KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK): ANCANGAN DALAM

advertisement
ISSN 0215-8250
110
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK):
ANCANGAN DALAM PENGIMPLEMENTASIANNYA
oleh
Ida Bagus Putrayasa
Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP Negeri Singaraja
ABSTRAK
Dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia telah terjadi beberapa kali
perubahan kurikulum. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Kurikulum terbaru yang akan diberlakukan adalah Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK). Untuk mencapai keberhasilan pengimplementasian KBK ini,
minimal diperlukan adanya suatu ancangan. Ancangan tersebut mencakup: (1)
pemahaman terhadap KBK itu sendiri, (2) pemahaman terhadap karakteristik
KBK, (3) pola pengembangan programnya, (4) pelaksanaan pembelajarannya, dan
(5) evaluasi hasil belajarnya.
Kata kunci: KBK, ancangan
ABSTRACT
There have been a number of modifications with curriculum in carrying out
educational affairs in Indonesia. The changes of the curriculum are intended to
improve the quality of education. The recently modified curriculum, which will
soon be implemented, is known as Competency Based Curriculum. In order to
achieve the success of the implementation of this curriculum, the existence of
planning is minimally required. This planning includes: (1) the understanding of
the competency based curriculum itself, (2) the understanding of the
characteristics of this curriculum, (3) the model of the development of its
programs, (4) the implementation of its teaching and learning activities, and (5) the
evaluation of its teaching and learning outcomes.
Key words: competency based curriculum, planning
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
111
1. Pendahuluan
Dalam pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keaga-maan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan
negara. Untuk mencapai upaya tersebut, penyelenggaraan pendidikan dilakukan
secara berjenjang dengan pola, teknis, dan sistematika tertentu. Penyelenggaraanya
diatur dalam kurikulum yang disesuaikan de-ngan perkembangan ipteks,
perkembangan masyarakat, dan kebutuhan pembangunan.
Selain untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan pengembangan manusia
Indonesia seutuhnya, pendidikan nasional juga diharapkan dapat meningkatkan
kemam-puan, mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia. Oleh karena itu,
sistem pendi-dikan yang diberlakukan saat ini perlu terus disempurnakan sehingga
mampu mengha-silkan tamatan yang bermutu sebagai modal untuk bersaing mulai
dari tingkat lokal, regional, nasional, bahkan di tingkat global. Penyempurnaan,
pembaharuan, maupun perubahan di bidang pendidikan harus diarahkan untuk
menjawab tantangan, tuntutan, dan masalah pendidikan di masa depan. Salah satu
cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi tantangan, tuntutan, dan masalah
pendidikan di masa depan adalah dengan penyempurnaan kurikulum. Hal ini
sudah dilakukan mulai dari penyempurnaan Kurikulum 1954, Kurikulum 1968,
Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994 dan Suplemennya (Purwo,
2002). Sekarang ini sedang dirancang pemberlakuan Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK).
Berkaitan dengan pemberlakuan KBK tersebut, maka ancangan yang perlu
dilakukan dalam pengimplementasiannya adalah: (1) memahami KBK itu sendiri,
(2) memahami karakteristik KBK, (3) memahami program pengembangannya, (4)
mema-hami pelaksanaan pembelajarannya, dan (5) memahami evaluasi hasil
belajarnya. Kelima hal tersebut sekaligus menjadi permasalahan yang jawabannya
akan dipaparkan pada bagian dua di bawah ini.
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
112
2. Pembahasan
Pada bagian ini akan dibicarakan hal-hal yang mencakup: (1) Pengertian
KBK, (2) Karakteristik KBK, (3) Pengembangan KBK, (4) Pelaksanaan
Pembelajaran Berdasarkan KBK, dan (5) Evaluasi Hasil Belajar Berdasarkan
KBK.
2.1 Pengertian KBK
Kompetensi merupakan perpaduan antara pengetahuan, keterampilan, nilai
dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. McAshan
(Mulyasa, 2002) mengartikan kompetensi sebagai pengetahuan, keterampilan, dan
kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya,
sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik
dengan sebaik-baiknya. Sejalan dengan itu, Finch & Crunkilton yang dikutip oleh
Mulyasa (2002) mengartikan kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu
tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang
keberhasilan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kompetensi mencakup tugas,
keterampilan, sikap, dan apresiasi yang harus dimiliki oleh peserta didik untuk
dapat melaksanakan tugas-tugas pembelajaran sesuai dengan jenis pekerjaan
tertentu. Dengan demikian terdapat hubungan antara tugas-tugas yang dipelajari
peserta didik di sekolah dengan kemampuan yang diperlukan oleh dunia kerja.
