Jurnal Kesling Vol 7 No 1 Juli 2013_LAYOUT

advertisement
KUALITAS UDARA DALAM RUANG KELAS BER-AC
DAN KELUHAN KESEHATAN SISWA
Indoor Air Quality and Health Complaints among Elementary School Students
Corie I. Prasasti, Sudarmaji, dan Retno Adriyani
Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga
[email protected]
Abstract: Sick Building Syndrome hasn’t got serious attention yet. Children have high risk to get bad effect from poor
indoor air quality caused by less-cleaning household equipments, office tools, and air conditioner. It will decrease
indoor air quality then caused sick building syndrome. Objectives of this study were to identify physical and chemical air
quality in classroom and identify the students’ health impairment. This was an observational study with cross-sectional
approach. Interview, measurements of air temperature, relative humidity, dust concentration, gas of CO and NO2 in the
classroom of 6th grader were used in this study. Number of samples in two locations was 65 students, collected using
inclusion criteria. Data collected were analyzed descriptively. Result of this study showed that dust concentration, CO
and NO2 level were within the standards, while temperature and humidity had exceeded the standards. Complaints
received from students were nasal, eye and skin irritation, sore throat, and nausea respectively. It is suggested that
the air conditioner should be maintained at regular intervals, teachers and student should participate in keeping the
classroom clean and checking indoor air quality periodically (Including: physical, chemical and microbiology parameter)
so, health impairment can be minimized.
Keywords: physical and chemical air quality, classroom, air conditioner, health impairment
Abstrak: Pencemaran udara di perkotaan disebabkan oleh industri dan asap kendaraan bermotor yang jumlahnya
semakin hari semakin bertambah. Udara luar ruangan yang tercemar akan menyebabkan udara dalam ruangan
juga tercemar. Keberadaan perabot rumah tangga dan peralatan kantor akan memberikan sumbangan pencemaran
udara di dalam ruangan. Air Conditioner (AC) adalah suatu alat yang dimaksudkan untuk menciptakan dan
menjaga kenyamanan dalam ruang kelas. Penggunaan AC sebagai alternatif untuk mengganti ventilasi alami dapat
meningkatkan kenyamanan dan produktivitas kerja, namun AC yang jarang dibersihkan akan mengakibatkan kualitas
udara dalam ruangan menurun dan dapat menimbulkan keluhan kesehatan yang disebut Sick Building Syndrome.
Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi kualitas kimia dan fisik udara dalam ruang kelas ber-AC dan keluhan
kesehatan siswa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian observasional dan rancang bangun cross-sectional.
Populasi penelitian yaitu semua siswa SMA Wachid Hasyim 2 Taman yang menempati ruang kelas ber-AC dan jumlah
sampel yang diambil dengan purposive sampling sebanyak 71 orang. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan, kadar debu, CO dan NO2 yang diukur masih berada pada standar baku mutu, kadar
debu dan kelembapan udara melebihi baku mutu dan suhu ruang kelas XI IPS 2 yang diukur melebihi baku mutu.
Keluhan kesehatan siswa yang teridentifikasi adalah iritasi hidung, mata dan kulit, tenggorokan kering dan mual. Saran
yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian adalah melakukan perawatan AC baik teknis maupun non-teknis
secara rutin, menjaga kebersihan kelas, terutama dari debu yang berasal dari perabotan kelas dan pemeriksaan
kualitas udara dalam ruang secara berkala agar tercipta lingkungan belajar yang sehat.
Kata kunci: kualitas fisik dan kimia udara, ruang kelas, air conditioner
PENDAHULUAN
Kondisi fisik lingkungan bangunan sekolah
juga dapat memengaruhi kesehatan siswa. Kondisi
bangunan yang tidak baik dapat menyebabkan
Sick Building Syndrome (SBS) yang merupakan
kumpulan gejala akibat adanya gangguan
sirkulasi udara di dalam gedung. Gejala ini dapat
berupa batuk-batuk kering, sakit kepala, iritasi di
mata, hidung dan tenggorokan, kulit kering dan
gatal, badan lemah, dan lain-lain. Kualitas udara
ruangan yang buruk menyebabkan gangguan
kesehatan yang serius bahkan dapat mematikan.
