Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Nomor 01

advertisement
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
Nomor 01; Volume 1; Tahun 2016; Halaman 1-16
PENCAPAIAN KEBUTUHAN BERTINGKAT TOKOH UTAMA
DALAM NOVEL BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA
KARYA HANUM SALSABIELA RAIS
DAN RANGGA ALMAHENDRA
Municha Umami, Wildan, Budi Arianto
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra FKIP Unsyiah
ABSTRAK
Permasalahan penelitian ini adalah pencapaian kebutuhan bertingkat tokoh utama dalam novel
Bulan Terbelah di Langit Amerika karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Penelitian ini
menggunakan pendekatan psikologi sastra dan menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Sumber data
penelitian ini adalah novel Bulan Terbelah di Langit Amerika karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga
Almahendra. Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik kajian pustaka, yaitu dengan cara
membaca novel Bulan Terbelah di Langit Amerika karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra,
menandai dan mencatat bagian-bagian yang terdapat unsur pencapaian kebutuhan bertingkat pada tokoh
utama dalam novel tersebut. Selanjutnya, teknik analisis data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut: (1) mengklasifikasi data sesuai dengan hierarki kebutuhan bertingkat, (2) mendeskripsikan
pencapaian kebutuhan bertingkat tokoh utama, dan (3) menarik kesimpulan. Hasil penelitian membuktikan
bahwa tokoh utama, yaitu Hanum dan Rangga, memiliki banyak rintangan dalam memenuhi setiap
kebutuhan mereka. Akan tetapi, mereka selalu termotivasi dan terus berusaha untuk memenuhi setiap
kebutuhan yang muncul. Oleh karena itu, mereka mampu memenuhi atau mencapai setiap kebutuhan
mereka, baik kebutuhan tingkat tinggi maupun kebutuhan tingkat rendah.
Kata kunci: pencapaian kebutuhan bertingkat, tokoh utama, novel
ABSTRACT
The research problem is meeting the need for multilevel main character in the novel Bulan Terbelah di
Langit Amerika by Salsabiela Rais and Rangga Almahendra. This research uses a psychological approach
to literature and using descriptive qualitative method. The data source of this research is the novel Bulan
Terbelah di Langit Amerika by Hanum Salsabiela Rais and Rangga Almahendra. Data is collected using
library research techniques , that is reading the novel Bulan Terbelah di Langit Amerika by Salsabiela Rais
and Rangga Almahendra, marking and record parts that there are elements of achieving the needs storied
main character in the novel. Furthermore , data analysis techniques performed by the following steps: (1)
classify data according to the multilevel hierarchy of needs, (2) describe the achievement storey main
character needs, and (3) draw conclusions. The research proves that the main character, namely Hanum
and Rangga, have many hurdles in fulfilling their every need. However, they are always motivated and
continue to strive to meet any needs that arise. Therefore, they are able to meet or achieve any of their
needs, both high-level needs and the needs of the low level.
Keywords: meeting the need for multilevel, the main character, novel
1
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
Nomor 01; Volume 1; Tahun 2016; Halaman 1-16
I.
PENDAHULUAN
Perkembangan kajian sastra telah mempertemukan ilmu sastra dengan
disiplin ilmu yang lainnya, di antaranya adalah psikologi. Dari hubungan tersebut,
lahirlah suatu kajian dalam karya sastra, yaitu psikologi sastra. Sastra adalah ungkapan
jiwa lewat bahasa (Novianti, dkk., 2015:1). Sastra dapat dihubungkan dengan ilmu
psikologi karena antara sastra dan psikologi merupakan suatu unsur yang tidak dapat
dipisahkan. Minderop (2013:59) mengatakan bahwa sesungguhnya belajar psikologi
sastra amat indah karena dapat memahami sisi kedalaman jiwa manusia, jelas amat
luas dan amat dalam. Oleh karena itu, kajian psikologi dianggap penting
penggunaannya dalam penelitian sastra.
Salah satu karya sastra yang berbentuk prosa adalah novel. Novel merupakan
jenis prosa fiksi yang menceritakan seluk beluk kehidupan tokoh dengan permasalahan
yang dihadapinya. Novel tidak terikat pada panjang cerita sehingga memberikan
kebebasan bagi pengarang mengekspresikan ide atau gagasan yang ingin dituangkan
secara lebih rinci. Sebuah novel merupakan sebuah totalitas, suatu kemenyeluruhan
yang bersifat artistik (Nurgiyantoro, 2002:22). Para pembaca seharusnya dapat
mengapresiasikan sebuah novel daripada hanya sekedar mengisi waktu luang. Cara
mengapresiasikannya dengan mempelajari dan membahas isinya. Sarana untuk
memberikan apresiasi terhadap sebuah novel dengan menggunakan kajian psikologi
sastra. Psikologi sastra merupakan interdisiplin ilmu sastra dan psikologi yang gejalagejala kejiwaan di dalam novel ditampilkan melalui tokoh dan perilakunya. Menurut
Endraswara (2008:96), fenomena psikologis dalam novel akan ditampilkan melalui
tokoh-tokoh karena tokoh merupakan figur yang dikenai tindakan psikologis. Jadi,
melalui kehadiran tokoh dan tindakannya dalam sebuah novel, pembaca akan mampu
menelusuri jejak psikologisnya. Analisis kejiwaan tokoh dalam sebuah novel dapat
menggunakan bidang psikologi humanis. Cabang disiplin ilmu psikologi ini
membahas tentang manusia secara positif dan optimis, berbeda dengan kajian
psikologi sebelumnya yang berusaha memahami kodrat kepribadian dengan hanya
membahas orang-orang neurotis dan individu-individu yang mengalami gangguan
hebat (Minderop, 2013:278). Tokoh yang terkenal dari psikologi humanis adalah
Abraham Maslow dengan teori kebutuhan bertingkatnya. Menurut pandangan Maslow
(dalam Hidayat, 2011:165), manusia memiliki kecenderungan alamiah untuk bergerak
menuju aktualisasi diri. Sifat manusia telah terbentuk semenjak ia lahir (biologis) dan
dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Ketika individu telah mencapai aktualisasi
diri, maka antara kebutuhan biologis dan sosial saling bekerja sama dalam diri individu
tersebut.
Novel Bulan Terbelah di Langit Amerika merupakan kelanjutan dari novel
sebelumnya, yaitu novel 99 Cahaya di Langit Eropa. Novel ini mengisahkan
pertualangan sepasang suami-istri, Rangga dan Hanum, di Amerika. Mereka berangkat
dari Eropa dengan mengemban misi “akankah dunia lebih baik tanpa Islam?”. Banyak
tantangan yang mereka hadapi selama berada di negeri adidaya tersebut. Meskipun
begitu, usaha dan kerja keras yang membawa mereka berhasil mencapai apa yang
mereka inginkan dan berhasil menyelesaikan misi tersebut.
