PERANAN SEKTOR KEHUTANAN DALAM SISTEM

advertisement
PERANAN SEKTOR KEHUTANAN DALAM SISTEM PEREKONOMIAN
PROVINSI SUMATERA BARAT1)
Oleh :
Nur Arifatul Ulya2)
ABSTRAK
Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Pulau Sumatera yang
memiliki kawasan hutan cukup luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
peranan sektor kehutanan dalam perekonomian dan kontribusinya dalam
pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Barat. Metode Location Quotient (LQ)
digunakan untuk menentukan peranan sektor kehutanan Provinsi Sumatera Barat.
Sektor kehutanan berperan sebagai sektor basis dalam perekonomian Provinsi
Sumatera Barat, di mana sektor kehutanan selalu memberikan kontribusi bagi
pertumbuhan ekonomi provinsi Sumatera Barat. Oleh karena itu perlu optimalisasi
pengelolaan kawasan dan hasil hutan.
Kata kunci :Sektor kehutanan, kontribusi, Location Quotient, peranan dalam
perekonomian
I.
PENDAHULUAN
Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Pulau Sumatera
yang memiliki kawasan hutan cukup luas. Berdasarkan data Kanwil Badan
Pertanahan Nasional (BPN) Sumatera Barat tahun 2004 diketahui bahwa luas
kawasan hutan di Provinsi Sumatera Barat mencapai 851.507 hektar atau 36,46 %
dari luas Provinsi Sumatera Barat.
Provinsi Sumatera Barat dilalui oleh Bukit Barisan mengakibatkan sangat
bervariasinya topografi wilayah Sumatera Barat mulai dari datar, berbukit, lembah,
dan bergunung, di mana daerah yang mempunyai kelerengan di atas 40 % tercatat
sekitar 1.691.892 ha (30 %) dari total luas wilayah daerah. Hal ini berdampak
pada luasnya kawasan lindung di Provinsi Sumatera Barat, sehingga harus dijaga
dan dilestarikan keberadaannya agar masyarakat terhindar dari berbagai peristiwa
alam yang merugikan. Meskipun sebagai provinsi yang agraris, sektor kehutanan
sangat menentukan dan memberikan kontribusi bagi perekonomian provinsi.
Tercatat hasil hutan seperti kayu bulat, kayu gergajian, kulit kayu, getah pinus,
rotan, damar, sarang burung, dan lain-lain mampu memberikan hasil secara
kontinu dari tahun ke tahun.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan sektor kehutanan dalam
perekonomian Provinsi Sumatera Barat dan kontribusi pertumbuhan ekonomi
sektor kehutanan di Provinsi Sumatera Barat. Dengan diketahuinya peranan sektor
kehutanan dan kontribusi ekonomi sektor kehutanan di Provinsi Sumatera Barat,
diharapkan dapat ditentukan strategi pembangunan daerah yang dapat ditunjang
dari upaya pengelolaan hutan yang optimal.
1
Makalah Penunjang pada Ekspose Hasil-hasil Penelitian : Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya
Hutan. Padang, 20 September 2006
2
Peneliti pada Balai Litbang Hutan Tanaman Palembang
Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian, 2007
II. METODE PENELITIAN
Peranan sektor kehutanan dalam perekonomian Provinsi Sumatera Barat
dilakukan dengan pendekatan Economic Base Model. Dengan pendekatan ini
aktivitas perekonomian dalam suatu wilayah digolongkan dalam dua sektor
kegiatan, yaitu aktivitas basis dan non basis. Kegiatan basis merupakan kegiatan
yang melakukan aktivitas yang berorientasi ekspor barang dan jasa ke luar batas
wilayah perekonomian. Kegiatan non basis adalah kegiatan yang menyediakan
barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat yang berada di dalam wilayah
perekonomian yang bersangkutan. Aktivitas basis berperan sebagai penggerak
utama perekonomian suatu wilayah. Semakin besar ekspor suatu wilayah ke
wilayah lain maka akan semain maju pertumbuhan wilayah tersebut.
Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi peranan sektor kehutanan
dalam perekonomian Provinsi Sumatera Barat adalah metode Location Quotient
(LQ). Metode LQ banyak digunakan untuk membahas kondisi perekonomian suatu
wilayah yang mengarah pada identifikasi spesialisasi kegiatan perekonomian.
Atau dengan kata lain untuk mengukur konsentrasi relatif kegiatan ekonomi untuk
mendapatkan gambaran penetapan sektor unggulan sebagai leading sector
perekonomian suatu wilayah (Adisasmita, 2006). Formula matematis dari LQ
adalah :
v /V
LQ = i i
vt/Vt
Di mana :
vi = jumlah PDRB sektor i tingkat provinsi
Vi = jumlah PDRB seluruh sektor tingkat provinsi
vt = jumlah PDB sektor i tingkat nasional
Vt = jumlah PDB seluruh sektor tingkat nasional
Berdasarkan hasil perhitungan LQ dapat dianalisis dan disimpulkan bahwa :
Jika nilai LQ lebih besar dari 1, suatu sektor merupakan sektor basis
Jika nilai LQ lebih kecil dari 1, suatu sektor merupakan sektor non-basis
Jika nilai LQ sama dengan 1, suatu sektor merupakan sektor non-basis.
Data Product Domestic Regional Bruto (PDRB) yang digunakan adalah PDRB
Provinsi Sumatera Barat dari tahun 2000 sampai 2003 harga konstan tahun1993
yang bersumber dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat. Data Product
Domestic Bruto (PDB) yang digunakan adalah PDB Indonesia tahun 2000 sampai
tahun 2003 yang bersumber dari Statistik Indonesia tahun 2003 yang diterbitkan
oleh Badan Pusat Statistik Indonesia. Dari data PDRB dan PDB tersebut, sektor
yang dikaji peranannya adalah sektor kehutanan. Data PDRB total dan PDB total
yang digunakan adalah total PDRB dan PDB tanpa migas, karena Provinsi
Sumatera Barat tidak memiliki industri migas.
Nilai kontribusi pertumbuhan ekonomi sektor kehutanan di Provinsi Sumatera
Barat, digunakan analisis defferential shift (D) dengan formula Blakely (1994)
dalam Kusumadijaya dan Nuitja (2002) yaitu :
D = (git - Git)
o
o
o
Di mana :
D = defferential shift
git = pertumbuhan ekonomi sektor i di suatu daerah pada tahun t
Git = pertumbuhan ekonomi sektor i di daerah yang lebih besar pada tahun t
146
Peranan Sektor Kehutanan dalam Sistem Perekonomian … (Nur Arifatul Ulya)
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Kondisi Geografis Sumatera Barat
Provinsi Sumatera Barat terletak pada kedudukan 0054’ Lintang Utara sampai
dengan 30 30’ Lintang Selatan serta 98036’ sampai dengan 1010 53’ Bujur Timur
dengan luas total wilayah sekitar 42.297,21 km2 atau 4.229.721 hektar. Provinsi
Sumatera Barat meliputi areal daratan seluas ± 42.297 km2 termasuk ± 375 pulau
besar dan kecil di sekitarnya dan lautan yang berbatasan dalam jarak 12 mil dari
garis pantai ke arah laut lepas.
Posisi Provinsi Sumatera Barat yang dilewati oleh Bukit Barisan
mengakibatkan topografi wilayah Sumatera Barat sangat bervariasi. Secara umum
topografinya mulai dari datar, berbukit, lembah, dan bergunung, di mana daerah
yang mempunyai kelerengan di atas 40 % tercatat sekitar 1.691.892 ha (30 %) dari
total luas wilayah daerah.
