Pram, Sastra Kiri dan Pembebasan

advertisement
MODERASI ISLAM DAN PEMBELAJARAN KERUKUNAN
Firdaus Muhammad1
Abstract: The Indonesian pluralism multicultural is a strategy which is used, read
and appreciated to the differences and variety. The substantive of multicultural
education is not free value. The suggestion (book of Allah) is to function as real
power from the multicultural Islam education. In other wards, commitment
strengthen Islam moderation, awared or no, is faced to reality which appear
extremism fundamentalism which is productive now. This accure because of be rotten
(hollow) economic and political system which is not sure or certain. This are aspecs
which need to be collective awareness of muslim’s moderation after Cak Nur and
Gus Dur. The end, the multicultural is not free from the value of God and is to be
proof of servant to Allah who is great of educater.
Key Words: Islamic Moderation, Multicultural, Education
Pendahuluan
Dalam peta keberagamaan di Indonesia, diwarnai menggeliatnya arus radikalisme
dan liberalisme, acapkali menumbuhkan kegamangan beragama. Sehingga, upaya
mengetengahkan pandangan muslim secara moderat menjadi niscaya, saat
menguatnya arus pemikiran Islam radikal dan liberal yang terus bergulat dalam altar
diskursus berkepanjangan itu. Di tengah pergulatan kutub pemikiran tersebut,
diniscayakan kehadiran pemikiran yang moderat dalam bingkai perspektif moderasi
Islam, terutama dalam merentang ihwal perdamaian dan toleransi di tengah
menguatnya tindakan intoleransi.
Menebarkan moderasi Islam dalam konteks keindonesiaan, kian relevan di tengah
konstruksi sosial masyarakat yang acap intoleransi, tepatnya sebagai ancaman serius
atas toleransi yang telah dipancangkan dalam konstruk keberagamaan di tengah
pluralisme dan multikulturalisme masyarakat. Sikap moderasi menjadi penting bagi
seorang muslim, sebagai kaum mayoritas sejatinya dapat memberi keteladanan bagi
kaum minoritas dalam menata bangunan toleransi. Visi moderasi tidak terlepas dari
obsesi meneguhkan komitmen terhadap kemaslahatan umat seiring proses demokrasi
1 Dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. E-mail:
[email protected].
yang kian membaik. Komitmen meneguhkan moderasi Islam, disadari atau tidak, kini
diperhadapkan pada realitas menguatnya arus eksteremisme kaum fundamentalis
yang kian subur, akibat keroposnya sistem perekonomian dan politik yang tak
menentu. Aspek inilah yang perlu menjadi kesadaran kolektif muslim moderat pasca
Cak Nur dan Gus Dur.
Toleransi Antarumat Beragama
1. Moderasi Islam
Dalam perspektif moderasi muslim moderat, sejumput persoalan di atas ihwal
realitas keberagamaan yang terkait toleransi, terorisme dan asa terhadap
perdamaian itu dipandang menjadi agenda yang mengharuskan adanya resonansi
kearifan intelektual muslim moderat. Sedikitnya, tiga persoalan umat yang
meniscayakan perspektif moderasi muslim moderat sebagai implementasi
komitmennya dalam menebarkan pandangan yang memberi solusi.
Pertama,
membangun
benteng
toleransi.
Toleransi
kembali
diteguhkan
sebagai
membendung tindakan intoleransi, guna menyemai nilai-nilai pluralisme. Spirit
pandangan ini berpijak pada kontestasi bahwa toleransi dan intoleransi sebagai
fakta sejarah, yang kini tetap menjadi wajah keberagamaan. Karenanya, menjadi
keniscayaan
meneguhkan
konstruksi
sosial
dalam
merawat
toleransi,
meminimalisir intoleransi dalam konteks menjaga kemaslahatan keumatan dan
kebangsaan sekaligus.
Demikian pentingnya toleransi diusung sebagai kuasa nilai, dalam perspektif
moderasi Islam membidik relasi toleransi dan demokrasi sangat erat, sebab
demokrasi tanpa toleransi akan melahirkan tatanan politik yang otoritarianistik,
sedangkan toleransi tanpa demokrasi akan melahirkan pseudo-toleransi, toleransi
yang rentan menimbulkan konflik-konflik komunal. Karenanya, toleransi dan
demokrasi harus berkait kelindan dalam tatanan masyarakat. Tetapi, toleransi
bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit sebagai barang jadi, tetapi ia mewujud
dalam kearifan kekuasaan yang memiliki determinasi dalam merawat toleransi.
Jika tidak, justru akan memunculkan persoalan akut lainnya seperti gejala
terorisme yang intoleransi itu, lahir sebagai implikasi ketidak-arifan kekuasaan
dalam merawat toleransi, sehingga mewujud intoleransi dan kekerasan atas nama
agama. Sungguh, bersikap intoleran jauh lebih mudah dibanding toleran,
sehingga butuh perhatian kolektif menjadikan problem sosial yang niscaya
selekas mungkin diselesaikan, baik oleh pemerintah-negara maupun ormas
sekaliber NU dan Muhammadiyah.
Kedua, seorang muslim moderat, mendedahkan terorisme yang menjadi
ancaman kemanusiaan dengan segenap balutan ideologis dan jaringannya.
Berlatar pada kemiskinan ekonomi, ketimpangan keadilan sosial dan kedangkalan
pemahaman keagamaan, menjadi penyubur tumbuhnya geneologi ideologis dan
penguatan jaringan terorisme yang berbasis di tanah air. Selain itu, sensitivitas
agama dengan melihat ketidakberdayaan Palestina, Irak dan Afganistan telah
melahirkan solidaritas dan militansi agama untuk melakukan pembelaan, tetapi
dilakukan dengan tindak kekerasan atas nama agama.
Mengunduh terorisme yang belakangan menjadi isu sensasional di tanah air
bahkan dunia, terutama setelah jaringan mereka berhasil “diamputasi” pihak
keamanan. Selaras pandangan Amartya Sen, ia berhasil mengidentifikasi
keterkaitan terorisme dengan identitas soliter, sehingga pembaca menemukan
titik problem terorisme, dimana identitas merupakan salah satu dimensi paling
rentan melahirkan terorisme. Identitas acap ditafsirkan “mereka” sebagai takdir,
bukan sesuatu yang bersifat dinamis dan kontekstual, karenanya masyarakat
sejatinya dibebaskan dari mewabahnya virus identitas soliter yang menyuburkan
aksi teroris.
Dibalik peliknya soal ancaman global terorisme, masih tersisa harapan dengan
menanamkan optimismenya akan lahirnya oase perdamaian yang menjadi
antitesa terorisme. Oase perdamaian menjadi asa realistis dengan membebaskan
manusia dari kubangan kemiskinan dan ketidak-adilan sosial serta kebodohan.
