BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Teori-Teori Umum Dalam teori umum

advertisement
BAB 2
LANDAS AN TEORI
2.1
Teori-Teori Umum
Dalam teori umum membahas secara ringkas tentang teori-teori yang berhubungan
dengan Data, Tabel, Basis Data (Database), Sistem Basis Data (Database System),
Sistem M anajemen Basis Data (Database Management System-DBMS), Bahasa Basis
Data (Database Language), Pemodelan Hubungan Entitas (Entity Relation Modelling),
Perancangan Basis Data (Database Design), Normalisasi, dan Siklus Hidup Aplikasi
Basis Data (Database Aplication Lifecyle).
2.1.1
Pengertian Data
M enurut Whitten, et al (2004, p23), Data adalah fakta mentah mengenai orang, tempat,
kejadian, dan hal-hal yang penting dalam organisasi.
M enurut Turban (2005, p52), Data adalah fakta mentah atau deskripsi dasar dari sesuatu,
kejadian, aktivitas dan transaksi yang didapat, dicatat, disimpan, dan dikelompokkan,
namun tidak terorganisir sehingga tidak memberikan suatu arti yang spesifik. Data dapat
berupa numerik, alfanumerik, figur, suara, atau gambar. Basis data terdiri atas berbagai
data yang disimpan dan diatur untuk dapat ditarik kembali.
M enurut Atzeni, et al (2003, p2), Data adalah sebuah informasi yang disimpan yang
perlu ditafsirkan untuk memberikan informasi.
7
8
2.1.2
Pengertian Tabel
M enurut Whitten, et al (2004, p521), Tabel adalah ekuivalensi basis data relasional dari
sebuah file.
M enurut Connolly dan Begg (2002, p69), dalam model relasional semua data secara
logis terstruktur dalam hubungan (tabel). Setiap relasi memiliki nama dan terdiri dari
atribut bernama (kolom) data. Setiap tuple (baris) berisi satu nilai per atribut. Sebuah
kekuatan besar dari model relasional adalah struktur logis sederhana.
M enurut Connolly dan Begg (2002, p71), model hubungan ini didasarkan pada konsep
matematika dari suatu hubungan, yang secara fisik direpresentasikan sebagai sebuah
tabel.
M enurut Connolly dan Begg (2002, p72), relasi adalah tabel dengan kolom dan baris.
Sebuah RDBMS hanya memerlukan basis data yang dirasakan oleh pengguna sebagai
tabel. Atribut adalah kolom bernama relasi. Dalam model hubungan, hubungan yang
digunakan untuk menyimpan informasi tentang objek yang harus diwakili dalam basis
data. Domain adalah himpunan nilai-nilai yang diperbolehkan untuk satu atau lebih
atribut. Domain adalah fitur sangat kuat dari model relasional. Setiap atribut dalam
kaitannya didefinisikan pada domain.
M enurut Connolly dan Begg (2002, p73), tuple adalah baris dari relasi. Unsur relasi
adalah baris atau tuple dalam tabel. Tuple dapat muncul dalam urutan apapun dan
hubungan tersebut tetap akan hubungan yang sama, dan karena itu menyampaikan
makna yang sama.
9
M enurut Connoly dan Begg (2002, p74), tingkat relasi adalah jumlah atribut yang
dikandungnya. Kardinalitas relasi adalah jumlah tuple yang dikandungnya. Kumpulan
hubungan normalisasi hubungan dengan nama yang berbeda.
2.1.3
Pengertian Basis Data (Database)
M enurut Connolly dan Begg (2002, p14), Basis Data (Database) adalah kumpulan data
yang dipakai bersama dan terhubung secara logis dan deskriptif dari data ini dirancang
untuk memenuhi kebutuhan informasi suatu organisasi.
M enurut Atzeni, et al (2003, p2), Basis Data (Database) adalah kumpulan data,
digunakan untuk merepresentasikan informasi yang menarik untuk suatu sistem
informasi.
M enurut Gerald V. Post (2005, p2), Basis Data (Database) adalah kumpulan data yang
disimpan dalam format standar, yang dirancang untuk digunakan bersama oleh banyak
pengguna.
M enurut
Wikipedia
(http://id.wikipedia.org/wiki/Basis_data,
7
Oktober
2010),
pengertian Basis Data (Database) adalah kumpulan informasi yang saling berhubungan
dan disimpan dalam komputer secara sistematik sehingga dapat diperiksa menggunakan
suatu program komputer untuk memperoleh informasi dari basis data tersebut.
10
2.1.4
Pengertian Sistem Basis Data (Database System)
M enurut Connolly dan Begg (2002, p4), Sistem Basis Data (Database System)
merupakan kumpulan dari program aplikasi yang berinteraksi dengan basis data itu
sendiri.
M enurut Syopiansyah Jaya Putra (2010), Sistem Basis Data (Database System) adalah
suatu informasi yang mengintegrasikan kumpulan dari data yang saling berhubungan
satu dengan yang lainnya dan membuatnya tersedia untuk beberapa aplikasi yang
bermacam-macam di dalam suatu instansi.
2.1.5
Pengertian Sistem Manajemen Basis Data (Database Management SystemDBMS)
M enurut Connolly dan Begg (2002, p16), Sistem M anajemen Basis Data (Database
Management System-DBMS) adalah sebuah sistem piranti lunak yang memungkinkan
pengguna untuk mendefinisikan, membuat, menjaga, dan akses kontrol ke basis data.
M enurut Atzeni, et al (2003, p3), Sistem M anajemen Basis Data (Database Management
System-DBMS) adalah sistem perangkat lunak yang mampu mengelola koleksi data yang
besar, terbagi dan tetap, dan memastikan kehandalan dan privasi.
M enurut Gerald V. Post (2005, p2), Sistem M anajemen Basis Data (Database
Management System-DBMS) adalah perangkat lunak yang mendefinisikan basis data,
menyimpan data, mendukung bahasa kueri, menghasilkan laporan, dan menciptakan
layar entry data.
11
M enurut Ramakrishnan dan Gehrke (2003, p4), Sistem M anajemen Basis Data
(Database Management System-DBMS) adalah perangkat lunak yang dirancang untuk
membantu dalam memelihara dan memanfaatkan koleksi data yang besar.
M enurut Connolly dan Begg (2002, p48), DBMS memiliki sepuluh fungsi, yaitu:
1. Data storage, retrieval, and update
DBMS harus dapat memungkinkan pengguna untuk menyimpan, mengambil, dan
memperbaharui data di dalam basis data.
2. A user-accessible catalog
DBMS harus memberikan katalog dimana deskripsi item data yang disimpan dan
yang dapat diakses oleh pengguna.
3. Transaction support
DBMS harus menyediakan suatu mekanisme yang baik akan memastikan bahwa
semua pembaruan yang sesuai dengan transaksi yang dibuat atau tidak satupun yang
dibuat.
4. Concurrency control services
DBMS harus memiliki sebuah mekanisme untuk menjamin basis data diperbaharui
secara benar sehingga tidak banyak pengguna memperbaharui basis data secara
bersamaan.
5. Recovery services
DBMS harus memiliki sebuah mekanisme untuk perbaikan basis data apabila terjadi
kerusakan.
12
6. Authorization services
DBMS harus memiliki sebuah mekanisme untuk menjamin bahwa hanya pengguna
yang memiliki otoritas yang dapat mengakses basis data.
7. Support for data communication
DBMS harus dapat terintegrasi dengan piranti lunak komunikasi, dapat mengakses
basis data dari lokasi yang jauh.
