psikologi sosial kebudayaan dan kepribadian

advertisement
PSIKOLOGI SOSIAL
KEBUDAYAAN DAN KEPRIBADIAN
KELOMPOK 7 :
FEBRIYAN ARIF DWIYANTO (1511414130)
NOVIA BETTY AULIA
(1511414137)
UMMAHATUL MASRUHAH (1511414146)
NINA YULIASWATI
(1511414149)
JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016
PENDAHULUAN
Psikoogi sosial berfokus pada tingkah-tingkah laku sosial individu dalam
situasi sosial. Tingkah laku sosial individu tersebut ternyata dapat dipelajari,baik
oleh ahli-ahli bidang psikologi, antropologi, sosiologi maupun ahli-ahli psikologi
sosial.
Oleh karena itu, usaha mempelajari tingkah laku sosial individu dalam situasi
sosial diberikan istilah yang berbeda-beda oleh ahli-ahli tersebut diatas. Pada
proses belajar sosial berupaya untuk membentuk tingkah laku sosial dalam situasi
sosial. Akan tetapi, pembentukan tingkah laku tersebut secara tidak langsusng
karena ada proses belajar sosial yang sebenarnya yang dibentuk adalah
kepribadian individu dalam situasi sosial.
PEMBAHASAN
A. Kepribadian
1. Teori-teori Kepribadian
Menurut Charles Cofer (1972), berikut merupakan teori kepribadian:
a. Type Theory
Teori ini merupakan teori yang tua dan menurut Sheldon, teori ini
menekankan kepribadian dalam hubungannya dengan perbedaan
tubuh individu, seperti, viscerotonia (sifat-sifat khas, santai, gemar
makan, dsb.), somatotania (sifat fisik, gagah, menarik, dsb.),
cerebrotonia (sifat khas negatif, ragu-ragu, kurang bebas).
Ada pembagian lain, seperti menurut Hans Egunch, keribadian dapat
digolongkan ke dalam : Ekstroversion-introversion (seperti : antusias,
pendiam) dan stable-unstable personality (seperti : teguh pendirian,
mudah terpengaruh).
b. Trait Theory
Menurut R. B. Cattel, kepribadian individu hanya dapat dilihat dari
segi variabel yang ada di dalamnya, yang semua variabel itu disebut
hasil. Trait artinya sesuatu perangai yang tampak dari seseorang
individu dan terwujud di dalam tingkah laku individu yang
bersangkutan.
R. B. Cattel membagi variabel kepribadian (trait) menjadi :
1) Surface trait, yakni perangai yang tampak yang merupakan gejala
tingkah laku umum dari sesuatu masyarakat tertentu. Misalnya,
orang Indonesia dipandang mempunyai kepribadian berbentuk
ramah-tamah oleh orang-orang luar negeri.
2) Scurce trait, yakni pandangan yang tampak dari seseorang
individu dan bersumber dari masing-masing individu, sehingga
kepribadian bersifat individu. Misalnya, individu berkepribadian
ambisius atau individu berkepribadian kemasyarakatan.
c. Psychoanalytic Theory
Sigmund Freud lebih tertarik meninju kepribadian dari tahap-tahap
perkembangan kepribadian. Ia membagi kepribadian menjadi :
1) An oral personality, yakni kepribadian yang terjadi pada individu
sejak kecil. misal, ketergantungan, malas, dll.
2) An annal personality, yakni kepribadian yang tampak dari
individu dan berasal dari hubungan individu yang bersangkutan
dengan orang tuanya. Misal, individu berkepribadian kaku dalam
bertingkah laku karena orang tuanya menuntut keharusan taat pada
peraturan.
Pada masa dewasa kedua bentuk kepribadian di atas berpenaruh satu
sama lain sehingga individu mempunyai kepribadian baru.
Misalnya, individu yang malas tetapi orang tuanya memerintahkan
kerja, maka individu yang bersangkutan menjadi berkurang
maknanya walaupun telah menjadi pekerja keras.
d. Situtional Theory
Menurut Hartshorne, sesuatu situasi mempunyai pengaruh yang
besar terhadap seseorang anak dan memunculkan kepribadian anak
tersebut, yang terlihat pada tingkah laku yang bersangkutan.
Misal, anak di rumah bertingkah laku ramah tamah karena
lingkungan keluarga bersifat salah. Tetapi dalam kelompok belajar
anak tersebut bertingkah laku ambisius karena situasi kelompok
belajarnya bersifat kompetitif.
Berdasarkan teori tersebut, kepribadian seorang individu dapat
dipelajari pada sesuatu situasi, bukan pada situasi pada umumnya.
2. Asal Mula, Pengertian, dan Struktur Kepribadian
Ada beberapa sudut pandang tentang asal mula dan pengertian
kepribadian.
a. Sudut Pandang Biologis
1) Asal Mula Kepribadian
Sudut pandang biologis dikemukakan oleh Newmen,
Freemen dan Halzinger. Mereka berpendapat bahwa asal mula
kepribadian seseorang individu adalah dari campuran genes yang
ditemukan oleh orang tua. Oleh karena itu, faktor pembawaaan
sangat berpengaruh terhadap kepribadian seorang individu.
Misalnya:
Genes
Ayah
Ibu
Anak
Hidung
- Mancung
- Biasa
- Setengah mancung
Rambut
- Keriting
- Lurus
- Berombak
Badan
- Tinggi
- Pendek
- Sedang
Kulit
- Kuning
- Hitam
- Sawo matang
Akan tetapi, kenyataan ada yang menunjukkan kepribadian
seorang anak berbeda dari kepribadian yang dimiliki oleh orang
tuanya.
Misalnya, ayahnya berhidung mancung, sedang ibunya
berhidung biasa, sering ada anak mereka yang berhidung
mancung/biasa. Dalam hubungan ini, menurut Freeman, ada genes
yang paling dominan yang diturunkan oleh orang tua kepada anak.