Berpijak pada prinsip itu, pembangunan manusia yang sejahtera dan
berkeadaban niscaya mewujud menjadi realitas, sekiranya perdamaian tercapai.
Kedua sudut pandang tersebut mencerminkan moderasi pandangan dan
pemahaman keagamaan muslim moderat sebagai penyuara moderatisme Islam
secara sejati. Pandangan muslim moderat senantiasa dirindukan sebagai
penyelamat umat dan bangsa, di tengah fragmementasi kaum fundamental dan
liberal. Disinilah, relevansi perspektif moderasi muslim moderat yang
“dikhotbahkan” sejumlah muslim moderat yang mencerminkan kesungguhannya
dalam menyemai Islam keindonesiaan yang manusiawi dan moderat, sesuai
dengan kultur Islam di Indonesia. Dalam melihat isu aktual dengan berbagai
dinamikanya, serta tawaran solutif dari muslim moderat yang memosisikan diri
sebagai muslim moderat. Terlepas dari itu, pandangan muslim moderat selalu vis
a vis dengan kutub pemikiran “Islam kanan” dan “Islam kiri”. Oleh karena itu,
untuk meneropong Islam dalam perspektif moderasi terhadap pelbagai isu yang
dihadapi umat Islam menyisakan asa perdamaian atas resonansi muslim moderat
dalam merajut karakteritik Islam Indonesia yang moderat.
2. Dialog AntarIman
Dalam
tulisannya
bertajuk
Urgensi
Dialog
Antariman,
(Media
Indonesia/22/92008) Zuhairi Misrawi meniscayakan dialog antariman yang
dibangun di atas prinsip keinginan untuk mencari titik temu. Karenanya,
dibutuhkan kearifan dari para pemuka agama untuk tidak memunculkan kembali
sentimen di masa lalu, terutama sentiman yang bernuansa negatif. Selanjutnya,
tulisan intelektual muda NU ini menjadi menarik dan relevan dalam konteks
menyikapi kasus pelecehan terhadap Islam yang dilakukan oleh Vatikan melalui
pidato Paus Benedictus XVI di Universitas Rogensburg, Jerman, 12 September
lalu. Meskipun geger tafsir jihad Paus atas Islam itu mendapat reaksi keras, tetapi
umat Islam masih mampu mengendalikan diri untuk tidak melakukan aksi
anarkis.
Di tengah meradangnya kebencian umat Islam atas pidato provokatif Paus
Benediktus XVI, justru Vatikan menunjukkan sikap damai. Selain permintaan
maaf Paus sendiri, juga yang paling urgen adalah seruan petinggi Vatikan itu
untuk berdialog. Hal itu dikemukakan dalam pertemuan Paus dengan diplomat
negara-negara Muslim di kediamannya di Castel Gandolfo, Roma, Senin 25/9 lalu
(Media Indonesia 26/9/2008). Secara yakin Paus menegaskan bahwa dialog antara
Islam dan Kristen sangat penting untuk memelihara perdamaian dan stabilitas
dunia yang terancam oleh ketegangan agama.
Sungguh mendiskusikan soal merebaknya kekerasan yang meruntuhkan
solidaritas dan melahirkan luka baru, adalah sesuatu yang tidak nyaman. Sebab
begitu banyak kerusakan sosial di tengah lirihnya suara kaum moralis, sebutlah
elit agama. Justru virus konflik diembuskan elit agama sendiri selain oleh
propaganda negara. Maka relevan untuk belajar dari Vatikan diembuskan benihbenih konflik melalui pidato Paus yang menafsirkan Jihad dalam Islam secara
keliru. Hal ini memiliki potensi virus konflik yang dapat merobek dan melerai
simpul-simpul kerukunan relasi antarumat beragama yang dibangun dalam dialog
secara intensif lintas agama. Hal ini terjadi di tengah upaya melampaui dialog
agama, justru menjadi suatu kemunduran drastis.
Fenomena kekerasan atas nama agama, kepentingasn kelompok, ideologi
bahkan atas nama agama masih juga terus berulang. Kekerasan yang dioperasikan
oleh komunitas kaum beragama nyata melukai misi kemanusiaan yang menjadi
ajaran suci setiap agama. Bahkan ironisnya, agama justru dijadikan tameng untuk
memperkeruh suasana konflik. Padahal, semua agama hadir untuk membawa
kedamaian, atau paling tidak, menjadi alternatif dari sistem untuk mewujudkan
stabilitas dalam konteks kerukunan beragama. Semua agama pada prinsipnya
mewartakan ajarannya yang agung masing melalui masjid, gereja, sinogog, pure,
vihara, kelenyteng dan tempat persembahyangan lainnya. Upaya ini membumikan
ajaran langit bagi kpeentingan kehidupan manusia. Ajaran yang suci dan mulia itu
sejatinya dijadikan spirit untuk membantu orang-orang yang menghayati dan
berkomitmen bagi perdamaian tanpa terjebak pada sekat-sekat agama dan
ideologi lainnya. Agama yang dalam dirinya terkandung kebenaran mutlak harus
berhadapan dengan kebenaran-kebenaran yang lain yang memiliki hak yang sama
untuk eksis dan berinteraksi demi kedamaian di bumi.
3. Menelisik Akar Konflik
Akar konflik dan kekekreasan atas nama agama dipicu karena perbedaan
teologis dan non-teologis semisal ekonomi dan politik. Kepentingan-kepentingan
tersebut sering terakumulasi sekaligus bermetamorfosa dalam bentuk konflik dan
kekerasan. Ketidaksiapan umat beragama untuk hidup dalam masyarakat plural
kadang dimanfaatkan oleh aktor-aktor politik tertentu untuk membakar
fanantisme unmat dari tujuan jangka pendek. Hal ini menjadi virus konflik
kadang sulir dibendung ditenh berkecamuknya konspirasi politik yang
memperalat isu sensitivitas atas nama agama. Maka yang tumbuh adalah
menbalnya rasa fanatisme agama dan lahirnya primordialisme sempit.
Sejarah social masyarakat agama hampitr tidak pernah lepas dari konflik, baik
karena sentiment agama itu senditi atau factor di luar agama. Agama hanya bias
menjadi pencipta perdamaian di tegah dunia ini bila umat beragama sadar bahwa
perdamaian bukan didapat dengan membenci atau memusuhi umat lain.
Perdamaian hanya bias dihasiulkan melalui kemampuan menghatgai dan
menghormati sesamamnya serta melalui komitmennya untuk membela siapaun
yang tertindas dan tidak diperlakukan tidak adil. Mamang sulit untuk malahirkan
karakter beragama yang pfanatik tetapi tidak ekstrim kecuali melalui proses
intelektualitas untuk memahami kedewasaan beragama. Agama merupakan
realitas sosial yan hidup dan termanifestasikan dalam masyarakat. Dalam konteks
ini, gama yang memiliki konsepsi terhadap realitas absolut terhadapan dengan
realitas social yang selau berubah-ubah.
