bab i pendahuluan

advertisement
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an sebagai muʻjizât terbesar dalam sejarah para pembawa pesan
Tuhan (the messengers) memberikan petunjuk (hudâ)1 yang melingkupi
seluruh lini kehidupan. Kelengkapan petunjuk al-Qur’an menyentuh seluruh
aspek kehidupan, karena ia adalah wahyu paling akhir yang diturunkan Allah
SWT untuk memberikan rekomendasi tugas kekhalîfahan manusia dimuka
bumi.2 Bukan hanya yang berkaitan dengan kehidupan ke empat (ukhrawî),
akan tetapi masalah dunia tidak dilupankannya.3 Meski wahyu ini mengandung
dimensi ketuhanan (al-khâliq), aplikasinya ia tidak hanya mengambang di
awan, namun mampu menyentuh tanah dan menyatu dengan dimensi
kemanusiaan (makhlûq).
1
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Tangerang, Vol. I, Lentera Hati, Cet. III, 2005,
h. v-vi. Lihat juga Rizal Fuadi, Fungsi al-Qur’an, dalam paper mata kuliah seminar tafsir
program studi hukum Islam pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 1998, tidak
diterbitkan
M. Yudhie R. Haryono, Bahasa Politik al-Qur’an; mencurigai makna tersembunyi di
Balik Teks, Bekasi, PT Gugus Press, Cet. I, 2002, h. 46-59
2
3
John L. Esposito, Islam dan Politik, Jakarta, PT. Bulan Bintang, Cet. I, 1990, h. 38.
Lihat juga Badri Khaeruman, sejarah perkembangan Tafsir al-Qur’an, Bandung,CV. Pustaka
Setia, Cet. I, 2004, h. 11
2
Keberadaan petunjuk al-Qur’an adalah petunjuk yang bersifat implemen4
yang membutuhkan aplikasi dan implementasi5 kongkrit. Pemaknaan ini
penting karena sebagian masyarakat muslim sendiri memahami-dalam
beberapa hal, terutama masalah keduniaan-bahwa ajaran al-Qur’an sulit
diterima bahkan mustahil diamalkan (resistensi).6 Dan yang lebih parah,
mengasumsikan al-Qur’an hanya berbicara ketuhanan dan semua hal yang
koneksinya adalah akhirat, karena tidak mampu memahaminya.7
Dalam masalah muʻâmalah (interaksi sosial) dan muhâkamah (hukum
syariʻah), masyarakat muslim lebih memilih menggunakan hukum positif dan
peraturan-peraturan perundang-undangan yang melegitimasinya. Mereka
enggan menggunakan ajaran al-Qur’an karena menganggap tidak mungkin
untuk dijalankan.
Karena keberadaan situasi dan kondisi yang tidak
memungkinkan karena berbeda jauh dengan situasi dan kondisi dimana alQur’an diwahyukan,8 terlebih masalah tata negara (politik).9
4
Implemen berarti al-Qur’an adalah sebuah alat, perabot, perkakas, peralatan dan
piranti yang bersifat teoritis dan dogmatis yang rasional dan irasional. Lihat Farida Hamid,
Kamus Ilmiah Populer Lengkap, Surabaya, Apollo, tt, h. 37 dan 215
5
Aplikasi adalah penerapan dari sebuah ide, gagasan, dan rancangan yang berdiri untuk
mewujudkan sebuah aksi. Sedangkan implementasi adalah prosesi penerapan dan pemanfaatan
sebuah implemen yang berhubungan dengan pemakaian. Lihat Farida Hamid, Kamus Ilmiah....,
h. 37 dan 215
6
Humar Syihab, al-Qur’an dan Rekayasa Sosial, Jakarta, Pustaka Kartini, Cet. I, 1990,
7
Ibid., h. 55-62
h. 10
8
Raffles, The Histori Of Java, jilid 2, h. 280 seperti yang dikutip dalam buku Perspektif
Islam di asia Tenggara, penyunting Azyumardi Azra, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, edisi
pertama, 1989, h. 151
Moenawar Chalil, Kembali Kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, Jakarta, PT Bulan
Bintang, Cet. VI, 1986, h. 14. Gambaran dari QS. al-Mâ`idah 49-50
9
3
Dalam kehidupan masyarakat muslim sendiri10 ada anggapan bahwa
permasalahan pemerintahan dan negara tidak ada sangkut pautnya dengan
agama, bahkan Tuhan. Politik adalah murni urusan duniawi yang orientasi
akhirnya adalah kekuasaan. Dari asumsi ini muncul sebuah pemikiran untuk
menskulerkan
politik
dari
agama.11
Adanya
sebuah
gerakan
untuk
menyingkirkan politik dari umat Islam. Selain itu ada arus yang
menanamankan mainset bahwa politik itu selalu identik dengan upaya
penguasaan dan eksploitasi bahkan pembumi hangusan kelompok lain yang
berseberangan.
Ironisnya, orang-orang yang berada dalam lingkaran pemerintahan
(politikus) mendapatkan predikat fâsik, munâfik bahkan dikâfirkan. Di sisi lain,
orang-orang yang menjalin hubungan dan mendekati politikus dilarang.
