Uploaded by User23159

Laporan Praktikum Topik 1

advertisement
LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR FISIOLOGI TUMBUHAN
“Pengukuran Nilai Potensial Air Jaringan Tumbuhan”
Oleh:
ALPRIAN ALPRED SIAHAAN
1610243012
JURUSAN BUDIDAYA PERKEBUNAN
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
KAMPUS III UNIVERSITAS ANDALAS
DHARMASRAYA
2019
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Potensial kimia adalah energi bebas per mol substansi di dalam suatu system
kimia. Oleh karena itu, potensial kimia suatu senyawa di bawah kondisi tekanan dan
temperature konstan tergantung kepada jumlah mol substansi yang ada. Dalam hal
hubungan air dan tanaman, potensial kimia dan air sering dinyatakan dengan istilah
“potensial air”. Selanjutnya, bila potensial kimia dapat dinyatakan sebagai ukuran
energy dari suatu substansi yang akan bereaksi atau bergerak. Dengan kata lain,
potensial air merupakan tingkat kemampuan molekul-molekul air untuk molekul
difusi.
Potensial air murni adalah nol (0), adanya beberapa substansi yang terlarut di
dalam air tersebut akan menurunkan potensial airnya, sehingga potensial air
dari suatu larutan adalah kurang dari nol. Definisi ini hanya berlaku pada tekanan
atmosfir. Apabila tekanan di sekitar system ditingkatkan atau diturunkan, maka
secara otomatis potensial air akan naik atau turun sesuai dengan perubahan tekanan
tersebut. Di dalam suatu sel, potensial air memiliki dua komponen, yaitu potensial
tekanan dan potensial osmosis. Potensial tekanan dapat menambah atau mengurangi
potensial air, sedangkan potensial osmosis menunjukkan status larutan di dalam sel
tersebut. Dengan memasukkan suatu jaringan tersebut ke dalam seri larutan yang
telah diketahui potensial airnya, maka potensial air jaringan tumbuhan tersebut dapat
diketahui.
Potensial air merupakan alat diagnosis yang memungkinkan penentuan secara
tepat keadaan status air dalam sel atau jaringan tumbuhan. Semakin rendah potensial
dari suatu sel atau jaringan tumbuhan, maka semakin besar kemampuan tanaman
untuk menyerap air dari dalam tanah. Sebaliknya, semakin tinggi potensial air,
semakin besar kemampuan jaringan untuk memberikan air kepada sel yang
mempunyai kandungan air lebih rendah.
Sel tumbuhan memerlukan oksigen dan karbondioksida. Bagian-bagian
penyusun zat yang ukurannya sangat kecil disebut partikel. Partikel tersebut meyebar
merata ke segala arah. Zat-zat bergerak dari tempat yang mempunyai konsentrasi
lebih tinggi ke tempat yang konsentrasinya lebih rendah. Proses perpindahan zat
seperti tersebut dinamakan difusi. Konsentrasi suatu zat adalah ukuran yang
menunjukkan jumlah suatu zat dalam volume tertentu. Difusi partikel zat itu akan
berhenti jika konsetrasi zat di kedua tempat tersebut sudah sama.
Proses osmosis juga terjadi pada sel hidup di alam. Perubahan bentuk sel
terjadi jika terdapat pada larutan yang berbeda. Sel yang terletak pada larutan
isotonic, maka volumenya akan konstan. Dalam hal ini, sel akan mendapatkan dan
kehilangan air yang sama. Banyak hewan-hewan laut, seperti bintang laut
(Echinodermata) dan kepiting (Arthropoda) cairan selnya bersifat isotonic dengan
lingkungannya. Jika sel terdapat pada larutan yang hipotonik, maka sel tersebut akan
mendapatkan banyak air, sehingga bisa menyebabkan lisis (pada sel hewan) atau
turgiditas tinggi (pada sel tumbuhan). Sebaliknya, jika sel berada pada larutan
hipertonik, maka sel banyak kehilangan molekul air, sehingga sel menjadi kecil dan
dapat menyebabkan kematian. Pada hewan, untuk bisa bertahan dalam lingkungan
yang hipotonik atau hipertonik, maka diperlukan pengaturan keseimbangan air, yaitu
dalam proses osmoregulasi.
Semua proses fisiologi di dalam jaringan tanaman tidak akan terjadi tanpa
adanya air yang berperan penting dalam proses tersebut. Selama pertumbuhan
tanaman air memiliki peranan penting di antaranya berperan sebagai pelarut bahanbahan organik, bahan utama proses fotosintesis dan lain-lain. Jika tanaman
mengalami stress air, maka pertumbuhan dan perkembangan tanaman tersebut tidak
akan berjalan normal. Air masuk ke dalam sel tanaman melalui proses difusi, yang
mana proses difusi ini terjadi karena perbedaan konsentrasi, yaitu konsentrasi di
ruang yang dalam sel lebih rendah di bandingkan konsentrasi di luar sel.