Salah satu factor pemicu lahirnya kekerasan atsa nama agama, tidak terkecuali
kerusuhan yang dimobilisir atas senrtimen teologis dipicu pemahaman keagamaan
yang sempit. Pemahaman yang literal dan parsial lebih mendorong kaum
beragama untuk mengedepankan emosionalnya disbanding rasionalitas mereka.
Terperangkapnya kaum beragama yang demikian hanya dapat diselamatjkan
melalui upaya melakukan kontekstualisasi ajaran agamanya dalam wawasan yang
tidak menyempit. Selain faktor pemahaman, kekerasan atas nnama agama juga
dipicu adanya kesenajangan politik dan ekonomi serta tumbuhnya sikap saling
curiga terhadap the other.
4. Merawat Dialog Lintas Agama
Berangakat dari fenomena ini, maka upaya dialog tetap menjadi tawaran
alternative, baik yang bersifat local, nasional, regional hingga internasional.
Meskipun beragam dialog yang demikian dilakukan belum menunjukkan hasil
signifikan. Justru itu, perlu dievakuasi hal-hal yang mempersulit mencari titik
temu di latar perbedaan teologis tersebut. Urgensi dialog lintas agama terwujud
bila didasari kesadaran masing-masing elit agama untuk mencari kar persoalan
secara substansial untuk menekan menegnatalnya konflik lintas agama. Selama ini
masih ditengarai dialog-dialog hanya bersifat seremonial bahkan kadang bernunas
politis tanpa menyentuh kara persoalan. Sejatinya, bukan dialog antara elit semata
sebab merea telah memiliki tingkat kedewasaan bergama yang tinggi sehingga
terdapat kesepahaman, tetapi yang terpenting bagaiamana mengola masaa
masing-masing untuk tidak anarkis.
Kesadaran terhadap realitas pluralitas berragama duyakini dapat meredam,
paling tidak, memminimalisir konflik dan kekerasan atas nama agama. Dengan
begitu, ada ruang yang tercipta bagi masing-masinmg pihak untuk terbuka, jujur
dan saling memahami serta saling mneghargai. Untuk itu, elit agama memiliki
tanggung jawab untuk merawat kerukunan beragama yang selama ini telah
dibangun melalui dialog-dialog. Jika mereka mampu memainkan perannya secara
signigikan dan optimal dengan mengeliminir potensi konflik dengan memeberi
pemahaman agama yang konstekstual, terbuka. Syahdan, para elit agama dan
politik
perlu memilki kearifan
dalam menyelesiakan setiap persoalan yang
mengaitkan agama dengan menelisi akar maslah untuk merwat kerukunan
beragama yang cedera dan terluka karena kepentingan actor politik tertentu dan
keterbatasan pemahaman terjadap akjaran agama sebagain penagut agama.
Mereka memiliki sentiman dan fanatisme agama yang mengental sehingga
perilakunya menjadi ekstrem. Inilah problematika kaum beragama dalam
membangun dialog dan relasi sosial secara global.
Maka alternatif solutif adalah membangun dialog kearah rekonsiliasi
antariman sebagai pintu masuk kedamaian dalam bingkai pluralitas agama.
Kesiapan masing-masing kaum beragama untuk berdialog berarati tumbuh
kedewasaan dan kesadaran beragama yang tinggi, sebab tidak lagi terjebak pada
adagium "menyamakan semua agama", melainkan tumbuh semangat untuk
menghargai, yakni mengakui adanya perbedaan dan mencari tuitik temu melalui
dialog menuju sikp keberagaam yang dewasa. Sebab konflik anataragama bukan
karena ajaran atau norma-norma agama, melainkan karena sikap keberagaaamn
yang kurang dewasa.
Dapatkan luka kerukunan bergama ini disembuhkan,
tergantung pada sikap kedewasaan masing-masing kaum beragama.
Wajah Fasisme Dan Diabolisme Dalam (Ber) Agama
Sekadar jika merunut wajah beragama yang kini memasuki era kebebasan, menarik
dicermati, terutama secra psikologis banyak orang merasa termarginalkan sehingga
merasa butuh dengan pengukuhan dan pengakuan identitasnya, tidak kerkecuali
dalam ranah sosial keagamaan sekalipun. Kondisi ini kelak menyisakan persoalan
pelik, sekelompok orang yang krisis identitas "berhasil" mengukuhkan diri dan
mendapat pengakuan akan eksistensinya kemudian menafikan kehadiran kelompok
lain. Maka berseliwerannya polarisasi agama yang stigmatis, saling menyesatkan dan
merasa paling benar sehingga kegaduhan wacana agama tidak terelakkan lagi.
Terang saja jika menelisik lanskap pemikiran Islam Indonesia kontemporer,
setidaknya ada dua kutub atau "mashab" pemikiran yang menjadi maenstream secara
realistis saling berbenturan, baik dalam altar wacana maupun gerakan, yakni mashab
Islam liberal dan radikal. Dalam konteks inilah perlu objektivikasi dalam "membaca"
dua kutub pemikiran tapi (mungkin) satu kitab, interpretasi atas teks saja yang
berbeda. Sepertihalnya ketika mendedah pemikiran Islam liberal dari dunia maya
hingga buku dan diskusi, maka isu, pemikiran dan wacana dari sayap radikal juga
perlu disikapi secara arif. Sebab kedua kutub tersebut masing-masing mengisi "ruang
kosong" meski kadang "rebutan lahan".
Lalu bagaimana jika diantara mereka saling menilai (baca:menuding, menuduh dan
memvonis) satu sama lain dengan merujuk "mashab" masing-masing. Setidaknya
itulah yang dengan mudah kita pergoki dalam ekspresi dan pengukuhan identitas
keberagamaan belakang. Media yang sering dijadikan ruang bebas mendedahkan
ekspresi itu, isalnya, melalui buku. Salah buku yang cukup provokatif dan subyektif
dalam membaca the others (Islam liberal) diantaranya karya Adian Husaini, seorang
intelektual bersayap kanan-fundamental, berjudul Islam Liberal, Pluralisme Agama dan
Diabolisme Intelektual. Didalamnya terkuak sebuah pembacaan "the others" (Islam
radikal-fundamental) terhadap "the Others" (Islam liberal) yang lain. Subjektivitas
menjadi keniscayaan untuk meneguhkan keyakinan sang penulis. Secara garis besar
pemikiran yang tertuang didalamnya yakni, mengungkap fenomena Islam liberal
pasca fatwa MUI akhir Juli 2005 lalu.