2) Pengertian Kepribadian
Secara
biologis
yang
dimaksud
kepribadian
adalah
temperamen yakni segala sesuatu yang dimiliki anak yang tampak
dari luar secara nyata (Freeman, et-al.). selanjutnya temperamen
tersebut dapat dipengaruhi oleh lingkungan walaupun pengaruh
tersebut relatif kecil.
3) Struktur Kepribadian
Menurut Hipacrates struktur kepribadian dapat
dibedakan
menjadi:
a) Sanguince, yakni temperamen yang tampak pada individu
yang berupa riang, suka bicara, ambisi.
b) Melancholik, yakni temperamen yang tampak pada individu
seperti pemurung, rendah diri, serba takut.
c) Charelic, yakni temperamen yang tampak pada individu
seperti kasus, meledak-ledak tingkahnya, menentang.
d) Phlegmatic, yakni temeramen yang tampak pada individu
seperti: ramah tamah, tenang, setia.
b. Sudut Pandang Sosial-Psikologis
1) Kepribadian
Ahli-ahli yang memberi sumbangan pada sudut pandang
sosial-psikologi seperti Murphy Gardner dan Kurt Lewin sepakat
bahwa kepribadian individu tidak hanya berasal dari faktor
pembawaan. Murphy Gardner berpendapat: The totality aspect of
personality as a working concept, we shall get nowhere if we try to
study
heredity-invironmental
relationsheps
in
regard
to
personality as a whole. (Aspek kepribadian secara totalitas sebagai
konsep kerja, di mana kita akan memperoleh di mana pun apabila
kita mencoba mempelajari hubungan timbal balik antara
pembawaan dan lingkungan dalam arti memandang kepribadian
sebagai satu keseluruhan). Ia mencontohkan aspek pembawaan
seperti kebiasaan, emosi, keinginan, keyakinan dan aspek
lingkungan seperti: nilai, norma, dsb. Kedua aspek tersebut
menentukan kepribadian dari individu dan hal ini tampak pada
tingkah laku individu yang bersangkutan.
Misal, suatu keluarga yang mempunyai norma bertingkah
laku ramah, akan membuat anak dari keluarga tersebut menjadi
suka bergauldi mana pembawaan anak tersebut sebenarnya
pendiam.
2) Pengertian Kepribadian
Dari asal mula kepribadian tersebut maka Kurt Lewin
mendefinisikan kepribadian: … referens to the local integrated
pattern of an individual’s characteristic and enveronment.
(Kepribadian berhubungan dengan keseluruhan pertautan polapola karakteristik individu dan lingkungan).
Kepribadian ini dapat berupa tingkah laku sosial, persepsi
sosial dan motivasi kecakapan dan kepandaian yang merupakan
hasil pencampuran apa yang dimiliki individu dan pengaruh
lingkungan.
Dengan pengertian di atas, kepribadian terbentuk dari suatu
proses sejak individu tersebut dilahirkan sampai meninggal dunia.
Dalam hubungan ini Mac Iver dan Charles Page mengungkapkan
pengertian kepribadian sebagai: the total organized aggregate of
psychological process and states pertaining to the individual,
artinya kepribadian sebagai keseluruhan proses psikis yang
terorganisisr keberadaannya berkenaan pada individu.
Jadi kepribadian tersebut berupa proses kejiwaan yang terusmenerus terbentuk di
dalam kehidupan individu melalui
pengalaman-pengalaman
dan
kepribadian
ini
menentukan
keberadaan individu dalam sesuatu situasi. Misal, individu yang
mempunyai pengalaman yang banyak, ia mudah menyesuaikan
diri pada situasi. Selanjutnya kepribadian memang sebagai sarana
penyesuaian diri yang terwujud di dalam bentuk tingkah laku.
Dalam hal ini, Theodore M. Newcomb berpendapat kepribadian
adalah: the individual’s organizasition of predisposition to
behavior, including predisposition to both directive and expensive
behavior. (Kepribadian adalah organisasi kemudahan individu
untuk bertingkah laku, baik penentuan tujuan maupun perwujudan
dari tingkah laku).
Jelaslah bahwa kepribadian tersebut memudahkan individu
menetapkan dan bertingkah laku di dalam sesuatu situasi yang
sedang ia hadapi.
Misalnya, individu yang berada dalam lingkungan keluarga
malas ia telah menetapkan untuk hormat pada orang tua, berbicara
dengan segera dan baik, segera membantu bila dimintai bantuan,
dan sebagainya.
3) Struktur Kepribadian
Dari sudut pandang sosial-psikologis, struktur kepribadian
dapat diterngkan sebagai berikut:
a) Menurut Gordon Allport, et-al
Gordon Allport, et-al menggambarkan struktur kepribadian ke
dalam tiga aspek.
1) Temperamen
Menurut Gordon Allport, temperamen ini berbeda dengan
temperamen dari sudut pandan biologis dari kepribadian. Ia
menyatakan: the more anchred a disposition is in native
constitutional soil the more likely it is so be spoken of as
temperament. (Penyebaran kecenderungan yang berlebihan
adalah pembawaan yang menciptakan kejelekan, lebih
tampak, pengebutan temperamen).
Temperamen
berkaitan
dengan
bagaimana
individu
bertingkah laku dan bukan apa yang dilakukan. Contohnya:
energik, lambat, berhati-hati, cepat bereaksi, dsb.
Temperamen tersebut berupa pembawaan dan sangat
menentukan tingkah laku serta kurang dapat dipengaruhi
oleh lingkungan sosial.
Menurut Robach, temperament as a basic quality of
psychological and emotion of individu (temperamen sebagai
kualitas
dasar
kejiwaan
dan
perasaan
individu).
Bagaimanapun temperamen sangat mempengaruhi kulitas
tingkah laku individu.
2) Trait
Murphy mengartikan trait: .. as anything by means of which
person may be dislingueshed from another. (Trait sebagai
sesuatu yang dengan hal itu seseorang dapat dibedakan
dengan yang lain).
