pancasila sebagai sistem etika 2

advertisement
MATA KULIAH KEWARGANEGARAAN
PANCASILA SEBAGAI
SISTEM ETIKA 2
Fakultas
Program Studi
Ekonomi dan Bisnis
Manajemen
Online
11
Kode MK
Disusun Oleh
90003
Panti Rahayu, SH, MH
Abstract
Pancasila sebagai sistem etika adalah pedoman bagi tingkah laku bermasyarakat dan
bernegara bagi manusia Indonesia dan juga saat
memasuki kancah pergaulan
internasional.
Kompetensi
Mahasiswa dapat memiliki dan menjalankan perilaku beretika yaitu sesuai dengan etika
Pancasila.
PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA 2
PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA
A.
Pengertian Etika
Etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku manusia dipandang
dari segi baik dan buruk. Etika lebih banyak bersangkutan dengan prinsip-prinsip dasar
pembenaran dalam hubungan dengan tingkah laku manusia. (Kattsoff, 1985). Etika
membicarakan masalah-masalah yang berkaitan dengan nilai seperti nilai baik dan buruk,
nilai kesopanan, keberanian, kerendahan hati, dan lain-lain.
Nilai pada hakikatnya suatu sifat atau kualitas yang melekat pada suatu objek, namun
bukan objek itu sendiri. Nilai merupakan kualitas dari sesuatu yang bermanfaat bagi
kehidupan manusia.
Moral merupakan patokan-patokan, kumpulan peraturan lisan maupun tertulis tentang
bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang lebih baik.
Norma adalah aturan-aturan atau ketentuan-ketentuan yang mengikat warga
masyarakat atau kelompok tertentu dan menjadi panduan, tatanan dan pengendali sikap dan
tingkah laku dalam hidup bermasyarakat.
B.
Etika Politik
Etika politik berbeda dengan moralitas politisi. Moralitas politisi menyangkut mutu
moral negarawan dan politisi secara pribadi, misalnya apakah ia korup atau tidak (di sini
tidak dibahas). Etika politik menjawab dua pertanyaan :


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
C.
Bagaimana seharusnya bentuk lembaga-lembaga kenegaraan
seperti hukum dan Negara (misalnya: bentuk Negara
seharusnya demokratis); jadi etika politik adalah etika institusi.
Apa yang seharusnya menjadi tujuan/sasaran segala kebijakan
politik, jadi apa yang akan dicapai baik oleh badan legislative
maupun eksekutif.
Sejak abad ke-17 filsafat mengembangkan pokok-pokok etika politik seperti :
Pemisahan antara kekuasaan gereja dan kekuasaan Negara (John Locke)
Kebebasan berpikir dan beragama (Locke)
Pembagian kekuasaan (Locke, Montesquie)
Kedaulatan rakyat (Rousseau)
Negara hukum demokratis/republican (Kant)
Hak-hak asasi manusia (Locke)
Keadilan sosial
Lima Prinsip Dasar Etika Politik Kontemporer
Kalau lima prinsip itu berikut ini disusun menurut pengelompokan pancasila, maka itu
bukan sekedar sebuah penyesuaian dengan situasi Indonesia, melainkan karena Pancasila
memiliki logika internal yang sesuai dengan tuntutan-tuntutan dasar etika politik modern.
2014
2
Kewarganegaraan
PANTI RAHAYU, SH, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1. Pluralisme
Dengan pluralism dimaksud kesediaan untuk menerima pluralitas, artinya, untuk
hidup dengan positif, damai, toleran, dan biasa/normal bersama warga masyarakat yang
berbeda pandangan hidup, agama, budaya, adat. Pluralism mengimplikasikan pengakuan
terhadap kebebasan beragama, kebebasan berpikir, kebebasan mencari informasi, toleransi.
Pluralisme memerlukan kematangan kepribadian seseorang dan sekelompok orang.
Prinsip pluralism terungkap dalam Ketuhanan Yang Maha Esa yang menyatakan
bahwa di Indonesia tidak ada orang yang boleh didiskriminasikan karena keyakinan
religiusnya. Sikap ini adalah bukti keberadaban dan kematangan karakter koletif bangsa.
2. HAM
Jaminan hak-hak asasi manusia adalah bukti Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Hak-hak asasi manusia menyatakan bagaimana manusia wajib diperlakukan dan wajib tidak
diperlakukan, jadi bagaimana manusia harus diperlakukan agar sesuai dengan martabatnya
sebagai manusia.
Hak-hak asasi manusia adalah baik mutlak maupun kontekstual:


Mutlak karena manusia memilikinya bukan karena pemberian
Negara, masyarakat, melainkan karena ia manusia, jadi dari
Sang Pencipta.
Kontekstual karena baru mempunyai fungsi dan karena itu
mulai disadari, diambang modernitas dimana manusia tidak lagi
dilindungi oleh adat/tradisi, dan sebaliknya diancam oleh
Negara modern.
Dibedakan tiga generasi hak-hak asasi manusia:
1. Generasi pertama (abad ke 17 dan 18): hak-hak liberal, demokratis dan perlakuan wajar
di depan hukum.
2. Generasi kedua (abad ke 19/20): hak-hak sosial
3. Generasi ketiga (bagian kedua abad ke 20): hak-hak kolektif (misalnya minoritasminoritas etnik).
Kemanusiaan yang adil dan beradab juga menolak kekerasan dan eklusivisme suku
dan ras. Pelanggaran hak-hak asasi manusia tidak boleh dibiarkan (impunity).
3. Solidaritas Bangsa
Solidaritas menunjukkan bahwa kita tidak hanya hidup demi diri sendiri, melainkan
juga demi orang lain, bahwa kita bersatu senasib sepenanggungan. Manusia hanya hidup
menurut harkatnya apabila tidak hanya bagi dirinya sendiri, melainkan menyumbang sesuatu
pada hidup manusia-manusia lain. Sosialitas manusia berkembang secara melingkar:
keluarga, kampong, kelompok etnis, kelompok agama, kebangsaan, solidaritas sebagai
manusia. Maka di sini termasuk rasa kebangsaan. Manusia menjadi seimbang apabila semua
lingkaran kesosialan itu dihayati dalam kaitan dan keterbatasan masing-masing.
4. Demokrasi
Prinsip “kedaulatan rakyat” menyatakan bahwa tak ada manusia, atau sebuah elit, atau
sekelompok ideology, atau sekelompok pendeta/pastor/ulama berhak untuk menentukan dan
memaksakan (menuntut dengan pakai ancaman) bagaimana orang lain harus atau boleh
hidup. Demokrasi berdasarkan kesadaran bahwa mereka yang dipimpin berhak menentukan
siapa yang memimpin mereka dan kemana mereka mau dipimpin. Demokrasi adalah
“kedaulatan rakyat plus prinsip keterwakilan”. Jadi demokrasi memerlukan sebuah system
penerjemah kehendak masyarakat ke dalam tindakan politik.
2014
3
Kewarganegaraan
PANTI RAHAYU, SH, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Demokrasi hanya dapat berjalan baik atas dua dasar:


Pengakuan dan jaminan terhadap HAM; perlindungan terhadap
HAM menjadi prinsip mayoritas tidak menjadi kediktatoran
mayoritas.
Kekuasaan dijalankan atas dasar, dan dalam ketaatan terhadap
hukum (Negara hukum demokratis). Maka kepastian hukum
merupakan unsur hakiki dalam demokrasi (karena mencegah
pemerintah yang sewenang-wenang).
5. Keadilan Sosial
Keadilan merupakan norma moral paling dasar dalam kehidupan masyarakat. Maksud
baik apa pun kandas apabila melanggar keadilan. Moralitas masyarakat mulai dengan
penolakan terhadap ketidakadilan. Keadilan sosial mencegah bahwa masyarakat pecah ke
dalam dua bagian; bagian atas yang maju terus dan bagian bawah yang mungkin hanya dapat
survive di hari berikut.
Tuntutan keadilan social tidak boleh dipahami secara ideologis, sebagai pelaksanaan
ide-ide, ideology-ideologi, agama-agama tertentu; keadilan social tidak sama dengan
sosialisme. Keadilan social adalah keadilan yang terlaksana dalam kenyataan, keadilan sosial
diusahakan dengan membongkar ketidakadilan-ketidakadilan yang ada dalam masyarakat. Di
mana perlu diperhatikan bahwa ketidakadilan-ketidakadilan itu bersifat structural, bukan
pertama-pertama individual. Artinya, ketidakadilan tidak pertama-tama terletak dalam sikap
kurang adil orang-orang tertentu (misalnya para pemimpin), melainkan dalam strukturstruktur politik/ekonomi/social/budaya/ideologis. Struktur-struktur itu hanya dapat dibongkar
dengan tekanan dari bawah dan tidak hanya dengan kehendak baik dari atas. Ketidakadilan
struktur adalah diskriminasi di semua bidang, terhadap perempuan, diskriminasi atas dasar
ras, suku dan budaya. (ABDUL RAUF)
2014
4
Kewarganegaraan
PANTI RAHAYU, SH, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Daftar Pustaka
1. Syahrial Syarbaini, Jakarta.
2. Srijanti, A Rahman HI dan Purwanto SK, 2009. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk
Mahasiswa. Graha Ilmu, Jakarta.
3.. Nuansa Aulia, 2006. UUD 1945 Sebelum dan Setelah Amandemen.
3. Srijanti. 2008. Etika Berwarga Negara Edisi 2: Pendidikan Kewarganegaraan untuk
Perguruan Tinggi. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.
4. Franz Magnis Suseno, 2007. Artikel Materi Kuliah Umum Fakultas Filsafat UGM
Yogyakarta.
2014
5
Kewarganegaraan
PANTI RAHAYU, SH, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download