Sel tumbuhan dapat mengalami kehilangan air yang besar jika potensial air di
luar sel lebih rendah dibandingkan dengan potensial air di dalam sel, sehingga akan
mengakibatkan volume isi sel akan menurun dan tidak akan mampu mengisi seluruh
telah dibentuk oleh sel tersebut.
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan nilai potensial air
jaringan umbi kentang.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Potensial Air
Air merupakan 85-98% berat tumbuhan herba yang hidup di air. Dalam sel,
air diperlukan sebagai pelarut unsur hara sehingga dapat digunakan untuk
mengangkutnya; selain itu air diperlukan juga sebagai substrat atau reaktan untuk
berbagai reaksi kimia misalnya fotosintesis; dan air dapat menyebabkan terbentuknya
enzim dalam tiga dimensi sehingga dapat digunakan untuk aktivitas katalisnya.
Tanaman yang kekurangan air akan menjadi layu, dan apabila tidak diberikan air
secepatnya akan terjadi layu permanen yang dapat menyebabkan kematian (Syarif,
2009).
Potensial kimia adalah energy bebas per mol substansi di dalam suatu system
kimia. Oleh karena itu, potensial kimia suatu senyawa di bawah kondisi tekanan dan
temperature konstan tergantung kepada jumlah mol substansi tekanan dan
temperature yang ada. Dalam hal hubungan air dan tanaman, potensial kimia air
sering dinyatakan dengan istilah “potensial air”. Selanjutnya, bila potensial kimia
dapat dinyatakan sebagai ukuran energy dari suatu substansi yang akan bereaksi atau
bergerak, maka potensial air merupakan ukuran dari energy yang tersedia di dalam air
untuk bereaksi atau bergerak. Dengan kata lain, potensial air merupakan tingkat
kemampuan molekul-molekul air untuk molekul difusi.
Salah satu ciri yang membedakan antara sel hewan dan sel tumbuhan adalah
adanya dinding sel. Dinding sel terdiri atas dinding primer dan dinding sekunder,
antara dinding primer dari suatu sel dengan dinding primer dari sel tetangganya
terdapat lamella tengah. Lamella tengah merupakan perekat yang mengikat sel secara
bersama-sama untuk membentuk jaringan (Adnan, 2008).
Potensial air murni adalah nol (0), adanya beberapa substansi yang terlarut di
dalam air tersebut akan menurunkan potensial airnya, sehingga potensial air dari
suatu larutan adalah kurang dari nol. Definisi ini hanya berlaku pada tekanan
atmosfir. Apabila tekanan di sekitar system ditingkatkan atau diturunkan, maka
secara otomatis potensial air akan naik atau turun sesuai dengan perubahan tekanan
tersebut.
Hubungan antar potensial air adalah dengan melakukan peristiwa osmosis
karena osmosis merupakan peristiwa difusi dimana antara dua tempat tersedianya
difusi dipisahkan oleh membrane atau selaput. Maka dapat diartikan bahwa dinding
sel atau membrane protoplasma adalah membrane pembatas antara zat yang berdifusi
karena pada umumnya sel tumbuh-tumbuhan tinggi mempunyai dinding sel maka
sebagian besar proses fitokimia dalam tumbuh-tumbuhan adalah merupakan proses
osmosis (Heddy, 1987).
Pada fisiologi tanaman hal biasa untuk menunjukkan energy bebas yang
dikandung di dalam air adalah dalam bentuk potensial air (Ψ). Definisi dari potensial
air adalah energy per unit volume air, potensial air berbanding lurus dengan suhunya
(Filter, A.h., 1981).
Potensial osmotic merupakan potensial kimia yang disebabkan adanya materi
yang terlarut. Potensial osmotic selalu memiliki nilai negative, hal ini disebabkan
karena cenderung bergerak menyeberangi membrane semi permeable dari air murni
menuju air yang mengandung zat terlarut (Lambers, dkk, 1998).
Besar jumlah potensial air pada tumbuhan dipengaruhi oleh 4 macam
komponen potensial, yaitu gravitasi, matriks, osmotic, dan tekanan. Potensial
gravitasi bergantung pada air di dalam daerah gravitasi, potensial matriks bergantung
pada kekuatan mengikat air saat penyerapan. Potensial osmotic bergantung pada
hidrostatik atau tekanan angina dalam air (Deragon, 2005).
