Uploaded by niatysauria

03 BAB 2

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Lokasi Penelitian (Rumah Sakit)
1.
Pengertian Rumah Sakit
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
56 Tahun 2014, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna
yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
Rumah Sakit dapat didirikan dan diselenggarakan oleh Pemerintah,
Pemerintah Daerah, atau swasta.
2.
Asas dan Tujuan
Rumah sakit diselenggarakan berasaskan Pancasila dan didasarkan
kepada nilai kemanusiaan, etika dan profesionalitas, manfaat, keadilan,
persamaan hak dan anti diskriminasi, pemerataan, perlindungan dan
keselamatan pasien, serta mempunyai fungsi sosial (Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009)
Pengaturan penyelenggaraan rumah sakit bertujuan:
a.
Mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan;
b.
Memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat,
lingkungan rumah sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit;
c.
Meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah
sakit
9
d.
Memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat, sumber
daya manusia rumah sakit, dan rumah sakit (Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009)
3.
Tugas dan Fungsi Rumah Sakit
Rumah Sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan
perorangan secara paripurna. Rumah Sakit mempunyai fungsi:
a.
Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan
sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit;
b.
Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui
pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai
kebutuhan medis;
c.
Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia
dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan
kesehatan;
d.
Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan
teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan
kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang
kesehatan (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun
2009)
4.
Klasifikasi Rumah Sakit
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
56 Tahun 2014 berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan, Rumah Sakit
dikategorikan dalam :
10
a.
Rumah Sakit Umum
Rumah sakit umum adalah rumah sakit yang memberikan
pelayanan
kesehatan
yang
bersifat
dasar,
spesialistik
dan
subspesialistik. Rumah sakit umum memberi pelayanan kepada
berbagai penderita dengan berbagai jenis penyakit, memberi
pelayanan diagnosis dan terapi untuk berbagai kondisi medik, seprti
peyakit dalam, bedah, pediatrik ibu hamil dan sebagainya. Rumah
sakit umum diklasifikasikan menjadi rumah sakit kelas A, B, C, dan
D, yang meliputi :
1) Rumah sakit umum kelas A adalah rumah sakit umum yang
mempunyai
fasilitas
dan
kemampuan
pelayanan
medik
spesialistik luas dan subspesialistik luas
2) Rumah sakit umum kelas B adalah rumah sakit umum yang
mempunyai
fasilitas
dan
kemampuan
pelayanan
medik
sekurang-kurangnya sebelas spesialistik dan subspesialistik
terbatas
3) Rumah sakit umum kelas C adalah rumah sakit umum yang
mempunyai
fasilitas
dan
kemampuan
pelayanan
medik
sekurang-kurangnya sebelas spesialistik dan subspesialistik
terbatas
4) Rumah sakit umum kelas D, adalah rumah sakit umum yang
mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik dasar
11
b.
Rumah Sakit Khusus
Rumah sakit khusus adalah rumah sakit yang mempunyai
fungsi primer, memberikan diagnosis dan pengobatan untuk
penderita yang mempunyai kondisi medik khusus, baik bedah atau
non bedah, misalnya Rumah Sakit Ginjal, Rumah Sakit Kusta,
Rumah Sakit Jantung, Rumah Sakir Bersalin dan Anak dan
sebagainya.
5.
Kewajiban Rumah Sakit
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun
2009, Rumah Sakit mempunyai kewajiban:
a.
Memberikan informasi yang benar tentang pelayanan Rumah Sakit
kepada masyarakat;
b.
Memberi
pelayanan
kesehatan
yang
aman,
bermutu,
antidiskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan
pasien sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit;
c.
Memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan
kemampuan pelayanannya;
d.
Berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan pada
bencana, sesuai dengan kemampuan pelayanannya;
e.
Menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu
atau miskin;
f.
Melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan fasilitas
pelayanan pasien tidak mampu/miskin, pelayanan gawat darurat
12
tanpa uang muka, ambulan gratis, pelayanan korban bencana dan
kejadian luar biasa, atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan;
g.
Membuat, melaksanakan, dan menjaga standar mutu pelayanan
kesehatan di Rumah Sakit sebagai acuan dalam melayani pasien;
h.
Menyelenggarakan rekam medis;
i.
Menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak antara lain
sarana ibadah, parkir, ruang tunggu, sarana untuk orang cacat, wanita
menyusui, anak-anak, lanjut usia;
j.
Melaksanakan sistem rujukan;
k.
Menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan standar profesi
dan etika serta peraturan perundang-undangan;
6.
Hak Rumah Sakit
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun
2009, Rumah Sakit mempunyai hak:
a.
Menentukan jumlah, jenis, dan kualifikasi sumber daya manusia
sesuai dengan klasifikasi Rumah Sakit;
b.
Menerima imbalan jasa pelayanan serta menentukan remunerasi,
insentif, dan penghargaan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
c.
Melakukan
kerjasama
dengan
pihak
lain
dalam
rangka
mengembangkan pelayanan;
d.
Menerima bantuan dari pihak lain sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
e.
Menggugat pihak yang mengakibatkan kerugian;
13
f.
Mendapatkan perlindungan hukum dalam melaksanakan pelayanan
kesehatan;
g.
Mempromosikan layanan kesehatan yang ada di Rumah Sakit sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
h.
Mendapatkan insentif pajak bagi Rumah Sakit publik dan Rumah
Sakit yang ditetapkan
B. Tinjauan Umum Tentang Perawat
1.
Pengertian Perawat
Beberapa ahli mempunyai pendapat yang berbeda tentang
pengertian perawat, tetapi pada prinsipnya mempunyai persamaan,
berikut beberapa pengertian menurut ahli :
a.
Menurut UU RI Nomor 23 Tahun 1992 tentang kesehatan. Perawat
adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan
melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimiliki
diperoleh melalui pendidikan keperawatan.
b.