Suhu rata-rata di pantai barat berkisar antara 21°C-38°C, pada daerah-daerah
perbukitan berkisar antara 15°C-34°C, sedangkan pada daerah dataran di sebelah
timur Bukit Barisan mempunyai suhu antara 190°C-34°C. Meskipun umumnya
musim kemarau jatuh pada bulan April-Agustus dan musim hujan jatuh pada bulan
September-Maret, namun di pantai barat masih sering terjadi hujan pada bulanbulan di musim kemarau (Badan Perencanaan Pembangunan Provinsi Sumatera
Barat, 2006).
2. Potensi Lahan di Sumatera Barat
Wilayah Sumatera Barat dengan kelerengan di atas 40% tercatat sekitar
1.691.892 hektar (30%) dari total luas wilayah daerah. Kondisi ini menyebabkan
dari 4.229.70 hektar lahan yang tersedia, maksimal hanya sekitar 2.335.687 hektar
(55,2%) yang dapat dibudidayakan, sedangkan sisanya seluas 1.894.043 hektar
(44,8%) merupakan kawasan lindung yang harus dijaga dan dilestarikan
keberadaannya agar masyarakat terhindar dari berbagai peristiwa alam yang
merugikan (Badan Perencanaan Pembangunan Provinsi Sumatera Barat, 2006).
Dari segi penggunaan lahan dan kawasan budidaya, hutan merupakan bagian
terbesar (851.507 hektar atau 36,46%) yang sebagian dapat dibudidayakan di
Sumatera Barat dengan hasil utama kayu bulat dan kayu olahan. Luas kawasan
budidaya menurut jenis penggunaannya disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Luas kawasan budidaya menurut jenis penggunaan tanah di Sumatera Barat tahun 2004
No.
Jenis penggunaan tanah
Luas (ha)
Luas (%)
1
Kampung/Pemukiman
106.725
4,57
2
Sawah irigasi dan non irigasi
266.584
11,41
3
Industri/Perusahaan
2.900
0,12
4
Pertambangan
1.114
0,05
5
Tanah kering
72.835
3,12
6
Perkebunan
591.680
25,33
7
Hutan
851.507
36,46
8
Semak belukar, alang-alang
224.759
9,62
9
Padang rumput
104.273
4,46
10
Danau, rawa, sungai, dan lain-lain
96.375
4,13
11
Kolam, tambak, situ
16.935
0,73
Jumlah
23.35.687
100,00
Sumber : Kanwil Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sumatera Barat dalam Badan Perencanaan Pembangunan Provins
Sumatera Barat, 2006.
147
Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian, 2007
3.
Potensi Kawasan Hutan di Sumatera Barat
Sesuai dengan Peta Hasil Pemaduserasian antara Tata Guna Hutan
Kesepakatan dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Barat, luas
kawasan hutan di wilayah Provinsi Sumatera Barat adalah 2.600.286 hektar.
Kawasan hutan tersebut dibagi menjadi :
o Hutan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam (KSA/KPA) seluas
846.178 ha
o Hutan Lindung (HL) seluas 910.533 ha
o Hutan Produksi (HP) seluas 246.383 ha
o Hutan Produksi Yang Dapat Dikonversi (HPK) seluas 189.346 ha.
Dengan demikian, dari seluruh wilayah Provinsi Sumatera Barat seluas
4.229.760 ha sebesar 61,51% merupakan kawasan hutan yang terdiri dari hutan
tetap (KSA/KPA, HL, HPT, dan HP) seluas 2.410.940 ha dan hutan produksi yang
dapat dikonversi seluas 189.346 ha, serta sisanya merupakan areal penggunaan
lain (APL) seluas 1.629.444 ha (38,49%).
