20 FUNGSI DENGAN MODEL PEMBELAJARAN - E

advertisement
ISSN 1693-7945
Vol.VII No. 3A Jan 2016
FUNGSI DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD
(PTK pada Siswa Kelas XI IPA 2 SMA Negeri 1 Jamblang Kabupaten Cirebon)
Oleh:
Susiyanti Hadibroto
Guru SMA Negeri 1 Jamblang Kabupaten Cirebon
ABSTRAK
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan di SMAN 1
Jambang Kabupaten Cirebon ternyata hasil belajar aspek kognitif pada pokok bahasan
turunan fungsi Kelas XI IPA 2 masih rendah yaitu masih dibawah kriteria ketuntasan
minimal 75. Rendahnya hasil belajar tersebut menunjukkan rendahnya pemahaman siswa
terhadap konsep materi fungsi turunan. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan
melakukan terobosan dalam pembelajaran materi funggsi turunan sehingga siswa bisa aktif,
salah satu pembelajaran yang bisa membuat siswa aktif yakni dengan menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD.
Penelitian dilaksanakan berdasarkan rumusan masalah yaitu: Bagaimana penerapan
model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dapat meningkatkan aspek kognitif belajar
siswa?”. Sedangkan tujuan dalam penelitian ini yakni untuk menguji apakah penerapan
model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dapat meningkatkan aspek kognitif belajar siswa.
Dari hasil analisis data disimpulkan bahwa Dari hasil penelitian dapat disimpulkan
bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan aspek kognitif
pada pokok bahasan turunan fungsi. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti dapat
memberikan saran-saran sebagai berikut: (1) Semua pihak harus segera menyadari akan
perlunya segera mengadakan perubahan dalam pembelajaran khususnya untuk pelajaran
matematika, agar kesan sulit dan menakutkan bagi siswa segera berakhir; (2) Beban materi
matematika dengan alokasi waktu yang sangat sempit merupakan suatu permasalahan bagi
guru untuk bisa menerapkan suatu metode pembelajaran, untuk itu perlu kiranya untuk dikaji
kembali alokasi waktu yang disediakan. (3) Untuk meningkatkan aspek kognitif siswa dalam
belajar matematika, guru dapat menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD
dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah. (4) Penelitian ini dapat ditindak lanjuti sampai
siklus berikutnya sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih valid.
Kata Kunci: Aspek Kognitif, Pembelajaran Kooperatif tipe STAD
PENDAHULUAN
Berdasarkan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pembelajaran berbasis
kompetensi menerapkan pembelajaran tuntas (Mastery learning) dengan penilaian
berkelanjutan yang mencakup 3 aspek penilaian yaitu kognitif, psikomotor, dan afektif.
Hasil pendidikan dianggap tinggi mutunya apabila pengetahuan, sikap dan keterampilan
yang dimiliki oleh para lulusannya berguna bagi perkembangan selanjutnya, baik di lembaga
pendidikan yang lebih tinggi maupun di masyarakat. Mutu yang tinggi itu baru mungkin
dicapai apabila proses belajar mengajar diselenggarakan benar-benar efektif bagi pencapaian
pemahaman pengetahuan, membentuk sikap dan menciptakan suatu keterampilan.
Perjalanan KTSP menuntut guru untuk menerapkan system penilaian berbasis
kompetensi yang berkesinambungan dan menyeluruh meliputi kemampuan kognitif,
psikomotor, dan afektif. Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berpikir termasuk
di dalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintensis,
20
Vol.VII No. 3A Jan 2016
ISSN 1693-7945
dan kemampuan mengevaluasi. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti sikap, minat,
konsep diri, nilai, dan moral. Sedangkan ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan
dengan aktifitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, merangkai,
menyusun, dan sebagainya. Untuk meningkatkan mutu, proses pembelajaran guru harus
melibatkan siswa secara aktif. Dalam hal ini aspek kognitif siswa perlu diperhatikan dan
ditingkatkan sehingga proses pembelajaran berlangsung lebih baik, tidak membosankan bagi
siswa, dan terjadi interaksi yang lebih baik antara siswa dengan siswa dan antara siswa
dengan guru.
Salah satu model pembelajaran yang dapat mengubah pemahaman tentang bagaimana
siswa belajar, serta dapat mengakrabkan matematika dengan siswa adalah model
pembelajaran kooperatif. Madeden dan Salvin (dalam Sani 2000: 4) dalam penelitiannya
memperoleh kesimpulan bahwa dengan belajar membuat siswa bersemangat untuk belajar.