Manusia menghabiskan kurang lebih 90%
waktunya di dalam ruangan sehingga memiliki
risiko gangguan kesehatan lebih besar daripada
di luar ruangan yang hanya sesaat karena adanya
peningkatan jumlah kontaminasi polutan. Hal
ini mendapat cukup perhatian dari pemerintah
Amerika karena bahan kimia seperti radon,
asbestos, dan formaldehyde diketahui telah
terdapat di beberapa rumah warga, tempat kerja
dan belajar atau sekolah (Cross, 1990).
14
15
C I Prasasti, Sudarmadji, dan R Adriyani, Kualitas Udara dalam Ruang Kelas ber-AC
Alergi dan asma adalah salah satu akibatnya dan
keduanya telah menyebabkan lebih dari 130 juta
siswa kehilangan hari belajarnya dan 13,5 juta
tenaga kerja kehilangan hari kerja tiap tahunnya
(Bas, 2004).
Berdasarkan uraian pada latar belakang,
tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi
karakteristik ruang kelas, meliputi: luas kelas,
jendela, plafon, dinding, lantai, perabotan kelas,
AC, dan ventilasi, mengukur kualitas fisik udara,
meliputi: suhu dan kelembapan dan kualitas kimia
udara, meliputi: debu, CO, dan NO2 di dalam
ruang kelas serta mengidentifikasi keluhan
kesehatan yang dialami siswa.
saat dilaksanakannya penelitian; Siswa kelas 6
(enam) SD; dan tidak menderita asma.
Variabel penelitian adalah keluhan kesehatan
yang dialami siswa SD, karakteristik siswa,
karakteristik ruang kelas, kualitas fisik dan kimia
udara dalam ruang kelas. Pengumpulan data
terbagi dalam dua (2) tahap, yaitu: Pengumpulan
data sekunder, meliputi: profil sekolah dan catatan
kesehatan siswa responden. Pengumpulan data
primer, meliputi: pengamatan kondisi lingkungan
fisik kelas dengan bantuan lembar observasi,
pengukuran suhu, kelembapan, dan kualitas
udara kimia (CO2, debu, NO2) dilakukan oleh
Laboratorium BBTKL dan PPM Surabaya.
Sedangkan wawancara kepada seluruh responden
dengan bantuan kuesioner.
Data disajikan dalam bentuk tabel distribusi
frekuensi dan tabulasi silang kemudian dianalisis
secara deskriptif.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan
dan observasional menggunakan pendekatan
waktu cross-sectional yang dianalisis secara
deskriptif. Penelitian dilakukan di SD Ta’miriyah
dan SD Muhammadiyah 4 di Surabaya. Penelitian
dilaksanakan mulai bulan Mei–Oktober 2009.
Populasi penelitian adalah semua siswa
yang tercatat sebagai siswa SD Ta’miriyah dan
SD Muhammadiyah 4 di Surabaya. Sampel
penelitian diambil berdasarkan kriteria inklusi
sebagai berikut: Dapat ditemui dan diwawancarai
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Siswa
Siswa yang menjadi responden penelitian
berjumlah 65 orang terdiri dari 38 siswa SD
Ta’miriyah dan 27 siswa SD Muhammadiyah 4.
Mayoritas siswa berjenis kelamin laki-laki dengan
Tabel 1.
Distribusi Siswa Menurut Umur dan Jenis Kelamin di SD Ta’miriyah (1) dan Muhammadiyah 4 (2) Surabaya
Tahun 2009
SD
Jenis Kelamin
Umur (Tahun)
L
%
P
%
10
%
11
%
12
%
(1)
22
57,89
16
42,11
11
28,94
21
55,26
6
15,8
(2)
15
55,56
12
44,44
2
7,4
17
62,9
8
29,7
Total
37
28
13
38
14
Tabel 2.
