tinjauan atas planning, replenishment (skenario) dan activities

advertisement
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
TINJAUAN ATAS PLANNING, REPLENISHMENT (SKENARIO)
DAN ACTIVITIES INVENTORY CONTROL
Divianto
Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang
Abstract
The purpose of this article is to provide a description regarding inventory control and
its methods are often used in solving supply problems. Inventory management
(inventory control), or also called as inventory management or control inventory
levels are activities related to planning, implementation, and supervision of the
determination of material needs such that on one hand the operating requirements can
be met on time and on the other hand material inventory investment could be reduced
optimally. Therefore it is expected that this article helpful in understanding the
problems in the supply and implementation of each supply method that can help
menjwab two important questions ie how much is ordered (how much to order) and
when ordered (Pls to order).
Keywords : Inventory, Control
PENDAHULUAN
Di Era dimana pelayanan pelanggan menjadi faktor penentu keberhasilan
perusahaan, pengontrolan dan optimasi persediaan menjadi sangat penting untuk
dilakukan. Oleh karena itulah perencanaan dan inventory control harus disesuaikan dengan
tingkat kebutuhan produksi dan permintaan pelanggan. Bagi perusahaan utamanya yang
banyak menanamkan modal kerja dalam persediaan, efektifitas proses ordering dan
carrying harus pula mendapat perhatian yang cukup agar memberikan penghematan biaya
yang lebih signifikan. Dengan demikian pengendalian dan optimasi persediaan ini akan
membantu meningkatkan daya saing perusahaan secara keseluruhan.
Misalnya, tak dapat dibayangkan, berapa besar kerugian yang akan ditanggung
perusahaan, jika terjadi kerusakan mesin, sementara suku cadang (spare part) mesin tidak
tersedia di gudang, dan harus menunggu kedatangan dari supplier selama dua minggu, satu
bulan, atau dua bulan? Pengendalian persediaan suku cadang merupakan tugas manajemen
logistik dalam suatu perusahaan, untuk memberi dukungan dalam hal pengadaan barang
bagi seluruh keperluan pemeliharaan peralatan yang digunakan dalam proses produksi.
Pengendalian suku cadang sangat penting dalam hal : penentuan keputusan suatu barang
diperlukan, termasuk perlu atau tidaknya melakukan penyimpanan, kepada siapa
pembelian dilakukan, kapan dilakukan pemesanan, apa dan berapa yang dipesan, tingkat
dan jaminan mutu suku cadang yang diperlukan, anggaran suku cadang, dan sebagainya.
Bahan baku, barang dalam proses dan barang jadi merupakan macam-macam bentuk
dari persediaan dan persediaan mewakili sebagian besar dari investasi perusahaan yang
78
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
harus dikelola dengan baik untuk memaksimalkan keuntungan. Persediaan berhubungan
dengan: mencari perimbangan antara jumlah persediaan yang benar tetapi tidak terlalu
banyak, meningkatkan turnover persedian tanpa mengorbankan tingkat pelayanan,
menjaga persediaan terendah tetapi tidak membahayakan kinerja perusahaan, memelihara
bermacam-macam persediaan yang sangat luas tetapi tidak menghabiskan dengan cepat
sehingga persediaan menjadi menipis, mempunyai persedian yang mencukupi tanpa itemitem yang usang atau tidak terpakai, selalu mempunyai persediaan yang diinginkan tetapi
tidak dengan item yang lambat. Jadi dapat dikatakan bahwa persediaan (inventory) adalah
salah satu asset yang sangat mahal dalam suatu perusahaan (biasanya sekitar 40% dari total
investasi). Dimana pada satu sisi, manajemen menghendaki biaya yang tertanam pada
persediaan itu adalah minimum, namun sebaliknya di lain pihak seringkali konsumen
mengeluh karena kehabisan persediaan. Manajemen harus mengatur agar perusahaan
berada pada suatu kondisi dimana kedua kepentingan tersebut dapat terpuaskan. Oleh
karena setiap perusahaan memiliki jenis inventory tersendiri maka perusahaan membuat
perencanaan dan sistem pengendalian sedemikian spesifik.
Seperti yang kita ketahui bahwa laba yang maksimal dapat dicapai dengan
meminimalkan biaya berkaitan dengan persediaan. Namun meminimalkan biaya persiapan
dapat dengan memesan atau memproduksi dalam jumlah yang kecil, sedangkan untuk
meminimalkan biaya pemesanan dapat dicapai dengan melakukan pesanan besar dan
jarang. Jadi meminimalkan biaya penyimpanan mendorong jumlah persediaan yang
sedikit atau tidak ada, sedangkan meminimalkan biaya pemesanan harus dilakukan dengan
melakukan pemesanan persediaan dalam jumlah yang relatif besar sehingga mendorong
jumlah persediaan yang besar. Alasan yang kedua yang mendorong perusahaan
menyimpan persediaan dalam jumlah yang relatif besar adalah masalah ketidakpastian
permintaan. Jika permintaan akan bahan atau produk lebih besar dari yang diperkirakan,
maka persediaan dapat berfungsi sebagai penyangga, yang memberikan perusahaan
kemampuan untuk memenuhi tanggal penyerahan sehingga pelanggan merasa puas.
Secara umum alasan untuk memiliki persediaan adalah sebagai berikut:
1. Untuk menyeimbangkan biaya pemesanan atau persiapan dan biaya penyimpanan.
2. Untuk memenuhi permintaan pelanggan, misalnya menepati tanggal pengiriman.
3. Untuk menghindari penutupan fasilitas manufaktur akibat:
- Kerusakan mesin
- Kerusakan komponen
- Pengiriman komponen yang terlambat
4. Untuk menyanggah proses produksi yang tidak dapat diandalkan.
5. Untuk memanfaatkan diskon
6. Untuk menghadapai kenaikan harga di masa yang akan dating.
Arti dan Peranan Persediaan
Pengertian persediaan berdasarkan beberapa sumber antara lain:
1. Menurut Prawirosentono (2001:61), persediaan adalah aktiva lancar yang terdapat
dalam perusahaan dalam bentuk persediaan bahan mentah (bahan baku / raw
material, bahan setengah jadi / work in process dan barang jadi / finished goods).
2. Merujuk pada penjelasan Herjanto (1999), persediaan dapat diartikan sebagai
bahan atau barang yang disimpan yang akan digunakan untuk memenuhi tujuan
tertentu, misalnya untuk proses produksi atau perakitan, untuk dijual kembali, dan
79
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
3.
4.
5.
6.
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
untuk suku cadang dari suatu peralatan atau mesin. Persediaan merupakan suatu
hal yang tidak dapat dihindari.
Persediaan adalah bagian utama dari modal kerja, merupakan aktiva yang pada setiap
saat mengalami perubahan (Gitosudarmo,2002:93).
Soemarsono (1999:246), mengemukakan pengertian persediaan sebagai barangbarang yang dimiliki perusahaan untuk dijual kembali atau digunakan dalam kegiatan
perusahaan.
Inventory atau persediaan barang sebagai elemen utama dari modal kerja merupakan
aktiva yang selalu dalam keadaan berputar, dimana secara terus-menerus mengalami
perubahan. (Riyanto,2001:69).
Sedangkan menurut PSAK No.14 Paragraf 3, menyatakan pengertian persediaa
adalah aktiva :
a. Tersedia untuk dijual dalam usaha kegiatan normal.
b. Dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan
c. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies)
Fungsi-Fungsi Persediaan
Fungsi-fungsi persediaan penting artinya dalam upaya meningkatkan operasi
perusahaan, baik yang berupa operasi internal maupun operasi eksternal sehingga
perusahaan seolah-olah dalam posisi bebas. Fungsi persediaan pada dasarnya terdiri dari
tiga fungsi yaitu:
1) Fungsi Decoupling
Fungsi ini memungkinkan bahwa perusahaan akan dapat memenuhi
kebutuhannya atas permintaan konsumen tanpa tergantung pada suplier barang.
Untuk dapat memenuhi fungsi ini dilakukan cara-cara sebagai berikut :
a) Persediaan bahan mentah disiapkan dengan tujuan agar perusahaan tidak
sepenuhnya tergantung penyediaannya pada suplier dalam hal kuantitas dan
pengiriman.
b) Persediaan barang dalam proses ditujukan agar tiap bagian yang terlibat dapat
lebih leluasa dalam berbuat.
c) Persediaan barang jadi disiapkan pula dengan tujuan untuk memenuhi
permintaan yang bersifat tidak pasti dari langganan.
2) Fungsi Economic Lot Sizing
Tujuan dari fungsi ini adalah pengumpulan persediaan agar perusahaan dapat