Taylor C., Lillis C., Le Mone, mendefinisikan perawat adalah
seseorang yang berperan dalam merawat atau memelihara,
membantu dengan melindungi seseorang karena sakit, luka, dan
proses penuaan.
c.
ICN (International Council of Nurshing, 1965), perawat adalah
sesorang yang telah menyelesaikan pendidikan keperawatan yang
memenuhi syarat, serta berwenang di negeri bersangkutan untuk
memberikan pelayanan keperawatan yang bertanggung jawab untuk
14
meningkatkan kesehatan, pencegahan penyakit, dan pelayanan
penderita sakit.
d.
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1239/MenKes/SK/XI/2001
tentang Registrasi dan Praktik Perawat, pada pasal 1 ayat (1) yang
berbunyi : “perawat adalah sesorang yang telah lulus pendidikan
perawat baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”. (Budiono
dan Pertami, 2015)
2.
Peran Perawat
Peran perawat dapat diartikan sebagai tingkah laku yang
diharapkan oleh orang lain terhadap sesorang sesuai dengan kedudukan
dalam sistem, dimana dapat dipengaruhi keadaan sosial baik dari profesi
perawat maupun diluar profesi keperawatan yang bersifat konstan.
a.
Peran Perawat Menurut Konsorsium Ilmu Kesehatan Tahun 1989
a) Pemberi asuhan keperawatan, dengan memperhatikan keadaan
kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian
pelayanan
keperawatan
dengan
menggunakan
proses
keperawatan, dari yang sederhana sampai dengan kompleks.
b) Advokasi pasien/klien, dengan menginterpretasikan berbagai
informasi dari pemberi pelayanan atau informasi lain khususnya
dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan yang
diberikan kepada pasien, mempertahankan dan melindungi hakhak klien.
15
c) Pendidik/educator,
dengan
cara
membantu
klien
dalam
meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit
bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan
perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.
d) Koordinator, dengan cara mengarahkan, merencanakan, serta
mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan
sehingga pemberian pelayanan kesehatan dapat terarah, serta
sesuai dengan kebutuhan klien
e) Kolaborator, peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui
tim kesehatan yang terdiri dari dokter, fisioterapis, ahli gizi dan
lain-lain,
yang
berupaya
mengidentifikasi
pelayanan
keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi atau tukar
pendapat dalam penentuan bentuk pelayanan berikutnya.
f)
Konsultan, perawat sebagai tempat konsultasi terhadap masalah
atau tindakan keperawatan yang tepat untuk diberikan.
g) Peneliti, perawat mengadakan perencanaan, kerja sama,
perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan sesuai
dengan metode pemberian pelayanan keperawatan.
b.
Peran Perawat Menurut Hasil Lokakarya Nasional Keperawatan
Tahun 1983
1) Pelaksanaan pelayanan keperawatan, perawat memberikan
asuhan keperawatan langsung maupun tidak langsung dengan
metode proses keperawatan.
16
2) Pendidik dalam keperawatan, perawat mendidik individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat, serta tenaga kesehatan
yang berada dibawah tanggung jawabnya.
3) Pengelola pelayanan keperawatan, perawat mengelola pelayanan
maupun pendidikan keperawatan sesuai dengan manajemen
keperawatan dalam kerangka paradigma keperawatan.
4) Peneliti dan pengembang pelayanan keperawatan, perawat
melakukan identifikasi masalah penelitian
3.
Fungsi Perawat
Perawat dalam menjalankan perannya memiliki beberapa fungsi,
yaitu :
a.
Fungsi Independen, dalam fungsi ini tindakan perawat tidak
melakukan perintah dokter. Tindakan perawat bersifat mandiri dan
perawat bertanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukan
terhadap klien.
b.
Fungsi Dependen, perawat membantu dokter memberikan pelayanan
pengobatan dan tindakan khusus yang menjadi wewenang dokter dan
seharusnya dilakukan dokter.
c.
Fungsi Interdependen, tindakan yang didasari dengan kerja tim
perawatan atau tim kesehatan.
4.
Tugas Dan Tanggung Jawab Perawat
Tugas perawat disepakati dalam Lokakarya tahun 1983, yang
berdasarkan tugas dan tanggung jawab perawat dalam memberikan
asuhan keperawatan sebagai berikut :
17
a.
Menyampaikan perhatian dan rasa hormat pada klien (sincere
intereset)
b.
Jika perawat menunda tindakan, maka perawat harus menjelaskan
dengan sopan (explanation of the delay)
c.
Menunjukan kepada klien sikap menghargai yang ditunjukan dengan
prilaku perawat.
d.
Berbicara dengan klien yang berorientasi pada perasaan klien.
e.
Tidak mendiskusikan klien lain didepan pasien dengan maksud
menghina. (Budiono & Pertami, 2015)
C. Tinjauan Umum Tentang Kepatuhan
1.
Pengertian Kepatuhan
Kepatuhan (adherence) adalah suatu bentuk perilaku yang timbul
akibat adanya interaksi antara petugas kesehatan dan pasien sehingga
pasien mengerti rencana dengan segala konsekwensinya dan menyetujui
rencana tersebut serta melaksanakannya (Kemenkes RI, 2011). Menurut
Smet (2004) dalam Emaliyawati (2010), kepatuhan adalah tingkat
seseorang melaksanakan suatu cara atau berperilaku sesuai dengan apa
yang disarankan atau dibebankan kepadanya.
Kepatuhan pelaksanaan prosedur tetap (protap) adalah untuk selalu
memenuhi petunjuk atau peraturan peraturan dan memahami etika
keperawatan di tempat perawat tersebut bekerja. Kepatuhan merupakan
modal dasar seseorang berperilaku. Menurut Kelman dalam Emaliyawati
(2010) dijelaskan bahwa perubahan sikap dan perilaku individu diawali
dengan proses patuh, identifikasi, dan tahap terakhir berupa internalisasi.
