6 BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Teori Pembahasan teori yang

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
Pembahasan teori yang akan diuraikan dalam penelitian ini adalah teoriteori yang berkaitan dengan penelitian ini, yaitu sebagai berikut:
1. Pengaturan Tempat Duduk
a. Pengertian Pengaturan Tempat Duduk
Menurut Sidi (Asmani, 2010:117) “pengaturan tempat duduk
dalam pembelajaran lebih bervariasi, termasuk kerja kelompok, kerja
perorangan, dan klasikal”.
Pengaturan atau penataan tempat duduk adalah salah satu upaya
yang dilakukan oleh guru dalam mengelola kelas. Dengan penataan
tempat duduk yang baik maka diharapkan akan menciptakan kondisi
belajar yang kondusif, dan juga menyenangkan bagi siswa. Penataan
lingkungan kelas yang tepat berpengaruh terhadap tingkat keterlibatan
dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Lebih jauh, diketahui
bahwa tempat duduk berpengaruh jumlah terhadap waktu yang
digunakan siswa untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.
Sesuai
dengan
maksud pengelolaan
kelas sendiri
bahwa
pengelolaan kelas merupakan upaya yang dilakukan oleh pembelajar
(guru) dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif,
melalui kegiatan pengaturan pembelajar (siswa) dan barang/ fasilitas.
Selain itu pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan,
memelihara tingkah laku pembelajar (siswa) yang dapat mendukung
proses pembelajaran. Maka dengan demikian pengelolaan kelas berupa
penataan tempat duduk pembelajar (siswa) sebagai bentuk pengelolaan
kelas dapat membantu menciptakan proses pembelajaran yang sesuai
dengan tujuan.
6
7
b. Jenis-jenis Pengaturan atau Penataan Tempat Duduk
Pengaturan tempat duduk terdiri dari bemacam-macam jenis.
Silberman (2001:13) menunjukkan “penataan tempat duduk siswa
yang dapat dipilih dalam proses pembelajaran adalah: model huruf U,
corak tim, meja konferensi, lingkaran, susunan chevron, auditorium,
dan model tradisional”.
Berikut adalah penjelasan dari masing-masing jenis pengaturan
tempat duduk:
1) Huruf U
Gambar 2.1. Tempat Duduk Model Huruf U
Formasi kelas bentuk huruf U sangat menarik dan mampu
mengaktifkan para siswa, sehingga mampu membuat mereka
antusias untuk mengikuti pelajaran. Dalam hal ini guru adalah
orang yang paling aktif dengan bergerak dinamis ke segala arah
dan langsung berinteraksi secara langsung, sehingga akan
mendapatkan respon dari pendidik secara langsung.
2) Corak Tim
Gambar 2.2. Tempat Duduk Model Corak Tim
8
Pada
model
ini,
meja-meja
dikelompokkan
setengah
lingkaran atau oblong di ruang tengah kelas agar memungkinkan
guru melakukan interaksi dengan setiap tim (kelompok siswa).
Guru dapat meletakkan kursi-kursi mengelilingi meja-meja guna
menciptakan suasana yang akrab. Siswa juga dapat memutar kursi
melingkar menghadap ke depan ruang kelas untuk melihat guru
atau papan tulis.
3) Meja Konferensi
Gambar 2.3. Tempat Duduk Model Meja Konferensi
Formasi konferensi sangat bagus digunakan dalam metode
debat saat membahas suatu permasalahan yang dilontarkan oleh
pendidik, kemudian membiarkan para siswa secara bebas
mengemukakan berbagai pendapat mereka. Dengan begitu akan
didapatkan sebuah kesimpulan atau bahkan dapat memunculkan
permasalahan baru yang bisa dibahas lagi pada pertemuan
berikutnya.
4) Lingkaran
Gambar 2.4. Tempat Duduk Model Lingkaran
9
Dalam model ini, tempat duduk siswa disusun dalam bentuk
lingkaran sehingga mereka dapat berinteraksi berhadap-hadapan
secara langsung. Model lingkaran seperti ini cocok untuk diskusi
kelompok penuh.
5) Susunan Chevron
Gambar 2.5. Tempat Duduk Model Susunan Chevron
Bentuk chevron mungkin bisa sangat membantu dalam usaha
mengurangi jarak di antarsiswa maupun antar siswa dengan guru,
sehingga siswa dan guru mempunyai pandangan yang lebih baik
terhadap lingkungan kelas dan mampu aktif dalam pembelajaran di
kelas. Formasi ini memberikan sudut pandang baru bagi siswa,
sehingga mereka mampu menjalani proses belajar-mengajar dengan
antusias, menyenangkan, dan terfokus.