berproduksi serta menggunakan seluruh sumber daya yang ada dalam jumlah
yang cukup dengan tujuan agar dapat menguranginya biaya perunit produk.
Pertimbangan yang dilakukan dalam persediaan ini adalah penghematan yang
dapat terjadi pembelian dalam jumlah banyak yang dapat memberikan potongan
harga, serta biaya pengangkutan yang lebih murah dibandingkan dengan biayabiaya yang akan terjadi, karena banyaknya persediaan yang dipunyai.
3) Fungsi Antisipasi
Perusahaan sering mengalami suatu ketidakpastian dalam jangka waktu
pengiriman barang dari perusahaan lain, sehingga memerlukan persediaan
pengamanan (safety stock), atau perusahaan mengalami fluktuasi permintaan yang
dapat diperkirakan sebeumnya yang didasarkan pengalaman masa lalu akibat
pengaruh musim, sehubungan dengan hal tersebut perusahaan sebaiknya
mengadakan seaseonal inventory (persediaan musiman) (Asdjudiredja,1999:114).
80
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
Selain fungsi-fungsi diatas, menurut Herjanto (1997:168) terdapat enam fungsi
penting yang dikandung oleh persediaan dalam memenuhi kebutuhan perusahaan antara
lain:
1. Menghilangkan resiko keterlambatan pengiriman bahan baku atau barang yang
dibutuhkan perusahaan.
2. Menghilangkan resiko jika material yang dipesan tidak baik sehingga harus
dikembalikan.
3. Menghilangkan resiko terhadap kenaikan harga barang atau inflasi.
4. Untuk menyimpan bahan baku yang dihasilkan secara musiman sehingga
perusahaan tidak akan sulit bila bahan tersebut tidak tersedia dipasaran.
5. Mendapatkan keuntungan dari pembelian berdasarkan potongan kuantitas
(quantity discount).
6. Memberikan pelayanan kepada langganan dengan tersediaanya barang yang
diperlukan.
Menurut Baroto (2002), timbulnya persediaan disebabkan oleh:
1. Mekanisme pemenuhan atas permintaan.
Permintaan terhadap suatu barang tidak dapat dipenuhi seketika bila barang
tersebut tidak tersedia sebelumnya. Untuk menyiapkan suatu barang diperlukan
waktu untuk pembuatan dan pengiriman, sehingga hal ini dapat teratasi dengan
pengadaan persediaan.
2. Keinginan untuk meredam ketidakpastian.
Ketidakpastian terjadi akibat permintaan yang bervariasi dan tidak pasti dalam
jumlah maupun waktu kedatangan, waktu memproduksi barang yang cenderung
tidak konstan, dan waktu tenggang (lead time) yang cenderung tidak pasti karena
banyak faktor tidak dapat dikendalikan. Ketidakpastian ini dapat diredam dengan
mengadakan persediaan.
3. Keinginan melakukan spekulasi yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan
yang besar dari kenaikan harga di masa mendatang.
Persoalan persediaan yang timbul adalah bagaimana caranya mengatur persediaan,
sehingga setiap kali ada permintaan, permintaan tersebut dapat segera dilayani dengan
jumlah biaya yang minimum. Apabila jumlah persediaan lebih besar dibanding
permintaan, hal ini dapat menimbulkan dana besar menganggur yang tertanam dalam
persediaan, meningkatnya biaya penyimpanan, dan resiko kerusakan barang yang lebih
besar. Namun, jika persediaan lebih sedikit dibanding permintaan, akan menyebabkan
kekurangan persediaan (stock out) yang berakibat proses produksi berhenti, tertundanya
keuntungan, bahkan dapat berakibat hilangnya pelanggan. Pengendalian persediaan
merupakan serangkaian kebijakan pengendalian untuk menentukan tingkat persediaan
yang harus tersedia, kapan pesanan untuk menambah persediaan harus dilakukan, dan
berapa besar pesanan harus diadakan. Sistem ini menentukan dan menjamin tersedianya
persediaan yang tepat dalam kuantitas dan waktu yang tepat.
Prinsip-Prinsip Pengendalian
Menurut Matz (1994:230), sistem dan tehnik pengendalian persediaan harus
didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:
81
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
1. Persediaan diciptakan dari pembelian (a) bahan dan suku cadang, dan (b)
tambahan biaya pekerja dan overhead untuk mengelola bahan menjadi barang
jadi.
2. Persediaan berkurang melalui penjualan dan perusakan.
3. Perkiraan yang tepat atas skedul penjualan dan produksi merupakan hal yang
esensial bagi pembelian, penanganan, dan investasi bahan yang efisien.
4. Kebijakan manajemen, yang berupaya menciptakan keseimbangan antara
keragaman dan kuantitas persediaan bagi operasi yang efisien dengan biaya
pemilikan persediaan tersebut merupakan faktor yang paling utama dalam
menentukan investasi persediaan.
5. Pemesanan bahan merupakan tanggapan terhadap perkiraan dan penyusunan
rencana pengendalian produksi.
6. Pencatatan persediaan saja tidak akan mencapai pengendalian atas persediaan.
7. Pengendalian bersifat komparatif dan relatif, tidak mutlak.
Oleh karena itu, Matz (1994:229) berpendapat bahwa pengendalian persediaan yang
efektif harus:
a. Menyediakan bahan dan suku cadang yang dibutuhkan bagi operasi yang efisien
dan lancar.
b. Menyediakan cukup banyak stock dalam periode kekurangan pasokan (musiman,
siklus atau pemogokan), dan dapat mengantisipasi perubahan harga.
c. Menyiapkan bahan dengan waktu dan biaya penanganan yang minimum serta
melindunginya dari kebakaran, pencurian, dan kerusakan selama bahan tersebut
ditangani.
d. Mengusahakan agar jumlah persediaan yang tidak terpakai, berlebih, atau yang
rusak sekecil mungkin dengan melaporkan perubahan produk secara sistematik,
dimana perubahan tersebut mungkin akan mempengaruhi bahan suku cadang.
e. Menjamin kemandirian persediaan bagi pengiriman yang tepat waktu kepada
pelanggan.
f. Menjaga agar jumlah modal yang diinvestasikan dalam persediaan berada pada
tingkat yang konsisten dengan kebutuhan operasi dan rencana manajemen.
Sistem Pengendalian Persediaan
Penentuan jumlah persediaan perlu ditentukan sebelum melakukan penilaian
persediaan. Jumlah persediaan dapat ditentukan dengan dua sistem yang paling umum
dikenal pada akhir periode yaitu:
a) Periodic system, yaitu setiap akhir periode dilakukan perhitungan secara fisik
agar jumlah persediaan akhir dapat diketahui jumlahnya secara pasti.
b) Perpectual system, atau book inventory yaitu setiap kali pengeluaran diberikan
catatan administrasi barang persediaan.
Dalam melaksanakan panilaian persediaan ada beberapa cara yang dapat dipergunakan
yaitu:
82
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
a. First in, first out (FIFO) atau masuk pertama keluar pertama
Cara ini didasarkan atas asumsi bahwa arus harga bahan adalah sama dengan arus
penggunaan bahan. Dengan demikian bila sejumlah unit bahan dengan harga beli
tertentu sudah habis dipergunakan, maka penggunaan bahan berikutnya harganya
akan didasarkan pada harga beli berikutnya. Atas dasar metode ini maka harga
atau nilai dari persediaan akhir adalah sesuai dengan harga dan jumlah pada unit
pembelian terakhir.
b. Last in, first out (LIFO) atau masuk terakhir keluar pertama
Dengan metode ini perusahaan beranggapan bahwa harga beli terakhir
dipergunakan untuk harga bahan baku yang pertama keluar sehingga masih ada
(stock) dinilai berdasarkan harga pembelian terdahulu.
c. Rata-Rata Tertimbang (weighted average)
Cara ini didasarkan atas harga rata-rata perunit bahan adalah sama dengan jumlah
harga perunit yang dikalikan dengan masing-masing kuantitasnya kemudian
dibagi dengan seluruh jumlah unit bahan dalam perusahaan tersebut.
d. Harga Standar
Besarnya nilai persediaan akhir dari suatu perusahaan akan sama dengan jumlah
unit persediaan akhir dikalikan dengan harga standar perusahaan.
Menurut Assauri (1998), tujuan pengendalian persediaan dapat dinyatakan sebagai
usaha untuk:
1. Menjaga jangan sampai terjadi kehabisan persediaan.
2. Menjaga agar penentuan persediaan oleh perusahaan tidak terlalu besar sehingga
biaya yang timbul tidak terlalu besar.
3. Menghindari pembelian secara kecil-kecilan, karena akan berakibat biaya
pemesanan menjadi besar.
Dengan kata lain, tujuan pengendalian persediaan adalah untuk memperoleh kualitas
dan jumlah yang tepat dari barang yang tersedia pada waktu dibutuhkan dengan biaya yang
minimum untuk keuntungan atau kepentingan perusahaan.
Masalah inventory control merupakan salah satu masalah penting yang dihadapi
perusahaan, pada kebanyakan perusahaan inventory merupakan bagian besar yang
