8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teknik Reproduksi

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Teknik Reproduksi Berbantu Fertilisasi In Vitro
Fertilisasi in vitro adalah fertilisasi yang dilakukan diluar tubuh melalui
proses tertentu untuk mendapatkan embrio (Speroff, dkk., 2010). Proses itu
meliputi stimulasi ovarium, petik ovum, fertilisasi, dan transfer embrio.
Sementara, proses kehamilan lanjutan seperti implantasi, plasentasi, tumbuhkembang, dan maturasi berlangsung merujuk pada kehamilan alamiah; termasuk
risiko-risikonya. Hal ini merupakan salah satu cara TRB yang biasanya dilakukan
pada pasangan infertil setelah upaya-upaya untuk memperoleh kehamilan dengan
teknik TRB yang lainnya tidak berhasil.
Dengan demikian, FIV merupakan rangkaian proses yang meliputi
stimulasi ovarium terkontrol, petik ovum, fertilisasi, dan transfer embrio.
1. Stimulasi ovarium terkontrol adalah upaya merangsang folikulogenesis
dan oogenesis dengan berbagai cara terkontrol sehingga diperoleh
multi folikel dan ovulasi multipel. Tujuan akhir stimulasi ovarium
adalah untuk memperoleh oosit yang lebih banyak.
2. Petik ovum adalah proses pengambilan oosit melalui aspirasi cairan
folikel menggunakan jarum disposibel khusus bertekanan negatif
antara 100-110 mmHg sampai dinding folikel mengalami kolaps. Petik
ovum dilakukan transvaginal dengan bantuan ultrasonografi (USG)
dan transabdominal dengan bantuan laparoskopi atau laparotomi.
8
9
3. Fertilisasi adalah proses pembuahan oosit oleh spermatosit sehingga
terjadi proses fusi menghasilkan zigot dan berkembang menjadi
embrio. Terdapat beberapa cara FIV yaitu:
a. Konvensional adalah cara fertilisasi dimana oosit diinkubasi
dengan 50.000-100.000 sperma hidup dalam tempo 12-18 jam,
suhu 370 C, 5% CO2, dan 98% kelembaban.
b. Intracytoplasmicsperm injection (ICSI) adalah cara fertilisasi
dimana oosit diinjeksi dengan satu spermatosit yang telah diseleksi
dengan bantuan pipet berpenampang 2-7 µm.
4. Transfer embrio adalah proses pemindahan embrio dari luar tubuh ke
dalam kavum uterus memakai pipet khusus. Sementara, implantasi
pada endometrium terjadi secara alamiah.
Ada beberapa cara transfer embrio, antara lain (Speroff dkk, 2010):
a. Transcervical embrio transfer yaitu transfer embrio melalui kanalis
servikalis. Cara transfer embrio ini dapat dilakukan dengan
bantuan USG untuk identifikasi ketepatan kanula.
b. Zygote intra fallopian transfer (ZIFT) yaitu transfer zigot kedalam
tuba uterina Falopi dengan bantuan laparoskopi.
c. Tubal embryo transfer (TET) adalah transfer embrio kedalam tuba
uterina Falopii dengan bantuan laparoskopi.
Berdasarkan uraian diatas maka dapatlah dinyatakan bahwa TRB-FIV
relatif mahal terkait dengan padat teknologi, padat karya dan sumberdaya dengan
kompetensi khusus serta waktu yang ketat.
10
2.2
Folikulogenesis
Folikulogenesis adalah proses pematangan folikel pada korteks ovarium
yang tersusun dari sel somatik padat dan mengandung oosit imatur. Proses ini
menggambarkan perubahan dari folikel primordial kecil menjadi folikel
preovulasi besar. Peran utama pematangan folikel adalah untuk mendukung
oogenesis yang pada akhirnya menghasilkan oosit.
Sejak lahir, pada ovarium terdapat sejumlah folikel primordial imatur yang
mengandung oosit primer yang juga imatur. Selanjutnya, folikel primordial
mengalami perubahan karakter histologis dan fisiologis dimana akan terbentuk
baik folikel tersier maupun folikel antral. Proses ini bergantung pada berbagai
jenis hormon yang menyebabkan kecepatan folikulogenesis dan oogenesis yang
berakhir adanya ovulasi atau sebaliknya atresia folikel. Pada folikulogenesis,
GnRH yang diproduksi dan dilepaskan secara pulsatil dalam jumlah tertentu oleh
hipotalamus akan mempengaruhi hipofise (Ernesto, dkk., 2001; Speroff, dkk.,
2010). Selanjutnya, sel hipofise pars anterior memproduksi FSH yang berperan
penting dalam folikulogenesis. Folikulogenesis ini ditandai oleh peningkatan
diameter folikel dan berakhir pada folikel pre-ovulasi. Dan, kerjasama FSH dan
lutenizing hormone (LH) mengakibatkan terjadinya ovulasi yang menghasilkan
oosit matur (Berlinguera, dkk., 2007;.Speroff, dkk., 2010).
