BAB I PENDAHULUAN Penyakit paru interstitial (ILD) pada bayi dan

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
Penyakit paru interstitial (ILD) pada bayi dan anak-anak merupakan
gangguan pernapasan yang jarang ditemui yang sebagian besar kronis dan
berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Gangguan ini ditandai
dengan adanya gambaran inflamasi dan fibrosis yang mempengaruhi dinding
alveolar. Gambaran khas dari ILD adalah dyspnea, infiltrat difus pada radiografi
dada, dan tes fungsi paru yang abnormal dengan gambaran ventilasi restriktif dan
/ atau gangguan pertukaran gas. Banyak situasi patologis yang dapat mengganggu
pertukaran gas, dan dapat berkontribusi terhadap kerusakan paru-paru progresif
dan ILD. Akibatnya, pendekatan diagnosis perlu terstruktur dengan evaluasi klinis
dan sejarah perjalanan penyakit , memperhatikan ada tidaknya paparan dan
penyakit
sistemik
yang
mungkin
berhubungan
dengan
penyakit
paru
interstitial.1,2,3,4
Beberapa klasifikasi untuk ILD telah diusulkan tetapi tidak sepenuhnya
memuaskan terutama pada anak-anak. Berikut pengelompokan diagnostik yang
digunakan untuk membahas berbagai penyebab ILD pada anak: 1) ILD terkait
paparan; 2) ILD yang berkaitan dengan penyakit sistemik; 3) ILD terkait
gangguan struktur alveolar; dan 4) ILD khusus pada bayi.1
Pilihan terapi meliputi terutama anti-inflamasi, imunosupresif, dan / atau
obat-obatan anti-fibrosis. Hasilnya sangat bervariasi dengan angka kematian
sekitar 15%. Sebuah respon yang baik secara keseluruhan terhadap terapi
kortikosteroid diamati di sekitar 50% kasus, sering dikaitkan dengan gejala sisa
seperti keterbatasan toleransi latihan atau aktifitas, atau kebutuhan terapi oksigen
jangka panjang.1
Pada laporan kasus ini dilaporkan seorang bayi usia 4 bulan dengan
keluhan muka membiru bila menangis, dan diduga adanya kelainan jantung
kongenital. Setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan didapatkan adanya
kecurigaan hipertensi pulmonal, timbul pertanyaan dari klinisi apakah ada
gambaran ILD pada CT Scan Thorax pada pasien ini, atau hipertensi pulmonalnya
akibat dari kelainan jantung kongenital yang diderita oleh pasien ini. Berdasarkan
latar belakang tersebut diatas dan kasus ILD pada bayi merupakan kasus yang
jarang, maka penulis tertarik untuk membuat laporkan kasus tentang pasien ini.
Tujuan penulisan laporan kasus ini untuk memperoleh kejelasan prosedur
diagnosis ILD dan gambaran pada CT scan maupun Ro Thorax pada anak
terutama pada bayi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Penyakit paru interstitial (ILD) pada bayi dan anak-anak merupakan
kelompok heterogen gangguan pernafasan yang sebagian besar kronis dan
berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi (sekitar 15%).
Gangguan ini ditandai dengan perubahan inflamasi dan fibrosis yang
mempengaruhi dinding alveolar. Gambaran khas dari ILD termasuk adanya
infiltrat yang tersebar pada rontgen dada, dan tes fungsi paru yang abnormal
dengan gambaran ventilasi restriktif (pada anak yang lebih tua) dan / atau
gangguan pertukaran gas.1,2,3,4
Anatomi paru-paru
Sistem pernapasan terdiri atas sepasang paru-paru, saluran napas yang
dilalui udara menuju lokasi pertukaran udara, bagain-bagian tertentu dari sistem
saraf pusat serta otot-otot dinding dada dan diafragma yang bertanggung jawab
atas mengembang dan mengempisnya paru-paru.
Saluran napas tersusun atas serangkaian pipa yang bercabang sekitar 25
kali, yang semakin ke ujung semakin sempit dan pendek serta berjumlah semakin
banyak seiring semakin jauh masuk ke dalam paru-paru. Setiap percabangan
diberi nomor yang berurutan semakin ke ujung, dengan trakhea diberi nomor 0.
Saluran ini dimulai dari hidung, faring dan laring, trakhea, bronkhus, bronkhiolus
sampai ke bronkhiolus terminalis.5
Selanjutnya
bronkhiolus
terminalis
berlanjut
sebagai
bronkhiolus
respiratorius, yang bersama-sama dengan duktus alveolar dan alveoli membentuk
terminal respiratory unit (TRU), unit fungsional terkecil yang melaksanakan
fungsi pertukaran gas. TRU sering juga disebut sebagai asinus paru-paru. Saluran
napas ini masuk ke dalam paru-paru melalui hilus paru-paru (gambar 1A).5
Manusia memiliki sepasang paru-paru, kanan dan kiri. Paru-paru kanan
tersusun atas tiga lobus sementara paru-paru kiri tersusun atas dua buah lobus.