Misalnya, ingin menguasai (dominan), mudah bergaul, rasa
hormat yang tinggi, congkak, dan sebagainya.
Lebih terperinci Steigner memberi pemgertian yang spesifik
tentang trait sebagai berikut: ... as generalized tendency to
valuate situation in a predictable manner and to act
accordingly. (Trait adalah kecenderungan menilai situasi
yang terorganisir dengan cara-cara yang ditafsirkan dan
bertingkah laku yang sesuai dengan cara-cara itu).
Misal, individu yang ambisius maka di mana pun dan kapan
pun ia ingin menguasai individu lain.
Berbeda dengan temperamen, trait berhubungan dengan
cara-cara yang digunakan individu dan isi/nilai tingkah laku
individu yang bersangkutan. Akan tetapi, trait dapat diubah
oleh pengaruh lingkungan individu tersebut.
Misal: individu yang ambisius dapat berubah saat yang
bersangkutan makin dewasa.
Trait menurut David Krech dan Richard Cratchfield berisi:
a) Role disposition, yakni kecenderungan bertingkah laku
(berperan) individu di dalam hubungan antar individu
lain. Misal : inisiatif, dominan, berdiri sendiri.
b) Sociometic disposition, yakni kecenderungan individu
untuk bereaksi di dalam hubungan dengan cara yang
disukai satu sama lain. Misal : menjadi anggota
kelompok teman yang memiliki hobi/kesenangan sama.
c) Expressive disposition, yakni kecenderungan bertingkah
laku sesuai dengan fungsinya di dalam hubungan antar
individu. Misal: seseorang pemimpin dapat mengambil
inisiatif menghubungi anggota-anggotanya.
Abraham Maslow mengungkapkan ciir-ciri tarit sebagai
berikut:
a) Stability, artinya kecenderungan beretingkah laku pada
seseorang bersifat tetap. Misal : ia senang belajar
dengan si A saja.
b) Vasivercess, artinya kecenderungan bertingkah laku
yang mengisi/menembus tingkah laku sosial individu
lain sehingga individu lain dapat dibatasi tingkah
lakunya. Misal : memimpin diskusi.
c) Constency, artinya kecenderungan bertingkah laku yang
mempunyai tingkat kestabilan sesuai dengan situasinya.
Misal: orang yan mempunyai rasa hormat, tetapi ia
dapat marah karena situasinya.
d) Pattering, artinya kecenderungan bertingkah laku yang
telah menjadi pola pada seseorang. Misal: bila si A yang
datang, dipastikan dia ingin meminjam catatan kuliah.
3) Attitude (sikap)
Theodore M. Newcomb berpenapat bahwa sikap: ...
is one’s tendency of morning towards people, and object as
compliant, such as a process how affection, approval,
welcomed, etc. (Sikap adalah suatu kecenderungan berbuat
ke arah orang dan objek sebagai sesuatu pelaksanaan seperti
menunjukkan seseorang pengahargaan, mempersilahkan
dan sebagainya. Pengertian tersebut mengandung makna
bahwa sikap individu mengawal semua tingkah laku yang
dikerjakan individu yang bersangkutan dan sikap tersebut
berada dalam diri individu secara rapi dan terarah.
Lebih lanjut S. Stansfeld Sargent menjelaskan dengan
terperinci bahwa sikap adalah: ... a tendency to react
favorably or unfavorably towards person, object or
situation. (Sikap adalah kecenderungan berbuat atau
berekasi secara senang atau tidak senang terhadap orangorang, objek atau situasi). S. Stansfeld menunjukkan bahwa
sikap ditandai oleh senang atau tidak senang bertingkah
laku kepada sesuatu atau seseorang.
Misal, anak senang belajar kelompok dengan si A, B,
dan C, tetapi ia tidak senang kepada si D.
Sikap mempunyai hubungan yang erat dengan
kepentingan atau nilai yang dimiliki individu dan sifatnya
lebih laten dibanding dengan trait. Oleh karena itu, sikap
berhubungan
erat
dengan
bagaimana
individu
akan
bertingkah laku sesuai dengan situasinya.
Misal, orang dewasa pasti berbuat jujur pada siapa
pun. Tetapi ia dapat berbuat tidak jujur saat rumahnya
dimasuki permapok. Ketika ia ditanya oleh polisi, individu
tersebut berbuat jujur lagi.
Peninjauan lebih lanjut terhadap sikap, bahwa sikap
mempunyai ciri-ciri tertentu. Menurut W. A. Gerungan,
sikap mempunyai ciri-ciri:
a) Sikap bukan dibawa sejak lahir, melainkan
terbentuk
atau
dipelajari
sepanjang
perkembangan individu tersebut.
b) Sikap itu dapat berubah-ubah.
c) Sikap itu tidka berdiri sendiri, tetapi mempunyai
hubungan dengan sesuatu objek.
d) Objek sikap dapt berupa kumpulan objek.
e) Sikap itu mempunyai segi motivasi dan segi
perasaan.
Menurut Theodore M. Newcomb, ciri-ciri sikap:
a) Sikap itu mempunyai arah, artinya sikap itu
mempunyai tujuan tertentu ke mana tingkah laku
diarahkan.
b) Sikap mempunyai derajat perasaan, artinya sikap
itu dapat ditandai oleh tingkah laku senang atau
tidak senang.
Sedangkan David Kreach dan Richard Crudchfield
memberi ciri sikap sebagai berikut:
a) Valance
Sikap mempunyai derajat tertentu, dimana sikap
itu dilahirkan. Misal: si A menghormati kepada
orang tuanya lebih tinggi dibanding si A
mengjormati temannya.
b) Multiplicity
Sikap mempunyai ciri ganda, yakni sikap pada
saat tertentu dapat diubah sesuai tujuan atau
situasinya. Misal : si A menghormati si B karena
si B memberi pinjaman uang kepada si A. Tetapi
bila hutang tersebut sudah lunas si A akan
menghormati secara wajar.
