BAB II - Elib Unikom

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hubungan Internasional
Hubungan internasional merupakan disiplin ilmu yang mencakup suatu
hubungan atau interaksi baik dalam hubungan antar negara dengan pemerintah
maupun antar organisasi, dan hubungan antar negara dengan pemerintah maupun
antarorganisasi dan hubungan antar orang perorangan sebagai salah satu bagian
dari masyarakat internasional. Definisi hubungan internasional menurut Holsti
adalah sebagai berikut:
“Hubungan internasional akan berkaitan erat dengan segala bentuk
interaksi di antara masyarakat negara-negara, baik yang dilakukan
oleh pemerintah atau warga negara. Pengkajian hubungan
internasional, termasuk di dalamnya pengkajian terhadap politik luar
negeri atau politik internasional, dan meliputi segala segi hubungan
di antara berbagai negara di dunia meliputi kajian terhadap lembaga
perdagangan internasional, Palang Merah Internasional, pariwisata,
perdagangan
internasional,
transformasi
komunikasi
dan
perkembangan nilai-nilai dan etika internasional”.
Pada dasarnya hubungan internasional lebih mencakup pada segala macam
hubungan antar bangsa dalam masyarakat dunia, dengan kekuatan-kekuatan pada
proses-proses yang menentukan cara hidup, cara bertindak, dan cara berpikir
manusia sebagai unit politik internasional. Definisi Clelland tentang hubungan
internasional adalah:
“Hubungan internasional merupakan studi tentang interaksi antara
jenis-jenis kesatuan-kesatuan sosial tertentu, termasuk studi tentang
keadaan relevan yang mengelilingi interaksi. Hubungan
internasional akan berkaitan dengan segala bentuk interaksi antara
masyarakat negara-negara, baik yang dilakukan oleh pemerintah atau
pun warga negara” (Perwita dan Yani, 2005:4).
26
27
Hubungan internasional sebagai studi tentang interaksi antar beberapa
aktor yang berpartisipasi dalam politik internasional, yang meliputi negara-negara,
organisasi internasional, organisasi non-pemerintah, kesatuan sub-nasional seperti
birokrasi dan pemerintah domestik serta individu-individu. Tujuan dasar studi
hubungan internasional adalah mempelajari perilaku internasional, yaitu perilaku
para aktor negara maupun non-negara, di dalam arena transaksi internasional.
Perilaku ini bisa berwujud kerjasama, pembentukan aliansi, perang konflik, serta
interaksi dalam organisasi internasional (Perwita dan Yani, 2005:4).
Hubungan internasional secara terminologis menyangkut segala macam
bentuk hubungan yang melintasi batas-batas negara, baik hubungan yang
dilakukan oleh aktor negara dengan aktor negara, aktor negara dengan aktor nonnegara, maupun aktor non-negara dengan aktor non-negara lainnya. Sehingga
dalam pengertian yang luas, hubungan internasional merupakan interaksi yang
terjadi antara aktor-aktor, baik negara maupun non-negara, dimana tindakantindakan aktor tersebut beserta kondisi yang melingkupinya, memberikan
konsekuensi pada aktor-aktor lain yang berada di luar batas teritorialnya (Chan,
1984:5).
Jika dibandingkan dengan cabang-cabang ilmu sosial lainnya, disiplin
hubungan internasional merupakan disiplin yang paling muda. Usia yang relatif
muda membuat hubungan internasional tergantung pada disiplin ilmu lain (ilmu
politik, ekonomi, sosiologi, hukum dan filsafat) dalam hal pengembangan
metodologi penelitian, tingkat generalisasi konsep dan/ atau teori, dan
kemampuan memprediksi perilaku subyek rujukan (referent object). Namun
28
demikian, dari sisi dinamika perkembangan (terutama yang menyangkut rujukan,
isu, maupun aktornya), HI termasuk sebuah disiplin yang paling cepat mengalami
perkembangan. Dari sisi rujukan, jika pada awalnya sekitar akhir abad ke-19,
disiplin HI hanya memfokuskan pada aktor negara saja, maka dalam
perkembangan selanjutnya HI tidak dapat mengesampingkan peran penting aktoraktor non-negara (perusahaan multinasional, organisasi non-pemerintah, gerakan
sosial, dan bahkan individu).
Dari sisi isu, jika pada awal kemunculannya pada akhir abad ke-19 disiplin
HI lebih memfokuskan pada isu di seputar masalah peperangan dan perdamaian
(war and peace), maka pada perkembangan selanjutnya HI mulai merambah ke
persoalan yang menyangkut kerjasama ekonomi antar-negara, untuk memerangi
kemiskinan global, memahami ketimpangan hubungan antara kelompok negara
kaya dengan negara miskin, upaya memahami dan memerangi kriminalitas antar
negara (transnational crime), upaya untuk mengatasi konflik dan separatisme, dan
sebagainya. Kombinasi antara faktor perubahan struktur politik global, teknologi,
dan globalisasi telah mengubah secara substansial karakter masalah keamanan dan
ekonomi global. Makin merebaknya konflik internal (separatisme, konflik etniskeagamaan, dan lain-lain) yang melibatkan kelompok militan, ekstrimis,
chauvinis, mafia dan sebagainya telah membuat masalah peperangan dan
perdamaian tidak lagi didominasi oleh negara.
Isu baru dalam HI merupakan topik yang dianggap penting. Oleh karena
itu, proposisi isu baru mencakup nilai dan juga teori. Nilai-nilai muncul dalam
gambaran sebab keputusan tentang apa yang penting dan apa yang tidak selalu
29
berdasarkan pada nilai-nilai tertentu. Teori muncul disebabkan karena dalam
menyatakan dukungan atas isu baru harus berdasarkan pada sebagian pemikiran
teoritis bahwa isu itu penting bagi studi HI. Karena alasan ini pernyataan
mengenai “isu-isu baru” seringkali melibatkan pendekatan-pendekatan baru HI
(Jackson dan Sorensen, 2005:322).
Dari sisi aktor, karena membahas isu yang berkaitan dengan peperangan
dan perdamaian, maka pada awalnya (dan bahkan hingga saat ini) disiplin HI
sesungguhnya lebih menitikberatkan pada “negara” (state) sebagai subjek
rujukannya. Jika seorang pakar HI berbicara mengenai perilaku, kepentingan,
pembuatan keputusan, dan sebagainya, maka semuanya itu mengarah kepada
negara. Bagi para pakar HI negara adalah “pemegang kekerasan yang dominan”
(legitimate violence dominator) yang dapat menggunakan kekerasan secara absah
(legitimate) karena berhak mengerahkan kekuatan militer, kepolisian dan