Konsep hierarki kebutuhan yang diungkapkan Maslow adalah kebutuhankebutuhan di level rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih
2
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
Nomor 01; Volume 1; Tahun 2016; Halaman 1-16
dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan di level lebih tinggi menjadi hal yang lebih
memotivasi (Feist dan Feist, 2014:331). Manusia didorong oleh kebutuhan-kebutuhan
universal dan dibawa sejak lahir yang tersusun dalam suatu tingkat atau lapisan, dari
yang paling kuat sampai yang paling lemah (Minderop, 2010:279). Apabila ingin
sampai pada tingkat kedua, sebelumnya harus berpijak pada tingkat pertama. Jika ingin
sampai pada tingkat ketiga, maka harus berpijak pada tingkat kedua terlebih dahulu,
sampai seterusnya hingga sampai pada tingkatan teratas. Kebutuhan yang paling
rendah dan paling kuat harus dipuaskan atau dipenuhi terlebih dahulu sebelum muncul
kebutuhan pada tingkat yang paling tinggi (Schultz dalam Minderop, 2010:279).
Kebutuhan yang paling dasar atau kebutuhan pada tingkatan pertama adalah
kebutuhan fisiologis (physiological needs). Kebutuhan pada tingkat kedua adalah
kebutuhan akan keamanan (safety needs). Kebutuhan yang berada pada tingkat ketiga
adalah kebutuhan akan cinta dan keberadaan (love and belongingness needs).
Kebutuhan tingkat empat adalah kebutuhan akan penghargaan (esteem needs).
Kebutuhan yang berada di urutan puncak adalah kebutuhan akan aktualisasi diri (self
actualization). Menurut Fudyartanta (2012:392), kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan
keamanan, kebutuhan akan cinta dan keberadaan, dan kebutuhan akan penghargaan
merupakan kebutuhan karena kekurangan (basic needs). Berbeda halnya dengan
kebutuhan akan aktualisasi diri yang merupakan kebutuhan berkembang (metaneeds).
Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan yang paling dasar dari setiap
kebutuhan manusia. Kebutuhan ini meliputi makanan, air, oksigen, mempertahankan
suhu tubuh, mengeluarkan zat sisa, bergerak, istirahat, tidur, dan lain sebagainya.
Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan yang sangat berpengaruh dan memiliki
kekuatan yang paling besar dari semua hierarki kebutuhan (Feist dan Feist, 2014:332).
Misalnya, jika seseorang mengantuk, yang ia butuhkan adalah tidur. Dia akan
meninggalkan kegiatannya untuk tidur atau menyelesaikan pekerjaannya secara cepat
agar bisa segera tidur. Apabila seseorang tenggelam, hal yang ia butuhkan pertama
sekali adalah bernafas. Bernafas merupakan kegiatan yang paling penting oleh setiap
manusia karena bernafas adalah salah satu ciri dari makhluk hidup. Seseorang yang
tenggelam akan terus berusaha untuk tetap berada di permukaan air agar bisa
mendapatkan oksigen yang ada di udara, bukan oksigen yang tersedia di air. Menurut
Maslow (dalam Goble, 1987:71), jika seseorang dalam keadaan lapar, tidak ada minat
lainnya, kecuali pada makanan.
Menurut Feist dan Feist (2014:333), perbedaan fisiologis dengan kebutuhankebutuhan yang lainnya terletak dalam dua hal. Pertama, kebutuhan fisiologis
merupakan satu-satunya kebutuhan yang harus selalu terpenuhi. Misalnya, setiap
manusia tidak bisa hidup tanpa air. Oleh karena itu, kebutuhan akan air harus selalu
bisa terpenuhi. Seorang yang haus harus minum air agar dahaganya hilang dan
tubuhnya tidak mengalami dehidrasi. Kedua, kebutuhan fisiologis memiliki
kemampuan untuk muncul kembali (recurring nature). Misalnya, satu tarikan nafas
harus dilanjutkan oleh tarikan nafas berikutnya. Seseorang setelah selesai makan lama
kelamaan akan merasa lapar lagi.
Ketika kebutuhan tingkat pertama sudah terpenuhi, maka kebutuhan tingkat
kedua akan muncul. Seseorang yang telah terpenuhi kebutuhan fisiologisnya, maka
seseorang tersebut akan termotivasi untuk melanjutkan ke kebutuhan selanjutnya,
3
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
Nomor 01; Volume 1; Tahun 2016; Halaman 1-16
yaitu kebutuhan akan keamanan. Kebutuhan ini meliputi keamanan fisik,
ketergantungan, perlindungan, dan kebebasan dari kekuatan-kekuatan yang
mengancam. Kebutuhan akan hukum, ketenteraman, keteraturan juga merupakan
bagian dari kebutuhan akan keamanan (Maslow dalam Feist dan Feist, 2014:333).
Dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan ini terlihat dalam bentuk keinginan untuk
memiliki sebuah rumah di lingkungan aman, keamanan di tempat kerja, rencana
pensiun, asuransi, dan sebagainya (Hidayat, 2011:167).
Kebutuhan tingkat atau lapisan yang ketiga dari kebutuhan bertingkat
Maslow adalah kebutuhan akan cinta dan keberadaan (love and belongingness needs).
Kebutuhan ini muncul setelah kebutuhan tingkat kedua atau kebutuhan akan keamanan
telah terpenuhi. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan kasih sayang, kebutuhan akan
keluarga, sejawat, pasangan, anak, kebutuhan menjadi bagian dari kelompok,
lingkungan masyarakat, atau negara. Apabila dilihat dari sisi pandang negatifnya,
seseorang akan semakin mencemaskan kesendirian dan kesepian (Boeree, 2013:251).
Kecemasan tersebut dialami oleh seseorang baik ketika ia sedang menghadapi suatu
peristiwa atau kejadian, maupun dalam kehidupan kesehariannya.
Maslow menemukan bahwa tanpa cinta, pertumbuhan dan perkembangan
kemampuan seseorang akan terhambat (dalam Goble, 1987:76). Dia akan terus merasa
kekurangan. Seseorang akan menjadi terdorong atau termotivasi untuk mendapatkan
cinta dan diakui keberadaanya oleh karena perasaan kekurangan tersebut. Seseorang
akan terus berjuang dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan akan cinta dan
keberadaannya. Menurut Maslow (dalam Feist dan Feist, 2014:334-335), orang-orang
dalam memenuhi kebutuhan akan cinta dan keberadaan terdiri dari tiga kategori, yaitu
orang yang kebutuhan akan cinta dan keberadaannya cukup terpenuhi, orang yang
tidak pernah merasakan cinta dan keberadaan, dan orang yang menerima sedikit cinta
dan keberadaan.