8. Integrity services
DBMS harus memiliki sarana untuk menjamin baik data dalam basis data maupun
perubahan terhadap data mengikuti aturan-aturan tertentu.
9. Services to promote data independence
DBMS harus menyertakan fasilitas-fasilitas untuk mendukung ketidaktergantungan
piranti lunak terhadap struktur dari basis data.
10. Utility services
DBMS harus menyediakan serangkaian layanan kegunaan, seperti program analisis
statistik, pengawasan fasilitas, fasilitas reorganisasi indeks, dan lain-lain.
M enurut Connolly dan Begg (2002, p18), DBMS memiliki lima komponen penting,
yaitu:
1. Perangkat Keras (Hardware)
Dalam menjalankan aplikasi dan DBMS diperlukan perangkat keras. Perangkat keras
dapat berupa a single personal computer, single mainframe, sampai jaringan
komputer. Perangkat keras tertentu tergantung pada kebutuhan organisasi dan
pengguna DBMS. Beberapa DBMS hanya berjalan pada perangkat keras tertentu atau
13
sistem operasi, sementara yang lain berjalan di berbagai perangkat keras dan sistem
operasi.
2. Perangkat Lunak (Software)
Komponen perangkat lunak terdiri dari perangkat lunak DBMS dan program aplikasi
beserta sistem operasi, termasuk perangkat lunak jaringan jika DBMS sedang
digunakan pada jaringan.
3. Data
Data merupakan komponen terpenting dari DBMS dan juga merupakan penghubung
antara komponen mesin (perangkat keras dan perangkat lunak) dan komponen
human (prosedur dan orang).
4. Prosedur (Procedures)
Prosedur
merupakan panduan
dan
instruksi dalam membuat
desain
dan
menggunakan basis data. Penggunaan dari sistem dan staf dalam mengelola basis
data membutuhkan prosedur dalam menjalankan sistem dan mengelola basis data itu
sendiri. Demikian prosedur di dalam basis data berupa: login di dalam basis data,
penggunaan sebagian fasilitas DBMS, cara menjalankan dan memberhentikan
DBMS, membuat salinan backup database, memeriksa perangkat keras dan
perangkat lunak yang sedang berjalan, mengubah struktur basis data, meningkatkan
kinerja atau membuat arsip data pada media penyimpanan sekunder.
5. M anusia (People)
Komponen terakhir adalah manusia yang terlibat dalam sistem tersebut. Komponen
ini meliputi data administrator, database administrator, database designers,
application developers, dan end-user. Data Administrator (DA) bertanggung jawab
atas pengelolaan sumber daya data termasuk perencanaan basis data, pengembangan
14
dan pemeliharaan standar, kebijakan dan prosedur, dan konseptual/desain basis data
logis. Database Administrator (DBA) bertanggung jawab atas relasi fisik dari basis
data termasuk perancangan basis data fisik dan implementasi, keamanan dan kontrol
integritas, perawatan sistem operasional, dan meyakinkan kinerja aplikasi yang
memuaskan
untuk
pengguna.
Database
Designers
bertanggung
jawab
mengidentifikasi data, hubungan antara data, dan kendala pada data yang akan
disimpan dalam basis data. Application Developers bertanggung jawab setelah basis
data diimplementasikan, program aplikasi yang menyediakan fungsionalitas yang
diperlukan untuk end-user harus diimplementasikan. End-User adalah ‘client’ untuk
basis data, yang telah dirancang dan diimplementasikan dan selalu dirawat untuk
menyajikan kebutuhan-kebutuhan informasi mereka.
M enurut Connolly dan Begg (2002, p26), keuntungan DBMS sebagai berikut:
1. M engontrol redudansi data
2. Konsistensi data
3. Informasi lebih untuk sejumlah data yang sama
4. Pembagian data (sharing of data)
5. M eningkatkan integritas data
6. M eningkatkan keamanan
7. M eningkatkan standar
8. Skala ekonomi
9. M enyeimbangkan kebutuhan-kebutuhan yang saling bertabrakan
10. M eningkatkan pengaksesan dan respon data
11. M eningkatkan produktifitas
15
12. M eningkatkan pemeliharaan melalui data independence
13. M eningkatkan concurrency
14. M eningkatkan layanan backup dan recovery
M enurut Connolly dan Begg (2002, p29), kerugian DBMS adalah sebagai berikut:
1. Kompleksitas
2. Ukuran
3. Biaya dari DBMS
4. Biaya tambahan perangkat keras
5. Biaya proses konversi
6. Performa
7. Pengaruh kegagalan yang lebih tinggi
2.1.6
Bahasa Basis Data (Database Language)
Berikut ini merupakan beberapa macam Bahasa Basis Data (Database Language), yaitu:
2.1.6.a
Data Definition Language (DDL)
M enurut Connolly dan Begg (2002, p40), Data Definition Language (DDL) adalah suatu
bahasa yang memperbolehkan Database Administrator (DBA) atau pengguna untuk
mendeskripsikan dan memberi nama suatu entitas, atribut dan relasi data yang
dibutuhkan untuk aplikasi dan batasan keamanan data.
16
2.1.6.b Data Manipulation Languange (DML)
M enurut Connolly dan Begg (2002, p41), Data Manipulation Language (DML) adalah
suatu bahasa yang menyediakan seperangkat operasi untuk mendukung manipulasi data
yang berada pada basis data. Pengoperasian data akan dimanipulasi biasanya meliputi:
1. Penambahan data baru ke dalam basis data (insertion)
2. M odifikasi data yang disimpan kedalam basis data (modify)
3. Pengambilan data yang terdapat dalam basis data (retrieve)
4. Penghapusan data dari basis data (delete)
DML dibagi menjadi 2 jenis, yaitu procedural dan non-procedural. Procedural DML
adalah suatu bahasa yang memperbolehkan penggunaan untuk mendeskripsikan ke
sistem data apa yang dibutuhkan dan bagaimana mendapat data tersebut secara cepat dan
tepat, sedangkan Non-procedural DML adalah sebuah bahasa yang mengizinkan
penggunaan untuk menentukan data apa yang dibutuhkan tanpa memperhatikan
bagaimana cara data diperoleh.
2.1.7
Pemodelan Hubungan Entitas (Entity-Relatioship Modelling)
M enurut Connolly dan Begg (2002, p330), Pemodelan Hubungan Entitas (EntityRelationship Modelling) adalah model untuk memastikan pemahaman yang tepat
terhadap data dan bagaimana penggunaannya di dalam suatu perusahaan.
M odel ini menggunakan pendekatan Top-Down dalam merancang basis data, dimulai
dengan mengidentifikasi data yang penting yang disebut entitas dan relationship antara
data harus direpresentasikan dalam model. Kemudian ditambahkan beberapa atribut dan
batasan (constraint) pada entitas, atribut dan relationship.
17
1. Entity Types
M enurut Connolly dan Begg (2002, p331), Entity Types adalah sekumpulan objek
dengan sifat yang sama yang diidentifikasikan oleh perusahaan dan keberadaannya
independent. M enurut Connolly dan Begg (2002, p333), Entity Occurance adalah objek
dari tipe entitas yang diidentifikasikan secara unik. Tipe entitas dapat diklasifikasikan
menjadi:
1. M enurut Connolly dan Begg (2002, p342), Strong Entity Type yaitu sebuah entitas
yang tidak bergantungan pada entitas lain karena entitas tersebut diidentifikasikan
dengan menggunakan primary key.