Distribusi Siswa Menurut Lama Belajar dan Frekuensi Keluar Masuk Kelas di SD Ta’miriyah dan Muhammadiyah 4
Surabaya Tahun 2009
Karakteristik Siswa
Lama belajar di ruang ber-AC (tahun)
≥5
SD Ta’miriyah
%
<5
Frekuensi keluar masuk kelas (kali)
27
<5
71,1
%
29
76,3
SD Muhammadiyah 4
%
<5
%
≥5
%
11
5–10
28,9
%
27
<5
100
%
0
5–10
0
%
9
23,7
16
59,25
11
40,75
16
Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 7, No. 1 Juli 2013: 14–20
kelompok umur terbanyak 11 tahun. Siswa di dua
sekolah mayoritas memiliki lama belajar di ruang
kelas ber-AC ≥ 5 tahun. Lama belajar di ruang
kelas ber-AC merupakan waktu yang digunakan
oleh siswa untuk belajar di ruang kelas ber-AC
sampai saat penelitian dilakukan. Data tersebut
dapat dilihat pada Tabel 1 dan 2.
Seseorang yang terpapar polutan udara
dalam ruang dengan jangka waktu yang lama
akan mengalami keluhan kesehatan lebih besar
jika dibandingkan dengan seseorang yang
terpapar kurang dari 2 jam per hari (Balukh, 2003).
Menurut Cross (1990), manusia yang berada
di ruangan dalam jangka waktu lama memiliki
risiko gangguan kesehatan lebih besar daripada
yang hanya sesaat karena adanya peningkatan
jumlah kontaminasi polutan. Pemakaian AC
sebagai pengatur suhu mengakibatkan udara
dalam ruangan tidak mengalami pertukaran
udara segar sehingga berpotensi meningkatkan
jumlah kontaminasi polutan. Hal ini memengaruhi
kesehatan siswa karena semakin sering terpapar
AC, risiko mengalami gangguan kesehatan akibat
buruknya kualitas udara dalam ruangan akan
semakin besar.
Sebagian besar siswa mempunyai kebiasaan
keluar masuk kelas dengan frekuensi < 5 kali
dalam sehari. Frekuensi keluar masuk siswa yang
tertinggi yaitu < 5 kali sehari, untuk SD Ta’miriyah
sebanyak 76,3% sedangkan SD Muhammadiyah 4
sebanyak 59,25%. Frekuensi keluar masuk ruang
kelas yang terlalu sering dapat memengaruhi
kualitas udara dalam ruangan. Menurut Aditama
(2002), pencemaran dari luar gedung merupakan
salah satu penyebab SBS dengan persentase
11%. Berdasarkan suatu penelitian pada tahun
1990-an di Indonesia pernah menyebutkan bahwa
pencemaran udara dalam ruang yang berasal
dari luar gedung sebesar 11% (Hendrawati,
2005). Besarnya frekuensi keluar masuk siswa
memungkinkan pencemar udara (debu dan
gas) masuk ke dalam ruang kelas. Hal ini yang
menyebabkan adanya kandungan debu, CO dan
NO2 pada udara dalam ruang kelas.
Karakteristik Ruang Kelas
Tabel 3 merupakan hasil observasi mengenai
kondisi fisik kelas SD Muhammadiyah 4 dan SD
Ta’miriah Surabaya.
Menurut Hardin (2003), banyak faktor yang
memengaruhi polusi udara ruangan termasuk
aktivitas pemeliharaan gedung, tipe material
bangunan, perabotan dan peralatan, kontaminasi
dari luar ruangan, iklim, kelembapan, temperatur
dan jumlah ventilasi.
SD Ta’miriyah Surabaya berada dekat dengan
jalan raya, hal ini dapat meningkatkan risiko
penurunan kualitas udara di lingkungan sekolah,
terutama ruang kelas. Polutan yang berasal dari
jalan raya, yang dapat berupa asap ataupun
gas buangan kendaraan, dapat ikut masuk ke
dalam ruang kelas dan memengaruhi kualitas
Tabel 3.