Term -yang kemudian menjadi stigma- diabolisme adalah sebuah pemikiran, watak
dan perilaku iblis terhadap intelektual Islam liberal menjadi provokasi seperti secara
gamblang tersingkap dalam pandangan Syamsuddin Arif (2005), seorang peraih
doktor ISTAC-Malaysia - kini sedang mengambil doctor keduanya di Frankfurt
Jerman - mencoba mengelaborasi ciri-ciri intelektual bermental iblis (diabolis),
diantaranya, selalu membangkang, bermuka dua atau menggunakan standar ganda.
Selain itu, mental diabolis lainnya ialah mengaburkan dan menyembunyikan
kebenaran, mereka tahu yang benar dan yang salah namun ia sengaja memutarbalikkan data dan fakta (h.104).
Karakter diabolis dan talbis itulah yang disematkannya kepada intelektual liberal.
Untuk menyebut beberapa diantaranya, sebut Ulil Abshar Abdalla yang kini sekolah
di Barat, Amerika. Tokoh muda inilah yang menjadi bidikan buku ini yang membela
pluralisme agama dan penyeru liberalisme Islam paling giat. Tokoh tua yang tak
terlewatkan, Dawam Rahardjo, misalnya. Meretas bagian-bagian buku ini
menceminkan keseriusan penulisnya dalam membongkar propaganda Islam liberal.
Penulis mengawali kajiannya dengan mengambil titik pijak pada penentangan sayap
liberal atas 11 fatwa MUI, akhir Juli 2005. Khusus fatwa atas pelarangan Ahmadiyah,
liberalisme, pluralisme dan sekularisme, menuai kritik, hujatan dan kecaman. Bahkan
Ulil sang lokomotif kaum liberal muda NU ini menyatakan fatwa itu konyol dan
tolol. Sementara Adian mencoba membongkar diabolisme Islam liberal dengan suatu
simpulan atas pokok-pokok ajaran (sesat) Islam liberal yang selama diproyeksikan
meliputi; menghancurkan aqidah Islam dengan menyebarkan faham pluralisme,
meruntuhkan bangunan syariat Islam melalui kontekstualisasi ijtihad dengan tawaran
metodologi hermeneutik, mengugat wahyu, ulama serta membongkar konsep-konsep
dasar Islam dalam jubah liberalisme dan relativisme beragama.
Maka setelah MUI mengeluarkan fatwa keharaman Ahmadiyah, liberalisme,
sekularisme dan pluralisme menjadi palu godam atau alat pemukul yang menakutkan
bagi Islam liberal di Indonesia dalam merealisasikan proyek liberalisme Islamnya.
Namun Adian juga mengakui dengan penuh kekhawatiran atas penyebaran virus
Islam liberal yang sudah meluas ke berbagai sendi-sendi kehidupan umat, baik aspek
sosial, budaya, politik, ekonomi maupun bidang studi Islam. Kelompok
fundamentalis yang selalu berseberangan pemikiran dengan kelompok liberalis
cenderung mengurai pluralisme agama dan islam liberal yang oleh penulisnya
diasumsikan sebagai tren baru dalam mengacak-acak ajaran Islam. Sejurus itu, bagian
kedua masih mendaras soal pluralisme agama kaitannya sikap dan perilaku islam
liberal atas penginkarannya atas otentisitas al-Qur'an. Obsesi salah satu kontributor
pemikiran Islam liberal, Taufik Adnan Amal yang juga dosen tafsir di UIN Alauddin
Makassar itu, meniscayakan hadirnya al-Qur'an dalam edisi kritis.
Di sisi lain, fenomena menggeliatnya "virus" liberalisme di tubuh Muhammadiyah.
Meskipun sekelompok anak muda NU seperti Ulil Abshar Abdalla, Sumanto alQurtuby dan Zuhairi Misrawi merupakan "janin" Islam liberal di "rahim" NU, tetapi
NU tidaklah terlalu dipersoalkan buku ini, seiring (mungkin) dalam Muktamarnya ke
31 di Solo, 2004 lalu, NU menolak faham liberalisme secara telak.akan halnya, geliat
liberalisme di Muhammadiyah, bagi dimata penganjur mashab fundamentalis
menaruh kecurigaan akan meruntuhkan bangunan Islam ditandai tampilnya tokoh
Muhmmadiyah sekaliber Tarmizi Taher melalui tulisannya; " Memetik Nilai-Nilai
Pluralisme dari KH. Ahmad Dahlan". Syahdan, hal itu menjadi aneh sebab
Muhammadiyah dianggap mendukung pluralisme yang selama ini menjadi hantu yang
menakutkan bagi kelompok fundamental-radikal. Selain Tarmizi, Sukidi Mulyadi
seorang tokoh muda Muhammadiyah, juga tidak lepas dari intaian Adian, secara
gamlang dan gampang memekikkan pluralisme sebagai sunnatullah. Moeslim
Abdurrahman juga mendapat kecaman setelah mendukung buku "sesat" Sumanto alQurtuby, Lubang Hitam Agama. Bagi penggagas Islam transformative ini, buku
Sumanto perlu dibaca oleh siapapun yang ingin ber-taqarrub untuk mencari
kebenaran. Sementara buku tersebut dianggap melecehkan alquran, Nabi Muhammad
dan para sahabat nabi.
Sepertihalnya kaum liberal NU gagal menyusupkan liberalisme di ormas terbesar
di Indonesia itu, kaum liberal Muhammadiyah seperti Dawam Rahardjo, Abdul
Munir Mulkhan dan amin Abdullah, juga terbilang gagal melakukan hal yang sama.
Tampilnya Din Syamsuddin yang juga tokoh MUI masih dinilai oleh kaum liberal
belum jelas sikapnya bahkan dalam banyak kesempatan justru mengkritik Islam
liberal, meski tergolong intelektual modernis tetapi sangat hati-hati. Wajah lain
pemikiran kaum fundamentalis berupaya mengusung tema dalam pandangan
stigmatis seperti menelusuri jejak sekularisasi, syariat Islam, Islam dan sekularisme,
pluralisme yang diklaim kebenaran yang berbahaya dan kritik mereka terhadap upaya
reinterpretasi dan liberalisasi penafsiran oleh komunitas islam liberal yang giat
menggugat alquran.
Pemikiran ini memunculkan diri sebagai wacana pembanding dan pembendung
Islam liberal yang makin menggejala. Melihat berbagai persoalan yang dibahas buku
ini tampak harus lebih arif, sebab pada beberapa bagian perlu kearifan untuk tidak
terprovokasi sepertihalnya dalam membaca dan membedah pemikiran aktivis Islam
liberal. Dalam hal ini tersibak aura gugatan bahkan cenderung ke arah dekonstruktifrekonstruktif atas biabolisme Islam liberal oleh sekelompok penganjut dan penganut
mashab fundamental. Bagaimanapun apresiasi kita (mendukung atau sebaliknya)
terhadap pemikiran yang demikian, sejatinya dapat kita jadikan ruang menenggak
perbedaan dengan kearifan beragama kita, meski hanya sebatas wacana yang selalu
mengawan-awan untuk diperdebatkan, untuk tidak mengatakan dibenturkan.