6) Auditorium
Gambar 2.6. Tempat Duduk Model Auditorium
10
Formasi auditorium merupakan tawaran alternatif dalam
menyusun ruang kelas. Meskipun bentuk auditorium menyediakan
lingkungan yang sangat terbatas untuk belajar aktif, namun hal ini
dapat dicoba untuk mengurangi kebosanan siswa yang terbiasa
dalam penataan ruang secara konvensional (tradisional). Jika
tempat duduk sebuah kelas dapat dengan mudah dipindahpindahkan, maka guru dapat membuat bentuk pembelajaran ala
auditorium untuk membentuk hubungan yang lebih erat, sehingga
memudahkan siswa melihat guru.
7) Tradisional
Gambar 2.7. Tempat Duduk Model Tradisional
Formasi Tradisional adalah formasi yang biasa kita temui
dalam kelas-kelas tradisional yang memungkinkan para siswa
duduk berpasangan dalam satu meja dengan dua kursi. Namun,
model ini sangat memiliki keterbatasan yaitu pandangan teman
yang berada di kelas terutama di belakang sering terganggu.
Mobilitas siswa juga tidak bisa leluasa.
c. Kelebihan dan Kekurangan Masing-masing Jenis Pengaturan atau
Penataan Tempat Duduk
1) Huruf U
Kelebihan
: guru dapat menjangkau seluruh peserta didik
sehingga pembelajaran dapat maksimal.
Kekurangan : kondisi ini digunakan untuk kelas yang jumlah
siswanya tidak terlalu banyak.
11
2) Corak Tim
Kelebihan
: memungkinkan guru melakukan interaksi dengan
setiap tim (kelompok siswa). Siswa juga dapat
mendiskusikan masalah belajarnya dengan siswa
satu
kelompoknya
dan dapat
memaksimalkan
kegiatan belajarnya dengan baik.
Kekurangan : kondisi kelas biasanya ramai dan materi yang
disampaikan
tidak
dapat
disampaikan
secara
maksimal dalam kondisi kelas yang demikian.
3) Meja Konferensi
Kelebihan
: menjadikan mudah permasalahan yang dianggap
berat atau sulit karena didiskusikan secara bersama.
Kekurangan : dapat mengurangi peran penting siswa.
4) Lingkaran
Kelebihan
: sistem
ini
dapat
menyelesaikan permasalahan
kelompok secara bersama dengan peserta didik yang
jumlahnya
banyak,
dapat
menjadikan
mudah
permasalahan yang dianggap berat atau sulit.
Kekurangan : pembelajaran kurang efektif dalam penerimaan dan
pemberian tugas, karena siswa umumnya lebih suka
bermain.
5) Susunan Chevron
Kelebihan
: mengurangi jarak di antarsiswa maupun antar siswa
dengan guru, sehingga siswa dan guru mempunyai
pendangan yang lebih baik terhadap lingkungan
kelas dan mampu aktif dalam pembelajaran.
Kekurangan : 6) Auditorium
Kelebihan
: mengurangi kebosanan siswa yang terbiasa dalam
penataan ruang secara konvensional (tradisional).
Kekurangan : lingkungan yang sangat terbatas untuk belajar aktif.
12
7) Tradisional
Kelebihan
: siswa mampu di jangkau oleh pandangan guru, kelas
tampak ledih teratur dan rapi, serta guru dapat
mengawasi dari depan.
Kekurangan : guru biasanya kurang memperhatikan siswa yang
ada di belakang. Siswa yang tempat duduknya di
belakang tidak dapat menerima pelajaran secara
maksimal.
d. Tujuan Pengaturan Tempat Duduk
Menurut Hamid (2011:126) pengaturan bangku atau tempat
duduk dilakukan untuk memenuhi empat tujuan pembelajaran, yaitu:
1) Aksesibilitas yang membuat siswa mudah menjangkau alat atau
sumber belajar yang tersedia.
2) Mobilitas yang membuat siswa dan guru mudah bergerak dari
satu bagian ke bagian lain dalam kelas.
3) Interaksi yang memudahkan terjadinya komunikasi antara guru,
siswa, maupun antarsiswa.