Orang yang kebutuhan akan cinta dan keberadaannya cukup terpenuhi dari
masa kecilnya tidak akan merasa terlalu hancur ketika ditolak oleh suatu kelompok
atau orang lain. Kepercayaan diri yang tinggi akan membuatnya yakin bahwa dia akan
diterima oleh orang-orang yang dianggap penting. Berbanding terbalik dengan orang
yang termasuk pada kategori kedua, yaitu orang yang tidak pernah merasakan cinta
dan keberadaan. Orang-orang seperti ini kurang mampu atau bahkan tidak mampu
memberikan cinta. Hal tersebut berdasarkan konsep hierarki yang ketiga ini, yaitu
memberikan dan menerima cinta; diakui dan mengakui keberadaan. Orang yang
menerima sedikit cinta dan keberadaan akan terus termotivasi untuk mendapatkan
cinta tersebut.
Orang yang kebutuhan akan cinta dan keberadaan tidak terpenuhi akan
menjadi orang yang terlalu agresif, tidak mau mendengar dan menerima pendapat
orang lain (defensif), atau canggung di lingkungan sosial (Feist dan Feist, 2014:340).
Dia akan merasa terasing atau mengasingkan diri dari lingkungan atau kelompok
sosialnya. Dewasa ini, sulit untuk memenuhi kebutuhan akan cinta sehingga banyak
tumbuh berbagai kelompok untuk melepaskan diri dari kegagalan mencapai cinta
(Novianti, dkk., 2015:5). Oleh karena itu, Maslow selalu menekankan pentingnya
kebutuhan akan cinta dan keberadaan. Maslow (dalam Goble, 1987:76) mengatakan
bahwa kita harus selalu bisa memahami cinta; mampu mengajarkannya,
4
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
Nomor 01; Volume 1; Tahun 2016; Halaman 1-16
menciptakannya, meramalkannya. Jika tidak, dunia ini akan hanyut ke dalam
gelombang permusuhan dan kebencian.
Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs) muncul setelah kebutuhan akan
cinta dan keberadaan terpenuhi. Seseorang yang telah mencapai kebutuhan dasarnya
akan terdorong untuk mencapai kebutuhan dasar yang lainnya. Kebutuhan akan
penghargaan berada di level ke empat dalam hierarki kebutuhan Abraham Maslow.
Kebutuhan ini mencakup penghormatan diri, kepercayaan diri, kemampuan dan
pengetahuan yang orang lain hargai tinggi. Maslow mengemukakan bahwa bagi setiap
orang akan membutuhkan dua kategori penghargaan, yaitu harga diri dan penghargaan
dari orang lain (dalam Goble, 1987:76). Harga diri meliputi kebutuhan akan
kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan,
dan kebebasan. Penghargaan dari orang lain meliputi prestise, pengakuan, penerimaan,
perhatian, kedudukan, nama baik, dan penghargaan. Berarti, pencapaian kebutuhan
akan penghargaan terdiri dari dua hal, yakni penghargaan dari dalam dan penghargaan
yang berasal dari luar.
Harga diri merupakan kebutuhan yang tinggi. Dikategorikan seperti itu
karena harga diri tidak sama dengan penghargaan dari orang lain (reputasi). Misalnya,
apabila menyangkut harga diri, maka akan sulit bagi seseorang untuk merasa kalah
(Hidayat, 2011:167). Harga diri merupakan perasaan pribadi bahwa dirinya bernilai
atau bermanfaat yang didasari kemampuan oleh kemampuan nyata, bukan hanya
didasari oleh pendapat orang lain (Feist dan Feist, 2014:335).
Kebutuhan yang berada paling puncak dalam hierarki kebutuhan manusia
adalah aktualisasi dari. Aktualisasi diri adalah keadaan pemenuhan diri ketika
seseorang menyadari potensi tertingginya dalam cara yang unik bagi mereka sendiri
(Feldman, 2012:11). Kebutuhan akan aktualisasi diri merupakan kebutuhan seseorang
untuk menjadi yang seharusnya sesuai dengan potensi yang dimiliki. Maslow (dalam
Goble, 1987:77) mendeskripsikan kebutuhan ini sebagai hasrat seseorang untuk
menjadi diri sendiri secara utuh sesuai dengan kemampuan yang seseorang tersebut
miliki. Kebutuhan akan aktualisasi diri akan timbul setelah seseorang telah memenuhi
kebutuhan di level sebelumnya, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan keamanan,
kebutuhan akan cinta dan keberadaan, dan kebutuhan akan penghargaan. Biasanya,
seseorang yang sudah sampai pada level ini selalu menginginkan adanya tantangan
atau peluang dalam bekerja dan disertai adanya hasrat untuk mandiri dan menunjukkan
tanggung jawab penuh (Sumanto, 2014:176).
Maslow mengalami kesulitan dalam melakukan penelitian orang-orang yang
sudah sampai pada taraf aktualisasi diri pada awalnya. Maslow mewawancarai orang
yang lebih tua yang ia anggap mempunyai karakteristik aktualisasi. Akan tetapi, dia
harus menerima kekecewaan dengan hasil akhir wawancara yang tidak sesuai dengan
harapannya. Bukan hanya itu, Maslow juga harus menghadapi kesulitan lainnya, yaitu
orang-orang yang dianggapnya sudah memenuhi kriteria aktualisasi banyak yang
menolak untuk ikut berpartisipasi dalam penelitiannya (Feist dan Feist, 2014:342).
Meskipun begitu, Maslow tidak akan berhenti untuk menemukan orang-orang yang
mengaktualisasikan diri. Kemudian, Maslow menggunakan metode kualitatif yang
disebut analisis biografi untuk mengetahui aktualisasi diri seseorang (Hidayat,
2011:169). Maslow membaca biografi dan memilih sejumlah tokoh sejarah, di
5
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
Nomor 01; Volume 1; Tahun 2016; Halaman 1-16
antaranya adalah Abraham Lincoln, Thomas Jefferson, dan Albert Einstein. Hasil yang
dia temukan adalah karakteristik dari orang-orang ini yang secara umum berbeda
dengan masyarakat pada umumnya (Hidayat, 2011:169).
Karakteristik paling umum dari tokoh-tokoh sejarah tersebut adalah
kemampuan mereka melihat hidup lebih jernih, melihat hidup apa adanya, tidak
bersikap emosional, dan bersikap lebih objektif terhadap hasil-hasil pengamatan
mereka (Goble, 1987:51). Orang yang mengaktualisasikan diri memiliki sifat rendah
hati dan rasa hormat terhadap orang lain (Hidayat, 2011:170). Mereka selalu
mendengarkan pendapat orang lain, menerima kekurangan orang lain, dan tidak
terganggu dengan kelebihan yang dimiliki oleh orang lain (Feist dan Feist, 2014: 346).
Karakteristik yang lainnya adalah kreativitas. Sifat-sifat yang terkait dengan
kreativitas adalah fleksibilitas, spontanitas, keberanian, keterbukaan, dan rendah hati
(Goble, 1987:53).
Orang yang mengaktualisasi diri lebih memusatkan diri pada masalah dan
bukan pada diri sendiri (Fudyartanta, 2012:389). Mereka lebih tertarik memikirkan
masalah-masalah yang terjadi daripada memusatkan perhatian pada diri mereka
sendiri. Berbanding terbalik dengan orang yang tidak mengaktualisasikan diri. Mereka
lebih sering memikirkan diri sendiri daripada tugas atau masalah-masalah yang yang
terjadi di luar diri mereka. Orang yang mengaktualisasikan diri membuka wawasan
jauh melebihi diri mereka sendiri (Feist dan Feist, 2014:347).