Sementara itu, momentum jatuhnya rezim Orde Baru telah dimanfaatkan secara amat
baik oleh kelompok Islam radikal untuk bangkit. Bangkitnya gerakan Islam radikal
seiring dengan dibukanya kran demokrasi dan kebebasan
berpendapat dan
berorganisasi, baik dalam wilayah politik praktis maupun dalam tataran sosial
keagamaan, sehingga kondisi tersebut memunculkan reaksi logis dari tatanan politik
monolitik yang ditandai dengan ledakan partisipasi politik yang lebih luas. Eforia
reformasi dengan kebebasan berekspresi tidak hanya dimanfaatkan oleh kelompokkelompok politisi
yang
dinikmati pula oleh
mempunyai agenda politik tertentu saja, akan tetapi
kelompok-kelompok agama yang secara transparan
menggunakan simbol-simbol agama dalam menyuarakan aspirasinya.
Kelompok agama yang dulu tidak mendapat tempat untuk mengangkat ide-ide
Islam sebagai dasar negara, kini dengan mengatas-namakan demokrasi mereka bebas
memperjuangkannya. Demikian juga dengan kelompok-kelompok agama yang tidak
memiliki agenda politik secara langsung, dengan tidak merasa dicurigai
sebagai
ancaman negara lantang mengkritik ketimpangan-ketimpangan moral masyarakat.
Ada dua tipe gerakan yang mengemuka dalam memperjuangkan ide-ide Islam
formalis ini. Pertama gerakan mereka yang memperjuangkannya melalui jalur partai
politik dan lobi-lobi politik formal, seperti PBB (Partai Bulan Bintang), PK (Partai
Keadilan kemudian berubah PKS [Partai Keadilan Sejahtera]), PKU (Partai
Kebangkitan Umat), PUI (partai Umat Islam),Partai Masyumi Baru, PSII 1905,
Masyumi (Partai Politik Islam Masyumi) PPP (Partai Persatuan Pembangunan ) dan
sebagainya. Kedua mereka yang lebih memilih gerakan sosial terlebih dahulu untuk
mensosialisasikan ide kulturalnya dan sedikit menampilkan simbol-simbol kekuasaan.
Pola ini dapat dilihat dari aktivitas Ormas Islam seperti FPI (Front Pembela Islam),
FKSW (Forum Komunikasi Ahlussunnah Waljamaah) yang kemudian populer
dengan sebutan Laskar Jihad, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, HAMMAS, dan
Majlis Mujahidin, KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam)2 dan
sebagainya. Namun secara umum dua tipe ini memiliki kesamaan ciri sebagaimana
dikemukakan oleh Horace M.Kallen. Pertama mereka tampil mendakwahkan
pentingnya penerapan ajaran Islam secara menyeluruh (Kaafah) di tengah zaman
modern, baik dalam bidang sosial maupun politik bahkan urusan domestik pribadi.
Kedua, mereka mendasarkan praktek keagamaannya pada orientasi masa lalu (salafy).
Ketiga mereka sangat memusuhi Barat dengan segala bentuk peradabannya seperti
sekulerisasi dan modernisasi, keempat perlawanannya dengan gerakan liberalisme
Islam yang tengah berkembang di Indonesia. 3
Fenomena tersebut merupakan gejala sosial yang menarik di kalangan pengamat
sosial baik dari luar maupun dalam negeri. Mereka sering menyebut gejala ini
sebagai bagian dari gerakan fundamentalisme. Suatu istilah baku dalam Ilmu Sosiologi
(Sosiologi Agama), yang mempunyai pengertian suatu gerakan penolakan terhadap
isu-isu modernitas yang didasarkan atas keyakinan agama yang difahaminya secara
mutlak dan harfiyah. Istilah ini sering diidentikkan dengan gerakan kaum reaksioner
Kristen di Amerika Serikat ( 1870) yang merasa terancam oleh ajaran teologi liberal,
sehingga menganggap perlu untuk kembali ke asas fundamen. Mereka berpangkal
pada asas tak-mungkin-salah dari al-Kitab, termasuk bentuk huruf asli dari al-Kitab
dan tidak mau tau pandangan teologi baru dan penafsiran yang mencoba menyentuh
bentuk kepercayaan tradisional mereka.
Untuk menunjuk gerakan Islam di Indonesia selain istilah fundamentalisme
muncul juga istilah lain diantaranya Islam radikal, Islam ekstrim, Islam militan, Islam
skriptualis, Islam anti Liberal, Islam Garis Keras dan sebagainya. R. William Liddle
jauh-jauh hari telah meramalkan kemunculan kebangkitan Islam ini dengan menyebut
kelompok Islam skriptualistik dalam artikelnya berjudul “Skriptualisme
Media
2 KISDI merupakan lembaga yang berafiliasi dengan DDII. Lihat Robert W. Hefner, Civil
Islam: Islam dan Demokrasi di Indonesia , Jakarta : ISAI, 2001, hal. 197
3 Bachtiar Effendy dan Hendro Prasetyo, (peny), Radikalisme Agama, Jakarta , PPIM-IAIN,
1993 hal. xvii-xviii.
Dakwah : Suatu bentuk Pemikiran dan Aksi Politik Islam di Indonesia Masa Orde
Baru”. Dalam ramalannya Islam Skriptulistik akan
kebangkitannya disaat iklim
menemukan metamorfose
politik Indonesia berubah yang diwarnai dengan
4
keterbukaan dan kebebasan. Dan ramalan ini ternyata memang benar-benar menjadi
dan menjadi bukti sebagai bagian dari kebangkitan Islam secara makro. Menurut
John L. Esposito Kebangkitan Islam dan demokratisasi di dunia Muslim berlangsung
dalam konteks global yang dinamis. Di berbagai belahan dunia orang-orang beramairamai
menyerukan kebangkitan
agama dan demokratisasi sehingga keduanya
menjadi tema yang paling penting dalam persoalan dunia dewasa ini.5
Sebenarnya penggunaan istilah radikal atau fundamentalis masih sangat
problematik bila disandingkan pada aktivitas gerakan Islam, sebab penggunaan
istilah ini masih sangat bias dan kebarat-baratan. Di sebagian kalangan muslim
menolak karena istilah radikal atau fundamentalisme dikesankan sebagai istilah
pejoratif yang terbelakang dan terkesan teroris. Namun penggunaan istilah dalam
kajian penelitian ini tidak bersifat eksklusif sebagaimana difahami di dunia Barat.