4) Variasi kerja siswa yang memungkinkan siswa bekerja sama
secara perorangan, berpasangan, atau berkelompok.
2. Minat
a. Pengertian Minat
Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada
suatu hal dan aktivitas, tanpa ada yang menyuruh (Slameto, 2010:180).
Menurut Djaali (2007:122) “minat adalah perasaan yang ingin tahu,
mempelajari, mengagumi, atau memiliki sesuatu”. Sedangkan menurut
Rahman (2004:262) “minat adalah kecenderungan untuk memberikan
perhatian dan bertindak terhadap orang, aktivitas atau situasi yang
menjadi obyek dari minat tersebut dengan disertai perasaan senang”.
Crow dan crow mengatakan bahwa minat berhubungan dengan gaya
gerak yang mendorong seseorang untuk menghadapi atau berurusan
dengan orang lain, benda, kegiatan, pengalaman, yang dirangsang oleh
kegiatan itu sendiri (Djaali, 2007:121).
13
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa minat
adalah kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu
yang ingin dicapai.
b. Jenis-jenis Minat
Minat terdiri dari beberapa jenis. Menurut Djaali (2007:122)
minat dibagi dalam enam jenis yaitu:
1) Realistis
Orang realistis umumnya mapan, kasar, praktis, berfisik kuat,
dan sering sangat atletis, memiliki koordinasi otot yang baik
dan terampil. Akan tetapi ia kurang mampu menggunakan
medium komunikasi verbal dan kurang memiliki keterampilan
berkomunikasi dengan orang lain.
2) Investigative
Orang investigative termasuk orang yang berorientasi
keilmuan. Mereka umumnya berorientasi pada tugas,
introspektif, dan asosial, lebih menyukai memikirkan sesuatu
daripada melaksanakannya, memiliki dorongan kuat untuk
memahami alam, menyukai tugas-tugas yang tidak pasti
(ambiguous), suka bekerja sendirian, kurang pemahaman dalam
kepemimpinan akademik dan intelektualnya, menyatakan diri
sendiri sebagai analisis, selalu ingin tahu, bebas dan bersyarat,
dan kurang menyukai pekerjaan yang berulang.
3) Artistik
Orang artistik menyukai hal-hal yang tidak terstruktur, bebas,
memiliki kesempatan bereaksi, sangat membutuhkan suasana
yang dapat mengekspresikan sesuatu secara individual, sangat
kreatif dalam bidang seni dan musik.
4) Sosial
Tipe ini sangat dapat bertanggung jawab, berkemanusiaan, dan
sering alim, suka bekerja dalam kelompok, senang menjadi
pusat perhatian kelompok, memiliki kemampuan verbal,
terampil bergaul, menghindari pemecahan masalah secara
intelektual, suka memecahkan masalah yang ada kaitannya
dengan perasaan, menyukai kegiatan menginformasikan,
melatih dan mengaja
5) Enterprising
Tipe ini cenderung menguasai atau memimpin orang lain,
memiliki keterampilan verbal untuk berdagang, memiliki
kemampuan untuk mencapai tujuan organisasi, agresif, percaya
diri, dan umumnya sangat aktif.
6) Konvensional
Orang konvensional menyukai lingkungan yang sangat tertib,
menyenangi komunikasi verbal, senang kegiatan yang
14
berhubungan dengan angka, sangat efektif menyelesaikan tugas
yang berstruktur tetapi patuh, praktis, senang, tertib, efisien,
mereka mengidentifikasi dengan kekuasaan dan materi.
c. Faktor yang Menimbulkan Minat
Crow dan Crow (Rahman, 2004:264), berpendapat ada tiga
faktor yang menjadi timbulnya minat, yaitu:
1) Dorongan dari dalam diri individu
Misal dorongan untuk makan, ingin tahu, dan seks. Dorongan
untuk makan akan membangkitkan minat untuk bekerja atau
mencari penghasilan, minat terhadap produksi makanan dan
lain-lain. Dorongan ingin tahu atau rasa ingin tahu akan
membangkitkan minat untuk membaca, belajar, menuntut ilmu,
melakukan penelitian, dan lain-lain. Dorongan untuk seks akan
membangkitkan minat untuk menjalin hubungan dengan lawan
jenis, minat terhadap pakaian dan kosmetik, dan lain-lain.