Folikulogenesis dimulai sejak kehidupan prenatal yang dibedakan atas 5
stadium yaitu:
1. Folikel Primordial
11
Pada janin usia 20 minggu, korteks ovarium mengandung
sekitar 7 juta folikel primordial; suatu jumlah paling banyak selama
masa kehidupan. Folikel primordial ini mengandung oosit imatur yang
dikelilingi sel granulosa pipih dan dipisahkan dari lingkungan oosit
oleh lamina basalis. Folikel primordial sebagai cadangan folikel
berkurang menjadi 2 juta saat lahir dan 300 ribu saat pubertas. Hanya
sekitar 400 yang akan sampai pada stadium folikel pre-ovulasi. Pada
stadium folikel primordial tidak menunjukkan aktivitas biologis.
Selanjutnya, folikel primordial merespon perubahan pola hormonal
dan memasuki tahap rekruitmen. Selanjutnya, berupa folikel primer
yang dimediasi oleh keseimbangan antara stimulasi dan inhibisi
hormon serta pembentukan faktor pertumbuhan lokal.
2. Folikel Primer
Pada stadium ini ditandai oleh perubahan sel granulosa folikel
primordial dari pipih menjadi kuboid menunjukkan mulainya folikel
primer. Pada saat yang sama mulai tampak adanya gap junctions yang
menghubungkan antara oosit dengan sel granulosa yang berfungsi
sebagai jalur nutrisi, metabolisme, dan komunikasi antara oosit dengan
sel granulosa. Gap junction merupakan saluran yang terbentuk dari
susunan protein yang disebut kaneksin. Kaneksin berperan penting
pada pertumbuhan dan multiplikasi sel-sel granulosa serta untuk nutrisi
dan regulasi perkembangan oosit. Selanjutnya, terjadi aktivasi oosit
dimana folikel tumbuh pesat dan hampir mencapai diameter 0,1
12
milimeter. Pada stadium folikel primer sudah terbentuk reseptor FSH,
akan tetapi tidak memberikan respon kepada gonadotropin. Kapsul
glikoprotein polimer membentuk kapsul yang mengelilingi zona
pelusida. Zona pelusida yang ikut oosit post ovulasi mengandung
enzim yang mampu mengkatalisasi sperma sehingga mampu
melakukan penetrasi.
3. Folikel Sekunder
Stadium ini ditandai aktivitas mitosis folikel yang sangat tinggi
dan tidak berlangsung lama sebelum sel granulosa terbentuk berlapislapis. Lapisan sel teka paling luar yang mengelilingi folikel disebut
lamina basalis dan mengalami diferensiasi sel menjadi teka eksterna
dan teka interna. Juga, terbentuk jaringan pembuluh kapiler antara 2
lapisan tersebut dan mulai mensuplai darah dari dan menuju ke folikel
yang
disebut
folikel
sekunder
stadium
dini.
Selanjutnya,
folikulogenesis memasuki folikel sekunder stadium lanjut. Folikel
sekunder stadium lanjut disebut juga folikel preantral. Secara
histologis, folikel preantral ditandai oleh oosit yang telah berkembang
penuh dan dikelilingi zona peluzida, kurang lebih 9 lapis sel granulosa,
lamina basal, teka interna, dan jaringan kapiler serta teka eksterna.
Selanjutnya, folikulogenesis akan memasuki pembentukan folikel
tersier.
13
4. Folikel Tersier
Folikel tersier disebut juga folikel de Graaf atau folikel antral
yang ditandai oleh pembentukan cairan dalam kavum yang berdekatan
dengan oosit disebut antrum. Struktur dasar folikel matur telah selesai
dan tidak ada sel baru yang terbentuk. Sel granulosa dan sel teka
melanjutkan mitosis yang bersamaan dengan bertambah besarnya
volume antrum. Sel granulosa dari folikel tersier mulai berdiferensiasi
menjadi 4 subtipe yaitu 1) Korona radiata yang mengelilingi zona
pelusida, 2) Membrana yang merupakan bagian dalam lamina basalis,
3) Periantral yang berdekatan dengan antrum, dan 4) Kumulus oovorus
yang menghubungkan membrana dan korona radiata. Setiap tipe sel
tersebut menunjukkan respon yang berbeda terhadap FSH. Sel teka
membentuk reseptor LH yang akan
memproduksi androgen dan
memproduksi estrogen melalui aromatisasi, terutama estradiol
sehingga jumlah estrogen mulai meningkat (Speroff, dkk., 2010).