18
Kepatuhan
individu
yang
berdasarkan
rasa
terpaksa
atau
ketidakpahaman tentang pentingnya perilaku yang baru, dapat disusul
dengan kepatuhan yang berbeda jenisnya, yaitu kepatuhan demi menjaga
hubungan baik dengan tokoh yang menganjurkan perubahan tersebut
(change agent). Perubahan perilaku individu baru dapat menjadi optimal
jika perubahan tersebut terjadi melalui proses internalisasi dimana
perilaku yang baru itu dianggap bernilai positif bagi diri individu itu
sendiri dan diintegrasikan dengan nilai-nilai lain dari hidupnya (AlAssaf, 2010).
2.
Pengukuran Kepatuhan
Pengukuran kepatuhan dapat dilakukan menggunakan kuesioner
yaitu dengan cara mengumpulkan data yang diperlukan untuk mengukur
indikator-indikator yang telah dipilih. Indikator tersebut sangat
diperlukan sebagai ukuran tidak langsung mengenai standar dan
penyimpangan yang diukur melalui sejumlah tolok ukur atau ambang
batas yang digunakan oleh organisasi merupakan penunjuk derajat
kepatuhan terhadap standar tersebut. Suatu indikator merupakan suatu
variabel (karakteristik) terukur yang dapat digunakan untuk menentukan
derajat kepatuhan terhadap standar atau pencapaian tujuan mutu, di
samping itu indikator juga memiliki karakteristik yang sama dengan
standar, misalnya karakteristik itu harus reliabel, valid, jelas, mudah
diterapkan, sesuai dengan kenyataan, dan juga dapat diukur (Al-Assaf,
2010).
19
3.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan
Tingkat kepatuhan dipengaruhi oleh faktor individu meliputi jenis
kelamin, jenis pekerjaan, profesi, lama kerja dan tingkat pendidikan, serta
faktor psikologis meliputi sikap, ketegangan dalam suasana kerja, rasa
takut dan persepsi terhadap risiko (Suryoputri, 2011). Beberapa ahli
sebagaimana dikemukakan oleh Smet (1994) dalam Damanik, dkk.
(2010), mengatakan bahwa kepatuhan dipengaruhi oleh faktor internal
dan faktor eksternal, yaitu :
a.
Faktor Internal
1) Karakteristik perawat
Faktor internal yang mempengaruhi kepatuhan dapat
berupa tidak lain merupakan karakteristik perawat itu sendiri.
Karakteristik perawat merupakan ciri-ciri pribadi yang dimiliki
seseorang yang memiliki pekerjaan merawat klien sehat maupun
sakit. Karakteristik perawat meliputi variable demografi (umur,
jenis kelamin, ras, suku bangsa dan tingkat pendidikan)
(Suryoputri, 2011).
Menurut Smet (1994) dalam Damanik, dkk. (2010),
variable demografi berpengaruh terhadap kepatuhan. Sebagai
contoh secara geografi penduduk Amerika lebih cenderung taat
mengikuti anjuran atau peraturan di bidang kesehatan. Data
demografi yang mempengaruhi ketaatan misalnya jenis kelamin
wanita, ras kulit putih, orang tua dan anak-anak terbukti
memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi. Latar belakang
20
pendidikan juga akan mempengaruhi perilaku seseorang dalam
melaksanakan etos kerja. Semakin tinggi pendidikan seseorang,
kepatuhan dalam pelaksanaan aturan kerja akan semakin baik.
Karakteristik adalah ciri-ciri dari individu yang terdiri dari
demografi seperti jenis kelamin, umur serta status sosial seperti,
tingkat pendidikan, pekerjaan, ras, status (Widianingrum, 2008).
a)
Umur
Umur berpengaruh terhadap pola fikir seseorang dan
pola fikir berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Umur
seseorang secara garis besar menjadi indikator dalam setiap
mengambil
keputusan
yang
mengacu
pada
setiap
pengalamannya, dengan semakin banyak umur maka dalam
menerima sebuah instruksi dan dalam melaksanaan suatu
prosedur
akan
semakin
bertanggung
jawab
dan
berpengalaman. Semakin cukup umur seseorang akan
semakin matang dalam berfikir dan bertindak (Evin, 2009).
b) Jenis Kelamin
Jenis kelamin adalah kelas atau kelompok yang
terbentuk dalam suatu spesies sebagai sarana atau sebagai
akibat digunakannya proses reproduksi seksual untuk
mempertahankan keberlangsungan spesies itu. Jenis kelamin
adalah istilah yang membedakan antara laki-laki dan
perempuan secara biologis, dan dibawa sejak lahir dengan
21
sejumlah sifat yang diterima orang sebagai karakteristik
laki-laki dan perempuan (Dian, 2009).
c)
Tingkat Pendidikan
Pendidikan berpengaruh terhadap pola fikir individu.
Sedangkan pola fikir berpengaruh terhadap perilaku
seseorang dengan kata lain pola pikir seseorang yang
berpendidikan rendah akan berbeda dengan pola pikir
seseorang yang berpendidikan tinggi (Asmadi, 2010).
Pendidikan
keperawatan
mempunyai
pengaruh
besar
terhadap kualitas pelayanan keperawatan (Asmadi, 2010).
Pendidikan yang tinggi dari seorang perawat akan memberi
pelayanan yang optimal.
d) Masa Kerja
Kreitner dan Kinichi (2009) menyatakan bahwa masa
kerja yang lama akan cenderung membuat seseorang betah
dalam sebuah organisasi hal ini disebabkan karena telah
beradaptasi dengan lingkungan yang cukup lama sehingga
akan merasa nyaman dalam pekerjaannya. Semakin lama
seseorang bekerja maka tingkat prestasi akan semakin
tinggi, prestasi yang tinggi di dapat dari perilaku yang baik.