Setiap lobus tersusun atas beberapa segmen dan setiap segmen terdiri atas banyak
lobulus. Satu lobulus dengan lobulus yang lain dipisahkan oleh septum
interlobularis. Setiap lobulus terdiri atas beberapa asinus dan ruangan-ruangan di
antara asinus-asinus tersebut diisi oleh jaringan interstisial paruparu
(Gambar 1B). Pada bayi, terutama bayi-bayi preterm, jaringan interstisial ini lebih
padat dibandingkan dengan bayi yang aterm, terlebih lagi dibandingkan dengan
paru-paru orang dewasa. Setiap paru-paru dibungkus oleh pleura. Terdapat dua
macam pleura, yaitu pleura parietalis dan pleura visceralis. Pleura parietalis
menempel pada dinding dalam thoraks. Di sebelah medial/mediastinal, di sekitar
hilus paruparu, pleura parietalis melipat ke arah dalam dan berlanjut sebagai
pleura visceralis yang menempel pada permukaan paru-paru.5
Paru-paru diperdarahi oleh 2 buah sistem sirkulasi. Arteri pulmonalis,
yang berjalan mengikuti cabang-cabang bronkhus, mengalirkan darah yang akan
dioksigenasi menuju alveoli. Setelah mengalami pertukaran gas di anyaman
kapiler alveoli, selanjutnya darah dialirkan kembali ke jantung melalui vena
pulmonalis yang berjalan di dalam septum interlobularis (Gambar 2).
Alveoli mendapatkan kebutuhan oksigennya dari proses ini. Jaringan paruparu yang lain memperoleh oksigenasi dan nutrisi melalui arteri bronkhialis.
Arteri ini dipercabangkan langsung dari aorta descenden. Seperti arteri
pulmonalis, arteri bronkhialis berjalan mengikuti cabang-cabang bronkhus, namun
tidak seperti arteri pulmonalis yang membentuk anyaman kapiler di dinding
alveoli, arteri bronkhialis berjalan melalui ruang interstisial paru-paru. Darah dari
arteri bronkhialis didrainase melalui beberapa jalur. Di area sekitar bronkhus dan
cabang-cabangnya, darah akan didrainase ke dalam vena bronkhialis yang
selanjutnya berlanjut ke vena azygos—untuk
hemithoraks kanan—atau vena
hemiazygos—untuk hemithoraks kiri. Darah dari area-area di perifer atau
superfisial akan didrainase melalui vena pulmonalis, setelah sebelumnya melewati
pleura visceralis.6
Klasifikasi
Ada banyak pendekatan yang berbeda untuk klasifikasi ILD, dengan pergeseran
besar berdasarkan klinis, peningkatan pencitraan dada, dan kolaborasi dengan ahli
patologi. Pada tahun 2002, klasifikasi idiopatik interstitial pneumonia (IIP)
diusulkan oleh American Thoracic Society (ATS) / Eropa Respiratory Society
(ERS).7 Ada seratusan jenis ILD, dan 10 tersering-nya telah mencapai 90% dari
seluruh ILD.15 Skema klasifikasi ILD dewasa kurang cocok untuk kasus-kasus
anak yang tampaknya terdiri dari spektrum yang lebih luas dari gangguan dengan
lebih banyak variasi klinis. Selain itu, pola histologis anak sering tidak
menyerupai gambaran patologis dari jaringan paru-paru dari orang dewasa dan
beberapa bentuk hanya ditemui pada anak-anak kurang dari 2 tahun. Di antara
klasifikasi yang diusulkan untuk ILD anak, salah satu strategi yang sering
digunakan adalah dengan memisahkan gangguan paru dan gangguan sistemik
dengan keterlibatan paru. Baru-baru ini, sebuah kelompok tambahan telah
diperkenalkan yang didasarkan pada konsep bahwa beberapa ILD anak diamati
lebih sering pada bayi, sementara yang lain lebih spesifik untuk anak-anak.
Monografi ERS terakhir pada ILD menunjukan tentang klasifikasi anak
yang dibedakan antara anak usia 0-2 tahun dan anak di atas 2 tahun.8 Secara garis
besar kalsifikasi ILD anak adalah 1) ILD terkait paparan; 2) ILD yang berkaitan
dengan penyakit sistemik; 3) ILD terkait gangguan struktur alveolar; dan 4) ILD
khusus pada bayi.1
Epidemiologi
Estimasi prevalensi 3,6 per juta telah dilaporkan oleh Dinwiddie dan rekan
kerja melalui Survei nasional ILD kronis pada anak-anak imunokompeten di
Inggris dan Irlandia atas periode tiga tahun (1995-1998).2 Prevalensi ini tentu di
luar perkiraan karena kurangnya standar definisi dan tidak adanya sistem
pelaporan yang terorganisir. Dari data yang diterbitkan terbatas terdiri terutama
dari laporan kasus dan seri kecil, tampaknya ILD anak terjadi lebih sering pada
anak yang lebih muda. Lebih dari 30% pasien yang kurang dari 2 tahun,
sebagaimana dicatat oleh ERS Task Force baru-baru ini. 7% memiliki pertalian
darah dengan orang tua dan hampir 10% kasus, terdapat saudara yang terkena
penyakit yang sama (familial). Anak laki-laki lebih dominan.1
Patofisiologi
Beberapa faktor mungkin melukai epitel alveolar dan memulai terjadinya
proses ILD. Cedera dapat diawali pada saluran udara dan sirkulasi, atau dapat
terjadi sebagai akibat dari sensitisasi. Akibatnya, mekanisme yang mendasari
perkembangan penyakit akan dipengaruhi oleh etiologi, faktor tuan rumah dan
lingkungan. Mekanisme ini dikembangkan melalui interaksi beberapa jalur, yang
meliputi jalur apoptosis, jalur perkembangan, dan retikulum endoplasma (ER).