Dalam penulisan ini penulis hanya mengkaji tentang profil hasil belajar siswa dengan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk melihat perkembangan hasil belajar siswa.
Hal ini disebabkan karena STAD merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang paling
sederhana dan dapat digunakan oleh guru yang baru menggunakan pendekatan pembelajaran
kooperatif. Pembelajaran kooperatif tipe STAD menghendaki bagaimana siswa belajar secara
perorangan untuk mempersiapkan diri berpartisipasi dalam belajar bersama di dalam
kelompok kecil. Didalam kelompok kecil ini siswa dapat mengembangkan pengetahuannya
(tutor sebaya) kepada teman-teman atau memperoleh pengetahuan dari teman-temannya.
Sedangkan materi pelajaran yang dipilih adalah menghindari perilaku tercela.
Berdasarkan pengalaman penulis selama bertugas, guru selalu mengajar secara klasikal
dengan menggunakan metode ceramah, dimana guru berupaya menjelakan materi sejelasjelasnya dengan harapan siswa dapat dengan capat memahami materi yang diajarkan.
Sehingga hanya sebagian kecil waktu yang digunakan siswa untuk mengerjakan soal-soal
latihan, siswa cenderung pasif dan takut untuk bertanya walaupun mengalami kesulitan dalam
mempelajari konsep matematika. Dengan demikian hasil belajar siswa pun tidak optimal.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis memilih judul penelitian “Peningkatan Aspek
Kognitif Pada Pokok Bahasan Turunan Fungsi Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
STAD (PTK pada Siswa Kelas XI IPA 2 SMA Negeri 1 Jamblang Kabupaten Cirebon)”.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah di atas, maka
masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: “Bagaimana penerapan model
pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dapat meningkatkan aspek kognitif belajar siswa?”.
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, penelitian ini memiliki tujuan untuk menguji apakah
penerapan model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dapat meningkatkan aspek kognitif
belajar siswa?.
METODE PENELITIAN
Siklus Penelitian
Tahap-tahap pelaksanaan penelitian tindakan terdiri dari perencanaan, pemberian
tindakan, observasi, analisis, dan refleksi. Adapun alur tahap pelaksanaan tindakan dalam
penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut:
Plan
Reflection
Resived Plan
21
ISSN 1693-7945
Vol.VII No. 3A Jan 2016
Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan berdasarkan langkah-langkah berikut ini :
1. Langkah Persiapan
a. Membuat instrumen tes sesuai dengan indikator atau rumusan tujuan pembelajaran
khusus dan menentukan bobot dan pemarkahannya.
b. Membimbing guru mata pelajaran untuk penggunaan model pembelajaran kooperatif
tipe STAD.
2. Langkah Pelaksanaan
a. Memilih kelas yang dilibatkan dalam penelitian.
b. Memberikan tes awal.
c. Siswa dibagi dalam 6 kelompok yang terdiri dari 5 orang.
d. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD.
e. Setiap sub pokok bahasan selesai diajarkan diberikan tes akhir.
Teknik Analisa Data
Data dari penelitian ini diolah dengan menggunakan analisa statistik diskritif. Langkah
analisanya sebagai berikut:
1. a. Karena adanya perbedaan jumlah skor tes akhir belajar, maka penelitian tidak
menggunakan skor, tetapi nilai sebagai acuan. Teknik penilaian yang digunakan adalah:
22
Vol.VII No. 3A Jan 2016
ISSN 1693-7945
Nilai =
Jumlah skor siswa yang benar
× 10
Jumlah skor total
b. Menentukan nilai rata-rata tes hasil belajar siswa Kelas XI IPA 2 SMA Negeri
Jamblang Kabupaten Cirebon dengan rumus:
𝑥=
𝑥𝑖
𝑛
(Sujana, 1989: 67)
Keterangan :
𝑥 = Mean atau rata-rata
𝑥𝑖 = Nilai data
𝑛 = banyaknya data
c. Penggunaan statistik deskreptif sekaligus juga untuk mengetahui taraf penguasaan siswa
terhadap materi Memecahkan Masalah Keuangan Dengan Konsep Matematika. Sebaran
nilai taraf penguasaan siswa disajikan dalam tabel distribusi frekuensi dengan
menggunakan pedoman penilaian. Pedoman penilaian acuan patokan (PAP) menurut
Arikuno (1993 : 294), seperti tabel berikut ini,
Tabel 3. Pedoman Penilaian Acuan Patokan
Nilai
8,0 – 10,0
6,6 – 7,9
5,6 – 6,5
4,0 – 5,5
0 – 3,9
Kualitas
Baik sekali
Baik
Cukup
Kurang
Gagal
Selanjutnya nilai tes awal dari setiap siswa dimasukan sebagai Nilai Dasar (ND)
untuk sub pokok bahasan (SPB) 1, nilai tes hasil belajar di akhir SPB 1 disebut Nilai
Akhir (NA) untuk SPB 1 dan sekaligus menjadi nilasi dasar (ND) untuk SPB 2. Nilai
tes hasil belajar di akhir SPB 2, disebut nilai akhir untuk SPB 2 yang sekaligus menjadi
nilai dasar untuk materi SPB 3, nilai tes hasil belajar diakhir SPB 3 disebut nilai akhir
untuk SPB 3 yang sekaligus menjadi nilai dasar untuk materi pada SPB 4. Nilai tes
hasil belajar diakhir SPB 4 disebut nilai akhir untuk SPB 4. Selanjutnya nilai dasar dan
nilai akhir setiap siswa digunakan untuk menghitung nilai peningkatan individu untuk
digunakan dalam pemberian penghargaan kelompok dengan petokan pada kriteria dari
tabel 1 dan tabel 2.