2) Pengetahuan
a) Pengertian
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi
setelah orang melakukan pengideraan terhadap suatu objek
22
tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia,
yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa,
dan raba. Sebagian besar pengetahuan atau kognitif
merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk
tindakan
seseorang
(overt
behavior).
Karena
dari
pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari
oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku
yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2012)
Pengetahuan pada hakekatnya merupakan segenap
apa yang kita ketahui tentang suatu obyek tertentu dan
setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri-ciri spesifik
mengenai apa (Ontology), bagaimana (Epistemology), dan
untuk apa (Aksiology) pengetahuan tersebut disusun
(Suriasumantri, 2014)
b) Tingkatan Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2012) Pengetahuan yang
tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan :
a) Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi
yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam
pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali
(recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh badan yang
dipelajari atau rangsangan yang diterima. Oleh sebab
itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling
23
rendah. Kata kerja yang digunakan untuk mengukur
yaitu menyebutkan, menguraikan, mendefiniskan dan
sebagainya.
b) Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan
untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang
diketahui
dan
dapat
menginterpretasikan
materi
tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap
objek
atau
materi
harus
dapat
menjelaskan,
menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan
sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
c) Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai sesuatu kemampuan
untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada
situasi atau kandisi yang real (sebenarnya). Aplikasi ini
dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan
hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya
dalam konteks atau situasi yang lain.
d) Analisis (Analysis)
Analisis
adalah
suatu
kemampuan
untuk
menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam
komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu
struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama
lain.
24
e) Sintesis (Synthesis)
Sintetis menunjuk kepada suatu kemampuan
untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian
di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan
kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk dapat
menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas,
dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatau
teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
f)
Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk
melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu
materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan
pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau
menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
c) Cara Memperoleh Pengetahuan
1) Cara tradisional atau non ilmah
(a) Cara coba dan salah (Trial and error)
Cara ini telah dipakai orang sebelum adanya
kebudayaan,
apabila
seseorang
menghadapi
persoalan atau masalah, upaya pemecahan di
lakukan dengan coba-coba.
(b) Cara kekerasan atau otorier
Pengetahuan diperoleh berdasarkan pada
otorita atau kekuasaan, baik tradisi, otorita
25
pemerintah, otorita pimpinan agama maupun ahli
pengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh tanpa
terlebih
dahulu
menguji
atau
membuktikan
kebenarannya, baik berdasarkan fakta empiris
ataupun berdasarkan penalaran sendiri.
(c) Berdasarkan pengalaman pribadi
Hal ini dilakukan dengan cara mengulang
kembali
pengalaman
yang
diperoleh
dalam
memecahkan permasalahan yang dihadapi pada
masa lalu.
(d) Melalui jalan pikiran
Dalam memperoleh kebenaran pengetahuan
manusia telah menggunakan jalan pikirannya baik
melalui induksi maupun deduksi.
2) Cara modern atau cara ilmiah
Mengadakan
pengamatan
langsung terhadap
gejala-gejala alam atau kemasyarakatan, kemudian
hasil
pengamatan
tersebut
dikumpulkan
dan
diklasifikasi dan akhirnya diambil kesimpulan umum.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan
wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi
yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden.
Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita
ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan diatas
26
Mengingat begitu banyak aspek kehidupan yang
berpengaruh oleh keadaan hiperglikemia, mungkin cukup
sulit bagi klien untuk mematuhi rencana perawatan yang
dibuat,
penyuluhan,
peningkatan
pengetahuan
dan
ketrampilan akan sangat membantu.
4.
Sikap
1) Pengertian
Menurut Notoadmojo (2012), mendefinisikan sikap
sebagai kesiapan seseoarang untuk bertindak tertentu pada
situasi tertentu, dalam sikap positif. Kecenderungan
tindakan adalah mendekati, menyenangidan mengharapkan
objek tertentu, sedangkan dalam sikap negatif terdapat
kecenderungan untuk menjauhi, menghindari, membenci
dan tidak sama dengan menyukai objek tertentu. Sebagai
makhluk individual manusia mempunyai dorongan atau
mood untuk mengadakan hubungan
sendiri,
dengan
dirinya
sedangkan sebagai makhluk sosial manusia
mempunyai dorongan untuk mengadakan hubungan dengan
orang lain, manusia mempunyai dorongan sosial. Dengan
adanya dorongan atau motif sosial pada manusia, maka
manusia akan mencari orang lain untuk mengadakan
hubungan atau untuk mengadakan interaksi (Walgito, 2013)
27
2) Komponen sikap
Menurut Niven (2002), sikap mempunyai beberapa
komponen yaitu :
a) Komponen Kognitif
Pengetahuan tentang objek tertentu.
b) Komponen Afektif
Melibatkan perasaan senang dan tidak senang
serta perasaan emosional lain sebagai akibat dari proses
evaluatif yang dilakukan.
c) Komponen Perilaku
Sikap selalu diikuti dengan kecenderungan untuk
berpola perilaku tertentu.
3) Tingkatan sikap
Menurut Notoadmodjo (2012), sikap juga memiliki
tingkatan seperti halnya pengetahuan, yaitu:
a) Menerima (Receiving)
Diartikan bahwa subjek (orang) mau dan
memperhatikan rangsangan (stimulus) yang di berikan
objek.
b) Merespon (Responding)
Sikap individu mampu memberikan jawaban
apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas
yang diberikan.
28
c) Menghargai (Valuing)
Sikap individu mengajak orang lain untuk
mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.
d) Bertanggung jawab (Responsible)
Sikap individu akan bertanggung jawab dan siap
menanggung resiko atau segala sesuatu yang sudah
dipilihnya.
4) Penilaian sikap
Untuk menilai sikap seseorang dapat menggunakan
skala
atau
kuesioner.