Apotosis memainkan peran sentral dalam renovasi paru berhubungan dengan ILD.
Molekul penting dalam apoptosis sel epitel adalah TGF-b, yang terlalu banyak
timbul dalam ILD. Baru-baru ini, telah dikemukakan bahwa gen yang terkait
dengan pengembangan paru-paru dan jalur embrio dapat terlibat dalam
penyimpangan epitel-mesenchymal crosstalk dan plastisitas epitel, dan karena itu
dapat berpartisipasi dalam pengembangan ILD kronis.
Laporan terakhir sangat menyokong bahwa stress ER mungkin merupakan
mekanisme penting dari perubahan proses perbaikan yang diamati dalam epitel
alveolar paru-paru fibrotik. Situasinya terkait dengan regulasi abnormal dari
kejadian yang mengarah pada pembentukan protein yang matang baik misfolding
atau salah sasaran protein. Peristiwa ini memicu pembentukan agregat intraseluler
dan stress ER, yang dapat menyebabkan kematian sel melalui apoptosis dan jalur
autophagic. Beberapa rangsangan termasuk
antioksidan,
protein
virus,
molekul
menyebabkan stress ER (Gambar 3).1
ketidakseimbangan oksidan-
inflamasi,
kekurangan
gizi
dapat
Diagnosis ILD
Gambaran klinis
Manifestasi klinis bervariasi dari tanpa gejala, dengan fitur radiologi
sugestif ILD, sampai dengan adanya gejala pernapasan dan tanda-tanda seperti
batuk, takipneu dan intoleransi latihan. Gejala umum termasuk batuk, dyspnea,
takipneu dan retraksi dinding dada, keterbatasan aktifitas dan sering disertai
infeksi saluran pernapasan. Batuk diamati di hampir 75% dari pasien, biasanya
non-produktif dan tidak mengganggu tidur. Takipneu diamati pada 80% pasien
dan biasanya merupakan gejala pernafasan paling awal dan paling umum. Demam
yang tidak jelas juga dilaporkan di hampir sepertiga dari bayi. Gagal tumbuh
(37%), penurunan berat badan juga gejala umum, terutama pada pasien muda.
Meskipun riwayat wheezing dapat timbul pada hampir 50% dari kasus, dengan
pemeriksaan fisik hanya ditemukan 20% dari kasus.1
Temuan klinis yang sering adalah crackles inspirasi (44%), takipneu dan
retraksi, terutama pada anak dengan riwayat kelahiran normal. Ini sangat sugestif
untuk ILD. Temuan lain yang terkait dengan stadium lanjut penyakit paru-paru
termasuk jari tabuh (13%) dan sianosis selama aktifitas atau saat istirahat (28%).
Pada pemeriksaan fisik adalah penting untuk memeriksa adanya gejala nonpernapasan yang terkait seperti penyakit sendi, ruam kulit, dan demam berulang
sugestif gangguan kolagen-vaskular. Juga harus didapatkan data menyangkut
faktor-faktor precipiting seperti riwayat makan, infeksi, atau paparan debu dan
obat-obatan. Selain itu, informasi pada kerabat atau saudara dengan kondisi paruparu yang sama harus ditanyakan. 1
Pencitraan dada
Radiografi dada polos biasanya dilakukan sebagai pemeriksaan awal pada
anak yang diduga ILD , tetapi informasi sering terbatas dan alat pencitraan dada
utama untuk diagnosis adalah High Resolution Computed Tomography (HRCT),
yang dapat memvisualisasikan struktur parenkim ke tingkat lobulus paru
sekunder. Untuk mengoptimalkan resolusi spasial, ada kesepakatan umum untuk
menggunakan potongan tipis (5-20mm), bidang pandang terkecil dan resolusi
yang tajam. Gambaran HRCT yang paling umum dari ILD adalah atenuasi ground
glass yang luas. Garis intralobular, penebalan septum interlobular yang tidak
teratur dan honeycombing adalah temuan yang kurang umum. Kista udara
subpleural yang besar di lobus atas yang berdekatan dengan daerah ground glass
juga telah dilaporkan pada anak-anak dengan ILD. Kista ini ditafsirkan sebagai
paraseptal atau irreguler emfisema. HRCT berguna untuk diagnosis ILD dan
pemilihan daerah paru-paru yang akan dibiopsi. HRCT juga dapat berkontribusi
untuk memantau aktivitas penyakit dan / atau keparahan.1
Pada literatur lain disebutkan temuan ILD anak dengan HRCT berupa
kombinasi antara hiperinflasi, mosaic attenuation, air trapping, ground glass
opacities, konsolidasi, opasitas linier / reticular, nodul atau kista. Pola mosaic
pada anak biasanya menggambarkan patchy interstitial disease atau small airway
disease dengan air trapping , tapi dapat juga terlihat bersamaan dengan hipertensi
pulmonum,
thromboemboli,
atau
penyakit
oklusi
vaskular
lain
yang
mengahasilkan gambaran oligemia atau justru pletore. Air trapping terlihat
sebagai regio hipoatenuasi dengan peningkatan atenuasi yang lebih rendah
dibandingkan normal, dan pengurangan volume parenkim yang lebih sedikit
dibanding normal pada saat ekspirasi ( gambar 4). Gambaran hipoatenuasi sub
segmental jarang ditemui pada paru anak normal, terutama di regio juxtapleural
posterior.