Sehingga dengan pelarangan itu penghakiman atas orang yang mendekati
kekuasaan kredibelitas keislamannya dipertanyakan (tidak wiraʻi).12
Kenyataan ini diperparah dengan fenomena hilangnya kepercayaan
publik atas politikus muslim yang dianggap telah menjual keimanan untuk
Terutama setelah terhapusnya sistem Khilâfah Islâmiyah di Turki, dan masuknya
pemikiran dan kebudayaan Barat baik melalui invansi senjata, budaya maupun pemikiran dan
dominasi barat atas dunia Islam
10
11
Pemisahan antara otoritas keagamaan dan politik dalam dunia Islam sudah terjadi
sejak dinasti Umaiyah (611–750 H) berkuasa dengan preseden pengangkatan para qâdhi dan
fungsionaris keagamaan lainnya. Di Indonesia sendiri sudah ada sejak zaman kerajaan dan
diperkuat selama masa penjajahan kolonial dengan dibentuknya kantor urusan agama (KUA),
dan pada penjajahan Jepang dengan dibentuknya Majlis Syura Ulama Indonesia (MASYUMI).
Pada era orde baru sekulerisasi agama dan politik terstruktur dengan rapi dengan dibentuknya
ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) dan MUI (Majelis Ulama Indonesia) sebagai
patron dan monitoring pemerintah dalam mengawasi gerak politik kyai. Azyumardi Azra,
Konteks Berteologi di Indonesia Pengalam Islam, Jakarta, Paramadina, Cet. I, 1999, h. 165166
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghozalî, Ihya’ Ulûm al-Dîn, Bairut, Dar
al-Ma’rifah, Juz. II, h. 142, Maktabah Syâmilah
12
4
mendapatkan keuntungan pribadi maupun kelompoknya. Pemanfaatan agama
untuk mendulang keuntungan yang bersifat materi maupun nonmateri yang
tidak ada sangkut pautnya dengan urusan agama. Agama hanya dijadikan alat
untuk mencapai puncak kekuasaan.
Terlebih di indonesia, pandangan sebelah mata terhadap para tokoh
agama (kyai) yang terjun dalam politik praktis nyaris hilang karamahnya dan
ketokohannya di cabut. Sebelum berpolitik segala tindakan kyai dijadikan
panutan oleh masyarakat dan ucapannya selalu dituruti. Kyai yang dianggap
adiluhung setelah berpolitik semuanya tidak berlaku lagi. Keluarganya
dikucilkan dan pesantren yang diasuhnya menjadi sepi. Hukuman moral dan
sosial atas kyai yang berpolitik melebihi hukuman terhadap koruptor yang
menelan uang rakyat dan membunuhnya secara perlahan. Entah karena benci
atau kecintaan yang terlalu dalam terhadap kyai, yang tidak rela apabila
kehilangan figur kyai, atau tidak tega apabila kyai direpotkan dengan urusan
yang sangat remeh.
Asumsi masyarakat ini memberikan imbas partai Islam dan politikus
tidak punya daya jual (unmarketable). Justru, partai yang berasas dan
berlambangkan Islam maupun politikus muslim selalu kalah dengan setiap
pemilu. Kepercayaan rakyat terhadap politikus yang mempunyai background
Islam kalah jauh dengan yang politikus nasionalis. Hal ini semakin kronis
ketika para politikus muslim banyak yang terperosok dalam kasus hukum.
Bukan karena kalah konsep dalam berpolitik terlebih karena imege negatif
yang terbangun lebih dulu bahwa politikus muslim hanya memanfatkan situasi
5
dan posisi untuk mengenyangkan perutnya sendiri. Mereka lebih berhak untuk
tidak dipilih karena selain tidak menggunakan kepercayaan yang diamanahkan
konstituen, mereka juga telah memanfaatkan agama untuk politiknya. 13
Dari sini menarik untuk dikaji terkait politik Islam yang bersumber dari
al-Qur’an yang menjadi pedoman, dan diyakini mampu memberikan solusi
terhadap semua masalah. Karena sebagai wahyu Tuhan tentunya al-Qur’an
diharapkan memberikan gambaran yang tepat, selain untuk memberikan
gambaran yang jelas dan pedoman terhadap politik Islam yang benar-benar
bernafaskan al-Qur’an. Untuk itu penulis mengambil tema “Konsep Al-Qur’an
Tentang Politik: Kajian Tematik Tentang Ayat-Ayat Politik”.
B. Fokus Penelitian
Medan permasalahan ini sebenarnya terlalu luas, sehingga penulis merasa
perlu untuk memberikan batasan agar dalam pembahasan memiliki fokus
utama. Karena pada dasarnya misi awal al-Qur’an adalah untuk memberikan
petunjuk strategis tugas kekhalîfahan manusia dimuka bumi ini senantiasa
tidak terlepas dari strategi untuk menuntaskan tugas itu. Adapun yang menjadi
bidikan penulisan ini adalah ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara politik, tafsir
dari beberapa mufassîr terhadap ayat-ayat politik dan penerapannya dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara.
13
Kenyataan sejarah sejak Republik Indonesia berdiri sampai masa Reformasi partai
Islam tidak pernah manjadi jawara dalam pemilihan umum dan hanya puas menjadi runner up.
Lihat Fananie Anwar, Politik Islam Politik Kasih Sayang, Sidoarjo, Masmedia Buana Pustaka,
Cet. I, 2009, h. 47-65
6
C. Rumusan Masalah
Berawal dari permasalahan diatas, pembahasan dalam masalah ini adalah
untuk mengeksplorasi ayat-ayat yang berbicara politik maupun memiliki
hubungan dengan politik, baik dilihat dari nilai, pesan moral maupun faktor
eksternal yang lain. Adapun yang menjadi rumusan pembahasan dalam kajian
ini adalah:
1. Bagaimana bunyi ayat-ayat yang berbicara politik?
2. Apa misi politik al-Qur’an ?
3. Seperti apa bentuk idealnya politik al-Qur’an ?
D. Tujuan Penelitian
Dalam penulisan penelitian ini penulis mempunyai tujuan untuk;
1. Menelusuri ayat-ayat al-Qur’an yang mempunyai kaitan dengan masalah
politik baik secara tekstual maupun kontekstual, secara tersurat maupun
yang tersirat.