Istilah ini digunakan semata-mata hanya kebutuhan akademis yang memerlukan
ketegasan variabel. Istilah lain yang serupa sengaja tidak digunakan karena untuk
mempermudah analisis saja. Dalam kajian sosiologi pun istilah ini telah menjadi term
yang mapan. Bernard Lewis, seorang ahli sejarah Islam, juga berpendapat bahwa
penggunaan istilah ini sudah mapan dan dapat diterima, terutama dalam ilmu-ilmu
sosial. Alasannya ciri radikalisme, fundamentalisme yang agresif dan konservatif
dalam gerakannya seringkali ditemukan juga di kelompok agama-agama lain. 6 Oliver
Roy dalam bukunya The Failure of Political Islam, (1994) menyebut gerakan Islam yang
berorientasi pada pemberlakuan syariat sebagai Islam Fundamentalis, ia menunjuk
contoh
seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Jama’ati Islami dan Islamic
Salvation Front (FIS).7 Demikian juga John L.
Esposito menyebutkan bahwa
4 R. William Liddle “Skriptualisme Media Dakwah : Suatu bentuk Pemikiran dan Aksi
Politik Islam di Indonesia Masa Orde Baru” dalam Mark R. Woodward (ed), Jalan Baru Islam,
Memetakan paradigma Mutakhir Islam Indonesia, cet. 1,Bandung ,Mizan, 1999. hal. 304
5 John L.Esposito dan John O.Voll, Demokrasi di Negara-negara Muslim : Problem dan Prospek,
Bandung , Mizam, 1999, hal. 11
6 Dawam Raharjo ”Fundamentalisme” dalam Muhammad Wahyuni Nafis (ed), Rekontruksi
dan renungan Religius Islam, Paramadina, Jakarta, 1996, cet. 1, hal. 87.
7 Tarmizi Taher, Anatomi Radikalisme Keagamaan dalam sejarah Islam” dalam Bachtiar
Effendy dan Hendro Prasetyo, (peny), Radiaklisme Agama, Jakarta , PPIM-IAIN, 1993 hal. 6
fundamentalisme dicirikan pada sifat “kembali kepada kepercayaan fundamental
agama”8
Jadi pengertian fundamentalis dapat saja diartikan sebagai sekelompok penganut
agama Islam yang memiliki sikap dan pandangan yang berpegang teguh pada halhal yang dasar dan pokok dalam Islam sesuai dengan interpretasi mereka sendiri,
kemudian mereka menolak upaya kompromi, adaptasi dan interpretasi kritis atas teksteks dasar dan sumber-sumber kepercayaannya.9 Menurut Wiliam Liddle bangkitnya
gerakan ini paling tidak dipicu tiga faktor penting : Pertama, ajaran-ajaran mereka lebih
mudah
difahami
oleh
kebanyakan
masyarakat
muslim
Indonesia.
Kedua,
kemungkinan aliansi politik antara kaum skriptualis dengan kelompok-kelompok
sosial lain yang sedang tumbuh dan ketiga, nafsu besar para politisi ambisisus untuk
membangun basis massa.10
Dalam kajian gerakan pemikiran Islam gerakan radikal dan fundamentalisme ini
paling tidak dapat dicirikan dengan empat kategori. Pertama oppositionalisme, yakni
mereka giat melalukan upaya perlawanan terhadap segala bentuk pemikiran dan
pemahaman yang dinilainya mengancam dan bertentangan dengan al-Qur’an. Kedua
menolak hermeneutikasi. Menolak bentuk pemahaman rasional yang didasarkan
ta’wil semata. Standar pemahaman yang benar adalah pemahaman harfiyah yang
tidak keluar dari batasan logika bahasa. Ketiga Menolak pluralisme dan relatifisme.
Mereka cenderung memandang masyarakat secara “hitam putih” yakni masyarakat
yang meyakini dan mengamalkan Islam yang sempurna (kaafah) dan masyarakat
jahiliyah yang tidak meyakini dan mengamalkannya. Keempat Menolak perkembangan
historis sosiologis. Bahwa realitas masyarakat harus menyesuaikan nilai ajaran Islam,
bukan sebaliknya ajaran Islam menyesuaikan kondisi zaman. 11
Menelisik ihwal geneologis aksi teror tersibak fakta bahwa gerakan radikal ini
dilatari kebencian yang akut atas hegemoni kekuasaan-negara yang tidak mengakui
8 Oliver Roy dalam bukunya The Failure of Political Islam, London : I.B Tauris & CO Ltd,
1994, hal. 2-4
9 Jhon O Voll “ Fundamentalis” dan The Oxford Ensyclopedia of Modern Islamic World, Oxford
University, 1995,hal. 84
10 R. William Liddle “Skriptualisme Media Dakwah : Suatu bentuk Pemikiran dan Aksi
Politik Islam di Indonesia Masa Orde Baru” dalam Mark R. Woodward (ed), Jalan Baru Islam,
Memetakan paradigma Mutakhir Islam Indonesia, cet. 1,Bandung ,Mizan, 1999. hal. 304
11 Azyumardi Azra, Pergolakan Politik Islam, (Jakarta: Paramadina, 1998), hal. 109
identitas (kelompok) mereka yang kemudian mewujud sebagai kelompok militan. Jika
demikian adanya, maka persoalan teroris tidak terlepas dari persoalan kebijakan dan
kearifan sebuah kekuasaan. Artinya, persoalannya bukanlah persoalan agama
melainkan persoalan politik pengakuan dan perlakuan belaka. Sementara agama
hanya dijadikan jubah pembenar dan spirit. Hegemoni Amerika, misalnya, dalam
memperlakukan negara-negara muslim seperti Afghanistan dan Irak menjadi "janin
baru" yang lahir dari "rahim" radikalisasi sebagai bentuk perlawan oposisional atas
kebijakan "politik imprealis" negara adidaya tersebut.
Dalam kaitannya dengan menggejalanya isu dan aksi terorisme belakangan,
muncul pertanyaan yang sulit terjawab, kecuali dengan apologi-apologi an sich, adakah
korelasi fungsional antara doktrin agama dan aksi terorisme? Bisakah gerakan
keagamaan yang diduga dalang terorisme sebagai representasi Islam, baik dalam ranah
ajaran maupun pengikutnya? Stigmatisasi Islam sebagai agama teroris makin dahsyat,
Islam sebagai agama yang selalu tertuduh teroris. Ini terkait erat dengan maraknya
gerakan Islam Politik yang menunjukkan pandangan dan gerakan fundamentalistikpolitis. Ironisnya bangunan (politisasi) opini Barat atas Islam teroris justru diamini
sejumput kalangan. Misalnya, bangunan opini via video oleh pemerintah justru
melahirkan penguatan dan pembenaran opini tersebut.