Pada konsolidasi, opasitas air space mengaburkan pembuluh darah
pulmonum (gambar 5). Konsolidasi dapat terlihat pada pneumonia, organizing
peneumonia, eosinophilic pneumonia, aspirasi pneumonia, acute interstitial
pneumonia (AIP),pulmonary hemorrhage syndromes,alveolar pulmonary oedema.
Ground glass opacity didefinisikan sebagai peningkatan atenuasi yang kabur dari
paru-paru dengan struktur bronkovaskular yang tetap terlihat pada HRCT. Ground
glass opacity sangat spesifik dan dapat dilihat pada paru-paru dengan peningkatan
volume darah kapiler, seperti adanya shunting, atau paru-paru dengan proses yang
menyebabkan penebalan interstitium atau tergantinya udara di alveoli dengan sel,
cairan, atau bahan lainnya (Gambar 5, 6, 7). Ground glass opacity juga dapat
ditemui fisiologis pada paru-paru yang mengembang kurang sempurna, terutama
di basis paru-paru bayi pada gambar yang diperoleh pada saat ekspirasi atau
inspirasi dangkal (Gambar 8).9,10,11,12
Penebalan septum interlobular atau intralobular merupakan hasil dari
edematous infiltratif, atau proses fibrotik yang mempengaruhi interstitium paru
dan menghasilkan pola linear atau retikular pada HRCT. Penebalan septum
biasanya
halus
dalam
kasus
edema
paru,
lymphangiectasis,
dan
lymphangiomatosis (Gambar 9), dan nodular dalam kasus sarkoidosis dan
pneumonia interstitial limfoid (LIP). Pola penebalan septum linear atau reticular
dapat dilihat pada NSIP dan gangguan jaringan ikat (Gambar 10), dan pola kasar
dengan band subpleural dan distorsi arsitektur menunjukkan fibrosis (Gambar 11).
Crazy paving mengacu pada pola penebalan septum tumpang tindih dengan latar
belakang ground glass opacity, membentuk pola batu paving yang tidak teratur
(Gambar 12). Crazy paving dikaitkan dengan pulmonary alveolar proteinosis
(PAP), sindrom perdarahan paru, pneumonia lipoid eksogen, organizing
pneumonia, pneumocystis pneumonia, dan sindrom pneumonia idiopatik.9-13
Nodul paru bisa klasifikasikan berdasarkan distribusinya sebagai
perilimfatik, milier, atau sentrilobular. Nodul perilimfatik ditemukan di sepanjang
septa interlobular, fisura interlobar. Ini dapat dilihat pada sarkoidosis (Gambar
13). Nodul milier memiliki distribusi acak yang menunjukkan penyebaran
hematogen, dan dapat dilihat pada tuberkulosis milier, penyakit metastatik, dan
Histiositosis sel Langerhans (LCH) (Gambar 15). Nodul sentrilobular ditemukan
dalam lobulus paru sekunder dan dipisahkan dari fisura pleura dan septa
interlobular dengan jarak beberapa milimeter. Nodul sentrilobular sering berbatas
tak tegas dan ground glass atenuasi, dan biasanya terlihat pada hipersensitivitas
pneumonitis, bronkiolitis, cystic fibrosis, asma, hemosiderosis paru idiopatik
(IPH), dan pulmonary vascular obstructive disease (PVOD) (Gambar 15). Pola
tree-in-bud mengacu pada opasitas percabangan centrilobular yang menyerupai
tunas pohon, dan ini paling sering ditemukan pada gangguan yang berhubungan
dengan penyumbatan endobronchiolar, seperti cystic fibrosis dan bronkiolitis
(Gambar 16), tetapi juga dapat dilihat pada penyakit seperti capillaritis yang
mempengaruhi pembuluh intralobular.9-14
Sebuah kista muncul di CT sebagai struktur membulat dengan atenuasi
rendah dengan batas tegas bersisian dengan paru-paru normal. Kista biasanya
berisi udara tetapi kadang-kadang mengandung bahan cairan atau padat. Kista
berdinding tipis terlihat di LCH paru, LIP, NSIP, gangguan pertumbuhan paruparu, gangguan metabolisme surfaktan, dan pulmonary alveolar microlithiasis
