manajemen aset dan liabilitas (alma)

advertisement
MANAJEMEN ASET DAN LIABILITAS (ALMA)
Manajemen Likuiditas
Manajemen Likuiditas adalah kemampuan manajemen bank dalam menyediakan
dana yang cukup untuk memenuhi semua kewajiban-kewajibannya maupun komitmen
yang telah dikeluarkan kepada nasabahnya setiap saat.
Dalam mengelola likuiditas tersebut dituntut untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan
sebagai berikut:
a.
Kemampuan memprediksi kebutuhan dana di waktu mendatang.
b.
Mencari sumber-sumber dana untuk mencukupi jumlah yang dibutuhkan.
c.
Melakukan penatausahaan dana atau arus dana masuk dan keluar (cash flow).
Pengelolaan likuiditas ditujukan untuk memperkecil resiko likuiditas yang
disebabkan oleh adanya kekurangan dana, sehingga untuk memenuhi kewajibannya tidak
perlu harus mencari dana dengan suku bunga yang relatif tinggi di pasar uang atau bank
terpaksa menjual sebagian asetnya dengan kerugian yang relatif besar yang akan
mempengaruhi pendapatan bank.
Beberapa resiko yang mungkin timbul, antara lain sebagai berikut:
a.
Resiko pendanaan (funding risk)
Resiko ini timbul apabila tidak cukup dana untuk memenuhi kewajibannya.
Beberapa hal yang dapat menyebabkan resiko pendanaan adalah penarikan
deposito dan pinjaman dalam jumlah besar yang tidak diduga sebelumnya, atau
jatuh tempo (maturity profile) dari aset maupun liabilitas tidak terdeteksi, dan
sebagainya.
b.
Resiko bunga (interst risk)
Adanya berbagai variasi tingkat suku bunga dalam aset maupun liabilitas dapat
menimbulkan ketidakpastian tingkat keuntungan yang akan diperoleh.
1
Beberapa Alat Ukur Likuiditas Bank
Dalam konsep ALMA pengukuran likuiditas bank dilakukan baik untuk jangka
pendek maupun jangka panjang. Untuk pengukuran jangka pendek, antara lain
dipergunakan:
a.
Staturtory Reserve Requirement, yang dikenal sebagai Giro Wajib Minimum (GWM)
Saldo giro pada BI
>5%
Kewajiban kepada pihak ketiga pada periode 2 minggu sebelumnya
Untuk memenuhi GWM diperlukan dana minimal sebesar 5% dari dana pihak
ketiga, sedangkan besarnya kas fisik yang diperlukan untuk operasional sehari-hari
diserahkan kepada kebijakan masing-masing bank dan hal ini tergantung kepada
besarnya kas yang benar-benar dibutuhkan oleh bank. Dengan demikian primary
reserve bank akan selalu di atas dari dana pihak ketiga, yaitu dalam bentuk GWM
sebesar 5% ditambah dengan kas fisik yang ada dibrankas masing-masing cabang.
b.
Basic surplus, yakni pengukuran besarnya likuiditas pada suatu keadaan tertentu
yang diukur dengan rumus:
Basic Surplus = Aktiva Lancar – Pasiva Lancar
Tabel 1
Klasifikasi Angka Basic Surplus
Angka Basic
Surplus
Penjelasan
Positif
Penempatan dana jangka pendek didukung dengan sumber dana
jangka panjang
Negatif
Penempatan dana jangka panjang didukung dengan sumber dana
jangka pendek
Nol
Penempatan dana jangka pendek didukung dengan sumber dana
jangka pendek
2
Tabel 2
Perhitungan Basic Surplus
Aktiva
Jumlah
Porsi Lancar
Pasiva
Kas dan saldo BI
2.000.000
750.000
Saldo pada bank lain
3.000.000
Penempatan s.d. 7 hari
Jumlah
Porsi Lancar
Giro
1.000.000
-
3.000.000
Tabungan
2.000.000
-
2.500.000
2.500.000
Deposito s.d. 7 hari
4.000.000
4.000.000
20.000.000
-
18.000.000
-
Surat berharga s.d. 7 hari
3.500.000
3.500.000
Call money
4.000.000
4.000.000
Surat berharga jk panjang
6.000.000
-
Obligasi
7.000.000
-
Modal
4.000.000
Jumlah
40.000.000
Kredit
Jumlah
40.000.000
9.750.000
Simpanan lainnya
8.000.000
Catatan : GWM sebesar 5% sari simpanan (25.000.000) = 1.250.000, sehingga Kas
