KUL 11_Dekonstruksi

advertisement
KULIAH 11
DEKONSTRUKSI
Disusun oleh :
Ikaputra
Laretna T Adishakti
Dimas Wihardyanto
Laboratorium Sejarah dan Perkembangan Arsitektur
Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan FT-UGM
Constructivism /
Konstruktivisme Rusia
(1918-1932)
Kebutuhan untuk melakukan "revolusi"
atau perubahan di Rusia,
Di Rusia, konsep klasik internasionalisme mengalami perubahan akhir dekade
20, saat harapan-harapan terselenggaranya segera revolusi dunia surut dan
ketika semakin merajalelanya sistem kekuasaan-kekuasaan absolut (autarchic
stage) dalam membangun negara sosialis Rusia. Kondisi masyarakat negara
sosialis Rusia yang serba ditekan untuk sama rata sama rasa, bisa dicontohkan
dengan keseragaman-keseragaman (baca= kesamaan) bahkan paling tidak
masih bisa dirasakan dua dekade yang lalu misalnya: hampir kebanyakan mobil
di Rusia yang terbatas itu berwarna hitam. Michael Collins mengumpamakan
bagaimana suka citanya seseorang yang biasa tinggal di Moskow—dengan
mobil-mobil hitamnya tadi—masuk ke dalam jajaran selebriti barat yang bisa
memilih lebih dari 30 variasi Mini motor car. Collins dalam introduksi buku PostModern Design (1989) menggambarkan situasi orang itu pada kegembiraan
yang luar biasa dan menyebutnya menghadapi keadaan ecstasy of choice
(buaian akan pilihan-pilihan yang menyenangkan).[1]
Keadaan tak mempunyai pilihan tersebut membawa para arsitek Rusia pada
keinginan akan perubahan-perubahan bahkan menjurus pada suatu revolusi.
[1] Collin, Michael dan Andreas Papadakis (1989) Post-Modern Design. London:
Academy Editions. hal. 11.
Kebutuhan untuk melakukan "revolusi"
atau perubahan di Rusia,
Source :
http://www.visualphotos.com/image/2x3433304/close_up_on_
chevrolet_mini_vans_lined_up_ready_for
Chevrolet Mini Vans Baltimore
Source : Unknown
Paul Smiths_ Colorful Mini Cooper
Mini Iseta Cars 1920s
Source : http://retrorambling.wordpress.com/2011/07/04/bmcmini-cooper/
Mini Coopers 2010s
A frozen traffic Jam Russia
http://englishrussia.com/index.php/2007/01/page/2/
http://www.superstock.com/stock-photos-images/1663R-23006 motoringalliance.com
http://farm1.static.flickr.com/44/119374439_097817624e.jpg?v=0
Constructivism /
Konstruktivisme Rusia
(1918-1932)
Source : Unknown
http://www.kmtspace.com/kmt/constructivist-arch.htm
Karya Leonidov:
Ministry of Heavy Industry
di Red Square
Kebutuhan
mengkomunikasikan
suatu "Revolusi" atau
perubahan,
INTI REVOLUSI
KONSTRUKTIVIST
DARI RUSIA
The Russian
Revolution brought
a new way of life
that demanded a
new program, a
new work ethos,
unusual leisure
facilities and a
collision of all
things in modern
urban context. [2]
[2] Hadid, Zaha (1991) Recent Work. Dalam
Architecture in Transition. Between
Deconstruction and New Modernism, Peter
Noever. Munich: Prestel-Verlag.hal. 48.