Selama periode 1996 sampai 2000 telah terjadi penyusutan luas areal hutan
yang sangat signifikan dalam jumlah seluas 1.207.073 hektar. Terjadinya alih
fungsi hutan ini teridentifikasi cukup signifikan di Kabupaten Pasaman dan
Kabupaten Kepulauan Mentawai. Alih fungsi yang terjadi pada daerah itu adalah
hutan produksi menjadi perkebunan. Selain itu terjadi penurunan kualitas hutan,
baik hutan produksi, konservasi, maupun hutan lindung. Dari indikator
keanekaragaman jenis flora dan fauna dan indikator struktur komunitasnya, hutan
produksi terdapat di Kabupaten Sawahlunto Sijunjung, Solok, dan Kabupaten
Kepulauan Mentawai. Umumnya penyebab penurunan kualitas hutan-hutan itu
karena penebangan hutan produksi yang dilakukan tidak diikuti dengan
penanaman kembali (replanting).
Luas dan kualitas hutan lindung dan hutan konservasi mengalami penurunan.
Pada beberapa bagian hutan lindung di Kabupaten Solok, Pasaman, dan
Sawahlunto Sijunjung peralihan fungsi menjadi perkebunan dan perladangan
masih saja terjadi. Peningkatan intensitas penebangan hutan di daerah perbatasan
Taman Nasional Kerinci Seblat masih terus terjadi sejak tahun 1998. Penurunan
kualitas hutan yang disebabkan oleh penebangan hutan ini berakibat kepada
penurunan drastis populasi fauna dan flora spesifik di daerah ini seperti badak,
harimau, berbagai jenis elang, dan tumbuhan (Badan Perencanaan Pembangunan
Provinsi Sumatera Barat, 2006).
Seiring dengan maraknya konversi kawasan hutan menjadi perkebunan, produksi hasil hutan di Provinsi Sumatera Barat juga mengalami penurunan. Produksi
hasil hutan menurut jenisnya di Provinsi Sumatera Barat disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Produksi hasil hutan menurut jenisnya di Provinsi Sumatera Barat
No Jenis hasil hutan Satuan unit
1996
1997
1998
1999
2000
2001
1.
Kayu bulat
m3
665.827,5
921.887,6
655.842,2
439.807,8
272.253,3
288.109,5
2.
Kayu gergajian
m3
54.473,2
452.104,8
34.260,4
8.239,2
5.236,7
3.
Kulit kayu
kg
124.788,7
4.
Getah Pinus
kg
573.418,0
1.101.066,0
263.297,0
310.825,0
617.731,0
543.419
5.
Manau
btg
987.478,0
726.608,0
870.246,0
803.392,0
440.421,0
367.500
6.
Rotan
kg
102.950,0
84.400,0
151.650,0
36.550,0
16.700,0
10.000,0
7.
Damar
kg
10.554.380,0
586.043,0
8.
Sarang burung
kg
11.911,2
6.311,7
1.266,7
9.
Tabu-tabu
btg
1.065.196,0
758.605,0
1.259.140,0
801.901,0
231.164,0
174.000,0
10. Semumbu
btg
16.400,0
18.900,0
34.200,0
33.500,0
9.500
Sumber : Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat dalam Badan Perencanaan Pembangunan Provinsi Sumatera
Barat, 2006.
148
Peranan Sektor Kehutanan dalam Sistem Perekonomian … (Nur Arifatul Ulya)
B. Pembahasan
Hasil perhitungan LQ terhadap sektor kehutanan di Provinsi Sumatera Barat
disajikan pada Tabel 3.
Nilai LQ sektor kehutanan di Provinsi
Sumatera Barat dari tahun 2000 sampai 2003
adalah lebih dari 1. Berarti dari tahun 2000
Tahun
Nilai LQ sektor
kehutanan
sampai tahun 2003 sektor kehutanan merupakan
2000
1,23
sektor basis atau leading sector dalam
2001
1,24
perekonomian Provinsi Sumatera Barat yang
2002
1,34
dapat menjadi sumber pertumbuhan pereko2003
1,41
nomian di Provinsi Sumatera Barat. Sektor
Sumber : diolah dari data BPS
kehutanan di Provinsi Sumatera Barat memiliki
keunggulan komparatif jika dibandingkan dengan sektor perekonomian lainnya dan
hasilnya tidak saja dapat memenuhi wilayah Provinsi Sumatera Barat tetapi juga
dapat ”diekspor” ke luar daerah atau ke provinsi lainnya.
