasien
9
paling banyak datang dengan kekambuhan
yaitu sebesar 39,66%.
Keterlambatan diagnostik dapat disebabkan oleh ketidaktahuan pasien
(patient delay), ketidaktahuan dokter atau tenaga medis (doctor delay), atau
keterlambatan rumah sakit (hospital delay). Beliau menambahkan, upaya
pencegahan kanker payudara dapat dilakukan dengan teknik SADARI
(Pemeriksaan Payudara Sendiri). Sedangkan untuk wanita usia 20-39 tahun
sebaiknya
menjalani
pemeriksaan
lebih
lanjut
dengan
melakukan
pemeriksaan klinis dari dokter sebagai bagian dari medical check up.
(Purwanto, 2010)
Di Indonesia, 80% masyarakatnya jauh dari harapan hidup sehat.
Sementara itu, 20% masyarakat menengah-keatas telah habis hartanya untuk
biaya pengobatan penyakit berat. Hal ini terjadi akibat mereka kurang peduli
untuk melakukan pemeriksaan dini. Dr. Handrawan Nadesul menyebutkan
bahwa mayoritas penduduk Indonesia cenderung tidak waspada dan menunda
pengobatan, sehingga penyakit terlambat diketahui atau sudah telanjur
stadium lanjut. Masyarakat seringkali mengabaikan check up atau deteksi
dini. Menurut beliau, selain sebagai pencegahan penyakit kritis, medical
check up juga dapat menekan biaya pengobatan karena semakin dini penyakit
diketahui, pengobatan akan semakin mudah dan murah. Sedangkan jika
sudah stadium lanjut, pengobatan akan semakin sulit dan biayanya pun
semakin mahal. Meski akhirnya berhasil diobati, penyakit sudah telanjur
menyebar. Pasien yang sembuh juga akan cacat, karena salah satu organ
tubuhnya telah rusak. (pdpersi.co.id, 2012)
2.1.1.2 Mencegah Sebelum Mengobati
“Mencegah lebih baik dari mengobati” merupakan istilah yang sering
didengar oleh masyarakat luas. Istilah ini adalah sebuah paradigma yang
diperkenalkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes
RI) pada pertengahan September 1998 dalam rangka membangun program
“Indonesia Sehat 2010”. Pada bulan Oktober tahun 1999, Kemenkes RI
memperkenalkan Rancangan Pengembangan Kesehatan untuk Indonesia
Sehat 2010 yang meliputi :
10
1. Memimpin dan menginisiasi pengembangan nasional dengan orientasi
kesehatan.
2. Menjaga dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga, dan umum,
seiring dengan peningkatan lingkungan.
3. Menjaga dan meningkatkan kualitas, kesetaraan, dan jangkauan sarana
kesehatan.
4. Mempromosikan public self-reliance untuk mencapai kesehatan yang baik.
Pada bulan Januari tahun 2010, Kemenkes RI meluncurkan
Rancangan Strategi untuk tahun 2010-2014, mengedepankan “Komunitas
Sehat Mandiri”. Misi Kemenkes RI yang dilakukan untuk mencapai visi
tersebut adalah :
1. Meningkatkan status kesehatan komunitas dengan memperkuat komunitas
tersebut.
2. Melindungi kesehatan umum dengan memastikan ketersediaan usaha
dalam kesehatan yang adil.
3. Memastikan ketersediaan dan jumlah sumber kesehatan.
4. Menjadikan kependudukan yang baik.
2.1.1.3 Medical Check Up
Medical check up atau pemeriksaan secara berkala adalah
pemeriksaan fisik dan medis secara menyeluruh termasuk berbagai tes
tergantung pada usia, jenis kelamin dan kesehatan orang tersebut, untuk
menyelidiki tanda-tanda dan gejala suatu penyakit. Medical check up terdiri
dari sejarah medis yang komprehensif, termasuk penyebab berbagai gejala
seperti yang dialami oleh pasien. Bersama dengan riwayat medis,
pemeriksaan fisik membantu dalam menentukan diagnosis yang benar dan
merancang rencana pengobatan yang paling tepat.