kehakiman untuk menegakkan keamanan, ketertiban, dan hukum. Negara adalah
juga merupakan “pemilik modal yang berdaulat” (sovereign entrepreneur) karena
negara berdaulat atas wilayah tertentu termasuk berhak untuk mengelola segala
macam asset kekayaan alam dan mineral yang ada di wilayah tersebut. Dengan
demikian, negara memegang monopoli anggaran belanja yang meliputi hampir
seluruh bidang kehidupan manusia: kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial,
budaya, seni, dan sebagainya. Keistimewaan yang dimiliki oleh negara tersebut
cukup untuk menundukkan negara sebagai aktor dominan dalam HI, setidaktidaknya menurut keyakinan kaum Realis.
30
Namun
demikian,
proses
delegitimasi
dominasi
negara
dalam
menggunakan kekerasan dan erosi monopoli negara sebagai pemilik modal (yang
digantikan oleh perusahaan transnasional) tampak makin menggeser negara
sebagai aktor dominan dalam HI. Hal ini yang menyadarkan beberapa pakar HI
seperti Richard Mansbach, James Rosenau, John Burton, Robert Keohane dan
Joseph
Nye,
yang
kemudian
dikenal
sebagai
kaum
pluralis,
untuk
memperhitungkan aktor-aktor lain di luar negara sebagai “pemain penting” di
dalam hubungan tingkat dunia (Hermawan, 2007:2-3).
2.2 Politik Luar Negeri
Terdapat beberapa dimensi kebijakan yang dikeluarkan oleh pembuat
keputusan, yaitu stage dan dynamics. Dalam dimensi stage, keputusan dibagi
menjadi dua tipe, yaitu basic (dasar) dan sequential (bertahap). Keputusan atau
kebijakan yang dihasilkan dapat saja mengalami perubahan akibat respon terhadap
lingkungan yang mempengaruhi para pembuat kebijakan (Lentner, 1974:173).
Keputusan atau kebijakan dalam hal politik luar negeri merupakan action theory
dari kebijakan suatu negara yang ditujukan kepada negara lain untuk mencapai
kepentingan tertentu.
Politik luar negeri merupakan suatu sistem tindakan-tindakan dari
suatu pemerintah terhadap pemerintah lainnya. Politik luar negeri
adalah sekumpulan kebijakan yang berperan dan berpengaruh,
dalam hubungan suatu negara (pemerintah) dengan negara
(pemerintah) lainnya, dengan mempertimbangkan juga tanggapan
(respon terhadap kejadian dan masalah di lingkungan dunia
internasional). Dengan kata lain politik luar negeri merupakan
sintesa dari pengejawantahan tujuan dan kemampuan (kapabilitas)
nasional (Columbis, 1990:89-90).
31
Langkah-langkah dalam proses pembuatan kebijakan luar negeri
mencakup:
1. Menjabarkan pertimbangan kepentingan nasional ke dalam bentuk tujuan
dan sasaran yang spesifik.
2. Menetapkan faktor situasional di lingkungan domestik dan internasional
yang berkaitan dengan tujuan kebijakan luar negeri.
3. Menganalisis
kapabilitas
nasional
untuk
menjangkau
hasil
yang
dikehendaki.
4. Mengembangkan perencanaan atau strategi untuk memaksa kapabilitas
nasional dalam menanggulangi variabel tertentu sehingga mencapai tujuan
yang telah ditetapkan.
5. Melaksanakan tindakan yang diperlukan.
6. Secara periodik meninjau dan melakukan evaluasi perkembangan yang
telah berlangsung dalam menjangkau tujuan atau hasil yang dikehendaki
(Plano dan Olson, 1999:5).
Menurut Hans Morgenthau seperti yang dikutip oleh Supri Yusuf dalam
bukunya, Hubungan Internasional dan Politik Luar Negeri: Sebuah Analisis
Teoritis dan Uraian Tentang Pelaksaannya, terdapat delapan faktor yang
mempengaruhi politik luar negeri sebagai unsur kekuatan nasional, yaitu: (1)
Geografi,
(2)
Sumber-sumber
nasional,
(3)
Kemampuan
industri,
(4)
Kesiapsiagaan militer, (5) Penduduk, (6) Watak nasional, (7) Moral nasional, (8)
Kualitas diplomasi. Faktor geografi merupakan faktor terbanyak
dihubungkan dengan politik luar negeri.
yang
32
Sumber-sumber utama yang menjadi input dalam perumusan kebijakan
luar negeri yaitu:
1. Sumber sistematik (systematic sources), merupakan sumber yang berasal
dari lingkungan eksternal suatu negara. Sumber ini menjelaskan struktur
hubungan antara negara-negara besar, pola-pola aliansi yang terbentuk
negara-negara dan faktor situasional eksternal yang dapat berupa isu area
atau krisis. Yang dimaksud dengan struktur hubungan antara negara besar
adalah jumlah negara besar yang ikut andil dalam struktur hubungan
internasional dan bagaimana pembagian kapabilitas diantara mereka.
Sementara faktor situasional eksternal merupakan stimulant tiba-tiba yang
berasal dari situasi internasional yang terakhir.
2. Sumber masyarakat (societal sources), merupakan sumber yang berasal
dari lingkungan internal. Sumber ini mencakup faktor kebudayaan dan
sejarah, pembangunan ekonomi, struktur sosial dan perubahan opini
publik. Kebudayaan dan sejarah mencakup nilai, norma, tradisi dan
pengalaman masa lalu yang mendasari hubungan antar anggota
masyarakat. Pembangunan ekonomi mencakup kemampuan suatu negara
untuk mencapai kesejahteraan sendiri. Hal ini dapat mendasari
kepentingan negara tersebut untuk berhubungan dengan negara lain.
Struktur sosial mencakup sumberdaya manusia yang dimiliki suatu negara
atau seberapa besar konfik dan harmoni internal dalam masyarakat. Opini
publik juga dapat menjadi faktor dimana penstudi dapat melihat perubahan
sentimen masyarakat terhadap dunia luar.
33
3. Sumber pemerintahan (governmental sources), merupakan sumber internal
yang menjelaskan tentang pertanggungjawaban politik dan struktur dalam
pemerintahan. Pertanggungjawaban politik seperti pemilihan umum,
kompetisi partai dan tingkat kemampuan di mana pembuat keputusan
dapat secara fleksibel merespon situasi eksternal. Sementara dari struktur
kepemimpinan dari berbagai kelompok dan individu yang terdapat dalam
pemerintahan.
4. Sumber idiosinkratik (idiosyncratic sources), merupakan sumber internal
yang melihat nilai-nilai pengalaman, bakat serta kepribadian elit politik
yang mempengaruhi persepsi, kalkulasi dan perilaku mereka terhadap
kebijakan luar negeri. Di sini tercakup juga persepsi seorang elit politik
tentang keadaan alamiah dari arena internasional dan tujuan nasional yang
hendak dicapai (Perwita dan Yani, 2005:57-58).
Kebijakan luar negeri adalah upaya suatu negara melalui keseluruhan