Karakteristik Ruang Kelas SD Ta’miriyah Surabaya dan SD Muhammadiyah 4 Surabaya Tahun 2009
Karakteristik Ruang
Kelas
Luas Kelas
Jendela
Plafon
Dinding
Lantai
Perabotan kelas
AC :
a. Tipe
b. Daya
c. Jumlah
d. Merk
Sistem ventilasi
Jumlah Siswa
SD Muhammadiyah 4
5 × 5 meter
ada
Beton
Dari pasangan bata dengan cat tembok dan
keramik yang masih baik.
Keramik berwarna putih
Meja dan bangku siswa terbuat dari kayu
dan dilapisi dengan pelitur, whiteboard,
meja guru, dan almari.
SD Ta’miriyah
5 × 8 meter
Tidak ada
Beton
Dari pasangan bata dengan cat tembok dan
keramik yang masih baik.
Keramik berwarna putih
Meja dan bangku siswa terbuat dari kayu
dan dilapisi dengan pelitur, whiteboard,
pengeras suara, meja guru, almari.
a. Split
b. 1 pk
c. 2 buah
d. Panasonic
Sistem ventilasi buatan dan alami
39 Siswa
a. Split
b. 1 pk
c. 2 buah
d. Panasonic
Sistem ventilasi buatan
40 Siswa
17
C I Prasasti, Sudarmadji, dan R Adriyani, Kualitas Udara dalam Ruang Kelas ber-AC
udara ruang kelas. Sesuai dengan pendapat
Aditama (2002), bahwa pencemaran dari luar
gedung dapat juga masuk ke dalam ruangan
(11%).
Perencanaan yang baik mengenai kualitas
udara ruang kelas dapat meminimalkan
terpaparnya siswa dengan polutan yang terdapat
dalam kelas. Karena dengan mengetahui
sumber polutan dan faktor yang memengaruhi
kualitas udara dalam ruang kelas dapat dihindari
pemakaian barang yang dapat menjadi sumber
pencernaan maupun meminimalkan faktor
pengaruh buruknya kualitas udara. Usaha untuk
meminimalkan pencemaran udara di lingkungan
SD Ta’miriyah salah satunya dengan mengeluarkan
aturan kawasan bebas rokok, melaksanakan
pemeliharaan AC yang dilakukan rutin tiap
3 bulan. Sedangkan usaha untuk meminimalkan
pencemaran udara di lingkungan sekolah SD
Muhammadiyah 4 dengan adanya jadwal rutin
untuk membersihkan lingkungan sekolah terutama
ruang kelas. Jadwal membersihkan ruang kelas
adalah setelah kegiatan belajar mengajar selesai,
saat sore hari dengan menggunakan jasa pihak
ketiga (outsourcing).
Karakteristik ruang kelas yang diamati
meliputi luas kelas, jendela, plafon, dinding, lantai,
perabotan kelas, AC, dan ventilasi. Karakteristik
dua ruangan kelas yang diambil sebagai lokasi
penelitian banyak memiliki kemiripan, yang
membedakan hanyalah tentang ada tidaknya
jendela dan sistem ventilasi yang digunakan.
Ruangan kelas pada SD Ta’miriyah tidak memiliki
jendela dan menggunakan sistem ventilasi buatan,
sedangkan SD Muhammadiyah 4 menggunakan
sistem ventilasi buatan dan alami karena masih
terdapat jendela yang kadang-kadang digunakan
sebagai ventilasi.
Dinding pada dua kelas tersebut hampir
sama kondisinya. Dinding terlihat kotor karena
banyak sekali hiasan, hasil karya, ataupun poster
yang ditempel hampir memenuhi permukaan
dinding kelas tetapi tidak diperhatikan penataan
dan kebersihannya. Namun syarat dinding harus
dari tembok dilapisi semen dan kedap air telah
terpenuhi. Selain itu berbagai macam bahan
yang digunakan sebagai hasil karya siswa,
poster dan gambar yang ditempel di dinding
kelas dapat berpotensi menjadi sumber polutan
karena dapat mengeluarkan uap bahan kimianya
karena menurut Aditama (2002), pencemaran
bahan bangunan (3%) meliputi pencemaran
formaldehyde, lem, asbes, fiberglass, dan bahan
lain yang merupakan komponen pembentuk
gedung tersebut.