(Gambar 17). Kista berdinding tebal terlihat pada honeycombing menunjukkan
luruhnya alveoli dan hilangnya arsitektur asinar berhubungan dengan fibrosis
paru.9-14
Test fungsi paru
Test ini dilakukan untuk menilai kemampuan fungsi paru. Test ini
biasanya dilakukan pada anak lebih dari 6 tahun, karena pada anak dibawah 6
tahun belum bisa bekerjasama untuk melakukan manuver respirasi pada
pemeriksaan. Hasil pemeriksaan test fungsi paru pada ILD biasanya berupa
gambaran ventilasi restriktif, dan penurunan volume paru.1
Biopsi Paru
Dengan pemeriksaan ini dapat diketahui histiologi dari paru yang dicurigai
terjadi kelainan. Pola histologi pada ILD bervariasi dapat berupa alveolar
makropag, penebalan septa alveolar, sel inflamasi bercampur dengan fibrosis.1
BAB III
LAPORAN KASUS
Dilaporkan pasien bayi perempuan usia 4 bulan masuk RSS tanggal 18
Oktober 2013, kiriman RS HI temanggung, dengan Kurang Energi Protein dan
curiga Penyakit Jantung bawaan dan keluhan utama saat masuk RS adalah muka
membiru bila menangis. 7 hari sebelum SMRS pasien batuk, tidak demam, sesak
sejak 2 bulan SMRS. 4 hari SMRS pasien batuk dan demam, sesak. Saat masuk
RS pasien batuk, tidak demam. Ibu merasa kalau anaknya sesak. Sejak usia 3
bulan sudah diberikan susu formula, ASI masih diberikan. Riwayat kelahiran
sectio secaeria atas indikasi PEB, cukup bulan, berat badan lahir 2500 gram, lahir
langsung menangis, aktif, tidak biru. Riwayat berhenti saat menetek disangkal.
Riwayat imunisasi lengkap sesuai umur. Riwayat ANC teratur di SpOG.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan berat badan 5 kg, panjang badan 65cm,
lingkar kepala 40cm, lingkar lengan atas 11cm. Keadaan Umum tampak sesak,
composmentis, terpasang infus. Heart Rate 130x/menit, respiratory rate
82x/menit, suhu 36,50C. SpO2 : 97-98 (tanpa O2: 87-88). Leher : Limfonodi tak
teraba, JVP dalam batas normal. Thorax : Ronchi (+), retraksi (+) sub costal.
Abdomen: supel, Hepar teraba 2 cm bawah arkus costa. Extremitas: akral hangat,
nadi kuat. Kepala: Sianosis (-), wajah membiru bila menangis dan membaik
dengan oksigen. Hasil laboratorium : Hb 11,3,
Leukosit: 8.860, Trombosit:
441.000. Diagnosis kerja: Pneumonia, gizi buruk. Terapi : O2 1 lpm nasal
canule,
injeksi
ampicillin
100mg/bb/hari
=
4x125mg,
paracetamol
10
mg/kbBB/kali, kapan perlu, manajemen gizi buruk.
Konsul Gastrohepatolog : GERD (-), tanda terkait PJB (+). Konsul SpM :
Tak ada syndrom khusus. Pemeriksaan penunjang lain : EKG (19/10/2013) hasil
hipertrofi ventrikel kanan. Rongent dada (22/10/2013) hasil bronkopneumonia
dengan Cardiomegali (CTR=0,58) sesuai gambar 20. Echocardiografi : ASD
sekundum kecil, Hipertensi pulmonal curiga dari paru. CT Thorax dengan kontras
(1/11/2013) hasil oedema pulmonum dengan tanda-tanda infeksi (gambar 21).
Kemudian CT scan di konsultasikan ke bagian radiologi anak dengan hasil
pneumonia segmentalis bilateral (7 segmen dextra; 7 segmen sinistra) disertai
infiltrat peribronchial bilateral sangat mungkin gambaran aspirasi pneumonia.
Gambaran hiperinflasi pulmo bilateral yang menyebabkan herniasi segmen 7
pulmo dextra ke sinistra. Mengarah pada gambaran Interstitial Lung Disease.
Gambaran hipertensi pulmonal, cardiomegali. Rongent dada (22/11/2013) hasil
pneumonia bilateral, efusi pleura dextra, dibanding foto sebelumnya berkurang
dengan cardiomegali (gambar 22).
Hasil laboratorium ( 8/11/2013) Hb: 10,3, leukosit : 10.800, hematokrit:
33,2, trombosit: 467.000, CRP:63, BUN: 13,8 ; Creat: 0,21; Na:133; K:4,1;
Cl:96. Kultur darah : Tak tumbuh kuman.