Source : http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?p=79923412
Memahami Perubahan Estetika
Arsitektur Konstruktivist
Yang menarik dari kelompok arsitek dan artis constructivism Rusia ini, dalam
melakukan Revolusi, adalah karena kemunculannya di tengah-tengah
perjuangan arsitek-arsitek lain dalam abad mesin yang juga sarat penemuanpenemuan yang merubah kehidupan. Bagaimana posisi kelompok ini dalam
mengungkap teori-teorinya dapat dimengerti dari salah satu tulisan El
Lissitsky—seorang tokoh konstruktivisme—pada buku Russland (1930) sebagai
berikut:
The Building is characteristic of an age that thirsts after glass, iron
and concrete. All the accessories that a metropolitan street imposes
on building—illustrations, publicity, clock, loudspeaker, even the lift
inside—are all drawn into the design as equally important parts and
brought to unity. This is the aesthetic of constructivism.[4]
Lissitsky mengungkap bahwa estetika "konstruktivisme" adalah pada
kesatuan rancangan dari tingkat asesories sampai struktur, kesatuan
rancangan pada tingkat bagian maupun keseluruhan, kesatuan
rancangan dari ragam teknologi pemakaian bahan sehingga bangunan
memberi karakteristik dari suatu metropolitan pada suatu zaman—yang
masih membutuhkan "pengembangan-pengembangan" konstruksi
(=haus akan pengembangan), bahkan, setelah penemuan-penemuan
kaca, baja dan beton.
[4]Lihat Reyner Banham (1960) op.cit hal 165.
Constructivism /
Konstruktivisme Rusia
(1918-1932)
Sikap Pengembangan
Arsitektur "Konstruktivisme"
Sikap-sikap pengembangan estetika "konstruktivisme" ini lebih lanjut dapat
dimengerti dari tulisan Moisei Ginzburg—pimpinan kelompok Constructivist
Architects dari Rusia:
Form is an unknown, 'x', which has always to be evaluated anew by
the architect. We have therefore to study not just the elements of
architecture, but the methods of transformation of those elements,
to understand how changes in the brief must affect the form.[5]
Konstruktivisme memberi pelajaran bahwa "bentuk adalah sesuatu yang tak
diketahui—x" oleh karenanya arsitek harus "memperbarui cara mengevaluasi
bentuk". Dengan Pemikiran ini arsitektur tidak saja dipelajari "elemenelemen"nya, tetapi juga dimengerti "metoda transformasi" dari elemen-elemen
itu dan dipahami "bagaimana perubahan-perubahan mempengaruhi bentuk".
Ginzburg menempatkan metoda transformasi-transformasi formal ini sebagai
komponen yang penting bagi kerja seorang arsitek. Ia menekankan tiga hal
penting dalam proses transformasi, yakni:
- proses transformasi tak hanya bicara estetika, tetapi meliputi re-organisasi
kerja elemen-elemen konstruktif dari bangunan, (konstruksi)
- perubahan yang dilakukan adalah obyek dari materialnya sendiri, (bahan)
- perubahan yang dikerjakan tidak lepas dari konteks tujuan yang esensial dan
persepsi dari pemakai bangunan. (fungsional)
[5]Cooke, Catherine (1989) The Development of the Constructivist Architects' design
Method. Dalam Papadakis, Andreas et.al. (1989) Deconstruction. London: Academy Editions.
hal. 31.
Desain Konstruktivist
sebagai fungsi dari
Konstruktsiia
Tektonika
Faktura
Source : http://www.arcadja.com/auctions/en/konstruktivist_russischer/artist/335540/
Apa itu
Konstruktsiia?
http://www.kmtspace.com/kmt/constructivist-arch.htm
Konstruktsiia, merupakan kata yang berkonotasi linguistic. Konstruksi (=struktur) tata bahasa
adalah konstruktsiia. Sementara kata untuk konstruksi bangunan atau konstruksi Sosial
dipakai kata stroitel' stvo. Persisnya, analisa Catherine Cooke menyebutkan stroitel' stvo
adalah suatu proses pengembangan material (material process) sedangkan konstruktsiia
adalah suatu proses pemikiran intelektual (intelectual process).[6]
[6] Cooke, Catherine (1989) ibid. hal. 22.
Apa itu Tektonika?