Seperti disebutkan di atas, sikap itu diperoleh dalam
perkembangan individu. Dalam hubungan ini sikap
tersebut dapat dibentuk dan diubah melalui:
Menurut David Kreach dan Richard Crudchfield sikap
dapat dibentuk dan diubah melalui:
a) ... and as additional information tends to change
the
individual’s
informasi
attitude.(seperti
bertujuan
untuk
penambahan
mengubah
sikap
individu).
b) The attitude of th eindividual formed as he interact
with other person (sikap individu dibentuk seperti
ia berhubungan dnegan orang lain).
c) It is some time possible to push people into
changing their attitude ... (ini kadang-kadang
memungkinkan
menekan
orang-orang
untuk
mengubah sikap mereka).
Menurut
W.
A.
Gerungan,
pembentukan
perubahan sikap dapat ditempuh melalui:
dan
a) Interaksi sosial di dalam dan di luar kelompok ini,
melalui alat-alat komunikas seperti surat kabar,
radio, televisi, dan lainnya.
b) Faktor intern di dalam pribadi manusia seperti
minat, perhatian dan daya pilihnya, serta harapan
individu yang menjadi tujuan akhirnya.
Menurut David G. Kreach, et-al, ada beberapa teori
yang dapat menjelaskan tentang pembentukan dan
perubahan sikap. Teori-teori tersebut adalah:
a) Teori belajar dari Carl Hooland
Teori ini menjelaskan bahwa sikap dapat dipelajari
dnegan cara yang sama seperti belajar pada
umumnya, seperti melalui perolehan informasi dan
fakta-fakta. Pembentukan dan perubahan sikap
tersebut berlangsung melalui proses asosiasi
(hubungan) pergaulan kembali dan imitasi. Contoh
: melalui proses asosiasi, guru menerangkan
kepada siswa bahwa pencopet sering beroperasi di
bus kota. Pada saaat siswa tersebut naik bus kota
bersama ibunya, ia khawatir akan dicopet.
b) Teori insentif dari Greenvald and Edward
Teori insentif menjelaskan bahwa pembentukan
sikap sebagai proses menimbang baik-buruknya
berbagai
kemungkinan
posisi
individu
dan
kemudian individu mengambil alternatif yang
terbaik. Misal : ajakan seseorang kepada temannya
untuk ikut datang ke pesta, maka teman tersebut
memikirkan aspek positifnya yakni senang buat
dirinya dan aspek negatifnya yakni tidak baik
menurut orang tuanya. Di sinilah si teman tadi
harus mengambil sikap yang tepat, baik bagi
dirinya maupun bagi orang tuanya, misalnya
datang ke pesta tetapi hanya sebentar.
Sikap terbaik yang diambil individu pada suatu situasi
di mana individu berada tergantung pada :
a) Nilai-nilai yang ada
b) Harapan-harapan individu
c) Pikiran individu yang bersangkutan
Faktor-faktor yang menentukan pengambilan sikap
tersebut, memunculkan dua subteori insentif, yakni:
a) Teori respon kognitif dari Greenwald
b) Teori nilai ekspektasi dari Edward
b) Menurut Sigmund Freud
Sigmund Freud menjelaskan bahwa struktur kepribadian terdiri
dari:
1) Das Es/The Id
Yamg dimaksud Das Es/The Id adalah sumber dari segala
sumber energi, yakni impuls-impuls yang berada dari
kebutuhan bilogis individu. Das Es merupakan aspek
biologis dari kepribadian. Prinsip kerjanya adalah prinsip
kenikmatan (pleasure principle), yaitu mencari keenakan
dan menghindari ketidakenakan.
Dengan prinsip kerja ini, the id merupakan sesuatu yang
tidak disadari sehingga the id menimbulkan tingkah-tingkah
laku:
a) Gerakan reflek seperti bersin, berkedip, dan sebagainya.
b) Proses primer, yakni gerakan yang tidak disertai
perhitungan seperti begitu lapar dan melihat makanan
kemudia terus dimakan
c) Gerakan yang lepas kontrol seperti amoral.
The id tidak mengenal dunia nyata (realitas) sehingga
kepribadian
membentuk
sruktur
baru
untuk
menghubungkan the id dengan dunia nyata. Struktur inilah
disebut Das Ich/The Ego.
2) Das Ich/The Ego
Yang dimaksud the ego adalah aspek kepribadian yang
bersifat dinamis, yang berisi sikap, nilai, keyakinan dan
tujuan yang menjadikan individu dekat dan dihargai di
dalam kehidupannya.
Prinsip kerja the ego adalah memperoleh keenakan dan
menghindari ketidakenakan, tetapi dalam bentuk dan cara
yang sesuai dengan kondisi dunia riil, sesuai apa yang ada.
Prinsip kerja the ego telah menggunakan dasar proses
berpikir dari individu yang bersangkutan. Jadi, the ego telah
menggunakan logika yakni menerapkan proses persepsi dan
proses kognisi.
Oleh karena ini, the ego merupakan aspek psikologis dari
kepribadian guna berhubungan dengan dunia luar secara
realistik. Akan tetapi, the ego sering kali menimbulkan
tingkah laku yang dapat melanggar norma-norma sosial di
dalam kehidupan individu yang bersangkutan.
Misal, individu yang memiliki uang, kemudian ia membeli
apa yang menjadi kebutuhan dirinya, tanpa memikirkan
kebutuhan lain-lain yang belum terpikirkan individu
tersebut.
Dalam mencegah pelanggaran-pelangaran yang terjadi atau
mungkin
terjadi,
kepribadian
menciptakan
struktur
kepribadian yang ketiga yakni Das Ueber Ich/The
Superego.