Kualitas Udara
Kualitas Fisik Udara
Pengukuran kualitas fisik udara dalam
kelas dilakukan 1 titik pengambilan sampel dan
dilakukan pengulangan 2 kali di masing-masing
kelas. Kualitas fisik udara kedua sekolah yaitu
kelembapan dan suhu dalam ruang kelas tidak
memenuhi syarat baku mutu Keputusan Menteri
Kesehatan No. 1405 Tahun 2002, hal ini terlihat
pada Tabel 4.
Pengukuran parameter kualitas fisik udara
dalam kelas dilakukan pada 1 titik sampling dengan
2 kali pengukuran pada setiap ruang kelas untuk
diambil nilai rata-rata tiap parameter yang kemudian
dibandingkan dengan baku mutu Keputusan
Menteri Kesehatan No. 1405 Tahun 2002. Parameter
suhu dan kelembapan udara dalam ruang kelas
melebihi baku mutu sehingga dapat meningkatkan
risiko terjadinya keluhan kesehatan pada siswa.
Menurut Cicilia, 2009 penyebab SB S
(Sick Building Syndrome) adalah udara yang
terkontaminasi oleh temperatur dan kelembapan
udara yang buruk. Suhu yang relatif rendah dapat
menyebabkan beberapa keluhan seperti pembuluh
darah menyempit, leher atau tengkuk terasa
kaku, kesemutan, hidung tersumbat, kembung
dan pegal linu, serta sering buang air kecil yang
Tabel 4.
Kualitas Fisik Udara Ruang Kelas di SD Ta’miriyah dan SD Muhammadiyah 4 Surabaya Tahun 2009
SD Ta’miriyah
Variabel
1
2
Pukul
Pukul
(07.30–08.00) (13.30–14.00)
SD Muhammadiyah 4
rerata
1
2
Pukul
Pukul
(09.00–9.30) (11.30–12.00)
rerata
Baku Mutu
Kepmenkes
No. 1405
Tahun 2002
Suhu
29° C
30° C
29° C
29° C
31° C
30° C
18–28° C
Kelembapan
67%
65%
66%
67%
59%
63%
40–60%
18
Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 7, No. 1 Juli 2013: 14–20
Kualitas Kimia Udara
mengakibatkan metabolisme terganggu (Anonim,
2009). Sedangkan suhu udara yang tinggi atau
panas dapat mengakibatkan kram pada tungkai
kaki dan lengan. Selain itu suhu udara yang tinggi
juga dapat mengakibatkan kelelahan, pingsan,
mual dan pusing (Anonim, 2008).
Kualitas fisik udara untuk parameter
kelembapan tidak memenuhi syarat baku mutu
sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan
mikroorganisme sesuai dengan pendapat
Pudjiastuti dkk (1998), bahwa kelembapan udara
yang lebih rendah dari 70% dapat menyebabkan
kekeringan selaput lendir membran sedangkan
kelembapan yang tinggi dapat meningkatkan
pertumbuhan mikroorganisme. Menurut Mukono
(2000), kelembapan udara ruang merupakan salah
satu faktor yang memengaruhi suhu ruangan
sehingga jika kelembapan tinggi suhu udara akan
turun, sebaliknya jika kelembapan rendah, suhu
udara naik. Hal ini dapat memengaruhi kesehatan
penghuni ruangan sehingga perlu diperhatikan.
Kelembapan udara yang kurang dari 65–95%,
udara terasa lebih kering, timbul rasa seret di
tenggorokan, kulit menjadi kering, dan hidung
tersumbat (Anonim, 2009). Kenyamanan manusia
terkait dengan temperatur dan kelembapan
udara dalam ruang dipengaruhi oleh beberapa
variabel seperti pakaian, tingkat aktivitas, usia,
dan psikologis yang sangat beragam. The
American Society of Heating, Refrigerating
and Air-Conditioning Engineers, Inc (ASHRAE)
standard 55 berusaha menentukan temperatur
dan kelembapan yang nyaman untuk sebagian
besar pekerja agar tidak memicu stres (Hardin,
2003).