Tektonika, merupakan kata yang
diserap dari geologi, yaitu
menunjukkan re-strukturisasi
bentukan alam secara paksa
yang muncul dan berasal dari
perut bumi. Tektonika, juga
berarti ke-organik-an
(organicness) suatu letusan dari
esensi yang paling dalam
(=filosofi, ideologi). Tektonika,
atau gaya tektonik yang muncul
secara organik dan dibentuk
pada satu pihak, keluar dari
karakter komunisme Rusia
sendiri, dan dipihak lain
dibentuk dari bahan-bahan
industrial yang digunakan
secara tepat. Tektonika
merupakan sintesa yang
menghubungkan nilai-nilai
politik dan teknik-teknik
industri.[7]
Source : http://ahustache6tqh.skyrock.com/1810694392-Vladimir-Tatline-modele-dumonument-pour-la-troisieme-internationale.html
Tatline, tour pour la 3ème Internationale, 1919
[7] Cooke, Catherine (1989) ibid. hal. 24.
Apa itu Tektonika?
Source : Unknown
[7] Cooke, Catherine (1989) ibid. hal. 24.
Apa itu Tektonika?
Source : Unknown
[7] Cooke, Catherine (1989) ibid. hal. 24.
Apa itu Fakktura?
Faktura, merupakan
kemungkinan-kemungkinan
khusus dalam memanipulasi
material.[8]
Source : Unknown
.[8] Cooke, Catherine (1989) ibid. hal. 24.
Konstruktsiia dan Dekonstruksi
Catherine Cooke menilai gejala dekonstruksi ini adalah gejala yang wajar. Dan
Cooke membawa debat dekonstruksi ini lewat pengkajian karya-karya arsitek
garda depan Rusia sekitar 50-70 tahun lalu, yang dikenal dengan Konstruktsiia
atau Constructivism. Tokoh-tokoh seperti Malevich dan Leonidov, ia
khayalkan menjelma sebagai sosok Zaha Hadid; Rem Koolhaas arsitek
Belanda yang waktu kecilnya pernah menetap di Indonesia ia samakan dengan
arsitek Rusia Lissitzky; Sedang Eisenman dan Iakov Chernikov mempunyai
kemiripan lewat skema-skema yang dibuat. Cooke memang tidak sekedar
mencari-temukan pasangan antara arsitek Rusia dulu yang Contsructivism
dengan arsitek sekarang yang dekonstruksi, lebih dari itu keduanya
mempunyai sikap yang sama untuk mencipta arsitektur baru yang lepas dari
ikatan-ikatan kemapanan yang sudah ada lewat pola pikir, suatu aturan
tertentu dalam proses berfikir.
Yang membedakan adalah bahwa mereka, arsitek Rusia, mendasarkan
paradigma berfikir logik pada saat "Machine age", sedang kita sekarang jelas
Bernard Tschumi —'dekonstruksionis'—ada pada era teknologi informasi
dimana ruang diukur dengan waktu.
Source : www.skyscrapercity.com
Konstruktsiia dan Dekonstruksi
Malevich
Source : http://en.wikipedia.org/wiki/Kazimir_Malevich
Dekonstruksi:
Cara-cara mempertanyakan
Kemapanan style/gaya
arsitektur
Jacques Derrida, si pakar dekonstruksi, yang pada banyak
hal berada pada kubu Eisenman, mengatakan bahwa
dekonstruksi sebenarnya tidak berarti merusak yang sudah
terbangun baik secara fisik, budaya maupun secara teoritis,
untuk hanya sekedar berambisi menciptakan arsitektur baru
yang dapat dibangun. Melainkan dekonstruksi adalah suatu
cara mempertanyakan mode-mode arsitektur dan lebih
penting lagi mempertanyakan filosofinya.[9]
Seperti kelompok Constructivist Rusia, bahwa para
dekonstruksionist berkarya lewat apa yang disebut dengan
"kerja laboratory", Eisenman khususnya juga dianggap
bereksperimen dengan mensejajarkan tekstual dan visual.
Sehingga karya fisiknya, juga kebanyakan karya
dekonstruksi lainnya, bersifat sangat personal.
[9]Wawancara Jaques derrida dengan Christopher Norris dalam deconstruction.
Mengurai Dekonstruksi
(decompose deconstruction?!)