Skala
penilaian
sikap
dapat
mengandung serangkaian pertanyaan tentang permasalahan
tertentu. Responden yang akan mengisi di harapkan
menentukan sikap setuju terhadap pertanyaan tertentu.
Skala pengukuran sikap oleh Likert dibuat dengan pilihan
jawaban sangat setuju terhadap suatu pernyataan dan sangat
tidak setuju (Niven, 2002).
b.
Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang mempengaruhi kepatuhan terdiri atas :
1) Pola komunikasi
Pola komunikasi dengan profesi lain yang dilakukan oleh
perawat akan mempengaruhi tingkat kepatuhannya dalam
melaksanakan tindakan. Aspek dalam komunikasi ini adalah
ketidakpuasan terhadap hubungan emosional, ketidak puasa
29
terhadap pendelegasia maupun kolaborasi yang diberikan
(Suryoputri, 2011).
2) Keyakinan / nilai-nilai yang diterima perawat
Smet (1994) dalam Damanik, dkk. (2010) mengatakan
bahwa keyakinan-keyakinan tentang kesehatan atau perawatan
dalam sistem pelayanan kesehatan mempengaruhi kepatuhan
perawat dalam melaksanakan peran dan fungsinya.
3) Dukungan social
Smet (1994) dalam Damanik, dkk. (2010) mengatakan
dukungan sosial berpengaruh terhadap kepatuhan seseorang.
Variabel-variabel sosial mempengaruhi kepatuhan perawat.
Dukungan sosial memainkan peran terutama yang berasal dari
komunitas internal perawat, petugas kesehatan lain, pasien
maupun dukungan dari pimpinan atau manajer pelayanan
kesehatan serta keperawatan.
D. Tinjauan Umum Tentang Luka Diabetik
1.
Pengertian
Luka merupakan terputusnya kontinuitas jaringan (Kartika, 2015).
Fase penyembuhan terdiri dari empat fase yaitu fase hemostasis,
inflamasi, proliferasi dan maturasi (Hess, 2008; Sari, 2015). Pada kondisi
diabetes mellitus proses penyembuhan luka ini terganggu sehingga
menyebabkan penyembuhan luka yang lambat.
Pada penderita diabetes mellitus, peningkatan glukosa dalam darah
merangsang reaksi proliferasi sel endotel dan proses glukoneogenesis
30
yang menghasilkan produk sampingan lemak dan protein. Produk
sampingan tersebut akan bersirkulasi dalam darah dan menumpuk di
dinding bagian dalam pembuluh darah. Proliferasi sel endotel dan
penumpukan produk sampingan tersebut akan menyebabkan dinding
pembuluh darah semakin menebal dan mengakibatkan penyempitan
pembuluh darah (aterosklerosis) dan peningkatan viskositas darah,
sehingga aliran darah ke jaringan semakin berkurang termasuk syaraf.
Aliran darah yang terus menerus berkurang ke syaraf dapat menyebabkan
syaraf mengalami iskemia dan kehilangan funngsinya atau neuropati
diabetik (Rebolledo et.al., 2012; Yuanita, 2013).
Kejadian ulkus diabetik diawali dengan adanya hiperglikemia pada
pasien DM yang dapat menyebabkan kelainan pada pembuluh darah
(Frykberg, 2002; Yuanita, 2013). Ulkus merupakan hilangnya epidermis
seiring dengan hilangnya dermis dan jaringan subkutan (Graham-Brown,
2005). Ulkus (ulcer) atau borok di kaki adalah masalah serius yang harus
ditangani karena mengakibatkan amputasi (Tandra, 2007).
Sari (2015) menyatakan bahwa ada tiga tipe luka kaki berdasarkan
penyebabnya yaitu; luka neuropati (disebabkan oleh neuropati perifer),
luka iskemia (disebabkan oleh penyakit vaskular perifer), dan tipe
campuran/luka neuro-iskemik (disebabkan karena campuran neuropati
perifer dan penyakit vaskular perifer).
Rangkaian kejadian yang khas dalam proses timbulnya ulkus
diabetik pada kaki dimulai dari cidera pada jaringan lunak kaki,
31
pembentukan fisura antara jari- jari kaki atau di daerah kulit yang kering
atau pembentukan sebuah kalus (Smeltzer & Bare, 2002).
2.
Klasifikasi luka diabetik
Ada beberapa macam klasifikasi ulkus diabetik dari yang sederhana
hingga rumit. Berikut adalah klasifikasi sederhana menurut Edmons pada
tahun 2006 yang dikutip oleh Arief (2008; Yuanita, 2013).
a.
Derajat I : Normal foot;
Gambar 1 Kaki Normal
b.
Derajat II : High risk foot;
Gambar 2 Kaki Risiko Tinggi
c.
Derajat III : Ulcerated foot;
Gambar 3 Kaki Dengan Ulkus / Luka Terbuka
32
d.
Derajat IV : Infected foot;
Gambar 4 Kaki Dengan Infeksi
e.
Derajat V : Necrotic Foot
Gambar 5 Kaki Dengan Jaringan Nekrosis
f.
Derajat VI : Unsalvable foot
Gambar 6 Kaki Yang Tidak Dapat Ditangani
Sedangkan menurut Wagner pada tahun 1987 yang dikutip oleh
Frykberg (2002; Yuanita, 2013), ulkus diabetik diklasifikasikan
berdasarkan kedalaman ulkus dan ada tidaknya osteomyelitis atau
gangren, yaitu:
a.
Derajat 0 : kaki utuh, tidak terdapat luka terbuka, tapi ada kelainan
pada kaki akibat neuropati.
33
b.
Derajat I : ulkus diabetik superfisial (sebagian atau seluruh
permukaan kulit).
c.
Derajat II : ulkus meluas hingga ligamen, tendon, kapsul sendi, atau
fasia dalam tanpa abses atau osteomyelitis.
d.
Derajat III : ulkus dalam denggan abses, osteomyelitis, atau sepsis
sendi.
e.