2. Menyajikan nilai rata-rata tes awal dan nilai rata-rata hasil belajar siswa kelas XI IPA 2
untuk setiap persamaan (RP) dalam bentuk diagram sehingga dapat dilihat profil belajar
individu.
3. Menyajikan nilai rata-rata kelompok untuk tes pengetahuan awal dan tes hasil belajar
untuk setiap pertemuan (RP) dalam bentuk diagram sehingga dapat dilihar profil hasil
belajar kelompok.
4. Membuat kesimpulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
23
Vol.VII No. 3A Jan 2016
ISSN 1693-7945
Deskripsi Hasil Penelitian Siklus Pertama
Penelitian pada siklus pertama ini dilakukan dengan menggunakan pembelajaran Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD. Pelaksanaan pembelajaran materi menghindari
perilaku tercela difasilitasi peneliti pada siswa SMA Negeri 1 Jamblang Kabupaten Cirebon,
Kelas XI IPA 2. Pelaksanaan pembelajaran ini berpedoman pada RPP.
Deskripsi Pembelajaran Siklus Pertama
Pada pembelajaran guru hanya menerangkan pengertian menghindari perilaku tercela,
kemuadian memberikan latihan soal. Hasil dari latihan soal tersebut didiskusikan di kelas
untuk menjawab permasalahan yang tertulis dalam indikator sebagai berikut.
Siklus I
Indikator
o Menghitung limit fungsi yang mengarah ke konsep turunan.
o Menghitung turunan fungsi yang sederhana dengan menggunakan definisi turunan.
Langkah-langkah
o Kegiatan Pendahuluan
 Memberi salam dan mengabsen.
 Apersepsi materi.
o Kegiatan Inti
 Guru menerangkan pelajaran
 Guru melakukan diskusi kelas
 Memberikan contoh soal
 Siswa mengerjakan tes
o Kegiatan Penutup
 Guru memberikan kesimpulan
 Melakukan refleksi materi
Dengan demikian dalam pembelajaran ini siswa melakukan Pembelajaran Kooperatif
Tipe STAD untuk menemukan sendiri jawaban terhadap indikator-indikator. Berikut peneliti
sajikan hasil tes pembelajaran siklus I.
Tabel 4.1
Hasil Tes Pembelajaran Siklus I
Tugas
No
1
2
3
4
Hasil Belajar
I
20
15
20
15
70
II
15
10
10
20
55
Kelompok
III
15
15
10
15
55
Rata-rata
IV
20
20
10
15
65
V
15
15
20
15
65
17
15
14
16
62
Komponen yang Perlu Diperbaiki
Refleksi dilakukan bersama-sama dengan ketiga observer dengan tujuan untuk
menemukan kegiatan-kegiatan yang perlu diperbaiki serta menetapkan solusinya. Hasil
refleksi terhadap kegiatan pembelajaran pada siklus pertama diperoleh satu indikator yang
belum dapat dikuasai oleh siswa. Indikator tersebut adalah menghitung turunan fungsi yang
sederhana dengan menggunakan definisi turunan
Solusi yang Digunakan
24
ISSN 1693-7945
Vol.VII No. 3A Jan 2016
Solusi yang digunakan untuk mengatasi masalah dengan Pembelajaran Kooperatif
Tipe STAD adalah sebagai berikut.