2. M enurut Connolly dan Begg (2002, p343), Weak Entity Type yaitu sebuah entitas
yang bergantung pada entitas lain karena entitas tersebut diidentifikasikan dengan
menggunakan primary key.
2. Relationship Types
M enurut Connolly dan Begg (2002, p334), Relationship Types adalah sekumpulan
hubungan antara satu atau lebih entitas yang ada dan mempunyai arti. Relationship
Occurance adalah suatu hubungan unik antara satu atau lebih entitas yang teridentifikasi
dalam tipe entitas.
3. Atribut
M enurut Connolly dan Begg (2002, p338), Atribut merupakan sifat-sifat dari sebuah tipe
entitas atau relationship type. Atribut domain adalah kumpulan nilai yang diperbolehkan
untuk salah satu atau lebih atribut. Atribut dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
18
1. Simple / Composite Attributes
M enurut Connolly dan Begg (2002, p339), Simple attribute adalah atribut yang
terdiri dari satu komponen tunggal yang keberadaannya independent. Composite
attribute adalah atribut yang terdiri dari beberapa komponen yang keberadaannya
independent.
2. Single / Multi-Valued Attributes
M enurut Connolly dan Begg (2002, p339), Single-Valued Attribute adalah atribut
yang mempunyai nilai tunggal untuk setiap kejadian atau sebuah tipe entitas. MultiValued Attribute adalah atribut yang mempunyai beberapa nilai untuk setiap
kejadian atau sebuah tipe entitas.
3. Derived Attributes
M enurut Connolly dan Begg (2002, p340), Derived Attribute adalah atribut yang
memiliki nilai yang dihasilkan dari satu atau beberapa atribut lainnya, dan tidak
harus berasal dari entitas yang sama.
2.1.7.a
Keys
a. M enurut Connolly dan Begg (2002, p340), Candidate Key merupakan sejumlah kecil
atribut dari entitas yang mengidentifikasikan setiap kejadian dari entitas tersebut
secara unik.
b. M enurut Connolly dan Begg (2002, p341), Primary Key merupakan candidate key
yang dipilih untuk mengidetifikasikan setiap kejadian entitas secara unik.
c. M enurut Connolly dan Begg (2002, p341), Composite Key merupakan candidate key
yang terdiri dari dua atau lebih atribut.
19
d. M enurut Connolly dan Begg (2002, p341), Alternate Key adalah sebuah setiap
candidate key yang tidak terpilih menjadi primary key.
e. M enurut Connolly dan Begg (2002, p79), Foreign Key adalah sebuah atribut atau
sekumpulan atribut pada suatu relasi yang sama dengan candidate key dari beberapa
relasi lainnya.
2.1.7.b Structural Constraint
Berikut ini merupakan kendala yang dapat terjadi di dalam sebuah relationship, yaitu
sebagai berikut:
1.
Multiplicity
M enurut Connolly dan Begg (2002, p344), Multiplicity adalah sejumlah kejadian yang
mungkin terjadi pada sebuah tipe entitas yang berhubungan ke sebuah kejadian dari tipe
entitas lain pada suatu relationship. Derajat yang biasanya digunakan pada suatu
relationship adalah binary relationship, yang terdiri atas:
1. One-to-One (1:1) Relationship
2. One-to-Many (1:*) Relationship
3. Many-to-Many (*.*) Relatioship
Multiplicity sebenarnya terdiri atas dua constraint yang berbeda, yaitu:
a. M enurut Connolly dan Begg (2002, p351), Cardinality menggambarkan jumlah
maksimum dari kemungkinan batasan sebuah entitas yang ikut berpartisipasi dalam
sebuah relasi.
b. M enurut Connolly dan Begg (2002, p351), Participant menentukan apakah semua
atau beberapa entity occurance yang ikut serta dalam sebuah relationship.
20
2.1.8
Perancangan Basis Data (Database Design)
M enurut Connolly dan Begg (2002, p279), Perancangan Basis Data (Database Design)
merupakan proses menciptakan rancangan yang akan mendukung misi dan tujuan
perusahaan untuk kebutuhan sistem basis data. Pendekatan dalam perancangan basis
data, antara lain:
1. Bottom-Up
M enurut Connolly dan Begg (2002, p279), Pendekatan Bottom-Up dimulai dari
atribut dasar, dengan menganalisa hubungan antara atribut, yang dikelompokan ke
dalam suatu relasi yang merepresentasikan tipe entitas dan relationship antara
entitas-entitas.
2. Top-Down
M enurut Connolly dan Begg (2002, p279), Pendekatan Top-Down dimulai
pengembangan model data yang berisi beberapa entitas dan tingkat tinggi
relationship dan kemudian menggunakan pendekatan top-down secara berurutan
untuk mengidentifikasikan entitas tingkat rendah, relationship, dan atribut-atribut
yang berhubungan.
3. Inside-Out
M enurut Connolly dan Begg (2002, p280), Pendekatan Inside-Out berhubungan
dengan
pendekatan
bottom-up,
perbedaannya
adalah
pendekatan
ini
mengidentifikasikan sekumpulan entitas utama dan kemudian menyebar ke entitasentitas yang lain, hubungan-hubungan, dan atribut-atribut yang berkaitan dengan halhal yang sudah diidentifikasikan sebelumnya.
21
4. Mixed Strategy
M enurut
Connolly
dan
Begg (2002,
p280),
Pendekatan Mixed
Strategy
menggunakan pendekatan bottom-up dan top-down untuk bagian model yang
berbeda sebelum akhirnya menggabungkan semua bagian.
Dalam perancangan basis data terdapat tiga fase utama, yaitu: perancangan basis data
konseptual, perancangan basis data logikal, dan perancangan basis data fisikal.
2.1.8.a
Perancangan Basis Data Konseptual
M enurut Connolly dan Begg (2002, p419), Perancangan Basis Data Konseptual adalah
proses membangun sebuah model dari data yang digunakan di perusahaan, terlepas dari
semua pertimbangan-pertimbangan fisik.
M enurut Connolly dan Begg (2002, p422), langkah-langkah dalam perancangan basis
data konseptual adalah sebagai berikut:
Langkah 1 Membangun Model Data Konseptual
a. Langkah 1.1 Mengidentifikasi tipe-tipe entitas
Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi tipe-tipe entitas yang dibutuhkan.
b. Langkah 1.2 Mengidentifikasikan tipe-tipe relasi
Tujuannya adalah untuk mengidentifikasikan relationship penting yang ada di antara
tipe-tipe entitas yang telah diidentifikasikan.
c. Langkah 1.3 Mengidentifikasi dan menghubungkan atribut dengan tipe-tipe
entitas, atribut domain, primary key, dan candidate key
Tujuannya adalah untuk menghubungkan atribut dengan entitas atau tipe
relationship yang sesuai, untuk menentukan domain untuk atribut pada model data
22
konseptual dan untuk mengidentifikasikan candidate key untuk setiap tipe entitas
dan apabila ada lebih dari satu candidate key, pilih satu untuk dijadikan primary key.
d. Langkah 1.4 Mempertimbangkan untuk penggunaaan konsep pemodelan
enhanced (langkah pilihan)
Tujuannya adalah untuk mempertimbangkan penggunaan konsep enhanced
modeling, seperti spesialis, generalisasi, aggregation, dan composition.
e. Langkah 1.5 Mengecek redudansi pada model
Tujuannya adalah untuk memeriksa apabila ada redudansi pada model data. Pada
langkah ini, model data konseptual diuji untuk memeriksa apakah terdapat redudansi
dalam data dan memindahkannya jika ada. Pada tahap ini terdapat dua aktivitas,
yaitu:
1. M enguji ulang hubungan one-to-one (1:1) relationships
2. M enghilangkan hubungan yang berulang
f. Langkah 1.6 Memvalidasi model data konseptual lokal dengan transaksi
pengguna
Tujuannya adalah untuk memastikan model konseptual telah mendukung transaksi
yang dibutuhkan oleh perusahaan. Untuk memastikan bahwa model konseptual lokal
benar-benar mendukung transaksi dengan menggunakan dua macam pendekatan,
yaitu:
1. M endeskripsikan transaksi-transaksi
2. M enggunakan jalur-jalur transaksi
g. Langkah 1.7 Meninjau model konseptual lokal dengan pengguna
Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa model tersebut adalah sudah merupakan
representasi sebenarnya dari permintaan data oleh perusahaan.