Derajat IV: gangren terlokalisasi pada bagian jari atau tumit.
f.
Derajat V : gangren yang meluas hingga seluruh kaki.
Sari (2015) mengatakan bahwa infeksi luka dapat menghambat
penyembuhan luka karena akan memperpanjang masa inflamasi,
memperlambat sintesis kolagen, memperlambat epitelialisasi dan
menyebabkan kerusakan jaringan. Tanda primer infeksi antara lain:
peningkatan eksudat, nyeri, adanya kemerahan yang baru atau
peningkatakan kemerahan pada luka, peningkatan temperatur pada
daerah sekitar luka, dan bau. Sedangkan tanda sekunder dari infeksi
antara lain: luka yang sulit sembuh, jaringan granulasi yang tidak sehat,
peningkatan slaf, peningkatan ukuran luka, adanya jaringan baru yang
rusak, dan adanya kantong luka atau adanya jembatan antar luka.
Manajemen luka diabetes tujuannya adalah untuk penutupan luka.
Menurut International Best Practice Guideline (2013; Sari, 2015)
komponen manajemen perawatannya adalah sebagai berikut ini.
a.
Mengobati penyakit yang mendasari
b.
Membuat aliran darah menjadi lancer
34
c.
Meniadakan tekanan yang berlebih pada kaki
d.
Perawatan luka
E. Tinjauan Umum Tentang Standar Prosedur Operasional
1.
Pengertian Standar Prosedur Operasional
Standar prosedur operasional merupakan suatu standar tertulis yang
digunakan untuk mendorong dan menggerakkan suatu kelompok untuk
mencapai tujuan organisasi.
Standar prosedur operasional merupakan cara atau tahapan yang
dilakukan dan harus dilewati untuk menyelesaikan proses kerja tertentu,
salah satunya prosedur perawatan luka, Dari awal pelaksanaan sampai
evaluasi yaitu : Imformed consent, persiapan alat, persiapan lingkungan,
persipan pasien, persiapan penolong, pelaksanaan tindakan, evaluasi.
Prosedur perawatan luka ini harus dilaksanakan oleh seluruh perawat di
rumah sakit khususnya untuk mencegah dan menghindari terjadinya
infeksi.
Tujuan standar prosedur operasional adalah untuk menghindari
kegagalan, kesalahan dan keraguan, memperjelas alur tugas, wewenang
dan tanggung jawab dari petugas atau pegawai terkait, serta melindungi
organisasi/unit kerja dan petugas pegawai dari malpraktek atau kesalahan
lainnya.
35
2.
Standar Prosedur Operasional Perawatan Luka
a.
Pengertian
Perawatan luka adalah perawatan pada luka yang bertujuan
untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan proses penyembuhan
luka.
b.
Tujuan
1) Meningkatkan hemostatis luka
2) Mencegah infeksi
3) Mencegah cedera jaringan lebih lanjut
4) Mempertahankan integritas kulit
5) Mencegah terjadinya komplikasi pada luka
6) Meningkatkan proses penyembuhan luka
7) Mendapatkan kembali fungsi normal
8) Memperoleh rasa nyaman
c.
Prosedur
1) Persiapan Alat :
a) Gunting
b) Pinset anatomi
c) Pinset cirurgis
d) Kom steril
e) Kasa steril
f)
Sarung tangan steril
g) Sarung tangan bersih sekali pakai
h) Cairan NaCl 0,9%
36
i)
Plester
j)
Perlak dan pengalas
k) Bengkok
l)
Salep obat topical sesuai indikasi
m) Tempat sampah
2) Langkah-langkah :
a) Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada pasien
b) Pertahankan privasi pasien selama tindakan dilakukan
c) Atur posisi yang nyaman bagi klien, beritahu pasien untuk
tidak menyentuh area luka atau peralatan steril
d) Pasang perlak dan pengalasnya dibawah area luka. Letakkan
bengkok diatas perlak
e) Letakkan tempat sampah pada area yang mudah dijangkau
f)
Cuci tangan
g) Gunakan sarung tangan bersih sekali pakai
h) Lepaskan plester, balutan atau ikatan. Lepaskan plester
dengan melepas ujungnya dan menarik dengan perlahan.
Sejajr dengan kulit dan ke arah balutan
i)
Observasi kulit pasien untuk reaksi terhadap plester. Jika
perekat masih dikulit bisa dibersihkan
j)
Dengan menggunakan pinset angkat balutan kasa secara
hati-hati. Sampaikan pada pasien tentang rasa tidak nyaman
yang mungkin timbul dan angkat balutan secara perlahan.
k) Observasi karakter, jumlah drainase pada balutan
37
l)
Buang balutan yang kotor pada tempat sampah
m) Lepaskan sarung tangan dengan bagian dalamnya berada
diluar dan buang pada tempat sampah
n) Cuci tangan
o) Siapkan plester baru, verban atau pengikat jika diperlukan
p) Siapkan set balutan steril pada troley
q) Gunakan sarung tangan steril
r)
Inspeksi luka, perhatikan kondisinya tempat drainase
s)
Bersihkan luka dengan larutan antiseptik yang diresepkan
atau cairan normal salin. Pegang kasa yang basah dengan
pinset. Bersihkan dari area yang terkontaminasi ke area
yang paling terkontaminasi. Gerakan dalam tekanan
progresif menjauh dari insisi atau tepi luka. Ulangi
membilas luka 2-3x sampai luka terlihat bersih
t)
Keringkan dengan menggunakan kasa
u) Jika ada obat topical sesuai indikasi, maka oleskan tipis
obat topical secara merata
v) Pasang kasa langsung pada tepi luka. Bila luka dalam,
basahi dengan NaCl 0,9% remas kasa secara perlahan
dengan menekuk luka sehingga seluruh permukaan luka
bersentuhan dengan kasa basah. Berikan kasa steril diatas
kasa basah
w) Pasang plester, verban atau pengikat
x) Rapikan peralatan
38
y) Lepaskan sarungtangan dan buang ke tempat sampah
z) Kembalikan pasien ke posisi yang nyaman, cuci tangan dan
catat yang telah dilakukan (Rumah Sakit Poea Kabupaten
Bombana, 2017)
3.