sikap dan aktivitasnya untuk mengatasi dan memperoleh keuntungan dari
lingkungan eksternalnya (Rosenau, 1976:27). Rosenau menambahkan bahwa
kebijakan luar negeri bertujuan untuk memelihara dan mempertahankan
kelangsungan hidup suatu negara (Rosenau, 1976:32).
Kebijakan luar negeri memiliki tiga konsep untuk menjelaskan hubungan
suatu negara dengan kejadian dan situasi di luar negaranya, yaitu:
1. Kebijakan luar negeri sebagai sekumpulan orientasi (as a cluster of
orientation). Politik luar negeri sebagai sekumpulan orientasi
merupakan pedoman bagi para pembuat keputusan untuk menghadapi
34
kondisi-kondisi eksternal yang menuntut pembuatan keputusan dan
tindakan berdasarkan orientasi, yang terdiri dari sikap, persepsi, dan
nilai-nilai yang dijabarkan dari pengalaman sejarah dan keadaan
strategis yang menentukan posisi negara dalam politik internasional.
2. Politik luar negeri sebagai seperangkat komitmen dan rencana untuk
bertindak (as a set of commitments to plan for action). Dalam hal ini
kebijakan luar negeri berupa rencana dan komitmen konkrit yang
dikembangkan oleh para pembuat keputusan untuk membina dan
mempertahankan situasi lingkungan eksternal yang konsisten dengan
orientasi kebijakan luar negeri. Rencana tindakan ini termasuk tujuan
yang spesifik serta alat atau cara untuk mencapainya yang dianggap
cukup memadai untuk menjawab peluang dan tantangan dari luar
negeri. Rencana tindakan ini merupakan terjemahan dari orientasi
umum dan reaksi terhadap keadaan yang konkret (immediate context).
Dalam fase ini rencana tindakan politik luar negeri akan memberikan
pedoman bagi: (1) Tindakan yang ditujukan pada situsi yang
berlangsung lama, (2) Tindakan yang ditujukan kepada negara-negara
tertentu, (3) Tindakan yang ditujukan pada isu-isu khusus, dan (4)
Tindakan yang ditujukan pada berbagai sasaran lainnya. Politik luar
negeri pada fase ini lebih mudah di amati daripada orientasi umum
karena biasanya diartikulasikan dalam pernyataan-pernyataan formal
dalam konferensi pers atau dalam komunitas diplomatik.
35
3. Kebijakan luar negeri sebagai bentuk perilaku atau aksi (as a form of
behaviour). Pada tingkat ini kebijakan luar negeri berada dalam tingkat
yang lebih empiris, yaitu berupa langkah-langkah nyata yang diambil
oleh para pembuat keputusan yang berhubungan dengan kejadian serta
situasi di lingkungan eksternal. Langkah-langkah tersebut dilakukan
berdasarkan orientasi umum yang dianut serta dikembangkan
berdasarkan komitmen dan sasaran yang lebih spesifik (Perwita dan
Yani, 2005:53-55).
Ditinjau dari sifatnya, tujuan politik luar negeri dapat bersifat konkret dan
abstrak. Sedangkan dilihat dari waktunya, tujuan politik luar negeri dapat bertahan
lama dalam suatu periode waktu tertentu dan dapat pula bersifat sementara,
berubah sesuai dengan kondisi waktu tertentu. Menurut Holsti, sebagaimana yang
dikutip oleh Perwita dan Yani dalam bukunya Pengantar Ilmu Hubungan
Internasional, memberikan tiga kriteria untuk mengklasifikasikan tujuan-tujuan
politik luar negeri suatu negara, yaitu:
1. Nilai (values) yang menjadi tujuan dari para pembuat keputusan.
2. Jangka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tujuan yang
ditetapkan. Dengan kata lain ada tujuan jangka pendek (short term),
jangka menengah (middle term), dan jangka panjang (long term).
3. Tipe tuntutan yang diajukan suatu negara kepada negara lain (Perwita
dan Yani, 2005:51).
Setiap
strategi atau rencana tindakan yang dibuat oleh para pembuat
keputusan negara didalam menghadapi negara lain atau unit politik internasional
36
lainnya, dikendalikan untuk mencapai tujuan nasional yang dituangkan dalam
terminologi kepentingan nasional.
Menurut Plano dan Olton (1999:5-6), tujuan nasional yang hendak
dijangkau melalui kebijakan luar negeri merupakan formulasi konkret dan
dirancang dengan mengaitkan kepentingan nasional terhadap situasi internasional
yang sedang dirancang, dipilih dan ditetapkan oleh pembuat keputusan dan
dikendalikan untuk mengubah kebijakan (revisionist policy) atau untuk
mempertahankan kebijakan (status quo policy) ihwal kenegaraan tertentu
dilingkungan eksternal.
Konsep kepentingan nasional sendiri merupakan dasar untuk menjelaskan
perilaku luar negeri suatu negara. Kepentingan nasional juga dapat dijelaskan
sebagai tujuan fundamental dan faktor penentu akhir yang mengarahkan para
pembuat keputusan suatu negara dalam merumuskan kebijakan luar negerinya.
Kepentingan nasional suatu negara secara khas merupakan unsur-unsur yang
membentuk kebutuhan negara yang paling vital, seperti pertahanan, keamanan,
militer dan kesejahteraan ekonomi (Plano dan Olton, 1999:11).
Para penganut realis menyamakan kepentingan nasional sebagai upaya
negara untuk mengejar power, dimana power adalah segala sesuatu yang dapat
mengembangkan dan memelihara kontrol suatu negara terhadap negara lain.
Hubungan kekuasaan atau pengendalian ini dapat melalui teknik pemaksaan atau
kerjasama. Karena itu kekuasaan dan kepentingan nasional dianggap sebagai
sarana dan sekaligus tujuan dari tindakan suatu negara untuk bertahan hidup
(survival) dalam politik internasional (Perwita dan Yani, 2005:35).
37
2.3 Ekonomi Makro
Teori ekonomi makro memang harus dibedakan dengan teori ekonomi
mikro. Teori ekonomi makro adalah berkenaan dengan kegiatan-kegiatan ekonomi
sebagai keseluruhan yaitu keseluruhan dimensi daripada kehidupan ekonomi.
Lebih tegas lagi dapat dikatakan bahwa teori ekonomi makro adalah berkenaan
dengan variabel-variabel seperti volume total dari pada output suatu
perekonomian, tingkat dan luas penggunaan sumber-sumber ekonomi, besarnya
pendapatan nasional. Sementara teori ekonomi mikro lebih menitikberatkan
persolan-persoalan seperti tingkat harga yang beredar dimasyarakat, kesehatan
dunia usaha dalam perusahaan dan lain-lain.
Variabel terpenting dalam analisa ekonomi makro adalah pendapatan
nasional karena pendapatan nasional adalah cara untuk mengukur kemakmuran
suatu bangsa. Pendapatan nasional suatu negara sendiri dapat didefinsikan sebagai
total jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara- Produk Nasional
Bruto, Gross Domestic Product (GDP) dikurangi penyusutan dari peralatan
produksi. Jadi dalam hal ini pendapatan nasional sangatlah ditentukan oleh
besarnya GDP suatu negara. Sementara GDP sendiri dipengaruhi oleh:
1. Produksi
Produksi yang dimaksud disini adalah produksi barang dan jasa yang
dihasilkan baik oleh industri maupun rumah tangga konsumen, jumlah totalnya
kemudian yang akan dihitung untuk pembentukkan GDP.
38
2. Konsumsi
Konsumsi dapat berupa pengeluaran dari rumah tangga konsumen untuk
membeli barang dan jasa dan juga konsumsi dari pemerintah untuk membeli
barang dari luar negeri (impor).
3. Tabungan/Investasi
Tabungan sangat menentukan cadangan keuangan suatu negara tabungan
di sini dapat dimaksudkan yaitu tabungan dari setiap rumah tangga konsumen dan
tabungan/investasi pemerintah (cadangan dana yang dimilki pemerintah) (Ackley,
1961: 4-15).
Dahulu ilmu ekonomi dipelajari dalam satu paket, mencakup aspek mikro
dan makro. Tetapi karena materi yang akan diajarakan semakin berkembang,
dirasa perlu memisahkan pembahasan “ekonomi mikro” dengan “ekonomi
makro”. Jika ditelusuri asal-usulnya, kata-kata “mikro” dan “makro” – seperti
halnya kata “ekonomi” – juga berasal dari bahasa Yunani. Mikro berarti unit-unit
yang lebih kecil, sedang makro berarti unit yang lebih besar, atau menyeluruh dan
agregatif sifatnya.
Perbedaan utama antara pembahasan secara mikro dengan pembahasan
secara makro ialah bahwa pembahasan mikro dilakukan pada tingkat individu atau
perorangan, sedang pembahasan makro dilakukan secara menyeluruh, agregatif.
Titik berat pembahasan dalam dalam Ekonomi Makro adalah pendapatan nasional
berikut variabel-variabel yang mempengaruhinya seperti konsumsi, tabungan,
investasi, pengeluaran pemerintah, ekspor, impor dan sebagainya.
39
Pakar ekonomi dari Indonesia, misalnya Ace Partadiredja, dalam bukunya:
Perhitungan Pendapatan Nasional (1983) mengidentikkan Ekonomi Makro
dengan “Analisis Pendapatan Nasional”, yang disebutkan sebagai ilmu yang
mempelajari tingkah laku perekonomian secara keseluruhan, yang mempelajari
faktor-faktor yang menentukan tinggi rendahnya pendapatan nasional, ayunan
(fluktuasi) pendapatan nasional dari tahun ke tahun, dan saling ketergantungan
antara berbagai sektor dan sub-subsektor dalam perekonomian.
Banyak pihak ingin mengetahui apakah perekonomian suatu negara atau
kawasan tumbuh dan berkembang dengan baik, atau justru mengalami kemacetan
atau kemunduran. Untuk itu perlu diukur laju pertumbuhan ekonomi negara yang
bersangkutan. Pertumbuhan ekonomi suatu negara bisa dilihat dengan cara
melihat laju pertumbuhan pertahun. Untuk menghitung laju pertumbuhan ekonomi
dengan cara melihat laju petumbuhan pertahun, bisa digunakan formula sebagai
berikut:
G = PDB1-PDB0 x 100 persen
PNB0
Di mana:
G
PDB1
PDB0
PNB0
: Laju Pertumbuhan (rate of growth);
: Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun tertentu;
: Produk Domestik Bruto pada tahun sebelumnya; dan
: Produk Nasional Bruto (PNB) pada tahun sebelumnya.
Untuk mendapatkan gambaran lebih konkret dapat dilihat dari contoh
berikut. PDB suatu negara pada tahun 2001(tahun dasar) adalah sebesar 115, 447
miliar dollar, dan PDB tahun 2002 adalah sebesar 122, 705 miliar dollar. Dengan
demikian laju pertumbuhan ekonomi negara tersebut tahun 2001-2002 adalah:
40
G = 122, 705 -115, 447
115, 447
x 100 persen
= 6,3 persen (Deliarnov, 1995: 8-55).
2.4 Perjanjian Internasional
Sebelum tahun 1969 hukum perjanjian internasional terdiri dari kaidahkaidah hukum kebiasaan internasional. Kaidah-kaidah ini untuk sebagian besar
telah dikodifikasikan dan disusun kembali dalam Konvensi Wina tentang Hukum
Perjanjian Internasional (Vienna Convention on the Law of Treaties), yang
dibentuk pada tanggal 23 Mei 1969 dan mulai berlaku pada tanggal 27 Januari
1980 menyusul masuknya 35 ratifikasi atau aksesi sebagaimana disyaratkan oleh
Pasal 84 Konvensi.
Sesuai dengan definisi yang dipakai dalam Pasal 2 Konvensi, sebuah
perjanjian internasional dapat didefinisikan sebagai:
Suatu perjanjian dimana dua negara atau lebih mengadakan
hubungan antara mereka yang diatur oleh hukum internasional.
Memang istilah traktat dapat dianggap sebagai nama umum dalam
hukum internasional dan dapat mencakup perjanjian antara
organisasi-organisasi internasional disatu pihak dan sebuah negara di
pihak lain meskipun harus diingat bahwa ketentuan-ketentuan
Konvensi Wina tidak berlaku terhadap instrumen lain tersebut,
melainkan menunjuk pada perjanjian antara negara-negara yang
dibuat dalam bentuk tertulis. Di lingkungan internasional, perjanjian
itulah yang digunakan untuk hampir setiap jenis perbuatan hukum
atau transaksi, mulai dari persetujuan yang sifatnya bilateral sematamata antara negara-negara sampai suatu perjanjian yang paling
pokok seperti instrumen konstitusi multilateral sebuah organisasi
internasional. Hampir dalam semua kasus, tujuan sebuah perjanjian
internasional adalah untuk membebankan kewajiban-kewajiban yang
mengikat terhadap negara-negara pesertanya
.
Tahap-tahap dalam pembuatan perjanjian internasional adalah:
1. Perundingan (negotiation).
41
Kebutuhan
negara
akan
hubungan
dengan
negara
lain
untuk
membicarakan dan memecahkan berbagai masalah yang timbul diantara negaranegara itu akan menimbulkan kehendak negara-negara untuk mengadakan
perundingan, yang melahirkan suatu treaty.
2. Penandatanganan (signature).
Setelah berakhirnya perundingan tersebut, maka pada teks treaty yang
telah disetujui itu oleh wakil-wakil berkuasa penuh dibubuhkan tandatangan di
bawah treaty. Akibat penandatanganan suatu treaty tergantung pada ada-tidaknya
ratifikasi treaty itu, apabila traktat harus diratifikasi maka penandatanganan hanya
berarti bahwa utusan-utusan telah menyetujui teks dan bersedia menerimanya.
3. Ratifikasi (ratification).
Ratifikasi yaitu pengesahan atau penguatan terhadap perjanjian yang telah
ditandatangani.
Ada tiga sistem menurut mana ratifikasi didakan yaitu:

Ratifikasi semata-mata dilakukan oleh badan eksekutif

Ratifikasi dilakukan oleh badan perwakilan (legislatif)

Sistem dimana ratifikasi perjanjian dilakukan bersama-sama oleh badan
legislatif dan eksekutif.
Bentuk-bentuk perjanjian internasional adalah:
1. Traktat (Treaty)
Dalam arti sempit adalah perjanjian internasional yang sering dipakai
dalam persoalan-persoalan politik, ekonomi, treaty dalam arti luas merupakan alat
yang paling formal, yang dipakai untuk mencatat perjanjian antar negara yang
42
ketentuan-ketentuannya bersifat menyeluruh. Tujuan dari traktat atau treaty
adalah untuk meletakan kewajiban-kewajiban yang mengikat bagi negara-negara
peserta, baik secara bilateral maupun multilateral.
2. Konvensi
Istilah konvensi biasanya dipakai untuk dokumen yang resmi dan bersifat
multilateral. Juga mencakup dokumen-dokumen yang dipakai oleh aparat-aparat
lembaga internasional.
3. Protokol
Protokol merupakan suatu persetujuan yang sifatnya kurang resmi
dibandingkan treaty atau konvensi dan pada umumnya tidak dibuat oleh kepalakepala negara. Istilah ini meliputi hal:

Sebagai tambahan pada konvensi, dan dibuat oleh para perunding itu juga.
Terkadang disebut protokol penandatanganan, misalnya protokol yang
mengatur hal-hal tambahan seperti penafsiran klausul-klausul tertentu dari
konvensi, ketentuan tambahan yang sifatnya kurang penting, klausulklausul resmi yang tidak dimasukkan dalam konvensi atau pembatasan
oleh beberapa negara penandatangan.

Sebagai alat tambahan bagi konvensi, tetapi sifat dan operasinya bebas dan
tidak perlu diratifikasi, misalnya Protokol Den Haag 1930 tentang
ketakbernegaraan yang ditandatangani pada waktu yang sama dengan
Konvensi Den Haag 1930 mengenai konflik hukum kewarganegaraan.

Traktat yang sama sekali berdiri sendiri.

Sebagai catatan mengenai pemufakatan, lebih sering disebut proses verbal.
43
4. Persetujuan
Persetujuan (agreement) sifatnya kurang resmi dibanding traktat dan
konvensi, dan umumnya tidak dilakukan oleh kepala-kepala negara. Biasanya
bentuk ini dipakai untuk persetujuan-persetujuan yang ruang lingkupnya lebih
sempit dan pihak-pihak yang terlibat lebih sedikit dibanding
ini juga hanya
digunakan untuk persetujuan-persetujuan yang sifatnya teknis dan administratif.
Pada umumnya agreement tidak memerlukan ratifikasi dan berlaku sesudah
dilakukan exchange of notes.
5. Arrangement
Bentuk ini kurang lebih sama dengan agreement. Umumnya lebih banyak
dipakai untuk transaksi-transaksi yang sifatnya mengatur dan temporer.
6. Proses Verbal
Istilah ini pada mulanya berarti rangkuman dari jalannya serta kesimpulan
dari suatu konferensi diplomatik, tetapi dewasa ini juga untuk catatan-catatan
istilah dari suatu persetujuan yang dicapai oleh para peserta. Istilah ini juga
dipakai untuk mencatat suatu pertukaran atau himpunan ratifikasi atau untuk
suatu persetujuan administratif yang sifatnya kurang penting atau untuk membuat
perubahan kecil dalam konvensi.
7. Statuta
Himpunan peraturan-peraturan penting mengenai pelaksanaan fungsi
lembaga internasional, misalnya Statuta Mahkamah Internasional tahun 1945.
44
Himpunan peraturan-peraturan yang dibentuk berdasarkan persetujuan
internasional mengenai pelaksanaan fungsi-fungsi dari suatu entitas khusus
dibawah pengawasan internasional, misalnya Statuta Sanjak Alexandra 1973.
Sebagai alat tambahan pada konvensi yang menetapkan peraturanperaturan yang akan diterapkan, misalnya Statuta tentang kebebasan transit yang
dilampirkan pada konvensi mengenai Kebebasan Transit, Barcelona, 1921.
8. Deklarasi
Istilah ini dapat berarti:

Traktat yang sebenarnya, misalnya Deklarasi Paris 1856

Dokumen yang tak resmi yang dilampirkan pada suatu traktat atau konvensi
yang memberi penafsiran atau menjelaskan ketentuan-ketentuan traktat atau
konvensi

Persetujuan tak resmi mengenai hal-hal yang kurang penting

Resolusi atau konferensi diplomatik yang mengungkapkan suatu prinsip atau
asas atau desideratum untuk ditaati oleh semua negara, misalnya deklarasi
tentang larangan paksaan militer, politik atau ekonomi dalam penutupan
traktat yang diterima oleh Konferensi Wina 1968-1969 mengenai Hukum
Traktat.
9. Modus Vivendi
Modus Vivendi adalah suatu dokumen untuk mencatat persetujuan
internasional yang bersifat temporer atau provisional yang dimaksudkan untuk
diganti dengan arrangement yang sifatnya lebih permanen dan terinci. Biasanya
Modus Vivendi dibuat secara sangat tidak resmi dan tidak memerlukan ratifikasi.
45
10. Pertukaran Nota atau Surat
Pertukaran Nota atau Surat merupakan suatu metode tak resmi yang
seringkali digunakan pada tahun-tahun terakhir ini. Dengan pertukaran nota ini
negara-negara mengakui suatu pengertian bersama atau mengakui kewajibankewajiban tertentu yang mengikat mereka. Adakalanya pertukaran nota dilakukan
melalui perwakilan-perwakilan diplomatik atau militer negara yang bersangkutan.
Ratifikasi biasanya tidak perlu, tetapi akan menjadi perlu jika hal ini sesuai
dengan niat para pihak.
11. Ketentuan Penutup (Final Act)
Ketentuan Penutup adalah suatu dokumen yang mencatat laporan akhir
suatu konferensi yang mengadakan suatu konvensi. Ketentuan penutup juga
merangkum istilah-istilah rujukan dalam suatu konferensi, dan menyebutkan satu
persatu negara atau kepala negara yang hadir, delegasi-delegasi yang turut serta
dalam konferensi, dan dokumen-dokumen yang diterima oleh konferensi. Final
Act juga memuat resolusi, deklarasi dan rekomendasi yang diterima konferensi
yang tak dicantumkan sebagai ketentuan-ketentuan konvensi. Ketentuan penutup
ditandatangani tetapi tidak diratifikasi.
12. Ketentuan Umum
Ketentuan Umum (General Act) sebenarnya adalah traktat, tetapi dapat
bersifat resmi atau tidak resmi.
Traktat atau perjanjian internasional dapat diakhiri oleh: (1) hukum;
dan (2) tindakan-tindakan negara peserta.
1. Berakhirnya perjanjian karena hukum
46

Hilangnya salah satu peserta pada sebuah perjanjian bilateral
atau keseluruhan pokok persoalan dari suatu perjanjian dapat
membubarkan instrumen tersebut.