Siklus I: Indikator
o Menghitung limit fungsi yang mengarah ke konsep turunan.
o Menghitung turunan fungsi yang sederhana dengan menggunakan definisi turunan.
Langkah-langkah
Kegiatan Pendahuluan:
 Memberi salam dan mengabsen.
 Apersepsi materi.
Kegiatan Inti:
 Guru menerangkan pelajaran
 Guru melakukan diskusi kelas
 Memberikan contoh soal
 Siswa mengerjakan tes
Kegiatan Penutup:
 Guru memberikan kesimpulan
 Melakukan refleksi materi
Siklus II: Indikator
o Menentukan fungsi monoton naik dan turun dengan menggunakan konsep turunan
pertama.
o Menggambar sketsa grafik fungsi dengan menggunakan sifat-sifat turunan.
Langkah-langkah :
Kegiatan Pendahuluan:
 Kompetensi yang dirumuskan dalam perencanaan pelaksanaan pembelajaran.
 Rencana yang disusun harus sederhana dan fleksibel.
 Memberi salam dan mengabsen.
 Apersepsi materi
Kegiatan Inti:
 Diberikan stimulus berupa pemberian materi oleh guru
 Mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan mengenai cara menentukan
selang dimana suatu fungsi naik atau turun
 Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas contoh dalam buku paket
mengenai cara menentukan selang dimana suatu fungsi naik atau turun
Kegiatan Penutup:
 Guru memberikan kesimpulan
 Melakukan refleksi materi yang telah dibahas
Deskripsi Hasil Penelitian Siklus Kedua
Pelaksanaan tindakan perbaiakan pembelajaran materi menghindari perilaku tercela
dilakukan dengan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dengan pembuatan laporan dan
presentasi kelompok pada siswa SMA Negeri 1 Jamblang Kabupaten Cirebon, Kelas XI IPA
2. Pelaksanaan pembelajaran ini berpedoman pada RPP.
Kegiatan Pendahuluan
Kegiatan Pendahuluan:
 Guru menyusun RPP
 Memberi salam dan mengabsen.
 Apersepsi materi,
Kegiatan Inti
25
ISSN 1693-7945
Vol.VII No. 3A Jan 2016
Melakukan Pembelajaran
Kegiatan Inti:
 Diberikan stimulus berupa pemberian materi oleh guru
 Mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan mengenai cara menentukan
selang dimana suatu fungsi naik atau turun
 Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas contoh dalam buku paket
mengenai cara menentukan selang dimana suatu fungsi naik atau turun
Tabel 4.2
Penilaian Hasil Pembelajaran Siklus II
Soal KeKel 1
Kel 2
Kel 3
Kel 4
I
25
25
25
25
II
25
25
25
25
III
25
25
25
25
IV
25
25
25
25
Persentase
100
100
100
100
Benar
Kel 5
20
25
25
25
95
Kegiatan Penutup
Dalam kegiatan penutup peneliti menjelaskan kesimpulan dari peningkatan hasil
belajar konsep Turunan Fungsi, masukan dari setiap siswa tentang manfaat pelajaran setelah
menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD, proses pembelajaran, dan sistem
penilaian yang baru dilakukannya sebagai refleksi terhadap pemberlajaran. Salah seorang
murid berkata bahwa ia merasa lebih mengerti dan merasa menyenangkan belajar dengan
Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD.
Pembahasan Hasil Penelitian
Data hasil diskusi kelompok atau hasil tes setiap kelompok pada siklus pertama dan
siklus kedua adalah data yang digunakan untuk mengukur peningkatan hasil belajar
Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD. Karena teknik pengolahan data yang digunakan
adalah teknik kuantitatif, data tersebut berupa angka. Sedangkan teknik kuantitatif yang
digunakan peneliti dalam pembelajaran sehari-hari adalah mencari selisih hasil belajar atau
hasil tes siklus pertama dan siklus kedua. Adapun selisih-selisih yang dicapai adalah: (1)
Peneliti mencari selisih ketercapaian setiap tugas siklus kedua dengan siklus pertama, (2)
Peneliti mencarai selisih ketercapaian seluruh tugas dari setiap kelompok siklus kedua dan
siklus pertama, (3) Hasil pengolahan data tersebut dibuat diagram batang dan diagram
lingkaran.
Ketercapaian Setiap Tugas
Berdasarkan penjelasan diatas, berikut ini meneliti mencantumkan ketercapaian setiap
tugas dari setiap kelompok pada siklus pertama dengan kedua.