Berdasarkan data yang diperoleh dari jurnal Ade Fitri Zubaedah,
harga yang ditawarkan oleh rumah sakit untuk melakukan medical check up
cukup beragam. Harga ini ditentukan oleh paket yang dapat dipilih sendiri
oleh pasien yang akan menjalankannya. Harga paket tersebut tergantung dari
11
jumlah tes yang ingin dijalankan oleh pasien. Semakin lengkap tes yang ingin
dilakukan, maka semakin mahal pula harga yang diberikan.
Tarif Medical Check Up
Jumlah Prosentase
Harga Rp 400.000 > Rp 1.000.000
47
22,3 %
Harga Rp 1.000.000 > Rp 3.000.000
133
63,0 %
Harga Rp 3.000.000 < Rp 5.000.000
24
11,4 %
Harga Rp 5.000.000 - Rp 10.000.000
5
2,4 %
Harga > Rp 10.000.000
2
0,9%
Total Jumlah
211
100%
Tabel 2.2 Daftar Harga Medical Check Up Di Sahid Sahirman
Memorial Hospital Jakarta Tahun 2009
Sumber Pembiayaan
Jumlah
Prosentase
Pribadi
33
16 %
Perusahaan
178
84 %
Total Jumlah
211
11,4 %
Tabel 2.3 Jumlah Kunjungan Mcu Ssmh Berdasarkan Sumber
Pembiayaan Periode November 2008-Maret 2009
Jika ditinjau dari tabel di atas, peserta medical check up di Sahid
Sahirman Memorial Hospital Jakarta pada bulan April tahun 2009 lebih
banyak menggunakan paket medical check up dengan kisaran harga Rp
1.000.000 > Rp 3.000.000, melalui perusahaan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peserta yang melakukan
medical check up karena kesadaran sendiri masih kurang. Hal ini dapat dilihat
dari angka atau jumlah peserta yang melakukan medical check up dengan
menggunakan dana pribadi untuk kepentingan pribadi masih sangat sedikit
12
jika dibandingkan dengan peserta yang melakukan medical check up dengan
dibiayai perusahaan. (Zubaedah, 2009)
Dr. Samuel menyatakan bahwa check up itu penting. Semakin usia
kita bertambah, waktu interval check up-nya itu semakin pendek. Jadi
sebaiknya di atas usia 30 tahun paling tidak 2 tahun sekali. Di atas 40 tahun
mau tidak mau setahun sekali harus cek. Kebiasaan medical check up di
Indonesia lebih rendah dibandingkan negara lain karena dianggap mahal.
Kalau punya uang, sebaiknya di usia di atas 30 tahun kali pertama lakukan
cek lengkap. Lengkap itu bukan hanya cek darah, tetapi juga rekam jantung.
Walaupun usia masih di bawah 30 tahun, paling tidak 2-3 tahun sekali
periksa. Supaya tahu bagaimana kondisi tubuh kita. (Oentoro, 2013)
Menurut Dr.Dyah, saat ini banyak orang muda yang menerapkan gaya
hidup tidak sehat. Mereka menyantap jenis makanan apapun asal enak tanpa
melihat kandungan nutrisinya. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi
mereka untuk melakukan medical check up minimal 3-6 bulan sekali.
Medical check up sebaiknya dilakukan sebelum terjadi sakit, terutama bagi
mereka yang sudah memasuki usia 25 tahun. Apalagi kalau di dalam
keluarganya terdapat riwayat penyakit diabetes dan hipertensi, serta
cenderung obesitas (Agustina, 2014).