2. Mengetahui ayat-ayat makiyah madâniyah, asbâb al-nuzûl, beserta serta
penafsiran dari beberapa mufassîr.
3. Mengetahui kandungannya ayat-ayat al-Qur’an yang membicarakan politik,
merumuskan misi politik al-Qur’an dan menentukan bentuk ideal
pemerintahan formal maupun non formal menurut al-Qur’an.
E. Sumbangan Intelektual
Penelitian ini memberikan kontribusi kepada seluruh masyarakat
muslim baik dari segi teoritis maupun praktis sebagai berikut:
1. Sumbangan teoritis
7
Penelitian ini nantinya diharapkan mampu memberikan sumbangan
intelektual bagi kelengkapan data teoritis dalam upaya mengkaji
pemahaman tentang politik dalam perspektif al-Qur’an untuk kepentingan
ilmiah (scientific need) dan wacana baru dalam kajian tafsîr, khususnya
terhadap metode maudhu`i (tematik).
2. Sumbangan praktis
Dalam ranah praktis penelitian ini memberikan sumbangan pemikiran
yang moderat di era modern, sekaligus memberikan peta baru bagi para
pegiat perpolitikan, lebih khusus kepada politikus muslim. Selain itu untuk
memberikan rekomendasi yang Islami demi terwujudnya perpolitikan yang
sehat dan bermartabat sehingga slogan al-Islâm Yaʻlû walâ Yuʻlâ ‘Alaih itu
menjadi gerakan empiris dan bukan sekedar fatamorgana dipadang sahara.
F. Penegasan Istilah
Kata “konsep” dalam kamus besar bahasa Indonesia memiliki beberapa
arti yaitu: ide umum, pemikiran, rancangan, atau pengertian yang diabstrakkan
dari peristiwa konkret, gambaran mental dari objek, proses, atau apapun yang
diluar bahasa, yang digunakan akal budi untuk memahami hal-hal lainya. Dari
berbagai makna ini penulis ingin menggunakan makna konsep sebagai ide
umum dan pemikiran atau rancangan.14
Term “politik” dalam kamus bahasa Arab diungkapkan dengan kata
siyâsah yang mempunyai arti proses perbaikan makhluk dengan menunjukkan
mereka kejalan yang menyelamatkan, baik saat ini maupun yang akan datang.
14
Farida Hamid, Kamus Ilmiah...., h. 304
8
Sebuah konsentrasi hukum dan management pemerintahan baik intern maupun
ekstern.15
Kata “al-Qur’an” adalah derivasi (musytaq) dari asal kata qara`a yaqra`u
qar`an qirâ`atan dan qur’ânan yang memiliki arti membaca (talâ).16 Kata alQur’an dipakai untuk memberikan nama terhadap sesuatu yang dibaca, yakni
objek bacaan yang berada dalam wazan masdar (asal bentuk kalimat).17
Sedangkan yang dimaksud istilah al-Qur’an dalam kajian ini adalah kitab suci
umat Islam, yaitu mukjizat dari Allah SWT yang diberikan (wahyu) kepada
nabi Muhammad SAW dengan mutawâtir (berturut-turut)18 melalui perantara
malaikat Jibril, sebagai petunjuk dan pedoman bagi seluruh umat manusia agar
selamat dan bahagia didunia dan akhirat,19 dalam bentuk mushaf yang ditulis
dengan menggunakan bahasa Arab, bernilai ibadah bagi pembacanya, diawali
dengan surah al-fâtihah dan diakhiri oleh surah al-Nâs20 dan terpelihara dari
pemalsuan hingga akhir dunia.21
G. Kajian Penelitian Terdahulu
Sejauh ini belum ada penelitian khusus terkait ayat-ayat al-Qur’an yang
memuat magnet politik dan secara tegas mamaparkan bentuk kongkrit dari misi
Maʻluf luwis, al-Munjid Fî al-Lughah wa al-Aʻlâm, Bairut, Dar al-Masyriq, Cet.
XXXX, 2003, h. 362
15
16
Ibid., h. 616-617
17
Nur Cholis, Pengantar Studi Islam, Yogyakarta, Teras, 2008, h. 23
M. Quraish Shihab, Mu’jizat al-Qur’an Ditinjau Dari Aspek Kebahsaan: Isyarat
Ilmiah dan Pemberiataan Ghaib, Jakarta, Mizan, 2007, h. 45
18
19
Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’ân, Beberapa Aspek Ilmiah Tentang al-Qur’ân,
Jakarta, Lentera Antar Nusa, 2008, h. 1
20
21
Muchotob Hamzah, Tafsir Maudhuʻî al-Muntaha, Yogyakarta, Lkis, 2004, h. 5
Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, Jakarta, Grafindo Persada, 1999, h. 68. Yanuar
Ilyas, Cakrawala Al-Qur’an Tafsir Tematis Tentang Berbagai aspek Kehidupan, Yogyakarta,
Itqan Publishing, Cet. III, 2011, h. 42
9
politik dan rumusan langkah-langkah politis yang rekomendasinya bersumber
langsung dari al-Qur’an. Yang penulis temukan adalah sebatas kajian sistem
dan bentuk praktis dari pola perpolitikan dengan bangunan sistem
pemerintahan (governance) yang sudah diakui rakyat diantaranya:
Al-Tîjânî ‘Abdul Qâdir Hamîd, dengan judul asli ushûl al-Fikr al-Siyâsî
fî al-Qur’ân al-Makkî, yang diterjemakan kedalam bahasa Indonesia oleh ‘Abd
al-Hayî al-Kattânî dengan judul pemikiran politik dalam al-Qur’an.