Pada tabel di bawah ini.
26
Vol.VII No. 3A Jan 2016
ISSN 1693-7945
Tabel 4.3
Skor KetercapaianTugas
Tugas
Ke1
2
3
4
Rata2
Hasil Belajar
I
II
Siklus Pertama
III
IV
20
15
20
15
15
10
10
20
15
15
10
15
20
20
10
15
15
15
20
15
17.5
70
13.75
55
13.75
55
16.25
65
16.25
65
V
Rata2
17
15
14
16
15.5
62
I
II
Siklus Kedua
III
IV
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
20
25
25
25
25
100
25
100
25
100
25
100
23.75
95
V
Rata2
24
25
25
25
24.75
99
Selisih tugas no 1 adalah 24-17=7. Selisih tugas no 2 adalah 25-15=10. Selisih tugas
no 3 adalah 25-14=11. Selisih tugas no 4 adalah 25 – 16 = 9. Rata-rata ketercapaian tugas
adalah 99 – 62 = 37.
Berikut ini peneliti sajikan peningkatan ketercapaian tugas yang merupakan
peningkatan hasil belajar dalam bentuk diagram batang sebagai berikut.
Diagram 4.1
Peningkatan Hasil Belajar Setiap Soal
12
10
8
6
Tugas
4
2
0
1
2
3
4
Tes yang digunakan adalah tes mengenai materi Turunan Fungsi. Tes dilakukan untuk
mengetahui pengaruh penyampaian materi pada siswa. Tes yang dilakukan berupa tes essai
yang terdiri dari Empat soal. Setiap soal berbobot 25%. Nilai maksimal adalah 100. Peneliti
membuat empat soal dalam tes, yaitu:
1. Tentukan turunan pertama dari fungsi-fungsi berikut :
a. f ( x)  4 x3  3x2  55x  10
2

c. f ( x)   x  
x

2
1
x
2. Tentukan gradien garis singgung kurva :
a. y  x 2  4 x  8 , di titik yang berbasis 2
b. y  3 x di titik (8, 2)
3. Tentukan titik stasioner dan jenisnya dari fungsi berikut.
a. f ( x)  2 x 2  12 x  10
b. f ( x)  x3  6 x 2  3
4. Tentukan interval agar fungsi :
x2  3
3
a. f ( x) 
naik
b. f ( x)   3  2 x  turun
x 1
b. f ( x)  x 3 x 
27
Vol.VII No. 3A Jan 2016
ISSN 1693-7945
Pada diagram 4.1 menunjukan peningkanan hasil belajar dari setiap soal, dapat dilihat
bahwa Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dapat peningkatan hasil belajar setiap tugas
menunjukan hasil yang merata. Hal ini berarti bahwa siswa telah memahami materi Turunan
Fungsi secara keseluruhan karena keempat soal tersebut diambil berdasarkan indikator
Turunan Fungsi. Indikator Turunan Fungsi terdiri dari:
Siklus I
Indikator
o Menghitung limit fungsi yang mengarah ke konsep turunan.
o Menghitung turunan fungsi yang sederhana dengan menggunakan definisi turunan.
Siklus II
Indikator
o Menentukan fungsi monoton naik dan turun dengan menggunakan konsep turunan
pertama.
o Menggambar sketsa grafik fungsi dengan menggunakan sifat-sifat turunan.
Selanjutnya peneliti mencari perbandingan ketercapaian seluruh tugas yang dijelaskan
dalam bentuk diagram lingkaran, sebagai berikut.
Diagram 4.2
Ketercapaian Hasil Belajar Setiap Soal
Soal 1
Soal 2
Soal 3
Soal 4
Selanjutnya peneliti akan mencari perbandingan ketercapaian seluruh tugas sebagai
berikut. Perbandingan ketercapaian tugas nomor 1 sampai 4 adalah
7:10:11:9=37.
Selanjutnya masing-masing angka ketercapaian tugas dibagi 37 lalu dibagi 100. Dengan
perhitungan (7/37 x 100% = 19%), (10/37 x 100% = 27%), (11/37 x 100% = 30%), (9/37 x
100% = 24%). Jadi perbandingan hasil ketercapaian terhadap tugas sebagai berikut: 19 : 27 :
30: 24 = 100.