tercantum dalam neraca. Inventory yang terlalu besar atau terlalu kecil dapat menimbulkan
masalah-masalah yang pelik. Inventory Control yang efektif dapat memberikan
sumbangan kepada keuntungan perusahaan. Pertanyaan pokok yang sering harus dijawab
adalah sebagai berikut: 1. Berapa unit yang harus dipesan atau diproduksi pada suatu
waktu tertentu ?, 2. pada jumlah berapa inventory sudah harus dipesan atau diproduksi?,
dan 3. Jenis Inventory yang mana memerlukan perhatian khusus?
Tugas Inventory Control adalah menyediakan Inventory yang diperlukan untuk
menjamin kelangsungan operasi perusahaan pada tingkat biaya minimal (Total Cost
minimum). Tujuan Inventory Control dalam hubungannya dengan pihak-pihak yang
terkait dengan persediaan adalah: 1. dengan kepentingan manajer pembelian, orientasi
keputusan pembelian material pada jumlah besar untuk memperoleh discount/potongan
dari supplier, 2. dengan kepentingan manajer produksi, orientasi keputusan pembelian
material pada jumlah besar untuk menjamin kelancaran proses produksi, 3. dengan
kepentingan manajer keuangan, orientasi keputusan pembelian material pada jumlah besar
untuk memperoleh discount/potongan dari supplier, dan 4. dengan kepentingan manajer
83
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
produksi, orientasi keputusan pembelian material pada jumlah kecil untuk efisiensi
penggunaan dana.
Jadi Inventory Control merupakan hal yang mendasar dalam penetapan keunggulan
kompetitif jangka panjang. Mutu, rekayasa, produk, harga, lembur, kapasitas berlebih,
kemampuan merespon pelanggan akibat kinerja kurang baik, waktu tenggang (lead time),
dan profitabilitas secara keseluruhan adalah hal-hal yang dipengaruhi oleh tingkat
persediaan. perusahaan dengan tingkat persediaan yang lebih tinggi dari pesaing
cenderung berada dalam posisi kompetitif yang lemah. kebijakasanaan Inventory Control
telah menjadi sebuah senjata untuk memenangkan kompetisi. Oleh karena itu, peran
Inventory Control adalah merekonsiliasikan kepentingan-kepentingan ke dalam kebijakan
persediaan yang dapat diterima oleh berbagai kepentingan demi untuk mencapai tujuan
perusahaan.
Komponen Biaya Persediaan (Inventory Cost)
Pada dasarnya biaya persediaan merupakan keseluruhan biaya operasi atas sistem
persediaan baik pengeluaran maupun kerugian yang diakibatkan adanya persediaan.
Merujuk pada penjelasan Nasution (2003), biaya persediaan terdiri dari biaya pengadaan,
biaya penyimpanan, dan biaya kekurangan persediaan.
1. Biaya Pengadaan (Procurement Cost)
Biaya pengadaan dibedakan atas 2 jenis berdasarkan asal-usul barang, yaitu biaya
pemesanan / pembelian (ordering cost / purchasing cost) jika barang yang
diperlukan diperoleh dari pihak luar (supplier) dan biaya pembuatan (setup cost)
jika barang yang diperlukan diperoleh dengan memproduksi sendiri.
a. Biaya Pemesanan / Pembelian (Ordering Cost / Purchasing Cost)
Biaya ini merupakan semua pengeluaran yang timbul untuk mendatangkan
barang dari luar. Biaya ini meliputi biaya untuk menentukan pemasok
(supplier), pembelian barang, pengetikan pesanan, pengiriman pesanan, biaya
pengangkutan, biaya penerimaan, dan sebagainya. Biaya ini diasumsikan
konstan untuk setiap kali pemesanan.
b. Biaya Pembuatan (Setup Cost)
Biaya pembuatan adalah semua pengeluaran yang timbul dalam
mempersiapkan produksi suatu barang. Biaya ini timbul di dalam pabrik yang
meliputi biaya menyusun peralatan produksi, menyetel mesin, mempersiapkan
gambar kerja, dan sebagainya.
2. Biaya Penyimpanan (Holding Cost /Carrying Cost)
Biaya simpan adalah semua pengeluaran yang timbul akibat menyimpan
persediaan. Biaya ini meliputi:
a. Biaya Memiliki Persediaan (Biaya Modal) Penumpukan barang di gudang
berarti penumpukan modal, dimana modal perusahaan mempunyai ongkos
(expense) yang dapat diukur dengan suku bunga bank. Biaya memiliki
persediaan diukur sebagai persentase nilai persediaan untuk periode waktu
tertentu.
b. Biaya Gudang
Barang yang disimpan memerlukan tempat penyimpanan sehingga timbul
biaya gudang. Jila gudang dan peralatannya disewa maka biaya gudangnya
merupakan biaya sewa. Sedangkan jika perusahaan mempunyai gudang sendiri
maka biaya gudang merupakan biaya depresiasi.
84
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
c. Biaya Kerusakan dan Penyusutan
Barang yang disimpan dapat mengalami kerusakan dan penyusutan karena
beratnya berkurang ataupun jumlahnya berkurang karena hilang. Biaya
kerusakan dan penyusutan biasanya diukur dari pengalaman sesuai dengan
persentasenya.
d. Biaya expired
Barang yang disimpan dapat mengalami penurunan nilai karena perubahan
teknologi dan model seperti barang-barang elektronik. Biaya expired biasanya
diukur dengan besarnya penurunan nilai jual dari barang tersebut.
e. Biaya Asuransi
Barang yang disimpan diasuransikan untuk menjaga hal-hal yang tidak
diinginkan seperti kebakaran. Biaya asuransi tergantung jenis barang yang
diasuransikan dan perjanjian dengan perusahaan asuransi.
f. Biaya Administrasi dan Pemindahan
Biaya ini dikeluarkan untuk mengadministrasi persediaan barang yang ada,
baik pada saat pemesanan, penerimaan, maupun penyimpanan barang, serta
biaya untuk memindahkan barang dari dan ke dalam tempat penyimpanan,
termasuk upah buruh dan biaya peralatan handling.
Dalam manajemen persediaan, terutama yang berhubungan dengan masalah kuantitatif,
biaya simpan per unit diasumsikan linier terhadap jumlah barang yang disimpan (misalnya
Rp/unit/tahun).
Prinsip-Prinsip Dasar Inventory Control
Rumusan-rumusan tentang definisi persediaan telah banyak dikemukakan oleh para
ahli, namun pada prinsipnya persediaan adalah sumber daya menganggur (idle resources)
yang menunggu proses lebih lanjut.
Menurut Groebner dalam Introduction to Management Science (1992), persediaan
merupakan komponen material atau produk jadi yang tersedia di tangan, menunggu untuk
digunakan atau dijual. Sedangkan menurut Riggs (1976), persediaan adalah bahan
mentah, barang dalam proses (work in process), barang jadi bahan pembantu, bahan
pelengkap, komponen yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan
permintaan. Jadi dapat dikatakan persediaan adalah segala sumber daya organisasi yang
disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan. Selain itu persediaan juga
dapat dinyatakan sebagai sumber daya menganggur (iddle resources) yang menunggu
proses lebih lanjut dan yang dimaksud dengan proses lebih lanjut tersebut adalah berupa
kegiatan produksi pada sistem manufaktur, kegiatan pemasaran pada sistem distribusi
ataupun kegiatan konsumsi pangan pada sistem rumah tangga.
Pengertiaan lainnya menyatakan bahwa persediaan adalah rangkaian proses
pengelolaan keseluruhan sumber daya perusahaan yang dibutuhkan dalam menghasilkan
barang atau jasa yang akan ditawarkan kepada konsumen. Menurut Dessler (2004)
“Operations Management is the process of managing the resources that are needed to
produce organization’s goods and services”. Adapun prinsip-prinsip dasar inventory
management antara lain adalah sebagai berikut:
- Persediaan adalah setiap sumberdaya yang disimpan (stored resource) yang
digunakan untuk memuaskan kebutuhan pelanggan pada saat ini atau masa depan..
- Bagi banyak perusahaan, persediaan mencerminkan sebuah investasi, dan investasi
ini sering lebih besar daripada yang seharusnya karena perusahaan lebih mudah
85
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
untuk memiliki persediaan just-in-case (berjaga-jaga kalau ada apa-apa) daripada
pesediaan just-in-time (persediaan seperlunya).
- Setiap manajer operasi harus menyadari bahwa inventory control yang baik sangat
penting. Perusahaan dapat mengurangi biaya dengan mengurangi tingkat
persediaan di tangan, sebaliknya konsumen akan merasa tidak puas bila suatu
produk stoknya habis
- Perusahaan harus mencapai keseimbangan antara investasi persediaan dan tingkat
layanan konsumen.
Jenis Persediaan Dan Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Persediaan Dalam
Inventory Planning
Macam inventory, tergantung jenis perusahaan (bahan baku, barang dalam proses,