Mereka mampu membuat jarak dan memiliki kebutuhan akan privasi
(Fudyartanta, 2012:389). Meskipun mereka tidak memusatkan perhatian pada diri
sendiri, tetapi mereka juga memilki kebutuhan untuk sendiri tanpa harus merasa
kesepian. Mereka lebih peduli dengan masalah orang lain, tetapi mereka tidak ingin
terlibat dalam masalah yang mereka anggap tidak penting. Bagi mereka, mengurusi
hal-hal yang tidak penting akan membuang-buang waktu dan tenaga. Mereka
menghabiskan sedikit energi untuk membuat orang lain kagum atau untuk
mendapatkan cinta dan penerimaan, maka mereka lebih mampu untuk membuat
pilihan-pilihan yang bertanggung jawab (Feist dan Feist, 2014:347).
Orang yang mengaktualisasikan diri memilih untuk tidak bergantung pada
orang lain. Mereka lebih mandiri dalam menjalani hidup dan mengerjakan tugas-tugas
yang diembankan pada mereka. Mereka memiliki kepercayaan diri yang diperoleh dari
rasa penghargaan diri kemudian memiliki kemandirian yang besar yang
memungkinkan mereka tidak khawatir terhadap kritik dan tidak tergerak pula oleh
pujian (Feist dan Feist, 2014:347). Orang yang mengaktualisasikan diri lebih tahu arti
bersyukur. Mereka lebih menghargai apa yang sudah mereka miliki atau mereka
peroleh daripada membuang-buang waktu untuk mengeluh tentang kehidupan yang
membosankan dan tidak menyenangkan (Feist dan Feist, 2014:348).
Karakteristik lain dari orang yang telah mencapai kebutuhan akan aktualisasi
lainnya adalah jika mereka mempunyai hubungan dengan individu-individu lainnya,
mereka akan melibatkan perasaan yang mendalam dan kuat. Mereka cenderung
memilih orang-orang yang mandiri daripada orang-orang yang sangat bergantung pada
orang lain (Feist dan Feist, 2014:349). Meskipun demikian, mereka tetap memiliki rasa
kasih sayang dan empati pada orang-orang yang tidak mandiri. Selain itu, orang-orang
6
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
Nomor 01; Volume 1; Tahun 2016; Halaman 1-16
seperti ini akan memiliki sikap dan nilai yang demokratis (Fudyartanta, 2012:390).
Mereka bisa ramah kepada siapa saja tanpa memandang status sosial, jenis kelamin,
usia, dan lain sebagainya. Mereka mempunyai keinginan untuk belajar dari semua
orang (Feist dan Feist, 2014:350).
Orang-orang yang mengaktualisasi diri sangat menyukai akan humor. Akan
tetapi, mereka tidak menyukai lawakan yang bersifat merendahkan orang lain, melihat
keburukan atau kekurangan orang lain, atau humor yang bersifat menyerang orang
lain. Mereka membuat lelucon dengan tujuan lebih dari hanya sekedar membuat orang
tertawa. Mereka menghibur dan memberikan informasi (Feist dan Feist, 2014:351).
Satu hal lagi yang menjadi karakteristik aktualisasi diri, yaitu tidak mengikuti apa yang
diharuskan oleh kultur. Mereka tidak segan-segan untuk menolak budaya mereka
sendiri jika ada yang bertolak belakang dengan pemikiran mereka. Mereka adalah
orang yang berdiri sendiri, mengikuti dan menjalankan standar perilaku mereka
sendiri, dan tidak secara buta mematuhi peraturan yang dibuat oleh orang lain (Feist
dan Feist, 2014:351). Intinya adalah orang-orang yang mengaktualisasikan dirinya
menurut Maslow adalah orang-orang yang sadar, bersifat kreatif, penuh kasih sayang,
positif, dan sehat (dalam Goble, 1987:68).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perjuangan dan motivasi
tokoh utama novel Bulan Terbelah di Langit Amerika karya Hanum Salsabiela Rais
dan Rangga Almahendra dalam memenuhi kebutuhan tingkat dasar dan kebutuhan
tingkat atas. Selain itu, penulis ingin menjelaskan pencapaian kebutuhan bertingkat
tokoh utama novel Bulan Terbelah di Langit Amerika karya Hanum Salsabiela Rais
dan Rangga Almahendra.
II. METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan psikologi
sastra. Pendekatan ini dipilih sesuai dengan pendapat Wellek (dalam Siswantoro,
2005:86) bahwa analisis tipe psikologis dan hukum-hukum psikologis dalam karya
sastra menegaskan analisis psikologis yang diarahkan kepada tokoh utama semata
karena tipe dan hukum psikologis paling intens hadir pada tokoh utama yang paling
banyak diterpa konflik. Teori yang dipakai untuk menganalisis adalah teori psikologi
humanistik, khususnya teori pencapaian kebutuhan bertingkat yang dikemukakan oleh
Abraham Maslow. Hal tersebut digunakan untuk mengungkapkan proses pemenuhan
kebutuhan bertingkat tokoh hingga tercapainya setiap kebutuhan bertingkat tersebut.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptifkualitatif. Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah
yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan objek penelitian pada
saat sekarang, berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya
(Nawawi dan Martini, 2005:73). Peneliti akan menggambarkan secara jelas tentang
pencapaian kebutuhan bertingkat tokoh utama dalam novel Bulan Terbelah di Langit
Amerika. Metode penelitian kualitatif dipilih karena penelitian ini tidak melibatkan
angka-angka atau frekuensi. Hal tersebut sesuai dengan salah satu karakteristik
penelitian kualitatif adalah data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan
bukan angka-angka (Moleong, 2007:11).
7
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
Nomor 01; Volume 1; Tahun 2016; Halaman 1-16
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik
kajian pustaka. Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data-data yang
berhubungan dengan objek penelitian. Teknik kajian pustaka (studi pustaka)
merupakan teknik yang dilakukan dengan cara mempelajari, mendalami, dan mengutip
teori atau konsep dari sejumlah literatur, baik buku, jurnal, majalah, koran, atau karya
tulis lainnya yang sesuai dengan topik yang diangkat dalam penelitian (Widodo,
2004:51). Penulis membaca terlebih dahulu novel Bulan Terbelah di Langit Amerika
karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Kemudian, Penulis menandai
bagian yang terdapat unsur pencapaian kebutuhan bertingkat pada tokoh utama.