Gordon (Mulyasa, 2002) menjelaskan beberapa aspek yang terkandung
dalam konsep kompetensi sebagai berikut: (1) pengetahuan (knowledge), yaitu
kesadaran dalam bidang kognitif, (2) pemahaman (understanding), yaitu
kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu, (3) kemampuan (skill),
yaitu sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas atau pekerjaan
yang dibebankan kepadanya, (4) nilai (value), yaitu suatu standar perilaku yang
telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang, (5) sikap
(attitude), yaitu perasaan atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari
luar, dan (6) minat (interest), yaitu kecenderungan seseorang untuk melakukan
suatu perbuatan.
Berdasarkan pengertian kompetensi di atas, kurikulum berbasis kompetensi
dapat diartikan sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pengembangan
kemampuan melakukan tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga
hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
113
seperangkat kompetensi tertentu. KBK diarahkan untuk mengembangkan
pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap, dan minat peserta didik agar
dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan, dan keberhasilan
dengan penuh tanggung jawab. Kurikulum berbasis kompetensi merupakan
seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang
harus dicapai oleh siswa, penilaian kegiatan belajar-mengajar, dan pemberdayaan
sumber daya pendidikan dalam mengembangkan kurikulum sekolah (Depdiknas,
2002). Sejalan dengan pengertian tersebut, Saylor (Anom, 2002) mengartikan
kurikulum berbasis kompetensi sebagai rancangan kurikulum yang dikembangkan
berdasarkan seperangkat kompetensi khusus yang harus dipelajari dan atau
ditampilkan siswa. Seperangkat kompetensi tersebut pada akhirnya akan
menggambarkan sebuah profil kempetensi yang utuh, terukur, dan teramati.
2.2 Karakteristik KBK
Karakteristik KBK antara lain mencakup seleksi kompetensi yang sesuai,
spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan kesuksesan pencapaian
kompetensi, dan pengembangan sistem pembelajaran. Di samping itu, KBK
memiliki sejumlah kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik, penilaian
dilakukan berdasarkan standar khusus sebagai hasil demonstrasi kompetensi yang
ditunjukkan oleh peserta didik, pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan
individual personal untuk menguasai kompetensi yang dipersyaratkan, peserta
didik dapat dinilai kompetensinya kapan saja bila mereka telah siap, dan dalam
pembelajaran peserta didik dapat maju sesuai dengan kecepatan dan kemampuan
masing-masing.
Depdiknas (2002) mengemukakan bahwa KBK memiliki karakteristik
sebagai berikut: (1) menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa, baik
secara individual maupun klasikal, (2) berorientasi pada hasil belajar (learning
outcomes) dan keberagaman, (3) penyampaian dalam pembelajaran menggunakan
pendekatan dan metode yang bervariasi, termasuk CTL (Contextual Teacing and
Learning) (Nurhadi, 2003), (4) sumber belajar bunkan hanya guru, melainkan
juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif, (5) penilaian
menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau
pencapaian suatu kompetensi,
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
114
Selanjutnya, dari berbagai sumber sedikitnya dapat diidentifikasi enam
karakteristik KBK, yaitu: (1) sistem belajar dengan modul, (2) menggunakan
keseluruhan sumber belajar, (3) pengalaman lapangan, (4) strategi individual
personal, (5) kemudahan belajar, dan (6) belajar tuntas (Mulyasa, 2002).
2.3 Pengembangan Program
Pengembangan KBK mencakup pengembangan program tahunan, program
semester, program modul (pokok bahasan), program mingguan dan harian,
program pengayaan dan remedial, serta program bimbingan dan konseling.
2.3.1 Program Tahunan
Program tahunan merupakan program umum setiap mata pelajaran untuk
setiap kelas, yang dikembangkan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan.
Program ini perlu dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru sebelum tahun
ajaran, karena merupakan pedoman bagi pengembangan program-program
berikutnya, yakni: program semester, program mingguan, dan program harian atau
program pembelajaran setiap pokok bahasan, yang dalam KBK dikenal dengan
nama modul.