Melanie Haiken (2014) menyampaikan beberapa bentuk pemeriksaan
regular yang diperlukan untuk pria dan wanita
:
Pria
Wanita
Screening kolesterol/profil
Screening kolesterol/profil
lipoprotein
lipoprotein
Tekanan darah
Tekanan darah
Screening diabetes
Screening diabetes
Kepadatan tulang
Kepadatan tulang
Vitamin D
Vitamin D
13
Pria
Wanita
Colonoscopy & Sigmoidoscopy
Colonoscopy & Sigmoidoscopy
Fecal Occult Blood Test
Fecal Occult Blood Test (FOTB)
(FOTB)
Screening kanker kulit
Screening kanker kulit
Pemeriksaan mata dan
Pemeriksaan mata dan
pengelihatan
pengelihatan
Tes pendengaran
Tes pendengaran
Tes tiroid
Tes tiroid
Screening untuk metabolic
Screening untuk metabolic
syndrome
syndrome
Screening kanker testis
Pemeriksaan tulang panggul dan
pap smear
Screening kanker prostat
Pemeriksaan payudara
Screening kanker kandung kemih
Mammogram
Tabel 2.4 Sejumlah Tes Yang Dapat Dilakukan Pasien Untuk
Menjalani Medical Check Up
Menurut Irwan Rinaldi Sikumbang dalam sebuah artikel yang
membahas tentang medical check up, ada beberapa alasan yang umumnya
dikemukakan seseorang untuk menghindari melakukan rangkaian medical
check up. Beberapa di antaranya adalah :
1. Takut merasa stres jika ternyata ada penyakit yang terdeteksi setelah
melakukan medical check up.
2. Kurang percaya dengan rumah sakit.
3. Takut merasakan efek samping akibat menjalani medical check up.
4. Takut dengan jarum suntik (prosedur).
14
5. Takut kelelahan setelah menjalani serangkaian tes sebagai prosedur
medical check up.
6. Takut trauma jika mengalami pengalaman yang kurang enak dalam
menjalani medical check up. (Sikumbang, 2014)
Sedangkan, berdasarkan wawancara singkat penulis dengan seorang
target audiens, alasan lain mereka belum melakukan medical check up adalah
karena kesibukan (pekerjaan) selama 5 hari dalam 1 minggu (hari Senin
hingga Jum’at). Yusri mengatakan bahwa setiap hari Senin hingga Jum’at,
pukul 08.00-17.00 WIB bekerja sebagai karyawan suatu perusahaan.
Sedangkan di akhir pekan, ia lebih memilih untuk meluangkan waktunya
untuk bersantai di tempat tinggalnya, atau pergi bersama teman-temannya.
(Yusri, 2015)
Alasan-alasan atau persepsi negatif masyarakat ini lah yang menjadi
salah satu pemicu masalah kesehatan dalam kehidupan sosial masyarakat.
2.1.1.4 Lembaga atau Organisasi
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
Gambar 2.3 Logo Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia atau yang disingkat
dengan Kemenkes RI berfungsi sebagai berikut
:
 Perumusan kebijakan nasional, kebijakan pelaksanaan dan kebijakan teknis
di bidang kesehatan.
 Pelaksanaan urusan pemerintahan sesuai dengan bidang tugasnya.
 Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung
jawabnya.
15
 Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya.
 Penyampaian laporan hasil evaluasi, saran dan pertimbangan di bidang
tugas dan fungsinya kepada Presiden.
Untuk menjalankan fungsi-fungsinya dengan efektif, Kemenkes RI
memiliki wewenang, mulai dari penetapan kebijakan nasional di bidang
kesehatan, hingga kewenangan lain yang sesuai dengan peraturan undangundang yang berlaku, yaitu mengenai pemindahan dan penempatan tenaga
kesehatan tertentu serta pemberian izin dan pembinaan produksi dan
distribusi alat kesehatan.
Visi
:
Masyarakat Sehat Yang Mandiri dan Berkeadilan
Misi
:
 Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan
masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani
 Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya
kesehatan yang paripurna, merata bermutu dan berkeadilan
 Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan
 Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik
Strategi
:
 Meningkatkan pemberdayaan masyarakat, swasta dan masyarakat madani
dalam pembangunan kesehatan melalui kerja sama nasional dan global.
 Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau, bermutu dan
berkeadilan, serta berbasis bukti; dengan pengutamaan pada upaya promotif
dan preventif.