Selanjutnya, penulis mencatat bagian-bagian yang sudah ditandai sebelumnya. Setelah
semua data terkumpul, penulis menganalisis data-data tersebut. Langkah pertama,
penulis mengklasifikasi data sesuai dengan hierarki kebutuhan Maslow. Kemudian,
penulis mendeskripsikan pencapaian kebutuhan bertingkat yang terdapat pada tokoh
utama. Selanjutnya, penulis menarik kesimpulan.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Pencapaian Kebutuhan Fisiologis Tokoh Hanum dan Rangga
Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa tokoh Hanum dan Rangga selalu
berusaha memenuhi kebutuhan fisiologisnya. Hal tersebut terlihat dalam penjelasan
berikut.
Malam hari adalah waktu pertemuan yang kami berdua selalu dambakan. Saat
keluh kesah satu hari mendapatkan wadah yang sempurna: makan malam. Ya,
makan malam menu Indonesia yang kumasak spesial setiap malam untuknya.
Spesial, terutama dari ukuran volume, agar cukup dikonsumsi hingga pagi
dan siang hari berikutnya. Agar tak melulu masak tiga kali sehari. Karena
kami tahu untuk memasak masakan Indonesia begitu mengonsumsi waktu
kami sebagai pekerja (Rais dan Almahendra, 2014:20).
Kutipan “makan malam” menunjukkan bahwa Hanum berusaha untuk memenuhi
kebutuhan makannya. Usaha Hanum dalam memenuhi kebutuhan dasarnya itu adalah
dengan memasak makanan Indonesia. Oleh karena kebutuhan makan merupakan
kebutuhan yang dapat muncul secara berulang-ulang, Hanum memasak makanan
Indonesia dalam porsi yang banyak agar dapat dimakan di waktu sarapan dan makan
siang pada keesokan harinya. Hal tersebut dilakukan Hanum juga untuk menghemat
waktunya sebagai pekerja. Selain itu, waktu makan malam juga dijadikan sebagai
tempat berbagi cerita bagi Hanum dan Rangga tentang apa yang telah mereka lalui
dalam sehari ini. Berikut kutipan yang menggambarkan kebutuhan fosiologis Rangga.
“Thanks, Sir. It’s very nice of you.”
“No problem, My Brother. We are brothers and sisters in Islam. This hotdog
is safe. We don’t use pork.”
Aku menyalami seorang Timur Tengah penjual gyro-kebab-hotdog dengan
erat,...
Kedai mungil ini menjadi tempat yang paling cocok untukku menunggu
Hanum di saat lambung sudah nyaring berbunyi. Tak mudah menemukan
8
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
Nomor 01; Volume 1; Tahun 2016; Halaman 1-16
makanan halal dalam waktu kurang dari 1 hari di New York ini (Rais dan
Almahendra, 2014:99).
Kutipan “...lambung sudah nyaring berbunyi” menyiratkan bahwa Rangga merasa
lapar. Jika seseorang lapar, yang dia butuhkan adalah makan. Rangga menemukan
sebuah kedai yang menjual gyro-kebab-hotdog dan membeli makanan tersebut untuk
memenuhi salah satu kebutuhan fisiologisnya. Penjual hotdog tersebut berasal dari
Timur Tengah. Sama halnya dengan Rangga, dia juga seorang muslim. Seperti yang
telah diketahui, daging babi haram dikonsumsi oleh umat Islam, sedangkan hotdog
umumnya menggunakan daging babi. Berbeda halnya dengan penjual di kedai mungil
tersebut, hotdog yang dijualnya tidak menggunakan daging babi. Berarti, hotdog
tersebut aman dikonsumsi oleh orang yang beragama Islam, termasuk Rangga. Hal
tersebut terlihat dalam kutipan “This hotdog is safe. We don’t use pork”. Rangga pun
memakan hotdog tersebut untuk memenuhi kebutuhan fisiologisnya, yaitu makan,
sembari menunggu Hanum yang sedang mencari narasumber dan meliput peringatan
tragedi WTC.
3.2 Pencapaian Kebutuhan akan Keamanan Tokoh Hanum dan Rangga
Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa tokoh Hanum dan Rangga selalu
berusaha untuk memenuhi kebutuhan akan kemanannya. Hal tersebut dapat terlihat
dalam kutipan berikut.
“Mulai bulan depan Heute ist Wunderbar akan menghentikan versi gratisnya.
Bulan depan koran ini akan muncul dalam format full service newspaper. Jika
aku tak bisa menaikkan oplah, dewan direksi akan mengurangi jumlah
karyawan. Ya, aku dan juga kamu terancam kehilangan pekerjaan. Kecuali
kita bisa membuat artikel yang... yang... benar-benar ‘LUAR BIASA’.”
“Dewan redaksi ingin Heute ist Wunderbar menulis artikel perdana dalam
format full service-nya dengan topik: ‘Would the world be better without
Islam?’,”Akankah dunia lebih baik tanpa Islam?” (Rais dan Almahendra,
2014:43-44).
Kutipan “...terancam kehilangan pekerjaan” menjelaskan bahwa pekerjaan Hanum,
Gertrud, dan karyawan lainnya terancam. Surat kabar Heute ist Wunderbar akan
menghentikan versi gratisnya dan akan menggantikannya dengan format baru. Apabila
Gertrud tidak bisa menaikkan oplah, Hanum dan karyawan yang lainnya, bahkan
Gertrud sendiri akan kehilangan pekerjaan mereka. Pekerjaan mereka kini tergantung
pada sebuah artikel dengan topik ‘Would the world be better without
Islam?’,”Akankah dunia lebih baik tanpa Islam?” Oleh karena itu, apabila Hanum
tidak ingin kehilangan pekerjaannya, dia harus memenuhi kebutuhan keamanannya
dengan menulis artikel seperti yang diminta oleh dewan redaksi. Berikut terdapat
kutipan yang memperlihatkan kebutuhan akan keamanan tokoh Rangga.
9
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
Nomor 01; Volume 1; Tahun 2016; Halaman 1-16
“Leave the area, Sir!” polisi mengusirku paksa, karena jika terus dititik
perjanjianku dengan Hanum, katanya keselamatanku bisa terancam.
Kubopong ransel dan koper seperti orang yang benar-benar baru ditendang
dari rumah yang menunggak bayaran ((Rais dan Almahendra, 2014:106).
Kutipan “...polisi mengusirku paksa, karena jika terus dititik perjanjianku
dengan Hanum, katanya keselamatanku bisa terancam” menggambarkan keamanan
Rangga sedang terancam. Jika keamanan seseorang terancam, yang dia butuhkan
adalah mencari tempat yang lebih aman. Rangga hampir terjebak kericuhan
demonstran. Pada saat itu, Rangga sedang menunggu Hanum yang sedang mencari
narasumbernya di Monumen Peringatan. Rangga yang sedang memakan hotdog
melihat sekumpulan orang yang sedang ricuh sedang mendekat ke arahnya. Polisi pun
segera bertindak, dia menyuruh Rangga untuk meninggalkan tempatnya berdiri saat
ini. Rangga harus mencari tempat yang lebih aman agar bisa terhindar dari kerusuhan
itu. Meskipun, hal tersebut membuat dia dan Hanum terpisah untuk sementara waktu.