3) Das Uber Ich/The Superego
Yang dimaksud the superego adalah aspek kepribadian
yang bersifat moral yang berisi norma-norma sosial, nilainilai sosial, dan tata cara yang telah tertanam dalam psikis
individu.
Prinsip kerja the superego adalah idealistis daripada realistis
yakni menentukan tingkah laku yang sesuai dengan
masyarakat di mana individu itu hidup. Jadi, the superego
merupakan
aspek
sosiologis
dari
kepribadian
dan
menumbuhkan tingkah laku yang sesuai dengan moral
masyarakat. Cara kerja the superego adalah:
a) Merintangi impuls-impuls dan es, sehingga tingkah laku
yang dihasilkan menjadi disadari.
b) Mendorong das ich untuk mengejar hal – hal yang
bersifat moralistik sehingga tingkah laku individu tidak
melanggar norma, aturan atau kebiasaan masyarakat.
c) Mengejar kesempurnaan dalam bertingkah laku melalu
penambahan pengalaman hidup sehari – hari.
Cara kerja the superego tidak terpengaruh oleh waktu dan
tempat, tidak mempunyai sensor diri serta mempunyai
energi sendiri. Oleh karena itu, the superego dapat
bertentangan dengan the ego untuk mencari kesenangan.
The superego berusaha memperoleh kesempurnaan tingkah
laku sesuai dengan tempat dan waktu serta kondisi
masyarakat dan tugas ini merupakan tugas berat bagi
individu.
Pembentukan superego melalui proses sosialisasi/belajar
sosial
yakni
proses
penerimaan
norma
–
norma,
aturan,kebiasaan, dan keyakinan masyarakat oleh individu.
The superego mempunyai energi yang apabila berlebih
dapat menimbulkan tingkah laku yang merugikan individu,
seperti individu merasa ragu – ragu, takut, atau terkekang.
Tetapi, the supeego mempunyai nilai positif yang besar
dalam tingkah laku individu dibanding dengan nilai
negatifnya.
B. Kebudayaan
Psikologi sosial sangat tertarik untuk mempelajari kebudayaan dalam
hubungannya dengan pembentukan kepribadian individu. Menurut para
ahli Psikologi Sosial, individu menciptakan kebudayaan masyarakat
dimana individu berada, akan tetapi kebudayaan sangat mempengaruhi
kepribadian individu sebagai anggota suatu masyarakat pendukung
kebudayaan tersebut.
1. Pengertian Kebudayaan
Pengertian kebudayaan dalam lingkungan Psikologi Sosial banyak
memperoleh sumbangan dari ahli – ahli Antropologi dimana diantara
mereka juga dimasukan kedalam kelompok ahli – ahli Psikologi
Sosial, mereka antara lain adalah:
a. Ralp Linto, kebudayaan adalah sebagai keseluruhan jumlah pola
tingkah laku, sikap dan nilai yang dibagikan dan dipindahkan oleh
anggota masyarakat pemberi kebudayaan tersebut.
b. A.L. Krocber, kebudayaan adalah kumpulan reaksi motorik
kebiasaan, cara – cara, ide – ide dan nilai serta tingkah laku yang
dipelajari dan ditutunkan oleh mereka. Termasuk kebudayaan
pemerintahan, gereja dan keluarga serta kebiasaan hukum.
c. David Krech dan Richard Crutchfield, kebudayaan sebagai
sekumpulan keyakinan, nilai, norma, dan batasan – batasan
dimana ahli- ahli anthropologi menemukan guna menerangkan
tingkah – tingkah laku yang umum yang dapat diamati.
d. Taylor, kebudayaan sebagai
totalitas dari keseluruhan yang
mencakup moral, keyakinan, hukum, kesenian, kebiasaan dan
keahlian lain individu.
Beberapa definisi kebudayaan tersebut dapat dikatakan
merupakan penemuan dari para ahli dalam memberi pengertian
kebudayaan. Kebudayaan yang dimaksudkan adalah:
a. Kebudayaan merupakan gejala kemanusiaan, artinya tidak
mungkin ada kebudayaan tanpa manusia atau tidak mungkin
manusia yang tidak mempunyai kebudayaan. Kebudayaan dan
manusia tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Ternyata, manusia
menciptakan kebiasaan, norma, nilai yang menjadi isi kebudayaan
dan manusia juga memilih segala sesuatu yang telah ditentukan
oleh kebudayaan masyarakatnya.
Misal: manusia menerima tentu dengan rasa hormat
b. Kebudayaan akan ikut serta menciptakan manusia, artinya
kebudayaan yang dibuat manusia, menyebabkan manusia tunduk
pada kebudayaan tersebut.
Misal: manusia mempunyai sifat gotong royong.
c. Kebudayaan adalah alat untuk memenuhi kebutuhan dan
memperbaiki
kehidupan
manusia
agar
memberikan
faedah/manfaat bagi manusia. Manusia memiliki sifat bertindak
secara efektif dibandingkan tindakan yang telah lalu. Misal:
manusia menciptakan kursi sofa untuk duduk beristirahat.
d. Kebudayaan adalah alat untuk mempertahankan hidup manusia,
artinya kebudayaan selalu berkembang dan kehidupan manusia
sangat memerlukan tersebut. Misalnya: manusia mengikuti
perkembangan mode pakaian.
e. Dalam perkembangan kebudayaan kadang – kadang terjadi
lompatan untuk menyesuaikan dengan keadaan seluruhnya, akan
tetapi, lompatan demikian tidaklah jelek untuk kehidupan manusia.
Misalnya: adanya televisi, kalkulator, komputer, telepon seluler,
menyebutkan orang dapat mengikuti teknologi mutakhir.