Status keluar RS setelah dirawat 33 hari, selama dirawat membaik, masih
nafas cepat (60-70x/menit), tak demam. Wajah masih membiru bila menangis
tanpa terpasang oksigen. Diagnosis: ILD, gizi kurang, Decompensatio cordis
teratasi, PJB asianotik, ASD sekundum kecil dan hipertensi pulmonal.
BAB IV
PEMBAHASAN
Penyakit paru interstitial (ILD) pada bayi dan anak-anak yang jarang
ditemui dan merupakan kelompok gangguan pernafasan yang sebagian besar
kronis dan berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi (sekitar
15%).
Dilaporkan pasien bayi perempuan usia 4 bulan dengan keluhan utama
muka membiru bila menangis. Terdapat keluhan tambahan seperti batuk, sesak
sejak 2 bulan SMRS, demam hilang timbul. Riwayat kelahiran cukup bulan, tak
terdapat tanda kelainan pernafasan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya
takikardi, takipneu, retraksi sub costal, ronchi. Diagnosis kerja awal dari klinisi
adalah pneumonia dan gizi buruk.
Pada pemeriksaan EKG ditemukan hipertrofi ventrikel kanan dan hasil
rongent dada (22/10/2013) bronkopneumonia dengan cardiomegali dengan
kemungkinan pembesaran ventrikel kanan (gambar 18). Echocardiografi : ASD
sekundum kecil, R-L shunt, Hipertensi pulmonal curiga dari paru. Kemudian
dilakukan CT Scan Thorak dengan pertanyaan dari klinis, 1) apakah terdapat
gambaran ILD; 2) apakah ada gambaran hipertensi pulmonum?; 3) apakah
hipertensi pulmonum karena kelainan di jantung atau paru?
Gejala yang ditemukan pada pasien memang dapat ditemui pada infeksi
paru pada umumnya, tapi bila ditilik lebih jauh, terdapat temuan klinis yang
mengarah ILD. Menurut literatur gejala umum ILD termasuk batuk, dyspnea,
takipneu dan dinding dada retraksi, keterbatasan latihan/aktifitas dan sering
infeksi saluran pernapasan. Batuk diamati di hampir 75% dari pasien, biasanya
non-produktif dan tidak mengganggu tidur. Takipneu diamati pada 80% pasien
dan biasanya paling awal dan gejala pernafasan paling umum. Demam yang tidak
jelas juga dilaporkan di hampir sepertiga dari bayi. Gagal tumbuh (37%),
penurunan berat badan juga gejala umum, terutama pada pasien muda. Meskipun
riwayat wheezing dapat timbul pada hampir 50% dari pasien, dengan pemeriksaan
fisik hanya ditemukan 20% dari kasus. Pemeriksaan klinis yang sering adalah
crackles inspirasi (44%), takipneu dan
retraksi, terutama pada anak dengan
riwayat kelahiran normal, ini sangat sugestif untuk ILD. Temuan lain yang terkait
dengan stadium lanjut penyakit paru-paru termasuk jari tabuh (13%) dan sianosis
selama latihan/aktifitas atau saat istirahat (28%). Pada pasien ini terdapat batuk
nonproduktif, takipneau, cyanosis dengan retraksi saat menangis yg bersifat
kronis.
Pada CT scan ditemukan gambaran ground glass pada segmen 1, 2, dan 6
pulmo dextra densitas pre-kontras 18 HU, post kontras tampak enhancement
densitas 42 HU , dan gambaran konsolidasi pada segmen 4, 5, 9, dan 10 pulmo
dextra, batas tegas, mengikuti bentuk segmen pulmo densitas pre kontras 30 HU
(window pulmo), post kontras tampak enhancement pada konsolidasi densitas 62
HU dengan gambaran air bronchogram (+), disertai gambaran hiperinflasi segmen
3, 7, dan 8 dan tampak segmen 7 melewati midline ke sinistra. Tampak gambaran
ground glass pada segmen 3, 4, 5, dan 6 pulmo sinistra densitas pre-kontras 14
HU (window pulmo), post kontras tampak enhancement densitas 49 HU, dan
gambaran konsolidasi pada segmen 6, 7, 9 dan 10 pulmo sinistra, batas tegas,
mengikuti bentuk segmen pulmo, densitas pre kontras 33 HU (window pulmo),
post kontras tampak enhancement pada konsolidasi densitas 67 HU dengan
gambaran air bronchogram (+), disertai gambaran hiperinflasi segmen 1, 2, 6, dan
8. Cor, CTR = 0,6. Corakan vascular cabang-cabang arteri pulmonalis dextra et
sinistra tampak lurus, diameter relatif kecil, dan di bagian perifer tampak sepi.
Gambaran arteri pulmonalis di daerah hilus yang prominent, dengan rasio
diameter A. pulmonalis utama bilateral dibanding dengan aorta descendens dan
bronkus utama > 1.