Perjanjian dapat berakhir bagi berlakunya karena pecahnya
perang antara para peserta.

Suatu pelanggaran materi dari sebuah perjanjian bilateral oleh
salah satu peserta akan memberikan hak kepada peserta lain
untuk mengakhiri perjanjian, sedangkan suatu pelanggaran
materil atas suatu perjanjian multilateral oleh salah satu
pesertanya, akan dapat menyebabkan berakhirnya perjanjian
diantara semua peserta.

Ketidakmungkinan melaksanakan perjanjian karena hapusnya
atau rusaknya secara permanen suatu tujuan yang sangat
diperlukan untuk melaksanakan perjanjian.

Perjanjian yang dibubarkan sebagai akibat dari apa yang secara
tradisional disebut sebagai doktrin rebus sic scantibus.

Suatu perjanjian yang secara spesifik ditutup untuk jangka
waktu yang ditentukan kan berakhir pada saat berakhirnya
jangka waktu tersebut.

Apabila adanya denunsiasi.

Pasal 64 Konvensi Wina menentukan bahwa apabila suatu
norma jus congen yang menentukan muncul, maka perjanjian
47
yang ada bertentangan dengan norma tersebut menjadi batal
dan berakhir.
2. Berakhirnya perjanjian internasional oleh tindakan peserta

Berakhirnya perjanjian atau penarikan diri peserta dapat terjadi
sesuai dengan ketentuan perjanjian atau setiap waktu dengan
persetujuan semua peserta setelah dilakukan konsultasi satu sama
lain.