23
2.1.8.b Perancangan Basis Data Logikal
M enurut Connolly dan Begg (2002, p419), Perancangan Basis Data Logikal adalah
proses membangun sebuah model dari data yang digunakan di perusahaan berdasarkan
pada sebuah model data yang spesifik, tetapi terlepas dari DBMS tertentu dan
pertimbangan-pertimbangan fisik lainnya.
M enurut Connolly dan Begg (2002, p442), langkah-langkah dalam perancangan bisnis
data logikal adalah sebagai berikut:
Langkah 2 Membangun dan Memvalidasi Model Data Logikal
a. Langkah 2.1 Menghilangkan fitur-fitur yang tidak sesuai dengan model
relasional
Tahap ini merupakan tahap penyesuaian dari model data konseptual lokal agar bisa
digunakan dengan lebih mudah oleh sistem. Pada tahap ini dilakukan aktifitas:
1. M enghilangkan relasi many-to-many (*.*)
2. M enghilangkan relasi rekursif many-to-many (*.*)
3. M enghilangkan relasi kompleks
4. M emindahkan atribut multi-valued
b. Langkah 2.2 Menurunkan relasi untuk model data logikal
Tujuannya adalah untuk membuat hubungan untuk model data logikal untuk
merepresentasikan entitas-entitas, relationship, dan atribut-atribut yang sudah
diidentifikasi.
24
c. Langkah 2.3 Memvalidasi relasi dengan normalisasi
Pada tahap ini, dilakukan validasi terhadap transaksi di model data lokal logikal
dengan menggunakan teknik normalisasi untuk mengembangkan model data
sehingga terhindar dari duplikasi data yang tidak diperlukan.
d. Langkah 2.4 Memvalidasi relasi melalui transaksi pengguna
Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa hubungan-hubungan dalam model data
logikal mendukung transaksi yang dibutuhkan oleh tampilan.
e. Langkah 2.5 Mendefinisikan integrity constraint
Integrity constraint adalah batasan-batasan yang digunakan untuk menjaga agar
basis data tidak menjadi inkonsisten. Ada lima tipe dari integrity constraint, yaitu:
1. Required Data
Beberapa atribut harus selalu berisi nilai yang benar (valid), tidak dapat bernilai
“NULL”.
2. Batasan Domain Atribut
Setiap atribut mempunyai domain sendiri, yaitu sekumpulan nilai yang sah untuk
suatu atribut.
3. Entity Integrity
Primary key dari sebuah entitas tidak boleh bernilai “NULL”. Setiap baris harus
mempunyai sebuah primary key.
4. Referential Integrity
Jika suatu foreign key memiliki nilai, maka nilai tersebut harus menunjukkan ke
sebuah baris yang ada pada relasi ‘parent’.
25
5. Enterprise Constraint
Aturan tambahan yang dibuat oleh pemakai atau seseorang administrator basis
data dari basis data tersebut.
f. Langkah 2.6 Meninjau model data logikal dengan pengguna
Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa model data logikal lokal dan
dokumentasi pendukung yang menggambarkan model merupakan perwakilan yang
benar dari pandangan pengguna.
Langkah 3 Membangun dan Memvalidasi Model Data Logikal dan Global
Tujuannya adalah untuk mengkombinasikan suatu individu model data logikal lokal ke
dalam suatu model yang menggambarkan suatu enterprise.
2.1.8.c
Perancangan Basis Data Fisikal
M enurut Connolly dan Begg (2002, p419), Perancangan Basis Data Fisikal adalah
proses untuk menghasilkan penjelasan dari pengimplementasian dari suatu basis data
pada penyimpanan kedua, juga menjelaskan relasi dasar, pengatur dokumen dan indeks
yang digunakan untuk mencapai akses data yang efisien, integrity constraint serta aman.
M enurut Connolly dan Begg (2002, p479), langkah-langkah dalam perancangan basis
data fisikal adalah sebagai berikut:
Langkah 4 Menerjemahkan Model Data Logikal Global Untuk DBMS Target
a. Langkah 4.1 Merancang relasi dasar
Tujuannya adalah untuk menentukan bagaimana representasi dari hubungan dasar
diidentifikasi dalam model data logikal dalam target DBMS.
26
b. Langkah 4.2 Merancang representasi dari data yang diturunkan
Tujuannya adalah untuk menentukan cara untuk merepresentasikan data yang
diturunkan yang ada dalam logikal global data model ke dalam target DBMS.
c. Langkah 4.3 Merancang enterprise con straint
Tujuannya adalah untuk mendesain batasan-batasan organisasi untuk target DBMS.
Perbaharuan terhadap relasi dibatasi oleh peraturan organisasi yang mengatur
transaksi ‘real world’ yang diwakili oleh pembaharuan tersebut.
Langkah 5 Merancang Representasi Fisikal
a. Langkah 5.1 Menganalisis transaksi
Tujuannya adalah untuk memahami fungsi dari transaksi yang diajalankan pada
basis data dan menganalisa transaksi-transaksi yang penting.
b. Langkah 5.2 Memilih organisasi file
Tujuannya adalah untuk menentukan organisasi file yang efisien untuk setiap relasi
dasar.
c. Langkah 5.3 Pemilihan indeks
Tujuannya adalah untuk menentukan apakah penambahan indeks akan meningkatkan
kerja sistem.
d. Langkah 5.4 Memperkirakan kebutuhan media penyimpanan
Tujuannya adalah untuk memperkirakan besarnya ruangan penyimpanan yang
dibutuhkan untuk mendukung implementasi basis data pada tempat penyimpanan
kedua.
27
Langkah 6 Perancangan User Views
Tujuannya adalah untuk merancang pandangan pengguna yang diidentifikasikan selama
tahap pengumpulan kebutuhan dan analisis pada siklus hidup aplikasi basis data.
Langkah 7 Perancangan Mekanisme Keamanan
Tujuannya adalah untuk merancang mekanisme keamanan atau keamanan untuk basis
data seperti yang telah diminta oleh pengguna pada tahapan awal siklus perkembangan
sistem basis data.
2.1.9
Normalisasi (Normalization)
M enurut Connolly dan Begg (2002, p376), Normalisasi (Normalization) adalah teknik
untuk memproduksi sekumpulan relasi dengan sifat yang diinginkan, dengan kebutuhan
data yang diberikan perusahaan.
M enurut Whitten (2004, p306), Normalisasi (Normalization) adalah teknik analisis data
yang mengelola data ke dalam kelompok-kelompok untuk membentuk entitas yang nonredudancy, stabil, fleksibel, dan adaptif.