Apa yang membuat arsitek-arsitek—seperti Morphosis; Daniel Libeskind; Zaha Hadid; Jean
Noevel; Peter Eisenman, Bernard-Tschumi, Coop-Himmelblau—didudukkan pada jajaran
pengemuka gagasan deconstructivist seharusnya diurai dengan perantara pertanyaanpertanyaan di bawah ini:[10]
- What actually links them, what do they have in common?
Apa sebenarnya tautan antar mereka, apa kesamaan yang mereka punyai?
- Is their affinity only confined, perhaps, to the demontage of all those fundamental principles of
architecture that were valid in the past, the rejection of all traditions and the principle of
perfection—although without generating new utopias, as the modern movement has done?
Apakah persamaan mereka terbatas, mungkin, hanya pada demontage ("penghancuran") semua
prinsip-prinsip fundamental arsitektur masa lampau, penolakan dari semua tradisi-tradisi dari
prinsip yang baku/mantap atau mapan/sempurna—walaupun tanpa mengungkap utopia-utopia
baru seperti yang dilakukan gerakan modern?
- Is the loss of the theory as the basis of a potentially thriving architecture thus prolonged?
Apakah hilangnya teori sebagai basis potensial perkembangan arsitektur sedemikian panjang?
- Does theory therefore still continue to follow practice?
Apakah teori tetap mengikuti praktek?
Architecture which is understood as architecture never allows a one-sided interpretation.
Universal character is the real criterion of architecture.
[10]Noever, Peter (1991) On Architecture Today. Dalam Architecture in Transition.
Between Deconstruction and New Modernism, Peter Noever. Munich: Prestel-Verlag. hal
7-8
Zaha Hadid:
Dari Constructivist menggali Orisinalitas Diri.
Bertolak dari pemahaman Constructivist untuk Originalitas
karyanya. Figur tokoh Malevich dan Leonidov menjadi acuan
langkah-langkah karier Zaha Hadid. Pengaruh figur para
konstruktivis menyebabkan, Gagasan Zaha Hadid lebih mudah
dipahami lewat karya-karyanya secara langsung.
Source : http://arch1101-2010sw.blogspot.com/2010/05/exp-3-bridge.html
Suprematist
compsosition, by
Kasimir Malevich
"Dynamic City," by Gustav Klucis
(1920)
Zaha Hadid:
Hong Kong Peak
Project:
The peak adalah
kawasan tertinggi,
sehingga figur
bangunan harus
tidak vertikal, tetapi
horizontal; (dengan
beam-beam
melayang). Idea-idea
geologis, muncul
dengan ketajaman
beam membelah
pegunungan Peak
Hong Kong.
ZAHA HADID
Source : http://arch1101-2010sw.blogspot.com/2010/05/exp-3-bridge.html
ZAHA HADID
Source : https://arcrev.wordpress.com/2010/09/04/tokoh-deconstruksi-zaha-hadid/
ZAHA HADID
Source : https://arcrev.wordpress.com/2010/09/04/tokoh-deconstruksi-zaha-hadid/
ZAHA HADID
Source : https://arcrev.wordpress.com/2010/09/04/tokoh-deconstruksi-zaha-hadid/
Zaha Hadid:
Folie di Osaka
Terletak pada cross
section dan ia
mencoba membuat
beam-beam tajamnya—
dari bentuk pesawat
terbang yang
berimpit—melintas
plaza untuk
menegaskan arah
menyatukan gagasan
pengembangan secara
geologis. (walaupun
untuk itu, orang-orang
dengan arah tertentu
akan bertabrakan
dengan arah beambeam tadi).
Source : Ikaputra
Zaha Hadid:
Folie di Osaka
Terletak pada cross
section dan ia
mencoba membuat
beam-beam tajamnya—
dari bentuk pesawat
terbang yang
berimpit—melintas
plaza untuk
menegaskan arah
menyatukan gagasan
pengembangan secara
geologis. (walaupun
untuk itu, orang-orang
dengan arah tertentu
akan bertabrakan
dengan arah beambeam tadi).
