1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Memecahkan

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Memecahkan suatu masalah dapat dikatakan sebagai aktivitas dasar
manusia. Karena sebagian besar dalam menjalani aktivitasnya, manusia
berhadapan dengan masalah. Masalah tersebut dapat muncul dalam kehidupan
pribadi maupun sosial. Oleh karena memecahkan masalah merupakan aktivitas
dasar manusia maka kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu
kemampuan yang berperan penting dalam kehidupan.
Pendidikan adalah salah satu bidang yang berperan penting dalam
mengembangkan kemampuan-kemampuan sumber daya manusia (SDM). Karena
pendidikan merupakan upaya sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara yang dinyatakan dalam pasal 1 UU RI No.
20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Syaripudin, 2006: 156). Salah
satu lembaga yang mengelola penyelenggaraan kegiatan pendidikan adalah
sekolah. Sementara itu, inti dari penyelenggaraan pendidikan di sekolah,
dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran.
Salah satu kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah adalah
pembelajaran matematika. Tujuan dari pembelajaran matematika (Depdiknas,
2006) adalah agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan
mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan
tepat, dalam pemecahan masalah.
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi
matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan
gagasan dan pernyataan matematika.
1
Tri Sulistiani Yuliza, 2013
Pengaruh Metode Pembelajaran Penemuan Terbimbing Terhadap Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematis Pada Siswa SMA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
2
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,
merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi
yang diperoleh.
4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain
untuk memperjelas keadaan atau masalah.
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu
memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika,
serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Berdasarkan uraian tersebut, salah satu kemampuan yang harus dimiliki
siswa setelah mengikuti pembelajaran matematika adalah kemampuan dalam
memecahkan masalah. Dan kemampuan-kemampuan lainnya yang harus dimiliki
oleh siswa, ditujukan agar siswa dapat menggunakan kemampuan tersebut dalam
memecahkan masalah. Sehingga dapat dikatakan bahwa fokus utama dalam
pembelajaran matematika adalah mengembangkan kemampuan pemecahan
masalah (Depdiknas dalam Syaban, 2009).
Akan tetapi, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan
pemecahan masalah matematis siswa masih belum memuaskan. Hasil penelitian
yang dilakukan Sumarmo (Rahmah, 2011) terhadap siswa Sekolah Menengah
Atas (SMA) di Kota Bandung, secara umum kemampuan pemecahan masalah
pada siswa SMA kelas XI masih belum memuaskan yaitu sekitar 30%-50% dari
skor Ideal. Begitu pula dengan hasil pengamatan yang dilakukan oleh Setiahati
(2008, 3) terhadap siswa di salah satu SMA Negeri di kota Bandung menunjukkan
bahwa siswa tidak terbiasa dengan soal-soal pemecahan masalah, sehingga saat
siswa dihadapkan pada soal pemecahan masalah, siswa tidak bisa membuat model
matematis dari masalah yang disediakan, tidak bisa menentukan kombinasi dan
aturan-aturan yang dipelajari sebelumnya untuk dipakai dalam memecahkan
masalah yang dihadapi. Sama halnya dengan hasil pengamatan Setiahati,
berdasarkan wawancara informal dengan guru matematika di salah satu SMA
Negeri kota Sukabumi menyatakan bahwa kemampuan siswa di beberapa kelas
pada beberapa mata pelajaran termasuk matematika tidak terlalu baik, khususnya
jika siswa berhadapan dengan soal yang memerlukan lebih dari satu langkah
Tri Sulistiani Yuliza, 2013
Pengaruh Metode Pembelajaran Penemuan Terbimbing Terhadap Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematis Pada Siswa SMA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
3
penyelesaian. Mengingat kemampuan pemecahan masalah sangat penting dan
merupakan fokus utama dalam pembelajaran matematika maka guru sebaiknya
mencari solusi permasalahan ini.
Salah satu hal yang memberikan pengaruh terhadap kemampuan siswa
setelah belajar adalah proses pembelajaran yang diimplementasikan kepada siswa.
Dalam memecahkan masalah khususnya masalah dalam matematika, siswa harus
paham apa yang menjadi masalah dan menentukan rumus atau teorema apa yang
dapat digunakan untuk menyelesaikan suatu masalah berdasarkan data yang
diberikan di dalam soal. Karena itu, proses pembelajaran yang terjadi di dalam
kelas harus dapat mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan
berfikirnya.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan guru dalam merencanakan proses
pembelajaran adalah menentukan metode pembelajaran. Metode pembelajaran
yang biasa digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran adalah metode
ekspositori. Pada tahun lima puluhan banyak pendidik matematika berpendapat
bahwa metode ini hanya menyebabkan siswa belajar menghafal yang tidak banyak
makna/tidak banyak mengerti (Ruseffendi, 2006: 290). Apabila pendapat pendidik
matematika ini benar, siswa akan kesulitan dalam menyelesaikan masalah
matematis.