M enurut Connolly dan Begg (2002, p387), Unnormalized Form (UNF) adalah suatu
tabel yang terdiri dari satu atau lebih repeating group. Repeating group adalah sebuah
atribut atau himpunan di dalam tabel yang memiliki lebih dari nilai (multiple value)
untuk sebuah primary key pada tabel tersebut. Berikut ini merupakan tahap tingkatan
normalisasi:
28
1. First Normal Form (1NF)
M enurut Connolly dan Begg (2002, p388), suatu relasi dikatakan 1NF jika titik temu
tiap baris dan kolom pada relasi tersebut mengandung satu dan hanya satu nilai.
Sebuah relasi akan berada dalam bentuk 1NF jika repeating group sudah hilang. Ada
dua pendekatan untuk menghilangkan repeating group pada tabel yang tidak normal
(unnormalized table), yaitu:
a. Dengan memasukkan data yang sesuai ke dalam kolom yang kosong dari basis
yang mengandung kata yang berulang.
b. Dengan menempatkan data yang berulang bersama salinan dari atribut kunci
pada relasi yang terpisah.
2. Second Normal Form (2NF)
M enurut Connolly dan Begg (2002, p392), relasi dikatakan 2NF jika relasi berada
pada 1NF dan setiap atribut yang bukan primary key bergantung sepenuhnya (full
functionally dependent) terhadap primary key. Full functional dependency terjadi
jika A dan B merupakan atribut dari suatu relasi, dan B dikatakan bergantung penuh
terhadap A (A→B), jika bergantung terhadap A, namun bukan subset dari A.
3. Third Normal Form (3NF)
M enurut Connolly dan Begg (2002, p394), suatu relasi dikatakan 3NF jika relasi
tersebut berada dalam bentuk 1NF dan 2NF, dan tidak ada atribut yang bukan
primary key bergantung secara transitif (transitively dependent) terhadap primary
key. Transitive dependency ialah sebuah kondisi dimana A, B, C merupakan atribut
dari relasi yang jika A→B dan B→C maka C disebut bergantung secara transitif
(transitively dependent) terhadap A melalui B (A tidak functionally dependent
terhadap B atau C).
29
4. Boyce Codd Normal Form (BCNF)
M enurut Connolly dan Begg (2002, p398), suatu relasi dikatakan BCNF, jika dan
hanya jika, setiap determinan adalah candidate key.
5. Fourth Normal Form (4NF)
M enurut Connolly dan Begg (2002, p408), 4NF adalah suatu relasi yang ada dalam
BCNF dan tidak berisi depedensi multi nilai trivial.
6. Fifth Normal Form (5NF)
M enurut Connolly dan Begg (2002, p410), 5NF adalah suatu relasi yang tidak
memiliki ketergantungan bergabung (join depedency). Untuk relasi R dengan
himpunan bagian dari atribut R dinotasikan sebagai A, B, …, Z, sebuah relasi
memenuhi join depedency jika, dan hanya jika setiap nilai R sama untuk bergabung
dengan proyeksi pada A, B, …, Z.
2.1.10 Siklus Hidup Aplikasi Basis Data (Database Application Lifecycle)
M enurut Connolly dan Begg (2002, p271), sebuah sistem basis data merupakan
komponen dasar sistem informasi organisasi yang lebih besar. Oleh karena itu, siklus
hidup aplikasi basis data bergantung dengan siklus hidup sistem informasi. Langkahlangkah siklus hidup aplikasi adalah sebagai berikut:
30
Gambar 2.1 S iklus Hidup Basis Data
1. Perencanaan Basis Data
M enurut Connolly dan Begg (2002, p273), Perencanaan Basis Data adalah mengelola
aktivitas yang mengizinkan tahap-tahap siklus hidup aplikasi basis data untuk
direalisasikan seefisien dan seefektif mungkin.
Kegiatan utama dari perencanaan basis data adalah merencanakan agar tingkat daur
hidup dapat menjadi efisien dan efektif. Hal pertama yang harus dilakukan adalah
31
menentukan tugas dari proyek basis data. Dengan tujuan untuk memperjelas maksud
dari proyek basis data yang dibutuhkan. Kemudian tahap selanjutnya adalah
mengidentifikasi sasaran dimana setiap sasaran harus mengenal tugasnya masing-masing
dan mendukung basis data.
2. Definisi Sistem
M enurut Connolly dan Begg (2002, p274), Sistem adalah gambaran lingkup dan
batasan-batasan dari aplikasi basis data dan tampilan pengguna yang utama. Sebelum
mencoba merancang suatu aplikasi basis data diperlukan untuk mengenali batasan
sistem dan bagaimana antarmuka dengan bagian sistem informasi lainnya dalam
organisasi. Hal penting yang harus diperhatikan adalah batasan pemakai dan aplikasi
mendatang. Basis data agar dapat memastikan tidak ada pemakaian utama yang
terlupakan ketika mengembangkan keperluan untuk aplikasi baru.
3. Pengumpulan dan Analisis Kebutuhan
M enurut Connolly dan Begg (2002, p276), Pengumpulan dan Analisis Kebutuhan adalah
proses dari analisis dan pengumpulan informasi tentang bagian organisasi yang
didukung oleh sistem aplikasi basis data dan menggunakan informasi ini untuk
mengenali kebutuhan-kebutuhan untuk sistem baru.
M enurut Connolly dan Begg (2005, p314), ada beberapa teknik atau cara mendapatkan
informasi ini, salah satunya adalah dengan teknik pengumpulan fakta. Pengumpulan
fakta adalah suatu proses resmi dalam menggunakan teknik-teknik seperti wawancara
atau kuisioner untuk mengumpulkan fakta-fakta tentang sistem dan kebutuhankebutuhannya.
32
4. Perancangan Basis Data
M enurut Connolly dan Begg (2002, p281), Perancangan Basis Data adalah proses
pembuatan sebuah rancangan untuk basis data yang mendukung operasi dan tujuan dari
perusahaan.
Tiga fase utama perancangan basis data, yaitu Perancangan Basis Data Konseptual,
Perancangan Basis Data Logikal, dan Perancangan Basis Data Fisikal.
5. Seleksi DBMS
M enurut Connolly dan Begg (2002, p284), Seleksi DBMS adalah menseleksi DBMS
yang tepat untuk mendukung aplikasi basis data. Seleksi DBMS dilakukan antara
tahapan perancangan basis data logikal dan perancangan basis data fisikal. Tujuannya
untuk kecukupan sekarang dan kebutuhan masa mendatang pada organisasi, membuat
keseimbangan biaya termasuk pembelian produk DBMS, piranti lunak untuk mendukung
aplikasi basis data, biaya yang berhubungan dengan perubahan dan pelatihan karyawan.
6. Perancangan Aplikasi
M enurut Connolly dan Begg (2002, p287), Perancangan Aplikasi adalah merancang
antarmuka pemakai dan program aplikasi, yang akan memproses basis data perancangan
basis data dan aplikasi merupakan aktivitas yang dilakukan secara bersamaan pada
siklus hidup aplikasi basis data.
7. Prototyping
M enurut Connolly dan Begg (2002, p291), Prototyping adalah membuat model kerja
dari aplikasi basis data, yang memungkinkan perancangan atau pemakai untuk
mengevaluasi hasil akhir sistem, baik dari segi tampilan maupun fungsi yang dimiliki
33
sistem. Tujuannya adalah untuk memungkinkan pemakai mengunakan prototipe untuk
mengidentifikasikan fitur-fitur sistem berjalan dengan baik atau tidak, dan bila
memungkinkan untuk menyarankan peningkatan atau bahkan penambahan fitur-fitur
baru ke dalam sistem basis data.