Apabila suatu negara peserta ingin menarik diri dari sebuah
perjanjian, maka biasanya ia melakukan hal tersebut dengan cara
memberitahukan
pengakhiran
itu,
atau
dengan
tindakan
denunsiasi (Rudy, 2002: 123-135).
2.5 Pendekatan Keamanan Non-Tradisional
Isu keamanan non-tradisional mulai mengemuka pada akhir dekade 1990an ketika sekelompok pakar yang dikenal dengan sebutan “the Copenhagen
School” seperti Barry Buzan, Ole Waever dan Jaap de Wilde mencoba
memasukkan aspek-aspek di luar hiruan tradisional kajian keamanan- seperti
misalnya masalah kerawanan pangan, kemiskinan, kesehatan, lingkungan hidup,
perdagangan manusia, terorisme, bencana alam dan sebagainya- sebagai bagian
dari studi keamanan. Menurut Buzan, keamanan berkaitan dengan masalah
lingkungan hidup (survival). Isu-isu yang mengancam kelangsungan hidup suatu
unit kolektif tertentu akan dipandang sebagai ancaman yang eksistensial. Untuk
itu diperlukan tindakan untuk memprioritaskan isu tersebut agar ditangani
sesegera mungkin dan menggunakan sarana-sarana yang ada untuk menangani
48
masalah tersebut. Berdasarkan kriteria isu keamanan, Buzan membagi keamanan
ke dalam lima dimensi, yaitu politik, militer, ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Dengan memasukkan hal-hal tersebut ke dalam lingkup kajian keamanan, maka
the Copenhagen School mencoba memperluas objek rujukan (referent object) isu
keamanan dengan tidak lagi berbicara melulu keamanan “negara”, tetapi juga
menyangkut keamanan “manusia”. Pandangan ini mengemuka sejak berakhirnya
Perang Dingin yang ditandai dengan penurunan ancaman militer terhadap
kedaulatan suatu negara, tetapi pada saat yang sama adanya peningkatan ancaman
terhadap eksistensi manusia pada aspek-aspek lain seperti kemiskinan, penyakit
menular, bencana alam, kerusakan lingkungan hidup, terorisme, dan sebagainya.
Kepedulian terhadap “keamanan manusia” (human security) semakin
meningkat, terutama setelah laporan tahunan UNDP, Human Development Report
1994, mencoba untuk mengetengahkan tujuh dimensi yang patut dijadikan bahan
pertimbangan untuk menciptakan “keamanan manusia”, yang mencakup: (1)
keamanan ekonomi; (2) keamanan pangan; (3)
keamanan kesehatan; (4)
keamanan lingkungan; (5) keamanan individu; (6) keamanan komunitas; dan (7)
keamanan politik. Sejak saat itu perhatian terhadap isu keamanan manusia mulai
melanda tidak saja para pakar tetapi juga para pembuat keputusan.
Secara etimologis konsep keamanan (security) berasal dari bahasa latin
“securus” (se + cura) yang bermakna terbebas dari bahaya, terbebas dari
ketakutan (free from danger, free from fear). Kata ini juga bisa bermakna dari
gabungan kata se (yang berarti tanpa/without) dan curus (yang berarti uneasiness).
Sehingga bila digabungkan kata ini bermakna ‘liberation from uneasiness, or a
49
peaceful situation without any risks or threats’(kebebasan dari rasa gelisah, atau
suatu situasi yang damai tanpa gangguan ataupun ancaman). Dalam hubungan
internasional, setiap aktor akan mempertaruhkan segalanya demi pencapaian
keamanan (nasional).
Dalam Realisme, elemen-elemen utama dalam hubungan internasional
terdiri dari beberapa gagasan utama, yakni aktor dominan tetap berada pada
negara-bangsa (nation-state), kepentingan nasional merupakan aspek utama yang
harus diraih setiap negara-bangsa untuk bisa tetap eksis/survive dengan hirauan
utama pada isu high politics seperti keamanan melalui instrumen military power.
Bahkan setiap negara akan selalu berupaya untuk memaksimalkan posisi kekuatan
(power) relatifnya dibandingkan negara lainnya atau setidaknya tercipta balance
of power. Semakin besar keuntungan kekuatan militernya akan semakin besar pula
jaminan keamanan yang dimiliki negara tersebut.
Dengan demikian Realisme sangat menekankan tesis stabilitas hegemonik
(hegemonic stability) yang bisa dimiliki suatu negara. Sebagai konsekuensinya,
kerjasama antar negara dalam institusi internasional pun akan semakin sulit
terwujud. Kalaupun tercipta sebuah kerjasama institusional yang bersifat
multilateral, Realisme berpendapat bentuk kerjasama multilateral itu adalah
hegemonic cooperation yang didominasi oleh kekuatan hegemoni. Alhasil, negara
hegemoni hanya akan memanfaatkan kerjasama multilateral ini untuk mencapai
kepentingan (keamanan) nasional dan tujuan politik luar negerinya semata.
Sementara itu Neo- Realisme mengemuka sebagai kritik terhadap
Realisme yang cenderung menganggap aktor negara sebagai satu-satunya aktor
50
dominan dalam hubungan internasional. Sementara itu, globalisasi yang sangat
dicirikan dengan revolusi teknologi informasi, komunikasi diyakini akan
mengubah secara signifikan peta hubungan internasional. Realisme dengan kata
lain dianggap sudah tidak mampu lagi menyediakan ‘usable map of the world’.
Sebaliknya, globalisasi dengan berbagai variannya telah mengubah politik
internasional menjadi “post-international politics” dimana aktor non-negara mulai
mengemuka sebagai aktor dominan selain aktor negara dengan kapasitas dan
kapabilitas interaksi yang telah melebihi aktor negara. Sebagai konsekuensinya,
tata interaksi internasional semakin rumit dan kompleks dimana dunia menjadi
semakin multi centric.
Aktor non-negara seperti kelompok teroris, perusahaan multinasional,
LSM internasional mulai beroperasi dan berinteraksi secara interdependen
melampaui batas-batas tradisional negara. Dengan kata lain, para aktor non-negara
ini secara meyakinkan telah menunjukkan bahwa dalam hubungan internasional
berlaku “no fixed traditional boundaries”. Agenda keamanan pun meluas meliputi
pula aspek-aspek non-militer lainnya. Dengan kata lain globalisasi memaksa aktor
negara untuk meninjau kembali konsep keamanan dan juga konsep power.
Para
teoritisi
hubungan
internasional
seperti
Ken
Booth
mulai
memasukkan isu-isu seperti peran organisasi internasional, lingkungan hidup,
demokrasi, terorisme, kebijakan publik, kesenjangan yang terjadi antara negaranegara Utara-Selatan, dan bahkan feminisme sebagai kajian dari kajian keamanan.
Perubahan-perubahan mendasar yang melanda dunia sejak akhir dekade
80-an ini kemudian memunculkan suatu kombinasi ‘baru’ antara kajian
51
perdamaian dan keamanan/strategis yang dikenal sebagai Peace Strategies.
Konsep ini menekankan pembahasannya pada upaya pencapaian keamanan dan
perdamaian nasional, regional serta internasional melalui suatu pendekatan
holistik yang menggabungkan penerapan teori perdamaian, konflik, pembangunan
dan peradaban umat manusia. Atau dengan kata lain, peace strategies
memfokuskan pencapaian keamanan dan perdamaian tanpa harus berperang
(security and peace without war). Dengan demikian, kajian keamanan, menurut
Neo-Realisme, dapat dikatakan sebagai suatu kajian yang indispensable dalam
hubungan internasional (Hermawan, 2007: 13-43).
Dimensi pertama yang perlu diketahui dari konsep keamanan adalah “the
origin of threats”. Bila pada masa Perang Dingin, ancaman-ancaman yang
dihadapi selalu dianggap datang dari pihak luar/eksternal sebuah negara maka
pada masa kini, ancaman-ancaman dapat berasal dari domestik dan global.
Dimensi kedua adalah “the nature of threats”. Secara tradisional, dimensi
ini menyoroti ancaman yang bersifat militer, namun berbagai perkembangan
nasional dan internasional telah mengubah sifat ancaman menjadi jauh lebih
rumit. Dengan demikian, persoalan keamanan menjadi jauh lebih komprehensif
dikarenakan menyangkut aspek-aspek lain seperti ekonomi, sosial budaya,
lingkungan hidup dan bahkan isu-isu lain seperti demokratisasi, dan hak asasi
manusia.
Dimensi ketiga adalah “the responses of security”. Pada masa Perang
Dingin respon terhadap ancaman keamanan selalu ditanggapi dengan kekuatan
militer, tetapi setelah Perang Dingin respon terhadap ancaman keamanan
52
bervariasi dan dapat berupa ancaman terhadap ekonomi, demokratisasi, hak asasi
manusia dan sebagainya.
Dimensi keempat adalah “changing responsibility of security”. Bagi para
pengusung konsep pendekatan keamanan tradisional, negara adalah ‘organisasi
politik’ terpenting yang berkewajibkan menyediakan keamanan bagi seluruh