Menjelaskan tentang pokok-pokok pemikiran politik yang diambil dari alQur’an versi ayat makiyah. Dalam buku ini al-Qur’an diposisikan sebagai
fenomena yang membutuhkan analisis mendalam pada bagian-bagian
redaksionalnya dan menukik secara gradual kedalam sehingga dapat difahami
kata kuncinya dalam memahami fenomena sosial. Pembahasan pemikiran
politik ini menampilkan satu model bagi kajian-kajian sosial dan humanisme
yang serius serta selalu merujuk pada al-Qur’an sebagai sumber pokoknya.
Buku ini terdiri dari 280 halaman ditambah kata pengantar. 22
Muhammad Dhiauddin Rais dengan judul asli al-Nazhariyah alSiyâsiyah al-Islâmiyah, diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Abd alHayî al-Kattânî dkk dengan judul teori politik Islam. Buku ini menjelaskan
pemikiran politik, penjelasan tentang timbulnya teori-teori politik dan aliranaliran politik, imâmah, pembahasan tentang kekuasaan, kewajiban negara, hak
umat, hubungan antara umat dan pemerintah serta teori-teori politik dalam
Al-Tîjânî ‘Abdul Qâdir Hamîd, dengan judul asli ushûl al-Fikr al-Siyâsî fî al-Qur’an
al-Makkî, yang diterjemakan kedalam bahasa Indonesia oleh ‘Abd al-Hayî al-Kattânî dengan
judul Pemikiran Politik Dalam al-Qur’an, Jakarta, Gema Insani Press, 2001
22
10
firqoh Islam. Buku ini terdiri dari 318 halaman yang mencakup kata pengantar,
indeks dan daftar pustaka.23
Abdul Muʻin Salim, Fiqh Siyasah; Konsepsi Politik Dalam al-Qur’an.
Didalamnya menjelaskan konsepsi politik dalam al-Qur’an, yaitu ajaran politik
Islam yang dikehendaki oleh al-Qur’an. Hakikat dan kebenaran konsep negara
dalam perspektif Islam dan juga menyinggung persepsi falsafahnya.
Kesimpulan dari isi buku ini adalah kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan
berada dalam prerogratif Allah SWT dengan al-Qur’an sebagai konstitusinya.
Politik adalah otoritas untuk menyelenggarakan tertib masyarakat berdasar
hukum Allah SWT yang disebutkan dalam kitab suci al-Qur’an. Buku ini
terdiri dari 331 halaman meliputi pengantar, daftar pustaka dan indeks ayat alQur’an.24
Kuntowijoyo, Identitas Politik Umat Islam. Buku ini merupaka potret
terhadap persoalan sosial politik umat Islam yang real berkembang dalam
masyarakat. Dari sini penulis memberikan pemetaan atas persoalan mendasar
yang memerlukan solusi intelektual dan praktikal, selanjutnya merumuskan
strategi dengan tahapan secara gradual. Menjelaskan respon intelektual
terhadap epistemologi pemikiran politik Islam dan mentransformasikannya
dalam preskripsi-preskipsi dasar yang implementatif dengan berpijak pada
realitas historis umat Islam Indonesia. Buku ini adalah pembelaan penulis
Muhammad Dhiauddin Rais dengan judul asli al-Nazhariyah al-Siyâsiyah alIslâmiyah, diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Abdul Hayî al-Kattani dkk dengan
judul teori politik Islam, Jakarta, Gema Insani Press, 2001
23
Abdul Mu’in Salim, Fiqh Siyasah; Konsepsi Politik Dalam al-Qur’an, Jakarta, PT
Raja Grafindo Persada, 1994
24
11
terhadap pandangan minor sarjana barat atas Islam, khususnya Indonesia.
Terdiri dari 253 halaman meliputi pengantar, pendahuluan, daftar pustaka dan
indeks.25
Muhammad Iqbal, Fiqh Siyasah; Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam.
Buku ini ditulis sebagai respon terhadap penerapan nilai-nilai politik oleh barat
kedalam dunia Islam. Menjelaskan kelengkapan ajaran Islam termasuk
mengajarkan tentang politik dan kenegaraan sebagai tuntutan agama. Islam erat
kaitanya dengan keberadaan sebuah negara, nabi SAW memberikan contoh
pembentukan negara Islam dan wewenang politis. Menunjukkan aturan
kenegaraan dalam Islam yang diambil dari sejarah Islam dan al-Qur’an. Islam
bukan sekedar agama tapi juga sebagai pranata sosial yang membentuk sebuah
masyarakat berbudaya yang meliputi siyâsah dustûriyah, siyâsah dauliyah dan
siyâsah mâliyah. Buku ini terdiri dari 321 halaman meliputi kata pengantar,
pendahuluan, daftar pustaka dan indeks.26
Khalid Ibrahîm Jiddân, The Islamic Theory of Goverment According to
Ibn Taymiyah,
yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Mufid
dengan judul Teori Pemerintahan Islam Menurut Ibnu Taimiyah. Dalam buku
ini penulis menjelaskan pandangan Ibnu Taimiyah terhadap hakekat dan
perilaku pemerintahan Islam dikaitkan dengan konteks sejarah yang mengitari
kehidupan penulis, tradisi pemikiran politik dari al-Qur’an dan al-Hadits, teori
politik dalam firqoh-firqoh Islam. Kesimpulan dari tulisan ini memandang
25
26
Kuntowijoyo, Identitas Politik Umat Islam, Bandung, Mizan, 1997
Muhammad Iqbal, Fiqh Siyasah; Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam, Jakarta,
Gaya Media Pratama, 2001
12
Islam memiliki ciri kenegaraan sendiri yang berbeda dengan sistem politik
lainnya. Kekhususan tersebut berakar pada hakekat teologi dan hukum Islam
yang menuturkan bahwa agama dan politik tidak dapat dipisahkan dan saling
bertautan. Konsep pemerintahan yang dibangun Ibnu Taimaiyah adalah
realisme dan kelenturan sistem khalifah tradisional. Buku ini terdiri dari 139
halaman termasuk pengantar dan abstraksi.27
Muhammad Abd al-Qâdir Abû Fâriz, al-Nidhâm al-Siyâsî fî al-Islâm,
yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Musthala Maufur dengan
judul Sistem Politik Islam. Buku ini menjelaskan tentang hakekat negara atau
institusi dan kedudukannya dalan ajaran Islam yang merujuk kepada
keteladanan nabi Muhammad SAW.