5. Folikel Tersier Stadium Lanjut dan Preovulasi
Folikel tersier stadium lanjut dan preovulasi merupakan fase
folikuler pada siklus menstruasi. Pada stadium ini, sebagian besar
folikel yang tumbuh sejak 360 hari mengalami atresia yang ditandai
oleh apoptosis semua sel dan oosit. Meskipun tidak diketahui
penyebab atresia, kadar FSH yang tinggi dapat mencegahnya.
Peningkatan kadar FSH disebabkan oleh adanya degenerasi estradiol
dan inhibin yang disekresi oleh folikel ini mengawali supresi FSH.
14
Folikel yang mempunyai jumlah reseptor FSH yang tidak cukup, tidak
bisa berkembang lebih jauh dan akan mengalami retardasi pada
kecepatan pertumbuhannya dan menjadi atresia (Emery, dkk., 2007;
Sperroff, dkk., 2010).
Kelompok folikel tersebut mengalami
pertumbuhan sampai tahap tertentu dan selanjutnya mengalami
apoptosis. Namun, adanya rangsangan gonadotropin dengan kadar dan
waktu tertentu (threshold-window theory) maka folikel dapat terus
tumbuh menjadi folikel dominan (McGee dan Hsueh, 2000). Akhirnya,
hanya satu folikel dominan yang akan tumbuh pesat mencapai
diameter 20 milimeter dan menjadi folikel preovulasi melalui
mekanisme tahapan rekruitmen folikel yaitu:
a. Initial recruitment, yaitu proses pemilihan sekelompok folikel
primordial yang akan masuk ke fase pertumbuhan dimana proses
ini tidak tergantung gonadotropin. Sampai saat ini belum diketahui
dengan jelas mekanisme yang mengatur jumlah dan pemilihan
folikel yang memasuki initial recruitment. Proses yang dinamis ini
berlangsung terus menerus mulai sejak neonatus sampai dengan
menopause.
b. Cyclic recruitment, yaitu pemilihan sekelompok folikel antral yang
terselamatkan dari proses atresia karena dipengaruhi oleh
gonadotropin. Pada siklus haid yang normal, umumnya hanya satu
dari kelompok folikel ini yang terus tumbuh menjadi folikel
dominan, kemudian mengalami ovulasi menghasilkan satu oosit.
15
Folikulogenesis membutuhkan waktu sekitar 85 hari dan sebagian besar
waktu tersebut berlangsung dalam keadaan yang tidak dipengaruhi oleh regulasi
hormonal (Griesinger, dkk., 2005; Speroff, dkk., 2010).
2.3
Diameter Folikel
Folikulogenesis akan menghasilkan folikel dalam berbagai ukuran
/diameter dimana diameter folikel tersebut diduga dapat dipakai sebagai salah satu
prediktor untuk mengetahui kualitas oosit (McGee dan Hsueh, 2000; Ebner, dkk.,
2003). Diameter folikel mencerminkan besar folikel sehubungan dengan bahwa
90% folikel betuk bulat penuh dan 10% bulat lonjong (Speroff, dkk., 2010).
Cairan yang berada didalam folikel berasal dari sekresi sel granulosa dan sel teka
yang merupakan kumpulan sel yang membentuk folikel dalam zona pelusida.
Kualitas oosit berkaitan dengan morfologi oosit seperti terbentuknya PB-I dan
granulasi berperan penting dalam upaya meningkatkan kualitas embrio yang pada
akhirnya juga meningkatkan keberhasilan TRB itu sendiri.
2.4
Oogenesis
Oogenesis adalah proses perubahan secara sitologi-histologi-anatomi dari
oogonia sampai dengan terbentuknya oosit matur. Tujuan oogenesis adalah
menghasilkan oosit matur yang terjadi pada korteks ovarium. Pada siklus alamiah,
oosit matur yang dihasilkan pada oogenesis merupakan rujukan kualitas oosit
yang berkualitas baik. Oogenesis dibedakan atas 2 tahapan yaitu (Speroff, dkk.,
2010):
16
2.4.1
Pematangan pranatal
Ketika se-sel benih primordial tiba di kelenjar kelamin yang secara genetik
wanita, terjadi diferensiasi menjadi oogonia. Diferensiasi sel benih primordial
menjadi oogonia dimulai segera setelah tiba di ovarium. Menjelang bulan ketiga
masa perkembangan, beberapa oogonia menjadi oosit primer yang masuk ke
profase pembelahan meiosis pertama. Tahap profase ini dapat berlangsung selama
40 tahun atau lebih dan akan selesai bila sel tersebut memulai tahap pematangan
akhir. Selama tahap profase ini, oosit primer mengandung 46 kromosom bersusun
ganda. Sel ini mengalami sejumlah pembelahan mitosis dan pada akhir bulan
ketiga tersusun dalam kelompok-kelompok yang dikelilingi oleh selapis sel epitel
gepeng. Semua oogonia di dalam satu kelompok mungkin berasal dan satu sel
benih primordial. Sedangkan sel epitel gepeng yang dikenal sebagai sel folikel
berasal dari epitel permukaan yang membungkus ovarium.