Pemeriksaan kualitas kimia udara dalam
kelas dilakukan 2 kali di masing-masing kelas
dan tiap kelas 1 titik pengambilan sampel. Hasil
pengambilan sampel udara kemudian diberikan
kepada Laboratorium Udara BBTKL dan PPM
Surabaya untuk dianalisis lebih lanjut.
Kualitas kimia udara kedua sekolah untuk
parameter debu, NO2 dan CO dalam ruang kelas
memenuhi syarat baku mutu Keputusan Menteri
Kesehatan RI No. 1405 tahun 2002 dan Peraturan
Gubernur Jatim No. 10 Tahun 2009. Hasil
pengukuran debu di SD Ta’miriyah lebih tinggi
daripada SD Muhammadiyah 4. Parameter kualitas
kimia udara dalam kelas yang diukur adalah debu
CO dan NO2 yang diukur pada 1 titik sampling
dengan 2 kali pengukuran pada setiap ruang
kelas untuk diambil nilai rata-rata. Berdasarkan
hasil pengukuran kualitas kimia udara yang telah
dilakukan di BBTKL & P2M Surabaya, untuk
parameter debu, CO dan NO2 masih berada di
bawah baku mutu Peraturan Gubernur Jawa Timur
No. 10 Tahun 2009 maupun Keputusan Menteri
Kesehatan RI No. 1405 Tahun 2002.
Berdasarkan data primer diperoleh bahwa
siswa berpendapat sumber debu berasal dari
perabotan kelas (meja, almari, dan bangku) dan
dari luar ruangan. Menurut Haryanto (2009), sumber
debu berasal dari debu yang menempel pada
perabotan, barang atau kertas yang tidak tersentuh
banyak beredar karena saluran udara atau AC
yang jarang dibersihkan. Debu ini juga membawa
partikel yang bisa mengganggu kesehatan.
Pengaruh debu terhadap kesehatan sangat
tergantung kepada ukurannya. Partikulat debu
yang membahayakan kesehatan umumnya
Tabel 5.
Kualitas Kimia Udara Ruang Kelas di SD Ta’miriyah dan SD Muhammadiyah 4 Surabaya Tahun 2009
SD Ta’miriyah
Parameter
1
2
Pukul
Pukul
(7.30–08.00) (13.30–14.00)
SD Muhammadiyah 4
rerata
1
2
Pukul
Pukul
(09.00–09.30) (11.30–12.00)
Baku Mutu (ppm)
Per Gub
Kepmenkes
rerata Jatim No. 10/ No. 1405/
2009
2002
NO2
(satuan)
6.10-4
19.10-4
12.10-4
30.10-4
18.10-4
24.10-4
0.05 ppm
5,6 mg/m3
Debu
(satuan)
76.10-3
98.10-3
87.10-4
40.10-3
54.10-3
47.10-4
0.26 mg/m3
0,15 mg/m3
CO
(satuan)
<Limitd
deteksi
<Limitd
deteksi
<Limitd
deteksi
<Limitd
deteksi
20.0 ppm
25,0 ppm
19
C I Prasasti, Sudarmadji, dan R Adriyani, Kualitas Udara dalam Ruang Kelas ber-AC
siswa. Sehingga keluhan kesehatan yang paling
sedikit dialami oleh siswa yaitu keluhan yang
berupa mual. Keluhan kesehatan paling banyak
dialami oleh siswa pada SD Ta’miriyah. Hal
tersebut dikarenakan posisi sekolah yang berada
di pinggir jalan raya dan kurangnya ventilasi alami
yang menghambat sirkulasi udara bersih dalam
ruangan.