Pada saat ini pandangan tentang pembelajaran telah mengalami
perkembangan. Menurut Muhsetyo (2007) seiring dengan perkembangannya,
strategi pembelajaran dari berpusat pada guru (teacher centered) menjadi berpusat
pada siswa (student centered) maka berkembang pula cara pandang terhadap
bagaimana siswa belajar dan memperoleh pengetahuan. Mereka secara individual
ataupun berkelompok, dapat membangun sendiri pengetahuan mereka dari
berbagai sumber belajar di sekitar mereka, tidak hanya berasal dari guru. Teori ini
dinyatakan sebagai teori konstruktivisme. Dengan adanya teori ini, maka dalam
pembelajaran tentunya lebih menitikberatkan pada partisipasi dan keaktifan siswa,
karena siswa membangun pengetahuan mereka sendiri.
Untuk mengikuti perkembangan teori belajar, para ahli telah banyak
mengembangkan metode-metode pembelajaran. Salah satu contoh metode
Tri Sulistiani Yuliza, 2013
Pengaruh Metode Pembelajaran Penemuan Terbimbing Terhadap Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematis Pada Siswa SMA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
4
pembelajaran yang mengacu pada teori konstruktivisme adalah metode penemuan
terbimbing. Dalam metode penemuan terbimbing, materi atau rumus tidak
disajikan secara utuh oleh guru, sehingga dalam kegiatan pembelajaran terdapat
peran aktif siswa dalam membangun konsep/rumus dan guru hanya bertindak
sebagai fasilitator. Guru hanya akan memberi bantuan petunjuk jika diperlukan.
Penemuan terbimbing merupakan salah satu metode pembelajaran yang
bersifat konstruktivistik dan bernuansa pemecahan masalah (Muhsetyo, 2007). Di
dalam kegiatan pembelajaran ini, guru menyajikan materi dalam bentuk masalah
atau pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan ini akan menuntun siswa
untuk menemukan teori/rumus. Menurut Muhsetyo (2007: 26) siswa akan terbiasa
dan cerdas memecahkan masalah setelah mereka memperoleh banyak latihan
menyelesaikan masalah dan menurut Tim MKPBM (2001: 93) untuk memperoleh
kemampuan dalam pemecahan masalah, seseorang harus memiliki banyak
pengalaman dalam memecahkan masalah. Dengan diberikannya masalah sebagai
pembimbing siswa untuk menemukan rumus/teori dan pemecahan masalah
diharapkan siswa memiliki banyak pengalaman dalam memecahkan masalah
sehingga terbiasa dan cerdas dalam memecahkan masalah. Untuk menguji
kebenaran dari pernyataan-pernyataan yang telah dipaparkan, maka harus
dilakukan penelitian.
Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian tentang ”Pengaruh metode pembelajaran penemuan terbimbing
terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis pada siswa SMA”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka masalah dalam
penelitian ini dirumuskan sebagai berikut “Bagaimana pengaruh metode
pembelajaran penemuan terbimbing terhadap kemampuan pemecahan masalah
matematis pada siswa SMA?”.
Rumusan masalah di atas, dijabarkan dalam pertanyaan-pertanyaan
penelitian sebagai berikut:
Tri Sulistiani Yuliza, 2013
Pengaruh Metode Pembelajaran Penemuan Terbimbing Terhadap Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematis Pada Siswa SMA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
5
1. Apakah peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis pada siswa
SMA yang mendapatkan pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing
lebih baik dari siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan metode
ekspositori?
2. Bagaimana sikap siswa terhadap penggunaan metode pembelajaran penemuan
terbimbing dalam pembelajaran matematika?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui apakah peningkatan kemampuan pemecahan masalah
matematis pada siswa SMA yang mendapat pembelajaran dengan metode
penemuan terbimbing lebih baik dari siswa yang mendapatkan pembelajaran
dengan metode ekspositori.
2. Untuk mengetahui sikap siswa terhadap penggunaan metode pembelajaran
penemuan terbimbing dalam pembelajaran matematika.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dapat tercapai melalui penelitian yang
akan dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Menambah pengetahuan bagi peneliti tentang bagaimana mengaplikasikan
metode penemuan terbimbing dalam pembelajaran matematika.
2. Diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis
pada siswa SMA.
3. Memberikan variasi ataupun suasana baru dalam kegiatan pembelajaran
matematika sehingga pembelajaran tidak monoton dan tidak mengalami
kejenuhan.
Tri Sulistiani Yuliza, 2013
Pengaruh Metode Pembelajaran Penemuan Terbimbing Terhadap Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematis Pada Siswa SMA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
Download