Ketercapaian Seluruh Tugas
Berdasarkan tabel 4.3, berikut ini peneliti mencantumkan data ketercapaian seluruh
tugas dari setiap kelompok pada sik lus I dan siklus II. Ketercapaian hasil belajar kelompok I
adalah 100– 70 = 30; kelompok II adalah 100 – 55 = 45; Kelompk III adalah 100 – 55 = 45;
kelompok IV adalah 100 – 65 = 35; Kelompok V adalah 95 – 65 = 30. Data tersebut
menunjukan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar konsep Turunan Fungsi dengan model
Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD. Berikut ini peneliti sajikan diagram ketercapaian
seluruh tugas sebagai berikut.
Diagram 4.3
Hasil Belajar Setiap Kelompok
28
Vol.VII No. 3A Jan 2016
ISSN 1693-7945
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
Tugas
I
II
III
IV
V
Diagram 4.3 adalah diagram batang yang menjelaskan mengenai peningkatan hasil
belajar setiap kelompok. Diagram batang 4.3 berbeda dengan Diagram batang 4.1, pada
Diagram batang 4.3 peneliti menjelaskan mengenai peningkatan hasil belajar setiap
kelompok dan pada Diagram batang 4.1 peneliti menjelaskan mengenai peningkatan hasil
belajar setiap soal. Telah terjadi peningkatan hasil belajar kelompok yaitu. ketercapaian
seluruh tugas dari setiap kelompok pada siklus I dan siklus II. Peningkatan hasil belajar
kelompok I adalah 30; kelompok II adalah 45; Kelompk III adalah 45; kelompok IV adalah
35; Kelompok V adalah 30.
Perbandingan tugas hasil belajar kelompok I, II, III, IV, V adalah 30: 45: 45: 35: 30 =
185. Selanjutnya masing-masing ketercapaian tugas dibagi 185 lalu dibagi 100. Dengan
perhitungan (30/185 x 100% = 16%), (45/185 x 100% = 21%), (45/185 x 100% = 21%),
(35/185 x 100% = 21%), (30/185 x 100% = 21%). Berdasarkan data perbandingan tersebut,
peneliti menyajikan diagram lingkaran sebagai berikut.
Diagram 4.4
Ketercapaian Hasil Belajar Setiap Kelompok
Kel I
Kel II
Kel III
Kel IV
Kel V
Pada diagram lingkaran 4.4 peneliti menjelaskan mengenai persentase peningkatan
hasil belajar setiap kelompok. Diagram lingkaran 4.4 berbeda dengan Diagram lingkaran 4.2,
pada Diagram lingkaran 4.4 peneliti menjelaskan mengenai persentase peningkatan hasil
belajar setiap kelompok dan pada Diagram lingkaran 4.2 peneliti menjelaskan mengenai
persentase peningkatan hasil belajar setiap soal.
29
ISSN 1693-7945
Vol.VII No. 3A Jan 2016
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe
STAD dapat meningkatkan aspek kognitif pada pokok bahasan turunan fungsi.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti dapat memberikan saran-saran sebagai berikut :
1. Semua pihak harus segera menyadari akan perlunya segera mengadakan perubahan
dalam pembelajaran khususnya untuk pelajaran matematika, agar kesan sulit dan
menakutkan bagi siswa segera berakhir.
2. Beban materi matematika dengan alokasi waktu yang sangat sempit merupakan suatu
permasalahan bagi guru untuk bisa menerapkan suatu metode pembelajaran, untuk itu
perlu kiranya untuk dikaji kembali alokasi waktu yang disediakan.
3. Untuk meningkatkan aspek kognitif siswa dalam belajar matematika, guru dapat
menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pelaksanaan
pembelajaran di sekolah.
4. Penelitian ini dapat ditindak lanjuti sampai siklus berikutnya sehingga dapat diperoleh
hasil yang lebih valid.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1996. Kurikulum Sekolah Menengah Umum:
Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP). Proyek Sekolah Menengah
Umum Jawa Timur.
Fahrurazy. 2000. Pendekatan pembelajaran kooperatfi tipe stad dalam Proses Belajar
Mengajar, Makalah Seminar Demokratisasi dan Desentralisasi Pendidikan, UM
Malang.
Gagne. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Surabaya: Unesa Press
Handayanto, D. 2003. Pedoman Pengembangan Instrumen dan Penilaian Psikomotor.
Jakarta: Bumi Aksara.
Nurhadi, dkk, 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang:
Penerbit Universitas Negeri Malang.
Suharsimi Arikunto. 1993. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Wuryadi. 2000. Pradigma Baru Pendidikan Sains. Proceding Seminar Nasional di
Yogyakarta.
30
Download