Pada periode tahun 2000 sampai 2003 nilai LQ tertinggi terjadi pada tahun
2003 yaitu sebesar 1,41. Berarti pada tahun tersebut output sektor kehutanan di
Provinsi Sumatera Barat rata-rata 1,41 kali lebih tinggi dibandingkan output sektor
kehutanan di Indonesia. Sedangkan nilai LQ terendah terjadi pada tahun 2000,
yaitu sebesar 1,23.
Nilai defferential shift sektor-sektor perekonomian di Provinsi Sumatera Barat
disajikan pada Tabel 4.
Tabel 3. Nilai LQ sektor kehutanan di
Provinsi Sumatera Barat
Tabel 4. Nilai defferential shift sektor-sektor perekonomian di Provinsi Sumatera Barat tahun 2001
sampai 2003
Defferential shift (%)
No.
Sektor perekonomian
2001
2002
2003
1
Pertanian
3,30
4,88
7,58
Tanaman bahan makanan
0,56
5,65
2,60
Tanaman perkebunan
18,53
17,03
15,62
Peternakan dan hasil-hasilnya
0,67
-0,74
5,95
Kehutanan
0,85
7,96
5,51
Perikanan
-0,61
-3,71
3,40
2
Pertambangan dan penggalian
-1,47
-1,02
-0,10
3
Industri pengolahan
-0,02
-0,84
-1,51
4
Listrik, gas, dan air bersih
10,20
7,31
-3,41
5
Bangunan
-2,12
-1,97
0,04
6
Perdagangan, hotel, dan restoran
-0,20
0,97
0,29
7
Pengangkutan dan komunikasi
-4,41
-5,03
-8,08
8
Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan
-1,91
-3,56
-1,20
9
Jasa-jasa
-0,84
-0,22
0,40
Sumber : Diolah dari data BPS
Nilai defferential shift sektor kehutanan di Provinsi Sumatera Barat dari tahun
2001 sampai 2003 selalu positif. Hal ini mengindikasikan bahwa dari tahun ke
tahun sektor kehutanan mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan
perekonomian di Provinsi Sumatera Barat. Nilainya sendiri berfluktuasi dari tahun
ke tahun. Pada periode 2001 sampai 2003 nilai defferential shift tertinggi sektor
kehutanan terjadi pada tahun 2002, sebesar 7,76%. Berarti pada tahun 2002
sektor kehutanan mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi
Provinsi Sumatera Barat sebesar 7,96%.
149
Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian, 2007
Nilai defferential shift sektor kehutanan dalam periode 2001 sampai 2003
menempati urutan kedua dalam rumpun sektor pertanian. Nilai tertinggi selalu
ditempati oleh sektor tanaman perkebunan. Mengingat 30 % kawasan mempunyai
kelerengan di atas 40 % maka peran kehutanan dan jasa lingkungan terhadap
kawasan budidaya lainnya sangat penting. Secara keseluruhan di Provinsi
Sumatera Barat sektor pertanian pada periode 2001 sampai 20003 selalu mampu
memberikan kontribusi pada pertumbuhan perekonomian Provinsi Sumatera Barat.
Sedangkan sektor lainnya tidak selalu mampu memberikan kontribusi terhadap
pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Barat.