Pada janin usia empat bulan, oogonia terkumpul dalam kelompok dibagian
korteks ovarium. Sel-sel tersebut sebagian besar membelah terus, tetapi beberapa
diantaranya berdiferensiasi menjadi oosit primer yang jauh lebih besar dan sudah
memasuki tahap profase pembelahan miosis pertama.
Pada bulan-bulan berikutnya, jumlah oogonia meningkat dengan cepat.
Menjelang bulan kelima, jumlah keseluruhan oosit di dalam ovarium mencapai
puncaknya yaitu sekitar 7 juta. Pada saat ini, mulai terjadi kematian sel dan
banyak oogonia maupun oosit primer menjadi atretik. Menjelang bulan ketujuh,
sebagian besar oogonia berdegenerasi, kecuali beberapa yang letaknya dekat
dengan permukaan. Akan tetapi, semua oosit primer yang masih bertahan hidup
17
sudah memasuki pembelahan meiosis pertama, dan kini sebagian besar di
antaranya dikelilingi oleh selapis sel epitel gepeng. Sebuah oosit primer, bersama
dengan sel epitel gepeng yang mengelilinginya dikenal sebagai folikel primordial.
Pada janin usia 7 bulan, hampir semua oogonia berubah menjadi oosit
primer dalam tahap profase pembelahan meiosis pertama. Pada saat lahir, oogonia
tidak ditemukan. Setiap oosit primer dikelilingi oleh selapis sel folikuler sehingga
membentuk folikel primordial. Oosit telah memasuki fase diploten dan fase ini
dipertahankan hingga tepat sebelum saat ovulasi. Kemudian, oosit ini memasuki
tahap metafase pembelahan meiosis pertama.
2.4.2
Pematangan postnatal
Menjelang saat kelahiran, semua oosit primer telah berada pada profase
pembelahan meiosis pertama, tetapi tidak memasuki metafase melainkan beralih
ke tahap diploten. Tahap diploten adalah suatu masa istirahat selama profase yang
ditandai oleh adanya jalinan halus kromatin. Oosit primer tetap berada dalam
tahap profase dan tidak menyelesaikan pembelahan meiosis pertamanya sebelum
mencapai masa pubertas, rupanya disebabkan oleh penghambat pematangan oosit,
suatu zat yang dikeluarkan oleh sel folikuler. Jumlah seluruh oosit primer pada
waktu lahir diperkirakan berkisar antara 700 ribu sampai 2 juta. Selama dua tahun
masa kanak-kanak berikutnya, sebagian besar oosit menjadi atresia; kira-kira
hanya tinggal 400.000 menjelang permulaan masa pubertas. Dan, kurang dari 500
akan mengalami ovulasi sepanjang masa reproduksi seorang wanita (Wallace dan
Kelsey, 2004; Speroff, dkk., 2010). Penting diketahui bahwa beberapa oosit yang
mencapai kematangan pada usia lanjut, menjalani masa tidak aktif dalam tahap
18
diploten pembelahan mitosis pertama selama 40 tahun atau lebih. Sampai
sekarang belum diketahui apakah tahap diploten merupakan fase yang paling
sesuai untuk melindungi oosit terhadap pengaruh lingkungan yang mempengaruhi
ovarium sepanjang hidup. Angka kejadian anak yang mengalami kelainan
kromosom bertambah besar sesuai dengan bertambahnya usia ibu. Hal ini diduga
berkaitan dengan semakin lama berlangsungnya meiosis maka oosit primer
semakin mudah mengalami kerusakan (Baart, dkk., 2007; Speroff, dkk., 2005).
Memasuki pubertas, 5-15 folikel primordial mulai mencapai kematangan
pada setiap daur ovarium. Oosit primer pada tahap diploten ini mulai membesar,
sementara sel folikuler yang mengelilinginya berubah bentuk dan gepeng menjadi
kuboid dan berproliferasi membentuk epitel bertingkat sel granulosa. Folikel ini
sekarang disebut folikel primer. Sel granulosa terletak di atas suatu membran
basalis yang memisahkannya dan sel stroma sekelilingnya yang membentuk teka
folikel. Disamping itu, sel-sel granulosa dan oosit mengeluarkan suatu lapisan
glikoprotein pada permukaan oosit tersebut sehingga membentuk zona pelusida.
Karena folikel terus berkembang maka sel-sel teka folikel tersusun menjadi satu
lapisan dalam sel sekretoris teka interna dan satu lapisan luar jaringan ikat yang
mengandung sel-sel mirip fibroblas berupa teka eksterna. Juga, tonjol-tonjolan
kecil sel folikuler yang menyerupai jari-jari menjulur melintasi zona pelusida dan
saling terjalin dengan mikrovili membrana plasma oosit tersebut. Tonjol-tonjolan
ini diperkirakan penting untuk pengangkutan zat-zat menuju ke oosit (Wallace
dan Kelsey, 2004; Speroff, dkk., 2010).