Kebudayaan tersebut selalu diturunkan dari satu generasi
ke generasi berikutnya dengan mengalami perubahan yang ada
pada umumnya secara lambat. Kebudayaan tersebut pasti memiliki
pengaruh pada pembentukan kepribadian individu sejak kecil
sampai tua. Kebudayaan itu pun menjadi bekal dan alat untuk
bertingkah laku individu dimana ia berada sehingga individu
tersebut dapat mempertahankan hidup dan berkembang dalam
kehidupan. Individu yang memiliki kebudayaan yang berbeda
dengan kebudayaan masyarakat dimana ia berada, maka ia akan
mempelajari dan memasukkan aspek – aspek kebudayaan
masyarakat yang berbeda kedalam kepribadiaannya sehingga ia
dapat hidup dalam kebudayaan masyarakat yang berbeda tersebut.
Dalam hubungan ini aspek kebudayaan lama yang dimiliki
akan tetap hidup dalam kepribadiannya dalam keadaan terpendam,
sehingga bila ia kembali hidup dalam masyarakat lama, ia tetap
dapat bertingkah laku sesuai kebudayaan lama tersebut.
2. Aspek Kebudayaan
Seperti yang dikemukakan diatas, kebudayaan sesuatu generasi
akan selalu diwariskan dan dipelajari oleh generasi berikutnya
sehingga kebudayaan tersebut tetap hidup dalam masyarakat
walaupun generasi pencipta kebudayaan telah dinanti generasi
berikutnya. Apa
yang diwariskan dan dipelajari dari suatu
kebudayaan, oleh Muzofir Sherif disebut warisan sosial (social
heritage). Keberadaan warisan sosial adalah bersifat bebas dari
kehidupan individu anggota masyarakat, tetapi warisan sosial
mempunyai pengaruh yang besar dalam perkembangan kehidupan
individu terutama dalam rangka pembentukan kepribadian individu
tersebut.
Menurut Muzafer Sherif, warisan sosial berisi norma – norma
sosial (social norm) yakni norma sosial mengungkap diterimanya
aturan, kebiasaan, sikap, nilai, dan ukuran lain yang didapatkan
didalam tiap kelompoksosial yang dibangun atau dibuat. Norma sosial
dapat diperoleh dari individu dengan cara mempelajari kebudayaan
masyarakat individu yang bersangkutan sejak kecil atau individu
berada dalam kebudayaan masyarakat
yang berbeda dengan
kebudayaan masyarakatnya sendiri melalui proses interaksi sosial oleh
individu lain.
Aspek kebudayaan, yang dikenal dengan warisan sosial (social
heritage) atau juga norma – norma sosial (social norm) dapat berupa:
a. Rule/aturan
Glas Aver dan Page berpendapat bahwa yang dimaksud aturan
adalah
sesuatu
untuk
melaksanakanaktivitas
kehidupan
masyarakat seperti aturan membagi peralatan atau aturan makan
atau aturan tingkah laku dasar jenis kelamin.
Rule (aturan) dapat dibagi menjadi:
1) Legal rule (aturan resmi) yakni suatu bentuk penekanan dalam
arti luas dimana sangsinya tidak bisa dihindarkan melalui
mengorbankan anggota si pelanggar.
2) The rule of association (aturan kumpulan) yakni sesuatu untuk
menjaga kondisi nyata dan kegagalan harus dipatuhi anggota
termasuk kehilangan keanggotaan atau acuan pribadi dapat
berupa penyerangan dari anggota lain.
b. Custom/kebiasaan
Mac Iver dan Page memberi pengertian Custom/kebiasaan adalah
prosedur
kelompok
yang
diciptakan
berulang,
tanpa
menampakkan ketentuan, tanpa mengangkat kekuasaan untuk
menerangkannya, untuk mempratikkan dan untuk menjaganya.
Kebiasaan merupakan aturan sosial yang bersifat spontan dan
diperlancar dengan adanya penerimaan umum.
Kebiasaan ambisius dilengkapi dengan hukum karena:
1) Memerlukan lembaga khusus.
Kebiasaan biasanya lemah dalam keharusan dalam rangka
memperoleh kebenaran secara hukum.
2) Memerlukan penyesuaian secara cepat untuk mengubah
keadaan.
Kebiasaan merupakan cara mengarahkan yang bersifat
tua/lama untuk memperoleh situasi baru.
3) Memerlukan lembaga sendiri.
Kebiasaan perlu ada lembaga sendiri yang menangani
kebiasaan tersebut guna menjamin kelangsungan kebiasaan
tersebut hidup masyarakat.
4) Menentukan penjagaan apabila kebiasaan diciptakan.
Kebiasaan tumbuh subur pada organisasi yang kekuasaannya
lemah sehingga kebiasaan harus tetap dijaga pada organisasi
yang kuat kekuasaannya melalui lembaga peradilan.
c. Attitude/sikap
Lihat uraian tentang sikap pada bagian depan
d. Values/Nilai – nilai
Menurut Nernon dan Gordon Allport, nilai adalah menunjukkan
dimana lingkup usaha pokok sangat penting bagi individu. Oleh
karena itu, Spranger menyebut nilai adalah sebagai keinginan.
Spranger membagi – bagi nilai/values menjadi:
1) Nilai teoritis,
2) Nilai ekonomis,
3) Nilai keindahan,
4) Nilai politis,
5) Nilai sosial,
6) Nilai agama.
Menurut Muzafer Sherif, values merupakan standard keadilan
dan tingkah laku yang dapat diterima masyarakat serta
dilaksanakan pada proses interaksi sosial.
e. Standard lain/Ukuran lain
Beberapa ahli Sosiologi dan Psikologi Sosial mengungkapkan
standard/ukuran lain tersebut adalah:
1) Belief/Keyakinan
David Krech dan Richard Crutchfield menjelaskan keyakinan
adalah berlangsungnya pengaturan persepsi/gambaran dan
kognisi/pikiran tentang sejumlah aspek dunia individu.
Singkatnya keyakinan (belief) individu benda dalam pikiran
tersebut tentang individu lain.
Keyakinan individu berisi pengetahuan, pendapat, dan
kepercayaan tentang individu, benda atau situasi yang dihadapi
individu yang bersangkutan.