Sumber-sumber yang dapat dijadikan bahan pengembangan program
tahunan antara lain: (1) daftar kompetensi standar (standar competency) sebagai
konsesus nasional, yang dikembangkan dalam GBPP setiap mata pelajaran yang
akan dikembangkan, (2) skope dan skuensi setiap kompetensi. Untuk mencapai
tujuan pembelajaran diperlukan materi pembelajaran. Materi pembelajaran
tersebut disusun dalam pokok-pokok bahasan dan sub-subpokok bahasan yang
mengandung ide-ide pokok sesuai dengan kompetensi dan tujuan pembelajaran.
Pokok-pokok bahasan dan sub-subpokok bahasan tersebut harus jelas skope (ruang
lingkupnya) dan skuensinya (urutan logis setiap pokok bahasan dan sub-subpokok
bahasan tersebut, (3) kalender pendidikan. Penyusunan kalender pendidikanselama
satu tahun pelajaran mengacu pada efisiensi, efektivitas, dan hak-hak peserta
didik.
2.3.2. Program Semester
Program semester berisikan garis-garis besar mengenai hal-hal yang
hendak dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut. Program semester ini
merupakan penjabaran dari program tahunan. Pada umumnya program semester
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
115
ini berisikan tentang bulan, pokok bahasan yang hendak disampaikan, waktu yang
direncanakan, dan keterangan-keterangan.
2.3.3. Program Modul (Pokok Bahasan)
Program modul atau pokok bahasan pada umumnya dikembangkan dari
setiap kompetensi dan pokok bahasan yang akan disampaikan. Program ini
merupakan penjabaran dari program semester. Pada umumnya modul berisikan
tentang lembar kegiatan peserta didik, lembar kerja, kunci lembar kerja, lembar
soal, lembar jawaban, dan kunci jawaban. Dengan demikian, peserta didik bisa
belajar mandiri, tidak harus didampingi oleh guru, kegiatan guru cukup
menyiapkan modul, dan membantu peserta didik yang menghadapi kesulitan
belajar.
2.3.4. Program Mingguan dan Harian
Untuk membantu kemajuan belajar peserta didik, di samping modul perlu
dikembangkan program mingguan dan harian. Program ini merupakan penjabaran
dari program semester dan program modul. Melalui program ini dapat diketahui
tujuan-tujuan yang telah dicapai dan yang perlu diulang bagi setiap peserta didik.
Melalui program ini juga diidentifikasi kemajuan belajar setiap peserta didik,
sehingga dapat diketahui peserta didik yang mendapat kesulitan dalam setiap
modul yang dikerjakan, dan peserta didik yang memiliki kecepatan belajar di atas
rata-rata kelas. Bagi peserta didik yang cepat bisa diberikan pengayaan, sedang
bagi yang lambat dilakukan pengulangan modul untuk mencapai tujuan yang
belum dicapai dengan menggunakan waktu cadangan.
2.3.5. Program Pengayaan dan Remedial
Program ini merupakan pelengkap dan penjabaran dari program mingguan
dan harian. Berdasarkan hasil analisis terhadap kegiatan belajar dan tugas-tugas
modul, hasil tes, dan ulangan dapat diperoleh tingkat kemampuan belajar setiap
peserta didik. Hasil analisis ini dipadukan dengan catatan-catatan yang ada pada
program mingguan dan harian, untuk digunakan sebagai bahan tindak lanjut proses
pembelajaran yang telah dilaksanakan. Program ini juga mengidentifikasi modul
yang perlu diulang, peserta didik yang wajib mengikuti remedial, dan yang
mengikuti program pengayaan.
Berdasarkan teori belajar tuntas, maka seorang peserta didik dipandang
tuntas belajar jika ia mampu menyelesaikan, menguasai kompetensi atau mencapai
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
116
tujuan pembelajaran minimal 65% dari seluruh tujuan pembelajaran. Sementara
itu, keberhasilan kelas dilihat dari jumlah peserta didik yang mampu
menyelesaikan atau mencapai minimal 65%, sekurang-kurangnya 85% dari jumlah
peserta didik yang ada di kelas tersebut.
2.3.6
Program Bimbingan dan Konseling Pendidikan
Sekolah berkewajiban memberikan bimbingan dan konseling kepada
peserta didik yang menyangkut pribadi, sosial, belajar, dan karier. Selain guru
pembimbing, guru mata pelajaran yang memenuhi kriteria pelayanan bimbingan
dan karier diperkenankan memfungsikan diri sebagai guru pembimbing. Oleh
karena itu, guru mata pelajaran harus senantiasa berdiskusi dan berkoordinasi
dengan guru bimbingan dan konseling secara rutin dan berkesinambungan.