Source : Ikaputra
Zaha Hadid:
Folie di Osaka
Source : Ikaputra
Zaha Hadid:
Folie di Osaka
Source : Ikaputra
Zaha Hadid:
Folie di Osaka
Zaha Hadid:
PROGRAM:
spittelau-viaducts-housing-project
Housing, restaurants, bars, offices
CLIENT:
SEG Stadterneuerungs- und Eigentumswohnungsgesellschaft m.b.H.
SEG Gasometer, Guglgasse 6
A-1110 Vienna, Austria
AREA: 4000 m²
CONCEPT:
A series of apartments, offices and artist’s studios weave like a ribbon
through, around and over the arched bays of the viaduct, designed by Otto
Wagner. The viaduct itself is a protected structure, and may not be
interfered with. The three-part structure playfully interacts with the viaduct,
generating a multitude of different outdoor and indoor spatial relationships.
The perception of these is intensified by the response of the architectural
language to the different speeds of the infrastructural elements. Public
outdoor spaces are enlivened via the infill of bars and restaurants under
the arches of the viaduct. The related service zone flows through the
remaining openings of the viaduct and melts into the banks of the canal,
creating a lively platform for public life. The rooftops are planned as private
retreats and add to the visual activity along the canal. An additional
challenge is posed to the project, as the program consists mainly of social
housing, though studios and offices are mixed in. Later, the project should
be connected to the University of Business and Northern Train Station via
a pedestrian and cycle bridge.
Tom Mayne (Morphosis):
Pluralistic & Ketidak-pastian
Ia dididik dan dibesarkan pada lingkungan
ajaran arsitektur Utopian Determinism yang
sangat bersifat Dogmatik dan berkiblat sangat
ke Eropa di tahun enam-puluhan.
Dengan ciri-ciri[11]:
- Pemberdayaan energi untuk masa depan
(padahal menurut Thom Mayne kita
sekarangpun merancang untuk the future)
dengan visi-visi holistic dan analisa serta
sintesa yang rasional,
- Fokusnya adalah pada infrastrukturinfrastruktur dengan penekanan program,
perubahan dan fleksibilitas serta lingkungan.
- Tujuannya adalah arsitektur generik dan
netral.
- Arsitektur sebagai a social art dan dihasilkan
secara kolektif.
Source : Ikaputra
(karya Folie Osakanya: Simbiose
antara Manusia, Mesin dan Alam)
Menurut Mayne lebih lanjut,
Today is imposible to assess a common system
of values within our pluralistic world where
reality is chaotic, unpredictable, and hence
ultimately unknowable.[12]
[11]Mayne, Tom (1991) Connected Isolation. Dalam Architecture in Transition. Between Deconstruction and New Modernism, Peter Noever. Munich: Prestel-Verlag. hal. 73.
[12] Mayne, Tom (1991) ibid,
Tom Mayne (Morphosis):
Pluralistic & Ketidak-pastian
Source : Ikaputra
(karya Folie Osakanya: Simbiose antara Manusia, Mesin dan Alam)
Daniel Libeskind:
Paradox
Daniel Libeskind
banyak bicara
mengenai suatu
dekonstruksi yang
telah
didekonstruksikan
sendiri.
Bicara mengenai a
voided void
(kekosongan void)—
atau suatu void yang
telah dikosongkan.
Ia memunculkan
arsitektur paradox,
suatu gaya bahasa
yang tidak konsisten,
kontradiksi, kebalikan,
dan penuh teka-teki.
Source : Ikaputra
Daniel Libeskind: Paradox
Karya Folie di Osaka: Kutub Bunga
Pencarian Arsitektur Folie (untuk Expo Flower
'90) yang berbicara suatu "bahasa", yakni bahasa
geometris yang dibawa sampai batas terjauh
arsitektur. Folie juga berbicara tentang simbolsimbol alam (=bunga). Oleh karenanya, pada
kenyataannya, bahasa folie ini mengungkap
kesulitan-kesulitan antara simbol arsitektur dan
alam. Sementara, geometris—yang menjadi
tujuan dalam arsitektur itu—adalah alam itu
sendiri.