warganya. Sementara itu, para penganut konsep pendekatan keamanan nontradisional menyatakan bahwa tingkat keamanan yang begitu tinggi akan
bergantung pada seluruh interaksi individu pada tataran gobal.
Dimensi terakhir adalah “core values of security”. Berbeda dengan kaum
tradisional yang memfokuskan keamanan pada ‘national independence’,
kedaulatan, dan integritas teritorial, kaum non-tradisional mengemukakan nilainilai baru baik dalam tataran individual maupun global yang perlu dilindungi.
Nilai-nilai baru ini antara lain penghormatan pada HAM, demokratisasi,
perlindungan terhadap lingkungan hidup dan upaya-upaya memerangi kejahatan
lintas batas (transnational crime).
Perlindungan
terhadap
nilai-nilai
baru
diatas
menjadi
puncak
mengemukanya keamanan non-tradisional dalam konteks global kini. Hal ini tidak
dapat dilepaskan dari dua persoalan besar yakni perkembangan yang terjadi di
dunia internasional (globalisasi) dan semangat partikularisme domestik dan
transnasional (reaction against globalization) (Perwita dan Yani, 2005: 123-126).
Secara sederhana, perbedaan antara Realisme dan Neo-Realisme dalam
memandang konsep pendekatan keamanan dapat digambarkan dalam tabel
sebagai berikut:
53
Tabel 2.1
Perbedaan Antara Realis dan Neo-Realis Dalam Memandang Konsep
Pendekatan Keamanan (Tradisional dan Non-Tradisional)
Tradisional
Asal ancaman (origin of
threats)
Negara rival
Sifat ancaman (nature of
threats)
Kapabilitas militer
Respon (the responses)
Militer
Pihak yang bertanggung jawab
untuk menyediakan keamanan
(the responsibility for providing
security)
Negara
Nilai inti (core values)
Kemerdekaan nasional,
integritas territorial, kedaulatan
Non-Tradisional
Negara dan non-negara:
domestik dan
transnasional
Non-militer: ekonomi,
politik domestik,
lingkungan hidup,
terorisme, penyakit
menular, narkoba
Non-militer: liberalisasi
ekonomi, demokratisasi,
hak asasi manusia
Negara,
organisasi/institusi
internasional, individu
Kesejahteraan ekonomi,
hak asasi manusia,
perlindungan terhadap
lingkungan hidup
Sumber: disarikan dari Benyamin Miller, 2001. The concept of security: Should it redefined. The Journal of
Strategic Studies.13-42
2.6 Lingkungan Hidup Dalam Hubungan Internasional
Topik lingkungan hidup muncul semakin sering dalam agenda
internasional lebih dari tiga dekade terakhir. Jumlah masyarakat dunia semakin
meningkat, paling tidak di negara-negara Barat, yakin bahwa aktivitas sosial dan
ekonomi manusia sedang berlangsung dengan cara yang mengancam lingkungan
hidup. Dalam lima dekade terakhir, semakin banyaknya manusia telah
memperbesar jumlah penduduk dunia dibanding dalam seluruh milenia
keberadaan manusia sebelumnya. Populasi global yang sangat cepat meningkat
mengejar standar kehidupan yang lebih tinggi merupakan ancaman potensial
terhadap lingkungan hidup.
54
Produksi massal industri mengancam akan menghabiskan sumber daya
material dan energi yang langka. Masalah lokal tentang degradasi lingkungan
sementara tidak berhenti di perbatasan.
Sebagai contoh produksi gas CFC
(Chlorofluorocarbon), yang di gunakan untuk mesin pendingin, penyejuk ruangan,
bahan kimia dan produk industri lainnya, merupakan ancaman besar bagi lapisan
ozon. CFC berinteraksi secara kimiawi dengan lapisan ozon sehingga
menipiskannya. Karbondioksida dan kandungan kimia lainnya terkunci dalam
panas dekat pada permukaan bumi dan oleh karena itu menghasilkan pemanasan
global, yang disebut efek rumah kaca ( Jackson dan Sorensen, 2005:322-324).
Jika keamanan internasional dan ekonomi global adalah dua issue area
utama tradisional dalam politik dunia, sebagian penstudi sekarang menyatakan
bahwa lingkungan hidup telah muncul sebagai issue area utama ketiga (Porter dan
Brown, 1996:1).
Kaum “modernis” yakin bahwa perbaikan terus menerus dalam
pengetahuan ilmiah dan dalam persaingan teknologi akan meningkatkan
kemampuan dalam menguasai lingkungan. Sementara kaum “ekoradikal” yang
berpikir bahwa ekosistem memiliki daya tampung yang terbatas. Keterbatasan
tersebut didefinisikan sebagai seberapa besar suatu populasi spesies dapat tumbuh
sebelum spesies tersebut berlebihan menggunakan sumber daya yang tersedia di
ekosistem
(Hughes,
1991:410).
Kaum
“ekoradikal”
menyatakan
bahwa
masyarakat di muka bumi terancam bergerak mendekati batas daya tampung
planet dan tidak ada perbaikan teknologis yang sederhana yang dapat mengurusi
masalah tersebut. Oleh karena itu, banyak kaum “ekoradikal” menyerukan
55
pengendalian populasi yang keras dan perubahan dramatis dalam gaya hidup
modern menuju cara hidup yang lebih ramah lingkungan, berorientasi sedikit
mengkonsumsi dan sedikit menghasilkan sampah (Hughes, 1991:409).
Kaum ekoradikal menyerukan perubahan mendalam bukan hanya dalam
organisasi ekonomi tetapi juga dalam organisasi politik. Mereka berpendapat
bahwa negara lebih merupakan masalah daripada sebagai solusi bagi masalah
lingkungan hidup. Negara adalah bagian dari masyarakat modern, dan masyarakat
modern adalah sebab dari krisis lingkungan hidup (Carter, 1993).
Kepedulian terhadap lingkungan hidup menjadi isu global karena:
1. Permasalahan lingkungan hidup ini selalu mempunyai efek global. Misalnya,
permasalahan yang menyangkut CFC (Chlorofluorocarbon) berefek pada
pemanasan global dan meningkatnya jenis dan kualitas penyakit akibat
berlubangnya lapisan ozon yang dirasakan di seluruh dunia.
2. Isu lingkungan hidup juga menyangkut eksploitasi terhadap sumber daya
global seperti lautan dan atmosfir.
3. Permasalahan lingkungan hidup selalu bersifat transnasional, sehingga
kerusakan lingkungan di suatu negara akan berdampak pula bagi wilayah di
sekitarnya.
4. Banyak kegiatan ekspoitasi atau degradasi lingkungan memiliki skala lokal
atau nasional, dan dilakukan di banyak tempat di seluruh dunia sehingga dapat
dianggap sebagai masalah global, misalnya erosi dan degradasi tanah,
penebangan hutan, polusi air, dan sebagainya.
56
5. Proses yang menyebabkan terjadinya eksploitasi yang berlebihan dan
degradasi lingkungan berhubungan dengan proses-proses politik dan sosialekonomi yang lebih luas, dimana proses-proses tersebut merupakan bagian
dari ekonomi-politik global.
Kemudian kerusakan lingkungan menjadi hirauan dalam hubungan
internasional dimana aktor-aktor non-negara memainkan peranan penting dalam
merespon permasalahan lingkungan hidup internasional. Respon terhadap
permasalahan lingkungan hidup berfokus pada perkembangan dan implentasi dari
rezim lingkungan hidup internasional. Secara khusus makna lingkungan hidup itu
sendiri yaitu seluruh kondisi eksternal yang mempengaruhi kehidupan dan
peranan organisme.
Dalam
konteks
hubungan
internasional
dikenal
adanya
konsep
International politics of the environment, yakni suatu proses dimana persetujuan
antar negara mengenai isu lingkungan hidup dinegiosasikan, apakah dengan cara
menciptakan rezim maupun dengan cara menciptakan institusi internasional yang
diperlukan. Lebih lanjut proses international politics of the environment meliputi:
1. Adanya proses perjanjian atau negoisasi mengenai lingkungan hidup yang
dilakukan oleh negara atau institusi.
2. Ada peraturan atau rezim yang dibuat untuk bekerjasama dalam bidang
lingkungan hidup.
3. Adanya konflik dari kekuatan politik yang penyelesaiannya tergantung dari
keberhasilan interaksi para aktor dalam lingkungan hidup.
57
Kerjasama internasional dalam menangani isu lingkungan hidup global
diarahkan untuk mencari kesepakatan ukuran-ukuran, patokan-patokan dan
norma-norma internasional yang sah serta cara penerapannya. Pembuatan
patokan, ukuran dan norma standar ini dibutuhkan untuk mendefinisikan prinsip
umum penanganan kolektif dan membuat aturan serta proses yang tepatpembentukan rezim internasional- dalam dimensi lingkungan hidup.
Lebih lanjut, proses implementasi rezim lingkungan hidup internasional
nantinya
akan
merupakan
suatu
proses
dimana
anggota
rezim
harus
mengumpulkan, menukar serta membahas informasi yang berkaitan dengan isu
yang diangkat rezim tersebut. Proses implementasi rezim ini terdiri dari tahap
pertukaran data dan informasi, analisis data, serta penilaian terhadap proses
implementasi yang telah dilakukan oleh negara anggota (Perwita dan Yani, 2005:
144-145).
Download