dan Giro BI yang dipergunakan dalam perhitungan aktiva lancar sebesar 750.000
Dari data neraca tersebut diatas diperoleh basic surplus sebagai berikut:
Basic Surplus = Aktiva Lancar – Pasiva Lancar
= 9.750.000 – 8.000.000
= 1.750.000 (basic surplus positif)
Selanjutnya untuk mengukur likuiditas jangka panjang (longer term liquidity) dapat
dipergunakan alat ukur antara lain:
a. Rasio Likuiditas (liquidity ratio) yang dirumuskan sebagai berikut:
Total Weighted Liabilities
Liquidity Index =
Total Weighted Assets
b. Indeks Likuiditas (liquidity index) yang dirumuskan sebagai berikut
Total Weighted Liabilities
Liquidity Index =
Total Weighted Assets
3
c. Loan to Deposit Ratio (LDR) adalah merupakan perbandingan jumlah pinjaman
yang diberikan dengan simpanan masyarakat, yang dirumuskan sebagai
berikut:
Pinjaman yang diberikan
L DR =
Dana Masyarakat
Tabel 3
Perhitungan Rasio Likuiditas
Aktiva / Pasiva
Aktiva
Basic surplus
Penempatan pada bank lain (>7hari)
Pinjaman komersil
Pinjaman Investasi
Surat berharga jangka panjang
Penyertaan
Aktiva lainnya
Posisi Sekarang
Proyeksi Perubahan
selama 3 bulan
Proyeksi posisi pada
3 bulan kemudian
1.000.000
3.000.000
12.000.000
50.000.000
8.000.000
5.000.000
1.000.000
(500.000)
1.500.000
6.000.000
500.000
1.000.000
-
500.000
3.000.000
13.500.000
56.000.000
8.500.000
6.000.000
1.000.000
Jumlah Aktiva
Pasiva
Basic surplus
Giro
Deposito (>7hari)
Pasiva jangka panjang lainnya
Obligasi
Kewajiban lainnya
Modal
80.000.000
8.500.000
88.500.000
2.000.000
10.000.000
49.000.000
10.000.000
8.000.000
1.000.000
2.000.000
5.000.000
2.000.000
-
2.000.000
12.000.000
54.000.000
12.000.000
8.000.000
1.000.000
Jumlah Pasiva
Kebutuhan Dana Neto
80.000.000
9.000.000
(500.000)
89.000.000
(500.000)
MANAJEMEN GAP
Manajemen gap adalah upaya-upaya untuk mengelola dan mengendalikan
kesenjangan (gap) antara aset dan liabilitas pada suatu periode yang sama, meliputi
kesenjangan dakam hal jumlah dana, suku bunga, saat jatuh tempo (maturity) atau
perpaduaan antara ketiganya (kesenjangan tercampur atau mix mismatch). Atau dengan
kata lain manajemen gap adalah upaya mengatasi perbedaaan (mismacth) antara aset
4
yang sensitif terhadap bunga (Rate Sensitive Aset/RSA) dan pasiva yang sensitif terhadap
bunga (Rate Sensitive Liabilities/RSL).
RSA adalah aktiva berbunga yang bunganya dapat berubah setiap saat, contoh
surat-surat berharga yang tingkat bunganya mengambang dan pinjaman yang bunganya
disesuaikan setiap saat (reviewable). RSL adalah pasiva berbunga yang bunganya dapat
berubah setiap saat, misalnya deposito berjangka, dana yang bunganya dikaitkan dengan
SIBOR/LIBOR (Singapore Interbank Offered Rate/London Interbank Offered Rate) secara
singkat gap (mismatch) dirumuskan (koch &Macdonald, 2000:306)
Gap = RSA - RSL
Posisi gap dapat positif, negatif atau nol. Sedangkan pengaruh-pengaruhnya dapat
digambarkan dalam tabel dibawah ini.
Tabel 4
Pengaruh Posisi Gap Terhadap Net Interest Margin (NIM)
Posisi Gap
Kondisi suku bunga naik
Kondisi suku bungan turun
Positif (RSA>RSL)
NIM meningkat
NIM menurun
Negatif (RSA <RSL)
NIM menurun
NIM meningkat
Zero (RSA=RSL)
NIM tetap
NIM tetap
Pada posisi gap positif (RSA>RSL), perubahan suku bunga yang meningkat akan
menyebabkan meningkatnya pendapatan yang lebih tinggi dari kenaikan biaya dana,
sehingga pendapatan bank (Net Interest Margin/NIM) meningkat. Sebaliknya bila terjadi
perubahan suku bunga menurun menyebabkan penurunan pendapatan yang lebih cepat
dari penurunan biaya dana, sehingga pendapatan bank (NIM) menurun.