3.3 Pencapaian Kebutuhan akan Cinta dan Keberadaan Tokoh Hanum dan
Rangga
Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa tokoh Hanum dan Rangga selalu
berusaha untuk memenuhi kebutuhan akan cinta dan keberadaannya. Hal tersebut
dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Kemudian aku ceritakan semua masalahku, bagaimana aku terpisah dari
Rangga dan keluar dari jarum kerusuhan melalui perjalanan yang
mendebarkan. Hingga akhirnya terdampar di masjid ini. Dengan semua
alasan itu, aku meminta diri untuk diizinkan tidur di masjid malam ini saja.
“Kau tidak boleh tidur di masjid ini karena kau perempuan, Hanum.
Jawabannya adalah tidak. Nah, sebagai gantinya, kau harus bermalam di
rumahku. Kita bisa berangkat setelah ini, namun sebelumnya kita jemput
anakku dulu, ya. Kau masih kuat berjalan, kan?” (Rais dan Almahendra,
2014:123-124).
Kutipan “Dengan semua alasan itu, aku meminta diri untuk diizinkan tidur di masjid
malam ini saja” menjelaskan bahwa Hanum sangat membutuhkan kasih sayang.
Ketika Hanum tertidur di masjid, ada seorang perempuan yang membangunkannya.
Perempuan itu memberikannya segelas air hangat dan membersihkan lukanya. Hanum
menceritakan semua yang dialaminya seharian ini. Semua itu diceritakan Hanum agar
dia diizinkan tidur di masjid itu. Bagi Hanum, masjid itu merupakan tempat yang
paling aman untuk saat ini. Akan tetapi, perempuan tersebut melarang Hanum untuk
tidur di masjid itu. Perempuan itu membawa Hanum untuk menginap di rumahnya.
Hal tersebut terlihat dalam kutipan “...kau harus bermalam di rumahku”. Berikut
kutipan yang menggambarkan kebutuhan akan cinta dan keberadaan tokoh Rangga.
“Hi, I’m Rangga from Indonesia.” jabat tangan kuulur padanya. Dia
menyambutnya tanpa ekspresi. Bukankah seharusnya dia juga
memperkenalkan diri?
10
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
Nomor 01; Volume 1; Tahun 2016; Halaman 1-16
Tak ada respons tentang Indonesia di kepalanya. Tak seperti orang-orang luar
yang kemudian mengaitkannya dengan kemashuran Bali dan beragam
ketenaran flora fauna dan budaya bangsaku.
“Indonesia... a home for largest muslim population in the world,” ucapnya
menerawang. Sebuah respons dengan nada yang sungguh tak biasa. Ya, aku
melupakan satu hal lagi tentang Indonesia. Perempuan penunggu museum
tadi siang juga memberi respons yang sama ketika kau menyebut Indonesia.
Pria tua itu tersenyum kecil, tapi parasnya masih dingin. Aku mengangguk
pelan sambil masih berusaha menahan keinginanku untuk ke toilet. Aku
mulai tertarik dengan tanggapannya yang berbeda dari orang-orang bule
lainnya. Prasangka baikku, setelah ini kami akan jadi teman diskusi yang
hebat (Rais dan Almahendra, 2014:144).
Kutipan “Hi, I’m Rangga from Indonesia.” jabat tangan kuulur padanya”
menjelaskan bahwa Rangga membutuhkan teman. Akhirnya, Rangga memutuskan
untuk berangkat ke Washington DC seorang diri. Hanum mengirimkan pesan singkat
ke telepon genggam Rangga. Pesan tersebut berisi bahwa Hanum dalam keadaan baikbaik saja. Hanum menyuruh Rangga untuk berangkat terlebih dahulu ke Washington
DC dan dia akan segera menyusulnya. Selama di dalam perjalanan, Rangga merasa
kesepian tanpa Hanum. Oleh karena itu, Rangga membutuhkan teman untuk dapat
diajak berbicara selama perjalanan ke Washington DC. Rangga mengajak berkenalan
seorang laki-laki tua yang duduk di sebelahnya.
Rangga menyebutkan nama dan asalnya sambil mengulurkan tangan. Uluran
tangan Rangga tersebut disambut dengan ekspresi yang datar oleh laki-laki itu. Tidak
ada tanggapan yang keluar dari mulutnya setelah Rangga menyebutkan kata
“Indonesia”. Tidak seperti kebanyakan orang, yang mengaitkan Indonesia dengan
keindahan pulau dewata, kekayaaan budaya Indonesia, atau keanekaragaman hayati
yang dimiliki oleh negara zamrud khatulistiwa ini. Setelah terdiam beberapa saat,
akhirnya, sebuah tanggapan tentang Indonesia keluar juga dari mulutnya. Dia
menyebutkan bahwa Indonesia memiliki populasi muslim terbanyak di seluruh dunia.
Hal tersebut terlihat dalam kutipan “Indonesia... a home for largest muslim population
in the world,” ucapnya menerawang”. Dari tanggapan itu, Rangga mulai merasa
tertarik pada laki-laki tua itu. Rangga berharap laki-laki itu dapat menjadi teman
diskusi yang baik selama dalam perjalanannya menuju Washington DC.
3.4 Pencapaian Kebutuhan akan Penghargaan Tokoh Hanum dan Rangga
Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa tokoh Hanum dan Rangga selalu
berusaha untuk memenuhi kebutuhan akan penghargaannya. Hal tersebut dapat dilihat
dalam uraian berikut.
“Aku hanya bisa mengatakan padamu, Mike, sebagai muslim aku juga
mengutuk aksi laknat itu. Mereka hanya pecundang. Dan tidak seharusnya
orang-orang yang ingin membangun mesjid itu kau samakan...” (Rais dan
Almahendra, 2014:226).
Kutipan “...sebagai muslim aku juga mengutuk aksi laknat itu” menjelaskan
bahwa Hanum mencoba meyakinkan Michael Jones tentang apa yang dipikirkannya
11
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
Nomor 01; Volume 1; Tahun 2016; Halaman 1-16
itu salah. Jones selama ini selalu menentang pembangunan mesjid di Ground Zero.
Jones beranggapan bahwa jika dia mendukung pembangunan mesjid tersebut berarti
dia tidak menghargai Anna, istrinya. Anna adalah korban dari hancurnya gedung WTC
pada 11 September 2001.
Nama Islam ikut terseret atas kejadian tersebut karena mereka beranggapan
bahwa orang Islam yang selama ini dicap sebagai teroris menghancurkan gedung
tersebut. Setelah kejadian itu, orang-orang Amerika semakin membenci Islam. Bagi
mereka, Islam telah menghancurkan kehidupan, keluarga, dan negara mereka.