2) Motif sosial
Dapat menjadi faktor yang dapat membangkitkan minat untuk
melakukan suatu aktivitas tertentu. Misalnya minat terhadap
pakaian timbul karena ingin mendapat persetujuan atau
penerimaan dan perhatian orang lain. Minat untuk belajar atau
menuntut ilmu pengetahuan timbul karena ingin mendapat
penghargaan dari masyarakat, karena biasanya yang memiliki
ilmu pengetahuan cukup luas (orang pandai) mendapat
kedudukan yang tinggi dan terpandang dalam masyarakat.
3) Faktor emosional
Minat mempunyai hubungan yang erat dengan emosi. Bila
seseorang mendapatkan kesuksesan pada aktivitas akan
menimbulkan perasaan senang, dan hal tersebut akan
memperkuat minat terhadap aktivitas tersebut, sebaliknya suatu
kegagalan akan menghilangkan minat terhadap hal tersebut.
d. Indikator Minat Belajar
Pada umumnya minat seseorang terhadap sesuatu akan
diekspresikan melului kegiatan atau aktivitas yang berkaitan dengan
minatnya. Sehingga untuk mengetahui indikator minat dapat dilihat
dengan cara menganalisa kegiatan-kegiatan yang dilakukan individu
atau objek yang disenanginya, karena minat merupakan motif yang
dipelajari yang mendorong individu untuk aktif dalam kegiatan
tertentu.
15
Seperti halnya menurut pendapat Sujanto (2004:92) “minat yaitu
sebagai sesuatu pemusatan perhatian yang tidak sengaja yang terlahir
dengan
penuh
kemauannya
dan
tergantung
dari
bakat
dan
lingkungannya”.
Menurut Slameto (2007:180) “minat adalah rasa lebih suka dan
rasa keterikatan pada sesuatu hal atau aktivitas tanpa ada yang
menyuruh”.
Selain itu menurut Djamarah (2008:132) mengungkapkan
bahwa minat dapat diekpresikan anak didik melalui:
1) Pernyataan lebih menyukai sesuatu daripada yang lainnya,
2) Partisipasi aktif dalam suatu kegiatan yang diminati, serta
3) Memberikan perhatian yang lebih besar terhadap sesuatu yang
diminatinya
tanpa menghiraukan yang lain (fokus).
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, dapat diketahui
ciri-ciri/indikator adanya minat pada seseorang dari beberapa hal,
antara lain:
1) Adanya perasaan senang.
2) Adanya rasa ketertarikan.
3) Adanya peningkatan perhatian.
4) Adanya pemusatan perhatian.
5) Adanya aktivitas serta keterlibatan secara aktif pada kegiatan
tersebut yang merupakan akibat dari rasa senang dan perhatian.
Indikator minat belajar siswa pada penelitian ini sebagai berikut:
1) Siswa merasa lebih senang belajar IPA di kelas.
2) Siswa tertarik belajar IPA dengan menggunakan berbagai variasi
pengaturan tempat duduk.
3) Siswa lebih memperhatikan pelajaran daripada yang lain.
4) Siswa selalu memusatkan perhatian kepada guru.
5) Siswa selalu terlibat aktif di kelas selama kegiatan pembelajaran.
16
3. Motivasi
a. Pengertian motivasi
Menurut Sutikno (Asmani, 2010:175) motivasi berpangkal dari
kata “motif”, yang dapat diartikan sebagai “daya penggerak yang ada
dalam diri seseorang, untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu,
demi tercapainya suatu tujuan”. Menurut Donald (Asmani, 2010:175)
“motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai
dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap
adanya tujuan”. Sedangkan menurut Davies (1987:214) motivasi ialah
kekuatan tersembunyi di dalam diri kita, yang mendorong kita untuk
berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khas.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi
merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk
melakukan sesuatu terhadap suatu tujuan.
b. Jenis-jenis motivasi
Motivasi terdiri dari beberapa jenis. Motivasi dibagi dalam dua
jenis (Asmani, 2010:176) yaitu:
1) Motivasi Intrinsik
Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa
ada paksaan dan dorongan dari orang lain. Dengan kata lain,
motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul atas dasar
kemauan sendiri.
2) Motivasi Ekstrinsik
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar
individu, baik karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari
orang lain, sehingga siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.
Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang
diberikan, tidak akan menjadi masalah bagi guru, karena di dalam diri
siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang
demikian biasanya dengan kesadaran sendiri akan memperhatikan
penjelasan guru. Rasa ingin tahunya sangat tinggi terhadap materi
pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada di sekitarnya,
tidak akan mempengaruhi konsentrasinya.