 Meningkatkan pembiayaan pembangunan kesehatan, terutama untuk
mewujudkan jaminan sosial kesehatan nasional.
 Meningkatkan pengembangan dan pendayagunaan SDM kesehatan yang
merata dan bermutu.
 Meningkatkan ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat dan alat
kesehatan serta menjamin keamanan, khasiat, kemanfaatan, dan mutu
sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan.
 Meningkatkan
manajemen
kesehatan
yang
akuntabel,
transparan
16
berdayaguna dan berhasilguna untuk memantapkan desentralisasi kesehatan
yang bertanggungjawab.
2.1.2 Data Khusus
2.1.2.1 Past Campaign
Sebagai lembaga kementrian yang bergerak dalam bidang kesehatan,
Kemenkes tentu memiliki projek tahunan yang dilakukan dalam rangka
meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia. Berikut adalah
beberapa kampanye atau kegiatan yang telah dilakukan oleh Kemenkes RI
dalam beberapa tahun terakhir
:
Gambar 2.4 Poster kampanye “Aku Bangga Aku Tahu” atau ABAT
Gambar 2.5 Kampanye Dance for Life ‘Aku Bangga, Aku Tahu’
17
Aku Bangga Aku Tahu (ABAT) merupakan program promosi
kesehatan yang digalakkan oleh Kemenkes RI dengan sasaran kaum muda
usia 15-24 tahun. Program ini bertujuan untuk memberi pengetahuan kepada
kaum muda usia 15-24 tahun itu tentang HIV dan AIDS secara benar dan
komprehensif. Karena salah satu faktor terpenting kenapa banyak kaum muda
usia 15-24 tahun kena HIV/AIDS adalah karena kurangnya pengetahuan
tentang hal tersebut. Kaum muda cenderung melakukan tindakan berisiko
namun mereka tidak tahu bagaimana melindungi diri agar tidak tertular
HIV/AIDS. Padahal, sasaran MDGs yaitu agar kaum muda usia 15-24
tahunyang memiliki pengetahuan tentang HIV dan AIDS sebanyak 95%.
Realitanya, baru mencapai 11,8%.
Menurut data kemenkes kasus tertinggi HIV/AIDS di Indonesia
dialami oleh rentang usia 20-29 tahun yaitu sebanyak 43,6%. Masa terinjeksi
virus hingga menjadi AIDS itu kurang lebih 5-10 tahun. Sehingga, dapat
disimpulkan bahwa seseorang terinjeksi virus HIV kurang lebih saat mereka
berusia 15-24 tahun.
Media yang digunakan untuk kampanye ABAT ini disajikan dalam
bentuk poster, leaflet, tote bag, kaos, umbul-umbul, spanduk, dll. Selain itu,
ada pula pertunjukkan tari (teatrikal) yang diadakan di halaman Monumen
Nasional. (Okfriani, 2013)
Gambar 2.6 Kampanye Imunisasi bersama McD
18
Dalam rangka pencapaian 100% Universal Child Immunization (UCI)
desa/kelurahan tahun 2014, dilakukan akselerasi program imunisasi yaitu
Gerakan Akselerasi Imunisasi Nasional (GAIN-UCI) pada tahun 2010.
Pengertian 100% UCI adalah desa/kelurahan di Indonesia telah mencapai
80% atau lebih bayi sampai dengan usia 1 tahun telah mendapat imunisasi
dasar lengkap.
Tahun 2009, UCI desa/kelurahan di Indonesia telah mencapai 69.8%,
dan pada tahun 2010 meningkat secara signifikan menjadi 75.3%.
Dilaksanakan pula imunisasi tambahan yaitu campak dan polio tahun ketiga
di 17 provinsi yang mencakup 13.655.803 Balita usia 0-59 bulan (97.8%)
untuk polio, dan 11.544.190 Balita usia 9-59 bulan untuk campak. Tahap
pertama untuk imunisasi campak adalah tahun 2009, dan tahap kedua tahun
2010. Pada tahun 2011, Tetanus Maternal dan Neonatal dinyatakan telah
mencapai tahap eliminasi oleh WHO untuk sebagian wilayah di Indonesia.