barang jadi, suku cadang dan lain-lain). Dimana pada perusahaan manufaktur umumnya
mempunyai 3 (tiga) jenis inventory,yaitu: 1. Bahan baku/material, 2. Barang dalam proses
(barang setengah jadi), dimana inventory untuk barang setengah jadi dan bahan mentah
ditentukan oleh tuntutan proses produksi dan bukan pada keinginan pasar (dependent
demand inventory), 3. Barang jadi yang biasanya tergantung pada permintaan pasar
(independent demand inventory). Pengklasifikasian persediaan pun juga dapat dilakukan
dengan membagi persediaan ke dalam beberapa jenis yaitu: 1. bahan mentah dan
komponen-komponen yang dibeli, 2. barang dalam proses (work in process, WIP), 3.
bahan pemeliharaan, perbaikan dan operasi (maintenace, repair and operation, MRO), dan
4. barang jadi.
Sedangkan, dalam sistem manufaktur, persediaan terdiri dari bentuk-bentuk sebagai
berikut:
a. Bahan mentah (raw materials), yaitu barang-barang berwujud yang merupakan
input awal dari proses transformasi menjadi produk jadi.
b. Komponen yaitu barang-barang yang terdiri atas bagian-bagian (parts) yang
diperoleh dari perusahaan lain atau hasil produksi sendiri untuk digunakan dalam
pembuatan barang jadi atau barang setengah jadi.
c. Barang setengah jadi (work in process), merupakan barang-barang keluaran dari
tiap operasi produksi atau perakitan yang telah memiliki bentuk lebih kompleks
daripada komponen, namun masih perlu proses lebih lanjut untuk menjadi barang
jadi atau barang setengah jadi bisa disebut barang yang berbentuk peralihan antara
bahan baku dengan produk setengah jadi.
d. Barang jadi (finished good), merupakan hasil akhir proses transformasi yang siap
dipasarkan kepada konsumen.
e. Bahan pembantu (supplies material) adalah barang-barang yang diperlukan dalam
proses pembuatan atau perakitan barang, namun bukan merupakan komponen
barang jadi. Bahan penolong dapat berupa: bahan bakar, pelumas, listrik dan lainlain.
Secara umum besar-kecilnya inventory tergantung pada beberapa faktor :1. Lead
time, yaitu lamanya masa tunggu material yang dipesan datang, 2. Frekuensi penggunaan
bahan selama satu periode, frekuensi pembelian yang tinggi menyebabkan jumlah
inventory menjadi lebih kecil untuk satu periode pembelian, 3. Jumlah dana yang tersedia,
dan 4. Daya tahan material. Secara khusus faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan
adalah:
86
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
- Bahan baku, dipengaruhi oleh: perkiraan produksi, sifat musiman produksi, dapat
diandalkan pemasok, dan tingkat efisiensi penjadualan pembelian dan kegiatan
produksi.
- Barang dalam proses, dipengaruhi oleh lamanya produksi yaitu waktu yang
dibutuhkan sejak saat bahan baku masuk ke proses produksi sampai dengan saat
penyelesaian barang jadi.
- Barang jadi, inventory ini sebenarnya merupakan masalah koordinasi produksi dan
penjualan.
Sedangkan kriteria keputusan inventory, agar dapat diterima semua pihak yang
terkait adalah: 1. dapat menjamin kelancaran proses produksi, 2. dapat dijangkau oleh dana
yang tersedia, dan jumlah pembelian optimal. Tujuan melakukan inventory secara umum
adalah sebagai berikut:
1. Menghilangkan pengaruh ketidakpastian (misal: safety stock)
2. Memberi waktu luang untuk pengelolaan produksi dan pembelian
3. Untuk mengantisipasi perubahan pada permintaan dan penawaran.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan inventory adalah sebagai
berikut:
1. Struktur biaya persediaan.
a. Biaya per unit (item cost)
b. Biaya penyiapan pemesanan (ordering cost)
- Biaya pembuatan perintah pembelian (purchasing order)
- Biaya pengiriman pemesanan
- Biaya transportasi
- Biaya penerimaan (Receiving cost)
- Jika diproduksi sendiri maka akan ada biaya penyiapan (set up cost): surat
menyurat dan biaya untuk menyiapkan perlengkapan dan peralatan.
c. Biaya pengelolaan persediaan (Carrying cost)
- Biaya yang dinyatakan dan dihitung sebesar peluang yang hilang apabila nilai
persediaan digunakan untuk investasi (Cost of capital).
- Biaya yang meliputi biaya gudang, asuransi, dan pajak (Cost of storage).
Biaya ini berubah sesuai dengan nilai persediaan.
d. Biaya resiko kerusakan dan kehilangan (Cost of obsolescence, deterioration
and loss).
e. Biaya akibat kehabisan persediaan (Stock out cost)
2. Penentuan berapa besar dan kapan pemesanan harus dilakukan.
Gambar di bawah ini adalah proses produksi dari perusahaan yang umum yang
dimulai dari masukan kemudian ke konversi dan terakhir berubah dalam bentuk keluaran.
87
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
Gambar 1. Sistem Produksi Perusahaan
Sedangkan aliran inventory dari vendor sampai ke tangan customer, seperti
dijelaskan dalam gambar di bawah ini:
Gambar 2. Aliran Inventory
Bahan dalam
proses
Vendor
(Pemasok)
Bahan
mentah
Barang dalam
proses
Barang
jadi
Customer
(Pelanggan)
Barang dalam
proses
Pendeskripsian titik-titik persediaan dalam suatu sistem produksi distribusi secara
umum dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Gambar 3. Titik-titik Persediaan
Elemen Harga Pokok Bahan Baku
Empat kelompok biaya yang mempengaruhi harga pokok persediaan bahan baku,
yaitu:
1. Harga Faktur
Harga faktur adalah harga yang disetujui antara perusahaan dengan pemasoknya.
Potongan pembelian akan mengurangi harga faktur, sedangkan biaya angkut yang
ditanggung perusahaan diperlakukan sebagai tambahan harga faktur.
88
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
2. Biaya Pemesanan Bahan Baku
Biaya ini disebut procurement cost atau ordering cost yaitu biaya yang
dikeluarkan dalam melaksanakan pembelian bahan baku. Biaya ini
dikelompokkan menjadi dua yaitu biaya pemesanan tetap dan biaya pemesanan
variabel.
3. Biaya Penyimpanan Bahan Baku
Biaya ini disebut storage cost atau carrying cost yaitu biaya yang dikeluarkan
dalam melaksanakan kegiatan penyimpanan bahan agar siap dipakai di dalam
kegiatan produksi. Biaya ini dikelompokkan menjadi dua yaitu biaya
penyimpanan tetap dan biaya penyimpanan variabel.
4. Biaya ketidakcukupan Bahan Baku
Biaya ini timbul akibat adanya persediaan bahan baku yang tidak mencukupi
untuk memenuhi kebutuhan produksi. Biaya ini meliputi: kerugian hilangnya
penjualan, tambahan biaya angkut karena dibeli secara mendadak, tuntutan dari
pelanggan karena keterlambatan, dan tambahan biaya karena tidak teraturnya
proses produksi.
Hubungan antara Tingkat Persediaan dan Total Biaya Persediaan
Persoalan utama yang ingin dicapai oleh pengendalian persediaan adalah
meminimumkan total biaya operasi perusahaan. Hal ini berkaitan dengan berapa jumlah
komoditas yang harus dipesan dan kapan pemesanan itu harus dilakukan. Keputusan
mengenai besarnya persediaan menyangkut dua kepentingan yaitu kepentingan pihak yang
menyimpan dengan pihak yang memerlukan barang. Keputusan itu bisa dikategorikan
menjadi dua yaitu:
a. Waktu pada saat pemesanan barang masuk konstan (fixed) dan jumlah
barang yang dipesan harus ditentukan.
b. Jumlah pesanan (order quantity) dan waktu pesanan harus ditentukan.
Pendekatan terhadap kedua keputusan ini, salah satunya adalah dengan memesan
dalam jumlah yang besar untuk meminimumkan biaya pemesanan. Cara lain adalah
memesan dalam jumlah kecil untuk memperkecil biaya pemesanan. Tindakan yang paling
baik dinyatakan dengan mempertemukan dua titik ekstrim yaitu memesan dalam jumlah
yang sebesar-besarnya dan memesan dalam jumlah yang sekecilkecilnya. Sebagai ilustrasi,
gambar 4. dapat memperlihatkan hubungan antara tingkat persediaan dan total biaya.
Gambar 4. Hubungan antara Tngkat Persediaan dan Total Biaya
89
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
Pada gambar 4. terlihat bahwa jika Q semakin besar, berarti pemesanan akan
semakin jarang dilakukan, sehingga biaya pemesanan (ordering cost) yang menjadi beban
juga akan semakin kecil. Sebaliknya jika Q semakin kecil, berarti pemesanan akan
semakin sering dilakukan, sehingga biaya pemesanan yang dikeluarkan juga akan semakin
besar. Akibatnya jika Q semakin besar (bergeser ke kanan), maka kurva ordering cost
semakin menurun.
Biaya penyimpanan (holding cost) digambarkan sebagai sebuah garis lurus yang