Debu dapat mengakibatkan keluhan
kesehatan yang berupa gangguan saluran
pernapasan bagian atas, iritasi saluran
pernapasan dan iritasi pada mata (Anonim,
2007). Sedangkan menurut Haryanto (2009),
paparan debu dalam waktu yang singkat dapat
mengakibatkan gangguan pernapasan dan efek
yang buruk pada sistem cardiovascular.
Gas CO di dalam udara ruang kelas menurut
Anonim (2007), dapat mengakibatkan badan
mudah lelah, pusing dan gangguan sistem saraf
pusat. Meskipun kadar CO dalam ruang kelas
masih di bawah baku mutu, namun banyak siswa
yang mengeluhkan keluhan kesehatan tersebut.
Meskipun kadar debu, NO2 dan CO pada dua
ruang kelas tersebut masih di bawah baku mutu
Peraturan Gubernur Jatim No. 10 Tahun
2009 dan Keputusan Menteri Kesehatan RI
No. 1405 Tahun 2002, siswa penghuni kelas
tersebut masih memiliki risiko untuk mengalami
gangguan kesehatan tersebut, terlihat dari sakit
kepala dan lelah/cepat capek termasuk keluhan
kesehatan tertinggi yang dialami oleh siswa.
berkisar antara 0,1–10 mikron karena partikulat
tersebut dapat langsung masuk ke dalam
paru-paru dan mengendap di alveoli. Selain itu
partikulat debu juga dapat mengganggu saluran
pernapasan bagian atas, iritasi saluran pernapasan
dan iritasi pada mata (Anonim, 2007).
Menurut Aditama (2002), pencemaran dari
dalam gedung dapat berasal dari bahan kimia
seperti asap rokok, pestisida, alat atau bahan
pembersih ruangan dan lain-lain. Bahan polutan
udara yang mungkin ada dalam ruangan dapat
berupa formaldehyde, gas NO 2, O 3, NH 3 dan
beberapa gas lain.
Keluhan Kesehatan
Berdasarkan hasil wawancara melalui
kuesioner, keluhan kesehatan siswa saat berada
di dalam kelas yang berhubungan dengan kualitas
udara dalam ruang kelas dapat dilihat pada
Tabel 6.
Mayoritas (63,2%) keluhan kesehatan yang
dialami siswa SD Ta’miriyah adalah bersinbersin sama dengan siswa SD Muhammadiyah 4
(74,1%).
Siswa yang menjadi responden penelitian
sebagian besar mengalami keluhan kesehatan.
Keluhan kesehatan yang paling sedikit dialami
siswa yaitu sesak nafas. Jika 14 macam keluhan
kesehatan yang dialami siswa dikelompokkan
berdasarkan organ tubuh maka diperoleh
6 macam keluhan kesehatan yang dialami oleh
Tabel 6.
Keluhan Kesehatan Siswa di SD Ta’miriyah dan SD Muhammadiyah 4 Surabaya Tahun 2009
SD Jenis Keluhan
Ta’miriyah
Muhammadiyah 4
Ya
%
Tidak
%
Ya
%
Tidak
%
Bersin-bersin
24
63,2
14
36,8
20
74,1
7
25,9
Sakit kepala
18
47,4
20
52,6
18
66,7
9
33,3
Kulit gatal
12
31,6
26
68,4
3
11,1
24
88,9
Kulit kering
6
15,8
32
84,2
6
22,2
21
77,8
21
55,3
17
44,7
9
33,3
18
66,7
Tenggorokan kering & gatal
Lelah/cepat capek
23
60,5
15
39,5
24
88,9
3
11,1
Mata pedih
17
44,7
21
55,3
7
25,9
21
74,1
Hidung berair
12
31,6
26
68,4
7
25,9
21
74,1
Sesak napas
2
5,3
36
94,7
4
14,8
23
85,2
Hidung gatal
11
28,9
27
71,1
7
25,9
21
74,1
Hidung buntu
15
39,5
23
60,5
11
40,7
16
59,3
Mual
16
42,1
22
57,9
9
33,3
18
66,7
8
21,1
30
78,9
4
14,8
23
85,2
20
52,6
18
47,4
12
44,4
17
55,6
Mata merah
Mata gatal
20
Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 7, No. 1 Juli 2013: 14–20
KESIMPULAN DAN SARAN
Disimpulkan bahwa kualitas fisik udara dalam
ruang kelas SD Ta’miriyah dan Muhammadiyah
4 Surabaya untuk parameter kelembapan dan
suhu tidak memenuhi baku mutu Keputusan
Menteri Kesehatan RI No. 1405/Menkes/SK/
XI/2002. Sedangkan kualitas kimia udara dalam
ruang kelas untuk parameter debu, NO2, dan
CO masih memenuhi baku mutu Keputusan
Menteri Kesehatan RI No. 1405/Menkes/SK/
XI/2002 maupun Peraturan Gubernur Jatim
No. 10 Tahun 2009. Serta berdasarkan organ
tubuh, keluhan kesehatan yang dialami oleh
responden terbanyak adalah iritasi hidung
sedangkan keluhan paling sedikit adalah mual.