17
Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam
dirinya. Siswa seperti ini membutuhkan motivasi ekstrinsik secara
mutlak. Di sini tugas bai seorang guru, guru harus mampu
membangkitkan motivasi siswa, sehingga ia mau melakukan belajar.
c. Indikator Motivasi Belajar
Indikator motivasi belajar menurut Suprijono (2010:163) adalah:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
Adanya hasrat dan keinginan berhasil
Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar
Adanya harapan atau cita-cita masa depan
Adanya penghargaan dalam belajar
Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar
Adanya lingkungan
belajar
yang
kondusif sehingga
memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan baik.
Sedangkan menurut Sardiman (2003:81) indikator motivasi
belajar adalah sebagai berikut:
1) Tekun menghadapi tugas.
2) Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa).
3) Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah orang
dewasa.
4) Lebih senang bekerja mandiri.
5) Cepat bosan pada tugas-tugas rutin.
6) Dapat mempertahankan pendapatnya.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, dapat diketahui
ciri-ciri/indikator adanya motivasi pada seseorang dari beberapa hal,
antara lain:
1) Adanya kemauan untuk berbuat/belajar (semangat).
2) Ketekunan dalam mengerjakan tugas.
3) Keakifan dalam mengemukakan pendapat.
4) Tidak mudah putus asa apabila menghadapi kesulitan dalam
belajar.
5) Aktif bertanya apabila mengalami kesusahan dalam belajar.
18
Indikator motivasi belajar siswa pada penelitian ini sebagai
berikut:
1) Siswa memiliki kemauan yang besar atau antusias yang tinggi
untuk belajar.
2) Siswa tekun dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru.
3) Siswa berani dan aktif dalam mengemukakan pendapatnya di kelas
saat proses pembelajaran.
4) Siswa selalu berusaha untuk dapat lebih menguasai materi
pelajaran yang disampaikan guru.
5) Siswa aktif bertanya kepada guru mengenai materi yang belum
jelas.
4. Belajar
a. Pengertian belajar
Pada saat manusia lahir tidak tahu apa-apa, tidak bisa apa-apa
dan juga tidak mengetahui bahwa dirinya tidak tahu apa-apa serta tidak
bisa apa-apa. Tetapi manusia lahirnya pada umumnya memiliki potensi
dan naluri yang diberikan oleh Allah untuk dapat tumbuh dan
berkembang atas dukungan lingkungan menuju ke arah kedewasaan.
Upaya menumbuhkan dan mengembangkan diri inilah terjadi apa yang
disebut dengan proses belajar. Hal ini berarti bahwa setiap manusia
mengalami proses belajar selama menjalani kehidupannya.
Menurut Hartini, dkk (2008:73) “belajar merupakan usaha yang
dilakukan secara sadar dan diperoleh pengalaman, pengetahuan, dan
kemampuan baru”. Sedangkan menurut Hamalik (2001:27) “belajar
adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman
(learning is defined as the modification or strengthening of behavior
through experiencing)”.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka penulis dapat
menyimpulkan bahwa belajar merupakan usaha yang dapat dilakukan
oleh setiap manusia untuk mendapatkan pengetahuan dan terjadi
sebagai pengalaman.
19
b. Faktor-faktor Belajar
Aktifitas belajar akan dipengaruhi oleh banyak faktor, baik yang
bersifat
mendukung
maupun menghambat. Faktor-faktor yang
mempengaruhi aktifitas belajar sangat kompleks sifatnya, tetapi dapat
dipolakan kedalam dua jenis, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Surtikanti dan Santoso (2008:15) mengemukakan bahwa:
“Faktor internal adalah berbagai kondisi dinamis baik pisik
maupun psikhis yang berasal dari dalam diri individu peserta
didik sendiri. Selain faktor tersebut ada pendapat lain yang
menambahkan dengan faktor kelelahan. Sedangkan faktor
eksternal adalah segala sesuatu yang berada di luar kondisi
peserta didik dengan berbagai karakteristiknya. Yang
termasuk faktor eksternal diantaranya: faktor sekolah, faktor
keluarga, dan faktor masyarakat. Sebagaimana dikemukakan
di muka bahwa faktor-faktor tersebut bersifat dinamis,
maksudnya adalah bahwa semua jenis faktor tersebut tidak
statis yang pada suatu saat juga mengalami berbagai
perkembangan”.