2.4 Pelaksanaan Pembelajaran dengan KBK
Pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses interaksi antara peserta
didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang
lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak faktor yang mempengaruhinya, baik
faktor internal yang datang dari dalam diri individu maupun faktor eksternal yang
datang dari lingkungan.
Prinsip-prinsip yang dipegang oleh KBK dalam pelaksanaan
pembelajarannya adalah: (1) Berpusat pada paserta didik. Peserta didik memiliki
perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Peserta didik berbeda dalam
minat, kemampuan, kesenangan, pengalaman, dan cara belajar. Peserta didik
tertentu lebih mudah belajar dengan cara membaca, peserta didik yang lain lebih
mudah dengan cara melihat, atau dengan cara kinestetika (Dryden & Vos, 2001).
Jadi, dalam kegiatan belajar-mengajar, peserta didik ditempatkan sebagai subjek,
yang artinya memperhatikan bakat, minat, kemampuan, cara dan strategi belajar.
(2) Belajar dengan melakukan, maksudnya ada contoh-contoh aktual dalam
kehidupan sehari-hari yang terkait dengan penerapan konsep, kaidah, dan prinsip
disiplin ilmu yang dipelajari. (3) Mengembangkan kemampuan sosial, karena
peserta didik membutuhkan interaksi dengan guru, teman, orang tua, masyarakat
sekitar dalam membangun kerangka pemikiran tentang prinsip-prinsip disiplin
ilmu yang dipelajari. Hal ini sesuai dengan hakikat pembelajaran dengan
pendekatan CTL tentang konsep learning community, yang menyarankan agar
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
117
hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain (Nurhadi, 2003).
(4) Mengembangkan keingintahuan, imajinasi, dan fitrah ber-Tuhan. Artinya,
dalam proses belajar-mengajar peserta didik dapat menumbuhkan rasa ingin tahu,
mengembangkan imajinasi, dan memelihara fitrah ber-Tuhan. (6)
Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah. Artinya, peserta didik dapat
menggunakan pemikiran ilmiah untuk dapat mencari jawaban atas
permasalahannya. (7) Mengembangkan kreativitas peserta didik. Artinya,
kegiatan belajar-mengajar dapat memberikan ruang untuk berkreasi secara
berkesinambungan untuk mengembangkan dan mengoptimalkan kreativitas
peserta didik. (8) Mengembangkan kemampuan menggunakan ilmu dan
teknologi. Artinya, kegiatan belajar-mengajar perlu memberikan peluang agar
peserta didik memperoleh informasi dari multi media, setidaknya dalam penyajian
materi dan penggunaan media pembelajaran. (9) Menumbuhkan kesadaran
peserta didik sebagai warga negara yang baik. Dalam kegiatan belajar-mengajar
peserta didik diberikan wawasanm moral dan sosial yang dapat membekalinya
agar menjadi warga masyarakat dan warga negara yang bertanggung jawab. (10)
Belajar sepanjang hayat. Artinya, kegiatan belajar-mengajar dapat mendorong
peserta didik untuk mengukur kemampuan dirinya baik secara fisik maupun
mental. (11) Perpaduan kompetisi, kerja sama, dan solidaritas. Artinya, kegiatan
belajar-mengajar harus dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
mengembangkan semangat berkompetisi sehat untuk memperoleh insentif.
2.5 Evaluasi Hasil Belajar dengan KBK
Evaluasi hasil belajar dalam implementasi KBK dilakukan dengan
penilaian kelas, tes kemampuan dasar, penilaian akhir satuan pendidikan dan
sertifikasi, benchmarking, dan penilaian program. Hal-hal tersebut dijelaskan satu
per satu di bawah ini.
2.5.1
Penilaian Kelas
Penilaian kelas dilakukan dengan ulangan harian, ulangan umum, dan ujian
akhir. Ulangan harian dilakukan setiap selesai proses pembelajaran dalam satuan
bahasan atau kompetensi tertentu. Ulangan harian ini terdiri atas seperangkat soal
yang harus dijawab peserta didik, dan tugas-tugas terstruktur yang berkaitan
dengan konsep yang sedang dibahas. Ulangan umum dilaksanakan setiap akhir
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
118
semester, dengan bahan yang diujikan berupa: (a) soal ulangan umum semester
pertama diambil dari materi semester pertama, (b) soal ulangan umum semester
kedua merupakan gabungan dari materi semester pertama dan kedua, dengan
penekanan pada materi semester kedua.