Potensial air merupakan ukuran dari energy bebas air yang dipengaruhi oleh
zat terlarut, tekananm dan partikel matriks. Kontribusi dari potensial air oleh solute
terlarut disebut dengan potensial osmotic, yang selalu bernilai negative. Di lain pihak,
zat terlarut menurunkan potensial air. Potensial tekanan air dapat bernilai positif,
negative, bahkan nol. Tetapi secara umum nilai potensial tekanan ini berarti bernilai
positif, karena setiap sel tumbuhan memiliki tekanan turgor. (Heddy, S, 1982).
Terkait dengan kemampuan air untuk berasosiasi dengan partikel koloid,
maka muncullah istilah potensial matriks. Potensial matriks bernilai cukup kecil
sehingga seringkali diabaikan. Namun potensial matriks sangatlah penting ketika
membahas mengenai hubungannya dengan air tanah (Lambers, dan T.E. Pons, 1998).
Potensial osmotic merupakan potensial kimia yang disebabkan adanya materi
yang terlarut. Besar jumlah potensial air pada tumbuhan dipengaruhi oleh empat
macam komponen potensial, yaitu gravitasi, matriks, osmotic, dan tekanan (Filter,
1989).
Tanaman yang kekurangan air akan menjadi layu dan apabila tidak diberikan
air secepatnya akan terjadi layu permanen yang dapat menyebabkan kematian.
Terdapat lima mekanisme utama yang dapat menggerakkan air dari suatu tempat ke
tempat lain melalui proses:
a. Difusi adalah pergerakan molekul dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi
rendah. Laju difusi antara lain tergantung pada suhu dan densitas medium.
Gas berdifusi lebih cepat daripada air.
b. Osmosis adalah difusi melalui membrane semi permeable. Masuknya larutan
ke dalam sel-sel endodermis merupakan contoh proses osmosis. Dalam tubuh
organisme multiseluler, air bergerak dari satu sel ke sel lainnya dengan
leluasa. Osmosis juga dapat terjadi dari sitoplasma ke organel-organel
bermembran.
c. Tekanan kapiler, apabila pipa kapiler dicelupkan ke dalam bak yang berisi air,
maka permukaan air di dalam pipa kapiler akan naik sampai terjadi
keseimbangan antara tegangan yang menarik air tersebut dengan beratnya.
d. Tekanan hidrostatik, masuknya air ke dalam sel akan menyebabkan tekanan
terhadap dinding sel sehingga dinding sel menegang. Hal ini akan
menyebabkan timbulnya tekanan hidrostatik untuk melawan aliran tersebut.
e. Gravitasi, air juga bergerak untuk merespon gaya gravitasi bumi, sehingga
perlu tekanan untuk menarik ke atas. Pada tumbuhan herba, pengaruh
gravitasi dapat diabaikan karena perbedaan tinggian pada bagian tanaman
tersebut relative kecil. Pada tumbuhan yang tinggi, pengaruh gravitasi sangat
nyata. Untuk menggerakkan air ke atas pada pohon yang tingginya 100 meter
diperlukan tekanan sekitar 20 atm.
Pada potensial kimia, energy bebas per mol substansi di dalam suatu system
kimia. Oleh karena itu potensi kimia suatu senyawa di bawah kondisi tekanan dan
temperature konstan tergantung kepada jumlah mol substansi yang ada (Lakitan,
1996).
Turunan-turunan potensial air dari prinsip termodinamika dapat dijumpai
dalam slatyer, akan tetapi untuk saat ini cukup mendefinisikan potensial air sebagai
energy bebas per unit volume (Salisbury dan Ross, 1995).
B. Kentang
Tanaman kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan tanaman semusim
yang berbentuk semak, termasuk dalam kerajaan Plantae, divisi Magnoliophyta, kelas
Magnoliopsida, sub kelas asteridae, ordo solanales, famili solanaceae, genus solanum
dan spesies solanum tubero L. (Nurmayulisun, 2009). Menurut Sunaryono (2008),
bentuk morfologi dari tanaman kentang (Solanum tuberosum L.) dimana bentuk
morfologi batangnya ada yang berbentuk bulat, slindris, pada bagian pucuk berbulu
dan berwarna hijau muda. Memiliki sistem perakaran tunggang dan berwarna putih
kekuningan. Daun dari tanaman kentang merupakan daun majemuk, berbulu dengan
ujung meruncing, tepi rata, bagian pangkal daun runcing, panjang daun 12-15 cm,
lebar
6-8 cm, memiliki pertulangan menyirip dan daun berwarna hijau. Tanaman
kentang memiliki bunga yang majemuk, bercabang dan berbentuk garpu di ujung
serta di ketiak daun, memiliki kelopak dengan panjang 8.5-15 mm, bunga berwarna
hijau keputih-putihan. Mahkota bunga pendek, berbentuk lonjong dan berwarna
putih. Benang sari melekat pada tabung mahkota, memiliki bakal buah dengan 2-6
ruang di dalam mahkota bunga yang mengandung banyak bakal biji. Tangkai putik
berbentuk jarum dengan kepala putik yang kecil dan berwarna putih. Buah dari
tanaman kentang berbentuk bulat lonjong dan berwarna coklat. Memiliki biji dengan
bentuk pipih atau berbentuk ginjal dan berwarna kuning.