Meskipun, orang-orang muslim berusaha membangun mesjid di sekitar Monumen
Peringatan sebagai tanda bahwa mereka juga mengecam aksi teroris tersebut, tetapi
orang-orang yang membenci Islam tetap menentang pembangunan mesjid tersebut,
termasuk Jones. Jones beranggapan bahwa Islam telah memporakporandakan
kehidupannya. Islam telah memisahkan dia dan Anna. Islam telah menghancurkan
impiannya dengan Anna. Oleh karena itu, Jones menentang pembangunan mesjid
tersebut. Meskipun begitu, pada saat Hanum kembali mewawancarai Jones, dia
berusaha menjelaskan pada Jones bahwa yang berada di balik tragedi tersebut bukan
Islam, tetapi orang-orang yang mengatasnamakan Islam.
Sebagai seorang muslim, Hanum juga ikut mengutuk aksi teroris yang telah
mengatasnamakan Islam tersebut. Hanum meminta pada jones agar tidak menyamakan
teroris dengan orang-orang yang membangun mesjid. Demi keyakinannya yang sudah
menjadi harga dirinya, Hanum tetap harus berusaha mencapai tujuannya untuk
menyelamatkan wajah Islam yang semakin tercoreng setelah kejadian WTC pada 11
September 2001 itu. Berikut kutipan yang menggambarkan kebutuhan akan
penghargaan tokoh Rangga.
Di belakang podium, tergolek sofa empuk berwarna merah, kontras dengan
panggung berwarna kayu dengan seolah “melambaikan” tangan padaku. Dia
menyindir kapan aku bisa mendudukkan diri di sofa itu sebagai panelis
konferensi tingkat tinggi. Ya, selama ini aku memang belum setaraf para
presenter jurnal-jurnal seperti Markus Reinhard. Kali ini, aku menjadi
pembawa materi presentasi di ruang kecil menyempil di antara hall raksasa
ini (Rais dan Almahendra, 2014:203).
Kutipan “Dia menyindir kapan aku bisa mendudukkan diri di sofa itu sebagai
panelis konferensi tingkat tinggi” menyiratkan bahwa Rangga sedang memenuhi
kebutuhan akan penghargaannya. Penghargaan tersebut menyangkut harga dirinya.
Dia ditunjuk oleh Reinhard sebagai panelis konferensi di Amerika. Rangga melihat
sofa yang terletak di belakang podium konferensi tersebut seolah-olah sedang
melambaikan tangan padanya dan menyindirnya kapan lagi dia dapat duduk di sofa
sebagai panelis konferensi tingkat tinggi seperti ini.
3.5 Pencapaian Kebutuhan akan Aktualisasi Diri Tokoh Hanum dan Rangga
Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa tokoh Hanum dan Rangga selalu
berusaha untuk memenuhi kebutuhan akan aktualisasi dirinya. Hal tersebut dapat
dilihat dalam kutipan berikut.
12
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
Nomor 01; Volume 1; Tahun 2016; Halaman 1-16
Kuedarkan pandangku ke seluruh penjuru areal Ground Zero. Aku harus
mendapatkan setidaknya seorang narasumber kali ini. Jika memang harus
ditindaklanjuti, kupikir – seperti kata Rangga tadi malam – bisa melalui
telepon saat aku berada di washington DC.
Saat itulah aku berlari menuju pria paruh baya itu.
“Hai, Sir! My name is Hanum Salsabiela from Heute ist Wunderbar,
Viennese daily newspaper. Can we have a short talk for a while? Are you the
leader of the protest?
Pria berbadan besar itu tak menghiraukanku. Mungkin dia sudah capek
diwawancarai berkali-kali. Aku melihatnya baru saja menerima wawancara
dari sebuah stasiun TV. Gayanya berapi-api. Baginya, tidak menentang
pendirian mesjid di Ground Zero berarti telah mengkhianati jiwa-jiwa orang
tercinta yang mati dalam tragedi WTC. Kembali aku berteriak padanya. Dia
melihatku sekilas tapi melengos. Aku berteriak-teriak lagi padanya seperti
orang yang sudah tidak ada pilihan lain. Ya, aku memang tidak ada pilihan
lain. Pria itu benar-benar tak acuh. Dia terus mencoba menertibkan
kelompoknya yang anggotanya semakin banyak berdatangan.
“Sir, do you think the world would be better without Islam?” teriakku sedikit
melengking.
Pria berwajah gahar itu akhirnya menoleh padaku yang terus mengejarnya.
Dia menatapku sebentar lalu menyeringai seraya menyodorkan tangannya.
Aku terengah-engah sambil mendengarkan nama itu.
“Hi, I’m Michael Jones” (Rais dan Almahendra, 2014:93-94).
Kutipan “Aku harus mendapatkan setidaknya seorang narasumber kali ini”
merupakan salah satu usaha Hanum dalam mencari narasumber untuk artikelnya. Pada
hari ketiga di Amerika dan hari terakhir di New York, Hanum menargetkan bisa
mendapatkan satu orang narasumber. Jika wawancaranya berlangsung lama, Hanum
dapat mewawancarainya melalui telepon ketika dia tiba di Washington DC. Pada saat
itu, Hanum melihat seorang pria yang sedang memimpin aksi protes pembangunan
mesjid Ground Zero. Hanum berlari menghampiri pria itu. Hanum memperkenalkan
diri pada pria itu dan memastikan bahwa pria itu adalah pemimpin aksi protes tersebut.
Akan tetapi, pria itu tidak menghiraukan pertanyaan yang diberikan oleh Hanum. Pria
itu tetap tidak peduli meskipun Hanum berteriak-teriak padanya. Akhirnya, Hanum
memberikan sebuah pertanyaan yang membuat pria tersebut menoleh padanya.
“Akankah dunia lebih baik tanpa Islam?”, Hanum bertanya sedikit berteriak pada pria
itu. Pria itu menyodorkan tangan untuk memperkenalkan dirinya pada Hanum. Pria itu
bernama Michael Jones, pemimpin aksi protes pembangunan mesjid Ground Zero. Hal
tersebut terdapat dalam kutipan “Saat itulah aku berlari menuju pria paruh baya itu”.
Berikut terdapat kutipan yang menjelaskan kebutuhan akan aktualisasi diri tokoh
Rangga.
Kali ini aku tak percaya aku bisa selancang itu berbicara padanya. Tapi, ini
pertanyaan penting. Dialah salah satu kata kunci dalam paper-ku nanti untuk
13
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
Nomor 01; Volume 1; Tahun 2016; Halaman 1-16
Reinhard. Ya, aku semakin ingin tahu apakah dia menerapkan konsep the
power of giving, yang notabene disebut sedekah dalam keyakinanku. (Rais
dan Almahendra, 2014:197).
Kutipan “...Aku semakin ingin tahu apakah dia menerapkan konsep the power
of giving, yang notabene disebut sedekah dalam keyakinanku” merupakan bagian
usaha Rangga dalam menulis papernya. Rangga menanyakan konsep the power of
giving atau sedekah pada Phillipus Brown. Phillipus Brown adalah seorang kaya yang
dermawan. Phillip menjelaskan konsep yang diterapkan dalam kehidupannya tersebut.