Pada
rongent
dada
hanya
dapat
dilihat
adanya
gambaran
bronkopneumonia dan cardiomegali dengan gambaran pembesaran ventrikel
kanan. Sedangkan berdasarkan temuan CT scan Thorak dengan kontras dapat
dilihat gambaran dari ILD yaitu berupa kombinasi antara hiperinflasi, mosaic
attenuation, air trapping, ground glass opacities, konsolidasi, opasitas linier /
reticular. Air trapping terlihat terutama di regio juxtapleural posterior. Hal ini
sesuai dengan referensi yang mengatakan gambaran HRCT pada ILD anak berupa
kombinasi antara hiperinflasi, mosaic attenuation, air trapping, ground glass
opacities, konsolidasi, opasitas linier / reticular, nodul atau kista. Pola mosaic
pada anak biasanya menggambarkan patchy interstitial disease atau small airway
disease dengan air trapping , tapi dapat juga terlihat bersamaan dengan hipertensi
pulmonum, thromboemboli, atau penyakit oklusi vaskular lain yang menghasilkan
gambaran campuran antara oligemi dan pletore. Air trapping terlihat sebagai regio
hipoatenuasi dengan peningkatan atenuasi yang lebih rendah dibandingkan
normal, dan pengurangan volume parenkim yang lebih sedikit dibanding normal
pada saat ekspirasi ( gambar 4). Gambaran hipoatenuasi sub segmental jarang
ditemui pada paru anak normal, terutama di regio juxtapleural posterior.
Pada konsolidasi, opasitas air space mengaburkan pembuluh darah
pulmonum (gambar 5). Konsolidasi dapat terlihat pada pneumonia, organizing
peneumonia, eosinophilic pneumonia, aspirasi pneumonia, acute interstitial
pneumonia (AIP),pulmonary hemorrhage syndromes,alveolar pulmonary oedema.
Ground glass opacity didefinisikan sebagai peningkatan atenuasi yang kabur dari
paru-paru dengan struktur bronkovaskular yang tetap terlihat pada HRCT. Ground
glass opacity sangat spesifik dan dapat dilihat pada paru-paru dengan peningkatan
volume darah kapiler, seperti adanya shunting, atau paru-paru yang dipengaruhi
oleh proses yang menyebabkan penebalan interstitium atau tergantinya udara di
alveoli dengan sel, cairan, atau bahan lainnya (Gambar 5, 6, 7).9,10,11,12
Penebalan septum interlobular atau intralobular merupakan hasil dari
edematous, infiltratif, atau proses fibrotik yang mempengaruhi interstitium paru
dan menghasilkan pola linear atau retikular pada HRCT. Pola penebalan septum
linear atau reticular dapat dilihat pada NSIP dan gangguan jaringan ikat (Gambar
10), dan pola kasar dengan band subpleural dan distorsi arsitektur menunjukkan
fibrosis (Gambar 11).
Crazy paving mengacu pada pola penebalan septum
tumpang tindih dengan latar belakang ground glass opacity, membentuk pola batu
paving tidak teratur (Gambar 12). 9,10,11,12
Dalam kepustakaan disebutkan bahwa iagnosis pasti ILD adalah dengan
biopsi. Pada pasien ini tidak dilakukan biopsi.
BAB V
KESIMPULAN
Telah dilaporkan bayi usia 4 bulan dengan keluhan wajah membiru bila
menangis, sesak sejak 2 bulan SMRS. Diagnosis kerja saat masuk RS adalah
pneumonia dengan gizi buruk. Diagnosis saat keluar dari RS adalah interstitial
lung disease, hipertensi pulmonal, ASD sekundum kecil, gizi kurang. Diagnosis
pasti ILD adalah dengan biopsi dan itu tidak dilakukan pada pasien in. Tidaklah
mudah menegakan diagnosis ILD dengan foto polos thorax dan lebih jelas pada
HRCT dengan tetap memperhatikan riwayat dan perjalanan penyakit.
DAFTAR PUSTAKA
1. Clement A, Nathan N, Epaud R, Fraoux B, Corvol H. Interstitial Lung
Diseases in Children. OJRD. 2010, 5;22: 1-24.
2. Dinwiddie R, Sharief N, Crawford O. Idiopathic interstitial pneumonitis in
children: a national survey in the United Kingdom and Ireland. Pediatric
Pulmonology 2002; 34(1):23-9.
3. Fan LL, Kozinetz CA: Factors influencing survival in children with
chronic interstitial lung disease. Am J Respir Crit Care Med 1997; 156(3
Pt 1):939-42.
4. Bolliger CT CU, du Bois RM, Egan JJ: Diffuse parenchymal lung disease.
Cape Town: Karger 2007.
5. Meschan I. The upper air passages and lungs. Dalam: Roentgen Sign in
Diagnostic Imaging. Second edition. Volume 4. Philadelphia : W.B.
Saunders Company. 1987: 1-119.
6. Uflacker R. Pulmonary Arterial Circulation. Dalam: Atlas of Vascular
anatomy: An Angiographic Approch, 2nd Edition. Lippincott : William
and Wilkins, 2007: 112-25.
7. ATS: American Thoracic Society/European Respiratory Society
International Multidisciplinary Consensus. Classification of the Idiopathic
Interstitial Pneumonias. Am J Respir Crit Care Med 2002, 165(2):277-304.