Ujian akhir dilakukan pada akhir program pendidikan. Bahan-bahan yang
diujikan meliputi seluruh materi modul yang telah diberikan, dengan penekanan
pada bahan-bahan yang diberikan pada kelas-kelas tinggi. Hasil evaluasi ujian
akhir ini terutama digunakan untuk menentukan kelulusan bagi setiap peserta didik
dan layak tidaknya untuk melanjutkan pendidikan pada tingkat di atasnya.
Penilaian kelas dilakukan oleh guru untuk mengetahui kemajuan dan hasil
belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik
untuk perbaikan proses pembelajaran, dan penentuan kenaikan kelas.
2.5.2 Tes Kemampuan Dasar
Tes kemampuan dasar dilakukan untuk mengetahui kemampuan membaca,
menulis, dan berhitung yang diperlukan dalam rangka memperbaiki program
pembelajaran (program remedial). Tes kemampuan dasar dilakukan pada setiap
tahun.
2.5.3 Penilaian Akhir Satuan Pendidikan dan Sertifikasi
Pada setiap akhir semester dan tahun pelajaran diselenggarakan kegiatan
penilaian guna mendapatkan gambaran secara utuh dan menyeluruh mengenai
ketuntasan belajar peserta didik dalam satuan waktu tertentu. Untuk keperluan
sertifikasi, kinerja, dan hasil belajar yang dicantumkan dalam Surat Tanda Tamat
Belajar tidak semata-mata didasarkan atas hasil penilaian pada akhir jenjang
sekolah.
2.5.4 Benchmarking
Benchmarking merupakan suatu standar untuk mengukur kinerja yang
sedang berjalan, proses, dan hasil untuk mencapai suatu keunggulan yang
memuaskan. Ukuran keunngulan dapat ditentukan di tingkat sekolah, daerah, atau
nasional. Penilaian dilaksanakan secara berkesinambungan sehingga peserta didik
dapat mencapai satuan tahap keunggulan pembelajaran yang sesuai dengan
kemampuan usaha dan keuletannya.
Untuk dapat memperoleh data dan informasi tentang pencapaian
benchmarking tertentu dapat diadakan penilaian secara nasional yang dilaksanakan
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
119
pada akhir satuan pendidikan. Hasil penilaian tersebut dapat dipakai untuk
memberikan peringkat kelas dan tidak untuk memberikan nilai akhir peserta didik.
Hal ini dimaksudkan sebagai salah satu dasar untuk pembinaan guru dan kinerja
sekolah.
2.5.5 Penilaian Program
Penilaian program dilaksanakan oleh Departemen Pendidikan Nasional dan
Dinas Pendidikan secara kontinu dan berkesinambungan. Penilaian program
dilakukan untuk mengetahui kesesuaian kurikulum dengan dasar, fungsi, dan
tujuan pendidikan nasional, serta kesesuaiannya dengan tuntutan perkembangan
masyarakat, dan kemajuan zaman.
3. Penutup
Pada bagian ini akan diikhtisarkan hal-hal yang berkaitan dengan uraian di
atas Pada hakikatnya tujuan penyempurnaan kurikulum adalah untuk
meningkatkan kualitas pendidikan. Kurikulum terbaru yang akan diberlakukan
dalam pendidikan di Indonesia adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).
Untuk mencapai keberhasilan dalam pengimplementasiannya, ancangan yang
perlu dilakukan adalah: pemahaman terhadap KBK itu sendiri, pemahaman
terhadap karakteristik KBK, pengembangan programnya, pelaksanaan
pembelajarannya, dan evaluasi hasil belajarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Anom, I.B. (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Denpasar: Dinas Pendidikan.
Depdiknas. (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Puskur Balitbang
Depdiknas.
Depdiknas. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.
Dryden, G. & Vos, J. (2001). The Learning Revolution. Selandia Baru: The
Learning Web.
Mulyasa, E. (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, dan
Implementasi. Bandung: Rosdakarya.
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
120
Nurhadi. (2003). Pendekatan Kontekstual. Jakarta: Depdiknas.
Purwo, B.K. (2002). ‘Perkembangan Pengajaran Bahasa’ dalam Telaah Bahasa
dan Sastra. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
Download