8. Implementasi
M enurut Connolly dan Begg (2002, p292), Implementasi adalah realisasi fisik suatu
basis data dan perancangan aplikasi. Implementasi basis data dapat dicapai
menggunakan Data Definition Languange (DDL) dari DBMS yang dipilih atau
Graphical User Interface (GUI).
Pernyataan DDL digunakan untuk menciptakan struktur-struktur basis data dan file-file
basis data yang kosong. Semua spesifikasi tampilan pengguna juga diimplementasikan
pada tahap ini.
9. Data Conversion and Loading
M enurut Connolly dan Begg (2002, p292), Data Conversion and Loading adalah suatu
proses mentransfer data yang ada ke dalam basis data baru dan mengubah aplikasi yang
ada untuk dijalankan dalam basis data baru. Tahap ini hanya dibutuhkan ketika sistem
basis data baru menggantikan sistem yang lama.
10. Pengujian
M enurut Connolly dan Begg (2002, p293), Pengujian adalah suatu proses mengeksekusi
sistem basis data dengan tujuan menemukan kesalahan.
34
11. Operasional dan Pemeliharaan
M enurut Connolly dan Begg (2002, p293), Operasional dan Pemeliharaan adalah proses
memonitor dan memelihara sistem yang telah diinstal.
2.1.11 Diagram Konteks (Context Diagram)
M enurut Whitten, et al (2004, p351), Diagram Konteks (Context Diagram) adalah model
proses untuk mendokumentasikan lingkup sistem atau bisa disebut juga sebagai model
lingkungan.
2.1.12 Diagram Nol (Zero Diagram)
M enurut Bambang Wahyudi (2010), Diagram Nol (Zero Diagram) merupakan proses
penjabaran yang lebih rinci dari diagram konteks. Pada diagram nol ini yang
berkembang hanya proses dan alur data yang menghubungkan proses-prosesnya,
sedangkan jumlah terminator dan alur data yang masuk atau keluar dari terminator tetap.
2.2
Teori-Teori Khusus
Berikut ini merupakan teori-teori khusus yang berkaitan dari topik skripsi kami meliputi
M anajemen, Rumah Sakit, Klinik serta alat bantu (tools) yang digunakan seperti
Diagram Aliran Dokumen (DAD), State Transition Diagram (STD), M icrosoft SQL
Server 2005, dan M icrosoft Visual Basic yang secara ringkas akan dijelaskan sebagai
berikut:
35
2.2.1
Manajemen
M enurut Robbins dan Coulter (2007, p8), M anajemen adalah proses mengoordinasikan
aktivitas-aktivitas kerja sehingga dapat selesai secara efisien dan efektif dengan dan
melalui orang lain.
M enurut Robbins dan Coulter (2007, p9), fungsi dasar dan paling penting dalam
manajemen yaitu:
1. M erencanakan, yang mencakup proses:
a. merumuskan sasaran
b. membangun strategi untuk mencapai sasaran tersebut
c. dan mengembangkan rencana guna memadukan dan mengoordinasikan sejumlah
aktivitas
2. M engorganisasi, yang mencakup proses menentukan:
a. tugas apa yang harus dikerjakan.
b. siapa yang harus mengerjakannya
c. bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan
d. siapa melapor kepasa siapa
e. dan pada tingkatan mana keputusan harus diambil
3. M emimpin, yang mencakup proses:
a. memotivasi bawahannya
b. memengaruhi individu atau tim sewaktu mereka bekerja
c. memilih saluran komunikasi yang paling efektif
d. menyelesaikan masalah perilaku karyawan dengan cara apapun
4. M engendalikan, yang mencakup proses:
36
a. memantau
b. memperbandingkan
c. mengoreksi
M enurut Henry M intzberg (2007, p11), peran manajemen dikelompokkan sebagai
berikut:
a. Peran antarpribadi adalah peran yang melibatkan orang dan kewajiban lain yang
bersifat seremonial dan simbolis.
b. Peran
informasional
adalah
peran
yang menerima,
mengumpulkan,
dan
menyebarkan informasi.
c. Peran pengambilan keputusan adalah peran yang membuat pilihan.
M enurut Whitten, et al (2007, p332), rencana manajemen meliputi rencana operasi, yang
berfokus pada struktur organisasi, produksi, dan sumber daya manusia.
2.2.2
Teori Penjualan
M enurut Pederson, et al (1988, p8), Penjualan adalah proses mendorong dan membantu
calon pelanggan untuk membeli barang atau jasa atau untuk bertindak baik pada sebuah
ide yang memiliki arti penting komersial untuk penjual.
M enurut M ulyadi (2001, p202), kegiatan penjualan terdiri dari transaksi penjualan
barang atau jasa baik secara kredit maupun tunai. Penjualan menurut cara
pembayarannya dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Penjualan tunai, yaitu penjualan yang dilaksanakan oleh perusahaan dengan catatan
mewajibkan pembeli dengan melakukan pembayaran harga barang terlebih dahulu
sebelum barang diserahkan kepada pembeli.
37
b. Penjualan kredit, yaitu penjualan yang dilakukan dengan cara memenuhi order dari
pelanggan dengan mengirimkan barang atau menyerahkan jasa dan untuk jangka
waktu tertentu perusahaan memiliki piutang pelanggannya.
2.2.3
Teori Pembelian
M enurut M ulyadi (2001, p301), Transaksi pembelian dapat digolongkan menjadi dua:
pembelian lokal dan impor. Pembelian lokal adalah pembelian dari pemasok dalam
negeri, sedangkan impor adalah pembelian dari pemasok luar negeri.
M enurut M ulyadi (2001, p337), Retur pembelian digunakan untuk melaksanakan
transaksi pengembalian barang karena barang tidak cocok dengan spesifikasi yang
tercantum dalam surat order pembelian, barang mengalami kerusakan dalam pengiriman,
atau barang diterima melewati tanggal pengiriman yang dijanjikan oleh pemasok. Sistem
retur pembelian digunakan dalam perusahaan untuk pengembalian barang yang sudah
dibeli kepada pemasoknya.
2.2.4
Definisi Rumah S akit
Definisi
rumah
sakit
menurut
Keputusan
M enteri
Republik
Indonesia
No.983.M ENKES/SK/1992 mengenai pedoman rumah sakit umum dinyatakan bahwa
Rumah Sakit Umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan yang
bersifat dasar, spesialistik dan pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan.
M enurut Siregar (2003), menyatakan bahwa rumah sakit adalah suatu organisasi yang
kompleks, menggunakan gabungan ilmiah khusus dan rumit, dan difungsikan oleh
berbagai kesatuan personel terlatih dan terdidik dalam menghadapi dan menangani
38
masalah medis modern, yang semuanya terikat bersama-sama dalam maksud yang sama,
untuk pemulihan dan pemeliharaan kesehatan yang baik.
Pengelompokan rumah sakit berdasarkan perbedaan tingkat kemampuan pelayanan
kesehatan yang dapat disediakan. Berdasarkan M enteri Kesehatan Republik Indonesia
No.983.M enkes/SK/1992 tentang pedoman rumah sakit umum menyebutkan bahwa
rumah sakit pemerintah pusat dan daerah diklasifikasikan menjadi rumah sakit umum
tipe A, B, C, dan D. Klasifikasi tersebut didasarkan pada unsur pelayanan yang dimiliki.