Fungsi keyakinan/belief adalah:
a. Keyakinan berfungsi untuk mencari makna/arti dari
individu, benda dan situasi.
b. Keyakinan berfungsi menjamin kebutuhan individu guna
mencapai tujuan yang diinginkan.
Karakteristik keyakinan/belief adalah:
a. Keyakinan mempunyai objek sebagai sasaran yang tepat
berupa individu, benda atau situasi.
b. Keyakinan itu mempunyai struktur, artinya keyakinan
individu terhadap objeknya dapat berbeda tergantung pada
tempat dan situasi objek itu berada. Jadi keyakinan
individu ada yang kuat dan lemah, ada yang penting dan
tidak penting.
c. Keyakinan
itu
mempunyai
kebenaran
yang
sangat
tergantung dari pengetahuan dan kemampuan berfikir
individu.
2) Law/Hukum
Kingsly Davis memberi pengertian law/hukum adalah sesuatu
yang tidak ditentukan secara formal tetapi diputuskan dan
dipaksakan secara formal. Hukum diangkat dari aturan –
aturan yang diputuskan oleh lembaga/institusi menjadi hukum.
Fungsi hukum menurut Kingsly Davis:
a) Memberikan keseimbangan terhadap kedudukan sesuatu
hal/individu secara jelas.
b) Memberikan penyesuaian terhadap perubahan keadaan ke
arah keadaan yang dinginkan.
c) Memberikan pengaturan terhadap individu atau benda –
benda yang ada dalam kehidupan.
d) Memberikan penjagaan terhadap langkah perubahan sosial
secara umum.
e) Memberi penjagaan kepada masyarakat untuk ikut serta
dalam perubahan.
3) Etiquatte/Etiket
Menurut Kingsly Davis, etiket adalah sesuatu yang dikaitkan
dengan pemilihan bentuk yang banyak untuk mengerjakan
sesuatu.
Dengan etiket maka:
a. Ada kesepian individu untuk bertingkah laku.
b. Seseorang dapat diidentifikasi/dikenali.
c. Dapat digunakan memilih pilihan.
d. Dapat ditentukan sopan/tidaknya sesuatu tingkah laku.
C. Pengaruh Sosial Lain dalam Kepribadian
Ahli-ahli Psikologi Sosial berpendapat bahwa pola-pola kebudayaan
dimana seorang individu hidup, mempunyai pengaruh yang fundamental
terhadap kepribadiannya dan tingkah laku sosialnya. Namun, diluar polapola kebudayaan ada juga faktor-faktor social lain yang juga berpengaruh
terhadap kepribadian dan tingkah laku social individu. Faktor social yang
dimaksud adalah rumah, sekolah, masyarakat, socio-ekonomi dan status
kesukuan.
1. Rumah/Home
Ahli-ahli sosiologi, psikologi, antropologi kriminologi dan
psikologi social berpendapat bahwa : “Pengalaman awal keluarga bagi
anak adalah pengaruh social yang sangat penting didalam keseluruhan
aliran perkembangan anak”.
Dalam keluarga, anak mulai mengenal dunia pertama yang memberi
pengalaman berharga, inilah pembentukan kepribadian dan menjadi
alasan bagi kepribadian anak selanjutnya. Ini dimaksudkan bahwa dalam
keluarga, setiap anggota keluarga (ayah, ibu, kakak, adik) mempunyai
kepribadian sendiri dan saling berinteraksi. Anak harus membentuk
kepribadian sendiri atas dasar penguatan pada kepribadian-kepribadian
anggota keluarga tersebut.
Misal : dalam keluarga yang hidup rukun, anak akan menanamkan sifat
rukun ini didalam kepribadiannya sehingga anak mampu hidup rukun
dengan teman-temannya.
2. Sekolah/School
Para ahli sosiologi, antropologi, psikologi sependapat bahwa
pendidikan meningkatkan proses perkembangan intelek, perasaan dan
social yang sudah dimulai dari rumah. Dengan kata lain, sekolah ikut
berperan aktif dalam rangka pembentukan kepribadian dengan jalan anak
mempelajari kebiasaan, sikap individu lain, pengalaman baru dan
kecakapan-kecakapan yang dibutuhkan.
Sekolah mempunyai peran
penting tentang belajar social pada anak, peran yang dimaksud adalah :
a. Mengoreksi sikap dan tingkah laku social anak yang kurang baik,
yang berkembang dalam keluarga.
Contohnya : anak bersikap dan bertingkah laku malas, sikap dan
tingkah laku malas diperbaiki melalui pemberian tugas rumah oleh
guru.
b. Menumbuhkan sikap dan tingkah laku social baru untuk menghadapi
kehidupannya dimasa yang akan datang.
Contohnya : anak diberi tugas memimpin kerja kelompok, jadi dimasa
yang akan datang jika anak memimpin suatu kegiatan dia tidak merasa
kaget dan bingung.
c. Mengembangkan mental anak dalam arti akademis melalui proses
belajar disekolah.
Contoh : anak cakap dalam membaca, matematika dan lain
sebagainya.
3. Masyarakat/ Community
Masyarakat merupakan dunia ketiga yang dialami oleh si anak dan
merupakan masa paling lama bagi anak di dalam kehidupannya sampai si
anak orang dewasa, bahkan menjadi orang tua. Pada masa ini pula anak
lebih banyak lagi menerima pengaruh dari luar dan pengaruh-pengaruh
dari masyarakat ikut menentukan apakah anak menjadi orang-orang yang
baik sesuai dengan tuntutan superego yang dimiliki atau menjadi jelek
karena ia akan menuruti tuntutan das es dan egonya saja.
Di
dalam
masyarakat,
faktor
tetangga
dan
perkumpulan
anak/remaja sangat berperan aktif sebagai faktor-faktor pengaruh yang
datang dari masyarakat di mana anak itu hidup. S.Stanfeld Sargent
mengungkapkan : tetangga dan perkumpulan dalam masyarakat adalah
faktor-faktor tang paling penting yang menyebabkan tingkah laku sosial
anak yang baik atau tidak.