BAB III. METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 6 Maret 2019 di Laboratorium
Universitas Andalas kampus III Dharmasraya.
B. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah umbi
kentang, pisau lipat, beaker glass (gelas piala), petri dish, timbangan, kertas
saring/kertas stensil, aluminium foil, penggaris, dan larutan sukrosa berbagai
konsentrasi (0.00; 0.15; 0.20; 0.30; 0.35; 0.40; 0.45; 0.50; 0.55; 0.60 M).
C. Cara Kerja
Disiapkan 11 Beaker glass dan diisi masing-masingnya dengan 50 mL, larutan
sukrosa dengan konsentrasi sebagai berikut : 0.00; 0.15; 0.20; 0.25; 0.30; 0.35; 0.40;
0.45; 0.50; 0.55; 0.60 M. Dibuat 11 potongan umbi kentang dengan ukuran 1x1x4 cm
tanpa lapisan kulit luarnya. Diletakkan dalam wadah tertutup seperti Petri dish.
Dipotong satu umbi blok kentang dengan aquadest, dikeringkan dengan kertas
saring/kertas stensil, kemudian ditimbang dan dicatat bobotnya. Selanjutnya
dimasukkan irisan umbi kentang tersebut ke dalam larutan sukrosa 0.00 (aquadest).
Ditutup dengan aluminium foil dan dibiarkan selama 2 jam. Dicatat waktu ketika
memasukkan umbi kentang ke dalam larutan sukrosa.
Setelah itu lakukan hal seperti pada point sebelumnya pada potongan umbi
kentang lainnya dan masukkan kedalam setiap larutan sukrosa, sehingga anda akan
memiliki 11 Beaker glas berisi irisan umbi kentang. Setelah 2 jam direndam,
keluarkan irisan-irisan kentang tersebut dan keringkan dengan kertas saring/kertas
stensil dan lambangkan perubahan bobot yang terjadi. Lengkapi tabel berikut :
*) Untuk menghitung % perubahan bobot irisan umbi kentang, gunakan
rumus :
%𝚫 Bobot =
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟−𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙
𝑥 100 %
Buatlah grafik dan plotkan % 𝚫 bobot pada ordinal dan konsentrasi
larutan sukrosa (M) pada pada absis. Gunakan kertas grafik yang berskala millimeter.
Potensial air jaringan umbi kentang sama. Oleh karena itu titik potong grafik dengan
sumbu X (absis) mewakili potensial air jaringan umbi kentang tersebut.
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Tabel 1. Hasil persentasi potensial air pada umbi kentang
Sukrosa
% 𝚫 Bobot
Bobot Irisan Kentang
Awal
Akhir
10 mL
5,780 g
5,678 g
-94,322 g
30 mL
4,582 g
4,337 g
-95,663 g
50 mL
3,914 g
3,749 g
-96,251 g
B. Pembahasan
Osmosis didefinisikan sebagai pergerakan netto air dari potensial tinggi
menuju ke potensial yang lebih rendah. Pergerakan ini berlangsung secara parsial
melalui membran permeabel, yaitu membrasn sel. Membran sel melewatkan
molekul-molekul kecil seperti air, tetapi tidak mengizinkan molekul besar lainnya
untuk lewat. Molekul-molekul ini terus berdifusi sehingga mencapat titik
keseimbangan, yang dapat diartikan bahwa molekul tersebut terdistribusi secara
acak di dalam sel.
Sel tumbuhan memiliki dinding sel yang kuat. Sewaktu sel-sel ini
mengambil air dari lingkungan dengan osmosis, sel tersebut mulai mengembang.