Sedangkan pada posisi gap negatif (RSA<RSL), perubahan suku bunga yang
meningkat akan menyebabkan meningkatnya biaya dana lebih cepat dari meningkatnya
pendapatan, sehingga pendapatan (NIM) menurun. Sebaliknya bila terjadi perubahan
suku bunga menurun akan menyebabkan penurunan biaya dana lebih cepat dari
5
penurunan pendapatan, sehingga pendapatan bank (NIM) meningkat. Selanjutnya pada
posisi zero (RSA=RSL) apapun perubahan suku bunga yang terjadi tidak berpengaruh
terhadap perolehan pendapatan (NIM) bank.
Dalam neraca bank hampir selalu terjadi ketidakseimbangan antara sumber dana di
sisi liabilities dengan penggunaan dana di sisi aset. Sehingga perlu dilakukan strategi
manajemen dibidang pendanaan maupun penempatannya (investment). Untuk
merealisasi strategi tersebut dengan sebaik-baiknya harus dilakukan dengan mengubah
tingkat suku bunga, baik suku bunga simpanan maupun suku bunga pinjaman. Oleh
karena itu manajemen gap bertujuan untuk:
-
Menghindari kerugian akibat dari gejolak tingkat bunga.
-
Mengusahakan pendapatan yang maksimal dalam batas resiko tertentu.
-
Menunjang kebutuhan manajemen likuiditas
-
Mengelola resiko serendah mungkin
-
Menyusun struktur neraca yang dapat meningkatkan kenerja dengan tingkat suku
bunga yang wajar.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penataan manajemen gap yaitu:
a.
Jangka waktu (Maturity) adanya perbedaan jangka waktu dari masing-masing
komponen aset dan liabilities akan dapat
berakibat berubahnya posisi dana
maupun penempatannya serta berubahnya pendapatan maupun pembiayaannya.
b.
Repricing, yaitu lamanya jangka waktu penetapan suku bunga komponen
aset/pinjaman dan komponen liabilites/simpanan, baik sebelum jatuh tempo
maupun sesudahnya.
c.
Interest rate, yaitu besarnya tingkat suku bunga atau harga yaang ditetapkan atau
yang akan ditetapkan untuk sisi aset maupun sisi liabilities.
d.
Acceleration of change, yaitu kecepatan penyesuaian yang dapat dillakukan
terhadap aset maupun liabilities bila terjadi perubahan tingkat suku bunga sehingga
posisinya masih tetap menguntungkan.
6
Dalam pelaksanaan pengambilan kebijakan oleh manajemen bank apakah akan
mengambil posisi gap positif atau gap negatif tergantung tiga hal, yaitu:
a.
Prakiraan arah perkembangan tingkat bunga
b.
Tingkat keyakinan manajemen terhadap perkiraan tersebut
c.
Keberanian bank untuk mengambil resiko jika tindakan yang diambil keliru.
MANAJEMEN VALUTA ASING
Manajemen valuta asing (valas) adalah suatu kegiatan membeli atau menjual mata
uang suatu negara. Kegiatan jual beli valuta asing membentuk suatu pasar yang disebut
dengan pasar valas.
Pasar valas adalah transaksi jual beli melalui jaringan komunikasi antara bank-bank,
brokers maupun dealer diseluruh dunia yang dilakukan di ruangan (dealing room) masingmasing bank yang telah dilengkapi dengan jaringan komunikasi.
Manajemen valas ditujukan untuk membatasi posisi eksposur masing-masing mata
uang asing (foreign currency) serta memonitor kegiatan jual beli valas supaya posisinya
terkendali. Secara garis besar tindakan manajemen valas dapat berupa:
1. Pengendalian kesenjangan mata uang asing (foreign currency mismatch), yang
meliputi rekayasa portofolio masing-masing mata uang, mengendalikan ambang
batas posisi terbuka valas (Net Open Position/NOP), memonitor arus transaksi
devisa, pemusatan dan monitoring rekening devisa (nostro) menetapkan
kebijakan dan penggunaan devisa, dan melakukan forecasting nilai tukar (net
exchange rate),
2. Pengendalian keuntungan netto dari nilai tukar (net exchange gain) yang meliputi
penetapan break even exchange rate, mengendalikan spread, malakukkan cut loss,
dan membatasi eksposur.