19
Perkembangan berlanjut terus, ruang-ruang yang terisi cairan tampak di
antara sel-sel granulosa dan ruang-ruang ini saling bergabung terbentuklah antrum
dimana folikel ini disebut folikel sekunder. Pada mulanya, antrum berbentuk
bulan sabit tetapi makin lama makin membesar. Sel granulosa di sekitar oosit
tetap utuh dan membentuk kumulus ooforus. Sesuai dengan pematangannya,
folikel yang diameternya bisa 10 mm atau lebih dikenal sebagai folikel tersier /
vesikuler / folikel de Graaf. Folikel ini dikelilingi oleh teka interna yang disusun
oleh sel-sel yang mempunyai ciri khas sekresi steroid yang kaya pembuluh darah.
Dan, teka eksterna yang berangsur-angsur menyatu dengan stroma ovarium
(Speroff, dkk., 2010).
Bersamaan dengan setiap daur ovarium, sejumlah folikel mulai
berkembang, tetapi biasanya hanya satu saja yang mencapai kematangan penuh.
Sedangkan, folikel yang lain berdegenerasi dan menjadi atretik. Segera setelah
folikel tersebut rnatang, oosit primer melanjutkan pembelahan meiosis pertama
dan menghasilkan dua sel anak yang tidak sama besar tetapi masing-masing
membawa 23 kromosom bersusun ganda. Satu sel oosit sekunder menerima
seluruh sitoplasma sedangkan yang lain menerima badan kutub pertama sehingga
praktis tidak memperoleh sitoplasma. Hal ini terletak di antara zona pelusida dan
selaput sel oosit sekunder di ruang perivitelina. Pembelahan meiosis pertama
berlangsung sesaat sebelum ovulasi (Speroff, dkk., 2010).
Setelah pembelahan pematangan pertama selesai dan sebelum inti oosit
sekunder kembali dalam stadium istirahatnya, sel memasuki pembelahan
pematangan kedua tanpa replikasi DNA. Pada saat oosit sekunder memperlihatkan
20
pembentukan kumparan dengan kromosom berjajar lurus pada sediaan metafase,
terjadilah ovulasi dan oosit dilepaskan dari ovarium. Pembelahan pematangan
kedua hanyaakan berlangsung apabila terjadi fertlisasi. Apabila tidak terjadi
fertilisasi maka sel akan berdegenerasi kurang lebih 24 jam setelah ovulasi
(Speroff dkk, 2010). Tidak diketahui dengan pasti apakah badan kutub pertama
selalu mengalami pembelahan kedua atau tidak tetapi pernah ditemukan sel telur
yang telah dibuahi disertai oleh tiga buah badan kutub. Terdapat kesan bahwa
pada FIV dimana dilakukan stimulasi ovarium dengan siklus GnRH analog,
diameter folikel tidak menunjukkan kualitas oosit (Ebner, dkk., 2003; Depalo,
dkk., 2009).
Maturasi oosit terdiri dari dua proses yang saling berhubungan dan saling
tergantung satu sama lain yaitu maturasi sitoplasma dan maturasi inti. Maturasi
sitoplasma meliputi perubahan-perubahan sitoplasma seperti redistribusi organela,
perubahan mikro dan makro molekuler yang terjadi selama maturasi oosit.
Perubahan ini akan memungkinkan oosit mampu melakukan (Navarro, dkk.,
2009; Speroff, dkk., 2005):
1. Maturasi inti
2. Fertilisasi yang berhasil
3. Pembelahan
4. Perkembangan
Selama proses maturasi oosit, maturitas inti mengalami perubahan kromatin yang
dimulai sejak germinal vesikalis melewati meiosis I ke meiosis II. Berhentinya
maturasi inti menyebabkan oosit berhenti pada metafase II. Pada stadium ini, oosit
21
secara fisiologis disiapkan untuk menyelesaikan pembelahan meiosis kedua saat
fertilisasi. Hanya oosit yang telah tumbuh sempurna yang mampu menyelesaikan
pembelahan meiosisnya (Speroff dkk, 2010). Dengan demikian, perubahanperubahan sitoplasma yang terjadi sebelum maturasi oosit penting dalam
terjadinya kompetensi maturasi. Akan tetapi, berhentinya pertumbuhan oosit tidak
absolut menentukan berhentinya maturasi inti. Bahkan, oosit yang telah
menyelesaikan pertumbuhannya dapat mengalami maturasi sitoplasma parsial
sehingga mengganggu maturasi inti. Jadi, ada hubungan yang sangat rumit
diantara seluruh proses selama oogenesis yang menentukan kualitas oosit yang
bisa dibuahi (Lasiene, 2009).