Phillip menjelaskan konsep itu sambil memperlihatkan pada Rangga ketimpangan
yang terjadi di dunia. Di Afrika, mereka hidup dikerubungi lalat. Lalat dan manusia
saling berebut menyantap nasi basi. Phillip teringat anjing dan kucingnya di rumah
yang selalu kenyang menyantap biskuit ikan cakalang olahan nomor satu Jepang yang
harganya 1.000 dolar untuk seminggu. Di Palestina, anak-anak dipaksa memegang
senjata tanpa tahu cara menggunakannya. Padahal, mereka mempunyai cita-cita yang
tinggi. Phillip sudah empat tahun mengadopsi seorang anak dari Afganistan. Anak
tersebut akan memiliki masa depan yang lebih cerah dibandingkan teman-temannya di
sana. Di beberapa daerah di Indonesia, masih mengantre air bersih. Berbanding
terbalik di Amerika, orang tidak mengantre air bersih, tetapi mengantre tiket konser.
Phillipus Brown mengungkapkan bahwa dia punya alasan tersendiri mengapa
dia menjadi seorang yang dermawan. Dia berutang budi pada seseorang yang telah
menyelamatkan jiwanya. Orang tersebut telah mengajarinya ikhlas dan berbuat baik
tanpa pamrih. Tidak hanya sampai di situ. Phillip kembali menjelaskan konsep the
power of giving tersebut di konferensi yang juga dihadiri oleh Rangga. Pada konferensi
itu Phillip mengungkapkan bahwa kekayaan telah membuatnya menderita karena
kekayaanlah sebagai penyebab dia bercerai dari istrinya dan kehilangan anaknya.
Dia hampir gila karena uang yang dimilikinya tidak habis-habis. Dulu dia
berpikiran bahwa seseorang akan menjadi gila jika di dompetnya tidak ada uang
sepeser pun. Akan tetapi, terlalu banyak uang ternyata bisa membuat seseorang
menjadi gila. Kekayaan telah membuatnya menjadi seseorang yang kikir dan tidak
pernah hidup tenang. Akhirnya, Phillip bertemu dengan seseorang yang tidak pernah
dia kenal sebelumnya. Akan tetapi, orang tersebut telah menjadi guru dalam hidupnya.
Seseorang itu telah mengajarinya arti kehidupan yang sesungguhnya dan
mengajarkannya bagaimana seharusnya dia menggunakan kekayaan. Bagi Phillip saat
ini, semakin banyak seseorang mengeluarkan dolarnya pada yang membutuhkan,
Tuhan akan mengganti dan menambah jumlah dolar itu. Semakin seseorang itu kikir,
Tuhan mungkin akan menambah dolarnya, tetapi terdapat suatu kepedihan di dalam
pundi-pundi dolar itu. Semua penjelasan Phillipus Brown dapat menjawab pertanyaan
yang telah diajukan Rangga sebelumnya.
IV. PENUTUP
Berdasarkan kajian novel Bulan Terbelah di Langit Amerika Karya Hanum
Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra diperoleh simpulan bahwa Kebutuhan
fisiologis pada tokoh utama dalam novel ini dapat terpenuhi. Pemenuhan kebutuhan
fisiologis tersebut antara lain makan, minum, istirahat, tidur, dan hiburan. Kebutuhan
akan keamanan pada tokoh utama dalam novel ini dapat tercapai. Pencapaian
14
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
Nomor 01; Volume 1; Tahun 2016; Halaman 1-16
kebutuhan akan keamanan tersebut adalah keamanan fisik, ketergantungan,
perlindungan, kebebasan, ketenteraman, dan keteraturan. Kebutuhan akan cinta dan
keberadaan pada tokoh utama dalam novel ini juga dapat tercapai secara utuh.
Pencapaian kebutuhan akan cinta dan keberadaan tersebut adalah kebutuhan kasih
sayang, kebutuhan akan teman, dan kebutuhan akan pasangan. Kebutuhan akan
penghargaan pada tokoh utama dalam novel ini dapat tercapai. Pencapaian kebutuhan
akan penghargaan bukan hanya harga diri, tetapi juga penghargaan dari orang lain.
Kebutuhan akan aktualisasi diri pada tokoh utama dalam novel ini juga dapat tercapai.
Pencapaian tersebut terwujud karena adanya potensi dan usaha, serta pemenuhan
kebutuhan-kebutuhan dasar dari masing-masing tokoh sehingga tujuan dari tokohtokoh tersebut dapat tercapai.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian ini, ada
beberapa saran yang ingin penulis sampaikan, yaitu novel Bulan Terbelah di Langit
Amerika karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra merupakan salah satu
novel terbaru di Indonesia yang dapat penulis sarankan untuk diteliti dalam penelitianpenelitian selanjutnya. Oleh karena kurangnya penelitian mengenai psikologi sastra,
peneliti juga menyarankan bagi peneliti lainnya, khususnya mahasiswa PBSI FKIP
Unsyiah, agar dapat terus mengembangkan penelitian ilmiah dalam kajian psikologi
sastra.
DAFTAR PUSTAKA
Boeree, George. 2013. Personality Theories: Melacak Kepribadian Anda Bersama
Psikolog Dunia. Terjemahan oleh Inyiak Ridwan Muzir. Yogyakarta:
Prismasophie.
Endraswara, Suwardi. 2008. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: Med Press.
Feist, Jess dan Gregory J. Feist. 2014. Teori Kepribadian. Terjemahan oleh Handriatno
dari Theories of Personality (2010). Jakarta: Salemba Humanika.
Feldman, Robert S. 2012. Pengantar Psikologi. Terjemahan oleh Petty Gina Gayatri
dan Putri Nurdina Sofyan dari Understanding Psychology (2011). Jakarta:
Salemba Humanika.
Fudyartanta, Ki. 2012. Psikologi Kepribadian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Goble, Frank G. 1987. Mazhab Ketiga: Psikologi Humanistik Abraham Maslow.
Terjemahan oleh A. Supratiknya dari The Third Force: The Psychology of
Abraham Maslow (1971). Yogyakarta: Kanisius.
Hidayat, Dede Rahmat. 2011. Psikologi Kepribadian Kepribadian dan Konseling.
Jakarta: Ghalia Indonesia.
Moleong, J. Lexy. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Remaja
Rosdakarya.
15
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
Nomor 01; Volume 1; Tahun 2016; Halaman 1-16
Minderop, Albertine. 2013. Psikologi Sastra. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor
Indonesia.
Nawawi, Hadari dan Mimi Martini. 2005. Penelitian Terapan. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Nurgiyantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Rais, Hanum Salsabiela dan Rangga Almahendra. 2014. Bulan Terbelah di Langit
Amerika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Siswantoro. 2005. Metode Penelitian Sastra: Analisis Psikologis. Surakarta:
Muhammadiyah University Press.
Sumanto. 2014. Psikologi Umum. Yogyakarta: Caps.
Widodo. 2004. Cerdik Menyusun Proposal Penelitian: Skripsi, Tesis, dan Disertasi.
Jakarta: Magna Script.
16
Download