8. Bush A, Nicholson AG: Paediatric interstitial lung disease. European
Respiratory Society. 2009.
9. Guillerman P. Imaging of Childhood Interstitial Lung Disease. Pediatric
Allergy, Immunology and Pulmonology. 2010;23(1):43-68.
10. Brody AS. Imaging considerations: interstitial lung disease in children.
Radiol Clin North Am. 2005;43:391 – 403.
11. Zompatori M, Sverzellati N, Poletti V, Bnà C, Ormitti F, Spaggiari E,
Maffei E. High - resolution CT in diagnosis of diffuse infiltrative lung
disease. Semin Ultrasound, CT, MR. 2005;26:332–47.
12. Hansell DM, Bankier AA, Mac Mahon, Mc Loud TC, Müller NL, Remy
J. Fleischner Society: glossary of tems for thoracic imaging. Radiology.
2008;246:697–722.
13. Mac Donald S, Müller NL. Insights from HRCT: how they affect the
management of diffuse parenchymal lung disease. Semin Respir Crit
Care Med. 2003;24:357–64.
14. Gotway MB. Interstitial lung disease: Imaging evaluation. Applied
radiology. 2000;9:31-46.
15. Prokap M, Schaefer C, Fleischmann D, Herold C. High-Resolution CT of
diffuse lung disease: Key findings in common disorder. Eur.Radiol. 2001;
11:373-92
LAMPIRAN
Gambar 1. A. Lobus primer pada paru. B. Anatomi alveolus (panah panjang dan pendek
menunjukkan pneumocyte dan makrophag dan alveolus).4
Gambar 2. Mikrosirkulasi Pulmonal menunjukan hubungan A. pulmonalis,
A. bronkialis, kapiler alveolus, V. Pulmonalis dan sistem limfatik. 5
Gambar 3. Alveolar structure disorder yang berhubungan dengan ILD dan ER stress.1
Gambar 4. A. Inspirasi, B. Ekspirasi. HRCT pada pasien dengan bronkiolitis obliterans,
tampak mosaic attenuation dengan opasitas patchy ground-glass yang terlihat pada
ekspirasi. Area air
Trapping berhubungan dengan obliterasi airways yang tampak sebagai regio hipoatenuasi
dengan peningkatan atenuasi yang lebih rendah dibandingkan normal, dan pengurangan
volume parenkim yang lebih sedikit dibanding normal pada saat ekspirasi.9
Gambar 5. CT Thorax pada kasus aspirasi pneumonia tampak konsolidasi dengan air
bronkogram pada lobus inferior paru.9
Gambar 6. A. Gambar CT menunjukkan opasitas yang confluent pada aspek posterior
pada bayi posisi supine. B. Setelah di ubah menjadi posisi prone. Tampak ateletaksis
posterior mengembang dan patchy konsolidasi dan ground glass opacification menjadi
tampak pada pasien surfactant dysfunction from an SP-C gene mutation.9
Gambar 7. Gambar HRCT pada bayi tampak ground-glass opacities dengan diagnosis
neuroendocrine cell hyperplasia of infancy.9
Gambar 8. Ground glass opacity juga dapat diamati secara fisiologis pada paru-paru yang
pengembangannya tidak sempurna normal, terutama di basis paru-paru bayi pada gambar
yang diperoleh pada saat ekspirasi atau inspirasi dangkal.9
Gambar 9. HRCT pada pasien Lymphangiomatosis, tampak opasitas linear dan poligonal
yang merupakan penebalan septum interlobular, paling terlihat pada perifer
paramediastinal dan posterior paru.9
Gambar 10. Pola penebalan septum linear atau reticular dapat dilihat pada NSIP.9
Gambar 11. Gambar CT pada pasien juvenile dermatomyositis tampak coarse
peripheral opacities dengan subpleural bands, architectural distortion, dan traction
bronchiectasis berhubungan dengan fibrosis pulmonum.9
Gambar 12. HRCT pada pasien acute myelogenous leukemia dan idiopathic pneumonia
syndrome menunjukkan “crazy-paving” pattern yang superimpos dengan penebalan
septa dan ground-glass opacification.9
Gambar 13. Perilymphatic nodul tampak sebagai beaded appearance pada pasien dengan
pulmonary sarcoidosis .9
Gambar 14. Hematogenous dissemination pada TB milier ditandai dengan nodul yang
tersebar.9
Gambar 15. Nodul sentrilobular dengan atenuasi ground-glass pada remaja dengan
hypersensitivity pneumonitis9.
Gambar 16. Opasitas sentrilobular yang bercabang pada tree-in-bud pattern pada lobus
inferior sinistra pada CT dari remaja dengan atypical mycobacterial infection dan
lymphocytic bronchiolitis.9
Gambar 17. CT Thorax pada anak dengan pulmonary Langerhans cell histiocytosis
tampak kista udara dengan dinding tebal pada paru dengan jumlah yang banyak.9
Gambar 18. Rongent dada (22/10/2013)
Gambar 19. CT Thorax dengan kontras (1/11/2013)
Gambar 20. Rongent dada (22/11/2013)
Download