2.5
Polar Body Primer
Polar body primer (PB-I) merupakan suatu struktur sel yang ditemukan di
dalam sebuah oosit yang dikenal juga sebagai sel polar. Pembelahan sel yang
tidak simetris mendorong pembentukan PB selama proses oogenesis. Untuk
menghemat nutrisi, sebagian besar sitoplasma dipisah menjadi oosit sekunder saat
meiosis pertama dan menjadi ovum saat meiosis kedua. Sel kedua yang tersisa
dari proses meiosis, berukuran kecil dan mengandung relatif lebih sedikit
sitoplasma dan akan menjadi PB yang pada akhirnya mengalami degenerasi
(Depalo, dkk., 2009; Speroff, dkk., 2010).
Di dalam oosit kemungkinan terdapat satu atau dua PB yaitu PB-I dan PBII. Polar body-I adalah salah satu dari dua produk pada tahap meiosis pertama
yang mengandung haploid dengan 23 kromosom dan 46 kromatid, sedangkan PBII adalah haploid, dengan 23 kromosom dan 23 kromatid. Kadang-kadang PB-I
22
mengalami pembelahan meiosis yang kedua. Seperti sebuah telur matang yang
melewati dua tahap proses pembelahan, pembelahan pertama akan terjadi saat
ovulasi dan pembelahan kedua saat fertilisasi (Revelli, dkk., 2009; Speroff, dkk.,
2010). Kadang kala, terdapat PB yang mengandung tiga haploid merupakan hasil
dari proses pembelahan dimana pada dasarnya akan dibuang oleh sel telur.
Dengan menganalisis PB akan dapat mengetahui status genetik oosit sehingga
dapat melakukan tes untuk mengetahui kontribusi genetik ibu tehadap embrio.
Adanya PB kembar merupakan sebuah hipotesis mekanisme kejadian kehamilan
kembar pada wanita dimana sebuah PB yang tidak memisah dan dibuahi oleh
spermatosit (Lewis, 2007; Sperroff, dkk., 2010). Akan tetapi beberapa
perkembangan biasanya tidak akan terjadi karena PB-I tidak mengandung
sitoplasma yang cukup (atau kuning telur, karena sel telur memiliki kuning telur)
untuk memberi nutrisi embrio yang sedang berkembang (Bigalk, 2007). Bentuk
ireguler atau fragmentasi dan ukuran PB-I berhubungan dengan kualitas embrio,
perkembangan blastokis, tingkat implantasi atau aneuploidi (Navarro, dkk., 2009).
Ebner, dkk., (2005) membedakan 4 gradasi PB sebagai berikut:
1. Gradasi 1 adalah PB oval dengan permukaan halus.
2. Gradasi 2 adalah PB oval dengan permukaan kasar.
3. Gradasi 3 adalah PB yang mengalami fragmentasi .
4. Gradasi 4 adalah PB yang berukuran besar.
2.6
Inklusi Sitoplasma
Inklusi sitoplasma adalah struktur abnormal berupa benda asing dalam inti
sel atau sitoplasma berbentuk bulat, oval atau badan yang tidak beraturan. Hal ini
23
memiliki sifat dan karakteristik pewarnaan yang berhubungan dengan infeksi
virus tertentu seperti rabies / cacar dan bahan metabolik inaktif (Rienzi, dkk.,
2010; Speroff, dkk., 2010). Inklusi sitoplasma dapat berupa simpanan makanan,
hasil sekresi (seperti enzim, asam amino, dan mukosubstansi), bahan-bahan
nutritif (seperti glukosa dan lemak), dan granula pigmen (melanin dan
hemosiderin). Menurut Ebner, dkk., (2003), jenis inklusi sitoplasma adalah
sebagai berikut:
1 Vacuoles yaitu adanya vakuola dalam sitoplasma oosit yang berisi
cairan.
2 Refractile body yaitu inklusi sitoplasma dengan bermacam-macam
ukuran berisi lipofusin.
3 Smooth endoplasmic reticulum (SER) cluster yaitu inklusi sitoplasma
berbentuk elips di tengah sitoplasma.
4 Dark cluster yaitu daerah agak gelap dalam sitoplasma.
Adanya inklusi sitoplasma berhubungan dengan penurunan kemampuan
fertilisasi dan perkembangan embrio (Otsuki, dkk., 2007) dan tingkat kehamilan
klinis (Loutradis, dkk., 1999). Menurut Wilding, dkk., (2001), oosit dengan
inklusi sitoplasma juga memiliki kemampuan fertilisasi dan perkembangan
embrio yang lebih rendah serta tingkat aneuploidi yang lebih tinggi.
Menurut Griesinger, dkk., (2006), seleksi oosit sebelum fertilisasi /
inseminasi pada FIV / ICSI sangat penting karena:
1. Memberikan informasi penting dalam hal kemungkinan kemampuan
perkembangan embrio tersebut.