Mengerasnya sikap Islam garis keras dipengaruhi hegemoni Barat atas dunia Islam
sebagai amunisi potensi-pontensi bagi terbentuknya pemahaman keagamaan yang
menjurus pada terorisme disebabkan pandangan tekstual terhadap kitab suci dalam
melakukan perlawanan secara radikal. Maka dalam aras kesadaran beragama, sejatinya
wacana Islam dan Terorisme (al-Irhab wa al-Islam) didedahkan bahwa terorisme dalam
(tradisi) Islam terbentuk melalui pandangan keagamaan yang mengancam dan
menakutkan (al-tahdid wa al-takhwif) dikalangan kaum fundamentalistik-radikalistik
kemudian membenarkan aksi kekerasan, teroris untuk melawan “musuh Tuhan”.
Barat dalam hal ini ditahbiskan sebagai salah satu simbol musuh Tuhan yang menebar
propaganda dan kebencian dengan kesewenang-wenangannya kepada dunia Islam
tadi.
Arus stigmatisasi Islam-teroris kian menderas dan menjadi suatu ancaman yang
membahayakan bagi eksistensi umat Islam di Indonesia yang mayoritas. Artinya akan
lahir stigma bahwa Indonesia sebagai negara yang berpenduduk muslim terbesar di
dunia menjadi sarang teroris. Implikasinya, stigma teroris ini menjadi stigma agama
(Islam). Munculnya stigma Islam sebagai teroris harus dibendung untuk menjaga
kesucian Islam yang cinta perdamaian dan menjunjung tinggi kemanusiaan universal.
Tindakan sekelompok kecil umat Islam dari garis keras (radikal) yang selama ini
menjadi ancaman di mana-mana, sesungguhnya sesuatu yang paradoks dengan nilainilai ajaran Islam itu sendiri. Adanya mis-interpretasi pada makna jihad juga menjadi
kendala untuk menjinakkan radikalisme agama yang memperburuk citra Islam
belakangan ini, di tanah air khususnya. Hal inilah yang menjadi problematika di dunia
Islam. Sikap anti AS yang ditunjukkan Islam Radikal-Fundamentalis di Timur Tengah
melalui ghirah agama yang tinggi, kemudian mereka melakukan tindak kekerasan tapi
hanya sia-sia dan konyol (secara politis, bukan agama). Di Indonesia, misalnya,
sekelompok umat Islam melakukan aksi anti AS, kenyataannya mereka tidak
berhadapan dengan AS melainkan mendapatkan perlakuan kasar dari aparat dan
akibat aksinya merusak tatanan perekonomian dan merugikan kemaslahatan
kemanusiaan. Bukankah ini kekonyolan dan kesia-siaan belaka di mana aparatpemerintah berhadapan dengan rakyatnya sendiri.
Selain itu, faktor lain dari fenomena radikalisme agama ini mengindikasikan
tindakan mereka juga tidak terlepas dari kekecewaannya terhadap pemerintah serta
menguatnya keinginan untuk mendirikan negara Islam. Jadi sikap anarki selama ini
yang dimunculkan Islam garis keras secara sinergis merupakan akumulasi
kekecewaanya terhadap ketidakadilan Barat terhadap umat Islam, kemudian
kekecewaan terhadap pemerintah yang korup serta obsesi mereka untuk menegakkan
negara Islam. Nyatanya, tujuan mereka semakin jauh dari kenyataan, yang terjadi
justru mereka semakin dimarginalkan dalam politik nasional sebagai pihak yang selalu
dikambing-hitamkan setiap ada tindak kekerasan atas nama agama, selain itu juga
menuai kecaman dari umat Islam sendiri yang tidak membenarkan tindakan mereka
yang dianggap justru semakin memperburuk citra Islam.
Kasus penyerbuan aktivis Front Pembela Islam (FPI) terhadap Aliansi
Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang dikenal
Insiden Monas, kian
memperpanjang daftar kekerasan atas nama agama oleh
kelompok radikalis. Ironisnya, peristiwa tersebut terjadi saat anak bangsa
memperingati hari kelahiran Pancasila 1 Juni, nyata mencederai nilai-nilai luhur
Pancasila, sebagai simbol perekat keragaman atau kemajemukan dan kebangsaan.
Insiden monas sejatinya menjadi titik balik untuk merawat dan menata sikap
beragama secara arif dalam bingkai kebangsaan. Fenomena FPI yang lahir dari rahim
reformasi menjadikan wajah kehidupan beragama yang bringas. Perilakunya
bertentangan ajaran Islam yang cinta kedamaian. FPI merupakan organisasi Islam
yang akhirnya cukup diperhitungkan pasca Orde Baru. Gerakannya bersifat anarkis,
aksi-aksinya radikal dan menimbulkan ketakutan bagi sebagian besar masyarakat.
Obsesi kelompok ini adalah memberlakukan syariat Islam dalam bingkai tafsir
monolitik atas teks suci al-Qur'an dan penolakannya secara hitam putih terhadap
segala hal yang berasal dari Barat. Pada konteks ini, kelompok agama yang dulu tidak
mendapat tempat untuk mengangkat ide-ide Islam sebagai dasar negara, kini dengan
mengatas-namakan demokrasi mereka bebas memperjuangkannya. Demikian juga
dengan kelompok agama yang tidak memiliki agenda politik secara langsung, dengan
tidak merasa dicurigai sebagai ancaman negara lantang mengkritik ketimpanganketimpangan moral masyarakat.
Menelisik ihwal geneologis gerakan radikal ini dilatari kebencian yang akut atas
hegemoni kekuasaan-negara yang tidak mengakui identitas (kelompok) mereka yang
kemudian mewujud sebagai kelompok militan. Jika demikian adanya, maka persoalan
aksi radikal tidak terlepas dari persoalan kebijakan dan kearifan sebuah kekuasaan.
Tepatnya, radikalisme atas nama agama adalah bentuk perlawanan terhadap negara.
Misalnya, kasus penanganan Ahmadiyah melalui SKB oleh pemerintah, justru
berpotensi menjadi bom waktu konflik horizontal. Artinya, persoalannya bukanlah
semata persoalan agama melainkan persoalan politik pengakuan dan perlakuan
belaka. Tetapi jika itu dilakukan maka kelompok garis keras mendapat angin segar
untuk melakukan "sweeping akidah" terhadap ajaran lain yang distigma sesat, dengan
dalih berbeda dengan keyakinannya.
Jika dilihat dalam bingkai kebangsaan, tindakan anarkis kaum radikalis yang
mengatasnamakan agama, apapun nama laskar mereka, menjadi penanda ketidakarifannya terhadap nilai-nilai pluralitas dan kebangsaan. Keberagamaan mereka
cenderung emosional dengan mendoktrin bahwa dirinya sebagai pihak paling benar
dengan menegasikan komunitas lain, bahkan disertai tindak kekerasan. Klimaksnya,
mereka mengatasnamakan agama untuk pembenaran tindakannya, yang justru
merusak citra Islam. Dalam menyikapi fenomena ini, setidaknya solusi yang dapat
ditawarkan untuk “menjinakkkan radikalisme agama” di tanah air yakni, dalam
menyikapi berbagai propaganda dan ketidakadilan Barat terhadap dunia Islam,
seharusnya tidak direspon secara berlebihan seperti melakukan tindak teroris dan
bentuk kekerasan lainnya karena toh hanya merugikan umat Islam. Alternatifnya,
justru kita harus menunjukkan kearifan agama yang diperankan dalam perilaku
keagamaan kita sebagai cerminan martabat dan harga diri sebagai bangsa yang luhur
dan utuh, tidak mudah diintervensi pihak manapun. Sementara itu perlawanan dalam
bentuk radikalisme agama justru merupakan tindakan bunuh diri adalah haram dan
terkutuk.
