Uploaded by Vika Murhani

60171834-Referat-Tifoid

advertisement
, selama 10 – 14 hari.
Kotrimoksasol
Pendapat mengenai Efektifitas kotrimksasol terhadap demam tifoid masih
kontroversial. Kelebihan kotrimoksasol antara lain dapat digunakan untuk kasus
yang resisten terhadap kloamfenikol, penyerapan di usus cukup baik, dan
kemungkinan timbulnya kakambuhan pengobatan pengobatan lebih kecil
dibandingkan kloramfenikol. Kelemahannya ialah dapat terjadi skin rash (1 –
15%), sindrom Steven Johnson, agranulositosis, trombositopenia, anemia
megaloblastik, hemolisis eritrosit terutama pada penderita G6PD,
Dosis oral yang dianjurkan adalah 30 – 40 mg/kgBB/hari. Sulfametoksazol
dan 6 – 8 mg/kgBB/hari untuk Trimetoprim, diberikan dalam 2 kali pemberian,
selama 10 – 14 hari.
Ampisilin dan Amoksisilin
Merupakan derivat Penisilin yang digunakan pada pengobatan demam
tifoid, terutama pada kasus yang resisten terhadap Kloramfenikol. Pernah
dilaporkan adanya Salmonella yang resisten terhadap Ampisilin di Thailand.
Ampisilin umumnya lebih lambat menurunkan demam bila dibandingkan
dengan Kloramfenikol, tetapi lebih efektif untuk mengobati karier serta kurang
toksik. Kelemahannya dapat terjadi skin rash (3 – 18%), dan diare (11%).
Ampisilin mempunyai daya antibakteri yang sama dengan Ampisilin,
terapi penyerapan peroral lebih baik sehingga kadar oabat yang tercapai 2 kali
lebih tinggi, dan lebih sedikit timbulnya kekambuhan (2 – 5%) dan karier (0 –
5%).
Dosis yang dianjurkan adalah :
Ampisilin 100 – 200 mg/kgBB/hari, selama 10 – 14 hari.
Amoksisilin 100 mg/kgBB/hari, selama 10 – 14 hari.
Pengobatan demam tifoid yang menggunakan obat kombinasi tidak
memberikan keuntungan yang lebih baik bila diberikan obat tunggal.
Seftriakson
1
is yang dianjurkan adalah 150 – 200 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3- 4 dosis
iv.
Siprofloksasin
A. Prognosis
Prognosis demam tifoid tergantung ketepatan terapi, usia, keadaan
kesehatan sebelumnya, dan ada tidaknya komplikasi. Dinegara maju, dengan
terapi antibiotik yang adekuat, angka mortalitas < 1%. Di negara berkembang,
angka mortalitasnya > 10%, biasanya karena keterlambatan diagnosis, perawatan,
dan
2
Walupun gejala demam tifoid pada anak lebih bervariasi, secara garis besar gejala-gejala
yang timbul adalah :

Demam satu minggu atau lebih.

Gangguan saluran pencernaan.

Gangguan kesadaran.
Pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosis demam tifoid dibagi dalam tiga
kelompok, yaitu:

Isolasi kuman penyebab demam tifoid melalui biakan kuman dari spesimen
penderita, seperti darah, sumsum tulang, urin, tinja, cairan duodenum dan rose
spot.

Uji serologi untuk mendeteksi antibodi terhadap antigen S.typhi dan menentukan
adanya antigen spesifik dari Salmonella typhi.

Pemeriksaan melacak DNA kuman S.typhi.
Kloramfenikol digunakan sebagai obat pilihan pada kasus demam tifoid.
Pencegahannya adalah higiene pribadi yang baik dan Imunisasi serta vaksinasi aktif dapat
membantu menekan angka kejadian demam tifoid.
3
DAFTAR PUSTAKA
1. Soedarmo, Poorwo, SS, dkk ; penyunting : Buku ajar Infeksi dan Pediatri Tropis;
Edisi kedua; Ikatan Dokter Anak Indonesia 2010, Bagian Ilmu Kesehatan Anak
FK UI, Jakarta : 2010.
2. Richard E. Behrman, Robert M. Kliegman, Ann M. Arvin; edisi bahasa Indonesia:
A Samik Wahab; Ilmu Kesehatan Anak Nelson, ed.15- Jakarta: EGC, 1999.
3. Aru W, Sudoyo, dkk ; editor ; Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam; Jilid III, edisi IV;
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI, Jakarta : 2007
4. Alan R. Tumbelaka. Diagnosis dan Tata laksana Demam Tifoid. Dalam Pediatrics
Update. Cetakan pertama; Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta : 2003
5. Rampengan. T H : Penyakit infeksi Tropis pada Anak ; edisi 2. Jakarta : EGC
2007.
4
Download