Pernyataan di atas, juga menunjukan faktor hubungan sosial
(interaksi sosial yang terjadi di masyarakat, tetangga, dan perkumpulan
pemuda) mempunyai pengaruh penting dalam rangka pembentukn sosial.
Hal ini dapat dimaklumi karena didalam interaksi sosial itulah anak-anak
akan menemukan norma-norma sosial dan kemudian mereka masukan di
dalamkepribadian yang pada gilirannya merka wujudkan dalam bentuk
tingkah laku sosial.
Pembentukan kepribadian melalui masyarakat mempunyai makna
lebih mendalam daripada pembentukan kepribadian melalui keluarga dan
sekolah serta kebudayaan.
Inilah kepribadian yang diharapkan dimiliki oleh setiap individu
sehingga individu dapat hidup di tengah-tengah masyarakatnya.
Kepribaidian individu yang demikian, oleh Ralp Linton dasr pola umum
kepribadian pada anggota masyarakat yang menjdi menyatu dengan dasr
pada kepribadian individu. Inilah inti dari pembentukan kepribadian
melalui masyarakat pada setiap individu.
4. Status Sosial Ekonomi/ Socio-economic Status
Status sosial ekonomi juga mempunyai pengaruh terhadap pembentukan
kepribadian anak di mana pengaruh sosial ekonomi tersebut bersifat
buruk/sullen. Pengaruh sosial ekonomi berkisar pada keadaan lahiriah dan
dan juga keadaan yang bersifat rohaniah. Keadaan yang bersifat lahiriah
seperti kaya, miskin, pemimpin, orang-orang berpengaruh, sedang
keadaan yang bersifat rohaniah seperti berpendidikan, ahli, pekerjaan.
Status sosial ekonomi membatasi dan mempengaruhi anak di dalam
kontak/hubungan sosial. Dengan kata lain, status sosial ekonomi
berpengaruh di dalam pembentukan kepribadian anak memlalui interaksi
sosial, seperti sikap, minat, nilai, dan kbiasaan anak tersebut. Status soisial
ekonomi anak berasal dari status sosial ekonomi yang telah dimiliki
sebelum lahir.
5. Status Kesukuan/ Etnic Status
Status kesukuan ini muncul karena ada kelompok-kelompok orang
tertentu yang hidup terpisah sebagai minoritas dan mempunyai perbedaanperbedaan dengan sekitarnya.
Perbedaan-perbedaan status kesukuan dari kelompok-kelompok
minoritas dengan sekitarnya, membawa dampak pada pertumbuhan
kepribadian individu-individu dari kelompok minoritas tersebut. C.S.
Johnson menunjukan orang-orang Negro yang berdiam di pedesaan
selatan Amerika Serikat, mempunyai pertumbuhan kepribadian yang tidak
menyenangkan dalam kerangka pola kebudayaan Amerika. Hal ini terlihat
dari kenyataan sebagai berikut :
a. Orang-orang Negro mempunyai hubungan yang kaku dengan orang-orang
kulit putih.
b. Orang-orang Negro mengambil kompensasi dengan menunjukan rasa
bangga sebagai Suku Negro.
c. Orang-orang Negro selalu menunjukan tingkah laku penyerarangan
terhadap suku lain.
d. Orang-orang Negro sangat konsisten ketaatannya terhadap status
sosialnya.
Keadaan tersebut diatas selalu turun temurun dari satu generasi ke
generasi berikutnya sehingga perbedaan itu tetap saja ada/ tidak bisa
hilang. Suthelanad mengemukakan kondisi perbedaan banyakberagam di
dalam perbedaan wilayah, meraka banyak/beragam sesuai dengan kelas
sosial dan mereka sering banyak berpengaruh perbedaan kepribadian.
Perbedaan inilah yang menimbulkan kesukuaan sebagai ukuran
sosiologis, sedangkan secara fisik perbedaan itu terlihat jelas. Anggota
masing-masing
suku
selalu
menyebarkan
perbedaan
tradisi
dan
kebudayaan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi
berikutnya sebagai salah satu ciri khas suatu suku.
Kedudukan status kesukuan di dalam stuktur sosial ditandai oleh
beberapa faktor/hal dari suku tersebut, antara lain :
a. Besarnya suku.
Suku yang kecil, akan selalu menjadi kelompok minoritas dan hal ini
semakin mempertajam perbedaan dengan suku lain. Akibatnya pada
suku tersebut selalu timbul prasangka dan diskriminasi dari suku lain
yang lebih besar.
b. Perbedaan psikologis.
Anggota –anggota suku minoritas yang lahir belakangan akan
dihinggapi perasaan yang kurang baik, seperti antisipasi terhadap suku
lain. Keadaan ini memunculkan stereotype bagi anggota suku tersebut,
yakni gambaran yang bersifat negatif dari ciri-ciri yang dimiliki oleh
orang/kelompok tertentu.
c. Perbedaan kebudayaan.
Perbedaan dari kebudayaan suatu suku bangsa menjadi dasar penilaian
terhadap suku yang bersangkutan. Dari hasil pemikiran yang sepihak
inilah,
sering
menimbulkan
konflik
yang
bersifat
konstasi/berkepanjangan.
d. Perbedaan nilai.
Nilai-nilai yang dianut sesuatu suku bangsa, dapat menjadi sumber
perbedaan trhadap suku bangsa lain. Nlai-nilai itu dapat berhubungan
dengan baik-buruk, benar-salah, keharusan, karangan, dan sebagainya.
Nilai-nilai sangat berpengaruh terhadap kehidupan individu dan
berdampak pada tingkah laku individu yang bersangkutan.
DAFTAR PUSTAKA
Santosa, S. (2010). Teori-Teori Psikologi Sosial. Bandung: PT Refika Aditama.
Download