Dalam lanskap sikap beragama yang arif, membendung stigma teror menjadi
stigma agama, kini menjadi tanggung jawab kolektif seluruh anak bangsa, khususnya
umat Islam. Dalam aras ini, Islam dan keindonesiaan (nasionalisme) menjadi relevan
ditunjukkan secara arif bahwa, Islam di Indonesia senantiasa mengembangkan amar
ma’ruf nahi mungkar dalam koridor kedamaian. Indonesia merupakan dar da’wah bukan
dar harb. Artinya gerakan dakwah yang dilakukan berorientasi pada perwujudan
kedamaian melalui pertautan nilai-nilai Islam yang substantif dan universal. Hal ini
untuk membendung keterjebakan umat Islam terhadap berbagai propaganda
politisasi dan pemutarbalikan fakta melalui media asing (Barat) yang mendominankan
yang bias dan membiaskan yang dominan. Maka akibatnya wajah Islam secara
kultural di Indonesia yang ramah, damai menjadi bias dan lahir dominasi Islam
radikal dalam pemberitaan media asing yang manipulatif hingga berujung pada stigma
teroris.
Untuk itu, dalam membendung stigma teror menjadi stigma agama. Sejatinya umat
Islam mempertahankan citra Islam yang damai sebagaimana selama ini ditunjukkan.
Upaya umat Islam kultur Indonesia untuk mewujudkan ukhuwah Islamiyah dalam
ikatan solidaritas yang tinggi sesama umat Islam yang kemudian dipadukan dengan
ukhuwah wathaniyah (nasionalisme) dan ukhuwah bashariyah (humanisme universal)
menjadi keniscayaan yang harus dipertahankan. Atas pijakan ini, Islam Indonesia
dapat mensinergikan antara nilai-nilai Islam, nasionalisme dan kemanusiaan universal
sebagai substansi Islam itu sendiri.
Secara substantif Islam tidak membenarkan tindak kekerasan, anarkis, apalagi di
tindakan teroris yang mengatasnamakan agama (Islam). Islam menjunjung tinggi
kemanusiaan, sebab bila seseorang menyelamatkan satu jiwa, ia seolah-olah
menyelamatkan seluruh umat manusia (Alquran; 5:32), sebaliknya jika seseorang
menghilangkan nyawa orang lain (termasuk menciptakan rasa tidak aman) maka ia
seolah-olah menghilangkan nyawa manusia secara keseluruhan. Atas dasar ini, Islam
senantiasa menunjukkan kepribadiannya dengan menjalankan syariat Islam dan
akhlaq Islam dengan sesungguhnya dengan nuansa penuh kearifan dan kedamaian.
Dalam tataran ini, Islam kultural (keindonesiaan) menjadi solusi dengan berpijak pada
lokalitas Islam melalui upaya pribumisasi Islam sebagai perwujudan Islam
keindonesiaan, bukan Islam yang diadopsi dari negara yang ekstrimitas Timur
Tengah. Sejatinya, umat Islam di Indonesia harus membendung stigma Islam sebagai
agama teroris dan menghilangkan citra sebagai sarang teroris dengan menjalankan
ajaran Islam secara substantif sesuai kondisi lokalitas-kultural Islam Indonesia yang
damai sebagaimana dalam sejarahnya, Islam masuk dan berkembang di Indonesia
secara damai, tidak dengan tindak kekerasan (redikalisme agama) melainkan dengan
prilaku damai yang senantiasa mencerminkan ruh Islam sebagai agama rahmatan lil
alamin.
DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azyumardi, Pergolakan Politik Islam: dari Fundamentalisme, Modernisme dan
Postmodernisme, (Jakarta: Paramadina, 1996)
Baidhawy, Zakiyuddin, Ambivalensi Agama, Konflik dan Nirkekerasan, (Jakarta: 2005).
Al-Baqi, Muhammad Fuad, Mu'jam Al-Mufahras li Ahfaz Al-Qur'an Al-Karim, (Kairo:
Dar Al-Fikr, 1981).
Effendy, Bachtiar dan Hendro Prasetyo, (peny), Radikalisme Agama, Jakarta, PPIMIAIN, 1993
Esposito, John L. dan John O.Voll, Demokrasi di Negara-negara Muslim: Problem dan
Prospek, Bandung , Mizam, 1999
Fatooni, Lovay, Jihad In The Qur'an: The Truth From The Source, (Kualalumpur,
Noordeen, 2002)
Firestone, Reuven, Jihad: The Origin of Holy War In Islam, (Oxford University Press,
1999).
Ghafur, Waryono Abdul, Tafsir Sosial: Mendialogkan Teks dengan Konteks, (Yogyakarta:
eLSAQ, 2005)
Hefner, Robert W. Civil Islam: Islam dan Demokrasi di Indonesia , Jakarta : ISAI, 2001
Jamhari, Jajang Jahroni, Gerakan Salafy Radikal di Indoensia, (Jakarta: Rajawali Press,
2002)
Liddle, R. William “Skriptualisme Media Dakwah: Suatu bentuk Pemikiran dan
Aksi Politik Islam di Indonesia Masa Orde Baru” dalam Mark R. Woodward
(ed), Jalan Baru Islam, Memetakan paradigma Mutakhir
Islam Indonesia, cet.
1,Bandung ,Mizan, 1999.
Raharjo, Dawam ”Fundamentalisme” dalam Muhammad Wahyuni Nafis (ed),
Rekontruksi dan renungan Religius Islam, Paramadina, Jakarta, 1996
Rahardjo, Dawam, Ensiklopedi Al-Qur'an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci,
(Jakarta: Paramadina, 2002).
Roy, Oliver, The Failure of Political Islam, London: I.B Tauris & CO Ltd, 1994
Taher, Tarmizi, Anatomi Radikalisme
Keagamaan dalam sejarah Islam” dalam
Bachtiar Effendy dan Hendro Prasetyo, (peny), Radiaklisme Agama, Jakarta
, PPIM-IAIN, 1993.
Voll, Jhon O “ Fundamentalis” dan The Oxford Ensyclopedia of Modern Islamic World,
Oxford University , 1995
Zada, Khamami, Islam Radikal: Pergulatan Ormas-ormas Islam di Indonesia, (Jakarta:
Teraju, 2002).
Download