Pengembangan ini tidak membuat sel pecah, namun turgiditasnya menjadi
meningkat. Turgiditas berarti kaku dan keras. Tekanan di dalam sel bertambah
besar, sehingga air tidak dapat memasuki sel lagi. Tekanan hidrostatik berupa
turgiditas ini bekerja berlawanan arah dengan osmosis, dan merupakan agen
penyetimbang dari proses-proses selular yang dinamis.
Dari tabel di atas terlihat bahwa berat akhir lebih rendah daripada berat
awal, artinya umbi kentang mengalami difusi terhadap larutan sukrosa. Sehingga
hasil persentasi bobot potensial air pada umbi kentang mendapatkan nilai minus.
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa semakin banyak larutan sukrosa yang
diberikan pada umbi kentang, maka semakin rendah pula persentasi potensial pada
umbi kentang.
Perendaman kentang dengan larutan sukrosa tidak selalu meningkatkan
bobotnya. Terkadang justru bobot kentang yang telah mengalami perendaman
menjadi lebih kecil daripada bobot kentang semula. Hal ini diakibatkan oleh
keluarnya air dari sel kentang secara osmosis pula. Keluarnya air ini disebabkan
oleh larutan sukrosa tersebut memiliki potensial air yang lebih negatif daripada
potensial air sel, sehingga air akan berpindah dari dalam sel ke larutan sukrosa. Air
meninggalkan sel, dan volume sel mengecil. Potensial air sel akan terus menurun
sehingga mencapai kesetimbangan dengan potensial air larutan sukrosa.
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan bobot kentang setelah
perendaman menjadi berkurang selain perbedaan potensial air yang telah dijelaskan
di atas. Faktor-faktor tersebut adalah : sewaktu penimbangan kentang setelah
direndam, banyak praktikan yang mengeringkan sample dengan ditekan-tekan.
Sehingga ada kemungkinan bahwa air yang terserap oleh sel keluar kembali
(terserap oleh kertas tissue). Kemungkinan yang kedua adalah waktu perendaman
yang tidak seragam antar sample kentang yang akan di uji.
BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Osmosis didefinisikan sebagai pergerakan netto air dari potensial tinggi
menuju ke potensial yang lebih rendah. semakin banyak larutan sukrosa yang
diberikan pada umbi kentang, maka semakin rendah pula persentasi potensial pada
umbi kentang. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan bobot kentang setelah
perendaman menjadi berkurang selain perbedaan potensial air yang telah dijelaskan
di atas. Faktor-faktor tersebut adalah : sewaktu penimbangan kentang setelah
direndam, banyak praktikan yang mengeringkan sample dengan ditekan-tekan.
Sehingga ada kemungkinan bahwa air yang terserap oleh sel keluar kembali
(terserap oleh kertas tissue). Kemungkinan yang kedua adalah waktu perendaman
yang tidak seragam antar sample kentang yang akan di uji.
B. Saran
Dalam praktikum ini disarankan untuk mengikuti langkah-langkah cara
kerja yang ada di modul agar mendapatkan hasil yang maksimal, dan memakai alat
pelindung diri dalam melakukan sesuatu di laboratorium.
DAFTAR PUSTAKA
Adnan. 2008. Biologi Sel. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Makassar:
Makassar
Deragon. 2005. Water Potential. http://www.deragon.com. Diakses pada 12 Maret
2014
Filter, W.G. 1989. Fisiologi Lingkungan Tumbuhan. Gadjah Mada University Press:
Yogyakarta
Heddy, S. 1982. Biologi Pertanian. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya:
Malang
Heddy, S. 1987. Ekofisiologi Pertanaman. Sinar Baru: Bandung
Lakitan, B. 1996. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Graffindo Persada: Jakarta
Lambers, H.F.S. Chapia dan T.L. Pons. 1998. Physiology. Ecology Spinger. Newyork
hal 150
Salisbury dan Ross C.W. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 1 Edisi IV Alihan Luqman
R.R. dan Sumaryono. Penerbit ITB: Bandung
Syarif, Hidayat A. 2009. Laporan Pengukuran Potensial Air Jaringan Tumbuhan.
Universitas Negeri Makassar: Makassar
LAMPIRAN
a. Larutan sukrosa 10 mL
%∆ Bobot =
5,678 − 5, 780
x 100%
5,780
%∆ Bobot = −94,322
b. Larutan sukrosa 30 mL
%∆ Bobot =
4,337 − 4,582
x 100%
4,582
%∆ Bobot = −95,663
c. Larutan sukrosa 50 mL
%∆ Bobot =
3,749 − 3,914
x 100%
3,914
%∆ Bobot = −96,251
DOKUMENTASI
Gambar a. Penimbangan
Gambar b. Pencampuran larutan sukrosa
Gambar c. Pengeringan
Download