24
2. Membantu mengurangi jumlah inseminasi oosit dan karenanya
mengurangi jumlah embrio yang dihasilkan.
3. Menghindari inseminasi oosit berkualitas jelek yang membawa risiko
kelainan kromosom.
4. Membantu memilih jumlah oosit yang sesuai pada program donor sel
telur.
Namun, peniliaian kualitas oosit masih kontroversial dan pemilihan
metode masih belum efektif. Adanya sel kumulus dan sel korona mengakibatkan
evaluasi morfologi oosit sulit dilakukan. Kualitas dan derajat ekspansi sel-sel ini
bukan petanda kualitas oosit yang baik dan sebagian besar tergantung pada
protokol stimulasi ovarium yang digunakan. Adanya PB-I, biasanya dianggap
sebagai petanda maturitas inti oosit yang baik (Sperof, dkk., 2005). Tetapi
penelitian terakhir dengan mikroskop cahaya terpolarisasi menunjukkan bahwa
pada oosit imatur juga terdapat PB-I (Ebner, dkk., 2005; Depalo, dkk., 2009).
2.7
Stimulasi Ovarium Pada Fertilisasi In Vitro
Sampai saat ini ada beberapa cara stimulasi ovarium dalam kaitannya
dengan TRB. Khusus pada FIV, cara stimulasi ovarium yang lazim dipakai adalah
dengan GnRH analog (Murber, dkk., 2009). Kelebihan metode ini terutama adalah
munculnya folikel multipel dan efek samping yang relatif rendah (Wilcox, dkk.,
2005; Speroff, dkk., 2010). Pada TRB-FIV, pemberian GnRH agonis atau GnRH
antagonis merupakan tahapan awal. Hal ini bertujuan untuk menekan sekresi
GnRH dan gonadotropin endogen dengan harapan menghindari pengaruh
gonadotropin endogen sehingga kadar gonadotropin dapat dikendalikan dan
25
menghindari lonjakan LH dini diluar pengamatan. Selain itu, petik ovum dapat
diatur waktunya sesuai yang dikehendaki.
Pemberian GnRH agonis dapat dengan metode protokol panjang atau
dengan protokol pendek. Analisis komparatif tentang hasil penggunaan protokol
dengan dan tanpa GnRH agonis memperlihatkan bahwa protokol agonis
menghasilkan angka penurunan kejadian lonjakan LH dini, peningkatan jumlah
oosit, angka kehamilan, dan angka kelahiran hidup (Samsulhadi dan Hendy, 2009;
Speroff, dkk., 2010).
Pemberian GnRH antagonis mempunyai efek inhibisi langsung pada
sekresi gonadotropin. Molekul antagonis yang bersifat penghambat kompetitif
menempati reseptor GnRH sehingga menghambat kerja GnRH endogen. Preparat
GnRH antagonis menyebabkan supresi langsung tanpa flare up dan reseptor
GnRH tidak berkurang. GnRH antagonis juga menyebabkan supresi hipofise yang
lebih baik dibandingkan dengan GnRH agonis (Macklon dan Fauser, 2006;
Permadi, 2008).
Secara umum, stimulasi ovarium akan berhasil dengan baik bila digunakan
pada pasien-pasien dengan respon ovarium yang baik. Keadaan ini dapat
diketahui melalui pemeriksaan kadar hormonal basal yaitu pada hari ke-2 atau ke3 haid. Bila didapatkan kadar FSH basal > 12 IU/mL, apalagi sampai diatas 20
IU/mL, berhubungan dengan respon ovarium yang jelek. Tingginya kadar FSH ini
berhubungan pula dengan meningkatnya usia penderita dimana peningkatan usia
menyebabkan penurunan jumlah oosit dan kualitas oosit. Tingginya kadar
estradiol pada hari ke-2 atau ke-3 haid yang melebihi 80 pg/mL juga dapat
26
memprediksi sulitnya terjadi proses kehamilan. Peningkatan kadar estradiol yang
prematur berhubungan dengan recruitment folikel sebagai respon meningkatnya
sekresi FSH. Bila kadar basal FSH dan estradiol tinggi pada hari ke-2 atau hari-3
haid menunjukkan respon ovarium terhadap stimulasi ovarium yang jelek
(Teissier dkk, 2000; Speroff dkk, 2005). Bila hanya didasarkan pada kadar
estradiol basal, protokol pendek digunakan bila kadar estradiol basal < 50 pg/mL.
Protokol stimulasi ovarium GnRH antagonist short protocol, menekankan
cara pemberian GnRH-a dan gonadotropin secara bersamaan yaitu pada saat awal
fase proliferasi (hari ke-2 haid) sampai saat pemberian hCG (Oussaid, dkk., 2000;
Nogueira dkk, 2006).