Source : Ikaputra
Daniel Libeskind: Paradox
Karya Folie di Osaka: Kutub Bunga
Pencarian Arsitektur Folie (untuk Expo Flower
'90) yang berbicara suatu "bahasa", yakni bahasa
geometris yang dibawa sampai batas terjauh
arsitektur. Folie juga berbicara tentang simbolsimbol alam (=bunga). Oleh karenanya, pada
kenyataannya, bahasa folie ini mengungkap
kesulitan-kesulitan antara simbol arsitektur dan
alam. Sementara, geometris—yang menjadi
tujuan dalam arsitektur itu—adalah alam itu
sendiri.
Source : Ikaputra
Peter Eisenman:
Teori dari tidak adanya Teori
Teori Weak Form, dikembangkan
dari beberapa gagasan:
- Tidak ada kebenaran yang
tunggal; tidak ada decidability
(=Ketidak-tentuan, segala hal
adalah undecidable, Arbitrary);
- Banyak hal yang sudah
dianggap tidak esensial (tidak
ada esensi pada arsitektur, tidak
ada esensi pada apapun);
- Semuanya itu hanya ada pada
excess (keberlebihan/perbuatan
Source : Ikaputra
yang keterlaluan). Segala
wahana (discourses) adalah
Singkatnya weak form adalah arbitrary (changeble,
mengenai kondisi dari excess,
optional); undecidable (tak berketentuan), excessive
yakni, tak ada yang tergantung
dan tidak punya nilai ontology (teori spesifik dari
pada esensi.
eksistensi alam) or teleology (teori, pengajaran,
keyakinan yang dikembangkan untuk tujuan
perancangan); yakni, tidak punya ikatan kuat dengan
ruang dan waktu naratif.[13]
[13] Eisenman, Peter (1991) Strong Form, Weak Form. Dalam Architecture in Transition. Between Deconstruction and New Modernism,
Peter Noever. Munich: Prestel-Verlag. hal. 42-43
Peter Eisenman:
Teori dari tidak adanya Teori
Source : Ikapiutra
Peter Eisenman:
Teori dari tidak adanya Teori
Source : Ikaputra
Peter Eisenman:
Teori dari tidak adanya Teori
Source : Ikaputra
Rem Kolhas:
”The Sky never Change in the City”
Source : Ikaputra
Rem Kolhas:
”The Sky never Change in the City”
Source : Ikaputra
Arsitektur Eisenman dkk:
Gaya vs non-gaya
Arsitektur Eisenman berbeda dengan arsitektur yang ada, berbeda dengan arah alir isme-isme
yang sedang nge-trend. Bahkan ia selalu membuat move yang tidak sama dari satu karya ke
karya berikutnya. Oleh karenanya karya-karya Eisenman hampir tidak bisa dikaji dari satu sisi
tolok ukur yang sama sekaligus. Dan ia akui bahwa yang sangat wajar bisa didapatkan dalam
setiap karyanya adalah "perbedaan" itu.
Dan kewajaran untuk berbeda itu, menurutnya adalah kewajaran yang bisa
dipelajari dari sejarah. Bahwa Paladio dalam sejarah arsitektur eropa memasukkan unsur-unsur
klasik ke dalam arsitektur vernacular sehingga tercipta villa-villa, bahwa adanya inovasi gaya
arsitektur sehingga terjadi pergeseran dari Renaisance ke Barok, Barok ke Rococo, Rococo ke
neo-klasik adalah kewajaran arsitektur dalam mencari bentuk baru yang sudah pasti berbeda
dengan sebelumnya. Dan gejala yang ia katakan sebagai "penggelinciran" arsitektur ini juga
dialami oleh Modernism, yang menjungkir-balikkan aturan-aturan klasik untuk kemudian
memunculkan hakekat fungsi.[14]
Di lain pihak, masa sekarang, saat mana penemuan di berbagai bidang silih
berganti mengisi lembaran-lembaran kehidupan manusia, gejala arsitekturnya ia anggap
berhenti, bahkan mundur dari upaya menghasilkan kreasi yang baru. Semua rancangan selalu
mengacu pada "kemapanan" yang sudah ada: melestarikan sejarah, mengacu pada mode yang
ada, ataupun berdasar fungsi yang jelas sudah terdefinisi. Ambisinya menciptakan unpredictable
fashion,suatu karya baru, gaya kreatif yang tak terduga sebelumnya, lewat "penggelinciran"
kemapanan yang ada.