7
Untuk mengendalikan posisi valas diperlukan berbagai instrumen pasar valas, antara lain:
A.
Instrumen Valas
a.
Transaksi SPOT
Adalah transaksi valas secara tunai di mana penyerahan valutanya dillakukan
dua hari kerja setelah tanggal transaksi dengan nilai tukar yang telah
disepakati sebelumnya.
b.
Transaksi FORWARD
Adalah transaksi valas secara berjangka di mana penyerahan valutanya
dilakukan pada suatu tanggal tertentu dikemudian hari (umumnya lebih dari
dua hari) dengan menggunakan nilai tukar yang telah disepakati pada tanggal
terjadinya transaksi tersebut.
c.
Transaksi SWAP
Adalah pertukaran dua valuta asing yang berbeda melalui penjualan secara
tunai dan pembelian kembali secara berjangka atau transakasi valas yang
simultan antara transaksi SPOT (jual) dengan transaksi FORWARD (beli) atau
sebaliknya, biasanya dilakukan untuk menjaga posisi valas sementara waktu
dengan biaya tertentu.
B.
Instrumen Pasar Uang
a.
Penempatan antarbank (interbank placement)
Adalah penempatan dana lebih pada bank lain yang memerlukan untuk suatu
jangka waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh pendapatan
yang lebih banyak selagi kelebihan dana tersebut belum dimanfaatkan.
b.
Pinjaman antarbank (interbankborrowing)
Adalah meminjam dana dari bank lain untuk keperluan menutup kekurangan
dana valas atau untuk mendapatkan sumber dana valas yang lebih murah.
c.
Instrumen Pasar Uang
-
Foreign exchange (FX) loan dan deposit
-
Call and notice dan deposit
-
Repo/reverse repos
-
Bankers acceptance
8
C.
-
Certificates of deposit
-
Commercial paper
-
Treasury bills (T-bills)
Securitas, adalah transaksi membeli atau menjual surat-surat berharga yang dapat
dinegosiasikan (negotiable) untuk mendapatkan laba dari perbedaan tingkat
bunga/kurs.
Ada tiga alasan yang menyebabkan bank terjun ke transaksi valas:
a.
Untuk memberi service kepada nasabah
b.
Untuk kepentingan bank sendiri
c.
Untuk memperoleh keuntungan (spekulasi)
Resiko Kegiatan Valas
Jenis-jenis resiko yang dapat muncul dari kegiatan valas antara lain:
a.
Resiko mata uang (currency risk)
Apabila bank dalam posisi long (aktiva valas lebih besar dari pasiva valas) atau
overbought dalam suatu mata uang dan nilai tukarnya turun (mengalami
depresiasi), maka akan menanggung rugi karena nilai uang yang dipelihara dalam
posisi tertentu menjadi turun.
b.
Liquidity risk (mismatch maturity)
Resiko ini muncul pada saat kewajiban dalam suatu mata uang jatuh tempo lebih
cepat dari aktivanya
c.
Interest rate risk, adalah resiko yang timbul karena adanya perubahan tingkat suku
bunga.
d.
Credit risk, adalah resiko yang timbul bila nasabah gagal memenuhi kewajibannya
pada saat kredit jatuh tempo.
9
Posisi Devisa Neto (Net Open Position/NOP)
Kegiatan valas dapat menempatkan suatu bank dalam posisi tertentu seperti posisi
long, posisi short atau square (seimbang). Bank dikatakan mempunyai posisi long dalam
suatu mata uang apabila aktiva valas lebih besar dari pasiva valas dalam mata uang
tersebut. Sedang posisi short apabila pasiva valas lebih besar dari aktiva valas dalam mata
uang yang bersangkutan. Apabila jumlah aktiva dan pasiva valas adalah sama, maka bank
dikatakan dalam posisi square.
Tabel 5
Posisi Devisa Neto
1
Aktiva valas > Pasiva valas
Posisi Long
2
Aktiva valas < Pasiva valas
Posisi Short
3
Aktiva valas = Pasiva valas
Posisi Square
Valas yang ada pada aktiva maupun pasiva bank merupakan komponen posisi valas
bank pada masing-masing mata uang seperti:
-
Uang kertas yang ada dibrankas bank
-
Rekening bank yang bersangkutan di bank koresponden diluar negeri (nostro)
-
Pinjaman bank dari sebuah konsorsium bank di luar negeri
-
Uang muka kepada karyawan dalam valas
-
Kontrak jual beli valas yang masih berlaku
Manajemen Pricing
Manajemen pricing adalah suatu kegiatan manajemen untuk menentukan tingkat
suku bunga dari produk-produk yang ditawarkan bank, baik di sisi aset maupun liabilitas.