Gambar 2.7 Kampanye Asi Eksklusif untuk Adik
Pemerintah memiliki komitmen dalam peningkatan kesehatan ibu,
bayi, dan balita. Dalam sewindu terakhir, tampak kecenderungan penurunan
angka kematian ibu dari waktu ke waktu. Upaya penting dalam peningkatan
kesehatan ibu, bayi, dan balita Program Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi (P4K).
19
Gambar 2.8 Kampanye Pasar Sehat, Pasar Bunder, Sragen
Gambar 2.9 Kampanye Cuci Tangan Pakai Sabun
Pasar Bunder Sragen menjadi pasar percontohan sebagai salah satu
upaya penyehatan lingkungan dari Kemenkes RI. Kegiatan yang mendukung
penyakit menular dan tidak menular sebagai bagian dari pengendalian factor
resiko penyakit dan lingkungan. Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
20
(STBM), melibatkan kerjasama dengan Pemerintah daerah dan Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM).
Selain itu, ada pula kampanye Cuci Tangan Pakai Sabun upaya
penyehatan lingkungan lain yang dapat ditempuh. Kampanye ini difokuskan
untuk anak-anak agar tidak terkena penyakit yang disebabkan oleh kuman
dan bakteri.
Kemenkes juga mendorong Gerakan Nasional Bersih Negeriku yang
merupakan amanat Presiden RI (SBY). Dengan gerakan ini, seluruh
komponen bangsa diajak melakukan tindakan nyata mewujudkan hidup
bersih dan sehat. Di lingkungan Kemenkes, kegiatan ini dilaksanakan di
rumah sakit, kantor-kantor, dan unit pelaksana teknis di seluruh Indonesia.
Gambar 2.10 Mobil Mammografi
Screening kanker leher rahim dan kanker payudara adalah kegiatan
prioritas. Screening kanker leher rahim dilakukan dengan Inspeksi Visual
dengan Asam Asetat (IVA) dan cryotherapy untuk IVA positif. Program
deteksi dini payudara dilakukan dengan pemeriksaan payudara oleh petugas
kesehatan (Clinical Breast Examination) dan pemeriksaan payudara sendiri
(Sadari/Breast Self Examination). Pada tahun 2011 telah dilatih pelaksana
screening sebanyak 954 orang di 79 Puskesmas dan 102 orang dari 17
provinsi.
21
Gambar 2.11 Taburia, produk yang dikembangkan peneliti Kemenkes
RI
Bubuk Taburia diberikan untuk mencegah terjadinya kekurangan
vitamin dan mineral pada Balita di atas usia 6 bulan. Untuk mencegah
terjadinya kekurangan zat gizi mikro ini, dilakukan intervensi melalui
pemberian bubuk tabur gizi yang diberikan kepada Balita. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa intervensi multi mikronutrien lebih efektif jika
dibandingkan dengan intervensi mikronutrien tunggal (single dose).
Melihat kampanye-kampanye yang sudah dijalankan Kemenkes RI
tahun 2009-2011, Kemenkes RI lebih memfokuskan cakupan kerja mereka
untuk mengatasi kesehatan bagi masyarakat menengah kebawah, sedangkan
medical check up yang menjadi target kampanye penulis diutamakan bagi
kalangan dengan strata ekonomi menengah-keatas. (RI, 2014)
22
2.1.2.2 Kampanye Serupa
Gambar 2.12 Medical Check-up Campaign BIAL
Poster di atas merupakan kampanye mengenai medical check up yang
dibuat oleh Dannilla Donald Correya untuk BIAL (Bengaluru International
Airport) guna meningkatkan kesadaran akan pentingnya memperhatikan
kesehatan bagi seluruh pegawai yang bekerja di BIAL. (Correya, 2012)
Untuk kampanye mengenai medical check up di Indonesia sendiri,
penulis hanya menemukan brosur-brosur dari beberapa rumah sakit. Dengan
demikian, penulis menyimpulkan bahwa kampanye untuk sosialisasi
mengenai medical check up masih belum optimal di Indonesia.