Standar Prosedur Operasional Perawatan Luka Diabetes Melitus
a.
Pengertian
Perawatan luka DM adalah melakukan tindakan perawatan
terhadap luka, menggati balutan dan membersihkan luka.
b. Tujuan
1) Mencegah infeksi
2) Membantu penyembuhan luka
c. Prosedur
1) Persiapan Alat :
a) Trolly
b) Tromol berisi kasa steril
c) 1 pasang sarung tangan bersih
d) 1 pasang sarung tangan steril
e) Pinset anatomi
f)
Pinset cirurgis
g) Hipafix
h) Gunting plester
i)
Gunting jaringan
j)
Perlak kecil
k) Cairan NaCl 0,9%
39
l)
Bengkok
m) Kom
n) Obat sesuai advis
2) Langkah-langkah :
a) Menjelaskan maksud dan tujuan tindakan pada pasien
b) Menjaga privasi pasien
c) Mengatur posisi pasien sehingga luka dapat terlihat dan
terjangkau oleh petugas
d) Tuangkan NaCl 0,9% kedalam kom
e) Memakai sarung tangan bersih
f)
Buka balutan luka
g) Observasi keadaan luka pasien, jenis luka, luas luka,
adanya pus atau tidak, kedalaman luka
h) Buang jaringan nekrotik menggunakan gunting jaringan
i)
Ganti sarung tangan bersih dengan sarung tangan sterl
j)
Lakukan perawatan luka dengan kasa yang sudah diberi
larutan NaCl 0,9%
k) Oleskan obat luka sesuai instruksi dokter
l)
Tutup luka dengan kasa
m) Kembalikan posisi pasien senyam mungkin
n) Rapikan alat
o) Catat yang telah dilakukan (Rumah Sakit Poea Kabupaten
Bombana, 2017)
40
F. Tinjauan Empris (Penelitian Sebelumnya)
1.
Edi Siswantoro (2015)
Penelitian ini mengenai “Efektifitas Perawatan Luka Diabetik
Metode Modern Dressing Menggunakan Madu Terhadap Proses
Penyembuhan Luka”. Metode penelitian pre-experimental dengan
rancangan one group pretest-posttest design. Hasil penelitian ini adalah
proses penyembuhan luka sebelum dilakukan perawatan luka metode
modern dressing menggunakan madu yang diukur dari tingkat gread luka
yaitu gread II (23,3%), gread III (46,7%), gread IV (30,0%). Dan proses
penyembuhan luka sesudah dilakukan perawatan luka metode modern
dressing menggunakan madu yang diukur dari tingkat gread luka yaitu
gread II (46,7%), gread III (36,7%), gread IV (16,7%). Uji Wilxocon
diketahui p= 0,001<0,05.
2.
Nurawaliah Rasyid (2018)
Penelitian ini mengenai “Study Literatur: Pengkajian Luka Kaki
Diabetes”. Studi literatur ini melalui penelusuran hasil publikasi ilmiah
dengan rentang tahun 2010-2018 dengan menggunakan database
Pubmed, Science Direct, Google Scholar dan Cochrane berdasarkan
teknik pencariaan PICOT. Berdasarkan hasil pencarian literatur dari 48
artikel yag didapatkan, terdapat 7 artikel yang memenuhi kriteria inklusi.
Penelitian-penelitian tersebut mengidentifikasi penilaian dan pengkajian
luka kaki diabetes. Pengkajian luka kaki diabetes dapat dilakukan dengan
menggunakan sistem klasifikasi. Menurut Karthikesalingam et al (2010)
terdapat beberapa sistem klasifikasi untuk menilai luka kaki diabetes dan
41
telah di uji validitasnya antara lain University of Texas (UT), SAD score,
Perfusion, Extent, Depth, Infection and Sensation (PEDIS), Depth, Extent
of bacterial colonization, Phase of healing and Associated aetiology
(DEPA), Diabetic Ulcer Severity Score (DUSS), MAID dan Site,
Ischemia, Neuropathy, Bacterial, Infection, and Depth (SINBAD).
3.
Himatusujanah (2008)
Penelitian
ini
mengenai
“Hubungan
Tingkat
Kepatuhan
Pelaksanaan Protap Perawatan Luka Dengan Kejadian Infeksi Luka Post
Sectio Caesarea (SC) Di Ruang Mawar I RSUD Dr. Moewardi
Surakarta”. Jenis penelitian menggunakan metode penelitian deskriptif.
Hasil uji Chi – Square didapatkan nilai p sebesar 0.001 < 0.05 sehingga
dapat dikatakan Ho ditolak. Sehingga dapat di simpulkan bahwa ada
hubungan
yang
bermakna
(signifikan)
antaratingkat
kepatuhan
pelaksanaan protap perawatan luka dengan kejadian infeksi luka post
sectio caesarea di Ruang Mawar I RSUD DR. Moewardi Surakarta
4.
Maria Septiyanti (2011)
Penelitian ini mengenai “Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan
Sikap Perawat Tentang Perawatan Luka Diabetes Menggunakan Teknik
Moist Wound Healing di Rumah Sakit Eka Hospital Pekanbaru”.
Penelitian adalah deskripsi korelasi, yaitu mengidentifikasi dan
menganalisa tingkat pengetahuan dengan sikap perawat tentang
perawatan luka diabetes menggunakan teknik moist wound healing di
rumah sakit Eka Hospital Pekanbaru. Berdasarkan hasil uji chi square
didapatkan data p value=0,033, ini bearti p value < α = 0,05 maka
42
terdapat hubungan pengetahuan dan sikap perawat tentang perawatan
luka diabetes menggunakan teknik moist wound healing, sehingga Ho
ditolak.