Penetapan tingkat suku bunga (interest rate) dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor yang dapat dikelompokkan sebagai berikut:
10
a.
Kelompok pinjaman, faktor-faktor tersebut adalah cost of funds, premi resiko, biaya
pelayanan, termasuk biaya overhead dan personel, margin keuntungan, dan
frekuensi repricing.
b.
Kelompok simpanan, yang dipertimbangkan adalah cost of funds, biaya pelayanan,
termasuk biaya overhead dan personel, margin keuntungan, struktur target
maturity, pricing yield curve simpanan berjangka, dan cadangan wajib minimum
likuiditas (CWM)
Penetapan Suku Bunga Pinjaman (Lending Rate)
Pada dasarnya pricing pinjaman (lending rate) harus ditetapkan minimal dapat
menutupi semua biaya yang berkaitan dengan pinjaman sehingga diperoleh
pengembaliannya yang memadai. Selain itu penetapan pricing pinjaman juga untuk
mencapai target pangsa pasar, penetrasi sektor ekonomi, dan pertumbuhan aktiva serta
kualitasnya disamping mencapai target manajemen gap.
Dalam dunia perbankan sekarang terdapat banyak metode pricing pinjaman yang
biasa digunakan. Namun yang paling umum adalah suku bunga tetap, dan suku bungan
variabel yang dipengaruhi parubahan base rate, dan suku bunga variabel yang
direview/direprice secara berkala. Tingkat suku bunga tersebut ditetapkan atas dasar
metode pricing yang rasional dengan mempunyai 5 komponen utama, yaitu:
a.
Cost of fund, seluruh biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan dana tersebut.
b.
Premi resiko industri yang bervariasi menurut jenis industri, mencerminkan resiko
dari suatu industri tertentu, berubah bila kondisi industri itu berubah, dan
didasarkan pada latar belakang kolektibilitas serta prakiraan sekarang tentang
prospek industri.
c.
Premi resiko perusahaan/debitur yang mencerminkan resiko berkaitan dengan
debitur-debitur tertentu, merupakan antisipasi terhadap penghapusan pinjaman,
menutupi biaya pinjaman non-lancar dan kemungkinan dipengaruhi oleh struktur
pinjaman.
d.
Biaya pelayanan termasuk biaya personel dan biaya overhead
11
e.
Margin keuntungan yang disesuaikan dengan resiko kredit yang kemungkinan
timbul dan disesuaikan dengan situasi persaingan atau untuk mencapai tujuantujuan strategis.
Untuk lebih memudahkan pemahaman tentang pricing pinjaman (penetapan
lending rate) berikut ini akan dibahas lebih lanjut tentang lending, yang dapat dikatakan
sebagai harga jual pinjaman yang sudah mencakup seluruh biaya-biaya yang dikeluarkan
oleh bank termasuk menutup resiko (risk cost) serta memberikan suatu tingkat
keuntungan tertentu (margin atau spread) yang ditargetkan. Lending rate (LR)
dirumuskan sebagai berikut:
LR = COM + RISK COST + SPREAD
1.
COM (Cost of Money) merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk
menghasilkan produk pinjaman yang terdiri dari biaya seluruh dana yang dapat
dipinjamkan (cost of loaneble fund/COLF) dan biaya overhead (OHC) sehingga
dirumuskan:
COM = COLF + OHC
a.
Cost of Loanable Fund (COLF) adalah merupakan seluruh biaya dana yang
dikeluarkan untuk mendapatkan dana termasuk cadangan yang diperlukan
(Reserve Requirement/RR) COLF terdiri dari biaya bunga dana ditambah
dengan biaya promosi (bila ada) serta perhitungan dengan RR-nya. COLF
dapat dirumuskan sebagai berikut:
COLF 
b.
COF
(1  RR )
Cost of Fund (COF) terdiri dari biaya-biaya sebagai berikut:
-
Biaya bunga dana, yaitu seluruh biaya dana yang dibayarkan kepada
nasabah simpanan baik dalam bentuk Giro, Deposito, dan Tabungan.
12
-
Biaya promosi dana, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka
memperlancar pengerahan dana. Biaya ini mencakup biaya periklanan,
biaya undian dan biaya hadiah, dan sebagainya.
c.