Klasifikasi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Rumah Sakit Umum Kelas A adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas
dan kemampuan pelayanan medis spesialistik luas dan sub spesialistik luas.
b. Rumah Sakit Umum Kelas B adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas
dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 11 spesialistik dan sub
spesialistik terbatas.
c. Rumah Sakit Umum Kelas C adalah rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan pelayanan medis spesialistik dasar.
d. Rumah Sakit Umum Kelas D adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas
dan kemampuan pelayanan medik dasar.
Dalam Abdullah (2007), memaparkan bahwa fungsi rumah sakit adalah sebagai berikut:
a. M emberikan pelayanan medis.
b. M enyelenggarakan pelayanan penunjang medis dan non medis.
c. M enyelenggarakan pelayanan dan asuhan keperawatan.
d. M enyelenggarakan pelayanan rujukan.
e. M enyelenggarakan pendidikan dan pelatihan.
39
f. M enyelenggarakan penelitian dan pengembangan.
g. M enyelenggarakan administrasi umum.
2.2.5
Pengertian Klinik
M enurut Soethama, et al. (2004), mengatakan bahwa kata klinik berasal dari bahasa
Perancis yang mengandung arti sebagai tempat praktek pengobatan. Sedangkan menurut
versi Yunani “Klinikos” atau “Kline” yang berarti tempat tidur. Klinik juga dapat
diartikan sebagai tempat bersandar atau berbaring bagi pasien untuk memperoleh
pelayanan kesehatan.
2.2.6
Teori Rekam Medis
M enurut Permenkes No.749a/PerM enkes/XII/1989, Rekam M edis adalah berkas yang
berisi catatan dan dokumen mengenai identitas pasien, basil pemeriksaan, pengobatan,
tindakan dan pelayanan lainnya yang diterima pasien pada sarana kesehatan, baik rawat
jalan maupun rawat inap.
M enurut Waters dan M urphy (2007), Rekam M edis adalah kompendium (ikhtisar) yang
berisi informasi tentang keadaan pasien selama perawatan atau selama pemeliharaan
kesehatan. Isi rekam medis meliputi:
1. Catatan, merupakan uraian tentang identitas pasien, pemeriksaan pasien, diagnosis,
pengobatan, tindakan dan pelayanan lain baik dilakukan oleh dokter dan dokter gigi
maupun tenaga kesehatan lainnya sesuai dengan kompetensinya.
2. Dokumen, merupakan kelengkapan dari catatan tersebut, antara lain foto rontgen,
hasil laboratorium dan keterangan lain sesuai dengan kompetensi keilmuannya.
40
Penyelenggaraan rekam medis pada suatu sarana pelayanan kesehatan merupakan salah
satu indikator mutu pelayanan pada institusi tersebut. Berdasarkan data pada rekam
medis tersebut akan dapat dinilai apakah pelayanan yang diberikan sudah cukup baik
mutunya atau tidak, serta apakah sudah sesuai standar atau tidak. Untuk itulah, maka
pemerintah, dalam hal ini Departemen Kesehatan merasa perlu mengatur tata cara
penyelenggaraan rekam medis dalam suatu peraturan menteri kesehatan agar jelas
rambu-rambunya, yaitu berupa Permenkes No.749a/PerM enkes/XII/1989.
Secara garis besar penyelenggaraan rekam medis dalam Permenkes tersebut diatur
sebagai berikut:
a. Rekam M edis harus segera dibuat dan dilengkapi seluruhnya setelah pasien
menerima pelayanan (pasal 4). Hal ini dimaksudkan agar data yang dicatat masih
original dan tidak ada yang terlupakan karena adanya tenggang waktu.
b. Setiap pencatatan Rekam M edis harus dibubuhi nama dan tanda tangan petugas
pelayanan
kesehatan.
Hal
ini
diperlukan
untuk
memudahkan
sistem
pertanggungjawaban atas pencatatan tersebut (pasal 5).
Permenkes No.749a tahun 1989 menyebutkan bahwa rekam medis memiliki lima
manfaat, yaitu:
1. Sebagai dasar pemeliharaan kesehatan dan pengobatan pasien
2. Sebagai bahan pembuktian dalam perkara hukum
3. Bahan untuk kepentingan penelitian
4. Sebagai dasar pembayaran biaya pelayanan kesehatan dan
5. Sebagai bahan untuk menyiapkan statistik kesehatan
41
2.2.7
Diagram Aliran Dokumen (DAD)
M enurut Bodnar (2001, p34), Diagram Aliran Dokumen (DAD) merupakan suatu
diagram aliran simbolik yang menunjukkan aliran data dan urutan operasi dalam suatu
sistem.
M enurut M ulyadi (2001, p60), bagan alir dokumen (document flow chart) digunakan
untuk menggambarkan aliran dokumen dalam sistem tertentu. Simbol-simbol yang
digunakan dalam bagan aliran dokumen, yaitu:
Tabel 2.1 Simbol-simbol dalam Bagan Aliran Dokumen
Simbol
Nama
Dokumen
Keterangan
Digunakan untuk menggambarkan semua
jenis dokumen yang merupakan formulir
yang digunakan untuk merekam data
terjadinya suatu transaksi.
Dokumen dan
Digunakan
untuk
menggambarkan
tembusannya
dokumen asli dan tembusannya. Nomor
lembar dokumen dicantumkan disudut
kiri atas.
Berbagai
Digunakan
dokumen
berbagai
untuk
jenis
menggambarkan
dokumen
yang
digabungkan bersama di dalam suatu
paket. Nama dokumen dituliskan di
dalam masing-masing simbol dan nomor
lembar dokumen dicantumkan di sudut
42
kanan
atas
simbol
dokumen
yang
untuk
menggambarkan
bersangkutan.
Catatan
Digunakan
catatan akutansi yang digunakan untuk
mencatat data yang direkam sebelumnya
di dalam dokumen atau formulir.
Penghubung
Dalam menggambarkan bagan alir, arus
pada halaman dokumen dibuat mengalir dari atas ke
yang sama
bawah dan dari kiri ke kanan. Karena
keterbatasam ruang halaman kertas untuk
menggambar maka diperlukan simbol
penghubung untuk memungkinkan aliran
dokumen berhenti di suatu lokasi lain
pada halaman yang sama.
Penghubung
Jika untuk menggambarkan bagan alir
pada halaman suatu sistem akutansi diperlukan lebih
yang beda
dari satu halaman, simbol ini harus
digunakan untuk menunjukan ke mana
dan bagaimana bagan alir terkait satu
dengan lainnya.
Kegiatan
Digunakan
untuk
manual
kegiatan manual.
menggambarkan
43
Arsip
Digunakan untuk menggambarakan arsip
sementara
sementara yang dokumennya akan di
ambil kembali dari arsip tersebut di masa
yang akan
dating untuk
pengolahan
lebih
keperluan
lanjut
terhadap
dokumen tersebut. Untuk menunjukkan
urutan pengarsipan dokumen digunakan
simbol berikut ini:
A = menurut abjad
N = menurut nomor urtu
T = kronologis, menurut tanggal
Arsip
Digunakan untuk menggambarkan arsip
permanen
permanen yang tidak akan diproses lagi.
M ulai/berakhir Simbol ini untuk menggambarkan awal
Ya
(terminal)
dan akhir suatu sistem akutansi.
Keputusan
Simbol ini menggambarkan keputusan
yang
Tidak
2.2.8
harus
dibuat
dalam
proses
pengolahan data.