5. Ilmu Pengetahuan Alam
Pada hakikatnya, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dipandang dari segi
produk, proses, dan dari pengembangan sikap. Artinya, belajar IPA
memiliki dimensi
proses,
dimensi
hasil (produk),
dan dimensi
pengembangan sikap ilmiah. Ketiga dimensi tersebut bersifat saling
terkait. Ini berarti bahwa proses belajar mengajar IPA seharusnya
mengandung ketiga dimensi IPA tersebut (Sulistyorini, 2007:9).
Di bawah ini beberapa hal penting yang berhubungan dengan IPA di
SD, yaitu sebagai berikut:
a. Tujuan Ilmu Pengetahuan Alam
Mata pelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar peserta didik
memiliki kemampuan sebagai berikut:
1) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaanNya.
20
2) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA
yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positip dan kesadaran
tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA,
lingkungan, teknologi dan masyarakat.
4) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam
sekitar, memecahkan masalah, dan membuat keputusan.
5) Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara,
menjaga, dan melestarikan lingkungan alam.
6) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala
keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
7) Memperoleh bekal pengetahuan, konsep, dan keterampilan IPA
sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.
b. Ruang Lingkup Ilmu Pengetahuan Alam
Ruang lingkup bahan kajian IPA untuk SD/MI meliputi aspekaspek berikut:
1) Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan,
tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan.
2) Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair, padat dan
gas.
3) Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet,
listrik, cahaya, dan pesawat sederhana.
4) Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan
benda-benda langit lainnya.
B. Kajian Penelitian yang Relevan
1. Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah Kusnah (2012).
Penelitiannya berjudul “Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas I Dengan
Variasi Penataan Kelas di SDIT Izzatul Islam Getasan Tahun Ajaran
2011/2012”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya variasi penataan
kelas di SDIT Izzatul Islam Getasan ternyata mampu meningkatkan hasil
21
belajar siswa yang dalam hal ini dapat dilihat dari meningkatnya minat,
keaktifan serta hasil belajar atau nilai siswa. Dalam hal prestasi belajar
atau nilai menunjukkan adanya peningkatkan yang ditunjukkan dalam
prosentase rata-rata siklus I yaitu 23% untuk prestasi siswa, 80% untuk
siklus II, dan 100% untuk prestasi belajar siswa pada siklus III.
2. Penelitian Sri Wiyanti (2010), yang berjudul “Variasi Penataan Kelas
Dalam Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran
IPS Kelas IV SD N 02 Lemahbang Kecamatan Jumapolo”. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa tujuan penelitian telah tercapai, yang
dibuktikan dengan pencapaian nilai siswa yaitu 94% siswa kelas IV SD
Negeri 02 Lemahbang telah mencapai nilai diatas KKM. Peningkatan nilai
siswa ini dipengaruhi oleh meningkatnya kreatifitas guru dalam mengelola
kelasnya dan motivasi yang diberikan guru kepada siswanya. Pada siklus I
prosentase guru dalam mengelola ruang, waktu, dan fasilitas belajar siswa
mencapai 37,33 %, siklus II mencapai 69%, dan siklus III mencapai 81%.
3. Eris Khamdanah (2005). Penelitian ini dengan judul “Variasi Guru Dalam
Mengelola Kelas Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada
Pembelajaran Matematika SD Negeri I Kertek Kecamatan Kertek
Kabupaten Wonosobo Tahun Ajar 2010”. Berdasarkan hasil penelitian,
guru dalam mengelola kelas di SD Negeri I Kertek Kecamatan Kertek
Kabupaten Wonosobo dapat dikatakan baik. Hal ini terlihat dari usaha
guru dalam mengatur kegiatan belajar dan mengajar, sehingga terwujud
suasana yang efektif dan menyenangkan serta memotivasi siswa untuk
belajar dengan baik. Faktor yang menghambat guru dalam mengelola kelas
pada pembelajaran matematika adalah masalah siswa dan fasilitas. Cara
mengatasi masalah tersebut adalah guru memberikan penjelasan dan
kesadaran pada siswa tentang hak kewajiban dan keharusan menghormati
orang lain yaitu teman sekelasnya.
22
Tabel 2.1.
Persamaan dan Perbedaan
Penelitian yang Relevan dengan Penelitian yang Akan Dilakukan
No.
1.