Klinik Bayi Tabung Graha Tunjung Bag/SMF Obstetri dan Ginekologi FK
Unud/RSUP Sanglah Denpasar dan Unit Bayi Tabung RS Prima Medika
Denpasar, stimulasi ovarium menggunakan 2 jenis protokol yaitu:
2.7.1
Protokol pendek atau siklus GnRH antagonis
1. Hari ke-1 ditentukan sebagai hari pertama haid.
2. Hari
ke-2
dilakukan
pemeriksaan
laboratorium
lengkap,status
hormonal basal dan USG transvaginal.
3. Hari ke-3 mulai dilakukan pemberian gonadotropin sampai hari ke-6.
4. Hari ke-7 dilakukan pemeriksaan sonografi transvaginal untuk
memonitor perkembangan folikel dan pemeriksaan kadar estradiol.
Pada tahapan ini dapat diputuskan untuk membatalkan siklus
pengobatan atau melanjutkan ke tahapan berikutnya. Bila pada saat ini
27
didapatkan perkembangan folikel > 15mm dan kadar estradiol adekuat
dilakukan pemberian 0.125mg CTT.
5. Hari ke 10 dilakukan pemeriksaan sonografi transvaginal dan kadar
estradiol, bila didapatkan 3 buah folikel 18mm dilakukan penyuntikan
hCG 5000-10.000 IU pada malam hari.
6. Hari petik ovum ditentukan 34-36 jam setelah pemberian hCG. Petik
ovum dilakukan di kamar operasi dibawah anestesi umum melalui
transvaginal oocyte retrieval dengan bantuan USG,
7. Hari pertama pasca petik ovum (PO+1) dapat dipastikan terjadinya
fertilisasi.
8. Dokter dapat memberitahukan hasilnya kepada pasien dan menentukan
hari atau waktu transfer embrio
9. Hari ke-2 dan ke-3 pasca petik ovum (PO+2/3) merupakan waktu
alternatif untuk transfer embrio. Hari ke-5, 8, dan 11 merupakan waktu
untuk penunjang fase luteal dengan pemberian hCG 1500 IU.
10. Hari ke-15 pasca petik ovum jika belum terjadi haid dilakukan
pemeriksaan β-hCG. Kehamilan secara kimiawi ditentukan dengan
kadar β-hCG = 50mIU/mL dan kadar estradiol > 3000 pg/m.
2.7.2
Protokol panjang atau siklus GnRH agonis
Pada protokol panjang, GnRH agonis dapat juga diberikan mulai fase
folikular dini yaitu hari ke 2 menstruasi siklus sebelumnya yang disebut long
follicular protocol. Obat GnRH-a diberikan sampai hari ke 9 atau 10, sehari
sebelum pemberian hCG pada siklus berikutnya. Pemberian GnRH agonis dapat
28
juga dimulai pada fase midluteal, sekitar satu minggu setelah ovulasi yaitu hari ke
21 pada siklus sebelumnya; disebut long luteal protocol. Obat GnRH-a diberikan
sampai hari ke 9 atau 10 atau sampai saat pemberian hCG pada siklus berikutnya.
Pemberian gonadotropin mulai hari ke 2 atau 3 siklus menstruasi sampai hari ke 9
atau 10 atau sampai pemberian hCG pada siklus berikutnya (Speroff, dkk., 2010).
Obat GnRH diberikan sampai terdapat keyakinan bahwa fungsi hipofise
dapat ditekan secara total. Dari beberapa penelitian, diperoleh penggunaan
protokol panjang memberikan angka kehamilan yang lebih baik dibanding dengan
protokol pendek. Walaupun protokol panjang menghasilkan angka kehamilan
yang lebih banyak, terdapat kekhawatiran timbulnya dampak negatif seperti
blokade total hipofise sehingga mengakibatkan terjadinya desensitisasi total dan
biaya yang lebih mahal mengingat penggunaan obat-obatan dibutuhkan lebih
banyak. Selain itu, juga dikhawatirkan bahwa desensitisasi yang terjadi tidak
sepenuhnya dapat dipulihkan dalam waktu yang singkat untuk mengembalikan
fungsi hipofise. Hal ini didukung dengan adanya penurunan aktifitas enzim
aromatase, produksi progesteron, dan penurunan reseptor LH sebanyak 83%.
Lonjakan LH dini juga dicegah dengan pemberian GnRH antagonis. Stimulasi
ovarium dengan GnRH antagonis disebut juga GnRH antagonist short protocol
berkembang sejak tahun 1990-an. GnRH antagonis bekerja langsung menekan
sekresi gonadotropin, tidak ada flare up, durasi kerjanya juga lebih pendek
dibanding GnRH agonis. Oleh karenanya GnRH antagonis diberikan hanya pada
saat bahaya lonjakan LH endogen mulai mengancam. Pemberian GnRH antagonis
29
pada protokol antagonis ini dapat diberikan secara dosis tunggal dan multipel
yaitu pada hari ke 8-12 (Speroff, dkk., 2010).
Download