dimulai pada tingkat persediaan nol (Q = 0). Hal ini disebabkan karena komponen ini
secara langsung tergantung tingkat persediaan rata-rata. Semakin besar jumlah barang
yang dipesan akan mengakibatkan semakin besar tingkat persediaan rata-rata, sehingga
biaya penyimpanan juga akan semakin besar. Akibatnya semakin besar tingkat persediaan
rata-rata, maka grafik holding cost semakin meningkat. Dari gambar 4. terlihat bahwa
antara holding cost dan ordering cost berhubungan terbalik dimana jumlah keduanya akan
menghasilkan kurva total inventory cost yang convex. Jadi tinggi (jarak) kurva total
inventory cost pada setiap titik Q merupakan hasil penjumlahan tinggi (jarak) kedua
komponen biaya tersebut secara tegak. Solusi optimal dari fungsi tujuan akan ditemukan
pada saat total inventory cost minimum.
Replenishment (Skenario) dan Metode-Metode dalam Inventory Control
Pendekatan untuk menganalisis persediaan suatu perusahaan terdiri dari beberapa
model, yaitu dengan model Economic Order Quantity (EOQ), Titik pemesanan kembali
(Reorder Point) dan Jumlah cadangan pengaman (Safety Stock) yang diperlukan, serta Just
In Time (JIT). Hal ini kemudian memunculkan 2 (dua) metode dasar pengendalian
persediaan yang bersifat probabilistik, yaitu:
1) Metoda P, yang menganut aturan bahwa saat pemesanan bersifat reguler
mengikuti suatu perioda yang tetap (mingguan, bulanan, dan sebagainya),
sedangkan kuantitas pemesanan akan berulang-ulang.
2) Metoda Q, yang menganut aturan bahwa jumlah ukuran pemesanan (kuantitas
pemesanan) selalu tetap untuk setiap kali pemesanan, sehingga saat pemesanan
dilakukan akan bervariasi.
Tujuan dari semua metode-metode persediaan adalah untuk meminimalkan biaya
persedaiaan (minimize inventory cost), termasuk biaya penyimpanan (carrying & ordering
costs) dan biaya pemasangan/pemesanan (setup/ordering costs). Biaya penyimpanan
digudang, meliputi biaya asuransi, staf tambahan, dan bunga, biaya pemasangan
berhubungan dengan waktu pasang, dan biaya pemesanan berupa biaya pasokan, formulir,
proses pesanan, dan tenaga kerja.
Adapun model persediaan antara lain:
1. Model Deterministik
Model Deterministik adalah model persediaan yang menganggap nilai-nilai
parameter telah diketahui dengan pasti. Model deterministik dibedakan menjadi
dua yaitu:
a. Deterministik Statis.
Pada model ini total permintaan setiap unit barang untuk tiap periode diketahui
dan bersifat konstan, dimana laju permintaan adalah sama untuk tiap periode.
90
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
b. Deterministik Dinamik.
Pada model ini total permintaan satiap unit barang untuk tiap periode diketahui
dan bersifat konstan, tetapi laju permintaan dapat bervariasi dari satu periode
ke periode lainnya.
2. Model Probabilistik (Stokastik)
Model probabilistik adalah model persediaan yang menganggap bahwa nilai-nilai
parameter merupakan nilai-nilai yang tidak pasti, dimana nilai parameter tersebut
merupakan variabel random. Model probabilistik dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Probabilistik Statis.
Pada model ini variabel permintaan bersifat random dan distribusi probabilistik
dipengaruhi oleh waktu setiap periode.
b. Probabilistik Dinamik
Pada model ini variabel permintaan bersifat random, dimana distribusi
probabilistik dipengaruhi oleh waktu setiap periode dan dapat bervariasi dari
satu periode ke periode lainnya.
Metode-Metode Inventory Control
1.
Economic Order Quantity (EOQ)
Pendekatan yang umum digunakan untuk manajemen persediaan adalah dengan
EOQ (Economic Order Quantity Model) dan yang terbaru dengan metode MRP model
(mengenai model-model manajemen persediaan dibahas lebih rinci di mata kuliah
manajemen operasional dan manajemen persediaan). Metode ini pertama kali dicetuskan
oleh Ford Harris pada tahun 1915, tetapi lebih dikenal dengan nama metode Wilson karena
dikembangkan oleh Wilson pada tahun 1934. Metode ini digunakan untuk menghitung
minimasi total biaya persediaan berdasarkan persamaan tingkat atau titik equilibrium
kurva biaya simpan dan biaya pesan.
Biaya pemesanan variabel dan biaya penyimpanan variabel mempunyai hubungan
terbalik, yaitu semakin tinggi frekuensi pemesanan maka semakin rendah biaya
penyimpanan variabel dan agar biaya pemesanan variabel dan biaya penyimpanan variabel
dapat ditekan serendah mungkin, maka perlu dicari jumlah pembelian yang paling
ekonomis. Metode ini digunakan untuk menentukan jumlah pembelian bahan baku yang
optimal yaitu jumlah yang harus dipesan dengan biaya yang paling rendah (ekonomis), ada
dua keputusan dasar dalam EOQ, yaitu: 1. Berapa jumlah bahan baku yang harus dipesan
pada saat bahan baku tersebut perlu dibeli kembali (Replenisment Cyle) dan 2. Kapan perlu
dilakukan pembeliaan kembali (Reorder point).
Metode persediaan EOQ mempunyai beberapa asumsi: 1. permintaan konstan
(constant demand) dan tenggang waktu (lead time) diketahui, 2. persediaan diterima
dengan segera (instantaneous), 3. tidak ada diskon, 4. tidak ada kehabisan stok (stockout)
atau kekurangan (shortage), dan 5. biaya variabel yang muncul hanya biaya pemesanan
dan penyimpanan. Jadi dengan asumsi tersebut, grafik penggunaan persediaan sepanjang
waktu berbentuk seperti “gigi ikan hiu” (sawtooth shape; Grafik dapat dilihat pada buku
standar, misalnya Render & Stair, 2000). EOQ mempertimbngkan biaya pemesanan dan
biaya penyimpanan persediaan.
91
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
Rumus Economic Order Quantity (EOQ):
2.D.Co
EOQ 
Cc
Frekuensi pemesanan = D/EOQ
Reorder point = Lt x d
Total biaya (TC) = EOQ/2 (Cc) + D (Co)
Tiga macam biaya yang berhubungan dengan inventory yaitu:
1. Ordering cost (biaya pesan dan pemasaran)
Contohnya: biaya pemesanan, set up cost, biaya pengiriman dan penangannya
(bongkar-muat), potongan harga karena jumlah pembelian besar.
2. Carrying cost (biaya penyimpanan)
Contohnya: biaya gudang, asuransi, pajak kekayaan, biaya modal, penyusutan
3. Biaya persediaan pengaman, contohnya: kehilangan penjualan, kehilangan
kepercayaan pelanggan, gangguan jadwal produksi.
Gambar 5. Economic Order Quantity
92
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
Gambar 6. Cost as Function of Order Quantity
Costs as Functions of
Order Quantity
$Cost
Inventory Cost versus Order Quantity
C
Total
Minimum Cost
ost
t
y Cos
Carr
Order Cost
Optimal
Quantity
Quantity
Noorlaily F/FE Unair
15
Gambar 7. Sawtooth Inventory Curve
2.
Reorder Point (ROP)
Pembelian bahan baku yang sudah ditetapkan dalam EOQ agar tidak menggangu
kelancaran kegiatan produksi, maka diperlukan waktu pemesanan kembali bahan baku.
Faktor-faktor yang mempengaruhi titik pemesanan kembali adalah:
1. Lead time, yang merupakan waktu yang dibutuhkan antara bahan baku dipesan
hingga sampai di perusahaan. lead time ini akan mempengaruhi besarnya bahan
baku yang digunakan selama lead time, semakin lama lead time maka akan
semakin besar bahan yang diperlukan selama masa lead time.
2. Tingkat pemakaian bahan baku rata-rata persatuan waktu tertentu.
3. Persediaan pengaman (safety stock) yaitu jumlah persediaan bahan minimum
yang harus dimiliki oleh perusahaan untuk menjaga kemungkinan keterlambatan
datangnya bahan baku sehingga tidak terjadi stagnasi.
93
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
Jadi, ROP adalah tingkat persediaan dimana pemesanan harus dilakukan agar barang
dapat datang tepat pada waktunya.
ROP = L x Q
Keterangan:
L = lead time
Q = pemakaian rata-rata (per hari, per minggu, atau per bulan)
Gambar 8. The Reorder Point Curve
The Reorder Point (ROP) Curve
Inventory Level (Units)
ROP = (Demand per day) x (Lead time for a new order, in days) = d x L
Q*
Slope = Units/Day = d
ROP
(Units)
Lead Time (Days)
L
Noorlaily F/FE Unair
24
Gambar 9. Hubungan EOQ dengan ROP Pada Kondisi yang Pasti
Hubungan EOQ dengan Reoder point pada
kondisi yang pasti
Persediaan Maksimum = EOQ
EOQ
EOQ
EOQ
ROP
ROP
ROP
Lt
Lt
Lt
Pengembangan model EOQ untuk keadaan yang tidak pasti dalam menghadapi
kondisi yang tidak pasti, maka penerapan model EOQ perlu dikembangkan dengan
memperhitungkan persediaan pengaman.
- Jumlah persediaan maksimum = EOQ + persediaan pengaman