23
Gambar 2.13 Brosur medical check-up RS Mitra Keluarga Kelapa
Gading Jakarta Utara
24
Gambar 2.14 Brosur paket medical check up di RS Mitra Keluarga
Kelapa Gading Jakarta Utara untuk wanita
Gambar 2.15 Brosur paket medical check up di RS Mitra Keluarga
Kelapa Gading Jakarta Utara untuk pria
25
2.1.2.3 SWOT
a. Strength
Kampanye mengenai medical check up di Indonesia belum pernah
dijalankan sebelumnya oleh lembaga-lembaga kesehatan yang ada.
b.
Weakness
Karena kampanye ini baru akan dijalankan, sulit untuk mencari
referensi penggunaan media yang efektif.
c. Opportunity
Jika dilihat dari pembahasan sebelumnya, kampanye mengenai
medical check up masih sangat terbatas. Sehingga belum ada pesaing bagi
kampanye ini.
d. Threat
Belum ada ancaman dari pesaing, karena kampanye mengenai
medical check up masih sangat terbatas di Indonesia. Hanya sebatas
brosur yang tersedia di rumah sakit-rumah sakit.
2.1.2.4 Target Audience Kemenkes RI
Target audience berdasarkan kampanye Kemenkes RI adalah sebagai
berikut :
a. Geografi
Gambar 2.16 Peta Indonesia
Sumber : www. commons.wikimedia.org
Seluruh penduduk Indonesia.
26
b. Demografi
 Gender
: Pria dan wanita.
Gambar 2.17 Simbol yang melambangkan gender pria dan wanita
 SES
: Difokuskan untuk kalangan menengah-ke
bawah (B-C).
 Usia
: Seluruh jangka umur (mulai dari anak-anak
hingga orang tua).
 Pekerjaan : Segala jenis pekerjaan.
 Agama
:
Gambar 2.18 Berbagai simbol keagamaan yang dianut
oleh masyarakat dunia
Karena kampanye yang akan diusung tidak mengandung
unsur SARA, maka seluruh agama yang tercatat dapat menjadi
target audiens.
c.
Psikografi
27
Masyarakat yang mau dan mampu menerima ajakan agar
dapat hidup lebih baik, terutama dalam segi kesehatan.
2.2
Tinjauan Teori
2.2.1
Teori Kampanye
Suatu proses kegiatan komunikasi individu atau kelompok yang
dilakukan secara terlembaga dan bertujuan untuk menciptakan suatu efek
atau dampak tertentu. Rogers dan Storey (1987) mendefinisikan kampanye
sebagai “serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan
untuk menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang
dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu”. (Windahl,
Signitzer, & Olson, 2009)
2.2.2
Teori Periklanan
Iklan sebagai suatu bentuk penyampaian pesan dalam komunikasi non
personal mengikuti alur teori yang berlaku pada ilmu komunikasi umumnya
dan khususnya komunikasi massa. Berkaitan dengan iklan ada beberapa teori
yang patut dicatat sebagai pegangan dengan teori tersebut kita dapat
menjadikannya dasar pijakan melihat konsep-konsep iklan.
Teori Selective Influence adalah bagaimana khalayak merespon
pesan-pesan iklan dari media massa. Salah satu prinsip dalam Teori Selective
Influence yang berkaitan dengan kampanye ini adalah Teori Selective
Attention. Teori Selective Attention (memilih memperhatikan pesan tertentu)
adalah :
a. Perbedaan individu dalam merespon pesan-pesan iklan terjadi hanya
karena perbedaan dalam struktur kognitif yang mereka miliki. Cara
pandang, berpikir, berpengetahuan, kepercayaan, setiap orang
terhadap sesuatu yang baru termasuk pesan-pesan iklan tidaklah sama.
b. Karena keanggotaan seseorang dalam masyarakat ada dalam berbagai
kelompok sosial maupun kemasyarakatan maka ada dugaan memilih
perhatian terhadap pesan tertentu pun akan dipengaruhi oleh
kelompoknya itu.