Didalamnya memuat kaidah-kaidah
sistem politik dalam Islam yang diambil dari pemahaman ayat-ayat al-Qur’an,
kepemimpinan dalam negara Islam dan baiat. Buku ini murni pemikiran
dengan menyadur ayat al-Qur’an sebagai penguat argumentasinya. Terdiri dari
241 halaman dan tidak memiliki daftar pustaka maupun indeks.28
‘Abd al-Rahman ‘Abd al-Qâdîr Qurdî, The Islamic State A Study on the
Islamic Holy Constitution, diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh
Ilzamuddin Ma’mur dengan judul Tatanan Sosial Islam; Studi berdasarkan alQur’an dan Sunnah. Dalam buku ini penulis menjelaskan Islam dan negara
perspektif umum, fondasi politik Islam, fungsi dan organisasi negara Islam,
Khalid Ibrahîm Jiddân, The Islamic Theory of Goverment According to Ibn Taymiyah,
yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Mufid dengan judil Teori Pemerintahan
Islam Menurut Ibnu Taimiyah, Jakarta, PT Rineka Cipta, 1994
27
Muhammad ‘Abd al-Qâdir Abû Fâriz, al-Nidhâm al-Siyâsî fî al-Islam, yang
diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Musthala Maufur dengan judul, Sistem Politik
Islam, Jakarta, Robbani Press, 2000
28
13
konsepsi damai dan perang dalam Islam dan ekonomi negara Islam. Penataan
ini dimaksudkan untuk memenuhi ketertiban masyarakat dalm rangka
mencapai kesejahteraan bagi semua orang, dengan memberi peluang dan
kebebasan yang sama untuk berkompetisi memperoleh pendapatan ekonomi,
ini adalah kewajiban negara. Buku ini terdiri dari 277 halaman dengan
pendahuluan dan indeks, tanpa mencantumkan referensi pustaka.29
Imâm al-Mawardî, al-ahkâm al-Sulthâniyah fî al-Wilâyah al-Dîniyah,
diterjemahkan oleh Fadli Bahri memakai bahasa Indonesia dengan judul, alAhkam as Sulthaniyah; Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Negara Islam. Buku
ini memuat dengan detail sistem politik, sistem moneter, sistem pemerintahan,
sistem peradilan menurut Islam madzhab Syafi’i. Dalam Islam, imâmah adalah
pondasi yang mengokohkan prinsip-prinsip agama dan mengatur kepentingan
umum, sehingga urusan rakyat berjalan dengan tertib. Dengan mengutamakan
keputusan imam diatas keputusan yang lain, karena keputusan imam adalah
untuk menertibkan hukum agar tidak tumpang tindih. Ini adalah buku pertama
dalam Islam yang menjelaskan tata negara, ditulis atas desakan dari khalifah
dari bani Buwaih yaitu khalifah al-Qâ`imu billâh. Buku ini terdiri dari 431
halaman tanpa memberikan daftar pustaka muapun indeks.30
Jadi, dari berbagai penelitian maupun karya tulis yang penulis temukan
belum ada yang secara spesifik mengupas ayat-ayat al-Qur’an yang secara
29
‘Abd al-Rahman ‘Abd al-Qâdir Qurdî, The Islamic State A Study on the Islamic Holy
Constitution, diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Ilzamuddin Ma’mur dengan judul
Tatanan Sosial Islam; Studi berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah, Yogyakarta, Pustaka Pelajar,
2000
Imâm al-Mawârdî, al-Ahkâm al-Sulthâniyah fî al-Wilâyah al-Dîniyah, diterjemahkan
oleh Fadli Bahri memakai bahasa Indonesia dengan judul, al-Ahkam as Sulthaniyah; PrinsipPrinsip Penyelenggaraan Negara Islam, Jakarta, Darul falah, 2000
30
14
khusus membicarakan politik secara komprehenshif dan mendalam. Tulisan
yang ada adalah panafsiran terhadap bentuk-bentuk pemerintahan dan tugastugas pemerintah, dan pemikiran tentang tata negara yang di korelasikan
dengan ayat-ayat al-Qur’an. Karya yang berbentuk tafsîr pun tidak secara lugas
memaparkan pesan-pesan al-Qur’an yang sifatnya aplikatif. Penulisan tafsîr
yang ada cenderung bersifat normatif dogmatis yang cenderung holistik. Untuk
itu penulis mengupas pembicaraan al-Qur’an tentang politik yang secara lugas
dan ilmiah. Dan untuk menjaga dari plagiasi dan orsinilitas penulisan
penelitian
ini,
peniliti
akan
menulis
karya
ilmiah
yang
bisa
dipertanggungjawabkan dengan judul “Konsep Al-Qur’an Tentang Politik:
Kajian Tematik Tentang Ayat-Ayat Politik”.