Disarankan bahwa untuk pencemaran
udara dalam ruangan dapat diatasi dengan
menjaga kebersihan kelas terutama dari debu
yang berasal dari perabotan kelas, pemeriksaan
kualitas udara dalam ruang secara berkala agar
tercipta lingkungan belajar yang sehat.
DAFTAR PUSTAKA
Adhitama, Chandra. 2002. Pencemaran Udara dan
Kesehatan. Jakarta: Arcan.
Anonim. 2007. Parameter Pencemar Udara dan
Dampaknya terhadap Kesehatan. Diakses dari:
http://www.kpbb.org (sitasi 4 Juli 2009).
Anonim. 2008. Tips Mengatasi Efek Udara Panas. Diakses
dari: http://makhrus. jagakarsa.ac.id/2008/tipsmengatasi-efek-udara-panas.mac. (sitasi 17 Juli
2009).
Anonim. 2009. Ternyata Kamar Ber-Ac Tetap Butuh
Ventilasi Udara. Diakses dari: http://iklanku.net/
iklan/ac-mesin-cuci-kulkas-freezer-dll.html. (sitasi
6 Juli 2009).
Bas, Ed. 2004. Indoor Air Quality: A Guide for Facility
Managers. Lilburn, Georgia: The Fairmont Press,
Inc.
Balukh, Benyamin. 2003. Hubungan Kualitas Udara di
Ruangan Ber-AC dengan Gangguan dan Keluhan
Karyawan di Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya.
Skripsi. Universitas Airlangga, Surabaya:
Cicilia, Sanny. 2009. Awas, Udara Kantor Bikin Tumbang!
Diakses dari http://properti.kompas.com/read/
xml/2009/03/19/22210951/awas.udara.kantor.bikin.
tumbang (sitasi 6 Juli 2009).
Cross, Frank B. 1990. Legal Responses to Indoor Air
Pollution. New York: Qurom Book.
Hardin, Tim. 2003. School Indoor Air Quality Best
Management Practices Manual. Safety Washington
State Department of Health. Olympia, Washington.
Diakses dari www.doh.wa.gov/ehp/ts/iaq.htm. (sitasi
10 November 2008).
Haryanto, Budi. 2009. Mana Lebih Berbahaya: Terpapar
Asap atau AC?. Diakses dari http://www.arthazone.
com/article_detail.php?nid=2297. (sitasi 6 juli
2009).
Hendrawati. 2005. Lebih Berbahaya Polusi di dalam
Rumah. Diakses dari http://belair.blogsome.com/
(sitasi 6 Juli 2009).
Mukono. 2000. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan.
Surabaya: Airlangga University Press.
Pudjiastuti, Lily, Septa, R., Happy, R.S. 1998. Kualitas
Udara Dalam Ruangan. Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1405/Menkes/SK/
XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan
Kerja Perkantoran dan Industri.
Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 10 Tahun 2009
tentang Baku Mutu Udara Ambien dan Emisi Sumber
tidak Bergerak di Jawa Timur.
Download