- Total biaya persediaan:
TC = EOQ/2 (Cc) + D (Co) + Jumlah persediaan pengaman (Cc)
94
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
Gambar 10. Hubungan EOQ dengan ROP Pada Persediaan Pengaman
Hubungan EOQ dengan ROP dan
PersediaanPengaman
Persediaan Maksimum = EOQ + Persed. Pengaman
EOQ
EOQ
ROP
EOQ
ROP
ROP
Persediaan pengaman
3.
Safety Stock
Safety Stock dapat ditaksir dengandengan cara yang relatif lebih teliti yaitu dengan
metode sebagai berikut:
1. Metode perbedaan pemakaian maksimum dan rata-rata
metode ini dilakukan dengan menghitung selisih anatara pemakaian maksimum
dengan pemakaian rata-rata dalam jangka waktu tertentu (misalnya per minggu),
kemudian selisih tersebut dikalikan dengan lead time.
Safety Stock = (pemakaian maksimum - pemakaian rata-rata) lead time
2. Metode statistika digunakan untuk menetukan besarnya safety stock dimana
dengan metode ini kita dapat menggunakan program komputer seperti dengan
menggunakan program SPSS untuk mencari Least Square Method (metode
kuadrat terkecil)
4.
Just in Time (JIT)
Menurut JIT ada beberapa faktor yang menyebabkan Inefisiensi dalam inventory
yakni sebagai berikut: 1. Overproduction, 2. Waiting, 3. Transportation, 4. Processing, 5.
Motion, 6. Stock, dan 7. Defective Products. JIT merupakan pendekatan untuk
meminimalkan total biaya penyimpanan dan persiapan yang sangat berbeda dari
pendekatan tradisional. pendekatan tradisional mengakui biaya persiapan dan kemudian
menetukan kuantitas pesanan yang merupakan saldo terbaik dari dua kategori biaya.
sebaliknya di lain pihak, JIT tidak mengakui biaya persiapan tetapi sebaliknya JIT
mencoba menekan biaya-biaya ini sampai nol. Jika biaya penrsiapan tidak menjadi
signifikan maka biaya tersisa yang akan diminimalkan adalah biaya penyimapanan, yang
dilakukan dengan menggurangi persediaan sampai ke tingkat yang sangat rendah.
pendekatan inilah yang mendorong untuk persediaan nol dalam sistem JIT. kebanyakan
penghentian produksi terjadi karena salah satu dari tiga alasan yakni kegagalan mesin,
kerusakan bahan, dan ketersediaan bahan baku, sehingga memiliki persediaan merupakan
salah satu pemecahan masalah tradisonal atas semua masalah tersebut. pihak-pihak yang
mendukung pendekatan JIT berpendapat bahwa persediaan yang banyak tidak akan
memecahkan masalah tetapi hanya menyamarkan atau menutupi masalah. JIT dapat
95
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
memecahkan ketiga masalah ini dengan menekankan pada pemeliharaan total dan
pengendalian mutu total serta membina hubungan baik dengan pemasok.
5.
Analisis ABC
Manajer operasi dapat menetapkan manajemen persediaan, meliputi: 1. bagaimana
mengelompokkan produk persediaan melalui suatu analisis yang disebut analisis ABC, 2.
bagaimana mempertahankan keakuratan catatan persediaan yang ada dan diverifikasi
melalui audit berkelanjutan (cycle counting). Jadi dalam bisnis eceran (retail), penyusutan
persediaan karena barang rusak, dicuri, atau administrasi yang buruk, merupakan kerugian
yang besar.
Analisis ABC (model yang tidak berbasis EOQ) dapat digunakan untuk menentukan
persediaan apa yang akan dikendalikan (what inventory to control). Analisis ABC
membagi persediaan yang ada di tangan dalam tiga kelompok berdasarkan volume tahunan
dan unit harga. Analisis ini merupakan penerapan dari Prinsip Pareto, yang menyatakan:
“ada beberapa yang penting dan banyak yang sepele”. Pemikiran yang mendasari prinsip
ini adalah bagaimana memfokuskan sumberdaya pada bagian “persediaan penting
meskipun sedikit” itu dan bukan pada pada bagian persediaan yang banyak tapi sepele.
Analisis ABC mengakui adanya fakta bahwa beberapa items persediaan lebih penting dari
lainnya. Items kelompok A adalah kritis, items kelompok B adalah penting, dan items
kelompok C tidak penting, kalau diukur dengan nilai uang per tahun.
6.
Production Order Quantity (POQ)
Jika asumsi-asumsi dalam metode EOQ tersebut valid, metode EOQ akan
memberikan penyelesaian optimal. Jika asumsi tersebut tidak terpenuhi maka model
dasar EOQ tidak dapat diterapkan sehingga diperlukan model yang lebih kompleks, yakni
Model production order quantity (POQ) yang disebut juga model production run. Model
ini cocok untuk lingkungan produksi yang mengeleminasi asumsi bahwa persediaan
diterima segera dan sering disebut model jumlah produksi.
7.
Model Diskon
Model ini digunakan jika asumsi-asumsi dalam metode EOQ tidak valid. Model
diskon karena kuantitas (eoq with quantity discount) yang bertujuan untuk meminimalkan
biaya persediaan total, dengan mempertimbangkan biaya meterial aktual.
8.
Model Backorder
Pada model persediaan ini, pesanan dari pelanggan akan tetap diterima walaupun
pada saat itu tidak ada persediaan. Permintaan akan dipenuhi kemudian setelah ada
persediaan baru. Pesanan untuk diambil kemudian lazim disebut backorder. Asumsi dasar
yang digunakan pada model ini sama seperti model EOQ biasa, dengan tambahan asumsi
bahwa penjualan tidak hilang karena stock-out yaitu:
a) Barang yang dipesan dan disimpan hanya satu macam.
b) Kebutuhan atau permintaan barang diketahui dan konstan selama periode
persediaan.
c) Biaya pemesanan dan biaya penyimpanan diketahui dan konstan.
d) Barang yang dipesan diterima seketika, tidak bertahap.
e) Harga barang tetap dan dan tidak tergantung dari jumlah yang dibeli (tidak ada
diskon dalam tingkat kuantitas pesanan).
96
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
f) Waktu tenggang (lead time) diketahui dan konstan.
Gambar 11. menunjukkan tingkat persediaan sebagai fungsi dari waktu dalam model
dengan backorder. Pada gambar 11, bisa dijelaskan bahwa q merupakan jumlah setiap
pemesanan, sedangkan s merupakan on hand inventory yang menunjukkan jumlah
persediaan barang pada setiap awal siklus persediaan.
Gambar 11. Model Persediaan dengan Backorder
dimana:
a = biaya pengadaan barang tiap unit per satuan waktu.
b = biaya kekurangan barang (backorder) tiap unit per satuan waktu.
c = biaya penyimpanan barang.
r = total permintaan dalam unit, dalam periode T.
s = tingkat persediaan maksimum tiap awal periode.
q = jumlah pesanan ekonomis tiap periode.
t1= periode waktu pemesanan s unit barang.
t2= periode waktu pemesanan kembali untuk memenuhi kekurangan sebesar q-s.
tq = periode waktu antara dua pemesanan (tq = t1 + t2).
r
= banyaknya pesanan yang dilakukan selama periode T.
q
Setiap siklus persediaan terdiri dari dua buah segitiga yang menunjukkan adanya dua
tahap. Tahap pertama adalah tahap dimana permintaan konsumen dapat dipenuhi dengan
on hand inventory. Tahap ini digambarkan sebagai segitiga besar yang terletak di atas
sumbu datar, dengan tinggi s. Sedangkan tahap kedua adalah tahap dimana on hand
inventory sudah nol dan konsumen harus memesan untuk dapat diambil setelah tersedia
beberapa waktu kemudian. Tahap ini digambarkan sebagai segitiga yang terletak di bawah
sumbu datar, dengan tinggi (q - s) yang menunjukkan jumlah barang yang dipesan oleh
konsumen tetapi tidak dapat segera dipenuhi (backorder).
Biaya pengadaan persediaan (procurement cost) hanya dikenakan pada tahap
pertama dari siklus persediaan, yaitu pada segitiga besar yang terletak di atas sumbu datar.
Karena tingkat persediaan pada awal pesanan adalah s dan habis setelah waktu t1 dengan
s
laju yang konstan, maka persediaan rata-rata selama t1 adalah t1 .
2
97
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
Jadi dengan mengalikan biaya pengadaan persediaan (a) dengan persediaan rata-rata,
diperoleh:
s
Biaya pengadaan persediaan rata-rata = a x t1
(1.1)
2
Biaya kekurangan persediaan (shortage cost) dikenakan pada tahap kedua dari siklus
persediaan, yaitu pada segitiga kecil yang terletak di bawah sumbu datar. Karena jumlah
kekurangan adalah (q - s) dan habis setelah waktu t2 dengan laju yang konstan, maka
q  s  t ).
jumlah kekurangan persediaan rata-rata selama t2 adalah (
2
2
Jadi dengan mengalikan biaya kekurangan persediaan (b) dengan jumlah kekurangan
persediaaan rata-rata, diperoleh:
q  s  t ) (1.2)
Biaya kekurangan persediaan rata-rata = b ∙ (
2
2
Dari gambar 11. dapat diperoleh:
q
s qs r
 