State Transition Diagram (STD)
M enurut Whitten (2004, p636), State Transition Diagram (STD) adalah alat yang
digunakan untuk menggambarkan urutan dan variasi layar yang dapat terjadi selama satu
sesi pengguna.
44
Dua macam simbol yang menggambarkan proses dalam State Transition Diagram
(STD), yaitu:
1. State, digambarkan dengan gambar persegi panjang yang menunjukkan state dari
sistem.
Gambar 2.2 Simbol State dalam STD
2. Transition, digambarkan dengan gambar panah yang menunjukkan transisi antar
state. Tiap panah diberi label dengan ekspresi aturan. Label yang di atas
menunjukkan kejadian yang menyebabkan transisi yang terjadi. Label yang di bawah
menunjukkan aksi yang terjadi akibat dari kejadian tadi.
Gambar 2.3 Simbol Transisi dalam STD
2.2.9
Perancangan Antarmuka Pengguna / Layar
M enurut Shneiderman (1998, p8), interaksi manusia dengan komputer adalah ilmu yang
berhubungan dengan perancangan, evaluasi dam implementasi sistem komputer interaksi
untuk digunakan manusia, serta studi fenomena besar yang berhubungan dengannya.
M enurut Shneiderman (1998, p74), dalam merancang antarmuka pemakai (user
interface), perlu menggunakan delapan aturan emas yang terdiri dari:
1. Berusaha konsisten.
2. M emungkinkan frequent user menggunakan shortcut.
3. M emberikan umpan balik yang informatif.
45
4. M erancang dialog untuk menghasilkan keadaan akhir.
5. M emberikan pencegahan kesalahan dan penanganan kesalahan yang sederhana.
6. M emungkinkan pembalikan aksi (undo) yang mudah.
7. M endukung internal locus of control.
8. M engurangi beban ingatan jangka pendek.
M enurut ACM SIGCHI, Interaksi M anusia dan Komputer (IM K) atau Human-Computer
Interaction (HCI) adalah disiplin ilmu yang berhubungan dengan perancangan, evaluasi,
dan implementasi sistem komputer interaktif untuk digunakan oleh manusia, serta studi
fenomena-fenomena besar yang berhubungan dengannya.
2.2.10 Microsoft SQL Server 2005
M enurut M artin Gruber (2000, p20), SQL adalah sebuah bahasa berorientasi khusus di
sekitar basis data relasional. Hal ini meringankan pekerjaan yang harus dilakukan jika
menggunakan bahasa pemograman umum, seperti C. Untuk membangun sebuah basis
data relasional di C, harus dimulai dari mendefinisikan obyek yang disebut tabel yang
bisa berkembang untuk memiliki jumlah baris, dan kemudian membuat prosedur untuk
menempatkan nilai-nilai didalamnya. Berikut in merupakan langkah-langkah dalam
mencari data yang tersimpan didalam SQL adalah sebagai berikut:
1. M elihat sebuah baris tabel.
2. Lakukan tes untuk melihat apakah ini adalah salah satu baris yang diinginkan.
3. Jika demikian, simpan di suatu tempat sampai seluruh tabel diperiksa.
4. Lihat apakah ada lagi baris dalam tabel.
5. Jika ada beberapa baris, kembali ke langkah 1.
46
6. Jika tidak ada baris lagi, output semua nilai yang tersimpan dalam langkah 3.
Bagaimanapun SQL merupakan suku cadang semua ini. Perintah dalam SQL dapat
beroperasi pada seluruh tabel sebagai obyek tunggal dan dapat memperlakukan setiap
kuantitas informasi diambil atau berasal dari data sebagai unit tunggal.
M enurut Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/M icrosoft_SQL_Server, 7 Oktober
2010), M icrosoft SQL Server adalah sebuah sistem manajemen basis data relasional
produk M icrosoft. Bahasa kueri utamanya adalah Transact-SQL yang merupakan
implementasi dari SQL standar ANSI/ISO yang digunakan oleh M icrosoft dan Sybase.
Umumnya SQL Server digunakan di dunia bisnis yang memiliki basis data berskala
kecil sampai dengan menengah, tetapi kemudian berkembang dengan digunakannya
SQL Server pada basis data besar.
M icrosoft SQL Server dan Sybase/ASE dapat berkomunikasi lewat jaringan dengan
menggunakan protocol Tabular Data Stream (TDS). Selain dari itu, M icrosoft SQL
Server juga mendukung Open Database Connectivity (ODBC), dan mempunyai driver
JDBC untuk bahasa pemrograman Java. Fitur yang lain dari SQL Server ini adalah
kemampuannya untuk membuat basis data mirroring dan clustering.
M enurut Connolly dan Begg (2002, p111), idealnya sebuah bahasa basis data harus
membolehkan pengguna untuk:
a. M enciptakan basis data dan struktur relasi.
b. M engerjakan tugas-tugas dasar manajemen data seperti penempatan, modifikasi, dan
penghapusan data dari relasi.
c. M engerjakan kueri yang sederhana dan kompleks.
47
Bahasa basis data harus mengerjakan tugas-tugas ini dengan usaha pengguna yang
minimal, serta struktur perintah dan sintaknya harus mudah dipelajari, juga harus
portabel, yaitu harus sesuai dengan standar yang ada sehingga dapat menggunakan
struktur perintah dan sintaks yang sama ketika memindah DBMS satu ke DBMS lainnya
dan SQL memenuhi persyaratan ini.
SQL merupakan transform oriented language dengan dua komponen utama yaitu DDL
untuk definisi struktur basis data dan DML untuk pengambilan dan perubahan data.
2.2.11 Microsoft Visual Basic
M enurut Jung David (1999, p11), Visual Basic adalah salah satu alat pertama yang
membawa komponen drag dan drop ke Windows pengembangan aplikasi. Sebelum
Visual Basic, harus menggambar formulir anda benar-benar dalam kode. Anda tidak
memiliki gagasan tentang apa Windows formulir anda akan terlihat seperti sampai anda
mengkompilasi dan menjalankan itu dan mengubah tata letak itu sangat membosankan.
Dengan Visual Basic, anda dapat membangun prototipe aplikasi anda dalam hitungan
jam bukan hari. Anda tidak lagi harus fasih dalam M icrosoft Windows Software
Development Kit untuk membuat aplikasi untuk Windows. Visual Basic sering disebut
sebagai alat Rapid Application Development (RAD).
M enurut Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Visual_Basic, 7 Oktober 2010),
M icrosoft Visual Basic atau sering disingkat sebagai VB merupakan sebuah bahasa
pemrograman yang menawarkan Integrated Development Environment (IDE) visual
untuk membuat program perangkat lunak berbasis sistem operasi M icrosoft Windows
dengan menggunakan model pemrograman. Visual Basic merupakan turunan bahasa
48
pemrograman BASIC dan menawarkan pengembangan perangkat lunak komputer
berbasis grafik dengan cepat, akses ke basis data menggunakan Data Access Objects
(DAO), Remote Data Objects (RDO), atau ActiveX Data Object (ADO), serta
menawarkan control ActiveX dan objek ActiveK. Beberapa bahasa skrip seperti Visual
Basic for Applications (VBA) dan Visual Basic Scripting Edition (VBScript), mirip
seperti halnya Visual Basic, tetapi cara kerjanya yang berbeda.
M enurut M uhammad Sadeli (2008, p2), Visual Basic 2005 merupakan suatu program
yang digunakan untuk mengembangkan dan membangun aplikasi yang bergerak di atas
sistem .Net Framework.
Download