5.
Eka Fitria (2017)
Penelitian ini mengenai “Karakteristik Ulkus Diabetikum pada
Penderita Diabetes Mellitus di RSUD dr. Zainal Abidin dan RSUD
Meuraxa Banda Aceh”. Jenis penelitian adalah observasional dengan
desain potong lintang. Hasil penelitian didapatkan karakteristik ulkus
diabetikum kriteria Meggitt Wagner grade 1 didominasi oleh perempuan.
Karakteristik lainnya berturut-turut adalah jumlah ulkus hanya pada satu
tempat, lokasi di kaki, eksudat minimal, ulkus bertepi seperti tebing, kulit
di sekitar ulkus dengan inflamasi minimal berwarna merah muda, ulkus
tanpa nyeri dan tanpa maserasi. Penderita ulkus diabetikum hendaknya
selalu memperhatikan kebersihan, kesehatan kaki dan melakukan
perawatan luka.
6.
Anas Rahmad Hidayat (2014)
Jurnal ini menganai “Perawatan Kaki Pada Penderita Diabetes
Militus Di Rumah”. Ulkus kaki diabetes merupakan komplikasi yang
berkaitan dengan morbiditas akibat dari komplikasi mikro dan
makrovaskuler oleh karena diabetes. Ulkus kaki diabetes sering diawali
dengan cedera pada jaringan lunak kaki, pembentukan fisura antara jarijari kaki atau di daerah kulit yang kering, atau pembentukan sebuah
kalus. Cedera tidak dirasakan oleh pasien yang kepekaan kakinya sudah
menghilang dan bisa berupa cedera termal (misalnya, berjalan dengan
43
kaki telanjang di jalan yang panas, atau memeriksa air panas untuk mandi
dengan menggunakan kaki), cedera kimia (misalnya, membuat kaki
terbakar pada saat menggunakan preparat kaustik untuk menghilangkan
kalus, veruka atau bunion), atau cedera traumatik (misalnya, melukai
kulit ketika menggunting kuku kaki, menginjak benda asing dalam
sepatu, atau mengenakan kaus kaki yang tidak pas).
7.
Era Dorihi Kale (2014)
Penelitian ini mengenai “Analisis Risiko Luka Kaki Diabetik Pada
Penderita DM di Poliklinik DM dan Penyakit Dalam”. Penelitian ini
merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan studi deskriptif. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penderita DM memiliki resiko
rendah untuk mengalami resiko ulkus kaki diabetik, namun ada yang beresiko
sedang bahkan beresiko tinggi. Oleh karena itu pendidikan kesehatan tentang
perawatan kaki perlu tetap diberikan dan ditingkatkan sehingga pencegahan
terjadinya luka kaki diabetik menjadi lebih optimal. Selain itu pemberian
informasi dari perawat tentang pentingnya screening kaki setiap tahun bagi yang
beresiko rendah, sedangkan yang beresiko sedang direkomendasikan untuk
screening setiap 6 bulan dan yang beresiko tinggi direkomendasikan untuk
screening setiap 3 bulan..
8.
Hermin (2012)
Penelitian ini mengenai “Analisis Teknik Perawatan Luka Pada
Penderita Diabetes Melitus di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo
Makassar”. Jenis penelitian Deskriktif dengan menggunakan rancangan
cross sectional study. Hasil penelitian ini menunjukan dari 30 responden
terdapat 63,3% meenggunakan peralatan yang lengkap dan 36,7% tidak
44
menggunakan peralatan yang lengkap. Terdapat 73,3% responden yang
melakukan sesuai prosedur perawatan dan 26,7% tidak sesuai prosedur
perawatan. Serta terdapat 56,7% yang melakukan prinsip keperawatan
dengan steril dan 43,3% yang tidak melakukan prinsip perawatan dengan
tidak steril.
9.
Imam Munandar (2018)
Penelitian ini mengenai “Hubungan Kepatuhan Perawat Dalam
Pelaksanaan Standar Operasional Prosedur Perawatan Luka Operasi
dengan Kejadian Infeksi Luka Operasi Sectio Caesaria di Ruang X
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi.” Desain penelitian yang digunakan
adalah penelitian korelasional, dengan Metode penelitian kuantitaif. Hasil
penelitian di dapatkan bahwa tingkat kepatuhan responden sebagian
besar patuh (72%) dan tidak terjadi infeksi (67%). Hasil tabulasi silang
diperoleh nilai (p=0.000) yang berarti bahwa Ada hubungan kepatuhan
perawat dalam pelaksanaan standar operasional prosedur perawatan luka
operasi dengan kejadian infeksi luka operasi section caesaria di ruang X
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi.
10. Miftakhul Ulum M (2012)
Penelitian ini mengenai “Hubungan Perawatan Kaki Pasien
Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Kejadian Ulkus Diabetik di RSUD Dr.
Moewardi”. Jenis penelitian adalah analitik cross sectional, yang
dilaksanakan pada sampel menggunakan Convenience sampling pada
pasien DM tipe 2 dengan ulkus diabetik maupun tanpa ulkus yang
melakukan perawatan di bagian Penyakit Dalam RSUD Dr. Moewardi.
45
Hasil penelitian adalah pasien ulkus memiliki nilai median 5
dengan nilai minimum 3 dan maksimum 10 serta rerata 5,33±1,617.
Pasien tidak ulkus memiliki nilai median 7 dengan nilai minimum 4 dan
maksimum 11 serta rerata 6,93±1,817. Hasil uji statistik menggunakan
uji T Tidak Berpasangan didapatkan hasil nilai probabilitasnya (p )=
0,001. Hasil uji kolerasi dengan uji Spearman, diperoleh r = 0,441.
Download