tq t1
t2
T
(1.3)
s  T (q  s )T
r

,0  s  q
t1
t2
Pada model persediaan dengan backorder, total biaya persediaan (TC) merupakan
gabungan antara biaya pengadaan (procurement cost), biaya penyimpanan (holding cost)
dan biaya kekurangan (shortage cost), sehingga dengan menggunakan persamaan (1.1) dan
(1.2) maka total biaya persediaan tiap akhir periode waktu perencanaan [0,T] dapat
dirumuskan sebagai:
(q  s)
 s
r
TC  a. t1  b.
t 2  c
2
 2
q
(1.4)
 ast r b.(q  s )t 2 r cr 
 1 
 
2q
q
 2q
Dari persamaan (1.4) dapat diketahui bahwa TC merupakan fungsi dari q dan s sehingga
TC = F(q,s). Dengan mensubstitusi r pada (1.3) ke (1.4) diperoleh:
as 2T b(q  s ) 2 T cr
F ( q, s ) 

 , q  0, r  0
(1.5)
2q
2q
q
Dengan mempertimbangkan r, s sebagai variabel dan q diberikan, maka total biaya
persediaan F (q, s) dinotasikan sebagai:
as 2T b(q  s ) 2 T cr
Gq(r , s ) 

 , q  0, r  0
(1.6)
2q
2q
q
Tujuan yang ingin dicapai adalah menentukan nilai q dan s yang dapat
meminimumkan F(q, s). Hal ini dapat diperoleh dengan menggunakan aturan derivative
98
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
dari suatu fungsi, sehingga F(q, s) pada (1.5) diturunkan secara parsial terhadap q dan
terhadap s, kemudian menyamakannya dengan nol.

as 2 b(q 2  s 2 )T cr
TC   2 
 2
(1.7)
q
2q
2q 2
q

2asT 2b(q  s )T
TC 

(1.8)
s
2q
2q

Dari persamaan (1.7),
TC  0 , maka diperoleh:
q
 as 2T  b(q 2  s 2 )T  2cr  0
as 2 2cr

b
bT
2
as
2cr
q2 

 s2
b
bT
q2  s2 
Dari persamaan (1.8),
(1.9)