H. Metode Penelitian
Metode (manhaj atau tharîqoh) adalah seperangkat atauran yang harus
diperhatikan dan dipatuhi oleh mufassîr dalam memberikan interpretasi
terhadap al-Qur’an agar terhindar dari kesalahan dan penyimpangan. Adapun
penelitian ini ditinjau dari aspek sasaran penelitian ini menggunakan metode
tafsir maudhuʻî (tematik).31
1. Variabel
Variabel adalah objek dalam sebuah penelitian. Adapun dalam
penelitian ini variabelnya adalah ayat-ayat politik dalam al-Qur’an . Disini
31
Usman, Ilmu Tafsir, Teras, Yogyakarta, Cet. I, 2009, h. 281. Ahmad Saydzali dan
Ahmad Rofi’i, Ulum al-Qur’an Untuk Fakultas Tarbiyah Komponen MKMD, Bandung,
Pustaka Setia, 2000, h.6. ‘Abd al-Rahman al-Farmawî, al-Bidâyah fî Tafsir al-Maudhuʻî,
Madinah, Maktabah al-Qâhiroh, 2005, h. 52
15
ayat-ayat
tersebut
selain
diposisikan
sebagai
variabel
independen
(penyebab) juga sebagai variabel dependen (akibat).32
2. Instrumen
Dalam penelitian ini peneliti menempatkan diri sebagai instrumen
dalam perencanaan, pelaksana, pengumpulan data, analis, penafsir data,
penulis laporan dan pelaksana revisi. Sedangkan peran peneliti adalah
sebagai pengamat penuh.33
3. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian yang menggunakan data-data dari
berbagai literatur kepustakaan terkait politik dalam al-Qur’an dengan
mengungkapkan secara argumentatif agar penelitian ini bukan sekedar
penelitian yang normatif dogmatis dan lebih bersifat normatif aplikatif.
Sedangkan secara umum karya ini dikategorikan dalam bentuk kajian
kepustakan
(library
reseach).
Yakni
melakukan
penelitian
untuk
memperoleh data-data dan informasi-informasi serta objek-objek yang
digunakan dalam pembahasan masalah tersebut.
Kajian kepustakaan merupakan penampilan argumentasi penalaran
keilmuan untuk memaparkan hasil olah pikir mengenai suatu permasalahan
atau topik kajian kepustakaan yang dibahas dalam penelitian ini. Sedangkan
bila dilihat dari cara dan taraf pembahasan penelitian ini menggunakan
32
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, Reineka
Cipta, 2002, h. 161-162
33
Lexi J. Melong, metodologi Penelitian kualitatif Edisi Revisi, Bandung, PT Remaja
Rosda Karya, Cet. XX, 2011, h. 168-172. Ahmad Tanzeh, Metodologi penelitian Praktis,
Yogyakarta, Teras, Cet. I, 2011, h. 167. Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian…, h. 109
16
metode tematik (maudlu`î). Adapun pendekatan dalam memahami ayat alQur’an menggunakan pendekatan sosio-historis filosofis linguistik.34
4. Sumber Data
Data adalah catatan fakta yang akan diolah dalam kegiatan
penelitian.35 Sedangkan yang dimaksud sumber data menurut Suharsimi
Arikunto adalah “subjek dimana diperolehnya”.36 Dalam ranah penelitian,
penelitian tafsir ini adalah termasuk dalam kategori penelitian kualitatif.
Sedangkan data yang digunakan melalui dua sumber yaitu primer dan
sekunder:37
a. Data Primer
Dari tema penelitian ini yaitu “Konsep Al-Qur’an Tentang Politik:
Kajian Tematik Tentang Ayat-Ayat Politik”, maka sumber utama dari
penelitian ini adalah al-Qur’an dan berbagai karya tafsir di antaranya:
Tafsîr Jalâlain Berikut Asbâb al-Nuzûl Ayat karya Imâm Jalâluddîn AlMahallî dan Imâm Jalâluddîn Al-Suyûthî, Jamiʻ al-Bayân fî ta’wîl alQur’an karya Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr bin Ghâlib al‘Amalî Abû Jaʻfar al-Thabarî, al-Jamiʻ lî Ahkâm al-Qur’an karya Abû
‘Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abî Bakar bin Farah al-Anshâri
al-Khazrajî Syams al-Dîn al-Qurthubî, Tafsir al-Qur’an al-Adzîm karya
34
Usman, Ilmu Tafsir…, h. 319-320
35
Ahmad Tanzeh, Metodologi penelitian Praktis…, h. 80
36
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian…, h. 172
37
Data primer adalah data yang langsung dan segera diperoleh dari sumber data oleh
peneliti untuk tujuan penelitian itu. Sedangkan data sekunder adalah data yang terlebih dahulu
dikumpulkan dan dilaporkan oleh orang luar meskipun data itu berupa data yang asli. Lihat
Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah: Dasar, Metode dan Teknik, Bandung, PT
Tarsito, Edisi Revisi, Cet. IX, 2001, h. 162
17
Abu al-Fida` Ismâʻil bin ‘Umar bin Katsîr al-Qursyî al-Dimisyqî, dan
fath al-Qadîr karya Muhammad bin Alî bin Muhammad al-Syaukanî.
dan kitab-kitab hadits (kutub al-tisʻah).
b. Data Sekunder
sumber data sekunder terdiri dari berbagai karya tulis seperti: John
L. Esposito, Islam dan Politik, M. Arkoun, M. Yudhie R. Haryono,
Bahasa Politik al-Qur’an; mencurigai makna tersembunyi di Balik Teks.