28
c. Bahwa orang lebih berminat jika suatu pesan iklan dapat membangun
citra hubungan dengan pihak lain. Pesan iklan membuat orang harus
memperhatikannya karena pesan itu mengakibatkan orang itu aktif
berhubungan dengan anggota keluarga, tetangga, atau kenalannya.
(Srambeau, 2010)
2.2.3 Teori Komunikasi Massa
Komunikasi Massa (Mass Communication) adalah komunikasi yang
menggunakan media massa, baik cetak maupun elektronik, yang dikelola
oleh suatu lembaga, atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan kepada
sejumlah besar orang yang tersebar di banyak tempat.
Menurut George Gerbner, pengertian komunikasi massa dengan
sebuah definisi singkat yaitu sebagai produksi dan distribusi yang
berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang berkelanjutan serta
paling
luas
dipunyai
orang
dalam
masyarakat
industri.
(Communicationtheory.org, 2015)
2.2.4 Teori Tipografi
Menurut Surianto Rustan, S.Sn, tipografi dimaknai sebagai ‘segala
disiplin yang berkenaan dengan huruf’. Tipografi dalam hal ini, huruf yang
tersusun dalam sebuah alfabet merupakan media penting komunikasi visual.
(Rustan, 2011)
2.2.5 Teori Fotografi
Subjek fotografer tidak berdiri sendiri. Dengan mengisolasi subjek
atau beberapa subjek dari lingkungan sekitarnya, suatu hubungan baru
terbentuk. “The central act of photography, the act of choosing and
eliminating, forces a concentration on the picture edge-the line separates in
from out-and on the shapes that are created by it”. (Grange, 2013)
2.2.6 Teori Warna
Teori warna ini menyederhanakan warna-warna yang ada di alam
menjadi 4 kelompok warna, yaitu warna primer, sekunder, tersier, dan warna
netral. Kelompok warna ini sering disusun dalam lingkaran warna Brewster.
Lingkaran warna Brewster mampu menjelaskan teori kontras warna
29
(komplementer), split komplementer, triad, dan tetrad. (Morioka, Adams, &
Stone, 2006)
2.2.7
Teori Copywriting
Copywriting adalah seni penulisan pesan penjualan yang paling
persuasif yang dilatarbelakangi kewiraniagaan yang kuat. Tulisan itu harus
mampu menarik perhatian (attention), menimbulkan ketertarikan (interest),
keinginan (desire), menciptakan keyakinan (conviction) dan tindakan
(action). (Jefkins, 1990)
2.2.8
Teori Layout
Dalam buku The Fundamentals of Creative Design disebutkan bahwa
layout adalah penempatan posisi dari elemen- elemen baik itu teks maupun
gambar pada suatu halaman yang dimana memberi pengaruh dramatis pada
visual dan bagaimana informasi secara efektif dapat dikomunikasikan kepada
pembaca. Layout dipengaruhi oleh tata letak materi yang akan disajikan,
tujuan dari tata letak tersebut, dan tentu saja, kreativitas para desainer.
Kebanyakan
desainer
kompleksitas
untuk
menggunakan
membantu
grid
dengan
berbagai
tingkat
dalam penempatan unsur-unsur dan
memberikan semacam keteraturan. Sedangkan pada buku Layout, Karya
Gavin Ambrose dan Paul Harris, Layout adalah penyusunan dari elemenelemen desain yang berhubungan kedalam sebuah bidang sehingga
membentuk susunan artistik. Hal ini bisa juga disebut manajemen bentuk dan
bidang. Tujuan utama layout adalah menampilkan elemen gambar dan teks
agar menjadi komunikatif dalam sebuah cara yang dapat memudahkan
pembaca menerima informasi yang disajikan. Dalam publikasi buku biografi
ini, penulis akan banyak bermain dengan ruang kosong dan komposisi yang
memudahkan pembaca untuk membaca dan didukung dengan visual yang
mendukung. (Ambrose & Harris, 2011)
30
Download