Dan hal inilah yang diserang habis-habisan oleh kritikus Charles Jenks sebagai
arsitektur yang menerapkan teori negatif atau positive nihilistic-mengacu pada praktek-praktek
'de-komposisi', 'dis-kontinuitas', 'de-centring' ataupun anti-klasik, anti-nostalgia[15]. Jencks
bahkan menganggap dekonstruksi ini sebagai menikmati "kesenangan semu". Dan ia
menggolongkan dekonstruksi ke dalam salah satu style atau gaya dari faham Modernism Baru
(baca Laras, edisi maret 1992), terutama lewat berbagai sikap melahirkan prefiks-prefiks "de-",
"dis-", dengan segala "anti"-nya yang bermuara pada anti-humanisme. Namun Eisenman tegastegas menolak dekonstruksi sebagai gaya dalam arsitektur. Dekonstruksi adalah non-gaya. "Andai
dekonstruksi adalah suatu gaya arsitektur, saya akan segera anti terhadapnya!" debat Eisenman
kepada Jencks. Ia lebih lanjut menggaris-bawahi bahwa dekonstruksi adalah "ideologi".
[14]Lihat House card nya Eisenman: Critic and essey khususnya tulisan Eisenman tentang Misreading.
[15] Jencks Charles, (1989). Deconstruction: The Pleasure of Absence. In Deconstruction. pp119 and 126
Dekonstruksi
Disusun oleh IKAPUTRA,
Dekonstruksi
Di antara ungkapan "De" dan "Dis"
Dekonstruksi sering dihubungkan dengan proses dislokasi, dekomposisi, dan
dekode
Kritik terhadap Dekonstruksi
Dekonstruksi membuat Leon krier, penganut faham Rekonstruksi, teman akrab
Eisenman yang musuh dalam ideologi, mengingatkan bahwa sangatlah berbahaya
mengubah kemapanan sumber dan nilai sejarah, yang menurutnya tak bisa
ditawar lagi, lewat keinginan individu-individu semata.[16]
Lebih keras lagi kritik dari Vincent Scully, Profesor sejarah dan seni yang banyak
menulis tentang arsitektur modern di Amerika. Scully melihat karya-karya
Eisenman sering membuat pusing kepala atau secara visual membuat kota-kota
semakin tidak jelas. Walaupun, lanjutnya lagi, kadang-kadang Eisenman
menghasilkan keragaman yang menyenangkan bagi penyegaran arsitektur, dan
untuk hal ini Eisenman dimaafkan orang, khususnya orang-orang yang tidak begitu
peduli akan ada-tidaknya "muslihat" teori di balik keindahan bangunannya[17].
Agaknya Dekonstruksi merupakan suatu pandangan arsitektur yang dibiarkan
mengambang "di antara", dibiarkan dalam "kelemahan" faham-faham yang saling
mempertahankan "kekuatan" masing-masing, sehingga darinya arsitektur baru
bisa sebebas-bebasnya diciptakan lewat ungkap syntax dan debat textual.
Dekonstruksi memang bukan faham atau "-ism", namun sudah pasti ideologi yang
menciptakan arsitektur garda depan. Seperti diakui Eisenman, ia ingin membawa
arsitektur garda depan yang bersifat pinggiran ke tengah gelanggang
perkembangan arsitektur secara lebih nyata. Suatu ambisi!
[16]Peter Eisenman Vs Leon Krier: "My ideology better then yours", dalam Reconstruction-Deconstruction, hal 9
[17]Scully, Vincent (1989) Theory and delight. PA 10:89. hal 86-87.
Source : Ikaputra
Source : Ikaputra
TERIMA KASIH
Download