Ali Maschan Moesa, Kiai dan Politik Dalam Wacana Civil Siciety,
Ahkâm al-Fuqohâ`’:
Solusi
Problematika Aktual
Hukum Islam
Keputusan Muktamar, Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama 1926-1999
M. M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, Saʻid ‘Āqiel Sirâdj, Islam
Kebangsaan Fiqih Demokratik Kaum Santri, Bahtiar Effendy, Islam dan
Negara Transformasi Pemikiran dan Praktik Islam di Indonesia,
Muhammad Saʻid Al-Asymawî, Menentang Islam Politik, Sayîd
Muhammad Baqîr ash-Shadr, Sistem Politik Islam (Sebuah Pengantar),
‘Abdul Muʻin Salim, Fiqh Siyâsah Konsepsi Kekuasaan Politik Dalam
Al Qur’an, M. Iqbal, Fiqh Siyâsah: Kontekstualisasi Doktrin Politik
Islam, M. Dhiauddin Raîs, Teori Politik Islam, Saʻid ʻĀqil Husain alMunawar, al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, Tobroni,
Islam, Pluralisme, Budaya dan Politik: Refleksi Teologi Untuk Aksi
Dalam Keberagamaan dan Pendidikan,dan sumber lain yang relevan.
5. Prosedur Pengumpulan Data
18
Karena sifatnya penelitian kepustakaan, penelitian
ini dalam
memperoleh data melalui kajian kepustakaan dengan menelusuri ayat-ayat
politik, karya-karya tafsir yang relevan dengan tema, karya-karya para
peneliti sebelumnya baik yang berupa karya ilmiah, buku, jurnal, majalah,
koran, dan dokumen lain yang mendukung. Dari data-data itu penulis akan
membuat bibliografi kerja dan membuat catatan-catatan serta ulasan
maupun kutipan38 dan di akhir pembahasan penulis akan memberikan
kesimpulan (conclusion) terkait pembahasan masalah.
6. Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan dan analisa data adalah langkah paling menentukan dalam
malakukan penelitian untuk menemukan simpul-simpul dari berbagai data
yang didapat. Ketelitian, kecermatan dan kecerdasan peneliti dalam hal ini
benar-benar diuji. Setelah data terkumpul lalu dibahas dalam satuan-satuan
kecil objek penelitian dengan memilah-milah serta mengaitkan kepada
kategori-kategori yang sesuai ataupun mendukung terhadap masalah yang
dibahas. Kemudian data-data itu difahami dan diinterpretasikan dengan
menggunakan langkah dan teknik interpretasi yang relevan dengan
menggunakan disiplin ilmu tafsir dan ilmu Qur’an dan juga berbagai
pendapat mufassîr. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman
peneliti terhadap fokus permasalahan, yang endingnya akan diperoleh
sebuah generalisasi ide (al-manhaj al-ra’yî).39 Adapun modus analisis data
248
38
Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah…, h. 254-260
39
Usman, Ilmu Tafsir…, h. 322. Lexi J. Melong, metodologi Penelitian kualitatif …, h.
19
dalam penelitian ini akan menggunakan pendekatan hermeneutikasemiotik.40 Langkah ini selanjutnya akan dipegangi peneliti dalam
melaksanakan penelitian dan penulisannya.
I. Kerangka Teori
Apa itu politik?
Politik dalam bahasa Arab berarti siyâsah derivasi dari kata sâsa-yasûsusaisan wa siyâsatan dengan mengikuti wazan fiʻil (kata kerja) faʻala-yafʻilufaʻlan wa mafʻalan yang berati mengatur dan mengemudikan.41 Dalam kamus
bahasa arab siyâsah mempunyai arti proses perbaikan makhluk dengan
menunjukkan mereka kejalan yang menyelamatkan baik saat ini maupun yang
akan datang.42
Dalam terminologi kata siyâsah didefinisikan sebagai sebuah proses
perbaikan makhluk dengan menunjukkan mereka ke jalan yang menyelamatkan
baik di dunia maupun di akhirat yang mencakup para nabi secara khusus dan
raja serta pucuk pemerintahan baik secara zhâhir dan bâthin (formal dan non
formal). Dalam term ini para ulama juga masuk dalamnya, namun hanya secara
bathîn. Dan lebih khusus lagi adalah proses pencegahan dan pembelajaran
walau dalam prosesi pembelajaran pembunuhan. Definisi ini di benarkan oleh
Ibnu ‘Abidin dalam kitab Rad al-Mukhtar. Dari definisi ini politik dibagi
menjadi dua yaitu politik yang zhâlim yang dilarang syarîʻah dan politik yang
40
Lexi J. Melong, metodologi Penelitian kualitatif …, h. 277-278
41
Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir arab-Indonesia Terlengkap,
Surabaya, Pustaka Progressif, Cet. XX, 2002, h. 677
42
Ma’luf luwis, al-Munjid Fî al-Lughah Wa al-Aʻlâm…, h. 362
20
adil yang membela kebenaran dan mencegah penganiayaan dan penindasan
serta menolak perusakan dan melaksanakan tujuan syarîʻah.43
Apa misi politik Islam?