Overhead Cost (OHC) adalah biaya-biaya diluar biaya dana yang dipergunakan
untuk mendukung pengerahan dana tersebut, antara lain biaya tenaga kerja,
biaya operasional pelayanan, biaya perangkat keras, dan sebagainya.
2.
Resiko Kredit (Risk Cost) merupakan biaya yang ditanggung bank sebagai akibat
kegagalan nasabah dalam melunasi kewajibannya. Tidak semua nasabah lancar
dalam membayar kembali angsuran pokok dan bunga pinjaman, ada sebagian yang
tidak membayar dan merupakan rsiko kredit yang ditanggung bank.
3.
Spread, merupakan bagian keuntungan yang ditargetkan oleh bank. Target
keuntungan yang ingin dicapai pada umumnya dijabarkan dalam besaran Return On
Asset (ROA). Misalnya target ROA = 1,5% dengan jumlah outstanding pinjaman,
misalnya 90% dari total aset, maka diperoleh besarnya spread keuntungan sebesar
1,67% (diperoleh dari perhitungan 100/90x1,5%)
Cara Perhitungan Lending Rate
Untuk lebih memahami rumus perhitungan lending rate diatas bersama ini diberikan
contoh perhitungan lending rate dari suatu bank “X”. Berdasarkan laporan keuangan per
akhir Desember 1997 diperoleh dana sebagai berikut: (angka dalam juta rupiah)
1. Biaya bunga giro
2. Biaya bunga deposito
3. Biaya bunga tabungan
4. Biaya promosi dana
5. Rata-rata outstanding giro
6. Rata-rata outstanding deposito
7. Rata-rata outstanding tabungan
8. Reserve Requirement (Kas+Giro BI)
9. Biaya overhead (non interest expenses)
10. Rata-rata aset yang menghasilkan (pinjaman)
11. Risk cost berdasarkan pengalaman selama ini
12. Spread yang diinginkan
Rp 57.875
Rp 679.750
Rp 200.000
Rp 22.500
Rp 1.750.000
Rp 3.250.000
Rp 1.825.000
6,5%
Rp 365.000
Rp 17.825.000
Rp 1,50%
2,5%
13
Untuk menghitung LR dari data-data tersebut perlu diingat kembali rumus-rumus
perhitungannya, yaitu:
a.
COF = Biaya bunga + Biaya promosi
Produk
Biaya bunga
Biaya dalam (%)
Bunga Tertimbang
Giro
57.875
57.875/1.750.000 = 3,31%
1.750.000/6.825.000x3,31 = 0,85%
Deposito
679.750
679.750/3.250.000 = 20,92%
3.250.000/6.825.000x20,92% = 9,96%
Tabungan
200.000
200.000/1.825.000 = 10.96%
1.825.000/6.825.000x10,96% = 2,93%
Promosi dana
22.500
Jumlah bunga tertimbang
0,85% + 9,96% + 2,93% = 13,74%
22.500/6.825.000 = 0,33%
0,33%
COF
13,74% +0,33% = 14,07%
COLF 
b.
COF
1  RR
COM
14,07%
1  6,5%
= COLF + OHC
14,07%
93,50%
15,05%
15,05% +(365.000/17.825x100%)
= 17,10%
c.
LR
= COM +Risk Cost + Sprad
= 17,10% + 1,50% + 2,50%
= 21,11%
Penetapan Suku Bungan Simpanan
Tujuan pricing simpanan adalah untuk meningkatkan jumlah dana yang lebih
murah dibandingkan dengan suku bunga pasar, mendukung pemenuhan batasan-batasan
dan target-target likuiditas dengan menyediakan dana yang sesuai dengan struktur jangka
waktu yang diinginkan, mencapai target jumlah simpanan yang berjangka waktu sesuai
dengan interest maturity target, dan mendukung pencapaian target posisi simpanan valas
sesuai jenis mata uang tertentu yang diinginkan.
14
Dalam hal ini terdapat 4 (empat) komponen utama yang menjadi biaya dari suatu
simpanan, yaitu:
a.
Suku bunga yang dibayarkan kepada deposan berkaitan dengan simpanannya atau
suku bunga nominal
b.
Biaya cadangan wajib likuiditas
c.
Biaya pelayanan yang termasuk biaya personel dan biaya “overhead”
d.
Margin keuntungan termasuk target penghasilan dari sumber dana dipasar.
15
Download