Sektor kehutanan dengan hasil hutan seperti kayu bulat, kayu gergajian, kulit
kayu, getah pinus, rotan, damar, sarang burung, dan lain-lain mampu memberikan
sumbangan yang berarti bagi perekonomian Provinsi Sumatera Barat. Sektor
kehutanan mampu menjadi prime mover dalam perekonomian dan selalu mampu
memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Barat. Hal
ini juga terjadi pada sektor pertanian secara umum. Sebagai provinsi yang masih
agraris, struktur perekonomian Sumatera Barat masih didominasi oleh sektor
pertanian. Dilihat dari kontribusi masing-masing sektor, sektor pertanian
merupakan sektor yang paling besar kontribusinya terhadap PDRB Provinsi
Sumatera Barat. PDRB atas dasar berlaku menunjukkan bahwa sumbangan sektor
pertanian secara umum menempati peringkat pertama pada tahun 2003 yang
besarnya adalah 22,88%.
Sektor kehutanan yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian
Provinsi Sumatera Barat dalam jangka panjang bisa jadi terancam. Seiring dengan
meningkatnya laju pertumbuhan penduduk dan laju pembangunan, kebutuhan
lahan untuk kehidupan masyarakat maupun untuk kepentingan pembangunan non
kehutanan semakin meningkat, sehingga terjadi konversi areal-areal yang
sebetulnya layak untuk tetap dipertahankan sebagai kawasan lindung.
Selain untuk perkebunan, kawasan hutan juga dikonversi untuk lokasi
transmigrasi dan pada beberapa lokasi dilakukan pinjam pakai kawasan hutan
untuk kepentingan pertambangan, jalur transmisi listrik, pembangunan tower
repeater Telkom, dan sebagainya. Hal lain yang menyebabkan kurangnya areal
berhutan adalah kurangnya perhatian masyarakat terhadap keberadaan hutan
sehingga disinyalir banyak terjadi ketidaksinkronan penggunaan lahan dengan
peruntukannya. Di samping itu adanya Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
yang tidak sinkron dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi menyebabkan
telah terjadi konversi areal berhutan menjadi kawasan berbudidaya yang tidak
termonitor (tidak melalui prosedur kehutanan) antara lain perkebunan sawit, karet,
gambir, kopi, dan sebagainya serta perladangan masyarakat dan pembukaan
jalan.
Nilai LQ dan defferential shift sektor kehutanan menunjukkan pentingnya
peranan sektor kehutanan dalam perekonomian Provinsi Sumatera Barat. Di sisi
lain kawasan konservasi cukup luas tetapi degradasi dan konversi hutan terjadi
dengan cepat.
Hal ini menuntut perhatian dari pemerintah daerah untuk
mempertahankan kawasan konservasi, melakukan rehabilitasi kawasan hutan
yang rusak, dan membatasi konversi kawasan hutan terutama kawasan lindung
dengan pertimbangan yang lebih mendalam, baik ekonomi maupun ekologis.
150
Peranan Sektor Kehutanan dalam Sistem Perekonomian … (Nur Arifatul Ulya)
IV. KESIMPULAN
1.
2.
Sektor kehutanan merupakan sektor basis dalam perekonomian Provinsi
Sumatera Barat dalam kurun waktu 2000 sampai 2003.
Sektor kehutanan selalu memberikan kontribusi bagi perekonomian Provinsi
Sumatera Barat dalam kurun waktu 2001 sampai 2003.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Perencanaan Pembangunan Provinsi Sumatera Barat. 2006. Rencana
Tata Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Barat tahun 2005-2019. Draft.
Badan Pusat Statistik Indonesia. 2003. Statistik Indonesia 2003. Badan Pusat
Statistik Indonesia. Jakarta.
Adisasmita, R. 2005. Dasar-dasar Ekonomi Wilayah. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Hendrayana, R. 2003. Aplikasi Metode Location Quotient (LQ) dalam Penentuan
Komoditas Unggulan Nasional. Informatika Pertanian Vol. 12, Desember
2003.
Kusumadijaya, K. dan I. N. S. Nuitja. 2002. Analisis Pertumbuhan Industri
Pengolahan Nonmigas : Studi Kasus di Provinsi DKI Jakarta tahun 19941998. ATMA nan JAYA, April 2002. Jakarta.
151
Download