TC  0 , maka diperoleh:
s
asT bqT bsT


0
q
q
q
S (a + b ) T = bqT
bq
s
( a  b)
(1.10)
Dari persamaan (1.9) dan (1.10) dapat diperoleh:
Jumlah persediaan optimal q =
Jumlah backorder optimal s =
Total biaya minimum F (q,s) =
9.
2(a  b)cr
abT
2bcr
a (a  b)T
2abcrT
ab
(1.11)
Inventory Control Deterministik Multi Item Multi Item dengan Potongan
Harga Berdasar Jumlah Pesanan dan Biaya Pesan Gabungan
Dengan mengadaptasi tahap penentuan frekuensi dan jumlah pesanan pada kasus
potongan harga untuk item tunggal, tahap penentuan frekuensi dan jumlah pesanan
untuk kasus ini dapat disusun sebagai berikut :
1. Menentukan formula yang dapat digunakan untuk menghitung jumlah pesanan
ekonomis
2. Berdasarkan data struktur potongan harga yang ada, dibuat struktur kisaran baru
yang dapat mewakili karakter potongan harga semua item yang terlibat secara
bersama-sama
3. Menghitung jumlah pesanan ekonomis pada semua kisaran jumlah pesanan baru
99
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
yang terbentuk dengan harga yang sesuai, mulai dari kisaran jumlah pesanan
terkecil, sampai didapatkan jumlah pesanan ekonomis yang valid (yang berada
pada kisaran yang sesuai).
4. Menghitung biaya pengadaan persediaan pada jumlah pesanan ekonomis valid
dan pada semua jumlah pesanan price break di atas jumlah pesanan ekonomis
valid, dan
5. Memilih di antara hasil-hasil tersebut yang menghasilkan biaya terendah, sebagai
keputusan jumlah pesanan.
10.
Pengendalian Persediaan Deterministik Multi Item untuk Kecepatan
Pemakaian Tetap
Kejadian deterministik, yang dipakai sebagai asumsi untuk pembentukan modelmodel pengendalian persediaan deterministik, sebenarnya tidak pernah terjadi. Namun
teori ini dapat digunakan untuk mendekati kejadian yang tingkat ketidakpastiannya cukup
rendah. Model pengendalian persediaan probabilistik, yang lebih kompleks daripada model
deterministik, akan menjadi tidak ekonomis untuk diterapkan bila dipakai untuk
memodelkan kejadian yang tingkat ketidakpastiannya cukup rendah. Model biaya
pengadaan persediaan multi item telah dikembangkan (Narasimhan dkk., 1985), yang
secara umum memiliki bentuk seperti pada persamaan 1. Pada Narasimhan dkk. (1985)
persamaan di atas memiliki bentuk yang sedikit berbeda dari bentuk yang ada di sini
karena satuan yang digunakan berbeda untuk tiap variabelnya.
 H iQi
TIC = F (C +  ci) +
+  PiDi
(1)
2
dengan
TIC
F
C
ci
Hi
Qi
Pi
Di
=
=
=
=
=
=
=
=
biaya total pengadaan persediaan selama satu periode,
frekuensi pemesanan per periode,
biaya pesan tetap setiap kali pesan,
biaya pesan untuk pemesanan item i,
biaya penyimpanan item i per unit per periode,
jumlah unit item i setiap kali pesan,
harga item i per unit, dan
kebutuhan unit item i per periode.
Model di atas disusun dengan asumsi-asumsi dasar pengembangan model persediaan
deterministik sederhana yaitu :
1. Kecepatan pemakaian persediaan tertentu dan tetap (sehingga dapat dipastikan tidak
akan terjadi stock out).
2. Kedatangan pesanan serta merta.
3. Tidak diijinkan adanya back order.
4. Harga item-item yang terlibat tetap, tidak dipengaruhi jumlah pesanan, dan
5. Beberapa item dapat dipesan dan datang sekaligus.
Bila setiap item tidak pernah dipesan bersama-sama, maka suku C akan melebur ke
 ci dan model di atas akan menjadi
D

HQ
TIC =   i c i  i i  Pi D i 
(2)
2
 Qi

100
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
Sebaliknya bila semua item selalu dipesan bersama-sama, suku  ci akan melebur ke
C dan model di atas akan menjadi
 H iQi
TIC = FC +
+  PiDi
(3)
2
Bentuk model di atas masih dapat dikembangkan atau dispesifikkan lagi sesuai
dengan kasus yang dihadapi. Beberapa perumusan pengembangan model di atas dan
algoritma penyelesaiannya telah disusun antara lain oleh Brown, Silver, serta Kaspi dan
Rosenblatt (Narasimhan, 1985). Brown mengembangkan algoritma penyelesaian iteratif
untuk mendapatkan frekuensi pemesanan tiap item yang diawali dengan penetapan suatu
frekuensi yang sama untuk semua item, biasanya pada F = 1. Dari contoh kasus yang
dikemukakan dapat dibuktikan bahwa meskipun ada biaya pesan tetap C, masing-masing
item tidak harus selalu dipesan bersama-sama setiap kali pesan. Hal ini dapat dimengerti
karena ada biaya pesan tiap item, ci .
Algoritma yang dikembangkan Silver pada dasarnya memiliki tujuan yang sama
dengan algoritma Brown, dan merupakan penyederhanaan algoritma Brown dengan
menghilangkan prosedur iteratifnya. Kaspi dan Rosenblatt selanjutnya menyempurnakan
algoritma Silver dengan penyederhanaan lebih lanjut sehingga praktis untuk jumlah item
yang sangat besar.
PENUTUP
Pengendalian bahan baku yang diselenggarakan dalam suatu perusahaan diusahakan
untuk dapat menunjang kegiatan-kegiatan yang ada dalam perusahaan yang bersangkutan.
Ketarpaduan dari seluruh pelaksanaan kegiatan yang ada dalam perusahaan akan
menunjang terciptanya inventory control system yang baik dalam suatu perusahaan.
Pengendalian persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting bagi
perusahaan, karena persediaan fisik pada perusahaan akan melibatkan investasi yang
sangat besar pada pos aktiva lancar. Pelaksanaan fungsi ini akan berhubungan dengan
seluruh bagian yang bertujuan agar usaha penjualan dapat intensif serta produksi dan
penggunaan sumber daya dapat maksimal.
Dari keseluruhan uraian di atas terlihat bahwa penyusunan model pengendalian
persediaan untuk suatu perusahaan dapat dikembangkan dari model-model dasar yang ada
namun tetap mempertimbangkan prinsip ekonomis, yaitu trade off antara kemudahan
penyusunan dan penerapan model dengan keakuratan hasil sesuai tujuan yang ingin
dicapai.
DAFTAR PUSTAKA
Asdjudirejda, Lili. 1999. Manajemen Produksi. Bandung : Armiko
Assauri, Sofyan. 1998. Manajeman Produksi dan Operasi. Edisi Revisi. Jakarta: BPFE UI.
Dessler, Gary. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT Indeks.
Gitosudarmo, Indrio. 2002. Manajemen Keuangan Edisi 4. Yogyakarta: BPFE.
101
JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)
Tinjauan Atas Planning, Replenishment (Skenario) dan Activities Inventory Control
VOL. 1 NO. 1
JANUARI 2011
Herjanto, Eddy, 1999. Manajemen Produksi dan Operasi. Jakarta: PT Gramedia.
Herjanto, Eddy. 1997. Manajemen Produksi dan Operasi. Jakarta: Grasindo.
IAI. 2009. Standar Akuntansi Keuangan: Jakarta
Matz, Adolp dkk.1994. Akuntansi Biaya. Jakarta: Erlangga.
Narasimhan, S.L., McLeavey, D.W., Billington, P.J., 1985, Production Planning and
Inventory Control, 2 ed., Prentice- Hall International, Inc., New Jersey.
Prawirosentono, Suyadi. 2001. Manajemen Operasi : Analisis Dan Studi Kasus. Jakarta :
Bumi Aksara.
Render, Barry & Ralph M. Stair, Jr. 2000. Quantitative Analysis for Management, 7th
Edition, New Jersey: Prentice. Hall International.
Riggs, James L. (1976). Producrion System: Planning, Analysis and Control. New York:
John Wiley & Sons, Inc. Bedworth.
Riyanto, Bambang. 2001. Dasar-dasar Pembelajaran Perusahaan Edisi 4. Yogyakarta:
BPFE.
Soemarsono, 1999. Akuntansi Suatu Pengantar. Jakarta: Penerbit PT. Rineka Cipta.
102
Download