Nama Peneliti
Kusnah
Judul
Persamaan
Peningkatan
Hasil Sama-sama
Perbedaan
Meneliti
Belajar Siswa Kelas bertujuan untuk mengenai
I
Dengan
Variasi meningkatkan
Penataan Kelas di minat,
variasi
penataan kelas
SDIT Izzatul Islam keaktifan, dan secara
Getasan
Tahun hasil
Ajaran 2011/2012.
belajar keseluruhan.
atau
nilai
siswa.
2.
Sri Wiyanti
Variasi
Penataan Sama-sama
Meneliti
pada
Kelas Dalam Upaya bertujuan untuk variasi
Meningkatkan
Motivasi
Siswa
meningkatkan
Belajar motivasi
Pada
penataan ruang
kelas,
Mata belajar siswa.
seperti
membuat
Pelajaran IPS Kelas
perpustakaan
IV
kecil di kelas
SD
N
02
Lemahbang
dengan
tidak
Kecamatan
mempersempit
Jumapolo.
ruang
gerak
siswa.
3.
Eris Khamdanah
Variasi Guru Dalam Sama-sama
Meneliti
Mengelola
mengenai
Kelas untuk
Untuk
mewujudkan
Meningkatkan
suasana
Motivasi
Siswa
Pembelajaran
Belajar efektif
guru
yang dalam
dan mengelola
Pada menyenangkan
serta
usaha
kelas
secara
keseluruhan,
23
Matematika
Negeri
I
Kecamatan
SD memotivasi
Kertek siswa
untuk penataan
baik.
memajang hasil
Tahun
karya
Ajar 2010.
4.
Luthfi
Fadhilah
Nur Variasi
Tempat
Pengaturan Bertujuan
Meneliti
Duduk untuk
tentang
Meningkatkan Minat minat
Pada Mata Pelajaran belajar
IPA Kelas IV A Di pada
Negeri
penggunaan
dan variasi tempat
dan Motivasi Belajar motivasi
Sawahan
siswa,
dan lain-lain.
Siswa Dalam Upaya meningkatkan
SD
dari
Kertek belajar dengan media,
Kabupaten
Wonosobo
mulai
duduk siswa.
siswa
mata
1 pelajaran IPA.
Tahun
Ajaran 2014/2015.
C. Kerangka Berpikir
Salah satu upaya untuk meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa
di kelas yaitu dengan menggunakan variasi pengaturan tempat duduk.
Pengaturan tempat duduk siswa divariasi dengan berbagai bentuk dan model
dengan tujuan siswa tidak merasa bosan dengan bentuk tempat duduknya,
tidak terlihat monoton, serta dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar.
Dengan tempat duduk yang semula menggunakan model tradisional
kemudian diubah bentuk dan model yang bervariasi siswa akan merasa senang
dan dapat menumbuhkan motivasi intrinsik yang dapat memberikan dorongan
terhadap minat siswa untuk memperoleh ilmu atau belajar, sehingga dapat
memberikan suatu hasil yang diharapkan, yaitu nilai yang lebih baik.
Diharapkan dengan adanya variasi pengaturan tempat duduk siswa dapat
24
meningkatkan minat dan motivasi belajar serta diikuti dengan pencapaian hasil
belajar yang memuaskan.
Berdasarkan paparan yang diuraikan diatas, maka diperoleh alur
kerangka berpikir dalam penelitian ini, yang dapat digambarkan sebagai
berikut:
Kondisi Awal
1. Tempat duduk model tradisional.
2. Minat dan motivasi belajar rendah.
3. Hasil belajar siswa rendah.
Tindakan
1. Membuat variasi model tempat
duduk siswa.
2. Meningkatkan minat dan motivasi
belajar siswa.
Kondisi Akhir
1. Minat dan motivasi belajar siswa
meningkat.
2. Hasil belajar siswa meningkat.
Gambar 2.8.
Kerangka berpikir
D. Hipotesis
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas maka dapat
dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:
1. Penggunaan variasi pengaturan tempat duduk dapat meningkatkan minat
belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas IV A di SD Negeri 1
Sawahan.
2. Penggunaan variasi pengaturan tempat duduk dapat meningkatkan
motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas IV A di SD Negeri 1
Sawahan.
25
3. Penggunaan variasi pengaturan tempat duduk dapat meningkatkan minat
dan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas IV A di SD
Negeri 1 Sawahan.
4. Penggunaan variasi pengaturan tempat duduk dapat meningkatkan hasil
belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas IV A di SD Negeri 1
Sawahan.
Download