Adapun misi politik dalam pemerintahan menurut imâm al-Mawardî ada
enam44 yang terdiri dari:
1. Menjaga keamanan dan peraturan umum dalam pemerintahan.
2. Mencegah pemerintahan dari peperangan.
3. Mengawasi masalah-masalah umum.
4. Menegakkan keadilan.
5. Mengatur keuangan.
6. Menentukan pegawai.
Sedangkan ketika perpolitikan masuk dalam ranah pemerintahan harus
melaksanakan ketetapan umum individu sebagai fitrah kemanusiaan atau hak
asasi manusia (al-Huqûq al-insâniyah)45 dan juga hak masyarakat (al-Huqûq
al-Ijtimaʻiyah) sebagai bagian dari kelompok masyarakat46 yang terdiri dari:
1. Al-Syûrâ (musyawarah/deliberation). QS. Ali ‘Imrân 159, al-Syûrâ 38.
2. Al-Musawa (kesetaraan/equality). QS. al-Hujurât 13, al-Nisâ` 1, al-Nahl 97,
al-Ahzâb 35, Ali ‘Imrân 195, al-Taubah 68.
43
Nurul Huda, Sang Penakluk: Kumpulan Ibarat Untuk Menjawab Tantangan Zaman,
Kediri, CV Perkasa, tt, h. 204 dikutip dari kitab Sayid ‘Alawî bin Ahmad Assaqof, Majmuʻah
Sab’ah Kutub Mufîdah, Surabaya, al-Hidayah, h. 70-71. Lihat juga dalam kitab Tarsyih alMustafidîn, kara Sayid ‘Alawî bin Ahmad Assaqof, Suriah, Dar al-Fikr, h. 38
Nurul Huda, Sang Penakluk…, h. 205 seperti yang dijelaskan Wahbah al-Zuhaili
dalam al-Fiqh al-Islamî wa Adilatuhu, Suriah, Dar al-Fikr, Juz. 8, h. 308, Maktabah Syâmilah
44
Ahkâm al-Fuqoha’: Solusi Problematika Aktual Hukum Islam Keputusan Muktamar,
Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama 1926-1999 M, Surabaya, Diantama bekerja sama dengan
Lajnah Ta’lif Wan Nasyr (LTNU) Jawa Timur, Cet. II, 2005 edisi revisi, h. 621-622
45
46
Ibid…, h. 641
21
3. Al-‘Adâlah (keadilan/justice). QS. al-Nisâ` 58 dan 135, al-Mâ`idah 8, alNahl 90.
4. Al-Hurriyah (kebebasan/freedom). QS. al-Baqarah 256, al-kahfi 29.
5. Al-Taqaddum (berorieantasi kedepan/Progresif). QS. al-Nisâ` 9, al-A’râf
179, al-Qashas 77
Bagaimana konsep pemerintahan dalam al-Qur’an ?
Mengenai bentuk teknis pemerintahan al-Qur’an tidak memberikan
sistem yang baku dan pasti, karena karakter ayat-ayat al-Qur’an yang
membicarakan politik bersifat normatif senantiasa selalu menyesuaikan
tuntutan situasi dan kondisi dimana hukum al-Qur’an dijalankan. Adapun
instrumen yang di wacanakan al-Qur’an tentang praktisnya adalah sistem syûrâ
seperti yang telah dijalankan Nabi SAW dalan membangun negara Madinah
dan diteruskan para Khalîfahnya. Pengertian ini mengacu pada al-Qur’an surat
Ali ‘Imrân ayat 159;
    
     
   
   
    
     



 
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut
terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah
mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka,
mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka
dalam urusan (politik) itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad,
Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orangorang yang bertawakkal kepada-Nya”.
QS. al-Syûrâ ayat 38
22










 
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan
mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat
antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami
berikan kepada mereka”.
J. Sistematika Pembahasan
Sitematika penulisan penelitian ini mengikuti kadah penulisan ilmiah
yang menjadi panduan baku di kampus STAIN Tulungagung secara khusus dan
metode ilmiah secara umum. Adapun penulisannya sendiri akan dibagi menjadi
enam bab yang mana pada setiap bab ada pembagian sub bab yang masingmasing sub bab mempunyai penjelasan masing-masing.
BAB I PENDAHULUAN dengan sub bab latar belakang masalah, fukus
penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, sumbangan intelektual,
penegasan istilah, kajian penelitian terdahulu, metode penelitian, kerangka
teori, dan sistematika pembahasan.
BAB II: POLITIK DAN AJARAN ISLAM meliputi definisi politik,
definisi ajaran Islam, tinjauan umum pokok ajaran Islam, tugas manusia
sebagai wakil Tuhan dimuka bumi, politik dan hubungannya dengan hukum
Tuhan, kewajiban berpolitik dalam rangka menjalankan hukum Tuhan, sejarah
perjalanan sistem pemerintahan dalam Islam.
Bab III: WAWASAN AL-QUR’AN TENTANG POLITIK mencakup,
ayat-ayat politik, asbâb al-nuzûl, Makiyah Madâniyah, pendapat para mufassîr
terhadap ayat-ayat politik.
23
Bab IV: KONTEKSTUALISASI MAKNA POLITIK DALAM ALQUR’AN pembahasannya mengungkap, kontekstualisasi tafsir ayat-ayat
politik, rekomendasi al-Qur’an menuju masyarakat madani, rancangan misi
politik al-Qur’an, bangunan pemerintahan menurut al-Qur’an.
Bab V: adalah sebagai penutup pembahasan dengan memberikan
kesimpulan, kritik dan saran dan dihalaman terakhir akan dilampirkan daftar
pustaka.
Download